GENDUK DUKU

Episode 26

 

Maka ketika pada suatu malam gelap Putri Arumardi, yang menyamar sebagai perempuan pasar, mengetuk pintu rumah Mbah Legen di Jali, dengan membawa berita, bahwa seorang gandek khusus telah diutus dengan kuda yang paling cepat larinya ke medan laga Jawa Timur, dengan membawa perintah rahasia dari sang Raja, bahwa Tumenggung Wiraguna dan Tumenggung Danupaya harus dibunuh secara terselubung, maka teranglah pula bagi Duku, bahwa pengungsian di Jali pun tidaklah aman lagi. Tak ada jalan lain. Dan kedua kakek-nenek itu pun memakluminya, Putri Arumardi harus ditemani Duku, bersembunyi di wilayah Kedu. Cukup jauh dari jangkauan terkaman Raden Mas Jibus yang kini merajalela di seluruh Mataram. Suatu gulungan lakon wayang beber yang baru, penuh tanda tanya, masih harus dijereng dan dijalani.

Maka pada malam terakhir di rumah bambu Mbah Legen dan Nyi Gendis, dengan kemrosak Sungai Jali dan kemrisik jengkerik-jengkerik serta burung-burung malam selaku peneguh hati, Ni Duku merasa kuat karena berteman sang Putri penyelamat sahabat-sahabat, dan yang mendapat pahala, menjadi satu-satunya warga Puri Wiragunan yang selamat dari dendam-kesumat Susuhunan Mangkurat si Jibus. Akan tetapi ia merasa lunglai juga karena sadar terpaksa harus berpisah lama dari Lusi tersayang.

Dengan hati sayu serasa hanyut, Ni Duku tak dapat menghindar dari kenangan sedih kepada Tumenggung Wiraguna. Bolehkah ia sekarang bersyukur dan memanjatkan kidung bahagia karena Allah Mahahakim, hanya karena kutukan amarahnya nun ketika itu terkabul kini? Karena Tumenggung Wiraguna tidak menemui maut seperti sepantasnya bagi seorang prajurit, tertusuk keris atau tombak, tetapi hina megap-megap dan menyeringai sakit, berteriak setengah gila, seperti budak kampungan karena perutnya terbakar oleh racun tikus belaka.

Pernah Duku menyumpahi Tumenggung Wiraguna, nun kala itu di padang ketika ia dan dua sahabatnya, Bolu serta Untir-untir, diburu oleh pasukan Wiraguna: semoga kau mampus, cuma karena minum racun tikus! Ya, Wiraguna mati karena diperintahkan minum racun tikus. Haruskah ia sekarang bersorak-sorai merayakan kemenangan dendamnya?

Aneh, dalam rangkulan Putri Arumardi, istri termulia dari Tumenggung Wiraguna, rasa dendamnya justru menguap. Engkaukah, Arumardi, sang sakti Wiraguna, engkaukah yang mampu memberi keseimbangan, bahkan lebih dari keseimbangan belaka, sehingga segala kejahatan suami terkalahkan oleh jiwamu yang luhur, yang tanpa pamrih dan setiawati? Sehingga kebencian rasa dendam dalam hati Duku pelan-pelan menyingkir untuk bersembah hormat kepada rasa yang lebih mulia, yakni berbelas hati? Ah, sebetulnya sudah sejak dahulu, lama nian namun tak terasa, Duku tidak lagi bersikap sekeras di awal terhadap suami Putri Arumardi ini. Ya, terkenanglah lagi saat itu, saat pertemuan pertama setelah Duku dan Slamet berhasil menyelamatkan Tejarukmi.

Mengkilat-kilat serba benci selaku singa terluka atau semacam begitulah, angkuh sombong pura-pura tak tahu, ya macam itulah pada mulanya Duku menduga dia, sang Panglima Besar. Akan tetapi hanya sesaat Wiraguna menghinggapkan pandangannya kepada sosok dan wajah wanita dewasa yang dulu pernah muncul dalam riwayat hidupnya hanya selaku seorang gadis kencur bernama Genduk Duku. Percakapan yang sebe­narnya bukan percakapan yang berjalan kala -itu, beku serba diam. Tetapi ketika Duku mengundurkan diri dengan laku dodok[1]) yang sengaja diperlambat, dan ia berhasil mencuri penglihatan kepada tokoh besar itu, langsung entah mengapa, kebenciannya meleleh. Sebab mata tajam Ni Duku melihat, betapa kedua mata lawannya lelah berlinang-linang, kemudian jari-jari tangannya mengusap air mata yang nyaris menetes. Wajah dan sikapnya yang membongkok di muka kakaknya sama sekali tidak menunjukkan singa yang dikiranya siap mengaung menerkam. Ternyata ketika itu Wiraguna tidak lebih dari seseorang yang tak berdaya dan yang pantas dibelaskasihi. Bingung sebetulnya waktu itu Ni Duku memohon diri mundur, lalu berhenti berjalan jongkok sebentar di muka pintu untuk merenung di pringgitan gelap. Serasa segala-galanya gelap tak masuk akal, dan Duku hanya ingin menuju ke gandoknya untuk menangis sendirian. Ketika itu penusukan Tejarukmi dan suaminya belum terjadi; tetapi mengapa harus terjadi kejadian itu, yang jauh lebih kejam dan mengerikan daripada pembunuhan Rara Mendut? Terobek-robek ulanglah, lebih menganga dan nyeri dari dulu, luka-luka hati Duku yang sebetulnya sudah mulai sembuh.

“Ketika itu, Mbah Gendis, di Puri Pahitmadu, ketika itu Duku melihat Wiraguna begitu tua dan remuk, sehingga entahlah, Mbah, dan terlebih lagi sesudah pelarianku berhari-hari seperti orang gila di punggung kuda lalu tersungkur pingsan di pasir pantai, Duku bahkan mulai membalik, tersambar rasa kasihan.

“Memang dendamku pada orang satu ini masih membara menyakitkan. Akan tetapi waktu tersungkur di pasir, suatu embun pagi-baru entahlah mulai menyelimuti jiwaku yang masih terbakar rasa dendam. Tiba-tiba Duku sadar, entah dari mana, betapa lebih hina dan sengsara kaum algojo macam Wiraguna itu. Duku masih tergolong manusia yang disayangi. Tetapi Wiraguna? Bagaimana seharusnya, Mbah, apa yang harus lebih menang dalam jiwa wanita yang telah menjadi ibu juga? Dendam yang sah atau belas kasihan?

“Lama-lama dalam Duku pudarlah keyakinan bahwa Rara Mendut dan Pranacitra tetap mendendam di Kahyangan sana, seolah dari sana seperti Dewi Ambika masih bernafsu membalas Bisma dalam wujud Srikandi. Atau seperti Begawan Bagaspati yang membunuh Raja Salya dalam selubung Yudistira. Bagaimana pendapat Mbah Gendis? Pendapat seorang ibu dan nenek seperti Mbah Gendis?”

Diamlah Nyi Gendis. Sebab Nyi Gendis dan Mbah Legen pun punya tungku dendam masing-masing. Juga sama seperti Duku, tergolong kaum tumbal yang berhak penuh untuk mendendam sengit kepada kaum pembuat tumbal.

“Sudahlah, Nduk. Sudah larut malam. Kita bukan kaum keris, bukan pendekar tombak, dan kakek-nenekmu hanya pembuat gula kelapa. Orang kecil bodoh, mana bisa menjawab.”

“Justru mereka yang membuat gula mampu, Mbah Gendis.”

Diamlah ketiga-tiganya. Betapa banyak keinginan manusia, betapa banyak pula halangannya.

Berdirilah Mbah Legen, dan sambil keluar ia berkata datar, “Aku mau mengatur air sawah. Sana! Kalian istirahat! Jangan bergadang terlalu malam!”

“Kalau pulang, tolong bawakan buah-buah jagung segar,” pesan istrinya, “untuk bekal besok pagi”.

“Baik, tetapi sudahlah, sana tidur!”

Istrinya masih memberi bekal perhatian kepada suaminya dengan caranya sendiri, “Apa perlu mengairi sawah sekarang?”

“Perlu,” jawab Mbah Legen basa-basi.

Sawah perlu diairi. Jiwa pun juga, pikir Ni Duku dalam remang-remang ruang, sambil memegang tangan Nyi Gendis dan Putri Arumardi yang sangat lelah telah tertidur pulas di sampingnya.

Apakah bercerita suka-duka tergolong juga mengairi jiwa yang sering terasa kering kesepian? Mengapa tadi banyak berbicara tentang Wiraguna dan Slamet? Apakah itu bukan sebentuk kepuasan hati juga, setopeng kenikmatan gelap mendendam secara halus terselubung? Ah, semoga tidak, walaupun Ni Duku merasa berhak mendendam.

“Widya wong wikan wijana,

handarbeni dugi lawan prayogi,

wruh mring patut pantesipun,

tyas watara riringa.. “[2])

Tembang dari mana berdendang dalam benak Ni Duku? Belum, belumlah arif Ni Duku. Akan tetapi pergaulannya dengan Slamet, anak nelayan yang pendiam dan hanya berbicara bila memang perlu berbicara, telah mengajarnya banyak. Tidak semua padi menuntut tanah basah selalu, dan tidak semua angin menguntungkan layar perahu. Hidup dewasa adalah seni memadu kekuatan angin yang melawan dengan pengaturan sudut bidang layar serta kemudi yang menyesuai. Dengan begitu perahu yang melawan angin tetap bisa maju. Ah, sebenarnyalah nasibnya jauh lebih ringan daripada nasib , sang Putri Arumardi yang harus seatap dengan orang yang jelas tidak beliau cintai. Betapa agung, betapa telah lepas bebas wanita ningrat-anak begawan itu-dari lumpur pertimbangan duniawi. Terkurung namun merdeka. Jaya dalam penjara. Kekuatan batin apa yang membuat Arumardi menjadi Arumardi? Keangkuhan apa, apabila itu boleh disebut keangkuhan, yang mempertahan-kan Eyang Pahitmadu tegak jujur sampai saat meninggal beliau? Pertimbangan tidak dengan bobot mati cakrawala, yang bukan lingkaran murni tetapi nyata, bukan cengeng impian, itukah? Hitam malam yang masih berbintang sekunang? Lurusnya pohon kelapa yang luwes sesuai tekanan angin tanpa patah? Lunaknya air yang mampu mengangkat kapal raksasa, ya, bahkan bau sengak suami yang ternyata menikmatkan. Bukankah itu yang dulu berkali-kali dipetuahkan oleh Ni Semangka, pengasuhnya dulu, namun tidak pernah tertangkap artinya oleh Genduk Duku yang kini sudah lama waktunya meninggalkan masa genduknya itu?

Sampai larut malam, Ni Duku tidak dapat memejamkan mata. Sampai akhirnya cahaya pelita, yang ditinggalkan Mbah Legen di lincak tadi, dipaksa padam oleh angin malam yang menyelinap masuk lewat pintu yang masih terbuka. Dan Duku pun ikut padam bebas sadar. Demi hari esok yang masih merasa berhak mendapat gilirannya. Hari esok yang mana? Ah, biarlah nanti gulungan-gulungan wayang beber lakon hari-hari esok berbicara sendiri.

[1]     berjalan sambil berjongkok gaya abdi Jawa.

[2]     “Keunggulan ilmu orang arif berjiwa luhur,

memiliki kepekaan dan pertimbangan,

melihat mana yang patut dan pantas,

hati yang tahu mengira-ngira serba bijak….”

 

T A M A T

Share this:

Menyukai ini:

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Telah Terbit on 16 Mei 2015 at 01:13  Comments (103)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/trilogi-yb-mangunwijaya/genduk-duku/trackback/

RSS feed for comments on this post.

103 KomentarTinggalkan komentar

  1. Episode pertama Genduk Duku telah diwedar

    silahkan berburu rontal dan bergojeg dan berburu rontal sebagaimana bertahun yang lalu, ketika masih menjadi cantrik aktif di padepokan ini.

  2. test…..
    kenapa komen saya tidak bisa masuk daftar komen?

    Hadu….
    kenapa ya?

  3. Grotal-gratul, grayah-grayah

  4. Serasa seperti nyantrik pertama kali, lupa cara nyarinya

  5. ToPan Siap Hadiiirŕ Pakde Satpam. Apa kabar Pakde Satpam dan Eyang Arema ?. Semoga Selalu Sehat dan Banyak Rezekinya Amiiiin.

  6. Pakde Satpam. Kalau pake android apa bisa dicari dan download ya. Sudah berkali kali di plototi di ubek ubek kok ra ketemu ya hahahhhhhh

  7. Assalamu’alaikum wr wb
    Salam sejahtera buat kita semua.
    Alkhamdulillah telah kita mulai lagi mengangkat kisah cerita anak bangsa berupa Novel Serial Roro Mendut.
    Serial karya budayawan YB Mangunwijaya ini berkisah tentang kejatuhan martabat seorang ksatria perang, seorang Tumenggung di Zaman Pemerintahan Kesultanan Mataram Era Sultan Agung Hanyokrokusumo.
    Seorang Panglima Perang yang sangat disegani oleh teman dan lawan ini yaitu TUMENGGUNG WIROGUNO, tergelincir hanya karena kecantikan seorang wanita rakyat biasa, RORO MENDUT.
    Sayangnya sang perawan jelita tidak bersedia disunting oleh Ki Tumenggung dengan tawaran hidup kamukten. Ia lebih memili mati bersama kekasihnya PRONOCITRO, seorang nelayan dari pantai utara.
    Kisah tragis di atas berlanjut dengan sebab dan akibat dari peristiwa tersebut di buku kedua dan ketiganya yg sudah dapat diikuti disini.
    Tapi yang justru menarik adalah latar belakang sejarahnya. Banyak yang sangat awam dengan sejarah Mataram di Era akhir Sultan Agung yang digantikan oleh putra mahkota Sunan Amangkurat I, yang dikenal brutal demi menuruti ambisinya yg gemar melahap betis indah. sampe demi menutupi kebobrokannya, dia tercatat telah membantai ratusan Kiai dan Santri di jamanya. Bagaimana jalan ceritanya, temukan di serial novel ini.
    Hanya sayang sekali, Genduk Duku ini sudah Seri II. Buku Seri I berjudul Roro Mendut, belum ditemukan dalam koleksi. Sedangkan mencarinya di luar sangat jarang diketemukan.
    Apabila diantara sidang pembaca ada yg memiliki, atau kebetulan menemukan di toko buku. mohon perkenan untuk di informasikan di sini.
    Mohon judul di atas bukan APDM, tapi RORO MENDUT, novel serial sejarah YB Mangun Wijaya.
    Monggo.

  8. Assalamu’alaikum Wr Wb,
    Salam sejahtera untuk kita semua,
    Selamat pagi . . . Sugeng enjang,
    Sanak kadang adbm semua . . . .

    Anakmas Risang kok teganya-teganya menyanyi . . . he he he.
    Sementara kadang yang gak sabaran maunya cepet membaca, ingak-inguk rana-rene, nang endi leh ndekek rontal.

  9. Pasti bisa…hik..megkuh titik noda itu…

  10. mantappppp….. tinggal cari roro mendutnya…

  11. Nunut ngiyup Ki ….

  12. Roro mendutnya di bawa lari pronocitro Ki … Salam buat poro Empuh2 Adbm/Pdls …

  13. Wis di ubek2 ora ketemu .. Klau PC cepat klau Hp apa bisa ya … PakLik Satpam mohon bantuannya ..

  14. Ho android juga bisa ki….titik bernoda kata mas satpam…hikkk tidak boleh menyerah

  15. Sugeng sonten Anakmas Risang

    Lha wong episode 2 sudah wedar dari tadi, po ya belum ada yang ngunduh . . . he he he.
    Mungkin sanak kadang perlu bahasa sasmita dari P. Satpam, memang diperlukan ketelitian dan kejelian.

    Sanak kadang sedaya . . . mangga episode 2 sudah gogrok, tinggal ngunduh saja.

  16. Hiks…..mas Satpam

  17. Pusing…
    bagaimana memunculkan komentar terakhir dalam daftar

    mohon pencerahan

  18. Alhamdulillah lagi bisa mlebu senthong sebelah sini…

    lampune masih mati, sehingga harus meraba-raba mencari rontal ala genderuwo picek… semoga pas ‘meraba’nya…

  19. nakmas satpam apa eps.3 siap digrayah ?

  20. Alhamdulillah wis gak usum duku nanging iso moco Genduk Duku semudah memijit wohing ranti.

  21. Episode 5….belum ada cantolan
    Episode 6….masih dalam penggorengan

    Episode 7….belum diracik mas Satpam
    Episode 8….nunggu antrian wedar

  22. Absen dulu aahh…..

    Baru kali ini mbuka gandok Genduk Duku, karena berbagai hal..
    matur nuwun sanget Pak Satpam, Bopo Panembahan, dll atas peluncuran rontal yang baru

  23. selamat siang

  24. Episode 5 : djvu dan pdf

    teks belum dimunculken

  25. Hadir….mas Satpam

  26. HADIR…..mas Satpam

  27. HADIR….sugeng dalu

  28. Alhamdulillah, terima kasih mas
    Risang, tau tau sdh episode 8.
    Apa mas Risang sdh baca ceritanya?
    Latar belakang sejarahnya menarik, yaitu awal mula kita bersentuhan dengan barat secara langsung, dan juga kedzoliman Amangkurat 1yg jarang diangkat ke permukaan.

  29. Njlekethek,
    setelah hampir putus asa, akhirnya ketemu penyebab tidak munculnya komen terakhir.
    Hadu…..
    Bobo ah….

  30. Wah…jebul saya ketinggalan….padahal yang cepat dapat yang lambat ketinggalan….Sugeng sonten sedoyo…!

  31. tes…..masuk komen, komen masuk

  32. HADIR…. mendhisiki diri sendiri

  33. he he he ….

    gandok ini sepertinya rumahnya Ki Menggung berdua (KiGundul dan Ki Kartoyudo sendiri)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: