WISATA ADBM

wiki-adbmPara kadang sekalian,

Meskipun semua peristiwa dalam ADBM adalah fiksi, tetapi lokasi-lokasi penting tempat berlangsungnya berbagai peristiwa adalah nyata.  Tempat-tempat penting itu mungkin sampai sekarang masih ada, atau sudah berubah sama sekali.

Halaman ini dimaksudkan untuk memberikan deskripsi geografis tempat-tempat penting di dalam ADBM, Mudah-mudahan pada akhirnya tempat-tempat itu nantinya bisa kita pindahkan ke sebuah peta sehingga memudahkan pembaca untuk memperoleh gambaran menyeluruh lokasi-lokasi itu. Kami sangat mengharapkan bantuan para kadang sekalian untuk ikut menyumbangkan pengetahuan geografinya.

ADBM juga menyimpan banyak harta karun lain yang berharga. Di antaranya adalah jenis makanan, senjatapakaian, tokohsiasat perang kuno, dan sebagainya.

Terhadap harta karun ini pun kami ingin mengangkatnya. Untuk sementara halaman tetek-bengek ini kita namakan WISATA ADBM.

Masih banyak halaman kosong Kisanak .. mohon gotong royongnya. Sampaikan di kolom komentar atau sampaikan tautan (link) nya sehingga bisa kami pindahkan kemari. 

Nuwun.

Halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8

Telah Terbit on 19 November 2008 at 09:57  Comments (102)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/wisata-adbm/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini.

102 KomentarMeninggalkan komentar

  1. @lurah Basman
    Pak Lurah, Ringin Kurung yang ada di Alun-alun Kidul Kraton Yogyakarta sekarang rame banget kalau malam, banyak yang jualan dan banyak yang menyewakan penutup mata bagi yang mau mencoba melewati lorong dinatara kedua Ringu\in Kurung yang terletak di tengah-tengah alun-alun itu.
    Mitosnya siapa saja yang dapat melewati lorong tersebut ddalam keadaan mata tertutup semua keinginannya akan terkabul :).

    Kira-kira tahun 88 waktu masih tinggal di Yogya saya pernah berhasil melewatinya dengan sekali coba !
    Waktu itu sedang menunggu hasil festival Band yang di Sasana Hinggil, iseng mencoba dan waktu itu saya satu-satunya yang berhasil.
    Tapi meskipun berhasil, band saya kalah tuh :).
    Lagian keberhasilan saya bukan karena saya sakti atau apa, bukan juga karena saya punya aji Sapta Pangrungu sehingga bisa nguping bisik2 penonton di pinggir alun-alun, tapi karena saya mencoba dengan ketat dan hati-hati mengontrol setiap langkah saya, saya pastikan saya dalam posisi tegak lurus dengan lorong tersebut lantas setiap melangkah saya pastikan telapak kaki saya lurus dan saya jejakkan kaki tepat di depan kaki yang sedang tidak melangkah,s ehingga simpangannya relatif kecil.

    Menurut yang pernah saya baca atau dengar atau ketahui, kecenderungan untuk berjalan ke kanan atau kiri saat mencoba melewati ringin kurung dengan mata tertutup itu bukan karena wingitnya kedua beringin tersebut, tapi memang ada kecenderungan kita untuk berjalan agak berputar apabila ada ketidak sinkronan antara indera-indera yang berhubungan dengan keseimbangan, dalam hal ini mata dan telinga.

    Kalau pengin membuktikan, silakan di coba di lapangan bola, dari jarak yang agak jauh Kisanak mencoba masuk gawang dengan kondisi mata tertutup, dijamin sama susahnya dengan masuk lorong di antara ringin Kurung itu.

    Ketika tahun lalu saya mencoba lagi, saya gagal total :)

  2. Di buku 94 hal 8, disebutkan bahwa pertemuan suatu kelompok akan dilakukan di kaki Gunung Tidar.

    Gunung Tidar terletak di Magelang, sehingga jika saat itu kelompok itu sedang berada di Menoreh, maka perjalanan dari Menoreh ke Magelang dengan berkuda pada masa itu apakah dapat ditempuh selama satu hari?

    Mungkin berdasarkan hasil Survei Ki SHM memang dapat dengan memacu kuda dengan cepat.

    Untuk melihat jarak dan letak silahkan klik zoom in dan out (tanda – dan +) di peta ini:
    http://travelingluck.com/Asia/Indonesia/Jawa+Tengah/_1623953_Gunung+Tidar.html#local_map

  3. Sepertinya ada yang kurang di wisata adbm, yaitu tentang pusaka2/senjata2 yg disebutkan di adbm, mungkin sedulur lain bisa mengupas tentang, kyai plered, kyai pasir sawukir dll, atau gmn bentuknya nenggala, bindi dllnya itu.
    Salut dan trimakasih setinggi2nya kepada tim adbm yang telah menghadirkan cerita yang istimewa nan mengagumkan ini ke dunia maya.

  4. Tambahan nama tempat:
    JATI ANOM/JATINOM (tambahan)
    Sekarang kota kecamatan. Sampai Perang Diponegoro dua abad silam, wilayah ini masuk wewengkon Pajang. Diponegoro menjadikan Jatinom sebagai markas/”istana” selama perang.

    Jati Anom-Sangkal Putung berjarak 10 km. Sampai akhir 1990-an, sebelum ada bus Boyolali-Klaten, angkutan umum Klaten-Jati Anom adalah andong roda empat yang berangkat dari pasar Klaten.

    Dari arah “Pajang” (Kartosuro/Solo) ke Jati Anom, tidak perlu lewat Sangkal Putung, tapi bisa langsung. Sampai awal 1990-an, ada bus sisa 1950-an, dengan stir kiri, yang tiap hari menempuh rute Pasar Klewer-Jati Anom. Entah sekarang masih ada atau tidak.

    MACANAN
    Macanan terletak tepat sekitar 5 km dari Sangkal Putung, tepat di pertengahan Jati Anom. Jalan dari Jati Anom-Sangkal Putung itu pada dasarnya datar dan lurus. Satu-satunya turunan, dan itu cukup curam, hanya ada di Macanan.

    Jalan menurun karena melewati sungai yang airnya kecil dan berpasir. Air ini mengalir tepat di belakang rumah nenek saya–kampungnya di samping Macanan. Pada 1980-an, orang orang sekitar sana biasa membeli petasan di Macanan.

    PAKUWON
    Sekitar 1 kilometer dari Macanan ke arah Jati Anom, ada kampung bernama Kuwaon. Mungkin ini yang disebut sebagai Pakuwon oleh SH Mintardja dan menjadi tempat tinggal Ki Tanu Metir alias Kiai Gringsing alias Penggembala.

    SENDANG GABUS
    Menempel Jatinom.

    TANAH PERDIKAN MENOREH
    Ini yang paling memusingkan dari lokasi utama Api di Bukit Menoreh.

    Bukit Menoreh itu merentang di sebelah barat sungai Progo di sekitar Wates sampai ke dekat Magelang.

    Tapi, Kadipaten Menoreh itu letaknya lebih utara lagi dari Magelang. Sekarang Kadipaten Menoreh disebut Kabupaten Temanggung.

    Okelah, kita sebut saja Tanah Perdikan Menoreh terletak di Bukit Menoreh, sekitar Wates sekarang, berdasarkan deskripsi berulang-ulang bahwa lokasinya sebelah barat Mataram

    Tapi mengapa Tanah Perdikan? Bukan Kademangan?

    Tanah Perdikan itu desa yang dibebaskan dari pajak. Status Tanah Perdikan biasa diberikan penguasa di Jawa kepada desa yang (1) memiliki jasa besar kepada raja, (2) karena uang pajak untuk kepentingan umum, misalnya desa diberi tanggung jawab menyeberangkan orang di sungai dengan gratis, atau (3) karena diberi tugas memelihara tempat suci.

    Tak pernah diceritakan mengapa Menoreh menjadi Tanah Perdikan. Atau mungkin karena memiliki tempat suci?

    Di masa lalu, para biksu yang hendak ke Borobudur biasa singgah di Sendang Semayang, yang terletak pegunungan Menoreh sebelah selatan, untuk istirahat. Sekarang Sendang Semayang ini menjadi petilasan Katolik dengan nama Sendang Sono.

    Saya menduga, mungkin SH Mintardja, sebagai seorang Katolik dan sedang ingat Sendang Sono saat menulis kisah Agung Sedayu, kemudian iseng menyebut Menoreh sebagai “Tanah Perdikan” untuk lucu-lucuan.

  5. eh, ki GD, ini halaman 4 ama halaman 5, memang belum berisi yach?
    sayang ih.. tapi memang menarik kok mempelajari kembali cerita lama..
    punya babad tanah jawi yang udah diterjemahin ndak ki?
    kalo ada boleh dong pinjem..hehehehe.. maunya…

  6. Di LOntar Tusnam (Seratus Enam) halaman 4-6 disebutkan “pagi wayah pasar temawon”.

    Pagi=pagi
    wayah=saat
    pasar t(em)awon= berdengung dengung karena suara tawon (lebah)

    Pagi wayah pasar temawon adalah pagi pada saat pasar sedang ramai ramainya. Namun jika ditentukan kira kira pada jam berapa, penulis sendiri tidak bisa mengira-kira, biasanya pada saat pagi jam berapa ya pasar itu sedang ramai ramainya? Jam 8,9,10 atau jam 11?

  7. Di Tusnam (lontar seratus enam) halaman 35 disebutkan, anak anak muda Tanah Perdikan Menoreh berlatih di bawah pohon munggur.

    Pohon Munggur : Pohon Trembesi, Enterolobium saman PRAIN (Ptchecolobium saman BENTH), pohon bertajuk besar dan tinggi dengan mahkota yang besar dan rindang.

    Di Jawa, pada jaman saya kecil bijinya yang sudah tua dan kering suka diambil,kemudian dilepaskan dari kulit polongnya yang lengket. Kemudian bijinya digoreng. Setelah digoreng maka kulit biji yang keras akan terpecah dan bijinya sangat gurih dimakan sebagai snack…

  8. Mas Jebeng..eh wis ngundang mas kok nyebut jebeng? saya nambahi yo (berdasarkan pengalaman jaman semono), snack dari biji munggur yang sudah digoreng sangan (tanpa minyak) namanya Godril (sering nggo senggakan nek wirosworo nggon klenengan lagi nembang: Godriiill)..Godril memang mak nyus karena rasa gurihnya, tapi kocapo kuwi marahi lebih banyak memproduksi “angin beirut”…

  9. Matur nuwun Ki GD lan ugi poro cantrik, kulo sampun ngunduh woh “NYAMPLUNG” …..

    bisa aja ya, mantap rontal 109 nya

  10. Ki Gede…107nya udah direvisi belum ?

  11. Kalau udah aku yo arep maturnuwun.. :P

  12. Ayo ada yang tahu permainan “bentik” dan “dakon” nggak?
    permainan itu disebutkan di buku 116 dan 117 kalo gak salah oleh Ki SH Mintardja.

    Bentik itu apakah semacam cricket atau golf ya? permainan bentik itu menggunakan stick pendek (biasanya dari batang pohon kayu lamtoro atau kayu yang kecil tapi keras bisa juga dari bambu), kemudian stick pendek yang diletakkan di suatu lubang itu diungkit ke atas kemudian dipukul dengan dengan stick panjang.

    Nah, saat stick pendek melontar ke atas pemain biasa melakukan hattrik dengan memukul stik pendek berkali kali semacam melambung lambungkan bola, kemudian dengan keras dipukul ke arah lawan yang mencoba menangkapnya (semacam pemain basebal yang memukul bola sementara lawan berusaha menangkap).

    BENTHIK cukup mudah dilakukan. Siapkan minimal 3 bambu yang sudah diraut. 2 berukuran sekitar 50 cm, sedang satunya sebagai umpan berukuran 20-an cm. Permainan ini bisa dilakukan minimal berdua, tapi bisa juga dilakuklan lebih dari dari.

    Kemudian bobok tanah sedalam 5 cm. dibuat agak lebar untuk melatakkan umpan. Letakkan umpan di tengah tanah yang sudah kita bobok itu. Kemudian lentikkan dengan bambu yang lebih panjang. Lawan kita kita harus menepisnya dengan bambu yang dia pegang juga.

    Ada istilah ‘patil lele’ dalam permainan ini. Yaitu, umpan diganjal dengan batu keci, Kemudian disentil dengan bambu sekeras-kerasnya. Kalau bisa melenting jauh dan tidak tertangkap lawan kita, bisa jadi kitalah pemenang permainan ini.
    Kalao dakon itu adalah permainan congklak (kalo gak salah), pemain menaruh biji batu atau (dibuku adbm pandan wangi dan sekar mirah pakai “klungsu” atau biji asam) di lobang yang dibuat berderet di suatu papan, kedua ujung papan ada lubang besar yang disebut lumbung untuk menaruh biji kemenangan pemain.

    silakan jalan jalan di sini:
    http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-article/dakon/
    http://www.rileks.com/ragam/index.php?act=detail&artid=31102006117386

    • Benthik itu kalau di Betawi namanya (kalau nggak salah) tak kadal. Mainnya seingat saya persis seperti itu yang paling besar nilainya adalah kalau kayu yang dipukul itu bisa ditangkap dengan tangan kosong (cuma ya sakit banget.

  13. ki pandanalas
    kalo di daerahku namanya bukan “bentik”
    permainan dari 2 batang kayu bulat yang diameternya 2-3cm yang satu pendek kira2 sak kecu (10-15cm) yang satunya agak panjang (30-40cm), itu namanya “gepok/gepuk lele”..

    kalo dakon itu kesukaan ibuku… biasanya diwaktu senggang aku disuruh ngawani ibu dengan permainan itu jadi malu aku.. abis kluargaku laki2 kabeh.. 7 lanang kabeh… dan kebetulan waktu itu yang paling dekat dengan ibu ya aku ini…

  14. Ki GD, gimana kalau nama2 daerah seperti Jalatunda, Jati anom dll juga diplotkan di peta sehingga para cantrik lebih mudah memahaminya. Matur Nuwun…

  15. Inilah Kali Progo. Mangir terletak di sebelah timur kali. Pada gambar berikut, ibu kota Mangir terletak tepat di tengah peta.

  16. Inilah Kali Progo. Mangir terletak di sebelah timur kali. Pada gambar berikut, ibu kota Mangir terletak tepat di tengah peta.

    http://wikimapia.org/#lat=-7.9052113&lon=110.2790451&z=12&l=0&m=a&v=1

  17. ndherek njagong…
    Sedikit catatan lain mengenai Aneka Macam Gelar Perang:
    1. Dirada meta / Gajah Meta
    Dalam gelar ini, seorang Senopati berada di depan sbg belalainya, dan 2 orang Senapati berada di kanan & kiri belalai agak di belakang sebagai gadingnya. Senopati agung sbg orang terpenting berada di belakang kepala, kemudian seorang Senopati lagi berada di belakang sendiri sbg ekornya. Adapun para Prajurit berada di sekitar / diantara para Senopati tersebut.
    2. Gedung Mineb
    Senopati berada di tengah, dikelilingi bawahan dan prajuritnya. Shg bila mendapat serangan musuh maka para prajuritnya yg terkena lebih dulu. Apabila Gelar ini bukan suatu siasat untuk menjebak musuh, maka gelar ini memberi gambaran bahwa Senopati / Senopati Agung tsb sebenarnya kurang memiliki keberanian.
    3. Garuda Nglayang
    Gelar ini menempatkan Senopati di depan sendiri sbg paruhnya, kemudian 2 orang berjajar / seorang Senopati di belakang paruh sbg kepala burung, kemudian Senopati Agung di belakang kepala burung. Dua orang Senopai berada di ujung sayap kanan dan kiri yang cukup jauh. Para Prajurit mengisi sayap dan menyambung dengan tubuh burung, kepala dan ekor, dimana di ekor burung terdapat seorang Senopati lagi. Dua sayap pd Gelar ini dimaksudkan agar dpt mengepung prajurit musuh utk dikalahkan / ditumpas.
    4. Wukir Jaladri
    Bermakna Gunung di tengh laut. Kendaraan besar & gajah berada di tengah sbg gunung / batu karang, dg Senopati Agung berkedudukan di tengah-tengahnya sbg pusat komando, sedangkan para Senopati & prajurit melingkarinya sbg gelombang dan airnya.
    5. Wulan Tumanggal
    Bermakna bulan muncul pertama, bentuknya “njlirit” kecil seperti alis wanita. Bentuk ini hampir sama dg Garuda Nglayang, tetapi bedanya tanpa kepala, paruh, dan ekornya.
    Maksud & tujuan gelar ini utk mengepung musuh. Senopati Agung berada di tengah-tengah, kemudian para Senopati berada di sekitarnya, dan di sebelah kanan kirinya memanjang ke arah ujung dan di ujungnya diletakkan lagi seorang Senopati. Para Prajurit mengisi diantara kedudukan kosong yg ada.
    6. Gilingan Rata / Roda Kereta
    Digambarkan melingkar seperti menggelindingnya roda, pemimpin gerakan ini sebagian di depan & sebagian lg di belakang mengamati gerak tipu musuh. Perang dg cara ini berarti mengerahkan tentara scr besar-besaran dan bergerak cepat.
    7. Emprit Nebo
    Bermakna burung emprit yg scr bersama-sama datang di sawah utk mncari makan padi, pd umumnya melayang turun bersama-sama. Tentu saja burung emprit tsb mamakan padi semaunya sendiri tanpa aturan. Gelar ini biasanya dilakukan oleh Senopati Agung / sepasukan prajurit yg sudah putus asa, mungkin krn sudah terjepit dan pantang menyerah.
    8. Supit Urang
    Dalam salah satu kisah pewayangan Baratayuda dlm Lakon Abimanyu gugur disebutkan Pandawa memakai gelar ini. Drustajumpeno sbg ujung supit kanan, Gatotkaca sbg supit kiri, Setyaki sbg mulut dan Prabu Puntadewa sbg kepala, diiringi para raja pembantu prajurit.
    Beberapa Gelar lain:
    9. Braja Tikona Lungit
    10. Cakra Bhuya
    11. Mahadigda
    12. Dirga Marungsit
    13. Wowor Sambu / Mowor Sambu
    14. Dom Sumuruping Banyu
    Gelar 2 nomor terakhir ini (13 & 14)umumnya tdk disebut sbg satu gelar perang.
    Dlm Gelar Wowor Sambu, sepasukan prajurit , sebagian atau bahkan seorang prajurit bertugas menyerang musuh dari belakang / dari dalam dengan cara menyamar sbg prajurit musuh / dlm bentuk lain. Hal ini pernah dilakukan prajurit Mataram pada masa Sultan Agung menyerang Kompeni Belanda/ VOC di Batavia tahun 1929, dengan memasukkan prajuritnya ke dlm benteng VOC dg menyamar sbg pedagang sayur sejumlah 40 prajurit, yg kemudian bertugas menyerang musuh dari belakang, sementara prajurit Mataram yg besar jumlahnya menyerang dari depan / luar benteng.
    Sedangkan pengertian Dom Sumuruping Banyu adalah memasukkan sedikit orang ke daerah musuh utk memata-matai kekuatan musuh, hal ini sama dengan Wowor Sambu apabila dengan prajuruit yg relatif sedikit yg ditugaskan khusus hanya utk memata-matai musuh.
    Sumber :
    Tim Penyunting Bid. Kesenian KanWil Depdikbud DIY.1985.TUNTUNAN SENI KETHOPRAK. Yogyakarta

  18. neng kene yo ora ono…
    malah nemu woh nyamplung…
    kiro-kiro enak dipangan opo ora yo…???
    dinggo ngganjel weteng arep nganglang nggoleki kitab 155…
    rawe-rawe rantas malang-malang putung…

  19. Sumber:
    http://suryanto.blog.unair.ac.id/2007/12/30/tembang-macapat-dan-tahapan-perkembangan-anak/

    TEMBANG MACAPAT DAN TAHAPAN PERKEMBANGAN ANAK
    Oleh : Suryanto
    Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya

    Teori-teori psikologi perkembangan yang ada dewasa ini banyak berasal , kalau tidak boleh saya katakan semuanya, berasal dari luar negeri. Berikut ini urutan tahapan perkembangan manusia yang saya kutip dari http://jv.wikipedia.org/wiki/Macapat.

    Maskumambang
    Gambarake jabang bayi sing isih ono kandhutane ibune, sing durung kawruhan lanang utawa wadhon, Mas ateges durung weruh lanang utawa wadhon, kumambang ateges uripe ngambang nyang kandhutane ibune.

    Mijil
    Ateges wis lair lan jelas priya utawa wanita.

    Sinom
    Ateges kanoman, minangka kalodhangan sing paling penting kanggone won anom supaya bisa ngangsu kawruh sak akeh-akehe.

    Kinanthi
    Saka tembung kanthi utawa tuntun kang ateges dituntun supaya bisa mlaku ngambah panguripan ing alam ndonya.

    Asmarandana
    Ateges rasa tresna, tresna marang liyan (priya lan wanita lan kosok baline) kang kabeh mau wis dadi kodrat Ilahi.

    Gambuh
    Saka tembung jumbuh / sarujuk kang ateges yen wis jumbuh / sarujuk njur digathukake antarane priya lan wanita sing padha nduweni rasa tresna mau, ing pangangkah supaya bisaa urip bebrayan.

    Dhandhanggula
    Nggambarake uripe wong kang lagi seneng-senenge, apa kang igayuh biso kasembadan. Kelakon duwe sisihan / keluarga, duwe anak, urip cukup kanggo sak kaluarga. Mula kuwi wong kang lagi bungah / bombong atine, bisa diarani lagu ndandanggula.

    Durma
    Saka tembung darma / weweh. Wong yen wis rumangsa kacukupan uripe, banjur tuwuh rasa welas asih marang kadang mitra liyane kang lagi nandhang kacintrakan, mula banjur tuwuh rasa kepengin darma / weweh marang sapadha – padha. Kabeh mau disengkuyung uga saka piwulange agama lan watak sosiale manungsa.

    Pangkur
    Saka tembung mungkur kang ateges nyingkiri hawa nepsu angkara murka. Kang dipikir tansah kepingin weweh marang sapadha – padha.

    Megatruh
    Saka tembung megat roh utawa pegat rohe / nyawane, awit wis titi wancine katimbalan marak sowan mring Sing Maha Kuwasa.

    Pocung
    Yen wis dadi layon / mayit banjur dibungkus mori putih utawa dipocong sak durunge dikubur.

    Dari kutipan di atas, kalau kita dalami lebih jauh, sudah merupakan teori perkembangan manusia mulai dari masih dalam kandungan hingga meninggalnya.
    Mas Kumambang menceritakan bagaimana bayi dalam kandungan.
    Kalau ditilik lebih lanjut, bayi dalam kandungan yan selalu diairi oleh ketuban akan lahir kemudian.
    Setelah sembilan bulan di kandungan, bayi akan lahir.
    Mijil adalah istilah yang cocok untuk mendeskripsikan kelahiran bayi.
    Bagaimana situasi kelahiran, tugas-tugas perkembangan apa, akan sangat cocok untuk dipahami apabila kita bisa memahami bayi dari aspek fisik, sosial dan psikologisnya.
    Setelah bayi “mijil”, maka tahapan perkembangan selanjutnya adalah munculnya anak yang “anom”. maka tembang sinom cocok untuk mendekripsikan kehidupan anak-anak yang masih “anom”.
    Sebagai anak muda, anak yang “anom” ini perlu mendapatkan pendidikan yang banyak.
    Oleh karena itu mereka perlu didampingi atau “dikantheni”.
    Tembang kinanthi cocok untuk tahapan perkembangan selanjutnya.
    Kinanthi atau pendampingan dan pendidikan merupakan tugas perkembangan yang harus dipenuhi oleh anak-anak ini.
    Setelah menginjak remaja, salah satu tugas perkembangannya adalah perkembangan sosial khususnya dalam percintaan.
    Tembang Asmarandana merupakan tembang yang menggambarkan tentang suasa hati yang sedang dimabuk asmara.
    Bila tugas perkembangan ini dapat dilaluinya, maka kehidupan cintanya menjadi baik dan sesuai norma lingkungannya.
    Kehidupa cinta remaja yang baik akan mencerminkan adanya kesesuaian antara kedua pasangan yang bercita.
    Kesesuaian ini dapat dilihar dari “kegambuhan” atau “jumbuh-nya” antara kedua insan manusia.
    Tembang gambuh mencerminkan kesesuaian itu. Setelah menikah, tugas perkembangan selanjutnya adalah berdarma. dan tembang durma cocok untuk menjelaskan tahapan perkembangan ini.
    Setelah mulai menginjak dewasa dan tua, maka orang akan mungkur “selesai” tugas-tugas kehidupannya.
    Tembang pangkur cocok untuk mendeskripsikan tugas-tugas perkembangan ini.
    Dan setelah mungkur tugasnya, maka usia akan menjelang ajal. Megatruh )megta roh) akan mencerminkan bagaimana pisahnya jiwa raga dan roh manusia.
    Dan di akhir kehidupannya, manusia akan meningal dan umat islam yang meningggal umumnya dipocong pakai kain kafan. dalam kematian, orang harus senang-senang, karena tugasnya telah selesai.

    Kiranya tulisan ini cukup sekian dulu, lain kali kita diskusikan lagi.

  20. Mmmmmmmmmmmmmmmmmmm……… JEnang tu tgl lahirnya brapa yach?? (gila aneh ni pertanyaan)

  21. Cerita tentang Kali Opak di sebelah barat Prambanan.
    Waktu saya SD dan SMP tiap hari Minggu bersama teman-teman latihan renang di Kali Opak. Bukan kali Opaknya, tetapi ada saluran irigasi di pinggir Kali Opak, tepatnya di bawah gunung Boko. Ciri khas kali Opak di Prambanan sampai gunung Boko adalah sungai yang lebar, kedalamannya tidak begitu dalam, paling2 selutut orang dewasa. Di samping itu, dicirikan oleh hamparan pasir di tepiannya dan bebatuan keras yang menyebar sepanjang sungai dengan ukuran yang beragam, seingat saya ada yang sebesar kerbau…mhh kalau sebesar rumah kayaknya nggak ada. Di tepian sungai banyak ditumbuhi alang2 di sepanjang tebing sungainya. Sungai ini saat itu menjadi tempat MCKnya penduduk sekitar, he3x…salah satu penyebab kami rutin main ke kali opak ya ngintip orang mandi dari balik alang2…(wajar ya ki sebagai wujud keingintahuan anak kecil terhadap lingkungan hidupnya…he3X asal jangan kebablasan rasa ingin tahunya sampai tua)
    Bila kita bepergian dari dan ke Solo-Jogja pasti melewatinya bila melalui jalur utama, nah kegiatan MCK ini masih bisa dilihat tanpa harus ngintip2. Kebanyakan penduduk masih MCK di sebelah selatan jembatan. Di bawah jembatan inilah mungkin dulunya Sultan Pajang pernah jatuh dari gajahnya pada saat memerangi Mataram.
    Pasir-pasir dan batuan berasal dari muntahan gunung Merapi di sebelah utaranya. Pasir-pasir ini dibawa terus ke laut yang bermuara di pantai Parangtritis. Nah, kalau pernah ke Parangtritis anda pasti telah menyaksikan bukit-bukit pasir yang memanjang menjelang masuk lokasi pantai di sebelah kanan jalan. Di sebelah kiri jalan juga dijumpai tetapi tidak begitu meluas karena dibatasi oleh perbukitan kapur. Biasanyapun kalau shooting film2 atau video klip yang berlatar belakang perbukitan pasir, bisa dipastikan mengambil lokasi di sini, karena tidak semua pantai dapat membentuk bukit pasir seperti Parangtritis ini. Bagi anda yang sering jelajah pantai hal ini bisa dibuktikan. Bukit pasir di Parangtritis adalah salah satu bukit pasir pantai yang ideal, bukan saja di Indonesia tetapi di seluruh dunia. Ketinggiannya dapat mengubur rumah maupun pohon-pohon besar. Bila anda ke Parangtritis, cobalah luangkan waktu untuk tidak hanya memandangi deburan ombaknya, tetapi luangkan waktu untuk berjalan ke arah barat ke arah bukit pasirnya. Di atas bukit pasir tersebut dapat disaksikan bagaimana “keganasan” pasir2 mampu menimbun rumah2 dan pepohonan. Pohon Akasia yang ketinggian umumnya setinggi rumah, pucuknya dapat kita sentuh dengan tangan kita tanpa kita memanjatnya karena pohon tersebut telah tertimbun pasir mendekati pucuknya dan pohon tersebut masih hidup. Menurut cerita penduduk sekitar yang sudah berumur, dulunya di jaman pendudukan Jepang, di pantai Parangtritis tidak ada bukit pasir, yang ada adalah hamparan pasir dan bahkan terdapat rawa-rawa dan di sepanjang pantainyapun ditumbuhi hutan. Bukit pasir tersebut muncul setelah hutan-hutan itu ditebangi oleh…. (siapa ya, aku lupa je). Bahkan berkembangannya semakin jauh ke arah darat. Hal tersebut merugikan penduduk sekitar karena sawah dan ladangnya tahun ke tahun secara pasti mulai tertimbun pasir. Upaya apapun untuk menghalangi pasir agar tidak “memakan” rumah dan lahan persawahan mereka tidak berhasil.
    Secara keilmuan, hal ini ternyata berhubungan erat dengan keberadaan kali Opak. Secara geografis posisi Parangtritispun memberi sumbangan dalam terbentuknya Bukit Pasir Pantai ini. (Ini pelajaran Geografi yang pernah saya terima puluhan tahun yll, kalau salah, paling salahnya sedikit karena ada yang terlupa, mudah2an ada Geografer atau ahli kebumian lainnya yang nyantrik di sini saya mohon bantuannya). Bila kita berada di pantai Parangtritis dan memandang ke laut lepasnya maka sebenarnya kita memandang jauh ke benua Australia. Nah, selanjutnya geser pandangan kita ke arah kiri sepanjang pantai (ke arah timur), maka kita akan melihat jajaran pegunungan dengan tebing-tebingnya yang membatasi lautan dan juga membatasi hamparan pasir pantai. Selanjutnya pandangan kita geser ke kanan (ke arah barat) maka kita akan melihat hamparan pasir yang tidak terbatas sepanjang pantai, di ujung pantai ini kalau kita menyusurinya maka kita akan ketemu dengan muara sungai Opak. Masih dari tepian pantai Parangtritis tempat kita berdiri semula, jika pandangan kita arahkan ke barat laut, kita akan melihat perbukitan pasir yang menghampar sampai sepanjang jalan raya saat kita masuk ke Parangtritis.
    Mengapa bukit pasir pantai Parangtritis ideal? Karena komponen pembentuknya tersedia semua di tempat tersebut. Bahan pembentuknya berupa pasir selalu tersedia sepanjang kali Opak masih mampu membawa material pasir dari gunung Merapi ke arah pantai, dan ini terjadi mayoritas di musim penghujan. Selanjutnya pasir2 yang sampai di hilir sungai, akan disebarkan ke sepanjang pantai oleh arus laut, dan sampailah material tersebut di sepanjang pantai Parangtritis. Pada saat musim kemarau, butiran2 pasir yang mengering akan mudah diterbangkan oleh angin yang kekuatannya cukup kencang. Hal ini bisa dibuktikan dengan cara kita berdiri di atas bukit pasir di siang hari musim kemarau, akan terasa seluruh badan kita diterpa angin yang membawa butiran2 pasir halus. Nah, ternyata bertepatan dengan musim kemarau itu, angin yang berasal dari benua Australia bertiup cukup kencang ke arah pantai Parangtritis (bukan hanya Parangtritis saja tetapi sepanjang pantai selatan Jawa). Nah keberadaan tebing2 pegunungan kapur di sebelah timur pantai Parangtritis, menjadikan titik pantulan angin dari benua tetangga tersebut mengarah dengan kuat ke arah pantai Parangtritis, sehingga dari pantulan angin yang kuat ini mampu mengangkut pasir di sepanjang pantai ke arah daratan. Maka, dengan demikian setiap tahun, perbukitan pasir ini selalu merambah ke arah daratan.
    Bila ada yang nanya, kenapa pasirnya tidak diambili untuk bahan bangunan saja, jawabnya adalah tidak bisa karena pasirnya bukan pasir kali tetapi pasir pantai…kira-kira begitu

  22. […] 12 Mei 2009 WISATA ADBM […]

  23. Kalo gunung Kendeng itu dimana ya?

  24. Kiai Gringsing ternyata menaruh perhatian juga kepada ceritera itu. Maka ia pun
    bertanya, ”Jadi, Ki Gede sekarang sedang menerima tamu juga dirumah ini?”
    “Ya. Kadang sendiri. Dan bukan dari jauh.”
    “Dari mana?”
    “Dari daerah Tempuran.”
    “Tempuran?”
    “Ya, sebuah daerah kecil disebelah Utara Tanah Perdikan ini.”
    Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi Ki Sumangkarlah yang
    kemudian bertanya, ”Apakah tamu Ki Gede itu juga baru saja datang?”
    “Tidak. Sudah dua malam mereka bermalam di tempat ini. Ayah, ibu dan seorang
    anak laki-laki yang sekarang sedang pergi berburu bersama Pandan Wangi.”

    Dalam masa perjalanan awal ke Menoreh (Ep 51-75) diceritakan ttg asal Ki Waskita dari daerah Tempuran. Kalau dilihat dari letaknya yang tidak terlalu jauh dari Menoreh, mungkin Tempuran yang dimaksudkan adalah Tempuran yang sekarang berada di wilayah sekitar Salaman (Magelang).

  25. Ki Saba Lintang menyerbu Tanah Perdikan Menoreh dari arah utara (tempuran/muara Kali Elo-Kali Praga), arah barat (Pucang Kerep) dan selatan (Krendetan). Desa Krendetan saat ini berada di Kecamatan Bagelen Kabupaten Purworejo, pada arah barat-selatan dari Bukit Menoreh.

    • Saya coba mengingat-ingat daerah yang terkait dengan nama Pucang Kerep. Dari Kota Purworejo ke arah timur +/- 8 km ada desa namanya Cangkrep. Kalau dilihat secara geografis daerah ini memang berada di sebelah barat perbukitan Menoreh. Saya tidak tahu persis apakah Cangkrep ini berasal dari kata Pucang Kerep. Hanya dengan metode othak-athik gathuk dugaan saya ini boleh jadi mendekati.

  26. Numpang tanya. Saya pernah mendengar Makam Ki Ageng Mangir yang sebenarnya adalah yang di desa Tangkilan – Yogyakarta sebelah Barat. Apakah itu benar?.

  27. Asal usul gelar “ngabehi loring pasar”
    dilihat tata letak kerajaan pajang, sekarang kemungkinan besar tepatnya disebelah selatan tugu pajang kelurahan pajang laweyan.nah pasar yg disebut diatas kemungkinan yg pasar jongke warisan belanda itu.
    tapi mungkin ya pasar lama yaitu disebelah timur sungai laweyan.sampai sekarang diutara pasar itu masih ada lapangan bola yg kemungkinan besar bekas alun alun utaranya kraton pajang waktu itu.
    ini baru perkiraan saya sebagai cantrik kelahiran loring pasar.minta maaf kalo salah.

  28. Saya suka banget sama cerita api di bukit menoreh, seaka-akan kita mengalami langsung saat kita membaca cerita tersebut. Tapi sayang, ayah saya waktu itu kurang memelihara buku-buku tersebut sehingga banyak yang hilang. Saya hanya membaca pada seri 2 jilid 41 sampai seri 3 jilid 45. Itupun banyak yang sudah hilang. Seandainya Api Di Bukit Menoreh diterbitkan lagi…

    S selamat datang di padepokan.. disini silakan membaca kitab adbm dari mulai nomor 1 sd 396.. plus mendapat bonus cerita “bukan adbm”.. monggo .. :)

  29. Menurut cerita di majalah Joyoboyo yg berjudul WULUDOMBA PANCAL PANGGUNG (Pusaka Jipang Panolan),disitu dicertakan lebih detai bahwa Pangeran BENOWO pernah menjadi Raja di JIPANG PANOLAN dan pernah perang dengan Rajek Wesi yang dibantu dengan Mataram dalam perang tsb dijelaskan memang mataram penuh dengan stategi untuk mengalahkan JIPANG PANOLAN tidak mudah karena Jipang panolan punya 6 (enam)senjata andalan sebagai pelindung kerajaan maka dicurilah 6 senjata tersebut baru bisa dikalahkan oleh Mataram tapi sipencuri tersebut tertangkap oleh Saudarax2 dari PANGERAN BENOWO dan pencuri tersebut menyerah, karena kerajaan sudah dibumihanguskan oleh pasukan Mataram maka SaudaraX2 dari pangeran Benowo tsb tidak pulang ke JIPANG PANOLAN, maka sampai sekarang ada makam di daerah CEPU dan sekitarnya, ada makamx2 yang dikeramatkan diantaranya MAKAM KIYAI MBALUN/MBAH NAWANG/MBAH NAWANG DIPURO (PANGERAN ANOM)inilah salah satunya Adik Pangeran Benowo yang ditugaskan mencari pusaka keraton yg dicuri dan ada lagi Makam Mbah Ndoro ini juga dikeramatkan ini juga salah satu Panglima perang Jipang Panolan yg mengawal KIYAI MBALUN (PANGERAN ANOM)dan memang ini menjadi kenyataan karena keturunannya masih ada dan bisa bercerita dengan gamblang dan ada bukti senjatax2 tersebut maka saya mohon situsx2 sejarah tersebut harus dilestarikan dan dirawat (dibangun) oleh PEMKAB setempat supaya sejarah DESA MBALUN,SEJARAH KOTA CEPU DAN SEJARAH JIPANG PANOLAN Tidak hilang begitu saja dan anak cucu bisa mengetahui apalagi kalau dijadikan TUJUAN WISATA RELEJIUS saya sangat setuju, apa lagi 5 sumur minyak cepu sekarang sudah mulai beroprasi kan anggarannya bisa diambil dari presentase penghasilan Daerah salah satunya ya DARI SUMBER MINYAK TERBESAR DIASIA TENGGARA YAITU “CEPU” SELAMAT MEMBANGUN CEPU “UNEK UNEK DARI PEMUDA CEPU GENERASI PENERUS BANGSA”

  30. Bicara tentang ADBM tentu tak bisa dipisahkan dari keberadaan Menoreh itu sendiri. Namun saya pribadi sebagai fans ADBM masih juga merasa simpang siur terhadap wilayah perdikan menoreh itu sendiri. Sejauh pengembaraan saya menunggangi kuda bernama Google maupun dengan bertanya kepada Ki Wikipedia, maka yg berhasil saya ketahui tentang Menoreh adalah nama sebuah perbukitan yang membentang di wilayah barat laut Kabupaten Kulon Progo, sebelah timur Kabupaten Purworejo, dan sebagian Kabupaten Magelang. Namun dilain sisi juga saya ketemukan fakta bahwa Menoreh adalah nama sebuah Kabupaten yang terakhir kali berpusat di kota Parakan(Temanggung), sebelum pusat kota dipindah ke Temanggung yang untuk selanjutnya sampai sekarang dikenal sebagai Kabupaten Temanggung. Jadi untuk para ADBMer yg punya gambaran lengkap tentang tlatah Menoreh yang bagi saya cukup membingungkan ini mohon pencerahannya. Terimakasih.

  31. ikutan nyemak, penggemar SH Mintardja..
    silahkan mampir di blog saya

  32. Cocok buat para pelancong yang sering travelling

  33. numpang urun rembug

    A.Letak makam Nyai Ageng Ngerang

    Nyai Ageng Ngerang adalah seorang ulama wanita dan waliyullah yang menyebarkan agama islam di daerah juwana,dan daerah lereng Pegunungan Kendeng,yang hidup sezaman dengan para Sunan dan WaliSongo.Nama ulamanya yakni Nyai Siti Rohmah.Nyai Ageng Ngerang keturunan bangsawan kerajaan Majapahit,dan mempunyai nasab dengan Nabi Muhammad Saw generasi ke 25,dari jalur keluarga Bani alawi Hadramaut.

    Makam Nyai Ageng Ngerang terletak di Sekitar Pedukuhan Ngerang Desa Tambakromo kecamatan Tambakromo kabupaten Pati Jawa Tengah.Tepatnya terletak di kawasan Pati Selatan di bawah lereng Pegunungan Kendeng.Sekitar 18 km sebelah selatan kota Pati.

    Makam Beliau dipelihara dan dikeramatkan serta dijaga dengan baik oleh masyarakat pedukuhan Ngerang.Dan terakhir kali makam beliau dipugar sekitar tahun 1996/1997 dan resmi selesai 21 mei 1998.

    Disekitar makam beliau terdapat petilasan-petilasan bersejarah Nyai Ageng Ngerang dalam menyebarkan agama islam.

    Nama Pedukuhan Ngerang sendiri berasal dari kata nama sebutan beliau,karena Suami Beliau adalah seorang ulama yang berasal dari Ngerang Juwana yakni Ki Ageng ngerang atau Syeh Muhammad Nurul Yaqin,yang disebut dengan nama Sunan Ngerang.

    B.Silsilah Nyai Ageng Ngerang

    Menurut beberapa catatan Babad Tanah Jawi,Serat Centhini dan berbagai sumber termasuk dari Keraton Surakarta hadiningrat nama asli beliau adalah Raden Roro Kasihan.Nama lainnya yakni Nyai Siti Rohmah.Dan karena beliau menikah dengan Ki Ageng Ngerang maka beliau lebih dikenal dengan sebutan Nyai ageng Ngerang.

    Beliau mempunyai tali lahirbathin dengan para sultan,para sunan dan guru besar agama yang bersambung pada Raja Brawijaya V,raja Majapahit Prabu Kertabumi yang memerintah pada tahun 1468-1478 dan pula bersambung dengan keturunan Baalawi Hadramaut yang mempunyai garis keturunan langsung dengan Nabi Muhammad Saw.

    Menurut Babad Tanah Jawi Prabu Kertabumi mempunyai banyak istri namun dalam catatan sejarah hanya beberapa istri yang mendapat perhatian sejarahwan.Diantaranya dengan putri champa(negeri cermai)daerah kamboja dan mempunyai putra yang bernama Raden Patah,nama kecilnya jien Boen dan menjadi Raja pertama kerajaan Demak Bintoro.Dan Prabu Kertabumi yang terakhir menikah dengan Putri Wandan Kuning yang menurut sejarawan berkulit kehitaman yang berasal dari negeri Phandhan ,India.Dan dari pernikahan dengan Putri Wandan kuning inilah yang menurunkan Raja-raja di Tanah jawa.

    Prabu Kertabumi menikahi Putri Wandan Kuning dan mempunyai satu putra yang bernama Raden Bondan Kejawan,nama lainnya Aryo Lembu Peteng dan Ki Ageng Tarub II.

    Raden Bondan Kejawan dititipkan ayahnya sejak kecil di Ki Buyut Pati atau Ki Mashar.Dan setelah beranjak dewasa kemudian dititipkan dan berguru ke Ki Ageng Tarub.penitipan beliau ke Ki Ageng Tarub oleh ayahnya dengan harapan kelak keturunan Prabu Kertabumi dapat menjadi Raja yang mumpuni dan dapat beristri dengan keturunan kahyangan yang suci.

    Menurut Babad Tanah Jawa Ki Ageng Tarub mempunyai istri seorang Bidadari kahyangan yang bernama Dewi Nawang Wulan.Dan kemudian mempunyai satu putri yang bernama Dewi Retno Nawang Sih.Dewi Nawang Sih kemudian dinikahkan dengan Raden Bondan Kejawan/Aryo Lembu Peteng dan mempunyai 3 putra yakni:Ki Ageng Wonosobo,Ki Getas Pendowo dan Nyai Ageng Ngerang.

    Berikut Silsilah Nyai Ageng Ngerang:

    *Nama asli Beliau:Raden Roro Kasihan
    *Nama lain Beliau:Nyai Siti Rohmah
    *Nama Populer di masyarakat:Nyai Ageng Ngerang.
    *Suami Beliau: Ki Ageng Ngerang/Syeh Muhammad Nurul Yaqin.
    *Ayah beliau:Raden Bondan Kejawan atau aryo Lembu Peteng.
    *Ibu beliau:Dewi Retno Nawang Sih.
    *Kakek nenek :Prabu Kertabumi Brawijaya V +Putri Wandan Kuning
    *Kakek nenek :Ki Ageng Tarub + Dewi nawang Wulan,seorang bidadari kahyangan.
    *Saudara kandung:Ki Ageng Wonosobo dan Ki Ageng Getas Pendowo.

    *Keturunan Nyai Ageng Ngerang sbb:
    #1.Nyi Ageng Ngerang II atau Nyi Ageng Selo II

    Putri Nyai ageng Ngerang ini menikah dengan sepupunya sendiri yakni Ki Ageng Selo (seorang legendaris si penangkap petir),kemudian bernama Nyi Ageng Selo.Ki Ageng Selo adalah keponakan dan sekaligus menantu Nyai Ageng Ngerang.Nyi Ageng Selo mempunyai 6 putri dan Ki Ageng Henis.
    Ki Ageng Henis berputra Ki Ageng Pemanahan.dan Ki ageng Pamanahan berputra Raden Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati Mataram.

    #2.Ki Ageng Ngerang II

    Putra Nyai Ageng Ngerang ini mempunyai putra yakni:Ki Ageng Ngerang III,Ki Ageng Ngerang IV,Ki Ageng Ngerang V dan Pangeran Kalijenar.

    Ki Ageng Ngerang III menikah dengan Raden Ayu Panengah salahsatu putri Sunan kalijaga mempunyai Putra yang bernama Ki Ageng Penjawi,yang juga disebut Ki Ageng Pati karena beliau mendapat hadiah dari Raja Pajang yakni tanah perdikan Pati yang sudah berbentuk wilayah .
    sedang Ki Penjawi mempunyai 2 putra yakni Waskita Jawi yang menjadi permaisuri Panembahan Senopati Sutawijaya dan bergelar Ratu Mas.Dan yang satu lagi bernama Wasis Joyokusumo dan bergelar adipati Pragola Pati.

    Sunan Pakubuwono XII adalah keturunan Nyai Ageng Ngerang generasi yang ke 18 dan Sunan Pakubuwono yang sekarang dan Sultan Hamengkubuwono X adalah keturunan Nyai Ageng Ngerang generasi ke 19.

    Nyai Ageng Ngerang merupakan Pepunden atau Leluhur Pati,Kesunanan Surakarta Hadiningrat dan Kesultanan Yogyakarta.Nyai Ageng Ngerang diperkirakan hidup di abad XV,masa hidup beliau sangat panjang.Masa hidup beliau sezaman dengan para sunan dan para Wali Songo.Bahkan Padepokannya sering disinggahi para sunan dan para Wali Songo.Beliau menetap dan mendirikan padepokan (pesantren) di lereng pegunungan kendeng.

    Setiap tanggal 1 suro atau 1 muharram Haul wafat beliau selalu dilaksanakan dengan meriah dan khidmat.Banyak yang menghadiri Haul Beliau dari masyarakat setempat dan luar daerah pelosok tanah air bahkan Para Punggawa Keraton Surakarta Hadiningrat setiap tahun turut menghadiri kirab haul beliau.Dan situs makam beliau dijadikan salahsatu cagarbudaya dan dimasukkan didalam kalender wisata tahunan pemerintah kabupaten Pati.

  34. saya baca Api Di Bukit Menoreh seingat saya sejak kelas 3 SD, tahun 1988, seri III nomor berapa saya lupa. karena Bapak adalah penggemar beratnya. Bapak baca sejak beliau kuliah di Jogja tahun 1971. Belinya gantian sama sahabatnya, Alm. Pak Kamil, mereka bertukar buku setiap bulan-nya…hingga nomor terakhir 396 saya aktif membacanya. Saat kuliah, sekitar tahun 1999, saat saya maen ke perpustakaan kota di jalan malioboro, saya nemu buku pertama ADBM, senengnya gak ketulungan. Sudah sejak lama ingin membaca dari buku pertama, tapi waktu mustahil dapatin bukunya. Koleksi Bapak banyak yang hilang, dan tahu cerita jilid I & II hanya dari cerita Bapak..dan untunglah Desember 2009 adik laki-laki saya menemukan blog ini dan download TAMAT serial ini sejak jilid I hingga terakhir…senengnya……..

  35. kelompok gajah liwung pindah markas ke padukuhan sumpyuh. Padukuhan sumpyuh letaknya dimana ya? Di barat kebumen?

  36. nemu temen2 yg seneng ADBM disini ternyata..ninggalin jejak dulu, kok sekarng jadi sepi, ayo dong di hidupkan diskusinya. Saya nemu persewaan buku D-Lima di Jogja yg pada waktu saya SMA (th 90 – 93) punya ADBM dari seri pertama dengan ejaan lama nya, trus setelah bertahun-tahun sekarang saya baca baca lagi sampai tamat baru saja..
    Senengnya ADBM karena lokasinya ngga jauh2 dari Jogja, dan meskipun rumah orang tua saya dekat kotagede tapi waktu pulang ke jogja terakhir bulan kemaren baru pertama kalinya saya nyekar ke makam raja2 mataram di kotagede, disitu semua memori saya tentang kisah kepahlawanan di ADBM menjadi semakin merasa dekat karena para tokoh2-nya pada “sare” di depan saya dari kanjeng hadiwijaya sampai anak turun panembahan senopati…
    Kapan2 pengen jalan2 napak tilas lokasi2 di ADBM sekedar untuk menuntaskan dan lebih dalam merasakan suasana di cerita itu..

    Salam


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 138 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: