Buku IV-70

370-00

Laman: 1 2

Telah Terbit on 11 September 2009 at 05:49  Comments (155)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iv-70/trackback/

RSS feed for comments on this post.

155 KomentarTinggalkan komentar

  1. API DI BUKIT MENOREH

    Buku IV Jilid 70 (370)

    Bagian 2

    ——————————–
    “Ikat tangan dan kaki mereka. Kita tidak boleh terjebak oleh keberadaan para tawanan itu. Jika para pengikut Ki Saba Lintang sempat memanfaatkan mereka, maka kita benar-benar akan mengalami kesulitan.”

    Para pemimpin kelompok yang diserahi mempertanggungjawabkan para tawanan itu pun segera menghubungi para prajuritnya untuk melakukan lugas itu.

    “Hati-hati. Jangan memperlihatkan kesibukan yang menarik perhatian.”

    Demikianlah maka semua orang didalam pasukan Mataram itu telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Namun dua orang pengawas yang ditempatkan oleh para pengikut Ki Saba Lintang itu tidak menyadari akan kesiagaan prajurit Mataram. Mereka mengira bahwa prajurit Mataram itu masih saja lengah sehingga mereka akan segera dikacaukan oleh serangan para pengikut Ki Saba Lintang yang tiba-tiba saja.

    “Mereka akan kehilangan nafas perlawanan mereka seperti Ki Saba Lintang sendiri ketika ia berada di Seca. sehingga Ki Saba Lintang itu terpaksa melarikan diri.”

    “Tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang boleh melarikan diri. Mereka harus dimusnahkan sampai orang terakhir. Demikian pula para pengikut Raden Mahambara. meskipun Raden Mahambara sendiri sudah mati.”

    Malam pun merambat perlahan menjelang dini hari. Sementara itu, para prajurit Mataram pun telah mempersiapkan din sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan. Namun mereka tidak menampakkan kesibukan mereka Mereka tetap berada di tempat mereka masing-masing.

    Namun mereka telah memeriksa senjata-senjata mereka. Para pemimpin kelompok telah memberikan perintah, jika isyarat itu terdengar, mereka harus bergerak kemana.

    Para pemimpin kelompok pun telah memberitahukan bahwa pasukan dari para pengikut Ki Saba Lintang itu akan menyerang dari arah Timur, agar pada saat matahari terbit, mereka menjadi silau.

    “Tetapi jika kita sudah mempersiapkan diri sebaik-baiknya maka cahaya matahari itu tidak akan terlalu mengganggu,” berkata para pemimpin kelompok.

    Namun memang ada beberapa kelompok yang mendapat tugas untuk sedikit melingkar dan menyerang dari arah lambung.

    “Kita akan memasang gelar Glatik Neba,” berkata Ki Agung Sedayu kepada para pemimpin kelompok, “karena itu, kita akan dapat mulai dari tempat kita masing-masing.”

    Namun dalam pada itu, para prajurit yang bersenjata panah telah siap untuk menahan gerak maju para pengikut Ki Saba Lintang. Mereka dengan sangat hati-hati, agar tidak menarik perhatian para pengawas itu, telah bergerak lebih maju. Mereka berusaha untuk terlindung di balik pepohonan. Mereka akan menyerang dengan tiba-tiba para pengikut Ki Saba Lintang yang akan merunduk pasukan Mataram itu.

    Dalam pada itu, di dini hari. pasukan Ki Saba Lintang pun telah mulai bergerak. Dua orang, yang diamatinya adalah Ki Umbul Geni, telah bergerak mendahului pasukan mereka.

    “Bagaimana dengan orang-orang Mataram itu?” bertanya Ki Umbul Geni.

    “Mereka adalah pemalas. Mereka masih tetap tidak beranjak dari tempat mereka masing-masing, kecuali ketika terjadi pergantian para petugas yang berjaga-jaga.”

    “Apakah mereka masih belum tahu. bahwa akan datang serangan menjelang fajar?”

    “Tidak. Jika mereka tahu. maka mereka tentu akan mempersiapkan diri. Yang aku lihat hanyalah kesibukan pergantian tugas itu saja seperti yang sudah aku katakan.”

    Ki Umbul Geni mengangguk-angguk. Menurut pendapatnya, kelengahan orang-orang Mataram itu akan menentukan sekali. Jika mereka terkejut mengalami serangan yang tiba-tiba. maka mereka tidak akan sempat terpikir. Mereka akan memasuki arena pertempuran tanpa persiapan sama sekali, sehingga mereka akan banyak kehilangan kesempatan. Bahkan mungkin masih ada di antara mereka yang belum sempat benar-benar sadar akan apa yang terjadi ketika ujung senjata lawannya menghunjam di jantungnya.

    Ki Wiratuhu telah memerintahkan pasukannya untuk bergerak dengan sangat berhati-hati.

    “Jangan bangunkan harimau yang sedang tidur,” pesan Ki Wiratuhu, “jaga agar gerakan kita tidak mereka lihat. Baru kemudian, dengan tiba-tiba saja kita mencukuri mereka.”

    Sebenarnyalah pasukan Ki Wiratuhu itu tergerak dengan sangat hati-hati. Ketika mereka menjadi semakin dekat, maka orang-orang didalam pasukan itu benar-benar telah merangkak.

    Pasukan Ki Wiratuhu itu pun kemudian menempatkan diri di arah Timur dan perkemahan para prajurit Mataram.

    Dalam pada itu, para prajurit pun telah memerintahkan para tawanan untuk tidak melakukan gerakan-gerakan yang dapat memaksa para prajurit itu bertindak lebih keras. Setelah diikat kaki dan tangannya, maka para tawanan itu diperintahkannya untuk tetap duduk di tempatnya dalam kegelapan, karena mereka pun telah dijauhkan dari oncor-oncor yang ada. Namun oncor-oncor yang kemudian padam karena kehabisan biji jarak atau karena sebab lain, tidak dinyalakan kembali atau disambung dengan oncor-oncor yang baru oleh para prajurit Mataram.

    Dengan demikian, maka gerakan-gerakan kecil para prajurit Mataram itu tidak dapat dilihat oleh kedua orang pengawas yang dipasang oleh Ki Wiratuhu.

    Demikianlah, maka pasukan Mataram itu pun tinggal menunggu serangan dari pasukan yang dipimpin oleh Ki Wiratuhu. Sementara itu, Ki Wiratuhu pun telah memberikan isyarat agar pasukannya segera mempersiapkan diri.

    “Sebentar lagi, fajar akan menyingsing,” perintah Ki Wiratuhu, “kita akan segera bergerak mendekat. Tetapi kita akan memanfaatkan saat matahari terbit. Karena itu, maka semua orang didalam pasukan kita harus menyesuaikan diri.”

    Pasukan yang merangkak itu sudah benar-benar bersiap. Jarak mereka dengan pasukan Mataram pun telah menjadi semakin dekat. Sementara langit pun mulai menjadi merah.

    Ki Wiratuhu pun segera berada di sebelah kedua orang pengawas serta Ki Umbul Geni dengan seorang yang menyertainya. Nampaknya segala sesuatunya akan berlangsung dengan lancar. Para prajurit Mataram itu nampaknya masih tetap terlena.

    Ki Wiratuhu dan Ki Umbul Geni serta para pengawas itu masih melihat pergantian tugas para prajurit yang berjaga-jaga. Mereka memperhatikan pergantian tugas itu dengan seksama.

    Namun Ki Wiratuhu tidak menyadari bahwa semua gerakannya telah diamati oleh beberapa orang prajurit Mataram dan melaporkannya kepada Ki Lurah Agung Sedayu.

    Ki Lurah pun segera memerintahkan kesiagaan tertinggi bagi para prajuritnya. Namun mereka bergerak dengan sangat berhati-hati. Pergantian tugas para prajurit yang berjaga-jaga menjelang fajar itu lelah menarik perhatian para pengawas serta bahkan para pemimpin dari pasukan yang dipimpin oleh Ki Wiratuhu itu sendiri. Sehingga mereka tidak sempat melihat gerakan-gerakan kecil yang dilakukan oleh para prajurit Mataram.

    Ketika saatnya tiba, maka Ki Wiratuhu dan Ki Umbul Geni pun telah berada di pasukannya kembali. Piala s;iai langit menjadi merah oleh bayangan fajar, maka segala sesuatunya telah siap sepenuhnya.

    Ki Wiratuhulah yang kemudian memberikan isyarat kepada orang-orangnya. Ki Wiratuhu itu tiba-tiba bangkit berdiri sambil berteriak, “Sekarang. Serang.”

    Pasukannya pun dengan cepat telah bergerak. Para pengikut Ki Saba Lintang itu pun segera bangkit berdiri dan berlari ke perkemahan orang-orang Mataram. Mereka harus dengan cepat mencapai perkemahan itu sebelum para prajurit itu menyadari apa yang telah terjadi.

    Tetapi ternyata yang dihadapinya bukanlah prajurit-prajurit yang masih menguap karena kantuk. Bukan pula orang-orang yang sedang menggosok matanya karena tidak dapat melihat kenyataan yang di hadapinya.

    Demikian para pengikut Ki Saba Lintang yang dipimpin oleh Ki Wiratuhu itu berlari mendekati perkemahan, maka anak panah pun meluncur dari segala arah. Dari balik pepohonan, dan belakang gerumbul-gerumbul perdu dan dari balik batu-batu padas yang mencuat ditumbuhi batang ilalang.

    Serangan itu sangat mengejutkan. Justru para pengikut Ki Saba Lintang yang menjadi sangat terkejut karenanya. Mereka tidak mengira bahwa mereka akan mendapat sambutan yang demikian hangatnya.

    “Setan, iblis laknat keparat,” Ki Wiratuhu mengumpat-umpat, “apa matamu rabun. Umbul Geni. Kenapa kau tidak melihat bahwa mereka sudah siap menyambut kedatangan kita?”

    “Bukan hanya aku yang rabun. Kau sendiri juga rabun. Bukankah kau juga ikut mengamati keadaan sebelum kita menyerang?”

    Ki Wiratuhu tidak menjawab. Tetapi ia pun berteriak sekeras kerasnya, “Cepat. Hancurkan pertahanan orang-orang yang licik itu. Bunuh semua orang. Bebaskan para tawanan dan beri mereka senjata apa saja.”

    Pasukan yang dipimpin oleh Ki Wiratuhu itu pun berusaha untuk bergerak secepat-cepatnya. Namun gerak mereka terhambat oleh hujan anak panah yang cukup berbahaya. Beberapa orang tidak mampu menghindar dari ujung-ujung panah yang meluncur dengan derasnya. Sebagian yang lain mampu menangkis dengan pedang mereka atau jenis senjata mereka yang lain. Ada beberapa orang di antara mereka yang membawa perisai yang dengan cepat bergerak mendahului kawan-kawannya. Sedangkan sebagian yang lain langsung berlari menyerang orang-orang yang melontarkan anak panah itu.

    Pertempuran pun segera mulai menyala. Para prajurit pun tiba-tiba telah bangkit berdiri. Mereka pun dengan cepat bergerak dalam gelar emprit Neba.

    Dalam gelar yang jarang sekali dipergunakan itu. para prajurit Mataram bergerak seperti sekumpulan burung pipit yang bagaikan awan yang hitam bergerak dengan cepat menukik di tengah-tengah tanaman padi yang sedang menguning.

    Ki Wiratuhu mengumpat sejadi-jadinya. Dalam perang brubuh yang kemudian terjadi karena orang-orangnya tidak mempunyai pilihan, arah tidak lagi menjadi terlalu penting. Karena itu ketika matahari terbit. bukan saja para prajurit Mataram yang menjadi silau, karena mereka yang bertempur itu tidak lagi dibatasi oleh garis pertempuran. Tetapi pasukan Mataram yang menukik seperti kumpulan burung pipit itu langsung menusuk memasuki garis benturan sehingga mereka pun telah menjadi berbaur karenanya.

    Sementara itu, para prajurit yang telah menghadang lawan dengan busur dan anak panah, telah meletakkan busur mereka. Dengan pedang mereka bertempur dengan garangnya pula. Sementara para prajurit Mataram yang lain pun telah memasuki arena pertempuran dengan garangnya pula.

    Para prajurit Mataram adalah prajurit dari Pasukan Khusus yang ditempa dalam berbagai ragam pertempuran. Mereka pun telah ditempa untuk bertempur dalam perang gelar serta kemampuan secara pribadi, sehingga karena itu, maka dalam campuh perang brubuh akibat dari gelar Emprit Neba yang diterapkan oleh Ki Lurah Agung Sedayu. para prajurit itu tidak merasa canggung.

    Ki Wiratuhu yang menjadi sangat marah itu pun berteriak-teriak memberikan aba-aba kepada orang-orangnya. Sementara itu, para pengikut Ki Saba Lintang itu pun terdiri dari orang-orang pilihan. Mereka dipersiapkan untuk menghancurkan sarang Raden Mahambara yang telah meremehkan kekuatan perguruan Kedung Jati. Sementara itu orang-orang perguruan Kedung Jati menilai gerombolan Raden Mahambara adalah gerombolan yang kuat.

    Dengan demikian, maka pertempuran itu pun menjadi pertempuran yang sangat sengit.

    Tetapi para prajurit dari Pasukan Khusus itu telah ditempa oleh latihan-latihan yang berat serta pengalaman yang luas. Mereka sudah berpengalaman bertempur menghadapi para prajurit dari daerah yang menentang keutuhan Mataram. Tetapi mereka pun sudah berpengalaman bertempur melawan gerombolan-gerombolan brandal yang membuat Mataram dan lingkungannya menjadi resah. Para prajurit dari Pasukan Khusus itu sebagian telah pernah pula bertempur menghadapi para pengikut Ki Saba Lintang. Baik mereka benar-benar murid-murid Perguruan Kedung Jati, maupun mereka yang bergabung dengan Ki Saba Lintang karena berbagai alasan. Mereka adalah gerombolan-gerombolan yang bergerak di dunia hitam serta mereka yang berasal dari perguruan-perguruan yang terpengaruh, oleh kepandaian Ki Saba Lintang membujuk mereka dengan cara yang sangat licik.

    Karena itu. perang brubuh yang mereka hadapi akibat dari gelar Emprit Neba itu sama sekali tidak menyudutkan mereka. Bagi mereka, apakah mereka menghadapi lawan dalam gelar yang mapan atau gelar Emprit Neba atau Jurang Grawah tidak mempunyai banyak perbedaan.

    Dengan demikian, maka dalam pertempuran itu. para prajurit pun segera menjadi mapan. Mereka pun segera menemukan pijakan bagi keutuhan pasukan mereka yang nampak terbenam dalam perang brubuh itu.

    Tetapi isyarat-isyarat serta pertanda-pertanda dari para prajurit itu pun tetap saja mengikat mereka dalam satu bentuk gelar.

    Pasukan Ki Wiratuhu pun terdiri dari orang-orang terpilih di antara para pengikut Ki Saba Lintang. Mereka adalah orang-orang yang berpengalaman pula. Mereka adalah orang-orang yang pernah menjelajahi daerah yang sangat luas antara pesisir Lor sampai ke pesisir Kidul.

    Tetapi ketika pasukan Ki Saba Lintang itu membentur para prajurit Mataram yang mempergunakan gelar Emprit Neba. maka para pengikut Ki Saba Lintang itu harus dengan serta merta mengerahkan segenap kemampuan mereka di arena.

    Ki Wiratuhu yang marah oleh kelengahannya sendiri, sehingga bukan pasukannya yang menjebak para prajurit yang dianggapnya belum bersiap itu. tetapi justru pasukannya yang telah terjebak oleh kecerdikan para pemimpin prajurit dari Pasukan Khusus yang dipimpin oleh Ki Lurah Agung Sedayu itu.

    Demikianlah, maka perang brubuh itu pun menjadi arena pertempuran yang sangat sengit.

    Dalam pada itu. Ki Umbul Geni pun telah mengamuk seperti orang yang kerasukan iblis. Beberapa orang prajurit dari pasukan khusus yang mengepungnya telah diporak-porandakan. Bergantian mereka terpelanting dari arena pertempuran. Bahkan ada di antara para prajurit yang terbanting jatuh sehingga tulang-tulangnya terasa berpatahan. sehingga tidak mampu lagi untuk bangkit. Kawan-kawannyalah yang harus bergerak cepat, mengusung prajurit yang terluka itu keluar dari arena pertempuran dan meletakkannya di tempat yang terpisah.

    Sementara itu. kelompok-kelompok khusus segera membawa mereka ke perkemahan.

    Dalam pada itu. sekelompok pengikut Ki Saba Lintang memang berusaha menerobos pertahanan para prajurit Mataram untuk membebaskan para tawanan agar mereka dapat ikut melibatkan diri melawan para prajurit Mataram. Tetapi para prajurit yang juga mempunyai tugas khusus menjaga para tawanan tidak memberi mereka kesempatan. Meskipun mereka dapat menyusup dari arena perang brubuh dan berlari ke perkemahan prajurit Mataram, namun mereka pun segera terhenti oleh paia prajuiit yang bertugas. Pertempuran pun segera terjadi pula di antara mereka.

    Ki Umbul Geni yang mengamuk seperti seekor harimau lapar yang terluka. tiba-tiba saja terhenti ketika ia melihat seorang yang masih terhitung muda berdiri di hadapannya.

    “Tandangmu nggegirisi. Ki Sanak,” berkata orang yang masih terhitung muda itu.

    “Persetan. Kau siapa. Kau masih terlalu muda untuk mati.”

    “Namaku Glagah Putih.”

    “He. Glagah Putih,” ulang Ki Umbul Geni.

    “Ya. Namaku Glagah Putih. Kau siapa?”

    “Namaku Umbul Geni,” jawabnya. Namun kemudian Ki Umbul Geni itu pun bertanya, “Apakah kau Glagah Putih yang namamu disebut-sebut oleh Ki Saba Lintang, bahwa kau juga hadir di Seca ketika terjadi kerusuhan di tempat yang tenang itu?”

    “Ya. Akulah yang telah datang ke Seca pada waktu itu. Akulah yang telah menghancurkan pasukan pengawal Ki Saba Lintang. Hampir saja aku dapat menangkapnya. Tetapi seperti seekor anjing yang diacungi tongkat, maka orang yang namanya sebesar gunung Merapi itu lari terbirit-birit. Tidak ada kesan kebesaran sama sekali pada Ki Saba Lintang pada waktu itu.”

    “Tutup mulutmu anak iblis,” geram Ki Umbul Geni, “orang-orang Tanah Perdikan Menoreh memang orang-orang yang licik. Kau sergap Ki Saba Lintang dengan serta merta tanpa merasa malu. Kau merunduk seperti seekor kucing kelaparan yang akan mencuri sepotong ikan laut. Sekarang orang-orang Tanah Perdikan Menoreh juga berbuat licik. Kalian berpura-pura menjadi lengah, namun tiba-tiba kalian pun meloncat menerkam tanpa mengenal malu pula.”

    Glagah Putih justru tertawa mendengar geram Ki Umbul Geni itu. Dengan nada tinggi Glagah Putih pun berkata, “Jika kau anggap seranganku di Seca yang tiba-tiba itu licik, bagaimana dengan seranganmu sekarang? Bukankah kau juga berniat menyerang dengan tiba-tiba? Tetapi ternyata bahwa kau masih terlalu bodoh untuk merunduk musuh, sehingga kau dapat menerkamnya pada saat yang lengah. Kaulah yang justru terjebak dalam kelengahan karena kau tidak menyadari, bahwa kami sudah siap menerima kedatangan kalian.”

    “Persetan. Jika di Seca kau dapat selamat keluar dan arena pertempuran, maka sekarang aku akan membunuhmu.”

    Glagah Putih tidak menjawab lagi. Teiapi ia pun segera mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Ia melihat cahaya kemarahan yang menyala di mata Ki Umbul Geni.

    Sebenarnyalah Ki Umbul Geni pun kemudian telah melihat Glagah Putih dalam pertempuran yang garang. Ki Umbul Geni menyerang Glagah Putih seperti amuk angin prahara.

    Dalam hentakan benturan kedua orang yang berilmu tinggi itu, Glagah Putih terdesak beberapa langkah surut. Namun ia pun segera meningkatkan ilmunya sehingga mengimbangi ilmu lawannya.

    Dengan demikian, maka pertempuran antara keduanya pun segera menjadi sengit. Ternyata Ki Umbul Geni adalah seorang yang memiliki pengalaman yang sangat luas. Ia pun menguasai berbagai macam unsur dari beberapa perguruan sebagaimana juga Glagah Putih. Ki Umbul Geni pun telah berhasil meramu berbagai macam unsur itu sehingga luluh menyatu, sehingga merupakan ilmu yang utuh.

    Karena itulah, maka Glagah Putih pun harus menjadi sangat berhati-hati menghadapi lawannya itu.

    Ketika keduanya meningkatkan ilmunya semakin tinggi, maka mereka pun menjadi semakin garang. Serangan-serangan Ki Umbul Geni yang datang susul menyusul, telah membentur penahanan yang kokoh dan rapi, sehingga sulit bagi Ki Umbul Geni untuk menembus pertahanan lawannya yang masih terhitung muda itu. Tetapi Glagah Putih pun tidak mudah berusaha menguak pertahanan Ki Umbul Geni yang rapat.

    Di sisi lain, Ki Lurah Agung Sedayu yang berada di antara para prajuritnya yang menukik dalam gelar Emprit Neba menusuk langsung ke jantung pasukan lawan, telah bertemu dengan pemimpin pasukan dari para pengikut Ki Saba Lintang.

    “Kau tentu pemimpin pasukan dari perguruan Kedung Jati itu,” berkata Ki Lurah Agung Sedayu ketika ia bertemu dengan Ki Wiratuhu.

    “Ya. Akulah Wiratuhu. Pemimpin pasukan dari perguruan Kedung Jati. Kau siapa he?” jawab Ki Wiratuhu.

    “Aku Lurah prajurit Mataram, yang memimpin pasukan Mataram ke kademangan Prancak, untuk menghancurkan gerombolan yang dipimpin oleh Raden Mahambara dan Raden Panengah.”

    “Mengagumkan. Ternyata kau berhasil Ki Lurah. Jadi kaulah Lurah prajurit dari pasukan khusus yang bernama Agung Sedayu?”

    “Ya. Darimana kau tahu namaku?”

    “Orang Prancak dan apalagi orang-orang Babadan berceritera tentang prajurit-prajuritmu yang pilih tanding. Tetapi hari ini kau akan mengalami peristiwa yang dapat memadamkan kebanggaanmu atas Pasukan Khususmu itu.”

    “Apakah itu berarti bahwa kau yakin akan dapat mengalahkan prajurit-prajuritku?”

    “Kalau aku tidak yakin, maka aku tidak akan melakukannya.”

    “Tetapi kau salah hitung.. Berapa orangmu yang sudah jatuh sebelum pertempuran yang sebenarnya terjadi karena dadanya ditembus anak panah prajurit-prajuritku.”

    “Kau bangga akan kelicikanmu itu.”

    “Kau menganggap aku licik?”

    “Ya.”

    “Baiklah. Katakan bahwa aku licik. Apakah dengan demikian akan dapat menolongmu serta pasukanmu?”

    “Kau gila Ki Lurah. Aku akan membunuhmu. Prajurit-prajuritmu akan bercerai berai seperti sapu kehilangan suhnya.”

    “Setiap orang dapat menjadi pengikat dalam pasukanku. Mereka tidak tergantung pada aku, pada seseorang.”

    “Persetan kau. Ki Lurah. Amatilah pertempuran ini baik-baik, karena kali ini adalah kali terakhir kau berada di antara prajurit-prajuritmu. Kau akan mati dan mayatmu akan terkapar di padang perdu ini menjadi makanan burung bangkai karena tidak seorang pun prajurit-prajuritmu yang akan sempat menguburmu karena mereka semua akan mati.”

    “Kau tidak akan dapat berbuat banyak, Ki Wiratuhu. Lihat, prajuritku semakin menusuk kedalam tubuh pasukanmu yang rapuh.”

    “Omong-kosong. Sebelum matahari terbenam aku sudah selesai dengan pekerjaanku. Menumpas para prajuritmu sampai orang yang terakhir.”

    Agung Sedayu bergeser selangkah mundur ketika Ki Wiratuhu menyerangnya seperti arus banjir bandang. Tetapi Ki Lurah Agung Sedayu pun kemudian segera menjadi mapan dan menghadapi lawannya dengan tanggon.

    Kedua orang pemimpin pasukan yang sedang bertempur itu pun segera meningkatkan ilmu mereka masing-masing. Ternyata Ki Wiratuhu itu pun seorang pemimpin yang jarang ada duanya.

    “Orang-orang berilmu tinggi didalam perguruan Ki Saba Lintang itu bagaikan muncul begitu saja dari dalam bumi.”

    Ki Lurah Agung Sedayu memang merasa heran, bahwa ada saja orang berilmu tinggi yang bergabung dengan Ki Saba Lintang. Berapa orang berilmu tinggi yang tumbang. Orang-orang dari aliran sesat, maupun orang-orang yang terjerat oleh harapan-harapan yang tidak sewajarnya. Namun setiap kali telah muncul nama-nama baru yang memiliki ilmu yang tinggi sebagaimana Ki Wiratuhu. Bahkan mungkin masih ada yang lain yang harus dihadapi oleh Glagah Putih, Sekar Mirah dan Rara Wulan.

    “Jika Ki Saba Lintang mampu menghimpun mereka dalam satu perencanaan yang mapan, maka kekuatan Ki Saba Lintang akan sangat nggegirisi,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya.

    Ki Lurah Agung Sedayu itu pun telah meningkatkan ilmunya pula. Sedangkan Ki Wiratuhu menyerangnya dengan garangnya.

    Pertempuran antara keduanya pun menjadi semakin sengit pula. Sementara itu di sekitar mereka, para prajurit dari Pasukan Khusus itu bertempur dengan garangnya menghadapi pura pengikut Ki Saba Lintang yang menyebut dirinya murid-murid perguruan Kedung Jati.

    Namun ternyata bahwa bekal para prajurit itu lebih lengkap dari para murid dari perguruan Kedung Jati. Mereka pun memiliki pengalaman dan wawasan yang lebih luas tentang berbagai macam ragam pertempuran akibat dari gelar perang yang berbeda-beda. Tetapi mereka pun siap untuk mengadu ketrampilan secara pribadi tanpa keterikatan pada gelar.

    Para murid dari perguruan Kedung Jati itu pun harus mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk menghadapi para prajurit Mataram. Sementara itu para prajurit Mataram yang masih dibayangi pertempuran yang baru saja mereka selesaikan melawan para pengikut Raden Mahambara, darahnya masih terasa panas.

    Selagi para prajurit bertempur dengan garangnya, maka seorang yang bertubuh raksasa telah membelah medan. Mereka menyibak pertempuran sambil menghentak-hentak. Tenaganya yang sangat besar itu telah berhasil mendorong orang-orang yang berada di sekitarnya, sehingga mereka pun berloncatan mengambil jarak.

    Tetapi sebelum raksasa itu mengaduk medan dengan kekuatannya dengan kapaknya yang besar dan berat, serta menghalau para prajurit Mataram, seorang perempuan telah berada dihadapannya sambil memutar tongkat baja putihnya.

    Raksasa itu memang agak terkejut. Tetapi ia sudah mendengar bahwa di antara para prajurit Mataram itu terdapat perempuan yang bersenjata tongkat baja putih. Perempuan itu adalah isteri Ki Lurah Agung Sedayu. salah seorang yang memiliki pertanda kepemimpinan perguruan Kedung Jati.

    Namun raksasa itu masih juga bertanya, “Kau siapa Nyi. yang berani memasuki medan pertempuran yang garang ini.”

    Tetapi jawab perempuan itu telah mengejutkannya, “Ki Sanak. Apakah gerombolan sang datang menyerang prajurit Mataram ini mengaku murid-murid dari perguruan Kedung Jati. Itu tentu hanya omong kosong. Akulah pemimpin dan perguruan Kedung Jati itu. Aku mempunyai pertanda kepemimpinan itu yang aku terima dari guruku, salah seorang pemimpin perguruan Kedung Jati yang sangat di hormati. Siapakah kalian yang berani mengaku murid-murid dari perguruan Kedung Jati.”

    Orang bertubuh raksasa uu termangu-mangu sejenak. Kemudian dengan agak ragu ia pun bertanya, “jadi kaukah perempuan yang memiliki pasangan tongkat baja putih yang dimiliki oleh Ki Saba Lintang? Jadi benar bahwa kau adalah Nyi Lurah. Agung Sedayu?”

    “Ya. Aku adalah Nyi Lurah Agung Sedayu,” jawab Sekar Mirah. Lalu katanya, “Jika kalian mengaku murid-murid dari perguruan Kedung Jati. maka kalian harus tunduk kepadaku. Bukankah kau lihat, bahwa aku memiliki tongkat baja putih?”

    “Tetapi kami adalah murid-murid perguruan Kedung Jati yang berada dibawah perintah Ki Saba Lintang.”

    “Jika aku memiliki tongkat baja putih ini. maka itu adalah pertanda bahwa aku juga mempunyai hak dan wewenang sama dengan Ki Saba Lintang. Karena itu dengan perintahku, menyerahlah.”

    Raksasa itu termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja seorang yang berwajah tampan, berkulit kuning dan berkumis tipis melangkah mendekati raksasa itu sambil berkata, “jangan terpengaruh. Kita mengakui bahwa Nyi Lurah Agung Sedayu memiliki tongkat baja putih. Tetapi ia telah berkhianat terhadap perguruan Kedung Jati. Karena itu. kewajiban kita justru mengambil tongkat baja putih itu dari tangannya.”

    Raksasa itu mengangguk sambil berkata, “Baik. Raden. Aku akan mengambil tongkat baja putih itu.”

    “Nah. Ambil tongkat baja putih itu. Kau akan mendapat pujian dari paman Saba Lintang jika kau berhasil.”

    “Baik. Raden.”

    Sekar Mirah memandang orang berkulit kuning, berwajah tampan dan berkumis tipis itu dengan tajamnya. Ia pun kemudian bertanya, “Kau siapa.’“

    “Aku adalah salah seorang cucu kemenakan Ki Patih Mentahun. Aku adalah salah seorang keturunan dan pemimpin tertinggi perguruan Kedung Jati. Karena itu. jangan mencoba menodai nama perguruan Kedung Jati itu.”

    “Jadi kau mempunyai pengaruh atas Ki Saba Lintang.’“

    “Paman Saba Lintang sangat mendengarkan pendapat-pendapatku karena aku memiliki banyak kelebihan.”

    “Jika demikian, kenapa tidak kau nasehatkan agar Ki Saba Lintang menyerahkan tongkat baja putihnya kepada Mataram.”

    Wajah orang berkumis tipis itu menjadi merah. Dengan geram ia pun berkata kepada orang yang bertubuh raksasa itu, “Denda Bahu. Jangan ragu-ragu lagi. Meskipun ia seorang perempuan yang sudah mulai ubanan, tetapi ia sudah berada di medan perang.”

    “Baik. Raden. Aku berjanji untuk mengambil tongkat baja putih dari tangan perempuan itu.”

    “Bagus. Serahkan kepadaku. Dengan tongkat baja putih itu. aku akan memimpin perguruan Kedung Jati bersama-sama dengan paman Saba Lintang.”

    “Serahkan kepadaku. Raden Nirbaya tidak usah mengotori pakaian Raden dengan debu di medan pertempuran ini. Percayakan semuanya kepadaku.”

    “Sejak semula aku percaya kepadamu. Kepada paman Wiratuhu dan paman Umbul Geni. Aku yakin bahwa kau tidak akan mengecewakan aku.”

    Raksasa itu pun kemudian melangkah mendekati Sekar Mirah sambil berkata, “Nyi Lurah. Jangan mempersulit diri sendiri. Serahkan saja tongkat baja putih itu kepadaku. Aku akan menyerahkannya kepada Raden Nirbaya. Ia akan menjadi salah seorang pemimpin perguruan Kedung Jati sebagaimana leluhurnya.”

    “Denda Bahu,” berkata Sekar Mirah kemudian, “bukanlah namamu Denda Bahu seperti yang disebut oleh Raden Nirbaya.’

    “Ya. Namaku Denda Bahu.”

    “Sebaiknya kau sajalah yang menyerah. Kemudian Raden Nirbaya silahkan kembali ke sarangmu untuk menemui Ki Saba Lintang dan menasehatkan kepadanya untuk menyerahkan tongkat baja putihnya ke Mataram.”

    “Persetan perempuan iblis,” geram Raden Nirbaya, “aku ingin mengoyak mulutmu itu.”

    “Serahkan saja kepadaku. Raden,” berkata Denda Bahu.

    “Tetapi hatiku menjadi panas mendengar suaranya.”

    “Tetapi cara itu adalah cara yang terbaik,” berkata Sekar Mirah, “jika demikian, maka hukuman bagi Ki Saba Lintang pun tidak akan menjadi terlalu berat. Bahkan mungkin kesalahannya akan diampuni.”

    “Denda Bahu,” berkata Raden Nirbaya aku justru ingin membungkam mulutnya.”

    “Serahkan kepadaku.”

    “Ambil longkat baja putihnya. Kemudian serahkan perempuan itu kepadaku.”

    “Kenapa kalian tidak melakukan bersama-sama? Kenapa kalian tidak bertempur berpasangan saja?”

    “Denda Bahu. Perempuan itu menantang kita berdua. Jika kita melakukannya, bukankah kita tidak bersalah?”

    “Sudah aku katakan, jangan kotori pakaian Raden apalagi tangan Raden dengan darah iblis itu. Biarlah aku memecahkan kepalanya dengan kepalaku ini.”

    “Cepat lakukan. Aku ingin melihat ia sekarat dan menyesali kesombongannya sebelum ia benar-benar mati.”

    “Ternyata kau menjadi ketakutan Raden. Jika demikian, minggirlah. Atau pulang sajalah. Jangan berada di medan pertempuran. Jika aku seorang perempuan berada di medan, maka Raden Nirbaya akan berada di dapur, merebus air dan menanak nasi.”

    “Cukup,” teriak Raden Nirbaya, “minggir Denda Bahu. Akulah yang akan menghancurkan kesombongannya. Ia mengira bahwa aku hanya berani bersembunyi di belakang punggungmu.”

    “jangan terpancing. Raden, ia memang membuat kau marah agar kau sendiri turun di pertempuran ini.”

    “Aku akan menyumbat mulutnya dengan tumitku.”

    Namun tiba-tiba terdengar suara perempuan yang lain, “jangan merajuk. Raden. Seperti kata mbokayu Sekar Mirah, kau memang pantas untuk menggantikan kerja kami di dapur.”

    Wajah Raden Nirbaya seakan-akan telah disentuh api. Ketika ia berpaling. Ia melihat seorang perempuan mendekatinya. Kemudian perempuan itu berdiri di sisi Nyi Lurah Sekar Mirah sambil tersenyum-senyum.

    “Gila. Kau siapa?” bertanya Raden Nirbaya.

    “Adikku,” Sekar Mirahlah yang menyahut.

    “Kau dapat sampai di sini tanpa segores lukapun. Kau sibak pertempuran disekitar kita ini?”

    “Ya. Aku telah menyibak medan pertempuran.”

    “Kau juga perempuan iblis seperti Nyi Lurah?”

    “Tentu bukan. Kami justru datang untuk menangkap iblis.”

    “Persetan. Mulut kalian memang harus dikoyakkan,” geram Raden Nirbaya. Lalu katanya pula, “Denda Bahu. Ambil tongkat baja putih itu. Aku akan membuat perempuan yang satu ini menyesali kesombongannya pula.”

    Denda Bahu pun menggeram. Ternyata Raden Nirbaya benar-benar harus ikut terjun dalam pertempuran. Kedua perempuan itu telah berhasil memanasi perasaannya sehingga Raden Nirbaya itu tidak dapat menahan diri lagi.

    “Baiklah Raden,” berkata Denda Bahu aku akan mengambil tongkat baja putih itu segera.”

    Raden Nirbaya pun tidak berkata apa-apa lagi. Ia pun segera bersiap menghadapi Rara Wulan yang kemudian bergeser beberapa langkah, mengambil jarak dari Nyi Lurah Agung Sedayu.

    Nyi Lurah telah mempersiapkan diri pula menghadapi Denda Bahu yang bertubuh raksasa itu.

    Demikianlah, maka sejenak kemudian, kapak Denda Bahu yang besar itu pun sudah mulai terayun-ayun. Terasa sambaran angin yang tajam menerpa Nyi Lurah Agung Sedayu oleh getar ayunan kapak orang bertubuh raksasa itu.

    “Tenaganya memang luar biasa,” berkata Sekar Mirah didalam hatinya.

    Namun Sekar Mirah tidak gentar menghadapinya. Ia pun telah memutar tongkat baja putihnya pula. Suaranya berdesing menusuk telinga orang bertubuh raksasa itu.

    “Tenaga dalam perempuan itu pantas diperhitungkan,” berkata Denda Bahu kepada dirinya sendiri, ia sadar, bahwa Nyi Lurah Agung Sedayu dengan tongkat baja putihnya itu akan merupakan lawan yang sangat berani yang harus dihadapinya.

    Sejenak kemudian, maka Sekar Mirah dan Denda Bahu itu pun lelah terlibat dalam pertempuran yang sengit. Denda Bahu itu dengan garangnya mengayun-ayunkan kapaknya yang besar.

    Sementara dengan senjata tongkat baja putihnya. Sekar Mirah berusaha untuk melawan ayunan kapak yang dilambari dengan tenaga yang sangat kuat. Namun tenaga dalam Sekar Mirah yang besar itu telah membuat Denda Bahu terkejut.

    Ternyata Sekar Mirah tidak saja berusaha menghindari ayunan kapak lawannya dengan berloncatan dengan tangkasnya. Namun dilambari dengan tenaga dalamnya yang besar. Sekar Mirah telah dengan sangat berani membentur ayunan kapak yang besar itu dengan tongkat baja putihnya.

    Denda Bahu yang tidak menduga, justru terkejut sekali. Benturan yang sangat keras itu telah membuat telapak tangannya menjadi pedih.

    Hampir saja, kapaknya itu terlepas dari tangannya.

    Di luar sadarnya. Denda Bahu telah meloncat surut untuk mengambil jarak.

    Sekar Mirah tidak segera memburunya. Ia berdiri dengan kaki renggang, kedua tangannya memegangi tongkat baja putihnya yang menjadi pertanda kepemimpinan perguruan Kedung Jati itu.

    Denda Bahu berdiri termangu-mangu. Digerak-gerakkannya jari-jarinya yang terasa pedih. Namun kemudian ia pun menggeram, “Kau sadap kekuatan iblis kedalam ilmumu.”

    “Bersiaplah. Kita akan bertempur terus. Tetapi jika kau akui kelemahanmu, menyerah sajalah.”

    “Keparat kau,” orang bertubuh raksasa itu mengumpat, “ternyata kau adalah perempuan yang paling sombong yang pernah aku temui dalam hidupku.”

    “Apa pun yang kau katakan, kau tidak mempunyai banyak kesempatan.”

    “Kita harus mulai, Nyi. Kemenangan ditentukan pada saat-saat terakhir dari satu pertempuran. Mereka yang masih tetap hidup, orang itulah yang menang.”

    “Tetapi tidak semua orang yang kalah harus mati.”

    “Kau berharap bahwa kau tidak akan aku bunuh di peperangan ini setelah aku mengalahkanmu?”

    Sekar Mirah tersenyum. Katanya, “Kau atau aku yang akan menang?”

    “Seperti yang aku katakan, siapakah yang tetap bertahan hidup. Tetapi kau nanti tidak akan dapat mengingkari kenyataan bahwa tubuhmu akan terkapar di sini. Aku akan mengambil tongkat baja putih itu, untuk bekal bagi Raden Nirbaya yang akan mendampingi Ki Saba Lintang memimpin perguruan Kedung Jati ini.”

    “Sayang bahwa kau tidak akan pemah dapal mengambil tongkat ini dari tanganku, karena kau akan mati lebih dahulu.”

    Denda Bahu menggeram. Namun kapaknya yang besar telah mulai terayun-ayun lagi. Namun Denda Bahu hams menjadi lebih berhaii-hati. Kekuatan tenaga dalam perempuan yang menjadi lawannya itu ternyata sangat besar.

    Pertarungan di antara Denda Bahu dan Sekar Mirah itu pun kemudian menjadi semakin nggegirisi. Kapak Denda Bahu yang tangkainya terhitung panjang, terayun-ayun mengerikan. Namun Sekar Mirah yang memutar tongkat baja putihnya itu seakan-akan terlindung oleh kabut putih disekitamya. Kapak Denda Bahu yang besar dan tajam itu, tidak mampu menguak kabut putih yang melindunginya.

    Dalam pada itu, Rara Wulan pun telah mulai bertempur pula melawan Raden Nirbaya. Adalah sepantasnya jika Raden Nirbaya itu berniat untuk mendampingi Ki Saba Lintang memimpin perguruan Kedung Jali. Ternyata Raden Nirbaya adalah seorang yang berilmu sangat tinggi.

    Tetapi di pertempuran itu. Raden Nirbaya membentur seorang perempuan yang ilmunya ternyata mampu mengimbangi ilmunya. Bahkan setelah Raden Nirbaya meningkatkan ilmunya, ia tidak segera dapat menghentikan perlawanan Rara Wulan

    “Siapa kau sebenarnya perempuan binal. Apakah kau keturunan iblis. Atau jenismulah yang disebut Jim perempuan?”

    “Kenapa kau hubung-hubungkan aku dengan mahluk halus itu?”

    “Kau pantas disebut hantu perempuan dengan ilmumu.”

    “Bagaimana jika kau penuhi saja permintaan mbokayu Agung Sedayu?”

    “Permintaan apa?”

    “Kembali sajalah ke sarangmu. Katakan kepada Ki Saba Lintang, agar Ki Saba Lintang itu menyerah.”

    Raden Nirbaya itu pun menggeram, “Kau benar-benar iblis perempuan. Jangan banyak bicara lagi. Bersiaplah untuk mati.”

    “Bukankah kau yang banyak berbicara? Aku hanya sekedar menanggapi kata-katamu.”

    “Cukup. Kau akan segera mati seperti mbokayumu itu, yang kepalanya akan segera terbelah oleh kapak Denda Bahu. Tetapi aku tidak memerlukan senjata apa pun untuk memecahkan kepalamu, karena sisi telapak tanganku lebih tajam dari kapak dan lebih keras dari besi baja.”

    Rara Wulan memang tidak menjawab lagi. Ia pun segera mempersiapkan diri menghadapi serangan-serangan Raden Nirbaya berikutnya.

    Sebenarnyalah Raden Nirbaya yang marah itu pun segera meloncat menyerang. Kakinya terjulur mengarah ke dada. Tetapi Rara Wulan dengan tangkasnya bergeser selangkah sambil menangkis serangan itu dengan mendorong kaki Raden Nirbaya, sehingga Raden Nirbaya itu sama sekali tidak menyentuhnya. Namun dengan cepat Raden Nirbaya itu pun meloncat sambil memutar tubuhnya. Kakinya terayun mendatar, mengarah ke kening.

    Rara Wulan masih sempat menghindar dengan merendahkan dirinya. Kaki Raden Nirbaya terayun diatas kepalanya.

    Namun dalam pada itu, justru kaki Rara Wulanlah yang terayun mengenai lambung lawannya, sehingga Raden Nirbaya itu terdorong beberapa langkah ke samping. Hampir saja Raden Nirbaya itu kehilangan keseimbangannya. Tetapi ternyata Raden Nirbaya itu masih mampu mempertahankannya.

    Tetapi diluar dugaannya, Rara Wulan bergerak dengan sangat cepat. Bahkan lebih cepat dari loncatan kijang di padang rerumputan. Sekali lagi kakinya terjulur langsung mengenai dada Raden Nirbaya, sehingga Raden Nirbaya itu tidak mampu lagi bertahan untuk tetap berdiri tegak. Setelah terhuyung beberapa langkah, Raden Nirbaya itu pun telah jatuh terpelanting di tanah.

    Kemarahan yang sangat telah membakar ubun-ubunnya. Sambil berteriak Raden Nirbaya itu meloncat bangkit. Tetapi demikian ia tegak berdiri, Rara Wulan meloncat sambil memutar tubuhnya. Kakinya terangkat dan terayun mendatar menyambar wajah Raden Nirbaya yang baru saja tegak berdiri.

    Sekali lagi Raden Nirbaya iiu terlempar. Tubuhnya yang kehilangan keseimbangan lagi itu telah terperosok ke dalam semak-semak yang kebetulan berduri tajam.

    Dengan susah payah Raden Nirbaya itu berusaha bangkit berdiri dan keluar dari gerumbul perdu itu sambil mengumpat-umpat.

    Rara Wulan tidak memburunya. Seperti sedang menonton kejadian yang lucu, Rara Wulan itu berdiri bertolak pinggang sambil tersenyum. Katanya, “Apa yang kau lakukan itu Ki Sanak. Kau kira kau sedang berbaring di pembaringan yang lunak?”

    “Iblis betina. Aku akan segera membunuhmu,” geram Raden Nirbaya Ada beberapa gores luka di tangan, kaki dan bahkan wajahnya Bajunya pun telah terkoyak pula di punggungnya

    Namun dengan demikian, Rara Wulan harus menjadi lebih berhati-hati. Raden Nirbaya yang marah itu, tentu akan segera meningkatkan ilmunya pula. Bahkan mungkin sampai pada tataran ilmu puncaknya.

    Sebenarnyalah Raden Nirbaya yang marah itu. telah menghentakkan kemampuannya pula. Serangan-serangannya menjadi semakin keras. Tangan dan kakinya bergantian terayun menebas kearah bagian-bagian tubuhnya yang lemah.

    Namun Rara Wulan cukup tangkas untuk mengimbanginya. Kakinya bahkan seakan-akan tidak menyentuh tanah.

    Kecepatan gerak Rara Wulan memang sulit diimbangi oleh Raden Nirbaya. Karena itulah, maka serangan-serangan Rara Wulan pun semakin banyak menyentuh tubuh Raden Nirbaya. Bahkan telah menyakitinya hampir di segala bagian.

    Namun dengan demikian, maka pertempuran di antara mereka itu pun menjadi semakin sengit pula Sekali-sekali terdengar Raden Nirbaya itu berteriak serta mengumpat-umpat.

    Di ujung lain dari arena pertempuran itu, seorang yang bertubuh gemuk dengan bindi di tangannya lengah bertempur melawan para prajurit Mataram yang menyerang dari lambung. Sebatang bindi yang besar, terayun-ayun mengerikan, menyambar-nyambar sehingga beberapa orang prajurit Mataram yang menghadapinya bersama-sama setiap kali harus bergeser surut.

    “Jangan bertempur dengan cara yang licik itu,” geram orang bertubuh gemuk itu, “bukankah kalian prajurit Mataram dari Pasukan Khusus? Ternyata hanya nama kalian sajalah yang mengumandang sampai ke pesisir Utara. Ternyata hanya saat-saat latihan saja kalian dikagumi. Tetapi ternyata setelah kalian benar-benar turun di medan, kalian tidak lebih dari cucurut kecil yang licik dan pengecut.”

    Namun tiba-tiba seorang yang sudah ubanan pun melangkah maju mendekatinya sambil berkata, “Kau siapa Ki Sanak. Sesumbarmu rasa-rasanya akan meruntuhkan langit.”

    Orang yang bertubuh gemuk itu memandang orang yang sudah ubanan itu sejenak. Dengan nada tinggi ia pun berkata, “He, kakek tua. Untuk apa kau memasuki medan yang ganas ini.”

    “Setiap pagi aku pergi berjalan-jalan untuk memanaskan tubuh. Ternyata di sini ada tempat yang sangat baik untuk memanaskan tubuh dan darah. Karena itu, maka aku telah datang kemari,”

    Orang bertubuh gemuk itu pun menggeram, “Gila kau kakek tua. Apakah kau memang sudah jemu hidup?”

    “Ki Sanak,” berkata Ki Jayaraga, “jika kita bertemu di medan pertempuran, maka perkara yang kita hadapi sudah pasti.”

    “Aku sudah mengerti. Tetapi apakah orang-orang Mataram sudah kehabisan orang yang lebih muda dari kau, kakek tua?”

    “Jadi menurut pendapatmu, orang yang berambut ubanan itu tentu kalah melawan orang-orang yang rambutnya masih hitam?”

    “Betapapun tinggi ilmumu, tetapi tulang-tulangmu sudah mulai rapuh.”

    “Setiap hari aku minum reramuan^dedaunan dan akar-akaran yang dapat membuat tulang-tulangku kokoh.”

    “Persetan dengan bualanmu. Tetapi jika tulang lehermu patah, itu bukan salahku.”

    “Tentu bukan salahmu. Ki Sanak. Tetapi siapakah namamu?”

    “Kau tentu sudah pernah mendengar nama Sura Banda. Akulah Sura Banda itu. Aku adalah gegedug yang tidak terkalahkan dari Alas Roban.”

    “Sayang bahwa aku belum pernah mendengar namamu. Aku pun tidak tahu bahwa kau adalah pahlawan yang tidak terkalahkan sampai sekarang. Tetapi mungkin sampai nanti, keadaanmu akan berbeda.”

    “Apa maksudmu?”

    “Mungkin nanti kau akan aku kalahkan.”

    “Sombongmu kakek tua. He, siapa namamu sebelum tulang lehermu patah.”

    “Namaku Jayaraga. Aku penghuni Tanah Perdikan Menoreh.”

    “Kau bukan prajurit?”

    “Bukan. Bukankah aku tidak mengenakan ciri-ciri keprajuritan sebagaimana yang lain.”

    “Bagus. Jika kau bukan prajurit, tetapi dujinkan bertugas bersama prajurit. Kau tentu orang yang mempunyai kelebihan. Tetapi di-hadapan Sura Banda kau tidak akan berarti apa-apa.”

    Ki Jayaraga tertawa Katanya, “jangan meremehkan orang tua Ki Sura Banda.”

    “Aku akan membuktikan, bahwa dalam beberapa loncatan, nafasmu sudah akan terengah-engah.”

    “Benar begitu?”

    “Cukup. Bersiaplah.”

    Ki Jayaraga pun segera mempersiapkan diri. Namun seorang pemimpin kelompok prajurit Mataram pun mendekatinya sambil berkata, “Ki Jayaraga terluka didalam ketika bertempur di ujung hutan iiu. Biarlah kami, beberapa orang mendampingi Ki Jayaraga.”

    “Terima kasih. Sebaiknya kau hadapi para pengikut Saba Lintang yang lain. Biarlah orang gemuk ini aku hadapi sendiri. Mudah-mudahan aku dapal mengatasinya. Luka-luka dalamku lelah sembuh sama sekali.”

    “Tetapi karena baru saja kemarin terjadinya, mungkin sekali luka di bagian dalam Ki Jayaraga ini masih akan kambuh.”

    “Sudahlah. Nanti jika perlu, aku akan memberikan isyarat.” Pemimpin kelompok itu pun bergerak surut. Namun ia pun segera terlibat dalam pertempuran melawan para pengikut Ki Saba Lintang.

    Sejenak kemudian, orang yang menyebut dirinya Sura Banda itu pun telah meloncat menyerang. Sambaran angin serangannya itu telah memperingatkan Ki Jayaraga, bahwa orang yang bertubuh gemuk itu adalah orang yang sangat berbahaya. Ia mempunyai kekuatan yang besar sekali dan bahkan mungkin ia pun memiliki ilmu yang sangat tinggi pula.

    Dengan demikian Ki Jayaraga pun menjadi sangat berhati-hati. Ia pun harus menjaga agar luka didalam dirinya tidak menjadi kambuh lagi.

    Beberapa saat kemudian, pertempuran antara Ki Jayaraga melawan Sura Banda itu pun menjadi semakin sengit. Serangan-serangan Sura Banda datang seperti banjir bandang. Namun Ki Jayaraga yang masih menjaga kemampuan dan tenaganya, berusaha untuk tidak terlalu banyak bergerak. Ketika Sura Banda itu meloncat-loncat disekitarnya, maka Ki Jayaraga itu hanya bergerak-gerak sedikit, menggeser satu kakinya yang berada di depan dengan merendahkan diri di lututnya. Kedua tangannya berada sejajar di depan dadanya.

    Sura Banda yang segar itu pun berloncatan semakin cepat. Ia mencoba untuk membuat Ki Jayaraga bingung. Menurut dugaan Sura Banda Ki Jayaraga tidak memiliki kecepatan yang cukup sehingga ia tidak mampu mengikuti tata geraknya yang tangkas dan cepat itu.

    Tetapi ketika Sura Banda mulai dengan serangan-serangannya, maka ternyata bahwa serangan-serangannya tidak mampu menerobos pertahanan kakek tua yang sangat rapat itu. Tangannya atau kakinya yang terjulur selalu membentur pertahanan tangan atau kaki kakek tua yang melindungi tubuhnya itu.

    “Iblis tua,” geram Ki Sura Banda, “jangan membuat dirimu sendiri dalam kesulitan di perjalanan kematianmu. Kau harus pasrah agar kau mendapat jalan terang menuju ke keabadian.”

    “Nampaknya kau pernah dengar juga bahwa ada satu tempat di dunia lain yang abadi. Tetapi kenapa kau tidak menghiraukannya?”

    “Omong kosong. Aku sangat menghiraukannya.”

    Ki Jayaraga mengerutkan dahinya. Beberapa langkah ia bergeser surut untuk mengambil jarak. Dengan nada berat ia pun berkata, “Jika benar demikian, kenapa kau masih juga menaburkan malapetaka?”

    “Siapa yang menaburkan malapetaka? Kami datang justru untuk menghancurkan malapetaka.”

    “Apakah kami kau anggap sebagai penabur malapetaka itu?”

    “Bukan. Bukan kalian.”

    “Jadi?”

    “Sebenarnya kami datang untuk menghancurkan gerombolan yang dipimpin oleh Raden Mahambara. Gerombolan perampok yang sangat jahat. Tidak pantas orang-orang seperti Raden Mahambara dan Raden Panengah itu lelap hidup, karena mereka adalah sumber dari segala kerusuhan. Bahkan mereka sudah berani meremehkan kami sehingga Ki Saba Lintang memuluskan untuk menghukum Raden Mahambara dan Raden Panengah. Diperintahkannya Ki Wiratuhu, Ki Umbul Geni. Ki Denda Bahu dan aku. Sura Banda disertai Raden Nirbaya dengan membawa pasukan yang kuat untuk menghancurkan gerombolan perampok itu. Bukankah aku termasuk dalam barisan yang membawa kebenaran itu?”

    “Tetapi kenapa kalian justru menyerang para prajurit Mataram yang justru telah menghancurkan gerombolan Raden Mahambara?”

    “Kalian telah mengambil bagian yang seharusnya menjadi milik kami. Orang-orang dalam pasukan ini menjadi marah, kecewa dan merasa telah kehilangan sasaran. Karena itu, maka kalian pantas untuk dihukum.”

    Ki Jayaraga tertawa Katanya, “Itukah jalan pikiran kalian? Kenapa kalian tidak berterima kasih kepada kami yang telah menyelesaikan tugas yang berat yang seharusnya kalian lakukan?”

    “Sudah agak lama kami tidak berkelahi. Sudah lama aku tidak membunuh orang.”

    “He, itukah sebabnya? Itukah caramu menghiraukan dunia lain yang berada dalam keabadian itu?”

    Sura Banda tertawa. Katanya, “Sudahlah. Jangan berbicara macam-macam. Sebenarnyalah bahwa kami juga mendendam atas perlakuan orang-orang Tanah Perdikan Menoreh terhadap pemimpin kami di Seca beberapa waktu yang lalu. Ketika kami tahu bahwa yang datang ke ujung hutan disebelah padukuhan Babadan itu orang-orang Tanah Perdikan Menoreh, atau prajurit Mataram yang berada di Tanah Perdikan Menoreh, maka kami merasa mendapat kesempatan untuk membalas dendam kami.”

    “Jika demikian, Sura Banda, lebih baik kau tidak ikut campur. Bukankah kau orang baik yang berpijak kepada kebenaran? Orang yang sangat menghiraukan kehidupan di jagad lain yangl abadi itu.”

    bersambung ke bagian 3

  2. API DI BUKIT MENOREH

    Buku IV Jilid 70 (370)

    Bagian 2

    ———————————–
    Sura Banda tertawa keras-keras. Katanya, “Ternyata kau adalah seorang yang pandai berkelakar.”

    “Tetapi aku tidak mentertawakan kepercayaan tentang jagad baru yang akan datang kelak. Aku mempercayainya dan bukankah kau juga mempercayainya?”

    “Sudahlah. Sekarang kita selesaikan urusan kita di sini. Aku akan bertempur melawan kau. Menurut prajurit itu, kau baru saja terluka. Siapa yang telah melukaimu?”

    “Raden Mahambara.”

    “Apakah kau termasuk dalam sekelompok orang yang bersama-sama menghadapi Raden Mahambara?”

    “Tidak?”

    “Jadi?”

    “Aku bertempur seorang melawan seorang. Akulah yang telah membunuh Raden Mahambara. Tetapi aku telah dilukainya di bagian dalam dadaku.”

    “Kau yang telah membunuh Raden Mahambara?”

    “Ya.”

    “Omong kosong. Raden Mahambara adalah seorang yang sakti. Ilmunya setinggi Gunung Merbabu. Bagaimana mungkin kau dapat mengalahkannya?”

    “Terserah kepadamu, apakah kau percaya atau tidak.”

    “Siapa yang mau percaya dengan omong kosongmu itu?”

    “Apakah aku harus membuktikannya?”

    “Ya.”

    “Seandainya aku membuktikannya, maka kau tidak akan sempat melihatnya lagi.”

    “Kenapa?”

    “Sasaran pembuktian itu adalah kau.”

    “Persetan. Kau kira aku dapat kau takut-takuti.”

    Ki Jayaraga itu pun bergeser selangkah sambil berkata, “Marilah, kita selesaikan persoalan kita. Atau kau akan menyerah saja agar urusan kita segera selesai.”

    “Iblis tua. Aku bunuh kau.”

    Ki Jayaraga tidak menjawab lagi. Sementara itu pertempuran di padang perdu itu masih berlangsung seru. Beberapa orang telah terbaring di tanah. Kawan-kawan mereka jika mendapat kesempatan, berusaha membawa mereka yang terluka parah keluar dari arena pertempuran.

    Ternyata pertempuran melawan para pengikut Ki Saba Lintang itu jauh lebih berat daripada pertempuran melawan gerombolan berandal yang dipimpin oleh Raden Mahambara.

    Namun para prajurit itu telah ditempa dalam latihan-latihan yang berat serta oleh pengalaman yang luas.

    Ketika langit bagaikan terbakar oleh panas matahari yang sudah melampaui puncaknya, maka ketahanan tubuh para prajurit yang terlatih dengan baik dan teratur itu ternyata memiliki kelebihan dari lawan-lawan mereka. Para pengikut Ki Saba Lintang yang dengan serta-merta meningkatkan ilmu mereka serta menghentakkan segala kemampuan mereka, mulai merasa letih. Nafas mereka mulai terengah-engah, sedangkan keringat mereka bagaikan diperas dari seluruh tubuh mereka.

    Para prajurit Mataram dari Pasukan Khusus yang menyadari keadaan lawannya, telah memanfaatkan keadaan itu dengan sebaik-baiknya. Mereka pun telah memancing agar para pengikut Ki Saba Lintang itu selalu saja menumpahkan segenap kekuatan, tenaga dan kemampuan mereka. Sementara para prajurit itu sempat menahan diri untuk tidak menghambur-hamburkan tenaga mereka.

    Dengan demikian, ketika matahari mulai turun, keseimbangan pertempuran itu pun mulai berubah.

    Dalam pada itu, luka di bagian dalam tubuh Ki Jayaraga sudah tidak terasa mengganggu lagi. Apalagi lawan Ki Jayaraga bukanlah seorang yang berilmu sangat tinggi, sehingga Ki Jayaraga harus mengerahkan segenap kemampuannya.

    Orang yang bernama Sura Banda itu, ternyata bukan lawan Ki Jayaraga yang seimbang. Ilmu dan kemampuan Sura Banda masih belum setatanan dengan Ki Jayaraga.

    Karena itu, menghadapi Sura Banda, Ki Jayaraga tidak merasa terganggu oleh luka-luka dalamnya yang memang sudah membaik.

    Setelah bertempur lebih dari setengah hari, maka tenaga Sura Banda pun telah mulai menyusut. Keringatnya bagaikan diperas dari seluruh tubuhnya. Pakaiannya menjadi basah kuyup, seakan-akan Sura Banda itu baru saja tercebur ke dalam genangan air.

    Tetapi Sura Banda itu masih saja berusaha untuk bertempur dengan garang. Ia pun meloncat-loncat mengitari lawannya sementara Ki Jayaraga justru lebih banyak menunggu.

    Namun justru serangan-serangan Ki Jayaragalah yang lebih banyak mengenai Ki Sura Banda. Sementara serangan Ki Sura Banda sulit sekali untuk dapat menembus pertahanan Ki Jayaraga.

    Dalam keadaan yang sulit, maka Ki Sura Banda itu pun telah menarik senjatanya yang dibanggakan. Sebuah golok yang berat, besar dan panjang.

    “Aku akan mencincangmu, kakek tua.”

    “Terlambat, Sura Banda. Kau sudah kelelahan. Kau tidak akan dapat menggerakkan golokmu itu dengan cepat.”

    “Persetan kau. Apakah kau menjadi ketakutan melihat golokku ini?”

    “Jika sejak semula kau ayunkan golokmu, mungkin aku menjadi ketakutan. Tetapi sekarang tidak lagi.”

    Kemarahan Sura Banda sudah sampai ke ubun-ubun. Ia pun dengan serta mena meloncat sambil mengayunkan goloknya, menebas ke arah leher Ki Jayaraga.

    Tetapi dengan loncatan kecil, Ki Jayaraga telah bergeser sambil merendah, sehingga golok itu terayun di atas kepalanya.

    Sura Banda itu justru ikut terayun pula oleh tarikan goloknya yang besar. Namun kemudian sambil berteriak. Sura Banda itu pun meloncat sambil menusuk ke arah dada.

    Tetapi Ki Jayaraga dengan tangkasnya beringsut dan menghindar dari garis serangan lawannya bahkan kemudian Ki Jayaraga itu meloncat sambil memutar tubuhnya serta mengayunkan kakinya menyambar kening.

    Ki Sura Banda terhuyung-huyung. Betapapun ia berusaha untuk mempertahankan keseimbangannya, namun akhirnya Ki Sura Banda itu pun terjatuh pula

    Bertelekan goloknya yang besar, Sura Banda itu pun segera bangkit Sementara itu, Ki Jayaraga tidak mempergunakan kesempatan itu untuk menyerang. Bahkan sambil tersenyum Ki Jayaraga berkata, “Apakah kita akan beristirahat dahulu.”

    “Iblis kau.”

    “Terserah kepadamu. Aku sama sekali tidak merasa letih. Nafasku masih berjalan dengan wajar. Sedangkan kau tidak. Nafasmu sudah terengah-engah, sementara tenagamu sudah hampir terkuras habis.”

    “Gila. Kau mencoba untuk meremehkan aku.”

    “Tidak. Tapi aku kasihan melihatmu.”

    Orang itu menarik nafas. Sambil bertelekan pula pada goloknya ia pun berkata, “Aku memang letih. Nafasku kadang-kadang justru tidak membantuku.”

    “Aku tidak tergesa-gesa,” berkata Ki Jayaraga, “masih ada waktu. Aku baru akan menyelesaikan pertempuran ini menjelang matahari terbenam.”

    “Menjelang matahari terbenam kau mau apa?”

    “Membunuhmu tentu saja.”

    “Sombongnya kau kakek tua. Akulah yang akan membunuhmu.”

    “Kau sudah kelelahan. Kau sudah kehabisan tenaga. Apakah mungkin kau membunuhku? Aku masih belum mempergunakan senjataku. Jika aku juga bersenjata seperti kau, maka kau akan segera terpotong menjadi delapan.”

    “Setan. Kau tidak akan kuat mengangkat golokku.”

    Ki Jayaraga tersenyum. Katanya, “Kau ingin melihatnya?”

    Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun tiba tiha saja ia berkata, “Ya. Aku ingin melihat apakah kau kuat mengangkat golokku”

    “Tancapkan di atas tanah. Aku akan mengangkat dan memutarnya.”

    Sura Banda itu pun menancapkan goloknya di tanah. Kemudian ia pun meloncat dua langkah mundur.

    Ki Jayaragalah yang kemudian mencabut golok itu. Ternyata golok yang besar, panjang dan berat itu dapat dipermainkannya dengan satu tangan. Tangan kanan, kemudian berganti dengan tangan kiri. Diputarnya golok itu seperti baling-baling. Dilemparkannya ke udara, kemudian ditangkapnya dengan cekatan sekali.

    Sura Banda memandanginya dengan mulut ternganga. Ia tidak mengira bahwa orang tua itu akan dapat mempermainkan goloknya seakan-akan goloknya itu tidak berbobot.

    Terakhir Ki Jayaraga itu pun telah menancapkan kembali golok itu di tanah sebagaimana saat ia mencabutnya.

    “Sura Banda,” berkata Ki Jayaraga, “jika aku mau maka karena kebodohanmu, aku dapat mencincangmu menjadi delapan. Kenapa kau berikan golok itu kepadaku?”

    Sura Banda terkejut. Namun dengan wajah yang merah ia pun berkata, “Aku, aku ingin membuktikan kata-katamu.”

    “Kau sekarang sudah melihat buktinya.”

    “Ya.”

    “Kau percaya bahwa aku dapat memotongmu menjadi delapan?”

    “Ya.”

    “Nah, sekarang apa yang akan kau lakukan?”

    Sura Banda termangu-mangu sejenak. Namun ternyata bahwa nalarnya masih dapat bekerja dengan jernih. Karena itu. maka ia pun berkata, “Aku menyerah.”

    “Kau menyerah?”

    “Ya.”

    “Bagus. Dengan demikian, maka akulah yang akan membawa senjatamu itu.”

    “Aku tidak akan dapat menang melawanmu. Tetapi tolong, lindungi aku. Mungkin kawan-kawanku sendirilah yang akan membunuhku.”

    “Baik. Nah, sekarang bergeraklah. Kau akan aku bawa kebelakang medan. Kau akan aku serahkan kepada para prajurit yang bertugas menjaga para tawanan.”

    Sura Banda tidak membantah. Ia pun kemudian berjalan di sela-sela pertempuran yang sedang berlangsung.

    Seperti yang dikatakan oleh Ki Jayaraga. maka Sura Banda pun kemudian diserahkan kepada prajurit yang bertugas mengawasi para tawanan. Tetapi seperti para tawanan yang terdahulu, maka Sura Banda pun telah diikat tangannya di belakang punggungnya. Apalagi Sura Banda termasuk seorang yang berilmu tinggi.

    “Awasi orang itu baik-baik. Jika ia mencoba untuk berbuat sesuatu yang mencurigakan, kalian harus segera bertindak. Jangan terlambat. Ia adalah seorang yang berilmu tinggi. Selagi ikatan itu masih menghambat tata geraknya, maka kalian harus dengan cepat menguasainya.”

    “Baik, Ki Jayaraga,” jawab pemimpin kelompok prajurit yang bertugas menjaga para tawanan.

    Sementara itu masih saja ada usaha dari para pengikut Ki Saba Lintang untuk melepaskan para tawanan. Tetapi usaha mereka tidak pernah dapat mereka lakukan.

    Sementara itu, pertempuran pun masih berlangsung dengan sengitnya. Ki Jayaraga yang telah membawa Ki Sura Banda ke belakang medan dan menyerahkannya kepada prajurit yang bertugas menjaga para tawanan, telah kembali ke medan pertempuran pula. Tanpa menghadapi orang yang berilmu tinggi, maka Ki Jayaraga telah bertempur bersama para prajurit, sehingga dengan demikian, maka para pengikut Ki Saba Lintang itu segera mengalami kesulitan.

    Namun dalam pada itu, Nyi Agung Sedayu masih bertempur dengan sengitnya. Lawannya yang bersenjata kapak yang besar dan bertangkai besi baja itu merupakan senjata yang sangat mengerikan.

    Namun tongkat baja putih, pertanda kepemimpinan perguruan Kedung Jati itu di tangan Nyi Lurah Agung Sedayu. merupakan senjata yang sangat berbahaya pula. Denda Bahu semula tidak mengira bahwa perempuan itu pun memiliki tenaga dalam yang sangat besar. Setiap kali Denda Bahu mengayunkan kapaknya mengarah ke kepala Sekar Mirah, kadang-kadang Sekar Mirah tidak sempat menepisnya ke samping, tetapi Sekar Mirah membentur kapak yang besar itu dengan tongkat baja putihnya.

    “Gila perempuan ini,” geram Denda Bahu, “tenaga iblis manakah yang telah disadapnya sehingga ia mampu membentur kapakku.”

    Kemarahan Denda Bahu telah membuatnya menjadi semakin garang. Kapaknya terayun-ayun semakin cepat menyambar-nyambar.

    Tetapi Nyi Agung Sedayu pun bergerak semakin cepat pula. Pada saat-saat terakhir. Nyi Agung Sedayu telah sempat mematangkan ilmunya pula. Meskipun gurunya sudah tidak ada, tetai dengan dibantu oleh suaminya dan Ki Jayaraga, Sekar Mirah benar benar mampu menguasai ilmunya sampai ke puncak.

    Karena itulah, maka ketika Nyi Lurah Agung Sedayu itu berhadapan dengan Denda Bahu, ia mampu mengimbanginya.

    Kemarahan Denda Bahu rasa-rasanya akan meledakkan dadanya. Kapaknya yang terayun-ayun mengerikan itu. masih belum mampu menembus pertahanan Nyi Lurah. Tongkat baja putih di Tangan Nyi Lurah itu berputar seperti baling-baling mengitari tubuhnya, sehingga seakan-akan tubuhnya Nyi Lurah itu berselimut asap yang berwarna keputih-putihan.

    Namun Denda Bahu yang marah itu pun telah menghentakkan ilmunya pula. Kapaknya yang besar itu tidak saja terayun mengarah ke kening Nyi Lurah, tetapi bahkan tangkainya pun sangat berbahaya. Jika ayunan kapaknya tidak mengenai sasarannya, maka tangkainya pun mematuk seperti kepala seekor ular bandotan.

    Tetapi Nyi Lurah cukup terampil mempermainkan tongkat baja putihnya.

    Namun dalam perkelahian yang semakin sengit, ternyata tajam kapak Denda Bahu sempat menyentuh lengan Nyi Lurah.

    Hanya goresan tipis. Namun goresan tipis itu terasa pedih oleh keringatnya yang telah membasahi pakaiannya.

    Nyi Lurah menggeram. Darah pun telah menitik dari luka itu.

    “Darahmu telah menitik Nyi,” geram Denda Bahu, “beberapa saat lagi, lehermulah yang akan tergores oleh tajam kapakku.”

    “Persetan kau dengan kapakmu,” sahut Sekar Mirah. Namun dengan demikian Sekar Mirah pun bergerak semakin cepat.

    Ketika tongkat Sekar Mirah itu berhasil menguak pertahanan Denda Bahu, maka tongkat Sekar Mirah itu pun berputar dengan cepat. Tiba-tiba saja tongkat itu terayun mendatar menyambar lambung.

    Denda Bahu terloncat beberapa langkah surut. Lambungnya menjadi sangat sakit, sehingga diluar sadarnya Denda Bahu itu terbungkuk.

    Sekar Mirah berusaha untuk mempergunakan kesempatan itu. Diayunkannya tongkat baja putihnya mengarah ke tengkuk.

    Tetapi Denda Bahu cepat menyadari serangan itu. Dengan cepat ia pun meloncat ke samping. Bahkan menjatuhkan dirinya dan berguling beberapa kali untuk mengambil jarak.

    Namun dalam waktu sekejap, Denda Bahu itu pun telah berdiri tegak dan bersiap menghadapi kemungkinan. Kapaknya yang besar itu pun bergetar di tangannya.

    Namun Denda Bahu tidak dapat mengingkari kenyataan yang dihadapinya. Ternyata sulit sekali baginya untuk dapat mengalahkan Sekar Mirah. Meskipun Denda Bahu itu berhasil melukainya, namun kegarangan perempuan itu sama sekali tidak menyusut. Bahkan Sekar Mirah itu semakin lama semakin mendesaknya.

    Karena itu. sebelum terlambat, maka Denda Bahu itu pun herniat untuk mengakhiri pertempuran itu. Jika ia tidak melakukan secepatnya, mungkin ia tidak akan pernah mendapat kesempatan lagi.

    Karena itulah, maka Denda Bahu pun telah mengetrapkan puncak ilmunya. Kedua tangannya menggenggam tangkai kapaknya dengan erat. Kemudian memutar kapaknya beberapa kali di depan tubuhnya. Sambil meloncat surut, kapak itu pun sekali berputar diatas kepalanya. Kemudian kapak itu pun bergerak perlahan-lahan dan tegak di depan wajah Denda Bahu.

    Sekar Mirah termangu-mangu sejenak. Kapak itu pun tiba-tiba nampak menjadi kemerah-merahan seperti bara.

    Sekar Mirah menyadari bahwa lawannya telah berada pada tataran tertinggi dari ilmunya. Karena itu, maka Sekar Mirah pun menjadi semakin berhati-hati.

    Ketika kemudian kapak itu terayun, meskipun Sekar Mirah sempat meloncat menghindar, namun sambutan anginnya masih terasa menampar wajahnya, tidak saja terasa seakan-akan tusukan-tusukan yang tajam di kulitnya, maka udara pun menjadi panas.

    Sekar Mirah melenting selangkah surut. Tetapi Denda Bahu tidak melepaskannya. Denda Bahu itu pun memburu sambil mengayun-ayunkan kapaknya.

    Yang kemudian menjadi berbahaya tidak saja mata kapaknya yang tajam. Tetapi sambaran anginnya pun seakan-akan telah memanggang tubuh Sekar Mirah.

    “Gila,” geram Sekar Mirah.

    Dengan demikian Sekar Mirah menjadi sulit untuk mendekati lawannya. Serangan-serangannya pun menjadi terhambat oleh udara yang panas di sekitar Denda Bahu. Apalagi kapaknya yang membara itu menjadi sangat berbahaya. Bukan saja mata kapaknya yang tajam itu yang akan dapat menyayat kulitnya. Tetapi udara yang panas itu pun akan dapat membakarnya.

    Dengan demikian, maka Sekar Mirah pun mengalami kesulitan untuk menghadapi lawannya yang kapaknya membara itu. Orang itu selalu berusaha memburunya kemana Sekar Mirah bergeser. Kapaknya yang membara itu terayun-ayun mengerikan, sementara udara yang panas pun bagai ditaburkan.

    Namun Sekar Mirah tidak membiarkan dirinya bergeser surut dan berputar-putar di medan sehingga akhirnya seakan-akan tidak ada tempat lagi baginya. Murid Ki Sumangkar dari perguruan Kedung Jati itu pun kemudian memutuskan untuk mengakhiri pertempuran itu, siapa pun yang menang dan siapa pun yang kalah.

    Sebagai seorang murid perguruan Kedung Jati yang telah matang, maka Sekar Mirah pun segera mengetrapkan ilmu yang telah dikuasainya sampai tuntas.

    Sekar Mirah itu pun kemudian berloncatan beberapa langkah surut untuk mengambil ancang-ancang.

    Dalam pada itu, Denda Bahu pun telah meloncat untuk menyerang. Kapaknya yang membara itu diangkatnya tinggi-tinggi siap untuk diayunkan ke arah kepala Sekar Mirah.

    Tetapi Sekar Mirah tidak berniat untuk menghindar. Ia ingin membenturkan tongkat baja putihnya. Di kerahkannya daya tahan tubuhnya untuk mengatasi udara panas yang akan menyertai getar udara karena ayunan kapaknya yang besar itu.

    Demikianlah sejenak kemudian, maka Denda Bahu pun telah mengayunkan kapaknya dengan lambaran ilmu pamungkasnya.

    Sekar Mirah tidak beranjak dan tempatnya. Ia pun telah mengayunkan tongkat baja putihnya pula untuk membentur kapak yang besar yang terayun dengan derasnya itu.

    Benturan yang dahsyat telah terjadi. Sekar Mirah telah menahan ayunan kapak Denda Bahu. Namun panas udara yang berhamburan disekitarnya rasa-rasanya telah membakar tubuh Sekar Mirah.

    Sekar Mirah itu tergetar beberapa langkah surut. Namun Sekar Mirah mampu bertahan, sehingga ia tidak jatuh terlentang karena getar benturan tongkat baja putihnya dengan kapak Denda Bahu.

    Sementara itu, Denda Bahulah yang terdorong beberapa langkah surut. Dalam benturan itu, maka getar ilmu Sekar Mirah seakan-akan telah merambat melewati titik benturan, menjalar lewat kapak dan tangkainya, menyengat tangan Denda Bahu. Tidak hanya terhenti pada telapak tangannya yang menjadi sangat pedih. Tetapi getaran itu seakan-akan telah menjalar lewat darahnya keseluruh tubuhnya. Seakan-akan beribu duri-duri kecil dari dahan sebatang pohon jeruk telah menusuk-nusuk seluruh bagian dalam tubuhnya.

    Ki Denda Bahu telah menghentakkan daya tahannya pula. Meskipun Denda Bahu itu sempat jatuh diatas lututnya, namun ia pun segera bangkit pula meskipun ia tidak lagi dapat berdiri sekokoh sebelumnya.

    “Iblis betina. Aku akan membinasakanmu.”

    Sekar Mirah pun segera mempersiapkan diri pula. Namun rasa-rasanya tenaganya sudah menyusut, ia telah mengerahkan segenap tenaga dan memusatkan nalar budinya untuk melawan ayunan kapak Denda Bahu.

    Tetapi ia tidak dapat tinggal diam ketika ia melihat Denda Bahu pun telah mempersiapkan serangan berikutnya.

    Ketika Denda Bahu mempersiapkan serangannya, maka Sekar Mirah pun telah bersiap pula.

    Demikianlah sejenak kemudian, Denda Bahu pun telah berlari pula sambil mengangkat kapaknya tinggi-tinggi sementara Sekar Mirah pun telah siap untuk mengayunkan tongkat baja putihnya.

    Sekali lagi benturan yang dahsyat telah terjadi lagi. Panas udara yang berhamburan disekitar tempat benturan itu telah menerpa tubuh Sekar Mirah, sementara itu bunga-bunga api telah memancar ke segala arah.

    Sekar Mirah telah terhuyung-huyung beberapa langkah surut. Bahkan Sekar Mirah tidak lagi mampu untuk bertahan tetap berdiri tegak. Ia pun jatuh berlutut bertelekan tongkat baja putihnya.

    Namun dalam pada itu, senjata duri-duri kecil itu terasa bagaikan menusuk seluruh bagian dalam tubuh Denda Bahu. Duri-duri itu terasa menusuk jantungnya, paru-parunya, hatinya, limpanya dan seluruh bagian dalam tubuhnya.

    Denda Bahu yang kesakitan itu menjerit keras sekali. Namun dengan demikian, satu hentakan yang sangat besar seakan-akan telah menghentakkan seluruh tenaganya, sehingga akhirnya Denda Bahu itu pun jatuh terlentang.

    Beberapa orang yang sempat melihatnya, segera berlari-larian mendekatinya, sebagaimana beberapa orang prajurit Mataram pun berlarian mendekati Sekar Mirah.

    Bedanya, para prajurit itu kemudian memapah Sekar Mirah yang menjadi sangat lemah itu keluar arena pertempuran. Sedangkan para prajurit Ki Saba Lintang telah mengusung tubuh Denda Bahu yang sudah tidak bernyawa lagi.

    Para pengikut Saba Lintang itu seakan-akan tidak percaya kepada penglihatannya. Seorang perempuan telah mengalahkan Denda Bahu yang sangat garang itu.

    Namun mereka berhadapan dengan kenyataan itu. Denda Bahu itu telah terbunuh oleh Nyi Lurah Agung Sedayu yang memiliki tongkat baja putih, pertanda kepemimpinan perguruan Kedung Jati.

    Sambil mengusung tubuh Denda Bahu seorang yang mengetahui serba sedikit tentang tongkat baja putih itu pun berkata, “Pantas perempuan itu dapat mengalahkan Ki Denda Bahu, perempuan itu memiliki tongkat baja putih.”

    “Seharusnya perempuan itu menjadi salah seorang pemimpin kita. Tetapi ia telah menjadi isteri Ki Lurah Agung Sedayu, sehingga ia lebih senang tinggal bersama suaminya daripada tinggal bersama para murid dari perguruan Kedung Jati.”

    “Tongkat itu harus diambil dari tangannya.”

    “Kau kira mudah melakukannya. Ki Denda Bahu terbunuh dalam usahanya mengambil tongkat baja pulih itu.”

    “Kalau saja Ki Wiratuhu yang melakukannya.”

    “Ki Wiratuhu telah terikat dalam pertempuran melawan Ki Lurah Agung Sedayu.”

    “Ki Wiratuhu akan membunuhnya. Ia akan membunuh pula Nyi Lurah dan mendapatkan tongkat baja putih itu.”

    “Mudah-mudahan.”

    Namun seorang kawannya menyahut, “Ki Wiratuhu telah mendapat lawan yang ilmunya sangat tinggi. Ia tentu memerlukan waktu yang lama untuk dapat mengalahkannya.”

    “Itu hanya soal waktu,” sahut yang lain, “tetapi Nyi Lurah Agung Sedayu itu telah tidak berdaya lagi. Bagaimana pendapat kalian jika kita saja yang berusaha berebut tongkat baja putih ini.”

    “Kita? Maksudmu kau dan aku?”

    “Ya. Kita?”

    “Bodohnya kau. Bukankah Nyi Lurah itu dilindungi oleh sekelompok prajurit Mataram?”

    Kawan nya terdiam.

    Dalam pada itu, Nyi Lurah Agung Sedayu telah dibawa ke belakang garis pertempuran. Ki Jayaraga yang melihat keadaan Nyi Lurah Agung Sedayu, telah mendekatinya.

    “Nyi,” desis Ki Jayaraga.

    Nyi Lurah yang menjadi lemah itu pun telah diletakkan dibawah sebatang pohon. Tubuhnya disandarkannya pada pohon itu.

    “Bagaimaan keadaanmu. Nyi?”

    Nyi Lurah mencoba untuk tersenyum. Jawabnya dengan suara yang lemah, “Aku tidak apa-apa, Ki.”

    “Nyi Lurah lerluka didalam”

    “Tidak seberapa. Mudah-mudahan aku segera dapat mengatasinya.”

    “Nyi Lurah. Nyi Lurah memerlukan obat untuk sekedar mengatasi sementara, Nyi Lurah belum mendapat kesempatan untuk mendapatkan obat yang lebih baik.”

    Sekar Mirah tahu bahwa Ki Jayaraga serba sedikit mengetahui juga tentang ilmu pengobatan sebagaimana suaminya yang telah mempelajarinya dari kitab yang ditinggalkan oleh Kiai Gringsing. Karena itu, maka Sekar Mirah tidak menolak ketika Ki Jayaraga memberikan sebutir obat reramuan yang diambilnya dari sebuah bumbung kecil yang diselipkan pada ikat pinggangnya.

    Dengan menelan obat itu, maka tubuh Sekar Mirah merasa menjadi sedikit lebih baik. Tetapi Sekar Mirah sadar, bahwa obat itu hanyalah obat untuk sementara saja sekedar mengatasi rasa sakit. Selanjutnya itu tentu memerlukan obat yang lebih baik untuk menyembuhkan luka-luka didalam dirinya.

    Berita kematian Ki Denda Bahu telah didengar pula oleh Ki Umbul Geni. Kemarahan telah menghentak-hentak di jantungnya. Ki Denda Bahu adalah seorang yang mrantasi. Setiap tugas yang diberikan kepadanya, dapat diselesaikannya dengan baik. Tetapi hampir tidak masuk akal bahwa Denda Bahu dapat dikalahkan oleh seorang perempuan.

    Dengan geram Ki Umbul Geni itu pun berkata, “Nasibmu menjadi semakin buruk Ki Sanak. Kematian Denda Bahu membuat darahku mendidih. Karena kau yang ada di hadapanku, maka kau akan menjadi sasaran dendamku atas kematian sahabatku itu.”

    Glagah Putih tertawa. Katanya, “Apa yang dapat kau lakukan selama ini Umbul Geni? Apakah kau berhasil mendesakku atau bahkan menghentikan perlawananku.”

    “Persetan kau anak setan. Kau sudah menyusahkan Ki Saba Lintang di Seca dan sekarang kau telah menyusahkan aku dan para murid Kedung Jati.”

    “Kenapa kau tuduh aku yang telah menyusahkan kau dan para murid Kedung Jati? Bukankah kami tidak mengganggu pasukan kalian dan kalianlah yang menyerang kami.”

    “Persetan. Kau rampas sasaran kami, berandal yang bersarang di ujung hutan itu. Tentu kau rampas pula harta karun yang mereka tinggalkan.”

    “Harta karun?”

    “Ya. Di sarang gerombolan yang dipimpin oleh Raden Mahambara itu tentu terdapat harta karun yang jumlahnya sangat banyak, yang dikumpulkan oleh gerombolan Raden Mahambara dan Raden Panengah. Adalah mustahil para prajurit Mataram yang datang dari jarak yang jauh ke ujung hutan itu, sekedar untuk menjalankan tugas keprajuritan tanpa pamrih yang lain.”

    “Kau sudah gila. Kami dan para prajurit Mataram sama sekali tidak memikirkan harta karun itu. Kami dan para prajurit Mataram dalang ke ujung hutan itu semata-mata menjalankan lugas keprajuritan, karena segerombolan perampok telah mengganggu bukan saja ketenangan kademangan Prancak, tetapi mereka sudah beriuni untuk menguasai kademangan itu meskipun mereka tidak tampil ke pcimukaan. Tetapi diawali dengan menguasai pasukan Babadan. maka mtitka berniat menguasai Prancak dan selanjutnya menjadi landasan gerakan mereka selanjutnya.”

    “Aku sudah tahu. Karena itu pula kami datang untuk menghancurkan mereka agar rombongan Raden Mahambara itu tidak menyaingi semua gerakan yang rencananya telah tersusun rapi.”

    “Termasuk merampas harta karun itu?”

    “Ya. Dan karena itu jika harta karun itu ada dalam pasukan Mataram ini, maka harta karun itu pun akan segera jatuh ke tangan kami.”

    “Kami tidak tahu menahu tentang harta karun. Tetapi yang kami tahu, bahwa para prajurit Mataramlah yang akan menghancurkan kalian.”

    “Persetan. Sesali nasibmu yang buruk. Aku akan membunuhmu untuk membalas dendam kematian sahabatku, Denda Bahu.”

    Glagah Putih tertawa. Katanya, “Kenapa kau tiba-tiba menjadi demikian bodohnya, Ki Umbul Geni. Begitu mudahkah kau membunuhku sehingga dengan lancar kau berkata bahwa kau akan membunuhku untuk membalas dendam kematian sahabatmu dan barangkali juga untuk membalaskan dendam Ki Saba Lintang yang terpaksa lari terbirit-birit ketika kau menyerangnya di Seca? Ki Umbul Geni. Kematian seseorang tidak berada di tangan orang lain. Tetapi kematian seseorang berada di tangan-Nya. Dalam keadaan yang sangat sulit pun seseorang akan dapat menghindar dari kematian jika Yang Maha Agung masih melindungi.”

    “Apa saja yang kau katakan, tetapi jika aku berhasil mencengkam lehermu, maka kau tentu akan mati.”

    “Yang sulit adalah keberhasilanmu mencengkam leherku. Jika Yang Maha Agung menghendaki, mungkin jari-jarikulah yang akan sempat mencabut jantung dari dadamu.”

    “Persetan kau anak Setan,” geram Ki Umbul Geni yang telah meloncat kembali menyerang Glagah Putih.

    Tetapi Glagah Putih sudah siap menghadapinya. Kerena itu, demikian Ki Umbul Geni meloncat menyerang, maka dengan tangkas pula Glagah Putih pun telah menghindarinya.

    Demikianlah pertempuran di antara kedua orang berilmu tinggi itu pun menjadi semakin sengit. Serangan-serangan Ki Umbul Geni menjadi garang. Tetapi Glagah Putih pun bergerak semakin cepat pula. Ia bukan saja sekedar menangkis dan menghindari serangan-serangan ki Umbul Geni. Tetapi Glagah Putih itu pun mempergunakan setiap kesempatan yang terbuka untuk menyerang, menyibak pertahanan Ki Umbul Geni.

    Ternyata serangan-serangan Glagah Putih sekali-sekali berhasil mengenai sasarannya, sebagaimana serangan-serangan Ki Umbul Geni. Bahkan beberapa kali Glagah Putih lelah mengejutkan Ki Umbul Geni dengan loncatan-loncatannya yang terlalu cepat, sehingga Ki Umbul Geni tidak sempat menangkis apalagi menghindar, sehingga tulang-tulang Umbul Geni pun semakin terasa sakit dimana-mana.

    Meskipun demikian, sekali-sekali serangan Ki Umbul Geni pun dapat mengenai tubuh Glagah Putih. Bahkan Ki Umbul Geni itu sempat pula mendesak Glagah Putih beberapa langkah surut.

    Namun Glagah Putih pun segera memperbaiki keadaannya, sehingga serangan Ki Umbul Geni berikutnya sama sekali tidak menyentuhnya.

    Ki Umbul Geni yang marah itu, telah mengerahkan segenap kemampuannya. Keringat pun seakan-akan telah terperas dari tubuhnya.

    Namun dalam pada itu, dengan mengerahkan segenap tenaga dan kemampuannya, maka tenaga Ki Umbul Geni pun menjadi semakin menyusut pula.

    Ki Umbul Geni tidak dapat mengingkari kenyataan itu. Ki Umbul Geni menyadari, bahwa semakin lama ia akan semakin terdesak oleh Glagah Putih, yang telah pernah mempermalukan Ki Saba Lintang di Seca, sehingga Ki Saba Lintang harus melarikan diri.

    Karena itu, maka Ki Umbul Geni pun harus segera mengambil keputusan untuk mempergunakan puncak ilmunya. Jika ia terlambat, maka menghadapi Glagah Putih, ia tidak akan pernah sempat mempergunakan ilmu puncaknya itu.

    Ki Umbul Geni sama sekali tidak berniat mempergunakan senjatanya. Ia sadar, menghadapi Glagah Putih, senjatanya tidak akan banyak berarti.

    Kerena itu, maka Ki Umbul Geni pun segera meloncat surut untuk mengambil jarak. Apa pun yang akan terjadi tetapi Ki Umbul Geni harus melakukannya.

    Sebenarnyalah, maka Ki Umbul Geni itu pun segera mengambil ancang-ancang. Digerakkannya tangannya yang menyilang di depan dadanya. Dikembangkannya kedua tangannya itu. lalu diputarnya disisi tubuhnya …. “

    Tiba-tiba saja tangan itu pun menghentak. Seleret sinar yang kemerah-merahan telah meluncur dari telapak tangan Ki Umbul Geni. Nemun seleret sinar yang kemerah-merahan itu tiba-tiba saja telah pecah dan menyemburkan api ke segala arah.

    Glagah Putih masih sempat meloncat menghindari. Tetapi semburan api rasa-rasanya telah membakar tubuhnya. Wajahnya terasa semakin sangat panas. Seakan-akan api yang menyembur itu, telah membakar kulit wajahnya itu.

    Glagah Putih pun segera menyadari, bahwa ilmu puncak lawannya itu ternyata sangat berbahaya. Karena itu, maka Glagah Putih tidak akan membiarkan dirinya dibakar oleh Aji Pamungkas Ki Umbul Geni.

    Ki Umbul Geni yang menyadari, bahwa serangannya yang pertama itu gagal, maka ia pun segera mempersiapkan dirinya sekali lagi. Sambil berteriak marah, Ki Umbul Geni telah meluncurkan serangannya sekali lagi mengarah ke Glagah Putih yang berdiri tegak dengan kaki yang merenggang.

    Namun Glagah Putih tidak ingin berloncatan lagi menghindari serangan lawannya. Ketika ia melihat serangan lawannya meluncur sekali lagi, maka Glagah Putih pun telah melepaskan pula ilmu puncaknya. Aji Namaskara.

    Seleret cahaya yang hijau kebiruan meluncur pula dari telapak tangannya.

    Ki Umbul Geni terkejut melihat kekuatan Aji Pamungkas yang meluncur dari tangan Glagah Putih yang langsung menyongsong serangannya.

    Dua kekuatan ilmu yang sangat tinggi telah berbenturan dengan dahsyatnya. Ki Umbul Geni tidak menduga, bahwa tataran ilmu lawannya adalah sedemikian tingginya.

    Getaran benturan ilmu itu pun seakan-akan telah memantulkan kembali ke arah mereka yang melepaskannya. Tetapi karena kekuatan ilmu Glagah Putih lebih tinggi, maka getar kekuatan yang memantul dari benturan yang dahsyat itu lebih banyak mengalir ke arah ki Umbul Geni.

    Namun demikian. Glagah Putih pun terdorong beberapa langkah surut. Dengan susah payah Glagah Putih mempertahankan keseimbangannya meskipun Glagah Putih terhuyung-huyung beberapa saat. Tetapi akhirnya Glagah Putih ini pun berhasil berdiri tegak pada kedua kakinya yang merenggang.

    Meskipun demikian, cairan yang hangat terasa meleleh di sela-sela bibirnya.

    Ketika Glagah Putih mengusap dengan lengan bajunya, maka dilihatnya lengan bajunya itu bernoda darah.

    Sementera itu, Ki Umbul Geni tidak sekedar terdorong beberapa langkah surut. Tetapi Ki Umbul Geni itu telah terlempar dan jatuh terbanting di tanah. Beberapa orang berlari-lari menghampirinya. Ketika para prajurit Mataram akan mendekati mereka, Glagah Putih yang terluka di dalam itu pun berusaha mencegah mereka. Katanya, “Biarkan orang-orangnya merawatnya.”

    Tetapi Ki Umbul Geni itu ternyata sudah tidak bernafas lagi. Beberapa orang murid dari perguruan Kedung Jati itu pun kemudian mengusungnya ke belakang garis pertempuran.

    Sementara itu, keseimbangan pertempuran pun sudah menjadi semakin berat sebelah. Para pengikut Ki Saba Lintang tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa prajurit Mataram dan Pasukan Khusus itu ternyata memang memiliki banyak kelebihan. Ketrampilan, keberanian, penguasaan medan secara pribadi serta berkelompok. Mereka pun memiliki landasan kemampuan yang mapan serta ketahanan tubuh yang tinggi. Meskipun pertempuran sudah berlangsung lama. tetapi mereka masih tetap tegar. Mereka masih bertempur dengan tangkas dan garang.

    Yang masih harus bertempur dengan mengerahkan kemampuannya adalah Ki Wiratuhu yang dipercaya oleh Ki Saba Lintang memimpin pasukannya yang harus menghancurkan pasukan Raden Mahambara dan Raden Panengah.

    Namun dalam pada itu, Ki Wiratuhu pun sudah mulai terdesak pula. Sedangkan di sisi lain, Rara Wulan masih harus bertempur melawan Raden Nirbaya. Seorang yang berwajah tampan dan berkumis tipis, yang mengaku keturunan dari salah seorang yang memegang peran penting dalam perkembangan perguruan Kedung Jati di masa lampau, sehingga karena itu, maka Raden Nirbaya itu pun merasa berhak pula untuk memimpin perguruan Kedung Jati yang mulai dibangun kembali.

    Ternyata Raden Nirbaya bukan sekedar bermimpi untuk menjadi salah seorang pemimpin perguruan Kedung Jati. Namun Raden Nirbaya adalah seorang yang berilmu tinggi.

    Dengan demikian pertempuran di antara Raden Nirbaya melawan Rara Wulan itu pun menjadi semakin sengit.

    Rara Wulan yang pernah mendapat dasar-dasar olah kanuragan dari Sekar Mirah yang berlandaskan ilmu dari perguruan Kedung Jati, memang melihat, bahwa landasan utama Raden Nirbaya adalah ilmu yang diturunkan oleh para pemimpin perguruan Kedung Jati. Karena itu, maka untuk membuat lawannya keheranan, maka Rara.Wulan pun sengaja memunculkan unsur-unsur gerak keturunan dari perguruan Kedung Jati yang dikuasainya.

    Sebenarnyalah, bahwa Raden Nirbaya tertarik untuk memperhatikan unsur-unsur gerak itu. Bahkan di luar sadarnya Raden Nirbaya itu pun bertanya, “Darimana kau sadap unsur-unsur gerak ciri perguruan Kedung Jati itu?”

    Rara Wulan tertawa. Katanya, “Aku adalah murid mbokayu Sekar Mirah. Sebagaimana kau ketahui mbokayu Sekar Mirah adalah salah seorang yang berhak memimpin perguruan Kedung Jati itu.”

    “Siapakah perempuan yang kau maksud? Bukankah tongkat baja putih yang satu lagi ada pada Nyi Lurah Agung Sedayu?”

    “Ya. Mbokayu Sekar Mirah itu adalah Nyi Lurah Agung Sedayu itu.”

    “Persetan dengan pengkhianat itu. Nyi Lurah pantas di hukum mati karena pengkhianatannya terhadap perguruan Kedung Jati.”

    “Tetapi sebagaimana kau lihat, yang mati adalah kepercayaanmu itu. Orang yang bersenjata kapak itu ternyata tidak mampu melawan mbokayu Sekar Mirah.”

    “Tetapi kau sendiri akan mati. Kemudian aku sendirilah yang akan mengambil tongkat baja putih itu dari tangan Nyi Lurah Agung Sedayu.”

    “Jangan bermimpi. Kematianku tidak tergantung padamu. Bahkan sebaliknya, tidak terjadi, akulah yang akan membunuhmu.”

    Raden Nirbaya itu pun menggeram. Dengan cepatnya ia meloncat menyerang Rara Wulan. Namun Rara Wulan pun sudah bersiap sepenuhnya, sehingga serangan Raden Nirbaya itu tidak menyentuh sasarannya. Bahkan Rara Wulanlah yang kemudian berganti menyerangnya.

    Serangan-serangan yang kemudian datang membadai itu, sulit untuk dihindari sepenuhnya oleh Raden Nirbaya. Beberapa kali serangan Rara Wulan dapat mengenai tubuhnya.

    Dengan demikian, maka Raden Nirbaya semakin lama menjadi semakin terdesak.

    Sebelumnya Raden Nirbaya tidak pernah bermimpi bahwa ada seorang perempuan yang masih terhitung muda dapat mengimbangi kemampuannya. Bahkan telah mendesaknya, sehingga seakan-akan Raden Nirbaya itu tidak mendapat tempat lagi.

    Karena itu, maka Raden Nirbaya tidak menunggu lebih lama lagi. Ia pun ingin segera menyelesaikan pertempuran itu. Kemudian ia masih harus memburu Nyi Lurah Agung Sedayu untuk mengambil tongkat baja putih itu dari tangannya. Dengan demikian, maka Raden Nirbaya itu tentu akan diangkat menjadi salah seorang dari dua orang pemimpin tertinggi dari perguruan Kedung Jati.

    Dalam pada itu, ketika keduanya kemudian terlibat dalam pertempuran yang semakin sengit. Raden Nirbaya yang terdesak surut itu justru telah berloncatan mengambil jarak.

    Pada saat Rara Wulan berusaha memburunya, maka dengan cepatnya tangan Raden Nirbaya itu bergerak.

    Dari tangannya, beberapa paser kail meluncur dengan cepatnya mengarah ke tubuh Rara Wulan.

    Namun penglihatan Rara Wulan yang tajam itu sempal melihat paser-paser kecil yang meluncur dengan dahsyatnya itu.

    Rara Wulan pun dengan kecepatan yang sangat tinggi, berlandaskan ilmu meringankan tubuhnya, melenting tinggi menghindari lontaran paser-paser kecil itu.

    Tetapi Raden Nirbaya tidak memberinya banyak kesempatan. Demikian Raden Nirbaya menyadari bahwa lawannya berhasil menghindari serangannya yang pertama, maka Raden Nirbaya pun telah melepaskan beberapa paser lagi.

    Namun sehelai selendang tiba-tiba saja telah berputaran di sekeliling tubuh Rara Wulan, sehingga paser-paser kecil itu tertepis sehingga tidak satu pun yang menyentuh kulitnya. Rara Wulan pun menyadari, bahwa paser-paser kecil itu tentu beracun, sehingga jika ujungnya sempat menyentuh kultinya, maka racun itu akan cepat menjalar di seluruh tubuhnya.

    Raden Nirbaya terkejut juga melihat selendang yang tiba-tiba saja telah berputaran dan bahkan menjadi perisai perempuan yang masih terhitung muda itu. Ternyata bahwa perempuan itu memang seorang berilmu sangat tinggi. Sehingga dengan demikian maka paser-pasernya tidak dapat mengenainya.

    Karena itulah, maka Raden Nirbaya itu tidak dapat berbuat lain kecuali sampai pada ilmu puncaknya. Ilmu yang tidak akan dilepaskannya jika ia tidak tersudut dalam kesulitan yang tidak teratasi.

    Melawan perempuan yang masih terhitung muda itu, serta keinginannya segera menyelesaikan pertempuran agar ia sempat untuk mengambil tongkat baja putih itu dari tangan Nyi Agung Sedayu, maka Raden Nirbaya tidak mempunyai pilihan selain mempergunakan Aji Pamungkasnya. Seperti pada umumnya orang-orang pada tataran tertinggi dari perguruan Kedung Jati, maka Raden Nirbaya pun memiliki ilmu andalan yang akan dapat dipergunakan pada saat-saat yang paling menentukan.

    Karena itulah, maka Raden Nirbaya pun telah mencari kesempatan untuk mengambil ancang-ancang.

    Ketika Rara Wulan siap menyerangnya dengan ayunan selendangnya, maka Raden Nirbaya telah meloncat beberapa langkah surut. Dengan cepat pula Raden Nirbaya telah melontarkan paser-paser kecilnya yang tersisa. Ia tidak memerlukan paser-paser itu lagi jika ia sudah sampai ke ilmu andalannya, karena ia yakin bahwa lawannya itu akan segera kehilangan segala kesempatan untuk bertempur. Tubuhnya akan terkoyak dan bahkan jika daya tahannya terlalu lemah, maka tubuh itu akan lebur menjadi debu.

    Paser-paser kecil itu sempat menahan Rara Wulan yang berusaha untuk memburunya ketika kaden Nirbaya itu berloncatan mengambil jarak. Rara Wulan harus memutar selendangnya untuk menangkis serangan paser-paser kecil itu.

    Namun waktu yang sedikit itu cukup berarti bagi Raden Nirbaya. Raden Nirbaya tidak lagi melontarkan paser-paser kecil, tetapi Raden Nirbaya telah memusatkan nalar budinya.

    Ketika Raden Nirbaya itu menghentakkan kedua tangannya, maka dari telapak tangannya telah meluncur cahaya yang kemerah-merahan. Agaknya Raden Nirbaya telah menyerap ilmu yang sama dengan Ki Umbul Geni, sehingga ilmu andalannya pun mempunyai banyak persamaan.

    Seleret sinar yang berwarna kemerah-merahan itu tiba-tiba bagaikan meledak dan menyemburkan api ke segala arah.

    Rara Wulan terkejut mendapat serangan yang dahsyat itu. Dengan mengerahkan ilmunya, meringankan tubuh Rara Wulan pun melenting tinggi. Sekali tubuhnya berputar di udara, kemudian kedua kakinya pun menyentuh tanah.

    Tetapi pada saat itu pula. Raden Nirbaya telah melepaskan ilmunya pula, sehingga sekali lagi Rara Wulan harus meloncat. Dengan ilmu meringankan tubuhnya, Rara Wulan berhasil sekali lagi menyelamatkan diri, lepas dari serangan Raden Nirbaya yang nggegirisi itu.

    Tetapi Rara Wulan tidak mau menjadi sasaran untuk yang ketiga kalinya. Karena itu, ketika kemudian tubuhnya yang melenting tinggi itu menjejak bumi, Rara Wulan pun segera mempersiapkan dirinya. Tidak sekedar melenting menghindar, tetapi Rara Wulan telah bersiap untuk melepaskan Aji Namaskara sebagaimana Glagah Putih melakukannya.

    Selesai, bersambung ke Jilid 371

  3. Monggo k4ng tOmmy, 371 dilanjut

  4. Monggo diwedar

  5. Matur tengkiyu kang Tommy.
    Lanjutkan….
    Lebih cepat lebih baik…
    Dan pro rakyat

  6. keren abis .. apalagui yang ganmbar ,, gue suka juga dengan gamvbarnya apalagi ceruiitanya .. sanagat kerennnn

  7. eh cara buat gambar se[pertoi itu pake komputer atau pake pena ya ..?? penasaran …. he he


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: