GENDUK DUKU

Episode 16

Melawan segala nasihat, Tejarukmi tak dapat dihambat; ia harus melihat Setonan. Duku tidak sekeras Nyai Ajeng bahkan Putri Arumardi sekalipun, untuk melarang Tejarukmi melihat Setonan. Hiburan Setonan yang selalu diselenggarakan oleh Susuhunan-ing-Ngalaga pada setiap hari Sabtu memang punya gema lain dalam jiwa Duku daripada dalam hati Putri Arumardi. Adu tombak serba gegap gempita sambil berlari di atas punggung kuda benar-benar adalah dunia kegemaran yang sulit dicari taranya bagi seorang wanita serba suka bergerak seperti Duku.

Para ningrat termulia di atas kuda-kuda teji jragem siwalan, plangka-dodol-sinanten, perdapa pelem[1]) dan berpancarupa kuda-kuda gagah lain di tengah alun-alun berpagar puluh-ribuan prajurit bertombak, yang dikepalai para adipati dan tumenggung jantung bumi Mataram maupun mancanegara, dengan para hadirat putri-putri tercantik dari seluruh negeri, dada bangga mana tidak menggelembung, boleh hadir bersama kaum adiwibawa itu? Sementara itu berpuluh-puluh gugusan perangkat gamelan perunggu mengalunkan gending-gending jalugandra jajagandrung[2]) yang menggetarkan ratusan ribu penonton pria-wanita dan anak-anak yang serba beliak-pandang. Tegang menyaksikan para ningrat kesuma itu, yang memamerkan kebolehan seni yudaturangga[3]) mereka yang meriah mengasyikkan. Ya, sulit dipersalahkan sebenarnya niat bersiteguh Tejarukmi untuk melihat perayaan yang sudah sering disaksikannya, tetapi hanya melalui cerita dan telinga. Belum dengan mata cantiknya.

Ah, justru mata cantiknya itulah antara lain, dalam pandangan Nyai Ajeng selaku istri perdana yang merasa bertanggung jawab atas semua istri suaminya, yang merupakan alasan keprihatinan­nya; yang membuat mengapa sebaiknyalah Tejarukmi jangan pergi ke Setonan itu. Sepasang mata yang lebar berbinar-binar, satu agak juling sedikit, dengan bulu-bulu mata kelewat panjang seperti jari-jari pemain kecapi yang mahir menggetarkan kawat-kawat kalbu pria, dari yang paling berangasan sampai yang hanya punya kotak-dendang gending-asmara kecil sekalipun. Ya, burung cendrawasih ufuk timur mana yang akan selamat nanti, bila dilepas di tengah alun-alun penuh harimau loreng kuning-hitam, kuning ningrat tetapi hitam nafsu? Lelaki Jawa, para bawahan Senapati-ing-Ngalaga itu keras berangasan seperti arak carok, walau kadang-kadang dapat halus seperti permukaan kayu sanakeling daun warangka keris-keris mereka. Berani bertahan berkat kemau­an kuat seperti kayu waru bergalih hitam. Tetapi menghadapi wanita, ia seperti bambu ori, lemah mudah patah, tak keruan arah carang-rantingnya, namun kelewat subur bisa terus tumbuh langsung asal ada air birahi yang dapat disesapnya. Maka jangan diberi air kesempatan. Apalagi di alun-alun Setonan. Jelas pasti nanti ada seseorang, entah macam Raden Mas Jibus, yang hadir. Memang betul panggung keputrian terpisah, tetapi Raden Mas berjiwa bambu ori ini selalu saja tahu jalan tembus. Siapa akan berani melawan seorang calon Senapati-ing-Ngalaga dan Sayidin Panatagama? Jangan Adimas Ayu, Teja Bersinar Binar Kencana! Jangan! Demi kau sendiri, Adik Melati Fajar Pagi!

Tetapi biar bertubi seperti apa pun desak-paksa himbauan halus Nyai Ajeng dan para istri selir lain, Tejarukmi, walau masih remaja piyik dara,[4]) ternyata kadang-kadang bisa berkeras kepala; sadar-ia bukan hanya abdi yang bertugas menerima perintah belaka. Himbauan hanya himbauan, tidak mengikat. Dan paksaan-mana ada putri cantik mau dipaksa? Terpaksalah Arumardi mengantarkannya. Maka melalui utusan berkuda cepat, buru-buru Duku dan Slamet dipanggil Putri Arumardi. Lusi yang sudah mulai disapih dari ibunya dititipkan dulu di dalam pangkuan Bendara Eyang. Tetapi selekas mungkin Duku harus datang dan paling tidak sudah harus hadir pada hari Jumat di Wiragunan. Walaupun berat meninggalkan Lusi, akan tetapi baiklah, ini latihan tahan uji bagi bayimu, kata Bendara Pahitmadu sambil tertawa.

“Kapan kau mengajarku naik kuda, Ni Duku?” tanya remaja simpanan Wiraguna itu, ketika ria menjemput ibu muda penyelamatnya dulu.

“Barangkali tubuh ayu seperti Putri Tejarukmi bukan yang tepat untuk punggung binatang yang memang beraga mulia tetapi berbahaya, Putriku,” jawab Duku agak terkejut. Bayangkan boneka porselin Cina serapuh ini di atas jaran jondil.[5]) Akan dilepaslah kepala Duku dari tubuhnya nanti bila itu terjadi.

“Apa akan kelihatan tak senonoh?” desak sang Teja.

“Bukan soal senonoh tak senonoh. Tetapi setiap putri punya bagian wahyu masing-masing.”

“Apa jatah wahyu untuk Tejarukmi, Ni Duku?”

“Maafkan, Putri Ayu, Duku hanya buah pohon kedondong kebun rakyat. Bukan sawo istana. Mana mungkin tahu baca-makna tentang arti bintang beranjak atau tafsiran warna cahaya pulung wahyu. Tetapi sebodoh-bodoh perempuan Duku, hamba tahu, kuda bukan tunggangan tepat bagi seorang teja kencana.”

“Lalu apa yang tepat?”

“Ya, Duku tidak tahu, maafkan. Barangkali, ya barangkali nama sang Putri dapat menjawab. (Teja?) Ya, barangkali, hanya barangkali. Kendaraan setiap teja selayaknya bunga-bunga atau kupu-kupu taman sari.”

“Ah, nggak suka. Nggak enak jadi bunga. Apalagi kupu. Katanya kupu sesudah bertelur, langsung ia mati. °’

Tertawalah Duku spontan. Ketus juga Tejarukmi ini. “Itu tadi hanya kiasan, Putriku sayang. Warna-warninya yang indah itulah Putri Tejaruk­mi. Warna-warni adalah sahabat citarasa harum mewangi yang benar dan pembawa warta merdu meria, itu yang hamba maksud. Mungkin itulah yang menjadi bagian tugas kehadiran Putri Tejarukmi di tengah-tengah -kita.”

“Bagaimana pendapatmu tentang Tumenggung Wiraguna?” tanya tiba-tiba Putri Ayu itu. Seperti sengat lebah penyengat kepala yang tak tersangka pertanyaan itu menyambar.

“Tumenggung Kakangmas, suami Sang Putri?”

“Hi ya. Si Wiraguna panglima tua Mataram.”

Terkejutlah lagi Duku mendengar tekanan pada kata tua, apalagi sebutan si, yang tampak sekali diberi nada ejekan oleh istri muda sang panglima itu. “Wiraguna adalah ksatria besar yang mendampingi Susuhunan-ing-Ngalaga dan pahlawan medan laga yang membuat besar Kerajaan Mataram.”

“Bukan itu! Wiraguna si Kakek Tuwek sebagai pasangan wanita.”

Aduh, bagaimana menjawab pertanyaan yang tak boleh ditanyakan itu? Tetapi yang gawat, mengapa pertanyaan macam itu ditanyakan?

“Maaf, Putriku Ayu, Duku hanya mengenal pun abdi Slamet sebagai pasangan. Mungkin Putri Arumardi lebih berhak menjawab pertanyaan angker itu.”

“Sudah. Aku sudah bertanya pada Kakang Mbok Arumardi.”

“Dan bagaimana beliau?” tanya Duku gembira, melihat lubang kesempatan lolos dari kurungan soal yang berbahaya ini.

“Ya, selalu begitulah Kakang Mbok Arumardi. Arif, seimbang, tetapi tidak menjawab kesulitan Tejarukmi.”

“Kakak arif adalah rahmat berharga, Putri Tejarukmi.”

“Semua kakak arif tak kentara tetapi terasa membawa tuduhan hidup: adiknya tolol melulu.”

Tertawalah Duku, geli campur kagum atas kejujuran makhluk teramat cantik ini. Kasihan memang remaja cantik yang bernasib seperti budak tak berdaya terhadap jantan tua yang kuasa dan keras. Apa sih, yang masih dihausi Wiraguna itu? Dulu ia menginginkan harimau betina padang ilalang seperti Rara Mendut itu. Alasannya: tombak besi yang jaya sewajarnya berhadapan dengan benteng berpintu perunggu yang sulit ditaklukkan. Sekarang sebaliknya, remaja dini yang dadanya pun masih belum seperti kecer[6]) yang bisa ditabuh. Apa lagi yang dilihatnya? Keris serba berkarat warangka tua maunya main-main menghadapi markisah muda, begitukah? Enak saja kalau orang itu punya kuasa. Slamet si nelayan beristana sampan lebih berilmu, lebih ningrat-hati daripada kaum Wiraguna dan sebangsa Jibus ini.

“Ya, Putriku Ayu. Putri Tejarukmi boleh cantik, tetapi tidak boleh bodoh atau merasa bodoh. Tetapi… mengapa semua itu Putri tanyakan?”

“Tidak ada mengapanya. Tejarukmi paham mengapa Ni Duku tidak mau mengatakan sesuatu tentang Kakang Tumenggung. Tetapi sekarang jawablah dengan jujur. Bagaimana pendapat Ni Duku tentang Putra Mahkota?” Aduh. Belum hilang kejut disengat lebah, sekarang disambar halilintar. Ada apa ini? Mau ke mana dia? Mengerlinglah Tejarukmi nakal kepada Duku. Lalu ia berbisik pada telinga sang abdi, “Ini rahasia. Raden Mas Jibus tampan, ya?” Duh, Gusti, duh, Widi! Makanya Tejarukmi bersiteguh ingin melihat Setonan. Sungguhlah sulit wanita mengerti wanita lain. Apalagi pria memahami wanita… kecuali, ya kecuali satu barangkali: Raden Mas Jibus.

Setonan, ya Setonan, lomba bangsawan berkuda di alun-alun utara keraton Kerta yang selalu dihadiri oleh Sri Susuhunan-ing-Ngalaga Mataram pribadi, disertai sariningrat seluruh kerajaan dan madu manis putri-putri paling ayu dan mempesona! Membubung sorak pesona dari berpuluh-puluh kelompok perangkat gamelan paling merdu beserta pesinden-pesinden yang paling tenar! Berlomba-lomba menggairahkan kalbulah nada dan senda gending-gending gembira ria yang sudah disesuaikan dan direstui oleh lontar-lontar primbon para tetua pengenal negeri-negeri gaib; memeriahkan suasana puncak penghayatan adat kenegaraan; perayaan yang merupakan salah satu jamang[7]) kewibawaan sekaligus gebyar berkat bagi nagara gung miwah jalma jaya, nggunung Lawu sega linuwih gurih, mbengawan Serayu santen jangan goreng, reja mukti wibawa Mataram Hadining Bawana.[8])

Yang di sana itu, nah, itu Tumenggung Sura Agul-agul, dan langsung di selatannya, Tumenggung Danupaya, guru pengasuh Pangeran Alit ya, itu Pangeran Alit, begitu tutur seorang punggawa negara dengan bangga kepada anaknya. Pangeran Singasari, nah, panglima jaya Pasuruan beliau, itu yang sedang bercakap-cakap dengan priyagung berambut putih itu. Betul priyagung tua di sana itu Tumenggung Mataram, patih perdana tangan kanan Sri Susuhunan. (Seluruh alun-alun berdesah kagum.) Nah, itu beliau, yang keluar naik kuda itu Putra Mahkota, Pangeran Aria Mataram gelarnya.

Syyyt, jangan keras-keras. Raden Mas Jibus nama panggilan beliau, dulu, tetapi kita kaum kecil tidak boleh mengucapkan nama itu. Ya, ya betul, betul Pangeran Alit lebih tua usianya, putra dari Ratu Wetan, permaisuri pertama, tetapi Pangeran Aria Mataram lebih tua bibit-bebet-bobot-nya. Ibu beliau putri ningrat dari Batang, sang Ratu Kulon; masih berdarah alur Sunan Gunungjati. Lihat, Pangeran Aria Mataram sedang me-nyirig-nyirigkan kuda beliau. Pendekar penunggang kuda yang ngudubilahi beliau itu! Seperti halilintar bila sedang menjelajahi negeri di atas punggung kudanya. Pangeran Alit kalah trampil-trengginas. Siapa? Tumenggung Wiraguna? O, beliau di sebelah barat. Itu, di bawah tarub yang ketiga dari selatan beliau nanti duduk. Barangkali beliau masih harus mengiringi Susuhunan Mataram bila keluar istana nanti. Kan Panglima Besar harus bertanggung jawab atas keselamatan rajanya. Tumenggung Wirapatra dari Dewan Penasihat Agung tak kelihatan. Barangkali diperintahkan mengiringi Baginda juga.

Sekonyong-konyong berhentilah seluruh gemuruh gamelan. Sunyi bunyi itu merupakan tanda bagi seluruh penduduk dan prajurit untuk serentak duduk bersila dengan kepala dan mata merunduk. Sebab Sri Susuhunan-ing-Ngalaga Mataram Adiprabu Hanyakrakusuma Sayidin Panatagama sedang meninggalkan keraton dan masuk ke dalam gelanggang yuda-turangga. Para pangeran adiningrat serta tumenggung pun menundukkan kepala, tetapi menurut pranatan boleh mencuri pandang ke arah Raja. Sebab kewajiban awal yang harus mereka perhatikan pertama ialah tutup kepala Susuhunan.

Ternyata beliau memakai kain kepala batik mandalasura. Serentak semua ningrat, dari pangeran serta patih tumenggung sampai yang hanya den bei demang yang kebetulan hanya berkopiah, melepaskan kopiahnya dan mengenakan kain ikat kepala yang sudah siap tersedia di muka mereka. Bila seandainya Baginda keluar dengan memakai kopiah putih, maka serba seragam pula semua bangsawan itu harus mengenakan penutup kepala kopiah putih juga. Seragam pula sementara itu perangkat-perangkat gamelan sudah menggemuruhkan lagi gending-gending penyambutan Raja, Handaka-Gumregah, Harta-Seba,[9]) disusul kumandang lagu Turangga-Sura, mengiringi langkah-langkah tenang tegap Susuhunan. Napas para priyagung lega-landung karena mereka melihat, bahwa raja tampak tersenyum bahkan ringan bercanda dengan Patih Singaranu. Tumenggung Wirapatra kelihatan suntrut,[10]) tetapi patih satu ini, setiap ningrat tahu, terlalu tampak cemburu bila sang Adiprabu kelihatan mendekat pada Tumenggung Singaranu yang disegani oleh kebanyakan priyagung karena kesederhanaan serta hati jujurnya, dan disegani juga karena keunggulannya dalam setiap perundingan dengan negara-negara berdaulat lain. Dengan Tumenggung Wirapatra setiap duta besar ingin berbantahan, tetapi menghadapi Tumenggung Singaranu mereka biasanya cenderung untuk lebih meminta pertimbangan atau anugerah kemurahan dari Mataram.

Tersenyum serba hati berkenan Susuhunan Mataram bertepuk tangan dan memberi tanda agar permainan yuda-turangga dimulai. Tumenggung Singasari melambai kepada bupati penata pertandingan. Maka tampillah empat ningrat muda, tampan tegap, yang setelah menghaturkan sembah kepada raja negara melompat luwes ke atas punggung kuda; tanpa pelana dan tanpa sanggurdi, dua tombak berujung tumpul tergenggam di kedua tangan mereka. Seorang abdi mengencangkan tali-tali kendali kuda pada sebuah cincin di gesper sabuk mereka, karena kedua tangan ksatria itu harus dapat digunakan bebas selama pertandingan, maka pengendalian kuda yang sering serba beringas itu hanya dilakukan oleh pangkal sabuk di pinggang para penunggang kuda. Sungguh suatu seni kendali yang menunjukkan ketrampilan istimewa dari barisan-barisan balatentara Mataram yang termasyhur karenanya, dan yang telah terbukti di segala medan laga.

Bergemuruhlah bagaikan tembok bata roboh seru sorak-sorai penonton yang lebih dari seratus ribu orang itu, menyambut lomba para bangsawan berkuda yang saling kejar-mengejar dengan dua tombak di tangan. Dari garis tepi selatan, ksatria yang satu harus mengejar ksatria lain, dan berusaha menjamah lawan itu pada punggungnya dengan ujung4 tombak yang. sudah dibuat tumpul. Jika yang dikejar berhasil sampai di garis tepi utara, maka langsung ia membalikkan kuda dan berganti peran, mengejar lawannya yang tak berhasil menjamah punggungnya tadi. Tidak hanya kecepatan kuda, tetapi juga ketrampilan ulah membelok dan menghindari pengejar sangat menentukan dalam seni yuda-turangga macam ini. Tidak selalu kuda yang cepat yang menang. Kelihaian tipu daya dan kegesitan penguasaan kuda sangat berperan dan sangat digemari penonton.

Gelak ketawa dan tepuk sorak-sorai sungguh sangat menggairahkan. Khususnya bila salah satu pelaku jatuh kopiah atau ikat kepalanya, atau terpelotrok dari punggung kuda sehingga gayanya cukup konyol. Maka banyaklah sekali pecandu-pecandu Setonan yang tak segan berjalan dua-tiga hari dari balik lereng Gunung Sumbing dan Gunung Merbabu atau seberang Sungai Bagawanta maupun Bengawan Weluyu, [11]) hanya untuk menikmati ketegangan seni yuda-turangga Alun-alun Kerta itu; apalagi karena pelakunya adalah ningrat-ningrat negara yang paling tinggi. Dan sungguhlah begja kemayangan[12]) betul apabila kebetulan Sri Susuhunan sendiri berkenan secara pribadi turun ke gelanggang dan riang mengajak salah seorang adipati atau tumenggung-tumenggungnya untuk berperang tanding. Tentulah berdebar-debar juga bangsawan yang kebetulan terhimbau oleh tuan perdana negara mereka. Susuhunan Mataram tidak suka lawan tandingnya hanya basa-basi mengalah takut terkena amarah Raja. Tetapi mendinakan raja di muka umum dan menang tanding terhadap Susuhunan sulit juga dikerjakan. Jalan kencana harus diusahakan.

Tetapi kali ini seluruh alun-alun utara bergemuruh gembira ria karena Sri Susuhunan memanggil putranya sendiri, Kanjeng Pangeran Aria Mataram, untuk bertanding dengan Ayahanda. Inilah! Inilah! Betul-betul peristiwa luar biasa kali ini. Lebih gegap-gempita berganda lagi bising nyaring gairah irama gamelan-gamelan menyambut himbauan raja yang penuh janji hiburan itu. Nah, anak melawan ayah, keduanya perdana di seluruh negara, di gelanggang pertandingan. Dalam tujuh windu[13]) tidak akan terulang lagi peristiwa semacam ini.

Dari sudut luar tarub keputrian dekat penabuh gong perangkat gamelan rombongan Tumenggung Singaranu, Ni Duku mencuri pandang dari sudut mata, dan serba prihatin memperhatikan Putri Tejarukmi yang terjaga rapat oleh Putri Arumardi. Gadis remaja dari Imogiri ini sungguh belum terlatih betul untuk mengekang perasaan dan menyelubungi isi hati seperti selayaknya putri kalangan ningrat. Dari tadi kelihatan sekali gejolak dambaan hatinya. Teja di wajahnya menggemakan kagumnya kepada Putra Mahkota. Bagaimana mungkin? Sungguh aneh! Belum genap sepasang musim berlalu, sudah membalik-grombyang-lah perasaannya terhadap si Juara Pengejar-wanita di seluruh Mataram ini. Ah, seharusnya Putri Arumardi sudah melihat dulu-dulu. Tetapi apakah sikap si Cantik Muda dengan bulu-bulu mata seperti jari-jemari kecapi itu sungguh aneh? Sulit dipahami? Sebaliknyalah, ya tentulah yang sebaliknya itulah yang wajar. Si Kakek Wiraguna, mana mungkin ia bersaing dengan pria muda ahli waris keris kekuasaan kerajaan besar? Memang, Panglima Besar dia, si Tua, dan anggota utama Dewan Patih Singgasana yang sudah makan garam banyak, sedangkan yang lain masih hijau tanpa kedudukan apa-apa selain bertugas menunggu dan menunggu sampai Ayahanda meninggal. Tetapi sesudah itu?

Memang tepat namamu Tejarukmi, lingkaran cahaya emas! Emas keprajan kaum penguasa. Modal kecantikanmu memang meyakinkan, dan bila kau boleh memilih, jelas Raden Mas Jibus-lah yang akan menang sayembara. Ah, sekali lagi, mengapa Duku harus risau? Bukankah kekalahan Wiraguna akan merupakan pelunasan utangnya membunuh Rara Mendut? Bukan pelunasan utang nama yang sebenarnya. Pengembalian keseimbangan peristiwa semesta! Pelarasan kembali gamelan yang sudah blero[14]) bunyinya! Dan Raden Mas Jibus sendiri? Jelas beliau berjayawijaya dapat memamerkan kemudaan dan kemanjaan beliau sebagai orang kedua sesudah ayahnya di muka sekian banyak wanita. Beliau memang bukan Arjuna dalam sosoknya. Tetapi pria yang gandrung sangat mempesona gadis yang digandrungi. Ya, daya tarik Raden Mas Jibus sebetulnya ada pada kemampuannya untuk menampilkan diri sebagai pria yang menanamkan kesan gaib kepada wanita yang kebetulan terkena pukau senyum asmaranya; kesan yang membawa janji, bahwa terpilih berarti berhak kiprah[15]), berwenang merasa diri sang pemenang. Dan bila wanita tersirami pandangan-pandangan cemburu dari wanita-wanita lain, bukankah itu secorak kenikmatan yang lezat bagi sang rahim yang lalu merasa terjamin, akan dipercayai benih yang paling ningrat, paling membawa wahyu, sedangkan si saingan tidak? Ni Duku pun dapat memahami kenikmatan itu. Bedanya hanya pada arti yang diisikan pada kata ningrat, wahyu, unggul. Cuma arti wadag jasmani kekuasaan belaka? Ataukah arti budiwan, ningrat sikap, wahyu teja kemurnian hati?

Bersorak-sorailah rakyat ketika Susuhunan berdiri dan melangkah ke kuda Parsi putih yang diantarkan kepada beliau. Dengan kaki satu menginjak punggung seorang abdi dalem, kaki lain mengayun dan megahlah beliau duduk di atas kuda Parsi-nya, menanti. Sorak sorai bergemuruh bata-roboh lagi. Nah, inilah sekarang beliau, sang muda titisan[16]) Ayahanda, moncer kuncara[17]),

datang kalem di As punggung kuda Parsi putih juga, hanya lebih kecil. Putra Mahkota bersembah ke arah ayahnya yang mengangguk dan yang langsung maju ke arah garis tepi selatan. Di belakangnya Pangeran Aria Mataram mengikuti ayahnya dan sengaja membuat kuda mengirig-irig kenes. Tepuk tangan dan sorak-sorai pesona rakyat. Tampak Susuhunan menghendaki dulu sang putra lah pihak yang dikejar. Bersembahlah putranya, “Nuwun sendika.”

Aba-aba bende dan kendang[18]) dari Bupati Penatacara. Hening sebentar penuh ketegangan. Tiba-tiba gong agung berbunyi, dan meledaklah lagi guruh sorak-sorai para penonton, membelah angkasa. Dengan segala ketangkasan muda yang luwes mempesona, Putra Mahkota seperti kijang terbang penuh seni mirip menari, menghindar dari serodokan tombak tumpul ayahnya yang masih berpamor kebolehannya menunggangi kuda. Dalam gerak-gerik kencang lurus yang tiba-tiba menukik berbahaya serba menegangkan, Pangeran Aria Mataram menjadikan dirinya benar-benar bintang lapangan. Alangkah bergelora semangat­nya Tejarukmi, pikir Arumardi juga yang melihat adik sesuaminya bersemangat memihak kepada Putra Mahkota. Cemas sama dengan Duku terlintaslah pertanyaan: untuk beliaukah Tejarukmi tadi bersiteguh ingin melihat Setonan?

Lagi rakyat bersorak-sorai. Sekarang Susuhunan-lah yang terkena giliran dikejar oleh putranya. Satu kali tombak sang pemburu nyaris mengenai punggung Raja. Tetapi Susuhunan Hanyakrakusuma masih cukup gesit untuk menghindari serodokan. Ataukah Aria Mataram hanya pura-pura membuat meleset serodokan tombaknya? Yang mempesona sebenarnya ialah gaya lari kuda Parsi putih Susuhunan. Begitu gagah perkasa, cepat tetapi mulia menakjubkan gaya lari kuda itu. Dan karena kuda Raja lebih besar daripada kuda milik Putra Mahkota, tidaklah mudah bagi pihak yang mengejar untuk berhasil. Gigih Pangeran Aria Mataram mengerahkan segala daya dan gaya kuda yang dapat diperasnya. Tetapi gagallah ia selalu. Akhirnya, sebelum garis terakhir tercapai kelihatan sekali Susuhunan melambatkan lari kudanya dan, terlalu kentara sebetulnya, sangat memberi kesempatan kepada putranya, untuk menjamah punggung beliau dengan tombak. Bersorak-sorailah seluruh alun-alun karena melihat, betapa luwes Susuhunan mereka menunjukkan, bahwa besarlah hati beliau, budiwan pemberi kesempatan untuk pihak yang muda. Turunlah Pangeran Aria Mataram dengan segala elegansia, dan bersembah sambil berlutut. Kaki ayahnya dicium hormat, dan ditolongnya Susuhunan turun dari kuda, kemudian Putra Mahkota mengantarkannya dengan penuh senyum bangga ke tempat duduk Raja.

Ya, Pangeran Arya Mataram punya alasan untuk manja, sebab di muka ratusan ribu rakyat, sang Senapati-ing-Ngalaga Mataram telah memberi tanda sasmita kepada seluruh hadirin-hadirat, betapa berkenan sang Ayah kepadanya. Khusus kepada Pangeran Alit, saudara dari lain ibu, saingannya selama ini, dan Tumenggung Danupaya, gurunya, Pangeran Aria Mataram mengirimkan wajah teramat manis dan anggukan teramat hormat yang penuh arti. Senyumnya, senyum Sengkuni. Tetapi tidak hanya kepada Pangeran Alit dan Tumenggung Danupaya saja. Istimewa dan secara khas senyum penuh arti ditaburkannya pula kepada seorang wanita kuncup yang seperti intan kecil bercahaya cemerlang menyolok di antara mutiara-mutiara buram, yang dilihatnya sejak tadi menari-narikan bulu-bulu matanya. Ya, bulu-bulu mata yang seperti jari-jemari seniwati tanah Pasundan memetik-metikkan lagu rindu dalam rongga-rongga kecapi kalbunya. Tidak, tidak dalam kandang si Serdadu Lapuk tempat sebenarnya titisan bidadari ini. Sekali saat… senyum, senyumlah Pangeran Aria Mataram, sekali saat… pastilah. Sesudah usai olahraga Setonan, Raden Mas Jibus alias Rangkah dengan hati membusung menyiapkan diri menikmati mandi segar. Biasanya Susuhunan masih mengajak lingkaran paling dekatnya untuk berpesta ria semalam suntuk. Wiraguna terhitung dalam lingkaran tertinggi itu. Bagus! Tumenggung Wirapatra akan ia minta, pasti panglima haus kuasa dan hormat itu akan mau disuruh mengajak Wiraguna mandi saja di dalam keraton; bohong saja diperintah Baginda, begitu rencana siasat Pangeran Aria Mataram. Sementara itu… lekas, mana kepala gandek?

“Hai, Prajurit, panggil Kentol Klodran! Cepat!” Kini tunggulah! Yang sudah lama diusahakan Pangeran Aria Mataram tetapi selalu gagal kali ini akan terjadi. Sekarang burung cendrawasih itu sendiri yang akan keluar dari sangkarnya.

Pada waktu Tumenggung Wiraguna merasa memperoleh kehormatan istimewa “dari Susuhunan,” diperkenankan menikmati pemandian istana Raja yang biasanya hanya diperuntukkan khusus bagi Putra Mahkota, sepasukan gandek Aria Mataram mencegat tandu-tandu bangsawan Wiragunan di suatu persimpangan jalan. Dengan halus kepala gandeknya menyampaikan sepucuk surat bersegel istana kepada Putri Arumardi. Para putri Wiragunan dipanggil secara khusus oleh Susuhunan Sayidin Panatagama. Sangat heran dan penuh prasangka buruk, Putri Arumardi diam ragu-ragu.

Baiklah, tetapi bukankah kami harus minta diri dari Tumenggung dulu sebelum menghadap Susuhunan? Selain itu kan kami baru saja dari Setonan, penuh debu dan serba berkeringat begini. Kan seharusnya meng-adi-salira dan serba berbusana indah dahulu sebelum memberanikan diri menghadap Baginda? Tidak perlu, begitu perintah atasan paling atas. Ada apa? Kami hanya pegawai rendahan, tak berhak menanyakan alasan Raja. Yang diundang siapa? Kami andaikan, yang sudah tercantum dalam surat itu. Tak percaya Putri Arumardi membaca lagi surat. Nyai Ajeng tidak diundang? Tidak mungkin. Coba tanyakan dulu! Kami hanya abdi-abdi suruhan, Bendara Ayu. Tidak mungkin! Tidak mungkin, mosok istri perdana tidak diundang, dan kami hanya sendiri ke sana. Susuhunan Senapati-ing-Ngalaga Sayidin Panatagama pasti sudah paham bijak, apa yang baik dan tidak, Bendara Ayu.

Tak berdaya Putri Arumardi. Perlahan-lahan kepalanya berputar, memandang Tejarukmi di sampingnya. Jelas, ia senang menerima undangan luar biasa itu. Tetapi tak pantaslah berdebat di muka gandek bermuka bandeng itu. Bagaimana nanti pertanggungjawaban kepada Nyai Ajeng, terutama kepada Kakangmas Tumenggung?

“Tidak! Kami berunding dahulu dengan Nyai Ajeng!” keputusannya tegas. “Kepala barisan! Terus! Wiragunan!” Membongkok penuh sopan santun gandek kepala menuruti wanita ningrat yang tak dapat ditawar itu. Pangeran Aria Mataram telah menandaskan tadi, agar jangan sekali-kali menggunakan kekerasan seperti dulu. Dipangku, dibelai, nanti kan lemas sendiri, begitu pesan tuannya.

Sesampainya di Wiragunan Duku memohon dan memohon kepada Nyai Ajeng, agar jangan berbuat sesuatu tanpa sepengetahuan Tumenggung Wiraguna. Dari tarub para penabuh gamelan di alun-alun, sejak tadi Putri Arumardi dan Duku melihat, bagaimana Pangeran Aria Mataram teramat kentara bermain mata dengan Putri Tejarukmi. Pasti ini suatu jebakan lagi dari Raden Mas Jibus. Nyai Ajeng sungguh-sungguh tak dapat bernapas. Kalau ditolak, apa akibatnya nanti bila benar-benar Sri Susuhunan-lah yang mengundang? Tentunya semua ini sudah dibicarakan sebelumnya dengan sang suami, Wiraguna? Ataukah… ? Bila Tejarukmi dilepaskan, bagaimana itu dapat dibenarkan; melepas istri tanpa sepengetahuan suami? Padahal pernah ada usaha penculikan terhadap yang justru sekarang diundang secara aneh ini?

Masih belumlah sempat Nyai Ajeng dan beberapa rekan istri memutuskan ya atau tidak, seorang dayang-dayang tergopoh-gopoh membawa berita bagaikan ledakan meriam Betawi. Pertempuran sengit di gerbang! Sampai di gandok keputrian teriak perkelahian terdengar. Teriak wanita. Oh! Itu Tejarukmi, seru Putri Arumardi. Derap kuda-kuda berlari. Sunyi. Rintih orang-orang terluka. Pucat Putri Arumardi dan Duku saling pandang-memandang. Menangis seorang dayang tua melapor tentang yang sudah diketahui… dan yang samar-samar telah dapat diduga sebelumnya. Tejarukmi telah dilarikan… atau melarikan diri?

Sementara itu, Pangeran Aria Mataram telah menyebarkan perintah keras kepada para penjaga istana, untuk menolak utusan atau suruhan siapa pun yang ingin menghadap ayahnya. Susuhunan masih lelah. Tidak boleh diganggu. Setelah memohon diri dari ayahnya, dengan hati berdendang Raden Mas Jibus alias Raden Mas Rangkah dan pengawal-pengawalnya pergi. Tetapi tidak menuju ke purinya. Ke arah barat laut, melewati Pingit ke suatu pesanggrahan di atas bukit kecil di utara jalan besar ke Jagabaya, yang sudah sepasang musim terakhir ini ia beri nama baru: Arga Tejakencana.

[1]     coklat hitam gelap, coklat kelabu bernoda-noda coklat muda dan putih, hitam bercahaya merah

[2]     lelaki berdaya dada birahi

[3]     lelaki berdaya dada birahi

[4]     anak merpati

[5]     kuda melonjak-lonjak

[6]     alat gamelan berbentuk gong tetapi kecil mungil kerempeng

[7]     mahkota

[8]     negara besar beserta orang-orangnya yang jaya, serba seperti gunung Lawu nasi mereka yang istimewa gurihnya, seperti sungai Serayu kuah sambal goreng mereka, sejahtera berwibawa Mataram Paling Cantik di seluruh bumi

[9]     Banteng bangkit penuh semangat, Bangsawan Menghadap (raja)

[10]    muka masam serba tak senang

[11]    Bengawan Solo sekarang

[12]    untung luar biasa

[13]    kurun waktu 8 tahun

[14]    vals, nada tidak tepat

[15]    menari serba terbang jaya

[16]    keturunan yang dianggap sebagai penjelmaan dari….

[17]    mencuat sinarnya, termasyhur

[18]    alat musik tabuh

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Telah Terbit on 16 Mei 2015 at 01:13  Comments (103)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/trilogi-yb-mangunwijaya/genduk-duku/trackback/

RSS feed for comments on this post.

103 KomentarTinggalkan komentar

  1. Episode pertama Genduk Duku telah diwedar

    silahkan berburu rontal dan bergojeg dan berburu rontal sebagaimana bertahun yang lalu, ketika masih menjadi cantrik aktif di padepokan ini.

  2. test…..
    kenapa komen saya tidak bisa masuk daftar komen?

    Hadu….
    kenapa ya?

  3. Grotal-gratul, grayah-grayah

  4. Serasa seperti nyantrik pertama kali, lupa cara nyarinya

  5. ToPan Siap Hadiiirŕ Pakde Satpam. Apa kabar Pakde Satpam dan Eyang Arema ?. Semoga Selalu Sehat dan Banyak Rezekinya Amiiiin.

  6. Pakde Satpam. Kalau pake android apa bisa dicari dan download ya. Sudah berkali kali di plototi di ubek ubek kok ra ketemu ya hahahhhhhh

    • Sugeng enjang . . . Selamat pagi, Ki Adji.

      Saya tadi sudah mencoba di hp dan tidak bisa Ki, kecuali kalo di hp Ki Adji ada djvu nya, baru bisa dibaca, karena formatnya djvu, bukan pdf bukan pula ms-word.

      Kalo soal rontal diumpetin dimana sama Anakmas Risang, Ki Adji saya kira sudah pengalaman tahunan . . . he he he, tlateni ae suwe-suwe rak ketemu . . . gampang kok, gak susah.

  7. Assalamu’alaikum wr wb
    Salam sejahtera buat kita semua.
    Alkhamdulillah telah kita mulai lagi mengangkat kisah cerita anak bangsa berupa Novel Serial Roro Mendut.
    Serial karya budayawan YB Mangunwijaya ini berkisah tentang kejatuhan martabat seorang ksatria perang, seorang Tumenggung di Zaman Pemerintahan Kesultanan Mataram Era Sultan Agung Hanyokrokusumo.
    Seorang Panglima Perang yang sangat disegani oleh teman dan lawan ini yaitu TUMENGGUNG WIROGUNO, tergelincir hanya karena kecantikan seorang wanita rakyat biasa, RORO MENDUT.
    Sayangnya sang perawan jelita tidak bersedia disunting oleh Ki Tumenggung dengan tawaran hidup kamukten. Ia lebih memili mati bersama kekasihnya PRONOCITRO, seorang nelayan dari pantai utara.
    Kisah tragis di atas berlanjut dengan sebab dan akibat dari peristiwa tersebut di buku kedua dan ketiganya yg sudah dapat diikuti disini.
    Tapi yang justru menarik adalah latar belakang sejarahnya. Banyak yang sangat awam dengan sejarah Mataram di Era akhir Sultan Agung yang digantikan oleh putra mahkota Sunan Amangkurat I, yang dikenal brutal demi menuruti ambisinya yg gemar melahap betis indah. sampe demi menutupi kebobrokannya, dia tercatat telah membantai ratusan Kiai dan Santri di jamanya. Bagaimana jalan ceritanya, temukan di serial novel ini.
    Hanya sayang sekali, Genduk Duku ini sudah Seri II. Buku Seri I berjudul Roro Mendut, belum ditemukan dalam koleksi. Sedangkan mencarinya di luar sangat jarang diketemukan.
    Apabila diantara sidang pembaca ada yg memiliki, atau kebetulan menemukan di toko buku. mohon perkenan untuk di informasikan di sini.
    Mohon judul di atas bukan APDM, tapi RORO MENDUT, novel serial sejarah YB Mangun Wijaya.
    Monggo.

  8. Assalamu’alaikum Wr Wb,
    Salam sejahtera untuk kita semua,
    Selamat pagi . . . Sugeng enjang,
    Sanak kadang adbm semua . . . .

    Anakmas Risang kok teganya-teganya menyanyi . . . he he he.
    Sementara kadang yang gak sabaran maunya cepet membaca, ingak-inguk rana-rene, nang endi leh ndekek rontal.

    • kok komentare menunggu moderasi,
      ra entuk mlebu po ya . . . . . hiks.

  9. Pasti bisa…hik..megkuh titik noda itu…

  10. mantappppp….. tinggal cari roro mendutnya…

  11. Nunut ngiyup Ki ….

  12. Roro mendutnya di bawa lari pronocitro Ki … Salam buat poro Empuh2 Adbm/Pdls …

  13. Wis di ubek2 ora ketemu .. Klau PC cepat klau Hp apa bisa ya … PakLik Satpam mohon bantuannya ..

  14. Ho android juga bisa ki….titik bernoda kata mas satpam…hikkk tidak boleh menyerah

  15. Sugeng sonten Anakmas Risang

    Lha wong episode 2 sudah wedar dari tadi, po ya belum ada yang ngunduh . . . he he he.
    Mungkin sanak kadang perlu bahasa sasmita dari P. Satpam, memang diperlukan ketelitian dan kejelian.

    Sanak kadang sedaya . . . mangga episode 2 sudah gogrok, tinggal ngunduh saja.

    • Sugeng sonten Panembahan
      he he he …., kala wau kesupen terus buru-curu wedaran, lan terus nglanjutaken tugas malih.
      ngapunten…

  16. Hiks…..mas Satpam

    • kata bang haji mas Satpam…terLALU

      • he he he …..
        gandok dimanapun kalau tidak ada Ki Menggung Gembleh dan Ki YP, kayaknya bagaimana…. gitu.

        Monggo Ki

        • Betul Lik Satpam… seperti lontong balap tanpa lontongnya…

          • Betul ki AM….
            Seperti motor balap tanpa motornya

  17. Pusing…
    bagaimana memunculkan komentar terakhir dalam daftar

    mohon pencerahan

    • Lho….mas satpam kePUsingan toh

      Cantrik kira memang sengaja tidak
      mas Satpam tampilkan

      • Gampang mas Satpam…hiks

        Kirim panah sanderan nti cantrik
        bantu dari ujung wetan

  18. Alhamdulillah lagi bisa mlebu senthong sebelah sini…

    lampune masih mati, sehingga harus meraba-raba mencari rontal ala genderuwo picek… semoga pas ‘meraba’nya…

    • Ketemu ki AM….bukan hanya diRABa
      zoom juga perlu ki, saestu

  19. nakmas satpam apa eps.3 siap digrayah ?

    • likmas Satpam apa eps.4 siap diwedar?

      • dereng, mbenjang enjing

    • sampun …..

  20. Alhamdulillah wis gak usum duku nanging iso moco Genduk Duku semudah memijit wohing ranti.

    • Selamat malam mas Satpam… 🙂

      Selamat menyiapkan wedaran rontal
      lanjutan.

      • di padepokan sini….cantrik siap
        bertanding lawan mas Satpam

        Kuat mana yang baca apa mas Satpam
        yg nyiapkan rontal

        • hayoo,,,,,,,,,

          • Priit…format text mas Satpam

            • yg kalah angkat
              tangan kanan.
              tanda kiri cukup
              masukan saku
              belakang 🙂 🙂

            • Kudu sesuai jadwal no Ki Menggung.

              • Jadwal ber-
                kunjung

                • J
                  A
                  D
                  W
                  A
                  L

                  A
                  M
                  B
                  I
                  L

                  J
                  A
                  T
                  A
                  H

                  R
                  A
                  N
                  G
                  S
                  U
                  M

              • Monggo
                lha wong wis ket mau kok
                he he he …..

  21. Episode 5….belum ada cantolan
    Episode 6….masih dalam penggorengan

    Episode 7….belum diracik mas Satpam
    Episode 8….nunggu antrian wedar

    • Usul mas Satpam,

      Wedaran rontal nunggu pasukan OGrog
      pada ngumpul ng padepokan.
      Tahan dulu wedaran sp cantrik mentrik
      kemringet ngiler rontal lanjutan.

      Ini tadi usulan ki Trupod sesepuh
      padepokan….ki gundul sakdermo
      menyebar luaskan

      Saestu…TENAN

    • 5 wis kok

      • 5 wes nyantol….tinggal srondol

        • Matur nuwun mas Satpam

          • Nti malam cantrik kancani
            Melek-an

  22. Absen dulu aahh…..

    Baru kali ini mbuka gandok Genduk Duku, karena berbagai hal..
    matur nuwun sanget Pak Satpam, Bopo Panembahan, dll atas peluncuran rontal yang baru

  23. selamat siang

  24. Episode 5 : djvu dan pdf

    teks belum dimunculken

    • pelan2 mas Satpam…ga usah terburu
      buru pasang “teks”

      yg penting wektu cantrik sambang lgi
      nanti “teks” sudah dicantolkan…hehe20x

      • Malam mas Satpam

        • Hadir…sambang padepokan

          • he he he …, monggo…..

            • Hehehe…matur
              nuwun mas Satpam

              • Sugeng
                Dalu

  25. Hadir….mas Satpam

    • Sugeng dalu kadang genduk DUKU

      • Otw padepokan sebelah sengkaling

        • loh…, padepokan sebelah Sengkaling yang mana? UMM, UIN, Polres?

  26. HADIR…..mas Satpam

    • monggo….
      penghuninya di sini hany Ki menggung sendiri
      satpam juga jadi males piket disini
      he he he he he he he he he he (lama lama tidak terdengar)

      • Males….pertanda belom makan
        mas Satpam…kleru Mules ding.

        AYO SEMANGAT…mumpung yg
        laen pada belom datang.

        • berDUA…..sapa takut 🙂 🙂

          • AYO mas SATPAM….kita buat padepokan megah.

            Megah : menawan gagah
            tur bikin betah para wanita
            seluruh tlatah jawa 🙂 🙂

  27. HADIR….sugeng dalu

    • mas Satpam….kemana kah panjenengan

      • cantrik dewean….ENAK tenan

        • urun saran….kenapa komen di genduk duku tidak nampak pd

          KOMENTAR terakhir padepokan
          ini mungkin yg bikin gandok jarang ada yang singgah padepokan

          • masa sih mas Satpam ga
            bisa otak atik membetulkan

            • Sampe judeg Ki, tidak berhasil.
              Masih dicoba otak atik lagi.

  28. Alhamdulillah, terima kasih mas
    Risang, tau tau sdh episode 8.
    Apa mas Risang sdh baca ceritanya?
    Latar belakang sejarahnya menarik, yaitu awal mula kita bersentuhan dengan barat secara langsung, dan juga kedzoliman Amangkurat 1yg jarang diangkat ke permukaan.

    • Sambil konversi dan edit teks Ki, satpam sempat baca.

  29. Njlekethek,
    setelah hampir putus asa, akhirnya ketemu penyebab tidak munculnya komen terakhir.
    Hadu…..
    Bobo ah….

  30. Wah…jebul saya ketinggalan….padahal yang cepat dapat yang lambat ketinggalan….Sugeng sonten sedoyo…!

    • benul ki Karto….yg cepat dapat duluan
      yg lambat sabar nunggu dum2an

      • Benur..Ki Tmg.YP..ngantri..

        • Ngantri sebentar….pas dibelokan cantrik serobot antrian,

          • Ati2 Ki Menggung….keseringan nyrobot ntar…bengkong lho 😀

            • Bengkong sekali kali asik ki Menggung

              BengkongAN…he 50x

              • Selamat malam…..sepi banget

                • S
                  E
                  R
                  E
                  M

                  Hi
                  Hi
                  Hi
                  Hi

              • hem….serem deh 😦

                • Se
                  Re
                  M

                  Me
                  Le
                  K

                  Me
                  Re
                  M

              • Serem…..seneng merem 😀

  31. tes…..masuk komen, komen masuk

    • tes…..yang keluar masuk 😀

      • Sugeng dalu ki Kartojudo

        • Kecipir mrambat kawat…wes suwe ki Karto ora liwat

          • Sugeng manuk..eh..masuk Ki Gundal gandul 😀

            • Hiks…matur nuwun ki Kartojudo

              Suwe ora jamu…jamu pisan godhong kates
              Suwe ora ketemu…ketemu pisan tes testes

              • Hehehe…dak kiro ketemu pisan ketemu….kates 😀

              • Sanes
                kates
                ki….

                kutes
                kusuka
                kates

  32. HADIR…. mendhisiki diri sendiri

  33. he he he ….

    gandok ini sepertinya rumahnya Ki Menggung berdua (KiGundul dan Ki Kartoyudo sendiri)

    • Bener mas Satpam…terkadang kita perlu menyendiri buat mengendapkan serta menenangkan diri dari hiruk pikuk ramainya hohohihi

      • Bener mas Satpam…terkadang kita …merasa sedih

        • Sedih dipagi hari…seneng disore hari

          • Sedih disiang hari….sueneng dimalam hari

            • Sugeng Riyadin Ji Gundul,mas Satpam…..
              maaf lahir batin……..

              • Njih Ki Menggung
                sami-sami nggih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s