GENDUK DUKU

Episode 14

Malam yang taat irama. Tak berbulan. Akan tetapi sepasang mata milik Slamet, yang sudah terlatih menembus kegelapan hanya dengan cahaya kunang-kunang angkasa, dari kejauhan dapat melihat beberapa ulat gelap menodai bidang lebar muara Sungai Bagawanta. Sejak berangkat siang tadi ia sengaja merapat pada rekan-rekan nelayan lain dalam usaha mencari ikan. Sengaja pula, sesudah sinar-sinar matahari terakhir meninggalkan pameran bulu-bulu kencana di ufuk barat, ia berteriak kepada kawan-kawannya, bahwa ia ingin mencari untung di sekitar muara Sungai Praga, jauh di arah timur. Tetapi sesudah air pasang mereda, Slamet membalik dan diam-diam sendirian berjaga lagi di sekitar muara Sungai Bagawanta. Dan benarlah, ternyata mereka datang, hampir tak kelihatan bagi mata yang tak terbiasa menembus kegelapan malam. Slamet masih bertanya prihatin dalam hati, apakah orang-orang bule yang lemah jasmani sesudah empat tahun dibelenggu itu masih akan mampu melawan gelombang-gelombang yang merupakan barisan-barisan balatentara pengawal pantai yang serba gigih? Tetapi mereka semua adalah pelaut-pelaut ulung yang sudah berpengalaman menantang samudra-samudra raya antarbenua. Untuk apa sebenarnya Slamet berjaga di situ? Jujur diakui: hanya ingin tahu, ingin melihat sesuatu yang memuaskan hatinya. Sebentuk balas dendam, kesenangan melihat si lawan dikalahkan oleh manusia senasib. Yang terang, jiwanya terdorong kuat dari dalam untuk hadir di dalam medan laga. Dan siapa tahu, barangkali ia dapat menolong apabila ada sesuatu yang tak diharapkan terjadi.

Praduga Slamet tepat. Tak semudah yang diperkirakan, ternyata pergulatan menembus barisan-barisan gelombang yang fanatik tanpa ampun melempar kembali segala-gala yang ingin menembus dinding-gulung laut. Serangan-serangan gencar ombak-ombak yang rapat gulung-menggulung bergantian menghalangi setiap usaha penerobosan. Setiap kali sampan-sampan itu maju sekayuhan, mereka dilempar mundur tiga-lima kayuhan. Padahal waktu sangat cepat larut di setiap medan pertempuran yang tegang. Dapatkah mereka lolos sebelum pos-pos penjagaan menaruh curiga? tanya diri Slamet. Lebih dari dua puluh orang dalam hanya tiga sampan kecil. Dan Karel? Bagaimana rasanya bagi seorang anak yang mengalami pergulatan sedahsyat itu? Berbahagialah kau, Karel, yang dalam umur anak-anak hijaumu sudah mengalami perjuangan yang pasti menggemblengmu dalam kawah Candradimuka. Akan otot kawat balung wesi kau, Karel kecil! Ya, Duku boleh berlinang merasa kasihan melihat manusia seumur anak seperti Karel itu, yang sudah harus mengalami segala kepahitan kaum dewasa.

Tetapi Slamet, nelayan sahabat gelombang dan kawan angin taufan, nyaris iri hati melihat pengalaman si Karel yang menggetarkan itu.

Ah, terhempas mundur lagi mereka. Rupanya Laut Selatan lain dari Laut Utara sana. Sudah empat-lima kali mereka tuntas memelototkan daya kayuh, satu kali memang terobosan berhasil, tetapi tak tersangka datang lagi sebarisan gelombang yang menyerbu seru-menghempaskan segala dengan gebukan amarah. Sebentar lagi perahu satu itu seolah terombang-ambing lesu putus asa. Ah, jangan! Rugi besar. Sudah terlanjur begitu basah beberapa orang kok malahan meloncat dari perahu dan berusaha berenang ke pantai. Rugi dan gila! Mengapa tidak diteruskan… aah, tiba-tiba dalam posisi gerak gelombang yang menguntungkan, satu-dua, perahu berhasil lolos, ya berhasil menembus jalur wilayah berbahaya. Bersorak­sorailah hati Slamet yang dari kejauhan menjadi saksi utama dari ikhtiar yang begitu jantan demi pelepasan belenggu yang lebih hina daripada belenggu bajak-garu si kerbau.

Tetapi satu sampan sial terguling tidak dapat melawan keganasan gelombang. Bagaikan semut yang tak mau melepaskan kecoak, orang-orangnya tetap melekat pada perahu. Berhasil, ah berhasil, mereka menelentangkan kembali mangkuk penyelamat mereka dan, bergantian masuk lagi dalam sampan yang serba berguncang. Sungguh pelaut-pelaut ulung orang-orang ini. Tetapi aduh, lagi ya lagi sampan yang sarat muatan dan terlalu kecil itu tergulung menelungkup lagi. Percumalah bila orang lain mau menolong mereka. Dari pengalaman Slamet tahu, hanya si penumpang sendirilah yang dalam keadaan seperti itu dapat menolong diri sendiri. Berhasil lagi mereka. Tetapi sementara itu balatentara gelombang telah mengundurkan mereka lebih mendekat lagi ke pantai. Terlalu banyak, pikir Slamet, terlalu banyak muatannya. Beberapa bintik gelap kelihatan berenang ke pantai. Putus asa? Dapat dipahami. Tetapi sudah ada dua biduk tadi yang berhasil lolos dari terkaman ombak-ombak pantai itu. Masih satu, ya tinggal satu yang sial itu, dan yang rupa-rupanya… Ayo gombloh-gombloh,[1]) jangan patah semangat. Ya… ya, ya, berhasil mereka. Horee, berhasil. Memang terlalu banyak muatan itu tadi. Begitulah dalam medan laga: ada yang menang dan ada yang gugur. Akan tetapi lebih celaka lagi nasib mereka yang harus kembali ke darat. Itu pun seandainya beruntung sampai di darat. Karel ikut sampan yang mana?

Cepat-cepat Slamet menuju ke timur, menjauh dari muara Sungai Bagawanta karena tiba-tiba ia melihat ufuk timur semakin terang. Duku sudah tahu, boleh jadi hari itu ia tak pulang. Pura-pura setor ikan langsung ke Puri Pahitmadu.

Pagi berikutnya di pasar Jagabaya orang-orang, lebih lagi anak-anak, dengan bola-bola mata membelalak menggelinding tetapi mulut diam melompong menonton pameran tawanan-tawanan yang sial basah kuyup tadi malam diikat kaki dan tangan, belenggu balok kayu besar di leher, ditambatkan pada pohon-pohon waru di tepi jalan. Bunyi teriak sakit dan mohon ampun menggaung di udara, mengiringi sepak dan hantam aniaya dari para prajurit. Orang-orang malang itu seperti onggokan-onggokan daging sapi segar yang baru dibantai. Tidak hanya di lapangan pasar datang bising tangis dan teriak. Dari dalem utama berpendapa yang paling terhormat pun, dengan pohon beringin di muka, terdengar teriakan dan jeritan menyayat. Seluruh desa Jagabaya tahu, bahwa sebentar lagi, sebelum lohor, mereka akan menyaksikan datangnya pasukan khusus yang terpimpin gandek-gandek istana, untuk tanpa ampun membunuh seluruh keluarga Den Bei Jagasura dan bawahannya. Sudah ada beberapa prajurit pasukan lama yang melarikan diri ke arah Pagelen, bahkan ada yang merampas perahu penduduk dan mencoba menyelamatkan diri melalui laut.

Den Bei Jagasura sendiri, dengan pasukan yang masih setia, secara agung menunggu saat riwayatnya habis di ruang dalam rumahnya, menghadap ke selatan, bersemadi dan bermantra-mantra. Istri-istrinya sebagian ikut dengannya, terisak-isak tak dapat menahan perasaan. Selebihnya, di gandok, di dapur, di kandang kuda, orang-orang dan anak-anak seperti gila hanya menjerit dan menangis, mohon ampun lari kian kemari tidak tahu mau apa. Hanya seorang nenek tua yang tenang menyuapkan nasi kepada anak kecil yang juga tenang tak paham tak peduli selain makan nasi dengan kuning telur rebus yang lezat.

Para teliksandi memang bekerja cepat. Secepat kuda terbang, berita telah disampaikan kepada Panglima Besar di Wiragunan. Sepasukan algojo langsung diperintahkan menyambar di Jagabaya. Sebelum matahari meraih tiga perempat busur ke puncaknya, pembantaian telah tuntas. Semua penjaga, lengkap dengan istri-istri dan anak-anak mereka telah dihabisi, menebus dengan darah dan nyawa pelalaian tugas negara. Tetapi para tawanan Holan mereka bawa ke Mataram. Tiba-tiba sepi mengerikan seluruh Jagabaya. Tak ada teriakan, tak ada tangis, tak ada komando-komando dan bising maki-makian. Sepi yang mencekam menghentikan napas, seolah-olah ada naga hitam lewat dan dunia berhenti bernyawa. Penduduk serba diam melarungkan mayat-mayat di muara dan satu per satu mengungsi ke hulu Sungai Bagawanta. Bagi mereka tak ada pilihan lain. Mencari tempat baru untuk penghasilan nafkah, agak menjauh dari tempat sial yang menjadi angker itu. Diam mereka menggendong benda-benda kebutuhan yang masih terbawa. Perabot rumah ditinggalkan begitu saja, dan beriring-iring seperti ke pasar saja mereka pergi, kaum tak mengerti, kaum yang selalu bernasib digendongi akibat.

Duku tidak melihat semua kejadian itu, sebab pesanggrahan Bangkawa-Kulon terletak agak jauh dari Jagabaya. Seorang nelayan sahabat membawa pesan kepada Duku, bahwa Slamet jadi menyetor ikan ke Puri Pahitmadu. Dengan gemetar nelayan itu bercerita, betapa kagetnya ia ketika pulang menemukan banjir darah di Jagabaya. Mungkin dia juga akan pindah ke pantai lain, sebab istrinya sekarang serba ketakutan. Atas pertanyaan Duku, nelayan itu berkata bahwa ia tidak melihat ada sesuatu yang luar biasa malam itu. Hanya sepulang dari menangkap ikan, dia heran wanita-wanita tetangga serba ribut membicarakan apa yang sebaiknya harus mereka lakukan. Sebab pagi hari dini salah seorang perempuan pencari telur penyu menemukan mayat seorang anak berkulit putih berambut jagung tertelungkup di pantai. Mendengar itu Duku harus berpegangan tiang emperan agar tidak jatuh. Di mana? Mungkin masih terserak di sana, kata nelayan itu. Tak ada yang berani ke luar rumah. Seandainya tidak dipesan Slamet untuk membawakan berita kepada Duku istrinya, si nelayan pun lebih suka bersembunyi di desa. Ada penduduk yang dibunuh oleh pasukan gandek-gandek itu? Tidak ada, jawab nelayan itu. O, ada, lurah kami sekeluarga, semua sacindile abang pisan[2]) dibunuh. Ya, begitulah. Tak habis mengerti, ia bernapas panjang. Berpangkat tinggi susah, berpangkat rendah susah juga. Lebih baik tak berpangkat apa pun, hibur Duku. Lebih susah lagi, gerutu sang nelayan. Tetapi mau apa. Setiap orang punya saat masing-masing, katanya, entah yakin entah hanya untuk menghibur diri saja. Karel, Karel! Oh, apa yang sedang menunggu Lusi?

Siang itu juga Duku, dengan pengawalan beberapa orang prajurit dan dibantu beberapa nelayan, mencari jenazah Karel. Tetapi segala pencarian sampai matahari terbenam tidak berhasil menemukan mayat anak malang itu. Padahal menurut wanita penemunya pagi tadi, mustahil khilaf, jelas siapa si korban. Jelas pula letak si anak itu terdampar di pantai. Rupa-rupanya samudra telah mendahului berbelas kasih, dan menjauhkan Karel dari dunia penuh kekejaman.

[1]     pemuda bertubuh besar tetapi tolol dungu

[2]     dengan segala anak tikus yang masih merah segala = komplit.

——————————

Mohon maaf, untuk selanjutnya naskah djvu dan pdf tidak ada di sini. Naskah akan diupload setelah selesai scanning dan editing semua episode.

Satpampelangi

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Telah Terbit on 16 Mei 2015 at 01:13  Comments (103)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/trilogi-yb-mangunwijaya/genduk-duku/trackback/

RSS feed for comments on this post.

103 KomentarTinggalkan komentar

  1. Episode pertama Genduk Duku telah diwedar

    silahkan berburu rontal dan bergojeg dan berburu rontal sebagaimana bertahun yang lalu, ketika masih menjadi cantrik aktif di padepokan ini.

  2. test…..
    kenapa komen saya tidak bisa masuk daftar komen?

    Hadu….
    kenapa ya?

  3. Grotal-gratul, grayah-grayah

  4. Serasa seperti nyantrik pertama kali, lupa cara nyarinya

  5. ToPan Siap Hadiiirŕ Pakde Satpam. Apa kabar Pakde Satpam dan Eyang Arema ?. Semoga Selalu Sehat dan Banyak Rezekinya Amiiiin.

  6. Pakde Satpam. Kalau pake android apa bisa dicari dan download ya. Sudah berkali kali di plototi di ubek ubek kok ra ketemu ya hahahhhhhh

    • Sugeng enjang . . . Selamat pagi, Ki Adji.

      Saya tadi sudah mencoba di hp dan tidak bisa Ki, kecuali kalo di hp Ki Adji ada djvu nya, baru bisa dibaca, karena formatnya djvu, bukan pdf bukan pula ms-word.

      Kalo soal rontal diumpetin dimana sama Anakmas Risang, Ki Adji saya kira sudah pengalaman tahunan . . . he he he, tlateni ae suwe-suwe rak ketemu . . . gampang kok, gak susah.

  7. Assalamu’alaikum wr wb
    Salam sejahtera buat kita semua.
    Alkhamdulillah telah kita mulai lagi mengangkat kisah cerita anak bangsa berupa Novel Serial Roro Mendut.
    Serial karya budayawan YB Mangunwijaya ini berkisah tentang kejatuhan martabat seorang ksatria perang, seorang Tumenggung di Zaman Pemerintahan Kesultanan Mataram Era Sultan Agung Hanyokrokusumo.
    Seorang Panglima Perang yang sangat disegani oleh teman dan lawan ini yaitu TUMENGGUNG WIROGUNO, tergelincir hanya karena kecantikan seorang wanita rakyat biasa, RORO MENDUT.
    Sayangnya sang perawan jelita tidak bersedia disunting oleh Ki Tumenggung dengan tawaran hidup kamukten. Ia lebih memili mati bersama kekasihnya PRONOCITRO, seorang nelayan dari pantai utara.
    Kisah tragis di atas berlanjut dengan sebab dan akibat dari peristiwa tersebut di buku kedua dan ketiganya yg sudah dapat diikuti disini.
    Tapi yang justru menarik adalah latar belakang sejarahnya. Banyak yang sangat awam dengan sejarah Mataram di Era akhir Sultan Agung yang digantikan oleh putra mahkota Sunan Amangkurat I, yang dikenal brutal demi menuruti ambisinya yg gemar melahap betis indah. sampe demi menutupi kebobrokannya, dia tercatat telah membantai ratusan Kiai dan Santri di jamanya. Bagaimana jalan ceritanya, temukan di serial novel ini.
    Hanya sayang sekali, Genduk Duku ini sudah Seri II. Buku Seri I berjudul Roro Mendut, belum ditemukan dalam koleksi. Sedangkan mencarinya di luar sangat jarang diketemukan.
    Apabila diantara sidang pembaca ada yg memiliki, atau kebetulan menemukan di toko buku. mohon perkenan untuk di informasikan di sini.
    Mohon judul di atas bukan APDM, tapi RORO MENDUT, novel serial sejarah YB Mangun Wijaya.
    Monggo.

  8. Assalamu’alaikum Wr Wb,
    Salam sejahtera untuk kita semua,
    Selamat pagi . . . Sugeng enjang,
    Sanak kadang adbm semua . . . .

    Anakmas Risang kok teganya-teganya menyanyi . . . he he he.
    Sementara kadang yang gak sabaran maunya cepet membaca, ingak-inguk rana-rene, nang endi leh ndekek rontal.

    • kok komentare menunggu moderasi,
      ra entuk mlebu po ya . . . . . hiks.

  9. Pasti bisa…hik..megkuh titik noda itu…

  10. mantappppp….. tinggal cari roro mendutnya…

  11. Nunut ngiyup Ki ….

  12. Roro mendutnya di bawa lari pronocitro Ki … Salam buat poro Empuh2 Adbm/Pdls …

  13. Wis di ubek2 ora ketemu .. Klau PC cepat klau Hp apa bisa ya … PakLik Satpam mohon bantuannya ..

  14. Ho android juga bisa ki….titik bernoda kata mas satpam…hikkk tidak boleh menyerah

  15. Sugeng sonten Anakmas Risang

    Lha wong episode 2 sudah wedar dari tadi, po ya belum ada yang ngunduh . . . he he he.
    Mungkin sanak kadang perlu bahasa sasmita dari P. Satpam, memang diperlukan ketelitian dan kejelian.

    Sanak kadang sedaya . . . mangga episode 2 sudah gogrok, tinggal ngunduh saja.

    • Sugeng sonten Panembahan
      he he he …., kala wau kesupen terus buru-curu wedaran, lan terus nglanjutaken tugas malih.
      ngapunten…

  16. Hiks…..mas Satpam

    • kata bang haji mas Satpam…terLALU

      • he he he …..
        gandok dimanapun kalau tidak ada Ki Menggung Gembleh dan Ki YP, kayaknya bagaimana…. gitu.

        Monggo Ki

        • Betul Lik Satpam… seperti lontong balap tanpa lontongnya…

          • Betul ki AM….
            Seperti motor balap tanpa motornya

  17. Pusing…
    bagaimana memunculkan komentar terakhir dalam daftar

    mohon pencerahan

    • Lho….mas satpam kePUsingan toh

      Cantrik kira memang sengaja tidak
      mas Satpam tampilkan

      • Gampang mas Satpam…hiks

        Kirim panah sanderan nti cantrik
        bantu dari ujung wetan

  18. Alhamdulillah lagi bisa mlebu senthong sebelah sini…

    lampune masih mati, sehingga harus meraba-raba mencari rontal ala genderuwo picek… semoga pas ‘meraba’nya…

    • Ketemu ki AM….bukan hanya diRABa
      zoom juga perlu ki, saestu

  19. nakmas satpam apa eps.3 siap digrayah ?

    • likmas Satpam apa eps.4 siap diwedar?

      • dereng, mbenjang enjing

    • sampun …..

  20. Alhamdulillah wis gak usum duku nanging iso moco Genduk Duku semudah memijit wohing ranti.

    • Selamat malam mas Satpam… 🙂

      Selamat menyiapkan wedaran rontal
      lanjutan.

      • di padepokan sini….cantrik siap
        bertanding lawan mas Satpam

        Kuat mana yang baca apa mas Satpam
        yg nyiapkan rontal

        • hayoo,,,,,,,,,

          • Priit…format text mas Satpam

            • yg kalah angkat
              tangan kanan.
              tanda kiri cukup
              masukan saku
              belakang 🙂 🙂

            • Kudu sesuai jadwal no Ki Menggung.

              • Jadwal ber-
                kunjung

                • J
                  A
                  D
                  W
                  A
                  L

                  A
                  M
                  B
                  I
                  L

                  J
                  A
                  T
                  A
                  H

                  R
                  A
                  N
                  G
                  S
                  U
                  M

              • Monggo
                lha wong wis ket mau kok
                he he he …..

  21. Episode 5….belum ada cantolan
    Episode 6….masih dalam penggorengan

    Episode 7….belum diracik mas Satpam
    Episode 8….nunggu antrian wedar

    • Usul mas Satpam,

      Wedaran rontal nunggu pasukan OGrog
      pada ngumpul ng padepokan.
      Tahan dulu wedaran sp cantrik mentrik
      kemringet ngiler rontal lanjutan.

      Ini tadi usulan ki Trupod sesepuh
      padepokan….ki gundul sakdermo
      menyebar luaskan

      Saestu…TENAN

    • 5 wis kok

      • 5 wes nyantol….tinggal srondol

        • Matur nuwun mas Satpam

          • Nti malam cantrik kancani
            Melek-an

  22. Absen dulu aahh…..

    Baru kali ini mbuka gandok Genduk Duku, karena berbagai hal..
    matur nuwun sanget Pak Satpam, Bopo Panembahan, dll atas peluncuran rontal yang baru

  23. selamat siang

  24. Episode 5 : djvu dan pdf

    teks belum dimunculken

    • pelan2 mas Satpam…ga usah terburu
      buru pasang “teks”

      yg penting wektu cantrik sambang lgi
      nanti “teks” sudah dicantolkan…hehe20x

      • Malam mas Satpam

        • Hadir…sambang padepokan

          • he he he …, monggo…..

            • Hehehe…matur
              nuwun mas Satpam

              • Sugeng
                Dalu

  25. Hadir….mas Satpam

    • Sugeng dalu kadang genduk DUKU

      • Otw padepokan sebelah sengkaling

        • loh…, padepokan sebelah Sengkaling yang mana? UMM, UIN, Polres?

  26. HADIR…..mas Satpam

    • monggo….
      penghuninya di sini hany Ki menggung sendiri
      satpam juga jadi males piket disini
      he he he he he he he he he he (lama lama tidak terdengar)

      • Males….pertanda belom makan
        mas Satpam…kleru Mules ding.

        AYO SEMANGAT…mumpung yg
        laen pada belom datang.

        • berDUA…..sapa takut 🙂 🙂

          • AYO mas SATPAM….kita buat padepokan megah.

            Megah : menawan gagah
            tur bikin betah para wanita
            seluruh tlatah jawa 🙂 🙂

  27. HADIR….sugeng dalu

    • mas Satpam….kemana kah panjenengan

      • cantrik dewean….ENAK tenan

        • urun saran….kenapa komen di genduk duku tidak nampak pd

          KOMENTAR terakhir padepokan
          ini mungkin yg bikin gandok jarang ada yang singgah padepokan

          • masa sih mas Satpam ga
            bisa otak atik membetulkan

            • Sampe judeg Ki, tidak berhasil.
              Masih dicoba otak atik lagi.

  28. Alhamdulillah, terima kasih mas
    Risang, tau tau sdh episode 8.
    Apa mas Risang sdh baca ceritanya?
    Latar belakang sejarahnya menarik, yaitu awal mula kita bersentuhan dengan barat secara langsung, dan juga kedzoliman Amangkurat 1yg jarang diangkat ke permukaan.

    • Sambil konversi dan edit teks Ki, satpam sempat baca.

  29. Njlekethek,
    setelah hampir putus asa, akhirnya ketemu penyebab tidak munculnya komen terakhir.
    Hadu…..
    Bobo ah….

  30. Wah…jebul saya ketinggalan….padahal yang cepat dapat yang lambat ketinggalan….Sugeng sonten sedoyo…!

    • benul ki Karto….yg cepat dapat duluan
      yg lambat sabar nunggu dum2an

      • Benur..Ki Tmg.YP..ngantri..

        • Ngantri sebentar….pas dibelokan cantrik serobot antrian,

          • Ati2 Ki Menggung….keseringan nyrobot ntar…bengkong lho 😀

            • Bengkong sekali kali asik ki Menggung

              BengkongAN…he 50x

              • Selamat malam…..sepi banget

                • S
                  E
                  R
                  E
                  M

                  Hi
                  Hi
                  Hi
                  Hi

              • hem….serem deh 😦

                • Se
                  Re
                  M

                  Me
                  Le
                  K

                  Me
                  Re
                  M

              • Serem…..seneng merem 😀

  31. tes…..masuk komen, komen masuk

    • tes…..yang keluar masuk 😀

      • Sugeng dalu ki Kartojudo

        • Kecipir mrambat kawat…wes suwe ki Karto ora liwat

          • Sugeng manuk..eh..masuk Ki Gundal gandul 😀

            • Hiks…matur nuwun ki Kartojudo

              Suwe ora jamu…jamu pisan godhong kates
              Suwe ora ketemu…ketemu pisan tes testes

              • Hehehe…dak kiro ketemu pisan ketemu….kates 😀

              • Sanes
                kates
                ki….

                kutes
                kusuka
                kates

  32. HADIR…. mendhisiki diri sendiri

  33. he he he ….

    gandok ini sepertinya rumahnya Ki Menggung berdua (KiGundul dan Ki Kartoyudo sendiri)

    • Bener mas Satpam…terkadang kita perlu menyendiri buat mengendapkan serta menenangkan diri dari hiruk pikuk ramainya hohohihi

      • Bener mas Satpam…terkadang kita …merasa sedih

        • Sedih dipagi hari…seneng disore hari

          • Sedih disiang hari….sueneng dimalam hari

            • Sugeng Riyadin Ji Gundul,mas Satpam…..
              maaf lahir batin……..

              • Njih Ki Menggung
                sami-sami nggih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: