GENDUK DUKU

Episode 23

“E, Kang, dengar itu? Bunyi gagak dari timur laut…” Mbah Legen berhenti membelah bambu dan menajamkan telinga. “Betul? Jangan-jangan dari utara. Alamat tidak baik.”

Tetapi Nyi Gendis mempertegas, “Tidak. Utara kan sana. Timur-laut. Tanda ada tamu masih kerabat akan datang.”

“Siapa ya? Oh… hari apa ini? Bukankah sekarang tanggal 19? Artinya hari Banteng. Jangan-jangan ada kabar buruk nanti.”

“Bukan begitu keterangannya.” Istrinya mendekat, tangan kiri berkacak pinggang sambil menggurui, “Menurut primbon, itu kalau. Jadi: jikalau kabar yang datang ini kabar buruk, kabar itu betul. Jikalau! Jadi hanya jikalau. Sebaliknya juga: jikalau kabar yang tiba nanti itu kabar baik, naga-naganya itu berita bohong.”

“Apa? Kok ruwet begitu. Jika… ya, kan sama saja. Apa beda dari yang kukatakan tadi?”

“Lain. jelas lain. Jikalau. Jadi dengan jikalau:”

“Ruwet. Ruwet. Jikalau begini jikalau begitu, andai ini andai itu.”

“Ah, dari dulu kau ingin pintarnya sendiri. Yang jikalau dan yang bukan jikalau itu lain.”

“Yang jelas, pihak yang menyerang pada hari Banteng akan kalah dan yang diserang akan menang. Begitu primbonnya.”

“Tentara mana menyerang?”

“Lho, ini kan misalnya. Misal sih misal.”

“Kakang selalu mengigau macam-macam yang bukan urusan kita.”

“Hei-hei-hei! Bukan urusan kita? Perempuan anak kuali. Kalau ada perang siapa yang menderita? Bukankah orang-orang kecil seperti kita inilah? Sang Mas Rangsang[1]) menyerang Wirasaba, Lasem, anak kita Kemplong mati. Senapati-ing-Ngalaga kita menduduki Tuban, nah adiknya, Gowang tidak kembali. (Sudah! Jangan diteruskan cuma menyayat-nyayat hati saja.) Biar jelas. Nah, sang Ngabdurrahman[2])… (Sudah, sudah!) Lho, biar sekaligus kita mengenang anak-anak kita tercinta, eh… beliau Sang Adiprabu Hanyakrakusuma menyerang Surabaya, si Grontol gugur seperti bunga kemboja. Lalu yang terakhir, (Yang terakhir, duh Gusti!) Prabu Pandita Sayidin Panatagama menghantam Pati, nah… (Aduh anakku Ganyong semoga… sernoga…) ya, semoga yang Maharahim Widitunggal sudi mengemban kembali anak-anak kita, Mbokne Tole. Tetapi nyatanya mereka kan direnggut. Jadi perang atau tidak perang itu urusan kita juga.”

Tiba-tiba ada gagak berkaok. Betul, di timur-laut, pikir Mbah Legen. Tetapi istrinya sekonyong-konyong berlari ke tetangga. Rupa-rupanya dia ingin sesuatu, entah apa. Sambil meneruskan membelah bambu yang ingin dibuatnya pagar, Mbah Legen memeras ingatannya. Apa betul primbon bilang, jika ada gagak… eh, berteriaklah istrinya sudah dari jauh,

“Bukan hari Banteng! Tolol! Tanggal 18, bukan 19. Jadi hari Kelapa.”

Ada apa lagi nih. Perempuan selalu ribut. Tetapi bersinar-sinar istrinya panjang-lebar menerangkan tentang ingatan si suami tua yang sudah pelupa, terlalu banyak minum arak, harus lebih banyak minum galian kunyit dan air asam, bedanya gagak hitam dan gagak putih dan sebagainya dan sebagainya yang hanya membuat Mbah Legen nyaris mengampak tangannya sendiri.

“Coba, kemarin dulu pasaran Kliwon, tanggal 16 itu. Lantas Legi. Sekarang Paing, betul kan: 16, 17, ya betul, 18 sekarang, alhamdulillah, hari Kelapa. Oh, ya betul, sekarang aku ingat. Tadi pagi dini kudengar sepasang prenjak sahut-menyahut asyik lama sekali di sebelah selatan rumah. Artinya nanti akan datang tamu priyayi dengan maksud-maksud baik.”

Sang suami geleng-geleng kepala, beranjak berjongkok lebih enak, kemudian mulai menghaluskan sisi-sisi belahan bambu dengan bendo-nya agar tidak tajam mengiris kulit, sambil bergumam cukup keras agar didengar istrinya, “Burung gagak, burung prenjak. Kan kita sudah diajari oleh kiai-kiai kita untuk meninggalkan segala takhyul itu.”

“Bukan takhyul,” sahut istrinya ketus, “tetapi wirasat.”

“Yah, wirasat. Prenjak berkicau di selatan artinya priyayi datang. Kalau prenjak berkicau di sebelah utara rumah?”

“Juga ada tamu datang. Tetapi seorang kiai atau guru arif.”

“Aneh-aneh saja. Tetangga utara bilang: dari selatan. Yang selatan mengujar: dari utara. Apa kedua orang itu datang bersama-sama, yang priyayi dari selatan dan yang kiai dari utara?”

“Bukan begitu. Ah, memang harus diakui: sulit menerangkan perkara-perkara yang mulia kepada lelaki. Dari dulu kau begitu. Cobalah tunggu saja, betul atau tidak wirasatku.”

“Mungkin wirasatmu betul. Tetapi jangan dihubung-hubungkan dengan gagak atau prenjak.”

“Ya sudah, tunggu saja. Siapa yang betul. Dulu itu saya betul juga. Prenjak berkicau di barat rumah, lalu lalu…. nah, apa yang terjadi?

“Kapan?”

“Nah, lelaki selalu pelupa. Dua windu yang lalu. Dua burung prenjak itu.”

“Dua windu? Siapa ingat dua windu yang lalu seekor prenjak berkicau di barat rumah?”

“Bukan seekor tetapi sepasang. Memang lelaki pelupa. Makanya banyak lelaki yang lupa atau pura-pura lupa kepada istri mereka. Mana mungkin lupa, sungai sampai begitu merah warnanya?”

Membelalaklah mata Mbah Legen.

“Oooooh, itu. Ya Allah, ya Nabi! Itu…” Dan berhentilah Mbah Legen membuat pagar kandang ayamnya, lalu duduk sambil mengeluarkan selepen[3]) tembakau dari sabuknya yang lebar, kemudian mengambil beberapa helai daun jagung yang terselip rapi dalam selepen itu. Pelan-pelan Kakek mengelinting rokok kelobot,[4]) suatu keasyikan mutakhir yang datang dari kebudayaan Betawi. Ya, pasti ingat dia, dua windu yang lalu.. Alangkah ngeri pada hari-hari itu. Tentu saja, ya tentu saja ia tidak dapat lupa pada peristiwa itu.

Pagi-pagi seperti kebiasaan sehari-harinya nun ketika itu, Mbah Legen sudah memanjat pohon-pohon kelapa di ladang. Sepuluh bumbung sudah ia kumpulkan di bawah, dan banyak lagi yang menunggu giliran. Sejauh selemparan batu di bawahnya, Sungai Jali dengan airnya yang keruh tetapi menyuburkan terdengar kemrosak, sedangkan suara si Gombloh pengemudi rakit penyeberangan, yang selalu menyanyi lantang lagu iklannya untuk menarik penumpang, sangatlah merdu laras terdengar dari atas. Tetapi tiba-tiba tetembangan si Gombloh terhenti mendadak. Dan langsung terdengar teriakan-teriakan dari seberang. Mbah Legen tidak dapat melihat siapa yang berteriak serba riuh gaduh dari seberang itu. Tetapi setelah ia turun, dilihatnya Gombloh tergopoh-gopoh sudah menyeberang ke tepi timur, rupa-rupanya karena dia dipanggil paksa. Terkejut tanpa dipikir panjang Mbah Legen spontan cepat-cepat memanjat pohon kelapa lagi, yang baru saja disadap air legennya, lalu bersembunyi di atas buah-buah kelapa, di antara pelepah-pelepah daunnya. Sangat menyesal juga ia berbuat seperti itu, karena ingat kepada istrinya yang dengan cara amat pengecut ditinggalkannya begitu saja. Tetapi apa boleh buat. Serdadu toh biasanya hanya memperkosa wanita-wanita yang masih muda.

Ketika pasukan-pasukan itu mendarat, mereka menyebar di ladang kelapa dan mengintai jalan dari belakang semak-semak. Jalan yang melewati pekarangan Mbah Legen adalah jalan utama yang menuju ke wilayah Urut-Sewu terus ke Banyumas Mancanegara Barat. Tetapi mengapa mereka mengintai seolah-olah ada musuh datang dari arah barat? Dari teriak-teriak komando perwira-perwiranya, kentara mereka prajurit-prajurit Pusat Mataram. Tetapi aneh, bukankah balatentara Mataram masih di sekitar Betawi? Bukankah beberapa bulan sebelum itu, Mbah Legen melihat sendiri betapa puluhan ribu tentara Mataram berbaris menuju ke barat? Untung mereka sudah beristirahat di sekitar Jagabaya, gerbang barat Kutanegara Mataram, dua pal di tenggara, sehingga mereka hanya lewat saja. Sebab bila tentara datang, teranglah tidak ada buah pepaya atau ayam-yang aman. Gadis-gadis terutama terpaksa harus diungsikan dengan ibu-ibu mereka. Itu kalau masih punya cukup waktu, sebab pelarian seperti itu rnungkin saja membawa hukuman mati, didakwa tidak setia, berkhianat kepada yang sedang kuasa. Konon yang lewat dulu itu hanya sebagian saja dari balatentara besar yang menurut desas-desus sedang diperintahkan oleh Susuhunan Senapati-ing-Ngalaga untuk menyerang Betawi.

Lama tidak ada berita tentang untung-malang pasukan-pasukan Mataram penyerang Betawi itu. Dan jelas mereka belum pulang. Mbah Legen masih mengenal panji Adipati Juminah, batik kedondong-tinothol jalak berlambang ular naga kuning, dan panji Tumenggung Singaranu, batik wulung pelatar bunga wijaya-kusuma. Mungkinkah mereka sudah berhasil menduduki kota dagang itu, dan sekarang masih berfoya-foya di sana? Sulit untuk menebak mereka tidak menang, sebab begitu banyaknya tentara yang lewat itu. Lebih dari tiga hari dibutuhkan sampai ekornya menutup barisan belakang. Belum pernah seumur hidup Mbah Legen melihat barisan begitu dahsyat, lengkap dengan meriam-meriam besi dan perunggu raksasa, gerobak-gerobak penuh bola-bola peluru dari timah hitam mengkilau dan batu bulat, pasukan-pasukan berkuda serba tegap dan gerobak-gerobak kerbau berisi perbekalan bagi praju­rit-prajurit tak terbilang. Gagah mereka berlalu sambil bersorak-sorai menyanyikan lagu-lagu kejayaan.

Apakah pasukan-pasukan semacam itu yang dulu pernah merampas Rara Mendut di Pati? Begitu tiba-tiba kenangan satu menindih kenangan lain serba campur-baur. Ah, ya, di mana si dayang kecil Genduk Duku itu sekarang? Hanya tiga hari dia dan dua abdinya menginap di pondoknya, tetapi betul-betul membuat rindu si Genduk itu. Pernah Mbah Legen dan istri Nyi Gendis punya cucu sebesar Duku itu. Oh, banyak cucu-cucu Mbah Legen dan Nyi Gendis. Tetapi satu persatu mereka direnggut dari kehidupan ini. Ada yang sakit, ada yang tenggelam di sungai, ada yang tahu-tahu menghilang di hutan, dimakan harimau barangkali atau macan kumbang. Tetapi banyak yang mati dalam perang. Sekian banyak perang telah terjadi dalam tahun-tahun itu, sehingga Mbah Legen dan Nyi Gendis tinggal punya dua cucu; lelaki semua sudah menikah dan menjadi petani di dekat desa Mirit, Pagelen sana. Tak mengherankan, bila langsung Genduk Duku mereka sayangi, karena memang orangnya ndemenakake,[5]) tetapi pemberani yang sungguh mengagumkan. Dari mana dia belajar naik kuda setrampil itu? Dua orang budaknya pun kalah dalam seni naik kuda. Sesudah diantar ke Pekalongan, ke mana sekarang dia tinggal dan bagaimana nasibnya? Ah, mestinya dipelihara si Nyai kaya raya dari Pekalongan itu tentunya.

Menyedihkan sungguh peristiwa Rara Mendut dan Pranacitra. Di mana-mana orang menceritakan asmara dua insan itu. Tetapi yah, mengapa nekat berani melawan kehendak Panglima Besar Mataram? Kan itu bunuh diri namanya. Dan mengapa tidak mau? Kan kehormatan namanya, ketiban pulung? Memang aneh sering anak-anak muda. Anak perempuan sepantasnya hanya taat. Mosok memilih sendiri suami. Jelas kurang pantas itu. Lalu kawin dengan siapa gerangan sekarang si Genduk Duku dulu itu? Seandainya sesudah lari dulu itu dia menikah setahun kemudian, misalnya, pastilah anaknya sudah perawan kencur sekarang. Itu kalau perempuan. Kalau lelaki tentunya sudah jaka kemala-kala baguse kaya irus.[6])

“Hei, Kakang, ingat apa tidak waktu itu, dua windu yang lalu?” teriak lagi istrinya dari muka tungku di dapur terbuka.

Ah, perempuan cuma merusak lamunan yang indah syahdu. Malah diingatkan lagi kepada kejadian-kejadian keji yang seharusnya dihanyutkan di sungai saja biar hilang. Jawablah saja, ya supaya puas dia.

“Ya, tentu saja ingat.”

“Ingat kan, ketika pasukan-pasukan Tumenggung Singaranu dibunuh semua oleh pasukan-pasukan keraton?”

“Ya, ingat.”

“Dibunuh karena mereka kalah perang di Betawi.”

“Ya, ingat.”

“Tidak ada yang boleh pulang ke Mataram lagi. ”

“Ya, ingat.”

“Tetapi Tumenggung Singaranu selamat, bukan?”

“Ya, selamat.”

“Pintar dia. Lari duluan lalu bersembunyi di belakang kain istrinya. Nah, ingat?”

“Yooooa, ingat. Tetapi kainnya harum. Tidak seperti kau punya.”

“Cerewet! Bagaimana mungkin kain perempuan yang sehari-hari berteman gula gosong harus harum.”

“Bisa saja, asal mau.”

“Asal mau, asal mau. Asal jangan lupa, Tumenggung Singaranu selamat dari amarah Sultan Hanyakrakusuma, berkat jasa dan keberanian istri serta anak-anak perempuannya.”

“Ya, tidak lupa. Apa dulu itu nasib Singaranu tergantung dari kicauan prenjak dan bunyi-bunyi gagak-gagak, ya?”

“Uuuuuuuh, menghina. Yang jelas, ketika sang pahlawan Jali mau lari tunggang-langgang naik pohon kelapa pagi itu, prenjak berkicau di sebelah barat rumah.”

“Pohon yang saya panjat dulu itu di sebelah barat rumah. Tetapi mengapa aku tak mendengar kicauan prenjak sedikit pun?”

“Karena kau sedang menggigil ketakutan, tahu? Hihihihihi. (Tertawalah Nyi Gendis seperti burung jalak habis mandi.) Sungguh ingin aku melihatmu di pucuk kelapa sambil menggigil ketakutan, kayak apa ya, rupanya?”

“Jelas lebih gagah dari Tumenggung Singaranu.”

“Hihihihihi, sombongnya. Asal tidak lupa kau, pahlawan badeg,[7]) bahwa sekali lagi: Tumenggung Singaranu selamat tidak ikut dibunuh oleh Den Mas Rangsang karena dengan rendah hati ia meminta perlindungan di belakang pantat istrinya. Itu yang penting diingat. Hikmah yang paling berharga dari riwayat penyerangan Mataram ke Betawi, jelas?”

“Belum jelas, tetapi daripada ribut lebih baik saya bilang saja: jelas. Tetapi…” Belum selesai kalimat, dari luar banyak anak-anak berteriak memanggil Mbah Legen dan Nyi Gendis.

“Mbah! Ada tamu. Ada tamu dari jauh. Ada tamu naik kereta!”

“Nah, apa kubilang tadi?” kokok Nyi Gendis penuh jaya. “Betul, kan? Gagak di timur laut. Dan prenjak…. siapa?”

Terburu-buru Nyi Gendis lari keluar. Suaminya pelan-pelan berdiri, pandangan penuh pertanyaan kepada segerombolan anak-anak telanjang yang berlari-lari masih basah dari renang-renang di sungai, sambil berteriak-teriak, “Ada tamu untuk Mbah Legen. Ada tamu agung untuk Nyi Gendis.”

“Nah, tamu siapa? Priyayi! Priyayi? Lho! Lho! Siapa itu, Eh! LHO, waaaaa… nanti dulu, nanti dulu…. uwadhuuuuh…. uwwwwwe lha, ngkosik… sik-sik[8])nah, Genduk Duku! Mbokne! Mbokne! Genduk Duku! Masih ingat tidak, Genduk Duku. Uweeeeeee uweeeee, lha, yailaaaaaaa, yailaaa Genduke, Genduke… (Tidak lupa Mbah Legen? Bersembahlah wanita tamu itu berjongkok di muka Mbah Legen.) Tidak mungkin lululuuuupa, aduh, aduh, aduh. Eh, Anak-anak, ayo minggir, nyisih, kana lunga.[9]) Bagaimana, ada tamu kok dikeroyok seperti pertunjukan ketek ogleng.[10]) Lho, Mbokne, bagaimana kau ini? Ada tamu tersayang kok melongo saja!”

Dan memang, Nyi Gendis seperti terpaku di ambang pintu. Berdiri kaku tidak dapat berucap atau ‘berbuat apa-apa. Tetapi kedua mata basah kuyup, yang kadang-kadang terusap tangan, memandang ke wajah seorang wanita gagah muda matang molek yang serba bergegas berlari dari tempat suaminya, kemudian berjongkok di muka Nyi Gendis, memegang kedua pergelangan kaki, lalu menyembah. Dikepunglah mereka oleh berpuluh-puluh anak-anak yang jelas tidak melewatkan begitu saja tontonan yang jarang berpentas di desa kecil mereka.

Tetapi di belakang wanita bertubuh seperti adik Arimbi,[11]) yang disebut oleh sang suami dengan nama Genduk Duku tadi, masih datang juga suatu kejutan baru bagi kedua orang tua tadi.

“E, ya Allah, ya Allah, lho ini yang mana yang Genduk Duku?” Sebab penuh keheran-heranan tak dapat percaya pada mata sendiri, kedua kakek-nenek itu memandang kepada seorang gadis trubus kencur sejauh tujuh langkah dari mereka.

“Lho, kan itu yang Genduk Duku? Bukan ini. Lho, lha piye ta iki?”[12])

Anak-anak semua tertawa melihat kedua orang tua itu terbengong-bengong penuh pertanyaan-pertanyaan yang serba bertaburan dengan lho dan lhailaaaa, we dan wo. Walaupun mereka tidak tahu duduk perkaranya, namun sedikit sudah menggapai, bahwa ada riwayat nun dulu kala yang menarik dalam perjumpaan ramai ini. Mereka pernah mendengar nama Rara Mendut dan Genduk Duku yang berkali-kali diriwayatkan oleh kedua kakek-nenek itu. Konon pahlawan-pahlawan putri yang pernah anggar keris melawan Panglima Besar Mataram nun sebelum mereka lahir. Dan menilik kereta perjalanan yang ditarik oleh empat pasang kuda serta iringan abdi-abdi, mereka menduga, pasti ini orang gede. Yang penting, tontonan yang mengasyikkanlah.

Kedua kakek-nenek tadi, sungguhlah tak habis-habisnya heran mereka, betapa tepat rupa si gadis trubus kencur itu dengan ibunya dulu, ya Allah, ibunya dulu, lebih dari berapa tahun ya?

“Kang, kapan anaknya si Ganyong itu lahir? (Dua windu tambah satu.) Nah, iya, dua windu yang lalu tambah satu si Genduk Duku ini datang, lalu tiga hari lagi si gendonnya Ganyong nongol dari perut ibunya. Ya ya ya, Nyi Gendis masih ingat. Itu dua abdimu dulu yang seperti Bagong dan Petruk itu, di mana sekarang? Oh hiya, lha di mana suamimu? Di mana dia? Mengapa kalian datang sendirian? Ah, sudah lama, sangat lama nenekmu tidak melihat kau lagi. Kami kira kalian sudah lupa pada kami, e lha dallaaah, jebul pating pethingil[13]) kalian muncul dari semak-semak. O Allah, memang besar rahmat Allah kepada kakek-nenekmu di Jali. Sini, sini masuk!”

Dalam suasana amat girang, ibu dan anak ditarik oleh Nyi Gendis ke amben[14]) yang terhampar luas bertikar pandan bersih. Sesudah duduk di amben, Nyi Gendis hanya menyeka pipi-pipi dan punggung kedua anak-beranak itu, sambil kadang-kadang mengusap air mata.

“Ini anakmu, Nduk? Oadddduh-duh, lha kok le pleg pleg kempleg-kempleg;”[15]) disambut oleh ketawa gelak anak-anak yang hanya berani melihat tontonan mengasyikkan itu dari ambang pintu, sehingga Mbah Legen terlupa dan tak dapat masuk ke dalam rumah. Maka mengalah sajalah Mbah Legen pelan-pelan menuju ke samping rumah dan masuk dari pintu dapur di belakang, untuk muncul lagi di ruang muka tempat penerimaan tamu. Melihat Mbah Legen, ibu dan anak lekas-lekas berdiri lalu berjongkok di mukanya sambil bersembah.

“Sudah, sudah, sudah,” kata Mbah Legen tenang dibuat-buat, walaupun jakunnya turun-naik juga, sulit menelan air haru.

“Ayo, Anak-anak, keluar! Jangan metonggong[16]) kayak Bagong-Kurang-Ganyong. Ini bukan tontonan, ayo, ini tamu agung dari kota pesisir. (Pesisir Selatan, Kek?) Pesisir Utara. Jauh sekali. (Mereka kaya-raya ya, Kek?) Husy! Tanya-tanya. Sana pulang. (Namanya siapa, Mbah?) E lha, Bocah cerigis. [17]) Tidak usah tanya. (Itu yang muda anaknya ya, Mbah?) Tobil-tobil anak kadal, dilarang tanya bahkan tanya terus. Tanya ibumu sana! (Mereka kan putri sungguh-sungguh ta, Mbah, bukan peri?) Oah oah, cah ndeso![18]) Memalukan orang. Ayo pergi! Syuh, syuh syuh hayo, kuwi Cemplon, saya kunyah nanti. Ayo, syuh syuh!” Dan dengan sorak-sorai ramai anak-anak bubar. Tidak semua tentu saja, tetapi tidak semrawut lagi seperti tadi.

Masih ada tontonan yang mengasyikkan. Kereta dengan dua pasang kuda. Wah, elok sekali. Seperti kereta Arjuna ketika melawan Karna. Tolol, ini pakai atap, mana bisa dipakai untuk perang. Tahu kau, putri-putri yang datang itu tanggung punya gelar paling sedikit Bendara Raden Kayu. Husy! Huahahaaaak!

Sudah banyak itukah tahun datang dan pergi? Beginikah manusia di kurun hidup menjelang matahari terbenam? Serba campur-baur ingatan tentang sekian peristiwa yang terjadi tidak bersamaan, tetapi teradon menjadi satu. Berapa perputaran musimkah sudah? Ah… geli Nyi Gendis malam itu mencubit-cubit lembut pipi perawan kecil di mukanya yang sudah pulas tertidur di amben.

“Nduk, ini buah kelonan siapa? Begitu girangnya nenekmu ini, sampai lupa kalau perempuan itu mestinya diantar lelakinya. Tadi kau pun belum sempat menjawab. Nah, sekarang kau dapat bercerita sebanyak-banyaknya. Embah-embahmu sudah ingin sekali mendengar riwayat lanjutmu sesudah kalian pergi dari sini. Aneh ya, kau di sini kok rasanya seperti anak saya sendiri yang telah meninggal lalu hidup lagi. Dan ini, (Membelailah lagi si Nenek pipi-pipi anak Genduk Duku.) cah ayu ini punya siapa?” Sebentar selayangan bayangan muram bagaikan awan-awan hujan lewat menggelapi danau-danau mata Genduk yang sejak pagi dan siang tadi berkali-kali basah mata tersiram keharuan perjumpaan.

Baik, baiklah. Akan ia ceritakan segalanya kepada dua orang ini. Kepada siapa lagi. Duku sudah tidak punya siapa pun. Dan apa jeleknya, bagaimanapun lamunan yang dikunyah-kunyah sendirian akhirnya akan menjadi racun yang dapat semakin menjadi sakit, dendam. Siapa tahu, bila pahit di hati dapat keluar dan dipercayakan kepada orang tua yang suka mengerti, panas menjadi sejuk; paling tidak bagaikan air kelapa muda, dapat menawar racun.

“Dia seorang pemuda nelayan dari Telukcikal, Mbah.”

“Hatinya baik?” Genduk Duku mengangguk.

“Dia kau pilih sendiri seperti Rara Mendut atau biasa dijodohkan oleh orang tuanya?”

Tersenyum penuh sinar jiwa yang mewartakan kebanggaan gembira, Genduk Duku berbisik di telinga Mbah Gendis,

“Keduanya, Mbah. Tetapi dia lain sekali denganku. Orangnya tenang, pendiam, pemalu, ah biar, aku senang dia begitu. Tetapi ia penuh tanggung jawab.”

“Tampan seperti Arjuna?” tanya Mbah Gendis dengan tawa jenaka.

“Ah, untuk apa Arjuna, mukanya persegi seperti layar perahunya. Satu gigi agak gingsul. Tetapi berkesan kokoh pandangan mukanya. Nelayan yang setiap hari terkena matahari, mana bisa seperti Arjuna, Mbah.”

“Narayana?”[19])

“Ah, ya tidak sehitam Narayana. Yang jelas, lain dari Kresna. Dia tanpa muslihat sama sekali. Jujur, lugas, dan tenang jiwanya. Sering kuamati, kok dia mirip Pranacitra-nya Raden Rara Mendut.”

“Ah, kau mimpi. Kau selalu dibayangi citra puanmu yang sudah di Rahmatullah. Tidak baik itu.”

“Tetapi sungguh, Mbah. Entahlah, hanya dia lebih kasar apa adanya. Tetapi baik hatinya. Agak srogal-srogol. “[20]) (Sayu senyum Genduk Duku. )

“Bagaimana kok sampai dia yang kau dapat?”

“Orang itu kalau sudah jodoh, ya lalu jodoh, Mbah. Dari awal pertama dia kupandang, ketika itu dia pengemudi perahu yang dititipi Nyai Singabarong membawaku ke Telukcikal, Genduk Duku sudah terkena wirasat, Mbah.”

Lama Nyi Gendis memandang gadis kuncup yang sudah nyenyak melepaskan segala beban kesadaran. Anak ini sudah kelihatan akan menjadi perawan ayu, pikir Nyi Gendis. Dan bernapas panjanglah ia. Nasib wanita ayu tidak mudah. Ah, jangan janganlah… Semoga Yang. Maha Memiliki berbelas kasih kepada kedua wanita yang sudah begitu dekat dalam hatinya. Padahal belum lama sebetulnya perjumpaan mereka itu. Ya, sekali lagi tadi, kalau memang sudah jodoh, ya jodoh.

“Genduk, kau bohong. Ayah perawan kecil ini pasti pemuda tampan. Lihat mukanya, kedua mata terkatupnya, dan sosok tubuhnya. Ini ujung-ujung mulutnya, lihat. Semua darimu, Nduk. Tetapi ada sesuatu yang bukan darimu. Ada, dan itu dari suamimu, pasti. Eh, mengapa dia tidak kau bawa kemari? Sampai lupa Mbah tanyakan; sudah tua begini, ingatannya seperti katul kabur.[21]) Kau juga lupa bercerita. Saya terlalu terpesona tadi oleh kedatanganmu. Dan melihat anakmu ini sungguh aku sampai lupa segala-gala. Ya, Nduk, mengapa sang suami tidak kau bawa?”

Meluaplah sekarang air mata Genduk Duku. Dan pelan, hening seolah keterangannya merupakan sebentuk renungan doa, berucaplah sang ibu muda, “Dia sudah tiada, Mbah.”

Dibiarkannya air duka itu meleleh sekehendaknya, mata menerawang ke kejauhan, sedangkan Nyi Gendis hanya dapat meraih penuh iba tangan wanita yang sudah lama ia anggap sebagai anaknya. Erat-erat kedua Genduk dipeluknya, sambil diam di hati berdoa dari beberapa mantra, untuk memohonkan selamat bagi sang arwah, yang begitu pagi meninggalkan kedua insan manis namun malang ini. Tidak berani ia menanyakan lebih lanjut, mengapa dan bagaimana suami wanita muda di mukanya itu sampai meninggal.

Tetapi Genduk Duku sendirilah yang kemudian melepas gulungan wayang-beber riwayat sedihnya. Yang sepahit-pahitnya pun. Semuanya, ya semuanya. Sebab begitulah semoga curahan semua kenangan ini sedikit merupakan bentuk pewayangan penghormatan dan cinta tak terhapuskan bagi suami almarhum. Ya, semua akan dia kisahkan… di malam yang menggemakan keluh teduh burung-burung kebluk dan uhu, yang jengkerik-jengkeriknya seolah-olah tak pernah menghiraukan saat suka atau duka dari makhluk-makhluk manusia malang. Nyi Gendis, sambil berbaring mengeloni perawan kencur kekasihnya di amben, dan Mbah Legen di lincak,[22]) mereka mendengarkan kisah si janda itu. Terasalah betapa bergetar suara Genduk Duku yang penuh duka, akan tetapi tabah pemilihan kata-katanya. Seolah-olah ia bersatu dengan semesta Alam Raya yang menentukan, kapan suatu kehidupan harus tersisih demi suatu perjalanan yang lebih berharga namun masih tergulung dalam bumbung misteri jejer-jejering lakon.[23])

Dari lincak bambunya di sudut, di dalam remang-remang pelita minyak kelapa yang gerak nyalanya memberikan kesan, seolah-olah keempat saka-guru serta dinding-dinding bambu bergerak karena begitu ingin ikut menangkap warta, Mbah Legen diam mendengarkan dan merenung seperti terapung hanyut pelan di air Bengawan Bagawanta ke muara.

Sebab sekian anaknya pun direnggut maut buatan manusia, masuk lagi ke dalam bumbung-bumbung bambu misteri jejer jejering lakon itu yang terhanyut oleh arus musim, menghilang di muara. “Dan sejak itukah kau ikut mengabdi di Puri Singaranu?” tanya Nyi Gendis.

“Belum, Nyi Gendis. Duku-mu belum mampu-ketika itu-untuk kembali ke dunia manusia. Begitu remuk dan linglung aku ketika itu. Sungguh aku sendiri heran, mengapa sekarang masih kuat menginjak tanah yang pernah meminum darah suamiku.”

“Kau sungguh lama sekali tak muncul, Nduk. Kami berdua selalu menunggu, kapan si Genduk Duku ini datang berkunjung lagi.”

“Ya, hari, bulan, dan perpindahan matahari tak henti kami hitung,” sambung Mbah Legen. “Sudah tujuh belas pasang musim sejak kau lari dari muara Sungai Opak itu kau telah menghilang.”

“Maafkan banyak, Mbah kedua-duanya. Betapa sering dan keras hasrat hati untuk berkunjung ke Mbah Legen dan Nyi Gendis. Namun Duku dan Slamet hanyalah hamba, tidak kuasa untuk mengatur sendiri tempat dan waktu.”

“Ya, kami mengerti itu, Nduk. Jangan merasa bersalah. Kaum kecil seperti kita ini biasalah, tak mampu untuk bertindak sesuai keinginan.”

“Ke mana saja selama ini kau pergi, Nduk?” tanya Nyi Gendis ingin tahu, tetapi juga karena terdorong suatu keinginan setiap ibu, bela rasa pengalaman. “Kembali menggendong gadis cilik ini tentunya?”

“Oh, belum. Belum berani Duku saat itu, Mbah.”

“Belum berani?”

“Aku takut melihat dan menggendong Lusi-ku dalam keadaan kalut jiwa. Duku tidak mau mengaruskan ke-kisruh-an yang penuh dendam dan dengki kepada anakku. Lusi tidak boleh menerima getaran-getaran galau yang ketika itu membuat Duku tak jauh dari orang linglung nyaris gila. Seluruh tubuh Duku ketika itu seperti keranjingan untuk merobek-robek waktu. Tanya sajalah kepada Putri Arumardi. Beliaulah yang paling mengerti apa yang membuat Duku seperti prahara mengamuk, yang inginnya cuma menyambar dan membadai di atas punggung kuda. Berlari bergerak kencang, hanya itu keinginan nafsu Duku ketika itu. Dan tak ada seorang prajurit berkuda satu pun yang sanggup menyamai kecepatan Duku di punggung kuda. Apalagi menghadangnya. Berhari-hari aku hanya memacu kuda menjelajahi padang-padang perburuan di selatan istana Kerta, di antara banteng-banteng, rusa-rusa peliharaan Susuhunan. Dan berulang kali Duku menyeberangi Sungai Opak sampai basah kuyup, tak peduli lagi kain sobek, dada telanjang, dan rambut terurai seperti ronggeng gila jalang, menyeraki semak-semak hutan jati pegunungan Kidul, meradak daerah para penyamun dan pemberontak kaum Wanawasa; tak peduli melanggar adat sopan santun wilayah, tanpa kula nuwun menerobos batas-batas mandala kesaktian mereka. Tidak tanpa menimbulkan amarah penduduk tentu saja, sehingga tidak hanya satu kali Duku diuber-uber seperti perampok; namun juga, tidak jarang justru menggemparkan menggigilkan ketakutan penduduk karena disangka peri atau Durga pengganyang bayi.”,,

“Makan apa selama itu, Nduk?”

“Ah, apa saja yang terjumpa di jalan.”

“Tidurmu?”

“Di samping kuda. Mbah tahu, betapa kuda sangat peka terhadap suatu bahaya yang mengancam. Di samping kuda, Duku merasa paling aman. Tetapi seandainya pun Duku sampai terkena kemalangan, digigit ular pohon yang berbisa misalnya, Mbah, saat itu Duku hanya dapat bersyukur, boleh bergabung lagi dengan Mas Slamet. ”

“Ah, kasihan. Dan kau selamat selama ini? Ah, memang ternyata suamimu telah mampu menjadi belahan jiwamu. Berapa hari kau begitu, Nduk?”

“Entahlah, Mbah. Waktu itu Duku sudah tidak mampu bernalar biasa. Tidak tahu tempat maupun waktu. Tidak ambil pusing segala-galanya. Tahunya cuma lari dan bergerak, mencari yang sepi dan jangan berpikir. Lapar tak peduli, telanjang biar, andainya jatuh tersungkur kepala pecah, silakan.”

“Kok sampai kau dapat sadar kembali?”

“Ternyata memang aku betul tersungkur ke dalam pasir. Entah sudah berapa malam kutemukan sebuah gua di dekat muara Sungai Opak, di lereng gunung yang tegak lurus menjulang dari pantai. Maksud Duku ingin pulang lagi ke gua itu. Tetapi aku terjatuh-karena rupa-rupanya kuda tungganganku sudah terlalu lelah-dan terperosok

dalam suatu lubang simpanan telur penyu. Setelah itu Duku hilang sadar. Barangkali sudah siuman juga, tetapi karena terkuras segala kekuatan, Duku tertidur nyenyak barangkali.”

“Untung kau tidak dimakan buaya atau malam-malam dikeroyok anjing hutan.”

“Ya, semua rahmatullah, Mbah, agaknya belum saatnya Duku bertemu lagi dengan Mas Slamet. Pikir punya pikir Mbah, apa Duku masih punya tugas, sehingga tidak dimakan buaya?”

“Jelas masih, Nduk. Lusi kan menunggumu.”

“Ya, itulah pasti sasmita-nya. Hanya pahit, pahit, dan nyeri Mbah, rasanya kehilangan Mas Slamet.”

“Ah, kasihan. Memang, walaupun aku belum pernah mengalami dan jangan mengalaminya, aku sungguh dapat memahami, hatimu yang remuk linglung itu. Bagaimana kau kemudian bangun?”

“Aku ditemukan prajurit-prajurit yang bersama Putri Arumardi ternyata selalu membuntuti Duku.”

“O, betapa budiwati beliau itu.”

“Ya, akan jadi apa Duku seandainya Putri Arumardi tidak ada?”

“Apa dulu itu beliau tidak terluka juga?”

“Untunglah tidak. Tetapi seandainya Slamet tidak melindungi beliau, pastilah        ah sudahlah, kami sudah terlalu berutang budi kepada Putri Arumardi… Duku ikhlas.”

“Betapa ingin aku dapat melihat beliau. Apakah selanjutnya kau ikut Putri Arumardi?”

“Duku tidak mau lagi menginjak halaman Panglima kejam yang berjiwa terlalu bebal itu.”

“Ke Puri Pahitmadu?”

“Juga tidak terpikir, Mbah. Rasanya hanya nyeri melihat lagi segala dan semua yang mengingatkan pada Wiraguna. Selain itu beliau, setelah peristiwa pembunuhan Tejarukmi dan mendengar Slamet ikut terbunuh, baru kemudian aku mendengar, beliau langsung jatuh sakit dan tidak mau berucap sedikit pun.”

“Sungguh mengherankan, betapa berlainan watak dua orang selingga sekandung ini, Pahitmadu dan Wiraguna. Lalu ke mana kau?”

“Putri Arumardi lagi yang serba menata seperti malaikat utusan Allah. Duku dititipkan pada istri perdana Tumenggung Singaranu.”

“Dan Lusi?”

“Lusi ikut ibunya juga ke Ndalem Jagaraga, kediaman Tumenggung Singaranu.”

“Untung kau, Duku,” hibur Nyi Gendis.

“Singaranu lain sekali dengan Wiraguna,” sahut Mbah Legen.

“Jelas lain sama sekali,” tambah istrinya.

“Maka kau jangan suka memperolok Tumenggung Singaranu bersembunyi di belakang kain istrinya,” serang Mbah Legen.

“Aku TIDAK pernah memperolok Tumenggung Singaranu. Aku, hanya bilang, bahwa di belakang kain istrinya dia…”

“Sudah, sudah! Tidak perlu diteruskan. Tetapi, Nduk, apa kau tidak mengantuk?”

“O ya, Nduk, kau harus istirahat sekarang.”

“Belum mengantuk, Mbah.”

“Ya, memang rasamu, tidak mengantuk. Tetapi aku tahu, kenyataanmu, kau benar sudah lelah. ”

Diamlah Ni Duku. Diam pula penuh prihatin kedua orang tani tua itu memandang si wanita penuh lakon yang matanya tampak terlalu besar karena pipinya masih kurus kempot itu. Cantik Duku ini, dan lebih berpamor ia justru karena sudah mengalami kawah Candradimuka, pikir Nyi Gendis.

“Nduk,” kata Nyi Gendis lirih, sambil membisikkan segala rasa sayangnya, “Nduk, Duku, Duku, Duku-ku. Bermukimlah saja di Jali sini.”

————————————-

[1]     nama kecil Sultan Agung

[2]     salah satu gelar Sultan Agung

[3]     bungkus tembakau dari anyaman pandan

[4]     daun muda jagung yang dipakai sebagai pembalut rokok

[5]     menyenangkan

[6]     jejaka yang begitu tampan seperti sendok sayur (kelakar) sehingga menimbulkan perasaan untuk memperdayanya dengan muslihat

[7]     air gula yang disadap dari pohon kelapa

[8]        nanti dulu

[9]       menyisih, sana pergi

[10]     kera akrobat keliling

[11]      istri Bima, tokoh pewayangan, yang gagah tegap tubuhnya

[12]      bagaimana ini

[13]    serba bermunculan

[14]   balai-balai bambu yang lebar sekali untuk tidur dan untuk tempat menerima tamu.

[15]    persis betul rupanya

[16]    melompong dungu

[17] banyak omong

[18]    anak udik

[19]    nama raja dalam lakon Mahabharata yang di waktu muda berkulit hitam legam

[20]    serba tak teratur ulahnva

[21]   lapis butir beras coklat muda

[22]    Kursi panjang dari bambu

[23]    pementasan peristiwa nasib

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Telah Terbit on 16 Mei 2015 at 01:13  Comments (103)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/trilogi-yb-mangunwijaya/genduk-duku/trackback/

RSS feed for comments on this post.

103 KomentarTinggalkan komentar

  1. Episode pertama Genduk Duku telah diwedar

    silahkan berburu rontal dan bergojeg dan berburu rontal sebagaimana bertahun yang lalu, ketika masih menjadi cantrik aktif di padepokan ini.

  2. test…..
    kenapa komen saya tidak bisa masuk daftar komen?

    Hadu….
    kenapa ya?

  3. Grotal-gratul, grayah-grayah

  4. Serasa seperti nyantrik pertama kali, lupa cara nyarinya

  5. ToPan Siap Hadiiirŕ Pakde Satpam. Apa kabar Pakde Satpam dan Eyang Arema ?. Semoga Selalu Sehat dan Banyak Rezekinya Amiiiin.

  6. Pakde Satpam. Kalau pake android apa bisa dicari dan download ya. Sudah berkali kali di plototi di ubek ubek kok ra ketemu ya hahahhhhhh

    • Sugeng enjang . . . Selamat pagi, Ki Adji.

      Saya tadi sudah mencoba di hp dan tidak bisa Ki, kecuali kalo di hp Ki Adji ada djvu nya, baru bisa dibaca, karena formatnya djvu, bukan pdf bukan pula ms-word.

      Kalo soal rontal diumpetin dimana sama Anakmas Risang, Ki Adji saya kira sudah pengalaman tahunan . . . he he he, tlateni ae suwe-suwe rak ketemu . . . gampang kok, gak susah.

  7. Assalamu’alaikum wr wb
    Salam sejahtera buat kita semua.
    Alkhamdulillah telah kita mulai lagi mengangkat kisah cerita anak bangsa berupa Novel Serial Roro Mendut.
    Serial karya budayawan YB Mangunwijaya ini berkisah tentang kejatuhan martabat seorang ksatria perang, seorang Tumenggung di Zaman Pemerintahan Kesultanan Mataram Era Sultan Agung Hanyokrokusumo.
    Seorang Panglima Perang yang sangat disegani oleh teman dan lawan ini yaitu TUMENGGUNG WIROGUNO, tergelincir hanya karena kecantikan seorang wanita rakyat biasa, RORO MENDUT.
    Sayangnya sang perawan jelita tidak bersedia disunting oleh Ki Tumenggung dengan tawaran hidup kamukten. Ia lebih memili mati bersama kekasihnya PRONOCITRO, seorang nelayan dari pantai utara.
    Kisah tragis di atas berlanjut dengan sebab dan akibat dari peristiwa tersebut di buku kedua dan ketiganya yg sudah dapat diikuti disini.
    Tapi yang justru menarik adalah latar belakang sejarahnya. Banyak yang sangat awam dengan sejarah Mataram di Era akhir Sultan Agung yang digantikan oleh putra mahkota Sunan Amangkurat I, yang dikenal brutal demi menuruti ambisinya yg gemar melahap betis indah. sampe demi menutupi kebobrokannya, dia tercatat telah membantai ratusan Kiai dan Santri di jamanya. Bagaimana jalan ceritanya, temukan di serial novel ini.
    Hanya sayang sekali, Genduk Duku ini sudah Seri II. Buku Seri I berjudul Roro Mendut, belum ditemukan dalam koleksi. Sedangkan mencarinya di luar sangat jarang diketemukan.
    Apabila diantara sidang pembaca ada yg memiliki, atau kebetulan menemukan di toko buku. mohon perkenan untuk di informasikan di sini.
    Mohon judul di atas bukan APDM, tapi RORO MENDUT, novel serial sejarah YB Mangun Wijaya.
    Monggo.

  8. Assalamu’alaikum Wr Wb,
    Salam sejahtera untuk kita semua,
    Selamat pagi . . . Sugeng enjang,
    Sanak kadang adbm semua . . . .

    Anakmas Risang kok teganya-teganya menyanyi . . . he he he.
    Sementara kadang yang gak sabaran maunya cepet membaca, ingak-inguk rana-rene, nang endi leh ndekek rontal.

    • kok komentare menunggu moderasi,
      ra entuk mlebu po ya . . . . . hiks.

  9. Pasti bisa…hik..megkuh titik noda itu…

  10. mantappppp….. tinggal cari roro mendutnya…

  11. Nunut ngiyup Ki ….

  12. Roro mendutnya di bawa lari pronocitro Ki … Salam buat poro Empuh2 Adbm/Pdls …

  13. Wis di ubek2 ora ketemu .. Klau PC cepat klau Hp apa bisa ya … PakLik Satpam mohon bantuannya ..

  14. Ho android juga bisa ki….titik bernoda kata mas satpam…hikkk tidak boleh menyerah

  15. Sugeng sonten Anakmas Risang

    Lha wong episode 2 sudah wedar dari tadi, po ya belum ada yang ngunduh . . . he he he.
    Mungkin sanak kadang perlu bahasa sasmita dari P. Satpam, memang diperlukan ketelitian dan kejelian.

    Sanak kadang sedaya . . . mangga episode 2 sudah gogrok, tinggal ngunduh saja.

    • Sugeng sonten Panembahan
      he he he …., kala wau kesupen terus buru-curu wedaran, lan terus nglanjutaken tugas malih.
      ngapunten…

  16. Hiks…..mas Satpam

    • kata bang haji mas Satpam…terLALU

      • he he he …..
        gandok dimanapun kalau tidak ada Ki Menggung Gembleh dan Ki YP, kayaknya bagaimana…. gitu.

        Monggo Ki

        • Betul Lik Satpam… seperti lontong balap tanpa lontongnya…

          • Betul ki AM….
            Seperti motor balap tanpa motornya

  17. Pusing…
    bagaimana memunculkan komentar terakhir dalam daftar

    mohon pencerahan

    • Lho….mas satpam kePUsingan toh

      Cantrik kira memang sengaja tidak
      mas Satpam tampilkan

      • Gampang mas Satpam…hiks

        Kirim panah sanderan nti cantrik
        bantu dari ujung wetan

  18. Alhamdulillah lagi bisa mlebu senthong sebelah sini…

    lampune masih mati, sehingga harus meraba-raba mencari rontal ala genderuwo picek… semoga pas ‘meraba’nya…

    • Ketemu ki AM….bukan hanya diRABa
      zoom juga perlu ki, saestu

  19. nakmas satpam apa eps.3 siap digrayah ?

    • likmas Satpam apa eps.4 siap diwedar?

      • dereng, mbenjang enjing

    • sampun …..

  20. Alhamdulillah wis gak usum duku nanging iso moco Genduk Duku semudah memijit wohing ranti.

    • Selamat malam mas Satpam… 🙂

      Selamat menyiapkan wedaran rontal
      lanjutan.

      • di padepokan sini….cantrik siap
        bertanding lawan mas Satpam

        Kuat mana yang baca apa mas Satpam
        yg nyiapkan rontal

        • hayoo,,,,,,,,,

          • Priit…format text mas Satpam

            • yg kalah angkat
              tangan kanan.
              tanda kiri cukup
              masukan saku
              belakang 🙂 🙂

            • Kudu sesuai jadwal no Ki Menggung.

              • Jadwal ber-
                kunjung

                • J
                  A
                  D
                  W
                  A
                  L

                  A
                  M
                  B
                  I
                  L

                  J
                  A
                  T
                  A
                  H

                  R
                  A
                  N
                  G
                  S
                  U
                  M

              • Monggo
                lha wong wis ket mau kok
                he he he …..

  21. Episode 5….belum ada cantolan
    Episode 6….masih dalam penggorengan

    Episode 7….belum diracik mas Satpam
    Episode 8….nunggu antrian wedar

    • Usul mas Satpam,

      Wedaran rontal nunggu pasukan OGrog
      pada ngumpul ng padepokan.
      Tahan dulu wedaran sp cantrik mentrik
      kemringet ngiler rontal lanjutan.

      Ini tadi usulan ki Trupod sesepuh
      padepokan….ki gundul sakdermo
      menyebar luaskan

      Saestu…TENAN

    • 5 wis kok

      • 5 wes nyantol….tinggal srondol

        • Matur nuwun mas Satpam

          • Nti malam cantrik kancani
            Melek-an

  22. Absen dulu aahh…..

    Baru kali ini mbuka gandok Genduk Duku, karena berbagai hal..
    matur nuwun sanget Pak Satpam, Bopo Panembahan, dll atas peluncuran rontal yang baru

  23. selamat siang

  24. Episode 5 : djvu dan pdf

    teks belum dimunculken

    • pelan2 mas Satpam…ga usah terburu
      buru pasang “teks”

      yg penting wektu cantrik sambang lgi
      nanti “teks” sudah dicantolkan…hehe20x

      • Malam mas Satpam

        • Hadir…sambang padepokan

          • he he he …, monggo…..

            • Hehehe…matur
              nuwun mas Satpam

              • Sugeng
                Dalu

  25. Hadir….mas Satpam

    • Sugeng dalu kadang genduk DUKU

      • Otw padepokan sebelah sengkaling

        • loh…, padepokan sebelah Sengkaling yang mana? UMM, UIN, Polres?

  26. HADIR…..mas Satpam

    • monggo….
      penghuninya di sini hany Ki menggung sendiri
      satpam juga jadi males piket disini
      he he he he he he he he he he (lama lama tidak terdengar)

      • Males….pertanda belom makan
        mas Satpam…kleru Mules ding.

        AYO SEMANGAT…mumpung yg
        laen pada belom datang.

        • berDUA…..sapa takut 🙂 🙂

          • AYO mas SATPAM….kita buat padepokan megah.

            Megah : menawan gagah
            tur bikin betah para wanita
            seluruh tlatah jawa 🙂 🙂

  27. HADIR….sugeng dalu

    • mas Satpam….kemana kah panjenengan

      • cantrik dewean….ENAK tenan

        • urun saran….kenapa komen di genduk duku tidak nampak pd

          KOMENTAR terakhir padepokan
          ini mungkin yg bikin gandok jarang ada yang singgah padepokan

          • masa sih mas Satpam ga
            bisa otak atik membetulkan

            • Sampe judeg Ki, tidak berhasil.
              Masih dicoba otak atik lagi.

  28. Alhamdulillah, terima kasih mas
    Risang, tau tau sdh episode 8.
    Apa mas Risang sdh baca ceritanya?
    Latar belakang sejarahnya menarik, yaitu awal mula kita bersentuhan dengan barat secara langsung, dan juga kedzoliman Amangkurat 1yg jarang diangkat ke permukaan.

    • Sambil konversi dan edit teks Ki, satpam sempat baca.

  29. Njlekethek,
    setelah hampir putus asa, akhirnya ketemu penyebab tidak munculnya komen terakhir.
    Hadu…..
    Bobo ah….

  30. Wah…jebul saya ketinggalan….padahal yang cepat dapat yang lambat ketinggalan….Sugeng sonten sedoyo…!

    • benul ki Karto….yg cepat dapat duluan
      yg lambat sabar nunggu dum2an

      • Benur..Ki Tmg.YP..ngantri..

        • Ngantri sebentar….pas dibelokan cantrik serobot antrian,

          • Ati2 Ki Menggung….keseringan nyrobot ntar…bengkong lho 😀

            • Bengkong sekali kali asik ki Menggung

              BengkongAN…he 50x

              • Selamat malam…..sepi banget

                • S
                  E
                  R
                  E
                  M

                  Hi
                  Hi
                  Hi
                  Hi

              • hem….serem deh 😦

                • Se
                  Re
                  M

                  Me
                  Le
                  K

                  Me
                  Re
                  M

              • Serem…..seneng merem 😀

  31. tes…..masuk komen, komen masuk

    • tes…..yang keluar masuk 😀

      • Sugeng dalu ki Kartojudo

        • Kecipir mrambat kawat…wes suwe ki Karto ora liwat

          • Sugeng manuk..eh..masuk Ki Gundal gandul 😀

            • Hiks…matur nuwun ki Kartojudo

              Suwe ora jamu…jamu pisan godhong kates
              Suwe ora ketemu…ketemu pisan tes testes

              • Hehehe…dak kiro ketemu pisan ketemu….kates 😀

              • Sanes
                kates
                ki….

                kutes
                kusuka
                kates

  32. HADIR…. mendhisiki diri sendiri

  33. he he he ….

    gandok ini sepertinya rumahnya Ki Menggung berdua (KiGundul dan Ki Kartoyudo sendiri)

    • Bener mas Satpam…terkadang kita perlu menyendiri buat mengendapkan serta menenangkan diri dari hiruk pikuk ramainya hohohihi

      • Bener mas Satpam…terkadang kita …merasa sedih

        • Sedih dipagi hari…seneng disore hari

          • Sedih disiang hari….sueneng dimalam hari

            • Sugeng Riyadin Ji Gundul,mas Satpam…..
              maaf lahir batin……..

              • Njih Ki Menggung
                sami-sami nggih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s