GENDUK DUKU

Episode 1.

DISEBAT, ya disebatlah terus tanpa putus kuda-kuda yang mereka tunggangi, membalap tuntas tenaga, tersengat cambuk tali-tali rotan yang serba mengiris-iris daging binatang-binatang bertubuh ningrat itu; yang kencang meluncur seolah mengiris-iris ruang dan waktu juga, menyibak ruang padang hewan milik istana Susuhunan di Karta yang membentang sangat luas sampai di Pantai Selatan; membelah waktu yang tadi menjadi saksi, ketika keris kekuasaan merenggut hayat dua manusia yang hanya satu kesalahannya, saling mencinta. Secepat-cepatnya, sejauh-jauhnya, semua yang di belakang ingin mereka tinggalkan. Tiga orang. Ternyata wanitalah yang paling depan. Gadis remaja lagi. Yang lainnya, menilik pakaian, sosok, dan roman muka mereka yang udik bloon, laik-layaknyalah abdi-abdi si gadis itu, yang tampak sedang tersayat-sayat oleh suatu kesedihan yang pedih memberang. Mata merah, wajah memeleotkan tangis terengah-engah. Berkali-kali gadis itu membungkuk lebih dalam lagi, tangan kirinya melepaskan pegangan rambut kuda, dan mengusap air mata yang membanjir membaurkan pandangan. Mahir serba mengagumkan memang ia` menguasai keseimbangan, seperti bersatu dengan tubuh kuda, walau galau-balau galih batinnya.

Samalah juga serba guncang goyah hati kedua pemuda pengiringnya yang getir menggigit bibir, dahi mengernyit dan, berulang-ulang menoleh, was-was menyelidik ke cakrawala belakang; ke arah lima atau tujuh kepulan debu yang mengejar mereka. Harus diakui, luar biasa trampil si gadis di depan itu menguasai kudanya. Seperti keranjingan Wara Srikandi-Edan dia, seolah tidak duduk tetapi terbang di atas punggung binatang pacunya yang seperti perunggu terpoles rempelas asam, mengkilat-kilatkan api kesal amarah; amarah yang sudah membuih beringas di mulut-mulut kuda bermata melotot; sedangkan kepulan awan debu yang mereka tinggalkan tambah menegangkan lagi berang peristiwa. Nyaris putus asa ketiga pengkuda kencang tadi berikhtiar melepaskan diri dari ancaman yang mengepul menghantu di belakang mereka. Pemburu-pemburu bayaran betul, berotot alot serba ganas berangas, para pengejar korban yang berteriak-teriak mencaci maki; dan yang tidak mau kalah mengepul-ngepulkan awan debu juga sewarna mesiu gertakan maut.

Peristiwa apa yang telah dan sedang terjadi di padang seni-berburu para bangsawan istana Mataram di Pantai Selatan ini? Yang serba kaya sapi, berbondong kerbau dan rusa-rusa itu? Mengapa yang mereka kejar-kejar bukan binatang-binatang yang memang sudah tersedia demi acara-acara perburuan meriah kaum istana itu saja? Tinggal tembak tombak. Daripada susah payah mengejar tiga orang muda itu? Setiap petani dan nelayan pantai di sekitar Sungai Oya dan Opak tahu hulu-hilirnya. Gadis remaja itu Genduk Duku namanya, dayang tersayang Rara Mendut dari Pantai Utara; Rara Mendut wanita rampasan dari Puri Pati yang menolak dijadikan istri selir panglima besar balatentara kuasa Mataram, Tumenggung Wiraguna. Dan si Genduk Duku itu ikut menolong puannya melarikan diri dari Puri Wiragunan, demi cinta puannya kepada pemuda pilihannya sendiri, Pranacitra. Kedua muda pujaan gadis itu telah tertusuk oleh keris sang Panglima di pasir muara Sungai Oya-Opak sana siang tadi. [1]) Dan kini pasti giliran Genduk Duku-lah, yang akan dijadikan tumbal malu sang Penguasa yang naik pitam merasa dikalahkan perempuan, paling tidak digerogoti kewibawaannya.

Bagaimana bisa dibiarkan! Semua wanita di seluruh Kerajaan Mataram adalah milik Susuhunan-ing-Ngalaga Sayidin Panatagama, apalagi perempuan-perempuan rampasan dari negeri yang pernah memberontak. Itulah hukum kerajaan Jawa. Rara Mendut sudah dianugerahkan Sri Baginda kepada panglima besarnya. Maka letak masalahnya sungguh tidak pada soal asmara, tetapi pada kenekatan melawan wewenang keramat dan hak kenegaraan mengenai setiap wanita dalam kerajaan. Setiap wanita. Tidak terkecuali. Dan dua pemuda, yang menjadi abdi-abdi Pranacitra, dan ikut berdagang jauh dari Pekalongan itu pun, jangan tanya ampun, harus mati juga. Negerinegeri Pantai Utara )elamanya pembangkang kedaulatan Pusat Mataram. Tanah ngarai yang semakin kaya semakin merasa diri merdeka dari kewibawaan gunung-gunung megah dan suka membandel, mana mungkin dibiarkan. Betul Pantai-pantai Utara tidak menerima air dari gunung Putra Halilintar yang bernama Merapi, akan tetapi mutlak harus selalu ditegaskan, bahwa orang pantai wajib menyembah kepada kewibawaan wilayah Selatan, karena kemakmuran datang dari gunung. Itulah tata semesta yang dari awal mula sudah ditakdirkan dan yang setiap hari terang-benderang dibentangkan oleh alam. Bukan! Soalnya bukan cuma soal sepele macam asmara yang berpayu-payah didambakan orang-orang kaum cacing-kecoak. Ini soal pengakuan tata tunggal yang telah diatur dan disahkan oleh Allah serta para dewata.

Namun dari pihak lain, Genduk Duku, si dayang remaja yang sejak kecil mahir naik kuda tiada tandingannya di kalangan semua putri istana, memacu kudanya tidak karena takut diburu seregu serdadu. Silakan, Duku rela mati, asal jangan dengan cara konyol. Silakan! Genduk Duku hanya ingin enyah dari ruang padang kaum istana yang membunuh puannya terpuja dan tercinta. Ia hanya ingin cepat menjauhi kenangan penggelap hati yang menggumpal sejak Puri Pati dibakar hangus oleh balatentara Mataram, dan ia bersama puan mudanya dikurung dalam istana Wiragunan. Lain tentulah kedua abdi Pranacitra, si Bolu dan Untir-untir, yang serba ketakutan menyabung nasib dengannya.

Rara Mendut, Raden Rara Mendut! Apa sebutanmu di istana? Harimau betina dari padang ilalang Pantai Utara, ah itulah! Genduk Duku pun harimau kini. Bukan si Genduk perawan kencur atau si manis Genduke. Sungguh sulit dipahami, Rara Mendut pujaan, sekaligus kakak tercintanya sudah tiada. Terbunuh, ya! Namun terbunuh dalam kemuliaan sikap, dalam keagungan tindak yang berdaulat dan yang berani untuk memilih. Memilih sendiri kekasih. Artinya memilih sendiri perahu kehidupan, mengemudikan sendiri dengan arah yang ditentukan sendiri. Sungguh luar biasa. Tak terduga sampai ke situ, juga oleh Genduk Duku anak asuhan istana, walaupun ayah almarhum Genduk Duku bukan bangsawan. Hanya rakyat kecil. Hanya?

Baru sekaranglah Genduk Ddku sadar, ya, berkat hikmah sikap Rara Mendut almarhumah, betapa mulia sebenarnya derajat dan martabat rakyat kecil. Betapa merdeka, betapa lepas cakrawala-cakrawalanya, betapa kencang dan segar udara yang dihirup rakyat di ladang di lereng di sawah di pantai. Lain sama sekali dari nasib di sangkar dalam kisi-kisi kayu jati berperada palsu di puri.

Mengapa kearifan sesederhana ini belum pernah terlintas gamblang dalam benak Genduk Duku dahulu? Tentulah, usia hampir tiga belas perputaran matahari belum memungkinkan penyulingan kesimpulan dari suatty kematangan yang telah teruji. Namun Kak Mendut ternyata guru ulung dalam seni keberanian mengendalikan arah kehidupan di tangan sendiri. Karena itukah sang Rara rupa-rupanya memperoleh anugerah rahmat Hyang Widi, terangkul kembali dalam pelukan sang Air serba bergelora, terlabuh dalam rahim maha gaib sang Samudra Raya? Menyedihkan namun sekaligus membahagiakan. Sial? Tidak. Justru terhormati oleh suatu pelayanan terakhir yang perkasa dari Alam Agung.

Rara Mendut puan terpuja, kakak tersayang, telah tiada. Tiada? Genduk Duku si abdi dina, betapa tak terhancurnya sang wanita muda Mendut. Dan betapa jiwa Rara Mendut hidup bergelora terus dalam sikapmu sekarang. Alangkah kuat manusia, biar masih remaja pun, bila merasa dalam kalbunya berpadu dua kekuatan, kekuatan diri dan kekuatan sang tersayang. Mungkin itukah sebabnya, mengapa kaum ibu yang terbiasa berbadan dua adalah orang-orang yang luar biasa kuatnya? Jauh lebih kuat dari panglima siapa pun? Panglima tukang merenggut nyawa. Wanita ibu melahirkan dan menjaga kehidupan. Untuk itu dibutuhkan kekuatan ganda.

Mengintailah tajam si gadis ke belakang. Pemburu-pemburunya yang bertombak ganda sudah lebih mendekat. Cemas juga rasanya, sebab kuda sudah sampai batas kemampuannya, sedangkan dua abdi di belakangnya bukan pembalap ulung. Keadaan sungguh mencemaskan.

Ya, menangis memang Genduk Duku. Dengan tangis nyaris tanpa suara karena terlalu mendalam sedihnya. Entahlah, manusia menangis bila terlalu menderita. Tetapi manusia menangis pula bila berlimpah kebahagiaannya. Keharuan dari penjuru angin mana yang sedang mendorong layar-layar perasaan Genduk Duku yang baru saja meninggalkan masa anak-anak, tetapi sudah begini pagi, tanpa terduga, langsung tergembleng oleh tragedi yang memperkokoh seluruh tulang sarafnya? Dalam waktu pendek hanya dua musim? Inikah buah perjuangan Raden Rara-nya? Menjadi gadis yang kini merdeka sungguh-sungguh dari segala kurungan kencana istana, entah Pati, entah Mataram, entah mana lagi? Betapa tidak? Benihnya pun sudah unggul dari dunia merdeka. Almarhum ayahnya tumbuhan dari padang-padang kuda luas Pulau Bima, walaupun almarhumah ibunya hanya karyawati sederhana dalam kadipaten yang kalah. Namun jelaslah kini, kebanggaan telah menyusup ke dalam kalbu si gadis yang semakin gesit bahkan seolah menari-nari di atas kudanya yang tercambuk kencang. Sebab bukankah Kak Mendut anak rakyat kecil juga, wanita muda lagi, satu-satunya di seluruh negara yang berani melawan kehendak seorang panglima besar kerajaan jaya? Tunggulah, Kanjeng Raden Tumenggung Wiraguna! Tunggu saat hukum karmamu! Semoga kau tidak akan meninggal sebagai ksatria yang gugur di medan laga berkat keris atau tombak lawan. Semoga kau mampus, cuma karena minum racun tikus!

Abdi yang bertubuh pendek agak gemuk, si Bolu dengan susah menghampiri si gadis, dan sekuat kerongkongan berteriak, “Hei, kita ke mana ini? Mereka semakin mendekat!” Tetapi si gadis tidak menjawab. Mata yang masih merah mengerling sedikit. Satu-satunya jawabannya ialah cambuk yang disebat lebih keras. Dan ter pontal-pontal-lah Bolu dan Untir-untir di belakang gadis itu. Gila, pikir si Bolu. Tetapi sikapnya yang begitu tegar toh memperkuat hatinya yang sudah amat cemas. Kalau anak perempuan sekecil itu begitu yakin, apa tidak memalukan kalau dia dan rekannya putus asa?

Tiba-tiba, di balik bukit kecil beralang-ilalang Genduk Duku tajam membelok ke arah pantai. Gila, mau ke mana anak itu. Membelok lagi. Sekali lagi membelok. Dan tiba-tiba mereka melihat, di tengah rumpun-rumpun bambu dan pohon kelapa, sebuah bangunan mungil berbingkai tembok-tembok bata merah dengan tiang-tiang penguat berukir yang bermahkotakan kuncup-kuncup besar berbentuk bunga teratai dari batu kapur putih. Langsung tanpa sopan santun kula nuwun Genduk Duku menyerbu pintu gerbangnya dan masuk ke dalam halaman yang kelihatannya tidak terjaga; disusul Bolu serta Untir-untir yang serba penuh pertanyaan namun patuh saja mengekor si gadis. Tetapi langsung setelah mereka menghentikan kuda tunggangan mereka yang basah keringat menguap, segera halaman penuh dengan pasukan prajurit siaga tempur. Cepat seperti anak panah keluar dari busurnya seorang perwira muda berkuda ke luar gerbang dan langsung menjemput regu pengejar tadi. Kira-kira sepuluh kali jarak lemparan batu dari gerbang, regu pemburu tadi dihentikan olehnya. Tampak mereka beringas berbincang-bincang. Akhirnya regu pengejar tadi, sesudah menerima sepucuk surat dari perwira muda itu dan mengunyah beberapa keragu-raguan, pelan-pelan mau membalik lalu pergi.

Sementara itu Genduk Duku dan sahabat-sahabatnya diantar masuk gapura pendapa, membelok ke gandok wanita, [2]) untuk dihadapkan kepada seorang nenek berambut putih dengan raut-raut wajah yang sama sekali bukan ningrat, nyaris simbok udik belaka. Namun sepasang mata yang warnanya mengingatkan kepada logam loyang blencong kelir gaib memancarkan batin yang teguh tak dapat ditipu oleh semu, seolah-olah mengebor ke dalam lubuk yang paling tersembunyi pun.

“Seorang abdi dari adik-emas Bunda Bendara Pahitmadu, bernama Genduk Duku,” demikian seorang dayang tua bersembah hormat kepada nenek tadi, “penuh kesedihan ingin bermohon menghadap Bunda Bendara Pahitmadu. (Kepada Genduk Duku.) Dan kau, Gadis kencur Genduk Duku, ketahuilah bahwa yang kauhadapi ini ialah kakak tuanmu Tumenggung Wiraguna. Kemarin dulu Bendara Ayu Arumardi datang kemari, kau kenal sekali bukan beliv, salah seorang belahan jiwa tersayang Tumenggung Wiraguna? Beliaulah yang memohonkan perlindungan bagimu dari hati mulia Bunda Pahitmadu. Untung kau penurut yang baik, Genduk Duku. Telah kautaati tepat segala petunjuk Bendara Ayu Arumardi kepadaΒ­mu. Dan dua pemuda berwajah jenaka di belakangmu itu? Siapa mereka? Tak usah kau jawab, Gadis kencur. Kami sudah tahu semua. (Kepada nenek tua.) Bunda Mulia Pahitmadu, inilah si Genduk yang Bunda ingin sekali melihatnya. (Kepada Genduk.) Ya, Anak kencur Duku, kami telah mendengar banyak tentang Rara-mu yang membandel itu. Orang seperti Mendut-mu itu teranglah menjadi buah bibir semua orang, khususnya di kalangan kami kaum puri. Dan dayang ciliknya yang sangat mahir naik kuda telah kami kenal pula dari warta berita. Tetapi janganlah kau tergesa-gesa menyombongkan diri, Genduk Duku, sebab mati-hidupmu sekarang ada di tangan Bendara Ayu Pahitmadu. Ingat, beliau kakak Tumenggung Wiraguna. Dan biarpun sang Tumenggung adalah panglima besar Mataram lagi tangan kanan terpercaya dari Sri Susuhunan, akan tetapi terhadap Bunda Pahitmadu, kakaknya, sang Prajurit Perdana Kerajaan Mataram pun takut, namun dalam artian ajrih-asih.[3]) Maka berbahagialah dalam rumah pesanggrahan ini, kalian bertiga. Tetapi ingat, jangan berbuat yang bukan-bukan.”

Selama dayang tua itu menerangkan semua itu, nenek tua dengan sepasang mata loyang dalam wajah simbok (namun betul-betul simbok dalam arti terdalam, sang Bumi Induk dan pengemban kehidupan), hanya hening tersenyum nyaris tak kentara. Tetapi kedua mata tembaga loyangnya seperti lahap menikmati sosok remaja serta wajah menunduk yang rupa-rupanya sangat mempesonanya. Dan dua kali ia mengangguk kepada Genduk Duku. Maka dayang tua tadi mengantar Genduk untuk mendekat pada pangkuannya. Diletakkannya kepala Genduk Duku pada kedua paha bertutupkan kain mulia yang berbau melati. Dengan sayang rambut dan pipi-pipi Genduk Duku diseka oleh nenek tua itu, yang penuh perkenan hati hanya diam tersenyum, sambil kadang-kadang mengangguk-angguk. Tak dihiraukannya bau keringat serta debu si gadis yang tentulah masih serba kotor itu.

Akhirnya dengan suara serak yang sayang sulit ditangkap, Bendara Pahitmadu mencoba berkata-kata ke dalam telinga dayang tuanya, yang segera mengangguk-angguk tanda mengerti. Maka di bawah pandangan penuh sayang dari kakak Tumenggung Wiraguna yang ternyata punya pandangannya sendiri tentang Rara Mendut dan dayangnya, Genduk Duku lalu diantar ke luar. Harimau muda pun masih wajib untuk mandi.

[1] Y.B. Mangunwijaya, Roro Mendut, Gramedia: 1983.
[2]) bagian bangunan khusus wanita
[3]) takut-cinta

—–bersambung ke episode ke 2—–

silahkan naskahnya dicari sendiri dalam belantara huruf di halaman ini

sebagaimana terdahulu WordPress tidak mengenal ekstensi djvu, sehingga naskah diberi ekstensi yang bisa dikenali oleh WordPress.

Sebelum disimpan, diubah ekstensinya menjadi *.djvu, dan dibaca dengan djvu reader.

he he he .....

nyanyi dulu ah…

Sore Itu Langit Menjadi Gelap, Mendungpun Kian Menebal
Terdengar Tetesan Air Hujan, Semua Menambah Kepedihan

Hujanpun Turun Semakin Deras, Begitu Juga Air Matanya
Dia Menangis Mengenangkan, Dirinya Yang Ditinggalkan

Kasihnya Telah Pergi Meninggalkan TITIK NODA
Tinggallah Dia Kini Dengan Hati Yang Kecewa …

Hapuslah Air Matamu, Jangan Ditangisi Kisah Yang Lalu
Sudah Suratan Kini Terjadi, Jangan Disesalkan Lagi …

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Telah Terbit on 16 Mei 2015 at 01:13  Comments (103)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/trilogi-yb-mangunwijaya/genduk-duku/trackback/

RSS feed for comments on this post.

103 KomentarTinggalkan komentar

  1. Episode pertama Genduk Duku telah diwedar

    silahkan berburu rontal dan bergojeg dan berburu rontal sebagaimana bertahun yang lalu, ketika masih menjadi cantrik aktif di padepokan ini.

  2. test…..
    kenapa komen saya tidak bisa masuk daftar komen?

    Hadu….
    kenapa ya?

  3. Grotal-gratul, grayah-grayah

  4. Serasa seperti nyantrik pertama kali, lupa cara nyarinya

  5. ToPan Siap HadiiirΕ• Pakde Satpam. Apa kabar Pakde Satpam dan Eyang Arema ?. Semoga Selalu Sehat dan Banyak Rezekinya Amiiiin.

  6. Pakde Satpam. Kalau pake android apa bisa dicari dan download ya. Sudah berkali kali di plototi di ubek ubek kok ra ketemu ya hahahhhhhh

    • Sugeng enjang . . . Selamat pagi, Ki Adji.

      Saya tadi sudah mencoba di hp dan tidak bisa Ki, kecuali kalo di hp Ki Adji ada djvu nya, baru bisa dibaca, karena formatnya djvu, bukan pdf bukan pula ms-word.

      Kalo soal rontal diumpetin dimana sama Anakmas Risang, Ki Adji saya kira sudah pengalaman tahunan . . . he he he, tlateni ae suwe-suwe rak ketemu . . . gampang kok, gak susah.

  7. Assalamu’alaikum wr wb
    Salam sejahtera buat kita semua.
    Alkhamdulillah telah kita mulai lagi mengangkat kisah cerita anak bangsa berupa Novel Serial Roro Mendut.
    Serial karya budayawan YB Mangunwijaya ini berkisah tentang kejatuhan martabat seorang ksatria perang, seorang Tumenggung di Zaman Pemerintahan Kesultanan Mataram Era Sultan Agung Hanyokrokusumo.
    Seorang Panglima Perang yang sangat disegani oleh teman dan lawan ini yaitu TUMENGGUNG WIROGUNO, tergelincir hanya karena kecantikan seorang wanita rakyat biasa, RORO MENDUT.
    Sayangnya sang perawan jelita tidak bersedia disunting oleh Ki Tumenggung dengan tawaran hidup kamukten. Ia lebih memili mati bersama kekasihnya PRONOCITRO, seorang nelayan dari pantai utara.
    Kisah tragis di atas berlanjut dengan sebab dan akibat dari peristiwa tersebut di buku kedua dan ketiganya yg sudah dapat diikuti disini.
    Tapi yang justru menarik adalah latar belakang sejarahnya. Banyak yang sangat awam dengan sejarah Mataram di Era akhir Sultan Agung yang digantikan oleh putra mahkota Sunan Amangkurat I, yang dikenal brutal demi menuruti ambisinya yg gemar melahap betis indah. sampe demi menutupi kebobrokannya, dia tercatat telah membantai ratusan Kiai dan Santri di jamanya. Bagaimana jalan ceritanya, temukan di serial novel ini.
    Hanya sayang sekali, Genduk Duku ini sudah Seri II. Buku Seri I berjudul Roro Mendut, belum ditemukan dalam koleksi. Sedangkan mencarinya di luar sangat jarang diketemukan.
    Apabila diantara sidang pembaca ada yg memiliki, atau kebetulan menemukan di toko buku. mohon perkenan untuk di informasikan di sini.
    Mohon judul di atas bukan APDM, tapi RORO MENDUT, novel serial sejarah YB Mangun Wijaya.
    Monggo.

  8. Assalamu’alaikum Wr Wb,
    Salam sejahtera untuk kita semua,
    Selamat pagi . . . Sugeng enjang,
    Sanak kadang adbm semua . . . .

    Anakmas Risang kok teganya-teganya menyanyi . . . he he he.
    Sementara kadang yang gak sabaran maunya cepet membaca, ingak-inguk rana-rene, nang endi leh ndekek rontal.

    • kok komentare menunggu moderasi,
      ra entuk mlebu po ya . . . . . hiks.

  9. Pasti bisa…hik..megkuh titik noda itu…

  10. mantappppp….. tinggal cari roro mendutnya…

  11. Nunut ngiyup Ki ….

  12. Roro mendutnya di bawa lari pronocitro Ki … Salam buat poro Empuh2 Adbm/Pdls …

  13. Wis di ubek2 ora ketemu .. Klau PC cepat klau Hp apa bisa ya … PakLik Satpam mohon bantuannya ..

  14. Ho android juga bisa ki….titik bernoda kata mas satpam…hikkk tidak boleh menyerah

  15. Sugeng sonten Anakmas Risang

    Lha wong episode 2 sudah wedar dari tadi, po ya belum ada yang ngunduh . . . he he he.
    Mungkin sanak kadang perlu bahasa sasmita dari P. Satpam, memang diperlukan ketelitian dan kejelian.

    Sanak kadang sedaya . . . mangga episode 2 sudah gogrok, tinggal ngunduh saja.

    • Sugeng sonten Panembahan
      he he he …., kala wau kesupen terus buru-curu wedaran, lan terus nglanjutaken tugas malih.
      ngapunten…

  16. Hiks…..mas Satpam

    • kata bang haji mas Satpam…terLALU

      • he he he …..
        gandok dimanapun kalau tidak ada Ki Menggung Gembleh dan Ki YP, kayaknya bagaimana…. gitu.

        Monggo Ki

        • Betul Lik Satpam… seperti lontong balap tanpa lontongnya…

          • Betul ki AM….
            Seperti motor balap tanpa motornya

  17. Pusing…
    bagaimana memunculkan komentar terakhir dalam daftar

    mohon pencerahan

    • Lho….mas satpam kePUsingan toh

      Cantrik kira memang sengaja tidak
      mas Satpam tampilkan

      • Gampang mas Satpam…hiks

        Kirim panah sanderan nti cantrik
        bantu dari ujung wetan

  18. Alhamdulillah lagi bisa mlebu senthong sebelah sini…

    lampune masih mati, sehingga harus meraba-raba mencari rontal ala genderuwo picek… semoga pas ‘meraba’nya…

    • Ketemu ki AM….bukan hanya diRABa
      zoom juga perlu ki, saestu

  19. nakmas satpam apa eps.3 siap digrayah ?

    • likmas Satpam apa eps.4 siap diwedar?

      • dereng, mbenjang enjing

    • sampun …..

  20. Alhamdulillah wis gak usum duku nanging iso moco Genduk Duku semudah memijit wohing ranti.

    • Selamat malam mas Satpam… πŸ™‚

      Selamat menyiapkan wedaran rontal
      lanjutan.

      • di padepokan sini….cantrik siap
        bertanding lawan mas Satpam

        Kuat mana yang baca apa mas Satpam
        yg nyiapkan rontal

        • hayoo,,,,,,,,,

          • Priit…format text mas Satpam

            • yg kalah angkat
              tangan kanan.
              tanda kiri cukup
              masukan saku
              belakang πŸ™‚ πŸ™‚

            • Kudu sesuai jadwal no Ki Menggung.

              • Jadwal ber-
                kunjung

                • J
                  A
                  D
                  W
                  A
                  L

                  A
                  M
                  B
                  I
                  L

                  J
                  A
                  T
                  A
                  H

                  R
                  A
                  N
                  G
                  S
                  U
                  M

              • Monggo
                lha wong wis ket mau kok
                he he he …..

  21. Episode 5….belum ada cantolan
    Episode 6….masih dalam penggorengan

    Episode 7….belum diracik mas Satpam
    Episode 8….nunggu antrian wedar

    • Usul mas Satpam,

      Wedaran rontal nunggu pasukan OGrog
      pada ngumpul ng padepokan.
      Tahan dulu wedaran sp cantrik mentrik
      kemringet ngiler rontal lanjutan.

      Ini tadi usulan ki Trupod sesepuh
      padepokan….ki gundul sakdermo
      menyebar luaskan

      Saestu…TENAN

    • 5 wis kok

      • 5 wes nyantol….tinggal srondol

        • Matur nuwun mas Satpam

          • Nti malam cantrik kancani
            Melek-an

  22. Absen dulu aahh…..

    Baru kali ini mbuka gandok Genduk Duku, karena berbagai hal..
    matur nuwun sanget Pak Satpam, Bopo Panembahan, dll atas peluncuran rontal yang baru

  23. selamat siang

  24. Episode 5 : djvu dan pdf

    teks belum dimunculken

    • pelan2 mas Satpam…ga usah terburu
      buru pasang “teks”

      yg penting wektu cantrik sambang lgi
      nanti “teks” sudah dicantolkan…hehe20x

      • Malam mas Satpam

        • Hadir…sambang padepokan

          • he he he …, monggo…..

            • Hehehe…matur
              nuwun mas Satpam

              • Sugeng
                Dalu

  25. Hadir….mas Satpam

    • Sugeng dalu kadang genduk DUKU

      • Otw padepokan sebelah sengkaling

        • loh…, padepokan sebelah Sengkaling yang mana? UMM, UIN, Polres?

  26. HADIR…..mas Satpam

    • monggo….
      penghuninya di sini hany Ki menggung sendiri
      satpam juga jadi males piket disini
      he he he he he he he he he he (lama lama tidak terdengar)

      • Males….pertanda belom makan
        mas Satpam…kleru Mules ding.

        AYO SEMANGAT…mumpung yg
        laen pada belom datang.

        • berDUA…..sapa takut πŸ™‚ πŸ™‚

          • AYO mas SATPAM….kita buat padepokan megah.

            Megah : menawan gagah
            tur bikin betah para wanita
            seluruh tlatah jawa πŸ™‚ πŸ™‚

  27. HADIR….sugeng dalu

    • mas Satpam….kemana kah panjenengan

      • cantrik dewean….ENAK tenan

        • urun saran….kenapa komen di genduk duku tidak nampak pd

          KOMENTAR terakhir padepokan
          ini mungkin yg bikin gandok jarang ada yang singgah padepokan

          • masa sih mas Satpam ga
            bisa otak atik membetulkan

            • Sampe judeg Ki, tidak berhasil.
              Masih dicoba otak atik lagi.

  28. Alhamdulillah, terima kasih mas
    Risang, tau tau sdh episode 8.
    Apa mas Risang sdh baca ceritanya?
    Latar belakang sejarahnya menarik, yaitu awal mula kita bersentuhan dengan barat secara langsung, dan juga kedzoliman Amangkurat 1yg jarang diangkat ke permukaan.

    • Sambil konversi dan edit teks Ki, satpam sempat baca.

  29. Njlekethek,
    setelah hampir putus asa, akhirnya ketemu penyebab tidak munculnya komen terakhir.
    Hadu…..
    Bobo ah….

  30. Wah…jebul saya ketinggalan….padahal yang cepat dapat yang lambat ketinggalan….Sugeng sonten sedoyo…!

    • benul ki Karto….yg cepat dapat duluan
      yg lambat sabar nunggu dum2an

      • Benur..Ki Tmg.YP..ngantri..

        • Ngantri sebentar….pas dibelokan cantrik serobot antrian,

          • Ati2 Ki Menggung….keseringan nyrobot ntar…bengkong lho πŸ˜€

            • Bengkong sekali kali asik ki Menggung

              BengkongAN…he 50x

              • Selamat malam…..sepi banget

                • S
                  E
                  R
                  E
                  M

                  Hi
                  Hi
                  Hi
                  Hi

              • hem….serem deh 😦

                • Se
                  Re
                  M

                  Me
                  Le
                  K

                  Me
                  Re
                  M

              • Serem…..seneng merem πŸ˜€

  31. tes…..masuk komen, komen masuk

    • tes…..yang keluar masuk πŸ˜€

      • Sugeng dalu ki Kartojudo

        • Kecipir mrambat kawat…wes suwe ki Karto ora liwat

          • Sugeng manuk..eh..masuk Ki Gundal gandul πŸ˜€

            • Hiks…matur nuwun ki Kartojudo

              Suwe ora jamu…jamu pisan godhong kates
              Suwe ora ketemu…ketemu pisan tes testes

              • Hehehe…dak kiro ketemu pisan ketemu….kates πŸ˜€

              • Sanes
                kates
                ki….

                kutes
                kusuka
                kates

  32. HADIR…. mendhisiki diri sendiri

  33. he he he ….

    gandok ini sepertinya rumahnya Ki Menggung berdua (KiGundul dan Ki Kartoyudo sendiri)

    • Bener mas Satpam…terkadang kita perlu menyendiri buat mengendapkan serta menenangkan diri dari hiruk pikuk ramainya hohohihi

      • Bener mas Satpam…terkadang kita …merasa sedih

        • Sedih dipagi hari…seneng disore hari

          • Sedih disiang hari….sueneng dimalam hari

            • Sugeng Riyadin Ji Gundul,mas Satpam…..
              maaf lahir batin……..

              • Njih Ki Menggung
                sami-sami nggih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: