Bukan ADBM

Dengan perohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada Ki Gede dan Nyi Seno, saya coba buat gandok untuk menampung karya Ki Agus yang mencoba “melanjutkan” cerita ADBM yang berakhir secara menggantung.

Karya ini khusus untuk kalangan sendiri, para sanak kadang ADBM yang kehausan lanjutan ADBM.

Selain itu, juga untuk mengurangi beban gandok ADBM-96 yang sudah terlalu panang sehingga agak kesulitan untuk loading dan scrolling ke atas dan ke bawah.

Halaman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 7 Januari 2010 at 10:40  Comments (604)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/bukan-adbm/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini.

604 KomentarMeninggalkan komentar

  1. nuwun sewu, badhe nderek mampir….
    setelah sekian lama ndak mampir….akhirnya kangen juga…
    satu kejutan ketika ternyata ada “bukan ADBM”. Salut buat Ki Agus, satu karya yang harus diapresiasi…saya sudah baca sampai tulisan terakhir, walau saya merasa ada perbedaan gaya bahasa (justru yg menjadi gaya bahasa khas Ki SHM), tapi bagus sekali…
    Karena penasaran dengan lanjutan ceritannya…saya coba buka di matarambinangkit.com, ternyata harus bayar ya…..nglokro jadinya…
    memang segala jerih payah sdh seharusnya dihargai, entah itu berupa materi atau yg lain.
    jika memang pada akhirnya harus dikomersialkan, memang sudah seharusnya Ki gus harus mendapat ijin dari keluarga Ki SHM (ini menurut saya lho, mohon maaf yg sebesar-besarnya jk salah), sebab dalam tulisan Ki Agus ada mengandung properti milik Ki SHM.

    • Setuju kisanak,hak cipta ADBM sampai saat ini memang belum beralih ke tangan orang lain, sehingga secara hukum segala sesuatu yang berkaitan dengan lanjutan ceritera ADBM (mekipun menggunakan judul lainnya akan tetapi nama tokoh dan karakternya tidak bisa dipungkiri kalau itu merupakan kelanjutan dari ADBM)dalam bentuk cetakan yang diperjual-belikan tidak boleh sembarangan.

      Mohon maaf ki Agus, kami disini hanya sekedar mengingatkan tanpa mengurangi rasa hormat kami atas usaha ki Agus dalam melanjutkan ceritera ADBM. Apalagi seingat saya dulu di koran Kedaulatan Rakyat dalam wawancaranya Ki SH Mintardjo kalau gak salah pernah mengatakan kalau secara garis besar ceritera ADBM sudah diberikan ke penerusnya (keluarga) sehingga kalau sewaktu-waktu beliyau meninggal maka ada yang akan melanjutkan ceritera tersebut.

  2. Tidak ada lagikah cantrik yg dapat melanjutkan adbm di blok BUKAN ADBM, yg dapat dinikmati secara gratis ?

  3. Saya pekan lalu bertandang ke rumah Ki Agus untuk bertatap muka dengan Ki Agus S. Soerono dan hendak membeli Mataram Binangkit jilid 1.
    Saya terperangah, karena di depan rumahnya tertulis Kata-kata: Rumah ini dijual Hub. 021 93 3636 72. Menurut ceritanya, ternyata Ki Agus sedang dalam kesulitan keuangan karena harus menguliahkan anak sulungnya di fakultas kedokteran sebuah PTS. Sekarang anak kedua juga hendak kuliah di fakultas kedokteran. Aset tanah kosong dan mobilnya sudah melayang untuk membiayai anak pertama. Ia belum terpikir untuk mendapat uang dari mana untuk kuliah anaknya yang kedua. Belum lagi kebutuhan hidup sehari-hari. Ki Agus mempunyai empat putera yang semuanya masih sekolah. Gajinya di tempat kerja yang sekarang sama sekali tidak mencukupi untuk biaya sehari-hari. Oleh karena itu Ki Agus hanya bisa mengelus dada mendengar kata-kata pedas yang ditulis di Bukan ADBM. Menurut Ki Agus, para pembaca belum bisa menghargai karya tulisnya. Padahal zaman dulu, orang harus membeli komik karya KI SHM. Buku komik itu tidak didapat secara gratis. Memang para pendiri padepokan berhati sangatmulia dengan membuat padepokan itu secara gratis. Namun apakah Ki Agus bisa hidup apabila karyanya digratisin?
    Saya sebenarnya sering masuk ke Padepokan ADBMcadangan, cuman saya sangat jarang berkomentar. Namun melihat kondisi Ki Agus yang membuat saya trenyuh, saya memberanikan diri untuk menulis surat ini. Maaf Ki Agus, saya tanpa seizin Ki Agus menulis surat ini. Semata-mata karena keprihatinan melihat keadaan Ki Agus. Semoga para cantrik dan punggawa padepokan bisa ikut berbagi dengan Ki Agus. Semacam take and give gitu lho. Kalian bilang-bilang sakaw, sakaw, sakaw, tapi tidak ada perasaan melu handarbeni. Rasa turut memiliki kepedihan yang tengah dialami oleh Ki Agus.
    Sayang sungguh sayang… Kalau Ki Agus tidak bisa menyumbangkan kemampuannya di bidang tulis menulis, karena terbentur masalah ekonomi. Saya rasa Rp 30.000 sebulan tak ada artinya bagi Kisanak semua, apabila dibandingkan dengan kerinduan kita akan cerita-cerita yang dapat dihasilkannya.

    Maaf kalau kata-kata saya terlalu pedas. Bukan maksud saya membela Ki Agus. Tapi benar2 dari rasa keprihatin yang mendalam.
    Salam,

    Raden Panji Klantung

    Ruddy Wijanarko

  4. Wah..wah ternyata ada polemik yang terjadi disini.
    kalau memang ketentuannya seperti itu ya diikuti aja bagi yang mau, yang ndak mau ya gak usah ikut..gitu aja kok repot.
    Salam untuk Ki AS.

    Selamat tinggal sakauw…….mungkin dengan berjalannya waktu kita semua bisa melupakan rasa sakauw, dulu nggak tahu, jadi tahu dan nggak tahu lagi, kayak roda yang berputar.

    • njih ki

  5. Zaman sudah berubah….. Materi atau uang menjadi kebutuhan yg tak dapat dipungkiri, sudah selayaknya kalau suatu karya dihargai dengan cukup. Bagaimana kalau Bukan ADBMnya Ki AS tak usah diterbitkan di ADBMcadangan, terbitkan saja dalam bentuk buku saja, yg mau baca beli saja bukunya. Sudah tentu itupun dgn pembagian Royalti yg pantas untuk keluarga SHM.

  6. Sebenarnyalah setiap karya harus dihargai . Salam kenal,
    Buat ki Agus , tetap semangat , Semangat sore, semangat siang dan semangat malam

    • Kalau mau jujur, setelah baca kelanjutan AdBM yang ditulis Ki Agus, nampaknya koq tidak bisa mengikuti jiwa AdBM-nya Bp. SHM. Banyak hal-hal yang menjadi terasa aneh. Mulai dari alur cerita, karakter tokoh, gaya bahasa, dsb tidak nyambung dengan karya SHM.
      Sehingga saran saya, sebaiknya koq nggak usah dilanjutkan saja, daripada merusak image tokoh-tokoh AdBM.
      Kalau dicermati AdBM karya SHM sarat dengan ajaran cinta kasih baik pada Tuhan, maupun pada segala ciptaannya (lingkungan hidup dan sesama manusia). Jadi daripada merusak kesan terhadap AdBM-nya SHM. sebaiknya jangan dilanjutkan.
      Maaf kalau komentar saya nggak enak,

      • Kelanjutan ceritera yang dibuat oleh bukan penulis aslinya sangat dimungkinkan akan terjadi perbedaan dari segi alur ceritera, gaya bahasa ataupun karakter tokohnya. Biarlah para pembaca ADBM berimajinasi sendiri terhadap kelanjutan ceriteranya.

        Namun demikian usaha Ki Agus untuk melanjutkan ceritera ADBM yang menggunakan istilah Bukan ADBM sangat patut untuk dihargai. Namun demikian jika kelanjutan ceritera tersebut dimaksudkan untuk “dijual” kepada masyarakat maka harus selalu berkoordinasi dengan pihak keluarga bapak SH Mintardja (alm) terutama mengenai alur ceriteranya agar tidak menyimpang dari alur ceritera yang “dikehendaki” oleh penulis aslinya dan juga mengenai perkembangan karakter tokoh-tokoh utamanya (dan juga sudah pasti berkaitan dengan royalty nantinya).

        Selamat berkarya buat Ki Agus atau Ki Agus-Ki Agus lainnya yang bermaksud melanjutkan ceritera ADBM dengan versinya masing-masing.

        Mohon maaf jika ada kata-kata yang tidak berkenan.

        • lhokan judulnya lain”mataram binangkit” jadi mengapa harus minta izin dan mengapa harus dicerca,terus saja mas agus,

  7. Walah sdh lama gak nengok padepokan….
    lha kok sepi banget….apakah ini gara2 Ki AS menerapkan pola bayar bagi yg ingin baca lanjutan ADBM ??

    Pesan silaturahminya hilang gara2 duit…..ternyata antara harapan dan kenyataan gak pernah beriringan.

    Sebenarnya yang bisa bikin rame lagi adalah Ki AS mengirimkan ceritanya lagi ke forum ini dan secara gratis dan ikhlas…mungkin balasannya bukan materi tapi non materi yang mungkin nilainya amat sangat tinggi.

    Salam hangat selalu
    –Rangga yg gak sakti—

  8. selamat sore rekan2, saya telah ikut ketentuan yang dibuat oleh ki agus, tetapi saya mengalami kesulitan untuk membuka lanjutan adbm dan mataram binangkit, apakah saya masuk bulan ini hanya bisa baca yang bulan ini saja jadi terbitan yang lalu-lalu saya tidak bisa baca, atau bisa semua.
    saya coba email ke ki agus belum dijawab.
    bagi rekan2 yang telah memahami cara bacanya tolong kami dikasih informasinya.

  9. Terima kasih Ki Heri,
    Kalau Ki Heri sudah mendaftar, maka Ki Heri bisa membuka semua tulisan yang ada di Mataram Binangkit.com secara lengkap.
    Terima kasih atas perhatiannya.
    Salam
    Agus

    • intinya saya coba cari2 yang ki agus sampaikan belum ketemu.

  10. ADBM memang sarat dengan pesan2 moral, saya baca buku ini dari waktu saya sekolah.walaupun sudah ada yang melanjutkan jalan cerita yang menggantung,namun rasa rasanya banyak kata kata yang kurang pas dan terkesan janggal.jadi seperti baca cerita cerita silat yang lain, memang gaya penulisan ki SHM sangat khas.salam sejahtera untuk semua… RAHAYU

  11. Sbgai dwija dari padepokan terpencil yg rajin baca adbm sejak 1968(msh Smp kls 3)saya salut n mengapresiasi karya ki agus.yg kurang tentu ada tapi tdak akan saya ulas.namun sya tetap menikmati n ikut mendoakan agar bukan adbm ini nti bsa selesai dgn wijang,selamat berkarya ki Agus

  12. Sebelumnya Kuucapkan Salam kepada para sederek2 sanak kadang cantrik Pedepokan ADBM,mudah2an kita Semuanya selalu dapat selalu menjaga silahturahmi dan kerukunan sesama cantrik.
    Mengenai masalah Kelanjutan cerita Sang Resi Ki SHM yg memang sebenarnya masih sangat sangat kita harapkan,dan selalu kita tunggu tunggu,DAN sekarang memang sudah ada yg melanjutkan cerita ini (Ki Agus S ,,Salam buat Ki Agus S)
    Sakbenere aku dhewe yo seneng banget yen iso nyimak kelanjutan kitab iki,walaupun terasa berat yen kudu mbayar,opo pancen aku pelit ora gelem mbayar… hmm…,tp pancen dasare aku ora duwe duit gawe mbayar,,(kondisi pas2an)maaf Ki agus S,mungkin benar pendapat para kadang Cantrik yang menyarankan agar Ki Agus S menjual buku ini dengan menerbitkan dalam sebuah buku,namun memang seyogyanya dengan izin dari keluarga Ki SHM,dan kalaupun Ki Sanak tidak membagikan kelanjutan kitab di Padepokan ini Juga tidak apa2,
    karena memang ini kepunyaan Padepokan ADBM (Ki SHM only).
    mengenai masalah Kisanak yg di ceritakan oleh Ki Branjangan diatas mudah mudahan Kisanak segera dapat mendapatkan jalan keluarnya… Amin..,

    ya…mudah mudahan para cantrik dapat bersabar dalam menghadapi keaadan ini,seperti halnya Kanjeng Sultan Hadiwijaya yang pada mudanya bernama “Mas Karebet” yang dengan pasrah dalam meghadapi jatuhnya Takhta Pajang ( Raja Tanah Jawa ) untuk kemudian berpindah tangan Putra Kinasihnya Raden Sutawijaya
    walaupun secara kewadagan memerangi Mataram,tetapi didalam hati merestuinya.

    Mohon maaf
    salam

  13. MAAF
    SAYA PENGGEMAR BERAT ADBM
    UNTUK KELANJUTAN ADBM SERI V GIMANA YA
    MOHON PENJELASANYA
    DIMANA SAYA BISA MENDAPATKAN TERUSANYA
    TERIMA KASIH

    • Bayar dulu ke ki Agus mas Nanang, sekarang ini gak ada yang gratis :)

      • Bener tuh. Susah cari yang gratis. So….. kemana adbmers saat ini?

  14. semoga semakin memahami sejarah bangsa, kearifan-kearifan lokal dari sejarah dan budayanya ….

  15. nyapu mundur dl ahhhhh biar halaman Padepokan bersih,sebelum masuk sanggar trus nanti mlm nengok pliridan……… monggo poro kadang ingkang ngersakaken unjukan,dateng pendopo sampun kasiapaken wedang sere kaliyan jenang alot……

  16. matarambinangkit.com udah expire ya?????

  17. Ada yang mau paste lanjutan mataram binangkit di sini kaga ya???? masalahnya matarambinangkit.com udah ga bisa diakses…. “Penasaran banget nich….”

  18. Mohon dong kiranya lanjutan Mataram Binangkit Buku 404 ke atas dilanjutkan di sini, soalnya matarambinangkit.com udah ga bisa diakses…. terimakasih

  19. matarambinangkit.com udah expire ya?????

    Mohon dong kiranya lanjutan Mataram Binangkit Buku 404 ke atas dilanjutkan di sini, soalnya matarambinangkit.com udah ga bisa diakses…. terimakasih

  20. Ada yg udah update mataram binangkit ga ya??? bagi dong

  21. bagi dong update mataram binangkitnya…

  22. matarambinangkit.com udah expire ya?????

    Mohon dong kiranya lanjutan Mataram Binangkit Buku 404 ke atas dilanjutkan di sini, soalnya matarambinangkit.com udah ga bisa diakses…. terimakasih

    bagi dong update mataram binangkitnya…

  23. matur suwun sampun kesiapaken wedang sere kaliyan jenang alotipun…habis nengok jendela sebelah mataram biangkit, koq sudah ga bisa diakses ya? kemana lagi kuharus mencari kelanjutan ADBM?

  24. Kalau adbmers beralih ke matraram binangkit, dari adbmers jadi mbers donk?

  25. MATARAM BINANGKIT Lanjutan Api Di Bukit Menoreh Karya Ki Agus S. Soerono Seri V Buku 403 Demikianlah mereka berbagi kegembiraan. Namun mereka juga menyadari bahwa kegembiraan mereka atas kenaikan pangkat Ki Agung Sedayu menjadi Ki Tumenggung Jaya Santika, juga menuntut tanggung jawab yang lebih besar. Mereka semua, seluruh pasukan khusus di Tanah Perdikan Menoreh, harus meningkatkan kemampuan ilmu olah kanuragan mereka. Mereka harus bisa mempertahankan kekuatan pasukan khusus Mataram, harus bisa memperluasnya bahkan kalau perlu menguasai sampai ke seberang lautan. Oleh karena itu segala yang ditanamkan oleh Ki Tumenggung Jaya Santika dalam diri mereka, mereka camkan dengan sungguh-sungguh. Mereka juga menyadari bahwa kesatuan dan persatuan Kerajaan Mataram, sesungguhnya hanya kelihatan seperti permukaan air danau yang tenang, bahkan sangat tenang. Namun di bawah permukaan itu, air itu bergolak dengan derasnya. Bahkan mempunyai beberapa pusaran yang kuat yang siap menenggelamkan kapal jung yang mereka tumpangi. Oleh karena itu, para prajurit terutama dari pasukan khusus di bawah Ki Tumenggung Jaya Santika, mempunyai tanggung jawab yang paling berat. Karena setiap waktu pergolakan yang berada di bawah permukaan itu mencuat ke atas, maka mereka harus siap setiap saat untuk mempertahankan kesatuan dan persatuan itu. Bahkan kalau perlu, mereka harus sudah tahu sebelum pergolakan dari pusaran air di bawah permukaan itu mencuat ke atas. Karena itu peranan pasukan telik sandi menjadi sangat penting. Oleh karena itu, kepada para senapati sehari dalam sepekan Ki Tumenggung Jaya Santika memberi arahan mengenai cara-cara peningkatan ilmu kanuragan mereka. Ia memberi bimbingan khusus bagi para senapati tersebut, dan bimbingan khusus itu tidak hanya untuk meningkatkan tenaga cadangan mereka, namun juga sudah merambah ke ilmu jaya kawijayan. Beberapa senapati yang menonjol seperti Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta mendapat gemblengan khusus dari Ki Tumenggung Jaya Santika. Hal pertama yang dilakukan terhadap kedua lurahnya itu adalah meningkatkan kemampuan ilmu meringankan tubuh. Hal ini menjadi perhatiannya, karena sebagai senapati armada laut Kerajaan Mataram, mereka harus bisa berjalan di atas air. Dan untuk bisa berjalan di atas air, tentu saja mereka harus mempunyai kemampuan ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Apabila kemampuan ilmu meringankan tubuh mereka sudah tinggi, maka mereka akan dapat menapak di atas air laut bahkan berlari, seperti saat mereka berjalan di atas tanah. Para senapati itu juga dilatihnya dengan ilmu jaya kawijayan. Ki Tumenggung Jaya Santika setelah mendapat izin dari Ki Jayaraga, juga menurunkan ilmu Sigar Bumi yang sempat dipelajarinya kepada para senapatinya itu. Bahkan Ki Tumenggung sempat mengenalkan para senapati itu dengan Ki Jayaraga, sebagai sumber ilmu yang akan diberikannya kepada para senapati itu. Memang setelah Ki Tumenggung Jaya Santika mempelajari ilmu aji Kendali Sukma dari Ki Jayaraga, ternyata orang tua itu tidak mau tanggung-tanggung dalam menurunkan segala ilmunya. Ki Jayaraga juga menurunkan aji Sigar Bumi yang telah dipelajari Glagah Putih kepada Ki Tumenggung Jaya Santika. “Inilah kakek guru kalian, yang menjadi asal muasal diturunkannya ilmu Sigar Bumi,” kata Ki Tumenggung Jaya Santika. Ki Jayaraga bahkan sempat memberikan petunjuk-petunjuk khusus kepada para senapati yang di bawah pimpinan Ki Tumenggung Jaya Santika. Sehingga dengan demikian para senapati itu pun semakin meningkat tenaga cadangannya, ilmu meringankan tubuhnya dan ilmu jaya kawijayannya. Untuk bisa mencapai tataran yang diinginkan, maka para senpati itu harus menjalani bebagai laku sebagaimana yang dilakukan oleh Ki Tumenggung Jaya Santika. Mereka menjalani tirakat berupa puasa, patigeni dan ngebleng. Ngebleng adalah suatu laku berupa puasa terus menerus dan tidak keluar dari bilik selama melakukan puasa itu. Sedangkan patigeni adalah laku tidak tidur selama menjalani laku tirakat itu. Sungguh suatu laku yang berat. Dalam pada itu, di Kadipaten Panaraga, prajurit telik sandi Glagah Putih dan Rara Wulan terus mengamat-amati Pangeran Ranapati. Namun setelah sekian lama tidak ada pergerakan yang nampak dari Istana Kadipaten, maka mereka bertemu kembali. Glagah Putih, Rara Wulan, Madyasta, Sumbaga, Sungkana dan Ki Darma Tanda bertemu di tempat persembunyiannya yang tidak diketahui oleh Pangeran Ranapati atau anak buahnya. Dalam pertemuan itu, Glagah Putih dan Rara Wulan menyampaikan bahwa sampai detik ini mereka belum mengetahui sampai sejauh mana pergerakan Pangeran Ranapati untuk menggosok Pangeran Jayaraga untuk memberontak kepada Mataram. “Saya rasa harus ada di antara kita yang melapor ke Mataram, dalam situasi yang sangat tidak menentu ini,” kata Glagah Putih. Mereka yang hadir di ruangan itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka setuju dengan pernyataan Glagah Putih bahwa ada di antara mereka yang harus pergi ke Mataram. Tetapi siapa? “Siapakah menurut kalian yang harus kembali ke Kotaraja Mataram untuk melaporkan situasi ini,” tanya Glagah Putih. Ki Madyasta yang paling dituakan di antara mereka pun kemudian berkata. “Kurasa adi Glagah Putih dan adi Rara Wulan saja yang kembali ke Mataram. Karena adi berdua sudah cukup lama berada di Panaraga. Kalian sudah cukup lama tidak kembali ke Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh,” kata Ki Madyasta. Mereka kemudian kembali manggut-manggut. Mereka semua setuju dengan pendapat Ki Madyasta itu. “Benar, kakang Madyasta. Kali ini biarlah kita tugaskan adi Glagah Putih dan adi Rara Wulan untuk kembali ke Kotaraja Mataram,” kata Ki Sungkana. “Aku setuju dengan pendapat kalian berdua. Bukankah sudah cukup lama adi Glagah Putih dan Rara Wulan tidak bertemu dengan Ki Patih Mandaraka,” kata Ki Sumbaga pula. Glagah Putih yang pertama melontarkan pendapat bahwa harus ada yang melapor ke Kotaraja Mataram menjadi terperangah. Ia tidak menyangka bahwa justru dia sendiri yang mendapat tugas untuk kembali ke Kotaraja Mataram. “Bagaimana Wulan? Apakah kau juga sudah rindu kepada ayah dan ibumu?” tanya Glagah Putih sambil menahan senyumnya. Rara Wulan tidak menjawab, ia hanya bergeser merapat dan tangannya menyambar pinggang Glagah Putih yang membuat Glagah Putih meringis kesakitan. “Biar kakang punya ilmu kebal, pinggangmu tidak akan aku lepaskan,” katanya. Dengan wajah yang dibuat memelas, Glagah Putih menghiba-hiba kepada Rara Wulan. “Ampun Wulan. Ilmu kebalku tidak mempan menghadapi ilmu cengkeraman mautmu,” katanya. Kata-kata Glagah Putih itu justru membuat Rara Wulan memperkeras cengkeramannya. Semua yang hadir di ruangan itu pun tertawa melihat ulah mereka berdua. “Sudahlah Wulan. Aku hanya bercanda,” kata Glagah Putih dengan nada bersungguh-sungguh sambil memegang tangan Rara Wulan dan membelainya. Hati Rara Wulan pun menjadi luruh karenanya. Namun pada akhirnya semua yang hadir di ruangan itu sepakat bahwa Glagah Putih dan Rara Wulan yang akan berangkat ke Kotaraja Mataram pada keesokan harinya. Glagah Putih dan Rara Wulan bangun pagi-pagi benar sebelum berangkat. Mereka menunaikan kewajibannya kepada Yang Maha Agung. Rara Wulan masih sempat menanak nasi, memasak sayur dan menghangatkan ayam goreng yang dipotong kemarin. Mereka pun kemudian menyantap sarapan bersama di pendapa. Sedangkan sebagian dari makanan itu dibungkusnya sebagai bekal mereka dalam perjalanan. Setelah selesai sarapan, Glagah Putih dan Rara Wulan pun segera berkemas-kemas. Mereka pun sudah siap untuk berangkat ketika mentari pagi menyembul di ufuk timur. Mereka berdua pun segera berpamitan kepada Ki Madyasta, Ki Sumbaga dan Ki Sungkana serta Ki Darma Tanda. Glagah Putih memilih untuk berjalan kaki untuk kembali ke Mataram. Sedangkan kuda mereka dititipkannya kepada Madyasta, dengan harapan kalau kelak kembali ke Kotaraja Mataram kuda itu dibawa serta. “Wah sekarang tidak ada lagi yang memasakkan sayur bagi kita,” kata Ki Madyasta. Yang lain merasa tergugu. Karena sekian lama mereka berada di Kadipaten Panaraga dalam waktu yang cukup lama. Mereka merasa seperti sudah menjadi saudara. “Wah jangan khawatir. Doakan saja aku selamat dan segera kembali. Nanti aku masakkan lagi sayur kacang panjang, sayur lodeh atau gudeg,” kata Rara Wulan. Namun tanpa terasa setitik air mengembun di pelupuk matanya. Air yang mengembun itu perlahan-lahan berubah menjadi air mata. Rara Wulan tidak tahan dan ia terisak. Betapa pun perkasanya Rara Wulan yang menghadapi para pengikut Pangeran Ranapati, ternyata hati perempuannya tersentuh. Ia menangis dalam isaknya. Akhirnya dengan menebalkan tekadnya, Rara Wulan dapat meredam tangisnya itu. Mereka lalu bersalaman. Lalu perlahan-lahan Glagah Putih dan Rara Wulan meninggalkan pemondokan mereka di tempat yang terpencil itu. Glagah Putih dan Rara Wulan pun melambaikan tangannya. Ki Madyasta, Ki Sumbaga, Ki Sungkana dan Ki Darma Tanda pun melambaikan tangannya. Mereka pun terus memperhatikan kedua sejoli itu yang semakin menjauh dan mengecil, akhirnya hilang di balik tikungan. Glagah Putih dan Rara Wulan terus berjalan. Mereka menapak tilas jalan-jalan yang mereka lalui dulu ketika mereka berangkat dari Kotaraja Mataram dan akhirnya sampai di Kadipaten Panaraga. Hanya saja kali ini mereka berjalan dalam arah yang berlawanan. Mereka pun sempat menengok rumah di tengah hutan, ketika mereka bertemu dan mereguk ilmu olah kanuragan dari Kiai Namaskara. Namun setelah sekian lama mereka tinggalkan jejak di tengah hutan itu tidak nampak sama sekali. Mereka berputar-putar mencari rumah di tengah hutan lebat itu, namun tidak menemukannya. “Aneh sekali kakang,” kata Rara Wulan yang masih penasaran dan berusaha mencari rumah yang dulu sudah mulai reyot. Ketika mereka memasuki hutan itu, masih nampak tanda-tanda yang bisa mengantar mereka ke rumah Kiai Namaskara, bahkan mereka bisa mengenali beberapa pohon yang menjulang tinggi. Namun begitu masuk dalam lindangan hutan yang pepat, mereka kehilangan jejak. “Iya. Perasaanku, kita memasuki lorong di bawah pohon ara ini, lalu berbelok ke kanan. Namun sekarang belokan ke kanan itu sudah hilang tertutup pohon,” kata Glagah Putih. Mereka pun mencoba melingkar ke belakang pohon ara itu, namun mereka tidak dapat menemukan jalan masuk menuju ke rumah itu. Semuanya pepat, gelap pekat, dan tidak ada rongga barang sedikit pun. Namun anehnya hutan itu terasa sunyi. Tidak ada suara cenggeret, monyet atau kampret yang terbang. Sepi. Di kejauhan masih terdengar auman suara harimau. Namun lamat-lamat. Akhirnya Glagah Putih memutuskan untuk tidak meneruskan mencari petilasan Kiai Namaskara itu. Ia pun mengajak Rara Wulan untuk berdoa bagi Kiai Namaskara, meskipun mereka tidak menemukan kembali rumahnya. Mereka berniat meneruskan perjalanan meskipun tidak menemukan rumah Kiai Namaskara di tengah hutan yang sudah berubah itu. Setelah berdoa dan mempunyai ketetapan hati demikian, maka Glagah Putih mengajak Rara Wulan untuk keluar dari hutan itu. Mereka pun kembali menelisik jalan yang mereka tempuh semula untuk memasuki hutan itu, untuk kembali keluar. Tidak berapa lama mereka sudah sampai di tepi hutan. Di tepi hutan itu ternyata ada sebuah sungai yang airnya sangat jernih, sehingga nampak ikan yang berenang di dasar sungai itu. Melihat air yang jernih dan kebetulan perut mereka sudah mulai terasa lapar, maka Rara Wulan mengajak suaminya untuk berhenti sejenak. Sambil berjuntai di atas sebuah batu hitam yang besar, mereka menikmati bekal yang mereka bawa. “Apakah aku boleh berenang di sungai ini, kakang?” tanya Rara Wulan. “Boleh. Apakah kau ingin berenang di siang yang panas ini? Bukankah kau tadi pagi sudah mandi di rumah?” tanya Glagah Putih. “Iya. Tadi aku ingin berenang. Sangat ingin. Tetapi setelah mendengar pertanyaanmu, aku membatalkan niatku,” kata Rara Wulan. “He? Kenapa?” “Tidak. Tidak kenapa-kenapa.” Mata Rara Wulan nampak mulai mengembun dan setitik air hampir menetes dari sudutnya. Tiba-tiba Rara Wulan meloncat dan berlari sekencang-kencangnya. Karuan saja Glagah Putih menjadi terkejut. Ia buru-buru membenahi kampil Rara Wulan yang ditinggalkan begitu saja. Kampil itu tadi dipakai untuk menyimpan bekal mereka. Setelah masuk dengan rapi, ia segera berlari mengejar Rara Wulan. Namun Rara Wulan sudah lenyap di tengah lebatnya hutan. Glagah Putih pun mulai berteriak-teriak memanggil. “Wulan. Wulan. Di mana kau? Maafkan kalau kata-kataku ada yang salah,” kata Glagah Putih. Glagah Putih merasa heran, kenapa belakangan ini Rara Wulan menjadi sedikit lebih perasa daripada biasanya. Ia pun mencari ke sana kemari, menubras-nubras di tengah lebatnya hutan itu. Setelah sekian lama Rara Wulan tidak ditemukan juga, maka Glagah Putih pun kini tidak mau kehilangan akal. Ia segera meloncat naik ke sebatang pohon, lalu diam pada salah satu cabangnya. Ditunggunya beberapa saat. Akhirnya dari bawah sebuah pohon ia melihat dedaunan yang bergerak-gerak. Lalu muncul Rara Wulan yang celingak-celinguk. Mencarinya. Glagah Putih diam dan membiarkan Rara Wulan mencarinya. “Kakang. Kakang Glagah Putih. Jangan tinggalkan aku,” teriak Rara Wulan. Glagah Putih bergeming. Kini giliran Rara Wulan yang mencari Glagah Putih di tengah hutan yang lebat itu. Tiba-tiba Glagah Putih melihat seekor harimau yang mengendap-endap mendekati Rara Wulan. Ia tidak sampai hati. Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah tidak ada bandingannya itu, Glagah Putih turun di belakang harimau itu. Ia melempar harimau itu dengan sebuah batu yang mengenai pinggangnya. Harimau itu menggeram dan berbalik arah. Harimau itu merunduk dan mengambil ancang-ancang untuk menerkam Glagah Putih. Glagah Putih pun bersiap-siap menyambut terkaman harimau itu. Sang raja hutan itu melompat tinggi, kuku kedua kaki depannya terjulur lurus-lurus ke depan. Siap mencabik-cabik tubuh Glagah Putih dalam satu kali hentakan. Tentu saja Glagah Putih tidak mau tubuhnya menjadi sarang kuku harimau itu. Dengan cepat ia berkelit ke samping, sambil tangan kanannya menyodok ke dada sang penguasa hutan. Harimau itu kembali menggeram dengan kerasnya. Agaknya ia belum jera. Kembali ia merunduk. “Hati-hati kakang,” terdengar teriakan Rara Wulan yang merasa khawatir melihat suaminya diterkam harimau. Glagah Putih pun bersiaga kembali. Ia pun memasang kuda-kuda yang kuat. Harimau itu kembali merunduk, seperti seekor kucing yang sedang mengincar mangsanya. Kepalanya menempel di tanah dan ekornya mengibas-ngibas. Dengan sepenuh tenaga ia kembali meloncat. Glagah Putih kembali mengelak ke samping. Ketika cakar depan harimau itu sudah melintasi tubuhnya, tendangan yang sangat kuat mengenai kaki belakang harimau itu. Harimau itu kembali menggeram. Namun kali ini geraman ketakutan. Ia segera menyusup ke dalam semak-semak di sebelah Rara Wulan. Rara Wulan yang melihat harimau itu berlari ke arahnya segera bersiaga. Namun harimau itu tidak menghiraukannya dan justru menghindarinya lalu masuk ke dalam hutan. Dengan lincah meskipun terseok-seok karena kena tendangan Glagah Putih, harimau itu pun pergi jauh dan tidak terdengar lagi aumannya. Rara Wulan pun lari mendekat dan memeluk suaminya. “Aku takut kakang,” kata Rara Wulan. “Sudahlah Wulan, harimau itu sudah pergi,” kata Glagah Putih sambil mengelus-elus pundak istrinya. Tiba-tiba perut Rara Wulan terasa mual, dan ia pun menjauh dari suaminya lalu menumpahkan isi perutnya. Segala makanan yang dikunyahnya dalam makan siang di tepi sungai tadi terhambur ke luar. Beberapa kali ia memegangi pinggangnya lalu terbungkuk-bungkuk dan melontarkan kembali isi perutnya beberapa kali. Meskipun cairan yang keluar dari perutnya sudah habis, Rara Wulan masih terbungkuk-bungkuk kembali. “Kau kenapa Wulan? Kau masuk angin?” tanya Glagah Putih. “Tidak kakang. Aku sudah terlambat satu bulan,” kata Rara Wulan. “He? Kau sudah isi. Kau sudah mengandung Wulan? Pantaslah kau tadi mudah sekali tersinggung ketika aku tanya mengenai keinginanmu untuk berenang di sungai tadi,” kata Glagah Putih. “Iya kakang. Tiba-tiba saja aku merasa benci melihat kakang,” kata Rara Wulan. “He? Benci? Kenapa kau benci aku?” tanya Glagah Putih. “Iya. Aku benar-benar cinta, kakang,” kata Rara Wulan dengan senyum dikulum. Glagah Putih pun kemudian memeluk istrinya. “Terima kasih sayang. Kau akan memberikan keturunan padaku,” katanya. Lalu ia melanjutkan. “Kalau demikian kita berjalan lambat-lambat saja, agar kandunganmu yang masih sangat muda itu tidak terganggu karena kau kecapekan atau makanan dalam perutmu keluar semua, karena muntah,” kata Glagah Putih lagi. Demikianlah mereka berjalan dengan pelan-pelan, karena kondisi Rara Wulan yang sedang hamil. Perjalanan yang mereka tempuh selama empat hari ketika datang, kini mereka tempuh dalam waktu hampir dua kali lipatnya. Setiap sebentar mereka beristirahat. Bila senja sudah membayang, mereka pun segera mencari penginapan yang layak untuk bermalam. Di suatu desa sebelum sampai di Banyu Asri, mereka bermalam di sebuah penginapan yang terletak dekat pasar. Pagi-pagi sekali Rara Wulan sudah terbangun dan mandi, lalu berhias diri. Glagah Putih yang mendengar kesibukan Rara Wulan segera terbangun. “Hendak ke manakah engkau sepagi ini Wulan?” tanya Glagah Putih. “Aku ingin makan nasi gudeg dan ayam goreng di pasar,” kata Rara Wulan.”Apakah kau ikut?” “Tentu saja aku ikut. Tunggulah sebentar.” Glagah Putih pun segera mandi, menunaikan kewajibannya kepada Yang Maha Agung, lalu mengajak Rara Wulan ke pasar di sebelah penginapan mereka. Mereka pun berjalan pelan-pelan sambil menikmati kesegaran udara pagi, saat sang mentari baru muncul dari balik bukit di ufuk timur. Burung-burung berkicau gembira menyambut sang fajar. Mereka terbang kian kemari sambil berdendang dan menari. Mereka tidak pernah memikirkan, apakah makan yang mereka peroleh hari ini akan cukup hingga petang. Yang penting mereka terbang, menyanyi, menari dan mematuk ulat daun yang tersedia di mana-mana. Asal mereka mau terbang dan mencari, maka ulat dan makanan lainnya terasa berlimpah. Dalam kesejukan udara pagi itulah Glagah Putih dan Rara Wulan terus menapaki jalan menuju pasar yang sudah tidak jauh lagi. Mereka pun sampai di pasar, dan menemukan warung gudeg itu di sudut kiri depan pasar. Mereka masuk ke dalam warung gudeg itu dan memilih duduk di sudut dekat jendela. Udara semilir menyejukkan suasana di warung gudeg itu. Rara Wulan segera memesan nasi gudeg, telur, tempe orek dan tahu bacem cukup untuk dua orang. Rara Wulan memesan dua gelas jeruk hangat. Tidak berapa lama makanan yang mereka pesan pun datang, karena di pagi seperti itu warung gudeg itu belum begitu ramai. Orang-orang masih sibuk menjual dagangannya dan berbelanja kebutuhannya sehari-hari. Biasanya setelah barang dagangannya laku atau pembeli sudah memperoleh apa yang dicarinya, barulah mereka mampir ke warung gudeg itu untuk makan. Glagah Putih dan Rara Wulan pun dapat menikmati makanan yang mereka pesan sambil menikmati pemandangan orang-orang yang berjual beli di pasar. Ketika mereka sedang makan itu, beberapa orang yang kekar memasuki warung gudeg itu pula. Mereka duduk di arah yang berseberangan dengan sepasang suami istri itu di sudut yang lain warung gudeg. Setelah memesan makanan, mereka berceritera dengan riuhnya. Mereka tidak peduli betapa pembeli yang lain merasa terganggu atau tidak. “Kakang Sukarta, bagaimana pandangan kakang mengenai kekuatan dan kesiagaan pasukan khusus Kerajaan Mataram di Prambanan, Kotaraja, maupun di Tanah Perdikan Menoreh?” tanya salah seorang yang gemuk berjambang lebat dan berambut ikal. “Seperti kau lihat, adi Ragil. Ternyata pasukan Kerajaan Mataram semakin kuat saja. Mereka membangun kekuatan di mana-mana. Selain di ketiga tempat itu masih ada lagi tempat pemusatan barak mereka di Galur, khusus untuk prajurit pasukan armada laut mereka,” kata Ki Sukarta. Seperti halnya Ragil, Sukarta juga gemuk berjambang lebat dan berambut ikal. Agaknya mereka dua orang yang bersaudara dan berguru di padepokan yang sama. Ia menoleh ke kiri kanan sejenak. Namun ia tidak menaruh curiga kepada sepasang suami istri yang duduk di sudut dekat jendela. Mereka lihat Glagah Putih dan Rara Wulan makan dengan asyiknya, tidak menghiraukan mereka yang berceritera dengan riuhnya. “Apakah kita akan mencoba mengganggu dan mengacaukan prajurit pasukan khusus itu, kakang?” tanya orang yang disebut Ragil oleh temannya. Sukarta tercenung sejenak. Ia nampak berpikr keras, lalu menjawab. “Aku kira kita tidak usah membuat gara-gara, jangan sampai terulang kembali seperti Gerombolan Gagak Hitam yang ternyata bisa digulung oleh prajurit pasukan khusus Kerajaan Mataram. Padahal Gerombolan Gagak Hitam, termasuk di antara yang terkuat dalam kelompok padepokan yang mendukung gegayuhan Pangeran Jayaraga dari Kadipaten Panaraga,” kata Ki Sukarta. “Bukankah kemarin kita berpapasan dengan Ki Gondang Legi yang hendak kembali ke padepokannya? Ki Gondang Legi sudah menceriterakan secara singkat betapa kuatnya prajurit pasukan khusus Kerajaan Mataram yang ada di Tanah Perdikan Menoreh,” kata Ki Sukarta lagi. Lalu ia menambahkan. “Tugas kita adalah tugas telik sandi. Bukan untuk mengadakan pengacauan atau gangguan keamanan,” katanya tegas. Rekan-rekannya yang lain pun mengangguk-anggukkan kepalanya. “Benar Ki Ragil. Sebaiknya kita tidak membuat masalah dengan prajurit pasukan khusus, agar tidak mengganggu rencana kita secara keseluruhan,” kata rekannya yang lain. Ki Barong Landung. Sesuai dengan namanya orang ini berwajah seram, matanya juling dan badannya tinggi melebihi rekannya yang lain. Glagah Putih dan Rara Wulan yang mendengar pembicaraan mereka menjadi tertarik. Dengan berbisik-bisik mereka berbicara. Mereka berdua telah menyelesaikan makanan yang dipesannya. “Wulan apakah kau setuju apabila aku menangkap mereka semua?” tanya Glagah Putih kepada Rara Wulan. “Mereka berlima kakang. Sedangkan aku masih dalam keadaan lemah karena aku sedang isi, kakang,” kata Rara Wulan. “Tenang saja Wulan aku dapat mengatasi mereka,” kata Glagah Putih. “Setelah kakang berhasil menangkap mereka, apakah kakang akan membawa mereka ke Kotaraja Mataram?” tanya Rara Wulan. “Tentu Wulan. Namun kita akan membawanya sampai di Pajang. Di sana nanti kita serahkan kepada prajurit penghubung yang ada di sana untuk dibawa ke Kotaraja Mataram,” kata Glagah Putih. “Baiklah jika demikian, kakang. Berhati-hatilah,” kata Rara Wulan. Glagah Putih kemudian berdiri dan melangkah menuju meja para telik sandi Kadipaten Panaraga itu. Ia berjalan melingkar-lingkar di sekitar meja tempat duduk mereka. Glagah Putih memperhatikan mereka satu persatu. Ki Sukarta, Ki Ragil, Ki Barong Landung dan dua orang lagi yang disebut temannya bernama Ki Semprong serta Ki Slorog. Agaknya langkah Glagah Putih yang melingkar-lingkar di sekitar mereka membuat kelima orang itu tidak nyaman. “He? Apa yang kau lakukan di sini,” tanya Ki Sukarta. “Aku sedang mencari lima orang telik sandi dari Kadipaten Panaraga. Apakah kalian mengenalnya?” tanya Glagah Putih. “Telik sandi Kadipaten Panaraga?” tanya Ki Ragil. “Ya lima orang telik sandi Panaraga, namanya Ki Sukarta, Ki Ragil, Ki Barong Landung, Ki Semprong dan Ki Slorog,” kata Glagah Putih. “He? Kurang ajar. Kau siapa?” tanya Ki Sukarta. “Aku Glagah Putih. Aku petugas dari Mataram,” kata Glagah Putih sambil menunjukkan timang di pinggangnya yang bergambarkan pertanda petugas dari Mataram. “Kau datang sendiri?” “Ya.” “Kalau kelima telik sandi yang kau cari itu adalah kami, kau mau apa?” “Aku akan menangkap kalian.” “Apakah kau tidak salah, Glagah Putih?” tanya Ki Sukarta lagi.”Kau datang sendiri, kami berlima. Badanmu kecil, kami berlima kokoh kuat.” “Apakah kau memakai tubuhmu yang dempal itu sebagai ukuran?” tanya Glagah Putih. “Hahaha….Hebat. Berani juga kau menghadapi kami berlima. Baiklah kita semua keluar. Supaya warung gudeg ini tidak berantakan. Kita ke lapangan di depan pasar. Di sana tempatnya agak lapang,” kata Ki Sukarta. Mereka berenam pun segera menuju ke lapangan di depan pasar. Suasana di pasar itu pun gempar dan panik, ketika enam orang yang tidak mereka kenal sudah saling menyerang di tengah lapangan yang terletak di depan pasar. Para pedagang yang tidak ingin barang dagangannya menjadi korban, buru-buru menutup warungnya, mengemasi barang dagangannya dan membawanya pulang. Glagah Putih yang seorang diri mulai dikepung oleh kelima orang itu. Mereka masih menggunakan tangan kosong. Dengan mengendap-endap mereka maju menyerang, seperti lima ekor harimau yang mengepung seekor kerbau korbannya. Namun Glagah Putih ternyata bukan seperti seekor kerbau seperti anggapan mereka. Ketika sudah semakin dekat, maka tiba-tiba kelima orang itu maju menerjang. Ki Sukarta menendang, Ki Ragil meninju, Ki Barong Landung menyodok dengan tinjunya, Ki Semprong dan Ki Slorog juga menendang. Mereka merasa akan segera dapat meringkus lawannya itu. Namun kelima orang itu tiba-tiba menjerit kesakitan, ketika serangan mereka saling berbenturan dan Glagah Putih tidak ada di depan mereka. Mereka mengaduh-aduh tidak karuan. “Kenapa kalian saling berbenturan? Aku di sini,” kata Glagah Putih yang ternyata sudah hinggap bak merpati yang terbang ke sebatang cabang pohon randu yang terdapat di tepi lapangan dekat mereka bertarung. Kelima orang itu pun kemudian berusaha menggoyang-goyang pohon randu yang cukup besar itu. “Hahaha. Kalian tidak usah menggoyang-goyang pohon randu seperti itu. Aku segera turun,” kata Glagah Putih. Sementara itu, Rara Wulan yang melihat dari depan warung gudeg itu pun tersenyum melihat ulah kelima orang lawan suaminya. Glagah Putih pun segera meloncat turun dari pohon randu itu. Ia pun kembali bersiaga di tengah kepungan para telik sandi dari Kadipaten Panaraga. Glagah Putih pun sejak dini menyiapkan ilmu kebalnya, karena ia tidak mau menjadi kantong pasir sasaran kelima lawannya. Sebab kalau ia tidak melambari dirinya dengan ilmu kebal aji Tameng Waja, maka kemungkinan akan menjadi sasaran yang empuk bagi lawannya. Glagah Putih pun kemudian menyiapkan kembangan tata gerak ilmu olah kanuragan yang diresapinya dari perguruan Jati Laksana peninggalan Ki Sadewa yang dipadukannya dengan ilmu jaya kawijayan yang diwariskan oleh Ki Jayaraga. Setiap kali serangan lawannya menggempur dirinya, Glagah Putih menghadapinya dengan dada tengadah. Ia tidak lagi meloncat-loncat menghindar. Namun semua serangan lawannya itu dipapakinya. Ia sengaja membentur serangan lawannya. Mula-mula kelima lawannya merasa yakin akan dapat meringkus Glagah Putih dalam waktu singkat. Namun semakin lama mereka semakin heran. Setiap pukulan atau tendangan mereka mengenai bagian-bagian tubuh Glagah Putih, anak muda itu bergeming. Bahkan terasa tangan atau kaki mereka yang membentur bagian tubuh Glagah Putih menjadi nyeri atau ngilu. Bagaikan membentur dinding baja yang tebalnya sedepa. Sedangkan Glagah Putih seperti tidak mengalami apa-apa. Namun lama kelamaan, Glagah Putih juga tidak mau hanya menjadi sasaran. Sekali lagi ia meloncat di atas kepala kelima penyerangnya ketika mereka merandek hendak menyerang secara berbareng. Kini Glagah Putih sudah berada di luar kepungan kelima lawannya. Dengan sebuah sodokan ia menggempur punggung lawannya, Ki Sukarta, yang dianggapnya terkuat di antara mereka. Gempuran di punggung itu ternyata membuat Ki Sukarta terpelanting dan menimpa teman-temannya. Ki Semprong yang masih berdiri di sebelah Ki Sukarta, juga mendapat sebuah tendangan di dadanya, sehingga ia pun terbanting di atas tumpukan teman-temannya. Ki Sukarta segera bangun, meloncat dan menghunus pedangnya. Kawan-kawannya juga melakukan hal yang sama. Kini mereka semua bersenjata. Tentu saja Glagah Putih tidak mau ketinggalan. Ia melolos ikat pinggangnya dan memutar-mutar di atas kepalanya. “Apakah kau tidak membawa senjata selain ikat pinggangmu?” tanya Ki Sukarta dengan nada setengah mengejek. “Ikat pinggangku inilah senjata andalanku,” kata Glagah Putih dengan tenang. Ia tidak terpengaruh oleh ejekan lawannya. Ternyata ikat pinggang itu di tangan Glagah Putih bisa menjadi kaku dan bisa menjadi lentur. Sesekali ia memutar ikat pinggangnya yang menjadi kaku seperti tongkat. Tongkat dari ikat pinggang itu pun berputaran di tangannya, dan mematuk dengan ganasnya seperti seekor ular. Dalam benturan pertama dengan senjata Ki Semprong, terdengar dentingan yang keras. Menimbulkan rasa nyeri di tengan Ki Semprong. Ki Semprong meloncat surut dua langkah. Ia memperhatikan ikat pinggang glagah Putih yang sebentar-sebentar berubah bentuk. Sekali kaku dan sesaat kemudian menjadi lentur sebagaimana ikat pinggang pada umumnya. Ternyata kekuatan tenaga cadangan Glagah Putih mampu mengubah-ubah bentuk ikat pinggang itu. “Luar biasa,” katanya. “Apanya yang luar biasa?” tanya Glagah Putih. “Kau mampu mengubah ikat pinggangmu menjadi seperti benda yang kaku dan liat, sehingga bisa membentur pedangku, dan di saat lain kembali menjadi lentur seperti ikat pinggang pada umumnya,” katanya. “Apakah dengan pengakuanmu itu, berarti bahwa kalian hendak menyerah,” tanya Glagah Putih.. “Tidak. Sama sekali tidak,” kata Ki Sukarta buru-buru. Ki Sukarta tidak ingin menyerah dengan begitu mudah kepada seorang anak muda, meskipun ia memakai timang pertanda sebagai prajurit dari pasukan Kerajaan Mataram. Mereka kemudian mulai mengepung kembali Glagah Putih. Melihat kemampuan Glagah Putih yang demikian besar, mereka pun menjadi semakin berhati-hati. Para telik sandi dari Kadipaten Panaraga itu pun kemudian semakin meningkatkan kemampuan ilmu kanuragannya. Tata gerak mereka demikian gesit, bergerak memutar seperti hendak membuat bingung Glagah Putih. Namun Glagah Putih yang sudah berpengalaman tidak mau dibuat bingung oleh serangan lawannya yang bergerak memutar. Glagah Putih yang sudah menerapkan ilmu kebal aji Tameng Waja tidak perlu merasa khawatir bahwa serangan lawannya akan mampu melukai dirinya. Karena itu, Glagah Putih mulai memperhatikan tata gerak kelima lawannya. Setiap kali berhasil membentur senjata ikat pinggang Glagah Putih, mereka meloncat surut sambil dalam arah yang masih memutar. Sehingga dengan demikian, serangan mereka meliuk-liuk, sekali memukul atau membentur senjatanya, mereka bergerak surut dan kawannya yang lain lah yang maju. Setelah mengamati bentuk serangan mereka yang demikian, Glagah Putih pun kemudian menyerang dengan arah sebaliknya dari arah putaran serangan lawannnya. Dentang senjata semakin sering terjadi. Kembali serangan rasa nyeri menusuk ke tangan kelima lawannya, ketika terjadi benturan senjata. Setiap kali terjadi benturan senjata, mereka berusaha sekuat tenaga memegang pedangnya erat-erat agar senjata itu tidak terlepas dari tangan. Mereka meringis ketika terjadi benturan senjata. Akhirnya Glagah Putih mengambil kesimpulan, bahwa dari kelima orang telik sandi Kadipaten Panaraga hanya Ki Sukarta yang mempunyai kemampuan tenaga cadangan dan ilmu kanuragan yang mumpuni. Sedangkan empat orang kawannya, tidak setinggi ilmu kanuragan yang dimiliki oleh Ki Madyasta, Ki Sumbaga atau Ki Sungkana. Setelah mendapat kesimpulan demikian Glagah Putih ingin menjajaki lebih jauh perlawanan kelima orang lawannya, ia pun selapis demi selapis meningkatkan tataran ilmunya. Tata geraknya semakin ganas dan trengginas, menyerang kelima lawannya. Kalau tadi seakan-akan Glagah Putih yang menjadi kebingungan dengan tata gerak kelima lawannya, maka kini Glagah Putih yang bergerak semakin cepat, membuat kelima lawannyalah yang menjadi kebingungan. Glagah Putih pun meningkatkan tenaga cadangannya setiap kali membenturkan ikat pinggangnya ke senjata lawannya. Setiap kali terjadi benturan, gagang pedang mereka terasa panas. Sehingga rasa nyeri yang menyerang genggaman tangan mereka kini berubah menjadi terasa panas. Setiap kali pedang mereka berbenturan dengan ikat pinggang Glagah Putih, genggaman tangan atas pedang mereka menjadi kian panas. Satu dua kali sabetan ikat pinggang Glagah Putih mulai menimbulkan luka di tubuh para telik sandi Kadipaten Panaraga. Darah pun mulai menetes dari luka-luka yang timbul di tubuh mereka. Pakaian mereka pun mulai berubah warnanya, menjadi bersemu merah. Mereka tidak dapat lagi mempertahankan senjata mereka di tangannya. Akhirnya satu per satu senjata lawannya terlepas. Tinggallah kini Ki Sukarta saja yang masih menggenggam pedangnya. Ketika sebuah tendangan berantai yang dlancarkan kepada keempat kawan Ki Sukarta, maka keempat orang itu jatuh tersungkur. Pingsan. Tinggallah kini Ki Sukarta yang berhadapan dengan Glagah Putih. Ia ingin menangkap Ki Sukarta hidup-hidup sehingga bisa dikorek keterangan tentang jaringan telik sandi yang ada di dalam kelompok mereka. Glagah Putih kemudian terus mendesak Ki Sukarta. Segera saja terjadi pertarungan yang semakin sengit. Ki Sukarta memutarkan pedangnya bagaikan baling-baling. Ia menutup semua lubang pertahanannya, sehingga ujung ikat pinggang Glagah Putih tidak bisa menyentuhnya. Namun setiap kali terjadi benturan ia masih merasakan betapa rasa panasnya yang merembet ke gagang pedangnya. Glagah Putih terus berusaha mengimbangi kemampuan Ki Sukarta. Agaknya Ki Sukarta pun sudah mulai merambah ke lambaran ilmu kebalnya. Karena ia juga tidak mau ujung ikat pinggang Glagah Putih merobek kulitnya seperti yang terjadi pada kawan-kawannya. Demikianlah pertarungan itu semakin lama semakin seru. Glagah Putih yang telah dapat mengukur kemampuan Ki Sukarta pun kemudian mulai meningkatkan ilmu kanuragannya. Selapis demi selapis serangan Glagah Putih mampu menekan ilmu olah kanuragan Ki Sukarta. Hal itu mendorong Ki Sukarta untuk meningkatkan penggunaan tenaga cadangannya. Namun Glagah Putih masih tetap mampu mengatasinya. Hal itu membuat Ki Sukarta pun mulai merambah ilmu pamungkasnya. Aji Segara Mawut. Dari puncak ubun-ubun Ki Sukarta keluar asap putih tipis, Semakin lama semakin tebal dan dengan cepat menyelimuti udara di sekitar dirinya. Ki Sukarta pun nampak semakin pudar bayangannya. Antara ada dan tiada. Glagah Putih yang melihat perubahan keadaan lawannya, segera dapat membaca bahwa lawannya sudah mulai merambah ilmu pamungkasnya. Karena itu, ia pun segera secara perlahan-lahan mulai melambari dirinya dengan aji Sigar Bumi. Ki Sukarta yang sudah merambah ke aji Segara Mawut, membuat pandangan mata Glagah Putih terasa menjadi kabur, karena Ki Sukarta seolah-olah antara ada dan tiada ditutupi oleh selapis kabut tipis yang semakin tebal menghalangi. Menghadapi kenyataan demikian, Glagah Putih pun tidak mau ragu-ragu lagi menggunakan aji Sigar Bumi. Ketika Glagah Putih menghentakkan kedua kakinya ke permukaan tanah, maka terasa bahwa bumi ini berguncang dengan hebatnya. Meski pun Glagah Putih tidak dapat melihat dengan jelas di mana Ki Sukarta berada, namun ia masih dapat menangkap ujung bayangannya. Berdasarkan arah tangkapan ujung bayangan lawannya itulah Glagah Putih menerjangkan hentakan kakinya. Ki Sukarta berusaha berkelit ke samping. Namun Glagah Putih yang melalui ketajaman panggraitanya mampu merasakan di mana lawan berada, segera menghadang dengan hentakan berikutnya ke arah lawannya menghindar. Kembali bumi terasa seperti teraduk-aduk dan berguncang dengan kerasnya. Seperti gempa. Glagah Putih terus menggempur tempat kedudukan Ki Sukarta. Ke mana pun Ki Sukarta bergerak, ke sana arah gempuran Glagah Putih. Akibat gempuran glagah Putih itu, Ki Sukarta yang tidak mencermati arah serangan dari Glagah Putih, akhirnya tidak dapat bertahan. Ia jatuh terbanting. Namun ia masih dapat bergerak, meskipun lemah.. Orang-orang di pasar yang masih mempunyai keberanian, masih melihat meskipun dari kejauhan. Namun setelah kelima orang itu dapat ditaklukkan, maka mereka pun berjalan mendekat. Namun sebelum dekat benar, terdengar derap puluhan kuda yang mengarah ke pasar itu. Setelah sampai, seorang penunggang kuda yang paling depan dengan perawakan tegap, segera turun dari kuda itu. Ia menyibak orang-orang yang berkerumun di lapangan depan pasar. “Kakang Sabungsari?” teriak Glagah Putih lalu mendekati orang yang sudah dikenalnya dengan baik itu. “Oo. Kau rupanya adi Glagah Putih. Aku tengah meronda hingga daerah perbatasan, namun ada orang yang melaporkan bahwa telah terjadi pertarungan di pasar ini satu orang melawan lima orang. Ternyata aku sampai di sini sudah terlambat. Pertarungan ini sudah usai,” kata Sabungsari dengan nada penuh kecewa. “Hahaha….Kakang Sabungsari tidak terlambat. Aku justru ingin menitipkan kelima telik sandi dari Kadipaten Panaraga kepada kakang Sabungsari untuk dikirim ke Kotaraja Mataram. Terus terang aku tidak bisa untuk membawanya ke Kotaraja karena Rara Wulan sedang isi,” kata Glagah Putih. “He? Isi? Maksudmu sedang mengandung?” tanya Sabungsari. “Benar kakang. Rara Wulan sedang hamil, jadi aku menghadapi kelima orang itu sendiri. Aku tahu Rara Wulan sedang hamil, baru kemarin, padahal kami berangkat dari Panaraga sudah tiga hari yang lalu,” kata Glagah Putih. “Baiklah jika demikian. Biarlah aku mengambil alih masalah telik sandi dari Kadipaten Panaraga. Apakah adi sekalian akan tetap berjalan kaki untuk pulang ke Kotaraja Mataram? Kalau boleh aku menyarankan agar kalian pergi berkuda saja. Dua dari kuda yang kami bawa dapat kau pakai untuk kembali ke Kotaraja Mataram. Aku kasihan kalau dalam keadaan hamil, Rara Wulan mesti berjalan kaki sampai Kotaraja Mataram,” kata Sabungsari. “Baiklah aku terima dan sangat berterima kasih atas tawaran kakang itu,” kata Glagah Putih. “Kakang Sabungsari?” tiba-tiba seorang wanita menyeruak dari kerumunan orang yang berada di tepi lapangan itu. “Adi Rara Wulan. Apakah adi sehat-sehat saja,” tanya Sabungsari. “Berkat doa kakang dan perlindungan Yang Maha Agung, aku sehat-sehat saja,” kata Rara Wulan. Lalu ia melanjutkan. “Marilah kakang Sabungsari, mampir sejenak di warung gudeg di tepi pasar itu,” kata Rara Wulan. “Baiklah kita mengobrol di sana sambil minum kopi setelah tidak bertemu lama sekali,” kata Sabungsari. Sabungsari kemudian memerintahkan beberapa prajurit untuk meringkus para telik sandi dari Kadipaten Panaraga. Mereka pun kemudian mengikat kelima orang itu dengan menggunakan tali janget yang kuat sekali. Pemilik warung yang tadi menjadi panik dan ketakutan, karena terjadi perkelahian di tepi lapangan, segera membuka warung gudeg dan barang dagangannya kembali. Mereka semua memesan makanan dan minuman. Matahari sudah memanjat kaki langit semakin tinggi. Sambil menanti pesanan makanan dan minuman, Sabungsari bertanya kepada Glagah Putih dan Rara Wulan yang duduk di hadapannya. “Apakah kalian sudah tahu bahwa kakang Untara diangkat menjadi Panglima Pasukan Wiratamtama?” tanya Sabungsari. “He? Kakang Untara jadi Panglima?” tanya Glagah Putih dan Rara Wulan hampir berbarengan. “Benar. Kakang Untara sejak dua pekan lalu tidak lagi berada di Jati anom, melainkan sudah pindah ke Kotaraja Mataram,” kata Sabungsari. “Wah…wah. Syukurlah. Lalu siapakan yang menggantikan kakang Untara di wilayah Selatan Gunung Merapi?” tanya Glagah Putih. “Aku.” “He? Kau kakang? Kau jadi senapati di wilayah Selatan?” tanya Glagah Putih sambil menyodorkan tangannya. Sabungsari dengan segera menyambutnya dan mereka berjabatan tangan sangat erat. “Syukurlah. Aku mengucapkan selamat atas pengangkatan kakang Sabungsari sebagai seorang senapati di wilayah Selatan,” kata Glagah Putih. “Terima kasih adi. Semuanya berkat doa kalian berdua,” jawab Sabungsari. Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan. “Sekarang apakah rencana kalian? Apakah kalian akan kembali ke Kotaraja Mataram?” tanya Sabungsari. “Benar kakang. Kami akan kembali ke Kotaraja. Tetapi terlebih dahulu kami akan mampir ke Banyu Asri untuk menengok ayah dan ibu. Apakah mereka sehat-sehat saja?” kata Glagah Putih. “Mereka sehat-sehat saja adi.” “Syukurlah.” “Adi berdua, bukan maksudku untuk tidak ingin ngobrol lebih panjang dengan adi sekalian. Tetapi karena tugasku, aku harus meninggalkan kalian. Tawanan telik sandi Kadipaten Panaraga itu, biarlah aku yang mengurusnya. Nanti ada sepuluh orang yang akan mengawalnya sampai Kotaraja Mataram. Adi berdua gunakan saja dua kuda kami untuk kembali ke Banyu Asri. Nanti kuda itu kalian tinggal di Banyu Asri, dan nanti prajuritku akan mengambilnya. Kalian pakai kuda milik paman Widura untuk kembali ke Kotaraja Mataram,” kata Sabungsari. “Baik kakang. Terima kasih atas bantuan kakang,” kata Glagah Putih. Demikianlah setelah makan nasi gudeg dan minuman hangat wedang jahe mereka berpisah di warung gudeg yang terletak di pinggir pasar. Senapati Sabungsari melanjutkan meninjau situasi keamanan di wilayah yang menjadi wewenangnya, sedangkan sepuluh prajurit membawa lima orang telik sandi Kadipaten Panaraga ke Kotaraja Mataram dan Glagah Putih serta Rara Wulan melanjutkan perjalanan mereka ke Banyu Asri dengan berkuda pelan-pelan. Dalam pada itu, Pangeran Ranapati dan Ki Gondang Legi terus berjalan menuju Padepokan Cambuk Petir yang terletak di sebelah Barat Gunung Wilis. Mereka menyusuri persawahan, bulak-bulak panjang, gumuk dan lereng, lembah dan ngarai. Tidak jarang mereka harus melompati jurang sempit yang menghadang perjalanan mereka. Setelah melintasi hutan yang agak lebat, mereka akhirnya memasuki suatu wilayah yang terbuka. Di kiri kanan jalan terdapat persawahan yang cukup luas. Dan di sudut persawahan itu terdapat pategalan yang ditumbuhi beraneka warna tanaman keras seperti kelapa, mangga, jambu, duren, rambutan dan pohon buah-buahan. Di tengah pategalan itulah terdapat sebuah padepokan. Padepokan itu nampak asri, di sudut-sudut halaman ditanami dengan pepohonan bunga berwarna-warni. Di sebelah kiri pendapa terdapat sebuah belumbang yang dihuni oleh berbagai jenis ikan, yang berenang ke sana ke mari. Pada saat menjelang siang, mereka berdua pun kemudian memasuki halaman padepokan yang dibatasi oleh pagar setinggi dada orang dewasa. Mereka segera menuju ke pendapa. Di depan pendapa mereka disambut oleh seorang cantrik yang segera mengenali Ki Gondang Legi. “Kakang Gondang Legi,” sapa cantrik itu.”Silakan kakang duduk di pendapa, aku segera memberi tahu Kiai Cambuk Petir mengenai kedatangan kalian.” Mereka pun kemudian duduk di pendapa. Tidak beberapa lama kemudian Kiai Cambuk Petir keluar dari peringgitan ke pendapa. “He? Kau Gondang Legi? Mana saudaramu yang lain?” tanya Kiai Cambuk Petir tanpa sempat mengendalikan rasa herannya, karena dari empat muridnya yang dikirim ke Kotaraja Mataram, hanya satu yang kembali. Ia bahkan tidak sempat menanyai Ki Karaba Bodas yang menyebut dirinya sebagai Pangeran Ranapati. “Ampun guru. Ketika kami telah selesai menjajaki kekuatan Mataram, kami menyeberangi Kali Praga untuk melihat keadaan terakhir di Tanah Perdikan Menoreh sebelum kembali ke Panaraga. Kami bertemu dan bertempur dengan prajurit Mataram. Kami berhasil dikalahkan. Kakang Bargas dan Bergawa berhasil dilumpuhkan, kakang Tanda Rumpil tewas dan aku berhasil melarikan diri,” kata Ki Gondang Legi. Ki Gondang Legi bersiap-siap menerima tamparan gurunya. Apabila salah seorang murid gagal menjalankan tugasnya, maka dengan ringan tangan gurunya memberi hadiah tamparan, pukulan atau tendangan. Namun kali ini gurunya nampak menahan diri, mungkin karena di depannya ada Pangeran Ranapati. “Jadi kalian telah gagal menjalankan tugas yang aku berikan?” tanya Kiai Cambuk Petir. “Ampun guru. Kami tidak gagal sama sekali, karena kami sudah mendapat catatan yang kami perlukan mengenai kekuatan pasukan Kerajaan Mataram,” kata Ki Gondang Legi. “Manakah catatan itu?” tanya Kiai Cambuk Petir. Ki Gondang Legi mengeluarkan beberapa lembar rontal dari dalam kampilnya, lalu menyerahkan catatan itu kepada gurunya. Kiai Cambuk Petir menerima rontal itu dan membacanya sekilas. Ia mengangguk-angguk. “Apakabar Pangeran Ranapati? Mohon maaf aku telah mengabaikan kehadiran Pangeran? Hal itu justru karena rasa tanggung jawabku atas tugas mereka untuk menyelidiki kekuatan pasukan Mataram,” kata Kiai Cambuk Petir. “Tidak apa-apa Kiai Cambuk Petir,” kata Pangeran Ranapati singkat. Sebenarnya Pangeran Ranapati merasa sangat tersinggung diabaikan demikian oleh Kiai Cambuk Petir. Namun apabila rasa tersinggung itu yang ditonjolkannya, akan bisa mengacaukan segala rencana besarnya. Padahal Kiai Cambuk Petir adalah salah seorang yang sangat mendukung rencananya untuk memperkuat Kadipaten Panaraga dalam upaya mengguncang kekuatan Kerajaan Mataram. Oleh karena itu ia berusaha meredam rasa tersinggung yang membuncah amat sangat di dalam jantungnya. “He? Apa kau bilang tentang saudara-saudaramu?” tiba-tiba Kiai Cambuk Petir tersentak. “Kakang Bargas dan Bergawa berhasil dilumpuhkan, kakang Tanda Rumpil tewas,” kata Ki Gondang Legi. “Siapakah yang melumpuhkan Bargas dan Bergawa,” tanya Kiai Cambuk Petir. “Seorang prajurit pasukan khusus Mataram, guru. Ia juga mempergunakan senjata cambuk seperti cici-ciri perguruan kita,” kata Ki Gondang Legi. “He? Orang Bercambuk seperti kita, katamu?” “Benar guru.” “Di manakah kalian bertempur dengan orang yang bersenjatakan cambuk itu?” “Di tepian kali Praga, guru.” “Apakah ciri-ciri senjata cambuk yang dipakainya sama seperti yang kita pakai?” “Benar guru. Cambuknya berjuntai panjang seperti cambuk kita. Bahkan juga berkarah-karah baja berbentuk bintang bersegi sembilan.” “He? Sama persis dengan cambuk ciri-ciri perguruan kita,” kata Kiai Cambuk Petir. “Benar guru. Sama persis seperti ciri-ciri cambuk kita.” “Baik. Aku akan menanyakan hal itu kepada kakak seperguruanku Kiai Ajar Karangmaja. Mungkin ia tahu, siapakah sebenarnya guru prajurit dari pasukan Mataram yang mempunyai ciri-ciri Orang Bercambuk seperti yang kita miliki,” kata Kiai Cambuk Petir.Ia berhenti sejenak. Lalu meneruskan kata-katanya. “Sekarang apakah rencana anakmas Pangeran Ranapati?” tanya Kiai Cambuk Petir. “Begini Kiai. Sesuai dengan rencana yang telah kita sepakati, kita akan tetap bergabung dalam kekuatan yang kita sebut sebagai kekuatan pendukung Kadipaten Panaraga,” kata Pangeran Ranapati. Lalu ia melanjutkan. “Aku akan meneruskan perjalanan untuk mencari dukungan dari beberapa padepokan yang berada di wilayah Kadipaten Panaraga. Selain itu juga, mencari dukungan dari beberapa Kadipaten seperti Madiun, Demak, Kudus, Pacitan, Surabaya, Pajang atau Jipang. Kita gerakkan orang-orang yang tidak puas terhadap bangkitnya Kerajaan Mataram sehingga bisa menjadi kekuatan yang mampu mengguncang Mataram itu sendiri,” kata Pangeran Ranapati. Kiai Cambuk Petir mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia nampak setuju dengan pendapat Pangeran Ranapati. Namun Kiai Cambuk Petir sesungguhnya mempunyai kepentingannya sendiri. Ia justru hendak membelokkan arah perjuangan Pangeran Ranapati dengan membangkitkan kebesaran dari masa lalu, yaitu bangkitnya Kerajaan Majapahit yang mampu menguasai seluruh Nusantara. Akan tetapi hal itu, baru akan dilakukannya setelah perjuangan besar ini sudah separuh jalan. Lebih mudah membelokkan arah perjuangan itu, daripada mendorongnya sejak awal seperti sekarang ini. “Baiklah anakmas. Anakmas silakan menghubungi orang-orang dalam jalur perjuangan untuk mendukung Kadipaten Panaraga, seperti anakmas katakan tadi. Aku pun demikian. Namun terlebih dahulu aku akan menghubungi kakak seperguruanku. Apabila Kiai Ajar Karangmaja bisa ikut kita gerakkan, maka di belakangnya akan berbaris orang-orang dari kebesaran masa silam yaitu Kerajaan Majapahit yang siap mendukung perjuangan kita,” katanya. “Dengan berbekalkan keterangan yang berhasil dihimpun oleh Gondang Legi, maka kita membutuhkan pasukan sedikitnya dua puluh laksa untuk bisa menggempur Mataram,” kata Kiai Cambuk Sakti. Pangeran Ranapati pun setuju dengan pendapat Kiai Cambuk Sakti. Ia sependapat bahwa diperlukan pasukan sedikitnya dua puluh laksa untuk dapat menggulung Mataram.Apabila dapat terkumpul pasukan dengan anggota berjumlah dua puluh laksa, maka hal itu akan memudahkan pergerakan selanjutnya. Kiai Cambuk Sakti kemudian memerintahkan para cantrik untuk bersantap siang bagi mereka bertiga. Mereka makan seadanya sebagaimana yang biasa tersedia di padepokan. Nasi, sayur lodeh, goreng ikan dan sedikit kue ringan seperti nagasari atau juadah. Setelah selesai bersantap, maka mereka pun segera membagi tugas. Kiai Cambuk Petir akan mengunjungi kakak seperguruannya, Ki Gondang Legi mengawasi para cantrik selama Kiai Cambuk Petir pergi, Pangeran Ranapati menghimpun berbagai kekuatan yang mau dan mampu mendukung Kadipaten Panaraga. Demikianlah Kiai Cambuk Petir kemudian mengendarai kudanya menuju ke kaki sebelah utara Gunung Wilis. Di sanalah kakak seperguruannya Kiai Ajar Karangmaja membangun padepokan. Padepokan Ajar Karangmaja. Meskipun jalan yang ditempuhnya cukup rumit dan rumpil, namun karena Kiai Cambuk Petir sudah mengenal dengan baik jalan menuju ke sana, Ia melintasi bulak-bulak panjang, daerah persawahan, lalu masuk hutan yang agak lebat, jalanan yang berliku, lembah dan ngarai pun dilintasinya. Semakin dekat dengan padepokan kakak seperguruannya itu, semakin sulit jalan yang harus ditempuhnya. Ia sampai di Padepokan Ajar Karangmaja setelah menempuh perjalanan berkuda hampir sehari penuh. Sungguh suatu perjalanan yang melelahkan. Namun Kiai Cambuk Petir adalah termasuk orang yang mempunyai kekuatan yang luar biasa. Meskipun tubuhnya sudah mulai dimakan usia, namun ia tetap tegar menghadapi perjalanan yang sulit dan panjang seperti yang ditempuhnya sekarang ini. Kiai Cambuk Petir meloncat turun ketika kudanya mencapai regol halaman Padepokan Ajar Karangmaja. Ia segera disambut oleh seorang cantrik yang menerima tali kekang dan mengikatkannya pada tonggak-tonggak yang tersedia. “Apakah Kiai Ajar Karangmaja ada,” tanya Kiai Cambuk Petir. “Ada Kiai. Kiai Ajar Karangmaja sedang di sanggarnya. Silakan Kiai duduk di pendapa. Aku segera memberitahukan kepada Kiai Ajar Karangmaja mengenai kehadiran Kiai,” kata cantrik yang termasuk paling muda.. Demikianlah setelah menunggu sejenak, Kiai Ajar Karangmaja keluar dari sanggarnya setelah cantrik tadi memberitahukan bahwa adik seperguruannya Kiai Cambuk Petir datang berkunjung. “Selamat datang adi. Apakabar? Sudah lama sekali kau tidak datang ke mari,” kata Kiai Ajar Karangmaja menyambut tamunya. Adik seperguruannya. “Terima kasih kakang. Aku sehat-sehat saja. Semoga demikian hendaknya dengan keadaan kakang,” kata Kiai Cambuk Petir. “Syukurlah. Aku juga selalu dalam lindungan-Nya. Apakah ada hal yang penting dan mendesak, sehingga kau menyempatkan diri untuk menemuiku yang jauh di pucuk Gunung Wilis ini?” tanya Kiai Ajar Karangmaja, langsung ke inti masalah. Ia tidak mau bertele-tele untuk mengetahui keinginan adik seperguruannya, yang sering datang dan selalu mempunyai maksud-maksud tertentu di luar ukuran nalarnya. “Benar, kakang. Aku datang ke mari untuk kembali mengajak kakang guna bergabung dalam apa yang disebut sebagai barisan pendukung Kadipaten Panaraga untuk bisa menguasai tlatah ini. Apabila kita gabungkan dengan kekuatan yang berada di belakang kita, maka bukan tidak mungkin kita bisa membangkitkan kekuatan dari masa silam, yaitu membangun kembali Kerajaan Majapahit yang besar dan mampu menguasai Nusantara,” kata Kiai Cambuk Petir. “Sudah berulangkali aku katakan adi. Aku ini sudah sangat lanjut. Bahkan badanku sudah berbau tanah. Aku tidak mau lagi memikirkan masalah duniawi seperti itu. Apakah aku akan menjadi senapati atau tumenggung kalau bisa kau bujuk untuk bergabung? Untuk orang seumur aku, untuk apa lagi jabatan senapati atau tumenggung? Aku sudah tidak mempunyai gegayuhan seperti itu. Ketiga anakku juga sudah mentas dan aku sudah sudah mempunyai enam cucu. Kebahagiaanku sekarang adalah momong keenam cucuku itu. Itu saja,” kata Kiai Ajar Karangmaja. “Akan tetapi kakang, bukankah kita masih keturunan langsung dari trah Kerajaan Majapahit? Bukankah dengan demikian kita juga wajib menjunjung tinggi leluhur kita. Mikul dhuwur, mendem jero. Apakah kakang tidak merasa mempunyai kewajiban untuk membangun kembali kejayaan dari masa silam?“ tanya Kiai Cambuk Petir. “Adi jangan keliru. Yang mempunyai trah langsung kerajaan Majapahit adalah guru kita Mpu Windujati. Sedangkan kita hanyalah cantrik di padepokannya, yang kemudian mendapat kesempatan menjadi muridnya. Aku dan kau bukan trah langsung dari Kerajaan Majapahit. Kita hanyalah keturunan pidak pedarakan, yang tidak seorang pun bisa mengaitkannya dengan trah Majapahit,” tutur Kiai Ajar Karangmaja dengan nada yang mulai meninggi. Ia berhenti sejenak. Nafasnya agak tersengal-sengal, karena menahan hati mendengar ucapan adik seperguruannya yang sekan-akan baru datang sudah memanas-manasi suasana. “Sekarang tidak lagi, adi. Aku sedikit pun tidak mempunyai gegayuhan untuk membangkitkan kembali kejayaan Majapahit. Kerajaan Majapahit sudah mengukirkan dalam kitab sejarah negeri ini dengan tinta emas. Sekali terbilang, lalu hilang. Sekarang berilah kesempatan kepada kerajaan Mataram untuk kembali mengukirkan tinta emas dalam kitab sejarah itu. Sehingga pada saatnya nanti, anak cucu keturunan kita ratusan tahun mendatang akan melihat bahwa sejarah negeri kita ini penuh dengan warna-warni,” kata Kiai Ajar Karangmaja. Kembali ia terdiam sesaat. “Aku tidak lagi mempunyai gegayuhan seperti itu,” kata Kiai Ajar Karangmaja. “Kenapa, kakang?” “Karena yang ada sekarang ini sudah merupakan saluran yang tepat untuk meneruskan kerajaan Majapahit. Ketika Majapahit runtuh, bangkit Demak. Demak pun diteruskan oleh Pajang. Kemudian Pajang dilanjutkan oleh Mataram. Nah kurang apa lagi?” tanya Kiai Ajar Karangmaja. “Kekurangannya adalah karena tidak ada peran kita di dalamnya, kakang. Kalau kita ikut berperan dalam perubahan pemerintahan itu dengan menjadi sarana berpindahnya wahyu keraton, maka barulah merupakan saluran yang tepat. Akan tetapi di sini kita tidak dilibatkan sama sekali,” kata Kiai Cambuk Petir. “Lalu kalau dilibatkan, kita sebagai apa? Sebagai pengusung wahyu keraton, begitu?” tanya Kiai Ajar Karangmaja. “Benar kakang. Apabila kita dilibatkan sebagai pengusung wahyu keraton, maka paling tidak kita bisa memiliki kedudukan penting di dalam pemerintahan,” kata Kiai Cambuk Petir. “Kedudukan apa yang kau inginkan adi, dalam usiamu yang sudah jauh memanjat naik dan menjelang turun. Kalau usiamu masih tiga puluh tahunan, bolehlah apabila kau minta kedudukan. Pada saat menjelang purnatugas pada saat usiamu lima puluh tahun, kau sudah menjadi tumenggung. Akan tetapi dengan usiamu yang sudah enam puluhan tahun seperti sekarang ini apa lagi yang kau harapkan?” tanya Kiai Ajar Karangmaja. “Paling tidak kita akan bisa meletakkan dasar bagi lingkungan kita. Meletakkan dasar bagi anak cucu kita,” kata Kiai Cambuk Petir. “Akan tetapi apa yang bisa kita lakukan. Karena kita akan tetap berada di luar jalur kekuasaan yang bisa menentukan hitam putihnya keadaan,” tanya Kiai Ajar Karangmaja. “Tentu saja kita memberikan dukungan yang perlu bagi terwujudnya gegayuhan kita itu,” kata Kiai Cambuk Petir. “Sudahlah adi. Aku tidak ingin terlalu ikut campur dalam urusan yang sama sekali aku tidak mengerti. Aku juga tidak mempunyai wewenang untuk memasukkan keterangan yang berguna bagi perubahan kekuasaan itu. Seandainya terjadi perubahan kekuasaan pun, tentu saja kita akan tersingkir dan tidak akan bisa memperjuangkan kepentingan anak cucu kita. Karena kita sudah uzur,” kata Kiai Ajar Karangmaja. “Wah kakang terlalu berkecil hati sebelum berbuat sesuatu,” kata Kiai Cambuk Petir. “Yang jelas, aku tidak ingin melibatkan padepokanku dan keluarga besar perguruan Windujati dalam pertengkaran ini karena ingin memperebutkan kekuasaan,” kata Kiai Ajar Karangmaja. Kiai Cambuk Petir yang semasa mudanya bernama Kulantir sebenarnya adalah adik seperguruan dari Kiai Ajar Karangmaja. Ketika berguru kepada Mpu Windujati, mereka terpaut cukup jauh umurnya maupun tingkat ilmunya. Pada saat terjadi pergolakan terakhir di Demak Bintara mereka mendapat tugas untuk mengamati keadaan di Demak Bintara itu. Namun pada saat mereka kembali ke perguruan Windujati, mereka mendapati guru mereka ”Mpu Windujati” telah tiada. Kiai Ajar Karangmaja yang merupakan murid tertua Perguruan Windujati, kemudian mendapat kepercayaan untuk meneruskan padepokan itu. Sesuai dengan nama pemimpinnya, akhirnya orang lebih mengenal Padepokan Ajar Karangmaja, ketimbang Padepokan Windujati. Kiai Ajar Karangmaja yang kakak seperguruan Kulantir kemudian menurunkan ilmu yang telah diperolehnya hampir secara lengkap dari Mpu Windujati. Sehingga dengan demikian Kiai Ajar Karangmaja adalah kakak seperguruan sekaligus guru bagi Kulantir yang kemudian menyebut dirinya Kiai Cambuk Petir ketika telah berdiri sendiri dengan membangun padepokannya sendiri. Kiai Ajar Karangmaja mempunyai dua murid utama. Yang seorang bernama Putut Kalibata, dan seorang lagi Putut Jimbaran. “Kemanakah kedua muridmu kakang. Putut Kalibata dan Putut Jimbaran,” tanya Kiai Cambuk Petir. “Mereka berdua mulai kemarin minta izin untuk pulang ke kampung masing-masing selama dua bulan. Padi di sawah mereka sudah mulai panen dan mereka harus mengolah sawah untuk musim tanam berikutnya,” kata Kiai Ajar Karangmaja. “Wah sayang sekali. Sebenarnya aku juga ingin mengajak mereka untuk bergabung denganku untuk memperjuangkan gegayuhan membangkitkan kejayaan Kerajaan Majapahit,” kata Kiai Cambuk Petir. “Adi jangan melibatkan padepokanku, atau pun kedua muridku itu dalam mencapai gegayuhanmu,” kata Kiai Ajar Karangmaja dengan nada sengit. “Baiklah kakang. Kalau kau tidak mengizinkan, aku tidak akan memaksa,” kata Kiai Cambuk Petir dengan nada enteng. Betapapun ia masih tetap menghormati kakang seperguruan yang sekaligus menjadi guru tunggak semi-nya setelah Mpu Windujati tiada. Perbawa kakak seperguruannya itu demikian besar. “Oo ya, kakang. Aku ingin bertanya apakah di antara sanak kadang kita yang masih trah Keraton Majapahit ada yang tinggal di Mataram dan menjadi prajurit pasukan Mataram?” tanya Kiai Cambuk Petir. “Memangnya ada apa? Aku tidak tahu apakah di antara keluarga besar trah Majapahit atau sanak kadang kita yang berpihak atau berada di Mataram,” kata Kiai Ajar Karangmaja. “Begini kakang. Dua pekan lalu aku mengirim keempat muridku Bargas, Bergawa, Tanda Rumpil dan Gondang Legi untuk mengamat-amati kekuatan pasukan Kerajaan Mataram. Nah dalam suatu pertempuran dengan seorang prajurit Mataram, ternyata Bargas dan Bergawa berhasil dilumpuhkan, Tanda Rumpil tewas dan Gondang Legi berhasil melarikan diri kembali ke padepokanku di Panaraga,” kata Kiai Cambuk Petir. “Keempat muridmu kalah?” tanya Kiai Ajar Karangmaja. “Iya kakang. Yang membuatku heran, justru yang melumpuhkan kedua murid utamaku ”Bargas dan Bergawa” adalah orang yang mempunyai ciri-ciri seperti perguruan kita. Ciri-ciri perguruan Orang Bercambuk,” kata Kiai Cambuk Petir. “He? Ciri-ciri Orang Bercambuk? Apakah cambuknya berjuntai panjang dan berkarah-karah baja di ujungnya?” tanya Kiai Ajar Karangmaja lagi. “Benar kakang. Apakah kakang tahu bahwa ada sempalan dari ilmu Orang Bercambuk yang kini mengabdi sebagai prajurit di Mataram?” tanya Kiai Cambuk Petir. “Aku tidak tahu persis, adi. Tetapi setahuku tidak ada orang atau sempalan ilmu Orang Bercambuk yang kini mengabdi sebagai prajurit di Mataram,” kata Kiai Ajar Karangmaja. “Apakah orang itu murid dari Raden Timur yang sering juga disebut Pamungkas?” kata Kiai Ajar Karangmaja kepada dirinya sendiri. “Maksud kakang, Raden Timur cucu dari Mpu Windujati?” tanya Kiai Cambuk Petir. “Benar. Raden Timur yang selalu mengamati kalau kita sedang berlatih ilmu kanuragan,” kata Kiai Ajar Karangmaja. Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan. “Raden Timur adalah cucu sekaligus murid utama dari Mpu Windujati,” tutur Kiai Ajar Karangmaja. “He? Tetapi aku tidak pernah melihat Raden Timur berlatih ilmu kanuragan dengan kita, para murid perguruan Mpu Windujati,” kata Kiai Cambuk Petir. “Iya. Karena Mpu Windujati berkenan melatihnya secara langsung di dalam sanggar. Aku beberapa kali mendapat tugas untuk berlatih tanding dengan Raden Timur. Meskipun Raden Timur sedikit lebih muda daripada aku, namun ilmunya ngedab-ngedabi dan hampir sesempurna Mpu Windujati sendiri,” kata Kiai Ajar Karangmaja. “Selain itu, Raden Timur juga berguru kepada adik seperguruan Mpu Windujati yang merupakan sahabat dekat dengan seorang yang bernama Kebo Kanigara, putera sekaligus murid dari Ki Ageng Pengging Sepuh,” kata Kiai Ajar Karangmaja. Dengan demikian ilmu yang dikuasai Raden Timur adalah gabungan ilmu dari beberapa perguruan. Kiai Ajar Karangmaja terdiam lagi. Seakan-akan sedang mengenang kembali hubungannya dengan Raden Timur di Perguruan Windujati yang tersimpan dalam bilik ingatannya. Kejadian yang terjadi puluhan tahun yang lalu itu, seakan terputar kembali di dalam angan-angannya. Betapa Raden Timur yang masih muda itu, bertarung dengan dirinya di dalam sanggar. Meskipun ilmu yang diraihnya secara tuntas itu dikerahkannya untuk menyerang Raden Timur, namun cucu gurunya itu masih tetap bisa mengatasinya. Sebagai pertanda bahwa ilmu yang mereka pelajari di perguruan Windujati telah tuntas, maka mereka berdua menjalani suatu ritual khusus di dalam sanggar itu. Gurunya membakar sebatang baja yang pada ujungnya terdapat semacam cap stempel dari baja. Pada cap stempel itu tertera gambar semacam cambuk yang pada ujungnya terdapat karah-karah baja bersegi sembilan. Gurunya, Mpu Windujati yang masih merupakan trah Keraton Majapahit, meminta mereka berdua mengerahkan ilmu kebal yang telah mereka kuasai secara tuntas. Sebagai pertanda bahwa ilmu kebal mereka telah tuntas, maka ruangan sanggar Mpu Windujati terasa seperti panas membara. Sepanas cap stempel yang dipanaskan oleh gurunya. Karena agaknya, ilmu kebal mereka berdua telah berhasil membangkitkan sifat panas di dalam udara sekitar mereka. Ketika Mpu Windujati merasa pengerahan ilmu kebal kedua muridnya telah cukup, Mpu Windujati segera menempelkan cap stempel dari baja yang membara itu ke pergelangan tangan kiri kedua muridnya. Tercium bau seperti daging yang terbakar. Dengan sekuat tenaga kedua murid Mpu Windujati menahan nyeri yang mereka rasakan akibat diselomot dengan cap stempel membara itu. Gurunya segera memborehkan obat-obatan yang telah disiapkan untuk mengatasi luka bakar di tangan kedua muridnya itu. Ketika sembuh, sebuah cap bergambarkan cambuk menghiasi pergelangan tangan kiri kedua muridnya. Dalam kesempatan itu, gurunya mewariskan kitab perguruan Windujati kepada Raden Timur. Gurunya kemudian memberi wejangan kepada mereka berdua, bahwa hubungan mereka sebagai dua saudara seperguruan harus tetap mereka jaga hingga kapan pun. Selama hayat masih dikandung badan. Hubungan itu tidak hanya di antara mereka saja, namun juga hubungan di antara murid-murid mereka, apabila kelak mereka membangun padepokan sendiri. Gurunya berpesan agar mereka tidak mudah-mudahnya mempergunakan ilmu pamungkasnya. Ilmu Pamungkas Orang Bercambuk. Apabila mereka ragu-ragu, apakah sudah saatnya atau belum mempergunakan ilmu pamungkas mereka, maka Mpu Windujati meminta agar mereka mengelus-elus pergelangan tangan kiri mereka dan bertanya di dalam hati:”Guru apakah sudah saatnya aku pergunakan ilmu pamungkasku?” Kelak mereka akan tahu, bahwa gurunya akan memberikan jawaban atas pertanyaan mereka. Pesan wanti-wanti dari gurunya, Mpu Windujati, itulah yang selalu terngiang di dalam pendengaran Kiai Ajar Karangmaja yang semasa mudanya bernama Soma. Ketika Soma menurunkan ilmunya kepada Kulantir, pesan yang sama selalu ditekankannya kepada adik seperguruan sekaligus muridnya itu. Namun, meskipun ilmu yang diturunkannya kepada Kulantir telah tuntas, namun Soma tidak berani mengadakan ritual khusus memberi cap stempel cambuk kepada Kulantir. Hal itu karena ia mengamati perangai Kulantir yang sering tidak sesuai dengan keinginannya. Kulantir lebih sering mengetengahkan sifat tamaknya akan kekuasaan. Namun sifat tamaknya itu tidak disalurkan secara benar melalui jalur kekuasaan yang ada. Soma masih akan bisa memahami keinginan adik seperguruannya itu apabila Kulantir menyalurkan keinginannya untuk berkuasa misalnya dengan memasuki jenjang keprajuritan. Apabila Kulantir ketika masih muda memasuki jenjang keprajuritan mungkin ia sudah mengantongi pangkat tumenggung atau bahkan sudah purnawira. Namun hal itu tidak dilakukannya. Kul
    • kados pundi kelanjutanipun kang mas?

  26. wah kang asbud itu kan masih seri 402…

  27. lanjutan 404 mana ya?,kalo bayar gmn caranya utk mendapatkan seri 404 dst… tq

  28. iya nih… matarambinangkit.com ga bisa diakses….
    udah rinduuuuuuuuu banget……………

  29. ni blog masih ada penghuninya ndak sih

    • ngga ada ndul

      • sekedar berbagi berita saja:
        di Gagak Seta ada Terusan ADBM, bisa dinikmati dgn gratis
        monggo kalo mau mampir

        • maturnuwun kangmas.

  30. antara ada dan tiada sedang tiarap semua para pemimpin padepokan…………………….????????????

    # ada yang bisa dibantu Ki?

  31. Sugeng siang para Cantrik sedaya..
    Sebelumnya mohon maaf atas woro woro ini,
    dulu saya pernah ingin mencoba melanjutkan adbm yg terputus, namun karena kesibukan, ternyata Ki Agus yg telah meneruskan kisah adi luhung ini.
    namun demikian, di gandhok Gagak Seta, saya di “ogrok2″ oleh beberapa cantrik disana untuk meneruskan Adbm dengan versi “mbah_man”
    Semoga kalau ada waktu silahkan mampir di gandhok “Terusan ADBM Gagak Seta”
    matur suwun
    Mbah-man

    • tak kiro woro-woro gandok anyar ‘terusan adbm mandarakan’

  32. Yang peting GRATIS kalo musti mbayar sepertinya menghianati cita2 awal kita,,,

  33. kok nggak bisa komen ya :(

    • jangan-jangan

    • jangan terlalu cepat komennya Ki Syakuur .. nanti dikira SPAM oleh Aki Ismet :D

      • rasanya bukan gitu deh, soale kemaren tu banyak keluhan wp nggak bisa komen (misalnya di cersilindonesia tu banyak keluhan) e nggak tahunya di sini juga ternyata komenku nggak masuk, nunggu ki nin :P

  34. lanjutan ADBM 404 mana ya ki?
    bukanya di website apa ya?

  35. Alamat pastinya di link mana ya (Terusan ADBM Gagak Seto) ??
    Mohon dibantu dong….
    tks

    • cobi njenengan tingali wonten mriki ki nogoposo

      • kok di mriki nya sy kok gak bisa nemu ydm ya….
        bantuin doong…

        • wah berarti niku alamat palsu sing digoleki mbak ayu doong…

    • mbah_man berusaha meneruskan ADBM dengan versi lain (selain Bukan ADBM nya Ki Agus).
      sayang, baru sekitar separuh jilid beliaunya sakit sehingga harus rawat inap di rumah sakit.
      semoga beliau lakas sembuh dan meneruskan tulsiannya.
      silahan kunjungi disini: http://cersilindonesia.wordpress.com/terusan-adbm/2/


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 138 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: