Singgih Hadi Mintardja

SH Mintardja

SH Mintardja

 

SINGGIH HADI MINTARDJA

(26 Januari 1933 – 18 Januari 1999)

Semasa hidupnya, SH Mintardja lebih banyak dikenal sebagai penulis cerita bersambung serial silat dengan setting kerajaan Mataram zaman Sultan Agung di beberapa surat kabar, seperti Harian Bernas berjudul Mendung di Atas Cakrawala dan Api Di Bukit Menoreh di Kedaulatan Rakyat. Episode terakhir yang hadir di hadapan pembaca Harian Bernas adalah episode ke 848 Mendung di Atas Cakrawala.

Setamat SMA, SH Mintardja yang lahir di Yogya 26 Januari 1933, bekerja di Bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan (1958), terakhir bekerja di Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud DIY (pensiun 1989). Beberapa cerita roman silat yang digali dari sejarah di kerajaan Jawa telah ditulis SH Mintardja – yang oleh kerabatnya akrab dipanggil dengan nama Pak Singgih — sejak tahun 1964. Berbekal pengetahuan sejarah, ditambah mendalami kitab Babat Tanah Jawi yang beraksara Jawa, lahirlah cerita Nagasasra Sabuk Inten. Kisah berlatar belakang kerajaan Demak itu melahirkan tokoh Mahesa Jenar. Karena cerita Nagasasra sebanyak 28 jilid begitu meledak di pasaran dan amat digandrungi pembaca, banyak orang yang terkecoh dengan cerita roman sejarah itu. Banyak yang mengira Mahesa Jenar benar-benar ada dalam sejarah Demak.

Akibatnya, tim sepakbola asal Semarang pun dinamakan Tim Mahesa Jenar. Mungkin dengan nama itu Wong Semarang berkeinginan kiprah tim sepakbola sehebat Mahesa Jenar dengan pukulan “Sasra Birawa”-nya yang menggeledek. “Padahal saya memperoleh nama itu begitu saja. Rasanya kalau diucapkan sangat indah dan kalau didengar kok enak,” ujar Mintardja dalam pengakuannya di buku Apa dan Siapa Orang Yogyakarta, edisi 1995.

Buku Nagasasra belum surut dari pasaran, SH Mintardja membuat kisah Pelangi di Langit Singasari (dimuat di Harian Berita Nasional tahun 1970-an) kemudian dilanjutkan dengan serial Hijaunya Lembah dan Hijaunya Lereng Pegunungan.

Agaknya suami Suhartini yang tinggal di Kampung Daengan, Gedongkiwo, Yogya ini tidak pernah mengenal lelah. Pada tahun 1967 menggelindingkan Api di Bukit Menoreh mengambil kisah berdirinya kerajaan Mataram Islam. Di sana ada tokoh Agung Sedayu, Swandaru, Kyai Gringsing, Sutawijaya, dan paling terakhir adalah Glagah Putih dan Rara Wulan — saudara sepupu sekaligus murid Agung Sedayu.

Ada sementara penggemar cerita SH Mintardja yang bilang, bila dijajarkan, maka cerita Api di Bukit Menoreh panjangnya melebihi jarak Anyer – Panarukan. Asal tahu saja, kisah itu memang lebih dari 300 jilid (buku) dan hingga akhir hayatnya kisah itu belum selesai. Dan masih ada puluhan serial cerita kecil lainnya yang dibuatnya.

Di sisi lain, Mintardja pun berusaha menulis kisah petualangan pendekar pembela kebenaran yang lebih pop. Kisah itu tidak terlalu keraton sentris, namun berusaha digali dari kisah kehidupan sehari-hari dengan setting masa lalu, ya apalagi kalau tidak jauh dari kerajaan-kerajaandi Tanah Jawa. Kisah seperti Bunga di Atas Batu Karang yang mengisahkan masuknya pengaruh Kumpeni Belanda ke Bumi Mataram; kemudian serial Mas Demang yang “hanya” mengisahkan anak seorang demang. Dan terakhir adalah tokoh Witaraga dalam kisah Mendung di Atas Cakrawala, mantan prajurit Jipang yang kalah perang yang berusaha menemukan jatidirinya kembali dengan mengabdi pada kebenaran dan welas asih.

Perkenalkan budaya

Ada yang khas dari seluruh kisah yang ditampilkan SH Mintardja. Ia berusaha menyelipkan pesan-pesan moral di dalamnya. Bahkan di dalamnya juga diperkenalkan beberapa kebudayaan Jawa yang mungkin saat ini mulai punah. Sebagai contoh adalah ungkapan rasa syukur menjelang panen padi di desa-desa. Upacara “wiwit” yang berarti “mulai” (panen), berupa pesta kecil di tengah sawah, beberapa kali dengan jelas ditampilkan dalam beberapa ceritanya. Adat kebiasaan “mitoni” atau “sepasaran” dalam menyambut kelahiran bayi di masyarakat Jawa pun dengan pas digambarkannya.

Banjir darah tidak selalu dijadikan penyelesaian akhir untuk menentukan bahwa yang benarlah yang menang. Ada penyelesaian akhir yang lebih pas. Bertobat, tanpa harus ada yang terbunuh. Bahkan ayah 8 anak, empat putra dan empat putri serta kakek 12 cucu ini, sejalan dengan usia dan perkembangan zaman, kematangan menulisnya pun semakin tercermin di dalam kisahnya. Jika pada kisah Nagasasara Sabuk Inten dan Pelangi di Langit Singsari masih menggunakan bahasa “tuan” untuk menyebut anda ataupun engkau, maka pada Api di Bukit Menoreh dan kisah lainnya, kata “tuan” itu sudah raib dari kamus kosa katanya.

Entah terpengaruh oleh film atau karena melihat anaknya berlatih silat, untuk menggambarkan serunya sebuah pertarungan tidak lagi digambarkan dengan angin yang menderu-deru dan desingan senjata; namun lebih masuk akal. Gambaran teknik bela diri murni digunakan di karya-karyanya yang terakhir. Bila akhir dari sebuah pertempuran memang harus dengan tenaga dalam, ya itu tadi, pembaca lagi-lagi dibawa berkhayal melihat benturan ilmu maha dahyat yang bobotnya melebihi granat. Ya, namanya saja cerita.

Ternyata, selain mengarang cerita silat atas kehendaknya sendiri, SH Mintardja juga tidak menolak cerita pesanan, misalnya, untuk pementasan ketoprak. Beberapa cerita sempalan seperti Kasaput ing Pedhut, Ampak-ampak Kaligawe, Gebranang ing Gegayuhan merupakan cerita serial ketoprak sayembara yang disiarkan TVRI Yogyakarta.

Karya 

SH Mintardja telah menulis lebih dari 400 buku. Cerita berseri terpanjangnya adalah  Api di Bukit Menorehyang terdiri dari 396 buku. Berikut ini daftar beberapa karya sang pengarang itu:

Api di Bukit Menoreh (396 episode)
Tanah Warisan (8 episode)
Matahari Esok Pagi (15 episode)
Meraba Matahari (9 episode)
Suramnya Bayang-bayang (34 episode)
Sayap-sayap Terkembang (67 episode)
Istana yang Suram (14 episode)
Nagasasra Sabukinten (16 episode)
Bunga di Batu Karang (14 episode)
Yang Terasing (13 episode)
Mata Air di Bayangan Bukit (23 episode)
Kembang Kecubung (6 episode)
Jejak di Balik Bukit (40 episode)
Tembang Tantangan (24 episode)

Berpulang

Kini SH Mintardja telah tiada. Mungkin banyak penggemar karya-karyanya yang ikut sedih dan kecewa karena kisah-kisahnya masih menggantung di tengah jalan. “Tapi semua memang kehendak Yang Maha Agung. Kita tidak dapat menolaknya,” begitu sepenggal pesan moral SH Mintardja yang sering dia tulis dalam berbagai karyanya.

Penulis cerita bersambung Singgih Hadi Mintardja atau lebih dikenal dengan nama SH Mintardja, Senin (18/1/1999) lalu, meninggal dunia. Almarhum menghembuskan nafas terakhir di hadapan anggota keluarganya, Senin, pukul 11.39 WIB di Rumah Sakit Bethesda, Yogya, dalam usia 66 tahun. Jenazah SH Mintardja dimakamkan Selasa (20/1/1999) pukul 15.00 WIB di pemakaman Kristen Arimatea, Mergangsan, Yogyakarta.

Almarhum dirawat di RS Bethesda sejak Sabtu 26 Desember 1998, karena menderita sakit jantung. 

***

Sumber :
- Wikipedia
- Selamat jalan Pak Singgih, oleh : ee/djo - Yogya, Bernas

Telah Terbit on 8 November 2008 at 11:48  Comments (70)  

The URI to TrackBack this entry is: http://adbmcadangan.wordpress.com/singgih-hadi-mintardja/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini.

70 KomentarTinggalkan komentar

  1. [...] Karya: S.H. Mintardja Gambar Kulit: Herry Wibowo Ilustrasi: Sudyono Penerbit Kedaulatan Rakyat Jogjakarta Possibly related posts: (automatically generated)“BUKAN SEKEDAR WANITA BIASA” Published in: [...]

    • Setahu saya Nagasasra sabuk Intern terdiri dari 29 jilid, bukan 16. saya bahkan hapal ke 29 buku itu. Seingat saya jilid 17, bergambar Pasingsingan bertempur melawan Mahesa Jenar terbit tahun 1968…

      • betul….yang diatas cuma salah ngentit…eh..ngetik ! :D

  2. saya pernah mengundang beliau ketika merintis berdirinya suporter PSIS ‘Mahesa Jenar’ (sekitar 1989-1990). Beliau kami pertemukan dengan Walikota Semarang dan sesepuh suporter. Saat itu saya sudah jadi wartawan (Harian Kartika). Suporter itu juga damai, menghargai lawan. Kami selalu menjemput suporter lawan dan mengawalnya dari batas kota ke stadion dan sebaliknya. sayang, paguyuban ini kemudian tenggelam akibat pengurusnya ‘korup’.

  3. saya mau download ceritanya tapine pripun carane

  4. saya paling menginginkan membaca lagi Pelangi di Langit Singasari…

  5. Selamat jalan Pak Singgih, sungguh karya Bapak ini telah menjadi karya yang abadi. Sungguh rasa terima kasih dan penghargaan yang dalam, terhatur senantiasa.

  6. Mudah2an beliau (alm) menginspirasi tulisan-tulisan pena lain yang menghibur , yang diwaktu sekarang ini, sudah amat jarang.

  7. halo Ki Gede dan Nyai Seno, mau nanya dikit. Serial Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan itu totalnya ada brapa episode/jilid ya? Di atas kyknya belon disebut.

  8. rasakno….
    ora iso kirim komen thoo…???
    mod*** co*** kabeh…. hehe…
    tak nyeluk diajeng wae….
    diajeeeng nuuniik….

  9. saya adalah salah satu dari sekian banyak penggemar karya karya S.H Mintarja. Sebagian besar karya-karyanya sudah pernah saya baca.Saya membaca mulai saya kelas 4 Sekolah Dasar (ayah saya langganan saat itu, atau kadang sewa di persewaan komik/buku bacaan di kota Jombang Jatim) hingga usia saya sekarang 40 tahun, namun sejak saya pindah tugas ke luar jawa tepatnya di Medan saya tidak lagi mengikuti cerita karya beliau. mohon informasi bagaimana caranya saya bisa mengkoleksi karya2 SH Mintarja.Mohon alamat yang bisa dihubungi sekalian dengan nomor telepon.tks.

    • Ada versi pdfnya kok..!!

    • Silakan buka blog : Bakulan, dg alamat ; sastrobuku.blogspot.com ….. masih ada stok Tanah Warisan, Istana yang Suram dan Yang Terasing

  10. gimana seh cara ngambil ceritanya, saya cari-cari kok gak ketemu.

  11. Iya cara melihat ceritanya bagaimana ya?
    ga bisa nih!
    pls dong kasitau ….

  12. saya mau download ceritanya tapine pripun carane

  13. bagi temen-temen yang ingin membaca salah satu karya SH.Mintarja. Tanah Warisan Silahkan ke sini

  14. untuk serial api di bukit menoreh yg lebih komplit saya harus cari kemana ya???,blog ini menyediakan ngga cerita api di bukit menoreh dalam bentuk PDF / E-BOOK?kalo ada tolong hub E mail saya
    & apakah di blog ini juga ada koleksi cerita Nogososro sabuk inten?kalo ada saya juga minta File nya dlm bentuk PDF / E-BOOK,
    Untuk teman2 yg punya Bisa Hub Alamat E-mail saya di
    setyoharjoko@yahoo.co.id

    terima kasih

  15. yang salut juga, selalu mengiringi karya pak Singgih adalah karya gambar dari pak Herry Wibowo. Saya usul, pak Herry Wibowo juga dapat diangkat dalam tulisan2. Karena, langsung atau tidak langsung, karya gambar pak Herry Wibowo membuat kita sedikit berangan2 tentang paras, wajah, bentuk tubuh, gerakan jurus dan sebagainya dari tokoh2 yang ‘digambarkan’ oleh pak Singgih.
    Menurut saya itu.
    salam,

    Utomo

  16. saya sangat hoby dengan cersil jawa,kalau cari cersil api di bukit menoreh III dimana mas?

    • kalau api I,II nya punya ya? kalo udah bosan dan mau dilego, saya bersedia nampani,jika harga cocok

      • Aku punya masa

  17. gimana caranya saya bisa dapat hardcopy serial pelangi di langit singasari???
    udah lama banget saya nyari, sampe ke kedaulatan rakyat jogja dan bernas tapi gak ada…mohon infonya..makasih

  18. sekiranya ada yang mau mengoper koleksi buku api dibukit menoreh nya,saya akan sangat senang. kontak saja saya di 081317688869. semoga bisa ketemu harga yg cocok. juga untuk pelangi di atas singasari

  19. wah kalau dilihat-lihat
    banyak juga yang cari hardcopy karya-karya SH Mintarja
    bagaimana kalau padepokan ADBM mempelopori
    nerbitin lagi edisi kolektor
    saya pasti pertama kali yang pesen

  20. Bagaimana Cara Memesan Cerbung “API DIBUKIT MENOREH” seri III?… bisakah secara online ataukah ada cara lain? Mohon informasi……..

  21. Bangsaku, inilah salah satu pahlawan bangsa. Beliau cinta dan sadar akan budaya bangsanya. Beliau tidak mengagungkan budaya bangsa lain melainkan beliau sadar sekali bahwa budaya nusantara yang tepo saliro dan bermartabat tinggi lebih indah dan sopan serta menjunjung tinggi kerukunan, hormat, dan harga diri manusia (Budaya kita telah jauh berkembang saat budaya Arab dan Eropa masih berperang dan memperbudak). Penghargaan terhadap budaya sendiri telah ditanamkan beliau dalam karya-karyanya.

    Adakah lagi S.H. Mintardja jaman baru seperti beliau? Bangsa ini membutuhkan contoh pahlawan seperti beliau yang cinta akan budaya sendiri.

    Kami tidak butuh figur kasar dan sok memimpin(menekan) orang lain seperti halnya figur kartun dari luar.

    Kami tidak butuh film horror dan film bernuansa SARA.

    Kami butuh film kebanggaan budaya sendiri.

    Dimanapun entah itu hollywood, bollywood, hongkong, jepang, prancis, hampir semua jagoan film adalah polisi atau petinggi negara. Mereka bangga akan negaranya dan aparaturnya.

    Tetapi di bangsa sendiri, hampir semua jagoan film adalah orang biasa dan polisi selalu datang paling akhir. Adakah film yang memberi kebanggaan pada aparatur negara kita atau pada budaya kita?

    Kebanggaan pada bangsa sendiri seperti yang dilakukan Cina dengan mengirim pesawat luar angkasa hanya untuk show kebanggaan pada bangsa sendiri dan bangsa luar adalah contoh kebanggaan yang harus ditanamkan juga pada bangsa ini.

    Api di bukit menoreh punya alur cerita yang perfect dan kuat. Mari kita buat filmnya!! Kita punya banyak ahli effects yang bisa buat iklan bagus. Kita punya penata rias dan penata bela diri yang mandiri dan bagus. Mari kita buat bangsa lain tertarik budaya sopan dan tenggang rasa bangsa kita.

    Mari kita ubah krisis identitas bangsa menjadi menghargai dan menerima budaya sendiri. Identitas bangsa harus jelas!!! Kita adalah bangsa multicultural yang dibentuk dalan tenggang rasa dan hormat pada sesama. Jangan kita biarkan pengaruh dari barat dan timur tengah mengubah identitas bangsa kita!!!

  22. Sungguh luar biasa sy membaca cerita ADBM, beda dengan beberapa cerita yg pernah sy baca , alur ceritanya sangat menarik dan hidup …
    selamat jalan SH Mintaharja dan trima kasih buat blog ADBM

  23. adbm, ceritanya teringat sepanjang hayat

  24. hormat kami pada bpk.sh.mintardja. sejak usia 10thn(di thn 1983) sy sdh seneng dg cerita buku Api Dibukit Menoreh, awalnya dari guru SD matematika sy (bpk.Selamat sasmita) saat waktu lengang beliau sering bercerita kisah di buku Api dibukit Menoreh dan sejak itu smp skrg sy pengemar buku ADBM. selamat jalan bpk.SH.Mintardja karya2 bpk begitu luar biasa tidak akan pernah terlupakan.

  25. sejak th 2009 saya kembali memburu ADBM ke tukang2 buku second. Hasilnya saat ini Bagian IV,III,dan II sudah komplit, sedang bagian I cuma kurang 6 jilid lagi, yaitu jilid 30,51,56,57,71 dan 80. Selain itum saya juga berhasil memiliki 10 judul karya Pak SH Mintardja yang lain. Mungkin ada yang bisa meminjamkan atau memfoto copykan jilid2 ADBM di atas yang saya blm punya? pasti saya gantikan ongkos & biaya kirimnya. Saya juga masih ada kelebihan dari bagian II,III dan IV jika ada yang mau menyusun koleksinya, boleh hubungi saya

    • Waduh…., suatu upaya yang luar biasa tentunya.
      Sayang terlambat membacanya.
      Kalau buku asli dari jilid-jilid tersebut saya tidak punya, tetapi kalau versi djvu saya masih simpan koleksinya yang diambil dari sini (adbmcadangan).
      Dari blog ini, jilid 1-18 tidak ada versi djvu-nya.
      Apabila Ki Gunanto Bimo ada kerelaan hati, melakukan scanning dan dikirim ke adbmcadangan@yahoo.com dan cc ke pelangisingosari@gmail.com.
      Sumbangan Ki Gunanto tentu akan membuat pecinta ADBM sangat berterimakasih.

    • saya terkesima manakala membaca cerbung api di bukit menoreh, namun saya berhenti pada buku 230 karena buku berikutnya tidak bisa di bukapda komputer saya. saya gak tau gimana caranya ? saya mengucapkan banyak terima kasih pada mbak/mas yg berkenan menunjukan caranya

  26. Ki Gunanto… Boleh juga tuh kirim-kirim adbm IV-44.

  27. kulo cantrik enggal bade nderek maos ADBM

  28. semoga ada yang berkenan membuat film ADBM ini, `tuk diwariskan generasi YAD

  29. selamat jalan pak SH Mintareja

  30. Terima kasih buat admin dan rencang-rencang…akhirnya saya menemukan blog yang memuat kembali cerita api dibukit menoreh karya SH.MIntarja ( Alm ).Dari jilid I ( 01-139 ) saya masih bisa membaca, tapi memasuki Jilid II ( 140-dst ) saya tidak bisa membuka karena file dalam bentuk ODT ( maklum belum terinstall he he… )

  31. Poro kadang.. punapa wonten ingkang kagungan ‘Geger kartosura’ lan ‘Banjir Darah di Kartosuro’ dene piyantun ingkang dipun wedharaken inggih niku ‘Teguh Prakosa’

  32. waktu baca karya2 beliau aku masih kecil,…. sekitar th 70 an,….sampai sekarangpun aku masih terkenang,…selamat jalan pak S H Mintardja.

  33. [...] yang dituturkan oleh Almarhum Singgih Hadi Mihardja (SH. Mintadja). Biodata beliau bisa dilihat di sini. Kita tidak membahas biodata beliau tetapi, ingin menyebarkan karya beliau yang banyak dicari oleh [...]

  34. salam. oh pak sh mintardja itu kristiani ya? gak apa2lah, walau secara formal tidak sama, secara substansial dalam banyak hal kita sama….tks infonya

  35. ya sbnrnya kt tdk hrs fanatik, budaya itu dr Barat ato timur tengah ato dr kampung sndiri, yg pnting kt tanyakan pd ht kt sndiri, Budaya2 itu mendidik tdk? Klo itu tdk mendidik, jgnkan dr sana sana, dr kampung sndiripun kt tolak, bgitu jg sbaliknya, kalo budaya itu mendidik, biarpun dr Barat ato timur tengah, ato kampung sndiri, mk tdk prlu malu untuk menerimanya..

  36. kalau ingin mendapatkan buku2 ADBM apakah masih ada ya?. Di mana bisa dapatkan?

  37. Saya juga pengin dapatkan ADBM semua jilid dari awal sampai akhir bagaimana ya caranya terima kasih

  38. Nuwun sewu, menopo wonten ingkang pirsa, urutan cerita silat, wiwit MAHESA AGNI (Pelangi Dilangit Singosari) dumugi lampah madegipun Majapahit, saking karayanipun eyang SH Minartdja.

    Sakdhereingipunm ngaturaken agenging panuwun

  39. sabuk inten nogososro
    seru ceritanya
    tanah warisan juga seru
    sekarang lagi baca api di bukit menoreh

  40. saya membaca ADBM sejak sd, sempat putus selama 10 tahun tp alhamdulillah skrg sdh khatam diusia 40thn. sungguh salah satu master piece dari kebudayaan kita

  41. saya 1,5 th lagi pensiun dan mulai baca adbm sejak kls tiga smp th ’68.tidak pernah bosan.karena banyak manfaat yg bisa diambil.tapi saya mang gak bisa silat beladiri spti glagah putih.spti sukra pun tidak.

    • Silat…lidah bisa gak Ki ? :D

      Sugeng tepang

      • yang paling mudah SILATurahmi.

        Sugeng tepang.

        • Mtur nwun nakmas gemble pitepanganipun.taksih angen menda celak pdkuhan induk menoreh?

          • Enter your comment here…

            • Niku nopo bangsane gethuk to ki AS ????

      • Matur nuwun kisanak sbgai prajurit ki kertoyuda kersa tetepangan kaliyan putut dari padepokan terpencil dekat pegununga sewu.

  42. Mohon informasinya Mas/Mbak, saya kepengin download Api Di Bukit Menoreh n Nagasasra Sabuk Inten, tapi ga tau caranya? matur nuwun

    • Di link yang sudah saya berikan bs koq Mas Sugeng……. tggl klik aja linknya ntr download pake ziddu. Terima kasih

  43. Hebat, saya baca Api di Bukit Menoreh sejak SMA…

  44. sebuah cerita yg sangat membius hati pembaca aku termasuk pecandu yg sulit diobati

    • wadhuh musti ditambani kyai gringsing nih

  45. syukurlah, ternyata y kecanduan banyak temannya ya….

    • wow ternyata kecanduan ketupat to

      • …koyone lepet deh…

        • wohoooo ki kartuuuuu
          nganggo santen kanil yo ki

          • lepet campur……kupat ! :D

            • prepat-prepet ngempet wudune kumat to ki Menggung

              • wudu-ne
                wudun-e
                =wudune

  46. heheheh, saya mulai keranjingan baca adbm sejak klas 6sd dan ngikut terus sampai meninggalnya p. singgih …. hebatnya mulai hari ini 19 feb 2013 serial adm kembali di muat di skh KR tokoh AS ini yg menginspirasi saya bagaimana caranya mengatasi rasa takut hahahaha

  47. Sugeng mbah, kulo maca AdBM wiwit SMP saking warisan bapak dalem almarhum. Saestu jan tresna dalem dateng warisan jawa. Ngobati pulungipun ati ingkang kangen kaliyan bapak almarhum.. Ndherek ngaturaken sembah nuwun amargi crita ingkang mulyo. @nyoba boso kromo,mbah. Lumayan nggih..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 135 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: