Bukan ADBM

buku-iv-100>>| buku-v-02>>

Api di Bukit Menoreh

Seri V-01

Membangun Armada Laut
Yang Kuat bagi Mataram

—————————————————–
DENGAN sigap Ki Lurah Suprapta menghindari semua serangan orang yang bermata juling dan berambut keriting. Namun Ki Lurah tentu saja tidak mau menjadi kantong pasir yang diam saja diserang bertubi-tubi seperti itu. Sambil menghindari serangan yang membabi buta itu, Ki Lurah pun dengan gencar balik menyerang lawannya.

Sebuah tendangan mendatar yang mengincar dadanya dengan cepat bisa dihindarinya, lalu Ki Lurah pun membalasnya dengan sebuah tendangan beruntun dengan kaki kiri dan kaki kanan. Orang yang bermata juling itu pun terjengkang ke belakang ketika tendangan Ki Lurah Suprapta menghajar pundaknya.

Orang berwajah kasar dan bermata juling itu mengumpat-umpat kasar ketika pundaknya terasa nyeri. Ia pun segera surut selangkah lalu mempersiapkan diri menghadapi serangan Ki Lurah yang datang membadai seperti burung sikatan yang menyambar belalang. Namun agaknya ilmu olah kanuragan orang yang berwajah kasar dan bermata juling itu hampir setingkat lebih rendah daripada ilmu olah kanuragan Ki Lurah Suprapta.
Setiap kali mendapat serangan yang cepat dan keras, orang bermata juling itu kesulitan untuk menghindari serangan lawannya. Sebuah tendangan yang kuat dan cepat telah menyambar lambungnya. Orang bermata juling itu surut selangkah dan jatuh terbanting ketika Ki Lurah Suprapta mengejarnya dan memukul dagunya dengan sisi telapak tangan kanannya.
Ki Lurah membiarkan orang bermata juling itu dengan tertatih-tatih bangun dan bersiap menyerang kembali.

Sementara itu di arena pertempuran lainnya, Ki Lurah Darma Samudra menghadapi orang yang tinggi kurus dan luka di pipinya. Orang yang tinggi kurus itu bertempur sambil mulutnya berteriak-teriak kasar.
—Apakah mulutmu tidak bisa diam—kata Ki Lurah.
—Persetan—jawabnya sambil menyerang dengan tinjunya menyambar kening. Ki Lurah mundur selangkah sambil menundukkan kepalanya.
—Siapakah sebenarnya kalian?—tanya Ki Lurah sambil menghindari serangan lawannya. Ki Lurah segera bersiap-siap menyerang kembali menghadapi serangan lawannya yang kasar itu.

Sisi telapak tangannya segera menyambar lambung lawannya. Orang yang tinggi kurus itu agaknya sedikit mempunyai kelebihan daripada kawannya yang bermata juling. Ia pun meloncat menghindar ke samping ketika sisi telapak tangan Ki Lurah menyambar lambungnya.
Ki Lurah yang sebelum mendapat kesempatan menjadi prajurit di pasukan khusus itu adalah murid sebuah padepokan di Mangir, ternyata memang mempunyai bekal yang cukup dalam olah kanuragan.
Dengan lincahnya Ki Lurah mempergunakan berbagai tata gerak yang sulit dimengerti oleh lawannya. Gerakannya sungguh rumit dan sulit diduga oleh lawannya. Sebuah pukulan yang cepat ke arah pundak, disusul oleh tendangan, lalu serangan dengan siku mengarah ke dada, kemudian serangan sisi telapak tangan menyambar ke dahi.
Serangan Ki Lurah yang beruntun itu sulit dihindari oleh lawannya yang bertubuh tinggi kurus itu. Meskipun ia mampu menghindari tiga serangan Ki Lurah, namun ia tidak bisa menangkis serangan sisi telapak tangan yang menyambar ke dahi.
Orang bertubuh tinggi kurus itu, selangkah surut. Meskipun ia tidak jatuh terbanting, matanya berkunang-kunang. Ki Lurah yang melihat lawannya sudah kena dahinya, tidak mau kepalang tanggung. Sebuah pukulan di ulu hati orang yang tinggi kurus itu membuatnya jatuh terjengkang.
Namun orang yang tinggi kurus ini ternyata mempunyai daya tahan yang kuat. Dengan cepat ia meloncat bangun dan bersiap menghadapi serangan Ki Lurah berikutnya.

Di lingkaran pertempuran lainnya Ki Rangga Agung Sedayu bertempur dengan ringannya menghadapi kedua lawannya. Meskipun Ki Rangga secara sekilas sudah dapat menakar kemampuan kedua lawannya, namun ia tidak ingin menimbulkan kesan bahwa ia meremehkan lawannya. Ki Rangga sengaja bertempur dari tahap awal, setapak demi setapak meningkat dan semakin lama semakin tinggi tatarannya.
Karena Ki Rangga dengan telaten meladeni lawannya setingkat demi setingkat, maka kedua lawannya tidak bisa menjajaki ketinggian ilmu Ki Rangga Agung Sedayu. Bahkan kerapkali Ki Rangga menunjukkan dirinya seolah-olah terdesak oleh serangan kedua lawannya.
—Menyerahlah Kisanak. Sebelum aku menyakitimu. Lebih cepat lebih baik—kata lawan Ki Rangga yang agak gemuk.

—Tetapi siapakah sebenarnya kalian—pancing Ki Rangga yang semakin terdesak oleh kepungan serangan kedua lawannya. Lawan Ki Rangga yang agak gemuk ini agaknya merasa yakin bisa akan mengalahkan lawannya dengan mudah.
—Apakah ada gunanya kalau kami menjelaskan kepadamu siapa kami sebenarnya—tanya lawan Ki Rangga yang agak gemuk itu.
—Tentu. Tentu ada gunanya. Kalau aku harus mati di tepi Kali Praga hari ini, paling tidak arwahku tidak menjadi penasaran dan membuntuti kalian ke mana-mana—kata Ki Rangga.
—Hahaha. Agaknya kau sudah menjadi berputus asa mendapat serangan kami berdua—kata lawan Ki Rangga yang kurus dan berkumis tebal.
—Kami adalah prajurit telik sandi dari Panaraga—kata orang yang kurus dan berkumis tebal.
—Kenapakah kalian begitu terburu-buru menyeberang sehingga melanggar tata kesopanan dalam menunggu giliran untuk menyeberang—kata Ki Rangga memancing sambil menghindari serangan kedua lawannya yang datang secara beruntun dan dalam keteraturan gerak yang rapi.
—Kami harus segera bertemu dengan atasan kami mengenai hasil penyelidikan kami di Mataram—kata lawannya yang gemuk sambil melakukan serangan yang sulit dihindari.—Kami utusan dari Panaraga—

Menghadapi serangan yang sulit itu, Ki Rangga segera menyilangkan kedua tangannya di depan dada sehingga membentur tendangan lawannya. Untuk memancing keterangan lawannya yang sudah merasa di atas angin, Ki Rangga pun jatuh bergulingan, lalu mencoba bangkit sambil menyeringai kesakitan.
Belum lagi Ki Rangga bersiap benar, lawannya yang kurus dan berkumis tebal telah meloncat tinggi lalu menendang dadanya. Ki Rangga sengaja tidak menghindari serangan itu dan membiarkan dadanya menjadi sasaran kedua lawannya itu.
Kali ini Ki Rangga jatuh terbanting, meskipun dalam posisi yang tidak membahayakan dirinya. Kedua Lurah yang mengawal Ki Rangga sempat terkejut melihat Ki Rangga demikian mudah dikalahkan oleh kedua lawannya. Mereka meloncat surut beberapa langkah dan hendak mendekati Ki Rangga untuk menolongnya.
—Aku tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa—kata Ki Rangga kepada kedua lurah prajurit itu. Kedua lawan Ki Rangga tertawa berkepanjangan mendengar ucapan Ki Rangga bahwa ia tidak apa-apa.
—Sebentar lagi kawanmu ini aku lempar ke Kali Praga untuk menjadi makanan buaya di kedung dalam di tikungan sungai—kata orang yang kurus dan berkumis tebal.
—Apakah yang kalian selidiki di Mataram—tanya Ki Rangga sambil berjalan terseok-seok mendekati kedua lawannya yang sudah siap menyerang kembali.
—Kami menyelidiki kekuatan Mataram, seberapa pasukannya, seberapa kuat pasukan berkudanya dan seberapa banyak prajuritnya—kata orang yang kurus dan berkumis tebal.
—Untuk apakah kalian menyelidiki kekuatan Mataram, bukankah Panaraga dan Mataram tidak bermusuhan—kata Ki Rangga.
—Panaraga memang tidak memusuhi Mataram, namun Mataramlah yang memusuhi Panaraga—katanya lagi.
—Kau aneh Kisanak. Setahuku hubungan Mataram dan Panaraga baik-baik saja. Tidak ada bibit permusuhan di antara penguasa kedua wilayah itu.
—Kau tahu apa?—kata orang yang berkumis itu.
—Aku sangat tahu, Kisanak. Karena aku juga seorang prajurit, meskipun aku berdiri di pihak Mataram.—kata Ki Rangga.
—Kebetulan sekali aku berhadapan dengan seorang prajurit. Jadi aku tidak usah repot-repot mengintai semua barak dan menghitung jumlah prajurit yang ada di sana. Kalau kau membantu aku memberikan keterangan mengenai kekuatan pasukan Mataram, aku berjanji akan membunuhmu dengan cara yang baik.—kata orang yang kurus dan berkumis tebal.
—Bagaimana jika aku yang menangkap kalian dan membawa kalian ke Mataram—tanya Ki Rangga dengan tenangnya.
—Apa? Apa yang kalian dapat lakukan atas kami?—tanya orang yang gemuk dan bermuka kasar.
—Apakah kalian tidak pernah mendengar nama kami Empat Bersaudara Gagak Hitam dari Gunung Kendeng?—tanya orang yang berwajah kasar, kurus dan berkumis tebal.
Ki Rangga Agung Sedayu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengubah tata geraknya. Gerakannya yang tadi seolah-olah asal-asalan saja menghadapi serangan lawannya, kini berubah.
Ia kini mempergunakan tata gerak yang dipelajarinya dari perguruan Orang Bercambuk. Gerakannya cepat, kuat dan trengginas. Kalau tadi gerakannya seperti orang yang tidak mengenal tata gerak dasar ilmu olah kanuragan, maka kini gerakannya benar-benar nggegirisi.
Dengan ilmu meringankan tubuhnya, Ki Rangga bergerak cepat dari satu sisi ke sisi yang lain. Sehingga membuat kedua lawannya menjadi bingung. Satu saat, Ki Rangga berada di sudut dan terkepung oleh kedua orang itu.
Namun dengan kecepatan di luar tangkapan mata wajar, Ki Rangga sudah berada di luar kepungan. Ki Rangga mulai memberi sentuhan-sentuhan dengan tangannya kepada kedua lawannya.
Semakin lama sentuhan-sentuhan itu semakin keras dan mengganggu serangan kedua lawannya. Kalau tadi Ki Rangga yang nampaknya seolah-olah terdesak, maka yang terjadi kini adalah sebaliknya.
Di lingkaran pertarungan lainnya, Ki Lurah Suprapta pun semakin meningkatkan tekanan terhadap lawannya, orang yang berwajah kasar, bermata juling dan berambut keriting.
Memang pada awalnya, Ki Lurah Suprapta agak kebingungan menghadapi orang yang bermata juling itu. Setiap kali ia salah menebak arah serangan lainnya. Karena memperhatikan arah pandangan orang yang bermata juling itu, Ki Lurah sering terkecoh.
Arah pandangan lawannya ke kanan, namun serangannya ke kiri. Begitu pula sebaliknya. Karena arah pandangan kedua mata lawannya yang tidak kompak, membuatnya terkena gerak tipu.
Akhirnya Ki Lurah tidak lagi memperhatikan arah gerakan mata lawannya sebagai arah gerakan lawannya. Kini ia lebih memperhatikan getaran pundak lawannya untuk mengetahui arah serangannya. Begitu pula gerakan kakinya, Ki Lurah memperhatikan posisi kakinya sebelum memulai gerakan untuk mengetahui arah gerakan lawannya.
Lama kelamaan keseimbangan pertarungan di lingkaran pertarungan itu pun semakin nampak jelas. Ki Lurah terus mendesak lawannya dengan gerakan-gerakan yang sulit dimengerti dan ditanggapi lawannya. Kini Ki Lurah yang mengendalikan pertarungan itu. Dengan gerakannya yang keras dan cepat, Ki Lurah Suprapta menekan lawannya yang berwajah kasar, bermata juling dan berambut keriting.
Ki Lurah Suprapta melakukan serangan beruntun, tendangan memutar ke arah lambung dengan bertumpu pada kakinya yang sebelah, lalu meloncat dengan tendangan menggunting, dilanjutkan dengan serangan siku dan sisi telapak tangannya dalam gerakan yang cepat.
Lawannya yang bermata juling itu bisa menghindari dua tendangan beruntun Ki Lurah, tetapi serangan dengan siku dan sisi telapak tangannya tak bisa dihindari. Orang bermata juling itupun mengaduh sambil menekan hulu hatinya.
Sesaat kemudian ia menarik goloknya yang besar dari wrangkanya. Dengan marah ia mengayun-ayunkan goloknya untuk menyerang Ki Lurah. Ki Lurah yang tidak siap mendapat serangan senjata lawannya, meloncat surut dua langkah. Ia lalu mencabut pedang di pinggangnya dan bersiap menghadapi serangan golok lawannya.
Lawan Ki Lurah Darma Samudra yang juga sudah terdesak, segera pula mencabut senjatanya berupa golok besar seperti milik saudara seperguruannya yang bermata juling.
Orang yang tinggi kurus dan luka di pipinya itu pun dengan kasarnya bertarung melawan Ki Lurah Darma Samudra. Dari mulutnya keluar kata-kata kotor yang tidak sepantasnya didengar.
Namun Ki Lurah Darma Samudra yang sudah mempunyai pengalaman yang banyak dalam dunia olah kanuragan, sama sekali tidak terpengaruh oleh kata-kata kotor dan kasar yang diucapkan oleh lawannya.
Ia maklum bahwa kata-kata kasar dan kotor seperti itu biasa dlontarkan oleh orang-orang yang hidup di dunia kelam untuk mempengaruhi ketahanan jiwani lawannya.
Namun lama kelamaan Ki Lurah menjadi semakin terdesak. Ia pun melangkah surut dua langkah lalu mencabut pedangnya. Sebilah pedang yang biasa dipergunakan prajurit Mataram. Pedang seperti itu mempunyai bilah yang agak lebih panjang, dan lebih tebal daripada pedang biasa. Pedang milik prajurit Mataram adalah pedang yang terbuat dari baja pilihan. Sehingga mempunyai kekuatan yang cukup untuk membentur golok lawannya.
Setelah Ki Lurah Darma Samudra menggenggam pedangnya, maka keseimbangan pertempuran itu pun segera berubah. Kini Ki Lurah Darma Samudra yang mengendalikan jalannya pertarungan itu. Dengan lincahnya Ki Lurah mematuk-matukkan ujung pedangnya di sela-sela putaran golok besar milik lawannya. Betapapun orang yang tinggi kurus dan luka di pipinya itu berusaha melindungi dirinya dengan putaran goloknya yang rapat, namun ujung pedang Ki Lurah seakan-akan mempunyai mata untuk menerobos putaran golok lawannya
Sesekali Ki Lurah Darma Samudra membenturkan ujung pedangnya untuk mengukur kemampuan, kecepatan gerak dan tenaga lawannya. Semakin lama semakin terlihat bahwa ilmu olah kanuragan lawan Ki Lurah Darma Samudra selapis tipis di bawah Ki Lurah. Ketika Ki Lurah semakin menekan lawannya dengan ilmu pedang yang dipadukan antara ilmu pedang perguruannya dengan ilmu pedang keprajuritan, maka lawannya itu menjadi semakin kesulitan.
Namun karena perbedaan ilmu pedang mereka hanya selapis tipis saja berbeda, maka Ki Lurah juga tidak segera dapat mengalahkan lawannya. Benturan demi benturan terjadi diwarnai dengan percikan api yang meloncat dari sisi pedang mereka.
Namun ternyata bahwa pedang Ki Lurah yang merupakan pedang keprajuritan sama kuatnya dengan golok lawannya yang nampaknya memang bukan golok biasa.
Selain besar, ternyata golok itu juga dibuat oleh pandai besi kebanyakan. Jika dilihat dari bahannya, ternyata golok itu juga terbuat dari besi baja pilihan. Karena tenaga mereka hampir seimbang, maka ketika terjadi benturan rasa nyeri merambat ke kedua telapak tangan mereka.
Bahkan jika mereka melepaskan tenaga yang cukup besar, maka rasa nyeri itu terasa sangat menusuk ke telapak tangan mereka. Untunglah mereka masih mampu mempertahankan genggamannya atas senjata-senjata mereka.
Sementara itu, di tepian Kali Praga itu semakin banyak saja orang yang datang untuk menyeberang. Namun karena ada tiga lingkaran pertempuran di tepi sungai, maka para tukang satang itu makin asyik saja menonton pertarungan yang seru itu. Sehingga mereka lupa pada kewajibannya untuk menyeberangkan orang yang hendak melintas.
Sedangkan orang-orang yang semula datang dengan terburu-buru untuk menyeberang, karena para tukang asyik menonton ketiga lingkaran pertempuran itu, maka pada akhirnya mereka pun ikut meramaikan penonton yang melingkari ketiga arena tersebut.
Seperti halnya pertarungan Ki Lurah Darma Samudra yang semakin lama semakin seru, maka di lingkaran pertarungan yang kedua Ki Lurah Suprapta berusaha menekan lawannya yang juga tidak kalah garangnya.
Ki Lurah Suprapta terus menekan lawannya yang berwajah kasar, bermata juling dan berambut keriting. Meskipun goloknya besar dan berat, namun lawannya yang berambut keriting itu dengan mudah bisa memutar-mutar golok besar itu dengan rapatnya menjadi perisai yang melindungi dirinya.
Namun Ki Lurah juga bukan orang sembarangan. Ia telah menapaki jenjang keprajuritannya dari tingkat yang paling bawah. Sehingga ketika ia telah menjadi lurah prajurit, Ki Lurah telah melalui pengalaman yang panjang dalam segala medan pertempuran dan peperangan. Ilmunya pun yang semula diperolehnya dari sebuah padepokan silat, semakin terasah dan teruji.
Oleh karena itu dalam benturan demi benturan yang terjadi, Ki Lurah Suprapta pun mampu terus bertahan menghadapi lawannya. Bahkan sedikit demi sedikit Ki Lurah dapat menguasai lawannya. Pedangnya yang panjang dan tipis seperti layaknya sebuah pedang milik prajurit, juga terbuat dari bahan baja pilihan. Pedangnya seperti cakar seekor elang yang menyambar-nyambar di sela-sela cakar serigala yang berusaha melindungi dirinya.
Pedangnya seolah-olah mempunyai mata, dan dapat menikam ke tempat-tempat yang kurang rapat terlindungi oleh golok lawannya.
Orang yang berwajah kasar, bermata juling dan berambut keriting itu yang merasa mempunyai tenaga lebih kuat daripada Ki Lurah, memanfaatkan kelebihan tenaganya itu untuk menyerang sambil berlari berputaran mengelilingi Ki Lurah. Semula Ki Lurah menjadi kebingungan menghadapi perubahan tata gerak lawannya. Namun ia membiarkan lawannya itu berlari berputaran sambil mengacu-acukan goloknya yang besar.
—Biarlah ia berlari berputaran. Yang penting aku tidak lengah. Nanti tentu tenaganya akan habis dengan sendirinya—katanya dalam hati. Karena itu, Ki Lurah tidak terpancing oleh ulah lawannya yang bertempur sambil berlari berputaran dan berteriak-teriak kasar.
Dengan seksama ia memperhatikan gerak lawannya. Kadang-kadang ia sempat memotong gerakan lawannya dengan meloncat ke samping. Orang yang berambut keriting itu kembali mengumpat-umpat kasar ketika ia kehilangan lawannya yang tidak berada dalam lingkaran serangannya.

Bahkan ketika lawannya itu lengah, Ki Lurah menikamkan pedangnya dan satu demi satu pedangnya mulai menggores kulit lawannya. Mula-mula sebuah goresan tipis melintang di lengan kirinya. Goresan tipis berikutnya menyambar lengan kanannya. Semakin lama semakin banyak goresan tipis yang menyambar di punggung, di dada, di pundak. Dari goresan tipis itupun cairan merah segera mengembun. Darah. Rasa nyeri dan pedih mulai menggerataki luka-lukanya. Semakin lama semakin banyak darah yang mengalir dari lukanya.
Di lingkaran pertempuran yang lain, Ki Rangga Agung Sedayu masih juga dengan sabar melayani gerakan kedua lawannya. Ki Rangga menghadapi kedua lawannya yang juga berwajah kasar, namun yang satu agak gemuk dan yang satu lagi agar kurus dan berkumis tebal masih dengan tenaga yang utuh.
Ia tetap tenang, meskipun kedua lawannya itu berlari berputaran berusaha membuatnya bingung. Ternyata kedua orang lawannya itu beberapa lapis di atas kemampuan lawan kedua pengawalnya. Namun Ki Rangga tidak segera mencabut pedangnya atau melolos cambuk yang melingkar di pinggangnya menghadapi kedua lawannya yang sudah menggunakan goloknya.
Ki Rangga hanya menerapkan beberapa lapis ilmu kebalnya, ketika lawannya itu mulai mencabut goloknya. Ketika senjata kedua lawannya itu semakin cepat dan kuat menyerangnya, maka selapis demi selapis ditingkatkannya ilmu kebalnya.
Semula lawannya tidak menyadari kelebihan Ki Rangga yang mulai menerapkan ilmu kebalnya. Namun ketika mereka merasa ujung goloknya membentur kulit Ki Rangga, dan dari bekas goresan golok itu sama sekali tidak menimbulkan torehan luka, maka barulah mereka menyadari Ki Rangga kulitnya tidak tedas dimakan golok yang besar itu.
—Ilmu kebal—desis mereka berdua hampir bersamaan. Ki Rangga tidak menjawab.
—Meskipun kau mempunyai ilmu kebal, Kisanak, masakan golokku tidak dapat menembus dinding ilmu kebal itu—kata lawannya yang berwajah kasar dan agak gemuk hampir segemuk kakak seperguruannya. Swandaru.
Setelah menyadari kemampuan Ki Rangga yang menerapkan ilmu kebalnya selapis demi selapis kian meningkat, kedua lawannya pun terus menggempur Ki Rangga dengan tenaga dan kemampuan olah kanuragan yang kian meningkat.
Ki Rangga sengaja sejak awal tidak mempergunakan senjatanya berupa cambuk yang melilit di pinggangnya maupun pedang yang tergantung di pinggangnya. Ia ingin menangkap lawannya hidup-hidup dengan aji Panglimunan dan aji Kendali Sukma.
Naluri keprajuritan Ki Rangga merasa tergelitik. Ia merasa ada yang aneh dengan gerak gerik mereka yang mencurigakan. Dari percakapan sesaat di awal pertarungan, dengan pendengarannya yang tajam ia menangkap kesan bahwa mereka adalah prajurit sandi dari Panaraga yang ingin menakar kemampuan Mataram.
Karena serba sedikit Ki Rangga dapat mengetahui adanya awan hitam yang menggelayut antara Mataram dan Panaraga. Awan hitam itu semakin lama semakin gelap dan memberikan suasana yang ngelangut di antara rakyat kedua wilayah itu.
Gangguan ketertiban pun semakin terasa. Berbagai keterangan yang masuk dari prajurit sandi Mataram yang ditempatkan di Panaraga dan disampaikan oleh prajurit penghubung, ternyata semakin banyak kejadian gangguan keamanan di daerah perbatasan. Karena itu, ketika mereka sempat berbincang sesaat tadi, serba sedikit terungkap bahwa mereka paling tidak adalah prajurit telik sandi Panaraga, atau orang-orang padepokan yang mendapat tugas khusus untuk memata-matai Mataram.
Agaknya panggraita Kangjeng Adipati Panaraga Pangeran Jayaraga cukup tajam. Dari senapatinya Mas Panji Wangsadrana Kangjeng Adipati mendapat laporan bahwa Mataram—terutama Ki Patih Mandaraka—menaruh curiga terhadap keberadaan Pangeran Ranapati di dalam lingkungan keprajuritan Kadipaten Panaraga.
Namun Mataram belum dapat berbuat sesuatu, meskipun Glagah Putih dan Rara Wulan sebagai sepasang suami istri yang menjadi prajurit telik sandi di Panaraga telah lama berada di Panaraga. Pangeran Ranapati juga telah dilantik menjadi senapati Panaraga. Mataram bertindak semakin hati-hati, namun juga tidak mau terlambat. Mataram berada dalam keadaan serba sulit, seperti menghadapi buah simalakama. Dimakan ibu mati, tidak dimakan ayah mati. Mau dijual, siapa yang mau beli?
Demikianlah dengan berbekal laporan prajurit telik sandi Mataram, maka Ki Rangga bertekad untuk menangkap semua prajurit telik sandi Panaraga itu hidup-hidup. Mungkin dari keempat orang yang dicurigainya sebagai prajurit telik sandi itu, dapat segera dibongkar jaringan yang berada di belakangnya.
Namun meskipun sibuk menghadapi kedua orang lawannya yang berwajah kasar itu, maka Ki Rangga masih sempat memperhatikan kedua lurah prajurit yang mengawalnya.
Sambil meloncat surut menghindari serangan kedua lawannya, Ki Rangga melihat bahwa keadaan kedua lurah prajurit itu tidak begitu mengkhawatirkan. Ia melihat bahwa baik Ki Lurah Darma Samudra maupun Ki Lurah Suprapta, bisa mengatasi kedua lawannya, meskipun hanya berbeda selapis tipis.
Namun kedua lawan Ki Rangga juga bukan orang sembarangan. Kalau mengamati tata gerak olah kanuragan yang dipakai keempat orang itu, Ki Rangga melihat bahwa tata gerak dasar ilmu olah kanuragan yang mereka pakai hampir sama. Kemungkinan besar mereka adalah saudara seperguruan, meskipun dua orang yang dilawannya nampaknya dari tataran tertinggi dari ilmu perguruan mereka.
Namun Ki Rangga merasa agak aneh juga, beberapa unsur gerak yang dipakai oleh keempat orang itu ada kesamaan dengan ilmu perguruan Orang Bercambuk. Semakin lama semakin banyak kesamaan yang terlihat, meskipun ilmu yang dipakai oleh kedua lawannya itu nampak semakin kasar.
Tata gerak ilmu olah kanuragan perguruan Orang Bercambuk yang penuh keluwesan dan dilandasi dengan kasih sayang terhadap sesama itu, di tangan keempat orang itu berubah mengerikan menjadi kasar, ganas, trengginas dan nggegirisi.
Hal itu membuat Ki Rangga menjadi semakin bertanya-tanya dalam hati di balik setiap gerakannya. Meskipun sudah berubah kasar, namun ilmu olah kanuragan yang dipergunakan oleh kedua lawannya masih dapat dilihatnya memiliki ciri-ciri yang mirip dengan ilmu olah kanuragan dari perguruan Orang Bercambuk.
Karena itu, ketika kedua lawannya semakin cepat mengepungnya, maka seolah-olah Ki Rangga dapat membaca arah selanjutnya dari serangan lawannya. Ketika seorang lawannya menekuk lututnya untuk menendang dengan arah menyilang, dengan sigap Ki Rangga menangkap kaki lawannya. Lalu mendorongnya keras ke belakang. Sisi telapak tangannya menghantam pergelangan tangan dengan keras, sehingga golok yang terpegang erat di tangannya terlepas jauh dan terpental di belakang lawannya. Sambil berguling Ki Rangga menyapu kaki lawannya yang lain, lalu melenting berdiri dan menendang loncat mengarah ke dada. Gerakan yang cepat dan rumit demikian hanya dapat dilakukan oleh Ki Rangga yang sudah memahami kekuatan dan kelemahan dari perguruan Orang Bercambuk.
Begitu pula ketika lawannya yang satu lagi menyerang dengan goloknya yang besar, Ki Rangga berkelit ke samping lalu dengan gerakan yang sulit dimengerti lawannya, golok itu sudah terpental, lepas dari tangannya.

Tetapi lawannya segera bersiap meskipun tanpa senjata goloknya. Ia menyerang dengan siku disusul dengan pukulan sisi telapak tangan, dilanjutkan dengan tendangan berputar mengarah ke kepala. Dengan sigap Ki Rangga meloncat surut dua langkah, lalu berjongkok dan menyapu dengan dua kali putaran kakinya.
Lawannya yang kurus dan berkumis tebal itu pun meloncat berjumpalitan ke belakang. Ki Rangga yang sudah mengetahui arah gerakannya segera meloncat dengan dilambari ilmu meringankan tubuhnya. Sambil meloncat kakinya dua kali menendang ke arah dada dan paha.
Lawannya menggelepar ketika dada dan pahanya terkena serangan Ki Rangga. Namun sekali lagi Ki Rangga bisa menebak ke mana arah gerakan lawannya.
Lawannya yang kurus dan berkumis tebal itu bangkit, lalu ia langsung menerjang dengan tusukan empat jari tangan kanan yang dirapatkan dan jempolnya menekuk ke dalam.
Gerakan lawannya itu sangat cepat. Tetapi gerakan Ki Rangga lebih cepat lagi. Dengan sigap ia menangkap pergelangan tangan lawannya, lalu dengan mempergunakan tenaga dorongan lawannya ia justru menariknya. Lalu dengan ditambahi sedikit tenaga, maka lawannya itu terbanting terlontar melayang di atas kepalanya. Namun lawannya yang kurus ini ternyata juga memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi tatarannya.
Meskipun sudah terlontar di atas kepala, dengan sigap ia berputar sehingga bisa mendarat di atas tanah dengan kedua kakinya yang merenggang.
Lawannya itu segera menyerang dengan tendangan beruntun mengarah ke dada dan kepala. Tentu saja Ki Rangga tidak mau dada dan kepalanya menjadi sasaran tendangan beruntun dari lawannya.
Sambil meningkatkan ilmu kebalnya, Ki Rangga menyilangkan kedua tangannya untuk membentur tendangan lawannya. Lawannya melangkah surut dua langkah, sementara Ki Rangga masih berdiri tegak di tempatnya.
Ki Rangga kembali terperanjat ketika kedua lawannya menarik sesuatu dari pinggangnya. Cambuk. Keduanya menggenggam cambuk yang mirip dengan cambuknya yang berjuntai panjang.
—He. Dari perguruan manakah kalian?—tanya Ki Rangga heran.
—Kami dari perguruan Windu Jati. Apakah kau takut?—jawab lawannya.
—Tidak. Aku tidak takut. Tetapi aku mengenal ciri-ciri perguruan kalian—kata Ki Rangga.
—Lalu kenapa, kalau kau mengenal ciri-ciri perguruan kami—tanya orang yang kurus dan berkumis tebal.
—Aku juga mempunyai senjata yang sama seperti kalian—kata Ki Rangga sambil mengurai cambuk dari balik bajunya.
—He rupanya kau berusaha menyamai senjata perguruan kami—kata orang yang berkumis tebal.
—Apa gunanya aku menyamai atau meniru senjata perguruanmu, kalau aku tidak dapat menggunakannya—kata Ki Rangga.
—Apakah kau dapat mempergunakan senjata cambukmu—tanya orang yang berwajah kasar dan agak gemuk.
—Tentu. Tentu saja aku dapat menggunakan cambuk ini seperti mengenal tangan dan kakiku—jawab Ki Rangga.
—Ah kau hanya membual saja. Menggerakkan cambuk itu tidak seperti menggerakkan cambuk untuk memukul sapi atau kambing—katanya lagi.
Ki Rangga pun kemudian menghentakkan cambuknya yang menimbulkan suara menggelegar memekakkan telinga. Kedua orang lawannya yang mengaku dari perguruan Windu Jati itu pun hanya tersenyum-senyum melihat cara Ki Rangga menghentakkan cambuknya yang memekakkan telinga itu.
—Kalau kau menghentakkan cambukmu seperti itu hanya akan mampu mengusir sapi atau kambing—katanya. Ki Rangga hanya tersenyum mendengar ejekan lawannya.
—Yah, maafkan aku. Karena aku hanya bisa mengejutkan sapi atau kambing, karena aku hanyalah seorang gembala sapi—jawab Ki Rangga.
—Tetapi apakah di Pegunungan Kendeng ada perguruan Windu Jati. Kalau ada aku ingin berguru ke sana—kata Ki Rangga.—Karena aku baru bisa sekadar menggetarkan cambukku yang hanya mengejutkan sapi atau kambing saja—
Orang berbadan gemuk tertawa mengejek mendengar pertanyaan Ki Rangga.
—Aku berasal dari Panaraga dan aku mengembara sampai Pegunungan Kendeng. Orang menyebut diri kami sebagai Empat Bersaudara Gagak Hitam dari Pegunungan Kendeng. Hal itu karena kami berwajah kasar dan kulit kami hitam—katanya.—tetapi hati kami baik. Hahahaha—
—Siapakah gurumu?—tanya Ki Rangga.
—Apa urusanmu sehingga ingin mengetahui nama guruku?—tanya orang yang agak kurus dan berkumis tebal.
—Tidak. Tidak ada urusan apa-apa. Aku hanya sekadar ingin tahu—kata Ki Rangga.
—Nama guruku adalah Kiai Praptala—jawab orang yang berkumis tebal.
—Bukankah perguruan Windu Jati dari garis keturunan orang berdarah Majapahit?—tanya Ki Rangga.
—He. Dari mana kau tahu?—tanya kawannya yang gemuk.
Ki Rangga termangu-mangu sejenak. Jika ia mengamati unsur tata gerak lawannya, memang ia melihat ada unsur kesamaan dengan ilmu yang diperolehnya dari Kiai Gringsing. Namun di sisi lain, sebagai seorang prajurit Mataram ia mempunyai kepentingan untuk menangkap mereka yang diduganya sebagai petugas telik sandi Panaraga.
—Bukankah perguruan Windu Jati merupakan ilmu yang berkembang sampai akhir kekuasaan Prabu Brawijaya? Setiap perguruan olah kanuragan tentu memberi pengetahuan kepada murid-muridnya mengenai ciri-ciri perguruan lain yang pernah mempunyai nama besar—jawab Ki Rangga.
—Apakah menurutmu perguruan Windu Jati merupakan perguruan yang pernah mempunyai nama besar?
—Tentu. Tentu saja perguruan Windu Jati merupakan salah satu perguruan yang mempunyai nama besar menjelang jatuhnya Majapahit.—
—He. Agaknya kau banyak tahu tentang perguruan Windu Jati. Karena itu aku harus menangkapmu—kata lawan Ki Rangga yang kurus dan berkumis tebal sambil memutar-mutar cambuknya. Kawannya yang gemuk segera pula mengikuti gerakannya. Dalam sekejap Ki Rangga sudah terkepung dua pusaran cambuk.
Ki Rangga segera menyiapkan diri, meskipun ia masih memegang gagang cambuknya dengan tangan kanan dan memegang juntainya dengan tangan kirinya.
Segera saja di tepi Kali Praga kembali terjadi pertempuran yang lebih sengit lagi. Teriakan-teriakan yang keras dan kasar segera ditimpali dengan ledakan cambuk yang bersahutan menggetarkan dada.
Para penyeberang sungai itu, semakin menjauh dari ketiga arena pertempuran itu. Bahkan para tukang satang yang ikut menonton pertarungan itu, membuat semakin banyak orang yang tidak bisa menyeberang dan ikut menonton adu ilmu cambuk yang jarang terjadi itu.
Sambil bertempur, Ki Rangga mengamati gerakan kedua lawannya. Sekali-sekali ia meloncat surut di sela-sela putaran ujung cambuk yang menyambar-nyambar. Namun ia tidak ingin kulitnya terkoyak oleh ujung cambuk lawannya yang berkarah baja bersegi sembilan. Karenanya, Ki Rangga semakin meningkatkan kadar ilmu kebalnya, meskipun belum sampai menimbulkan hawa panas di sekitar tubuhnya.
Ki Rangga semakin meningkatkan ilmu meringankan tubuhnya yang hampir mendekati kesempurnaan. Dengan menerapkan ilmu meringankan tubuhnya itu, Ki Rangga dengan lincah bisa melakukan gerakan-gerakan yang rumit dan cepat dibalik kabut putaran cambuk kedua lawannya. Namun ternyata kedua lawannya juga bukan orang sembarangan.
Gerakan kedua orang itu seakan-akan bisa saling mengisi dan menutupi kelemahan yang lain. Kedua orang yang mengaku dari perguruan Windu Jati itupun perlahan-lahan menjadi heran. Karena tidak biasanya ilmu mereka yang tiada duanya itu, bisa dihadapi sampai puluhan jurus tata gerak. Jangankan lagi mereka berdua, jika seorang saja yang maju, lawannya tidak akan bisa bertahan lama menghadapi mereka. Karena itu keduanya sibuk menebak-nebak, siapakah lawan mereka itu.
Begitu pula sebaliknya. Ki Rangga Agung Sedayu hatinya juga bertanya-tanya. Selama ini Kiaia Gringsing tidak pernah menyebut-nyebut aliran perguruan Windu Jati yang ada di Panaraga yang muridnya kemudian mengembara ke pegunungan kapur Kendeng. Karena itu, semakin besar tanda tanya hatinya, maka semakin besar keinginan Ki Rangga untuk menangkap keduanya.
—Mereka harus ditangkap—katanya dalam hati.
Namun lawannya itu, juga semakin heran bahwa kedua ujung cambuk mereka tidak segorespun bisa melukai lawannya. Meskipun Ki Rangga belum meningkatkan ilmu cambuknya, keduanya semakin terheran-heran.
Demikianlah, Ki Rangga terus menjajaki kemampuan kedua lawannya. Semakin diperhatikan, semakin ternyata bahwa tata gerak mereka memang mempunyai aliran yang sama dengan tata gerak dasar ilmu Orang Bercambuk, meskipun pengungkapannya secara lahiriah sudah jauh lebih kasar.
Makin lama Ki Rangga semakin yakin bahwa mereka adalah mempunyai sumber yang sama dengan ilmu olah kanuraga dari perguruannya. Namun kesimpulan seperti itu membuat dirinya menjadi mulai ragu-ragu untuk bertindak.
Kalau ilmu mereka dilumpuhkan dengan aji Kendali Sukma, maka segala tenaga cadangan yang mereka miliki akan sirna. Musnah habis. Sungguh sayang. Padahal untuk mencapai kemampuan tenaga cadangan seperti yang mereka miliki memerlukan latihan selama puluhan tahun.
Karena itu sambil melayani gerakan mereka, seperti biasanya Ki Rangga Agung Sedayu terbentur pada sikap dan sifatnya yang selalu ragu-ragu. Dalam keragu-raguannya itu, ia terus mengamati gerakan mereka. Semakin lama, kedua orang itu semakin meningkatkan tataran ilmunya.
Mereka berusaha mendesak, mengepung dan menyudutkan Ki Rangga dengan putaran cambuknya yang semakin lama semakin nggegirisi. Suara cambuk mereka yang tadinya meledak-ledak memekakkan telinga, kini tidak lagi menimbulkan suara yang keras. Tetapi akibat letupan ujung cambuk dengan gerakan sendal pancing itu seakan-akan mampu menggetarkan udara di sekitarnya.
Pepohonan yang berada tak jauh dari arena pertarungan mereka nampak bergetar. Getaran pepohonan itu ternyata bisa meruntuhkan dedaunan yang sudah menguning. Bahkan getaran yang semakin lama semakin kuat itu ternyata bisa mematahkan ranting-ranting kecil yang terkulai lemas karena letupan ujung cambuk itu.
Setelah melihat dan mengamati gerakan kedua lawannya, Ki Rangga pun semakin meningkatkan ilmu kebalnya. Tanpa terasa, udara di sekitar tubuhnya perlahan-lahan menjadi panas. Kedua lawannya tersentak ketika merasakan panas yang mulai menggerumiti kulitnya.
—Ilmu setan apa yang kau pakai, he?—katanya. Ki Rangga hanya tertawa kecil. Namun Ki Rangga belum dapat mengambil keputusan, apakah yang harus dilakukan terhadap kedua orang itu. Apakah mereka harus dilumpuhkan atau dihabisi dengan aji Netra Dahana.
Karena keragu-raguannya yang sekejap itu, membuat dirinya terlena sejenak. Waktu yang sejenak itu, ternyata dapat dimanfaatkan dengan baik oleh kedua lawannya. Satu sentakan sendal pancing menyambar dadanya, dan sebuah lagi menghajar punggungnya. Namun kedua hempasan ujung cambuk itu, sama sekali tidak menimbulkan bilur-bilur baik di punggung maupun di dadanya.
Pukulan dari dua arah itu seperti hajaran palu godam, dan membuat Ki Rangga menjadi sesak nafas. Untunglah Ki Rangga sudah meningkatkan ilmu kebalnya, sehingga tidak berakibat terlalu fatal baginya. Ketika sebuah pukulan beruntun kembali menerpanya, tiba-tiba kedua lawannya menjadi kebingungan. Karena tiba-tiba saja, di hadapannya terdapat dua orang Ki Rangga Agung Sedayu. Keduanya membawa cambuk yang nampak mulai menyala pada gagangnya.
—Aji Kakang Kawah Adi Ari-ari—kata lawannya yang
agak kurus dan berkumis tebal.
—Ya. Tetapi kau tidak bisa mengelabui kami dengan ilmu itu—katanya kawannya yang gemuk menimpali.
—Apakah kau pikir dengan ilmu semacam ini kau bisa menipu kami—katanya. Ki Rangga Agung Sedayu tidak menjawab, namun sebuah letupan sendal pancing menyambar kedua lawannya dari dua arah yang berlawanan.
Kedua lawannya terperanjat. Ternyata kedua ujung cambuk itu menyambar mereka berdua, dan mereka merasakan betapa ujung cambuk itu bukan hanya merupakan bayangan semu. Benar-benar nyata dan mampu menerpa dada mereka secara wadag.
Padahal, biasanya orang yang menerapkan aji Kakang Kawah Adi Ari-ari, sosok yang kedua adalah hanya bayangan semu. Sehingga dengan demikian nampak seolah-olah dua sosok kembar Ki Rangga Agung Sedayu yang bertempur melawan kedua musuhnya. Dari segi gerakannya pun, mereka nampak begitu mandiri. Kalau yang satu bergerak menyerang ke kanan, maka sosok Ki Rangga yang lain bisa saja melompat mundur menghindari serangan lawannya yang kurus.
Kenyataan tersebut benar-benar membuat bingung kedua lawannya. Namun yang bingung bukan hanya lawannya. Ki Rangga Agung Sedayu pun menjadi bingung dalam keragu-raguannya. Ia menggeretakkan giginya. Matahari pun sudah mulai condong ke Barat, dan di tepi Kali Praga semakin banyak orang yang menonton pertarungan itu.
—Aku tidak boleh ragu-ragu—katanya di dalam hati. Setelah mendapat ketetapan hati demikian, Ki Rangga pun kemudian berkata dengan suara yang seolah-olah menggulung-gulung di dalam perutnya.
—Menyerahlah kalian. Kalian akan kutangkap—katanya kepada kedua lawannya.
—Apakah kau sudah merasa menang, sehingga hendak menangkap kami—kata lawannya yang gemuk.
—Jangan menyesal Kisanak, kalau aku harus menangkapmu dalam keadaan lumpuh dan segenap ilmu kalian punah tidak berbekas—kata Ki Rangga lagi. Suaranya seolah-olah berpindah-pindah dari sosok yang satu ke sosok yang lain.
—Kau hanya membual saja dari tadi. Buktinya sudah sejak tadi kita bertempur, kau tidak dapat mengalahkan kami—katanya.
—Sebenarnya sangat sayang, kalau aku harus memunahkan ilmumu. Karena sebenarnya adalah satu jalur perguruan. Aku pun dari perguruan Windu Jati—kata Ki Rangga.
—He? Kau jangan membual lagi. Perguruan Windu Jati hanya ada di Panaraga. Guru kami yang keturunan langsung dari Majapahit adalah kini tinggal satu-satunya penerus perjuangan untuk membangkitkan kebesaran dan keagungan kerajaan yang pernah mempersatukan nusantara.—
—Hahaha. Sayang kau keliru Ki Sanak. Penerus perguruan Windu Jati tidak hanya terdapat di Panaraga. Kami, maksudku aku dan saudara seperguruanku pun adalah penerus perguruan Windu Jati yang dikenal dengan nama perguruan Orang Bercambuk—kata Ki Rangga.
—Kalau benar kau dari perguruan Windu Jati, apakah kau akan bergabung dengan kami untuk membangkitkan kebesaran dan keagungan Majapahit—kata kawannya yang kurus.
—Sayang sekali tidak, Kisanak. Aku harus melumpuhkan dan menangkapmu, karena kau adalah telik sandi dari Kadipaten Panaraga—kata Ki Rangga.
—Hahaha. Mana bisa kau menangkap kami dengan ilmu petak umpet seperti ini.Apakah kau pikir hanya kau yang mempunyai ilmu Kakang Kawah Adi Ari-ari?—dengus lawannya yang gemuk.
Ki Rangga Agung Sedayu pun kemudian meningkatkan serangannya. Namun kedua lawannya itu ternyata mempunyai ilmu olah kanuragan yang tidak bisa dipandang enteng. Bahkan Ki Rangga pun terhenyak. Karena tiba-tiba bayangan kedua lawannya menjadi kabur dan beberapa saat kemudian kedua lawannya telah membelah diri pula menjadi dua orang. Sehingga Ki Rangga yang telah membelah diri menjadi dua orang itu harus menghadapi lawannya yang juga membelah diri menjadi empat orang. Karena itu arena pertarungan tersebut menjadi semakin luas. Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta yang sedang bertarung melawan musuhnya masing-masing, terpaksa bergeser menepi. Begitu pula orang-orang yang hendak menyeberangi Kali Praga itu pun semakin bergeser menjauh, karena mereka tidak ingin tersambar pukulan nyasar dari pertarungan ilmu olah kanuragan dalam tingkat tinggi tersebut.
Maka dalam sekejap pertarungan ketiga raksasa di bidang olah kanuragan itu pun menjadi semakin seru. Walaupun tidak seseru pertarungan antara Ki Rangga dengan kedua lawannya, ternyata pertempuran antara kedua lurah prajurit melawan kedua musuhnya juga berlangsung nggegirisi.
—Baiklah. Jika kalian ingin tetap main petak umpet. Kita lanjutkan permainan kita—kata Ki Rangga dengan nada tegas. Sudah tidak nampak lagi keragu-raguan dalam sikapnya, seperti yang terjadi sebelumnya.
—Tapi bolehkah aku tahu siapa nama kalian? Agar jika nanti kau mati, aku tidak dipersalahkan karena tidak tahu nama kalian?—kata Ki Rangga Agung Sedayu.
—Alangkah sombongnya kau anak muda. Tapi baik juga aku tahu namamu. Sungguh sayang kalau ilmumu yang setinggi itu, siapa mengira akan berakhir sampai di sini. Namaku adalah Bargas dan kawanku yang kurus itu adalah Bergawa. Siapakah namamu?—kata Ki Bargas, lawannya yang bermuka kasar dan bertubuh gemuk.
—Namaku Agung Sedayu. Aku seorang prajurit dari Mataram—jawab Ki Rangga.
—Oo. Inilah rupanya Agung Sedayu, yang namanya terkenal seantero Mataram, tetapi pangkatnya tidak naik-naik. Bukankah pangkatmu masih lurah prajurit?—celoteh Ki Bergawa dengan nada melengking tinggi.—Kau salah Kisanak. Pangkatku sekarang sudah Rangga—jawab Ki Rangga dengan nada polos dan jujur.
—Sayang sungguh sayang. Kalau kau mengabdi di Panaraga, dengan ilmu setinggi ini tentu pangkatmu sudah menjadi tumenggung—katanya dengan nada merendahkan.
—Kau salah Kisanak. Dengan tingkat ilmuku sekarang ini, aku memang sepantasnya menjadi seorang rangga. Di Mataram terlalu banyak orang yang berilmu sangat tinggi, jauh lebih tinggi daripada tingkat ilmuku.—
—Apakah kau pikir aku tidak tahu tingkat ilmu para senapati Mataram?—dengus Ki Bargas.—Apa gunanya kau berceloteh tentang tata keprajuritan di Mataram? Bersiap-siaplah. Kalian akan kutangkap—kata Ki Rangga yang sosoknya sudah menyatu kembali ketika mereka bercakap-cakap. Begitu pula kedua lawannya.
—Apakah kau akan semudah itu bisa menangkap kami? Seekor cacing saja akan melawan, kalau terinjak—.
—Baiklah. Jangan salahkan aku kalau kalian aku tangkap, bahkan semua tenaga cadangan kalian akan punah menghadapi ilmuku aji Kendali Sukma, meskipun kalian adalah berasal dari satu guru satu ilmu dengan aku, jika ditelusuri silsilah perguruan Windu Jati sampai ke masa Majapahit—
—Aji Kendali Sukma—.
—Ya. Aji Kendali Sukma—.
—Apakah aji Kendali Sukma termasuk ilmu aliran perguruan Orang Bercambuk?—tanya Ki Bargas dan Ki Bergawa hampir berbareng.
—Bukan Kisanak. Kalau aku menggunakan ilmu olah kanuragan Windu Jati, tentu kalian juga mengetahuinya. Karena kita satu aliran. Namun aku ingin menangkap kalian hidup-hidup, karena aku ingin menelusuri garis wewenang dalam segala tindakan yang hendak merongrong kewibawaan Mataram—katanya.
—Karena itu, sebelum kalian menyesal karena ilmu kanuragan kalian punah, aku masih memberi kesempatan kepada kalian untuk menyerah—kata Ki Rangga.
—Ah kau terus membual saja dari tadi—kata Ki Bargas.
—Baiklah. Kalian tidak mau mendengar kata-kataku.Yang penting aku sudah memperingatkan kalian. Kalian tidak percaya terserah kalian—kata Ki Rangga Agung Sedayu yang sudah mulai kehilangan kesabarannya.
Tanpa terasa matahari sudah bergeser dari sudutnya semula, sehingga bayangan pohon yang terbentuk sama panjang dengan tinggi pohon itu sendiri.
Ki Rangga Agung Sedayu pun mulai membangkitkan tenaga cadangannya sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Ki Jayaraga untuk membangkitkan aji Kendali Sukma.
Karena ia sudah bertempur sekian lama dengan kedua lawannya, maka Ki Rangga sudah bisa menakar kemampuan kedua lawannya. Dengan demikian ia sudah mempunyai ukuran seberapa banyak tenaga cadangan yang harus dibenturkan dengan mereka. Dalam beberapa kali benturan dengan ujung cambuknya, Ki Rangga mengerahkan enam bagian dari tenaga cadangannya. Karena itu, untuk melumpuhkan mereka berdua Ki Rangga mengerahkan tujuh bagian dari tenaga cadangannya.
Ki Rangga pun mulai mengambil ancang-ancang. Begitu pula kedua lawannya. Ki Bargas dan Ki Bergawa.
Ki Rangga berdiri tegak dengan kaki direnggangkan. Kedua tangannya mengembang ke samping badannya seperti sayap burung garuda yang hendak terbang, lalu kedua tangan itu bersilang di depan dada, dan mendorong ke depan dengan telapak tangan terbuka lebar.
Sedangkan Ki Bargas dan Ki Bergawa mengambil sikap lebih sederhana, tangan kanannya diangkat di depan dagu, lalu terbuka di depan dada. Ketika kedua tangan itu disentakkan ke depan, maka seleret sinar meluncur ke arah Ki Rangga, yang juga sudah bersiaga.
Namun Ki Rangga tidak mau hancur oleh ilmu pamungkas kedua lawannya. Dalam waktu sekejap, dua leret cahaya meluncur dari kedua telapak tangannya itu menerjang Ki Bargas dan Ki Bergawa.
Hebat akibatnya baik bagi Ki Rangga sendiri maupun kedua lawannya. Namun betapa pun, tenaga cadangan Ki Rangga ternyata jauh lebih kuat daripada Ki Bargas dan Ki Bergawa. Ki Rangga selangkah surut ke belakang. Namun Ki Bagas dan Ki Bergawa terdorong lima langkah, kakinya bergoyang-goyang lalu jatuh terguling ke belakang. Keduanya tersungkur. Lalu tidak bergerak lagi. Pingsan.
Ki Rangga yang merasakan dadanya seolah-olah terhempas dua buah godam besar, segera duduk bersila, bersedakep, matanya terpejam. Ia memusatkan nalar budinya untuk memulihkan tenaga cadangannya.
Kedua kawannya yang bertarung melawan Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta, sempat melirik ketika terjadi benturan ilmu yang sangat dahsyat itu. Bahkan udara sekitarnya terasa seperti gelombang lautan yang mendorong segala yang dilaluinya.
Ketika mereka melihat kesudahannya, maka lawan Ki Lurah Darma Samudra bersuit nyaring. Lawan Ki Lurah Suprapta segera mengerti isyarat kawannya. Mereka berdua melangkah mundur lalu berbalik untuk melarikan diri. Ketika mereka hendak lari, dua buah belati mengejar lawannya.
Agaknya Ki Lurah Darma Samudra tidak mau kehilangan lawannya begitu saja. Lawannya itu tidak sempat lari lebih jauh lagi. Ia terguling ketika belati itu menancap di punggungnya dan menembus ke jantung. Ia mengeluh tertahan dan jatuh tertelungkup di tepian sungai berpasir itu.
Tetapi tidak demikian dengan kawannya. Ketika mendengar kesiur angin tajam menyambar ke arah punggungnya, ia sempat menjatuhkan diri, berguling lalu meneruskan larinya. Dalam sekejap orang yang tinggi kurus dan berkumis tebal itu sudah lenyap dari pandangan.
Ketika Ki Rangga Agung Sedayu telah menyenakkan mata dan sudah pulih tenaga cadangannya, maka dari sela-sela orang-orang yang menonton pertempuran itu, masuklah seorang laki-laki yang tinggi tegap berwibawa, diiringi seorang pengawalnya. Orang itu bertepuk tangan, lalu berkata.—Hebat. Hebat Ki Rangga. Kau mampu menaklukkan kedua lawanmu—katanya.
—Ampun Pangeran. Hanya sebatas itulah kemampuan Hamba—katanya. Agaknya lelaki tinggi tegap dan berwibawa itu adalah Pangeran Purbaya. Dari pasukan Mataram yang meronda sampai ke tepi Kali Praga, ia mendengar bahwa terjadi pertarungan seru antara Ki Rangga Agung Sedayu dengan kedua lawannya, sedangkan dua lurah yang mengiringinya bertempur melawan musuhnya masing-masing.
Ketika laporan itu masuk, Pangeran Purbaya sedang menghadap Panembahan Hanyakrawati. Atas seizin Panembahan Hanyakrawati, Pangeran Purbaya diperkenankan menilik pertarungan yang sengit itu.
—Silakan Pamanda menilik pertarungan itu. Aku ingin mendapat laporan segera atas kesudahan pertempuran itu.
—Sendika dawuh, Ananda Panembahan—.
Demikianlah maka Pangeran Purbaya sempat menilik pertarungan mereka. Bahkan Pangeran sempat mendengar percakapan Ki Rangga Agung Sedayu dengan kedua lawannya, seandainya ia bergabung dengan pasukan Panaraga akan diberi pangkat tumenggung. Dan Pangeran pun melihat kesudahan pertempuran itu, yang ternyata kedua lawan Ki Rangga bisa dilumpuhkan, seorang kena lemparan belati dan seorang lagi bisa melarikan diri.
Ki Lurah Darma Samudra mengambil dua utas tali kulit janget yang kuat dari pelana kudanya. Sebuah tali diserahkan kepada Ki Lurah Suprapta. Lalu mereka mengikat tangan dan kaki lawan Ki Rangga Agung Sedayu. Kedua orang yang seperti terlolosi tulang belulangnya, segera dinaikkan ke atas kuda masing-masing. Sedangkan yang tewas diserahkan kepada tukang satang untuk dikuburkan.
—Kalau kau sudah pulih, marilah kita berangkat ke Mataram. Ananda Panembahan Hanyakrawati sedang menantimu—ujar Pangeran Purbaya kepada Ki Rangga Agung Sedayu.
—Sendika dawuh, Pangeran—jawab Ki Rangga, sambil membungkuk hormat. Demikianlah, maka iring-iringan kecil yang terdiri dari Pangeran Purbaya dan seorang pengiringnya, Ki Lurah Darma Samudra, Ki Lurah Suprapta, dan kedua telik sandi Panaraga itu segera bergerak menuju Mataram.
Dalam waktu tidak terlalu lama rombongan kecil itu sudah sampai di Istana Mataram. Lurah Prajurit jaga yang melihat bahwa orang yang berkuda paling depan adalah Pangeran Purbaya dan Ki Rangga Agung Sedayu, tidak menghalangi ketika mereka melintas ke pendapa. Sedangkan kedua lurah pengiring Ki Rangga dan pengiring Pangeran Purbaya berhenti di regol depan guna menyerahkan kedua tawanan itu kepada prajurit jaga.
—Kau ikutlah aku ke ruangan khusus ananda Panembahan—ujar Pangeran Purbaya kepada Ki Rangga Agung Sedayu.
—Hamba Pangeran—jawab Agung Sedayu.
Demikianlah, maka Pangeran Purbaya dan Ki Rangga Agung Sedayu menghadapi Panembahan Hanyakrawati di dalam ruangan khusus.
—Marilah masuk, Pamanda dan Agung Sedayu—ujar Panembahan. Pangeran Purbaya duduk di atas sebuah dampar yang lebih rendah daripada dampar kencana yang diduduki Panembahan Hanyakrawati, sedangkan Ki Rangga Agung Sedayu duduk bersila di atas tikar pandan yang dianyam halus dengan motif-motif berwarna cerah.
Sebagaimana biasanya, maka Panembahan Hanyakrawati menanyakan keselamatan tamunya.
—Atas pangestu tuanku Panembahan, hamba selalu dilimpahi keselamatan oleh Yang Maha Agung—jawab Ki Rangga Agung Sedayu. Lalu Panembahan Hanyakrawati menanyakan kejadian yang baru saja terjadi di tepian Kali Praga kepada Pangeran Purbaya dan Ki Rangga Agung Sedayu. Pangeran Purbaya lalu menjelaskan kepada Panembahan Hanyakrawati apa yang baru saja terjadi itu. Ki Rangga Agung Sedayu hanya menjawab, jika ada keterangan tambahan yang ingin didengar Panembahan Hanyakrawati.
Pangeran Purbaya pun menjelaskan urut-urutan kejadian itu seperti yang dilaporkan oleh Ki Rangga Agung Sedayu ketika mereka berkuda menuju Mataram.
—Demikianlah Anaknda Panembahan. Ternyata kedua lawan Ki Rangga Agung Sedayu yang ternyata dari jalur perguruan Orang Bercambuk berhasil dilumpuhkan dan dapat ditangkap. Mereka sudah disimpan di pakunjaran oleh penjaga regol Istana—ujar Pangeran Purbaya mengakhiri laporannya. Panembahan Hanyakrawati mengangguk-anggukkan kepalanya.
—Mereka adalah tawanan yang penting Pamanda. Sudah sewajarnya mereka mendapat pengawalan yang lebih ketat—katanya.
—Sendika dawuh, Anaknda Panembahan—jawab Pangeran Purbaya.
—Kejadian yang Pamanda Pangeran Purbaya saksikan itu, membuat aku membuat keputusan lain—ujar Panembahan Hanyakrawati. Pangeran Purbaya dan Ki Rangga Agung Sedayu menjadi berdebar-debar.
—Apakah keputusan itu, Anaknda Panembahan—tanya Pangeran Purbaya dengan nada penuh khawatir.
—Pamanda Pangeran dan Ki Rangga tidak perlu khawatir—ujar Panembahan Hanyakrawati, tanpa menjelaskan lebih lanjut. Pangeran Purbaya dan Ki Rangga Agung Sedayu tidak berani mendesak lebih jauh. Mereka hanya termangu-mangu, mendengar jawaban Panembahan Hanyakrawati.
—Aku persilakan kau beristirahat di ruangan yang telah disediakan oleh pelayan dalam Istana, sedangkan Pamanda aku harapkan tetap di ruangan ini—ujar Panembahan Hanyakrawati kepada Ki Rangga Agung Sedayu.
—Ampun Panembahan, apakah hamba diperkenankan beristirahat di Istana Ki Patih Mandaraka. Karena hamba dengar beliau dalam keadaan sakit—kata Ki Rangga Agung Sedayu.
—Baiklah kalau memang itu keinginanmu.Besok pagi ketika wayah temawon, kau harus sudah hadir di Paseban Agung dengan pakaian lengkap keprajuritanmu—ujar Panembahan Hanyakrawati.
Atas perkenan Panembahan Hanyakrawati, maka Ki Rangga Agung Sedayu dan dua orang lurah pengawalnya, kemudian menuju Istana Ki Patih Mandaraka yang terletak tidak begitu jauh dari Istana Mataram. Ki Lurah prajurit yang menjaga regol Istana Ki Patih Mandaraka segera mengenal bahwa yang datang adalah Ki Rangga Agung Sedayu.
—Oo, Ki Rangga Agung Sedayu, bagaimana keadaan ksehatan Ki Rangga—tanyanya.
—Aku baik-baik saja Ki Lurah Wirasentanu—jawabnya.
—Sungguh dahsyat pertarungan yang terjadi di Kali Praga siang tadi—tiba-tiba Ki Lurah Wirasentanu berkata.
—He? Kau tahu dari maka Ki Lurah?—tanya Ki Rangga Agung Sedayu heran.
—Wah semua orang di Kotaraja membicarakan kejadian tadi siang itu—jawab Ki Lurah Wirasentanu.
—Tentu yang kau dengar itu terlalu dilebih-lebihkan—kata Ki Rangga merendahkan diri.
—Seluruh Kotaraja geger, Ki Rangga Agung Sedayu bisa memecah diri menjadi dua dan menang menghadapi dua lawannya yang membelah diri menjadi empat orang—.
—Ah tidak seluruhnya itu benar. Namanya ceritera dari mulut ke mulut, kalau mulut yang satu menambahkan isi ceritera, maka pendengar yang ke seratus mendengar kejadian yang tadinya semenir, menjadi kejadian segede gajah—kata Ki Rangga Agung Sedayu sambil tertawa. Ki Lurah Wirasentanu pun tertawa. Ia sudah hafal dengan sikap rendah hati dari Ki Rangga Agung Sedayu. Ki Rangga lalu meminta diri untuk menghadap Ki Patih.
—Marilah Ki Rangga, aku antarkan menghadap Ki Patih. Biasanya Ki Patih berada di pendapa kiri di sore hari seperti ini—katanya. Ki Rangga dengan diantar Ki Lurah Wirasentanu kemudian diterima Ki Patih di pendapa kiri. Dilihatnya Ki Patih sedang berbaring di kursi panjang yang mempunyai sandaran miring. Ki Lurah Wirasentanu menemani Ki Rangga Agung Sedayu menemui Ki Patih. Mereka duduk di atas tikar pandan yang terhampar di depan kursi panjang itu.
—Oo kau, Agung Sedayu. Kemarilah—kata Ki Patih yang menyenakkan matanya sambil tetap berbaring di kursinya.
—Badanku terasa agak meriang, biarlah aku menerimamu sambil berbaring begini—ujar Ki Patih.
—Silakan Ki Patih tetap berbaring. Hamba akan menginap di sini, karena hamba akan hadir di Pisowanan Agung esok hari—katanya.
—Ya. Kau memang diundang ke Pisowanan Agung besok. Kau boleh menginap di sini. Bukankah kau sudah tahu di ruangan mana kau harus tidur nanti—ujar Ki Patih.
—Hamba Ki Patih—jawab Ki Rangga Agung Sedayu.
—Apakah kau sebelumnya sudah mengenal siapa lawanmu tadi siang—tanya Ki Patih tiba-tiba. Pertanyaan itu membuat Ki Rangga terkejut, ternyata kejadian di tepi Kali Praga itu cepat sekali menyebar di Kotaraja, bahkan telah pula sampai kepada Ki Patih yang sedang beristirahat di Istananya.
—Ampun Ki Patih, hamba belum mengenal mereka sebelumnya. Bahkan guru hamba Kiai Gringsing, tidak pernah berceritera bahwa ada Perguruan Windu Jati di Panaraga. Setahu hamba hanya ada di Madiun, yang sempat hamba kunjungi sebelum perang Madiun dahulu—jawab Ki Rangga.
Demikianlah mereka berbincang-bincang cukup lama membicarakan perkembangan yang terjadi di seputar kebangkitan Mataram.
—Kini tugas kalian yang muda-muda untuk mengisi kebangkitan Mataram ini dengan berbagai kegiatan pembangunan di segala bidang—ujar Ki Patih Mandaraka seakan-akan ingin berpesan kepada Agung Sedayu.
—Tentu kami akan melakukannya, Ki Patih—katanya.
—Tugas kami yang tua-tua ini seakan-akan sudah selesai dengan telah berdirinya Mataram. Tugas kalianlah untuk melanjutkannya—ujar Ki Patih lagi.
—Akan hamba ingat-ingat pesan Ki Patih itu—kata Ki Rangga Agung Sedayu.
Ki Patih Mandaraka mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia tidak berkata apa-apa lagi. Badannya yang dahulu kelihatan gagah, tinggi besar, dan berwibawa, kini nampak kurus, pucat dan seakan tidak ada lagi nyala kehidupan yang terpancar dari pandang matanya.
Ki Patih terbaring lemah di pembaringan kursi bambu yang terbuat dari bambu wulung. Di atas kursi itu diletakkan bantalan kapuk terbungkus beludru berwarna cokelat muda. Ki Rangga Agung Sedayu memperhatikan keadaan Ki Patih yang nampak mulai digerogoti oleh penyakit akibat usia yang semakin uzur. Matanya nampak terpejam dan jalan nafasnya mengalir halus.
—Ki Patih tertidur—kata Ki Rangga Agung Sedayu dalam hatinya. Perlahan-lahan Agung Sedayu memberi isyarat kepada Ki Lurah Wirasentanu sambil bergeser hendak meninggalkan Ki Patih Mandaraka yang telah beristirahat. Namun desir langkahnya yang ringan, masih terdengar oleh Ki Patih yang segera membuka matanya.
—Jika kau letih beristirahatlah—ujar Ki Patih Mandaraka.—Ampun Ki Patih, hamba kira Ki Patih tertidur. Karena itu hamba tidak ingin mengganggu Ki Patih yang sedang beristirahat. Biarlah hamba ke bangsal yang telah disediakan pelayan dalam Istana Kepatihan.
—Baiklah. Kau pergilah beristirahat. Ki Lurah akan menunjukkan kepadamu bangsal tempatmu berisitirahat. Kalau makan malam nanti sudah siap, kau makanlah. Aku tidak bisa menemani bersantap di meja makan seperti dulu lagi—kata Ki Patih.
—Sendika dawuh, Gusti Patih—kata Ki Rangga Agung Sedayu.
Demikianlah Ki Rangga Agung Sedayu diantarkan oleh Ki Lurah Wirasentanu ke ruangan yang telah disiapkan oleh pelayan dalam istana. Ki Rangga kemudian beristirahat sejenak. Ketika baru memicingkan matanya sejenak, terdengar pintu kamarnya diketuk pelan.
Ki Rangga melangkah ke pintu dan ketika pintu terbuka, matanya terbelalak.
—Kakang Untara dan Adi Swandaru?—katanya terperanjat.
—Iya Agung Sedayu—kata mereka hampir berbareng. Bergantian mereka memeluk erat Agung Sedayu.
—Kami juga baru datang sore ini—kata Ki Tumenggung Untara.
—Apakah kalian datang bersama-sama—Agung Sedayu menimpali.
—Iya. Kami berdua mendapat juga undangan untuk datang ke Pisowanan Agung besok—jawab Ki Swandaru Geni. Demikianlah mereka kemudian berceritera mengenai keadaan keselamatan masing-masing. Ki Tumenggung Untara mengisahkan tentang kedaan keluarganya, padepokan kecil Kiai Gringsing, tentang anaknya Wira Sanjaya yang sudah berguru di padepokan itu untuk mendapat bimbingan dari ilmu olah kanuragan dari Ki Widura yang kini menjadi pimpinan padepokan itu.
—Tentu Wira Sanjaya sudah besar dan segagah ayahnya sekarang—kata Agung Sedayu.
—Iya. Sekarang ia sudah beranjak dewasa dan sudah tidak nakal lagi. Jiwanya sudah tatag. Ia mengirim salam untukmu dan berniat menuntut ilmu di Perdikan Menoreh dari pamannya—kata Untara.—Kakangmbok juga mengirim salam kepadamu sekeluarga. Ia sudah kangen dengan Sekar Mirah—.
—Sekar Mirah juga kangen dengan kakangmbok. Tetapi ia sekarang tidak dapat bepergian ke mana-mana, karena sedang mengandung, Kakang—kata Agung Sedayu.
—Oh ya?—hampir berbareng Untara dan Swandaru berteriak kaget. Tetapi mereka segera menutup mulutnya dengan tangan kanan, setelah menyadari bahwa Ki Patih sedang beristirahat di pendapa kiri. Mereka pun kemudian bergeser ke belakang untuk tidak menimbulkan suara berisik yang dapat mengganggu istirahat Ki Patih Mandaraka.
Setelah bergeser agak menjauh mereka bisa bebas berceritera tentang keadaan masing-masing dengan suara yang tidak perlu ditahan-tahan. Kalau harus tertawa, mereka dapat dengan bebas tertawa.
—Aku mendengar dari para prajurit, kau tadi bertempur di tepi Kali Praga dengan orang-orang dari jalur perguruan Windu Jati. Siapakah mereka?—tanya Swandaru.
—Aku tidak tahu siapa mereka yang sebenarnya, Adi. Tapi menurut pengakuan mereka, mereka adalah Empat Bersaudara Gagak Hitam dari Gunung Kendeng. Masih menurut penuturan mereka, mereka adalah pengikut perguruan Windu Jati dari Panaraga, dan mengembara sampai ke Gunung Kendeng. Dua orang lawanku yang nampaknya merupakan murid utama dari perguruan Windu Jati di Panaraga di bernama Ki Bargas dan Ki Bergawa. Sekarang mereka ditahan di pakunjaran di lingkungan Istana Mataram.—kata Agung Sedayu.
—Bagaimana dengan dua orang lainnya?—tanya Ki Untara.
—Yang seorang tewas kena lemparan belati, lurah pengiringku dan seorang lagi bisa melarikan diri—jawab Agung Sedayu.
Ki Untara mengangguk-angguk, katanya kemudian—Kau harus berhati-hati, karena yang seorang lolos itu tentu akan melaporkan kepada gurunya di Panaraga, bahwa saudaranya Ki Bargas dan Ki Bergawa bisa kau kalahkan. Bukan tidak mungkin gurunya akan mencarimu—
—Iya kakang. Aku akan berhati-hati—kata Agung Sedayu.
Tiba-tiba Ki Untara melolos pedang dari lambungnya, sambil berkata—Apakah kau mengenal pedang ini?—
Sambil meraih pedang yang cukup berat itu, Agung Sedayu mengamat-amatinya. Pada gagangnya tergurat huruf-huruf dalam bahasa Kawi.—Jati Laksana—.
—Bukankah pedang ini pedamg ayah. Ki Sadewa?—tanya Agung Sedayu sambil menatap Ki Untara.
—Ingatanmu sungguh tajam—kata Ki Untara—padahal kau masih kecil, ketika ayah sering membawa-bawa pedang ini—.
—Di manakah kakang mendapatkan pedang Jati Laksana ini?—tanya Agung Sedayu.
—Aku mendapatkan pedang ini di dalam gua tempat kita berlatih—kata Ki Untara.
—Ketika aku memasuki gua itu, aku tidak melihatnya—kata Agung Sedayu lagi.
—Aku menemukannya secara kebetulan. Ketika aku mengangkat meja batu pipih di tengah ruangan gua, ternyata di bawahnya ada sebuah rongga yang dipergunakan ayah untuk menyimpan Kitab Jati Kencana, Pedang Jati Laksana dan sebuah nawala—.
—He? Nawala?—tanya Agung Sedayu.
—Ya. Nawala itu dari ayah—kata Ki Untara sambil membuka kampilnya, lalu menyerahkan seikat rontal kepada Agung Sedayu. Agung Sedayu lalu membaca rontal itu. Wajahnya nampak bersungguh-sungguh membaca rontal itu. Setelah membaca rontal itu, Agung Sedayu menghela nafas lega.
—Apakah dalam kitab itu, ada ilmu puncak perguruan Jati Kencana?—tanya Agung Sedayu.
—Tentu. Tentu saja ada. Bahkan aku sudah dapat menguasainya—kata Untara.
—Syukurlah. Aku khawatir sekali karena secara tidak sengaja aku telah merusakkan pahatan puncak ilmu yang terletak di puncak kubah gua dengan aji Netra Dahana—kata Agung Sedayu.
—Aji Netra Dahana?—tanya Untara dan Swandaru hampir berbareng.
—Ya. Ajiku yang menggunakan kekuatan tenaga cadangan melalui remasan pandangan mata, kunamakan aji Netra Dahana—katanya lagi.
—Oo—hampir berbareng Untara dan Swandaru berseru kagum.
—Apakah kakang membawa kitab itu?—tanya Agung Sedayu.
—Ya. Aku sengaja membawanya, untuk kuperlihatkan kepadamu—Ki Untara merogoh kampilnya dan mengeluarkan sebuah ikatan besar rontal, lalu menyerahkan kepada Agung Sedayu. Agung Sedayu menerima rontal itu sambil mengembalikan pedang Jati Laksana kepada kakaknya Untara.
—Apakah kau ingin memakai pedang ini?—kata Untara menawarkan kepada Agung Sedayu.—Pedang ini adalah pedang mustika yang dibuat dari logam khusus dan sangat tajam—.
—Biarlah kakang saja yang menyimpannya. Aku sudah mempunyai senjata cambuk yang menjadi ciri khusus perguruanku—kata Agung Sedayu.
—Tetapi kau pun berhak mempelajari ilmu Jati Laksana dan menggunakan pedang ini—katanya.
—Biarlah kakang yang menggunakan pedang itu. Aku hanya ingin meminjam kitab ini barang sebulan dua bulan. Aku ingin mempelajari bagian ilmu pamungkas yang hilang dari puncak kubah gua—katanya.
—Baiklah kalau begitu—kata Ki Untara.
Swandaru Geni yang menyimak pembicaraan mereka, tidak berkata apa-apa. Karena itu menyangkut masalah ke dalam dari perguruan Ki Sadewa, yang ternyata kemudian bernama perguruan Jati Kencana.

Mereka bahkan sempat bergojeg, mengenang masa-masa muda mereka yang terasa lucu untuk diceriterakan. Padahal ketika mereka mengalami dan merasakannya kala itu terasa betapa tegangnya. Swandaru dan Agung Sedayu tertawa terbahak-bahak, ketika Untara menceriterakan betapa Agung Sedayu menjadi ketakutan ketika dikejar Alap-alap Jalatunda dan Pande Besi dari Sendang Gabus. Tetapi untunglah kemudian hadir Kiai Tanu Metir yang menyamar menjadi Kiai Gringsing.
Swandaru pun menambahkan betapa wajah Agung Sedayu pias pucat pasi, ketika ia berteriak-teriak kepada kepada peserta pertandingan memanah di lapangan Sangkal Putung, bahwa Sidanti bukan pemanah terbaik di Sangkal Putung.
Setelah puas bergojeg, Swandaru tiba-tiba berkata—sehabis Pisowanan Agung, aku akan ke Tanah Perdikan Menoreh untuk menengok Sekar Mirah—.
—Aku pun sebenarnya ingin menengok Sekar Mirah dan Ki Gde Menoreh. Tapi sayang tugasku tidak dapat ditinggalkan lama-lama—kata Ki Tumenggung Untara.—Aku titip salam saja, kepada keduanya—
Ki Untara pun memandang Agung Sedayu lekat-lekat. Ia teringat, betapa dulu ia sangat kecewa ketika dimintanya Agung Sedayu menjadi prajurit Demak dan adiknya itu menolak. Adiknya itu bahkan lebih suka tinggal di Kademangan Sangkal Putung, dan dianggapnya hanya ngenger kepada Ki Demang, karena menginginkan anak gadisnya. Sekar Mirah.
Namun siapa kemudian mengira bahwa Agung Sedayu kini telah menjadi seorang Rangga. Berdasarkan kabar yang didengarnya, ia bahkan mendengar bahwa adiknya itu esok hari akan dilantik menjadi seorang panji dalam Pisowanan Agung. Ia hanya menggeleng-geleng. Namun karena suasana di halaman belakang Kepatihan itu agak gelap, maka baik Agung Sedayu maupun Swandaru tidak melihat gerakan kepala Ki Untara.
—Perjalanan nasib, siapa yang bisa mengira. Yang tahu hanya Yang Maha Agung—katanya di dalam hati.
Tidak berapa lama kemudian, seorang abdi dalem mempersilakan mereka bertiga untuk makan di dekat bangsal tempat Agung Sedayu menginap. Makan malam itu tidak disediakan di tempat biasanya Ki Patih Mandaraka menjamu tamu-tamunya, justru karena Ki Patih yang dalam keadaan sakit. Dengan demikian, mereka bisa bersantap sambil melanjutkan ceritera mereka tadi, tanpa harus mengganggu Ki Patih.
Demikianlah mereka asyik berbincang, sehingga tanpa terasa gugusan bintang Gubug Penceng yang terletak di kaki langit Selatan, garis yang menghubungkan titik bawah dan atasnya sudah condong ke Barat.
—Di manakah kalian menginap?—tanya Agung Sedayu.
—Aku menginap di bangsal yang terletak di depan bangsalmu. Dan kakang Untara di sebelahnya—kata Swandaru.
—He?. Ki Patih tidak mengatakannya—.
—Tentu Ki Patih ingin membuat kejutan untukmu—kata Untara. Ternyata Swandaru yang lebih dahulu menguap.
—Aku sudah mengantuk. Kalau perutku kenyang, aku cepat sekali mengantuk—katanya—aku mau tidur—
Ki Untara dan Agung Sedayu tertawa, dan tidak berkata apa-apa lagi. Namun kemudian Ki Untara menyahut.
—Aku juga. Besok pagi kita harus bangun, agar tidak keduluan ayam jantan—kata Ki Untara. Mereka pun kemudian memasuki ruangan yang telah disediakan untuk mereka masing-masing. Tak berapa lama mereka terlena dalam pelukan dan buaian dewi mimpi.
Ketika terdengar kokok ayam jantan yang terakhir kalinya, mereka pun segera terbangun. Mereka seolah-olah tidak mau didahului ayam jantan. Untara pikirannya melayang ke masa kecilnya, di mana yahnya Ki Sadewa membangunkannya setiap pagi sambil berkata.
—Kau harus selalu bangun pagi, agar rezeki tidak dihabiskan oleh ayam—kata ayahnya. Dan ternyata kebiasaan bangun pagi sejak kecil itu, terbawa sampai masa tuanya sekarang. Kebiasaannya itupun ditularkannya kepada adiknya Agung Sedayu, yang ketika kecil lebih suka bermalas-malasan, karena terlalu dimanjakan oleh ibunya.
Kini ajaran ayahnya itu telah pula diturunkan kepada anaknya Wira Sanjaya. Seperti Untara, wira Sanjaya pun ternyata seorang anak yang rajin dan tekun. Terlebih lagi kini ia mendapat bimbingan dari Ki Widura, adik dari kakeknya Ki Sadewa.
Setelah mandi pagi dan sesuci, mereka pun masing-masing menunaikan kewajibannya kepada Yang Maha Agung. Setelah itu, seolah-olah berjanji mereka turun ke halaman dan berjalan-jalan menikmati segarnya udara pagi di halaman Istana Kepatihan.
Tak berapa lama mereka melihat Ki Patih yang baru turun dari pendapa dengan ditopang tongkat kayu hitam yang gagangnya diukir dengan kepala naga raja.
—Apakah Ki Patih sudah merasa sehat kembali—tanya Ki Untara.
—Ya Syukurlah, Untara. Aku sudah sehat. Tapi sesehat-sehanya orang tua seperti aku ini, ya tetap diincar oleh berbagai penyakit. Kelak kalau kau menjadi setua aku, kau akan merasakan hal serupa—ujar Ki Patih.
—Iya Ki Patih. Hal itu sudah merupakan kodrat manusia. Manusia itu lahir, hidup, besar, dewasa, mencapai puncak kejayaannya, lalu surut, menurun, menjadi tua dan akhirnya akan kembali kepada Yang Maha Agung—kata Agung Sedayu.
—Iya Ki Patih. Selama orang itu bernama manusia, ia tidak bisa terlepas dari kodratnya. Kalau orang itu lahir dan besar, tapi tanpa pernah mati tentu dunia ini akan penuh dengan orang-orang tua yang usianya mencapai ratusan tahun—kata Swandaru.
—Itulah hakekat kehidupan. Lahir, hidup, mengisi peradaban, lalu tua dan akhirnya mati. Peradaban itu bergeser dari zaman ke zaman, bersama dengan bergeraknya bumi mengitari sang surya. Pagi bergeser menjadi siang, siang bergerak menjadi sore, sore menjadi malam. Malam menjadi fajar. Fajar menjadi subuh. Subuh menjadi pagi dan begitu seterusnya.—kata Ki Patih Mandaraka pula.
Lalu katanya melanjutkan—Begitu pula kerajaan di nusantara ini, mulai dari Kalingga, Mataram kuno, Sriwijaya, Kediri, Singasari, Majapahit, Demak, lalu sekarang menjadi Mataram.—
–Semua itu seakan-akan gumpalan awan-awan putih yang bergerak berarak-arak di atas langit. Kalau awan itu putih, maka cuaca akan cerah. Langit pun menjadi indah. Tapi adakalanya pula awan hitam yang bergerak di langit. Awan itu berwarna hitam, karena mengandung butir-butiran air, yang pada suatu saat menurunkan hujan. Hujan pun bisa mendatangkan baik berkah maupun bencana. Hujan itu mendatangkan berkah bagi petani, karena bisa mengairi daerah persawahan dan menghidupi padi-padi yang baru mereka tanami. Itu kalau hujan itu turun secara normal, dalam arti tidak sedikit namun juga tidak berlebihan.
Jika hujan itu turun berlebihan, bisa menimbulkan bencana, mulai dari menenggelamkan areal persawahan. Menyeret apa saja yang dilaluinya bahkan memporakporandakannya.
Kembali ke hakekat awan itu, kalau boleh kuibaratkan peradaban manusia itu sendiri. Semuanya itu silih berganti mewarnai bumi ini, dan pada akhirnya akan sirna tersapu angin yang kencang.
Kalaupun ada bekas-bekas yang ditinggalkannya adalah berupa candi-candi yang merupakan pertanda kebesaran sejarah suatu peradaban. Sebagai misal, di dekat lingkungan kita ini terdapat sebuah candi yang terletak di desa Prambanan. Kita tidak tahu, berapa lama suatu peradaban membangunnya. Lima, sepuluh, dua puluh tahun? Yang jelas, pekerjaan itu dilakukan oleh suatu tatanan yang ajeg, tatag, dan mempunyai ketabahan dari generasi ke generasi.
Untuk mendirikan Mataram ini saja sudah dibutuhkan waktu bertahun-tahun. Mulai dari membabat Alas Mentaok, mulai membuat patok-patok, membangun jalan-jalan raya, selokan-selokan, bendungan-bendungan, lahan pertanian, gedung-gedung, dan segala kelengkapannya. Semua itu merupakan batu dasar bagi pertumbuhan Mataram untuk seterusnya. Tugas itu sudah dilaksanakan oleh Ki Gde Pemanahan, aku, dan para sesepuh Mataram lainnya. Ki Patih menghela nafas, lalu melanjutkan.
Nah selanjutnya, maka tugas kalianlah untuk membangkitkan Mataram agar menjadi negeri yang kuat, kokoh dan tahan menghadapi segala badai sejarah. Oleh karena itu, sangat tepat istilah para tetua dan sesepuh negeri ini dari segala zaman, bahwa kalau suatu negeri ingin damai maka harus bersiap-siap untuk berperang.
–Kenapa kalau kita ingin damai harus bersiap-siap untuk berperang? Bukankah hal itu suatu hal yang bertolak belakang? Kalau diibaratkan dengan masa kanak-kanak kita. Ketika itu ada saja anak-anak nakal yang selalu mengganggu kawannya. Jika ada anak yang rajin belajar atau menekuni sesuatu, maka niat anak yang sungguh-sungguh itu akan terganggu karena ulahnya. Tetapi jika anak yang rajin dan bersungguh-sungguh itu badannya besar dan tenaganya kuat, maka anak nakal tadi tidak berani menganggunya.
Begitu pula dalam ukuran yang lebih besar. Dalam bentuk negara atau kerajaan. Kerajaan yang kuat akan bisa membangun negerinya dengan aman jika mempunyai kekuatan pasukan yang besar. Hal ini sudah pernah dialami oleh Mataram yang mengalami guncangan akibat berbagai pertarungan kepentingan, seperti sisa-sisa laskar Jipang yang hendak membangkitkan kekuatan bekas pasukan Macan Kepatihan, lalu Madiun, Demak dan sekarang Panaraga yang hendak membangkitkan sisa-sisa kejayaan masa lalu dari trah Majapahit.
Semua itu membutuhkan perhatian kita, agar proses pembangunan kerajaan Mataram yang kuat dan bisa bangkit di jajaran pulau-pulau nusantara bisa terlaksana. Kita hanya bisa bangkit, kalau kita bisa membangun pasukan darat yang kuat, armada laut yang kuat dan perdagangan yang ramai, agar bisa mendukung kemampuan keuangan negara untuk menggalang kekuatan itu. Tanpa mempunyai suatu sistem tata laksana keuangan yang kuat, maka sejarah akan terulang kembali.
Kalian tentu ingat betapa Majapahit dahulu runtuh, karena para pejabatnya hidup terlalu bermewah-mewahan, berpesta pora dan melupakan kehidupan rakyat kecil. Rakyat diperas dengan upeti dan pajak yang mencekik leher, namun tak ada pasukan yang kuat untuk mengamankan keadaan negeri. Yang terjadi adalah kezaliman di mana-mana. Pencurian, perampokan, perkosaan, perjudian dan segala penyakit masyarakat tumbuh dan berkembang subur.
Akibatnya apa? Rakyat tidak suka kepada pemerintahan. Mereka dengan segera beralih ke Demak, karena mereka anggap Demak akan memberikan pilihan lain bagi kemajuan negeri. Wahyu keraton seakan-akan bergeser ke Demak, ketika negeri itu dianggap sebagai pembaharu. Namun sejarah kembali berulang. Kini wahyu keraton dianggap bergeser ke Mataram. Dan menjadi tugas kalian lah di masa datang harus menjaga agar wahyu keraton itu tetap dianggap berada di Mataram?
–Apakah yang dapat kami lakukan agar wahyu keraton tersebut dianggap tetap berada di Mataram, Gusti Patih—tanya Untara.
—Ya seperti aku katakan tadi. Kalau mau damai bersiaplah untuk perang. Dalam keadaan perang dan damai, pasukan darat dan armada laut yang segera dibangun oleh Agung Sedayu, harus paling kuat di tanah ini. Dengan pasukan darat dan armada laut yang kuat, maka tidak akan ada negeri yang berani mengganggu Mataram. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung.
Tanpa terasa mereka cukup lama berbincang. Sesaat kemudian seorang abdi dalem mempersilakan mereka bersantap pagi. Agung Sedayu yang merasa dekat dengan Ki Patih Mandaraka, segera menuntun orang tua itu untuk berjalan menuju ruang tengah untuk menikmati santapan pagi yang telah tersedia.
Dengan tertatih-tatih Ki Patih berjalan. Dan meskipun lambat, akhirnya mereka sampai di meja makan dan setelah Ki Patih mempersilakan, mereka makan dengan lahap. Setelah selesai, mereka mulai berkemas-kemas untuk hadir dalam Pisowanan Agung yang digelar di paseban. Agung Sedayu dan Untara menggunakan pakaian lengkap keprajuritannya, sedangkan Swandaru Geni yang bukan prajurit menggunakan pakaian lengkap adat jawa. Sebilah keris diselipkannya di pinggang.
Ketika mereka memasuki paseban, maka di ruangan yang besar itu sudah mulai terisi dengan para undangan yang harus hadir dalam Pisowanan Agung tersebut. Beberapa petugas segera menyambut mereka. Ki Tumenggung Untara dan Ki Rangga Agung Sedayu segera menempati tempat yang disediakan di sayap kanan gedung, sedangkan Ki Swandaru Geni ditempatkan di sayap kiri.
Ketika semua tempat telah terisi, maka Panembahan Hanyakrawati, didampingi Pangeran Purbaya, Ki Patih Mandaraka dan para petinggi pemerintahan di Mataram memasuki ruangan yang besar itu.
Semua yang hadir menyampaikan sembah pangabekti, sampai Panembahan Hanyakrawati duduk di dampar kencana yang berada di panggungan yang agak tinggi. Di kiri kanannya, duduk Ki Patih Mandaraka dan Pangeran Purbaya. Agak di belakang berjajar para petinggi pemerintahan. Sedangkan di kiri kanan agak ke pinggir, duduk para perwira prajurit yang mempunyai kedudukan agak tinggi.
Acara Pisowanan Agung itu pun segera dimulai. Ternyata Pisowanan Agung kali ini adalah acara khusus untuk melantik dan menyerahkan serat kekancingan bagi para prajurit dan para kepala wilayah kademangan yang mendapat pangkat istimewa setara dengan prajurit, karena pengabdian mereka yang tulus, jujur dan teruji dalam waktu lama sejak berdirinya Mataram.
Acara itu dibagi menjadi dua, pertama penyerahan serat kekancingan kepada para prajurit yang mendapat kenaikan pangkat dan jabatan. Ada dua puluh prajurit yang mendapat kenaikan pangkat dan jabatan tersebut, termasuk di antaranya Ki Tumenggung Untara yang mendapat kedudukan sebagai Panglima Pasukan Wira Tamtama berkedudukan di Kotaraja, dan Ki Rangga Agung Sedayu yang karena jasa-jasanya yang sangat besar bagi negara diberi kenaikan pangkat luar biasa langsung menjadi tumenggung. Ki Agung Sedayu masih membawahi pasukan khusus di Tanah Perdikan Menoreh, yang meliputi pasukan khusus darat dan pasukan khusus armada laut yang kini tengah dibangunnya.
Karena Ki Tumenggung Untara menduduki jabatan baru sebagai Panglima Wiratamtama, maka jabatannya sebagai pimpinan pasukan di wilayah Selatan diserahkan kepada Sabungsari yang mendapat kenaikan pangkat menjadi rangga.
Semua hadirin yang mendengar pengumuman kenaikan pangkat dan jabatan itu terperanjat, meskipun mereka tidak berani berkata apapun. Sebab keputusan itu adalah langsung diambil oleh Panembahan Hanyakrawati. Dan hal itu adalah Sabda pandita ratu. Sesuatu yang tidak dapat ditolak atau dipertanyakan.
Sedangkan para kepala wilayah kademangan—termasuk Ki Swandaru Geni—mendapat pangkat istimewa sebagai lurah prajurit meskipun ia tidak membawahi prajurit. Sebab pasukan pengawal Kademangan Sangkal Putung adalah pasukan yang kuat, yang jasa dan pengabdiannya sudah teruji sejak menghadapi pasukan Jipang di masa kerajaan Demak. Dalam setiap peperangan pasukan pengawal Kademangan Sangkal Putung selalu ikut membaktikan tenaga, jiwa dan raganya bagi tegaknya kerajaan Mataram. Anugerah itu diterimakan kepada Ki Swandaru Geni, karena ayahnya yang semula menjadi Demang Sangkal Putung, sudah uzur dan tidak lagi dapat melaksanakan tugas-tugasnya karena masalah usia tadi.
Dengan demikian, Ki Swandaru Geni mendapat dua hal. Pertama menggantikan ayahnya sebagai demang dan yang kedua mendapat pangkat lurah prajurit atas jasa-jasanya dalam membela Mataram.
Ternyata ada dua puluh kademangan di sekitar Mataram yang mendapat kedudukan istimewa karena demangnya mendapat pangkat lurah prajurit.
Setelah selesai pelantikan dan penyerahan serat kekancingan itu, maka Panembahan Hanyakrawati menyampaikan sambutan atau sesorah. Panembahan Hanyakrawati pertama-tama menyampaikan ucapan selamat kepada semua orang yang mendapat anugerah itu.
Selanjutnya Panembahan Hanyakrawati menyatakan bahwa anugerah itu merupakan bukti perhatian kerajaan Mataram terhadap orang-orang yang telah membaktikan dirinya bagi Mataram dengan siap mengorbankan darah, jiwa dan raganya bagi kemajuan Mataram.
Ternyata pemikiran Panembahan Hanyakrawati senada dengan pemikiran Ki Patih Mandaraka tadi pagi, yang menyatakan bahwa jika suatu negara seperti Mataram ingin damai, maka harus bersiap-siap untuk perang. Kedamaian di tlatah tanah ini harus ditegakkan dengan kekuatan senjata dan ilmu olah kanuragan. Tanpa kekuatan senjata dan ilmu olah kanuragan yang mumpuni, maka kedamaian itu tidak akan bisa ditegakkan.
Sebab jika kekuatan senjata dan kemampuan ilmu olah kanuragan itu dimiliki oleh para perampok atau penyamun, maka kedamaian itu menjadi milik mereka. Dan rakyat yang tertindas oleh kekuatan dan ilmu olah kanuragan para perampok atau penyamun, tidak akan bisa menikmati hidup yang tenteram, aman, damai dan sejahtera. Mereka hanya menjadi bahan pemerasan oleh para perampok dan penyamun yang ingin hidup enak tanpa harus mengucurkan keringat.
Oleh karena itu, Panembahan Hanyakrawati meminta kepada para prajurit untuk terus meningkatkan kemampuannya untuk mesu diri dalam ilmu olah kanuragan dan mesu diri dalam olah sastra dan tata pemerintahan. Sehingga jika pada waktunya mereka menjabat suatu kedudukan tertentu dalam keprajuritan maupun dalam pemerintahan, mereka sudah siap dan tidak terkejut lagi.
Panembahan Hanyakrawati kembali mengingatkan akan kebesaran kerajaan Majapahit yang kini sudah pudar.
—Kita bisa belajar dari kebesaran kerajaan Majapahit, bahwa kerajaan itu pernah memiliki soko guru utama yang menopang kejayaannya, yaitu kemampuan luar biasa yang dimiliki Mahapatih Gajahmada yang mumpuni dalam bidang olah kanuragan, namun juga mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam tata pemerintahan.—ujarnya.
Terlepas dari baik buruknya dan itu bersifat manusiawi, Gajahmada dan Majapahit seolah-olah satu kesatuan yang tidak bisa dilepaskan, selain Raja-Raja besar yang pernah dimiliki Majapahit seperti Raden Wijaya, Prabu Hayam Wuruk dan lainnya.
—Karena itu, marilah kita bangkitkan Mataram menjadi sebuah kerajaan yang besar yang bisa menguasai seluruh penjuru nusantara. Hal itu bukan semata-mata untuk menunjukkan ketamakan atau keserakahan, melainkan aku ingin Mataram menjadi satu kekuatan yang mampu menegakkan ketertiban dalam masyarakat yang beradab—ujarnya.
—Sebagai penutup, aku mengucapkan selamat bertugas dan bersungguh-sungguhlah dalam mencapai gegayuhan kita dalam mewujudkan Mataram yang kokoh kuat, tidak lekang oleh matahari dan tidak runtuh oleh badai yang betapa pun kuatnya. Hidup Mataram—ujar Panembahan Hanyakrawati mengakhiri sambutannya.
Demikianlah hadirin dalam Pisowanan Agung tersebut pun membubarkan diri, kecuali Ki Untara, Ki Tumenggung Agung Sedayu dan Ki Rangga Sabungsari yang diminta untuk tetap berada di paseban.
Ketika hadirin yang lain sudah bubar, maka Pangeran Purbaya yang menjalankan pemerintahan sehari-hari sejak Ki Patih Mandaraka menderita sakit, menemui Ki Untara, Agung Sedayu dan Sabungsari.
Pangeran Purbaya mengucapkan selamat kepada ketiga orang itu. Kemudian Pangeran Purbaya yang sebelumnya boleh dibilang menjabat Panglima Wira Tamtama Mataram, dengan telah diserahkannya jabatan itu kepada Ki Untara, maka pekerjaan menjadi lebih ringan. Ia kini bisa memi\usatkan perhatiannya kepada tata pemerintahan. Sedangkan urusan keprajuritan diserahkannya kepada Ki Untara.
Namun karena Ki Untara tadinya pimpinan pasukan Mataram di wilayah Selatan berkedudukan di Jati Anom, maka Ki Untara harus kembali ke Jati Anom untuk menyerahkan jabatannya itu di depan anggota pasukannya. Karena itu Ki Untara dan Ki Rangga Sabungsari mendapat tugas untuk berangkat ke Jati Anom untuk melakukan serah terima jabatan.
Untuk selanjutnya Ki Untara kembali ke Kotaraja untuk mulai menduduki jabatannya sebagai Panglima Wira Tamtama. Banyak hal yang harus dilakukan untuk membenahi tata keprajuritan, termasuk kesejahteraan mereka, meningkatkan kemampuan tempur pasukan dengan berbagai latihan-latihan.
Sedangkan kepada Ki Tumenggung Agung Sedayu, Pangeran Purbaya minta agar segera diwujudkan pembangunan armada laut Mataram.
Demikianlah keesokan harinya, setelah meminta diri kepada Panembahan Hanyakrawati, Pangeran Purbaya dan Ki Patih Mandaraka, maka Ki Untara dan Ki Rangga Sabungsari berangkat ke Jati Anom. Karena kedudukannya yang baru sebagai Panglima Wira Tamtama, maka kepergian Ki Untara dikawal oleh dua puluh prajurit berkuda.
Sedangkan dalam arah yang lain Ki Tumenggung Agung Sedayu dan Ki Lurah Swandaru Geni berangkat ke Tanah Perdikan Menoreh untuk menengok adiknya Sekar Mirah yang sedang mengandung.
Ketika matahari memanjat kaki langit setinggi penggalah, setelah meminta diri kepada Ki Patih maka mereka mulai mengikuti jalanan yang menuju ke Tanah Perdikan Menoreh. Mereka mengendalikan kudanya perlahan-lahan sambil menikmati pemandangan. Seperti ketika berangkat, ketika kembali kedua lurah pengawalnya pun mengirinya di belakang. Hanya saja, anggota rombongan mereka bertambah karena Ki Lurah Swandaru Geni ikut dalam rombongan itu.
Demikianlah tidak ada halangan yang berarti dalam perjalanan ke Tanah Perdikan Menoreh itu. Ketika sang surya sudah bergeser ke dinding langit di tepi Barat, maka rombongan kecil itu sampai di Tanah Perdikan Menoreh. Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta langsung membelok ke barak pasukan khusus dan Ki Tumenggung Agung Sedayu dan Ki Lurah Swandaru, langsung menuju padukuhan induk.
Mereka langsung menuju ke rumah Agung Sedayu. Agung Sedayu sudah tidak sabar, seakan-akan ingin meloncat langsung masuk ke dalam rumahnya, ketika dari jauh ujung atap rumahnya sudah terlihat. Akhirnya mereka sampai ke regol halaman, Agung Sedayu dan Swandaru segera turun dari punggung kudanya.
Sukra yang sudah menjelang dewasa segera menyambutnya, ia berteriak gembira lalu menyalami Agung Sedayu dan Swandaru berganti-ganti lalu mencium tangannya. Teriakan Sukra yang cukup keras itu menarik perhatian penghuni rumah lainnya. Ki Jayaraga keluar dari pintu dan Nyi Sekar Mirah menyusul di belakangnya.
—Kakang Swandaru—kata Nyi Sekar Mirah sambil berjalan tergopoh-gopoh dengan perutnya yang semakin membesar. Nyi Sekar Mirah memeluk kakaknya dan meneteskan air mata harunya, karena telah lama tidak berjumpa.
—Kandunganmu sudah besar Mirah—kata Swandaru Geni.
—Iya kakang. Sudah delapan bulan—kata Nyi Sekar Mirah.
—Sebentar lagi Swantara akan punya adik teman sebagai bermain—kata Ki Swandaru sambil tertawa senang.
—Sekarang Swantara sudah bisa apa kakang—tanya Nyi Sekar Mirah.
—Wah Swantara semakin nakal saja, ia sudah berlari-lari ke sana kemari, sehingga merepotkan ibunya dan emban pemomongnya. Bahkan ia sudah bisa memanjat pepohonan yang ada di halaman rumah dan rumah tetangga—jawab Swandaru.
—Oo ya, bagaimana dengan kakangmbok Pandan Wangi? Apakah ia dalam keadaan sehat walafiat?—tanya Nyi Sekar Mirah.
—Kakangmbokmu sehat-sehat saja. Begitu juga ayah Demangdan Ibu—katanya.
—Oo syukurlah. Rasanya sudah hampir setahun aku tidak berjumpa dengan ayah dan ibu—kata Nyi Sekar Mirah.
—Ya. Mudah-mudahan mereka sehat dan bisa menengokmu kemari, jika kelak anakmu lahir—kata Ki Swandaru. Mereka kemudian naik ke pendapa dan duduk di atas tikar pandan yang dianyam halus. Tidak lama kemudian Sukra muncul dengan membawa makanan kecil dan minuman di atas talam.
Ki Jayaraga, Ki Agung Sedayu dan Ki Swandaru kemudian duduk melingkar sambil menikmati hidangan yang disediakan Sukra. Setelah menghindangkan makanan kecil dan minuman Sukra kembali ke dapur dan membantu Nyi Sekar Mirah menyiapkan makanan bagi mereka.
Ki Agung Sedayu kemudian menceriterakan pengalamannya sejak berangkat ke Mataram, dicegat oleh orang-orang perguruan Windu Jati dari Panaraga dan cerita kenaikan pangkatnya menjadi tumenggung.

—Sungguh pengalaman perjalanan yang luar biasa ngger—kata Ki Jayaraga.

—Ya. Berkat aji Kendali Sukma yang Ki Jayaraga berikan, aku bisa melumpuhkan kedua lawanku, tidak membunuhnya—kata Ki Agung Sedayu.

—Pangeran Purbaya melihat langsung pertarungan itu dan melaporkannya kepada Panembahan Hanyakrawati, sehingga beliau mengambil keputusan lain setelah mengetahui kemampuanku—kata Ki Agung Sedayu.

—Apakah yang kau maksudkan dengan keputusan lain?—tanya Ki Swandaru.

—Semula Panembahan akan meningkatkan pangkatku menjadi panji seperti beliau sampaikan kepadaku ketika aku menghadap dua bulan lalu—kata Ki Agung Sedayu.—Tetapi ketika beliau mendengar ceritera Pangeran Purbaya, maka beliau mengambil keputusan lain yaitu meningkatkan pangkatku menjadi tumenggung—katanya.

—Aku semula sempat khawatir, ketika beliau sempat mengatakan akan mengambil keputusan lain—kata Ki Agung Sedayu.

—Yang tidak kuduga, bahwa adi Swandaru juga mendapat pengangkatan menjadi lurah prajurit, meskipun tidak membawahi pasukan Mataram. Tetapi pasukannya adalah pasukan pengawal Kademangan Sangkal Putung. Itu sungguh merupakan penghargaan yang sangat sulit diduga—kata Ki Agung Sedayu.

—Jadi mulai hari ini, aku harus memanggil anakmas Swandaru dengan Ki Lurah Swandaru Geni?—tanya Ki Jayaraga.

—Benar Ki Jayaraga—kata Ki Lurah Swandaru Geni bersemangat.

—Wah. Wah. Selamat. Selamat. Ki Lurah Swandaru Geni. Alangkah gagah namamu setelah mendapat pangkat keprajuritan—kata Ki Jayaraga. Ki Agung Sedayu pun tersenyum gembira, mendengar ucapan Ki Jayaraga tersebut.

Tidak lama kemudian hidangan segera mengalir dari dapur yang dikeluarkan oleh Sukra. Sejenak kemudian mereka menjadi sibuk menggerumiti makanan yang dihidangkan itu.
Setelah menikmati hidangan itu, Sukra segera membereskan tempat makanan dan minuman itu dan mencucinya di pakiwan.

Ki Agung Sedayu, Ki Swandaru Geni dan Ki Jayaraga, kembali bercakap-cakap tentang pengalaman mereka mengikuti acara Pisowanan Agung di paseban Istana Mataram. Setelah membereskan kesibukannya di dapur, Nyi Sekar Mirah pun bergabung duduk di pendapa. Namun karena perutnya besar, ia tidak bisa duduk di atas tikar. Ia memilih duduk di atas dingklik kecil.

Ki Agung Sedayu pun kemudian menceriterakan kepada istrinya, bahwa kemarin ia telah diwisuda menjadi tumenggung di Istana Mataram. Ki Agung Sedayu pun kemudian menyerahkan serat kekancingan yang diterimanya kemarin kepada Nyi Sekar Mirah. Dengan gembira Nyi Sekar Mirah membaca serat kekancingan itu dan membolak-baliknya. Ia memperhatikan tulisan dalam huruf jawa yang terlihat rapi diatas kertas yang halus.

—Selamat kakang. Selamat. Kakang kini menjadi seorang tumenggung. Lalu bagaimana dengan kakang Untara?—tanyanya.

—Kakang Untara diangkat menjadi Panglima Wira Tamtama. Karena jabatan itu praktis kosong setelah terakhir dijabat oleh Ki Gde Pemanahan pada zaman Demak, yang kemudian disebut Ki Gde Mataram. Selama ini jabatan itu dipegang oleh Ki Patih Mandaraka. Lalu setelah Ki Patih sakit-sakitan, jabatan itu dipegang oleh Pangeran Purbaya. Dengan dipegangnya jabatan itu oleh kakang Untara, maka kakang Untara menyerahkan jabatannya kepada Sabungsari sebagai senapati pasukan Mataram di wilayah Selatan. Sekarang Sabungsari sudah naik pangkat menjadi rangga.—.

—Lalu di manakah kedudukan kakang Untara?—tanya Sekar Mirah.

—Sebagai Panglima Wira Tamtama, maka kelak kedudukan kakang Untara di Kotaraja—katanya.

—Oo. Syukurlah. Kalau ke kotaraja kelak, aku akan bisa berbincang-bincang dengan kakangmbok Nyi Untara—kata Nyi Sekar Mirah.
Ki Agung Sedayu tiba-tiba teringat dengan dua murid utama perguruan Windu Jati yang dilumpuhkannya di tepian Kali Praga. Ia lalu bertanya kepada Ki Jayaraga.

—Menurut Ki Jayaraga apakah perguruan Windu Jati yang ada di Panaraga, akan menaruh dendam kepadaku, karena dua orang muridnya telah aku lumpuhkan dan satu orang lagi tewas kena lemparan belati Ki Lurah Darma Samudra—tanya Ki Tumenggung Agung Sedayu.

—Aku rasa memang akan demikian, ngger—kata Ki Jayaraga.
Pertama, karena ini menyangkut sesama perguruan yang satu aliran. Yang kedua, dua orang murid utama itu bisa dilumpuhkan sehingga akan menjadi sumber keterangan yang berharga. Ketiga, gurunya tentu akan turun ke tlatah Menoreh ini untuk mencari Angger.

—Karena itu, kalau boleh, aku ingin menyarankan agar Nyi Sekar Mirah diungsikan ke rumah Ki Gde, karena dengan membawa dendam yang demikian besar, bukan tidak mungkin guru dari perguruan Windu Jati di Panaraga itu melepaskan dendamnya kepada siapa saja yang ada di rumah ini.—katanya.

—Jika demikian nanti akan aku sampaikan kepada Ki Gde, mengenai kemungkinan pembalasan dendam dari perguruan windu Jati di Panaraga kepada siapa saja yang ada di rumah ini—kata Ki Agung Sedayu. Lalu ia bertanya.—Apakah Ki Jayaraga pernah mendengar perguruan Windu Jati yang ada di Panaraga?—

—Aku baru mendengar bahwa ada perguruan Windu Jati di Panaraga. Setahuku perguruan Windu Jati ada di Madiun, yang sudah pernah angger kunjungi beberapa waktu lalu.—kata Ki Jayaraga.
Setelah selesai membicarakan berbagai masalah, maka Ki Agung Sedayu minta diri untuk menghadap Ki Gde Menoreh.

—Apakah adi Swandaru akan pergi bersamaku menghadap Ki Gde?—tanya Ki Agung Sedayu.

—Baiklah. Aku akan pergi bersamamu ke rumah Ki Gde—kata Ki Swandaru. Sebelum berangkat, ia sempat memberitahukan kepada Nyi Sekar Mirah mengenai kepergiannya bersama Ki Swandaru ke rumah Ki Gde.

—Baiklah kakang. Sampaikan salam hormatku kepada Ki Gde—kata Nyi Sekar Mirah.
Dalam waktu tidak terlalu lama mereka telah sampai di rumah Ki Gde Menoreh. Ki Gde yang melihat kedatangan Ki Agung Sedayu dan Ki Swandaru segera tergopoh-gopoh menyambutnya.

—Oo anakmas Swandaru. Kapan anakmas tiba?—tanya Ki Gde Menoreh menyambut menantunya.—Apakah anakmas datang bersama dari Mataram bersama anakmas Agung Sedayu?—.

—Iya Ayahanda. Aku baru datang dari Mataram bersama kakang Agung Sedayu—jawab Ki Swandaru.

—Mari. Mari silakan duduk di pendapa—kata Ki Gde Menoreh. Setelah saling menanyakan keselamatan masing-masing, maka Ki Swandaru mulai menceriterakan undangan yang diterimanya dari Istana Mataram. Ternyata ia yang menggantikan ayahnya Ki Demang Sangkal Putung yang mengundurkan diri karena faktor usia, mendapat pangkat lurah prajurit Mataram meskipun ia tidak membawahi pasukan prajurit Mataram.

—Kehormatan itu aku terima karena aku pemimpin pasukan pengawal Kademangan Sangkal Putung, dan kini menjadi pelaksana harian Demang Sangkal Putung—katanya.

—Syukurlah kalau demikian—kata Ki Gde Menoreh.—Mengenai kakang Agung Sedayu, biarlah kakang sendiri yang menceriterakannya kepada Ki Gde Menoreh—katanya.
Ki Agung Sedayu pun kemudian menceriterakan pengalaman perjalanannya bersama dua orang lurah prajurit. Di tengah perjalanan, di tepi Kali Praga ternyata ia harus bertempur dengan dua murid utama perguruan Windu Jati dari Panaraga.
Dua orang berhasil dilumpuhkan, seorang tewas dan seorang lagi melarikan diri.

—Yang aku khawatirkan adalah aksi balas dendam dari saudara seperguruan Ki Bargas dan Ki Bergawa itu, karena jika aku ke barak, Sukra ke banjar kademangan induk dan Ki Jayaraga ke sawah, maka yang ada di rumah hanya Nyi Sekar Mirah—kata Ki Agung Sedayu.

—Tentu mereka bisa melepaskan dendam kepada siapa saja yang ada di rumah, apalagi istriku dalam keadaan hamil besar—katanya.

—Jadi apa yang dapat aku lakukan, anakmas?—tanya Ki Gde Menoreh.

—Untuk menghindari kemungkinan yang tidak diharapkan, untuk sementara aku ingin menitipkan Nyi Sekar Mirah di sini, Ki Gde—kata Ki Agung Sedayu.

—Tentu saja aku tidak berkeberatan anakmas—katanya.

—Ini hanya sementara saja Ki Gde, jika besok aku sudah ke barak, aku tentu bisa menugaskan satu dua orang prajurit untuk ikut mengawasi rumah Ki Gde ini dan rumahku—kata Ki Agung Sedayu.

o (Bersambung ke Jilid 402)

buku-iv-100>>| buku-v-02>>


Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 7 Januari 2010 at 10:40  Comments (613)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/bukan-adbm/trackback/

RSS feed for comments on this post.

613 KomentarTinggalkan komentar

  1. nuwun sewu, badhe nderek mampir….
    setelah sekian lama ndak mampir….akhirnya kangen juga…
    satu kejutan ketika ternyata ada “bukan ADBM”. Salut buat Ki Agus, satu karya yang harus diapresiasi…saya sudah baca sampai tulisan terakhir, walau saya merasa ada perbedaan gaya bahasa (justru yg menjadi gaya bahasa khas Ki SHM), tapi bagus sekali…
    Karena penasaran dengan lanjutan ceritannya…saya coba buka di matarambinangkit.com, ternyata harus bayar ya…..nglokro jadinya…
    memang segala jerih payah sdh seharusnya dihargai, entah itu berupa materi atau yg lain.
    jika memang pada akhirnya harus dikomersialkan, memang sudah seharusnya Ki gus harus mendapat ijin dari keluarga Ki SHM (ini menurut saya lho, mohon maaf yg sebesar-besarnya jk salah), sebab dalam tulisan Ki Agus ada mengandung properti milik Ki SHM.

    • Setuju kisanak,hak cipta ADBM sampai saat ini memang belum beralih ke tangan orang lain, sehingga secara hukum segala sesuatu yang berkaitan dengan lanjutan ceritera ADBM (mekipun menggunakan judul lainnya akan tetapi nama tokoh dan karakternya tidak bisa dipungkiri kalau itu merupakan kelanjutan dari ADBM)dalam bentuk cetakan yang diperjual-belikan tidak boleh sembarangan.

      Mohon maaf ki Agus, kami disini hanya sekedar mengingatkan tanpa mengurangi rasa hormat kami atas usaha ki Agus dalam melanjutkan ceritera ADBM. Apalagi seingat saya dulu di koran Kedaulatan Rakyat dalam wawancaranya Ki SH Mintardjo kalau gak salah pernah mengatakan kalau secara garis besar ceritera ADBM sudah diberikan ke penerusnya (keluarga) sehingga kalau sewaktu-waktu beliyau meninggal maka ada yang akan melanjutkan ceritera tersebut.

  2. Tidak ada lagikah cantrik yg dapat melanjutkan adbm di blok BUKAN ADBM, yg dapat dinikmati secara gratis ?

  3. Saya pekan lalu bertandang ke rumah Ki Agus untuk bertatap muka dengan Ki Agus S. Soerono dan hendak membeli Mataram Binangkit jilid 1.
    Saya terperangah, karena di depan rumahnya tertulis Kata-kata: Rumah ini dijual Hub. 021 93 3636 72. Menurut ceritanya, ternyata Ki Agus sedang dalam kesulitan keuangan karena harus menguliahkan anak sulungnya di fakultas kedokteran sebuah PTS. Sekarang anak kedua juga hendak kuliah di fakultas kedokteran. Aset tanah kosong dan mobilnya sudah melayang untuk membiayai anak pertama. Ia belum terpikir untuk mendapat uang dari mana untuk kuliah anaknya yang kedua. Belum lagi kebutuhan hidup sehari-hari. Ki Agus mempunyai empat putera yang semuanya masih sekolah. Gajinya di tempat kerja yang sekarang sama sekali tidak mencukupi untuk biaya sehari-hari. Oleh karena itu Ki Agus hanya bisa mengelus dada mendengar kata-kata pedas yang ditulis di Bukan ADBM. Menurut Ki Agus, para pembaca belum bisa menghargai karya tulisnya. Padahal zaman dulu, orang harus membeli komik karya KI SHM. Buku komik itu tidak didapat secara gratis. Memang para pendiri padepokan berhati sangatmulia dengan membuat padepokan itu secara gratis. Namun apakah Ki Agus bisa hidup apabila karyanya digratisin?
    Saya sebenarnya sering masuk ke Padepokan ADBMcadangan, cuman saya sangat jarang berkomentar. Namun melihat kondisi Ki Agus yang membuat saya trenyuh, saya memberanikan diri untuk menulis surat ini. Maaf Ki Agus, saya tanpa seizin Ki Agus menulis surat ini. Semata-mata karena keprihatinan melihat keadaan Ki Agus. Semoga para cantrik dan punggawa padepokan bisa ikut berbagi dengan Ki Agus. Semacam take and give gitu lho. Kalian bilang-bilang sakaw, sakaw, sakaw, tapi tidak ada perasaan melu handarbeni. Rasa turut memiliki kepedihan yang tengah dialami oleh Ki Agus.
    Sayang sungguh sayang… Kalau Ki Agus tidak bisa menyumbangkan kemampuannya di bidang tulis menulis, karena terbentur masalah ekonomi. Saya rasa Rp 30.000 sebulan tak ada artinya bagi Kisanak semua, apabila dibandingkan dengan kerinduan kita akan cerita-cerita yang dapat dihasilkannya.

    Maaf kalau kata-kata saya terlalu pedas. Bukan maksud saya membela Ki Agus. Tapi benar2 dari rasa keprihatin yang mendalam.
    Salam,

    Raden Panji Klantung

    Ruddy Wijanarko

  4. Wah..wah ternyata ada polemik yang terjadi disini.
    kalau memang ketentuannya seperti itu ya diikuti aja bagi yang mau, yang ndak mau ya gak usah ikut..gitu aja kok repot.
    Salam untuk Ki AS.

    Selamat tinggal sakauw…….mungkin dengan berjalannya waktu kita semua bisa melupakan rasa sakauw, dulu nggak tahu, jadi tahu dan nggak tahu lagi, kayak roda yang berputar.

    • njih ki

  5. Zaman sudah berubah….. Materi atau uang menjadi kebutuhan yg tak dapat dipungkiri, sudah selayaknya kalau suatu karya dihargai dengan cukup. Bagaimana kalau Bukan ADBMnya Ki AS tak usah diterbitkan di ADBMcadangan, terbitkan saja dalam bentuk buku saja, yg mau baca beli saja bukunya. Sudah tentu itupun dgn pembagian Royalti yg pantas untuk keluarga SHM.

  6. Sebenarnyalah setiap karya harus dihargai . Salam kenal,
    Buat ki Agus , tetap semangat , Semangat sore, semangat siang dan semangat malam

    • Kalau mau jujur, setelah baca kelanjutan AdBM yang ditulis Ki Agus, nampaknya koq tidak bisa mengikuti jiwa AdBM-nya Bp. SHM. Banyak hal-hal yang menjadi terasa aneh. Mulai dari alur cerita, karakter tokoh, gaya bahasa, dsb tidak nyambung dengan karya SHM.
      Sehingga saran saya, sebaiknya koq nggak usah dilanjutkan saja, daripada merusak image tokoh-tokoh AdBM.
      Kalau dicermati AdBM karya SHM sarat dengan ajaran cinta kasih baik pada Tuhan, maupun pada segala ciptaannya (lingkungan hidup dan sesama manusia). Jadi daripada merusak kesan terhadap AdBM-nya SHM. sebaiknya jangan dilanjutkan.
      Maaf kalau komentar saya nggak enak,

      • Kelanjutan ceritera yang dibuat oleh bukan penulis aslinya sangat dimungkinkan akan terjadi perbedaan dari segi alur ceritera, gaya bahasa ataupun karakter tokohnya. Biarlah para pembaca ADBM berimajinasi sendiri terhadap kelanjutan ceriteranya.

        Namun demikian usaha Ki Agus untuk melanjutkan ceritera ADBM yang menggunakan istilah Bukan ADBM sangat patut untuk dihargai. Namun demikian jika kelanjutan ceritera tersebut dimaksudkan untuk “dijual” kepada masyarakat maka harus selalu berkoordinasi dengan pihak keluarga bapak SH Mintardja (alm) terutama mengenai alur ceriteranya agar tidak menyimpang dari alur ceritera yang “dikehendaki” oleh penulis aslinya dan juga mengenai perkembangan karakter tokoh-tokoh utamanya (dan juga sudah pasti berkaitan dengan royalty nantinya).

        Selamat berkarya buat Ki Agus atau Ki Agus-Ki Agus lainnya yang bermaksud melanjutkan ceritera ADBM dengan versinya masing-masing.

        Mohon maaf jika ada kata-kata yang tidak berkenan.

        • lhokan judulnya lain”mataram binangkit” jadi mengapa harus minta izin dan mengapa harus dicerca,terus saja mas agus,

  7. Walah sdh lama gak nengok padepokan….
    lha kok sepi banget….apakah ini gara2 Ki AS menerapkan pola bayar bagi yg ingin baca lanjutan ADBM ??

    Pesan silaturahminya hilang gara2 duit…..ternyata antara harapan dan kenyataan gak pernah beriringan.

    Sebenarnya yang bisa bikin rame lagi adalah Ki AS mengirimkan ceritanya lagi ke forum ini dan secara gratis dan ikhlas…mungkin balasannya bukan materi tapi non materi yang mungkin nilainya amat sangat tinggi.

    Salam hangat selalu
    –Rangga yg gak sakti—

  8. selamat sore rekan2, saya telah ikut ketentuan yang dibuat oleh ki agus, tetapi saya mengalami kesulitan untuk membuka lanjutan adbm dan mataram binangkit, apakah saya masuk bulan ini hanya bisa baca yang bulan ini saja jadi terbitan yang lalu-lalu saya tidak bisa baca, atau bisa semua.
    saya coba email ke ki agus belum dijawab.
    bagi rekan2 yang telah memahami cara bacanya tolong kami dikasih informasinya.

  9. Terima kasih Ki Heri,
    Kalau Ki Heri sudah mendaftar, maka Ki Heri bisa membuka semua tulisan yang ada di Mataram Binangkit.com secara lengkap.
    Terima kasih atas perhatiannya.
    Salam
    Agus

    • intinya saya coba cari2 yang ki agus sampaikan belum ketemu.

  10. ADBM memang sarat dengan pesan2 moral, saya baca buku ini dari waktu saya sekolah.walaupun sudah ada yang melanjutkan jalan cerita yang menggantung,namun rasa rasanya banyak kata kata yang kurang pas dan terkesan janggal.jadi seperti baca cerita cerita silat yang lain, memang gaya penulisan ki SHM sangat khas.salam sejahtera untuk semua… RAHAYU

  11. Sbgai dwija dari padepokan terpencil yg rajin baca adbm sejak 1968(msh Smp kls 3)saya salut n mengapresiasi karya ki agus.yg kurang tentu ada tapi tdak akan saya ulas.namun sya tetap menikmati n ikut mendoakan agar bukan adbm ini nti bsa selesai dgn wijang,selamat berkarya ki Agus

  12. Sebelumnya Kuucapkan Salam kepada para sederek2 sanak kadang cantrik Pedepokan ADBM,mudah2an kita Semuanya selalu dapat selalu menjaga silahturahmi dan kerukunan sesama cantrik.
    Mengenai masalah Kelanjutan cerita Sang Resi Ki SHM yg memang sebenarnya masih sangat sangat kita harapkan,dan selalu kita tunggu tunggu,DAN sekarang memang sudah ada yg melanjutkan cerita ini (Ki Agus S ,,Salam buat Ki Agus S)
    Sakbenere aku dhewe yo seneng banget yen iso nyimak kelanjutan kitab iki,walaupun terasa berat yen kudu mbayar,opo pancen aku pelit ora gelem mbayar… hmm…,tp pancen dasare aku ora duwe duit gawe mbayar,,(kondisi pas2an)maaf Ki agus S,mungkin benar pendapat para kadang Cantrik yang menyarankan agar Ki Agus S menjual buku ini dengan menerbitkan dalam sebuah buku,namun memang seyogyanya dengan izin dari keluarga Ki SHM,dan kalaupun Ki Sanak tidak membagikan kelanjutan kitab di Padepokan ini Juga tidak apa2,
    karena memang ini kepunyaan Padepokan ADBM (Ki SHM only).
    mengenai masalah Kisanak yg di ceritakan oleh Ki Branjangan diatas mudah mudahan Kisanak segera dapat mendapatkan jalan keluarnya… Amin..,

    ya…mudah mudahan para cantrik dapat bersabar dalam menghadapi keaadan ini,seperti halnya Kanjeng Sultan Hadiwijaya yang pada mudanya bernama “Mas Karebet” yang dengan pasrah dalam meghadapi jatuhnya Takhta Pajang ( Raja Tanah Jawa ) untuk kemudian berpindah tangan Putra Kinasihnya Raden Sutawijaya
    walaupun secara kewadagan memerangi Mataram,tetapi didalam hati merestuinya.

    Mohon maaf
    salam

  13. MAAF
    SAYA PENGGEMAR BERAT ADBM
    UNTUK KELANJUTAN ADBM SERI V GIMANA YA
    MOHON PENJELASANYA
    DIMANA SAYA BISA MENDAPATKAN TERUSANYA
    TERIMA KASIH

    • Bayar dulu ke ki Agus mas Nanang, sekarang ini gak ada yang gratis 🙂

      • Bener tuh. Susah cari yang gratis. So….. kemana adbmers saat ini?

  14. semoga semakin memahami sejarah bangsa, kearifan-kearifan lokal dari sejarah dan budayanya ….

  15. nyapu mundur dl ahhhhh biar halaman Padepokan bersih,sebelum masuk sanggar trus nanti mlm nengok pliridan……… monggo poro kadang ingkang ngersakaken unjukan,dateng pendopo sampun kasiapaken wedang sere kaliyan jenang alot……

  16. matarambinangkit.com udah expire ya?????

  17. Ada yang mau paste lanjutan mataram binangkit di sini kaga ya???? masalahnya matarambinangkit.com udah ga bisa diakses…. “Penasaran banget nich….”

  18. Mohon dong kiranya lanjutan Mataram Binangkit Buku 404 ke atas dilanjutkan di sini, soalnya matarambinangkit.com udah ga bisa diakses…. terimakasih

  19. matarambinangkit.com udah expire ya?????

    Mohon dong kiranya lanjutan Mataram Binangkit Buku 404 ke atas dilanjutkan di sini, soalnya matarambinangkit.com udah ga bisa diakses…. terimakasih

  20. Ada yg udah update mataram binangkit ga ya??? bagi dong

  21. bagi dong update mataram binangkitnya…

  22. matarambinangkit.com udah expire ya?????

    Mohon dong kiranya lanjutan Mataram Binangkit Buku 404 ke atas dilanjutkan di sini, soalnya matarambinangkit.com udah ga bisa diakses…. terimakasih

    bagi dong update mataram binangkitnya…

  23. matur suwun sampun kesiapaken wedang sere kaliyan jenang alotipun…habis nengok jendela sebelah mataram biangkit, koq sudah ga bisa diakses ya? kemana lagi kuharus mencari kelanjutan ADBM?

  24. Kalau adbmers beralih ke matraram binangkit, dari adbmers jadi mbers donk?

  25. MATARAM BINANGKIT Lanjutan Api Di Bukit Menoreh Karya Ki Agus S. Soerono Seri V Buku 403 Demikianlah mereka berbagi kegembiraan. Namun mereka juga menyadari bahwa kegembiraan mereka atas kenaikan pangkat Ki Agung Sedayu menjadi Ki Tumenggung Jaya Santika, juga menuntut tanggung jawab yang lebih besar. Mereka semua, seluruh pasukan khusus di Tanah Perdikan Menoreh, harus meningkatkan kemampuan ilmu olah kanuragan mereka. Mereka harus bisa mempertahankan kekuatan pasukan khusus Mataram, harus bisa memperluasnya bahkan kalau perlu menguasai sampai ke seberang lautan. Oleh karena itu segala yang ditanamkan oleh Ki Tumenggung Jaya Santika dalam diri mereka, mereka camkan dengan sungguh-sungguh. Mereka juga menyadari bahwa kesatuan dan persatuan Kerajaan Mataram, sesungguhnya hanya kelihatan seperti permukaan air danau yang tenang, bahkan sangat tenang. Namun di bawah permukaan itu, air itu bergolak dengan derasnya. Bahkan mempunyai beberapa pusaran yang kuat yang siap menenggelamkan kapal jung yang mereka tumpangi. Oleh karena itu, para prajurit terutama dari pasukan khusus di bawah Ki Tumenggung Jaya Santika, mempunyai tanggung jawab yang paling berat. Karena setiap waktu pergolakan yang berada di bawah permukaan itu mencuat ke atas, maka mereka harus siap setiap saat untuk mempertahankan kesatuan dan persatuan itu. Bahkan kalau perlu, mereka harus sudah tahu sebelum pergolakan dari pusaran air di bawah permukaan itu mencuat ke atas. Karena itu peranan pasukan telik sandi menjadi sangat penting. Oleh karena itu, kepada para senapati sehari dalam sepekan Ki Tumenggung Jaya Santika memberi arahan mengenai cara-cara peningkatan ilmu kanuragan mereka. Ia memberi bimbingan khusus bagi para senapati tersebut, dan bimbingan khusus itu tidak hanya untuk meningkatkan tenaga cadangan mereka, namun juga sudah merambah ke ilmu jaya kawijayan. Beberapa senapati yang menonjol seperti Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta mendapat gemblengan khusus dari Ki Tumenggung Jaya Santika. Hal pertama yang dilakukan terhadap kedua lurahnya itu adalah meningkatkan kemampuan ilmu meringankan tubuh. Hal ini menjadi perhatiannya, karena sebagai senapati armada laut Kerajaan Mataram, mereka harus bisa berjalan di atas air. Dan untuk bisa berjalan di atas air, tentu saja mereka harus mempunyai kemampuan ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Apabila kemampuan ilmu meringankan tubuh mereka sudah tinggi, maka mereka akan dapat menapak di atas air laut bahkan berlari, seperti saat mereka berjalan di atas tanah. Para senapati itu juga dilatihnya dengan ilmu jaya kawijayan. Ki Tumenggung Jaya Santika setelah mendapat izin dari Ki Jayaraga, juga menurunkan ilmu Sigar Bumi yang sempat dipelajarinya kepada para senapatinya itu. Bahkan Ki Tumenggung sempat mengenalkan para senapati itu dengan Ki Jayaraga, sebagai sumber ilmu yang akan diberikannya kepada para senapati itu. Memang setelah Ki Tumenggung Jaya Santika mempelajari ilmu aji Kendali Sukma dari Ki Jayaraga, ternyata orang tua itu tidak mau tanggung-tanggung dalam menurunkan segala ilmunya. Ki Jayaraga juga menurunkan aji Sigar Bumi yang telah dipelajari Glagah Putih kepada Ki Tumenggung Jaya Santika. “Inilah kakek guru kalian, yang menjadi asal muasal diturunkannya ilmu Sigar Bumi,” kata Ki Tumenggung Jaya Santika. Ki Jayaraga bahkan sempat memberikan petunjuk-petunjuk khusus kepada para senapati yang di bawah pimpinan Ki Tumenggung Jaya Santika. Sehingga dengan demikian para senapati itu pun semakin meningkat tenaga cadangannya, ilmu meringankan tubuhnya dan ilmu jaya kawijayannya. Untuk bisa mencapai tataran yang diinginkan, maka para senpati itu harus menjalani bebagai laku sebagaimana yang dilakukan oleh Ki Tumenggung Jaya Santika. Mereka menjalani tirakat berupa puasa, patigeni dan ngebleng. Ngebleng adalah suatu laku berupa puasa terus menerus dan tidak keluar dari bilik selama melakukan puasa itu. Sedangkan patigeni adalah laku tidak tidur selama menjalani laku tirakat itu. Sungguh suatu laku yang berat. Dalam pada itu, di Kadipaten Panaraga, prajurit telik sandi Glagah Putih dan Rara Wulan terus mengamat-amati Pangeran Ranapati. Namun setelah sekian lama tidak ada pergerakan yang nampak dari Istana Kadipaten, maka mereka bertemu kembali. Glagah Putih, Rara Wulan, Madyasta, Sumbaga, Sungkana dan Ki Darma Tanda bertemu di tempat persembunyiannya yang tidak diketahui oleh Pangeran Ranapati atau anak buahnya. Dalam pertemuan itu, Glagah Putih dan Rara Wulan menyampaikan bahwa sampai detik ini mereka belum mengetahui sampai sejauh mana pergerakan Pangeran Ranapati untuk menggosok Pangeran Jayaraga untuk memberontak kepada Mataram. “Saya rasa harus ada di antara kita yang melapor ke Mataram, dalam situasi yang sangat tidak menentu ini,” kata Glagah Putih. Mereka yang hadir di ruangan itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka setuju dengan pernyataan Glagah Putih bahwa ada di antara mereka yang harus pergi ke Mataram. Tetapi siapa? “Siapakah menurut kalian yang harus kembali ke Kotaraja Mataram untuk melaporkan situasi ini,” tanya Glagah Putih. Ki Madyasta yang paling dituakan di antara mereka pun kemudian berkata. “Kurasa adi Glagah Putih dan adi Rara Wulan saja yang kembali ke Mataram. Karena adi berdua sudah cukup lama berada di Panaraga. Kalian sudah cukup lama tidak kembali ke Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh,” kata Ki Madyasta. Mereka kemudian kembali manggut-manggut. Mereka semua setuju dengan pendapat Ki Madyasta itu. “Benar, kakang Madyasta. Kali ini biarlah kita tugaskan adi Glagah Putih dan adi Rara Wulan untuk kembali ke Kotaraja Mataram,” kata Ki Sungkana. “Aku setuju dengan pendapat kalian berdua. Bukankah sudah cukup lama adi Glagah Putih dan Rara Wulan tidak bertemu dengan Ki Patih Mandaraka,” kata Ki Sumbaga pula. Glagah Putih yang pertama melontarkan pendapat bahwa harus ada yang melapor ke Kotaraja Mataram menjadi terperangah. Ia tidak menyangka bahwa justru dia sendiri yang mendapat tugas untuk kembali ke Kotaraja Mataram. “Bagaimana Wulan? Apakah kau juga sudah rindu kepada ayah dan ibumu?” tanya Glagah Putih sambil menahan senyumnya. Rara Wulan tidak menjawab, ia hanya bergeser merapat dan tangannya menyambar pinggang Glagah Putih yang membuat Glagah Putih meringis kesakitan. “Biar kakang punya ilmu kebal, pinggangmu tidak akan aku lepaskan,” katanya. Dengan wajah yang dibuat memelas, Glagah Putih menghiba-hiba kepada Rara Wulan. “Ampun Wulan. Ilmu kebalku tidak mempan menghadapi ilmu cengkeraman mautmu,” katanya. Kata-kata Glagah Putih itu justru membuat Rara Wulan memperkeras cengkeramannya. Semua yang hadir di ruangan itu pun tertawa melihat ulah mereka berdua. “Sudahlah Wulan. Aku hanya bercanda,” kata Glagah Putih dengan nada bersungguh-sungguh sambil memegang tangan Rara Wulan dan membelainya. Hati Rara Wulan pun menjadi luruh karenanya. Namun pada akhirnya semua yang hadir di ruangan itu sepakat bahwa Glagah Putih dan Rara Wulan yang akan berangkat ke Kotaraja Mataram pada keesokan harinya. Glagah Putih dan Rara Wulan bangun pagi-pagi benar sebelum berangkat. Mereka menunaikan kewajibannya kepada Yang Maha Agung. Rara Wulan masih sempat menanak nasi, memasak sayur dan menghangatkan ayam goreng yang dipotong kemarin. Mereka pun kemudian menyantap sarapan bersama di pendapa. Sedangkan sebagian dari makanan itu dibungkusnya sebagai bekal mereka dalam perjalanan. Setelah selesai sarapan, Glagah Putih dan Rara Wulan pun segera berkemas-kemas. Mereka pun sudah siap untuk berangkat ketika mentari pagi menyembul di ufuk timur. Mereka berdua pun segera berpamitan kepada Ki Madyasta, Ki Sumbaga dan Ki Sungkana serta Ki Darma Tanda. Glagah Putih memilih untuk berjalan kaki untuk kembali ke Mataram. Sedangkan kuda mereka dititipkannya kepada Madyasta, dengan harapan kalau kelak kembali ke Kotaraja Mataram kuda itu dibawa serta. “Wah sekarang tidak ada lagi yang memasakkan sayur bagi kita,” kata Ki Madyasta. Yang lain merasa tergugu. Karena sekian lama mereka berada di Kadipaten Panaraga dalam waktu yang cukup lama. Mereka merasa seperti sudah menjadi saudara. “Wah jangan khawatir. Doakan saja aku selamat dan segera kembali. Nanti aku masakkan lagi sayur kacang panjang, sayur lodeh atau gudeg,” kata Rara Wulan. Namun tanpa terasa setitik air mengembun di pelupuk matanya. Air yang mengembun itu perlahan-lahan berubah menjadi air mata. Rara Wulan tidak tahan dan ia terisak. Betapa pun perkasanya Rara Wulan yang menghadapi para pengikut Pangeran Ranapati, ternyata hati perempuannya tersentuh. Ia menangis dalam isaknya. Akhirnya dengan menebalkan tekadnya, Rara Wulan dapat meredam tangisnya itu. Mereka lalu bersalaman. Lalu perlahan-lahan Glagah Putih dan Rara Wulan meninggalkan pemondokan mereka di tempat yang terpencil itu. Glagah Putih dan Rara Wulan pun melambaikan tangannya. Ki Madyasta, Ki Sumbaga, Ki Sungkana dan Ki Darma Tanda pun melambaikan tangannya. Mereka pun terus memperhatikan kedua sejoli itu yang semakin menjauh dan mengecil, akhirnya hilang di balik tikungan. Glagah Putih dan Rara Wulan terus berjalan. Mereka menapak tilas jalan-jalan yang mereka lalui dulu ketika mereka berangkat dari Kotaraja Mataram dan akhirnya sampai di Kadipaten Panaraga. Hanya saja kali ini mereka berjalan dalam arah yang berlawanan. Mereka pun sempat menengok rumah di tengah hutan, ketika mereka bertemu dan mereguk ilmu olah kanuragan dari Kiai Namaskara. Namun setelah sekian lama mereka tinggalkan jejak di tengah hutan itu tidak nampak sama sekali. Mereka berputar-putar mencari rumah di tengah hutan lebat itu, namun tidak menemukannya. “Aneh sekali kakang,” kata Rara Wulan yang masih penasaran dan berusaha mencari rumah yang dulu sudah mulai reyot. Ketika mereka memasuki hutan itu, masih nampak tanda-tanda yang bisa mengantar mereka ke rumah Kiai Namaskara, bahkan mereka bisa mengenali beberapa pohon yang menjulang tinggi. Namun begitu masuk dalam lindangan hutan yang pepat, mereka kehilangan jejak. “Iya. Perasaanku, kita memasuki lorong di bawah pohon ara ini, lalu berbelok ke kanan. Namun sekarang belokan ke kanan itu sudah hilang tertutup pohon,” kata Glagah Putih. Mereka pun mencoba melingkar ke belakang pohon ara itu, namun mereka tidak dapat menemukan jalan masuk menuju ke rumah itu. Semuanya pepat, gelap pekat, dan tidak ada rongga barang sedikit pun. Namun anehnya hutan itu terasa sunyi. Tidak ada suara cenggeret, monyet atau kampret yang terbang. Sepi. Di kejauhan masih terdengar auman suara harimau. Namun lamat-lamat. Akhirnya Glagah Putih memutuskan untuk tidak meneruskan mencari petilasan Kiai Namaskara itu. Ia pun mengajak Rara Wulan untuk berdoa bagi Kiai Namaskara, meskipun mereka tidak menemukan kembali rumahnya. Mereka berniat meneruskan perjalanan meskipun tidak menemukan rumah Kiai Namaskara di tengah hutan yang sudah berubah itu. Setelah berdoa dan mempunyai ketetapan hati demikian, maka Glagah Putih mengajak Rara Wulan untuk keluar dari hutan itu. Mereka pun kembali menelisik jalan yang mereka tempuh semula untuk memasuki hutan itu, untuk kembali keluar. Tidak berapa lama mereka sudah sampai di tepi hutan. Di tepi hutan itu ternyata ada sebuah sungai yang airnya sangat jernih, sehingga nampak ikan yang berenang di dasar sungai itu. Melihat air yang jernih dan kebetulan perut mereka sudah mulai terasa lapar, maka Rara Wulan mengajak suaminya untuk berhenti sejenak. Sambil berjuntai di atas sebuah batu hitam yang besar, mereka menikmati bekal yang mereka bawa. “Apakah aku boleh berenang di sungai ini, kakang?” tanya Rara Wulan. “Boleh. Apakah kau ingin berenang di siang yang panas ini? Bukankah kau tadi pagi sudah mandi di rumah?” tanya Glagah Putih. “Iya. Tadi aku ingin berenang. Sangat ingin. Tetapi setelah mendengar pertanyaanmu, aku membatalkan niatku,” kata Rara Wulan. “He? Kenapa?” “Tidak. Tidak kenapa-kenapa.” Mata Rara Wulan nampak mulai mengembun dan setitik air hampir menetes dari sudutnya. Tiba-tiba Rara Wulan meloncat dan berlari sekencang-kencangnya. Karuan saja Glagah Putih menjadi terkejut. Ia buru-buru membenahi kampil Rara Wulan yang ditinggalkan begitu saja. Kampil itu tadi dipakai untuk menyimpan bekal mereka. Setelah masuk dengan rapi, ia segera berlari mengejar Rara Wulan. Namun Rara Wulan sudah lenyap di tengah lebatnya hutan. Glagah Putih pun mulai berteriak-teriak memanggil. “Wulan. Wulan. Di mana kau? Maafkan kalau kata-kataku ada yang salah,” kata Glagah Putih. Glagah Putih merasa heran, kenapa belakangan ini Rara Wulan menjadi sedikit lebih perasa daripada biasanya. Ia pun mencari ke sana kemari, menubras-nubras di tengah lebatnya hutan itu. Setelah sekian lama Rara Wulan tidak ditemukan juga, maka Glagah Putih pun kini tidak mau kehilangan akal. Ia segera meloncat naik ke sebatang pohon, lalu diam pada salah satu cabangnya. Ditunggunya beberapa saat. Akhirnya dari bawah sebuah pohon ia melihat dedaunan yang bergerak-gerak. Lalu muncul Rara Wulan yang celingak-celinguk. Mencarinya. Glagah Putih diam dan membiarkan Rara Wulan mencarinya. “Kakang. Kakang Glagah Putih. Jangan tinggalkan aku,” teriak Rara Wulan. Glagah Putih bergeming. Kini giliran Rara Wulan yang mencari Glagah Putih di tengah hutan yang lebat itu. Tiba-tiba Glagah Putih melihat seekor harimau yang mengendap-endap mendekati Rara Wulan. Ia tidak sampai hati. Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah tidak ada bandingannya itu, Glagah Putih turun di belakang harimau itu. Ia melempar harimau itu dengan sebuah batu yang mengenai pinggangnya. Harimau itu menggeram dan berbalik arah. Harimau itu merunduk dan mengambil ancang-ancang untuk menerkam Glagah Putih. Glagah Putih pun bersiap-siap menyambut terkaman harimau itu. Sang raja hutan itu melompat tinggi, kuku kedua kaki depannya terjulur lurus-lurus ke depan. Siap mencabik-cabik tubuh Glagah Putih dalam satu kali hentakan. Tentu saja Glagah Putih tidak mau tubuhnya menjadi sarang kuku harimau itu. Dengan cepat ia berkelit ke samping, sambil tangan kanannya menyodok ke dada sang penguasa hutan. Harimau itu kembali menggeram dengan kerasnya. Agaknya ia belum jera. Kembali ia merunduk. “Hati-hati kakang,” terdengar teriakan Rara Wulan yang merasa khawatir melihat suaminya diterkam harimau. Glagah Putih pun bersiaga kembali. Ia pun memasang kuda-kuda yang kuat. Harimau itu kembali merunduk, seperti seekor kucing yang sedang mengincar mangsanya. Kepalanya menempel di tanah dan ekornya mengibas-ngibas. Dengan sepenuh tenaga ia kembali meloncat. Glagah Putih kembali mengelak ke samping. Ketika cakar depan harimau itu sudah melintasi tubuhnya, tendangan yang sangat kuat mengenai kaki belakang harimau itu. Harimau itu kembali menggeram. Namun kali ini geraman ketakutan. Ia segera menyusup ke dalam semak-semak di sebelah Rara Wulan. Rara Wulan yang melihat harimau itu berlari ke arahnya segera bersiaga. Namun harimau itu tidak menghiraukannya dan justru menghindarinya lalu masuk ke dalam hutan. Dengan lincah meskipun terseok-seok karena kena tendangan Glagah Putih, harimau itu pun pergi jauh dan tidak terdengar lagi aumannya. Rara Wulan pun lari mendekat dan memeluk suaminya. “Aku takut kakang,” kata Rara Wulan. “Sudahlah Wulan, harimau itu sudah pergi,” kata Glagah Putih sambil mengelus-elus pundak istrinya. Tiba-tiba perut Rara Wulan terasa mual, dan ia pun menjauh dari suaminya lalu menumpahkan isi perutnya. Segala makanan yang dikunyahnya dalam makan siang di tepi sungai tadi terhambur ke luar. Beberapa kali ia memegangi pinggangnya lalu terbungkuk-bungkuk dan melontarkan kembali isi perutnya beberapa kali. Meskipun cairan yang keluar dari perutnya sudah habis, Rara Wulan masih terbungkuk-bungkuk kembali. “Kau kenapa Wulan? Kau masuk angin?” tanya Glagah Putih. “Tidak kakang. Aku sudah terlambat satu bulan,” kata Rara Wulan. “He? Kau sudah isi. Kau sudah mengandung Wulan? Pantaslah kau tadi mudah sekali tersinggung ketika aku tanya mengenai keinginanmu untuk berenang di sungai tadi,” kata Glagah Putih. “Iya kakang. Tiba-tiba saja aku merasa benci melihat kakang,” kata Rara Wulan. “He? Benci? Kenapa kau benci aku?” tanya Glagah Putih. “Iya. Aku benar-benar cinta, kakang,” kata Rara Wulan dengan senyum dikulum. Glagah Putih pun kemudian memeluk istrinya. “Terima kasih sayang. Kau akan memberikan keturunan padaku,” katanya. Lalu ia melanjutkan. “Kalau demikian kita berjalan lambat-lambat saja, agar kandunganmu yang masih sangat muda itu tidak terganggu karena kau kecapekan atau makanan dalam perutmu keluar semua, karena muntah,” kata Glagah Putih lagi. Demikianlah mereka berjalan dengan pelan-pelan, karena kondisi Rara Wulan yang sedang hamil. Perjalanan yang mereka tempuh selama empat hari ketika datang, kini mereka tempuh dalam waktu hampir dua kali lipatnya. Setiap sebentar mereka beristirahat. Bila senja sudah membayang, mereka pun segera mencari penginapan yang layak untuk bermalam. Di suatu desa sebelum sampai di Banyu Asri, mereka bermalam di sebuah penginapan yang terletak dekat pasar. Pagi-pagi sekali Rara Wulan sudah terbangun dan mandi, lalu berhias diri. Glagah Putih yang mendengar kesibukan Rara Wulan segera terbangun. “Hendak ke manakah engkau sepagi ini Wulan?” tanya Glagah Putih. “Aku ingin makan nasi gudeg dan ayam goreng di pasar,” kata Rara Wulan.”Apakah kau ikut?” “Tentu saja aku ikut. Tunggulah sebentar.” Glagah Putih pun segera mandi, menunaikan kewajibannya kepada Yang Maha Agung, lalu mengajak Rara Wulan ke pasar di sebelah penginapan mereka. Mereka pun berjalan pelan-pelan sambil menikmati kesegaran udara pagi, saat sang mentari baru muncul dari balik bukit di ufuk timur. Burung-burung berkicau gembira menyambut sang fajar. Mereka terbang kian kemari sambil berdendang dan menari. Mereka tidak pernah memikirkan, apakah makan yang mereka peroleh hari ini akan cukup hingga petang. Yang penting mereka terbang, menyanyi, menari dan mematuk ulat daun yang tersedia di mana-mana. Asal mereka mau terbang dan mencari, maka ulat dan makanan lainnya terasa berlimpah. Dalam kesejukan udara pagi itulah Glagah Putih dan Rara Wulan terus menapaki jalan menuju pasar yang sudah tidak jauh lagi. Mereka pun sampai di pasar, dan menemukan warung gudeg itu di sudut kiri depan pasar. Mereka masuk ke dalam warung gudeg itu dan memilih duduk di sudut dekat jendela. Udara semilir menyejukkan suasana di warung gudeg itu. Rara Wulan segera memesan nasi gudeg, telur, tempe orek dan tahu bacem cukup untuk dua orang. Rara Wulan memesan dua gelas jeruk hangat. Tidak berapa lama makanan yang mereka pesan pun datang, karena di pagi seperti itu warung gudeg itu belum begitu ramai. Orang-orang masih sibuk menjual dagangannya dan berbelanja kebutuhannya sehari-hari. Biasanya setelah barang dagangannya laku atau pembeli sudah memperoleh apa yang dicarinya, barulah mereka mampir ke warung gudeg itu untuk makan. Glagah Putih dan Rara Wulan pun dapat menikmati makanan yang mereka pesan sambil menikmati pemandangan orang-orang yang berjual beli di pasar. Ketika mereka sedang makan itu, beberapa orang yang kekar memasuki warung gudeg itu pula. Mereka duduk di arah yang berseberangan dengan sepasang suami istri itu di sudut yang lain warung gudeg. Setelah memesan makanan, mereka berceritera dengan riuhnya. Mereka tidak peduli betapa pembeli yang lain merasa terganggu atau tidak. “Kakang Sukarta, bagaimana pandangan kakang mengenai kekuatan dan kesiagaan pasukan khusus Kerajaan Mataram di Prambanan, Kotaraja, maupun di Tanah Perdikan Menoreh?” tanya salah seorang yang gemuk berjambang lebat dan berambut ikal. “Seperti kau lihat, adi Ragil. Ternyata pasukan Kerajaan Mataram semakin kuat saja. Mereka membangun kekuatan di mana-mana. Selain di ketiga tempat itu masih ada lagi tempat pemusatan barak mereka di Galur, khusus untuk prajurit pasukan armada laut mereka,” kata Ki Sukarta. Seperti halnya Ragil, Sukarta juga gemuk berjambang lebat dan berambut ikal. Agaknya mereka dua orang yang bersaudara dan berguru di padepokan yang sama. Ia menoleh ke kiri kanan sejenak. Namun ia tidak menaruh curiga kepada sepasang suami istri yang duduk di sudut dekat jendela. Mereka lihat Glagah Putih dan Rara Wulan makan dengan asyiknya, tidak menghiraukan mereka yang berceritera dengan riuhnya. “Apakah kita akan mencoba mengganggu dan mengacaukan prajurit pasukan khusus itu, kakang?” tanya orang yang disebut Ragil oleh temannya. Sukarta tercenung sejenak. Ia nampak berpikr keras, lalu menjawab. “Aku kira kita tidak usah membuat gara-gara, jangan sampai terulang kembali seperti Gerombolan Gagak Hitam yang ternyata bisa digulung oleh prajurit pasukan khusus Kerajaan Mataram. Padahal Gerombolan Gagak Hitam, termasuk di antara yang terkuat dalam kelompok padepokan yang mendukung gegayuhan Pangeran Jayaraga dari Kadipaten Panaraga,” kata Ki Sukarta. “Bukankah kemarin kita berpapasan dengan Ki Gondang Legi yang hendak kembali ke padepokannya? Ki Gondang Legi sudah menceriterakan secara singkat betapa kuatnya prajurit pasukan khusus Kerajaan Mataram yang ada di Tanah Perdikan Menoreh,” kata Ki Sukarta lagi. Lalu ia menambahkan. “Tugas kita adalah tugas telik sandi. Bukan untuk mengadakan pengacauan atau gangguan keamanan,” katanya tegas. Rekan-rekannya yang lain pun mengangguk-anggukkan kepalanya. “Benar Ki Ragil. Sebaiknya kita tidak membuat masalah dengan prajurit pasukan khusus, agar tidak mengganggu rencana kita secara keseluruhan,” kata rekannya yang lain. Ki Barong Landung. Sesuai dengan namanya orang ini berwajah seram, matanya juling dan badannya tinggi melebihi rekannya yang lain. Glagah Putih dan Rara Wulan yang mendengar pembicaraan mereka menjadi tertarik. Dengan berbisik-bisik mereka berbicara. Mereka berdua telah menyelesaikan makanan yang dipesannya. “Wulan apakah kau setuju apabila aku menangkap mereka semua?” tanya Glagah Putih kepada Rara Wulan. “Mereka berlima kakang. Sedangkan aku masih dalam keadaan lemah karena aku sedang isi, kakang,” kata Rara Wulan. “Tenang saja Wulan aku dapat mengatasi mereka,” kata Glagah Putih. “Setelah kakang berhasil menangkap mereka, apakah kakang akan membawa mereka ke Kotaraja Mataram?” tanya Rara Wulan. “Tentu Wulan. Namun kita akan membawanya sampai di Pajang. Di sana nanti kita serahkan kepada prajurit penghubung yang ada di sana untuk dibawa ke Kotaraja Mataram,” kata Glagah Putih. “Baiklah jika demikian, kakang. Berhati-hatilah,” kata Rara Wulan. Glagah Putih kemudian berdiri dan melangkah menuju meja para telik sandi Kadipaten Panaraga itu. Ia berjalan melingkar-lingkar di sekitar meja tempat duduk mereka. Glagah Putih memperhatikan mereka satu persatu. Ki Sukarta, Ki Ragil, Ki Barong Landung dan dua orang lagi yang disebut temannya bernama Ki Semprong serta Ki Slorog. Agaknya langkah Glagah Putih yang melingkar-lingkar di sekitar mereka membuat kelima orang itu tidak nyaman. “He? Apa yang kau lakukan di sini,” tanya Ki Sukarta. “Aku sedang mencari lima orang telik sandi dari Kadipaten Panaraga. Apakah kalian mengenalnya?” tanya Glagah Putih. “Telik sandi Kadipaten Panaraga?” tanya Ki Ragil. “Ya lima orang telik sandi Panaraga, namanya Ki Sukarta, Ki Ragil, Ki Barong Landung, Ki Semprong dan Ki Slorog,” kata Glagah Putih. “He? Kurang ajar. Kau siapa?” tanya Ki Sukarta. “Aku Glagah Putih. Aku petugas dari Mataram,” kata Glagah Putih sambil menunjukkan timang di pinggangnya yang bergambarkan pertanda petugas dari Mataram. “Kau datang sendiri?” “Ya.” “Kalau kelima telik sandi yang kau cari itu adalah kami, kau mau apa?” “Aku akan menangkap kalian.” “Apakah kau tidak salah, Glagah Putih?” tanya Ki Sukarta lagi.”Kau datang sendiri, kami berlima. Badanmu kecil, kami berlima kokoh kuat.” “Apakah kau memakai tubuhmu yang dempal itu sebagai ukuran?” tanya Glagah Putih. “Hahaha….Hebat. Berani juga kau menghadapi kami berlima. Baiklah kita semua keluar. Supaya warung gudeg ini tidak berantakan. Kita ke lapangan di depan pasar. Di sana tempatnya agak lapang,” kata Ki Sukarta. Mereka berenam pun segera menuju ke lapangan di depan pasar. Suasana di pasar itu pun gempar dan panik, ketika enam orang yang tidak mereka kenal sudah saling menyerang di tengah lapangan yang terletak di depan pasar. Para pedagang yang tidak ingin barang dagangannya menjadi korban, buru-buru menutup warungnya, mengemasi barang dagangannya dan membawanya pulang. Glagah Putih yang seorang diri mulai dikepung oleh kelima orang itu. Mereka masih menggunakan tangan kosong. Dengan mengendap-endap mereka maju menyerang, seperti lima ekor harimau yang mengepung seekor kerbau korbannya. Namun Glagah Putih ternyata bukan seperti seekor kerbau seperti anggapan mereka. Ketika sudah semakin dekat, maka tiba-tiba kelima orang itu maju menerjang. Ki Sukarta menendang, Ki Ragil meninju, Ki Barong Landung menyodok dengan tinjunya, Ki Semprong dan Ki Slorog juga menendang. Mereka merasa akan segera dapat meringkus lawannya itu. Namun kelima orang itu tiba-tiba menjerit kesakitan, ketika serangan mereka saling berbenturan dan Glagah Putih tidak ada di depan mereka. Mereka mengaduh-aduh tidak karuan. “Kenapa kalian saling berbenturan? Aku di sini,” kata Glagah Putih yang ternyata sudah hinggap bak merpati yang terbang ke sebatang cabang pohon randu yang terdapat di tepi lapangan dekat mereka bertarung. Kelima orang itu pun kemudian berusaha menggoyang-goyang pohon randu yang cukup besar itu. “Hahaha. Kalian tidak usah menggoyang-goyang pohon randu seperti itu. Aku segera turun,” kata Glagah Putih. Sementara itu, Rara Wulan yang melihat dari depan warung gudeg itu pun tersenyum melihat ulah kelima orang lawan suaminya. Glagah Putih pun segera meloncat turun dari pohon randu itu. Ia pun kembali bersiaga di tengah kepungan para telik sandi dari Kadipaten Panaraga. Glagah Putih pun sejak dini menyiapkan ilmu kebalnya, karena ia tidak mau menjadi kantong pasir sasaran kelima lawannya. Sebab kalau ia tidak melambari dirinya dengan ilmu kebal aji Tameng Waja, maka kemungkinan akan menjadi sasaran yang empuk bagi lawannya. Glagah Putih pun kemudian menyiapkan kembangan tata gerak ilmu olah kanuragan yang diresapinya dari perguruan Jati Laksana peninggalan Ki Sadewa yang dipadukannya dengan ilmu jaya kawijayan yang diwariskan oleh Ki Jayaraga. Setiap kali serangan lawannya menggempur dirinya, Glagah Putih menghadapinya dengan dada tengadah. Ia tidak lagi meloncat-loncat menghindar. Namun semua serangan lawannya itu dipapakinya. Ia sengaja membentur serangan lawannya. Mula-mula kelima lawannya merasa yakin akan dapat meringkus Glagah Putih dalam waktu singkat. Namun semakin lama mereka semakin heran. Setiap pukulan atau tendangan mereka mengenai bagian-bagian tubuh Glagah Putih, anak muda itu bergeming. Bahkan terasa tangan atau kaki mereka yang membentur bagian tubuh Glagah Putih menjadi nyeri atau ngilu. Bagaikan membentur dinding baja yang tebalnya sedepa. Sedangkan Glagah Putih seperti tidak mengalami apa-apa. Namun lama kelamaan, Glagah Putih juga tidak mau hanya menjadi sasaran. Sekali lagi ia meloncat di atas kepala kelima penyerangnya ketika mereka merandek hendak menyerang secara berbareng. Kini Glagah Putih sudah berada di luar kepungan kelima lawannya. Dengan sebuah sodokan ia menggempur punggung lawannya, Ki Sukarta, yang dianggapnya terkuat di antara mereka. Gempuran di punggung itu ternyata membuat Ki Sukarta terpelanting dan menimpa teman-temannya. Ki Semprong yang masih berdiri di sebelah Ki Sukarta, juga mendapat sebuah tendangan di dadanya, sehingga ia pun terbanting di atas tumpukan teman-temannya. Ki Sukarta segera bangun, meloncat dan menghunus pedangnya. Kawan-kawannya juga melakukan hal yang sama. Kini mereka semua bersenjata. Tentu saja Glagah Putih tidak mau ketinggalan. Ia melolos ikat pinggangnya dan memutar-mutar di atas kepalanya. “Apakah kau tidak membawa senjata selain ikat pinggangmu?” tanya Ki Sukarta dengan nada setengah mengejek. “Ikat pinggangku inilah senjata andalanku,” kata Glagah Putih dengan tenang. Ia tidak terpengaruh oleh ejekan lawannya. Ternyata ikat pinggang itu di tangan Glagah Putih bisa menjadi kaku dan bisa menjadi lentur. Sesekali ia memutar ikat pinggangnya yang menjadi kaku seperti tongkat. Tongkat dari ikat pinggang itu pun berputaran di tangannya, dan mematuk dengan ganasnya seperti seekor ular. Dalam benturan pertama dengan senjata Ki Semprong, terdengar dentingan yang keras. Menimbulkan rasa nyeri di tengan Ki Semprong. Ki Semprong meloncat surut dua langkah. Ia memperhatikan ikat pinggang glagah Putih yang sebentar-sebentar berubah bentuk. Sekali kaku dan sesaat kemudian menjadi lentur sebagaimana ikat pinggang pada umumnya. Ternyata kekuatan tenaga cadangan Glagah Putih mampu mengubah-ubah bentuk ikat pinggang itu. “Luar biasa,” katanya. “Apanya yang luar biasa?” tanya Glagah Putih. “Kau mampu mengubah ikat pinggangmu menjadi seperti benda yang kaku dan liat, sehingga bisa membentur pedangku, dan di saat lain kembali menjadi lentur seperti ikat pinggang pada umumnya,” katanya. “Apakah dengan pengakuanmu itu, berarti bahwa kalian hendak menyerah,” tanya Glagah Putih.. “Tidak. Sama sekali tidak,” kata Ki Sukarta buru-buru. Ki Sukarta tidak ingin menyerah dengan begitu mudah kepada seorang anak muda, meskipun ia memakai timang pertanda sebagai prajurit dari pasukan Kerajaan Mataram. Mereka kemudian mulai mengepung kembali Glagah Putih. Melihat kemampuan Glagah Putih yang demikian besar, mereka pun menjadi semakin berhati-hati. Para telik sandi dari Kadipaten Panaraga itu pun kemudian semakin meningkatkan kemampuan ilmu kanuragannya. Tata gerak mereka demikian gesit, bergerak memutar seperti hendak membuat bingung Glagah Putih. Namun Glagah Putih yang sudah berpengalaman tidak mau dibuat bingung oleh serangan lawannya yang bergerak memutar. Glagah Putih yang sudah menerapkan ilmu kebal aji Tameng Waja tidak perlu merasa khawatir bahwa serangan lawannya akan mampu melukai dirinya. Karena itu, Glagah Putih mulai memperhatikan tata gerak kelima lawannya. Setiap kali berhasil membentur senjata ikat pinggang Glagah Putih, mereka meloncat surut sambil dalam arah yang masih memutar. Sehingga dengan demikian, serangan mereka meliuk-liuk, sekali memukul atau membentur senjatanya, mereka bergerak surut dan kawannya yang lain lah yang maju. Setelah mengamati bentuk serangan mereka yang demikian, Glagah Putih pun kemudian menyerang dengan arah sebaliknya dari arah putaran serangan lawannnya. Dentang senjata semakin sering terjadi. Kembali serangan rasa nyeri menusuk ke tangan kelima lawannya, ketika terjadi benturan senjata. Setiap kali terjadi benturan senjata, mereka berusaha sekuat tenaga memegang pedangnya erat-erat agar senjata itu tidak terlepas dari tangan. Mereka meringis ketika terjadi benturan senjata. Akhirnya Glagah Putih mengambil kesimpulan, bahwa dari kelima orang telik sandi Kadipaten Panaraga hanya Ki Sukarta yang mempunyai kemampuan tenaga cadangan dan ilmu kanuragan yang mumpuni. Sedangkan empat orang kawannya, tidak setinggi ilmu kanuragan yang dimiliki oleh Ki Madyasta, Ki Sumbaga atau Ki Sungkana. Setelah mendapat kesimpulan demikian Glagah Putih ingin menjajaki lebih jauh perlawanan kelima orang lawannya, ia pun selapis demi selapis meningkatkan tataran ilmunya. Tata geraknya semakin ganas dan trengginas, menyerang kelima lawannya. Kalau tadi seakan-akan Glagah Putih yang menjadi kebingungan dengan tata gerak kelima lawannya, maka kini Glagah Putih yang bergerak semakin cepat, membuat kelima lawannyalah yang menjadi kebingungan. Glagah Putih pun meningkatkan tenaga cadangannya setiap kali membenturkan ikat pinggangnya ke senjata lawannya. Setiap kali terjadi benturan, gagang pedang mereka terasa panas. Sehingga rasa nyeri yang menyerang genggaman tangan mereka kini berubah menjadi terasa panas. Setiap kali pedang mereka berbenturan dengan ikat pinggang Glagah Putih, genggaman tangan atas pedang mereka menjadi kian panas. Satu dua kali sabetan ikat pinggang Glagah Putih mulai menimbulkan luka di tubuh para telik sandi Kadipaten Panaraga. Darah pun mulai menetes dari luka-luka yang timbul di tubuh mereka. Pakaian mereka pun mulai berubah warnanya, menjadi bersemu merah. Mereka tidak dapat lagi mempertahankan senjata mereka di tangannya. Akhirnya satu per satu senjata lawannya terlepas. Tinggallah kini Ki Sukarta saja yang masih menggenggam pedangnya. Ketika sebuah tendangan berantai yang dlancarkan kepada keempat kawan Ki Sukarta, maka keempat orang itu jatuh tersungkur. Pingsan. Tinggallah kini Ki Sukarta yang berhadapan dengan Glagah Putih. Ia ingin menangkap Ki Sukarta hidup-hidup sehingga bisa dikorek keterangan tentang jaringan telik sandi yang ada di dalam kelompok mereka. Glagah Putih kemudian terus mendesak Ki Sukarta. Segera saja terjadi pertarungan yang semakin sengit. Ki Sukarta memutarkan pedangnya bagaikan baling-baling. Ia menutup semua lubang pertahanannya, sehingga ujung ikat pinggang Glagah Putih tidak bisa menyentuhnya. Namun setiap kali terjadi benturan ia masih merasakan betapa rasa panasnya yang merembet ke gagang pedangnya. Glagah Putih terus berusaha mengimbangi kemampuan Ki Sukarta. Agaknya Ki Sukarta pun sudah mulai merambah ke lambaran ilmu kebalnya. Karena ia juga tidak mau ujung ikat pinggang Glagah Putih merobek kulitnya seperti yang terjadi pada kawan-kawannya. Demikianlah pertarungan itu semakin lama semakin seru. Glagah Putih yang telah dapat mengukur kemampuan Ki Sukarta pun kemudian mulai meningkatkan ilmu kanuragannya. Selapis demi selapis serangan Glagah Putih mampu menekan ilmu olah kanuragan Ki Sukarta. Hal itu mendorong Ki Sukarta untuk meningkatkan penggunaan tenaga cadangannya. Namun Glagah Putih masih tetap mampu mengatasinya. Hal itu membuat Ki Sukarta pun mulai merambah ilmu pamungkasnya. Aji Segara Mawut. Dari puncak ubun-ubun Ki Sukarta keluar asap putih tipis, Semakin lama semakin tebal dan dengan cepat menyelimuti udara di sekitar dirinya. Ki Sukarta pun nampak semakin pudar bayangannya. Antara ada dan tiada. Glagah Putih yang melihat perubahan keadaan lawannya, segera dapat membaca bahwa lawannya sudah mulai merambah ilmu pamungkasnya. Karena itu, ia pun segera secara perlahan-lahan mulai melambari dirinya dengan aji Sigar Bumi. Ki Sukarta yang sudah merambah ke aji Segara Mawut, membuat pandangan mata Glagah Putih terasa menjadi kabur, karena Ki Sukarta seolah-olah antara ada dan tiada ditutupi oleh selapis kabut tipis yang semakin tebal menghalangi. Menghadapi kenyataan demikian, Glagah Putih pun tidak mau ragu-ragu lagi menggunakan aji Sigar Bumi. Ketika Glagah Putih menghentakkan kedua kakinya ke permukaan tanah, maka terasa bahwa bumi ini berguncang dengan hebatnya. Meski pun Glagah Putih tidak dapat melihat dengan jelas di mana Ki Sukarta berada, namun ia masih dapat menangkap ujung bayangannya. Berdasarkan arah tangkapan ujung bayangan lawannya itulah Glagah Putih menerjangkan hentakan kakinya. Ki Sukarta berusaha berkelit ke samping. Namun Glagah Putih yang melalui ketajaman panggraitanya mampu merasakan di mana lawan berada, segera menghadang dengan hentakan berikutnya ke arah lawannya menghindar. Kembali bumi terasa seperti teraduk-aduk dan berguncang dengan kerasnya. Seperti gempa. Glagah Putih terus menggempur tempat kedudukan Ki Sukarta. Ke mana pun Ki Sukarta bergerak, ke sana arah gempuran Glagah Putih. Akibat gempuran glagah Putih itu, Ki Sukarta yang tidak mencermati arah serangan dari Glagah Putih, akhirnya tidak dapat bertahan. Ia jatuh terbanting. Namun ia masih dapat bergerak, meskipun lemah.. Orang-orang di pasar yang masih mempunyai keberanian, masih melihat meskipun dari kejauhan. Namun setelah kelima orang itu dapat ditaklukkan, maka mereka pun berjalan mendekat. Namun sebelum dekat benar, terdengar derap puluhan kuda yang mengarah ke pasar itu. Setelah sampai, seorang penunggang kuda yang paling depan dengan perawakan tegap, segera turun dari kuda itu. Ia menyibak orang-orang yang berkerumun di lapangan depan pasar. “Kakang Sabungsari?” teriak Glagah Putih lalu mendekati orang yang sudah dikenalnya dengan baik itu. “Oo. Kau rupanya adi Glagah Putih. Aku tengah meronda hingga daerah perbatasan, namun ada orang yang melaporkan bahwa telah terjadi pertarungan di pasar ini satu orang melawan lima orang. Ternyata aku sampai di sini sudah terlambat. Pertarungan ini sudah usai,” kata Sabungsari dengan nada penuh kecewa. “Hahaha….Kakang Sabungsari tidak terlambat. Aku justru ingin menitipkan kelima telik sandi dari Kadipaten Panaraga kepada kakang Sabungsari untuk dikirim ke Kotaraja Mataram. Terus terang aku tidak bisa untuk membawanya ke Kotaraja karena Rara Wulan sedang isi,” kata Glagah Putih. “He? Isi? Maksudmu sedang mengandung?” tanya Sabungsari. “Benar kakang. Rara Wulan sedang hamil, jadi aku menghadapi kelima orang itu sendiri. Aku tahu Rara Wulan sedang hamil, baru kemarin, padahal kami berangkat dari Panaraga sudah tiga hari yang lalu,” kata Glagah Putih. “Baiklah jika demikian. Biarlah aku mengambil alih masalah telik sandi dari Kadipaten Panaraga. Apakah adi sekalian akan tetap berjalan kaki untuk pulang ke Kotaraja Mataram? Kalau boleh aku menyarankan agar kalian pergi berkuda saja. Dua dari kuda yang kami bawa dapat kau pakai untuk kembali ke Kotaraja Mataram. Aku kasihan kalau dalam keadaan hamil, Rara Wulan mesti berjalan kaki sampai Kotaraja Mataram,” kata Sabungsari. “Baiklah aku terima dan sangat berterima kasih atas tawaran kakang itu,” kata Glagah Putih. “Kakang Sabungsari?” tiba-tiba seorang wanita menyeruak dari kerumunan orang yang berada di tepi lapangan itu. “Adi Rara Wulan. Apakah adi sehat-sehat saja,” tanya Sabungsari. “Berkat doa kakang dan perlindungan Yang Maha Agung, aku sehat-sehat saja,” kata Rara Wulan. Lalu ia melanjutkan. “Marilah kakang Sabungsari, mampir sejenak di warung gudeg di tepi pasar itu,” kata Rara Wulan. “Baiklah kita mengobrol di sana sambil minum kopi setelah tidak bertemu lama sekali,” kata Sabungsari. Sabungsari kemudian memerintahkan beberapa prajurit untuk meringkus para telik sandi dari Kadipaten Panaraga. Mereka pun kemudian mengikat kelima orang itu dengan menggunakan tali janget yang kuat sekali. Pemilik warung yang tadi menjadi panik dan ketakutan, karena terjadi perkelahian di tepi lapangan, segera membuka warung gudeg dan barang dagangannya kembali. Mereka semua memesan makanan dan minuman. Matahari sudah memanjat kaki langit semakin tinggi. Sambil menanti pesanan makanan dan minuman, Sabungsari bertanya kepada Glagah Putih dan Rara Wulan yang duduk di hadapannya. “Apakah kalian sudah tahu bahwa kakang Untara diangkat menjadi Panglima Pasukan Wiratamtama?” tanya Sabungsari. “He? Kakang Untara jadi Panglima?” tanya Glagah Putih dan Rara Wulan hampir berbarengan. “Benar. Kakang Untara sejak dua pekan lalu tidak lagi berada di Jati anom, melainkan sudah pindah ke Kotaraja Mataram,” kata Sabungsari. “Wah…wah. Syukurlah. Lalu siapakan yang menggantikan kakang Untara di wilayah Selatan Gunung Merapi?” tanya Glagah Putih. “Aku.” “He? Kau kakang? Kau jadi senapati di wilayah Selatan?” tanya Glagah Putih sambil menyodorkan tangannya. Sabungsari dengan segera menyambutnya dan mereka berjabatan tangan sangat erat. “Syukurlah. Aku mengucapkan selamat atas pengangkatan kakang Sabungsari sebagai seorang senapati di wilayah Selatan,” kata Glagah Putih. “Terima kasih adi. Semuanya berkat doa kalian berdua,” jawab Sabungsari. Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan. “Sekarang apakah rencana kalian? Apakah kalian akan kembali ke Kotaraja Mataram?” tanya Sabungsari. “Benar kakang. Kami akan kembali ke Kotaraja. Tetapi terlebih dahulu kami akan mampir ke Banyu Asri untuk menengok ayah dan ibu. Apakah mereka sehat-sehat saja?” kata Glagah Putih. “Mereka sehat-sehat saja adi.” “Syukurlah.” “Adi berdua, bukan maksudku untuk tidak ingin ngobrol lebih panjang dengan adi sekalian. Tetapi karena tugasku, aku harus meninggalkan kalian. Tawanan telik sandi Kadipaten Panaraga itu, biarlah aku yang mengurusnya. Nanti ada sepuluh orang yang akan mengawalnya sampai Kotaraja Mataram. Adi berdua gunakan saja dua kuda kami untuk kembali ke Banyu Asri. Nanti kuda itu kalian tinggal di Banyu Asri, dan nanti prajuritku akan mengambilnya. Kalian pakai kuda milik paman Widura untuk kembali ke Kotaraja Mataram,” kata Sabungsari. “Baik kakang. Terima kasih atas bantuan kakang,” kata Glagah Putih. Demikianlah setelah makan nasi gudeg dan minuman hangat wedang jahe mereka berpisah di warung gudeg yang terletak di pinggir pasar. Senapati Sabungsari melanjutkan meninjau situasi keamanan di wilayah yang menjadi wewenangnya, sedangkan sepuluh prajurit membawa lima orang telik sandi Kadipaten Panaraga ke Kotaraja Mataram dan Glagah Putih serta Rara Wulan melanjutkan perjalanan mereka ke Banyu Asri dengan berkuda pelan-pelan. Dalam pada itu, Pangeran Ranapati dan Ki Gondang Legi terus berjalan menuju Padepokan Cambuk Petir yang terletak di sebelah Barat Gunung Wilis. Mereka menyusuri persawahan, bulak-bulak panjang, gumuk dan lereng, lembah dan ngarai. Tidak jarang mereka harus melompati jurang sempit yang menghadang perjalanan mereka. Setelah melintasi hutan yang agak lebat, mereka akhirnya memasuki suatu wilayah yang terbuka. Di kiri kanan jalan terdapat persawahan yang cukup luas. Dan di sudut persawahan itu terdapat pategalan yang ditumbuhi beraneka warna tanaman keras seperti kelapa, mangga, jambu, duren, rambutan dan pohon buah-buahan. Di tengah pategalan itulah terdapat sebuah padepokan. Padepokan itu nampak asri, di sudut-sudut halaman ditanami dengan pepohonan bunga berwarna-warni. Di sebelah kiri pendapa terdapat sebuah belumbang yang dihuni oleh berbagai jenis ikan, yang berenang ke sana ke mari. Pada saat menjelang siang, mereka berdua pun kemudian memasuki halaman padepokan yang dibatasi oleh pagar setinggi dada orang dewasa. Mereka segera menuju ke pendapa. Di depan pendapa mereka disambut oleh seorang cantrik yang segera mengenali Ki Gondang Legi. “Kakang Gondang Legi,” sapa cantrik itu.”Silakan kakang duduk di pendapa, aku segera memberi tahu Kiai Cambuk Petir mengenai kedatangan kalian.” Mereka pun kemudian duduk di pendapa. Tidak beberapa lama kemudian Kiai Cambuk Petir keluar dari peringgitan ke pendapa. “He? Kau Gondang Legi? Mana saudaramu yang lain?” tanya Kiai Cambuk Petir tanpa sempat mengendalikan rasa herannya, karena dari empat muridnya yang dikirim ke Kotaraja Mataram, hanya satu yang kembali. Ia bahkan tidak sempat menanyai Ki Karaba Bodas yang menyebut dirinya sebagai Pangeran Ranapati. “Ampun guru. Ketika kami telah selesai menjajaki kekuatan Mataram, kami menyeberangi Kali Praga untuk melihat keadaan terakhir di Tanah Perdikan Menoreh sebelum kembali ke Panaraga. Kami bertemu dan bertempur dengan prajurit Mataram. Kami berhasil dikalahkan. Kakang Bargas dan Bergawa berhasil dilumpuhkan, kakang Tanda Rumpil tewas dan aku berhasil melarikan diri,” kata Ki Gondang Legi. Ki Gondang Legi bersiap-siap menerima tamparan gurunya. Apabila salah seorang murid gagal menjalankan tugasnya, maka dengan ringan tangan gurunya memberi hadiah tamparan, pukulan atau tendangan. Namun kali ini gurunya nampak menahan diri, mungkin karena di depannya ada Pangeran Ranapati. “Jadi kalian telah gagal menjalankan tugas yang aku berikan?” tanya Kiai Cambuk Petir. “Ampun guru. Kami tidak gagal sama sekali, karena kami sudah mendapat catatan yang kami perlukan mengenai kekuatan pasukan Kerajaan Mataram,” kata Ki Gondang Legi. “Manakah catatan itu?” tanya Kiai Cambuk Petir. Ki Gondang Legi mengeluarkan beberapa lembar rontal dari dalam kampilnya, lalu menyerahkan catatan itu kepada gurunya. Kiai Cambuk Petir menerima rontal itu dan membacanya sekilas. Ia mengangguk-angguk. “Apakabar Pangeran Ranapati? Mohon maaf aku telah mengabaikan kehadiran Pangeran? Hal itu justru karena rasa tanggung jawabku atas tugas mereka untuk menyelidiki kekuatan pasukan Mataram,” kata Kiai Cambuk Petir. “Tidak apa-apa Kiai Cambuk Petir,” kata Pangeran Ranapati singkat. Sebenarnya Pangeran Ranapati merasa sangat tersinggung diabaikan demikian oleh Kiai Cambuk Petir. Namun apabila rasa tersinggung itu yang ditonjolkannya, akan bisa mengacaukan segala rencana besarnya. Padahal Kiai Cambuk Petir adalah salah seorang yang sangat mendukung rencananya untuk memperkuat Kadipaten Panaraga dalam upaya mengguncang kekuatan Kerajaan Mataram. Oleh karena itu ia berusaha meredam rasa tersinggung yang membuncah amat sangat di dalam jantungnya. “He? Apa kau bilang tentang saudara-saudaramu?” tiba-tiba Kiai Cambuk Petir tersentak. “Kakang Bargas dan Bergawa berhasil dilumpuhkan, kakang Tanda Rumpil tewas,” kata Ki Gondang Legi. “Siapakah yang melumpuhkan Bargas dan Bergawa,” tanya Kiai Cambuk Petir. “Seorang prajurit pasukan khusus Mataram, guru. Ia juga mempergunakan senjata cambuk seperti cici-ciri perguruan kita,” kata Ki Gondang Legi. “He? Orang Bercambuk seperti kita, katamu?” “Benar guru.” “Di manakah kalian bertempur dengan orang yang bersenjatakan cambuk itu?” “Di tepian kali Praga, guru.” “Apakah ciri-ciri senjata cambuk yang dipakainya sama seperti yang kita pakai?” “Benar guru. Cambuknya berjuntai panjang seperti cambuk kita. Bahkan juga berkarah-karah baja berbentuk bintang bersegi sembilan.” “He? Sama persis dengan cambuk ciri-ciri perguruan kita,” kata Kiai Cambuk Petir. “Benar guru. Sama persis seperti ciri-ciri cambuk kita.” “Baik. Aku akan menanyakan hal itu kepada kakak seperguruanku Kiai Ajar Karangmaja. Mungkin ia tahu, siapakah sebenarnya guru prajurit dari pasukan Mataram yang mempunyai ciri-ciri Orang Bercambuk seperti yang kita miliki,” kata Kiai Cambuk Petir.Ia berhenti sejenak. Lalu meneruskan kata-katanya. “Sekarang apakah rencana anakmas Pangeran Ranapati?” tanya Kiai Cambuk Petir. “Begini Kiai. Sesuai dengan rencana yang telah kita sepakati, kita akan tetap bergabung dalam kekuatan yang kita sebut sebagai kekuatan pendukung Kadipaten Panaraga,” kata Pangeran Ranapati. Lalu ia melanjutkan. “Aku akan meneruskan perjalanan untuk mencari dukungan dari beberapa padepokan yang berada di wilayah Kadipaten Panaraga. Selain itu juga, mencari dukungan dari beberapa Kadipaten seperti Madiun, Demak, Kudus, Pacitan, Surabaya, Pajang atau Jipang. Kita gerakkan orang-orang yang tidak puas terhadap bangkitnya Kerajaan Mataram sehingga bisa menjadi kekuatan yang mampu mengguncang Mataram itu sendiri,” kata Pangeran Ranapati. Kiai Cambuk Petir mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia nampak setuju dengan pendapat Pangeran Ranapati. Namun Kiai Cambuk Petir sesungguhnya mempunyai kepentingannya sendiri. Ia justru hendak membelokkan arah perjuangan Pangeran Ranapati dengan membangkitkan kebesaran dari masa lalu, yaitu bangkitnya Kerajaan Majapahit yang mampu menguasai seluruh Nusantara. Akan tetapi hal itu, baru akan dilakukannya setelah perjuangan besar ini sudah separuh jalan. Lebih mudah membelokkan arah perjuangan itu, daripada mendorongnya sejak awal seperti sekarang ini. “Baiklah anakmas. Anakmas silakan menghubungi orang-orang dalam jalur perjuangan untuk mendukung Kadipaten Panaraga, seperti anakmas katakan tadi. Aku pun demikian. Namun terlebih dahulu aku akan menghubungi kakak seperguruanku. Apabila Kiai Ajar Karangmaja bisa ikut kita gerakkan, maka di belakangnya akan berbaris orang-orang dari kebesaran masa silam yaitu Kerajaan Majapahit yang siap mendukung perjuangan kita,” katanya. “Dengan berbekalkan keterangan yang berhasil dihimpun oleh Gondang Legi, maka kita membutuhkan pasukan sedikitnya dua puluh laksa untuk bisa menggempur Mataram,” kata Kiai Cambuk Sakti. Pangeran Ranapati pun setuju dengan pendapat Kiai Cambuk Sakti. Ia sependapat bahwa diperlukan pasukan sedikitnya dua puluh laksa untuk dapat menggulung Mataram.Apabila dapat terkumpul pasukan dengan anggota berjumlah dua puluh laksa, maka hal itu akan memudahkan pergerakan selanjutnya. Kiai Cambuk Sakti kemudian memerintahkan para cantrik untuk bersantap siang bagi mereka bertiga. Mereka makan seadanya sebagaimana yang biasa tersedia di padepokan. Nasi, sayur lodeh, goreng ikan dan sedikit kue ringan seperti nagasari atau juadah. Setelah selesai bersantap, maka mereka pun segera membagi tugas. Kiai Cambuk Petir akan mengunjungi kakak seperguruannya, Ki Gondang Legi mengawasi para cantrik selama Kiai Cambuk Petir pergi, Pangeran Ranapati menghimpun berbagai kekuatan yang mau dan mampu mendukung Kadipaten Panaraga. Demikianlah Kiai Cambuk Petir kemudian mengendarai kudanya menuju ke kaki sebelah utara Gunung Wilis. Di sanalah kakak seperguruannya Kiai Ajar Karangmaja membangun padepokan. Padepokan Ajar Karangmaja. Meskipun jalan yang ditempuhnya cukup rumit dan rumpil, namun karena Kiai Cambuk Petir sudah mengenal dengan baik jalan menuju ke sana, Ia melintasi bulak-bulak panjang, daerah persawahan, lalu masuk hutan yang agak lebat, jalanan yang berliku, lembah dan ngarai pun dilintasinya. Semakin dekat dengan padepokan kakak seperguruannya itu, semakin sulit jalan yang harus ditempuhnya. Ia sampai di Padepokan Ajar Karangmaja setelah menempuh perjalanan berkuda hampir sehari penuh. Sungguh suatu perjalanan yang melelahkan. Namun Kiai Cambuk Petir adalah termasuk orang yang mempunyai kekuatan yang luar biasa. Meskipun tubuhnya sudah mulai dimakan usia, namun ia tetap tegar menghadapi perjalanan yang sulit dan panjang seperti yang ditempuhnya sekarang ini. Kiai Cambuk Petir meloncat turun ketika kudanya mencapai regol halaman Padepokan Ajar Karangmaja. Ia segera disambut oleh seorang cantrik yang menerima tali kekang dan mengikatkannya pada tonggak-tonggak yang tersedia. “Apakah Kiai Ajar Karangmaja ada,” tanya Kiai Cambuk Petir. “Ada Kiai. Kiai Ajar Karangmaja sedang di sanggarnya. Silakan Kiai duduk di pendapa. Aku segera memberitahukan kepada Kiai Ajar Karangmaja mengenai kehadiran Kiai,” kata cantrik yang termasuk paling muda.. Demikianlah setelah menunggu sejenak, Kiai Ajar Karangmaja keluar dari sanggarnya setelah cantrik tadi memberitahukan bahwa adik seperguruannya Kiai Cambuk Petir datang berkunjung. “Selamat datang adi. Apakabar? Sudah lama sekali kau tidak datang ke mari,” kata Kiai Ajar Karangmaja menyambut tamunya. Adik seperguruannya. “Terima kasih kakang. Aku sehat-sehat saja. Semoga demikian hendaknya dengan keadaan kakang,” kata Kiai Cambuk Petir. “Syukurlah. Aku juga selalu dalam lindungan-Nya. Apakah ada hal yang penting dan mendesak, sehingga kau menyempatkan diri untuk menemuiku yang jauh di pucuk Gunung Wilis ini?” tanya Kiai Ajar Karangmaja, langsung ke inti masalah. Ia tidak mau bertele-tele untuk mengetahui keinginan adik seperguruannya, yang sering datang dan selalu mempunyai maksud-maksud tertentu di luar ukuran nalarnya. “Benar, kakang. Aku datang ke mari untuk kembali mengajak kakang guna bergabung dalam apa yang disebut sebagai barisan pendukung Kadipaten Panaraga untuk bisa menguasai tlatah ini. Apabila kita gabungkan dengan kekuatan yang berada di belakang kita, maka bukan tidak mungkin kita bisa membangkitkan kekuatan dari masa silam, yaitu membangun kembali Kerajaan Majapahit yang besar dan mampu menguasai Nusantara,” kata Kiai Cambuk Petir. “Sudah berulangkali aku katakan adi. Aku ini sudah sangat lanjut. Bahkan badanku sudah berbau tanah. Aku tidak mau lagi memikirkan masalah duniawi seperti itu. Apakah aku akan menjadi senapati atau tumenggung kalau bisa kau bujuk untuk bergabung? Untuk orang seumur aku, untuk apa lagi jabatan senapati atau tumenggung? Aku sudah tidak mempunyai gegayuhan seperti itu. Ketiga anakku juga sudah mentas dan aku sudah sudah mempunyai enam cucu. Kebahagiaanku sekarang adalah momong keenam cucuku itu. Itu saja,” kata Kiai Ajar Karangmaja. “Akan tetapi kakang, bukankah kita masih keturunan langsung dari trah Kerajaan Majapahit? Bukankah dengan demikian kita juga wajib menjunjung tinggi leluhur kita. Mikul dhuwur, mendem jero. Apakah kakang tidak merasa mempunyai kewajiban untuk membangun kembali kejayaan dari masa silam?“ tanya Kiai Cambuk Petir. “Adi jangan keliru. Yang mempunyai trah langsung kerajaan Majapahit adalah guru kita Mpu Windujati. Sedangkan kita hanyalah cantrik di padepokannya, yang kemudian mendapat kesempatan menjadi muridnya. Aku dan kau bukan trah langsung dari Kerajaan Majapahit. Kita hanyalah keturunan pidak pedarakan, yang tidak seorang pun bisa mengaitkannya dengan trah Majapahit,” tutur Kiai Ajar Karangmaja dengan nada yang mulai meninggi. Ia berhenti sejenak. Nafasnya agak tersengal-sengal, karena menahan hati mendengar ucapan adik seperguruannya yang sekan-akan baru datang sudah memanas-manasi suasana. “Sekarang tidak lagi, adi. Aku sedikit pun tidak mempunyai gegayuhan untuk membangkitkan kembali kejayaan Majapahit. Kerajaan Majapahit sudah mengukirkan dalam kitab sejarah negeri ini dengan tinta emas. Sekali terbilang, lalu hilang. Sekarang berilah kesempatan kepada kerajaan Mataram untuk kembali mengukirkan tinta emas dalam kitab sejarah itu. Sehingga pada saatnya nanti, anak cucu keturunan kita ratusan tahun mendatang akan melihat bahwa sejarah negeri kita ini penuh dengan warna-warni,” kata Kiai Ajar Karangmaja. Kembali ia terdiam sesaat. “Aku tidak lagi mempunyai gegayuhan seperti itu,” kata Kiai Ajar Karangmaja. “Kenapa, kakang?” “Karena yang ada sekarang ini sudah merupakan saluran yang tepat untuk meneruskan kerajaan Majapahit. Ketika Majapahit runtuh, bangkit Demak. Demak pun diteruskan oleh Pajang. Kemudian Pajang dilanjutkan oleh Mataram. Nah kurang apa lagi?” tanya Kiai Ajar Karangmaja. “Kekurangannya adalah karena tidak ada peran kita di dalamnya, kakang. Kalau kita ikut berperan dalam perubahan pemerintahan itu dengan menjadi sarana berpindahnya wahyu keraton, maka barulah merupakan saluran yang tepat. Akan tetapi di sini kita tidak dilibatkan sama sekali,” kata Kiai Cambuk Petir. “Lalu kalau dilibatkan, kita sebagai apa? Sebagai pengusung wahyu keraton, begitu?” tanya Kiai Ajar Karangmaja. “Benar kakang. Apabila kita dilibatkan sebagai pengusung wahyu keraton, maka paling tidak kita bisa memiliki kedudukan penting di dalam pemerintahan,” kata Kiai Cambuk Petir. “Kedudukan apa yang kau inginkan adi, dalam usiamu yang sudah jauh memanjat naik dan menjelang turun. Kalau usiamu masih tiga puluh tahunan, bolehlah apabila kau minta kedudukan. Pada saat menjelang purnatugas pada saat usiamu lima puluh tahun, kau sudah menjadi tumenggung. Akan tetapi dengan usiamu yang sudah enam puluhan tahun seperti sekarang ini apa lagi yang kau harapkan?” tanya Kiai Ajar Karangmaja. “Paling tidak kita akan bisa meletakkan dasar bagi lingkungan kita. Meletakkan dasar bagi anak cucu kita,” kata Kiai Cambuk Petir. “Akan tetapi apa yang bisa kita lakukan. Karena kita akan tetap berada di luar jalur kekuasaan yang bisa menentukan hitam putihnya keadaan,” tanya Kiai Ajar Karangmaja. “Tentu saja kita memberikan dukungan yang perlu bagi terwujudnya gegayuhan kita itu,” kata Kiai Cambuk Petir. “Sudahlah adi. Aku tidak ingin terlalu ikut campur dalam urusan yang sama sekali aku tidak mengerti. Aku juga tidak mempunyai wewenang untuk memasukkan keterangan yang berguna bagi perubahan kekuasaan itu. Seandainya terjadi perubahan kekuasaan pun, tentu saja kita akan tersingkir dan tidak akan bisa memperjuangkan kepentingan anak cucu kita. Karena kita sudah uzur,” kata Kiai Ajar Karangmaja. “Wah kakang terlalu berkecil hati sebelum berbuat sesuatu,” kata Kiai Cambuk Petir. “Yang jelas, aku tidak ingin melibatkan padepokanku dan keluarga besar perguruan Windujati dalam pertengkaran ini karena ingin memperebutkan kekuasaan,” kata Kiai Ajar Karangmaja. Kiai Cambuk Petir yang semasa mudanya bernama Kulantir sebenarnya adalah adik seperguruan dari Kiai Ajar Karangmaja. Ketika berguru kepada Mpu Windujati, mereka terpaut cukup jauh umurnya maupun tingkat ilmunya. Pada saat terjadi pergolakan terakhir di Demak Bintara mereka mendapat tugas untuk mengamati keadaan di Demak Bintara itu. Namun pada saat mereka kembali ke perguruan Windujati, mereka mendapati guru mereka ”Mpu Windujati” telah tiada. Kiai Ajar Karangmaja yang merupakan murid tertua Perguruan Windujati, kemudian mendapat kepercayaan untuk meneruskan padepokan itu. Sesuai dengan nama pemimpinnya, akhirnya orang lebih mengenal Padepokan Ajar Karangmaja, ketimbang Padepokan Windujati. Kiai Ajar Karangmaja yang kakak seperguruan Kulantir kemudian menurunkan ilmu yang telah diperolehnya hampir secara lengkap dari Mpu Windujati. Sehingga dengan demikian Kiai Ajar Karangmaja adalah kakak seperguruan sekaligus guru bagi Kulantir yang kemudian menyebut dirinya Kiai Cambuk Petir ketika telah berdiri sendiri dengan membangun padepokannya sendiri. Kiai Ajar Karangmaja mempunyai dua murid utama. Yang seorang bernama Putut Kalibata, dan seorang lagi Putut Jimbaran. “Kemanakah kedua muridmu kakang. Putut Kalibata dan Putut Jimbaran,” tanya Kiai Cambuk Petir. “Mereka berdua mulai kemarin minta izin untuk pulang ke kampung masing-masing selama dua bulan. Padi di sawah mereka sudah mulai panen dan mereka harus mengolah sawah untuk musim tanam berikutnya,” kata Kiai Ajar Karangmaja. “Wah sayang sekali. Sebenarnya aku juga ingin mengajak mereka untuk bergabung denganku untuk memperjuangkan gegayuhan membangkitkan kejayaan Kerajaan Majapahit,” kata Kiai Cambuk Petir. “Adi jangan melibatkan padepokanku, atau pun kedua muridku itu dalam mencapai gegayuhanmu,” kata Kiai Ajar Karangmaja dengan nada sengit. “Baiklah kakang. Kalau kau tidak mengizinkan, aku tidak akan memaksa,” kata Kiai Cambuk Petir dengan nada enteng. Betapapun ia masih tetap menghormati kakang seperguruan yang sekaligus menjadi guru tunggak semi-nya setelah Mpu Windujati tiada. Perbawa kakak seperguruannya itu demikian besar. “Oo ya, kakang. Aku ingin bertanya apakah di antara sanak kadang kita yang masih trah Keraton Majapahit ada yang tinggal di Mataram dan menjadi prajurit pasukan Mataram?” tanya Kiai Cambuk Petir. “Memangnya ada apa? Aku tidak tahu apakah di antara keluarga besar trah Majapahit atau sanak kadang kita yang berpihak atau berada di Mataram,” kata Kiai Ajar Karangmaja. “Begini kakang. Dua pekan lalu aku mengirim keempat muridku Bargas, Bergawa, Tanda Rumpil dan Gondang Legi untuk mengamat-amati kekuatan pasukan Kerajaan Mataram. Nah dalam suatu pertempuran dengan seorang prajurit Mataram, ternyata Bargas dan Bergawa berhasil dilumpuhkan, Tanda Rumpil tewas dan Gondang Legi berhasil melarikan diri kembali ke padepokanku di Panaraga,” kata Kiai Cambuk Petir. “Keempat muridmu kalah?” tanya Kiai Ajar Karangmaja. “Iya kakang. Yang membuatku heran, justru yang melumpuhkan kedua murid utamaku ”Bargas dan Bergawa” adalah orang yang mempunyai ciri-ciri seperti perguruan kita. Ciri-ciri perguruan Orang Bercambuk,” kata Kiai Cambuk Petir. “He? Ciri-ciri Orang Bercambuk? Apakah cambuknya berjuntai panjang dan berkarah-karah baja di ujungnya?” tanya Kiai Ajar Karangmaja lagi. “Benar kakang. Apakah kakang tahu bahwa ada sempalan dari ilmu Orang Bercambuk yang kini mengabdi sebagai prajurit di Mataram?” tanya Kiai Cambuk Petir. “Aku tidak tahu persis, adi. Tetapi setahuku tidak ada orang atau sempalan ilmu Orang Bercambuk yang kini mengabdi sebagai prajurit di Mataram,” kata Kiai Ajar Karangmaja. “Apakah orang itu murid dari Raden Timur yang sering juga disebut Pamungkas?” kata Kiai Ajar Karangmaja kepada dirinya sendiri. “Maksud kakang, Raden Timur cucu dari Mpu Windujati?” tanya Kiai Cambuk Petir. “Benar. Raden Timur yang selalu mengamati kalau kita sedang berlatih ilmu kanuragan,” kata Kiai Ajar Karangmaja. Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan. “Raden Timur adalah cucu sekaligus murid utama dari Mpu Windujati,” tutur Kiai Ajar Karangmaja. “He? Tetapi aku tidak pernah melihat Raden Timur berlatih ilmu kanuragan dengan kita, para murid perguruan Mpu Windujati,” kata Kiai Cambuk Petir. “Iya. Karena Mpu Windujati berkenan melatihnya secara langsung di dalam sanggar. Aku beberapa kali mendapat tugas untuk berlatih tanding dengan Raden Timur. Meskipun Raden Timur sedikit lebih muda daripada aku, namun ilmunya ngedab-ngedabi dan hampir sesempurna Mpu Windujati sendiri,” kata Kiai Ajar Karangmaja. “Selain itu, Raden Timur juga berguru kepada adik seperguruan Mpu Windujati yang merupakan sahabat dekat dengan seorang yang bernama Kebo Kanigara, putera sekaligus murid dari Ki Ageng Pengging Sepuh,” kata Kiai Ajar Karangmaja. Dengan demikian ilmu yang dikuasai Raden Timur adalah gabungan ilmu dari beberapa perguruan. Kiai Ajar Karangmaja terdiam lagi. Seakan-akan sedang mengenang kembali hubungannya dengan Raden Timur di Perguruan Windujati yang tersimpan dalam bilik ingatannya. Kejadian yang terjadi puluhan tahun yang lalu itu, seakan terputar kembali di dalam angan-angannya. Betapa Raden Timur yang masih muda itu, bertarung dengan dirinya di dalam sanggar. Meskipun ilmu yang diraihnya secara tuntas itu dikerahkannya untuk menyerang Raden Timur, namun cucu gurunya itu masih tetap bisa mengatasinya. Sebagai pertanda bahwa ilmu yang mereka pelajari di perguruan Windujati telah tuntas, maka mereka berdua menjalani suatu ritual khusus di dalam sanggar itu. Gurunya membakar sebatang baja yang pada ujungnya terdapat semacam cap stempel dari baja. Pada cap stempel itu tertera gambar semacam cambuk yang pada ujungnya terdapat karah-karah baja bersegi sembilan. Gurunya, Mpu Windujati yang masih merupakan trah Keraton Majapahit, meminta mereka berdua mengerahkan ilmu kebal yang telah mereka kuasai secara tuntas. Sebagai pertanda bahwa ilmu kebal mereka telah tuntas, maka ruangan sanggar Mpu Windujati terasa seperti panas membara. Sepanas cap stempel yang dipanaskan oleh gurunya. Karena agaknya, ilmu kebal mereka berdua telah berhasil membangkitkan sifat panas di dalam udara sekitar mereka. Ketika Mpu Windujati merasa pengerahan ilmu kebal kedua muridnya telah cukup, Mpu Windujati segera menempelkan cap stempel dari baja yang membara itu ke pergelangan tangan kiri kedua muridnya. Tercium bau seperti daging yang terbakar. Dengan sekuat tenaga kedua murid Mpu Windujati menahan nyeri yang mereka rasakan akibat diselomot dengan cap stempel membara itu. Gurunya segera memborehkan obat-obatan yang telah disiapkan untuk mengatasi luka bakar di tangan kedua muridnya itu. Ketika sembuh, sebuah cap bergambarkan cambuk menghiasi pergelangan tangan kiri kedua muridnya. Dalam kesempatan itu, gurunya mewariskan kitab perguruan Windujati kepada Raden Timur. Gurunya kemudian memberi wejangan kepada mereka berdua, bahwa hubungan mereka sebagai dua saudara seperguruan harus tetap mereka jaga hingga kapan pun. Selama hayat masih dikandung badan. Hubungan itu tidak hanya di antara mereka saja, namun juga hubungan di antara murid-murid mereka, apabila kelak mereka membangun padepokan sendiri. Gurunya berpesan agar mereka tidak mudah-mudahnya mempergunakan ilmu pamungkasnya. Ilmu Pamungkas Orang Bercambuk. Apabila mereka ragu-ragu, apakah sudah saatnya atau belum mempergunakan ilmu pamungkas mereka, maka Mpu Windujati meminta agar mereka mengelus-elus pergelangan tangan kiri mereka dan bertanya di dalam hati:”Guru apakah sudah saatnya aku pergunakan ilmu pamungkasku?” Kelak mereka akan tahu, bahwa gurunya akan memberikan jawaban atas pertanyaan mereka. Pesan wanti-wanti dari gurunya, Mpu Windujati, itulah yang selalu terngiang di dalam pendengaran Kiai Ajar Karangmaja yang semasa mudanya bernama Soma. Ketika Soma menurunkan ilmunya kepada Kulantir, pesan yang sama selalu ditekankannya kepada adik seperguruan sekaligus muridnya itu. Namun, meskipun ilmu yang diturunkannya kepada Kulantir telah tuntas, namun Soma tidak berani mengadakan ritual khusus memberi cap stempel cambuk kepada Kulantir. Hal itu karena ia mengamati perangai Kulantir yang sering tidak sesuai dengan keinginannya. Kulantir lebih sering mengetengahkan sifat tamaknya akan kekuasaan. Namun sifat tamaknya itu tidak disalurkan secara benar melalui jalur kekuasaan yang ada. Soma masih akan bisa memahami keinginan adik seperguruannya itu apabila Kulantir menyalurkan keinginannya untuk berkuasa misalnya dengan memasuki jenjang keprajuritan. Apabila Kulantir ketika masih muda memasuki jenjang keprajuritan mungkin ia sudah mengantongi pangkat tumenggung atau bahkan sudah purnawira. Namun hal itu tidak dilakukannya. Kul
    • kados pundi kelanjutanipun kang mas?

  26. wah kang asbud itu kan masih seri 402…

  27. lanjutan 404 mana ya?,kalo bayar gmn caranya utk mendapatkan seri 404 dst… tq

  28. iya nih… matarambinangkit.com ga bisa diakses….
    udah rinduuuuuuuuu banget……………

  29. ni blog masih ada penghuninya ndak sih

    • ngga ada ndul

      • sekedar berbagi berita saja:
        di Gagak Seta ada Terusan ADBM, bisa dinikmati dgn gratis
        monggo kalo mau mampir

        • maturnuwun kangmas.

  30. antara ada dan tiada sedang tiarap semua para pemimpin padepokan…………………….????????????

    # ada yang bisa dibantu Ki?

  31. Sugeng siang para Cantrik sedaya..
    Sebelumnya mohon maaf atas woro woro ini,
    dulu saya pernah ingin mencoba melanjutkan adbm yg terputus, namun karena kesibukan, ternyata Ki Agus yg telah meneruskan kisah adi luhung ini.
    namun demikian, di gandhok Gagak Seta, saya di “ogrok2” oleh beberapa cantrik disana untuk meneruskan Adbm dengan versi “mbah_man”
    Semoga kalau ada waktu silahkan mampir di gandhok “Terusan ADBM Gagak Seta”
    matur suwun
    Mbah-man

    • tak kiro woro-woro gandok anyar ‘terusan adbm mandarakan’

  32. Yang peting GRATIS kalo musti mbayar sepertinya menghianati cita2 awal kita,,,

  33. kok nggak bisa komen ya 😦

    • jangan-jangan

    • jangan terlalu cepat komennya Ki Syakuur .. nanti dikira SPAM oleh Aki Ismet 😀

      • rasanya bukan gitu deh, soale kemaren tu banyak keluhan wp nggak bisa komen (misalnya di cersilindonesia tu banyak keluhan) e nggak tahunya di sini juga ternyata komenku nggak masuk, nunggu ki nin 😛

  34. lanjutan ADBM 404 mana ya ki?
    bukanya di website apa ya?

  35. Alamat pastinya di link mana ya (Terusan ADBM Gagak Seto) ??
    Mohon dibantu dong….
    tks

    • cobi njenengan tingali wonten mriki ki nogoposo

      • kok di mriki nya sy kok gak bisa nemu ydm ya….
        bantuin doong…

        • wah berarti niku alamat palsu sing digoleki mbak ayu doong…

    • mbah_man berusaha meneruskan ADBM dengan versi lain (selain Bukan ADBM nya Ki Agus).
      sayang, baru sekitar separuh jilid beliaunya sakit sehingga harus rawat inap di rumah sakit.
      semoga beliau lakas sembuh dan meneruskan tulsiannya.
      silahan kunjungi disini: http://cersilindonesia.wordpress.com/terusan-adbm/2/

  36. Ma’af mau tanya, apa masih ada cerita lanjutan dari ADBM?

  37. Kalau mau bayar gimana caranya ya, nuwun sewu bagi dulur2 mbok ya empatinya dan nuraninya dikedepakkan, ayo kita menghargai imajinasi dan karya sastra penulis yang berusaha melanjutkan cerita epik kepahlawanan nuansa jawa tengah, apapun hasilnya kalau literasi ini sangat membantu mengenalkan adat istiadat unggah ungguh subosito masyarakat jawa mbok ya disokong, ini lebih berisi dari pada komik marvel atau DC yang dar der dor…
    Salam
    #bagaskoro manjer kawuryan

  38. Mataram Binangkit
    Buku 404
    Oleh Agus S. Soerono

    Telah terbit Ebook Mataram Binangkit Buku 404 oleh Agus S. Soerono. Jika anda berminat, silakan transfer Rp 100.000,- ke Norek BCA 288-1221-715 a/n Agus Suprihanto. Kirim bukti transfer dan sertakan alamat email ke no WA 0878-0856-1199. Kami akan segera mengirim Ebook dalam format PDF ke alamat email.

  39. Donasi tidak berkeberatan, asal tidak menjadi komersial.
    Yang lain versi mbah Man donasinya tidak ngarani.
    Saya juga berlangganan yang versi mbah MAN

  40. Kalajenganipum seri menika menapa wonten, menawi taksih saged kula panggihaken ing pundi? Mugi para kadang saged paring kabar, nuwun

  41. Saya bisa mengkuti karya Ki Agus dimana ya, lanjutannta

  42. Nyuwun pirsa, seri saklajengipun wonten pundi, kula kok dereng manggihaken, bok menawi ki agus rena paring sesuluh.

    • Kami tidak melanjutkan wedaran di sini, karena cerita selanjutnya “berbayar”.

      Ngapunten.

  43. Cukup baik, seperti pengantar kata di atas ; untuk memuaskan dahaga pembaca penggemar ADBM ( Api di bukit menoreh)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: