Buku 41

Pemimpin penjaga yang berada di depan pintu regol di bagian dalam segera melaporkan kepada Samekta bahwa lawan telah berada beberapa langkah saja di depan regol itu.

“Aku akan melihatnya,” desis Samekta.

Maka pemimpin pengawal Tanah Perdikan itu pun segera pergi ke samping regol diikuti oleh Wrahasta dan Pandan Wangi. Dengan sebuah tangga pendek mereka memanjat ke atas, dan di atas sebuah anjang-anjang bambu mereka dapat melihat gerakan pasukan Sidanti yang menjadi semakin dekat.

“Semua bersiap,“ Samekta memberikan aba-aba.

Maka semua orang pun bersiap di tempat masing-masing. Semua alat pelontar, baik yang ditempatkan di atas carang-carang ori, maupun yang berada di balik-balik dinding halaman, semua telah tertuju ke mulut regol yang kini masih tertutup rapat. Sedang sebagian yang ada di sisi regol, mengarah ke mulut bagian luar dari regol itu.

Di belakang alat-alat pelontar itu, pasukan pengawal tanah perdikan sudah siap dengan senjata masing-masing. Sebagian berada di balik dinding-dinding batu, namun ada di antara mereka yang duduk di atas cabang-cabang pohon dengan busur di tangan mereka.

Pandan Wangi dan Wrahasta pun telah berada di atas anjang-anjang bambu itu pula. Sekali-sekali terdengar mereka menggeram. Wajah Pandan Wangi menjadi merah seperti terbakar. Kedua tangannya telah hinggap di hulu sepasang pedangnya.

Sejenak kemudian maka pasukan Sidanti pun telah berada di depan mulut regol menebar dalam gelar yang tidak terlampau luas. Beberapa orang yang berdiri di paling depan tampak seolah-olah seekor harimau yang sedang merunduk mangsanya, perlahan-lahan mereka maju, namun pasti.

Dada Samekta menjadi berdebar-debar. Ia masih belum dapat melihat, siapakah yang berdiri di pusat paruh pasukan lawannya.

Beberapa langkah dari pintu regol pasukan lawan itu berhenti. Kemudian seseorang yang berwajah keras seperti batu-batu padas, berkumis dan berjanggut, berhidung lengkung seperti paruh burung betet, maju ke depan. Itulah Ki Tambak Wedi, pemimpin dari seluruh pasukan lawan yang kini berada di mulut regol.

Sejenak kemudian orang tua itu terhenti. Dipandanginya pintu regol yang tertutup rapat-rapat. Kemudian lampu yang masih menyala di luar. Lalu dilayangkannya pandangan matanya ke kegelapan di samping regol.

Seandainya bukan Ki Tambak Wedi, dan seandainya matanya tidak setajam mata burung hantu, ia tidak akan melihat apa pun di balik carang ori dalam kegelapan itu. Tetapi agaknya Ki Tambak Wedi tidak dapat dikelabuhi lagi. Sambil menunjuk ke arah para pemimpin pengawal Tanah Perdikan Menoreh ia berkata, “He, siapakah yang memegang pimpinan kali ini?”

Dada Samekta berdesir. Namun ia tidak yakin bahwa Ki Tambak Wedi dapat melihatnya dengan jelas.

“He, siapa yang memegang pimpinan?”

Debar di dada Samekta masih belum mereda. Ia bukan seorang yang merasa dirinya kurang bernilai untuk memimpin pasukan pengawal tanah perdikan. Sebagai seorang yang telah memiliki pengalaman yang berpuluh tahun, ia yakin, bahwa ia mampu memegang pimpinan dalam keadaan yang bagaimanapun juga.

Tetapi ketika ia berhadapan dengan Ki Tambak Wedi, terasa sesuatu bergetar di dalam dadanya.

Namun agaknya bukan hanya Samekta sendiri yang dihinggapi oleh perasaan yang aneh. Setiap pengawal yang berada di atas cabang-cabang pering ori, yang melihat orang tua itu berdiri dengan kaki merenggang di luar regol yang tertutup rapat itu, hati mereka pun berdesir. Serasa mereka melihat hantu yang datang dari lereng Gunung Merapi, siap untuk menyebarkan maut. Apalagi ketika mereka melihat di tangan hantu tua itu tergenggam sebuah nenggala yang mengerikan.

“He, apakah kalian tuli?“ teriak Ki Tambak Wedi, “atau bisu, atau mati ketakutan?”

Samekta menggeram. Ia tidak dapat berdiam diri untuk seterusnya. Karena itu, ia melangkah setapak maju sambil menggeretakkan giginya, seakan-akan mencari sandaran kekuatan untuk menjawab pertanyaan Ki Tambak Wedi itu.

Tetapi terasa darahnya tiba-tiba saja berhenti mengalir. Bukan saja Samekta, namun juga Wrahasta, Pandan Wangi, dan bahkan semua orang yang kemudian mendengar suara tertawa perlahan-lahan. Dalam kegelapan mereka kemudian melihat sebuah bayangan yang meloncat dari belakang rimbunnya carang ori di sisi regol yang lain ke atas bubungan atap. Kemudian bayangan itu berhenti tepat di tengah-tengah bubungan regol itu.

Hampir tidak percaya setiap pengawal tanah perdikan menyaksikan bayangan yang berdiri dengan teguhnya sambil menggenggam sebuah tombak pendek.

Di sela-sela detak jantumg para pemimpin dan para pengawal, mereka mendengar bayangan itu berkata, “Sudah tentu, akulah yang memimpin pasukanku, Ki Tambak Wedi.”

Sejenak suasana dicengkam oleh kesenyapan yang menegangkan. Semua mata kini hinggap pada bayangan yang berdiri di bubungan atap dengan tombak pendek di tangannya.

Seperti orang yang mengigau terdengar suara Pandan Wangi lambat, “Ayah. Kenapa ayah berada di situ?”

Samekta yang masih belum dapat menenangkan dirinya berpaling. Dengan telapak tangannya ia menekan dadanya sambil berdesis, “Agaknya Ki Argapati mengetahui apa yang telah terjadi.”

“Tetapi,“ gumam Wrahasta, “bagaimana dengan lukanya itu?”

Tidak seorang pun yang dapat menjawab semua pertanyaan itu, yang terdengar kemudian adalah suara Ki Tambak Wedi, ”He, kau Argapati. Apakah luka-lukamu sudah sembuh? Ternyata kau benar-benar seorang yang mempunyai nyawa rangkap, atau kau menyimpan seorang dukun yang tidak ada duanya di muka bumi?”

Terdengar Ki Argapati tertawa perlahan-lahan. Jawabnya, ”Tidak ada yang mustahil terjadi di muka bumi ini apabila Tuhan berkenan, Tambak Wedi. Aku masih mendapat kurnia umur beberapa waktu lagi. Apa pun caranya, namun aku telah mendapat kesembuhan daripada-Nya.”

Ki Tambak Wedi menggeram. Tetapi kehadiran Ki Argapati itu ternyata telah mempengaruhinya. Bukan saja dirinya sendiri, tetapi Sidanti, Argajaya, Ki Wasi dan apalagi Ki Muni, menjadi membatu di tempatnya. Seolah-olah mereka melihat sesosok hantu yang berdiri di atas bubungan atap regol.

Para pengawal Tanah Perdikan Menoreh pun sangat terpengaruh pula oleh kehadiran Kepala Tanah Perdikannya itu. Apabila semula mereka menjadi kecut melihat Ki Tambak Wedi yang berdiri tegak dengan nenggala di tangannya di muka regol desa itu sambil memanggil-manggil pimpinan pasukan pengawal, maka dada mereka kini serasa tersiram embun. Sehingga kecemasan, keragu-raguan apalagi ketakutan telah terusir. Di samping Ki Argapati, semua anggauta pasukan pengawal, bahkan setiap laki-laki yang dengan suka rela telah menyatakan diri ikut berperang, tidak lagi akan mengenal takut, meskipun ujung senjata lawan akan membelah dada mereka.

“Ki Argapati,“ terdengar suara Ki Tambak Wedi, ”apabila benar kau telah berhasil mengatasi lukamu, maka sebaiknya kau membuat pertimbangan-pertimbangan yang wajar untuk selanjutnya. Apakah kau tidak dapat berbuat lain daripada tindakan bodoh seperti yang kau lakukan kali ini? Apa artinya beberapa buah desa kecil yang kau duduki sekarang? Kalau kita mengepungmu siang dan malam, maka kalian akan mati kelaparan. Tetapi kami masih dapat berpikir bening, bahwa orang-orang yang terperosok ke dalam kedunguan karena kesetiaannya yang mati kepadamu itulah, maka kami masih tetap memberi kesempatan kepada kalian untuk merampas bahan makanan dari desa-desa di sekitar sarangmu ini. Karena itu, apakah kau tidak pernah berpikir untuk mengakhiri tindakan yang bodoh ini? Aku menjamin bahwa kau akan tetap diperlakukan dengan baik dan dihormati. Kami tidak akan melakukan tindakan apa pun terhadap orang-orang yang kini tetap setia kepadamu. Sehingga dengan demikian, penyelesaian akan segera dapat dicapai.“

Ki Argapati tidak segera menjawab. Tetapi ia tertawa.

“Kenapa kau tertawa?”

“Kalau bukan kau yang mengatakannya, Ki Tambak Wedi, mungkin aku akan percaya. Tetapi karena kau yang mengucapkannya, maka ceriteramu itu tidak lebih dari kata-kata banyolan dalam pertunjukan tari topeng.”

Jawaban itu telah membakar dada Ki Tambak Wedi. Tetapi ia masih berusaha menguasai perasaannya. “Kalau begitu, Ki Argapati, apakah aku harus mempergunakan kekerasan?”

“Kenapa kau bertanya kepadaku?”

Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah,“ geramnya. Orang tua itu pun kemudian mengangkat tangannya. Digerakkannya tangan itu melingkar sekali, kemudian diayunkannya tangannya maju ke depan.

Sesaat kemudian maka obor-obor pun mulai bergerak pula perlahan-lahan. Yang memimpin pasukan itu adalah Ki Wasi dan Ki Muni. Sidanti dan Argajaya, meskipun ikut di dalam pasukan itu, tetapi mereka tidak berdiri di ujung barisan. Kecuali mereka tidak merasa perlu untuk menampakkan diri, mereka masih mempunyai tugas untuk mengawasi seandainya orang-orang yang sedang mereka cari itu benar-benar hadir di dalam peperangan.

Ki Argapati yang melihat obor-obor itu telah mulai bergerak, menarik nafas dalam. Sesaat kemudian ia berpaling, seakan-akan ingin melihat apakah orang-orangnya telah siap pula menyambut kedatangan lawan.

“Kita tidak akan menunggu lagi bukan, Ki Argapati?” bertanya Ki Tambak Wedi. Lalu, “Kecuali apabila kau merubah pendirianmu.”

“Memang,” jawab Ki Argapati, “kita tidak perlu menunggu siapa pun. Kita akan segera mulai.”

Ki Tambak Wedi tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian melangkah surut menyongsong pasukannya yang bergerak semakin maju.

Ki Argapati pun kemudian meninggalkan tempatnya pula. Tetapi ia tidak kembali ke tempat darimana ia meloncat ke bubungan atap regol itu. Tetapi ia kemudian pergi mendapatkan Samekta, Wrahasta, Pandan Wangi, dan para pemimpin yang lain.

“Apakah kalian telah siap?” bertanya Ki Argapati.

“Maaf Ki Gede. Bukan maksud kami meninggalkan Ki Gede. Tetapi kami tidak sampai hati mengganggu Ki Gede yang masih belum sehat benar.”

“Aku tahu maksudmu. Karena itu, kita tidak perlu mempersoalkannya lagi.”

“Tetapi dari mana Ayah mengetahui hal ini?“ bertanya Pandan Wangi.

“Aku menaruh curiga atas kepergianmu yang tiba-tiba. Kemudian aku keluar halaman dan bertanya kepada orang-orang yang sibuk hilir-mudik di sepanjang jalan.”

Pandan Wangi menarik nafas. Yang dipesannya hanyalah para pengawal yang menjaga rumah itu, tetapi sudah tentu ia tidak akan dapat berpesan kepada setiap orang.

“Sekarang,“ berkata Ki Argapati, “kita akan mulai. Kita tidak boleh kehilangan kesempatan untuk melawan kali ini, dan mempertahankan tempat ini. Kalau kita terusir dari tempat ini, maka kehancuran sudah berada di ambang pintu.”

Samekta menganggukkan kepalanya. Kemudian diberikannya isyarat kepada setiap kelompok. Beberapa penghubung telah tersebar, membawa perintah pemimpin pasukan pengawal itu.

Namun sementara itu, Pandan Wangi terkejut ketika ia melihat ayahnya menyeringai sambil memegangi dadanya. Dengan cemas ia mendekat dan bertanya terbata-bata, “Kenapa dengan luka itu, Ayah?”

“Tidak apa-apa.”

“Seharusnya Ayah masih beristirahat. Dan kami memang ingin mempersilahkan Ayah beristirahat.”

“Aku harus ada di sini Pandan Wangi,“ jawab ayahnya, “meskipun aku belum sehat benar.“ Orang tua itu berhenti sejenak. Diedarkannya pandangan matanya ke sekitarnya. Ketika tidak dilihatnya orang lain kecuali Samekta dan Wrahasta, yang berada di dekatnya, maka ia berkata lirih, “Aku harus ada di peperangan ini meskipun aku belum cukup kuat untuk bertempur. Aku tidak dapat membiarkan para pengawal menjadi ketakutan melihat Ki Tambak Wedi. Kehadiranku akan memperbesar hati mereka dan memperkuat perlawanan mereka.“ Ki Argapati berhenti sejenak. Sekali lagi ia menyeringai menahan sakit yang mulai menyentuh lukanya kembali.

Pandan Wangi, Samekta, dan Wrahasta menjadi cemas melihat keadaan Ki Argapati. Namun di dalam hati mereka menjadi semakin menundukkan kepala mereka. Ki Gede Menoreh sama sekali tidak menghiraukan keadaannya sendiri. Tetapi ia lebih memelihara ketahanan hati para pengawal. Sebab ia yakin, bahwa kehadirannya akan sangat berpengaruh pada perasaan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

Meskipun demikian, tetapi Ki Argapati tidak akan dapat dibiarkan menjadi korban, selama hal itu masih dapat dihindarinya.

“Pandan Wangi,“ berkata Ki Argapati, “sebentar lagi kedua pasukan yang berhadapan ini akan berbenturan. Aku akan turun. Aku akan menunggu di bawah, di dalam regol. Kalau Ki Tambak Wedi berkeras akan memecahkan regol itu, dan memasuki padesan ini, apa boleh buat. Tetapi sudah tentu aku tidak dapat bertempur sendiri. Aku memerlukan beberapa orang kawan untuk menghadapi Ki Tambak Wedi.”

“Aku akan berkelahi di samping Ayah,“ jawab Pandan Wangi.

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baik, Wangi. Tetapi sekedar dengan kau, kita masih belum akan dapat mengatasinya.”

“Kita buat sekelompok kecil pengawal pilihan buat melawannya, Ayah.”

“Kita harus segera mempersiapkan. Aku melihat Ki Wasi dan Ki Muni di barisan lawan. Adalah tugasmu Samekta dan Wrahasta, meskipun aku perlu memperingatkan, bahwa kalian masing-masing tidak akan dapat melawan seorang lawan seorang.”

“Ya, Ki Gede,” sahut keduanya hampir bersamaan.

“Mudah-mudahan mereka tidak akan memasuki desa ini. Aku melihat gelar mereka kurang lengkap untuk melawan alat-alat pelontar yang telah siap di depan regol itu.”

“Mudah-mudahan, Ki Gede.”

“Baiklah, aku akan turun bersama Pandan Wangi. Awasi keadaan dan kaulah yang akan memberikan perintah-perintah berikutnya. Aku telah cukup berusaha. Ki Tambak Wedi harus membuat pertimbangan-pertimbangan baru setelah ia melihat aku. Demikian juga orang-orangnya. Aku berusaha sejauh-jauh dapat aku lakukan, membuat kesan bahwa lukaku sudah tidak berbahaya lagi.”

“Silahkan, Ki Gede,“ sahut Wrahasta, “kami akan berusaha sejauh mungkin.”

Ki Argapati dan Pandan Wangipun segera turun dari tempatnya. Mereka mengambil tempat di pinggir jalan beberapa puluh langkah dari regol, di belakang para pengawal yang telah siap dengan alat-alat pelontar dan busur-busur.

Sejenak kemudian pasukan Ki Tambak Wedi pun menjadi semakin dekat. Obor-obor mereka menjadi semakin jelas menerangi wajah-wajah yang tegang. Ketika kemudian Ki Tambak Wedi memberikan isyarat dengan tangannya dan disambut oleh setiap pemimpin di dalam pasukannya, maka kemudian terdengar mereka bersorak gegap gempita. Langkah mereka menjadi semakin cepat dan obor mereka pun terangkat tinggi-tinggi sambil mengacung-acungkan senjata pula.

Mereka yang berperisai segera mengambil tempat di depan untuk melindungi lontaran-lontaran senjata jarak jauh. Kemudian diikuti oleh mereka yang bersenjatakan pedang dan tombak.

Samekta menjadi berdebar-debar melihat arus pasukan Ki Tambak Wedi. Pasukan itu memusatkan serangannya pada regol desa, dan sedikit menebar sebelah-menyebelah sebagai sayap pasukannya. Agaknya mereka merasa bahwa mereka tidak akan dapat menerobos masuk lewat pagar pering ori. Satu-satunya jalan bagi mereka adalah regol-regol desa.

Ketika pasukan itu telah berada dalam jarak jangkau alat-alat pelontar lembing, maka Samekta segera melepaskan perintah. Sejenak kemudian, maka dari sela-sela carang-carang ori itu meluncurlah berpuluh-puluh lembing menghujani pasukan Ki Tambak Wedi.

Ki Tambak Wedi memang sudah menduga, bahwa mereka pada saatnya harus melawan senjata-senjata itu. Karena itu, maka mereka yang membawa perisai segera mengambil tempat dan berusaha menangkis serangan-serangan itu. Tetapi lembing itu meluncur terlampau keras, sehingga kadang-kadang beberapa orang yang kurang kuat, tergetar dan terdorong surut beberapa langkah ketika perisai-perisai mereka membentur lembing yang meluncur dengan derasnya.

Tetapi arus pasukan itu ternyata cukup deras. Meskipun satu-satu korban berjatuhan, namun mereka sama sekali tidak dapat ditahan lagi. Apalagi ketika pasukan panah Ki Tambak Wedi telah mengambil tempatnya dan membalas serangan-serangan itu dengan anak-anak panah mereka. Meskipun para pengawal berperisai carang ori yang rimbun, namun satu dua di antara anak-anak panah itu berhasil menembus dan melukai para pengawal.

“Pecah pintu itu,“ teriak Ki Tambak Wedi yang memimpin langsung pasukannya.

Beberapa orang kemudian berlari-lari semakin dekat ke arah pintu regol. Bersama-sama mereka berusaha memecah pintu itu. Mereka mendorong sekuat-kuat tenaga mereka bersama-sama. Sementara kawan-kawan mereka melindungi mereka dengan serangan anak-anak panah kepada para pengawal.

Tetapi pintu regol itu adalah pintu yang sangat kuat, sehinga usaha itu pun tidak segera dapat berhasil.

“Cepat, pecahkan pintu,“ perintah Ki Tambak Wedi.

Ki Wasi dan Ki Muni yang telah berdiri di muka pintu, itu menggelengkan kepalanya, “Terlampau sulit,“ katanya, “pintu ini terlampau kuat.”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Sementara itu anak-anak panah meluncur terus dari kedua belah pihak. Bahkan kemudian beberapa orang telah mulai melontarkan obor mereka ke dalam pagar rumpun bambu ori.

”Bakar regol itu,” teriak Ki Tambak Wedi kemudian.

Ki Wasi mengerutkan keningnya. Namun perintah itu telah menjalar dari setiap mulut, “Bakar, bakar.”

Beberapa orang yang berusaha memecahkan pintu itu pun segera meloncat surut. Yang kemudian melangkah maju adalah mereka yang membawa obor di tangan mereka. Sambil berteriak-teriak mereka melemparkan obor-obor mereka ke pintu regol. Minyak yang ada di dalam obor-obor itu pun kemudian tumpah dan mengalir membasahi tlundak pintu. Sedang obor-obor itu pun saling membakar satu sama lain.

Dengan cepatnya maka api pun segera berkobar. Yang mula-mula terbakar adalah bumbung-bumbung bambu tangkai obor yang telah basah oleh minyak. Namun kemudian tlundak pintu yang sudah diperciki oleh minyak itu pun mulai terbakar pula. Sedikit demi sedikit, api merambat tanpa dicegah sama sekali.

Para pengawal yang melihat api mulai menjilat regol mereka segera bergerak. Tetapi Ki Gede Menoreh mencegah mereka sambil berkata, “Jangan mendekat. Kalian akan terpancing. Kalau kalian berusaha memadamkan api itu, maka kalian tidak akan dapat melihat api itu padam, karena leher kalian akan terpenggal.”

Para pengawal pun segera mengurungkan niatnya. Sekali-sekali mereka memandang Samekta dan Wrahasta di tempatnya. Tetapi agaknya mereka pun sependapat dengan Ki Gede Menoreh meskipun mereka belum membicarakannya. Ternyata bahwa Samekta pun sama sekali tidak memberikan perintah apa pun.

Sejenak kemudian maka api pun segera berkobar semakin tinggi. Pintu regol itu sedikit demi sedikit termakan oleh api yang melonjak sampai ke bubungan. Dan sejenak kemudian maka regol desa itu telah menjadi seonggok api yang berkobar-kobar seolah-olah akan menjilat langit.

Cahaya merah yang seram telah memancar ke sekitar. Onggokan api itu menyentuh wajah-wajah yang tegang di dalam dan di luar regol. Pasukan kedua belah pihak seolah-olah membatu di tempat masing-masing.

Namun Samekta dan Wrahasta beserta beberapa orang pengawal yang bertengger di atas anjang-anjang dengan alat-alat pelontar mereka, sebelah-menyebelah regol itu, tidak dapat menahan panas api itu lagi. Mereka terpaksa beringsut dan menjauh.

“Panggil Samekta,” perintah Ki Gede.

Seorang pengawal pun kemudian menemui Samekta yang basah oleh keringatnya yang seakan-akan terperas dari dalam tubuhnya.

Dengan tergesa-gesa ia pergi menghadap Ki Argapati.

“Pimpinan pasukanmu dari tempat ini. Aku akan mendampingimu,“ berkata Ki Argapati.

“Tetapi apakah Ki Gede tidak beristirahat saja dahulu.”

Ki Argapati menggeleng. Justru nyala api itu seakan-akan telah menyingkirkan segala perasaan sakitnya. Bagaimanapun juga, maka ia harus menyiapkan diri, dalam keadaannya itu, untuk mempertahankan pemusatan pasukannya.

Samekta dan Wrahasta pun kemudian berdiri sebelah menyebelah Ki Argapati dan Pandan Wangi. Di tangan mereka telah tergenggam senjata masing-masing yang telanjang.

Sekilas Samekta melihat para pengawal yang kepanasan berdiri berlindung di balik pagar-pagar batu. Namun mereka tetap berada di tempat. Mereka tidak mau meninggalkan alat-alat pelontar lembing dan busur besar mereka. Apabila api itu nanti mereda, dan pasukan lawan akan menerobos masuk, maka adalah menjadi kuwajiban mereka untuk menahan arus itu. Apabila mereka gagal mengurangi derasnya arus lawan, maka para pengawal yang telah siap menunggu, setengah lingkaran di dalam regol itu pun pasti akan pecah, seperti pecahnya bendungan oleh banjir bandang. Karena itu, maka mereka merasa bertanggung jawab untuk menahan mereka sekuat-kuat tenaga.

Selama api itu masih berkobar, maka tidak akan ada seorang pun yang dapat melampauinya. Baik memasuki maupun keluar dari desa ini. Karena itu, selama api masih berkobar, mereka di kedua pihak hanya dapat menunggu. Sekali-sekali masih juga ada lontaran-lontaran lembing dari para pengawal di sebelah-menyebelah regol, namun jarak mereka menjadi terlampau jauh karena mereka tidak tahan lagi terhadap panasnya api.

“Jangan terpancing keluar,“ desis Ki Argapati.

“Aku sudah mengeluarkan perintah itu,” sahut Samekta.

“Bagus. Apabila kita terpancing keluar dan menghalangi setiap alat pelontar itu, maka kita akan dibinasakan.”

“Ya,“ Samekta mengangguk. Tetapi tatapan matanya tidak berkisar dari api yang seolah-olah menari-nari dalam buaian angin yang silir.

Sejenak kemudian, api pun mulai mereda. Karena itu, maka setiap orang di dalam regol segera mempersiapkan diri. Mereka harus mempergunakan setiap kekuatan untuk menahan arus pasukan Tambak Wedi. Mereka harus mengurangi jumlah mereka sebanyak-banyaknya.

Namun baik Ki Argapati, maupun Samekta dan para pemimpin yang lain tidak mengerti, bahwa Ki Tambak Wedi pun telah mengeluarkan perintah agar pasukannya pun jangan melampaui regol yang sedang terbakar itu.

“Terlampau berbahaya. Kita akan terlampau banyak memberikan korban, karena kita tidak mempersiapkan peralatan untuk itu.”

Ki Muni mengerutkan dahinya. Tetapi ia tidak membantah. Dalam keadaan serupa itu, Ki Tambak Wedi pasti tidak akan dapat diajaknya untuk bergurau. Orang tua itu pasti akan segera menjadi muak mendengar ia membual.

Tetapi meskipun demikian, ia bertanya, “Lalu apakah yang akan kita lakukan sesudah api itu padam?”

“Kita mengharap Argapati membawa pasukannya keluar.”

Ki Muni mengerutkan keningnya. Tetapi ia terdiam sambil mengawasi api yang semakin susut.

Ketika mereka telah dapat memandang melangkahi nyala api yang sudah menjadi semakin kecil, maka dalam keremangan cahaya kemerah-merahan, dalam jarak beberapa puluh langkah di luar dan di dalam regol, kedua pasukan itu saling dapat melihat, siapakah yang berdiri memegang pimpinan.

Ki Tambak Wedi menggeram ketika ia melihat samara-samar Ki Argapati berdiri tegak di samping puterinya yang telah menggenggam sepasang pedangnya. Kemudian pemimpin pasukan pengawal, Samekta dan Wrahasta.

“Tidak seorang pun yang dapat dibanggakan di dalam pasukan Argapati itu selain ia sendiri,“ tanpa sesadarnya Ki Tambak Wedi menggeram.

“Nah, kenapa kita tidak akan memasuki regol?”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Kemudian dengan agak keras ia menyahut, “Kita bukan orang-orang yang paling bodoh di medan peperangan. Sudah aku katakan, korban akan terlampau banyak. Aku yakin bahwa aku akan dapat hidup, tetapi belum tentu dengan kau.”

Wajah Ki Muni yang kemerah-merahan karena sentuhan sinar api, menjadi semakin merah membara. Seandainya yang berkata demikian itu bukan Ki Tambak Wedi, maka ia pasti tidak akan membiarkan dirinya terhina. Tetapi terhadap Ki Tambak Wedi ia harus berpikir untuk kesekian kalinya sebelum ia berbuat sesuatu.

Karena itu, maka yang terdengar adalah gemeretak giginya. Namun ia tidak menjawab lagi. Kini matanya yang tajam memandang api yang semakin lama semakin surut, dan lamat-lamat dilihatnya pula Argapati berdiri tegak dengan tombok pendeknya di samping puterinya yang cantik Pandan Wangi. Namun Pandan Wangi itu seakan-akan sama sekali bukan seorang gadis lagi. Dengan sepasang pedang di tangannya, Pandan Wangi itu bagaikan bunga pandan yang dikitari oleh seonggok duri-duri yang tajam.

Di samping ayah beranak itu, berdirilah para pemimpin pasukan pengawal Tanah Perdikan. Hampir semuanya sudah dikenal oleh Ki Muni, Samekta, Wrahasta, dan yang lain lagi. Mereka bukannya orang-orang yang berhati seringkih batang ilalang. Tetapi mereka adalah orang-orang yang berpendirian teguh.

Ki Argapati yang berdiri di dalam regol pun melihat, siapa yang berada di pasukan lawan. Ia melihat pula betapa Ki Tambak Wedi dengan tegang memandang api yang semakin surut. Di sebelah-menyebelah berdiri kedua orang yang dikenalnya dengan baik pula, Ki Wasi dan Ki Muni.

Sebagai seorang yang memiliki pengamatan yang tajam, maka Ki Argapati melihat, bahwa agaknya Ki Tambak Wedi sama sekali tidak berhasrat untuk memasuki pedesan itu setelah api mereda. Karena itu, maka ia menjadi ragu-ragu di dalam hati, apakah sebenarnya yang akan dilakukan oleh iblis dari lereng Gunung Merapi itu.

Meskipun demikian Ki Argapati tidak dapat lengah. Ia harus tetap berada dalam kesiagaan yang tertinggi. Mungkin Ki Tambak Wedi sengaja membuat gelar yang meragukan lawannya, tetapi kemudian dengan tiba-tiba memukul tanpa ampun.

Bahwa Sidanti dan Argajaya tidak tampak di dalam pasukan itu pun membuatnya agak bercuriga. Sehingga perlahan-lahan ia bertanya kepada Samekta, “Bagaimana dengan regol-regol samping yang lain.”

“Aku telah menempatkan pengawasan yang cukup Ki Gede. Kalau terjadi sesuatu di sana, mereka pasti akan memberikan isyarat.”

Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya, “Aku tidak melihat Sidanti dan Argajaya di ujung barisan mereka.”

“Mungkin mereka masing-masing memimpin sayap pasukan itu.”

Ki Argapati mengangguk-angukkan kepalanya. Tetapi terasa hatinya menjadi terlampau pedih. Jauh lebih pedih dari luka badaniah di dadanya. Adiknya sendiri ternyata telah melawannya pula. Bahkan anak yang sejak kecil dipeliharanya, betapapun ia menghadapi kenyataan yang paling pahit. Kini, seperti memelihara anak-anak harimau, ia harus berhadapan sebagai lawan, setelah harimau itu menjadi besar dan kuat.

Sementara itu, agak jauh dari nyala api regol yang telah susut, tiga orang berdiri termangu-mangu di tempatnya. Seakan-akan tanpa berkedip mereka memandangi keadaan yang sedang berkembang di sebelah menyebelah regol yang sedang dimakan api itu.

Dengan tiba-tiba saja salah seorang dari mereka berkata, ”Apalagi yang kita tunggu?”

Seorang tua yang ada di antara mereka berpaling. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apa yang akan kau lakukan?”

“Guru,“ sahut orang yang pertama, seorang anak muda yang gemuk, “buat apa Guru memanggil aku dan berlari-lari kemari? Aku kira lebih baik berbaring di gubug itu daripada berdiri di sini tanpa berbuat sesuatu.”

Gurunya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya, ”Kita melihat keadaan. Kalau kita tergesa-gesa berbuat sesuatu, mungkin kita akan melakukan kesalahan. Karena itu, kita harus memperhitungkan setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Apakah tindakan kita itu menguntungkan atau justru sebaliknya.”

“Tetapi sebentar lagi api itu akan padam. Pasukan Tambak Wedi akan segera menghambur masuk ke dalam desa itu dan memecahkan pertahanan Argapati. Betapapun juga Ki Argapati masih dalam keadaan luka. Sudah tentu ia tidak akan dapat berhadapan dengan Ki Tambak Wedi.”

“Tambak Wedi bukan iblis Gupala,“ jawab orang tua itu, “ia adalah manusia biasa seperti kita. Ujung lembing yang dilontarkan dari alat-alat pelontar itu, apabila mengenainya, akan menyobek kulitnya pula. Meskipun ia mempunyai beberapa kelebihan dari orang kebanyakan karena ia mesu diri, namun pada suatu batas tertentu, ia pun akan dapat dilumpuhkan.”

“Meskipun demikian, Guru,“ sahut Gupala, “ia mempunyai pasukan pula. Pasukannyalah yang akan dijadikannya perisai dari serangan-serangan lembing dan anak panah.”

“Kau benar. Tetapi aku kira Tambak Wedi bukan seorang yang terlampau bodoh untuk mengorbankan terlampau banyak orang-orangnya. Aku tidak melihat persiapan yang cukup untuk memasuki regol itu.” Orang tua itu berhenti sejenak, lalu ”Seandainya demikian, Tambak Wedi masih memerlukan waktu. Seandainya api itu padam, maka Tambak Wedi masih harus menunggu lagi. Orang-orangnya tidak akan dapat berjalan di atas bara sementara alat-alat pelontar dari dalam regol menyerang mereka seperti hujan. Kalau memang itu yang dikehendakinya aku tidak tahu.”

Gupala menarik keningnya. Ia tidak berani membantah lagi. Betapapun hatinya bergolak, namun ia berdiri saja dengan gelisahnya. Sekali-sekali dirabanya cambuknya yang melingkar di lambung. Namun kemudian ditimang-timangnya sehelai pedang yang didapatkannya dari lawannya.

“Seandainya Ki Tambak Wedi memang merencanakan untuk masuk ke dalam lingkungan bambu ori itu, maka pasukannya pasti dilengkapi dengan perisai jauh lebih banyak dari yang ada sekarang.”

Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedang anak muda yang seorang lagi berdiri saja seolah-olah membeku. Namun hatinya dicengkam oleh kecemasan dan kegelisahan. Meskipun ia tidak berkata sepatah kata pun, namun sebenarnya perasaannya tidak jauh berbeda dengan adik seperguruannya. Tetapi ia masih dapat menahan diri tanpa menyatakan perasaannya itu.

Sejenak mereka bertiga terdiam sambil menahan nafas. Api yang menelan regol desa itu sudah menjadi semakin surut. Namun belum ada tanda-tanda, bahwa Ki Tambak Wedi akan menyerang memasuki pusat pertahanan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu.

“Aku hampir pasti bahwa Ki Tambak Wedi tidak akan memasuki regol,“ berkata orang tua itu tiba-tiba.

Kedua anak-anak muda yang berdiri di sisinya menganggukkan kepala mereka. Mereka pun tidak melihat tanda-tanda itu. Namun mereka tidak menyahut.

Dalam pada itu, baik orang-orang di dalam pasukan Ki Tambak Wedi maupun Ki Argapati, dengan susah payah menahan diri masing-masing untuk tidak terdorong oleh perasaan mereka. Tangan-tangan mereka telah gemetar dan dada mereka pun telah bergelora. Tetapi masing-masing tidak akan dapat melanggar perintah dari pemimpin tertinggi mereka, bahwa masing-masing tidak boleh melangkahi regol yang kini telah menjadi bara.

Kedua belah pihak berdiri termangu-mangu menunggu perkembangan keadaan. Ki Tambak Wedi mengharap para pengawal itu terpancing keluar. Apabila demikian, maka mereka akan dapat dibinasakan, karena kekuatan Ki Tambak Wedi tidak akan berkurang karena serangan-serangan alat-alat pelontar yang cukup berbahaya itu.

Sedangkan Ki Argapati mengharap pasukan Ki Tambak Wedi itu memasuki pertahanannya. Selama mereka meloncat-loncat menghindari bara yang akan menyengat kaki mereka, maka alat-alat pelontar lembing, busur-busur dan bahkan bandil-bandil besar akan dapat mengurangi kekuatan lawan.

Tetapi hingga api menjadi semakin surut, dan bahkan hampir padam kedua belah pihak sama sekali tidak bergerak. Mereka berdiri di tempat masing-masing dalam kesiagaan penuh.

Sekali-kali terdengar beberapa dari mereka menggeram. Tangan-tangan mereka menjadi gemetar dan kaki-kaki mereka seakan-akan tidak dapat mereka tahankan lagi untuk meloncat menyergap lawan yang telah berada di depan hidung mereka.

“Argapati,” tiba-tiba terdengar suara Ki Tambak Wedi melengking. “Kenapa kau tidak berbuat sesuatu pada saat kami membakar regol pertahananmu? Apakah regol itu memang sudah tidak kau perlukan lagi atau kau sama sekali tidak mempunyai kemampuan untuk mencegahnya?”

Yang terdengar adalah geram Wrahasta dan para pengawal yang lain. Namun Ki Argapati sendiri tersenyum sambil menjawab keras-keras, “Masuklah Ki Tambak Wedi. Pintu kami telah terbuka. Apa yang kau tunggu lagi? Bukankah kau ingin merebut kedudukan kami yang terakhir ini? Ayolah, jangan segan-segan kalau kau memang merasa cukup mampu.”

“Persetan!” jawab Ki Tambak Wedi. “Kau sangka aku tidak dapat merebutnya dalam sekejap?”

“Kenapa tidak kau lakukan? Apakah kau belum mempersiapkan perisai yang cukup untuk menerobos pasukan pelontar lembing kami? Atau kau merasa bahwa sampai orangmu yang terakhir pasti akan terhenti di regol yang telah menjadi abu itu?”

Ki Tambak Wedi menggeram. Kemudian terdengar ia berteriak, “He. Apakah lukamu masih belum sembuh benar?”

“Kenapa kau bertanya tentang lukaku? Ki Tambak Wedi, aku sudah siap menyambutmu. Marilah, aku persilahkan kalian masuk.”

Ki Tambak Wedi tidak segera menyahut. Namun dicobanya untuk melihat wajah-wajah di sekitar Ki Argapati pada sisa-sisa cahaya api yang telah memusnahkan regol desa itu. Tetapi ia tidak menemukan orang yang dicarinya.

Karena itu, setelah ia yakin, bahwa yang dicarinya tidak ada, maka ia tidak merasa perlu untuk berada di tempat itu terlampau lama. Ia telah memberikan kejutan yang pasti akan berpengaruh pada para pengawal. Karena itu, maka orang tua itu pun kemudian berkata lantang, “Tidak Argapati. Kali ini aku tidak akan singgah di desa yang sunyi dan mati ini. Aku hanya ingin menunjukkan kepadamu bahwa kami adalah orang-orang yang mempunyai rasa perikemanusiaan yang tebal. Kami datang sekedar memberi kau peringatan. Tetapi kalau kau masih juga berlaku bodoh, maka aku tidak akan memaafkanmu lagi. Karena itu, dengarlah Argapati. Malam ini aku merasa perlu untuk mengasihani kau dan orang-orangmu yang tidak tahu-menahu alasan apakah yang kau pegang sampai saat ini, sehingga kau masih tetap berkepala batu. Tetapi aku tidak akan berbuat demikian untuk seterusnya. Aku akan mengepung tempat ini rapat-rapat dalam dua hari dua malam. Kalau kau tidak berubah pendirianmu, maka pada hari yang ketiga, bukan saja regolmu yang kami bakar, tetapi kami akan membakar seluruh rumpun pering ori ini. Memang sulit untuk membakar rumpun bambu yang masih berdiri. Tetapi kami yakin bahwa kami mampu melakukannya. Seterusnya, desa yang sunyi dan mati ini akan menjadi kuburan yang luas bagi kalian yang dungu.”

Wrahasta, yang darahnya masih terlampau cepat mendidih, tidak dapat bersikap terlampau tenang seperti Ki Argapati. Tetapi ketika ia bergerak maju, tangan Ki Argapati menggamitnya. Dengan wajah yang tegang Wrahasta memandang Ki Argapati yang masih saja tersenyum. Ia tidak mengerti kenapa hinaan itu ditanggapinya acuh tak acuh saja.

“Tenanglah,” desis Ki Argapati. Kemudian kepada Ki Tambak Wedi ia berkata, “Apa pun yang kau katakan, Ki Tambak Wedi. Tetapi kami tahu apakah yang sebenarnya telah menahanmu. Meskipun demikian, terserahlah kepadamu. Kalau kau ingin kembali dahulu, mempersiapkan dirimu, silahkanlah. Aku akan menunggu. Sehari, dua hari, atau hari yang ketiga seperti yang kau katakan.”

Ki Tambak Wedi menggeram. Tetapi ia mempunyai cukup pengalaman, sehingga ia tidak mudah lagi dibakar oleh perasaannya, seperti juga Ki Argapati. Karena itu, maka jawabnya, “Baiklah. Aku akan kembali. Di hari ketiga, aku akan datang. Mudah-mudahan kau sudah sembuh. Sehingga kau tidak akan mengecewakan aku.”

Ki Argapati tidak menjawab. Dengan tajamnya diawasinya segala macam gerak gerik iblis dari lereng Gunung Merapi itu. Namun agaknya Ki Tambak Wedi benar-benar menarik pasukannya. Selangkah demi selangkah mereka mundur. Semakin lama semakin jauh dari mulut lorong yang sudah tidak beregol lagi.

Sementara itu Ki Muni mendekatinya sambil berkata, “Kenapa kita harus menunggu tiga hari lagi? Itu sikap yang sangat bodoh.”

Ki Tambak Wedi tidak segera menjawab. Justru kepalanya tertunduk seolah-olah sedang menghitung langkah kakinya. Namun agaknya ia sedang berpikir tentang pasukannya dan pasukan Argapati. Dengan cermat ia mencoba menilai keseimbangan kedua pasukan itu.

“Ki Tambak Wedi,” Ki Muni yang masih mengikutinya bertanya lagi, “kenapa kita menunggu tiga hari lagi? Telah di dayung jaring dilepaskan. Belum tentu kalau kelak akan menetas.”

Ki Tambak Wedi berpaling, tetapi ia tidak segera menjawab.

“Bukankah semudah meremas ranti?” berkata Ki Muni pula. “Sekarang kita melepaskannya dan memberitahukan untuk datang lagi pada hari yang ketiga. O, alangkah bodohnya. Kita sendirilah yang meminta kepada mereka untuk menggali lubang kubur kita.”

“Cukup!” tiba-tiba Ki Tambak Wedi menggeram. “Aku kira kau mampu berpikir Ki Muni, ternyata kau lebih bodoh dari orang-orang Menoreh itu. Apa kau sangka aku sudah gila, dengan melakukan kebodohan itu? Aku tidak akan menunggu sampai tiga hari seperti yang aku katakan. Hanya kerbaulah yang menyerahkan hidungnya untuk dicocok,”

“Jadi?”

“Aku akan segera mempersiapkan pasukan. Begitu aku siap, aku akan kembali. Besok atau selambat-lambatnya lusa. Tetapi sebelum hari ketiga. Aku harap Argapati benar-benar bodoh sehingga menunggu sampai hari yang aku katakan.”

Ki Muni mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil bergumam, “O, akulah yang bodoh.”

“Tetapi,” tiba-tiba Ki Wasi memotong, “itu bukan kebodohan. Ki Argapati adalah seorang laki-laki yang jujur. Ia tidak pernah bertindak licik. Karena itu, maka orang seperti Ki Argapati terlampau mudah ditipu dan dijebak.”

Ki Tambak Wedi tertegun sejenak, sementara Ki Wasi melanjutkan, “Seperti saat-saat yang telah ditentukan di bawah Pucang Kembar.”

“Itu bukan suatu kelicikan,” bantah Ki Tambak Wedi, “dalam peperangan kita dapat bersiasat. Kita tidak harus bertempur seorang lawan seorang sampai orang yang terakhir. Itu terlampau bodoh. Dalam peperangan kita dapat saja membunuh siapa saja dalam barisan lawan. Mungkin aku akan membunuh seorang pengawal yang tidak berarti, atau Pandan Wangi harus berkelahi perpasangan melawan Ki Peda Sura. Apakah itu licik? Pengecut dan tidak jantan? Soal pribadi adalah lain dengan soal peperangan. Di peperangan tidak ada pantangan untuk membuat siasat dengan cara apa pun.”

Ki Wasi tidak menyahut. Ia takut kalau kemudian dapat menimbulkan salah paham. Karena itu, maka ia pun berdiam diri sambil melangkah menjauhi regol yang kini telah menjadi abu.

Beberapa langkah kemudian, Sidanti dan Argajaya telah menunggu. Tanpa ditanya lagi Sidanti segera berkata, “Aku tidak melihat seorang pun mendekati medan.”

Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku kira semua itu adalah sekedar permainan Ki Argapati saja dengan membuat beberapa orang bercambuk untuk mengecilkan hati kami. Kini aku yakin, tidak ada orang bercambuk di tlatah Menoreh. Orang yang menghentikan pasukan berkuda dan yang berhasil menghindari gelang-gelang besiku pasti Ki Argapati yang menyamar menjadi orang yang tidak dikenal.”

Sidanti tidak menyahut. Tanpa sesadarnya ia berpaling ke arah Ki Argajaya. Tetapi Ki Argajaya pun tidak mengucapkan sepatah kata pun.

“Nah, kalau begitu,” berkata Ki Tambak Wedi, “kita sudah pasti. Kita akan menghancurkan mereka di dalam sarangnya. Begitu kita sampai di induk kademangan, kita harus segera menyiapkan diri. Kita akan segera kembali dengan kelengkapan yang matang untuk memasuki pertahanan mereka, menembus jaring-jaring alat-alat pelontar yang mereka pasang di sebelah-menyebelah pintu masuk.”

Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menyahut.

“Sekarang kita kembali. Tidak ada waktu untuk beristirahat lagi. Sejak malam ini kita harus mempersiapkan semua alat-alat yang pasti akan kita perlukan. Kalau mungkin besok malam kita pergi, atau selambat-lambatnya lusa. Kita akan memilih saat yang sebaik-baiknya.”

Tidak ada seorang pun lagi yang menjawab. Semua berjalan dengan kepala tunduk sambil menahan kecewa di hati masing-masing. Apalagi beberapa yang sudah membayangkan, kemungkinan memecah pertahanan itu, dan menemukan harta benda yang tidak ternilai harganya, yang dikumpulkan oleh orang-orang Menoreh yang sedang mengungsi.

Sementara itu, Gupala, Gupita, dan gurunya masih berdiri saja di tempatnya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya gurunya berkata, “Bukankah dugaan kita tepat. Ki Tambak Wedi tidak akan memasuki regol itu malam ini. Tetapi dengan demikian ia sudah mendapat gambaran tentang kekuatan kedua belah pihak. Menurut perhitungan Ki Tambak Wedi. Ki Argapati sudah mengerahkan semua kekuatannya di hadapan regol yang terbakar itu. Agaknya usahanya itu berhasil, dan dengan demikian, Ki Tambak Wedi tinggal menghitung orang-orangnya, apakah ia merasa mampu untuk memecah pertahanan lawannya itu.”

Gupala dan Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi kita tidak tahu, kapan Tambak Wedi akan kembali,” gumam Gupita kemudian.

“Pasti secepatnya,” jawab gurunya. “Tetapi kita memang tidak tahu, kapankah secepatnya itu.”

Gupala yang sejak tadi berdiam diri saja sambil mengawasi bara yang sudah hampir padam, tiba-tiba menguap. Katanya, “Aku benar-benar sudah mengantuk. Perang gagal itu membuat aku serasa sakit dada. Untunglah aku tidak ada di antara mereka. Kalau aku ada di antara mereka mungkin aku sudah pingsan.”

“Nah, bukankah kau sudah mengaku sendiri?” sahut gurunya. “Itulah sebabnya, aku kurang memberimu kesempatan. Kau mudah sekali menjadi pingsan. Apalagi kalau kau melihat bukan sekedar perang gagal.”

“Apa itu guru?” bertanya Gupala.

“Yang lain. Tentu yang bukan sejenis peperangan. Puteri Kepala Tanah Perdikan itu barangkali.”

Sekali lagi Gupala menguap. Diusap-usapnya keningnya sambil berkata, “Gadis itu pasti dipingit.”

Gurunya tidak menyahut, tetapi ia tersenyum. Dipandanginya wajah muridnya yang gemuk itu. Namun agaknya Gupala tidak banyak menaruh perhatian.

“Gadis itu membawa sepasang pedang,” desis Gupita.

Gupala berpaling. “Kenapa dengan sepasang pedang?”

“Kalau gadis itu dipingit di dalam bilik buat apa kira-kira sepasang pedang itu?”

(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 1 November 2008 at 21:31  Comments (18)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/jiid-41/trackback/

RSS feed for comments on this post.

18 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sedikit Tips & Trick untuk retype/edit hasil konversi.

    Semoga berguna. Bagi yang sudah expert, silahkan menambahkan kiat-kiatnya. Dengan tips2 ini, proses retype/konvert lebih cepat dan menghemat tenaga.

    Tahap pertama, menurut saya cukup membantu adalah mengcopy seluruh text ke dalam “template”, yaitu contoh buku yang di upload mas D2 di buku 19. Di “template” tersebut sudah ada set up margin, spasi dan paragraph, jadi tinggal edit text saja.

    Tahap kedua:
    Di word, menggunakan menu Find dan di Replace. Replace saya beri tanda ->

    untuk tanda petik buka, tergantung tanda yang muncul di text apakah tanda ~, atau —

    ~(di copy dari text) -> ”

    atau
    — (dicopy dari text) -> ” (tanda petik/kutip buka)

    . — (dicopy dari text) -> .” (tanda petik/kutip tutup)

    atau
    .~ (dicopy dari text) -> .”

    tj -> c (tj diubah c dulu, replace all)
    j -> y (j harus diubah ke y dulu, replace all), baru
    dy -> j
    ch -> kh

    akan2 -> akan-akan
    orang2 -> orang-orang
    benar2 -> benar-benar
    olah2 -> olah-olah
    tiba2, dst -> tiba-tiba
    (karena kata2 ulang tsb ada antara 20 – 40 per buku).

    Kadang-kadang hasil konvert kurang akurat seperti
    adanya tanda tanda yang tidak terbaca.

    Tanda <, ^, ■ atau tanda lainnya, di find (dengan copy dari text) kemudian direplace dengan blank (dihilangkan)

  2. Mau nanya…, biar gaptek juga ga apalah. Kalo ngambil cover jilid 38 di mana ya..? Tararenkyu sebelumnya.

    D2: Kover sudah dipost. Silahkan menikmati.

  3. […] 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, […]

  4. kok buku Bagian 4: buku-41-60-79 gak bisa dibuka atau disave, pake klik kanan juga gak bisa

    D2: Silahkan coba lagi.

  5. Mas Edy,
    Hasil konvert buku 41 sangat bagus, sangat memudahkan retype.
    Apakah memungkinkan kualitas scan untuk konvert dan untuk di “unggah” dibedakan ya?
    Dengan kualitas scan tinggi, menurut saya hasil konvert akan seperti yang Mas Edy tampilkan.

  6. ohm jebeng…

    Memang selama ini saya selalu coba dan selalu mencoba.

    Salah satu yg mempengaruhi hasil konvertan adalah hasil scan itu sendiri. Apabila hasil scan dari bukunya tidak cacat, dalam arti tidak terpotong huruf2nya, maka converter itu akan bisa menyesuikan font (huruf) yang dibacanya, tentunya seting font dalam converter itu sendiri harus disesuaikan dengan bahan yang akan di convert.

    Yang kedua, yang mempengaruhi hasil convert-an adalah besar file itu sendiri (dalam hal ini adalah resolusinya), semakin besar resolusi akn semakin bagus hasilnya.
    Bahan dalam bentuk DJVU file, yang Ohm DHE DHE tayangkan, resolusinya kecil sekali (Maap Ohm Dhe Dhe). Makanya kalo mengkonvert dari file itu, hasilnya pasti tidak sesuai yang kita harapkan, terutama bagi temen2 yang akan meng-editnya. Mesti banyak kata2 (huruf2) yang harus diketik ulang.
    Tapi, meskipun kecil sizenya, tetapi kalo masih bisa dibaca, maka hasil konvertan masih readable.. dengan catatan sebelum mengkonvert diperbesar dulu size ato resolusinya.

    Salah satu contoh hasil scan yg susah dibaca converter adalah pada buku ADBM 37 hal 14… converter betul2 dibuat binun oleh hasil scanan tersebut.. Lha wong saya sendiri juga binun bacanya hehe.. (Maap Ohm Dhe Dhe, mesti komplen ke Tukang scan-nya)

    Ohm Jebeng,
    Saya perbesar sizenya pake ACDsee. Saya selalu perhatikan hasil resizenya, selama masih belum pecah, akan saya perbesar terus, tujuannya untuk membantu reader membaca dan mengenal huruf per huruf (font) yang ada pada bahan yang akan di convert.

    Ohm Jebeng,
    Kalo ohm perhatikan convertan buku 41, susunan baris kalimat dan alenia, serta spasinya itu, mungkin mirip dengan bahan atau hasil scane bahannya, karena memang pada converter saya set demikian. Jadi akan lebih mudah bagi temen2 yang akan mengeditnya.

    Satu lagi Ohm, sebelum di save ke doc, hasil convert saya save dulu ke txt. Tujuannya untuk menyeragamkan (menyamakan) ukuran font-nya.

    Demikian ohm jebeng, sekedar sharing saja. Mungkin ada temen2 punya cara yang lebih bagus lagi, saya akan ngikuuuuuuttt…..

  7. Aku ada sedikit pengalaman, dengan solo djvu 3.1.
    scan document dengan dengan *tif resolusi 200 colour,
    melalui solo djvu 3.1. simpan dengan resolusi 400 maka akan dihasilkan size kecil resolusi tinggi. (teks terbaca penuh), namun semua juga tergantung kualitas teks master bukunya, karena buku adbm yang tersebut dicetak pada tahun 70 an jadi kebanyakan kualitasnya sudah berkurang banyak teks yang tidak gandeng (berlubang) atau bahkan terbloks hitam.
    Sayang aku tak punya masternya.

  8. Bener Ohm Rudito,
    Memang YANG PALING MEMPENGARUHI, yang pertama adalah masternya (karakter / font apakah sesuai dengan conventer yang dipakai). Makanya pada converter disediakan beberapa pilihan huruf (font), yang nantinya si pengguna tinggal memilihnya.

    Dalam proyek PENAYANGAN ADBM ini kan melewati beberapa tahap. Tahapannya pun kadang berbeda. Tahapan yg dianggap cepat yaitu : Dari me-scane dari masternya (dlm JPG file), terus di convert (yg hasil akhir dalam bentuk doc file), trus di edit, di proof, trus kalo Ohm Dhe Dhe seutuju dgn hasil proof, baru ditayangkan hasilnya… ikut numpang mejeng deh nama yg ikut menyelesaikan (tentunya per buku..hehe)

    Ada tahapan yang paling cepat, yaitu dari me-scan masternya langsung dalam bentuk doc file. Tapi yang ini belum pernah kita lakukan. Kerena menurut saya, tugas yg nyecan akan lebih lama… jadi yg melalui tahap ini tuk sementara kita lupakan. Lagian yang menyediakan diri untuk retype / edit masih banyak… gitu kira2.

    Yang mempunyai pengaruh lainnya yaitu scanernya, apakah scanernya bisa membuat hasil scan-nya sesuai dengan masternya. Kalo hasilnya sudah tidak sesuai, atau tidak utuh bentuk hurufnya (font-nya), maka conventer itu sendiri akan menjadi binun, mau ikut huruf apa? itu mungkin pikiran conventernya.

    Trus masalah resolusi. Hal ini masih bisa diatasi untuk menghasilkan hasil convertan yg readeble. Dengan catatan hasil scan dari masternya tidak terlalu kabur. Jadi nantinya kalo filenya diperbesar tidak seperti kabut di kaca bis ato mobil kalo lagi kena ujan… jadi kalo memandang keluar tidak jelas… gitu kira2

  9. Mas Edy,
    saya msh binun neh.. bgmn caranya resize?
    Contohnya saya punya scan buku 38, misal halaman 54-55 itu besarnya 250 kb. Sudah tak otak atik zoom sampe 300% dan resolusinya sampai 500dpi, waktu di read terus dikonvert hasilnya kok masi pfzxkcfyt gitu…
    sementara masih diakali dipaste di doc terus di pdf, hasil scan agak di melar-kan, tetapi ya itu tadi hasilnya masih perlu banyak edit-an.

    Kasih tahu dong, via email saja kali langkah-langkahnya untuk resize scan dg ACDsee

    D2: Setahu saya Eddy konvert dari file JPG. File JPG itu yg diresize (zoom?) dg ACDsee. Lalu baru dikonvert. Hasilnya memang sangat2 memuaskan.

  10. Lho….????
    Sutawijaya kok ngono ya……?????
    apakah selamanya politik itu kejam…..?????
    (yang bertanya kang Fals)

    • sing njawab sinten ki ?
      (sing jelas dudu aku, soale pas pelajaran niku kula mbolos je)

      • “KEJAM terlihat dari LUAR, SANTUN terasa dari DALAM”

        • koyok pegadaian ki ndul

          • Menghilangkan MASALAH tanpa MASALAH .

            • ki mangku apal tibake 😆

              • sering antri

                • :lol::lol::lol::lol::lol:

                  • oba


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: