GENDUK DUKU

Episode 2

Laut. Laut lazuardi. Luas. Leluasa. Lenggara langgam laras. Baru pertama kali ini Genduk Duku berlayar di laut. Oh, laut lazuardi yang disontek warnanya oleh permata kecubung para raden ayu. Bagi manusia daratan seperti Genduk Duku, laut sungguh merupakan pengalaman perdana yang indah. Luas leluasa laut itu, penjamin kemerdekaan yang hanya terbeli dengan tekad bayaran maut, penguat jiwa bagi mereka yang ingin menjauhi ketidaksenonohan adat daratan yang rapuh tak ketolongan. Hanya sayang, nah, inilah lagi yang menggerigiti hatinya, tanpa Rara Mendut.

Jangan terlalu bersedih, peringatnya dalam hati. Aja kagetan,[1]) petuah Ni Semangka, pengasuhnya dulu yang entah sekarang bagaimana nasibnya. Semua ini hanyalah laku dan lakon yang tak perlu dirisaukan. Orang seperti Ni Semangka biasanya tetap akan selamat, karena sangat pandai me­nyesuaikan diri dan lekas ikhlas. Tidak memberang, tidak memberontak. Sumarah selalu dan melaraskan diri dalam setiap kenyataan yang amat pahit pun. Sebaliknya, watak-watak seperti Rara Mendut, dan terus terang saja Genduk Duku juga, tidak akan pernah sederhana hidupnya. Tergolong anak nakal. Ya, nakal karena kaya akal. Dan sering akal yang menurut adat disebut “yang bukan-bukan.”

Namun bagaimanapun Genduk Duku harus bersvukur atas segala rahmat perlindungan Yang Mahakuasa terhadap dirinya. Ini semua jasa Putri Arumardi. Semakin kagum Genduk Duku terhadap Bendara Raden Ayu satu ini, istri selir Wiraguna yang memungkinkan Rara Mendut lari Dengan pahlawan hatinya, dan yang amat arif menata penyelamatan abdi-abdi Pranacitra dan Genduk Duku dari amarah suaminya. Sebab memang betul apa yang beliau pesan untuk terakhir kalinya sesudah tumenggung yang marah itu pergi mencari Mendut, “Tidak adil bila kau, Genduk, beserta abdi-abdi Pranacitra, ikut terkena tombak amarah Kakangmas Wiraguna. Sebab kalian pada dasarnya tidak bersalah apa pun. Dan seandainya pun dinilai salah, berbahagialah karena semua itu demi pembelaan cinta yang indah. Aku merasakan sendiri Genduk-ku, apa arti penderitaan tidak boleh memilih. Tetapi tak mengapalah. Agar beberapa anggrek dapat tumbuh kendati tersembunyi di tengah rimba belantara yang buas sekalipun.”

Ya, siapa sebetulnya lebih agung jiwanya? Rara Mendut atau Arumardi? Siapa lebih benar? Wibisana atau Kumbakarna?[2]) Ternyata tidak semudah itu persoalan dunia dewasa. Apakah Genduk Duku telah siap masuk dalam dunia dewasa yang rupit ini? Selamat jalan masa anak-anak fajar yang masih dapat bersorak melihat intan-intan embun di dedaunan. Sebentar lagi, bahkan barangkali sekarang sudah, intan-intan masa kebahagiaan purba akan lenyap, menguap oleh terik matahari. Ah, pasti pastilah Ni Semangka kini terlindung oleh kemuliaan jiwa Putri Arumardi. Tak perlulah mengkhawatirkan dayang-dayang pengasuhnya, yang kendati cenderung ke arah watak Kumbakarna, yakni setia kepada abang yang lalim pun, berlawanan gaya dengan Duku dan puannya. Ia adalah manusia yang baik hati.

Namun ke mana kini arah perahu? Ke timur, mengikuti bintang kejora, ya, betul. Tetapi ke mana? Betapa baik tuntunan Kahyangan selama ini. Sesudah mendapat perlindungan Bendara Ayu Pahitmadu (Alangkah dalam makna nama itu!) perjalanan serba terjamin. Setelah beristirahat sepekan dalam pesanggrahan kakak Tumenggung Wiraguna, yang ternyata sangat sayang sikapnya kepada Rara Mendut dan dayangnya, mereka diantar dengan pengawalan seregu prajurit ke arah barat sampai di tepi Sungai Praga. Aman melewati sungai lebar itu perjalanan diteruskan sampai ke pos penjagaan Rabut-Besar, perbatasan wilayah Bumija di timur sungai dan Siti Bumi Kulon Praga; terus ke barat melewati desa Barosot dan daerah pesanggrahan raja di Ranugading sampai di Sungai Bagawanta. Pos pertahanan barat di Jagabaya yang sangat ketat dijaga oleh pasukan-pasukan Wiraguna mereka lalui dengan sangat mudah, berkat surat ialan dan jaminan Bendara Ayu Pahitmadu. Di desa Jali, barat sungai dengan nama yang sama, Genduk Duku dan sahabat-sahabatnya dititipkan kepada sepasang petani desa yang oleh orang-orang di pasar disebut Mbah Legen dan istrinya Nvi Gendis, karena mereka mencari nafkah dengan membuat gula yang terkenal istimewa enaknya dari sari pohon kelapa. Dari Jali rute perjalanan sudah tidak perlu lagi mengkhawatirkan pengejaran pasukan-pasukan Wiraguna, sebab di daerah Pagelen, Urut Sewu, kedaulatan Susuhunan Mataram tidak mutlak. Para bangsawan daerah Kedu dan Pagelen memang sukarela bersekutu dengan raja-raja Mataram. Panembahan Senapati[3]) vang mengajak mereka merdeka dari Kesultanan Pajang. Akan tetapi mereka tidak diwajibkan menyetor pasukan-pasukan tempur bila Raja menghendaki suatu peperangan; suatu hak istimewa yang tidak dinikmati oleh para adipati dari Madiun, Pati, Blitar, Surabaya, Semarang, dan lain-lainnya. Senapati-ing-Ngalaga Mataram[4]) boleh menghancurkan Pati atau menaklukkan Madiun dan Surabaya, tetapi menghadapi panglima-panglima pegunungan Kedu beliau merasa segan. Untir-untir dan Bolu sudah sangat mengenal rute jalan dari Pagelen langsung ke Pekalongan, ke rumah mewah Nyai Singabarong,[5]) ibu Pranacitra almarhum. Maka tenanglah kedua orang itu menuntun Genduk Duku ke tanah kElahiran Pranacitra. Sebetulnya ada jalan lebih enak melalui Krasak, Borobudur, Gunung Tidar, Kedu, lalu Candirata, tetapi demi keamanan terpaksalah dipilih jalan menyusur sisi barat Gunung Sumbing dan Sindara, melalui Sempura, Wanasaba, lalu Candirata. Tinggal Weleri, lalu Pekalongan. Apa boleh buat. Melalui hutan gelap hanya sendirian bersama dua orang bujang nakal. Tetapi belati di pinggang yang selalu siaga sudah cukup untuk membela diri apabila godaan yang bukan-bukan dari si Bolu atau Untir-untir melonjak. Tetapi untuk berbuat jahat macam itu, kedua pelayan tersayang Pranacitra itu pasti tak mau.

“Kau tidak suka tinggal di sini?” tanya Nyai Singabarong penuh ramah kepada Genduk Duku. “Kau gadis yang cerdas, dan pasti maju dengan ikut aku. Selain itu, aku janda seorang diri. Akan sedikit terhiburlah aku oleh kehadiranmu di sini; kau yang telah setia dan berani menyabung nyawa bagi anakku Pranacitra.”

Tetapi Genduk Duku, penuh terima kasih kepada pedagang kaya di Pekalongan itu, dengan halus namun tegas memohon meneruskan perjalanan. Dan alasannya sulit dibantah oleh Nyai Singabarong. “Hamba masih harus memenuhi kewajiban suci. Menemui orang tua dan wali Rara. Dan rasa-rasa hamba, Genduk Duku menggantikan Rara Mendut di Telukcikal.[6]) Dijadikan budak mereka aku pun rela. Demikianlah lubuk hati hambamu merasa, bahwa dengan ;esuatu, entah bagaimana, Rara Mendut tidak boleh hilang begitu saja.”

Itu pikiranmu sendiri atau memang ilham dari seorang gurumu?”

Hamba pun tidak tahu, Puanku yang amat baik, namun aku merasakannya demikian.”

”Kau berhati budiwati, Genduk kecil. Tetapi manusia tidak dapat diganti begitu saja oleh manusia lain. Apa kau kira ada pengganti untuk Pranacitra-ku?”

“”Maafkan, Puan besar. Bukan itu yang hamba maksud. Memang mungkin sekali Genduk Duku keliru. Namun hamba bagaimanapun harus pergi ke Telukcikal dahulu, paling sedikit untuk memberitakan peristiwa Putri Mendut kepada orang tua dan sanak saudara-nya.”

Tak terduga, tiba-tiba Genduk Duku dirangkul erat-erat oleh puan pemilik armada dagang yang terkenal selaku wanita kuat lagi angkuh itu, namun yang kini lunglai menangis lirih, “Kau masih gadis kecil. Tetapi sudah searif itu kata-katamu. Pasti itu kau belajar dari Rara Mendut yang belum pernah kulihat itu. Ya, walaupun aku belum melihat pilihan hati anakku, aku sekarang sudah tahu, betapa betul pilihan Pranacitra. Jauh lebih betul dari ibunya. O, Prana, O, Citra-ku! Barangkali kepergian anakku hukumanku juga, karena aku selalu memaksakan kehendakku kepada dia. Berat dan getir hukuman semacam ini, Nduk. Tetapi barangkali sudah beginilah perbandingannya. Aku, puan armada dagang yang besar, maka besarlah pula hukuman orang besar bila berbuat kesalahan. (Kemudian langsung terhentak gemetar, suara melengking.) Tetapi mengapa anakku yang menjadi tumbal agar aku semakin arif? Padahal semakin tua juga aku ini? Genduk Duku! Ah, namamu nama gadis kecil. Tetapi jiwamu sudah melebihi orang dewasa. Ya, aku yakin, itu karena pengaruh Rara Mendut. Sayang kau tidak mau tinggal bersamaku di Pekalongan sini. Tetapi memang aku cuma memikirkan hiburan untuk diriku sendiri. Tentulah duniamu bukan dunia dagang dan armada pengumpulan barang dan uang. Dan ya, tentulah, kau harus pergi dahulu ke orang tua Rara Mendut. Kau memikirkan orang lain. Aku hanya memikirkan diriku sendiri.” Dan tersedu-sedulah Nyai Singabarong menangis, melolong-lolong, sehingga pilu rasa hati Genduk Duku.

Maka semakin teguhlah keyakinan Genduk Duku, betapa uang serta kekuasaan melulu sama sekali tidak mampu membuat orang menjadi bahagia dan kuat. Wiraguna dan Nyai Singabarong, dua dunia yang seolah-olah bertolak belakang, tetapi ternyata satu dunia juga. Den Rara Mendut telah menolak masuk dunia itu. Mengapa Genduk Duku tidak? Kasihan sebetulnya Nyai Singabarong itu, berhari-hari ia menceritakan kepada Genduk Duku tentang anaknya, tentang hari depan gemilang yang ingin diberikannya kepada Pranacitra, tentang kekecewaan karena anaknya tidak mau mengikuti kebijaksanaan ibunya. Dan berhari-hari pula Nyai itu hanya menanyakan, bagaimana keadaan Pranacitra pada hari-hari terakhir sebelum meninggal? Apa saja yang diomongkan? Apakah pernah menggerutui ibunya? Apa pernah mengungkapkan cita-citanya kelak? Kemudian ia bertanya juga tentang rupa Mendut, bagaimana tabiatnya, sebetulnya siapa­kah dia, berasal dari mana, berdarah bangsawan atau tidak? Apakah Genduk Duku pernah melihat dua orang itu bermesraan? Apa pernah bersanggama dengan Pranacitra? Apakah pernah diperkosa oleh Wiraguna? Apa masih perawan?. Jangan-jangan puntung rokok itu bukan puntung rokok sungguhan.

Lama-lama jengkel juga Genduk Duku mendengar pertanyaan-pertanyaan yang sebagian dapat dipahami, namun sebagian sudah melampui batas kesenonohan. Tetapi Genduk Duku tidak marah kepada ibu Pranacitra itu. Ia hanya memahami dan ada sekelumit kasihan kepada wanita sengsara itu terasa dalam dirinya. Kasihan memang seorang ibu` yang tanpa sadar ingin mutlak memiliki anak. Tetapi begitulah adat. Semua wanita Mataram milik Susuhunan dan setiap anak adalah milik orang tua. Dan, Genduk Duku yang yatim-piatu? Ah, merdeka Gpnduk Duku! Ia bukan milik siapa-siapa. Batangkali milik Allah subbhanahu wa ta’ala. Tetapi Allah pasti bukan semacam Tumeng­gung Wiraguna atau Nyai Singabarong.

Nyai Singabarong tidak mau melepas Genduk Duku sebelum seorang nelayan yang betul-betul berasal dari Telukcikal ditemukan. Ya, dengan caranya sendiri Nyai Singabarong sudah menganggap Genduk Duku sebagai anak sendiri. Sebagai hiburan? Barangkali begitulah. Akan tetapi toh tidak hanya itu. Genduk Duku bagi Nyai Singabarong sudah menjadi lambang perubahan sikapnya yang kini ingin ia tata baru. Pembaharuan sikap yang terlambat memang, akan tetapi lebih baik terlambat daripada menjadi semakin histeris atau konyol. Tidak. Genduk Duku tidak boleh ke Telukcikal bila keperawanan serta keselamatannya tidak terjamin sungguh. Ia harus langsung pergi ke Telukcikal. Sudah hampir satu perputaran bulan Genduk Duku tinggal di istana Nyai Singabarong. Akhirnya ada nelayan datang dengan perahu layarnya yang kecil, dan yang mengaku penduduk Telukcikal. Seorang pemuda dia, yang disuruh teman-teman sekampungnya membeli bahan layar baru di Pekalongan. Ikut dengannya dua orang perempuan yang ingin mencari kain mori halus. Baiklah. Sesudah teruji sungguh diri mereka, Nyai Singabarong dapat mempercayakan Genduk Duku kepada pemuda dan dua orang simbok itu.

Tetapi siapa yang mengirim pemuda nelayan itu dari Telukcikal ke Pekalongan? begitu tak habis-habisnya Genduk Duku berpikir dan bertanya dalam hati. Sebab sungguh mengherankan, pemuda itu mirip sekali wajah dan sosoknya dengan Raden Pranacitra. Mustahil. Tetapi begitulah nyatanya. Aneh, sungguh aneh. Apakah karena Genduk Duku terlalu menggumuli peristiwa Rara Mendut dan Pranacitra yang menyedihkan namun penuh hikmah itu? Apakah ini hanya suatu bayangan ejekan nasib yang sering membuat walang godong berwujud persis seperti daun? Tetapi sungguh tidak tersangkal. Ini Pranacitra, bukan orang lain. Hanya kulitnya jauh lebih sawo daripada kulit nangka kekasih Mendut. Dan bahasanya masih kurang halus. Tetapi lain-lainnya ielas serupa. Persis. Bagaimana mungkin? Tidak, ini bukan kilauan khayal Genduk Duku sendiri. Sebab ketika pertama kali pemuda nelayan itu dihadapkan kepada Nyai Singabarong, langsung Nyai juga berseru, “Lho, ini kan anakku! Kok…”

Tersenyumlah sendirian Genduk Duku, tetapi pilu. Bayang-bayang peristiwa untuk sekian kali meliputi kalbu si Genduk. Kalau begini terus, selalulah bayangan Mendut-Pranacitra akan menghantu tanpa henti. Aja kagetan. Aja kagetan. Bagaimana tidak kaget, melihat si pemuda nelayan itu begitu mirip dengan kekasih puan almarhumah? Sungguh sulit dipercaya. Kepala oleng, Genduk Duku hati-hati memutar bola-bola mata kelincinya, dan di bawah naungan bulu-bulu matanya yang panjang ia mencuri penglihatan ke arah nakhoda muda yang gesit mengatur layar-layar dan kemudi, tangkas melawan angin timur. Kedua perempuan tua yang sibuk melindungi gulungan mori pemberian dari kota itu terhadap air asin, masih saja ribut berceloteh. Biarlah, begitu si Genduk dapat lebih mudah mengamat-amati si nakhoda tanpa kentara. Ya Allah, sungguh mirip dia dengan kekasih puannya. Bagaimana seandainya dua perempuan tua itu tidak ikut perahu ini dan dia sendirian dengannya? Gila. Tentu Puan Singabarong tidak akan menitipkannya kepada si Pranacitra ini. Bukan Pranacitra dia, ah bukan. Tetapi seandainya… ya hanya seandainya sajalah… ?

——————————-

[1]) jangan gampang terkejut

[2] Tokoh-tokok dalam epos Ramayana, adik-adik raja lalim Rahwana Dasamuka, penculik Dewi Sinta

[3] pendiri Kerajaan Mataram

[4] gelar Raja Mataram: panglima tertinggi di medan perang

[5] lihat novel YB Mangunwijaya, Roro Mendut, Gramedia: 1983.

[6] desa asal Rara Mendut

————————————–

akan diwedar hari minggu

diwedar dengan dua versi: 1) pdf (4003 KB) dan 2) djvu (tetapi ekstensinya diubah menjadi pptx, 64 KB)

Mohon kementar dari sanak kadang,

  1. apakah rontal perlu disembunyikan
  2. format apa yang sebaiknya digunakan untuk posting: djvu (yang sudah diubah ekstensinya) ataukah PDF (yang filenya menjadi besar, tetapi mudah dibaca lewat HP)
  3. rencananya, dua atau tiga hari setelah lewat, versi teksnya akan diposting pada setiap gandoknya.

Satpam belum tahu caranya, mencari lokasi persembunyian rontal lewat HP. Jadi belum bisa memberi petunjuk letak rontal lewat HP.

Dan…, itulah asiknya mencari rontal yang tersembunyi.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Telah Terbit on 16 Mei 2015 at 01:13  Comments (103)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/trilogi-yb-mangunwijaya/genduk-duku/trackback/

RSS feed for comments on this post.

103 KomentarTinggalkan komentar

  1. Episode pertama Genduk Duku telah diwedar

    silahkan berburu rontal dan bergojeg dan berburu rontal sebagaimana bertahun yang lalu, ketika masih menjadi cantrik aktif di padepokan ini.

  2. test…..
    kenapa komen saya tidak bisa masuk daftar komen?

    Hadu….
    kenapa ya?

  3. Grotal-gratul, grayah-grayah

  4. Serasa seperti nyantrik pertama kali, lupa cara nyarinya

  5. ToPan Siap Hadiiirŕ Pakde Satpam. Apa kabar Pakde Satpam dan Eyang Arema ?. Semoga Selalu Sehat dan Banyak Rezekinya Amiiiin.

  6. Pakde Satpam. Kalau pake android apa bisa dicari dan download ya. Sudah berkali kali di plototi di ubek ubek kok ra ketemu ya hahahhhhhh

    • Sugeng enjang . . . Selamat pagi, Ki Adji.

      Saya tadi sudah mencoba di hp dan tidak bisa Ki, kecuali kalo di hp Ki Adji ada djvu nya, baru bisa dibaca, karena formatnya djvu, bukan pdf bukan pula ms-word.

      Kalo soal rontal diumpetin dimana sama Anakmas Risang, Ki Adji saya kira sudah pengalaman tahunan . . . he he he, tlateni ae suwe-suwe rak ketemu . . . gampang kok, gak susah.

  7. Assalamu’alaikum wr wb
    Salam sejahtera buat kita semua.
    Alkhamdulillah telah kita mulai lagi mengangkat kisah cerita anak bangsa berupa Novel Serial Roro Mendut.
    Serial karya budayawan YB Mangunwijaya ini berkisah tentang kejatuhan martabat seorang ksatria perang, seorang Tumenggung di Zaman Pemerintahan Kesultanan Mataram Era Sultan Agung Hanyokrokusumo.
    Seorang Panglima Perang yang sangat disegani oleh teman dan lawan ini yaitu TUMENGGUNG WIROGUNO, tergelincir hanya karena kecantikan seorang wanita rakyat biasa, RORO MENDUT.
    Sayangnya sang perawan jelita tidak bersedia disunting oleh Ki Tumenggung dengan tawaran hidup kamukten. Ia lebih memili mati bersama kekasihnya PRONOCITRO, seorang nelayan dari pantai utara.
    Kisah tragis di atas berlanjut dengan sebab dan akibat dari peristiwa tersebut di buku kedua dan ketiganya yg sudah dapat diikuti disini.
    Tapi yang justru menarik adalah latar belakang sejarahnya. Banyak yang sangat awam dengan sejarah Mataram di Era akhir Sultan Agung yang digantikan oleh putra mahkota Sunan Amangkurat I, yang dikenal brutal demi menuruti ambisinya yg gemar melahap betis indah. sampe demi menutupi kebobrokannya, dia tercatat telah membantai ratusan Kiai dan Santri di jamanya. Bagaimana jalan ceritanya, temukan di serial novel ini.
    Hanya sayang sekali, Genduk Duku ini sudah Seri II. Buku Seri I berjudul Roro Mendut, belum ditemukan dalam koleksi. Sedangkan mencarinya di luar sangat jarang diketemukan.
    Apabila diantara sidang pembaca ada yg memiliki, atau kebetulan menemukan di toko buku. mohon perkenan untuk di informasikan di sini.
    Mohon judul di atas bukan APDM, tapi RORO MENDUT, novel serial sejarah YB Mangun Wijaya.
    Monggo.

  8. Assalamu’alaikum Wr Wb,
    Salam sejahtera untuk kita semua,
    Selamat pagi . . . Sugeng enjang,
    Sanak kadang adbm semua . . . .

    Anakmas Risang kok teganya-teganya menyanyi . . . he he he.
    Sementara kadang yang gak sabaran maunya cepet membaca, ingak-inguk rana-rene, nang endi leh ndekek rontal.

    • kok komentare menunggu moderasi,
      ra entuk mlebu po ya . . . . . hiks.

  9. Pasti bisa…hik..megkuh titik noda itu…

  10. mantappppp….. tinggal cari roro mendutnya…

  11. Nunut ngiyup Ki ….

  12. Roro mendutnya di bawa lari pronocitro Ki … Salam buat poro Empuh2 Adbm/Pdls …

  13. Wis di ubek2 ora ketemu .. Klau PC cepat klau Hp apa bisa ya … PakLik Satpam mohon bantuannya ..

  14. Ho android juga bisa ki….titik bernoda kata mas satpam…hikkk tidak boleh menyerah

  15. Sugeng sonten Anakmas Risang

    Lha wong episode 2 sudah wedar dari tadi, po ya belum ada yang ngunduh . . . he he he.
    Mungkin sanak kadang perlu bahasa sasmita dari P. Satpam, memang diperlukan ketelitian dan kejelian.

    Sanak kadang sedaya . . . mangga episode 2 sudah gogrok, tinggal ngunduh saja.

    • Sugeng sonten Panembahan
      he he he …., kala wau kesupen terus buru-curu wedaran, lan terus nglanjutaken tugas malih.
      ngapunten…

  16. Hiks…..mas Satpam

    • kata bang haji mas Satpam…terLALU

      • he he he …..
        gandok dimanapun kalau tidak ada Ki Menggung Gembleh dan Ki YP, kayaknya bagaimana…. gitu.

        Monggo Ki

        • Betul Lik Satpam… seperti lontong balap tanpa lontongnya…

          • Betul ki AM….
            Seperti motor balap tanpa motornya

  17. Pusing…
    bagaimana memunculkan komentar terakhir dalam daftar

    mohon pencerahan

    • Lho….mas satpam kePUsingan toh

      Cantrik kira memang sengaja tidak
      mas Satpam tampilkan

      • Gampang mas Satpam…hiks

        Kirim panah sanderan nti cantrik
        bantu dari ujung wetan

  18. Alhamdulillah lagi bisa mlebu senthong sebelah sini…

    lampune masih mati, sehingga harus meraba-raba mencari rontal ala genderuwo picek… semoga pas ‘meraba’nya…

    • Ketemu ki AM….bukan hanya diRABa
      zoom juga perlu ki, saestu

  19. nakmas satpam apa eps.3 siap digrayah ?

    • likmas Satpam apa eps.4 siap diwedar?

      • dereng, mbenjang enjing

    • sampun …..

  20. Alhamdulillah wis gak usum duku nanging iso moco Genduk Duku semudah memijit wohing ranti.

    • Selamat malam mas Satpam… 🙂

      Selamat menyiapkan wedaran rontal
      lanjutan.

      • di padepokan sini….cantrik siap
        bertanding lawan mas Satpam

        Kuat mana yang baca apa mas Satpam
        yg nyiapkan rontal

        • hayoo,,,,,,,,,

          • Priit…format text mas Satpam

            • yg kalah angkat
              tangan kanan.
              tanda kiri cukup
              masukan saku
              belakang 🙂 🙂

            • Kudu sesuai jadwal no Ki Menggung.

              • Jadwal ber-
                kunjung

                • J
                  A
                  D
                  W
                  A
                  L

                  A
                  M
                  B
                  I
                  L

                  J
                  A
                  T
                  A
                  H

                  R
                  A
                  N
                  G
                  S
                  U
                  M

              • Monggo
                lha wong wis ket mau kok
                he he he …..

  21. Episode 5….belum ada cantolan
    Episode 6….masih dalam penggorengan

    Episode 7….belum diracik mas Satpam
    Episode 8….nunggu antrian wedar

    • Usul mas Satpam,

      Wedaran rontal nunggu pasukan OGrog
      pada ngumpul ng padepokan.
      Tahan dulu wedaran sp cantrik mentrik
      kemringet ngiler rontal lanjutan.

      Ini tadi usulan ki Trupod sesepuh
      padepokan….ki gundul sakdermo
      menyebar luaskan

      Saestu…TENAN

    • 5 wis kok

      • 5 wes nyantol….tinggal srondol

        • Matur nuwun mas Satpam

          • Nti malam cantrik kancani
            Melek-an

  22. Absen dulu aahh…..

    Baru kali ini mbuka gandok Genduk Duku, karena berbagai hal..
    matur nuwun sanget Pak Satpam, Bopo Panembahan, dll atas peluncuran rontal yang baru

  23. selamat siang

  24. Episode 5 : djvu dan pdf

    teks belum dimunculken

    • pelan2 mas Satpam…ga usah terburu
      buru pasang “teks”

      yg penting wektu cantrik sambang lgi
      nanti “teks” sudah dicantolkan…hehe20x

      • Malam mas Satpam

        • Hadir…sambang padepokan

          • he he he …, monggo…..

            • Hehehe…matur
              nuwun mas Satpam

              • Sugeng
                Dalu

  25. Hadir….mas Satpam

    • Sugeng dalu kadang genduk DUKU

      • Otw padepokan sebelah sengkaling

        • loh…, padepokan sebelah Sengkaling yang mana? UMM, UIN, Polres?

  26. HADIR…..mas Satpam

    • monggo….
      penghuninya di sini hany Ki menggung sendiri
      satpam juga jadi males piket disini
      he he he he he he he he he he (lama lama tidak terdengar)

      • Males….pertanda belom makan
        mas Satpam…kleru Mules ding.

        AYO SEMANGAT…mumpung yg
        laen pada belom datang.

        • berDUA…..sapa takut 🙂 🙂

          • AYO mas SATPAM….kita buat padepokan megah.

            Megah : menawan gagah
            tur bikin betah para wanita
            seluruh tlatah jawa 🙂 🙂

  27. HADIR….sugeng dalu

    • mas Satpam….kemana kah panjenengan

      • cantrik dewean….ENAK tenan

        • urun saran….kenapa komen di genduk duku tidak nampak pd

          KOMENTAR terakhir padepokan
          ini mungkin yg bikin gandok jarang ada yang singgah padepokan

          • masa sih mas Satpam ga
            bisa otak atik membetulkan

            • Sampe judeg Ki, tidak berhasil.
              Masih dicoba otak atik lagi.

  28. Alhamdulillah, terima kasih mas
    Risang, tau tau sdh episode 8.
    Apa mas Risang sdh baca ceritanya?
    Latar belakang sejarahnya menarik, yaitu awal mula kita bersentuhan dengan barat secara langsung, dan juga kedzoliman Amangkurat 1yg jarang diangkat ke permukaan.

    • Sambil konversi dan edit teks Ki, satpam sempat baca.

  29. Njlekethek,
    setelah hampir putus asa, akhirnya ketemu penyebab tidak munculnya komen terakhir.
    Hadu…..
    Bobo ah….

  30. Wah…jebul saya ketinggalan….padahal yang cepat dapat yang lambat ketinggalan….Sugeng sonten sedoyo…!

    • benul ki Karto….yg cepat dapat duluan
      yg lambat sabar nunggu dum2an

      • Benur..Ki Tmg.YP..ngantri..

        • Ngantri sebentar….pas dibelokan cantrik serobot antrian,

          • Ati2 Ki Menggung….keseringan nyrobot ntar…bengkong lho 😀

            • Bengkong sekali kali asik ki Menggung

              BengkongAN…he 50x

              • Selamat malam…..sepi banget

                • S
                  E
                  R
                  E
                  M

                  Hi
                  Hi
                  Hi
                  Hi

              • hem….serem deh 😦

                • Se
                  Re
                  M

                  Me
                  Le
                  K

                  Me
                  Re
                  M

              • Serem…..seneng merem 😀

  31. tes…..masuk komen, komen masuk

    • tes…..yang keluar masuk 😀

      • Sugeng dalu ki Kartojudo

        • Kecipir mrambat kawat…wes suwe ki Karto ora liwat

          • Sugeng manuk..eh..masuk Ki Gundal gandul 😀

            • Hiks…matur nuwun ki Kartojudo

              Suwe ora jamu…jamu pisan godhong kates
              Suwe ora ketemu…ketemu pisan tes testes

              • Hehehe…dak kiro ketemu pisan ketemu….kates 😀

              • Sanes
                kates
                ki….

                kutes
                kusuka
                kates

  32. HADIR…. mendhisiki diri sendiri

  33. he he he ….

    gandok ini sepertinya rumahnya Ki Menggung berdua (KiGundul dan Ki Kartoyudo sendiri)

    • Bener mas Satpam…terkadang kita perlu menyendiri buat mengendapkan serta menenangkan diri dari hiruk pikuk ramainya hohohihi

      • Bener mas Satpam…terkadang kita …merasa sedih

        • Sedih dipagi hari…seneng disore hari

          • Sedih disiang hari….sueneng dimalam hari

            • Sugeng Riyadin Ji Gundul,mas Satpam…..
              maaf lahir batin……..

              • Njih Ki Menggung
                sami-sami nggih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: