GENDUK DUKU

Episode 6

Dengan bekal sedikit dari Taji, dan setelah berpisah hangat dari Pestih, Yanuring dan tetangga, Slamet dan istrinya menuju ke barat, nenepi Hutan Beringan, memintas ke arah Pingit. Tetapi di Pingit kedua orang itu keluar dari jalan pedati. Melewati pematang-pematang sawah yang serba subur loh jinawi[1]) dan desa-desa serba kartaraharja[2]) mereka berpedoman pada tembok batu besar di kejauhan, warisan zaman sebelum Panembahan Senapati yang sudah mulai rusak di sana-sini, terus ke selatan; lalu membelok ke barat lagi, berjalan masih dua pal ke arah muara Sungai Bedog. Padepokan yang mewah, tempat tinggal Bendara Eyang Pahitmadu bagaikan pulau kelapa di tengah lautan padi yang sudah berat berbutir-butir lezat.

Seperti dulu, pintu gerbang tidak terjaga dan terbuka. Lebih tepat kelihatannya saja tidak terjaga. Sebab priyayi berpangkat tinggi seperti Bendara Pahitmadu, kakak Panglima Besar Mataram, tidak akan pernah serba lepas lindung, boleh dirampok begitu saja oleh setiap hulubalang serakah. Tetapi sebelum mereka masuk ke pintu gerbang pondok puri yang sudah nampak dari kejauhan itu, Genduk dan Slamet mencari sebuah pancuran air dulu, yang tidak sulit ditemukan. Di mana ada pohon besar di tengah sawah dan ada selokan yang mengalir berlimpah, biasanya sumber air didapati. Mereka mandi sedap segar dan Genduk Duku keramas rambut. Di bawah pohon nyamplung yang teduh oleh daun-daun berbentuk bagus sekali dan bernuansa aneka hijau, dengan buah-buahnya yang mirip kelapa mini, yang sering dibuat permainan anak-anak di Puri Pati nun dulu, Duku mengajak suaminya menikmati nasi berlauk tempe bungkil khas Kedu, yang sangat disukai Genduk Duku. Tempe bungkil mengingatkan si Genduk kepada Mbah Legen dan Nyi Gendis. Slamet telah berbulan-bulan menderita karena tidak dapat makan ikan asin, akan tetapi bungkil bawaan dari pasar Taji nikmat juga bagi si nelayan.

Kedua orang itu menunggu sampai matahari sudah agak condong tiga perempat di barat. Kemudian Duku mulai merias diri. Rambutnya yang sudah kering disisirnya halus dan dibasahi minyak kelapa sedikit. Kain yang paling bagus dibalutkannya luwes pada tubuhnya yang sudah mencitrakan lahan mengombak yang mendambakan padi kehidupan baru. Setagen jingga tua melilit ketat di perut yang belum lagi mau meninggalkan masa remajanya, sedangkan kain bagian atas ditata lipat menutupi buah dada. Punggung dan bahu dibiarkannya manja dibelai angin. Slamet pun bertelanjang dada dengan kain berlipat melingkar pantat yang membiarkan celana hitamnya menandaskan kebolehan kaki laki-laki kuat kenyal yang tampak bersih pula, walaupun sewarna tanah basah, jujur tak mengingkari kedudukan pemiliknya. Jarang Genduk Duku melihat suaminya begitu rapi berbusana, apalagi dengan ikat kepala wulung biru hitam dengan bintik-bintik hijau di ujung-ujungnya. Cemerlang mata bangga Genduk Duku menumbuhkan senyum jantan pula pada wajah Slamet.

Nah, siaplah mereka menghadap Bendara Pahitmadu. Semua untung-untungan. Bendara itu sudah tua sekali, dan seandainya beliau tidak mengenal kembali Genduk Duku-maka ya, besarlali risikonya mereka akan dicemoohkan. Seandainya begitu, mereka masih dapat meneruskan perjalanan yang cukup jauh ke Sungai Bagawanta, lalu ke Jali. Pasti Mbah Legen dan Nyi Gendis tidak akan lupa pada Genduk Duku. Mudah-mudahan keadaan di sana sudah tenang. Suasana Kerajaan Mataram sebelah barat akhir-akhir ini cukup gawat. Adiprabu Hanyakrakusuma merasa perlu menumpas penduduk kabupaten-kabupaten Sumedang dan Ukur karena mereka dianggap melarikan diri dari tugas ketentaraan di medan perang muka Betawi empat-tiga musim yang lalu. Tentara-tentara penghukum itu melewati Pagelen, dan siapa tahu, seperti dulu pernah terjadi, tempat tinggal kedua orang tua itu terkena lagi getah kerusuhan perang saudara.

Dari belokan, tinggal lima puluh langkah dari gerbang, mendadak sepasukan perwira-perwira berkuda muncul. Cepatlah kedua orang itu lari meloncat ke pematang sawah, menghindari kepulan debu yang dapat mengotori pakaian dan wajah mereka. Beberapa dari perwira itu menertawakan Genduk dan Slamet. Tetapi seorang penunggang kuda yang berlari di tengah, seorang pemuda sangat remaja, nyaris masih anak, agak memperlambat galopnya. Ia menoleh dan meman­dang kepada Genduk Duku. Lalu bergaloplah lagi ia, kembali kepada irama lari kencang bersama-sama perwira-perwira yang tadi taat memperlambat diri juga, meninggalkan kepulan debu. Dengan agak cemberut Genduk Duku meneruskan perjalanannya di belakang suaminya. Tetapi langkah mereka sengaja diperlambat untuk memberi waktu kepada para pengawal puri menyelesaikan upacara penyambutan tamu-tamu yang rupa-rupanya serba berpangkat tinggi tadi. Ketika tamu-tamu itu masuk ke dalam, masih juga remaja ningrat tadi sempat menoleh dan memperhatikan Genduk Duku. Siapa dia? tanya Duku dalam hati, yang merasa terkena anak panah pandangan kurang enak.

Slamet dan istrinya memberanikan diri untuk melapor dan mohon diperkenankan menunggu di dapur saja sebelum menghadap Bendara Ayu Pahitmadu. Mujurlah mereka diperkenankan masuk. Hanya Slamet harus menunggu di regol[3]) penjagaan. Di dapur Genduk Duku diterima dengan ramah, bahkan atas desakannya sendiri ia diperbolehkan menolong memarut kelapa. Ia lalu duduk di bawah pohon jeruk nipis, menolong kerja, sambil mengamati sekelilingnya. Namun tiba-tiba teriak geli dan tawa terkikik-kikik menggaduh di dalam dapur. Beberapa gadis lari terbirit-birit ke kebun, bersembunyi di sembarang tempat. Seorang gadis dengan rambut terurai lari Nambil bingung membenahi kainnya, keluar dari ruang sebelah, tetapi tertangkap oleh seorang Pemuda remaja, (ah, sang remaja penunggang kuda tadi), dan tak berdaya diciumi habis-habisan. Beberapa abdi perempuan tua melerai kedua remaja itu, tetapi rupa-rupanya mereka bahkan membujuk si gadis untuk mau diajak main asmara. Akhirnya pergilah mereka dan meninggalkan Genduk Duku terbengong-bengong. Setelah agak lama, satu per satu gadis-gadis yang bersembunyi tadi keluar, dan sambil tertawa cekikikan saling senggol-menyenggol mereka meneruskan tugas -nasing-masing. Siapa pemuda yang begitu rakus ,iuman dan dibiarkan berbuat seenaknya saja oleh para abdi dalem itu? Tak beranilah Genduk bertanya. Baru kemudian ia agak tahu duduk perkaranya dari beberapa kata keluhan berbumbu geleng-geleng kepala dari seorang dayang-dayang tua, yang menggerutu tentang Den Bagus Jibus, yang tanpa arah tanpa kemudi suka ngawur main buaya. “Ya mun4 sijI kuwi, baGUS beSUS, ning kompal-kampul kaya gaBUS. Pantes parabane sang Jibus[4]).

Baru menjelang malam, sesudah para perwira dengan remaja yang disebut Den Bagus Besus Jibus tadi selesai bersantap malam dan pergi, Genduk Duku diperkenankan menghadap pelindungnya, Bendara Pahitmadu. Lagi dayang tua yang dulu itu yang mengantarkan Genduk Duku ke ruang dalam kakak Panglima Wiraguna. Langsung Genduk Duku dirangkul, dan disuruh menceritakan hal-ihwalnya. Slamet pun dipanggil dan diperkenalkan kepada wanita tua yang bermata loyang lagi berkuasa itu; kuasa karena pengaruhnya kepada adiknya yang telah meningkat menjadi Panglima Besar Kerajaan Mataram.

Malam itu Bendara Ayu Pahitmadu sangat menginginkan tidur kelonan bersama Genduk Duku. Slamet harus puas dengan kamar lain di keputran. Tetapi ia memohon agar diperbolehkan tidur di tepi pendapa saja. Tirakatan, katanya kepada para abdi dalem.

“Siapa pemuda yang enak terlindung boleh menciumi gadis-gadis di dapur tadi?” tanya Genduk Duku akhirnya tak sabar, walaupun dengan risiko dapat menggusarkan nenek pelindungnya itu. Ia berani bertanya karena Bendara Pahitmadu sendirilah yang mulai menggerutui si Jibus.

“Ya, doakanlah negeri kita ini, Nduk. Aku tak tahu, ke mana semua ini akan pergi. Wiraguna dulu sudah saya marahi. Tidak sepantasnyalah seorang Panglima Mataram cuma berurusan dengan ekor lelaki belaka. Hal-hal macam itu seharusnya kan sudah lampau. Terlalu terlambat itu namanya. Nah, sekarang justru kebalikannya dengan Raden Mas Jibus ini. Terlalu pagi. Ke mana negeri yang besar ini mau dikusiri? Dengan susah-payah Panembahan Senapati dan Susuhunan Hanyakrakusuma mencangkul, menanam, membajak, dan memperluas sawah ladang kebesaran Mataram. Tetapi ahli warisnya, ya seandainya jadi, beliau menjadi ahli waris, …kan nanti cuma seperti… ya ya betul juga Ni Sukun yang kurang ajar mengatakan Jibus kompal-kampul-kaya-gabus…. Oh, akan lepas dari leher kepalanya, kalau ia ketahuan berdendang nakal tentang si Jibus. Perempuan suka cerewet, tetapi untung dayang-dayangku dapat membedakan, mana yang boleh dan mana yang dilarang diomongkan ke luar. Tadi kaudengar tentang ucapan Jibus-kompal-kampul-kaya-gabus dari Sukun? (Genduk Duku berbohong, “Tidak Bendara Ayu.”) Nah, kalaupun mendengar, jangan disiar-siarkan ke mana-mana. Dapat menggelundung seperti kelapa kepalamu nanti.”

“Maafkan ketidakpantasan hamba. Tetapi apakah ada larangan bagi hamba untuk mengetahui siapa yang disebut Den Bagus Jibus itu?”

“Heh? Mosok kau sendiri belum tahu? Ya, maklumlah, kau selalu terkurung di Wiragunan sana dan selama ini mengembara ke Pantai Utara. Jibus? Oh, semoga Allah kasihan kepada Mataram. Jibus? Ya, aku sendiri juga tidak tahu, dari mana nama panggilan atau mungkin nama kesayangan itu datang. Dari Raden Mas Sayidin kok melorot jadi Jibus. Nama kurang enak karena artinya: ‘ditiduri’. Tetapi mau apa? Saya dengar, pagi-pagi dia sudah mulai belajar meniduri gadis-gadis kecil. Dari mana pembawaan itu? Dari ibunya, Raden Ayu Wetan tetapi asli dari Batang yang saleh itu? Terang tidak… ya, meski negeri panas itu Batang. Panas, sama dengan Cirebon. Atau dari ayahnya sendiri? Beliau dulu juga dipanggil dengan nama panas, Rangsang? Nama orang desa, biar! Ndeso, biar selalu sadar, bahwa semua raja Mataram itu aslinya dari desa dan berdarah petani belaka. Wiraguna tidak terkecuali. Dia pun anak rakyat sebetulnya. Tetapi sering lupa dan pongah dia. Ya, memang sering begitu. Semakin udik semakin sombong. Kau jangan sombong ya, Nduk. Saya setuju suamimu nelayan. Lebih baik nelayan merdeka daripada abdi keraton, Nduk.”

Genduk Duku sudah penasaran, “Siapa ta Jibus itu, Eyang Pahitmadu?”

Tertawalah nenek tua itu sabar, “Mosok belum mudeng. Jibus ya Jibus. Kata kalangan istana, dia yang akan dijadikan putra mahkota.”

————————-

[1]     sangat subur pantas untuk ukuran Pulau Jawa

[2]     serba makmur dan sejahtera

[3]     pintu gerbang

[4]     “Ya cuma satu itu, tampan suka berpakaian rapi, tapi terapung-apung mirip gabus. Pantas julukannya sang Jibus.”

—————

Pantas, Belanda dulu menjajah Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, karena memang Pulau jaw Itu subur sekali, apa saja bisa tumbuh dan menghasilkan buah dan biji-bijian dengan baik. Kapal-kapal Belanda hilir mudik mengangkut hasil bumi ke tanahnya sendiri, ber mil-mil jauhnya lautan dijelajahi. Eh…, kalau ukuiran jaraj pada jaman dulu untuk daratan apa ya?

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Telah Terbit on 16 Mei 2015 at 01:13  Comments (103)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/trilogi-yb-mangunwijaya/genduk-duku/trackback/

RSS feed for comments on this post.

103 KomentarTinggalkan komentar

  1. Episode pertama Genduk Duku telah diwedar

    silahkan berburu rontal dan bergojeg dan berburu rontal sebagaimana bertahun yang lalu, ketika masih menjadi cantrik aktif di padepokan ini.

  2. test…..
    kenapa komen saya tidak bisa masuk daftar komen?

    Hadu….
    kenapa ya?

  3. Grotal-gratul, grayah-grayah

  4. Serasa seperti nyantrik pertama kali, lupa cara nyarinya

  5. ToPan Siap Hadiiirŕ Pakde Satpam. Apa kabar Pakde Satpam dan Eyang Arema ?. Semoga Selalu Sehat dan Banyak Rezekinya Amiiiin.

  6. Pakde Satpam. Kalau pake android apa bisa dicari dan download ya. Sudah berkali kali di plototi di ubek ubek kok ra ketemu ya hahahhhhhh

    • Sugeng enjang . . . Selamat pagi, Ki Adji.

      Saya tadi sudah mencoba di hp dan tidak bisa Ki, kecuali kalo di hp Ki Adji ada djvu nya, baru bisa dibaca, karena formatnya djvu, bukan pdf bukan pula ms-word.

      Kalo soal rontal diumpetin dimana sama Anakmas Risang, Ki Adji saya kira sudah pengalaman tahunan . . . he he he, tlateni ae suwe-suwe rak ketemu . . . gampang kok, gak susah.

  7. Assalamu’alaikum wr wb
    Salam sejahtera buat kita semua.
    Alkhamdulillah telah kita mulai lagi mengangkat kisah cerita anak bangsa berupa Novel Serial Roro Mendut.
    Serial karya budayawan YB Mangunwijaya ini berkisah tentang kejatuhan martabat seorang ksatria perang, seorang Tumenggung di Zaman Pemerintahan Kesultanan Mataram Era Sultan Agung Hanyokrokusumo.
    Seorang Panglima Perang yang sangat disegani oleh teman dan lawan ini yaitu TUMENGGUNG WIROGUNO, tergelincir hanya karena kecantikan seorang wanita rakyat biasa, RORO MENDUT.
    Sayangnya sang perawan jelita tidak bersedia disunting oleh Ki Tumenggung dengan tawaran hidup kamukten. Ia lebih memili mati bersama kekasihnya PRONOCITRO, seorang nelayan dari pantai utara.
    Kisah tragis di atas berlanjut dengan sebab dan akibat dari peristiwa tersebut di buku kedua dan ketiganya yg sudah dapat diikuti disini.
    Tapi yang justru menarik adalah latar belakang sejarahnya. Banyak yang sangat awam dengan sejarah Mataram di Era akhir Sultan Agung yang digantikan oleh putra mahkota Sunan Amangkurat I, yang dikenal brutal demi menuruti ambisinya yg gemar melahap betis indah. sampe demi menutupi kebobrokannya, dia tercatat telah membantai ratusan Kiai dan Santri di jamanya. Bagaimana jalan ceritanya, temukan di serial novel ini.
    Hanya sayang sekali, Genduk Duku ini sudah Seri II. Buku Seri I berjudul Roro Mendut, belum ditemukan dalam koleksi. Sedangkan mencarinya di luar sangat jarang diketemukan.
    Apabila diantara sidang pembaca ada yg memiliki, atau kebetulan menemukan di toko buku. mohon perkenan untuk di informasikan di sini.
    Mohon judul di atas bukan APDM, tapi RORO MENDUT, novel serial sejarah YB Mangun Wijaya.
    Monggo.

  8. Assalamu’alaikum Wr Wb,
    Salam sejahtera untuk kita semua,
    Selamat pagi . . . Sugeng enjang,
    Sanak kadang adbm semua . . . .

    Anakmas Risang kok teganya-teganya menyanyi . . . he he he.
    Sementara kadang yang gak sabaran maunya cepet membaca, ingak-inguk rana-rene, nang endi leh ndekek rontal.

    • kok komentare menunggu moderasi,
      ra entuk mlebu po ya . . . . . hiks.

  9. Pasti bisa…hik..megkuh titik noda itu…

  10. mantappppp….. tinggal cari roro mendutnya…

  11. Nunut ngiyup Ki ….

  12. Roro mendutnya di bawa lari pronocitro Ki … Salam buat poro Empuh2 Adbm/Pdls …

  13. Wis di ubek2 ora ketemu .. Klau PC cepat klau Hp apa bisa ya … PakLik Satpam mohon bantuannya ..

  14. Ho android juga bisa ki….titik bernoda kata mas satpam…hikkk tidak boleh menyerah

  15. Sugeng sonten Anakmas Risang

    Lha wong episode 2 sudah wedar dari tadi, po ya belum ada yang ngunduh . . . he he he.
    Mungkin sanak kadang perlu bahasa sasmita dari P. Satpam, memang diperlukan ketelitian dan kejelian.

    Sanak kadang sedaya . . . mangga episode 2 sudah gogrok, tinggal ngunduh saja.

    • Sugeng sonten Panembahan
      he he he …., kala wau kesupen terus buru-curu wedaran, lan terus nglanjutaken tugas malih.
      ngapunten…

  16. Hiks…..mas Satpam

    • kata bang haji mas Satpam…terLALU

      • he he he …..
        gandok dimanapun kalau tidak ada Ki Menggung Gembleh dan Ki YP, kayaknya bagaimana…. gitu.

        Monggo Ki

        • Betul Lik Satpam… seperti lontong balap tanpa lontongnya…

          • Betul ki AM….
            Seperti motor balap tanpa motornya

  17. Pusing…
    bagaimana memunculkan komentar terakhir dalam daftar

    mohon pencerahan

    • Lho….mas satpam kePUsingan toh

      Cantrik kira memang sengaja tidak
      mas Satpam tampilkan

      • Gampang mas Satpam…hiks

        Kirim panah sanderan nti cantrik
        bantu dari ujung wetan

  18. Alhamdulillah lagi bisa mlebu senthong sebelah sini…

    lampune masih mati, sehingga harus meraba-raba mencari rontal ala genderuwo picek… semoga pas ‘meraba’nya…

    • Ketemu ki AM….bukan hanya diRABa
      zoom juga perlu ki, saestu

  19. nakmas satpam apa eps.3 siap digrayah ?

    • likmas Satpam apa eps.4 siap diwedar?

      • dereng, mbenjang enjing

    • sampun …..

  20. Alhamdulillah wis gak usum duku nanging iso moco Genduk Duku semudah memijit wohing ranti.

    • Selamat malam mas Satpam… 🙂

      Selamat menyiapkan wedaran rontal
      lanjutan.

      • di padepokan sini….cantrik siap
        bertanding lawan mas Satpam

        Kuat mana yang baca apa mas Satpam
        yg nyiapkan rontal

        • hayoo,,,,,,,,,

          • Priit…format text mas Satpam

            • yg kalah angkat
              tangan kanan.
              tanda kiri cukup
              masukan saku
              belakang 🙂 🙂

            • Kudu sesuai jadwal no Ki Menggung.

              • Jadwal ber-
                kunjung

                • J
                  A
                  D
                  W
                  A
                  L

                  A
                  M
                  B
                  I
                  L

                  J
                  A
                  T
                  A
                  H

                  R
                  A
                  N
                  G
                  S
                  U
                  M

              • Monggo
                lha wong wis ket mau kok
                he he he …..

  21. Episode 5….belum ada cantolan
    Episode 6….masih dalam penggorengan

    Episode 7….belum diracik mas Satpam
    Episode 8….nunggu antrian wedar

    • Usul mas Satpam,

      Wedaran rontal nunggu pasukan OGrog
      pada ngumpul ng padepokan.
      Tahan dulu wedaran sp cantrik mentrik
      kemringet ngiler rontal lanjutan.

      Ini tadi usulan ki Trupod sesepuh
      padepokan….ki gundul sakdermo
      menyebar luaskan

      Saestu…TENAN

    • 5 wis kok

      • 5 wes nyantol….tinggal srondol

        • Matur nuwun mas Satpam

          • Nti malam cantrik kancani
            Melek-an

  22. Absen dulu aahh…..

    Baru kali ini mbuka gandok Genduk Duku, karena berbagai hal..
    matur nuwun sanget Pak Satpam, Bopo Panembahan, dll atas peluncuran rontal yang baru

  23. selamat siang

  24. Episode 5 : djvu dan pdf

    teks belum dimunculken

    • pelan2 mas Satpam…ga usah terburu
      buru pasang “teks”

      yg penting wektu cantrik sambang lgi
      nanti “teks” sudah dicantolkan…hehe20x

      • Malam mas Satpam

        • Hadir…sambang padepokan

          • he he he …, monggo…..

            • Hehehe…matur
              nuwun mas Satpam

              • Sugeng
                Dalu

  25. Hadir….mas Satpam

    • Sugeng dalu kadang genduk DUKU

      • Otw padepokan sebelah sengkaling

        • loh…, padepokan sebelah Sengkaling yang mana? UMM, UIN, Polres?

  26. HADIR…..mas Satpam

    • monggo….
      penghuninya di sini hany Ki menggung sendiri
      satpam juga jadi males piket disini
      he he he he he he he he he he (lama lama tidak terdengar)

      • Males….pertanda belom makan
        mas Satpam…kleru Mules ding.

        AYO SEMANGAT…mumpung yg
        laen pada belom datang.

        • berDUA…..sapa takut 🙂 🙂

          • AYO mas SATPAM….kita buat padepokan megah.

            Megah : menawan gagah
            tur bikin betah para wanita
            seluruh tlatah jawa 🙂 🙂

  27. HADIR….sugeng dalu

    • mas Satpam….kemana kah panjenengan

      • cantrik dewean….ENAK tenan

        • urun saran….kenapa komen di genduk duku tidak nampak pd

          KOMENTAR terakhir padepokan
          ini mungkin yg bikin gandok jarang ada yang singgah padepokan

          • masa sih mas Satpam ga
            bisa otak atik membetulkan

            • Sampe judeg Ki, tidak berhasil.
              Masih dicoba otak atik lagi.

  28. Alhamdulillah, terima kasih mas
    Risang, tau tau sdh episode 8.
    Apa mas Risang sdh baca ceritanya?
    Latar belakang sejarahnya menarik, yaitu awal mula kita bersentuhan dengan barat secara langsung, dan juga kedzoliman Amangkurat 1yg jarang diangkat ke permukaan.

    • Sambil konversi dan edit teks Ki, satpam sempat baca.

  29. Njlekethek,
    setelah hampir putus asa, akhirnya ketemu penyebab tidak munculnya komen terakhir.
    Hadu…..
    Bobo ah….

  30. Wah…jebul saya ketinggalan….padahal yang cepat dapat yang lambat ketinggalan….Sugeng sonten sedoyo…!

    • benul ki Karto….yg cepat dapat duluan
      yg lambat sabar nunggu dum2an

      • Benur..Ki Tmg.YP..ngantri..

        • Ngantri sebentar….pas dibelokan cantrik serobot antrian,

          • Ati2 Ki Menggung….keseringan nyrobot ntar…bengkong lho 😀

            • Bengkong sekali kali asik ki Menggung

              BengkongAN…he 50x

              • Selamat malam…..sepi banget

                • S
                  E
                  R
                  E
                  M

                  Hi
                  Hi
                  Hi
                  Hi

              • hem….serem deh 😦

                • Se
                  Re
                  M

                  Me
                  Le
                  K

                  Me
                  Re
                  M

              • Serem…..seneng merem 😀

  31. tes…..masuk komen, komen masuk

    • tes…..yang keluar masuk 😀

      • Sugeng dalu ki Kartojudo

        • Kecipir mrambat kawat…wes suwe ki Karto ora liwat

          • Sugeng manuk..eh..masuk Ki Gundal gandul 😀

            • Hiks…matur nuwun ki Kartojudo

              Suwe ora jamu…jamu pisan godhong kates
              Suwe ora ketemu…ketemu pisan tes testes

              • Hehehe…dak kiro ketemu pisan ketemu….kates 😀

              • Sanes
                kates
                ki….

                kutes
                kusuka
                kates

  32. HADIR…. mendhisiki diri sendiri

  33. he he he ….

    gandok ini sepertinya rumahnya Ki Menggung berdua (KiGundul dan Ki Kartoyudo sendiri)

    • Bener mas Satpam…terkadang kita perlu menyendiri buat mengendapkan serta menenangkan diri dari hiruk pikuk ramainya hohohihi

      • Bener mas Satpam…terkadang kita …merasa sedih

        • Sedih dipagi hari…seneng disore hari

          • Sedih disiang hari….sueneng dimalam hari

            • Sugeng Riyadin Ji Gundul,mas Satpam…..
              maaf lahir batin……..

              • Njih Ki Menggung
                sami-sami nggih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s