GENDUK DUKU

Episode 19

“Bagaimana, Slamet?” tanya Putri Arumardi. “Kira-kira sanggupkah kau?”

Slamet menunduk diam. Akhirnya, “Bila itu memang kehendak Puan Putri, tentulah Slamet sanggup.”

“Aku percaya padamu, Slamet. Tetapi ini sungguh bukan Arumardi yang menghendakinya. Nyai Ajeng yang penting. Apakah Slamet yakin sendiri, bahwa ikhtiar istri perdana Tumenggung Wiraguna ini baik atau tidak? Sepantasnya dicoba ataukah… ya bagaimana?”

“Yang tidak berhak memiliki tentulah tidak boleh menyimpannya pula, Puanku.”

“Ya, itu jelas. Tetapi saya merasa, sebaiknyalah ini kau bicarakan dulu dengan istrimu. Sungguh, Nyai Ajeng-apalagi Arumardi-tahu betapa besar bahaya dalam usaha membebaskan Tejarukmi dari sangkar tahanan di Aria-Mataraman. Oleh karena itu janganlah pertimbangan Nyai Ajeng kau bobot sebagai perintah atau permintaan yang harus kau penuhi.”

“Abdi Puan, Slamet sudah berhutang budi terlalu banyak kepada…”

“Jangan! Saya tidak mau kau bicara begitu. (Maaf, Puanku. ) Slamet dan Duku adalah adik-adik Arumardi. Tidak ada itu hutang budi. Jangan lagi kudengar kata itu, Slamet. Dan sekali lagi, beberapa istri Kakangmas Wiraguna-lah yang mengusulkannya. Hanya karena Arumardi paling dekat dengan kalian, saya disuruh kepadamu.”

“Sudah semestinyalah segala keinginan putri-putri bangsawan yang beralasan mulia menjadi keinginan kami berdua juga.”

“Tetapi ini harus kau bicarakan masak-masak dulu dengan Duku. Bahayanya terlalu besar, walaupun saat ini Raden Mas Jibus sedang remuk terkena amarah Susuhunan ayahnya. Biar. Biar dia merasa bagaimana seharusnya menjadi putra pewaris Adiprabu Hanyakrakusuma yang kesuma budi dalam ulah dan olah. Bicarakan dulu dengan Duku. Nyai Ajeng dan beberapa garwa selir baru pada tingkat berpikir dan menimbang. Belum meminta sungguh. Apalagi memerintah. (Hamba paham, Puanku.) Baiklah kalau begitu. Dan tentulah, jaga rahasia!”

Bersembah dan mundurlah Slamet. Dengan hati berat tetapi tak gentar akan dia tempuh bahaya tanpa ragu. Hanya bagaimana dengan Lusi dan ibunya… ? Sudah bahagia mereka diperkenankan mengenyami lagi suasana kemerdekaan dan damai hati di Bangkawa-Kulon. Si Bayi dan ibunya tampak memekar, dan Slamet sendiri hanya dapat diam tertegun karena begitu bahagia bila melihat kedua kekasihnya berkembang dan memenuhi seluruh jiwanya yang hanya mampu bersiteran tanpa nada dalam hati. Dan sekarang, ah, kejam tanpa sengaja Nyai Ajeng dan garwa-garwa selir itu. Bersyukurlah Slamet, bahwa Putri Arumardi sendiri tidak mendukung gagasan untuk menculik Putri Tejarukmi itu dari tahanan Putra Mahkota. Bukan penculikan sebenarnya, tetapi penuntutan pengakuan atas hak Wiraguna, pengembalian kehormatan dan martabat seluruh istri dan penghuni Puri Wiragunan.

Menggerutu juga sebetulnya Slamet dalam hati. Apa urusannya dia dengan si Kakek pembunuh gadis Mendut yang dulu pernah diam-diam ia taksir itu, ah, nun di kala itu. Cinta monyet, akui sajalah, tetapi indah; dan citra Mendut tetaplah citra kemanisan yang pernah mendorongnya giat bersemangat mempelajari sungguh-sungguh seni karya nelayan dari Kakek Siwa. Nun di kala itu. Tetapi seolah baru kemarin rasanya. Akan omong apa si Duku kira-kira? Sudah reda dia dan dapat sedikit memaafkan Wiraguna karena jujur peng­akuan kesalahannya dalam peristiwa Mendut dulu itu. Hanya sedikit maafnya, tetapi cukup. Namun kadang-kadang, timbul soal semacam Tejarukmi ini, urusan paksaan terhadap wanita, luka hati Duku menganga lagi dan rasa bencinya kepada kaum bangsawan berkobar lagi. Tidak baik sebetulnya luka-luka yang baru saja menutup digores-gores lagi. Dia sudah memperoleh damai dan bahagia dengan si Lusi. Mengapa harus diganggu lagi? Tetapi bagaimana dia harus menjawab Putri Arumardi?

“Untuk apa sih, mereka ribut-ribut sampai begitu? Apa Wiraguna sebagai lelaki, apa lagi Panglima Besar Mataram tidak bisa mengurusi sendiri istrinya?” tanya Duku kesal.

“Aku sendiri tidak mudeng juga. Mungkin dia merasa harus berhati-hati menghadapi Raja.”

“Lalu wanita-wanitanya yang disuruh berlepotan getah dan beliau makan nangka manisnya? Ya ya ya, begitulah lelaki.” Tertawalah Duku. “Kadang-kadang kau begitu juga,” sambil mencubit tangan Slamet.

“Soalnya, kadang-kadang kau sendiri yang memintanya,” tangkis Slamet.

“Apa tak boleh? (Dan manislah senyum kerlingnya.) Mulai sekarang dilarang memanja suami?”

“Ya! Mulai sekarang dilarang. Tetapi larangan itu saya cabut!” Dan dipijatnya hidung Duku di antara jempol dan jarinya. Dibalaslah Slamet dengan pukulan kecil kepal Duku.

“Sudah! Seperti anak kecil saja. Itu, dilihat si Bayi. Tersenyum Lusi kita.”

“Siapa yang mulai, ya Lusi, ya? Lusi, Lusi, Lusiii. Siapa yang nakal? Bapakmu atau ibumu? Bapakmu, ya? Yang nakal siapa, ayo Lusi, Lusi? (Jangan dicium berlebihan begitu, nanti tercekik tak dapat bernapas dia.) Tercekik, tercium, tercekik, tercium, Lusi Lusi Lus, bapakmu Lus, Lus, Lus, cemburucem burucem buru rucembu l, Bapakmu nakal, ibumu gatal. Bapakmu cibut, Ibumu cubit.”

“Bagaimana? Harus menjawab apa aku kepada Putri Arumardi?” potong Slamet karena kelihatan Duku menghindar. Tentu saja dia menghindar, pikir Slamet tak sedikit bangga. Kentaralah bahwa istrinya melekat padanya dan tidak suka kedamaian keluarga diganggu lagi oleh mereka-mereka itu.

“Lus! Ayo, Lus. Jawab bapakmu. Uuuuh! Gendon mata cemplon! Heeeei, ketawa. Ada boneka ketawa. Dari mana, kok bisa ketawa. Siapa yang mengajari? Tu tu tu itu, ketawa sama bapakmu, Ndon. Jangan kepada ibumu saja. Nah, nah, begitu. Itu bapakmu, tahu? Mosok pura-pura tak kenal. Sungguh itu Bapak. Ayo, cium bapakmu. Cium! Naah, naaah, bagus! Begitu! Ayo, ayo digendong sama bapakmu. Lho, lho lho, kok cemberut? Lho, kok mau nangis? Itu bapakmu, dikira siapa? Ya sudah, sama-sama digendong. Lusi digendong Ibu, dan Ibu digendong bapakmu. Ayo, sama-sama. Naah, enak ya digendong ya? Aduuuh, enaknya. Yaaaa, sekarang kau ketawa si Lusi ini. Dan bapaknya ketawa juga.”

Wah, pikir Slamet, ketawa sih ketawa, tetapi kecut juga kecut manislah. Jelas, tanpa kata Duku menyatakan tidak rela Slamet memenuhi permintaan para istri Wiraguna itu. Sebagai suami Slamet bangga, tetapi sebagai abdi yang harus bersifat ksatria?

Mengapa justru suami Duku yang dipilih?

“Kami kan hanya kaum nelayan saja?” tanya Duku kepada Putri Arumardi, sambil menggendong anaknya.

“Untuk tugas semacam ini, bukan otot atau ketajaman keris yang diminta, tetapi kecerdasan. Tetapi janganlah salah paham, Duku-ku sayang. Ini sebetulnya bukan penugasan, sama sekali belum permintaan. Baru seandainya. Seandainya ini dilakukan, apakah kiranya, barangkali, boleh jadi Slamet mau… dan diizinkan istrinya?”

“Ah, Putri Arumardi, kami sudah banyak . berhutang budi. (Berhenti! Jangan omong tentang hutang budi, aku tak mau.) Maafkan hambamu, Putri tersayang, maksud Duku: demi tugas yang mulia Slamet tanggung mau dan berani. Hanya perbolehkanlah Duku dan Lusi ikut. (Masya ‘Allah! Kau dan Lusi? Jangan. Mosok, anak kecil dan ibunya ikut.) Jika boleh bertanya Slamet diutus untuk berbuat apa?”

“Akan kukatakan. Tetapi sini, bolehkah Arumardi menggendong Lusi? (O, silakan, silakan. Lus, Lusi, kau tersenyumlah. Putri yang paling budiwati di seluruh Mataram akan menggendongmu. Ayo! Tersenyum! Nah, begitu. Biar kau jadi budiwati juga seperti beliau.) Aduh, kok berat ya anakmu. (Mungkin karena tulang-tulangnya dari seorang nelayan.) Oh, nelayan kan ringan. Agar tak mudah tenggelam. (Jangan-jangan tulang ibunya yang berat.) Nah, kalau itu, aku percaya. Penunggang kuda yang terlalu ringan mudah terpental terbawa angin. (Ah, pintar sekali Putri Arumardi berkelakar. )”

Tersenyum Putri Arumardi memandang dalam ke bayi dalam pelukannya, lalu kepada ibunya.

“Semakin kembar dengan kau, Nduk, anakmu ini„

“Ah, mana ada ibu kembar dengan bayi.” Tertawalah Duku pura-pura tidak setuju tetapi dalam hati senang.

Tetapi Putri Arumardi kini suram serius.

“Begini, Nduk, kau kan tahu bagaimana Kakangmas Tumenggung terkena amarah Susuhunan. Ah, sebetulnya semua, semua terkena amarah. Mungkin hanya Tumenggung Singaranu saja yang tidak. Tidak sedikit petinggi dan perwira dari puri Putra Mahkota dihukum mati, karena mereka terlibat langsung dalam rencana dan pelaksanaan penculikan. Untung dulu itu Slamet dapat bersembunyi. Tumenggung Danupaya dilepas dari jabatannya selaku patih, dan Tumenggung Sura Agul-agul bukan panglima lagi.”

“Tetapi salah apa mereka?”

“Ah, biasa. Mereka dimintai nasihat Kakangmas Wiraguna.”

“Juga Pangeran Alit?”

“Ya, ternyata beliau juga. Kami di Wiraguna baru tahu dua pekan yang lalu. Kakangmas Wiraguna merahasiakan semua itu, sih. Tetapi sekarang akhirnya semua bangsawan tinggi tahu. Pangeran Alit-lah yang menyampaikan berita sedih tentang kelakuan Pangeran Aria Mataram. Tetapi malah terkena marah, didakwa Baginda, Pangeran Alit mau menjelek-jelekkan Pangeran Aria Mataram agar beliau sendiri dipilih menjadi putra mahkota yang lebih pantas daripada Raden Mas Jibus.”

“Ah, kasihan juga beliau. Mungkin kurang pintar cara pengaduannya.”

“Ya, memang kasihan Pangeran Alit ini. Orang baik hati, tetapi justru karena itu beliau terlalu cepat dan jujur bergerak langsung. Sayangnya, Pangeran Alit mudah terbakar perasaannya dan kurang cerdas.”

“Pilih mana, Putri Arumardi: pilih raja yang baik hati tetapi kurang cerdas, ataukah raja pintar tetapi penyambar perempuan.”

“Huss! Kau ini kalau omong! Seperti di tengah sawah saja. Kalau disuruh memilih, Arumardi memilih Ni Duku sebagai Susuhunan-ing-Ngalaga Mataram.”

“Aduh, minta ampun, Putri Arumardi. Duku senang jadi istri nelayan, dan penegar kuda sajalah, asal boleh aman tenang membesarkan Lusi.”

“Lusi-mu ini kelak akan menjadi Srikandi, percayalah. Lho, lho, eeh ingin pulang ke ibunya. Saya ini juga ibumu lho, Lusi. Ya sudah, belum mau dia. Aduh, kalau sudah tidak mau, benar-benar tidak mau Den Ayu kecil ini. Nah, pulang, pulang ke ibu Duku. Cup!”

“Ibunya lebih senang ia jadi orang biasa saja di pantai begini,” kata Duku sambil menerima kembali anaknya. “Uuh! Anak nakal. Jadi apa kau kelak nanti? Srikandi atau Srikendil?”

“Sudah, kita tidak boleh mendahului- pepestening para jawata.[1]) Yang diharapkan, nah, yang sedang dipikirkan Nyai Ajeng sebetulnya hanyalah: menjajagi. Bagaimana sebetulnya kehendak Aria Mataram itu. Sekarang beliau ini kan sedang tirakatan keras. Puasa dari segala yang nikmat. Makan-minum hanya nasi putih dengan gereh, tempe godog tanpa garam, paling pol sambal tanpa trasi. Minum hanya air bening atau air degan. Tuwak tidak, arak tidak, pantang dan puasa.”

“Pura-pura saja atau bersungguh-sungguh?”

“Ya, mana kami tahu. Yang jelas, sekarang beliau meguru, belajar mengolah kebatinan pada Kiai Guru-nya sejak beliau masih anak-anak.”

“Apa dulu si siswa juga mendapat pelajaran memburu perempuan?”

“Husy! Kau ini, Nduk. Omongmu. Omongmu!”

“Maaf, Putri Arumardi. Tetapi Duku tak habis heran, beliau kan sudah punya wanita banyak. Bahkan Putri Pangeran Pekik dari Surabaya pun sudah diangkat menjadi permaisuri beliau. Mau apa lagi?”

“Ada tiga macam wanita, menurut almarhumah Ni Semangka. Masih ingat?”

“Oh, Ni Semangka, kitab-ajar dalang yang hidup. Masih ingat. Tentu masih ingat. (Nah, pertama?) Pertama: wanita jamang mustaka.[2]) (Artinya?) Hiasan, penjunjung martabat suami. Ratu, penjamin tahta kedudukan. Seperti Nyai Ajeng.”

“Ssyt! Jangan sebut nama. Yang kedua?

“Wanita guling gulung.[3]). Artinya… (Yang ketiga!).

“Wanita Sri-Sadana,[4]) wanita sahabat.” “Nah, mungkin beliau baru punya yang pertama dan yang kedua.”

“Siapa mau bersahabat dengan…”

“Sudahlah, Nduk. Serahkan itu kepada Kiai Guru beliau.”

“Betulkah Raden Mas Jibus (Aria Mataram! Bukan Jibus lagi!) memang meguru sekarang? Istri-istrinya lalu ditinggal?”

“Mungkin hanya selama tirakatan ini. Tetapi istri perdana Tumenggung Singaranu pernah berbisik kepada Arumardi, bahwa sejak peristiwa satu itu dilaporkan ke Susuhunan, sejak itu Pangeran Aria Mataram tidak pernah mau lagi bertemu muka, jangan lagi karonsih dengan wanita siapa pun.”

“Apa ada perintah dari Ayahanda?”

“Sukarela, menurut yang saya dengar.”

“Jangan-jangan hanya untuk mengambil hati Susuhunan… ?”

“Tidak mustahil. Tetapi itu urusan beliau. Yang penting bagi kita hanyalah…”

“Tejarukmi tentu saja?”

“Ya, kau sayang padanya, bukan?”

“Pada pandangan pertama. Tetapi pada pandangan selanjutnya… ?”

“Memang anak itu masih terlalu mudah digoyangkan angin. Tetapi kita dapat menolongnya.”

“Kalau Putri Teja mau ditolong.”

Diamlah Putri Arumardi. Betul juga si Duku ini. Mungkinkah Arumardi tanpa sadar telah terseret juga ke dalam penalaran yang pada dasarnya tidak berakar pada niat menolong Tejarukmi, tetapi pada nafsu ingin menjaga nama dan kehormatan Puri Wiragunan? Tetapi apakah menjaga gengsi suami itu keliru? Menurut adat ningrat itu bahkan kewajiban. Demi yang benar atau salah tak peduli. Dari percakapan, sebetulnya Arumardi sudah dapat tanggap ing sasmita,[5]) bahwa Duku dan Slamet segan mempertaruhkan nyawa hanya untuk membuat senang sebuah puri bangsawan. Apalagi demi Wiraguna yang pernah membunuh pujaan dua orang itu. Akan membawa jawaban apa Arumardi untuk Nyai Ajeng beserta kakang-kakang mbok lainnya? Ah, barulah terang sekarang bagi Arumardi, betapa kejam, paling tidak kurang peka rasa kaum Wiragunan terhadap Slamet, Duku, dan Lusi. Apakah udara terkungkung di antara tembok-tembok perkasa selalu membuat penghuni setiap istana tertembok juga menjadi kaum yang tak tahu seluk-beluk kebijaksanaan yang lebih manusiawi? Sedangkan Duku yang banyak dan suka menghirup udara kemerdekaan padang dan laut akhirnya lebih arif dalam melihat inti perkara?

Melihat puan tersayangnya kelihatan bingung, Duku merasa kasihan juga. Bagaimana menolong Putri Arumardi? Tentulah beliau itu terhina oleh ulah Putra Mahkota yang memalukan itu, walaupun dalam banyak hal beliau bukan kaum swarga nunut neraka katut dari suaminya. Bagaimanapun, menurut adat terhormat dan keramat, Tejarukmi diperoleh Tumenggung Wiraguna secara sah.

“Putri Arumardi, keberhasilan ikhtiar Nyai Ajeng untuk membebaskan Putri Tejarukmi seluruhnya tergantung pada tanggapan Putri Tejarukmi sendiri. Pada sikap ingin bekerja-samanya. Tanpa itu kemungkinan banjir darah tak akan ada batasnya. Dan mungkin sekali Putri Tejarukmi sendirilah yang menjadi korban. Oleh karena itu, Putri Arumardi, sebaiknyalah kita menyelidiki dulu, ke mana sebenarnya Putri Tejarukmi ingin pergi. Sebelum kita berbuat sesuatu yang kelak kita sesali sendiri. Mohon pertimbangan, Putri Arumardi.”

Diam penuh sayang istri Wiraguna itu memandang wanita muda di mukanya. Matang terbentuk oleh badai dan gelombang waktu, wanita yang dulu hanya disebut si Genduk ini. Senyum disusul kecupan. Balasan pipi kepada pipi.

“Nanti Duku sendiri yang ke sana, Puanku sayang. Duku sendiri,” bisik Duku di telinga Arumardi. “Wanita-wanita tingkat tumenggungan jangan dulu menangani langsung. Serahkan kepada hamba dan suami hamba.”

Kata tanggapan belum mampu terlahir oleh mulut istri terbaik Tumenggung Wiraguna itu, tetapi pipi dan jari-jemari, mata dan tetesan embun darinya mampu mengungkapkan restu. Sekarang Arumardi yakin, bahwa rencana Nyai Ajeng sungguh terlalu berbahaya. Persoalan sudah terlanjur diletakkan langsung dalam tangan Susuhunan. Tanpa sepengetahuan Raja, segala tindakan yang keras dan menghebohkan pasti hanya menambah amarah singgasana. Danupaya dipecat, panglima lasykar, Sura Agul-agul, disingkirkan, dan putranda sendiri, Pangeran Alit, dipanahi kata-kata keras di muka umum; begitu pula Panglima Besar kerajaan. Padahal justru Wiraguna-lah yang paling terkena hinaan. Namun lega semualah, Putra Mahkota pun cukup keras mendapat hukuman. Dua puluh orang pembantu dekatnya dibunuh. Bahkan untuk waktu tak terbatas Pangeran Aria Mataram harus enyah dari penglihatan Baginda, suatu hukuman yang sangat berat, nyaris hukuman mati, bagi seorang priagung setingkat beliau.

“Duku membutuhkan pengawalan pasukan?”

“Maaf, Putri Arumardi, dua orang prajurit saja, tetapi berpakaian seperti petani biasa. Dan surat jalan dari Nyai Ajeng.”

“Hanya itu?.”

“Dan sudi tolonglah, Putri Arumardi sementara jadilah ibu si Lusi.”

“Oooooh! Tentu, tentu. Nah, Lusi? Masih tetap kau tidak sudi dipangku Bibi?”

“Ayo, Lus! Ayooo, wah, matamu membelalak mau tanya apa? Nggak apa-apa. Lihat tuh, beliau senyum kan? Senyum seperti Ibu, kan? Nah ayooo.”

“Nah! Ayu! Lusi ayu sudah mau. Tidak! Tidak, Ibu tidak pergi. J angan takut. Lusi manis tak perlu menangis. Nanti rupa jelek seperti manggis. Naah, tersenyum beliau, sang Srikandi kecil.”

“Alias Srikendil. ”

“Ah, jangan. Kasihan. Molek begini kok Srikendil. Ibu kejam, ya? Lusi, jadi apa Lusi kelak? Sri… kaaan… hayo hayo, jangan dil, tetapi ndil!” Tertawalah si Bayi. Dan ibu-ibunya juga.

Dulu, sehari sebelum melarikan diri, Pestih pernah menyampaikan bungkusan kecil yang isinya masih tersimpan rapat dalam sebuah bumbung bambu yang disembunyikan Slamet di atas balok blandar ruang tidurnya. Bekal untukmu, pesan tawanan Peose itu, siapa tahu sekali saat kau membutuhkannya. Tanpa banyak pikir Slamet dan Duku membuka bungkusan yang ternyata kotak kayu mindi. Ketika dibuka, alangkah terkejut mereka, sebab isinya apiun, zat sangat mahal karena mengandung kekuatan impian gaib. Memang para tawanan rambut jagung itu sering mendapat bingkisan dari Betawi, modal untuk hidup, karena para pejabat Mataram tidak mau memberi nafkah kepada mereka. Di Trunyam terutama, tetapi di Taji dan Kaliajir juga, pintu-pintu gerbang Kutanegara, masyarakat sudah tahu, kalau ingin mencari apiun, pergilah ke orang-orang Cina atau lebih murah ke tawanan-tawanan bule Peose yang selalu kelaparan itu. Slamet yang sering singgah ke kota-kota pantai telah melihat zat kelabu mengkilau yang disebut apiun itu, dan sering melihat orang-orang menghabiskan uang hanya untuk membeli firdaus-impian-sesat, tetapi akhirnya menjadi mayat berjalan. Duku pun pernah mendengar tentang daya gaib apiun yang konon menikmatkan indria itu.

Di Wiragunan ada juga beberapa garwa selir yang sering sembunyi-sembunyi minum candu, tetapi mereka biasanya adalah istri-istri yang tak pernah lagi dipanggil untuk karonsih dengan tuan mereka. Layu lagi loyo mereka, jauh menyedihkan daripada lelaki yang sama-sama terbudak oleh zat kelabu apiun itu. Jika hal itu sampai terdengar oleh sang Tumenggung, maka biasanya, untuk menjaga nama Wiraguna, dan lebih lagi jangan sampai tertimpa amarah Susuhunan, wanita-wanita yang serba kerempeng kempot lang-lit tak ketolongan itu akan terkena perintah dihabisi nyawanya. Diracun atau dicekik dengan selendang selama mimpi nirwana indah. Sebetulnya asal saja para bangsawan pria maupun wanita itu tahu batas, dan penampilan diri tidak keterlaluan, “ibadat” apiun itu masih dapat dibiarkan. Asal sembunyi sajalah. Ngono ya ngono ning aja ngono.[6])

Dengan bekal apiun sedikit hadiah dari Pestih yang selama itu tak pernah tersentuh oleh Slamet dan Duku, keempat orang utusan kaum istri Wiraguna itu berangkat dari Bangkawa Kulon, menyamar sebagai penjual tikar, pergi menuju ke bukit Aria-Mataram yang oleh pemilik agungnya telah diberi nama Arga Tejakencana itu. Untunglah apiun itu tidak jadi dibuang ke laut, seperti niat Slamet semula. Soalnya ia dan Duku khawatir, jangan-jangan apiun akan dimakan ikan, ikan dijaring nelayan, lalu malapetakalah. Kalau dibenam dalam tanah, masuk perigi, atau entahlah, berbahaya lagi. Sekarang masih berguna sedikit. Dengan modal apiun ini, diharapkan Duku berhasil masuk ke dalam halaman keputrian, dan… berdebar-debarlah jantung Duku. Gila sungguh nekat rencana ini. Tetapi Duku akan berlagak biasa, seandainya Putri Tejarukmi terkejut dan spontan membuka rahasia siapa wanita yang menjual apiun ini. Nanti Duku masih dapat mendongeng tentang suaminya yang ingin membeli layar untuk perahunya, tetapi malu untuk meminta biaya dari Puan Arumardi atau dongeng lain. Akan dikatakan, mereka lalu mencoba mengumpulkan uang dengan menjadi perantara seorang Cina penjual apiun dan sebagainya; karena tahu adat kaum puri dan sebagainya, dan seterusnya. Tidak. Tidak berbahaya sama sekali walaupun tentu saja membuat jantung berdebar-debar.

Slamet dan dua pengawal masing-masing menuntun kuda kecil bermuatan tikar-tikar yang dipilih paling halus dan elok anyamannya, dan yang akan dijual. Dua pengawal itu bertugas menunggu di luar tembok pagar bumi sisi belakang, agar setiap saat dapat menolong Duku dan Slamet, seandainya sampai tersudut terpaksa lari melompati dinding.

Untung apa sebetulnya Duku-Slamet dengan segala petualangan ini? tanya diri Duku tak habis-habis. Demi apa ya, demi apa? Entahlah. Pokoknya Duku-Slamet telah sepakat, jasabakti, ya hanya jasabaktilah. Tegas-tegas disadari: tidak untuk membela martabat Wiraguna. Juga tidak melulu mempertahankan kesucian Tejarukmi, itu urusan si wanita muda itu sendiri dengan kaum Wiragunan dan Jibusan. Tetapi untuk… ya, apa ya namanya; Duku sendiri tidak dapat memberinya nama. Slamet pun hanya berkata, pokoknya karena merasa harus berbuat begini, entah disebut apa. Yang jelas: sepi ing pamrih.[7])

Ataukah semua ini sebenarnya merupakan sebentuk balas dendam terselubung terhadap Wiraguna? Tetapi balas dendam dalam arti khusus, yang berniat membuktikan, betapa sering lebih mulia ningrat rakyat kecil dibanding dengan kaum bangsawan; keningratan sikap, jiwa-dalam yang lebih sejati daripada keris dan emas? Itukah? Ataukah sesuatu bentuk kekayaan budi yang ingin mereka wariskan kepada Lusi? Boleh jadi. Tetapi gagasan demikian sebaiknya disimpan saja dalam hati. Hanya sebagai cadik-cadik samping sampan yang membantu keseimbangan perahu. Bukan sebagai layar.

———-

[1]     nasib yang sudah ditentukan para dewata

[2]     mahkota

[3]     guling-bergulungan

[4]     figur dongeng wayang, kakak-beradik yang saling cinta mencintai

[5]     memahami; makna/tanda

[6]     Boleh begitu, tetapi jangan begitu

[7]     tanpa maksud sampingan untuk diri sendiri

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Telah Terbit on 16 Mei 2015 at 01:13  Comments (103)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/trilogi-yb-mangunwijaya/genduk-duku/trackback/

RSS feed for comments on this post.

103 KomentarTinggalkan komentar

  1. Episode pertama Genduk Duku telah diwedar

    silahkan berburu rontal dan bergojeg dan berburu rontal sebagaimana bertahun yang lalu, ketika masih menjadi cantrik aktif di padepokan ini.

  2. test…..
    kenapa komen saya tidak bisa masuk daftar komen?

    Hadu….
    kenapa ya?

  3. Grotal-gratul, grayah-grayah

  4. Serasa seperti nyantrik pertama kali, lupa cara nyarinya

  5. ToPan Siap Hadiiirŕ Pakde Satpam. Apa kabar Pakde Satpam dan Eyang Arema ?. Semoga Selalu Sehat dan Banyak Rezekinya Amiiiin.

  6. Pakde Satpam. Kalau pake android apa bisa dicari dan download ya. Sudah berkali kali di plototi di ubek ubek kok ra ketemu ya hahahhhhhh

    • Sugeng enjang . . . Selamat pagi, Ki Adji.

      Saya tadi sudah mencoba di hp dan tidak bisa Ki, kecuali kalo di hp Ki Adji ada djvu nya, baru bisa dibaca, karena formatnya djvu, bukan pdf bukan pula ms-word.

      Kalo soal rontal diumpetin dimana sama Anakmas Risang, Ki Adji saya kira sudah pengalaman tahunan . . . he he he, tlateni ae suwe-suwe rak ketemu . . . gampang kok, gak susah.

  7. Assalamu’alaikum wr wb
    Salam sejahtera buat kita semua.
    Alkhamdulillah telah kita mulai lagi mengangkat kisah cerita anak bangsa berupa Novel Serial Roro Mendut.
    Serial karya budayawan YB Mangunwijaya ini berkisah tentang kejatuhan martabat seorang ksatria perang, seorang Tumenggung di Zaman Pemerintahan Kesultanan Mataram Era Sultan Agung Hanyokrokusumo.
    Seorang Panglima Perang yang sangat disegani oleh teman dan lawan ini yaitu TUMENGGUNG WIROGUNO, tergelincir hanya karena kecantikan seorang wanita rakyat biasa, RORO MENDUT.
    Sayangnya sang perawan jelita tidak bersedia disunting oleh Ki Tumenggung dengan tawaran hidup kamukten. Ia lebih memili mati bersama kekasihnya PRONOCITRO, seorang nelayan dari pantai utara.
    Kisah tragis di atas berlanjut dengan sebab dan akibat dari peristiwa tersebut di buku kedua dan ketiganya yg sudah dapat diikuti disini.
    Tapi yang justru menarik adalah latar belakang sejarahnya. Banyak yang sangat awam dengan sejarah Mataram di Era akhir Sultan Agung yang digantikan oleh putra mahkota Sunan Amangkurat I, yang dikenal brutal demi menuruti ambisinya yg gemar melahap betis indah. sampe demi menutupi kebobrokannya, dia tercatat telah membantai ratusan Kiai dan Santri di jamanya. Bagaimana jalan ceritanya, temukan di serial novel ini.
    Hanya sayang sekali, Genduk Duku ini sudah Seri II. Buku Seri I berjudul Roro Mendut, belum ditemukan dalam koleksi. Sedangkan mencarinya di luar sangat jarang diketemukan.
    Apabila diantara sidang pembaca ada yg memiliki, atau kebetulan menemukan di toko buku. mohon perkenan untuk di informasikan di sini.
    Mohon judul di atas bukan APDM, tapi RORO MENDUT, novel serial sejarah YB Mangun Wijaya.
    Monggo.

  8. Assalamu’alaikum Wr Wb,
    Salam sejahtera untuk kita semua,
    Selamat pagi . . . Sugeng enjang,
    Sanak kadang adbm semua . . . .

    Anakmas Risang kok teganya-teganya menyanyi . . . he he he.
    Sementara kadang yang gak sabaran maunya cepet membaca, ingak-inguk rana-rene, nang endi leh ndekek rontal.

    • kok komentare menunggu moderasi,
      ra entuk mlebu po ya . . . . . hiks.

  9. Pasti bisa…hik..megkuh titik noda itu…

  10. mantappppp….. tinggal cari roro mendutnya…

  11. Nunut ngiyup Ki ….

  12. Roro mendutnya di bawa lari pronocitro Ki … Salam buat poro Empuh2 Adbm/Pdls …

  13. Wis di ubek2 ora ketemu .. Klau PC cepat klau Hp apa bisa ya … PakLik Satpam mohon bantuannya ..

  14. Ho android juga bisa ki….titik bernoda kata mas satpam…hikkk tidak boleh menyerah

  15. Sugeng sonten Anakmas Risang

    Lha wong episode 2 sudah wedar dari tadi, po ya belum ada yang ngunduh . . . he he he.
    Mungkin sanak kadang perlu bahasa sasmita dari P. Satpam, memang diperlukan ketelitian dan kejelian.

    Sanak kadang sedaya . . . mangga episode 2 sudah gogrok, tinggal ngunduh saja.

    • Sugeng sonten Panembahan
      he he he …., kala wau kesupen terus buru-curu wedaran, lan terus nglanjutaken tugas malih.
      ngapunten…

  16. Hiks…..mas Satpam

    • kata bang haji mas Satpam…terLALU

      • he he he …..
        gandok dimanapun kalau tidak ada Ki Menggung Gembleh dan Ki YP, kayaknya bagaimana…. gitu.

        Monggo Ki

        • Betul Lik Satpam… seperti lontong balap tanpa lontongnya…

          • Betul ki AM….
            Seperti motor balap tanpa motornya

  17. Pusing…
    bagaimana memunculkan komentar terakhir dalam daftar

    mohon pencerahan

    • Lho….mas satpam kePUsingan toh

      Cantrik kira memang sengaja tidak
      mas Satpam tampilkan

      • Gampang mas Satpam…hiks

        Kirim panah sanderan nti cantrik
        bantu dari ujung wetan

  18. Alhamdulillah lagi bisa mlebu senthong sebelah sini…

    lampune masih mati, sehingga harus meraba-raba mencari rontal ala genderuwo picek… semoga pas ‘meraba’nya…

    • Ketemu ki AM….bukan hanya diRABa
      zoom juga perlu ki, saestu

  19. nakmas satpam apa eps.3 siap digrayah ?

    • likmas Satpam apa eps.4 siap diwedar?

      • dereng, mbenjang enjing

    • sampun …..

  20. Alhamdulillah wis gak usum duku nanging iso moco Genduk Duku semudah memijit wohing ranti.

    • Selamat malam mas Satpam… 🙂

      Selamat menyiapkan wedaran rontal
      lanjutan.

      • di padepokan sini….cantrik siap
        bertanding lawan mas Satpam

        Kuat mana yang baca apa mas Satpam
        yg nyiapkan rontal

        • hayoo,,,,,,,,,

          • Priit…format text mas Satpam

            • yg kalah angkat
              tangan kanan.
              tanda kiri cukup
              masukan saku
              belakang 🙂 🙂

            • Kudu sesuai jadwal no Ki Menggung.

              • Jadwal ber-
                kunjung

                • J
                  A
                  D
                  W
                  A
                  L

                  A
                  M
                  B
                  I
                  L

                  J
                  A
                  T
                  A
                  H

                  R
                  A
                  N
                  G
                  S
                  U
                  M

              • Monggo
                lha wong wis ket mau kok
                he he he …..

  21. Episode 5….belum ada cantolan
    Episode 6….masih dalam penggorengan

    Episode 7….belum diracik mas Satpam
    Episode 8….nunggu antrian wedar

    • Usul mas Satpam,

      Wedaran rontal nunggu pasukan OGrog
      pada ngumpul ng padepokan.
      Tahan dulu wedaran sp cantrik mentrik
      kemringet ngiler rontal lanjutan.

      Ini tadi usulan ki Trupod sesepuh
      padepokan….ki gundul sakdermo
      menyebar luaskan

      Saestu…TENAN

    • 5 wis kok

      • 5 wes nyantol….tinggal srondol

        • Matur nuwun mas Satpam

          • Nti malam cantrik kancani
            Melek-an

  22. Absen dulu aahh…..

    Baru kali ini mbuka gandok Genduk Duku, karena berbagai hal..
    matur nuwun sanget Pak Satpam, Bopo Panembahan, dll atas peluncuran rontal yang baru

  23. selamat siang

  24. Episode 5 : djvu dan pdf

    teks belum dimunculken

    • pelan2 mas Satpam…ga usah terburu
      buru pasang “teks”

      yg penting wektu cantrik sambang lgi
      nanti “teks” sudah dicantolkan…hehe20x

      • Malam mas Satpam

        • Hadir…sambang padepokan

          • he he he …, monggo…..

            • Hehehe…matur
              nuwun mas Satpam

              • Sugeng
                Dalu

  25. Hadir….mas Satpam

    • Sugeng dalu kadang genduk DUKU

      • Otw padepokan sebelah sengkaling

        • loh…, padepokan sebelah Sengkaling yang mana? UMM, UIN, Polres?

  26. HADIR…..mas Satpam

    • monggo….
      penghuninya di sini hany Ki menggung sendiri
      satpam juga jadi males piket disini
      he he he he he he he he he he (lama lama tidak terdengar)

      • Males….pertanda belom makan
        mas Satpam…kleru Mules ding.

        AYO SEMANGAT…mumpung yg
        laen pada belom datang.

        • berDUA…..sapa takut 🙂 🙂

          • AYO mas SATPAM….kita buat padepokan megah.

            Megah : menawan gagah
            tur bikin betah para wanita
            seluruh tlatah jawa 🙂 🙂

  27. HADIR….sugeng dalu

    • mas Satpam….kemana kah panjenengan

      • cantrik dewean….ENAK tenan

        • urun saran….kenapa komen di genduk duku tidak nampak pd

          KOMENTAR terakhir padepokan
          ini mungkin yg bikin gandok jarang ada yang singgah padepokan

          • masa sih mas Satpam ga
            bisa otak atik membetulkan

            • Sampe judeg Ki, tidak berhasil.
              Masih dicoba otak atik lagi.

  28. Alhamdulillah, terima kasih mas
    Risang, tau tau sdh episode 8.
    Apa mas Risang sdh baca ceritanya?
    Latar belakang sejarahnya menarik, yaitu awal mula kita bersentuhan dengan barat secara langsung, dan juga kedzoliman Amangkurat 1yg jarang diangkat ke permukaan.

    • Sambil konversi dan edit teks Ki, satpam sempat baca.

  29. Njlekethek,
    setelah hampir putus asa, akhirnya ketemu penyebab tidak munculnya komen terakhir.
    Hadu…..
    Bobo ah….

  30. Wah…jebul saya ketinggalan….padahal yang cepat dapat yang lambat ketinggalan….Sugeng sonten sedoyo…!

    • benul ki Karto….yg cepat dapat duluan
      yg lambat sabar nunggu dum2an

      • Benur..Ki Tmg.YP..ngantri..

        • Ngantri sebentar….pas dibelokan cantrik serobot antrian,

          • Ati2 Ki Menggung….keseringan nyrobot ntar…bengkong lho 😀

            • Bengkong sekali kali asik ki Menggung

              BengkongAN…he 50x

              • Selamat malam…..sepi banget

                • S
                  E
                  R
                  E
                  M

                  Hi
                  Hi
                  Hi
                  Hi

              • hem….serem deh 😦

                • Se
                  Re
                  M

                  Me
                  Le
                  K

                  Me
                  Re
                  M

              • Serem…..seneng merem 😀

  31. tes…..masuk komen, komen masuk

    • tes…..yang keluar masuk 😀

      • Sugeng dalu ki Kartojudo

        • Kecipir mrambat kawat…wes suwe ki Karto ora liwat

          • Sugeng manuk..eh..masuk Ki Gundal gandul 😀

            • Hiks…matur nuwun ki Kartojudo

              Suwe ora jamu…jamu pisan godhong kates
              Suwe ora ketemu…ketemu pisan tes testes

              • Hehehe…dak kiro ketemu pisan ketemu….kates 😀

              • Sanes
                kates
                ki….

                kutes
                kusuka
                kates

  32. HADIR…. mendhisiki diri sendiri

  33. he he he ….

    gandok ini sepertinya rumahnya Ki Menggung berdua (KiGundul dan Ki Kartoyudo sendiri)

    • Bener mas Satpam…terkadang kita perlu menyendiri buat mengendapkan serta menenangkan diri dari hiruk pikuk ramainya hohohihi

      • Bener mas Satpam…terkadang kita …merasa sedih

        • Sedih dipagi hari…seneng disore hari

          • Sedih disiang hari….sueneng dimalam hari

            • Sugeng Riyadin Ji Gundul,mas Satpam…..
              maaf lahir batin……..

              • Njih Ki Menggung
                sami-sami nggih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s