GENDUK DUKU

Episode 7

ย Seperti orang yang baru saja sembuh dan rakus makan, begitulah Genduk Duku. Setelah sekian lama tidak merasakan terbang di atas punggung kuda, rasanya ketagihan[1]) saja ia. Setiap pagi setiap siang sampai matahariย condong ke barat, rakus ia menikmati rasa menunggang hewan ningrat itu dengan bebas, tanpa takut tanpa prihatin; mengombak-layang di atas padang-padang rumput luas yang terhampar sampai pasir Pantai Selatan. Atas kebaikan Bendara Eyang Pahitmadu, Genduk dan Slamet mendapat suaka dalam Puri Pahitmadu. Bagi Slamet, ini keuntungan yang luar biasa. Sebab Bendara Eyang sangat gemar makan panggang ikan segar. Untuk itu beliau mempunyai abdi dalem khusus untuk menangkap ikan setiap malam dari Samudra Selatan. Slamet boleh ikut Kang Jalajarot, yakni penangkap ikan khusus Puan Pahitmadu tadi. Kedua orang itu langsung menjadi sahabat karib; sedangkan Genduk Duku, ke mana lagi selain ke kandang-kandang kuda. Agak merana kuda-kuda Bendara Pahitmadu. Maklumlah beliau bukan pria yang sepenuh hati menganggap kuda semacam belahan jiwa. Lagi prajurit-prajurit Puri Pahitmadu bukan jantan-jantan tingkat jago sabung. Seadanya sajalah mereka memelihara kuda dan segala prasarana kereta.Bagi Genduk Duku, ini justru mengasyikkan. Dimandikan, dikerok sampai mengkilau kuda-kuda itu semua, dimanja gula-gula tak lupa. Satu ekor, hadiah dari Panglima Wiraguna kepada kakaknya, masih sangat muda dan liar sekali. Tak seorang pun dari para abdi berani menaikinya. Teranglah jiwa Bima-Sumba yang bergelora dalam Genduk Duku tidak melewatkan kesempatan tantangan sebagus ini. Sudah tiga hari sejak kedatangannya di Puri Pahitmadu, Genduk Duku menggarap kuda satu ini, yang mendapat nama Jeliting.Kemajuan sudah tampak. Jeliting sudah mau mengikuti Genduk Duku ke padang, akan tetapi masih saja ia membelot bila punggungnya mau dinaiki. Pagi itu Genduk Duku sudah berniat untuk nekat naik punggung dan entahlah nanti bagaimana mengendalikan kuda binal itu sekuat mungkin. Bila satu kali ini berhasil, maka teratasilah sudah ambang batas berontaknya. Untuk mempersiapkan itu, Genduk Duku duduk bersila di muka kuda dan mulai mengheningkan cipta, memadatkan seluruh galih dirinya pada sosok Jeliting yang sedang tenang makan rumput.

Masih di tengah renungan, tiba-tiba Slamet datang berlari dan terengah-engah mengatakan, bahwa Den Mas Jibus datang lagi dengan serombongan pengawalnya. Terdengar ia mencari seorang wanita muda belia, yang pernah berpapasan dengannya di muka gerbang Puri Pahitmadu, pada kesempatan terakhir ia berkunjung ke puri. Sekarang ia masih ditahan halus oleh Bendara Pahitmadu dengan macam-macam basa-basi untuk mengalihkan perhatiannya. Tetapi seperti anak kecil ia menginginkan sang Perawan-Dewi-Pematang tadi. Apa-apaan Perawan-Dewi-Pematang, sela Genduk Duku terheran-heran jengkel. Sebab jelas dialah yang dimaksud. Percuma saja Bendara Eyang meyakinkan sang Pangeran satu ini yang terlalu pagi gila-gadis dengan mengatakan, bahwa dia bukan perawan lagi, sudah bersuami dan cuma perempuan dina udik, dan macam-macam lain. Tetapi Raden Mas Jibus tidak percaya sang Dewi-Pematang itu hanya anak udik, sebab cantik sekali, dan roman mukanya khas sekali, dan seterusnya. Sungguh seperti anak kecil yang merengek-rengek minta gulali.[2])

Apa yang harus diperbuat? Bendara Eyang memang sudah berusaha pura-pura memanggil Ni Sukun, dayang tua kepercayaan beliau, agar puaslah hati remaja Jibus itu, dan Ni Sukun sudah bersandiwara, bahwa Genduk Duku sedang diutus ke Trunyam untuk mengambil bekisar yang pernah dipesan oleh Puri Pahitmadu. Tetapi Den Mas Jibus tidak seperti gabus hanya hanyut saja dalam kata manis wanita tua itu. Ia bersiteguh ingin bertemu dengan si Dewi-Pematang yang, kalau tidak khilaf, ia lihat dalam halaman dapur dulu sedang memarut kelapa.

Terkejutlah Slamet ketika istrinya justru tertawa terbahak-bahak mendengar laporannya yang mencemaskan itu. Sungguh edan. Mau apa makhluk lelaki kecil yang sudah begitu kelewat berahi ini? Tetapi segeralah Genduk Duku menjadi bersungguh-sungguh, karena gawatlah bila kali ini yang dihadapi calon putra mahkota kerajaan. Manja lagi. Bagaimana bila dia mengamuk dan….

“Apa akal, Mas, sebaiknya… ?

“Sebaiknya? Sebaiknya kubunuh saja dia.”

Sekarang Genduk-lah yang terperanjat setengah mati. Dibunuh? Penuh pertanyaan ia pandang suaminya yang biasanya lemah lembut, pendiam, dan penurut itu. Tersenyumlah Genduk Duku. Dan dirangkullah penuh gejolak kesayangan suaminya sambil hangat menciumi batu kepala dan pipi-pipinya, sampai Slamet takut memandang ke segala arah. Untunglah sepi semua. Berbisiklah Genduk Duku, “Begitu besarkah Mas Slamet mencintai anak malang saya ini?”

Dilepaskan suaminya dan dengan mata kelinci yang penuh permohonan mengharukan Genduk Duku berbisik, “Saya tidak berkeberatan, Mas, kalau dia terkapar jadi mayat. Tetapi bagaimana nasib Bendara Eyang nanti? Akan menjadi mayat, semua, dan puri seluruhnya terkena dendam menjadi bara dan abu. Kita tidak berhak menjerumuskan Bendara Pahitmadu ke dalam malapetaka, Mas, hanya demi Genduk Duku.”

Slamet hanya mampu diam saja. Betul istrinya. Geram mata baranya memandang ke cakrawala, dada terengah-engah. Dari jauh terdengar gemuruh Laut Selatan. Menoleh ke timur ia memandang sekelompok banteng dan rusa yang sedang memakan rumput. Alangkah inginnya ia menjadi banteng dan menerjang si Jibus dengan kawan-kawan mesumnya itu.

“Kita lari saja, yuk, ke tempat Mbah Legen dan Nyi Gendis,” usulnya marah. “Jadi cukup jauh dari dunia ningrat keparat ini. Bagaimana, kita lari?”

“Ya, sama saja nanti Eyang Pahitmadu lagi yang menerima getahnya. Dan getah istana racun maut.”

Diam mereka berdua. Apa sih yang dimaui si Jibus itu? Ketika masih remaja, ya masih anak besar dulu, Slamet pun ingin tahu lekuk-liku teka-teki tubuh wanita. Tetapi di Telukcikal, hampir semua wanita telanjang dada. Jadi sudah biasa sajalah semua itu. Menarik dan tidak menarik. Tetapi kaum istana ini memang seperti sakit otak. Terlalu rapat perempuan dikurung dan dibungkus. Jadi justru kelewat merangsanglah. Hasrat sih hasrat, mana lelaki tidak suka menikmati tubuh wanita. Tetapi seperti Jibus ini, apa tidak sakit namanya? Dan siapa akan rela istrinya dipermainkan? Oleh anak-anak lagi. Menusuklah rasanya semua ini.

Slamet merasa sangat sadar pada saat seperti ini, apa arti kekuasaan. Coba bila Jibus anak rakyat biasa. Pasti sudah dia hajar. Tetapi hanya karena konon beliau ini calon putra mahkota, sampai Bendara Eyang Pahitmadu, kakak Panglima Besar Mataram pun, tidak berani melarangnya terang-terangan. Maka silakan, Den Bagus Jibus-Trasi-Busuk! Tetapi seandainya hanya main-main saja? Hanya itu? Kan dia masih kecil? Tidak sungguhan seperti pria dewasa. Bagaimana? Tai sapi! Kura-kura anak buayanya itu harus dipotong. Biar namanya Jibus dan anak raja, tetapi itu tidak berarti dia boleh-boleh saja menjibusi setiap gadis yang dijumpainya. Meraba-raba dada? Tidak! Istrinya bukan sapi perahan. Tetapi bila cuma mencium saja?

Orang Jawa tidak pernah mencium seperti orang-orang bule di Jepara itu. Tetapi kalau sendirian dan tersembunyi, nah, siapa tidak berbuat? Anjing kucing pun begitu. Tetapi manusia kan bukan cuma keanjingan atau kekucingan. Tidak. Itu pun tidak akan dia relakan. Tetapi seandainya putra mahkota itu cuma ingin mencium sayang? Cium pujaan? Cium anak, walaupun anak sakit atau sinting? Apakah Slamet akan membahayakan nasib Genduk Duku atau Bendara Eyang hanya karena bersikeras, istrinya tidak boleh dicium oleh Putra Mahkota? Apakah seharusnya ia justru harus bangga?

Pusing, sungguh memusingkan hal-hal semacam ini. Alangkah sederhana dan lebih mengasyikkan menjala tongkol atau bandeng. Tetapi Slamet pun tahu, bahwa hidup bukanlah sekadar menjalatongkol atau bandeng. Ya, kekuasaan, ini masalah kekuasaan. Kekuasaan orang terhadap orang lain. Sangat mengiris-iriyiah gagasan tentang penyalahgunaan kekuasaan. Orang Jawa priyayi istana, apalagi petani, lebih suka menyerah sumarah bila menghadapi kekuasaan. Tetapi Slamet bukan orang istana. Dia bukan pula anak pantai, dia putra lautan. Dia menghirup angin kemerdekaan sejak bayi. Dia nelayan, kawan ombak gelombang dan angin badai. Bukan orang istana. Bukan juga petani. Petani pun masih harus dibedakan, petani mana. Warga desa perdikan Kedu, bukan petani Mataram atau Pajang. Petani Kedu, seper’ti bahasa dan tingkahnya, kaku, persegi, tukang serodok, lebih suka jadi tuan hutan lereng gunung daripada bangsawan kota. Batu gunung watu item mereka, bukan batu bata merah keropos dari kota-kota ngarai. Ya, betul, tidak ada satu pun Senapati-ing-Ngalaga yang berani menuntut para tani Kedu yang seningrat sikap sekian gunung api itu untuk berwajib setor pasukan bila Susuhunan Mataram berangkat ke medan perang. Apalagi manusia pantai. Tidak! Slamet dan istrinya datang di Mataram bukan untuk dipermainkan oleh sembarang Jibus. Dia dipaksa ke selatan ini. Bukan atas kehendaknya sendiri.

“Kok diam, Mas? Sedih?”

“Sedih memang. Tetapi tak menyerah.”

“Kita jangan menyerah Mas. Hanya bagaimana menyelamatkan Bendara Eyang Pahitmadu.” Diamlah lagi suaminya.

Akhirnya, “Sebaiknya kita tanya saja kepada beliau, apa yang harus kita perbuat.”

“Ya, itu baik. Beliau tidak akan menyerahkan kita ke dalam kesewenangan anak kecil.”

“Anak besar pun tidak bisa seenaknya saja mempermainkan orang. Biarpun kita ini hanya orang kecil.”

Tiba-tiba suaminya memanjangkan lehernya. Mata nelayannya yang awas sekali, terbiasa meneropong ke kejauhan, melihat bahaya. “Lekas, Nduk!” teriaknya, “Mereka datang. Lari!” Genduk pun melihat kepulan debu di kejauhan. Tanpa berpikir panjang dia berlari ke Jeliting yang masih tenang makan rumput, dan langsung melompat di atas punggung kuda, yang tentu saja terkejut dinaiki. Bagaikan anak panah, kuda dan penunggangnya meloncat lari kencang menjauh. Hanya dengan tumitnya menggenggam tubuh kuda dan berpegangan pada rambut binatang itu, Genduk Duku bertahan mati-matian agar jangan sampai dilemparkan oleh kudanya yang beringas. Ia masih sempat mengambil kebijaksanaan untuk membelok ke utara, agar suaminya terhindar dari perjumpaan dengan kaum istana itu; dan dengan jalan busur besar, menghilang di balik desa paling dekat. Kuda dilarikan begitu rupa, sehingga seolah-olah jarak antara dia dan pengejarnya kelihatan semakin dekat, padahal justru menjauh. Begitulah para pemburu perempuan itu tolol tergoda mengejar Genduk dan sekaligus menjauh dari Slamet; mengejar kuda dengan penunggangnya yang sungguh gila menakjubkan itu.

Slamet berlari ke pantai, dan dengan perahunya dia mencebur ke laut, melawan ombak-ombak yang menghempas pantai. Mengayuh dan mengayuh ia, sampai terlewati gelombang-gelombang pantai dan sampai di perairan yang lebih tenang. Cepat layarnya ia kembangkan, dan dengan pertolongan angin yang kencang; melajulah perahu ke barat, ke arah Genduk Duku tadi berlari. Genduk Duku sudah mengenal layarnya yang bertanda matahari dan bulan; dan bila ia jeli, mereka dapat saling bersua di tempat sepi di pantai yang terpencil. Sesudah itu akan dipikir lagi, melangkah ke mana. Gigi-gigi saling menggigit rapat dan dengan hati panas Slamet berusaha agar perahu kecilnya jangan terlempar oleh gelombang- gelombang yang mulai menggunung menanti air pasang. Akan dia buktikan, dia bukan gabus seperti Jibus.

“Kalian harus menerkam kenyataan. Jangan menghindari-nya,” demikian pesan Bendara Eyang Pahitmadu kemudian. “Anak seperti Den Mas Jibus ini manja. Bukan salahnya. Setiap istana memanjakan tuan-tuan kecilnya. Anak manja biasanya pendendam. Dia harus kauyakinkan, Nduk. Jangan kau lari menjauh belaka. Cobalah cari siasat.”

“Bendara Eyang berhati budiwati. Mudah memaafkan sesuatu yang menurut pandangan umum tidak baik. Tetapi bila beliau sang Jibus mendekat, pastilah Genduk Duku tidak mungkin akan menahan tangan untuk tidak menampar beliau di wajahnya.”

“Oh, jangan begitu caranya. Nanti kalian dan kita semua dalam puri akan dibunuh oleh ayahnya.”

“Maka sudilah Bendara Eyang jangan menitahkan si Genduk Duku mendekat pada beliau. Genduk Duku orang kodo mbrengkelo[3]) dan mudah marah meledak.”

Bendara Pahitmadu menarik napas panjang.

“Ya memang kau begitu. Dan justru itu yang kusenangi dalam dirimu dan terutama dalam puanmu almarhumah Mendut. Aku senang Srikandi-Srikandi yang kadang-kadang menghajar kaum lelaki. Resi Bisma memang sulit dipersalahkan, karena anak panah yang membunuh Dewi Ambika terlepas tanpa sengaja dari busurnya. Tetapi apa guna menakut-nakuti segala? Kesalahan Bisma bukan karena dia berluhur budi ingin wadat tak menikah demi saudara-saudaranya, akan tetapi dia tidak mau sedikit pun mencoba memahami kewajaran pikir dan perasaan Dewi Ambika. Perempuan sudah dinikahkan kepada lelaki, kan sudah nalar dan haknya dia meminta tempat di sisi suaminya. Kalau Bisma tidak suka didekati wanita, dia harus pergi ke Kahyangan dan mengadukan soalnya kepada para dewata. Tetapi jangan pihak wanita yang dijadikan korban. Ya, Resi Bisma biar resi luhur budi sekalipun perlu dihajar juga.”

“Apa Raden Mas Jibus perlu dihajar juga, Bendara Eyang Pahitmadu?”

“O ya, dia juga. Tetapi sekarang cuma bagaimana caranya.”

Genduk Duku tersenyum. Kedua manik matanya bersinar tertuju ke mata loyang puannya. “Tetapi ini sulit.” Dan panjanglah napas wanita tua itu. “Sebab di belakangnya ada seorang Senapati-ing-Ngalaga Sayidin Panatagama. Mendut-mu pernah menghajar Panglima Wiraguna. Ya, biar Wiraguna adik saya sendiri, dia perlu mendapat pelajaran, dan ia sudah mendapatnya. Tetapi ya, pelajaran biasanya mahal. Mendut dan kekasihnyalah yang harus menjadi tumbal.”

“Itu tidak adil,” kata Genduk Duku.

“Memang kau benar. Itu tidak adil. Tetapi itulah, kekuasaan. Tidak menimbang mana adil dan tidak adil. Kekuasaan seperti angin topan saja. Menghancurkan apa saja yang menghadang di jalan. Oleh karena itu kita harus bijaksana menangani si Jibus. Dia sangat manja, anak raja kuasa, dan orang-orang di sekelilingnya penjilat semua. Hati-hati. ”

“Kalau begitu, perkenankanlah hambamu Duku untuk sementara minta diri dan bersembunyi di tempat yang cukup jauh saja. Sebab hambamu Duku khawatir, bila beliau datang lagi dan minta hal-hal yang bukan-bukan, tangan abdimu tidak dapat dikendalikan, dapat melayang ke wajah beliau. ”

“Apa tidak dapat dengan bahasa halus misalnya?”

“Dengan bahasa halus tidak mungkin juga, Bendara Eyang. Semakin kita menunjukkan kelemahan, semakin nekat dia.”

“Ya, kau memang anak cerdas. Tetapi tidak semudah itu, tidak sesederhana yang kau bayangkan. Kekerasan hanya menelurkan kekerasan lain. Coba, saya pikir dulu, apa yang baik bagi kalian berdua. Tolong, jari-jari kakiku kau tarik sebentar, biar enak. Kok kaku sekali seluruh tubuhku. Ya, sudah semakin tua, semakin mudah lelah eyangmu, Nduk. ”

Genduk Duku memenuhi permintaan wanita tua yang begitu baik telah melindungi mereka berdua. Sayang, sayang Ni Semangka, pengasuhnya dulu, sudah tak mungkin lagi diminta kehadirannya. Ternyata rasa sayang Ni Semangka kepada Rara Mendut sangat mendalam. Dari luar tampak sumarah, tetapi dari dalam ia telah hancur. Tetapi sebaiknya begitu sajalah. Ni Semangka dan Mendut-nya tak terpisahkan. Siapa tahu, wanita penuh keibuan dan anak dalang mistik punya saran dan akal? Ah, selama nama suaminya Slamet, semogalah semua akan selamat juga.

Malam itu Genduk Duku menambatkan Jeliting pada sebuah pohon sawo kecik di keputren, di dekat ruang tidur yang disediakan khusus untuknya; rumah panggung kecil di sudut halaman yang dari dunia luar hanya dibatasi oleh sebuah dinding bata merah, berpilar-pilar dengan bunga teratai di pucuknya; halaman pasir sejuk serba terbayangi oleh pohon-pohon sawo kecik. Kemudian Genduk menggelar tikar mendong berpola silang-silang nila di lantai emperan panggung terbuka. Ia meletakkan pelita minyak kemirinya di sudut dan bebas leluasa membaringkan diri di atas tikar dengan hanya berkain tipis terikat di pinggang. Malam itu pengap dan nikmatlah berbaring sebebas itu. Rambutnya terurai menggelombang, sebagian meriak di lantai yang di sana-sini telah ditaburi bunga-bunga melati dan kembang mawar. Wajahnya diboreh harum seperti tubuh atasnya juga, sehingga semerbak mewangi terang-terangan “sangat menyolok hidung. Pelita kemiri tadi menerangi wajah dan dada Genduk Duku yang menggunung di bawah kemben kain, yang oleh permainan tari cahaya mempesona nyaris gaib, sehingga suasana berkadar pukau himbau asmara secara khas. Tetapi Genduk Duku sama sekali tidak merasa gaib di dalam hatinya, bahkan sebetulnya sangat berdebar-debar. Gila semua ini. Tetapi apa boleh buat. Dunia istana bukan pantai damai kaum nelayan yang terhibur tari-tari tanpa dosa dari pohon-pohon kelapa, dengan gelagah-gelagah bambu bersiteran macapat;[4]) kendati sama atap langitnya yang berbintang intan. Genduk Duku, terutama Slamet yang belum pernah menghirup suasana istana kaum bangsawan, harus belajar bergaul juga dengan kenyataan yang tak pernah termimpikan; seperti yang diistilahkan Bendara Eyang Pahitmadu, menerkam persoalan pada tengkuknya.

Seperti sudah dapat diduga semula, di malam pengap itu Raden Mas Jibus datang menyelundup lagi. Anak ini kalau sudah terkena napas nafsu kenikmatan selalu penasaran. Ayahandanya sendiri konon sangat prihatin melihat perkembangan putranya yang paling beliau sayangi. Akan tetapi semua kenakalan putranya hanya dianggap gejala pancaroba biasa, seperti umumnya anak yang sedang mendewasa dan yang sebentar lagi akan surut pula. Dan jelaslah, siapa abdi dalem yang berani merisikokan lehernya hanya untuk mengkhotbahi seorang calon putra mahkota yang telah terbiasa termanja?

Duku telah mencoba makan beberapa manisan pala agar dapat reda ketegangannya dan dapat tertidur sedikit. Akan tetapi tentulah itu sia-sia. Dalam hati ia berdoa dan memanggil-manggil puannya Rara Mendut, agar ia bisa tabah mengatasi percobaan ini. Jorok sebetulnya semua ini. Anak yang dua pasang musim lebih muda ingin main-main dengan wanita yang lebih tua, yang sudah menikah. Seandainya nasib Bendara Eyang yang begitu baik tidak perlu dipikirkan, memang ada baiknya Slamet dibiarkan mempergunakan goloknya. Dengan perahu layar mereka berdua masih bisa melarikan diri dan menghilang di laut, muncul di suatu bandar, tinggal pilih yang mana yang ada di seluruh pantai Pulau Jawa nan luas ini. Terpaksanya lari ke Banten yang masih menjadi lawan Mataram. tau ke Betawi bisa juga. Akan tetapi teranglah Genduk dan Slamet tidak dapat membiarkan orang budiwati mereka menderita serambut pun.

Hampir saja Genduk Duku hanyut dalam alam tak sadar, ketika tiba-tiba bunyi jengkerik-jengkerik di sekitar rumah Genduk berhenti berbunyi semua. Inilah saatnya. Genduk Duku sengaja meliukkan tubuhnya dan menghadapkan diri ke pelita. Suatu bayangan manusia kecil keluar dari kegelapan dan menghampiri rumah panggung. Genduk Duku pura-pura tidur. Maka bayangan tadi, yang siapalagi kalau bukan Raden Mas Jibus, hati-hati naik tangga dan membaringkan diri tertelungkup di muka Genduk Duku. Jari-jari tangannya maju dan menjamah tepi kain yang membalut dada Genduk. Pada saat kain itu tersingkap, tegak duduklah Genduk Duku dengan mata masih tertutup. Alangkah terkejutnya Raden Mas Jibus. Spontan ia mengundurkan diri sedikit. Dengan membiarkan dada terbuka, Genduk memegang tangan Raden Mas Jibus yang masih pucat tersihir suasana, tak berdaya. Masih seolah-olah mata tertutup, tetapi sebetulnya mengamati Raden Mas Jibus dan semua gerak-geriknya lewat antara bulu-bulu matanya, Genduk Duku, masih erat memegang tangan lawannya dan memaksakan diri tenang mengantarkan tamu yang telah ditunggu itu menuju ke Jeliting dengan langkah-langkah seperti melayang. Raden Mas Jibus serba terbengong seperti linglung hanya mengikuti saja langkah-langkah Genduk Duku yang sambil berjalan membereskan kainnya dengan tangannya yang lain. Maka seperti tersihir pula Raden Mas Jibus diangkatnya menaiki punggung kuda. Genduk Duku naik punggung kuda Jeliting juga di belakangnya. Tangan kiri merangkul sang pangeran kecil, tangan kanannya mengendalikan kuda pada rambutnya… ke luar halaman, ke luar gerbang, masuk ke dalam kegelapan.

Sedikit demi sedikit Jeliting disuruhnya berlari, tetapi tidak cepat. Selama perjalanan Genduk Duku membisik ke dalam telinga Raden Mas Jibus, “Adikku, adikku tersayang. Sudah lama kau kunanti, Adikku,” dan kata-kata cengeng sejenis itu. Pangeran Jibus rupa-rupanya lunglai menikmati pengalaman asmara serba luar biasa aneh ini, apalagi bau harum semerbak yang membelai hidungnya menambah perasaan mistik yang penuh kenikmatan. Malam tidak sangat gelap, dan dalam cahaya beribu bintang dan jutaan kunang-kunang, jalan cukup terang. Raden Mas Jibus membiarkan diri diganja dari belakang dan dirayu. Luar biasa pengalaman diajak main cinta oleh seorang prewangan.[5]) Prewangan?

Ya, begitulah kata Eyang, kakak Panglima Wiraguna itu, Yang Mulia Pangeran Sayidin harus maklum, bahwa si wanita yang Pangeran lihat di muka gerbang dulu itu adalah anak prewangan. Ya, dari Pranaraga. Ibunya prewangan dari pulau jauh, lebih timur dari Bali, dan ayahnya warok. Jadi maklumlah.” Bendara Pahitmadu telah mencoba untuk membujuk sang pangeran remaja untuk mencari gadis lain saja yang lebih biasa, akan tetapi Raden Mas Jibus percuma disebut Jibus bila tidak mencoba pula mengenyami anak prewangan. Umur lebih tua tidak soal, bahkan justru di situlah tambahan pesona gaibnya. Bukankah pada umur Raden Mas Jibus sekarang ini, setiap anak lelaki sedang mendewikan wanita pilihan dambaan yang terpuja lagi penunggang kuda? Nah, bukan hanya Dewi Pematang dia, tetapi Dewi. Padang-padang Asmara Gaib.

Dengan tegas tanpa kekeliruan sejerami pun, Genduk Duku mengarahkan langkah-langkah Jeliting menuju ke suatu kuburan.

Agak terlambat Raden Mas Jibus sadar, bahwa mereka sudah terlanjur masuk ke dalam suatu kuburan gelap penuh pohon kemboja dan nisan-nisan angker. Tetapi setelah sadar ia dibawa ke mana, terperanjat ia berteriak ketakutan, meloncat dari kuda dan lari pontang-panting serba bingung. Entah ke mana, pokoknya ke luar kuburan. Masih untung tidak pingsan kaget. Ya, kalau ini, kalau ini, sama sekali tidak diduganya. Mati, sungguh mati! Ke kuburan. Berkali-kali ia terjerat akar, menyandung nisan, atau terperosok ke dalam lubang. Tak sadarkan diri akhirnya Pangeran Jibus masuk lubang makam yang lapuk. Langsung dua sosok bayangan gelap keluar dari antara pohon-pohon kemboja, dan mengangkat si penggemar prewangan itu ke luar lubang. Diangkatnyalah tubuh kecil ramping itu dan digotong ke luar, dimasukkan ke dalam tandu yang sudah tersedia. Dua sosok hitam itu pulang kembali menuju ke Puri Pahitmadu.

Tetapi Genduk Duku pun rebah di tanah. Begitu tegang saraf-sarafnya. Jera, sungguh jera melakukan cara penyelesaian semacam ini. Sesosok bayangan lain segera menuju ke tempat Genduk Duku yang rebah itu. Slamet. Dipeluknya istri tersayang dan digendonglah tubuh teguh tetapi semampai itu melekat di dada. Di tengah jalan barulah Genduk Duku siuman, dan tertatih-tatih, dibantu Slamet, mencoba menuju sebuah perahu di tepi pantai. Pada kapyukan pertama air laut, Genduk Duku benar-benar bangun dan sadar segar. Tanpa membuang waktu sedikit pun, bersama-sama mereka mendorong perahu itu ke air. Hati-hati Genduk Duku naik perahu di penghulu, dan dengan kekuatan yang meyakinkan sekali lagi Slamet mendorong perahu masuk ke laut, meloncat ke buritan, dan dua kayuh mengayun, mati-matian melawan ombak laut malam. Sekali di luar barisan-barisan gelombang pantai, Genduk Duku melemparkan kayuh ke dasar perahu, membungkuk dan mencoba beristirahat. Basah kuyup oleh air asin berbuih kedua orang muda itu. Tetapi juga basah kuyup dengan asa syukur dan kebahagiaan, menghayati pengalaman bahaya hidup bersama dalam duka dan derita.

[1] sangat ingin, sudah seperti tak tertahankan rasanya

[2] nama penganan dibuat dari air gula

[3] lekas marah

[4] main kecapi sambil mendendangkan tembang Jawa

[5] perempuan pengantar hantu/tenaga gaib

————————–

he he he …, Genduk Duku kecanduan naik kuda sampai sore hari

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Telah Terbit on 16 Mei 2015 at 01:13  Comments (103)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/trilogi-yb-mangunwijaya/genduk-duku/trackback/

RSS feed for comments on this post.

103 KomentarTinggalkan komentar

  1. Episode pertama Genduk Duku telah diwedar

    silahkan berburu rontal dan bergojeg dan berburu rontal sebagaimana bertahun yang lalu, ketika masih menjadi cantrik aktif di padepokan ini.

  2. test…..
    kenapa komen saya tidak bisa masuk daftar komen?

    Hadu….
    kenapa ya?

  3. Grotal-gratul, grayah-grayah

  4. Serasa seperti nyantrik pertama kali, lupa cara nyarinya

  5. ToPan Siap Hadiiirล• Pakde Satpam. Apa kabar Pakde Satpam dan Eyang Arema ?. Semoga Selalu Sehat dan Banyak Rezekinya Amiiiin.

  6. Pakde Satpam. Kalau pake android apa bisa dicari dan download ya. Sudah berkali kali di plototi di ubek ubek kok ra ketemu ya hahahhhhhh

    • Sugeng enjang . . . Selamat pagi, Ki Adji.

      Saya tadi sudah mencoba di hp dan tidak bisa Ki, kecuali kalo di hp Ki Adji ada djvu nya, baru bisa dibaca, karena formatnya djvu, bukan pdf bukan pula ms-word.

      Kalo soal rontal diumpetin dimana sama Anakmas Risang, Ki Adji saya kira sudah pengalaman tahunan . . . he he he, tlateni ae suwe-suwe rak ketemu . . . gampang kok, gak susah.

  7. Assalamu’alaikum wr wb
    Salam sejahtera buat kita semua.
    Alkhamdulillah telah kita mulai lagi mengangkat kisah cerita anak bangsa berupa Novel Serial Roro Mendut.
    Serial karya budayawan YB Mangunwijaya ini berkisah tentang kejatuhan martabat seorang ksatria perang, seorang Tumenggung di Zaman Pemerintahan Kesultanan Mataram Era Sultan Agung Hanyokrokusumo.
    Seorang Panglima Perang yang sangat disegani oleh teman dan lawan ini yaitu TUMENGGUNG WIROGUNO, tergelincir hanya karena kecantikan seorang wanita rakyat biasa, RORO MENDUT.
    Sayangnya sang perawan jelita tidak bersedia disunting oleh Ki Tumenggung dengan tawaran hidup kamukten. Ia lebih memili mati bersama kekasihnya PRONOCITRO, seorang nelayan dari pantai utara.
    Kisah tragis di atas berlanjut dengan sebab dan akibat dari peristiwa tersebut di buku kedua dan ketiganya yg sudah dapat diikuti disini.
    Tapi yang justru menarik adalah latar belakang sejarahnya. Banyak yang sangat awam dengan sejarah Mataram di Era akhir Sultan Agung yang digantikan oleh putra mahkota Sunan Amangkurat I, yang dikenal brutal demi menuruti ambisinya yg gemar melahap betis indah. sampe demi menutupi kebobrokannya, dia tercatat telah membantai ratusan Kiai dan Santri di jamanya. Bagaimana jalan ceritanya, temukan di serial novel ini.
    Hanya sayang sekali, Genduk Duku ini sudah Seri II. Buku Seri I berjudul Roro Mendut, belum ditemukan dalam koleksi. Sedangkan mencarinya di luar sangat jarang diketemukan.
    Apabila diantara sidang pembaca ada yg memiliki, atau kebetulan menemukan di toko buku. mohon perkenan untuk di informasikan di sini.
    Mohon judul di atas bukan APDM, tapi RORO MENDUT, novel serial sejarah YB Mangun Wijaya.
    Monggo.

  8. Assalamu’alaikum Wr Wb,
    Salam sejahtera untuk kita semua,
    Selamat pagi . . . Sugeng enjang,
    Sanak kadang adbm semua . . . .

    Anakmas Risang kok teganya-teganya menyanyi . . . he he he.
    Sementara kadang yang gak sabaran maunya cepet membaca, ingak-inguk rana-rene, nang endi leh ndekek rontal.

    • kok komentare menunggu moderasi,
      ra entuk mlebu po ya . . . . . hiks.

  9. Pasti bisa…hik..megkuh titik noda itu…

  10. mantappppp….. tinggal cari roro mendutnya…

  11. Nunut ngiyup Ki ….

  12. Roro mendutnya di bawa lari pronocitro Ki … Salam buat poro Empuh2 Adbm/Pdls …

  13. Wis di ubek2 ora ketemu .. Klau PC cepat klau Hp apa bisa ya … PakLik Satpam mohon bantuannya ..

  14. Ho android juga bisa ki….titik bernoda kata mas satpam…hikkk tidak boleh menyerah

  15. Sugeng sonten Anakmas Risang

    Lha wong episode 2 sudah wedar dari tadi, po ya belum ada yang ngunduh . . . he he he.
    Mungkin sanak kadang perlu bahasa sasmita dari P. Satpam, memang diperlukan ketelitian dan kejelian.

    Sanak kadang sedaya . . . mangga episode 2 sudah gogrok, tinggal ngunduh saja.

    • Sugeng sonten Panembahan
      he he he …., kala wau kesupen terus buru-curu wedaran, lan terus nglanjutaken tugas malih.
      ngapunten…

  16. Hiks…..mas Satpam

    • kata bang haji mas Satpam…terLALU

      • he he he …..
        gandok dimanapun kalau tidak ada Ki Menggung Gembleh dan Ki YP, kayaknya bagaimana…. gitu.

        Monggo Ki

        • Betul Lik Satpam… seperti lontong balap tanpa lontongnya…

          • Betul ki AM….
            Seperti motor balap tanpa motornya

  17. Pusing…
    bagaimana memunculkan komentar terakhir dalam daftar

    mohon pencerahan

    • Lho….mas satpam kePUsingan toh

      Cantrik kira memang sengaja tidak
      mas Satpam tampilkan

      • Gampang mas Satpam…hiks

        Kirim panah sanderan nti cantrik
        bantu dari ujung wetan

  18. Alhamdulillah lagi bisa mlebu senthong sebelah sini…

    lampune masih mati, sehingga harus meraba-raba mencari rontal ala genderuwo picek… semoga pas ‘meraba’nya…

    • Ketemu ki AM….bukan hanya diRABa
      zoom juga perlu ki, saestu

  19. nakmas satpam apa eps.3 siap digrayah ?

    • likmas Satpam apa eps.4 siap diwedar?

      • dereng, mbenjang enjing

    • sampun …..

  20. Alhamdulillah wis gak usum duku nanging iso moco Genduk Duku semudah memijit wohing ranti.

    • Selamat malam mas Satpam… ๐Ÿ™‚

      Selamat menyiapkan wedaran rontal
      lanjutan.

      • di padepokan sini….cantrik siap
        bertanding lawan mas Satpam

        Kuat mana yang baca apa mas Satpam
        yg nyiapkan rontal

        • hayoo,,,,,,,,,

          • Priit…format text mas Satpam

            • yg kalah angkat
              tangan kanan.
              tanda kiri cukup
              masukan saku
              belakang ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

            • Kudu sesuai jadwal no Ki Menggung.

              • Jadwal ber-
                kunjung

                • J
                  A
                  D
                  W
                  A
                  L

                  A
                  M
                  B
                  I
                  L

                  J
                  A
                  T
                  A
                  H

                  R
                  A
                  N
                  G
                  S
                  U
                  M

              • Monggo
                lha wong wis ket mau kok
                he he he …..

  21. Episode 5….belum ada cantolan
    Episode 6….masih dalam penggorengan

    Episode 7….belum diracik mas Satpam
    Episode 8….nunggu antrian wedar

    • Usul mas Satpam,

      Wedaran rontal nunggu pasukan OGrog
      pada ngumpul ng padepokan.
      Tahan dulu wedaran sp cantrik mentrik
      kemringet ngiler rontal lanjutan.

      Ini tadi usulan ki Trupod sesepuh
      padepokan….ki gundul sakdermo
      menyebar luaskan

      Saestu…TENAN

    • 5 wis kok

      • 5 wes nyantol….tinggal srondol

        • Matur nuwun mas Satpam

          • Nti malam cantrik kancani
            Melek-an

  22. Absen dulu aahh…..

    Baru kali ini mbuka gandok Genduk Duku, karena berbagai hal..
    matur nuwun sanget Pak Satpam, Bopo Panembahan, dll atas peluncuran rontal yang baru

  23. selamat siang

  24. Episode 5 : djvu dan pdf

    teks belum dimunculken

    • pelan2 mas Satpam…ga usah terburu
      buru pasang “teks”

      yg penting wektu cantrik sambang lgi
      nanti “teks” sudah dicantolkan…hehe20x

      • Malam mas Satpam

        • Hadir…sambang padepokan

          • he he he …, monggo…..

            • Hehehe…matur
              nuwun mas Satpam

              • Sugeng
                Dalu

  25. Hadir….mas Satpam

    • Sugeng dalu kadang genduk DUKU

      • Otw padepokan sebelah sengkaling

        • loh…, padepokan sebelah Sengkaling yang mana? UMM, UIN, Polres?

  26. HADIR…..mas Satpam

    • monggo….
      penghuninya di sini hany Ki menggung sendiri
      satpam juga jadi males piket disini
      he he he he he he he he he he (lama lama tidak terdengar)

      • Males….pertanda belom makan
        mas Satpam…kleru Mules ding.

        AYO SEMANGAT…mumpung yg
        laen pada belom datang.

        • berDUA…..sapa takut ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

          • AYO mas SATPAM….kita buat padepokan megah.

            Megah : menawan gagah
            tur bikin betah para wanita
            seluruh tlatah jawa ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

  27. HADIR….sugeng dalu

    • mas Satpam….kemana kah panjenengan

      • cantrik dewean….ENAK tenan

        • urun saran….kenapa komen di genduk duku tidak nampak pd

          KOMENTAR terakhir padepokan
          ini mungkin yg bikin gandok jarang ada yang singgah padepokan

          • masa sih mas Satpam ga
            bisa otak atik membetulkan

            • Sampe judeg Ki, tidak berhasil.
              Masih dicoba otak atik lagi.

  28. Alhamdulillah, terima kasih mas
    Risang, tau tau sdh episode 8.
    Apa mas Risang sdh baca ceritanya?
    Latar belakang sejarahnya menarik, yaitu awal mula kita bersentuhan dengan barat secara langsung, dan juga kedzoliman Amangkurat 1yg jarang diangkat ke permukaan.

    • Sambil konversi dan edit teks Ki, satpam sempat baca.

  29. Njlekethek,
    setelah hampir putus asa, akhirnya ketemu penyebab tidak munculnya komen terakhir.
    Hadu…..
    Bobo ah….

  30. Wah…jebul saya ketinggalan….padahal yang cepat dapat yang lambat ketinggalan….Sugeng sonten sedoyo…!

    • benul ki Karto….yg cepat dapat duluan
      yg lambat sabar nunggu dum2an

      • Benur..Ki Tmg.YP..ngantri..

        • Ngantri sebentar….pas dibelokan cantrik serobot antrian,

          • Ati2 Ki Menggung….keseringan nyrobot ntar…bengkong lho ๐Ÿ˜€

            • Bengkong sekali kali asik ki Menggung

              BengkongAN…he 50x

              • Selamat malam…..sepi banget

                • S
                  E
                  R
                  E
                  M

                  Hi
                  Hi
                  Hi
                  Hi

              • hem….serem deh ๐Ÿ˜ฆ

                • Se
                  Re
                  M

                  Me
                  Le
                  K

                  Me
                  Re
                  M

              • Serem…..seneng merem ๐Ÿ˜€

  31. tes…..masuk komen, komen masuk

    • tes…..yang keluar masuk ๐Ÿ˜€

      • Sugeng dalu ki Kartojudo

        • Kecipir mrambat kawat…wes suwe ki Karto ora liwat

          • Sugeng manuk..eh..masuk Ki Gundal gandul ๐Ÿ˜€

            • Hiks…matur nuwun ki Kartojudo

              Suwe ora jamu…jamu pisan godhong kates
              Suwe ora ketemu…ketemu pisan tes testes

              • Hehehe…dak kiro ketemu pisan ketemu….kates ๐Ÿ˜€

              • Sanes
                kates
                ki….

                kutes
                kusuka
                kates

  32. HADIR…. mendhisiki diri sendiri

  33. he he he ….

    gandok ini sepertinya rumahnya Ki Menggung berdua (KiGundul dan Ki Kartoyudo sendiri)

    • Bener mas Satpam…terkadang kita perlu menyendiri buat mengendapkan serta menenangkan diri dari hiruk pikuk ramainya hohohihi

      • Bener mas Satpam…terkadang kita …merasa sedih

        • Sedih dipagi hari…seneng disore hari

          • Sedih disiang hari….sueneng dimalam hari

            • Sugeng Riyadin Ji Gundul,mas Satpam…..
              maaf lahir batin……..

              • Njih Ki Menggung
                sami-sami nggih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s