Bukan ADBM

buku-iv-99>>| buku-v-01>>

Api di Bukit Menoreh
Seri IV-100

Membangun Armada Laut Yang Kuat bagi Mataram

Oleh Ki Agus S. Soerono

KETIKA menyadari semua yang terjadi itu, Ki Tumenggung Untara pun kemudian bersyukur dan terus berusaha mendalami ilmunya yang baru terungkap. Ki Tumenggung Untara melatihnya berulang-ulang.

Ternyata di dalam gua itu terdapat cukup banyak batu besar yang teronggok di sudut-sudut ruangan yang dapat menjadi sasaran ilmunya.

Karena mengetahui di dinding gua itu banyak terdapat pahatan gambar yang dibuat oleh ayahnya Ki Sadewa mengenai berbagai tata gerak dasar olah kanuragan perguruan Jati Kencana, maka Ki Untara tidak berani mengarahkan pukulannya ke dinding gua.

Ia khawatir seperti yang dialami Agung Sedayu, yang secara tidak sengaja telah menghancurkan goresan puncak ilmu Jati Kencana. Meskipun secara tidak sengaja pula ia berhasil menemukannnya, ketika membuka batu pipih yang terdapat di tengah ruangan gua itu.

Demikianlah dengan tidak mengenal lelah Ki Untara, berlatih dan berlatih dengan ilmunya yang baru. Aji Jati Kencana. Ketika bayangan sinar mentari di kubah gua yang berlubang itu semakin redup barulah ia mengakhiri latihannya.

Ia pun kemudian membersihkan dirinya dengan air yang muncul dari celah-celah batu dan jatuh gemercik di bawahnya. Ketika suasana di dalam gua itu semakin gelap, maka Ki Untara pun menyalakan oncor dari biji jarak dengan batu titikan dan dimik belerang.

Ruangan gua yang tadinya gelap, menjadi sedikit terang. Ia meletakkan oncor dari biji jarak itu di atas meja batu pipih.

Ki Untara duduk di lantai, sementara itu kitab Jati Kencana peninggalan ayahnya—Ki Sadewa—digelarnya di sebelah oncor itu.

Ia pun membalik-balik lembaran demi lembaran rontal itu dan matanya tertarik pada tata gerak ilmu pedang –Aji Jati Laksana— yang terdapat di dalam rontal itu.

Dengan teliti ia mengingat dan mengguratkan gambar demi gambar, kata demi kata dan segala petunjuk dalam pelaksanaan ilmu pedang Jati Laksana tersebut terpateri ke dalam bilik ingatannya.

Seperti halnya adiknya Ki Agung Sedayu, Ki Untara pun mempunyai ingatan yang kuat atas tiap sesuatu yang diamati dan diperhatikannya dengan teliti. Dalam waktu yang tidak terlalu lama semua guratan di atas rontal itu sudah dipindahkannya ke dalam bilik ingatannya.

Ketika malam semakin mencapai ke puncaknya, maka Ki Untara sempat beristirahat sejenak. Namun tidak lama kemudian, ketika sinar kemerahan mulai memantul dari lubang kecil di atas kubah gua itu, maka Ki Untara bangkit kembali.

Setelah melaksanakan kewajibannya, ia bertekad ingin segera berlatih dengan ilmu pedang aji Jati Laksana yang tadi malam dipelajarinya dari lembaran rontal-rontal itu.

Demikianlah Ki Untara pun mulai bergerak dengan lincahnya memutar, memukul, membabat, menyabet, menepis, menghentak dan mengguncang dinding gua itu dibarengi dengan teriakan yang keras guna mendalami ilmu pedang mustika peninggalan ayahnya.

Pedang yang jauh lebih berat dari pedang rata-rata itu, dengan ringannya berputar di tangan Ki Untara. Seperti halnya ketika ia mengerahkan aji Kencana Jati, maka dalam ilmu pedang Jati Laksana ini pun Ki Untara merasakan pada akhirnya golakan hawa murni tenaga cadangannya yang terkumpul di dadanya.

Karena itu, Ki Untara pun segera melakukan petunjuk tata gerak dari puncak ilmu pedang Jati Laksana. Ia pun memusatkan nalar budinya. Tangan kanannya yang memegang pedang mustika itu perlahan-lahan diangkatnya menyilang di depan dada, sedangkan tangan kirinya juga perlahan-lahan terangkat ke dada menakup ke kanan.

Ketika semua hawa murni dari tenaga cadangannya sudah terkumpul di dada, maka dihentakkannya pedang mustika yang berat itu ke arah sebuah batu besar di sudut ruangan. Akibatnya sungguh dahsyat.

Seperti halnya ketika batu-batu yang tergolek di sudut itu kena gempuran tata gerak dasar aji Jati Kencana, maka batu hitam itu pun hancur berantakan ketika kena gempuran dari jarak cukup jauh oleh tata gerak dasar ilmu pedangnya. Aji Jati Laksana.

Demikianlah, Ki Untara terus melatih tata gerak ilmu pedangnya semakin mempertajam dan semakin memperdalamnya. Ia pun setiap kali menambah jarak jangkauan aji Jati Laksana. Ketika semua sudah dirasakannya cukup, maka Ki Tumenggung Untara pun hendak menyelesaikan tugas dan kewajibannya untuk mempelajari ilmu tata gerak dari olah kanuragan peninggalan ayahnya, yang ternyata bernama perguruan Jati Kencana.

Setelah membersihkan diri, Ki Untara pun menanti saat turunnya matahari senja di balik selimut bukit di sebelah Barat. Sinar mentari yang tadinya menerobos dari lubang kubah itu berwarna terang, lama kelamaan berubah menjadi merah kekuning-kuningan dan pada akhirnya menjadi redup.

Pada gilirannya warna redup itu berubah menjadi gelap dan tidak nampak apa-apa lagi. Namun mata Ki Untara yang sudah terbiasa dengan gelapnya gua itu bisa melihat dengan jelas setiap titik yang berada di dalam gua itu, seperti ia melihat di siang hari di luar gua.

Ketika tiba saatnya sepi bocah, Ki Untara pun mulai menyiapkan kampil perbekalannya. Bahan makanan mentah yang dibawanya, sesuai perhitungannya ternyata telah habis. Namun tempat bahan makanan mentah itu kini digantikan oleh kotak kayu kecil yang berisi kunci tata gerak ilmu olah kanuragan perguruan Jati Kencana.

Sementara di pinggangnya kini terselip dua bilah pedang, yaitu pedang pendek yang dibawanya dan pedang mustika pemberian ayahnya yang ditemukannya di bawah meja batu pipih di dalam gua itu.

Setelah selesai dengan persiapannya kembali ke padepokan kecil Orang Bercambuk, perlahan-lahan Ki Untara berjalan menuju mulut gua.

Namun terasa ada sesuatu yang menahannya untuk segera meninggalkan gua itu. Selama sekian hari berada di dalam gua itu, ia merasa ayahnya—Ki Sadewa—seolah-olah berada di sebelahnya memperhatikan dan memberinya petunjuk, seperti ketika ia masih kecil dulu berlatih tata gerak ilmu olah kanuragan di dalam gua itu.

Ki Untara merasa ayahnya itu selalu memberinya petunjuk yang diperlukannya, ketika ia merasa salah melakukan tata gerak yang diguratkan di dinding gua maupun di dalam kitab Perguruan Jati Laksana. Karena itu ia merasa berat untuk meninggalkan gua itu.

Namun seperti ketika ia berangkat untuk mesu diri ke dalam gua itu, ia merasa berat untuk berangkat, maka kini ia pun merasa berat untuk meninggalkannya. Tetapi dengan tekad yang kuat, dikeraskannya hatinya.

–Terima kasih ayah—katanya dalam hati—semoga ilmu tata gerak dari ilmu olah kanuragan yang ayah tinggalkan dapat bermanfaat bagi sesama—

Ki Untara pun kemudian bergerak menuruni lorong-lorong gelap dan berbatu-batu tajam itu serta menurun menuju mulut gua. Ketika memasuki kubah pertama dari arah mulut gua, hidungnya yang tajam itu pun mencium bau pesing yang ditinggalkan oleh ribuan kelelawar yang bersarang di dinding gua. Namun agaknya sebagian kelelawar itu baru keluar dari mulut gua, sehingga suaranya tidak begitu berisik seperti saat ia baru masuk ke dalam gua itu.

Akhirnya Ki Untara pun sampai di mulut gua di atas tebing sungai itu. Di sudut mulut gua masih dilihatnya onggokan gulungan tali ijuk yang diberinya simpul-simpul. Ia lalu mengambil gulungan tali itu. Sebelum melemparkannya ke bawah, ia mencoba menarik-narik tali yang tersangkut pada jangkarnya di bebatuan di atas tebing.

Ketika Ki Untara menarik-narik tali itu untuk menguji kekuatannya, suatu benda tiba-tiba terjatuh di sisinya. Benda yang semula melingkar itu kemudian mengurai lingkarannya sambil berdesis-desis dan kepalanya bergerak-gerak. Ular bandotan. Tidak hanya satu, tapi tiga ekor.

Ular bandotan yang cukup besar—sebesar lengannya— itu mendesis-desis sambil meliuk-liuk menghampiri Ki Untara dari satu arah. Sekali-sekali kepalanya diangkat. Mulutnya menganga dan dari celah-celah taringnya keluar lidah yang bercabang dua.

Ketika ular-ular itu merasa sudah sampai pada jarak pagutannya, maka ketiga ular itu secara bersamaan meluncur seperti anak panah yang terlepas dari busurnya.

Sebelum ketiga ular itu sempat mencapainya, Ki Untara segera mencabut pedang pendek di lambung kirinya. Crash. Crash. Dua ekor ular berhasil dibabatnya dengan pedang itu. Ular itu terpotong menjadi dua bagian. Serangan ular yang ketiga berhasil dihindarinya.

Ketika ia berpaling ke ular yang ketiga, ternyata bagian kepala ular yang berada di dekatnya masih sempat menggeliat dan menyambar kakinya. Ular itu ternyata tidak mati. Meskipun terpotong dua, kepala ular itu masih hidup dan taringnya yang tajam menikam betisnya.

Terasa pedih di betisnya itu. Di babatnya sekali lagi potongan ular itu. Namun sisa potongan kepala ular yang hanya sejengkal itu, masih menempel dengan kuatnya mencengkeram daging di betisnya.

Ki Untara sambil menahan pedih di betisnya kemudian memperhatikan ular ketiga yang bersiap-siap untuk menerkamnya. Ternyata kepala ular yang berhasil menggigitnya itu telah mulai membenamkan biang racun yang ada di langit-langit mulutnya ke betis Ki Untara.

Rasa nyeri tiba-tiba terasa merayap dari luka gigitan ular itu ke seluruh bagian-bagian tubuhnya dan bergolak menuju ke jantung. Ia sempat menyeringai sesaat. Namun ia kemudian meneguhkan hatinya.

Ki Untara yang sudah menjalani mesu diri dengan berendam di dalam belumbang gua itu, tiba-tiba merasakan hawa yang hangat menggumpal dan mendorong rasa nyeri yang mulai mencengkeramnya tadi. Perlahan-lahan hawa hangat itu terus mendorong rasa nyeri itu sampai ke titik lukanya.

Ketika Ki Untara sedang menghayati hawa hangat yang mendorong rasa nyerinya itu, ia sempat terlena sesaat. Waktu yang sesaat itu dipergunakan oleh ular ketiga untuk menyambar betis yang lain. Tetapi Ki Untara tidak mau ular bandotan yang cukup besar itu juga menempel lagi di kakinya.

Dengan tangkas ia membabat lagi ular itu. Crash. Crash. Crash. Crash. Ular itu terpotong menjadi empat bagian dan tergeletak di sisinya. Ki Untara masih melihat kepala ular yang sepotong itu mencoba menerkamnya. Sekali lagi pedangnya menikam kepala ular itu. Dan kepala ular itu terbelah menjadi dua dan tidak bergerak lagi. Mati.

Perlahan-lahan Ki Untara menurunkan pandangannya, dan dilihatnya kepala ular yang kedua masih menempel di betisnya. Ditikamnya kepala ular itu sekali lagi. Kepala ular itu pun terlepas dari gigitannya pada betis Ki Untara. Gigitan itu meninggalkan empat buah lubang bekas taring di betisnya. Dari luka itu mengalir cairan berwarna biru kehitam-hitaman. Racun.

Ki Untara pun sambil menyeringai berusaha memeras darahnya dari luka di betisnya. Cairan biru kehitam-hitaman itu pun keluar semakin lama semakin banyak. Namun perlahan-lahan cairan yang keluar warnanya berubah menjadi kemerah-merahan dan akhirnya merah sama sekali. Tidak ada lagi bekas racun yang berwarna biru kehitam-hitaman.

Ki Untara kemudian mengambil sebuah bumbung kecil yang terselip di ikat pinggangnya. Ia mengeluarkan serbuk obat luka yang ada di dalam bumbung kecil lalu menaburkannya ke bekas luka gigitan ular bandotan. Tak lama kemudian darah yang keluar dari lukanya mampat dan tidak mengalir lagi.

Ki Untara lalu duduk bersemadi di atas batu yang terdapat di mulut gua. Ternyata gelombang arus hawa hangat yang mendorong rasa nyerinya tadi terus bergerak. Segala sisa-sisa racun ular bandotan yang ada di dalam tubuhnya didorong keluar.

Kini Ki Untara menyadari bahwa ketiga laku yang dijalaninya di dalam gua itu—puasa, patigeni dan berendam di dalam belumbang—membuat dirinya kebal dari segala racun, termasuk dari bisa ular bandotan yang sangat tajam. Ia kini telah kebal terhadap segala jenis racun.

Karena darahnya cukup banyak keluar, maka Ki Untara beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga setelah darahnya terkuras akibat gigitan ular tersebut.
Ternyata ia membutuhkan waktu agak lama untuk memulihkan tenaganya akibat darahnya terperah dari luka gigitan ular bandotan itu. Perlahan-lahan tenaganya pulih kembali. Sedikit demi sedikit tenaga cadangan yang dikerahkannya mampu mendorong sisa racun itu. Pada akhirnya Ki Untara merasa tenaganya telah pulih kembali.

Setelah Ki Untara merasa segar kembali, ia menuruni tebing sungai itu dengan mempergunakan tali yang digulungnya di mulut gua. Gulungan tali itu diurainya, lalu dilepaskannya ujungnya berjuntai ke bawah. Ia pun menuruni tebing sungai itu dengan berpegangan pada simpul-simpul tali.

Tidak seperti ketika naik, di mana ia merasa bobot badannya yang agak gemuk telah memberati tangannya ketika berpegangan pada simpul-simpul tali, maka ketika turun ini Ki Untara merasa lebih ringan. Hal itu karena perasaannya yang lega karena telah berhasil meningkatkan ilmunya dan juga karena kemampuannya yang baru yang dicapainya dalam masa mesu diri di dalam gua. Ilmu Meringankan tubuh.

Ketika telah tiba di batu yang menjorok di tebing sungai itu, tiba-tiba timbul keinginan Ki Untara untuk mengetahui tingkat kemampuan ilmunya yang sebenarnya. Karena ketika berada di dalam gua, ia merasa terhalang oleh ketinggian kubah gua itu. Namun di atas batu yang menonjol di atas tebing sungai, ia bisa bergerak bebas. Ia merasa tidak ada yang menghalangi ketinggian loncatannya. Keadaan alam yang sepi dan tidak ada penghalang di atasnya, akan dipergunakannya sekali lagi untuk mengetahui tingkat kemampuannya.

Setelah meletakkan kampilnya, Ki Untara bersiap-siap. Ia lalu meloncat tinggi dengan mengerahkan tekanan kakinya pada pijakannya. Begitu ia menjejakkan kakinya, tubuhnya serasa seperti bilalang yang meloncat tinggi menghindari sambaran burung sikatan.

Ternyata Ia mampu meloncat setinggi separuh ketinggian gua. Ketika meluncur turun ia menjejak sebuah batu yang menonjol di tebing sungai dan badannya serasa terbang menuju mulut gua.

Ki Untara kemudian meluncur turun. Ia mendarat di atas batu yang menonjol di tebing sungai itu, seperti seekor kucing yang terjatuh dari atas atap rumah. Tidak menimbulkan suara apapun.
Ia pun mencoba meloncat sekali lagi. Pada lompatan kedua ini, ternyata ia mampu meloncat setinggi tiga perempat dari panjang tali ijuk yang menjuntai di mulut gua.

Dengan sigap ia menyambar tali itu ketika badannya meluncur turun. Hal itu diulanginya beberapa kali dengan kekuatan yang semakin bertambah. Sehingga pada suatu ketika Ki Untara mampu mencapai mulut gua itu dengan satu kali loncatan dari batu yang menonjol di tebing sungai itu.

Begitu juga sebaliknya, ketika ia turun, Ki Untara terjun saja dari batu di mulut gua itu. Dengan mengendalikan gerak tubuhnya melalui pikirannya, ternyata Ki Untara seolah-olah bisa mengerem kecepatannya meluncur itu. Sehingga ketika sampai di bawah, ia bisa melayang turun seperti seekor elang yang mendarat di tanah.

Ia bisa mendarat dengan ringan tanpa menimbulkan sedikitpun desiran suara.

Ki Untara pun melatihnya beberapa kali untuk naik ke mulut gua dan terjun ke batu yang menonjol itu. Memang pada awalnya ia merasa gamang dengan naik turun seperti itu. Namun lama kelamaan iapun menjadi terbiasa.

Ia teringat akan kegamangannya ketika masih remaja dulu, pada saat ayahnya melatihnya mengendarai kuda. Ketika ia sudah berada di atas punggung kuda, keringat dingin serasa membasahi punggungnya dan kedua telapak tangannya. Namun dengan memberanikan diri, ia menghentak tali kekang kuda itu dan kudanya mulai berjalan. Lama kelamaan keringat dingin itu pun hilang, ketika ia telah terbiasa.
Ia bisa mengendalikan kaki kuda itu sesuai keinginannya, maju, lari, lari lebih cepat, meloncat tinggi, mundur, belok ke kiri, belok ke kanan. Semua gerakan kuda itu bisa dilakukan dengan menarik tali kendali atau menjepit perut kuda itu dengan lututnya. Kalau ia ingin lari kuda itu lebih cepat, ia memberi perintah kuda itu melalui tendangan kakinya pada perut kuda itu. Akhirnya ia merasa pikirannya sudah menyatu dengan pikiran kuda itu. Kudanya memahami apayang diperintahkannya.

Begitu pula kali ini, setelah berlatih meloncat-loncat dari atas ke bawah dan sebaliknya, keringat dingin yang membasahi punggung dan kedua telapak tangannya itu terasa hilang. Pada akhirnya ia menjadi terbiasa.

Sehingga pada kesempatan lain kalau ia hendak memasuki gua itu, ia tidak memerlukan lagi tali ijuk yang diberinya simpul-simpul setiap dua jengkal.

Setelah mencoba dua tiga kali dan ia berhasil mendarat di atas mulut gua, dan turun kembali ke batu kali yang menjorok di tebing sungai, maka Ki Untara merasa telah cukup. Ia pun kembali mengemasi kampilnya dan segera berjalan meuju ke padepokan kecil yang dipimpin oleh pamannya. Ki Widura.

Berbeda dengan saat ia datang, perjalanan kembali ke padepokan itu terasa lebih cepat dan lebih ringan. Dengan tangkasnya Ki Untara meloncat-loncat dari satu dahan ke dahan yang lain, dari akar pohon satu bergelayutan ke akar pohon yang lain.

Badannya terasa menjadi ringan seringan kapas. Ia merasa seperti terbang karena ayunan kakinya yang kuat. Seandainya ada orang yang melihat gerakan Ki Untara, tentu orang itu mengira bahwa ia bersayap dan bisa terbang seperti seekor elang yang menyambar anak ayam. Gerakannya demikian lincah.

Setelah lewat sedikit dari wayah sepi uwong, Ki Untara telah sampai di padepokan itu yang terasa sepi. Lamat-lamat dari luar pagar halaman padepokan itu masih didengarnya suara pamannya yang membawakan tembang di malam yang hening.

Ki Untara segera membuka pintu regol dan memasuki halaman padepokan. Ia naik ke pendapa dan mengetuk pintu peringgitan.
–Siapa—terdengar suara pamannya dari dalam.

—Aku paman.—jawab Ki Untara. Tak lama kemudian terdengar desir langkah dan selarak pintu dibuka.

—O. Kau ngger. Kau sudah kembali. Syukurlah—kata Ki Widura sambil mempersilakan Ki Untara duduk di atas sehelai tikar di pendapa.

—Ya paman. Berkat doa paman, aku sudah dapat menyelesaikan niyatku untuk memperdalam ilmu perguruan Jati Kencana.

—Perguruan Jati Kencana?—

—Iya Paman. Ternyata dalam nawala yang ayah tulis dan ditinggalkan di dalam gua itu, perguruan kita ini bernama Jati Kencana.—jawab Ki Untara.

—Di manakah kau temukan nawala itu, ngger?—

—Aku menemukannya di dalam rongga di bawah meja batu pipih di tengah ruangan, yang secara tak sengaja aku membukanya. Ternyata selain nawala itu, ayah juga meninggalkan kotak kayu kecil berisi kitab rontal ilmu olah kanuragan dari perguruan yang menurut ayah bernama Jati Kencana yang didirikan oleh kakek buyut dari ayah—kata Ki Untara.

—O. Syukurlah, bahwa nasib perguruan kita tidak terputus. Bahkan angger mendapat kitab rontal yang berisi ilmu murni dari perguruan Jati Kencana ini.

—Iya paman. Bahkan bukan hanya itu. Ayah bahkan mewariskan pedang mustika ini dan tata gerak ilmu pedang mustika yang terdapat di dalam rontal kitab Jati Kencana.

—Alangkah beruntungnya kau ngger. Aku telah berulang kali masuk ke dalam gua itu, namun tidak aku ketahui bahwa kitab itu tersimpan di sana.—

—Secara kebetulan dulu aku pernah melihat ayah mengangkat batu pipih itu dan memasukkan sesuatu ke dalam rongga di dalamnya. Dan kebetulan pula ketika aku berlatih ilmu tata gerak sebagaimana termuat dalam rontal itu, batu pipih tersebut terangkat dan kulihat ada kotak kecil berisi rontal dan pedang mustika di dalamnya.

—Dalam nawala itu, ayah berpesan agar ilmu dari perguruan Jati Kencana ini diturunkan ke dalam lingkungan keluarga kita saja. Sehingga dengan demikian Paman Widura dan Glagah Putih serta Wira Sanjaya termasuk orang-orang yang boleh mempelajarinya.—

—Baiklah. Jika demikian kita bisa semakin memantapkan keberadaan perguruan Jati Kencana ini dalam kiprah perjuangan Mataram di masa depan—ujarnya dengan nada gembira.

—Bolehkah aku melihat pedang mustika yang ditinggalkan Kakang Sadewa di dalam gua itu?—tanya Ki Widura.

–Silakan paman—jawab Ki Untara sambil menarik sebilah pedang dan wrangkanya dari pinggangnya.

Ki Widura kemudian menerima pedang dalam wrangkanya itu dan ia segera teringat bahwa pedang itu adalah milik kakaknya Ki Sadewa yang selalu dibawanya jika sedang mengembara. Ia teringat ketika sebelum menjadi prajurit kakaknya itu pernah mengajaknya merantau.

Dalam pengembaraan itu, dengan ilmu dan pedang mustika itu, kakaknya Ki Sadewa mampu mengalahkan perampok yang sangat disegani di Alas Roban. Namun setelah pengembaraan itu, ia memasuki dunia keprajuritan dan sangat jarang bertemu kembali dengan kakaknya. Ki Sadewa.

Namun yang masih lekat dalam ingatannya adalah kakaknya itulah yang melatihnya dalam olah kanuragan yang menjadi bekalnya dalam memasuki pendadaran dan olah keprajuritan.

Dengan bekal ilmu yang baru diketahuinya bernama perguruan Jati Kencana, dengan cepat pula Ki Widura menapaki jenjang keprajuritan. Terakhir ia ditempatkan sebagai seorang senapati Pasukan Pajang di Sangkal Putung ketika menghadapi gerombolan pasukan Macan Kepatihan dari Jipang.

Semua pengalaman itu melintas dengan cepat dalam ingatannya, peristiwa demi peristiwa.

—Apakah anakmas sudah ingin beristirahat? Jika anakmas ingin beristirahat, anakmas dapat tidur di gandok kanan yang selalu dibersihkan oleh para cantrik—kata Ki Widura sambil menyerahkan pedang mustika itu kepada Ki Untara.

—Sebenarnya aku masih ingin berbincang dengan paman mengenai kemungkinan pengembangan padepokan ini. Tapi baiklah kita membicarakannya besok saja. Paman juga nampaknya sudah letih—kata Ki Untara.

—Tidak ada yang berat untuk kukerjakan, anakmas.Tetapi memang sebaiknya anakmas beristirahat dulu, mengendorkan otot-otot yang kaku setelah mesu diri sekian lama di dalam gua—

Demikianlah Ki Tumenggung Untara pun kemudian beristirahat di gandok kanan padepokan itu. Ia pun sejenak kemudian tertidur pulas. Setelah meningkatkan kemampuan olah kanuragannya di dalam sebuah gua yang terletak di tebing sungai selama hampir dua pekan.

Keesokan harinya Ki Tumenggung Untara terbangun ketika terdengar kokok ayam untuk ketiga kalinya. Ia pun lalu pergi ke pakiwan untuk mandi dan sesuci.
Kemudian ia melaksanakan kewajibannya kepada Yang Maha Agung. Setelah selesai, ia lalu turun ke halaman dan menikmati udara pagi di padepokan.

Suasana yang hijau asri dan sejuk, diwarnai dengan kicau suara burung yang berkejaran di pepohonan, menambah kedamaian dalam alam pedesaan.

Ketika berputar ke halaman belakang, Ki Untara bertemu dengan Ki Widura yang juga sudah berjalan-jalan di pagi hari.

—Sepagi ini paman sudah terbangun—kata Ki Untara.

—Aku memang terbiasa bangun di pagi hari sebelum sang mentari muncul di ufuk Timur, anakmas—katanya. Ki Widura pun kemudian mengantarkan Ki Untara berkeliling melihat-lihat keadaan padepokan kecil itu. Ki Untara sempat mengagumi belumbang yang berisi ikan berwarna-warni.

Ikan-ikan itu berkejaran dengan lincahnya ke sana kemari, terlebih lagi ketika Ki Widura melemparkan umpan ikan itu berupa potongan kecil-kecil ketela pohon yang sudah direbus. Ikan itu juga melahap daun kangkung dirajang kecil-kecil yang dilemparkan ke tengah belumbang itu.

Di sekitar belumbang itu terdapat berbagai jenis tanaman buah-buahan yang sudah berbuah ranum. Pepohonan yang terdapat di halaman itu antara lain jambu air, jambu biji, belimbing, rambutan, sawo dan sebagainya.

Pepohonan itu pun ditanam oleh ayahnya Ki Sadewa ketika Untara masih kecil. Mendiang Kiai Gringsing sama sekali tidak menebang pohon buah-buahan itu, ketika membangun padepokan. Mendiang bisa menempatkan tata letak bangunan padepokan dengan serasi tanpa mengorbankan sebatang pohon pun.

–Aku tidak melihat Wira Sanjaya, paman. Ke manakah anak itu?—tanya Ki Untara.

—Wira Sanjaya sejak kemarin sore pamitan untuk menginap di rumah kawannya yang putera Ki Demang Jati Anom—jawab Ki Widura.

—Semoga anak itu tidak merepotkan kakeknya—kata Ki Untara.

—Tentu tidak, anakmas—kata Ki Widura.

—Apakah Wira Sanjaya rajin berlatih, paman?—tanya Ki Untara.

—Ya. Wira Sanjaya rajin berlatih bersama kawannya itu. Dalam waktu singkat Wira sudah menguasai tata gerak dari perguruan kita, meskipun belum sempurna benar.—

—Syukurlah, jika ia tekun berlatih. Aku khawatir kalau-kalau ia kurang rajin. Anak itu terlalu manja.—

—Sejauh ini aku mengamati bahwa kemajuannya cukup cepat.—
—Meskipun demikian paman perlu meningkatkan disiplin anak itu, agar ia tidak berlatih dengan semaunya saja.

—Tentu. Tentu anakmas. Aku akan meningkatkan disiplinnya—ujar Ki Widura sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sebagaimana halnya Ki Untara, Ki Widura pun pernah mengalami menjadi prajurit bahkan senapati yang disegani di wilayah Selatan. Soal kedisiplinan adalah menu sehari-hari yang selalu digelutinya dalam olah keprajuritan. Oleh karena itu ia tidak asing lagi dengan pendapat kemanakannya yang merasa kedisiplinan Wira Sanjaya terlalu longgar.

Setelah berkeliling di halaman padepokan, Ki Widura membawa kemanakannya itu melihat-lihat persawahan mereka yang terletak tidak jauh dari padepokan.

Sawah yang baru saja dipanen itu sudah mulai dibajak dan dicangkul tanahnya. Pada salah satu sudut petakan sawah itu, para cantrik sudah mulai menebar benih yang sudah mulai tumbuh.

Setelah benih padi itu tumbuh sepanjang sejengkal, maka pada gilirannya akan ditanam di sawah mereka yang cukup luas itu dengan jarak sejengkal-sejengkal. Dengan berbekal ketekunan dan kedisiplinan, para cantrik padepokan kecil peninggalan mendiang Kiai Gringsing itu mampu menghasilkan pangan yang cukup bagi warga padepokan. Meskipun jumlah cantrik di padepokan itu terus bertambah, namun mereka tidak perlu merasa khawatir bahwa mereka akan kekurangan bahan pangan. Selain padi yang menghasilkan beras, di musim kemarau sawah itu ditanami dengan ketela pohon dan jagung.
Bahkan hasil yang berlebih itu sempat pula dibawa oleh cantrik untuk dijual dan uangnya dibelikan sejumput garam sebagai penyedap rasa agar makanan tidak terasa hambar.

Sedangkan untuk teman minum wedang jahe atau wedang sere, para cantrik itu cakap pula memanjat pohon kelapa untuk menderes legen yang kemudian diolah menjadi gula kelapa.

Dalam pada itu, di Tanah Perdikan Menoreh Ki Rangga Agung Sedayu pun semakin sibuk dengan kegiatannya menyelesaikan perluasan barak pasukan khusus di Tanah Perdikan Menoreh dan pembangunan armada laut pasukan khusus Mataram di tepian Kali Praga.

Tempat yang dipilihnya sebagai sanggar terbuka untuk pembangunan kapal jung armada laut itu, terletak di sisi sebelah hilir dari tempat penyeberangan rakit paling selatan yang ada di tepian Kali Praga itu.

Tempat yang dipilihnya itu terdapat di tepian Kali yang rata, berpasir dan tidak banyak berbatu-batu. Sehingga apabila pada saatnya kapal jung itu siap diluncurkan, maka tidak diperlukan terlalu banyak orang untuk mendorongnya ke tengah sungai.

Setiap hari Ki Rangga hilir mudik dari rumahnya di Tanah perdikan Menoreh ke barak, lalu ke tepian Kali Praga.

Sementara itu Nyi Sekar Mirah semakin sibuk sejalan dengan semakin besarnya jabang bayi di dalam kandungannya. Ia sudah mulai merasakan gerakan yang sangat lincah calon bayi itu di dalam perutnya. Sekali-sekali sang jabang bayi itu menendang ke kanan, di saat yang lain menendang ke kiri.

Kalau Ki Rangga sedang pulang lebih awal, maka Nyi Sekar Mirah menunjukkan kepada calon ayah bayinya itu betapa si jabang bayi bergerak dengan lasak di dalam perut. Diletakkannya tangan suaminya di atas perutnya yang semakin membesar.

Anehnya ketika tangan Ki Rangga diletakkan di atas perutnya, sang jabang bayi seolah-olah menikmati kehangatan tangan ayahnya. Ia tidak bergerak. Diam di tempatnya. Begitu tangan itu diangkat, jabang bayi itu kembali bergerak-gerak lincah seolah-olah mencari-cari tangan Ki Rangga.

Nyi Sekar Mirah juga sudah mulai menyiapkan pakaian bayi yang dibuatnya sendiri. Ia membeli beberapa lembar kain yang dipotong dan dijahitnya sendiri menjadi pakaian bayi. Popok, gurita, baju kecil, selimut dan bedong bayi.

Kalau di pasar ada baju jadi yang bagus, maka dibelinya baju atau kelengkapan bayi itu. Nyi Sekar Mirah sesekali juga mulai memeriksakan keadaan kandungannya kepada dukun beranak yang ada di Tanah Perdikan Menoreh. Nyi Saniscara.

Semula Nyi Saniscara terkejut atas kedatangan Nyi Sekar Mirah ke rumahnya. Setelah melihat keadaan perut Nyi Sekar Mirah yang mulai membesar, dukun beranak yang sudah berusia lanjut itu pun mengangguk-angguk dan berkata.

—Biarlah besok-besok aku yang datang ke rumahmu ngger. Jangan angger yang datang kemari. Syukurlah kondisi kandunganmu sehat—kata Nyi Saniscara setelah memeriksa keadaan kandungan Nyi Sekar Mirah.

—Terima kasih Nyi—

—Tetapi bukankah akan lebih baik aku berjalan-jalan kemari sambil melemaskan otot. Menurut orang tua-tua, kalau perempuan sedang hamil harus banyak berjalan agar posisi kepala bayi bisa di bawah menjelang saat kelahirannya—

—Angger benar, ngger. Terserah angger lah, aku yang datang ke rumahmu atau angger yang datang ke mari. Sama saja bagiku—

Demikianlah Nyi Saniscara setiap pekan memeriksa kondisi jabang bayi dalam kandungan Nyi Sekar Mirah. Ia pun membawakan jamu kunyit dan jamu godogan lainnya yang harus diminum oleh Nyi Sekar Mirah agar mempunyai kekuatan yang cukup jika pada saatnya harus melahirkan jabang bayi itu.

Dalam pada itu, Ki Rangga Agung Sedayu pun semakin tenggelam dalam kesibukannya. Setiap hari ia mengawasi pembangunan kapal jung pertama yang akan menjadi contoh bagi armada laut pasukan khusus Mataram.

Ia dengan tekun setiap hari mengawasi pembangunan kapal itu, karena Kangjeng Panembahan Hanyakrawati ingin menyaksikan langsung hasilnya sebelum diluncurkan ke laut lepas.

Demikianlah setelah mengubah rancangan bangun kapal sesuai dengan perintah Kangjeng Panembahan Hanyakrawati, di mana ditambahkan istal pada bagian buritannya yang bisa menampung tiga sampai lima ekor kuda dan penambahan empat buah sekoci pada sisi badan kapal. Masing-masing sekoci tersebut dirancang untuk bisa memuat delapan hingga sepuluh orang. Semula memang Kangjeng Panembahan Hanyakrawati meminta agar ditambahkan dua sekoci saja di kiri-kanan lambung kapal.

Namun setelah Ki Rangga Agung Sedayu memikirkannya lebih dalam, ternyata jika terjadi keadaan darurat, seluruh awak kapal harus dapat termuat oleh semua sekoci yang ada. Karena itu, Ki Rangga menambahkan jumlahnya menjadi empat sekoci.

Untuk melaksanakan pembangunan kapal tersebut Ki Rangga dibantu seorang lurah prajurit yang mendapat kepercayaannya. Ki Lurah Darma Samudra.

Setiap pagi mereka berangkat bersama dari barak pasukan khusus prajurit Mataram di Tanah Perdikan Menoreh dan pada sore harinya kembali ke barak. Setelah kembali ke barak, Ki Rangga Agung Sedayu kembali tenggelam dalam kesibukannya di barak.

Ia memanggil lurah yang mendapat kepercayaannya untuk menyelesaikan pembangunan barak itu. Dari lurah itu, Ki Rangga mendapat laporan kemajuan pekerjaan yang telah dilaksanakan.

—Pembangunan barak sudah mencapai sembilan dari sepuluh bagian, Ki Rangga. Pekerjaan yang tinggal hanyalah mengaci, melabur, dan pembuatan amben-amben dan gledek di bangsal tidur prajurit, menyungging pilar-pilar balai pertemuan prajurit serta memperbesar regol utama agar barak pasukan khusus ini nampak berwibawa—

—Apakah Ki Lurah dapat menyelesaikannya dalam waktu kurang dari satu bulan?—tanya Ki Agung Sedayu.
—Siyaga Ki Rangga—kata Ki Lurah Suprapta yang menjadi kepercayaannya.
—Baiklah, segera selesaikan segala kekurangannya, dalam waktu kurang dari satu bulan. Kalau perlu dikerjakan siang dan malam, agar pekerjaan cepat selesai—
—Siyaga Ki Rangga—jawab Ki Suprapta.

Demikianlah Ki Rangga Agung Sedayu semakin mempercepat pekerjaannya, sejalan dengan rencana Kangjeng Panembahan Hanyakrawati yang hendak meninjau pekerjaan pembangunan barak pasukan khusus dan kapal jung armada laut pasukan khusus di dermaga yang terletak di tepian Kali Praga.

Ketika ia tengah tenggelam dalam kesibukannya itu, tanpa disangka-sangka datanglah dua orang utusan Ki Patih Mandaraka ke barak pasukan khusus di Tanah Perdikan Menoreh.

Kedua utusan Ki Patih Mandaraka itu pun memperlambat lari kudanya ketika telah sampai di regol barak pasukan khusus yang sudah mulai dibongkar untuk diperbesar. Mereka lalu mengikatkan kudanya di patok-patok tambatan tali kendali kuda, lalu berjalan menuju gardu perondan.

Setelah menyampaikan maksudnya untuk bertemu dengan Ki Rangga Agung Sedayu, maka mereka dipersilakan menanti di gardu perondan, sementara seorang prajurit jaga menyampaikan kepada Ki lurah. Ki Lurah itu pun segera menyampaikan kepada Ki Rangga Agung Sedayu bahwa dua orang utusan Ki Patih Mandaraka telah datang ke barak pasukan khusus itu.

Ki Rangga Agung Sedayu pun kemudian menerima dua orang utusan Ki Patih Mandaraka itu di ruang khusus tempat Senapati Pasukan khusus itu menerima tamu.

—Silakan Ki Lurah, masuklah—ujar Ki Rangga yang telah mengenal Ki Lurah itu dalam berbagai medan pertempuran.

—Terima kasih Ki Rangga—jawab Ki Lurah itu.

—Selamat datang di barak pasukan khusus Mataram di Tanah Perdikan Menoreh—lanjut Ki Rangga Agung Sedayu pula. Sebagaimana kebiasaan yang berlaku, maka Ki Rangga kemudian menanyakan keselamatan tamu-tamunya, keadaan Mataram, kesehatan Ki Patih Mandaraka, serta para petinggi Mataram yang dikenalnya.

—Berkat doa Ki Rangga, maka semuanya dalam keadaan sehat walafiat, kecuali keadaan Ki Patih Mandaraka yang semakin sepuh dan sering-sakit-sakitan. Namun meskipun sakit Ki Patih masih tetap berusaha menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya, termasuk mengutus aku untuk menemui Ki Rangga sekarang ini—
Ki Rangga Agung Sedayu mengerutkan keningnya.—Adakah sesuatu hal yang sangat penting, sehingga Ki Patih mengutus Ki Lurah datang ke mari?—

—Tentu Ki Rangga. Ki Patih memerintahkan Ki Rangga untuk datang ke Paseban Agung yang akan diadakan dua hari lagi. Ki Rangga diminta hadir dengan pakaian lengkap keprajuritan.—

Ki Rangga Agung Sedayu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pun lalu bertanya—Apakah Ki Lurah mengetahui yang akan terjadi dalam paseban nanti, sehingga aku harus hadir?—

—Aku tidak tahu Ki Rangga. Aku hanya mendapat tugas untuk menyampaikan perintah agar Ki Rangga hadir dalam Paseban Agung itu.—

—Baiklah Ki Lurah. Besok aku datang ke Mataram. Bukankah Ki Lurah akan menginap malam ini di barak pasukan khusus?—tanya Ki Agung Sedayu.

—Tidak Ki Rangga. Setelah menyampaikan pesan ini aku akan segera kembali ke Mataram, karena masih banyak yang harus aku kerjakan untuk mempersiapkan Paseban Agung itu—

Ki Rangga Agung Sedayu kembali mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya—Tetapi sekarang waktunya makan siang. Sebaiknya Ki Lurah berdua menikmati makanan pasukan khusus di Tanah Perdikan Menoreh ini, baru setelah beristirahat sejenak, Ki Lurah dapat melanjutkan perjalanan kembali ke Mataram—

—Dengan senang hati Ki Rangga—jawab Ki Lurah itu

Demikianlah setelah kedua tamunya dijamu dengan masakan sehari-hari yang dimakan oleh prajurit pasukan khusus, dan beristirahat sejenak, maka kedua utusan Ki Patih itu pun kemudian berpamitan.

—Baiklah Ki Lurah. Terima kasih atas pesan yang disampaikan kepadaku. Aku menjunjung tinggi perintah Ki Patih—

Setelah kedua tamunya meninggalkan barak pasukan khusus itu, Ki Rangga Agung Sedayu memanggil semua senapati yang berada di bawah wewenangnya untuk datang ke ruang khusus untuk mengadakan pertemuan.

Ki Rangga lalu menceriterakan bahwa Ki Patih telah memanggilnya untuk ikut hadir dalam Paseban Agung yang akan diadakan dua hari lagi. Karena itu, agar ia tidak terlambat, maka Ki Rangga Agung Sedayu dan dua orang lurah yaitu Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta akan datang besok ke Mataram.

Sedangkan senapati-senapati yang lain tetap bertugas di pasukan khusus dan di dermaga pembangunan kapal jung di tepian Kali Praga.

—Hari ini aku akan pulang lebih awal, karena aku akan menyampaikan kepada Ki Gde Menoreh dan kepala pengawal Tanah Perdikan Menoreh, Prastawa, mengenai kepergianku ke Mataram esok hari—

Para senapati yang hadir dalam ruangan khusus itu pun kemudian mulai mendapat pembagian tugas dari Ki Rangga selama ia pergi ke Mataram. Namun Ki Rangga masih tetap merahasiakan apa sebabnya ia dipanggil ke Paseban Agung. Ki Rangga mengatakan bahwa jika Paseban Agung itu berlangsung hingga petang, maka ia akan bermalam dua malam di Mataram.

Setelah membagi tugas sesuai dengan wewenang masing-masing, maka Ki Rangga pun kemudian berpamitan dan memacu kudanya pulang ke rumah. Nyi Sekar Mirah yang sedang berada di dapur terkejut ketika mendengar derap kaki kuda memasuki regol halaman dan ia segera melongok ke pintu. Ternyata suaminya, Ki Rangga Agung Sedayu yang pulang.

—Kakang pulang lebih cepat hari ini?—tanyanya.

—Iya Mirah. Tadi dua orang utusan Ki Patih datang ke Barak dan memintaku besok datang ke Mataram—

—Ada apa gerangan Kakang?—tanya Nyi Sekar Mirah yang perutnya semakin bulat dan pipinya nampak lebih montok. Nyi Sekar Mirah pun menuntun suaminya ke pendapa dan mereka kemudian duduk di atas selembar tikar yang digelar di tengah ruangan.

—Kedua utusan Ki Patih tidak mengatakan apa-apa. Mereka hanya memintaku untuk hadir dalam Paseban Agung—jawab Ki Rangga.

—Tumben kakang diminta hadir dalam Paseban Agung—tanya Nyi Sekar Mirah dengan wajah penuh tanda tanya dan perasaan waswas.

—Entahlah Mirah. Mungkin ada kaitannya dengan perluasan barak pasukan khusus dan pembangunan kapal jung itu—jawab Ki Rangga. Ia masih menyimpan keterangan Kangjeng Panembahan Hanyakrawati, Pangeran Purbaya dan Ki Patih Mandaraka yang akan menaikkan pangkatnya setingkat lagi menjadi panji.

—Ke manakah Ki Jayaraga dan Sukra, Mirah?—tanya Ki Rangga lagi.

—Ki Jayaraga tadi pagi ke sawah. Siang tadi Sukra membawakan makanan dan minuman untuk Ki Jayaraga. Sampai saat ini Sukra belum kembali. Mungkin ia langsung pergi ke kademangan induk untuk berkumpul dengan anggota pasukan pengawal lainnya.—jawab Nyi Sekar Mirah.

—Malam nanti aku akan menghadap ke Ki Gde Menoreh untuk menyampaikan rencana kepergianku ke Mataram besok—ujar Ki Rangga.
—Baiklah kakang—jawab Nyi Sekar Mirah.—Agaknya anakmu dalam kandungan ini sudah dapat firasat akan kedatangan kakang. Dari tadi ia menendang ke kiri ke kanan. Sampai aku mengatakan, Le, tole, jangan terlalu lasak. Ada apa to Le, kok meloncat ke sana ke mari?—

Ki Rangga Agung Sedayu pun tertawa mendengar ucapan istrinya itu. Ia pun kemudian bersenandung Tak Lelo-lelo, sambil memegang perut istrinya. Nyi Sekar Mirah pun heran, begitu terdengar senandung suaminya dan disentuh tangannya, jabang bayi dalam kandungan itu pun terdiam seolah-olah menyimak suara senandung ayahnya.

Ketika Ki Rangga berhenti bersenandung dan mengangkat tangannya dari perut Nyi Sekar Mirah, maka jabang bayi itu pun kembali bergerak ke sana ke mari.

—Lihat kakang, anakmu meloncat-loncat lagi—kata Nyi Sekar Mirah.

—Baiklah aku akan menyanyi lagi Le—kata Ki Rangga.

Demikian setelah bercengkrama beberapa lama dengan jabang bayi di dalam perut istrinya, Ki Rangga pun kemudian pergi ke pakiwan untuk mandi dan sesuci. Setelah itu ia melaksanakan kewajibannya kepada Yang Maha Agung.

Matahari yang sudah jauh melewati titik puncaknya semakin terpeleset di cakrawala Barat. Semakin lama sinarnya semakin kemerah-merahan dan semakin pudar ketika bersembunyi di balik bukit. Apalagi awan yang kelabu yang bertengger di atas bukit ikut menutupi cahayanya.

Awan kelabu yang bergerak selapis demi selapis, pada akhirnya menumpuk di atas bukit sehingga menjadi semakin pekat dan mulai mengembunkan uap-uap air menjadi gerimis.

Gerimis itu pun pada akhirnya kemudian berubah menjadi hujan yang semakin lebat. Sebelum hujan itu menjadi kian lebat Ki Jayaraga dan Sukra telah kembali ke rumah Ki Rangga Agung Sedayu. Sambil memikul cangkulnya Ki Jayaraga memasuki regol halaman rumah itu disusul oleh Sukra.

Mereka pun kemudian menuju ke longkangan dan meletakkan cangkul dan peralatan lainnya di sana lalu terus ke pakiwan untuk membersihkan diri. Setelah sesuci dan melaksanakan kewajibannya kepada Yang Maha Agung, mereka pun berkumpul di pendapa.

Ternyata di pendapa itu telah hadir pula Ki Rangga Agung Sedayu dan tak lama kemudian Nyi Sekar Mirah mengeluarkan singkong rebus yang masih mengepulkan asap dan beberapa mangkuk wedang jahe serta beberapa potong gula kelapa.

—Silakan Ki Jayaraga dan Sukra, kita menikmati singkong rebus yang masih hangat—kata Nyi Sekar Mirah.

—Wah hujan-hujan begini nikmat sekali makan singkong rebus ditemani wedang jahe. Badan yang mulai kedinginan kena hujan bisa menjadi hangat kembali—ujar Ki Jayaraga.

Demikianlah mereka menikmati udara sore yang mulai dingin itu sambil melahap singkong rebus. Sambil makan singkong rebus itu Ki Rangga Agung Sedayu pun kemudian menceriterakan kepada KI Jayaraga dan Sukra bahwa besok ia akan menghadap ke Mataram atas perintah Ki Patih Mandaraka. Ia akan hadir dalam Paseban Agung yang akan digelar lusa.

—Sungguh merupakan suatu kehormatan, bahwa Ki Rangga diundang dalam Paseban Agung—ujar Ki Jayaraga sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Ki Rangga Agung Sedayu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Seperti halnya kepada Nyi Sekar Mirah, ia pun tidak menceriterakan bahwa dirinya akan dinaikkan pangkatnya menjadi panji. Nanti setelah serat kekancingan dipegangnya, barulah ia menceriterakan kenaikan pangkatnya itu.

—Iya. Ki Jayaraga benar. Undangan untuk datang ke Paseban Agung sungguh merupakan suatu kehormatan yang luar biasa bagiku. Aku tidak tahu apakah kehadiranku itu ada kaitannnya dengan perluasan barak pasukan khusus di Tanah Perdikan Menoreh dan dermaga di tepian Kali Praga itu—jawab Ki Rangga.

—Bisa jadi Ki Rangga. Ki Rangga diperintahkan hadir mungkin saja karena Kangjeng Panembahan Hanyakrawati ingin mendengar perkembangan perluasan barak pasukan khusus dan pembangunan kapal jung itu di dermaga —kata Ki Jayaraga pula.

Karena kepergian Ki Rangga Agung Sedayu ke Mataram selama tiga hari, maka kepada Ki Jayaragan dan Sukra dimintanya untuk bergantian berada di rumah mengingat usia kandungan Nyi Sekar Mirah yang sudah semakin membesar. Ki Jayaraga dan Sukra pun mengangguk-anggukkan kepalanya.

Mereka telah mengenal Nyi Saniscara, dukun beranak yang merawat kandungan Nyi Sekar Mirah. Jika terjadi sesuatu atas Nyi Sekar Mirah selama Ki Rangga pergi ke Mataram, maka mereka diminta segera menghubungi Nyi Saniscara yang rumahnya tidak begitu jauh dari rumah Ki Rangga.

—Setelah matahari surup, aku akan menghadap Ki Gde Menoreh. Mudah-mudahan hujan sudah reda—kata Ki Rangga sambil melihat cucuran air di teritisan yang sudah mulai berkurang lebatnya.

Dan benar saja, tidak lama kemudian hujan yang tadinya lebat, meskipun tidak disertai petir dan guntur, kini telah berkurang menjadi gerimis. Langit yang tadinya gelap sempat terang sejenak, ketika sang mentari sempat mengintip dengan sinarnya yang jingga di ufuk Barat.

Awan hitam yang masih menggantung di langit Timur mendapat sorotan sinarnya sehingga menimbulkan lingkaran besar cahaya berwarna-warni di langit. Pelangi. Lengkungan cahaya itu berwarna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Cahaya pelangi yang berwarna-warni itu memberi inspirasi bagi orang tua yang kreatif untuk menciptakan lagu dolanan anak-anak.
Pelangi yang sejenak itu pun perlahan-lahan menjadi semakin pudar ketika sang mentari berkewajiban mengikuti garis edarnya untuk bersembunyi di balik bukit. Sang dewa malam pun mulai berkuasa dalam kegelapan.

Namun yang lebih berkuasa adalah sang mendung yang menutupi kehadiran bintang gemintang di langit. Tak satu pun bintang yang hadir di langit.

Namun angin Barat yang kencang tidak membiarkan gelap malam berkuasa terlalu lama. Angin kencang itu pun mendorong awan yang mengandung titik-titik air itu terbang ke langit Timur. Satu persatu bintang dengan malu-malu mulai menampakkan dirinya.

Mereka berpendaran satu dengan lainnya, seolah bersahut-sahutan dengan cahayanya menerangi langit. Meskipun sinarnya itu tidak seterang rembulan, namun bintang waluku di langit Selatan bisa menjadi petunjuk jalan orang yang tersesat atau nelayan yang kehilangan arah di tengah samudera.

Setelah hujan gerimis pun usai, maka Ki Rangga Agung Sedayu pun kemudian berpamitan untuk pergi ke rumah Ki Gde Menoreh. Karena jalanan becek, Ki Rangga memilih untuk berjalan kaki saja.

Selain karena jaraknya tidak terlalu jauh, kalau dalam keadaan becek seperti itu ia berkuda, tentu sepakan kaki kuda akan melontarkan tanah yang becek itu ke punggungnya, sehingga pakaian di bagian punggungnya akan kotor.
Dengan hati-hati Ki Rangga menapaki jalanan yang becek itu. Gemericik air di selokan terdengar cukup jelas ditingkahi oleh suara bilalang dan kodok ngorek yang bersahut-sahutan dengan irama alam yang merdu.
Kodok enggung yang suaranya besar dan berwibawa seolah-olah menjadi pemimpin konser alam itu. Ketika kodok enggung mulai bersuara, kodok bangkong segera menyahuti dengan suaranya yang melengking, lalu disusul oleh katak pohon dan katak hijau. Dengan riangnya mereka saling bercandetan, satu dengan yang lain saling mengisi keheningan malam itu.

Ketika kodok enggung diam beberapa saat, maka para kodok dan katak itu pun berhenti bersuara. Tidak terdengar suara apa pun. Persawahan itu menjadi sunyi. Setelah kodok enggung membuka suara, maka yang lain pun mulai menimpalinya. Begitu seterusnya. Seolah-olah mereka menjadi gembira menyambut kebahagiaan yang datang bersama turunnya sang hujan.
Ki Rangga Agung Sedayu terus melangkah sambil menikmati kebesaran malam di tengah persawahan itu. Di balik kegelapan malam ia masih dapat melihat gerumbul-gerumbul padi yang sudah mulai tumbuh membesar, setelah pekan sebelumnya mulai ditanam dengan jarak tanam sejengkal-sejengkal.
Ki Rangga terus berjalan, sehingga tanpa terasa ia sudah dekat dengan rumah Ki Gde Menoreh. Beberapa langkah lagi ia sampai di tikungan, lalu membelok ke kiri, lalu beberapa ratus langkah lagi sampailah di rumah paling besar di Tanah Perdikan itu.
Ketika sampai di rumah Ki Gde Menoreh, regol halaman itu masih terbuka lebar. Ia pun memasukinya dan mendekati pendapa. Dari jauh Ki Gde Menoreh yang sudah melihat kedatangan Ki Rangga Agung Sedayu, segera menghampiri.
—Marilah anakmas. Silakan naik ke pendapa—ujarnya sambil tersenyum gembira.—Pantaslah kupu-kupu tarung dari pagi berseliweran di pendapa ini. Agaknya anakmas yang datang.—
Ki Rangga Agung Sedayu pun tertawa panjang menimpali canda Ki Gde Menoreh.
—Ki Gde bisa saja. Bukankah kupu-kupu tarung itu terbang ke mari, karena di halaman rumah Ki Gde banyak bunga yang sedang mekar?—jawab Ki Rangga.
Demikianlah mereka saling bertegur sapa sebagaimana layaknya dua orang yang sudah lama tidak bertemu meskipun jarak rumah mereka tidak terlalu berjauhan. Namun karena kesibukan masing-masing mereka tidak bisa saling beranjangsana. Apalagi Ki Gde kaki kirinya agak terganggu akibat luka di punggung yang dideritanya.
Ki Rangga pun kemudian menceriterakan keadaan keluarga kecilnya yang dalam keadaan sehat sejahtera dan ia juga menceriterakan keadaan istrinya yang sedang mengandung dan kini semakin membesar.

Ia mohon doa restu dari Ki Gde agar pada saatnya anak dalam kandungan itu bisa lahir dengan lancar, sehat dan selamat tidak kekurangan sesuatu apapun juga. Begitu pula ibunya.
—Syukurlah angger akan segera mendapat keturunan—kata Ki Gde Menoreh dengan nada gembira.

Ki Gde Menoreh pun kemudian mendoakan agar kelak Nyi Sekar Mirah bisa melahirkan dengan lancar.dan selamat.
—Apakah kandungan Nyi Rangga sudah diperiksa oleh dukun beranak?—tanya Ki Gde Menoreh.
—Sudah Ki Gde. Setiap pekan Nyi Saniscara memeriksa kondisi kandungan istriku—jawabnya. Ki Gde Menoreh mengangguk-angguk.
Ki Rangga Agung Sedayu pun kemudian menceriterakan kepada Ki Gde Menoreh bahwa besok ia mendapat perintah untuk datang ke Mataram guna hadir dalam Paseban Agung pada keesokan harinya. Ki Gde Menoreh mengangguk-anggukkan kepalanya.
—Agaknya kehadiran Ki Rangga di Paseban Agung ada kaitannya dengan perluasan barak pasukan khusus dan rencana pembangunan armada laut pasukan khusus Mataram di tepian Kali Praga—kata Ki Gde Menoreh menduga-duga.
—Saya kira memang demikian Ki Gde—kata Ki Rangga Agung Sedayu.—Sehubungan dengan hal tersebut, aku hendak berpamitan kepada Ki Gde dan Prastawa sebagai kepala pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh serta para bebahu yang hadir di sini—

—Biarlah seseorang memanggil Prastawa di rumahnya—ujar Ki Gde Menoreh. Ia lalu menugaskan seorang anggota pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh memanggilnya. Tidak beberapa lama kemudian, Prastawa pun hadir di rumah Ki Gde Menoreh. Lalu Ki Gde menceriterakan kembali maksud kedatangan Agung Sedayu malam itu ke rumah Ki Gde. Prastawa pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan nada tulus ia mengucapkan selamat atas kepercayaan yang diterima oleh Agung Sedayu. Sebab baru sekali ini, Ki Rangga mendapat kehormatan untuk hadir dalam Paseban Agung.
—Kehadiran Kakang Agung Sedayu dalam Pisowanan Agung, juga merupakan kepercayaan bagi Tanah Perdikan Menoreh—tuturnya.—Kami turut gembira atas kepercayaan yang kakang terima.—
Seperti halnya kepada Ki Gde Menoreh, Agung Sedayu juga menceriterakan kepada Prastawa bahwa Nyi Sekar Mirah sudah mulai mengandung.
—Wah aku agaknya akan segera mendapat kemanakan—katanya dengan gembira.
—Aku mohon doa restumu adi—kata Agung Sedayu kepada Prastawa.
—Tentu. Tentu saja aku mendoakan agar mbokayu Sekar Mirah dan bayi dalam kandungannya sehat, kelak lahir dengan lancar dan selamat—jawab Prastawa.

Demikianlah setelah berbincang-bincang mengenai berbagai hal, Ki Rangga Agung Sedayu berpamitan kepada Ki Gde Menoreh, Prastawa dan para bebahu Tanah Perdikan Menoreh yang kebetulan hadir di rumah Ki Gde Menoreh.
Ki Gde Menoreh dan Prastawa pun lalu mengantarkan Ki Rangga Agung Sedayu sampai regol halaman. Seperti pada waktu datang, pada waktu pulang pun Ki Rangga Agung Sedayu pun berjalan kaki ke rumahnya yang tidak begitu jauh itu di tengah gelapnya malam.
Agung Sedayu pun tersenyum sendiri ketika mengenang masa kecil sampai remajanya yang menjadi ketakutan ketika disuruh kakaknya pergi dari Jati Anom ke Sangkal Putung di tengah malam.
Karena saking takutnya ia tidak juga mau pergi ke Sangkal Putung untuk memberitahu Ki Widura mengenai rencana penyerbuan Macan Kepatihan, sampai-sampai kakaknya Untara sempat mengancamnya dengan kerisnya.
Tanpa terasa, Ki Rangga Agung Sedayu telah sampai di rumahnya. Ia segera masuk ke dalam rumah setelah istrinya membukakan pintu.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ki Rangga Agung Sedayu telah siap pergi ke barak pasukan khusus. Setelah mengisi perutnya dengan makanan kecil, Ki Rangga pun berpamitan untuk pergi ke barak untuk kemudian berangkat ke Mataram.
Sesampainya di barak Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta sudah siap pula untuk berangkat ke Mataram. Setelah memeriksa kesiapan para senapati yang akan ditinggalkannya, maka mereka bertiga pun segera memacu kudanya ke Timur. Menuju ke tempat penyeberangan di Kali Praga.
Ketika mereka sampai di tepian Kali Praga, ternyata rakit-rakit bambu yang ada di sisi barat sudah bergerak ke seberang, sehingga mereka harus menunggu beberapa saat sampai rakit itu kembali.
Pada saat menanti kedatangan rakit-rakit itu dari seberang, tiba-tiba datanglah empat orang berkuda yang juga ingin menyeberang. Dengan wajah-wajahnya yang sangat orang-orang tersebut maju mendahului deretan orang yang menunggu rakit. Dengan kasarnya mereka mendorong deretan orang yang menunggu rakit itu, termasuk Ki Rangga Agung Sedayu, Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta.
Ki Rangga Agung Sedayu yang mempunyai kesabaran luar biasa itu sama sekali tidak terganggu oleh penyerobotan yang dilakukan keempat orang berkuda yang berwajah kasar. Tetapi tidak demikian halnya dengan Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta. Mereka mereka haknya sebagai pengantre yang terlebih dahulu datang dilanggar oleh keempat orang berkuda itu.
—KiSanak harus menunggu giliran, tidak boleh menyerobot begitu saja—kata Ki Lurah Suprapta.
—Kau mau apa. Kami sedang terburu-buru. Jangan mencari perkara dengan kami kalau mau selamat—kata salah seorang di antara mereka yang berwajah kasar, mata juling dan berambut keriting.
—Kisanak, meskipun kami tidak mengatakannya, tapi kami juga terburu-buru. Meskipun demikian kami tetap sabar menunggu giliran—kata Ki Lurah pula. Keempat orang berkuda itu tidak mengetahui dengan siapa mereka berhadapan, karena Ki Rangga dan kedua lurahnya tidak mengenakan pakaian keprajuritan.
—Apakah kalian berkeberatan jika kami naik ke rakit lebih dahulu—bentak kawannya yang juga berwajah kasar dan terdapat bekas luka menyilang di pipinya.
—Kalau semua mau menyeberang lebih dahulu tanpa memperhatikan kepentingan orang yang terlebih dahulu datang, maka hal itu akan merusak tatanan—kata Ki Lurah.
—Tatanan apa. Tatanan apa yang aku rusak?—kata orang yang berwajah kasar, bermata juling dan berambut keriting.
—Kalau Kisanak mau mengatakan apa alasan Kisanak harus terburu-buru, maka mungkin kami dapat mengerti dan bisa memberi kesempatan kepada Kisanak untuk menyeberang terlebih dahulu—kata Ki Lurah pula.
—Kau tidak perlu tahu, minggir—kata orang yang berwajah kasar, bermata juling dan berambut keriting.
—Eh, nanti dulu—kata ki lurah. Namun orang yang berwajah kasar, bermata juling dan berambut kriting itu agaknya sudah tidak sabar lagi.
Tiba-tiba saja tangannya menyambar pipi Ki Lurah Suprapta. Ki Lurah Suprapta yang tidak bersiaga, menjadi terkesiap dan sempat melangkah surut sehingga tangan orang berwajah kasar dan bermata juling itu hanya lewat senyari di depan hidungnya. Belum lagi Ki Lurah bersiaga sebuah tendangan melayang ke arah dadanya. Ki Lurah yang tidak mau menjadi sasaran tendangan lawannya yang berwajah kasar dan bermata juling itu, terpaksa harus berbuat sesuatu untuk mengatasi tendangan itu. Ki Lurah pun merendahkan badannya, sehingga tendangan itu lewat sejengkal di atas kepalanya.
Ki Lurah Suprapta yang masih berjiwa muda itu tentu saja tidak mau menjadi sasaran serangan tiga kali berturut-turut. Ki Lurah pun segera membalas serangan itu dengan kepalan tangannya mengarah ke dada.
Orang yang berwajah kasar, bermata juling dan berambut keriting itu ternyata cukup tangkas. Ia melangkah surut selangkah sehingga kepalan tangan Ki Lurah itu tidak menyodok dadanya. Orang berwajah kasar itu pun kembali melontarkan serangan dengan sisi telapak tangannya menyambar lambung, lalu disusul dengan serangan beruntun dengan kakinya yang mengarah ke dada.
Ki Lurah masih sempat menghindar ketika tangan orang berwajah kasar itu menyerang lambungnya dengan melangkah surut, tapi serangan beruntun dengan kakinya itu tidak lagi sempat dihindarinya. Dengan sigap Ki Lurah menyilangkan tangannya di depan dada untuk membentur tendangan menyilang dari lawannya. Akibatnya, Ki Lurah terdorong surut selangkah dan berusaha menguasai keseimbangannya. Sementara orang yang berwajah kasar, bermata juling dan berambut kriting itu terdorong surut dua langkah lalu jatuh terguling-guling.
Ki Rangga Agung Sedayu dan Ki Lurah Darma Samudra yang sedari tadi memperhatikan kedua orang itu bertarung, segera bersiap-siap ketika mereka melihat ketiga kawan orang yang berwajah kasar itu bersiaga untuk melibatkan diri.

—Ki Lurah, kau hadapi orang yang tinggi kurus dan luka di pipinya itu. Aku menghadapi dua orang lainnya—kata Ki Rangga.

—Baik Ki Rangga—jawab Ki Lurah Darma Samudra.

Demikianlah di tepian berpasir itu pun terjadi tiga lingkaran pertempuran. Ki Lurah Suprapta menghadapi orang yang bermata juling dan berambut keriting, Ki Lurah Darma Samudra menghadapi orang yang tinggi kurus dan luka di pipinya, sedangkan Ki Rangga menghadapi sisanya dua orang yang juga berwajah kasar, namun yang satu agak gemuk dan yang satu lagi agar kurus dan berkumis tebal.

Bersambung ke Jilid ke-401

buku-iv-99>>| buku-v-01>>

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 7 Januari 2010 at 10:40  Comments (613)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/bukan-adbm/trackback/

RSS feed for comments on this post.

613 KomentarTinggalkan komentar

  1. nuwun sewu, badhe nderek mampir….
    setelah sekian lama ndak mampir….akhirnya kangen juga…
    satu kejutan ketika ternyata ada “bukan ADBM”. Salut buat Ki Agus, satu karya yang harus diapresiasi…saya sudah baca sampai tulisan terakhir, walau saya merasa ada perbedaan gaya bahasa (justru yg menjadi gaya bahasa khas Ki SHM), tapi bagus sekali…
    Karena penasaran dengan lanjutan ceritannya…saya coba buka di matarambinangkit.com, ternyata harus bayar ya…..nglokro jadinya…
    memang segala jerih payah sdh seharusnya dihargai, entah itu berupa materi atau yg lain.
    jika memang pada akhirnya harus dikomersialkan, memang sudah seharusnya Ki gus harus mendapat ijin dari keluarga Ki SHM (ini menurut saya lho, mohon maaf yg sebesar-besarnya jk salah), sebab dalam tulisan Ki Agus ada mengandung properti milik Ki SHM.

    • Setuju kisanak,hak cipta ADBM sampai saat ini memang belum beralih ke tangan orang lain, sehingga secara hukum segala sesuatu yang berkaitan dengan lanjutan ceritera ADBM (mekipun menggunakan judul lainnya akan tetapi nama tokoh dan karakternya tidak bisa dipungkiri kalau itu merupakan kelanjutan dari ADBM)dalam bentuk cetakan yang diperjual-belikan tidak boleh sembarangan.

      Mohon maaf ki Agus, kami disini hanya sekedar mengingatkan tanpa mengurangi rasa hormat kami atas usaha ki Agus dalam melanjutkan ceritera ADBM. Apalagi seingat saya dulu di koran Kedaulatan Rakyat dalam wawancaranya Ki SH Mintardjo kalau gak salah pernah mengatakan kalau secara garis besar ceritera ADBM sudah diberikan ke penerusnya (keluarga) sehingga kalau sewaktu-waktu beliyau meninggal maka ada yang akan melanjutkan ceritera tersebut.

  2. Tidak ada lagikah cantrik yg dapat melanjutkan adbm di blok BUKAN ADBM, yg dapat dinikmati secara gratis ?

  3. Saya pekan lalu bertandang ke rumah Ki Agus untuk bertatap muka dengan Ki Agus S. Soerono dan hendak membeli Mataram Binangkit jilid 1.
    Saya terperangah, karena di depan rumahnya tertulis Kata-kata: Rumah ini dijual Hub. 021 93 3636 72. Menurut ceritanya, ternyata Ki Agus sedang dalam kesulitan keuangan karena harus menguliahkan anak sulungnya di fakultas kedokteran sebuah PTS. Sekarang anak kedua juga hendak kuliah di fakultas kedokteran. Aset tanah kosong dan mobilnya sudah melayang untuk membiayai anak pertama. Ia belum terpikir untuk mendapat uang dari mana untuk kuliah anaknya yang kedua. Belum lagi kebutuhan hidup sehari-hari. Ki Agus mempunyai empat putera yang semuanya masih sekolah. Gajinya di tempat kerja yang sekarang sama sekali tidak mencukupi untuk biaya sehari-hari. Oleh karena itu Ki Agus hanya bisa mengelus dada mendengar kata-kata pedas yang ditulis di Bukan ADBM. Menurut Ki Agus, para pembaca belum bisa menghargai karya tulisnya. Padahal zaman dulu, orang harus membeli komik karya KI SHM. Buku komik itu tidak didapat secara gratis. Memang para pendiri padepokan berhati sangatmulia dengan membuat padepokan itu secara gratis. Namun apakah Ki Agus bisa hidup apabila karyanya digratisin?
    Saya sebenarnya sering masuk ke Padepokan ADBMcadangan, cuman saya sangat jarang berkomentar. Namun melihat kondisi Ki Agus yang membuat saya trenyuh, saya memberanikan diri untuk menulis surat ini. Maaf Ki Agus, saya tanpa seizin Ki Agus menulis surat ini. Semata-mata karena keprihatinan melihat keadaan Ki Agus. Semoga para cantrik dan punggawa padepokan bisa ikut berbagi dengan Ki Agus. Semacam take and give gitu lho. Kalian bilang-bilang sakaw, sakaw, sakaw, tapi tidak ada perasaan melu handarbeni. Rasa turut memiliki kepedihan yang tengah dialami oleh Ki Agus.
    Sayang sungguh sayang… Kalau Ki Agus tidak bisa menyumbangkan kemampuannya di bidang tulis menulis, karena terbentur masalah ekonomi. Saya rasa Rp 30.000 sebulan tak ada artinya bagi Kisanak semua, apabila dibandingkan dengan kerinduan kita akan cerita-cerita yang dapat dihasilkannya.

    Maaf kalau kata-kata saya terlalu pedas. Bukan maksud saya membela Ki Agus. Tapi benar2 dari rasa keprihatin yang mendalam.
    Salam,

    Raden Panji Klantung

    Ruddy Wijanarko

  4. Wah..wah ternyata ada polemik yang terjadi disini.
    kalau memang ketentuannya seperti itu ya diikuti aja bagi yang mau, yang ndak mau ya gak usah ikut..gitu aja kok repot.
    Salam untuk Ki AS.

    Selamat tinggal sakauw…….mungkin dengan berjalannya waktu kita semua bisa melupakan rasa sakauw, dulu nggak tahu, jadi tahu dan nggak tahu lagi, kayak roda yang berputar.

    • njih ki

  5. Zaman sudah berubah….. Materi atau uang menjadi kebutuhan yg tak dapat dipungkiri, sudah selayaknya kalau suatu karya dihargai dengan cukup. Bagaimana kalau Bukan ADBMnya Ki AS tak usah diterbitkan di ADBMcadangan, terbitkan saja dalam bentuk buku saja, yg mau baca beli saja bukunya. Sudah tentu itupun dgn pembagian Royalti yg pantas untuk keluarga SHM.

  6. Sebenarnyalah setiap karya harus dihargai . Salam kenal,
    Buat ki Agus , tetap semangat , Semangat sore, semangat siang dan semangat malam

    • Kalau mau jujur, setelah baca kelanjutan AdBM yang ditulis Ki Agus, nampaknya koq tidak bisa mengikuti jiwa AdBM-nya Bp. SHM. Banyak hal-hal yang menjadi terasa aneh. Mulai dari alur cerita, karakter tokoh, gaya bahasa, dsb tidak nyambung dengan karya SHM.
      Sehingga saran saya, sebaiknya koq nggak usah dilanjutkan saja, daripada merusak image tokoh-tokoh AdBM.
      Kalau dicermati AdBM karya SHM sarat dengan ajaran cinta kasih baik pada Tuhan, maupun pada segala ciptaannya (lingkungan hidup dan sesama manusia). Jadi daripada merusak kesan terhadap AdBM-nya SHM. sebaiknya jangan dilanjutkan.
      Maaf kalau komentar saya nggak enak,

      • Kelanjutan ceritera yang dibuat oleh bukan penulis aslinya sangat dimungkinkan akan terjadi perbedaan dari segi alur ceritera, gaya bahasa ataupun karakter tokohnya. Biarlah para pembaca ADBM berimajinasi sendiri terhadap kelanjutan ceriteranya.

        Namun demikian usaha Ki Agus untuk melanjutkan ceritera ADBM yang menggunakan istilah Bukan ADBM sangat patut untuk dihargai. Namun demikian jika kelanjutan ceritera tersebut dimaksudkan untuk “dijual” kepada masyarakat maka harus selalu berkoordinasi dengan pihak keluarga bapak SH Mintardja (alm) terutama mengenai alur ceriteranya agar tidak menyimpang dari alur ceritera yang “dikehendaki” oleh penulis aslinya dan juga mengenai perkembangan karakter tokoh-tokoh utamanya (dan juga sudah pasti berkaitan dengan royalty nantinya).

        Selamat berkarya buat Ki Agus atau Ki Agus-Ki Agus lainnya yang bermaksud melanjutkan ceritera ADBM dengan versinya masing-masing.

        Mohon maaf jika ada kata-kata yang tidak berkenan.

        • lhokan judulnya lain”mataram binangkit” jadi mengapa harus minta izin dan mengapa harus dicerca,terus saja mas agus,

  7. Walah sdh lama gak nengok padepokan….
    lha kok sepi banget….apakah ini gara2 Ki AS menerapkan pola bayar bagi yg ingin baca lanjutan ADBM ??

    Pesan silaturahminya hilang gara2 duit…..ternyata antara harapan dan kenyataan gak pernah beriringan.

    Sebenarnya yang bisa bikin rame lagi adalah Ki AS mengirimkan ceritanya lagi ke forum ini dan secara gratis dan ikhlas…mungkin balasannya bukan materi tapi non materi yang mungkin nilainya amat sangat tinggi.

    Salam hangat selalu
    –Rangga yg gak sakti—

  8. selamat sore rekan2, saya telah ikut ketentuan yang dibuat oleh ki agus, tetapi saya mengalami kesulitan untuk membuka lanjutan adbm dan mataram binangkit, apakah saya masuk bulan ini hanya bisa baca yang bulan ini saja jadi terbitan yang lalu-lalu saya tidak bisa baca, atau bisa semua.
    saya coba email ke ki agus belum dijawab.
    bagi rekan2 yang telah memahami cara bacanya tolong kami dikasih informasinya.

  9. Terima kasih Ki Heri,
    Kalau Ki Heri sudah mendaftar, maka Ki Heri bisa membuka semua tulisan yang ada di Mataram Binangkit.com secara lengkap.
    Terima kasih atas perhatiannya.
    Salam
    Agus

    • intinya saya coba cari2 yang ki agus sampaikan belum ketemu.

  10. ADBM memang sarat dengan pesan2 moral, saya baca buku ini dari waktu saya sekolah.walaupun sudah ada yang melanjutkan jalan cerita yang menggantung,namun rasa rasanya banyak kata kata yang kurang pas dan terkesan janggal.jadi seperti baca cerita cerita silat yang lain, memang gaya penulisan ki SHM sangat khas.salam sejahtera untuk semua… RAHAYU

  11. Sbgai dwija dari padepokan terpencil yg rajin baca adbm sejak 1968(msh Smp kls 3)saya salut n mengapresiasi karya ki agus.yg kurang tentu ada tapi tdak akan saya ulas.namun sya tetap menikmati n ikut mendoakan agar bukan adbm ini nti bsa selesai dgn wijang,selamat berkarya ki Agus

  12. Sebelumnya Kuucapkan Salam kepada para sederek2 sanak kadang cantrik Pedepokan ADBM,mudah2an kita Semuanya selalu dapat selalu menjaga silahturahmi dan kerukunan sesama cantrik.
    Mengenai masalah Kelanjutan cerita Sang Resi Ki SHM yg memang sebenarnya masih sangat sangat kita harapkan,dan selalu kita tunggu tunggu,DAN sekarang memang sudah ada yg melanjutkan cerita ini (Ki Agus S ,,Salam buat Ki Agus S)
    Sakbenere aku dhewe yo seneng banget yen iso nyimak kelanjutan kitab iki,walaupun terasa berat yen kudu mbayar,opo pancen aku pelit ora gelem mbayar… hmm…,tp pancen dasare aku ora duwe duit gawe mbayar,,(kondisi pas2an)maaf Ki agus S,mungkin benar pendapat para kadang Cantrik yang menyarankan agar Ki Agus S menjual buku ini dengan menerbitkan dalam sebuah buku,namun memang seyogyanya dengan izin dari keluarga Ki SHM,dan kalaupun Ki Sanak tidak membagikan kelanjutan kitab di Padepokan ini Juga tidak apa2,
    karena memang ini kepunyaan Padepokan ADBM (Ki SHM only).
    mengenai masalah Kisanak yg di ceritakan oleh Ki Branjangan diatas mudah mudahan Kisanak segera dapat mendapatkan jalan keluarnya… Amin..,

    ya…mudah mudahan para cantrik dapat bersabar dalam menghadapi keaadan ini,seperti halnya Kanjeng Sultan Hadiwijaya yang pada mudanya bernama “Mas Karebet” yang dengan pasrah dalam meghadapi jatuhnya Takhta Pajang ( Raja Tanah Jawa ) untuk kemudian berpindah tangan Putra Kinasihnya Raden Sutawijaya
    walaupun secara kewadagan memerangi Mataram,tetapi didalam hati merestuinya.

    Mohon maaf
    salam

  13. MAAF
    SAYA PENGGEMAR BERAT ADBM
    UNTUK KELANJUTAN ADBM SERI V GIMANA YA
    MOHON PENJELASANYA
    DIMANA SAYA BISA MENDAPATKAN TERUSANYA
    TERIMA KASIH

    • Bayar dulu ke ki Agus mas Nanang, sekarang ini gak ada yang gratis 🙂

      • Bener tuh. Susah cari yang gratis. So….. kemana adbmers saat ini?

  14. semoga semakin memahami sejarah bangsa, kearifan-kearifan lokal dari sejarah dan budayanya ….

  15. nyapu mundur dl ahhhhh biar halaman Padepokan bersih,sebelum masuk sanggar trus nanti mlm nengok pliridan……… monggo poro kadang ingkang ngersakaken unjukan,dateng pendopo sampun kasiapaken wedang sere kaliyan jenang alot……

  16. matarambinangkit.com udah expire ya?????

  17. Ada yang mau paste lanjutan mataram binangkit di sini kaga ya???? masalahnya matarambinangkit.com udah ga bisa diakses…. “Penasaran banget nich….”

  18. Mohon dong kiranya lanjutan Mataram Binangkit Buku 404 ke atas dilanjutkan di sini, soalnya matarambinangkit.com udah ga bisa diakses…. terimakasih

  19. matarambinangkit.com udah expire ya?????

    Mohon dong kiranya lanjutan Mataram Binangkit Buku 404 ke atas dilanjutkan di sini, soalnya matarambinangkit.com udah ga bisa diakses…. terimakasih

  20. Ada yg udah update mataram binangkit ga ya??? bagi dong

  21. bagi dong update mataram binangkitnya…

  22. matarambinangkit.com udah expire ya?????

    Mohon dong kiranya lanjutan Mataram Binangkit Buku 404 ke atas dilanjutkan di sini, soalnya matarambinangkit.com udah ga bisa diakses…. terimakasih

    bagi dong update mataram binangkitnya…

  23. matur suwun sampun kesiapaken wedang sere kaliyan jenang alotipun…habis nengok jendela sebelah mataram biangkit, koq sudah ga bisa diakses ya? kemana lagi kuharus mencari kelanjutan ADBM?

  24. Kalau adbmers beralih ke matraram binangkit, dari adbmers jadi mbers donk?

  25. MATARAM BINANGKIT Lanjutan Api Di Bukit Menoreh Karya Ki Agus S. Soerono Seri V Buku 403 Demikianlah mereka berbagi kegembiraan. Namun mereka juga menyadari bahwa kegembiraan mereka atas kenaikan pangkat Ki Agung Sedayu menjadi Ki Tumenggung Jaya Santika, juga menuntut tanggung jawab yang lebih besar. Mereka semua, seluruh pasukan khusus di Tanah Perdikan Menoreh, harus meningkatkan kemampuan ilmu olah kanuragan mereka. Mereka harus bisa mempertahankan kekuatan pasukan khusus Mataram, harus bisa memperluasnya bahkan kalau perlu menguasai sampai ke seberang lautan. Oleh karena itu segala yang ditanamkan oleh Ki Tumenggung Jaya Santika dalam diri mereka, mereka camkan dengan sungguh-sungguh. Mereka juga menyadari bahwa kesatuan dan persatuan Kerajaan Mataram, sesungguhnya hanya kelihatan seperti permukaan air danau yang tenang, bahkan sangat tenang. Namun di bawah permukaan itu, air itu bergolak dengan derasnya. Bahkan mempunyai beberapa pusaran yang kuat yang siap menenggelamkan kapal jung yang mereka tumpangi. Oleh karena itu, para prajurit terutama dari pasukan khusus di bawah Ki Tumenggung Jaya Santika, mempunyai tanggung jawab yang paling berat. Karena setiap waktu pergolakan yang berada di bawah permukaan itu mencuat ke atas, maka mereka harus siap setiap saat untuk mempertahankan kesatuan dan persatuan itu. Bahkan kalau perlu, mereka harus sudah tahu sebelum pergolakan dari pusaran air di bawah permukaan itu mencuat ke atas. Karena itu peranan pasukan telik sandi menjadi sangat penting. Oleh karena itu, kepada para senapati sehari dalam sepekan Ki Tumenggung Jaya Santika memberi arahan mengenai cara-cara peningkatan ilmu kanuragan mereka. Ia memberi bimbingan khusus bagi para senapati tersebut, dan bimbingan khusus itu tidak hanya untuk meningkatkan tenaga cadangan mereka, namun juga sudah merambah ke ilmu jaya kawijayan. Beberapa senapati yang menonjol seperti Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta mendapat gemblengan khusus dari Ki Tumenggung Jaya Santika. Hal pertama yang dilakukan terhadap kedua lurahnya itu adalah meningkatkan kemampuan ilmu meringankan tubuh. Hal ini menjadi perhatiannya, karena sebagai senapati armada laut Kerajaan Mataram, mereka harus bisa berjalan di atas air. Dan untuk bisa berjalan di atas air, tentu saja mereka harus mempunyai kemampuan ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Apabila kemampuan ilmu meringankan tubuh mereka sudah tinggi, maka mereka akan dapat menapak di atas air laut bahkan berlari, seperti saat mereka berjalan di atas tanah. Para senapati itu juga dilatihnya dengan ilmu jaya kawijayan. Ki Tumenggung Jaya Santika setelah mendapat izin dari Ki Jayaraga, juga menurunkan ilmu Sigar Bumi yang sempat dipelajarinya kepada para senapatinya itu. Bahkan Ki Tumenggung sempat mengenalkan para senapati itu dengan Ki Jayaraga, sebagai sumber ilmu yang akan diberikannya kepada para senapati itu. Memang setelah Ki Tumenggung Jaya Santika mempelajari ilmu aji Kendali Sukma dari Ki Jayaraga, ternyata orang tua itu tidak mau tanggung-tanggung dalam menurunkan segala ilmunya. Ki Jayaraga juga menurunkan aji Sigar Bumi yang telah dipelajari Glagah Putih kepada Ki Tumenggung Jaya Santika. “Inilah kakek guru kalian, yang menjadi asal muasal diturunkannya ilmu Sigar Bumi,” kata Ki Tumenggung Jaya Santika. Ki Jayaraga bahkan sempat memberikan petunjuk-petunjuk khusus kepada para senapati yang di bawah pimpinan Ki Tumenggung Jaya Santika. Sehingga dengan demikian para senapati itu pun semakin meningkat tenaga cadangannya, ilmu meringankan tubuhnya dan ilmu jaya kawijayannya. Untuk bisa mencapai tataran yang diinginkan, maka para senpati itu harus menjalani bebagai laku sebagaimana yang dilakukan oleh Ki Tumenggung Jaya Santika. Mereka menjalani tirakat berupa puasa, patigeni dan ngebleng. Ngebleng adalah suatu laku berupa puasa terus menerus dan tidak keluar dari bilik selama melakukan puasa itu. Sedangkan patigeni adalah laku tidak tidur selama menjalani laku tirakat itu. Sungguh suatu laku yang berat. Dalam pada itu, di Kadipaten Panaraga, prajurit telik sandi Glagah Putih dan Rara Wulan terus mengamat-amati Pangeran Ranapati. Namun setelah sekian lama tidak ada pergerakan yang nampak dari Istana Kadipaten, maka mereka bertemu kembali. Glagah Putih, Rara Wulan, Madyasta, Sumbaga, Sungkana dan Ki Darma Tanda bertemu di tempat persembunyiannya yang tidak diketahui oleh Pangeran Ranapati atau anak buahnya. Dalam pertemuan itu, Glagah Putih dan Rara Wulan menyampaikan bahwa sampai detik ini mereka belum mengetahui sampai sejauh mana pergerakan Pangeran Ranapati untuk menggosok Pangeran Jayaraga untuk memberontak kepada Mataram. “Saya rasa harus ada di antara kita yang melapor ke Mataram, dalam situasi yang sangat tidak menentu ini,” kata Glagah Putih. Mereka yang hadir di ruangan itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka setuju dengan pernyataan Glagah Putih bahwa ada di antara mereka yang harus pergi ke Mataram. Tetapi siapa? “Siapakah menurut kalian yang harus kembali ke Kotaraja Mataram untuk melaporkan situasi ini,” tanya Glagah Putih. Ki Madyasta yang paling dituakan di antara mereka pun kemudian berkata. “Kurasa adi Glagah Putih dan adi Rara Wulan saja yang kembali ke Mataram. Karena adi berdua sudah cukup lama berada di Panaraga. Kalian sudah cukup lama tidak kembali ke Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh,” kata Ki Madyasta. Mereka kemudian kembali manggut-manggut. Mereka semua setuju dengan pendapat Ki Madyasta itu. “Benar, kakang Madyasta. Kali ini biarlah kita tugaskan adi Glagah Putih dan adi Rara Wulan untuk kembali ke Kotaraja Mataram,” kata Ki Sungkana. “Aku setuju dengan pendapat kalian berdua. Bukankah sudah cukup lama adi Glagah Putih dan Rara Wulan tidak bertemu dengan Ki Patih Mandaraka,” kata Ki Sumbaga pula. Glagah Putih yang pertama melontarkan pendapat bahwa harus ada yang melapor ke Kotaraja Mataram menjadi terperangah. Ia tidak menyangka bahwa justru dia sendiri yang mendapat tugas untuk kembali ke Kotaraja Mataram. “Bagaimana Wulan? Apakah kau juga sudah rindu kepada ayah dan ibumu?” tanya Glagah Putih sambil menahan senyumnya. Rara Wulan tidak menjawab, ia hanya bergeser merapat dan tangannya menyambar pinggang Glagah Putih yang membuat Glagah Putih meringis kesakitan. “Biar kakang punya ilmu kebal, pinggangmu tidak akan aku lepaskan,” katanya. Dengan wajah yang dibuat memelas, Glagah Putih menghiba-hiba kepada Rara Wulan. “Ampun Wulan. Ilmu kebalku tidak mempan menghadapi ilmu cengkeraman mautmu,” katanya. Kata-kata Glagah Putih itu justru membuat Rara Wulan memperkeras cengkeramannya. Semua yang hadir di ruangan itu pun tertawa melihat ulah mereka berdua. “Sudahlah Wulan. Aku hanya bercanda,” kata Glagah Putih dengan nada bersungguh-sungguh sambil memegang tangan Rara Wulan dan membelainya. Hati Rara Wulan pun menjadi luruh karenanya. Namun pada akhirnya semua yang hadir di ruangan itu sepakat bahwa Glagah Putih dan Rara Wulan yang akan berangkat ke Kotaraja Mataram pada keesokan harinya. Glagah Putih dan Rara Wulan bangun pagi-pagi benar sebelum berangkat. Mereka menunaikan kewajibannya kepada Yang Maha Agung. Rara Wulan masih sempat menanak nasi, memasak sayur dan menghangatkan ayam goreng yang dipotong kemarin. Mereka pun kemudian menyantap sarapan bersama di pendapa. Sedangkan sebagian dari makanan itu dibungkusnya sebagai bekal mereka dalam perjalanan. Setelah selesai sarapan, Glagah Putih dan Rara Wulan pun segera berkemas-kemas. Mereka pun sudah siap untuk berangkat ketika mentari pagi menyembul di ufuk timur. Mereka berdua pun segera berpamitan kepada Ki Madyasta, Ki Sumbaga dan Ki Sungkana serta Ki Darma Tanda. Glagah Putih memilih untuk berjalan kaki untuk kembali ke Mataram. Sedangkan kuda mereka dititipkannya kepada Madyasta, dengan harapan kalau kelak kembali ke Kotaraja Mataram kuda itu dibawa serta. “Wah sekarang tidak ada lagi yang memasakkan sayur bagi kita,” kata Ki Madyasta. Yang lain merasa tergugu. Karena sekian lama mereka berada di Kadipaten Panaraga dalam waktu yang cukup lama. Mereka merasa seperti sudah menjadi saudara. “Wah jangan khawatir. Doakan saja aku selamat dan segera kembali. Nanti aku masakkan lagi sayur kacang panjang, sayur lodeh atau gudeg,” kata Rara Wulan. Namun tanpa terasa setitik air mengembun di pelupuk matanya. Air yang mengembun itu perlahan-lahan berubah menjadi air mata. Rara Wulan tidak tahan dan ia terisak. Betapa pun perkasanya Rara Wulan yang menghadapi para pengikut Pangeran Ranapati, ternyata hati perempuannya tersentuh. Ia menangis dalam isaknya. Akhirnya dengan menebalkan tekadnya, Rara Wulan dapat meredam tangisnya itu. Mereka lalu bersalaman. Lalu perlahan-lahan Glagah Putih dan Rara Wulan meninggalkan pemondokan mereka di tempat yang terpencil itu. Glagah Putih dan Rara Wulan pun melambaikan tangannya. Ki Madyasta, Ki Sumbaga, Ki Sungkana dan Ki Darma Tanda pun melambaikan tangannya. Mereka pun terus memperhatikan kedua sejoli itu yang semakin menjauh dan mengecil, akhirnya hilang di balik tikungan. Glagah Putih dan Rara Wulan terus berjalan. Mereka menapak tilas jalan-jalan yang mereka lalui dulu ketika mereka berangkat dari Kotaraja Mataram dan akhirnya sampai di Kadipaten Panaraga. Hanya saja kali ini mereka berjalan dalam arah yang berlawanan. Mereka pun sempat menengok rumah di tengah hutan, ketika mereka bertemu dan mereguk ilmu olah kanuragan dari Kiai Namaskara. Namun setelah sekian lama mereka tinggalkan jejak di tengah hutan itu tidak nampak sama sekali. Mereka berputar-putar mencari rumah di tengah hutan lebat itu, namun tidak menemukannya. “Aneh sekali kakang,” kata Rara Wulan yang masih penasaran dan berusaha mencari rumah yang dulu sudah mulai reyot. Ketika mereka memasuki hutan itu, masih nampak tanda-tanda yang bisa mengantar mereka ke rumah Kiai Namaskara, bahkan mereka bisa mengenali beberapa pohon yang menjulang tinggi. Namun begitu masuk dalam lindangan hutan yang pepat, mereka kehilangan jejak. “Iya. Perasaanku, kita memasuki lorong di bawah pohon ara ini, lalu berbelok ke kanan. Namun sekarang belokan ke kanan itu sudah hilang tertutup pohon,” kata Glagah Putih. Mereka pun mencoba melingkar ke belakang pohon ara itu, namun mereka tidak dapat menemukan jalan masuk menuju ke rumah itu. Semuanya pepat, gelap pekat, dan tidak ada rongga barang sedikit pun. Namun anehnya hutan itu terasa sunyi. Tidak ada suara cenggeret, monyet atau kampret yang terbang. Sepi. Di kejauhan masih terdengar auman suara harimau. Namun lamat-lamat. Akhirnya Glagah Putih memutuskan untuk tidak meneruskan mencari petilasan Kiai Namaskara itu. Ia pun mengajak Rara Wulan untuk berdoa bagi Kiai Namaskara, meskipun mereka tidak menemukan kembali rumahnya. Mereka berniat meneruskan perjalanan meskipun tidak menemukan rumah Kiai Namaskara di tengah hutan yang sudah berubah itu. Setelah berdoa dan mempunyai ketetapan hati demikian, maka Glagah Putih mengajak Rara Wulan untuk keluar dari hutan itu. Mereka pun kembali menelisik jalan yang mereka tempuh semula untuk memasuki hutan itu, untuk kembali keluar. Tidak berapa lama mereka sudah sampai di tepi hutan. Di tepi hutan itu ternyata ada sebuah sungai yang airnya sangat jernih, sehingga nampak ikan yang berenang di dasar sungai itu. Melihat air yang jernih dan kebetulan perut mereka sudah mulai terasa lapar, maka Rara Wulan mengajak suaminya untuk berhenti sejenak. Sambil berjuntai di atas sebuah batu hitam yang besar, mereka menikmati bekal yang mereka bawa. “Apakah aku boleh berenang di sungai ini, kakang?” tanya Rara Wulan. “Boleh. Apakah kau ingin berenang di siang yang panas ini? Bukankah kau tadi pagi sudah mandi di rumah?” tanya Glagah Putih. “Iya. Tadi aku ingin berenang. Sangat ingin. Tetapi setelah mendengar pertanyaanmu, aku membatalkan niatku,” kata Rara Wulan. “He? Kenapa?” “Tidak. Tidak kenapa-kenapa.” Mata Rara Wulan nampak mulai mengembun dan setitik air hampir menetes dari sudutnya. Tiba-tiba Rara Wulan meloncat dan berlari sekencang-kencangnya. Karuan saja Glagah Putih menjadi terkejut. Ia buru-buru membenahi kampil Rara Wulan yang ditinggalkan begitu saja. Kampil itu tadi dipakai untuk menyimpan bekal mereka. Setelah masuk dengan rapi, ia segera berlari mengejar Rara Wulan. Namun Rara Wulan sudah lenyap di tengah lebatnya hutan. Glagah Putih pun mulai berteriak-teriak memanggil. “Wulan. Wulan. Di mana kau? Maafkan kalau kata-kataku ada yang salah,” kata Glagah Putih. Glagah Putih merasa heran, kenapa belakangan ini Rara Wulan menjadi sedikit lebih perasa daripada biasanya. Ia pun mencari ke sana kemari, menubras-nubras di tengah lebatnya hutan itu. Setelah sekian lama Rara Wulan tidak ditemukan juga, maka Glagah Putih pun kini tidak mau kehilangan akal. Ia segera meloncat naik ke sebatang pohon, lalu diam pada salah satu cabangnya. Ditunggunya beberapa saat. Akhirnya dari bawah sebuah pohon ia melihat dedaunan yang bergerak-gerak. Lalu muncul Rara Wulan yang celingak-celinguk. Mencarinya. Glagah Putih diam dan membiarkan Rara Wulan mencarinya. “Kakang. Kakang Glagah Putih. Jangan tinggalkan aku,” teriak Rara Wulan. Glagah Putih bergeming. Kini giliran Rara Wulan yang mencari Glagah Putih di tengah hutan yang lebat itu. Tiba-tiba Glagah Putih melihat seekor harimau yang mengendap-endap mendekati Rara Wulan. Ia tidak sampai hati. Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah tidak ada bandingannya itu, Glagah Putih turun di belakang harimau itu. Ia melempar harimau itu dengan sebuah batu yang mengenai pinggangnya. Harimau itu menggeram dan berbalik arah. Harimau itu merunduk dan mengambil ancang-ancang untuk menerkam Glagah Putih. Glagah Putih pun bersiap-siap menyambut terkaman harimau itu. Sang raja hutan itu melompat tinggi, kuku kedua kaki depannya terjulur lurus-lurus ke depan. Siap mencabik-cabik tubuh Glagah Putih dalam satu kali hentakan. Tentu saja Glagah Putih tidak mau tubuhnya menjadi sarang kuku harimau itu. Dengan cepat ia berkelit ke samping, sambil tangan kanannya menyodok ke dada sang penguasa hutan. Harimau itu kembali menggeram dengan kerasnya. Agaknya ia belum jera. Kembali ia merunduk. “Hati-hati kakang,” terdengar teriakan Rara Wulan yang merasa khawatir melihat suaminya diterkam harimau. Glagah Putih pun bersiaga kembali. Ia pun memasang kuda-kuda yang kuat. Harimau itu kembali merunduk, seperti seekor kucing yang sedang mengincar mangsanya. Kepalanya menempel di tanah dan ekornya mengibas-ngibas. Dengan sepenuh tenaga ia kembali meloncat. Glagah Putih kembali mengelak ke samping. Ketika cakar depan harimau itu sudah melintasi tubuhnya, tendangan yang sangat kuat mengenai kaki belakang harimau itu. Harimau itu kembali menggeram. Namun kali ini geraman ketakutan. Ia segera menyusup ke dalam semak-semak di sebelah Rara Wulan. Rara Wulan yang melihat harimau itu berlari ke arahnya segera bersiaga. Namun harimau itu tidak menghiraukannya dan justru menghindarinya lalu masuk ke dalam hutan. Dengan lincah meskipun terseok-seok karena kena tendangan Glagah Putih, harimau itu pun pergi jauh dan tidak terdengar lagi aumannya. Rara Wulan pun lari mendekat dan memeluk suaminya. “Aku takut kakang,” kata Rara Wulan. “Sudahlah Wulan, harimau itu sudah pergi,” kata Glagah Putih sambil mengelus-elus pundak istrinya. Tiba-tiba perut Rara Wulan terasa mual, dan ia pun menjauh dari suaminya lalu menumpahkan isi perutnya. Segala makanan yang dikunyahnya dalam makan siang di tepi sungai tadi terhambur ke luar. Beberapa kali ia memegangi pinggangnya lalu terbungkuk-bungkuk dan melontarkan kembali isi perutnya beberapa kali. Meskipun cairan yang keluar dari perutnya sudah habis, Rara Wulan masih terbungkuk-bungkuk kembali. “Kau kenapa Wulan? Kau masuk angin?” tanya Glagah Putih. “Tidak kakang. Aku sudah terlambat satu bulan,” kata Rara Wulan. “He? Kau sudah isi. Kau sudah mengandung Wulan? Pantaslah kau tadi mudah sekali tersinggung ketika aku tanya mengenai keinginanmu untuk berenang di sungai tadi,” kata Glagah Putih. “Iya kakang. Tiba-tiba saja aku merasa benci melihat kakang,” kata Rara Wulan. “He? Benci? Kenapa kau benci aku?” tanya Glagah Putih. “Iya. Aku benar-benar cinta, kakang,” kata Rara Wulan dengan senyum dikulum. Glagah Putih pun kemudian memeluk istrinya. “Terima kasih sayang. Kau akan memberikan keturunan padaku,” katanya. Lalu ia melanjutkan. “Kalau demikian kita berjalan lambat-lambat saja, agar kandunganmu yang masih sangat muda itu tidak terganggu karena kau kecapekan atau makanan dalam perutmu keluar semua, karena muntah,” kata Glagah Putih lagi. Demikianlah mereka berjalan dengan pelan-pelan, karena kondisi Rara Wulan yang sedang hamil. Perjalanan yang mereka tempuh selama empat hari ketika datang, kini mereka tempuh dalam waktu hampir dua kali lipatnya. Setiap sebentar mereka beristirahat. Bila senja sudah membayang, mereka pun segera mencari penginapan yang layak untuk bermalam. Di suatu desa sebelum sampai di Banyu Asri, mereka bermalam di sebuah penginapan yang terletak dekat pasar. Pagi-pagi sekali Rara Wulan sudah terbangun dan mandi, lalu berhias diri. Glagah Putih yang mendengar kesibukan Rara Wulan segera terbangun. “Hendak ke manakah engkau sepagi ini Wulan?” tanya Glagah Putih. “Aku ingin makan nasi gudeg dan ayam goreng di pasar,” kata Rara Wulan.”Apakah kau ikut?” “Tentu saja aku ikut. Tunggulah sebentar.” Glagah Putih pun segera mandi, menunaikan kewajibannya kepada Yang Maha Agung, lalu mengajak Rara Wulan ke pasar di sebelah penginapan mereka. Mereka pun berjalan pelan-pelan sambil menikmati kesegaran udara pagi, saat sang mentari baru muncul dari balik bukit di ufuk timur. Burung-burung berkicau gembira menyambut sang fajar. Mereka terbang kian kemari sambil berdendang dan menari. Mereka tidak pernah memikirkan, apakah makan yang mereka peroleh hari ini akan cukup hingga petang. Yang penting mereka terbang, menyanyi, menari dan mematuk ulat daun yang tersedia di mana-mana. Asal mereka mau terbang dan mencari, maka ulat dan makanan lainnya terasa berlimpah. Dalam kesejukan udara pagi itulah Glagah Putih dan Rara Wulan terus menapaki jalan menuju pasar yang sudah tidak jauh lagi. Mereka pun sampai di pasar, dan menemukan warung gudeg itu di sudut kiri depan pasar. Mereka masuk ke dalam warung gudeg itu dan memilih duduk di sudut dekat jendela. Udara semilir menyejukkan suasana di warung gudeg itu. Rara Wulan segera memesan nasi gudeg, telur, tempe orek dan tahu bacem cukup untuk dua orang. Rara Wulan memesan dua gelas jeruk hangat. Tidak berapa lama makanan yang mereka pesan pun datang, karena di pagi seperti itu warung gudeg itu belum begitu ramai. Orang-orang masih sibuk menjual dagangannya dan berbelanja kebutuhannya sehari-hari. Biasanya setelah barang dagangannya laku atau pembeli sudah memperoleh apa yang dicarinya, barulah mereka mampir ke warung gudeg itu untuk makan. Glagah Putih dan Rara Wulan pun dapat menikmati makanan yang mereka pesan sambil menikmati pemandangan orang-orang yang berjual beli di pasar. Ketika mereka sedang makan itu, beberapa orang yang kekar memasuki warung gudeg itu pula. Mereka duduk di arah yang berseberangan dengan sepasang suami istri itu di sudut yang lain warung gudeg. Setelah memesan makanan, mereka berceritera dengan riuhnya. Mereka tidak peduli betapa pembeli yang lain merasa terganggu atau tidak. “Kakang Sukarta, bagaimana pandangan kakang mengenai kekuatan dan kesiagaan pasukan khusus Kerajaan Mataram di Prambanan, Kotaraja, maupun di Tanah Perdikan Menoreh?” tanya salah seorang yang gemuk berjambang lebat dan berambut ikal. “Seperti kau lihat, adi Ragil. Ternyata pasukan Kerajaan Mataram semakin kuat saja. Mereka membangun kekuatan di mana-mana. Selain di ketiga tempat itu masih ada lagi tempat pemusatan barak mereka di Galur, khusus untuk prajurit pasukan armada laut mereka,” kata Ki Sukarta. Seperti halnya Ragil, Sukarta juga gemuk berjambang lebat dan berambut ikal. Agaknya mereka dua orang yang bersaudara dan berguru di padepokan yang sama. Ia menoleh ke kiri kanan sejenak. Namun ia tidak menaruh curiga kepada sepasang suami istri yang duduk di sudut dekat jendela. Mereka lihat Glagah Putih dan Rara Wulan makan dengan asyiknya, tidak menghiraukan mereka yang berceritera dengan riuhnya. “Apakah kita akan mencoba mengganggu dan mengacaukan prajurit pasukan khusus itu, kakang?” tanya orang yang disebut Ragil oleh temannya. Sukarta tercenung sejenak. Ia nampak berpikr keras, lalu menjawab. “Aku kira kita tidak usah membuat gara-gara, jangan sampai terulang kembali seperti Gerombolan Gagak Hitam yang ternyata bisa digulung oleh prajurit pasukan khusus Kerajaan Mataram. Padahal Gerombolan Gagak Hitam, termasuk di antara yang terkuat dalam kelompok padepokan yang mendukung gegayuhan Pangeran Jayaraga dari Kadipaten Panaraga,” kata Ki Sukarta. “Bukankah kemarin kita berpapasan dengan Ki Gondang Legi yang hendak kembali ke padepokannya? Ki Gondang Legi sudah menceriterakan secara singkat betapa kuatnya prajurit pasukan khusus Kerajaan Mataram yang ada di Tanah Perdikan Menoreh,” kata Ki Sukarta lagi. Lalu ia menambahkan. “Tugas kita adalah tugas telik sandi. Bukan untuk mengadakan pengacauan atau gangguan keamanan,” katanya tegas. Rekan-rekannya yang lain pun mengangguk-anggukkan kepalanya. “Benar Ki Ragil. Sebaiknya kita tidak membuat masalah dengan prajurit pasukan khusus, agar tidak mengganggu rencana kita secara keseluruhan,” kata rekannya yang lain. Ki Barong Landung. Sesuai dengan namanya orang ini berwajah seram, matanya juling dan badannya tinggi melebihi rekannya yang lain. Glagah Putih dan Rara Wulan yang mendengar pembicaraan mereka menjadi tertarik. Dengan berbisik-bisik mereka berbicara. Mereka berdua telah menyelesaikan makanan yang dipesannya. “Wulan apakah kau setuju apabila aku menangkap mereka semua?” tanya Glagah Putih kepada Rara Wulan. “Mereka berlima kakang. Sedangkan aku masih dalam keadaan lemah karena aku sedang isi, kakang,” kata Rara Wulan. “Tenang saja Wulan aku dapat mengatasi mereka,” kata Glagah Putih. “Setelah kakang berhasil menangkap mereka, apakah kakang akan membawa mereka ke Kotaraja Mataram?” tanya Rara Wulan. “Tentu Wulan. Namun kita akan membawanya sampai di Pajang. Di sana nanti kita serahkan kepada prajurit penghubung yang ada di sana untuk dibawa ke Kotaraja Mataram,” kata Glagah Putih. “Baiklah jika demikian, kakang. Berhati-hatilah,” kata Rara Wulan. Glagah Putih kemudian berdiri dan melangkah menuju meja para telik sandi Kadipaten Panaraga itu. Ia berjalan melingkar-lingkar di sekitar meja tempat duduk mereka. Glagah Putih memperhatikan mereka satu persatu. Ki Sukarta, Ki Ragil, Ki Barong Landung dan dua orang lagi yang disebut temannya bernama Ki Semprong serta Ki Slorog. Agaknya langkah Glagah Putih yang melingkar-lingkar di sekitar mereka membuat kelima orang itu tidak nyaman. “He? Apa yang kau lakukan di sini,” tanya Ki Sukarta. “Aku sedang mencari lima orang telik sandi dari Kadipaten Panaraga. Apakah kalian mengenalnya?” tanya Glagah Putih. “Telik sandi Kadipaten Panaraga?” tanya Ki Ragil. “Ya lima orang telik sandi Panaraga, namanya Ki Sukarta, Ki Ragil, Ki Barong Landung, Ki Semprong dan Ki Slorog,” kata Glagah Putih. “He? Kurang ajar. Kau siapa?” tanya Ki Sukarta. “Aku Glagah Putih. Aku petugas dari Mataram,” kata Glagah Putih sambil menunjukkan timang di pinggangnya yang bergambarkan pertanda petugas dari Mataram. “Kau datang sendiri?” “Ya.” “Kalau kelima telik sandi yang kau cari itu adalah kami, kau mau apa?” “Aku akan menangkap kalian.” “Apakah kau tidak salah, Glagah Putih?” tanya Ki Sukarta lagi.”Kau datang sendiri, kami berlima. Badanmu kecil, kami berlima kokoh kuat.” “Apakah kau memakai tubuhmu yang dempal itu sebagai ukuran?” tanya Glagah Putih. “Hahaha….Hebat. Berani juga kau menghadapi kami berlima. Baiklah kita semua keluar. Supaya warung gudeg ini tidak berantakan. Kita ke lapangan di depan pasar. Di sana tempatnya agak lapang,” kata Ki Sukarta. Mereka berenam pun segera menuju ke lapangan di depan pasar. Suasana di pasar itu pun gempar dan panik, ketika enam orang yang tidak mereka kenal sudah saling menyerang di tengah lapangan yang terletak di depan pasar. Para pedagang yang tidak ingin barang dagangannya menjadi korban, buru-buru menutup warungnya, mengemasi barang dagangannya dan membawanya pulang. Glagah Putih yang seorang diri mulai dikepung oleh kelima orang itu. Mereka masih menggunakan tangan kosong. Dengan mengendap-endap mereka maju menyerang, seperti lima ekor harimau yang mengepung seekor kerbau korbannya. Namun Glagah Putih ternyata bukan seperti seekor kerbau seperti anggapan mereka. Ketika sudah semakin dekat, maka tiba-tiba kelima orang itu maju menerjang. Ki Sukarta menendang, Ki Ragil meninju, Ki Barong Landung menyodok dengan tinjunya, Ki Semprong dan Ki Slorog juga menendang. Mereka merasa akan segera dapat meringkus lawannya itu. Namun kelima orang itu tiba-tiba menjerit kesakitan, ketika serangan mereka saling berbenturan dan Glagah Putih tidak ada di depan mereka. Mereka mengaduh-aduh tidak karuan. “Kenapa kalian saling berbenturan? Aku di sini,” kata Glagah Putih yang ternyata sudah hinggap bak merpati yang terbang ke sebatang cabang pohon randu yang terdapat di tepi lapangan dekat mereka bertarung. Kelima orang itu pun kemudian berusaha menggoyang-goyang pohon randu yang cukup besar itu. “Hahaha. Kalian tidak usah menggoyang-goyang pohon randu seperti itu. Aku segera turun,” kata Glagah Putih. Sementara itu, Rara Wulan yang melihat dari depan warung gudeg itu pun tersenyum melihat ulah kelima orang lawan suaminya. Glagah Putih pun segera meloncat turun dari pohon randu itu. Ia pun kembali bersiaga di tengah kepungan para telik sandi dari Kadipaten Panaraga. Glagah Putih pun sejak dini menyiapkan ilmu kebalnya, karena ia tidak mau menjadi kantong pasir sasaran kelima lawannya. Sebab kalau ia tidak melambari dirinya dengan ilmu kebal aji Tameng Waja, maka kemungkinan akan menjadi sasaran yang empuk bagi lawannya. Glagah Putih pun kemudian menyiapkan kembangan tata gerak ilmu olah kanuragan yang diresapinya dari perguruan Jati Laksana peninggalan Ki Sadewa yang dipadukannya dengan ilmu jaya kawijayan yang diwariskan oleh Ki Jayaraga. Setiap kali serangan lawannya menggempur dirinya, Glagah Putih menghadapinya dengan dada tengadah. Ia tidak lagi meloncat-loncat menghindar. Namun semua serangan lawannya itu dipapakinya. Ia sengaja membentur serangan lawannya. Mula-mula kelima lawannya merasa yakin akan dapat meringkus Glagah Putih dalam waktu singkat. Namun semakin lama mereka semakin heran. Setiap pukulan atau tendangan mereka mengenai bagian-bagian tubuh Glagah Putih, anak muda itu bergeming. Bahkan terasa tangan atau kaki mereka yang membentur bagian tubuh Glagah Putih menjadi nyeri atau ngilu. Bagaikan membentur dinding baja yang tebalnya sedepa. Sedangkan Glagah Putih seperti tidak mengalami apa-apa. Namun lama kelamaan, Glagah Putih juga tidak mau hanya menjadi sasaran. Sekali lagi ia meloncat di atas kepala kelima penyerangnya ketika mereka merandek hendak menyerang secara berbareng. Kini Glagah Putih sudah berada di luar kepungan kelima lawannya. Dengan sebuah sodokan ia menggempur punggung lawannya, Ki Sukarta, yang dianggapnya terkuat di antara mereka. Gempuran di punggung itu ternyata membuat Ki Sukarta terpelanting dan menimpa teman-temannya. Ki Semprong yang masih berdiri di sebelah Ki Sukarta, juga mendapat sebuah tendangan di dadanya, sehingga ia pun terbanting di atas tumpukan teman-temannya. Ki Sukarta segera bangun, meloncat dan menghunus pedangnya. Kawan-kawannya juga melakukan hal yang sama. Kini mereka semua bersenjata. Tentu saja Glagah Putih tidak mau ketinggalan. Ia melolos ikat pinggangnya dan memutar-mutar di atas kepalanya. “Apakah kau tidak membawa senjata selain ikat pinggangmu?” tanya Ki Sukarta dengan nada setengah mengejek. “Ikat pinggangku inilah senjata andalanku,” kata Glagah Putih dengan tenang. Ia tidak terpengaruh oleh ejekan lawannya. Ternyata ikat pinggang itu di tangan Glagah Putih bisa menjadi kaku dan bisa menjadi lentur. Sesekali ia memutar ikat pinggangnya yang menjadi kaku seperti tongkat. Tongkat dari ikat pinggang itu pun berputaran di tangannya, dan mematuk dengan ganasnya seperti seekor ular. Dalam benturan pertama dengan senjata Ki Semprong, terdengar dentingan yang keras. Menimbulkan rasa nyeri di tengan Ki Semprong. Ki Semprong meloncat surut dua langkah. Ia memperhatikan ikat pinggang glagah Putih yang sebentar-sebentar berubah bentuk. Sekali kaku dan sesaat kemudian menjadi lentur sebagaimana ikat pinggang pada umumnya. Ternyata kekuatan tenaga cadangan Glagah Putih mampu mengubah-ubah bentuk ikat pinggang itu. “Luar biasa,” katanya. “Apanya yang luar biasa?” tanya Glagah Putih. “Kau mampu mengubah ikat pinggangmu menjadi seperti benda yang kaku dan liat, sehingga bisa membentur pedangku, dan di saat lain kembali menjadi lentur seperti ikat pinggang pada umumnya,” katanya. “Apakah dengan pengakuanmu itu, berarti bahwa kalian hendak menyerah,” tanya Glagah Putih.. “Tidak. Sama sekali tidak,” kata Ki Sukarta buru-buru. Ki Sukarta tidak ingin menyerah dengan begitu mudah kepada seorang anak muda, meskipun ia memakai timang pertanda sebagai prajurit dari pasukan Kerajaan Mataram. Mereka kemudian mulai mengepung kembali Glagah Putih. Melihat kemampuan Glagah Putih yang demikian besar, mereka pun menjadi semakin berhati-hati. Para telik sandi dari Kadipaten Panaraga itu pun kemudian semakin meningkatkan kemampuan ilmu kanuragannya. Tata gerak mereka demikian gesit, bergerak memutar seperti hendak membuat bingung Glagah Putih. Namun Glagah Putih yang sudah berpengalaman tidak mau dibuat bingung oleh serangan lawannya yang bergerak memutar. Glagah Putih yang sudah menerapkan ilmu kebal aji Tameng Waja tidak perlu merasa khawatir bahwa serangan lawannya akan mampu melukai dirinya. Karena itu, Glagah Putih mulai memperhatikan tata gerak kelima lawannya. Setiap kali berhasil membentur senjata ikat pinggang Glagah Putih, mereka meloncat surut sambil dalam arah yang masih memutar. Sehingga dengan demikian, serangan mereka meliuk-liuk, sekali memukul atau membentur senjatanya, mereka bergerak surut dan kawannya yang lain lah yang maju. Setelah mengamati bentuk serangan mereka yang demikian, Glagah Putih pun kemudian menyerang dengan arah sebaliknya dari arah putaran serangan lawannnya. Dentang senjata semakin sering terjadi. Kembali serangan rasa nyeri menusuk ke tangan kelima lawannya, ketika terjadi benturan senjata. Setiap kali terjadi benturan senjata, mereka berusaha sekuat tenaga memegang pedangnya erat-erat agar senjata itu tidak terlepas dari tangan. Mereka meringis ketika terjadi benturan senjata. Akhirnya Glagah Putih mengambil kesimpulan, bahwa dari kelima orang telik sandi Kadipaten Panaraga hanya Ki Sukarta yang mempunyai kemampuan tenaga cadangan dan ilmu kanuragan yang mumpuni. Sedangkan empat orang kawannya, tidak setinggi ilmu kanuragan yang dimiliki oleh Ki Madyasta, Ki Sumbaga atau Ki Sungkana. Setelah mendapat kesimpulan demikian Glagah Putih ingin menjajaki lebih jauh perlawanan kelima orang lawannya, ia pun selapis demi selapis meningkatkan tataran ilmunya. Tata geraknya semakin ganas dan trengginas, menyerang kelima lawannya. Kalau tadi seakan-akan Glagah Putih yang menjadi kebingungan dengan tata gerak kelima lawannya, maka kini Glagah Putih yang bergerak semakin cepat, membuat kelima lawannyalah yang menjadi kebingungan. Glagah Putih pun meningkatkan tenaga cadangannya setiap kali membenturkan ikat pinggangnya ke senjata lawannya. Setiap kali terjadi benturan, gagang pedang mereka terasa panas. Sehingga rasa nyeri yang menyerang genggaman tangan mereka kini berubah menjadi terasa panas. Setiap kali pedang mereka berbenturan dengan ikat pinggang Glagah Putih, genggaman tangan atas pedang mereka menjadi kian panas. Satu dua kali sabetan ikat pinggang Glagah Putih mulai menimbulkan luka di tubuh para telik sandi Kadipaten Panaraga. Darah pun mulai menetes dari luka-luka yang timbul di tubuh mereka. Pakaian mereka pun mulai berubah warnanya, menjadi bersemu merah. Mereka tidak dapat lagi mempertahankan senjata mereka di tangannya. Akhirnya satu per satu senjata lawannya terlepas. Tinggallah kini Ki Sukarta saja yang masih menggenggam pedangnya. Ketika sebuah tendangan berantai yang dlancarkan kepada keempat kawan Ki Sukarta, maka keempat orang itu jatuh tersungkur. Pingsan. Tinggallah kini Ki Sukarta yang berhadapan dengan Glagah Putih. Ia ingin menangkap Ki Sukarta hidup-hidup sehingga bisa dikorek keterangan tentang jaringan telik sandi yang ada di dalam kelompok mereka. Glagah Putih kemudian terus mendesak Ki Sukarta. Segera saja terjadi pertarungan yang semakin sengit. Ki Sukarta memutarkan pedangnya bagaikan baling-baling. Ia menutup semua lubang pertahanannya, sehingga ujung ikat pinggang Glagah Putih tidak bisa menyentuhnya. Namun setiap kali terjadi benturan ia masih merasakan betapa rasa panasnya yang merembet ke gagang pedangnya. Glagah Putih terus berusaha mengimbangi kemampuan Ki Sukarta. Agaknya Ki Sukarta pun sudah mulai merambah ke lambaran ilmu kebalnya. Karena ia juga tidak mau ujung ikat pinggang Glagah Putih merobek kulitnya seperti yang terjadi pada kawan-kawannya. Demikianlah pertarungan itu semakin lama semakin seru. Glagah Putih yang telah dapat mengukur kemampuan Ki Sukarta pun kemudian mulai meningkatkan ilmu kanuragannya. Selapis demi selapis serangan Glagah Putih mampu menekan ilmu olah kanuragan Ki Sukarta. Hal itu mendorong Ki Sukarta untuk meningkatkan penggunaan tenaga cadangannya. Namun Glagah Putih masih tetap mampu mengatasinya. Hal itu membuat Ki Sukarta pun mulai merambah ilmu pamungkasnya. Aji Segara Mawut. Dari puncak ubun-ubun Ki Sukarta keluar asap putih tipis, Semakin lama semakin tebal dan dengan cepat menyelimuti udara di sekitar dirinya. Ki Sukarta pun nampak semakin pudar bayangannya. Antara ada dan tiada. Glagah Putih yang melihat perubahan keadaan lawannya, segera dapat membaca bahwa lawannya sudah mulai merambah ilmu pamungkasnya. Karena itu, ia pun segera secara perlahan-lahan mulai melambari dirinya dengan aji Sigar Bumi. Ki Sukarta yang sudah merambah ke aji Segara Mawut, membuat pandangan mata Glagah Putih terasa menjadi kabur, karena Ki Sukarta seolah-olah antara ada dan tiada ditutupi oleh selapis kabut tipis yang semakin tebal menghalangi. Menghadapi kenyataan demikian, Glagah Putih pun tidak mau ragu-ragu lagi menggunakan aji Sigar Bumi. Ketika Glagah Putih menghentakkan kedua kakinya ke permukaan tanah, maka terasa bahwa bumi ini berguncang dengan hebatnya. Meski pun Glagah Putih tidak dapat melihat dengan jelas di mana Ki Sukarta berada, namun ia masih dapat menangkap ujung bayangannya. Berdasarkan arah tangkapan ujung bayangan lawannya itulah Glagah Putih menerjangkan hentakan kakinya. Ki Sukarta berusaha berkelit ke samping. Namun Glagah Putih yang melalui ketajaman panggraitanya mampu merasakan di mana lawan berada, segera menghadang dengan hentakan berikutnya ke arah lawannya menghindar. Kembali bumi terasa seperti teraduk-aduk dan berguncang dengan kerasnya. Seperti gempa. Glagah Putih terus menggempur tempat kedudukan Ki Sukarta. Ke mana pun Ki Sukarta bergerak, ke sana arah gempuran Glagah Putih. Akibat gempuran glagah Putih itu, Ki Sukarta yang tidak mencermati arah serangan dari Glagah Putih, akhirnya tidak dapat bertahan. Ia jatuh terbanting. Namun ia masih dapat bergerak, meskipun lemah.. Orang-orang di pasar yang masih mempunyai keberanian, masih melihat meskipun dari kejauhan. Namun setelah kelima orang itu dapat ditaklukkan, maka mereka pun berjalan mendekat. Namun sebelum dekat benar, terdengar derap puluhan kuda yang mengarah ke pasar itu. Setelah sampai, seorang penunggang kuda yang paling depan dengan perawakan tegap, segera turun dari kuda itu. Ia menyibak orang-orang yang berkerumun di lapangan depan pasar. “Kakang Sabungsari?” teriak Glagah Putih lalu mendekati orang yang sudah dikenalnya dengan baik itu. “Oo. Kau rupanya adi Glagah Putih. Aku tengah meronda hingga daerah perbatasan, namun ada orang yang melaporkan bahwa telah terjadi pertarungan di pasar ini satu orang melawan lima orang. Ternyata aku sampai di sini sudah terlambat. Pertarungan ini sudah usai,” kata Sabungsari dengan nada penuh kecewa. “Hahaha….Kakang Sabungsari tidak terlambat. Aku justru ingin menitipkan kelima telik sandi dari Kadipaten Panaraga kepada kakang Sabungsari untuk dikirim ke Kotaraja Mataram. Terus terang aku tidak bisa untuk membawanya ke Kotaraja karena Rara Wulan sedang isi,” kata Glagah Putih. “He? Isi? Maksudmu sedang mengandung?” tanya Sabungsari. “Benar kakang. Rara Wulan sedang hamil, jadi aku menghadapi kelima orang itu sendiri. Aku tahu Rara Wulan sedang hamil, baru kemarin, padahal kami berangkat dari Panaraga sudah tiga hari yang lalu,” kata Glagah Putih. “Baiklah jika demikian. Biarlah aku mengambil alih masalah telik sandi dari Kadipaten Panaraga. Apakah adi sekalian akan tetap berjalan kaki untuk pulang ke Kotaraja Mataram? Kalau boleh aku menyarankan agar kalian pergi berkuda saja. Dua dari kuda yang kami bawa dapat kau pakai untuk kembali ke Kotaraja Mataram. Aku kasihan kalau dalam keadaan hamil, Rara Wulan mesti berjalan kaki sampai Kotaraja Mataram,” kata Sabungsari. “Baiklah aku terima dan sangat berterima kasih atas tawaran kakang itu,” kata Glagah Putih. “Kakang Sabungsari?” tiba-tiba seorang wanita menyeruak dari kerumunan orang yang berada di tepi lapangan itu. “Adi Rara Wulan. Apakah adi sehat-sehat saja,” tanya Sabungsari. “Berkat doa kakang dan perlindungan Yang Maha Agung, aku sehat-sehat saja,” kata Rara Wulan. Lalu ia melanjutkan. “Marilah kakang Sabungsari, mampir sejenak di warung gudeg di tepi pasar itu,” kata Rara Wulan. “Baiklah kita mengobrol di sana sambil minum kopi setelah tidak bertemu lama sekali,” kata Sabungsari. Sabungsari kemudian memerintahkan beberapa prajurit untuk meringkus para telik sandi dari Kadipaten Panaraga. Mereka pun kemudian mengikat kelima orang itu dengan menggunakan tali janget yang kuat sekali. Pemilik warung yang tadi menjadi panik dan ketakutan, karena terjadi perkelahian di tepi lapangan, segera membuka warung gudeg dan barang dagangannya kembali. Mereka semua memesan makanan dan minuman. Matahari sudah memanjat kaki langit semakin tinggi. Sambil menanti pesanan makanan dan minuman, Sabungsari bertanya kepada Glagah Putih dan Rara Wulan yang duduk di hadapannya. “Apakah kalian sudah tahu bahwa kakang Untara diangkat menjadi Panglima Pasukan Wiratamtama?” tanya Sabungsari. “He? Kakang Untara jadi Panglima?” tanya Glagah Putih dan Rara Wulan hampir berbarengan. “Benar. Kakang Untara sejak dua pekan lalu tidak lagi berada di Jati anom, melainkan sudah pindah ke Kotaraja Mataram,” kata Sabungsari. “Wah…wah. Syukurlah. Lalu siapakan yang menggantikan kakang Untara di wilayah Selatan Gunung Merapi?” tanya Glagah Putih. “Aku.” “He? Kau kakang? Kau jadi senapati di wilayah Selatan?” tanya Glagah Putih sambil menyodorkan tangannya. Sabungsari dengan segera menyambutnya dan mereka berjabatan tangan sangat erat. “Syukurlah. Aku mengucapkan selamat atas pengangkatan kakang Sabungsari sebagai seorang senapati di wilayah Selatan,” kata Glagah Putih. “Terima kasih adi. Semuanya berkat doa kalian berdua,” jawab Sabungsari. Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan. “Sekarang apakah rencana kalian? Apakah kalian akan kembali ke Kotaraja Mataram?” tanya Sabungsari. “Benar kakang. Kami akan kembali ke Kotaraja. Tetapi terlebih dahulu kami akan mampir ke Banyu Asri untuk menengok ayah dan ibu. Apakah mereka sehat-sehat saja?” kata Glagah Putih. “Mereka sehat-sehat saja adi.” “Syukurlah.” “Adi berdua, bukan maksudku untuk tidak ingin ngobrol lebih panjang dengan adi sekalian. Tetapi karena tugasku, aku harus meninggalkan kalian. Tawanan telik sandi Kadipaten Panaraga itu, biarlah aku yang mengurusnya. Nanti ada sepuluh orang yang akan mengawalnya sampai Kotaraja Mataram. Adi berdua gunakan saja dua kuda kami untuk kembali ke Banyu Asri. Nanti kuda itu kalian tinggal di Banyu Asri, dan nanti prajuritku akan mengambilnya. Kalian pakai kuda milik paman Widura untuk kembali ke Kotaraja Mataram,” kata Sabungsari. “Baik kakang. Terima kasih atas bantuan kakang,” kata Glagah Putih. Demikianlah setelah makan nasi gudeg dan minuman hangat wedang jahe mereka berpisah di warung gudeg yang terletak di pinggir pasar. Senapati Sabungsari melanjutkan meninjau situasi keamanan di wilayah yang menjadi wewenangnya, sedangkan sepuluh prajurit membawa lima orang telik sandi Kadipaten Panaraga ke Kotaraja Mataram dan Glagah Putih serta Rara Wulan melanjutkan perjalanan mereka ke Banyu Asri dengan berkuda pelan-pelan. Dalam pada itu, Pangeran Ranapati dan Ki Gondang Legi terus berjalan menuju Padepokan Cambuk Petir yang terletak di sebelah Barat Gunung Wilis. Mereka menyusuri persawahan, bulak-bulak panjang, gumuk dan lereng, lembah dan ngarai. Tidak jarang mereka harus melompati jurang sempit yang menghadang perjalanan mereka. Setelah melintasi hutan yang agak lebat, mereka akhirnya memasuki suatu wilayah yang terbuka. Di kiri kanan jalan terdapat persawahan yang cukup luas. Dan di sudut persawahan itu terdapat pategalan yang ditumbuhi beraneka warna tanaman keras seperti kelapa, mangga, jambu, duren, rambutan dan pohon buah-buahan. Di tengah pategalan itulah terdapat sebuah padepokan. Padepokan itu nampak asri, di sudut-sudut halaman ditanami dengan pepohonan bunga berwarna-warni. Di sebelah kiri pendapa terdapat sebuah belumbang yang dihuni oleh berbagai jenis ikan, yang berenang ke sana ke mari. Pada saat menjelang siang, mereka berdua pun kemudian memasuki halaman padepokan yang dibatasi oleh pagar setinggi dada orang dewasa. Mereka segera menuju ke pendapa. Di depan pendapa mereka disambut oleh seorang cantrik yang segera mengenali Ki Gondang Legi. “Kakang Gondang Legi,” sapa cantrik itu.”Silakan kakang duduk di pendapa, aku segera memberi tahu Kiai Cambuk Petir mengenai kedatangan kalian.” Mereka pun kemudian duduk di pendapa. Tidak beberapa lama kemudian Kiai Cambuk Petir keluar dari peringgitan ke pendapa. “He? Kau Gondang Legi? Mana saudaramu yang lain?” tanya Kiai Cambuk Petir tanpa sempat mengendalikan rasa herannya, karena dari empat muridnya yang dikirim ke Kotaraja Mataram, hanya satu yang kembali. Ia bahkan tidak sempat menanyai Ki Karaba Bodas yang menyebut dirinya sebagai Pangeran Ranapati. “Ampun guru. Ketika kami telah selesai menjajaki kekuatan Mataram, kami menyeberangi Kali Praga untuk melihat keadaan terakhir di Tanah Perdikan Menoreh sebelum kembali ke Panaraga. Kami bertemu dan bertempur dengan prajurit Mataram. Kami berhasil dikalahkan. Kakang Bargas dan Bergawa berhasil dilumpuhkan, kakang Tanda Rumpil tewas dan aku berhasil melarikan diri,” kata Ki Gondang Legi. Ki Gondang Legi bersiap-siap menerima tamparan gurunya. Apabila salah seorang murid gagal menjalankan tugasnya, maka dengan ringan tangan gurunya memberi hadiah tamparan, pukulan atau tendangan. Namun kali ini gurunya nampak menahan diri, mungkin karena di depannya ada Pangeran Ranapati. “Jadi kalian telah gagal menjalankan tugas yang aku berikan?” tanya Kiai Cambuk Petir. “Ampun guru. Kami tidak gagal sama sekali, karena kami sudah mendapat catatan yang kami perlukan mengenai kekuatan pasukan Kerajaan Mataram,” kata Ki Gondang Legi. “Manakah catatan itu?” tanya Kiai Cambuk Petir. Ki Gondang Legi mengeluarkan beberapa lembar rontal dari dalam kampilnya, lalu menyerahkan catatan itu kepada gurunya. Kiai Cambuk Petir menerima rontal itu dan membacanya sekilas. Ia mengangguk-angguk. “Apakabar Pangeran Ranapati? Mohon maaf aku telah mengabaikan kehadiran Pangeran? Hal itu justru karena rasa tanggung jawabku atas tugas mereka untuk menyelidiki kekuatan pasukan Mataram,” kata Kiai Cambuk Petir. “Tidak apa-apa Kiai Cambuk Petir,” kata Pangeran Ranapati singkat. Sebenarnya Pangeran Ranapati merasa sangat tersinggung diabaikan demikian oleh Kiai Cambuk Petir. Namun apabila rasa tersinggung itu yang ditonjolkannya, akan bisa mengacaukan segala rencana besarnya. Padahal Kiai Cambuk Petir adalah salah seorang yang sangat mendukung rencananya untuk memperkuat Kadipaten Panaraga dalam upaya mengguncang kekuatan Kerajaan Mataram. Oleh karena itu ia berusaha meredam rasa tersinggung yang membuncah amat sangat di dalam jantungnya. “He? Apa kau bilang tentang saudara-saudaramu?” tiba-tiba Kiai Cambuk Petir tersentak. “Kakang Bargas dan Bergawa berhasil dilumpuhkan, kakang Tanda Rumpil tewas,” kata Ki Gondang Legi. “Siapakah yang melumpuhkan Bargas dan Bergawa,” tanya Kiai Cambuk Petir. “Seorang prajurit pasukan khusus Mataram, guru. Ia juga mempergunakan senjata cambuk seperti cici-ciri perguruan kita,” kata Ki Gondang Legi. “He? Orang Bercambuk seperti kita, katamu?” “Benar guru.” “Di manakah kalian bertempur dengan orang yang bersenjatakan cambuk itu?” “Di tepian kali Praga, guru.” “Apakah ciri-ciri senjata cambuk yang dipakainya sama seperti yang kita pakai?” “Benar guru. Cambuknya berjuntai panjang seperti cambuk kita. Bahkan juga berkarah-karah baja berbentuk bintang bersegi sembilan.” “He? Sama persis dengan cambuk ciri-ciri perguruan kita,” kata Kiai Cambuk Petir. “Benar guru. Sama persis seperti ciri-ciri cambuk kita.” “Baik. Aku akan menanyakan hal itu kepada kakak seperguruanku Kiai Ajar Karangmaja. Mungkin ia tahu, siapakah sebenarnya guru prajurit dari pasukan Mataram yang mempunyai ciri-ciri Orang Bercambuk seperti yang kita miliki,” kata Kiai Cambuk Petir.Ia berhenti sejenak. Lalu meneruskan kata-katanya. “Sekarang apakah rencana anakmas Pangeran Ranapati?” tanya Kiai Cambuk Petir. “Begini Kiai. Sesuai dengan rencana yang telah kita sepakati, kita akan tetap bergabung dalam kekuatan yang kita sebut sebagai kekuatan pendukung Kadipaten Panaraga,” kata Pangeran Ranapati. Lalu ia melanjutkan. “Aku akan meneruskan perjalanan untuk mencari dukungan dari beberapa padepokan yang berada di wilayah Kadipaten Panaraga. Selain itu juga, mencari dukungan dari beberapa Kadipaten seperti Madiun, Demak, Kudus, Pacitan, Surabaya, Pajang atau Jipang. Kita gerakkan orang-orang yang tidak puas terhadap bangkitnya Kerajaan Mataram sehingga bisa menjadi kekuatan yang mampu mengguncang Mataram itu sendiri,” kata Pangeran Ranapati. Kiai Cambuk Petir mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia nampak setuju dengan pendapat Pangeran Ranapati. Namun Kiai Cambuk Petir sesungguhnya mempunyai kepentingannya sendiri. Ia justru hendak membelokkan arah perjuangan Pangeran Ranapati dengan membangkitkan kebesaran dari masa lalu, yaitu bangkitnya Kerajaan Majapahit yang mampu menguasai seluruh Nusantara. Akan tetapi hal itu, baru akan dilakukannya setelah perjuangan besar ini sudah separuh jalan. Lebih mudah membelokkan arah perjuangan itu, daripada mendorongnya sejak awal seperti sekarang ini. “Baiklah anakmas. Anakmas silakan menghubungi orang-orang dalam jalur perjuangan untuk mendukung Kadipaten Panaraga, seperti anakmas katakan tadi. Aku pun demikian. Namun terlebih dahulu aku akan menghubungi kakak seperguruanku. Apabila Kiai Ajar Karangmaja bisa ikut kita gerakkan, maka di belakangnya akan berbaris orang-orang dari kebesaran masa silam yaitu Kerajaan Majapahit yang siap mendukung perjuangan kita,” katanya. “Dengan berbekalkan keterangan yang berhasil dihimpun oleh Gondang Legi, maka kita membutuhkan pasukan sedikitnya dua puluh laksa untuk bisa menggempur Mataram,” kata Kiai Cambuk Sakti. Pangeran Ranapati pun setuju dengan pendapat Kiai Cambuk Sakti. Ia sependapat bahwa diperlukan pasukan sedikitnya dua puluh laksa untuk dapat menggulung Mataram.Apabila dapat terkumpul pasukan dengan anggota berjumlah dua puluh laksa, maka hal itu akan memudahkan pergerakan selanjutnya. Kiai Cambuk Sakti kemudian memerintahkan para cantrik untuk bersantap siang bagi mereka bertiga. Mereka makan seadanya sebagaimana yang biasa tersedia di padepokan. Nasi, sayur lodeh, goreng ikan dan sedikit kue ringan seperti nagasari atau juadah. Setelah selesai bersantap, maka mereka pun segera membagi tugas. Kiai Cambuk Petir akan mengunjungi kakak seperguruannya, Ki Gondang Legi mengawasi para cantrik selama Kiai Cambuk Petir pergi, Pangeran Ranapati menghimpun berbagai kekuatan yang mau dan mampu mendukung Kadipaten Panaraga. Demikianlah Kiai Cambuk Petir kemudian mengendarai kudanya menuju ke kaki sebelah utara Gunung Wilis. Di sanalah kakak seperguruannya Kiai Ajar Karangmaja membangun padepokan. Padepokan Ajar Karangmaja. Meskipun jalan yang ditempuhnya cukup rumit dan rumpil, namun karena Kiai Cambuk Petir sudah mengenal dengan baik jalan menuju ke sana, Ia melintasi bulak-bulak panjang, daerah persawahan, lalu masuk hutan yang agak lebat, jalanan yang berliku, lembah dan ngarai pun dilintasinya. Semakin dekat dengan padepokan kakak seperguruannya itu, semakin sulit jalan yang harus ditempuhnya. Ia sampai di Padepokan Ajar Karangmaja setelah menempuh perjalanan berkuda hampir sehari penuh. Sungguh suatu perjalanan yang melelahkan. Namun Kiai Cambuk Petir adalah termasuk orang yang mempunyai kekuatan yang luar biasa. Meskipun tubuhnya sudah mulai dimakan usia, namun ia tetap tegar menghadapi perjalanan yang sulit dan panjang seperti yang ditempuhnya sekarang ini. Kiai Cambuk Petir meloncat turun ketika kudanya mencapai regol halaman Padepokan Ajar Karangmaja. Ia segera disambut oleh seorang cantrik yang menerima tali kekang dan mengikatkannya pada tonggak-tonggak yang tersedia. “Apakah Kiai Ajar Karangmaja ada,” tanya Kiai Cambuk Petir. “Ada Kiai. Kiai Ajar Karangmaja sedang di sanggarnya. Silakan Kiai duduk di pendapa. Aku segera memberitahukan kepada Kiai Ajar Karangmaja mengenai kehadiran Kiai,” kata cantrik yang termasuk paling muda.. Demikianlah setelah menunggu sejenak, Kiai Ajar Karangmaja keluar dari sanggarnya setelah cantrik tadi memberitahukan bahwa adik seperguruannya Kiai Cambuk Petir datang berkunjung. “Selamat datang adi. Apakabar? Sudah lama sekali kau tidak datang ke mari,” kata Kiai Ajar Karangmaja menyambut tamunya. Adik seperguruannya. “Terima kasih kakang. Aku sehat-sehat saja. Semoga demikian hendaknya dengan keadaan kakang,” kata Kiai Cambuk Petir. “Syukurlah. Aku juga selalu dalam lindungan-Nya. Apakah ada hal yang penting dan mendesak, sehingga kau menyempatkan diri untuk menemuiku yang jauh di pucuk Gunung Wilis ini?” tanya Kiai Ajar Karangmaja, langsung ke inti masalah. Ia tidak mau bertele-tele untuk mengetahui keinginan adik seperguruannya, yang sering datang dan selalu mempunyai maksud-maksud tertentu di luar ukuran nalarnya. “Benar, kakang. Aku datang ke mari untuk kembali mengajak kakang guna bergabung dalam apa yang disebut sebagai barisan pendukung Kadipaten Panaraga untuk bisa menguasai tlatah ini. Apabila kita gabungkan dengan kekuatan yang berada di belakang kita, maka bukan tidak mungkin kita bisa membangkitkan kekuatan dari masa silam, yaitu membangun kembali Kerajaan Majapahit yang besar dan mampu menguasai Nusantara,” kata Kiai Cambuk Petir. “Sudah berulangkali aku katakan adi. Aku ini sudah sangat lanjut. Bahkan badanku sudah berbau tanah. Aku tidak mau lagi memikirkan masalah duniawi seperti itu. Apakah aku akan menjadi senapati atau tumenggung kalau bisa kau bujuk untuk bergabung? Untuk orang seumur aku, untuk apa lagi jabatan senapati atau tumenggung? Aku sudah tidak mempunyai gegayuhan seperti itu. Ketiga anakku juga sudah mentas dan aku sudah sudah mempunyai enam cucu. Kebahagiaanku sekarang adalah momong keenam cucuku itu. Itu saja,” kata Kiai Ajar Karangmaja. “Akan tetapi kakang, bukankah kita masih keturunan langsung dari trah Kerajaan Majapahit? Bukankah dengan demikian kita juga wajib menjunjung tinggi leluhur kita. Mikul dhuwur, mendem jero. Apakah kakang tidak merasa mempunyai kewajiban untuk membangun kembali kejayaan dari masa silam?“ tanya Kiai Cambuk Petir. “Adi jangan keliru. Yang mempunyai trah langsung kerajaan Majapahit adalah guru kita Mpu Windujati. Sedangkan kita hanyalah cantrik di padepokannya, yang kemudian mendapat kesempatan menjadi muridnya. Aku dan kau bukan trah langsung dari Kerajaan Majapahit. Kita hanyalah keturunan pidak pedarakan, yang tidak seorang pun bisa mengaitkannya dengan trah Majapahit,” tutur Kiai Ajar Karangmaja dengan nada yang mulai meninggi. Ia berhenti sejenak. Nafasnya agak tersengal-sengal, karena menahan hati mendengar ucapan adik seperguruannya yang sekan-akan baru datang sudah memanas-manasi suasana. “Sekarang tidak lagi, adi. Aku sedikit pun tidak mempunyai gegayuhan untuk membangkitkan kembali kejayaan Majapahit. Kerajaan Majapahit sudah mengukirkan dalam kitab sejarah negeri ini dengan tinta emas. Sekali terbilang, lalu hilang. Sekarang berilah kesempatan kepada kerajaan Mataram untuk kembali mengukirkan tinta emas dalam kitab sejarah itu. Sehingga pada saatnya nanti, anak cucu keturunan kita ratusan tahun mendatang akan melihat bahwa sejarah negeri kita ini penuh dengan warna-warni,” kata Kiai Ajar Karangmaja. Kembali ia terdiam sesaat. “Aku tidak lagi mempunyai gegayuhan seperti itu,” kata Kiai Ajar Karangmaja. “Kenapa, kakang?” “Karena yang ada sekarang ini sudah merupakan saluran yang tepat untuk meneruskan kerajaan Majapahit. Ketika Majapahit runtuh, bangkit Demak. Demak pun diteruskan oleh Pajang. Kemudian Pajang dilanjutkan oleh Mataram. Nah kurang apa lagi?” tanya Kiai Ajar Karangmaja. “Kekurangannya adalah karena tidak ada peran kita di dalamnya, kakang. Kalau kita ikut berperan dalam perubahan pemerintahan itu dengan menjadi sarana berpindahnya wahyu keraton, maka barulah merupakan saluran yang tepat. Akan tetapi di sini kita tidak dilibatkan sama sekali,” kata Kiai Cambuk Petir. “Lalu kalau dilibatkan, kita sebagai apa? Sebagai pengusung wahyu keraton, begitu?” tanya Kiai Ajar Karangmaja. “Benar kakang. Apabila kita dilibatkan sebagai pengusung wahyu keraton, maka paling tidak kita bisa memiliki kedudukan penting di dalam pemerintahan,” kata Kiai Cambuk Petir. “Kedudukan apa yang kau inginkan adi, dalam usiamu yang sudah jauh memanjat naik dan menjelang turun. Kalau usiamu masih tiga puluh tahunan, bolehlah apabila kau minta kedudukan. Pada saat menjelang purnatugas pada saat usiamu lima puluh tahun, kau sudah menjadi tumenggung. Akan tetapi dengan usiamu yang sudah enam puluhan tahun seperti sekarang ini apa lagi yang kau harapkan?” tanya Kiai Ajar Karangmaja. “Paling tidak kita akan bisa meletakkan dasar bagi lingkungan kita. Meletakkan dasar bagi anak cucu kita,” kata Kiai Cambuk Petir. “Akan tetapi apa yang bisa kita lakukan. Karena kita akan tetap berada di luar jalur kekuasaan yang bisa menentukan hitam putihnya keadaan,” tanya Kiai Ajar Karangmaja. “Tentu saja kita memberikan dukungan yang perlu bagi terwujudnya gegayuhan kita itu,” kata Kiai Cambuk Petir. “Sudahlah adi. Aku tidak ingin terlalu ikut campur dalam urusan yang sama sekali aku tidak mengerti. Aku juga tidak mempunyai wewenang untuk memasukkan keterangan yang berguna bagi perubahan kekuasaan itu. Seandainya terjadi perubahan kekuasaan pun, tentu saja kita akan tersingkir dan tidak akan bisa memperjuangkan kepentingan anak cucu kita. Karena kita sudah uzur,” kata Kiai Ajar Karangmaja. “Wah kakang terlalu berkecil hati sebelum berbuat sesuatu,” kata Kiai Cambuk Petir. “Yang jelas, aku tidak ingin melibatkan padepokanku dan keluarga besar perguruan Windujati dalam pertengkaran ini karena ingin memperebutkan kekuasaan,” kata Kiai Ajar Karangmaja. Kiai Cambuk Petir yang semasa mudanya bernama Kulantir sebenarnya adalah adik seperguruan dari Kiai Ajar Karangmaja. Ketika berguru kepada Mpu Windujati, mereka terpaut cukup jauh umurnya maupun tingkat ilmunya. Pada saat terjadi pergolakan terakhir di Demak Bintara mereka mendapat tugas untuk mengamati keadaan di Demak Bintara itu. Namun pada saat mereka kembali ke perguruan Windujati, mereka mendapati guru mereka ”Mpu Windujati” telah tiada. Kiai Ajar Karangmaja yang merupakan murid tertua Perguruan Windujati, kemudian mendapat kepercayaan untuk meneruskan padepokan itu. Sesuai dengan nama pemimpinnya, akhirnya orang lebih mengenal Padepokan Ajar Karangmaja, ketimbang Padepokan Windujati. Kiai Ajar Karangmaja yang kakak seperguruan Kulantir kemudian menurunkan ilmu yang telah diperolehnya hampir secara lengkap dari Mpu Windujati. Sehingga dengan demikian Kiai Ajar Karangmaja adalah kakak seperguruan sekaligus guru bagi Kulantir yang kemudian menyebut dirinya Kiai Cambuk Petir ketika telah berdiri sendiri dengan membangun padepokannya sendiri. Kiai Ajar Karangmaja mempunyai dua murid utama. Yang seorang bernama Putut Kalibata, dan seorang lagi Putut Jimbaran. “Kemanakah kedua muridmu kakang. Putut Kalibata dan Putut Jimbaran,” tanya Kiai Cambuk Petir. “Mereka berdua mulai kemarin minta izin untuk pulang ke kampung masing-masing selama dua bulan. Padi di sawah mereka sudah mulai panen dan mereka harus mengolah sawah untuk musim tanam berikutnya,” kata Kiai Ajar Karangmaja. “Wah sayang sekali. Sebenarnya aku juga ingin mengajak mereka untuk bergabung denganku untuk memperjuangkan gegayuhan membangkitkan kejayaan Kerajaan Majapahit,” kata Kiai Cambuk Petir. “Adi jangan melibatkan padepokanku, atau pun kedua muridku itu dalam mencapai gegayuhanmu,” kata Kiai Ajar Karangmaja dengan nada sengit. “Baiklah kakang. Kalau kau tidak mengizinkan, aku tidak akan memaksa,” kata Kiai Cambuk Petir dengan nada enteng. Betapapun ia masih tetap menghormati kakang seperguruan yang sekaligus menjadi guru tunggak semi-nya setelah Mpu Windujati tiada. Perbawa kakak seperguruannya itu demikian besar. “Oo ya, kakang. Aku ingin bertanya apakah di antara sanak kadang kita yang masih trah Keraton Majapahit ada yang tinggal di Mataram dan menjadi prajurit pasukan Mataram?” tanya Kiai Cambuk Petir. “Memangnya ada apa? Aku tidak tahu apakah di antara keluarga besar trah Majapahit atau sanak kadang kita yang berpihak atau berada di Mataram,” kata Kiai Ajar Karangmaja. “Begini kakang. Dua pekan lalu aku mengirim keempat muridku Bargas, Bergawa, Tanda Rumpil dan Gondang Legi untuk mengamat-amati kekuatan pasukan Kerajaan Mataram. Nah dalam suatu pertempuran dengan seorang prajurit Mataram, ternyata Bargas dan Bergawa berhasil dilumpuhkan, Tanda Rumpil tewas dan Gondang Legi berhasil melarikan diri kembali ke padepokanku di Panaraga,” kata Kiai Cambuk Petir. “Keempat muridmu kalah?” tanya Kiai Ajar Karangmaja. “Iya kakang. Yang membuatku heran, justru yang melumpuhkan kedua murid utamaku ”Bargas dan Bergawa” adalah orang yang mempunyai ciri-ciri seperti perguruan kita. Ciri-ciri perguruan Orang Bercambuk,” kata Kiai Cambuk Petir. “He? Ciri-ciri Orang Bercambuk? Apakah cambuknya berjuntai panjang dan berkarah-karah baja di ujungnya?” tanya Kiai Ajar Karangmaja lagi. “Benar kakang. Apakah kakang tahu bahwa ada sempalan dari ilmu Orang Bercambuk yang kini mengabdi sebagai prajurit di Mataram?” tanya Kiai Cambuk Petir. “Aku tidak tahu persis, adi. Tetapi setahuku tidak ada orang atau sempalan ilmu Orang Bercambuk yang kini mengabdi sebagai prajurit di Mataram,” kata Kiai Ajar Karangmaja. “Apakah orang itu murid dari Raden Timur yang sering juga disebut Pamungkas?” kata Kiai Ajar Karangmaja kepada dirinya sendiri. “Maksud kakang, Raden Timur cucu dari Mpu Windujati?” tanya Kiai Cambuk Petir. “Benar. Raden Timur yang selalu mengamati kalau kita sedang berlatih ilmu kanuragan,” kata Kiai Ajar Karangmaja. Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan. “Raden Timur adalah cucu sekaligus murid utama dari Mpu Windujati,” tutur Kiai Ajar Karangmaja. “He? Tetapi aku tidak pernah melihat Raden Timur berlatih ilmu kanuragan dengan kita, para murid perguruan Mpu Windujati,” kata Kiai Cambuk Petir. “Iya. Karena Mpu Windujati berkenan melatihnya secara langsung di dalam sanggar. Aku beberapa kali mendapat tugas untuk berlatih tanding dengan Raden Timur. Meskipun Raden Timur sedikit lebih muda daripada aku, namun ilmunya ngedab-ngedabi dan hampir sesempurna Mpu Windujati sendiri,” kata Kiai Ajar Karangmaja. “Selain itu, Raden Timur juga berguru kepada adik seperguruan Mpu Windujati yang merupakan sahabat dekat dengan seorang yang bernama Kebo Kanigara, putera sekaligus murid dari Ki Ageng Pengging Sepuh,” kata Kiai Ajar Karangmaja. Dengan demikian ilmu yang dikuasai Raden Timur adalah gabungan ilmu dari beberapa perguruan. Kiai Ajar Karangmaja terdiam lagi. Seakan-akan sedang mengenang kembali hubungannya dengan Raden Timur di Perguruan Windujati yang tersimpan dalam bilik ingatannya. Kejadian yang terjadi puluhan tahun yang lalu itu, seakan terputar kembali di dalam angan-angannya. Betapa Raden Timur yang masih muda itu, bertarung dengan dirinya di dalam sanggar. Meskipun ilmu yang diraihnya secara tuntas itu dikerahkannya untuk menyerang Raden Timur, namun cucu gurunya itu masih tetap bisa mengatasinya. Sebagai pertanda bahwa ilmu yang mereka pelajari di perguruan Windujati telah tuntas, maka mereka berdua menjalani suatu ritual khusus di dalam sanggar itu. Gurunya membakar sebatang baja yang pada ujungnya terdapat semacam cap stempel dari baja. Pada cap stempel itu tertera gambar semacam cambuk yang pada ujungnya terdapat karah-karah baja bersegi sembilan. Gurunya, Mpu Windujati yang masih merupakan trah Keraton Majapahit, meminta mereka berdua mengerahkan ilmu kebal yang telah mereka kuasai secara tuntas. Sebagai pertanda bahwa ilmu kebal mereka telah tuntas, maka ruangan sanggar Mpu Windujati terasa seperti panas membara. Sepanas cap stempel yang dipanaskan oleh gurunya. Karena agaknya, ilmu kebal mereka berdua telah berhasil membangkitkan sifat panas di dalam udara sekitar mereka. Ketika Mpu Windujati merasa pengerahan ilmu kebal kedua muridnya telah cukup, Mpu Windujati segera menempelkan cap stempel dari baja yang membara itu ke pergelangan tangan kiri kedua muridnya. Tercium bau seperti daging yang terbakar. Dengan sekuat tenaga kedua murid Mpu Windujati menahan nyeri yang mereka rasakan akibat diselomot dengan cap stempel membara itu. Gurunya segera memborehkan obat-obatan yang telah disiapkan untuk mengatasi luka bakar di tangan kedua muridnya itu. Ketika sembuh, sebuah cap bergambarkan cambuk menghiasi pergelangan tangan kiri kedua muridnya. Dalam kesempatan itu, gurunya mewariskan kitab perguruan Windujati kepada Raden Timur. Gurunya kemudian memberi wejangan kepada mereka berdua, bahwa hubungan mereka sebagai dua saudara seperguruan harus tetap mereka jaga hingga kapan pun. Selama hayat masih dikandung badan. Hubungan itu tidak hanya di antara mereka saja, namun juga hubungan di antara murid-murid mereka, apabila kelak mereka membangun padepokan sendiri. Gurunya berpesan agar mereka tidak mudah-mudahnya mempergunakan ilmu pamungkasnya. Ilmu Pamungkas Orang Bercambuk. Apabila mereka ragu-ragu, apakah sudah saatnya atau belum mempergunakan ilmu pamungkas mereka, maka Mpu Windujati meminta agar mereka mengelus-elus pergelangan tangan kiri mereka dan bertanya di dalam hati:”Guru apakah sudah saatnya aku pergunakan ilmu pamungkasku?” Kelak mereka akan tahu, bahwa gurunya akan memberikan jawaban atas pertanyaan mereka. Pesan wanti-wanti dari gurunya, Mpu Windujati, itulah yang selalu terngiang di dalam pendengaran Kiai Ajar Karangmaja yang semasa mudanya bernama Soma. Ketika Soma menurunkan ilmunya kepada Kulantir, pesan yang sama selalu ditekankannya kepada adik seperguruan sekaligus muridnya itu. Namun, meskipun ilmu yang diturunkannya kepada Kulantir telah tuntas, namun Soma tidak berani mengadakan ritual khusus memberi cap stempel cambuk kepada Kulantir. Hal itu karena ia mengamati perangai Kulantir yang sering tidak sesuai dengan keinginannya. Kulantir lebih sering mengetengahkan sifat tamaknya akan kekuasaan. Namun sifat tamaknya itu tidak disalurkan secara benar melalui jalur kekuasaan yang ada. Soma masih akan bisa memahami keinginan adik seperguruannya itu apabila Kulantir menyalurkan keinginannya untuk berkuasa misalnya dengan memasuki jenjang keprajuritan. Apabila Kulantir ketika masih muda memasuki jenjang keprajuritan mungkin ia sudah mengantongi pangkat tumenggung atau bahkan sudah purnawira. Namun hal itu tidak dilakukannya. Kul
    • kados pundi kelanjutanipun kang mas?

  26. wah kang asbud itu kan masih seri 402…

  27. lanjutan 404 mana ya?,kalo bayar gmn caranya utk mendapatkan seri 404 dst… tq

  28. iya nih… matarambinangkit.com ga bisa diakses….
    udah rinduuuuuuuuu banget……………

  29. ni blog masih ada penghuninya ndak sih

    • ngga ada ndul

      • sekedar berbagi berita saja:
        di Gagak Seta ada Terusan ADBM, bisa dinikmati dgn gratis
        monggo kalo mau mampir

        • maturnuwun kangmas.

  30. antara ada dan tiada sedang tiarap semua para pemimpin padepokan…………………….????????????

    # ada yang bisa dibantu Ki?

  31. Sugeng siang para Cantrik sedaya..
    Sebelumnya mohon maaf atas woro woro ini,
    dulu saya pernah ingin mencoba melanjutkan adbm yg terputus, namun karena kesibukan, ternyata Ki Agus yg telah meneruskan kisah adi luhung ini.
    namun demikian, di gandhok Gagak Seta, saya di “ogrok2” oleh beberapa cantrik disana untuk meneruskan Adbm dengan versi “mbah_man”
    Semoga kalau ada waktu silahkan mampir di gandhok “Terusan ADBM Gagak Seta”
    matur suwun
    Mbah-man

    • tak kiro woro-woro gandok anyar ‘terusan adbm mandarakan’

  32. Yang peting GRATIS kalo musti mbayar sepertinya menghianati cita2 awal kita,,,

  33. kok nggak bisa komen ya 😦

    • jangan-jangan

    • jangan terlalu cepat komennya Ki Syakuur .. nanti dikira SPAM oleh Aki Ismet 😀

      • rasanya bukan gitu deh, soale kemaren tu banyak keluhan wp nggak bisa komen (misalnya di cersilindonesia tu banyak keluhan) e nggak tahunya di sini juga ternyata komenku nggak masuk, nunggu ki nin 😛

  34. lanjutan ADBM 404 mana ya ki?
    bukanya di website apa ya?

  35. Alamat pastinya di link mana ya (Terusan ADBM Gagak Seto) ??
    Mohon dibantu dong….
    tks

    • cobi njenengan tingali wonten mriki ki nogoposo

      • kok di mriki nya sy kok gak bisa nemu ydm ya….
        bantuin doong…

        • wah berarti niku alamat palsu sing digoleki mbak ayu doong…

    • mbah_man berusaha meneruskan ADBM dengan versi lain (selain Bukan ADBM nya Ki Agus).
      sayang, baru sekitar separuh jilid beliaunya sakit sehingga harus rawat inap di rumah sakit.
      semoga beliau lakas sembuh dan meneruskan tulsiannya.
      silahan kunjungi disini: http://cersilindonesia.wordpress.com/terusan-adbm/2/

  36. Ma’af mau tanya, apa masih ada cerita lanjutan dari ADBM?

  37. Kalau mau bayar gimana caranya ya, nuwun sewu bagi dulur2 mbok ya empatinya dan nuraninya dikedepakkan, ayo kita menghargai imajinasi dan karya sastra penulis yang berusaha melanjutkan cerita epik kepahlawanan nuansa jawa tengah, apapun hasilnya kalau literasi ini sangat membantu mengenalkan adat istiadat unggah ungguh subosito masyarakat jawa mbok ya disokong, ini lebih berisi dari pada komik marvel atau DC yang dar der dor…
    Salam
    #bagaskoro manjer kawuryan

  38. Mataram Binangkit
    Buku 404
    Oleh Agus S. Soerono

    Telah terbit Ebook Mataram Binangkit Buku 404 oleh Agus S. Soerono. Jika anda berminat, silakan transfer Rp 100.000,- ke Norek BCA 288-1221-715 a/n Agus Suprihanto. Kirim bukti transfer dan sertakan alamat email ke no WA 0878-0856-1199. Kami akan segera mengirim Ebook dalam format PDF ke alamat email.

  39. Donasi tidak berkeberatan, asal tidak menjadi komersial.
    Yang lain versi mbah Man donasinya tidak ngarani.
    Saya juga berlangganan yang versi mbah MAN

  40. Kalajenganipum seri menika menapa wonten, menawi taksih saged kula panggihaken ing pundi? Mugi para kadang saged paring kabar, nuwun

  41. Saya bisa mengkuti karya Ki Agus dimana ya, lanjutannta

  42. Nyuwun pirsa, seri saklajengipun wonten pundi, kula kok dereng manggihaken, bok menawi ki agus rena paring sesuluh.

    • Kami tidak melanjutkan wedaran di sini, karena cerita selanjutnya “berbayar”.

      Ngapunten.

  43. Cukup baik, seperti pengantar kata di atas ; untuk memuaskan dahaga pembaca penggemar ADBM ( Api di bukit menoreh)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: