GENDUK DUKU

Episode 5

Namun tentulah bagi Genduk Duku pembelokan arah perjalanan ini membuka lagi luka-luka batinnya yang sudah mulai menutup. Menangislah ia tersedu-sedu di bawah pohon, ketika barisan beristirahat sebentar. Ia tidak menangisi kelelahan dan susah payah menggendong barang-barang utusan Belanda itu. Ia tidak menangisi nasib menjadi budak paksaan yang setiap kali dicaci-maki mandor-mandor kadipaten. Bukan itu. Ia menangisi penggalnya persahabatan indah dengan puannya, Rara Mendut, yang nun waktu itu bersama Duku pernah lewat di jalan yang sama ini juga; sahabatnya yang paling dekat, kakak pujaan yang telah tiada. Alangkah lain jadinya jalan yang sama ini apabila dilewati setelah suatu kurun waktu tertentu berlalu, dan dalam suasana jiwa yang lain pula. Slamet tidak dapat menemukan kata-kata untuk menghibur istrinya. Satu-satunya percobaan meringankan beban hati kekasihnya hanyalah nasihat warisan para nelayan, “marwita marganing maruta”[1]) Angin dorong dari belakang maupun angin lawan dari muka, keduanya dapat dimanfaatkan agar perahu tetap maju. Tinggal caranya. Dapat dipelajari. Sangat inginlah Genduk Duku merangkul suaminya dan menciuminya habis-habisan. Begitu bahagia rasanya, memiliki seorang Slamet yang memang tidak mampu berbincang banyak, akan tetapi mengena ampuh sekali kalau kebetulan berbicara. Tetapi tentulah niat itu tak mungkin dipuaskan di tengah prajurit dan pembawa barang. Maka hanya dipegangnyalah tangan Slamet, dan seangin sepoi berlalu memandangnya dalam-dalam, sambil mengangguk.

“Baik, Mas. Akan saya coba.”

Alangkah kuat kembali sekarang Genduk Duku. Mungkin inilah sasmita-nya:[2]) Genduk Duku harus mengulang, menjalani kembali jalan yang sama, akan tetapi sekarang tidak lagi sebagai anak, tetapi sebagai wanita dewasa.

Barangkali sebagai ibu dewasa? Ah, dan dipegangnya perutnya. Mengapa sampai sekarang ia belum mengandung? Mungkin masih terlalu muda? Lima belas pasang musim, masih terlalu mudakah itu untuk menjadi ibu seorang bayi mungil? Mungkinkah karena Genduk masih harus lebih matang lagi jiwanya? Seperti yang dipesankan oleh Nenek Siwa. Sang anak jauh lebih membutuhkan rahim dan susu batin daripada yang mengalir wadag saja. Bersabarlah, Duku, saatmu pun akan tiba.

Danau Pening, hulu Sungai Tuntang, dan pintu gerbang kerajaan di pos Selembi lereng Gunung Merbabu yang dijaga ketat oleh lebih dari seribu prajurit dan terlindung oleh Sungai curam buas Nglumbe, telah dilewati; dan sampailah rombongan, setelah berhari-hari menerobos rimba dan menjelajahi sawah-sawah ngarai (dan yang tentulah sepanjang jalan sangat menarik perhatian penduduk), di tepi Sungai Opak, di pintu gerbang kerajaan lapis kedua, desa Taji. Karena melampaui batas kelelahan, tidak terbiasa dengan kerja seberat itu, Genduk Duku telah dua hari jatuh sakit. Atas keputusan manggala yang memimpin mereka dan tak suka terhalang, Genduk Duku dan Slamet disuruh meninggalkan barisan saja. Sebab beban beras dan perbekalan perjalanan lain toh sudah berkurang banyak. Ya, begitulah. Tanpa upah cukup, dan tanpa mendapat ucapan terima kasih sepatah kata pun karena dianggap pengabdian belum tuntas, mereka ditinggalkan begitu saja di Taji.

Taji adalah pos penjagaan besar yang menguasai jalan strategis yang menuju ke timur. Lalu lintas di situ sangatlah ramai. Setiap orang memikirkan urusan mereka sendiri-sendiri, dan para prajurit penjaga sibuk dengan pengawasan, jangan-jangan ada mata-mata negeri musuh menyelundup. Apalagi akhir-akhir ini banyak santri dari daerah Wedi dan Tembayat, yang sejak zaman Panembahan Senapati berkeliling ke mana-mana, tak henti-hentinya menghasut secara terselubung untuk membelot melawan Mataram. Bahkan dua tahun yang lalu mereka memberontak dengan pertumpahan darah banyak.

Dipapah Slamet, Genduk Duku memaksa diri untuk berjalan sampai di suatu warung, tetapi tanpa daya ia terjatuh di muka sebuah gubuk reyot yang agak menyendiri di tepi jalan. Ke mana nasib akan membawa mereka? Selama ikut barisan tawanan Peose itu mereka masih mendapat makan. Tetapi sekarang? Bekal dari Telukcikal dan upah tak seberapa sebagai pemikul untunglah ada juga, tetapi hanya untuk berapa minggu? Slamet sungguh cemas dalam hati. Ditidurkannya istrinya di muka dinding gubuk itu. Setidaknya Genduk dapat beristirahat sebentar.

Tiba-tiba membelalaklah mata Slamet karena dari dalam gubuk keluar seorang anak seumur kira-kira lima pasang musim. Tetapi sungguh mengherankan anak itu. Dia bule. Bukan bule seperti yang sering terdapat di udik, anak bule, seperti kerbau bule tetapi sebetulnya Jawa tulen, hanya kulitnya yang putih kemerah-merahan. Ini anak berbangsa asing sungguh. Hidungnya mancung, matanya biru dan besar. Rambutnya jerami. Heh, dari mana makhluk jenaka ini? Siapa penghuni gubuk?

Anak itu hanya diam memandang Slamet dengan istrinya yang merintih tiduran. Kemudian ia masuk lagi dan berteriak,

“Papaa…Papaa… een zieke mama!”[3]) Bahasa apa itu?

Sejurus kemudian, keluarlah dari pintu yang sudah nyaris jebol itu, seorang lelaki bertubuh besar, jelas orang berkebangsaan asing. Dadanya yang berambut tebal telanjang seperti anak tadi, dan ia hanya bercelana ketat sekali yang aneh potongannya, bekas beledu hitam tetapi sudah serba sobek dan lusuh. Apa dia ayah si anak itu? Dengan bahasa Jawa yang lumayan ia bertanya, siapa Slamet dan istrinya. Bernada sedih dan sedikit was-was juga menghadapi raksasa merah itu, Slamet menceritakan hal-ihwal kemalangannya, terseret ke dalam barisan yang menawan utusan-utusan Kompeni merah-putih-biru di Jepara. Tanpa minta izin atau apa pun, oleh orang-orang itu Genduk Duku langsung diangkat dengan kedua tangannya yang kuat, dan dimasukkan ke dalam gubuk. Walaupun Genduk Duku terkejut setengah mati, tahu-tahu sudah terpeluk di dalam tangan-tangan lelaki raksasa asing, dan karenanya spontan melawan, tetapi akhirnya menyerahlah Genduk Duku serba lemas dan membiarkan diri dibaringkan di atas suatu ranjang bambu. Orang asing itu menepuk-nepuk bahu Slamet dan menandaskan, agar Slamet dan istrinya tidak perlu takut. Dia akan menolong. Jangan khawatir. Si raksasa pergi ke belakang dan mengambil sisa air panas dari dalam kuali. Setelah dicampur dengan air dingin-menjadi hangat-hangat saja, ia mengambil sehelai sobekan kain dan memberikannya kepada Slamet.

“Mandikan. Mandikan istrimu. Segar dulu biar. Bersihlah kotoran di jalan. Ayo, mandikan.” Lalu ia mengajak anaknya keluar gubuk. Pintu ditutup dari luar sehingga tiba-tiba gelap remang-remang satu-satunya ruangan dalam gubuk rumah itu.

Pelan-pelan Slamet, sambil di hati mengucap syukur atas pertolongan yang tak terduga itu, mencium pipi Genduk Duku. Lalu hati-hati ia menanggalkan pakaian istrinya yang sudah serba kotor. Dan penuh kemesraan memandikannya. Panas tubuh itu dan menggigil. Belum pernah Slamet memandang dan membelai istrinya dalam keadaan lunglai seperti ini. Biasanya semua tergenang dalam langgam kebahagiaan dan kenikmatan. Namun sekarang? Mungkin Allah Maha-arif berkehendak memberi pelajaran bagi kedua mereka. Bercinta dalam suasana suka dan indah adalah rahmat. Tetapi bercinta dalam keadaan sedih dan nyaris putus asa barulah puri yang kokoh tahan badai. Untuk inikah Sungai Brantas harus membelok dan melingkar, agar mampu memberikan kesuburan kepada lahan-lahan luas yang tak akan berbuah manusia seandainya tidak dilewati?

Tetapi siapakah orang asing tadi? Mengapa dia tinggal di Taji dalam gubuk begini miskin? Itu tadi anaknyakah? Lalu siapa ibunya? Tetapi satu pertanyaan betul-betul merisaukan Slamet. Bagaimana ia, yang kini tidak punya apa-apa, dapat membalas budi kebaikannya?

Sepekan sudah Slamet dan Genduk Duku dilepas dari barisan penawan orang-orang asing dari Jepara itu, dan mendapat peristirahatan di gubuk budiwan ini. Terlambat sedikit, nyawa Duku bisa melayang. Versteegh nama orang asing itu. Yos Versteegh. Berkali-kali Yos mencoba mengajari Slamet, bagaimana mengucapkan namanya secara tepat, tetapi hasil paling pol adalah pengucapan Pestih. Bolehlah, Yos Pestih tertawa senang. Sungguh nama yang bagus, pribumi sekali. Anaknya Karel namanya, yang dapat terucap lancar oleh Slamet. Dengan tekun dan baik hati Yos membagikan makan-minum untuk para tamunya. Ternyata aneh rasanya. Apa boleh buat. Tiga hari lebih Genduk Duku bersuhu tinggi, bahkan mengigau, memanggil-manggil Rara Mendut dan Nenek Siwa. Ucapan-ucapan di bawah sadar tentang cinta dan syukurnya untuk Slamet, sangat mengharukan hati suaminya. Pada hari keempat barulah suhu menurun dan Genduk Duku kelihatan menyegar, walaupun masih sangat lunglai badannya.

“Saya pun tawanan orang Mataram,” tutur Versteegh kepada Slamet pada hari pertama, sesudah Genduk Duku berhasil ditidurnyenyakkan oleh Yos dengan air sari buah pala dicampur gula aren.

“Saya sudah larang, tetapi apa mau, anakku Karel ini ingin ikut saja. Kami maksud ke Bali berlayar. Tetapi kami terkena badai. Kandas lalu di pantai dekat Tegal.”

“Tetapi kau boleh bebas leluasa pergi ke mana-mana?”

“Bebas, ya ya, sedikit. Dulu tidak. Sekarang bebas tetapi terbatas. Hanya di desa Taji ini boleh saya tinggal. Keluar Taji dilarang. Lari? Sulit. Sedikit dari desa keluar akan tahu, bersua harimau-harimau. Dan lupa jangan belentong-belentong ular-ular sebesar kelapa pohon. Belum nyamuk yang mampu seluruh menyedot darahmu keluar dari urat-urat. Bunuh diri namanya itu.”

“Tetapi lumayan kan, daripada dikurung dalam penjara batu.”

“Orang-orang Jawa kikir. Mereka mau tidak sepeser pun kehilangan untuk tawanan lawan makan-minum memberi. Maka harus kami nafkah sendiri mencari. Oh, itu bukan soal. Aku lebih senang dari hasil keringat sendiri makan daripada dimanja tetapi biar pun burung emas di sangkar emas. Saya kasihan hanya si Karel. Begitu kecil anak masih, semua ini dia sudah susah mengalami. Saya tahu tidak bagaimana ibunya keadaan sekarang ini. Ia menderita pastilah sedih suami dan anaknya kehilangan. Ya, Karel ini paling disukai mamanya. Cuma nakalnya! Ia mau mutlak ikut bapaknya. Memang berdarah laut dia. Tetapi bagaimana ini, pelaut di tengah hutan terus-menerus. Dan kapan dimerdekakan kembali kami akan, masih besar teka-teki juga.”

“Saya juga pelaut,” sambung Slamet. “Tetapi tidak dalam kapal-kapal besar seperti kalian punya.”

Gossie! Is ‘t waar?[4]) Kau juga pelaut? Ah, sini.” Dan tangannya yang panjang besar mengayun ke belakang, lebar mengayun lagi, menangkap tangan kanan Slamet. Aduh, teriak Slamet. Sakit sekali. Yos Versteegh tertawa terbahak-bahak.

“Tak apa-apa. Ini kami cara. Erat-erat berjabatan tangan. Kita sahabat, bukan. Ya, semua pelaut di seluruh dunia sebetulnya satu besar keluarga. Harus sesaudara merasa. Tetapi memang die verdomde oorlogen.[5]) Ya betul, dulu aku memang berangas kelahi tukang. Mana orang ke timur pergi tidak berangasan kelahi suka. Tetapi hampir sudah setahun di jantung Mataram seperti kere ini si Yos Versteegh berubah, ya ya ya. Kelahi, kelahi, kelahi, tidak suka. Mungkin ada baiknya orang kadang-kadang kesengsaraan mengalami. Biar ingat, bukan, ha ha ha! Nah, itu istrimu bangun. Cantik itu istrimu, Kang Met. Baik-baik dijaga, dan jangan lagi tentara Mataram tangkap. Nanti sakit lagi. (Orang asing itu mendekati ranjang Genduk Duku.) Bagaimana, Nyonya? Sudah baik-baik? Saya nama Yos Versteegh alias Pestih menurut Nyonya suami, ha ha. Dan Karel (Ia menoleh.) Karel! Karel! Di mana kau? Ah, ke mana lagi gentayangan si anak nakal saya ini? Itu Karel anak, ya perkenalkan. Pelan-pelan dulu ya, Nyonya. Tergesa-gesa pergi tak perlu dari gubuk si Yos. Sayang ini rumah cuma begini kecil. Jika lebih besar, Nyonya dan Nyonya suami tinggal boleh di sini kalau mau. Tetapi itu dipikirkan jangan dahulu. Sekarang dulu sembuh, bukan?”

Ya, tak mampu apa-apa, Slamet dan Genduk Duku sesudah sembuh hanya dapat membalas budi tuan rumah dengan tenaga kerja. Slamet memanfaatkan kesempatan untuk memperbaiki gubuk yang sudah tak keruan reyotnya, karena waktu Yos habis sudah untuk mencari nafkah. Dan tak ada orang Jawa yang senang menolong orang-orang asing dari Betawi itu. Sebagian karena takut didaftarhitamkan oleh telik sandi istana yang banyak itu, disangka kongkalikong dengan musuh. Susuhunan-ing-Ngalaga masih belum dan mungkin tidak akan sembuh amarah beliau terhadap Betawi. Bila perang bedil dan meriam tidak dapat mengusir Peose, barangkali perang beras dapat. Suasana tak senang pada orang asing tetaplah mengawan. Maka pertolongan Slamet sungguh sangat menggembirakan. Genduk Duku mengambil oper tugas-tugas di dapur, sehingga Slamet dan Pestih dapat mencurahkan waktu penuh untuk mencari nafkah dan memperbaiki gubuk yang mereka huni. Tidak hanya itu, atas biaya bersama dibangunlah lagi sebuah gubuk di samping, sehingga dengan damai dan penuh kehormatan Genduk Duku dan suaminya dapat berumah tangga. Versteegh orang bule, jadi serba blak-blakan ia mengadakan kesepakatan mengenai keadilan pembagian keuntungan mereka berdua. Tetapi ia menolak uang ganti rugi perawatan istri Slamet.

Sementara itu kedua orang Telukcikal yang terbuang di Taji ini sempat berkenalan dengan beberapa orang tawanan lain. Di antaranya, yang paling sering mendatangi Versteegh ialah Yan Ruding. Merepotkan juga pengucapan namanya, sehingga apa boleh buat, akhirnya menjadi Yanuring. Kedua sahabat itu suka berbincang-bincang ramai tentang pengalaman-pengalaman mereka di laut. Slamet biasanya hanya melompong mendengar-kan mereka. Betapa luas dan jauh mereka sudah mengarungi samudra raya. Kambuhlah lagi cintanya kepada dunia bahari. Tetapi ia sadar, Genduk Duku tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Mungkin ia sudah akan puas apabila dapat kembali menjadi nelayan sederhana di Pantai Selatan, sehingga istrinya dapat menemukan kedamaian hatinya juga. Sebab bagaimanapun Genduk Duku tetap orang daratan.

Ia manusia punggung kuda. Dapatkah ia menabung sekepeng demi sekepeng untuk akhirnya membeli kuda untuk istrinya? Tidak untuk bermain-main seperti di istana mewah tentu saja, tetapi taruhlah untuk berdagang kuda misalnya? Ayahnya pun dulu pedagang kuda. Jadi… ah siapa tahu, sesekali mereka berdua akan mampu berlayar ke Pulau Bima, jauh ke timur sana, mencari bibit muda. Tetapi sementara ini tak usah bermimpi sajalah.

Pestih dan Yanuring menyambung hidup mereka dengan sedikit berdagang barang-barang langka dari luar negeri atau lebih tepat menjadi perantara Cina-cina yang berjual-beli kalung, medali, dan kancing-kancing uang perak Kastilia, Inggris, Belanda, atau badik belati yang cukup tahan karat, lampu-lampu minyak kecil dari perunggu, dan sebagainya. Tetapi yang paling memasukkan uang ialah pengganti jasa memperbaiki senapan-senapan dan pistol-pistol kuno yang sudah berkarat dan tinggal dibuang, seandainya tidak ada si Pestih. Dengan tekun Slamet mempelajari keahlian baru ini. Masih ada barang dagangan yang sangat digemari orang, yaitu apiun yang teratur disalurkan dari Betawi. Uang pendapatan itu dihitung-hitung, tidak banyak, sebab kedua orang Belanda itu, dengan pahit tetapi terpaksa sumarah, harus menghadapi sekian banyak pungutan bea. Pungutan-pungutan itu harus mereka bayar tanpa ampun, sehingga hanya sedikitlah sisa hasil keahlian Pestih dan pembantu barunya yang pandai menyulap besi rongsokan menjadi senapan yang masih mampu membunuh bajing di pucuk kelapa. Hanya bila kiriman apiun dari Betawi datang, makanan dapat agak lezat. Tetapi Slamet memperoleh keuntungan baru. Tidak lamalah waktu yang dibutuhkannya untuk belajar dari sahabat-sahabat barunya itu, untuk mengenal jenis-jenis senjata api dengan seluk-beluknya. Yang dibutuhkan ternyata hanyalah ketekunan, ketelitian, dan nalar yang sehat. Dan semua itu dimiliki Slamet.

Selain bekerja di dapur seperti layaknya perempuan, amat pagi-pagi bangun, memasak air panas sambil membakar ketela dan sedikit menimba air di perigi, Genduk Duku kemudian masih memperoleh tambahan nafkah dari tetangga dekat, hanya lewat tiga rumah, dengan berburuh memandikan dan membersihkan kuda-kuda muatan pedagang batu bata. Betapa inginnya si Genduk Duku lagi di atas punggung kuda dan berlari anggun galop seperti nun di kala itu. Akan tetapi ia masih harus berhati-hati, jangan sampai orang menerka, bahwa wanita muda yang mahir naik kuda ini tidak lain tidak bukan ialah dayang-dayang Rara Mendut dulu, yang pernah menghebohkan seluruh ibu kota karena peristiwanya dengan Panglima Besar Mataram yang sekarang pun masih kelewat kuasa itu.

Ya, ingin tahu juga Genduk Duku, bagaimana Tumenggung Wiraguna sekarang. Dapatkah ia sembuh dari luka-luka gengsinya setelah ditampar habis-habisan dimuka umum oleh Puan almarhumah Rara Mendut? Betapa rindunya ternyata si Genduk kepada tempat-tempat penyimpan riwayat yang… ya berapa musimkah sudah lewat sesudah peristiwa dulu itu? Lima pasang musim kira-kira. Masihkah mereka ingat kepada remaja bandel yang ulung naik kuda, dan yang lari tanpa bekas setelah sekian ayunan perputaran matahari? Dan beliau… Bendara Pahitmadu yang telah menyelamatkannya? Dan Mbah Legen serta Nyi Gendis di Jali, di tepi Sungai Jali sedikit ke timur

Sungai Bagawanta? Berlinang-linang air mata si Genduk bila kebetulan ia sedang sendirian memandikan kuda-kuda tuannya.

Sesuatu malam, pada saat mereka berdua-satu di ranjang cinta, Genduk Duku mengungkapkan hasratnya kepada Slamet. Ia ingin mengunjungi Bendara Eyang, Mbah Legen, dan Nyi Gendis. Bukankah dulu, mereka itulah yang membebaskan Duku dari bahaya nasib teriris-iris pedang atau tersatai tombak abdi-abdi Wiraguna?

[1]     berguru pada jalannya angin

[2]     pertanda, makna .

[3]     seorang ibu yang sakit

[4]     “Astaga! Benarkah itu?”

[5]     perang-perang terkutuk

——————————————–

Dalam perjalanan, Geduk Duku selalu ingat Puannya, meskipun dia bepergian dengan suamiya

he he he ….., monggo

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Telah Terbit on 16 Mei 2015 at 01:13  Comments (103)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/trilogi-yb-mangunwijaya/genduk-duku/trackback/

RSS feed for comments on this post.

103 KomentarTinggalkan komentar

  1. Episode pertama Genduk Duku telah diwedar

    silahkan berburu rontal dan bergojeg dan berburu rontal sebagaimana bertahun yang lalu, ketika masih menjadi cantrik aktif di padepokan ini.

  2. test…..
    kenapa komen saya tidak bisa masuk daftar komen?

    Hadu….
    kenapa ya?

  3. Grotal-gratul, grayah-grayah

  4. Serasa seperti nyantrik pertama kali, lupa cara nyarinya

  5. ToPan Siap Hadiiirŕ Pakde Satpam. Apa kabar Pakde Satpam dan Eyang Arema ?. Semoga Selalu Sehat dan Banyak Rezekinya Amiiiin.

  6. Pakde Satpam. Kalau pake android apa bisa dicari dan download ya. Sudah berkali kali di plototi di ubek ubek kok ra ketemu ya hahahhhhhh

    • Sugeng enjang . . . Selamat pagi, Ki Adji.

      Saya tadi sudah mencoba di hp dan tidak bisa Ki, kecuali kalo di hp Ki Adji ada djvu nya, baru bisa dibaca, karena formatnya djvu, bukan pdf bukan pula ms-word.

      Kalo soal rontal diumpetin dimana sama Anakmas Risang, Ki Adji saya kira sudah pengalaman tahunan . . . he he he, tlateni ae suwe-suwe rak ketemu . . . gampang kok, gak susah.

  7. Assalamu’alaikum wr wb
    Salam sejahtera buat kita semua.
    Alkhamdulillah telah kita mulai lagi mengangkat kisah cerita anak bangsa berupa Novel Serial Roro Mendut.
    Serial karya budayawan YB Mangunwijaya ini berkisah tentang kejatuhan martabat seorang ksatria perang, seorang Tumenggung di Zaman Pemerintahan Kesultanan Mataram Era Sultan Agung Hanyokrokusumo.
    Seorang Panglima Perang yang sangat disegani oleh teman dan lawan ini yaitu TUMENGGUNG WIROGUNO, tergelincir hanya karena kecantikan seorang wanita rakyat biasa, RORO MENDUT.
    Sayangnya sang perawan jelita tidak bersedia disunting oleh Ki Tumenggung dengan tawaran hidup kamukten. Ia lebih memili mati bersama kekasihnya PRONOCITRO, seorang nelayan dari pantai utara.
    Kisah tragis di atas berlanjut dengan sebab dan akibat dari peristiwa tersebut di buku kedua dan ketiganya yg sudah dapat diikuti disini.
    Tapi yang justru menarik adalah latar belakang sejarahnya. Banyak yang sangat awam dengan sejarah Mataram di Era akhir Sultan Agung yang digantikan oleh putra mahkota Sunan Amangkurat I, yang dikenal brutal demi menuruti ambisinya yg gemar melahap betis indah. sampe demi menutupi kebobrokannya, dia tercatat telah membantai ratusan Kiai dan Santri di jamanya. Bagaimana jalan ceritanya, temukan di serial novel ini.
    Hanya sayang sekali, Genduk Duku ini sudah Seri II. Buku Seri I berjudul Roro Mendut, belum ditemukan dalam koleksi. Sedangkan mencarinya di luar sangat jarang diketemukan.
    Apabila diantara sidang pembaca ada yg memiliki, atau kebetulan menemukan di toko buku. mohon perkenan untuk di informasikan di sini.
    Mohon judul di atas bukan APDM, tapi RORO MENDUT, novel serial sejarah YB Mangun Wijaya.
    Monggo.

  8. Assalamu’alaikum Wr Wb,
    Salam sejahtera untuk kita semua,
    Selamat pagi . . . Sugeng enjang,
    Sanak kadang adbm semua . . . .

    Anakmas Risang kok teganya-teganya menyanyi . . . he he he.
    Sementara kadang yang gak sabaran maunya cepet membaca, ingak-inguk rana-rene, nang endi leh ndekek rontal.

    • kok komentare menunggu moderasi,
      ra entuk mlebu po ya . . . . . hiks.

  9. Pasti bisa…hik..megkuh titik noda itu…

  10. mantappppp….. tinggal cari roro mendutnya…

  11. Nunut ngiyup Ki ….

  12. Roro mendutnya di bawa lari pronocitro Ki … Salam buat poro Empuh2 Adbm/Pdls …

  13. Wis di ubek2 ora ketemu .. Klau PC cepat klau Hp apa bisa ya … PakLik Satpam mohon bantuannya ..

  14. Ho android juga bisa ki….titik bernoda kata mas satpam…hikkk tidak boleh menyerah

  15. Sugeng sonten Anakmas Risang

    Lha wong episode 2 sudah wedar dari tadi, po ya belum ada yang ngunduh . . . he he he.
    Mungkin sanak kadang perlu bahasa sasmita dari P. Satpam, memang diperlukan ketelitian dan kejelian.

    Sanak kadang sedaya . . . mangga episode 2 sudah gogrok, tinggal ngunduh saja.

    • Sugeng sonten Panembahan
      he he he …., kala wau kesupen terus buru-curu wedaran, lan terus nglanjutaken tugas malih.
      ngapunten…

  16. Hiks…..mas Satpam

    • kata bang haji mas Satpam…terLALU

      • he he he …..
        gandok dimanapun kalau tidak ada Ki Menggung Gembleh dan Ki YP, kayaknya bagaimana…. gitu.

        Monggo Ki

        • Betul Lik Satpam… seperti lontong balap tanpa lontongnya…

          • Betul ki AM….
            Seperti motor balap tanpa motornya

  17. Pusing…
    bagaimana memunculkan komentar terakhir dalam daftar

    mohon pencerahan

    • Lho….mas satpam kePUsingan toh

      Cantrik kira memang sengaja tidak
      mas Satpam tampilkan

      • Gampang mas Satpam…hiks

        Kirim panah sanderan nti cantrik
        bantu dari ujung wetan

  18. Alhamdulillah lagi bisa mlebu senthong sebelah sini…

    lampune masih mati, sehingga harus meraba-raba mencari rontal ala genderuwo picek… semoga pas ‘meraba’nya…

    • Ketemu ki AM….bukan hanya diRABa
      zoom juga perlu ki, saestu

  19. nakmas satpam apa eps.3 siap digrayah ?

    • likmas Satpam apa eps.4 siap diwedar?

      • dereng, mbenjang enjing

    • sampun …..

  20. Alhamdulillah wis gak usum duku nanging iso moco Genduk Duku semudah memijit wohing ranti.

    • Selamat malam mas Satpam… 🙂

      Selamat menyiapkan wedaran rontal
      lanjutan.

      • di padepokan sini….cantrik siap
        bertanding lawan mas Satpam

        Kuat mana yang baca apa mas Satpam
        yg nyiapkan rontal

        • hayoo,,,,,,,,,

          • Priit…format text mas Satpam

            • yg kalah angkat
              tangan kanan.
              tanda kiri cukup
              masukan saku
              belakang 🙂 🙂

            • Kudu sesuai jadwal no Ki Menggung.

              • Jadwal ber-
                kunjung

                • J
                  A
                  D
                  W
                  A
                  L

                  A
                  M
                  B
                  I
                  L

                  J
                  A
                  T
                  A
                  H

                  R
                  A
                  N
                  G
                  S
                  U
                  M

              • Monggo
                lha wong wis ket mau kok
                he he he …..

  21. Episode 5….belum ada cantolan
    Episode 6….masih dalam penggorengan

    Episode 7….belum diracik mas Satpam
    Episode 8….nunggu antrian wedar

    • Usul mas Satpam,

      Wedaran rontal nunggu pasukan OGrog
      pada ngumpul ng padepokan.
      Tahan dulu wedaran sp cantrik mentrik
      kemringet ngiler rontal lanjutan.

      Ini tadi usulan ki Trupod sesepuh
      padepokan….ki gundul sakdermo
      menyebar luaskan

      Saestu…TENAN

    • 5 wis kok

      • 5 wes nyantol….tinggal srondol

        • Matur nuwun mas Satpam

          • Nti malam cantrik kancani
            Melek-an

  22. Absen dulu aahh…..

    Baru kali ini mbuka gandok Genduk Duku, karena berbagai hal..
    matur nuwun sanget Pak Satpam, Bopo Panembahan, dll atas peluncuran rontal yang baru

  23. selamat siang

  24. Episode 5 : djvu dan pdf

    teks belum dimunculken

    • pelan2 mas Satpam…ga usah terburu
      buru pasang “teks”

      yg penting wektu cantrik sambang lgi
      nanti “teks” sudah dicantolkan…hehe20x

      • Malam mas Satpam

        • Hadir…sambang padepokan

          • he he he …, monggo…..

            • Hehehe…matur
              nuwun mas Satpam

              • Sugeng
                Dalu

  25. Hadir….mas Satpam

    • Sugeng dalu kadang genduk DUKU

      • Otw padepokan sebelah sengkaling

        • loh…, padepokan sebelah Sengkaling yang mana? UMM, UIN, Polres?

  26. HADIR…..mas Satpam

    • monggo….
      penghuninya di sini hany Ki menggung sendiri
      satpam juga jadi males piket disini
      he he he he he he he he he he (lama lama tidak terdengar)

      • Males….pertanda belom makan
        mas Satpam…kleru Mules ding.

        AYO SEMANGAT…mumpung yg
        laen pada belom datang.

        • berDUA…..sapa takut 🙂 🙂

          • AYO mas SATPAM….kita buat padepokan megah.

            Megah : menawan gagah
            tur bikin betah para wanita
            seluruh tlatah jawa 🙂 🙂

  27. HADIR….sugeng dalu

    • mas Satpam….kemana kah panjenengan

      • cantrik dewean….ENAK tenan

        • urun saran….kenapa komen di genduk duku tidak nampak pd

          KOMENTAR terakhir padepokan
          ini mungkin yg bikin gandok jarang ada yang singgah padepokan

          • masa sih mas Satpam ga
            bisa otak atik membetulkan

            • Sampe judeg Ki, tidak berhasil.
              Masih dicoba otak atik lagi.

  28. Alhamdulillah, terima kasih mas
    Risang, tau tau sdh episode 8.
    Apa mas Risang sdh baca ceritanya?
    Latar belakang sejarahnya menarik, yaitu awal mula kita bersentuhan dengan barat secara langsung, dan juga kedzoliman Amangkurat 1yg jarang diangkat ke permukaan.

    • Sambil konversi dan edit teks Ki, satpam sempat baca.

  29. Njlekethek,
    setelah hampir putus asa, akhirnya ketemu penyebab tidak munculnya komen terakhir.
    Hadu…..
    Bobo ah….

  30. Wah…jebul saya ketinggalan….padahal yang cepat dapat yang lambat ketinggalan….Sugeng sonten sedoyo…!

    • benul ki Karto….yg cepat dapat duluan
      yg lambat sabar nunggu dum2an

      • Benur..Ki Tmg.YP..ngantri..

        • Ngantri sebentar….pas dibelokan cantrik serobot antrian,

          • Ati2 Ki Menggung….keseringan nyrobot ntar…bengkong lho 😀

            • Bengkong sekali kali asik ki Menggung

              BengkongAN…he 50x

              • Selamat malam…..sepi banget

                • S
                  E
                  R
                  E
                  M

                  Hi
                  Hi
                  Hi
                  Hi

              • hem….serem deh 😦

                • Se
                  Re
                  M

                  Me
                  Le
                  K

                  Me
                  Re
                  M

              • Serem…..seneng merem 😀

  31. tes…..masuk komen, komen masuk

    • tes…..yang keluar masuk 😀

      • Sugeng dalu ki Kartojudo

        • Kecipir mrambat kawat…wes suwe ki Karto ora liwat

          • Sugeng manuk..eh..masuk Ki Gundal gandul 😀

            • Hiks…matur nuwun ki Kartojudo

              Suwe ora jamu…jamu pisan godhong kates
              Suwe ora ketemu…ketemu pisan tes testes

              • Hehehe…dak kiro ketemu pisan ketemu….kates 😀

              • Sanes
                kates
                ki….

                kutes
                kusuka
                kates

  32. HADIR…. mendhisiki diri sendiri

  33. he he he ….

    gandok ini sepertinya rumahnya Ki Menggung berdua (KiGundul dan Ki Kartoyudo sendiri)

    • Bener mas Satpam…terkadang kita perlu menyendiri buat mengendapkan serta menenangkan diri dari hiruk pikuk ramainya hohohihi

      • Bener mas Satpam…terkadang kita …merasa sedih

        • Sedih dipagi hari…seneng disore hari

          • Sedih disiang hari….sueneng dimalam hari

            • Sugeng Riyadin Ji Gundul,mas Satpam…..
              maaf lahir batin……..

              • Njih Ki Menggung
                sami-sami nggih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: