Buku 42

“Ya, Ki Gede.”

“Jagalah baik-baik, bahwa masalah-masalah terpenting hanya boleh kita ketahui bersama.”

“Ya, Ki Gede,” jawab Samekta sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sekarang, mulailah dengan segala macam persiapan. Aku akan mencoba memantapkan diriku sendiri, sehingga apabila setiap saat aku harus turun ke medan perang, seperti yang direncanakan, aku tidak akan mengecewakan.”

“Silahkan, Ki Gede. Kami minta diri.”

“Aku sangat berterima kasih kepada kesediaan kalian, baik dari keluarga Tanah ini maupun yang menaruh perhatian terhadap keadaannya. Mudah-mudahan kita berhasil.”

Orang-orang yang berada di dalam bilik Ki Gede itu pun kemudian bersama-sama meninggalkannya. Masing-masing pergi ke tempatnya. Gembala tua dan kedua orang kepercayaan Sutawijaya itu kemudian kembali ke tempat yang sudah disediakan untuk mereka bersama-sama dengan Gupala dan Gupita. Seperti orang-orang Menoreh, mereka pun harus mempersiapkan diri mereka apabila setiap saat mereka harus turun ke medan.

Gupala dan Gupita pun kemudian mendapat petunjuk-petunjuk dari gurunya. Apa yang harus mereka kerjakan apabila waktunya telah datang.

“Apakah Ki Argapati tahu dengan pasti, kapan Ki Tambak Wedi akan menyerang?” bertanya Gupita.

Gurunya menggelengkan kepalanya, “Belum. Namun kita harus memperhitungkan bahwa setiap saat hal itu dapat terjadi, sehingga kita harus dapat melakukannya setiap saat pula.

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian Gupala bertanya, “Tetapi apakah Pandan Wangi dapat dipercaya untuk melakukan tugasnya itu?”

“Menurut Ki Argapati, ia percaya bahwa Pandan Wangi akan dapat melakukannya.”

“Pekerjaan itu memang terlalu berat untuknya. Tetapi mudah-mudahan ia berhasil,” gumam Gupita.

Gurunya tidak menyahut. Tetapi tatapan matanya jauh menembus cahaya matahari yang bermain di halaman, hinggap pada bayangan dedaunan yang bergerak-gerak dihembus angin yang lemah.

Ruangan itu pun kemudian sejenak disambar oleh kesenyapan. Namun kemudian Gupala dan Gupita minta diri untuk berada di halaman, karena udara yang terlampau panas.

Dengan dada yang berdebar-debar mereka menyaksikan kesibukan para pengawal. Persiapan-persiapan yang semakin memuncak karena perkembangan keadaan yang memuncak pula.

Apalagi setelah beberapa orang petugas sandi sempat melaporkan, bahwa mereka pun melihat persiapan yang matang pada pasukan Ki Tambak Wedi.

“Tidak akan lebih dari malam nanti,” desis Gupita.

“Ya. Aku kira malam nanti Ki Tambak Wedi akan datang,” jawab Gupala. “Namun cara yang akan kita pergunakan cukup menarik.”

“Tetapi juga sangat berbahaya bagi Ki Argapati dan Pandan Wangi itu sendiri,” gumam Gupita. “Tetapi kita tidak dapat berbuat banyak.”

“Kalau aku diperkenankan, aku akan bertempur bersamanya,” desis Gupala.

Gupita mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling ke arah anak muda yang gemuk itu, tiba-tiba Gupala tertawa sambil berdiri.

Namun ia masih juga berkata, “Mudah-mudahan aku mendapat kesempatan.”

“Dalam hiruk-pikuk serupa ini, kau masih sempat juga mimpi.”

“Mimpi yang paling mengasyikkan justru apabila kita tidak sedang tidur nyenyak. Bukankah begitu? Dalam hiruk-pikuk yang beginilah kadang-kadang kita menemukan suatu perkembangan jalan hidup kita tanpa kita duga-duga. Bukankah dalam hiruk-pikuk juga kau bertemu dengan seorang gadis, justru pada suatu saat yang menentukan buat Sangkal Putung?”

“Ah,” Gupita berdesah. Dan Gupala masih juga tertawa berkepanjangan sambil meninggalkan Gupita yang masih duduk di tempatnya seorang diri.

Sejenak bayangan seorang gadis yang manja dan keras hati melintas di dalam kepalanya. Kemudian disusul oleh sebuah bayangan yang lain. Seorang gadis yang dalam keadaan terakhir selalu membawa sepasang pedang rangkap di lambungnya.

Gupita kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berdesis, “Ah, lebih baik aku membuat pertimbangan-pertimbangan tentang setiap kemungkinan yang dapat terjadi di padukuhan ini.”

Namun tiba-tiba ia berpaling ketika ia melihat seseorang mendatanginya. Seorang anak muda yang bertubuh raksasa.

Dada Gupita menjadi berdebar-debar melihat wajah Wrahasta yang tampak bersungguh-sungguh. Beberapa langkah daripadanya Wrahasta berhenti. Diedarkannya pandangan matanya ke seluruh halaman, tetapi ketika tidak ada seorang pun yang dilihatnya, maka ia pun segera melangkah beberapa langkah lagi.

“Gupita,” suaranya bernada berat, “aku masih tetap pada pendirianku. Aku tidak menghendaki kau hadir di sini. Tetapi agaknya ayahmu mendapat tempat di hati Ki Argapati. Karena itu, aku perlu memperingatkan kau sekali lagi, bahwa kau tidak disukai di padukuhan ini.”

Gupita menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak senang selalu mendapat pringatan semacam itu. Meskipun demikian ia masih harus tetap menjaga dirinya. Namun meskipun demikian ia menjawab, “Wrahasta. Aku tidak akan bersitegang untuk tinggal di padukuhanmu. Pada suatu ketika apabila pekerjaanku sudah selesai, maka aku pun akan segera pergi. Disukai atau tidak disukai, namun aku harus melakukan tugas yang dibebankan kepadaku. Baik oleh ayah maupun oleh Ki Argapati.”

“Aku mengharap kau memegang janjimu. Kalau tidak, maka setelah semua persoalan di atas tanah perdikan ini selesai, kau akan menyesal. Kalau kau tidak menepatinya, maka kita harus membuat perhitungan tersendiri.”

Dada Gupita berdesir. Tetapi ia tidak menjawab. Dibiarkannya Wrahasta berbalik dan melangkah meninggalkannya. Hampir tanpa berkedip Gupita memandang langkah itu. Langkah yang tegap penuh keyakinan pada diri sendiri. Tetapi kemudian Gupita menjadi kecewa, bahkan menaruh belas kasihan kepada raksasa itu.

Meskipun demikian. Gupita masih selalu berusaha untuk menguasai diri. Apalagi keadaan sudah menjadi sedemikian panasnya. Keadaan yang tidak dikehendaki akan segera dapat meletus setiap saat. Mungkin sebentar lagi. Mungkin di saat senja mulai turun, atau mungkin pada saat matahari tepat meluncur ke balik perbukitan. Tetapi mungkin juga setelah malam menjadi kelam atau mungkin juga tidak sama sekali di hari-hari yang dekat ini. Meskipun demikian, Gupita menyadari bahwa kekuatan seutuhnya sedang diperlukan untuk menanggapi keadaan yang telah memuncak ini.

Matahari pun semakin lama menjadi semakin tergeser ke Barat. Di saat-saat cahayanya menjadi kemerah-merahan, maka para pengawal menjadi kian sibuk. Hari itu ternyata telah mereka lampaui tanpa ada sesuatu peristiwa apa pun. Namun dengan demikian, maka mereka menjadi semakin berhati-hati. Mereka mempunyai dugaan kuat, bahwa Ki Tambak Wedi akan mengambil kesempatan di malam hari.

Karena itu, maka segala macam persiapan pun dilakukan. Alat-alat pelontar dan berbagai macam senjata jarak jauh. Senjata yang paling sederhana, pelontar batu, sampai pada panah-panah yang hampir tidak terhitung jumlahnya.

Pada saat yang demikian, Gupala, Gupita, dan gurunya telah siap pula untuk melakukan rencana yang telah disetujui bersama. Bersama sepasukan pengawal mereka harus meninggalkan padukuhan itu. Mereka harus bersiap dan berada di luar, seandainya padukuhan itu akan dikepung rapat-rapat. Mereka harus memperhitungkan pula suatu kemungkinan, bahwa Ki Tambak Wedi akan mengambil suatu cara, untuk menutup padukuhan itu sama sekali dalam waktu yang tidak terbatas, sehingga mereka akan kehilangan kemungkinan berhubungan dengan daerah-daerah dan perdukuhan-perdukuhan lain. Terutama dalam soal persediaan makan.

Sejenak kemudian, sebelum regol pedukuhan itu tertutup oleh ujung senjata pasukan Ki Tambak Wedi, gembala tua bersama kedua anak-anaknya telah meninggalkan padukuhan itu untuk bersembunyi di pategalan yang tidak terlampau jauh. Mereka mendapat tugas yang khusus, tugas yang tidak dapat dilakukan oleh pasukan yang berada di dalam padukuhan. Mereka harus dapat bergerak cepat ke segenap penjuru. Juga apabila ada kemungkinan Ki Tambak Wedi tidak menyerang lewat gerbang induk.

Argapati yang sudah menjadi semakin baik, melepas mereka sampai ke pintu gerbang. Kemudian sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia bergumam, “Aku percaya kepada mereka.”

Pandan Wangi yang berdiri di sampingnya berpaling. Tanpa sesadarnya ia bertanya, “Apa, Ayah?”

Ki Argapati terkejut. Namun kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Aku percaya kepada mereka. Dan aku percaya bahwa aku pernah mengenal orang tua itu sebelum ini. Bepapa pun ia mengingkari dirinya sendiri. Aku tidak tahu, apakah alasannya, sehingga ia lebih senang bermain-main dengan segala macam nama dan keadaan.”

“Siapakah sebarsarnya orang-orang itu, Ayah?” bertanya Pandan Wangi dengan serta-merta.

Tetapi ayahnya masih saja tersenyum dan menjawab, “Entahlah.”

“Tetapi Ayah sudah menyebutnya?”

Ki Argapati menggelengkan kepalanya. “Aku hanya menduga-duga. Tetapi lebih baik aku tidak mengatakan apa pun tentang mereka daripada aku akan keliru.”

Pandan Wangi tidak bertanya lagi. Ia pun kini memandangi pasukan yang menjadi semakin jauh. Bahkan kadang-kadang seolah-olah hilang ditelan oleh rumput-rumput liar dan batang-batang ilalang yang menjadi semakin tinggi.

Namun masih juga terbayang di angan-angan gadis itu, dua orang anak-anak muda yang seakan-akan dibayangi oleh kabut rahasia yang tidak tertembus oleh penglihatannya.

Pandan Wangi itu tersedar ketika ia mendengar ayahnya berkata, “Marilah kita beristirahat sambil menunggu, apa yang akan terjadi malam ini.”

“O,” Pandan Wangi tergagap, “mari, Ayah.”

“Kita tidak akan kembali ke pondok kita. Kita akan tinggal di pusat pimpinan pasukan Menoreh bersama dengan Wrahasta, Samekta, dan Kerti. Setiap saat kita pasti akan diperlukan.”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya.

Kemudian diiringi oleh para pemimpin pasukan pengawal, Ki Argapati pun pergi ke rumah yang dipergunakan sebagai pusat pimpinan pasukan. Di situlah Samekta, Wrahasta dan kadang-kadang Kerti selalu membicarakan dan merencanakan segala sesuatu. Kini jumlah mereka pun bertambah lagi dengan dua orang dari Pajang. Hanggapati dan Dipasanga.

Meskipun mereka duduk dalam satu tingkatan, di atas sehelai tikar pandan, namun hampir tidak seorang pun dari mereka yang berbicara. Mereka sedang sibuk dengan angan-angan masing-masing. Bayangan-bayangan dan gambaran tentang apa saja yang akan terjadi di atas tanah perdikan ini.

Sementara itu, Ki Tambak Wedi pun sedang sibuk mengatur barisannya. Ia tidak ingin menunda lagi sampai besok dan apalagi lusa. Ia sudah berketetapan hati, seperti tekad yang menyala di dalam dada Sidanti, Argajaya, dan para pemimpin yang lain. Malam ini pertahanan Argapati harus dipecah. Benteng pring ori itu harus menjadi karang abang. Dan pasukan pengawal Menoreh harus di hancur-lumatkan supaya mereka tidak membuat persoalan-persoalan baru di hari-hari mendatang.

“Tidak seorang pun akan mendapat perlakuan khusus!” teriak Ki Tambak Wedi.

Sidanti dan Argajaya mengangkat senjata masing-masing sambil menyambut ucapan-ucapan itu. “Semua harus dimusnahkan.”

Namun ketika setiap mulut meneriakkan semangat yang serupa, Sidanti menundukkan wajahnya. Terbayang di dalam angan-angannya, seorang gadis kecil yang berlari-lari sambil menangis. Kemudian memeluknya dan membasahi dadanya dengan air mata.

“Kakang, Kakang, anak itu nakal, Kakang,” tangis gadis kecil itu.

Setiap kaii ia menjadi marah. Dan setiap kali ia berkata, “Ayo, jangan hanya berani dengan anak perempuan. Lawan aku.”

Dada Sidanti menjadi berdebar-debar. Ia tidak pernah berhasil melupakan masa kecil yang baginya kini tinggal gambaran-gambaran dari sebuah mimpi yang menyenangkan. Sama sekali tidak pernah terbayang, bahwa kini, ia dan Pandan Wangi, akan berdiri berseberangan sebagai lawan. Dan ia sendiri telah meneriakkan, “Semua harus dimusnahkan!”

“Apakah yang akan terjadi atas Pandan Wangi nanti?” pertanyaan itu tidak pernah dapat terhapus dari hatinya. Hati seorang kakak, meskipun suatu kenyataan telah dihadapkan kepadanya, bahwa mereka ternyata tidak seayah.

Tetapi apakah yang dapat dilakukan selagi kedua belah pihak sudah berhadapan dengan menggenggam senjata-senjata telanjang di tangan? Apakah Pandan Wangi juga selalu dibimbangkan oleh hubungan keluarga di antara mereka.

“Persetan!” Sidanti mencoba untuk memperteguh hatinya apabila ia nanti berangkat ke peperangan. “Kalau aku dapat menghindar, aku akan menghindar. Aku akan mencari korban-korban lain. Terserahlah kepada keadaan, apakah Pandan Wangi dapat menyelamatkan dirinya atau tidak. Tetapi kalau aku harus berhadapan?” Sidanti menarik nafas dalam-dalam.

Sidanti terkejut ketika ia mendengar Argajaya bertanya dengan ragu-ragu, “Apakah yang kau renungkan?”

Sidanti menggelengkan kepalanya, “Tidak. Aku tidak sedang merenungkan apa-apa.”

Namun temyata Ki Tambak Wedi pun melihat keragu-raguan yang mewarnai wajah Sidanti. Sehingga orang tua itu langsung menebaknya, “Kau mengenangkan adikmu perempuan itu?”

Sidanti tidak menyahut.

“Sudah aku katakan. Semuanya harus dimusnahkan. Juga Pandan Wangi. Kalau ia dibiarkan hidup, ia akan menjadi benih yang baik untuk tumbuh kelak menjadi sebuah pohon berduri.”

Sidanti tidak mengucapkan sepatah kata pun.

“Bagimu, Sidanti, adik perempuanmu itu akan menjadi tawur, menjadi rabuk yang akan membuat Tanahmu ini menjadi tanah yang subur seperti yang kau harapkan.”

Sidanti masih tetap berdiam diri. Bahkan terbayang di rongga matanya perlakuan orang-orang liar yang ada di dalam pasukannya. Hampir saja Pandan Wangi menjadi korban mereka, seandainya Pandan Wangi bukan seorang yang memang cukup mampu membela dirinya.

Namun kenangan itu tiba-tiba telah mendorong Sidanti untuk berteriak, “Ya, Pandan Wangi juga harus dimusnahkan.”

Ki Tambak Wedi dan Argajaya tertegun sejenak melihat Sidanti tiba-tiba saja meneriakkan kata-kata itu. Terasa bahwa anak muda itu telah berjuang sekuat tenaga, sehingga ia terpaksa meledakkan dadanya yang serasa pepat.

Tetapi sebenarnya Sidanti telah benar-benar berkeputusan demikian. Agaknya hal itu akan menjadi lebih baik bagi adiknya. Kalau ia tertangkap hidup-hidup, maka kemungkinan yang paling pahit akan dapat terjadi. Apabila Pandan Wangi jatuh ke tangan-tangan serigala yang kelaparan itu, maka sudah terbayang di dalam kepalanya, bahwa ia harus bertindak. Mungkin ia terpaksa melakukan kekerasan, sehingga perkelahian tidak akan dapat dihindarinya lagi.

Sejenak kemudian pasukan Tambak Wedi itu pun telah siap untuk melakukan tugasnya. Untuk melawan lontaran-lontaran senjata jarak jauh, sebagian dari pasukan Ki Tambak Wedi itu diperlengkapi dengan perisai. Karena perisai-perisai yang terbuat dari kepingan baja tidak mencukupi, maka sebagian telah membuat perisai-perisai dari kayu. Tetapi perisai-perisai yang demikian, tidak kalah manfaatnya dari perisai-perisai besi. Bukan baja untuk melawan senjata-senjata jarak jauh, tetapi dalam perang beradu dada, perisai yang demikian pun dapat sangat berguna. Ujung senjata lawan yang tertancap pada perisai-perisai kayu, apabila perisai itu disentakkan, maka senjata lawan tersebut akan dapat terenggut.

Demikinlah, pada saatnya, ketika matahari telah tenggelam di balik perbukitan, serta malam telah mulai turun menyelubungi Tanah Perdikan Menoreh, maka mulailah pasukan Ki Tambak Wedi itu merayap ke luar dari padukuhan induk untuk menuju ke padukuhan Karang Sari, tempat pertahanan yang di susun dengan tergesa-gesa oleh pasukan pengawal Menoreh pada saat mereka meninggalkan padukuhan induk. Namun adalah suatu keuntungan, bahwa padukuhan itu dilingkari oleh rumpun-rumpun pring ori yang rapat, sehingga merupakan benteng yang sangat bermanfaat bagi pertahanan mereka.

Ki Tambak Wedi yang memegang langsung pimpinan pasukan itu, berjalan di paling depan bersama Sidanti dan Argajaya. Kemudian di belakang mereka berjalan Ki Peda Sura yang telah sembuh dari luka-lukanya, bersama Ki Wasi dan Ki Muni.

Setiap dada dari mereka yang berada dalam barisan itu serasa bergejolak semakin keras. Namun hampir setiap orang memastikan, bahwa mereka akan dapat memecah pertahanan Ki Argapati. Menurut perhitungan mereka, kekuatan Ki Argapati sangat terbatas. Meskipun mungkin mereka mempunyai jumlah orang yang seimbang, namun tidak ada orang lain yang dapat di percaya oleh Ki Argapati selain Pandan Wangi seorang diri. Apalagi Ki Argapati pasti belum sembuh benar dari luka-lukanya.

Meskipun perhitungan Ki Muni meleset, dan ternyata Ki Argapati tidak mati, tetapi dalam keadaannya, maka Ki Argapati tidak akan dapat lagi berada dalam puncak kemampuannya. Sehingga bagaimana pun juga, maka untuk melawan Ki Tambak Wedi, agaknya tidak mungkin lagi dapat dilakukan. Kalau ia dapat bertahan untuk beberapa lama, namun pada saatnya ia pasti akan kehabisan tenaga. Dan saat terakhir dari Kepala Tanah Perdikan itu pun akan segera datang.

Di perjalanan Ki Tambak Wedi masih sempat memberikan beberapa petunjuk kepada Sidanti dan Argajaya. Bahkan juga kepada Ki Peda Sura, Ki Wasi dan Ki Muni. Menurut penilaian Ki Tambak Wedi, maka para pengawal tanah perdikan akan mengambil cara seperti yang pernah dilakukannya. Mereka akan membentuk kelompok-kelompok kecil dari mereka yang terpilih untuk melawan para pemimpin pasukan lawan. Kalau mereka tidak mempunyai orang-orang yang mampu dihadapkan seorang lawan seorang, maka kelompok-kelompok itulah yang akan mereka pasang, untuk melawan pimpinan lawan. Untuk menghadapi kelompok-kelompok itulah maka setiap pemimpin pasukannya pun harus membuat kelompok-kelompok yang serupa. Sehingga pada saatnya orang-orang yang diperlukan dapat berdiri bebas dan dapat melakukan apa saja yang penting bagi mereka. Dalam hal ini, mencari korban sebanyak-banyaknya, karena mereka telah bertekad untuk menghancurkan dan memusnahkan lawan mereka tanpa seorang pun yang akan mendapat perlakuan khusus.

Mereka yang mendapat petunjuk itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Terbayang di kepala mereka, apa yang dapat mereka lakukan. Sebentar lagi senjata-senjata mereka akan menari-nari dalam bujana yang menggairahkan. Dan mereka telah mulai menghitung-hitung korban yang akan dapat mereka binasakan.

Semakin dekat iring-iringan itu menjadi semakin bernafsu. Bahkan ada di antara mereka yang seolah-olah tidak dapat menahan diri lagi. Sambil meraba-raba hulu senjatanya seseorang berdesis, “Kenapa kita berjalan terlampau lamban.”

Kawan yang berjalan di sampingnya berpaling. Tetapi ia tidak menjawab.

“Kenapa?” orang yang pertama mendesak. Tetapi orang yang kedua masih tetap berdiam diri.

“Aku sudah tidak sabar lagi untuk menumpas orang-orang bodoh yang tidak tahu diri itu,” geram orang yang pertama.

Orang yang kedua menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan nada yang dalam ia berkata, “Apakah kau mau menolongku?”

“Kenapa? Apakah kau dalam kesulitan?”

“Tidak. Tetapi aku ingin minta kau diam. Hanya itu.”

Orang yang pertama mengerutkan keningnya. Wajahnya menjadi merah sesaat. Namun kemudian ia bergeramang tidak menentu.

Keduanya kemudian diam. Tetapi sebenarnyalah bahwa orang yang kedua sedang dirisaukan oleh keadaan yang bakal dihadapinya. Seperti Sidanti, ia mempunyai seorang saudara, bahkan seayah dan seibu yang berada di dalam lingkungan pasukan pengawal tanah perdikan yang setia kepada Argapati.

“Kakang memang orang bodoh,” ia berdesis di dalam hatinya, “ia tidak mau mendengar nasehatku. Sekarang ia menghadapi kehancuran. Hem,” orang itu menggigit bibirnya. “Sepeninggal ayah, aku seolah-olah telah menjadi bebannya. Ia mengurus aku lebih dari ayah semasa hidupnya. Sekarang aku akan berdiri berhadapan.”

Orang itu menundukkan kepalanya. Tetapi bukan hanya orang itu saja. Bukan hanya Sidanti, Argajaya yang akan berhadapan dengan kakak kandungnya sendiri, tetapi banyak di antara mereka yang akan mengalami keadaan serupa. Namun sebanyak-banyak jumlah orang, ada di antara yang justru menjadi bangga. Dengan menepuk dada ia berkata, “Aku akan menghunjamkan pedangku ini di dada ayahku sendiri karena ayah telah mengkhianati cita-cita rakyat Tanah Perdikan Menoreh. Sidanti sendiri telah berperang melawan ayahnya. Kenapa aku tidak sanggup?” Kemudian ia tertawa sambil memilin janggutnya. Kalau sekilas hati nuraninya tersentuh oleh bayangan ibunya, keluarganya, saudara-saudaranya, maka ia berusaha untuk menindasnya dengan kejam. Ternyata dirinya sendirilah yang pertama-pertama mengalami perlakuan yang paling kejam daripadanya. Ditumpasnya setiap percikan perasaan yang kembang dari hati nurani itu. Tanpa belas kasian.

Semakin lama maka iring-iringan itu menjadi semakin dekat dan semakin dekat. Iring-iringan yang dinafasi oleh kebencian. Kalau setiap orang menunduk dengan haru di dalam iring-iringan pengantar mayat ke kubur, maka setiap orang di dalam iring-iringan ini justru menengadahkan wajah-wajah mereka sambil menggeretakkan gigi, mencari mayat-mayat yang akan mereka bawa ke kubur.

Berbeda dengan hari-hari yang lewat, pasukan Ki Tambak Wedi kali ini justru tidak membawa sebuah obor pun. Mereka berjalan di dalam gelapnya malam, menyusur jalan yang berdebu menuju ke pertahanan pasukan Argapati.

Sementara itu para pengawal di pusat pertahanan pasukan Argapati pun telah siap menyambut kedatangan lawan mereka. Apalagi ketika mereka melihat di kejauhan beberapa pucuk panah api melontar ke udara. Ternyata para petugas sandi yang telah di tempatkan dan bersembunyi di beberapa tempat telah melihat kedatangan pasukan Ki Tambak Wedi.

Pertahanan Argapati pun menjadi sibuk. Samekta telah mengatur setiap kelompok pasukan di tempat yang sebaik-baiknya. Mereka harus dapat menanggapi keadaan yang bagaimana pun juga.

Argapati sendiri masih duduk bersama puterinya. Ia masih memberi beberapa petunjuk kepada gadis itu. Dalam tingkat ilmunya, sebenarnya Pandan Wangi sudah berada pada tataran tertinggi. Namun ia masih memerlukan pengalaman dan penghayatan yang cukup, agar ilmunya dapat dicernakannya di dalam dirinya, kemudian mengalir seperti air dari sumbernya.

“Seperti yang telah kita setujui bersama, Pandan Wangi,” berkata Ayahnya, “kali ini kau harus membantu aku menghadapi Ki Tambak Wedi. Sebenarnya aku sendiri sudah bersiap untuk melawannya meskipun lukaku belum sembuh benar. Tetapi keadaanku telah cukup baik. Obat yang diberikannya kepadaku itu benar-benar bekerja di luar dugaan. Namun keadaanku masih meragukan. Beberapa orang menasehatkan agar aku tidak menghadapinya sendiri. Maka kaulah yang aku pilih untuk bertempur bersamaku.”

Pandan Wangi tidak menyahut. Tetapi kepalanya tertunduk dalam-dalam.

“Ilmumu adalah ilmu yang kau terima daripadaku. Kau akan melihat pancaran ilmu itu dan mudah-mudahan kau segera dapat menyesuaikan dirimu. Namun hati-hatilah. Yang kita lawan bersama-sama adalah Ki Tambak Wedi. Iblis yang tiada taranya di dunia ini.”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya.

“Baiklah. Persiapkan dirimu lahir dan batin. Agaknya kita akan segera mulai.”

Dalam pada itu, Samekta pun telah melaporkan, bahwa para petugas telah melihat kedatangan pasukan, Ki Tambak Wedi. Tanda-tanda telah mereka berikan.

“Apakah kau yakin bahwa mereka akan benar-benar menyerang, atau hanya sekedar menakut-nakuti seperti biasanya?” bertanya Ki Argapati.

Samekta menggelengkan kepalanya, “Kami di sini belum tahu, Ki Gede. Tetapi kami sudah siap menghadapi segala kemungkinan.”

“Baiklah. Kau harus memberikan laporan setiap ada perkembangan baru.”

“Ya, Ki Gede. Wrahasta selalu berada di atas pelaggrangan di samping regol.”

“Kerti?”

“Ia berada di antara para pengawal regol itu. Sepasukan kecil di tempat pengungsian kali ini dipimpin oleh orang lain.”

“Tempatkan diri masing-masing dalam keadaan yang baik, di tempat-tempat seperti yang telah kita bicarakan.”

“Baik, Ki Gede.”

Sepeninggal Samekta, Ki Gede pun segera membenahi pakaiannya. Sebuah bayangan yang kelam melintas di kepalanya. Hari depan Tanah ini.

Tanpa sesadarnya Ki Gede berdesah. “Kenapa tanah perdikan yang dibinanya ini harus mengalami benturan di antara kadang sendiri, sehingga mengguncang seluruh tata kehidupan yang ada di dalamnya?”

“Aku tidak dapat selalu menyalahkan orang lain,” berkata Ki Gede itu di dalam hatinya, “kalau aku mampu mengikat setiap hati dari rakyat Menoreh, betapa pun mereka dibujuk dan dihasut, mereka tidak akan berpihak kepada orang lain. Tetapi ternyata bahwa sebagian dari rakyat Menoreh tidak dapat bertahan di tempatnya. Mereka telah berpaling kepada janji-janji yang diberikan oleh orang lain. Dan itu pertanda, bahwa perbawa dan pengaruhku sebagai pengikat Tanah ini masih jauh daripada sempurna.”

Sekilas Pandan Wangi menatap wajah ayahnya yang suram, ia tahu bahwa ayahnya sedang diliputi oleh kabut penyesalan. Karena itu, Pandan Wangi tidak mengganggunya. Bahkan ia sendiri dengan bersusah payah, sedang berusaha mengatasi gejolak di dalam dadanya. “Apakah pada suatu saat aku akan berhadapan dengan Kakang Sidanti? Atau dengan Paman Argajaya?”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi menurut ketentuan, yang telah disetujui bersama, ia tidak akan berhadapan dengan keduanya. Ia harus mendampingi ayahnya melawan Ki Tambak Wedi.

Dada Pandan Wangi menjadi berdebar-debar. Ia mengerti benar, siapakah Ki Tambak Wedi. Dan sebentar lagi ia harus bertempur melawannya, meskipun di samping ayahnya.

Sekali-kali dipandanginya kedua orang yang duduk diam sambil menimang cambuk. Yang seorang kadang-kadang tersenyum-senyum sendiri, sedang yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya mereka sedang merenungi jenis senjata yang berada di tangan mereka.

“Apakah Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga dapat memenuhi harapan kita bersama?” pertanyaan itu selalu mengganggu perasaan Pandan Wangi. “Tetapi keduanya adalah prajurit-prajurit Pajang. Mudah-mudahan mereka dapat menempatkan dirinya. Tetapi lawan yang dihadapinya kali ini adalah orang-orang yang tangguh.”

Dalam pada itu, di pategalan tidak terlampau jauh dari padukuhan itu, sepasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang lain sedang menunggu pula perkembangan keadaan. Mereka pun telah melihat tanda yang melontar di udara. Dan mereka pun hampir menjadi yakin, bahwa malam ini mereka harus bertempur mati-matian.

Di antara mereka, gembala tua dan kedua anak-anaknya duduk sambil berbicara tentang berbagai kemungkinan bersama para pemimpin kelompok pasukan Menoreh. Namun mereka menjadi tercengang-cengang ketika gembala tua itu mengambil sesuatu dari kantongnya kemudian melekatkannya di bawah hidungnya.

“He. Apakah itu, Kiai?” bertanya seseorang. “Apakah kumis Kiai sendiri tidak dapat tumbuh?”

Gembala itu tersenyum. Jawabnya, “Aku mengharap dengan kumis setebal ini, aku menjadi lebih garang, sehingga apabila aku bertemu dengan lawanku nanti, sebelum aku mulai bertempur mereka telah lari terbirit-birit.

Betapa dada mereka dicengkam oleh ketegangan, namun beberapa di antara mereka sempat juga tertawa berkepanjangan. Salah seorang dari mereka berkata, “Begitu mudahnya, Kiai? Bagaimana kalau kita semua memakai kumis palsu sebesar itu? Apakah musuh kita nanti akan segera menarik diri sebelum bertempur?”

Kawan-kawannya serentak tertawa pula. Gembala tua itu pun tertawa.

“Apakah akan kita coba?” bertanya gembala itu. Mereka pun tertawa semakin keras, sementara orang tua itu telah melekatkan kumisnya dengan perekat yang dibawanya di dalam kantong ikat pinggangnya.

“Apakah kumis itu nanti tidak akan rontok?” bertanya yang lain. “Kalau terjadi demikian, maka musuh yang telah lari itu akan segera datang kembali.”

Gembala tua itu masih saja tertawa. Jawabnya, “Perekatku adalah sebangsa getah yang sangat baik. Kalau tidak dihapus dengan minyak aku kira sampai tiga hari masih akan melekat juga.” Orang tua itu berhenti sejenak. Lalu, “Siapakah yang akan mencoba?”

“Ah, lebih baik tidak,” jawab yang lain lagi. “Kalau kawan-kawanku tidak mengenal aku lagi, maka jangan-angan leherku akan dicekiknya sendiri.”

Gembala tua itu tertawa. Kemudian diberikannya sepasang jambang kepada Gupala, “Kau pakai jambang ini. Wajahmu terlampau kekanak-kanakan. Dengan jambang ini, kau bertambah dewasa dan mempunyai kesan seorang pengawal.”

Gupala tidak menyahut. Diterimanya saja sepasang jambang itu. Kemudian dilekatkannya di kedua pipinya.

“Kau mirip seorang pemimpin perompak,” desis Gupita.

Gupala mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia pun tertawa. Katanya, “Apakah yang harus dipakai oleh Kakang Gupita, supaya wajahnya tidak sesayu itu.”

“Janggut. Kau pakai janggut bercabang ini. Kesannya akan sangat menakutkan?”

Gupita mengangguk-angguk. Meskipun ia tidak begitu senang, tetapi dipakainya juga janggut itu. Ia mengerti benar maksud gurunya. Kenapa mereka harus memakai bermacam-macam samaran itu. Dalam hiruk-pikuk pertempuran, maka samaran yang sepintas sudah akan mengaburkan bentuknya yang sebenarnya.

Orang-orang yang melihat mereka bertiga itu pun tidak dapat menahan tertawa mereka. Bahkan salah seorang berkata, “Apakah kalian tidak yakin kepada kemampuan kalian sendiri, sehingga kalian memerlukan segala macam permainan itu? Kenapa kalian tidak memakai topeng raksasa atau topeng jin sama sekali?”

Ketiganya tersenyum. Tetapi mereka tidak menyahut. Mereka asyik membetulkan letak samaran di wajah-wajah mereka.

“Nah,” berkata gembala tua itu, “sekarang aku adalah seorang yang pasti akan menggetarkan lawan-lawanku.” Lalu kepada kedua anak-anaknya ia berkata, “Kalian pun kini menjadi semakin meyakinkan untuk turun di medan peperangan.”

Gupala dan Gupita tersenyum, betapa kecut senyumnya.

Mereka harus menyesuaikan dari dengan sifat gurunya, sehingga karena itu, maka mereka pun tidak dapat berbuat lain daripada mengotori wajah-wajah mereka dengan sebangsa ijuk yang lembut itu, dan membiarkan orang yang melihatnya tertawa berkepanjangan.

Namun suara tertawa mereka itu pun segera terputus ketika pengawas yang ada di luar pategalan berkata lantang, “He. Lihat. Panah api tiga kali berturut-turut. Pengawas terakhir di depan pertahanan kita telah melihat pasukan lawan. Agaknya pasukan Ki Tambak Wedi sudah dekat.”

Gembala tua itu segera berdiri dan berjalan ke luar pategalan. Tetapi ia sudah tidak melihat panah api tiga kali berturut-turut itu.

“Kali ini agaknya Ki Tambak Wedi mempergunakan gelar yang lain dari yang dipakainya sehari-hari,” gumam gembala tua itu. “Kali ini mereka sama sekali tidak membawa obor.”

Gupita dan Gupala yang berdiri di sampingnya mengangguk-anggukkan kepala mereka. “Ya,” hampir bersamaan keduanya menyahut.

“Kalau begitu kita harus segera bersiap. Mungkin kita harus segera berbuat sesuatu.”

Pemimpin pasukan kecil itu pun segera mempersiapkan diri mereka. Agaknya pasukan Ki Tambak Wedi telah menjadi semakin dekat. Setiap saat akan dilihatnya tanda-tanda dari padukuhan itu, bahwa mereka harus mulai bergerak.

Gupala dan Gupita pun telah mempersiapkan diri mereka. Tetapi kali ini mereka tidak bersenjata cambuk, meskipun cambuknya tidak lepas dari lambungnya. Namun di peperangan nanti mereka harus bersenjata pedang.

“Sudah agak lama aku tidak berpedang lagi,” desis Gupala sambil menimang-nimang pedangnya. “Apalagi pedang ini terlampau kecil.”

“Tidak, bukan pedang itu yang terlampau kecil. Tetapi pedangmu yang bertangkai gading itulah yang bukan pedang biasa.”

Gupala mengerutkan keningnya. Ia lalu menarik pedangnya, dan mempermainkan sejenak. Diputar-putarnya pedang di tangannya sambil berdesis, “Mudah-mudahan aku masih mampu menggerakkan pedang.” Tetapi kemudian ia pun tersenyum ketika ia melihat gurunya mengawasinya.

“Tanganku menjadi kaku,” desisnya.

“Hanya sebentar. Nanti akan segera biasa kembali setelah kau menggerakkannya beberapa lama,” jawab gurunya.

“Asal saat yang sebentar itu bukan berarti kesempatan bagi lawan untuk membelah dada ini,” desis Gupala.

Gurunya mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Tanpa senjata pun kau harus siap maju ke medan perang.”

Gupala menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menyahut lagi. Dilontarkannya pandangan matanya ke dalam gelapnya malam. Sambil menyarungkan pedangnya ia berdesis, “Di sana nanti akan meloncat panah-panah api yang akan memberikan tanda-tanda kepada kita.”

Gurunya pun kemudian memandang ke dalam kegelapan itu pula. Namun sejenak kemudian ia melangkah masuk lagi ke dalam pategalan. “Aku akan menunggu sambil duduk. Waktu yang kita nantikan tidak terbatas. Mungkin sampai tengah malam Ki Tambak Wedi baru mulai bergerak, bahkan mungkin tidak sama sekali.”

Gupita dan Gupala pun mengikutinya pula. Sejenak Gupita masih menggerakkan pedangnya, namun sejenak kemudian pedang itu disarungkannya pula.

Tanda yang terakhir itu ternyata telah dilihat pula oleh Wrahasta di atas pelanggerangan di samping regol darurat. Karena itu, maka setiap orang di dalam lingkungan pertahanannya harus segera mempersiapkan dirinya. Semua peralatan telah diperiksa, dan semua dada telah menjadi berdebar-debar.

Ki Argapati yang telah mendengar laporan tentang tanda itu pun menjadi berdebar-debar pula. Sekali-sekali dipandanginya wajah puterinya yang menunduk, kemudian wajah-wajah pemimpin-pemimpin pasukannya. Akhirnya, ditatapnya kedua wajah orang-orang baru yang tenang dan meyakinkan. Hanggapati dan Dipasanga. Meskipun kemampuan orang-orang itu masih belum dapat dipercaya sepenuhnya, namun kehadirannya telah memperingan tugasnya. Dan ia berterima kasih kepada Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar, yang telah mengirimnya kemari.

Samekta pun kemudian telah berada di depan regol pula. Dipandanginya kegelapan malam yang terhampar di hadapannya. Tetapi ia tidak melihat sesuatu. Ternyata Ki Tambak Wedi benar-benar ingin merayap mendekati pertahanan itu tanpa diketahui oleh lawan-lawannya. Karena itu, maka Samekta pun segera memerintahkan untuk memadamkan semua obor dan lampu di sekitar regol. Dengan demikian, maka keadaan akan menjadi seimbang. Ki Tambak Wedi juga tidak akan segera dapat melihat pertahanannya dengan jelas, bahkan mereka pun harus memperhatikan arah dengan baik untuk dapat mencapai pintu regol dengan tepat.

Namun betapa pun gelapnya, mata yang tajam masih juga dapat melihat bayangan-bayangan yang bergerak di tempat terbuka. Tetapi jarak jangkaunya menjadi sangat terbatas. Demikian juga Samekta, Wrahasta dan juga Ki Tambak Wedi sendiri. Tetapi sebagai seorang yang memiliki banyak kelebihan dari orang lain, meskipun lampu-lampu di regol padukuhan itu dipadamkan, namun Ki Tambak Wedi tidak kehilangan arah.

“Kita langsung pergi ke depan regol itu,” perintahnya. Pasukannya pun merayap semakin dekat. Meskipun mereka tidak kehilangan arah, namun Ki Tambak Wedi mengumpat pula, “Licik. Mereka sama sekali tidak memasang lampu sehingga kami tidak mempunyai ancar-ancar sama sekali.”

Argajaya yang dekat di sampingnya, tidak menjawab. Tetapi ia berkata di dalam hatinya, “Mereka pun mengharap kita membawa obor sebanyak-banyaknya, supaya mereka dapat membidik setiap dahi dengan tepat.”

Pasukan Ki Tambak Wedi itu semakin lama menjadi semakin dekat. Namun betapa pun juga mereka merayap dengan hati-hati, tetapi akhirnya batang ilalang yang bergerak-gerak itu dapat juga dilihat oleh Wrahasta dan Samekta.

Samekta terkejut, ketika tiba-tiba saja pasukan Tambak Wedi itu telah berada beberapa puluh langkah daripadanya. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa ia segera masuk ke dalam regol dan menutupnya kuat-kuat.

Sejenak kemudian telah tersebar kepada setiap pemimpin kelompok Pasukan Pengawal Tanah Perdikan Menoreh bahwa musuh telah berada di depan hidung mereka. Karena itu, maka semua orang telah bersiap di tempatnya masing-masing dengan kelengkapan masing-masing pula.

“Awasi mereka Wrahasta,” berkata Samekta kepada Wrahasta yang masih berada di tempatnya. “Aku akan menemui Ki Gede.”

“Baik,” jawab Wrahasta, “aku akan memberitahukan apabila ada perkembangan yang cepat.”

Samekta kemudian pergi sendiri menemui Ki Gede Menoreh, dan melaporkan apa yang dilihatnya. Meskipun tidak begitu jelas, tetapi agaknya Ki Tambak Wedi telah benar-benar mengerahkan segala kekuatan yang ada padanya. Pasukan segelar sepapan kini telah berada di hadapan regol induk.

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini benar akan terjadi benturan di antara mereka. Siapa pun yang akan menang, maka artinya tidak akan jauh berbeda. Kekuatan Menoreh akan jauh menjadi susut. Meskipun demikian Ki Argapati tidak dapat melepaskan kekuasaannya begitu saja, justru untuk kepentingan hari depan Tanah Perdikan ini.

“Apakah akan jadinya apabila Tanah ini dikemudikan oleh orang-orang seperti Ki Tambak Wedi itu?” katanya di dalam hati. Dan justru karena itulah maka ia bertahan mati-matian. Bukan untuk kepentingan pribadinya, tetapi untuk tanah perdikan ini sendiri.

Ki Argapati pun kemudian mempersiapkan dirinya. Diperiksanya sekali lagi kain pembalut lukanya yang dipasang oleh gembala tua itu. Kemudian obat yang diberikannya, untuk mengatasi keadaan yang parah meskipun hanya berlaku untuk sementara.

“Rasa-rasanya aku sudah sembuh benar-benar,” desisnya.

“Tetapi Ayah masih belum sembuh dan belum pulih seperti sediakala,” Pandan Wangi memperingatkan.

“Karena itulah aku masih mempergunakan pembalut ini, dan aku masih selalu membawa obat yang diberikan orang tua itu. Tetapi aku merasa bahwa aku sudah siap mengatasi segala keadaan.” Kemudian kepada Samekta ia berkata, “Marilah, aku akan melihat pasukan Tambak Wedi.”

Ki Argapati pun kemudian mempersilahkan Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga, bersama mereka ke regol padukuhan itu untuk menyongsong lawan yang sebentar lagi akan datang.

Hanggapati dan Dipasanga pun kemudian mengikutinya. Namun di halaman Hanggapati berbisik, “Aneh-aneh saja orang tua yang menyebut dirinya gembala itu. Kenapa aku harus bertempur dengan senjata semacam ini? Aku tidak biasa mempergunakan senjata lentur, meskipun aku diwajibkan dapat mempergunakan segala macam senjata.”

Dipasanga tersenyum. Sambil menimang cambuknya ia berkata, “Apabila terpaksa, apa boleh buat. Cambuk ini akan aku letakkan, dan aku akan bertempur dengan pedangku ini.”

Hanggapati pun tersenyum pula. “Ya, itu adalah cara yang paling baik. Bukankah maksud gembala tua itu hanya sekedar menarik perhatian, bahwa ternyata yang memegang cambuk kali ini orang lain? Karena gembala tua itu sendiri justru bersenjata bentuk lain.”

Dipasanga mengangguk-anggukkan kepalanya. “Orang tua itu memang orang yang aneh. Seperti kata Angger Sutawijaya, ia senang mempergunakan seribu nama dan seribu keadaan.”

Hanggapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berbicara lagi. Mereka kini telah berada beberapa langkah dari regol induk. Ternyata pasukan pengawal Menoreh telah benar-benar siap menghadapi setiap kemungkinan.

Mereka bukan saja menyediakan segala macam senjata, tetapi mereka juga menyediakan air dan pasir. Tidak mustahil bahwa orang-orang Ki Tambak Wedi akan mempergunakan panah-panah api untuk berusaha membakar pertahanan pasukan pengawal.

Namun Pasukan Pengawal Menoreh itu pun telah menyediakan panah-panah api pula yang akan mereka sebarkan ke barisan lawan, apabila mereka telah sampai pada batas yang telah ditentukan. Ternyata di hadapan regol, pasukan Menoreh telah menebarkan jerami-jerami kering dan bumbung-bumbung minyak yang akan segera tumpah apabila disentuh kaki.

(***)

From Hprasidi’s Collection
Scan: Ki Warsono
Convert: Ki Pedo
Retype: Ki Abu, Ki Wukir, Ki Prasetyo
Proof: Ki Pedo, Ki Prasetyo, Ki Pratiwi
Date: 11-07-2008

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 2 November 2008 at 22:39  Comments (15)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/jilid-42/trackback/

RSS feed for comments on this post.

15 KomentarTinggalkan komentar

  1. Jilid 38 baru sampe halaman 23?

    Ya sudah, saya coba teruskan sampai halaman berapa ya baiknya?

  2. Ternyata Mas D2 sudah melanjutkan dari hal 23.
    Akhirnya saya mencegat di hal 50 s/d selesai utk buku 38

  3. Saya sebagi yg modal dengkul doang mengucapkan banyak terimakasih dan mendoakan semoga tim ini tetap semangat.

    Sabar menanti,
    Ki KontosWedul

  4. Dear, DD
    Sorry jilid 039 belum bisa kelar, baru separoh. Udah aku kirim ke email mbak DD.

  5. saya ucapkan beribu2 terima kasih juga, saya lahir di sebuah desa di selatan menoreh dan sempat besar di sana dan skr tinggal di jerman. saya sudah menamatkan nagasasra dan sabukinten, dan sekarang selalu setia mengunjungi ADBM di sini. selain karena ceritanya yang menarik, ADBM bisa jadi bahan bernostalgia dan obat kangen dengan kampung halaman.

    tetap semangat, saya akan mengikuti terus sampai jilid terakhir….

  6. File djvu yang diunggah pada jilid-jilid sebelumnya berukuran sekitar 1,500 – 2,000 KB, membuat file djvu masih memungkinkan untuk enak di baca. Pada jilid 42, ukuran file 864 KB, tetapi waktu membaca terpaksa banyak paragraph yang harus di skip karena tidak jelas tulisannya.

    saat ini mungkin perlu di pertimbangkan lagi mau mengorbankan kualitas agar mudah didownload (tetapi sulit dibaca) atau sedikit menambah ukuran file tetapi mudah dibaca.

  7. @Moderator

    Setuju dengan sederek Jebeng, klo bisa file djvu-nya/ scannya agak tinggi resolusinya, agar untuk retypenya gak pakai kaca pembesar atau mengira-ngira kalimatnya.

    Maturnuwun

  8. (copy)
    ADBM 042: 7-40 sudah kukirim via imel. Halaman selanjutnya menyusul, ya.
    salam, wukir

  9. silakan klik cover untuk mengunduh file adbm42.djvu yang lebih baik.

  10. mas DD,
    ADBM 042: 41-80 telah kukirim via imel, cc mas Edy.

    salam, wukir

  11. padahal aku yo nduwe tato gambar kupu2 neng sikilku lho.
    (sikil sing bagian nduwur)
    Lha Ki Argapati kok ora nakok’ke to….????

    • wussszzz kupu-kupune ki mbleh langsung tutug kamar 42

      • He…kupu2 mlebu kamar ?…..wah blaik 😀

        • Hikks,…..ning kene dho mbahas si TATOE ayake,

          kulo remenane tatoe-doea-tiga ki…..dobelll


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: