GENDUK DUKU

Episode 25

“Duku, tinggallah saja di Jali sini. Walau hanya di desa tepi sungai di pelosok Pagelen, tetapi kau di sini dapat menemukan ketentraman hati.” Ya begitulah berkali-kali desak Nyi Gendis dan suaminya kepada janda muda yang kini telah terpisah dari anak tunggal tersayangnya.

“Memang itulah yang Duku inginkan, Nenek terjunjung. Hanya dulu ananda tidak tahu, bagaimana membalas budi kepada pelindungku Bendara Eyang Pahitmadu almarhumah yang selalu membutuhkan aku hambanya. Namun sekarang, maafkan kelambanan pengertian Duku, ananda semogalah masih diperbolehkan membantu Nenek dalam pondok Jali sini (Oh, dengan segala senangku, Duku. Kau kan sudah anak kami.) Walaupun kurang patut.”

“Anggap saja sini rumahmu, Nduk,” sambung Mbah Legen. “Hari-hari yang mendatang rupa-rupanya akan suram di ibu kota. Sudah hampir seribu hari Susuhunan-ing-Ngalaga memperoleh gelar Sultan dari Mekah, tetapi seperti Bendara Pahitmadu, Sultan Hanyakrakusuma sudah sering sakit dan semakin lemah. Padahal permasalahan dengan Blambangan, Pasuruan, dan Bali, apalagi dengan Betawi-belumlah beres. Maka di sini sajalah, Nduk, sebab Raden Mas Jibus sedang menanti saat menduduki singgasana. Kau wanita masih muda. Jangan kerap muncul di Kutanegara. (Oh, bagaimana nanti anakku Lusi?) Tak perlu khawatir. Ia terlindung di dalam puri Tumenggung Singaranu.”

Hampir saja terlonjak kata prihatin Duku si ibu, betapa khawatirnya, jangan-jangan… karena… karena ia mengenal anaknya. Lusi lain dari ibunya atau Rara Mendut. Lain artinya… ah, jangan memikirkan hal-hal yang bukan-bukan. Mbah Legen sudah betul. Lusi terlindung di dalam Puri Jagaraga milik Tumenggung Singaranu.

Awan-awan datang, hujan turun; menyusul bulan-bulan dingin; kemudian awan-awan gelap menggumpal lagi dan hujan serta banjir datang seperti yang telah terirama sejak masa tak teringat. Susuhunan-ing-Ngalaga Mataram wafat, ditangisi para kawula. Dimakamkan di bukit-bukit Imogiri. Dan seluruh istana maupun gugusan-gugusan gubuk rakyat terundung pertanyaan takut: calon raja yang seperti apa yang akan. memerintah, yang dengan bangga memilih sebutan Mangkurat?

Ayahnya cukup puas dengan nama-alias cita-cita Hanyakrakusuma, lingkaran mandala yang berbudi luhur. Sedangkan putra penggantinya ingin memangku seluruh jagad-rat. Khususnya Tumenggung Wiraguna, dengan hati penuh khawatir bertanya diri, akan bagaimana nasibnya nanti di bawah kekuasaan raja yang pernah menjadi lawan dalam pertandingan asmara? Dalam kalangan bangsawan Jawa, soal asmara tidak hanya soal kenikmatan daging dan kelezatan pengalaman keelokan yang menegangkan kelenjar, tetapi masalah kesaktian. Dewi Uma adalah perwujudan dan jaminan kesaktian Sang Hyang Pramesti Guru Girinata. Bagi Prabu Rama kehilangan Sinta berarti kehilangan kesaktiannya, dan merebut Sinta bagi Dasamuka adalah merebut kesaktian yang dia tak punya. Dan bila Arjuna di mana-mana memperoleh kekasih, itu bukan karena ia mata keranjang, tetapi supaya tumpuk-menumpuklah kesaktiannya. Dan celakalah Raja Suyudana, karena kesaktian-nya, permaisuri Banowati tidak pernah setia kepadanya, tetapi melekat kepada kekasihnya, Arjuna. Maka sungguh berkhawatir-lah sekarang Tumenggung Wiraguna, karena pernah membunuh seorang kesaktian yang didambakan Susuhunan Mangkurat ketika beliau masih Putra Mahkota. Seluruh ibu kota dengan berdebar-debar menunggu pula, bagaimana raja baru mereka akan melangkah. Ternyata senyum simpul dan sikap budi darmawanlah yang bagaikan matahari kencana fajar memberkat kepada Seluruh, negara; khususnya, ketika ternyata Wiraguna terangkat kembali penuh menjadi Panglima Besar balatentara Mataram. Rupa-rupanya Panembahan Senapati-ing-Ngalaga yang baru ini menginginkan perdamaian di kalangan sari ningrat kerajaan. Demi hari esok yang masih menunggu gilirannya.

Namun, esok hari yang mana, yang bersumber pada apa? Sebab, Mataram, kerajaan besar yang didirikan dengan kesabaran oleh Ki Pemanahan dan ketangkasan putranya Senapati, diawali juga dengan pembunuhan jorok atas Sultan Adiwijaya dari Pajang oleh anak angkatnya sendiri, dengan pertolongan roh sihir jahat si bule setengah tuyul setengah menteri negara-Ki Juru Taman. Bule yang sampai berani meniduri istri-istri ayahanda Sultan, Panembahan Seda Krapyak, dan masih lagi kurang ajar menggoda permaisuri Susuhunan-ing-Ngalaga yang paling agung dari sekian panembahan Mataram.

Ya, jauh dari Jali, di ibu kota serba bercahaya namun serba banyak kegelapan intrik itu, suatu pagi Putri Arumardi sedang nyaman berendam dalam kolam mandi istana Wiragunan. Nyaman bagi tubuh, tetapi saat itu pikiran-pikiran sang selir budiwati Panglima Mataram sungguh bergumpalan gagasan-gagasan yang tidak mengenakkan. Pertanyaan mendung penuh kekhawatiran yang sama: esok hari yang mana? Esok hari gemilang sang Senapati-ing-Ngalaga Mataram atau esok hari si tuyul bule, pelawak istana Ki Juru Taman yang begitu jorok tetapi begitu menguasai sudut-sudut gelap istana Mataram? Untunglah menteri negara urusan gaib gelap yang suka menyamar dengan busana Susuhunan dan menipu para istri raja di ranjang itu, atas perintah tuannya, sudah dibunuh dalam suatu malam kelam. Mujurlah bule bejat, yang menurut beberapa kiai arif pada hakikatnya tukang-sihir Peose Betawi yang lihai berhasil menawarkan jasa di dalam istana itu, sudah disudahi nyawanya. Tetapi konon mayatnya langsung menghilang, sehingga belum tuntaslah penyudahan menteri negara jahat ini. Dan kini, beginilah selanjutnya, apabila suatu roh jahat tidak pagi-pagi disudahi dan terlalu lama dibiarkan demi pemanfaatannya, maka roh itu akan menjalar, menyusup entah dari mana dan ke mana. Seperti jamur upas yang ganas. Tahu-tahu bersama embun pagi si jamur upas sudah muncul putih-putih mungil seperti bintik-bintik embun susu pada ujung-ujung rumput atau dedaunan serta pokok pohon buah-buahan, meracuni seluruh tetumbuhan.

Bisikan menyambung bisikan, konon darah yang menggumpal dari luka-luka Ki Juru Taman, diam-diam diambil dan disimpan oleh Pangeran Silarong, yang lebih berwatak petualang seniman daripada setiawan pada kedudukan mulia sebagai saudara muda Raja; untuk digunakan selaku racun maut yang tiada taranya. Tetapi mungkin pula sebagian dari darah yang melekat pada tombak pembunuh si dukun bule itu dulu kurang bersih dicuci, sehingga… ya, sehingga mungkin sekali darah itu melekat pada busana atau kulit sang Susuhunan yang baru, yang memilih gelar Susuhunan-ing-Ngalaga Mataram Amangkurat itu. Ah, bagi Putri Arumardi, tetaplah selamanya beliau si Jibus. Siapa tahu, mungkin betul roh Ki Juru Taman yang jorok jahat itu, yang belum sampai berhasil dimusnahkan tuntas oleh Sultan Hanyakrakusuma almarhum, kini mendendam pahit di dalam diri Susuhunan yang baru itu, sampai membiak leluasa dalam darah keturunan Panembahan Senapati! Alangkah ngeri. Berjatuhan sudah korban-korban permulaan, Tejarukmi dan Slamet malang. Disusul oleh tumbal singgasana, Pangeran Alit yang terlalu polos kurang perhitungan.

Riak-riak air kolam menghidupkan riak-riak kenangan yang menggusarkan Putri Arumardi. Tanpa dimaui dilihatnyalah lagi di angan-angan…. kala itu, ya ketika pada suatu pagi Putri Arumardi sedang menyampaikan sesaji pada kaki kedua pohon beringin kurung di alun-alun selatan. Setiap Selasa Kliwon persembahan itu dilakukan, karena Putri Arumardi dengan lambang-lambang penaburan bunga di tempat itu ingin memohonkan keselamatan bagi rakyat semua saja yang mengandung uneg-uneg atau terkena ketidakadilan untuk pepe,[1]) memohonkan kelurusan hukum dari Raja. Di sekitar kedua beringin kurung itulah biasanya rakyat yang mempunyai permohonan keadilan duduk bersila di atas pasir dalam terik menyengat matahari. Pagi itu memang ada dua-tiga orang yang sedang pepe. Akan tetapi tiba-tiba dari arah Pasar Besar terdengar gemuruh huru-hara dan derap kuda-kuda beringas. Terkejut Putri Arumardi melihat, bahwa pengebut kuda yang beringas meluncur ke dalam alun-alun itu ialah pemuda Agrayuda, yang gagah memperagakan tombaknya menyerbu istana.

Perkelahian sengit dengan para pengawal istana langsung terjadi di dekat Bangsal Pengurakan. Selanjutnya Putri Arumardi sudah tidak tega melihat apa yang terjadi, dan hanya dapat menutup mata. Serba gemetar Putri itu kemudian ditarik dengan keras oleh dayang-dayangnya, mencari persembunyian di dalam salah satu rumah abdi dalem istana. Tak sulit diduga, pemuda Agrayuda segera terbunuh keji karena pengeroyokan para prajurit istana. Penghuni rumah itu dengan gagap menceritakan, bahwa baru saja sebelumnya, Tumenggung Pasingsingan,[2]) –yakni ayah sang pemuda Agrayuda-ketika beliau masuk bekerja seperti biasanya di dalam istana, tiba-tiba diseruduk sepasukan pengawal wanita, dan terbunuh. Abdi-abdinya lari dan itulah jadinya, putranda Agrayuda naik pitam, tanpa berpikir panjang kemudian mengamuk. Belum lagi sangat jelas bagi Putri Arumardi bagaimana duduk perkara sesungguhnya, seluruh lingkungan dilanda lagi gemuruh teriak dan amarah segerombolan penyerang yang terdiri dari priyayi-priyayi tua-muda, bahkan ada yang masih anak-anak dan kakek-kakek. Ternyata mereka dari Puri Pasingsingan yang mengamuk bagaikan banjir gila menyerbu gerbang istana. Tetapi pasukan-pasukan istana yang sudah siaga cepat mengepung mereka dan tak ada satu kepala pun dari para penyerang yang berpuluh-puluh itu yang tidak dipenggal dari tubuh. Bersorak-sorai para pengawal istana menyate kepala-kepala tumbang itu pada pucuk-pucuk bambu atau tombak yang ditancapkan di sekeliling beringin kurung.

Masih menggigil Putri Arumardi bila mengingat peristiwa itu. Hanya satu yang tidak dimengerti istri Wiraguna, mengapa pada peristiwa yang sengeri itu beliau tidak pingsan. Bahkan sebaliknya, kemudian dingin seperti hati prajurit wanita pengawal khusus keraton, masih nekat mengintip melalui suatu lubang di dinding, untuk melihat kelanjutan lakon simpang-siur di sekitar alun-alun selatan dan Siti-Hinggil.[3])

Betul, tidak lama kemudian datanglah mengebut di atas kuda hitamnya, Pangeran Alit pribadi. Nyaris Putri Arumardi berteriak ingin menganjurkan kepada pemuda yang belum dua puluh pasang musim usianya itu, untuk undur sajalah dan jangan menambah jumlah korban istana. Tetapi siapa dapat menahan berang-beringas seorang pemuda ningrat dengan darah keturunan Panembahan Senapati yang sudah mata gelap bernafsu untuk menuntaskan persengketaan yang sudah terlanjur bertaruhan kepala apalagi gengsi nama ningratnya? Tetapi apa sambutan sang Susuhunan dari balik kelir-kelir istana kepada Pangeran Muda itu? Seorang perwira pengawal istana melemparkan sebuah kepala yang menggelundung di muka kaki-kaki kuda Pangeran Alit sambil berteriak, “Inilah, Pangeran Muda, kepala-kepala mereka yang ingin mengangkatmu menjadi raja!”

Setelah ragu-ragu sebentar melihat kekalahan yang mengancam dirinya, kemarahan Pangeran Alit meletus. Ia menghunus keris pusakanya, Kiai Setan Kober. Mengamuk! Adipati Sampang, Demang Melaya, seorang ksatria Madura keturunan Cakraningrat,[4]) masih mencoba meredakan amukan putra raja itu dan merangkul kaki Pangeran Alit sambil memohon agar redalah amarahnya. Tetapi justru Setan Kober ditikamkan ganas ke dalam leher Demang Melaya. Maka tak dapat dibendunglah kegalauan dan kemurkaan keluarga Sampang, dan berbondong mereka mengeroyok pangeran muda itu. Tetapi perkelahian terakhir yang sengit serba riuh-rendah itu sudah tidak dilihat Putri Arumardi, yang kali ini toh akhirnya jatuh pingsan juga.

“Sang Putri menggigil, barangkali terlalu lama berendam di dalam air dingin ini,” kata prihatin dayang-tua Ni Sekethi. “Air panas, Ndara?”

Tetapi sang Putri hanya menggelengkan kepala dan seperti tak sadar hanya menggumam, “Zaman edan sekarang ini..”

“Ah, Ndara, mbok sudah ta, tidak perlu kita ikut hanyut dalam perkara-perkara urusan lelaki. Apa lagi yang Putri pikirkan?”

“Jangan-jangan Kakangmas Wiraguna tak akan kembali lagi.”

“Oh itu? Mengapa tidak? Beliau Panglima yang jaya senantiasa. Dan apa arti Blambangan dibanding dengan Surabaya, pemberontakan Pati, dan semua medan laga yang pernah disambar oleh Kakanda yang disebut Tumenggung Alap-alap itu? Apa Putri Arumardi tidak mendengar berita kemarin, bahwa pasukan-pasukan Mataram sudah mengenyahkan orang-orang Bali sampai ke tengah laut?”

“Tetapi Kakangmas sudah tua sekarang, dan peristiwa-peristiwa akhir-akhir ini… (Ah, mbok ya sudah ta, Ndara Putri! Beliau bersama-sama Tumenggung Danupaya yang penuh pengalaman medan juga. Percayalah…) Justru itu. (Apa yang justru itu?) Karena justru Kakangmas dan Tumenggung Danupaya itulah yang diberi tugas menumpas Blambangan. (Kan Tumenggung Wiraguna panglima yang paling ahli perang? Siapa lagi? Walaupun tentulah menyedihkan untuk para garwa tentunya. Sudahlah, Ndara, itu semua urusan kaum lelaki. Tugas kita wanita ialah tetap ayu dan menarik, menghiasi dunia ini dengan segala kenikmatan yang kita miliki. ) Untuk apa ayu bila yang kita dengar hanya pembunuhan demi pembunuhan? (Lho justru itu, bagaimana ta, Putri Arumardi sekarang ini? Kan justru di tengah kebusukan, di mana-mana bunga-bunga seperti panjenengan[5]) inilah yang harus membuat ayu bumi. Apa sudah lupa petuah-petuah Nyai Ajeng?) Kalau cuma begitu caranya… (Lho, ya tentunya cuma begitu, mau apa, Ndara? Tetapi sudahlah, ini kolam mandi yang segar dan indah. Bukan bangsal perundingan siasat perang.. Mbok lihat itu, betapa jelita sinar matahari sedang membangunkan daun-daun pepohonan. Lihatlah itu mega-mega kencana fajar sedang tersenyum, mengatakan kepada semua putri ayu, agar tersenyum selalu, wajah dan jiwa. Mari, kain dibuka saja, biar Ni Sekethi dapat merawat tubuh Raden Ayu yang ternyata tetap saja lestari muda dan menawan. Nah, begini. Coba pandang, wong masih muda begini kok mengeluh seperti nenek-nenek. ) Tetapi kalau darah seorang putra keturunan Panembahan Senapati sudah mengalir di dalam keraton seorang keturunan Panembahan Senapati yang lain, apa itu artinya, Ni Sekethi? Jujur sajalah….”

Ni Sekethi dayang tua itu diam. Sebab memang berita-berita dari istana sejak Raden Mas Jibus naik tahta betul tidak menjanjikan hari-hari bebas takut. Bernapas panjang ia mengambil suatu bungkusan daun pisang di tepi kolam yang ia bawa tadi. Dibukanya… lho! Terkejut si dayang-dayang tua itu.

“Ini bagaimana si Senik itu! Cuma lerak dan mawar dan kenanga dan kantil. Selalu teledor anak satu ini. Kemarin lupa bunga kenanganya, sekarang bunga gambirnya. Kan tidak sempurna nanti ramuannya. Sebentar Putri Arumardi….” Dan ia berdiri hendak menaiki tangga kolam.

“Mbok sudahlah. Apa bedanya satu kali kurang bunga gambir sedikit?”

“Eh, banyak, banyak sekali bedanya. Dan lagi, nanti tuman[6]) si Senik itu, bekerja seenaknya sendiri. Ramuan tetap ramuan. (Apa gunanya ribut soal bunga gambir?) Eeee, yang harus haruslah. (Siapa yang mengharuskan?) Lho, kok siapa yang mengharuskan. Ini sudah peraturan. Pembersihan kulit ayu harus dengan lerak campur kantil, untuk menghalau Batara Kala; kenanga untuk menakut-nakuti Durga; dan bunga gambir untuk memohonkan keremajaan dari Dewa Wishnu. Kan kulit wanita harus awet mulus, dan bersih. Sebetulnya harus ditambahi sedikit daun sirih, tetapi… lho, siapa itu?” Dan terkejut mendongaklah dayang-dayang tua itu memandang marah ke arah gerbang kolam yang kelirnya sudah ditandai topeng Putri Cina, sebagai tanda bahwa sudah ada yang sedang mandi di kolam yang terbingkai dinding tinggi itu. “Bocah clinthisan![7]) Siapa itu kok berani masuk?”

Tetapi Putri Arumardi bahkan bersinar ria. Cepat kainnya ditutupkan seapa-adanya pada tubuh jelitanya sambil memanggil,

“Lusi! Kok begini pagi! Ada apa?”

“Anak tak tahu kesopanan,” desis Ni Sekethi, “apa tidak bisa menunggu?”

Namun sekali lagi istri Wiraguna itu memanggil gadis remaja yang hanya diam berdiri di ambang kelir gerbang, setengah takut memandang dayang-dayang tua itu. “Ni Sekethi, silakan ambil dulu bunga-bunga gambirmu. Mestinya ada yang penting. Mungkin ada panggilan dari Bendara Raden Ayu Pinundhi, atau dari Tumenggung Singaranu sendiri. (Tersenyum ramah.) Mari, Lusi! Dari mana kau sepagi ini?”

Gadis itu kemudian berjongkok dan menyembah, lalu gugup mencoba berungkap, “Maafkan seribu kali, Putri Arumardi, tadi pagi-pagi hamba berbelanja di pasar. Lalu… lalu…”

“Sudah, tak mengapa. Membawa warta dari puri Singaranu?”

Si gadis tidak langsung menjawab. Ia menunggu sampai dayang-dayang tua dengan pandangan mata melotot melewatinya dan menghilang di balik kelir, ke luar gerbang. Kemudian berlarilah Lusi ke bawah, dan terengah-engah, sesudah memandang ke segala penjuru serba takut, membisikkan sesuatu yang sudah menggumpal di dalam dadanya, “Putri Arumardi, lekas pergi dari puri ini. Susuhunan Amangkurat berkehendak membunuh Panglima Wiraguna dan Tumenggung Danupaya di Blambangan.”

Membelalak sebentar sepasang mata cantik sang wanita dalam kolam. Tak ada jawaban langsung yang menyambut berita mengagetkan itu. Mengagetkan? Diam Putri Arumardi memandang ke sepasang mata remaja yang berlinang-linang di mukanya. Ditariknya kepala gadis itu pelan-pelan, dan penuh sayang gadis itu diciumnya. Tanpa tergesa-gesa Putri Arumardi yang sedang ikut terancam bahaya itu keluar dari kolam dan dengan kain masih serba basah duduklah beliau di tepi kolam, sambil memegang erat tangan sang pembawa berita duka. Menerawang sedih tetapi sepertinya tersenyum simpul Putri Arumardi memandang ke pepohonan di keliling kolam yang, baru saja terkena sinar-sinar pertama pagi baru. Kemudian berkatalah ia lirih,

“Sudah kuduga, Nduk, sudah kurasakan dalam cita firasatku. Sejak suamiku ditugaskan ke Blambangan[8]) bersama Tumenggung Danupaya,[9]) ibumu Arumardi sudah mengira. Ternyata benar. Ya, memang sudah nalar. Nalar menurut cara berpikir Raden Mas Jibus. Tumenggung Pasingsingan dan putranya Agrayuda, telah dibantai di halaman istana. Menyusul Pangeran Alit sendiri, saudara Raja. Kini Kakangmas Wiraguna dan Tumenggung Danupaya yang akan mendapat gilirannya….”

Pelan-pelan Putri Arumardi menoleh dan memandang si gadis. Katanya,

“Dari mana kau tahu?”

“Tadi malam, pelita di muka gandok ruang tidur Tumenggung Singaranu padam, tertiup angin. Lalu Lusi ingin menyalakannya lagi, Putri Arumardi. Tetapi… tetapi, ah tanpa sengaja, sungguh, Lusi mendengar sekelumit percakapan di pringgitan antara tuanku dengan seseorang yang tak kukenal. Rupa-rupanya sang tamu itu sedang memohon nasihat dari Tuanku Menteri Perdana, apa yang harus ia perbuat, karena beliau mendapat perintah untuk pergi ke Blambangan. Dan dengan tipu muslihat harus menyudahi Panglima Mataram dan Tumenggung Danupaya dengan warangan atau terpaksanya dengan racun tikus.”

“Ya, sebetulnya sudah dapat diramal itu, Nduk. Tumenggung Danupaya ialah guru pendidik Pangeran Alit. Dan Kakangmas Wiraguna… ooo, Tejarukmi, Tejarukmi, sampai hari ini pun Raden Mas Jibus tidak pernah lupa padamu…. Apa yang dikatakan Tumenggung Singaranu?”

“Lusi tidak dapat mendengar semua, Putri Arumardi. Gemetar seluruh tubuh hambamu. Takut kalau ketahuan bersembunyi di balik selintru.[10]) (Ah, tidak penting. Terima kasih, Lus. ) Oh, Lusi ingat. Beliau lalu berganti bertanya, begini kira-kira: Dan kalau tugas ini sudah kaulakukan nanti, tahukah juga kau, apa yang akan terjadi padamu? Lalu tamu itu hamba dengar menangis, minta pertolongan Tuanku Menteri Perdana, agar dibebaskan dari tugas yang berat itu.”

“Ya, tentu saja jelas… dia pun sesudahnya akan dibunuh.”

Merintihlah si gadis, “Putri Arumardi, Putri Arumardi… lekaslah pergi. Menyusul ke ibuku di Jali: Seluruh keluarga Wiraguna, semua akan dibunuh kemudian.”

“Aku sudah tahu, Gendukku Lusi. Semua orang tahu. Kalau seorang kepala keluarga terkena hukuman mati dari sang Susuhunan, tak ada istri, anak, maupun abdi satu pun akan dibiarkan hidup. Ini hukum kerajaan Jawa. Aku tahu….”

“Maka lekaslah pergi, Putriku yang kucintai. Putri Arumardi pernah dan selalu menolong ibu dan ayah Lusi. Sekarang Lusi ingin membalas budi sedikit. Nanti Lusi yang akan menolong. Tetapi Putri Arumardi harus mau, harus mau, ya, harus mau pergi…” Dan tak kuat menahan getaran emosi, menangislah si gadis remaja itu di dalam rangkulan istri selir Wiraguna.

Heran penuh pertanyaan Ni Sekethi memandang dua orang itu berangkulan seperti… “Rindu kepada ibunya,” kata keterangan penyelubung dari Putri Arumardi kepada dayang-dayang tuanya yang mengangguk-angguk. Reda sekarang jengkelnya, penuh pengertian. Ni Sekethi pun punya cucu yang sering rindu begitu. Tetapi rindu pada seorang prajurit muda penjaga istana. Penuh pengertian Ni Sekethi menjauh, pura-pura mengambil sapu, membersihkan sudut halaman kolam.

“Kau anak baik, Lusi. Kau mirip ibumu. Cerdas dan pemberani.”

“Ibu selalu mengatakan, Lusi nakal, Lusi akan berkembang buruk, kalau… kalau:..”

“Sudah Lusi-ku, Lusi, Lusi-ku. Ibumu seperti semua ibu. Memarahi kan artinya memperhatikan, artinya mencintai, bukan?” Dikeringkan oleh Putri Arumardi air mata si gadis dengan rambutnya.

Masih juga si gadis itu merintih, “Tidak, Putri Arumardi. Lusi tahu, Lusi tidak seperti ibunya.”

Tertawalah renyah sang selir Panglima, “Tentu saja, mana ada anak kok kembar dengan ibunya. Dengar Lusi, Lusi-ku: kalau Putri Arumardi mengatakan, Lusi adalah kebanggaan Putri Arumardi, bagaimana? Cukupkah itu?”

Langsung gadis itu merebahkan dirinya ke dalam dada serba basah dari wanita yang rupa-rupanya sangat ia puja itu. Dibiarkannya si gadis menangis lirih. Ni Sekethi menoleh dan bergumam, “Kalau jauh, rindu. Kalau dekat, memakan hati. Anak zaman sekarang.”

Tiga hari sesudah kedatangan Lusi tadi, Putri Arumardi meminta izin kepada Nyai Ajeng, permaisuri Panglima Wiraguna, untuk bergabung dengan rombongan istana yang setiap malam hari wafat Sultan Hanyakrakusuma berziarah ke Imogiri. Di bawah pohon tanjung di dekat mata-air yang disebut Sendang Umayi, kedua mereka bertemu lagi, Putri Arumardi dan Lusi Lindri. Seandainya tidak ditarik lengannya, mustahil Putri Arumardi dapat mengenali si Lusi kembali. Memang banyak sekali peziarah berduyun-duyun, apalagi waktu sudah menjelang maghrib, sehingga tidak mudah mencari orang yang khusus dicari. tetapi kali ini karena… masya ‘Allah, Lusi Lindri menyamar sebagai seorang pemuda pedagang Banjar yang mengantar seekor kuda.

Nyaris Putri Arumardi berteriak geli, akan tetapi langsung beliau ditarik oleh “pemuda Banjar” itu keluar kerumunan orang, dan dimasukkan ke dalam semak-semak sepi. Busana istri panglima, yang kendati sudah dipilih yang paling sederhana pun, harus ditanggalkan; diganti dengan kain lusuh yang sekadar selendang penutup bahu, rambut diudal-udal sedikit. Dan cepat gesit, Lusi mengantarkan putri istana, yang sudah lebih tampak seperti simbok belaka itu, ke suatu pedati yang biasanya dipakai untuk mengangkut garam. Langsung kerbau sepasang dicambuk oleh kusirnya, dikawal seorang “jago” perempuan gemuk. Dan mengelindinglah gerobak garam itu menuju ke barat. Tanpa kecupan selamat tinggal, tanpa kata mesra. Dan berpisahlah dua wanita itu, terlindung oleh sayap-sayap malam dini. Dari jauh mulai terdengar sahut-menyahut, Allaaaahu akbar!

[1]     duduk berjemur disengat matahari, sambil mohon keadilan dari Raja

[2]     penasihat utama Pangeran Alit, salah seorang calon pengganti Sultan Agung

[3]     ruang utama istana, pendapa, tempat penerimaan tamu-tamu atau rakyat

[4]     para raja Madura yang kalah dan keluarganya biasanya wajib tinggal di ibu kota Mataram

[5]     bahasa tinggi: engkau

[6]     berkebiasaan negatif

[7]     Anak tak sopan berjalan di tempat terlarang!

[8]     wilayah Jawa Timur paling timur

[9]     guru Pangeran Alit

[10]    penyekat ruang lepas

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Telah Terbit on 16 Mei 2015 at 01:13  Comments (103)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/trilogi-yb-mangunwijaya/genduk-duku/trackback/

RSS feed for comments on this post.

103 KomentarTinggalkan komentar

  1. Episode pertama Genduk Duku telah diwedar

    silahkan berburu rontal dan bergojeg dan berburu rontal sebagaimana bertahun yang lalu, ketika masih menjadi cantrik aktif di padepokan ini.

  2. test…..
    kenapa komen saya tidak bisa masuk daftar komen?

    Hadu….
    kenapa ya?

  3. Grotal-gratul, grayah-grayah

  4. Serasa seperti nyantrik pertama kali, lupa cara nyarinya

  5. ToPan Siap Hadiiirŕ Pakde Satpam. Apa kabar Pakde Satpam dan Eyang Arema ?. Semoga Selalu Sehat dan Banyak Rezekinya Amiiiin.

  6. Pakde Satpam. Kalau pake android apa bisa dicari dan download ya. Sudah berkali kali di plototi di ubek ubek kok ra ketemu ya hahahhhhhh

    • Sugeng enjang . . . Selamat pagi, Ki Adji.

      Saya tadi sudah mencoba di hp dan tidak bisa Ki, kecuali kalo di hp Ki Adji ada djvu nya, baru bisa dibaca, karena formatnya djvu, bukan pdf bukan pula ms-word.

      Kalo soal rontal diumpetin dimana sama Anakmas Risang, Ki Adji saya kira sudah pengalaman tahunan . . . he he he, tlateni ae suwe-suwe rak ketemu . . . gampang kok, gak susah.

  7. Assalamu’alaikum wr wb
    Salam sejahtera buat kita semua.
    Alkhamdulillah telah kita mulai lagi mengangkat kisah cerita anak bangsa berupa Novel Serial Roro Mendut.
    Serial karya budayawan YB Mangunwijaya ini berkisah tentang kejatuhan martabat seorang ksatria perang, seorang Tumenggung di Zaman Pemerintahan Kesultanan Mataram Era Sultan Agung Hanyokrokusumo.
    Seorang Panglima Perang yang sangat disegani oleh teman dan lawan ini yaitu TUMENGGUNG WIROGUNO, tergelincir hanya karena kecantikan seorang wanita rakyat biasa, RORO MENDUT.
    Sayangnya sang perawan jelita tidak bersedia disunting oleh Ki Tumenggung dengan tawaran hidup kamukten. Ia lebih memili mati bersama kekasihnya PRONOCITRO, seorang nelayan dari pantai utara.
    Kisah tragis di atas berlanjut dengan sebab dan akibat dari peristiwa tersebut di buku kedua dan ketiganya yg sudah dapat diikuti disini.
    Tapi yang justru menarik adalah latar belakang sejarahnya. Banyak yang sangat awam dengan sejarah Mataram di Era akhir Sultan Agung yang digantikan oleh putra mahkota Sunan Amangkurat I, yang dikenal brutal demi menuruti ambisinya yg gemar melahap betis indah. sampe demi menutupi kebobrokannya, dia tercatat telah membantai ratusan Kiai dan Santri di jamanya. Bagaimana jalan ceritanya, temukan di serial novel ini.
    Hanya sayang sekali, Genduk Duku ini sudah Seri II. Buku Seri I berjudul Roro Mendut, belum ditemukan dalam koleksi. Sedangkan mencarinya di luar sangat jarang diketemukan.
    Apabila diantara sidang pembaca ada yg memiliki, atau kebetulan menemukan di toko buku. mohon perkenan untuk di informasikan di sini.
    Mohon judul di atas bukan APDM, tapi RORO MENDUT, novel serial sejarah YB Mangun Wijaya.
    Monggo.

  8. Assalamu’alaikum Wr Wb,
    Salam sejahtera untuk kita semua,
    Selamat pagi . . . Sugeng enjang,
    Sanak kadang adbm semua . . . .

    Anakmas Risang kok teganya-teganya menyanyi . . . he he he.
    Sementara kadang yang gak sabaran maunya cepet membaca, ingak-inguk rana-rene, nang endi leh ndekek rontal.

    • kok komentare menunggu moderasi,
      ra entuk mlebu po ya . . . . . hiks.

  9. Pasti bisa…hik..megkuh titik noda itu…

  10. mantappppp….. tinggal cari roro mendutnya…

  11. Nunut ngiyup Ki ….

  12. Roro mendutnya di bawa lari pronocitro Ki … Salam buat poro Empuh2 Adbm/Pdls …

  13. Wis di ubek2 ora ketemu .. Klau PC cepat klau Hp apa bisa ya … PakLik Satpam mohon bantuannya ..

  14. Ho android juga bisa ki….titik bernoda kata mas satpam…hikkk tidak boleh menyerah

  15. Sugeng sonten Anakmas Risang

    Lha wong episode 2 sudah wedar dari tadi, po ya belum ada yang ngunduh . . . he he he.
    Mungkin sanak kadang perlu bahasa sasmita dari P. Satpam, memang diperlukan ketelitian dan kejelian.

    Sanak kadang sedaya . . . mangga episode 2 sudah gogrok, tinggal ngunduh saja.

    • Sugeng sonten Panembahan
      he he he …., kala wau kesupen terus buru-curu wedaran, lan terus nglanjutaken tugas malih.
      ngapunten…

  16. Hiks…..mas Satpam

    • kata bang haji mas Satpam…terLALU

      • he he he …..
        gandok dimanapun kalau tidak ada Ki Menggung Gembleh dan Ki YP, kayaknya bagaimana…. gitu.

        Monggo Ki

        • Betul Lik Satpam… seperti lontong balap tanpa lontongnya…

          • Betul ki AM….
            Seperti motor balap tanpa motornya

  17. Pusing…
    bagaimana memunculkan komentar terakhir dalam daftar

    mohon pencerahan

    • Lho….mas satpam kePUsingan toh

      Cantrik kira memang sengaja tidak
      mas Satpam tampilkan

      • Gampang mas Satpam…hiks

        Kirim panah sanderan nti cantrik
        bantu dari ujung wetan

  18. Alhamdulillah lagi bisa mlebu senthong sebelah sini…

    lampune masih mati, sehingga harus meraba-raba mencari rontal ala genderuwo picek… semoga pas ‘meraba’nya…

    • Ketemu ki AM….bukan hanya diRABa
      zoom juga perlu ki, saestu

  19. nakmas satpam apa eps.3 siap digrayah ?

    • likmas Satpam apa eps.4 siap diwedar?

      • dereng, mbenjang enjing

    • sampun …..

  20. Alhamdulillah wis gak usum duku nanging iso moco Genduk Duku semudah memijit wohing ranti.

    • Selamat malam mas Satpam… 🙂

      Selamat menyiapkan wedaran rontal
      lanjutan.

      • di padepokan sini….cantrik siap
        bertanding lawan mas Satpam

        Kuat mana yang baca apa mas Satpam
        yg nyiapkan rontal

        • hayoo,,,,,,,,,

          • Priit…format text mas Satpam

            • yg kalah angkat
              tangan kanan.
              tanda kiri cukup
              masukan saku
              belakang 🙂 🙂

            • Kudu sesuai jadwal no Ki Menggung.

              • Jadwal ber-
                kunjung

                • J
                  A
                  D
                  W
                  A
                  L

                  A
                  M
                  B
                  I
                  L

                  J
                  A
                  T
                  A
                  H

                  R
                  A
                  N
                  G
                  S
                  U
                  M

              • Monggo
                lha wong wis ket mau kok
                he he he …..

  21. Episode 5….belum ada cantolan
    Episode 6….masih dalam penggorengan

    Episode 7….belum diracik mas Satpam
    Episode 8….nunggu antrian wedar

    • Usul mas Satpam,

      Wedaran rontal nunggu pasukan OGrog
      pada ngumpul ng padepokan.
      Tahan dulu wedaran sp cantrik mentrik
      kemringet ngiler rontal lanjutan.

      Ini tadi usulan ki Trupod sesepuh
      padepokan….ki gundul sakdermo
      menyebar luaskan

      Saestu…TENAN

    • 5 wis kok

      • 5 wes nyantol….tinggal srondol

        • Matur nuwun mas Satpam

          • Nti malam cantrik kancani
            Melek-an

  22. Absen dulu aahh…..

    Baru kali ini mbuka gandok Genduk Duku, karena berbagai hal..
    matur nuwun sanget Pak Satpam, Bopo Panembahan, dll atas peluncuran rontal yang baru

  23. selamat siang

  24. Episode 5 : djvu dan pdf

    teks belum dimunculken

    • pelan2 mas Satpam…ga usah terburu
      buru pasang “teks”

      yg penting wektu cantrik sambang lgi
      nanti “teks” sudah dicantolkan…hehe20x

      • Malam mas Satpam

        • Hadir…sambang padepokan

          • he he he …, monggo…..

            • Hehehe…matur
              nuwun mas Satpam

              • Sugeng
                Dalu

  25. Hadir….mas Satpam

    • Sugeng dalu kadang genduk DUKU

      • Otw padepokan sebelah sengkaling

        • loh…, padepokan sebelah Sengkaling yang mana? UMM, UIN, Polres?

  26. HADIR…..mas Satpam

    • monggo….
      penghuninya di sini hany Ki menggung sendiri
      satpam juga jadi males piket disini
      he he he he he he he he he he (lama lama tidak terdengar)

      • Males….pertanda belom makan
        mas Satpam…kleru Mules ding.

        AYO SEMANGAT…mumpung yg
        laen pada belom datang.

        • berDUA…..sapa takut 🙂 🙂

          • AYO mas SATPAM….kita buat padepokan megah.

            Megah : menawan gagah
            tur bikin betah para wanita
            seluruh tlatah jawa 🙂 🙂

  27. HADIR….sugeng dalu

    • mas Satpam….kemana kah panjenengan

      • cantrik dewean….ENAK tenan

        • urun saran….kenapa komen di genduk duku tidak nampak pd

          KOMENTAR terakhir padepokan
          ini mungkin yg bikin gandok jarang ada yang singgah padepokan

          • masa sih mas Satpam ga
            bisa otak atik membetulkan

            • Sampe judeg Ki, tidak berhasil.
              Masih dicoba otak atik lagi.

  28. Alhamdulillah, terima kasih mas
    Risang, tau tau sdh episode 8.
    Apa mas Risang sdh baca ceritanya?
    Latar belakang sejarahnya menarik, yaitu awal mula kita bersentuhan dengan barat secara langsung, dan juga kedzoliman Amangkurat 1yg jarang diangkat ke permukaan.

    • Sambil konversi dan edit teks Ki, satpam sempat baca.

  29. Njlekethek,
    setelah hampir putus asa, akhirnya ketemu penyebab tidak munculnya komen terakhir.
    Hadu…..
    Bobo ah….

  30. Wah…jebul saya ketinggalan….padahal yang cepat dapat yang lambat ketinggalan….Sugeng sonten sedoyo…!

    • benul ki Karto….yg cepat dapat duluan
      yg lambat sabar nunggu dum2an

      • Benur..Ki Tmg.YP..ngantri..

        • Ngantri sebentar….pas dibelokan cantrik serobot antrian,

          • Ati2 Ki Menggung….keseringan nyrobot ntar…bengkong lho 😀

            • Bengkong sekali kali asik ki Menggung

              BengkongAN…he 50x

              • Selamat malam…..sepi banget

                • S
                  E
                  R
                  E
                  M

                  Hi
                  Hi
                  Hi
                  Hi

              • hem….serem deh 😦

                • Se
                  Re
                  M

                  Me
                  Le
                  K

                  Me
                  Re
                  M

              • Serem…..seneng merem 😀

  31. tes…..masuk komen, komen masuk

    • tes…..yang keluar masuk 😀

      • Sugeng dalu ki Kartojudo

        • Kecipir mrambat kawat…wes suwe ki Karto ora liwat

          • Sugeng manuk..eh..masuk Ki Gundal gandul 😀

            • Hiks…matur nuwun ki Kartojudo

              Suwe ora jamu…jamu pisan godhong kates
              Suwe ora ketemu…ketemu pisan tes testes

              • Hehehe…dak kiro ketemu pisan ketemu….kates 😀

              • Sanes
                kates
                ki….

                kutes
                kusuka
                kates

  32. HADIR…. mendhisiki diri sendiri

  33. he he he ….

    gandok ini sepertinya rumahnya Ki Menggung berdua (KiGundul dan Ki Kartoyudo sendiri)

    • Bener mas Satpam…terkadang kita perlu menyendiri buat mengendapkan serta menenangkan diri dari hiruk pikuk ramainya hohohihi

      • Bener mas Satpam…terkadang kita …merasa sedih

        • Sedih dipagi hari…seneng disore hari

          • Sedih disiang hari….sueneng dimalam hari

            • Sugeng Riyadin Ji Gundul,mas Satpam…..
              maaf lahir batin……..

              • Njih Ki Menggung
                sami-sami nggih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s