GENDUK DUKU

Episode 12

 Sejak peristiwa penculikan Putri Tejarukmi, Bendara Eyang Pahitmadu mendesak keras kepada Duku dan Slamet, agar mengungsi dulu di purinya. Jangan dikira Raden Mas Jibus akan menyerah begitu saja. Pagi atau petang, hujan atau terang, pasti begundal-begundalnya akan datang lagi. Benar, Wiraguna telah memperbanyak lipat tiga jumlah prajurit yang bertugas menjaga keamanan pesanggrahan Putri Arumardi di Bangkawa-Kulon, akan tetapi Bendara Eyang mendesaknya, sehingga Slamet dan Duku merasa lebih bijak untuk mengikuti penataan Putri sangat tua itu, yang akhir-akhir ini tampak menurun kesehatan serta ceria wajahnya. Tetapi ada alasan lain yang tidak dikatakan Bendara Pahitmadu, yakni betapa inginnya beliau mengikuti perkembangan buah rahim si Duku, dan semoga masih boleh menyaksikan Duku terkasihnya melahirkan anaknya yang pertama.

Dalam lubuk hati, yang sarat disirami sekian perbincangan dengan suaminya, Duku sebenarnya lebih suka menantikan saat bersalinnya di rumah bambu Mbah Legen dan Nyi Gendis. Kendati dalam pondok papa, namun si Bayi akan masuk ke, dalam dunia kehidupannya di tengah kedua orang dina sederhana yang baik hati itu; dan yang serba menyesal belum sempat mereka kunjungi. Dia harus lahir sebagai anak rakyat, begitu bertubi Slamet menegaskan. Pari awal mula Duku bukannya berpendapat lain, tetapi jalan pikirannya tidak sefanatik suaminya. Kalau si Bayi boleh memilih antara tikar pandan atau kasur berselimut sutra, tentulah si Bayi alias si Ibu, jurtt bicaranya, jelas akan memilih sutra empuk. Bayi adalah ratu atau raja, ujar naluri sang Ibu. Mengapa raja atau ratu harus rriemilih tikar dan mengabaikan tawaran kasur sutra empuk?

Akhirnya Slamet tidak berkeberatan mereka menunggu peristiwa luar biasa itu di Puri Pahitmadu. Dengan ikatan janji di hati, agar secepat mungkin sesudahnya, Duku disertai Slamet berkunjung ke kakek-nenek yang pernah, dalam keadaan kelam tinggal tenggelam, meng­amalkan kebaikan budi tanpa pamrih. Duku pun sudah berulang kali mencari kesempatan untuk menengok kedua orang tua yang dulu menampungnya, lepas dari maut, akan tetapi ada-ada saja keadaan menghalang-halangi. Ternyata hidup dalam rumah ningrat tidaklah semerdeka yang dikira orang. “Memang belum saatnyalah,” hibur. Slamet kepada istrinya dan khusus kepada diri sendiri juga, senang, janin terjamin damai oleh kedermawanan sahabat-sahabat yang ikhlas. Janin harus teremban oleh suasana yang serba menantinya dengan himbauan yang mengharapkan. Dan bayi harus disambut dengan ucapan kaum sekeliling, “Selamat datang, Sahabat mungil!”

Sebab kendati si Bayi belum mampu paham lewat pikiran dan panca indra, akan tetapi dia telah mampu untuk merasa dengan galihrasa. Bayi menangis bila malam-malam maling datang; bila orang tuanya gelisah atau cekcok; bila merasa diemohi. Jangan terlalu ingin mengatur. Akhirnya keduanya sepakat. Gubuk atau istana, yang penting adalah suasananya.

Namun rupa-rupanya si calon anak Duku-Slamet ini adalah hembusan napas Batara Bayu Telukcikal, yang merdeka sesukanya menggiring awan-awan pembawa rahmat hujan. Tiba-tiba Duku merasa terdorong sangat kuat untuk berziarah ke muara Sungai Opak, ke tempat pujaannya Rara Mendut bersama kekasihnya dijemput oleh gelombang-gelombang samudra untuk diantar ke alam abadi. Haruslah, anaknya harus ia mintakan bayu jatidiri dan citradiri mirip Rara Mendut jika perempuan, dan mirip Pranacitra bila lelaki. Harus, harus. Begitu kuat ngidam-nya itu, sampai Bendara Eyang mengizinkan dia bersama Slamet pergi berziarah.

Maka berangkatlah Duku dan Slamet; istrinya menunggang kuda cebol kore, dan Slamet cukup berjalan kaki. Tidak, mereka tidak mau diantar maupun dikawal. Pasrah sumarah, itu jauh lebih bermakna.

Dengan mata berlinang Bendara Pahitmadu memandang dua muda tersayang itu menjauh ke arah timur menyusur pantai. Sudah hamil tua, hampir saatnya, ada-ada saja gagasan si Duku itu. Semoga selamatlah. Bukan abdi jenis biasa mereka, asal tahu itu. Namup apa sebenarnya yang membuat Bendara Eyang terharu? Hanya beliau yang tahu: Duku ini kok tepat dengan apa yang Eyang Pahitmadu cita-citakan sendiri nun dulu ketika masih semuda Duku. Hanya kesempatan tak ada. Tidak ada atau kurang diadakan? Kembali ke dalam ruang tidurnya, Bendara Eyang menangis. Seperti ada pucuk keris yang menggoret-goret dalam hatinya, keris penyesalan. Kurang beranikah Pahitmadu dulu? Terlalu ragu-ragu lalu hanya menunggu dan menunggu tanpa berbuat sesuatu? Rara Mendut dan si Genduk Duku tidak menunggu. Mereka merebut kesempatan. Ah, akan beliau anugerahi warisan si Duku dan Slamet ini bila sudah saatnya beliau pulang ke Samudra Abadi. Sebab tanpa mereka sadari, hiburan berharga telah mereka sumbangkan kepada insan setua Pahitmadu, citra yang hidup dari cita-cita lampau yang tak pernah tercapai namun tak pernah hilang pula dalam lubuk kalbu terdalamnya, citra wanita perebut nasib.

Tersenyumlah Eyang penuh damai serta syukur. Ya, ya, Duku telah mengilhaminya dengan suatu keputusan hati yang baru. Ya, ya, itulah yang akan Pahitmadu kehendaki, kehendaki terakhir. Tidak jadi beliau ingin dikubur di pemakaman keluarga yang sudah lama beliau bangun-siapkan di suatu bukit berpemandangan indah di dekat Imogiri. Tidak jadi, Pahitmadu ingin dilarung saja, dilabuh dikembalikan ke Samudra Raya, lambang keabadi­an yang tak terhingga.

“Mbok Kapti, tolong panggilkan Ki Sastrasudarma.”

“Nun inggih,[1]) Bendara Eyang.”

Ki Sastrasudarma adalah carik-dalem,[2]) bendahara punggawa surat-surat berharga dan khotib puri, penjaga harta Bendara Eyang Pahitmadu.

Ombak-ombak berbuih yang datang susul-menyusul menderu-derukan gelora nilai-nilai termulia dalam dua insan kecil yang seolah-olah hilang duduk bersila di tengah padang pasir pantai muara Sungai Opak; gelora kemerdekaan, ‘warta perpaduan air dan angin yang bebas melompati kalangan-kalangan cakrawala. Bukan dua, tetapi tiga insan sebetulnya. Hanya satu masih tiduran melayang-layang dalam air rahim. Tidur, tetapi bangun sebenarnya. Bangun melewati pusar pemersatu dengan ibunya yang pada saat itu sedang bergetar oleh haru yang menggelombang dahsyat pula. Seiring tarian ombak laut di mukanya, yang tak henti-henti menyanyikan pujaan dan himbauan tentang Sangkan-Paran,[3]) tentang Lakuning Ngaurip, [4]) dan tentang Marga Jati.

Duh jala balatantra turangga jaya, jejogedan ing jaladri jiwa janma. Duh jalantara jamang jamang jingga Jatayuning Jaypngpati! Sukmamba sesuci sujud semedi: Sinten ta sinten Sang Sejati? Sinten ta stnten sang Sumber sururini, sarining sengsem sarining sih.[5])

Menjelang senja Duku merasakan gua garba-nya bertanggap untuk pertama kali atas desakan gelora hidup makhluk baru dalam dirinya yang merasa siap untuk meninggalkan pertapaannya, menempuh hidup di luar, serba tantangan namun penuh keasyikan juga. Tiba-tiba Duku merasa diri sangat lelah lunglai. Ia minta istirahat saja sepanjang malam di pasir pantai. Tentulah Slamet sangat prihatin mendengar permintaan itu. Pantai muara Sungai Opak memang bukan lagi rimba buas seperti sisa-sisa Hutan Mentaok. Bahkan agak ke hulu sungai, Susuhunan Mataram memiliki pesanggrahan bagus di Gading, tempat beliau beristirahat dan bersenang-senang selama ber­minggu-minggu pesta perburuan di wilayah Mataram Selatan yang kaya rusa, kijang, kancil, dan binatang-binatang mangsa, bagus bagi olahraga perburuan kaum istana. Namun Slamet harus berjaga-jaga terhadap ular beracun dan terutama gangguan anjing-anjing ajag yang masih berkeliaran bergerombol dari darat maupun buaya dari hilir. Apalagi dengan keadaan istrinya yang rupa-rupanya sial sekali justru di pantai sepi ini-merasa saat bersalin tiba. Sebab tidak jarang terjadi ibu dan bayinya dikeroyok anjing-anjing galak itu, setelah penciuman mereka yang tajam menangkap bau darah sedikit saja.

Sial? Apakah malapetaka bila si anak sulung lahir di kandang langit berselimut awan-awan? Terlindung tenunan sinar bulan menjelang purnama, dlemok-cung[6]) bintang-bintang berlian? Dengan iringan seni bunyi dahsyat ombak-ombak samudra dan angin pembawa warta wahyu? Duku sungguh tidak mau melelahkan diri berjalan ke desa terdekat yang masih jauh, dan bertekad bulat menyambut si mungilnya di pantai saja. Jelaslah bukan hanya letih lesu tubuhnya saja yang menjadi alasannya, tetapi’ ya apalagi, selain gagasan mendapat panggilan dari dalam untuk menjalin ikatan antara tempat meninggal pahlawan hatinya-Mendut dengan tempat lahir anak sulungnya. Peristiwa kelahiran anak manusia dari pangkuan ibunya bukan perkara baru dan menakutkan bagi si Duku yang sudah berkali-kali melihat dan ikut menolong kaum sejenisnya bersalin. Tetapi untuk Slamet, keharusan untuk menjadi bidan istrinya sendiri tentulah penuh pertanyaan dan ketegangan.

Baiklah, setiap saat atau peristiwa seyogyanya dinilai selaku hikmah. Akan ia dampingi sendiri belahan jiwanya yang pemberani penuh keyakinan diri ini. Dan lagi, bukankah tempat serba menyatu dengan alam raya dan saat seindah ini jauh lebih mulia maknanya daripada yang dirancang semula? Air asin selaku air melawan kebusukan tersedia berlimpah, pelita bulan dan ranjang pasir empuk telah siap untuk dipakai. Minta apa lagi? Untuk menghalau binatang-binatang yang tak diinginkan Slamet menyalakan api unggun di dekat istrinya terbaring. Tinggal menunggu dan mendampinginya, meneguhkan semangatnya dan memanjatkan doa. Semalam larut, dan Duku masih bergulat.

Akhirnya sangat dini pagi, pada saat ayam-ayam pertama berkokok meluncurlah si Mungil ke dalam kedua mangkok tangan ayahnya dengan selamat. Alam-dalam yang terbuai ayunan serba aman ditukar dengan jagad janaloka[7]) penuh ancaman. Tahukah apa yang kaulakukan ini? tanya Slamet kepada si bayi yang… yah ternyata bersih mulus licin tanpa jambu mete di pangkal pahanya. Tetapi tangis pertamanya sama sekali tidak lirih luruh. Mencuatlah pekik ikrar si Srikandi kecil.

[1]     Ya, hamba taat.

[2]     pegawai pribadi

[3]     asal mula dan tujuan kehidupan

[4]     perjalanan hidup

[5]     O, air, bagaikan pasukan-pasukan berkuda yang jaya menari-nari dalam lautan jiwa manusia. O, jembatan laut dengan mahkota-mahkota merah jingga yang menjadi garuda Jatayu kendaraan Sang Pemenang Maut! Jiwaku membersihkan diri bersujud merenung: Siapakah gerangan Yang Sejati? Siapakah gerangan Sang Sumber Perantara anak mungil, sari dari kenikmatan ketentraman cinta?

[6]     sedikit di sini sedikit di sana

[7]     dunia tempat manusia

—————-————
Genduk Duku episode 11 djvu ada disini , yang PDF berada diantara karakter yang ada di halaman ini.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Telah Terbit on 16 Mei 2015 at 01:13  Comments (103)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/trilogi-yb-mangunwijaya/genduk-duku/trackback/

RSS feed for comments on this post.

103 KomentarTinggalkan komentar

  1. Episode pertama Genduk Duku telah diwedar

    silahkan berburu rontal dan bergojeg dan berburu rontal sebagaimana bertahun yang lalu, ketika masih menjadi cantrik aktif di padepokan ini.

  2. test…..
    kenapa komen saya tidak bisa masuk daftar komen?

    Hadu….
    kenapa ya?

  3. Grotal-gratul, grayah-grayah

  4. Serasa seperti nyantrik pertama kali, lupa cara nyarinya

  5. ToPan Siap Hadiiirŕ Pakde Satpam. Apa kabar Pakde Satpam dan Eyang Arema ?. Semoga Selalu Sehat dan Banyak Rezekinya Amiiiin.

  6. Pakde Satpam. Kalau pake android apa bisa dicari dan download ya. Sudah berkali kali di plototi di ubek ubek kok ra ketemu ya hahahhhhhh

    • Sugeng enjang . . . Selamat pagi, Ki Adji.

      Saya tadi sudah mencoba di hp dan tidak bisa Ki, kecuali kalo di hp Ki Adji ada djvu nya, baru bisa dibaca, karena formatnya djvu, bukan pdf bukan pula ms-word.

      Kalo soal rontal diumpetin dimana sama Anakmas Risang, Ki Adji saya kira sudah pengalaman tahunan . . . he he he, tlateni ae suwe-suwe rak ketemu . . . gampang kok, gak susah.

  7. Assalamu’alaikum wr wb
    Salam sejahtera buat kita semua.
    Alkhamdulillah telah kita mulai lagi mengangkat kisah cerita anak bangsa berupa Novel Serial Roro Mendut.
    Serial karya budayawan YB Mangunwijaya ini berkisah tentang kejatuhan martabat seorang ksatria perang, seorang Tumenggung di Zaman Pemerintahan Kesultanan Mataram Era Sultan Agung Hanyokrokusumo.
    Seorang Panglima Perang yang sangat disegani oleh teman dan lawan ini yaitu TUMENGGUNG WIROGUNO, tergelincir hanya karena kecantikan seorang wanita rakyat biasa, RORO MENDUT.
    Sayangnya sang perawan jelita tidak bersedia disunting oleh Ki Tumenggung dengan tawaran hidup kamukten. Ia lebih memili mati bersama kekasihnya PRONOCITRO, seorang nelayan dari pantai utara.
    Kisah tragis di atas berlanjut dengan sebab dan akibat dari peristiwa tersebut di buku kedua dan ketiganya yg sudah dapat diikuti disini.
    Tapi yang justru menarik adalah latar belakang sejarahnya. Banyak yang sangat awam dengan sejarah Mataram di Era akhir Sultan Agung yang digantikan oleh putra mahkota Sunan Amangkurat I, yang dikenal brutal demi menuruti ambisinya yg gemar melahap betis indah. sampe demi menutupi kebobrokannya, dia tercatat telah membantai ratusan Kiai dan Santri di jamanya. Bagaimana jalan ceritanya, temukan di serial novel ini.
    Hanya sayang sekali, Genduk Duku ini sudah Seri II. Buku Seri I berjudul Roro Mendut, belum ditemukan dalam koleksi. Sedangkan mencarinya di luar sangat jarang diketemukan.
    Apabila diantara sidang pembaca ada yg memiliki, atau kebetulan menemukan di toko buku. mohon perkenan untuk di informasikan di sini.
    Mohon judul di atas bukan APDM, tapi RORO MENDUT, novel serial sejarah YB Mangun Wijaya.
    Monggo.

  8. Assalamu’alaikum Wr Wb,
    Salam sejahtera untuk kita semua,
    Selamat pagi . . . Sugeng enjang,
    Sanak kadang adbm semua . . . .

    Anakmas Risang kok teganya-teganya menyanyi . . . he he he.
    Sementara kadang yang gak sabaran maunya cepet membaca, ingak-inguk rana-rene, nang endi leh ndekek rontal.

    • kok komentare menunggu moderasi,
      ra entuk mlebu po ya . . . . . hiks.

  9. Pasti bisa…hik..megkuh titik noda itu…

  10. mantappppp….. tinggal cari roro mendutnya…

  11. Nunut ngiyup Ki ….

  12. Roro mendutnya di bawa lari pronocitro Ki … Salam buat poro Empuh2 Adbm/Pdls …

  13. Wis di ubek2 ora ketemu .. Klau PC cepat klau Hp apa bisa ya … PakLik Satpam mohon bantuannya ..

  14. Ho android juga bisa ki….titik bernoda kata mas satpam…hikkk tidak boleh menyerah

  15. Sugeng sonten Anakmas Risang

    Lha wong episode 2 sudah wedar dari tadi, po ya belum ada yang ngunduh . . . he he he.
    Mungkin sanak kadang perlu bahasa sasmita dari P. Satpam, memang diperlukan ketelitian dan kejelian.

    Sanak kadang sedaya . . . mangga episode 2 sudah gogrok, tinggal ngunduh saja.

    • Sugeng sonten Panembahan
      he he he …., kala wau kesupen terus buru-curu wedaran, lan terus nglanjutaken tugas malih.
      ngapunten…

  16. Hiks…..mas Satpam

    • kata bang haji mas Satpam…terLALU

      • he he he …..
        gandok dimanapun kalau tidak ada Ki Menggung Gembleh dan Ki YP, kayaknya bagaimana…. gitu.

        Monggo Ki

        • Betul Lik Satpam… seperti lontong balap tanpa lontongnya…

          • Betul ki AM….
            Seperti motor balap tanpa motornya

  17. Pusing…
    bagaimana memunculkan komentar terakhir dalam daftar

    mohon pencerahan

    • Lho….mas satpam kePUsingan toh

      Cantrik kira memang sengaja tidak
      mas Satpam tampilkan

      • Gampang mas Satpam…hiks

        Kirim panah sanderan nti cantrik
        bantu dari ujung wetan

  18. Alhamdulillah lagi bisa mlebu senthong sebelah sini…

    lampune masih mati, sehingga harus meraba-raba mencari rontal ala genderuwo picek… semoga pas ‘meraba’nya…

    • Ketemu ki AM….bukan hanya diRABa
      zoom juga perlu ki, saestu

  19. nakmas satpam apa eps.3 siap digrayah ?

    • likmas Satpam apa eps.4 siap diwedar?

      • dereng, mbenjang enjing

    • sampun …..

  20. Alhamdulillah wis gak usum duku nanging iso moco Genduk Duku semudah memijit wohing ranti.

    • Selamat malam mas Satpam… 🙂

      Selamat menyiapkan wedaran rontal
      lanjutan.

      • di padepokan sini….cantrik siap
        bertanding lawan mas Satpam

        Kuat mana yang baca apa mas Satpam
        yg nyiapkan rontal

        • hayoo,,,,,,,,,

          • Priit…format text mas Satpam

            • yg kalah angkat
              tangan kanan.
              tanda kiri cukup
              masukan saku
              belakang 🙂 🙂

            • Kudu sesuai jadwal no Ki Menggung.

              • Jadwal ber-
                kunjung

                • J
                  A
                  D
                  W
                  A
                  L

                  A
                  M
                  B
                  I
                  L

                  J
                  A
                  T
                  A
                  H

                  R
                  A
                  N
                  G
                  S
                  U
                  M

              • Monggo
                lha wong wis ket mau kok
                he he he …..

  21. Episode 5….belum ada cantolan
    Episode 6….masih dalam penggorengan

    Episode 7….belum diracik mas Satpam
    Episode 8….nunggu antrian wedar

    • Usul mas Satpam,

      Wedaran rontal nunggu pasukan OGrog
      pada ngumpul ng padepokan.
      Tahan dulu wedaran sp cantrik mentrik
      kemringet ngiler rontal lanjutan.

      Ini tadi usulan ki Trupod sesepuh
      padepokan….ki gundul sakdermo
      menyebar luaskan

      Saestu…TENAN

    • 5 wis kok

      • 5 wes nyantol….tinggal srondol

        • Matur nuwun mas Satpam

          • Nti malam cantrik kancani
            Melek-an

  22. Absen dulu aahh…..

    Baru kali ini mbuka gandok Genduk Duku, karena berbagai hal..
    matur nuwun sanget Pak Satpam, Bopo Panembahan, dll atas peluncuran rontal yang baru

  23. selamat siang

  24. Episode 5 : djvu dan pdf

    teks belum dimunculken

    • pelan2 mas Satpam…ga usah terburu
      buru pasang “teks”

      yg penting wektu cantrik sambang lgi
      nanti “teks” sudah dicantolkan…hehe20x

      • Malam mas Satpam

        • Hadir…sambang padepokan

          • he he he …, monggo…..

            • Hehehe…matur
              nuwun mas Satpam

              • Sugeng
                Dalu

  25. Hadir….mas Satpam

    • Sugeng dalu kadang genduk DUKU

      • Otw padepokan sebelah sengkaling

        • loh…, padepokan sebelah Sengkaling yang mana? UMM, UIN, Polres?

  26. HADIR…..mas Satpam

    • monggo….
      penghuninya di sini hany Ki menggung sendiri
      satpam juga jadi males piket disini
      he he he he he he he he he he (lama lama tidak terdengar)

      • Males….pertanda belom makan
        mas Satpam…kleru Mules ding.

        AYO SEMANGAT…mumpung yg
        laen pada belom datang.

        • berDUA…..sapa takut 🙂 🙂

          • AYO mas SATPAM….kita buat padepokan megah.

            Megah : menawan gagah
            tur bikin betah para wanita
            seluruh tlatah jawa 🙂 🙂

  27. HADIR….sugeng dalu

    • mas Satpam….kemana kah panjenengan

      • cantrik dewean….ENAK tenan

        • urun saran….kenapa komen di genduk duku tidak nampak pd

          KOMENTAR terakhir padepokan
          ini mungkin yg bikin gandok jarang ada yang singgah padepokan

          • masa sih mas Satpam ga
            bisa otak atik membetulkan

            • Sampe judeg Ki, tidak berhasil.
              Masih dicoba otak atik lagi.

  28. Alhamdulillah, terima kasih mas
    Risang, tau tau sdh episode 8.
    Apa mas Risang sdh baca ceritanya?
    Latar belakang sejarahnya menarik, yaitu awal mula kita bersentuhan dengan barat secara langsung, dan juga kedzoliman Amangkurat 1yg jarang diangkat ke permukaan.

    • Sambil konversi dan edit teks Ki, satpam sempat baca.

  29. Njlekethek,
    setelah hampir putus asa, akhirnya ketemu penyebab tidak munculnya komen terakhir.
    Hadu…..
    Bobo ah….

  30. Wah…jebul saya ketinggalan….padahal yang cepat dapat yang lambat ketinggalan….Sugeng sonten sedoyo…!

    • benul ki Karto….yg cepat dapat duluan
      yg lambat sabar nunggu dum2an

      • Benur..Ki Tmg.YP..ngantri..

        • Ngantri sebentar….pas dibelokan cantrik serobot antrian,

          • Ati2 Ki Menggung….keseringan nyrobot ntar…bengkong lho 😀

            • Bengkong sekali kali asik ki Menggung

              BengkongAN…he 50x

              • Selamat malam…..sepi banget

                • S
                  E
                  R
                  E
                  M

                  Hi
                  Hi
                  Hi
                  Hi

              • hem….serem deh 😦

                • Se
                  Re
                  M

                  Me
                  Le
                  K

                  Me
                  Re
                  M

              • Serem…..seneng merem 😀

  31. tes…..masuk komen, komen masuk

    • tes…..yang keluar masuk 😀

      • Sugeng dalu ki Kartojudo

        • Kecipir mrambat kawat…wes suwe ki Karto ora liwat

          • Sugeng manuk..eh..masuk Ki Gundal gandul 😀

            • Hiks…matur nuwun ki Kartojudo

              Suwe ora jamu…jamu pisan godhong kates
              Suwe ora ketemu…ketemu pisan tes testes

              • Hehehe…dak kiro ketemu pisan ketemu….kates 😀

              • Sanes
                kates
                ki….

                kutes
                kusuka
                kates

  32. HADIR…. mendhisiki diri sendiri

  33. he he he ….

    gandok ini sepertinya rumahnya Ki Menggung berdua (KiGundul dan Ki Kartoyudo sendiri)

    • Bener mas Satpam…terkadang kita perlu menyendiri buat mengendapkan serta menenangkan diri dari hiruk pikuk ramainya hohohihi

      • Bener mas Satpam…terkadang kita …merasa sedih

        • Sedih dipagi hari…seneng disore hari

          • Sedih disiang hari….sueneng dimalam hari

            • Sugeng Riyadin Ji Gundul,mas Satpam…..
              maaf lahir batin……..

              • Njih Ki Menggung
                sami-sami nggih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: