GENDUK DUKU

Episode 24

Berenung-renung Ni Duku duduk bersila dalam gerobak kerbau yang pelan-pelan menuju ke barat. Selamat beristirahat, Bendara Eyang Pahitmadu! Lindungilah terus wanita-wanita kesayanganmu. Telah tentramlah Bendara Eyang dalam haribaan Allah Yang Maha Penyayang lagi Pengasih.

Belum genap seputaran bulan Ni Duku dengan Lusi berkunjung bahagia di rumah desa Mbah Legen dan Nyi Gendis, ketika itu datanglah pesuruh khusus dari Puri Pahitmadu. Sang Bendara Eyang berulang-ulang memanggil Genduk Duku. Cepatlah ibu dan anak menaiki kuda-kuda yang dibawa oleh para utusan dan kencanglah Genduk Duku dengan Lusi, berlari ke puri.

“Nduk Duku,” kata perpisahan Eyang budiwati itu. “Berkali-kali kukatakan, baru pertama kali inilah aku menemukan wanita muda yang saya cita-citakan sejak kecilku. Kau dan Rara Mendut. Rara Mendut sudah tiada dan aku belum pernah melihatnya. Tetapi kau, Nduk, kau dapat kupandang, kuciumi, kukeloni. Kau cantik tetapi juga manis. Jarang itu, Nduk. Tubuhmu wutuh, susumu penuh, dan kepalamu mendongak.

“Dulu aku ingin seperti kau itu, Nduk. Wiraguna dapat jadi Panglima hanya karena dia lelaki. Tetapi seandainya eyangmu dulu lelaki, pastilah bukan adikku yang jadi Panglima Besar Mataram. Tak mengapalah, Nduk. Aku sudah melihat dan mengeloni kau. Jadilah wanita yang utuh, ya, Anakku sayang. Jangan mau dipreteli. Sebentar lagi eyangmu sudah tiada. Dan walaupun rahimku belum pernah mengandung dan payudaraku belum pernah mengalirkan kehidupan kepada seorang denok[1]) atau tole,[2]) tetapi tak mengapalah. Aku sudah melihatmu dan entahlah, seolah-olah kau anak kandungku sendiri. Jadilah wanita yang utuh, ya, Anakku sayang. J angan kau mau dipreteli. Lelaki biasanya tidak mencintai istrinya. Mereka mencintai pipinya, rambutnya, matanya, susu-susunya, rahim yang mengandung benih dari dia. Tetapi belum sampai mencintai istrinya. Jangan mau dipreteli, ya Nduk. Eyangmu tidak pernah menikah, tidak pernah kawin. Tidak nyaman rasanya, Nduk. Tetapi eyangmu tidak pernah dipreteli.”

Tidak, dalam banyak hal Genduk Duku juga tidak pernah dipreteli. Mendengar kata-kata Nenek berhati emas itu, Duku hanya dapat menangis di muka ranjang. Seluruh puri sudah tahu, sebentar lagi puan mereka akan meninggal. Sudah beberapa hari Panglima Wiraguna juga datang hadir dalam puri. Bahkan Tumenggung Singaranu beserta istri perdana dan beberapa istri selirnya telah berkenan juga mengunjungi Eyang, yang walaupun tidak pernah berperan di kalangan Pusat, namun kebajikan serta kewibawaan jiwanya sangat mereka segani.

Puri Pahitmadu penuh tamu-tamu tinggi, karena mereka tahu, betapa berwibawa pula Eyang Pahitmadu terhadap adiknya, Panglima paling kuasa di seluruh Mataram. Bahkan banyak tamu terpaksa menginap di rumah punggawa-punggawa desa atau berkemah biasa di padang luar. Kemungkinan perjumpaan kedua antara Genduk Duku dengan Tumenggung Wiraguna tentulah ada, tetapi Duku pandai menghindar. Bagaimana seandainya Eyang pelindungnya sudah meninggal nanti? Siapa yang akan melindunginya terhadap sang adikuasa Wiraguna?

Namun Eyang Pahitmadu telah jeli melihat kesulitan kekasihnya. Di bawah empat mata, Tumenggung Wiraguna diharuskan kakaknya bersumpah tidak akan berbuat sesuatu apa pun yang dapat merugikan Duku maupun anak keturunannya. Dan Panglima Besar balatentara Mataram yang sangat kuasa itu tidak akan berani menyalahi sumpah di hadapan seorang tua yang sedang akan meninggal. Tetapi Tumenggung Wiraguna adalah Tumenggung Wiraguna. Oleh karena itu Duku tetap harus berhati-hati. Nah, ini alasan lagi untuk tidak tinggal lama di puri. Di Bangkawa Kulon atau di Jali, Duku aman. Tetapi secepat mungkin Ni Duku harus lebih menjauh dari Pusat Mataram. Ke mana selain ke daerah Kedu. Eyang Pahitmadu telah mewarisinya sebidang tanah kecil di Tempuran, di lereng Gunung Sumbing, dekat dengan jalan gerobak dari Jenar Pagelen ke Payaman Tidar. Di wilayah perdikan Kedu-lah Ni Duku akan mencari perlindungan. Entahlah bagaimana caranya, Ni Duku sendiri pun belum tahu. Tetapi pastilah nanti akan ada jalan. Dan jika Tempuran pun masih belum cukup jauh dari cengkeraman kekuasaan Panglima Wiraguna, Duku masih dapat mengungsi ke rumah Nyai Singabarong di Pekalongan. Tetapi itu kemungkinan yang paling akhir. Apa beda puri ningrat dan istana pedagang kaya? Setali tiga uang.

Tidak. Kedu cukup aman. Di wilayah Kedu bertebaran desa-desa perdikan yang bebas pajak Mataram, dan punya swapraja yang cukup merdeka. Madiun, Kediri, Blitar, Pati, Demak, Semarang, dan sekian wilayah besar lain sampai Surabaya, adalah bawahan langsung Susuhunan Mataram. Hanya Kedu-lah yang tidak dibebani kewajiban setor pasukan bila Raja Mataram berperang. Begitu hormat (atau takut?) semua Panembahan, Susuhunan Mataram itu terhadap Kedu. Memang banyak demang dan petinggi-petinggi secara sukarela ikut berperang dalam barisan-barisan Susuhunan Mataram, akan tetapi tidak karena mereka bawahan Mataram. Itu lebih selaku pujaan penghormatan kepada para huluba­lang nenek moyang mereka sendiri, yang nun kala itu bersekutu dengan Panembahan Senapati, pendiri Kerajaan Mataram. Bukan karena kesetiaan mereka kepada para keturunan Senapati.

Namun bagaimana nantinya, hidup tanpa dekat Lusi? Sekarang pun Ni Duku sudah merasa nyeri hati dan rindu kepada si anak yang oleh kelilingnya mendapat sebutan Lindri[3]) itu. Sungguh tidak dapat dihindari. Lusi mesti menghirup udara istana. Di Jali ia senang, tetapi kelihatan sekali ketidaksabarannya agar lekaslah pulang lagi ke Puri Jagaraga. Sungguh, den ayu cilik ini berwatak anak istana.

Ya, syukur, syukur, syukurlah Allah Maha Penyayang telah mengantarkan Lusi ke puri Tumenggung Singaranu. Sudah sejak dari awal di Puri Pahitmadu, Nyai Pinundhi memperhatikan si gadis Lusi yang sering menolong ibunya yang begitu tampak dikasihi Eyang Pahitmadu sehingga tidak boleh pergi dari ranjang kematiannya. Melihat itu berbisiklah Eyang Pahitmadu di telinga Nyai Pinundhi, meminta agar sesudah pulangnya ke Rahmatullah, si genduk kecil itu dilindunginya, kalau bisa di Puri Singaranan. Ibunya pun diminta oleh Nyai Pinundhi, akan tetapi dengan alasan harus menjaga kakek-nenek di Jali yang sudah tua, Duku memohon dibebaskan. Tetapi bila Nyai Pinundhi berkenan mengambil anaknya yang masih perawan kencur ingusan itu, inggih sumangga karsa.[4]) Dengan penuh syukur dan ikhlas. Pasti. akan dijadikan penegar kuda nanti, seperti ibunya. Sebab di Puri Pahitmadu telah terbukti, betapa bakat-bakat ibunya diwarisi pula oleh sang Lindri. Sehingga terbiasa menyebut mereka berdua, Duku-Wa dan Duku-nom.[5])

Jatining dumadi nuwuhken wiji.

Muga tunggak rila,

Yen….”

Ah, yen wiji dawah siti manca.[6]) Mas Slamet almarhum akan menasihati apa pada saat-saat penuh pertanyaan seperti ini?

Ni Duku tak dapat mempersalahkan anaknya. Bukankah nama Lusi, “lepas dari bahaya”, dipilih sendiri oleh Slamet untuk si Denok yang sama sekali tidak denok[7]) tetapi lindri itu? Anak satu-satunya telah selamat. Ini yang penting. Lahir di pantai terbuka tetapi tumbuh dalam kalangan puri Bendara Eyang Pahitmadu. Di tengah kemewahan istana ningrat tinggi Lusi mengalami masa kanak-kanaknya, suka main boneka golek, berdandanan sutra berjamang prada-kencana. Kemudian bukan permainan pasaranlah yang ia sukai seperti anak-anak rakyat. Tetapi permainan sinewakan (menghadap raja), meniru-niru tari Sungkem-Raja atau langendriyan Senapati-Retna Dumilah, mengikuti anak-anak puri lain-lainnya. Ya, itulah dunia Lusi Lindri, Genduk Lusi, bahkan kemudian Rara Lindri nama sehari-hari panggilannya. Sebab para abdi tak ingkar tahu, bahwa si petualang Duku terkasih oleh puan puri. Dan lagi, apa beda warna fajar hidupnya dibanding dengan punya ibunya? Yang dulu juga sudah terbentuk oleh dunia puri dan kaum istana? Walaupun Genduk Duku dulu hanya berayah rakyat biasa yang berasal dari seberang, Pulau Bima, yang kemudian menjadi abdi-dalem pemelihara kuda di Puri Pati dan ibunya seorang abdi dalem juga.

Ah, sebetulnya Ni Duku harus merasa bersyukur, karena anaknya sudah lusi, artinya tadi, lepas bahaya, bahkan begitu mujur nasib anaknya. Bahwa Duku sendiri kemudian tidak suka kepada kaum istana, bukankah itu hanya kebetulan, karena pengalaman lakon sedih puannya Rara Mendut dulu itu? Dan terutama nasib kehilangan Slamet, perahu hidupnya. Kebetulan. Seandainya tidak ada kejadian-kejadian itu, ya, akan wajarlah lalu, bila Ni Duku pun lestari menjadi abdi-dalem salah satu puri juga. Abdi kan kata lebih indah dari batur. Aman nyaman, tak pernah bingung makan apa, berbusana bagaimaana. Menghirup keharuman melati, kenanga pendapa dalem, dengan nada-nada merdu-gamelan, dengan tari-tarian yang mempesona, dengan banyak waktu bergunjing dan menikmati sekian lakon asmara kaum ningrat yang mengasyikkan, walaupun sering penuh kesedihan. Namun ADA yang dialami, mendebarkan sering dan ngeri, bagaimana jua ADA getaran peristiwa maupun debar tualangnya. Lain dari hidup si gadis petani. Dari tahun ke tahun serba sama, tandur, matun, ngeneni, mepe, nutu,[8]) ah. Satu-satunya keramaian yang hebat hanya bila ada pesta pernikahan. Atau bila ada harimau tertangkap. Perang pun bagi wanita tani di pedalaman tidak begitu ramai. Hampir semua lelaki, kecuali satu-dua kakek harus berangkat ke medan laga. Desa lalu kosong sebelah, menjadi serba perempuan melulu. Bila sudah begitu, bahkan banyak yang bergurau, semoga diperkosa sajalah mereka oleh balatentara yang tersesat daripada menguap melihat sesama kaum susu melulu.

Tidak. Ni Duku tidak boleh sedih, hanya karena Lusi sudah dipisahkan darinya. Tempat dalam puri Tumenggung Singaranu, yang berkedudukan Patih Perdana dan bersebutan Tumenggung Mataram, sangat tepat. Mana ada tempat yang lebih baik? Di keraton Sultan pun tidak. Ya, Ni Duku harus merasa bersyukur. Tumenggung Singaranu disegani bahkan dicintai oleh banyak pihak, tak terkecuali oleh Sultan Hanyakrakusuma sendiri. Barangkali hanya Tumenggung Wirapatra yang tidak menyukainya. Tetapi biasalah, iri hati orang angkuh akibat silsilah hanya keturunan orang kecil yang kebetulan mujur naik tingkat sampai kalangan tertinggi. Ya, begitulah yang terjadi pada Tumenggung Wirapatra, tinggi pangkatnya tetapi belum ningrat jiwanya. Untunglah si Lusi tidak diminta oleh kalangan Wirapatra, tetapi justru oleh istri perdana Singaranu, Nyai Pinundhi dari Puri Jagaraga. Ya, dalam Puri Jagaraga, yang dibangun khusus oleh Sultan Hanyakrakusuma bagi beliau, si Lusi anak nelayan dari pantai Telukcikal itu sekarang mengabdi.

Ni Duku, pulang sajalah ke tepi Sungai Jali; ikut ayah-bunda temuan, Mbah Legen dan Nyi Gendis. Hatinya sudah patah, sulit digetahlekatkan lagi pada dunia kaum istana.

Jatining dumadi kang nuwuhken wiji,

Muga tunggak rila

Yen denok tole wus wanci

Bebadreng bayu baskara

Lamun tebih iber-mingering pun wiji,

Dawah siti manca

Jer makaten kapti Widhi

Padas papa awoh jaya.[9])

Malam istirahat di suatu padukuhan. Ni Duku hanya mau bermalam di dalam gerobak bersama-sama perempuan-perempuan desa lainnya yang pulang dari berbelanja di ibu kota. Malam itu Ni Duku bermimpi. Eyang Pahitmadu sedang naik kereta kencana, dan kusir yang mengendalikan tujuh pasang kuda putih di mukanya tiada lain ialah Mas Slamet. Duku duduk berdampingan dengan Bendara Eyang di dalam kereta. Tetapi berulang dan berulang ia minta izin untuk naik di bangku kusir di luar, hanya untuk berdampingan dengan Slamet, berkali-kali pula Bendara Pahitmadu memanggil kembali Duku untuk duduk lagi di sampingnya. Tetapi lagi-lagi, setiap kali Ni Duku beranjak untuk naik di bangku kusir, segera ia dipanggil lagi masuk kereta. Akhirnya Bendara Pahitmadu tampak kesal dan menyuruh kereta berhenti. Ketiga orang itu kemudian duduk di bawah pohon asam yang kebetulan sedang bernada warna indah sekali, hijau tua campur hijau muda, lebat daun-daun lembut yang masih baru. Dengan tenang Bendara Pahitmadu bertanya kepada Slamet, apakah ikhlas apabila kelak istrinya menikah dengan sosok jenazah. Dengan terkejut Mas Slamet bersembah. Tentulah ia tidak akan rela. Tetapi mengapa hal ini ditanyakan oleh Bendara Eyang?

Maka tersenyumlah Bendara Pahitmadu dan bertanya kepada Slamet, apa benar dia mencintai istrinya. Tentu, pastilah. Sampai di zaman abadi. Kalau begitu, mengapa Duku disuruh menikah dengan jenazah? Terheran-heranlah Slamet dan Duku saling memandang. Apa maksud beliau? Tetapi sebelum pertanyaan dapat dijawab menghilanglah Bendara Eyang. Maka memandang dalamlah Slamet kepada Duku. Dan aneh… bersenandunglah Mas Slamet lagu maskumambang[10]) yang terkenal, sambil menuding ke suatu bayangan seorang lelaki lain yang keluar dari kabut cakrawala pasir pantai, lelaki yang… siapakah dia?

Jatining dumadi kang nuwuhken wiji

Muga tunggak rila

Yen palwa brangta wus wanci

Bebadreng bayu baskara.[11] >

Dari mana dua kata palwa brangta[12]) itu datang? Padahal dalam lagu aslinya bukan palwa brangta[13]) melainkan denok tole kata-katanya. Ah jangan, jangan dahulu… Mas Slamet, jangan kau pergi…. Memang hampir semua orang menasihati Duku untuk menikah lagi. Putri Arumardi pun sebetulnya juga, meski tidak terang-terangan.

“Sudah dua kali nyewu. Apakah sawah yang subur dan elok pemandangannya boleh dibiarkan tanpa padi?”

Haruslah diakui, memang benar tubuh Duku sehat dan masih muda; dan karenanya sangat mendamba pula. Tetapi… ah, bingung juga sering Ni Duku terhela antara kesetiaan dan kewajaran. Namun apa arti setia di sini? Ah, sesekali nanti, arti impi itu akan ia tanyakan kepada Mbah Legen dan Nyi Gendis. Mereka orang tua petani sederhana. Pasti akan jujur nasihatnya. Namun… was-was khawatir tetaplah Duku bila mengingat akibatnya. Ah, terserahlah. Biar gulungan wayang beber esok hari nanti berbicara sendiri.

[1]     sebutan kesayangan untuk anak perempuan

[2]     sebutan kesayangan untuk anak lelaki

[3]     semampai

[4]     ya, terserah kepada Tuan

[5]     Duku Tua dan Duku Muda

[6]     Ah, apabila biji jatuh di tanah asing

[7]     berkesan bulat tubuhnya

[8]     menanam, mencabut tumbuhan liar, menuai, menjemur, menumbuk

[9]     Hakikat semesta yang menumbuhkan benih,

Semoga tonggak relalah

Apabila datang masa putra-putri

Mengembara di angin di matahari

Bila jauhlah terbang-layang si benih,

Sampai biji jatuh di lahan asing

Sebab begitulah memang kehendak Yang Maha Wibawa,

Agar cadas miskin berbuah kemenangan.

 [10]    bentuk lagu tertentu dalam khasanah tembang Jawa

[11]    Hakikat semesta bila menumbuhkan benih, Semoga tonggak rela

[12]   Apabila biduk asmara sudah datang pada saat Mengembara di angin maupun di matahari

[13]    biduk asmara

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Telah Terbit on 16 Mei 2015 at 01:13  Comments (103)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/trilogi-yb-mangunwijaya/genduk-duku/trackback/

RSS feed for comments on this post.

103 KomentarTinggalkan komentar

  1. Episode pertama Genduk Duku telah diwedar

    silahkan berburu rontal dan bergojeg dan berburu rontal sebagaimana bertahun yang lalu, ketika masih menjadi cantrik aktif di padepokan ini.

  2. test…..
    kenapa komen saya tidak bisa masuk daftar komen?

    Hadu….
    kenapa ya?

  3. Grotal-gratul, grayah-grayah

  4. Serasa seperti nyantrik pertama kali, lupa cara nyarinya

  5. ToPan Siap Hadiiirŕ Pakde Satpam. Apa kabar Pakde Satpam dan Eyang Arema ?. Semoga Selalu Sehat dan Banyak Rezekinya Amiiiin.

  6. Pakde Satpam. Kalau pake android apa bisa dicari dan download ya. Sudah berkali kali di plototi di ubek ubek kok ra ketemu ya hahahhhhhh

    • Sugeng enjang . . . Selamat pagi, Ki Adji.

      Saya tadi sudah mencoba di hp dan tidak bisa Ki, kecuali kalo di hp Ki Adji ada djvu nya, baru bisa dibaca, karena formatnya djvu, bukan pdf bukan pula ms-word.

      Kalo soal rontal diumpetin dimana sama Anakmas Risang, Ki Adji saya kira sudah pengalaman tahunan . . . he he he, tlateni ae suwe-suwe rak ketemu . . . gampang kok, gak susah.

  7. Assalamu’alaikum wr wb
    Salam sejahtera buat kita semua.
    Alkhamdulillah telah kita mulai lagi mengangkat kisah cerita anak bangsa berupa Novel Serial Roro Mendut.
    Serial karya budayawan YB Mangunwijaya ini berkisah tentang kejatuhan martabat seorang ksatria perang, seorang Tumenggung di Zaman Pemerintahan Kesultanan Mataram Era Sultan Agung Hanyokrokusumo.
    Seorang Panglima Perang yang sangat disegani oleh teman dan lawan ini yaitu TUMENGGUNG WIROGUNO, tergelincir hanya karena kecantikan seorang wanita rakyat biasa, RORO MENDUT.
    Sayangnya sang perawan jelita tidak bersedia disunting oleh Ki Tumenggung dengan tawaran hidup kamukten. Ia lebih memili mati bersama kekasihnya PRONOCITRO, seorang nelayan dari pantai utara.
    Kisah tragis di atas berlanjut dengan sebab dan akibat dari peristiwa tersebut di buku kedua dan ketiganya yg sudah dapat diikuti disini.
    Tapi yang justru menarik adalah latar belakang sejarahnya. Banyak yang sangat awam dengan sejarah Mataram di Era akhir Sultan Agung yang digantikan oleh putra mahkota Sunan Amangkurat I, yang dikenal brutal demi menuruti ambisinya yg gemar melahap betis indah. sampe demi menutupi kebobrokannya, dia tercatat telah membantai ratusan Kiai dan Santri di jamanya. Bagaimana jalan ceritanya, temukan di serial novel ini.
    Hanya sayang sekali, Genduk Duku ini sudah Seri II. Buku Seri I berjudul Roro Mendut, belum ditemukan dalam koleksi. Sedangkan mencarinya di luar sangat jarang diketemukan.
    Apabila diantara sidang pembaca ada yg memiliki, atau kebetulan menemukan di toko buku. mohon perkenan untuk di informasikan di sini.
    Mohon judul di atas bukan APDM, tapi RORO MENDUT, novel serial sejarah YB Mangun Wijaya.
    Monggo.

  8. Assalamu’alaikum Wr Wb,
    Salam sejahtera untuk kita semua,
    Selamat pagi . . . Sugeng enjang,
    Sanak kadang adbm semua . . . .

    Anakmas Risang kok teganya-teganya menyanyi . . . he he he.
    Sementara kadang yang gak sabaran maunya cepet membaca, ingak-inguk rana-rene, nang endi leh ndekek rontal.

    • kok komentare menunggu moderasi,
      ra entuk mlebu po ya . . . . . hiks.

  9. Pasti bisa…hik..megkuh titik noda itu…

  10. mantappppp….. tinggal cari roro mendutnya…

  11. Nunut ngiyup Ki ….

  12. Roro mendutnya di bawa lari pronocitro Ki … Salam buat poro Empuh2 Adbm/Pdls …

  13. Wis di ubek2 ora ketemu .. Klau PC cepat klau Hp apa bisa ya … PakLik Satpam mohon bantuannya ..

  14. Ho android juga bisa ki….titik bernoda kata mas satpam…hikkk tidak boleh menyerah

  15. Sugeng sonten Anakmas Risang

    Lha wong episode 2 sudah wedar dari tadi, po ya belum ada yang ngunduh . . . he he he.
    Mungkin sanak kadang perlu bahasa sasmita dari P. Satpam, memang diperlukan ketelitian dan kejelian.

    Sanak kadang sedaya . . . mangga episode 2 sudah gogrok, tinggal ngunduh saja.

    • Sugeng sonten Panembahan
      he he he …., kala wau kesupen terus buru-curu wedaran, lan terus nglanjutaken tugas malih.
      ngapunten…

  16. Hiks…..mas Satpam

    • kata bang haji mas Satpam…terLALU

      • he he he …..
        gandok dimanapun kalau tidak ada Ki Menggung Gembleh dan Ki YP, kayaknya bagaimana…. gitu.

        Monggo Ki

        • Betul Lik Satpam… seperti lontong balap tanpa lontongnya…

          • Betul ki AM….
            Seperti motor balap tanpa motornya

  17. Pusing…
    bagaimana memunculkan komentar terakhir dalam daftar

    mohon pencerahan

    • Lho….mas satpam kePUsingan toh

      Cantrik kira memang sengaja tidak
      mas Satpam tampilkan

      • Gampang mas Satpam…hiks

        Kirim panah sanderan nti cantrik
        bantu dari ujung wetan

  18. Alhamdulillah lagi bisa mlebu senthong sebelah sini…

    lampune masih mati, sehingga harus meraba-raba mencari rontal ala genderuwo picek… semoga pas ‘meraba’nya…

    • Ketemu ki AM….bukan hanya diRABa
      zoom juga perlu ki, saestu

  19. nakmas satpam apa eps.3 siap digrayah ?

    • likmas Satpam apa eps.4 siap diwedar?

      • dereng, mbenjang enjing

    • sampun …..

  20. Alhamdulillah wis gak usum duku nanging iso moco Genduk Duku semudah memijit wohing ranti.

    • Selamat malam mas Satpam… 🙂

      Selamat menyiapkan wedaran rontal
      lanjutan.

      • di padepokan sini….cantrik siap
        bertanding lawan mas Satpam

        Kuat mana yang baca apa mas Satpam
        yg nyiapkan rontal

        • hayoo,,,,,,,,,

          • Priit…format text mas Satpam

            • yg kalah angkat
              tangan kanan.
              tanda kiri cukup
              masukan saku
              belakang 🙂 🙂

            • Kudu sesuai jadwal no Ki Menggung.

              • Jadwal ber-
                kunjung

                • J
                  A
                  D
                  W
                  A
                  L

                  A
                  M
                  B
                  I
                  L

                  J
                  A
                  T
                  A
                  H

                  R
                  A
                  N
                  G
                  S
                  U
                  M

              • Monggo
                lha wong wis ket mau kok
                he he he …..

  21. Episode 5….belum ada cantolan
    Episode 6….masih dalam penggorengan

    Episode 7….belum diracik mas Satpam
    Episode 8….nunggu antrian wedar

    • Usul mas Satpam,

      Wedaran rontal nunggu pasukan OGrog
      pada ngumpul ng padepokan.
      Tahan dulu wedaran sp cantrik mentrik
      kemringet ngiler rontal lanjutan.

      Ini tadi usulan ki Trupod sesepuh
      padepokan….ki gundul sakdermo
      menyebar luaskan

      Saestu…TENAN

    • 5 wis kok

      • 5 wes nyantol….tinggal srondol

        • Matur nuwun mas Satpam

          • Nti malam cantrik kancani
            Melek-an

  22. Absen dulu aahh…..

    Baru kali ini mbuka gandok Genduk Duku, karena berbagai hal..
    matur nuwun sanget Pak Satpam, Bopo Panembahan, dll atas peluncuran rontal yang baru

  23. selamat siang

  24. Episode 5 : djvu dan pdf

    teks belum dimunculken

    • pelan2 mas Satpam…ga usah terburu
      buru pasang “teks”

      yg penting wektu cantrik sambang lgi
      nanti “teks” sudah dicantolkan…hehe20x

      • Malam mas Satpam

        • Hadir…sambang padepokan

          • he he he …, monggo…..

            • Hehehe…matur
              nuwun mas Satpam

              • Sugeng
                Dalu

  25. Hadir….mas Satpam

    • Sugeng dalu kadang genduk DUKU

      • Otw padepokan sebelah sengkaling

        • loh…, padepokan sebelah Sengkaling yang mana? UMM, UIN, Polres?

  26. HADIR…..mas Satpam

    • monggo….
      penghuninya di sini hany Ki menggung sendiri
      satpam juga jadi males piket disini
      he he he he he he he he he he (lama lama tidak terdengar)

      • Males….pertanda belom makan
        mas Satpam…kleru Mules ding.

        AYO SEMANGAT…mumpung yg
        laen pada belom datang.

        • berDUA…..sapa takut 🙂 🙂

          • AYO mas SATPAM….kita buat padepokan megah.

            Megah : menawan gagah
            tur bikin betah para wanita
            seluruh tlatah jawa 🙂 🙂

  27. HADIR….sugeng dalu

    • mas Satpam….kemana kah panjenengan

      • cantrik dewean….ENAK tenan

        • urun saran….kenapa komen di genduk duku tidak nampak pd

          KOMENTAR terakhir padepokan
          ini mungkin yg bikin gandok jarang ada yang singgah padepokan

          • masa sih mas Satpam ga
            bisa otak atik membetulkan

            • Sampe judeg Ki, tidak berhasil.
              Masih dicoba otak atik lagi.

  28. Alhamdulillah, terima kasih mas
    Risang, tau tau sdh episode 8.
    Apa mas Risang sdh baca ceritanya?
    Latar belakang sejarahnya menarik, yaitu awal mula kita bersentuhan dengan barat secara langsung, dan juga kedzoliman Amangkurat 1yg jarang diangkat ke permukaan.

    • Sambil konversi dan edit teks Ki, satpam sempat baca.

  29. Njlekethek,
    setelah hampir putus asa, akhirnya ketemu penyebab tidak munculnya komen terakhir.
    Hadu…..
    Bobo ah….

  30. Wah…jebul saya ketinggalan….padahal yang cepat dapat yang lambat ketinggalan….Sugeng sonten sedoyo…!

    • benul ki Karto….yg cepat dapat duluan
      yg lambat sabar nunggu dum2an

      • Benur..Ki Tmg.YP..ngantri..

        • Ngantri sebentar….pas dibelokan cantrik serobot antrian,

          • Ati2 Ki Menggung….keseringan nyrobot ntar…bengkong lho 😀

            • Bengkong sekali kali asik ki Menggung

              BengkongAN…he 50x

              • Selamat malam…..sepi banget

                • S
                  E
                  R
                  E
                  M

                  Hi
                  Hi
                  Hi
                  Hi

              • hem….serem deh 😦

                • Se
                  Re
                  M

                  Me
                  Le
                  K

                  Me
                  Re
                  M

              • Serem…..seneng merem 😀

  31. tes…..masuk komen, komen masuk

    • tes…..yang keluar masuk 😀

      • Sugeng dalu ki Kartojudo

        • Kecipir mrambat kawat…wes suwe ki Karto ora liwat

          • Sugeng manuk..eh..masuk Ki Gundal gandul 😀

            • Hiks…matur nuwun ki Kartojudo

              Suwe ora jamu…jamu pisan godhong kates
              Suwe ora ketemu…ketemu pisan tes testes

              • Hehehe…dak kiro ketemu pisan ketemu….kates 😀

              • Sanes
                kates
                ki….

                kutes
                kusuka
                kates

  32. HADIR…. mendhisiki diri sendiri

  33. he he he ….

    gandok ini sepertinya rumahnya Ki Menggung berdua (KiGundul dan Ki Kartoyudo sendiri)

    • Bener mas Satpam…terkadang kita perlu menyendiri buat mengendapkan serta menenangkan diri dari hiruk pikuk ramainya hohohihi

      • Bener mas Satpam…terkadang kita …merasa sedih

        • Sedih dipagi hari…seneng disore hari

          • Sedih disiang hari….sueneng dimalam hari

            • Sugeng Riyadin Ji Gundul,mas Satpam…..
              maaf lahir batin……..

              • Njih Ki Menggung
                sami-sami nggih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s