GENDUK DUKU

Episode 15

Lega keesokan harinya Duku di pantai memandang ke layar putih kelabu, dengan dua petak tambalan yang sangat ia kenal itu, muncul dari kejauhan di atas buih-buih jaladri. Selamat datang. Tetapi datang juga pesan yang kurang menggembirakan, Bendara Eyang Pahitmadu ingin melihat Lusi. Lagi-lagi dibedol dari alam bebas. Masuk lagi ke dalam suasana puri yang mengekang. Apa boleh buat? Mungkin ada baiknya juga, sementara menjauh dari tempat yang dapat mewayangkan lagi impian-impian buruk darah bantaian. Maka berangkatlah saja Duku dengan suaminya. Di puri ternyata sudah hadir juga Putri Arumardi dan sang molek Tejarukmi. Alangkah cantiknya gadis simpanan Tumenggung Wiraguna ini. Dunia ningrat penuh wanita cantik, dan Duku sendiri tergolong bunga juga, walaupun hanya bakung ladang. Tetapi sang Tejarukmi ini! Senyum fajar yang ria berkicau dia. Namun sekaligus pendebar jantung yang mudah menyihir datangnya malapetaka bila kurang hati-hati terlalu kerap dibuka tirai pingitannya. Lelaki Jawa bagaikan jerami di sawah. Sangat mudah terbakar oleh pijar-pijar api asmara. Dan para wanita pun tidak kalah bergairah. Mataram di bawah tungku api Merapi memanglah negeri yang subur. Begitu juga orang-orangnya. Baru tadi, ibarat beras masih keras, masih lawan tak gentar pantang menyerah, tetapi sesaat kemudian langsung si musuh sudah menjadi nasi empuk hangat, kawan pemain gencar guling dan gulung. Retna Dumilah dari Madiun dengan Panembahan Senapati misalnya, siapa tak tahu gara-gara asmara mereka? Menurut tafsiran Duku, barangkali Putri Tejarukmi bukan jenis Retna Dumilah. Akan tetapi… jelas bukan pula jenis Mendut. Gadis jelita dari Imogiri ini seperti tenunan benang emas bidadari kahyangan, terlalu halus, terlalu mudah patah putus oleh senggolan angin tajam dari mana pun. Akan tetapi… entahlah, dari lenggang pinggang maupun lenggang mata, dari oleng kepala di atas leher semampai maupun oleng senyumnya, entahlah, hanya rasa sayang namun cemas juga yang menghinggap di dada Duku, bila ia memandang gadis cantik ini… terlalu cantik sebetulnya. Tambah lagi bila mengingat adanya unsur-unsur lelaki macam Wiraguna, apalagi Raden Mas Jibus. Untuk apa Tejarukmi ikut datang di Puri Pahitmadu? Tentulah untuk menengok kakak ipar tua yang sudah mulai melemah kesehatannya. Tetapi sebenarnya ketika putri itu mendengar berita Bendara Eyang memanggil Duku, langsung ia memohon kepada Putri Arumardi untuk diantarkan ke Puri Pahitmadu agar dapat bertemu dengan pendekar-pendekar penyelamatnya, sambil melihat si bayi Lusi.

Maka ramailah Puri Pahitmadu dan desa di dekatnya, penuh abdi dalem dan prajurit pengawal. Tetapi toh berhasil menyusup jugalah seorang teliksandi suruhan Raden Mas Jibus, yang tak pernah lalai membayangi langkah laku gadis yang telah menawan hatinya. Mana mungkin seorang Putra Mahkota gagal merebut kuntum mawar dalam ladang wilayah Baginda Ayah Pemilik Ladang? Hanya soal waktu, pasti si cantik Tejarukmi jadi ia kecup nanti. Langkah demi langkah, lelaki pemiliknya akan ia tarik terperangkap ke dasar jurang. Dan lagi, sungguh tak senonoh seorang kakek tua-bangka-tunggu-lubang-jaratan kok tidak malu mau menikmati gadis seumur cucu? Apa salahnya bunga semolek itu dioperkan saja kepada pria yang paling pantas di seluruh negara, yang tak lain tak bukan ialah Putra Mahkota sendiri?

Sangat senang Bendara Eyang mengamat-amati Lusi. Gadis lagi, gumamnya tersenyum geli campur haru, menggeleng-gelengkan kepala berambut putihnya.

“Eyangmu tak mau meramal di muka bayimu, Nduk. Tidak baik bila orang tua yang sudah harus siap-siap menuju ke alam baka meramal atau menduga-duga nasib bayi mungil di mukanya. Tetapi ya, kita lihat sendiri anak ini perempuan, Nduk?” begitu keluh lunaknya.

“Bendara Eyang sudilah jangan mengeluh. Tanpa keberanian Putri Pandansari, Surabaya tak akan pernah menghaturkan bulu bekti kepada Susuhunan Hanyakrakusuma.”

“Ya, hanya satu itu.”

“Apakah teja kepahlawanan hanya dapat diraih di medan perkelahian, Eyang? Bukankah Putri Arumardi salah satu citra yang dapat dijadikan hiasan bekas rimba Mentaok ini?”

“Arumardi. Arumardi. Dia bukan putri Mataram. Dia anak begawan dari lereng Merapi. Siapa tahu, dia salah satu keturunan Nyai Rara Kidul yang suka berbirahi terhadap Kiai Merapi?”

“Setahu hamba, Bendara Pahitmadu, beliau manusia biasa seperti kebanyakan dari kami. Tetapi budi hatinya adimanusiawi.”

“Hanya suaminya yang tidak memadai. Sesudah bikin malu karena Mendut-mu dulu itu, akan ada apa lagi dengan si remaja Rukmi itu? Ya ya ya, andaikata dia bukan adikku sendiri, sudah saya tertawakan dia sampai mukanya jadi tembem.[1]) Dari mana sifat ngawurnya itu?”

“Setiap pria berhak mengambil putri yang disukainya, Bendara Eyang.”

“Kau punya pikiran begitu juga? Sungguh aku kecewa.”

“Bukan pendapat Duku, tetapi pandangan. umum.”

“Pandangan umum? Siapa umum itu? Setiap maling atau pemerkosa tergolong umum, itukah? Kau seia dengan mereka, Nduk?”

“Maaf, Bendara Eyang, bukan Duku.”

“Awas kau, kalau masih membeo kaum bandot kambing macam itu. Kau harus lain, Nduk, dan bayimu Lusi ini hwus pagi-pagi kau didik lain dari yang disebut umum itu.”

“Sudilah Bendara Eyang percaya pada hamba. Bendara berpesan apa mengenai si Lusi, agar pendidikannya berkenan kepada Bendara Pahitmadu?”

“Bukan agar berkenan kepada saya. Pahitmadu bukan Allah Yang Mahapunya. Tidak baik, sekali lagi, bila orang setua Pahitmadu meminta dan mendesakkan kesukaannya kepada keturunan. Apalagi kalau sudah saatnya mau meninggalkan janaloka[2]) ini. Akan jadi beban berat nanti bagi yang ditinggal, ya beban, bukan pertolongan. Yang jelas, saya mencium bahwa kaum wanita akan menjumpai masa yang lebih gelap di hari yang akan datang. Begitulah. Kau sudah tahu, Duku, selama Susuhunan Hanyakrakusuma masih berkuasa, tatasusila terjaga. Beliau pantas mengemban gelar Agung. Tetapi Putra Mahkota?”

“Kita mengharapkan yang baik-baik saja, Bendara Eyang.”

“Ya, tentu. Tetapi kita harus siap siaga juga, Nduk. Terlebih lagi anakmu perempuan. Lihat mata si Gendon yang menarik lucu ini. Ini bukan Lusi tetapi Genduk Duku.” Dan tersenyum geli nenek tua itu. Yang datang dan yang sedang berangkat pergi, pikir Duku memandang si bayi dan sang nenek.

“Kau sudah mendengar, Sunan Giri telah ditaklukkan oleh Pangeran Pekik, atas nama Susuhunan-ing-Ngalaga Mataram?”

“Sudah Bendara Ayu, Putri Arumardi yang menceritakannya. Panembahan Kawis Guwa dari Gresik diharuskan tinggal di Mataram, benarkah itu?”

“O ya? Ya ya, tentu saja. Siapa kalah harus ditawan secara halus di ibu kota. Agar dia tak dapat berbuat apa-apa melawan Raja. Bahkan biasanya mereka lalu menjadi abdi Susuhunan Mataram yang setia. Contoh paling bagus ya Pangeran Pekik dari Surabaya itu sendiri. Dulu lawan gigih, sekarang sekutu dan abdi paling setia.”

“Susuhunan Hanyakrakusuma raja yang bijaksana. Hanya…”

“Madiun, Pati, Lasem, Lamongan, Giri, Surabaya, Pasuruan di timur; Ukur, Sumedang di barat, semua telah tunduk kepada Mataram.”

“Ya, beliau raja agung. Hanya…”

“Hanya apa?”

“Lebih baik seandainya raja-raja itu tidak saling berperang.”

Tertawalah Bendara Pahitmadu sambil membelai-belai si bayi Lusi. “Kau aneh. Mana ada harimau tidak menerkam kijang. Itu pekerjaannya. Ya, Duku, Duku. Aku tahu, kau lain dari yang lain. Tetapi Duku pun harus tahu, bahwa dunia nyata bukan dunia buah ciptaan kaum wanita.

Allah Subhanahu wa ta’alla pun, bila kita memperhatikan warna nada khotbah para ulama kita, adalah lelaki.”

“Allah bukan lelaki bukan perempuan.”

“Ya, itu kan ajaran resminya. Tetapi kalau kita lihat sifat-sifat apa yang secara terbuka maupun diam-diam mereka selundupkan pada Allah, atau yang paling mereka sukai bila sifat itu ada pada Allah, ialah sifat lelaki, bukan? Sebelum pergi berperang pun kaum tombak keris itu memohon kejayaan dari Allah, seolah-olah Hyang Mahakuasa itu panglima tertinggi yang tentunya-lelakiiah. Ya, Duku, Duku. Kau harus belajar banyak. Tetapi yang paling penting: belajar menjadi wanita yang utuh. Tahu, apa ciri dan keunggulan khas wanita? Yang saya maksud, bukan keunggulan punya payudara dan gua garba.” (Tertawalah Duku.) “Ya, itu juga. Tetapi bukan itu yang saya maksud.”

“Dia halus perasaannya? (Bukan.) Dia cantik. (Ah, bukan itu.) Dia dapat melahirkan anak. (Hampir. Sudah betul tetapi… ) Dia pengantar kehidupan.”

“Ya! Kena tepat! Wanita selalu melawan pembunuhan, karena kodratnya adalah mengandung dan menyusui kehidupan.”

“Sebenarnya lelaki pun harus begitu juga.”

“Kau cerdas, Nduk. Dan semoga Lusi-mu ini melebihi ibunya. Tetapi kau masih harus belajar mengolah kenyataan seperti apa adanya. Bukan mengolah dan mengelola impian. Wanita yang suka mimpi, bukan macam itu yang baik.”

“Tetapi, Bendara Eyang, apakah kita dapat menciptakan kenyataan tanpa impian lebih da­hulu?”

“Yang kaumaksud cita-cita? Cuma, yang mana! Cita-cita yang baik seperti awan-awan penuh pesona di angkasa itulah. Tetapi awan-awan kelabu. (Yang mengandung hujan?) Nah, kau sudah tahu. Yang kelabu penuh berair.”

“Tetapi Duku takut bila disuruh memandang yang serba suram kelabu.”

“Takut artinya masih cinta pada kehidupan, siaga membela kehidupan. Yang penting, bagaimaria kesimpulan yang mencuat lazimnya dari rasa takut?”

“Lari misalnya, Bendara Eyang?”

“Pingsan juga bisa. Jatuh sakit. Atau….”

“Atau menendangnya sampai remuk, Bendara Eyang?”

“Mustahil itu, Nduk. Dengar Duku-ku. Kau harus berani hidup dengan ketakutan sebagai kawan, ya sebagai teman dalam marganing urip.[3]) Tahu, Nduk, apa yang eyangmu maksudkan?”

Duku diam. Ia hanya menghela tangan puannya yang sekarang entah mengapa sama sekali bebas cincin itu, dan meletakkan telapaknya pada batu kepalanya.

“Berkatilah hamba si Duku, Junjunganku, agar kuat menempuh hidup penuh marabahaya.”

Hening yang menyusul terasa oleh Duku sebagai sutra awan pengendap intan-intan embun restu yang sangat dibutuhkannya. Bukan bagi diri sendiri terutama, tetapi bagi sang suami dan anak. Keheningan yang nyaman yang meneguhkan itu, terobek oleh tangis si bayi.

“Sudah cukuplah, Nduk. Mungkin ruang ini sudah menjadi terlalu panas bagi si Lusi. Dia butuh ibunya sekarang. Nah, ambil dia. Kulihat susu-susumu masih montok air. Dan menyusui nikmat rasanya, bukan? Semacam pemberian berkat restu kepada anak, anggaplah begitu. Tetapi kalau kau percaya pada eyangmu, jangan seperti simbok-simbok tak tahu ngelmu itu. Anakmu nanti harus mulai disapih. Biar belajar tak menempel selalu pada susu ibu. Akan lembek dia kelak, terbiasa senang nikmat serba tergantung, sedangkan kau nikmat memberi nikmat. Suka anakmu kelak lembek watak serta suka tergantung?”

“Tentulah tidak, Bendara Eyang. Tetapi Lusi akan menangis.”

“Yang lebih menangis ibunya, akuilah, ya bukan?”

Duku tersenyum dan mencium anaknya yang masih menangis itu.

“Biar, si Mungil pun sejak kecil harus belajar menangis sedikit. Jangan setiap tangis kau bungkam dengan putik susu. Dengar, Nduk, eyangmu boleh ditikam tujuh keris kalau keliru, tetapi saya yakin, si Raden Mas Jibus itu pasti begitu dulunya. Menangis sedikit dikasih putik susu. Sampai sudah besar begini, punya permaisuri sudah setengah windu, punya selir dan gundik berapa banyak lagi tinggal ambil, masih saja ia menangis merengek-rengek minta payudara remaja Tejarukmi.”

“Untung Lusi bukan lelaki,” senyum Duku berkelakar.

“Ah, kau… mau pintar sendiri. Sudahlah kali ini boleh, tetapi sudah saatnya dia belajar minum bubur tajin gurih, tahu?” Duku membongkok bersama bayinya di dada, lalu ingin ke luar ruang.

“Di sini saja, Nduk. Berikan kenikmatan jugalah kepada Eyang. Aku senang melihat Lusi pada dadamu. Ya, seolah-olah menjadi lebih muda rasaku jadinya.”

“Sendika. [4])

Dan dibebaskanlah dua buah dadanya yang masih subur dari pingitan kain kembennya, dan satu lahap diisap oleh si bayi, sehingga seolah-olah ada tiga buah sekarang yang bergantung pada dada si ibu. Tersenyum sang. nenek menikmati pemandangan pengantaran kehidupan itu, dan mengalunlah dalam hati sang nenek, yang belum pernah mengalami keintiman perempuan secara penuh itu, tidak tanpa rasa sayu, sisa sedih tersisih,

 Jaladri payudara pawestri

Sendang tirtaning ngagesang

Munggeng Jatang Bayi

Pinda Samudra Werkudara

Manggih jatining Dewa Ruci[5])

————————————

[1]     figur tari rakyat berwajah gemuk bodoh

[2]     tempat manusia = dunia

[3]     jalan kehidupan

[4]     Hamba taat pada perintah Tuan

[5]     Air berlimpah payudara wanita

Mata air kehidupan

Bagi si Bayi Mungil

Bagaikan Samudra, tempat Werkudara

Menemukan hakikat Dewa Ruci.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Telah Terbit on 16 Mei 2015 at 01:13  Comments (103)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/trilogi-yb-mangunwijaya/genduk-duku/trackback/

RSS feed for comments on this post.

103 KomentarTinggalkan komentar

  1. Episode pertama Genduk Duku telah diwedar

    silahkan berburu rontal dan bergojeg dan berburu rontal sebagaimana bertahun yang lalu, ketika masih menjadi cantrik aktif di padepokan ini.

  2. test…..
    kenapa komen saya tidak bisa masuk daftar komen?

    Hadu….
    kenapa ya?

  3. Grotal-gratul, grayah-grayah

  4. Serasa seperti nyantrik pertama kali, lupa cara nyarinya

  5. ToPan Siap Hadiiirŕ Pakde Satpam. Apa kabar Pakde Satpam dan Eyang Arema ?. Semoga Selalu Sehat dan Banyak Rezekinya Amiiiin.

  6. Pakde Satpam. Kalau pake android apa bisa dicari dan download ya. Sudah berkali kali di plototi di ubek ubek kok ra ketemu ya hahahhhhhh

    • Sugeng enjang . . . Selamat pagi, Ki Adji.

      Saya tadi sudah mencoba di hp dan tidak bisa Ki, kecuali kalo di hp Ki Adji ada djvu nya, baru bisa dibaca, karena formatnya djvu, bukan pdf bukan pula ms-word.

      Kalo soal rontal diumpetin dimana sama Anakmas Risang, Ki Adji saya kira sudah pengalaman tahunan . . . he he he, tlateni ae suwe-suwe rak ketemu . . . gampang kok, gak susah.

  7. Assalamu’alaikum wr wb
    Salam sejahtera buat kita semua.
    Alkhamdulillah telah kita mulai lagi mengangkat kisah cerita anak bangsa berupa Novel Serial Roro Mendut.
    Serial karya budayawan YB Mangunwijaya ini berkisah tentang kejatuhan martabat seorang ksatria perang, seorang Tumenggung di Zaman Pemerintahan Kesultanan Mataram Era Sultan Agung Hanyokrokusumo.
    Seorang Panglima Perang yang sangat disegani oleh teman dan lawan ini yaitu TUMENGGUNG WIROGUNO, tergelincir hanya karena kecantikan seorang wanita rakyat biasa, RORO MENDUT.
    Sayangnya sang perawan jelita tidak bersedia disunting oleh Ki Tumenggung dengan tawaran hidup kamukten. Ia lebih memili mati bersama kekasihnya PRONOCITRO, seorang nelayan dari pantai utara.
    Kisah tragis di atas berlanjut dengan sebab dan akibat dari peristiwa tersebut di buku kedua dan ketiganya yg sudah dapat diikuti disini.
    Tapi yang justru menarik adalah latar belakang sejarahnya. Banyak yang sangat awam dengan sejarah Mataram di Era akhir Sultan Agung yang digantikan oleh putra mahkota Sunan Amangkurat I, yang dikenal brutal demi menuruti ambisinya yg gemar melahap betis indah. sampe demi menutupi kebobrokannya, dia tercatat telah membantai ratusan Kiai dan Santri di jamanya. Bagaimana jalan ceritanya, temukan di serial novel ini.
    Hanya sayang sekali, Genduk Duku ini sudah Seri II. Buku Seri I berjudul Roro Mendut, belum ditemukan dalam koleksi. Sedangkan mencarinya di luar sangat jarang diketemukan.
    Apabila diantara sidang pembaca ada yg memiliki, atau kebetulan menemukan di toko buku. mohon perkenan untuk di informasikan di sini.
    Mohon judul di atas bukan APDM, tapi RORO MENDUT, novel serial sejarah YB Mangun Wijaya.
    Monggo.

  8. Assalamu’alaikum Wr Wb,
    Salam sejahtera untuk kita semua,
    Selamat pagi . . . Sugeng enjang,
    Sanak kadang adbm semua . . . .

    Anakmas Risang kok teganya-teganya menyanyi . . . he he he.
    Sementara kadang yang gak sabaran maunya cepet membaca, ingak-inguk rana-rene, nang endi leh ndekek rontal.

    • kok komentare menunggu moderasi,
      ra entuk mlebu po ya . . . . . hiks.

  9. Pasti bisa…hik..megkuh titik noda itu…

  10. mantappppp….. tinggal cari roro mendutnya…

  11. Nunut ngiyup Ki ….

  12. Roro mendutnya di bawa lari pronocitro Ki … Salam buat poro Empuh2 Adbm/Pdls …

  13. Wis di ubek2 ora ketemu .. Klau PC cepat klau Hp apa bisa ya … PakLik Satpam mohon bantuannya ..

  14. Ho android juga bisa ki….titik bernoda kata mas satpam…hikkk tidak boleh menyerah

  15. Sugeng sonten Anakmas Risang

    Lha wong episode 2 sudah wedar dari tadi, po ya belum ada yang ngunduh . . . he he he.
    Mungkin sanak kadang perlu bahasa sasmita dari P. Satpam, memang diperlukan ketelitian dan kejelian.

    Sanak kadang sedaya . . . mangga episode 2 sudah gogrok, tinggal ngunduh saja.

    • Sugeng sonten Panembahan
      he he he …., kala wau kesupen terus buru-curu wedaran, lan terus nglanjutaken tugas malih.
      ngapunten…

  16. Hiks…..mas Satpam

    • kata bang haji mas Satpam…terLALU

      • he he he …..
        gandok dimanapun kalau tidak ada Ki Menggung Gembleh dan Ki YP, kayaknya bagaimana…. gitu.

        Monggo Ki

        • Betul Lik Satpam… seperti lontong balap tanpa lontongnya…

          • Betul ki AM….
            Seperti motor balap tanpa motornya

  17. Pusing…
    bagaimana memunculkan komentar terakhir dalam daftar

    mohon pencerahan

    • Lho….mas satpam kePUsingan toh

      Cantrik kira memang sengaja tidak
      mas Satpam tampilkan

      • Gampang mas Satpam…hiks

        Kirim panah sanderan nti cantrik
        bantu dari ujung wetan

  18. Alhamdulillah lagi bisa mlebu senthong sebelah sini…

    lampune masih mati, sehingga harus meraba-raba mencari rontal ala genderuwo picek… semoga pas ‘meraba’nya…

    • Ketemu ki AM….bukan hanya diRABa
      zoom juga perlu ki, saestu

  19. nakmas satpam apa eps.3 siap digrayah ?

    • likmas Satpam apa eps.4 siap diwedar?

      • dereng, mbenjang enjing

    • sampun …..

  20. Alhamdulillah wis gak usum duku nanging iso moco Genduk Duku semudah memijit wohing ranti.

    • Selamat malam mas Satpam… 🙂

      Selamat menyiapkan wedaran rontal
      lanjutan.

      • di padepokan sini….cantrik siap
        bertanding lawan mas Satpam

        Kuat mana yang baca apa mas Satpam
        yg nyiapkan rontal

        • hayoo,,,,,,,,,

          • Priit…format text mas Satpam

            • yg kalah angkat
              tangan kanan.
              tanda kiri cukup
              masukan saku
              belakang 🙂 🙂

            • Kudu sesuai jadwal no Ki Menggung.

              • Jadwal ber-
                kunjung

                • J
                  A
                  D
                  W
                  A
                  L

                  A
                  M
                  B
                  I
                  L

                  J
                  A
                  T
                  A
                  H

                  R
                  A
                  N
                  G
                  S
                  U
                  M

              • Monggo
                lha wong wis ket mau kok
                he he he …..

  21. Episode 5….belum ada cantolan
    Episode 6….masih dalam penggorengan

    Episode 7….belum diracik mas Satpam
    Episode 8….nunggu antrian wedar

    • Usul mas Satpam,

      Wedaran rontal nunggu pasukan OGrog
      pada ngumpul ng padepokan.
      Tahan dulu wedaran sp cantrik mentrik
      kemringet ngiler rontal lanjutan.

      Ini tadi usulan ki Trupod sesepuh
      padepokan….ki gundul sakdermo
      menyebar luaskan

      Saestu…TENAN

    • 5 wis kok

      • 5 wes nyantol….tinggal srondol

        • Matur nuwun mas Satpam

          • Nti malam cantrik kancani
            Melek-an

  22. Absen dulu aahh…..

    Baru kali ini mbuka gandok Genduk Duku, karena berbagai hal..
    matur nuwun sanget Pak Satpam, Bopo Panembahan, dll atas peluncuran rontal yang baru

  23. selamat siang

  24. Episode 5 : djvu dan pdf

    teks belum dimunculken

    • pelan2 mas Satpam…ga usah terburu
      buru pasang “teks”

      yg penting wektu cantrik sambang lgi
      nanti “teks” sudah dicantolkan…hehe20x

      • Malam mas Satpam

        • Hadir…sambang padepokan

          • he he he …, monggo…..

            • Hehehe…matur
              nuwun mas Satpam

              • Sugeng
                Dalu

  25. Hadir….mas Satpam

    • Sugeng dalu kadang genduk DUKU

      • Otw padepokan sebelah sengkaling

        • loh…, padepokan sebelah Sengkaling yang mana? UMM, UIN, Polres?

  26. HADIR…..mas Satpam

    • monggo….
      penghuninya di sini hany Ki menggung sendiri
      satpam juga jadi males piket disini
      he he he he he he he he he he (lama lama tidak terdengar)

      • Males….pertanda belom makan
        mas Satpam…kleru Mules ding.

        AYO SEMANGAT…mumpung yg
        laen pada belom datang.

        • berDUA…..sapa takut 🙂 🙂

          • AYO mas SATPAM….kita buat padepokan megah.

            Megah : menawan gagah
            tur bikin betah para wanita
            seluruh tlatah jawa 🙂 🙂

  27. HADIR….sugeng dalu

    • mas Satpam….kemana kah panjenengan

      • cantrik dewean….ENAK tenan

        • urun saran….kenapa komen di genduk duku tidak nampak pd

          KOMENTAR terakhir padepokan
          ini mungkin yg bikin gandok jarang ada yang singgah padepokan

          • masa sih mas Satpam ga
            bisa otak atik membetulkan

            • Sampe judeg Ki, tidak berhasil.
              Masih dicoba otak atik lagi.

  28. Alhamdulillah, terima kasih mas
    Risang, tau tau sdh episode 8.
    Apa mas Risang sdh baca ceritanya?
    Latar belakang sejarahnya menarik, yaitu awal mula kita bersentuhan dengan barat secara langsung, dan juga kedzoliman Amangkurat 1yg jarang diangkat ke permukaan.

    • Sambil konversi dan edit teks Ki, satpam sempat baca.

  29. Njlekethek,
    setelah hampir putus asa, akhirnya ketemu penyebab tidak munculnya komen terakhir.
    Hadu…..
    Bobo ah….

  30. Wah…jebul saya ketinggalan….padahal yang cepat dapat yang lambat ketinggalan….Sugeng sonten sedoyo…!

    • benul ki Karto….yg cepat dapat duluan
      yg lambat sabar nunggu dum2an

      • Benur..Ki Tmg.YP..ngantri..

        • Ngantri sebentar….pas dibelokan cantrik serobot antrian,

          • Ati2 Ki Menggung….keseringan nyrobot ntar…bengkong lho 😀

            • Bengkong sekali kali asik ki Menggung

              BengkongAN…he 50x

              • Selamat malam…..sepi banget

                • S
                  E
                  R
                  E
                  M

                  Hi
                  Hi
                  Hi
                  Hi

              • hem….serem deh 😦

                • Se
                  Re
                  M

                  Me
                  Le
                  K

                  Me
                  Re
                  M

              • Serem…..seneng merem 😀

  31. tes…..masuk komen, komen masuk

    • tes…..yang keluar masuk 😀

      • Sugeng dalu ki Kartojudo

        • Kecipir mrambat kawat…wes suwe ki Karto ora liwat

          • Sugeng manuk..eh..masuk Ki Gundal gandul 😀

            • Hiks…matur nuwun ki Kartojudo

              Suwe ora jamu…jamu pisan godhong kates
              Suwe ora ketemu…ketemu pisan tes testes

              • Hehehe…dak kiro ketemu pisan ketemu….kates 😀

              • Sanes
                kates
                ki….

                kutes
                kusuka
                kates

  32. HADIR…. mendhisiki diri sendiri

  33. he he he ….

    gandok ini sepertinya rumahnya Ki Menggung berdua (KiGundul dan Ki Kartoyudo sendiri)

    • Bener mas Satpam…terkadang kita perlu menyendiri buat mengendapkan serta menenangkan diri dari hiruk pikuk ramainya hohohihi

      • Bener mas Satpam…terkadang kita …merasa sedih

        • Sedih dipagi hari…seneng disore hari

          • Sedih disiang hari….sueneng dimalam hari

            • Sugeng Riyadin Ji Gundul,mas Satpam…..
              maaf lahir batin……..

              • Njih Ki Menggung
                sami-sami nggih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: