GENDUK DUKU

Episode 3

Laut. Laut cita kecubung yang serba bergerak mengombak. Laut kemerdekaan yang menganginkan janji harapan dari awan-awan putih yang tak terikat bentuk beku. Kancah tiada hingga, penyelenggara nada-nada dahsyat tetapi meyakinkan. Tak henti-henti hati Genduk Duku bersorak-pesona menikmati guncangan-guncangan perahu yang sungguh selera gelora kaum kuda balatentara. Tidak. Sungguh tidak berprahara lagi batin Duku akibat berang remaja yang terluka terlalu pagi; tersobek oleh peristiwa-peristiwa kaum yang disebut dewasa tetapi tak pernah mau tahu tentang apa arti dewasa. Luka-luka hatinya sudah mulai sembuh, sebab bukankah hampir lima pasang musim telah lewat sejak ia meninggalkan Pekalongan, dan di Telukcikal menemukan seorang suami yang cocok dengannya? Begitu cepat memang. Tetapi sesudah peristiwa penghancuran Pati kala itu oleh balatentara Mataram, apakah yang tidak berlalu secara sangat cepat? Apalagi bagi seorang wara-turangga[1]) ulung seperti Genduk Duku, yang terbiasa dengan kecepatan kuda berlari kencang? Sesudah Pati, Jayakarta mendapat giliran dua kali diserodok oleh panglima-panglima Mataram, dan sekarang konon perdamaian telah kembali menaungkan sayapnya.

Seperti tak percaya dengan matanya sendiri, si Genduk mengamat-amati nakhoda muda, ya, pemuda yang sama, yang dulu mengantarkannya dari Pekalongan ke Telukcikal, dan yang sudah dua perputaran bulan ini menjadi suaminya. Syukurlah beribu syukur, sebagai nakhoda paling muda dalam armada Mataram, ia telah pulang selamat dari sekian pertempuran laut dekat Indramayu dan Bekasi, dan yang namanya Slamet juga, sesuai permohonan orang tua asuhnya. Dialah pria yang membuat Genduk Duku kini sudah merasa diri wanita dewasa betul-betul. Spontan seperti terpanggil, si nakhoda membalas pandangan Duku. Suami yang baik tidak membutuhkan kata seruan untuk merasakan getaran himbauan diam dari belahan jiwanya. Garwa, sigaraning nyawa, belahan jiwa, kata orang-orang istana. Jodo kata pemuda-pemuda kampung nakal, ijo tur bodo, hijau dan bodoh. Spontan pula Genduk Duku menutupi mulutnya dengan tangan karena terdesak untuk tertawa. Mata sang nakhoda membesar mengecil dan alis-alisnya naik-turun. Ada apa? Genduk Duku hanya menggelengkan kepala. Jangan dikatakan. Edan apa! Ia hanya berbahasa tangan menunjuk kepada layar yang menggelembung, menandakan betapa gembiranya perahu begitu melaju. Oh laut, laut lazuardi, luas leluasa, lenggara langgam laras!

Tersenyum Genduk Duku mengenang waktu oemuda nelayan, yang sekarang suaminya itu, mengantarkannya ke Telukcikal. Kebetulankah dia dulu datang berlabuh di Pekalongan? Apa yang kebetulan dalam lakon luar biasa yang selama ini dialami si gadis remaja Duku sampai ia jadi wanita cepat dewasa sekarang ini? O laut, laut cita kecubung yang mengkilau karena terasah angin dari segala penjuru. Benarkah kau biru lazuardi hanva serba kebetulan?

“Ada apa?” seru suaminya melawan deru ombak-ombak sambil maju mengatur layar yang tiba-tiba membelok lepas tali.

Genduk Duku hanya menggelengkan kepala dan :ersenyum padanya. Mendadak ia pegang pergeangan kakinya erat-erat. Dan hanya tersenyum saja, istrinya itu. Bukan pemalu si Duku. Ya, masih ingat betul ia kepada si Gadis Duyung dulu, yang bernama Mendut itu. Dan sekarang, inikah penggantinya? Mengapa ia harus selalu bersua dengan gadis-gadis binal bergairah? Padahal ia sendiri lebih suka bersikap pendiam? Ilham mana yang sepancawarsa[2]) yang lalu mendorongnya untuk mencari kain layar atas nama teman-teman dan mengantarkan dua wanita pembeli mori dulu itu ke Pekalongan? Hanya untuk kembali ke Telukcikal bersama seorang gadis aneh, titipan si puan kaya Singabarong?

Kek Siwa, yang menjadi guru nelayan sampai ia menjadi pelaut cukup baik, sungguh sayang telah meninggal. Tak kuat ia menahan dukanya, akibat si Mendut kekasihnya direnggut. Sayang, Kek Siwa almarhum tidak lagi dapat mendengar dari gadis yang kini menjadi istrinya itu, tentang lakon yang kendati sedih sekalipun, namun membanggakan. Begitu sayangnya Kek Siwa kepada si Mendut yang direnggut itu, sehingga ia semakin layu, tersedot gairah hidupnya. Apalagi setelah ia mendengar kehancuran Pati. Lebih dari empat puluh hari ia mencari keterangan dari sana-sini, tetapi tak menemukan jenazah Mendut maupun kesaksian mata sebutir pasir pun tentang nasib anak angkatnya. Sesudah itu terdengar berita-berita burung tentang hal-hal yang aneh-aneh dari ibu kota kerajaan yang begitu jauh; itu pun hanya sesisik demi sesisik tak keruan sosok ikannya. Nenek Siwa ternyata lebih tabah, tetapi akhirnya ia harus memikul nasib menjadi janda, dengan hanya dikawani si pemuda nelayan yang setia lagi penuh tanggung jawab itu.

Kedatangan Genduk Duku terang menghebohkan seluruh desa terpencil yang jarang mendapat berita dari dunia luar. Kisah yang dituturkan bekas gadis istana itu memang menggemparkan, dan serulah tanggapan-tanggapan bertubi: masya Allah, masya Allah dari orang-orang kampung. Mosok mungkin? Tetapi bagaimanapun, laporan Genduk Duku jauh lebih indah daripada apa yang selama ini mereka dengar dari sumber-sumber yang serba tak menentu arah arus angin dari musim mana. Ah, memang sudah dapat diramal, begitu tafsiran para tua dengan mengangguk-anggukkan kepala. Sudah dapat diduga sebelumnya. Sudah layak dan cocok dengan sifat si Gadis Duyung, gumam orang sekampung sambil mengkhayalkan macam-macam dari dunia ibu kota Mataram yang 5agi mereka laksana kota dongeng api unggun belaka, yang menggiurkan tetapi sulit dimengerti lavar dan tali-temalinya.

Namun jelaslah banyak ibu dan nenek menggelengkan kepala sambil berceloteh, alangkah bodohnya si Mendut itu. Dipinang Panglima Besar kerajaan kuasa, eh… mengapa yang bodoh dipilih, sedangkan banyak yang… yang… (Dan mata mereka memandang masygul kepada anak-anak perempuan atau cucu mereka sendiri.) Mana ada wanita dalam pewayangan dan segala hikayat yang berbuat macam si anak pungut Kek Siwa itu? Nggak ada. Namun mereka senang juga memandang si gadis yang baru datang dari Mataram, dan ikut perahu si Slamet dan mengabaikan Pekalongan untuk mendarat di pantai mereka; gadis yang ternyata pintar naik kuda (ah ah ah ada-ada saja, kaum istana itu, ah ah ah apa nanti bisa punya anak begitu itu, ah ah ah); dan yang sekarang menumpang di tempat orang tua Mendut. Baik hati gadis itu. Dari jauh datang hanya untuk, memberitakan kisah nasib Mendut.

Ya, Genduk Duku merasa, betapa hormat penduduk Telukcikal kepadanya, betapa lurus-burus mereka memanjakannya. Ternyata ada alasan terpendam: orang-orang pantai tak suka Mataram. Ya, selamat tinggal, Mataram! Di Telukcikal Genduk Duku menemukan kembali kedamaian jiwanya. Luka-luka hatinya semakin sembuh dan semakin mampulah ia untuk tertawa riang dan bersenda seperti sediakala. Dan… semakin mekarlah pula kesayangan diam-diamnya kepada pemuda nelayan yang setia menjaga nenek tua, janda dari guru seni-lautnya.

Ya, Genduk Duku tanpa kentara, seperti buah kelapa dari pulau jauh yang terdampar di pasir pantai lalu bertunas, telah menjadi semacam pengganti Mendut juga. Dan si pemuda nelayan? Semacam Pranacitra-kah dia? Atau hanya keinginan yang mewayang? Yang sebentar muncul sebentar lagi masuk kotak? Khayalan hati yang mendamba terlalu kuat ataukah memang kenyataan yang dapat diraba, dirangkul, dicium? Ya, pemuda nelayan itu… tak khilaf, tetapi entahlah, sungguh-sungguh Mas Slamet seperti wayang saja dari Pranacitra, mirip sekali dengan kekasih puannya dulu. Ah, bukan. Bukan Slamet. Dalam hatinya, tetapi sering dalam senda gurau juga, Genduk menamakannya Mas Prana.

Pranacitra. Tidak baguskah nama itu? Prana: ‘jiwa’, ‘inti’; citra: ‘cita’, ‘cipta’, bahkan ‘bahasa’, menurut Ni dalang Semangka? [3]) Memang baru diakui, kemiripan Mas Slamet dengan Pranacitra pasti datang dari jiwa rindunya yang tidak mau lupa kepada peristiwa yang begitu mengesan selagi si Genduk masih begitu remaja dan pekacita. 0rang-orang kampung tertawa mendengar nama begitu mentereng untuk si Slamet, tetapi biarlah. Kan dia gadis istana. Apa saja bolehlah. Namun akhirnya Genduk Duku sendirilah yang sadar, bahwa nama Slamet, walaupun tidak seharum nama istana Pranacitra, toh lebih baik dan bermakna. Sebutan Slamet akhirnya terdengar lebih manis dan semakin disukai oleh Genduk Duku. Tresna marga kulina.[4])

Maka terjadilah sesuatu yang sewajarnyalah harus terjadi. Atas kehendak Nenek Siwa, Genduk Duku dinikahkan dengan Slamet. Tetapi tidak dapat disangsikan, kehendak Nenek Siwa pada dasarnya hanya penggamblangan resmi saja dari apa yang sudah diketahui oleh seluruh kampung, dan terutama oleh Genduk Duku dan Slamet-nya. Seperti kayu buritan, hanya penerusan saja dari kayu haluan perahu. Si gadis dan si pemuda telah jodoh, cocok sebelumnya. Maka sudah selayaknyalah, seperti sampan dengan cadik-semangnya, mereka dipersatukan. Seperti Dewa Kamajaya di mana pun akan jumbuh dengan Dewi Kamaratih.[5]) Aneh kalau tidak. Dan dalam dunia nelayan sederhana, orang tidak boleh menghindar dari apa yang sudah ditentukan iklim maupun angin. Begitulah juga dengan Nenek Siwa. Seperti perahu yang tahu kapan saatnya pulang, apabila angin pagi membalik menuju daratan, demikian pula Nenek Siwa, yang telah menemukan kedamaian hatinya dengan berita sebenarnya tentang Rara Mendutnya, tahu, bahwa saatnya pun sudah tiba untuk meneruskan warta yang mengharukan itu kepada almarhum suaminya. Warisan kepada Slamet dan Duku bukan berupa harta atau uang, sebab Nenek Siwa sungguh tidak punya apa-apa, tetapi modal petuah. Kepada Slamet dituturkan, agar jangan mengikatkan diri hanya kepada Telukcikal.

“Nenek tak mampu memberikan warisan apa pun, Met. Dan kau pun tak punya apa dan siapa pun kecuali Genduk Duku. Tetapi ingat, Genduk Duku bukan anak desa kecil. Di sini dia berziarah. Kau pun, Met, aku tahu, kau sudah ikut menjadi kelasi krocuk dalam angkatan laut, sudah menghitung jumlah muara sungai sampai Banten, teranglah dambaanmu ingin melihat dunia yang lebih luas. Sesudah nenekmu pergi, jangan rikuh dan wigah-wigih [6]) meninggalkan kampung yang kecil dan tercinta ini untuk menemukan pantai-pantai lain yang lebih luas, lebih ramai, lebih memberi kalian kepuasan dan kebahagiaan.” Lalu mangkatlah nenek yang baik itu, menyusul suaminya.

Demikianlah kemudian, setelah pesta selamatan seratus hari yang sederhana, dan minta diri dari penduduk Telukcikal, layar dikembangkan. Dan ombak-ombak terbelah oleh dua muda-mudi itu; perahu semakin melaju terhembus angin timur yang menyegarkan, menjelajah serba gembira ke arah barat. Ke Jepara. Menyabung untung. Tidak untuk pertama kali Slamet mengatur kemudinya menuju ke Jepara. Tetapi kali ini teranglah lain sama sekali laut dan angin yang menyertai perahunya. Sekarang ia bersama seorang istri manis yang ia sayangi, dan pergi merantau sungguh-sungguh. Di Jepara ia tahu beberapa kenalan, yang biasanya menjadi tengkulak ikan-ikannya. Tujuan kedua mempelai muda itu sebenarnya lebih jauh lagi, ke Cirebon, ke kerajaan yang lebih tua dan lebih keramat daripada Mataram. Di Jepara Genduk Duku masih takut, jangan-jangan dikenali lagi oleh salah seorang bawahan Panglima Mataram. Di wilayah keramat Sunan Gunungjati, tidak lebih rendah atau kurang sakti dibanding dengan Sunan Giri, tangan-tangan Mataram tidak dapat seenaknya saja merenggut seseorang yang tidak disukainya. Dan konon, nelayan-nelayan Cirebon sangatlah ulung dan luas penjelajahan serta ilmunya daripada kaum Pantai Timur. Slamet masih ingin belajar ilmu laut lebih banyak lagi.

Oh laut, laut luas. Laut lazuardi lenggara langgam laras. Betapa bahagia Duku. Betapa berdendang hati Slamet.

[1] wanita penunggang kuda

[2] panca: lima, warsa: tahun – kurun waktu lima tahun

[3]     ibu asuh Genduk Duku. Lihat novel YB Mangunwijaya, Roro Mendut, Gramedia: 1983.

[4] cinta karena terbiasa

[5] dewa-dewi asmara dalam pewayangan

[6] malu, tak berani, ragu-ragu

———————————————————————-

Pengalaman bagi Genduk Duku yang biasa naik kuda, sekarang naik perahu. Tadinya gedubrak…gedubrak… gedubrak…, sekarang nyut…nyut….nyut… terombang-ambing oleh ombak laut.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Telah Terbit on 16 Mei 2015 at 01:13  Comments (103)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/trilogi-yb-mangunwijaya/genduk-duku/trackback/

RSS feed for comments on this post.

103 KomentarTinggalkan komentar

  1. Episode pertama Genduk Duku telah diwedar

    silahkan berburu rontal dan bergojeg dan berburu rontal sebagaimana bertahun yang lalu, ketika masih menjadi cantrik aktif di padepokan ini.

  2. test…..
    kenapa komen saya tidak bisa masuk daftar komen?

    Hadu….
    kenapa ya?

  3. Grotal-gratul, grayah-grayah

  4. Serasa seperti nyantrik pertama kali, lupa cara nyarinya

  5. ToPan Siap Hadiiirŕ Pakde Satpam. Apa kabar Pakde Satpam dan Eyang Arema ?. Semoga Selalu Sehat dan Banyak Rezekinya Amiiiin.

  6. Pakde Satpam. Kalau pake android apa bisa dicari dan download ya. Sudah berkali kali di plototi di ubek ubek kok ra ketemu ya hahahhhhhh

    • Sugeng enjang . . . Selamat pagi, Ki Adji.

      Saya tadi sudah mencoba di hp dan tidak bisa Ki, kecuali kalo di hp Ki Adji ada djvu nya, baru bisa dibaca, karena formatnya djvu, bukan pdf bukan pula ms-word.

      Kalo soal rontal diumpetin dimana sama Anakmas Risang, Ki Adji saya kira sudah pengalaman tahunan . . . he he he, tlateni ae suwe-suwe rak ketemu . . . gampang kok, gak susah.

  7. Assalamu’alaikum wr wb
    Salam sejahtera buat kita semua.
    Alkhamdulillah telah kita mulai lagi mengangkat kisah cerita anak bangsa berupa Novel Serial Roro Mendut.
    Serial karya budayawan YB Mangunwijaya ini berkisah tentang kejatuhan martabat seorang ksatria perang, seorang Tumenggung di Zaman Pemerintahan Kesultanan Mataram Era Sultan Agung Hanyokrokusumo.
    Seorang Panglima Perang yang sangat disegani oleh teman dan lawan ini yaitu TUMENGGUNG WIROGUNO, tergelincir hanya karena kecantikan seorang wanita rakyat biasa, RORO MENDUT.
    Sayangnya sang perawan jelita tidak bersedia disunting oleh Ki Tumenggung dengan tawaran hidup kamukten. Ia lebih memili mati bersama kekasihnya PRONOCITRO, seorang nelayan dari pantai utara.
    Kisah tragis di atas berlanjut dengan sebab dan akibat dari peristiwa tersebut di buku kedua dan ketiganya yg sudah dapat diikuti disini.
    Tapi yang justru menarik adalah latar belakang sejarahnya. Banyak yang sangat awam dengan sejarah Mataram di Era akhir Sultan Agung yang digantikan oleh putra mahkota Sunan Amangkurat I, yang dikenal brutal demi menuruti ambisinya yg gemar melahap betis indah. sampe demi menutupi kebobrokannya, dia tercatat telah membantai ratusan Kiai dan Santri di jamanya. Bagaimana jalan ceritanya, temukan di serial novel ini.
    Hanya sayang sekali, Genduk Duku ini sudah Seri II. Buku Seri I berjudul Roro Mendut, belum ditemukan dalam koleksi. Sedangkan mencarinya di luar sangat jarang diketemukan.
    Apabila diantara sidang pembaca ada yg memiliki, atau kebetulan menemukan di toko buku. mohon perkenan untuk di informasikan di sini.
    Mohon judul di atas bukan APDM, tapi RORO MENDUT, novel serial sejarah YB Mangun Wijaya.
    Monggo.

  8. Assalamu’alaikum Wr Wb,
    Salam sejahtera untuk kita semua,
    Selamat pagi . . . Sugeng enjang,
    Sanak kadang adbm semua . . . .

    Anakmas Risang kok teganya-teganya menyanyi . . . he he he.
    Sementara kadang yang gak sabaran maunya cepet membaca, ingak-inguk rana-rene, nang endi leh ndekek rontal.

    • kok komentare menunggu moderasi,
      ra entuk mlebu po ya . . . . . hiks.

  9. Pasti bisa…hik..megkuh titik noda itu…

  10. mantappppp….. tinggal cari roro mendutnya…

  11. Nunut ngiyup Ki ….

  12. Roro mendutnya di bawa lari pronocitro Ki … Salam buat poro Empuh2 Adbm/Pdls …

  13. Wis di ubek2 ora ketemu .. Klau PC cepat klau Hp apa bisa ya … PakLik Satpam mohon bantuannya ..

  14. Ho android juga bisa ki….titik bernoda kata mas satpam…hikkk tidak boleh menyerah

  15. Sugeng sonten Anakmas Risang

    Lha wong episode 2 sudah wedar dari tadi, po ya belum ada yang ngunduh . . . he he he.
    Mungkin sanak kadang perlu bahasa sasmita dari P. Satpam, memang diperlukan ketelitian dan kejelian.

    Sanak kadang sedaya . . . mangga episode 2 sudah gogrok, tinggal ngunduh saja.

    • Sugeng sonten Panembahan
      he he he …., kala wau kesupen terus buru-curu wedaran, lan terus nglanjutaken tugas malih.
      ngapunten…

  16. Hiks…..mas Satpam

    • kata bang haji mas Satpam…terLALU

      • he he he …..
        gandok dimanapun kalau tidak ada Ki Menggung Gembleh dan Ki YP, kayaknya bagaimana…. gitu.

        Monggo Ki

        • Betul Lik Satpam… seperti lontong balap tanpa lontongnya…

          • Betul ki AM….
            Seperti motor balap tanpa motornya

  17. Pusing…
    bagaimana memunculkan komentar terakhir dalam daftar

    mohon pencerahan

    • Lho….mas satpam kePUsingan toh

      Cantrik kira memang sengaja tidak
      mas Satpam tampilkan

      • Gampang mas Satpam…hiks

        Kirim panah sanderan nti cantrik
        bantu dari ujung wetan

  18. Alhamdulillah lagi bisa mlebu senthong sebelah sini…

    lampune masih mati, sehingga harus meraba-raba mencari rontal ala genderuwo picek… semoga pas ‘meraba’nya…

    • Ketemu ki AM….bukan hanya diRABa
      zoom juga perlu ki, saestu

  19. nakmas satpam apa eps.3 siap digrayah ?

    • likmas Satpam apa eps.4 siap diwedar?

      • dereng, mbenjang enjing

    • sampun …..

  20. Alhamdulillah wis gak usum duku nanging iso moco Genduk Duku semudah memijit wohing ranti.

    • Selamat malam mas Satpam… 🙂

      Selamat menyiapkan wedaran rontal
      lanjutan.

      • di padepokan sini….cantrik siap
        bertanding lawan mas Satpam

        Kuat mana yang baca apa mas Satpam
        yg nyiapkan rontal

        • hayoo,,,,,,,,,

          • Priit…format text mas Satpam

            • yg kalah angkat
              tangan kanan.
              tanda kiri cukup
              masukan saku
              belakang 🙂 🙂

            • Kudu sesuai jadwal no Ki Menggung.

              • Jadwal ber-
                kunjung

                • J
                  A
                  D
                  W
                  A
                  L

                  A
                  M
                  B
                  I
                  L

                  J
                  A
                  T
                  A
                  H

                  R
                  A
                  N
                  G
                  S
                  U
                  M

              • Monggo
                lha wong wis ket mau kok
                he he he …..

  21. Episode 5….belum ada cantolan
    Episode 6….masih dalam penggorengan

    Episode 7….belum diracik mas Satpam
    Episode 8….nunggu antrian wedar

    • Usul mas Satpam,

      Wedaran rontal nunggu pasukan OGrog
      pada ngumpul ng padepokan.
      Tahan dulu wedaran sp cantrik mentrik
      kemringet ngiler rontal lanjutan.

      Ini tadi usulan ki Trupod sesepuh
      padepokan….ki gundul sakdermo
      menyebar luaskan

      Saestu…TENAN

    • 5 wis kok

      • 5 wes nyantol….tinggal srondol

        • Matur nuwun mas Satpam

          • Nti malam cantrik kancani
            Melek-an

  22. Absen dulu aahh…..

    Baru kali ini mbuka gandok Genduk Duku, karena berbagai hal..
    matur nuwun sanget Pak Satpam, Bopo Panembahan, dll atas peluncuran rontal yang baru

  23. selamat siang

  24. Episode 5 : djvu dan pdf

    teks belum dimunculken

    • pelan2 mas Satpam…ga usah terburu
      buru pasang “teks”

      yg penting wektu cantrik sambang lgi
      nanti “teks” sudah dicantolkan…hehe20x

      • Malam mas Satpam

        • Hadir…sambang padepokan

          • he he he …, monggo…..

            • Hehehe…matur
              nuwun mas Satpam

              • Sugeng
                Dalu

  25. Hadir….mas Satpam

    • Sugeng dalu kadang genduk DUKU

      • Otw padepokan sebelah sengkaling

        • loh…, padepokan sebelah Sengkaling yang mana? UMM, UIN, Polres?

  26. HADIR…..mas Satpam

    • monggo….
      penghuninya di sini hany Ki menggung sendiri
      satpam juga jadi males piket disini
      he he he he he he he he he he (lama lama tidak terdengar)

      • Males….pertanda belom makan
        mas Satpam…kleru Mules ding.

        AYO SEMANGAT…mumpung yg
        laen pada belom datang.

        • berDUA…..sapa takut 🙂 🙂

          • AYO mas SATPAM….kita buat padepokan megah.

            Megah : menawan gagah
            tur bikin betah para wanita
            seluruh tlatah jawa 🙂 🙂

  27. HADIR….sugeng dalu

    • mas Satpam….kemana kah panjenengan

      • cantrik dewean….ENAK tenan

        • urun saran….kenapa komen di genduk duku tidak nampak pd

          KOMENTAR terakhir padepokan
          ini mungkin yg bikin gandok jarang ada yang singgah padepokan

          • masa sih mas Satpam ga
            bisa otak atik membetulkan

            • Sampe judeg Ki, tidak berhasil.
              Masih dicoba otak atik lagi.

  28. Alhamdulillah, terima kasih mas
    Risang, tau tau sdh episode 8.
    Apa mas Risang sdh baca ceritanya?
    Latar belakang sejarahnya menarik, yaitu awal mula kita bersentuhan dengan barat secara langsung, dan juga kedzoliman Amangkurat 1yg jarang diangkat ke permukaan.

    • Sambil konversi dan edit teks Ki, satpam sempat baca.

  29. Njlekethek,
    setelah hampir putus asa, akhirnya ketemu penyebab tidak munculnya komen terakhir.
    Hadu…..
    Bobo ah….

  30. Wah…jebul saya ketinggalan….padahal yang cepat dapat yang lambat ketinggalan….Sugeng sonten sedoyo…!

    • benul ki Karto….yg cepat dapat duluan
      yg lambat sabar nunggu dum2an

      • Benur..Ki Tmg.YP..ngantri..

        • Ngantri sebentar….pas dibelokan cantrik serobot antrian,

          • Ati2 Ki Menggung….keseringan nyrobot ntar…bengkong lho 😀

            • Bengkong sekali kali asik ki Menggung

              BengkongAN…he 50x

              • Selamat malam…..sepi banget

                • S
                  E
                  R
                  E
                  M

                  Hi
                  Hi
                  Hi
                  Hi

              • hem….serem deh 😦

                • Se
                  Re
                  M

                  Me
                  Le
                  K

                  Me
                  Re
                  M

              • Serem…..seneng merem 😀

  31. tes…..masuk komen, komen masuk

    • tes…..yang keluar masuk 😀

      • Sugeng dalu ki Kartojudo

        • Kecipir mrambat kawat…wes suwe ki Karto ora liwat

          • Sugeng manuk..eh..masuk Ki Gundal gandul 😀

            • Hiks…matur nuwun ki Kartojudo

              Suwe ora jamu…jamu pisan godhong kates
              Suwe ora ketemu…ketemu pisan tes testes

              • Hehehe…dak kiro ketemu pisan ketemu….kates 😀

              • Sanes
                kates
                ki….

                kutes
                kusuka
                kates

  32. HADIR…. mendhisiki diri sendiri

  33. he he he ….

    gandok ini sepertinya rumahnya Ki Menggung berdua (KiGundul dan Ki Kartoyudo sendiri)

    • Bener mas Satpam…terkadang kita perlu menyendiri buat mengendapkan serta menenangkan diri dari hiruk pikuk ramainya hohohihi

      • Bener mas Satpam…terkadang kita …merasa sedih

        • Sedih dipagi hari…seneng disore hari

          • Sedih disiang hari….sueneng dimalam hari

            • Sugeng Riyadin Ji Gundul,mas Satpam…..
              maaf lahir batin……..

              • Njih Ki Menggung
                sami-sami nggih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: