GENDUK DUKU

Episode 4

Seharusnya Sungai Brantas yang melewati wilayah bekas pusat Kerajaan Singasari bermuara di Pantai Selatan. Tetapi oleh kepastian duduk-tidurnya gunung-gemunung ia terpaksa menyasar memutar ke barat, membelok ke utara, terbentur bukit-bukit dan dilingkarkan lagi ke barat, sampai akhirnya seperti tertipu bermuara di Pantai Timur. Seharusnya pula Genduk Duku dan Slamet sudah sampai di Cirebon, mengikuti angin timur yang ikhlas berdaya dan bergaya dalam layar perahu muda-mudi dari Telukcikal itu. Maksud semula mereka hanya ingin singgah sebentar di Jepara, untuk meminta keterangan lebih terperinci dari seorang sahabat tengkulak ikan tentang alamat tempat memangkal di kota Gunungjati nanti. Tetapi jalan peristiwa ternyata berkehendak lain. Ketika Slamet menyelip Ujung Muria dan pandangannya tidak terhalang lagi oleh bukit-bukit anak gunung tinggi yang seperti candi raksasa menjaga Juwana, Pati, Demak, dan Jepara itu, dari jauh ia sudah melihat suatu gugusan kapal perang besar yang sedang berlabuh di muka pantai Jepara. Dari bentuknya yang montok ia segera tahu, itu kapal kaum Kompeni bule yang berbendera merah-putih-biru, kaum berambut jerami mangkak dengan roman muka agak panjang berhidung kelewat mancung. Lain dari kapal-kapal perang orang-orang Ingles punya, yang lebih panjang luwes ramping. Begundal-begundal Peose itu! Kaum jago kelahi yang rupa-rupanya lebih buas daripada kaum Farang[1]) lain, misalnya kaum wajah lancip yang berambut serta kumis-jenggot serba hitam; yang tidak cuma dengan mulut kalau bicara tetapi dengan tangan dan seluruh tubuh, kaum penyanyi ulung, yakni orang-orang Prategal.[2]) Jelaslah ada suatu peristiwa gawat.

Resminya kaum Peose itu datang untuk berdagang, akan tetapi nyatanya, ya seperti kaum Kompeni bule-bule yang lain, banyak sekali mereka campur urusan dengan pemerintahan Jepara. Susahnya di Jepara kaum bule Ingles, kaum mata-abu hidung anak bambu berambut jerami lin, sudah mendirikan benteng. Padahal bule rambut jerami ilalang bermusuhan dengan yang berambut jerami gelagah, dan mereka masih berperang lagi antar mereka melawan yang rambut hitam wajah lancip. Jadi semakin ruwetlah keadaan di Jepara. Bagi Slamet dan nelayan-nelayan lain, keadaan sungguh merepotkan. Sebab kadang-kadang dari pihak sana, oleh si Peose itu, perahu-perahu para nelayan dianggap pengangkut perbekalan perang. Akan tetapi dari pihak sini juga, Adipati Laksamana, penguasa Jepara yang mewakili Susuhunan-ing-Ngalaga Mataram, sering mencurigai kaum nelayan kecil yang didakwa menyelundupkan beras untuk kaum jerami di Betawi. Apalagi sesudah beberapa kali Susuhunan Hanyakrakusuma [3]) gagal merebut kembali Jayakarta Betawi; lalu semakin ketatlah peraturan-peraturan pengangkutan beras melalui laut. Mataram ingin mencekik Betawi dengan melarang sama sekali pengiriman beras ke sana. Akan tetapi ya, kaum bule itu punya kapal-kapal layar raksasa yang ngudubilahi besarnya, sehingga dari Bali yang dimusuhi Mataram atau tempat-tempat lain mereka masih dapat membekali diri. Susahnya, bila perairan masih dibumbui penjelajah kaum pembajak dari segala kuala yang suka kambuh menjala di air keruh.

Bagaimana sebaiknya? Genduk Duku sudah pucat mukanya. Terus ke Cirebon jelas tidak mungkin. Akan lebih mengundang curiga. Nekat masuk bandar Jepara tidak tanpa risiko besar. Berhati-hati Slamet, setelah layar perahu ia gulung, mengarahkan perahunya mendekat ke daratan. Suami-istri itu mengayuh perahu ke pantai, ke suatu perkampungan kecil untuk bertanya dulu, ada apa di J epara. Akan tetapi seorang nelayan tua yang baru saja terengah-engah pulang dari jual ikan dengan hanya mendayung dari Jepara hanya dapat menerangkan, bahwa ada serombongan orang asing sedang memohon izin dari Pangeran Adipati agar diperbolehkan menghadap Susuhunan-ing-Ngalaga Mataram. Slamet sebetulnya ingin menginap saja dulu di kampung nelayan itu, tetapi Genduk Duku tidak mau mengulur waktu. Diputuskan untuk berangkat di tengah malam dan pelan-pelan mereka mengayuh sampai di suatu kampung yang dekat dengan bandar kota. Dari situ mereka akan berjalan kaki saja.

Saraan si Genduk cukup nalar, dan Slamet sendiri sebenarnya juga ingin lekas sampai ke tujuan; maka hati-hati berangkatlah kedua petualang itu dalam cahaya bulan kerowok. Ternyata perjalanan dalam remang-remang cahaya bulan yang belum matang, punya pesona sendiri. Laut sudah tidak biru lazuardi lagi, tetapi buih-buih ombak perak yang mengeriting timbul-tenggelam itu mengingatkan Genduk Duku kepada jajaran-jajaran anak-anak kecil yang serba bersorak-sorai mengantar mereka dengan gurauan riuh tanpa dosa. Ataukah karena si ibu muda sedang mendambakan buah rahim mungil yang mestinya akan menjadi mahkota percintaan antara pria dan wanita? Ah, bukan pria dan wanita. Dua saudara sekeprihatinan, sahabat seperjuangan. Genduk Duku tahu, bahwa sejak menginjak alam kaum dewasa, hidupnya akan penuh penderitaan. Itu kesimpulan yang tidak sangat luar biasa, karena sedikit-banyak Genduk Duku mengenal dirinya juga, wanita yang tidak berwatak penetap tenang seperti perempuan petani. Jiwanya sejak kecil di atas panggung kuda, dan bila sekarang ia timbul-tenggelam dalam perahu mungil di atas ombak-ombak hitam malam bersama Slamet, maka ini pun ia nikmati sebagai dunianya yang tidak asing. Seperti di atas kuda juga rasanya. Kuda pemakan cakrawala. Bukan, Genduk Duku memanglah bukan buah duku yang manis dan damai tumbuh perlahan di pohon, sambil menunggu ada burung kepodang memakannya. Hari depan apa yang sedang menunggunya selain hari depan yang mestinya penuh peristiwa-peristiwa sulit? Slamet pun, kendati jauh lebih tenang dan bijak dalam kata maupun ulah, ternyata adalah nelayan juga, manusia yang tidak mengenal kebahagiaan di luar perahu, yang merasakan suatu keasyikan tersendiri menempuh gelombang dan badai bahaya.

Namun kendati kesiapan untuk menderita telah tersedia dalam hati Duku, masih gemetarlah juga ia, ketika setiba di kampung yang mereka tuju, sungguh malang, mereka langsung ditangkap oleh kepala kampung. Soalnya tidak segawat yang dikhawatirkan. Hanya menjengkelkan. Pangeran Adipati Jepara telah menerima perintah dari Susuhunan Mataram untuk menangkap serombongan utusan Belanda pimpinan Tuan Duta Besar van Maeseyk yang atas nama pusat Peose di Betawi ingin menghadap beliau. Sementara itu bandar Jepara penuh dengan perahu-perahu dan sampan-sampan perang yang siap adu kekuatan dengan kapal-kapal kaum merah-putih-biru yang lebih besar tetapi lebih sedikit jumlahnya itu. Kalau perlu pengeroyokan akan diperintahkan. Tetapi rombongan orang Holan itu tetap tak dibebaskan. Jengkel tetapi menyerah pada keadaan, kapal-kapal Peose itu mengangkat sauh.

Semua utusan Peose yang ditawan mendadak itu akan dikirim ke Mataram. Diperintahkan kepada kepala kampung di kota Jepara untuk menyetor beberapa pemikul barang atau gerobak beserta kusirnya sebagai pasukan kerja bakti pemikul inti. Pemikul-pemikul lainnya akan diambil bergilir dari desa-desa sepanjang jalan sampai di gerbang ibu kota Mataram. Tetapi jelaslah, bahwa tak ada orang yang senang dengan penugasan yang akan memakan waktu berminggu-minggu pergi ke ibu kota pedalaman itu. Kecuali bagi beberapa orang petualang yang ingin melihat Mataram di selatan Gunung Merapi itu. Maka dicarilah oleh mereka orang-orang pengganti. Dan malang sungguh bagi Slamet, dia dipaksa atas nama kampung yang sialan itu dengan ancaman keris, untuk pergi mengikuti barisan yang akan mengantar para tawanan Belanda itu ke Mataram. Tak ada jalan lain, Slamet harus taat.

Maka sekali lagi, ya Allah, Genduk Duku harus mengulangi perjalanan duka yang pernah ia jalani nun lima pasang musim yang lalu. Namun dulu ia enak ditandu bersama puannya Rara Mendut. Kini ia di samping suaminya sebagai penggendong barang. Menyesal Genduk menjalani kemalangan karena ia telah melawan usul suaminya untuk menginap saja dulu di kampung kemarin yang , lebih jauh dan aman. Slamet merasa sedih pula dan jengkel dijadikan tukang pikul, tetapi ia menghibur istrinya, lebih baik hidup daripada melawan keris ancaman. Dan lagi, bukankah mereka baru mencari jalan demi hari depan yang serba baru? Mana ada hari depan yang dapat dicapai melalui jalan lurus seperti garis sakaguru rumah? Jalan anak panah pun sudah lengkung. Hidup hanyalah laku dan lakon, dan bukankah hanyaa untuk mampir ngombe?[4])

Baiklah, ada untung juga ikut dengan rombongan tawanan tinggi itu: berkesempatan mengenal Mataram yang belum pernah dilihat Slamet dengan keamanan serba terjamin. Sebab tidak jarang, di tengah perjalanan menembus Hutan Bayalali orang dirampok penyamun. Dan mengapa tidak dicari sisi kemujurannya saja dari peristiwa yang menimpa? Bagi Genduk Duku bukankah semua itu menandakan, bahwa ia sudah tidak dikenal lagi sebagai si dayang pemberontak yang membuat amarah Panglima Besar balatentara Mataram?

“Mana?”

“Ya itu tadi, yang membawa seikat bengkuang itu tadi.”

“Oh, dia? Suamiku.”

“Mosok. Ayo sama-sama untung, Sayang. Boleh nanti malam saya tidur dengan dia?” Dan perempuan itu menyodorkan satu real perak. Terkejutlah Genduk Duku mendengar pertanyaan kasar si tapih kendo[5]) itu. Serombongan perempuan ikut dalam barisan, memang. Mereka berwajib mengurusi soal dapur dan tetek-bengek lain bagi para ningrat, perwira, dan prajurit, sebab mengandalkan seni dapur wanita-wanita dari desa yang mereka lalui sulitlah. Tetapi baru pada hari ketiga Genduk Duku tahu, bahwa ada jenis perempuan lain yang ikut rombongan, dan rupa-rupanya Ni Sampur yang melontarkan usul hina tadi tergolong di dalamnya. Merekalah yang menjaga berlangsungnya “sesaji Kama-Ratih” selama perjalanan. Daripada serba tegang dan tidak dapat diandalkan, lagi mengacau wanita-wanita desa, para prajurit dan kaum lelaki lainnya mendapat kesempatan untuk “bersesaji kepada dewa dewi Kama-Ratih” melalui rahim para sekarmargi[6]) itu. Maka baru mengertilah Genduk Duku mengapa selalu ada beberapa dari kaumnya yang enak sekali hanya disuruh menggendong bakul ringan berisi pakaian harum, dan yang selalu didahulukan waktu mandi di pancuran. Kerja berat mereka tidak di waktu siang, bisik seorang kawan senasib kepada Genduk, tetapi di waktu malam. Sebetulnya Duku jijik didekati selalu oleh Ni Sampur yang tak senonoh omongannya itu. Tetapi mustahillah menghindar darinya dan terang­terangan mengemohi, karena mereka punya hubungan dekat dengan para prajurit dan para penguasa barisan. Dan celakalah bila mereka mulai main fitnah. Tak jarang wanita baik-baik yang dibenci mereka menjadi korban terkena hukuman harus menjadi “sesaji Kama-Ratih” juga. Penderitaan kaum wanita serba takut diperkosa di tengah kebuasan penguasa lelaki semacam ini membuat Duku semakin gigih. Genduk Duku tak akan gentar menolak dengan kekerasan Srikandi. Seperti Rara Mendut dulu. Akan tetapi bagaimana nanti nasib Slamet?

“Silakan, Yu-kalau mau memakai dia. Bahkan aku akan berterima kasih. Saya ingin selamat.”

“Lho, ada apa kok ingin selamat?”

“Anak bajang[7]) dia, Yu. Tapi dijual orang tuanya yang serakah kepada ayah saya. Nah, kau tahu sendirilah, soal hutang tidak dapat dilunasi. Tetapi ayahkulah yang tertipu untuk kedua kalinya. Baru sesudah menikah kami tahu dia anak bajang. Meruwatnya pun belum beres. Padahal Yu tahu apa arti menggauli anak bajang yang belum dilepas ikatannya oleh upacara ngruwat. Minta penyakit cacar namanya, Yu. Bisa mati muda setiap saat. Dan kalau bayi lahir, akan menjadi bekakrak,[8]) bukan. Dan ibunya jadi wewe. Nah, ini nasib, Yu. Tetapi saya jelas tak mau disuruh jadi wewe”.

“Lho, kamu itu omong benar atau cuma menakut-nakuti saya?”

“Jangan tanya saya, Yu. Cobalah saja. Saya akan sungguh berhutang budi pada Yu, bila aku bisa satu dua-kali bebas melayani dia.”

“Ah, emoh. Nggak jadi. Masih banyak lelaki yang saya senangi, dan yang lumayan duitnya. Tetapi kau tidak takut mengawini anak bajang?”

“Takut sih takut, Yu. Tetapi kuat puasaku. Senin-Kamis memutih[9]) dan jamu bratawali paling tidak sebatok sehari. Dan sesudah jago pertama berkokok tak boleh terbaring. Malam Jumat Kliwon minum air seni dua puluh satu tetes. (Edan!) Agar kebal, Yu. Kalau Yu kuat puasa, boleh ambil suamiku.”

“Ah, emoh. Kok seperti kurang rambut.”

Tetapi entahlah, bagaimanapun Ni Sampur terhitung baik kepadanya dibanding perempuan lain-lainnya yang tak sadar berebutan perhatian lelaki. Selalu begitu akibatnya bila perempuan banyak diceburkan di tengah dunia lelaki. Cari muka, ingin diingini. Peduli amat, Genduk Duku sudah merasa cukup dengan Slamet. Slamet sendiri sangat khawatir dengan perangai si Sampur yang ingin saja mendekat pada Genduk Duku. Ia tertawa mendengar bagaimana istrinya menyiasati perempuan itu.

“Tetapi hati-hati, Nduk,” pesan suaminya.

“Oh, tentulah tentu, Mas. Tetapi dia sebenarnya lebih pantas dikasihani daripada ditakuti. Kalau sedang berkemah malam, kerap dia pagi-pagi dini pulang dan masuk dalam gubukku. Hanya untuk membetulkan kayn selimutku. Kadang-kadang aku terbangun tetapi pura-pura tidur. Dia sering menangis, Mas. Padahal di waktu siang dia begitu kasar bahasanya, jorok omongannya, pongah gayanya. Tetapi kalau sendirian, dia seperti gelagah lunglai.”

Lama Slamet memandang istrinya. Hati mutiara anak ini, gumam hatinya. Mampukah aku menjadi suami yang pantas bagi gadis istana seningrat hati ini? Aku, yang cuma Slamet, anak piatu tanpa orang tua yang hanya pungutan belaka? Nelayan miskin yang tidak terdidik priyayi? Entahlah, lika-liku keputusan Kahyangan[10]) sering tidak masuk akal. Apakah yang mampu aku berikan kepada wanita tiban,[11]) yang dalam arti tertentu piatu juga seperti aku; aku si Slamet yang hanya selamat, berkat kebaikan Kakek dan Nenek Siwa? Dan semakin berakarlah keyakinannya yang selama ini dia peluk, namun yang semakin membuatnya bingung juga, yakni bahwa berkat si Genduk Duku, dan hanya berkat si Duku inilah, ia akan selamat. Tetapi bagaimana sebaliknya? Apakah wanita berpendidikan istana ini membutuhkan sampan nelayan dina, dengan pikat yang sekuat ia rasakan terhadap Genduk Duku? Alangkah malunya bila pihak lelaki nanti ternyata hanya akan mendompkng saja pada istri, seperti benalu pada pohon nangka dengan buah-buahnya yang subur.

Inilah yang sering menjadi benih penderitaan dalam kalbu si Slamet, anak kampung nelayan miskin, bila ia memandang istrinya yang begitu lincah, begitu ria, dan serba merasa pasti dalam menjalani kehidupan. Nduk Genduk, jangan sampai aku kautertawakan. Akan hancur segala-galanya. Tidak, kesulitan tidak datang dari Genduk Duku. Dari si Slamet sendiri.

Sudah pagi-pagi almarhumah Nenek Siwa mempersiapkan anak angkatnya mengenai perkara satu ini dalam suatu percakapan panjang sebelum mereka dinikahkan. Lelaki yang merasa kalah terhadap istri akan menghancurkan segala-galanya. Terutama diri sendiri. Tidak ada pihak kalah atau menang dalam lakon omah-omah. Kalau yang satu kalah, yang lainnya pun kalah. Sebaliknya juga begitu. Kejayaan istri adalah kejayaan suami. Namun sering tidaklah mudah bagi Slamet bila melihat, betapa merdeka dan tangkas si Duku. Seolah-olah tanpa Slamet pun, dia mampu maju. Biarlah, tresna marga kulina, itulah peneguh akhirnya. Tetapi tak dapat dihindari, dengan sifat watak Genduk Duku yang Srikandi itu, pasti istrinya akan menyolok. Dan kalau menyolok, bagaimana nanti bila ada satu-dua orang ksatria ningrat atau jantan entahlah yang tertarik kepadanya? Sebab segar, ya segarlah tubuh istrinya itu. Dan kesegaran menyinarkan kecantikan yang khas, yang teramat sering menawan perhatian lelaki. Kekhawatiran Slamet tidak tanpa alasan.

Baru-baru ini ia ditanya ditanya oleh seorang kawan pemikul barang.

“Eh, itu perempuan muda yang kau beri seikat bengkuang itu adikmu?”

“Dia? Dia istriku.”

“Nah, sudah saya duga. Hati-hati ada seorang wedana rupa-rupanya sir[12]) padanya.”

Mengerutlah hati Slamet, dan dengan jantung berdebar dia tanya, “Siapa?”

“Pokoknya dapat kaukenal dari mata yang tak pernah berhenti kiyer-kiyer, dan dari kerisnya yang selalu diikat manja dengan sutra merah jambu. Dia salah seorang perwira perdana yang langsung memerintah pasukan pengawal tawanan asing itu; gandek[13]) khusus yang diutus oleh Susuhunan Mataram. Jagalah baik-baik istrimu.”

Tiba-tiba Slamet tertumbuhi rasa curiga. Jangan-jangan orang ini calo juga.

“Kok sampeyan[14]) tahu dia begini-begitu.”

“Dia omong sendiri. Aku dipanggil dan dia bisik-bisik, menanyakan wanita yang ternyata istrimu itu. Jangan salah paham, Dik. Saya bukan calo, bukan germo, bukan mucikari, bukan kaum begituan. Sampeyan dari mana? Saya dari Semarang saja. Memang sial. Baru pertama kali ini saya memenuhi permintaan menyetor buah-buah mangga untuk istana Adipati, eh, coba, terus langsung disuruh ikut barisan edan ini memikul barang-barang kaum congkak yang seenaknya saja memperbudak kita. Kau senang disuruh bertamasya ke Mataram ini? Aku tidak. Ya, kau untung membawa istrimu. Saya lebih malang dan istri-anakku pasti bingung mencari aku. Lalu mau ke mana?”

“Kakang lebih untung. Istri Kakang aman di kampung. “

“Siapa bilang? Pokoknya orang Semarang orang Mataram gori dan nangka. Hanya nama dan warnanya saja berbeda.” (Dan berbisiklah teman itu dalam telinganya. ) “Saya benci pada kaum ningrat dan priyayi istana itu.”

Hati Slamet lega. Dia salah duga. Kapan-kapan ia akan mengimbanginya dengan kebaikan.

“Apa yang harus saya perbuat, Mas?”

“Yang penting, jangan gegabah. Mereka itu kuasa, tetapi punya kelemahan. Takutnya bukan main, jangan-jangan gengsinya jatuh atau tidak berkenan kepada atasan mereka. Mereka meng­anggap kita ini kerbau. Baiklah, kita kerbaukan mereka juga.”

Belum mudeng juga Slamet apa yang dimaksud temannya itu. Tak mengapalah. Yang penting, dia punya kawan. Ini yang paling menggembirakan. Genduk akan dia peringatkan, bahaya apa yang mengancamnya. Pasti dia lebih tahu cara menangkisnya atau menghindarkannya. Bagaimana seandainya melarikan diri saja?

Raden Wedana Yudamenggala mulai penasaran. Setiap hari Kang Kimpul, yang bertugas memikul kopor-kopor beliay, yakni teman baik Slamet tadi, dipanggilnya dan ditanya mengenai si Derkuku manis dari Telukcikal. Jika nama Genduk Duku dipermanis menjadi Derkuku, begitu pikir Kang Kimpul, aku berhak juga menyebutmu Raden Yuyukiyer. Maka bersepakatlah Kang Kimpul dan Slamet untuk memakai nama sandi Yu Yer. Biar aman bila harus menyebut nama beliau.

Genduk Duku sendiri tidak terkejut mendengar laporan suaminya tentang niat serong Yu Yer itu. Sejak gadis kuncup dia sudah tahu, seperti setiap wanita Mataram, bahwa kaum bangsawan selalu merasa berhak atas tubuh wanita bawahan mereka. Ada yang tak ambil pusing, yang penting selamatlah. Ada yang bahkan bangga, karena itu bukti mereka dinilai cantik dan menarik kaum atasan, dan begitu dapat mengalahkan teman wanita lain yang kebetulan menjadi lawan atau saingan. Tetapi selalu ada yang merasa memberontak melawan penerimaan salah-kaprah[15]) masyarakat mengenai hak-hak istimewa para priyayi itu atas wanita kaum bawahan. Soalnya tinggal, cara pemberontakan mana yang dipilih. Genduk Duku masih terlalu muda dan kurang berpengalaman dalam soal lelaki untuk tahu cara mana yang paling tepat. Tetapi satu hal yang membuatnya kuat yakin: yakni suri teladan Rara Mendut.

Pada suatu pagi Genduk Duku mendapat perintah untuk pindah tugas. Dan seperti sudah diduga semula ia dijauhkan dari suaminya, masuk ke kelompok juru masak para tawanan tuan-tuan Belanda yang langsung di bawah wewenang Raden Wedana Yuyukiyer. Lemaslah Slamet dan ia menjadi lebih pendiam lagi.

Untunglah Slamet masih punya Kang Kimpul, vang setiap hari selalu membawa berita dari dapur para tuan Belanda. Kang Kimpul sungguh kancil luar biasa. Dengan segala cara ia mengelabui Raden Wedana Yuyukiyer sehingga ia tidak terlalu terburu-buru menerkam Genduk Duku, bahkan akhirnya, dengan cerita khayalan tentang sihir hitam rimba jati yang berbahaya, yang keluar dari pusar perut si perempuan secantik peri yang mencurigakan itu, sang Yuyukiyer melepaskan niat mesumnya.

“Kok Kakang begitu baik terhadap kami, Padahal kita baru berkenalan sebentar,” tanya Slamet terharu.

“Gini ya, Dik. Kita sama-sama bernasib malang. Apa yang terjadi pada istrimu dapat terjadi juga pada istriku. Nah, kalau saya berhasil menyelamatkan istrimu, saya percaya, Allah yang Maha Berbelas Kasihan akan menjaga istriku pula. Amalku tidak sepi ing pamrih, Dik, tetapi kita senasib. Nasib istriku dan nasib istrimu tidak lepas seperti dua batu dalam onggokan. Kita satu pohon, Dik. Apa yang baik untuk daun, baik juga untuk bunga.”

Orang baik Kang Kimpul itu, pikir Slamet. Slamet berikrar dalam hatinya untuk tidak lagi cengeng cuma bisa menggantungkan kepala. Betapa kuatnya buah budi Kang Kimpul yang sederhana tetapi teguh itu. Sejak itu Slamet berubah menjadi pemberontak. Seperti istrinya. Seperti sepantasnya jiwa nelayan. Melawan angin, melawan ombak, merebut kehidupan.

[1] bandit-bandit VOC; Farang: sebutan untuk bangsa Barat

[2] Portugal

[3] sebutan beliau yang kelak diberi gelar Sultan Agung

[4] singgah untuk sekedar minum

[5] kain kedodoran: pelacur

[6] bunga di jalan = pelacur

[7]     anak yang oleh orang tuanya khusus dibuang dan dipersembahkan kepada Yang Mahakuasa

[8]     hantu yang transparan seperti plastik. Segala usus, paru-paru, dan lain sebagainya kelihatan semua.

[9]     puasa hanya makan nasi tanpa lauk apa pun dan minum hanya air putih

[10]    surga para dewata

[11]    yang dijatuhkan dari atas, karunia Illahi

[12]    jatuh cinta, berminat

[13]    pesuruh khusus dari pembesar

[14]    kau

[15]    kesalahan yang begitu umum terjadi sampai dianggap bukan kesalahan

——————————–

Heran juga ya, Kali Brantas ujungnya ada di Kota Batu, kemudian lewat Kabupaten Malang, membelah Kota Malang, kemudiam lewat Kota/Kab Blitar, Tulungagung, Treggalek, Kediri, Nganjuk, Jombang, Mojokerto, berakhir di Kota Surabaya dan Kabupate Sidoarjo. Muter-muter sampai pusing

Dan…, lucu juga ya YB Mangunwijaya mendiskripsikan kapal kok seperti manusia saja

he he he ….

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Telah Terbit on 16 Mei 2015 at 01:13  Comments (103)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/trilogi-yb-mangunwijaya/genduk-duku/trackback/

RSS feed for comments on this post.

103 KomentarTinggalkan komentar

  1. Episode pertama Genduk Duku telah diwedar

    silahkan berburu rontal dan bergojeg dan berburu rontal sebagaimana bertahun yang lalu, ketika masih menjadi cantrik aktif di padepokan ini.

  2. test…..
    kenapa komen saya tidak bisa masuk daftar komen?

    Hadu….
    kenapa ya?

  3. Grotal-gratul, grayah-grayah

  4. Serasa seperti nyantrik pertama kali, lupa cara nyarinya

  5. ToPan Siap Hadiiirŕ Pakde Satpam. Apa kabar Pakde Satpam dan Eyang Arema ?. Semoga Selalu Sehat dan Banyak Rezekinya Amiiiin.

  6. Pakde Satpam. Kalau pake android apa bisa dicari dan download ya. Sudah berkali kali di plototi di ubek ubek kok ra ketemu ya hahahhhhhh

    • Sugeng enjang . . . Selamat pagi, Ki Adji.

      Saya tadi sudah mencoba di hp dan tidak bisa Ki, kecuali kalo di hp Ki Adji ada djvu nya, baru bisa dibaca, karena formatnya djvu, bukan pdf bukan pula ms-word.

      Kalo soal rontal diumpetin dimana sama Anakmas Risang, Ki Adji saya kira sudah pengalaman tahunan . . . he he he, tlateni ae suwe-suwe rak ketemu . . . gampang kok, gak susah.

  7. Assalamu’alaikum wr wb
    Salam sejahtera buat kita semua.
    Alkhamdulillah telah kita mulai lagi mengangkat kisah cerita anak bangsa berupa Novel Serial Roro Mendut.
    Serial karya budayawan YB Mangunwijaya ini berkisah tentang kejatuhan martabat seorang ksatria perang, seorang Tumenggung di Zaman Pemerintahan Kesultanan Mataram Era Sultan Agung Hanyokrokusumo.
    Seorang Panglima Perang yang sangat disegani oleh teman dan lawan ini yaitu TUMENGGUNG WIROGUNO, tergelincir hanya karena kecantikan seorang wanita rakyat biasa, RORO MENDUT.
    Sayangnya sang perawan jelita tidak bersedia disunting oleh Ki Tumenggung dengan tawaran hidup kamukten. Ia lebih memili mati bersama kekasihnya PRONOCITRO, seorang nelayan dari pantai utara.
    Kisah tragis di atas berlanjut dengan sebab dan akibat dari peristiwa tersebut di buku kedua dan ketiganya yg sudah dapat diikuti disini.
    Tapi yang justru menarik adalah latar belakang sejarahnya. Banyak yang sangat awam dengan sejarah Mataram di Era akhir Sultan Agung yang digantikan oleh putra mahkota Sunan Amangkurat I, yang dikenal brutal demi menuruti ambisinya yg gemar melahap betis indah. sampe demi menutupi kebobrokannya, dia tercatat telah membantai ratusan Kiai dan Santri di jamanya. Bagaimana jalan ceritanya, temukan di serial novel ini.
    Hanya sayang sekali, Genduk Duku ini sudah Seri II. Buku Seri I berjudul Roro Mendut, belum ditemukan dalam koleksi. Sedangkan mencarinya di luar sangat jarang diketemukan.
    Apabila diantara sidang pembaca ada yg memiliki, atau kebetulan menemukan di toko buku. mohon perkenan untuk di informasikan di sini.
    Mohon judul di atas bukan APDM, tapi RORO MENDUT, novel serial sejarah YB Mangun Wijaya.
    Monggo.

  8. Assalamu’alaikum Wr Wb,
    Salam sejahtera untuk kita semua,
    Selamat pagi . . . Sugeng enjang,
    Sanak kadang adbm semua . . . .

    Anakmas Risang kok teganya-teganya menyanyi . . . he he he.
    Sementara kadang yang gak sabaran maunya cepet membaca, ingak-inguk rana-rene, nang endi leh ndekek rontal.

    • kok komentare menunggu moderasi,
      ra entuk mlebu po ya . . . . . hiks.

  9. Pasti bisa…hik..megkuh titik noda itu…

  10. mantappppp….. tinggal cari roro mendutnya…

  11. Nunut ngiyup Ki ….

  12. Roro mendutnya di bawa lari pronocitro Ki … Salam buat poro Empuh2 Adbm/Pdls …

  13. Wis di ubek2 ora ketemu .. Klau PC cepat klau Hp apa bisa ya … PakLik Satpam mohon bantuannya ..

  14. Ho android juga bisa ki….titik bernoda kata mas satpam…hikkk tidak boleh menyerah

  15. Sugeng sonten Anakmas Risang

    Lha wong episode 2 sudah wedar dari tadi, po ya belum ada yang ngunduh . . . he he he.
    Mungkin sanak kadang perlu bahasa sasmita dari P. Satpam, memang diperlukan ketelitian dan kejelian.

    Sanak kadang sedaya . . . mangga episode 2 sudah gogrok, tinggal ngunduh saja.

    • Sugeng sonten Panembahan
      he he he …., kala wau kesupen terus buru-curu wedaran, lan terus nglanjutaken tugas malih.
      ngapunten…

  16. Hiks…..mas Satpam

    • kata bang haji mas Satpam…terLALU

      • he he he …..
        gandok dimanapun kalau tidak ada Ki Menggung Gembleh dan Ki YP, kayaknya bagaimana…. gitu.

        Monggo Ki

        • Betul Lik Satpam… seperti lontong balap tanpa lontongnya…

          • Betul ki AM….
            Seperti motor balap tanpa motornya

  17. Pusing…
    bagaimana memunculkan komentar terakhir dalam daftar

    mohon pencerahan

    • Lho….mas satpam kePUsingan toh

      Cantrik kira memang sengaja tidak
      mas Satpam tampilkan

      • Gampang mas Satpam…hiks

        Kirim panah sanderan nti cantrik
        bantu dari ujung wetan

  18. Alhamdulillah lagi bisa mlebu senthong sebelah sini…

    lampune masih mati, sehingga harus meraba-raba mencari rontal ala genderuwo picek… semoga pas ‘meraba’nya…

    • Ketemu ki AM….bukan hanya diRABa
      zoom juga perlu ki, saestu

  19. nakmas satpam apa eps.3 siap digrayah ?

    • likmas Satpam apa eps.4 siap diwedar?

      • dereng, mbenjang enjing

    • sampun …..

  20. Alhamdulillah wis gak usum duku nanging iso moco Genduk Duku semudah memijit wohing ranti.

    • Selamat malam mas Satpam… 🙂

      Selamat menyiapkan wedaran rontal
      lanjutan.

      • di padepokan sini….cantrik siap
        bertanding lawan mas Satpam

        Kuat mana yang baca apa mas Satpam
        yg nyiapkan rontal

        • hayoo,,,,,,,,,

          • Priit…format text mas Satpam

            • yg kalah angkat
              tangan kanan.
              tanda kiri cukup
              masukan saku
              belakang 🙂 🙂

            • Kudu sesuai jadwal no Ki Menggung.

              • Jadwal ber-
                kunjung

                • J
                  A
                  D
                  W
                  A
                  L

                  A
                  M
                  B
                  I
                  L

                  J
                  A
                  T
                  A
                  H

                  R
                  A
                  N
                  G
                  S
                  U
                  M

              • Monggo
                lha wong wis ket mau kok
                he he he …..

  21. Episode 5….belum ada cantolan
    Episode 6….masih dalam penggorengan

    Episode 7….belum diracik mas Satpam
    Episode 8….nunggu antrian wedar

    • Usul mas Satpam,

      Wedaran rontal nunggu pasukan OGrog
      pada ngumpul ng padepokan.
      Tahan dulu wedaran sp cantrik mentrik
      kemringet ngiler rontal lanjutan.

      Ini tadi usulan ki Trupod sesepuh
      padepokan….ki gundul sakdermo
      menyebar luaskan

      Saestu…TENAN

    • 5 wis kok

      • 5 wes nyantol….tinggal srondol

        • Matur nuwun mas Satpam

          • Nti malam cantrik kancani
            Melek-an

  22. Absen dulu aahh…..

    Baru kali ini mbuka gandok Genduk Duku, karena berbagai hal..
    matur nuwun sanget Pak Satpam, Bopo Panembahan, dll atas peluncuran rontal yang baru

  23. selamat siang

  24. Episode 5 : djvu dan pdf

    teks belum dimunculken

    • pelan2 mas Satpam…ga usah terburu
      buru pasang “teks”

      yg penting wektu cantrik sambang lgi
      nanti “teks” sudah dicantolkan…hehe20x

      • Malam mas Satpam

        • Hadir…sambang padepokan

          • he he he …, monggo…..

            • Hehehe…matur
              nuwun mas Satpam

              • Sugeng
                Dalu

  25. Hadir….mas Satpam

    • Sugeng dalu kadang genduk DUKU

      • Otw padepokan sebelah sengkaling

        • loh…, padepokan sebelah Sengkaling yang mana? UMM, UIN, Polres?

  26. HADIR…..mas Satpam

    • monggo….
      penghuninya di sini hany Ki menggung sendiri
      satpam juga jadi males piket disini
      he he he he he he he he he he (lama lama tidak terdengar)

      • Males….pertanda belom makan
        mas Satpam…kleru Mules ding.

        AYO SEMANGAT…mumpung yg
        laen pada belom datang.

        • berDUA…..sapa takut 🙂 🙂

          • AYO mas SATPAM….kita buat padepokan megah.

            Megah : menawan gagah
            tur bikin betah para wanita
            seluruh tlatah jawa 🙂 🙂

  27. HADIR….sugeng dalu

    • mas Satpam….kemana kah panjenengan

      • cantrik dewean….ENAK tenan

        • urun saran….kenapa komen di genduk duku tidak nampak pd

          KOMENTAR terakhir padepokan
          ini mungkin yg bikin gandok jarang ada yang singgah padepokan

          • masa sih mas Satpam ga
            bisa otak atik membetulkan

            • Sampe judeg Ki, tidak berhasil.
              Masih dicoba otak atik lagi.

  28. Alhamdulillah, terima kasih mas
    Risang, tau tau sdh episode 8.
    Apa mas Risang sdh baca ceritanya?
    Latar belakang sejarahnya menarik, yaitu awal mula kita bersentuhan dengan barat secara langsung, dan juga kedzoliman Amangkurat 1yg jarang diangkat ke permukaan.

    • Sambil konversi dan edit teks Ki, satpam sempat baca.

  29. Njlekethek,
    setelah hampir putus asa, akhirnya ketemu penyebab tidak munculnya komen terakhir.
    Hadu…..
    Bobo ah….

  30. Wah…jebul saya ketinggalan….padahal yang cepat dapat yang lambat ketinggalan….Sugeng sonten sedoyo…!

    • benul ki Karto….yg cepat dapat duluan
      yg lambat sabar nunggu dum2an

      • Benur..Ki Tmg.YP..ngantri..

        • Ngantri sebentar….pas dibelokan cantrik serobot antrian,

          • Ati2 Ki Menggung….keseringan nyrobot ntar…bengkong lho 😀

            • Bengkong sekali kali asik ki Menggung

              BengkongAN…he 50x

              • Selamat malam…..sepi banget

                • S
                  E
                  R
                  E
                  M

                  Hi
                  Hi
                  Hi
                  Hi

              • hem….serem deh 😦

                • Se
                  Re
                  M

                  Me
                  Le
                  K

                  Me
                  Re
                  M

              • Serem…..seneng merem 😀

  31. tes…..masuk komen, komen masuk

    • tes…..yang keluar masuk 😀

      • Sugeng dalu ki Kartojudo

        • Kecipir mrambat kawat…wes suwe ki Karto ora liwat

          • Sugeng manuk..eh..masuk Ki Gundal gandul 😀

            • Hiks…matur nuwun ki Kartojudo

              Suwe ora jamu…jamu pisan godhong kates
              Suwe ora ketemu…ketemu pisan tes testes

              • Hehehe…dak kiro ketemu pisan ketemu….kates 😀

              • Sanes
                kates
                ki….

                kutes
                kusuka
                kates

  32. HADIR…. mendhisiki diri sendiri

  33. he he he ….

    gandok ini sepertinya rumahnya Ki Menggung berdua (KiGundul dan Ki Kartoyudo sendiri)

    • Bener mas Satpam…terkadang kita perlu menyendiri buat mengendapkan serta menenangkan diri dari hiruk pikuk ramainya hohohihi

      • Bener mas Satpam…terkadang kita …merasa sedih

        • Sedih dipagi hari…seneng disore hari

          • Sedih disiang hari….sueneng dimalam hari

            • Sugeng Riyadin Ji Gundul,mas Satpam…..
              maaf lahir batin……..

              • Njih Ki Menggung
                sami-sami nggih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: