RETYPE (TIDAK DIPAKAI LAGI)

Halaman ini diperuntukkan bagi teman2 yang mau menyumbangkan retype. Silakan kirim di boks komentar halaman ini.

DD

Untuk mengatasi kesemrawutan, usul dari Mas Kris dan Ki Jurumertani sangat baik. Jadi telah saya buatkan tabel “lelang” retype berikut ini. Tabel ini akan diupdate terus sesuai dengan halaman yang sudah dibook. Halaman yang sudah dibooking atau sudah diretype berwarna kuning. Seorang boleh melelang lebih dari satu paket. Pengiriman boleh dilakukan sehalaman demi sehalaman.

TABEL LELANG RETYPE        
             
Halaman Buku 19 Buku 20 Buku 21 Buku 22 Buku 23
Dar Sampai
7 11  Herry  DD      BENS
12 16  Herry  DD      BENS
17 21  Jebeng  DD      
22 26  Jebeng        
27 31  Jebeng        
32 36  Jebeng        
37 41  Manahan        
42 46  Manahan        
47 51  Manahan        
52 56  ral        
57 61  Herry        
62 66  DD        
67 71  DD        
72 76          
77 80          Bens

PROGRES (Halaman yang sudah diretype):
Buku 19:12-36, 66-80
Buku 20:7-18, 31, 65-72,
Buku 21:7-11,77-80
Buku 22:
Buku 23:7-9

Agar boks koment tidak pepat, kiriman retype akan dicut sesudah beberapa hari.

Semoga menjadi lebih baik

(DD)

Telah Terbit on 10 Oktober 2008 at 08:01  Comments (41)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/retype-in-progress/trackback/

RSS feed for comments on this post.

41 KomentarTinggalkan komentar

  1. Ini Buku 20 halaman 31.

    kedalam sebuah dunia yang asing. Dunia yang sempit yang dipenuhi oleh perasaan benci, dendam, muak dan bahkan putus asa…. (dst, dah diambil admin)

  2. aku sumbang buku 21 halaman 1-5
    insyaAllah paling lambat senin 13 oktober 08 di upload.
    dibuat PR sabtu-minggu 🙂

  3. maaf ternyata halamannya 7 s/d 11

  4. Mau tanya dong, waktu yang tertera itu waktu di negara mana ya, kok selisih 8 jam dari Jakarta ???

  5. halaman 7 buku 21 dulu

    SEKALI lagi Sidanti tersenyum. Betapapun dadanya bergolak karena lepasnya Agung Sedayu, namun terhadap anak muda Jati Anom ini ia ingin bersikap baik, sebagi permulaan dari hubungannya dengan anak-anak muda di Kademangan ini.

    “Ia menjadi ketakutan paman, Mungkin aku dapat menolongnya.”

    “Apakah pedulimu atas pengecut itu ?”

    Sidanti mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Hubungan yang baik antara kita dan anak-anak muda Jati Anom akan berakibat baik paman.”

    Argajaya menggeram. Namun ia tidak menjawab. Meskipun demikian pandangan matanya yang tajam seolah-olah telah menghunjam menembus jantung Warunta.

    ”Warunta.” berkata Sidanti kepada anak Jati Anom itu. ”Apakah kau menyangka bahwa suatu ketika Agung Sedayu akan kembali kemari ?”

    ”Itu adalah hal yang mungkin sekali tuan. Bahkan mungkin tidak akan terlampau lama lagi. Hari ini, siang atau malam nanti.”

    ”Lalu bagaimana dengan kau ?”

    Wuranta terdiam sejenak. Kemudian desisnya perlahan-lahan, ”Agung Sedayu melihat aku datang bersama tuan-tuan. Aku sangka ia pasti mendendamku.”

    ”Lalu ?”

    ”Aku harus bersembunyi tuan.”

  6. Buku 20 hal 13,

    kulan. Tetapi Sidanti tidak berrbuat sesuatu atasnya. Bahkan anak itu berkata, “Katakan kepada ayahnya, bahwa akulah yang telah membawa Sekar Mirah.”

    Terdengar gigi Swandaru berderak. Justru dengan demikian maka sejenak ia terbungkam. yang terdengar hanyalah dengus nafasnya yang berkejaran lewat lubang-lubang hidungnya.

    Untara, Widura, dan Kiai Gringsing sejenak hanya dapat mendengarkanaya. Persoalan itu hampir merupakan persoalan keluarga, sehingga mereka tidak segera dapat turut campur. Sedang Sutawijaya pun menjadi seakan-akan terbungkam. Ia menyadari kesalahannya, bahwa ia telah membawa Swandaru pergi. Tetapi apakah apabila Swandaru ada di rumah, hal itu dapat dihindari? Tiba-tiba Sutawijaya teringat kepada Argajaya. Apakah ada hubungannya dengan dendam yang telah ditanamnya di dalam dada orang itu? Dada Sutawijaya pun menjadi berdebar-debar pula.

    Tetapi Agung Sedayu mempunyai sikap yang lain, Meskipun ia bukan salah seorang keluarga Ki Demang Sangkal Putung, tetapi ia pun merasa kehilangan pula. Sehingga tiba-tiba ia pun berkata lancing, “Tak ada lingkungan yang tidak dapat disusupi. Tak ada dinding yang tidak dapat dipecahkan.” Agung Sedayu itu pun kemudian berpaling kepada kakaknya. “Kakang Untara. Aku akan kembali ke Jati Anom. Dari sana aku akan memanjat lereng Merapi untuk menemukan Sekar Mirah kembali.”

    Kini barulah Untara dapat turut berbicara. “Seharusnya memang demikian, Agung Sedayu. Tetapi di lereng Merapi itu tidak hanya terdapat Sidanti seorang diri.”

    “Di Sangkal Putung tidak hanya terdapat Sekar Mirah sendiri. Tidak hanya terdapat Ki Demang sendiri. Tetapi Sidanti dapat mengambil Sekar Mirah. Apakah aku tidak dapat melakukan hal yang sebaliknya?” sahut Agung Sedayu tidak kalah lantangnya dengan suara Swandaru.

    Tetapi Sutawijaya yang merasa, bahwa ia telah terlibat pula dalam persoalan itu karena ia telah membawa kedua anak-anak muda itu, berkata pula, “Aku ikut serta. Kita pergi bertiga. Kita masuki padepokan Tambak Wedi. Kita bakar segenap isinya setelah kita membebaskan puteri Ki Demang itu.”

    Semua orang yang mendengar suara Sutawijaya itu berpaling kepadanya. Mereka segera melihat wajah anak muda itu berwarna kemerah-merahan menahan perasaannya. Bahkan tangannya pun telah dikepalkannya dan diketuk-ketuknya pahanya dengan tinjunya itu.

    Tetapi terdengar kemudian Untara menjawab, “Sayang Adi Sutawijaya. Ayahanda berpesan kepadaku, bahwa adi Sutawijaya

  7. Salut!!! Tapi ada yang mengkhawatirkan. Dengan cara seperti ini sangat mungkin bahwa ada bagian2 buku yang tidak diretype oleh relawan. Terlihat dari komentar Mbak DD, buku 19 seperti tidak ada yang tertarik untuk meretype. Saya mengusulkan bagaimana kalau dibuat semacam lelang sejumlah halaman tertentu (3-5 misalnya). Lalu, relawan bisa membooking bagian mana saja. Ada sih beberapa retyper yang membooking dulu sejumlah halaman, tetapi tampaknya tidak ada koordinasi. Demikian usul saya. Mohon maaf belum bisa bantu2.

  8. @DD yth
    Apa nggak sebaiknya retypenya dijadwal oleh panjenengan wae, soale ndadak nggolek2i halaman2 mana yg belum, tambah mumet clilang-clileng!
    Sementara aku sanggupi aja berkontribusi JILID 19 (hal 7-15) mdh2an nggak ada yg overlap..
    Salam
    HER

    D2: Betul Mas Herry. Saya kira usulan Ki Jurumertani cukup baik dan bisa dicoba.

  9. saya coba bantu re-type buku 21 hal 77 – 80, akan saya kirim paling lambat 3 hari from now.

  10. Buku 21 halaman 8-11

    Sidanti mengerutkan keningnya Sejenak ia berpikir. Dan ia tiba-tiba bertanya, “Apakah kau ingin ikut aku ?” ….. (dst sudah diambil admin)

  11. buku 19 halaman 72-77

    berpapasan, tetapi ia melihat beberapa orang pengywal yang benar2 telah mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi orang lain meurut kesanggupannya. Mereka adalah orang2 yang sebenarnya mempunyai tanggungjawab yang tinggi atas pekerjaan yang mereka pilih. Kemudian Swandaru itu melihat sebuah gerombolan perampok dan penyamun. Dengan demikian, maka ia telah mendapat sedikit gambaran apa yang sebenarnya tersimpan di gutan2 yang besar dan lebat seperti hutan Mentaok dan Tambak Baya ini. …….(dst sudah diambil admin)

  12. saya ngetik buku 19 halaman 17 – 21 mas DD

  13. Buku 19 hal 17-20, hal 21 ilustrasi jadi nggak di retype.
    Mas DD, belum saya proof read, mudah-mudahan nggak banyak salah ketik. mohon maaf jika font dan spasinya belum sesuai, maklum baru pertama kali nih…. (dst, sudah diambil admin)

  14. Mas DD, saya terusin ke buku 19 hal 22 -26, biar buku 19 nya cepet rampung deh..

    D2: Siiiiip. Ayo, siapa nyusul. Sayang anak….., sayang anak….., (inget penjual balon. Tapi kan memang buat anak cucu yach).

  15. Buku 19 hal 22-26

    Baginya setiap hidung akan dapat mengucapkan sebutan-sebutan itu. Dengan demikian, maka apabila ia terpengaruh olehnya, berarti kegagalan pula baginya. …. (dst, sudah diambil admin)

  16. Mas DD, saya kok “trenyuh” saat membaca satu comment Adbm-er yang seolah olah patah semangat karena belum bisa menikmati sambungan cerita format retype sementara file djvu yang tidak bisa dinikmatinya sudah sampai buku 23, ya sudah saya teruskan lagi buku 19 hal. 27-31, agar segera bisa diupload di format retype di buku 19.

    D2: Mudah2an yg ikut trenyuh makin banyak. Ayo, siapa lagi…

  17. Buku 19 hal 27 -31

  18. Buku 19 hal 27-31

    Kata-kata Sutawijaya itu seakan-akan ujung-ujung tombak yang menghujani beribu kali ke pusat jantung mereka. Pedih dan nyeri. Tubuh mereka itu pun kemudian bergetaran. Meskipun ada juga perasaan ingkar atas segala tuduhan yang tidak langsung ditimpakan kepada diri mereka, tetapi ketika terpandang wajah Sutawijaya itu, maka wajah-wajah mereka pun tertunduk lesu. Bahkan kemudian terbayang di rongga mata mereka, Panglima Wira Tamtama yang mereka segani, akan datang sendiri menghakimi mereka. …. (dst sudah diambil admin)

  19. Wah, Mas DD nambahi lagi di buku 19 dua paket dari bawah, yo wis tak tambahi lagi satu paket, buku 19 hal 32-36. Maklum sedang males keluar, meskipun cuaca cerah dan agak windy, tetapi karena hati gundah gulana disebabkan situasi ekonomi dan keuangan dunia termasuk indonesia yang mengharukan ini(gak ada hubungan yach:-). Enaknya di jaman ADBM belum ada pasar saham dan sekuritas, adanya hanya perang dan rebutan sekar mirah he..he..

  20. aku ambil bagian lagi buku 23 halaman 7 s/d 16

    ini yang udah selesai halaman 7 s/d 9
    yang lainnya insyaAllah besok menyusul

    Maka katanya kemudian, “Alap-alap Jalatunda, aku tidak dapat mengerti maksud kata-katamu. Bukankah dengan demikian persoalan kita akan menjadi berkepanjangan ? Kau harus berbuat sesuatu supaya kita untuk seterusnya tidak terganggu lagi. Baik oleh Sidanti maupun oleh orang-orang lain. …. (dst, sudah diambil admin)

  21. Aku ambil bagian di buku 23 halaman 7 s/d 16

    ini yg udah selesai baru halaman 7 s/d 9
    yang lainnya insyaAllah menyusul besok

    Maka katanya kemudian, “Alap-alap Jalatunda, aku tidak dapat mengerti maksud kata-katamu. Bukankah dengan demikian persoalan kita akan menjadi berkepanjangan ? Kau harus berbuat sesuatu supaya kita untuk seterusnya tidak terganggu lagi. Baik oleh Sidanti maupun oleh orang-orang lain.

    ”Sekar Mirah.” jawab Alap-alap Jalatunda, ”Kalau aku dapat datang kemari tanpa diketahui oleh seorangpun, maka pasti tak akan ada yang mengganggu kita, seperti saaat ini pula. Tak akan ada seorangpun yang akan mengganggu kita apapun yang akan kita lakukan.”

    ”Tetapi lambat laun pasti akan ada yang mengetahuinya pula apabila kau sering datang kemari. Karena itu, apakah kita tidak lebih baiak menempuh suatu cara yang lain, yang tidak akan mendapat gangguan apapun lagi ?”

    ”Apalagi yang harus kita lakukan ? Cara yang mana lagi yang harus kita pilih ? Kalau tak ada orang yang mengganggu kita, maka kita tidak usah memikirkan cara yang manapun juga.”

    Akhirnya Sekar Mirah tidak dapat lagi menahan diri. Ia ingin Alap-alap Jalatunda mengerti maksudnya. Namun agaknya pembicaraan itu menjadi bersimpang siur. Karena itu maka Sekar Mirah berkata terus terang, ”Begini maksudku Alap-alap Jalatunda. Kita tidak akan dapat berhubungan hanya sekedar bertemu selama kau mendatangi pondokku. Berbicara dan menyusun harapan-harapan saja. Marilah kita hadapi masa depan kita dengan bersungguh-sungguh. Kalu kau benar mengingini aku, maka lakukanlah usaha yang langsung dapat membuka jalan bagi persoalan itu. Bukankah kau masih harus datang kepada kedua ayah-bundaku untuk melamarku ? Kemudian kita tentukan hari perkawinan kita. Setelah itu, maka kita akan dapat mencari perlindungan kepada orang-orang yang kita anggap mengerti persoalan kita. Maka semua perbuatanmu, semua yang telah kau lakukan pasti akan dilupakan orang. Akulah yang akan menanggung semuanya. Sehingga persoalan kita sekarang adalah, bagaimana kita berdua dapat menghadap ayah dan ibuku di Sangkal Putung untuk membicarakan keputusan kita ini.”

    Alap-alap Jalatunda mendengar kata-kata Sekar Mirah itu seperti mendengar gemelegarnya Gunung Merapi yang akan meledak. Tiba-tiba wajahnya menjadi pucat, tetapi sesaat kemudian menjadi kemerah-merahan. Sejenak ia terbungkam, tanpa dapat mengucapkan sepatah katapun. Diingatnya pula pertanyaan Wuranta yang serupa, Bagaimana ia akan mengawini Sekar Mirah. Tetapi hal itu sama sekali tidak ada di dalam benaknya.

    ”Sekar Mirah.” Berkata Alap-alap jalatunda kemudia dengan suara yang bergetar. Kepalanya menjadi semakin pening. Pening karena kata-kata Sekar Mirah itu dan pening karena pengaruh tuak yang semakin mencengkram jantungnya, ”Kenapa kau mencari cara-cara yang terlampau sulit itu ? Aku tidak akan mempedulikan apakah ayahmu sependapat atau tidak. Marilah kita nikmati pertemuan kita ini. Dengan bersusah payah aku berusaha memasuki pondokmu ini. Karena itu jangan pikirkan orang yang tidak ada. Yang ada di dalam ruangan ini adalah Sekar Mirah dan Alap-alap Jalatunda. Kita adalah orang-orang yang kesepian, dan kini kita telah bertemu tanpa seorangpun yang akan mengganggu kita, apapun yang akan kita lakukan.”

    Tanah tempatnya berpijak serasa berguncang dengan dahsyatnya ketika Sekar Mirah mendengar dan menangkap maksud Alap-alap Jalatunda. Anak muda yang berdiri dihadapannya itu kini tampak seperti seekor srigala buas yang siap untuk menerkamnya. Karena itu maka tubuh Sekar Mirah menjadi semakin menggigil karenanya. Wajahnya menjadi merah padam dan jantungnya menjadi semakin berdebar-debar.

    Untunglah bahwa gadis itu tetap menyadari dirinya. Menyadari bahwa pondoknya telah kemasukan seekor srigala yang buas dan liar. Sedang dirinya sendiri tak ubahnya seperti seekor anak kambing yang lemah.

    ”Aku harus mempergunakan otakku.” berkata Sekar Mirah di dalam hatinya. Ia tidak mau menyerah dalam keputus-asaan. Apapun yang dapat dilakukan, akan dilakukannya untuk menyelamatkan dirinya.

    Karena Sekar Mirah tidak segera menyahut, maka berkatalah Alap-alap Jalatunda yang menjadi semakin buas, ”Mirah.. Apa lagi yang kita tunggu ?”

    ”Kemarilah Mirah.” desis Alap-alap Jalatunda.

    Tengkus Sekar Mirah meremang mendengar panggilan itu. Bahkan ia menjadi semakin jauh surut. Namun Alap-alap Jalatunda itu semakin mendekat.

    ”He, kenapa kau menjauh?” bertanya Alap-alap Jalatunda yang kepalanya menjadi semakin pening dan matanya menjadi semakin merah dan liar. ”Bukankah kau menunggu kedatanganku? Kini aku telah datang ? Aku telah datang memenuhi janji.”

    Sekar Mirah menjadi semakin ketakutan melihat wajah yang liar itu. Ia menyesal bahwa ia telah bermain-main dengan seekor srigala. Kini srigala itu telah siap menerkamnya.

    Ketika Alap-alap Jaltunda itu melangkah semakin maju maka Sekar Mirah tidak dapat mundur lagi ketika tubuhnya telah melekat dinding biliknya.

    Hati gadis itu telah hampir menjadi pepat. Tetapi Sekar Mirah masih mencoba untuk bertahan dengan caranya.

    ”Mirah. Kenapa kau berdiri di situ?” bertanya Alap-alap Jalatunda. ”Apakah kau akan masuk kedalam bilikmu?”

    Pertanyaan itu benar-berar hampir merontokkan segenap nalar dan perasaannya. Namun Sekar Mirah masih berusaha untuk yang terakhir kalinya. Dengan mengumpulkan segenap kekuatannya, gadis itu tiba-tiba tersenyum dan berkata, ”Alap-alap Jalatunda. Kau memang terlampau tergesa-gesa. Kenapa? Apakah kau sangka bahwa hari hampir kiamat?”

    Alap-alap Jalatunda terdiam. Dipandanginya wajah Sekar Mirah yang sedang tersenyum itu. Terpancarlah keheranan pada sorot mata yang liar.

    Dan terdengarlah suara Sekar Mirah, ”Duduklah. Bukankah kita dapat bercakap-cakap dengan baik?”

    ”Waktuku tidak banyak Mirah. Aku harus segera kembali ke banjar para pemimpin padepokan ini. Aku adalah seorang panglima sebuah pasukan yang besar. Pasukan Jipang. Sehingga karena itu tanggung jawabkupun besar pula. Nah, Jangan terlampau banyak tingkah. Kau harus membantu aku, supaya aku tidak terlambat apabila ada pembicaraan-pembicaraan yang penting di banjar nanti.”

  22. maaf yang sebelumnya terposting 2 kali

    ini lanjutannya buku 23 halamn 11-12

    Dada Sekar Mirah menjadi semakin terguncang-guncang mendengar jawaban Alap-alap Jalatunda. Tetapi ia masih mencoba terus. Sekar Mirah yakin bahwa ia tidak akan dapat membebaskan dirinya apabila Alap-alap Jalatunda masih memilih jalan kekerasan. Meskipun besok ia dapat mengatakan kepada Sidanti atau kepada orang lain dan Alap-alap itu digantungnya, tetapi apa yang hilang daripadanya tak akan diketemukan lagi sepangjang hidupnya. Karena itu ia tidak boleh kehilangan akal. Sehingga Sekar Mirah itu masih saja tersenyum untuk melunakkan hati Alap-alap Jalatunda, supaya srigala itu tidak segera menerkamnya.

    Tetapi senyum Sekar Mirah itu telah membuat Alap-alap Jalatunda menjadi semakin gila. Pengaruh tuak di kepalanya, serta nafsunya yang hampir tak terkendali telah membuat ia menjadi mata gelap.

    ”Alap-alap Jalatunda.” berkata Sekar Mirah. ”Jangan terlampau kasar, supaya Sidanti tidak mengetahui apa yang terjadi di pondok ini. Setidak-tidaknya pengawas-pengawasnya yang sering berkeliaran disini. Kita harus berhati-hati dan kita harus dapat menyesuaikan diri dengan keadaan.”

    ”Persetan dengan Sidanti.” sahut Alap-alap Jalatunda. Anak muda itu sudah tidak dapat lagi mempertimbangkan apapun juga. Yang tampak di matanya kini adalah Sekar Mirah itu saja.

    ”Kita tidak dapat menempuh jalan seperti yang kau kehendaki.” sambung Sekar Mirah.”Dengan demikian kita tidak akan mendapatkan kebahagiaan. Kita akan selalu dikejar-kejar oleh waktu seperti sekarang ini. Tetapi apabila kita kelak menjadi suami istri, maka hidup kita akan tentram. Kau dapat hidup dengan tenang. Dan aku dapat melayanimu dengan tentram pula.”

    ”Persetan semuanya itu.”

    Dada Sekar Mirah berdesir. Namun ia masih berkata lebih lanjut. ”Kau hanya terburu oleh nafsu-nafsu sesaat. Tetapi kau tidak membayangkan suatu masa yang panjang. Alap-alap Jalatunda. Ingatlah masa depanmu. Marilah kita pergi ke orang tuaku. Kau akan mendapat tempat yang baik di Kademangan Sangkal Putung.”

    Alap-alap Jalatunda itu terdiam sejenak. Dipandanginya wajah Sekar Mirah dengan mata membara. Tampaklah mulutnya berkomat-kamit. Sekar Mirah menunggu jawaban denga penuh harap. Tetapi gadis itu hampir pingsan ketika ia mendengar Alap-alap itu berkata, ”Kau akan membujukku, memperalat aku dan kemudian menjebakku he? Aku bukan seorang yang gila Mirah.”

    Sekar Mirah itupun kemudian berdiri saja seperti patung. Mulutnya serasa tersumbat dan darahnya serasa berhenti mengalir. Ditatapnya saya wajah Alap-alap Jalatunda seperti menatap wajah hantu yang akan menghisap darahnya. Dan sebenarnyalah Alap-alap Jalatunda itu akan menghisap mahkota hidupnya. Lebih baik ia mati dihisap darahnya oleh iblis pemakan darah daripada maksud Alap-alap Jalatunda yang kidni berdiri dihadapinya.

    Dan Alap-alap Jalatunda itu agaknya benar-benar telah menjadi mata gelap. Selangkah ia maju sambil menggeram, ”Sekar Mirah. Kau sangka aku tida tahu maksudmu itu? Kau pura-pura mengajakku menghadap kepada ayah bundamu. Tetapi belum lagi aku sampai ke Sangkal Putung, maka leherku pasti akan sudah dijerat. Kau pasti akan memberi kesempatan kepada ayahmu atau kepada siapa saja, mungkin kekakmu yang gemuk itu, untuk bersama-sama mengeroyokku seperti rampogak macan di alun-alun.

    Dada Sekar Mirah serasa akan pecah karenanya. Ia kini melihat Alap-alap Jalatunda melangkah semakin dekat dan mulutnya masih saja bergumam, ”Bagiku Mirah, tak ada jalan lain daripada mendapatkan kau sekarang. Tak pernah ada perempuan yang menolak kedatanganku. Nyai Lasem, Nyai Pinan, semuanya, dan kini kau. Kau tidak akan dapat menghindar lagi. Perempuan-perempuan justru mengejarku dan memegangi ujung bajuku apabila aku akan pergi. Kaupun harus berbuat demikian.”

    Wajah Sekar Mirah kini telah menjadi pucat seperti mayat. Tetapi ia masih juga menyadari bahwa ia tidak seharusnya menyerah dalam keputus-asaan. Dengan memeras keberaniannya ia berkata gemetar, ”Alap-alap Jalatunda. Urungkan niatmu.”

    ”Tak ada yang dapat menahan Alap-alap Jalatunda.”

    ”Aku akan dapat berteriak memanggil para pengawal. Aku tahu bahwa di halaman depan rumah ini tinggal para pengawas yang bertugas mengawasi aku.”

    ”Kalau kau mencoba berteriak, aku cekik kau sampai pingsan. Dan kau tidak akan banyak tingkah lagi.”

    ”Sidanti akan mengetahui apa yang terjadi kalau kau tidak mengurungkan niatmu. Dan kau akan digantung besok.”

    ”Persetan dengan Sidanti.” Alap-alap Jalatunda yang sudah bermata gelap dan menjadi kian pening karena pengaruh tuak di kepalanya itu sama sekali sudah tidak dapat berpikir benin. Apalagi ketika sekali lagi ditatapnya wajah Sekar Mirah yang……………

  23. buku 19. hal 32-36

    dapat melihat ketiga anak-anak muda itu berjalan dengan langkah yang tetap meninggalkan pinggiran Kali Opak, menyeberang ke arah Barat…… (dst, sudah diambil admin)

  24. Buku 23 halaman 13 s/d 16

    (dari halaman 12) pucat itu tampaknya menjadi kian kuning semburat kemerah-merahan karena cahaya pelita yang menggapai-gapai oleh sentuhan angin. Katanya selanjutnya, “Sidanti tidak akan berani …. (dst sudah diambil admin)

  25. Buku 19 halaman 52 sampai 56, lagi saya ketik

  26. @Mas DD
    Klu sampai t’akhir blm berubah, perkenankan aku ikut lelang: buku 19 hal 7-11; 52-56; dan 57-61 jadi sebanyak tiga “kotak”. Mhn jng dilelangkan ke lainnya.
    Kok ada yg warna kuning tapi belum ada nama, maksudnya apa?
    Hasil retype, jng dimuat di halaman blog ini, mestinya dikirim ke imel (DD) saja, biar nggak semrawut..
    SALAM (HER)

    D2: 52-56 lagi diketik oleh ral. Ganti 12-16 ya?

  27. aku nambah lagi DD

    ini buku 23 halaman 78/sd 80

    Tetapi ternyata kata-katanya itu telah mengejutkan Sekar Mirah yang sedang terisak-isak. Ketika ia bangkit dan memandangi sudut rumah itu, dilihatnya sesosok bayangan merangkak masuk. Maka tanpa sesadarnya gadis itupun menjerit sekuat-kuat tenaganya. Ia menjadi sangat ketakutan dan ngeri. Terasa seakan-akan Alap-alap Jalatunda atau Sidanti yang datang.

    “He.” Swandarupun terkejut sehingga iapun berkata lantang, “Kenapa kau berteriak Mirah.”

    Bukan kepalang terkejut gadis itu mendengar suara yang sudah dikenalnya baik-baik. Suara yang selalu mengejeknya dan memarahinya setiap saat. Tetapi dalam keadaan serupa itu, maka suara itu seakan-akan suara panggilan dari dunia yang lepas bebas, panggilan dari kampung halaman.

    Begitu besar pengaruh suara itu, sehingga justru sekali lagi Sekar Mirah berteriak, “Kakang, kakang Swandaru.”

    “Hus, anak bodoh.” Bentak Swandaru. “Jangan berteriak-teriak.”

    Tetapi Sekar Mirah tidak mendengarnya. Dengan penuh luapan perasaan ia berkata. “Kau datang kakang. Bukankah kau akan mengambil aku dan membawa aku kepada ayah dan ibu kembali?”

    Dengan tergesa-gesa dan tangan gemetar Agung Sedayu menarik dinding bambu di sudut rumah itu. Dengan demikian maka kini Swandaru dapat merangkak masuk. Ketika ia berdiri dan berjalan mendekati Sekar Mirah, maka Sekar Mirahpun segera mengenalnya pula. Anak yang gemuk bulat itu. Maka dengan serta-merta Sekar Mirahpun berlari, menubruk dan memeluknya seperti anak yang manja. Sambil menangis sejadi jadinya ia berkata, “Kakang, kakang bawa aku kembali. Bawa aku kembali kepada ayah dan ibu.”

    Sesaat Swandaru tidak dapat mengucapkan kata-kata. Dibiarkannya Sekar Mirah menangis di dadanya. Bahkan terasa matanyapun menjadi pedih.

    Sejenak kedua kakak beradik itu tenggelam dalam keadaan yang demikian. Mereka sama sekali tidak mengucapkan kata-kata, tapi isak Sekar Mirah melontarkan harapan untuk dapat menikmati masa depannya yang masih panjang. Masa depan yang cerah. Gadis itu merasa bahwa seolah-olah mereka telah berada kembali di Kademangan Sangkal Putung, di rumah ayah dan ibunya.

    Tetapi gadis itu terkejut ketika ia mendengar dinding di sudut rumah itu berderik. Ketika ia berpaling, ia melihat sesosok bayangan yang lain memasuki rumah itu.

    “Kakang.” Katanya, “Siapakah orang itu?”

    Tetapi Swandaru tidak perlu menjawab. Orang yang merangkak itu kini telah berdiri. Dalam keremangan pagi di dalam gubug yang tertutup itu, Sekar Mirah Mirah melihat seorang anak muda berdiri di hadapannya. Sekali lagi anak itu terkejut seperti pada saat ia melihat kakaknya masuk.

    “Jadi, kau tidak sendiri kakang?”

    Swandaru menggeleng.

    “Bukankah itu kakang Agung Sedayu?”

    Swandaru mengangguk. “Ya.” Gumamnya.

    “Oh.” Tiba-tiba Sekar Mirah itu melepaskan kakaknya. Ia ingin meloncat untuk mendapatkan Agung Sedayu. Tetapi langkahnya tertegun karena tangannya ditahan oleh Swandaru. Sekar Mirah Mirah mencoba untuk menarik tangannya, tetapi pegangan Swandaru cukup kuat, sehingga tangan itu tidak terlepas dari pegangannya.

    Baru sesaat kemudian Sekar Mirah menyadari kegadisannya. Wajahnya tiba-tiba menjadi kemerah-merahan. Ditundukkannya kepalanya dalam-dalam. Dan kembali ia menyembunyikan wajahnya di dada kakaknya. Ia merasa bersukur bahwa kakaknya telah menahannya, sehingga ia tidak merasa malu untuk seterusnya, apabila bertemu dengan Agung Sedayu.

    Agung Sedayu sendiri menundukkan wajahnya pula. Anak muda itu benar-benar telah membeku. Ia tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan dan apa yang harus dikatakan. Karena itu ia berdiri saja seperti patung.

    Di belakang Agung Sedayu, Wuranta telah berdiri pula di dalam rumah itu. Terasa sesuatu berdesir di dalam dadanya. Ia merasa aneh untuk mengenali dirinya sendiri. Ketika ia melihat sikap Sekar Mirah terhadap Agung Sedayu, meskipun Swandaru tidak melepaskannya, namun ia menangkap hubungan yang lain antara keduanya. Hubungan bukan saja hubungan karena keadaan yang menyentak seperti saat itu. Tetapi hubungan yang telah cukup lama dan bukan hanya sekedar sentuhan yang baru-baru saja pada permulaan pandangan. Tetapi hubungan itu adalah hubungan yang telah menghunjam dalam-dalam di dalam dada masing-masing.

  28. kulanuwun…

    saya ingin bantu mengetik ulang buku 19 halaman 37 sampai dengan 51.

    sesuai dengan usulan yang ada, bolehkah kiranya saya mengetahui, ke alamat surat elektronik manakah hasil ketik ulang tersebut dapat saya kirimkan?

    terima kasih sebelumnya.

    D2: Terima kasih juga. Langsung dikirim via boks koment aja biar langsung bisa dibaca yang lain yg tdk bisa baca djvu

  29. Buku 19 halaman 52 sampai 56

    “Biasanya mereka adalah para pedagang yang akan pergi ke Nglipura atau Mangir atau bahkan ada yang pergi ke Menoreh.”
    “Jika demikian, apakah Argajaya itu lewat daerah ini pula?”
    “Adalah suatu kemungkinan. Tetapi Argajaya pasti tidak akan memerlukan pengawalan”.

    Mereka terdiam sejenak. Dalam kediaman itu mereka mendengar desir yang lembut, namun semakin jelas. Sejenak mereka saling berpandangan. Dengan isyarat, mereka segera mengerti, bahwa mereka kini telah terkepung. Tetapi dengan demikian justru Swandaru tampak bergembira.

    Sejenak kemudian berkatalah Kiai Gringsing itu pula “Tetapi para penyamun itu pasti akan dapat membedakan. Mereka yang lewat dengan barang2 dagangan, dan mereka yang lewat dengan senjata dilambung.”

    Tiba2 terdengar suara dari balik pepohonan “Ya, kami dapat membedakan. Mereka yang lewat dengan senjata dilambung atau mereka yang pantas mendapat penghormatan karena memberi kami sekedar oleh2.”

    Sebenarnya mereka sama sekali tidak terkejut mendengar suara itu, tetapi Kiai Gringsing yang tua itu terlonjak kecil sambil berputar menghadap suara itu “He, siapakah kalian?”

    “Kau agaknya mengenal tempati ini terlampau baik kakek tua?” terdengar suara itu menyahut.
    “Ya, aku sudah sering melewati tempati ini. Siapakah kau?”
    “Aku sedang menunggu para pengawal yang telah melukai bebepapa orang2ku. Aku ingin bertemu dengan mereka. Tetapi mereka tidak kunjung datang?”
    “Tiga hari yang lalu?”
    “Dua hari yang lalu”.
    “Ya, dua hari yang lalu. Aku telah bertemu dengan mereka. Mereka mengatakan bahwa mereka bertempur dengan orang2mu. Ternyata mereka mencari jalan lain, sebab mereka sudah menyangka bahwa pemimpin gerombolan yang dikalahkannya itu pasti akan marah.”
    “He, mereka sudah melewati tempat ini?”
    “Jalan lain. Mereka sudah keluar dari hutan ini”.
    “Gila” teriak suara itu. Dan tiba2 meloncatlah sesosok tubuh dari balik sebatang pohon yang cukup besar “Kau bilang mereka sudah keluar dari hutan ini?”

    Yang meloncat dari balik pohon itu adalah seorang yang bertubuh tinggi, kekar, berdada bidang dan berkepala botak. Kumis serta janggutnya yang jarang2 tumbuh satu dua disekitar bibirnya yang tebal. Sitangannya tergenggam sebilah pedang yang panjang.

    Dengan kasarnya ia membantak kembali “Kau bilang, para pengawal telah keluar dari hutan ini?”

    Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya, “Ya” sahutnya.
    “Kemarin sore aku bertemu dengan mereka.”
    Terdengar orang itu menggeram.
    “Dimanakah rumah2 mereka itu?” bertanya orang itu.
    Kiai Gringsing menggeleng lemah “Aku tidak tahu.”
    “Bohong, kau pasti kawan mereka.”

    Kiai Gringsing tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah ketiga anak2 muda yang berjalan bersamanya itu. Yang kemudian menjawab adalah Agung Sedayu “Kami sama sekali tidak ada hubungan apapun dengan mereka.”
    “Bohong. He, apakan orang tua ini ayahmu? Yang mengajarmu untuk berbohong?”
    “Kami bertemu diperjalanan” sambung Sutawijaya.
    “Kau pasti mendapat tugas dari mereka untuk memata matai kami. Kamu mungkin anak2 mereka, atau cucu mereka, atau kemanakan mereka.”
    “Atau tetangga mereka. Atau orang lain sama sekali” Swandaru yang gemuk itu memotong.
    Orang yang botak itu membelalakkan matanya. Dengan pedangnya ia menuding wajah Swandaru “Jangan bergurau. Aku sedang kehilangan buruan. Yang datang kini adalah kalian, maka kalian akan menjadi sasaran kemarahan kami.”

    “Kami bukan pengawal dan kami bukan pedagang. Kami datang mencari buruan kami pula”. berkata Swandaru.
    “Siapakah buruan kalian?”
    “Apa saja. Kijang, menjangan, bahkan kancilpun kami mau pula.”

    Swandaru terkejut sehingga kata2nya terputus ketika orang yang botak itu meloncat dan langsung menyerang mulut Swandaru dengan tangan kirinya. TErnyata orang itu mampu bergerak sangat cepat. Beruntunglah bahwa Swandaru tidak terlampau lengah. Ketika ia melihat orang itu mengerinyitkan dahinya, dan melihat jari tangannya bergetar, maka Swandarupun menyadari kemungkinan yang ternyatat benar2 terjadi. Dengan lincahnya ia meloncat kesamping menghindari sambaran tangan orang yang botak itu sehingga serangan itu sama sekali tidak menyentuh tubuhnya.

    Orang yang botak itu semakin membelalakkan matanya. Sama sekali tidak diduganya bahwa anak yang gemuk itu mampu menghindari serangannya, sehingga dengan demikian maka terdengar orang itu menggeram semakin keras.

    Swandaru yang meloncat beberapa langkah kesamping, kini berdiri sambil membelai pipinya. Dengan kerut-merut diwajahnya ia berkata “Ternyata kau pemarah. Tetapi jangan menyerang lawan tanpa memberi kesempatan lawan itu bersiaga.”
    “Kau menghina aku.”
    “Sama sekali tidak. Aku berkata sebenarnya.”
    “Aku tidak peduli, tetapi kalian telah membuat aku marah. Kini aku mempunyai suatu cara untuk memeras keterangan kalian tentang para pengawal. Kalu kalian tidak bersedia memberitahukan kepada kami dimana rumah2 mereka, maka kalian akan terpaksa mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan.”

    “Kami tidak bersangkut paut dengan para pengawal itu Ki Sanak” Kiai Gringsinglah yang kemudian menjawab “Kami adalah pemburu yang hanya mengenal binatang2 buruan kami”
    “Omong kosong. Tak pernah ada pemburu masuk sampai begini dalam. Mereka biasanya selalu berada jauh di-tepi2 hutan ini. Kau pasti orang2 mereka. Meskipun kalian tidak bersedia membuka mulut sampai tubuh kalian lumat, namun kami pasti akan dapat menemukan rumah mereka. Kematian kalian itu pasti hanya akan sia2.”

    Sutawijaya ahirnya tidak bersabar lagi. SElangkah ia maju dan berkata “Jangan mengigau Ki Sanak. Jangan menakut-nakuti kami dan jangan mencoba memeras keterangan kami. SEbutkan siapa namamu.”

    Orang itu terkejut bukan buatan. Belum pernah ia melihat anak muda segarang anak yang memegang tombak pendek itu. Namun sejenak kemudian orang itu tertwa. SEmakin lama semakin keras. Disela-sela derai tertawanya itu ia berkata “Tentu. Tentu kau berani bertolak pinggang dihadapanku, sebab kau belum tahu siapa aku. Nah, sebaiknya aku perkenalkan diriku supaya kalian menyadari, betapa kecil arti kalian bagiku, bagi raja hutan Tambak Baya dan Mentaok in. Namaku Daruka.”

    Belum lagi orang itu berhenti tertawa, terdengar suara tertawa yang lain, sehingga dengan tiba2 suara orang itupun justru terputus. Suara itu adalah suara tertawa Swandaru.

    “Gila” teriak Daruka “apakah kau mendengar namaku?”
    “Jangan kau sangka bahwa hanya kau yang dapat tertawa sedemikian kerasnya” Sahut Swandaru “Nah, ketahuilah, namaku Swandaru Geni. Gegedug anak2 muda diseluruh Kademangan Sangkal Putung. Kau pernah mendengar namaku?”

    Mata Daruka itu se-akan2 menyala dibakar oleh kemarahannya. Ternyata anak muda yang gemuk itu sama sekali tidak takut mendengar namanya, bahkan seolah-olah ditanggapinya nama yang menakutkan itu sambil bergurau saja. Tetapi bukan saja anak yang gemuk itu. Ketika ia memandang berkeliling, maka anak muda yang memegang tombak itupun sama sekali tidak menunjukkan kesan apapapun diwajahnya, sedang anak muda yang lain bahkan seolah-olah acuh tak acuh saja.

    Kembali Daruka menggeram. Demikian kemarahannya membakar dadanya, maka terdengarlah ia bersuit nyaring. Sutawijaya, Agung Sedayu, Swandaru dan Kiai Gringsing pun segera menyadari, bahwa Daruka sedang memanggil teman-temannya keluar dari persembunyiannya.

    Dugaan Kiai Gringsing dan ketiga anak2 muda dari Sangkal Putung itu ternyata benar. Sejenak kemudian mereka melihat beberapa orang berloncatan mendekat dari balik pepohonan. Ditangan mereka tergenggam berbagai macam senjata. Ada yang menggenggam pedang seperti pedang pada lajimnya, ada yang memegang kelewang yang besar, ada yang membawa canggah, bahkan ada yang membawa trisula, tombak bercabang tiga.

    Tanpa perintah siapapun, maka anak2 muda itu dengan sendirinya merenggang dan menghadap kesegala arah. Se-akan2 mereka telah mengatur diri menghadapi serangan dari segala penjuru.

    Daruka menggeram melihat sikap anak2 muda itu. Kini ia yakin bahwa ia berhadapan dengan anak2 muda yang bukan sekedar pandai berburu kijang atau menjangan atau babi hutan. Tetapi mereka adalah anak2 muda yang mampu menghadap bahaya seperti yang kini sedang mengepungnya.

    “Ternyata kalian cukup menggembirakan kami” bergumam Daruka “Kami tidak kecewa lagi kehilangan buruan kami. Kalian pasti telah diminta sraya oleh para pengawal itu. Kalian pasti mendapat upah sengaja untuk menghadapi kami.”

    Yang menyahut adalah Swandaru “Ya. Kami telah mendapat upah dari mereka untuk membinasakan kalian.”

    “Hus” Agung Sedayu memotong.

    Tetapi yang terdengar adalah suara Daruka lantang “Nah apa kataku. Betapa kalian mencoba memutar balik keadaan, tetapi kami yakin, bahwa dengan menangkap kalian dan memeras darah kalian, kami pasti akan mendapat keterangan tentang para pengawal itu.”

    Kiai Gringsing dan Sutawijaya hanya dapat meng-geleng2kan kepalanya. Swandaru ternyata hanya menuruti kesenangannya sendiri. Tetapi perbuatannya itu benar2 telah membakar kemarahan kepala penyamun itu.

    Bahkan Swandaru itu berkata tanpa berpaling, karena kebetulan ia tidak menghadap kearah Daruka yang berdiri berhadapan dengan Agung Sedayu “Sekarang menyerahlah, supaya hukuman kalian diperingan”.

    “Setan” Daruka itu menggeram “Ternyata anak yang gemuk itu merasa seperti jantan sendiri. Daruka hanya menyerah kepada maut. Ayo, kalau mau menangkap kami, tangkaplah”.

    Sutawijayalah yang kini menjawab dengan ter-gesa2 supaya tidak didahului oleh Swandaru “Begini Ki Sanak. Sebenarnya kami tidak bersangkut-paut langsund dengan kalian, tetapi kami ingin bahwa tak seorangpun terganggu didalam perjalanan. Baik di Hutan Tambak Baya, maupun di Hutan Mentaok”.

    “O ternyata kau mengigau pula. Jauh lebih sumbang dari igauan anak yang gemuk itu. Tambak Baya adalah kerajaanku. Aku tidak akan pernah meniggalkannya selagi aku masih hidup”.
    “Dengarlah dahulu Ki Sanak” berkata Sutawijaya. Kini ia berputar setengah menghadap kearah Daruka “Sebentar lagi hutan Mentaok dan Tambak Baya akan menjadi sebuah negeri. Sebentar lagi akan berdatangan orang2 yang akan membuka hutan ini. Nah. apakah katamu?”.

    Daruka mengerutkan keningnya. Sejenak ia berpikir, tetapi kemudian ia berkata “Oh, kau benar2 seorang pemimpi. Aku tidak ingin mendengarkan igauanmu itu. Aku ingin mendengar kalian menunjukkan rumah beberapa orang pengawal yang telah melukai orang2ku.”
    “Kami adalah wakilnya” teriak Swandaru.

    Sutawijaya menarik nafas dalam2. Tetapi ia mendahului Daruka yang hampir berteriak pula “Dengar kataku. Aku berkata sebenarnya. Tanah Mentaok dan Tambak Baya akan menjadi milik Ki Gede Pemanahan, Panglima Wira Tamtama di Pajang. Nah, apakah kekuatanmu dapat melampaui se-tidak2nya menyamai kekuatan Wira Tamtama Pajang.”

    Sekali lagi Daruka mengerutkan keningnya. Tetapi sekali lagi ia membentak “Jawab pertanyaanku. Kalau kalian yang mewakilinya, maka nyawa kalianlah yang akan menjadi tebusannya.”

  30. buku 019 halaman 37-41

    “Kalian agaknya memang tidak mengenal takut,”, berkata Kiai Gringsing pula,” aku melihat apa yang terjadi di Kademangan Prambanan semalam, dan pagi tadi di pinggir kali Opak.”.

    Ketiga anak-anak muda itu dengan tiba-tiba berhenti tertawa. Mereka menjadi heran, bagaimana mungkin Kiai Gringsing dapat melihat apa yang terjadi pagi tadi. Tentang semalam, kemungkinan itu memang cukup banyak, tetapi pagi tadi, hampir setiap wajah di sekitar arena itu telah dilihatnya. Tetapi mereka sama sekali tidak melihat wajah Kiai Gringsing itu.

    Agaknya Kiai Gringsing mengerti gejolak perasaan anak-anak muda itu. Maka katanya,” Aku melihat apa yang terjadi di pinggir kali Opak itu dari atas tebing. Aku berdiri di belakang semak-semak yang tidak terlampau rimbun. Namun karena agaknya kalian baru sibuk dengan Argajaya, maka kalian tidak melihat aku.”.

    Ketiga anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “ Jadi Kiai melihat kami berkelahi?”, bertanya Sutawijaya.

    “ Menurut penglihatanku yang berkelahi hanyalah seorang saja, anakmas Sutawijaya.”, sahut Kiai Gringsing.

    Sutawijaya tersenyum,” Ya Kiai. Meskipun kedua murid-murid Kiai itupun sudah hampir pula berkelahi.”.

    “ Aku kagum melihat sikap dan kesabaran anak mas. Ternyata anakmas berhasil menghindari pertumpahan darah. Aku tidak mendengar apa yang kalian percakapkan. Tetapi menilik sikap dan tingkah laku kalian dan orang-orang Prambanan, aku tahu bahwa anakmas berhasil mencegah perkelahian itu dengan huruf-huruf yang tertera pada landean tombak anakmas. Apakah pada landean itu tertulis nama anakmas yang sebenarnya?”.

    “ Ah.”, desah Sutawijaya,” Begitulah Kiai.”.

    “ Jarang-jarang anak muda yang dapat mengendalikan perasaannya seperti anak mas. Aku melihat bagaimana Swandaru dan Agung Sedayu menarik tali busurnya. Aku menjadi berdebar-debar karenanya.”.

    “ Ah, aku hanya menakut-nakuti mereka saja guru.”, sahut Swandaru sambil tersenyum.

    “ Bagus.”, jawab Kiai Gringsing,” Kalau demikian kalian telah berbuat sebaik-baiknya. Tetapi ternyata kalian kurang menyadari bahaya yang akan dapat timbul karenanya. Apakah kalian kini masih juga akan pergi ke alas Mentaok?”.

    Sejenak anak-anak muda itu saling berpandangan. Pertanyaan itu terdengar aneh di telinganya. Namun yang menjawab kemudian adalah Sutawijaya,” Ya Kiai. Kami akan terus ke hutan Mentaok.”.

    Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya,” Anakmas. Apakah tidak sebaiknya anakmas kembali saja ke Sangkal Putung?”.

    “ Kenapa?”, bertanya Sutawijaya.

    “ Jalan ke Mentaok terlampau sulit ngger.”, jawab Kiai Gringsing.

    “ Tidak apa Kiai. Kami telah mendengar pula sebelumnya.”.

    Kiai Gringsing mengangguk-angguk pula. Tetapi wajahnya sama sekali tidak sejalan dengan anggukkan kepalanya. Katanya,” Anakmas. Mungkin anakmas sudah bersedia untuk menempuh jalan yang bagaimanapun sulitnya. Mungkin anakmas sudah bertekad akan mengatasi segala macam bahaya yang akan angger jumpai di perjalanan. Tetapi bahaya sebenarnya bagi kalian bertiga tidak terletak di perjalanan angger bertiga.”.

    Sutawijaya mengerutkan keningnya. Ia kurang dapat mengerti kata-kata Kiai Gringsing itu, sehingga sejenak ia tidak menyahut. Karena Sutawijaya tidak segera menyahut, maka Kiai Gringsing itupun meneruskannya,” Mungkin di perjalanan ke Mentaok itu angger tidak akan menjumpai kesulitan apa-apa. Mungkin satu dua angger bertemu dengan penyamun atau perampok, tetapi mereka sama sekali tidak berarti bagi kalian bertiga. Tetapi dengan peristiwa yang telah terjadi di Prambanan itu, maka bahaya yang sebenarnya akan dapat terjadi di Sangkal Putung.”.

    Ketiga anak-anak muda itupun saling berpandangan. Keterangan Kiai Gringsing itu masih belum begitu jelas bagi mereka, sehingga Sutawijayapun bertanya,” Kenapa Kiai, kenapa Sangkal Putung terancam bahaya?”.

    “ Angger,”, jawab Kiai Gringsing,” Argajaya yang telah angger kalahkan di hadapan orang-orang Prambanan itu sudah tentu mendendam di hatinya. Bukankah Argajaya itu seorang utusan dari Kepala Tanah Perdikan yang bernama Argapati, dan Argapati itu ayah Sidanti? Nah. Argajaya pasti akan bertemu dengan Sidanti. Mereka berdua menyimpan dendam di dalam hati masing-masing kepada angger dan juga kepada Agung Sedayu dan Swandaru. Nah, apakah kira-kira yang akan terjadi apabila mereka masing-masing bertemu dan berbicara tentang tiga orang anak muda Sangkal Putung seperti kalian?”.

    Sutawijayapun mengangguk-anggukkan kepalanya. Agung Sedayu dan Swandarupun mulai mengerti, apakah yang dimaksud oleh gurunya.

    “ Kiai,”, berkata Sutawijaya,” meskipun mereka kemudian bertemu apakah kira-kira yang dapat mereka lakukan?”.

    “ Banyak sekali ngger.”, sahut Kiai Gringsing,” Salah satu kemungkinan yang dapat mereka lakukan adalah berusaha mencegat angger bertiga, kelak jika angger kembali dari Mentaok.”.

    Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Agung Sedayu dan Swandaru sejenak saling berpandangan. Kata-kata Kiai Gringsing itu masuk ke dalam akal mereka. Jarak antara Prambanan dan padukuhan Ki Tambak Wedi tidak melampaui jarak Prambanan dan alas Mentaok. Meskipun jaraknya terpaut, tetapi jalan ke alas Mentaok pasti akan lebih sulit. Apalagi apabila satu dua kali mereka akan bertemu dengan beberapa orang penyamun seperti yang dikatakan oleh Kiai Gringsing.

    Tetapi yang menjawab kemudian adalah Sutawijaya,” Benar Kiai, hal itu memang dapat terjadi. Tetapi apabila kami telah memperhitungkannya, maka kami akan mencari jalan lain kelak. Kami akan menempuh jalan yang sama sekali tidak diduga-duga oleh Ki Tambak Wedi.”.

    Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,” Memang, angger akan dapat mencari jalan lain yang mungkin tidak diduga-duga oleh Ki Tambak Wedi. Tetapi jangan dikira, bahwa kemungkinan mencari jalan lain itu tidak diperhitungkan pula oleh Ki Tambak Wedi. Mungkin Ki Tambak Wedi tidak mencegat angger di Prambanan, di hutan Tambak Baya atau di pedukuhan-pedukuhan lain seperti Cupu Watu atau Candi Sari, tetapi tanpa angger duga-duga, Ki Tambak Wedi itu justru berada di muka hidung para peronda di Sangkal Putung, di sisi regol masuk ke dalam Kademangan itu.”.

    Sekali lagi Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia berpaling ke arah kedua kawannya, maka dilihatnya Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya pula.

    “ Memang,”, katanya dalam hati,” kemungkinan itu dapat terjadi. Tetapi aku sudah menempuh separo jalan. Sayang sekali apabila aku terpaksa kembali sebelum aku melihat tanah Mentaok. Tanah yang kelak akan diterima oleh ayah dari Ramanda Adipati Pajang sebagai hadiah.”.

    Karena itu, amak Sutawijaya itupun terdiam sejenak diamuk oleh kebimbangan. Ia dapat mengerti kata-kata Kiai Gringsing dan menyadari bahaya yang sedang mengancam. Tetapi ia tidak dapat melepaskan keinginannya untuk melihat hutan Mentaok.

    Sejenak mereka saling berdiam diri. Agung Sedayu dan Swandarupun menjadi berbimbang hati pula. Tetapi kepentingan mereka tentang tanah Mentaok tidak setajam Sutawijaya. Karena itu, maka merekapun tidak sedemikian bernafsu untuk meneruskan perjalanan. Meskipun demikian, karena mereka telah berjanji sejak mereka berangkat untuk pergi bersama, maka Agung Sedayu dan Swandaru menunggu, apa yang akan dikatakan oleh Sutawijaya.

    Kiai Gringsing melihat kebimbangan di dalam hati putera Panglima Wira Tamtama itu. Namun demikian, dibiarkannya anak muda itu membuat pertimbangan sendiri.

    “ Kiai,”, berkata Sutawijaya itu kemudian,” aku sudah menempuh jarak ini. Bagaimanakah kalau aku meneruskan beberapa langkah lagi Kiai? Aku hanya ingin melihat sejenak, bagaimanakah ujudnya alas Mentaok itu. Tidak terlampau lama. Sekejap saja.”.

    Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Begitu besar keinginan Sutawijaya untuk melihat tanah yang kelak akan dimilikinya.

    Dengan demikian maka Kiai Gringsingpun menjadi ragu-ragu pula. Ia tidak sampai hati untuk mengecewakan putera Panglima Wira Tamtama itu. Tetapi ia tidak pula dapat membiarkan mereka mengalami bencana.

    Namun yang dicemaskan oleh Kiai Gringsing bukan saja Sutawijaya dan kawan-kawannya, tetapi juga Sangkal Putung. Kalau Panglima Wira Tamtama hari ini atau besok kembali ke Pajang dengan membawa orang-orang Jipang, maka sebagian dari prajurit Pajang di Sangkal Putung pasti meninggalkan Kademangan itu untuk mengawal orang-orang Jipang ke Pajang. Ki Tambak Wedi yang licik, apabila dapat memperhitungkan dengan tepat keberangkatan Ki Gede Pemanahan, maka Sangkal Putung benar-benar berada dalam bahaya. Sepeninggal Ki Gede Pemanahan, maka Sangkal Putung hanya ditunggui oleh para prajurit di bawah Untara dan Widura. Tidak ada orang-orang lain yang akan dapat membantunya seandainya Ki Tambak Wedi benar-benar menyergap Kademangan itu. Sedangkan di dalam barisan Ki Tambak Wedi akan muncul orang-orang yang tangguh seperti Sidanti, Sanakeling, Alap-alap Jalatunda dan sudah tentu Argajaya yang menyimpan dendam pula di hatinya. Dalam keadaan demikian maka tenaga Agung Sedayu dan Swandaru pasti akan sangat berarti.

    Dengan demikian maka yang dapat terjadi adalah beberapa kemungkinan. Ki Tambak Wedi, Argajaya dan Sidanti berusaha mencegat Sutawijaya, atau mereka mengerahkan laskarnya untuk menghantam Sangkal Putung. Kemungkinan yang lain, tetapi tidak terlampau mencemaskan adalah bahwa Ki Tambak Wedi nanti akan mencegat Ki Gede Pemanahan. Apabila demikian, maka kehadiran Sutawijayapun pasti diperlukan.

    Satu demi satu kemungkinan-kemungkinan itupun diberitahukannya kepada Sutawijaya dan kedua kawan-kawannya. Ternyata merekapun dapat mengerti arti dari bahaya itu. Meskipun demikian Sutawijaya masih juga berkata,” Baik Kiai, aku akan segera kembali. Aku harap ayah menungguku di Sangkal Putung. Aku hanya memerlukan waktu sedikit untuk mencapai alas Mentaok. Bukankah sebentar lagi kami akan memasuki alas Tambak Baya?”.

    Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,” Waktu yang anakmas perlukan paling sedikit adalah dua hari dua malam. Sedang Argajaya malam nanti pasti sudah akan sampai ke Padepokan Ki Tambak Wedi. Ceriteranya pasti akan membakar kemarahan mereka sehingga seandainya mereka tidak bernafsu untuk berbuat sesuatu, atau rencana mereka masih berjarak beberapa waktu, maka mereka akan segera menentukan sikap. Mereka pasti segera akan mempercepat setiap rencana.”.

    “ Aku akan berjalan siang dan malam, Kiai.”.

    “Tetapi dua malam itu tak akan dapat angger percepat.”.

    Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya.

    “ Belum lagi kalau angger bertemu dengan beberapa orang penyamun. Meskipun penyamun-penyamun di hutan Tambak Baya itu tidak berbahaya bagi anakmas, namun setidak-tidaknya mereka akan menghambat rencana anakmas. Kalau anakmas bertemu dengan gerombolan Daruka, maka angger akan memerlukan waktu yang cukup lama untuk menundukkannya. Bukan karena Daruka itu seorang yang sakti tiada taranya, tetapi karena gerombolannya terdiri dari orang-orang yang berpengalaman dan cukup banyak jumlahnya.”.

    Sutawijaya tidak menjawab. Tetapi kedip matanya menunjukkan kekecewaan hatinya. Ia pernah juga mendengar dari beberapa orang prajurit, nama Daruka. Tetapi semula ia sama sekali tidak memperhatikannya. Ternyata menurut Kiai Gringsing, Daruka itu akan dapat memperlambat perjalanannya.

    Namun demikian Kiai Gringsing tidak sampai hati untuk mengecewakannya. Anak itu merasa bahwa alas Mentaok sudah berada di hadapan hidungnya. Karena itu maka katanya,” Baiklah anakmas. Aku menjadi iba melihat mata angger berkedip seperti anak-anak yang kecewa karena ibunya tidak membawa oleh-oleh dari pasar. Nah, kalau demikian, maka pergilah terus. Tetapi cepat. Secepat-cepatnya. Seperti yang angger katakan, berjalan siang dan malam.”.

    Swandarulah yang kemudian mengerutkan alisnya. Desisnya,

  31. buku 019 halaman 42-46

    ” Siang dan malam? Hem, kalian tidak perlu membawa tubuh sebesar tubuhku. Kalau ada salah seorang dari kalian bersedia membantu membawa perutku, aku tidak berkeberatan berjalan siang dan malam. Bahkan tanpa berhenti sekalipun.”.

    Mau tidak mau, yang mendengar kata-katanya itu terpaksa tersenyum. Yang menjawab adalah Agung Sedayu,” Kau akan menjadi langsing adi Swandaru. Kalau kau banyak berjalan, maka gembung perutmu akan berkurang.”.

    “ Sebuah latihan yang baik.”, berkata Ki Tanu Metir. “ Nah, manfaatkan kesempatan ini apabila kalian benar-benar tidak ingin segera kembali ke Sangkal Putung. Mungkin kalian akan mempergunakan waktu lebih dari dua hari dua malam. Tetapi supaya kalian tidak memilih jalan yang salah, yang akan dapat memperpanjang waktu, atau kalian sengaja mencari jalan lain karena kenakalan kalian, maka biarlah aku pergi bersama kalian.”.

    “ He,”, wajah Sutawijaya dan kedua kawannya tiba-tiba menjadi cerah,” Kiai akan pergi bersama kami?”.

    “ Hanya supaya kalian cepat kembali ke Sangkal Putung.”.

    “ Kita tidak cemas lagi dicegat oleh Ki Tambak Wedi, sehingga kita tidak perlu mencari jalan lain.”, berkata Swandaru.

    “ Akibatnya kita segera sampai ke Sangkal Putung.”, sahut Kiai Gringsing.

    “ Kalau begitu kita dapat berbicara sambil berjalan.”, gumam Agung Sedayu.

    “ Tak ada lagi yang dibicarakan.”, berkata Kiai Gringsing,” ternyata kalian tidak mau kembali ke Sangkal Putung. Nah, marilah kita berangkat, supaya kita tidak terlampau lama diperjalanan.”.

    Maka segera merekapun melangkahkan kaki-kaki mereka kembali. Kali ini mereka membawa seorang penunjuk jalan yang dapat diandalkan, Kiai Gringsing.

    Dengan demikian maka perjalanan itu menjadi lebih cepat. Agaknya Kiai Gringsing telah cukup mengenal daerah yang akan mereka jalani.

    Sebelum mereka memasuki hutan Tambak Baya, maka perjalanan mereka sama sekali tidak menemui kesulitan. Candi Sari, kemudian Cupu Watu dan ketika mereka melangkah ke barat lebih jauh lagi, maka terbentang di hadapan mereka sebuah hutan yang lebat. Tambak Baya.

    Meskipun hutan ini tidak segarang Mentaok, tetapi Tambak Baya cukup menyeramkan. Pepohonan yang pepat seakan-akan berserakan di setiap jengkal tanah. Pohon-pohon perdu yang rimbun dan pepohonan yang merambat, bahkan yang berduri sekali.

    Sejenak mereka berhenti di pinggir hutan itu. Ketika mereka menengadahkan wajah mereka, maka matahari telah tampak condong di arah barat. Cahayanya yang kemerah-merahan memencar menyoroti langit yang terbentang. Sehelai-sehelai mega yang putih mengalir beriringan.

    Dibelakang mereka terbentang padang rumput yang diseling oleh tanaman-tanaman perdu. Di ujung padang itu terdapat pategalan dan kemudian tanah persawahan yang cukup subur.

    Tetapi mereka sama sekali tidak melihat seorangpun berada di tempat itu. Lengang dan terasa kesunyian mencekam dada mereka. Sehingga tanpa sesadarnya Swandaru berdesis,” Alangkah lengangnya. Apakah tak pernah ada orang yang menggarap pategalan itu?”.

    “ Tentu ada.”, sahut Ki Tanu Metir,” Bagaimana mungkin tanaman-tanaman itu tumbuh teratur?”.

    “ Tetapi tak seorangpun nampak.”, berkata Swandaru pula.

    “ Mereka mengerjakan sawah dan ladang mereka di pagi hari. Mereka memerlukan kawan untuk pergi ke sawah dan ladang mereka. Di sini ada semacam warung sepekan sekali atau dua kali. Bukan saja tempat orang-orang menukarkan barang-barang keperluan sehari-hari, tetapi kadang-kadang ada pula orang-orang yang akan menyeberangi hutan ini memerlukan bekal di perjalanan. Bahkan di sini kadang-kadang ada beberapa orang pengantar yang menemani dan melindungi orang-orang yang ingin pergi ke daerah-daerah di seberang hutan ini. Mungkin ke Nglipura, mungkin ke Mangir.”.

    Anak-anak muda yang mendengarkan kata-kata itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Yang bertanya adalah Agung Sedayu,” Tetapi kenapa kali ini mereka tidak ada di tempat ini Kiai. Bagaimana seandainya saat ini ada orang yang akan menyeberangi hutan. Apakah tidak ada orang yang bersedia mengantarkannya?”.

    “ Ada saat-saat tertentu bagi mereka yang akan menyeberangi hutan ini. Para pengantar hanya bersedia di hari-hari yang sudah mereka tentukan. Misalnya di hari Manis dan Pahing. Selain hari-hari itu mereka tidak berada di tempat ini. Mungkin mereka sedang di dalam perjalanan kembali setelah mengantarkan beberapa orang bersama-sama, tetapi mungkin pula mereka sedang beristirahat.”.

    “ Bagaimana kalau ada keperluan yang tidak mungkin tertunda?”, bertanya Swandaru.

    “ Tergantung kepada orang itu sendiri. Apakah mereka berani menanggung setiap kemungkinan bertemu dengan gerombolan penyamun di dalam hutan ini. Kalau mereka itu merasa diri mereka cukup kuat, maka merekapun akan menyeberang tanpa pengawalan dan perlindungan orang lain.”.

    Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya pula,” Dengan demikian maka para pengawal itu pasti orang-orang yang cukup kuat untuk menghadapi setiap kejahatan yang dapat terjadi di hutan ini Kiai.”.

    “ Demikianlah. Tetapi kadang-kadang para penjahat itu saling bantu-membantu. Kadang-kadang mereka bekerja bersama untuk suatu kepentingan. Tetapi kadang-kadang mereka saling bertempur di antara mereka berebut korban.”.

    Sutawijaya mendengarkan ceritera itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bergumam,” Seperti kehidupan binatang-binatang yang menghuni hutan ini. Begitukah kira-kira Kiai?”.

    Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Kemudian agak ragu ia menjawab,” Ya. Begitulah kira-kira. Apabila mereka sedang mempunyai kepentingan yang sama, maka kadang-kadang kekuatan mereka benar-benar tak terlawan oleh para pengawal. Dalam keadaan yang demikian, maka kadang-kadang iring-iringan itu benar-benar menjadi korban para penyamun. Namun hal itu jarang terjadi. Kalau para pengawal tidak lagi mampu bertahan, maka orang-orang itu sendiri pasti akan ikut bertempur. Tetapi sekali dua kali, kemalangan memang dapat terjadi atas para pengawal dan orang-orang yang dikawalnya.”.

    Ketiga anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Ketika sekali lagi mereka menebarkan pandangan mata mereka di sekitar tempat itu, maka pinggiran hutan itu benar-benar sepi dan lengang.

    “ Apakah kita akan menyeberang sekarang?”, terdengar Sutawijaya bertanya.

    “ Terserah kepada anakmas.”, sahut Kiai Gringsing,” Tetapi apabila kita benar-benar ingin berjalan siang dan malam, maka sebaiknya kita berjalan terus. Kita tidak perlu mencemaskan para penyamun, sebab kita tidak membawa barang-barang yang berharga kecuali leher-leher kita sendiri.”.

    Sutawijaya tersenyum, tetapi Swandaru mengerutkan dahinya.

    “ Apakah kalian tidak merasa lelah?”.

    Swandaru menjadi kecewa ketika Agung Sedayu menjawab,” Tidak. Aku tidak merasa lelah.”.

    “ Ah.”, Swandaru bertolak pinggang sambil mendesah. Kemudian anak yang gemuk itu menggeliat, katanya,” Hem, baiklah. Akupun tidak lelah.”.

    Agung Sedayu, Sutawijaya dan Kiai Gringsing tersenyum.

    “ Salahmu.”, berkata Agung Sedayu.

    “ Kenapa?”, sahut Swandaru.

    “ Kau terlampau banyak makan.”.

    Swandaru memberengutkan wajahnya. Tetapi sebelum ia menjawab, terdengar Kiai Gringsing berkata,” Marilah kita berjalan terus. Mungkin kita terpaksa berhenti nanti sebelum kita terlampau dalam masuk ke hutan ini.”.

    Sejenak Sutawijaya, Agung Sedayu dan Swandaru saling berpandangan. Matahari telah menjadi semakin rendah. Apabila mereka memasuki hutan itu, maka segera mereka akan terhalang oleh gelap. Namun mereka sudah terlanjur berkata, bahwa mereka akan berjalan siang dan malam. Sehingga karena itu maka Sutawijaya menjawab,” Marilah Kiai. Kalau Kiai menghendaki kami berjalan terus.”.

    “ Ya. Kita harus berjalan terus. Kalau tidak maka kita akan kehilangan waktu. Kira harus memperhitungkan keadaan Sangkal Putung pula. Bukan sekedar melihat keadaan diri kita sendiri.”.

    “ Baiklah Kiai.”, sahut Sutawijaya kemudian.

    “ Bagus.”, gumam Kiai Gringsing,” kita haru mempergunakan waktu sebaik-baiknya.”.

    Maka merekapun segera melangkah mendekati bibir hutan yang lebat. Sejenak mereka menjadi termangu-mangu, tetapi mereka melangkah terus.

    Tiba-tiba langkah mereka tertegun ketika mereka melihat rimbunnya daun bergerak-gerak di hadapan mereka. Dan merekapun terkejut ketika tiba-tiba mereka melihat beberapa orang muncul dari balik dedaunan.

    Tetapi dalam pada itu capat Kiai Gringsing berbisik,” Mereka adalah orang-orang yang sering mengawal para pedagang dan orang-orang lain yang berkepentingan menyeberangi hutan ini.”.

    Sutawijaya dan kedua kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Orang-orang yang baru muncul itu adalah orang-orang yang rata-rata bertubuh tegap kekar. Di lambung mereka tersangkut pedang dan beberapa di antaranya membawa pula pisau atau kapak.

    Kiai Gringsing masih juga berbisik,” Senjata-senjata itu kecuali berguna untuk bertempur, juga berguna untuk merambas jalan yang pepat karena daun-daun perdu dan akar-akar yang merambat dan menutup jalan.”.

    Kembali ketiga anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepala mereka.

    Sementara itu Kiai Gringsing masih berkata,” Mereka masuk hutan tiga hari yang lampau. Mungkin di hari Aditya Manis.”.

    “ Sekarang hari apa?”, bertanya Swandaru.

    “ Hanggara Jene.”.

    “ He, Bintang Kuning.”.

    “ Ya, Selasa Pon.”.

    Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara itu orang-orang yang muncul dari dalam hutan itu telah berdiri beberapa langkah di hadapan mereka. Namun ketika wajah-wajah mereka menjadi semakin jelas, nampaklah bahwa beberapa orang di antara mereka terluka. Titik-titik darah yang kering masih jelas pada pakaian mereka.

    Seorang yang berkumis lebat dan tidak berbaju melangkah mendekati mereka. Dengan nada yang berat ia bertanya,” Apakah Ki Sanak anak menyeberangi hutan?”.

    Yang menjawab adalah Kiai Gringsing,” Ya Ki Sanak. Kami akan menyeberangi hutan.”.

    “ Kemanakah kalian akan pergi?”.

    “ Mentaok.”.

    “ Mentaok? Ke alas Mentaok? Apakah keperluan kalian ke Mentaok?”.

    Kiai Gringsing berpaling ke arah Sutawijaya. Tetapi orang tua itu menjawab,” Kami akan pergi ke Nglipura, Ki Sanak. Ada keluargaku di sana.”.

    Orang yang berkumis lebat, yang agaknya pemimpin dari para pengawal itu berkata,” Kalian hanya berempat?”.

    “ Ya.”.

    “ Menilik persiapan dan senjata kalian, maka kalian merasa bahwa kalian cukup kuat untuk menyeberangi hutan ini tanpa pengawalan. Ternyata pula kalian memilih hari ini, bukan hari-hari yang telah kami tentukan. Kami tidak berkeberatan kalian menyeberang sendiri, tetapi kami wajib memperingatkan kalian.

  32. buku 019 halaman 47-51

    Kali ini gerombolan Daruka berada di hutan ini. Kami terpaksa berkelahi. Untunglah bukan seluruh kekuatan yang kita hadapi, sehingga kami sempat melepaskan diri bersama orang-orang yang kami antar. Tetapi di perjalanan kembali, kami terpaksa mencari jalan lain. Kami takut kalau gerombolan itu memperkuat diri, apalagi Daruka sendiri, akan menghadang kami pula.”.

    Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya.

    “ Mudah-mudahan kalian menemukan jalan yang aman. Jangan kau telusuri jalan yang biasa kami lalui. Mungkin untuk sebulan kami tidak akan membawa orang menyeberang, kecuali kami mendapat tambahan kawan yang dapat kami percaya.”.

    Kiai Gringsing masih mengangguk-angguk. Katanya kemudian,” Terima kasih Ki Sanak. Kami akan mencari jalan lain. Mudah-mudahan kami selamat.”.

    “ Apakah keperluan kalian tidak dapat ditunda seminggu dua minggu?”.

    “ Kepentingan kami sangat mendesak.”.

    “ Hati-hatilah.”, pesan pemimpin pengawal itu.

    “ Terima Kasih.”.

    Para pengawal itupun kemudian meninggalkan mereka. Tampak jelas bahwa mereka baru saja menempuh perjalanan yang berat, dan jelas pula luka-luka silang-menyilang di tubuh mereka. Ada yang dalam, tetapi ada pula yang dangkal. Bahkan ada salah seorang dari mereka yang terluka agak parah di lengannya yang telah dibalut dengan sepotong kain.

    Ketika orang-orang itu telah menjadi semakin jauh, berkata Kiai Gringsing,” Itulah isi hutan Tambak Baya. Juga hutan Mentaok mempunyai penghuni-penghuninya sendiri. Nah, apakah kita ingin melihat pula?”.

    Wajah Sutawijaya tiba-tiba menjadi tegang. Sambil menggeram ia berkata,” Itukah isi dari tanah yang akan diterima oleh ayah dari Ramanda Adipati Pajang? Beruntunglah paman Penjawi mendapat tanah Pati yang sudah jauh lebih baik dari tanah Mentaok. Kami masih harus membuka hutan yang lebat, dan mengusir penghuni-penghuninya yang banyak itu. Untunglah bahwa aku sempat menyaksikannya kini.”.

    Kiai Gringsing dan kedua muridnya terdiam. Mereka merasakan pula, betapa anak muda putera Panglima Wira Tamtama itu menjadi kecewa. Tanah Mentaok seakan-akan telah dimilikinya, sehingga sudah tentu Sutawijaya sama sekali tidak senang melihat penghuni-penghuni yang sama sekali tidak terhormat itu.

    Dengan kesal anak muda itu kemudian menggeram,” Kiai, aku mempunyai tanggung jawab atas tanah itu meskipun belum secara resmi diserahkan kepada ayah. Aku harus mengusir setiap orang yang mengotori hutan Mentaok.”.

    Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia menjawab,” Berapa bulan angger memerlukan waktu untuk itu?”.

    Sutawijaya mengerutkan keningnya,” Ya,”, desisnya,” aku memerlukan waktu untuk melakukannya.”.

    “ Jangan kau lakukan kini. Apabila datang saatnya, bersama-sama dengan beberapa orang kawan, angger pasti dapat mengusirnya.”.

    Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya.

    “ Nah, marilah kita lihat.”, berkata Kiai Gringsing kemudian,” Mungkin kita dapat bertemu sebuah contoh dari isi hutan itu.”.

    “ Marilah.”, sahut Sutawijaya.

    “ Mudah-mudahan kita dapat bertemu.”, Swandarupun bergumam pula.

    Kiai Gringsing tersenyum. Ia tahu, bahwa Swandaru hanya ingin berbuat sesuatu.

    Demikianlah mereka berjalan kembali. Kini mereka sudah memasuki hutan Tambak Baya. Namun demikian mereka masuk, maka cahayua matahari telah menjadi semakin pudar. Meskipun demikian mereka berjalan terus. Namun akhirnya malam yang semakin kelampun turunlah. Pohon-pohon raksasa yang bertebaran itupun menjadi semakin kabur.

    “ Malam terlampau gelap di hutan ini.”, desis Swandaru.

    “ Ya, lebih gelap dari hutan tempat orang-orang Jipang membuat perkemahan.”, sahut Agung Sedayu.

    “ Tentu.”, berkata Kiai Gringsing,” Hutan ini jauh lebih lebar. Isinyapun jauh lebih garang. Apalagi hutan Mentaok. Selain yang dikatakan oleh para pengawal, maka isi hutan ini adalah binatang buas.”.

    Ketiga anak-anak muda itupun mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi mereka tidak takut terhadap binatang buas maupun orang-orang jahat seperti yang dikatakan oleh para pengawal. Tetapi berjalan di dalam kelam serasa berjalan di daerah yang sama sekali tidak dikenalnya. Mereka seolah-olah hampir tak melihat apapun selain hitam pekat. Bahkan kawan-kawan seperjalanan mereka sendiripun hampir tidak dapat dilihatnya.

    Tetapi telinga mereka adalah telinga yang cukup baik. Mereka dapat mengenal tempat-tempat kawan seperjalanan hanya karena pendengaran mereka.

    Namun meskipun demikian, akhirnya Swandaru berkata,” Nafasku terasa sesak.”.

    Kiai Gringsing tertawa. “ Kenapa?”, ia bertanya.

    “ Gelapnya bukan main.”.

    “ Ya, gelapnya bukan main.”, sahut Sutawijaya.

    “ Jadi bagaimana?”, bertanya Kiai Gringsing.

    Tak seorangpun yang menjawab.

    “ Apakah kita akan berhenti dan tidak berjalan siang dan malam?”.

    Masih tidak terjawab.

    “ Baiklah. Kita berhenti.”, berkata orang tua itu,” tetapi kita harus mendapatkan tempat yang baik. Kita akan membuat perapian.”.

    “ Bagaimana kita mendapat kayu baka?”, bertanya Swandaru.

    “ Di bawah kaki kita adalah setumpuk daun-daun kering. Kalau kita sudah menyalakannya, maka kita akan melihat, apakah kita akan dapat mencari kayu atau ranting-ranting perdu.”.

    Akhirnya merekapun mengumpulkan daun-daun kering di bawah kaki mereka. Dengan batu titikan mereka membuat api, dan dengan agak susah, merekapun berhasil menyalakan dedaunan yang sudah cukup kering.

    Ketika api sudah menyala, maka segera mereka melihat ranting-ranting perdu yang dapat mereka tebas dan mereka lemparkan ke atas api.

    Malam itu mereka beristirahat di sekitar perapian. Tak ada yang menarik. Meskipun Swandaru mengharap, mudah-mudahan orang-orang jahat itu mendekati mereka, tetapi tempat itu masih belum cukup dalam, sehingga semalam itu mereka benar-benar dapat beristirahat, meskipun bergantian mereka tetap bangun.

    Pagi-pagi mereka sudah meneruskan perjalanan. Meskipun demikian, Swandaru masih juga berkata,” Aku sudah mulai lapar. Apakah di hutan ini tidak ada makanan?”.

    “ Kau akan mendapatkannya.”, berkata Kiai Gringsing,” Kau akan dapat mencari makan buat menambah besar perutmu.”.

    Ternyata yang dikatakan Kiai Gringsing itupun benar pula.

    Dengan panah-panah mereka, mereka berhasil pula mendapat makan pagi mereka.

    Perjalanan mereka hari ini ternyata agak lebih berat dari hari-hari yang telah mereka lalui. Untunglah bahwa Kiai Gringsing berjalan beserta mereka, sehingga mereka tidak takut lagi akan tersesat. Meskipun demikian ketiga anak-anak muda itu kadang-kadang masih juga membuat tanda-tanda pengenal pada pepohonan yang besar, supaya apabila terpaksa mereka harus mencari jalan keluar, mereka tidak akan menemui kesukaran.

    Gairah perjalanan hari itu didorong oleh perasaan kecewa pada Sutawijaya, karena tanah yang akan diterimanya itu ternyata telah dikotori oleh orang-orang jahat. Sedang Swandaru segera ingin bertemu dengan orang-orang jahat itu. Agung Sedayu tidak terlampau banyak dipengaruhi oleh gerombolan-gerombolan itu. Meskipun demikian, pengalaman-pengalaman itu pasti akan berguna baginya. Sehingga karena itu perjalanan inipun sangat menarik hati. Ia akan mengenal tempat-tempat yang hampir belum pernah dijamahnya. Hutan yang lebat pepat, binatang-binatang yang buas dan alam yang keras. Agung Sedayu baru mengenalnya lewat ceritera-ceritera yang pernah didengarnya dari kakaknya, Untara, di masa kanak-kanaknya.

    Ternyata Kiai Gringsing adalah seorang penunjuk jalan yang terlampau baik. Tanpa kesulitan yang berarti, mereka berjalan menembus hutan. Tetapi hutan itu sendiri telah merupakan penghalang yang banyak memperlambat dan menelan waktu. Oyot-oyot bebondotan dan tumbuh-tumbuhan merambat lainnya. Batang-batang kayu yang roboh yang malang-melintang dan semak-semak yang pepat padat.

    Dalam pada itu terdengar Swandaru bertanya,” Apakah jalan ini pula yang sering dilalui oleh orang-orang yang menyeberangi hutan ini diantar oleh para pengawal?”.

    “ Ya.”, jawab Kiai Gringsing.

    “ Apakah tidak ada jalan lain yang lebih baik?”.

    “ Jalan inilah yang paling tipis ditumbuhi oleh berbagai macam tetumbuhan. Telah beberapa kali aku menyeberangi hutan ini, sekali-sekali bersama-sama dengan para pengawal.”.

    Swandaru tidak bertanya lagi. Tetapi ia dapat membayangkan bahwa di tempat-tempat lain tetumbuhan pasti jauh lebih lebat dari tempat ini, tempat yang paling banyak dilalui orang.

    Ketika mereka masuk semakin dalam ke tengah-tengah hutan Tambak Baya, maka berbisiklah Kiai Gringsing,” Kita hampir sampai.”.

    “ Sampai di mana?”, bertanya Agung Sedayu,” Apakah kita sudah sampai di alas Mentaok?”.

    “ Bukan alas Mentaok.”, sahut Kiai Gringsing. “ Kita hampir sampai di tempat-tempat yang sering dipergunakan oleh para penyamun mencegat korbannya. Di sini ada beberapa gerombolan penyamun yang satu dengan yang lain saling bersaing. Hanya dalam waktu-waktu yang khusus sajalah mereka dapat menyatukan diri.”.

    “ Siapakah yang paling kuat di antara mereka, Kiai?”, bertanya Sutawijaya.

    “ Kekuatan mereka hampir seimbang. Kadang-kadang mereka menunggu lawan-lawan mereka itu lengah, dan menyerang mereka dengan tiba-tiba. Tetapi meskipun demikian, Darukalah yang paling disegani.”.

    Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi anak muda itu tidak menjawab.

    Belum lagi mereka maju terlampau jauh, maka mereka sampai di tempat yang agak lapang. Tidak terlampau banyak pohon-pohon perdu yang tumbuh dan akar-akar yang menyilang-lintang jalan. Tetapi Kiai Gringsing yang sudah penuh menyimpan pengalaman itupun berkata,” Tempat ini adalah tempat yang paling baik untuk beristirahat, tetapi juga tempat yang paling berbahaya.”.

    “ Kenapa?”, bertanya Swandaru meskipun ia telah menduga apa yang dimaksud oleh gurunya.

    “ Banyak orang mempergunakan tempat ini untuk beristirahat. Tetapi tiba-tiba saja mereka disergap, sehingga akhirnya para pengawal selalu menjauhi tempat ini, dan membawa orang-orang yang dikawalnya beristirahat di tempat lain. Tetapi hampir tak ada gunanya. Hampir setiap kali para pengawal harus berkelahi. Tetapi apabila pengawalan cukup kuat, maka para penyamunlah yang membiarkannya lewat. Meskipun demikian, kadang-kadang para pengawal itu menyediakan semacam pajak bagi mereka. Ditinggalkannya beberapa macam barang, dan dengan demikian mereka tidak di ganggu.”.

    Ketiga anak-anak muda yang mendengarkannya itu mengangguk-anggukan kepalanya. Tetapi mereka tidak menjawab. Bahkan tiba-tiba saja mereka mempertajam pendengaran mereka, seakan-akan mereka mendengar desir di dedaunan yang kering.

    Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Namun sejenak kemudian wajahnya telah menjadi tenang kembali. Bahkan ia masih berkata terus,” Para penyamun itu datang tanpa disangka-sangka. Tiba-tiba saja mereka telah mengepung korban-korbannya.”.

    Sutawijayalah yang kemudian bertanya,” Bagaimanakah kalau mereka yang tidak membawa sesuatu lewat hutan ini Kiai?”.

  33. Kang,

    Aku booking buku 22 hlm 22-26.

    nuwun

    -kris-

    D2: Silahkan, kebetulan masih kosong.

  34. ohm dhe dhe..

    saya coba convert dulu buku 22 hal 7 – 21
    dan nanti saya tampilkan di komment sini…
    barang kali nanti ada temen yg mau mengeditnya, kalo pun tidak..nanti saya yang akan mengeditnya sendiri

    salam

  35. buku 22 hal 7 (hasil conversi dari djvu ke doc)

    mungkin ada temen2 yang mau mengedit silahkan dikopi paste..

    AKU tidak pernah mempunjai keberanian, jang tjukup untuk -menegumia meskipun aku sering berpapasan dengan gadis
    itu.
    Wuranta tertawa, Ditatapnja wadjah Alap-alap jang keras
    dan Bermata seperti «mata burung alap-alap itu. Katamja <—’ Tuan
    adalah seorang anak muda jang perkasa. Semuda umur tuan, tuan
    telah memiliki banjak kelebihan dari anak-anak muda sebaja tuan
    bahkan Jang lebih tua dari tuan. Tetapi- kenapa tuan tidak memiliki
    keberanian untuk menegur seorang gadis jang djiistru telah berada
    didalam lingkungan tuan sendiri ? —- • . .
    Alap-alap Djalatunda meng-geleng2kan kepalanja. Desisuja
    — ‘Aku tidak tahu. ~
    — Baiklah ^ gumam Wuranta -— akulah Jang nanti akan
    menegurnja apabila kita berpapasan. —
    ~- Gila — tiba2 mata Alap-alap Djalatunda mendjadl merah
    — meskipun kau, kini membawa pedang .dilambungmu, ojor kita lihat siapakah jang lebih berhak disebut djantai. —•
    Wuranta tertegun sedjenak tetapi Jkeraudian ia fersenjiua — Apakati tuan salah sangka ? Maksudku, ‘aku akan menegur untuk kemudian memberi d jalan kepada tuan supaja tuan dapat berbltjara
    lebih lantjar. ~-
    . — He mata Alap-alap Djalatunda jang menjala ilupan sedikit demi sedikit mendjadi suram kembali.

    — Apakiaih tuan sependapat? —
    Alap-alap Djalanlunda tidak segera mendjawab.
    — Tetapi .kalau tuan tidak sependapat, baiklah. Aku akan menutup mulut –
    — Tetapi — duit Alap-alap Djalatunda — kalau kau ingin

    buku 22 hal 8-9………

    membantu aku, aku kira aku tidak akan berkeberatan. —
    — Begitu? —
    Alap-alap Djalatunda menganggukkan kepfilanja, tetapi ia tidak raenjahut.
    Keduanjapun kemudian berdjalan kembali menjusul Sekat Mirah lewat lorong ketjil jang telah dilalui oleh gadis itu.
    — Abakah kita menjusul dibelakangnja ? — berianja Wuranta. ~» Ta» kenapa?
    — Kita Taki2 muda mengikuti seorang oadis? —*

    — Djadi bagaimana? — bertania ‘Alap-alap Djalahrada dengan herannja. * *
    — Kita mentjari d jalan lain jang akan sampai kesungai itu pula. Seolah-olah kita tidak sengadja mengikutinja Kita seluaim sunqai ini. Kalau perlu dari salah sahi udiung. Bukankah kita sedang. nganglanq dian tidak sengadja mendjumpa5n|a disungai?—
    Alap-alao Djalatunda mennerutkan dahinja Sedipnak ia berdiam diri’ Mulntnia herkumat-kamit. tetapi sama sekali tidak ter¬dengar kata2nja.
    — Tu’aw — berkata ^Wuranta kemudian ada beberapa alasan janq harus tuan pertimbanakan. Selain supaia qadis itu tidak mendjadi takut dan kemudian mp-nahindar. maka tidaklah pantas anak-anak muda menoikutt seoranq oadis jang akan peroi kesungiai’. Seandainja ia tidak menqhlndar. maka gadis Itu pasU akan menerurunakan niatnja Untuk mandi ^isalnia, atau mentjutji oakaian. Tetapi iancr lebih nentina bao! t«ian maka apa ianq tuan lakukan tidak akan menimbulkan ketiurinaan bagi para penga¬was. —* – i • . ”
    — He, kenapa para penqawas? Seandainia mereka berkebe¬ratan, maka kher mereka akan aku penggal dihadapan qadis itu. —
    — Bukan beqitu tuan — Wuranta diam sedjenak. kemudian diteruskannia — siapakah ianq harus menciawasi gadis itu ? Orang2 DiJn-nn atau orana2 nadeookan ini? —

    bergantian. Semua orano jang telah memiliki sendja*a ditangaranja tidak terkecuali. Gadis itu termasuk salah satu hal Jang harus mendapat pengawasan seperti d jalan masuk, dindlng2 padepokan, rumah2 penting dan lain2. —
    — Nah, bukankah Joadang2 tuan akan menemui seseorang jang tidak senang terhadap tuan. —
    — Aku tidak perdulL Orang itu akan dapat aku bunuh’ seketika. —
    — Tetapi ingat. Sidanti mempunjai kepentingan pula atas
    gadis itu Bukan aku menganggap tuan tidak berani, tetapi dalam
    keadaan seperti sekarang, djangah dulu timbul tjuriga mentjurigat
    dikalangan sendiri. — .
    Wadjah Alap-alap Djalatunda mendjadi tegang, Wuranta jang dianggapnja terlampau bodoh itu dap&t memberinja petundjuk jang dapat dimengertinja. Karena itu maka tiba2 ia meng-angguk2 sambil tersenjum — Baik, aku menuruti nasehatmu. Djadi bagai¬mana dengan kita 1 Gadis itu telah hilang dfcalik tikungan Kalau kita terlambat, ia pasti sudah selesai mandi atau mentjutji. Dengan demikian maka kau tidak akan mendapat kesempatan melihatnja. —
    — Bukankah kesempatan itu tidak hanja sehari ini ? Seandai¬nja sekarang aku terlambat, besok masih djuga ada Kari. —

    Alap-alap Djalatunda tersenjum. Sekali iagi la meng-angguk2 sambil berkaia — Bagus, bagus. Kau benar. Agaknja akulah^jang takut terlambat. —
    Keduanja kemudian memutar langlcahnja. Mereka tidak menempuh d jalan jang telah dilalui Sekar Mirah,
    — Kemana kita ? —” bertanja Alap-alap Djalatunda.
    — Aku tidak tahu. Tuanlah jang lebih tahu dari aku. Atau
    barangkali tuan akan raenjelusuri sungai ini dari udjung sampai keudjung jang lain? Bukankah dengan demikian tak seorangpun akan mentjnrigai tuan. —•
    ~ Baiklah ~ sahut »Alap-alap Djalalunda. — flVSarilah kita pergi keuajung sungai ini memasuki padepokan. Kita berdjalac. menjelusur tepian sampai keudjung jang lain. —
    — Marilah tuan. Sikap ber-hati2 adalah sikap jang paling baik dalam segala hal. ~-
    Keduanjapun kemudian berdjalan dengan ter-gesa2. Setelah beberapa kali mereka membelok, achirnja mereka sampai pada dinding padepokan jang tjukup tinggi* Dinding batu jang agaknja umurnja sudah tjukup tua. –
    — Beberapa puluh langkah lagi kita akan sampai kesungai — gumam Alap-alap Djalatunda.
    Wuranta tidak menjahut. Ia berdjalan sadja disamping Alap
    alap Djalatunda. Dan benarlah katanja, segera mereka sampai
    kesebuah lereng4 jang dangkal. Ketika mereka menuruni lereng
    itu, maka oleh Wuranta tampak se-akan2 sebuah mata air jang
    besar tersumbul dari dalam tanah-

    buku 22 hal 10-11…………..

    — Hem — katanja didalam liati —’ inilah agaknja sebuah
    urung2 air jang tjukup besar. —
    Dalam pada itu terdengar <AIap-alap Djalatunda berkata — Inilah udjung sungai itu. Air memasuki daerah padepokan lewa’. dibawah dinding jang rendah. —

    Bukan main sahut Wuranta — bagaimana urung2 itu dapat dibuat? —
    — Aku tidak tahu- Tetapi urung2 iiu terbuat dari batu pula, bagian atasnja lengkung supaja urung2 ini tahan desakan air, meski bandjir sekalipun. —
    Wuranta meng-angguk2kan kepalanja. Tanpa disadarinja ia mengarmet-amati urung2 itu. — Tidak terlampau tebal — desisnja didalam hati.
    — Kau menaruh perhatian ? — bertanja Alap-alap Djalatunda. Aku mengagumi pembuatnja ~- desisnja — urung2 iri agaknja tidak terlampau tebal. —
    . — ‘Memang tidak. Dua atau tiga kali lipat dari tebal dinding itu.
    Wuranta meng-angguk2kan kepalanja. Hatinja mendjadi puas melihat urung2 air itu. Urung2 itu akan sangat berguna bagiuja. Tetapi ia berkata dengan Hba2 — Mari kita “bcrdjalan. Kita akan terlambat. ~
    Alap-alap Djalatunda tersenjum. Djawabnja — Bukankah besok -masih djuga ada hari? —
    -‘ Wuranta tersenjum pula, tetapi la mulai melangkahkan kaki-njiai menjelusuri tepian.

    Apakah tempat untuk mandi dan mentjuiji itu d Jauh dari udjung ini? —
    — O tidak. Bukankah kita djuga tidak terlampau d jauh ber-djalan. Dibelakang tikungan itu ada sebuah belik. Disitulah ia biasa mandi. Beberapa orang perempuan padepokan inipun mandi dan mentjutji dlsitu pula. — .
    — Tuan agaknja mengetahui terlalu banjak tentana gadis itu. —
    — Hus —, desis Alap-alap Djalatunda.
    Merekapuri terdiam sedjenaik. Hanja langkah mereka dialas pasir tepian terdengar gemerisik lembut.
    Disampimj mereka, air sungai jang d jernih mengalir segar. Sepertjik2 buih berlontjatan, apabila sepotong dahan jang kering djatuh kedalamnja.
    Dikedjalihan burung2 bertengger diatas tjdbang2 pepohonan meneriakkan dendang jang riang. Mereka sama sekali tidak _menja-dari apa artinja pedang dilambung orang2 jang berdjalan duorong-lorong padukuhan itu. Tidak banjak lerdjadi- permusuhan dMara mereka. Tidak banjak timbul persoalan selain berebut makan.
    Tidak seperti manusia jang mempunjai nalar dan budi jang menjadari seribu satu matjam’ kepentingan. Dan setiap seniuhan kepentingan, dapstt sadja berachir diudjung pedang. Mereka lebih banjak berbltjara dengan bahasa pedang daripada bahasa tjm*a kasih diantara mereka;

    Wuranta terkedjut ketika tiba2 Alap-alap Djalatunda menepuk bahunja. Terdeng-zT ia berbisik lirih — Wuranta, lihatlah. Gadis ltu.lagi^ mentjutji badjunja. —
    —*He — Wuranta menarik keningnja, seakan-akan ingin membuat matanja mendjadi lebih lebar.
    — Dimana? — ia bertanja.
    — Dibelik .itu. —
    —”O — Wuranta menarik nafas dah .
    Alap-alap Djalatunda tidak mendjawab.
    Tetapi Wuranta mendjadi ber-debar2 karenanja. Perbuatan
    Alap-alap Djalatunda itu djustru berbahaja bagi Sckra!r (MSrah.
    Anak muda itu akan selalu ber-angan2. Karena la tidak berani
    berkenalan de’ngan gadis2, maka angan2nja akan dapsi mendjadi
    terlampau liar dan buas. Karena itu maka Wuranta itu pun ber-
    kata — Marilah tuan. Lewat disampingnja bersama aku. Mungkin
    tuan seteli dua kali akan dapat ber-tjakap2 dengannja. Ketjuali
    kalau tuan berkeberatan karena memperhitungkan pengawasan;orang2 Sidanti. —’
    Setan. Djangan kau sebut lagi monjet2 itu. Aku tidak

    untuk temen2 yg mau mengedit, silahkan konfirmasi ke ohm dhe dhe…

  36. buku 22 hal 12-13……

    takut Dan mereka tidak akan menjangkit bahwa aku sengadja mengikuti gadis Itu seperti katamu tadi. Sebab aku datang dari arah jang sangat berbeda. — —- Karena itu marilah. — ASap-alap djalatunda ragu2 sedjenak. Tetap} Wuranta mena¬rik tangannja sambil berkata — Marilah. Gadis itu tidak akan menggigit. —
    Alap-alap Dialatunda masih ragu2. Tetapi kemudian’ iapun melangkah kakinja.
    Dengan kepala tunduk Alap-alap Dialatunda berd jalan, di tepfan, diatas tanggul bersama Wuranta. Sckali2 la hanja berani melemparkan- sudut paudangannja.
    Sekar Mirah jang sedang oientjulji badjunja terkediut men¬dengar langkah distes tanggul sungai. Tfet)it2 ia meletakkan tfntiiannfa dan membetulkan kata pindjunonia Ketika ia fcemaling. dijihatnja dua orang berdjalan dengan pedang dilambung niasing2.
    Tanpa didugetola, maka Wuranta menganggukkan kepalanja sambi berkata — IMfeaf. Kami tidak tahu bahwa nini sedang men-tjutji pakaian Karena itu kami tidak sengadja telah lewat ditanggul ini
    Wuranta melihat kerut-merut dilcenfng Sekar Mirah. Tetapi tiba-tiba dadanja -berdesir. Ia melibat Sokar Mirah tersenjum. Dengan manisnia ia mend jawab — Oh, tidak apa tuan. Tanggul Ini memang sering dilalui orang. ‘Akulah jang bersalah, mentjutji pakaian dibelik dibaiwah tanggul ini. —
    Sedjenak Wuranta djustru terbungkam. Ia tidak menjangka bahwa Sekar Mirah akan mendjawabnja sambil tersenjum. Bahkan kemudi^tn Sekar Mirah itu berkata <— Balikan aku mendjadi sangat senang, bahwa seseorang sudi menegar aku Selama ini orang2 dipadepokan ini atjuh tak atjuh sadja kepadaku, djustru karena aku bukan orang padepokan ini. —
    Wuranta masih sadja terbungkam. Apalagi Alap-alap Djala-
    tunda,. Tetapi Wuranta “mendjadi berdebar-debar buks.ii karena
    senjum Sekar ‘Mirah jang telah menggoritjangkan hatinya. Sama
    sekal) tidak. Ia tetap menjadari dirinja. Ia sedang bermain-main
    dengan Alap-alap Djalatunda. Tetapi, ia tidak menjangka bahwa
    Sekar Mirah akan semudah itu tersenjum kepada laM2 jang belum
    dikenalnja.
    —* Apakah benar gadis ini Sekar Mirah jang dikatakan oleh Agung Sedaju. — Wuranta djustru mendjadi ragu2. Atawgkah fnurahnja senjum gadis Itu.
    Tetapi tiba2 ia terhenjak dalam suatu sikap seperti ia sendiri. Ia tidak tahu apakah «cbenarnja jang tersimpan didalam hati

    Sekar Mirah. Kenapa dirinja-sendiri «bersikap baik djuga terhadap Alap-alap Djalatunda ? Apakah demikian djuga agaknja Sekar Mirah jang’ sedang berusaha untuk menemukan djalan keluar dan kesulitannja. ‘
    Wuranta seakan-ekan terbangun ketika ia mendengar Sekar Mirah berkata r— Kenapa tuan mendjadi bingung ? Apakah tuan djuga akan mandi? <—
    — O. tidak. Tidak. —< Wuranta tergagap. — Kami hanja kebetulan sadja lewat —*
    —* Apakah tuan seorang pradjurit ? — bertanja Sekar Mirah.
    — Aku bukan sahut Wuranta tetapi tuan ini adalah seorang pemimpin pradjurit Djipang. Ia bernama Alap-alap Djala-iupda. —
    Dada Sekar Mirah berdesir mendengar nama itu. Nama jang pernah didengamja sedjak di Sangkal Putung dahulu. Den kini ia melihat seorang anak muda jang berwadjah keras dan bermata tadjam setadjam mata burung alap-alap.
    Sedjenak Sekar Mirah terpaku diam. Dipandanginja Alap-alap Djalatuilda dengan tadjamnja seperti hendak dilihatnya} sesuatu didalam dada anak muda itu. Dengan demikian maka Alap-alap Djalatunda itupun mendjadi semakin tunduk. Ia tidak dapat menentang insita Sekar Mirah jang seperti api mend jilat wadjahnja.
    Wuranta bukan seorang anak muda pemalu. Ia dapat ber¬gaul dengan gadis2 dipadukuhannja, meskipun ia tahu batas2 jang

    tak dapat dilewatinja. Namun dihadapan Seta Mirah, Wuranta merasa dadanja seperti berdentang terlampau tjepat.
    Dalam pada itu terdengar suara Sekar Mirah — Aku tidak menjangka bahwa suatu kali aku akan dapat bertemu dengeii seorang,anak muda jang namanja djauh mendjangkau diluar ling-kungannja. Aku pernah mendengar nama AJap-alap Djalatunda. Hampir setiap pradjurit -Padjang membitjarakannja.
    Wuranta jang berdiri dissmping Alap-alap Djalatunda sema¬kin lama mendjadi semakin dapst menguasai dirinja kembali. Ia kini telah mendjadi agak tenang, sehingga ia sempat mendjawab — Apakah jang <mereka katakan tentang dirinja? —
    — Ia acfeflah salah seorang jang paling disegani dari pihak Djipang, disamping nama2 Sanakeling dan Sidanti. —
    Sidanti bukan seorang pradjurit Djipang ~ tiba2 Alap-alap Djalatunda bergumam perlahan, se-oIah2 hanja ditudjukan kepada dirinja sendiri.
    — Apa jang tuan katakan ? — Sekar Mirah bertanja.

    buku 22 hal 14-15……..

    Alap-alap Djalatunda mendjadi semaian tunduk. Mulutnja bagaikan: terkuntji, sehingga ia tidak dapat mcndjawab p’srtanjaa* Sekar Mirah itu,
    — Tuan — Wuitttntalah jang kemudian bertanja nini. Sekar Mirah ingin tuan mengulangi kata2 tuan jang tidak begitu, djelas baginja. —
    Wadjah Alap-alap Djalatunda mendjadi merah, seperti se¬orang djedjaka ketjil bertemu dengar seorang gadis jang memikat batinja.
    — Apakah tuan mengibakan bahwa Sidanti bukan salah seorang pradjurit Djipang? —
    Alap-alap iDjalatunda menganggukkan kepalanja.
    — Demikianlah nini, Sidanti bukan seorang pradjurit Dji¬pang. —
    — O Sekar Mirah menjahut — ja, aku tshu. Djustru Sidanti . pernah terada di Sasigkal Pulung. Ia adalah bekas seorang pra¬djurit Padjang. — Sekar Mirah berhenti sebentar, lalu diterus¬kannya — apakah tuan sekarang berada dipadepokan ini d juga ? —
    lAlap-alap Djalatunda «tidak segerai «mendjawab. Sehingga Wuranta terpaksa mendesakrija —* Tuan, tuan harus mend jawab pertanjaan ftu. —’
    Per-lahan2 Alap-alap Djalatunda mengangkat wadjahnja. Hatinja se-akan2 petjah seperti belanga jang terbanting dietas batu hitam ketika ia sepinias memandang Sekar Mirah jang hanja berkain pindjung jang telah basah, berdiri memsitapnja. Tatapan mata gadis itu seperti tusukan anak panah jang langsung melu¬bangi dinding djantungnja.
    Sekali lagi wadjah Alap-alap Djalatunda terbanting diatas pasir tepian- jang basah. Tirtnpa dikehendakinja sendiri, tangannja ber-nerak2 meraba bulu pedangnja. Dengan gelisah ia berdiri sadja membisu.
    — Bagaimana djawab tuan? — bertanja W-uiaMa.
    — Tuan tidak sudi berbitjara dengan aku ? — suara Sekar Miraih seperti meremas ha tinja mendjsdi lebu.
    — Tidak, bukan begitu — djawab Wuranta — ia terlampau, sopan. Itulah sebabnja, maka setiap kata2nja pasti diatur sebaik-baiknja su’pafsl tidak menimbulkan salah sangka. Agak berbeda dengan aku jang kasar ini. ~-
    — Apakah tuan bukan seorang pradjurit ? — bertanja Sekar Mirah kepada Wuranta.
    — Bukan. Aku hanja sekedar seorang gembala jang kebe-

    “Tuan tidak sudi berbitjara dengan aku Sekar Mirah
    seperti meremas hatinja menjadi tebu. “Tidak,
    di&wab Wuranta “ra terlampau sopan. Itulah sebabnja, maka
    setiap kata2nja pasti diatur sebaik-baiknja *upaja tidak menim-
    bulkan salah sangka •

  37. buku 22 hal 16-17……………..

    tulan mendapat pindjaman sehelai pedang.
    Kening Sekar Mirah tampak berkerut-merut. Ia melihat pan-tjaran mata jang djauh. lebih tadjam dari seorang gembala biasa. Karena itu, maka ia mendesaknja — Aku tidak pertjajja bahwa tuan hanja sekedar seorang gembala. Wadjah tuan tidak mejakin-kan kata2 tuan, —
    Hati Wuranta mendjadi ber-debar2. Djangan2 pudjian itu dapat menumbuhku kemarahan Alap-alap. Djalatunda. Karena itu maka dengan serta-merta ia mendjawab — Nini salah lihat. Tetapi sebaiknja n ini mendengarkan djawabannja. — Kemudian kepada Alap-alap Djalatunda ia berbisik ~- Berkatalah tuan. —
    Alap-alap ‘Djalatunda mentjoba memaksa dirinja sendiri untuk mengutjapkan kata2, {Maka dengan ter-bata2 ia berkata Ia aku sekarang- berada dipadepokan ini. ~-
    — Bersama» Sidanti? — bertanjiai Sekar Mirah pula.
    Ja, bersama Sidanti. ~~ d jawab AJap-alap Djalatunda. Sekar Mirah tiba-tfba mentjibirkan bibirnja. Tetapi sedjenak kemudian ia tersenjum,— Darimanakah tuan berdua ini? ^
    Alap-alap Djalatunda mendj’adi kebingungan. Sekenanja sadja ia mendjawab ~- Ber-djalan2. ~
    — Berdjalan2. Dalam keadaan serupa mi tuan masih sempat berjalan.
    — Berdjalan-djalan menurut pengertian seorang pradjurit — Wurantalah jang menjahat —; aku kira nind tahu pula maksudnja, seperti barangkali pradjurft2 Padjang pernah berkata demikian pula.
    Apakah artinja?
    — Nganglang, melihat keadaan. Supaja lak ada bahaja jang dapat dengan diam2 melanda padepokan ini. —«
    — Dan supaja aku tidak dapat melarikan diri. begitu ? — potong Sekar Mirah.
    — Apakah nini akan berbuat begitu seandainja mungkin? —
    — Aku pernah ber-angan2 untuk melepaskan diri dari neraka ini. Tetapi ternjta aku akan mengurungkan niatku setelah aku melihat bahwa didalam nerakapun aku bertemu dengan anak-anax muda jang lain daripada Sidanti. —
    ‘Wadjah Alap-alap Djalatunda mendjadi semakin merah. Kini mu-Iutnja benar2 mendjadi terbungkaim. Bahkan terasa se-akan2 dentang djantungnja akan memetjahkan dadanja.
    Tetapi Wuranta mendjadi semakin tenang. Sambil tersenjum ia mendjawab — Tetapi neraka ini adalah milik Sidanti, Semua isinja adalah miliknja pula. —
    — Bohong —- tiba2 Alap-alap. Djalatunda memotong.
    — Aku sependapat dengan anak muda jang bergelar Alap-alap Djalatunda itu *— sahut Sekelr -“Mirah Dan kata2nja itu mem¬buat dada Alap-alap Djalatunda mendjadi semakin bergelora.
    — O, djadi demikian ? — berkala Wuranta — kalau begitu aku salah menilai keadaan dipadepokan ini.
    —’ Kau orang kemarin sore dipadepokan itii — geram Alao-alap Djalatunda.
    — Mudah2an kalian benar ~* gumam Wuranta • seperti kepada diri sendiri.
    Nah, apakah tuan d juga akan mentjutji pakaian seperti aku ? bertanja Sekar Mirdh sambil tersenjum.
    — Tidak — sahut Wuranta — kami sedang nganglang. —
    Kemudian kepada Alap-alap Djalatunda ia berkata — Bagaimana luatt? Apakah kita akan meneruskan perdjalanan. Alap-alap Djalatunda mengangguk — Marilah. —>
    Kenapa tuan begitu ter-gesa2? — bertanja Sekar -Mirah. *— Kami tidak sedang ber-djalan2 dibawah terangnja bulan purnama — djawab Wuranta — mudah2an kesempatan itu suiaitu ketika datang padaku. Ber-djalan2 sambil berdendang lagu Asma-radana. —
    —* Aku akan berdoa untukmu. —’ sahut Sekar Mirah.
    Wuranta tidak sempat mendjawab, ketika Aflap-alap Djalsr tunda menggamitnja sambil berkata — Ajolah. Kau masih sadja berbitjara. —
    -w.O — desis Wuranta — marilah. ~-
    — Kalian benar2 tidak mau tinggal lebih lama lagi? —
    — Bukan aku jang menentukan »— sahut Wurantel ~ Aku bertanja kepada jang berhak menentukan. —
    — Djawablah tuan.’ — berkata Wuranta.
    — Ah Alap-alap Djalatunda berdesah. Namun ia berkata — Lain kali aku akan datang. —
    Aku menunggu kedatangan tuan — djawab Sekar Mirah.
    Alap-alap Djalatunda hampir tidak dapat menahan gelora didalam dadanja. Karena itu maka deng-aln ter-gesa2 ia melangkah pergi -meninggalkan” tepian itu. Wurantapun kemudian ter~lontjat2 mengikutinja. Sekali ia berpaling dan-dilihatnja. Sekar Mirah me¬lambaikan tangannja’. Betapa berathja, namun ‘Wuranta terpaksa mengangkat tangannja pula.
    Sementara itu dikepalanja berketjamuk berbagai pertanjaaa tentang gadis itu. Gambarannja tentang Sekar Mirah sebelum ia melihatnja, adateh djauh berbeda dari kenjataan jang dihadapinja.

    buku 22 hal 18-19………….

    Meskipun sikap itu agak mirip dengan sjkap Swandaru Geni,
    namun apa jang dilihatnja telah membuat aj a termenung untuk
    beberapa lama.
    Wuranta itu terkedjut ketika, ia mendengar Alap-alap .Djala¬tunda mengumpat ~ Setan kau Wuranta. Kau -berbitjara tak ada habis2nja. —
    Wuranta tertawa, djawabnja — Djangan marah tuan. Aku
    memberi .kesempatan kepada tuan, tetapi tuan hanja berdiam diri
    sadja. —
    — Aku tidak biasa bergurau dengan wanita. —
    —- Sekali2 tuan perlu berbuat demikian, supaja kita tidak mendjadi lekas tua. —
    Alap-alap Djalatunda terdiam. Ia berdjalan semakin tjepat seperti takut terlambat. Sehingga Wuranta perlu memperingiaJtkau-nja — Kenapa tuan berdjalan semakin lama semakin tjepat. Gadis itu tidak akan anengedjar tuan. —

    — O —- Alap-alap Djalatunda se-akan2 tersadar dari sebuah angan2 jang dahsjat. la memperlambat djalannja. Kemudian di tunggunja Wuranta berdjalan disarapingnja. Katanja — Gadis itu agaknja tertarik kepadamu. Tetapi awas, lehermu akan dapat ter penggal sebelum kau mendjadi Demang Djati Anom.
    Aku tidak berminat tuan. ~ d jawab Wuranta.
    — Kenapa?
    Bukan karena gadis itu kurang tjantik. Tetapi aku tidak pantas untuk menempatkan diri dalam sajembara pilih maupun sajembara tanding disamping tuan dan Sidanti. —
    —- Djangan kau sebut lagi iblis itu — tiba2 Alap-alap Djala¬tunda membentak. Matanja mendjadi merah seperti bara
    Wuranta mendjadi ber-debar2. Tetapi kemudian ia tersenjum. Ia tidak mau kehilangan akal menghadapi alap-alap jang buas in;. Katanja — Kenapa tuan marah? Apakah aku kurang memberi kesempatan kepada tuan. —
    — Kalau sekali lagi kau sebut2 nama Sidanti dalam hubu¬ngannya dengan gadis itu, aku sobek mulutmu. Kau tadi sudah menjebut namanja dihadapan Sekar Mirah, *se-akan2 Sid antilah jang paling berkuasa disini. —
    — Maaf — djawab Wuranta — ternjata aku keliru, Alap-alap Djalatunda tidak ber-kata2 lagi. Segera ia memu¬tar tubuhnja dan berdjalan tjepat2 kembali kepondoknja. Tetapi ia tertegun ketika Wuranta berkata — Apakah kita akan berpatju lagi. —
    — O’— Alap-alap Djalatunda memperlambat langkahnja.
    — Tuan — ‘berkata Wuranta kemudian, — aku sudeh me¬lihat gadis itu, tetapi dimanakah Ja tinggal ?
    — Kau akan mentjurmja?
    — Tidak tuan ^- Wuranta tampak ber*sungguh2 pertjaja-lah, Aku hanja ingin tahu. Alku sendiri sama sekali tidak berpikir lagi tentang gadis itu. —
    – Kenapa ka’ai tanjakan pondoknja ? —
    — Ah, Aku kira bukan terdorong oleh suatu keinginan apa¬pun. Adalah suatu keladjiman sadja bagiku mengetahui rumah «rang2 Jang -sudah aku kenal. *—
    — Tetapi djangan berbuat gila, supaja Icau tidak mati muda. —’
    Senjum Wuranta dimulutnjia mendjadi semakin lebar. De¬ngan lutju la mengangguk dan mendjawab Tuan, aku lebih baik memilih mendjadi Demang Djati Anom tanpa gadis itu dari¬pada mendapat gadis itu tetapi harus hidup tanpa kepala. —
    — Persetan —- geram Alap-alap Djalatunda kau memang lahir hanja untuk mendjadi seorang badut jang tidak berarti, —
    ~* O tuam salah djawab Wuranta — orang jang banjiak
    Sertawa uraurnja akan- mendjadi lebih pandjang, — •
    Alap-alap Djalatunda tidak mendjawab, tetapi tanpa sesadar-nja ia berdjalan lewat rumah tempat tinggal Sekat Mirah,
    Dengan berbagai matjam akal, bahkan dengan akal seorang badut sekalipun achirnja Wuranta berhasil mengetahui tempat tinggal .Sekar Mirah dan udjung sungai jang berupa urung2. Ke¬dua penemuan itu baginja sangat berarti. Itulah sebabnja maka Setelah ia berhasil, maka ia tidak lagi banjak bertingkah. Bahkan ia mendjadi semakin liati2. meskipun ia tidak ingin merubah kesan Alap-alap Djalatunda terhadapnja. Seorang badut jang tidak ber¬arti. Tetapi jang dibitjaralcannja kemudian hanjalah soaI2 jang ,benar2 tidak berarti dan tidak ta’da hubungannja dengan pade¬pokan Tambak Wedi, Sidanti Han Sekar frfirahs
    Siang itu Wuranta dapat beristirahat se-puas2nja. Ia ingin tidur sepandjang siang hari. Tetapi bahkan -kepalanja mendjadi pening karena selama ia berbaring, matan ja tidak d juga mau -dipcdjamkannja. Berbagal persoalan hilir, mudik dikepalanja. Sekar “Mirah, urung2 sungai dan rumah tempat gadis itu tinggal.
    Tetapi tidak’ kalah menggelisahkan adalah sikap Alap-alap Djalatunda terhadap Sekar Mirah. Sinar matanja jang buas dan liar telah mentjemaskannja. Namun jang mengherankannja adalah “sikap Sekar Mirah sendiri. Apakah gadis itu tidak melihat sorot

    buku 22 hal 20-21………………

    mata Alap-alap Djalatunda jang se-akan2 akan membakar gadis itu, meskipun hanja sekiJas2? Bagi Wuranta, sikap Sekar Mirah-sendiri adalah sikap jang sangat berbahaja.
    Wuranta menarik nafas dalam2 ketika ia mendapat perintah sekali Jagi, malam itu ia harus turun ke D jati Anom. Ia harus, melihat perkembangan keadaan. Ia harus melihat, apakah jang terdjadfr kemudian di D jati Anom.
    Sendja itu Wuranta berangkat dengan dada jang ber-debar2. •A’pakah ada seseorang lagi jang akan mengintainja ? Apakah. Alap-alap Djalatunda masih djuga mengikutinja ? Tetapi Wuranta tidak lagi mendjadi tjemas. Ia akan pulang sadja kerumahnja. Kalau Agung Sedaju atau salah seorang dari ketiganja tidak ada dirumahnja, ia dapat meninggalkan pesan supaja pagi harinya disampaikan kerumah Agung Sedaju oleh salah seorang keluarga-
    nja.
    Achiroja malam jang kclampun turun mcnjelimuti lereng Merapi. Perdjalanan Wuranta mendjadi semakin lama semakin dekat dengan Kademangan Djati Anom. Dua hari ia telah berada dipadepokan Tambak Wedi, tetapi ia sendiri belum berkesempatan untuk melihat seluruh bagian dari terapat itu.
    Meskipun demikian bagian2 terpenting telah dilihatnja. Scan-dainja keadaan memaksa, maka ia telah dapat memberi beberapa-petundjuk kepada Agung Sedaju dan Swandaru.
    Dengan hati jang berdebar-debar Wuranta melangkah terus. Sekali dua ikli ia berpaling, tetapi ia tidak melihat seorangpun. Ia masih belum tahu benar, apakah perdjalanaamja itu diikuti oleh seseorang atau tidak. Tetapi agaknja Sidanti masih belum djuga mempertjajainja bulat2.
    Ketika ia memasuki halaman rumahnja. maka ia tidak segera melintasi halaman masuk kedalam rumahnja. Sedjenak ia berdiri dibalik regol halaman didalara tempat jang terlindung. Ia mentjoba memperhatikan. kalau2 seseorang mengikutinja. Tetapi beberapa lama ia berdiri, ia tidak mendengar sesuatu. Karena itu maka iapun segera masuk kedalam rumahnja lewat pintu butulan dr belakang.’
    Ketika pintu terbuka, ia mendengar suara Agung Sedaju dan-Swandaru berdesis — Hampir aku tidak sabar menunggumu. —
    — Hem — Wuranta menarik nafas dalam 2. Ternjata kedua aniak muda itu telah menunggunja. Ketika kedua kakinja telah ^melampaui tlundak pintu, maka segera pintu itu akan ditutupnja. Tetapi Wuranta terkedjut ketika ia mendengar suara lirih dibela-kangnja ~ Djangan ditutup dahulu. —

    Wuranta mentjoba memandangi arah suara itu didalam gelap., la sudah berusaha^untuk melihat dan. mendengar seluruh isi hala-mannja. Tetapi ia tidak dapat melihat orang itu. ‘ — Aku ngger ~ berkala suara itu.
    — Ki Tanu ‘Metir? — berianja Wuranta.
    — Ja. — djawab orang jiaag temjata Ki Tanu Metir — aku menunggu angger diudjung Kademangan ini. Seperti angger Agung Sedaju dan angger Swandaru, akupun hampir tidak sabar. Alangkah banjaknja njamuk dikademangan ini. Ketika aku hampir kehabisan Kesabaran, barulah aku melihatmu berd jalan ter-tatih2 didalam «malam jang semakin, gelap. —
    — Oh — Wuranta tersenjum. .Baru kemudian ia melihat Ki Tanu Metir berdiri dibawah sebatang pohon kemumig. jang rim¬bun. Keduanjapun kemudian masuk ;dan menutup pintu rumah itu rapat-rapat. – ,

    — Aneh — desis Wuranta.
    — Apa jang aneh? *— bertanja Agung Sedaju. –

    — Ternjata Ki Tanu (Metir mengikuti aku sedjak dari udjung Kademangan ini. Ketika aku memasuki regol halaman, aku telah berlindung sedjenak, menunggu. apabila seseorang mengikuti aku. Tetapi aku tidak melihat seorangpun. Namun ternjata orang jang mengikuti aku berhasil masuk tidak setahuku. —*
    — O’— sahut Ki Tanu IMetir — itu mudah sekali dilaku¬kan. —
    — Bagiamana? —
    —v Aku mendahului angger masuk kedalam halaman ini. Sebab aku tahu pasti bahwa angger akan memasuki halaman rumah ini. —
    — Oh — Wuranta tersenjum. Tampaknja sederhana sekali. Tetapi anak muda itu mendjadi semakin mengagumi orang tua jaffvg bernama Ki Tanu Metir itu.
    Sedjenak mereka terdiami, se-a’Jcan2 sesuatu telah membung¬kam tnereka. Hanja wadjah2 merekalah jang membersitkan’ ber¬bagai matjam perasaan jang bergolak didalam hati.
    Dikedjauhan terdengar angkup nangka seakan-akan sedang mengeluh. Seperti anak-anak jang rindu menunggu ibunja ngrema ditempat jang sangat djauh.
    Dalam keheningan itu terdengar suara Ki Tanu Metir per¬lahan. — Kami sudah menjangka bahwa kau malam ini akan
    turun lagi ngger. —
    Wuranta mengangguk — Ja Kiai, aku mendapat tugas untuk melihat perkembangan tiga orang pradjurlt berkuda jang kemarin aku beritahukan kepada Sidanti. —

  38. ohm dhe dhe…

    buku hal 7 sampe 21 dah saya konvert, hasilnya di koment atas…
    kalo memang temen2 belum ada yg menawarkan diri untuk mengedit, biar saya yg akn mengeditnya… nanti hasilnya akan saya kirim via email..

    salam

  39. BUKU 22 HAL 7-22

    DD: Agar teman2 lain bisa membaca lebih enak saya pindah ke halaman Buku 22.

    ===============================================================

  40. ohm dhe dhe…
    tadinya saya mau kirim ke email ohm dhe dhe hasil edit buku 22 hal 7-21, tp berhubung ada kendala, ga bisa login ke yahoomail, maka saya aplod di komen sini saja

    salam

    D2: gpp. Itu juga baik, teman2 bisa langsung baca

  41. BUKU 19 (7-16)

    Karena itu, Kepala Argajaya terdorong ke belakang. Sentuhan tangkai tombak Sutawijaya memang tidak begitu keras, sehingga Argajaya pun tidak sampai kehilangan keseimbangan. Tetapi tangkai tombak Sutawijaya itu pun telah membuat luka pada pelipis Argajaya, sehingga luka itu pun meneteskan darah.

    Terdengar tiba-tiba Argajaya mengumpat kasar. Dengan tiba-tiba ia menyerang kembali Sutawijaya. Namun Sutawijaya telah bersiaga dan dalam waktu yang singkat, ia segera dapat menguasai lawannya. Apalagi kini Argajaya tidak lagi bersenjata.

    “Bunuh aku anak setan” Teriak Argajaya.

    “Tidak, aku akan membuatmu cacat seumur hidup. Tangkai tombakku akan dapat mematuk ke dua matamu, dank au akan menjadi buta karenanya. Nah, apakah yang dapat kau lakukan tanpa sepasang matamu. Aku tidak akan mempergunakan ujung tombakku, sebab setiap goresan dapat berakibat maut.”

    Ancaman itu benar-benar mengerikan. Tiba-tiba Argajaya meloncat mundur. Ternyata Sutawijaya membiarkannya. Ia sama sekali tidak mengejarnya.

    Terdengar kemudian Argajaya mengeram. Suaranya menggeletar melontarkan kemarahannya yang pepat di dalam dadanya. ”Aku akan pergi anak demit. Tetapi jangan kau sangka bahwa aku takut menghadapi kau. Bukan berarti aku lari dari kematian. Tetapi ternyata kau bengis melampaui iblis. Aku akan menunggumu di Sangkal Putung kalau kau benar-benar anak Sangkal Putung. Aku akan mencari kesempatan untuk melakukan perang tanding sekali lagi di hadapan para pemimpin prajurit Pajang di Sangkal Putung. Perang tanding sampai salah seorang diantara kita mati.”

    ”Pergi” teriak Sitawijaya, ” jangan mengigau. Kau dan Sidanti boleh maju bersama-sama ke dalam arena.”

    ”Mulutmu-lah yang pertama-tama harus dipecahkan.” geram Argajaya dengan suara yang tajam.

    ”Lakukan-lah kalau kau mampu melakukan.” Sahut Sutawijaya. ”Tetapi ada pesanku padamu. Kalau kau mencari Sidanti, jangan kau cari di Sangkal Putung. Anak gila itu kini berada di padepokan gurunya. Carilah ia ke sana dan kau akan menemukannya. Katakanlah kepadanya, bahwa luka di pelipismu adalah luka yang dibuat sebagai pertanda, bahwa kau telah berkelahi dengan seorang pengawal dari Sangkal Putung.”

    Dada Argajaya bergetar mendengar kata-kata itu. Sejenak ia terpaku saja di tempatnya. Diulanginya pendengaranya itu di dalam hatinya. ”Sidanti sudah tidak ada di Sangkal Putung lagi.”

    Tetapi kemudian ia menggeram. Dengan marahnya ia menjawab. “Bohong. Ternyata kau bukan orang Sangkal Putung. Sidanti adalah orang yang penting di kademangan itu. Ia adalah sapu kawat. Tanpa Sidanti, Sangkal Putung tidak akan berarti sebagai suatu pertahanan untuk mempertahankan lumbung makan.”
    Terdengar suara tertawa Sutawijaya, disusul gelak Swandaru seakan-akan melengking, sehingga hampir setiap mata berpaling kepadanya. Yang terdengar kemudian adalah jawaban Sutawijaya. “Kau memang sedang mengigau. Kapan kau datang untuk terakhir kalinya ke Sangkal Putung? Jangankan kau yang datang dari pegunungan Menoreh di seberang hutan Mentaok, sedangkan orang-orang di Prambanan, bahkan para prajurit di Prambanan ini pun belum tahu apa yang sebenarnya terjadi di Sangkal Putung. Alangkah jeleknya jaring-jaring perhubungan antara para prajurit Pajang yang tersebar di mana-mana ini.”

    Bukan saja Argajaya, tetapi para prajurit pun menjadi berdebar-denar mendengar kata-kata itu.

    Kembali Sutawijaya meneruskan kata-katanya. “Tetapi kalau kau tidak percaya, cobalah datang ke Sangkal Putung. Setiap hidung pasti akan mentertawakan kedatanganmu, seperti mereka mentertawakan Sidanti. Sidanti sama sekali tidak berarti apa-apa di kademangan itu.”

    Tiba-tiba terdengar pemimpin prajurit yang datang bersama Argajaya memotong kata-katanya. ”Maksudmu kehadiran prajurit Wira Tamtama di Sangkal Putung tidak berarti apa-apa bagi kademangan itu serta penduduknya?”

    ”Siapa yang berkata demikian? Bantah Sutawijaya, ”yang aku katakan adalah Sidanti. Sidanti. Kau dengar?”

    Telinga prahurit itu menjadi panas. Tetapi ia masih melihat anak panah yang sudah melekat pada tali busurnya di tangan Agung Sedayu dan Swandaru. Meskipun demikian ia berkata. ”Bukankah Sidanti itu seorang prajurit Wira Tamtama yang ditempatkan di Pajang?”

    ”Ya” sahut Sutawijaya pendek.

    ”Nah, jadi bukankah demikian kau telah menghina prajurit Wira Tamtama?”

    ”Tidak, aku hanya mengatakan bahwa Sidanti tidak berada di Sangkal Putung. Ia berada di tempat gurunya.” kemudian Sutawijaya itupun berpaling kepada Argajaya. ”Sekarang pergilah. Pergi kepada Sidanti. Bertanyalah kepadanya tentang pengawal Sangkal Putung seperti yang kau lihat kini kepada Sidanti. Ia kenal kami bertiga dengan baik.”

    Argajaya tidak menjawab. Tetapi ia belum beranjak dari tempatnya.

    “Jadi kau ingin aku melakukan kehendakku atasmu. Membuatmu cacat seumur hidupmu?”

    Kembali terdengar Argajaya menggeram.

    ”Kesempatan yang aku berikan hampir sampai pada batasnya” sambung Sutawijaya, ”ternyata aku mempunyai alat yang lebih baik dari pada tangkai tombakku.” Ketika Sutawijaya kemudian berpaling memandangi ujung-ujung anak panah Agung Sedayu, maka berdesir-lah setiap dada. Apakah anak muda itu akan menyuruh adiknya itu untuk melepaskan anak panahnya mengarah ke mata Argajaya.

    Argajaya pun melihat ujung anah panah itu. Dengan demikian maka gelora di dalam dadanya semakin menyala. Dendam, benci dan muak bercampur-baur di dalam hatinya. Dengan suara bergetar ia melepaskan perasaannya itu katanya ”Aku ingin bertemu sekali lagi. Aku akan mendengarkan pesanmu kali ini. Akau akan pergi ke guru Sidanti di lereng Merapi. Dari padanya aku akan mendengar keadaan anak muda itu. Mudah-mudahan kita akan dapat bertemu kembali. Kau benar-benar akan menyesal kelak, bahwa kau tidak membunuhku saat ini.”

    ”Pergilah. Terima kasih bahwa kau mau mendengarkan pesanku. Pesan seorang pengawal Kademangan Sangkal Putung. Jangan lupa sebut kami satu per satu di hadapan Sidanti. Aku, adikku yang bertumbuh sedang dan berwajah tampan seperti Topeng Panji, yang satu lagi gemuk bulat seperti kelapa. Kau telah mengenal nama-nama kami. Karena itu maka…”

    ”Cukup. Kau menjadi besar kepala karenanya. Tetapi akan datang saatnya, kepalamu itu aku penggal kelak.”

    Argajaya tidak menunggu jawaban Sutawijaya. Segera ia memutar tubuhnya dan melangkah meninggalkan arena dengan tergesa-gesa. Tetapi ia tertegun ketika ia mendengar Sutawijaya berkata ”Tunggu. Kau kelupaan tombakmu. Kalau tombakmu itu memang sebuah pusaka sipat kandel dari Tanah Perdikan Menoreh, bawalah. Mungkin akan berguna bagimu.”

    Mata Argajaya menjadi semakin merah, semerah darah. Giginya gemeretak dan tubuhnya bergetar. Tetapi ia melangkah capat-capat ke arah tombaknya yang tergolek di atas pasir tepian.

    “Anggaplah tombak itu sebuah kenang-kenangan dari padaku.” Berkata Sutawijaya.

    Argajaya berpaling pun tidak. Ia berjalan cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Meskipun demikian, meskipun ia meninggalkan lawannya, namun sebenarnya di dalam hati Sutawijaya mengakui kejantanan lawannya itu. Sikapnya yang pantang menyerah dalam keyakinannya, meskipun ujung tombak telah melekat di lambungnya. Tetapi orang yang demikian, pasti benar-benar akan melakukan kata-katanya yang diucapkan sebagai janji untuk melepaskan dendamnya kelak apabila ada kesempatan.

    Semua mata memandang langkah Argajaya yang tergesa-gesa itu, yang kemudian disusul oleh kedua pengiringnya dari Mentaok. Kesan keberanian dan keteguhan hatinya masih terasa di dalam hati orang-orang yang berdiri di tepian itu. Bahkan Agung Sedayu berguman di dalam hatinya. ”Seperti Sidanti. Keras hati. Namun nalarnya kadang-kadang terdesak jauh ke belakang, sehingga orang itu kurang memikirkan akibat dari perbuatannya.”

    Belum lagi Argajaya itu jauh, terdengar prajurit yang datang bersamanya menggeram. ”Perbuatanmu tidak dapat lagi dimaafkan. Kalau kelak Sidanti itu benar-benar datang kemari, maka kami adalah saksi yang dapat mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.”

    ”Sidanti tidak akan datang kemari.” Jawab Sutawijaya.

    ”Apakah kau pasti?” bertanya prajurit itu.

    ”Sidanti tidak lagi berada di Sangkal Putung.”

    ”Bohong. Salah seorang dari kami akan menghadap ke Sangkal Putung. Ki Untara harus mendengar bahwa pimpinan kami di sini telah berbuat kesalahan dengan membiarkan kalian membuat onar di Kademangan Prambanan. Kalian bersama pimpinan kami itu harus ditangkap.”

    Pemimpin prajurit yang datang bersama Sutawijaya itu pun segera memotong. ”Kalianlah yang telah memberontak. Aku masih tetap pimpinan di sini. Aku pun dapat mengatakan apa yang telah terjadi dan orang-orang yang berdiri di sini dan yang semalam melihat apa yang terjadi di Banjar Desa akan menjadi saksi.”

    ”Baik. Kita lihat, siapakah yang akan dipercaya oleh pimpinan kita di Sangkal Putung.”

    Tiba-tiba Sutawijaya itu pun tertawa. Katanya ”kalian terlalu percaya bahwa Sidanti akan dapat memberimu perlindungan. Tetapi sudah aku katakan, kami tidak takut kepada Sidanti. Kami tidak takut pula seandainya Ki Untara mempercayai kata-katamu. Bahkan kami tidak akan takut seandainya Panglima Wira Tamtama sendiri akan datang kemari.”

    Para prajurit itu pun terkejut mendengar kata-kata itu. Prajurit yang berpihak kepadanya terkejut. Sejenak ia terbungkam sambil memandangi anak muda yang masih menggenggam tombak di tangannya itu.

    Sutawijaya melihat wajah-wajah yang menjadi semakin tegang. Tetapi ia masih saja tertawa. ”Aku berkata sebenarnya. Tidak ada seorang pun yang akan dapat berbuat sesuatu atas kami. Tetapi sebaliknya, kami akan dapat mengatakan apa yang telah terjadi di sini kepada siapa pun yang akan datang kemari. Ki Untara, Ki Penjawi, Ki Juru Mertani, atau Ki Gede Pemanahan sendiri.”

    Yang mendengar kata-kata itu menjadi semakin tidak mengerti. Bahkan para prajurit yang berpihak kepada Argajaya menganggap bahwa anak muda itu sebenarnya anak yang tidak tahu adat. Karena itu maka pemimpinnya pun berkata ”Nah, semua orang telah mendengar kata-katamu. Kau benar-benar telah menghina Wira Tamtama. Sedang pemimpin kami yang bertanggung jawab di sini masih saja diam mematung.”

    Pemimpin prajurit yang datang bersama Sutawijaya itu pun menjadi heran mendengar kata-kata Sutawijaya. Kata-kata itu sendiri telah dapat digolongkan pada suatu tindakan yang kurang pada tempatnya. Kata-kata itu sabenarnya memang menyangkut nama Wira Tamtama dan apa lagi panglimanya. Karena itu maka sejenak ia terdiam. Dicobanya untuk mencernakan apa yang telah dilihatnya dan apa yang telah didengarnya.

    ”Aku sama sekali tidak menghinanya. Aku justru mempercayai mereka, para pemimpin Wira Tamtama. Baik yang berada di Prambanan, baik yang berada di Sangkal Putung, maupun yang berada di Pajang. Aku memang tidak takut seandainya mereka datang bersama-sama kemari, sebab mereka pasti dapat membedakan mana yang baik dan mana yang salah.” Berkata Sutawijaya.

    Pemimpin prajurit yang datang bersamanya tiba-tiba menganggukkan kepalanya. Katanya ”Benar. Kau benar anak muda. Orang yang yakin akan kebenarannya tidak perlu takit menghadapi apa pun, apalagi mereka yang tegak pada keadilan. Aku pun percaya bahwa para pemimpin itu akan mempertahankan keadilan yang selurus-lurusnya.”

    ”Persetan” sahut pemimpin yang lain, ”kalian adalah orang-orang yang memang pandai berbicara. Tetapi marilah kita lihat apakah yang akan terjadi kelak” Kemudian kepada kawan-kawannya ia berkata ”Marilah kita tinggalkan tempat ini.”

    ”Tunggu” cegah Sutawijaya, ”persoalan kalian belum selesai. Dengan demikian, maka di Prambanan kini masih ada dua pimpinan prajurit yang merasa masing-masing berkuasa. Pimpinan yang sebenarnya dan pimpinan bayangan.”

    ”Akulah yang memegang pimpinan sekarang. Semua prajurit di Prambanan tunduk kepadaku.”

    ”Tidak” sahut yang datang bersama Sutawijaya, ”aku tetap pimpinan di sini. Siapa yang tidak tunduk pada perintahku, kepadanya akan dapat dikenakan hukuman.”

    ”Omong kosong. Jangan hiraukan. Mari kita pergi.”

    Tetapi ketika mereka sudah mulai bergerak untuk meninggalkan tempat itu, kembali mereka tertegun karena Sutawijaya berkata ”Aku hanya mengakui pimpinan yang seorang, yang datang bersamaku. Bukan karena ia membenarkan sikapku, tetapi karena ialah yang menerima kekuasaan dalam jabatan itu. Setiap pelanggaran atas perintahnya, berarti pemberontakan yang akan ditindak.”

    Wajah pemimpin prajurit yang lain menjadi merah menyala. Dengan kasarnya ia berkata ”Apakah hakmu berkata demikian, he anak Sangkal Putung. Prambanan bukan bawahan Sangkal Putung, meskipun kebetulan pemimpin kami berada di sana. Tetapi kami hanya bertanggung jawab kepada Ki Untara. Kalau kau tidak mau mengakui kami, kami tidak berkeberatan, tetapi sebenarnya bahwa kami ingin menangkap kalian dan mengikat di halaman Banjar Desa.”

    Prajurit itu tidak berpaling ketika Sutawijaya berkata ”Tunggulah.”

    Beberapa prajurit yang lain pun segera mengikutinya. Tetapi langkah mereka tertegun-tegun. Agaknya mereka sedang membicarakan sesuatu. Sekali tampak mereka berpaling ketika anak-anak muda yang datang bersama mereka pun telah bergerak pula. Hanya Ki Demang-lah yang masih saja berdiri mematung.

    Tetapi mereka pun terkejut ketika para prajurit itu berhenti dan tiba-tiba saja mereka berlari berpencaran kembali mengelilingi arena yang berbeda-beda.

    Yang terjadi itu berlangsung terlampau cepat. Sutawijaya tegak di tengah-tengah arena itu dengan hati yang berdebar-debar, sedang Agung Sedayu sejanak menjadi seakan-akan membeku. Mereka menyadari apa yang akan dilakukan oleh para prajurit itu, tetapi mereka tidak segera menemukan cara untuk mengatasinya.

    “Aku tidak menyangka bahwa mereka segila itu” Desah Sutawijaya di dalam hatinya.

    Sejenak kemudian terdengar pemimpin prajurit yang seorang, yang datang bersama Argajaya berteriak “Demi tegaknya tanggung jawab para prajurit Pajang dai Prambanan, marilah kita tangkap anak setan itu. He, para pemuda Prambanan, jangan tidur, kau pun telah mendapat penghinaan dari orang itu.”

    Tiba-tiba para pemudanya pun bergerak. Semula mereka berdesak-desakan saja, namun kemudian sebagian dari mereka menyadari maksud gerakan pra prajurit itu. Dengan demikian mereka menghindarkan diri mereka sejauh-jauh mungkin dari anak panah Agung Sedayu dan Swandaru, karena mereka terpencar-pencar. Para prajurit itu mengharap, bahwa mereka dapat membuat gerakan-gerakan yang dapat membingungkan Agung Sedayu dan Swandaru. Agung Sedayu dan Swandaru pasti tidak akan mungkin lagi memanah mereka dalam sekejap dan melepaskan anak panah yang kedua sekejap kemudian, atau dengan mata terpejam mengarah pada sekelompok orang.

    Sutawijaya, Agung Sedayu, Swandaru, pemimpin prajurit yang lain, dan beberapa orang kini terkepung oleh sebuah lingkaran yang terdiri dari para prajurit Pajang di Prambanan beserta beberapa anak-anak muda. Anak-anak muda itu bergerak saja seperti kena pesona, karena hubungan mereka yang rapat dengan para prajurit itu. Ki Demang pun tiba-tiba bergerak pula bersama dengan mereka.

    ”Jangan berbuat sesuatu yang tidak akan ada gunanya,” ancam pemimpin prajurit itu. ”kalian telah terkepung. Meskipun kalian bertiga seorang-seorang menang dari orang-orang Menoreh, tetapi jangan mimpi untuk dapat melawan kami semua ini.”

    ”Kalian benar-benar gila” teriak pemimpin prajurit yang berada di dekat Sutawijaya, ”uraikan kepungan itu”

    ”Tidak”

    ”Demi kekuasaan Wira Tamtama yang berada di tanganku”

    ”Tidak. Menyerahlah”

    Gigi pemimpin prajurit itu gemeretak. Kini pedangnya tergenggam erat ditangannya. Sedang para prajurit di luar lingkaran itu pun telah menggenggamsenjata masing-masing pula.

    Suasana segera meningkat semakin tegang. Orang-orang tua yang berdiri di dalam kepungan menjadi ketakutan dan gemetar. Tetapi pemimpin prajurit yang memimpin pengepungan itu berkata ”Siapa yang tidak turut dan tidak melibatkan dirinya, segera keluar dari kepungan ini, kecuali empat orang yang akan kami tangkap.”

    Beberapa orang kemudian tersuruk-suruk berjalan ke luar lingkaran dengan tubuh yang menggigil karena ketakutan. Satu-satu mereka menghilang ke belakang kepungan, sehingga orang-orang yang berada di dalam itu pun susut dengan cepatnya.

    Tetapi ternyata tidak semua orang berlari ke luar lingkaran. Ketika tidak seorang pun lagi yang bergerak, maka tampaklah dengan jelas, siapa-siapa yang kini berdiri berseberangan. Yang masih tinggal di dalam lingkaran itu, bukan saja Sutawijaya, Agung Sedayu, Swandaru, dan pemimpin prajurit yang seorang, tetapi di dalam lingkaran itu berdiri Haspada, Trapsila dan beberapa pemuda yang lain. Meskipun mereka tidak bersenjata panjang, tetapi mereka telah dapat menduga, bahwa sesuatu akan terjadi. Ternyata di dalam baju mereka terselip sebilah keris. Ketika keadaan meningkat menjadi semakin tegang, maka hulu-hulu keris itu pun telah tersembul dari dalam baju-baju mereka.

    Dada Sutawijaya menjadi semakin berdebar-debar melihat peristiwa itu. Apakah benar-benar akan terjadi pertumbpahan darah di tepian kali Opak.

    Tiba-tiba udara digetarkan oleh suara tertawa berkepanjangan. Ketika semua berpaling ke arah suara itu, mereka melihat Swandaru masih saja tertawa sambil memandang pemimpin pemimpin prajurit yang berdiri di lingkaran, siap dengan senjata di tangan.

    ”Hem” berkata Swandaru, ”kalau kalian ingin bersungguh-sungguh, sudah barang tentu bahwa kami tidak akan menggunakan anak panah ini. Sebenarnya kami tidak senang berkelahi dengan anak panah. Kalau aku berhasil membinasakan lawan dengan anak panah, aku sama sekali tidak mendapat kepuasan karenanya. Aku lebih senang membelah dada lawanku dengan pedangku ini.”

    Swandaru kemudian dengan tenangnya meletakkan busurnya, melepaskan busur Sutawijaya di punggungnya, dan seolah-olah sedang melepaskan pakaiannya untuk mandi saja, anak yang gemuk bulat itu melepas tali-tali endong anak panahnya.

    Para prajurit Pajang, beberapa anak-anak muda yang berdiri mengepungnya dan bahkan anak-anak muda yang berada di dalam kepungan, menjadi heran melihat ketenangan sikapnya. Orang-orang yang berdiri mengancamnya dengan senjata di tangan itu seakan-akan sama sekali tidak mempengaruhinya. Namun ketenangan Swandaru itu telah membuat para prajurit Pajang bertanya-tanya di dalam hati dan membuat anak-anak muda Prambanan menjadi gelisah.

    Dengan tenang pula tangan kanannya kemudian menarik hulu pedangnya yang terbuat dari gading dan kini berjuntai seutas tali yang kekuning-kuningan. Ketika pedang itu kemudian menjadi telanjang, maka tampaklah pedang itu adalah sebilah pedang yang panjang.

    Dengan nada yang tinggi Swandaru itu pun berkata ”Apakah kita benar-benar akan berkelahi?”

    Sutawijaya dan Agung Sedayu melihat sikap itu dengan cemas, apalagi ketika kemudian mereka melihat wajah para prajurit Pajang itu pun menjadi semakin tegang.

    Tanpa berjanji maka Agung Sedayu dan Sutawijaya itu pun saling berpandangan. Seakan-akan mereka saling bertanya, apakah yang sebaiknya mereka lakukan. Ternyata yang merayap di dalam hati mereka itu serupa. Mereka mencemaskan keadaan di sekitarnya. Bukan karena mereka cemas tentang nasib mereka masing-masing, tetapi mereka mencemaskan nasib anak-anak muda Prambanan. Kalau terjadi perkelahian di pinggir Kali Opak ini maka korban yang paling banyak adalah anak-anak muda itu. Sebagian dari mereka sama sekali tidak bersenjata. Tetapi terbakar oleh darah mudanya, maka mereka akan menjadi mabuk keberanian tanpa perhitungan. Dalam perkelahian yang demikian, maka kemungkinan jatuhnya korban adalah besar sekali. Mereka sendiri pasti tidak akan menyentuh tubuh lawan.

    Sebelum mereka menemukan sesuatu cara yang sebaik-baiknya, mereka mendengar pemimpin prajurit yang melingkari mereka itu berteriak ”Ternyata kalian benar-benar melawan perintah kami.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: