Surat Cinta dari Ki Gd

Surat Cinta Ki Gd

Laman: 1 2

Published in: on 8 September 2009 at 11:18  Comments (102)  
Tags: , , , , , , ,

Ular-ular buku 143

Blog ini dihadirkan sebagai bagian dari misi ambisius yaitu untuk menghadirkan API DI BUKIT MENOREH (ADBM), adi cerita milik bangsa sendiri, ciptaan sang maestro, Singgih Hadi Mintardja atau SH Mintardja, ke dunia siber.

Kalimat itu ada dibagian awal padepokan ini. Mungkin para cantrik terlewat ketika memasuki regol padepokan. Kalimat ini menegaskan bahwa tidak ada kamukten atau pamrih pribadi yang ingin diperoleh Ki GD dengan diadakannya padepokan ini. Sama sekali tidak. Jadi mohon tidak diperpanjang dengan menjelek-jelekkan orang lain. Boleh saja membuat kalimat-kalimat yang bertujuan membuat kitab segera diedarkan. Tetapi mohon agar lebih disaring lagi. Tidak semua cantrik bertelinga tebal ada beberapa yang berkuping tipis sehingga terkadang ledekan bisa dianggap sebagai ejekan.

Juga bayangan-bayangan semu yang beberapa kali ditonjolkan. Dengan memberikan link-link atau tautan-tautan palsu, Ki GD mohon agar lebih dikurangi. Banyak yang merasa bahwa itu pintu buntulan. Tapi sekali lagi Ki GD nyatakan bahwa cuma sekali dan cuma sekali saja pernah terjadi pintu buntulan itu diterobos. Tidak akan terjadi lagi.

Dan akhirnya, sesuai rencana semula, dengan ini Kitab 143 diedarkan.

Monggo.

Update :
Terimakasih sekali kepada Ki Banuaji atas ketikan untuk jilid 143. Ini lah yang Senopati sebut, “jika kayu bakar habis ya segera memotong kayu.”

Sumber : Buku 143

Published in: on 15 Maret 2009 at 18:17  Comments (1)  
Tags: , , , , , , , ,

Ular-ular di Buku 142

Hari ini (11/2/2009/) direncanakan dikeluarkan.

Dan demikianlah adanya.

Kitab 142 benar-benar dikeluarkan pada hari ini (11/2/2009).. te..ta..pi.. masih ada beberapa hal yang perlu di benahi dalam serah terima kitab 142 ini yang mengakibatkan jam tayang kitab 142 tertunda beberapa jam.
Kenapa ???

1. Hari ini (11/2/2009) telah direncanakan Anakmas Sukra dibebastugaskan sebagai bebahu padepokan. Seluruh tugas dan wewenangnya untuk sementara dipegang langsung oleh Ki GD. Hal-hal pengenai pemindahan kekuasaaan dan lain-lain akan diselenggarakan secepatnya.

2. Pengganti dari Anakmas Sukra sedang menuju ke padepokan. Seorang jajaran tamtama yang khusus ditugaskan untuk mengayomi dan membuat suasana padepokan lebih tertib. Ya seorang militer. Siapa dia ??

3. Ki GD mengucapkan banyak terimakasih atas pelayanan yang telah diberikan oleh Anakmas Sukra selama ini. Tidak ada kesalahan yang dilakukan sehingga harus dibebastugaskan dari padepokan. Hal ini semata-mata rotasi bebahu yang biasa dilakukan. Anakmas Sukra telah melakukan banyak hal yang membuat padepokan semakin berkembang dan berkembang. Meski tak bisa dipungkiri bahwa ini juga atas antusiasme para cantrik yang sangat-sangat besar.

4. Kitab 142 tetap akan dibagikan sebagai bagian dari tanggal 11/2/2009 sehingga besok (12/2/2009) akan dibagikan kitab 143.

5. Para Cantri diharapkan untuk mesu diri dan wiridan agar pergantian bebahu padepokan ini berjalan lancar, tertib, dan terkendali sehingga pengiriman rontal-rontal semakin lancar.

Nuwun.

Ki GD.

Sumber : Buku 142

Published in: on 15 Maret 2009 at 18:12  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , ,

Ular-ular di buku 129

hmm.. enaknya rangsum 129 dikirim saat :
– pagi ?
– siang ?
– sore ?
– malem ?
– wayah pasar temawon ?

oh ya … KEPUTUSAN tentang SPOILER adalah :
DILARANG DISINI !!!
Silahkan lakukan di rumah (baca:blog) sendiri ato di tempat umum lainnya.

Oh ya kitab 129 dibagi saat Wayah Pasar Temawon saja ya.. :)

Sumber : Buku 129

Published in: on 9 Maret 2009 at 09:21  Comments (1)  

Ular-ular di buku 128

Sebagaimana Kisanak ketahui bahwa serial Api Di Bukit Menoreh pernah dimuat secara bersambung di harian Kedaulatan Rakyat. Dan tentu saja banyak dari para cantrik disini yang sudah pernah membaca cerita ini. Baik karena berlangganan koran KR, membaca di depan kantor KR, membeli buku yang terbit bulanan, meminjam, bahkan menyewa dari perpustakaan.

Karena Api Di Bukit Menoreh merupakan cerita lama, tentu banyak yang sudah lupa pada jalan ceritanya. Meski terkadang masih ingat pada special moment tertentu yang membekas di hati. Akibat keinginan lebih jauh untuk menggali ingatan yang sudah terkikis inilah terkadang kita terlepas suatu kalimat yang akhirnya membuat “spoiler” pada jalan cerita Api Di Bukit Menoreh.

Ada yang suka, ada yang tidak.

Mungkin kita bisa liat berapa yang suka dan berapa yang tidak terhadap “spoiler” cerita Api Di Bukit Menoreh. Karena sampai saat ini kebijakan Ki Gede masih sama seperti dahulu, menghindari spoiler. Namun semua tergantung Kisanak. Sebab padepokan ini memang dibuat untuk Kisanak, bukan untuk Ki Gede atau Nyi Retma atau Ki Hery atau penggede padepokan yang lainnya.

Monggo.

sumber : Buku 128

Published in: on 9 Maret 2009 at 09:09  Tinggalkan sebuah Komentar