Buku 66

Sekelompok kecil orang-orang yang tidak dikenal memasuki hutan itu dan hilang di antara rimbunnya pepohonan. Mereka tidak datang bersamaan untuk menghindari kecurigaan orang lain. Kadang-kadang mereka hanya datang berdua, bertiga dan tidak lebih dari empat orang setiap kelompok.

Namun ternyata mereka berkumpul menjadi sekelompok orang yang cukup banyak setelah mereka berada di dalam hutan yang terlindung itu.

“Setelah gelap, kita akan mempersiapkan diri kita di Lemah Cengkar,” berkata salah seorang dari mereka. “Kita akan melingkar dan memasuki Jati Anom dari Utara.”

“Dari Utara?” bertanya salah seorang dari mereka. “Apakah kita tidak dapat memasuki Jati Anom dari Timur?”

“Sendang Gabus?”

“Ya.”

Orang yang agaknya merupakan pemimpin mereka ini menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak. Kita akan datang dari Utara. Kemarin aku sudah memastikan setelah aku melihat daerah Lemah Cengkar di sore hari. Daerah itu memang agak sulit. Gerumbul-gerumbul berduri. Dan jika ada yang masih percaya, di sana ada seekor harimau putih. Tetapi kita tidak mempunyai kepetingan apa pun dengan harimau putih itu, meskipun seandainya harimau itu adalah harimau jadi-jadian.”

Kawan-kawannya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Lewat gerumbul- gerumbul berduri itu kita mendekati Jati Anom, dan kita akan menyusup di sela-sela para peronda dan gardu-gardu yang sudah kita kenal letaknya. Kita akan langsung memasuki halaman rumah Untara. Kita akan membunuh para perwira yang ada di rumah itu, sambil mengumpati mereka dan sekali-sekali menyebut nama Mataram. Tetapi ingat, jangan semua orang dibunuh, agar ada yang berceritera tentang kita, bahwa kita menyebut-nyebut nama Sutawijaya dan Pemanahan sebagai orang terbaik. Hanya itu, seolah-olah kita memang menyembunyikan kenyataan bahwa kita orang-orang Mataram.”

Kawan-kawannya menarik napas dalam-dalam. Pekerjaan itu memang sulit. Mereka harus berpura-pura menjadi orang Mataram yang sedang berpura-pura pula.

“Kita akan masuk lewat bagian belakang. Kita harus menyergap dengan tiba-tiba. Sebagian para penjaga di depan regol dan yang lain para perwira di dalam rumah itu. Sekali lagi aku peringatkan, mereka jangan sampai mendapat kesempatan untuk membunyikan tanda apa pun. Tetapi mereka jangan ditumpas semuanya. Biarlah satu dua orang yang telah terluka parah dapat hidup terus untuk menceriterakan apa yang telah terjadi.” Orang itu berhenti sejenak, lalu, “Yang harus diperhatikan adalah, bahwa para perwira Pajang bukannya anak-anak. Mereka adalah prajurit yang mendapat tempaan yang cukup. Mereka memiliki kemampuan keprajuritan yang tinggi, dan memiliki kemampuan secara pribadi pula, sehingga jika mereka sempat bangun, mereka akan memberikan perlawanan yan sangat berat. Aku sendiri akan berada di antara mereka yang harus membunuh beberapa orang perwira itu. Aku mendengar laporan, bahwa sebagian besar dari mereka iku bersama Untara. Aku kira di dalam rumah itu tidak akan ada lebih dari lima orang perwira saja.”

“Hanya lima?” bertanya seseorang.

“Ya. Yang lain pasti ada di banjar. Sebagian ada di rumah Widura bersama beberapa orang petugas sandi, dan yang lain ada di kademangan dan di gardu induk.”

“Kita tidak dapat menumpas mereka sekaligus.”

“Bodoh kau,” bentak pemimpinnya, “kita memang tidak ingin menumpas mereka. Kita hanya sekedar membuat orang-orang Pajang marah. Jika di antara para perwira itu, dua atau tiga orang saja yang terbunuh bersama para prajurit pengawal rumah itu, itu sudah cukup. Pajang akan menjadi marah, dan kita mengharap, mereka akan mengambil tindakan terhadap orang-orang Mataram. Apakah kau mengerti?”

“Aku mengerti. Tetapi alangkah baiknya jika keduanya dapat dilaksanakan bersama-sama.”

“Sebuah mimpi yang bagus sekali. Tetapi kemampuan kita tidak akan mungkin.”

Ternyata pemimpinnya masih memberikan beberapa pesan kepada anak buahnya, agar usaha mereka itu tidak gagal. Mereka mengharap, bahwa Pajang benar-benar segera bertindak terhadap Mataram. Jika terjadi demikian, maka selain dendam mereka terbalas karena kematian orang-orang mereka yang terpenting di Alas Mentaok, maka Mataram akan segera dikosongkan. Mereka akan mendapat kesempatan dengan perlahan-lahan mengisi kekosongan itu. Lewat beberapa orang perwira dan pemimpin pemerintahan yang mereka kenal, maka mereka akan mendapat pengesahan atas penggunaan tanah di Alas Mentaok itu.

Tetapi selagi mereka bersiap, Kiai Gringsing, kedua muridnya, Sumangkar, dan Ki Ranadana pun telah menyiapkan penyambutannya pula. Meskipun mereka tidak tahu pasti, dari mana orang-orang itu akan memasuki halaman rumah Agung Sedayu itu, namun mereka telah menyiapkan sepasukan pilihan yang akan menyambut mereka, meskipun sampai matahari menyentuh pucuk pepohonan di ujung Barat, mereka masih belum mengetahui apa yang bakal terjadi. Mereka hanya sekedar mendapat perintah untuk bersiaga.

Dalam pada itu Kiai Gringsing dan Sumangkar masih juga mempertimbangkan beberapa lama, apakah Agung Sedayu dan Swandaru lebih baik berada di Banyu Asri saja. Namun akhirnya mereka mengambil keputusan bahwa biarlah keduanya berada di rumah yang akan menjadi sasaran itu, namun keduanya harus berhati-hati dan benar-benar mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan yang berat, karena Kiai Gringsing dan Sumangkar yakin, bahwa orang-orang yang akan memasuki rumah itu pun adalah orang-orang pilihan.

Demikianlah, matahari pun semakin lama menjadi makin rendah, sehingga akhirnya wajah langit pun menjadi kemerah-merahan dan senja pun turun dengan perlahan-lahan.

“Kita harus segera bersiaga,” berkata Kiai Gringsing kepada Ki Ranadana.

Perwira prajurit Mataram itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia sudah siap dengan pasukan pilihannya hingga setelah hari menjadi benar-benar gelap, dipanggilnya pasukannya itu.

“Kau mendapat tugas khusus malam ini,” berkata Ki Ranadana kepada pemimpin prajurit pilihan itu.

Perintah itu sebenarnya tidak begitu mengherankan bagi mereka. Adalah menjadi kewajiban seorang prajurit untuk berjaga-jaga di dalam setiap kemungkinan.

“Malam ini adalah malam yang mendebarkan jantung,” berkata Ki Ranadana kemudian, “karena itu, aku telah memilih kalian. Karena kalian adalah sekelompok prajurit pilihan.”

Pemimpin kelompok prajurit pilihan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyangka, bahwa justru malam itu Jati Anom akan menjadi sepi, sehingga penjagaan harus diperkuat.

“Nah,” berkata Ki Ranadana, “kalian akan bertugas di rumah ini. Pada saatnya aku akan memberikan perintah lebih lanjut.”

Barulah pemimpin kelompok itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih belum bertanya apa pun selain bersiap untuk menjalankan perintah.

Para perwira pun tidak kalah heran, ketika mereka dikumpulkan oleh Ki Ranadana dan mendapat perintah untuk bermalam di rumah Widura semalam itu.

“Widura memerlukan kawan untuk berjaga-jaga memanjatkan doa, agar Untara selamat sampai di perjalanan, dan sejahtera untuk selanjutnya,” berkata Ki Ranadana kepada para perwira.

Sejenak para perwira itu saling berpandangan. Namun kemudian Ki Ranadana melanjutkan, “Aku persilahkan kalian segera berangkat. Ki Widura tentu sudah menunggu. Bersama kalian adalah kemanakan Ki Widura yang seorang, adik Ki Untara, yang akan mengantarkan kalian, tetapi anak itu akan segera kembali ke rumah ini, rumahnya.”

Tidak banyak yang dapat mereka tanyakan. Para perwira itu pun kemudian berkemas dan pergi meninggalkan rumah Agung Sedayu menuju ke rumah Widura. Namun demikian, Ki Ranadana masih berpesan kepada Agung Sedayu, agar Widura benar-benar mengawasi para perwira itu agar mereka tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan. Meskipun Widura sudah bukan prajurit, namun pengaruhnya masih terasa pada para perwira yang masih muda-muda itu.

Tetapi tidak semua perwira harus bermalam di rumah Widura, Ki Ranadana masih menahan tiga orang perwira yang sudah setengah umur bersamanya, tanpa memberikan penjelasan mengenai persoalan yang sebenarnya.

“Aku akan menjadi kesepian jika kalian semuanya berada di Banyu Asri,” berkata Ki Ranadana. “Biarlah yang tua-tua berada di sini menunggui rumah ini, dan yang muda-muda mendapat kesempatan untuk berkelakar dengan gadis-gadis Jati Anom.”

Meskipun demikian, perwira-perwira muda itu bertanya-tanya juga di dalam hati, apakah sebenarnya yang telah mendorong Ki Ranadana mengirim mereka ke rumah Widura.

Memang tidak ada kesan apa pun di rumah Widura. Mereka disambut dengan ramah dan gembira. Seakan-akan memang Widura mengharap kedatangan mereka untuk berjaga-jaga dan beramah-tamah.

Namun demikian, para penjaga yang biasanya bertugas di rumah Untara pun telah dipindahkan pula ke rumah itu bersama para perwira, sedang yang bertugas di halaman rumah Untara telah digantikan oleh para prajurit pilihan.

Meskipun demikian, untuk menjaga setiap kemungkinan dan barangkali perubahan sasaran, terlebih-lebih lagi apabila ada pengkhianatan, sehingga orang-orang itu merubah sasaran ke Banyu Asri, dan menyerang rumah Widura, Ranadana pun masih tetap menempatkan beberapa orang petugas sandi di sekitar rumah Widura itu.

Baru setelah Agung Sedayu kembali lagi, dan malam menjadi semakin larut, Ki Ranadana memanggil setiap orang yang masih ada di halaman rumah Untara, termasuk pemimpin kelompok prajurit pilihan itu.

“Malam menjadi semakin jauh,” katanya, “sebentar lagi kita akan menghadapi tugas yang berat dan menegangkan. Kita tidak tahu kapan hal itu akan terjadi. Mungkin sebentar lagi, selagi kita masih berbicara ini, tetapi mungkin pula menjelang fajar.”

Para perwira dan pemimpin kelompok prajurit pilihan itu menjadi berdebar-debar.

Perlahan-lahan dan dengan sejelas-jelasnya Ki Ranadana menguraikan apa yang mungkin akan terjadi malam itu. Hasil pengamatan Kiai Gringsing dan Sumangkar, serta kehadiran Ki Lurah Branjangan. Hubungan persoalan yang tidak terlepas yang satu dengan yang lain, serta yang paling akhir adalah keadaan halaman rumah itu sendiri.

“Penjagaan itu harus diletakkan di tempat yang sudah aku tentukan. Sebentar lagi kita akan pergi ke halaman, ke kebun belakang dan tempat-tempat di sekitar rumah ini yang pantas mendapat pengawasan,” berkata Ki Ranadana kemudian. “Aku sengaja tidak memberitahukan kepada siapa pun juga selain kalian.”

Mereka yang mendengarkan penjelasan Ki Ranadana itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Terbayang sekelompok orang-orang yang tentu juga pilihan sedang merayap mendekati halaman rumah itu. Namun demikian salah seorang dari ketiga perwira itu bertanya, “Apakah para peronda di gardu-gardu sudah diberitahukan, setidak-tidaknya untuk bersiaga?”

“Aku tidak memberitahukan tepat apa yang terjadi. Aku hanya memerintahkan mereka untuk bersiap lebih mantap jika sesuatu terjadi.”

Perwira itu mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin kita tidak dapat menyelesaikan mereka di halaman ini, sehingga ada di antara mereka yang berhasil lolos. Jika demikian, kita memerlukan peronda-peronda itu.”

“Ya. Bukan saja peronda-peronda itu, tetapi juga prajurit di banjar dan para perwira di rumah Widura.”

“Kenapa mereka tidak diberitahukan saja?”

“Bukan karena kita tidak percaya. Tetapi aku ingin membatasi persoalan ini sesempit mungkin. Jika kita berhasil, maka kita akan menangkap mereka di halaman ini tanpa menimbulkan ketegangan dan keributan. Kita masih harus ingat, bahwa lima hari lagi, Jati Anom akan ngunduh pengantin. Supaya kita bersama dapat menyambut pengantin itu dengan tenang, maka kita akan mencoba membatasi persoalan ini sejauh mungkin, selain perhitungan kita atas keamanan persiapan ini sendiri. Semakin banyak orang yang mengetahui bahwa kita sudah bersiap, maka bahaya tentang hal itu semakin besar bagi kita, karena mereka tentu memiliki telinga di sekitar kita.”

Para perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, sekarang, marilah kita mengatur diri. Mungkin orang-orang itu sekarang sudah ada di balik dinding kebun belakang.”

Demikianlah mereka segera pergi ke kebun belakang. Ki Ranadana menunjukkan kepada pemimpin kelompok prajurit pilihan itu untuk menempatkan orang-orangnya di tempat terlindung. Bukan saja di bagian belakang, tetapi juga di samping dan di depan rumah. Sedang mereka yang ada di gardu, dipersiapkan seperti penjagaan yang biasa dilakukan setiap hari.”

“Ingat,” berkata Ki Ranadana, “mereka adalah orang-orang pilihan. Biarkan mereka semuanya masuk. Yang akan mereka lakukan adalah menyergap para penjaga di depan dan sebagian yang lebih matang akan memasuki rumah ini. Biarlah kami yang berada di dalam rumah itu.”

Pemimpin kelompok itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, lakukan tugasmu sebaik-baiknya,” berkata Ki Ranadana, lalu katanya kepada para perwira, “Kalian masing-masing akan mendapat tugas di antara prajurit. Satu di belakang, satu di sisi kanan dan yang satu di sisi kiri. Ternyata menurut pertimbanganku, tenaga kalian akan sangat diperlukan. Jika aku yang ada di dalam memerlukan, aku akan memberikan isyarat. Pemimpin kelompok itu sendiri akan berada di gardu sebagai salah satu sasaran utama sergapan para penyerang itu.”

Pemimpin kelompok prajurit pilihan dan para perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan demikian, maka yang akan ada di dalam rumah itu hanyalah Ki Ranadana dengan beberapa orang yang sama sekali bukan prajurit, meskipun ada di antara mereka adalah Agung Sedayu, adik Senapati Besar yang menguasai daerah Selatan ini.

Sejenak kemudian, maka pemimpin kelompok itu pun telah memberikan penjelasan kepada prajurit-prajuritnya. Dengan cepat ia membagi kelompoknya menjadi empat kelompok yang lebih kecil yang masing-masing akan dipimpin langsung oleh seorang perwira, sedang pemimpin kelompok itu sendiri akan berada di gardu depan, seperti penjagaan yang biasa dilakukan setiap hari atas rumah Untara yang dipakai sebagai tempat tinggal para perwira itu.

Tetapi pemimpin kelompok itu tidak mau lengah. Sergapan itu dapat datang setiap saat dari arah yang tidak terduga-duga. Tidak dapat dipastikan bahwa para penyerang itu akan masuk lewat kebun belakang. Mungkin mereka justru masuk lewat gerbang depan dan langsung menyerang para penjaga di gardu itu.

Karena itu, maka selain mereka yang ada di gardu, pemimpin kelompok itu telah menempatkan beberapa orang di tempat yang terlindung, bahkan tiga orang terpencar di luar halaman, di seberang jalan. Mereka duduk di atas sebatang dahan yang tidak terlalu tinggi, tetapi cukup terlindung oleh segerumbul dedaunan di dalam gelapnya malam.

Ketiga orang yang terpencar itu harus mengawasi jalan dan halaman rumah di seberang jalan. Mungkin para penyerang itu akan datang lewat halaman itu. Jika tidak, maka mereka akan dapat menjadi tenaga cadangan apabila dengan tiba-tiba saja para penyerang itu menyergap gardu.

Selain tiga orang itu, maka ditempatkannya juga dua orang setiap sudut depan, sehingga ada empat orang yang tidak berada di gardu selain tiga orang yang berada di seberang jalan.

Demikianlah, mereka memasuki malam yang semakin dalam dengan dada yang tegang. Setiap kejap rasa-rasanya terlampau lama berjalan. Dan karena itu, malam menjadi sangat panjang.

Di dalam rumah itu, Ki Ranadana masih duduk sejenak bersama Kiai Gringsing, kedua muridnya dan Ki Sumangkar. Mereka masih berbincang tentang beberapa hal, sebelum mereka membagi ruangan, di mana mereka akan tidur.

“Aku akan berada di bilik sebelah bersama Ki Sumangkar,” berkata Ki Ranadana, “sedang Kiai Gringsing bersama kedua muridnya akan mempergunakan bilik yang satu.”

Tiba-tiba saja Agung Sedayu menyahut, “Di dalam bilik itu pula aku tidur ketika aku masih kanak-kanak.”

Kiai Gringsing tersenyum. Demikian pula Ki Ranadana dan Ki Sumangkar. Sedang Swandaru menyahut, “Bukankah kau sekarang masih juga kanak-kanak.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab. Dipandanginya saja Swandaru yang masih tertawa kecil.

“Kau akan diprimpeni nanti malam,” berkata Sedayu kemudian. “Hati-hatilah di rumah ini.”

Swandaru masih saja tertawa. Tetapi ia tidak menjawab.

Demikianlah mereka memasuki bilik masing-masing. Kiai Gringsing dan kedua muridnya berada di satu bilik, sedang Ki Ranadana dan Ki Sumangkar di bilik yang lain.

“Kita harus seakan-akan tertidur nyenyak jika mereka datang,” berkata Ki Ranadana.

Ki Sumangkar menganggukkan kepalanya. Katanya, “Aku benar-benar mengantuk. Beberapa malam terakhir aku kurang sekali tidur.”

“Tetapi orang seperti Ki Sumangkar ini dapat tidak tidur terus menerus lima hari lima malam.”

“Jika memang harus demikian. Tetapi kekuatan seseorang ada juga batasnya. Aku pernah tidur sambil berjalan selagi aku masih mengikuti pasukan Tohpati. Tetapi aku dapat bangun dan berbuat sesuatu setiap saat.”

“Itulah kelebihanmu,” Ki Ranadana tersenyum. “Jika demikian silahkan tidur. Ki Sumangkar akan terbangun setiap saat dan akan segera dapat berbuat sesuatu.”

Sumangkar hanya tersenyum saja. Tetapi ia benar-benar ingin tidur sebelum orang-orang yang ditunggunya itu datang. Menurut perhitungan Sumangkar, mereka baru akan datang di sekitar tengah malam. Namun seandainya lebih awal, Ki Ranadana pasti akan membangunkannya.

Di bilik yang lain, Kiai Gringsing memang menyuruh kedua muridnya untuk tidur. Mereka pun kurang tidur beberapa malam terakhir. Mereka tidak dapat tidur nyenyak di rumah Widura yang sedang sibuk, tetapi juga selagi mereka mengikuti orang-orang yang akan menyerang Jati Anom itu.

“Aku akan membangunkan kalian jika terjadi sesuatu,” berkata gurunya

Dalam pada itu, di Pengging, sambutan atas kedatangan Untara ternyata dilakukan dengan megah dan meriah. Beberapa orang sanak kadang pengantin perempuan telah siap menunggunya di rumah yang sudah ditentukan. Aku bilang adbmcadangan.wordpress.com. Tidak jauh dari rumah pengantin perempuan. Hanya karena keadaan yang mendesak oleh kegawatan dan ketegangan yang timbul di daerah sekitar Alas Tambak Baya dan Mentaok sajalah, yang membuat pihak Untara tidak mematuhi kebiasaan. Ia tidak tinggal selama empat puluh hari empat puluh malam di rumah bakal mertuanya untuk ngenger. Tetapi ia datang sehari sebelum upacara perkawinan itu berlangsung.

Di malam hari menjelang hari perkawinan, Untara duduk dikelilingi oleh sanak keluarga pengantin perempuan. Dan karena ayah pengantin perempuan adalah seorang Perwira Pajang pula, maka baik yang mengantar maupun yang menyambut, selain keluarga mereka, adalah perwira-perwira prajurit Pajang.

Demikianlah mereka berbicara seakan-akan tanpa ujung dan pangkal. Perwira yang masih muda dengan riuhnya menggoda Untara yang besok akan mengenakan pakaian kebesaran seorang pengantin laki-laki.

Dengan tersipu-sipu Untara menanggapi kelakar kawannya. Meskipun kadang-kadang angan-angannya terbang kembali ke Jati Anom, namun tampaknya ia selalu tersenyum dan tertawa.

Tetapi kadang-kadang saja ia termenung jika tiba-tiba ia seolah-olah sadar, bahwa malam itulah Jati Anom akan mengalami serangan yang sangat berbahaya. Bukan dari segi pengamanan daerah karena kekuatan penyerang itu tidak cukup besar, tetapi justru dari segi lain. Dari segi hubungan antara Pajang dan Mataram.

“Jika ada seorang saja perwira yang terbunuh, maka hal itu sudah cukup alasan membakar setiap hati prajurit di seluruh Pajang untuk menyerang Mataram,” berkata Untara di dalam hatinya.

Tetapi setiap kali ia seolah-olah terperanjat ketika tiba-tiba saja seorang perwira muda mengganggunya dengan kelakarnya yang segar.

Tetapi pertemuan itu tidak berlangsung lama. Orang tua-tua segera memperingatkan, bahwa Untara pasti masih sangat lelah. Karena itu, pertemuan itu tidak dilanjutkan. Meskipun masih juga agak kecewa, kawan-kawan Untara pun segera meninggalkan rumah yang disiapkan bagi Untara. Bagi kawan-kawannya yang mengiringkannya dari Jati Anom pun telah disediakan pula tempat untuk beristirahat.

Namun demikian masih juga ada satu dua orang perwira yang mengawani Untara duduk sambil menghirup minuman hangat. Bahkan bakal mertuanya pun memerlukan datang menyambutnya dan berbicara beberapa lamanya.

Meskipun demikian, kegelisahan Untara rasa-rasanya semakin dalam menghunjam di jantungnya sejalan dengan malam yang semakin kelam, sehingga akhirnya ia tidak dapat menahannya lagi, betapapun ia berusaha.

Apalagi di ruangan itu sudah tidak ada orang lain kecuali bakal mertuanya dan beberapa orang perwira Pajang yang terpercaya.

“Sebenarnya aku sangat gelisah malam ini,” berkata Untara, “hampir saja aku menunda keberangkatanku.”

“Ah,” bakal mertuanya berdesis. “Seisi padukuhan ini akan kecewa. Keluargaku akan kecewa dan kawan-kawan kita para prajurit pun akan kecewa.”

“Tetapi aku mempunyai alasan yang kuat. Justru sebagai seorang senapati.”

“Kenapa?” bakal mertuanya mengerutkan keningnya.

Untara ragu-ragu sejenak. Namun menurut pertimbangannya, tidak akan terjadi sesuatu jika orang-orang yang ada di sekitarnya itu mengetahui apa yang akan terjadi di Jati Anom, karena jarak antara Jati Anom dan Pengging tidak terlalu dekat.

Apalagi yang tinggal duduk bersama hanya beberapa orang yang paling dekat dengan mertuanya saja. Sehingga dengan demikian, menurut pertimbangan Untara, sama sekali tidak akan menimbulkan gangguan apa pun bagi para perwira di Jati Anom. Bahkan dengan demikian ia akan dapat memberikan gambaran kepada mertuanya yang seolah-olah dengan mutlak menolak kehadiran Mataram.

Meskipun masih juga ragu-ragu, namun Untara akhirnya berkata, “Di Jati Anom, ada beberapa orang yang berusaha meneguk di dalam kekeruhan yang terjadi sekarang ini.”

“Kekeruhan yang manakah yang kau maksud? Apakah sebelum kau berangkat ada sanak kadangmu yang mencoba mencatatkan atau merubah rencana hari-hari perkawinan ini?”

“Tidak, sama sekali tidak,” berkata Untara. “Kekeruhan itu bukan di dalam rencana keberangkatanku. Tetapi justru karena rencana itu berjalan lancar.”

“Aku kurang mengerti.”

“Justru aku berangkat ke Pengging inilah, maka ada sekelompok orang-orang yang akan mempergunakan kesempatan. Mengganggu ketenangan Jati Anom.”

“Gila,” desis Rangga Parasta, “tentu orang Mataram.”

“Bukan. Tetapi mereka memang ingin meninggalkan kesan seolah-olah mereka adalah orang-orang Mataram. Dengan demikian maka hubungan antara Mataram dan Pajang akan menjadi kian memburuk bahkan lebih dari itu, mereka mengharapkan benturan langsung antara Mataram dan Pajang.”

“Omong kosong,” tiba-tiba Rangga Parasta memotong, “mereka pasti benar-benar orang Mataram. Aku tidak tahu, kenapa Sultan Adiwijaya masih terlampau sabar menghadapi anak angkatnya yang begitu bengal. Sekarang ia mempergunakan kesempatan kepergianmu itu untuk mengacaukan keadaan.” Rangga Parasta berhenti sejenak, dan Untara sengaja membiarkan berbicara. Ia mengerti bahwa jika pembicaraan itu diputus di tengah, ia akan menjadi semakin bersitegang. Dan Rangga Parasta itu meneruskan, “Jika kau sudah mengetahui akan hal itu, apakah yang kau lakukan?”

Untara menarik napas dalam-dalam. Lalu katanya, “Yang perlu aku ulangi adalah, mereka bukan orang Mataram.”

“Tidak. Tentu orang Mataram.”

Akhirnya Untara menjadi jengkel juga. Meskipun Rangga Parasta adalah bakal mertuanya, tetapi Untara adalah senapati besar di daerah Selatan sehingga karena itu maka katanya, “Aku tahu pasti, bahwa mereka bukan orang-orang Mataram. Aku akan membuktikannya sebagai seorang senapati yang mendapat kepercayaan langsung dari Sultan Pajang. Dan aku akan menemukan jawab siapakah mereka sebenarnya.”

Rangga Parasta mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja ia menyadari bahwa bakal menantunya itu adalah seorang senapati, sehingga ia tidak akan dapat berkata lebih pasti daripadanya meskipun hatinya meyakininya.

Namun demikian, ia masih juga bertanya, “Apakah yang sudah kau lakukan sebelum kau berangkat?”

“Menyiapkan jebakan. Malam ini semuanya itu akan terjadi, dan malam ini para perwira yang aku percaya di Jati Anom akan dapat menarik kesimpulan, siapakah mereka sebenarnya.”

Rangga Parasta tidak membantah lagi. Tetapi di dalam hati ia berkata, “Jika Untara berhasil menangkap satu atau dua orang di antara mereka dalam keadaan hidup, maka barulah akan terbuka matanya, bahwa Mataram memang harus dihadapi dengan kekerasan. Tidak dengan senyum manis seorang ayah yang terlalu baik hati terhadap seorang anak yang berkhianat.”

Namun Rangga Parasta tidak berkata apa pun lagi.

Dalam pada itu, selagi Untara berbicara dengan Rangga Parasta, seorang perwira yang duduk di antara mereka tiba-tiba saja menjadi sangat gelisah. Tetapi ia tetap berusaha untuk menghapuskan kesan dari wajahnya. Bahkan ia masih tetap duduk untuk sesaat, sampai saatnya ia berkata, “Aku akan ke belakang sebentar, Kakang Rangga.”

“Kenapa?”

“Ke pakiwan.”

“O, silahkan.”

Perwira itu dengan tergesa-gesa meninggalkan lingkaran pembicaraan itu. Apalagi ketika ia sudah turun ke halaman, langsung ia menghilang di dalam kegelapan.

Dengan hati yang gelisah, ia berlari-lari kecil mencari seseorang yang berada tidak begitu jauh dari rumah Rangga Parasta.

“Gila,” ia berkata dengan suara gemetar ketika ia berhasil menemukan kawannya, “orang-orang Jati Anom telah mencium rencana itu.”

“He? Darimana kau tahu?”

“Sebelum berangkat, Untara telah menyusun jebakan.”

“Omong kosong. Rahasia itu disimpan cukup rapat.”

“Tetapi aku mendengar dari mulut Untara sendiri. Kau jangan merendahkan Untara. Ia mempunyai kemampuan yang tidak terduga-duga. Petugas sandinya adalah petugas-petugas sandi yang terbaik di seluruh Pajang.”

“Jadi?”

“Batalkan.”

“Bagaimana mungkin aku harus membatalkan.”

“Pergi ke Jati Anom.”

“Aku tidak akan dapat mencapai mereka. Mungkin mereka sekarang sudah mulai bergerak.”

“Berusaha. Berusahalah. Pergi ke Jati Anom dengan seekor kuda yang dapat berlari paling cepat. Ajak seorang kawan, dan segera kembali.”

“Pengging ke Jati Anom bukan jarak yang dekat sekali.”

“Pergi. Berusahalah membatalkan rencana itu. Atau, jika mungkin, hilangkan jejak mereka.”

Orang yang diajak berbicara oleh perwira itu masih terdiri termangu-mangu. Adalah tidak mungkin lagi untuk berusaha apa pun juga. Apalagi berusaha membatalkan rencana itu, karena orang-orang yang mendapat tugas untuk melakukan pembunuhan terhadap para perwira yang masih ada di jati Anom itu pasti sudah bergerak.

Namun selagi orang itu masih kebingungan perwira itu membentaknya, “Berangkat sekarang. Apa pun yang dapat kau lakukan. Cepat.”

Orang itu tidak mau berpikir lagi. Meskipun ia sadar, bahwa tidak banyak yang dapat dilakukan, maka ia pun segera berlari-lari pergi ke rumah seorang kawannya.

Berkuda keduanya berpacu ke Jati Anom. Mereka mengharap bahwa kawan-kawannya di Jati Anom terlambat bergerak sehingga ia masih sempat menggagalkan mereka, karena ternyata Untara telah memasang sebuah jebakan bagi mereka. Karena itu, maka mereka pun telah memacu kuda mereka secepat-cepat dapat dilakukan, dan kuda-kuda itu pun berlari seperti dikejar hantu.

Malam yang gelap menjadi semakin gelap. Di langit bintang-bintang bertaburan dari ujung sampai keujung. Angin malam yang dingin bertiup dari Selatan menyapu hutan-hutan kecil yang bertebaran.

Namun kedua orang yang berkuda itu ternyata telah basah oleh keringat yang mengembun dari wajah-wajah kulitnya. Bukan saja karena mereka harus berpacu dengan waktu, tetapi juga karena kegelisahan yang mencengkam hati.

“Apakah masih ada harapan untuk melakukannya?” bertanya salah seorang dari mereka.

“Kita berusaha. Apa pun yang akan terjadi atas kuda-kuda kita. Mungkin kuda-kuda ini akan kehabisan napas.”

“Tetapi sia-sia. Mereka pasti sudah mulai bergerak.”

Kawannya tidak menyahut. Satu-satunya harapan adalah jika ada perubahan rencana, sehingga gerakan mereka mundur sampai jauh lewat tengah malam. Jika tidak, maka perjalanan yang melelahkan itu akan sia-sia.

Dalam pada itu di Jati Anom, sekelompok orang-orang yang tidak dikenal justru telah mulai bergerak. Mereka telah berada di Lemah Cengkar dan berjalan beriringan. Mereka akan memasuki Jati Anom dari Utara.

Namun tiba-tiba saja dua orang yang mendapat tugas mengawasi jalan yang akan mereka lalui, memberikan isyarat kepada kawan-kawannya untuk berhenti dan bersembunyi. Dengan memperdengarkan suara burung bence, keduanya memberikan petunjuk kepada kawan-kawannya bahwa ada bahaya di depan mereka.

Ternyata kedua orang itu melihat sekelompok kecil peronda prajurit berkuda Pajang lewat.

“Gila,” desis pemimpin kelompok para penyerang itu, “kenapa mereka meronda malam ini? Biasanya mereka tidak meronda sampai ke daerah ini.”

“Justru karena Untara tidak ada. Kiranya Untara telah berpesan kepada pasukan yang ditinggalkan agar mereka menjadi semakin berhati-hati dan meningkatkan perondaan di seluruh Jati Anom. Kemarin ada juga beberapa peronda berkuda yang sampai ke sebelan hutan di sisi jalan ke Selatan.”

“Apakah Untara sudah mencium gerakan kita?”

“Sore tadi dua orang petugas sandi kita lewat daerah Jati Anom. Tidak ada tanda-tanda pemusatan pasukan yang berarti. Mereka memang meningkatkan penjagaan, tetapi tidak lebih dari sikap hati-hati justru karena Untara tidak ada. Jika mereka telah mencium rencana kita, maka di rumah Untara itu pasti sudah dipasang pasukan yang kuat dan mungkin di luar padukuhan. Tetapi prajurit Pajang masih saja berkeliaran di muka banjar, dan beberapa orang perwira masih berada di rumah Untara itu.”

Pemimpin kelompok itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Barangkali sekarang Untara sedang menikmati makan bersama keluarga pengantin perempuan itu. Di sini beberapa orang kawannya akan mati dibantai orang. Kita harus berhasil. Beberapa orang kita yang berada lingkungan keprajuritan malam ini akan selalu mendampingi Untara, setidak-tidaknya akan mengawasinya di Pengging. Jika ada perubahan rencana yang mencurigakan, mereka akan mengirimkan beberapa orang untuk memberitahukan kepada kita di sini.”

“Tidak ada seorang pun yang datang. Tentu rencana perkawinan itu berlangsung seperti yang telah disusun. Memang tidak mudah untuk merubah rencana perkawinan apa pun yang terjadi. Apalagi pengaruh orang-orang kita atas Rangga Parasta akan menentukan.”

“Ya. Kita tidak boleh mengulangi kegagalan yang pernah terjadi di Alas Mentaok.”

“Tentu tidak. Meskipun kita berada di lingkungan prajurit Pajang, tetapi sebenarnya tugas kita tidak lebih berat dari tugas Kiai Damar dan Kiai Telapak Jalak.”

Pemimpin kelompok penyerang itu mengangguk-angguk. Kemudian dipandanginya seorang yang hampir tidak pernah berbicara apa pun. Wajahnya yang tegang dan kasar, melontarkan kesan yang khusus pada orang itu.

“Jangan seorang pun yang salah langkah. Ingat, setidaknya kau harus berhasil membunuh seorang perwira.”

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak sebodoh Kiai Telapak Jalak dan Kiai Damar.”

“Tentu tidak sia-sia Ki Lurah mengirimkan kau kemari.”

Orang itu tidak menyahut.

“Tetapi jangan meremehkan para perwira itu.”

“Aku dapat membunuh empat orang sekaligus. Jika kalian dapat membendung bantuan prajurit-prajurit Pajang yang bertugas menjaga rumah itu, maka para perwira itu akan aku bunuh. Aku hanya memerlukan lima enam orang untuk mengikat mereka dalam perkelahian sebelum aku sempat membunuh mereka seorang demi seorang.”

Pemimpin kelompok penyerang itu mengerutkan keningnya. Dipandanginya orang berwajah kasar itu. Namun kemudian katanya, “Itulah kelemahanmu. Kau menganggap dirimu dapat membunuh empat orang perwira sekaligus apabila kau mendapat kesempatan. Kau hanya memerlukan orang lain menahan mereka agar tidak lari, supaya kau dapat membunuhnya.”

“Kenapa?” orang itu bertanya.

“Membunuh empat orang perwira sekaligus, meskipun seorang demi seorang, bukan pekerjaan yang mudah. Seorang perwira Pajang memiliki nilainya tersendiri.”

Orang itu tidak segera menjawab.

“Dan aku memang tidak hanya menyiapkan kau sendiri untuk menghadapi perwira-perwira itu. Sudah aku katakan, setidak-tidaknya kau harus membunuh seorang. Aku akan membunuh seorang di antara mereka. Tetapi kalau kau ingin menghadapi lebih dari seorang perwira, maka kaulah yang akan terbunuh.”

Orang berwajah kasar itu tidak menjawab. Tetapi di dalam hati ia berkata, “Orang-orang ini belum mengenal siapa aku. Perwira Pajang bukan orang-orang ajaib. Dan aku akan membunuh mereka.”

Sesaat kemudian, dua orang yang berjalan mendahului mereka pun segera memberikan isyarat, bahwa orang-orang berkuda itu sudah menjauh. Dengan bunyi yang sama tetapi dalam irama yang lain, pemimpin kelompok itu segera mengetahui, bahwa mereka dapat meneruskan perjalanan.

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 27 November 2008 at 21:47  Comments (49)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-66/trackback/

RSS feed for comments on this post.

49 KomentarTinggalkan komentar

  1. Wong disuruh antri ..ya aku antri aja..

  2. aku ikutan ki bh antri …

  3. ikut antri kisanak…
    sambil leyeh-leyeh…

  4. Seperti dawuh Ki DeDe saya antri dengan tertib…

  5. Ki GDe,..kulo antri badhe nyempil girikipun engkang kaping 66

  6. Ikut ngantri jatah sembako yang ke 66.

    Maturnuwun ,Ki DD.

  7. tak melok antri ah…..
    sopo ngerti metune sesuk sore…
    kan le antri marem

  8. Klenyem dipangan asu, swidak enem wis dho ditunggu;
    Asu dioyak uwong, sing nunggu rak yo dho uwong to..?

  9. Melu ngantri jg Ki DD…

  10. Terima kasih ki Gede

  11. wah wah dah banyak cantrik disini

    ikut ngantri aah

    Ki KontosWedul

  12. ki gd……
    ndaftar retype jilit 66
    (nek durung ono sing njukuk lho…)

  13. YTH . Ki Aulianda, Ki Dewo, Ki Alphonse dan cantrik bogor yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu,
    buku yang bisa ditemukan :
    Jilid I : banyak yang ilang dan ancur dimakan ngengat paling tersisa 50 %(males liatnya)
    Jilid II : seri 4 (104) – 100, kondisi relatif utuh (masih bisa discan, biar baunya rd apek)
    Jilid III : lengkap (1 – 100)
    Jilid IV : lengkap (1-96)
    saya sdh ijin mertua, sdh oke (nek ora oleh, anake tak balekne). Masalahnya nulai hari Minggu bsk saya disuruh nyangkul ke tanah Bugis, sampai tgl 6. Jadi enaknya ngumpulnya kapan ya?

  14. dalem absen kiai

  15. Loleee.. loleee…
    Sedhakep hamarikelu , nenggo wahyu ingkang badhe metu….
    Sumonggooo

  16. Dino iki aku kecele..biasane Ki GDe naruh cover di bundel berarti kontent sdh diupload. Ternyata hanya sebuah cover,… tetapi ssi motto ADBM : da cover da harapan

  17. Ki Gd, meja 16 pesan menu no 66 ya?
    Jangan sampai lewat makan malem. Dah lapar nih.
    Trimakasih

  18. Ngenteni 66 kaya ngenteni buka pasa. Mung bedane, enake nek saiki isa ngenteni sambi udut udut…

  19. Trimakasih Ki GDe, betul disajikan sebelum jam makan.
    Besuk lagi ya? Tapi sebelum makan siang.
    He he.

  20. Ki Ony kalo udah salse aja lah kita ngumpul, sekarang kerjakan aja sawah masing2 dulu biar beres. Saya sih cuma terima order nyeken yg mana aja gitu…, ntar para cantrik yg laen nyusun gitu.
    Kalo udah ada bahan sih mudah…, mungkin abis lebaran haji bisa dikebut dan dibereskan. Ki Aulianda juga masih repot katanya.
    salam buat mertua.., jgn lupa dibawa kalo ntar ngariung, hehehehe

    ehhh, angkot 66 udah lewat belon ya??…, duh bogor macet banget..,.. mungkin mo ke kondangan kakang Untara di Jati Anom lwt Bogor…

  21. Ki Ony, saya siap jemput. Dimana? Lebih enak ketemu di J-Co atau Starbuck coffee atau makan bakso di Mister Bakso di Botani Square. Jadi privacy (rumah-nya) masih tetap terjaga. Tapi saya terserah aja, manut sama Ki Ony. Juga jatahnya dapat yg mana aja. Kalo boleh sih yg jilid IV. karena saya bener² belum pernah baca he.. he.. Kalo yg jilid II & III sudah tamat bacanya. Saya siap scan langsung jadi PDF. Lha wong aku dulu, waktu di LN kerjaannya nye-can buku² text book. Handbook yg halamannya lebih dari 1000 halaman bisa selesai kurang dari seminggu. Tapi sekarang berat sih.. maklum beban nyangkulnya suka pindah-pindah.. nomaden gitulah.

    GD: Hayo ngaku, nyekeni handbook. Kalo sekarang mah berjibun tuh handbook di internet. Mau cari apa saja ada.

  22. ass wr wb
    yth para Cantrik yg di bogor(Ki Ony, Ki Dewo n Ki Alphonse) , saya bisa gabung ngariungnya ga? domisiliku di Depok Timur,so gak bgt jauh2 amat seh dng komunitas bogor..
    Skdar info, yg jilid II-1 s/d II-100 sptnya sdh dalam proses scan,tp blm selesai memang..mungkin klu mau substitusi bisa yg jiid II-51 -II-74 dan bisa segera, sementara yg II-75 ke atas udah di proses juga (info lbh lanjut via Ki Gde)
    Smntra itu aja..
    wassalam

  23. iya betul Ki Gede… tapi ada byk buku yg tidak ada di dunia maya karena penerbitnya lokal, bahasanya bhs perancis. Tetapi ada beberapa handbook yg kemudian ketemu versi PDF-nya, iya tidak apa-apa kan jadi tahu perbedaan yg baru dgn yg versi lamanya he.. he…

    Ki Ony, kapan nih bisa copy daratnya??

  24. @ ki alphonse
    krn hari ini saya mau ke luar kota sampai tgl 6, paling cepet tgl 7 ato tgl 8 baliknya. ok mgkn saya bawa jilid 4 saja deh

  25. pirang2 ndino ora moro sebo.
    absen sinuhun..
    Mireng2 kadang saking bogor sampun badhe tumandang.
    Brayat Surakartan kapan nggih saget kempal2…

    GD: Hayo siapa yang brayat Surokarto. Ki Balung Gerih ngundang kenduren, mbeleh wedul gembes lho.

  26. jilit 66 s.d hal 19

    KEDUA murid Kiai Gringsing itu mengangguk-angguk Meskipun agak lambat, namun alasan itu akhirnya dimengertinya pula. Rencana yang sudah mereka mengerti itulah yang sebaiknya berjalan, karena rencana yang kita tidak akan dapat mereka sadap dengan mudah, apalagi jika pernah terjadi, orang-orang mereka hilang didaerah Jati Anom.

    …. dst (sudah dipindah ke pendopo, GD)

  27. beruntung pakde bergabung tahun 2012 jadi tidak perlu ngantri dan bisa langsung ke TKP ….. lanjutttt

  28. Mamring ra ono sopo-sopo , ojo-ojo dho digondhol jerangkong alas Mentaok .

    Ndak tilikane meneh ah

    • keapnggih mboten ki ?

      • Pun , pun panggih ki Karto lan ki Abdus .

        Sugeng dalu

        • bwahahahaaaa yo tenan, rak yo mustahil ki kartu digondol, nek nggondel yo isok ki …

          • Wah ki Menggung sih remen nggondhol to , wah blaik ane

            • Kleru dhing . niku Lho unen-unen parikan kuno lambe NGGANDUL merak ati …..

              • nek sing nggandul niku karemane ki nggundul

                • lho nopo piyantune sing nembe leyeh-leyeh sinambi udud niko to????????

                  • sinambi leyeh-leyeh sinambi udud sinambi gundul hahaaa 😀

                    • ha
                      ha
                      hi
                      hi

          • Wah..tak melu saru..ngan ah ! 😀

            • Wah blaik ane saru………….ngan sambi udud mbako growol .

  29. Blaik…sarungan ro diudud..eh..ngudud ! 😀

    • Blaik jan ciloko ane ki Menggung sarunge ki Menggung didudud …..

      • 🙄

        • HIKsss, sapa sing udud-udud sarung-e ki Menggung

          “Hayo Ngaku”

          • mboten cetho ki , tesmak e ketlisut .

            • hihaaaa ki ndul ra ngaku 😛

              • Lho pripun to ?? Ning sajake ki Menggung lagi mateg aji Panglimunan .

                • nganti mboten ketingal buntute

                  • lha sing ketok sikile tok 😛

                    • Lho nopo saged ndlamak , yen mboten saged ndlamak wah ciloko ojo-ojo kesurupan jerangkong Mentaok .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: