GENDUK DUKU

Episode 21

Pada waktu ayam-ayam pertama kali berkokok sahut-menyahut, Duku bangun. Suaminya dibiarkan masih tertidur pulas, dan keluarlah ia dari gubuk, menuju pancuran air yang suaranya seperti serombongan burung jalak berkicau. Mana bintang waluku-nya? Musim keberapakah ini? Slamet tahu karena ia nelayan. Keputusan hati Duku: akan meminta Slamet, mengajarinya ngelmu palintangan.[1]) Mahir naik kuda, mahir pula seharusnya membaca isyarat dari angkasa. O, Bima Sakti, bayangan cahaya Bengawan Serayu! Intan-intan sejuta yang mencerminkan keindahan bengawan kehidupan. Indah bagaikan Bima Sakti hidup sebenarnya. Lebih lagi bersama Slamet, ayah si Lusi. Segarlah mandi di mata air yang nyaman karena selalu masih hangat airnya. Di gubuk ia temukan Slamet masih tidur nyenyak. Bagaimana? Pulang sendirian? Jangan, mereka orang-orang Jibusan. Jangan. Baik, tak mengapalah, nanti bisa mandi lagi. Dan mulailah Duku mencari daun-daun lumbu pari di selokan-selokan. Biarlah, berlumpur lagi. Tetapi hangat di tubuh.

Sekembali dari mengumpulkan daun lumbu untuk dimasak nanti, Duku melewati pancuran. Duku melihat sosok yang sangat dikenalnya sedang mandi. Diletakkannya daun-daun lumbu di pematang. Lalu telanjanglah Duku bersama suaminya, menikmati air segar, menikmati suara-suara ayam-ayam berkokok dan awal kicauan cocakrawa pagi dini, kacer, emprit, kepodang, dan burung-burung lain yang menyemarakkan suasa­na. Nikmat ia memandang sosok tubuh suaminya yang mengkilau semampai tetapi tegap kuat. Tubuh lelaki seperti Slamet sungguhlah punya keindahan tersendiri. Keindahan yang mewujud dari karya yang berat, dari pamor tanggung jawab yang dapat diandalkan wanita, ya betapa satu dan sesuai tubuh itu selaku pelengkap yang dimiliki oleh wanita. Namun terutama karena pribadi yang memilikinya. Maka tubuh yang telah begitu dikenal oleh Duku itu, setiap lekukan setiap tonjolan, semak rambut dan baunya, seolah-olah sudah tidak hanya daging otot kulit belaka, tetapi sesosok perwujudan wahyu, penampilan jaminan restu dari Hyang Widi. Tak terbayang oleh Duku, bagaimana dapat hidup tanpa sosok raga wayang wahyu yang telah membuktikan diri bermuatan pamor dan jawaban seluruh damba raga maupun sukmanya.

Menurut ajaran para dalang, dewi disebut sakti dari dewa; wanita memanglah kesaktian pria. Karena itulah Arjuna dan para ksatria di mana-mana berhasrat merebut wanita. Semakin banyak wanita yang dikecup, semakin menumpuk keksatriaan. Kalau begitu Raden Mas Jibus benar? Ah, itu kuali lain.

“Sedang memikirkan apa kau, Nduk? Biasanya ramai bercakap.”

“Itu, Arjuna dan Jibus.”

“Apa hubungan kedua mereka itu?”

“Ya, kata para dalang, Arjuna di mana-mana punya simpanan, karena dewi itu kesaktian dewa.”

“Oh itu? Silakan! Tergantung kadar kesaktian si perempuan itu sendiri, kan?”

“Bagaimana?”

“Ya! Kan perhitungan mudah. Kalau kesaktian si dewi itu cuma sedikit, nah kebutuhan jumlah dewi banyak tentunya.”

“Kalau muatan kesaktian dewinya sudah besar…”

“… Ya, tentunya tak perlu banyak-banyak. Atau satu cukup. Itu Raden Sadana sudah cukup dengan satu, Dewi Sri.”

Tertawalah Duku, tidak tanpa rasa termanja pujian terselubung dari suaminya. “Kalau Dewa Slamet?”

“Ya, tergantung yang namanya Duku.”

“Uh! Sombongnya.”

“Dan lagi, terlalu banyak kesaktian, apa lagi ngawur ramuannya, bikin sakit, tahu? Bisa meledak sendiri.”

Tertawalah lagi Duku. Si Slamet ini memang nelayan bandeng, sukanya air samudra asin, dan manis. Gurih dagingnya. Ya, sungguh gurih dagingnya.

“Kenapa tertawa?”

“Kupikir, kau ini bandeng!”

“Apa?”

“Ikan bandeng!”

“Husy, kurang ajar. Apa maksudmu?”

“Ya, itu tadi: kau ini bandeng!”

“Kok mau dinikahi bandeng?”

“Tanpa bumbu sudah gurih dagingnya.”

“Lele juga sudah gurih tanpa bumbu.”

“Tetapi hidupnya di air comberan, kotor.”

“Tetapi gurih, kan?”

“Silakan. Tetapi aku hanya suka bandeng, kok. ”

Asyik Duku memasak daun lumbunya. Sebagai kemas dari isinya, ampas kelapa, teri, dan kacang kedelai, sehingga keharuman buntilnya menimbulkan sebutan kelakar buntil apiun, begitu sedap lezatnya bau itu. Tiba-tiba seorang dayang tua tergopoh-gopoh memanggil Duku. Puan Tejarukmi pingsan. Hampir semua yang di dapur keluar menuju ruangan istri rampasan Putra Mahkota itu. Dengan gemetar seorang dayang tua menunjuk ke arah seorang perwira, yang dari seragamnya, celana hijau muda berpelisir emas dan ikat kepala hitam yang berbatik-batik gaya Samber-wulung, kentara adalah seorang gandek dari istana Aria Mataram. Baru saja perwira itu datang dari ibu kota, membawa perintah, Putri Tejarukmi akan dikembalikan ke Wiragunan. “Tadi berkali-kali memanggil ‘Kak Duku’ sebelum pingsan,” bisik dayang tua itu. Perintah Putra Mahkota sebenar­nya tidak mengejutkan, sebab itulah yang paling nalar. Tetapi kisah serba berbisik dari seorang dayang-dayang tua lainnya, yang menyertai perwira gandek tadi (di luar kehadiran perwira gandek itu) cukup mengejutkan Duku.

“Embah Kendi sendiri mendengar dari balik rana.[2]) Pagi tadi Ngarsa Dalem Sayidin Panatagama bersidang kehakiman di bangsal Kuncup Kajeksan. E, diajeng punya cuka apa tidak? Cuka dan jeruk nipis. Nanti kan lekas Putri Tejarukmi siuman. Nah, hadir juga Pangeran Aria Mataram yang rupa-rupanya telah mendapat pengampunan dari ayahnya. Mbah Kendi menyaksikan sendiri, betapa menyesal Kanjeng Pangeran. Menyesaaaal sekali. Sampai sekian bulan berpuasa, berguru ke Kiai Guru beliau. Bahkan menyentuh wanita, o sungguh, walau istri-istrinya sendiri pun, beliau tidak mau. E, orang pingsan jangan dipijat-pijat, nanti jantungnya bisa berhenti. Sungguh mengharukan sampai kurus Putra Mahkota, sampai kempot, ah, kasihan sungguh Kanjeng Pangeran muda itu. Coba ta bayangkan… e mbok terus dikipasi; jangan berhenti mengipasi. Tenang, tenang saja… bayangkan, pangeran tampan trengginas, kekasih Susuhunan-ing-Ngalaga Mataram, selama sekian bulan tidak menyentuh wanita, apa itu bukan bukti beliau calon raja yang saleh yang boleh dibanggakan? Apa? Tumenggung Wiraguna? O iya, si Kakek Tua itu hadir juga. Lha wong lucu, sudah tua bangka seperti pohon karet di depan gapura Kaliajir itu, tahu kan pohon itu kalian, sudah pating blandit pokoknya, satu-dua daunnya, garing mekingking cuma bisa dipakai liang ular, lha kok badag kropos setua itu kok masih saja ingin mencicipi mentimun seperti ya yaa… Lha kalau Kanjeng Pangeran Aria Mataram kan lain, masih muda baru delapan belas pasang musim, kan masih berhak loncat sana loncat sini, kan begitu kodrat kijang muda. E, Adimas, coba didengarkan napasnya. Tempelkan telinga pada dada sang Putri. Yang lainnya jangan ribut di belakang itu.

“Memang Wiraguna yang salah. Sungguh salah. Mbah Kendi sebagai orang tua, yang punya anak lelaki sembilan, tahu, ini keliru jelas si Wiraguna ini. Apa dia bukan lelaki sendiri? Nyatanya si Tejarukmi ini dia ambil juga. Nah, mengapa kok menggerutu bila seorang wanita muda molek dikehendaki oleh Putra Mahkota? J angan lupa. Pu-tra Mah-ko-ta. Kan lain kalau yang meminta itu sembarang gombloh yang cuma bisa mengandalkan burungnya. Bahkan Tumenggung Singara­nu sekalipun. Lho ini cuma kiasan. Patih Singaranu tidak akan berbuat macam itu. Atau Danupaya? Nah, ini gurunya Pangeran Alit. Penghasut dia orang ini, awas waspadalah terhadap dia. Bagaima­na si gadis ini? Baik napasnya? Sudah, tunggu sebentar. Tidak, tidak akan meninggal bidadari molek ini. Asal kalian jangan bingung. Mbah Kendi sudah biasa menghadapi orang pingsan. Saya yakin Pangeran Aria Mataram tidak sebodoh itu. Beliau hanya masih muda, mudah terbakar. Tetapi Mbah Kendi yakin, seandainya Wiraguna itu lebih bijaksana dan mengerti, tahu bagaimana caranya mengambil hati beliau yang calon Susuhunan, pasti dia lebih mantap kedudukannya.

‘Lho, Mbah Kendi tidak berlagak lho. Mbah Kendi mendengar sendiri, Sri Susuhunan-ing-Ngalaga sangat bijaksana. Hai, Wiraguna, begitu beliau, hai, Wiraguna. Apa kau tidak memperhitungkan, apa yang dapat menimpa kau kelak? Kelak bila Pangeran Mataram ini sudah menjadi Susuhunan-ing-Ngalaga dan Panatagama? Begitu Adiprabu Hanyakrakusuma. Bijaksana, bukan? Wahai, Wiraguna, selama sesembahanmu Hanyakrakusuma masih diberi kehangatan hayat oleh Allah Yang Mahakuasa, kau Wiraguna masih aman. Kau masih ingsun[3]) lindungi, begitu raja arif kita. Tetapi wahai, Wiraguna, begitu beliau, wahai, Wiraguna, bagaimana kalau kelak rajamu ini sudah menghadap pulang ke Rahmatullah? Nah, Wiraguna diam saja. Tidak bisa berkutik dia. Mau menjawab apa, memang dia salah (Tetapi ada apa Tejarukmi diperintah pulang ke Wiragunan?) Nah, inilah bukti kebaikan budi Kanjeng Pangeran Aria Mataram. Walaupun beliau merasa dimenangkan Ayahanda, Putri Tejarukmi yang ia cintai ini ikhlas dia pulangkan ke pohon karet tua itu. Bagaimana, Adimas? Sudah siumankah sang bunga mawar kita? Coba, Mbah Kendi yang membelainya. Maaf sebentar. Ini cuka dibawa pergi saja. Ada air mawar? Belum punya? Nah, petik lekas mawar sebanyak-banyaknya, dan lekas bawa kemari.

“Nah, Anak emas sayang, Putri ayu, ayo bangun, tak ada apa-apa. Ke Wiragunan hanya sebentar. Pura-pura, biar sang Panglima puas. Tetapi Mbah Kendi tahu, kau, Anak ayu pasti kembali ke pelukan ksatria tampanmu. Nah, menangis, silakan menangis. Biar ganjalan jiwa keluar semua. Mari, mari, ayo, Cah ayu. Mbah Kendi akan mendampingi Putri ayu dari Imogiri, bunga gunung kahyangan yang keramat.”

Lunglai tetapi siuman keringatnya dihapus oleh dayang tua bernama Kendi tadi, vang rupa-rupanya punya kewibawaan besar terhadap para abdi pesanggrahan. Tak tahan Duku di dalam ruang yang berbau cuka dan jeruk dan keringat dan kemenyan itu. Sebab sementara itu beberapa dukun buru-buru sudah dipanggil. juga.

“Akan ke mana ini sernua, Mas?” tanya Duku.

Slamet yang sedang rajin mengerok kuda-kuda hanya diam. Dipandangnya istrinya.

“Mari kita ke luar regol saja,” akhirnya ia menyarankan.

“Kita pergi tanpa minta diri dulu dari Tejarukmi?”

“Bagaimana itu mungkin? Dengan sekian banyak orang yang mengerumuni?”

“Putri malang sang cantik Tejarukmi itu.”

“Kita doakan saja dalam hati. Tangan Raden Mas Jibus terlalu panjang dan kuasa. Sudahlah, Nduk. Ambil saja segala barangmu, kita menunggu di luar regol saja, bagaimana kelanjutannya.”

Duku merebahkan kepalanya pada punggung suaminya. Sepi seluruh halaman. Semua ingin berkerumun di dalam. Ah ya, buntilnya. Peduli amat. Dan Duku bergegas masuk ke dalam ruang tempat ia menginap. Barangnya tidak banyak. Pelan-pelan suami istri itu mengantar kuda-kuda mereka keluar dari regol belakang, dan menanti di jalan, berjarak lima lemparan batu dari pintu gerbang utama, di bawah pohon waru.

“Aku rindu Lusi,” kata Slamet sesudah sejenak duduk diam memandang ke lautan padi.

“Sedang apa gerangan anak kita?” tanya kembali Duku.

“Aku yakin, sedang tidak menangis.”

“Menangis juga boleh.” Dan diamlah kedua orang itu.

“Nduk,” mulai lagi Slamet berbicara, “pikir punya pikir, aku merasa bersyukur, anak kita perempuan. Bukan lelaki.”

“Eh? Ada apa lagi. Perempuan baik, lelaki baik juga.”

“Tetapi sesudah mengalami bermacam-macam ini, aku kok lebih berbahagia dengan anak perempuan.”

“Biasanya orang senang punya anak lelaki.” “Biasanya. Tetapi ini zaman tidak biasa.”

“Ada apa sih, Mas? Kan kita lihat sendiri, bagaimana nasib Tejarukmi. Korban. Bahkan Putri Arumardi pun, tawanan nasib. Wanita selalu korban. Mudah-mudahan Lusi jangan, tetapi… sedang memikir apa, Mas?”

“Ya, justru itulah. Wanita korban lelaki. Timbang punya timbang, lebih baik dan mulia menjadi korban daripada penyebab korban.”

“Ah, mosok begitu cara menimbangnya. Mas Slamet lelaki juga. Tetapi aku tak pernah merasa jadi korban.”

“Nah, itu tadi kan cuma pertimbangan. Aku sama dengan kau. Perempuan baik, lelaki pun baik. Keduanya kita terima. Tetapi…”

“Mas Slamet sangat terpengaruh oleh peristiwa Tejarukmi.”

“Memang. Mas-mu sangat terkesan oleh segala lakon ini. Sayangnya terkesan oleh sisinya yang gelap.”

“Tidak semua lelaki seperti Wiraguna atau Raden Mas Jibus.”

“Tidak semua, kau betul. Tetapi banyak.”

“Ah, semoga Lusi jangan mengalami nasib macam ini. Terus terang Mas, Duku-mu sering cemas. Hidupnya telah ditandai oleh peristiwa Rara Mendut. Kemudian peristiwa si Warok Badogbadig. Lalu si manis Karel. Sekarang Tejarukmi. Sering aku cemas, Mas”.

“Bagaimana bila sesudah pulang dari sini, kita mengungsi saja jauh dari ibu kota?”

“Duku merasa bersalah. Sudah waktunya kita putuskan tegas, kita berkunjung ke Mbah Legen dan Nyi Gendis. Mosok, sudah begitu dekat kita dengan desa mereka, kok sampai sekarang tega belum mengunjungi mereka. Kurang tahu berte­rima kasih ini namanya. Kedua orang baik itu harus mengenal Mas Slamet dan melihat Lusi.”

“Susahnya Bendara Pahitmadu terlalu serakah; maunya hanya bermain saja dengan Lusi. Berulang-ulang kita dipanggil. Padahal meliburkan diri dari tugas di Pesanggrahan Bangkawa Kulon artinya lebih banyak lagi kesulitan menumpuk. Inilah ruginya jadi pegawai kaum puri, walaupun sementara ketergantungan ini masih kita butuhkan.”

“Aku akan meminta Putri Arumardi, agar diizinkan pergi langsung dari sini ke rumah Mbah Legen. Putus?”

“Ya, kita putuskankan begitu.”

“Sungguh aku ingin tahu, sedang diapakan Tejarukmi itu. Jangan-jangan ia membutuhkan Duku lagi.”

“Jangan. Di sini saja. Biar mereka selesaikan sendiri. Aku sungguh sedang membutuhkan kau Duku-ku. Entahlah mengapa, tetapi duduk di sini sajalah. Masih banyak waktu untuk mereka.”

“Baik. Aku pun sudah mulai pusing kepala menghirup udara rumah itu.”

Nikmat duduk di bawah waru yang daun-daunnya besar rindang ini. Tak ada seorang pun lewat, dan angin bersenda-gurau dengan gelagah-gelagah padi. Sampai di cakrawala, lautan padi tergelar. Hanya pulau-pulau desa dan deretan waru serta turi memberi selingan pemandangan. Di kejauhan ada gerobak kerbau pelan-pelan merangkak; pasangan-pasangan burung srigunting menukik dan menari ria di udara bila berhasil menyambar kupu-kupu. Apakah kelak, kemakmuran seratus ganda cakrawala ini akan menjadi milik Raden Mas Jibus? Bagaimana mungkin? Aneh dan tidak adil segala ini sebenarnya. Dan di dalam tata kehidupan seperti itulah Lusi nanti harus melangkah. Menari? Atau menangis? Ya Allah, semoga janganlah.

“Nduk. ”

“Apa, Mas?” Heran Duku memandang ke samping. Slamet agak lain siang ini. Biasanya ia hemat kata. Hanya di ranjang ia bisa lebih bebas, tetapi di hari siang, ia hanya tahu bekerja dan bekerja.

“Aku punya firasat, riwayat Wiraguna sudah menjelang matahari terbenam.”

“Kok mengurusi Wiraguna untuk apa sih?”

“Bukan Wiraguna, tetapi Lusi.”

“Lusi? Kau sangat mendambakan Lusi rupanya. Sebentar kita pulang dan…”

“Bagaimana lagi? Tetapi aku melihat ke depan.”

“Apa tidak lebih baik melupakan Wiraguna dulu?”

“Sulit, sulit. Bahkan mustahil. Begini, Nduk. Diakui atau tidak diakui, sampai sekarang kita hidup di bawah naungan Bendara Pahitmadu, jadi kaum Wiraguna. Kemudian Putri Arumardi, juga kaum Wiraguna. Hubunganmu dengan Tejarukmi juga diwarnai Puri “Wiragunan. Padahal aku merasa, pertama Wiraguna sudah tua. Kedua, kedudukannya akibat peristiwa Tejarukmi ini sudah jelas akan sangat celaka.”

“Susuhunan Hanyakrakusuma…”

“Ya, memang. Se-la-ma beliau masih Susuhunan. Tumenggung Danupaya dan Panglima Sura Agul-agul sudah dipecat. Dan Pangeran Alit, saingan Putra Mahkota? Kita harus cukup jeli melihat, dari arah mana elang akan datang.”

“Ya, kau betul. Mungkin hari kutukan Rara Mendut dan Raden Pranacitra sudah dekat. Padahal Bendara Pahitmadu sudah tua dan sakit-sakitan.”

“Bagaimanapun besarnya rasa berhutang budi kita kepada nenek berjiwa agung itu Nduk, tetapi jelas Lusi sudah tidak akan dapat meminta naungan dari beliau bila sudah dewasa nanti.”

Membelalak Duku memandang kagum sayang kepada suaminya. “Oh, sekarang saya tahu. Lebih baik kita bebas melepaskan diri dari segala naungan kaum bangsawan itu, begitu maksudmu, Mas? Oh, ya… ya begitulah, rasanya warta hikmah Rara Mendut dulu begitulah. Maksudmu kita pergi jauh saja dari Mataram?”

“Itu tekad yang terpuji Nduk, tetapi kita masih harus berhati-hati, dan lagi meninggalkan Bendara Eyang dan Putri Arumardi saat ini kurang pada tempatnya. Bagaimanapun ada baiknya kita punya persediaan gunung pengungsian lain. Sampai saat yang tepat tiba.”

“Di mana?”

“Tumenggung Singaranu?”

“Ooh! Beliau sungguh yang paling tepat. Berwibawa, sederhana, berbudi luhur, disegani Putra Mahkota.”

“Beliau pun masih dapat dijatuhkan oleh orang seperti Raden Mas Jibus itu. Dan Tumenggung Wirapatra, jangan lupa. Tetapi daripada sama sekali tidak punya benteng.”

“Persediaan, Mas. Hanya bila bahaya darurat datang. Permaisuri Singaranu bersahabat dengan Putri Arumardi. Hei, Mas, apa itu?” Terkejut Duku memegang tangan suaminya yang menoleh juga. Apa-apaan ini?

Dari pintu gerbang keluarlah suatu pawai panjang, terdiri dari prajurit-prajurit berkuda, prajurit-prajurit berjalan, barisan abdi-abdi wanita. Semua wanita itu berkain mori blacu putih, setagen blacu juga, dada serba telanjang, rambut semua terurai. Gila! Seperti barisan calon mayat. Atau… ya, hanya wanita ronggeng pelacur yang sudah lolos nalarnya berbuat begitu. Kemudian tandu, jelas tandu Tejarukmi. Di belakangnya abdi-abdi lelaki membawa kentongan bambu. Ketuk-pruk, keto-tuk-pruk, irama kentongan itu sangat memilukan. Gila, sungguh gila. Apalagi kalau bukan akal sinting Raden Mas Jibus. Ternganga dengan mata membelalak Duku dan

Slamet memandang pawai serba aneh dan menyedihkan itu. Inikah caranya mengembalikan istri rampasan zinah? O Tejarukmi, Tejarukmi, sungguh kasihan engkau anak malang. Terhina sungguh! Tak bisa lebih hina daripada cara ini. Begitu teganya si Jibus itu? Seperti terpaku Duku dan Slamet tak mampu bergerak. Begini caranya sampai di Wiragunan? Sungguh mendidih hati Slamet. Rasanya ingin menerkam si Jibus dan merobek-robeknya.

Tandu dibiarkan terbuka, ah kasihan, dan Putri Tejarukmi tampak lebih mengenas, berkain dan kemben mori putih juga. Pucat lesi, pipi berboreh tebal, serba basah air mata ia berusaha menutupi muka dengan tangan. Dayang tua yang bernama Mbah Kendi tadi menunggang kuda kecil, juga berpakaian mori mayat. Teteknya seperti kelelawar-kelelawar bule bergantung pada dada pokok kayu yang terkena jamur upas. Putri malang dalam tandu tak sempat melihat Duku dan Slamet; suami-istri ini tak berani juga berkutik. Seperti impian serba hantu sernua itu berlalu.

Tanpa disuruh, seolah-olah terkena daya gaib, atau terhela rasa belas kasihan yang meluap, Duku dan Slamet ikut berjalan di tepi jalan, agak berjarak dari pawai mengerikan itu. Bersama-sama anak-anak dan rakyat lain yang semakin banyak mengiringi pawai kentongan bambu menghantu ini. Tidak ada yang berani omong atau tertawa. Hanya berbisik orang-orang mengikuti barisan menyedihkan itu, saling bertanya dan saling melontarkan tafsiran macam-macam. Debu jalan yang membubung mengelilingi pawai mori jaratan itu semakin memberi kesan yang lebih mengerikan. Seperti mayat juga Duku dan Slamet berjalan mengikuti barisan, yang semakin bertumbuh semakin padat pengiringnya. Berjam-jam melangkah seperti tersihir. Desa Pingit terlalui, ibu kota dimasuki.

Diam bengong para penjaga gerbang Wiragunan, seperti tersihir kekuatan gaib, membuka pintu-pintu jati, dan membiarkan barisan itu masuk. Rakyat yang menjejal sudah tak dapat dikuasai. Tiba-tiba berhentilah bunyi kotekan bambu, dan keheningan, yang seperti selimut sihir sekonyong-konyong jatuh dari awan-awan, lebih mencekam lagi. Semua tegang menunggu Tumenggung Wiraguna. Tetapi beliau tak keluar. Masih di istana Susuhunan, begitu bisik yang beredar. Belum pulang.

Seorang wanita cantik yang diperisai dua prajurit keluar dari dalam dan berusaha menerobos khalayak padat itu untuk menghampiri tandu, yang aneh sekali seperti beku berhenti di muka pendapa. Putri Arumardi. Menangis beliau merangkul sang putri malang itu. Duku dan Slamet yang sejak tadi menjaga agar selalu hadir sedikit di belakang tandu tak dapat menahan air mata. Begitu juga seperti terkena perintah, ratap tangis para wanita memenuhi halaman.

Tiba-tiba terdengarlah dari jalan besar derap barisan kuda dan tembakan senapan di udara. Rakyat bubar. Tetapi Duku dan Slamet tetap tegak di belakang tandu. Kalang kabut kaum tua, wanita, anak-anak lari mencari perlindungan. Tumenggung Wiraguna datang! Heran sang Panglima melihat keramaian di jalan dan di halaman istananya. Apa-apaan ini! Seorang perwira dengan sembah gemetar menyampaikan berita. Tertegun Wiraguna tak bergerak.

Bagaikan wayang di kelir kain blacu, Wiraguna mendengar kata-kata si Jibus tadi di istana. Seorang perempuan dari daerah barat laut Pingit dihadapkan kepada Susuhunan. Dituduh dan ternyata terbukti telah main zinah. Tak terduga, sang Sayidin Panatagama menoleh dan bertanya kepada Putra Mahkota, “Hukuman apa yang pantas bagi pezinah ini?”

Aria Mataram menundukkan kepala, melakukan sembah, tetapi tak mampu menjawab. Wiraguna melihat betapa bergetar tangan yang menyembah tadi.

“Nah, jawab!” perintah sang Sayidin Panatagama. Belum mampulah juga putranya menjawab. Seluruh bangsal pengadilan diam mengekang napas.

”Hukuman apa?” Nada pertanyaan terdengar marah. Wiraguna senang mendengar nada marah rajanya. Mampus kau, Jibus! Jawablah, ayo.

“Hukuman mati, Baginda Susuhunan,” jawab Aria Mataram akhirnya, nyaris tak terdengar. Terlambat Panglima Besar Mataram sadar, bahwa jawaban Putra Mahkota sama-sama menghantam Wiraguna juga. Apa maunya si Jibus ini? Tidak mau kalah, dan sekarang menyarankan, agar tidak ada satu pihak pun merasa menang walaupun pihak yang berhak penuh tanpa kesalahan sama sekalipun? Dengan wajah yang sulit diduga perasaan dalamnya, Adiprabu Hanyakrakusuma berpaling kepada Panglima Besarnya, dan bersabda,

“Wiraguna!”

“Dalem kula nuwun, nun inggih.”

“Kau dengar apa yang dikatakan Pangeran Aria Mataram?”

“Nun inggih, hamba telah mendengar, Baginda.”

“Nah, rajamu bersabda: kau, Wiraguna, terserah kepadamu, apa yang hendak kaulakukan.”

“Nun nuwun, nun inggih, Baginda.”

Pelan-pelan Panglima Wiraguna pulih lagi kesadarannya dan kudanya disuruh mendekati tandu. Putri Arumardi berlari menyambutnya, dengan tangan menyembah dan berlutut di muka kuda Wiraguna.

“Sudilah jangan mendekat, Tuanku Wiraguna. Sudilah serahkan semua ini kepada hambamu Arumardi, atau kepada Nyai Ajeng bila Paduka kurang berkenan kepada hamba. Tetapi jangan mendekat”.

Tetapi malang, sungguh malang sejuta sial. Pada saat itu Putri Tejarukmi justru membuka pintu tandu dan keluar. Dalam busana putih blacu seperti itu, bermaksud bersujud di muka tuannya.

Tak tertahan, meledaklah semua mesiu malu campur cemburu, segala api benci dan nyeri hati selama berbulan-bulan. Seorang Panglima Besar negara agung dibuat mainan seperti ini. Di muka umum lagi. Babo !

Meloncatlah Wiraguna penuh murka dari kudanya. Menjeritlah seluruh penonton melihat Panglima tua itu menghunus kerisnya dan menyeruduk ke arah Tejarukmi yang ngeri menjerit pula. Tetapi Panglima Besar yang sudah lanjut usia itu terjatuh tergelincir. Slamet melihat dari dekat, bagaimana Putri Tejarukmi spontan bersembunyi di belakang Putri Arumardi.

Spontan pula Slamet merebahkan diri di muka Putri Arumardi untuk melindungi wanita berani itu dari serudukan Wiraguna yang bagaikan banteng terluka mengamuk dan melabrak kedua perisai hidup itu. Dengan segala kekuatan, kerisnya mengayun dari samping, dari belakang, mencari tubuh Tejarukmi. Teriak tangis orang-orang di sekitarnya yang berlari kalang kabut bisa membuat orang gila. Duku seperti terpaku. Begitu cepat semua kejadian itu menyerodok. Tak sanggup ia mempercayai apa yang terjadi. Suaminya berlumuran darah tertelungkup mendekap Putri Tejarukmi yang sudah tak bergerak.

Amukan keris Wiraguna akhirnya berhenti. Masih ditendangnyalah mayat Tejarukmi, diinjak-injak seperti kecoak. Seorang perwira dipegangnya pada tengkuknya sambil berteriak, “Buang di ladang luar kota daging busuk ini! Dengar?

Dipotong-potong! Dengar? Dan jangan berani menguburnya. Tahu! Biar dimakan anjing-anjing! Kerjakan!”

Gugup dua bola mata gelap berlari kian kemari, dan dengan mulut menyeringai dimasukkannya keris ke dalam warangkanya. Masih mengusap-usap darah yang bercipratan di wajahnya dengan punggung tangannya, masuklah Wiraguna ke dalam pringgitan. Tanpa menghiraukan Nyai Ajeng dan istri-istri selirnya yang menangis, wajah di lantai.

———-

[1]     ilmu perbintangan

[2]     bidang penutup/pembatas

[3]     saya (bahasa Jawa tinggi)

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Telah Terbit on 16 Mei 2015 at 01:13  Comments (103)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/trilogi-yb-mangunwijaya/genduk-duku/trackback/

RSS feed for comments on this post.

103 KomentarTinggalkan komentar

  1. Episode pertama Genduk Duku telah diwedar

    silahkan berburu rontal dan bergojeg dan berburu rontal sebagaimana bertahun yang lalu, ketika masih menjadi cantrik aktif di padepokan ini.

  2. test…..
    kenapa komen saya tidak bisa masuk daftar komen?

    Hadu….
    kenapa ya?

  3. Grotal-gratul, grayah-grayah

  4. Serasa seperti nyantrik pertama kali, lupa cara nyarinya

  5. ToPan Siap Hadiiirŕ Pakde Satpam. Apa kabar Pakde Satpam dan Eyang Arema ?. Semoga Selalu Sehat dan Banyak Rezekinya Amiiiin.

  6. Pakde Satpam. Kalau pake android apa bisa dicari dan download ya. Sudah berkali kali di plototi di ubek ubek kok ra ketemu ya hahahhhhhh

    • Sugeng enjang . . . Selamat pagi, Ki Adji.

      Saya tadi sudah mencoba di hp dan tidak bisa Ki, kecuali kalo di hp Ki Adji ada djvu nya, baru bisa dibaca, karena formatnya djvu, bukan pdf bukan pula ms-word.

      Kalo soal rontal diumpetin dimana sama Anakmas Risang, Ki Adji saya kira sudah pengalaman tahunan . . . he he he, tlateni ae suwe-suwe rak ketemu . . . gampang kok, gak susah.

  7. Assalamu’alaikum wr wb
    Salam sejahtera buat kita semua.
    Alkhamdulillah telah kita mulai lagi mengangkat kisah cerita anak bangsa berupa Novel Serial Roro Mendut.
    Serial karya budayawan YB Mangunwijaya ini berkisah tentang kejatuhan martabat seorang ksatria perang, seorang Tumenggung di Zaman Pemerintahan Kesultanan Mataram Era Sultan Agung Hanyokrokusumo.
    Seorang Panglima Perang yang sangat disegani oleh teman dan lawan ini yaitu TUMENGGUNG WIROGUNO, tergelincir hanya karena kecantikan seorang wanita rakyat biasa, RORO MENDUT.
    Sayangnya sang perawan jelita tidak bersedia disunting oleh Ki Tumenggung dengan tawaran hidup kamukten. Ia lebih memili mati bersama kekasihnya PRONOCITRO, seorang nelayan dari pantai utara.
    Kisah tragis di atas berlanjut dengan sebab dan akibat dari peristiwa tersebut di buku kedua dan ketiganya yg sudah dapat diikuti disini.
    Tapi yang justru menarik adalah latar belakang sejarahnya. Banyak yang sangat awam dengan sejarah Mataram di Era akhir Sultan Agung yang digantikan oleh putra mahkota Sunan Amangkurat I, yang dikenal brutal demi menuruti ambisinya yg gemar melahap betis indah. sampe demi menutupi kebobrokannya, dia tercatat telah membantai ratusan Kiai dan Santri di jamanya. Bagaimana jalan ceritanya, temukan di serial novel ini.
    Hanya sayang sekali, Genduk Duku ini sudah Seri II. Buku Seri I berjudul Roro Mendut, belum ditemukan dalam koleksi. Sedangkan mencarinya di luar sangat jarang diketemukan.
    Apabila diantara sidang pembaca ada yg memiliki, atau kebetulan menemukan di toko buku. mohon perkenan untuk di informasikan di sini.
    Mohon judul di atas bukan APDM, tapi RORO MENDUT, novel serial sejarah YB Mangun Wijaya.
    Monggo.

  8. Assalamu’alaikum Wr Wb,
    Salam sejahtera untuk kita semua,
    Selamat pagi . . . Sugeng enjang,
    Sanak kadang adbm semua . . . .

    Anakmas Risang kok teganya-teganya menyanyi . . . he he he.
    Sementara kadang yang gak sabaran maunya cepet membaca, ingak-inguk rana-rene, nang endi leh ndekek rontal.

    • kok komentare menunggu moderasi,
      ra entuk mlebu po ya . . . . . hiks.

  9. Pasti bisa…hik..megkuh titik noda itu…

  10. mantappppp….. tinggal cari roro mendutnya…

  11. Nunut ngiyup Ki ….

  12. Roro mendutnya di bawa lari pronocitro Ki … Salam buat poro Empuh2 Adbm/Pdls …

  13. Wis di ubek2 ora ketemu .. Klau PC cepat klau Hp apa bisa ya … PakLik Satpam mohon bantuannya ..

  14. Ho android juga bisa ki….titik bernoda kata mas satpam…hikkk tidak boleh menyerah

  15. Sugeng sonten Anakmas Risang

    Lha wong episode 2 sudah wedar dari tadi, po ya belum ada yang ngunduh . . . he he he.
    Mungkin sanak kadang perlu bahasa sasmita dari P. Satpam, memang diperlukan ketelitian dan kejelian.

    Sanak kadang sedaya . . . mangga episode 2 sudah gogrok, tinggal ngunduh saja.

    • Sugeng sonten Panembahan
      he he he …., kala wau kesupen terus buru-curu wedaran, lan terus nglanjutaken tugas malih.
      ngapunten…

  16. Hiks…..mas Satpam

    • kata bang haji mas Satpam…terLALU

      • he he he …..
        gandok dimanapun kalau tidak ada Ki Menggung Gembleh dan Ki YP, kayaknya bagaimana…. gitu.

        Monggo Ki

        • Betul Lik Satpam… seperti lontong balap tanpa lontongnya…

          • Betul ki AM….
            Seperti motor balap tanpa motornya

  17. Pusing…
    bagaimana memunculkan komentar terakhir dalam daftar

    mohon pencerahan

    • Lho….mas satpam kePUsingan toh

      Cantrik kira memang sengaja tidak
      mas Satpam tampilkan

      • Gampang mas Satpam…hiks

        Kirim panah sanderan nti cantrik
        bantu dari ujung wetan

  18. Alhamdulillah lagi bisa mlebu senthong sebelah sini…

    lampune masih mati, sehingga harus meraba-raba mencari rontal ala genderuwo picek… semoga pas ‘meraba’nya…

    • Ketemu ki AM….bukan hanya diRABa
      zoom juga perlu ki, saestu

  19. nakmas satpam apa eps.3 siap digrayah ?

    • likmas Satpam apa eps.4 siap diwedar?

      • dereng, mbenjang enjing

    • sampun …..

  20. Alhamdulillah wis gak usum duku nanging iso moco Genduk Duku semudah memijit wohing ranti.

    • Selamat malam mas Satpam… 🙂

      Selamat menyiapkan wedaran rontal
      lanjutan.

      • di padepokan sini….cantrik siap
        bertanding lawan mas Satpam

        Kuat mana yang baca apa mas Satpam
        yg nyiapkan rontal

        • hayoo,,,,,,,,,

          • Priit…format text mas Satpam

            • yg kalah angkat
              tangan kanan.
              tanda kiri cukup
              masukan saku
              belakang 🙂 🙂

            • Kudu sesuai jadwal no Ki Menggung.

              • Jadwal ber-
                kunjung

                • J
                  A
                  D
                  W
                  A
                  L

                  A
                  M
                  B
                  I
                  L

                  J
                  A
                  T
                  A
                  H

                  R
                  A
                  N
                  G
                  S
                  U
                  M

              • Monggo
                lha wong wis ket mau kok
                he he he …..

  21. Episode 5….belum ada cantolan
    Episode 6….masih dalam penggorengan

    Episode 7….belum diracik mas Satpam
    Episode 8….nunggu antrian wedar

    • Usul mas Satpam,

      Wedaran rontal nunggu pasukan OGrog
      pada ngumpul ng padepokan.
      Tahan dulu wedaran sp cantrik mentrik
      kemringet ngiler rontal lanjutan.

      Ini tadi usulan ki Trupod sesepuh
      padepokan….ki gundul sakdermo
      menyebar luaskan

      Saestu…TENAN

    • 5 wis kok

      • 5 wes nyantol….tinggal srondol

        • Matur nuwun mas Satpam

          • Nti malam cantrik kancani
            Melek-an

  22. Absen dulu aahh…..

    Baru kali ini mbuka gandok Genduk Duku, karena berbagai hal..
    matur nuwun sanget Pak Satpam, Bopo Panembahan, dll atas peluncuran rontal yang baru

  23. selamat siang

  24. Episode 5 : djvu dan pdf

    teks belum dimunculken

    • pelan2 mas Satpam…ga usah terburu
      buru pasang “teks”

      yg penting wektu cantrik sambang lgi
      nanti “teks” sudah dicantolkan…hehe20x

      • Malam mas Satpam

        • Hadir…sambang padepokan

          • he he he …, monggo…..

            • Hehehe…matur
              nuwun mas Satpam

              • Sugeng
                Dalu

  25. Hadir….mas Satpam

    • Sugeng dalu kadang genduk DUKU

      • Otw padepokan sebelah sengkaling

        • loh…, padepokan sebelah Sengkaling yang mana? UMM, UIN, Polres?

  26. HADIR…..mas Satpam

    • monggo….
      penghuninya di sini hany Ki menggung sendiri
      satpam juga jadi males piket disini
      he he he he he he he he he he (lama lama tidak terdengar)

      • Males….pertanda belom makan
        mas Satpam…kleru Mules ding.

        AYO SEMANGAT…mumpung yg
        laen pada belom datang.

        • berDUA…..sapa takut 🙂 🙂

          • AYO mas SATPAM….kita buat padepokan megah.

            Megah : menawan gagah
            tur bikin betah para wanita
            seluruh tlatah jawa 🙂 🙂

  27. HADIR….sugeng dalu

    • mas Satpam….kemana kah panjenengan

      • cantrik dewean….ENAK tenan

        • urun saran….kenapa komen di genduk duku tidak nampak pd

          KOMENTAR terakhir padepokan
          ini mungkin yg bikin gandok jarang ada yang singgah padepokan

          • masa sih mas Satpam ga
            bisa otak atik membetulkan

            • Sampe judeg Ki, tidak berhasil.
              Masih dicoba otak atik lagi.

  28. Alhamdulillah, terima kasih mas
    Risang, tau tau sdh episode 8.
    Apa mas Risang sdh baca ceritanya?
    Latar belakang sejarahnya menarik, yaitu awal mula kita bersentuhan dengan barat secara langsung, dan juga kedzoliman Amangkurat 1yg jarang diangkat ke permukaan.

    • Sambil konversi dan edit teks Ki, satpam sempat baca.

  29. Njlekethek,
    setelah hampir putus asa, akhirnya ketemu penyebab tidak munculnya komen terakhir.
    Hadu…..
    Bobo ah….

  30. Wah…jebul saya ketinggalan….padahal yang cepat dapat yang lambat ketinggalan….Sugeng sonten sedoyo…!

    • benul ki Karto….yg cepat dapat duluan
      yg lambat sabar nunggu dum2an

      • Benur..Ki Tmg.YP..ngantri..

        • Ngantri sebentar….pas dibelokan cantrik serobot antrian,

          • Ati2 Ki Menggung….keseringan nyrobot ntar…bengkong lho 😀

            • Bengkong sekali kali asik ki Menggung

              BengkongAN…he 50x

              • Selamat malam…..sepi banget

                • S
                  E
                  R
                  E
                  M

                  Hi
                  Hi
                  Hi
                  Hi

              • hem….serem deh 😦

                • Se
                  Re
                  M

                  Me
                  Le
                  K

                  Me
                  Re
                  M

              • Serem…..seneng merem 😀

  31. tes…..masuk komen, komen masuk

    • tes…..yang keluar masuk 😀

      • Sugeng dalu ki Kartojudo

        • Kecipir mrambat kawat…wes suwe ki Karto ora liwat

          • Sugeng manuk..eh..masuk Ki Gundal gandul 😀

            • Hiks…matur nuwun ki Kartojudo

              Suwe ora jamu…jamu pisan godhong kates
              Suwe ora ketemu…ketemu pisan tes testes

              • Hehehe…dak kiro ketemu pisan ketemu….kates 😀

              • Sanes
                kates
                ki….

                kutes
                kusuka
                kates

  32. HADIR…. mendhisiki diri sendiri

  33. he he he ….

    gandok ini sepertinya rumahnya Ki Menggung berdua (KiGundul dan Ki Kartoyudo sendiri)

    • Bener mas Satpam…terkadang kita perlu menyendiri buat mengendapkan serta menenangkan diri dari hiruk pikuk ramainya hohohihi

      • Bener mas Satpam…terkadang kita …merasa sedih

        • Sedih dipagi hari…seneng disore hari

          • Sedih disiang hari….sueneng dimalam hari

            • Sugeng Riyadin Ji Gundul,mas Satpam…..
              maaf lahir batin……..

              • Njih Ki Menggung
                sami-sami nggih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s