GENDUK DUKU

Episode 9

Nyaris Putri Arumardi tidak mengenali kembali bekas dayang-dayang almarhumah sahabatnya. Berapa putaran matahari telah lewatkah ? Ketika itu si Genduk ini baru kira-kira dua belas surya umurnya. Nah, kini mendadak sudah wanita matang dia. Bukankah umur sekian itu masa bunga yang paling segar dan menawan? Jadi istri adipati pantas sebetulnya si Duku ini, andai saja… ah biarlah Genduknya tetap anak rakyat. Perawan desa serba membuntut dia bukan, jelas dari gerak tegak-dongaknya. Jenis jaya parosa[1]) atau muktisari[2]) bila diibaratkan kuda. Selamat datang, Duku tersayang, saksi kenangan pahit-manis! Tumenggung Wiraguna sedang mendampingi Susuhunan-ing-Ngalaga di Imogiri. Jangan takut. Bersama Patih Tumenggung Singaranu dan hampir semua para nayaka agung negara. Hanya Pangeran Singalarong bertugas menjaga ibu kota. Paman dari istri kedua Panembahan Seda Krapyak, Bendara Ayu Lung-Ayu. Beliau ini lebih suka main tomprang[3]) dan memelihara merpati daripada pesta-pesta kenegaraan yang menurut anggapannya, dapat diwakilkan pada orang lain.

Walaupun sudah tujuh warsa[4]) lewat sejak peristiwa sedih Mendut dulu itu, namun hati-hati penuh kebijaksanaan Putri Arumardi mengatur selubung si nelayan dari Telukcikal dengan istrinya itu agar dapat diam-diam masuk ke dalam Puri Wiragunan tanpa heboh. Seperti suasana langit diprada emas sesudah hujan kelabu rasanya pertemuan kembali antar-sahabat lama yang pernah mengalami penderitaan bersama itu. Putri Arumardi masih tetap saja muda seperti sediakala, kata Duku. Mosok? Betul. Jamu apa yang dipakai? Duku sudah tahu, sama dengan dulu pasti: akar alang-alang, cabe lempuyang agar saraf segar, laos, kencur, bawang putih, kunir dan lagi-lagi temulawak. Tambah banyak minum air-surya agar awet cantik. Tetapi semua itu percuma jika jiwanya kemrangsang-kemrungsung, pahit dengki dengan macam-macam ulat jiwa yang dari dalam mengrikiti hati.

Ni Semangka? Oh, wanita besar dada dan besar keibuannya itu sudah melewati garis-garis lengkung dari pantai berbusa kehidupan ini. Betapa sumarahnya embok emban dari si Duku dan Mendut itu. Namun kendati begitu, bagaikan ulat dalam jambu, kesedihan kehilangan dua anak emban terkasih sekaligus sangat menggerogoti jiwanya yang lunak lembut. Ya, atas permintaannya sendiri Ni Semangka ingin mengikuti kekasihnya, dilabuh di Laut Selatan, tepat di tempat Mendut dirangkul oleh kerahiman Air Tiada Terhingga. Tusuk gelung perak dan cincin emas berakik merah selang kebiru-biruan bernama Kluwung Kluku dititipkan kepada Putri Arumardi untuk sewaktu-waktu diberikan kepada Genduk Duku, seandainya masih berjumpa. Menangislah ia, benda-benda itu dicium Duku, namun juga daya gaib jiwa keibuan Ni Semangka diterimanya dan rapat-rapat ditekankan pada dadanya.

Banyak yang ditanyakan, banyak pula dijawab, dan banyak saat kedua wanita dengan babad hidup yang begitu berlainan itu diam hening. Malam itu di gandok Putri Arumardi keduanya hangat kelonan, teriring jengkerik-jengkerik yang me­nambah haru suasana. Mendamba damai.

“Dik Rara, sering kuingin, daun-daun kuning dapat kembali hijau kuncup,” begitu nun di malam penuh kenangan duka kala itu. Ya, Putri Arumardi masih ingat semua wawan-kata dengan Adik-emas baru, Mendut, yang mengeluhkan kerinduan bersama, memohon segala yang mendamaikan dan mengikat mengangkat semua yang tergerai dalam kurun lakon manusia. Sampai saat ini pun, meski jiwa telah sumarah seperti selayaknya bagi wanita Jawa anak begawan, istri selir Wiraguna itu masih ingat semua kata keluh-kesahnya kepada Rara Mendut… “Hari-hari dan malam-malamku lampau dalam puri.

Seperti serangga yang masuk dalam cahaya gemerlap api pelita, hangus terkapar, nyeri di tikar. ”

“Ah, Mbak, jangan itu yang dikenang.”

“Tak dapat kubayangkan, Dik Rara Mendut, betapa dalam rasa syukurku menyaksikan kisahmu dengan sang Prana, melihat lakon Adik Mendut dengan Citra-nya….”

“Ah, Mbak, bukan kami yang berjasa. Cinta setiap pasang jodoh selalu rahmat Allah-i-Rohman-i-Rohim. ”

“Bahagia hatiku dapat mengenal kau, Putri Pantai. Yang aku tak sampai, itu kau peroleh: memilih kekasih.”

“Ah, Mbak, jangan itu yang ditimbang.”

Dan apa yang dikatakan Mendut dulu itu? Yang membuat Arumardi pun kemudian kuat memikul nasib perkutut dalam kurungan emas?

“Arumardi, Mbok Ayu. Kau seayah derita seibu sepi-sunyi denganku. Derita dan dambaan hampa sekalipun, adalah malam yang memungkinkan embun kehidupan. Bila aku bahagia, yakinlah, itu hanya mungkin, berkat sikap ikhlas yang mengemban sikap tuhu setia dari sekian wanita merana seperti kau”

Adiknya hanya menghibur. Namun bagaimana kenyataannya… ?”

“Hikmat mengalir seperti sekian mata air dari manusia yang menderita. Menjadi Bengawan Serayu, cermin Bima Sakti. Begitu selalu nenekku berpesan. Mbak Arumardi:”

“Dapatkah sengsara berharga, Dik Mendut?”

“Aku bukan dari dunia petani, Arumardi, mbok-ayuku tersayang. Tetapi Mbak pasti tahu, bahwa bagi petani yang mengerti, sampah kotoran kerbau pun justru penyubur kehidupan… bagi yang tahu mengolahnya….”

Di luar gapura negara medan barat, Jagabaya, di dekat muara Sungai Bagawanta sisi Pagelen, Putri Arumardi memiliki pesanggrahan yang pernah dihadiahkan kepada Panglima Wiraguna oleh seorang petinggi wilayah Urut Sewu. Di sanalah, Duku dan Slamet diberi tempat pengungsian selaku abdi-abdi pribadi yang ikut menjaga pesanggrahan. Sayang pondok istirahat itu sudah lama tak terawat, dan hanya dititipkan kepada sepasang kakek-nenek juru kunci. Lurah desa Bangkawa-Kulon secara resmi ikut bertanggung jawab juga, karena desa itu terletak hanya dalam jarak selemparan peluru meriam saja. Apabila Slamet dan Duku ingin menghadap ke Puri Wiragunan, mereka telah punya bekal berupa seperangkat petunjuk selubung siasat. Nama-nama sandi dan siasat apa, tempat bertemu, jalan-jalan, dan lain-lain telah dibicarakan Putri Arumardi dengan seksama bersama Slamet dan Duku. Teranglah betapa bahagia kedua orang itu memperoleh tempat naungan yang meyakinkan itu. Putri Arumardi sendiri gembira juga dengan belokan arus kejadian ini, karena sudah lama beliau ingin lebih kerap bercuti dari sangkar emasnya di Wiragunan, menikmati kebebasan di luar. Walaupun hanya untuk jangka waktu yang tidak lama. Tetapi susahnya, kaum suami Jawa itu tanpa terkecuali berpenyakit cemburu yang kelewat ukuran. Dengan alasan memenuhi kewajiban menjaga pesanggrahan yang bagaimana jua adalah milik Tumenggung Wiraguna sendiri, Putri Arumardi dapat meminta izin untuk lebih kerap pergi menyeberangi Sungai Bedog, Praga, dan Bagawanta, menghirup udara segar Pagelen.

Bagi Slamet dan Duku, hari-hari pertemuan dengan istri Wiraguna budiwati selama tinggal di Wiragunan ini, merupakan saat-saat berarti yang memberi harapan, kendati tidak dapat leluasa keluar-masuk halaman-halaman lain, kecuali di keliling-dekat gandok Putri Arumardi. Pagi-pagi dini Slamet, tanpa banyak orang yang melihatnya, pergi ke Sungai Gajahwong untuk mencari ikan lele. Kaya lele sungai yang mengalir ke dalam salah satu danau kecil dalam ibu kota ini. Jauh sebelum lohor, pulanglah Slamet dengan tenggoknya yang sudah berat, dan menyerahkannya kepada Duku untuk dimasak khusus bagi Putri Arumardi. Tidak hanya lele. Belut gurih dan tak lupa oleh-oleh remeh tetapi berharga bagi sang garwa selir dan setiap lidah keturunan lereng Gunung Merapi, yakni daun lumbu untuk lauk buntil.

Namun Duku tak bisa lain terpaksa dipingit, bahkan dilarang pergi ke kandang-kandang kuda. Cukup di sekitar gandok Putri Arumardi saja.

Maka terjadilah, suatu pagi, ketika Duku sedang membersihkan ruang-ruang tidur Putri Arumardi, didengarnya dari dalam suara merdu dari seorang wanita yang memanggil-manggil nama Putri Arumardi. Belum lagi Duku mampu memutuskan, apakah sebaiknya keluar dan menjawab suara wanita yang penuh ketakutan memanggil puannya itu ataukah tetap di dalam kamar saja, untunglah, suara Putri Arumardi telah menyambutnya. Dari kebun beliau rupa-rupanya.

Tak sengaja ikut mendengarlah Duku dari dalam, suatu percakapan penuh keluh yang seharusnya tidak boleh ia dengar.

“Bagaimana, Mbok Ayu, aku yang malang ini? Sungguh bingung apa yang harus kulakukan, aduh aduh….” Dan Duku hanya mendengar suara wanita, agaknya masih sangat muda, yang menangis senggruk-senggruk. Terdengar suara tembaga halus Arumardi menghiburnya dan mencoba menenangkan putri yang entah karena apalah sedang merasa terjepit. Ceritanya, ya, heran namun tak heran juga, ceritanya kok sama saja dengan pengalaman si Duku lebih dari setahun yang lalu.

“Tejarukmi tidak mau, dan pasti Tejarukmi dihukum bila Kanjeng Tumenggung tahu. Tetapi bagaimana menolaknya, Mbok Ayu Arumardi, beliau putra mahkota….” Ah memang satu ini, lagi-lagi si Jibus. Tejarukmi nama wanita itu? Siapa beliau? Suaranya seperti suara anak. Dari kata-kata Putri Arumardi dapat diterka, putri ini sudah kerap meminta nasihat mengenai masalah gawat yang satu sama ini.

“Kan Mbok Ayu menjadi saksi, bagaimana surat-suratnya diserahkan Tejarukmi kepada Mbok Ayu. Dan kita bakar bersama sebelum Kanjeng Tumenggung tahu. Tetapi justru sekarang Kanjeng Tumenggung tidak ada, tadi adikmu menerima lagi surat. Silakan Kakang Mbok baca sendiri. Beliau akan kemari, Kakang Mbok. Ini nanti beliau akan ke Wiragunan sini. Tejarukmi harus berbuat apa… ?”

Sejenak diamlah Putri Arumardi. Ya, jika Putra Mahkota sendiri yang akan datang di Wiragunan, mana ada penjaga gerbang yang berani melarangnya? Dan bila nanti Raden Mas Jibus nekat mau menjibusi sang putri ini, ya, siapa yang akan berani melawan? Anak lelaki lima belas surya. Sedang panas-panasnya ingin coba-coba. Sudah diberi sebutan Raden Mas Rangkah, bahkan baru saja diresmikan sebagai putra mahkota dan bergelar mulia, Pangeran Aria Mataram, kok justru menjadi-jadi si Jibus ini…. Apa yang harus diperbuat? Sudah satu kali Putri Arumardi menanggung risiko ditikam keris demi penyelamatan Rara Mendut. Apakah kali ini beliau harus berbuat sesuatu lagi yang jauh lebih berbahaya?   ,

Berdebar-debar Duku mendengar percakapan itu semua. Dalam hati mendidihlah si Duku. Pasti berani Duku menolong putri muda yang terjepit oleh Jibus ini. Tetapi bagaimana caranya? Dan bagaimana nanti nasib Slamet? Sewaktu Duku masih perawan sendiri, soal dapat diselesaikan langsung. Tetapi kini dengan seorang suami, perkara menjadi sangat lain. Oh, pasti! Pastilah Mas Slamet tidak akan ragu-ragu sedesir ilalang, apabila istrinya sudah bertekad bulat. Akan tetapi bagaimana nanti Putri Arumardi?

“Kapan menurut surat Raden Mas Rangkah, beliau akan datang ke Wiragunan?”

“Nanti petang, Mbok Ayu. Beliau ingin diundang makan malam di sini. Dan Tejarukmi yang malang inilah yang harus melayani beliau… ah, harus berbuat apa aku?”

“Nyai Ajeng sudah tahu ini?”

“Belum. Tejarukmi baru meminta pertimbangan dulu dari Mbok Ayu Arumardi.”

“Sudah, begini saja, Adik-emas. Kau sekarang pura-pura sakit saja di ruang tidur saya. Kita masih punya satu pagi dan satu siang untuk berpikir. Bagaimana?”

“Oh, dari dulu kau Mbok Ayu-ku yang paling baik. Tak mengira adik-emasmu akan ditimpa kejadian sedih seperti ini.”

“Ya, Adikku sayang. Inilah penderitaan setiap putri yang ayu seperti kau ini. Masih sekecil ini memang kau, sejenis bunga wijayakusuma yang mampu menghidupkan orang mati, menggairahkan kembali panglima tua yang sudah layu termanja oleh sekian banyak wanita. Kau sedang dipersiapkan melayani tumenggung kita yang sudah sering terlalu capek dan murung. Ah, Tejarukmi, sebetulnya kau terlalu kecil untuk tugas seberat itu. Tetapi kecantikanmu, itulah nasibmu, Adik-emasku sayang. Ya, Genduk-ayuku, kecantikan biasanya dicari wanita, dibuat-buat, dihasratkan, dipaksakan. Akan tetapi bagi sang cantik itu sendiri, orang tidak tahu, hidup penuh duri dan racun. Putri Arumardi tidak secantik kau, Adik-emasku. Tetapi seandainya saya wanita biasa-biasa saja, berkali-kali ini kau dengar dariku, nasib sangkar emas dalam puri ini bukan bagiannya. Tetapi sudahlah, Adik-emas Tejarukmi, masuklah saja ke ruang tidur kakakmu, dan bersembunyi saja sementara di dalam. Nanti kita cari bersama akal apa yang dapat kita gunakan.”

Siapa ta si Tejarukmi ini? Oooooh! Duku terbengong bolong melompong. Alangkah cantikny a satu ini. Alangkah eloknya. Dari celah-celah gebyog[5]) ruang tidur, Duku telah berhasil mengintip dan melihat wajah putri malang itu. Tetapi alangkah masih sangat muda anak ini. Kuncup bunga masih. Dari mana Wiraguna memperoleh cendrawasih secantik ini? Ah, masih teramat muda dia. Layak cucunya. Pantas saja Pangeran Arya Mataram alias Raden Mas Rangkah alias Jibus terbakar api-gandrung kepadanya. Memang lebih beruntung panglima yang dapat pergi kemana-mana daripada raja atau putra mahkota yang terkurung dalam tembok-tembok rapat istana. Tetapi ini, kalau ini, nah, ini kentara bukan jenis Mendut. Ini sungguh kuncup dini bunga tamansari Maerakaca.[6]) Siapa ayah-ibundanya? Bunga Cirebon? Atau Madiun? Atau dari salah satu puri di Kutanegara[7]) ini? Putri Tumenggung Singaranu barangkali? Atau Wirapatra? Atau dari Kadipaten Pajang? Ah, pasti tak akan senekat itu Den Mas Jibus bila beliau putri berdarah sariningrat.[8])

Kulit langsep dengan wajah fajar Jumat berembun intan-intan brangtakusuma.[9]) Hanya sayang, dibayangi jingga, duka. Ah, justru dalam wajah takut secantik itulah, lebih mempesona daya tariknya. Keindahan yang membutuhkan perlindungan, kecantikan yang memohon naungan, bukankah itu amat sangat merangsang daya perkasa para pria, karena lebih mencolok citra sang-adinda-sayang-adinda-malang yang mendambakan kasih? Bukankah di dalam wajah wanita indah serba takut itu nafsu lelaki justru semakin serakah gairah untuk menguasainya? Seperti yang pernah diterangkan oleh pengasuhnya almarhumah Ni Semangka, wanita rakyat arif yang berkali-kali mewanti-wanti, wanita janganlah tampak sedih seolah-olah mendamba pertolongan. Jer rini rudita rudatin rukem rungrung radya Rahwana.[10])

“Duku, kau tahu Slamet di mana?” tanya Putri Arumardi setelah menyembunyikan putri buronan Raden Mas Jibus itu di dalam ruang tidurnya.

“Aduh, Ndara Ayu, tadi dia hanya berkata, ingin cari belut di Sungai Winanga. Tetapi di mana, Duku tidak tahu.”

“Cepat, bawa peniti ini. (Dan Putri Arumardi menanggalkan peniti emas bermata tiga berlian dari ujung kembennya.) Pergilah dan tunjukkan peniti ini kepada Encik Khudori Kidul Pasar Makam Senapati. Ini tanda pengenalku. Kau sudah tahu rumahnya pasti. Katakan kepadanya, kau datang atas nama aku untuk meminjam seekor kuda darinva. Slamet pandai naik kuda? (Lumayan, Putri Arumardi. Tetapi belum sangat cepat.) Menjadi kusir kereta barang tentunya bisa? (O, kalau hanya itu saja, dia sangat mahir.) Baik. Pinjam dua kuda tanggung untukmu… ah, jangan, kasihan dia nanti. (Masuklah Putri Arumardi ke dalam kamar. Tak lama kemudian beliau keluar.) Sudah saya duga. Tejarukmi takut naik kuda. Bagaimana sebaiknya?”

“Maaf, ada apa ta semua ini, Putri Arumardi?” tanya Duku pura-pura.

“Oh ya. belum tahu? Nanti kuceritakan. harus bergerak cepat. Pokoknya, cari dulu Slamet-mu, dan dia disuruh menunggu di persimpangan jalan Pingit-Trayem-Kerta. Jangan tepat di persimpangan jalan, tetapi kira-kira dua ratus langkah ke arah Rabut-Besar-Jagabaya. Di sana ada waringin hangus tersambar petir. Nah, suruh tunggu di sana. Kan tidak jauh dari Sungai Winanga. Lalu kau pulang kemari. Nah, hati-hati di jalan ya, dan selamatlah mencari Slamet-mu.” Sambil mencium Duku pada keningnya, “Ambil jalan melalui dapur belakang saja.” Berganti, tangan Puan Arumardi dicium Duku dan cepatlah ia menuju ke dapur.

Dengan dalih, sudah waktunya menurut kitab-kitab Primbon untuk bersesaji di makam Panembahan Senapati demi kesembuhan dari suatu penyakit yang melemaskan seluruh raga, Putri Tejarukmi dengan didampingi Putri Arumardi berziarah ke Kotagede. Dari balik sela-sela tirai-tirai tandunya, Putri Arumardi tak sulit melihat Encik Khudori yang menyolok berjubah putih, berdiri di bawah beringin selatan di muka pintu gerbang pemakaman. Para putri langsung masuk ke dalam taman pemandian wanita untuk mandi dulu dalam kolam keramat Penyu Putih. Atas kehendak Putri Arumardi, semua peziarah yang kebetulan masih mandi di kolam situ disuruh pergi dahulu ke taman-taman pemakaman, sampai mereka hanya berduaan saja dengan hanya dua dayang-dayang kepercayaan.

Sesudah mandi dan bersesaji di makam Panembahan Senapati, masuklah kedua istri Panglima Besar Mataram itu ke dalam tandu tertutup dan menunggu. Tetapi tadi “kebetulan” istri Encik Khudori pun (bukan dia, tetapi seorang dayang tua
keluarga Khudori) bersesaji juga di makam Panembahan. Cepat Putri Tejarukmi berpindah kendaraan, masuk ke dalam tandu istri Encik Khudori, dan dayang tua Encik Khudori masuk ke dalam tandu Putri Arumardi. Hampir bersamaan,
kedua tandu yang tertutup itu keluar dari gapura. Encik Khudori Syeh Abdullah bin Sulaiman adalah pedagang emas langganan para putri Wiragunan dan sahabat dekat Tumenggung Wiraguna. Kalau ada apa-apa, ia dapat berlindung di belakang sang
Panglima Besar Mataram. Sebab betapa pun tingginya kedudukan Putra Mahkota, Namun Susuhunan-ing-Ngalaga Mataram Adiprabu Hanyakrakusuma terkenal berjiwa ksatria, santri taat,
dan mendalam rasa susilanya. Kalangan luas tahu, beliau bila mendengar berita-berita buruk mengenai putranya yang terpaksa beliau pilih selaku putra-mahkota; karena bibit-bebet-bobotnya [11]) memang harus diakui, jauh melebihi Pangeran Alit, saudaranya dari istri perdana raja.           Namun siapa pun Raden Mas Jibus, ia tidak boleh berbuat sewenang-wenang terhadap seorang selir Panglima Besar Mataram, walaupun masih dalam kedudukan simpanan imbon[12]) sekali pun.

Ya, berdoa, benar-benar berdoa tadi Putri Arumardi di makam Panembahan Senapati. Tidak untuk memohon kekayaan atau kejayaan duniawi, melainkan demi akhiran yang sebaik-baiknya bagi semua pihak dalam lakon asmara gelap yang mencekam penuh kemungkinan tumpah darah ini. Sepanjang perkiraan yang seksama, Putri Arumardi dapat tentram hatinya; yakin, bahwa tidak ada seorang pun tahu tentang penukaran dua tandu tadi kecuali para pemikul tandu dan beberapa dayang-dayang tua yang paling ia percaya. Namun sepandai-pandai katak melompat, bangau tontong melihat juga. Ada sepasang mata yang melihat “kekeliruan tandu” itu, Mas Bei Jurujanur, yang pada pagi itu seharusnya memperbaiki genting salah satu kuncup makam; tetapi karena malas, tertidur di belakang dinding makam. Terkejut ia baru bangun ketika para tamu agung tadi datang. Tak berani keluar ia hanya mengintip dari belakang batu-batu nisan, perdu-perdu dan pohon-pohon kemboja. Mengintip dia, mengintip. Luar biasa moleknya wanita muda nyaris masih anak itu.

[1]     kuda dengan unyeng-unyeng pada setiap piring lutut, cepat, pemberani dalam perang

[2]     kuda dengan unyengan pada garis pantat, kuda perang yang hebat

[3]     lomba terbang cepat merpati

[4]     tahun

[5]     Papan-papan kayu dinding

[6]     istana mewah Arjuna

[7]     ibu kota

[8]     Ketrurunan bangsawan

[9]     Bunga asmara

[10]    Sebab. Gadis yang serba sedih menderita akan menjadi tanaman kerajaan birahi (raja lalim) Rahwana

[11]    Bakat, keturunan, kemampuan

[12]    buah belum matang yang disimpan agar lekas matang

———-Naskah PDF disimpan bekas pembantu Rara MendutNaskah djvu ada disini

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Telah Terbit on 16 Mei 2015 at 01:13  Comments (103)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/trilogi-yb-mangunwijaya/genduk-duku/trackback/

RSS feed for comments on this post.

103 KomentarTinggalkan komentar

  1. Episode pertama Genduk Duku telah diwedar

    silahkan berburu rontal dan bergojeg dan berburu rontal sebagaimana bertahun yang lalu, ketika masih menjadi cantrik aktif di padepokan ini.

  2. test…..
    kenapa komen saya tidak bisa masuk daftar komen?

    Hadu….
    kenapa ya?

  3. Grotal-gratul, grayah-grayah

  4. Serasa seperti nyantrik pertama kali, lupa cara nyarinya

  5. ToPan Siap Hadiiirŕ Pakde Satpam. Apa kabar Pakde Satpam dan Eyang Arema ?. Semoga Selalu Sehat dan Banyak Rezekinya Amiiiin.

  6. Pakde Satpam. Kalau pake android apa bisa dicari dan download ya. Sudah berkali kali di plototi di ubek ubek kok ra ketemu ya hahahhhhhh

    • Sugeng enjang . . . Selamat pagi, Ki Adji.

      Saya tadi sudah mencoba di hp dan tidak bisa Ki, kecuali kalo di hp Ki Adji ada djvu nya, baru bisa dibaca, karena formatnya djvu, bukan pdf bukan pula ms-word.

      Kalo soal rontal diumpetin dimana sama Anakmas Risang, Ki Adji saya kira sudah pengalaman tahunan . . . he he he, tlateni ae suwe-suwe rak ketemu . . . gampang kok, gak susah.

  7. Assalamu’alaikum wr wb
    Salam sejahtera buat kita semua.
    Alkhamdulillah telah kita mulai lagi mengangkat kisah cerita anak bangsa berupa Novel Serial Roro Mendut.
    Serial karya budayawan YB Mangunwijaya ini berkisah tentang kejatuhan martabat seorang ksatria perang, seorang Tumenggung di Zaman Pemerintahan Kesultanan Mataram Era Sultan Agung Hanyokrokusumo.
    Seorang Panglima Perang yang sangat disegani oleh teman dan lawan ini yaitu TUMENGGUNG WIROGUNO, tergelincir hanya karena kecantikan seorang wanita rakyat biasa, RORO MENDUT.
    Sayangnya sang perawan jelita tidak bersedia disunting oleh Ki Tumenggung dengan tawaran hidup kamukten. Ia lebih memili mati bersama kekasihnya PRONOCITRO, seorang nelayan dari pantai utara.
    Kisah tragis di atas berlanjut dengan sebab dan akibat dari peristiwa tersebut di buku kedua dan ketiganya yg sudah dapat diikuti disini.
    Tapi yang justru menarik adalah latar belakang sejarahnya. Banyak yang sangat awam dengan sejarah Mataram di Era akhir Sultan Agung yang digantikan oleh putra mahkota Sunan Amangkurat I, yang dikenal brutal demi menuruti ambisinya yg gemar melahap betis indah. sampe demi menutupi kebobrokannya, dia tercatat telah membantai ratusan Kiai dan Santri di jamanya. Bagaimana jalan ceritanya, temukan di serial novel ini.
    Hanya sayang sekali, Genduk Duku ini sudah Seri II. Buku Seri I berjudul Roro Mendut, belum ditemukan dalam koleksi. Sedangkan mencarinya di luar sangat jarang diketemukan.
    Apabila diantara sidang pembaca ada yg memiliki, atau kebetulan menemukan di toko buku. mohon perkenan untuk di informasikan di sini.
    Mohon judul di atas bukan APDM, tapi RORO MENDUT, novel serial sejarah YB Mangun Wijaya.
    Monggo.

  8. Assalamu’alaikum Wr Wb,
    Salam sejahtera untuk kita semua,
    Selamat pagi . . . Sugeng enjang,
    Sanak kadang adbm semua . . . .

    Anakmas Risang kok teganya-teganya menyanyi . . . he he he.
    Sementara kadang yang gak sabaran maunya cepet membaca, ingak-inguk rana-rene, nang endi leh ndekek rontal.

    • kok komentare menunggu moderasi,
      ra entuk mlebu po ya . . . . . hiks.

  9. Pasti bisa…hik..megkuh titik noda itu…

  10. mantappppp….. tinggal cari roro mendutnya…

  11. Nunut ngiyup Ki ….

  12. Roro mendutnya di bawa lari pronocitro Ki … Salam buat poro Empuh2 Adbm/Pdls …

  13. Wis di ubek2 ora ketemu .. Klau PC cepat klau Hp apa bisa ya … PakLik Satpam mohon bantuannya ..

  14. Ho android juga bisa ki….titik bernoda kata mas satpam…hikkk tidak boleh menyerah

  15. Sugeng sonten Anakmas Risang

    Lha wong episode 2 sudah wedar dari tadi, po ya belum ada yang ngunduh . . . he he he.
    Mungkin sanak kadang perlu bahasa sasmita dari P. Satpam, memang diperlukan ketelitian dan kejelian.

    Sanak kadang sedaya . . . mangga episode 2 sudah gogrok, tinggal ngunduh saja.

    • Sugeng sonten Panembahan
      he he he …., kala wau kesupen terus buru-curu wedaran, lan terus nglanjutaken tugas malih.
      ngapunten…

  16. Hiks…..mas Satpam

    • kata bang haji mas Satpam…terLALU

      • he he he …..
        gandok dimanapun kalau tidak ada Ki Menggung Gembleh dan Ki YP, kayaknya bagaimana…. gitu.

        Monggo Ki

        • Betul Lik Satpam… seperti lontong balap tanpa lontongnya…

          • Betul ki AM….
            Seperti motor balap tanpa motornya

  17. Pusing…
    bagaimana memunculkan komentar terakhir dalam daftar

    mohon pencerahan

    • Lho….mas satpam kePUsingan toh

      Cantrik kira memang sengaja tidak
      mas Satpam tampilkan

      • Gampang mas Satpam…hiks

        Kirim panah sanderan nti cantrik
        bantu dari ujung wetan

  18. Alhamdulillah lagi bisa mlebu senthong sebelah sini…

    lampune masih mati, sehingga harus meraba-raba mencari rontal ala genderuwo picek… semoga pas ‘meraba’nya…

    • Ketemu ki AM….bukan hanya diRABa
      zoom juga perlu ki, saestu

  19. nakmas satpam apa eps.3 siap digrayah ?

    • likmas Satpam apa eps.4 siap diwedar?

      • dereng, mbenjang enjing

    • sampun …..

  20. Alhamdulillah wis gak usum duku nanging iso moco Genduk Duku semudah memijit wohing ranti.

    • Selamat malam mas Satpam… 🙂

      Selamat menyiapkan wedaran rontal
      lanjutan.

      • di padepokan sini….cantrik siap
        bertanding lawan mas Satpam

        Kuat mana yang baca apa mas Satpam
        yg nyiapkan rontal

        • hayoo,,,,,,,,,

          • Priit…format text mas Satpam

            • yg kalah angkat
              tangan kanan.
              tanda kiri cukup
              masukan saku
              belakang 🙂 🙂

            • Kudu sesuai jadwal no Ki Menggung.

              • Jadwal ber-
                kunjung

                • J
                  A
                  D
                  W
                  A
                  L

                  A
                  M
                  B
                  I
                  L

                  J
                  A
                  T
                  A
                  H

                  R
                  A
                  N
                  G
                  S
                  U
                  M

              • Monggo
                lha wong wis ket mau kok
                he he he …..

  21. Episode 5….belum ada cantolan
    Episode 6….masih dalam penggorengan

    Episode 7….belum diracik mas Satpam
    Episode 8….nunggu antrian wedar

    • Usul mas Satpam,

      Wedaran rontal nunggu pasukan OGrog
      pada ngumpul ng padepokan.
      Tahan dulu wedaran sp cantrik mentrik
      kemringet ngiler rontal lanjutan.

      Ini tadi usulan ki Trupod sesepuh
      padepokan….ki gundul sakdermo
      menyebar luaskan

      Saestu…TENAN

    • 5 wis kok

      • 5 wes nyantol….tinggal srondol

        • Matur nuwun mas Satpam

          • Nti malam cantrik kancani
            Melek-an

  22. Absen dulu aahh…..

    Baru kali ini mbuka gandok Genduk Duku, karena berbagai hal..
    matur nuwun sanget Pak Satpam, Bopo Panembahan, dll atas peluncuran rontal yang baru

  23. selamat siang

  24. Episode 5 : djvu dan pdf

    teks belum dimunculken

    • pelan2 mas Satpam…ga usah terburu
      buru pasang “teks”

      yg penting wektu cantrik sambang lgi
      nanti “teks” sudah dicantolkan…hehe20x

      • Malam mas Satpam

        • Hadir…sambang padepokan

          • he he he …, monggo…..

            • Hehehe…matur
              nuwun mas Satpam

              • Sugeng
                Dalu

  25. Hadir….mas Satpam

    • Sugeng dalu kadang genduk DUKU

      • Otw padepokan sebelah sengkaling

        • loh…, padepokan sebelah Sengkaling yang mana? UMM, UIN, Polres?

  26. HADIR…..mas Satpam

    • monggo….
      penghuninya di sini hany Ki menggung sendiri
      satpam juga jadi males piket disini
      he he he he he he he he he he (lama lama tidak terdengar)

      • Males….pertanda belom makan
        mas Satpam…kleru Mules ding.

        AYO SEMANGAT…mumpung yg
        laen pada belom datang.

        • berDUA…..sapa takut 🙂 🙂

          • AYO mas SATPAM….kita buat padepokan megah.

            Megah : menawan gagah
            tur bikin betah para wanita
            seluruh tlatah jawa 🙂 🙂

  27. HADIR….sugeng dalu

    • mas Satpam….kemana kah panjenengan

      • cantrik dewean….ENAK tenan

        • urun saran….kenapa komen di genduk duku tidak nampak pd

          KOMENTAR terakhir padepokan
          ini mungkin yg bikin gandok jarang ada yang singgah padepokan

          • masa sih mas Satpam ga
            bisa otak atik membetulkan

            • Sampe judeg Ki, tidak berhasil.
              Masih dicoba otak atik lagi.

  28. Alhamdulillah, terima kasih mas
    Risang, tau tau sdh episode 8.
    Apa mas Risang sdh baca ceritanya?
    Latar belakang sejarahnya menarik, yaitu awal mula kita bersentuhan dengan barat secara langsung, dan juga kedzoliman Amangkurat 1yg jarang diangkat ke permukaan.

    • Sambil konversi dan edit teks Ki, satpam sempat baca.

  29. Njlekethek,
    setelah hampir putus asa, akhirnya ketemu penyebab tidak munculnya komen terakhir.
    Hadu…..
    Bobo ah….

  30. Wah…jebul saya ketinggalan….padahal yang cepat dapat yang lambat ketinggalan….Sugeng sonten sedoyo…!

    • benul ki Karto….yg cepat dapat duluan
      yg lambat sabar nunggu dum2an

      • Benur..Ki Tmg.YP..ngantri..

        • Ngantri sebentar….pas dibelokan cantrik serobot antrian,

          • Ati2 Ki Menggung….keseringan nyrobot ntar…bengkong lho 😀

            • Bengkong sekali kali asik ki Menggung

              BengkongAN…he 50x

              • Selamat malam…..sepi banget

                • S
                  E
                  R
                  E
                  M

                  Hi
                  Hi
                  Hi
                  Hi

              • hem….serem deh 😦

                • Se
                  Re
                  M

                  Me
                  Le
                  K

                  Me
                  Re
                  M

              • Serem…..seneng merem 😀

  31. tes…..masuk komen, komen masuk

    • tes…..yang keluar masuk 😀

      • Sugeng dalu ki Kartojudo

        • Kecipir mrambat kawat…wes suwe ki Karto ora liwat

          • Sugeng manuk..eh..masuk Ki Gundal gandul 😀

            • Hiks…matur nuwun ki Kartojudo

              Suwe ora jamu…jamu pisan godhong kates
              Suwe ora ketemu…ketemu pisan tes testes

              • Hehehe…dak kiro ketemu pisan ketemu….kates 😀

              • Sanes
                kates
                ki….

                kutes
                kusuka
                kates

  32. HADIR…. mendhisiki diri sendiri

  33. he he he ….

    gandok ini sepertinya rumahnya Ki Menggung berdua (KiGundul dan Ki Kartoyudo sendiri)

    • Bener mas Satpam…terkadang kita perlu menyendiri buat mengendapkan serta menenangkan diri dari hiruk pikuk ramainya hohohihi

      • Bener mas Satpam…terkadang kita …merasa sedih

        • Sedih dipagi hari…seneng disore hari

          • Sedih disiang hari….sueneng dimalam hari

            • Sugeng Riyadin Ji Gundul,mas Satpam…..
              maaf lahir batin……..

              • Njih Ki Menggung
                sami-sami nggih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s