Buku 66

Dengan melewati semak-semak belukar dan kadang-kadang semak-semak berduri mereka merayap mendekati Jati Anom justru dan arah Utara. Menurut rencana, mereka akan memasuki padukuhan itu seorang demi seorang, agar para peronda tidak dengan mudah melihat kehadiran mereka. Seperti yang sudah mereka rencanakan, mereka akan berkumpul di kebun di belakang rumah Untara. Selanjutnya mereka akan memanjat dinding batu yang tidak begitu tinggi dan memasuki rumah yang dipergunakan oleh para perwira-perwira itu.

“Kami tidak dapat mengetahui dengan pasti, ada berapa orang yang masih tinggal di rumah itu,” desis pemimpin gerombolan penyerang itu.

“Lima atau enam menurut dugaan terakhir,” berkata salah seorang dari pembantunya.

“Tidak. Tentu kurang dari itu. Tentu di antara mereka ada yang bertugas menangani para peronda di malam itu, yang lain bertugas mengawasi para prajurit di banjar dan yang lain tentu ada yang mengawani Widura,” sahut yang lain.

“Tetapi jangan menilai mereka menurut ukuran yang rendah. Kita anggap saja ada enam orang di dalam rumal itu. Selain aku dan kepercayaan Ki Lurah itu, kalian yang bertugas di dalam rumah harus benar-benar mempersiapkan diri. Meskipun kalian tidak berhasil membunuh, namun kalian harus berhasil memberi kesempatan kepada kami untuk membunuh. Kami mengharap semuanya dapat terbunuh, selain yang sengaja kita hidupi agar ia dapat bercerita tentang orang-orang Mataram yang menyerang mereka dengan tiba-tiba,” berkata pemimpin gerombolan itu.

Mereka terdiam ketika mereka menjadi semakin dekat dengan padukuhan Jati Anom. Namun sekali, lagi mereka mendengar isyarat agar mereka berhenti sejenak.

Pemimpin gerombolan itu tidak begitu sabar menunggu. Karena itu maka ia pun merayap maju mendekati kedua orang yang ditugaskannya untuk mendahului perjalanan mereka.

“Kenapa?” bertanya pemimpin rombongan itu.

“Api itu,” desis salah seorang dari petugas yang mendahului gerombolannya.

Pemimpin gerombolan itu mengerutkan keningnya. Kemudian mengumpat, “Kenapa para peronda itu menyalakan api besar-besar.”

Kedua petugasnya tidak menjawab.

“Mendekatlah. Lihat apa yang mereka lakukan. Dan kenapa mereka bercakap-cakap begitu keras dan riuhnya?”

Kedua petugas itu pun kemudian merayap dengan hati-hati mendekati sebuah gardu peronda. Dari jarak yang tidak terlalu jauh keduanya melihat para prajurit Pajang yang meronda bersama beberapa orang anak muda sedang berkelakar dengan ramainya. Agaknya mereka mendapat kiriman makanan dari rumah Widura, sehingga mereka menjadi sangat ribut. Apalagi ada di antara mereka yang dengan diam-diam membawa sebumbung tuak.

“He,” pemimpin peronda itu membentak, “kau membawa tuak?”

“Hanya sedikit. Malam terlalu dingin. Marilah, minumlah lebih dahulu.”

“Tidak. Aku tidak mau.”

“Malam ini adalah malam yang sangat menyenangkan. Ki Untara menjelang hari-hari yang bahagia di Pengging. Dan kita ikut merayakannya di sini.”

Ternyata para prajurit dan anak-anak muda itu seakan-akan mendapat kesempatan untuk melupakan ketegangan sehari-hari. Mereka bersuka-ria dan satu dua di antara mereka meneguk tuak dari bumbung itu.

“Bukankah kita sudah mendapat peringatan, agar kita berwaspada?” berkata pemimpin peronda itu.

“Kami tidak apa-apa. Kami akan dapat menjalankan tugas kami dengan baik. Bukankah api itu memberikan penerangan di sekitar gardu ini, sehingga kita akan dapat melihat apabila ada orang yang mendekat.”

Pemimpin peronda itu tidak menyahut lagi. Tetapi ia tetap sadar bahwa ia harus berhati-hati.

Ketika pemimpin gerombolan penyerang mendengar laporan itu, ia pun mengumpat-umpat. Dengan demikian berarti rencananya harus tertunda, atau mereka mencari jalan lain untuk memasuki padukuhan itu, justru karena api yang menyala itu. Tetapi hampir di setiap lorong terdapat gardu-gardu peronda semacam itu.

“Kita menunggu sejenak sampai api itu redup. Kita akan tetap memasuki Jati Anom menurut rencana. Seorang demi seorang akan meloncati dinding batu yang rendah itu,” berkata pemimpin gerombolan itu.

Beberapa orang di antara mereka justru menjadi gelisah. Mereka ingin segera memasuki Jati Anom dan menjajagi kemampuan prajurit Pajang dan perwira-perwiranya.

Dalam pada itu, dua ekor kuda sedang berpacu seperti angin. Mereka berusaha untuk secepat-cepatnya mencapai Jati Anom. Tetapi jarak yang mereka tempuh masih jauh. Apalagi malam gelapnya bukan kepalang. Sehingga karena itu, kadang-kadang kuda-kuda itu pun terpaksa memperlambat langkah kakinya jika jalan yang dilaluinya menjadi sulit.

“Mudah-mudahan mereka tertunda oleh sesuatu hal,” bergumam salah seorang dari keduanya.

“Hanya apabila terjadi sebuah keajaiban,” sahut yang lain.

Keduanya tidak berbicara lagi. Kuda mereka berpacu terus menembus gelapnya malam yang pekat.

Di Jati Anom gerombolan orang-orang yang akan menyerang rumah Untara masih harus menunggu sejenak. Meskipun mereka mulai menjadi jemu dan mengumpat-umpat, namun pemimpin mereka berkata, “Kita menunggu sejenak. Kita tidak dapat mencari jalan lain.”

“Bukankah ada dua jalan yang kemarin kita perbincangkan?” berkata salah seorang dari mereka.

“Kenapa dengan dua jalan.”

“Yang lain, kita langsung datang dari arah Timur.”

Tetapi pemimpinnya menggeleng. Katanya, “Kita sudah mematangkan rencana kita. Kita tidak dapat merubah begitu saja. Karena itu, kita harus bersabar sebentar. Justru yang mereka lakukan itu akan menguntungkan kita. Mereka akan kelelahan dan langsung menjadi lengah. Mungkin di bagian lain, penjaga-jaganya lebih berwaspada dari penjaga-jaga yang tidak menepati perintah itu.”

Tidak ada lagi yang membantah. Mereka sadar, bahwa mereka harus mentaati perintah itu tanpa banyak persoalan. Karena itu mereka pun segera berpencar dan duduk bersandar dahan-dahan kayu yang ada sambil menunggu api itu redup.

“Api sudah redup,” berkata salah seorang dari kedua pengawas yang mendahului gerombolan penyerang itu, “kita akan segera maju.”

Laporan itu pun segera sampai kepada pemimpin mereka mengikuti perkembangan di gardu itu dengan saksama.

“Sebentar lagi perapian itu akan padam. Daerah ini akan menjadi gelap dan kita akan merayap maju mendekati dinding padukuhan itu. Daerah itulah yang paling ringkih, sehingga jalan inilah yang paling baik kita lalui. Kita akan langsung sampai ke jalan kecil yang menuju ke bagian belakang rumah Untara. Kita akan berkumpul sejenak di halaman rumah di belakang rumah Untara untuk mematangkan semua rencana.”

Orang-orang dari gerombolan itu pun mulai mempersiapkan diri. Api di dekat gardu itu telah benar-benar menjadi redup dan hampir padam. Suara gelak tidak lagi terdengar. Agaknya beberapa orang justru telah menjadi mabuk karenanya.

Pemimpin gerombolan itu masih menunggu sejenak. Diperintahkannya kedua pengawasnya mendekat lagi dan melihat perkembangan terakhir di gardu itu.

Sejenak kemudian kedua pengawas itu datang kepadanya dan berkata, “Hanya anak-anak muda sajalah yang menjadi mabuk. Para prajurit masih tetap berjaga-jaga, meskipun dengan lesu. Satu dua di antara mereka masih berjalan hilir-mudik. Tetapi dinding yang kita tandai sebagai tempat yang paling baik itu agaknya memang paling aman. Gardu yang paling dekat dari gardu itu, agaknya juga sepi.”

“Lihat pula gardu itu untuk meyakinkan.”

Kedua orang itu pun segera berangkat. Gardu itu pun tidak terlalu jauh dari tempat mereka. Dan menurut rencana, mereka akan menyusup di antara kedua gardu itu. Gardu yang baru saja ribut, dan gardu lain yang tidak begitu jauh.

“Kenapa kedua orang itu harus melihat pula gardu yang lain?” desis salah seorang dari gerombolan yang gelisah itu.

“Pemimpin kita terlalu berhati-hati. Adakalanya baik, tetapi, ada kalanya, kita justru terlambat karenanya,” sahut salah seorang kawannya.

Tidak seorang pun lagi yang menyambung. Namun kegelisahan nampaknya menjadi semakin tajam.

Akhirnya kedua pengawas itu pun datang kepada pemimpin gerombolan itu dan berkata, “Mereka pun mendapat makanan dari rumah Widura tampaknya. Tetapi mereka tidak terlalu ribut seperti gardu yang satu itu.”

“Jika demikian, kita dapat melangsungkan rencana kita.”

Namun belum lagi mereka bergerak, terdengar suara kentongan di kejauhan. Meskipun kentongan itu adalah sekedar isyarat agar para peronda tetap berhati-hati, namun pemimpin gerombolan itu berkata, “Bersiaplah. Kita tunggu gema suara kentongan itu lenyap.”

Orang-orangnya menarik napas dalam-dalam. Tetapi mereka tidak berkata apa pun juga.

Di perjalanan, kedua orang yang berpacu dari Pengging mencoba mempercepat laju kudanya. Tetapi kemampuan kuda mereka terbatas dan jalan-jalan pun tidak serata yang mereka harapkan. Meskipun demikian mereka masih mengharap, bahwa ada keajaiban yang menahan orang-orang yang akan menyerang itu, sehingga ia mendapat kesempatan untuk menggagalkan mereka.

“Tetapi kemungkinan itu kecil sekali,” gumam yang seorang.

“Aku tidak peduli. Tetapi kita harus sampai ke Jati Anom. Kita harus menyusur jalan sesuai dengan rencana yang sudah mereka berikan itu.”

Kawannya tidak menjawab. Ia hanya berdesis ketika angin yang kencang megusap wajahnya. Dingin malam terasa semakin menggigit kulit. Dan mereka harus berpacu lebih cepat lagi, agar mereka dapat mencapai Jati Anom sebelum terlambat.

Demikianlah, maka akhirnya malam yang sepi itu menjadi semakin sepi. Gerombolan penyerang yang sudah bersiap di sebelah Utara padukuhan Jati Anom itu menjadi semakin tegang. Dan sejenak kemudian pemimpinnya berkata kepada pembantunya yang berada di dekatnya, “Apakah semua sudah siap?”

“Sudah sejak lama,” jawab pembantunya.

“Baik. Kita akan berangkat sekarang.”

“Marilah. Kita jangan membuang waktu.”

Tetapi tampaknya pemimpin rombongan itu menjadi ragu-ragu. Ada sesuatu yang terasa agak menghambat niatnya untuk segera menyerang. Namun ia tidak tahu, apakah sebenarnya yang telah terjadi di dalam dirinya, sehingga ia menjadi ragu-ragu. Ia tidak pernah mengalami hal serupa itu. Selama ini ia adalah seorang yang tidak pernah gentar menghadapi apa pun juga. Meskipun ia harus melakukan tugas yang sangat berat sekalipun, ia dapat menjalankan tugas itu sambil tertawa. Tetapi rasa-rasanya kali ini ia telah dibebani oleh sesuatu yang tidak dimengertinya sendiri.

“Persetan,” ia menggeram untuk mendapatkan kemantapan di dalam hati, “tidak ada seorang perwira Pajang yang memiliki kemampuan seperti Ki Gede Pemanahan sekarang ini. Untara sendiri masih belum mencapai tingkat itu. Karena itu, aku tidak harus ragu-ragu. Aku baru boleh ragu-ragu jika Pemanahan sendiri ada di gardu itu, atau orang-orang yang telah membunuh Kiai Damar dan Kiai Telapak Jalak.”

Namun tiba-tiba timbul pertanyaan, “Apakah orang-orang yang membunuh Kiai Damar dan Kiai Telapak Jalak itu ada di sini?”

Tetapi ia sendiri belum pernah melihat orang yang telah membunuh Kiai Damar dan Kiai Telapak Jalak itu. Namun demikian ia harus berhati-hati. Sepeninggal Kiai Damar dan Kiai Telapak Jalak, orang-orang semacam itu pasti tidak akan mengeram di Alas Mentaok untuk seterusnya, ia meski akan bertualang. Dan mungkin sampai ke Jati Anom ini.

Dalam pada itu, orang-orang yang berpacu dari Pengging itu menjadi semakin dekat juga dengan Jati Anom. Meskipun pengharapan mereka sangat kecil, tetapi mereka masih juga mencoba dan berpacu sekencang-kencangnya.

“Kita langsung ke Lemah Cengkar,” berkata salah seorang dari mereka. “Menurut laporan terakhir, rencana itu mengatakan bahwa mereka memasuki Jati Anom dari sebelah Utara. Kita akan menyusul mereka. Kita tinggalkan kuda kita di Lemah Cengkar.”

Kawannya tidak menjawab. Tetapi mereka berpacu secepat dapat mereka lakukan.

Akhirnya mereka pun menjadi semakin dekat. Dengan napas terengah-engah mereka memasuki sebuah hutan perdu lewat gerumbul-gerumbul dan semak-semak liar mereka menerobos langsung memasuki daerah Lemah Cengkar.

“Kita sudah sampai di Lemah Cengkar,” desis salah seorang dari mereka.

“Tetapi sudah lewat tengah malam. Ternyata daerah ini sudah sepi. Mereka pasti sudah berangkat.”

“Kita tinggalkan kuda kita di sini. Kita mendekat.”

Mereka pun segera mengikat kuda mereka di tempat yang tersembunyi. Kemudian dengan tergesa-gesa mereka menyusup semak-semak pergi menyusul kawan-kawannya yang sudah mendahului mereka mendekati Jati Anom. Seperti pesan yang mereka dengar, pasukan kecil itu akan menyerang Jati Anom dari sebelah Utara.

“Cepat. Mudah-mudahan mereka masih di sebelah Utara padukuhan Jati Anom.”

Pada saat itulah pemimpin pasukan kecil yang akan menyerang Jati Anom itu baru mendapat kepastian bahwa jalan telah aman di hadapan mereka. Karena itu, maka ia pun segera berkata kepada pembantunya, “Marilah kita masuk.”

“Sekarang. Jangan ditunda lagi. Orang kita menjadi gelisah dan jika terlampau lama kita mendekam di sini, mereka akan kehilangan napsu dan gairah untuk menumpas prajurit-prajurit Pajang itu.”

“Baiklah. Ingat, hanya dengan kecepatan bergerak kita tidak akan gagal. Kita harus menghancurkan penjaga rumah itu dengan tiba-tiba tanpa memberi kesempatan mereka memukul tengara. Dan aku bersama orang-orang yang sudah ditentukan akan membunuh para perwira di dalam rumah itu, juga tanpa memberi kesempatan mereka berbuat sesuatu. Tetapi harus ada satu orang yang masih sempat hidup di antara mereka.”

“Baik.”

“Nah, aku akan masuk lebih dahulu. Kemudian biarlah orang-orang kita mengikuti aku. Sedang kau akan masuk yang terakhir sekali sambil mengawasi keadaan bersama kedua pengawas itu.”

“Baik.”

Pemimpin gerombolan penyerang itu pun kemudian merayap di dalam gelapnya malam. Dengan sangat hati-hati ia mendekati dinding batu. Di kedua gardu sebelah-menyebelah yang tidak terlampau jauh jaraknya itu sudah tidak terdengar suara apa pun lagi. Untunglah bahwa malam gelapnya bukan kepalang, sehingga pemimpin pasukan penyerang itu dapat merayap tanpa dapat dilihat di antara rerumputan yang tinggi. Kemudian ia harus menyeberang sawah yang tidak terlampau luas, menyelusur pematang. Tetapi sawah itu agaknya tidak terlampau subur, sehingga daerah itu kurang mendapat perhatian. Bahkan daerah yang bersemak-semak liar itu pun masih juga tidak pernah disentuh tangan apalagi digarap. Daerah di sebelah Utara Jati Anom itu memang masih diperlukan saluran air yang cukup untuk membuatnya menjadi tanah pertanian.

Dalam pada itu, seorang demi seorang merayap mendekati dinding batu padukuhan Jati Anom, dan seorang demi seorang telah meloncat masuk dengan sangat hati-hati di dalam lindungan gelapnya malam.

Sementara itu, kedua orang penghubung dari Pengging dengan tergesa-gesa mendekati padukuhan itu dari Utara pula.

Tetapi ketika ia sampai di sebelah padukuhan Jati Anom, ternyata tempat itu telah sepi. Mereka tidak menjumpai seorang pun juga, karena orang yang terakhir ternyata telah merayap mendekat dinding dan meloncat masuk pula.

“Terlambat,” desis salah seorang dari keduanya, “mereka sudah memasuki padukuhan itu.”

Kawannya menarik napas dalam-dalam. Namun ia bergumam, “Tetapi aneh. Tidak terdengar keributan sama sekali. Jika kedatangan mereka sudah diketahui, maka mereka pasti sudah disergap.”

“Prajurit Pajang menunggu di halaman rumah Untara.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Lalu, “Apakah kita akan menyusul mereka, barangkali mereka masih belum bertindak.”

“Atau kita akan masuk ke dalam jebakan itu sama sekali.”

“Kita tidak akan memasuki halaman rumah Untara, dan kita sudah mempersiapkan diri jika benar-benar hal itu terjadi, sehingga kita tidak boleh memasuki daerah yang tidak akan mungkin mudah kita tinggalkan.”

Kawannya mengangguk-angguk sejenak, lalu, “Apakah kau mengenal daerah Jati Anom dengan baik.”

“Tidak dengan baik, tetapi aku pernah mengelilingi daerah ini. Barangkali aku masih dapat mengenal satu dua jalur lorong di dalam padukuhan itu.”

“Baiklah. Tetapi bersiaplah untuk mati.”

“Ah, aku masih belum ingin mati. Aku mempunyai anak dan isteri. Jika aku mati, mereka akan bersedih. Dan isteriku akan menjadi janda muda.”

“Ia akan segera kawin lagi. Jangan cemas.”

“Persetan,” kawannya mengumpat.

Demikianlah keduanya dengan hati-hati merayap mendekati dinding padukuhan. Sejenak mereka memperhatikan lampu minyak yang berkeredipan di gardu. Ternyata bahwa perapian yang dibuat oleh para peronda telah hampir padam sama sekali.

“Sst, gardu peronda,” bisik yang seorang. Sedang yang lain menunjuk pula ke kejauhan, “Itu juga.”

“Hati-hati. Kita menerobos di tengah.”

Mereka menjadi semakin hati-hati. Perlahan sekali mereka maju. Namun akhirnya mereka sampai pula di balik tanggul parit yang kering di seberang jalan di pinggir padukuhan. Mereka harus menyeberangi jalan itu dan meloncati dinding.

“Marilah, tidak ada yang memperhatikan kita dari kedua gardu di sebelah-menyebelah,” bisik yang seorang.

Kawannya tidak menyahut. Dengan hati-hati sekali keduanya pun segera meloncat, memasuki Padukuhan Jati Anom.

Pada saat itulah pemimpin gerombolan yang akan menyerang rumah Untara itu sedang memberikan beberapa petunjuk kepada anak buahnya, di kebun yang rimbun di belakang rumah Untara.

Empat orang pemimpin kelompok kecil dari antara mereka mendapat pesan bagi kelompok masing-masing dengan seteliti-telitinya. Ke mana mereka harus pergi, dan apa saja yang harus mereka lakukan. Dan pemimpin kelompok itu kemudian berkata, “Ingat, kalian harus menyergap seperti kalian menangkap seekor kepiting. Jika kau tidak sekaligus mendekap, maka tanganmulah yang justru akan disapitnya. Jika kepiting itu besar, maka mungkin jari-jari kalian akan putus. Demikian juga prajurit-prajurit Pajang yang bertugas itu. Apalagi para perwira. Jika yang bertugas di dalam rumah itu tidak sempat membunuh mereka, jaga agar mereka tetap terikat pada perkelahian yang mantap, agar kami dapat membunuhnya pula kemudian, kecuali seorang dari mereka akan hidup dan satu dua orang dari para prajurit yang bertugas di luar.”

Para pemimpin kelompok itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, sekarang lakukanlah. Jika kalian gagal maka nasib kita semuanya tidak akan lebih baik dari nasib Kiai Damar dan Kiai Telapak Jalak. Dan kita pun akan berbuat jantan seperti Kiai Damar dan Kiai Telapak Jalak karena mereka yakin akan kebenaran perjuangan kita ini.”

Para pemimpin kelompok itu pun kemudian kembali ke kelompok masing-masing. Sebuah isyarat yang kemudian diberikan oleh pemimpin kelompok itu, telah menggerakkan orang-orang itu semakin mendekati halaman rumah Untara dari arah belakang.

Dalam pada itu, para prajurit pilihan yang berada di halaman rumah itu pun hampir menjadi semakin jemu menunggu. Bahkan ada satu dua di antara mereka yang tanpa dikehendakinya sendiri, telah terkantuk-kantuk bersandar sebatang pohon perdu yang rimbun. Dan di dalam biliknya, ternyata bahwa Swandaru telah benar-benar tidur mendekur.

Namun suara isyarat pemimpin kelompok penyerang yang tidak begitu keras itu ternyata telah menumbuhkan kecurigaan. Suara burung hantu itu disekat oleh irama yang terlampau teratur, sehingga suara itu telah mengingatkan Kiai Gringsing pada suara burung kedasih di Alas Mentaok.

Ternyata bukan saja Kiai Gringsing yang telah mendengar suara isyarat itu. Ki Ranadana, Sumangkar, dan bahkan para prajurit di halaman pun telah menjadi curiga mendengar suara burung yang aneh itu. Meskipun demikian, ada juga di antara mereka yang menyangka, bahwa suara itu adalah suara burung hantu yang sebenarnya.

Tetapi, ternyata bahwa para pemimpin kelompok yang ada di dalam halaman itu telah memberikan aba-aba pula, dengan menyentuh seorang yang bertugas di sampingnya, kemudian sentuhan itu pun menjalar dari yang seorang kepada orang lain. Bagi mereka yang berada pada jarak beberapa langkah, maka para prajurit itu pun telah mempergunakan batu-batu kerikil sebagai isyarat, bahwa mereka harus bersiap.

Pada saat itulah, beberapa orang penyerang mulai tersembul dari balik dinding halaman di belakang rumah. Dengan sangat hati-hati, seorang demi seorang telah meloncat dinding itu.

Maka sejenak kemudian, saat-saat yang paling menegangkan telah terjadi di halaman rumah Untara itu. Beberapa orang prajurit yang terpencar dan bersembunyi di balik semak-semak dapat melihat beberapa orang yang meloncat masuk itu. Tetapi seperti pesan yang mereka terima, mereka tidak boleh berbuat sesuatu jika belum ada perintah, kecuali apabila tanpa disengaja mereka telah diketahui oleh para penyerang itu.

Tetapi karena para prajurit itu telah menempatkan diri pada tempat yang paling baik menurut pilihan mereka, maka orang-orang yang memasuki halaman di dalam gelap itu pun tidak segera dapat melihat mereka. Bahkan mereka sama sekali tidak menyangka, bahwa kedatangan mereka telah ditunggu oleh prajurit-prajurit Pajang justru yang paling baik yang ada di Jati Anom.

Perlahan-lahan orang-orang yang memasuki halaman itu merayap semakin dalam. Seperti pesan yang telah mereka terima, maka mereka pun segera mengambil tempat mereka masing-masing. Dua kelompok dari mereka harus menyergap para prajurit yang bertugas di gardu depan. Sedang sekelompok yang lain harus memasuki rumah itu tersama dengan pemimpin kelompok dan seorang yang dikirim langsung oleh pemimpin-pemimpin mereka untuk membantu pemimpin kelompok itu membunuh para perwira yang ada di dalam rumah. Satu kelompok lagi harus mengawasi suasana, dan membunuh setiap orang yang berusaha melarikan diri dari halaman adbmcadangan.wordpress.com itu. Apakah ia seorang prajurit atau seorang perwira. Karena itu, maka mereka pun harus dapat bekerja sama sebaik-baiknya jika yang mereka hadapi adalah seorang perwira yang memiliki kemampuan yang tinggi.

Demikianlah, keempat kelompok itu telah berada di tempatnya masing-masing seperti pesan pemimpinnya. Mereka menemukan tempat-tempat yang telah ditentukan, yang agaknya oleh seseorang yang telah mengenal halaman rumah itu sebaik-baiknya.

Namun mereka tidak menyangka, bahwa di setiap sudut, bahkan beberapa, langkah dari tempat mereka bersembunyi, prajurit-prajurit Pajang yang terpilih selalu mengawasi mereka dengan saksama.

Kelompok-kelompok penyerang itu telah siap untuk melakukan penyergapan. Yang terakhir adalah usaha memasuki rumah itu tanpa menimbulkan persoalan. Karena itu, maka pemimpin kelompok itu sendirilah yang akan melakukannya, sementara kelompok yang lain mengawasi dengan saksama jika ada di antara mereka yang melarikan diri.

Ternyata pemimpin kelompok itu adalah orang yang berpengalaman. Dengan hati-hati ia memutus tali-tali pengikat dinding di sudut rumah Untara yang paling lemah, di sudut belakang. Hampir tidak menimbulkan desir yang paling lembut sekalipun ia kemudian membuka dinding-dinding itu, dan dengan sangat hati-hati ia pun merayap masuk. Seorang dari anak buahnya dibawanya serta memasuki rumah yang sepi itu.

Sejenak orang-orangnya menunggu. Ternyata bahwa ketegangan yang menghentak-hentak dada hampir tidak tertahankan. Rasa-rasanya jantung mereka menjadi semakin cepat berdentangan.

Bukan saja para penyerang, tetapi prajurit-prajurit Pajang yang menyaksikan itu pun menjadi berdebar-debar pula. Rasa-rasanya mereka tidak dapat menunggu lagi. Tangan mereka telah bergetar dan darah mereka menjadi semakin cepat mengalir.

Sejenak kemudian mereka mendengar derit yang lirih sekali. Ternyata para prajurit Pajang yang berada di sisi rumah itu melihat bahwa pintu butulan telah terbuka.

Dengan isyarat tangan, maka pemimpin kelompok itu memanggil orang-orangnya yang bertugas masuk ke dalam rumah itu bersama seorang yang dipercaya langsung dari pimpinan mereka.

Seorang perwira Pajang yang melihat pintu yang terbuka itu pun menjadi berdebar-debar pula. Dan ia pun yakin bahwa di antara para penyerang itu pasti ada satu atau dua orang yang benar-benar dapat dipercaya melakukan tugas itu.

“Jika saja rencana ini tidak dapat diketahui, maka akulah yang ada di dalam rumah itu bersama beberapa orang kawan. Barangkali aku dan beberapa orang kawan itu sama sekali tidak sempat berbuat sesuatu ketika pedang-pedang mereka menikam dada ini, selagi kami masih tidur,” katanya di dalam hati. Dan ia pun merasa bersukur bahwa ia sempat mendengar rencana itu dan kini ia telah siap menghadapi setiap kemungkinan.

“Meskipun seandainya aku akan mati juga malam ini, tetapi aku mati sambil menggenggam pedang seperti seharusnya seorang prajurit, bukan mati di pembaringan tanpa berbuat sesuatu,” perwira itu menggeram di dalam hati. Tanpa disadarinya maka tangannya pun telah meraba hulu pedangnya.

“Apakah Ki Ranadana dan kawan-kawannya yang ada di dalam rumah itu tidak tertidur, dan mereka mengetahui bahwa yang mereka tunggu telah datang?” ia bertanya kepada diri sendiri. Tetapi karena yang ada di dalam rumah itu adalah orang-orang yang dapat dipercaya, maka ia pun mencoba untuk menenteramkan dirinya sendiri.

Sejenak kemudian perwira itu melihat beberapa orang merayap mendekati pintu butulan itu. Sedang di bagian lain, beberapa bayangan yang bergerak-gerak menjadi semakin dekat dengan regol halaman. Mereka harus langsung menyergap para penjaga yang jumlahnya tidak begitu banyak itu tanpa memberi kesempatan mereka membunyikan tanda apa pun juga.

Dada setiap orang di halaman rumah Untara itu menjadi semakin tegang. Bahkan para prajurit yang ada di regol itu bagaikan duduk di atas bara api. Mereka mengerti, bahwa beterapa orang sedang merayap untuk menerkam mereka, namun mereka masih harus duduk di tempatnya. Meskipun demikian, senjata-senjata mereka telah siap di lambung. Sekejap saja senjata itu akan berada di genggaman. Demikian juga kawan-kawannya yang ada di sudut-sudut halaman depan. Rasa-rasanya mereka sudah ingin meloncat menyerang bayangan yang merambat semakin dekat dengan regol itu.

Dalam pada itu, orang-orang yang ada di dalam rumah itu pun segera berdiri di depan bilik yang mereka perkirakan di pakai oleh para perwira Pajang. Sejenak mereka memusatkan segenap pikiran dan perhatian mereka kepada tugas yang akan mereka lakukan.

Ketika semuanya menurut perhitungan pemimpin kelompok nenyerang itu sudah siap, maka terdengarlah dari dalam rumah itu suara burung hantu yang keras sekali tiga kali. Hanya tiga kali. Dan yang tiga kali itu adalah perintah bagi setiap orang di dalam pasukan kecilnya untuk menyerang semua sasaran yang telah ditentukan.

Pada saat suara burung hantu itu menggema, dua orang yang dengan napas terengah-engah menyusul mereka dari Pengging menjadi berdebar-debar. Ternyata mereka sudah terlambat. Meskipun mereka sudah berada di belakang rumah Untara, namun perintah itu sudah diberikan, sehingga mereka tidak dapat berbuat apa-apa.

“Terlambat,” desah yang seorang.

“Tetapi, kenapa mereka masih sempat menunggu perintah itu? Jika orang-orang Pajang sudah menunggu mereka, maka demikian mereka memasuki halaman rumah ini, mereka pasti akan segera diterkam oleh para prajurit Pajang,” sahut yang lain.

“Kita menunggu perkembangan,” berkata yang lain.

Demikianlah mereka menunggu apa yang terjadi di dalam rumah Untara dan di halamannya itu.

Dalam pada itu, demikian isyarat itu berbunyi, maka setiap orang yang ada di dalam rumah itu pun segera mendorong pintu bilik. Senjata-senjata telanjang yang ada di tangan mereka telah bergetar. Pemimpin kelompok itu berada di depan satu bilik bersama beberapa orang kawannya, sedang orang yang langsung diperbantukan kepadanya oleh pemimpin mereka itu berada di bilik yang lain bersama beberapa orang pula. Mereka harus melakukan tugas mereka dengan cepat dan cermat. Sedang beberapa orang lainnya berada di bilik yang lain pula, untuk mengawasi jika di dalam bilik itu ada juga penghuninya.

Bersama dengan gerit pintu-pintu bilik itu, para penyerang yang sudah siap menunggu di halaman pun segera berloncatan. Jumlah mereka ternyata cukup banyak untuk membinasakan beberapa orang yang bertugas di regol itu.

Namun, demikian isyarat itu berbunyi, maka prajurit-prajurit Pajang yang berada di regol itu pun segera berloncatan berdiri. Seakan-akan suara burung hantu itu memang merupakan perintah bagi mereka untuk bersiap menghadapi setiap kemungkinan.

Sekejap para penyerang itu pun menjadi heran. Namun mereka tidak menghiraukannya lagi. Seperti banjir bandang mereka pun segera menyerang. Orang-orang yang ada di regol itu harus ditumpas.

Tetapi mereka pun terkejut ketika tiba-tiba saja mereka mendengar gemerisik dedaunan dan semak-semak di sekitar mereka. Sebelum mereka mencapai gardu itu, mereka menjadi terpukau karena beberapa orang yang tiba-tiba saja justru berloncatan menyerang mereka.

Sebelum mereka menyadari keadaan mereka, maka tiba-tiba mereka mendengar salah seorang dari prajurit Pajang itu berkata lantang, “Kalian terjebak. Menyerahlah.”

Tetapi para penyerang itu tidak yakin akan kata-kata prajurit Pajang itu meskipun mereka melihat beberapa orang berdatangan. Karena itu, maka pemimpin kelompok mereka pun berkata, “Tumpas mereka. Jangan ada yang tersisa. Mataram harus menguasai daerah Jati Anom sebelum menguasai seluruh Pajang.”

Kata-kata itu mendebarkan jantung para praiurit Pajang. Untunglah mereka sudah mengetahui dengan siapa mereka berhadapan, sehingga mereka pun tidak mudah terpengaruh oleh kata-kata itu, yang seakan-akan para penyerang itu adalah orang-orang Mataram.

Ternyata serangan itu telah mendapat sambutan hangat. Para penjaga di regol halaman pun sudah siap menunggu mereka menyergap. Namun ternyata bahwa para penyerang tidak dapat memusatkan kekuatan mereka, kepada para praturit yang tidak begitu banyak jumlahnya di regol, tetapi mereka harus melayani prajurit-prajurit Pajang yang bermunculan seperti laron dimusim hujan. Ternyata bahwa jumlah prajurit Pajang itu pun cukup banyak sehingga para penyerang itu pun menjadi berdebar-debar. Apalagi prajurit Pajang yang mereka hadapi adalah prajurit pilihan.

“Gila,” pemimpin kelompok penyerang itu menggeram, “kita harus memencar. Kita binasakan semua orang yang ada di halaman ini.”

Dalam pada itu kelompok cadangan yang harus mengawasi jika ada di antara para prajurit Pajang yang melarikan diri itu pun tidak lagi dapat tinggal diam. Mereka pun segera terlibat pula di dalam perkelahian melawan para prajurit Pajang.

Dalam pada itu, yang ada di dalam rumah pun terkejut bukan kepalang. Ternyata mereka hanya menjumpai seorang perwira Pajang di dalam rumah itu. Dan perwira itu adalah Ki Ranadana. Sedang yang lain sama sekali bukan prajurit Pajang. Namun justru karena itulah, maka kemudian mereka menjumpai banyak sekali kesulitan.

Para penyerang yang belum mengenal Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar itu semula tidak begitu menghiraukannya. Pembunuhan di dalam rumah itu akan tetap berlangsung, siapa pun yang ada di dalamnya. Perwira yang hanya seorang itu harus dibunuh pula, sedang salah seorang dari orang-orang yang ada di rumah itu akan dihidupinya.

“Kalian tidak usah melawan,” berkata pemimpin gerombolan itu, “kami datang dengan kekuatan yang tidak akan terlawan oleh kalian. Marilah kalian berkumpul di ruang tengah.”

Ki Ranadana dan Ki Sumangkar memandang pemimpin kelompok itu sejenak, lalu sambil mengangguk-angguk Ki Ranadana menjawab, “Apakah yang akan kalian lakukan atas kami?”

“Sayang, kami akan membunuh kalian. Para perwira dan siapa pun yang ada di dalam rumah ini.”

Ki Ranadana dan Ki Sumangkar tidak segera menyahut, sedang di depan pintu bilik yang lain terdengar seorang dari para penyerang itu berkata, “Keluar. Kami akan memenggal lehermu. Lebih baik kau mati di ruang yang agak luas daripada dibilik yang sempit agar rohmu mendapat jalan yang agak lapang.”

Dan terdengar jawab Kiai Gringsing, “Baiklah. Kami akan keluar ke ruang yang lebih luas. Tetapi apakah kalian benar-benar akan membunuh kami?”

“Jangan banyak bicara. Sediakan diri untuk mati. Pedang kami akan memenggal leher kalian.”

Tetapi yang terdengar kemudian adalah kata-kata Swandaru, “Kulit kami amat liat. Apakah pedang kalian cukup tajam?”

Pertanyaan itu benar-benar tidak diduga oleh orang-orang yang datang memasuki rumah itu. Karena itu, sejenak mereka hanya memandang Swandaru dengan tatapan mata yang aneh.

“He, kenapa kalian menjadi heran seperti melihat hantu?” bertanya Swandaru pula. “Ayo, jawab pertanyaanku. Apakah pedangmu cukup tajam untuk memotong leherku. Kulitku cukup liat dan tulangku sangat keras.”

“Persetan,” orang yang dikirim oleh pemimpin para penyerang itu menggeram, “kaulah yang akan aku bunuh pertama-tama.”

“Aku?” Swandaru membelalakkan matanya. “Kenapa bukan yang lain? Kau misalnya?”

“Tutup mulutmu,” orang itu berteriak.

“Kami adalah para perwira pilihan dari prajurit Pajang,” berkata Swandaru. “Ketika kami memasuki lingkungan keprajuritan, kami harus melalui pendadaran yang berat. Nah, apakah kami yang sudah melalui pendadaran itu harus menyerahkan leher kami begitu saja?”

Orang itu tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba saja ia menyergap masuk. Agaknya kemarahannya sudah memuncak sampai ke ubun-ubun.

Beberapa orang kawannya pun ikut pula menyergap. Mereka langsung menyerang kiai Gringsing dan kedua muridnya dan berusaha membunuh mereka sebelum mereka sempat berbuat apa pun juga, apalagi memberikan isyarat.

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 27 November 2008 at 21:47  Comments (49)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-66/trackback/

RSS feed for comments on this post.

49 KomentarTinggalkan komentar

  1. Wong disuruh antri ..ya aku antri aja..

  2. aku ikutan ki bh antri …

  3. ikut antri kisanak…
    sambil leyeh-leyeh…

  4. Seperti dawuh Ki DeDe saya antri dengan tertib…

  5. Ki GDe,..kulo antri badhe nyempil girikipun engkang kaping 66

  6. Ikut ngantri jatah sembako yang ke 66.

    Maturnuwun ,Ki DD.

  7. tak melok antri ah…..
    sopo ngerti metune sesuk sore…
    kan le antri marem

  8. Klenyem dipangan asu, swidak enem wis dho ditunggu;
    Asu dioyak uwong, sing nunggu rak yo dho uwong to..?

  9. Melu ngantri jg Ki DD…

  10. Terima kasih ki Gede

  11. wah wah dah banyak cantrik disini

    ikut ngantri aah

    Ki KontosWedul

  12. ki gd……
    ndaftar retype jilit 66
    (nek durung ono sing njukuk lho…)

  13. YTH . Ki Aulianda, Ki Dewo, Ki Alphonse dan cantrik bogor yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu,
    buku yang bisa ditemukan :
    Jilid I : banyak yang ilang dan ancur dimakan ngengat paling tersisa 50 %(males liatnya)
    Jilid II : seri 4 (104) – 100, kondisi relatif utuh (masih bisa discan, biar baunya rd apek)
    Jilid III : lengkap (1 – 100)
    Jilid IV : lengkap (1-96)
    saya sdh ijin mertua, sdh oke (nek ora oleh, anake tak balekne). Masalahnya nulai hari Minggu bsk saya disuruh nyangkul ke tanah Bugis, sampai tgl 6. Jadi enaknya ngumpulnya kapan ya?

  14. dalem absen kiai

  15. Loleee.. loleee…
    Sedhakep hamarikelu , nenggo wahyu ingkang badhe metu….
    Sumonggooo

  16. Dino iki aku kecele..biasane Ki GDe naruh cover di bundel berarti kontent sdh diupload. Ternyata hanya sebuah cover,… tetapi ssi motto ADBM : da cover da harapan

  17. Ki Gd, meja 16 pesan menu no 66 ya?
    Jangan sampai lewat makan malem. Dah lapar nih.
    Trimakasih

  18. Ngenteni 66 kaya ngenteni buka pasa. Mung bedane, enake nek saiki isa ngenteni sambi udut udut…

  19. Trimakasih Ki GDe, betul disajikan sebelum jam makan.
    Besuk lagi ya? Tapi sebelum makan siang.
    He he.

  20. Ki Ony kalo udah salse aja lah kita ngumpul, sekarang kerjakan aja sawah masing2 dulu biar beres. Saya sih cuma terima order nyeken yg mana aja gitu…, ntar para cantrik yg laen nyusun gitu.
    Kalo udah ada bahan sih mudah…, mungkin abis lebaran haji bisa dikebut dan dibereskan. Ki Aulianda juga masih repot katanya.
    salam buat mertua.., jgn lupa dibawa kalo ntar ngariung, hehehehe

    ehhh, angkot 66 udah lewat belon ya??…, duh bogor macet banget..,.. mungkin mo ke kondangan kakang Untara di Jati Anom lwt Bogor…

  21. Ki Ony, saya siap jemput. Dimana? Lebih enak ketemu di J-Co atau Starbuck coffee atau makan bakso di Mister Bakso di Botani Square. Jadi privacy (rumah-nya) masih tetap terjaga. Tapi saya terserah aja, manut sama Ki Ony. Juga jatahnya dapat yg mana aja. Kalo boleh sih yg jilid IV. karena saya bener² belum pernah baca he.. he.. Kalo yg jilid II & III sudah tamat bacanya. Saya siap scan langsung jadi PDF. Lha wong aku dulu, waktu di LN kerjaannya nye-can buku² text book. Handbook yg halamannya lebih dari 1000 halaman bisa selesai kurang dari seminggu. Tapi sekarang berat sih.. maklum beban nyangkulnya suka pindah-pindah.. nomaden gitulah.

    GD: Hayo ngaku, nyekeni handbook. Kalo sekarang mah berjibun tuh handbook di internet. Mau cari apa saja ada.

  22. ass wr wb
    yth para Cantrik yg di bogor(Ki Ony, Ki Dewo n Ki Alphonse) , saya bisa gabung ngariungnya ga? domisiliku di Depok Timur,so gak bgt jauh2 amat seh dng komunitas bogor..
    Skdar info, yg jilid II-1 s/d II-100 sptnya sdh dalam proses scan,tp blm selesai memang..mungkin klu mau substitusi bisa yg jiid II-51 -II-74 dan bisa segera, sementara yg II-75 ke atas udah di proses juga (info lbh lanjut via Ki Gde)
    Smntra itu aja..
    wassalam

  23. iya betul Ki Gede… tapi ada byk buku yg tidak ada di dunia maya karena penerbitnya lokal, bahasanya bhs perancis. Tetapi ada beberapa handbook yg kemudian ketemu versi PDF-nya, iya tidak apa-apa kan jadi tahu perbedaan yg baru dgn yg versi lamanya he.. he…

    Ki Ony, kapan nih bisa copy daratnya??

  24. @ ki alphonse
    krn hari ini saya mau ke luar kota sampai tgl 6, paling cepet tgl 7 ato tgl 8 baliknya. ok mgkn saya bawa jilid 4 saja deh

  25. pirang2 ndino ora moro sebo.
    absen sinuhun..
    Mireng2 kadang saking bogor sampun badhe tumandang.
    Brayat Surakartan kapan nggih saget kempal2…

    GD: Hayo siapa yang brayat Surokarto. Ki Balung Gerih ngundang kenduren, mbeleh wedul gembes lho.

  26. jilit 66 s.d hal 19

    KEDUA murid Kiai Gringsing itu mengangguk-angguk Meskipun agak lambat, namun alasan itu akhirnya dimengertinya pula. Rencana yang sudah mereka mengerti itulah yang sebaiknya berjalan, karena rencana yang kita tidak akan dapat mereka sadap dengan mudah, apalagi jika pernah terjadi, orang-orang mereka hilang didaerah Jati Anom.

    …. dst (sudah dipindah ke pendopo, GD)

  27. beruntung pakde bergabung tahun 2012 jadi tidak perlu ngantri dan bisa langsung ke TKP ….. lanjutttt

  28. Mamring ra ono sopo-sopo , ojo-ojo dho digondhol jerangkong alas Mentaok .

    Ndak tilikane meneh ah

    • keapnggih mboten ki ?

      • Pun , pun panggih ki Karto lan ki Abdus .

        Sugeng dalu

        • bwahahahaaaa yo tenan, rak yo mustahil ki kartu digondol, nek nggondel yo isok ki …

          • Wah ki Menggung sih remen nggondhol to , wah blaik ane

            • Kleru dhing . niku Lho unen-unen parikan kuno lambe NGGANDUL merak ati …..

              • nek sing nggandul niku karemane ki nggundul

                • lho nopo piyantune sing nembe leyeh-leyeh sinambi udud niko to????????

                  • sinambi leyeh-leyeh sinambi udud sinambi gundul hahaaa 😀

                    • ha
                      ha
                      hi
                      hi

          • Wah..tak melu saru..ngan ah ! 😀

            • Wah blaik ane saru………….ngan sambi udud mbako growol .

  29. Blaik…sarungan ro diudud..eh..ngudud ! 😀

    • Blaik jan ciloko ane ki Menggung sarunge ki Menggung didudud …..

      • 🙄

        • HIKsss, sapa sing udud-udud sarung-e ki Menggung

          “Hayo Ngaku”

          • mboten cetho ki , tesmak e ketlisut .

            • hihaaaa ki ndul ra ngaku 😛

              • Lho pripun to ?? Ning sajake ki Menggung lagi mateg aji Panglimunan .

                • nganti mboten ketingal buntute

                  • lha sing ketok sikile tok 😛

                    • Lho nopo saged ndlamak , yen mboten saged ndlamak wah ciloko ojo-ojo kesurupan jerangkong Mentaok .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: