GENDUK DUKU

Episode 13

Hampir dua musim Duku dan Slamet mengabdi dalam puri Bendara Eyang Pahitmadu. Kemudian pindah ke Bangkawa-Kulon. Berkat pertolongan Putri Arumardi yang mengerti, betapa sesak terkurung hati sahabatnya, dan dengan penggunaan dalih, mendesak sangat dibutuhkan di pesanggrahan Bangkawa Kulon, suami-istri yang berbahagia dengan bayi mereka, dapat menghirup lagi udara bebas. Memang bukan dusta bila Putri Arumardi mengatakan kepada kakak ipar tua bahwa di Kutanegara beliau terlalu sering sakit, dan bahwa Tumenggung Wiraguna sendirilah yang menyarankannya agar beristirahat tuntas di pesanggrahan tepi pantai yang bebas dari bermacam-macam upacara dan adat kerajaan kalangan istana. Apalagi karena kakek-nenek jurukunci sejak peristiwa penculikan Putri Tejarukmi dulu itu sering bingung ketakutan. Maka jadilah sang ayah dan ibu muda itu menikmati lagi rumah pantai yang menjamin kebutuhan jiwa merdeka mereka. Tetapi yang menghasratkan kemerdekaan bukan hanya Duku dan Slamet. Tidak lama sesudah peristiwa penculikan Putri Tejarukmi, dikirimlah oleh pimpinan balatentara Mataram, serombongan tawanan Peose ke Jagabaya. Sebagian besar tergolong mereka yang ditawan di Jepara dulu itu, sehingga sebagian sudah dikenal oleh Duku dan Slamet. Pada permulaannya mereka dibelenggu tangan leher, dan mendapat makan dari penghasilan bea-cukai gerbang Jagabaya. Tetapi gerbang negara Jagabaya lain nasibnya dibanding dengan Trunyam atau Taji yang kotak bea-cukainya selalu berisi logam berat. Jagabaya tak seramai dua gerbang negara di utara dan timur. Maka atas kebijaksanaan petinggi pemegang panji, mereka tetap dirantai tangan-kakinya, tetapi dengan leher: bebas belenggu. Lebih mujur lagi mereka kemudian dilepas dari segala rantai juga dan boleh keluyuran ke mana-mana, asal saja nafkah mencari sendiri.

Segera di pasar Jagabaya, Duku mengenal kembali sahabat lama Yos Pestih dan Yanuring beserta Karel. Ah, Karel, betapa cepat tumbuh anak ini! Walaupun secara resmi pergaulan tawanan dengan penduduk asli dilarang, sehingga mereka biasanya hanya dapat akrab dengan kaum Cina yang selalu ada di mana-mana, akan tetapi nyatanya cukup baiklah orang-orang desa bergaul dengan mereka. Hubungan surat dan kiriman barang dengan pemerintah mereka di Betawi pun diperbolehkan ulang-alik oleh Susuhunan; dan karena itulah mereka menjadi penyalur apiun dan barang mewah yang digemari para penduduk, teristimewa para ningrat dan punggawa.

Pada suatu pagi Pestih dengan Karel mendekati Slamet yang sedang menjahit layar perahunya yang robek. Karel diajak Duku ke dapur untuk diberi kue nagasari[1]) masakan si Duku sendiri.

“Karel akan ke Mama,” ujar bocah itu berbisik-bisik kepada Duku yang masih diingatnya dari Taji, “tapi jangan diceritakan,” pesannya bergaya misterius. “Nanti Karel digebugi Ayah.”

“Mama datang?” tanya Duku heran.

“Ssst! Tidak.” Dan Karel langsung berbisik ke dalam telinga Duku, “Karel pulang ke Betawi.”

“Ah, omong kosong,” tawa Duku sambil menguleg sambal trasi sekaligus menguleg omong­an si Anak.

“Sungguh!” tegas si Bocah lagi. “Tetapi jangan diomongkan.”

“Tidak,” janji Duku basa-basi-bawang-trasi.

“Kau suka Mama?” tanya Duku tergerak iba hati.

“Mama masak enak kue,” ceritanya. “Tetapi Karel sering dipukul”

“Karena makan kue tanpa minta izin?”

“Kalau tidak ada Mama, Karel lapar,” tukas Karel tanpa menggubris pertanyaan.

“Oh, kasihan,” seru Duku sambil merangkul anak malang itu hanya dengan pandangan sayu, karena tangannya masih sibuk dengan cabe pedas. Mengapa anak tak bersalah harus ditimpa hukuman kaum dewasa? Anak kan bukan cuma cabe atau trasi yang boleh digilas begitu saja.

“Kau ingin pulang ke Mama?” tanya Duku

Anak itu mengangguk.

Berlinang-linang Duku memandang Karel yang lahap sekali makan nigasari dan apa pun yang kelihatan masih tersisa dari paga.[2]) Di luar suaminya masih asyik berbincang dengan Pestih. Rupa-rupanya ada sesuatu yang serius dalam percakapan mereka, sebab berkali-kali suaminya menoleh dan melihat ke segala arah, seolah-olah takut ada seseorang yang ikut mendengarkan. Tetapi gagasan Duku lebih melayang ke ibu si Karel itu. Sedang apa wanita memelas itu sekarang? Berdoa agar suami dan anaknya lekas bebas pulang, tentunya. Duku belum pernah melihat wanita bule. Konon besar tegak tubuh mereka, sepasang payudara seperti buah-buah waluh, rambut jagung dan kulit genjik. Alangkah lucunya atau bahkan buruk. Seperti raksasi. Tetapi tentulah cinta mereka pada anak seperti wanita Mataram juga.

“Masih suka makanan lagi?” tanyanya pada Karel. Karel menggelengkan kepala.

“Enak!” komentarnya. Membongkoklah ia di muka Duku, hormat kaku, lucu tak sengaja.

“Terima kasih,” katanya kaku. Lalu ia lari ke ayahnya.

“He he, sini!” teriak Duku dari belakangnya. “Ini dibawa”.

Dan diisinya kreneng[3]) bambu dengan sawo-sawo kecik yang baru diimbu sampai sebentar lagi matang; tambah kedondong sampai penuh. Pestih menyuruh Karel kembali ke istri Slamet. Malu-malu ia menerima kreneng berat itu dari Duku.

Dirangkullah spontan si Anak oleh Duku dan diciumnya di pipi. Karel hanya diam kaku menerima ucapan sayang dari wanita manis di mukanya. Duku menunjuk kepada dadanya sendiri sambil tersenyum, “Duku, Embok Duku Mama, ya?” Karel tak menjawab dan pergi terlarilah lagi ia ke ayahnya.

Di waktu makan Duku masih mengungkit lagi soal Karel yang rindu kepada mamanya.

“O, ya?” tanya Slamet seolah-olah heran. Tetapi ia tak bertanggap ingin bercakap mengenai Karel atau ayahnya selain, “Ya, dapat dimengerti.”

Dalam gubuk tersembunyi jauh di tengah kebun ketela lebat, di ranjang asmara siang, karena bagi nelayan waktu malam adalah waktu kerja, Slamet serba diam. Duku pun merasa suaminya ingin diam. Namun pada hari-hari berikutnya Slamet tampak lebih murung dan gelisah. Memang suami Duku itu pendiam perangainya, walaupun kadang-kadang bila percakapan menyentuh perkara yang sedang asyik ia gumuli, Slamet bisa asyik berbincang-bincang. Namun hari-hari terakhir ini, sejak kunjungan Pestih itu, Slamet lebih diam dari biasanya. Biarlah, dia tentunya sedang punya soal. Kalau merasa perlu, pastilah nanti dia akan bicara sendiri. Hidup sudah penuh soal. Khususnya akibat datangnya si Bayi mungil. Tetapi kalau ini, si Gendon-cemplon,[4]) nah ini soal yang manis. Jadilah yang sudah disepakati, si sulung diberi nama Lusi, ‘lepas dari bahaya’ artinya. Kembalilah si Duku terkenang pada si Karel, pada ibunya… ah, ikrar, ikrar mengental dalam hati: sepahit-pahit nasib, aja nggresula![5]) Dibanding dengan ibu si Karel, Duku masih di firdaus.

Beberapa hari Slamet hanya membawa hasil laut ikan tongkol. Sudah, hanya itu. Tidak lebih dari lima ekor. Biasanya sampannya yang kecil nyaris tenggelam karena penuh dimuati hasil penangkap­an semalam suntuk, dari saat matahari di paroh busur angkasa barat sampai dengan saat matahari di paroh busur angkasa timur.

“Sakit kau, Mas?” tanya istrinya prihatin.

“Sakit sih tidak,” jawab Slamet tenang, “tetapi prihatin.”

“Lho, ada apa ta? Kau akhir-akhir im seperti lesu atau linglung. Mungkin saya yang salah, Mas,”

“Kok, kau. Salah apa, kau?”

“Barangkali… barangkali. Duku terlalu pemalas. (Kapan kau pemalas?) Bukan itu… anu, kurang melayani Kamajaya. Habis si Lusi menuntut perhatian sangat banyak. Maaf ya, Mas.”

“Ah itu… sudahlah jangan dipikir. Tak ada sangkut-pautnya dengan si Bayi atau ibunya.”

“Tetapi Mas kelihatan sangat gelisah akhir-akhir ini.”

“Esok saya ceritakan.”

Semakin teganglah hati Duku. Jadi toh ada sesuatu yang perlu diceritakan. Esok. Jelas hal yang tidak biasa. Apa ada hubungannya dengan yang dicakapkan bersama ayah si Karel itu? Oh iya, apa yang dikatakan Karel dalam segala kesederhanaan dan spontanitas anak?

Siang hari itu panas terik. Burung-burung maupun ayam segan bersuara. Tetapi di ranjang kebun ketela, Slamet bercerita bahwa ia sedang melibatkan diri menolong para tawanan Holan itu untuk melarikan diri.

“Kita akan dibunuh Susuhunan kalau ketahuan,” bisik Duku terkejut gemetar.

“Tidak mungkin ketahuan,” ujar Slamet tegas.

“Bagaimana nanti nasib bayi kita kalau ada apa-apa?” tanya lagi Duku mendesak.

“Lusi aman damai di pangkuanmu.”

“Kau main api berbahaya, Mas.”

“Kita selama ini di tengah api,” ujar lurus lagi suaminya, “apa bedanya?”

“Ya, kau betul, Mas, setiap saat Den Mas Jibus dapat saja menghantamkan balas dendamnya kepada kita.” Itu harus diakui oleh Duku juga. “Tetapi… (napasnya ngos-ngosan.) Apa ta yang akan kaulakukan, Mas?”

“Sama sekali tidak berbahaya. Hanya mengisi batang-batang bambu dengan air manis, dan, meletakkan itu di suatu tempat.”

“Oh, untuk bekal? Apa mereka ingin lari melalui laut?” terka Duku cerdas.

“Perahu-perahu akan mereka rampas. Tali dan layar rosokan juga sudah mereka siapkan.”

“Bawa beras?”

“Cukuplah persediaan ketela, kata Pestih.”

“Karel ikut?”

“Tentu saja.”

“Anak itu berbahaya,” bisik Duku. “Bisa bocor rahasia mereka.”

“Ya, itulah kayuh mereka yang paling lemah. Seharusnya Karel tidak diberi tahu. Maka lebih baik lekas-lekas saja mereka pergi.”

“Banyak yang ikut?”

“Rupa-rupanya semua.”

Diamlah Duku. Suaminya sungguh main mesiu di dalam bengkel pandai besi. Tetapi tidak salah pendapatnya. Kapan Slamet dan Duku tidak dalam bahaya? Tiba-tiba dilepaskannya suaminya dan tangannya -meraih bayi yang masih nyenyak berbaring dekat di sudut ranjang. Betul, sungguh betul. Seandainya Lusi ini Karel, akan samalah keberanian dan keputusan untuk menempuh bahaya apa pun demi pembebasan si Lusi ini. Terharulah hati si ibu, namun juga si murid Mendut. Sungguh satu selera si Duku dengan Mas Slamet. Dilepaskannya si Lusi yang kembali nikmat berkepompong damai. Lalu kembali dipeluknya erat-erat suaminya. Slamet, Slamet, kebanggaan Duku! Biar! Ya, biar Sri Susuhunan bermusuhan dengan Kapten Mur J endral si raksasa berambut jagung dari Betawi, tetapi Karel dan Pestih dan teman-temannya tetap Karel dan Pestih dan siapa-apa-adanya mereka. Karel pun dapat diberi sebutan Lusi juga.

“Sungguh tak membahayakan dirimu, Mas?” tanya lagi Duku, toh masih khawatir.

“Sama sekali tidak. Percayalah. (Ya, percaya sih percaya, tetapi…) Siapa yang akan mencurigai orang menebang bambu di tengah hutan. Lagi, tempat peletakan persediaan air dalam bambu itu jauh dari tempat perahu-perahu yang akan mereka rampas. Dan pada saat mereka melarikan diri, aku sudah akan jauh, cari ikan seperti biasanya setiap malam.”

Diamlah lama kemudian kedua orang itu, tidur hangat berdampingan. Duku menjamah lagi si Kepompong, dan di bawah sinar matahari yang bergerak serba gelisah terhalang dedaunan; tampaklah kontras wajah serba puas si Mungil seperti makhluk gaib yang seolah-olah bukan dari jagad Ngarcapada ini. Siapakah si Lusi kecil ini? Menakjubkan sebetulnya jika dibelai-belai pertanyaan itu. Dua orang insan dewasa saling kelonan. Maka datanglah si Kecil. Untuk apa? Menderita? Perempuan lagi. Untuk apa dia, yang di hari kelak akan bergilir melahirkan makhluk-makhluk mungil baru seperti ini lagi? Sinten ta sinten risang sari sengsem suruning sih?[6]) Slamet bangun, melihat istrinya, dan ikut-ikutan menikmati bayi mereka. Tetapi ia tidak menjamahnya. Hanya memandang dan memandang saja.

“Kau tidak takut disebut berkhianat kepada Raja?” tanya Duku asih belum puas.

“Berkhianat kepada kaum yang merampas Mendut sehingga Kakek Siwa meninggal ngenes[7]) karena sedihnya? Berkhianat kepada mereka yang memaksa kita menjadi budak pembawa barang dari Jepara sampai kemari ini? Kau merasa diri ikut berkhianat?”

“Tidak,” jawab Duku sambil manja menidurkan kepalanya ke dalam pangkuan suaminya, satu tangan memegang bayinya.

“Tempat Karel ada di pangkuan ibunya. Tidak di Jagabaya di antara serdadu-serdadu.”

“Hanya… pasti akan terkena malapetaka nanti Den Bei Jagasura.”

“Kenapa?”

“Dia mengizinkan tawanan-tawanan berjalan bebas-sudah dua pekan ini bahkan tanpa rantai.”

“Kan istana tahu, mereka tidak kuat membiayai perut tawanan-tawanan itu dari peti bea-cukai gerbang negara.”

“Sebetulnya mampu juga,.” Dan nada Slamet terdengar mengejek. “Mampu kalau mereka mau. Tetapi kan itu mengurangi berat pundi-pundi pribadi mereka. Itulah… ya, memang begitu selalu: ada tikus ada lubang. Den Bei Jagasura sebaiknya membagi warisan sekarang saja.”

“Ah, bagaimana lalu istri-istri dan anak-anaknya? Pasti ikut dihukum mati semua nanti.”

“Pasti!”

“Apa kita tidak ikut bersalah?”

“Tidak!” jawab Slamet tegas. “Bersalahlah Slamet justru bila Slamet-mu acuh tak acuh. Para tawanan rambut jagung itu dan kita berdua, ah bertiga dengan Lusi sebenarnya, senasib. Kita dulu kan ingin pergi ke Tegal. Tidak ke Mataram Pantai Selatan ini. Tahu kau, apa yang Pestih katakan? Bahasa kaum pelaut bagus: Siapa menabur angin, siaplah menuai badai taufan. Begitu dia.”

“Dalam badai, lagi-lagi kita kaum kecil yang menjadi korban.”

“Kalau kita kali ini jadi korban, silakan,” kata Slamet tegas. ‘ Jer basuki mawa beya.[8]) Bahaya akan menjadi korban demi kemerdekaan sahabat yang juga berhak merdeka, cukuplah mulia untuk dipertaruhkan.” Sangat erat dirangkullah pinggang suaminya, kepala masih di pangkuan Slamet, tetapi mata memandang ke bayi.

“Aku satu hati denganmu, Mas. Hanya bagaimana dengan Lusi kita? Dia semungil, selunak ini. Apakah kita berhak….”

Mogoklah mulut Duku. Takut dan berani, sedih dan suka, derita dan bahagia, bangga dan ragu-ragu, tahu dan tidak tahu, semua itu saling bertubrukan dalam medan laga jiwanya. Begitu juga Slamet. Orang dewasa dapat berujar dan berajar apa pun, dan bahasa tombak melawan perisai bisa bergemuruh dahsyat seolah-olah hanya bising ulah senjatalah yang paling nyaring di bumi, akan tetapi di muka bayi mungil-kunyil yang nyenyak tidur pulas puas, siapa pun hanya akan dapat diam. Sang anak, ya sang anak-lah sebenarnya ratuning jagad.

Disekanya tubuh telanjang istrinya. Kulit wanita ini terasa selalu lain pada setiap kali Slamet ber-kamaratih. Siter sengsemnya masih saja menggetarkan takjubnya. Betapa halus empuk seperti anaklah kulit istrinya. Punggung, pantat, pipi, paha, payudara, semua serba lawan dari kekerasan, kealotan, kekhianatan. Selalu begitukah kulit daging wanita? Kawan dari kehalusan, sahabat yang menawarkan kenikmatan serba rela, gema hidup yang mendagingkan janji tentang dunia damai dan citra yang mengajak bermain mesra dan joli jumbuh. Pembangkit damba persahabatan memang ternyata si anak bila sedang melengket pada buah-buah penjamin kehidupannya. Pujaan dan sesaji kepada Dewa Kamajaya dan Dewi Ratih dari kaum bojo. Akan tetapi siapa merasa perlu meminta nasihat kepada sang buah, si anak? Berhakkah Slamet dan Duku berbuat sesuatu yang tidak bebas bahaya tanpa minta izin dahulu kepada Lusi? Gagasan yang aneh. Mana ada orang tua minta izin kepada anak, lebih lagi bayi. Tetapi istrinya insan perempuan, dan perempuan bagaimanapun memang lebih dekat dengan si buah rahim. Apa yang terlonjak dari perasaan istrinya tadi membuat Slamet ragu-ragu. Aneh, sungguh aneh, bagaimana anak, tanpa omong sepatah kata pun, bahkan cuma dengan tidur dan buang air, sering mampu mengguncangkan segala perbin­cangan dan keputusan kaum dewasa. Terserahlah, jaring sudah terlempar. Tinggal menunggu malam tanpa bulan. Semoga Karel dapat lolos. Lainnya boleh ditembak mampus oleh para penjaga di Watukara, cakruk[9]) balatentara paling ujung di muara Sungai Bagawanta itu, tetapi asal saja Karel bisa bebas. Jangan! Apa arti kemerdekaan Karel dengan mayat ayahnya sebagai kasur? Menang dan kalah, siapa sebetulnya yang mengaturnya?

Lusi bangun dan mulai bersiasat menangis. Ah, bayi sangat peka. Maka jangan berpikir dan berbuat yang menggelisah-kan. Makhluk mungil ini merasa. Duku menidurkan diri di samping anaknya, dan menawarkan putik kepadanya. Berhentilah si Kecil menuntut. Tiba-tiba Slamet tertembak oleh pertanyaan tajam seperti tombak bermata warangan: Bagaimana rupa si Raden Mas Jibus dulu ketika masih bayi? Boleh jadi bukan putik ibunya sendiri yang ia isap dulu. Boleh jadi. Sebab Ratu Ayu dari Batang itu terkenal selaku putri perdamaian yang arif. Tetapi konon susu-susu ibunya merasa diri terlalu ningrat untuk berisi dan diisapi seperti sapi. Ah, jangan memikir tentang Raden Mas Jibus.

“Lusi, Lusi, kau ratu peneguh Slamet dan Duku!”

[1]     kue rebusan tepung beras yang diisi dengan irisan pisang raja/kepok

[2]     tempat penyimpanan periuk belanga di dapur

[3]     keranjang kecil

[4]     sebutan kesayangan untuk bayi

[5]     jangan menggerutu

[6]     Siapakah gerangan sang sari cinta dan perantara kesayangan?

[7]     sedih, lunglai

[8]     Sebab, segala kesejahteraan menuntur korban.

[9]     pos penjagaan

————————

Naskah djvu ada di sini, sedangkan maskah pdf juga ada di sini

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Telah Terbit on 16 Mei 2015 at 01:13  Comments (103)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/trilogi-yb-mangunwijaya/genduk-duku/trackback/

RSS feed for comments on this post.

103 KomentarTinggalkan komentar

  1. Episode pertama Genduk Duku telah diwedar

    silahkan berburu rontal dan bergojeg dan berburu rontal sebagaimana bertahun yang lalu, ketika masih menjadi cantrik aktif di padepokan ini.

  2. test…..
    kenapa komen saya tidak bisa masuk daftar komen?

    Hadu….
    kenapa ya?

  3. Grotal-gratul, grayah-grayah

  4. Serasa seperti nyantrik pertama kali, lupa cara nyarinya

  5. ToPan Siap Hadiiirŕ Pakde Satpam. Apa kabar Pakde Satpam dan Eyang Arema ?. Semoga Selalu Sehat dan Banyak Rezekinya Amiiiin.

  6. Pakde Satpam. Kalau pake android apa bisa dicari dan download ya. Sudah berkali kali di plototi di ubek ubek kok ra ketemu ya hahahhhhhh

    • Sugeng enjang . . . Selamat pagi, Ki Adji.

      Saya tadi sudah mencoba di hp dan tidak bisa Ki, kecuali kalo di hp Ki Adji ada djvu nya, baru bisa dibaca, karena formatnya djvu, bukan pdf bukan pula ms-word.

      Kalo soal rontal diumpetin dimana sama Anakmas Risang, Ki Adji saya kira sudah pengalaman tahunan . . . he he he, tlateni ae suwe-suwe rak ketemu . . . gampang kok, gak susah.

  7. Assalamu’alaikum wr wb
    Salam sejahtera buat kita semua.
    Alkhamdulillah telah kita mulai lagi mengangkat kisah cerita anak bangsa berupa Novel Serial Roro Mendut.
    Serial karya budayawan YB Mangunwijaya ini berkisah tentang kejatuhan martabat seorang ksatria perang, seorang Tumenggung di Zaman Pemerintahan Kesultanan Mataram Era Sultan Agung Hanyokrokusumo.
    Seorang Panglima Perang yang sangat disegani oleh teman dan lawan ini yaitu TUMENGGUNG WIROGUNO, tergelincir hanya karena kecantikan seorang wanita rakyat biasa, RORO MENDUT.
    Sayangnya sang perawan jelita tidak bersedia disunting oleh Ki Tumenggung dengan tawaran hidup kamukten. Ia lebih memili mati bersama kekasihnya PRONOCITRO, seorang nelayan dari pantai utara.
    Kisah tragis di atas berlanjut dengan sebab dan akibat dari peristiwa tersebut di buku kedua dan ketiganya yg sudah dapat diikuti disini.
    Tapi yang justru menarik adalah latar belakang sejarahnya. Banyak yang sangat awam dengan sejarah Mataram di Era akhir Sultan Agung yang digantikan oleh putra mahkota Sunan Amangkurat I, yang dikenal brutal demi menuruti ambisinya yg gemar melahap betis indah. sampe demi menutupi kebobrokannya, dia tercatat telah membantai ratusan Kiai dan Santri di jamanya. Bagaimana jalan ceritanya, temukan di serial novel ini.
    Hanya sayang sekali, Genduk Duku ini sudah Seri II. Buku Seri I berjudul Roro Mendut, belum ditemukan dalam koleksi. Sedangkan mencarinya di luar sangat jarang diketemukan.
    Apabila diantara sidang pembaca ada yg memiliki, atau kebetulan menemukan di toko buku. mohon perkenan untuk di informasikan di sini.
    Mohon judul di atas bukan APDM, tapi RORO MENDUT, novel serial sejarah YB Mangun Wijaya.
    Monggo.

  8. Assalamu’alaikum Wr Wb,
    Salam sejahtera untuk kita semua,
    Selamat pagi . . . Sugeng enjang,
    Sanak kadang adbm semua . . . .

    Anakmas Risang kok teganya-teganya menyanyi . . . he he he.
    Sementara kadang yang gak sabaran maunya cepet membaca, ingak-inguk rana-rene, nang endi leh ndekek rontal.

    • kok komentare menunggu moderasi,
      ra entuk mlebu po ya . . . . . hiks.

  9. Pasti bisa…hik..megkuh titik noda itu…

  10. mantappppp….. tinggal cari roro mendutnya…

  11. Nunut ngiyup Ki ….

  12. Roro mendutnya di bawa lari pronocitro Ki … Salam buat poro Empuh2 Adbm/Pdls …

  13. Wis di ubek2 ora ketemu .. Klau PC cepat klau Hp apa bisa ya … PakLik Satpam mohon bantuannya ..

  14. Ho android juga bisa ki….titik bernoda kata mas satpam…hikkk tidak boleh menyerah

  15. Sugeng sonten Anakmas Risang

    Lha wong episode 2 sudah wedar dari tadi, po ya belum ada yang ngunduh . . . he he he.
    Mungkin sanak kadang perlu bahasa sasmita dari P. Satpam, memang diperlukan ketelitian dan kejelian.

    Sanak kadang sedaya . . . mangga episode 2 sudah gogrok, tinggal ngunduh saja.

    • Sugeng sonten Panembahan
      he he he …., kala wau kesupen terus buru-curu wedaran, lan terus nglanjutaken tugas malih.
      ngapunten…

  16. Hiks…..mas Satpam

    • kata bang haji mas Satpam…terLALU

      • he he he …..
        gandok dimanapun kalau tidak ada Ki Menggung Gembleh dan Ki YP, kayaknya bagaimana…. gitu.

        Monggo Ki

        • Betul Lik Satpam… seperti lontong balap tanpa lontongnya…

          • Betul ki AM….
            Seperti motor balap tanpa motornya

  17. Pusing…
    bagaimana memunculkan komentar terakhir dalam daftar

    mohon pencerahan

    • Lho….mas satpam kePUsingan toh

      Cantrik kira memang sengaja tidak
      mas Satpam tampilkan

      • Gampang mas Satpam…hiks

        Kirim panah sanderan nti cantrik
        bantu dari ujung wetan

  18. Alhamdulillah lagi bisa mlebu senthong sebelah sini…

    lampune masih mati, sehingga harus meraba-raba mencari rontal ala genderuwo picek… semoga pas ‘meraba’nya…

    • Ketemu ki AM….bukan hanya diRABa
      zoom juga perlu ki, saestu

  19. nakmas satpam apa eps.3 siap digrayah ?

    • likmas Satpam apa eps.4 siap diwedar?

      • dereng, mbenjang enjing

    • sampun …..

  20. Alhamdulillah wis gak usum duku nanging iso moco Genduk Duku semudah memijit wohing ranti.

    • Selamat malam mas Satpam… 🙂

      Selamat menyiapkan wedaran rontal
      lanjutan.

      • di padepokan sini….cantrik siap
        bertanding lawan mas Satpam

        Kuat mana yang baca apa mas Satpam
        yg nyiapkan rontal

        • hayoo,,,,,,,,,

          • Priit…format text mas Satpam

            • yg kalah angkat
              tangan kanan.
              tanda kiri cukup
              masukan saku
              belakang 🙂 🙂

            • Kudu sesuai jadwal no Ki Menggung.

              • Jadwal ber-
                kunjung

                • J
                  A
                  D
                  W
                  A
                  L

                  A
                  M
                  B
                  I
                  L

                  J
                  A
                  T
                  A
                  H

                  R
                  A
                  N
                  G
                  S
                  U
                  M

              • Monggo
                lha wong wis ket mau kok
                he he he …..

  21. Episode 5….belum ada cantolan
    Episode 6….masih dalam penggorengan

    Episode 7….belum diracik mas Satpam
    Episode 8….nunggu antrian wedar

    • Usul mas Satpam,

      Wedaran rontal nunggu pasukan OGrog
      pada ngumpul ng padepokan.
      Tahan dulu wedaran sp cantrik mentrik
      kemringet ngiler rontal lanjutan.

      Ini tadi usulan ki Trupod sesepuh
      padepokan….ki gundul sakdermo
      menyebar luaskan

      Saestu…TENAN

    • 5 wis kok

      • 5 wes nyantol….tinggal srondol

        • Matur nuwun mas Satpam

          • Nti malam cantrik kancani
            Melek-an

  22. Absen dulu aahh…..

    Baru kali ini mbuka gandok Genduk Duku, karena berbagai hal..
    matur nuwun sanget Pak Satpam, Bopo Panembahan, dll atas peluncuran rontal yang baru

  23. selamat siang

  24. Episode 5 : djvu dan pdf

    teks belum dimunculken

    • pelan2 mas Satpam…ga usah terburu
      buru pasang “teks”

      yg penting wektu cantrik sambang lgi
      nanti “teks” sudah dicantolkan…hehe20x

      • Malam mas Satpam

        • Hadir…sambang padepokan

          • he he he …, monggo…..

            • Hehehe…matur
              nuwun mas Satpam

              • Sugeng
                Dalu

  25. Hadir….mas Satpam

    • Sugeng dalu kadang genduk DUKU

      • Otw padepokan sebelah sengkaling

        • loh…, padepokan sebelah Sengkaling yang mana? UMM, UIN, Polres?

  26. HADIR…..mas Satpam

    • monggo….
      penghuninya di sini hany Ki menggung sendiri
      satpam juga jadi males piket disini
      he he he he he he he he he he (lama lama tidak terdengar)

      • Males….pertanda belom makan
        mas Satpam…kleru Mules ding.

        AYO SEMANGAT…mumpung yg
        laen pada belom datang.

        • berDUA…..sapa takut 🙂 🙂

          • AYO mas SATPAM….kita buat padepokan megah.

            Megah : menawan gagah
            tur bikin betah para wanita
            seluruh tlatah jawa 🙂 🙂

  27. HADIR….sugeng dalu

    • mas Satpam….kemana kah panjenengan

      • cantrik dewean….ENAK tenan

        • urun saran….kenapa komen di genduk duku tidak nampak pd

          KOMENTAR terakhir padepokan
          ini mungkin yg bikin gandok jarang ada yang singgah padepokan

          • masa sih mas Satpam ga
            bisa otak atik membetulkan

            • Sampe judeg Ki, tidak berhasil.
              Masih dicoba otak atik lagi.

  28. Alhamdulillah, terima kasih mas
    Risang, tau tau sdh episode 8.
    Apa mas Risang sdh baca ceritanya?
    Latar belakang sejarahnya menarik, yaitu awal mula kita bersentuhan dengan barat secara langsung, dan juga kedzoliman Amangkurat 1yg jarang diangkat ke permukaan.

    • Sambil konversi dan edit teks Ki, satpam sempat baca.

  29. Njlekethek,
    setelah hampir putus asa, akhirnya ketemu penyebab tidak munculnya komen terakhir.
    Hadu…..
    Bobo ah….

  30. Wah…jebul saya ketinggalan….padahal yang cepat dapat yang lambat ketinggalan….Sugeng sonten sedoyo…!

    • benul ki Karto….yg cepat dapat duluan
      yg lambat sabar nunggu dum2an

      • Benur..Ki Tmg.YP..ngantri..

        • Ngantri sebentar….pas dibelokan cantrik serobot antrian,

          • Ati2 Ki Menggung….keseringan nyrobot ntar…bengkong lho 😀

            • Bengkong sekali kali asik ki Menggung

              BengkongAN…he 50x

              • Selamat malam…..sepi banget

                • S
                  E
                  R
                  E
                  M

                  Hi
                  Hi
                  Hi
                  Hi

              • hem….serem deh 😦

                • Se
                  Re
                  M

                  Me
                  Le
                  K

                  Me
                  Re
                  M

              • Serem…..seneng merem 😀

  31. tes…..masuk komen, komen masuk

    • tes…..yang keluar masuk 😀

      • Sugeng dalu ki Kartojudo

        • Kecipir mrambat kawat…wes suwe ki Karto ora liwat

          • Sugeng manuk..eh..masuk Ki Gundal gandul 😀

            • Hiks…matur nuwun ki Kartojudo

              Suwe ora jamu…jamu pisan godhong kates
              Suwe ora ketemu…ketemu pisan tes testes

              • Hehehe…dak kiro ketemu pisan ketemu….kates 😀

              • Sanes
                kates
                ki….

                kutes
                kusuka
                kates

  32. HADIR…. mendhisiki diri sendiri

  33. he he he ….

    gandok ini sepertinya rumahnya Ki Menggung berdua (KiGundul dan Ki Kartoyudo sendiri)

    • Bener mas Satpam…terkadang kita perlu menyendiri buat mengendapkan serta menenangkan diri dari hiruk pikuk ramainya hohohihi

      • Bener mas Satpam…terkadang kita …merasa sedih

        • Sedih dipagi hari…seneng disore hari

          • Sedih disiang hari….sueneng dimalam hari

            • Sugeng Riyadin Ji Gundul,mas Satpam…..
              maaf lahir batin……..

              • Njih Ki Menggung
                sami-sami nggih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: