GENDUK DUKU

Episode 20

Cantik, tetap cantik, Tejarukmi. Tetapi pucat dan kurus. Dan tak tentram. Dua bola matanya tampak bergerak seperti layang-layang, tersendal-sendal tak mau mengangkasa. Terlalu kerap bulu-bulu mata yang indah itu berkelepar. Sampai sekarang perhitungan Duku untuk menerobos ke dalam pingitan Puri Tejakencana tidak meleset; dan Putri Tejarukmi sendiri pun untunglah cukup tahu memanfaatkan kesempatan hiburan, bersua dengan orang yang ia kenal di tengah lingkungan yang serba asing tak ia senangi itu. Dengan alasan si Duku tukang pijat yang sudah ia kenal baik sejak kecil, Duku diajak masuk ke dalam ruang tidurnya untuk diminta jasanya. Anak ini cerdas sesungguhnya, pikir Duku. Sayang tidak terarah betul. Terlalu loncat-meloncat segalanya. Dari anak pegawai rendah jurukunci makam, melejit ke ruang-dalam Panglima Besar Mataram. Dan sekarang bahkan di dalam pesanggrahan asmara Putra Mahkota.

Tetap cantik memanglah cantik, Tejarukmi ini. Untunglah pesanggrahan tempat ia dipingit terletak di luar kota; apa tadi, Puri Tejakencana namanya? Lebih tepat Jinjibusan.

Sesampainya di ranjang Tejarukmi langsung merebahkan diri, menangis. Duduk di samping tubuh semampai si wanita yang sebetulnya masih terlalu muda untuk langsung dijerumuskan ke dalam hidup puri yang kejam, Duku hanya dapat menyeka dan membelai insan penuh kebingungan ini. Dengan kata-kata hiburan lembut Duku membiarkan Tejarukmi tuntas menangiskan kegalauannya. Kenyataan ternyata hanya seperti emas fajar dan berlian embun, lekas menguap warna dan kilaunya. Pesanggrahan nyatanya penjara, dan para penjaganya berhati dingin. Terasa kegersangan warangan cemburu atau sikap menghina terhadap wanita ayu muda yang baru datang terpilih sang kuasa, tetapi yang mereka nilai tidak lebih dari penzinah rendah belaka. Untuk pulang ke Wiragunan Tejarukmi sangat takut, karena merasa salah, dulu tidak sangat melawan, untuk tidak mengatakan mempermudah pelaksanaan penculikan.

“Apa yang harus saya perbuat, Kakak?”

Terkaca-kaca Duku mendengar sebutan Kakak dari wanita malang ini. Ah, mengapa orang-orang kelewat tua seperti Wiraguna itu masih tega mengambil seorang anak jadi istri selir? Sehingga anak terlalu mudah tergoda oleh tolok perbandingan tak wajar yang pasti datang dari setiap pria serba bergaya yang masih muda. Segala yang tak wajar akhirnya mengundang pembalasan. Lebih tepat: gerak pengimbang yang berniat memulihkan guncangan keselarasan. Apakah tidak lebih baik untuk jujur saja?

“Adik Tejarukmi, bisikkan dalam telinga kakakmu. Siapakah sebenarnya yang kau ikuti, seandainya kau bebas memilih?” Heran bercampur takut sang Teja memandang kepada Duku, seperti takut terkena jebakan.

“Aku takut mengatakannya,” katanya terlalu bloon.

“Apakah kaukira Kak Duku akan mengkhianati Dik Tejarukmi?”

Dia menggelengkan kepalanya. “Aku serba salah,” tangisnya. “Jika aku katakan cinta pada Pangeran Mataram, Teja dipersalahkan berzinah.”

“Kalau Adik katakan, setia kepada Wiraguna?”

“Teja akan dibunuh di sini. Jangan itu dikatakan Kak Duku. Teja akan dibunuh.”

“Tetapi hatimu lebih condong ke Pangeran?”

“Apa yang harus kukatakan, Kak Duku? Beliau pria yang pandai dan mempesona. Tetapi kan dilarang berzinah?”

“Dik Teja, sayang, Kak Duku tidak omong tentang berzinah atau tidak. Hanya, hatimu sebetulnya ingin kau berikan kepada siapa? Kepada Putra Mahkota?”

Tejarukmi diam saja. Mukanya bahkan dibenamkan dalam bantal.

“Kepada Tumenggung Wiraguna?” Langsung dia geleng-gelengkan kepalanya. Sekarang giliran Duku untuk diam. Kalau sudah begini kan sudah selesai sebetulnya soalnya. Apa guna menculik wanita hanya untuk dipenjara lagi. Bisa gila. Berbisiklah Duku khusus lirih dalam telinga Tejarukmi.

“Jadi kau sudah memilih Pangeran Aria Mataram?”

Wanita muda itu menegakkan diri dan menjatuhkan kepalanya dalam dada Duku.

“Kak Duku, Teja telah bersalah main-main api dengan Pangeran itu. Tetapi hati Teja sebenarnya telah diberikan kepada seorang bintara muda yang pernah menolong Teja. Tetapi ini jangan diceritakan. Nanti adikmu dibunuh oleh Pangeran Aria Mataram. Dan dia juga.”

Tidak menyangka sama sekali Duku akan mendengar pengakuan wanita muda seperti itu. Ya Allah, riwayat kodian yang sama selalu. Gadis bercinta murni dengan pahlawan hati. Dihalang-halangi oleh kaum yang lebih berkuasa. Mengalah apa boleh buat. Kemudian berpetualang asal senang. Kecelakaan. Menyesal terlambat. Lalu? O Teja, Teja, secantik kau, semuda ini, apa santapanmu akhirnya? Darah dan ketakutan. Apa yang masih mampu Duku lakukan bagimu, Tejarukmi?

“Maaf, Teja, Duku boleh tahu siapa pemuda cinta murnimu?”

“Dia salah seorang bangsawan buangan dari keluarga Tepasana. (Tepasana dari Taji?) Ya, dari Taji ayahnya. (Oh, saya kenal beberapa orang dari keluarga Tepasana yang di Taji itu.) Ya, keluarganya dibuang ke Taji karena pernah ingin memberontak. Lalu diserahi tugas di Segarayasa.[1]) Ah, Ni Duku, untuk apa dikenang lagi, salah seorang putranya pernah menolong Tejarukmi ketika hampir tenggelam di Opak. Adisana, ya, Adisana nama dia. Tetapi maafkan, Ni Duku, ia hanya pemelihara ternak dan penjaga miskin pintu air Segarayasa. Teja mengakui, sungguh salah Teja dulu mau dibujuk masuk puri Panglima Mataram. Tak menyangka begini jadinya.”

Duku bernapas panjang. Lakon kodian, dengan Banowati[2]) sebagai wayang utama.

“Di mana rumahnya?”

“Pokoknya juru penjaga pintu air Segarayasa. Orang di sekitar sana kenal dia. Tetapi mungkin Mas Adisana sudah lupa pada Tejarukmi. Apalagi sekarang saya sudah begini. Ah, sepantasnya dia harus lupa.” Meleleh lagi wanita muda belia ini pada dada Duku.

Jangan! Ya Allah, jangan! Doa Duku dalam hati. Jangan lagi terulang riwayat Rara Mendut. Sudah cukup. Lebih dari cukup bahan yang perlu diketahui Duku. Cukup? Apa arti cukup di sini selama Tejarukmi masih ditawan? Terasalah betapa sedih orang yang sadar tak cukup mampu untuk menolong orang lain. Perlu perbincangan dulu dengan Slamet.

“Kak Duku, mengapa tergesa-gesa ingin pulang? Tejarukmi sangat kesepian di sini. Kak Duku jangan pulang dulu.”

Tetapi bagaimana mungkin. Berat dan tersayat-sayat di hati, Duku terpaksa meninggalkan Tejarukmi yang lemas hanya dapat menangis di sutra ranjang. Cium terakhir ditinggalkan Duku kepada remaja penderita ini. Belaian terakhir. “Sampai bersua lagi, Adikku.”

Diterangi sinar bulan yang menjelang penuh, dua orang pria-wanita naik kuda yang berjalan santai. Kira-kira dua puluh langkah di muka mereka seorang pria tegap berkuda pula dan dengan jarak yang sama, seorang lagi berkuda di belakang.

“Jalan buntu! Semakin kutimbang-timbang semakin surut harapan,” kata Duku tiba-tiba memecah kesepian, sebab sudah berapa lamakah mereka hanya diam berdampingan saja.

“Ya, rupa-rupanya buntu betul,” gema sedih dari Slamet. Diam sejenak.

“Bagaimana kalau kita temui pemuda Adisana itu?” usul Slamet.

“Dia diharapkan membebaskan Tejarukmi? Mana berani.”

“Kita tolong. Akan kusediakan perahu kecil. Seperti Pestih dan jika dulu mereka bersamaku, mereka dapat lari lewat laut. Tanpa meninggalkan bekas.”

“Uuuuh, teliksandi Mataram di segala sudut. Dan lagi, apa Tejarukmi ini sanggup bertualang?”

“Sudah sekian banyak pekan berlalu, tetapi Pangeran Aria Mataram masih saja belum diizinkan bertemu muka dengan Ayahanda Susuhunan. Mumpung dia masih menjadi kepompong di tempat Kiai Guru-nya, kita cukup bebas berbuat sesuatu.”

“Tetapi bagaimana dengan Lusi, Mas?”

“Ah ya, memang betul kau, Nduk.”

“Seandainya Lusi sudah dapat berlari-lari sedikit, aku berani ikut, Mas.”

“Jangan. Jalan lain barangkali masih ada.”

“Saya ingin tahu, pemuda macam apa si Adisana itu.”

“Apa kita membelok saja ke Taji?”

“Di pintu air Segarayasa rumahnya. Kita harus ke Kerta dahulu, lalu ke Plered, cukup jauh bila menunggang kuda kate seperti ini.”

“Jangan. Kita lapor dulu ke Putri Arumardi. Dengan kuda-kuda yang lebih gesit dan cepat kita lebih aman.”

“Baik. Tetapi tidakkah kita sekarang dapat lari lebih cepat? Rasanya sampai kiamat pun kita belum akan sampai.” Maka dipaculah kuda-kuda mereka. Lusi, Lusi! Jangan menangis. Ibumu sebentar lagi sudah pulang. Dengan Bapak. Bapakmu!

Tentulah si Lusi kecil yang merasa ditinggal kadang-kadang menangis bila terasa, ada sesuatu yang biasanya muncul sebagai penjamin rasa aman, damai, nikmat, kok tidak kunjung berkunjung. Yang sekarang sering menggendongnya memberi kenikmatan juga, tetapi yang biasanya itu, yang dulu itu … dan menangislah Lusi, si Denok elok, si Menuk mlenuk.

Namun lebih menangis lagi Tejarukmi sesudah ditinggal Ni Duku. Sampai sekiankah kenyataan asmara gempar yang dulu pernah ia impikan? Hanya satu malam yang pertama itu ia benar mabuk asmara nikmat dan meledaklah segala impian simpanan remaja tentang ksatria agung, yang takjub ia kagumi di atas kuda Parsi-nya, di tengah ratusan ribu rakyat, para ksatria dan para tumenggung, adipati. Gagah gesit bergairah dia berlomba dengan priagung perdana di seluruh Kerajaan Mataram. Dan dari lautan manusia, dari sekian ribu gadis dan wanita sampai yang paling ningrat sekali pun, dialah Tejarukmi, yang terpilih. Siapa tidak akan mongkog bangga, siapa tidak akan merasa di surga ke tujuh sebagai ratu bidadari, selaku Sembadra yang ternilai paling mutiara oleh Arjuna sang Tampan sakti sarat martabat? Kemudian penculikan yang menegangkan namun justru nikmat itu. Meneguhlah rasa diingini, dihausi, mengenyami nikmat direbut, dihargai lebih dari biasa, ah menggelembung siap buah-buah dadanya yang bangga membusung. Kasar keras caranya. Dan anehnya, justru mirasa[3]) penggarapan seperti itu. Tak pernah terduga, tak pernah termimpi bahwa itu mungkin. Naga macam apa menyembur-nyemburkan api ke mulut dan rongga Tejarukmi? Lagi, Tejarukmi tentulah ingin berdandan, tetapi anehnya, menjengkelkan, dayang-dayang tua memohon, jangan. Rambut terurai, kain sobek dan wajah memalukan. Tidak, tidak perlu. Bagaimana nanti bila Putra Mahkota datang? Para dayang itu hanya diam. Membawakan minuman arak dan kue, dan gula-gula berlimpah mereka. Tetapi pintu kemudian dikunci. Hanya api selusin pelita yang menjadi teman, seperti sekian lidah-lidah lapar anak-anak naga. Arak terminum banyak, kemranyas menghangat di dalam, ya di dalam. Mungkin karena lelah dari segala ketegangan hari Setonan itu, Tejarukmi tertidur setengah telanjang tak keruan tak peduli, begitu lelah dan kantuknya.

Kemudian, kemudian, entah pada kentongan keberapa bangunlah Tejarukmi mendadak… tidak sendirian… kemudian, aduhai inikah beliau sang Pahlawan alun-alun utara dan impian Banowati? Bukan seperti yang digambarkan para dalang, tetapi seperti Setonan itulah ternyata cara karonsih Raden Mas Jibus. Serba bergelora kuda dan serodokan tombak tumpul, teriring gegap-gempita puluhan gugusan perangkat gamelan perunggu yang nyaris memecahkan telinga, serba bergebrakan badai dan sabetan tajam pacu yang menghalilintarkan saraf, baik dari kuda perang maupun penunggangnya. Dunia kuda lelaki yang meringkik dan membuih di mulut yang menerjang, yang memburu, yang menggertak, yang akhirnya menggerebek bertubi-tubi. Ah, rasanya Tejarukmi seperti Baginda sendiri yang menjadi lawan tangguh dari Putra Mahkota, tetapi akhirnya rela dan senang mau ditombak. Biar biadab dan liar golak gelut gulung geli, dahsyat tetapi nikmat saling sembur-menyembur seperti barangkali pergulatan antar naga yang bertungku api di jerohan, menyala-nyala di mulut, ya sungguh tidak tersangka tidak termimpi, tetapi pernah nyata.

Satu kali, lalu sembilan belas kali itu dialami, dicatat dengan goresan peniti di tepi ranjang. Kemudian hilanglah sang Naga, dan mulailah teraniaya seluruh rongga wanita Tejarukmi. Haus seperti beberapa dayang tua pesanggrahan yang terlanjur keranjingan haus apiun. Dari surga ketujuh terhempas di kuali neraka. Tetapi neraka bukan kawah api luweng seperti yang sering diceritakan para khotib, tetapi kehampaan serba lolos. Seolah-olah seluruh tubuh terurai menjadi onggokan yang terdiri dari sekian juta semut ngangrang.[4]) Tangan, kaki, payudara, perut, rahim, menjadi semut semua. Menangis air mata semut. Makan, makan semut. Ranjang, dinding, lantai, semut melulu. Serba bergerak serba lepas mudah tersibak angin atau sentuhan. Terurai tetapi masih hidup. Hidup tapi terurai. Dan sang Pahlawan menghilang. Merembes juga dalam telinga, kabar bocor, sang Pangeran terkena murka, dienyahkan dari keraton. Adiprabu Hanyakrakusuma selama lebih dari sebulan sudah tidak berkenan keluar; mengunci diri dalam lubuk keramat istana. Tejarukmi sumber malu itu. Bunga menjadi kecoak, yang setiap saat dapat diinjak mecotot. O, Kak Duku! Dampingilah adikmu.

Tak tahan kesunyian, Tejarukmi memerintahkan seorang prajurit berkuda cepat ke Bangkawa Kulon untuk memanggil Ni Duku. Baru beberapa bulan kemudian Duku disertai Slamet dapat memenuhi harapan Tejarukmi, dengan membawa sedikit apiun untuk dayang-dayang prajurit penjaga. Putri Arumardi, yang bersama-sama pulang dari kesempatan peristirahatannya di pantai, meneruskan perjalanan ke ibu kota, dengan memberi pesan khusus agar berhati-hati. Sebab melalui seorang utusan khusus, Nyai Ajeng menulis bahwa payung dan tombak-tombak kewibawaan kehakiman tinggi telah dipasang lagi di pendapa alun-alun selatan. Sudah sekian lama tak ada pengadilan tinggi di istana, yang biasanya dilakukan oleh Baginda Susuhunan pribadi. Jadi, siapa tahu sebentar lagi datang babak baru, dan Tejarukmi dapat lepas. Asal saja Wiraguna tidak terlalu berulah. Sampai malam Duku dan Tejarukmi asyik bercakap-cakap melepas rindu.

Slamet tinggal bersama-sama dengan para abdi penegar kuda. Banyak pekerjaan di kandang kuda dengan sekian banyak pasukan pengawal. Dari para abdi itulah Slamet dapat mencuri berita tentang hal-ihwal istana. Memang benar, rupa-rupanya Adiprabu Hanyakrakusuma sudah mendingin murkanya. Sebab seorang perempuan dari desa di balik bukit Seyegan di wilayah itu, esok pagi hari pada hari Senin akan dibawa ke pengadilan istana. Suaminya menangkap basah si istri sedang berbuat serong dengan seorang prajurit pengawal Puri Tejakencana, dan sudah lama mengajukan perkaranya ke keraton. Baru Sabtu kemarin itulah melalui pak lurah desa, terdakwa dan pendakwa, beserta beberapa abdi dalem puri sebagai saksi, mendapat panggilan ke istana Raja. Jadi rupa-rupanya Susuhunan-ing-Ngalaga sudah berkenan lagi keluar dari pingitan duka amarahnya.

Mendengar itu Slamet bertanya diri, apa gerangan nanti akibatnya bagi Tejarukmi dan Wiraguna? Dianggap selesai begitu saja persoalannya, seolah-olah tidak pernah ada batu jatuh menggoyangkan air kolam? Dikembalikan ke Wiragunan, atau boleh diambil Raden Mas Jibus? Rupa-rupanya kesulitan masih belum tersisihkan. Tetapi dari pihak lain, Slamet agak lega sedikit, karena boleh jadi sebentar lagi soalnya selesai dan Duku bersamanya boleh pulang serba damai.

Ketika ia sedang melamun sendirian, tertelentang di rumput halaman belakang memandang ke bintang-bintang, sesosok bayangan mendekatinya. “Duku, kok kau tahu aku di sini? (Aku tanya tadi. Katanya kau segan tidur di ruang abdi. ) Memang. Tetapi mengapa kau tak tidur juga? (Ingin bersamamu.) Uh, jangan di sini. Dikira apa nanti. ”

Berdua mereka keluar. Kepada penjaga gerbang Duku mengatakan ia ngidam dan berhasrat tirakatan di kedung sungai. Ada-ada saja perempuan hamil kalau sedang ngidam, tawa si penjaga gerbang, dan diizinkannya kedua “penjual apiun” itu keluar puri.

“Kau hamil sungguh?” tanya Slamet heran. “Kok aku belum dengar.”

“Sayang belum, Mas. Cuma dalih saja.”

“Oh, akalmu sih ada saja.”

“Habis. Sebetulnya tidak bohong melulu itu, Mas. Sebab Duku benar-benar ngidam. Ngidam ingin menghirup udara bening. Tejarukmi sudah tertidur. Biarlah anak itu, kasihan. Tetapi sehari mendengar keluh-kesahnya, Duku capek juga, Mas. Mosok, hidup kok cuma derita dan takut, pahit, getir, kecewa, putus asa melulu. Saya takut Duku ikut terkena racun kesesakan dari suasana lingkungan si Jibus ini. Maka kupikir, ayo keluar sajalah, menghirup udara bening, menikmati Bengawan Serayu di angkasa. Mas kan suka kita keluar sebentar ini?”

“Ya, sama sajalah.”

“Tadi saya pun pikir-pikir: berbaring bersama-sama kuda-kuda lebih bahagia.”

“Aduh, celaka amat, aku dianggap kuda?”

“Nah, kadang-kadang begitu, apa salahnya?” Dicubitnyalah suaminya.

“Kalau itu yang kau sukai, boleh, bolehlah….”

“Nah Mas, malam ini kita bersepakat: Tidak ada makhluk yang namanya Tejarukmi atau Jibus atau Wiraguna.”

“Setuju. Arumardi?”

“Juga tidak ada?”

“Bendara Pahitmadu?”

“Tidak ada. Tidak ada semua.”

“Lusi?”

“Lusi? Lusi… eh… juga tidak ada… sementara.”

“Siapa lalu yang ada.”

“Slamet,”

“Dan Duku?”

“Kalau masih suka.”

Bintang-bintang Bima Sakti, intan-intan padatan rahasia semesta bengawan kehidupan dan bulan yang baru bercahayakan janji, masih malu-malu untuk bulat mewahyakan diri, kalian saksi perestu kisah Slamet dan Duku. Berbahagialah bersama dua orang anak rakyat ini, yang masih mampu menghargai kemewahan berkandang langit berselimut awan-awan tanpa cemburu kepada kaum mewah. Biarkan mereka sendirian di gubuk tengah sawah, menikmati lautan kunang-kunang, berkawan kodok dan jengkerik. Agar redalah hari serba ketakutan, sampai damai kembali seperti nun kala sang Kamajaya memangku Dewi Ratih; ketika sang Bima menemukan makna perjumpaan dengan Dewaruci.

——————————

[1]     danau buatan di Sungai Opak

[2]   istri Suyudana, raja Astina dalam lakon Bharatayuda yang tak henti-hentinya mencintai Arjuna

[3]     lezat sekali.

[4]     jenis semut yang panas sekali gigitannya

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Telah Terbit on 16 Mei 2015 at 01:13  Comments (103)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/trilogi-yb-mangunwijaya/genduk-duku/trackback/

RSS feed for comments on this post.

103 KomentarTinggalkan komentar

  1. Episode pertama Genduk Duku telah diwedar

    silahkan berburu rontal dan bergojeg dan berburu rontal sebagaimana bertahun yang lalu, ketika masih menjadi cantrik aktif di padepokan ini.

  2. test…..
    kenapa komen saya tidak bisa masuk daftar komen?

    Hadu….
    kenapa ya?

  3. Grotal-gratul, grayah-grayah

  4. Serasa seperti nyantrik pertama kali, lupa cara nyarinya

  5. ToPan Siap Hadiiirŕ Pakde Satpam. Apa kabar Pakde Satpam dan Eyang Arema ?. Semoga Selalu Sehat dan Banyak Rezekinya Amiiiin.

  6. Pakde Satpam. Kalau pake android apa bisa dicari dan download ya. Sudah berkali kali di plototi di ubek ubek kok ra ketemu ya hahahhhhhh

    • Sugeng enjang . . . Selamat pagi, Ki Adji.

      Saya tadi sudah mencoba di hp dan tidak bisa Ki, kecuali kalo di hp Ki Adji ada djvu nya, baru bisa dibaca, karena formatnya djvu, bukan pdf bukan pula ms-word.

      Kalo soal rontal diumpetin dimana sama Anakmas Risang, Ki Adji saya kira sudah pengalaman tahunan . . . he he he, tlateni ae suwe-suwe rak ketemu . . . gampang kok, gak susah.

  7. Assalamu’alaikum wr wb
    Salam sejahtera buat kita semua.
    Alkhamdulillah telah kita mulai lagi mengangkat kisah cerita anak bangsa berupa Novel Serial Roro Mendut.
    Serial karya budayawan YB Mangunwijaya ini berkisah tentang kejatuhan martabat seorang ksatria perang, seorang Tumenggung di Zaman Pemerintahan Kesultanan Mataram Era Sultan Agung Hanyokrokusumo.
    Seorang Panglima Perang yang sangat disegani oleh teman dan lawan ini yaitu TUMENGGUNG WIROGUNO, tergelincir hanya karena kecantikan seorang wanita rakyat biasa, RORO MENDUT.
    Sayangnya sang perawan jelita tidak bersedia disunting oleh Ki Tumenggung dengan tawaran hidup kamukten. Ia lebih memili mati bersama kekasihnya PRONOCITRO, seorang nelayan dari pantai utara.
    Kisah tragis di atas berlanjut dengan sebab dan akibat dari peristiwa tersebut di buku kedua dan ketiganya yg sudah dapat diikuti disini.
    Tapi yang justru menarik adalah latar belakang sejarahnya. Banyak yang sangat awam dengan sejarah Mataram di Era akhir Sultan Agung yang digantikan oleh putra mahkota Sunan Amangkurat I, yang dikenal brutal demi menuruti ambisinya yg gemar melahap betis indah. sampe demi menutupi kebobrokannya, dia tercatat telah membantai ratusan Kiai dan Santri di jamanya. Bagaimana jalan ceritanya, temukan di serial novel ini.
    Hanya sayang sekali, Genduk Duku ini sudah Seri II. Buku Seri I berjudul Roro Mendut, belum ditemukan dalam koleksi. Sedangkan mencarinya di luar sangat jarang diketemukan.
    Apabila diantara sidang pembaca ada yg memiliki, atau kebetulan menemukan di toko buku. mohon perkenan untuk di informasikan di sini.
    Mohon judul di atas bukan APDM, tapi RORO MENDUT, novel serial sejarah YB Mangun Wijaya.
    Monggo.

  8. Assalamu’alaikum Wr Wb,
    Salam sejahtera untuk kita semua,
    Selamat pagi . . . Sugeng enjang,
    Sanak kadang adbm semua . . . .

    Anakmas Risang kok teganya-teganya menyanyi . . . he he he.
    Sementara kadang yang gak sabaran maunya cepet membaca, ingak-inguk rana-rene, nang endi leh ndekek rontal.

    • kok komentare menunggu moderasi,
      ra entuk mlebu po ya . . . . . hiks.

  9. Pasti bisa…hik..megkuh titik noda itu…

  10. mantappppp….. tinggal cari roro mendutnya…

  11. Nunut ngiyup Ki ….

  12. Roro mendutnya di bawa lari pronocitro Ki … Salam buat poro Empuh2 Adbm/Pdls …

  13. Wis di ubek2 ora ketemu .. Klau PC cepat klau Hp apa bisa ya … PakLik Satpam mohon bantuannya ..

  14. Ho android juga bisa ki….titik bernoda kata mas satpam…hikkk tidak boleh menyerah

  15. Sugeng sonten Anakmas Risang

    Lha wong episode 2 sudah wedar dari tadi, po ya belum ada yang ngunduh . . . he he he.
    Mungkin sanak kadang perlu bahasa sasmita dari P. Satpam, memang diperlukan ketelitian dan kejelian.

    Sanak kadang sedaya . . . mangga episode 2 sudah gogrok, tinggal ngunduh saja.

    • Sugeng sonten Panembahan
      he he he …., kala wau kesupen terus buru-curu wedaran, lan terus nglanjutaken tugas malih.
      ngapunten…

  16. Hiks…..mas Satpam

    • kata bang haji mas Satpam…terLALU

      • he he he …..
        gandok dimanapun kalau tidak ada Ki Menggung Gembleh dan Ki YP, kayaknya bagaimana…. gitu.

        Monggo Ki

        • Betul Lik Satpam… seperti lontong balap tanpa lontongnya…

          • Betul ki AM….
            Seperti motor balap tanpa motornya

  17. Pusing…
    bagaimana memunculkan komentar terakhir dalam daftar

    mohon pencerahan

    • Lho….mas satpam kePUsingan toh

      Cantrik kira memang sengaja tidak
      mas Satpam tampilkan

      • Gampang mas Satpam…hiks

        Kirim panah sanderan nti cantrik
        bantu dari ujung wetan

  18. Alhamdulillah lagi bisa mlebu senthong sebelah sini…

    lampune masih mati, sehingga harus meraba-raba mencari rontal ala genderuwo picek… semoga pas ‘meraba’nya…

    • Ketemu ki AM….bukan hanya diRABa
      zoom juga perlu ki, saestu

  19. nakmas satpam apa eps.3 siap digrayah ?

    • likmas Satpam apa eps.4 siap diwedar?

      • dereng, mbenjang enjing

    • sampun …..

  20. Alhamdulillah wis gak usum duku nanging iso moco Genduk Duku semudah memijit wohing ranti.

    • Selamat malam mas Satpam… 🙂

      Selamat menyiapkan wedaran rontal
      lanjutan.

      • di padepokan sini….cantrik siap
        bertanding lawan mas Satpam

        Kuat mana yang baca apa mas Satpam
        yg nyiapkan rontal

        • hayoo,,,,,,,,,

          • Priit…format text mas Satpam

            • yg kalah angkat
              tangan kanan.
              tanda kiri cukup
              masukan saku
              belakang 🙂 🙂

            • Kudu sesuai jadwal no Ki Menggung.

              • Jadwal ber-
                kunjung

                • J
                  A
                  D
                  W
                  A
                  L

                  A
                  M
                  B
                  I
                  L

                  J
                  A
                  T
                  A
                  H

                  R
                  A
                  N
                  G
                  S
                  U
                  M

              • Monggo
                lha wong wis ket mau kok
                he he he …..

  21. Episode 5….belum ada cantolan
    Episode 6….masih dalam penggorengan

    Episode 7….belum diracik mas Satpam
    Episode 8….nunggu antrian wedar

    • Usul mas Satpam,

      Wedaran rontal nunggu pasukan OGrog
      pada ngumpul ng padepokan.
      Tahan dulu wedaran sp cantrik mentrik
      kemringet ngiler rontal lanjutan.

      Ini tadi usulan ki Trupod sesepuh
      padepokan….ki gundul sakdermo
      menyebar luaskan

      Saestu…TENAN

    • 5 wis kok

      • 5 wes nyantol….tinggal srondol

        • Matur nuwun mas Satpam

          • Nti malam cantrik kancani
            Melek-an

  22. Absen dulu aahh…..

    Baru kali ini mbuka gandok Genduk Duku, karena berbagai hal..
    matur nuwun sanget Pak Satpam, Bopo Panembahan, dll atas peluncuran rontal yang baru

  23. selamat siang

  24. Episode 5 : djvu dan pdf

    teks belum dimunculken

    • pelan2 mas Satpam…ga usah terburu
      buru pasang “teks”

      yg penting wektu cantrik sambang lgi
      nanti “teks” sudah dicantolkan…hehe20x

      • Malam mas Satpam

        • Hadir…sambang padepokan

          • he he he …, monggo…..

            • Hehehe…matur
              nuwun mas Satpam

              • Sugeng
                Dalu

  25. Hadir….mas Satpam

    • Sugeng dalu kadang genduk DUKU

      • Otw padepokan sebelah sengkaling

        • loh…, padepokan sebelah Sengkaling yang mana? UMM, UIN, Polres?

  26. HADIR…..mas Satpam

    • monggo….
      penghuninya di sini hany Ki menggung sendiri
      satpam juga jadi males piket disini
      he he he he he he he he he he (lama lama tidak terdengar)

      • Males….pertanda belom makan
        mas Satpam…kleru Mules ding.

        AYO SEMANGAT…mumpung yg
        laen pada belom datang.

        • berDUA…..sapa takut 🙂 🙂

          • AYO mas SATPAM….kita buat padepokan megah.

            Megah : menawan gagah
            tur bikin betah para wanita
            seluruh tlatah jawa 🙂 🙂

  27. HADIR….sugeng dalu

    • mas Satpam….kemana kah panjenengan

      • cantrik dewean….ENAK tenan

        • urun saran….kenapa komen di genduk duku tidak nampak pd

          KOMENTAR terakhir padepokan
          ini mungkin yg bikin gandok jarang ada yang singgah padepokan

          • masa sih mas Satpam ga
            bisa otak atik membetulkan

            • Sampe judeg Ki, tidak berhasil.
              Masih dicoba otak atik lagi.

  28. Alhamdulillah, terima kasih mas
    Risang, tau tau sdh episode 8.
    Apa mas Risang sdh baca ceritanya?
    Latar belakang sejarahnya menarik, yaitu awal mula kita bersentuhan dengan barat secara langsung, dan juga kedzoliman Amangkurat 1yg jarang diangkat ke permukaan.

    • Sambil konversi dan edit teks Ki, satpam sempat baca.

  29. Njlekethek,
    setelah hampir putus asa, akhirnya ketemu penyebab tidak munculnya komen terakhir.
    Hadu…..
    Bobo ah….

  30. Wah…jebul saya ketinggalan….padahal yang cepat dapat yang lambat ketinggalan….Sugeng sonten sedoyo…!

    • benul ki Karto….yg cepat dapat duluan
      yg lambat sabar nunggu dum2an

      • Benur..Ki Tmg.YP..ngantri..

        • Ngantri sebentar….pas dibelokan cantrik serobot antrian,

          • Ati2 Ki Menggung….keseringan nyrobot ntar…bengkong lho 😀

            • Bengkong sekali kali asik ki Menggung

              BengkongAN…he 50x

              • Selamat malam…..sepi banget

                • S
                  E
                  R
                  E
                  M

                  Hi
                  Hi
                  Hi
                  Hi

              • hem….serem deh 😦

                • Se
                  Re
                  M

                  Me
                  Le
                  K

                  Me
                  Re
                  M

              • Serem…..seneng merem 😀

  31. tes…..masuk komen, komen masuk

    • tes…..yang keluar masuk 😀

      • Sugeng dalu ki Kartojudo

        • Kecipir mrambat kawat…wes suwe ki Karto ora liwat

          • Sugeng manuk..eh..masuk Ki Gundal gandul 😀

            • Hiks…matur nuwun ki Kartojudo

              Suwe ora jamu…jamu pisan godhong kates
              Suwe ora ketemu…ketemu pisan tes testes

              • Hehehe…dak kiro ketemu pisan ketemu….kates 😀

              • Sanes
                kates
                ki….

                kutes
                kusuka
                kates

  32. HADIR…. mendhisiki diri sendiri

  33. he he he ….

    gandok ini sepertinya rumahnya Ki Menggung berdua (KiGundul dan Ki Kartoyudo sendiri)

    • Bener mas Satpam…terkadang kita perlu menyendiri buat mengendapkan serta menenangkan diri dari hiruk pikuk ramainya hohohihi

      • Bener mas Satpam…terkadang kita …merasa sedih

        • Sedih dipagi hari…seneng disore hari

          • Sedih disiang hari….sueneng dimalam hari

            • Sugeng Riyadin Ji Gundul,mas Satpam…..
              maaf lahir batin……..

              • Njih Ki Menggung
                sami-sami nggih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s