GENDUK DUKU

Episode 10

Menyusul Panglima Besar ke Imogiri, begitu keterangan Nyai Ajeng, istri perdana Tumenggung Wiraguna kepada Raden Mas Jibus. Lho, katanya sakit. Justru itulah, Paduka yang mulia. Ingin Tejarukmi memohon berkat dari Ki Ageng Tembayat, sesudah menghadap Panembahan Senapati. Untuk itu diperlukan izin dari Kakangmas, suaminya. Demikianlah satu kata satu bahasa laporan semua istri dan punggawa. Mengerot gigi Pangeran Aria Mataram pulang mengelontang. Tidak percaya! Teliksandinya tadi pagi melaporkan si Bunga Kuncup masih ada dalam puri. Memang benar, menjelang lohor sang Bunga pergi ke makam Panembahan Senapati. Dan tak ada sesuatu pun yang mencurigakan, kata para juru kunci, mereka jelas pulang lagi ke Wiragunan. Mosok baru sesudah matahari condong ke barat seorang istri patih utama langsung pergi ke Imogiri, terus ke Sembayat. Akan menginap di mana? Langsung diperintahkan beberapa telik berkuda, cepat-cepat ke Kali Ajir dan Taji, benarkah ada rombongan mulia telah lewat? Sebelum matahari pulang ke kandangnya, para gandek[1]) sudah sudah datang dan tak disangsikan, jelas tidak ada rombongan bangsawan siapa pun yang lewat. Kurang ajar! Jelas sudah dapat diramal. Awas kau, Nyai Ajeng, dan ah ya, tanyakan siapa yang mengantar putri itu ke makam Senapati? Nah, sebelum matahari pagi melukis di ufuk timur, teranglah sudah siapa sutradaranya, Arumardi.Siapa dia? Namanya indah, tetapi siapa orangnya? Dia biang keladi atau hanya pesuruh saja dari Nyai Ajeng? Biasanya istri perdanalah yang menjadi pengatur para garwa selir. Tetapi sering juga ada dalang lain di belakang permaisuri. Ibu Aria Mataram pun dulu hanya wanita kedua. Nyatanya, Ibunda inilah, Kanjeng Ratu Ayu Batang yang akhirnya menabuh kendang. Persetan, Ajeng atau Arumardi, mereka sudah menjegal Putra Mahkota. Malam itu juga para gandek berhasil menyadap keterangan dari seorang pegawai taman pemakaman raja di Kutagede, bernama Jurujanur, tentang adanya dua tandu yang hampir bersamaan keluar dari gerbang pemakaman. Baik, catat itu nama Encik Khudori Syeh Abdullah bin Sulaiman! Terkutuk! Awas kalian dari Wiragunan, kelak kalau Raden Mas Sayidin alias Raden Mas Jibus alias Raden Mas Rangkah sudah bukan lagi hanya Pangeran Aria Mataram tetapi Panembahan-ing-Ngalaga Mataram, maka akan titenana, hiyyyo[2]), jadi sembilan puluh sembilan keping daging Kurawa kalian wahai, lonte-lonte loyo! Berhari-hari rumah tangga Putra Mahkota menggigil takut. Satu wanita kelonan pun tak ada yang dipanggil dan Raden Mas Rangkah, yang baru saja dilantik menjadi Pangeran Aria Mataram, tidur di bawah pohon sawo kecik di halaman. Makan tak mau, minum cuma air tawar. Mandi tak peduli, buang air besar-kecil di mana-mana seperti ayam.

Sementara itu semua wanita puri di Kutanegara berbisik tanya, bagaimana ini nanti bila Sri Susuhunan dan Panglima Wiraguna sudah pulang dari Imogiri? Ya, mereka kenal perangai Raden Mas Jibus yang entah kemudian diberi nama panggilan cukup memalukan, Raden Mas Rangkah alias Pagar. Pagar kehormatan bagi baginda maharaja ataukah pagar sindiran karena beliau sering melanggar pagar-ayu? Padahal sudah didampingi sekian wanita yang cantik-cantik juga. Yah, yah, yah… pastilah itu karena pengaruh :aRanan Holan yang sering dikaryakan oleh Susuhunan sendiri untuk mendampingi para ningrat tinggi kerajaan, begitu desas-desus yang beredar. Orang tahu, betapa erat, ya terlalu erat sebenarnyanya, pergaulan Raden Mas Jibus dengan para tawanan orang-orang kafir rambut jagung itu. Para abdi dalem dalem semakin mengkhawatirkan keadaan tuan Aria mereka yang sangat manja menjadi dari buruk ke lebih buruk lagi. Tetapi apa boleh buat, terpaksalah dicoba siasat terakhir untuk memantaatkan orang-orang tawanan Holan yang paling disukai beliau. Daripada tertusuk sendiri dengan keris hukuman, lebih baik risiko dipikulkan kepada orang-orang bule itu saja, begitu perhitungan para abdi istana Aria Mataram.

Gandrung, ya jelas penyakitnya yang lama, pikir Thyss Pietersen, ketika ia dipaksa menghadap Putra Mahkota yang serba pucat lesu. Dengan kaum Holan tertentu Putra Mahkota sejak kecil sudah lama bersahabat. Mereka sering diperbantu­kan kepada beberapa kalangan istana Mataram, karena bagaimanapun orang-orang asing itu penjelajah dunia agung yang ulung, apalagi punya kapal-kapal dan meriam-meriam raksasa dari besi cor luar biasa ukurannya. Beromong-omong dengan empu-empu raksasa samudra pancakiblat itu selalu menarik. Tetapi juga ini, karena melewati mereka, Putra Mahkota yang bernasib menjadi tawanan adat keramat, dapat omong atau bersenda-gurau santai tanpa banyak upacara. Ayahnya, Susuhunan, membiarkan pergaulan Raden Mas Jibus dengan tawanan-tawanan Holan itu, asal di muka umum tetap dijaga jarak kewibawaan. Dari sisi lain, pergaulan santai itu penting juga untuk menyaring warta berita dari Betawi yang sulit mengambil jalur resmi.

“Pinterseng punya guna-guna pengasih dari negeri Holan yang ampuh?” tanya sang Pangeran dengan suara lemas loyo.

“Punya dan tidak punya, Pangeran,” jawab Tuan Pietersen hati-hati.

“Lho, bagaimana? Ada atau tidak ada?” desak Pangeran Aria kesal.

“Daya khasiat setiap guna-guna tergantung pada siapa yang diguna-guna itu, Pangeran. Itu hukum semesta.”

“Anak cantik itu masih muda dan rupa-rupanya, menurut para teliksandi, ia agak bodoh. Totapi ia manis sekali. Jadi mestinya tak sulit mengguna-guna dia. Hatiku terlanjur meleleh melihat dia.”

“Kapan dan pada hari apa Pangeran pertama kali melihat Sang Putri?” tanya tawanan Holan itu, hanya untuk mengalihkan perhatian dan mengulur waktu.

“Pada hari Senin Kliwon. Jelas itu. Ketika itu Wiraguna sedang menghadap ke keraton. Apa ada pengaruhnya?”

“Ada. Selalu ada, Pangeran. Bangsa Mataram punya banyak lontar-lontar primbon. Saya sendiri bangsa punya juga kitab primbon. Tetapi sayang ini berlaku hanya untuk wanita kami negeri. Tidak untuk wanita Jawa.” Yah, seperti main catur saja. Setiap langkah pihak sana dijawab dengan langkah lain dari pihak sini.

Di negerimu sana, bagaimana caranya kalau seorang wanita sudah kaugandrungi? Kan dengan guna-guna juga, kan?”.

“Maaf. Pangeran Putra Mahkota, di kami negeri guna-guna asmara tidak ada gunanya.”

“Lho, kalau yang perempuan kelihatan alot, lalu pakai apa?”

“Kalau tidak mau, Pangeran, ya sederhana saja, pernikahan tidak jadi.”

“Tidak jadi? Masya Allah! Perempuan boleh bilang emoh, begitu? Gila! Boleh dia?”

“Boleh sekali, Pangeran,” jawab Tuan Thyss Pietersen dengan senyum. Pemuda seramping kecil seperti itu, tetapi sudah panas nafsu dewasanya, pikir tawanan dari Betawi itu, geleng-geleng kepala heran.

“Mosok tidak ada yang diharuskan menikah dengan dia ini atau dia itu?”

“Ya tentu saja ada, Pangeran. Apalagi kalau soalnya perkawinan setingkat raja-raja atau ningrat tinggi. Tetapi di kalangan rakyat biasa, si perempuan atau si lelaki harus mau sama mau.”

“Uah, adat yang aneh itu, Mas Pinterseng. Perempuan sebaiknya tidak boleh bicara. Kalau caranya seperti di negeri Pinterseng ini, kan bisa memalukan kaum pria. Perempuan tugasnya di belakang dan taat. Seperti keris. Baru kalau mau dipakai dia dipasang di muka disuruh kerja. Lalu mempercantik diri, nah ini perlu dan harus. Selanjutnya dia hanya ya, sawah yang tugasnya menerima dan membesarkan padi. Sudah! Itu saja! Atau untuk kebanggaan. Sama seperti kuda atau cincin banyak di jari-jari. Hiasan perlu sekali. Untung saya tidak lahir di negerimu. Tetapi pasti’ kalian punya dukun-dukun dan jamu guna-guna pengasih. Pasti!”

“Di kami negeri sia-sia saja pakai guna-guna, Pangeran.”

“Sia-sia bagaimana? Ah aneh sekali itu.”

“Maaf, Pangeran, memang begitulah.”

“Uah, lalu bagaimana kalau kau sudah senang padanya?”

“Sederhana saja, Pangeran Adipati. Dirayu.”

“Dirayu apa-apaan? Mosok perempuanlah yang berkedudukan seperti puan, lalu si pria seolah-olah jadi budaknya? Memohon beliau itu, begitu?”

“Ya, memohon, Pangeran. Tidak ada lain jalan. Tetapi tidak sebagai budak terhadap puan. Wanita halus perasaannya, dan wajarlah secara halus didekati pula. Kalau tidak, juga tidak akan, maaf, Pangeran, tidak akan nikmat dia.”

“Mana… mana! Mangga enak ya tetap enak. Mosok enak tidaknya durian tergantung bagaimana memetiknya. Tidak nalar itu, Pinterseng. Di negerimu ada mangga atau durian? (Sayang tidak, Pangeran.) Nah itulah, makanya! Apa yang ada? (Buah apel, misalnya.) Apa itu? (Ya, semacam keledung, tetapi tidak semanis di sini.) Ah, keledung. Apa lagi? (Persik.) Apa itu?”

“Ya …ya… dagingnya seperti mangga, tetapi tidak ada bijinya begitu besar, dan kulitnya kuning seperti beledu.”

“Hei, kau selekasnya kirim surat kepada Kapten Gunur-amral di Betawi sana, suruh minta contoh, apa itu buah kirsuk sama… (Apel.) ya, pel itu. (Tak mungkin, Pangeran. Akan busuk bila datang.) Ah ya, tentu saja. Busuk. Nah, perempuan juga akan busuk bila dirayu. Di Mataram sini semua wanita milik Susuhunan, dan saya sebagai Putra Mahkota juga berhak memiliki dan mengharuskan siapa yang akan saya tiduri.”

“Di ini negeri Ayahanda dan Paduka Pangeran berkuasa. Itulah bedanya. Di kami negeri tidak ada raja. Hanya wali kota saja, dan mereka tidak kuasa terhadap wanita dari mereka rakyat, Pangeran.”

“Uah, mana ada negara tidak punya raja. Wali kota? Apa itu. Di Mataram Eyang-eyang-Canggah-Buyut dan Ayahanda Susuhunan mulai memegang kendali pemerintah dengan gelar Panembahan. Lalu Susuhunan. Sebentar lagi Ayahanda Susuhunan akan menjadi Sultan juga. Tetapi untuk itu, beliau harus memohon pengukuhan dari Mekah. Tetapi setiap panembahan sudah raja, ya… sudah raja sungguh-sungguh. Aneh sekali negerimu itu, Mas Pinterseng. Jangan-jangan negerimu cuma kecil sekali. Seberapa besar? Dari Banten sampai Blambangan pasti tidak.”

“Hanya kecil sekali, Pangeran. Mungkin hanya sebesar Pagelen sampai Pajang.”

“Uh, terlalu kecil. Masih jauh lebih kecil dari Mataram. Tetapi mengapa kalian dapat menjadi begitu kaya raya dan mampu membuat kapal-kapal perang yang raksasa itu?”

“Besar kecil suatu negara tidak dihitung dari luas daerah atau jumlah penduduknya, Pangeran.”

“Ah, omong kosong! Dari mana mengambil para prajuritnya?”

“Memang untung bila daerah luas dan warga banyak, Pangeran. Tetapi modal utama suatu negeri ada dalam otak dan sikap watak orang-orangnya, Pangeran. (Uh, apa dikira orang Jawa tidak punya watak?) Maaf, Pangeran. Mungkin menerangkan hamba kurang jelas. Yang hamba maksud: barangkali terlalu banyak otaknya orang Mataram. (Nah, begitu. Senang kudengar. Otak orang Mataram encer, Tuan Pinterseng, jangan diremehkan! Encer sekali.) Ya, Paduka, encer sekali, itu akui hamba. Tetapi maaf, barangkali terlalu encer. (Apa maksudmu?) Barangkali, tetapi maafkan Pangeran, Paduka sudilah jangan marah dulu. (Tidak! Asal omongmu nalar saja.) Semogalah, Pangeran. Hamba maksud tadi, bisa lebih dikentalkan. (Semakin kental semakin bodoh. Ini sungguh saran tidak nalar.) Dan mungkin ini juga, Pangeran, seumumnya nalar perlu perasaan tegas kendali. (Nalar mengendalikan perasaan? Ini usul apa lagi? Atau jangan-jangan kau ingin menyindir, perasaanku terhadap si Ayu Tejarukmi itu harus dikekang, begitu?) Hamba mengatakan tidak itu, Paduka. (Tidak mengatakan terus-terang, tetapi menyindir, bukan?) Ampun tuanku, Putra Mahkota. Bukan hamba yang menarik itu kesimpulan. (Saya?) Bukan Pietersen, Pangeran.”

“Tejarukmi harus, HARUS saya cium, harus saya dekap, saya keloni tuntas habis-habisan. Dia wanita yang molek dipandang dan pasti lezat dinikmati. Pinterseng, buka rahasia ramuan guna-guna negerimu! Dan calon Susuhunan-ing-Ngalaga Mataram, calon Sayidin Panatagama akan menjadi pelindungmu. Saya akan memohon kepada Ayahanda untuk membebaskan kau dari tahanan. Setuju? Lalu kau ke Betawi, bawa macam-macam guna-guna. Setuju?”

“Hambamu Thyss Pietersen lebih ikhlas mengabdi Mataram daripada main guna-guna, Pangeran Besar. Sungguh memang tidak ada guna-guna asmara di negeri kami. Perkenankanlah hamba berterus terang, Paduka. Tetapi hamba mohon, Pangeran jangan marah.”

“Ya, kalau perlu ya marah. Itu hak bangsawan. Tetapi silakan, Pinterseng. Asal, sekali lagi: nalar, jangan ngawur!”

“Beribu maaf, Paduka Putra Mahkota, menurut anggapan orang-orang kami negeri, guna-guna hanya berakibat pada jiwa orang yang memang sebelumnya pada guna-guna sudah percaya. Jika ia tidak percaya, guna-guna juga tak akan berdaya. Jika orang percaya, bahkan tanpa sadar ingin, atau paling tidak, siap untuk diguna-guna, maka tentulah ia mudah terkena guna-guna itu. Guna-guna ibarat hanya tarikan pelatuk senapan yang memang sudah berisi mesiu. Seribu kali pelatuk ditarik, apabila mesiu tidak ada, senapan juga tidak akan meletus. Begitulah kira-kira, Paduka Tuanku.”

“Ah, begitu… begitukah? Belum! Belum percaya aku. Belum… belum.”

“Adalah hak Paduka untuk percaya atau tidak. Tetapi kami ini sajalah misalnya. Kami tawanan Susuhunan. Tetapi semua dukun di seluruh Mataram tak akan mampu mengguna-guna atau menakut-nakuti kami dengan hantu atau tuyul dan sundel bolong dan macam-macam Jawa demit. Maafkan hamba, Paduka, apabila guna-guna tak akan mempan pada kami; itu bukan karena kami sombong -tak ada untung tawanan berlagak sombong-tetapi karena kami- tak punya tempat di batin untuk mesiu guna-guna atau gandok[3]) di hati untuk hantu di dalam kami jiwa.

“Lalu apa yang kalian takuti?”

“Peluru misalnya, Pangeran. Meriam atau keris.”

Tertawalah Aria Mataram. Suatu tanda yang
mengandung harapan, pikir Thyss Pietersen. Masih belum bertemu, bagaimana caranya untuk keluar dari permasalahan asmara serba berbahaya ini, catat Thyss Pietersen dalam hati yang masih prihatin. Sebab menggandrungi istri Panglima
Besar Mataram sungguh bukan dagelan murah.

“Saya masih belum percaya kata-katamu, Thyss Pietersen. Dan lagi, terlalu percaya kepada pihak nusuh tidaklah nalar juga, bukan?” Dan tertawalah Pangeran remaja itu.

“Kami bukan musuh, Paduka. Hanya kaum kaum pedagang biasa.”

“Mana ada pedagang bawa kapal perang dengan puluhan moncong meriam di setiap lambung.”

“Untuk membela diri, Pangeran. Tentulah Paduka tahu lebih dari hamba, betapa besar bahaya perjalanan di lautan terbuka.”

“Ya ya, dalih selalu ada. Selalu. Tetapi kembali ke sundel bolong tadi. Ada lho sundel bolong itu. Saya pernah mengalami sendiri dan melihat sendiri. Bahkan pernah dirayu dan dipeluk sundel bolong. (Sungguh, Paduka?) Untuk apa saya bohong? Lebih dari dua tahun yang lalu kejadiannya. (Paduka berkelakar.) Lho sungguh, bahkan saya disihir lalu dibawa naik kuda oleh sundel bolong itu sampai ke kuburan.”

Sekarang giliran Pinterseng untuk tertawa. Sopan tetapi spontan.

“Diajak main-main apa, Pangeran, kalau hamba boleh bertanya?”

“Dirangkul lalu dicium. (Sungguh?) Lho, tidak percaya. Lalu saya diajak kelonan.[4]) Aduh, memang cantik dia, halus empuk. Harum baunya. Dan susunya… ah Pinterseng cemburu ya, pasti kau iri. Lalu, ya lalu mau apa lagi? Wah, nikmat sungguh. Lain lho, kenikmatan sundel bolong daripada perempuan biasa.”

“Bagaimana tahu Paduka dia sundel bolong?”.

“Kan jelas. Nah, saya belum habis ceritanya ini. Sesudah dia puas kureguk dan kunikmati, eh, tahu-tahu tangan saya merangkul dia, dan lho lho hahahaaaa bolong semua di belakang, lhailaaaa kau pasti tidak percaya. Tetapi saya pura-pura tidak tahu bahwa terasa bolong punggung, ya punggung sampai pantat bolong semua. Saya ingin tahu, isinya apa. Aduh kauterka coba, terka. Ayo terka! (Tulang dan paru-paru.) Keliru, keliru seribu wiru. Isinya, tahu? Isinya… hahaaa kau melompong tegang ingin tahu, nah, ternyata kau percaya juga. (Hamba percaya kalau sudah sendiri meraba, Pangeran.) Boleh, boleh kauraba. Isinya ternyata… cuma krupuk dan onde-onde dan galundeng[5]). Untung dia dapat saya rogoh-rogoh[6]) dari belakang, sampai aku tahu. (Apa ketika main cinta tadi, Paduka tidak dari semula memeluk dia?) Ah… ya juga, tetapi … tetapi tidak begitu saya rasakan. Tetapi inilah bukti. Bukti yang tidak bisa kaubantah. Sebab Raden Mas Rangkah Aria Mataram sendiri yang menyaksikannya. Bahkan lebih dari hanya menyaksikan. Nah, keok[7]) kau! Hahahaa!

“Sesudah diketahui dia sundel bolong, lalu selanjutnya?”

“Ya, saling berpisah biasa. Sebab dia yang membutuhkan saya. Bukan saya. Saya di mana-mana disenangi gadis. Saya hanya minta oleh-oleh krupuk dan onde-onde galundeng-nya. (Diberikan?). Nah, malu tentu saja dia, bahwa ketahuan bolong. Tetapi makanan itu toh diberikan juga. Untuk oleh-oleh simbok-simbok di dapur istana. Ah Pangeran, apa makanan yang mengerikan itu mau makan?) Mau… mau… HARUS. Mereka HARUS memakan itu semua. Biar mereka menjadi saksi bahwa sundel bolong itu ada.”

“Baiklah, Paduka Pangeran. Tetapi maafkan, hamba tadi sebenarnya’ Pangeran Danupaya memanggil untuk….”

“Jangan mau dipanggil orang itu.”

“Ya, ini sebenarnya juga perintah Susuhunan.”

“Nanti dulu. Saya ingin tanya. Kau sudah pernah melihat si manis Tejarukmi itu? (Bagaimana mungkin, Pangeran? Hamba belum pernah…) Sudahlah, entah bagaimana caramu, kalau kau kebetulan dipanggil si kakek tuwek Wiraguna itu, usahakanlah agar dia mau menyerahkan si gadis kecil itu kepada Putra Mahkota. Dia akan mendapat ganjaran sangat berharga. Apa lagi, kan dia sudah tua bangka dan sudah begitu banyak istrinya. Mosok kurang. Dan putri ini kan masih gadis kecil. Apa pantas? Mosok karonsih kok dengan cucu-buyutnya? Apa tidak memalukan? Bilang pada si Cadas Keropos itu, agar dia dengan sukarela-ya sukarela wajib ini-menyerahkan cucu buyut itu-ya cucu-buyutnya itu-kepada calon Susuhunan-ing-Ngalaga Mataram.”

“Bagaimana mungkin, Pangeran? Hamba orang asing, apalagi tawanan. Tidak punya apa pun kedudukan. Bahkan lebih hina daripada kerbau penarik kereta, Pangeran.”

“Ya ya, kerbau memang kau. Tetapi pasti bisa. Nah, caranya terserah. Tetapi ini harus berupa persembahan, hulu-bekti.[8]) Dan kalau berhasil, kau akan saya usahakan bebas bisa pulang lagi ke Betawi-mu.”

Tak ada jawaban lairy selain, “Ya, akan hamba coba, walaupun hamba tidak berani tanggung berhasil.”

“Tidak usah main tanggung. Yang penting, berhasil. Nah, ingat katamu tadi, dirayu. Sekarang buktikan, kau mampu atau tidak merayu si ketela gosong Wiraguna itu.”

“Sendika. Nuwun kawula.[9])

Dan pergilah Thyss Pietersen dengan kedua mata loyo. “Silakan jadi Susuhunan Mataram”, gumam gerutunya. “Kalau Thyss nanti jadi gubernur jenderal VOC, akan kupotong burungmu!”

—————————————–

[1]     Utusan pembesar

[2]     Ingatlah

[3]     Ruang tidur

[4]     dalam hal ini berarti “bersanggama”

[5]     Nama panganan

[6]     Menggerayangi rongga/lubang

[7]     Kalah total

[8]     Upeti

[9]     “Hamba taat pada perintah Tuan. Maafkan hamba.”

———-

Genduk Duku episode 10 djvu ada disini, yang PDF dibawa oleh Panglima Besar Mataram.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Telah Terbit on 16 Mei 2015 at 01:13  Comments (103)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/trilogi-yb-mangunwijaya/genduk-duku/trackback/

RSS feed for comments on this post.

103 KomentarTinggalkan komentar

  1. Episode pertama Genduk Duku telah diwedar

    silahkan berburu rontal dan bergojeg dan berburu rontal sebagaimana bertahun yang lalu, ketika masih menjadi cantrik aktif di padepokan ini.

  2. test…..
    kenapa komen saya tidak bisa masuk daftar komen?

    Hadu….
    kenapa ya?

  3. Grotal-gratul, grayah-grayah

  4. Serasa seperti nyantrik pertama kali, lupa cara nyarinya

  5. ToPan Siap Hadiiirŕ Pakde Satpam. Apa kabar Pakde Satpam dan Eyang Arema ?. Semoga Selalu Sehat dan Banyak Rezekinya Amiiiin.

  6. Pakde Satpam. Kalau pake android apa bisa dicari dan download ya. Sudah berkali kali di plototi di ubek ubek kok ra ketemu ya hahahhhhhh

    • Sugeng enjang . . . Selamat pagi, Ki Adji.

      Saya tadi sudah mencoba di hp dan tidak bisa Ki, kecuali kalo di hp Ki Adji ada djvu nya, baru bisa dibaca, karena formatnya djvu, bukan pdf bukan pula ms-word.

      Kalo soal rontal diumpetin dimana sama Anakmas Risang, Ki Adji saya kira sudah pengalaman tahunan . . . he he he, tlateni ae suwe-suwe rak ketemu . . . gampang kok, gak susah.

  7. Assalamu’alaikum wr wb
    Salam sejahtera buat kita semua.
    Alkhamdulillah telah kita mulai lagi mengangkat kisah cerita anak bangsa berupa Novel Serial Roro Mendut.
    Serial karya budayawan YB Mangunwijaya ini berkisah tentang kejatuhan martabat seorang ksatria perang, seorang Tumenggung di Zaman Pemerintahan Kesultanan Mataram Era Sultan Agung Hanyokrokusumo.
    Seorang Panglima Perang yang sangat disegani oleh teman dan lawan ini yaitu TUMENGGUNG WIROGUNO, tergelincir hanya karena kecantikan seorang wanita rakyat biasa, RORO MENDUT.
    Sayangnya sang perawan jelita tidak bersedia disunting oleh Ki Tumenggung dengan tawaran hidup kamukten. Ia lebih memili mati bersama kekasihnya PRONOCITRO, seorang nelayan dari pantai utara.
    Kisah tragis di atas berlanjut dengan sebab dan akibat dari peristiwa tersebut di buku kedua dan ketiganya yg sudah dapat diikuti disini.
    Tapi yang justru menarik adalah latar belakang sejarahnya. Banyak yang sangat awam dengan sejarah Mataram di Era akhir Sultan Agung yang digantikan oleh putra mahkota Sunan Amangkurat I, yang dikenal brutal demi menuruti ambisinya yg gemar melahap betis indah. sampe demi menutupi kebobrokannya, dia tercatat telah membantai ratusan Kiai dan Santri di jamanya. Bagaimana jalan ceritanya, temukan di serial novel ini.
    Hanya sayang sekali, Genduk Duku ini sudah Seri II. Buku Seri I berjudul Roro Mendut, belum ditemukan dalam koleksi. Sedangkan mencarinya di luar sangat jarang diketemukan.
    Apabila diantara sidang pembaca ada yg memiliki, atau kebetulan menemukan di toko buku. mohon perkenan untuk di informasikan di sini.
    Mohon judul di atas bukan APDM, tapi RORO MENDUT, novel serial sejarah YB Mangun Wijaya.
    Monggo.

  8. Assalamu’alaikum Wr Wb,
    Salam sejahtera untuk kita semua,
    Selamat pagi . . . Sugeng enjang,
    Sanak kadang adbm semua . . . .

    Anakmas Risang kok teganya-teganya menyanyi . . . he he he.
    Sementara kadang yang gak sabaran maunya cepet membaca, ingak-inguk rana-rene, nang endi leh ndekek rontal.

    • kok komentare menunggu moderasi,
      ra entuk mlebu po ya . . . . . hiks.

  9. Pasti bisa…hik..megkuh titik noda itu…

  10. mantappppp….. tinggal cari roro mendutnya…

  11. Nunut ngiyup Ki ….

  12. Roro mendutnya di bawa lari pronocitro Ki … Salam buat poro Empuh2 Adbm/Pdls …

  13. Wis di ubek2 ora ketemu .. Klau PC cepat klau Hp apa bisa ya … PakLik Satpam mohon bantuannya ..

  14. Ho android juga bisa ki….titik bernoda kata mas satpam…hikkk tidak boleh menyerah

  15. Sugeng sonten Anakmas Risang

    Lha wong episode 2 sudah wedar dari tadi, po ya belum ada yang ngunduh . . . he he he.
    Mungkin sanak kadang perlu bahasa sasmita dari P. Satpam, memang diperlukan ketelitian dan kejelian.

    Sanak kadang sedaya . . . mangga episode 2 sudah gogrok, tinggal ngunduh saja.

    • Sugeng sonten Panembahan
      he he he …., kala wau kesupen terus buru-curu wedaran, lan terus nglanjutaken tugas malih.
      ngapunten…

  16. Hiks…..mas Satpam

    • kata bang haji mas Satpam…terLALU

      • he he he …..
        gandok dimanapun kalau tidak ada Ki Menggung Gembleh dan Ki YP, kayaknya bagaimana…. gitu.

        Monggo Ki

        • Betul Lik Satpam… seperti lontong balap tanpa lontongnya…

          • Betul ki AM….
            Seperti motor balap tanpa motornya

  17. Pusing…
    bagaimana memunculkan komentar terakhir dalam daftar

    mohon pencerahan

    • Lho….mas satpam kePUsingan toh

      Cantrik kira memang sengaja tidak
      mas Satpam tampilkan

      • Gampang mas Satpam…hiks

        Kirim panah sanderan nti cantrik
        bantu dari ujung wetan

  18. Alhamdulillah lagi bisa mlebu senthong sebelah sini…

    lampune masih mati, sehingga harus meraba-raba mencari rontal ala genderuwo picek… semoga pas ‘meraba’nya…

    • Ketemu ki AM….bukan hanya diRABa
      zoom juga perlu ki, saestu

  19. nakmas satpam apa eps.3 siap digrayah ?

    • likmas Satpam apa eps.4 siap diwedar?

      • dereng, mbenjang enjing

    • sampun …..

  20. Alhamdulillah wis gak usum duku nanging iso moco Genduk Duku semudah memijit wohing ranti.

    • Selamat malam mas Satpam… 🙂

      Selamat menyiapkan wedaran rontal
      lanjutan.

      • di padepokan sini….cantrik siap
        bertanding lawan mas Satpam

        Kuat mana yang baca apa mas Satpam
        yg nyiapkan rontal

        • hayoo,,,,,,,,,

          • Priit…format text mas Satpam

            • yg kalah angkat
              tangan kanan.
              tanda kiri cukup
              masukan saku
              belakang 🙂 🙂

            • Kudu sesuai jadwal no Ki Menggung.

              • Jadwal ber-
                kunjung

                • J
                  A
                  D
                  W
                  A
                  L

                  A
                  M
                  B
                  I
                  L

                  J
                  A
                  T
                  A
                  H

                  R
                  A
                  N
                  G
                  S
                  U
                  M

              • Monggo
                lha wong wis ket mau kok
                he he he …..

  21. Episode 5….belum ada cantolan
    Episode 6….masih dalam penggorengan

    Episode 7….belum diracik mas Satpam
    Episode 8….nunggu antrian wedar

    • Usul mas Satpam,

      Wedaran rontal nunggu pasukan OGrog
      pada ngumpul ng padepokan.
      Tahan dulu wedaran sp cantrik mentrik
      kemringet ngiler rontal lanjutan.

      Ini tadi usulan ki Trupod sesepuh
      padepokan….ki gundul sakdermo
      menyebar luaskan

      Saestu…TENAN

    • 5 wis kok

      • 5 wes nyantol….tinggal srondol

        • Matur nuwun mas Satpam

          • Nti malam cantrik kancani
            Melek-an

  22. Absen dulu aahh…..

    Baru kali ini mbuka gandok Genduk Duku, karena berbagai hal..
    matur nuwun sanget Pak Satpam, Bopo Panembahan, dll atas peluncuran rontal yang baru

  23. selamat siang

  24. Episode 5 : djvu dan pdf

    teks belum dimunculken

    • pelan2 mas Satpam…ga usah terburu
      buru pasang “teks”

      yg penting wektu cantrik sambang lgi
      nanti “teks” sudah dicantolkan…hehe20x

      • Malam mas Satpam

        • Hadir…sambang padepokan

          • he he he …, monggo…..

            • Hehehe…matur
              nuwun mas Satpam

              • Sugeng
                Dalu

  25. Hadir….mas Satpam

    • Sugeng dalu kadang genduk DUKU

      • Otw padepokan sebelah sengkaling

        • loh…, padepokan sebelah Sengkaling yang mana? UMM, UIN, Polres?

  26. HADIR…..mas Satpam

    • monggo….
      penghuninya di sini hany Ki menggung sendiri
      satpam juga jadi males piket disini
      he he he he he he he he he he (lama lama tidak terdengar)

      • Males….pertanda belom makan
        mas Satpam…kleru Mules ding.

        AYO SEMANGAT…mumpung yg
        laen pada belom datang.

        • berDUA…..sapa takut 🙂 🙂

          • AYO mas SATPAM….kita buat padepokan megah.

            Megah : menawan gagah
            tur bikin betah para wanita
            seluruh tlatah jawa 🙂 🙂

  27. HADIR….sugeng dalu

    • mas Satpam….kemana kah panjenengan

      • cantrik dewean….ENAK tenan

        • urun saran….kenapa komen di genduk duku tidak nampak pd

          KOMENTAR terakhir padepokan
          ini mungkin yg bikin gandok jarang ada yang singgah padepokan

          • masa sih mas Satpam ga
            bisa otak atik membetulkan

            • Sampe judeg Ki, tidak berhasil.
              Masih dicoba otak atik lagi.

  28. Alhamdulillah, terima kasih mas
    Risang, tau tau sdh episode 8.
    Apa mas Risang sdh baca ceritanya?
    Latar belakang sejarahnya menarik, yaitu awal mula kita bersentuhan dengan barat secara langsung, dan juga kedzoliman Amangkurat 1yg jarang diangkat ke permukaan.

    • Sambil konversi dan edit teks Ki, satpam sempat baca.

  29. Njlekethek,
    setelah hampir putus asa, akhirnya ketemu penyebab tidak munculnya komen terakhir.
    Hadu…..
    Bobo ah….

  30. Wah…jebul saya ketinggalan….padahal yang cepat dapat yang lambat ketinggalan….Sugeng sonten sedoyo…!

    • benul ki Karto….yg cepat dapat duluan
      yg lambat sabar nunggu dum2an

      • Benur..Ki Tmg.YP..ngantri..

        • Ngantri sebentar….pas dibelokan cantrik serobot antrian,

          • Ati2 Ki Menggung….keseringan nyrobot ntar…bengkong lho 😀

            • Bengkong sekali kali asik ki Menggung

              BengkongAN…he 50x

              • Selamat malam…..sepi banget

                • S
                  E
                  R
                  E
                  M

                  Hi
                  Hi
                  Hi
                  Hi

              • hem….serem deh 😦

                • Se
                  Re
                  M

                  Me
                  Le
                  K

                  Me
                  Re
                  M

              • Serem…..seneng merem 😀

  31. tes…..masuk komen, komen masuk

    • tes…..yang keluar masuk 😀

      • Sugeng dalu ki Kartojudo

        • Kecipir mrambat kawat…wes suwe ki Karto ora liwat

          • Sugeng manuk..eh..masuk Ki Gundal gandul 😀

            • Hiks…matur nuwun ki Kartojudo

              Suwe ora jamu…jamu pisan godhong kates
              Suwe ora ketemu…ketemu pisan tes testes

              • Hehehe…dak kiro ketemu pisan ketemu….kates 😀

              • Sanes
                kates
                ki….

                kutes
                kusuka
                kates

  32. HADIR…. mendhisiki diri sendiri

  33. he he he ….

    gandok ini sepertinya rumahnya Ki Menggung berdua (KiGundul dan Ki Kartoyudo sendiri)

    • Bener mas Satpam…terkadang kita perlu menyendiri buat mengendapkan serta menenangkan diri dari hiruk pikuk ramainya hohohihi

      • Bener mas Satpam…terkadang kita …merasa sedih

        • Sedih dipagi hari…seneng disore hari

          • Sedih disiang hari….sueneng dimalam hari

            • Sugeng Riyadin Ji Gundul,mas Satpam…..
              maaf lahir batin……..

              • Njih Ki Menggung
                sami-sami nggih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: