GENDUK DUKU

Episode 11

Pengungsian Putri Tejarukmi berhasil, dan Nyai Ajeng serta Arumardi dipuji. Tumenggung Wiraguna yang gembira menyetujui usul para istrinya, untuk sementara menyembunyikan dahulu si gadis buruan itu di pesanggrahan Arumardi di Bangkawa Kulon, agak di luar Jagabaya. Sebab setiap orang yang melewati gapura-negara Jagabaya, yang dikuasai pasukan-pasukan Wiraguna, langsung akan terteliti, siapa dan apa maksudnya melewati gerbang. Biar Putra Mahkota sekali pun, akan sulit mencapai gadis yang dipersiapkan untuk meladeni sang Panglima. Bahkan nanti Kakangmas Tumenggung akan lebih kesengsem[1]) lagi-bila setelah berpisah sebentar-si anak sudah mekar menjadi gadis dewasa, begitu bujuk Nyai Ajeng.

Bagi Panglima Besar Wiraguna, peristiwa yang tak tersangka itu menimbulkan beberapa pertimbangan yang gawat. Agunglah Susuhunan Hanyakrakusuma. Tetapi putra calon penggantinya? Bagaimana mungkin, keagungan membuahkan kerendahan. Sikap mulia melahirkan watak bawah mutu? Akan ke mana kemaharajaan Mataram nanti? Empat keturunan sudah umur Mataram sejak Ki Ageng Pemanahan minum air kelapa wahyu dan menanam cikal-bakal kerajaan besar yang belum ada tanylingannya di Jawa sejak Majapahit runtuh. Apakah Mataram dapat mengalami lima keturunan raja, atau sudah berkokokkah si jago naas di waktu malam yang menandakan bayi mati atau warta duka lain? Alangkah sedihnya bila demikian. Semogalah Allahu Akbar melindungi Mataram terhadap keruntuhan dari dalam. Namun dengan Raden Mas Jibus Rangkah yang sewenang-wenang ini, kapan orang nalar sehat dapat ber-gambangan ber-uyon-uyon ayem-tentrem[2]) seolah-olah pohon kelapa masih berjamang janur pupus3[3]) dan seakan-akan gagar mayang[4]) kencana masih bermekar sakti? Masih belum pancaroba teman-teman si Jibus ini yang seumur beliau, tetapi Jibus sudah menguber-uber dan menggerayangi istri-istri orang.

Jelas, ini jelas akibat daya sihir si musuh Betawi itu. Barangkali Susuhunan dulu agak keliru menawan sekian banyak orang Peose keparat itu di Jepara. Dua puluh tiga orang! Dua puluh tiga artinya, tujuh kali empat dikurangi lima. Tujuh:
ardi, turangga, giri, resi, angsa.[5]) Apa lagi? Lembu,
himawan, gora…[6]) Empat: angka tidak mengkhawatirkan, semua bersifat air, bahari, laut, sungai, hujan, air sumur sampai air susu, air kelapa, air embun. Selain itu: zaman, yoga… tirta yoga, kali yoga, dwara yoga, karta-yoga,[7]) yang mana? Lima… nah, angka lima bagus. Pendawa lima, tata denyut urat nadi juga. Nah, angin, maruta yang mengantarkan harum bunga lima macam; samirana, angin yang menghilangkan bau busuk di badan. Tetapi angka lima mengandung hal-hal mempriha­tinkan juga: sara, raksasa malapetaka yang bergaul dengan lima makhluk jenis jin. Bahkan dapat menunjuk kepada Yasa, raksasa wanita bertaring tetapi banci.

Ramuan mujur-malang yang manakah yang sudah mengalir di Mataram dengan ditawannya dua puluh tiga orang Holan itu? Keras tegas Wiraguna telah memerintahkan, agar dua puluh tiga orang kafir itu dirantai dan dikalungi belenggu papan kayu tebal. Agar jangan lari, tetapi yang lebih gawat, jangan sampai leluasa mengadakan gerak-gerik sihir. Hanya mulut mereka yang sulit disumbat. Di sinilah memang titik kelemahan cara menawan orang-orang bule keparat itu, yang sejak kedatangan mereka di Banten melumpuhkan hubungan armada dagang Mataram dengan Maluku dan Malaka. Entahlah, siapa dalangnya, Singaranu-kah? Atau Wirapatra? Atau jangan-jangan Pangeran Silarong yang suka mistik itu? Siapa gerangan yang pertama-tama berbisik kepada Susuhunan untuk meringankan cara penahanan tawanan-tawanan itu? Sehingga akhirnya mereka dilepas dari belenggu? Bukankah ini sihir namanya, bila Putra Mahkota pun santai lagi erat bergaul dengan orang-orang bule itu? Bahkan sering diajak dalam perburuan wanita-wanita priyayi maupun tani? Dan sekarang, tidak kurang dari Panglima Besar balatentara kuasa Kerajaan Mataram sendirilah yang terkena sampur.[8]) Kekasih Wiraguna yang paling muda lagi molek mau dinodai oleh si Bocah wingisore[9]) itu. Apakah ini bukan penghinaan yang keterlaluan? Lebih jahat lagi, tanda keruntuhan Mataram?

Bagaimana hal ini dapat diperingatkan kepada Susuhunan yang ia abdi dengan setia? Wiraguna tahu, bahwa Sri Susuhunan yang mulia jiwa itu pun prihatin mengenai putranya, tetapi rupa-rupanya tak ada calon pengganti lain yang memenuhi syarat. Raden mas Jibus paling memenuhi syarat? Ah. Jangan-jangan Adiprabu Hanyakrakusuma keliru pilih. Tetapi beginilah sudah kebijaksanaan beliau. Bahkan pernah beliau bersenda: kalau dia lihai merebut wanita, tentunya akan pandai juga merebut kerajaan-kerajaan luar Mataram. Tentulah itu hanya senda gurau. Barangkali hanya untuk menyelubungi amarah dan malu beliau. Tetapi jelas. Wiraguna harus awas. Bagaimana, andai Wiraguna lebih mempererat pendekatan dengan Pangeran Alit, satu-satunya saingan yang berarti, yang dapat mengimbangi Raden Mas Rangkah? Danupaya dulu? Dia gurunya. Tumenggung Sura Agul-agul, mungkin? Aduh, gara-gara apa lagi masih harus ia hadapi? Tumenggung paling kuasa di Mataram itu bernapas panjang.

Jauh dari Puri Wiragunan dan istana Putra Mahkota, sejalan gerobah kerbau sehari lebih, ada orang lain yang bernapas panjang. Tetapi justru karena bahagianya. Ni Duku.

“Memang betul namamu Slamet?” kata Duku kepada suaminya. Berseri mukanya memandang kawan hidup tersayangnya.

“Nah, ketika aku lahir, almarhumah ibuku minta aku diberi nama Baskara.[10]) Tetapi almarhum Ayah tidak setuju (Dianggap terlalu berat tentunya.) Ya, begitu. (Lalu dia pilih nama Slamet?) Bukan dia. Ayah mencoba lagi memberi nama: Sujana.[11]) Tetapi saya tidak setuju. Slamet saja, usulku.” Tertawalah Duku segar, dan langsung dipeluklah suaminya dari belakang, kepala saling merapat.

“Itu dongeng untuk anak kecil, Cah gendeng.[12])

“Nah, sekarang kau tahu, seperti apa suamimu. ”

“Jadi Duku-mu dianggap anak kecil?”

“Kecil memang… pinggangnya, sebelum KEMARIN!”         ,

Duku melihat waspada ke segala arah, lalu diciumlah suaminya kuat-kuat. Sampai Siamet berhenti menggarap jaring ikannya.

“Eh, jaringnya nanti sobek lagi,” tawa Slamet. “Ada orang melihat.”

“Biar!” Sepasang mata menjadi basah, sebab baru kemarin memang Duku memberi tahu suaminya, bahwa ada Slamet mungil atau Duku sedang tumbuh dalam garba-nya.

“halau lelaki, siapa namanya?” tanya Duku menikmati saat.

“Wibisana.”[13])

“Kau suka Wibisana?”

“Ya, dia cinta pada kebenaran, tidak mau memihak pihak yang salah, (Walaupun yang salah rajanya sendiri.) dan abangnya sendiri, jangan lupa lupa. Berat bila harus melawan saudara sendiri.) Nah, justru itu kemuliaan sikap Wibisana. Dia membela yang benar. Tidak asal kerabat, betul keliru dibela buta. Kau suka dia juga? (Jelas. Hanya jangan terlalu tampan seperti Wibisana semoga anak kita kelak.) Lho! (Ah, kita kan mengalami semua. Putri cantik diuber-uber setiap lelaki. Putra tampan sumber onar pula.)”

“Maka itulah, baru ketahuan sekarang, kau dulu langsung suka ketika kulamar. (Maka itu, maka apa)) Ya, karena Slamet tampangnya bloon.”

Tertawa ringan ria lagi Duku. Dicium suaminya penuh nafsu. “Ya betul, bloon kau. Kalau tidak bloon pasti melamar gadis lain.”

“Nah, sudah tumbu oleh tutup. “[14])

“Lebih tepat munthu oleh cowek.”[15])

“Bagus kalau begitu, nama anak kita Thuwek saja.”

“Oh, Cah gendeng! Dan lagi, Thuwek itu pantasnya nama untuk perempuan.”

“Atau… ya, Munco, bisa juga.”

“Uuuuh!” Dan dirangkullah suaminya dari belakang, manja. Memang. Slamet tahu, istrinya tergolong perempuan bergairah, mungkin pengaruh dari sari ilmu katuranggan? Ah, yang bener aja. Tetapi kali ini ungkapan gembiranya sedang meluap. Betapa tidak? Sudah setengah windu mereka harus menunggu sebelum dikaruniai buah rahim. Mungkin istrinya terlalu gemar naik kuda? Tidak, kata tegas Putri Arumardi. Lihatlah saja saya ini, kata beliau. Saya hanya di rumah saja seperti siput. Tetapi harus menunggu empat tahun juga, sedangkan garwa selir Tumenggung Singaranu yang gemar naik kuda, tepat sembilan bulan sudah ada gendon[16]) sulung minta digendong. Yang jelas, sekarang ada calon Wibisana dan…

“E, Nduk! Kau lupa. (Apa?) Kalau yang lahir perempuan, siapa… (Oh jelas Mendut namanya, harus.) Ah! Siapa yang mengharuskan? (Si Duku.) Jangan main-main. (Lho, ini bersungguh-sungguh.) Saya tak. setuju.”

“Mengapa, kan kau tahu, betapa kagum Duku-mu kepada Rara Mendut?”

“Itu sih boleh saja, tetapi caranya jangan lalu mencangkokkan namanya kepada anak kita.”

“Kan kita dulu dapat saling berkenalan dan menjadi suami istri berkat Rara Mendut.”

“Ah, kau terlalu memandang ke yang sudah-sudah. Tidak baik. Tidak baik kita selalu saja menoleh ke belakang.”

“Menoleh ya selalu ke belakang,” tawa Duku.

“Ah, jangan bergurau dengan nama anak.”

“Kau terlalu berat pikir. Orang tua banyak bergurau, anak banyak berguru, sampai makan pun harus diburu-buru.” Dan tertawalah lagi si Duku, ria, ringan menawan. Betul juga istrinya, kata hati Slamet. Mungkin inikah sebabnya? Selama ini hidup mereka berdua serba penuh ketegangan, merasa selalu diancam ketakutan dan kegelisahan. Ya, Allah Mahabijaksana. Dalam keadaan serba kisruh penuh bahaya maut dahulu itu, kedatangan seorang bayi akan mencelakakannya. Syukur. Syukurlah bahwa rahim istrinya
sabar, sanggup menunggu. Sekarang lain. Serba damai dan sejahtera, aman dalam naungan pesanggrahan Putri Arumardi. Ya, sekarang Wibisana boleh nongol.

“Kalau nama Mendut tak patut, lalu apa sebaiknya?” tanya Duku, lebih untuk menenteramkan suaminya daripada bertanya sungguh. Sebab dalam hatinya Duku memohon: jangan perempuan. Anak lelaki saja. Hidup anak perempuan dari kecil hanya serba di tengah dunia wanita, alam tertutup tanpa banyak kesempatan. Lagi pula belum tentu ada lelaki yang cocok. Disuruh menunggu, menunggu, menunggu sampai pelamar datang. Kalau menolak lalu heboh. Kalau sendika[17]) begitu saja, akhirnya cuma disuruh melayani, melayani, melayani. Suwarga nunut neraka katut.[18]) Jangan, jangan perempuan. Kasihan.

“Nah, kau melamun,” ejek Slamet. “Pikir apa?”

“Pikir anakmu itu. Kita harus memohon, janganlah anak ini anak perempuan.”

“Jangan omong begitu, Nduk! Mendahului Kahyangan itu namanya.”

“Permohonan! Kan kita boleh memohon. Itu tadi bukan gerutu.”

“Nah, sepaham kalau begitu,” sambil menepuk-nepuk pipi istrinya. “Kau tahu? Mungkin nama Lusi bagus baginya. (Lusi? Apa itu?) Lusi artinya ‘terlepas’. Terlepas dari bahaya. (O, ya?) Ya, Lusi. Itulah artinya. Penuh makna dan arti syukur, bukan?”

“Lusi… Lusi, merdu juga bunyinya. Tetapi jarang dipakai.”

“Jarang artinya: ‘berharga’.”

“Setuju. Setuju!” Dan lagi suaminya di-uyel­uyel si ibu bayi dini yang sedang melonjak gembira hatinya, karena ada seorang Wibisana kecil atau Lusi mungil yang menemani ibunya, siang dan malam, ke mana pun si ibu pergi. Syukur! Syukur berbahagia kehidupan di pesanggrahan Arumardi ini.

Tiba-tiba dengan kasar Slamet melepaskan diri dari rangkulan istrinya, berdiri agak membongkok, tegang memandang ke muka. Ada apa? Cepat bendo[19]) di kakinya dipegang dan berlarilah ia ke semak-semak di balik pohon-pohon kelapa. Terkejut Duku memandang ke arah dia berlari. Spontan ia pun mengambil sembarang kayu di dekatnya dan ikut berlari mengikuti suaminya. Slamet sudah menghilang ke dalam semak-semak. Sesaat, ya hanya sesaat, Duku melihat ada kepala berikat wulung[20]) menongol dan menghilang lagi. Disusul suara kejar-mengejar. Terdengar teriak Slamet,

“Hayo kau keluar, Pengecut! Kalau memang laki-laki jangan seperti tikus clurut kecut yang banci cuma berani mengintip dari belakang.”

“Siapa Kang?” teriak Duku. Tak ada jawaban. Muncul Slamet dari semak-semak.

“Kita harus berhati-hati, Nduk.”

“Teliksandi?”

“Kukira, ya.”

“Pasti suruhan Jibus.”

“Siapa lagi?”

Slamet seolah dikilati ilham, dan larilah ia masuk pintu dinding pemisah belakang pesanggrahan dan kebun kelapa, sambil berteriak, “Den Ayu Rukmi! Den Ayu Rukmi!” Tak ada jawaban. Duku pun tak ketinggalan berlari masuk dengan kesadaran cemas, bahwa orang-orang suruhan Raden Mas Jibus toh datang lagi. Di mana Raden Rara Tejarukmi? Tadi sedang memetik bunga-bunga di taman muka pendapa. Putri ini sudah di wanti-wanti jangan sampai ke luar tembok halaman pesanggrahan. Tetapi ya, mana mungkin anak perempuan dalam usia senang bunga dan kupu dapat dikurung begitu ketat, padahal di luar alam terbuka menghimbau penuh daya tarik?

Sungguh menyesal Duku tadi hanya enak-enak rayu-merayu dengan suaminya, lupa pada kewajiban utamanya, menjaga gadis inceran Raden Mas Jibus. Maksud tadi cuma menengok sambil mengantarkan makan pagi dan minuman untuk suaminya.

Kalau dipikir lebih dalam, sebetulnya dia dan Slamet tidak perlu repot-repot memikul tanggung jawab sebesar ini hanya untuk mengabdi kakek manja yang pernah membunuh puan terpujanya. Tetapi timbang punya timbang antara suami-istri, akhirnya Slamet mengatakan, bahwa lain si Wiraguna, dan lain pula sang Putri Arumardi serta Tejarukmi. Mereka tidak bersusah payah melayani kenikmatan manja si walang kakek Wiraguna, tetapi membalas budi Putri Arumardi dan… ya, bukankah nasib Putri Tejarukmi ini nasib yang diderita sama oleh Rara Mendut juga? Nasib sedih sekian putri dan gadis korban keganasan nafsu tak terkendali kaum lelaki? “Anggaplah kita bersekutu dengan Putri Arumardi untuk melawan angkara murka kaum Jibus maupun Wiraguna,” kata Slamet tenang.

“Kaum Rahwana Dasamuka,” tambah Duku pintar. Dalam hal ini, Jibus dan Wiraguna setali-tiga-uang. Tidak perlu mereka diabdi apalagi dibela. Dan bukankah pembelaan yang lebih sepi ing pamrih ini, karena justru seolah-olah menolong orang yang dalam hati dibenci Duku dan Slamet bukankah ini jauh lebih berharga daripada apa yang telah dibaktikan oleh Duku terhadap puannya Mendut?

“Putri Rukmi! Den Rara Rukmi!” teriak kedua
orang itu. Di cucuran pendapa Slamet menemukan dua orang
pengawal mati berlumuran darah tertusuk keris. Kakek dan Nenek juru kunci menggigil di gandok kanan. Tiba-tiba Slamet dan Duku mendengar ringkik kuda di luar regol. Kuda asing! Langsung Duku yang masih di pringgitan[21]) berlari ke kandang kuda. Mendidih jiwa Bima dalam urat-uratnya.

“Kejar!” Cepat-cepat keris kecil hadiah Putri Arumardi yang selalu tergantung tersembunyi di kandang kuda diselipkan ke dalam setagen-nya.[22]) Kain ditarik ke atas lutut, ujung dibalutkan di bawah pantat, diikat, dan meloncat serta terbanglah sang Srikandi mengejar. Slamet pun meloncat ke atas kuda, dan lari di belakang istrinya. Kalah cepat larinya, tetapi tentulah nanti istrinya membutuhkan pertolongan. Segulung tali telah ia bawa. Aduh, tiga orang melawan satu wanita.

Cemas juga hati Slamet. Dari jauh kelihatan bahwa si penunggang kuda yang tengah mendekap seorang gadis.

“Nduk! Pulang! Berbahaya!” teriak Slamet. “Kau akan kalah dikeroyok.”

Tetapi Duku terus mengejar para penculik itu. Ah, memang cerdas si Duku itu. Sekonyong-konyong setelah penculik-penculik itu menghilang di balik semak-semak belokan, dia menukik dan lari ke ladang, lurus ke arah timur. Jalan pintas ke Jagabaya. Membongkok di punggung kuda Duku kini, seperti setan. Jalan setapak di pasir pantai seperti tak terinjak kuda. Secepat yang mungkin bagi seorang nelayan, Slamet mengejar istrinya melalui jalan pintas itu juga. Bagaimanapun toh mereka harus melewati gapura negara Jagabaya. Dihadang saja di sana. Genduk Duku ini sungguh kebanggaan Slamet. Di laut Slamet laksamana, tetapi di darat istrinyalah yang panglima.

Sesudah para penjaga gapura tahu duduk perkaranya, mereka menutup pintu gerbang dan dengan senjata terhunus siaga menyambut para penculik itu. Mereka tahu, bahwa hidup mereka masing-masing dalam keadaan bahaya juga. Bila istri muda Panglima Besar mereka sampai lolos, maka pastilah tidak dapat diharapkan kepala meeka tetap membundeli leher.

Bagaimanapun Wiraguna masih jauh lebih berkuasa daripada Putra Mahkota yang masih pemuda ingusan itu.

Slamet tidak setuju cara menghadang yang dilakukan para prajurit itu. Jangan terang-terangan begitu. Pura-pura alpa. Untung perwira pengawal sadar bahwa pemburu-pemburu itu harus dijebak dulu. Nah, siap! Itu mereka datang. Sungguh kurang ajar yang tengah itu, caranya mendekap sang Putri. Bagus, pikir Slamet. Justru itulah yang akan mencelakakan mereka. Tanggung akan dibunuh oleh Wiraguna pribadi bila beliau tahu bagaimana kekasihnya diperlakukan. Keadaan sangat berbahaya dan semakin menegangkan. Bila penculik itu dilawan secara langsung, pastilah mereka akan kalah, akan tetapi bagaimana keselamatan sang Putri? Rupa-rupanya justru inilah yang dijadikan sendi siasat mereka. Pasti para penjaga gapura tidak akan tega membahayakan Putri Tejarukmi yang telah dijadikan perisai oleh mereka itu.

Dalam kesempatan waktu yang sangat sedikit itu, Slamet, Duku, dan perwira penjaga gerbang cepat berunding. Setuju! Menjelang mereka masuk pintu gerbang, dua prajurit akan berlari menyambut tantangan mereka, tetapi tidak untuk melawan para penculik itu secara langsung. Hanya untuk menghambat. Sementara itu Duku dan Slamet akan bersembunyi di belakang dua pohon karet raksasa, agak di belakang, untuk merebut kembali sang Putri dalam gerak lari yang searah dengan para penculik. Ganas kedua penculik di kanan-kiri kuda sang Putri, bergaya mengancam mengayun-ayunkan keris mereka. Tetapi para penjaga menghadapi mereka dengan ketrampilan pasukan berkuda. Dengan gerak-gerik kuda menyirig-nyirig dan di bawah perlindungan perisai-perisai dan tombak, dengan seni pengendalian kuda termasyhur gaya Mataram, hanya oleh sabuk pinggang yang diikat pada kendali kuda, para prajurit itu berhasil mengurangi kecepatan para penculik. Bagaimanapun tombak jauh lebih panjang daripada keris. Tetapi perkelahian sengit tak terelakkan terjadi di pintu gerbang. Seperti sudah dapat diduga semula, penculik yang membawa Tejarukmi dengan lihai meloloskan diri dari regu pengawal gerbang yang memang terhalang dalam gerak penyerangan, sebab janganlah sampai melukai atau lebih celaka lagi membahayakan hidup sang Putri. Putri Tejarukmi terkulai pingsan di puggung kuda, dan setiap saat dapat jatuh dari kuda lawan yang bergerak tak keruan itu. Atas aba-aba Duku, yang seksama menghitung jarak maupun saat, serentak Slamet dan Duku maju dari balik persembunyian dan menjepit kuda sang Putri, digiring ke tepi jalan. Slamet dengan mudah menguasai si lelaki yang sulit membela diri karena memegang gadis di pangkuannya. Gesit cermat Duku merebut gadis yang sudah lemas pingsan itu dari penyamunnya. Namun sayang, keduanya terpelanting dari kuda. Cermat perkiraan Duku, mereka berempat jatuh ke dalam air lumpur lunak di sawah. Ketika Slamet menoleh memeriksa keadaan kedua wanita yang kotor berlumpur tak keruan itu, ia melihat, bagaimana ketiga penyamun itu langsung sudah dirajam dengan tombak dan keris para penjaga gerbang. Akan naik pangkat mereka semua, pikir Slamet. Ya ya, semua keuntungan selalu minta tumbal.

“Ada yang luka, Nduk?”

Tetapi Duku hanya punya perhatian kepada si gadis yang masih pingsan itu. Didengar jantungnya, diraba dada, keningnya, dibalik, diseka, digeletakkan lagi. Tanpa kata Duku memberi isyarat kepada Slamet.

Dan dengan berhati-hati Putri itu diemban bersama, dimasukkan ke dalam salah satu rumah yang paling dekat. Sesudah itu Slamet meminta, agar mayat-mayat dan kepala-kepala yang terpenggal selekas mungkin disingkirkan. Di pertempuran begitu dingin seperti besi kerisnya, tetapi seusai semuanya, Genduk Duku toh menangis juga. Belum pernah sejak anak ia mengalami yang dialami oleh setiap anak, mempunyai adik. Maka tiba-tibalah ia sadar, betapa sejak awal mula, tak kentara Tejarukmi ini ia hayati sebagai adik kandungnya sendiri. Tak kentara, tak sadar. Ia menangis bukan karena sedih, akan tetapi bahagia. Namun tiba-tiba pula ia tegak tercekam kecemasan, jangan-jangan janin dalam kandungannya akan gugur akibat bergelutnya sampai jatuh dari kuda. Ya Allah, kasihanilah Duku hambamu … dan adik-emasku Tejarukmi ini! Janganlah ia hendaknya mengalami nasib seperti Rara Mendut. Satu kali saja, satu kali cukuplah, ya Allah.

Di bawah enam mata mereka bertemu. Putri Arumardi atas nama Nyai Ajeng, Genduk Duku dan… Wiraguna. Tak terkira tak termimpi, bahwa pertemuan semacam ini bakal terjadi. Tetapi nyatanya nyata.

“Kau tak perlu takut,” begitu penegasan Putri Arumardi tadi. “Beliau ingin berterima kasih secara pribadi kepadamu dan suamimu. Tetapi lebih baik sendirian saja. Nanti Slamet menyusul.” Ya, siapa tak akan bisu mendadak bila orang tiba-tiba harus berhadapan muka langsung dengan seorang musuh yang begitu kuasa; dengan sejarah lampau yang begitu mengerikan, penuh kenang-kenangan beracun? Tidak hanya Genduk Duku yang hanya dapat menunduk dalam dan berlinang-linang air matanya. Panglima Besar Wiraguna pun tak dapat mengucapkan satu kata jua.

Beliau, yang hulubalang perdana balatentara ratusan ribu prajurit, dengan ratusan meriam-meriam dahsyat, beliau yang mengalahkan Madura dan Surabaya, yang jayawijaya dari Tuban sampai Pasuruan, dan yang menghancurleburkan Kadipaten Pati, beliau yang berkedudukan sangat terkemuka dalam Dewan Patih kerajaan, kalangan kecil yang paling terpercaya oleh Kanjeng Susuhunan-ing-Ngalaga Mataram Ngabdurahman Sayidin Panatagama, agung dalam medan laga, agung pula di singgasana, ya, beliau Tumenggung Wiraguna, hanya mampu memberi isyarat saja kepada istri Arumardi, untuk membahasakan apa yang telah ia sadari. Berterima kasih atas jasa menyelamatkan si gadis piaraannya, Tejarukmi.

Sang Putri, untung hanya luka-luka ringan, kesleo di pergelangan kaki dan sedikit babak-belur di punggung dan pantat. Tetapi syukur alhamdulillah, selamat dan sehat. Masih sering mengigau ketakutan ia pada malam hari, akan tetapi pelan-pelan ia akan sembuh. Ya, untuk itu Panglima Besar Mataram bersumpah akan selalu melindungi keselamatan Genduk Duku dan Slamet, menghapus segala sisa amarah beliau dalam hubungannya dengan peristiwa Rara Mendut dulu itu… tetapi jujur mengakui juga, mengharapkan sikap maaf dari Genduk Duku maupun Ni Rara Mendut almarhumah-walaupun sudah di alam baka-atas segala kekerasannya di masa lampau. Dengan pengertian, agar permintaan maaf ini ketat dirahasiakan untuk menjaga martabat dan kewibawaan Tumenggung. Selama pertemuan itu, Tumenggung Wiraguna tidak mengucapkan satu patah kata pun. Tetapi dari wajah beliau tampak, betapa bersungguh apa yang dihantarkan oleh istrinya itu. Selanjutnya, bila Genduk Duku menginginkan sesuatu apa pun, asal itu masih dalam kemampuan sang Panglima Besar, akan dikabulkan.

Kadang-kadang, selama mendengarkan kata-kata panjang Putri Arumardi, Duku sempat mencuri pandang. Alangkah lain sama sekali, Wiraguna sekarang dan yang dulu. Kelihatan sudah tua letih. Goresan-goresan pada wajah beliau yang terpahat oleh hidup penuh kecemasan, namun terutama redup cahaya kedua mata yang tampak lelah tak lagi mengkilau, mulai memadamkan nyala bara dendam dalam hati Duku. Benarlah ungkapan rasa Putri Arumardi ketika mereka sedang kelonan, “Sekian banyak pertempuran di medan perang telah ia menangkan. Tetapi dalam pertempuran menghadapi diri sendiri, ia belum berhasil jaya. Perempuan, bagi lelaki seperti Kakangmas Wiraguna itu, tidak beliau dekap karena cantiknya, tetapi karena ia ingin mendekap rasa keunggulan, menang dalam pelampiasan nafsu kejayaan kejantanan si lelaki. Asih, cinta, sayang? Tidak ada. Nafsu menguasai, menyemprotkan diri sendiri ke dalam diri orang lain, itulah niatnya yang sebenarnya. Begitu pula kepada perempuan, sama juga kepada sesama lelaki seperti yang dikerjakan banyak lelaki kepada lelaki. Tetapi jiwa mereka serba porak-poranda, karena merasa, sebetulnya mereka tergolong kaum kalah. Kalah karena tidak dapat terbang seperti garuda di atas dunia hewan di rimba bawah. Mereka tahu, seharusnya asung asri asreng asih,[23]) yang sewajarnya harus tercapai oleh orang yang merasa diri ksatria, mendekati cita-cita sikap pandita-ratu dengan keningratan jatidiri manusia berpangkat tinggi. Tetapi mereka gagal, hanya mampu mandeg pada tingkat binatang. Dan inilah yang membuat Kakangmas Wiraguna sering murung, atau melampiaskan kekecewaan dalam bentuk kekejaman. (Mencari gadis masih anak seperti Tejarukmi?) Ya, Tejarukmi bagi beliau bukan pertama utama wanita, tetapi lambang keinginan Kakangmas, agar beliau jangan tua, jangan dianggap tidak menguasai cakra kehidupan.”

Dari mana Putri Arumardi tahu segala itu? Dan selain itu, mengapa Arumardi kok masih saja mau menjadi istri selir, jikalau memang begitu keadaannya? Pasti itu dari avahnya di lereng Gunung Merapi itu, resi begawan arif yang kadang-kadang beliau kunjungi.

“Tahukah kau, Nduk, bila dalam sekawanan gajah ada gajah tua yang sudah menanti saatnya dia mati secara alami? Belum tahu? Ah ya, kau berkawan kuda-kuda kesayanganmu. Tetapi di gajahan kerajaan di Padang Gading aku melihat sendiri. Jika ada gajah tua sudah jelas akan mati alami, para srati[24]) sudah tidak berani mendekati kawanan itu. Semua pintu pagar-pagar padang gajah ditutup semua, dan semua menanti. Bila si gajah tua terseok-seok dan jatuh tak kuat berdiri lagi, maka gajah-gajah yang lain bersama-sama mencoba dengan belalai-belalai atau serodokan kaki untuk mengangkat lagi gajah tua itu untuk berdiri lagi. Satu-dua kali gajah tua berhasil mengerahkan tenaga terakhir untuk kembali berdiri. Namun jatuh lagi. Akhirnya, Nduk, apa yang terjadi jika kawanan gajah itu tahu bahwa sudah tak ada harapan lagi? Nah, Duku, kau boleh tahu, jangan malu. Lalu salah satu gajah jantan yang paling kuat itu mencoba untuk menusukkan alat kelaminnya di bawah ekor si tua yang sedang sekarat itu. (Aah… ngeri). Bukan ngeri, Nduk. Kasihan, sungguh membuat kita iba hati bila melihat itu. (Maunya apa, Putri Arumardi?) Ya maunya? Itu naluri. Saya duga, secara naluri, gajah-gajah itu merasa, bahwa entah bagaimana caranya, mereka harus mengalirkan zat benih kehidupan kepada kawan gajah yang sedang sekarat di muka mereka. (Ooh, jadi…, tetapi apa binatang tahu itu?) Naluri, Nduk. Itu naluri. Mengapa burung deruk tahu tolong-menolong, yang betina dan yang jantan, rukun bergantian mengerami telur-telur mereka? Padahal ayam jago tidak peduli? Itu naluri.”

“Apakah Putri Arumardi beranggapan bahwa, maaf, Tumenggung… ah, bagaimana ya mengatakannya.. . ?”

“Kau cerdas. Mirip itulah Arumardi menduga, begitu perkaranya Kakangmas dengan Tejarukmi bayi ingusan itu. Hasrat untuk hidup terus dan hidup yang jaya.”

Entahlah, tahu-tahu ketika itu Genduk Duku sudah basah kedua matanya, dan intan-intan hangat menetes. Panglima kuasa dalam hatinya merasa gagal dan kalah. Hidup kaum bangsawan tinggi ternyata memang hidup yang penuh ketakutan. Takut tak berkenan pada atasan, takut gagal di muka umum, takut kehilangan muka, takut tidak laku di antara wanita, takut tersisih, takut mati, takut… serba takutlah. Alangkah lain dunia ini dengan dunia Slamet di laut dan dia sendiri bila di punggung kuda di padang luas. Slamet dan Duku memang tidak bebas juga dari ketakutan, kadang-kadang, tetapi lain… sungguh lain sifat serta suasananya.

“Putri Arumardi, maafkan Duku yang serba lancang, tetapi bolehkah Duku tahu, mengapa Putri Arumardi masih betah di puri sini, bila begitu sikap Tumenggung Wiraguna kepada Putri Arumardi?”

Tersenyumlah Arumardi, tetapi mata basah, “Ke mana lagi aku harus pergi? Mungkin Arumardi harus menjalani lakon Kumbakarna, demikian nasihat Ayahanda. Bukan menyetujui, tetapi menjalani kesetiaan. Kakangmas Wiraguna bagi Arumardi seorang abang yang menderita, saya tahu penderitaannya, dan saya dapat berbuat sedikit untuk menyejukkan jiwanya yang sering bersuhu panas karena beratlah pertempuran yang harus ia jalani melawan diri sendiri itu. Oh, Wiraguna sebenarnya tak berbeda banyak dalam bakat dan kecenderungan hati dibanding dengan Bendara Eyang Pahitmadu. Hanya celakanya, ia dilahirkan sebagai lelaki. Tidak, Arumardi sudah sumarah, sedapat mungkin menjalani nasib Kumbakarna.”

Ketika Putri Arumardi berkata panjang tentang suaminya itu, Duku tidak paham dan sudah setengah mengantuk sebetulnya. Dianggapnya sebagai ungkapan hati sedih saja dari seorang putri yang terkurung dalam sangkar istana, dan yang jarang menemukan seorang pendengar baik seperti Duku. Tetapi sekarang, sesudah peristiwa penculikan Tejarukmi yang menegangkan itu, apalagi menghadapi wajah yang tua, seperti kulit pohon munggur yang terpahat oleh alur-alur tatahan sang waktu dan pergulatan batin seorang ksatria yang mati-matian mempertahankan keksatriaannya serba gagap dan gugup, yang lain sama sekali dari wajah Mbah Legen di Jali itu, sekarang Duku hanya dapat diam; mencoba memahami, berikhtiar meredakan gelombang-gelombang berang-berontaknya melawan sosok tua pohon munggur yang benar perkasa bagaikan payung raksasa yang menjulang melebar di tengah padang gersang, gagah kuasa, dengan akar-akar yang menonjol seperti ular-ular sawah raksasa, tetapi keropos dari dalam.

Maka entahlah, dalam bayangan Duku, seolah-olah wajah tua letih Wiraguna itu menggelombang seperti bayangan permukaan air yang bergoyang, kemudian semakin larut dan larut, badar[25]) ke dalam bayangan seorang kakek tua lain yang juga sedih, lelah, dan tua, setopeng wajah yang belum pernah dilihat Duku namun seperti sudah sangat ia kenal… wajah Kakek Siwa, ayah angkat almarhumah Rara Mendut. Bersatulah yang menimpa dan ditimpa, luluh menjadi satu wayang duka. Entahlah, semalam suntuk Duku tidak tidur karenanya. Alangkah pedih pastilah penderitaan Kakek Siwa dulu, ketika rara tersayangnya dirampas begitu saja oleh para pemburu istri kaum bangsawan. Dan menangis lirihlah Duku.

————————-

  1. [1]     menaruh cinta, terkena asmara
  2. [2]     berdendang senandung nikmat damai
  3. [3]     bermahkotakan daun muda kelapa
  4. [4]     gugusan bunga kelapa
  5. [5]     bukit, kuda, gunung, rohaniwan, angsa
  6. [6]     lembu, awan-awan, suara banyak dan keras
  7. [7]     zaman air, zaman hitam, zaman pintu gerbang, zaman damai
  8. [8]     penari wanita yang menjadi tanda dia ingin menari
  9. [9]     Anak kemarin petang
  10. [10]    matahari
  11. [11]    manusia baik
  12. [12]    Anak sinting
  13. [13]   Tokoh mitologi Ramayana, adik raja lalim tetapi membela kebenaran melawan abangnya sendiri
  14. [14]   tempat makanan terbuat dari bambu
  15. [15]   alat-alat dapur untuk menggiling lombok/cabai, dll.
  16. [16]   larva serangga (laron), sebutan kesayangan bagi anak kecil yang gemuk
  17. [17]    taat
  18. [18]    Bila ke surga membonceng, bila ke neraka ikut terhela
  19. [19]    Parang
  20. [20]   biru hitam
  21. [21]    perbatasan antara bagian pendapa dengan bagian dalam tempat wayang dimainkan
  22. [22]    ban pinggang panjang pengikat kain
  23. [23]    memberi keindahan dan giat berkasih savang
  24. [24]    pawang gajah
  25. [25]    cara berubah rupa/wujud

——————————————

Genduk Duku episode 11 djvu ada disini , yang PDF dibawa lari oleh calon istri Panglima Besar Mataram.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Telah Terbit on 16 Mei 2015 at 01:13  Comments (103)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/trilogi-yb-mangunwijaya/genduk-duku/trackback/

RSS feed for comments on this post.

103 KomentarTinggalkan komentar

  1. Episode pertama Genduk Duku telah diwedar

    silahkan berburu rontal dan bergojeg dan berburu rontal sebagaimana bertahun yang lalu, ketika masih menjadi cantrik aktif di padepokan ini.

  2. test…..
    kenapa komen saya tidak bisa masuk daftar komen?

    Hadu….
    kenapa ya?

  3. Grotal-gratul, grayah-grayah

  4. Serasa seperti nyantrik pertama kali, lupa cara nyarinya

  5. ToPan Siap Hadiiirŕ Pakde Satpam. Apa kabar Pakde Satpam dan Eyang Arema ?. Semoga Selalu Sehat dan Banyak Rezekinya Amiiiin.

  6. Pakde Satpam. Kalau pake android apa bisa dicari dan download ya. Sudah berkali kali di plototi di ubek ubek kok ra ketemu ya hahahhhhhh

    • Sugeng enjang . . . Selamat pagi, Ki Adji.

      Saya tadi sudah mencoba di hp dan tidak bisa Ki, kecuali kalo di hp Ki Adji ada djvu nya, baru bisa dibaca, karena formatnya djvu, bukan pdf bukan pula ms-word.

      Kalo soal rontal diumpetin dimana sama Anakmas Risang, Ki Adji saya kira sudah pengalaman tahunan . . . he he he, tlateni ae suwe-suwe rak ketemu . . . gampang kok, gak susah.

  7. Assalamu’alaikum wr wb
    Salam sejahtera buat kita semua.
    Alkhamdulillah telah kita mulai lagi mengangkat kisah cerita anak bangsa berupa Novel Serial Roro Mendut.
    Serial karya budayawan YB Mangunwijaya ini berkisah tentang kejatuhan martabat seorang ksatria perang, seorang Tumenggung di Zaman Pemerintahan Kesultanan Mataram Era Sultan Agung Hanyokrokusumo.
    Seorang Panglima Perang yang sangat disegani oleh teman dan lawan ini yaitu TUMENGGUNG WIROGUNO, tergelincir hanya karena kecantikan seorang wanita rakyat biasa, RORO MENDUT.
    Sayangnya sang perawan jelita tidak bersedia disunting oleh Ki Tumenggung dengan tawaran hidup kamukten. Ia lebih memili mati bersama kekasihnya PRONOCITRO, seorang nelayan dari pantai utara.
    Kisah tragis di atas berlanjut dengan sebab dan akibat dari peristiwa tersebut di buku kedua dan ketiganya yg sudah dapat diikuti disini.
    Tapi yang justru menarik adalah latar belakang sejarahnya. Banyak yang sangat awam dengan sejarah Mataram di Era akhir Sultan Agung yang digantikan oleh putra mahkota Sunan Amangkurat I, yang dikenal brutal demi menuruti ambisinya yg gemar melahap betis indah. sampe demi menutupi kebobrokannya, dia tercatat telah membantai ratusan Kiai dan Santri di jamanya. Bagaimana jalan ceritanya, temukan di serial novel ini.
    Hanya sayang sekali, Genduk Duku ini sudah Seri II. Buku Seri I berjudul Roro Mendut, belum ditemukan dalam koleksi. Sedangkan mencarinya di luar sangat jarang diketemukan.
    Apabila diantara sidang pembaca ada yg memiliki, atau kebetulan menemukan di toko buku. mohon perkenan untuk di informasikan di sini.
    Mohon judul di atas bukan APDM, tapi RORO MENDUT, novel serial sejarah YB Mangun Wijaya.
    Monggo.

  8. Assalamu’alaikum Wr Wb,
    Salam sejahtera untuk kita semua,
    Selamat pagi . . . Sugeng enjang,
    Sanak kadang adbm semua . . . .

    Anakmas Risang kok teganya-teganya menyanyi . . . he he he.
    Sementara kadang yang gak sabaran maunya cepet membaca, ingak-inguk rana-rene, nang endi leh ndekek rontal.

    • kok komentare menunggu moderasi,
      ra entuk mlebu po ya . . . . . hiks.

  9. Pasti bisa…hik..megkuh titik noda itu…

  10. mantappppp….. tinggal cari roro mendutnya…

  11. Nunut ngiyup Ki ….

  12. Roro mendutnya di bawa lari pronocitro Ki … Salam buat poro Empuh2 Adbm/Pdls …

  13. Wis di ubek2 ora ketemu .. Klau PC cepat klau Hp apa bisa ya … PakLik Satpam mohon bantuannya ..

  14. Ho android juga bisa ki….titik bernoda kata mas satpam…hikkk tidak boleh menyerah

  15. Sugeng sonten Anakmas Risang

    Lha wong episode 2 sudah wedar dari tadi, po ya belum ada yang ngunduh . . . he he he.
    Mungkin sanak kadang perlu bahasa sasmita dari P. Satpam, memang diperlukan ketelitian dan kejelian.

    Sanak kadang sedaya . . . mangga episode 2 sudah gogrok, tinggal ngunduh saja.

    • Sugeng sonten Panembahan
      he he he …., kala wau kesupen terus buru-curu wedaran, lan terus nglanjutaken tugas malih.
      ngapunten…

  16. Hiks…..mas Satpam

    • kata bang haji mas Satpam…terLALU

      • he he he …..
        gandok dimanapun kalau tidak ada Ki Menggung Gembleh dan Ki YP, kayaknya bagaimana…. gitu.

        Monggo Ki

        • Betul Lik Satpam… seperti lontong balap tanpa lontongnya…

          • Betul ki AM….
            Seperti motor balap tanpa motornya

  17. Pusing…
    bagaimana memunculkan komentar terakhir dalam daftar

    mohon pencerahan

    • Lho….mas satpam kePUsingan toh

      Cantrik kira memang sengaja tidak
      mas Satpam tampilkan

      • Gampang mas Satpam…hiks

        Kirim panah sanderan nti cantrik
        bantu dari ujung wetan

  18. Alhamdulillah lagi bisa mlebu senthong sebelah sini…

    lampune masih mati, sehingga harus meraba-raba mencari rontal ala genderuwo picek… semoga pas ‘meraba’nya…

    • Ketemu ki AM….bukan hanya diRABa
      zoom juga perlu ki, saestu

  19. nakmas satpam apa eps.3 siap digrayah ?

    • likmas Satpam apa eps.4 siap diwedar?

      • dereng, mbenjang enjing

    • sampun …..

  20. Alhamdulillah wis gak usum duku nanging iso moco Genduk Duku semudah memijit wohing ranti.

    • Selamat malam mas Satpam… 🙂

      Selamat menyiapkan wedaran rontal
      lanjutan.

      • di padepokan sini….cantrik siap
        bertanding lawan mas Satpam

        Kuat mana yang baca apa mas Satpam
        yg nyiapkan rontal

        • hayoo,,,,,,,,,

          • Priit…format text mas Satpam

            • yg kalah angkat
              tangan kanan.
              tanda kiri cukup
              masukan saku
              belakang 🙂 🙂

            • Kudu sesuai jadwal no Ki Menggung.

              • Jadwal ber-
                kunjung

                • J
                  A
                  D
                  W
                  A
                  L

                  A
                  M
                  B
                  I
                  L

                  J
                  A
                  T
                  A
                  H

                  R
                  A
                  N
                  G
                  S
                  U
                  M

              • Monggo
                lha wong wis ket mau kok
                he he he …..

  21. Episode 5….belum ada cantolan
    Episode 6….masih dalam penggorengan

    Episode 7….belum diracik mas Satpam
    Episode 8….nunggu antrian wedar

    • Usul mas Satpam,

      Wedaran rontal nunggu pasukan OGrog
      pada ngumpul ng padepokan.
      Tahan dulu wedaran sp cantrik mentrik
      kemringet ngiler rontal lanjutan.

      Ini tadi usulan ki Trupod sesepuh
      padepokan….ki gundul sakdermo
      menyebar luaskan

      Saestu…TENAN

    • 5 wis kok

      • 5 wes nyantol….tinggal srondol

        • Matur nuwun mas Satpam

          • Nti malam cantrik kancani
            Melek-an

  22. Absen dulu aahh…..

    Baru kali ini mbuka gandok Genduk Duku, karena berbagai hal..
    matur nuwun sanget Pak Satpam, Bopo Panembahan, dll atas peluncuran rontal yang baru

  23. selamat siang

  24. Episode 5 : djvu dan pdf

    teks belum dimunculken

    • pelan2 mas Satpam…ga usah terburu
      buru pasang “teks”

      yg penting wektu cantrik sambang lgi
      nanti “teks” sudah dicantolkan…hehe20x

      • Malam mas Satpam

        • Hadir…sambang padepokan

          • he he he …, monggo…..

            • Hehehe…matur
              nuwun mas Satpam

              • Sugeng
                Dalu

  25. Hadir….mas Satpam

    • Sugeng dalu kadang genduk DUKU

      • Otw padepokan sebelah sengkaling

        • loh…, padepokan sebelah Sengkaling yang mana? UMM, UIN, Polres?

  26. HADIR…..mas Satpam

    • monggo….
      penghuninya di sini hany Ki menggung sendiri
      satpam juga jadi males piket disini
      he he he he he he he he he he (lama lama tidak terdengar)

      • Males….pertanda belom makan
        mas Satpam…kleru Mules ding.

        AYO SEMANGAT…mumpung yg
        laen pada belom datang.

        • berDUA…..sapa takut 🙂 🙂

          • AYO mas SATPAM….kita buat padepokan megah.

            Megah : menawan gagah
            tur bikin betah para wanita
            seluruh tlatah jawa 🙂 🙂

  27. HADIR….sugeng dalu

    • mas Satpam….kemana kah panjenengan

      • cantrik dewean….ENAK tenan

        • urun saran….kenapa komen di genduk duku tidak nampak pd

          KOMENTAR terakhir padepokan
          ini mungkin yg bikin gandok jarang ada yang singgah padepokan

          • masa sih mas Satpam ga
            bisa otak atik membetulkan

            • Sampe judeg Ki, tidak berhasil.
              Masih dicoba otak atik lagi.

  28. Alhamdulillah, terima kasih mas
    Risang, tau tau sdh episode 8.
    Apa mas Risang sdh baca ceritanya?
    Latar belakang sejarahnya menarik, yaitu awal mula kita bersentuhan dengan barat secara langsung, dan juga kedzoliman Amangkurat 1yg jarang diangkat ke permukaan.

    • Sambil konversi dan edit teks Ki, satpam sempat baca.

  29. Njlekethek,
    setelah hampir putus asa, akhirnya ketemu penyebab tidak munculnya komen terakhir.
    Hadu…..
    Bobo ah….

  30. Wah…jebul saya ketinggalan….padahal yang cepat dapat yang lambat ketinggalan….Sugeng sonten sedoyo…!

    • benul ki Karto….yg cepat dapat duluan
      yg lambat sabar nunggu dum2an

      • Benur..Ki Tmg.YP..ngantri..

        • Ngantri sebentar….pas dibelokan cantrik serobot antrian,

          • Ati2 Ki Menggung….keseringan nyrobot ntar…bengkong lho 😀

            • Bengkong sekali kali asik ki Menggung

              BengkongAN…he 50x

              • Selamat malam…..sepi banget

                • S
                  E
                  R
                  E
                  M

                  Hi
                  Hi
                  Hi
                  Hi

              • hem….serem deh 😦

                • Se
                  Re
                  M

                  Me
                  Le
                  K

                  Me
                  Re
                  M

              • Serem…..seneng merem 😀

  31. tes…..masuk komen, komen masuk

    • tes…..yang keluar masuk 😀

      • Sugeng dalu ki Kartojudo

        • Kecipir mrambat kawat…wes suwe ki Karto ora liwat

          • Sugeng manuk..eh..masuk Ki Gundal gandul 😀

            • Hiks…matur nuwun ki Kartojudo

              Suwe ora jamu…jamu pisan godhong kates
              Suwe ora ketemu…ketemu pisan tes testes

              • Hehehe…dak kiro ketemu pisan ketemu….kates 😀

              • Sanes
                kates
                ki….

                kutes
                kusuka
                kates

  32. HADIR…. mendhisiki diri sendiri

  33. he he he ….

    gandok ini sepertinya rumahnya Ki Menggung berdua (KiGundul dan Ki Kartoyudo sendiri)

    • Bener mas Satpam…terkadang kita perlu menyendiri buat mengendapkan serta menenangkan diri dari hiruk pikuk ramainya hohohihi

      • Bener mas Satpam…terkadang kita …merasa sedih

        • Sedih dipagi hari…seneng disore hari

          • Sedih disiang hari….sueneng dimalam hari

            • Sugeng Riyadin Ji Gundul,mas Satpam…..
              maaf lahir batin……..

              • Njih Ki Menggung
                sami-sami nggih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: