Buku 42

Beberapa orang berloncatan menepi. Ketika kuda itu lewat, setiap orang hanya dapat mengangakan mulut-mulut mereka tanpa dapat berbuat sesuatu.

Belum lagi mereka sempat menarik nafas, sekali lagi seekor kuda yang membawa Argajaya menyusulnya.

Tetapi sementara itu, pasukan berkuda itu sudah menjadi semakin jauh. Sidanti sudah tidak dapat melihat orang yang terakhir dari pasukan berkuda itu dengan jelas. Bahkan semakin lama menjadi semakin kabur oleh debu yang terhambur.

Tetapi Sidanti tidak menghentikan kudanya. Ia berpacu terus mengikuti pasukan pengawal berkuda itu. Sementara Argajaya dengan cemas mencoba mengejarnya. Bagaimana pun juga kelebihan yang ada pada anak muda itu, namun akan sangat berbahaya sekali apabila ia harus bertempur melawan sekian banyak orang di dalam pasukan yang sedang di kejarnya.

Karena Argajaya tidak segera dapat mencapai Sidanti, karena kuda-kuda mereka berpacu hampir sama kencangnya, maka terpaksa Argajaya itu pun berteriak memanggil.

“Sidanti. Sidanti.”

Tetapi Sidanti sama sekali tidak menghiraukannya. Ia masih saja berpacu dengan kencangnya.

“Sidanti!” teriak Argajaya kemudian, “Aku membawa pesan.”

Sidanti mengerutkan keningnya. Sekali ia berpaling, dan ketika sekali lagi ia mendengar Argajaya berteriak, ia mengurangi kecepatan kudanya sedikit.

Dengan demikian, maka jarak mereka menjadi semakin pendek. Dan sejenak kemudian Argajaya telah berpacu di samping kuda Sidanti.

“Pesan dari siapa, Paman?”

“Aku hanya ingin memperingatkan kau Sidanti. Apakah kau akan mengejar pasukan itu? Kau seorang diri, bagaimanapun juga kau akan mengalami kesulitan, meskipun berdua dengan aku pun. Kita belum tahu, siapakah yeng ada di dalam pasukan itu. Bagaimana kalau justru Kakang Argapati sendiri, meskipun ia belum sembuh benar? Bukankah ia sudah nampak cukup kuat untuk berpacu di atas punggung kuda, karena ia kemarin telah turun pula ke medan?”

“Jadi apakah Paman menyangka aku gila?”

“Kenapa?”

“Bagaimana pun juga aku mempunyai perhitungan, Paman,” desis Sidanti. “Sudah tentu aku tidak akan bertempur seorang diri melawan mereka. Aku akan mengikuti mereka sampai padesan di depan kita. Mereka pasti akan tertahan oleh para pengawal di desa kecil itu. Nah, baru aku akan ikut serta.”

Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata anak muda itu benar-benar cerdik. Karena itu maka katanya, “Kalau begitu, aku ikut bersamamu.” Argajaya berhenti sejenak, lalu tiba-tiba ia bertanya, “Tetapi bagaimana kalau ia tidak mengikuti jalan ini?”

“Hanya ada satu sidatan. Itu pun jalan kecil di tengah sawah. Aku kira mereka memilih jalan besar ini. Jalan yang cukup baik bagi kuda-kuda mereka.”

Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba Sidanti mengumpat habis-habisan. Ternyata pasukan berkuda yang dikejarnya itu, tidak memilih jalur jalan yang lapang ini. Ternyata mereka berbelok di jalan sidatan, meskipun jalan itu jauh lebih kecil dari jalan yang sedang dilaluinya.

“Kenapa kita mengambil jalan ini, Kiai?” bertanya pemimpin pasukan pengawal berkuda itu kepada gembala tua itu, yang menasehatkan kepadanya untuk mengambil jalan ini.

“Tanda-tanda bahaya itu pasti sudah di dengar oleh pengawal di desa di depan kita itu. Mereka pasti sudah bersiap. Dan kita pasti akan mengalami hambatan seperti pada saat kita melalui desa kecil di sebelah lain pada saat kita memasuki padukuhan induk ini. Kalau kita terpaksa berkelahi dan tertahan, maka kita tidak dapat membayangkan kemungkinan yang bakal terjadi atas pasukan ini. Beberapa orang kita telah terluka, bahkan ada yang agak parah. Dan kita tidak tahu pasti, siapakah yang berkuda mengejar kita itu. Kalau mereka berdua itu Ki Tambak Wedi dan Sidanti, maka pekerjaan kita akan menjadi terlampau berat.”

Pemimpin pasukan pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ketika mereka berdua berpaling, orang tua itu berkata, “Nah, agaknya kedua orang yang mengejar kita itu sudah berhenti di tikungan.”

Sebenarnya bahwa Sidanti dan Argajaya itu pun berhenti di jalan sidatan. Sambil mengumpat-umpat tidak habis-habisnya, Sidanti menghentak-hentakkan tangannya di pahanya.

“Kalau guru tidak melarang, aku pasti dapat menangkap mereka, meskipun hanya satu dua orang. Kita akan mendapat keterangan lebih banyak tentang pasukan yang bersembunyi di balik benteng pring ori itu.”

Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata, “Pasukan itu benar-benar luar biasa. Keberaniannya hampir tidak masuk akal. Kita memang tidak akan menyangka, bahwa mereka akan langsung masuk ke padukuhan induk. Sehingga menurut dugaanku, pasukan itu dipimpin oleh Kakang Argapati sendiri. Bukan sekedar anak-anak ingusan seperti yang biasa mereka lakukan. Menakut-nakuti para peronda di gardu-gardu dengan cambuk-cambuk kuda yang sama sekali tidak berarti.”

Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia berkata, “Marilah kita lihat di bekas-bekas pertempuran itu, Paman.”

Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan mereka berdua pun kemudian berpacu kembali ke padukuhan induk.

Mereka berdua berhenti ketika mereka memasuki regol. Sidanti dan Argajaya pun segera turun dari kuda mereka dan menemui pemimpin penjaga regol itu. Namun ternyata pemimpin penjaga itu terluka parah di lehernya.

“Kenapa?” bertanya Sidanti.

“Cambuk,” jawabnya terengah-engah, “cambuk itu melilit leherku.”

Sidanti membelalakkan matanya. Luka itu bukan sekedar selingkar jalur merah. Tetapi leher itu seakan-akan tersobek.

“Panggil Ki Wasi atau Ki Muni. Tugasnya cukup banyak di sini,” perintah Sidanti.

Ketika seorang penghubung pergi memanggil dukun itu, maka Sidanti dan Argajaya dengan hati yang bertanya-tanya menyaksikan bekas pertempuran yang agaknya cukup seru. Beberapa orang telah terluka, dan bahkan ada yang cukup parah.

Hampir tidak masuk akal, bahwa sepasukan kecil orang-orang berkuda itu mampu membuat keributan sedemikian dahsyatnya di gardu-gardu dan di regol-regol di ujung jalan.

Ketika Sidanti melihat pemimpin kelompok yang baru datang untuk memberikan bantuan ia bertanya, “Apakah kalian selama ini tidur saja dan membiarkan orang-orang berkuda itu membantai kalian?”

“Mereka tidak terlampau dahsyat seperti yang kita duga,” berkata pemimpin pengawal. “Benar juga, bahwa mereka hanya sekedar mempergunakan kesempatan selagi kita terkejut dan terheran-heran. Dan itulah kesalahan kita yang terbesar, yaitu menjadi heran dan ternganga-ganga melihat kegilaan orang-orang berkuda itu. Tetapi sebenarnyalah bahwa kami dari pasukan induk sama sekali belum mendapat kesempatan untuk bertempur. Kami belum tahu, apakah mereka benar-benar orang yang dapat dibanggakan di medan-medan peperangan yang sebenarnya.”

“Jadi kalian datang terlambat?” bertanya Argajaya.

“Ya. Agak terlambat.”

“Apakah kalian belum siap waktu penghubung dari regol penjagaan ini memberitahukan kedatangan orang-rang berkuda itu. Bukankah sebelumnya tanda-tanda dan tengara sudah bergema di seluruh padukuhan induk ini?”

“Kami sudah siap. Demikian kami mendengar berita kedatangan pasukan berkuda itu, kami segera berangkat.”

“Menurut laporan yang kami dengar, pintu regol ini telah berhasil di tutup.”

“Ya, mereka berhasil membuka pintu.”

Sidanti dan Argajaya saling berpandangan. Pasukan kecil ini ternyata adalah pasukan yang kuat dan terpercaya. Dalam waktu yang singkat, mereka berhasil menguasai selarak pintu dan membukakannya. Pada saat datang bantuan dari pasukan induk, mereka segera berhasil melarikan diri.

Dan tiba-tiba saja Sidanti dan Argajaya menjadi curiga. Di dalam pasukan yang kecil itu pasti ada kekuatan-kekuatan yang luar biasa, yang membuat pasukan kecil itu seakan-akan menjadi terlampau kuat.

Tanpa sesadarnya, maka tiba-tiba Sidanti bertanya, “Apakah benar-benar ada orang-orang bercambuk di antara mereka?”

“Sebagian terbesar yang menumbuhkan luka-luka pada kami adalah ujung-ujung cambuk itu,” jawab pemimpin penjaga yang masih terengah-engah.

“Ada berapa orang bercambuk di antara mereka?”

“Lima atau enam orang.”

Sidanti dan Argajaya mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba Sidanti mengumpat, “Persetan! Benar juga kata guru. Mereka adalah orang-orang licik yang ingin mempergunakan cara-cara yang kasar untuk mempengaruhi keberanian kita. Mereka sengaja agar kita menyangka, bahwa orang-orang bercambuk itu berada di antara mereka. Tetapi yang paling mungkin, di antara mereka itu terdapat Argapati sendiri. Sehingga pasukan yang kecil itu dapat menimbulkan kesan yang mengerikan.” Sidanti barhenti sejenak. Lalu, “Tetapi kita di sini bukan anak-anak yang dapat dikelabuhinya. Kita dapat membuat perhitungan-perhitungan. Sehingga kita tidak dapat diperbodohnya seperti kerbau yang paling dungu.”

Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sependapat dengan Sidanti. Karena itu maka katanya kemudian, “Tidak ada alasan untuk berkecil hati. Kita sampaikan semuanya ini kepada Ki Tambak Wedi, apakah Ki Tambak Wedi itu sependapat dengan kita.”

Sidanti pun mengangguk-anggukkan kepalanya pula. “Baiklah,” katanya.

Mereka berdua pun segera meninggalkan tempat itu, kembali menemui Ki Tambak Wedi untuk melaporkan apa yang telah mereka saksikan. Dan ternyata Ki Tambak Wedi pun sependapat pula dengan mereka.

“Kita memang tidak boleh menunda terlampau lama. Kita harus segera menghancurkan mereka. Meskipun Ki Argapati telah kuat untuk berpacu di atas punggung kuda, namun ia pasti masih belum akan mampu bertempur terlampau lama. Aku akan mencoba memancingnya dalam perkelahian yang lama, sehingga lukanya itu terasa mengganggunya,” berkata Ki Tambak Wedi. “Karena itu semua persiapan harus segera diselesaikan. Kita harus siap melawan lontaran-lontaran lembing dan anak panah. Karena itu, kita harus menyiapkan perisai-perisai itu sebaik-baiknya. Setiap kelengahan akan sangat merugikan kita. Kalau kita benar-benar menyiapkan diri, maka kita akan dapat memastikan, benteng pring ori itu akan menjadi karang abang. Kita akan memasukinya dan kita akan menghancurkan semuanya. Kita jangan memberi kesempatan mereka mundur dan menemukan tempat-tempat baru untuk bertahan.”

Para pemimpin pasukan Ki Tambak Wedi itu pun mengangguk-anggukkan kepala mereka. Dan sejenak kemudian mereka telah menyebar lagi ke pasukan masing-masing.

“Beristirahatlah, Sidanti,” berkata Ki Tambak Wedi, “tugasmu masih banyak.” Lalu kepada Argajaya, “Dan apakah kau akan tinggal di sini atau kembali ke pasukan yang berada di rumahmu itu?”

“Ya aku akan kembali. Pasukan itu diperlukan besok, karena itu aku akan membawa pasukan yang ada di padukuhan itu kemari.”

“Bagus,” sahut Ki Tambak Wedi, “aku pun akan minta demikian. Kita dapat memanggil beberapa perjagaan di daerah-daerah yang tersebar. Supaya kita mempunyai kekuatan yang cukup untuk menghancurkan pertahanan Argapati itu.”

“Aku akan meninggalkan beberapa orang secukupnya saja di padukuhan itu. Kalau kita besok menyerang, maka Argapati pun pasti akan memusatkan segenap kekuatannya. Pasukannya pasti tidak akan ada yang berkeliaran keluar.”

“Baiklah. Ambillah pasukan yang ada di padukuhanmu. Pasukan di padukuhan-padukuhan kecil yang lain pun harus ditarik besok siang. Kita himpun semua kekuatan yang ada, supaya kita tidak perlu mengulangi serangan itu. Kita harus menyelesaikan persoalan kita sendiri di atas Tanah ini lebih dahulu, sebelum pada suatu saat Pajang mendengarnya dan ikut mencampuri persoalan di dalam lingkungan kita ini.”

“Nah, aku minta diri,” berkata Argajaya, “aku harus menyiapkan segala sesuatunya.”

Argajaya pun kemudian meninggalkan padukuhan induk itu bersama sepuluh orang pengawalnya, kembali ke padukuhannya. Besok ia harus membawa seluruh pasukan yang ada di padukuhan itu, untuk bersama-sama dengan seluruh kekuatan yang ada berusaha menghancurkan pertahanan Ki Argapati.

Dalam pada itu pasukan berkuda yang baru saja memasuki padukuhan induk itu semakin lama menjadi semakin jauh. Ketika mereka yakin bahwa tidak ada lagi seorang pun, apalagi sepasukan lawan yang mengejar, maka mereka pun mulai memperlambat kuda-kuda mereka. Pemimpin pasukan itu mulai memperhatikan setiap orang yang terluka di dalam pasukannya, dan bagi mereka yang memerlukan, gembala tua itu memberikan obat yang dapat menolong untuk sementara.

“Tiga orang yang terluka parah, Kiai,” berkata pemimpin pasukan, “sehingga mereka tidak lagi dapat berkuda sendiri. Meskipun ada juga yang lain yang cukup parah, namun mereka masih sanggup untuk bertahan. Apalagi yang hanya sekedar luka-luka karena goresan senjata di bagian anggota badan.”

“Lalu bagaimana yang tiga orang itu?”

“Aku sudah memerintahkan orang lain untuk melayaninya.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya, “Nanti aku akan mencoba mengobatinya. Mudah-mudahan mereka masih dapat bertahan sampai di padukuhan kita,”

“Mudah-mudahan.”

Maka mereka pun kemudian berusaha mempercepat kuda-kuda mereka. Kini bukan karena mereka harus menghindari lawan yang jauh lebih kuat, tetapi mereka ingin segera sampai ke pusat pertahanan mereka, agar yang terluka dapat segera diobati.

Namun ketika mereka sampai di sebuah bulak yang panjang, tiba-tiba gembala tua itu berkata kepada pemimpin pasukan, “Dahululah bersama seluruh pasukan. Aku dan kedua anak-anakku akan singgah sebentar ke rumah untuk mengambil sesuatu.”

Pemimpin pasukan itu menjadi ragu-ragu sejenak. Namun gembala tua itu tersenyum sambil berkata, “Jangan cemas. Jalan di depan kita cukup rata. Dan aku pun akan segera menyusul.”

Pemimpin pasukan itu menganggukkan kepalanya, “Tetapi jangan terlampau lama, Kiai. Bukan karena kami ketakutan apabila kami bertemu dengan lawan, tetapi kawan-kawan kami yang luka itu segera memerlukan pengobatan.”

“Ya. Aku akan segera menyusul.”

Gembala tua itu pun kemudian membawa kedua anaknya berbelok di satu tikungan. Mereka ingin kembali sebentar menjenguk rumah mereka.

“Apa yang akan kita ambil?” bertanya Gupala.

“Aku ingin bertemu dengan Angger Sutawijaya,” desis orang tua itu. “Aku mendapat suatu pikiran baru. Aku mengharap, menurut perhitunganku, Argapati akan tetap memegang pimpinan atas tanah perdikan ini. Karena itu, sebaiknya Angger Sutawijaya sejak sekarang telah menunjukkan atau memberikan jasanya, sehingga dengan demikian maka Argapati akan merasa dirinya lebih dekat dengan Angger Sutawijaya daripada dengan Sultan Pajang.”

Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya, sedang Gupita bertanya, “Tetapi apakah mungkin akan ada pertentangan antara Pajang dengan Raden Ngabehi Loring Pasar itu?”

Gurunya menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan kepalanya di geleng-gelengkannya. Namun agaknya ia tidak yakin atas apa yang akan terjadi. “Banyak sekali kemungkinan-kemungkinan itu,” desisnya. “Mudah-mudahan tidak terjadi benturan-benturan lahir yang hanya akan menambah korban.”

Gupala dan Gupita kemudian tidak bertanya-tanya lagi. Mereka berpacu ke gubug mereka untuk menemui Sutawijaya dengan kedua pengiringnya.

Sutawijaya yang sedang berbaring di dalam gubug gembala tua itu terkejut ketika didengarnya derap kuda mendekat. Segera ia meloncat bangkit sambil menyambar tombak yang disandarkannya pada dinding. Ketika ia berdiri di depan pintu, dilihatnya kedua pembantunya pun telah bersiap pula menunggu perkembangan keadaan.

Mereka menjadi semakin berdebar-debar ketika ternyata derap kaki-kaki kuda itu menjadi semakin dekat. Namun mereka kemudian menjadi tenang ketika mereka mendengar ledakan cambuk yang memecah sepinya malam.

Sejenak kemudian, maka gembala tua beserta kedua anak-anaknya itu pun telah turun dari kuda-kuda mereka. Sambil mengikatkan kuda-kuda itu pada sebatang pepohonan, gembala itu berkata, “Aku sengaja memberikan tanda, agar Angger tidak terkejut atas kedatangan kami, karena kami kali ini berkuda.”

“Dada kami telah menjadi berdebar-debar,” berkata Sutawijaya. “Aku sangka Ki Tambak Wedi telah mencium jejak kami dan bersama-sama dengan Argajaya dan Sidanti berusaha menangkap kami.”

Orang tua itu tersenyum. “Ternyata dugaan itu meleset.” Katanya, “Tetapi, apabila Angger tidak berkeberatan, aku ingin menyampaikan suatu pendapat yang barangkali baik bagi Angger.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya.

“Aku hanya sebentar, Ngger. Mungkin Angger dapat segera memutuskan persoalan ini.”

Sorot mata Sutawijaya memancarkan berbagai macam pertanyaan.

Maka dengan singkat disampaikannya maksud gembala tua itu. Diberikannya beberapa macam pertimbangan yang cukup meyakinkan, setidak-tidaknya agar Argapati kelak tidak merintangi perkembangan Alas Mentaok.

Sutawijaya mendengarkannya dengan penuh minat. Namun tampaklah bahwa ia masih saja dicengkam oleh ke ragu-raguan.

“Argapati adalah seorang yang keras hati menurut pendengaranku, Kiai,” berkata Sutawijaya.

“Ya, ia memang keras hati. Tetapi bukan berarti bahwa ia tidak berjantung. Kalau ia merasa, bahwa Angger telah ikut menolongnya, maka ia pasti mempunyai pertimbangan-pertimbangan lain.”

“Apakah Argapati dapat diharapkan menjual kesetiaannya dengan cara itu?”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya, “Memang mungkin Argapati berpendirian demikian, Ngger. Tetapi apakah sampai saat ini kita mengetahui sikap dan tanggapan Kepala Tanah Perdikan yang besar itu terhadap Sultan Pajang? Memang, ia tidak mau menentang Pajang dan melindungi anak serta adiknya, karena tingkah laku keduanya. Argapati pasti mempertimbangkan juga, peranan Ki Tambak Wedi yang lebih banyak dikuasai oleh nafsu daripada cita-cita.”

Sutawijaya tidak segera menyahut. Tampaklah kepalanya terangguk-angguk kecil. Meskipun demikian ia masih merenungi kata-kata gembala tua itu.

“Angger Sutawijaya,” berkata orang tua itu seterusnya, “pertimbangan selanjutnya terserah kepada Angger. Tetapi menurut pertimbanganku, apakah salahnya Angger memperkenalkan diri kepada Ki Argapati?”

Sutawijaya masih belum menjawab. Meskipun tidak terucapkan ia mempunyai pertimbangan tersendiri. Apabila kini ia bersusah payah menyerahkan tenaganya, membantu dengan harapan agar Argapati kelak tidak mengganggu pertumbuhan Mentaok untuk menjadi sebuah kota, tetapi ternyata harapannya itu meleset, maka ia akan merasa tersinggung sekali.

Tetapi untuk sama sekali tidak berbuat sesuatu dalam keadaan serupa itu, akan dapat menimbulkan jarak pula antara dirinya dengan Ki Argapati meskipun mereka belum saling bertemu. Kalau Ki Argapati kelak mengetahui, bahwa pada saat tanahnya sedang kemelut dibakar oleh api perpecahan, dan ia pada saat itu berada di Menoreh dan sama sekali tidak berbuat apa-apa, maka Argapati pun pasti akan mengambil sikap pula.

“Apakah Ayahanda Sultan Pajang akan berbuat sesuatu apabila Ayahanda mengetahui bahwa di atas tanah ini terjadi benturan di antara mereka?” ia bertanya di dalam hatinya. “Apabila tiba-tiba saja Sultan Pajang mengirimkan bantuan kepada Argapati, maka kedudukanku pasti akan terdesak. Terdesak dari dua arah. Dari Timur dan dari seberang Kali Progo.”

Dalam kebimbangan itu terdengar gembala tua itu berkata, “Waktuku hanya sebentar. Sedang pertentangan ini berkembang terlampau cepat. Mungkin bahkan malam ini Ki Tambak Wedi akan menyusul kami menyerang pemusatan pasukan Argapati. Tetapi mungkin juga besok pagi. Apakah Angger Sutawijaya sudah dapat mengambil keputusan?”

Sutawidiyaya menarik nafas dalam-dalam. Ia masih saja dicengkam oleh kebimbangan. Sejenak ditatapnya wajah gembala tua itu, kedua anak-anaknya dan kemudian kedua pengawalnya.

“Aku memerlukan kedua anak-anak muda itu kelak,” desisnya di dalam hati. “Kalau mereka bersedia membantu aku, maka aku langsung akan menguasai daerah Sangkal Putung dan pasti juga Jati Anom. Jalur antara Mentaok, Alas Tambak Baya, Prambanan, Benda, Sangkal Putung, Macanan langsung ke Jati Anom akan aku kuasai.”

Akhirnya Sutawijaya itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kiai, baiklah. Aku akan membantu Argapati. Tetapi bukan berarti bahwa aku sendirilah yang harus melakukannya. Biarlah kedua kawan-kawanku itu pergi bersama Kiai.”

Gembala tua itu mengerutkan keningnya. Sejenak dipandanginya kedua pengawal Sutawijaya itu. Sepercik keragu-raguan memencar di dalam sorot matanya.

“Kiai,” berkata Sutawijaya sambil tersenyum, “keduanya adalah orang-orang kepercayaan Ayah Ki Gede Pemanahan. Mereka berdua adalah kawan-kawanku bermain-main. Jika ada perbedaan antara keduanya dan aku sendiri jarak itu tidak akan terlampau jauh. Meskipun keduanya masih juga belum dapat menyamai kedua gembala-gembala muda itu. Tetapi aku percaya kepada keduanya.”

“Ah,” salah seorang dari kedua pengawal itu berdesah, “terima kasih atas pujian itu. Tetapi aku harap bahwa Kiai tidak akan kecewa apabila ternyata aku hanya dapat meloncat-loncat.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mencoba mengerti alasan Sutawijaya. Kenapa ia tidak mau langsung terjun ke medan pertentangan itu sendiri.

Namun orang tua itu kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Terima kasih. Hal ini pasti sudah akan membuat hubungan antara Mentaok kelak dengan Menoreh menjadi lebih baik. Meskipun kali ini Angger Sutawijaya sendiri belum langsung menanganinya, namun bantuan Angger ini pasti akan sangat berarti.”

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. “Maaf, Kiai,” jawabnya, “aku sendiri masih ingin beristirahat. Entahlah apabila nanti aku berubah pendirian. Tetapi kedua orang kawan-kawanku itu pasti akan sama artinya dengan aku sendiri.”

“Ya, demikianlah.”

“Nah,” berkata Sutawijaya kemudian kepada kedua kawannya, “pergilah kalian mewakili aku.” Lalu kepada orang tua itu, “Paman Hanggapati dan paman Dipasanga akan menempatkan dirinya di bawah perintah, Kiai. Tetapi ingat, Kiai, keduanya aku serahkan kepada Kiai, tidak kepada orang lain, sehingga tanggung jawab atas keduanya ada pada Kiai.”

Gembala tua itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Baiklah, Ngger. Tetapi kehadiran keduanya akan menjadi suatu kenyataan, bahwa Angger telah berusaha mendekatkan diri. Bahkan Angger telah mulai menjalin hubungan yang baik antara Mentaok yang akan lahir dan Menoreh.”

“Mudah-mudahan, Kiai. Selanjutnya aku akan tetap berada di sini. Aku akan menunggui gubug ini, ketela pohon yang sudah mulai dapat diambil hasilnya, kambing-kambing, dan api.”

“Kenapa api?”

“Kambing-kambing itu memerlukan api.”

“Ah,” gembala tua itu tersenyum. “Baiklah. Sekarang aku minta diri. Mudah-mudahan hubungan yang telah dirintis ini kelak akan berguna. Berguna bagi Angger Sutawijaya dan berguna bagi Argapati.”

“Mudah-mudahan, Kiai. Mudah-mudahan.”

“Baiklah. Kini aku minta diri. Waktuku terlampau sempit. Orang-orang yang terluka itu memerlukan bantuanku.”

“Silahkanlah, Kiai. Agaknya Kiai baru saja membawa sepasukan pengawal berkeliling daerah ini.”

“Ya, di antara mereka ada yang terluka parah.”

Gembala tua itu pun kemudian meninggalkan Sutawijaya seorang diri karena kedua kawannya ikut bersamanya. Mereka terpaksa mempergunakan setiap ekor kuda untuk dua orang. Hanggapati bersama Gupala dan Dipasanga bersama Gupita.

Dengan demikian maka laju kuda-kuda mereka tidak dapat terlampau cepat. Namun meskipun demikian akhirya mereka sampai juga ke mulut regol padukuhan yang dilingkari pring ori itu.

Ternyata kedatangan mereka telah mengejutkan para penjaga. Bahkan Samekta yang ada di depan regol pun terkejut pula melihat gembala tua itu datang bersama orang baru lagi. “Siapakah mereka?” bertanya Samekta.

“Kalian akan berterima kasih atas kedatangannya. Tetapi marilah kita bersama-sama menghadap Ki Argapati. Aku mempunyai sebuah ceritera tentang kedua kawan baruku ini.”

Samekta mengerutkan keningnya. Sebagai seorang yang bertanggung jawab atas pusat pertahanan ini, Samekta tidak segera menerima ajakan itu.

“Apakah Ki Samekta berkeberatan?” bertanya gembala tua itu.

“Bukan begitu, Kiai. Tetapi aku masih belum mengerti, apakah kepentingan Ki Sanak berdua ini untuk bertemu dengan Ki Argapati.”

“Itulah yang akan dikatakannya nanti. Aku kira Ki Argapati pun belum mengenal keduanya. Tetapi aku akan menjadi tanggungan, bahwa keduanya tidak akan berbuat sesuatu yang merugikan kita bersama.”

Samekta masih ragu-ragu. Bahkan sepercik pertanyaan membersit di dadanya, “Apakah orang-orang ini tidak mungkin sengaja diselundupkan oleh Sidanti?”

Karena Ki Samekta masih ragu-ragu, maka gembala tua itu mencoba menjelaskannya, “Kami akan memberikan beberapa keterangan. Kalau Ki Argapati tidak menghendaki, biarlah kedua kawan-kawanku ini meninggalkan padukuhan ini.”

Ki Samekta menarik nafas dalam-dalam. Sekali ia berpaling. Tetapi ia tidak melihat Wrahasta untuk dimintai pertimbangannya. Agaknya Wrahasta sedang beristirahat, atau bahkan mungkin sedang tidur karena ialah yang sedang bertugas malam ini.

Baru setelah ia berpikir sejenak, maka berkatalah Samekta, “Baiklah, marilah aku antarkan kalian menghadap Ki Argapati.”

Mereka pun kemudian pergi ke pemondokan Ki Argapati. Meskipun malam semakin mendekati akhirnya, namun Samekta mencoba juga untuk masuk ke rumah dan menengok bilik Ki Argapati.

Derit pintu bilik itu, agaknya telah membangunkan Ki Argapati. Perlahan-lahan ia menyapa, “Siapa di luar?”

“Aku, Ki Gede. Samekta.”

“O, masuklah.”

Samekta pun kemudian melangkah masuk ke dalam bilik Ki Argapati. Dikatakannya semuanya tentang gembala tua itu beserta kedua kawan-kawannya yang baru.

Sejenak Ki Argapati berpikir. Namun kemudian ia berkata, “Aku percaya kepada gembala tua itu. Biarlah ia datang kemari.”

Kemudian gembala tua itu pun segera dipersilahkannya masuk bersama kedua pengawal Sutawijaya. Sedang Gupala dan Gupita menunggu mereka di serambi depan.

“Marilah, Kiai,” berkata Ki Airgapati, “aku sudah mendengar laporan tentang pasukan berkuda itu. Aku sangat berterima kasih kepadamu. Sebab perjalanan ini ternyata telah memberikan dorongan yang luar biasa atas tekad dan gairah perjuangan anak-anak Menoreh. Bukan saja mereka yang ikut di dalam pasukan berkuda itu, tetapi ceritera mereka tentang perjalanan mereka ternyata mempunyai akibat yang sangat baik.”

“Terima kasih, Ki Gede. Tetapi sayang, bahwa di antara mereka ada yang terluka parah.”

“Ya, memang terlampau sulit untuk menghindarinya. Dalam permainan senjata kadang-kadang kita memang akan terdorong karenanya. Itu adalah akibat yang sangat wajar.”

“Dan aku pun akan segera mengobati mereka.” berkata gembala tua itu. Kemudian, “Namun sebelumnya aku ingin memperkenalkan kedua kawan-kawanku ini.”

Ki Argapati mengerutkan keningnya. “Siapakah mereka itu?”

Gembala itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Apakah Ki Argapati pernah mengenal anak muda yang bernama Sutawijaya bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar?”

Ki Argapati menganggukkan kepalanya. “Ya. Aku pernah mendengar meskipun aku belum pernah mengenalnya dari dekat. Bukankah anak muda itu Putera angkat Sultan Hadiwijaya?”

“Tepat. Dan kedua orang ini adalah orang-orang kepercayaannya. Yang seorang bernama Hanggapati dan yang lain Dipasanga.”

“O,” Ki Argapati yang kemudian duduk di pinggir pembaringannya menganggukkan kepalanya. “Maaf. Aku belum tahu sebelumnya.”

Kedua orang itu pun mengangguk pula. Hanggapati menjawab, “Kami pun minta maaf, bahwa kami telah mengganggu Ki Gede.”

“Tidak,” gembala tua itulah yang memotongnya, “kalian berdua sama sekali tidak menggangu.” Lalu kepada Ki Gede ia menceriterakan maksud kedatangan kedua orang itu. Meskipun ia sama sekali tidak mengatakan bahwa saat itu, Sutawijaya pun sedang berada di Menoreh.

“Keduanya diutus untuk melihat keadaan di Tanah Perdikan ini,” berkata gembala tua itu. “Namun dalam keadaan yang kalut serupa ini, keduanya diberi wewenang untuk mengambil sikap. Sidanti dan Argajaya adalah orang-orang yang pernah secara langsung dan pribadi mempunyai persoalan dengan Angger Sutawijaya.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian jawabnya, “Aku akan sangat berterima kasih sekali atas perhatian itu. Lalu, apakah yang akan kalian lakukan selanjutnya?”

Hanggapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Aku akan menyerahkan tenagaku yang tidak berarti ini. Apakah yang akan dapat aku lakukan, dan sudah tentu demikian juga Adi Dipasanga, pasti akan kami lakukan.”

“Terima kasih. Aku akan sangat berterima kasih.” Kemudian Ki Gede berpaling kepada Samekta, “Inilah pimpinan yang aku serahi tanggung jawab atas pasukan Menoreh. Nah, bantuan kalian berdua akan diterimanya dengan kedua belah tangan.”

Samekta pun kemudian menganggukkan kepalanya. Katanya, “Di dalam pergolakan seperti ini, maka setiap kekuatan akan sangat berarti bagi kami. Dan kami akan mengucapkan terima kasih.”

Kedua orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun demikian, mereka mencoba untuk mengerti dan menyesuaikan dirinya. Sebenarnya keduanya tidak terlampau banyak mengerti, persoalan-persoalan apa yang telah terjadi di Tanah Perdikan Menoreh, dan persoalan-persoalan apa yang pernah timbul antara mereka, para penghuni Tanah Perdikan ini dengan Sutawijaya. Tetapi karena perintah anak muda itulah, maka ia berada di tengah-tengah pergolakan yang sedang membakar Tanah Perdikan ini.

“Untuk seterusnya,” berkata Hanggapati kemudian, “kami memerlukan petunjuk-petunjuk dan perintah-perintah, apakah yang harus kami lakukan, karena kami belum banyak mengerti tentang persoalan yang sedang di hadapi oleh Ki Gede Menoreh.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Tentu kami akan berusaha untuk menunjukkan arah perjuangan kami untuk menegakkan kesatuan kembali setelah beberapa saat Tanah ini dipecah oleh nafsu yang tidak terkendalikan dari seorang yang menyebut dirinya Ki Tambak Wedi. Tetapi, bukan maksud kami untuk memberikan perintah kepada Ki Sanak berdua, namun kami ingin menempatkan Ki Sanak berdua bersama dengan Kiai Dukun atau gembala tua itu, atau apa pun namanya, dalam satu pertukaran pikiran menghadapi keadaan yang semakin memuncak.”

Gembala tua itu tersenyum. Katanya, “Kenapa Ki Gede kebingungan menyebut jabatanku?”

Ki Gede pun tersenyum pula. Katanya kemudian, “Nah, sekarang kalian kami persilahkan untuk beristirahat sejenak. Pasukan berkuda itu pasti membuat Ki Tambak Wedi menjadi marah. Sehingga dengan demikian perkembangan keadaan akan dapat dipercepat.”

“Ya, kemungkinan itu memang ada,” jawab gembala tua itu.

“Karena itu, aku akan minta kalian nanti, apabila kalian telah beristirahat meskipun sejenak, untuk membicarakan masalah yang menjadi semakin memuncak ini.”

“Baiklah,” jawab gembala tua itu, “sekarang aku minta diri. Orang-orang yang terluka memerlukan segera mendapat pertolongan. Pertolongan darurat itu hanya dapat menolong dalam waktu yang sangat terbatas.”

“Silahkan, Kiai.”

Sejenak kemudian gembala tua beserta kedua orang kepercayaan Sutawijaya itu pun meninggalkan ruangan itu. Bersama dengan Gupala dan Gupita mereka diantar ke tempat yang telah disediakan untuk mereka. Tetapi gembala tua itu kemudian meninggalkan kedua orang kepercayaan Sutawijaya itu beserta Gupala dan Gupita. Ia sendiri pergi untuk mengobati orang-orang yang terluka pada saat mereka memasuki padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Sedang Samekta, setelah berbicara beberapa lama dengan Ki Argapati, kemudian pergi ke regol padukuhan untuk memimpin langsung pengawasan terhadap setiap kemungkinan.

Wrahasta yang kemudian mendengar dari Samekta, bahwa telah datang dua orang kepercayaan Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar, menjadi ragu-ragu pula. Katanya, “Apakah kau yakin tentang kedua orang itu?”

“Meskipun mereka berpakaian sederhana seperti kita, tetapi menilik sikapnya, mereka adalah prajurit-prajurit dari istana Pajang. Atau setidak-tidaknya mereka adalah orang-orang istana,” jawab Samekta.

Wrahasta mengerutkan keningnya. Gumamnya, “Mudah-mudahan.”

Dalam pada itu, Samekta pun telah meningkatkan kewaspadaannya pula. Mereka menyadari bahwa akibat pasukan berkuda yang menyusup ke padukuhan induk itu, pasti akan mempercepat tindakan Ki Tambak Wedi. Karena itu, maka setiap jengkal tanah kini tidak terlepas dari pengawasan dan pertahanan.

Ketika matahari kemudian mendaki langit di ujung Timur, maka Ki Argapati pun telah memanggil beberapa orang yang pantas untuk dibawa membicarakan masalah yang dihadapi oleh Tanah Perdikan Menoreh. Di antara mereka adalah Samekta, Wrahasta, gembala tua yang cakap mengobati itu, dan kedua orang kepercayaan Sutawijaya, Hanggapati dan Dipasanga. Sedang Gupala dan Gupita harus tinggal saja di luar sambil menunggu perkembangan pembicaraan itu.

Sementara itu, ketika keduanya sedang duduk di halaman sambil berbicara tentang apa saja, tentang juntai yang berwarna kekuning-kuningan yang kini dililitkan di leher baju Gupala, sampai kepada kambing-kambing yang mereka tinggalkan, dari balik daun pintu samping sepasang mata sedang mengawasi mereka. Sepasang mata seorang gadis yang membawa pedang rangkap di kedua belah lambungnya.

Gadis itu, Pandan Wangi melihat kedua anak-anak muda itu dengan kesan yang aneh. Gupita adalah seorang anak muda yang mengagumkan. Tenang dan memiliki kemampuan yang tinggi. Tingkah lakunya kadang-kadang menimbulkan berbagai macam pertanyaan. Ada beberapa pertentangan sifat yang dilihatnya pada anak muda itu. Anak muda itu kadang-kadang bersikap acuh tak acuh dan bahkan kekanak-kanakan. Namun kadang-kadang menjadi bersungguh-sungguh dan seakan-akan seorang perasa.

Sedang yang seorang lagi yang diakuinya sebagai saudaranya adalah seorang anak muda yang gemuk, yang memiliki kekhususan pula. Wajahnya terlampau cerah, dan bibirnya selalu dihiasi dengan senyum dan tawa. Anak muda yang gemuk itu seakan-akan tidak pernah menyimpan persoalan yang bersungguh-sungguh di dalam hatinya. Wajahnya yang bersih dan bulat itu menimbulkan kesan tersendiri di hati Pandan Wangi.

Pandan Wangi terkejut ketika ia mendengar suara perempuan tua penghuni rumah itu memanggilnya. Dengan tergesa-gesa ia pergi mendapatkannya, “Ada apa, Bibi?”

“Air panas itu telah tersedia bersama beberapa potong makanan.”

“Oh,” Pandan Wangi yang meskipun membawa sepasang pedang rangkap itu pun segera mengetahui tugasnya. Dicarinya sebuah nampan kayu untuk membawa minuman dan makanan itu ke dalam bilik Ayahnya, tempat orang-orang terpenting sedang berbicara tentang nasib Tanah Perdikan ini.

Ketika Pandan Wangi masuk ke dalam bilik ayahnya, agaknya pembicaraan telah menjadi terlampau jauh, sehingga apa yang didengarnya tidak dapat dimengertinya. Ia hanya mendengar kata-kata ayahnya, bahwa lukanya telah jauh berkurang. “Aku telah mampu turun ke medan apabila setiap saat Ki Tambak Wedi menghendaki.”

Pandan Wangi tertegun sejenak. Ia menjadi berdebar-debar. Apakah ayahnya benar-benar akan langsung memimpin peperangan dalam keadaannya itu. Ketika ia berpaling memandangi wajah ayahnya, ia melihat ayahnya itu tersenyum kepadanya. “Aku benar-benar sudah menjadi baik, Pandan Wangi. Mungkin aku belum pulih kembali seperti sediakala. Tetapi tenagaku agaknya sudah cukup memadai.”

“Tetapi,” Pandan Wangi menjadi ragu.

“Kau meragukan?”

“Ya, Ayah.”

“Itu adalah wajar sekali, Wangi. Tetapi ternyata obat yang diberikannya kepadaku akhir-akhir ini adalah obat yang tiada taranya. Lukaku telah hampir menjadi sembuh sama sekali.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Disambarnya sekilas dengan sudut matanya, Samekta, Wrahasta, kemudian dua orang yang baru saja hadir di padukuhan itu. Namun Pandan Wangi tidak berkata apa-apa lagi. Perlahan-lahan ia melangkah keluar sambil menjinjing nampan kayu.

Sepeninggal Pandan Wangi, maka mereka pun melanjutkan pembicaraan mereka sehingga akhirnya mereka menemukan suatu kesimpulan.

“Nah, begitulah,” berkata Ki Argapati, “aku tidak dapat berbuat lain daripada menerima saran itu.”

“Tetapi itu berbahaya sekali, Ki Gede,” berkata Wrahasta.

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. “Memang cara ini dapat menimbukan akibat yang besar bagi pertahanan kita. Tetapi apabila berhasil, maka jalan selanjutnya pasti sudah terbuka.”

Wrahasta mengerutkan keningnya. Bahkan kemudian ia menggeram, “Sejak semula aku ingin menyandarkan segala persoalan atas kekuatan dan perhitungan imbangan kekuataan di antara kita sendiri. Kita akan meyakini segala persoalan tanpa ragu-ragu.”

“Aku sependapat dengan kau, Wrahasta,” berkata Ki Argapati, “tetapi kita tidak dapat mengingkari kenyataan yang kita hadapi. Dan apakah keberatan kita atas segala kebaikan hati dari mereka yang memang mempunyai persoalan dengan Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya?”

Wrahasta tidak segera menyahut.

“Aku dapat meyakinkan kau, Wrahasta, bahwa tidak ada pamrih apa pun pada mereka. Apalagi kedua orang kepercayaan putera Sultan Pajang. Adalah hak mereka untuk berbuat sesuatu terhadap orang-orang yang mempunyai persoalan dengan mereka. Dan adalah kebetulan sekali bahwa kita bersama-sama mempunyai persoalan yang dapat di ambil arah sejalan. Tetapi jangan takut, bahwa aku telah mengorbankan kepentingan tanah perdikan ini. Bahwa aku telah menjual beberapa kepentingan karena aku ingin mempertahankan kedudukanku sebagai kepala tanah perdikan.”

Ki Argapati terdiam sejenak. Lalu, “Bukankah kau mendengarkan pembicaraan ini dari mula sampai akhir, sehingga kau tidak menemukan bentuk-bentuk perjanjian atau imbalan apa pun atas mereka itu? Kita secara kebetulan mempunyai kepentingan yang sama, yang dapat saling membantu. Itulah masalah yang sedang kita hadapi sekarang. Jadi, bentuk kerja sama ini agak berbeda dari Ki Peda Sura dan orang-orangnya, bahkan orang-orang lain lagi yang datang atas permintaan Ki Tambak Wedi, Argajaya, dan Sidanti. Kepada setiap bantuan yang aku terima sama sekali bukan karena aku menawarkan apa pun juga sebagai imbalannya.”

Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan-lahan.

“Nah, apakah kau dapat mengerti?”

“Aku mengerti, Ki Gede,” jawabnya. “Tetapi tidak semua orang tidak berpamrih seperti mereka yang ada di dalam ruangan ini. Meskipun mereka tidak menginginkan imbalan yang berupa harta benda atau kedudukan, tetapi masih mungkin ada pamrih-pamrih lain yang mendorong mereka untuk berkorban apa saja.”

Ki Argapati mengerutkan keningnya. “Apakah kau dapat menyebutkan, Wrahasta?”

Wrahasta menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak mengucapkannya, meskipun serasa menyesak di dalam dadanya.

“Katakanlah, Wrahasta,” desak Ki Argapati. “Jangan ragu-ragu. Semua ini untuk kebaikan kita bersama?”

Tetapi Wrahasta menggelengkan kepalanya. “Tidak, Ki Gede. Aku hanya sekedar berprasangka.”

Ki Argapati memandang wajah Wrahasta dengan tajamnya. Tetapi wajah anak muda yang bertubuh raksasa itu menunduk.

Namun Ki Argapati itu kemudian berkata, “Baiklah. Kita akan melihat perkembangan keadaan. Memang kita masing-masing pasti mempunyai pamrih. Tetapi tidak sekedar pamrih pribadi.”

Hampir saja Wrahasta menyahut. Justru pamrih pribadilah yang mendorong anak gembala itu menyediakan dirinya, bahkan dengan seluruh keluarganya untuk membantu Ki Argapati. Tetapi untunglah bahwa ia masih mampu menahan perasaannya itu. Sehingga apa yang telah hampir terucapkan itu seolah-olah ditelannya kembali.

Dengan demikian, maka ruangan itu di sambut oleh kesepian sejenak. Kemudian terdengar Ki Argapati berkata, “Apakah masih ada persoalan yang akan kita bicarakan?”

Tidak seorang pun yang menjawab.

“Baiklah. Kalau tidak, aku akan mengambil keputusan. Semua dilaksanakan seperti rencana tersebut. Apabila terdapat kesulitan, kita akan melihat perkembangan suasana.” Kemudian kepada Samekta ia berkata, “Aturlah semua persiapan, Samekta. Sampaikan semua keputusan ini kepada pemimpin-pemimpin yang terpercaya. Kerti dapat kau panggil dan kau tempatkan di pedukuhan ini pula.”

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 2 November 2008 at 22:39  Comments (15)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/jilid-42/trackback/

RSS feed for comments on this post.

15 KomentarTinggalkan komentar

  1. Jilid 38 baru sampe halaman 23?

    Ya sudah, saya coba teruskan sampai halaman berapa ya baiknya?

  2. Ternyata Mas D2 sudah melanjutkan dari hal 23.
    Akhirnya saya mencegat di hal 50 s/d selesai utk buku 38

  3. Saya sebagi yg modal dengkul doang mengucapkan banyak terimakasih dan mendoakan semoga tim ini tetap semangat.

    Sabar menanti,
    Ki KontosWedul

  4. Dear, DD
    Sorry jilid 039 belum bisa kelar, baru separoh. Udah aku kirim ke email mbak DD.

  5. saya ucapkan beribu2 terima kasih juga, saya lahir di sebuah desa di selatan menoreh dan sempat besar di sana dan skr tinggal di jerman. saya sudah menamatkan nagasasra dan sabukinten, dan sekarang selalu setia mengunjungi ADBM di sini. selain karena ceritanya yang menarik, ADBM bisa jadi bahan bernostalgia dan obat kangen dengan kampung halaman.

    tetap semangat, saya akan mengikuti terus sampai jilid terakhir….

  6. File djvu yang diunggah pada jilid-jilid sebelumnya berukuran sekitar 1,500 – 2,000 KB, membuat file djvu masih memungkinkan untuk enak di baca. Pada jilid 42, ukuran file 864 KB, tetapi waktu membaca terpaksa banyak paragraph yang harus di skip karena tidak jelas tulisannya.

    saat ini mungkin perlu di pertimbangkan lagi mau mengorbankan kualitas agar mudah didownload (tetapi sulit dibaca) atau sedikit menambah ukuran file tetapi mudah dibaca.

  7. @Moderator

    Setuju dengan sederek Jebeng, klo bisa file djvu-nya/ scannya agak tinggi resolusinya, agar untuk retypenya gak pakai kaca pembesar atau mengira-ngira kalimatnya.

    Maturnuwun

  8. (copy)
    ADBM 042: 7-40 sudah kukirim via imel. Halaman selanjutnya menyusul, ya.
    salam, wukir

  9. silakan klik cover untuk mengunduh file adbm42.djvu yang lebih baik.

  10. mas DD,
    ADBM 042: 41-80 telah kukirim via imel, cc mas Edy.

    salam, wukir

  11. padahal aku yo nduwe tato gambar kupu2 neng sikilku lho.
    (sikil sing bagian nduwur)
    Lha Ki Argapati kok ora nakok’ke to….????

    • wussszzz kupu-kupune ki mbleh langsung tutug kamar 42

      • He…kupu2 mlebu kamar ?…..wah blaik 😀

        • Hikks,…..ning kene dho mbahas si TATOE ayake,

          kulo remenane tatoe-doea-tiga ki…..dobelll


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: