Buku IV-63

363-00

Laman: 1 2

Telah Terbit on 4 September 2009 at 09:39  Comments (83)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iv-63/trackback/

RSS feed for comments on this post.

83 KomentarTinggalkan komentar

  1. API DI BUKIT MENOREH

    Buku IV Jilid 63 (363)

    Bagian 2

    “Bagus. Ternyata kau sangat bijaksana.”

    Kepada seorang kawannya Sutasuni pun berkata, “Dermagati. Katakan kepada Ki Panji Kukuh bahwa aku menemui Ki Guntur Ketiga untuk membicarakan pelaksanaan pertukaran esok.”

    “Aku ikut bersamamu Sutasuni.”

    “Itulah sifat licikmu. Jika pembicaraan mengenai pertukaran ini seleai pelaksanaannya pun berlangsung dengan lancar, maka kau tentu akan mendapatkan bagianmu seperti sudah kita bicarakan.”

    “Bukan hanya aku yang licik. Sutasuni. Kau pun licik. Karena itu, aku harus mendengar pembicaraan itu langsung.”

    “Baiklah,” sahut Sutasuni. Lalu katanya kepada kawannya, “Kau adalah yang menghadap Ki Panji Kukuh. Katakan bahwa aku menemui Ki Guntur Ketiga. Jika sebelum fajar aku tidak datang menemuinya, terserah tidakan apa yang akan diambil oleh Ki Panji Kukuh.”

    “Jadi kau masih saja curiga, Sutasuni?”

    “Tidak. Aku hanya ingin berhati-hati.”

    Demikianlah, maka lima orang yang berada di dalam bilik Sutasuni itu pun segera meninggalkan ruangan.

    “Pembicaraan yang sangat menarik,” desis Glagah Putih.

    “Apakah kita akan berdiam diri?”

    “Kita belum tahu waktu yang pasti yang dipilih oleh kedua belah pihak.”

    “Ya. Karena itu, kita harus berada di sana sejak dini hari esok pagi.”

    “Tidak Rara. Salah seorang mengatakan, bahwa jika sebelum fajar ia tidak kembali, maka berarti sesuatu terjadi padanya. Sehingga karena itu, maka pertemuan itu tentu dilakukan setelah fajar. Setelah orang itu kembali menemui pemimpinya dan membicarakan pelaksanaannya.”

    “Jika demikian, maka kita dapat menunggu saat matahari terbit.”

    “Ya.”

    “Dengan demikian, kita sempat tidur sejenak, jika kita ingin melihat permainan yang menegangkan itu.”

    “Ya. Kita bangun menjelang fajar. Mudah-mudahan tidak ada perubahan apa-apa yang terjadi.”

    Sebenarnyalah sesaat kemudian, bergantian keduanya pun menyempatkan diri untuk tidur barang sebentar.

    Menjelang fajar keduanya telah berbenah diri. Namun mereka tertegun ketika mereka mendengar dibilik sebelah dua orang berbicara, “Bersiaplah. Kita akan ke ujung hutan itu.”

    “Kau mempercayai sepenuhnya janji Ki Guntur Ketiga.”

    “Kita tidak akan dapat percaya kepada siapapun. Kita harus segera bersiap. Ki Panji Kukuh akan membawa kekuatan penuh.”

    “Tetapi tidak bersama-sama. Kita akan pergi lebih dahulu mempersiapkan medan sebaik-baiknya.”

    “Kau kira Guntur Ketiga tidak membawa seluruh kekuatannya?”

    “Guntur Ketiga tentu membawa semua kekuatan yang ada padanya. Ki Panji Kukuh memerintahkan agar kita tidak mulai mengambil langkah-langkah yang salah. Tetapi jika yang terjadi sebaliknya, apa boleh buat.”

    Glagah Putih menggamit Rara Wulan untuk memperhatikan pembicaraan itu.

    Sejenak kemudian, terdengar langkah kedua orang itu keluar. Pintu bilik itu pun terdengar tertutup kembali.

    “Mereka pergi ke ujung hutan untuk mempersiapkan medan,” berkata Glagah Putih hampir berbisik.

    “Ya. Agaknya akan terjadi sesuatu yang gawat di ujung hutan itu.”

    “Kita akan melihat, apa yang akan terjadi.”

    “Tetapi bagaimana dengan saudagar itu?”

    “Agaknya peristiwa di ujung hutan itu lebih penting untuk diketahui. Jika saudagar yang berhubungan dengan Jati Ngarang itu tidak terlibat, maka kita akan dapat mencari sepekan lagi di pasar ini pula.”

    Rara Wulan mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian kita harus segera berangkat pula.”

    Keduanya pun segera meninggalkan penginapan itu. Namun mereka sudah tidak melihat kedua orang yang berbicara di bilik sebelah.

    “Seorang dari kedua orang yang berbicara tadi tentu Sutasuni,” berkata Glagah Putih.

    “Ya. Agaknya Sutasuni termasuk orang penting di kelompoknya sehingga ia mendapat tugas untuk mempersiapkan medan.”

    “Lalu, sekarang kita pergi ke mana?” bertanya Rara Wulan.

    “Kita akan langsung pergi ke ujung hutan. Tetapi kita akan berada di seberang sungai. Bukankah mereka merencanakan untuk melakukan pertukaran atau katakan jual beli di tepian?”

    “Ya, kakang. Tetapi agaknya disekitar tempat itu akan bertebaran kekuatan dari kedua belah pihak. Mungkin mereka akan berhadapan denngan terbuka, tetapi mungkin masing-masing akan menyembunykan kekuatan mereka sehingga jika sampai saatnya, kekuatan itu akan dipergunakan.”

    “Tetapi mungkin juga sama sekali tidak dipergunakan.”

    “Ya,” Rara Wulan mengangguk-angguk.

    Demikianlah mereka pun segera pergi menuju ke ujung hutan tidak terlalu jauh dari padukuhan Seca yang terhitung ramai itu.

    Namun keduanya memang harus sangat berhati-hati. Mereka sadari, bawa yang akan bertemu di ujung hutan itu adalah kekuatan-kekuatan dari lingkungan perdagangan gelap yang cukup kuat, sehingga jika terjadi benturan, akan merupakan benturan yang sengit. Tetapi mungkin pula mereka menemukan titik temu dalam pembicaraan mereka, sehingga segala sesuatunya dapat berjalan dengan lancar.

    Yang dilakukan oleh Glagah Putih dan Rata Wulan mula-mula justru menyeberngi sungai. Baru di seberang mereka dengan hati-hati pergi menuju ke tepian di sebelah ujung hutan yang menjorok sampai ke tanggul sungai.

    Namun Glagah Putih dan Rara Wulan adalah dua orang suami isteri yang berilmu tinggi, sehingga keduanya mampu menempatkan diri merek a di satu tempat yang tersembunyi, namun yang dari tempat itu mereka dapat melihat tepian sungai yang memanjang sampai ke tikungan.

    “Agaknya mereka akan melakukan pertukaran atau katakan jual beli di dekat tikungan sungai itu. Tepiannya agak lebih luas dari bagian lain, berbisik Glagah Putih.

    Rara Wulan mengangguk.

    Namun mereka pun terdiam, bahwa dikeremangan pagi menjelang matahari terbit, mereka melihat beberapa orang yang merunduk dan hilang masuk ke dalam hutan.

    “Siapakah mereka, kakang? Orang-orang Panji Kukuh atau orang-orang Guntur Ketiga?”

    Glagah Putih menggeleng. Katanya, “Kita tidak mengetahui sama sekali ciri-ciri mereka. Rara. Kita pun mungkin akan keliru menebak, yang manakah Panji Kukuh dan yang manakah Guntur Ketiga.”

    “Kita mengenal seorang diantara mereka. Dimana Sutasuni berdiri, maka orang itu tentu Panji Kukuh.”

    “Ya. Agaknya pada saat-saat yang menentukan, Sutasuni akan tetap berada diantara para pengikut Panji Kukuh.”

    Sementara itu, matahari pun mulai naik ke atas cakrawala. Tetapi Glagah Putih dan Rara Wulan tidak tahu, sampai kapan mereka akan menunggu.

    Tetapi agaknya pertukaran itu akan dilakukan tidak terlalu siang. Mereka melihat beberapa orang lagi menghilang ke dalam hutan. Namun mereka pun melihat pula beberapa orang yang agaknya orang-orang dari kelompok yang lain, berada di seberang sebagaimana Glagah Putih dan Rara Wulan.

    “Hati-hati Rara. Ada diantara mereka yang bersembunyi di hadapan kita.”

    “Ya, kakang. Agaknya mereka mempunyai ciri-ciri yang berbeda dengan orang-orang yang masuk ke dalam hutan.”

    “Bagaimanapun juga perdagangan gelap ini tentu akan saling mencurigai. Mereka memang tidak pernah percaya kepada siapa pun juga. Bahkan kepada kawan-kawan mereka sendiri.”

    Rara Wulan tidak menjawab.

    Sementara itu, langit pun menjadi semakin cerah. Matahari mulai memanjat langit. Rasa-rasanya matahari itu bergerak lamban sekali.

    Namun akhirnya saat-saat yang ditunggu itu pun datang pula. Seorang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan, berkumis tebal tetapi berjenggot tipis, telah turun ke tepian.

    Beberapa orang mengiringinya di belakang. Seorang diantara mereka adalah Sutasuni.

    “Tentu orang itu yang menyebut dirinya Sutasuni,” berkata Rara Wulan.

    “Yang mana?” bertanya Glagah Putih.

    “Seorang diantara mereka yang kita lihat berbicara di penginapan dengan dua orang yang kita ikuti itu. Mereka berbicara di pringgitan, namun kemudian pindah ke bilik sebelah bilik yang kita pergunakan.”

    Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, maka orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu tentu Panji Kukuh.”

    “Agaknya memang demikian.”

    Keduanya terdiam. Keduanya memperhatikan orang yang bertubuh tinggi itu dengan sungguh-sungguh. Apalagi karena jarak mereka tidak terlalu dekat.

    Orang yang bertubuh tinggi itu pun menengadahkan wajahnya. Nampaknya ia memandang Matahari pagi yang memanjat langit semakin tinggi.

    “Mana orang yang bernama Guntur Ketiga itu?” geram orang yang bertubuh tinggi.

    “Ia berjanji akan datang pada saat matahari sepenggalah,” jawab orang yang bernama Sutasuni.

    “Apakah kau yakin bahwwa orang itu tidak berbohong?”

    “Agaknya orang itu bersungguh-sungguh, Ki Panji.

    “Mereka datang,” desis Sutasuni.

    “Ya. Orang bertubuh tinggi itu mengangguk-angguk, mereka membawa pengikutnya cukup banyak.”

    “Ya Guntur Ketiga tentu bukan seorung yang jujur. Menilik bicaranya yang terlalu ramah. Sikapnya yang lembut serta tertawanya terlalu banyak meski dipaksakannya. Namun dibalik bicaranya yang lembut itu, Guntur Ketiga adalah orang yang sangat sombong. Licik dan tentu seorang yang kejam,” berkata Sutasuni.

    Ki Panji Kukuh itu pun berkata, “Berhati-hatilah.”

    “Kalau beberapa saat lagi ia tidak datang, aku akan meninggalkan tempat ini. Aku harus segera berada di pasar. Ada beberapa pembicaraan lain yang harus aku tuntaskan. Bukan hanya sekedar perdagangan gelap ini saja. Tetapi aku juga berdagang kain dan kerajinan dari perak, emas serta batu permata.”

    “Kita tunggu sampai matahari sepenggalah,” desis Sutasuni.

    Orang yang disebut Ki Panji itu pun berjalan hilir mudik. Beberapa orang pengikutnya berdiri termangu-mangu di sekitarnya.

    Beberapa saat kemudian, sekelompok orang nampak berjalan menyusuri sungai itu menuju ke tikungan. Yang berjalan paling depan adalah seorang yang bertubuh agak gemuk. Bajunya terbuka di dadanya, karena keringat selalu mengalir dari lubang-lubang kulitnya.

    Ki Panji Kukuh yang hanya dengan beberapa orang pengikutnya yang berdiri di tepian itu menjadi tegang. Orang yang bernama Guntur Ketiga itu membawa kekuatan melampaui kebutuhan dalam hubungan perdagangan gelap.

    “Orang itu tidak dapat dipercaya,” berkata Panji Kukuh, “tetapi kita menunggu, apa yang mereka lakukan. Kita jangan mulai dengan sikap dan perbuatan yang dapat memancing kekeruhan. Kita akan berbuat apa saja, menyesuaikan diri dengan orang yang kita hadapi. Sokurlah jika perdagangan kita akan dapat saling menguntungkan dengan mereka.”
    Sutasuni mengangguk-angguk.

    Sebenarnyalah Guntur Ketiga datang dengan sekelompok pengikutnya. Selain mereka, Guntur Ketiga juga sudah menempatkan beberapa orangnya di seberang sungai.

    Sejenak kemudian, maka Guntur Ketiga pun telah berada di tepian yang lebih luas. Sambil tertawa ia pun berjalan kearah orang yang berdiri menunggunya itu.

    “Aku tentu berhadapan dengan Ki Panji Kukuh.”

    “Ya. Bukankah yang datang ini Ki Guntur Ketiga.”

    “Tepat Ki Panji. Aku adalah Guntur Ketiga. Aku datang untuk membuka sebuah hubungan baru yang saling menguntungkan.”

    “Ya, Ki Guntur Ketiga. Aku berharap demikian.”

    “Nah, bukankah orang-orang seperti kita tidak pernah mempunyai banyak waktu untuk berbasa-basi? Karena itu maka kita akan mulai dengan hubungan jual beli diantara kita.”

    “Aku sependapat, Ki Guntur Ketiga.”

    “Kau sudah membawa barangnya?”

    “Ya.”

    “Nah, berikan kepada kami. Kami akan memberikan uangnya.”

    “Kita akan melakukan jual beli dari tangan ke tangan. Tunjukkan uangmu. Aku akan menunjukkan barang yang kau kehendaki.”

    “Bagus,” sahut Ki Guntur Ketiga sambil tertawa pendek, “agaknya kita akan dapat membuat hubungan di antara kita ini berkelanjutan. Ki Panji Kukuh tentu menyadari, sikap jujur dari masing-masing pihak akan membuat hubungan bukan hanya hari ini. Tetapi selama mungkin dapat kita pertahankan.”

    “Aku sependapat, Ki Guntur Ketiga.”

    “Nah, mana barang-barangmu itu?”

    “Kami membawanya. Tetapi tunjukkan uangmu.”

    Ki Guntur Ketiga memberikan isyarat kepada seorang pengikutnya yang membawa kampil. Katanya, “Aku membawa uang perak dan uang emas. Karena itu, nampaknya ringkas dan tidak terlalu banyak.”

    “Itu lebih baik. Ki Guntur Ketiga,” sahut Ki Panji Kukuh.

    Pengikut Ki Guntur Ketiga itu pun kemudian menyerahkan kampil kepadanya. Sambil meneiinia kampil itu, maka Ki Guntur Ketiga pun berkata, “Mana barang itu?”

    Panji Kukuh pun kemudian memerintahkan orangnya untuk membawa peti yang berisi candu itu maju selangkah. Ketika peti kecil itu dibuka, maka Guntur Ketiga pun melihat isinya sebagaimana telah dibicarakan.

    Ki Guntur Ketiga itu pun tertawa. Katanya, “Bagus Ki Panji Kukuh. Serahkan peti itu kepadaku.”

    “Baik. Tetapi Ki Guntur Ketiga pun harus menyerahkan uang itu pula kepadaku. Aku akan menghitungnya, apakah uang itu sesuai dengan pembicaraan kita atau tidak.”

    Namun tiba-tiba sikap Guntur Ketiga pun berubah. Ia pun mengangkat tangannya sambil berkata, “Anak-anak, ambil peti itu.”

    “Kenapa?” bertanya Panji Kukuh, “kami tentu akan menyerahkannya. Tetapi mana uang itu?”

    Guntur Ketiga tidak menghiraukannya. Bahkan sekali lagi ia berteriak, “Cepat. Selesaikan mereka segera. Kita tidak mempunyai banyak waktu.”

    Para pengikut Guntur Ketiga pun segera bergerak. Jumlah mereka jauh lebih banyak dari para pengikut Panji Kukuh.

    Namun demikian mereka bergerak, maka mereka pun terkejut. Beberapa orang muncul dari dalam hutan. Sebelum para pengikut Guntur Ketiga itu menyadari apa yang terjadi, maka berpuluh anak panah pun meluncur dari busurnya.

    Beberapa orang langsung terdorong beberapa langkah surut. Di dada mereka tertancap anak panah yang dilontarkan oleh para pengikut Panji Kukuh dari atas tanggul.

    “Curang kau Panji Kukuh,” teriak Guntur Ketiga. “Kau sudah menyiapkan pengikutmu untuk merunduk orang-orangku.”

    “Jika segala sesuatunya berjalan wajar, aku tidak akan mempergunakan mereka. Tetapi kau berniat berbuat curang, sehingga aku pun terpaksa mempertahankan diri.”

    “Persetan. Aku akan membunuhmu.”

    Guntur Ketiga itu pun segera meloncat menyerang Panji Kukuh dengan serunya. Namun Panji Kukuh pun telah siap menghadapinya.

    Sutasuni yang sudah terlibat dalam pertempuran masih sempat berteriak, “Guntur Ketiga, inikah caramu berhubungan dagang?”

    “Setan kau Sutasuni. Aku bukan pedagang. Tetapi aku berniat menemui Panji Kukuh untuk merampoknya. Nah, sebentar lagi, aku akan membawa sekotak candu itu tanpa harus membayar sekepingpun.”

    “Kau memang tidak perlu membayar sekepingpun. Tetapi kau justru harus membayar dengan nyawamu,” geram Panji Kukuh.

    “Kesombonganmu bagaikan menyentuh langit. Tetapi kau akan mati Panji Kukuh. Orang-orangmu akan kami tumpas habis di tepian sungai ini.”

    Panji Kukuh tidak menjawab. Tetapi Panji Kukuh itu telah menyerang pula dengan garangnya.

    Keduanya pun kemudian telah terlibat dalam pertempuran yang seru. Sementara itu, orang-orang Guntur Ketiga yang berada di seberang pun telah turun pula ke tepian.

    Untuk beberapa saat serangan-serangan anak panah para pengikut Panji Kukuh masih meluncur dari atas tanggul. Namun bersamaan dengan itu, beberapa orang telah berloncatan turun dengan senjata di tangan.

    Pertempuran di tepian itu pun segera berkobar dengan sengitnya, ternyata jumlah mereka pun kemudian tidak terpaut banyak. Meskipun semula jumlah para pengikut Guntur Ketiga lebih banyak, tetapi serangan-serangan anak panah dari tanggul itu telah mengurangi jumlah itu.

    Guntur Ketiga yang bertempur melawan Panji Kukuh itu pun telah meningkatkan kemampuannya. Namun ternyata Panji Kukuh pun masih saja mampu mengimbanginya.

    Dengan demikian, maka pertempuran pun menjadi semakin lama semakin seru.

    “Ternyata Guntur Ketiga lah yang telah memulainya,” desis Rara Wulan yang masih berada di balik rimbunnya gerumbul perdu.

    “Ya,” Glagah Putih mengangguk-angguk.

    “Panji Kukuh berniat berdagang dengan jujur.”

    “Namun perdagangan itu tetap saja perdagangan yang terlarang.”

    “Ya, kakang benar.”

    Keduanya terdiam. Mereka memperhatikan pertempuran di tepian itu dengan saksama. Nampaknya kekuatan keduanya seimbang, sehingga pertempuran itu menjadi semakin lama semakin sengit.

    Beberapa orang telah terkapar di tepian. Yang terdengar di sela-sela teriakan-teriakan kemarahan, juga erang kesakitan.

    “Apakah yang dapat kita lakukan, kakang?”

    “Kita tidak dapat berbuat apa-apa. Rara. Kita tentu tidak akan dapat berpihak pada salah satu pihak. Kita pun tidak akan dapat menghadapi kedua kelompok itu.”

    “Apakah kita akan melaporkan kepada Ki Demang Seca?”

    “Waktunya tidak akan cukup. Jika kita pergi menemui Ki Demang sekarang, maka pertempuran itu tentu sudah selesai.”

    “Tetapi pertempuran itu sedang berlangsung, kakang.”

    “Maksudku, demikian Ki Demang dan pasukannya datang pertempuran itu sudah selesai. Salah satu pihak tentu sudah dikalahkan oleh pihak yang lain.”

    “Tetapi Ki Demang dapat menyaksikan bekas pertempuran itu serta menilai apa yang telah terjadi disini.”

    “Baiklah, Rara. Kita mencoba untuk melaporkan kepada Ki Demang Seca.”

    Namum sebelum mereka meninggalkan persembunyiannya, maka mereka telah menyaksikan puncak dari pertempuran itu. Guntur Ketiga dan Panji Kukuh telah meningkatkan kemampuan mereka sampai ke puncak.

    Ternyata keduanya adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Baik Guntur Ketiga maupun Panji Kukuh mampu melontarkan ilmu andalan mereka untuk menyerang tanpa sentuhan kewadagan.

    Ketika seleret sinar lepas dari telapak tangan Guntur Ketiga meluncur ke arah Panji Kukuh, dengan tangkasnya Panji Kukuh meloncat menghindarinya. Sebaliknya ketika Panji Kukuh melontarkan ilmunya pula Guntur Ketiga pun mampu pula menghindar.

    Namun selam kedua orang itu, nampak bahwa para pengikut Panji Kukuh memiliki kelebihan dari para pengikut Guntur Ketiga. Satu-satu orang-orang Guntur Ketiga terpelanting jatuh di tepian berpasir.

    Meskipun para pengikut Panji Kukuh juga sudah menyusut, tetapi jumlah korban yang terkapar di tepian, agaknya lebih banyak para pengikut Guntur Ketiga daripada pengikut Panji Kukuh.

    Karena itulah maka Guntur Ketiga yang semula yakin akan dapat menghancurkan gerombolan Panji Kukuh dan merebut jalur lintasan perdagangan gelap itu pun mulai menjadi gelisah.

    Apalagi ketika Guntur Ketiga telah sampai ke ilmu puncaknya. Panji Kukuh masih mampu mengimbanginya.

    Karena itulah, maka Guntur Ketiga tidak mempunyai pilihan lain. Ia tidak mau mati. Ia masih ingin berbuat sesuatu di kemudian hari untuk membalas kekalahannya itu.

    Karena itu, maka Guntur Ketiga itu pun segera meneriakkan isyarat bagi orang-orangnya yang masih tersisa.

    Ternyata bahwa para pengikut Guntur Ketiga adalah orang-orang yang setia. Ketika mereka mendengar isyarat yang diteriakkan oleh Guntur Ketiga, maka mereka pun segera bergerak dengan cepatnya dalam satu putaran. Namun kemudian di tepian itu telah terjadi kekisruhan. Orang-orang Guntur Ketiga, telah berlari-larian tidak menentu.

    Dalam keadaan yang kacau itulah, maka Guntur Ketiga dan dua pengawal terpilihnya telah melarikan diri dari arena. Sementara beberapa orang pengikutnya telah menyediakan diri mereka untuk menjadi tumbal usaha Guntur Ketiga melarikan diri.

    Namun Panji Kukuh tidak membiarkannya terlepas dari tangannya. Ketika Guntur Ketiga itu sedang memanjat tebing, maka Panji Kukuh telah menyerangnya dengan ilmu pamungkasnya. Seleret sinar putih meluncur dengan cepatnya dan tepat mengenai punggung Guntur Ketiga.

    Terdengar teriakan nyaring. Guntur Ketiga yang kecewa marah dan mendemdam itu berteriak sehingga rasa-rasanya bumi pun telah berguncang. Namun orang itu pun kemudian menggeliat sehingga tangan-tangannya tidak lagi berpegangan tebing sungai yang dipanjatnya.

    Guntur Ketiga itu pun terjatuh kembali ke tepian.

    Dua orang pengawalnya pun telah meloncat turun pula. Dengan cepat seorang diantara mereka pun segera mendukung Guntur Ketiga di pundaknya, sedang yang lain berusaha melindunginya.

    Panji Kukuh ternyata membiarkan dua orang pengawal itu membawa tubuh Guntur Ketiga pergi. Ketika para pengikut Guntur Ketiga yang sudah kehilangan pemimpinnya itu berusaha untuk melarikan diri, Panji Kukuh mengisyaratkan agar para pengikutnya tidak mengejarnya.

    “Kita tinggalkan tempat ini secepatnya,” berkata Panji Kukuh yang ternyata juga terluka, “bawa kawan-kawan kita yang terbunuh dan terluka.”

    Perintah itu pun segera dilaksanakan oleh para pengikut Panji Kukuh. Orang-orangnya yang masih tersisa segera membantu kawan-kawannya yang terluka apalagi yang menjadi parah, sedangkan yang lain mengusung kawan-kawan mereka yang terbunuh.

    Yang kemudian tertinggal di tepian itu adalah beberapa sosok mayat dan orang-orang yang terluka parah sehingga tidak dapat meninggalkan tepian itu. Mereka adalah para pengikut Guntur Ketiga.

    Glagah Putih dan Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Namun sambil menarik nafas panjang, Glagah Putih pun berkata, “Kita tidak mendapat kesempatan untuk pergi kepada Ki Demang atau Ki Bekel, Rara.”

    “Ya. Akhir dari pertempuran itu berlangsung demikian cepatnya.”

    Namun dalam pada itu, baru saja orang-orang terakhir Panji Kukuh meninggalkan tepian, telah datang sekelompok orang bersenjata ke bekas arena pertempuran itu.

    “Menurut pengenalanku, mereka adalah para petugas kademangan ini Rara. Mereka adalah pasukan yang sering kita temui sedang meronda.”

    “Agaknya sudah ada yang menyampaikan peristiwa ini kepada Ki Demang, Kakang.”

    “Ya.”

    Sebenarnyalah bahwa yang datang itu adalah Ki Demang, Ki Bekel dan beberapa orang bebahu serta sepasukan petugas di kademangan Seca.

    “Nampaknya kademangan Seca benar-benar kademangan yang kokoh, kakang,” berkata Rara Wulan, “mereka mempunyai petugas cukup banyak dan agaknya juga cukup kuat. Para petugas itu agaknya benar-benar orang orang yang terlatih.”

    Glagah Putih menarik nafas panjang. Katannya, “Ini sangat menarik Rara. Seharusnya kademangan-kademangan yang lain berusaha menirunya. Bukankah jika kademangan itu terlindungi dari kejahatan, akan mempunyai akibat yang baik bagi kesejahteraan rakyatnya?”

    “Ya, kakang. Tetapi bagi kademangan yang sudah terlanjur dibayangi oleh kejahatan, mereka akan mengalami kesulitan untuk memulainya.”

    “Harus ada keberanian untuk melakukannya. Tetapi beberapa kademangan yang pernah kita lalui, sudah akan mencobanya. Jika perguruan Awang awang itu benar-benar akan ikut tampil, maka aku berkeyakinan, bahwa setidak-tidaknya untuk satu ruas tertentu, jalur perdagangan itu akan dapat diamankan.”

    Rara Wulan mengangguk-angguk. Sementara itu, Ki Demang, Ki bekel dan para bebahu sibuk memperhatikan bekas arena pertempuran di tepian.

    “Yang tersisa adalah orang-orang dari satu pihak,” berkata Ki Jagabaya di kademangan Seca.

    “Ya. Agaknya yang lain sempat membawa kawan-kawan mereka.”

    “Di antara mereka masih ada yang hidup Ki Demang, meskipun terlalu parah.”

    “Kita akan mencoba menyelamatkannya, agar kita mendapat keterangan serba sedikit tentang peristiwa ini.”

    “Ya, Ki Demang.”

    Ki Jabagaya itu pun kemudian memerintahkan beberapa orang untuk membawa mereka yang terluka, tetapi masih hidup ke kademangan. Sementara yang lain akan dikuburkannya di padang perdu di ujung hutan itu.

    Dalam pada itu Ki Bekel pun berkata, “Kademangan kita terpilih menjadi salah satu landasan perjuangan Ki Saba Lintang untuk membangunkan kembali perguruan Kedung Jati. Kita harus benar-benar membersihkan kademangan ini.”

    Kata-kata itu, benar-benar telah mengejutkan Glagah Putih dan Rara Wulan. Agaknya keberhasilan kademangan Seca membersihkan dirinya dari kejahatan itu ada kaitannya dengan usaha Ki Saba Lintang membangun kembali perguruannya.

    Dalam pada itu, Ki Demang pun berkata, “Agaknya pertempuran ini terjadi antara dua kekuatan yang bergerak dibawah permukaan di Seca, Ki Bekel. Agaknya mereka gerombolan-gerombolan yang melakukan perdagangan gelap, yang nampaknya sedang berebut jalur perdagangan.”

    “Kita harus mengetahui lebih banyak tentang hal itu, Ki Demang,” sahut Ki Bekel.

    “Tugasmu bertambah berat Ki Jagabaya,” berkata Ki Demang.

    “Aku akan melakukannya, Ki Demang. Bukankah Ki Saba Lintang telah memberikan bantuan pembeayaan bagi pasukan keamanan yang sudah kita susun disini? Selain itu, kita sendiri mampu menggali sumber dana untuk memperkuat pasukan yang harus mengamankan lingkungan ini.”

    “Bukan kekuatan kewadagan saja, Ki Jagabaya. Tetapi harus ada beberapa orang yang mampu melihat gejolak di bawah permukaan. Meskipun daerah ini nampaknya aman dan tenang, tetapi jika di daerah ini ada perdagangan gelap, maka Seca tetap saja merupakan daerah yang tidak bersih. Bahkan perdagangan gejap itu akibatnya akan lebih parah dari kejahatan yang terbuka.”

    “Aku mengerti, Ki Demang.”

    “Nah. Kita harus mengakui kelemahan mengetahui kekuatan, bahwa ada dua gerombolan yang telah berselisih dan bahkan bertempur di tepian ini.”

    “Ya, Ki Demang.”

    “Nah, sekarang lakukan apa yang harus kau lakukan Ki Jagayaba. Berhati-hatilah. Kami akan kembali.”

    “Baik. Ki Demang. Aku akan menyelesaikan tugas ini.”

    Beberapa saat kemudian. Ki Demang, Ki Bekel dan beberapa orang yang datang bersamanya itu pun per meninggalkan tepian. Sementara it Ki Jagabaya dan sekelompok orang masih sibuk menyelenggarakan penguburan orang-orang yang terbunuh, yang ditinggal begitu saja di tepian oleh kawan-kawannya yang melarikan diri dari medan untuk menyelamatkan diri.

    Glagah Putih dan Rara Wulan masih tetap berada di persembunyiannya. Namun Glagah Putih pun kemudian berkata, “Marilah. Kita tinggalkan tempat ini. Ada sesuatu yang sangat menarik untuk kita bicarakan.”

    “Perguruan Kedung Jati.”

    “Ya. Agaknya daerah ini akan menjadi salah satu daerah penyangga bagi lahirnya kembali perguruan Kedung Jati yang besar itu.”

    “Suatu hal yang sangat menarik.”

    “Daerah ini akan menjadi salah satu daerah yang harus kita perhatikan. Panggraitaku melihat adanya dua arus yang sengaja dibuat agar berbenturan di tempat yang tenang ini.”

    “Maksud kakang?”

    “Jika permukaan Ki Saba Lintang menghendaki ketenangan, tetapi ia justru mengaduk agar dibawah permukaan terjadi kekacauan. Mudah-mudahan panggraitaku ini salah, bahwa benturan-benturan yang terjadi antara Guntur Ketiga dan Panji Kukuh itu juga terjadi atas permainan Saba Lintang.”

    “Apakah Saba Lintang dapat bermain sampai sejauh itu, kakang?”

    Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menjawab, “Kenapa tidak? Saba Lintang adalah seorang yang sangat licik. Pada beberapa waktu yang lalu ilmunya dalam olah kanuragan tidak begitu tinggi, sebagaimana orang-orang yang ada di sekitarnya. Tetapi otaknya ternyata sangat cerdik.”

    “Tetapi siapa tahu, bahwa ia sekarang telah menguasai ilmu tertentu yang dapat membuatnya meloncat jauh dari satu tataran ke tataran berikutnya.”

    “Hal seperti itu memang dapat terjadi, Rara. Tetapi aku tetap saja curiga, bahwa bukan Ki Saba Lintang yang membuat daerah ini menjadi tenang. Tetapi Ki Saba Lintang menemukan daerah Seca yang tenang ini dan dengan kecerdikannya ia berusaha menguasainya. Sementara itu, ia telah menyusun rencana yang lain, untuk membuat gejolak di bawah permukaan yang pada suatu saat akan muncul dengan dahsyatnya ke permukaan, sehingga Ki Demang, Ki Bekel dan para bebahu tidak mampu mengatasinya.”

    “Memang mungkin, kakang. Agaknya para bebahu di kademangan ini sama sekali tidak mencurigainya. Agaknya Ki Demang dan Ki Bekel masih belum tahu, bahwa Ki Saba Lintang adalah orang yang berbahaya, yang suatu ketika akan dapat meledakkan satu peristiwa yang tidak diduga sebelumnya.”

    Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin kita akan tinggal di daerah ini tidak untuk sehari dua hari. Tetapi mungkin akan lebih lama lagi.”

    “Tetapi kita sudah dikenal oleh Ki Saba Lintang.”

    “Tentu Ki Saba Lintang tidak akan segera berada di tempat ini. Mungkin orang-orangnya sajalah yang akan datang dan mempersiapkan daerah ini sesuai dengan rencananya. Bukan Seca yang tenang, aman dan damai, tetapi justru Seca akan kehilangan wajahnya seperti sekarang ini.”

    “Apa sebenarnya keuntungan Saba Lintang?”

    “Saba Lintang sedang membangunkan suasana dan citra buruk bagi Mataram sekarang ini setelah Panembahan Senapati wafat. Selebihnya, maka usahanya untuk menyusun kembali perguruan Kedung-Jati akan menarik banyak perhatian.”

    “Kakang,” berkata Rara Wulan kemudian, “sebaiknya mbokayu Sekar Mirah tidak hanya berdiam diri. Sebaiknya mbokayu Sekar Mirah juga berbuat sesuatu dengan tongkat baja putihnya itu. Mbokayu Sekar Mirahtentu akan lebih mapan jika ia bersedia menyatakan diri untuk memegang kendali kepemimpinan perguruan Kedung Jati.”

    “Ya. Aku mengerti. Tetapi aku tidak tahu, apakah mbokayu Sekar Mirah akan bersedia melakukannya?”

    “Ada dua jalur yang dapat ditempuh. Pertama, mencari dan kemudian membawa tongkat baja putih yang ada di tangan Ki Saba Lintang itu ke Mataram. Kedua, minta agar mbokayu Sekar Mirah bersedia bangkit dan mengangkat tongkat baja putihnya, serta menyatakan diri sebagai pemimpin perguruan Kedung Jati.”

    Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Katanya, “Kita masih harus berbicara dengan kakang Agung Sedayu dan mBokayu Sekar Mirah.”

    “Ya. Pada saatnya kita akan pulang dan berbicara kepada mereka.”

    “Sekarang, yang akan kita lakukan adalah mengamati kademangan Seca. Apa yang akan terjadi kemudian di belakang ini.”

    “Kita akan pergi ke pasar. Mungkin pedagang yang menjadi penyalur perdagangan terlarang itu ada di pasar. Demikian pula satu atau dua orang pengikut Jati Ngarang.”

    Demikianlah, maka keduanya pun segera meninggalkan tempat itu. Namun mereka harus tetap berhati-hati karena Ki Jagabaya dan beberapa orang masih ada di tepian. Mereka masih harus menyelesaikan tugas mereka.

    Beberapa saat kemudian, maka mereka pun sudah menjadi semakin jauh dari ujung hutan itu. Namun dalam pada itu matahari telah melampaui puncaknya.

    “Pasar sudah menjadi semakin sepi,” berkata Rara Wulan.

    “Belum tentu Rara. Pasar itu adalah pasar yang besar dan hari ini adalah hari pasaran. Meskipun tidak seramai pagi tadi. Mudah-mudahan pasar itu masih tetap ramai. Pedagang-pedagang yang datang dari jauh tidak akan meninggalkan pasar itu. Bahkan mungkin mereka akan tetap berada di pasar sampai sore untuk membicarakan jalur perdagangan mereka dihari-hari mendatang. Hubungan para pedagang itu tentu masih akan berkelanjutan. Tidak hanya terbatas sampai hari ini.”

    “Ya. Mudah-mudahan kita masih menemukan sesuatu di pasar itu.”

    Demikianlah ketika mereka berdua sampai di pasar, maka pasar itu memang masih ramai. Meskipun matahari sudah mulai mengarungi langit disisi Barat, tetapi para pedagang masih tetap saja berada di pasar, kecuali mereka yang berjualan kebutuhan sehari-hari.”

    “Nah, pasar masih ramai, Rara.”

    “Tentu kedai-kedai masih tersedia berbagai macam makanan, sehingga kita dapat memilihnya.”

    “Ah, kau,” desis Glagah Putih.

    Rara Wulan tertawa sambil berkata, “Aku haus dan lapar. Apakah kakang tidak?”

    “Tentu,” jawab Glagah Putih, “hanya orang-orang yang perutnya tidak bekerja dengan baik sajalah yang tidak merasa lapar pada hari-hari seperti ini.”

    “Tetapi kakang dapat tidak makan selama tiga hari penuh.”

    “Apa kau tidak?”

    Rara Wulan tertawa. Katanya, “Melihat keadaan serta lingkungan.”

    Glagah Putih pun tertawa pula. Namun katanya kemudian, “Sebaiknya kita melihat-lihat keadaan pasar lebih dahulu sebelum kita singgah di kedai. Agaknya di Seca, kita akan menemukan kedai dimana saja selama sehari-hari.”

    Rara Wulan mengangguk. Katanya, “Baiklah, kakang. Kita pergi ke pasar lebih dahulu.”

    Sebenarnyalah kedua orang suami isteri itu pun melangkah menuju ke pintu gerbang pasar. Meskipun hari menjadi semakin siang, tetapi masih banyak orang yang berada di dalam pasar.

    Namun Glagah Putih tidak menemukan orang yang dicarinya. Ia tidak melihat pedagang yang ternyata juga telah melakukan perdagangan gelap itu.

    “Apakah ia juga berada di jalur perdagangan Guntur Ketiga atau Panji Kukuh?” desis Glagah Putih.

    “Mungkin saja kakang sehingga karena benturan antara dua kekuatan itu, pedagang itu pun tidak berada di pasar meskipun hari pasaran. Atau mungkin sekali orang itu sudah meninggalkan pasar setelah matahari semakin tinggi, bahkan kemudian melampaui puncaknya.”

    “Ya. Tetapi ternyata bahwa kita tidak hanya hari ini berada di Seca. Kita akan berada disini sedikitnya sepekan untuk melihat perkembangan keadaan serta pengaruh tangan-tangan Ki Saba Lintang.”

    “Baiklah kakang. Tetapi kita juga harus memperhitungkan banyak hal. Penginapan kita terhitung penginapan yang mahal.”

    Glagah Putih tersenyum. Disadarinya bahwa mereka berdua tidak mempunyai bekal terlalu banyak. Tetapi jika perlu mereka tidak boleh terlalu memperhitungkan pengeluaran untuk mendapatkan tambahan bekal perjalanan jika saja mereka dapat mempertanggungjawabkannya.

    Dengan nada rendah Glagah Putih pun berkata, “Agaknya kita perlu berada di penginapan itu. Agaknya Sutasuni juga berada di penginapan yang sewanya memang agak lebih mahal dari penginapan yang lain.”

    Rara Wulan tertawa. Katanya, “Aku juga lebih senang bermalam di penginapan itu daripada di penginapan dekat pasar itu. Nampaknya penginapan di dekat pasar itu tidak terlalu bersih. Halaman sampingnya yang sering dugunakan untuk berhenti pedati-pedati para pedagang itu nampaknya seperti kubangan. Mereka yang membawa pedati itu selalu mencuci pedatinya di tempat itu, tanpa menghiraukan parit buangannya, sehingga tempat itu nampak menjadi seperti kubangan. Bilik-biliknya pun terlalu kecil dan tidak bersih, sementara itu ada ruangan-ruangan yang lusuh dengan amben bambu atau kayu yang besar yang dapat dipergunakan untuk tidur sekaligus lima atau enam orang.”

    Glagah Putih pun menyahut sambil tersenyum pula, “Tentu saja. Harga sewa disebuah penginapan tentu juga ditentukan oleh tempat dan pelayanan.” Glagah Putih terdiam sejenak. Lalu katanya, “Nah, apakah kita akan singgah di sebuah kedai? Agaknya pedagang yang kita cari itu tidak akan dapat kita ketemukan.”

    “Marilah,” Rara Wulan mengangguk-angguk.

    Sejenak kemudian, maka keduanya pun telah berada di sebuah kedai yang tidak terlalu ramai. Meskipun demikian, sudah ada beberapa orang yang telah berada di kedai itu.

    Namun terasa suasana yang tenang. Orang-orang yang duduk dikedai itu dapat menikmati makanan dan minuman yang mereka pesan dengan sebaik-baiknya.

    “Tidak ada berita tentang pertempuran di tepian itu yang sampai di sini,” desis Glagah Putih.

    “Belum kakang. Tetapi agaknya beritanya akhirnya akan sampai juga di padukuhan induk kademangan ini. Para petugas dari kademangan itu. Satu dua orang tentu ada yang menceritakannya kepada orang lain. Mungkin keluarganya atau sahabat dekatnya. Namun akhirnya kabar itu pun akan meluas sampai ke seluruh kademangan.”

    “Tetapi ketika berita itu tersebar, waktu telah berjalan beberapa lama, sehingga tidak lagi menimbulkan persoalan yang menghentakkan ketenangan di kademangan ini.”

    Rara Wulan mengangguk-angguk. Ketika ia berpaling kepada orang-orang yang ada di kedai itu, maka rasa-rasanya kehidupan di Seca itu memang terasa tenteram.

    Ketika pelayan kedai itu mendatangi mereka, maka Glagah Putih pun segera memesan makanan dan minuman bagi mereka berdua.

    Sebenarnyalah selama mereka berada di kedai itu, sama sekali tidak mendapat gangguan dari siapapun. Suasana dan keadaan di sekitar kedai itu pun nampak tenang-tenang saja. Bahkan ketika mereka melihat dua orang petugas yang lewat, rasa-rasanya para petugas itu pun nampak sebagaimana suasana di padukuhan induk kademangan Seca itu.

    “Apakah para petugas itu juga belum tahu apa yang terjadi?” desis Rara Wulan.

    “Mungkin mereka sudah tahu. Tetapi mereka sengaja bersikap seperti itu agar tidak membuat orang-orang yang bertemu dengan mereka bertanya-tanya.”

    Beberapa saat lamanya mereka berada di kedai itu. Ketika mereka merasa sudah cukup, maka keduanya pun membayar harga makanan dan minuman yang sudah mereka pesan.

    Ternyata peristiwa yang terjadi di ujung hutan itu tidak membuat gejolak di permukaan. Kademangan Seca masih saja tetap tenang. Kehidupan berjalan seperti biasanya. Yang biasanya ramai dikunjungi orang masih saja tetap ramai.

    Ketika senja kemudian turun, Glagah Putih dan Rara Wulan telah berada di penginapan. Ternyata penginapan itu pun sudah menjadi lebih lengang. Bilik-bilik yang tersedia pun sudah banyak yang kosong. Meskipun masih asa satu dua orang tamu yang menginap.

    “Kademangan ini esok akan menjadi sepi, kakang.” berkata Rara Wulan.

    “Ya. Lebih sepi dari har-hari pasaran.”

    “Tetapi menurut kakang, kita masih akan tetap tinggal disini sepekan ini?”

    “Kita akan melihat suasana, Rara.”

    Rara Wulan mengangguyk-angguk.

    Sebenarnya di hari berikutnya Seca memang nampak lebih sepi. Ketika keduanya pergi ke pasar, maka pasar itu sudah tidak seramai seperti hari sebelumnya. Meskipun bukan hari pasaran, namun masih juga ada pedagang yang datang untuk membeli atau menjual dagangan mereka.

    Namun seperti hari-hari sebelumnya, Seca tetap saja merupakan sebuah tempat yang tenang.

    Hari itu tidak ada yang menarik untuk diperhatikan. Justru karena ini, maka Rara Wulan pun berkata, “Jika sepekan kita berada disini tanpa berbuat apa-apa. Aku akan menjadi kurus, kakang.”

    Glagah Putih tertawa. Katanya, “Tidak. Justru kau akan menjadi gemuk.”

    “Aku tidak mau, lebih baik aku menjadi kurus daripada aku menjadi gemuk.”

    Kau tidak akan dapat bertambah kurus, Rara. Ketika kita berada di hutan menjalani laku. kau tidak juga menjadi kurus.”

    “Ah tentu badanku menyusut waktu itu.”

    “Apakah bajumu menjadi longgar?”

    Rara Wulan tersenyum. Namun ia menjawab, “Ya. Sedikit.”

    “Sejak semula bajumu memang longgar. Bukankah kau memang lebih senang memakai baju yang longgar?”

    “Sudahlah. Biar saja aku menjadi kurus atau menjadi gemuk, apakah ada bedanya bagimu kakang?”

    “Tentu.”

    “Katakan, apa bedanya?”

    Glagah Putih tidak menjawab. Tetapi ia masih saja tertawa.

    “Kau tidak mau menjawab, kakang. Tetapi apa yang kau tertawakan.”

    “Tidak apa-apa,” jawab Glagah Putih.

    “Kau tentu mentertawakan aku. Kau tentu membayangkan, bagaimana ujudku jika aku menjadi gemuk.”

    “Tidak, tidak.” Glagah Putih pun segera bergeser menjauh. Jari-jari Rara Wulan tiba-tiba saja telah mencubit lengannya.

    “Sakit, Rara.” keluh Glagah Putih.

    Rara Wulan melepaskannya sambil berkata, “Nah, kau harus menjalani laku agar kau dapat memiliki ilmu kebal seperti kakang Agung Sedayu.”

  2. matur sembah nuwun ki…

  3. Matur Nuwun

  4. heuuuuuuuu……
    soyo suwe soyo koyo sinetron…!!
    weekekekek…

    *dgebukiwongsakpadepokan*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: