Buku 42

“SILAHKAN. Semua serba darurat.”

“Demikianlah agaknya, Ki Gede. Di peperangan semuanya harus menyesuaikan diri.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Ini adalah anakku. Karena itu, aku tidak menyuruhnya pergi. Dalam keadaan serupa ini, lebih banyak yang diketahuinya, akan lebih baik baginya dan bagi Tanah ini.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku kira, ia perlu mengetahui pula tentang Kiai yang yang sampai saat ini masih menjadi teka-teki bagi segala pihak.”

Gembala tua itu mengerutkan keningnya. “Kenapa menjadi teka-teki, Ki Gede? Aku adalah seperti ini. Apalagi yang harus ditebak?”

“Kiai,” berkata Ki Argapati, “aku memang sudah tidak dapat mengenali lagi, apakah Kiai adalah orang yang pernah aku lihat di masa muda. Benar-benar terasa asing bagiku. Terhadap Paguhan, aku tidak akan dapat lupa meskipun seandainya beberapa puluh tahun aku tidak bertemu. Tetapi terhadap Kiai, aku benar-benar tidak dapat mengatakan, apakah aku pernah bertemu atau tidak.”

Gembala tua itu mengerutkan keningnya. Terkilas sesuatu di dalam tatapan matanya. Namun kemudian ia tersenyum, “Aku kira kita memang belum pernah bertemu, Ki Gede.”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Ia mcncoba mengenali ciri-ciri yang dapat mengingatkannya kepada seorang anak muda yang pernah dikenalnya dahulu, meskipun tidak begitu rapat. Namun Ki Gede itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak ada ciri yang khusus, dan perkenalan itu pun hanya sepintas lalu saja. Yang dihadapinya kini bahkan seolah-olah seorang tua yang sejak pada masa mudanya juga sudah setua itu. Tetapi mustahil.

“Kiai,” berkata Ki Argapati, “tetapi betapapun juga, aku masih mempunyai jembatan yang mungkin akan dapat mencapai suatu seberang yang jauh telah kita tinggalkan. Aku mengenal seseorang yang luar biasa. Seorang yang bersenjata cambuk, dan yang senang sekali berteka-teki tentang dirinya. Tetapi sudah tentu bukan kau, karena pada saat itu pun umurnya sudah setua kita sekarang.”

Gembala tua itu tidak segera menjawab.

“Apakah kau kenal seseorang yang bernama Empu Windujati, seorang sakti yang selalu membawa sehelai cambuk ke mana pun ia pergi? Atau mungkin kau mengenal namanya yang lain, Pangeran Windukusuma?” Ki Argapati berhenti sejenak, kemudian, “Dan mungkin kau lebih mengenal muridnya, seorang anak muda, yang bernama Jaka Warih?”

Gembala tua itu sejenak terdiam. Keningnya yang telah berkerut menjadi semakin berkerut-merut. Ditatapnya wajah Ki Argapati sejenak. Namun sejenak kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Sayang. Aku tidak mengenal mereka semuanya. Bahkan baru pertama kali aku mendengar nama Pangeran Windukusuma. Aku banyak mengenal nama pangeran-pangeran dari kawan-kawanku yang sering pergi ke Demak dan Pajang. Bahkan sisa-sisa terakhir dari keturunan raja Majapahit. Namun aku tidak pernah menjumpai nama itu. Apalagi muridnya yang bernama Jaka Warih.”

Argapati menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak berhasil menangkap kesan pada wajah gembala tua itu.

“Baiklah, kalau Kiai tidak mengenal mereka,” suara Ki Argapati menurun. “Apalagi Kiai, sedangkan seandainya aku bertemu dengan Empu Windujati saat ini, pasti ia juga mengatakan, bahwa ia tidak mengenal seseorang yang bernama Empu Windujati, atau yang pernah bergelar Pangeran Windukusuma.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan sekali lagi Argapati tidak berhasil menangkap kesan apa pun pada wajah itu.

“Tetapi,” berkata Argapati kemudian, “semuanya itu tidak penting bagiku. Yang penting, bahwa Kiai bersedia menolongku.”

“Tentu, Ki Gede, dan bukankah obat yang aku kirimkan kemarin masih dapat dipergunakan?”

“Obat Kiai-lah yang membuat aku masih dapat bertahan sampai saat ini. Namun setelah orangnya hadir di sini, maka aku kira, aku akan mendapat pengobatan yang lebih baik, sehingga apabila Ki Tambak Wedi datang di setiap saat, malam nanti barangkali, aku sudah dapat menyambutnya.”

“Ah, tidak mungkin, Ki Gede. Apabila benar Ki Tambak Wedi datang malam nanti, maka Ki Gede pasti belum akan dapat turun ke medan.”

“Apakah aku harus membiarkan Ki Tambak Wedi membuat padukuhan tempat pertahanan kami terakhir ini menjadi karang abang?”

Gembala tua itu tidak dapat segera menjawab, sehingga karena itu, ia berdiam diri sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, Kiai,” berkata Ki Argapati, “kalau Kiai sudah beristirahat, aku ingin mempersilahkan Kiai berbuat sesuatu atas lukaku ini. Mungkin setelah Kiai melihat, maka Kiai akan menemukan obat yang jauh lebih baik dari obat yang telah aku terima itu.”

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya gembala itu berdesis, “Baiklah. Aku akan mencoba mengobatinya dengan baik, sejauh-jauh kemampuanku. Namun segalanya terserah atas kemurahan Tuhan Yang Maha Asih.” Kemudian kepada Pandan Wangi, ia berkata, “Aku memerlukan air hangat, Ngger.”

“O,” Pandan Wangi seakan-akan terbangun dari tidurnya. Dengan serta-merta ia pun segera melangkah meninggalkan ruangan itu untuk mengambil air hangat di belakang.

Sejenak kemudian, gembala tua itu mengamat-amati luka Ki Argapati. Kemudian desisnya, “Obatku ternyata tepat untuk mengobati luka ini. Tetapi barangkali aku dapat mempercepat usaha penyembuhannya. Tetapi maaf, Ki Gede, bahwa untuk sesaat luka itu akan terasa sangat sakit.”

“Apa pun,” jawab Ki Argapati, “aku ingin segera sembuh, bukankah obat yang Kiai berikan kemarin pun mula-mula terasa sakit sekali, baru kemudian obat itu mulai bekerja?”

“Tetapi yang baru ini terlebih-lebih lagi.”

“Biarlah,” jawab Ki Argapati.

Sebentar kemudian, gembala tua itu telah mulai membersihkan luka itu sebelum dicuci dengan air hangat, perlahan-lahan sekali, dengan kain pembalutnya.

Sementara itu Ki Argapati sama sekali tidak memperhatikan lukanya lagi. Yang menarik perhatiannya adalah tangan gembala tua itu. Dan tiba-tiba saja gembala itu terkejut, ketika tangannya serasa dicengkam oleh Ki Argapati.

“Kiai,” bertanya Ki Argapati, “apakah artinya gambar yang Kiai pahatkan di pergelangan tangan ini?”

Sesaat wajah orang tua itu menjadi tegang. Namun kemudian ia tersenyum sambil menjawab, “Apakah Ki Gede tertarik pada gambar itu?”

“Ya.”

“Aku menusuknya dengan duri ikan. Kemudian menggosoknya dengan langes dan minyak, selagi lukanya masih berdarah. Dicampur dengan sedikit reramuan, supaya bekasnya tidak segera hilang.” Orang tua itu berhenti sejenak. “Tetapi,” katanya kemudian, “itu adalah kesenangan anak-anak muda. Aku sekarang menyesal. Tetapi untuk menghapusnya, aku harus melukainya lagi. Dan aku sekarang sama sekali tidak berani melihat tanganku sendiri berdarah.”

“Bukan itu, Kiai,” jawab Ki Argapati, “bukan cara membuatnya. Tetapi arti daripada gambar itu. Bukankah Kiai melukiskan sehelai cambuk di pergelangan tangan itu, dan di ujung cambuk itu terdapat sebuah cakra kecil yang bergerigi sembilan?”

Sekali lagi wajah orang tua itu menegang. Namun kemudian sekali lagi ia tersenyum. “Ya. Sebuah cambuk dan sebuah cakra bergerigi sembilan. Ki Gede terlampau teliti, sehingga dapat menghitung gerigi pada gambar yang sedemikian kecilnya.”

“Aku tidak menghitung gerigi pada gambar di tanganmu, Kiai.”

“Lalu darimana Ki Gede tahu, bahwa cakra itu bergerigi sembilan?”

“Ya, cakra itu bergerigi sembilan. Sepuluh dengan tangkai yang terikat pada ujung cambuk. Bukankah begitu? Meskipun di ujung cambuk kalian sama sekali tidak pernah terikat sebuah cakra serupa itu.”

Orang tua itu tidak segera menjawab.

“Kiai,” berkata Ki Argapati kemudian sambil melepaskan tangan orang tua itu, “gambar itu adalah ciri dari perguruan Empu Windujati. Aku pernah melihat gambar serupa itu, tetapi agak lebih besar, pada secarik panji-panji yang aku ketemukan di dalam lingkungan perguruan Empu Windujati. Aku mengenal dua orang muridnya, meskipun hanya sekilas. Hanya muridnya yang terpercaya sajalah yang diperkenankan membuat gambar itu di pergelangan tangannya. Dan gambar itu mempergunakan pola tertentu, bukan sekedar dicocok dengan duri ikan.”

Gembala tua itu tidak segera menjawab. Sejenak ia menatap Ki Argapati dengan tajamnya. Namun sejenak kemudian ia menggelengkan kepalanya.

Dan sekali lagi orang tua itu tersenyum. “Aku tidak mengerti, Ki Gede. Aku sama sekali tidak mengerti tentang panji-panji itu dan tentang perguruan Empu Windujati.”

“Mungkin,” berkata Ki Argapati, “tetapi apakah bekas di tangan Kiai itu benar-benar bekas duri ikan?” Ki Argapati menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Bukan, Kiai. Itu sama sekali bukan bekas cocokan duri ikan, tetapi gambar itu adalah bekas luka bakar. Bukankah demikian?”

Namun gembala itu masih tetap menggeleng sambil tersenyum, “Ki Gede ternyata salah menilai.”

“Baiklah, baiklah,” desis Ki Gede kemudian. “Sekarang, bagaimana dengan lukaku?”

“Aku akan membersihkannya, aku menunggu air hangat.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. tetapi ia sudah tidak bertanya lagi tentang diri gembala tua itu.

Sesaat kemudian, Pandan Wangi memasuki ruangan itu dengan membawa air hangat dalam sebuah mangkuk yang besar.

“Terima kasih, Ngger,” berkata gembala tua itu, lalu. “Seterusnya apakah Angger akan menunggui ayah atau tidak? Kalau sekira Angger tahan melihat luka yang akan aku obati ini, maka tidak ada keberatannya Angger menungguinya. Tetapi aku kira lebih baik Angger berada di luar.”

Sejenak Pandan Wangi terdiam. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya, “Aku akan menunggui ayah, Kiai.”

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Baiklah. Apabila Angger memang berkeinginan demikian.”

Gembala tua itu pun segera membersihkan luka Ki Argapati yang menjadi kambuh kembali, setelah semalam ia memaksa dirinya menemui Ki Tambak Wedi.

Dengan kemampuan yang ada padanya, gembala tua itu kemudian mencoba mengobati luka itu dengan obat yang lebih tajam lagi. Ia berani mempergunakan obat itu, karena ia sendirilah yang menungguinya, sehingga akibat yang tidak dikehendaki akan segera dapat diatasinya dengan ramuan-ramuan penawar yang lain.

“Ki Gede,” berkata gembala itu, “untuk mengurangi rasa sakit, maka aku persilahkan Ki Gede minum butiran reramuan ini. Dengan demikian Ki Gede akan kehilangan sebagian dari kesadaran Ki Gede.”

“Aku percaya kepadamu, Kiai. Apa pun yang kau lakukan, aku akan menurut.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian diserahkannya sebutir reramuan obat yang terbungkus dengan asam untuk ditelannya.

Setelah menelan obat itu, maka terasa seakan-akan ia diserang oleh perasaan kantuk yang luar biasa. Bahkan kesadarannya pun semakin lama seakan-akan menjadi semakin kabur, meskipun ia masih tetap melihat gembala tua itu kini berdiri di samping pembaringannya, dan Pandan Wangi yang memperhatikannya dengan cemas.

Luka di dada Ki Gede Menoreh adalah luka yang sangat berbahaya, karena luka itu ditimbulkan oleh ujung senjata Ki Tambak Wedi. Itulah sebabnya, maka gembala tua itu harus bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mengobatinya.

Meskipun Ki Argapati telah kehilangan sebagian dari kesadarannya, namun ketika lukanya itu tersentuh, ia masih menggeliat sambil menyeringai. Apalagi setelah luka itu menjadi bersih dan sentuhan pertama obatnya yang baru.

Perasaan sakit yang luar biasa telah menyengat dada itu. Seterusnya dada Ki Argapati itu serasa dibakar oleh api yang kemudian menjilat seluruh tubuhnya.

Pandan Wangi yang melihat ayahnya berjuang melawan rasa sakit itu pun ternyata tidak dapat bertahan lebih lama. Tiba-tiba ia berlari ke sudut ruangan, menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang basah oleh air matanya.

Tetapi gadis yang membawa pedang rangkap itu berusaha untuk tidak terisak.

Sementara itu, Ki Tambak Wedi sedang berbincang dengan para pemimpin pasukannya. Ki Peda Sura, yang telah menjadi semakin baik, karena rawatan yang tekun oleh Ki Wasi dan Ki Muni, telah ikut pula di dalam pertemuan itu.

“Apakah kita akan menunggu, sehingga pasukan Argapati siap menyambut kita?” bertanya Peda Sura.

“Tentu tidak,” jawab Ki Tambak Wedi, “tetapi kita juga tidak dapat bergerak hari ini. Pasukan Argapati pasti masih dalam kesiagaan penuh.”

“Besok,” potong Sidanti. “Mereka pasti menyangka, bahwa kita akan datang di hari yang sudah kita tentukan, setelah di hari pertama kita lewatkan tanpa berbuat sesuatu.”

“Ya. Begitulah,” sahut Argajaya.

“Besok kita bakar padukuhan itu seluruhnya,” geram Ki Muni.

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya, tetapi ia tidak menyahut. Yang kemudian bertanya adalah Sidanti, “Kita akan bergerak di siang hari atau di malam hari, Guru?”

“Di siang hari, orang-orang yang bertengger di belakang pring ori itu akan mendapat kesempatan terlampau banyak untuk membidik kita dengan pelempar lembing. Tetapi di malam hari, semua akan menjadi kabur, sehingga mereka akan melemparkan lembing-lembing mereka tanpa arah yang diperhitungkan. Kita akan berlindung di balik perisai-perisai yang berwarna gelap.”

Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Baginya, malam hari pasti akan lebih baik, sehingga ia tidak akan dapat melihat wajah-wajah yang sebagian terbesar pasti sudah dikenalnya, apalagi wajah adiknya, Pandan Wangi. Bagaimanapun juga, Pandan Wangi adalah seseorang yang paling dekat dengannya di masa kanak-kanak, dan gadis itu telah dilahirkan pula oleh ibu yang sama dengan dirinya sendiri.

Maka keputusan pun kemudian jatuh. Pasukan seluruhnya harus siap untuk merebut kedudukan terakhir dari Ki Argapati. Kalau kedudukan itu dapat mereka rebut, meskipun orang-orang terpenting Menoreh masih dapat melepaskan diri, namun perlawanan mereka sudah tidak akan berarti apa-apa lagi.

Dengan keputusan itu, maka seluruh pasukan Ki Tambak Wedi menjadi sibuk mempersiapkan diri. Mereka benar-benar berhasrat untuk memasuki pertahanan terakhir itu. Karena itu, mereka pun harus menyesuaikan perlengkapan mereka dengan rencana itu. Mereka akan menerobos masuk regol yang dibuat dengan tergesa-gesa oleh orang-orang Menoreh dalam hujan panah dan lembing. Bahkan batu-batu.

“Sesudah perang ini selesai, Menoreh akan mengalami babak baru,” desis salah seorang anak muda yang berpihak kepada Sidanti. “Kita akan lebih banyak mendapat perhatian, sesuai dengan kepentingan kita. Sidanti sudah tentu tidak akan berbuat sekaku ayahnya, yang melarang apa saja yang kami senangi.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Menoreh harus menjadi jauh lebih baik. Orang-orang yang selama ini hanya dapat berbicara tanpa berbuat sesuatu harus disingkirkan.”

“Dan kita akan segera melakukannya.”

Demikianlah, maka setiap orang di dalam pasukan itu menjadi sibuk. Mereka mempersiapkan senjata-senjata mereka, dan terlebih-lebih lagi mempersiapkan hati mereka.

Dalam pada itu, Ki Gede Menoreh masih berjuang mengatasi perasaan sakit yang membakar dadanya. Meskipun kesadarannya sudah disusut, namun perasaan sakit itu hampir tidak tertahankan. Meskipun demikian, Ki Argapati tidak mengeluh. Yang terdengar hanyalah desis dan desah-desah yang pendek. Sambil mengatupkan giginya rapat-rapat, Ki Argapati memejamkan matanya. Tetapi ia percaya, bahwa orang tua itu benar-benar akan berhasil menyembuhkan luka-lukanya, meskipun tidak seketika.

Ketika rasa sakit itu telah sampai ke puncaknya, maka terasa seakan-akan seluruh tubuh Ki Argapati menjadi hangus. Dari ujung jari kaki sampai ke-ubun-ubunnya. Namun setelah itu, maka perasaan sakit itu dengan cepatnya menurun. Serasa arus yang sejuk mengalir di sepanjang pembuluh darahnya. Semakin lama semakin sejuk, meskipun pada suatu saat ia masih harus tetap menahankan rasa sakit, tetapi sama sekali sudah jauh berkurang.

Gembala tua itu pun mengamati perkembangan keadaan Ki Argapati dengan teliti. Setiap perubahan diikutinya dengan seksama, sehingga akhirnya, ia menarik nafas dalam-dalam. Sambil menganggukkan kepalanya, ia menaburkan sejenis bubuk obat-obatan yang lain ke atas luka itu. Tetapi sama sekali sudah tidak berpengaruh lagi atas rasa sakit pada luka itu.

Namun yang terasa kemudian adalah perasaan lelah yang bukan buatan. Bahkan kemudian seakan-akan kesadarannya menjadi semakin kabur, sehingga pada suatu saat, Ki Argapati itu memejamkan matanya. Nafasnya berjalan semakin teratur, sedang peluhnya seolah-olah terperas dari seluruh tubuhnya.

“Angger Pandan Wangi,” berkata orang tua itu, “Ki Gede kini telah teratur, setelah ia berjuang sekuat-kuat tenaganya menahankan rasa sakit. Tetapi keadaannya kian menjadi baik. Aku harap, ia akan segera dapat bangkit dari pembaringannya, tanpa membuat lukanya kambuh kembali. Nanti pada saatnya, Ki Argapati akan muntah-muntah. Tetapi itu tidak berbahaya. Justru dengan demikian, racun yang ada di dalam dirinya hanyut keluar. Baik racun yang ditimbulkan oleh luka-lukanya yang tersentuh ujung senjata Ki Tambak Wedi, maupun racun yang timbul karena obat-obatku.”

Pandan Wangi yang masih berdiri di sudut kamar memandang orang tua itu dengan cemasnya. Katanya, “Tetapi bukankah Kiai tidak akan meninggalkan kami?”

“O, tidak. Tidak Ngger. Aku akan tinggal di padukuhan ini. Aku telah menyatakan diri untuk membantu Ki Argapati menurut bidangku.”

“Baiklah, Kiai. Aku akan menunggui ayah di sini.”

“Silahkan, Ngger. Aku akan berada di pendapa.”

Setelah membersihkan tangannya, maka orang tua itu pun keluar dari bilik Ki Argapati, pergi ke pendapa, dan duduk bersama kedua muridnya dan Ki Samekta.

Ki Argapati membuka matanya ketika matahari telah menjadi sangat rendah. Seperti kata gembala tua, Ki Argapati itu pun kemudian muntah-muntah seakan-akan isi perutnya terkuras keluar. Namun Pandan Wangi yang selalu menungguinya memberitahukan kepadanya, bahwa demikianlah yang seharusnya terjadi menurut pesan orang tua yang mengobatinya.

“Di manakah mereka sekarang?” bertanya Ki Argapati.

“Mereka berada di luar, Ayah. Di pendapa. Tetapi mungkin kini mereka sedang mandi, atau berjalan-jalan bersama Paman Samekta, atau apa pun. Karena mereka agaknya sudah menjadi jemu duduk saja tanpa berbuat sesuatu.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Panggil Samekta. Aku akan berbicara dengannya.”

Sejenak kemudian, Pandan Wangi pun segera pergi keluar. Kepada seorang pengawal diperintahkannya untuk mencari Ki Samekta, karena Ki Argapati memerlukannya.

Sejenak kemudian, Samekta telah menghadap. Bahkan kali ini bersama Wrahasta.

“Bagaimana keadaan Ki Gede?” bertanya Samekta.

“Sudah menjadi lebih baik,” jawab Ki Argapati, “tetapi bagaimana dengan pertahananmu?”

“Tidak mengecewakan, Ki Gede. Kami sudah mempersiapkan semua peralatan. Seandainya Ki Tambak Wedi akan datang malam nanti, maka kami sudah siap menyambutnya.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tidak ada yang perlu dicemaskan, Ki Gede,” sambung Wrahasta pula.

“Bagaimana dengan ketiga orang-orang itu?” tiba-tiba Ki Argapati bertanya.

“Mereka berada di dalam pondok yang telah aku sediakan, Ki Gede. Setiap saat mereka dapat dipanggil, apabila Ki Gede memerlukannya.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia berdesis, “Perlakukan mereka dengan baik. Seandainya mereka benar-benar seorang gembala tua dengan kedua anaknya, maka mereka bukan gembala kebanyakan.”

Ki Samekta dan Wrahasta saling berpandangan sejenak. Kemudian dengan terbata-bata Samekta bertanya, “Siapakah sebenarnya mereka, Ki Gede? Agaknya mereka memang menyimpan suatu teka-teki tentang diri mereka sendiri.”

Ki Argapati menggelengkan kepalanya. Ia sendiri ingin memecahkan teka-teki itu. Tetapi ia belum menemukan suatu keyakinan. Ketika ia melihat gambar di pergelangan tangan orang tua itu, ia mengharap, bahwa ia tidak akan dapat mengelak lagi. Tetapi ternyata orang tua itu masih tetap menggelengkan kepalanya. Namun meskipun demikian, ia condong pada anggapan sebenarnyalah laki-laki tua itu adalah salah seorang murid Empu Windujati, yang pernah ditemuinya di masa mudanya. Tetapi sudah terlampau lama, dan pertemuan itu benar-benar hanya sekilas saja. Ia hanya berkunjung ke perguruan Windujati, tidak lebih dari panjangnya senja untuk menyampaikan pesan gurunya kepada Empu Windujati, yang sebenarnya bernama Pangeran Windukusuma.

“Apakah Ki Gede dapat mengatakannya kepada kami?” bertanya Samekta itu kemudian, sehingga Ki Gede seolah-olah terbangun karenanya.

“Sayang, Samekta,” jawab Ki Argapati, “aku sudah mencoba. Aku menyingkirkan orang-orang di dalam bilikku, termasuk anak-anak gembala tua itu sendiri untuk mendengar pengakuannya, bahkan pada saat Pandan Wangi keluar dari bilik itu pula, namun orang tua itu tidak mengatakan apa-apa tentang dirinya.”

“Lalu apakah kesimpulan Ki Gede tentang mereka?”

“Diakui atau tidak diakui, mereka adalah orang-orang yang mempunyai ilmu yang cukup matang, terutama gembala tua itu menurut pengamatanku. Aku mengharap, ia tidak sekedar mengobati lukaku, tetapi ia bersedia untuk bertempur di pihak kita.”

Wrahasta mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

“Apakah Ki Gede sudah mengatakannya?”

Ki Gede menggelengkan kepalanya, “Belum. Aku belum mengatakannya dengan tegas. Tetapi aku kira mereka telah menangkap maksudku.”

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia mendengar Ki Gede berkata, “Panggil mereka sebelum senja menjadi gelap. Kita tidak dapat memastikan, apa yang akan terjadi malam ini. Aku kira Ki Tambak Wedi tidak akan terlampau bodoh untuk menunggu sampai waktu yang dikatakannya. Tetapi aku kira juga belum malam ini. Meskipun demikian, semua persiapan harus dimatangkan. Supaya kita tidak terjebak oleh perhitungan kita sendiri yang salah.”

“Baik, Ki Gede.”

“Aku sendiri telah merasa jauh lebih baik. Dalam keadaan yang memaksa, aku sudah dapat menghadapi Ki Tambak Wedi setelah aku mendapat pengobatan khusus.”

“Tetapi jangan, Ki Gede. Masih terlampau berbahaya.”

“Ya, mungkin begitu. Dan sekarang, panggil orang-orang itu kemari.”

Samekta dan Wrahasta pun kemudian meninggalkan bilik itu dan memanggil gembala tua itu bersama kedua anak-anaknya.

Kepada mereka bertiga, Ki Argapati berkata terus terang, bahwa ia menginginkan bantuan mereka di peperangan.

“Aku tahu, kalian tidak berkepentingan langsung dengan peperangan ini, tetapi aku tahu juga, bahwa kalian telah menempatkan diri kalian dalam suatu pendirian,” berkata Ki Argapati.

Gembala tua itu tidak segera menjawab.

“Persoalan kalian mungkin adalah persoalan pribadi dengan Ki Tambak Wedi, atau mungkin persoalan dengan Sidanti, yang apabila tidak tumbuh api yang membakar tanah ini, dan membuat aku sendiri berdiri berhadapan dengan Sidanti dan Argajaya, mungkin kalian pun akan menghadapi aku,” Ki Argapati berhenti sejenak. “Tetapi ternyata keadaan itu telah menjadi seperti ini.”

Laki-laki tua itu menarik nafas. Sejenak dipandanginya wajah kedua muridnya. Kemudian jawabnya, “Kami tidak berkeberatan, Ki Gede, tetapi apakah kemampuan yang dapat kami berikan?”

“Jangan memperkecil nilai diri sendiri. Anakmu, yang bernama Gupita, mampu melukai Ki Peda Sura.”

“Yang melukai adalah Angger Pandan Wangi.”

“Tetapi betapa pun bodohnya Pandan Wangi, namun ia dapat menilai betapa kemampuan Gupita itu.”

Gembala itu tidak dapat membantah lagi.

“Nah, apabila nanti Ki Tambak Wedi akan datang, sebelum aku mampu melawannya, aku akan mcnyerahkan tombakku kepadamu, Kiai. Tombak lambang kekuasaan Tanah Perdikan Menoreh.”

“Ki Gede.”

“Nanti dulu. Aku tidak akan menyerahkan pimpinan peperangan ini kepada Kiai. Tidak. Maksudku, aku mengharap bantuan Kiai untuk menahan Ki Tambak Wedi untuk kepentingan Tanah ini. Untuk kepentinganku. Karena sebenarnya itu adalah tanggung jawabku, betapa pun keadaanku sekarang.”

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya, “Kalau hari ini Ki Tambak Wedi datang, apa boleh buat. Hantu itu tidak boleh menyebarkan maut tanpa dapat dikekang. Kami bertiga akan mencoba mencegahnya, apabila kami mampu. Tetapi kalau hantu itu datang lain kali, maka aku harap Ki Gede tampil di peperangan. Tetapi ingat, Ki Gede tidak boleh bertempur seorang melawan seorang. Ki Gede harus bersikap sebagai seorang pemimpin pasukan yang berada di dalam lingkungan pasukannya, sehingga peperangan akan melibat semua pihak. Ki Gede dapat mengumpulkan semua orang yang cukup kuat bersama Ki Gede. Di pihak lain, serahkanlah kepada kami.”

Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. Memang seandainya Ki Tambak Wedi tidak datang malam ini, maka malam berikutnya lukanya pasti sudah menjadi lebih baik, apabila laki-laki tua itu mengobatinya dengan cara yang telah dilakukannya. Selain obat-obat penyembuh luka, orang tua itu memberikan pula obat-obat yang dapat memulihkan tenaganya.

“Baiklah,” berkata Ki Argapati, “hanya selama aku belum mampu sama sekali turun ke peperangan.”

“Aku bersedia, Ki Gede,” orang tua itu berhenti sejenak, “bahkan, apabila Ki Gede tidak berkeberatan, apakah kami dapat ikut dalam pasukan berkuda itu, seandainya Tambak Wedi tidak menyerang malam ini?”

Ki Argapati mengerutkan keningnya, “Apakah maksud Kiai?”

“Seperti biasanya bukankah Ki Gede melepaskan sepasukan berkuda itu?”

Ki Argapati tidak menjawab. Tetapi diamatinya saja gembala tua itu untuk sejenak. Ki Argapati tidak segera dapat mengerti arah pembicaraan orang tua itu.

Ki Argapati mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya, “Apakah Kiai sudah akan mulai malam ini?”

“Kita harus memberikan kejutan-kejutan yang akan dapat mempengaruhi perhitungan Ki Tambak Wedi. Bukankah demikian juga tujuan pasukan berkuda itu?”

“Ya, tetapi sejak Ki Tambak Wedi sendiri berusaha menjumpai pasukan itu, usaha itu telah dihentikan.”

“Marilah kita mulai lagi permainan itu. Permainan kejar-kejaran yang menyenangkan.”

“Tetapi, bagaimana kalau selama kalian pergi, Ki Tambak Wedi menyerang pertahanan ini?”

“Berilah kami tanda dengan panah berapi, kami akan segera kembali.”

“Apakah Kiai tidak akan pergi terlampau jauh?”

“Apabila kami belum yakin, bahwa pasukan Ki Tambak Wedi tidak bersiap untuk menyerang, kami tidak akan pergi terlampau jauh.”

“Baiklah.”

“Malam ini, kita akan mulai.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dipanggilnya Samekta dan Wrahasta. Keduanya harus segera menyiapkan pasukan berkuda itu untuk mulai lagi dengan tugasnya bersama ketiga orang-orang itu.

Wrahasta mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Bagaimana kalau pasukan itu bertemu lagi dengan Ki Tambak Wedi?”

“Serahkan kepada orang tua itu,” jawab Ki Argapati.

Wrahasta termenung sejenak. Demikian juga Samekta.

Apakah Ki Gede sedang bermain-main, atau menyindir orang tua itu, atau apa pun maksudnya, namun kata-kata itu telah membuat mereka menjadi keheranan.

“Sebelum malam menjadi semakin dalam. Siapkanlah pasukan itu.”

Samekta dan Wrahasta segera meninggalkan bilik itu dengan teka-teki di dalam kepala masing-masing. Ia percaya, bahwa ketiga orang itu bukan gembala kebanyakan, tetapi apakah mereka dapat bertanggung jawab, apabila mereka bertemu dengan Ki Tambak Wedi? Tetapi hal itu pun tidak mustahil. Semua dapat terjadi pada orang yang penuh dengan rahasia itu. Bahkan penilaian Wrahasta atas kedua anak-anak muda itu pun harus dipertimbangkannya lagi. Namun dengan demikian, perasaan cemburunya semakin lama justru semakin tajam menusuk jantungnya. Apalagi agaknya tanggapan Ki Argapati atas ketiga orang itu terlampau baik.

Meskipun demikian, Wrahasta masih menahan semua perasaannya di dalam dadanya. Ia masih harus berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan, apalagi pada saat ketegangan menjadi semakin memuncak. Perkembangan keadaan akan dapat naik dengan cepatnya.

Sejenak kemudian maka bergemeretakanlah telapak kaki-kaki kuda yang berlari keluar dari regol padukuhan yang telah selesai meskipun tidak sebaik regol yang lama.

“Ke manakah kita akan pergi, Kiai?” bertanya pemimpin pasukan berkuda, yang menurut pesan Samekta harus selalu berhubungan dengan gembala tua itu.

“Kita melintasi penjagaan Sidanti. Kita masuki beberapa padesan, dan kita berbuat sesuatu, untuk membuktikan bahwa kita cukup kuat.”

“Kemana kita mula-mula akan singgah?”

“Ke induk padukuhan tanah perdikan ini.”

“He?” pemimpin pasukan itu terkejut, bahkan semua yang mendengar penjelasan itu pun terkejut pula.

“Kenapa kalian terkejut?”

Pemimpin pasukan itu tidak segera dapat menjawab. Dan orang tua itu berkata seterusnya, “Kita melakukan dua pekerjaan sekaligus. Yang pertama, kita melihat, apakah Ki Tambak Wedi akan menyerang kedudukan kita. Kalau tidak, kita akan mengejutkan mereka.”

“Tetapi itu pasti sangat berbahaya, Kiai.”

“Bukankah kita berkuda? Kita hanya lewat. Mungkin ada sedikit pekerjaan, namun kemudian kita berpacu lagi meninggalkan mereka, untuk mengganggu tempat-tempat yang lain.”

“Tetapi,” pemimpin pasukan itu ragu-ragu, “tetapi, kalau kita gagal meninggalkan padukuhan induk tanah perdikan ini, atau apabila korban terlampau banyak jatuh, akulah yang harus bertanggung jawab. Bukan Kiai. Karena akulah pemimpin pasukan ini.”

“Kau benar, Ngger. Tetapi bagaimana kalau kita coba? Aku dapat mengambil alih tanggung jawab itu.”

Sejenak pemimpin pasukan itu menyahut. Namun tumbuh sepercik kecurigaan di dalam dirinya. Apakah orang tua ini benar-benar dapat dipercaya? Ataukah seperti dugaan Wrahasta semula, bahwa gembala yang bernama Gupita, dan tentu saja ketiganya, adalah orang-orang Sidanti dalam tugas sandinya? Kini mereka akan membawa pasukannya ke dalam suatu jebakan yang berbahaya.

“Tetapi seandainya demikian,” katanya di dalam hati, “kenapa ia tidak membunuh Ki Argapati? Dan kenapa Ki Argapati sangat mempercayainya?”

“Bagaimana, Ngger?” desak orang tua itu. “Kita harus segera menentukan arah sebelum kita sampai ke tikungan itu.”

Pemimpin pasukan itu tidak segera dapat mengambil keputusan.

“Apakah Angger berprasangka?” tiba-tiba orang tua itu bertanya.

Pemimpin pasukan itu tergagap. Namun jawabnya, “Bukan berprasangka, Kiai, tetapi aku harus menimbang pertanggungan jawabku atas pasukanku.”

“Angger benar,” sahut orang tua itu, “tetapi sudah aku katakan, aku mau mengambil alih tanggung jawab kali ini.”

“Hanya Ki Argapati atau yang diserahi pimpinan atas seluruh pasukan pengawal yang dapat menyerahkan tanggung jawab atau memindahkannya.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kata-kata pemimpin pasukan itu memang benar. Bagaimanapun juga, ialah yang harus bertanggung jawab atas semua peristiwa yang terjadi atas pasukan ini.

Karena itu, maka sejenak kemudian ia berkata, “Kau benar, Ngger. Kau tidak dapat menyerahkan tanggung jawab itu kepada orang lain. Namun demikian, aku ingin menyarankan, agar perjalanan kita ini dapat menimbulkan pengaruh pada pasukan Ki Tambak Wedi. Bukan pengaruh jasmaniah, karena kita memang tidak akan membantai para peronda yang kita temui. Tetapi seperti apa yang dilakukan oleh Tambak Wedi hampir setiap hari. Dengan mengepung pusat pertahanan kita, Ki Tambak Wedi tidak akan mendapat keuntungan apa pun yang langsung kasat mata. Tetapi ia dapat mempengaruhi ketahanan hati kita. Ia dapat membuat para pengawal menjadi gelisah dan berdebar-debar setiap malam, seolah-olah mereka tidak akan mempunyai kesempatan untuk keluar dari pedukuhan itu.”

Pemimpin pasukan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Setiap kali ia menjadi bimbang. Namun setiap kali timbul pertanyaan di dalam kepalanya “Kenapa Ki Gede begitu mempercayainya? Pasti bukan tidak beralasan, bahwa orang-orang itu diperkenankan ikut dalam pasukan ini.”

“Sebentar lagi kita akan sampai di tikungan,” desis gembala tua itu.

Setelah menahan nafas sejenak, pemimpin pasukan berkuda itu berkata, “Baiklah, Kiai, kita akan lewat induk tanah perdikan yang telah direbut Sidanti. Tetapi kita akan melalui jantung padukuhan induk itu.”

“Baiklah, Ngger,” jawab orang tua itu, “nanti kita akan melihat perkembangan dari perjalanan kita ini.”

Pemimpin pasukan berkuda itu terdiam sejenak. Teringat olehnya seseorang, yang tiba-tiba saja menghentikan perjalanan pasukannya ketika Ki Tambak Wedi mencegatnya. Dan tiba-tiba saja ia telah menghubungkan orang yang menghentikannya itu dengan orang tua yang kini berada di dalam pasukannya.

“Ya, orang itu pasti orang tua ini. Meskipun saat itu aku tidak dapat melihatnya dengan jelas, apalagi dalam keadaan yang sangat gawat, namun menurut tanggapan perasaanku, orang itu pasti orang tua ini. Karena itu, agaknya ia sama sekali tidak takut terhadap orang yang bernama Ki Tambak Wedi itu,” katanya di dalam hatinya. Dengan demikian, maka hatinya pun menjadi semakin tebal. Keragu-raguannya menjadi sangat berkurang, meskipun tidak dapat lenyap sama sekali.

Pasukan berkuda itu pun kemudian berpacu semakin cepat. Di simpang jalan, maka pasukan itu segera memilih jalan yang menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh yang telah diduduki oleh Sidanti.

Sebelum mereka sampai ke padukuhan induk, maka mereka berusaha menghindari setiap penjagaan, agar para peronda dan para penjaga itu tidak sempat mengirimkan tanda-tanda atau isyarat sandi. Mereka menempuh jalan di tengah-tengah bulak. Kalau sekali dua kali mereka harus melewati perondan, maka mereka harus membuat orang-orang yang sedang bertugas itu tidak berdaya sama sekali. Dengan tiba-tiba saja mereka menyergap, mengikat mereka, kemudian menyumbat mulut mereka dengan ikat kepala masing-masing.

Kepercayaan anggauta-anggauta pasukan berkuda kepada orang tua itu dan kedua anak-anaknya semakin lama menjadi semakin tebal. Tidak seorang pun yang mampu melawan mereka. Setiap kali mereka bertemu dengan beberapa petugas di gardu-gardu, maka dalam sekejap para petugas itu sudah tidak berdaya lagi. Mereka terpaksa membiarkan diri mereka diikat pada batang-batang pohon di pinggir jalan dan membiarkan mulut-mulut mereka itu pun disumbat.

“Mereka tidak akan dapat mengirimkan berita sandi,” desis orang tua itu.

Sejenak kemudaan, mereka pun telah menghadap sebuah padukuhan yang besar. Itulah padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Sebuah desa kecil berada di depan padukuhan induk itu, seolah-olah pintu gerbang yang harus mereka bukakan lebih dahulu.

“Ada sepasukan yang kuat di desa itu, Kiai,” berkata pemimpin pasukan.

“Kita perlambat perjalanan kita,” desis orang tua itu. Kemudian katanya, “Tetapi yang pasti, kita tidak bertemu dengan pasukan Ki Tambak Wedi. Aku kira malam ini mereka akan beristirahat, menyusun kekuatan untuk pada saatnya menyerang pertahanan kita dan berusaha merebutnya.”

Pemimpin pasukan berkuda itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kita tidak dapat mencari jalan lain. Kita harus menerobos desa itu. Mungkin kita harus bertempur, tetapi ingat, kita tidak akan melayani mereka. Kita hanya akan lewat. Selanjutnya kita terus menuju ke padukuhan induk. Kalau kita nanti kembali ke pusat pertahanan kita, kita tidak akan lewat desa ini lagi.”

“Orang-orang di desa itu akan dapat mengirimkan tanda-tanda ke padukuhan induk.”

“Karena itu, jangan layani mereka. Kita lewat dan berusaha melindungi diri kita. Jarak antara desa itu dan padukuhan induk sudah dekat. Tanda-tanda sandi itu pasti, belum sempat dicernakan, apalagi bersiap menyambut kedatangan kita.”

Pemimpin pasukan berkuda itu mengerutkan keningnya. Kemudian diteriakkannya pringatan bagi segenap pasukannya untuk bersiap.

“Kita tidak akan melayani mereka. Kita hanya sekedar lewat,” katanya. “Tetapi sudah tentu kita harus melindungi diri kita, apabila mereka menyerang dan mencegat perjalanan ini.”

Maka semua orang di dalam pasukan itu pun segera mencabut senjata-senjata mereka. Beberapa orang masih juga membawa cambuk seperti yang biasa mereka lakukan. Namun mereka kini menjadi tercengang-cengang, ketika mereka melihat kedua anak-anak muda yang menyebut dirinya anak gembala itu membawa cambuk pula.

“Wrahasta tidak dapat mengalahkan anak muda yang bernama Gupita itu,” desis salah seorang dari mereka.

“Wrahasta tidak biasa bersenjatakan cambuk. Seperti kita, maka kita pun merasa amat canggung dengan cambuk-cambuk itu di tangan,” jawab yang lain.

Kawannya tidak menyahut. Tetapi ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Sementara kuda-kuda mereka menjadi semakin mendekati desa kecil di hadapan mereka.

Setiap orang di dalam pasukan itu pun menjadi semakin tegang. Senjata-senjata mereka telah tergenggam erat-erat di dalam tangan mereka. Sedang mereka yang bersenjatakan cambuk, telah memindahkan cambuk-cambuk mereka dari tangannya, dan diselipkannya pada ikat pinggang. Untuk menghadapi bahaya yang sebenarnya, mereka lebih mantap bersenjatakan pedang.

Yang memegang cambuk kemudian tinggallah Gupala dan Gupita. Cambuk bagi mereka adalah senjata-senjata yang paling terpercaya. Sedang akibat bagi lawannya pun tidak selalu berarti maut.

“Hati-hatilah dengan cambukmu,” berkata gembala tua itu kepada dua orang muridnya. “Ingat, yang bercambuk di dalam pasukan ini adalah para pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Karena itu, caramu mempergunakan cambuk pun harus kau sesuaikan, kecuali apabila kau dalam keadaan terpaksa.”

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kita harus berada di depan, supaya kita dapat menilai keadaan sebaik-baiknya,” berkata orang tua itu pula.

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Kepada pemimpin pasukan, gembala tua itu minta ijinnya untuk berada beberapa langkah di depan pasukan, supaya mereka dapat merintis jalan yang akan mereka lalui. Sebab, apabila penjagaan di desa itu benar-benar kuat, dan di antaranya terdapat orang-orang yang penting, maka jalan harus dibuka lebih dahulu supaya pasukan berkuda itu dapat lewat tanpa banyak gangguan.

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 2 November 2008 at 22:39  Comments (15)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/jilid-42/trackback/

RSS feed for comments on this post.

15 KomentarTinggalkan komentar

  1. Jilid 38 baru sampe halaman 23?

    Ya sudah, saya coba teruskan sampai halaman berapa ya baiknya?

  2. Ternyata Mas D2 sudah melanjutkan dari hal 23.
    Akhirnya saya mencegat di hal 50 s/d selesai utk buku 38

  3. Saya sebagi yg modal dengkul doang mengucapkan banyak terimakasih dan mendoakan semoga tim ini tetap semangat.

    Sabar menanti,
    Ki KontosWedul

  4. Dear, DD
    Sorry jilid 039 belum bisa kelar, baru separoh. Udah aku kirim ke email mbak DD.

  5. saya ucapkan beribu2 terima kasih juga, saya lahir di sebuah desa di selatan menoreh dan sempat besar di sana dan skr tinggal di jerman. saya sudah menamatkan nagasasra dan sabukinten, dan sekarang selalu setia mengunjungi ADBM di sini. selain karena ceritanya yang menarik, ADBM bisa jadi bahan bernostalgia dan obat kangen dengan kampung halaman.

    tetap semangat, saya akan mengikuti terus sampai jilid terakhir….

  6. File djvu yang diunggah pada jilid-jilid sebelumnya berukuran sekitar 1,500 – 2,000 KB, membuat file djvu masih memungkinkan untuk enak di baca. Pada jilid 42, ukuran file 864 KB, tetapi waktu membaca terpaksa banyak paragraph yang harus di skip karena tidak jelas tulisannya.

    saat ini mungkin perlu di pertimbangkan lagi mau mengorbankan kualitas agar mudah didownload (tetapi sulit dibaca) atau sedikit menambah ukuran file tetapi mudah dibaca.

  7. @Moderator

    Setuju dengan sederek Jebeng, klo bisa file djvu-nya/ scannya agak tinggi resolusinya, agar untuk retypenya gak pakai kaca pembesar atau mengira-ngira kalimatnya.

    Maturnuwun

  8. (copy)
    ADBM 042: 7-40 sudah kukirim via imel. Halaman selanjutnya menyusul, ya.
    salam, wukir

  9. silakan klik cover untuk mengunduh file adbm42.djvu yang lebih baik.

  10. mas DD,
    ADBM 042: 41-80 telah kukirim via imel, cc mas Edy.

    salam, wukir

  11. padahal aku yo nduwe tato gambar kupu2 neng sikilku lho.
    (sikil sing bagian nduwur)
    Lha Ki Argapati kok ora nakok’ke to….????

    • wussszzz kupu-kupune ki mbleh langsung tutug kamar 42

      • He…kupu2 mlebu kamar ?…..wah blaik 😀

        • Hikks,…..ning kene dho mbahas si TATOE ayake,

          kulo remenane tatoe-doea-tiga ki…..dobelll


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: