Testimonial

Membaca cerita Api Di Bukit Menoreh tentu menyiratkan bermacam kesan.
Silakan tulis di bawah ini. Sepanjang apa pun :)
Tentang apa aja.. tentang pak SH Mintardja.. tentang pengalaman pertama baca ADBM.. tentang tokoh Agung Sedayu.. Swandaru.. Kiai Gringsing dan Sumangkar.. atopun jilid 99 dan jilid 116

Pokoknya apa aja yang berhubungan dengan ADBM dan Anda.

Silakan Kisanak.

Catatan :
sebisa mungkin jangan membuat spoiler jalan cerita.

Telah Terbit on 8 November 2008 at 11:08  Comments (236)  

The URI to TrackBack this entry is: http://adbmcadangan.wordpress.com/testimonial/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini.

236 KomentarTinggalkan komentar

  1. Bagi Saya cerita ADBM nya SH Mintardja ini adalah cerita yg paling bagus dan menarik jika dibandingkan dengan cersil2 Jawa lainnya.

    Pertama kali berkenalan dengan buku ADBM, bermula di tahun ’84an ketika saya baru duduk di kelas 1 SD..,
    Suatu ketika melihat tumpukan buku2 lama bacaan milik tante dengan cover orang berkelahi, merasa tertarik langsung mengambil satu buku dan dipaksakan untuk membaca.., ( maklum saat itu baru bisa membaca.., dan di hadapkan pada bacaan dengan ejaan lama..;P).
    dimulailah petualang membaca buku ADBM dari episode2 awal sampai episode2 selanjtnya yang di beli tante secara ketengan…

    Ketika Tante pindah rumah, tidak ada lagi bacaan ADBM..sehingga tidak dapat membaca kelanjutan kisah2 petualangan Agung Sedayu..,
    Namun sedikit terobati dengan munculnya sandiwara Radio ADBM di beberapa radio swasta Jakarta.
    Masih terngiang dalam ingatan suara ferry fadli yang mengisi suara tokoh Sutawijaya.., (kalo suara Agung Sedayu tidak ingat siapa yg mengisinya..),Seingat saya sandiwara ADBM ini terhenti pada cerita meninggalnya Sultan HAdiwijaya..,
    Dulu sempat juga melihat film versi layar lebar ADBM yang ditayangkan di TVRI yang menggambarkan sepenggal kisah awal dari ADBM.

    Praktis setelah sandiwara radio ADBM terhenti, saya sudah tidaklagi berinteraksi dengan cerita ADBM ini.., sampai menemukan blognya mas Rizal yang membuka kembali nostalgia membaca ADBM ini..,dan dilanjutkan dengan blog adbm cadangan ini…

    Salut bapak2 perintis dan penunjang blog ini..,
    Semoga blog ini langgeng dan dapat terus menayangkan cerita ADBM sampai episode2 terakhir yg dibuat oleh Alm. SH MIntardja..

    Muun Maap sebesar-besarnya kalo sampai saat ini saya belum mampu ikut serta berpartisipasi dalam gotong royong melanggengkan ADBM di blog ini dan hanya berfungsi sebagi cantrik pembaca aktif yg setia bolak-balik menambah count hits pada blog ini..

    Salam

  2. Saya kenal cerita ADBM sejak ortu langganan koran kedaulatan rakyat tahun 80an. Saat saya mulai baca ceritanya sudah jauh ditengah tengah karena tokoh sentral Agung Sedayu sudah sangat sakti dengan ilmu puncak melalui sorot mata yang mampu menghancurkan apa saja, punya ilmu kebal yang kalau diterapkan mampu menumbuhkan hawa panas disekitanya dll. Sehingga dengan adanya ABDM di blog ini sungguh membantu saya untuk bisa meruntut kembali cerita saya belum baca.

    Ternyata sampai Jilid 56 masih belum apa-apa. Kalau tidak salah tidak ada masalah nantinya antara Agung Sedayu dan Untara(?), Dulu kehadiran cerita bersambung di koran KR itu juga sangat ditunggu tunggu. Satu hari saja SH Mintardja tidak muncul (biasanya karena beliau sakit atau keperluan keluar kota dll) rasanya orang jadi kurang bersemangat dalam membaca koran KR. Kelitannya demam menunggu kehadiran cerita ADBM muncul lagi sekarang ini.
    Matur nuwun buat siapa saja yang telah berperan dalam mensukseskan munculnya Blog ADBM ini.

    Arigatou

  3. 1
    Pernah suatu ketika, saat selesai ujian semester, saya dan seorang teman menyewa ADBM II di persewaan komik dari episode 1 – 50.
    Di kamar kost sempit itu terciptalah rekor membaca nonstop saya yang belum terpecahkan sampai sekarang. Dua hari dua malam (48 jam)dipotong waktu shalat, bak dan bab. Teman saya butuh waktu setengah hari lagi untuk menyelesaikan bacaannya (60 jam).
    Kho Ping Hoo pun tidak bisa mengikat saya selama itu.

    2
    Waktu SMA (80-an) saya numpang baca ADBM pada seorang pedagang tikar di pasar, kebetulan kiosnya bersebelahan dengan kios pracangan orang tua saya. Pedagang tersebut sangat terinspirasi karakter Agung Sedayu. Kalau kami ngobrol tentang ADBM, semua tokoh-tokoh protagonis di dalamnya bukan lagi tokoh-tokoh khayal melainkan hidup. Kami bertukar kesan pengenalan kami pada Agung Sedayu, Swandaru, Kyai Gringsing, dll.. seperti membicarakan orang-orang yang nyata.

    3
    Membaca ADBM tak ubahnya seperti menonton wayang. Moralitas yang ditawarkan sangat jelas: hitam putih. Kebaikan vs kejahatan, dan selalu kebaikan muncul sebagai pemenang. Sadar atau tidak sebenarnya kemenangan-kemenangan itulah yang membuat kita terikat pada ADBM. Kenyataan dunia modern sering berbanding terbalik dengan keharusan-keharusan ideal yang ditawarkan agama dan sistem norma yang sering disebut peradaban. Yang kita jumpai hari demi hari adalah kejahatan selalu menang. Koruptor berkeliaran, penjahat sadis, maniak, mutilasi, pengumbaran syahwat..

    Maka ADBM adalah manifestasi dari harapan kita atas kemenangan kebaikan.

    Jayaraga.

  4. Saya barusan “nemu” blog ini! Langsung saya nikmati isinya! Lha…ternyata cerita seri Api Di Bukit Menoreh! Terus terang, saya memang tidak sempat menikmati cerita ini yang secara bersambung dimuat di SKH Kedaulatan Rakyat itu. Sebelum Ejaan Yang Disempurnakan, sudah eksis! Hanya sekali-kali saja saya membaca KR yang ditempel di papan milik sekolah. Itu saja tidak bisa sesering mungkin. Meski demikian, nama Agung Sedayu dan Bukit Menoreh adalah ingatan lama yang tidak pernah bisa hilang. Tokoh rekaan SH Mintardja itu masih selalu saya ingat.
    Sedangkan perbukitan Menoreh? Oo…itu adalah tempat kelahiran saya! Makanya, begitu cerita itu bergulir, saya serasa menjadi bagian dari keturuan Ki Gede Menoreh! Ha…ha…ha…! Saya akui! Saya memang bocah nggunung! Leluhur saya ya dari daerah Menoreh. Masuk wilayah kecamatan Girimulyo, Desa Purwosari! Sebuah tempat di tlatah Menoreh bagian utara! Sekarang, ketika membaca cerita ini, saya jadi membayangkan, kira-kira lingkup padukuhan-padukuhan Ki Gede Menoreh berarti luas juga…Mungkin sampai di tempatku. Ha…ha…ha…!

  5. ADBM adalah “babad Mataram”, cikal bakal bagi kasultanan Jogyakarta (sekatang Daerah Istimewa Jogyakarta). Cerita2 tulisan SH Mintarja merupakan penjabaran dari cerita2 babad tanah Jawe aslinya yang berupa “sanepa”.
    Dalam ceria Nagasasra dan Sabuk Inten diungkapkan oleh SH Mintarja mistery “dadung awuk” dan Jaka Tingkir melawan dan membunuh kebo danu yang disumpal mulutnya dengan tanah. Oleh SH Mintarja diartikan Kebo Kanigara telah diberi kedudukan oleh Sultan Trenggono dengan diangakatnya Jaka Tingkir sebagai menanrunya
    Demikian pula dalam ADBM miteri cerita cerita babad tentang bantuan mahluk halus dalam … (Ikuti saja kelanjutannya).
    Sungguh cerita yang sangat menarik, SH Mintarja sepertinya “merasionalkan” cerita2 babad.
    Kapan pengarang2 muda menyusul??

    GD: Komentar panjenengan sangat bernas, Pak Sjafi’i. Saya setuju sekali bahwa SHM berusaha menerjemahkan BABAD TANAH JAWI dalam bahasa yang dapat dipahami oleh akal tanpa harus berpikir yang neko-neko. Sampai sejauh ini saya belum menemukan adanya ilmu aneh-aneh. Meskipun ilmu yang dimiliki Panembahan Agung tampaknya cukup aneh, tapi dunia modern ternyata mengenal ilmu hipnotis.

    BTW, apakah nama lengkap panjenengan adalah Bapak Achmad Sjafi’i Ma’arif yang pernah menjadi ketua PP Muhammadiyah?
    Mohon maaf kalau keliru.

  6. Entah karena kepiawaian KI SH Mintardja entah itu juga dialami oleh para pembaca yang lain, tokoh Agung Sedayu rasa-rasanya mewakili karakter saya, peragu, pemaaf dan tidak bisa tegas, istilah anak sekarang Agung Sedayu tuh Gue banget.
    Oleh karena ini sedari awal saya merasa bisa ber empati dengan tokoh yang satu ini. Saya termasuk yang menyesal mengapa Agung Sedayu terlanjur mengikat janji dengan Sekar Mirah sebab menurut saya secara karakter, dia lebih cocok dengan Pandan Wangi.

    Disamping membaca ADBM, saya pun membaca juga Nagasasra Sabuk Inten, Tanah Warisan, Pelangi di Langit Singosari, juga trilogi Pemanah Rajawalinya Chin Yung dan cerita silat Cina lainnya.
    Namun tidak ada yang membuat saya terlibat hampir secara personal dengan tokoh utamanya seperti keterlibatan emosional dan personal saya terhadap Agung Sedayu. Bagi saya Mahesa Jenar terasa berjarak, begitu juga Mahesa Agni (Pelangi di Langit Singosari), atau Bramanti (Tanah Warisan), terlebih lagi Kwe Ceng atau Yo kong atau tokoh-tokoh silat Cina lainnya yang secara budaya memang sudah berjarak.

    Agung Sedayu yang perkembangan jiwanya diceritakan secara detail oleh Ki SHM betul-betul menjadikan dia seorang biasa seperti kita-kita (atau saya ? :))yang mendapat bekal dan tempaan luar biasa dari alam dan gurunya sehingga menjadi seorang dengan kemampuan luar biasa. Hal ini lah yang membuat tokoh yang satu ini begitu dekat dengan kita (paling tidak saya).

    Salah satu bagian yang paling saya ingat berkaitan dengan karakter Agung Sedayu adalah ketika dia mendapat tugas untuk melatih sekelompok anak muda, lantas ada salah satu yang merasa paling jagoan kemudian menjajal kedigdayaan Agung Sedayu, antara lain dengan mengajak berkelahi, lantas menaburkan pasir di mata Agung Sedayu dan bahkan sempat menusuk lambung tokoh kesayangan saya ini dengan pisau belati. Namun karena Agung Sedayu sudah menguasai ilmu kebal dengan mumpuni, maka serangan dan tusukan pisau dari anak muda itu sama sekali tidak membuat Agung Sedayu cedera.
    Anak muda yang akhirnya kecele atas penilaiannya terhadap kemampuan Agung Sedayu ini akhirnya menunggu dengan cemas kapan hukuman akan dijatuhkan, namun justru Agung Sedayu sama sekali tidak meng apa-apa kan anak muda itu, karena menurut dia memaafkan pemuda itu sudah cukup tanpa harus menghukum.
    Disitulah Agung Sedayu mendapatkan pelajaran kepemimpinan bahwa seorang pemimpin itu memang terkadang harus mampu, bisa dan tega untuk menjatuhkan hukuman, namun di sisi lain, cuplikan kisah di bagian ini semakin menunjukkan karakter Agung Sedayu yang memang rendah hati, pemaaf dan kurang bisa menjadi pimpinan (terutama yang berkaitan dengan keprajuritan).
    Agung Sedayu….Gue banget lu…..

  7. “Kenal” buku silat jawa ini pertama kali ketika saya mendapat tugas dari Pak Dhe saya (Alm)membelikan Beliau buku tersebut. Saya tidak tahu, apakah karena saya ponakan yang paling kecil atau karena alasan lain, akhirnya tugas membelikan buku itu menjadi “Tugas-Tetap” saya, pada hal Pak Dhe punya anak yang hampir sepantaran (lebih tua 2 tahun) dengan saya.

    Saya senang-senang saja dengan tugas tetap tersebut, karena ketika “serah-terima” barang terjadi, biasanya saya akan dapet “hadiah”. Namun demikian, saya tidak pernah sekalipun membacanya, baik itu buku yang baru dibeli dan akan saya serahkan ke beliau, maupun buku-buku yang sudah selesai dibaca Pak Dhe Saya itu. Maklum, saya takut membuka bungkus buku & Pak Dhe menyimpan, menata dengan rapi buku-buku tersebut di kamar pribadinya.

    “Pertemuan” berikutnya terjadi sepuluh tahun kemudian, ketika secara tak sengaja saya “jalan-jalan” dan melihat-lihat koleksi buku di sebuah perpustakaan universitas negeri di Yogyakarta. Melihat koleksi SHM, memori di kepalan saya berputar cepat… “Oh ini buku yang Pak Dhe (Alm) suka….”. Iseng-iseng saya coba cari Jilid 1 dan HA!!!…. ketemu. Pertama kali membacanya, saya masih membaca sambil menyender di Rak buku koleksi ADBM…. dapet setengan buku, pindah saya ke meja belajar….. Abis satu buku saya cari buku berikutnya, berikutnya…dan tanpa terasa, sudah 5 jilid saya baca!!!

    Hari-hari berikutnya adalah “hari-hari bersama ADBM” Duh….. itu yang namanya “ketagihan”…. bukan main deh. Teman-teman kuliah saya jadi heran,kok saya jadi seneng ke “Perpus Pusat”. Ada apa ya??

    Sayangnya koleksi ADBM tidak tersedia secara lengkap. Dan ADBM’ers tahu kan bagaimana rasanya jilid yang terputus???

    Oleh karena itu, menemukan webnya Maz Rizal dan kemudian Web ini serasa nemu “mainan lama dalam kemasan baru”….. Terima kasih Mas Rizal, semoga Mas Rizal dalam keadaan baik-baik saja… tentu juga buat Ki GD, terima kasih juga atas dedikasinya……

  8. Assalamualaikum,
    Coba2 sumbang sedikit cerita,

    Mulai kenal Api kira2 waktu masih SMP dari Bapak saya yang berlangganan bukunya (sayangnya sekarang hanya beberapa yg ktemu setelah dicari di gudang rumah). Kebetulan sepupu2 saya (yang umurnya jauh di atas saya) juga ikut langganan cerita ini. ada yg dari KR ada juga yang berlangganan bukunya. Setiap ada pertemuan keluarga, topik Api manjadi salah satu menu yang tidak pernah terlewatkan. Salah satu sepupu saya, saking fanatiknya, memberi nama anak2nya yg baru lahir dengan nama tokoh2 di Api ini. Rangga dan Glagah yang dipilih.

    Saya tahun lalu mencoba melengkapi koleksi Api saya. Kalau mau jalan singkat emang ndak sulit, cuma sedia 2.5 juta rupiah beres sudah. Masalahnya saya sudah punya sekitar 75 jilid buku yg tidak berurut dan sayang rasanya kl saya punya dobel2. Berburu di Jatinegara dan pasar Senen menjadi pilihan saya. Malah saya pernah berburu di Pasar Bring Harjo beberapa kali dan malah ndak dapat apa2. Dari hasil perburuan yg nggak begitu intens (heheh), sampai sekarang sekitar 150 jilid ndak berurut sudah berhasil dikumpulkan. Sampai sekarang saya masih berusaha untuk melengkapi. Barangkali ada yg bisa mbantu ..?

    Sekitar Oktober 2008 saya menemukan webnya Mas Rizal (yg sampai sekarang ndak tau rimbanya – matur nuwun sanget Mas Rizal) dan saya seperti menemukan harta karun untuk memuaskan haus saya untuk membaca Api. Plus ditambah dengan web ADBM cadangan, wuah ndak karu2an rasanya. Seneng .. haru .. dan macem2 … Bener2 terima kasih untuk para pengasuh web ini.

    Kalau para pengasuh minta bantuan untuk scan jilid2 tertentu, monggo, selama saya bukunya ada pasti akan saya usahakan.

    Salam

  9. Saya mulai baca ADBM di jilid II, saat agung sedayu perang tanding lawan Ajar Tal Pitu dari Buku² Bapak saya sendiri, yg langganan beli. Sayangnya buku²nya tidak terawat, maklum orang kampung yang kurang bisa menghargai buku koleksi. Jadi waktu pengin baca di buku² jilid I, yg ketemu hanya beberapa kitab saat-saat babad alas mentaok.

    Terus terang saja, alur cerita ADBM ini sangat lambat ya, jadi kalah pamor dengan Kho Ping Ho. Rasa ketagihan baca ADBM bagi saya, apalagi waktu masih kecil dulu, masih kurang dibandingkan ketagihannya baca KPH.

    Cuma kelebihan SHM adalah berangkat dari budaya kita sendiri dan tidak banyak menggurui pembaca.

  10. Orang bilang, apabila sesuatu telah tersedia di depan mata setiap hari, maka penghargaan terhadap sesuatu itu akan berkurang.

    Dengan demikian, meskipun negeri kita berlimpah dengan keindahan dan kesuburan, namun penghargaan terhadap keindahan dan kesuburan atas negeri itu pun rasa-rasanya menjadi biasa saja, bahkan lebih menghargai keindahan yang berasal dari luar negara.

    Namun setelah mengalami sendiri keadaan di negara di mana keindahan berasal, barulah disadari bahwa keindahan yang berasal dari negeri sendiri memanglah indah tiada tara.

    Lho, kok malah pidato…

    Cerita Api, pertama kali saya baca, kalo gak salah tahun 80-an saat menunggu toko kecil Bapak saya di sebuah kota kecamatan. Bapak saya suka beli koran bekas banyak, yang kemudian koran itu dijual eceran kepada para bakul untuk bungkus kacang, bungkus tembakau, bungkus paku, dll.

    Nah, dari koran bekas itu saya baca komik Spiderman dari Suara Merdeka Minggu Ini, baca Cerpen dan cerita bersambung dari Kompas, baca cerita anak dari Sinar Harapan, serta baca Kedaulatan Rakyat.

    Nah, dari Kedaulatan Rakyat itu saya sempat membaca cerita bersambung Api dengan setting cerita sudah pada masa Glagah Putih. Tetapi karena tidak mengikuti sejak awal dan secara urut cerita itu, maka cerita bersambung itu pun hanya dibaca sekilas, itu pun kadang kadang tidak selesai dibaca seluruhnya pada setiap edisi, karena lebih tertarik pada cerita komik di Suara Merdeka Minggu Ini, atau di Tawa Sejenaknya Sinar Harapan.

    Setelah itu saya harus sekolah jauh dan “mondok”, sehingga tercerabut dari koran koran bekas itu, dan disibukkan dengan praktikum, asistensi, tugas kelompok, ujian, dll. Setelah selesai sekolah pun harus menyeberangi lautan di pulau lain dan berkutat dengan urusan pekerjaan.

    Setelah jauh mengarungi samudera, tentu saja menyeberang laut dengan menduduki burung besi yang bisa terbang dan menetap di negeri orang, ternyata timbul kerinduan untuk “menggali” atau “mudik” secara emosional.

    Browsing ke situs situs mayapada, berhasil menemukan wayang mp3(heritage of java), campur sari mp3, dagelan basiyo mp3 yang membuat mudik secara memori mengingatkan masa masa kecil), serta cerita kho ping hoo.

    Beberapa bulan kemudian berhasil menemukan cerita Nagasasra Sabuk Inten. Saking kebeletnya ingin menyelesaikan bacaan cerita ini pernah begadang hampir tidak tidur, padahal hari berikutnya harus exam.

    Selesai membaca Nagasasra, browsing kembali, dengan kata kunci SH Mintardja, berhasil menemukan blog Api besutan Mas Rizal. Kembali beberapa hari kurang tidur karena kebelet ingin menyelesaikan cerita itu.
    Setelah selesai, kebingungan karena tidak bisa menemukan lanjutannya dan tidaki ada update…
    Sempat vaccum…karena browing ke sana ke mari tidak berhasil menemukan lanjutannya.

    Suatu hari di tengah rasa penasaran berhasil menemukan ADBM cadangan besutan Ki Gede, waktu itu pondasi dan gedungnya belum semegah sekarang…masih riuh rendah bagaimana haru scan, bagaimana harus ketik ulang, dll…seru …akhirnya tertarik dan sekali sekali nimbrung urun tenaga…

    ..akhirnya sampai sekarang kecanduan ADBM…

    terima kasih Mas Rizal, terima kasih Ki Gede….

    Sugeng warso Enggal….

  11. ADBM pertama kali sy kenal ketika SD/SMP tapi itupun tidak dari nomer 1 jilid satu,sehingga dgn adanya adbmcadanganwordpress ini sangat memberikan oase atas kedahagaan sy atas cuthel nya adbm di jilid IV buku 96.Adalah pak dhe saya yg pensiunan camat,yg mengenalkan sy pd cerita ini.Bahkan untuk seri2 berikutnya,setiap terbitan terbaru sy harus rela antri panjang,setelah pak dhe yg beli,baru pak dhe lainnya,budhe,dan sepupu2,baru sy yg terakhir.Kisah ADBM bagi sy merupakan cerita yg “terasa” nyata bahkan meskipun sang empunya sdh menyatakan bhw tokoh agung sedayau adalah fiksi belaka,dimata sy agung sedayu terasa “ada”.Perburuan panjang akhirnya merupakan kewajiban rutin tiap bulan (semenjak sy sdh bekerja).Djakarta sy menemukannya ditoko buku di jl sahardjo dkt pasar rumput.Bagi sy ADBM merupakan karya sastra yg sanggup menghipnotis pembaca nya mjd sebuah “kareman” yg sulit dihindari.Kekecewaan terbersit ketika kabar wafatnya sang maestro.Meskipun awalnya msh berpengharapan bhw sang maestro msh memiliki stock yg blm terbukukan.Tetapi…………ternyata memang cuthel sampai disitu.Untuk mengurangi kedahagaan sy terhadap mandegnya ADBM ini maka akhirnya sy berburu buku2 sejenis karangan sang maestro lainnya,sayap2 terkembang,suramnya bayang2,pelangi dilangit singosari….
    Bagi sy ,cerita ADBM adalah cerita yg membumi,yg merefleksikan kehidupan kita sehari-hari.Bagaimana dlm kehidupan ini dr dulu,sekarang dan kelak senantiasa terjadi dialektika kebaikan dan kejahatan selalu berhadapan,pelajaran akan nilai perilaku,keyakinan akan adanya kekuatan yg maha kuasa dll.Nafsu akan kekuasaan,perang memperebutkan kedudukan.Dan juga,nilai2 cinta dan kasih sayang.Adalah merupakan suatu keniscayaan bahwa didalam dunia kehidupan nyata,tidak dapat kita jumpai kesempurnaan pada diri seorang makhluk,betapapun tinggi pangkat dan kedudukannya.Cerita ttg godaan wanita,tahta,dan kekayaan merupakan pelajaran bagi kita semua.Bahwa no body’s perfect.Kebaikan dan kebatilan selalu berjalan beriringan.Disinilah kita dihadapkan pada pilihan itu.There is nothing new under the sun…..matur nuwun untuk semuanya……………………..salam ADBM

  12. Saya seorang kutubuku. Sudah sejak SD saya tergila-gila dengan cerita silat. Dulu yang namanya Kho ping hoo sudah apal diluar kepala. Trus meningkat dengan terjemahan dari Chin Yung, Gu long dll pun disikat abis. Pokoke tidak ada hari tanpa membaca. Begitu juga seri Wiro Sableng, pendekar tombak 313 dll pun sudah menjadi korban pula.

    Dulunya kita pernah juga membaca karya Herman Pratikto, tapi karena ceritanya banyak “meniru” dari cersil terjemahan jadi ndak begitu suka.

    Nah perkenalan dengan karya alm SH Mintardja sebenarnya juga sudah dari dulu … karena alm ayah saya juga suka membeli ADBM, hanya dikarenakan yang dibeli itu sudah jauh sekali dan lompat-lompat sehingga jadi susah mengikuti.

    Awalnya perkenalan dengan ADBM waktu itu karena nonton sinetron ADBM yang saat itu menunjukkan pada saat proses perlombaan panah antara Agung Sedayu dan Sidanti yang menimbulkan minat untuk membacanya. Hanya saja yang terlebih dulu ditamatkan adalah Nagasasra dan Sabuk Inten.

    Tidak disangka waktu berkunjung ke rumah saudara mertua ternyata suaminya alm adalah pecinta ADBM, tetapi istri (bude) dan putra-putranya tidak suka, malahan ingin menyingkirkan buku-buku pusaka tersebut. Wah .. pucuk dicinta ulam tiba, segera saja saya adakan upacara “nguduh kitab” untuk boyongan kerumah saya. Setelah di teliti ternyata koleksi tersebut adalah ADBM seri I dan II. Hanya saja tidak lengkap dan loncat-loncat. Tapi tetap saja cukup utnuk memuaskan nafsu “ngelmu” ADBM saya.

    Waktu menemukan situsnya mas Rizal … wah serasa mendapatkan “durian runtuh” .. maklum di seri I banyakkan missing nya sih warisan dari pakde alm tersebut. Terlebih setelah menemukan blog ini wah .. rasanya bener-bener lebih dari dapat “durian runtuh” tapi kayak “putus lotre dapat BMW”. Wah .. maknyuusss …

    Maklumlah .. baru sekarang ini bisa merasakan kehebatan alm dalam meramu jalan cerita yang benar-benar “mengakar dan membumi”. Terlebih lagi karena sayakan juga pernah membaca “babad tanah jawa”. Dimana cerita yang disusun alm ini benar-benar banyak mengikuti pakem dari sana, tapi juga penuh dengan plot-plot tambahan yang menjelaskan apa-apa yang tidak jelas dlam babad tersebut. Contohnya mengenai Mas Karebet yang dituduh membunuh Ki Dadung Awuk dengan sadak. Dalam Naga Sasra Sabuk inten ternyata hanyalah fitnahan semata dari Ki Tumenggung yang sama-sama jatuh hati kepada Sekar Kedaton. Wah pokoknya seru sekali.

    Bagi yang pernah membaca pendekar “Hina Kelana” karya Chin Yung, mungkin pernah tahu mengenai kisah politik di Taiwan/Hongkong yang menggunakan sinonim tokoh di cerita itu untuk menuduh lawan politiknya dengan tokoh antagonis di cerita tersebut.

    Bisa apa tidak kita juga menokohkan tokoh politik kita dengan tokoh-tokoh dari ADBM atau NSSI ini … misalkan siapakah tokoh yang cocok dengan Agung Sedayu yang berwatak ragu-ragu dalam mengambil keputusan (SBY?) atau Ki Untara sebagai seorang prajurit yang patuh dan menjunjung tinggi terhadap perintah (Wiranto?) atau Rudita yang mengambil jalan damai .. jalan tanpa kekerasan … (Mario Teguh sang Motivator?) … Sekar Mirah yang berambisi (Mega?) …

    Wah rasanya bakal sangat seru tuh … kita bisa membanding-bandingkan … Siapa ya yang cocok menjadi Kyai Gringsing, Ki Waskita, Ki Gede Menoreh .. dll …

    Ada yang tertarik ?

  13. Walaupun diriku seangkatan dgn Mpu Windujati, tetapi dlm petualangan sebenarnya saya baru bisa disejajarkan dgn Glagah Putih…..
    Pertama jatuh hati pada SHM ketika SMA dulu ada temen yg minjemin Mata Air di Bayangan Bukit (Jlitheng), setelah baca itu jadi keranjingan baca2 cersil (KPH,212,GKL,CY).
    Pada awalnya saya kurang begitu tertarik dgn ADBM karena menurut guru SMA saya (pecandu cersil) ADBM tidak sampai tamat. Tetapi ketika googling di net, ketemu blognya Mas Rizal…coba saya baca pelan2…dan makin lama makin tenggelam dlm diri Agung Sedayu (hampir mirip dgn saya, terutama sifat keragu-raguannya & ketertarikannya pada cew cantik..he..he…), tetapi kemudian menjadi kecewa karena berhenti hanya pada episode 60. kemudian selanjutnya googling lagi…dan akhirnya ketemu adbmcadangan2 & disempurnakan oleh Ki GD ‘n crew di adbmcadangan….
    Sampai sekarang setiap saat, default homepage di kompi saya http://adbmcadangan.wordpress.com

    tarengkiu Ki GD ‘n the genk

  14. Sejak di SR / SD sudah mulai menyukai karya KPH, yang memang mudah dipahami bahasanya dan gampang ditebak arak ceritanya. 95 percen tulisan KPH sudah saya lalap mentah-2 dan sebagian dibaca berulang-ulang sehingga kertasnya kumal.
    Karena kondisi stock sudah menipis alias habis, saya mulai mencari camilan dengan membaca Tokoh Kapak Nagageni 212. Dari tulisan Bastian Tito sudah ketularan jadi sableng seperti Ki Wiro.
    Ketika cari tulisan KPH yang sudah hampir semuanya terbaca, seorang penjual komik menawarkan untuk membaca karya SH Mintardja, ABDM yang kalau dikoleksi hampir satu lemari sendiri. Tentu saja saya tolak karena buuuaaaanyaaaak tenan. Sorry meck …. kagak ada waktu.
    Namun dua tahun lalu iseng-2 baca karya SHM yang berjudul Tanah Warisan ….. saya mulai bisa menikmati karya SHM …. slajutnya menemukan NSSI, dalam format lit., dan membacanya …… waah terasa WAREG. (Kata wareg menggambarkan kondisi perut yang lebih dari sekedar penuh mencapai titik jenuh 100, melainkan angka setelah itu dimana babak kedua sudah mulai).
    Sejak membaca NSSI, mulailah cari sajian merek SHM, cuma tidak ada yang lengkap. Ketika pulang kampung – coba cari ABDM namun sukar sekali.

    Nah ketika blog ini tampil – rasanya untuk dua tahun ini akan ada sajian bacaan yang memuaskan. Kiranya Ki GD tetap kuat dan para penghuni dalam padepokan ABDM mendapat kekuatan extra.

    Thanks Ki Gede and the Gang.

    GD: Doa restu Paman Widura kula suwun.

  15. Salam kenal semuanya.
    Alhamdulillah setelah berpuluh tahun menunggu akhirnya ketemu juga buku Api di Bukit Menoreh. Membaca buku buku ini rasanya terulang kembali semua kejadian masa kecil saya di Kota Malang bersama ayah, ibu, paman-paman yang hampir semua sudah dipanggil Yang Kuasa. Pertama kali membaca waktu masih SD sekitar tahun 1975-an, tapi sayang membacanya tidak mulai dari awal dan juga tidak selalu berurutan karena bacanya cuma numpang tetangga atau kawan yang pinjam di persewaan komik di daerah Bantaran, Genuk Watu Barat dan Ciliwung. Kalau gak salah di daerah Genuk Watu waktu itu ada persewaan komik “Virgo”, lalu ada persewaan komik “Santoso” di Bantaran Gang II, dan ada juga di Ciliwung Gang I yang saya lupa namanya. Ketika kuliah sempat juga baca milik teman pada jilid 300-an, tapi juga gak sampai habis. Sekitar 8 tahun yang lalu kebetulan bekerja di daerah Magelang dan saya tinggal di lereng sebelah utara perbukitan Menoreh di daerah Sawitan dan kenangan saya tentang buku Api di Bukit Menoreh terungkit kembali. Tanpa sadar sekalian jalan jalan dengan keluarga, saya napak tilas hampir semua daerah yang ada dalam cerita Api di Bukit Menoreh ini. Mulai dari daerahnya Ki Waskita di Tempuran, Gua Kiskendo, Kota Gede, Prambanan, Jatinom, Pajang, Pengging, Banyu Biru, Rawa Pening,Candi Gedong Songo, Merbabu-Menoreh, Demak, Selo dll.
    Sekarang ini saya sedang napak tilas jejak Pangeran Sabrang Lor di daerah Melaka-Malaysia, meskipun yang saya jumpai sekarang baru makam teroris Asahari yang dulu ditembak mati di Batu. Tugas lain yang saya emban adalah sebagai prajurit telik sandi agar budaya kita gak seenaknya dicuri/diaku oleh orang Male sini. Maklum jiran kita satu ini meskipun hidup relatif makmur, tapi sama sekali gak kreatif, ada juga sih kreatifnya tapi dalam hal tilep-menilep alias mail alias ngilam alias maling. Beberapa hal sudah dicuri/diaku asli dari Male, misalnya batik udah dipatenkan asli dari Male, padahal sebenarnya yang buat adalah orang Pekalongan yang diundang dan disuruh mbatik di Male, kalau orang sini sendiri disuruh mbatik, pasti hasilnya masih kalah dengan saya yang pernah dapat pelajaran mbatik di SD dulu. Lagu Sayang-sayange dan gamelan diaku dari sini, kesenian Reog (yang asli Ponorogo) pun sudah diaku sebagai kesenian asli Male (ora ngerti aku oleh pirang perkoro koq iso diaku-aku duweke). Dan yang terakhir kali baru beberapa hari yang lalu diawal Januari 2009, tari-tarian yang sering kita lihat di tarikan di keraton Solo dan Jogja, dipentaskan di Kuala Lumpur dan diaku sebagai karya seni asli Male, padahal jelas jelas gamelan dan tembangnya gak akan pernah dijumpai di seluruh Male sini selain di Solo atau Jogja. Jangan-jangan nanti Api di Bukit Menoreh juga diaku karya P.Ramlee orang Male. Mbuh…ndasku mumet tenan karo ngilam siji iki, blas kadit itreng ayas…..kamsude opo ker? Yo wis lah ker, jarno ae genaro-genaro Male nade iki. Tapi aku njaluk sepuro ker, aku saka kene ora isa mbantu opo-opo, mung bisa mbantu donga, mugo mugo para sanak-kadang, para cantrik padepokan lan Ki GD tahes komes kabeh, iso terus nyecan buku Api di Bukit Menoreh nganti sak tutuge.
    Yu Painten klelegen timba
    Cekap semanten cerita kula
    (Eteng-hayeng/Laskar Sabrang Lor)

  16. Pengalaman kawula membaca ADBM pertama kali saat umur 12 tahun kira-kira 32 tahun yang lalu, dulu terbitnya satu kali satu bulan. Setiap bulan bisa bolak-balik ke Toko Sukses di Kutoarjo tiap awal bulan melihat sudah terbit atau belum, terus-terus sampai jilid 200 san. Pengalaman kedua saat di Bandung tahun 1994 , kebetulan saat mencari buku di Palasari ada salah satu kios menjual bundelan (1 bundel 10 jilid), saat itu juga 20 Budel di angkut dibawa pulang, setahun kemudian berhubung sudah maried dan Istri lain Suku akhirnya ke dua puluh bendel lari ga karu-karuan, ada dalam dua tahun ini beberapa bendel tersisa, namun satu demi satu tahu-tahu hilang , sekali lagi Istri tidak menyukai hobi ini , maunya setiap sore bukan baca ADBM tapi mengaji.
    Yang ketiga saat membuka blognya Mas Rizal.
    Finaly di ADBMCADANGAN.

    Suwun

    • Lho mas priyayi Kta juga to. Kalau saya sejak SMP (82-83) mewakili Bapak ngambil di SUCCESS dekat stasiun. Boleh kontak ke saya di wahyoyo@yahoo.co.id.
      Matur nuwun.

  17. saya sangat-sangat berterimakasih pada padepokan adbm ini. karena saya sendiri sudah hunting buku-buku adbm sejak pindah ke semarang di awal tahun 2008, namun tidak berhasil mendapatkannya. hanya sebagian kecil seri yang bisa saya peroleh, itupun lompat-lompat.
    saya juga mencoba hunting di belantara internet, mencari adbm. dari sekian lama hunting saya memperoleh beberapa file, kalo tidak salah hanya sampai dengan seri ke 20-an.
    Hingga pada akhirnya ketemulah saya dengan adbm ini. dan terpuaskan lah dahaga saya untuk menikmati kembali kenangan buku adbm.
    Sekali lagi matur nuwun sanget dumateng ki gede lan sedoyo pinisepuh ing padepokan adbm.

  18. Tak terasa sekitar 25 tahun yang lalu saya berkenalan dengan Api Dibukit Menoreh.

    Kelebihan dari SHM adalah dia dapat membawa emosi pembaca untuk masuk kedalam alur cerita. Dengan detail SHM memunculkan watak-watak manusia biasa pada tokoh-tokohnya sehingga seakan-akan tokoh-tokoh itu hidup disekelilingkita.

    Pembacaan ADBM ini terpaksa dihentikan karena beliau meninggalkan kita sekitar tahun 1999.

    Tetapi kerinduan ini sempat terobati setelah muncul lagi blog nya mas Rizal yang sempat memuat cerita ulaang biarpun sayang tidak dapat dilanjutkan. semoga mas Rizal dalam keadaan sehat.

    Terima kasih kepada Ki DD beserta kawan-kawannya yang dapat melanjutkan cita-cita mas Rizal. Semoga semua rencana untuk mengangkat cerita API di dunia maya ini dapat terlaksanakan sampai selesai. Hatur Nuhun.

  19. Saya sangat menyukai ADBM, sebab ini merupakan bacaan wajib ketika masih muda dulu. Namun karena melompat-lompat bacanya sehingga tidak urut, jadinya ada momen-momen tertentu yang hilang.
    Syukurlah bahwa disini aku menemukan missing link tersebut. Terimah kasih sebesar-besarnya atas dibukanya Alas ini.

  20. Assalamu’alaikum Wr Wb,..

    ADBM’ers

    Tidak terasa 10 tahun sudah kita kehilangan Pengarang Cersil besar yg telah melahirkan berbagai cersil yang menarik.

    Tidak dapat dipungkiri, rasa kehilangan itu sangat terasa dalam sanubari… apalagi saat kepergian Almarhum Cersil ADBM masih lagi belum rampung penulisannya,…. sehingga berbulan-bulan harus mencari lanjutan cersil yg belum lagi rampung itu,…
    bahkan sampai sekarang….

    Sungguhpun demikian,… menurut hemat rara… ADBM merupakan cersil terbaik yg pernah ditulis oleh Almarhum. Banyak sekali pelajaran yg dapat diperoleh hanya dari membaca kitab demi kitab dalam cersil ini.

    Rara sendiri sebelumnya pernah membaca kitab demi kitab dari cersil ini,…. namun memang tidak dari pertama, karena kitab itupun bukan kepunyaan rara…. hanya kebetulan saja rara pernah membacanya entah dari seri yang mana (mungkin sudah buku ke III atau bahkan IV). Kitab itu secara tidak sengaja rara baca saat salah seorang sepupu jauh menginap cukup lama di rumah rara di bilangan jaksel (saat itu). Beberapa bulan kami ber2 hunting di bilangan blok M setiap bulannya untuk mencari kitab2 baru dari ADBM, sampai akhirnya terhenti sama sekali.

    Sejak itu kerinduan akan dapat membaca lanjutan kisah ini atau bahkan membacanya dari awal kerap menghantui rara… sampai akhirnya rara menemukan blok dari Mas Rizal yg terus berlanjut dengan blog ini, rasa haus itu terasa terobati.

    Terima kasih yang tak terhingga kepada Mas Rizal juga Ki GD, Mas SUkra dan semua kru ADBM atas segala jerih payah dan upayanya untuk dapat menghadirkan blog ini dan melestarikan cersil yang sangat menarik ini. Semoga segala jerih payah ini mendapat balasan pahala yang berlipat dari Tuhan YME, amin.

    Tentunya kepada Sang Maestro, Almarhum SH Mintardja,… rara berdo’a semoga Bapak SH Mintardja juga almarhumah Ny Soehartini diampuni segala dosanya semasa hidup, diterima segala amal ibadahnya dan mendapat tempat yang terbaik disisi Allah SWT, amin.

    Btw Ki GD,…
    Apa memang yakin kalau almarhum baru 10 tahun lalu wafat…?

    Rara merasa kepergian beliau sudah sangat lama sekali, mungkin lebih dari 10 tahun kiranya.

    Akhirnya Ki GD,…
    Rara tunggu kiriman cerita lanjutannya… Terima Kasih!

  21. karena ki gede yg meminta langsung saya isi koment..
    kenal dg sang maestro darI cerita NSSI. di sandiwara radio. yg saat itu masih lagi ngetrendnya sandiwara radio saur sepuh.

    kelas 1 SMP mulai baca ADBM di pinjami oleh seorang teman sekelas penggemar sang maestro yg kakeknya punya 1 peti cerita2 silat klasik. (trim’s to luqman. dimana kau sekarang? ) saat itu belum nyampe seri 100 saya baca.
    sejak kenal internet saya cari lagi karya2 sang maestro. pas saat itu kr.co.id menampilkan NSSI. saya ikuti tiap hari sampe tamat. yg kemudian ada bundel komplitnya di gajahsora.net.
    setelah beberapa lama menikmati karya2 sang maestro di kr.co.id akhirnya secara ndak sengaja menemukan blog cersiljawanya mas rizal dan berlanjut sampai adbmcadangan ini.
    lebaran lalu saya puter2 kota kenangan madiun, ku singgahi persewaan2 buku. ndak satupun yg punya ADBM.. satu persewaan di jl halmahera yg kutau pernah menyimpannya telah tutup.

    trim’s mas rizal
    trim’s ki dede.
    trim’s para cantrik.
    maaf belum bisa bantu lagi

    besnroben.

  22. Dengan adanya blog ADMB ini yang biasanya setelah pulang kerja jarang menyentuh komputer maka sekarang tiap hari, apalagi malam sering-sering nongkrongi kumputer untuk menanti hadirnya kitab .
    Banyak pelajaran yang diambil dari komunitas penggemar ADMB ini dimana mereka mungkin banyak yang tidak saling kenal namun bisa interaktip yang sehat dapat menjaga hubungan yang baik untuk yang tujuannya blog ini tetap lestari.
    terima kasih buat Ki Gede dan pengasuh lainnya,juga denmas Rizal yang merintisnya, doa kita semoga dapat menyajikan seri ADMB secara tuntas dan disambung dengan judul yang lainnya, juga tidak lupa pada Bapak SHM yang menelorkan karya pinomental ini semoga semua ini menjadikan amal ibadah…
    suwun

  23. Assalamu’alaikum Wr Wb,
    Pertama kali membaca karya beliau di harian Kedaulatan Rakyat, satu hal yang selalu ditunggu adalah akhir pertempuran2 terutama tokoh2 sentralnya.Beliau begitu piawai memainkan ‘timing’dan jalan cerita sehingga membuat penasaran bagaimanakah akhir dari pertempuran tsb. Mungkin karena didorong oleh jiwa anak2 yang sarat akan ‘heroism’ sehingga (mungkin) saat itu yang jadi ‘sorotan’ adalah alur cerita heroism tsb.
    Namun setelah membaca dari awal (seri 1), ada sesuatu yang lain yang coba diangkat oleh beliau (dan inilah yang mungkin jadi ‘kekuatan’ dari karya-karya beliau)selain hanya sebuah epos kepahlawanan. Beliau mencoba mengangkat pandangan hidup, humanisme, rasionalitas, yang teramu menyatu menjadi sinergi yang halus namun mampu membuka wawasan bagi pembaca.

  24. Udah hampir 10 tahun yang lalu baca ADBM, pinjeman, jadi sekarng seneng banget bisa koleksi lagi. terus terang hobi baca ini udah hilang ketelan kerjaan, tapi sekarang jadi selalu nunggu nih…..

    Makasih ki gede dan kroni kroninya.

    seger waras

    nambahi dikit,
    sayang kalo versi asli jadi hilang, gimana kalo versi djvu yang sudah digantikan versi retype tetap di munculkan supaya yang pingin koleksi asli seperti saya bisa ngunduh.

  25. Wah sangat menarik sekali isi testimonial yang diberikan oleh rekan-rekan cantrik,.. sangat setuju lah apa yang mereka katakan,..Hm..mm.. Jadi bingung, mo ngisi tentang apa lagi ya tentang Sang Maestro cersil kita ini,…

  26. Assalamu’alaikum Wr Wb

    ADBM menyelinap dideretan koleksi bacaan sejak kelas 3 SD. Dengan rasa gelisah sambil menunggu bapak segera menyelesaikannya. Belum adanya siaran TV swasta menjadikan buku bacaan menjadi hiburan yang sangat menyenangkan dan sanggup memupuk imajinasi seorang anak.

    Cover ADBM pertama yang terbaca adalah figur dua orang yang sedang mengadu sorot mata sebagai puncak pengetrapan daya linuwih. Saat Ki Waskita berlaga dengan Panembahan Agung adalahberjasa memantik ketertarikan dengan adicerita milik negeri sendiri ini.

    Selanjutnya Agung Sedayu dan tokoh lainnya mampu membius untuk membalik lembar demi lembar buku ADBM sampai habis dan menanti lagi terbitan berikutnya. Figur tokoh sakti yang lebih membumi dibanding superhero amerika membuat tokoh2 ADBM lebih dekat dengan keseharian.

    Tidak banyak pengarang yang memiliki napas panjang untuk memproduksi sekian panjang cerita yang sanggup membuat orang kecanduan. Candu yang menyenangkan. Deskripsi cerita yang detil dan runtut, penuturan latar cerita yang kebanyakan alam pedesaan dengan sawah, bulak, parit-parit air membuat rasa kangen terhadap kampung halaman.

    Mudah2an dengan dengan diungkit kembalinya cerita ADBM, merangsang banyak benih2 muda untuk membuat cerita yang berakar di bumi kita sendiri. Melambungkan nama nusantara sebagai rahim karya literasi yang bernas.

    Wassalam

  27. Assalamualaikum Wr.Wb. para ADBM ers

    Cerita yang di karang oleh almarhum pertama kali saya baca pada kelas 6 SD, dengan tokoh utama Panon Suka, dengan ilmu pisau terbang, dan penakluk ilmu gendam lewat suling. Cerita ini saya baca pada serial Istana yang suram.

    Yang menarik kitab ini merupakan cerita awal berdirinya kerajaan Demak dan runtuhnya kerajaan Majapahit. Cerita ini berkisar sekitar pencarian
    wahyu kraton, Kyai Nagasasra, yang dibawa oleh salah satu keluarga Majapahit yang tersembunyi di Istana di pedukuhan Karang moja yang terpencil.

    Dari baca cerita ini selanjutnya mencari karya SH Mintardja yang lain, mulai Pelangi di Langit Singhasari, hingga Hijaunya Lembah Hijaunya peggunungan, NSSI, Api Di Bukit Menoreh, Mawar di atas batu, Serial Arya Manggala, dll.

    Semuanya menceritakan tentang keadaan Pergeseran Kekuasaan di Jawa.

    Yang paling saya sukai pada karya SH Mintardja adalah cara bercerita dengan bahasa yang sepertinya dapat menggambarkan keadaan secara detail. Dan cara menceritakan percakapan dengan bahasa yang khas
    dari orang Jawa. Setiap kata-kata mempunyai aneka makna… bisa sebagai sindiran halus, perintah, penentangan, atau kemarahan, walau diucapkan dengan nada biasa.

    Lama saya tidak bertemu dengan karya beliau setelah beliau wafat, dan kebetulan saat iseng-iseng google Api Di Bukit Menoreh, saya dapatkan
    blog nya mas Rizal dengan cerita 1 hari satu halaman.

    Dapat kitab di blognya Mas Rizal awalnya seperti mendapatkan kitab pusaka…. benar-benar bersyukur.

    Dan sampai menghilangnya Mas Rizal dari blog-nya (Semoga Allah selalu memberi kesehatan, dan kesejahteraan).

    Diteruskan di blognya Ki DD yang seterusnya di bantu oleh Kang Sukra Nindityo yang kelihatannya ahli blog (kapan-kapan ingin belajar kang…), sehingga tampilan ADBM semakin cantik.

    Semoga ADBM bisa terus jalan… Amien

    Terimakasih Ki Rizal, Ki GD, Ki Sukra, Ki Kasdoellah, Ki Herry Warsono dan yang tidak pernah kelihatan Nyai Retma. Semoga Allah membalas semua kebaikkan Anda semua, yang selalu berbagi…

  28. sejak bisa baca, saya suka sekali membaca segala macam buku dan bacaan lainnya…
    persewaan buku yang berada 1km dari desa sayapun menjadi langganan saya, tadinya paling suka baca komik serialnya Jaka Sembung, trus serialnya Siluman SUngai Ular, dll yang waktu itu lagi ngetrend…
    kemudian dg semakin bertambahnya umur bacaan beralih ke serialnya Wiro Sableng dan Kho Ping Hoo…
    dan akhirnya menemukan NSSI yg mampu membuat saya terpukau…
    selesai membaca NSSI kok terasa makin tertarik dg karya SHM yg lain, akhirnya AdBM pun menjadi pilihan.
    suman masalahnya persewaan buku langganan saya itu tidak punya koleksi komplitnya, sehingga sayapun tidak bisa menikmati maha karya ini secara lengkap…
    karena kesulitan itu akhirnya dengan berat hati AdBM pun dilupakan…
    sejak bisa merambah dunia maya, sayapun mencoba menelusuri jejak maha karya AdBM ini atas petunjuk Panembahan Google akhirnya saya terdampar di blog-nya mas Rizal.
    bagaikan mendapat durian monthong runtuh satu truk, sayapun mengikuti AdBM di blog-nya mas Rizal dengan semangat 45.
    tapi bagaikan orang sakaw, “lenyapnya” mas Rizal membuat serial AdBM itu berhenti mendadak.
    untungnya kok ya Ki DD kerso mandegani babat alas Mentaok yg berubah menjadi kota raya http://adbmcadangan.wordpress.com ini…
    untuk menyebarkan virus ganas AdBM ini, berbagai media digunakan, salah satunya membuat group Api di Bukit Menoreh di Facebook yg alhamdulillah sudah lumayan member yg bergabung.

    sepuluh tahun lalu, SHM berpulang ke hadirat sang penciptanya…
    kepergian beliau sempat mengguncangkan jiwa saya pribadi karena tahu benar bahwa beliau belum sempat menyelesaikan maha karya AdBM ini…
    sampai detik ini masihh menggantung pertanyaan besar di hati ini, siapa kira-kira yg mau dan mampu melanjutkan maha karya ini sampai tuntas….
    kiranya SHM akan tersenyum disana jika mengetahui ada ratusan cantrik yg berkumpul disini, bergotong-royong untuk nguri-uri …melestarikan maha karya beliau…

    salam dari Padepokan Gajah Putih

  29. Belasan tahun lalu ADBM ini sudah saya tamatkan sampai terakhir.
    Tapi herannya tetap saja menarik untuk dibaca berulang-ulang. Luar biasa pak SHM ini.
    Tetap saja berdebar-debar menunggu kitab demi kitab ditayangkan di padepokan ini.

  30. Saya asli Tempel, Sleman, Jogja.
    Membaca ADBM sekarang ini, saya bisa membayangkan urut-urutan babad tanah jawa dan lokasi-lokasi yang dihidupkan di ADBM, jadi sepertinya cerita ini benar-benar terjadi. Luar biasa.

    Saya baca ADBM waktu itu masih SD, bukunya sederhana banget kalo dilihat sekarang. Tapi yang langganan adalah bapaknya teman saya alias tetangga saya, jadi kalo mau baca ya ngalah dulu ama se isi rumah teman ku itu. Berhubung ora langganan dhewe (maklum waktu itu mikirnya wat apa langganan kalo bisa nebeng), maka baca ADBM gak runtut dan kadang ada yang keliwatan, karena buku kadang-kadang dipinjem ama sodaranya temenku itu, mau maksa minjem yo isin tho.

    Alhamdulillah, di jaman internet ini ada padepokan ADBM versi dunia maya, matur nuwun sanget tentunya buat para penggagas ADBM ini, cikal bakal dari Mas Rizal dan diteruskan oleh kru ADBM yang dikomandani oleh Ki GD. Sehingga saya bisa tuntas gak kelewat satupun (Insyaallah) dari urut-urutan cerita yang seharusnya.

    Matur nuwun sanget

  31. SH Mintardja bagiku adalah pencerita yang bisa menghadirkan dunia dongeng ke dunia nyata. Umumnya tentang cerita tanah jawa dan khususnya tentang Yogyakarta.
    Beliau juga mampu menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan dan keluhuran budi pekerti dalam setiap karyanya.

    Sutajia

  32. Sekitar tahun 80-an, saya baca ADBM ngga dari awal ngikut Bapak saya yang suka minjem di taman bacaan “Hendra” di cihapit bandung. Karena kitab terbit sebulan sekali, maka bacanya jadi gak teratur karena seringkali Bapak pulang dari taman bacaan tsb dengan tangan hampa soalnya sering keduluan sama penggemar ADBM yang lain.

    Dulu baca ADBM hanya sekedar baca. Karena selain ADBM saya jg baca cersil2 lain seperti KPH, Gan KL, dan terutama Chin Yung. Begitu dapet kerja, nggarap lahan di tanah Minang, terhentilah baca ADBM. Lupa sampe jilid berapa.

    Tahun 2008, saat browsing internet, ketemulah tempat baca ADBM baru. Kalo dulu baca ADBM hanya sekedar baca, maka sekarang sambil baca saya semakin larut dalam kepiawaian sang maestro (alm SHM) dalam mengolah cerita. Ceritanya semakin menghanyutkan. Tiap hari sepertinya ada yang kurang kalo ga ngeklik halaman ini….

    Terima kasih buat effort ki Gede n Co yang membuat ADBM berkibar lagi.

    Tak tunggu kirimannya Ki…

    Matur nuwun..

  33. Saya sangat menyukai ADBM, setelan saya menjumpai bloknya Mas Rizal pada November 2007. Setelah itu saya ikuti sirinya sampai sekarang. Blok ini saya jumpai setelah habis baca buku karangan Ki SHM iaitu Nagasasra dan Sabukinten. Minat yang timbul dari pembacaan siri ini terus membuat saya penasaran untuk mencari lebih banyak tulisan Ki SHM yang lain.
    Terimah kasih sebesar-besarnya atas dibukanya laman web ini, para pentadbir dan pendokongnya serta mereka yang secara langsung dan tak langsung terlibat didalamnya.

    Matur nuwun sanget

  34. hemm….
    Akhirnya saya dipaksa juga untuk bercerita….
    Seperti temen2 yang lain, saya mengenal karya SHM ini sudah lebih 30 tahun yang lampau. Waktu itu ibu saya senang mengkoleksi dan membaca cerita yang berhubungan dengan kerajaan. Bukan saja ADBM, tetapi ada banyak judul2 yang lain. Saya sendiri kurang begitu tertarik. Pertama, karena ceritanya belum tamat, mungkin waktu itu masih di bawah jilid 150an (tidak tahu pasti), yang kedua karena tidak bergambar seperti serita komik. Waktu itu saya lebih suka membaca cerita yang ada gambarnya, seperti karya Teguh atau cerita2 silat yang lain yang ada gambarnya dan tentunya cerita tersebut sampai tuntas/tamat.
    Tapi belakangan setelah saya bekerja yang berjauhan tempat dari keluarga, rasa2nya kalau dimalam hari kalau tidak ada kesibukan malam2 hari terasa panjang. Akhirnya saya teringat, suatu ketika temen saya ada kirim cerita via email yang judulnya NSSI. Akhirnya untuk melewati malam2 dalam kesendirian, saya baca NSSI tersebut. Saya baca sampai beberapa minggu baru tamat. Setelah itu timbul lagi rasa kesepian kalau dimalam hari. Rasa kecanduan untuk membacapun mulai timbul. Akhirnya aku coba2 menulusuri lewat internet. Dari situ baru saya tahu, ternyata banyak cerita2 yang diterbitkan puluhan tahun yang lalu yang siap untuk diunduh. Dengan semangat saya kumpulkan cerita2 tersebut yang tentunya akan saya baca ketika sudah berada di rumah untuk mengusir kesepian malam.
    Suatu ketika saya menemukan blognya Mas Rizal. Seperti yang sudah kita ketahui, tiba2 saja Mas Rizal meninggalkan pengunjung blognya tanpa pemberitahuan. Saya sendiri merasa sangat kecewa. Tetapi berkat inisiatif dari Mas Dede dan juga bantuan temen2 yang lain, akhirnya cerita ADBM ini dapat dilanjutkan. Meskipun waktu itu Mas Dede masih kebingungan untuk mengumpulkan bahan2 yang akan dibagikan, namun akhirnya didapatkannya juga…
    Pernah ada niat untuk membantu Mas Dede dalam usaha mengumpulkan bahan2nya. Saya hubungi ibu saya yang ada di kampung. Beliau bilang buku2 tersebut sudah tidak ada lagi, sudah dikasihkan ke penjual buku2 bekas. Saya sangat kecewa waktu itu, tetapi mau bilang apa lagi. Karena waktu itu buku2 tersebut tidak ada yang merawat dan apalagi sebagian sudah sangat usang karena usianya juga. Saya cuma bisa berharap, mudah2an ditangan penjual buku2 bekas tersebut, buku2 tersebut bisa menjadi lebih baik.
    Di sini saya akan berusaha untuk mengumpulkan buku2 tersebut, meskipun dalam bentuk yang lain… tengkiu Mas Dede… eh..Ki Gede… tengkiu..tengkiu

  35. SH Mintardja sanggup menghipnotis lewat tulisannya.Pengetahuannya yg mirunggan terhadap filsafat & sejarah jawa didukung daya imajinasi yg luar biasa,menjadikan karya2 nya ,yg nan fiktif mj hidup dan nyata.Perjalanan hidup manusia merupakan refleksi atas pertentangan antara kebenaran – kebatilan,yg selalu berjalan berdampingan,meskipun pada akhirnya :kebenaran akan menghancurkan kebatilan itu sendiri.Akan tetapi sepanjang kisah anak manusia masih berjalan,maka sepanjang itu pulalah akan muncul berbagai pertentangan dalam berbagai tingkatan dan intensitasnya.Bravo SH Mintardja

  36. awalnya iseng aja, cari di internet, apakah ada yang meng upload cerita Api Di Bukit Menoreh di Internet, akhirnya says kesasar ke ADBM cadangan ini. Sungguh ini suatu kerja yang besar, di dalam komunitas yang begitu hangat.

    Meskipun ini adalah sebuah cerita yg tidak terselesaikan, karena kematian SHM, tetapi mengikuti kembali jilid-demi jilid mulai awal tetaplah merupakan sesuatu yang sangat menarik, dan memberikan kesegaran di saat-saat kita jenuh dengan hidup dan pekerjaan yg terus mengalir.

    Viva segala crew ADBM, semoga sehat dan bersemangat selalu, sehingga tetap mampu terbit sampai jilid terakhir, dan tidak menjadi sebuah upload yang tidak terselesaikan

  37. Memang SHM layak disebut sseorang tokoh sejarah khususnya sejarah berdirinya kerajaan kerajaan islam di tanah jawa. spesifik lagi di daerah jawa bagian tengah. Andil beliau juga menjadi inpirasi cerita-cerita ketoprak yang dulu sempat jaya di tahun 70-80an. Bagi yang belum sempat membaca karangan beliau masih bisa mendengarkan cerita-cerita tentang babad tanah jawa melaluli pementasan ketoprak di radio-radio.
    Saya sendiri bertambah pengetahuan sejarah setelah mendengarkan ketoprak2 di radio.
    Saya juga penggemar berat buku-buku beliau khususnya ADBM dan Nogososro, yang alhamdulillah telah saya selesaikan semuanya.
    Tapi membaca karya2 beliau berulang-ulang bukan hal membosankan tapi malah mengasyikan

  38. ADBM dari dulu asoy…

  39. Klas 4 SD ku mulai baca ADBM jilid 4, selanjutkan bulan-bulan, tahun-tahun berikutnya diwarnai dengan antri menunggu giliran pinjam baca ADBM dari kakak. Karena hanya bocah kecil jadinya gilirannya selalu dapat yang paling buncit….kadang malah terlewatkan, karena yang antri semakin banyak ( sekitar 10 org) dan 1 org bisa 2-3 hari. Demikian terus berlanjut sampai tamat SMA, maka putuslah hubunganku dengan ADBM sd jilid 80 an
    Dengan bantuan kang Google kumencari ADBM lagi, akhirnya terdampar di blognya kang Rizal…..selanjutnya mengembara lagi dan ketemu padepokannya Ki GD. Nderek nyantrik di padepokan ini, hanya selama ini ngantri dibawah bayang-bayang pohon nyamplung, baca kitab dan melihat celoteh dan ulah para cantrik sambil mempelajari ramuan Kiai Gringsing.
    Semoga segala amal ibadah Bpk SH Mintarja dan ibu diterima OlehNya dan untuk Ki GD dan para kru padepokan terima kasih dan semoga selaalu mendapat petunjuk, perlindungan dan ramatNya untuk menyelesaikan proyek ini dan melanjutkan dengan pproyek yang lain

  40. Membaca karya tulis Bpk SH Mintardja, khususnya ADBM, menimbulkan rasa kerinduan akan kelestarian alam yang digambarkan beliau. Alam yang masih asri, udara yang bersih, persaudaraan yang sangat kental. Orang yang lebih menghormati yang lebih tua dengan sebutan KAKANG dan ADI. Alangkah indahnya jika kondisi itu bisa berulang, kondisi dimana ikatan persaudaraan sangat kuat.

    ALam yang masih sangat bersahabat dengan manusia…susah untuk diungkapkan dengan kata-kata. Saya hanya merasakan saat-saat yg indah itu sebentar saja. Dikala malam menjelang, saat bulan purnama, kita anak-anak dikampung bermain bersama, petak umpet, maen cublek-cubelk suweng, lempar kemiri, ah…tulisan beliau ini bisa mengungkap memori yang sangat indah tersebut.

    Ndak tahu lagi Ki GD dan para kadang, apakah nuansa itu akan bisa terulang…

    Salam,
    Cantrik mBeling

  41. ADBM adalah cerita yang mampu membolak balikan hati setiap penggemarnya sendiri. ini jelas merupakan keunggulan Bpk SH Mintardja dalam mengemas cerita bersambung. ketika kisah ADBM di coba untuk disusun lagi oleh KI GD ada semacam nostalgia yang tiba tiba muncul kembali kepermukaan.ADBM menjadi semacam kekasih yang lama pergi kemudian muncul kembali.kekasih yang bernama ADBM.terimakasih KI GD sampeyan sudah ikut mengantar kekasih itu pulang…..maturnuwun Pak SH Mintardja…maturnuwun Ki GD

    salam
    Kakang Kawah

  42. Menyesal saya setelah sekian lama membiarkan ADBM , sebelumnya 25 tahun yg lalu sdh membaca NSSI , waktu sudah membaca ADBM baru beberapa jilid sdh tdk sempat melanjutkan , sehingga beberapa kitab/jilid buku tsb dimakan rayap.

    Terimaksih SH Mintardja , dan terimakasih ki GD yg telah membangun padepokan ini menjadi lebih ramai dan mudah0mudahan konsisten menyajikannya.

  43. Saya kenal ADBM sejak saya SD entah kelas berapa. Nenek saya langganan bersamaan dengan Panyebar Semangat. Dari kumpulan yang saya temukan, saya baru mulai dari Jilid II-65 , zaman perang Pajang Mataram. Sejak saat itu, saya sering sekali main dan menginap di rumah nenek saya, karena kebetulan memang satu kota di Salatiga. Terkadang saya disuruh membeli di toko buku langganan, sayangnya stok distribusi untuk kota Salatiga mungkin terbatas, sehingga banyak yang tidak komplit urutannya.

    Setelah saya kuliah di Bandung sekitar tahun 97, bersamaan dengan cari2 buku2 kuliah, seringlah saya berkeliaran di Pasar Palasari. Disitulah saya menemukan ‘Mutiara Yang Hilang’. Ada 2 kios yang memang menjual bekas, maupun menjual yang baru, tapi mesti order karena ternyata penggemar di Bandung banyak juga, sehingga sering kehabisan. waktu itu aja udah sekitar Jilid IV, sampai episode terakhir nomer 96 ya kalo gak salah ? Dikasih tau penjualnya bahwa udah stop gak muncul lagi, karena sudah meninggal pengarangnya.

    Well, akhirnya buku2 itu saya rapikan, saya administrasi, sambil hunting sisa2 yang tercecer tapi tidak pernah bisa lengkap. Setelah saya lulus dan pindah ke Jakarta, buku2 itu saya kirim ke rumah untuk konsumsi ayah saya.

    Tapi selama itu pula masih kepikiran, ada gak ya yang bikin online? bertahun2 saya hunting ebook ataupun websitenya, bahkan pernah nanya ke Kedaulatan Rakyat, dibilang udah gak ada stok. Sempet pula melihat website yang jualan lengkap seharga 2.5 jt, duh .. karena memang kondisi ekonomi, ndak mungkin lah keluar segitu, hunting dilanjut di inet.

    Eh, lhadalah .. nemu websitenya Mas Rizal, sejak saat itu, saya mengikuti ADBM ini sampai sekarang ini. Terus terang saya malu sama Ki GD, soalnya belum kontribusi apa2 , bingung juga ndak punya Scanner kira2 bisa mbantu apa ya? Yah paling ikutan guneman para cantrik..

    Thanks KI GD dan team ..

  44. Buku cerita karya SHM hampir semua pernah aku baca, diantaranya : NSI, SBB, PDS, TW dll, tapi yang paling aku suka adalah ADBM.
    Aku mulai baca ADBM jilid 1 oktober 1968 tanpa putus sampai1995 keberadaan ADBM di kotaku mulai ter-sendat.
    Sehingga kegemaranku membaca ADBM terhenti tidak sampai tamat. Munculnya ADBM di blok ini sangat membantu menggugah kegemaran lama.(terima kasih pada pengelola blok ini).
    Saya rasakan didalam cerita ADBM ini Banyak petuah yang baik, contoh karakter manusia dari yang paling jahat sampai yang paling baik, tetapi SHM selalu mengajak pembacanya untuk menjadi orang yang baik.
    Semoga amal Beliau (SHM),diterima Allah SWT Amin.

  45. pagi ini baca jilid 115, koq rasanya ada yang bertentangan dengan cerita di episod 1.. ki waskita memancing pengakuan kyai grinsing tentang hubunganya dengan perguruan windujati.. sementara kyai grinsing menjawab kalo ki waskita mungkin mendapat cerita dari ki gede menoreh tentang tato cakra di tangan kyai grinsing..padahal.. pada episode 1 dulu ki waskita pernah mencoba menjajal ilmu kyai grinsing untuk mengetahui hubungan kyai grinsing dengan perguruan windujati.. bahkan.. kyai grinsing akhirnya bersedia bercerita tentang dirinya untuk memenuhi permintaan ki gede pemanahan, yang hadir adalah ki juru, ki sumangkar, demang sangkal putung, dan ki waskita.. so.. seharusnya ki waskita sudah jelas atas hal tersebut.. andaikan ki waskita berharap kyai grinsing bersedia membantu menyelesaikan masalah mataram pajang majapahit.. bisa secara langsung..

    saya ga tahu apakah dalam pembicaraan tersebut cuma guyon dan sekedar memancing.. tetapi melihat bagaimana sh mintardja melukiskan betapa seriusnya obrolan tersebut.. terlihat kalo ki waskita belum tahu siapa kyai grinsing.. masih nebak-nebak..

    bagi saya hal ini agak aneh.. mungkin memang sang maestro kita kyai sh mintardja sempat lalai mengingat detail alur cerita yang pernah beliau tulis..

    namun… bagaimanapun juga, cerita api dibukit menoreh ini.. seperti naga sasra sabuk inten dan cerita sang maestro lainnya.. menawarkan nilai-nilai filosofi yang membutuhkan pemikiran yang lebih mendalam untuk mencernanya…

    salute untuk sang maestro.. sambil mengenang masa kecil dulu yang sembunyi2 baca adbm.. sambil merenung atas nilai filosofi yang beliau tawarkan..

    ki gede.. kalo boleh memohon.. bolehlah kiranya bagian depan dari cerita adbm. intronya BISA DI CANTUMKAN DI WEB ATAU DI DJVUnya.. saya lupa isinya, kalo ga salah tentang nafsu, kekuasaan dan cinta.. sekitar 5-6 baris itu..

    suwun.. salute juga buat adbm crews yang kerja keras buat kita2 semua

    tabik dari johor

  46. Sebelum saya baca ADBM, saya pernah baca kaya Almarhum SH Mintardja, yaitu nagasasra sabuk inten dan suramnya bayang-bayang.

    Dari membaca keduanya rasanya saya dapat merasakan nilai-nilai dan pandangan hidup dari orang jawa, walaupun hanya tebakan saya.

    Rasanya cerita ini jadi hidup karena beliau banyak berpanjang lebar tentang cara orang jawa bertutur kata dan detail dari peristiwa yg diceritakan.

    memang terkadang cerita jadi lambat, tapi yah itulah mungkin cara orang jawa bercerita. Saya cukup menikmatinya.

    Saya sendiri bukan orang jawa, tapi dengan membaca karya beliau serasa mulai tahu sedikit bagaimanakah budaya jawa itu.

    Bravo Pak SH mintardja, Bravo Ki Dede, Ki Rizal dan semua yang mencoba menghidupkan salah satu karya terbaik bangsa indonesia

  47. Pada th 1988, aku pernah jumpai Kios penyewaan cerita2 silat di jl.Tentara Pelajar (Gunung Sari) Cirebon, salah satunya Nogososro Sabuk Inten, Tanah Warisan, Senopati Pamungkas, Kembang Tanah Air. Waktu itu incaran saya yg mesti aku baca adalah Api Dibukit Menoreh, Bende Mataram, Hilangnya Bende Mataram, buku tsb belum sempat aku baca dan karena kesibukan kerja waktu itu, sampai2 kios tsb tutup dan pemiliknya pergi entah kemana..hik.. sedihhh ….

    cari dan terus cari di internet, nggak putus harapan terus mencari, masuk forum tanya sana tanya sini, akhirnya nemu juga, http://www.cersiljawa.blogspot.com milik mas Rizal dan sempat kesel karena, website tsb nanggung, terputus dijilid 10. Untung ada yg peduli meneruskan ide mas Rizal. Entah apa yg terjadi kalau seandainya cerita tsb mandek sampai jilid 10, dan umur kita nggak panjang, sudah menghadap Sang Pencipta he..he… Mati penasaran deh he..he…

    Perpustakaan ibarat pemikiran yang tersimpan dalam kamar pendingin, untuk memanfaatkannya siapapun mesti mengeluarkannya dari kebekuan.

    Terima kasih yg tak terhingga kepada Tim adbmcadangan.wordpress.com

  48. Dua tokoh silat favoritku adalah mahesa jenar dan agung sedayu, kebetulan keduanya adalah karya besar SH MINTAREJA.

    Untuk cerita NSSI sudah beberapa kali aku baca, sehingga rasa-rasanya cerita perjuangan mahesa jenar benar-benar sudah ada di luar kepala.

    Sementara untuk agung sedayu aku pernah baca, tetapi hanya sebagian karena sulitnya mendapatkan kitab-kitab ADBM.

    …. sampai akhirnya aku terdampar di padepokan-nya KI GEDE, dengan sabar mengikuti kisah agung sedayu.
    hari demi hari aku lewati dengan penuh harap, semoga ki gede tetap setia mengantarkan kelanjutan cerita ini bab demi bab.

    aku sudah merasa seperti agung sedayu saja……
    hebat… begitu cepatnya untuk menjadi sempurna dalam penguasaan ilmu kanuragannya, bahkan begitu mudahnya menemukan ilmu-ilmu yang lain. betul-betul tokoh pilihan.

    begitu penasarannya dengan kelanjutan ceritanya…. akan seberapa saktinya si agung sedayu….
    bahkan saking penasarannya … apakah esok agung sedayu akan menjadi tokoh tersakti pada masanya.

    rasa-rasanya adbm akan menjadi hambar … kalau dalam satu jilid saja tidak menampilkan agung sedayu.

    walaupun aku dah baca beberapa resensi tentang akhir dari cerita ADBM ini…. tapi rasa penasaranku gak akan hilang kalau tidak baca jilid demi jilid.

    trims ki gede

  49. Dari dulu, saya sangat menggemari buah karya SH Mintardja, di awali dengan berkenalan dengan adbm, berlanjut bunga di batu karang, tanah warisan, istana yang suram dan lain lain.
    ketika masih di sekolah dasar, saya sudah mulai di buai oleh karakter agung sedayu sehingga pada waktu itu sering berkayal alangkah hebatnya kalau bisa jadi orang yang sakti seperti agung sedayu …….. he..he…he…
    Ketika banyak cerita silat mulai bermunculan di internet, saya berusaha untuk mencari apakah ada Karya SHM yang udah tayang secara online, yang pertama saya temukan adalah nagasasra & Sabuk inten di gajahsora.net. saya googling untuk mencari adbm akhirnya menemukan blognya mas Rizal, sayang blog mas Rizal vakum sampai dengan sekarang, untunglah akhirnya bisa menemukan ADBMcadangan ini.
    Teriring terimakasih sebesarnya untuk Ki GeDe dan para bebahu Padepokan yang lainnya yang telah memuaskan dahaga kami akan cerita ADBM ini.

  50. Lagi baca ADBM dari Ki GD, tiba-tiba Ibu kami berkomentar – Walah, Api di Bukit Menoreh to?.. – Kemudian Ibu bercerita kalau Embah Kakung semasa hidup juga penggemar berat ADBM. Beliau selalu pinjam (maklum orang kampung) dari kerabat (sebut saja si A) di kampung B. Nah, pada suatu saat, beliau bertemu dengan kerabat C dari kampung D. Cerita, punya cerita, ternyata si A tersebut pinjam buku dari si C. Akhirnya, buku ADBM yang terbit, sebelum dipinjam si A, sudah dipinjam duluan sama Embah Kakung he.. he..

  51. Sepuluh tahun sudah Suhu Hebat Milik kita semua berpulang keharibaanNya. Ibarat pepatah “harimau mati meninggalkan belang manusia mati meninggalkan karya”.
    Singgih Hadi Mintardja,meski sepuluh tahun meninggalkan kita, tetapi karya-karya besarnya yang sangat besar nilainya dalam usaha melestarikan budaya bangsanya .
    Ki Singgih Hadi Mintardja almarhum pasti bangga dialam sana melihat betapa generasi penerusnya begitu apresiasif pada karya2nya. Beliau akan sangat “mongkog penggalihnya” menyaksikan betapai gegap gempitanya Padepokan KiGD ini,yang telah melestarikan dan menurunkan ilmu-ilmunya.
    Semoga Gusti Kang Amurba ing Dumadi menyediakan tempat yang sangat layak disisiNya. dan semoga Padepokan ini mendapat ridhoNya. Amin.

  52. Karya SH Mintardja hampir semuanya sudah saya baca, karya-karya beliau sangat mencerminkan peradaban jawa yang luhur dan santun bahkan dalam menggambarkan tokoh yang antagonispun beliau tidak serta merta menampilkan sosok yang kelam. Seringkali beliau bahkan menampilkan cerita yang pada akhirnya tokoh antagonis tersebut di akhir perjalanan hidupnya dapat menemukan kembali kesadaran atas perbuatannya.

    Jika masih ingat akan tokoh Lowo Ijo atao Simo Rodra dalam cerita NSSI, akhirnya toh mereka sadar akan dirinya betapapun jahatnya karakter mereka.

    Alur cerita yang disajikan beliau biasanya memang berjalan lambat namun justru karena itu para pembacanya menjadi demikian akrab dengan tokoh-tokoh yang digambarkannya. Beliau demikian pandai mengambarkan watak dari masing-masing tokoh, seakan tokoh-tokoh tersebut bisa menjadi cerminan dari perilaku diri kita semdiri.

    Melalui tokoh Agung Sedayu, kita belajar mengerti tentang kesabaran dan kerendahan hati, Swandaru mencerminkan sosok yang percaya dirinya sangat berlebihan. Bagaimana dengan yang lain..? terserah bagaimana anda menafsirkannya.

    Yang masih mengganjal dalam pikiran saya adalah, bagaimana kelanjutan cerita ADMB ini..? adakah penulis lain yang mampu menyelesaikannya..? atau haruskah kita menyelesaikannya sendiri dengan angan-angan kita masing-masing..?.

    Bravo ki GD..!!
    Tak tunggu kitabnya, trim’s.

  53. KI GD,… aku nyadong kitab 116.

    Comment-ku singkat wae : SHM memang maestro dgn daya intuitif yg tinggi…seolah2 kita melihat langsung peristiwa yg diceritakannya….

  54. Mulai kelas 4 SD saya menikmati karya sang maestro ini, sampai tamat (krn sang Penulis sudah tidak mempersembahkan karyanya) sebetulnya masih terngiang-ngiang diendapan alam bawah sadar saya rangkaian cerita-cerita tsb. Tetapi alur keutuhan dari rangkaian tersebut mengalami distorsi dan polarisasi sehingga banyak potongan2 cerita yang saling tumpang tindih. Nah, dengan melalui mimbar ini saya sangat terbantu untuk merekonstruksi endapan2 tersebut,…….thanks Ki GD dan para sanak kadang yang berkecimpung di sini..!!

  55. Membaca karaya SHM ibarat menelusuri jalannya kehidupan itu sendiri. Cerita mengalir dengan wajar dan kadang2 menyentuh sisi kehidupan yang kadang terlewatkan oleh kita dalam kehidupan keseharian seperti; mengamati air yang gemericik di parit2, percakapan antara orang2 padesan, senda gurau Swandaru dan Sekar Mirah di depan Pakiwan, atau para Prajurit yang duduk bermalas malasan sambil membicarakan apa saja, dlsb. Bagi yang terbiasa membaca karya2 selain SHM memang terkesan lamban dan bertele tele, karena biasanya para pengarang dalam menceritakan sang tokoh dalam mempelajari olah kanuragan langsung meloncat ” sepuluh tahun kemudian…” tapi SHM tidak, beliau menggambarkan bagaimana Agung Sedayu dengan perlahan berusaha mencapai puncak ilmunya setapak demi setapak dalam goa di Jati Anom dalam sebulan.
    itulah SHM, dengan segala keterbatasannya sebagai manusia biasa, mampu membius penggemarnya dengan cerita keseharian yang betul2 melekat pada kehidupan kita sewajarnya
    matur nuwun,
    mbah man

  56. Saya mengenal karya SH.Mintardja ketika saya masih SD kalau nggak salah. Dari cerita ayah saya bahwa dulu ketika membaca ADBM belum ada listrik jadinya penerangan memakai lampu sentir atau dari minyak tanah dan ceritanya dulu pada waktu pembukaan alas mentaok dimana musuh mataram memakai hantu-hantuan ayah dan ibu saya sempat tegang juga waktu kemunculan hantu tengkorak naik kuda. Saya mulai menyewa adbm meneruskan dari ayah saya yaitu mulai ketika agung sedayu berlatih di dalam goa. Saya kalau pinjam buku biasanya satu tas penuh dan biasanya saya baca di kebun belakang rumah dari pulang sekolah sampai maghrib setelah nyamuk banyak yang datang. Kemudian saya membeli sediri tiap bulan mulai jilid II 35 sampai kemudian mataram memperluas pengaruhnya keluar dari jawa tengah. Tetapi karena kesibukan saya akhirnya saya tidak sampai jilid terakhir.
    Saya lahir dan tinggal di Kabupaten Magelang jadi tahu persis di mana bukit Menoreh dan kalau saya lewat sana biasanya saya lihat tebing-tebing di bukit siapa tahu terlihat goanya ki sadewa serta tempat-tempat Agung Sedayu memperoleh berbagai macam ilmu.Agung Sedayu hampir mewakili pribadi saya yang pendiam, tidak suka menonjolkan diri. Jadi saya dengan mudah dapat menyelami pribadi Agung Sedayu.
    Pencarian ebook ADBM sudah saya lakukan sejak lama dan ketemu dengan blog mas rizal kemudian di sini.
    Saya ucapkan terima kasih kepada para pengasuh ADBM yang telah bersusah payah berupaya melestarikan Karya dari SH.Mintardja ini karena banyak buku milik saya yang hilang satu persatu entah kemana. Teruskan perjuangannya kami akan selalu mendukung dan siap bila dimintai bantuan untuk scanner atau retype karena saya punya scanner dan juga software omni buat convert to word.
    Thanks again

  57. Inyong uwis ngirim testimonial, tapi nggak apa apalah ngirim lagi dengan versi lebih pendek.

    Testimonial tentang ADBM inyong titikberatkan lebih pada saat ini saja. Yaitu saat inyong sedang tidak ada kesibukan makanya inyong suka iseng klik ADBM. Meskipun satu hari sudah dapat satu kitab pun masih tetap saja klik ADBM hanya untuk baca komentar komentar para cantrik mulai dari yang sabar, yang lucu, yang penuh dengan nada dan irama dan seterusnya..

  58. Sungguh satu kebanggaan bagi kita bangsa indonesia yg pernah memiliki seorang SH. Mintardja yang sangat produktif dalam menulis cerita silat, seoarang tokoh karya silat yang selalu menghubungkan karay2nya dengan sejarah lokal ini sangat membantu dan mendorong kita bangsa Indonesia untuk mau menengok dan membuka lagi rontal2 sejarah di masa lalu. Dengan membaca berbagai karya2 SH. Mintardja, Naga Sastra Sabuk Inten, Suramnya bayang-bayang sampai Api di Bukit Menoreh ini banyak memberikan gambaran kepada kita bahwa setiap peralihan kekuasaan (Perebutan kekuasaan) selalu saja meminta korban. Oleh karena itu tak salah jika kita ditahun 2009 ini berinstropeksi diri semoga pemilu 2009 ini berjalan lancar dan aman.Siap kalah dan menang.
    Dalam rangka memperingati 10thn atas wafatnya Meastro cerita Silat ini saya hanya bisa berdo’a semoga karya2 beliau ini merupakan sebuah amal jariyah disisiNya. Amien.

    Sekian aja Ki Gede….Ku tunggu rontal 116 dengan segera…

  59. Membaca ADBM karya S.H. Mintardja serasa tidak hanya membaca cerita silat pada umumnya karena aspek-aspek budaya jawa dan sejarah yang sangat kental. Pengenalan cersita ADBM yang puluhan tahun hanya sepotong-sepotong kini telah terobati dengan hadirnya blog ini (terima kasih Ki GD sak wadyabalane). Tetapi tentu keinginan untuk memahami cerita ini baru akan tuntas jika kitab-kitab masih akan tetap disebarkan di blog ini. (Salut dan apreciate to pengasuh pedepokan).

    Karya SHM (khususnya ADBM) menurut saya adalah karya luar biasa dan hebat yang mestinya sangat pantas dan layak untuk menjadi kekayaan sastra Indonesia sehingga perlu mendapatkan tidak hanya pengakuan tetapi juga penghargaan.

    Maju terus pedepokan ADBM.

  60. pertama kali suka ADBM setelah baca blognya mas rizal,baru2 aja.jdnya lembur untuk ngejar ketinggalan.pdhl sudah kenal adbm sejak SMP.tp cuma diliatin covernya aja.wkt itu thn 89 lg kecanduan kho ping hoo.setelah baca nogo sosro sabuk inten baru sadar ternyata karya SH MINTARJA luar biasa.jd nyari karya nya.sampai ketemu ADBM di blognya dimhad sama mas rizal

  61. ADBM adalah karya luar biasa, menarik ceritanya dan menarik juga jika dilihat dari panjangnya kisahnya sehingga menjadi ratusan buku tanpa harus kehabisan bahan cerita.
    Saya membaca ADBM sekarang ini setengahnya karena rasa nostalgia dan setengah lagi karena penasaran dulu sempat baca tapi tidak lanjut, dulu yang menulari virus ADBM adalah bapak saya, sekitar 30 thn yg lalu saya masih smp/sma waktu itu di jakarta.
    kadang-kadang saya memperhatikan bapak kok setiap bulan beli dan baca buku cerita asyik sekali, sekali waktu saya pinjam dan ternyata ceritanya bikin penasaran pengen baca lanjutannya terus dan akhirnya tertularilah saya virus ini :).

    Kebetulan dulu orang tua saya pernah punya rumah di daerah Pajang Makamhaji Solo, karena orang tua dinas di Jakarta, biasanya saya ke Solo jika liburan sekolah, namanya anak2 dulu sering keluyuran di sekitar rumah yang ternyata menurut penduduk
    di sekitar situ adalah bekas kerajaan Pajang lama, dan di salah satu pinggiran sungai di situ katanya ada satu tempat yang biasanya digunakan untuk beristirahat Joko Tingkir disitu ada sebuah batu yang katanya dipergunakan sebagai tempat duduknya,
    entah betul entah tidak karena namanya juga anak kecil saya percaya saja, dan keluyuran keliling2 sekitar rumah di waktu liburan menjadi makin menyenangkan bagi saya waktu itu.
    Ketika kemudian saya baca ADBM kok ternyata ada hubungannya dengan petualangan saya di waktu kecil itu :), tambah tertariklah saya untuk baca ADBM, NSSI dll.

    Pertama kali baca online dulu adalah KhoPingHo (di Yahoo Group-nya Mas Bagus Pursena) dan NSSI di salah satu web site (lupa saya), ketika itu saya cari ADBM kok nggak ada, terus beberapa waktu yg lalu ada seorang teman memberitahu ada ADBM di WordPress, he he he nyasarlah saya di padepokan ini sampai sekarang. Terima kasih kepada crew ADBM.

    Salam.

    mantan laskar (pernah keluyuran di) pajang :)

  62. SHM adalah salah satu pengarang fav saya terutama untuk ADBM, Bunga di Batu Karang, Tanah Warisan dan Nagasasra Sabuk Inten.
    SHM adalah jalur pertama saya berkenalan dengan cerita silat tradisional. Perkenalan ini dimulai ketika saya duduk dibangku SMP kelas 2 tahun 1988. Waktu itu tempat persewaan buku dan perpustakaan sekolah telah kehabisan buku bacaan yang saya sukai seperti karya2 Enid Blyton,Mira W, Marga T, Sir Athur Conan Dyle, dan semua buku sastra Indonesia dan sastra Inggris. Maksud kehabisan tuch, saya udah baca semua, emang saking gila bacanya..hehehhe..
    Trus orang yang punya tempat persewaan buku yang biasa saya pinjam (namanya Mas Adi – makasih ya mas-) memberikan saya ADBM. Waktu itu buku2 jidil 1 yang 100 buku dijilid jadi 1, jadi tebelnya minta ampun. Saya rada ngeri juga ngeliat tebelnya, tapi dia bilang, coba aja baca dulu, pasti ntar ketagihan. Dia mau minjemin tanpa bayar, tapi nanti kalo suka beneran harus dibayar..heheheh baik ya..
    Akhirnya ADBM saya bawa pulang dan saya baca dan beneran saya ketagihan. Itulah awal mula saya berkenalan tidak hanya dengan SHM tapi juga dengan seluruh cerita silat tradisional yang sebelumnya tidak pernah saya sentuh apalagi saya baca.
    Jadi saya berterimakasih tidak saja kepada mas adi yang rela minjemin tapi kemudian nagih :), tapi juga kepada SHM yang bisa membuat cerita yang begitu menarik hingga membuat saya jatuh cinta dan menjadi penggemar setia.

    Sekarang terimakasih juga kepada ki GD, yang dengan sukarela memberikan scanning buku ADBM, apalagi setelah seluruh koleksi saya hilang ditelan banjir, hingga saya bisa nostalgia lagi dan mengkoleksi lagi.

    ABADI SELALU API DIBUKIT MENOREH..

  63. Ehm…
    Dari hobi baca semenjak kecil yang masih saja terbawa sampai sekarang, membawa saya ke ADBM ini. kebetulan terlahir di keluarga yang juga hobi baca cerita dan dongeng (fiksi n non-fiksi)dari cerita anak2, cerita rakyat, meningkat ke cerita remaja, cerita silat dan novel2 juga komik baik asing maupun lokal. Untuk komik asing (Asterik,lucky luck, Tintin dll) sebagian dikoleksi termasuk juga novel2nya agatha cristi, Dan brown,Enyd Bliton, JK Rowling, alfred hithcock, Eddy D Iskandar, Mira W, Smara GD, Teguh SH, Hilman Lupus, Arswendo A,dll. Nah khusus untuk cerita silat dari Kho ping ho, chin yung, Gan KL dll termasuk juga SH Mintardja itu didapat\dibaca dari Taman bacaan.
    Ada cerita menarik seputar SPOILER beberapa tahun yang lalu, ini ketika kami rebutan baca buku baru detektif misteri (Kematian Poirot),eh.. ada sodara yang datang yang udah duluan baca, langsung aja nyerocos ke inti cerita….nach tau kan akibatnya..!? Buku itu langsung aja masuk musium!!! Alias ngga ada lagi yang baca. Dan sampai sekarang sayapun belum menamatkannya (kacian yach?).
    Untuk ADBM sendiri saya hanya membaca sekali dan itupun loncat2 tergantung jilid berapa yang dipinjam (biasanya Paman saya yang rajin pinjam ke Taman bacaan), kalau NSSI dah dikoleksi dan kalau iseng di baca lagi, juga untuk seri Suramnya bayang-bayang atau Tanah Warisan. Kembali ke ADBM.. ada keinginan untuk menamatkannya dari Ebook ini, walaupun adik dan paman saya menawarkan untuk meminjamkan koleksinya, rasanya ada sesuatu yang lebih menarik, lebih menantang disini, apalagi disertai dengan cara penyampaian dari Ki Gede dan celoteh para catrik di padepokan ADBM yang semakin beragam…WOW luaaarr Biasa….
    Ok, segini dulu deh lain kali nyambung lagi.

    Teng kyu KI GEDE.

  64. K i Gede memang oye
    Dari II-1 bolak-balik,klik sana klik sini,balik lagi ke jilid I -(90 s.d 100), sepertinya kehilangan jejak , bahkan sampai mutung.
    Tapi mosok sih kalah karo cantrik lainnya, lha kulo ini bukan saja cantrik tapi pangkat wis dadi PUTUT.
    Penasaran akhirnya belajar dari kitab Ki Waskita yang salah satu jurusnya seperti Baykugannya Niji nya Naruto, akhirnya ketemunya juga CLU -nya.
    Apa yang dikatakan Ki Gede menjadi wangsit melangkah jurus selanjutnya.
    Matur sembah nuwun dumadeng Ki Gede

    Raga Tunggal-Depok

  65. bangsa ini harus berterima kasih kepada pak singgih mintardja yang telah melahirkan karya-karya besar api di bukit menoreh. pada peringatan meninggalnya pak singgih, marilah kita mengheningkan cipta sejenak untuk mengenangkan jasa-jasa beliau, yakni cerita-cerita kesayangan kita. terima kasih pak singgih

  66. saya jarang sekali nulis testimoni karena memang gak ada bakat nulis sama sekali, pernah nulis satu kali tapi dimarahin banyak orang karena gak sabaran jadinya kapok tapi berhubung pengen dapetin kitap 116 jadinya nulis deh.
    thx buat almarhum SH Mintarja semoga buku ADBM ini jadi ilmu yang bermanfaat sehingga amalnya gak habis2 tapi thx berat khususnya buat Ki Gede yang telah memberikan kebahagiaan tersendiri kepada semua orang..
    sekali lagi thx ki Gede jgn lupa segera dikirim ya

    salam,
    toni

  67. Ass.Wr.Wb.
    Berawal dari kesukaan ayah saya membaca ADBM hingga akhirnya menular pada saya. Meskipun saat itu saya hanya iseng saja, namun sekarang malah jadi kecanduan.
    Secara jujur saya sangat berteri makasih atas adanya blog adbm ini yang secara tidak langsung mengingatkan saya pada masa lalu dan sekaligus memenuhi harapan saya karena pada saat itu saya tidak membacanya dari awal dan terhenti di edisi II.
    Wass.Wr.Wb.
    RDA.

  68. saya rasa ADBM sekerang ini lebih heboh daripada adbm jaman pertama kali terbit sebagai buku.
    interaksi antar cantrik jelas lebih aktif seiring kecanggihan teknologi dunia maya….
    ……
    konon WPress Com mendata Indonesia termasuk hits yg terbanyak…., mungkin juga ini gara gara ADBM!!!
    terima kasih Ki Gede…, ada warna lain dalam rutinitas harian saya…

  69. Saya keranjingan ADBM sejak pertama kali mengetahui ada cerita tsb di harian KR (1974). Waktu itu, sebagai seorang maasiswa perantauan, tentulah saya tidak mampu membeli bukunya ataupun berlangganan KR…dasar sudah keranjigan, setiap pagi tidak perduli mau ujian atau lagi hujan, saya mampir didepan bioskop Kridosono karena disana ada koran KR yang dipajang untuk umum.

    Setelah pindah dan bekerja di Jakarta, saya bahkan sempat berlangganan KR hanya untuk bisa mengikuti ADBM sampai saya mengetahui bahwa di Blok M ada dijual buku tsb setiap bulannya.

    Tidak pernah terbayangkan bahwa kini, saat saya berada diujung utara dunia, saya tidak saja bisa merajut kembali kenganan lama dalam mengikuti cerita ini, tetapi juga bisa menjadi salah satu cantrik dari padepokan yang khusus dibangun untuk para pencinta DBM.

    Terimakasih buat Ki GD dan para cantrik yang berperan aktif atas semua kerja kearasnya.

    ND

  70. Sejak sd memang sudah seneng baca, di awalnya cergam silat istana pualam putih,..terus lama-lama sekitar umur 8 tahun pindah ke cersil sejenis kho ping ho,..kemudian kenal ADBM dr kakak tertua,..keterusan sampai SMA,..ke Jogja diterusin baca di Kedaulatan Rakyat sampai meninggalnya Pak SHT. Awalnya keliling cari ADBM dengan bantuan Paman Google,..nggak pernah ketemu,..ehhh suatu saat ketemu ADBMnya Mas Rizal,…ya sampek sekarang bersama Ki GD. Nuhun,..saya banyak belajar dr filosofi-filosofi Jawa dr ADBM.

  71. woow karya luarbiasa alur cerita mencekam, gak kecewa berburu dari jilid satu ke jilid berikutnya

  72. Dulu waktu masih SMP udah dijangkiti virus SH Mintardja oleh Bapak saya. Waktu itu membaca serial Nogososro Sabukinten, kebetulan Bapak punya koleksinya komplit. Sempat juga ngikutin ADBM, cuma gak urut, itupun mulai jilid II. Secara tak terduga menemukan padepokan yang dikelola oleh Ki Gede ini, sungguh suatu obat yang sangat mujarab untuk mengobati kerinduan dan rasa penasaran akan serial ADBM. Walaupun kadang diliputi dengan rasa mangkel, penasaran, degdegan, yang campuraduk saat menanti kitab yang tak kunjung diedarkan, tapi hal itu justru menjadi bumbu yang tak mungkin bisa didapatkan dari blog lain…:) Akhir kata, saya haturkan terima kasih yang sebesar besarnya kepada Ki Gede beserta tim yang telah membuat “impossible mission” ini menjadi “possible”. matur nuwun

  73. karya SHM luar biasa, sampe pernah berburu k tempat jual buku bekas,,,,,
    smga ADBM tetap eksis….
    Bravo

  74. saya senang cerita silat sejak kecil dulu masih cerita di radio, pertama mengenal bende mataram, senopati pamungkas. untuk ADBM saya hanya membac sesekali kerena ngak langganan KR. jadi ngak tau ceritanya. baru di internet saya baca ADBM.Trims

  75. Saya dulu punya 1 jilid ADBM serinya sudah jauh, seingat saya saat AS dkk menyerbu padepokan Ki Gede Kebo lungit dan Putut Jalak Werit. Saat itu saya masih kecil tapi terkesan sekali dengan buku ini, saat sudah di SLTA saya coba cari di toko buku besar di Kota eh kok gak ada…..
    Belasan tahun berlalu saya tetap terkenang Cerita ini….sampai suatu ketika saya menemukan padepokan ini…seperti mendapat sambungan memori yang hilang…
    Terima Ksih Ki GEde dkk

  76. ADBM karya sang maestro memang luar biasa..membuat pembaca selalu penasaran dengan kelanjutan kisah-kisahnya.

  77. saya mengenal ADBM mulai usia sekolah dasar, membaca di harian Kedaulatan Rakyat yang dibawa pulang setiap sore oleh alm. ayah saya. namun setelah saya tinggal jauh dari kota gudeg tempat lahir, akhirnya terputus. hingga akhirnya saya temukan di Blog Ki GD ini. Selain ADBM, bbrp tulisan Ki SHM juga telah saya baca baik NSSI, Suramnya bayang2, yg terasing, dll. saya sangat terkesan dgn tulisan Alm, karena banyak tuntunan hidup serta prinsip2 kehidupan yg patut sy teladani dlm kehidupan sehari2. suwun Ki GD, Ki Sukro dan Crew ADBM lainnya, sugeng dalu…….

  78. SHM ternyata adalah penulis cerita yang handal, tekun, telaten, teliti dan sabar. Bayangkan untuk ADBM saja sudah dibukukan menjadi 396 jilid. Jika setiap jilid ada 35 hal = 13.860 halaman. Cerita ini dulu dimuat dalam harian Kedaulatan Rakyat dimana setiap hari hanya sekitar 2-3halaman. Waktu penulisan adalah lebih dari 30 tahun dimana setiap hari beliau menulis sedikit-demi sedikit (2-3halaman) untuk dimuat diharian tersebut.

    Dan pada saat bersamaan beliau tidak hanya menulis satu judul cerita, tetapi bisa 3 atau lebih judul cerita. Bagaimanan sistematika dan tata cara, nama orang, nama ilmu dll sehingga tidak menjadi saling bercampur, sungguh suatu usaha yang luar biasa.

    Sehingga kalau tidak salah, ADBM pernah disebut sebagai cerita terpanjang di dunia.

    Terima kasih Ki GD dan para cantrik di padepokan ADBM yang telah ikut melestarikan dan menyebarkan karya besar ini ini.

  79. Pengalaman saya membaca dimulai dari SD, saat itu buku yang saya baca adalah komik wayang Kosasih RA dari kisah mahabharata sampai kisah-kisah carangan wayang lainnya oleh penulis lainnya.

    SMP hobi saya membaca komik mulai berpindah pada buku-buku yang lebih banyak tulisannya dibanding gambarnya. Salah satu om saya memperkenalkan saya dengan buku-buku karangan Kho Ping Hoo. Maka berkelebatlah jago-jago cina dengan ilmunya yang nggegirisi, dari Bu Kek Siansu, Siluman Kecil sampai Pedang Kayu Harum.

    Menjelang kelas 3 SMP paman saya yang lain membawa sebuah buku yang lain. Buku cerita silat karangan SH. Mintarja dengan muatan lokal. Naga Sasra Sabuk Inten…
    yang legendaris itu.
    Perhatian saya dengan cepat terserap, liwat penuturan yang indah dan cerdas beliau mampu membawa saya untuk mengimaginasikan cerita tersebut.

    Atas bantuan paman-paman saya, saya akhirnya menamatkan cerita itu (paman saya yang beli, saya numpang baca).
    Pengembaraan dengan SH. Mintardja berlanjut dengan serial lainnya yang tidak kalah legendarisnya Api Di Bukit Menoreh.
    Sayang pengembaraan ini mulai tersendat ketika memasuki periode ke II ADBM. Paman-paman saya mulai “berguguran” baik secara harfiah maupun kiasan, sehingga pengembaraan ini terhenti.

    Puluhan tahun kemudian ketika saya sudah bekerja dan mampu membeli buku. Saya mulai membalas dendam kultural saya. Naga Sasra Sabuk Inten berhasil saya koleksi dengan bantuan teman saya yang orang klaten dimana setiap kali pulang kampung dia saya titipi untuk membeli buku tersebut.
    tetapi obsesi saya yang kedua ADBM tetap belum dapat terlampiaskan. Kemana saya harus mencari saya tidak punya informasi. Teman yang biasa saya titipi juga bilang kalau buku itu tidak dicetak ulang.

    Sampai akhirnya saya blusuk’an di jagat internet ini. Link demi link saya telusuri sehingga saya sampai di Blog Ki Rizal.
    Saat saya mulai membaca, saya merasakan kembali kehangatan cerita itu dan bersamaan dengan itu memori masa lalu pun mulai terangkai kembali.
    It’s just nice to feel it again.
    Tetapi menghilangnya Ki Rizal memunculkan kembali perasaan buntu yang pernah saya alami.
    Untunglah ternyata para pecinta ADBM yang loyal dan berilmu tinggi tidak membiarkan ADBM kembali tenggelam dimakan jaman.
    Satu padepokan baru telah mulai dibangun dan dikembangkan dengan penuh dedikasi. Satu per satu penggemar ADBM yang kehilangan jalan, mulai nyantrik di padepokan baru tersebut.

    Adapun saya, yang merasa tidak punya kemampuan apapun untuk membantu berdiri dan mengembangkan padepokan ini hanya bisa berterima kasih dari lubuk yang paling dalam kepada Ki GD dan rekan2 lainnya (tanpa mengurangi rasa hormat saya karena tidak menyebut nama)dan berdoa semoga kebaikan ini akan berujung pada kebaikan pula.

  80. Pertama saya baca karya Alm. SH Mintardja mulai NSSI sampai selesai jilid 29 tahun 1968 dan selanjutnya terbit ADBM Jilid 1 tahun 1968 (Oktober ?)dan setiap bulan selalu menunggu terbitan jilid berikut, waduh kalau terbitnya terlambat rasanya belum tenang dan kesel karena ceritanya mempunyai daya tarik yang khusus. Mengikuti cerita ADBM sampai seri ke II separo jalan (lupa sampai jilid berapa). Sekarang setelah ada di Padepokan Ki GD, senang membaca lagi meskipun sudah pernah dibaca dulu tapi tidak pernah bosan. Sayang koleksi buku NSSI, ADBM, BM dan juga cerita lainnya sudah tidak punya lagi karena pindah2.
    Semoga Padepokan ini akan terus berkibar. Selamat dan Sukses

  81. Saya pertama-kali mengenal karya Pak SHM dari sebuah radio di Bandung pada akhir tahun 70-an. Penyiarnya setiap hari membacakan buku N&S selama satu jam. Karena setiap malam hanya 1 jam, jadinya sering tidak sabar untuk menanti lanjutannya, apalagi kalau kemudian menjadi kecewa kalau acaranya dibatalkan karena radionya harus menyiarkan acara kenegaraan yang cukup sering pada zaman Pak Harto masih menjadi Presiden.

    Ketidaksabaran itu akhirnya berbuah menjadi perburuan buku ke taman-bacaan. Jadilah nyaris semua karya Pak SHM dilalap habis: N&S, pelangi di langit singasari, suramnya bayang bayang, Istana yang suram, dll, dll. ADBM ini adalah satu-satunya karya Pak SHM yang belum saya baca sampai habis, dahulu hanya sempat membaca seri 1 dan sebagian seri 2, sebelum akhirnya saya harus pindah ke luar pulau Jawa.

    Akhirnya saya menemukan kembali kesempatan untuk membaca ADBM. Untuk itu saya merasa berterima-kasih kepada Ki Rizal yang telah mempelopori tayangan ADBM di dunia maya dan juga kepada para penerusnya: Ki GD dan para tetua beserta para cantrik ADBM Cadangan ini.

  82. Bagi saya SH Mintarja merupakan pengarang cerita asli yang karya karyanya memberikan banyak pengertian dan pelajaran dalam hidup, terutama pengertian mengenai kesabaran dan menerima segala takdirNYA dengan segala keiklasan.
    Salam buat semua pengemar SH Mintarja.

  83. Membaca ADBM secara rutin hanya berlangsung 6-7 tahun di koran lokal. Selebihnya saya hanya tau kelanjutan ceritanya waktu ketemu adik atau teman2. Tapi sesekali masih juga baca dari tumpukan koran 1-2 bulan sebelum dijual.
    Tidak banyak yang saya ingat dari cerita yang terpotong-2 itu. Bahkan rasa-2nya, dan ternyata salah, saya pikir Sidanti akan terbunuh oleh Agung Sedayu. Atau barangkali karena cerita yang luar biasa panjangnya jadi sulit untuk mengingat-2 dengan akurat.
    Berbeda dengan ADBM, ada kenangan melekat dari NSSI karena waktu itu kita berlomba-2 mempersonifikasikan diri seolah-2 Mahesa Jenar. Pulang dari sekolah cari bunga kamboja,pinjam blankon ayah terus rame-2 memecah batu bata pakai sasra birawa.

    Setelah membaca ulang NSSI & kangen masa kecil saya iseng2 surfing internet. Pengin rasanya beli yang ditoko buku online itu. Tapi tidak terbayang bagaimana membawa & menyimpannya nanti. Sampai akhirnya nemu situsnya mas Rizal yang pada waktu itu sudah sampai buku 56 hingga sekarang ini.

    Mengingat panjangnya, bagi saya, cerita-2 ADBM ini tidak lebih menarik dari komentar2 penggila di sini.

    Terima kasih kepada ki GD & associates atas usahanya membangkitkan kenangan-2 lama. Namun karena tidak satu kota apaboleh buat, I wish I can help.

  84. ki kitab 116 doong, kan udah penuh halaman ceritanya…

  85. Membaca ADBM secara rutin hanya berlangsung 6-7 tahun di koran lokal. Selebihnya saya hanya tau kelanjutan ceritanya waktu ketemu adik atau teman2. Tapi sesekali masih juga baca dari tumpukan koran 1-2 bulan sebelum dijual.
    Tidak banyak yang saya ingat dari cerita yang terpotong-2 itu. Bahkan rasa-2nya, dan ternyata salah, saya pikir Sidanti akan terbunuh oleh Agung Sedayu. Atau barangkali karena cerita yang luar biasa panjangnya jadi sulit untuk mengingat-2 dengan akurat.
    Berbeda dengan ADBM, ada kenangan melekat dari NSSI karena waktu itu kita berlomba-2 mempersonifikasikan diri seolah-2 Mahesa Jenar. Pulang dari sekolah cari bunga kamboja,pinjam blankon ayah terus rame-2 memecah batu bata pakai sasra birawa.

    Setelah membaca ulang NSSI & kangen masa kecil saya iseng2 surfing internet. Pengin rasanya beli yang ditoko buku online itu. Tapi tidak terbayang bagaimana membawa & menyimpannya nanti. Sampai akhirnya nemu situsnya mas Rizal yang pada waktu itu sudah sampai buku 56 hingga sekarang ini.

    Mengingat panjangnya, bagi saya, cerita-2 ADBM ini tidak lebih menarik dari komentar2 penggila di sini.

    Terima kasih kepada ki GD & associates atas usahanya membangkitkan kenangan-2 lama. Namun karena tidak satu kota apaboleh buat, I wish I can help.

  86. Berbicara tentang SH Mintarja seperti tak pernah habis ,ulasannya tentang sejarah tanah Jawa dengan tutur cerita memakai bumbu kanuragan cukup menyenangkan .
    Saya sendiri lebih banyak mengenal sejarah jawa dari karangan SH Mintarja ,biarpun ceritanya lebih banyak berkisar antara Jawa timur dan Jawa Tengah atau Yogyakarta.Itu bagi saya lebih dari cukup.

  87. Meskipun kadang2 terkesan berbelit ceritanya, tapi gak bakalan bisa diragukan lagi bahwa karya2 beliau ini sangatlah “MERAK ATI” bagi siapapun yang membaca karya2 beliau. Selalu memberikan rasa penasaran untuk buku selanjutnya
    Salam dan tetap semangat untuk semua penggemar karya2 SHM.

  88. Pertama kali aku nemu kitab ini secara tidak sengaja.
    Waktu kelas 3 SD saya bosan dengan baju baju saya yang cuma itu itu saja (maklum anak desa yang beli baju baru cuma saat lebaran saja :-( hiks..hiks..) lalu aku iseng buka ambalan lemari bawah yang terkunci, ambalan lemari bawah itu adalah dulu tempat baju bagian kakaku yang sudah kawin dan merantau di Jakarta. Setelah dapat kunci dari ibu aku pun membuka ambalan lemari itu dan tanganku mulai mengaduk aduk isinya setelah dapat beberapa potong baju layak pakai aku masih belum puas dan tanganku kembali merogoh lebih ke dalam lagi, terasa sesuatu yang keras menyentuh tanganku kemudian segera ku gapai, ternyata…..kudapatkan lima buah buku seri ADBM seri 18-23 akupun segera membuka nya dan kubaca. wah ternyata asik sekali sampai aku lupa dengan baju2 bekas yang ku dapat.

    Kemudian buru buru ku bawa buku itu ke halaman belakang rumah di situ ada pohon nangka dan batu besar dan lebar tempat dimana biasanya aku ngumpet untuk membaca. sejak saat itu aku keranjingan baca ADBM sampai sampai setiap ada tetangga yang mau ke jakarta aku selalu berpesan untuk mampir ke tempat kakaku dan minta di belikan di toko buku bekas… lalu di titipkanya sewaktu tetanggaku itu balik lagi ke kampung.Melihat aku yang keranjingan membaca tanpa mempedulikan tugas utama membantu ibu, kadang ibupun menjadi jengkel dan marah2 karena biasanya sepulang sekolah aku segera mencari pakan untuk kambing2 dan pulang dengan gulungan rumput yang besar. Tapi semenjak aku kenal ADBM gulungan rumput untuk pakan kambingku semakin mengecil karena setiap aku ke hutan kecil di luar desa aku selalu cepat2 pingin pulang untuk membaca lanjutan kitab2 ADBM.

    Alhasil setiap jam 12 malam kambing2 yang kurang makan itupun rame rame protes karena masih lapar, melihat itu ibu saya kesal dan semua buku2 ADBM kesayanganku di simpanya dan kakaku pun di larang mengirimkan lagi buatku karena kata ibu aku jadi malas kerja, sedih…

    Dan terahir adalah ahir 2008 lalu saat aku sedang bosan kerja,iseng2 aku googling cersil jawa..dan ternyata menemukan blognya mas Rizal…walah seperti menemukan berlian saja layaknya, sejak saat itu aku adalah orang yang palin terahir pulang kantor, kadang sampai jam 11 malam karena sebelum pulang baca ADBM dulu hi…hi…hi

  89. Saya mengenal ADBM dari ayah saya sewaktu saya masih SMP. Dari iseng nebeng baca, akhirnya ikut demen. Waktu kalo enggak salah saya baca mulai seri 2. Dengan adanya site ini, saya jadi mengenal lebih jauh ADBM, dan juga dalam seri yang lebih lengkap. Terima kasih ki GD, dan juga semua Kru ADBM.

  90. Ehm, kembali ke alam nostalgia………….

    Pertama kali saya diperkenalkan dengan buku karangan Ki SH Mintardja ialah oleh Eyang saya almarhum saat beliau datang dari Jogya ke Jakarta kurang lebih tahun ’69-70 an. Saat itu saya masih SD, dimana teman-teman sebaya saya hanya menyenangi komik-komik bergambar saja. Mula-mula saya membaca buku Nagasasra & Sabuk inten, kemudian dilanjutkan dengan ADBM dan buku-buku karangan Ki SHM lainnya.
    Buku ADBM 396 jilid, saya selesaikan sejak SD s/d lewat tamat kuliah.Salah seorang kawan saya, sekarang telah bergelar Doktor dan pernah mengajar di Lemhanas, adalah penggemar berat buku-buku Ki SHM. Pada waktu kuliah, saya sering rebutan dengan beliau saat tiap jilid ADBM terbit (satu bulan satu jilid). Untuk menghemat uang jajan kiriman ortu, kami bergiliran membeli kitab ADBM tersebut….hehe

    Menurut hemat saya, Ki SHM (alm.) adalah salah satu maestro dibidangnya. Buku-buku silatnya bukan hanya melulu bercerita mengenai perkelahian, tetapi bagaikan novel yang penuh sarat dengan pesan-pesan moral. Beliau sangat piawai dalam membangkitkan emosi para pembacanya, sehingga seolah-olah ikut terlibat dalam alam ceritanya.

    Seperti pendapat para kisanak sebelumnya, mudah-mudah kita dapat mengambil hikmah yang positip dari buku-buku karangan beliau. Semoga kita semua selalu sadar, sabar, ikhlas dan tawakal akan kebesaran MAHA PENCIPTA kita dan berjiwa kesatria selalu menolong sesame.

    Terma kasih Ki SH Mintardja, semoga para ahli warisnya mendapat ketabahan dan kesejahteraan dari hasil2 karya beliau.

    Terima kasih Ki GD dan teamnya yang telah menyelenggarakan rangkaian ‘pesta’ di web ini. Semoga amal ibadah para Ki sanak sekalian mendapat imbalan dari Nya……..amien.

    Slamet76

  91. Assalamualaikum….
    Sebelum membaca buku karangan S.H Mintarja saya tergila-gila membaca buku karangan Asmaraman s Kho ping Ho di sebuah persewaan buku, karena seringnya menyewa buku jadi banyak yang kenal sesama penyewa, pada suatu hari karena yang akan menyewa buku banyak jadi pada antri. Antar penyewa buku sambil menunggu kita semua pada mengobrol, saya di tanya oleh mas-mas yang pada waktu itu saya masih berumur sekitar kurang dari 20 tahun. ” Dik…suka baca Kho Ping Ho ya..?”, saya jawab suka mas…terus si Mas tadi ngomong dulu aku juga suka baca Kho Ping Ho tp terus males, katanya khayal, masak 1 pendekar bisa mengalahkan 100 orang, bagus SH Mintarja kalau ada yang berkelahi orang 1 lawan 2 yang berilmu setara pasti menang yang 2, kan nyata bisa juga menang yang 1 orang tetapi yang 1 orang berilmu tinggi, terus tak pikir-pikir bener juga, akhirnya saya coba2 pinjam buku SH Mintarja, kalau gak salah pertama kali saya membaca buku SH Mintarja berjudul Sayap-sayap terkembang, habis membaca buku tersebut…wah bagus juga ceritanya. Terus setelah membaca Api di Bukit Menoreh semakin OYE, tapi hanya sampai Jilid II, sayang jilid III nya di persewaan tersebut tidak ada jadi makin penasaran, terus ada teman SMP dulu ngomong waktu melihat saya membaca buku ADBM, katanya ” Wah kowe podo karo sebehku, wacanane ADBM” Saya hubungi anaknya, katanya bapaknya berlangganan buku tersebut dan saya tanya yang jilid III ada gak ? Dia ngomong ada tapi anaknya sudah di Jogja, katanya nanti kalau pulang tak carikan. Tetapi sampai sekarang sudah tidak pernah ketemu lagi sama anaknya. Eh…di internet coba-coba cari ketemu sama Blognya Mas Rizal dan di teruskan sama Ki GeDe….semoga Ki GeDe beserta crew bisa menuntaskan rasa penasaran saya, jadi saya berharap bisa sampai tamat ( sampai jilid III ).
    Begitulah ceritanya….
    Suwun.
    Wasalam….

  92. Saya kenal ADBM +/- 24 tahun yg lalu, waktu saya masih di smp. Saya ikut baca buku yang almarhum Bapak saya beli. Saya baca mulai saat alas mentaok dibuka oleh sutawijaya sampai dengan +/- agung sedayu jadi pelatih pasukan khusus mataram. Karena saya terus kuliah di luar kota saya jadi tidak punya kesempatan baca lagi. Barulah setelah saya ketemu blog-nya mas Rizal saya menemukan lagi keasyikan membaca buku ini dari awal.

    Terima kasih alm. SH Mintardja atas jasanya membuat cerita yg begitu penuh dengan ajaran kehidupan, dan juga terima kasih buat mas Rizal yg telah membidani tanyangan ini di dunia maya, dan juga Ki GD & rekan2 yang telah bersusah payah meneruskan kerja awal mas Rizal.

    Tuhan memberkati

  93. Bagi kami yang orang Yogya sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak diantara kami berlangganan harian Kedaulatan Rakyat karena cerita bersambung Api di Bukit Menoreh. Tak terkecuali keluarga kami.

    Saya tak begitu ingat kapan tepatnya saya mulai membaca ceita ini, tetapi kemungkinan sekitar kelas tiga SD. Sehingga kini lewat 30 tahun kemudian ingatan saya agak kabur akan cerita ini.

    Sudah lama saya berharap cerita ini muncul di dunia mayadan sangat berterima kasih atas kerja padepokan Ki Gede akhirnya muncul juga. Saya sempat senewen ketika Mas Rizal tiba-tiba menghilang waktu itu.

    Ketika Ki SH Mintardja meninggal sebenarnya saya sudah tidak mengikuti lagi cerita Api di Bukit Menoreh ini karena sudah pergi mencari makan di negeri orang. Sungguh kehadiran padepokan ini sangat menyenangkan sekaligus mengobati rindu. Apalagi tempat tinggal saya aslinya tidak jauh dari Kota Gede.

  94. Tulisan SH.Mintardja sudah bukan barang asing bagi keluarga kami. Saudara2 bapak saya 5 orang dari 7 bersaudara adalah pengikut setia setiap karya2 beliau, terutama “Api di Bukit Menoreh” ini. Jadi gak heran kalau di lemari keluarga embah saya, dulu banyak bertumpuk buku2 karya SH Mintardja tersebut.

    Pak Lik dan Bu Lik saya tetep mengikuti perkembangan ADBM meski telah pindah ke Jakarta dan Surabaya.

    Kebetulan saya yang memang hobi baca, menemukan harta warisan tersebut di lemari keluarga, meski dengan nomor yang tidak lengkap tetap bisa membuat saya tercerahkan dengan karya2 SH. Mintardja.

    Kelengkapan dari buku2 yang terlewat dari koleksi keluarga kemudian terpenuhi setelah saya kuliah di Malang yang kebetulan kost2an saya deket dengan rental buku2 cerita karya beliau.

    Delapan tahun lalu saya pindah ke Jakarta, masih sempat mengikuti seri2 terakhir ADBM, yang kemudian putus ditengah jalan. Serasa ada yang kering dengan berita meninggalnya sang Maestro “budaya Jawa” ini.

    Beberapa bulan yang lalu secara kebetulan pula bertemu dengan blognya Om Rizal dan berlanjut ikut pindahan ke padepokan Ki Gede sampai hari ini.

    Pada akhirnya padepokan ini bisa menjadi tempat untuk bernostalgia dan saling “nguri-uri” budaya jawa yang adi luhung.

    Miudah-mudahan usaha dari Ki Gede terutama, dan para cantrik yang penuh semangat bisa berbuah manis di setiap langkah kehidupan kita semua. Amin.

    *tetap semangan*

  95. Ki GD, kalo ngisi testimoninya sekarang masih bisa dapet kitab-116 ga ? (habis nengok cucu di luar kota..)

    Memang SH Mintardja seorang maestro Indonesia yang belum ada tandingannya (sepengetahuan saya), beliau mengarang berbagai cerita yang berdasarkan alur sejarah dan dengan bahasa yang sederhana tetapi penuh makna dan terutama lagi dapat dicerna oleh semua lapisan pembacanya..

    Saat ini atas jasa Mas Rizal dan Mas Dede en de geng yang tidak terhingga maka ADBM dapat dikibarkan keseluruh dunia, sehingga kerinduan akan karya-2 SH Mintardja dapat terobati..

    Tengkiu sanget..

  96. ADBM merupakan karya yang hebat saya kira, apalagi jarang ada yang membuat cerita silat sepanjang ADBM ini.
    Ditambah dengan kentalnya sejarah yang diketengahkan didalamnya membuat kita seperti melihat langsung peralihan kekuasaan dari Pajang ke Mataram.

    Terma kasih kepada Ki SH Mintardja, ki GD, dan juga semua Kru ADBM.

  97. Saya mengenal buku SH Mintardja sejak kecil. Ayah saya adalah pengikut setia cerita hampir semua karya SH. Mintardja dari mulai Naga sasra sabuk inten, sampai Api dibukit menoreh.

    Karya karya itu tersimpan dalam lemari, walaupun tidak lengkap akhirnya hampir semua saya baca. Namun karena saya harus kuliah di luar, maka kegiatan membaca saya hentikan karena tidak memiliki akses.

    Dengan adanya situs ini, saya sangat berterima kasih sekali kepada Ki GD dan timnya yang telah memberi kesempatan kepada semua penggemar karya SH Mintardja untuk menikmati. Apalalgi dimulai dari cerita seri awal ADBM yg belum sempat saya baca.

    *best regards*

  98. Untuk Para CaTrik yg kebingungan download kiktab … apalagi bila kitab tersebut disebunyikan di komentar … para catrik dapat mengunakan cara sebagai berikut :
    1. Sorot pesan atau petunjuk dari ki GD sampai kata-kata tersorot atau kursor ada di kata kata atau keluar sorot warna biru …
    2. kemudian gunakaan Tab pada keyboard,terus di tekan sampai para catrik menemukan kitab tersebut lihat di pojok bawah sebelah kiri akan terlihat sources apabila ada yg menunjukan kitab maka tingal klik saja.
    terima kasih

  99. Selamat siang Ki GD,

    Saya mau ikut daftar jadi Cantrik di Padepokan ini. Dan sebelumnya, saya mohon maaf walaupun baru resmi daftar tapi sudah semua ilmu ADBM saya serap tanpa sepengetahuan Ki GD.

    Saya respect sekali atas jerih payah Ki GD menghadirkan ADBM di dunia maya. Saya mulai baca ADBM sejak saya belum sekolah dan masih belajar baca. Waktu itu Bapak memang rutin membeli ADBM tiap bulannya. Berhubung waktu kecil maniak baca, sembarang buku saya lahap termasuk koleksi ADBM beliau.

    Tapi sayang, koleksinya waktu itu tidak lengkap banyak seri lama yang hilang dan rusak. Waktu itu.Saya mengikuti ADBM secara penuh mulai jilid II sampai pertengahan jilid III, sampai akhirnya saya harus meninggalkan rumah orang tua dan hidup sendiri.

    Balakangan ingatan saya akan cerita ADBM tergugah ketika sedang iseng surfing, ketemu dengan Blognya Mas Rizal. Apalagi diblog itu Mas Rizal masih berkisar di seri awal sehingga melengkapi pengetahuan saya tentang kisah Untara vs Tohpati dan profil awal Agung Sedayu.

    Berhubung updatenya Mas Rizal dirasa lambat (sorry, Mas) saya sampai ke Jogja nyari-nyari barang kali ada yang jual ADBM komplit. Ternyata yang baru sudah gak terbit. Nyari ke tempat jualan buku bekas (Jl. Kartini?), ketemu, cuma sayang sudah ada yang pesan.
    Akhirnya dengan bantuan bapak dan sodara, saya bisa nemukan yang jual seri ADBM komplit di Jakarta.

    Walaupun semua buku sudah saya baca berulang-ulang, tapi memang ADBM gak pernah bikin bosan. Sekarang saya kepingin nyantrik di Padepokan Ki GD biar pengetahuan ADBM saya tambah komplit.

    Atas perkenan Ki GD, saya ucapkan terima kasih.

    Salam

    # selamat datang kisanak. senang sekali ada yang sudah katam rontal adbm.

  100. Satu lagi “kearifan” dari alm Bapak SH Mintarja, dalam cerita Suramnya Bayang Bayang (SBB), beliau “memperhalus” cerita Babad yang mungkin agak tendensiua untuk “ memojokkan” aliran tertentu.

    Dikisahkan bahwa Kanjeng Adipati Hadiwijaya dipertemukan dengan Kanjeng Adipati Arya Penangsang oleh “orang yang sangat dihormati” dan dalam pertemuan tersebut nyaris kedua adipati tersebut berperang tanding. Justru dalam keadaan tersebut “orang yang sangat dihormati” itu berusaha dan bahkan berhasil menggagalkan perkelahian kedua adipati itu.

    Kalau disementara Babad bahkan dalam lakon ketoprak dan ludruk disebut bahwa “orang yang sangat dihormati” itu adalan Sunan Kudus yang dikisahkan berfihak kepada Arya Penangsang.

    Dan disinilah “kearifan” dan “kenetralan” SHM yang tanpa menyebut nama dan tanpa memperanjang keterlibatab Sunan Kudus dalam peselisihan keluarga Demak tersebut, bukankah dengan demikian tidak ada fihak manapun yang merasa tersinggung dan dirugikan??
    Benar2 suatu sikap orang Jawa yang patut ditiru dan diteladani oleh generasi berikutnya.

    Oh ya, maaf saya adalah pensiunan pegawai kecil dan bukan Bapak Achmad Sjafii Ma’arif, beliau adalah guru dan idola saya

  101. Kalo saya kenal adbm waktu masih SMP di Tuban -Jawa Timur. Bacanya loncat2. Habis bukan dari langganan sendiri. Ada sebuah keluarga yang kontrak di sebagian bangunan rumah saya yang langganan. Kebetulan sekali saya kutu buku, jadi pinjem majalah apapun dari keluarga tsb. Eh, ternyata disodori ADBM, ya senenglah rasa hati. Cuma karena bukunya ga komplet, bacanya baru sekitar agung sedayu duel dengan sabungsari dan sekitarnya. Tapi kecanduan banget. Lebih kecewa lagi, setelah keluarga yang punya adbm tsb pindah kontrak, habislah harapan untuk tahu kelanjutannya. Tapi kisah agung sedayu tetap nancap di hati. Perasaan sih, sifat dan sikap agung sedayu ada sedikit banyak yang mirip dengan saya, diam, pemalu, berilmu tinggi (hehe), tetapi kalo saya ga ragu-ragu

  102. Sudah puluhan tahun yl., aku baca ADBM, tapi heran koq sekarang tetap tidak bosan baca Cerita ADBM di padepokan Ki GD, aetiap buka internet selalu mampir ke padepokan Ki GD cari yg baru. Trims ya Ki GD dan rekan padepokan.

  103. Selamat siang Ki Gede,

    Pada usia menjelang setengah abda ini, sungguh bersyukur saya bisa menikmati (lagi) ADBM, sungguh suatu hal yang sangat menggembirakan.

    Saya membaca ADBM saat masih sekolah dulu, tidak tamat..jadi belum khatam, walau yang saya ikuti (dulu) bukan hanya ADBM namun juga kisah – kisah yang lain seperti Pelangi di langit singasari, istana yang suram dan lain – lain, ADBM memiliki nilai dan kesan yang jauh tertanam dalam ingatan saya dan sekarang secara tak terduga saya menemukan ADBM di padepokan ini…sungguh senang rasanya.

    Kisah dan pesan moral yang disampaikan almarhum Bpk. SH. Mintardja sedikit banyak memberi warna dalam perjalanan hidup saya, termasuk saat melakukan perjalanan maka bila melalui daerah-daerah yang disebutkan dalam cerita menjadikan saya memberi perhatian lebih.

    Terima kasih Ki Gede atas tertayangnya ADBM, semoga bisa sampai jilid terakhir tanpa halangan apapun juga.

    Matursuwun

  104. setelah sekian lama, baru sekarang saya memberanikan diri untuk mengisi testi ini.

    tadinya minder juga kalau melihat dan membaca pengalaman-pengalaman yang tertulis di kolom ini, berarti saya masih anak bawang yang baru tahu adbm di tahun 2k7/ awal 2k8.
    pada saat yang lain sudah membaca adbm, mungkin saya masih belajar berjalan :)

    tadinya memang tidak sengaja mendapatkan adbm di blog mas rizal, karena memang bukan itu yang saya cari.

    justru saya sedang mencari babad tanah jawi dan karya-karya ki ronggowarsito karena dari 2 kitab asli yang disebut-sebut bermakna ramalan, saya pernah melihat salah satunya, dan memang memiliki suatu kekuatan yang tidak dapat saya sebutkan saat saya membacanya.

    singkat kata singkat cerita, intinya saat saya mencari sejarah kerajaan-kerajaan indonesia itulah, saya terseret ke dalam arus google untuk mengklik blog mas rizal. dan mulailah saya tercantol hingga saat ini.

    sukses deh untuk mas rizal, ki gd dan tim

  105. Pada tahun 71 waktu saya masih duduk di bangku SMP klas satu, saya dan keluarga tinggal di Ceper. Waktu itu kakak saya (hampir semuanya) “nyandu” baca buku silat karangan SHM yang lagi ngetren: NSSI..Tanpa sengaja waktu sambil belajar di salah satu meja kakak saya, saya ambil buku cerita silat itu..Tapi saya hanya sepintas tertarik corak lukisan covernya..”WIB-71″ inisial pelukis covernya. Begitu jantan tapi Jawa banget..! Kontradiksi ketika saya buka gambar ilustrasi oleh drs sudiyono, kesan saya nuansanya sangat ndeso, naturalis, tapi klasik..Waktu itu isi cerita NSSI cukup kenyang mengangkat kesaktian-kesaktian melalui macam-macam ajian..dan yang terkenal yaitu Mahesa Jenar dan Kebo Kanigoro, dengan Sosrobirowo-nya yang selalu dapat mrantasi gawe, meskipun kadang menghadapi hambatan dan kesulitan juga..
    Cerita berlanjut, ketika NSSI tamat..kecanduan akan karya sang maestro semakin menjadi-jadi, tapi mbuh kenapa kok ndilalah muncul cerita ADBM yang para kakak saya juga keterlanjuran nggathok..Akhirnya saya juga ikutan keterlanjuran, jilid demi jilid saya baca, sembari mengkhayal daerah-daerahnya yang kebetulan banyak yang saya hafal dan kenal..Ketika saya naik kelas dua SMP sampai tamat SMA dan berdomisili di kota Solo, mulai keponthalan ngikuti urutan ADBM ini.
    Semasa kuliah sampai kerja di Jakarta, saya kehilangan jejak (untuk tidak menyebut malas mencari ADBM), sampai ketika suatu saat saya sempatkan untuk pinjam teman (juga asal Solo) yang hobby baca ADBM, tapi jilidnya “lompat katak”..saya pikir, ya lumayan tombo kangen! nggak tahu, menurut saya cerita ADBM ini tidak begitu “galak” seperti NSSi, bahkan lebih menggambarkan bahwa SHM agak “sabar” dalam mengungkap cerita lewat narasinya.
    Sampai saatnya saya temukan blog-nya mas Rizal. Mulai saat itu saya mempunyai niatan bantu-bantu gotong royong, ibarat unit sepeda saya ikutan jadi salah satu jerujinya..dan kebetulan ada fasilitas, ada cara, ada kemauan, ada peluang..dan ada-ada yang lain.
    Nah itu sekedar cerita yang mungkin enggak berarti, tapi buat saya banyak nilainya..
    Maju terus dan salam kompak

  106. waduh, maaf, bukan maksud saya untuk hanya spoiler saja, tapi yang pernah saya baca itu memang kitab asli yang ditulis di atas semacam daun lontar (sayang, saya tidak memiliki daya ingat seperti AS)

    tapi sebenarnya, tidak ada ramalan-ramalan yang jelas dalam kitab yang saya baca itu. kitabnya sendiri yang satu ada di museum ini yang katanya mengandung ramalan, nah yang satu lagi yang justru berisi tembang, kidung dan puisi inilah yang saya pernah baca.

    yang jelas kitab asli ini saat ini berada di daerah jawa barat. apakah kakang dan nyai tidak merasakan getarannya? :)

  107. skedar info, kalau bulan kemaren Ki Gede pindah padepokan, maka akhir bulan ini Nyai Retma juga bakalan pindah padepokannya..
    Pindah (arab:hijriah/hijrah) merupakan suatu proses, tidak saja dapat terjadi hanya berupa proses sanepa atau isyarat, tapi juga dapat terjadi secara fisik (seperti Ki Gede atau Nyai Retma) yang berarti berdomisili dari tempat satu ke tempat lainnya..Kalau di pengertian penduduk, seseorang dikatakan pindah domisili, atau sebagai migran hanya jika menetap atau rencana menetap selama enam bulan atau lebih.
    Hijrah sebuah transformasi, merupakan nuansa pengalaman batin, setiap orang pasti akan mengalami transformasi batin. Artinya batin seseorang juga mengalami dinamika perubahan. Yang tadinya segalanya nampak indah kemilau, suatu saat terasa kelu, beku, dan tiada warna..
    Hijrah, dari alam fana ke alam baka. hijrah seperti ini merupakan hijrah yang nyaris abadi..setiap manusia pasti mengalami. Sebuah pesan dari para bijak, mengatakan bahwa: ..sebelum dapat merasakan di dunia hanya sebatas mampir ngombe (hanya sebentar), maka melangkahlah sesuai dengan naluri kebenaran seperti digambarkan dalam kidung lama, “agama ageming aji”, agar jika saat dilahirkan semua orang tertawa, kecuali aku yang menangis, kelak rubahlah dengan motto, kelak jika aku meninggal semua orang akan menangis, dan hanya aku yang tersenyum..!
    Salam kanggo Ki GEDE

    Ki Wongso

  108. Almarhum ayahku pasca pensiun PNS di salah satu Dinas, maka untuk mengisi kesibukan beliau mengabdikan diri di kraton Surakarta Hadiningrat, dan kalau nggak salah ditempatkan di perpustakaan kraton Kasunanan Surakarta. Nah yang aku ingin ceritakan adalah buku-buku karya Ronggowarsito dapat dibaca di sana.
    Tentang Ronggowarsito, beliau adalah salah satu pujangga besar di zaman PB VIII (kalau nggak salah?) yang dianggap sebagai orang pintar dan penasehat raja, sehingga saking karismatisnya, jika tiba musim2 ujian sekolah (waktu aku masih SR/SD), anak2 seusiaku dianjurkan oleh kakek/neneknya untuk mengunjungi makam beliau di desa Palar, Trucuk (dekat Pedan-Klaten), hanya sekedar minta “berkah”. Sebuah kultus, memang..Tapi itulah fenomena, bahkan menurut tulisan beliau sendiri, dosa bagi yang meminta berkah, dan kasihan bagi Roh yang hakikatnya justru menginginkan “kembali” ke “asal mula hidup”

    Ki Wongso

  109. Saya kenal cerita ADBM dengan tokoh utama Agung Sedayu sejak sekitar 30 tahun yang lalu dari buku-buku koleksi bapak saya yang tercecer di gudang rumah di Solo. Saya sendiri waktu itu baru duduk di kelas 6 SD dan tinggal di Jogja. Waktu itu banyak sekali buku-buku cerita Jawa yang ada di gudang itu (Api Di Bukit Menoreh, Naga Sasra Sabuk Inten, Pelangi Di Langit Singasari, Bende Mataram, Naga Siluman Sawer Wulung, Cindewangi Melanda Istana, Naga Geni Mahesa Wulung, dan masih banyak lagi cerita-cerita jawa lainnya). Dasar saya kutu buku, semua buku-buku itu satu-persatu saya baca, tetapi banyak yang kurang lengkap karena sudah hilang entah dimana karena rumah yang di Solo itu dikontrakkan ke para mahasiswa (dijadikan asrama mahasiswa).

    Salah satu cerita favorit saya saat itu adalah Api Di Bukit Menoreh. Mungkin hal tersebut saat itu dipengaruhi oleh kesamaan nama tokohnya dengan namaku. Juga karakter Agung Sedayu di saat-saat awal cerita sangat mirip dengan karakter diriku sendiri (sangat penakut terutama terhadap hantu … hehe, seringkali ragu-ragu dalam mengambil keputusan, tidak suka berkelahi karena tidak ingin menyakiti orang lain, tidak suka menyombongkan diri meskipun pintar … hehe maaf bukan bermaksud menyombongkan diri).

    Saat itu cerita baru sampai saat penyerbuan Ki Tambak Wedi ke Menoreh. Terus terhenti karena bukunya gak punya. Tetapi ternyata di koran Kedaulatan Rakyat saat itu juga memuat cerita bersambung ADBM. Saat itu kalau nggak salah di KR cerita sudah sampai saat perseteruan antara Ki Ajar Tal Pitu dengan Agung Sedayu. Saya setiap hari rajin membaca kelanjutannya di KR. Setiap pagi begitu bangun tidur langsung ke teras untuk menunggu kedatangan loper koran. Saat itu hati akan terasa sangat kecewa kalau cerita kelanjutannya tidak bisa diterbitkan karena Pak SH Mintarja berhalangan karena sakit atau karena suatu sebab lainnya. Demikian hari demi hari terus berlanjut hingga saya duduk di bangku SMP dan SMA. Ketika lulus SMA saya kuliah di Bandung sehingga kebiasaan saya untuk mengikuti cerita ADBM di koran KR menjadi sedikit terganggu. Namun demikian Bapak dan Ibu saya ternyata sangat paham dengan hobi anaknya ini sehingga setiap hari beliyau selalu menyimpan bagian koran yang memuat cerita ADBM itu sehingga dapat saya baca ketika saya mudik di Jogja. Acara pertama ketika mudik setelah kangen-kangenan dengan keluarga adalah meneruskan baca cerita ADBM itu. Hal itu terus berlanjut hingga meninggalnya sang pengarang cerita tersebut (Bpk. SH Mintarja alm.).
    Selain baca cerita ADBM di koran KR, saya juga sempat mengikuti versi sandiwara radionya dan versi film layar lebarnya (versi film sayangnya cuma ada 1 film saja).

    Kerinduan saya tentang cerita ADBM inilah yang mendorong saya untuk mencoba menelusurinya lewat internet dan akhirnya kutemukan apa yang kucari-cari itu di beberapa website, tetapi yang paling lengkap dan paling maju adalah yang ada di adbmcadangan.wordpress.com ini.

    Terima kasih Ki Gede atas inisiatifnya membuka padepokan ADBM ini, semoga bisa terus berlanjut sampai jilid terakhir tanpa halangan apapun juga.

    Maturnuwun.

  110. Rumahku kebetulan gak jauh dengan rumahnya Pak SInggih almarhum, tiap sore aku nunggu depan rumah klo liat mobil pak singgih ke utara bisa dipastikan esok harinya pasti ADBM akan muncuk di koran KR tak klo sebaliknya bisa dipastikan esok harinya gak biso membaca kelanjutan ADBM…..

    # wah ini baru berita baru. selamat datang kisanak.. adakah cerita yang lainnya ?

  111. saya pertama kali bersinggungan dengan karya SHM sekitar lebih 25 tahun yl. waktu itu ada orang yang kos di rumah mempunyai koleksi nagasasra yang belum tamat dan saya yang doyan baca langsung aja melahapnya. jilid seterusnya beli sendiri di kios buku. tiap bulan dateng ke kios liat2 sudah ada belom bukunya (kebetulan saya tinggal di bang wetan yang jauh dari mataram). kalo belum ada, besok ke sana lagi, tiap hari sampai bukunya ada. setelah nagasasra habis saya teruskan dengan judul yang lain.

    kebetulan saya sangat menyukai kebudayaan jawa sehingga karya SHM ini sangat cocok buat saya. juga karena settingnya benar2 ada dan beberapa tokohnya memang ada betulan maka seolah2 cerita karya SHM ini benar2 terjadi dan tokoh2nya nyata semua. inilah kelebihan karya SHM. tanpa merendahkan karya lain, saya belum pernah membaca cerita silat karya selain SHM secara serius sampai habis, paling2 1 atau 2 buku. kalo karya KPH saya biasanya bingung dengan nama2 tokohnya karena kayaknya hampir sama semua, jadi harus balik ke depan lagi untuk meyakinkan tokoh ini siapa. kalao WS 212 saya gak begitu suka karena kurang dalem kajiwannya, cuman grubyak-grubyuk saja (sorry buat yang suka WS).

    sebelum ada website mas rizal (semoga sehat selalu), saya belum pernah baca adbm meskipun sudah tahu, justru karena saya tahu kalo ceritanya panjang sekali. jadi beruntung sekali saya bisa menemukan website mas rizal dan kemudian padepokan yang dipimpin ki gede walaupun sempat patah hati karena website mas rizal tiba2 berhenti. thanks berat buat mas rizal dan ki gede serta bebahu lainnya yang telah membuat padepokan jadi gayeng.

    saya mencoba dengan sedikit apa yang saya tahu nyumbang sesuatu yang kira2 berguna buat para cantrik dalam berlatih di padepokan.

    nuwun
    ~dk~

  112. Pertama kenal adbm ketika SMA tahun 88-an. Saat itu aku nemu kumpulan koleksi pakdheku, tapi mulai buku-2(Jalan Simpang) dan hanya beberapa seri saja.
    Begitu membaca langsung jatuh cinta. Namun sayang, di kotaku tidak ada yang punya koleksi buku lainnya.
    Kegilaanku terobati ketika kuliah di Malang, ada persewaan komik yang punya koleksi adbm. Itupun tidak lengkap,sehingga harus loncat-loncat bacanya.
    Sekarang ini aku sangat mengharap ada e-book adbm yang lengkap. Seperti e-booknya Nagasasra Sabuk INten yang sudah ada.
    Aku berharap banget inibisa berlanjut terus sampek tamat (buku terakhir).

    Tks,
    Wassalam/

  113. pertama kali saya mengenal cerita adbm dari radio. saat itu pertengahan 1980-an. saya masih ingat betul dengan suara swandaru yang diisi oleh edy dosa, untara oleh petrus urspon, sedangkan agung sedayu dan kyai gringsing masih saya ingat suaranya yang khas, tetapi lupa siapa pengisi suaranya, maklum waktu itu saya masih kecil. apalagi kalau mendengar lecutan-lecutan cambuk dari mereka bertiga (maklum wong ndeso dan pernah angon kambing/sapi). jadi untuk menggunakan senjata cambuk pasti gue banget. banyak cerita lain yang saya ikuti dari radio waktu itu, seperti : NSSI,pelangi di atas langit singasari,racun dalam sayur,suraida sampai yang terakhir tutur tinular. saya senang sekali dengan hadirnya kembali cerita adbm ini karena drama radio yang saya dengarkan dulu tidak sampai ke episode terakhir (maklum waktu itu saya mendengarkannya dengan numpang di radio tetangga. kecian deh gue). yang menjadikan saya penasaran sampai sekarang dan mungkin ada rekan-rekan lain yang tahu adalah cerita si kokom (tokoh utamanya nur komariah dan hasan sidik)

  114. Setelah ADBM selesai di upload kira-kira kapan yaaa karya-karya lain si Empu SHM ini kita ipload juga sehingga generasi muda kita bisa belajar banyak dari kisah-kisah sejarah mbah moyang kita mempersatukan nusantara…aku sangat menunggu kiriman file sayap-sayap yang terkembang sudah ada belum yang punya ebooknya… maturnuwun

  115. untuk belajar kerendahan hati, saya sering mengingatkan diri akan agung sedayu dan kyai gringsing; dan terutama dalam belajar menerima perbedaan pemikiran dan sikap.

    saya jadi belajar untuk tidak perlu bernafsu dalam menjelaskan pilihan pemikiran dan sikap saya; melainkan cukup menjelaskan status saya, dan dengan sadar membiarkan sekalipun akan tetap dalam perbedaan.
    :)

  116. ikutan cuap2x ya. Mohon ijin, maklum cantrik baru :)

    gue dulu baca ADBM sejak jaman SD. Numpang buku bokap. Jaman itu bokap slalu langganan beli 3 buku, ADBM, Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan, dan Suramnya Bayang2x yg bersambung dgn Sayap2x yang Terkembang. Dulu sih awalnya iseng. Tp entah kenapa begitu abis satu buku jadi ga sabar buat nunggu buku edisi berikutnya. Itu terus berlanjut sampe bokap meninggal jaman gue SMA. Stelah bokap meninggal gue berpisah dgn semua cerita2x itu. Sampe akhirnya gue nemuin lagi nih versi internetnya di sini. Sbg cantrik, gue ucapkan terima kasih yg tiada tara. Apalagi sbg salah seorg fans jadul, gue sangat senang bisa kembali bernostalgia dgn masa lalu di sini :)

    Smoga Yang Maha Kuasa melimpahkan rahmat Nya kehadirat para bebahu ADBM termasuk Ki Gede, Ki Demang, Ki Jagabaya, dan para cantrik sekalian

  117. Kulonuwun poro sederek ^_^

    Mau ikutan berbagi cerita tentang hal-ihwal membaca serial silat karya bapak S.H.Mintardja ini.
    Kalau tidak salah waktu itu saya berada di tahun terakhir SMP, dan tetangga saya membuka sebuah “taman bacaan” yang gratiss…tis..tiss hehehe. Ada banyak bacaan mendidik di sana (apalagi tidak adanya komim jepang yang saat itu menjamur di kalangan anak seumuran saya). Nah di pojok, ada dua karung besar berisi buku. Dengan nekat (plus izin) tentu saja, saya membongkarnya dan di dalamnya ada banyak buku ADBM ini (saya sama sekali belum pernah melihat yg versi KR), dan itupun dalam urutan yang nggak urut (alias morat-marit), mungkin saya langsung baca yg kilid akhir2 (karena sudah ada Raden Rangga dan Glagah Putih). Langsung, saya terserap dengan ceritanya (apalagi saya sangat suka sejarah kuno). Tak berapa lama kemudian…tiba-tiba saja tetangga saya itu pindah rumah dan semua bukunya juga dijual…membuat saya sangat sedih (karena setip hari saya pergi ke sana dan membaca).
    Nah penghujung tahun 2008 kemarin saya menemukan salah satu situs yang menulis ulang cerita ini dalam bentuk ibuk. Terus terang, sangat senang sekali. Saya tidak tahu apa ada hubungannya dengan situs ini apa tidak. Namun setelah menemukan situs ini ternyata saya lebih senang lagi, karena disamping ada semua cover buku dari jilid 1 , di dalamnya ada juga gambar2 persis yang saya lihat di bukunya.
    Untuk itu tak terkira ucapan terima kasih saya buat yang sudah bersusah payak membuat web ini.

    Great Job! (beside Bp. S.H.Mintardja himself ^_^)

    Suwun,
    santi-salatiga

    nb. klo mau cari bukunya lagi ada nggak, ya?
    nb. lagi: o iya, klo mo jadi cantrik ato yg lainnya tu gimana?

    @_@

  118. Jika mengikuti perkembangannya, rasa2nya akan mulai bermunculan ilmu-ilmu yg di Nagasasra & Sabuk Inten, di mana kalo di Nagasasra&Sabuk Inten ilmu andalan tersebut sudah muncul di seri2 awal…ini justru menariknya ADBM. Semoga para pengelola Blog ini diberikan kesehatan, keteguhan dan kontinuitas rejeki sehingga bisa menuntaskan ADBM sampe 397…
    salam

  119. adbm pancen teope begete

  120. ADBM
    Mak Nyussss….

    maturnuwun

  121. ADBM emang membuat ketagihan untuk baca
    walaupun untuk mendapatkan kitab
    kadang perjuangan berat

    HIDUP ADBM

  122. Salut bapak2 and ibu2 perintis dan penunjang blog ini..,
    Semoga blog ini langgeng dan dapat terus menayangkan cerita ADBM sampai episode2 terakhir jilid ???? yg dibuat oleh Alm. SH MIntardja.
    Ni Pati si a pakah orang itu ?????

  123. (dihapus)

    $$ testimonial buat testimonial.

    • he…he…he… kejaaaaaaaaaaaaaammmmmm…… :mrgreen:

  124. jadi mau nulis apalagii????
    waduuuu… nyai ini…
    yaudah… ADBM memang top markotop top top…

  125. Sejak ketemu blog ini, ritme dan irama hidup sunguh berubah… rasa kurang ‘sesuatu’ kalau belum membuka blog ini…. dan tumpukan rasa kesal serta (kadang-kadang jengkel) waktu menunggu dan mencari (kalau diberi teka teki yang sulit), bisa terhapus saat berhasil menemukan kitab yang diwedhar.

    Memang luar biasa sang maestro kita dan juga luar biasa yang mewujudkan dan mengatur serta mengurus blog ini

    Sekarang setelah lebih dari 24 jam menunggu (yang 154 kan ndak terlalu sore diwedharnya, jadi lebih dari 24 jam), sungguh membuat pikiran sukar fokus pada hal lainnya. Diajeng..siapa sih orangnya..biar dikejar beramai ramai

  126. ADBM bagi saya :

    1. Website yang selalu saya buka terlebih dulu setiap pagi.
    2. Ngangenin
    3. Pada beberapa episode diakhir ceritanya selalu membuat pembacanya penasaran.
    4. Alur cerita selalu terjaga kesinambungannya dengan apik.
    5. Pembaca kadang ikut terbawa emosional dengan jalan ceritanya
    6. Bacaan cantrik sejuta umat
    7. Padepokan yang selalu ramai
    8. Episode nya panjang sekali dan saya harus menamatkannya
    9. Kalau tidak membaca sehari ayan bisa kumat
    10. Terimakasih Ki Gede dan Nyi Senopati serta kerabat, sanak kadang , handai tolan dan para cantrik yang telah menghidupkan padepokan ini.

    Salam hormat,…

  127. Siapa gerangan “seseorang” menurut pengertian jeng Senopati yang akan menjadi Satrio Panilih ..??
    Sapa hayo……????

  128. seminggu tidak berkomentar,sejak Nyi Senopati memegang kendali padepokan, ternyata banyak cantrik yang tidak lagi memegang unggah-ungguh, subasita sudah ditinggalkan.
    Semoga suasana ini bisa kembali seperti saat awal-awal padepokan ini berdiri.
    Ayo Nyi, kalo perlu dibentak saja, karena ada cantrik yang tidak tanggap dengan didehemi saja.

  129. Salam.

    Hari minggu, awal bulan pada tahun 1974. seorang anak laki-laki yang menginjak remaja memacu sepeda mininya dengan kencang. Hari masih pagi, dan seperti biasanya setiap hari minggu jalanan selalu lengang, sehingga dengan seenaknya remaja itu meliuk-liukan sepedanya menuju sebuah kios buku dibelahan selatan kota. Dikios itulah setiap hari minggu awal bulan anak itu membeli buku bacaan kegemaran bapaknya, Api di Bukit Menoreh dan sebuah buku serial lepas lainnya dari pengarang yang sama, SH Mintardja.

    Kegemaran membaca buku-buku itu kemudian menjadi sebuah tradisi keluarga, dimana setelah semua anggota keluarga selain bapak, juga ibu, anak itu, yang adalah aku, beserta abangnya selesai membacanya, maka terjadilah pembicaraan yang seru seputar jalan cerita buku itu, khususnya tentang perkembangan negeri Mataram dan kedigjayaan Agung Sedayu.

    Sungguh masa-masa lalu yang sangat menggairahkan dengan buku bacaan itu. Aku memeras memori semakin dalam, mencoba mengurai kembali bebarapa momen menarik saat semua harus bersabar hingga bapak menyelesaikan terlebih dahulu bacaannya, lalu pada gilirannya ibu barulah salah satu dari aku atau abangku yang ditetapkan oleh ibu berdasarkan penilaiannya atas kerajinan kami belajar. Betapa bangganya diantara kami yang mendapat kesempatan membaca terlebih dahulu. Itu berarti penilaian ibu atas kerajinan yang kami tunjukkan adalah lebih baik. Dan betapa menyebalkan rasanya ketika harus mendapat giliran belakangan. Selain harus lebih bersabar, tak jarang pula “spoiler-spoiler” seperti dengan sengaja kami buat, khususnya apabila bapak atau ibu tidak berada dekat dengan kami.

    Esensi dari apa yang aku sampaikan diatas adalah, betapa SH Mintardja dengan buku cerita bersambungnya, khususnya Api di Bukit Menoreh telah dijadikan media bagi orang tua kami untuk memacu semangat belajar kami. Sehingga secara tidak langsung telah memberikan sumbangsih yang tak ternilai harganya bagi kehidupan kami masa kini.

    Masa memang berganti. Walaupun Api di Bukit Menoreh tidak akan pernah terselesaikan dengan wafatnya SH Mintardja, namun ketika cerita ini kemudian muncul kembali melalui media blog ini, aku tersentak oleh sebuah semangat lama yang menyeruak bersama kenangan-kenangan masa remaja. Dan akupu seakan-akan menemukan kembali gairah membaca yang telah semakin susut dimakan usia.

    Dengan cepatnya aku lahap kitab demi kitab sejak aku temukan blog ini. Tidak lebih dari satu bulan aku mampu mengejar ketinggalan hingga berada pada tataran yang sama dengan penghuni padepokan yang lain. Rasanya aku menjadi semakin haus untuk membaca kembali.

    Demikianlah, maka dengan seluruh perasaan hormat, aku sampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan acungan jempol buat ki Gede, ki Sukra, nyi Seno beserta para bebahu maupun cantrik padepokan adbmcadangan atas kerja kerasnya dalam mewujudkan kembali semangat Api di Bukit Menoreh.

    Salam

  130. biasanya ngetak-ngetik ngetak-ngetik, sekarang klak-klik klak-klik…

    akhirnya karena gak ketemu-ketemu, ya… ngisi juga sambil menunggu kitab beredar

    adbmcadangan.wordpress.com hmmm… sepertinya sudah bukan cadangan lagi setelah sekian lama mas rizal tidak muncul-muncul juga, jadi kalau boleh usul, dijadikan adbmutama :) nanti saya akan membantu…. dengan doa…

    tokoh idola?? tentu saja… kuda
    tanpa kuda tampaknya kegiatan para gegedug akan lesu dan kurang bergairah :)

    sayang, kakek saya tidak meninggalkan seekor kudapun setelah istal di belakang rumahnya dihibahkan untuk sekolahan di daerah gombong, yang lebih sayang lagi, sekarang sekolahannya sudah tidak dipakai lagi.

    congrat dan tetap semangat untuk ki gd, nyi seno, ki sukra dan para cantrik sedaya

  131. ADBM merupakan bacaan wajib tiap hari, kalau nggak baca sehari saja seperti nggak minum vitamin jadi lemes.

  132. Dengan mengikuti padepokan adbm ini, saya teringat tiga puluhan tahun yang lalu ketika mengikuti perkembangan Agung Sedayu dari bulan ke bulan selama hampir dalam kurun waktu lebih dari tiga puluh tahun.

    Sehingga berahir dengan wafat sang maestro SH Mintardja.

    Selamat Bekerja kepada para pengasuh padepokan, dan terima kasih banyak atas usahanya menyebar luaskan budaya nusantara.

    Wassalam

  133. …bertolak pada sifat manusia
    dengki, iri, nafsu, cita2
    umumnya juga – cinta
    yang melahirkan segala macam peristiwa..
    kalimat pembuka SHM di cover dalam nampaknya betul-betul terceritakan dalam perjalanan tokoh-tokohnya. karakter tokoh-tokohnya tidak hitam putih, namun ada kelemahan dan kekurangannya. Ceritanya tidak melulu berkisar pada pertempuran fisik, tapi pergulatan batin tokoh-tokohnya diceritakan dengan runtut.
    Saya tertarik dengan testimoni Pak Achmad Syafii, kemudian saya coba baca Babad Tanah Jawi, nampaknya SHM paham betul sejarah jawa, sehingga cerita ADBM ini bersesuaian dengan Babad tersebut. Bahkan rasanya ada beberapa bagian kosong dalam Babad Tanah Jawi yang seolah-olah terisi dengan cerita ADBM ini. Salut untuk SHM dan tentunya para bebahu padepokan ini.

  134. Sugeng ndalu Nyi Seno, lan para cantrik sedaya

    Pertama kali saya nyantrik di ADMB asuhan Ki GD & Ny Seno langsung mendalami kitab 80, baru kemudian mundur dari kitab 1 hingga sekarang sudah berhasil mengejar ketinggalan dari cantrik-cantrik senior lainnya di kitab 154. Saya sungguh merasakan keakraban dan kadang kekonyolan dari komentar-komentar cantrik semuanya maupun tanggapan dari Ki GD maupun Nyi Seno.
    Semoga saja saya sebagai cantrik bisa menamatkan & mendalami rontal sampai dengan rontal terakhir yang ada.
    Amin…

    NB: Sorry selama ini saya milih ndlosor saja dan tidak banyak bisa comment.

    Wassalam

  135. ADBM membuat orang tergila-gila … Ternyata bukan cinta aja yang membuat orang jadi gila.

  136. Baca adbm benar-benar lupa segala-galanya, isteri ngajak ngobrol aja hanya dijawab hm..hm..
    Apalagi kalau sudah menunggu kelanjutan cerita..bolak-balik klak klik klak klik sampai malam… wah benar-benar asik dan ada kenikmatan tersendiri setelah penantian panjang dibalas dengan terbitnya kitab yang baru… ayo, mana kitab 155nya?

  137. ADBM adalah karya terbesar SH Mintardja di samping Nagasasra dan Sabuk Inten yang pernah heboh di sandiwara radio ketika saya masih SD / SMP dulu.

    Bagian yang paling saya suka dari kedua kitab SH Mintardja ini adalah adanya niat dan tekad yang kuat untuk meningkatkan kemampuan diri melalui laku mesu diri, pendadaran, dsb. dengan tetap menyadari hakikat kebesaran Allah yang Maha Besar.

    Menurut saya ini akan menjadi Cerita abadi yang Insya Allah akan kekal sepanjang masa.

    Thanks to Ki GD dkk. yang telah menghadirkan kisah asli nusantara ini.

  138. AdBM bagaikan candu…
    dia bisa membuat ketagihan…
    sakaw…
    kalau tidak kuat mental, mendingan jangan mengikuti AdBM di padepokan…
    banyak cantrik yg terganggu ingatannya gara-gara tidak kuat dan stress menunggu bebahu padepokan mengirimkan kitab jatah dan bonus…
    ada yang sampai begadang segala demi mendapatkan kitab tercinta…
    ada juga orang yang sengaja mengeruhkan suasana supaya padepokan menjadi resah…

    ada juga yg dionelin istrinya, karena merasa diduakan cintanya…

    virus yang benar-benar berbahaya…

    waspadalah…waspadalah…

  139. Penggemar ADBM semakin bertambah lho?waktu lagi asyiik2nya Nyedot ADBM, ada teman yang penasaran.nyedot bacaan apaan sih?biar ga penasaran.pertama-tama teman ini ak kasih MAhesa Jenar Dulu.Langsung dia lalap habis.kemudian, aku kasih ABDM.Tambah semangat.Katanya ceritanya sangat menarik alurnya. Yo mesti…………….

  140. Ehmm…
    Jujur saja!
    Alasan pertama saya mulai membaca cerita jawa khususnya Api dibukit menoreh, karena saya sudah melahap dan kehabisan cerita silat cina (Kho Ping Hoo, Gan KL,Tjin-yung, Khu-Lung dan masih banyak lagi).
    Mula-mula membaca, terasa aneh dengan cara penyampaiannya yang bertele-tele. Dari mulai tokohnya, Agung Sedayu yang dari awal di gambarkan sebagai seorang pemuda yg manja, penakut selalu bergantung pada kakaknya. Walaupun akhirnya setelah menemukan jatidrinya, menjadi seorang yang linuwuh, namun dalam setiap tindakannya masih belum bisa menghilangkan wataknya yang masih selalu ragu-ragu.

    Dari awal cerita, SHM sudah memberikan image bagi para pembaca, bahwa AS adalah sosok (tokoh utama) yg kurang sempura.
    Berbeda dengan kakaknya, Untara yang berkarakter gagah,tegas, berkepribadian lengkap.
    Namun sejalan dengan mengalirnya cerita, saya mulai terbuai dengan kisah itu sendiri.SHM dengan ADBM nya mampu membawa pembacanya melanglang buana dengan imaginasinya. Sampai membuat saya ketagihan.

    Walaupun sudah membaca dan menyelesaikan nya sampai jilid 396.Namun saya masih sering mengulangnya lagi (kebetulan rumah berdekatan dgan Persewaan komik,4 kali saya megulangnya).
    Ketika saya bertugas luar kota, dan kebetulan tanpa sengaja browsing menemukan situs ADBM.
    Muncul keinginan untuk mengulang lagi memory yang tak pernah terlupakan dulu untuk membacanya, walaupun harus mencicil,kadang2 malah harus menunggu sampai malam hari baru bisa mengunduhnya.

    Salut & respect buat ki GD, Ki Sukra, beserta senopatinya yang telah berusaha melestarikan karya SH. Mintardja ini dalam dunia Cyber Story.
    (Mungkin kita sudah akan kesulitan untuk mendapatkan Buku ADBM ini sekarang-sekarang ini)
    Sehingga kita semua dapat menikmati, mengerti dan menambah pengetahuan, tentang bagaimana permulaan dan perkembangan sejarah mataram yang di kemas secara apik dalam cerita Api di Bukit Menoreh.

    Bravo ADBM Cadangan. wordpress.com

    NB:
    Untuk ki GD beserta para bebahunya yang terhormat,
    Di harapkan bisa melanjutkan cerita ADBM ini yang ceritanya terhenti dan menggantung di seri 396.
    Ki Widura di mohon turut membantu. Saya melihat sampeyan ada bakat untuk menulis dan mungkin bisa mengembangkannya serta berimajinasi dalam padepokan ADMB ini.

    Nuwun.

  141. Kalau nggak salah dulu pernah saya baca di harian Kedaulatan Rakyat dalam wawancara semasa Pak Singgih masih ada, bahwa beliyau sudah membuat pokok-pokok alur cerita seial ADBM ini sampai tamat.

    Entah ada dimana pokok-pokok alur cerita itu sekarang karena sampai saat ini ternyata cerita serial ADBM ini masih belum ada tanda-tanda untuk dilanjutkan oleh penerusnya/keturunannya.

    Saya sangat berharap agar adbmcadangan.wordpress.com dapat menjadi jembatan untuk melacak kembali catatan-catatan Pak Singgih (alm) tersebut, sehingga kalau benar catatan-catatan tersebut ada, maka akan membuka peluang untuk melanjutkan cerita yang terputus tersebut (Seperti halnya Agung Sedayu yang berusaha menemukan kembali puncak ilmu perguruan Ki Sadewa yang secara tidak sengaja telah terhapus olehnya)

    Adakah yang tahu keberadaan catatan-catatan tersebut?

  142. DENGAN ADBM INI RASANYA URIPKU TENTREM…maknyusssss
    (capslock cuma menegaskan arti)

  143. Membaca ADBM memang tidak ada bosanya walaupun telah dibaca berulang-ulang

  144. Tiada hari tanpa masuk ADBM cadangan…..
    Tiada menit tanpa refresh URL…..
    Tiada detik tanpa baca komen para cantrik yang kadang menggelitik di hati….

  145. Awalnya cuman cari2 buku khopinghoo di palasari, berhubung yg dicari g ada dan kebetulan adanya ADBM jadi ya beli itu walaupun seri awal2 doank.Semakin dibaca semakin penasaran, waktu caari lagi dipalasari ternyata g ada. Pas padepokan ini dibuka terus terang gw seneng banget karena bisa terus mengikuti lanjutan dari ABDM. Buat para bebehu padepokan gw ucapakan banyak terimakasih atas kerja kerasnya.

  146. Pada awalnya seperti hal yang biasa. Aku lewat depan Bapakku yang sedang lenggahan sinambi maos buku ADBM. Seingatku ketika itu kira2 aku masih duduk di SMP tahun 1975. Bapakku selalu mendapat pinjaman buku ADMB terbitan baru sebulan 1 jilid dari tetangga yang bekerja di Perpustakaan UGM. Aku memang dari kecil sampai lulus sekolah tinggal di Yogyakarta. Kalau Bapakku sudah selesai maos, kadang aku disuruh mengembalikan buku tersebut dalam kondisi masih rapih, tidak ada tekukan dan cover muka belakang selalu dilapisi kertas buram yang baru. Pada suatu hari ketika aku duduk di bangku SMA klas 1 semester awal, aku kena musibah tabrakan.Kakiku di gips dari betis belakang sampai telapak kaki. Padahal saat itu pas liburan persiapan Ulangan Umum penjurusan IPA atau IPS. Untunglah aku masih bisa mengikuti Ulangan Umum. Beberapa hari aku hanya tiduran sendiri diatas amben saat orangtuaku bekerja dan saudara2ku sekolah. Hanya koran Kedaulatan Rakyat yang biasa menemaniku. Perasaanku saat membaca koran, sudah sampai bosen. Tiba2 mataku tertuju pada Cerita bersambung ADBM Jalan Simpang yang semula sama sekali aku tidak tertarik membacanya. Akhirnya kubaca juga. Dan ternyata… boleh juga untuk menemaninku yang BT. Saat awal aku membacanya, ceritanya sudah sampai : Anak buah Sabung Sari sedang berselisih dengan orang2nya Carang Waja dari pesisir selatan. Akhirnya aku mengikuti terus cerita ADBM Jalan Simpang melalui Kedaulatan Rakyat sampai aku lulus dari UGM. Tentu saja hampir setiap pagi aku berebut dengan Bapakku untuk membaca ADBM. Tetapi sayangnya setelah aku bekerja aku tidak lagi mengikuti cerita ADBM. Untunglah suatu saat aku pas sowan Pak Lik adik Ibu, beliau mengkliping ADBM dari Kedaulatan Rakyat. Sehingga lumayang masih nyambung dikit2. Tapi karena rumah Pak Lik cukup jauh akhirnya aku hanya membaca sampai kira2 30 lembar klipingan. Sampai, tahun lalu akhirnya aku menemukan ADMB ,yang kucari dari Google, blognya Mas Rizal. Aku hepi banget bisa membaca ADBM dari jilid 1 yang sama sekali belum pernah ku baca. Betapa kecewanya aku ketika entah kenapa Mas Rizal menghentikan Up Loadnya Cerita ADBM. Semoga Mas Rizal saat ini baik2 saja. Untung aku tidak putus asa. Kucari lagi di situ2 yang menulis tentang ADBM. Akhirnya aku mememukan situs ini. Meskipun sampai saat ADBM jilid 154 ini diwedar aku sudah tau jalan critanya, tetapi aku betul2 merasa ‘di refresh’.
    Ngaturaken gunging panuwun ingkang tanpa upami dumateng : Ki GD saha crew nya…
    Entah sampai ADBM jilid berapa, aku baru menemukan sambungan cerita saat terputus dahulu. Sampai saat ini aku selalu ikut absen untuk mendapat ransum yang tiap hari terbit 1 buku. Betapa indahnya andaikan aku saat ini bisa ngbrol dengan bapakku dan Paklik ku tentang Agung Sedayu. Tapi…. Bapakku telah pergi menghadap Tuhan tahun 2003. Ingin sekali rasanya aku mengenalkan situs ini kepada Pak Lik ku. Belum sempat aku mengenalkannya, beberapa bulan yang lalu Pak Lik ku juga pergi menghadap Tuhan.
    Pak… Bapak…. Pak Lik… Aku kangen… (basah mataku…).
    Hidup ADBMCADANGAN.WORDPRESS….!!!

  147. Saya sebenarnya pembaca buku KPH, kemudian GKL dsb. Secara tak sengaja, saya baca cerita ini semasa saya SMP/SMA dulu, hasil meminjam dari teman. Maklum, buat membeli tidak cukup dana :(
    Sayangnya,tidak bisa berlanjut berhubung temanku itu pindah kota. Entah sampai jilid ke berapa yang saya baca waktu itu.

    Seiring dengan waktu, saya pun mencoba untuk mengkoleksi buku-buku yang pernah saya baca, baik bukunya atau pun ebooknya. Dan sayapun giat mencari ebook, terutama KPH.

    Akhirnya, saya teringat satu buku yang pernah saya baca, dan kemudian saya pun giat mencari di internet. Tahun lalu, saya menemukan web nya mas Rizal. Dan itupun terputus juga.
    Namun, akhirnya saya menemukan adbmcadangan ini.
    Saya kira pengasuh adbmcadangan ini mendedikasikan sebagian waktunya dengan sungguh-sungguh untuk mengetengahkan & mengabadikan karya besar ini.

    Untuk itu saya mengucapkan terima kasih dan mudah-mudahan bisa terus membaca sampai buku yang terakhir.
    Saya kira, itu merupakan harapan kita semua.

  148. .. minggu lalu tugas ke kampung nun jauh di sana, untung masih ada fasilitas koneksi internet,
    .. amaaaan bisa ngunduh ADBM buat teman suntuk !!

  149. kalau dulu… jaman gencar-gencarnya retype..
    ki gede yang ngopyak-opyak cantrik supaya segera menyetor retype-nya.

    sekarang… gantian cantrik yang ngopyak-opyak supaya kitabnya segera diwedar.

    besok…. ????
    entahlah… apalagi

  150. Saya mengikuti ADBM di padepokan ini mulai awal sekali saat pertama dibuka oleh Ki GD, ketika itu rontalnya masih berbentuk text file yang untuk menamatkan satu kitab saja butuh waktu berhari-hari.

    Saat ini padepokan semakin berkembang, cantrik juga semakin banyak bergabung bahkan diantara para cantrik ternyata juga banyak yang memiliki kemampuan untuk menulis cerita.

    Kalau boleh usul, bagaimana jika dibuatkan wadah tersendiri bagi para cantrik yang ingin menuliskan cerita ADBM ini dengan versinya sendiri namun dengan ketentuan bahwa kitab ADBM karya SH.Mintarja ini dibuat sebagai pakemnya. Tidak perlu terlalu panjang cukup satu episode saja misal :
    ” Pertempuran di Randu Papak ”
    ” Sekar Mirah, bunga Sangkal Putung ”
    ” Jika Agung Sedayu meluapkan amarah ”
    ” Jalan simpang asmara Agung Sedayu ”
    dll…

    Jika perlu untuk menarik minat, dibuka saja sayembara dengan juri para cantrik sendiri.

    Semoga bermanfaat untuk kelangengan padepokan ini.

    Salam persaudaraan ADBM
    Lakone

    $$ menarik sekali Ki. pasti banyak yang suka. ditunggu realisasinya lebih jauh.

  151. Nyi Seno dan para cantrik yang Mumpuni

    Saya pertama baca ADBM tahun 70 an sampe awal 80.
    setelah saya pindah ke padepokan nya ki gede Carter
    ( yg sekarang digantikan oleh Senopati Obama). jadi saya tidak bisa mengikuti lagi ADBM.
    Mudah mudahan keberadaan ADBM disini yang dipimpin oleh Nyi Seno dan Ki GD serta para cantrik yg bersedia meluangkan waktunya untuk menyelesaikan ADBM sampe tamat.
    Kami mengucapkan beribu ribu terima kasih

    Utun bujurseeng

  152. Hmmmm….
    Dah nyampe disini… tapi tak ada kitabnya….
    Cari kemana lagi ya…? testimonial diobok-obok juga nda ada…

    Hhmmmm…
    Nunggu aja ach… sapa tau yang dititipin kitab dah nongol di bundel ADBM………

  153. hemm, mungkin Lateung harus kirim testimonial dulu….

    Silahkan bang…..horas

  154. kulo sampum ngirim testimonial tgl 18 Januari 2009 dulu, apakah harus ngirim lagi Bu de? thanks

    $$ enggak juga gapapa, kecuali ada sudut pandang yang berbeda.

  155. Padepokan ADBM

    Kau adalah sebuah candu
    Sekali membuka dan membacamu
    Membuatku slalu menunggu
    Dengan cemas dan penuh harap
    Akankah diturunkan jilid demi jilidmu

    Tak terasa sore pun berganti
    Kehangatan sinar mentaripun berlalu
    Hawa Dinginpun mulai menyapu
    Dengan menahan beku
    Ku coba menulis testimu

    Berapa puluh ribu penggemarmu slalu mengunjungimu
    Berharap dapat membaca kelanjutan kisahmu
    Saling sapa dan bergurau antar para cantrik penghunimu
    Silang pendapatpun kadang berlaku
    Smua menambah kehangatan akan hadirmu
    Dan hanya dengan do’alah ku bantu

    Proyek panjang yang dimotori oleh Ki Gede
    Ki Sukra dan Nimas Senopati slaku senopati pengendali
    Mencoba menghadirkan cersil terpanjang menurut sepengetahuanku
    Sebuah karya anak bangsa bernama SH. Mintardja
    Bravo padepokan ADBM

  156. kekurangannya ki SHM (kalo bisa disebut kekurangan ini juga) adalah bikin cerita berlatar belakang mataram islam- tapi kering banget sentuhan islaminya.
    mohon dimaklum Ki SHM memang bukan berlatar belakang islam , jadi daripada salah mengartikan, lebih baik tidak sama sekali, begitu kira2..
    tapi masa iya sih kata2 mesjid aja ga ada??…bukankah demak itu terkenal dengan mesjidnya?.
    setiap istana pun selalu bersebrangan letaknya dengan alun2 dan masjid?..
    Mungkin, daripada dikritik orang, lebih baik tidak menyangkut salah satu agama. Tapi… ya itu dia…, kering jadinya…, padahal mataram dan islam itu ga bisa dipisahkan.


    tapi KPH yg bukan islam.., kok bisa ya menceritakan latar belakang mataram islam? malah kata KPH ajian demit pun pupus sudah dengan ayat kursi?..
    padahal konon segala ajian pengusir setan demit dsb macam kulhu geni, syahadat geni, kulhu sungsang dsb .. konon timbul saat mataram islam – dimana dua kultur buadaya hindu-islam dan juga kebatinan bersatu..??.
    tau ah gelap……hehehehe

  157. satu lagi…
    ki SHM itu ga romantis…., malu2 atau gimana ya…
    pengen baca ada kata spt ini…

    – sekar mirah mengibaskan rambutnya…,bintik peluh yg mengucur di sepanjang jenjang lehernya menambah indah panorama sore hari….
    -bibirnya yg ranum merekah manja.., matanya berbinar bak mutiara dengan bulu lentik yg menghias kedua bola matanya…, sementara jarinya yg habis pedi meni – masih erat menggenggam tongkat baja bertengkorak yg masih dihiasi darah segar lawannya…, menetes menyusuri jemarinya yg lentik terawat.

    ….takut ama istrinya kali ya…, dikira ki SHM genit, hoho

  158. saya dibesarkan di yogya. meskipun orang-orang dirumah tiap hari rebutan baca ADBM di KR, entah mengapa saya tidak terlalu tertarik. mungkin karena cuma baca sepenggal cerita hari itu.

    ketertarikan saya dimulai ketika paklik saya beli buku NSSI. awalnya hanya ingin tahu apa isinya, eh, malah baca sampai habis buku tersebut.

    barulah saya perhatikan bahwa penulis NSSI, sama dengan penulis serial ADBM yang tiap hari muncul di KR. jadilah saya peserta rebutan ADBM KR tiap pagi.

  159. saya dulu di tahun 70an sdh mulai baca ADBM terus di tahun 80-90an baca lagi yang berjilid sebulan sekali,ketika sy sdh merantau di jakarta saya cari kitab ini di toko buku SUGIMAN Manggarai atau di mester jatinegara, serita terputus hingga saat gelagah putih dan roro wulan menerima ilmu secara unik dan ghaib,(diera gelagah putih inilah muncul pengganti tokoh sumangkar yaitu KI JAYA RAGA ), kini di era TI yang nggegirisi ini saya menikmati kembali melewati padepokkan ini, yang kurasakan membaca saat ini jauhhhh lebi ashiiiik dari ahulu, nalar sudah jalan dan resapi, jadi sy ingin mengucapkan terima kasih kepada ki gede.

  160. Sugeng enjing . . .

    Perkenalkan saya Cantrik saking Padukuhan Lereng Kidul Gunung Slamet. Kira – kira seusia Glagah Putih, saya mulai tertarik dan menikmati cerita ADMB. Awalnya mulai suka membaca cerita bersambung di harian Harian Kedaulatan Rakyat ( KR ), sebenarnya Or-tu yang emang demen pada cerita ADBM. Pada saat itu kita berlangganan pada sebuah toko buku yang kami sendiri yang tiap hari harus ambil ke Toko. Setiap hari sepulang sekolah dengan bersepeda bersemangat sekali ambil KR ke toko, harapannya cuma satu, bisa baca pertama kali serialnya Agung Sedayu. Setelah Ortu baca, setelah itu kolom cerita kita gunting, dibuat bendel. Saking senengnya sama Agung Sedayu, benden carita dibaca sampai berkali-kali, terutama saat-saat Agung sedayu mesu diri dan berlaga mengalahkan musuh-musuhnya. Itu-lah bagian kegiatan masa kecil yang masih tergambar jelas sampai saat ini. Sampai kemudian saya harus meninggalkan padepokan tercinta di Lereng gunung Slamet, merantau ke tanah seberang, bersamaan pada saat yang sama Glagah putih mengembara bersama Rara Wulan. Habis sudah kesempatan mengikuti ceritanya Sang Maestro SH. Mintardja.

    Terima kasih sekali saya sampaikan kepada Ki GD beserta Senopati dan Punggawa lainnya yang tanpa pamrih dan dengan konsisten memunculkan kembali cerita yang sangat menarik ini. Kalau dulu saya menikmati sehari satu baris colom KR, sekarang satu hari satu Kitab. Maju Terus Ki GD.

    Salam

    Mas. Banyu

  161. luar biasa bunda
    pancingan yang berhasil, pagi-pagi begini sudah 50-an cantrik O/L

  162. Mas Banyu, ternyata baru tahu, kalau kita berasal dari 1 Padukuhan.priwe kabare, rika siki neng endi?nuwun sewu para cantrik padepokan ADBM, Ki GD n Nyi Seno.

  163. Adbm ini membawa ingatan sy kembali ke masa kecil, –masa-masa susah ketika dulu di tahun 78-an tinggal di salah satu dukuh di banyumas.

    Di dukuh tsb saat itu cuma ada satu keluarga yang mampu setiap bulannya sisihkan uang untuk keperluan langganan buku adbm. Saking banyaknya yang senang baca buku ini di dukuh tsb, maka pas sampai ke giliran sy untuk nikmati cerita karya SHM ini, si keluarga yang mampu tsb sudah sedang menikmati buku cetakan dua jilid di depannya. Alhamdulillah bisa sabar waktu itu.

    Sy kehilangan kontak dengan buku adbm ketika harus merantau ke JKT mulai tahun 85 numpang sm saudara; dan akhirnya bisa kuliah di salah satu univ negeri dg beasiswa supersemar.

    Baru di tahun 2008 bisa ketemu lagi dg adbm di dunia maya via jasa baik mas rizal yg kemudian dilanjutkan oleh ki gede dkk. Dari tempat sy sekarang berada (di new york), diem2 sy rajin mengikuti blog adbm ini.

    Bagi sy, komentar para cantrik sama menariknya dengan cerita adbm itu sendiri. Dari perspektif ini, sy lihat adanya merit pada usulan ki lateung dan ki nagasasra untuk memperlambat keluarnya buku adbm ini.

    Tapi tentu saja sy termasuk yg tidak setuju dg usulan pelambatan itu. Dulu dua bulan menunggu, sy masih bisa sabar, sebab saat itu dalam situasi “masih untung bisa dipinjami buku adbm oleh keluarga kaya yg baik hati itu”.

    Pelajaran berharga yang bisa sy temukan dari kembalinya ingatan ke masa-masa susah dulu salah satunya adalah bahwa ketika masalah ketersediaan dana bukan faktor yang menentukan, kayaknya kita menjadi cenderung semakin tidak sabaran.

    Bukan sy mengatakan bahwa orang yang lagi susah biasanya bisa sabar! Kelihatannya justru malah sebaliknya. Di new york ini banyak orang miliki uang lebih, justru lebih banyak orang yang gak sabaran.

    Buat ke gede atau nyi senopati dan juga temen2 cantrik padepokan ini, kalau kebetulan ada tugas nglanglang ke nyc: di sini ada gardu yg bisa diampiri.

    salam.

  164. Top Markotop, Bulik Seno. Lihat dan rasakan bagaimana alur cerita di 144, penyelesaian yang tidak terduga. dengan kehadiran pangeran Benowo seakan menetralisir semua kerangka dan scenario yang kita bayangkan.

    Saya rasa itu hebatnya SHM, mbulet, padat,dicampur dengan psikologis dan sosiologis kehidupan Jawa (tengah)dan penyelesaian yang mengerucut menjadikan kondisi unpredictable. Sesuatu yang rumit jadi sederhana.

    Mudah2 an keluarnya kitab 155 & 156 juga demikian, so thanks to Bulik Seno, Ki DD dan para Crew ADBM serta semua cantrik yang tekun dan militan…

  165. ADBMers,
    Aku baca serial ini kira tahun 80-an, ketika masih SMP karena ortu sangat suka dan berlangganan tiap bulan. Bacaan itu terus berlanjut sampai SMA dimana aku saat itu yang rutin membeli seial tsb di pasar Johar. Dimana waktu itu satu buku bisa dibaca oleh bukan saja satu keluarga-ku tetati oleh bulik, pak lik, tetangga (kayak mau naik kijang aja).Aku mengikuti serial ini sampai jilid III, tapi setelah kerja dan ortu dah nggak ada jadi tdk pernah baca serial selanjutnya.
    Ketika blog ini dibuka pertama kali oleh KI GD, Mas Nin dll, aku merasa seolah-olah menemukan sesuatu yang dulu pernah menjadi “idolaku” dan semoga blog ini tetap bisa berlanjut sampai selesai di jilid 396 (tentu saja 1 hari 1 kitab + bonus di hari tertentu).
    Sekali lagi matur nuwun, bravo adbm.

  166. Aku terlahir di lingkungan keluarga petani dan guru. Ibuku berdarah petani, dan Bapakku dari keluarga guru, malah Bapakku sendiri adalah seorang guru.
    Predikat guru itulah yang menjadikan Bapakku punya banyak sekali buku2, hingga 1 almari. Aku mulai senang membaca ketika kelas 3 Sekolah Dasar. Waktu itu aku mendapat sebuah buku ceritera setebal kira2 4 cm dari Pamanku di Jakarta. Tulisannya besar2 di beberapa halaman ada gambarnya, jadi bukan buku komik. Ceriteranya tentang kehidupan penambang di Texas Amerika, yang sangat menarik dan mengharukan. Setelah selesai membaca buku itu, saya seperti mendapat dorongan semangat untuk membaca buku yang lainnya. Sehingga buku2 ayahkulah yang menjadi sumber pencarian bacaan sepulang sekolah. Manakala buku2 ceritera sudah habis terbaca, saya kehabisan bahan bacaan. Tetapi alhamdulillah ada bacaan yang menggunakan huruf jawa (ha na ca ra ka). Karena di sekolahpun saya mendapat pelajaran aksara jawa, maka tak ada rotan akarpun jadilah. Maka akhirnya kulahap juga buku2 ceritera bertulisan ha na ca ra ka itu.
    Nah ketika beranjak dewasa, yah kira2 usia SMP, mulailah merambah ke buku2 silat Kho Ping Ho dan ceritera lainnya termasuk karya2 SHM seperti Pelangi di Langit Singsari, Nagasasra & Sabuk Inten, dan ADBM pernah juga saya baca tapi tidak sampai selesai, karena ketika menginjak usia SMA saya lebih konsentrasi ke pelajaran, bahkan kemudian saya harus hijrah ke Jakarta untuk sekolah dan bekerja.
    Buku SHM memang sempat menjadi favorit bacaan kala kanak2 menjelang remaja. Aku bersahabat dengan Priyo Hardono, Agus Adi Maryono, yang sama2 gemar membaca buku, sampai2 masing2 dalam bermain merubah namanya, Priyo Hardono menjadi Priyo Kanigoro, Agus Adi Maryono menjadi Agus Sedayu, dan aku sendiri memilih nama Mamo Widuro. Ha ha ha ha, ………. betapa lucu2nya diriku kala itu. Sampai kali gawe dan kali Banyumas yang mengalir di batas timur dan barat dusunku ku beri nama kali Opak dan Kali Progo.
    Kini dua sahabatku itu sudah pensiunan, mudah2an juga dapat menemukan Padepokan ini sehingga dapat tersenyum bersamaku.
    Sahabatku Agus Sedayu masih setia menunggui kali Opak, dan sahabat Priyo Kanigoro tinggal di Sunda Kalapa, di daerah Pasar Minggu. Kalo aku sendiri di seputaran Sunda Kalapa.
    Bravoo Ki DD, Nyi Senopati, dan para sahabatnya.
    Salam hangat,
    Ki Truno Podang

  167. kalau membaca tulisan para cantrik rasanya banyak kesamaan bahwa kesenangan baca ADBM dimulai ketika kecil lalu terputus. Jadi sekarang semacam nostalgia.

    Betul juga seperti kata mas Gendut bahwa selain adbm-nya celotehan para cantrik akan memberi hiburan tersendiri selain juga menambah pengetahuan.

    dengan semakin majunya teknologi rasanya dunia ini semakin sempit. kalau sampai cantrik sering tidak sabaran menunjukkan antusiasme yang tinggi. Apalagi apabila harus mengikuti ilmu ki GD dan nyai Seno.

    jadi hidupkan terus rasanya banyak cantrik yang selalu menunggu blog ini walaupun mungkin tidak kasih kommen

  168. Salam kenal Kakang Rakai,

    Aku siki lagi merantau golet pangan nang sabrang Kulon Pulau Jawa, wis mandan suwe, nanging isih sok sowan nang Padepokan sing diapit Gunung Slamet karo Gunung Tugel.

    Salam

    Banyu

  169. Satu hal yang saya sangat kagum dengan SH Mintarja adalah beliau tidak pernah kehilangan alur cerita, benang merah ceritanya terjaga utuh tanpa sekalipun terpeleset. Padahal kita tahu bahwa ADBM dikarang tidak sekaligus, tapi hari-perhari sesuai terbitnya koran harian lokal dimana ADBM dicetak.

    Umumnya sebuah buku dibuat, adalah selesai dulu secara utuh baru dicetak, untuk menghindari kesalahan dan nyasarnya alur cerita. Tapi itu tidak berlaku pada ADBMnya SH Mintarja ini, walau dikarang hari-perhari dan langsung terbit saat itu juga, tidak pernah kita membaca ketidaksingkronan satu sama lainnya.
    SH Mintarja memang luar biasa…..

  170. Ki Gede/Nyi Senopati/Ki Sanak semua

    Seperti biasanya, setiap datang ke kantor selain absen sidik jari juga langsung absen di ADBM. Kebetulan hari ini saya datang agak siang.

    Hari ini tidak seperti biasanya, ternyata kitab belum keluar, menunggu testimonial dari seseorang. Siapakah seseorang yang ditunggu?

    Bukan karena “GR”, tetapi apa salahnya kalau saya menulis barang sedikit, meskipun sebenarnya pagi ini ada acara yang sudah saya janjikan sejak kemarin. Jangan-jangan saya yang ditunggu, nanti mendapat sumpah serapah 10.000 an cantrik yang sudah menunggu sejak kemarin.

    Karya SH Mintarja yang pertama kali saya kenal melalui Nagasasra Sabuk Inten, sejak saya masih SD. ADBM baru saya ikuti sejak jilid 100-an ketika kakak saya mulai membeli buku tersebut, meskipun tidak urut. Sejak kecil sebenarnya saya penggenar KPH, tidak tahu kenapa, setelah agak besar baru terasa ada falsafah hidup-kehidupan yang baik yang bisa ditiru (yang kurang pas ditinggalkan). Pada kitab-kitab SHM juga mengandung beberapa sikap yang bisa ditiru, baik yang baik maupun yang buruk. Yang baik diikuti, yang buruk ya ditinggalkan.
    Alur ceritera ADBM mulai saya ikuti agak tertip ketika saya ngangsu kawruh di salah satu padepokan di Ngajogjakarta. Seperti melalui blog ini, saya setiap hari absen di koran yang ditempel pada papan yang ada di padepokan tersebut.
    Lama-lama tidak puas, sehingga langganan koran sendiri untuk dibuat kliping. Sayangnya, kliping selama sekian tahun hilang pada saat pulang kampung karena “digondol copet” di kereta api.
    Langganan ADBM setelah mulai dapat uang sendiri dari hasil kerja, sampai buku tersebut tidak diterbitkan dengan meninggalnya SHM.

    Jilid 1-100 sama sekali saya belum membaca, sehingga ketika ada blog milik mas Rizal, rasanya saya menemukan sesuatu yang hilang sejak lama. Ketika blog tersebut berhenti pada jilid 10 (?) saya kehilangan lagi.

    Munculnya adbm2 yang digagas Ki GD memberikan harapan lagi, apalagi setelah pindah ke adbmcadangan. Pada awalnya, saya seperti sebagian besar cantrik, absen-download setiap hari, tetapi setelah ada peluang untuk membantu saya mencoba membantu melalui retype pada jilid 26 (?) dan jilid berapa saya lupa. Saya sempat mutung (maaf Ki Gede), karena saya sudah capek-capek retype satu buku (jilidnya saya lupa), tetapi ternyata pada saat mau dikirim ternyata sudah keluar. Sia-sialah kerja 3 malam. Kerja retype memang cukup melelahkan, apalagi waktu itu masih pakai ejaan lama, ngedit sambil melihat buku aslinya.

    Tetapi, setelah ada peluang untuk scanning, mulailah saya mencoba berbagi dengan para cantrik yang sudah mulai diunggah jilid 150, 152…. 159, ….. dst tidak tahu sampai kapan saya masih bisa bantu. Jika ADBM sudah selesai, saya masih banyak koleksi yang lain. Mudah-mudahan upaya Ki Gede lancar.

    Kalau sedang tidak ada kerjaan lain, pada saat nunggu scanning (biasanya saya kerjakan jumat malam dan sabtu malam), biasanya saya sempatkan convert ke teks dengan scansoft omnipage. Scan satu buku, saya biasanya juga selesai konvert satu buku yang lain. Jika kerjaan di kantor sudah berkurang, sedikit demi sedikit saya lakukan editing/proofing buku-buku tersebut. Alhamdulillah telah terkumpul beberapa buku yang siap dikirim pada saatnya.

    Mohon doa Ki Sanak semua, semoga saya selalu sehat agar dapat membantu proyek Ki Gede dalam melestarikan budaya bangsa sendiri.

    Sekali lagi bukan karena GR, tetapi jika tulisan ini yang memang ditunggu mudah-mudahan bel keluarnya buku sudah bisa di”pencet”. Monggo Ki Gede

    Sekian, maaf jika ada tulisan yang kurang berkenan, ditulis buru-buru karena ditunggu kerja yang lain.

  171. Memang benar Ki, semuanya sebenarnya bermula dari nostalgia. Saya mulai baca ADBM waktu masih SD kelas 1 tahun 70-an, bersama sama dengan ayah dan paklek paklek. Tahun 2008 kemaren saya baru menemukan blog ini, setelah berpuluh tahun menunggu. Waktu itu sudah mencapai buku 90, langsung saya dowload semua buku dan saya putuskan untuk ambil cuti 10 hari hanya untuk membaca kembali ADBM. Lain daripada itu adalah kerinduan untuk bertemu kawan kawan yang sama sama berbahasa Jawa yang sudah bertahun tahun hampir gak pernah kepakai lagi, membaca celoteh para cantrik dalam bahasa Jawa, sedikit banyak dapat mengobati kerinduan akan kampung halaman saya di lembah antara Gunung Semeru-Gunung Arjuno dan Gunung Kawi sana…

  172. ^we lah keasyikan nuntun poro cantrik demo neng padepokan, jebul aku durung maringi testimoni. nyuwun sewu ki GD lan Nimas Senopati^

    Tahun 70-an cerita ini memang sangat digandrungi pembaca salah satu harian surat kabar, terutama di tlatah jawa tengahan…begitu pula bapakku sing keranjingan babad tanah jowo. Memang pada mulanya nggak begitu ‘ngeh’. Aneh memang, bapak itu koq seperti kecanduan mbaca koran…akhirnya aku tanyain dan yg dibacanya ternyata cerbung SHM itu. Akhirnya aku ikutan mbaca di koran2 bekasnya…eh la dalah dadi malah ketularan. … itu dulu…

    Kerinduan akan masa lalu akhirnya mengajakku utk surfing di internet mencari cerita2 itu & terakhir ketemu blognya Mas Rizal. (terima kasih Mas inisiatifnya), tapi kecewa lagi karena berhenti di seri 60 (bukan jilid ya..)

    Dan salah satu cantrik ki Rizal : Ki DD telah berinisiatif utk meneruskannya..wah jadi bangga aku melihat semangat anak2 muda nguri2 kabudayan jawa….

    Ayo teruskan perjuanganmu, walaupun sebenarnya sebagian besar cerita ADBm sdh pernah saya baca, tetapi menjadi kenikmatan tersendiri utk “ngroso” muda dgn bergaul cantrik2 muda yg selalu membuat Nimas & ki GD “abang kuping”..opo maneh nek ransume digawe telat…

    Parenk

  173. Bukan ge-er tapi emang selama ini belum isi Testimonial.

    Dulu setiap pagi, tugasku mengumpulkan bantal guling untuk dirapikan ditaruh dipojok ruangan. Ditumpuk di atas mesin jahit. Maklum rumah kecil jadi setelah tidur, kasur dilipat sehingga ada jalan untuk lewat dan ruangan jadi lebih luas. Setelah berapa lama baru nyadar jika dibawah tumpukan bantal guling itu tidak hanya sekedar mesin jahit lama tapi juga 3 (baca: tiga) karung buku. Setelah nanya ama bapak ternyata boleh dibuka. Dan .. whooolaaa.. buku Api Di Bukit Menoreh. Masih males baca.. apalagi liat kalo ada 3 karung begitu.

    Trus, baru nyadar juga kalo setiap bulan Bapak selalu membeli buku ADBM. Dan kemudian aku yang selalu mengantarkannya ke rumah tetangga untuk dipinjamkan. Tentu saja tidak kembali karena muter ke tetangga yang lain. Penasaran, aku coba baca.. wow keren. Sedang ada perang dimana Agung Sedayu dan Sabungsari berusaha memecahkan regol dengan ilmu sorot mata. Akhirnya aku ikutan baca, sebelum buku dianter ke tetangga.

    Selang berapa lama, Bapakku tidak pernah membeli lagi ADBM. Tugasku sudah berubah menjadi meminjam ADBM dari tetangga. Dan yang lebih menyakitkan yaitu membawa 3 karung ADBM itu untuk diserahkan ke tetangga yang lain , entah untuk apa. Padahal aku bau sempet baca sebagian kecil. Kesel banget.

    Taon 1993, aku ke betawi. Pulang ke Semarang cuma 6 bulan sekali. Dan langsung ke tetangga untuk rapelan baca buku ADBM. Sayangnya sering ada jilid yang loncat karena sedang dipinjem entah kemana. Sampai suatu ketika saat jalan di blok M ternyata ada ADBM dijual disitu. Mulai deh jadi sering ke blok M sebulan sekali.

    Saat kerja di kawasan Kota, agak males kalo musti ke Blok M. Iseng saat mo berangkat naik kereta ke Semarang, nanya ke penjual majalah disana. Eh ternyata ada. Jadilah langganan disitu sampai mendengar kabar jika sang maestro SHM meninggal dunia dan ADBM mulai menghilang.

    Tokoh yang aku kagumi malah Raden Rangga yang bisa tau kapan mo meninggal. Momen paling bagus menurutku saat Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga terbang naik pelepah kelapa. Aneh tapi bisa dinalar.

    Ternyata banyak kesamaan diantara para cantrik soal ADBM. Dan semuanya menambah kecintaan kita pada ADBM.
    Atas kebaikan hati mas Rizal, Ki GD, Ki Herry, Ki Jebeng, Ki Hartono, Nyi Retma, dan yang lainnya, saya pribadi mengucapkan syukur dan terimakasih.

    Salam buat para cantrik sekalian.
    Buat Budhe, yang tabah ya.. :D

    nb :
    saya lahir tahun 1975 (angk.70 ? )

  174. Sampeyan asli semarang to ki sukra…
    Lha podho karo awak ku no…!
    Semarang ngendi yo…
    Wah ki sukra wis lali karo ADBM
    Sing mabur iku dudu Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga…tapi si Rangga,di panggul Superman!

    $$ Senopati beri waktu 2 jam untuk mindahin kalimat ini ke halaman yang lain sebelum Senopati delete.

  175. Sederek Moderator ADBMcadangan,

    Saya membaca karya SHM pertama tahun 1994 kisah NSSI tetapi tidak tamat. Kemudian setelah mengenal internet saya coba cari cerita tersebut di dunia maya dan saya dapat menguduhnya di webnya mas Dimhad.

    Cerita ADBM waktu itu hanya baru saya kenal judulnya saja. Setelah NSSI tamat, kamudian saya coba cari ADBM yang akhirnya nyangkut di blognya Mas Rizal.

    Setelah blog Mas Rizal tidak ter-update lagi saya kehilangan cara untuk mencari lanjutan ADBM di dunia maya hingga kemudian akhirnya ketemu dengan blog ADBM lalu ADBMCADANGAN ini. Dan sampai sekarang selalu setia menunggu lanjutan ceritanya walau jarang coment.

    Terima kasih atas kerja kerasnya sehingga karya besar ini dapat mendunia. Juga para bebahu dan cantrik semua yang telah menyumbangkan maktu dan tenaganya sehingga proyek besar ini dapat terwujud. Dan insyaALLAH sampai dengan buku yang terakhir.

    Salam, Abu Gaza

  176. Msh tetap berharap ADBM tetap lancar sampai tamat…..
    walopun kontoversial, ide2 yg ada d ADBM ini hanya untuk kemajuan blok ini sendiri, bukan adanya maksud tujuan lain……….

    Semoga sucses selalu ADBM….

  177. luar biasa…..cerita dengan penggambaran sejarah yang nyaris nyata, membuat saya tergila-gila dengan pelajaran sejarah ketika SD dulu. biarpun saya bukan orang jawa (saya orang melayu, tinggal di pekanbaru) nyata-nyatanya cerita ini membuat saya tertarik dengan budaya jawa dan pernak-pernik di dalam nya……………….

  178. top banget…salut atas smangat rekan2 yang masih terus mbabat alas mentaok demi kejayaan mataram. saya nemu buku ini di rumahe paklik udah 30 taon lalu. tapi karena masih kecil belum seneng baca buku yang ‘miskin gambar”. Tapi nginjak smp, iseng-iseng baca lagi…eh keterusan, ternyata ceritanya… weleh-weleh, uenak banget kayak kita ikut nyemplung dalam cerita itu sendiri. apalagi saya dulu tinggal dilereng merapi sebelah timur (bajulkesupen)jadi ngebayangin kejadian tersebut seperti di depan mata. acung sepuluh ibu jari untuk romo suhu SH MINTARDJA. padahal dulu mbaca buku ngga pernah urut, masalahnya buku pada tercecersaking banyak skali yang baca. barusan ada temen kasih address web ini, syukur dan saya ucapkan terima kasih buat para cantrik yang dengan kompak dan penuh keikhlasan membangun kembali kerajaan ADBM meskipun harus dengan mandi peluh menata pondasi hingga mendirikan keraton bahkan membangun seluruh wilayah mataram, sehingga jejaknya dapat ditelusuri dan bermanfaat bagi para penderek ADBM. saya tidak pernah membaca jilid2 awal dus setelah membaca sampai jilid 90 (Seri I) ternyata seru banget. jadi sudah ada gambaran kasar kisah agung sedayu yang awalnya ketauan penakut hingga jadi pendekar tak terkalahkan, dan menurunkan kemampuannya pada glagah putih (Seri IV). mudah2an kita nanti bisa menyaksikan kemegahan ADBM dari awal sampai akhir. Saya optimis kalo ADBM dibikin partai, minimal cantrik yang berjumlah lebih sejuta orang akan nyoblos partai ADBM. hidup ADBM….

    salam ADBM,

    bajulkesupen

  179. Suatu saat dahulu sekitar tahun 1977 – 1980 saya belajar di AA YKPN Jalan Solo, Yogyakarta (sekarang Jalan Gagak Rimang). Kebetulan saya suka membaca cerita hasil karya sastra dan budaya bangsa sendiri, mulai dari Kho Ping Hoo, Widi Widayat, Herman Pratikto (Bu Kek Sian Su sampai yang akhir, Geger Kartasura, Bende Mataram) dan tentunya hasil karya Sang Maestro Bapak Singgih Hadi Mintardja seperti : Matahari Esok Pagi, Istana yang Suram, Yang terasing dan pastinya Api Di Bukit Menoreh yang memang belum tamat karena bulan Juni 1980 setelah selesai belajar saya kemudian ngais rejeki di tanah Melayu – Kepulauan Riau hingga sekarang. Saking gandrungnya terhadap hasil karya SH Mintardja sehingga saya memberikan nama pada anak saya laki-laki yang mbarep diambil dari nama RADITE salah satu tokoh cerita pada hasil karya Bapak SH Mintardja).
    Pengalaman dahulu membaca buku cerita tersebut, pada saat meminjam dari hasil karya bapak-bapak tersebut buku cerita tersedia sampai beberapa jilid dan secara bergantian saya pinjam secara borongan beberapa jilid sekaligus, sehingga semua tuntas habis dibaca. Apabila kita membaca cerita yang belum tamat, rasa-rasanya ingin segera menamatkannya. Inilah permasalahannya, saat itu dengan menekan keinginan dengan sabar harus menunggu, kenapa ? Karena harus menunggu terbitnya jilid terbaru yang paling tidak setiap jilid baru terbit satu bulan sekali, bandingkan sekarang dengan adanya ADBMers satu hari satu kitab, walaah uenak mbanget.
    Dua puluh delapan tahun sudah terasa rindu dan ingin membaca kembali cerita tersebut, masalahnya harus kemana mencarinya ? Di Tanjungpinang gak ada ! Dan pada beberapa bulan yang lalu saya coba-coba ketik Api Di Bukit Menoreh di Google dan akhirnya dituntun ke Blognya Mas Rizal yang ternyata menyediakan serial ADBM tapi sayang gak tuntas kalau gak salah hanya sampai episode ke 60, getun rasane. Beberapa minggu kemudian mencoba lagi ternyata akhirnya ketemu blog yang khusus menghadirkan API DI BUKIT MENOREH (ADBM), adi cerita milik bangsa sendiri, ciptaan sang maestro, Singgih Hadi Mintardja atau SH Mintardja, wah bungah mbanget rasane serasa melambung pada kondisi 28 tahun yang lalu.
    Pengorbanan para pengelola ADBM : Ki Gede, Anakmas Sukra dan Nyi Senopati serta para Bebahu padepokan ADBM, dalam menyediakan sebuah Blog yang menyajikan adi cerita milik bangsa sendiri, khususnya Api Di Bukit Menoreh karya sang Maestro SH MINTARDJA, tersaji satu hari satu kitab sewaktu-waktu ditambah bonus, bandingkan di era 80an dulu satu bulan satu kitab. Disadari bahwa semua ini bukannya tidak ada kendala, harus dilengkapi dengan berbagai peralatan elektronik seperti : komputer, laptop, scanner, internet, tersedianya kitab yang sudah waktunya mesti diwedar, dan lain peralatan untuk menunjang kelancaran tersajinya kitab kepada para cantrik satu hari satu kitab. Belum lagi harus menanggapi komentar para cantrik yang terkadang tidak dengan sabar menunggu diwedarnya kitab, dan tidak jarang pula komentar para cantrik yang menjurus pada kata atau kalimat yang menyimpang dari tata krama dan paugeran.
    Namun ternyata semua itu ditanggapi dengan kesabaran dan keikhlasan tanpa pamrih, buktinya apapun yang terjadi, apapun komentar para cantrik ternyata kitab atau buku cerita tetap diedarkan satu hari satu kitab, tanpa berharap imbalan, tanpa berharap biaya, tanpa berharap pujian, benar-benar kerja sukarela semata-mata memberikan kepuasan dan hiburan kepada para cantrik, TANPA PAMRIH NING RAME ING GAWE.
    Sebenarnyalah dengan adanya Blog ADBM ini, saya pribadi merasa bersyukur dan berterima kasih tanpa saya memberikan kontribusi apapun kepada padepokan ADBM ini, tetapi saya justru dengan mudah mendapatkan sajian yang menghibur dari padepokan ini.
    Tiada kata yang tepat kami sampaikan kepada pengelola Padepokan ADBM ini, Ki Gede, Anakmas Sukra dan Nyi Senopati serta para Bebahu padepokan, selain menghaturkan rasa TERIMA KASIH dan SALUT dari hati nurani yang paling dalam.
    Nuwun.
    Ismoyo
    Tanjungpinang – Kepulauan Riau
    PUJAKESUMA-putra jawa kelahiran sumatera.

  180. Saya mulai mengenal ADBM kelas 2 SMA. Itu sekitar tahun 1988. Perpustakaan SMA saya, SMA N Bobotsari Kabupaten Purbalingga Jateng, ternyata punya koleksi lengkap ADBM.

    Sejak saat itu saya kecanduan. Setiap kali saya meminjam ADBM saya selalu mengembalikan buku lebih lama dari yang dijadwalkan. Karena saya, 3 paman, dan kakek (sekarang sudah meninggal)selalu berebut membaca. Ya … benar-benar berebutan. ADBM sudah jadi bacaan wajib keluarga kami.

    Sekarang saya mengerti, kita bisa belajar banyak dari ADBM. Ada banyak pelajaran moral dan budi pekerti yang bisa diambil. Soal pendidikan karakter. Bagaimana seseorang harus memberi hormat, bahkan kepada musuhnya sekalipun. ADBM saya kira akan abadi karena kekayaannya akan hal-hal seperti itu.

  181. Satu atau dua bulan lalu, paman saya kirim sms menyebut-nyebut agung sedayu. Lalu saya browsing dan menemukan website ini.

    Karena itu, untuk saya, website ini sangat berarti. Bukan cuma saya bisa membaca lagi bacaan yang pernah menjadi rebutan anggota keluarga kami. Tetapi yang paling penting, website ini sudah menyegarkan ingatan saya tentang masa-masa manis saya di kampung halaman bersama paman dan kakek saya almarhum, setelah 15 tahun saya tinggalkan kampung hidup di Bandung hingga sekarang.

    Rasanya agak berbeda, membaca ADBM ketika saya di kampung pada tahun 1988-an itu dan membacanya sekarang. Sekarang, saya merasa gaya tutur SH Mintaredja terasa agak bertele-tele. Tapi, ini tertutupi oleh kepiawaian dia bertutur detil dan medeskripsikan setiap kejadian hingga kita bisa seolah-olah berada dalam medan peperangan misalnya.

    Bagaimana SH Mintaredja melukiskan Agung Sedayu menggigil ketakutan, itu hal yang luar biasa. Juga pertarungan Agung Sedayu dan Tumenggung Prabandaru, dan Kiai Grinsing versus Kakang Panji. Untuk saya, episode-episode terbaik ADBM adalah episode 1 sampai terbunuhnya Kakang Panji.

    Begitulah. Website ini sudah menjadi semacam “tempat wisata ruhani” untuk saya. Terima kasih banyak kepada Ki Gede dan teman-teman pengelola.

    # sama-sama Ki Dwi..

  182. Satu lagi kesaksian saya, Ki Gede dkk. Yang dahsyat dari ADBM dan SH Mintaredja saya pikir adalah pandangannya bahwa sejarah atau perubahan sosial tidak selalu harus digerakkan oleh para tokoh, penguasa, para raja, atau sekumpulan serdadu.

    Perubahan seringkali digerakkan oleh orang-orang yang tidak bernama, orang biasa, yang “non hero”, yang tanpa tanda jasa. Pandangan itu jelas sekali digambarkan SH Mintaredja melalui penokohan Agung Sedayu.

    Dalam soal itu, ADBM jauh lebih baik dari cerita-cerita pewayangan yang kerap meminggirkan orang-orang biasa sekedar sebagai punakawan dan pelengkap penderita.

    Maaf ya Ki Gedhe. Kok saya malahan ngelangut dan ndlewer kesana kemari.

  183. Saya mengenal cerita “Api di Bukit Menoreh” dan “Nagasasra dan Sabuk Inten” secara tak sengaja, ketika saya duduk di bangku kelas 4 SD (tahun 1980-an). Saat itu saya sedang libur sekolah dan ayah saya menyodori bundel buku2 cerita lama sebagai pengisi waktu libur saya. Entahlah saat ini bundel buku itu ada di mana.

    Tiba-tiba belakagan ini saya menemukan blog cerita di atas di Facebook dan terbitlah rasa rindu saya untuk kembali membaca buku2 cerita tsb. Sementara ini saya harus puas dengan versi digital, tapi sungguh menggebu keinginan saya untuk memiliki versi hard copynya. Mungkinkah buku2 ini dicetak kembali?

  184. Saya mengenal cerita ADBM waktu saya masih SD dari cerita ibu saya yang masa mudanya sering membaca cerita ini, itupun hanya sepintas saja.

    Kenangan itu terulang ketika saya mendapatkan cerita Naga Sasra Sabuk Inten dan ADBM dari wesitenya mas Rizal yang membuat saya ketagihan dan berlangsung sampai sekarang melalui website ini.

    Menurut saya ADBM dan website ini sangat membantu saya mengenal kembali budaya Jawa, maklum saya berasal dari keluarga Jawa (ayah dari Solo, ibu dari Yogya) namun besar dan tumbuh di Surabaya sehingga budaya Jawa dikeluarga sudah mulai luntur.

    Yang menarik setelah baca kitab 187 tentang Raden Rangga dan macannya, saya teringat cerita budhe saya sewaktu kecil yang masih bisa bertemu macam di pedalaman desa di daerah Magelang sekitar tahun 1960-an. Sewaktu beliau sedang buang air di sungai, si macan dengan santainya lewat di depan budhe saya yang ketakutan setengah mati.
    Apa sekarang kita masih bisa temukan harimau di Jawa ya?

    Untuk Ki GD dan semua bebahu padepokan saya ucapkan banyak terima kasih dan jangan bosan dengan kenakalan para cantriknya.
    Wassalam

  185. akeh wong sakti ya di tanah jowo,tapi kenapa ya londo-londo bisa menjajah begitu lama…aku yakin kalau kompak terus ….bangsa ini akan jago dunia,…..jago tani,jago bikin senjata spt pande-pande besi,jago strategi perang dan jago ngatur pemerintahan.

  186. Salam sejahtera
    Saya membaca buku ADBM ini sejak saya kelas 4 SD sekitar 40 tahun yang lalu di Malang. Saat itu, kalau tidak salah sekali dalam sebulan cerita ini diterbitkan. Saat itu saya juga mengikuti serial karya SHM yang lain, yaitu “Pelangi di Langit Singasari.” Setelah lulus SMA dan meninggalkan kota Malang, saya tidak dapat lagi mengikuti kedua serial itu secara teratur. Kadang-kadang ketika pulang kampung, saya sempat membaca nomor terbaru yang ceritanya sudah melompat jauh. Lama kelamaan saya sudah tak tahu lagi perkembangan kedua serial ini. Sekitar lima tahun yang lalu saya menemukan versi online karya SHM yang lain, Nagasasra Sabukiinten dan Tanah Warisan. Tetapi saya etap kehilangan jejak Api Di Bukit Menoreh dan Pelangi Di Langit Singasari. Beberapa waktu yang lalu ketika saya iseng-iseng search group di Facebook, saya menemukan group ADBM yang menuntun saya ke padhepokan ini. Saya haturkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas segala upaya Ki Grdhr, Nyai Senopati dan seluruh pihak yang terlibat.
    Salam
    Sesotya Pita

  187. Salam kenal untuk semuanya..

    Saya mengenal dan membaca Adbm sekitar pertengahan 2008, waktu itu rekan-rekan kantor yang sudah menjelang pensiun (maklum saya kelahiran 80) ngobrol tentang cerita silat karya Alm SHM, salah satunya adbm itu, saya tertarik ikut ngobrol waktu itu soalnya seneng juga sejarahnya. Waktu berselang ga sengaja baca forum diskusi umum di Website kantor ada yang ngomong, cerita Adbm bisa dibaca di blog http://www.adbmcadangan.wordpress.com, nah saya cari blog itu, waktu ketemu udah sampai jilid 5 kalo gak salah sampe sekarang deh bener-bener kecanduan.
    Terima Kasih Ki Gede dan Semuanya.

    S sayang ya fordis umum tidak ada lagi. terima kasih testimonialnya Ki

  188. Salam ki Gede,
    sepurone sudah melahap habis sampai jilid 226, baru sekarang bikin testimoni.
    Bulan kemarin adalah bulan yang mengesankan bagi saya – sampai saat inipun masih begitu. Di tengah-tengah dead lock nunggu kepastian kerjaan, saya menemukan bukan saja sebuah hiburan yang rasa senangnya berhenti setelah hiburan itu selesai, tetapi ADBM seperti tarikan jiwa ke masa lalu, mampu membawa saya seolah-olah berada dan menyaksikan langsung awal dari terbentuknya Jogja-Klaten-Solo-Magelang sebagai tempat2 yang tidak akan saya lupakan dalam kehidupan saya, karena di situlah saya tumbuh menjadi manusia, juga tarikan jiwa ke masa-masa menjelang saya dewasa dimana hari-hari dilalui bersama keingintahuan keberlanjutan kisah AS dkk di koran KR, juga ketemu sebuah cermin untuk melihat siapakah saya ini dalam kehidupan yang telah saya lalui menjelang setengah abad ini. Menemukan ADBM ini seperti menemukan sebab kerinduan akan masa lalu yang tidak teridentifikasi sebelumnya.
    Juga, jalinan komunikasi sesama penghuni padepokan ini yang maya tetapi nyata, mampu mengobati pula sebagian miss komunikasi yang terjadi dalam kehidupan nyata, salah satunya adalah ngomong coro jowo.
    Wis pokoke luar biasa amalane ki Gede sak konco, mugo-mugo pinaring ganjaran sing luwih akeh, luwih barokah seko Kang Moho Agung, Amin.

  189. Menemukan Situs yang menerbitkan ADBM….?
    Cuma ada satu kata Puas….!
    Bagamana tidak puas, 20 puluh tahun yang lalu ketika saya baru saja menikah, saya suka bingung dan salah tingkah ketika saya menyadari bahwa saya bukan bujangan lagi yang bebas pergi kesana kemari.., agak cukup stres karena pulang kerja harus dirumah, huburan satu-satunya hanya nonton tivi dan kalau ada Film bagus ya pergi nonton…
    Sampai pada suatu saat hari libur saya ikut menemani Istri belanja di Pasar Baru bekasi, karena ngga tahan di ajak keliling pasar, iseng-iseng saya masuk ke sebuah persewaan buku/komik yang ada di Pasar Baru Bekasi (depan Terminal).
    Disitu saya menemukan bacaan ADBM yang sudah di bundel masing-masing 5 jilid dan koleksinya cukup lengkap sampai jilid 200 (Jalan Simpang), bahkan bukan ADBM saja hampir Koleksi Karya Sang Mestro SH Mintarja cukup lengkap, saya mencoba pertama kali membaca “Sabuk Inten Nogo Sosro”….
    Kemudian saya mulai berlangganan menyewa buku di penyewaan tersebut dan waktu saya yang membosankan itu saya isi dengan membaca khususnya karya-karya SH Mintardja’
    Gaya bahasa dan suasana jaman yang di ceritakan dalam karya-karya tersebut terutama ADBM sangat jelas dan lugas, jadi tergambar dengan jelas dalam benak saya, ( saya lahir di Kota Pati) dan besar disana.., dan hobi saya waktu masih kecil adalah Nonton Ketoprak, saya sangat tertarik dengan kisah-kisah tentang kehidupan Raja-raja Di Pulau Jawa, karena konon Eyang saya adalah putri seorang Wedana di daerah Keling/Kelet (daerah pantai Utara) dan waktu saya kecil sering di critain Eyang Putri ( yg anak seorang Wedana) bagaimana kehidupan bangsawan-bangsawan jawa kala itu, bahkan Eyang Ngendikan bahwa leluhur saya adalah Eyang Tunggul Wulung yang konon adalah salah satu laskar/prajurit Mataram jaman Sutan Agung yang menyerang Batavia, namun karena dalam perang tersebut mengalami kekalahan, banyak para Prajurit yang lari dan tidak kembali ke Mataram namun kemudian hidup di sepanjang pantai utara Pulau Jawa, termasuk Eyang Tunggul Wulung.
    Cerita tersebut sangat melekat dalam kehidupan saya yang kemudian membuat saya sangat bangga karena saya keturunan seorang Prajurit ( Kesatria).
    Rasa-rasanya darah yang mengalir dalam tubuh saya adalah darah seorang Kesatria Mataram.
    Itu sebabnya kena apa saya suka sekali nonton Ketoprak (bukan makanan Betawi tapi sebuah Grup pentas didaerah Jawa Tengah yang ceritanya selalu diambil dari kisah-kisah Kerajaan Jawa).
    Ketika saya membaca ADBM yang menceriterakan tentang Babad Alas Mentaok( berdirinya Mataram), wah langsung saya menciptakan sendiri suasana dan wujud tokoh-tokoh dalam pikiran saya…
    Sayang waktu itu tempat persewaan buku hanya mempunyai koleksi sampai jilid 200, bisa dibayangkan…, bagaiman penasarannya ketika saya tahu bahwa cerita tersebut masih berlanjut.., saya mencoba mencari kesana kemari kisah lanjutannya tetapi semua buntu, saya coba hubungi saudara-saudara yang tinggal di Jogja dan di Solo, mereka tidak dapat membantu, ada satu dua yang mereka dapatkan namun jilidnya tidak beraturan…
    Karena putus asa dan penasaran, akhirnya saya putuskan untuk tidak lagi mencari…, untung kemudian lahir anak saya yang pertama sehingga kebahagiaan itu mampu sedikit demi sedikit melupakan kelanjutan kisah ADBM.

    20 Tahun kemudian……
    Ketika anak saya yang pertama sudah di bangku perguruan tinggi dia minta Laptop dan akses internet di rumah karena katanya banyak mata kuliah yang di berikan melalui Internet ( anak saya kuliah di Univ.Paramadina).
    Dengan adanya vasilitas tersebut dirumah ( kalau di Kantor ngga enak sama staf-staf saya ), saya jadi iseng sering menjelajahi dunia maya…
    Pertama kali saya menemukan kan situs tentang ADBM ada di :www.topmdi.com yang punya mas Rizal, saya cerita sama adik saya yang kebetulan jadi Dosen di Atmajaya, saya di ketawain katanya disitu kurang lengkap dan agak lambat dalam menulis kisah lanjutannya, dan dia bilang ;” buka disini mas : adbmcadangan.wordpress.com lebih lengkap dari jilid 1 dan disajikan per jilid…”
    Begitu saya buka…? Wah….ternyata benar dan untuk tidak kehilangan alur cerita saya rela membaca ulang dari jilid 1 dimana Agung Sedayu ketakutan di kejar-kejar Alap-alap Jalatunda dan Pande Besi dari Sendang Gabus…
    Dan sampai saat ini saya sedang menunggu di wedarnya kitab ADBM jilid 278…
    Ki GD …, Nyi Seno…, matur nuwun sanget karena telah sudi memanjakan saya (dan seluruh pecinta karya sang maestro SH Mintardja) dengan menerbitkan cerita ini kembali.
    saya kira bukan saya saja yang mendoakan, semoga jerih payah Panjenengan dan para Putut dan cantrik di Padepokan mendapatkan berkah dari Yang Maha Agung..
    Dan lestarilah kisah cerita adiluhung tentang sejarah berdirinya Mataram yang sekarang tidak lagi di ceritakan dalam kurikulum sekolah-sekolah…

  190. Mungkin saya anak bawang di padepokan ini ki
    Saya memang tertarik(penggemar) cersil yang dilatari babad suatu kerajaan, terutama babad tanah jawa. Waktu saya belum mengetahui ada adbm dan karya SHM lainnya di internet saya bacaannya WIRO SABLENG, KEmudian KHoo Ping HOO, terus komik Jepang (Legenda Naga),
    Seperti anak naga yang dilatari oleh pergolakan kekaisaran CIna untuk mempersatukan 3 negara menjadi satu kesatuan lagi yaitu CINA,
    ADBM sama (saya belum baca karya SHM yang lain karena masih sibuk membaca ADBM, tapi tentu garis besarnya sama),
    tapi saya sangat bangga karena ADBM karya SHM telah ada sebelum saya lahir, dan tentunya Legenda Naga kalah cepat (jangan2 malah ikutan ide ceritanya ya?????) maaf jangan dicekal ya… yang menang cuma ada visualnya (wong namanya komik).
    Sekalian baca cersil sekalian belakar sejarahkan?.
    Pertama : waktu saya ingin mencari adbm saya lewat 4shared, disana saya menemukan silahkan mengunjungi ADBMCADANGAN.WORDPRESS.COM waktu saya kunjungi ternyata saya sudah ktinggalan jaman. karena sudah sampai buku 200 lebih, dan saya sangat salut terhadap kerja keras ki gede dan para bebahu padepokan ini untuk menyajikan hidangan yang super lezat ini, saya sangat appreciate, saya berusaha menyebarkan cerita ini ke teman2 lainnya,
    semoga dengan membahagiakan para cantrik Ki gede beserta para bebahu mendapat pahala yang setimpal.
    Terima kasih Berat tak terhingga

  191. saya mulai membaca adbm ketika masih duduk di smp, waktu itu kira-kira ceritanya sudah sampai perang antara panembahan agung cs vs ki waskita dkk, dan berakhir membaca adbm kira-kira setelah AS diangkat jadi lurah pasukan khusus di menoreh.
    jadi pada akhirnya saya tidak tahu bagaimana adbm dimulai dan bagaimana ceritera tsb diakhiri.
    namun alangkah bahagianya ketika akhirnya lewat blog ini saya bisa mengetahui awal ceritera maha karya ini dan juga kelanjutan dari sepak terjang ki lurah agung sedayu. sekali lagi terima kasih kepada para bebahu yang telah bersusah payah dan tanpa pamrih mau mengelola blog ini

  192. Buku ADBM saya kenal pertama kali saat saya pindah sekolah ikut kakak di Surabaya, kakak saya penggemar berat SH Mintardjo. Biasanya buku buku yang lain nyewa saja, tapi khusus buku ADBM ini kakak saya beli. jadi tiap penerbitan baru buku ini saya ngantri di salah satu toko buku dekat pasar Tambak rejo Surabaya. Buku ini sangat digemari pada saat itu, sehingga antrian bisa panjaaaang. Pada saat ngantri itu saya ketemu seorang gadis penggemar ADBM. Maka jadilah hubungan pertemuan jadi pacaran, namun sayang karena berbagai hal, memang dasar bukan jodoh saya hubungan kami terputus setelah saya selesai sekolah SLTA dan pindah ke kota lain. Selain cerita pertemuan itu, setelah saya ikutan membaca, ternyata memang ceritanya sangat bagus. Kebetulan saya suka nonton wayang atau ketoprak, nah . . cerita ADBM ini persis, bahkan ada beberapa yang dimainkan di Ketoprak. Jadi saya senang sekali ketika ketemu padepokannya Ki/Nyi Senopati ini. Ketika saya sampaikan kakak saya tentang Padepokan ini kakak saya juga senang, namun beliau sudah tidak sanggup lagi membaca di Laptop maklum karena usia. sayapun harus pakai mata sambungan ( Kacamata ). Terima kasih banyak Ki/Nyi Seno.

    S terimakasih Ki.. senang berkenalan dengan Ki Sabungroso

  193. Untuk menutup rasa penasaran para Cantrik, sepertinya perlu dibuat tim untuk meneruskan ADBM yang terpenggal karena berpulangnya Ki SH Mintardja. Dari hasil peneropongan telik sandi banyak para Cantrik yang mumpuni untuk membuat kisah yang menarik dengan gaya bahasa yang tidak jauh berbeda dengan ADBM. Gimana Nyi Seno, Ki Gede dan poro Pinisepuh Padepokan, nuwun sewu kalau usulan ini tidak bermutu !

    • saya sependapat bahwa:

      … “Dari hasil peneropongan telik sandi banyak para Cantrik yang mumpuni untuk membuat kisah yang menarik dengan gaya bahasa yang tidak jauh berbeda dengan ADBM.”, …

      selain itu, bukan tidak mungkin kalau kalau beliau telah lama melakukan upaya regenerasi.

  194. sepanjang pengetahuan saya, adbm adalah salah karya mpu sh-mintardja yang terpanjang. selain itu, masih ada karya-karya lainnya yang tidak kurang menarik. meskipun dituturkan dalam gaya berbeda.

    saya pernah membaca satu-dua buku dari judul yang berbeda-beda, tetapi tidak pernah tuntas. oleh karena itu saya ingin bertanya kepada penghuni gandok ini, apakah sudah ada versi internetnya dan di manakah alamat dari beberapa judul buku di bawah ini:

    serial pelangi di atas singosari:
    – pelangi di atas singosari
    – sepasang ular naga di satu sarang
    – panasnya bunga mekar
    – hijaunya lembah, hijaunya lereng pegunungan

    serial arya manggala:
    – menjenguk cakrawala
    – mas rara
    – sang penerus
    – sejuknya kampung halaman
    – matahari senja

    terima kasih.

    salam
    sukasrana.

  195. saya ingin menyikmak..cerita ini

    • Ceritanya bagus Mas, tapi waktu tersita…. Kiay Grinsing orang nya arif dan bijaksana, tapi Kiay Singgih tentu lebih hebat lagi bro..

  196. Saya kira hanya di ADBM saja sang Maestro berusaha memotret zaman secara aktual.
    Pada saat maraknya geng anak2 muda maka ditampilkan episode Gajah liwung dengan Sabungsari dan Glagah putih sebagai tokohnya.
    Sewaktu masyarakat kita banyak yang menyandarkan keresahan hidupnya pada paranormal, muncul episode Mbah Kanthil.
    Bahkan pada masa itu,dekade 80 – 90 an, sempat ada anekdot bahwa yang berperan sebagai stabilisator negara ada dua yaitu tentara dan dukun.
    Klau dicermati lagi tentu masih banyak lagi potret zaman pada waktu SHM menulis naskahnya.

    Salam ADBMers, gembleh.

  197. buku favoritku…
    sayang belum selesai membaca semuanya..
    maju terus mas Rizal…
    tersenyum dan berbahagialah buat buat semua pencinta ADBM

  198. Buku yang hebat….sampe2 pembacanya hanyut didalam cerita…..gak bikin bosan pembaca walaupun dibaca berulang2….

  199. terus terang, baru sekali ini saya membaca testimoni yang rata-rata berisi cukup panjang dan lebar (mungkin karena saya jarang melihat testimoni)
    cerita api di bukit menoreh yang paling berkesan buat saya adalah bagian awal sampai sekitar sepuluh jilid seri I, dimana SH Mintardja menceritakan detail peristiwa detik-demi detik.
    dalam satu malam pun bisa dibikin beberapa jilid. seperti kita merasaka sendiri jari dan tangan bergerak tiap detiknya.
    sayang, sampi sekarang saya belum juga menamatkan buku satu ini.

    salam, dark

  200. Saya berkenalan dengan Karya Pakde SH. Mintarjo, ini sejak saya kelas dua SD (bayangkan saya ini berumur 52 tahun, berapa lama saya telah membaca beliau). Buku Api Di Bukit Menoreh ini menemani saya pada saat saya sekolah di monco negari (Jerman Barat). Dalam suatu seminar yang Internasional di daerah Bayern, saya pernah mennyampaikan makalah saya (Topiknya: Struktur Degenerasi Energi dalam Atom Oksigen) dengan baju ala Agung Sedayu (Surjan). Jadilah sebagian para peserta bukan menanyakan masalah Atom Oksigen, tetapi justru menanyakan baju saya yang waktu itu saya sebut sebagai ‘Agung Sedayu Look’. Oh ya, terakhir saya membaca ADBM ini, berkisah tentang Glagah Putih dan Roro Wulan yang mengejar seorang Pangeran yang mengaku – ngaku berdarah ningrat ke daerah. Glagah Putih dan Roro Wulan sempat diberi bekal Ki Patih Juru Mertani. Namun kemudian, Gusti Ingkang Moho Widhi ngersakaken pakde Mintarjo sowan kondur ing Kraton Ndalem. Oleh karena itu, saya nyuwun informasi, apakah cerita ini tidak ada yang melanjutkan ? Matur nuwun

    • ada, ki, ki agus sedayu dengan gaya bahasanya sendiri…

      beliau berusaha semaksimal mungkin untuk menciptakan suasana pemikiran ki sh. mintardja

      karyanya di tampung di http://adbmcadangan.wordpress.com/bukan-adbm/

      mangga….

  201. Salam kenal semua,
    Saya baru saja baca di Republika, artikel yang memuat web para pecinta karya SH Mintardja, terus terang saya sangat kaget, ternyata banyak sekali para penggemarnya (telat banget ya..). Saya sudah pesimis, kenapa ya karya-karya SH Mintardja tidak banyak terdengar dan tidak banyak penggemarnya. Kebanggaan saya sempat muncul tatkala terbit versi hard cover Nagasasra Sabuk Inten beberapa tahun yll, yang bagus sekali. Kakak saya langsung mengoleksinya (kami sekeluarga penggemar berat karya SH Mintardja). Untuk AdBM, yang saya baca adalah serial bersambungnya di Kedaulatan Rakyat (sesekali bolong-bolong) dan versi bukunya, sejak saya SD (sekitar tahun 80 an). Saya tinggal di Yogya, kebetulan nenek angkat saya (alm) pegawai KR pada saat itu, sehingga saat menginap di rumah beliau, bisa dipastikan saya dan kakak akan duduk khusuk di dekat peti dan rak yang berisi buku-buku serial karya SH Mintardja, koleksi nenek, hampir semua judul pernah saya baca, tapi sayangnya ingatan saya payah sekali, hanya judul-judul tertentu yang saya ingat betul ceritanya. Khusus AdBM juga hanya setting-setting tertentu yang saya ingat jelas (terutama masa-masa muda Agung Sedayu, di jilid-jilid awal), selebihnya agak samar-samar. Yang amat sangat jelas adalah bahwa karya sastra SH Mintardja sangat membentuk karakter.Pada saat membacanya saya bisa tertawa, bisa menangis,dan bisa sangat memahami dan membayangkan karakter tokoh-tokohnya, padahal saya masih kecil saat itu. Bagi saya cersil-cersil lain (maaf) tidak sehebat dan seberbobot buku-buku SHM, meskipun saya sampai muntah gara-gara baca KPH berjilid-jilid, tapi setelah itu kapok. Karya SHM? Tidak pernah kapok dan tidak pernah muntah (he he he, paling-paling kurang tidur). Senang rasanya para penulis testimoni ini sepertinya sebagian besar sama latar belakang, umur, dan karakternya dengan saya ( he he he, tapi yang sejenis kelamin dengan saya tidak banyak ya, atau saya yang kelru…), tapi mungkin saya tidak segigih anda semua, karena saya sekarang ibu rumah tangga yang kurang banyak waktu untuk membaca lagi karya-karya SHM versi internet. Jadi, saat ini saya memang belum membukanya. Tapi..saya saluuut dengan para penggagas dan penjaga komunitas ini. Terima kasih banyak ya…

  202. Awal saya mengetahui ADBM pertama kali kira-kira tahun 80an
    waktu itu yang rajin membeli dan membaca buku ADBM adalah ayah saya.
    Buku ADBM terbit sebulan sekali, tadinya saya tidak begitu tertarik dan memperhatikan apa sih yang selalu dibaca ayah kok kayaknya serius sekali.
    Sehabis membaca ayah meletakan diatas meja,iseng-iseng saya ambil dan perhatiin apasih isi buku ini pikir saya. Dari iseng-iseng akhirnya jadi keterusan dan menjadi kecanduan….he..he..he..kadang penasaran ADBM terbit hanya sebulan sekali itupun sangat tipis dan hanya beberapa halaman saja dan harus menunggu sebulan lagi.
    Saya baca ADBM tidak dari awal,karena saya menemukan buku tersebut sudah jilid kesekian,saya lupa jilid ke berapa,makanya saya surprise banget dengan adanya blok ini,saya dapat memuaskan keingin tahuan saya dari awal mengenai agung sedayu yang penakut sehingga menjadi sakti…..terimakasih banyak atas terbitnya blok ini dan teman-teman yang turut berpartisipasi atas kelestarian ADBM……Saluuuuuut.
    Tahun 82 saya berangkat dinas ke Irian Jaya dan ditempatkan disana selam 2 tahun, karena sudah kecantol ADBM saya coba mencarinya disana untuk memenuhi dahaga saya,namun apa mau dikata dicari kemana-mana tidak ditemukan ……buntut…buntutnya…saya minta dikirimkan dari Jakarta setiap bulan….
    Setelah kembali lagi ke Jakarta saya tetap melanjutkan membanca ADBM. Namun akhirnya terputus juga tidak sampai tuntas karena kesibukan kantor meningkat dan sering dinas keluar kota.
    Bertahun-tahun saya sudah lupa dan tidak ingat lagi ADBM.
    Dua tahun yang lalu akhirnya ADBM saya temukan lagi secara tidak sengaja dari teman sekantor.
    Ceritanya begini,diwaktu senggang saya perhatikan teman saya tersebut serius banget memlototin komputer, saya pikir dia mengerjakan pekerjaan apa gitu eh … gak tahunya baca komik….saya tanya kamu membaca apa? Jawabnya ini nih ADBM?…..apa tuh ADBM?
    ADBM = Api Di Bukit Menoreh…..lho….saya kaget ….wah…wah….saya dulu pernah tuh baca ADBM dari buku saya bilang, kamu dapat dari mana? ini download dari internet katanya, boleh dong saya copy …kata saya…..boleh….boleh katanya,kalau mau nih ada situsnya yang lengkap silahkan kalau mau dibaca langsung dari internet katanya.
    Nah sejak itulah saya mulai lagi membanca ADBM dari awal lagi,bahkan lebih lengkap dari sebelumnya.
    Terimakasih banyak…ya

    S selamat bergabung mas.. senang rasanya bertemu dengan teman seperguruan :) .. perguruan adbm

  203. Kulo nuwun,
    Mas Rizal matur nuwun sekali panjenengan bisa membuka kembali karya2 Suargi SH Mintaredja. Disamping sangat berguna bagi generasi muda sekarang juga berguna bagi kita2 ini yang sudah memasuki usia senja, walaupun cukup untuk bernostalgia di waktu muda. Namun karakter tokoh Agung Sedayu sedikit banyak memberi pelajaran bagi semua khususnya kita wong jowo. Sekali lagi matur nembah nuwun Mas Rizal. Saya sebagai orang keturunan dari Menoreh jadi tambah bangga kalean panjenengan.

    Sigit

  204. Saya mulai membaca karya SH. Mintaredja yang berjudul Sabukinten dan Nagasasra, kemudian dilanjutkan dengan ADBM, tapi ketika setengah jalan, ADBM mulai terbit sebulan sekali sampai akhirnya saya tidak mengikuti lagi karena sulit diperoleh. kalo ada diantara teman-teman penggemar karya SH. Mintaredja yang bisa memberi informasi dimana saya bisa dapat dari internet utk judul ADBM atau yg lainnya, mohon saya diberitahu terima kasih

    • Pak Dhe Wisny, bukannya di sini adalah tempatnya padepokan ADBM? kan kitab-kitabnya tinggal dicari saja di gandok-gandok yang tersedia. Nuwun.

    • untuk kitab-kitab lainnya, mangga diklik di tautan pelangi di langit singosari atau http://pelangisingosari.wordpress.com

  205. Salam kenal,
    Mohon Bantuan untuk informasi,
    Apakah masih mempunyai kumpulan ADBM III Jilid 101 s/d terakhir

    Bagaimana saya bisa mendapatkan selain down load
    Saya memerlukan unruk koleksi.
    berapa harganya termasuk ongkos kirim
    Terima Kasih atas Informasinya

    Musraynto A

  206. Api Di Bukit Menoreh, Cersil Jawa nan bagus, walaupun fiksi, namun Mpu Mintaharja sangat apik menuturkannya, kisah dan kejadian2 nya ditutur sewajarnya, berurutan dan kita terlena tak mau berhenti apabila sudah melanjutkan bacaan. Bukan tokohnya nya nan hebat, tapi pengarangnya nan Pintar. Apa yang disampaikan dirinci secara mendetail.
    Perlu dibaca oleh generasi muda, agar bijaksana dan sabar dalam pergaulan bermasyarakat. hidup ki Tanu Metir

  207. Assalamualaikum Wr. Wb.
    Numpang tulis kesan-kesannya..
    Api di bukit menoreh saya mulai membacanya dari koleksi tante saya, yang ditumpuk digudang belakang sebanyak berkarung-karung. Sayangnya karena gudangnya tak terawat maka makan rayap sehingga tidak bisa dibaca lagi.
    Api di bukit menoreh cerita santun yang menceritakan kehidupan rakyat jawa jaman dahulu. Selain dari cerita silat yang seru..
    Agung Sedayu yang sakti mandraguna tetapi rendah hati (bahkan kadang rendah diri).
    Kenapa saya lebih tertarik lagi karena cerita dari orang tua saya bahwa ilmu-ilmu yang ditulis di dalam buku ini tidak seluruhnya fiksi, seperti ilmu kembar kakang kawah adi ari-ari yang membuat wadag seseorang menjadi berganda diceritakan orang tua saya bahwa raja jogja almarhum Hamengku Buwono IX pernah dilarang ibunya agar tidak berperang melawan belanda, tetapi beliau membelah diri menjadi 9 dan menyuruh ibunya memilih satu agar untuk tetap dirumah sedang sisanya pergi berperang. Cerita-cerita misterius bahwa ada teman seperjuangan eyang saya almarhum (eyang saya seorang TNI) di jaman belanda tak pernah tertembak tetapi peluru nya sering nyasar ke orang disebelahnya (ilmu lembu sekilan). juga cerita-cerita mengenai bom belanda yan tak pernah meledak jika dijatuh kan di dalam keraton..
    Hal-hal diatas walau diluar nalar tapi dekat dengan kehidupan orang jawa masa lalu, walau saya sendiri tidak mencari tahu atau menekuni ilmu-ilmu kanuragan di atas.
    Satu lagi cerita silat yang lebih pendek dari ADBM adalah Nagasasra & Sabuk inten.

    Terimakasih untuk pihak-pihak yang menghadirkan cerita ADBM ini dan semoga yang baru berkenalan dengan ADBM dapat dengan senang hati membacanya dan merasakan perasaan “ndjawani” yang saya dapatkan kalau membaca cerita ini.

  208. Keluarga saya suka komik dan cerita silat. karya2 Yan Mintaraga, Ganes TH, Djair, Teguh, Hans, Kho ping hoo, Kulung, Gan KL, dll, semuanya sudah dibaca, dari beli sampe sewa. jadi kalo ditanya lengkap gak koleksinya ya ancur-ancuran dah.
    Khusus Karya SHM Saya mulai baca karyanya sejak kelas 2 SMP tahun 1975. yang bikin penasaran ya Api Dibukit Menoreh ini. Terutama episode Jalan Simpang, saya ngebayangin endingnya gimana persaingan antara agung sedayu dengan Swandaru.
    Pokoknya ADBM emang top dan bikin penasaran … saking penasarannya sampe napak tilas ke daerah2 yang dilalui agung sedayu…
    Salut buat SHM … ada lagi gak yaa bisa bikin cerita kaya gini

  209. bukan keong racun

    • Bukaaan !

  210. saya tahu ADBM waktu masih SD, bapak suka bawa pulang dalam versi buku, so bapak selesai membaca saya sempet-sempetin baca walau blm bgitu tertarik karena ngk ada gambarnya yang banyak (maklum anak kecil senengnya komik superman, batman dll) eh ngk tahu gmn kok sy rindu sm buku2 itu dicari2 dirumah bapak dh ngk ada mgk ada yg ambil or pinjam ngk dibalikin maklum banyak dan berseri

  211. BELAJAR JAWA DARI ADBM

    Berawal dari penasaran, apa sih yang bagus dari tulisan-tulisannya pak Mintardja, kok sampai di buat kethoprak, film, sinetron, bahkan banyak orang percaya bahwa tokoh-tokohnya benar-benar ada. Mulailah jilid-jilid adbm pertama saya baca, dan nyatalah terbukti saya tidak berbeda dengan orang lain: kecanduan adbm.

    Tapi lambat laun ada yang beda. Alur cerita menjadi tidak begitu penting lagi bagi saya. Yang saya tunggu-tunggu justru gambaran tata kehidupan masa itu. Bagaimana sebuah rumah jawa punya regol, pendapa, pringgitan, gandhok, etc. Wuih bandingkan dengan rumah sekarang yang RSSSS…. Atau tentang pagar tembok padukuhan, regol padukuhan, gardu parondan, alun-alun. Lha kok seperti cluster perumahan zaman sekarang to, ada temboknya, ada portalnya, ada pos satpamnya, ada taman fasos-fasum-nya. Atau makanan dan minuman yang tidak pernah saya dengar sebelumnya: air sere dengan gula kelapa, sega megana, urip-urip, kendo udang, pondoh beras. Atau tentang pliridan untuk menangkap ikan yang sampai sekarang tidak kebayang bentuknya. Atau tentang harimau jawa yang tampaknya masih banyak kala itu, wah cepat banget punahnya ya. Sayang tidak diceritakan tentang gajah jawa yang juga punah, namun konon justru keturunannya berkembang di borneo karena diimpor sultan sulu (1750). Hingga ke hal-hal yang terkait dengan value orang jawa. Tampaknya berbohong atau tidak menyampaikan yang sebenarnya adalah hal yang lumrah, yang dijunjung tinggi adalah sikap pengendalian diri. Bagi orang jawa kelihatannya harmoni ditempatkan jauh di atas kejujuran.

    Terus terang, bagi saya yang merasa sudah mulai tercerabut dari akar budaya jawa, keberadaan ADBM serasa diri yang menemukan jalan pulang. Ibarat ikan salmon yang kembali ke kejernihan mata air pegunungan tempatnya dilahirkan dahulu, atau laron yang menemukan cahaya lampu setelah sekian lama hidup dalam kegelapan di bawah tanah. Benar kata Pak mintardja, “Cerita yang dicari di bumi sendiri”.

    Kalaupun boleh mengkritik, barangkali cuma beberapa point saja.
    1. kelapa sawit yang dipakai latihan agung sedayu dan ki widura, ternyata baru diperkenalkan di Indonesia tahun 1848 di kebun raya bogor, dan baru dicoba komersialisasinya tahun 1911 padahal era pajang adalah 1568-1586. Wah lompat 300-an tahun nih. Demikian juga ubi kayu yang ditanam kyai gringsing. Walaupun sudah dibawa oleh portugis ke maluku pada abad 16, tetapi baru mulai meluas sekitar tahun 1811. mungkin lebih baik kyai gringsing menanam uwi, gembili, atau suweg sekalian. Saya juga curiga dengan sambel goreng lombok yang disajikan untuk pasukan untara, karena cabainya bawaan portugis dari Chili. Masih untung tidak ada kubis, wortel, kentang, seledri, apalagi asparagus. Masih untung juga ki gede menoreh tidak minum kopi atau teh, apalagi coklat susu, sambil merokok tembakau lintingan.
    2. Saya ragu kalau saat itu telah banyak kedai makanan dan penginapan serta transaksi dengan mata uang telah lazim dikalangan rakyat jelata. Memang benar koin emas telah dikenal, tetapi itu dihargai karena berat emasnya, dan mungkin hanya bagi kalangan orang kaya atau kraton. Pertimbangkan fakta bahwa upeti kala itu diujudkan dengan hasil bumi. mengapa tidak dibayar dengan uang saja, tidak perlu beberapa pedati untuk membawanya. Juga mengapa belanda susah-susah menerapkan tanam paksa (bayar pajak dengan hasil bumi)kalau bisa memungut pajak berupa uang.

    But at all, terima kasih ADBM, terima kasih Pak Mintardja, terima kasih Ki DD, terima ksih para senior dan sesepuh adbmcadangan, dan terima kasih semua. Panjenengan semua membuat saya semakin JAWA.

    salam

    lole lelalelo

  212. mungkin cerita ADBM merupakan cerita yg selalu terpatri dalam ingatan saya, karena saya mulai membacanya ketika saya masih duduk dibangku SMP ketika saya tinggal dengan Om waktu itu tahun 1969, dan akhirnya terus berlanjut sampai saya sudah bekerja dan berumah tangga, banyak yg dipetik dari masing2 karakter, mulai Swandaru Geni, Agung Sedayu, Kiai Gringsing dan ADBM pernah di filmkan tapi tidak tuntas karena memang cuma diambil dari bbrp jilid dari ADBM saja, sayang Pak SH Mintardja cepat meninggalkan kita

  213. Gimana ya cara bacanya?

  214. Saya baru mulai baca ADBM pada pertengahan 2011 (mmg agak terlambat) ,sampai sekarang sudah jilid ke IV-77 ,masih penasaran…sampai gak sabaran nunggu terbitnya buku2 berikutnya..kira2 ada gak bukunya yg sudah sampai tuntas..tas ,tolong bagi saudara2 yang punya copy filenya..kirim ya..! ,maturnuwun..salam

  215. Testimonial ” api di bukit menoreh…

    [...]Terimakasih Ki Rizal, Ki GD, Ki Sukra, Ki Kasdoellah, Ki Herry Warsono dan yang tidak … main dan menginap di rumah nenek saya, karena kebetulan memang satu …[...]…

  216. Testimonial ” api di bukit menoreh…

    [...]Yah paling ikutan guneman para cantrik.. Thanks KI GD dan team. … terkadang cerita jadi lambat, tapi yah itulah mungkin cara orang jawa bercerita. …[...]…

  217. Saya mulai membaca ADBM kira th 1976 ( klas 2 SMA ) waktu itu Ibu saya yg suka baca serialnya dan terus berlanjut sampe sekitar th 1985, dengan sabar saya mengumpulkan bukunya sebulan sekali ( karena kalo ngga salah tiap bulan terbit satu jild ). Dari semua tokoh yg ada di ADBM, tokoh Agung Sedayu merupakan yg paling pavorit selain juga tentunya Kyai Gringsing. Diawal -awal serial senantiasa mendambakan agar Agung sedayu bisa berjodoh dengan Pandan Wangi, karena dimata saya keduanya akan bisa menjadi pasangan yg serasi. Tapi apa daya sang resi/ empu SH Mintarja lebih suka menjodohkannya dengan Sekar Mirah. Saking gandrungnya akan tokoh Agung Sedayu, sampe2 berniat suatu saat bila punya anak laki-laki akan saya beri nama seperti nama tokoh idola saya tersebut. Dan Alhamdulillah setelah anak pertama saya lahir th 86 (perempuan) dan 1992 (perempuan lagi), pada th 1997 lahir anak ke 3 saya laki2 dan sesuai janji saya terdahulu anak ke 3 saya tersebut saya beri nama (bukan Agung) tapi Ageng (Wiekamaputra) Sedayu, nama dalam kurung adalah perpaduan nama saya & isteri. Kenapa tidak Agung (U) tapi Ageng (e), karena kalo Agung sepertinya terlalu besar & berat bebanya ( abot sanggane/ Jawa) … dan dengan pengertian dan pendalaman dari mempelajari & mengikuti perjalanan hidup sanga tokoh Agung Sedayu, sayapun mencoba mencari dan mengartikan sendiri arti nama tersebut yaitu : Agung/ Ageng berarti besar/ luhur, sedang Sedayu saya artikan dengan : yang penyabar dan berbudi, sehingga arti dari nama Agung/ Ageng Sedayu bermakna : Yang penyabar dan berbudi luhur ( Insya Allah nantinya anak laki2 saya tersebut akan bersifat demikian ) walo sampe saat ini usia 14 th baru keliatan sifat : berbudi luhurnya, sedang penyabarnya masih jauh, mudah2an semakin dewasa nantinya do’a dan harapan saya terkabul amin.
    Selanjutnya kira-kira seminggu yll, iseng2 saya coba nyari2 di Google (siapa tau Serial ADBM ada) dan Alhamdulillah ternyata saya temukan. Kemudian setelah mencoba mengingat-ingat akhirnya saya mulai lagi mengikuti serial tersebut dari mulai jilid 201 & mudah2 an bisa berlanjut seterusnya.
    Terima kasih … matur nuwun kepada semua pihak yg mengahadirkan kembali serial ADBM.

  218. Saya kenal ADBM waktu MI.. setingkat SD kelasnya … lupa..sekitar tahun 1984 s.d 1986.. waktu itu Bapak giliran beli dengan beberapa tetangga dan saling meminjam waktu ndak gilirannya.. ketika diletakkan di meja iseng2 saya baca.. langsung jatuh cinta sama agung Sedayu.. setelah itu rebutan sama Bapak.. waktu itu sudah Jilid II … dan setiap hari sejak itu.. aku bongkar gudang buku yang untuk mencari seri2 sebelumnya… banyak yang lengket halamannya karena gudang kami sering kebocoran… atau dikrikiti kutu busuk sehingga baunya pun luar biasa…
    Terima kasih pada adik-ku yang mengirim blog ini di Ultah-ku Th 2011 kemarin…. sipp .. luar biasa kerja keras para “Kru Blog ADBM .. salutttt….

  219. ketika indosiar mau memfilmkan ADBM saya senang, tapi sampai saat ini kok nggak ada beritanya ya..katanya sepeninggal almarhum cerita ini dilanjutkan oleh putrannya..mulai dari jilid berapa ya…
    ..

  220. saya suka bolak-balik ke adbmcadangan karena di kawasan tersebut ada ki mbleh, ki kartu, ki ndul dan ki mangku, mereka tu ilmunya menggetarkan wordpress loh ;)

    • Kecap-kecap .

  221. Api di Bukit Menoreh adalah karya sastra yang pertama kali mengisi kanak-kanak saya. Bapak yang membelinya. setiap kali datang, kami baca bergiliran. Bapak dulu sampai selesai baru kami anak-anak bergantian. Entah karena kami sekeluarga lahir di Magelang dan kebetulan disana ada Bukit Menoreh, saya merasa ada keterkaitan ruh dengan kisah-kisah di dalamnya, sehingga dengan mudahnya saya kanak-kanak mencerna dan mengkaitkannya dengan alam sadar saya. Alhasil, sekarang saya menempatkan tauladan dari Agung Sedayu dan keluarga sedikit banyak dalam hidup berkeluarga kecil kami. Bukan pada latih tanding dan olah kanuragan, tapi pada keberanian untuk menjalani hidup…terima kasih Bapak SH Mintardja

    • Trims mas Fery saya juga penggemar berat dari karya Kyai S.H.M. tetapi sayangnya sekarang tidak ada lagi pengarang yang sekaliber S.H.M. , tetapi semoga dimasa mendatang ada yang dapat menggantikannya .

  222. Salam kenal,

    Setahun lebih saya tidak melangkah di dunia maya. Mulai masuk ke blog saya yang lama yang setahun LEBIH tidak saya up date, tahu-tahu blog saya tsb sudah dimiliki orang lain karerna saya terlambat membayar perpanjangan langganan. kegiatan tulis di dunia maya saya hentikan. Iseng-iseng buka blog yang posting serial API DI BUKIT MENOREH. (ADBM)
    Kembali saya terusik ingin kembali membaca cerbung karya SH Mintardjo. Pertama saya baca seri 340-an mengenai Glagah Putih dengan Rara Wulan yang akhirnya menikah dan mengembara berdua mengejar tongkat baja. sampai seri 348 terhenti karena mau buka seri 349 dst di blog ini sata belum pernah berhasil. Bagaimana caranya?
    Saya membaca APDM ini sejak seri pertama terbit yang dimuat di koran Kedaulatan Rakyat mulai hari pertama (ingat saya sekitar th 1968) Pertengahan 1969 saya keluar dari Yogya meninggalkan kampus untuk menjalani tugas BIMAS SSBM sekarang semacam KKN) saya ditugaskan di kecamatan Ngemplak Boyolali, ditempatkan/kost di kelurahan Dibal. Bagusnya putera pak Lurah yangn saya tempati seorang bapak muda (3 tahun dibawah saya) juga penggemar berat ADBM. Maka setiap buku seri baru ADBM kami mesti membaca. Habis itu diskusi. Pada waktu saya kenal pertama ia baru sekitar 5 bulan menikah dengan isterinya yang nampaknya kurang senang baca.

    Maka setiap bicara ADBM diskusi kami ramai. Putera pertama lahir ingat saya perempuan. selama 6 bulan saya di sana. Kembali lagi ke kampus. melanjutkan lagi baca ADBM. baca koran KR atau pinjam persewaan buku kalau seri baru sudah terbit. Akhir 1974 saya tinggalkan Yogya selesai sekolah. Selamanya ingat saya belum pernah membeli buku adbm sekalipun. Maka setiap membaca ADBM pinjaman atau menyewa rasanya benar-benar nikmat!! Ha, ha, haaaa……
    Ketika anak saya yang kedua lahir laki-laki banyak teman dan saudara-saudara yang ADBM mania komentar :”lho Rudhito itu kan anaknya Ki Waskita.!!
    Saya ingin bertanya kepada teman-teman ADBM Mania seri yang bercerita tentang Rudhito dan Ki Waskito itu seri berapa.??? Sekarang saya rajin baca mualai seri satu dua dst. Ketika saya baca Saya baca ADBM terakhir tentang Raden Rangga sekitar th 90-an, penulis asli masih hidup Setelah membaca ldi bulan Oktober 2012 seri 340-an itu rasanya bukan gaya penulis asli SH. Mintardjo. Setting cerita memang masih sama, juga tokoh2nya masih sama. Kalau yang menulis seri-seri akhir itu bukan SH, Mintardjo (mungkin puteranya atau penulis-penulis lain karena penulis aslinya sudah almarhum), hendaknya jangan mengastanamakan ADBM karya SH. Mintardjo. Itu namanya membohongi publik! Cantumkan nama asli penulisnya dant tenu semuanya sudah sepengetahuan/seijin keluarga Alm SH, Mintardjo. Kalau pera pencinta ADBM ada yang tahu masalah ini tolong saya diberi info. TERIMA KASIH

  223. Kalau saya mengenal adbm sejak tahun 1964 atau 1965,karena bapak saya kerja di semarang ,etiap terbit buku sh mintarja selalu dibelinya termasuk nogososro sabukinten,karena terjadi peristiwa g 30 s ,maka kegiatan membeli buku untuk sementara dihentikan karena kondisi keuangan,tetapi sejak tahun 2010 saya menemukan blog ini ,wah syukur alhamdullillah bahwa saya masih bisa membaca kelanjutannya,terimakasih kepada semua fihak yg telah membuat blog tsb.

  224. Menemukan blog ini serasa melemparkan saya kemasa SD dulu
    ketika pertama kali menemukan buku buku karangan Sh Mintarja
    bukan hanya ABDM tapi juga istana yang suram , mata air di bayangan bukit , panasnya bunga mekar, dan banyak lagi karangan beliau
    waktu SD saya membaca buku buku silat karangan Sh Mintarja masih secara sembunyi sembunyi, Ayah saya tiap bulan membeli secara ngeteng di terminal, kakak saya suka marah kalau melihat saya ikut membaca buku itu, pernah suatu ketika sya tertangkap basah , ketika sedang membaca (saya menyembunyikannya didalam buku pelajatan sekolah) jadi dari depan saya sepertinya sedang baca buku pelajaran, habislah saya diomelin , kalau teringat jadi ketawa sendiri.Setalah saya smp malah saya yang bertugas membeli buku Sh Mintarja tiap kali ada terbit no baru.Untuk buku ABDM saya juga tidak tuntas membacanya sampai selesai, kalau tidak salah sampai jilid 101 dan ceritanya sudah lupa sampai mana

  225. Saya menggilai ADBM setelah menuntaskan Kisah Nagasasra Sabukinten, itu saat saya kelas VI SR di Jakarta Selatan. Karena saya senang dengan sastra dan sejarah, maka sangat klop sekali membaca NSSI yang oleh bapak SHM diolah dengan sejarah keruntuhan Majapahit dan kerajaan Demak berkuasa.
    Karena saya terlanjur kesengsem dengan karya SHM dan bertepatan dengan selesainya NSSI terbit ADBM Jilid 1, yang kata orang pada saat itu adalah kelanjutan dari NSSI maka terjadilah perburuan buku ADBM mulai saat itu. Uniknya buku-buku ADBM selanjutnya dibaca secara bergiliran oleh paman-paman (adik bapak) saya, kemudian bapak saya dan terakhir saya. Perlu sahabat ketahui keluarga kami adalah asli Sangihe-Talaud di Sulawesi Utara, namun karena ayah dan adik-adiknya merantau ke Jawa sejak akhir tahun 40-an dan sangat kebetulan mereka adalah orang-orang yang mencintai budaya Indonesia, bahkan ayah saya sampai hafal tokoh-tokoh wayang kulit dan kehidupan mereka, juga susunan jejer wayang kulit dia sangat hafal sekali (wong Sangihe-Talaud loh!!!) maka tidak mengherankan apabila kami mencintai cerita ADBM. Bahkan sebelum era NSSI dan ADBM, kami juga banyak mengoleksi komik pewayangan (Ramayana, Mahabrata, Bharatayudha dan lain-lain) baik itu karya Kosasih maupun yang lain; kami juga sempat mengoleksi cerita-silat walau pun kemudian kami tinggalkan gara-gara ADBM.
    Kembali ke ADBM, begitulah sejak tahun 1967 kami menggilai cerita ini, mungkin para ADBMers pada saat itu sama seperti kami. Paman saya karena pekerjaan kemudian harus pindah rumah, yang satu pindah ke daerah Pedongkelan dekat Kelapa Gading dan yang satunya pindah ke daerah Cikini. Jadi jika ADBM terbaru terbit, maka digilirlah mbacanya, pertama paman saya di Cikini, kemudian paman saya di Pedongkelan dan terakhir ayah dan saya sekaligus menyimpan sebagai arsip.
    Serunya, setiap buku selalu menjadi bahan diskusi kami sekeluarga besar, setiap tokoh entah tokoh baik atau tokoh jahat tetap kami bahas. Pernah paman saya marah-marah pada saat membaca jilid dimana menceritakan Ki Tanu Metir mengobati (wah saya lupa mengobati siapa) … paman saya sampai marah karena 95% dari isi buku itu tentang proses pengobatan saja sampai-sampai dia bilang “SHM itu keterlaluan sekali, masak orang menunggu sekian lama dan begitu terbit hanya melulu tentang pengobatan…” hahaha … itulah reaksi spontan ADBMers yang sudah kepincut akut.
    Saat ini, ayah dan seorang paman saya sudah meninggal, sedangkan paman saya yang lain sudah terlalu tua untuk mengikuti ADBM, namun apabila kami bertemu saya selalu berusaha update kepada beliau tentang ADBM maupun tokoh-tokoh baru.
    Saat saya bercerita bahwa Kiai Gringsing menghilang entah meninggal entah moksa, paman saya dengan yakin dan sedikit emosi bilang bahwa KG tidak mungkin mati, dia pasti menyendiri dalam goa di sebuah gunung dan moksa seperti Buddha (saking nge-fansnya beliau pada KG). Anehnya sejak saat itu, paman saya seperti kehilangan gairah untuk mendengar cerita saya, paling-paling hanya mengiakan tanpa terpancing untuk berdiskusi seperti dahulu hehehe…
    Demikian sahabat, kisah ADBM begitu menarik dan unik bagi kami sekeluarga selama puluhan tahun, kisah fiksi dirangkum dengan sejarah jatuhnya kesultanan Pajang dan berdirinya kerajaan Mataram dengan gaya tulisan yang sangat mengesankan. Dampak positifnya adalah kami jadi tahu secara detail sejarah kerajaan di Jawa, silsilah raja-rajanya, tempat-tempat bersejarahnya dan lain-lain.
    Seturut dengan jaman iptek dimana komputer merupakan teknologi canggih namun mudah digunakannya, maka saya mulai mengoleksi buku-buku karangan bapak SHM, apalagi begitu banyak situs yang berdiri dan berusaha memberikan layanan arsip karya SHM dan berbagai penulis lain kepada para pembaca; maka saya yakin bahwa banyak ADBMers saat ini dengan mudah membuat perpustakaan dalam arsip komputer, tidak seperti dahulu harus menunggu terbitnya buku serial dengan penasaran (karena pernah saya alami pas hari dan tanggal terbit ADBM saya tidak bisa membeli karena tugas, sementara orang rumah tidak ada yang bisa dititipi … akhirnya saya harus mencari ke teman-teman dan minta dicopykan supaya koleksi tidak terputus)
    Akhirnya, kerinduan saya adalah bahwa satu saat cerita-cerita fiksi-sejarah bahkan sejarah asli bangsa Indonesia sejak jaman Ratu Shima bisa difilmkan agar generasi selanjutnya tahu dan mengerti sejarah Indonesia. Amerika Serikat, China dan beberapa negara lain, bisa membuat film sejarah bangsa mereka, masak Indonesia tidak bisa? Kita memiliki tokoh muda perfileman yang menguasai iptek dan modal finansial yang sangat mudah dicari pada saat ini, impian ini tidaklah mustahil.
    Semoga!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 135 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: