Buku 41

Gupala mengerinyitkan alisnya. Namun kemudian ia tersenyum sambil menjawab, “Ya. Gadis itu tentu tidak dipingit.”

Gupita pun tertawa pula. Sekilas terbayang wajah gadis itu.

“Lalu, apakah yang akan kita kerjakan sekarang?” tiba-tiba saja Gupala bertanya.

“Kembali,” jawab gurunya.

Gupala menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya, “Lebih baik tidur di rumah daripada digigit nyamuk di sini.”

“Tetapi di rumah kita tidak dapat melihat regol desa itu terbakar,” sahut Gupita.

“Aku juga dapat membakar regol,” jawab Gupala.

Gupita tidak menjawab lagi. Gurunya ternyata telah melangkah meninggalkan tempat itu, kembali ke gubug mereka. Kedua muridnya itu pun kemudian mengikutinya pula.

Sementara itu, yang berada di dalam lingkaran pering ori, ternyata dicengkam oleh kekecewaan pula. Mereka mengharap Ki Tambak Wedi memasuki desanya, kemudian pasukannya akan dihujani dengan alat-alat pelontar lembing dan busur-busur besar yang telah mereka persiapkan. Tetapi ternyata pasukan Ki Tambak Wedi itu ditarik mundur.

Tetapi dalam pada itu, ketika Ki Tambak Wedi dan pasukannya telah hilang di dalam kegelapan, terasa dada Ki Argapati seakan-akan retak. Terasa pedih dan nyeri menyayat sampai ke pusat jantung, sehingga sejenak ia memejamkan matanya sambil berdesis. Kedua tangannya memegang dadanya yang sakit itu setelah menyerahkan tombaknya kepada puterinya.

“Ayah, kenapa Ayah?”

“Dadaku,” sahut Ayahnya perlahan-lahan sekali. Dengan sekuat tenaga Ki Argapati bertahan supaya tidak menimbulkan kesan yang kurang baik pada orang-orangnya.

“Bagaimana dengan luka Ayah.”

Ki Argapati menggeleng. Katanya, “Aku akan beristirahat supaya pada saatnya aku dapat menghadapi Tambak Wedi.”

Dengan gelisah Pandan Wangi kemudian mengikuti ayahnya yang berjalan lambat sekali kembali ke rumah tempat ia menumpang. Tetapi Ki Argapati tidak mau menimbulkan kesan, bahwa ia tidak mampu untuk berjalan sendiri sampai ke rumah itu. Apabila demikian, maka anak buahnya pasti akan bertanya, “Lalu, apakah ia dapat bertempur melawan Ki Tambak Wedi?”

Betapapun dadanya dihentak oleh pedih dan nyeri, namun ia berusaha berjalan sendiri, meskipun perlahan-lahan. Tetapi Ki Argapati itu terkejut ketika tangannya terasa menjadi hangat. Ketika ia memandangi telapak tangannya, maka jantungnya berdesir. Ia melihat sepercik warna merah di telapak tangannya itu.

“Hem,” ia menarik nafas dalam-dalam, “agaknya luka ini berdarah lagi.”

Namun meskipun demikian, Ki Argapati tidak mengatakannya kepada siapa pun juga. Dengan sekuat tenaganya ia bertahan untuk tetap berjalan sendiri sampai ke dalam biliknya.

Wrahasta dan Samekta yang mengikutinya, masuk pula ke dalam bilik itu. Tetapi belum lagi mereka duduk, Ki Argapati telah berkata, “Awasilah orang-orangmu. Jangan kau tinggalkan mereka sekejap pun. Salah seorang dari kalian harus ada di antara mereka.” Ki Argapati itu diam sejenak. Kemudian tiba-tiba saja ia bertanya, “Dimana Kerti sekarang?”

“Ia berada bersama pasukan yang melindungi para pengungsi.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berkata apapun lagi.

“Ki Gede,” berkata Samekta, “aku minta diri. Kalau Ki Gede memerlukan sesuatu, aku harap Ki Gede memanggil.”

“Baik,” jawab Ki Gede singkat.

Maka sejenak kemudian Samekta dan Wrahasta pun minta diri, kembali ke tempat para pemimpin pasukannya berkumpul.

Sepeninggal Samekta, Wrahasta dan para pemimpin yang mengikutinya, Ki Argapati segera merebahkan dirinya di pembaringannya. Sambil menyeringai ia berkata, “Pandan Wangi. Tolonglah, ambilkan semangkuk air panas. Aku akan melihat lukaku. Mungkin luka ini akan kambuh lagi. Karena itu, sebelumnya aku akan membersihkannya dan memberinya obat yang baru.

Pandan Wangi pun segera berlari ke belakang. Meskipun ia membawa sepasang pedang, namun ia sama sekali tidak canggung melakukan perintah ayahnya. Sejenak kemudian, maka gadis itu pun telah membantu ayahnya membuka baju dan kemudian membersihkan luka-lukanya yang ternyata memang mulai berdarah lagi meskipun tidak terlampau banyak.

Dengan hati-hati Ki Argapati membersihkan luka itu, kemudian menaburinya dengan obat yang baru.

Sejenak, luka itu justru terasa seolah-olah terbakar. Namun kemudian perasaan itu pun semakin susut. Akhirnya, ia merasa bahwa luka-lukanya akan menjadi segera baik kembali. Meskipun demikian Ki Argapati tidak mau bangkit lagi dari pembaringannya.

Pandan Wangi lah yang kemudian menjadi penghubung antara ayahnya dan Samekta apabila diperlukan. Tetapi sebagian terbesar waktunya, dipergunakannya untuk menunggui ayahnya. Melayaninya dan membantunya apabila diperlukan.

Demikianlah setiap pihak mempunyai persoalannya sendiri-sendiri. Ki Tambak Wedi dengan persiapannya untuk merebut pemusatan pasukan Argapati. Gembala tua dengan dua orang muridnya yang menghitung-hitung waktu, kapan mereka harus mulai turun di medan terbuka. Sedang Ki Argapati masih sibuk dengan luka-lukanya, meskipun ia sama sekali tidak mengabaikan pertahanannya.

Namun di samping pihak-pihak itu, tanpa diketahui oleh mereka, seorang anak muda bersama dua orang yang lain telah memasuki tlatah Menoreh dengan diam-diam.

Dengan ragu-ragu mereka berjalan melalui desa-desa kecil dan pedukuhan yang agak besar di daerah Tanah Perdikan Menoreh.

Namun suasananya telah membuat mereka menjadi ragu-ragu. Desa demi desa yang telah mereka lalui, membayangkan suasana yang suram. Kecemasan dan ketakutan mewarnai kehidupan penghuni-penghuninya, sehingga sangat sulit bagi mereka untuk mendapatkan keterangan tentang Tanah Perdikan yang besar ini.

“Paman,” berkata anak muda itu, “aku tidak mengerti, kenapa suasana daerah ini menjadi sangat asing?”

Kedua pengikutnya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, Ngger,” jawab salah seorang dari mereka. “Aku bercuriga.”

“Agaknya kedatangan Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya ke tanah ini telah membuat suasana menjadi tegang,”

“Apakah Tanah Perdikan ini sedang mengadakan persiapan untuk suatu tindakan balasan terhadap Pajang?”

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Kita akan terjerumus ke dalam suatu pusaran yang tidak menentu. Apabila benar Argapati akan membela anaknya dan berhadapan dengan Pajang, maka kita akan berdiri di atas persimpangan jalan yang sulit. Kita tidak akan dapat berpihak kepada Pajang, tetapi juga tidak kepada Menoreh,”

Kedua pengikutnya itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi aku ingin bertemu lebih dahulu dengan Kiai Gringsing dan kedua muridnya.”

“Apakah Angger pasti bahwa mereka ada di sini?”

“Hampir pasti.”

Kedua pengikutnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu salah seorang dari mereka berkata, “Tetapi, kemana kita harus mencari mereka di Tanah seluas ini?”

“Aku ingin tahu, apakah yang sudah terjadi di atas Tanah ini.”

“Ya, seharusnya kita tahu, di mana kita berada dan dalam keadaan bagaimana.”

Anak muda itu tidak menjawab. Namun kemudian mereka pun meneruskan perjalanan mereka, dan berusaha mendengar apa yang telah terjadi.

Betapapun sulitnya, namun akhirnya mereka mengetahui, apakah yang sebenarnya terjadi di atas Tanah Perdikan ini, bahwa anak laki-laki Ki Argapati telah melawan ayahnya sendiri.

“Hampir tidak masuk akal,” desis anak muda itu, “agaknya Argapati begitu setianya terhadap Pajang, sehingga ia bersedia mengorbankan anak laki-lakinya sendiri.”

Kedua pengikutnya tidak menjawab, tetapi mereka mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku tidak mengerti, apakah yang telah mendorong Argapati untuk mengambil sikap itu.”

“Mungkin Argapati tidak ingin melihat Tanahnya berbenturan dengan Pajang. Menurut perhitungannya, maka Menoreh pasti akan hancur betapapun besarnya tanah perdikan ini. Argapati tidak akan berani melihat mayat yang akan berhamburan di segala sudut tanah perdikannya yang kaya ini.”

Anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi kemudian ia bergumam, “Atau karena Argapati tidak berani melihat, ia sendiri akan tergeser dari kedudukannya. Kalau ia melawan Pajang, maka atas wewenang yang ada sekarang, Pajang dapat mencabut hak yang telah diterima oleh Argapati dari raja-raja sebelumnya, atau hak yang diberikan oleh Pajang sendiri.”

Kedua pengikutnya tidak menjawab.

“Aku harus mendapat lebih banyak keterangan mengenai tanah ini. Tetapi aku harus bertemu dengan Kiai Gringsing, Agung Sedayu, dan Swandaru.”

“Kita harus mencari mereka. Kita harus menjelajahi Tanah ini dari ujung sampai ke ujung.”

Anak muda itu tersenyum. Katanya, “Kau agaknya sama sekali tidak berminat.”

“Bukan, bukan begitu maksudku, Ngger. Tetapi aku sekedar memperingatkan, bahwa pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang ringan.”

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku akan menghindarkan diri dari kemungkinan terlibat dalam persoalan di tanah perdikan ini untuk sementara, sampai aku dapat meyakinkan diri bahwa ada perlunya aku mencampurinya. Karena itu, maka kita harus mempersiapkan diri untuk tinggal di Tanah ini sebagai apa pun juga. Kita akan mencari tempat yang tersendiri, membuat tempat tinggal yang sederhana dan sambil menunggu keadaan di tanah ini menjadi tenang, aku akan mencari Kiai Gringsing.”

Kedua pengikutnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka sudah mengenal betul anak muda itu, sehingga mereka tidak dapat berbuat lain daripada mengiakannya.

Dengan demikian, maka ketiganya pun segera mencari tempat yang baik untuk membuat gubug, sekedar melindungkan diri dari panas dan embun. Namun mereka juga tidak mau tinggal di tempat yang terlalu dekat dengan padesan, yang dapat menumbuhkan banyak persoalan pada diri mereka. Mereka lebih senang tinggal di pinggir hutan yang tidak terlampau lebat. Mereka sadar, bahwa setiap saat seekor binatang yang buas akan lewat di dekat gubug mereka. Tetapi mereka, apalagi bersama-sama, seorang demi seorang pun sama sekali tidak akan gentar. Mereka dengan senjata masing-masing akan dapat melawan harimau atau jenis binatang yang lain. Sedang seandainya ada sekawanan anjing hutan yang berjumlah ratusan sehingga mereka tidak akan mampu mengusirnya, maka mereka akan dapat memanjat batang-batang pohon dengan tangkasnya.

Dari tempat itulah, mereka akan mencari seseorang yang mereka sebut bernama Kiai Gringsing, Agung Sedayu, dan Swandaru Geni, yang menurut pendengaran mereka berada di tlatah Menoreh.

Sementara itu di sebuah gubug yang lain, seorang gembala tua duduk melingkari perapian berdama dua orang murid-muridnya. Mereka hampir tidak sabar menunggu ujung malam yang terasa terlampau panjang.

“Tidurlah kalian,” berkata orang tua itu. Tetapi kedua muridnya menggeleng. Anak yang gemuk sambil mengusap matanya berkata, “Sebentar lagi, Guru.”

Karena itu, maka mereka bertiga tidak beranjak dari tempatnya. Mereka duduk sambil memeluk lututnya. Sekali-sekali anak muda yang gemuk itu masih saja menguap sambil mengusap-usap matanya. Tetapi ia masih juga duduk di tempatnya.

“Tidurlah, Gupala,” berkata gurunya sekali lagi.

Gupala menggelengkan kepalanya. Tetapi ia bangkit berdiri. Dengan malasnya ia berjalan ke kebun di samping gubugnya. Di cabutnya beberapa batang pohon ketela. Meskipun masih belum cukup besar, namun ubinya dibawa juga dan dimasukkannya ke dalam bara api perapiannya.

“Tiba-tiba saja aku menjadi lapar,” desisnya.

Anak muda yang seorang lagi, menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata, “Kau masih juga sempat merasakan lapar.”

Gupala tidak menyahut, namun tangannya sibuk dengan menimbuni ubinya dengan abu yang panas.

Dengan demikian maka mereka pun terlempar dalam kesenyapan, Gupita duduk diam sambil memandangi api yang masih menyala di beberapa bagian. Kemudian dipandanginya abu yang teronggok di atas bara, tempat timbunan ubi Gupala.

Namun kedua anak-anak muda itu terkejut ketika mereka melihat guru mereka memiringkan kepalanya. Kemudaan menundukkan wajahnya. Tetapi dengan demikian kedua muridnya mengerti, bahwa gurunya sedang memperhatikan sesuatu.

Kedua anak-anak muda itu pun kemudian memusatkan pendengaran mereka seperti yang dilakukan oleh gurunya. Dan sebenarnyalah mereka mendengar desir langkah kaki semakin lama semakin mendekat.

Dengan isyarat gurunya memberitahukan kepada kedua muridnya supaya bersiaga. Mungkin mereka akan menghadapi kemungkinan yang tidak terduga-duga sebelumnya.

Ternyata langkah kaki itu pun semakin lama menjadi semakin dekat. Namun, gembala tua itu seakan-akan sama sekali tidak mengacuhkannya. Kedua muridnya pun masih duduk di tempatnya. Tetapi di bawah kain panjang, tangan-tangan mereka meraba-raba senjata yang melingkar di bawah baju mereka, meskipun mereka menancapkan golok di samping tempat duduk masing-masing. Golok yang mereka dapatkan dari lawan-lawan mereka yang menjadi pingsan ketika mereka berkelahi.

Langkah kaki itu menjadi semakin dekat. Dekat sekali. Ternyata bahwa langkah kaki itu sudah cukup memberitahukan, bahwa yang datang itu pun bukan orang kebanyakan.

Seperti yang telah mereka perhitungkan, maka tiba-tiba sesosok bayangan muncul dari dalam gerumbul-gerumbul liar di halaman itu. Dengan sebuah tombak pendek tertunduk seorang anak muda berjalan mendekati mereka sambil berkata, “Jangan berbuat sesuatu. Aku tidak bermaksud jahat.”

Dalam keremangan api yang kemerah-merahan ketiganya serentak berpaling. Mereka melihat seorang anak muda yang berdiri di paling depan, kemudian dua orang lain di belakangnya.

Laki-laki tua di samping perapian itu mengerutkan keningnya. Meskipun hanya lamat-lamat, namun ia dapat melihat wajah anak muda itu, sehingga dengan serta-merta ia terloncat berdiri sambil berdesis, “Angger Mas Ngabehi Loring Pasar. Benarkah?”

Anak muda itu tertegun. Cahaya api yang suram itu telah menjadi semakin suram, sehingga untuk sejenak ia berdiri saja termangu-mangu. Namun sejenak kemudian anak muda itu berkata, “Kiai, kaukah itu, Kiai?”

Orang tua itu tidak segera menjawab. Kedua muridnya pun kini telah berdiri pula dengan tegangnya. Bahkan anak muda yang gemuk, yang sedang menunggui ubinya, telah menyambar tangkai golok di sampingnya. Namun mereka pun kemudian berdiri dengan tegangnya memandangi anak muda yang bersenjatakan sebuah tombak pendek. Pada tangkai tombak itu berjuntai seutas tali yang berwarna kuning keemasan.

“He,” tiba-tiba Gupala berteriak, “jadi Tuan telah mendapatkan tali semacam itu lagi?”

Gurunya berpaling sambil mengerutkan alisnya. Ternyata perhatian Gupala pertama justru kepada tali yang berwarna keemasan itu.

“Terlalu kau,” gumam Gupita,

Tapi Gupala tidak memperhatikannya. Beberapa langkah ia maju. Dengan wajah berseri-seri ia berkata, “Tuan agaknya sengaja menyusul kami. Taliku yang berwarna emas itu ketinggalan pada tangkai pedangku yang terbuat dari gading. Sekarang Tuan akan memberikannya lagi kepadaku bukan?”

Wajah anak muda yang bersenjata tombak itu pun menjadi berseri-seri pula. Dengan nada yang tinggi ia berkata, “He, ternyata aku menemukan kalian di sini.”

“Marilah,” berkata gembala tua itu, “kami persilahkan kalian duduk di sini saja. Gubug kami tidak akan dapat memuat kita bersama-sama.”

“Terima kasih. Aku lebih senang duduk menghangatkan badan di samping perapian itu.”

“Marilah,” sahut orang tua itu.

Anak muda itu memberi isyarat kepada kedua kawannya untuk mendekat. Mereka pun kemudian bersama-sama duduk, melingkar di tepi perapian yang justru telah hampir padam. Namun Gupita kemudian menaburkan seonggok ranting-ranting kecil ke atasnya, sehingga api pun segera berkobar kembali.

“He,” teriak Gupala, “ubiku akan menjadi abu.”

Gupita tidak menyahut. Tetapi ia pun duduk di dekat perapian itu juga, sementara Gupala sibuk menyingkirkan ubi bakarnya.

“Kenapa Angger berada di tempat ini?” bertanya gembala tua itu kemudian kepada Mas Ngabehi Loring Pasar.

“Aku sengaja mencari kalian.”

“Dari manakah Angger tahu, bahwa kami berada di sini?”

“Aku telah singgah ke Sangkal Putung.”

“Maksudku, dari mana angger tahu, bahwa aku tinggal di halaman ini bersama kedua anak-anak yang bengal ini,”

“O, itu hanya suatu kebetulan, Kiai. Hampir semalam suntuk aku berjalan mengitari Tanah Perdikan ini setelah aku melihat kedua pasukan ayah dan anak itu saling berhadapan di muka regol pertahanan Argapati. Karena pertempuran itu urung, maka aku telah berjalan kemana saja tanpa tujuan, sampai aku melihat perapian ini.”

Gembala tua itu mengerutkan keningnya. Sesaat dipandanginya wajah kawan-kawan Mas Ngabehi Loring Pasar. Dua orang yang agaknya cukup dapat dipercaya untuk mengawasi anak muda itu melawat ke daerah yang sedang kemelut dibakar oleh api pertentangan di antara lingkungan sendiri.

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya ketika Mas Ngabehi Loring Pasar dan yang juga bernama Sutawijaya itu memperkenalkan, “Kiai, yang tinggi berkumis tipis itu adalah Paman Hanggapati, sedang yang agak pendek itu Paman Dipasanga.”

“Kami memperkenalkan diri kami, Ngger,” berkata gembala tua itu kemudian, “kedua anak-anak ini adalah anak-anak angkatku, Gupala dan Gupita.”

“He?” Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar itu mengerutkan keningnya. “Permainan apa lagi yang sedang Kiai lakukan?”

“Kenapa?” bertanya orang tua itu.

“Bagaimana dengan nama-nama itu?”

“Demikianlah nama-nama yang kami pergunakan di atas Tanah Menoreh ini.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil tersenyum ia berkata, “Jadi Kiai mengajari murid Kiai berdua ini untuk bermain sembunyi-sembunyian seperti yang sering Kiai lakukan sendiri?”

“Ah,” gembala tua itu berdesah, namun kemudian ia tersenyum sambil menunjuk ke arah kandang di samping gubugnya. “Kami adalah peternak yang miskin. Atau lebih tepat kami adalah gembala-gembala kambing itu.”

“Ya, ya. Aku percaya. Suatu ketika Kiai adalah seorang gembala, lain kali seorang dukun dan kemudian seorang senapati di peperangan. Lalu apa lagi di hari-hari mendatang, Kiai?”

Gembala tua itu tertawa. Bahkan kedua muridnya pun tertawa pula. Apalagi ketika mereka mendengar Sutawijaya berkata, “Agaknya kedua murid-murid Kiai itu pun berbakat.”

“Tuan juga,” tiba-tiba Gupala menyahut, “siapakah yang pernah mempergunakan nama Sutajiya di Prambanan?”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tertawa sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalian masih ingat?” bertanya Sutawijaya.

“Argajaya ada di sini,” sahut Gupita, “dan ia berpihak kepada Sidanti.”

“Aku sudah mendengar,” jawab Sutawijaya. “Peristiwa di Tanah ini telah membuat aku menjadi agak bingung. Karena itu aku mencari Kiai yang menurut pendengaranku berada di Menoreh pula. Agaknya Kiai telah berada di sini lebih lama daripadaku, sehingga Kiai akan dapat memberikan lebih banyak petunjuk kepadaku.”

“Tidak terlampau banyak, Ngger. Aku hanya tahu, Argapati tidak dapat memenuhi keinginan anaknya untuk melawan Pajang. Agaknya Argajaya yang sudah terlibat dalam persoalan Sidanti, merasa terjepit. Namun akhirnya ia memutuskan untuk berpihak kepada Sidanti yang bersama-sama telah langsung menentang kekuasaan Pajang di Tambak Wedi. Mereka sudah tidak dapat ingkar lagi karena mereka dengan sengaja telah melawan Angger Untara, sebagai seorang Senapati dari Pajang.”

“Ya, ya. Aku sudah mendengar.”

“Nah, begitulah menurut pendengaran kami, apa yang terjadi di atas tanah perdikan ini.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Lalu, apakah yang telah Kiai lakukan di sini?”

Yang menjawab adalah Gupala, “Menggembala kambing. Berlari-lari untuk bersembunyi dan mengintip perselisihan ini dari kejauhan.”

“Ah,” gurunya berdesah. Tetapi kemudian mereka tersenyum bersama-sama.

“Ya, itulah yang telah kami kerjakan di sini, Ngger.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak kemudian tampaklah keningnya berkerut-merut. Kemudian ia bertanya, “Apakah Kiai akan berpihak?”

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya wajah Sutawijaya yang menjadi bersungguh-sungguh. Karena itu, orang tua itu pun menyadari bahwa Sutawijaya benar-benar ingin tahu pendiriannya. Sehingga dengan demikian maka gembala tua itu pun menjawab, “Ya, Ngger. Kami sudah memutuskan untuk berpihak.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku sudah menduga, kepada siapa Kiai akan berpihak.”

“Memang tidak sukar untuk menebak. Kami juga tidak dapat melihat kekasaran dan ketamakan menguasai Tanah ini. Lebih daripada itu aku dapat mengerti pendirian Argapati. Itulah soalnya.”

“Agaknya Argapati lebih sayang kepada jabatannya dari pada anak laki-laki tunggalnya.”

Gembala tua itu mengerutkan keningnya. “Maksud Angger?”

“Menurut perhitungan wajar, apa pun yang akan terjadi, Argapati pasti akan melindungi anak laki-lakinya dan adiknya. Tetapi Argapati berbuat sebaliknya. Justru ia bertempur melawan keduanya.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, begitulah keadaannya. Tetapi aku kira keadaan ini tidak dimulai dari persoalan Sidanti dan Argajaya.” Orang tua itu berhenti sejenak. Lalu, “Apakah pada saat ada perang tanding di bawah Pucang Kembar, Angger sudah berada di Tanah ini?”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. “Perang tanding yang mana yang Kiai maksud?”

“Antara Argapati dan Ki Tambak Wedi?”

Sutawijaya menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku tidak tahu. Memang mungkin aku belum ada di Tanah ini.”

“Perang tanding itu telah menimbulkan persoalan bagi kami. Sudah tentu sebabnya bukan sekedar apakah Argapati akan berpihak kepada Sidanti atau bukan, karena agaknya soal itu adalah soal lama bagi keduanya.”

Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Hampir di luar sadarnya ia berdesis, “Kesetiaan Argapati yang berlebih-lebihan kepada Pajang akan menyulitkan kedudukanku.”

“He?” hampir bersamaan gembala tua dan murid-muridnya bergeser maju.

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Ia menyadari bahwa ia telah terdorong untuk mengucapkannya. Tetapi ia tidak menyesal. Keadaannya sendiri memang telah semakin meningkat pula, meskipun tidak menimbulkan benturan-benturan seperti yang terjadi di Menoreh kini.

“Angger Sutawijaya,” berkata gembala tua itu, “kenapa Argapati itu akan dapat menyulitkan kedudukan Angger? Seharusnya Angger berterima kasih kepadanya, bahwa ia telah meletakkan tugas di atas segala-galanya, bahkan di atas kepentingan anaknya sendiri.”

Sutawijaya tidak segera menjawab. Sekilas dipandanginya kedua kawan-kawannya yang duduk tepekur memandangi api di perapian yang sudah menjadi semakin pudar pula.

Dan tiba-tiba saja Sutawijaya berdesis, “Aku memang mempunyai persoalan dengan Pajang,” anak muda itu berhenti sebentar karena hampir bersamaan Hanggapati dan Dipasanga mengangkat wajahnya.

“Mereka adalah kawan-kawan baikku, Paman,” berkata Sutawijaya kepada kedua kawannya itu. “Aku tidak perlu bercuriga kepada mereka, meskipun seandainya pendirian mereka tidak sejalan dengan pendirianku. Mereka adalah orang-orang jantan dan tidak dengan mudah dapat berkhianat.”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam, sedang kedua muridnya pun saling berpandangan sejenak.

“Maaf,” berkata Sutawijaya kemudian kepada ketiga guru dan murid itu, “demikianlah pendirianku. Dan aku lebih senang berkata terus terang daripada menyimpannya di dalam dada.”

“Itu suatu sikap yang terpuji,” sahut gembala tua itu.

“Terima kasih. Suatu kehormatan bagiku. Kiai ingin mendengar persoalanku?”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba ia merasa canggung menghadapi Sutawijaya kali ini, tidak seperti beberapa waktu yang lampau. Namun ia menjawab, “Apabila Angger tidak berkeberatan.”

“Baiklah,” Sutawijaya berhenti sejenak mengamati kedua murid gembala tua itu. Lalu, “Ayahanda telah meninggalkan istana Pajang.”

“He?” ketiganya terperanjat.

“Siapa yang Angger maksud?” bertanya gembala tua itu.

“Bukan Ayahanda Hadiwijaya yang sekarang telah bergelar Sultan. Tetapi Ayahanda Ki Gede Pemanahan.”

Tiba-tiba wajah gembala tua itu menjadi tegang. Hampir tidak percaya ia kepada pendengarannya sendiri. Tanpa sesadarnya ditatapnya wajah kedua kawan Sutawijaya itu berganti-ganti.

“Benarkah begitu?” ia berdesis.

Berbareng keduanya mengangguk.

“Dimana sekarang Ayahanda Ki Gede Pemanahan?” bertanya gembala tua itu.

“Ayahanda telah kembali ke Sela, setelah meletakkan semua jabatan Istana.”

“Aneh, Ngger. Itu aneh sekali. Bagaimana mungkin hal itu dapat terjadi? Aku rasa-rasanya seperti orang bermimpi. Atau aku berhadapan dengan orang lain?”

“Tidak, Kiai. Kiai tidak bermimpi dan Kiai benar-benar berhadapan dengan Sutawijaya. Namun aku tidak tahu lagi, apakah gelarku sudah dicabut oleh Ayahanda Sultan Pajang, karena aku mengikuti ayah kembali ke Sela.”

Gembala tua itu tidak segera menyahut. Tetapi wajahnya yang tegang menjadi semakin tegang. Sekali dipandanginya wajah-wajah muridnya. Dan murid-muridnya itu pun terheran-heran pula mendengar keterangan Sutawijaya.

Ternyata, keadaan memang berkembang terlampau cerpat di mana-mana. Tidak saja di Tanah Perdikan Menoreh, tetapi juga di Pajang. Berita tentang lolosnya Ki Gede Pemanahan dari Pajang, belum terdengar dari atas Tanah perbukitan ini. Tetapi sebentar lagi Ki Tambak Wedi pasti akan mendengarnya pula. Orang-orangnya sebagian adalah orang-orang liar yang berkeliaran di mana saja. Mungkin di antara mereka ada yang mempunyai kawan-kawannya di Pajang atau di daerah-daerah lain yang berdekatan dengan Pajang. Betapa Pajang berusaha menyimpan rahasia ini, seandainya kepergian Ki Gede Pemanahan dianggap sebagai suatu rahasia, namun seluruh negeri pada saatnya pasti akan mendengarnya juga.

Dan sejenak kemudian dengan nada datar gembala tua itu bertanya, “Kenapa Ayahanda Ki Gede Pemanahan meninggalkan istana, Ngger? Apakah Ki Gede Pemanahan merasa bahwa segala tugasnya sudah selesai untuk kemudian menarik diri dan menyepi di Sela, ataukah ada sebab-sebab lain?”

“Kira-kira begitulah Kiai. Ayah merasa menjadi semakin tua. Tetapi ada juga sebab-sebab lain yang mendorongnya untuk semakin cepat meninggalkan Ayahanda Sultan Hadiwijaya.”

Gembala tua itu tidak menjawab. Ditatapnya mata Sutawijaya tajam-tajam. Namun sorot matanya itulah yang memancarkan seribu pertanyaan di dalam dadanya.

“Kiai,” berkata Sutawijaya, “kenapa Kiai tidak bertanya, apakah sebab-sebab yang mendorong Ayahanda Ki Gede Pemanahan untuk meletakkan jabatannya sebagai Panglima Wira Tamtama?”

“Angger sudah tahu, bahwa pertanyaan itu ada di dalam dadaku.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, aku sudah tahu. Sebab-sebab itu mungkin akan mentertawakan sekali.” Ia berhenti sebentar, lalu, “Begini Kiai. Mungkin Kiai sudah mendengar bahwa mereka yang berhasil membunuh Arya Penangsang adalah Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi.”

“Bukankah Angger Sutawijaya yang melakukannya?”

“Aku hanya sekedar alat. Tetapi boleh juga dikatakan demikian. Namun secara resmi dilaporkan, bahwa yang telah membunuh Arya Penangsang adalah Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi.”

“Juga suatu cara untuk mendapatkan kedua bagian Tanah yang disanggupkan. Pati dan Alas Mentaok.”

“Dugaan Kiai tepat. Sebab kalau aku yang membunuh Arya Penangsang, semua hadiah akan dibatalkan. Karena aku adalah putera angkat Sultan Hadiwijaya sendiri.”

“Ya.”

“Nah, ternyata bumi Pati sudah lama diserahkan. Begitu Arya Penangsang gugur, begitu bumi Pati diserahkan.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali-sekali dengan sudut matanya ia mencoba melihat wajah kedua muridnya. Dan gembala tua itu melihat wajah-wajah itu menjadi tegang.

“Tetapi,” Sutawijaya meneruskan, “tidak demikian halnya dengan Alas Mentaok. Pati yang sudah terbuka dan sudah menjadi semakin ramai segera dapat mulai digarap, tetapi Mentaok yang masih berupa hutan belukar, masih harus menunggu. Menunggu tanpa batas. Dengan demikian maka Mentaok pasti akan menjadi semakin jauh ketinggalan dari Pati.”

Sejenak Gupala dan Gupita saling berpandangan. Sedang gurunya yang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ketiganya tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun Sutawijaya seakan-akan tanggap atas perasaan ketiganya, sehingga ia meneruskannya, “Memang, tampaknya tidak lebih dari perasaan iri hati. Bukankah begitu, Kiai?”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan hati-hati ia berkata, “Angger Sutawijaya. Memang tanggapan yang demikian itu mungkin sekali. Tetapi apakah masih ada alasan lain yang mendorong Ki Gede Pemanahan meninggalkan Pajang? Sebab menurut hematku, kalau hanya sekedar Tanah Mentaok maka Ki Gede Pemanahan pasti tidak akan mengambil keputusan itu.”

“Kiai,” berkata Sutawijaya, “ayahanda memandang soal itu bukan sekedar dari persoalan Tanah Mentaok itu sendiri. Tetapi dengan demikian Sultan Hadiwijaya telah ingkar. Ingkar janji. Sebagai seorang Raja, maka ingkar janji adalah pantangan yang harus dijauhi.“

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih bertanya, “Angger. Apakah tidak mungkin, bahwa Sultan Hadiwijaya menganggap bahwa bukan saja Tanah Mentaok yang kelak akan jatuh ke tangan Angger, meskipun lewat Ki Gede Pemanahan, karena tidak ada orang lain yang pasti akan menerimanya. Tetapi bahkan seluruh Pajang akan jatuh ke tangan Angger Sutawijaya.”

“Apakah aku harus menutup mata dari suatu kenyataan bahwa di istana ada Adimas Pangeran Benawa?”

“Apakah ada tanda-tanda bahwa tahta kelak akan diwarisi oleh Pangeran itu?”

“Pertanyaan Kiai agak aneh.”

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia berdiam diri. Sehingga dengan demikian keadaan menjadi hening. Hanya desah nafas mereka sajalah yang terdengar di sela-sela desir angin malam.

Gupala dan Gupita menundukkan kepala mereka memandangi api yang hampir padam. Sekali-sekali Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya ia tidak dapat mengerti, kenapa Ki Gede Pemanahan meninggalkan Pajang, apabila masalahnya hanya sekedar masalah Tanah Mentaok. Meskipun ia mencoba meyakinkan kata-kata Sutawijaya, bahwa masalahnya bukan Tanah Mentaok itu sendiri, tetapi bahwa sultan telah ingkar itulah yang telah membuat Ki Gede Pemanahan menjadi kecewa.

Dalam keheningan itu terdengar Sutawijaya bertanya, “Bagaimanakah tanggapan Kiai mengenai masalah ini?”

Gembala tua itu mengangguk-angguk. “Aku memerlukan waktu, Ngger. Aku kira Angger Sutawijaya juga tidak tergesa-gesa. Mungkin aku akan terpaksa menyelesaikan masalah tanah perdikan ini dahulu, baru aku dapat mencoba memberikan pertimbanganku.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya. Agaknya Kiai sudah terlanjur terlibat di dalam persoalan ini. Tetapi persoalan Tanah ini mau tidak mau harus menjadi perhitunganku juga. Alas Mentaok akan berada di tengah-tengah, di antara Pajang dengan Untara di Jati Anom di sebelah Timur, dan kesetiaan Argapati di sebelah Barat.”

“Ah,” gembala tua itu berdesah, “Angger terlampau cepat mengambil kesimpulan itu. Aku kira Ki Gede Pemanahan sendiri pun tidak akan dengan tergesa-gesa mengambil kesimpulan yang demikian.”

“Tetapi bukankah sudah jelas.”

“Lalu, apakah maksud Angger, Tanah ini harus jatuh ke tangan orang-orang yang menentang kekuasaan Pajang? Sidanti dan Argajaya misalnya?”

Sutawijaya tidak segera menjawab.

“Kalau demikian, maka Angger sudah terdorong ke dalam suatu sikap yang mementingkan diri sendiri. Angger tidak melihat apa yang telah terjadi di atas Tanah ini.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Katanya, “Bukan maksudku demikian, Kiai. Aku tahu sifat-sifat Sidanti, Argajaya, dan gurunya Ki Tambak Wedi. Mereka sama sekali tidak dapat dibawa berbincang dan bertindak untuk kepentingan bersama karena justru mereka mementingkan diri mereka sendiri. Namun sudah tentu bahwa aku juga tidak dapat berdiam diri, apabila Tanah ini terlampau setia berpihak kepada Pajang dan menghalang-halangi perkembangan Tanah Mentaok kelak apabila sudah diserahkan kepada Ayahanda Ki Gede Pemanahan?”

Tiba-tiba gembala tua itu tersenyum. Katanya, “Ternyata kau masih terlampau muda, Ngger. Apakah demikian juga pendirian Ayahanda Ki Gede Pemanahan?”

Sutawijaya menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu benar, Kiai. Tetapi kepergian ayah ke Sela bukan berarti bahwa ayah telah melepaskan tuntutannya atas Tanah Mentaok. Kepergian ayah adalah suatu usaha untuk mempercepat penyerahan itu.”

“Ya. Kemudian Ayahanda Ki Gede Pemanahan akan membuka Mentaok untuk menjadi suatu pedukuhan. Tentu saja dengan harapan bahwa kelak akan menjadi sebuah kota yang ramai. Melampaui Tanah Perdikan Menoreh dan melampaui Mangir. Bukankah begitu?”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baiklah, Ngger. Aku akan mencoba memberikan pendapatku lain kali. Tetapi bagiku adalah merupakan suatu keharusan untuk membantu Argapati melepaskan diri dari kesulitan ini. Sidanti bukanlah seorang yang pantas untuk menjadi besar. Ia dalam sikapnya tidak sekedar menentang Sultan Hadiwijaya. Tetapi ia menentang kekuasaan yang lebih tinggi dari kekuasaannya, justru karena ia sendiri ingin berkuasa.”

“Terserahlah, Kiai. Tetapi setidak-tidaknya Menoreh tidak mempersulit kedudukanku kelak.”

“Aku akan mencoba menyampaikannya kepada Argapati. Tetapi, apakah terbayang di dalam angan-angan Angger Sutawijaya bahwa suatu ketika akan timbul masalah antara Mentaok dan Pajang?”

Sutawijaya tidak segera dapat menjawab. Pertanyaan itu membuatnya berdebar-debar. Sehingga dengan demikian untuk sejenak ia berdiam diri.

Kembali kesepian mencengkam suasana. Angin yang sejuk mengusap dahi-dahi yang dibasahi oleh keringat, betapapun dinginnya malam. Api perapian di hadapan mereka telah menjadi semakin pudar. Bayangan merah yang samar-samar memulas wajah-wajah yang tegang.

Dengan sebuah tongkat kecil Gupala mengais abu yang masih membara. Tetapi ia tidak bergeser dari tempatnya. Sekilas dipandanginya wajah Gupita yang menahan senyum. Ternyata ubi yang dibenamkannya di dalam abu itu telah menjadi arang.

“Kiai,” kemudian terdengar suara Sutawijaya, “aku tidak mengharapkan pertentangan antara Mentaok dan Pajang kelak. Sama sekali tidak. Ayahanda Ki Gede Pemanahan maupun Ayahanda Sultan Hadiwijaya pun pasti tidak.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sokurlah.”

“Pertentangan itu tidak ada gunanya. Kecuali …………”

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 1 November 2008 at 21:31  Comments (18)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/jiid-41/trackback/

RSS feed for comments on this post.

18 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sedikit Tips & Trick untuk retype/edit hasil konversi.

    Semoga berguna. Bagi yang sudah expert, silahkan menambahkan kiat-kiatnya. Dengan tips2 ini, proses retype/konvert lebih cepat dan menghemat tenaga.

    Tahap pertama, menurut saya cukup membantu adalah mengcopy seluruh text ke dalam “template”, yaitu contoh buku yang di upload mas D2 di buku 19. Di “template” tersebut sudah ada set up margin, spasi dan paragraph, jadi tinggal edit text saja.

    Tahap kedua:
    Di word, menggunakan menu Find dan di Replace. Replace saya beri tanda ->

    untuk tanda petik buka, tergantung tanda yang muncul di text apakah tanda ~, atau —

    ~(di copy dari text) -> ”

    atau
    — (dicopy dari text) -> ” (tanda petik/kutip buka)

    . — (dicopy dari text) -> .” (tanda petik/kutip tutup)

    atau
    .~ (dicopy dari text) -> .”

    tj -> c (tj diubah c dulu, replace all)
    j -> y (j harus diubah ke y dulu, replace all), baru
    dy -> j
    ch -> kh

    akan2 -> akan-akan
    orang2 -> orang-orang
    benar2 -> benar-benar
    olah2 -> olah-olah
    tiba2, dst -> tiba-tiba
    (karena kata2 ulang tsb ada antara 20 – 40 per buku).

    Kadang-kadang hasil konvert kurang akurat seperti
    adanya tanda tanda yang tidak terbaca.

    Tanda <, ^, ■ atau tanda lainnya, di find (dengan copy dari text) kemudian direplace dengan blank (dihilangkan)

  2. Mau nanya…, biar gaptek juga ga apalah. Kalo ngambil cover jilid 38 di mana ya..? Tararenkyu sebelumnya.

    D2: Kover sudah dipost. Silahkan menikmati.

  3. […] 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, […]

  4. kok buku Bagian 4: buku-41-60-79 gak bisa dibuka atau disave, pake klik kanan juga gak bisa

    D2: Silahkan coba lagi.

  5. Mas Edy,
    Hasil konvert buku 41 sangat bagus, sangat memudahkan retype.
    Apakah memungkinkan kualitas scan untuk konvert dan untuk di “unggah” dibedakan ya?
    Dengan kualitas scan tinggi, menurut saya hasil konvert akan seperti yang Mas Edy tampilkan.

  6. ohm jebeng…

    Memang selama ini saya selalu coba dan selalu mencoba.

    Salah satu yg mempengaruhi hasil konvertan adalah hasil scan itu sendiri. Apabila hasil scan dari bukunya tidak cacat, dalam arti tidak terpotong huruf2nya, maka converter itu akan bisa menyesuikan font (huruf) yang dibacanya, tentunya seting font dalam converter itu sendiri harus disesuaikan dengan bahan yang akan di convert.

    Yang kedua, yang mempengaruhi hasil convert-an adalah besar file itu sendiri (dalam hal ini adalah resolusinya), semakin besar resolusi akn semakin bagus hasilnya.
    Bahan dalam bentuk DJVU file, yang Ohm DHE DHE tayangkan, resolusinya kecil sekali (Maap Ohm Dhe Dhe). Makanya kalo mengkonvert dari file itu, hasilnya pasti tidak sesuai yang kita harapkan, terutama bagi temen2 yang akan meng-editnya. Mesti banyak kata2 (huruf2) yang harus diketik ulang.
    Tapi, meskipun kecil sizenya, tetapi kalo masih bisa dibaca, maka hasil konvertan masih readable.. dengan catatan sebelum mengkonvert diperbesar dulu size ato resolusinya.

    Salah satu contoh hasil scan yg susah dibaca converter adalah pada buku ADBM 37 hal 14… converter betul2 dibuat binun oleh hasil scanan tersebut.. Lha wong saya sendiri juga binun bacanya hehe.. (Maap Ohm Dhe Dhe, mesti komplen ke Tukang scan-nya)

    Ohm Jebeng,
    Saya perbesar sizenya pake ACDsee. Saya selalu perhatikan hasil resizenya, selama masih belum pecah, akan saya perbesar terus, tujuannya untuk membantu reader membaca dan mengenal huruf per huruf (font) yang ada pada bahan yang akan di convert.

    Ohm Jebeng,
    Kalo ohm perhatikan convertan buku 41, susunan baris kalimat dan alenia, serta spasinya itu, mungkin mirip dengan bahan atau hasil scane bahannya, karena memang pada converter saya set demikian. Jadi akan lebih mudah bagi temen2 yang akan mengeditnya.

    Satu lagi Ohm, sebelum di save ke doc, hasil convert saya save dulu ke txt. Tujuannya untuk menyeragamkan (menyamakan) ukuran font-nya.

    Demikian ohm jebeng, sekedar sharing saja. Mungkin ada temen2 punya cara yang lebih bagus lagi, saya akan ngikuuuuuuttt…..

  7. Aku ada sedikit pengalaman, dengan solo djvu 3.1.
    scan document dengan dengan *tif resolusi 200 colour,
    melalui solo djvu 3.1. simpan dengan resolusi 400 maka akan dihasilkan size kecil resolusi tinggi. (teks terbaca penuh), namun semua juga tergantung kualitas teks master bukunya, karena buku adbm yang tersebut dicetak pada tahun 70 an jadi kebanyakan kualitasnya sudah berkurang banyak teks yang tidak gandeng (berlubang) atau bahkan terbloks hitam.
    Sayang aku tak punya masternya.

  8. Bener Ohm Rudito,
    Memang YANG PALING MEMPENGARUHI, yang pertama adalah masternya (karakter / font apakah sesuai dengan conventer yang dipakai). Makanya pada converter disediakan beberapa pilihan huruf (font), yang nantinya si pengguna tinggal memilihnya.

    Dalam proyek PENAYANGAN ADBM ini kan melewati beberapa tahap. Tahapannya pun kadang berbeda. Tahapan yg dianggap cepat yaitu : Dari me-scane dari masternya (dlm JPG file), terus di convert (yg hasil akhir dalam bentuk doc file), trus di edit, di proof, trus kalo Ohm Dhe Dhe seutuju dgn hasil proof, baru ditayangkan hasilnya… ikut numpang mejeng deh nama yg ikut menyelesaikan (tentunya per buku..hehe)

    Ada tahapan yang paling cepat, yaitu dari me-scan masternya langsung dalam bentuk doc file. Tapi yang ini belum pernah kita lakukan. Kerena menurut saya, tugas yg nyecan akan lebih lama… jadi yg melalui tahap ini tuk sementara kita lupakan. Lagian yang menyediakan diri untuk retype / edit masih banyak… gitu kira2.

    Yang mempunyai pengaruh lainnya yaitu scanernya, apakah scanernya bisa membuat hasil scan-nya sesuai dengan masternya. Kalo hasilnya sudah tidak sesuai, atau tidak utuh bentuk hurufnya (font-nya), maka conventer itu sendiri akan menjadi binun, mau ikut huruf apa? itu mungkin pikiran conventernya.

    Trus masalah resolusi. Hal ini masih bisa diatasi untuk menghasilkan hasil convertan yg readeble. Dengan catatan hasil scan dari masternya tidak terlalu kabur. Jadi nantinya kalo filenya diperbesar tidak seperti kabut di kaca bis ato mobil kalo lagi kena ujan… jadi kalo memandang keluar tidak jelas… gitu kira2

  9. Mas Edy,
    saya msh binun neh.. bgmn caranya resize?
    Contohnya saya punya scan buku 38, misal halaman 54-55 itu besarnya 250 kb. Sudah tak otak atik zoom sampe 300% dan resolusinya sampai 500dpi, waktu di read terus dikonvert hasilnya kok masi pfzxkcfyt gitu…
    sementara masih diakali dipaste di doc terus di pdf, hasil scan agak di melar-kan, tetapi ya itu tadi hasilnya masih perlu banyak edit-an.

    Kasih tahu dong, via email saja kali langkah-langkahnya untuk resize scan dg ACDsee

    D2: Setahu saya Eddy konvert dari file JPG. File JPG itu yg diresize (zoom?) dg ACDsee. Lalu baru dikonvert. Hasilnya memang sangat2 memuaskan.

  10. Lho….????
    Sutawijaya kok ngono ya……?????
    apakah selamanya politik itu kejam…..?????
    (yang bertanya kang Fals)

    • sing njawab sinten ki ?
      (sing jelas dudu aku, soale pas pelajaran niku kula mbolos je)

      • “KEJAM terlihat dari LUAR, SANTUN terasa dari DALAM”

        • koyok pegadaian ki ndul

          • Menghilangkan MASALAH tanpa MASALAH .

            • ki mangku apal tibake 😆

              • sering antri

                • :lol::lol::lol::lol::lol:

                  • oba


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: