Buku IV-60

360-00

Laman: 1 2

Telah Terbit on 31 Agustus 2009 at 16:01  Comments (232)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iv-60/trackback/

RSS feed for comments on this post.

232 KomentarTinggalkan komentar

  1. sambil nunggu……. Nagasasra sabukinten 01 Oleh SH Mintardja Awan yang hitam pekat bergulung-gulung di langit seperti lumpur yang diaduk dan kemudian dihanyutkan oleh banjir, sehingga malam gelap itu menjadi semakin hitam. Sehitam suasana Kerajaan Demak pada waktu itu, dimana terjadi perebutan pengaruh antara Wali pendukung kerajaan Demak dengan Syeh Siti Jenar. Pertentangan itu sedemikian meruncingnya sehingga terpaksa diselesaikan dengan pertumpahan darah. Syeh Siti Jenar dilenyapkan. Disusul dengan terbunuhnya Ki Kebo Kenanga yang juga disebut Ki Ageng Pengging. Ki Kebo Kenanga ini meninggalkan seorang putra bernama Mas Karebet. Karena dibesarkan oleh Nyai Ageng Tingkir, kemudian Mas Karebet juga disebut Jaka Tingkir. Jaka Tingkir inilah yang kemudian akan menjadi raja, menggantikan Sultan Trenggana. Jaka Tingkir pula yang memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Pajang. Pada masa yang demikian, tersebutlah seorang saudara muda seperguruan dari Ki Ageng Pengging yang bernama Mahesa Jenar. Karena keadaan sangat memaksa, Jaka Tingkir pergi meninggalkan kampung halaman, sawah, ladang, serta wajah-wajah yang dicintainya. Ia merantau, untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang tak diinginkan. Telah bertahun-tahun Mahesa Jenar mengabdikan dirinya kepada Negara sebagai seorang prajurit. Tetapi karena masalah perbedaan ajaran tentang kepercayaan, yang telah menimbulkan beberapa korban, ia terpaksa mengundurkan diri, meskipun kesetiannya kepada Demak tidak juga susut. Hanya dengan bekal kepercayaan kepada diri sendiri serta kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Mahesa Jenar mencari daerah baru yang tidak ada lagi persoalan mereka yang berbeda pendapat mengenai pelaksanaan ibadah untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Mahesa Jenar adalah bekas seorang prajurit pilihan, pengawal raja. Ia bertubuh tegap kekar, berdada bidang. Sepasang tangannya amat kokoh, begitu mahir mempermainkan segala macam senjata, bahkan benda apapun yang dipegangnya. Sepasang matanya yang dalam memancar dengan tajam sebagai pernyataan keteguhan hatinya, tetapi keseluruhan wajahnya tampak bening dan lembut. Ia adalah kawan bermain Ki Ageng Sela pada masa kanak-kanaknya. Ki Ageng Sela inilah yang kemudian menjadi salah seorang guru dari Mas Karebet, yang juga disebut Jaka Tingkir, sebelum menduduki tahta kerajaan. Meskipun mereka bukan berasal dari satu perguruan, tetapi karena persahabatan mereka yang karib, maka seringkali mereka berdua tampak berlatih bersama. Saling memberi dan menerima atas izin guru mereka masing-masing. Gerak Mahesa Jenar sedikit kalah cekatan dibanding dengan Sela yang menurut cerita adalah cucu seorang bidadari yang bernama Nawangwulan. Betapa gesitnya tangan Ki Ageng Sela, sampai orang percaya bahwa ia mampu menangkap petir. Tetapi Mahesa Jenar lebih tangguh dan kuat. Dengan gerak yang sederhana, apabila dikehendaki ia mampu membelah batu sebesar kepala kerbau dengan tangannya. Apalagi kalau ia sengaja memusatkan tenaganya. Pada malam yang kelam itu Mahesa Jenar mulai dengan perjalanannya dari rumah almarhum kakak seperguruannya, Ki Kebo Kenanga di Pengging. Ia sengaja menghindarkan diri dari pengamatan orang. Mula-mula Mahesa Jenar berjalan ke arah selatan dengan menanggalkan pakaian keprajuritan, dan kemudian membelok ke arah matahari terbenam. Setelah beberapa hari berjalan, sampailah Mahesa Jenar di suatu perbukitan yang terkenal sebagai bekas kerajaan seorang raksasa bernama Prabu Baka, sehingga perbukitan itu kemudian dikenal dengan nama Pegunungan Baka. Salah satu puncak dari perbukitan ini, yang bernama Gunung Ijo, adalah daerah yang sering dikunjungi orang untuk menyepi. Di sinilah dahulu Prabu Baka bertapa sampai diketemukan seorang gadis yang tersesat ke puncak Gunung Ijo itu. Mula-mula gadis itu akan dimakannya, tetapi niat itu diurungkan karena pesona kecantikannya. Bahkan gadis itu kemudian diambilnya menjadi permaisuri, ketika ia kemudian dapat menguasai kerajaan Prambanan. Gadis cantik itulah yang kemudian dikenal dengan nama Roro Jonggrang. Dan karena kecantikannya pula Roro Jonggrang oleh Bandung Bandawasa, yang juga ingin memperistrinya setelah berhasil membunuh Prabu Baka, disumpah menjadi patung batu. Candi tempat patung itu lah yang kemudian terkenal dengan nama Candi Jonggrang. Tetapi pada saat Mahesa Jenar menginjakkan kakinya di puncak bukit itu terasalah sesuatu yang tak wajar. Beberapa waktu yang lalu ia pernah mengunjungi daerah ini. Tetapi sekarang alangkah bedanya. Tempat ini tidak lagi sebersih beberapa waktu berselang. Rumput-rumput liar tumbuh di sana-sini. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, adalah ketika dilihatnya kerangka manusia. Melihat kerangka manusia itu hati Mahesa Jenar menjadi tidak enak. Ia menjadi sangat berhati-hati karenanya. Tetapi ia menjadi tertarik untuk mengetahui keadaan di sekitar tempat itu. Ia menjadi semakin tertarik lagi ketika dilihatnya tidak jauh dari tempat itu terdapat beberapa macam benda alat minum dan batu-batu yang diatur sebagai sebuah tempat pemujaan. Dan di atasnya terdapat pula sebuah kerangka manusia. Mahesa Jenar pernah belajar dalam pelajaran tata berkelahi mengenai beberapa hal tentang tubuh manusia. Itulah sebabnya maka ia dapat menduga bahwa rangka-rangka itu adalah rangka perempuan yang tidak tampak adanya tanda-tanda penganiayaan. Cepat ia dapat menebak, bahwa beberapa waktu berselang telah terjadi suatu upacara aneh di atas bukit ini. Tetapi ia tidak tahu macam upacara itu. Untuk mengetahui hal itu, ia mengharap mendapat keterangan dari penduduk sekitarnya. Tetapi Mahesa Jenar menjadi kecewa ketika ia melayangkan pandangannya ke sekitar bukit itu. Tadi ia sama sekali tidak memperhatikan bahwa tanah-tanah pategalan telah berubah menjadi belukar. Agaknya sudah beberapa waktu tanah-tanah itu tidak lagi digarap. Ketika ia sudah tidak mungkin lagi untuk mendapatkan keterangan lebih banyak lagi tentang kerangka-kerangka tersebut, maka dengan pertanyaan-pertanyaan yang berputar-putar dikepalanya, Mahesa Jenar melanjutkan perjalanannya ke barat, menuruni lembah dan mendaki tebing-tebing perbukitan sehingga sampailah ia di atas puncak pusat kerajaan Prabu Baka. Dari atas bukit itu Mahesa Jenar melayangkan pandangannya jauh di dataran sekitarnya. Di sebelah utara tampaklah kumpulan candi yang terkenal itu, yaitu Candi Jonggrang. Sempat juga Mahesa Jenar mengagumi karya yang telah menghasilkan candi-candi itu. Menurut cerita, candi-candi yang berjumlah 1.000 itu adalah hasil kerja Bandung Bandawasa hanya dalam satu malam saja, untuk memenuhi permintaan Roro Jonggrang. Tetapi ketika ternyata Bandung Bandawasa akan dapat memenuhi permintaan itu, Roro Jonggrang berbuat curang. Maka marahlah Bandung Bandawasa. Jonggrang disumpah sehingga menjadi candi yang ke 1.000. Candi itu dikitari oleh persawahan yang ditumbuhi batang-batang padi yang sedang menghijau. Daun-daunnya mengombak seperti mengalirnya gelombang-gelombang kecil di pantai karena permainan angin. Tiba-tiba Mahesa Jenar teringat akan kerangka-kerangka yang ditemukannya di atas Gunung Ijo. Di dekat persawahan yang sedang menghijau itu pasti ada penduduknya. Di sana, mungkin ia akan mendapat beberapa keterangan tentang kerangka-kerangka itu. Karena pikiran itu maka segera ia menuruni bukit dan cepat-cepat pergi ke arah pedesaan di sebelah Candi Jonggrang di tepi Sungai Opak. Ketika ia sampai di desa itu, terasa alangkah asingnya penduduk menerima kedatangannya. Anak-anak yang sedang bermain di halaman dengan riangnya, segera berlari-larian masuk ke rumah. Terasa benar bahwa beberapa pasang mata mengintip dari celah-celah dinding rumahnya. Apakah yang aneh padaku? pikirnya. Ia merasa susah untuk menemukan orang yang dapat diajak berwawancara untuk menjalankan beberapa soal, terutama mengenai peristiwa Gunung Ijo. Rumah-rumah di kiri kanan jalan desa itu serasa tertutup baginya. Beberapa kali ia berjalan hilir mudik kalau-kalau ia berjumpa dengan seseorang yang dapat ditanyainya atau seseorang yang menyapanya. Tetapi sudah untuk kesekian kalinya tak seorang pun dijumpainya, dan tak seorang pun menyapanya. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk mengetuk salah satu dari sekian banyak pintu-pintu yang tertutup. Tiba-tiba terasa sesuatu yang tidak wajar. Dari balik-balik pagar batu di sekitarnya, didengarnya dengus nafas yang tertahan-tahan. Tidak hanya dari satu-dua orang, tetapi rasa-rasanya banyak orang yang bersembunyi di balik pagar-pagar itu. Mahesa Jenar tidak mengerti maksud mereka mengintip dari balik-balik pagar. Karena itu ia pura-pura tidak mengetahui akan hal itu. Tetapi ketika ia akan melangkahkan kakinya menginjak ambang regol sebuah halaman, berloncatanlah beberapa orang laki-laki dari balik pagar-pagar batu di sekitarnya. Semuanya membawa senjata. Golok-golok besar, tombak panjang dan pendek, pedang, keris dan sebagainya. Mahesa Jenar sebentar terkejut juga, tetapi cepat otaknya bekerja. Ia segera mengambil kesimpulan bahwa agaknya memang pernah terjadi sesuatu di daerah ini. Ia juga menduga bahwa orang-orang itu tak bermaksud jahat. Mereka hanya berjaga-jaga dan waspada. Sebagai orang asing di daerah berbahaya sudah sepantasnyalah bahwa ia dicurigai. Itulah sebabnya ia mengambil keputusan untuk tidak berbuat apa-apa, dan hanya akan menurut semua perintah yang akan diterima. Orang yang menjadi pemimpin rombongan itu berperawakan sedang. Badannya tak begitu besar, tetapi otot-ototnya yang kuat menghias seluruh tubuhnya. Diantara jari-jari tangan kanannya terselip sebuah trisula, yaitu sebuah tombak bermata tiga. Di sampingnya berdiri seorang yang berperawakan tinggi besar, berkumis lebat. Pandangannya tajam berkilat-kilat. Ia tak bersenjata tajam apapun kecuali sebuah cambuk besar yang ujungnya lebih dari sedepa panjangnya, dan pada juntai cambuk itu diikatkan beberapa potongan besi, batu dan tulang-tulang. Rupa-rupanya ia merupakan salah seorang tokoh terbesar dari para pengawal desa itu, disamping beberapa pengawal lain yang segera mengepungnya. “Ikut kami!” Tiba-tiba terdengarlah sebuah perintah yang menggelegar keluar dari mulut orang yang tinggi besar itu. Terasalah oleh Mahesa Jenar betapa orang yang tinggi besar itu ingin mempengaruhinya dengan suaranya. Mahesa Jenar yang sudah mengambil keputusan untuk tidak berbuat sesuatu yang dapat menimbulkan keributan, menuruti perintah itu dengan patuh. Orang yang tinggi besar itu berjalan di depan bersama-sama dengan pemimpin rombongan, kemudian berjalanlah di belakangnya Mahesa Jenar diiringi oleh para pengawal. Rombongan itu berjalan menyusur jalan desa menuju ke sebuah rumah yang agak lebih besar dari rumah-rumah yang lain, berpagar batu agak tinggi dan berhalaman luas. Mereka memasuki halaman itu dengan melewati sebuah gerbang yang dikawal orang di kiri-kanannya, sedangkan di halaman itu pun telah pula menanti beberapa orang laki-laki yang juga bersenjata. Diantara mereka berdirilah seorang laki-laki yang sudah agak lanjut usianya. Pemimpin rombongan serta orang yang tinggi besar langsung mendatangi orang tua itu. Mahesa Jenar masih saja mengikuti di belakangnya. Kakang Demang, lapor pemimpin rombongan itu, orang ini terpaksa kami curigai. Selanjutnya terserah kebijaksanaan kakang. Orang tua yang ternyata demang dari daerah itu, mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa garis umur telah tergores di wajahnya, tetapi ia masih nampak segar dan kuat. Wajahnya terang dan bersih. Giginya masih utuh, putih berkilat diantara bibir-bibirnya yang tersenyum ramah. Ia sedang menyelidiki daerah kami, Kakang. Mungkin ia menemukan seorang gadis untuk korbannya, tiba-tiba laki-laki yang tinggi besar itu menyambung dengan suaranya yang bergerat. Sesudah itu ia memandang berkeliling dan tampaklah setiap laki-laki yang kena sambaran matanya mengangguk-angguk kecil tanpa keyakinan apa-apa. Pikiran yang terang dari Mahesa Jenar segera dapat menghubungkan ucapan ini dengan kerangka-kerangka yang ditemuinya di Gunung Ijo. Mungkin ucapan orang itu bertalian dengan peristiwa yang sedang menjadi tanda tanya di dalam hatinya. Demang tua itu memandang Mahesa Jenar dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya. Umurnya yang telah lanjut, menolongnya untuk mengenal sedikit tentang watak-watak orang yang baru saja dijumpainya. Dan terhadap Mahesa Jenar, ia tidak menduga adanya maksud-maksud buruk. Bolehkah aku bertanya? kata Demang tua itu dengan nada yang berat tetapi sopan dan rumah. Siapakah nama Ki Sanak dan dari manakah asal Ki Sanak? Sebab menurut pengamatan kami, Ki Sanak bukanlah orang dari daerah kami. Mula-mula Mahesa Jenar ragu. Haruskah ia mengatakan keadaan yang sebenarnya, ataukah lebih baik menyembunyikan keadaan yang sebenarnya …? Ia masih belum tahu, sampai di mana jauh akibat tindakan-tindakan pemerintah Kerajaan Demak terhadap para pengikut Syeh Siti Jenar. Kalau ia tidak berkata yang sebenarnya, maka ada suatu kemungkinan bahwa kecurigaan orang terhadapnya semakin besar. Mungkin pula ia ditangkap, ditahan atau semacamnya itu. Akhirnya Mahesa Jenar mengambil keputusan untuk mengatakan sebagian saja dari keadaannya. Oleh keragu-raguannya inilah maka sampai beberapa saat Mahesa Jenar tidak menjawab, sehingga ketika baru saja ia akan berkata, terdengarlah orang yang tinggi besar itu membentak, Ayo bilang! Mahesa Jenar sebenarnya sama sekali tidak senang diperlakukan sedemikian, tetapi ia tidak ingin ribut-ribut. Maka dijawabnya pertanyaan itu dengan sopan pula, Bapak Demang, kalau Bapak Demang ingin mengetahui, aku berasal dari Pandanaran. Aku adalah pegawai istana Demak, yang karena sesuatu hal ingin menjelajahi daerah-daerah wilayah Kerajaan Demak. Beberapa orang tampak terkejut mendengar jawaban ini. Seorang pegawai istana adalah orang yang pantas sekali mendapat kehormatan. Sedang orang ini? Orang yang mengaku menjadi pegawai istana itu menjadi orang tangkapan. Apakah kalau hal semacam ini sampai terdengar oleh kalangan istana, tidak akan menjadikan mereka murka? Mahesa Jenar merasakan pengaruh kata-katanya itu atas orang-orang yang mengepungnya. Demikian juga wajah orang tinggi besar itu tampak berubah. Dahinya berkerinyut dan alisnya ditariknya tinggi-tinggi. Demang tua itu sekali lagi mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi kemudian ia bertanya lagi dengan nada yang masih sesopan tadi. Menilik sikap Ki Sanak, memang tepatlah kalau ki sanak seorang pegawai istana, atau setidak-tidaknya orang-orang kota seperti yang pernah aku kenal. Tetapi kedatangan Ki Sanak seorang diri kemari, merupakan sebuah pertanyaan bagi kami. Sekali lagi tampak wajah-wajah di sekitar Mahesa Jenar berubah. Mereka jadi ikut bertanya pula di dalam hati. Ya, kenapa seorang pegawai istana pergi sedemikian jauhnya seorang diri? Tetapi tak seorangpun yang mengucapkan pertanyaan itu. Orang ini ingin memperbodoh kita Kakang, kembali terdengar suara gemuruh orang yang tinggi besar itu dengan matanya yang berkilat-kilat. Sekali lagi ia memandang berkeliling, kepada orang-orang yang berdiri memagari. Dan sekali lagi orang-orang itu mengangguk-angguk kecil tanpa keyakinan apa-apa. Sikap orang yang tinggi besar itu semakin tidak menyenangkan hati Mahesa Jenar, tetapi ia masih saja menahan dirinya dan menjawab dengan ramah pula. Bapak Demang, sebenarnya memang aku mempunyai banyak keterangan mengenai diriku, tetapi sebaiknyalah kalau keterangan-keterangan itu aku berikan khusus untuk Bapak Demang, tidak di hadapan orang banyak. Sebab ada hal-hal yang tidak perlu diketahui umum. Mahesa Jenar sama sekali tidak menduga bahwa perkataannya itu mempunyai akibat yang kurang baik. Orang yang tinggi besar itu, yang sebenarnya bernama Baureksa, dan bertugas sebagai kepala penjaga keamanan Kademangan Prambanan, merasa sangat tersinggung. Ia merasa direndahkan oleh orang asing itu, dengan mengesampingkannya dari pembicaraan. Karena itu ia membentak dengan suaranya yang lantang. Apa perlunya Kakang Demang meladeni orang semacam kau? Sekarang saja kau bicara. Perlakuan orang itu sebenarnya sudah keterlaluan. Tetapi Mahesa Jenar masih berusaha untuk menahan diri, dan menjawab dengan baik. Apa yang perlu kau ketahui telah aku katakan. Belum cukup, jawab Baureksa semakin marah. Apa yang akan kau katakan kepada kakang Demang? Mahesa Jenar memandang kepada orang tua itu. Wajahnya yang bening menjadi agak suram. Sebenarnya ia dapat menerima permintaan Mahesa Jenar, tetapi ia tidak dapat menyakiti hati bawahannya yang merupakan tulang punggung kademangannya. Memang, Demang tua itu sendiri sering merasa tidak senang akan sikap Baureksa. Tetapi orang ini terlalu berpengaruh karena kehebatannya. Malahan pernah terpikir olehnya untuk suatu waktu memberi pelajaran sedikit kepada Baureksa, sebab meskipun usianya telah lanjut tetapi ia masih merasa mampu untuk melakukannya. Tetapi hal yang demikian akan tidak baik pengaruhnya terhadap rakyat yang justru sekarang memerlukan perlindungan dari bahaya yang setiap saat dapat mengancam. Dan tiba-tiba saja ia mendapat suatu pikiran baik. Menilik tubuh, sikap dan gerak-gerik Mahesa Jenar, orang tua yang sudah banyak pengalaman itu segera mengenal, bahwa Mahesa Jenar bukan orang yang pantas direndahkan. Ia tersenyum dalam hati karena pikiran itu. Lalu bagaimanakah sebaiknya Baureksa? tanya Demang tua itu. Sikap Baureksa semakin garang. Ia merasa bahwa demangnya akan menyerahkan segala sesuatu kepadanya. Orang itu harus berkata sebenarnya, katanya. Kalau tidak mau? pancing Demang itu. dipaksa! jawab Baureksa tegas-tegas. Dan jawaban ini memang diharapkan sekali oleh demang tua itu. Bagus… terserah kepadamu. Yang lain sebagai saksi atas apa yang terjadi, katanya. Keadaan berubah menjadi tegang. Tak seorangpun mengerti maksud dari kepala daerahnya itu. Sebenarnya orang-orang itu sama sekali tak menghendaki kejadian-kejadian semacam itu, sebab dalam pandangan mereka, Mahesa Jenar adalah orang yang sopan dan baik. Kalau sekali Baureksa sudah bertindak, biasanya tak dapat dikendalikan lagi. Dan orang yang diperiksanya biasanya kesehatannya tak dapat pulih kembali. Tetapi tak seorang pun yang berani menghalang-halanginya sifat-sifatnya yang mengerikan itu. Apalagi kalau orang itu benar-benar pegawai istana, maka apakah kiranya yang akan terjadi?. Berbeda sekali dengan pikiran Baureksa.Ia menjadi gembira seperti anak-anak yang mendapat mainan. Meskipun ia juga mempunyai otak, tetapi tidak dapat bekerja dengan baik. Adatnya keras dan lekas marah. Apalagi setelah beberapa waktu yang lalu, pada waktu terjadi huru hara, dan ia tidak mampu untuk mengatasinya. Maka sekarang ia ingin mengembalikan kepercayaan rakyat atas kehebatannya dengan menumpahkan segala dendamnya kepada orang asing itu. Tetapi untuk itu ia tidak akan segera turun tangan sendiri. Ia ingin melihat dahulu sampai dimana kekuatan barang mainannya. Sebab bagaimana tumpulnya otak Baureksa, namun ia masih juga melihat suatu kemungkinan yang ada pada calon korbannya. Sebaliknya Mahesa Jenar mengeluh dalam hati. Cepat ia dapat menangkap maksud Demang tua yang bijaksana itu dengan menangkap pandangan matanya. Permainan berbahaya. Demang tua itu sama sekali belum mengenal aku, sebaliknya aku pun belum mengenal orang macam Baureksa itu, pikir Mahesa Jenar. Tetapi bagaimana pun, Mahesa Jenar terpaksa melayaninya kalau ia tidak mau menjadi bulan-bulanan celaka. Gagak Ijo…! tiba-tiba terdengar Baureksa berteriak keras-keras. Dan orang yang dipanggilnya Gagak Ijo itu dengan gerak yang cekatan meloncat ke hadapan Baureksa. Gagak Ijo yang nama sebenarnya adalah Jagareksa adalah seorang pembantu, bahkan tangan kanan Baureksa. Kedua-duanya mempunyai sifat yang hampir sama. Tubuhnya agak pendek bulat, sedang otot-ototnya menjorok keluar membuat garis-garis yang sama jeleknya dengan garis-garis wajahnya. Suruh orang itu bicara, perintah Baureksa. Bicara tentang apa Kakang? tanya Gagak Ijo. Mendengar pertanyaan itu, Baureksa memaki keras-keras, Bodoh kau. Suruh dia bicara, di mana rumahnya, di mana gerombolannya, dan suruh dia katakan kapan gerombolannya akan datang lagi untuk menculik gadis.- Gagak Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekarang ia sudah tahu tugasnya. Memeras keterangan dari orang asing itu. Perlahan-lahan Gagak Ijo memutar tubuhnya, menghadap Mahesa Jenar. Sebentar ia mengatur jalan nafasnya, dan dengan perlahan-lahan pula ia mendekati korbannya. Suasana menjadi bertambah tegang. Peristiwa semacam ini telah berulang kali terjadi, biasanya dilakukan terhadap para penjahat atau terhadap mereka yang melanggar adat. Tetapi sekali ini, orang-orang kademangan itu merasakan adanya suatu perbedaan dengan kejadian-kejadian yang pernah terjadi. “Jawab setiap pertanyaanku dengan betul,” perintah Gagak Ijo dengan garangnya. Matanya menjadi berapi-api dan mulutnya komat-kamit. “Siapa namamu?” Pertanyaan yang pertama ini mengejutkan Mahesa Jenar. Ia tidak menduga bahwa dari mulut orang itu akan keluar pertanyaan yang demikian. Maka untuk pertanyaan yang pertama ini Mahesa Jenar menjawab dengan tenangnya. “Namaku Mahesa Jenar.” rupa-rupanya ketenangannya ini sangat mengagumkan orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu. Tidak pernah ada seorang pun yang dapat bertindak setenang itu menghadapi Gagak Ijo, apalagi Baureksa. “Bagus…” dengus Gagak Ijo. “Nama yang bagus. Mengenal namamu adalah perlu sekali bagiku. Kalau terpaksa tanganku membunuhmu. Orang-orang sudah tahu bahwa kau bernama Mahesa Jenar.” Gagak Ijo lalu mengangguk-angguk dengan sikap yang sombong sekali. Memang, ia mempunyai kebiasaan untuk tidak segera bertindak. Ia senang melihat korbannya ketakutan dan bahkan pernah ada yang sampai terjatuh di tempat. Tetapi kali ini ia merasa aneh, Mahesa Jenar tenang bukan kepalang. Dan ini sangat menjengkelkannya. “Kau sudah dengar perintah kakang Baureksa? Apa yang harus kau katakan, sekarang katakanlah.” “Tak ada yang akan aku katakan,” jawab Mahesa Jenar. Gagak Ijo terkejut mendengar jawaban itu, sehingga membentak keras. “Bicaralah! Lalu suaranya ditahan perlahan-lahan. “Bicaralah supaya aku tidak usah memaksamu.” Mahesa Jenar kemudian menjadi jemu melihat sikap Gagak Ijo yang sombong itu. Maka ia mengambil keputusan untuk cepat-cepat menyelesaikan pertunjukan yang membosankan itu, dengan membuat Gagak Ijo marah. “Baiklah aku berkata, bahwa rumahku adalah jauh sekali seperti yang sudah aku katakan kepada Bapak Demang tadi. Tetapi kedatanganku kemari sama sekali tidak akan menculik gadis-gadis. Aku datang kemari karena aku ingin menculik kau untuk menakuti gadis-gadis. Mereka yang mendengar jawaban itu terkejut bukan main. Alangkah beraninya orang asing itu. Malahan akhirnya beberapa orang menjadi hampir-hampir tertawa, tetapi ditahannya kuat-kuat, kecuali demang tua itu yang tampak tersenyum-senyum. Sebaliknya Gagak Ijo menjadi marah bukan kepalang. Mukanya menjadi merah menyala dan giginya gemeretak. Selama hidup ia belum pernah dihinakan orang sampai sedemikian, apalagi di hadapan Demang dan Baureksa. Maka ia tidak mau lagi berbicara, tetapi ia ingin menyobek mulut Mahesa Jenar yang sudah menghinanya itu. Dengan gerak yang cepat ia meloncat dan kedua tangannya menerkam wajah Mahesa Jenar. Orang-orang yang menyaksikan gerak Gagak Ijo itu menjadi tergoncang hatinya. Mereka telah berpuluh kali melihat ketangkasan Gagak Ijo, tetapi kali ini gerakannya adalah diluar dugaan. Hal ini terdorong oleh kemarahannya yang meluap-luap, sehingga semua orang yang menyaksikan menahan nafas sambil berdebar-debar. Tetapi gerakan ini bagi Mahesa Jenar adalah gerakan yang sangat sederhana. Bahkan mirip dengan gerak yang tanpa memperhitungkan kemungkinan yang ada pada lawannya. Untuk menghindari serangan ini Mahesa Jenar tidak perlu banyak membuang tenaga. Hanya dengan sedikit mengisarkan tubuhnya dengan menarik sebelah kakinya, Mahesa Jenar telah dapat menghindari terkaman Gagak Ijo itu. Dengan demikian, karena dorongan kekuatannya sendiri Gagak Ijo menjadi kehilangan keseimbangan. Dalam keadaan yang demikian, sebenarnya Mahesa Jenar dengan mudahnya dapat membalas serangan itu dengan suatu pukulan yang dapat mematahkan tengkuk Gagak Ijo. Tetapi Mahesa Jenar tahu, kalau dengan demikian akibatnya akan hebat sekali. Karena itu, ia hanya menyerang Gagak Ijo dengan sentuhan jarinya, untuk mendorong punggung Gagak Ijo dengan arah yang sama. Gagak Ijo yang memang sudah kehilangan keseimbangan, segera jatuh tertelungkup mencium tanah. Mereka yang berdiri mengitari arena pertarungan itu, mula-mula mengira bahwa akan hancurlah muka orang asing itu diremas oleh Gagak Ijo. Tetapi ketika mereka menyaksikan kenyataan itu, menjadi sangat terkejut dan heran. Gagak Ijo itu sendiri malahan yang mencium tanah. Banyak diantara mereka tidak dapat melihat apa yang sudah terjadi. Tetapi dengan demikian Mahesa Jenar tambah berhati-hati, sebab ia tahu bahwa apa yang dilakukan Gagak Ijo adalah diluar kesadarannya, karena terdorong oleh kemarahannya yang memuncak. Sehingga dalam tindakan selanjutnya, pastilah Gagak Ijo akan memperbaiki kesalahannya. Gagak Ijo sendiri kemudian merasa bahwa tindakannya kurang diperhitungkan lebih dahulu. Ia baru sadar ketika hidungnya sudah menyentuh tanah, dan sebentar kemudian seluruh mukanya. Peristiwa ini adalah memalukan sekali. Tokoh seperti Gagak Ijo dengan bulat-bulat terbanting di atas tanah tanpa dapat berbuat sesuatu untuk menahannya. Karena itu ia menjadi semakin marah. Hatinya menjadi seperti terbakar dan matanya merah menyala-nyala. Seluruh tubuhnya menggigil seperti orang kedinginan. Tetapi setelah mengalami kejadian tersebut, ia tidak berani menyerang dengan membabi buta. Karena itu, ketika ia mulai menyerang lagi, ia berbuat lebih hati-hati. Dengan kecepatan yang tinggi, ia menyerang dengan kakinya ke arah perut Mahesa Jenar. Tetapi dengan cepat pula serangan ini dapat dihindari, dan sebelum Gagak Ijo dapat berdiri tegak kembali, Mahesa Jenar telah membalas menyerang dadanya. Tetapi Gagak Ijo cukup waspada Gagak Ijo membuat gerakan setengah lingkaran ke belakang untuk menghindari serangan Mahesa Jenar. Bersamaan dengan itu, kakinya menyambar tangan Mahesa Jenar. Mahesa Jenar cepat-cepat menarik serangannya, dan secepat itu pula tangannya yang lain menyentuh kaki Gagak Ijo itu ke atas. Sekali lagi Gagak Ijo kehilangan keseimbangan, dan kali ini ia jatuh terlentang. Dengan gugup Gagak Ijo berguling dan kemudian berusaha tegak kembali. Sementara itu Mahesa Jenar telah jemu dengan permainan ini. Ia ingin segera mengakhirinya. Maka ketika Gagak Ijo hampir berhasil menegakkan dirinya, seperti sambaran kilat telapak tangan Mahesa Jenar melekat di dada Gagak Ijo. Meskipun Mahesa Jenar hanya mempergunakan tenaga dorong yang tidak seberapa, tetapi akibatnya hebat sekali. Nafas Gagak Ijo mendadak serasa berhenti, dan pandangannya menjadi kuning berkunang-kunang. Meskipun dengan susah payah, ia mencoba untuk menahan diri, tetapi perlahan-lahan ia terjatuh kembali. Ia terduduk di tanah dengan nafas tersenggal-senggal, sedangkan kedua tangannya berusaha untuk menahan berat badannya. Orang-orang yang melihat pertandingan itu berdiri tanpa berkedip. Gagak Ijo termasuk orang yang dikagumi di desa itu. Tetapi Mahesa Jenar dengan mudahnya dapat menjatuhkannya. Ilmu macam apakah yang dimilikinya? Belum lagi mereka sempat berpikir lebih banyak, mereka dikejutkan oleh gertak Baureksa yang gemuruh seperti membelah langit. Ketika ia menyaksikan Gagak Ijo, orang kepercayaannya dipermainkan orang asing itu, hatinya menjadi panas. Meskipun di antara kemarahannya itu terselip pula perasaan was-was. Ternyata orang yang dianggapnya barang mainan itu, adalah barang mainan yang mahal. Itulah sebabnya maka sebelum mengadu tenaga, Baureksa akan berusaha untuk mengurangi kegesitan lawannya dengan melukainya lebih dahulu. Cambuknya yang besar dan panjang dengan potongan-potongan besi, batu dan tulang-tulang itu diputarnya di atas kepala sampai menimbulkan suara berdesing-desing. Mahesa Jenar kini harus benar-benar waspada. Suara yang berdesing-desing itu sedikit-banyak dapat menunjukkan kira-kira sampai di mana kekuatan Baureksa. Hanya apakah Baureksa dapat mempergunakan kekuatan serta tenaganya dengan baik, itulah yang masih perlu diuji. Orang-orang yang menyaksikan menjadi semakin berdebar-debar. Apalagi ketika mereka melihat Baureksa akan mempergunakan senjatanya, maka menurut pikiran mereka, sedikit kemungkinannya Mahesa Jenar dapat menyelamatkan diri. Cambuk Baureksa yang berputar-putar itu, cepat sekali menyambar leher Mahesa Jenar, tetapi secepat itu pula Mahesa Jenar membungkuk menghindari, sehingga cambuk itu tidak mengenai sasarannya. Baureksa yang merasa serangannya gagal menjadi semakin marah. Dengan cepat ia mengubah arah cambuknya dan dengan mendatar ia menyerang arah dada. Mahesa Jenar sadar bahwa dalam jarak yang agak jauh sulit baginya untuk menghindari serangan-serangan cambuk Baureksa yang cukup cepat dan keras. Karena itu sebelum cambuk Baureksa sempat mengenainya, Mahesa Jenar dengan gerakan kilat meloncat maju, dekat sekali di samping Baureksa, dan menggempur tangan Baureksa yang memegang senjata itu. Gempuran itu terasa hebat sekali dan tak terduga-duga. Terasa tulang-tulang Baureksa gemertak. Perasaan sakit serta panas menyengat-nyengat, tidak hanya pada bagian yang terkena, tetapi seakan-akan menjalar sampai ke ubun-ubun. Cambuknya segera terlepas dan melontar jauh. Baureksa sama sekali tidak mengira bahwa hal yang semacam itu bisa terjadi. Karena itu sama sekali ia tak dapat memberikan perlawanan, dan membiarkan cambuknya terlontar. Mengalami hal semacam itu, meskipun terpaksa menahan sakit, Baureksa menjadi bertambah kalap. Ia mengumpulkan segenap tenaganya dan ingin menebus malunya dengan mematahkan leher lawannya. Dengan sekuat tenaga ia menyembunyikan rasa sakitnya, sehingga Mahesa Jenar tak dapat mengukur akibat gempurannya dengan pasti. Baureksa cepat-cepat menarik diri untuk segera bersiap-siap menyerang, sedangkan Mahesa Jenar pun telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan. Kembali Baureksa menyerang lawannya ke dua arah sekaligus. Tangan kanannya menyodok perut, sedangkan tangan kirinya menghantam pelipis. Mendapat serangan ini Mahesa Jenar segera merendahkan diri serta memutar tubuh. Tetapi ketika Baureksa melihat bahwa Mahesa Jenar mencoba menghindar, segera Baureksa mengubah arah serangannya. Cepat-cepat ia menarik tangannya dan dengan satu gerakan dahsyat ia meloncat dan menendang kepala lawannya. Mahesa Jenar tidak menduga bahwa Baureksa dapat meloncat secepat itu. Karena itu ia tidak lagi sempat mengelak. Sebenarnya Mahesa Jenar masih akan menghindari bentrokan-bentrokan secara langsung, sebab sampai sekian ia masih belum dapat menjajagi sampai di mana kekuatan Baureksa yang sebenarnya. Tetapi kali ini, ia harus melawan serangan kaki Baureksa itu. Maka untuk tidak mengalami hal-hal yang tidak dikehendaki atas dirinya, terpaksa Mahesa Jenar mempergunakan sebagian besar dari tenaganya yang dipusatkan pada siku tangan kanannya. Ia merendah sedikit sambil memiringkan tubuhnya. Maka, terjadilah suatu benturan yang hebat antara kaki Baureksa dengan siku tangan Mahesa Jenar. Akibatnya hebat pula. Baureksa ternyata telah mengerahkan seluruh tenaganya, dan ketika ia melihat bahwa Mahesa Jenar tidak sempat mengelakkan serangannya, ia sudah memastikan bahwa orang asing itu akan terpelanting dan tidak akan dapat bangun kembali. Tetapi dugaan itu ternyata meleset sama sekali. Ketika kaki Baureksa yang sudah mengerahkan seluruh tenaganya itu menyentuh siku tangan Mahesa Jenar, Baureksa merasa bahwa kakinya seolah-olah menghantam dinding batu yang keras sekali. Dan kini tulang-tulang kakinyalah yang bergemeretakan, sedangkan ia terpental oleh kekuatannya sendiri dan dengan kerasnya terbanting di tanah, sehingga tidak sadarkan diri. Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu, serentak hatinya bergetar, sampai beberapa orang menggigil karena tegang. Beberapa orang tidak dapat mengikuti dengan pandangan matanya tentang apa yang terjadi. Yang mereka ketahui hanyalah Baureksa terbanting di tanah hingga pingsan. Demang Pananggalan, demikian nama Demang tua itu, hatinya menjadi cemas menyaksikan pertempuran itu. Sebab kalau sampai terjadi sesuatu hal, dia lah yang harus bertanggungjawab. Cepat-cepat ia mendekati Baureksa yang sedang pingsan. Dirabanya seluruh tubuhnya. Ia menjadi terkejut sekali ketika tangannya meraba kaki Baureksa yang membentur siku Mahesa Jenar. Kaki itu terasa dingin sekali dan di beberapa bagian terasa adanya luka dalam yang berbahaya bila tidak lekas-lekas mendapat pertolongan. Orang-orang yang berkerumun menjadi terdiam seperti patung. Mereka tidak tahu lagi bagaimana harus menilai kehebatan orang asing itu, yang dengan bermain-main saja telah dapat mengalahkan Gagak Ijo dan kemudian sekaligus Baureksa. Sementara itu Baureksa dan Gagak Ijo telah diangkat orang ke dalam sambil menunggu Ki Asem Gede. Kini perhatian orang seluruhnya tertumpah kepada Mahesa Jenar yang masih belum bergeser dari tempatnya. Hanya sebentar mereka melirik juga kepada Demang Pananggalan, sambil bertanya-tanya di dalam hati, apakah seterusnya yang akan diperbuat oleh demang tua itu? Sebenarnya pada saat itu Demang Pananggalan telah mengambil keputusan untuk mempersilahkan Mahesa Jenar masuk ke rumah kademangan dan memberikan keterangan-keterangan. Tetapi segera keadaan menjadi tegang kembali ketika seseorang dengan langkah yang tegap dan tenang memasuki gelanggang. “Kakang Demang,” kata orang itu dengan nada yang berat berwibawa, “perkenankanlah aku memperkenalkan diri terhadap orang asing ini. ”Alangkah terkejutnya Demang Pananggalan melihat orang itu memasuki gelanggang. Ia menjadi kebingungan, sebab sama sekali ia tidak menduga bahwa persoalannya akan berlarut-larut. Orang itu adalah pemimpin pasukan yang menangkap Mahesa Jenar tadi, dan ia adalah adik kandung demang tua itu. Beberapa kali adik kandungnya yang bernama Mantingan itu menyatakan ketidaksenangannya atas sikap Baureksa yang sering adigang-adigung-adiguna. Dan mendadak ia ingin membelanya. Melihat kebingungan dan keragu-raguan Demang Pananggalan, Mantingan menyambung, “Aku tidak akan membela seseorang, Kakang. Tetapi aku tidak mau orang lain menyangka betapa lemahnya kademangan ini. Kami tidak tahu siapakah orang asing itu. Syukurlah kalau ia bermaksud baik, tetapi kalau orang itu ingin menjajagi kekuatan kita, alangkah berbahayanya. Sedangkan keterangan yang diberikan bukanlah berarti suatu kebenaran yang harus kita percaya demikian saja.” “Tetapi maksudku bukan kau, Mantingan,” kata demang itu tergagap. Sebab ia tahu bahwa adiknya adalah orang yang berilmu. Ia adalah orang yang lebih hebat daripada dirinya sendiri. Ia adalah murid kedua Ki Ageng Supit di Wanakerta. Mantingan adalah seorang dalang yang secara kebetulan sedang mengunjungi kampung halamannya, yang baru saja didatangi oleh gerombolan yang menculik gadis-gadis. Dan Mantingan diminta untuk sementara tetap tinggal, kalau ada kemungkinan gerombolan penculik itu datang kembali. Tetapi saat itu Mantingan seperti tidak mendengar kata-kata kakaknya. Ia segera menyerahkan trisulanya kepada orang terdekat yang dengan gugup menerima senjata itu tanpa kesadaran. Ki Sanak, kata Mantingan kepada Mahesa Jenar dengan sopan, aku belum pernah bertemu dengan kau sebelumnya dan juga belum pernah mempunyai suatu persoalan apapun. Tetapi tadi kau telah mempertunjukkan ketangkasan dan ketangguhanmu. Maka perkenankanlah aku sekarang mencoba untuk melayanimu dengan sedikit pengetahuan yang aku miliki. Mahesa Jenar sibuk menduga-duga dalam hati. Orang ini sikapnya agak berbeda dengan orang lain yang berada di situ. Menilik sikapnya, sudah seharusnya kalau Mahesa Jenar lebih berhati-hati melawannya. Dan sekarang, sambung Mantingan, awaslah… aku mulai. Dan sesudah itu, benar-benar ia mulai menyerang. Langkahnya tetap ringan. Ia membuka serangannya dengan kaki, sedangkan kedua tangannya bersilang melindungi dada. Melihat serangan ini, Mahesa Jenar terkejut. Ia kenal gerakan pembukaan ini. Ketika orang itu dipanggil namanya, sama sekali ia tidak menduga bahwa orang itu pulalah yang berdiri di hadapannya. Bahkan sedang mengadu tenaga dengan dirinya. Ia adalah Dalang Mantingan dari Wanakerta, murid Ki Ageng Supit. Ia sering mendengar nama itu. Bahkan pernah tersebar khabar di Demak bahwa Dalang Mantingan seorang diri dapat menangkap tiga saudara perampok dari Jarakah, di kaki Gunung Merapi, yang dikenal dengan satu nama: Samber Nyawa. Gerak pembukaan ini jelas berasal dari Ki Ageng Supit, yang meskipun belum setaraf dengan gurunya tetapi Ki Ageng Supit juga mempunyai nama yang dikagumi. Tetapi Mahesa Jenar tidak sempat berpikir banyak. Sebab ia segera sibuk melayani lawannya, yang bergerak menyambar-nyambar dengan gerakan-gerakan yang cukup tangguh. Akhirnya Mahesa Jenar tidak dapat hanya bersikap mengelak dan menghindar saja. Ia tidak bisa hanya bersikap mempertahankan diri saja. Untuk mengurangi kebebasan gerak lawannya, ia harus ganti menyerang. Serangan Ki Dalang Mantingan semakin lama menjadi semakin hebat pula. Tangannya bergerak-gerak dengan cepat dibarengi gerak kakinya yang ringan cekatan. Sekali tangan Mantingan itu sudah berubah menyambar kening. Tetapi Mahesa Jenar adalah bekas prajurit pengawal raja, dan ia adalah murid Pangeran Handayaningrat yang juga disebut Ki Ageng Pengging Sepuh. Untuk melawan Mantingan, sengaja Mahesa Jenar mempergunakan tanda-tanda khusus dari perguruannya, sebab jelas bahwa perguruannya mempunyai beberapa persamaan dengan gerak-gerak yang dilakukan oleh Mantingan. Segera Mantingan pun dapat pula mengenal tata berkelahi Mahesa Jenar yang juga seperti ilmunya sendiri, mempunyai sumber yang sama. Yaitu peninggalan almarhum Bra Tanjung, yang diwarisi oleh Raden Alit yang sedikit bercampur dengan gerak-gerak penyerangan yang mantap dari Lembu Amisani. Tetapi yang ia tidak tahu dari manakah Mahesa Jenar mempelajari tata berkelahi itu, yang memiliki banyak perubahan dan penyempurnaan-penyempurnaan dengan gabungan-gabungan yang tepat dan berbahaya. Itulah sebabnya Mantingan harus berhati-hati benar dan memeras segala kepandaiannya untuk memenangkan pertandingan ini. Ketika Mantingan berhasrat untuk cepat-cepat mengakhiri pertandingan ini, ia memusatkan segala tenaga dan pikiran untuk kemudian sebagai angin ribut melanda lawannya. “Hebat …!” pikir Mahesa Jenar ketika ia menerima serangan bertubi-tubi dari Mantingan. “Memang perguruan Wanakerta memiliki keistimewaan yang tak dapat diabaikan.” Kemudian terpaksa ia membuat beberapa langkah surut. Tetapi Ki Dalang Mantingan tidak menyia-nyiakan tiap kesempatan. Cepat ia maju dengan melancarkan gempuran-gempuran hebat. Rupa-rupanya Ki Dalang Mantingan menjadi agak gusar ketika serangan-serangannya tidak segera dapat mengenai lawannya, bahkan lawannya itu dapat pula mendesaknya. Karena itu gerakan-gerakan serta serangan-serangannya menjadi bersungguh-sungguh. Ia tidak mau mengorbankan namanya seperti Gagak Ijo dan Baureksa. Demang Panggalan menjadi semakin cemas dan bingung. Ia tidak menghendaki orang asing yang belum diketahuinya benar-benar asal-usulnya itu mendapat cedera, sebab tidak mungkin ia berdiri sendiri. Apalagi kalau benar-benar ia orang Istana Demak. Tetapi disamping itu, Demang Pananggalan sangat sayang kepada adiknya, dan ia sama sekali tidak rela kalau adiknya mengalami hal-hal yang tidak diharapkan, baik tubuhnya maupun namanya. Sementara itu pertarungan menjadi semakin sengit. Serangan-serangan Mantingan menjadi semakin dahsyat dan ia sudah hampir kehilangan pengamatan diri sehingga geraknya tak terkekang lagi. Ketika serangannya yang dilancarkan dengan kedua tangannya sekaligus mengarah ke sasaran yang berbeda dapat dihindari oleh Mahesa Jenar, cepat ia mengubah serangan itu dengan serangan berikutnya, dengan kaki yang mengarah ke perut Mahesa Jenar. Melihat perubahan itu Mahesa Jenar terpaksa meloncat mundur. Tetapi Mantingan rupa-rupanya sudah bertekad untuk memenangkan pertempuran itu dengan segera. Maka, demikian Mahesa Jenar meloncat mundur, disusulnya pula dengan kaki yang lain setelah ia memutarkan tubuhnya setengah lingkaran atas kaki yang pertama. Rupa-rupanya Mahesa Jenar sama sekali tidak menduga bahwa serangan-serangan Mantingan akan sedemikian bertubi-tubi datangnya, sehingga terasalah tumit Mantingan mengenai pinggangnya. Gempuran ini demikian hebat sehingga tubuh Mahesa Jenar bergetar dan hampir saja ia kehilangan keseimbangan. Meskipun tubuh Mahesa Jenar sudah cukup terlatih serta mempunyai daya tahan yang kuat, namun terasa juga bahwa tumit yang mengenai pinggangnya itu menimbulkan rasa sakit. Kena tendangan ini, hati Mahesa Jenar menjadi agak panas juga. Karena itu ia berketetapan hati untuk melayani Ki Demang Mantingan dengan lebih bersungguh-sungguh lagi. Maka segera geraknya berubah menjadi semakin cepat dan keras. Ia membalas setiap serangan dengan serangan pula. Dan ia sama sekali tidak mau tubuhnya disakiti oleh lawannya lagi. Ki Dalang Mantingan terkejut melihat perubahan tendangan lawannya. Maka segera ia sadar bahwa orang yang dilawannya itu berilmu tinggi. Tetapi segala sesuatunya telah terlanjur. Satu-satunya kemungkinan baginya adalah, lawannya menghendaki pertempuran itu akan berlangsung mati-matian. Dan memang sebenarnyalah demikian. Serangan-serangan Mahesa Jenar berikutnya datang bertubi-tubi seperti ombak yang bergulung-gulung menghantam pantai. Bagaimanapun kukuhnya batu-batu karang tebing, namun akhirnya segumpal demi segumpal berguguran jatuh juga ke laut. Dalang Mantingan mengeluh di dalam hati. Sebagai seorang yang telah banyak mempunyai pengalaman, ia merasa bahwa lawannya memiliki kepandaian yang lebih tinggi. Dan yang kemudian terjadi adalah, Ki Dalang Mantingan mulai tampak terdesak. Bagaimanapun ia berusaha, kini ia terpaksa untuk bertahan saja. Ia sama sekali tidak berkesempatan untuk menyerang. Bahkan beberapa kali ia telah dapat dikenai oleh lawannya, meskipun tidak di tempat-tempat yang berbahaya. Tubuh Mantingan terasa nyeri sekali. Meskipun demikian ia bukanlah Mantingan kalau sampai ia menyerah. Demang Pananggalan semakin kebingungan. Ia segera melihat kesulitan adiknya. Bagaimanapun, ia mempunyai perasaan tidak rela melihat hal yang demikian itu berlangsung. Mantingan yang dibangga-banggakan seluruh penduduk Kademangan, sekarang akan dikalahkan oleh orang asing di hadapan penduduknya sendiri. Karena itu hampir di luar sadarnya ia meloncat maju. Meskipun umurnya sudah lanjut dan tidak sekuat Mantingan, namun karena pengalamannya maka Demang tua ini nampaknya berbahaya juga. Langsung ia menyerang Mahesa Jenar dengan gerakan-gerakan yang tak terduga-duga untuk mengurangi tekanannya pada Mantingan. Maka segera Mahesa Jenar menjadi sibuk berpikir, apakah maksud yang sebenarnya dari Demang tua ini. Penduduk yang mengitari pertarungan itu dengan asyiknya menyaksikan gerak masing-masing dengan keheran-heranan, sebagai suatu hal yang belum pernah dilihat sebelumnya. Mendadak mereka terkejut sekali melihat Demang terjun langsung ke arena. Mereka serentak merasa bangun dari sebuah mimpi yang dahsyat. Dalam hal yang demikian, bagaimanapun hebatnya lawan, mereka merasa wajib membela pemimpin mereka meskipun harus menyerahkan nyawanya. Serentak mereka menggenggam senjata masing-masing makin erat. Sedangkan beberapa orang yang berdiri di baris paling depan sudah mulai bergerak. Mahesa Jenar segera melihat kesulitan yang bakal datang. Karena itu ia semakin waspada. Ia mulai menghimpun kekuatan-kekuatannya untuk membuat gempuran-gempuran terakhir, meskipun hal itu dilakukan dengan berat hati. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa ia harus terlibat dalam masalah yang sama sekali tak diketahui sebab-sebabnya. Tetapi bagaimanapun, ia tidak mau dijadikan bulan-bulanan dari peristiwa-peristiwa yang tak diketahui ujung- pangkalnya itu. Tiba-tiba ketika keadaan sudah sedemikian memuncaknya, halaman itu digetarkan oleh sebuah teriakan nyaring. Adi Pananggalan dan Adi Mantingan, apa yang terjadi? Teriakan yang dilontarkan sepenuh tenaga itu bergetar memenuhi halaman Kademangan, sehingga semuanya terkejut karenanya. Dan pertarungan itu pun segera terhenti. Ternyata yang berteriak itu adalah Ki Asem Gede, yang datang untuk mengobati Baureksa dan Gagak Ijo. Apa yang terjadi …? ulangnya. Perlahan-lahan matanya memandang berkeliling, ke wajah-wajah yang berdiri di sekitar halaman itu, kemudian dipandanginya wajah Mantingan dan Demang Pananggalan dengan matanya yang bening, sehingga membawa pengaruh yang sejuk. Alangkah damainya hati seorang yang mempunyai wajah dan mata yang begitu lunak. Umurnya sudah lanjut, dan hampir seluruh rambutnya sudah putih. KI Asem Gede berjalan perlahan mendekati Mahesa Jenar. Lalu membungkuk dengan hormatnya. “Anakmas, apa yang terjadi?” tanyanya, dan kemudian ia menoleh kepada Demang Pananggalan dan Ki Dalang Mantingan. “Apa yang terjadi?” ulangnya kembali. Demang Pananggalan merasa sulit untuk memberi jawaban. Memang ia sendiri bertanya kepada dirinya, kenapa ini sampai terjadi? Ketika Pananggalan tidak segera menjawab, Ki Asem Gede kembali memandang kepada Mahesa Jenar. Matanya hampir tiada berkedip, seakan-akan ia masih belum yakin kepada penglihatannya. Ketika ia memasuki halaman itu, dan melihat pertarungan yang sengit, hatinya tersirap. Ia pernah melihat orang yang bertempur melawan Demang Pananggalan kakak-beradik. Ia merasa pernah bertemu dengan orang itu di Demak, ketika ia bersama-sama dengan kakaknya, yang juga seorang ahli obat-obatan, memenuhi panggilan Panji Danapati, untuk mengobati anaknya yang sakit. Anakmas… katanya kemudian, bolehkah aku ini, orang tua yang tak berharga menanyakan sesuatu kepada anakmas? Melihat wajah orang tua itu, hati Mahesa Jenar menjadi lunak seketika, bahkan ia agak malu kepada diri sendiri yang masih sedemikian mudahnya terbakar oleh nafsu. Silahkan, Bapak… jawabnya. Apakah kiranya yang ingin Bapak ketahui? Maafkanlah orang tua ini, kata orang tua itu selanjutnya sambil menatap Mahesa Jenar dengan penuh perhatian. Maafkan aku, kalau aku berani mengatakan bahwa aku pernah bertemu dengan Anakmas di Demak. Mendengar pertanyaan ini Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Ia mulai mengingat-ingat, apakah ia benar-benar pernah bertemu dengan orang itu. Aku pernah datang ke Demak, sambung Ki Asem Gede, bersama-sama dengan kakakku, untuk mencoba menyembuhkan sakit putera Panji Danapati, salah seorang perwira dari perajurit pengawal raja. Mendengar kata-kata Ki Asem Gede, tiba-tiba Mahesa Jenar jadi teringat pertemuannya dengan orang tua itu. Pada saat itu ia sedang berkunjung ke rumah kawan sepasukan yang pada saat yang bersamaan sedang memanggil dua orang tua untuk mengobati anaknya yang sedang sakit. Dan ia jadi teringat, bahwa salah seorang dari kedua orang itu, adalah yang sekarang berdiri di hadapannya. Di sana… Ki Asem Gede melanjutkan, aku bertemu pula dengan seorang perwira lain, kawan Panji Danapati itu. Kenalkah Anakmas dengan Panji Danapati? Mahesa Jenar agak ragu, tetapi perlahan-lahan ia mengangguk juga. Nah… kata orang tua itu pula, kalau begitu aku tidak salah lagi, Anakmaslah yang aku jumpai di ndalem Danapaten. Benarkah? Mahesa Jenar masih saja ragu-ragu. Sebenarnya ia ingin melupakan saja apa yang pernah terjadi. Meskipun sebenarnya ia masih ingin mengabdikan diri kepada negerinya, tetapi dengan terbunuhnya Ki Kebo Kenanga, saudara seperguruannya, lebih baik ia menyingkirkan diri, dan mencari cara pengabdian yang lain. Juga penegasan tentang dirinya akan mempermudah setiap usaha untuk menangkapnya, apabila ia dianggap berbahaya seperti Ki Kebo Kenanga. Ia tidak ingin kalau sampai terjadi bentrokan dengan orang-orang yang sedang menjalankan kewajibannya, serta,kawan-kawan seperjuangannya dahulu. Maka lebih baik baginya untuk menjauhkan diri saja dari setiap kemungkinan itu. Tetapi sekarang ia tidak dapat mengingkari pertanyaan orang tua itu. Karena itu, kembali Mahesa Jenar mengangguk lemah. Oleh anggukan itu, tiba-tiba Ki Asem Gede membungkuk lebih hormat lagi dan dengan suaranya yang lembut ia berkata, Kalau begitu Anakmas ini adalah tuanku Rangga Tohjaya. Perkataan Ki Asem Gede itu seperti petir datang menyambar telinga Ki Dalang Mantingan serta Demang Pananggalan. Ia pernah mendengar nama itu, bahkan nama itu terlalu besar untuk disebut-sebut sebagai seorang pahlawan yang sudah mengamankan Demak dari gangguan-gangguan kejahatan. Mahesa Jenar sendiri agak terkejut juga mendengar nama itu disebutkan. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain daripada mengiyakan. Sebab Ki Asem Gede itu pasti pernah mendengarnya dari Panji Danapati, bahwa ia sebagai seorang perwira pengawal raja, disamping namanya sendiri mendapat gelar Rangga Tohjaya. Demang Pananggalan dan Ki Demang Mantingan masih berdiri termangu-mangu. Mereka masih belum yakin benar akan kata-kata Ki Asem Gede, sampai Ki Asem Gede menyapanya. Adi Pananggalan dan Adi Mantingan, belumkah adi berdua pernah mendengar nama itu? Mereka berdua tersadar oleh sapa itu. Dengan hati-hati Demang Pananggalan mencoba bertanya, Ki Asem Gede, aku memang pernah mendengar gelar itu serta kebesarannya, tetapi aku belum mengenal wajahnya, karena aku orang yang picik dan sama sekali tak berarti. Tetapi perkenankanlah aku bertanya bahwa beliau tadi berkenan menyebut gelarnya dengan Mahesa Jenar …? Ki Asem Gede tertawa lirih. Benar Adi berdua, Mahesa Jenar adalah namanya, sedang gelarnya sebagai seorang prajurit adalah Rangga Tohdjaja. Hati Demang Pananggalan dan Dalang Mantingan berdegup keras. Tetapi pandangan mata mereka masih mengandung seribu macam pertanyaan, sehingga akhirnya Mahesa Jenar sendiri mengambil keputusan untuk mengatakan keadaannya yang sebenarnya sebagai suatu hal yang tak mungkin lagi diingkari. Bapak Demang dan Kakang Mantingan, memang sebenarnyalah aku yang bernama Mahesa Jenar, telah menerima anugerah nama sebagai seorang prajurit, Rangga Tohjaya. Mendengar penjelasan itu detak jantung Demang Pananggalan dan Dalang Mantingan serasa akan berhenti. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa mereka telah berhadap-hadapan dengan seorang yang sakti. Untunglah bahwa segala sesuatunya belum terlanjur. Kalau sampai terjadi Rangga Tohjaya mengeluarkan segala kesaktiannya maka sulitlah bagi mereka semua untuk dapat keluar dari halaman itu dengan masih bernafas. Seperti digerakkan oleh satu tenaga penggerak, Dalang Mantingan dan Demang Pananggalan cepat-cepat melangkah maju ke hadapan Mahesa Jenar, dan bersama-sama membungkuk hormat. Dengan agak terputus-putus karena berbagai perasaan yang berdesakan di dada, Demang Pananggalan berkata, Kami mohon ampun ke hadapan Anakmas Rangga Tohjaya, bahwa kami telah berbuat suatu kesalahan yang besar sekali. Serta mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas kemurahan Anakmas yang tidak sekaligus menghabisi jiwa kami. Dan sekarang kami menjerahkan diri untuk menerima segala hukuman yang seharusnya kami jalani. Mahesa Jenar terharu juga melihat Demang tua itu ketakutan. Sejak semula ia sudah menduga bahwa Demang tua itu sama sekali tak bermaksud jahat kepadanya. Hanya karena perkembangan keadaan saja maka semuanya itu terjadi. Bahkan mungkin di luar dugaan Demang tua itu sendiri. Maka berkatalah Mahesa Jenar, “Bapak Demang Pananggalan dan Kakang Mantingan, tak ada sesuatu yang harus aku maafkan. Yang sudah terjadi tak perlu disesali. Yang perlu, sekarang silahkan Ki Asem Gede mengobati kedua orang-orangmu yang terluka. Tetapi percayalah, aku sama sekali tidak bermaksud untuk melukainya benar-benar. Kembali Demang Pananggalan dan Mantingan mengagguk hormat, lalu mereka mempersilahkan Mahesa Jenar masuk ke Kademangan. Orang-orang yang berada di halaman menyaksikan semuanya itu dengan keheran-heranan. Mereka yang pernah mendengar nama Rangga Tohjaya dan pernah mendengar kesaktiannya, segera bercerita dengan suara yang berderai-derai, seakan-akan dengan mengenal nama itu mereka sudah terhitung orang yang terkemuka dalam kalangan kepahlawanan. Sementara itu Ki Asem Gede sudah mulai melakukan kewajibannya. Ternyata luka Gagak Ijo dan Baureksa tidak ringan. Beberapa kali mereka tak sadarkan diri. Untung Ki Asem Gede segera turun tangan. Kalau sampai terlambat satu malam saja, mungkin mereka sudah tak tertolong lagi. Kecuali itu, ternyata Ki Dalang Mantingan juga mengalami cedera. Beberapa bagian tubuhnya tidak bekerja seperti biasa dan di beberapa bagian yang terkena serangan Mahesa Jenar tampak membengkak dan kemerah-merahan. Untunglah, daya tahan tubuh Mantingan cukup kuat sehingga Ki Asem Gede tidak perlu bekerja terlalu keras untuk menolongnya. Ketika keadaan sudah agak reda, dan Ki Asem Gede sudah tidak sibuk lagi, duduklah mereka di atas bale-bale besar di pendapa Kademangan, mengelilingi lampu minyak yang nyalanya bergoyang-goyang diayun-ayunkan angin. Di luar, gelap malam mulai turun sebagai tabir raksasa berwarna hitam kelam. Sedangkan di langit satu demi satu bintang mulai bercahaya menembus hitamnya malam. Mereka mulai berbicara dan bercerita tentang diri masing-masing. Mahesa Jenar tidak lagi menyembunyikan sesuatu. Diceritakannya seluruh masalah mengenai dirinya, kenapa ia sampai meninggalkan Demak. Aku telah menanggalkan pakaian keprajuritan dan telah menyisihkan segala macam senjata, dengan suatu keinginan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Tetapi rupa-rupanya Tuhan sendiri belum berkenan, sehingga aku masih dikendalikan oleh nafsu, kata Mahesa Jenar. Semuanya yang mendengarkan mengangguk-anggukan kepala, dan mereka merasa juga bersalah, sehingga Mahesa Jenar terpaksa menyesali dirinya. Sementara itu mulailah hidangan mengalir. Demang Pananggalan yang merasa telah menyakiti hati Mahesa Jenar, ingin sedikit mengurangi kesalahannya dengan menghidangkan apa yang mungkin dihidangkan pada saat itu. Sedangkan Ki Asem Gede, kecuali seorang yang bijaksana serta mempunyai ilmu obat-obatan, ternyata juga seorang yang jenaka. Banyak hal yang dapat ia ceritakan tentang dirinya dengan lucu sekali, sehingga suasana menjadi meriah dan akrab. Diceritakan, bagaimana ia terpaksa sekali mengobati seorang yang sakit, hanya dengan air saja, tanpa ramu-ramuan obat yang lain. Sebab, pada saat itu ia sedang berada dalam perjalanan dan tak membawa obat-obatan yang diperlukan. Tetapi… tiga hari kemudian orang itu datang kepadaku, dengan membawa empat ikan gurameh sebesar penampi, sebagai ucapan terima kasih atas obat-obatku yang mujarab, kata Ki Asem Gede. Sebabnya, sambung Ki Asem Gede, kenapa obat-obatku banyak yang dapat berhasil, adalah sebagian besar dari mereka yang aku obati mempunyai kepercayaan kepadaku. Bahwa seseorang yang menderita sakit merasa berbesar hati, adalah merupakan obat yang banyak menolongnya. Lebih daripada itu, semuanya adalah berkat kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi… suara Ki Asem Gede terputus. Mereka yang mendengarkan jadi bertanya-tanya dalam hati, kenapa tiba-tiba saja wajah Ki Asem Gede yang cerah menjadi muram? Beberapa kali ia menelan ludah, seperti ada sesuatu yang menyumbat kerongkongannya. Tetapi… ulang Mahesa Jenar yang ingin mendengar kelanjutan ceritera Ki Asem Gede itu. Ah tak apalah, tukasnya. Segala sesuatu ada pengecualiannya. Sebagai seorang yang beratus bahkan beribu kali menyembuhkan orang sakit, maka sekali-kali Tuhan tak memperkenankan juga. Itu adalah suatu bukti akan kebesaran-Nya, lanjut Ki Asem Gede. Mahesa Jenar maklum bahwa ada sesuatu yang tak mau ia sebutkan. Karena itu ia tidak bertanya lebih lanjut. Nah… Anakmas… sambung Ki Asem Gede kemudian, sambil berusaha untuk mengembalikan suasana, kenapa tidak saja Anakmas berceritera tentang apa yang Anakmas jumpai di perjalanan. Tidakkah Anakmas menjumpai kejadian-kejadian yang lucu, misalnya, seperti yang terjadi di sini? Seorang seperti Adi Pananggalan dan Adi Mantingan berlagak sebagai seorang sakti. Mendengar pertanyaan ini Mahesa Jenar tersenyum, demikian juga Demang Pananggalan dan Dalang Mantingan, meskipun kalau teringat akan hal itu, hati mereka masih tergetar. Karena pertanyaan itu, Mahesa Jenar teringat akan keperluannya datang ke desa itu. Yaitu, ingin mengetahui jawaban teka-teki tentang adanya kerangka yang dijumpainya di puncak Gunung Ijo. “Ki Asem Gede, Bapak Demang Pananggalan serta Kakang Mantingan. Memang sebenarnya ada aku jumpai sesuatu dalam perjalananku yang ingin aku tanyakan. Itulah sebabnya maka aku datang kemari.” Ketika Mahesa Jenar tampaknya bersungguh-sungguh, maka mereka yang mendengarkanpun menjadi bersungguh-sungguh pula. “Di puncak Gunung Ijo,” sambung Mahesa Jenar, aku jumpai sesuatu yang mencurigakan. Alat-alat minum yang berserak-serakan. Bekas unggun api. Dan yang paling mengherankan adalah adanya batu-batu yang disusun sebagai suatu tempat untuk sesaji, sedangkan di atasnya terdapat kerangka perempuan. Dan tidak jauh dari tempat itu, aku ketemukan pula kerangka yang lain. Juga seorang perempuan.” Mendengar pertanyaan itu Demang Pananggalan menundukkan muka dalam-dalam. Ki Asem Gede mengerutkan dahinya yang sudah dipenuhi oleh garis-garis ketuaannya, sedangkan Dalang Mantingan menarik nafas dalam-dalam. Melihat keadaan itu maka makin nyatalah bagi Mahesa Jenar bahwa daerah ini pasti langsung mengalami bencana yang bertalian dengan peristiwa Gunung Ijo. “Anakmas…” jawab Ki Demang Pananggalan dengan suara yang dalam. “Akulah orangnya, kalau ada orang tua yang sama sekali tak berguna.” Ia berhenti sebentar menelan ludah, lalu sambungnya, “Apalagi aku sebagai seorang Demang, yang seharusnya dapat memberikan perlindungan kepada rakyatku. Tetapi nyatanya aku sama sekali tak mampu berbuat demikian.” Kembali Demang tua itu berhenti berbicara. Matanya memandang jauh menusuk gelapnya malam. Di halaman, beberapa orang masih duduk berkelompok-kelompok sambil berceritera tentang kehebatan pertarungan siang tadi. Demang Pananggalan mengeser duduknya sedikit. Matanya masih menembus gelap, seolah-olah ada yang dicarinya di kegelapan itu. Tetapi rupa-rupanya ia ingin melanjutkan ceriteranya. Ki Demang pun meneruskan ceritanya. Ketika itu, di daerah ini lewat serombongan orang-orang berkuda. Didesa ini mereka berhenti dan minta untuk menginap barang semalam. Mereka memasuki desa ini menjelang senja. Karena tak ada tanda-tanda yang aneh pada mereka, serta sikap pimpinannya yang ramah maka kami tak dapat menolak permintaan itu. Rombongan itu dipimpin oleh dua orang suami-isteri yang akan mengadakan ziarah ke Gunung Baka. Tetapi ketika malam pertama telah lewat, mereka minta untuk diperkenankan bermalam semalam lagi sambil melepaskan lelah dan mengadakan persiapan-persiapan untuk sesaji. Permintaan ini pun tak dapat aku tolak. Sekali lagi ia berhenti. Rupa-rupanya ia sedang mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Kemudian ia kembali menyambung ceritanya. Tetapi terkutuklah mereka. Terkutuklah rombongan orang-orang berkuda itu. Pada malam kedua mereka menangkap seorang gadis yang sedang pergi ke sungai. Gadis ini sempat menjerit, dan seorang yang baru pulang dari mengairi sawahnya dapat menyaksikan peristiwa itu. Pengantar gadis itu, seorang pemuda tanggung dipukulinya sampai pingsan. Maka ketika hal itu disampaikan kepada kami, meledaklah amarah kami. Segera Banjar Kademangan yang kami sediakan sebagai tempat penginapan mereka, kami kepung rapat-rapat. Mereka segera kami ancam untuk menyerah. Tetapi yang terjadi adalah diluar dugaan kami. Mereka sama sekali tidak menghiraukan kehadiran kami, orang-orang hampir seluruh desa ini. Ketika kami mendengar gadis itu menjerit, hati kami tak tahan lagi. Cepat-cepat kami menyerbu masuk. Tetapi rupa-rupanya mereka telah siap menanti kedatangan kami. Dan segera terjadilah pertempuran. Orang-orang kami lebih banyak dikendalikan oleh kemarahan yang meluap-luap, daripada kesediaan untuk bertempur. Apalagi rombongan berkuda itu ternyata terdiri dari orang-orang yang tangguh. Maka lenyaplah segala kesan keramah-tamahan mereka. Bahkan tampaklah betapa dahsyat cara mereka menjatuhkan lawan. Beberapa saat pertempuran itu berlangsung dengan dahsyatnya, tetapi segera tampak betapa lemahnya kami. Segera orang-orang kami dapat dihantam dan dicerai-beraikan. Aku tidak lagi dapat berpikir lain daripada bertempur mati-matian. Dan aku beserta Baureksa dan Gagak Ijo sebagai orang-orang yang paling dapat dipercaya pada waktu itu, berhasil menerobos masuk ke banjar, sehingga kami bertiga langsung terlibat dalam perkelahian melawan suami-istri pemimpin gerombolan itu. Mungkin terdorong oleh kemarahanku maka terasa seolah-olah tenagaku menjadi berlipat-lipat. Si istri itu pun ternyata mempunyai ilmu yang tinggi, ditambah lagi betapa kasarnya cara mereka bertempur. Si Suami menerkam dan mengaum seperti harimau, sedangkan si isteri menyerang dengan jari-jari yang dikembangkan. Wajah-wajah mereka yang ramah itu sekarang sudah berubah menjadi wajah-wajah iblis yang menakutkan. Tetapi aku sama sekali tidak peduli. Mungkin saat itu, akupun berkelahi seperti iblis. Tetapi kemudian ternyata bahwa kami bertiga bukanlah lawan mereka. Apalagi tenagaku adalah tenaga orang tua yang sangat terbatas. Ketika nafasku sudah mulai mengganggu, segera aku merasa terdesak, sedangkan serangan mereka semakin lama menjadi semakin kasar. Demang tua itu menarik nafas sambil membetulkan duduknya, kemudian ia melanjutkan, Saat itu aku sudah berpikir bahwa rupa-rupanya ajalku sudah hampir tiba. Sebab daya tahanku semakin lama menjadi semakin lemah. Apalagi Baureksa dan Gagak Ijo sama sekali tak dapat berbuat sesuatu. Tetapi ternyata Tuhan menghendaki lain. Rupa-rupanya salah seorang telah memberitahukan kesulitan-kesulitan kami ini kepada Ki Asem Gede, yang pada saat yang tepat datang menolong kami. Demang itu berhenti berceritera. Pandangan matanya yang suram itu dilemparkan kepada Ki Asem Gede. Lalu katanya, Selanjutnya Ki Asem Gede-lah yang lebih mengetahuinya. Mahesa Jenar mendengarkan cerita Demang tua itu dengan penuh perhatian. Terbayang betapa Demang tua itu telah berusaha mati-matian untuk melindungi rakyatnya, sampai ia tidak memikirkan nasibnya sendiri. Tetapi rupa-rupanya lawannya adalah orang yang perkasa. Ki Asem Gede yang diminta melanjutkan cerita itu, berkisar sedikit. Dipandangnya pelita yang nyalanya bergerak-gerak oleh angin yang berhembus ke pendapa. Ia batuk-batuk sedikit, lalu mulailah ia bercerita. Anakmas, sebenarnya bukanlah pertolongan yang aku berikan, tetapi semata-mata hanyalah karena kebetulan saja dan terutama atas kehendak Tuhan. Aku bukanlah orang yang mempunyai kepandaian yang cukup untuk bertanding. Kalau pada masa mudaku, sekali dua kali aku pernah terlibat dalam suatu pertarungan, itu sama sekali bukan karena aku mampu melakukannya, tetapi itu hanyalah karena kebodohan dan kesombonganku yang kosong saja. Diam-diam Mahesa Jenar mengamati tubuh Ki Asem Gede yang sudah tua itu. Kulitnya sudah melipat-lipat dan hampir seluruh rambutnya, bahkan alisnya pun telah memutih seluruhnya. Namun gerak-geriknya masih tampak tanda-tanda kelincahan. Ini menandakan bahwa pada masa mudanya ia adalah seorang yang kuat. Bahkan mungkin sampai saat ini pun ia masih memiliki kekuatan itu. “Pada masa mudaku,” sambung Ki Asem Gede, “memang aku pernah berguru kepada seseorang yang dikenal dengan nama Ki Tambak Manyar.” Mendengar nama itu disebut-sebut, Mahesa Jenar terhenyak, sebab ia pernah mendengar nama itu dari almarhum gurunya bahwa almarhum Ki Tambak Manyar adalah seorang prajurit Majapahit yang tangguh. Karena itu, mau tidak mau ia harus memandang Ki Asem Gede sebagai seorang yang berilmu, baik dalam obat-obatan maupun ilmu tata berkelahi. Bahkan rupa-rupanya ia memiliki kecerdasan otak yang tidak mengecewakan pula. “Tetapi,” lanjut Ki Asem Gede, “sebagai aku katakan tadi, aku tidak banyak mendapat kemajuan. Barangkali tubuhku terlalu ringkih untuk melakukan hal-hal yang berat dan keras. Karena itu Ki Tambak Manyar melatih aku dalam hal mempergunakan senjata sebaik-baiknya. Baik jarak pendek maupun jarak jauh. Dan ini adalah suatu keuntungan. Sebab ilmu ini dapat aku berikan kepada banyak orang sekaligus meskipun tidak sedalam-dalamnya, kecuali hanya kepada satu-dua orang saja. Terutama dalam hal mempergunakan bandil, panah, supit dan sebagainya.” Orang tua itu berhenti sebentar dan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia melanjutkan, “Kepandaian yang tak berarti itu ternyata berguna juga dalam suatu waktu, dimana Adi Pananggalan hampir menjadi korban keganasan orang-orang berkuda itu. Ketika aku datang, penduduk kademangan ini telah kehilangan semangat dan hampir putus-asa. Sedangkan kalau sampai terjadi penduduk daerah ini melarikan diri, akibatnya akan hebat sekali. Orang-orang berkuda itu pasti akan melakukan tindakan-tindakan yang ganas dan kotor lainnya. Karena itu, segala usaha untuk mengusir mereka itu harus dijalankan. Pada saat itulah, maka aku mengumpulkan orang-orang yang sudah ketakutan itu dan berusaha untuk membangkitkan semangatnya kembali. Aku peringatkan kepada mereka bahwa sebaiknya kita melawan orang-orang berkuda itu dari jarak jauh, sebab dengan mengadu kekuata
    • Jadi kangen …

      • betul,..

        • Ayo Ki Slamet, lanjutkan. Banyak pahala di bulan puasa.

  2. ikut antri

  3. ikut antri…

  4. Karo tunggu buka, melu antriiiiiii…………..

  5. Kirain sudah ada ucapan selamat berbuka puasa dari nyi Seno… hiks 10x

  6. nyi seno nembe repot nggawe wedhang sereh, jenang alot, juadah kanggo buko poso, wedare kitab 360 bar teraweh. mbokan? leres nggih nyi ???

  7. sungguh tega nyi seno…
    cantrik’e mboten di openi… hiks..hikss..hikss

  8. wah ternyata kita juga ikut nglakoni
    puasa ………
    tidak baca kitap ABM

    entah berapa lama lagi …..
    samapi kita di wedar

  9. tanpa pesan…tanpa isyarat…

  10. Absen pas maghrib…

  11. Selamat berbuka tanpa unduhan kitab 360…

  12. Monggo mon

  13. Wah aku ya nunggu-nunggu kitab 60 kok ra metu-metu

  14. Nongol lagi…eh masih belum juga…

  15. iyo ik, kok belum nongol juga ya..

  16. bukalagi, belum lagi…
    buka lagi, tutuuuup, belum lagi.. ( lg, bangun tidur..mbah surip )

  17. biasaaaa…kan kita lagi butuh..ya sabuuaaarrr

  18. Ki Widura belum ngisi presensi.

    Eh…, kami sedang persiapan makan sahur. he he ..

    • Kami sudah selesai sahur .. hehehe.

      • Sing ndik kene … wis KALIREN …

        • ho oh, soko sa’wise sahur aku yo wis kaliren koq,..

          • He he …
            Kasihan ….
            Di Tlatah kami sudah mulai imsak, mulai puasa lagi.

            • Wonten mriki wancinipun dhuha…

  19. poso yo poso ning mbok yo ojo kesuwen,..hehe

    • Ning mbok yo ojo kesuwen poso yo poso … hehehe.

  20. hmmm…. belum diwedar juga… moga moga nyi seno tidak ada halangan…. sabar memang perlu… semangat..

    • hmmm….belum juga diwedar … nyi seno moga moga tidak ada halangan …. perlu sabar memang … semangat ..

  21. hmmm….belum diwedar juga… nyi seno moga moga tidak ada halangan …. memang perlu sabar … semangat ..

  22. belum diwedar juga…hmmm….memang perlu sabar…moga moga nyi seno tidak ada halangan…semangat..

  23. hmmm… belum ada halangan.. nyi seno memang perlu semangat..moga-moga tidak diwedar,..hayyah..

  24. akhirnya,..terima kasih..

  25. Matur nuwun Nyi Seno sampun ngunduh. Kantun nenggo 361 lan 362, yen saget siang meniko bade kangge sangu.
    eh koq malah nganyang. Nuwun sewu lho Nyi

  26. Ya…ik, maturnuwun Nyi Seno.

  27. telima kasih

  28. Matur Nuwuuuuuuuun

  29. asyik.. makasih nyi…

  30. matur nuwun

  31. Terima kasih….terima kasih…

  32. IV-60…….matur nuwun

  33. maturnuwun nyi……….

  34. matur nuwun, sampun dipun undhuh..

  35. Matur suwun Nyi Seno… Kitab sudah diunduh.

  36. he..he..he.. buat tabungan….

    hari ini cukup unduh sampai di sini dulu…

    trims nyi sena, ki gd, ki sukra, ki tumenggung sepuh, ki mbodo, dan para bebahu padepokan…

  37. monggo k4ng…utawa ki ajar kulo aturi pinarak wonten mriki hehehe

    • Kulo kemawon Ki ingkang pengin mampir…. Bbok bilih Ki Netra kagungan tirahan wedang sere…. kulo radi ngelak.. hehe….

  38. 360 cpt di kluarin……

  39. Monggo k4ang dilanjut.
    Minggu ini belum bisa bantu, mudah-mudahan minggu depan.

    • Siap laksanakan tugas !!!

  40. Api Dibukit Menoreh
    Jilid IV – 60
    Bagian🙂 dari 3

    TERASA udara masih segar. Masih pula terdengar kicauan burung-burung liar di pepohonan yang tumbuh berjalan di pinggir jalan, yang disiang hari dapat menjadi pelindung dari teriknya panas matahari.

    Tetapi di pagi hari, mereka justru merasa hangat berjalan di bawah sinarnya yang mulai menggatalkan kulit. Jalan yang mereka lalui memang bukan jalan utama yang ramai, meskipun sekali-sekali pedati yang membawa hasil bumi melintas.

    Tetapi pagi itu, jalan itupun nampak sepi. Bahkan sawah-sawahpun sepi. Tidak ada petani yang turun ke sawah pagi itu, karena agaknya kerja di sawah memang sudah selesai.

    Namun di jalan yang terasa sepi itu. Glagah Putih dan Rara Wulan terkejut. Tiba-tiba seorang meloncat dari balik segerumbul pohon jarak kepyar dan berdiri sambil bertolak pinggang di tengah-tengah jalan.

    Langkah Glagah Putih dan Rara Wulan terhenti. Selangkah Glagah Putih bergeser maju sambil berkata — Ki Sanak mengejutkan kami. —
    Orang itu tertawa. Katanya — Aku perlu berbicara dengan kalian berdua. —
    — Tentang apa Ki Sanak? —
    — Aku terasa heran terhadap kemampuan perempuan yang disebut Genduk Miyat itu, yang semalam telah ditontoni. —

    Wajah Rara Wulan berkerut. Sementara itu Glagah Putihpun berkata — Kau siapa Ki Sanak? Apa pula hubunganmu dengan peristiwa semalam? —
    — Permainan kalian sangat rapi. Kalian telah menjebak Among Asmara sehingga Among Asmara merasa sangat terhina. —
    — Apakah kau mempunyai hubungan dengan Among Asmara?
    — Aku gurunya. —
    — O — Glagah Putih Mengangguk-angguk — hatimu terluka oleh kekalahan Among Asmara? —

    — Bukankah itu wajar? Kalian telah mempermalukan muridku. Kalian telah merendahkan muridku serendah-rendahnya, sehingga ia menjadi tidak berharga di mata kawan-kawannya dan pengikutnya. —
    — Jika terjadi demikian, siapakah yang bersalah? —

    — Aku tahu, muridku bersalah. Aku sudah pernah memperingatkannya. Akupun masih akan memperingatkannya. Tetapi kalian telah mempermalukannya keterlaluan. Seharusnya kalian tidak mempermalukan muridku seperti itu. —

    — Aku berharap agar Among Asmara menjadi jera. Jika ia tidak direndahkan sampai serendah-rendahnya, maka ia tidak akan menjadi jera. Jika kau, gurunya, pernah menegurnya dan Among Asmara masih juga kembali ke sifat buruknya, apakah itu sudah sepantasnya? Apakah kau sebagai gurunya tidak merasa tersinggung dan direndahkan oleh muridmu sendiri? Lalu apakah tindakkanmu terhadap muridmu itu? —

    — Aku berharap agar Among Asmara menjadi jera. Jika ia masih mengulanginya, maka Among Asmara harus dihukum, la telah menyalah gunakan kemampuannya untuk tujuan yang buruk, yang justru akan memperburuk citra perguruannya. —
    —Jadi, apa maksudmu sekarang? Bukankah yang aku lakukan sejalan dengan keinginanmu itu Ki Sanak. —

    — Tetapi Among Asmara berada di dalam bingkai perguruanku. Aku gurunya yang wenang mengajarinya atau menghukumnya. Bukan orang lain. Apalagi yang kau lakukan bukan sekedar menghukum Among Asmara. Tetapi kau sudah merendahkan ilmunya. Kau sudah meremehkan perguruannya. Sedangkan pemimpin dari perguruan itu adalah aku —

    — Tetapi yang dilakukan Among Asmara justru diluar perguruannya. Ia sudah merugikan orang lain. Bahkan yang dilakukan adalah kesalahan yang mendasar sekali. Dengan paksa mengambil seorang perempuan untuk dijadikan istrinya Bukankah itu merupakan satu perbuatan yang sangat nista justru dengan mengandalkan ilmunya? Ilmu yang diajarkan di perguruannya? Ilmu yang diajarkan oleh gurunya? —

    — Tetapi perguruanku tidak mengajarkan sifat yang nampak pada kelakuan Among Asmara. Justru karena itu aku harus menghukumnya. Tetapi aku tidak mau ada orang lain yang memandang rendah pada perguruanku? Seolah ilmu yang aku ajarkan itu tidak berarti apa-apa, sehingga Among Asmara justru dipermainkan oleh seorang perempuan.

    Aku tidak akan merasa tersinggung seandainya kau hukum Among Asmara tanpa mempermainkannya. Yang aku lakukan bukan pelepasan dendam karena kekalahan muridku. Tetapi karena harga diri perguruanku sudah kau remehkan. Kau anggap ilmu yang dimiliki oleh Among Asmara itu tidak berarti sama sekali, sehingga kau telah mengalahkannya dengan cara yang sangat menyakitkan. Kau biarkan Among Asmara kehabisan nafas sehingga tidak mampu berbuat apa-apa lagi. —

    — Maaf Ki Sanak.— sahut Rara Wulan — aku tidak bermaksud meremehkan ilmunya. Aku tidak bermaksud merendahkannya. Maksudku semata-mata untuk membuatnya jera. —

    — Itu yang kau katakan kepadaku sekarang — berkata orang itu — tetapi aku tidak yakin, bahwa itulah yang kau lakukan semalam.
    — Ki Sanak. Itulah yang ingin aku lakukan. —
    — Aku tidak mempercayaimu. —

    Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam. Katanya — Aku tidak dapat memberikan penjelasan lebih banyak lagi. Aku tidak dapat memaksamu percaya.—

    —Nah, sekarang aku datang untuk memperbaiki citra perguruan. Aku. ingin menunjukkan kepadamu, bahwa puncak ilmu di perguruanku tidak lebih rendah dari puncak ilmumu. —
    — Jadi, apa maksudmu, Ki Sanak? — bertanya Glagah Putih.
    — Aku ingin menakar ilmu dengan kalian. Siapapun yang akan bersedia membuat perbandingan ilmu itu. —
    Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun bertanya — Apakah itu perlu, Ki Sanak? —
    — Aku hanya ingin meyakinkan, bahwa perguruanku tidak seburuk yang kalian sangka.

    Glagah Putih dan Rara Wulan saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Glagah Putih berkata — Baiklah Ki Sanak. Jika itu yang kau kehendaki. Jika dengan demikian kau mendapat kepuasan dan merasa tidak direndahkan lagi. —

    — Tetapi aku muak dengan kesombonganmu. Kau tidak perlu mengalah untuk mendapat pujian, bahwa kau adalah seorang yang baik hati, berbudi luhur, menghindari perselisihan dan puji-pujian cengeng yang lain karena kau dapat memberikan kepuasan kepadaku. Jika itu kau lakukan, kau sama sekali bukan orang yang baik hati, orang yang berbudi luhur, berkorban untuk orang lain atau sebutan-sebutan yang lain, karena jika kau mengalah itu sebenarnya tidak lebih dari satu sikap sombong yang sangat berlebihan saja. —

    — Baik. Jika demikian, kita akan mencari tempat terbaik. Tidak di jalan ini. —
    — Dimana ? —
    — Ditikungan sungai itu. Disebelah pohon besar itu. Kita tidak akan merasa terganggu oleh siapapun, karena tempat itu jarang sekali dikunjungi orang. —
    ~ Baiklah. Aku akan menuruti maumu. –

    Orang itupun kemudian melangkah mendahului Glagah Pulih dan Rara Wulan meloncati parit dan berjalan menyusuri pematang. Glagah Putih dan Rara Wulanpun kemudian bergerak mengikuti mereka. Namun Rara Wulan sempat berdesis — Apakah orang itu tidak akan menjebak kita, kakang? Ia merasa bahwa muridnya telah kita jebak semalam, sehingga iapun membalas dengan menjebak kita. —

    — Jika orang itu menjebak kita, kita akan mempergunakan segenap kemampuan kita untuk melindungi diri kita. Kita tidak mau menjadi pengewan-ewan, dipermalukan atau bahkan kita akan dibunuh beramai-ramai. Tetapi sebaiknya kita tidak berprasangka buruk. —.
    — Ya, kakang. —

    Keduanyapun kemudian terdiam. Mereka berjalan disepanjang pematang menuju ke sebatang pohon raksasa yang agaknya tumbuh dipinggir sungai.

    Beberapa langkah di hadapan mereka, orang yang mengaku guru Among Asmara itu telah meloncat dari tanggul sungai turun ke tepian yang berpasir dan berbatu-batu yang menebar di mana mana.

    Glagah Putih dan Rara Wulanpun berhenti sejenak di atas tanggul. Ditebarkannya pandangan mereka ke mana-mana. Sepanjang tepian dan bahkan ke sela-sela semak-semak di seberang sungai. Namun mereka tidak melihat seorangpun.

    Orang yang mengaku gurunya Among Asmara yang sudah berdiri di tepian itu agaknya dapat membaca kecurigaan Glagah Putih dan Rara Wulan. Katanya — Jangan menganggap bahwa aku licik seperti kalian yang telah menjebak muridku. Aku tidak akan menjebakmu Aku memang mengundang dua orang saudara seperguruanku. Tetapi tidak untuk melibatkan diri. Mereka akan menjadi saksi, apakah ilmu dari perguruan kami sedemikian rendahnya, sehingga harus dihinakan oleh sepasang pengembara seperti kalian berdua. —

    Tiba-tiba saja orang itu bertepuk tangan. Glagah Putih dan Rara Wulan memang agak terkejut ketika mereka melihat dua orang yang meluncur dari dahan pohon raksasa itu dan kemudian berdiri tegak di tepian.

    Ternyata Glagah Putih dan Rara Wulan sama sekali tidak memperhatikan pohon raksasa itu. Mereka tidak mengira bahwa dua orang dengan susah payah memanjat pohon itu dan bersembunyi di balik rimbun daunnya yang kecil-kecil seperti daun preh.

    — Nah, marilah. Turunlah. Kita seharusnya berkenalan lebih dahulu. Glagah Putih dan Rara Wulan kemudian turun dari atas tanggul dengan hati-hati. Nampaknya tebing tanggul yang rendah itu memang agak licin.

    — Kau lihat — berkata guru Among Asmara kepada kedua orang yang datang kemudian — bukankah mereka anak-anak yang sangat sombong? Kenapa mereka harus menuruni tanggul itu dengan hati-hati, bahkan berpegangan pohon-pohon perdu ? Kenapa mereka tidak meloncat saja langsung ke tepian? —

    Seorang diantara mereka menjawab — Ya. Aku yakin sekarang. Keduanya memang sangat sombong. Ketika kau berbicara tentang kesombongan mereka, aku masih ragu-ragu untuk mempercayainya. Tetapi sekarang, aku sudah meyakininya. —

    Glagah Putih dan Rara Wulan memang tertegun sejenak mendengar pembicaraan yang dengan sengaja diucapkan dengan keras itu. Tetapi mereka tetap saja menuruni tebing itu sambil berpegangan batang-batang perdu yang tumbuh di tebing yang rendah itu.

    Beberapa saat kemudian, Glagah Putih dan Rara Wulan sudah berdiri di tepian. Rara Wulan masih menggendong peti kecil dengan selendangnya.
    —Nah, dihadapan para saksi, kita akan mengukur kemampuan kita — berkata guru Among Asmara itu — tetapi sebelumnya kami ingin memperkenalkan diri kami. Namaku Ki Narasembada. saudara seperguruanku yang tinggi ini bernama Ki Tenaya Siji dan yang satunya kurus kering itu kita sebut Ki Wreksa Aking. —

    Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk, hormat. Namun mereka juga agak heran, bahwa ternyata orang berilmu tinggi itu bertebaran di mana-mana. Dengan nada rendah Glagah Putihpun berkata — Ki Narasembada tentu sudah tahu namaku. Namaku Wiguna dan ini isteriku. Namanya Miyat. —
    Orang yang bertubuh tinggi itupun menyahut — Nama yang bagus. Kalian pantas mengenakan nama itu. —

    — Sayang sekali, kalian terlalu sombong — berkata orang yang bertubuh kurus.
    — Kami sama sekali tidak berniat menyombongkan diri. Kami berbuat wajar-wajar saja menurut perasaan kami. Tetapi jika itu kalian anggap sebagai satu sikap yang sombong, terserah saja kepada kalian. —

    — Kau sama sekali tidak berbuat dengan wajar — sahut orang yang bertubuh kurus. Namun kemudian iapun berkata — Tetapi semuanya itu terserah kepada kalian berdua. Kalau kalian merasa mapan dengan tingkah laku kalian, lakukan saja. Kami tidak berhak untuk merubahnya. —

    — Aku setuju — sahut Ki Narasembada — yang penting sekarang adalah membuktikan bahwa kau tidak dapat menghina perguruan kami. —
    — Bukankah yang dimaksud Ki Narasembada adalah aku. kakang — berkata Rara Wulan.
    — Biarlah kali ini aku yang melayaninya. —

    Rara Wulan tidak memaksa. Ia sadar, bahwa Glagah Putih tidak dapat melepaskannya menghadapi orang yang nampaknya memang berbahaya itu. Ki Narasembada tentu memiliki kelebihan dalam segala hal dari muridnya, Among Asmara.

    — Bagus — berkata Ki Narasembada — aku kira kalian masih juga akan menyombongkan diri dengan menghadapkan perempuan itu dalam pertarungan ini. —
    — Jika itu yang kau kehendaki ? — tiba-tiba saja Rara Wulan menyahut.
    — Biarlah aku saja yang menghadapi, Ki Narasembada. —

    Ki Narasembada itupun kemudian berpaling kepada kedua orang saudara seperguruannya sambil berkata — Kalian akan menjadi saksi bahwa perguruan kita bukan perguruan tataran bawah. Bahwa perguruan kita memiliki landasan ilmu yang tinggi, sehingga tidak seharusnya dihinakan sebagaimana diperlakukan atas Among Asmara. —

    — Baik, kakang —jawab Ki Tenaya Siji — kami akan menjadi saksi bahwa perguruan kita adalah salah satu dari perguruan yang terbaik. —
    Ki Narasembada itupun kemudian berkata — bersiaplah Wiguna Kita akan segera mulai.

    Glagah Putih pun telah mempersiapkan dirinya pula. Kepada Rara Wulan iapun berkata — Miyat. Perhatikan, apa yang akan ter jadi disini.- Kau telah membuktikan, bahwa Among Asmara bukan apa-apa bagimu. Sekarang aku juga akan membuktikan, bahwa perguruan yang dipimpin oleh Ki Narasembada tidak akan mendapat menyamai tataran perguruan kita. Apalagi jika guru kita sendiri yang hadir disini. Maka Ki Narasembada harus mengakui tujuh kali, bahwa perguruannya tidak dapat diperbandingkan dengan perguruan kita. —

    — Persetan kau orang yang sangat sombong. Kau akan kami permalukan disini. Meskipun tidak dihadapan banyak orang, tetapi kau harus malu kepada dirimu sendiri. Bahkan aku berharap bahwa gurumu akan bersedia datang. Jika tidak hari ini. maka kapan saja ia akan datang, aku akan menerimanya dengan senang hati. —
    — Apakah dengan demikian hanya kamilah yang dapat disebut sangat sombong?—
    — Cukup.

    Glagah Putih terdiam. Namun ia justru bergeser selangkah maju mendekati Ki Narasembada dengan tenangnya. Melihat sikap Glagah Putih yang dikenalnya bernama Wiguna itu, jantung Ki Narasembada dan kedua orang saudara seperguaruannyapun terasa berdebar.

    Sikap itu menunjukkan kepercayaan diri yang sangat tinggi. Wiguna itu masih sangat muda di mata Ki Narasembada dan kedua saudara seperguruannya. Karena itu. seberapapun tinggi ilmunya, namun pengalamannya tentu belum begitu luas. Wawasannya masih sangat terbatas, sehingga kemenangannya atas Among Asmara telah membuatnya semakin sombong. Sikapnya bukan karena keyakinannya serta percaya diri yang tinggi, tetapi semata-mata karena kesombongannya, sehingga sulit baginya untuk menghargai orang lain.

    — Aku harus membuatnya jera. Ia harus mengakui bahwa diluar diri mereka berdua, terdapat ilmu yang lebih tinggi. —
    Dalam pada itu, Glagah Putih justru menyesuaikan diri dengan anggapan Ki Narasembada. Sebagai seorang yang sangat sombong, maka Glagah Putih telah membuka serangannya.

    Dengan derasnya Glagah Putih meloncat menyerang dengan kakinya. Namun serangan itu sama sekali tidak menyentuhnya. Ki Narasembada dengan gerak yang sangat sederhana telah menghindarinya.

    Namun serangan Glagah Putih itu justru membuat Ki Narasembada menjadi ragu-ragu. Jika laki-laki muda itu memiliki ilmu setingkat saja dengan perempuan yang mengembara bersamanya itu, maka ia tidak akan meyerang dengan serangan yang sangat sederhana itu.

    Karena itu, Ki Narasembada justru menjadi semakin berhati-hati. Ia tidak segera membalas menyerang, tetapi diperhatikannya sikap laki-laki muda yang menyebut dirinya Wiguna itu dengan sungguh-sungguh.

    Namun penggraita Glagah Putihpun cukup tajam pula. Ia pun segera merasakan sikap Ki Narasembada sebagai satu sikap yang sangat berhati-hati. Karena itu, ketika Glagah Putihpun kemudian menyerang pula, maka serangannya benar-benar menjadi sangat berbahaya.

    Dengan demikian, maka pertempuranpun segera meningkat menjadi semakin bersungguh-sungguh. Keduanyapun dengan cepat meningkatkan, ilmu mereka. Ki Narasembada mengukur kemampuan Glagah Putih dengan kemampuan Rara Wulan yang telah dilihatnya dengan diam-diam, pada saat Rara Wulan mengalahkan Among Asmara.

    Namun Ki Narasembada sengaja tidak melibatkan diri untuk menjaga kemungkinan yang lebih buruk akan dapat terjadi. Bukan saja atas muridnya, tetapi juga atas dirinya sendiri. Kecuali atas dasar pertimbangan itu, Ki Narasembada pun membiarkan Among Asmara mendapat pelajaran dari kenyataan yang dihadapinya.

    Beberapa saat kemudian, pertempuran di tepian itu menjadi semakin sengit. Ki Narasembada telah meningkatkan ilmunya semakin tinggi. Ia sadar sepenuhnya bahwa laki-laki yang masih muda itu benar-benar seorang yang berilmu tinggi.
    Namun Glagah Putihpun dengan cepat pula meningkatkan ilmunya pula.

    Seperti Rara Wulan, maka Glagah Putih seakan-akan mendapat kesempatan untuk mengenali kemampuan ilmunya sendiri setelah ia menjalani laku bersama-sama dengan isterinya di hutan yang lebat, di kaki Gunung Merapi.

    Glagah Putih memang menemukan banyak hal yang terasa baru di dalam dirinya. Tenaganya yang semakin kuat, tubuhnya yang seakan-akan bertambah ringan, kecepatannya bergerak serta yang kemudian dikenalinya pula daya tahannya yang semakin tinggi serta tenaga dalamnya yang bertambah besar.

    Glagah Putihpun berusaha mengenali pula kendali atas tenaga dan kemampuannya, sehingga Glagah Putih dapat mengaturnya sesuai dengan kehendaknya. Dengan demikian, maka kemampuan dan ilmunya benar-benar tunduk sepenuhnya atas kehendak dan kendali nalar budinya.

    Dalam pada itu, pertempuran di tepian itu semakin lama menjadi semakin sengit. Ki Narasembada yang memang berilmu tinggi itu meningkatkan ilmunya pula semakin tinggi. Namun Glagah Putih masih saja mampu mengimbanginya.

    Namun menghadapi Ki Narasembada Glagah Putih tidak dapat memperlakukannya sebagaimana Rara Wulan memperlakukan Among Asmara. Ki Narasembada benar-benar seorang yang sangat berbahaya bagi Glagah Putih.

    Kedua orang saudara seperguruan Ki Narasembada memperhatikan pertempuran itu dengan jantung yang berdebaran. Justru mereka yang tidak langsung berada di arena mampu melihat lebih tajam benturan ilmu yang semakin tinggi dari keduanya.

    Kedua orang itu semakin lama menjadi semakin heran melihat betapa ringannya Glagah Putih yang dikenalnya bernama Wiguna itu berloncatan. Tubuhnya seakan-akan sama sekali tidak mempunyai bobot yang membebaninya. Selain keringanan tubuh Glagah Putih, maka keduanya juga melihat, betapa serangan-serangan Ki Narasembada yang mengenai tubuh Glagah Putih sama sekali tidak menggetarkannya. Bahkan ketika terjadi benturan kekuatan, maka yang tergeser surut adalah Ki Narasembada.

    Sebenarnyalah Ki Narasembada sendiri mulai merasakan kelebihan Glagah Putih. Demikian cepatnya laki-laki muda itu bergerak, sehingga kadang-kadang Ki Narasembada tidak sempat mengimbanginya.

    Serangan-serangan Glagah Putihlah yang lebih sering mengenainya. Bahkan semakin lama semakin menyakitinya, ketika kaki Glagah Putih yang terayun mendatar bersamaan dengan tubuhnya yang berputar mengenai keningnya, maka terasa sesaat matanya menjadi kabur.

    Namun ketika serangan yang sama untuk kedua kalinya menyambarnya, Ki Narasembada sempat menghindar dengan merendahkan diri. Bahkan dengan cepat kakinya menyapu kaki Glagah Putih yang kemudian menyentuh tanah.

    Tetapi dengan kecepatan yang sangat tinggi, Glagah Putih sempat melenting. Dengan bertumpu pada kedua tangannya yang menapak di tanah, maka sekali Glagah Putih berputar di udara. Dengan lembutnya, kedua kakinyapun kemudian menapak diatas tanah.

    Pada saat yang bersamaan, dengan menghentakkan kemampuannya, Ki Narasembada telah meloncat dengan menjulurkan kakinya mengarah ke punggung Glagah Putih yang membelakanginya.

    Namun dengan kecepatan yang tidak dapat diperhitungkan sebelumnya, Glagah Putih telah berbalik sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya. Demikian kedua kaki Ki Narasembada membentur kedua tangannya yang bersilang, Glagah Putih telah menghentakkannya.

    Benturan yang keras telah terjadi, Glagah Putih tergetar selangkah surut. Namun Ki Narasembada seakan-akan telah terlempar beberapa langkah dan jatuh terbanting di pasir tepian. Hampir saja tubuhnya menimpa sebuah batu yang besar.

    Ki Narasembada harus menahan sakit di punggungnya. Meskipun Ki Narasembada itu dengan cepat bangkit, namun terasa punggungnya menjadi sangat sakit. Seakan-akan tulang belakangnya telah menjadi retak.

    Namun Ki Narasembada masih memiliki ilmu puncaknya. Karena itu, ketika ia telah berdiri tegak maka iapun berkata. Kau memang luar biasa Wiguna. Ilmumu ternyata lebih lengkap dari ilmuku.—

    Glagah Putih tertegun. Namun iapun kemudian menjawab — Jangan menyanjung Ki Narasembada. Aku tahu bahwa kau memiliki ilmu pamungkas yang sangat dahsyat. Ilmu ini masih belum begitu nampak jelas pada Among Asmara. Dan bahkan nampaknya ia masih agak merasa gagap mengetrapkannya. Tetapi kau tentu berbeda.—

    — Ya. Aku menguasai kuasa panasnya api di dalam diriku. Aku akan dapat melontarkannya dan membakar tubuhmu menjadi abu. Jika kekuatan ini tidak nampak atau belum mampu dikuasai sepenuhnya oleh Among Asmara, maka aku, gurunya tentu memiliki kelebihan daripada muridku itu.—

    — Aku tahu, Ki Narasembada. Tetapi jika aku berani menghadapimu sekarang, aku tentu mempunyai ilmu andalan yang akan dapat meredam panas apimu itu. Jika ilmu kita berbenturan, maka aku tidak tahu, apa yang akan terjadi, karena kita belum tahu ukuran kemampuan kita masing-masing. Sementara itu, bukankah semula kita tidak berniat benar-benar saling menghancurkan.—

    — Apakah kau menjadi ketakutan?—
    — Ya. Aku memang menjadi ketakutan kalau kau tidak mampu menahan deraan ilmuku. Seandainya ilmu kita berbenturan, maka ilmu yang lebih lemah akan memantul dan menyakiti diri sendiri di tambah oleh dorongan ilmu yang lebih kuat.—

    — Kau memang sombong sekali Wiguna—
    — Tetapi aku tidak berniat menyombongkan diri.—
    — Apapun yang terjadi. Kau tidak dapat terus menerus menghina ilmu puncak dari perguruanku. Bahkan seandainya salah seorang di antara kita harus mati.—
    — Kita dapat mencapai tujuan tanpa membahayakan jiwa kita masing-masing.—
    — Apa yang harus kita lakukan menurut gagasanmu?—

    — Disana ada tebing berbatu padas. Kita akan mempergunakannya sebagai sasaran serangan berlandaskan pada ilmu puncak kita masing-masing. Kita akan dapat menilai ilmu siapakah yang lebih baik diantara kita.—

    Ki Narasembada termangu-mangu sejenak. Ketika ia berpaling kepada kedua orang saudara seperguruannya, maka keduanyapun mengangguk hampir bersamaan. Agaknya keduanya sependapat dengan laki-laki muda yang dikenalnya bernama Wiguna itu.

    —Baik – berkata Ki Narasembada kemudian – kita akan melepaskan serangan kita terhadap tebing di seberang sungai kecil ini. Berdasarkan hasilnya, maka yang kalah harus mengaku kalah. Jika kau kalah Wiguna , kau harus mengerti, bahwa kemampuan Among Asmara bukan ukuran tingkat kemampuan puncak perguruan kami.—

    — Ya – jawab Glagah Putih – jika aku kalah, aku akan mengakui kelebihan perguruan Ki Narasembada. Tetapi sebaliknya Ki Narasembada juga harus mengakui kenyataan yang terjadi.—

    Dengan kesepakatan itu, maka keduanyapun segera mempersiapkan diri. Mereka berdiri di tepi sungai kecil itu menghadap ke tebing berbatu padas di seberang.
    — Silahkan. Ki Narasembadapun segera mempersiapkan diri. Ia mengarahkan serangannya kepada segerumbul pohon perdu yang tumbuh di tebing seberang yang berbatu padas.

    Sejenak Ki Narasembada memusatkan nalar budinya untuk mempersiapkan ilmu puncaknya. Kedua orang saudara seperguruanyapun menjadi tegang pula. Di perguruan mereka, mereka mengakui bahwa Ki Narasembada adalah orang yang memiliki tingkat ilmu tertinggi, sehingga ia telah mewarisi kedudukannya tertinggi di perguruannya.

    Sementara itu, Glagah Putih dan Rara Wulanpun menjadi tegang pula. Mereka tidak mengetahui sejauh manakah kemampuan ilmu puncak Ki Narasembada.

    Sesaat kemudian, maka Ki Narasembadapun telah sampai pada puncak kemampuannya. Terdengar Ki Narasembada berteriak nyaring. Kedua tangannya terjulur ke depan dengan telapak tangannya terbuka menghadap ke segerumbul semak yang berada di tebing berbatu padas di seberang.

    Seleret sinar telah memancar dari kedua telapak tangan Ki Narasembada. Begitu cepatnya menyambar gerumbul liar di tebing seberang.

    Tiba-tiba saja, lidah api seakan-akan telah menjilat gerumbul-gerumbul liar itu. Dalam sekejap gerumbul liar itupun telah menjadi hangus. Sementara itu, tebing berbatu padas itupun menjadi retak-retak sehingga beberapa gumpal batu padaspun runtuh jatuh ketepian berpasir.

    Kedua orang saudara seperguruan Ki Narasembada menarik nafas panjang. Ki Narasembada memang orang yang terbaik di dalam olah kanuragan daripada yang lain. Ki Narasembada masih dapat membuktikan kelebihannya untuk menjaga harga diri perguruannya. Di seberang bukan saja gerumbul liar itu menjadi hangus bagaikan dijilat lidah api yang panasnya melampaui panasnya bara kayu melandingan.

    Ki Narasembadapun kemudian menghela nafas panjang. Kemudian iapun bergeser setapak surut sambil berkata – Sekarang giliranmu Wiguna. Aku ingin tahu, apakah kau mampu melakukannya. Bahkan seandainya kau sentuh tebing itu dengan unsur kewadaganmu.—

    Glagah Putih menarik nafas panjang. Katanya – Aku akan menyerangnya dari sini, Ki Narasembada. Aku juga tidak akan mempergunakan sentuhan kewadagan.—
    — Bagus. Lakukan. Jika kau dapat melukai tebing itu lebih parah lagi, aku akan menundukkan kepalaku dihadapanmu.—

    Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Dipandanginya tebing berbatu padas di seberang sungai kecil itu. Diamatinya gerumbul perdu yang telah hangus menjadi arang. Daun-daunnya telah rontok menjadi debu.

    Glagah Putih tidak mau gagal. Glagah Putih tidak ingin dipermalukan oleh Ki Narasembada. Karena itu, maka Glagah Putih lelah memusatkan nalar budinya, menggugah ilmunya pada tataran tertinggi.

    Sejenak Glagah Putih berdiri tegak. Dipandanginya tebing berbatu padas di seberang. Tetapi Glagah Putih tidak memiliki kemampuan sebagaimana Agung Sedayu menyerang dengan sorot matanya yang memancarkan ilmunya.

    Tetapi Glagah Putih tidak saja berlandaskan ilmu yang telah dimilikinya pada saat ia berangkat meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi setelah ia menjalani laku, maka segala-galanya telah menjadi semakin meningkat.

    Karena itu, dalam tataran ilmunya yang semakin tinggi itu, maka Glagah Putihpun kemudian telah menyentuh bagian atas dada kirinya dengan ujung jari tangan kanannya serta menyentuh bagian atas dada kanannya dengan dua jari tangan kirinya, sehingga kedua tangannya bersilang. Kemudian di julurkannya tangannya lurus ke depan. Tetapi telapak tangannya tidak lagi menghadap ke arah sasarannya. Kedua telapak tangannya yang terbuka justru menelungkup.

    Ketegangan telah mencengkam tepian itu. Ki Narasembada dan kedua orang saudara seperguruannya berdiri mematung. Jantung mereka menjadi berdebaran melihat sikap Glagah Putih. Bahkan ketika mereka melihat cahaya samar kebiruan pada saat jari-jari tangan Glagah putih yang bersilang menyentuh bagian atas dadanya.

    Bersamaan dengan terjulurnya tangan Glagah Putih maka seakan-akan dari kesepuluh jari-jarinya telah meluncur butir-butir cahaya yang kebiru-biruan sebagaimana nampak pada saat kedua tangan Glagah Putih bersilang dan menyentuh bagian atas dadanya itu.

    Sesaat kemudian, terdengar gemuruh. Butir-butir cahaya yang meluncur dari jari-jari tangan Glagah Putih itu seakan-akan telah meledak dan meruntuhkan tebing berbatu padas di seberang sungai kecil itu.

    Batu-batu padas yang pecah bukan saja berguguran, tetapi pecahan-pecahan batu padas itu terlempar ke segala arah dan berhamburan jatuh di tepian.

    Jantung Ki Narasembada dan kedua orang saudara seperguruannya itupun terguncang. Mereka tidak mengira, bahwa kemampuan ilmu laki-laki yang masih terhitung muda itu demikian besarnya sehingga sulit untuk dicari bandingnya.
    Gerumbul-gerumbul liar yang tumbuh di tebing berbatu padas itu tidak saja menjadi hangus. Tetapi tercerabut sampai ke akarnya dan lumat menjadi debu yang kemudian diterbangkan angin.

    Glagah Putih kemudian menelengkupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya. Sesaat kedua tangannya itu bergerak menurun dan kemudian tergantung di sisi tubuhnya yang masih berdiri tegak.

    Glagah Putih justru terkejut ketika Ki Narasembada yang kemudian diikuti oleh kedua saudara seperguruannya berdiri di hadapan Glagah Putih sambil membungkuk hormat.

    Dengan nada berat Ki Narasembadapun berkata — Aku harus mengakui dengan jujur, bahwa kau berada di tataran yang jauh lebih tinggi dari tataran ilmuku. Ilmu tertinggi di perguruanku.—
    — Sudahlah — Glagah Putihpun kemudian menggapai bahu Ki Narasembada sambil mengangkatnya — Berdiri tegaklah. Tidak ada yang harus di sanjung lagi.—

    — Kami tidak dapat ingkar dari kenyataan yang kami hadapi.—
    — Baiklah. Tetapi sudahlah. Lupakan saja semuanya yang telah terjadi.–
    — Jika saja kau tidak mempunyai gagasan untuk membuat perbandingan ilmu dengan mempergunakan tebing di seberang sebagai sasaran, maka aku tentu sudah lumat oleh kemampuan ilmumu.—

    — Sekali lagi aku katakan kepada Ki Narasembada dan kedua saudara seperguruanmu, bahwa aku sama sekali tidak berniat menyombongkan diri. Tetapi aku sekedar menyatakan kekecewaanku, bahwa salah seorang murid di perguruanmu dan bahkan mungkin dengan satu dua saudara seperguruannya, telah menyalahgunakan kemampuan yang dimilikinya. Sementara itu, para pemimpin di perguruan itu gagal mencegahnya. Atau bahkan mungkin tidak bertindak apa-apa sama sekali.—

    — Kami tidak akan ingkar, bahwa kamilah yang harus bertanggung jawab – sahut Ki Narasembada – kami akan menertibkan murid-murid kami dengan cara yang lebih baik lagi.—
    — Hati-hatilah dengan Among Asmara. Jika ia mendendam terhadap Ki Bekel dan anaknya yang semalam di tontoni, Ki Narasem-badalah yang harus bertanggung jawab.—

    — Ya. Aku akan bertanggung jawab.—
    — Kenapa orang itu harus berganti nama? Bukankah namanya sendiri yang diterimanya dari orang tuanya sudah cukup baik?—
    — Ya. Ia akan kembali kepada namanya sendiri.—
    — Nah, apakah sekarang masih ada persoalan yang menggelitik Ki Narasembada? Mumpung aku masih ada di sini.—

    — Aku akan mengucapkan terima kasih kepada Genduk Miyat yang telah dapat menahan diri terhadap muridku, Among Asmara.—
    Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun bertanya – Maksud Ki Narasembada?—

    — Genduk Miyat tidak membunuhnya. Seandainya saat itu dilakukannya, aku tentu akan berusaha menyelamatkannya. Nah, keterlibatanku malam itu akan dapat membunuhku pula—

    — Tetapi bukankah perlakuan Miyat terhadap Among Asmara itu yang membuat Ki Narasembada menemui kami sekarang ini?—
    — Karena ketidak tahuanku Karena itu, aku minta maaf sekaligus mengucapkan terima kasih.—
    — Baiklah. Kita tidak akan mempersoalkannya lebih panjang lagi. Tetapi tolong, kendalikan Among Asmara.—
    — Aku berjanji.—
    — Terima kasih.—

    Dengan demikian, maka Ki Narasembada dan kedua orang saudara seperguruannyapun minta diri. Ketika mereka akan meninggalkan tepian, Ki Narasembada berkata – Aku persilahkan Ki Sanak berdua singgah di padepokan kecilku. Kami tinggal di pinggir sungai kecil ini, beberapa ratus patok ke arah udik. Sungai kecil ini akan melingkari sebuah gumuk kecil di kaki Gunung Merapi. Kami tinggal di gumuk kecil itu.—

    Terima kasih. Mudah-mudahan pada kesempatan lain kami dapat singgah. Apakah Among Asmara juga berada di padepokan itu?—
    — Tidak. Ia sudah tidak tinggal di padepokan. Tetapi ia tinggal di rumahnya.—
    — Itulah sebabnya pengawasan Ki Narasembada tidak cukup ketat terhadap murid yang sudah terlanjur mewarisi ilmu yang cukup tinggi.—
    — Itu salah kami. Kami akan memperbaiki kesalahan itu.— Ketiga orang itupun kemudian menaiki tebing di seberang, di sebelah tebing yang runtuh dan berjalan menyusuri tanggul ke arah udik.

    Glagah Putih dan Rara Wulanpun kemudian justru duduk di sebuah batu yang besar di bawah sebatang pohon yang rimbun yang tumbuh di tanggul sungai kecil itu.

    —Ternyata mereka orang-orang yang jujur – desis Glagah Putih.
    — Ya—sahut Rara Wulan – Sikapnya wajar.—
    — Agaknya Ki Narasembada benar-benar akan mengawasi muridnya, khususnya Among Asmara.—
    — Ya. Aku bahkan yakin, bahwa Ki Narasembada akan memberikan peringatan yang keras terhadap Among Asmara dan saudara-saudara seperguruannya yang mendukung sikap dan tindakannya.—

    Glagah Putih mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun berkata – Rara. Permainanku hari ini justru menyadarkan kepadaku, bahwa aku dan tentu juga kau telah memikul tanggung jawab yang sangat berat.—
    — Maksud kakang?—

    — Ilmu kita sudah meningkat semakin tinggi. Sementara itu, apakah kita yakin bahwa kita pada suatu saat tidak tergoda oleh kemampuan kita sehingga kita benar-benar akan menjadi orang-orang yang sombong dan terjerumus ke dalam tingkah laku yang keluar dari jalan yang seharusnya?—

    Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam. Katanya – Itulah sebabnya kakang, orang-orang tua selalu memberikan pesan agar kita tidak pernah terlepas dari kesadaran kita tentang diri kita sendiri.—
    — Itulah yang sulit.—

    — Kita harus berusaha, kakang. Kita akan saling mengingatkan. Kita akan saling membantu dalam kelemahan jiwani yang memang mungkin datang mencengkam kita.—
    — Kita memang harus berjuang dan memohon kepada Yang Maha Agung, sumber dari segala sumber Kuasa di segala ruang dan waktu. Semoga kurniaNya tetap berada dalam kendali-Nya. Sehingga kita, peraganya, tidak berjalan sendiri menurut kemauan kita semata-mata.—

    Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam. Pernyataan Glagah Putih adalah satu pengakuan akan kelemahan jiwa seseorang yang mudah tergoda oleh gebyar kehidupan keduniawian.

    Untuk beberapa saat keduanya saling berdiam diri merenungi jalan kehidupan yang akan mereka lalui dengan bekal yang meyakinkan di dalam olah kanuragan.
    Namun tiba-tiba saja Glagah Putih pun berkata—Rara. Apakah kita perlu memberikan sebutan atas ilmu kanuragan yang kita sandang sekarang ini.—
    — Nama?—

    — Bukankah ilmuku dan ilmumu telah lebur? Kau tidak dapat lagi menyebut ilmumu dengan Aji Pacar Wutah Puspa Rinonce. Aku juga tidak akan dapat menyebut lagi Aji Sigar Bumi, serta ilmuku yang lain yang tidak mempunyai sebutan apa-apa. Meskipun kau masih tetap memiliki Aji Pacar Wutah yang masih dapat kau terapkan jika kau kehendaki, demikian pula aku, tetapi dalam puncak kemampuan kita, kita memerlukan sebutan yang pantas. Di dalam kitab itu tidak ada petunjuk, apa-apa tentang sebutan atas ilmu yang tercantum di dalamnya. Bukan sekedar tulisan yang tidak berarti apa-apa. Tetapi setelah kita jalani laku, maka apa yang tertulis di dalam kitab itu telah ternyata dalam diri kita.—

    — Kakang akan memberi sebutan pada puncak ilmu kita?—
    — Kalau mungkin apa salahnya?—
    — Aku sependapat kakang.—
    — Nah, sekarang kita akan mencari nama itu.—
    Rara Wulan memandang Glagah Putih sekilas. Kemudian dipandanginya tebing berbatu padas yang berguguran.

    Rara Wulan sendiri juga mampu melakukannya, meskipun mungkin masih selapis dibawah kemampuan Glagah Putih. Namun apa yang dapat dilakukan oleh Rara Wulan, telah melampaui kemampuan ilmunya Aji Pacar Wutah Puspa Rinonce.

    — Sebutan apa yang akan kakang pergunakan?—
    — Berbeda dengan sebutan ilmu yang pernah kita dengar. Kita tidak perlu mempergunakan sebutan yang mengesankan kekerasan. Bukankah ada sisi yang lembut dari ilmu yang telah kita warisi lewat kitab itu?-
    — Ya, kakang.—

    Glagah Putih menarik nafas panjang. Kemudian iapun merenungi beberapa kata yang pantas untuk menyebut ilmunya. Namun akhirnya Glagah Putih itupun menggeleng sambil berdesis. — Aku tidak menemukan nama yang mapan untuk ilmu kita.—
    — Jadi?—
    — Bagaimana jika kita sebut saja dengan Aji Namaskara.—
    — Aji Namaskara – ulang Rara Wulan.
    — Bagaimana menurut pendapatmu?—

    — Baik, kakang. Ilmu itu akan selalu mengingatkan kita kepada Ki Namaskara. Orang yang langsung atau tidak langsung telah mewariskan ilmu itu kepada kita. Karena Ki Namaskara mewariskan ilmu itu tanpa nama, maka kita sebut saja Aji Namaskara. Seandainya nama itu masih terdengar agak janggal, semakin lama akan semakin terbiasa bagi telinga kita. Bukankah nama itu hanya akan disebut-sebut di antara kita saja?—
    — Ya.—
    — Nah, baiklah. Sejak sekarang kita sebut ilmu puncak kita itu dengan Aji Namaskara.—
    Glagah Putih mengangguk-angguk sambil berdesis — Ya. Aji Namaskara.—

    Keduanyapun kemudian sejenak termenung. Agaknya mereka sedang merenungi nama yang baru saja mereka ucapkan untuk menyebut ilmu puncak yang mereka kuasai setelah menjalani laku yang berat di dalam hutan di kaki Gunung Merapi.
    Namun beberapa saat kemudian, Glagah Putihpun berkata. – Baiklah. Sekarang kita akan melanjutkan perjalanan kita.—

    — Marilah kakang – sahut Rara Wulan sambil bangkit berdiri. Keduanyapun kemudian meninggalkan tepian itu. Mereka menaiki tebing yang tidak terlalu tinggi. Merekapun berjalan beberapa saat menyusuri tanggul.
    — Kita akan kembali ke jalan yang kita lalui tadi – berkata Glagah Putih.
    — Ya, kakang – jawab Rara Wulan sambil melangkahi parit yang membujur disepanjang kotak-kotak sawah. Selanjutnya keduanyapun berjalan meniti pematang diantara tanaman yang nampak hijau.

    Beberapa saat kemudian, merekapun telah melangkahi parit lagi dan turun ke jalan yang tadi mereka lewati. Ternyata jalan yang mereka lewati memang jalan yang tidak terlalu banyak dilalui orang. Mereka tidak terlalu sering berpapasan dengan seseorang. Tidak pula ada orang yang jalan seiring dengan mereka.

    — Jalan ini terasa terlalu sepi – berkata Rara Wulan kemudian.
    — Ya. Padahal didepan terdapat beberapa padukuhan yang cukup besar. Sawahnyapun nampak subur terbentang sampai ke batas hutan yang membujur di cakrawala.—

    Rara Wulan mengangguk. Katanya – Mungkin kerja di sawah telah selesai. Tanaman tumbuh dengan subur. Para petani tinggal menunggu padi yang telah bunting itu berbuah dan menjadi kuning. Kemudian memetiknya dan membawanya ke lumbung.—

    Glagah Putih mengangguk-angguk. Pada saat padi bunting justru para petani menjadi tegang. Kadang-kadang jika nasib buruk, justru hama datang menyerang. Hama walang sangit dapat datang setiap saat menghisap biji yang masih agak cair, sehingga ketika padi itu berbuah, maka butir-butirnya telah kosong. Yang ada hanyalah kulitnya yang tegak mencuat dari batangnya. Namun padi yang kosong, yang nampaknya menengadah itu sama sekali tidak memberikan apa apa kepada para petani yang menanam dan memelihara dengan tekun sebelumnya.

    Namun jika nasib baik, maka padi itu akan menghasilkan buah yang berisi. Namun justru semakin berisi, maka buah padi itu akan nampak semakin merunduk.

    Buah padi yang merunduk itu adalah buah padi yang seolah-olah tahu membalas budi kepada para petani yang menanam dan memeliharanya dengan tekun. Demikianlah, Glagah Putih dan Rara Wulan berjalan di jalan yang panjang menuju ke sebuah padukuhan yang terhitung besar.

    Sementara itu, matahari telah mulai bergerak menurun. Sambil menengadahkan wajahnya Rara Wulanpun berkata.- Ternyata kita cukup lama berada di tepian.—

    — Ya – Glagah Putih mengangguk – kita telah kehilangan banyak waktu Jika saja kita berjalan terus, maka kita tentu sudah melampaui beberapa bulak panjang dan beberapa padukuhan.—
    — Tetapi bukankah kita tidak berada dalam batasan waktu? Ternyata permainan kakang di tepian ada juga artinya.—

    — Maksudmu?—
    Rara Wulan menarik nafas panjang. Katanya – Kita sempat memberi nama terhadap ilmu puncak kita.—
    — Ya – Glagah Putih mengangguk-angguk – selain itu kitapun semakin mengenali diri kita dan semakin mencemaskan ketahanan jiwa kita terhadap godaan duniawi.—

    — Bukankah dengan demikian kita dapat lebih mengenali pula sisi-sisi kehidupan kita? Yang gelap, yang suram dan yang terang?—
    — Ya. Satu dorongan untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Ingat di setiap saat akan keberadaan-Nya dan Kuasa-Nya.— Rara Wulan menarik nafas panjang. Namun untuk beberapa saat mereka saling berdiam diri.

    Dalam pada itu, mataharipun menjadi semakin rendah. Keduanya telah melintasi padukuhan yang cukup besar yang membujur sepanjang jalan yang mereka lalui. Mereka berjalan lewat di depan bangunan yang cukup besar. Banjar padukuhan itu.

    Namun padukuhan itu tidak terlalu ramai. Halaman-halaman rumah yang luas menjadikan jarak antara tetangga menjadi jauh. Tanah yang tidak rata, gumuk-gumuk kecil yang ada di padukuhan itu agaknya telah membuat jarak antara seseorang dan orang yang lain.

    — Gumuk-gumuk kecil itu dapat longsor jika hujan lebat turun – desis Rara Wulan.
    — Ya. Tetapi agaknya hal itu jarang sekali terjadi.— Rara Wulan mengangguk-angguk.

    Di ujung padukuhan mereka berpapasan dengan beberapa orang anak yang pulang dari padang sambil menggiring kambing mereka. Anak-anak itu berpaling memandang Glagah Putih dan Rara Wulan dengan kerut di dahi. Mereka belum pernah melihat keduanya lewat jalan utama di padukuhan mereka. Tetapi mereka tidak bertanya apa-apa.

    — Kambing mereka nampak gemuk-gemuk – berkata Glagah Putih kemudian.
    — Tentu di sekitar ini terdapat padang rumput yang luas.—
    — Atau padang perdu.—
    — Mereka tidak akan menggembalakan kambing mereka kepadang perdu dekat dengan hutan itu. Di hutan itu tentu berkeliaran binatang buas.— Glagah Putih mengangguk-angguk.

    Ketika mereka kemudian berjalan di tengah-tengah bulak berikutnya, maka mataharipun menjadi semakin rendah.

    Cahaya matahari yang menjadi semakin lunak menebar diatas kotak-kotak sawah yang bertingkat, semakin lama semakin menurun. Di belakang mereka, puncak Gunung Merapi nampak kemerah-merahan. Beberapa lembar awan nampak mengambang di lambung gunung.

    Malam itu, Glagah Putih dan Rara Wulan bermalam di sebuah banjar padukuhan. Ternyata orang-orang padukuhan itu sangat baik, sehingga Glagah Putih dan Rara Wulan diperlakukan sebagai seorang tamu.

    Penunggu banjar itu lelah menyediakan makan malam bagi keduanya. Bahkan di pagi hari, penunggu banjar itu sudah menyediakan ketela pohon yang direbus dengan legen kelapa.

    Setelah mengucapkan terima kasih, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun meninggalkan padukuhan itu untuk meneruskan perjalanan mereka.

    — Ki Sanak – bertanya Glagah Putih kepada penunggu banjar – aku sekarang berada di padukuhan mana?—
    — Ki Sanak berada di padukuhan Watu Palang. Jika Ki Sanak berjalan terus, maka Ki Sanak akan sampai kepadukuhan Tegal Reja. Kalau Ki Sanak berjalan terus ke barat, maka Ki Sanak akan sampai ke Kali Praga.—
    — Kali Praga – ulang Rara Wulan.

    — Ya. Kali Praga Ki Sanak akan menempuh perjalanan di dataran yang luas. Namun Ki Sanak masih akan menjumpai padang perdu, hutan dan rawa-rawa. Baru kemudian Ki Sanak akan sampai ke dekat satu lingkungan yang di tebari dengan bangunan-bangunan kuna berupa candi-candi.—

  41. Api Dibukit Menoreh
    Jilid IV – 60
    Bagian🙂🙂 dari 3

    Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk. Ia belum pernah melewati padukuhan Tegal Reja. Iapun belum pernah menjelajahi daerah yang menyimpan banyak peninggalan bangunan lama meskipun mereka tahu tentang bangunan-bangunan kuna itu.

    Tanah Perdikan Menoreh adalah dataran yang dibatasi oleh dinding yang berujud rangkaian panjang sebuah pegunungan yang disebut Pegunungan Menoreh di sisi Barat. Pegunungan yang membujur ke Utara sampai ke tlatah yang akan dilewatinya jika mereka tidak sengaja berjalan melingkar.

    —Terima kasih, Ki Sanak. Kami mohon diri.—
    — Berhati-hatilah di perjalanan. Kalian akan menempuh daerah yang gawat. Meskipun daerah yang akan kalian lalui menjadi jalan pintas para pedagang, tetapi biasanya mereka melintas dalam rombongan yang cukup kuat. Mereka tidak mau terperosok ke dalam kesulitan karena sekelompok perampok yang menghadang mereka. Jika mereka melintas dalam kelompok yang agak besar, maka mereka akan dapat saling membantu melawan para perampok itu. Terlebih-lebih di sekitar penyeberangan di Kali Praga.—

    — Penyeberangan yang bagaimana yang Ki Sanak maksudkan? Apakah di Kali Praga itu ada beberapa tukang satang dengan rakitnya menunggu orang-orang yang menyeberang?—
    — Pada keadaan yang sewajarnya, tidak. Orang dapat menyeberang tanpa bantuan rakit dan tukang satang.-

    Sekali lagi Glagah Putih dan Rara Wulan mengucapkan terima kasih sebelum mereka beranjak meninggalkan padukuhan itu. Ketika mereka keluar dari padukuhan Watu Palang, mereka masih melihat kabut yang tipis menebar di bulak yang panjang. Namun kabut itu perlahan-lahan terangkat oleh cahaya matahari yang baru terbit.

    Jalan membujur panjang dihadapan mereka. Menusuk di antara kotak-kotak sawah yang luas. Diujung jalan itu nampak sebuah padukuhan yang lamat-lamat mencuat dari balik kabut yang menipis. Namun di arah lain mereka melihat hutan yang agaknya masih lebat di ujung kaki Gunung Merapi.

    — Kita akan pergi ke Tegal Reja – berkata Glagah Putih.
    — Apakah kita akan menyeberang?—
    — Ya. Kita akan menyeberang Kali Praga. Tetapi kita tidak akan menuju ke Selatan agar kita tidak sampai di Tanah Perdikan kembali.—

    Rara Wulan tersenyum. Katanya kemudian – Pada dasarnya Kali Praga dapat diseberangi.
    — Ya. Seperti yang dikatakan penunggu banjar di Watu Palang. Tetapi jika banjir, agaknya kita akan sulit menyeberang.—

    — Kau lihat langit bersih, kakang. Bukankah sekarang tidak sedang mangsa rendeng? Di musim hujan mungkin Kali Praga banjir hampir sedap hari.—
    — Ya. Tetapi tentu tidak perlu hari ini. Mungkin esok atau bahkan lusa.—
    — Kenapa harus esok atau bahkan lusa?—

    — Mungkin ada yang menarik perhatian di sepanjang jalan. Tetapi bukankah jalan masih panjang.—
    — Tetapi seperti dikatakan oleh penunggu Banjar, kita harus berhati-hati karena kita akan melalui jalan yang agaknya mempunyai banyak hambatan.—

    — Ya. Meskipun demikian, jalan ini masih saja menjadi jalur perjalanan para pedagang yang akan menuju ke daerah Barat. Agaknya cara mengatakannya terbalik Rara. Bukan para pedagang itu memilih jalan yang meskipun banyak hambatannya. Tetapi justru karena jalan ini banyak dilalui para pedagang yang dianggap membawa banyak uang dan barang-barang berharga, maka daerah ini telah mengundang kelompok-kelompok orang yang berniat jahat. Mereka yang ingin memiliki banyak uang dan barang-barang berharga melalui jalan pintas.

    Rara Wulan tersenyum. Katanya – Ya. Agaknya kau benar kakang. Sebelum para penjahat itu berdatangan jalan ini tentu merupakan jalan yang aman dan terhitung dekat dengan tujuan para pedagang yang menuju ke Barat itu. Sehingga mereka memilih melalui jalan ini. Namun lambat laun, jalan inipun menjadi jalan yang berbahaya.—

    —Tentu semula para pedagang itu lewat tanpa harus menunggu beberapa orang kawan. Mereka agaknya menyeberang jalan ini sendiri-sendiri atau berdua saja. Namun mereka kemudian menjadi sasaran kejahatan yang seakan-akan terpanggil untuk melakukannya disini.—

    — Ya. Dengan demikian maka para pedagang itupun mendapatkan akal. Mereka melintas bersama-sama sehingga mereka akan dapat melawan jika sekelompok perampok menghentikan mereka.—

    Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk. Namun Rara Wulanpun kemudian berkata – Tetapi kita tidak usah merasa cemas. Kita tidak mempunyai apa-apa, sehingga tidak ada seorang penjahatpun yang akan mengganggu kita.—

    — Kita membawa uang – desis Glagah Putih.
    — Tidak seberapa dibanding dengan benda-benda berharga yang dibawa oleh para pedagang.—
    — Ada yang lebih berharga.—

    Rara Wulan mengangguk. Katanya – Ya. Kitab ini.— Glagah Putihpun tiba-tiba berkata – Bagaimana pendapatmu jika kitab itu kita sembunyikan saja di tempat yang tidak akan pernah didatangi seseorang.

    — Dimana?—
    —Didalam goa misalnya. Goa yang tidak akan pernah menarik perhatian orang.—
    — Kalau petinya rusak dan kitabnyapun kemudian rusak pula?
    — Bukankah kitab itu tidak boleh diketahui isinya oleh siapapun kecuali kita?—
    — Bagaimana jika kita musnahkan saja?—
    — Kita masih belum tuntas. Rara. Kita belum menemukan Tuk Kawarna Susuhing Sarpoa Selain itu, masih ada lagi bagian-bagian dari laku yang harus kita selesaikan, meskipun tidak harus dengan serta-merta.—

    Rara Wulan mengangguk-angguk. Katanya – Ya. Kita masih harus menuntaskannya.—
    —Bagaimana jika kitab itu tidak usah kita tempatkan dalam peti kecil itu?—
    —Lalu?—
    —Petinya saja yang kita sembunyikan.—
    — Kalau rusak?—

    — Tidak apa-apa.—
    — Peti itu buatannya bagus sekali kakang. Aku sebenarnya senang pada bentuk dan ujudnya—
    — Jika demikian, biar saja kitab itu tersimpan didalam peti itu. Rara Wulan menarik nafas panjang.

    Namun kemudian Rara Wulan itupun berkata – Kakang. Sebaiknya kitab itu tidak ditempatkan lagi didalam peti ini. Kakang membawa kitabnya Aku membawa petinya. Jika ada orang yang tertarik pada peti ini, maka kita tunjukkan bahwa peti itu kosong.—

    — Kitab ini dapat rusak, mungkin karena keringat. Tetapi mungkin karena gerak tubuhku. Apalagi jika aku harus berloncatan dan bahkan berguling dan berputaran.—

    — Kitab itu kita bungkus dengan kain. Kita dapat membeli kain di pasar yang akan kita lewati. Entah nanti, entah esok. Jika kitab itu ada didalam peti ini akan dapat terjadi salah paham. Apalagi jika kita akan melewati jalan yang mempunyai banyak hambatan. Mereka tentu akan mempertanyakan isi peti ini. Jika kita harus membukanya, maka kitab itu akan sangat menarik perhatian mereka. Tetapi jika peti itu kosong, maka mereka tidak akan mempersoalkannya lagi.—

    — Tetapi mereka tentu masih juga akan bertanya, kenapa peti kosong itu kau bawa kemana-mana?—
    — Peti itu semula berisi perhiasan peninggalan orang tua. Tetapi sudah di rampas orang sebelumnya.—

    Glagah Putih tertawa. Tetapi iapun berkata – Baiklah. Jika kita sudah mempunyai sepotong kain, maka kitab kecil yang ada didalam peti kecil itu akan kita bungkus dan aku akan menyelipkannya dibawah bajuku. Tetapi aku harus mengenakan setagenku diluar bajuku agar kitab itu tidak meluncur jatuh.—

    — Kau pakai baju gondil. Kau bawa kitab itu didalam baju gondil-mu.—
    Glagah Putih tertawa lebih panjang. Namun suara tertawanya berhenti. Glagah Putih dan Rara Wulan itupun berpaling karena mereka mendengar derap kaki beberapa ekor kuda yang berlari di belakang mereka.

    Beberapa saat kemudian beberapa orang penunggang kuda melarikan kuda mereka mendahului Glagah Putih dan Rara Wulan. Ada diantara mereka yang berpaling kepada kedua orang suami isteri itu. Tetapi yang lain sama sekali tidak menghiraukannya

    — Tentu mereka para pedagang dan saudagar yang diceriterakan oleh penunggu banjar itu – desis Rara Wulan.

    — Ya. Sekelompok saudagar dan pedagang yang cukup kuat. Para pedagang dan saudagar yang berkeliling sampai ke tempat yang jauh, mereka tentu memiliki bekal kemampuan dan ilmu yang tinggi. Bahkan ada diantara mereka yang masih membawa satu dua orang pengawal yang kuat untuk melindunginya dari orang-orang yang berniat jahat. Jika mereka bergabung dalam satu kelompok yang agak besar, maka kelompok-kelompok penjahatpun akan berpikir ulang jika mereka berniat mencegat perjalanan para pedagang dan saudagar itu.—

    Rara Wulan mengangguk-angguk. Dengan cara yang demikian, maka para pedagang dan saudagar itu tidak akan diganggu di perjalanan. Baru setelah mereka sampai di tempat yang aman mereka saling memisahkan diri.

    Tetapi tempat yang aman itupun pada suatu saat tentu akan menjadi tidak aman pula. Para penjahat, perampok dan penyamun yang mencium bahwa para pedagang dan saudagar itu telah berpisah dan menuju ke tujuan mereka masing-masing maka merekapun akan datang ketempat itu.

    Yang kemudian nampak di depan, adalah debu yang dihamburkan oleh kaki kuda yang berlari, iring-iringan orang berkuda itupun kemudian segera hilang dari pandangan mata mereka.

    Keduanyapun kemudian meneruskan perjalanan mereka. Jalan yang mereka lalui masih berada di bulak yang luas. Padukuhan yang ada di hadapan mereka masih berjarak beberapa ratus kotak.

    — Akhirnya daerah ini akan menjadi daerah yang aman dengan sendirinya. Para perampok dan penyamun akhirnya akan pergi karena tempat ini tidak lagi memberikan kemungkinan kepada mereka untuk merampas harta benda para pedagang dan saudagar yang lewat dalam kelompok-kelompok yang cukup besar. Meskipun sebenarnya para pedagang dan saudagar itu juga saling bersaing, tetapi di perjalanan yang gawat mereka saling membantu.—

    Rara Wulan masih mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba mereka terkejut ketika mereka sampai di simpang empat di tengah-tengah bulak yang sepi itu. Beberapa orang bermunculan dari balik gerumbul perdu yang tumbuh di sebelah menyebelah jalan yang menyilang jalan yang dilalui oleh Glagah Putih dan Rara Wulan.
    — Berhenti – berkata seorang diantara mereka. Glagah Putih dan Rara Wulanpun berhenti.
    — Ada apa kalian menghentikan perjalanan kami, Ki Sanak? -bertanya Glagah Putih.
    — Jangan berpura-pura tidak tahu.—

    Glagah Putih mengerutkan dahinya. Katanya – Aku tidak berpura-pura. Tetapi aku benar-benar tidak tahu maksud kalian.—
    —Baiklah – berkata seorang yang lain – aku tidak mau berbelit-belit Berikan apa saja yang kalian punya kepada kami.—

    — O – Glagah Putih mengangguk-angguk – jadi kalian ingin merampok?—
    — Ya.—
    — Kenapa tidak kau lakukan tadi ketika sekelompok orang berkuda lewat? Mereka adalah pedagang dan saudagar-saudagar yang tentu kaya.

    Mereka tentu membawa uang dan barang-barang berharga yang dapat kalian rampas dan kalian bawa kesarang kalian.—
    —Gila. Mereka terdiri dari banyak orang.—

    Glagah Putih memandang para perampok itu seorang-seorang. Mereka memang hanya terdiri dari lima orang. Mereka tentu akan membuat pertimbangan ulang jika mereka akan merampok sekelompok pedagang dan saudagar berkuda yang baru saja lewat.

    — Ki Sanak – berkata Glagah Putih – kenapa kalian hanya berlima? Bukankah kalian tahu, bahwa para pedagang dan saudagar yang lewat jalan ini tentu tidak hanya satu atau dua orang. Mereka tentu berkelompok agar mereka dapat mempertahankan dirinya jika mereka bertemu dengan sekelompok perampok.—

    Seorang diantara mereka menjawab dengan jujur – Sebenarnya kami tidak hanya berlima Kami telah membuat kesepakatan dengan beberapa orang kawan kami yang lain. Tetapi agaknya mereka terlambat datang. Mereka tentu memperhitungkan bahwa jika ada sekelompok pedagang lewat, tentu tidak sepagi ini. Tetapi menurut dugaan kami, nanti tentu masih ada lagi sekelompok pedagang yang lewat. Mudah-mudahan kelompoknya lebih kecil dari kelompok yang besar yang baru saja lewat.—

    Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya – Baiklah. Tunggu saja kawan-kawanmu. Nanti kalian dapat menghentikan sekelompok pedagang yang akan lewat.—

    — Tetapi kami tidak membiarkan kalian berdua lewat begitu saja tanpa menyerahkan uang dan barang-barang milik kalian.—
    — Kami tidak mempunyai apa-apa – jawab Glagah Putih – kami adalah dua orang pengembara.—
    — Pengembara?—

    — Ya. Kami sedang menjalani laku. Kakekku meninggalkan warisan kepadaku pengetahuan tentang pengobatan dan penglihatan tembus ruang dan waktu. Tetapi aku harus menjalani laku. Kami harus mengembara tiga tahun tanpa pulang. Mendatangi tempat-tempat yang keramat dan mencari berbagai macam jenis tumbuh-tumbuhan.—

    Para penyamun itu termangu-mangu sejenak. Namun Rara Wulan menjadi berdebar-debar ketika ada d
    iantara mereka yang memandangi peti yang di emban dengan selendangnya.
    — Apa yang kau bawa? – bertanya salah seorang diantara para penyamun itu kepada Rara Wulan.
    — Bukan apa-apa – jawab Rara Wulan.
    — Berikan kepadaku – geram penyamun itu.—

    Tetapi Glagah Putihlah yang menjawab – Yang dibawanya adalah sebuah peti yang berisi kitab. Laku yang kami jalani sekarang dasarnya adalah bunyi kitab itu.—
    — Bohong. Kalian tentu membawa barang berharga di selendangnya itu.—

    Glagah Putihpun kemudian mendekati Rara Wulan sambil berkata -Tunjukkan kepadanya, bahwa yang ada di dalam gendonganmu itu adalah sebuah peti kecil yang berisi kitab yang menuntun laku yang sedang kita jalani sekarang.—

    Rara Wulan menjadi agak ragu. Namun iapun kemudian mengambil peti kecil itu dan membukanya. Yang ada di dalam peti kecil itu memang hanya sebuah kitab kecil.

    — Nah, kau percaya sekarang bahwa kami tidak mempunyai apa-apa kecuali kitab kecil itu? Jika kau tidak percaya, kau dapat membaca isinya serba sedikit untuk meyakinkan kebenaran kata-kataku
    — Tidak. Aku tidak perlu melihat isi kitab itu.—

    — Bukankah kau harus yakin bahwa aku tidak berbohong ?— Tiba-tiba saja orang itu membentak – Aku tidak dapat membaca. Buat apa aku melihat isi kitabmu ?—

    —Jika demikian biarlah kami lewat.—
    — Tunggu – berkata yang lain – jika kau mengembara selama tiga tahun, kau tentu membawa bekal uang cukup banyak.—

    Glagah Putih tertawa. Katanya – Ki Sanak. Kami tidak sedang menempuh perjalanan untuk ngenggar-ngenggar penggalih, sehingga kami membawa banyak uang untuk bekal perjalanan. Tetapi kami sedang menjalani laku. Kami makan dan minum apa saja yang kami temui di perjalanan kami. Suatu kali kami mendapat perlakuan baik dari penghuni sebuah padukuhan. Kami mendapat suguhan makan dan minum. Namun pada kesempatan lain, kami menemukan pohon buah-buahan liar di pinggir-pinggir hutan. Sekali-kali kami melibatkan diri dalam kerja di sawah atau ikut sambatan atas ijin pemiliknya, maka kami akan mendapat, uang serba sedikit. Setidak-tidaknya kami akan mendapat makan dan minum di hari itu.—

    Para penyamun itu termangu-mangu. Namun agaknya mereka mempercayai keterangan Glagah Putih dan Rara Wulan. Karena itu, seorang diantara mereka yang agaknya mereka anggap sebagai pemimpin, berkata – Biarlah mereka pergi.

    Tetapi seorang diantara mereka berkata – Kenapa kita tidak minta perempuan itu singgah barang sebentar di sarang kita ?—
    — Tutup mulutmu. Kau selalu membuat kita semuanya kehilangan kabegjan. Kehilangan kesempatan untuk mendapat rejeki.— Orang itu terdiam.

    Dalam pada itu, Glagah Putihpun berkata – Terima kasih Ki Sanak. Kami akan meneruskan perjalanan kami. Perjalanan kami masih panjang- Kami baru menjalani laku ini selama setengah tahun.—

    — Pergilah. Jangan lewat jalan ini lagi – geram pemimpin sekelompok penyamun itu. Glagah Putih dan Rara Wulanpun kemudian beranjak meninggalkan tempat ini.

    Namun sebelum mereka pergi, mereka melihat beberapa orang datang lewat jalan simpangan menemui para penyamun yang sudah ada di bulak itu.
    — Kau biarkan orang itu pergi? — bertanya seorang di antara mereka yang baru datang.

    — Ya.—
    — Kenapa ? —
    — Mereka adalah pengembara yang sedang menjalani laku atas perintah guru mereka. Mereka tidak membawa apa-apa kecuali membawa kepala mereka. —

    Orang yang baru datang itu mengangguk-angguk. Namun ternyata mereka tidak menghentikan Glagah Putih dan Rara Wulan yang berjalan terus dengan jantung yang berdebaran. Jika orang-orang yang baru datang itu bersikap lain, maka keduanya terpaksa mengambil sikap yang lain pula.

    Namun Glagah Putih dan Rara Wulan masih mendengar seseorang berkata — Kalian datang terlambat. Ada beberapa orang pedagang dan saudagar berkuda lewat. —
    — Kalian tidak menghentikan mereka? —

    — Mereka lewat dalam kelompok besar. Kami tidak ingin membunuh diri disini.
    Agaknya mereka masih berbincang panjang. Namun Glagah Putih dan Rara Wulan yang menjadi semakin jauh, tidak dapat mendengarkan lagi.

    Glagah Putih dan Rara Wulan masih berjalan menyusuri jalan yang sama. Beberapa kali ia melewati padukuhan. Namun mereka masih juga melihat jejak kaki kuda di jalan yang dilewatinya. Karena itu, merekapun tahu bahwa para pedagang dan saudagar itu melewati jalan yang mereka lewati itu pula.

    Dalam pada itu jalan yang mereka lewati semakin lama justru nampak menjadi semakin ramai. Beberapa jalur jalan bermuara dijalan yang mereka lewati itu.
    — Kita menuju ke tempat yang agaknya lebih ramai dibandingkan tempat yang telah kita lewati. — Glagah Putih mengangguk.

    Apakah kita sudah sampai di Tegal Reja?
    — Tentu belum. — jawab Glagah Putih.
    —tetapi jalan ini tentu menuju ke Tegal Reja. — Rara Wulanpun mengangguk pula.

    Ketika mereka memasuki sebuah padukuhan yang agaknya cukup besar, maka mereka telah melewati sebuah pasar. Pasar yang cukup luas. Tatapi agaknya pasar itu telah mengalami masa surut. Pasar itu sudah tidak banyak dikunjungi orang. Apalagi hari sudah semakin siang.

    — Dihari pasaran, mungkin pasar ini masih juga ramai—berkata Rara Wulan.
    — Tetapi menilik bangunannya, serta sisi-sisi yang telah ditumbuhi rerumputan dan bahkan batang ilalang itu, pasar ini sudah menjadi jauh menyusut. Sebagian dari bangunan-bangunan yang ada di pasar ini tidak dipergunakan lagi. Tempat para pande besi bekerja di sudut pasar itupun nampaknya tidak pernah lagi disentuh. —

    Keduanya justru berhenti di depan pasar yang menjadi semakin lengang itu.
    — Masih ada sebuah kedai yang buka—berkata Glagah Putih — kita dapat singgah sebentar. — Rara Wulan mengangguk. —

    Ketika keduanya memasuki kedai yang masih terbuka pintunya itu, tidak seorangpun yang berada di dalamnya kecuali pemilik kedai itu. Agaknya dagangannya pun tidak terlalu banyak. Hanya sekedarnya saja. Tidak terdapat seorang pelayanpun didalam kedai itu, sehingga segala sesuatunya cukup dilakukan oleh pemiliknya sendiri.

    Glagah Putih dan Rara Wulanpun telah memesan minuman. Ketika mereka bertanya tentang makan yang tersedia di kedai itu, pemilik kedai itu menjawab — Disini hanya disediakan nasi tumpang Ki Sanak.

    — Tidak ada yang lain? — bertanya Rara Wulan.
    — Tidak. Tidak banyak orang yang datang ke pasar ini sekarang. Bahkan semakin lama semakin menyusut. —
    — Kenapa?—bertanya Rara Wulan.

    tidak banyak lagi pedagang dari tempat yang jauh datang ke pasar ini. Dahulu, pasar ini merupakan tempat pemberhentian para pedagang dari tempat-tempat yang jauh. Disebelah pasar itu terdapat rumah yang besar, yang dipergunakan sebagai penginapan. Setiap hari halamannya yang luas, terisi oleh beberapa buah pedati. Disini para pedagang membawa dagangan yang kemudian diambil oleh para pedagang dari tempat yang berbeda. Mereka kadang-kadang saling menukar barang-barang dagangan mereka. —

    — Apakah sekarang tidak lagi? —
    — Tidak.—
    — Kenapa? —
    Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya — Sudahlah. — orang itu berhenti sejenak, lalu iapun tiba-tiba bertanya — Apakah Ki Sanak mau makan atau tidak? Yang ada hanya nasi tumpang.

    — Jika tidak ada yang lain, baiklah —jawab Rara Wulan.
    Pemilik kedai itu kemudian menyiapkan minuman dan nasi tumpang bagi kedua orang tamunya,

    Glagah Putih dan Rara Wulan yang duduk diamben yang panjang termangu-mangu memandang berkeliling. Kedai itu memang sederhana saja. Meskipun ruangannya cukup luas, tapi sebagian tidak lagi dipergunakan.

    — Pada saatnya kedai ini tentu sebuah kedai yang besar — berkata Rata Wulan.
    — Ya, menilik sisa-sisa parabot yang dipergunakannya sekarang. Tetapi sejalan dengan menyusutnya pasar di sebelah, maka kedai inipun telah menyusut pula. Agaknya demikian pula kedai-kedai yang lain. Bahkan mungkin satu dua diantaranya sudah ditutup.

    Rara Wulan mengangguk-angguk. Katanya — Agaknya pemilik kedai itu tidak mau menyebut penyebabnya meskipun jelas. Tentu karena tidak banyak lagi pedagang yang datang ke pasar itu. Sedang para pedagang itu tidak mau mengalami kesulitan dengan para perampok dan penyamun. Sehingga pasar inipun kemudian tidak lebih dari pasar bagi orang-orang yang menjual hasil kebunnya. Mereka yang berbelanja pun hanyalah mereka yang memerlukan kebutuhan dapur sehari-hari. —

    Pembicaraan mereka terhenti ketika dua orang laki-laki memasuki kedai itu dan duduk dekat Glagah Putih dan Rara Wulan. Ternyata keduanya adalah bebahu padukuhan itu. Pemilik kedai itu dengan serta-merta mendatangi keduanya sambil bertanya — Minum Ki Jagabaya? Ki Kamituwa? —

    — Ya —jawab orang yang disebut Ki Jagabaya.
    — Makan? — bertanya pemilik kedai itu.
    — Makan Ki Kamituwa? — bertanya Ki Jagabaya.
    — Terima kasih. Aku sudah makan dirumah. —
    — Tadi pagi? —
    — Aku sarapan sudah agak siang. —

    Ki Jagabaya itupun kemudian menjawab pertanyaan pemilik kedai itu — Tidak. Aku hanya akan minum. Apakah kau punya makanan? —
    — Sudah habis Ki Jagabaya. —
    — Baiklah, beri saja kami minum. —

    Pemilik kedai itu segera menyiapkan minuman bagi Ki Jagabaya dan Ki Kamituwa
    Dalam pada itu, kedua orang bebahu itu memperhatikan Glagah Putih dan Rara Wulan yang sedang makan nasi tumpang.

    Dengan nada ragu Ki Jagabaya bertanya — Maaf Ki Sanak. Aku ingin bertanya, apakah Ki Sanak tinggal di sekitar tempat ini? Rasa-rasanya aku belum pernah melihat Ki Sanak berdua. —
    — Kami memang tidak tinggal di sekitar tempat ini, Ki Jagabaya — jawab Glagah Putih.

    — Ki Sanak tahu bahwa aku Jagabaya di kademangan ini? —
    — Tadi, pemilik kedai itu menyebut Ki Jagabaya dan Ki Kamituwa. —
    — O — Ki Jagabaya dan Ki Kamituwa itu tertawa.
    — Jika demikian Ki Sanak ini tinggal dimana? — bertanya Ki Kamituwa.
    — Kami berdua adalah suami isteri yang tinggal di Banyu Asri, dekat Jati Anom.—

    — Jati Anom ? Begitu jauh. Lalu apa keperluan Ki Sanak sampai ke-mari? —
    — Kami sedang dalam pengembaraan Ki Kamituwa. Kami meninggalkan kampung halaman kami, karena kami tidak dikehendaki lagi keberadaan kami di rumah oleh orang tua kami. —
    — Maksud Ki Sanak ?

    — Orang tuaku dan orang tua isteriku tidak merestui pernikahan kami, sehingga kami terusir dari rumah mereka. Dari rumah orang tuaku dan dari rumah isteriku. Karena itu, kami mengembara atas nasehat seorang tua yang pandai. Pengembaraan ini menjadi laku, menyongsong masa depan kami berdua. —
    — Tetapi kenapa kalian lewat daerah kami yang terhitung daerah yang gawat ini.—
    — Kami tidak tahu bahwa daerah ini adalah daerah yang gawat, sehingga kami telah mengembara di lingkungan ini. —

    — Darimana kau kemudian mengetahui bahwa daerah ini adalah daerah yang gawat? —
    — Pemilik kedai ini memberitahukan kepadaku. —
    — Tidak Ki Jagabaya dan Ki Kamituwa — potong pemilik kedai itu — aku hanya mengatakan bahwa dahulu banyak pedagang yang lewat dan berhenti disini. Sekarang tidak lagi. —

    Kedua orang bebahu itu mengangguk-angguk. Ki Jagabayapun kemudian berkata — Orang itu tentu tidak akan berani berkata terus terang. -Banyak perampok dan penyamun disekitar tempat ini. Kami para bebahu menjadi pusing memikirkannya. Kesejahteraan rakyat kami menjadi jauh menyusut. Pasar ini hampir mati. Jika semula rakyat kami dapat mengais rejeki sedikit dipasar ini, sekarang tidak lagi. Kedai-kedaipun tidak lagi banyak dikunjungi orang. —

    Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Jagabayapun berkata — Kami tidak dapat berbuat banyak. Para pedagang yang kemudian lewat dalam kelompok-kelompok yang besar, tidak banyak yang singgah di pasar ini. Mereka langsung pergi ke tempat-tem-pat yang lebih ramai dan jauh dari para perampok dan penyamun karena lingkungannya yang lebih baik. Lingkungannya mempunyai kekuatan untuk melawan perampok dan penyamun.

    Glagah Putih dan Rara Wulan hanya dapat mendengarkan saja. Mereka tidak tahu, bagaimana harus menanggapi keluhan Ki Jagabaya itu. Namun mereka dapat mengerti apa yang dikatakan oleh kedua bebahu itu.

    — Tadi, sekelompok pedagang lewat. Tetapi mereka tidak mau lagi singgah di pasar ini. Apalagi bermalam disini seperti dahulu. Ketika aku persilahkan mereka singgah, mereka hanya mencibirkan bibir saja Bahkan ada yang dengan terus terang berkata bahwa kademangan ini tidak mampu menjaga keamanan mereka. —

    Glagah Putih dan Rara Wulan masih saja mengangguk-angguk. Ki Jagabaya itupun menarik nafas panjang. Di luar sadarnya iapun berkata — Sayang, bahwa Ki Demang tidak sekuat ayahnya dahulu. Jika Ki Demang seorang yang kuat seperti ayahnya, maka keadaan kademangan ini akan berbeda. —

    Adalah diluar sadarnya pula ketika Glagah Putih itupun berkata — Bukankah Ki Jagabaya mempunyai wewenang untuk menangani persoalan yang menyangkut pengamanan para pedagang itu? —

    Ki Jagabaya memandang Glagah Putih dengan tajamnya. Kemudian iapun berkata—Ya. Tetapi bukankah kegiatanku harus mendapat dukungan sepenuhnya dari Ki Demang. Jika Ki Demang masih saja acuh tak acuh, bagaimana aku dapat melangkah lebih jauh ? — Glagah Putih terdiam. Ki Jagabaya itupun menghirup minumannya lagi.

    Namun tiba-tiba saja seorang anak muda berlari-lari ke kedai itu. Dengan nafas terengah-engah iapun berkata — Ki Jagabaya. Ki Kamituwa. Ada serombongan pedagang yang berada di banjar. —
    — Kenapa? —

    — Sebagian mereka terluka. Nampaknya mereka baru saja bertempur melawan para penyamun di bulak panjang. Apakah mereka sempat melarikan diri atau mereka berhasil mengusir para penyamun namun beberapa orang kawan mereka terluka aku tidak tahu. —

    — Kejadian ini bukan kejadian yang pertama — berkata Ki Jagabaya
    — tetapi akibatnya sangat buruk bagi kademangan khususnya padukuhan ini. Para penyamun itu datang ke padukuhan dan menakut-nakuti rakyat kami. Mereka menganggap bahwa kami telah bersalah memberikan perlindungan kepada para pedagang itu. Padahal sekelompok pedagang dalam jumlah yang agak besar itu mampu melindungi diri mereka sendiri. —

    — Mereka menunggu Ki Jagabaya dan para bebahu — berkata anak muda itu.
    Tetapi Ki Jagabaya masih saja duduk di tempatnya. Katanya — Para pedagang itu berpegang pada kepentingan mereka sendiri. Tadi, kelompok yang terdahulu hanya mencibir bibirnya saja ketika aku minta untuk singgah. Sekarang dalam keadaan yang sulit, mereka ingin melibatkan kami. —

    — Apakah setiap hari ada beberapa kelompok pedagang yang lewat? bertanya Glagah Putih.
    — Tidak. Besok hari pasaran di pasar Tegal Reja. Besok lusa mereka akan berada di pasar Mertoyudan. Karena itu, hari ini ada beberapa kelompok pedagang yang lewat kademangan ini. —
    Glagah Putih menarik nafas panjang.

    — Bagaimana Ki Jagabaya ? — bertanya anak muda yang berlari-lari itu.
    — Kau sudah memberikan laporan kepada Ki Demang? —
    — Sudah, Ki Jagabaya. —
    — Apa kata Ki Demang? —
    — Aku diperintahkannya mencari Ki Jagabaya. —

    Ki Jagabaya menarik nafas panjang. Iapun kemudian bangkit berdiri dan berkata kepada Ki Kamituwa — Marilah kita lihat. Tetapi jika para perampok dan penyamun itu mendendam kepada kita disini, maka kitalah yang akan mengalami kesulitan. —

    — Kita dapat menjelaskannya, Ki Jagabaya. Bahwa kita tidak dapat berbuat lain. Kita tidak dapat melawan sekelompok penyamun. — Ki Jagabaya tidak menjawab. Dikeluarkannya uang dua keping, lalu diberikannya kepada pemilik kedai itu.

    — Sudahlah Ki Jagabaya. Hanya minuman. —
    — Kau sudah kehilangan gula kelapa untuk membuat minuman itu. —
    — Aku nderes sendiri Ki Jagabaya. —
    Ki Jagabaya tidak menjawab. Tetapi dua keping uang itu, tetap saja ditinggalkannya di sebelah mangkuk minumannya.

    Sejenak kemudian, keduanyapun telah beranjak dari tempatnya. Namun tiba-tiba saja Glagah Putih berkata — Ki Jagabaya, Apakah aku diperkenankan melihat keadaan mereka di banjar ? —
    — Apa kepentinganmu—

    — Kami berdua mempunyai sedikit pengetahuan tentang obat-obatan-serta perawatan. Mungkin kami dapat membantu merawat mereka. —
    — Kenapa kau bersusah payah melakukannya. —
    — Mungkin, mungkin…. — Glagah Putih tidak melanjutkannya.
    — Mungkin kau akan mendapat upah ? Begitu? — Glagah Putih tidak menjawab.

    — Terserah kepadamu. Jika kesulitan yang dialami oleh para pedagang itu dapat memberimu rejeki. —
    — Bukan maksudku, Ki Jagabaya. —
    — Baik. Baik. Aku mengerti. Aku minta maaf. —
    Ki Jagabaya dan Ki Kamituwa itupun segera meninggalkan kedai itu meskipun dengan perasaan yang agak segan.

    Glagah Putih dan Rara Wulanpun segera membayar harga minuman dan makanannya pula. Atas ijin Ki Jagabaya, maka merekapun akan pergi kebanjar padukuhan.

    Ketika Glagah Putih dan Rara Wulan sampai di banjar, dilihatnya Ki Jagabaya dan Ki Kamituwa sedang berbicara dengan beberapa orang pedagang. Sementara itu para pedagang yang lain nampaknya sibuk merawat tiga orang kawan mereka yang terluka agak berat. Sedangkan beberapa orang kawan yang lain terluka ringan. Namun agaknya mereka yang terluka ringan itu tidak menghiraukan luka-luka mereka serta pakaian mereka yang terkoyak.

    Sementara itu seorang diantara para pedagang yang berbicara dengan Ki Jagabaya itu berkata — Aku minta Ki Jagabaya dapat mengerti. —
    — Aku dapat mengerti, Ki Sanak. —
    — Jika Ki Jagabaya dapat mengerti, kenapa Ki Jagabaya merasa berkeberatan untuk merawat tiga orang kawan kami yang terluka parah.

    — Kami tidak berkeberatan, Ki Sanak. Tetapi kami akan merasa sangat sulit untuk mempertanggungjawabkan mereka jika sekelompok perampok itu datang kemari. Jika mereka datang dengan niat buruk terhadap tiga orang kawan Ki Sanak yang terluka, apa yang dapat kami lakukan.?

    — Apakah kalian sepadukuhan ini tidak dapat melawan sekelompok perampok? —
    — Jadi kami harus bertempur melawan para perampok itu? Ki Sanak. Ki Sanak harus tahu, bahwa kami tidak mempunyai kekuatan apa-apa. Tidak ada orang padukuhan ini yang mampu bertempur dengan ilmu kanuragan yang memadai. Bahkan aku dan para bebahu tidak memiliki ke-mampuan yang dapat mengimbangi para perampok dan penyamun. —

    —Tetapi kalian sepadukuhan jumlahnya tentu berlipat. —
    — Bayangkan Ki Sanak. Seandainya kami mengerahkan semua laki-laki sepadukuhan untuk melindungi tiga orang saudagar kaya yang terluka parah dipadukuhan ini, apa yang terjadi? Berapa orang yang harus kami korbankan untuk kepentingan tiga orang saudagar kaya itu. Apakah kami orang orang miskin dipadukuhan ini sudah sewajarnya mengorbankan nyawa kami untuk orang-orang kaya sebagaimana Ki Sanak dan para saudagar. —

    — Jadi, dimana letaknya kebersamaan diantara kita untuk menentang kejahatan? Jika kalian tidak mau merawat tiga orang kawan kami, bahkan dengan imbalan yang cukup, itu berarti bahwa kalian tidak mempedulikan nasib sesama kalian. —

    — Tetapi untuk melindungi tiga orang yang terluka parah itu, mungkin sekali kami harus mengorbankan nyawa lebih dari tiga orang? —
    — Itu adalah akibat yang harus ditanggung dalam kebersamaan. Kita saling berkorban untuk sesama kita. —
    — Kebersamaan yang manakah sebenarnya yang kalian maksud? —

    — Jangan pura-pura tidak tahu, Ki Jagabaya. Kami sekarang memerlukan bantuan kalian untuk menyembunyikan kawan-kawan kami yang terluka. —
    — Sudah aku katakan. Kami akan melakukannya. Tetapi kami tidak bertanggungjawab jika para perampok itu kemudian menemukannya. —
    —Nah, kebersamaan yang aku maksudkan adalah, bahwa kalian harus melindunginya. —

    — Kami tidak dapat mengorbankan orang-orang kami untuk menyelamatkan kawan-kawan kalian. —
    — Jadi kalian menolak untuk saling membantu? —

    — Saling membantu yang mana? Jika kalian dalam kesulitan, maka kalian baru ingat kepada kami. Orang-orang miskin yang tinggal di padukuhan ini. Tetapi jika usaha kalian lancar-lancar saja, maka kalian sama sekali tidak mau memalingkan wajah kalian kepada kami. Tadi juga ada serombongan pedagang yang lewat. Tetapi agaknya mereka luput dari pencegatan para penyamun. Ketika aku mempersilahkan mereka singgah di pasar atau berhenti sebentar, mereka justru mencibirkan bibir mereka. Mereka menjadi acuh tak acuh. Nah, sekarang keadaannya berbeda. Baru kalian berhenti dan menemui kami disini. Berbicara dan minta bantuan kami.—

    — Cukup. Aku tidak perlu sesorah itu. Kawan-kawanku terluka parah. Itu yang harus kita bicarakan. —
    — Ki Sanak—berkata Ki Jagabaya—aku menyarankan agar kawan-kawan Ki Sanak itu kalian titipkan di padukuhan yang agak jauh, sehingga para perampok itu tidak akan mencarinya kesini. —

    Tetapi seseorang diantara para pedagang itu berkata—persetan kau Ki Jagabaya. Agaknya kau justru bekerja sama dengan para perampok dan penyamun itu. —
    — Ki Sanak. Kenapa Ki Sanak menuduh kami seperti itu?—
    — Jika kalian bukan bagian dari mereka, kalian tentu akan bersedia menyembunyikan dan melindungi kawan kami. —

    Wajah Ki Jagabaya menjadi marah. Sementara itu pedagang yang lainnya berkata — Ki Jagabaya. Tadi, dalam pertempuran dengan para perampok dan penyamun, kami. dapat mengalahkan mereka. Mereka berlarian dengan meninggalkan satu atau dua orang terbunuh dan yang lain luka-luka parah. Jika kalian takut kepada para penyamun, apakah kalian tidak takut kepada kami? Kami dapat memaksa keinginan kami kepada Ki Jagabaya. Bahkan kami akan mengancam, bahwa kami dapat berbuat lebih buruk dari apa yang dapat dilakukan oleh para perampok dan penyamun, karena kami ternyata lebih kuat dari mereka. —

    Jantung Ki Jagabaya bergetar semakin cepat. Katanya — Tetapi mereka dapat mengajak kawan-kawan mereka yang lain untuk datang kepadukuhan ini. —

    Seorang saudagar yang berpakaian bagus dengan bahan yang mahal meskipun sudah menjadi kotor setelah bertempur melawan para perampok, menyahut — Sembunyikan kawan kami yang terluka. Terserah caramu. Lindungi mereka. Cari tabib yang terpandai untuk mengobati mereka. Pada saat kami kembali lewat jalan ini, mereka harus sudah menjadi semakin baik. Jika terjadi sesuatu atas diri mereka, maka. padukuhan ini akan kami hancurkan. Kau dengar itu Ki Jagabaya? Jika perampok itu dapat mengajak kawan-kawannya, maka kamipun akan dapat mengajak kawan-kawan kami. —

    Jantung Ki Jagabaya rasa-rasanya akan meledak. Tetapi disadarinya, bahwa ia tidak mempunyai kekuatan yang dapat mendukung jika ia menjadi marah. Mungkin Ki Jagabaya sendiri, mungkin Ki Kamituwa, memiliki kemampuan untuk berkelahi. Tetapi yang lain tidak. Sementara itu, sekelompok pedagang itu jumlahnya cukup banyak.

    Namun dalam pada itu, terdengar seseorang berkata — Itu tidak adil, Ki Sanak —
    Semua orang berpaling ke arah suara itu. Mereka melihat seorang laki-laki muda berdiri di sebelah seorang perempuan yang juga masih muda.

    Saudagar yang berpakaian mahal itu memandanginya dengan sorot mata yang bagaikan menyala. Beberapa langkah ia bergeser mendekati Glagah Putih sambil menggeram Setan kau. Kenapa kau turut campur? Siapa kau he? —
    — Namaku Wiguna. Ini isteriku, Miyat —
    — Apa yang kau maksud tidak adil? —

    — Kalian ternyata hanya mementingkan diri sendiri. Kalian tidak mengingat kesulitan yang bakal dialami oleh padukuhan ini jika kau memaksa meninggalkan kawan-kawanmu yang sakit. Apalagi dengan berbagai macam keharusan yang tidak masuk akal. Harus sembuh, harus selamat, harus … harus … apalagi. Jika para penyamun itu datang dan memasuki setiap rumah di padukuhan ini, yang bermaksud melindungi kawan-kawan Ki Sanak, akan mengalami bencana bagi diri mereka. Mayat akan berserakan di jalan-jalan. Kemudian beberapa hari lagi, ke-mudian datang untuk mengambil kawan-kawan kalian. Tetapi karena kawan-kawan kalian telah mati, maka kalian akan menghancurkan padukuhan ini. Berapa orang lagi yang harus mati di tangan kalian. —

    — Tutup mulutmu. Atau bahkan kau di kirim oleh para perampok itu untuk melihat keadaan di padukuhan ini. —
    — Nalarmu sudah kusut, Ki Sanak — sahut Glagah Putih.
    Wajah saudagar itu menjadi merah. Katanya — Kau berani menyebut nalarku sudah kusut? —
    —Ya. Karena kau menuduhku dikirim oleh para penyamun itu kemari.

    — Aku tidak peduli siapa kau. Tetapi karena kau sudah menghinaku, maka kau akan menyesal. Meskipun disini ada seorang Jagabaya, tetapi aku sendiri akan menghukummu. Mengoyak mulutmu yang lancang itu, serta merontokkan gigimu. —

    — Ki Sanak — berkata Glagah Putih — aku tadi juga berjalan melewati bulak panjang serta bertemu dengan sekelompok penyamun yang jumlahnya sekitar sepuluh atau sebelas orang. Tetapi mereka dapat diajak bicara. Mereka mencoba mengerti keadaan sehingga mereka tidak mengganggu aku, dua orang suami isteri yang mengembara. —

    — Persetan dengan para penyamun. Mereka sudah kami hancurkan di bulak panjang itu. —
    — Bukan itu masalahnya. Tetapi seharusnya penalaran kalian lebih panjang dari para penyamun itu. —
    — Cukup. Kemarilah. Aku akan merontokkan gigimu sampai yang terakhir. —

    Adalah mendebarkan jantung orang-orang yang mengerumuninya, ketika mereka melihat Glagah Putih itu melangkah dengan tenangnya mendekati saudagar yang garang itu. Dua langkah di hadapan saudagar yang nampaknya cukup kaya itu, Glagah Putih berhenti.

    Tiba-tiba saja tanpa memberikan peringatan apapun juga, saudagar itu meloncat sambil mengayunkan serangannya langsung ke mulut Glagah Putih. Glagah Putih sendiri juga terkejut. Tetapi tubuhnya telah terlatih dengan matang. Karena itu, kakinya seakan-akan bergerak sendiri, bergeser kesamping sambil memiringkan tubuhnya.

    Serangan saudagar itu sama sekali tidak berhasil menyentuh tubuh Glagah Putih. Tangan saudara itu terjulur dengan jarak setebal daun dari wajahnya. Namun tiba-tiba saja Glagah Putihpun telah menggerakkan tangannya. Kelima jarinya terbuka menusuk dibawah tulang-tulang rusuk saudagar yang marah itu.

    Terdengar saudagar itu menjerit kesakitan. Bahkan tubuhnya pun telah terdorong beberapa langkah surut Saudagar itu tidak berhasil mempertahankan keseimbangan tubuhnya, sehingga karena itu, maka lapun segera terkapar di tanah.

    Ketika saudagar itu tergesa-gesa mencoba bangkit berdiri, maka pinggangnya terasa sangat sakit. Tusukan jari-jari tangan Glagah Putih agaknya telah menimbulkan luka di dalam tubuh saudagar,atu.

    Karena itu, saudagar itu tidak dapat lagi berdiri tegak. Tetapi bubuhnya menjadi agak terbongkok dan kesakitan. Seorang pedagang yang lain telah berteriak dengan lantangnya—Kau telah menyakiti kawanku. Kau akan menyesali perbuatanmu itu. —

    — Ki Sanak — berkata Glagah Putih — yang terjadi justru yang tidak kita kehendaki. Kenapa justru kita yang bertengkar, sementara para perampok dan penyamun itu masih saja mengancam kita. —
    — Kau adalah bagian dari mereka —

    — Dengar Ki Sanak. Bukankah pendapat Ki Jagabaya itu baik dan patut dipertimbangkan ? Bawa kawan-kawanmu yang terluka itu ke padukuhan yang agak jauh. Para perampok itu tentu tidak akan mencarinya sampai kesana. —
    — Persetan dengan pendapat Ki Jagabaya. —

    — Ki Sanak. Jika kita berselisih dan bertengkar disini, maka kalian tentu akan mengalami kesulitan di perjalanan. Seharusnya kalian menyimpan tenaga kalian sebaik-baiknya. Pada saat kalian menyeberangi Kali Praga, mungkin kalian akan bertemu dengan sekelompok perampok dan penyamun yang lain. Kalian harus bertempur lagi. Sementara itu, jika kalian harus berselisih dengan kami disini, kalian akan kehilangan lagi beberapa orang kawan. Setidak-tidaknya beberapa orang kawanmu itu akan terluka seperti kawanmu yang akan kau titipkan itu.—

    — Sombongnya kau Wiguna. Jika kau tidak mau menyingkir, maka kau akan aku singkirkan. —
    — Jangan menjadi terlalu tamak, Ki Sanak. Seharusnya, jika kau lewat di padukuhan ini, kau justru harus membayar pajak perjalanan kalian. Setidak-tidaknya untuk memperbaiki jalan yang menjadi rusak oleh kaki-kaki kuda kalian. Bukan justru memeras dan memaksa orang-orang padukuhan ini melakukan pekerjaan di luar kemampuan mereka._

    —Cukup—teriak pedagang yang lain.
    Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Beberapa orang pedagang telah mengerumuninya. Kemarahan nampak membayang di wajah mereka. Bahkan seorang yang bertubuh tinggi menggeram — Aku akan mengoyak mulutnya. —
    — Ki Sanak — berkata Glagah Putih kemudian — jadi kalian tidak mau mendengar kata-kataku? —

    — Menyingkir atau kami singkirkan. Kami akan menghancurkan kesombonganmu dan melemparkanmu ke selokan di pinggir bulak panjang itu.—
    — Apa boleh buat. Jika kalian memaksa, kita akan berkelahi. —

    Ki Jagabaya dan Ki Kamituwa menjadi tegang. Sambil melangkah mendekati Glagah Putih iapun berkata — Sudahlah Wiguna. Kau jangan terlibat dalam persoalan ini terlalu dalam. Bukankah kau masih melanjutkan pengembaraanmu? Biarlah kami mencoba mengatasi perkara ini. Jika terpaksa kami akan mencoba untuk menyembunyikan kedua orang pedagang yang terluka itu, meskipun harus kami bawa ke padukuhan lain.—

    — Terima kasih, Ki Jagabaya. Tetapi kami tidak dapat membiarkan ketidak adilan ini terjadi. Para pedagang itu memang seharusnya mendapat perlindungan. Tetapi tidak dengan mengorbankan rakyat miskin di padukuhan ini. Sehari-hari mereka sudah mengenyam kesenangan. Apa yang mereka inginkan sekeluarga dapat mereka adakan. Sedangkan rakyat padukuhan ini, meskipun ada juga seorang dua orang yang kaya, tetapi pada umumnya mereka harus bekerja keras untuk makan esok pagi. Bagaimana mungkin orang-orang kaya ini dengan tanpa merasa bersalah harus mengorbankan orang-orang miskin. —

    — Sekali lagi aku peringatkan, pergi atau aku campakkan kau ke parit di bulak panjang itu. Jari-jari kami masih berbau darah para perampok itu Panasnya hati kami masih belum mereda. Sekarang kau bakar lagi kemarahan kami dengan tingkah lakumu yang gila itu. —

    — Kalian yang harus pergi. Bawa kawanmu yang terluka parah. Besok, jika kalian lewat jalan ini lagi, kalian harus membayar pajak untuk memperbaiki jalan yang dirusakkan oleh tapak besi di kaki-kaki kuda kalian. —

    Seorang pedagang tidak lagi dapat menahan diri. Iapun dengan serta-merta telah menyerang Glagah Putih. Namun dengan gerak yang sederhana Glagah Putih mampu mengelakkannya. Bahkan dengan kuat Glagah Putih mendorong orang itu pada punggungnya, sehingga orang itu terpelanting menimpa seorang kawannya, sehingga kedua-duanya jatuh terguling.

    Namun yang terjadi kemudian adalah perkelahian yang sengit. Beberapa orang pedagang telah berkelahi melawan Glagah Putih. Sedangkan beberapa orang yang lain, masih sedang merawat kawannya yang terluka yang terbaring di pendapa banjar.

    Tetapi demikian perkelahian itu terjadi, maka merekapun segera bangkit dan melangkah menuruni tangga pendapa.

    Dalam pada itu, Rara Wulanpun telah mengikat peti kecilnya dengan selendangnya dan kemudian melilitkan selendang itu ditubuhnya seperti seorang yang sedang menggendong bayi dipunggungnya. Mengikat kedua ujung selendang didadanya, dan siap untuk melibatkan diri jika diperlukan.

    Sementara itu, Glagah Putih telah bertempur melawan beberapa orang pedagang yang marah. Mereka ingin menangkap Glagah Putih, membuatnya jera dan melemparkan keluar padukuhan.

    Namun ternyata usaha mereka tidak terlalu mudah. Glagah Putihpun kemudian berloncatan seperti burung sikatan memburu belalang direrumputan.

    Sebenarnyalah bahwa Glagah Putih benar-benar telah tersinggung oleh sikap para pedagang dan saudagar yang pada umumnya adalah orang-orang berada itu. Mereka sampai hati mencari keselamatan dengan menginjak ketenangan hidup rakyat kecil di pedesaan.

    Karena itu, maka seperti para pedagang yang ingin membuat Glagah Putih menjadi jera, maka Glagah Putihpun ingin membuat mereka menjadi jera. Dengan demikian, maka Glagah Putihpun telah meningkatkan ilmunya semakin tinggi. Tubuhnya menjadi seringan kapas, sementara tena ganya menjadi semakin kuat sekuat raksasa.

    Kemampuan Glagah Putih memang sangat mengejutkan bagi para pedagang itu. baru saja mereka bertempur melawan sekelompok penya mun di bulak panjang. Bahkan mereka berhasil mengalahkan para penyamun itu sehingga para penyamun itu berlari tunggang langgang dengan meninggalkan beberapa orang korban.

    Sekarang, di banjar padukuhan ini, mereka hanya menghadapi seorang laki-laki yang masih terhitung muda. Namun rasa-rasanya mereka harus mengerahkan segenap kemampuan mereka.

  42. Api Dibukit Menoreh
    Jilid IV – 60
    Bagian🙂🙂🙂 dari 3

    Kawan-kawan mereka yang belum terlibat langsungpun terkejut pula. Laki-laki muda itu berloncatan dengan garangnya. Sentuhan-sentuhan tangannya telah mendorong, dan bahkan melemparkan lawannya keluar dari arena.

    — Gila — geram seorang pedagang — ilmu apakah yang dimiliki orang itu. —
    Dengan demikian, maka para pedagang dan saudagar yang darahnya masih terasa panas setelah bertempur dengan para perampok itu, harus bertempur lagi menghadapi orang yang menyebut dirinya Wiguna.

    Seorang yang terluka oleh goresan pedang di pundaknya berteriak — Biarlah aku membunuhnya. Dibulak itu aku sudah membunuh seorang diantara para perampok itu. —

    Ketika semua pedagang dan saudagar, kecuali yang terluka parah itu mulai terjun ke arena, maka Rara Wulan tidak dapat tinggal diam. Ia tidak dapat membiarkan suaminya bertempur sendiri melawan para pedagang itu.

    Tetapi peti kecil itu memang akan dapat mengganggunya. Karena itu, maka iapun mendekati Ki Jagabaya sambil berdesis — Ki Jagabaya. Titip peti kecil ini.— Apa isinya? —
    — Nyawaku dan nyawa suamiku. Karena itu, jangan jatuh ke tangan siapapun juga. Demikian peti itu dibuka, aku dan suamiku akan mati. —

    — Benar begitu?—
    — Ya. Jika Ki Jagabaya ingin membunuh kami, bukalah peti itu. Di dalamnya juga terdapat bayi kami. —
    — Kau masih juga sempat bercanda, Nyi. —
    — Aku tidak bercanda Ki Jagabaya. Karena itu, hati-hatilah.

    Ki Jagabaya menerima peti kecil itu dengan gemetar. Iapun kemudian minta Ki Kamituwa berdiri di dekatnya untuk ikut menjaga peti itu. —Trima ada disini, Ki Jagabaya. —
    — He?—
    — Aku akan memanggilnya. Ia memiliki sedikit kemampuan untuk ikut menjaga peti kecil ini. —

    Sejenak kemudian tiga orang anak muda berdiri di sekitar Ki Jagabaya dan Ki Kamituwa untuk ikut menjaga peti kecil yang dititipkan oleh Rara Wulan. Untunglah para pedagang itu tidak memperhatikan peti kecil itu. Mereka lebih memperhatikan Rara Wulan yang menyingsingkan kain panjangnya, sehingga yang nampak kemudian adalah pakaian khususnya yang dipakainya dibawah kain panjangnya itu.

    — Aku ikut kakang — kata Rara Wulan kemudian.
    Glagah Putih tidak mencegahnya. Lawannya memang cukup banyak Jika ia harus bertempur sendiri, maka kemungkinan yang buruk akan da pat terjadi di luar kendalinya.

    Namun seorang saudagar yang bertubuh gemuk menggeram — Perempuan gila. Kau kira kami sedang bermain jamuran? —
    — Ya—jawab Rara Wulan —jamur balung pisah. —
    — Setan betina kau — geram saudagar itu sambil meloncat menyerang.

    Ternyata keberadaan Rara Wulan di arena telah mengejutkan para pedagang itu pula. Bahkan mereka yang berdiri di luar arena pertempuran terkejut pula. Dengan loncatan-loncatannya yang cepat, maka dua orang lawannya telah terlempar dari arena. Seorang dapat dengan cepat bangkit berdiri, namun yang seorang masih harus menyeringai kesakitan, karena punggungnya menghantam tangga pendapa banjar.

    Sebenarnyalah Glagah Putih dan Rara Wulan benar-benar telah men gacaukan perlawanan para pedagang dan saudagar yang baru saja mengalahkan sekelompok penyamun di bulak panjang.

    Setiap kali seorang diantara mereka terpelanting dengan kerasnya. Sedangkan yang lain harus mengerahkan kemampuannya untuk mengelakkan serangan-serangan Glagah Putih dan Rara Wulan itu.

    Tetapi dua orang laki-laki dan perempuan yang masih terhitung muda itu seakan-akan berada di mana-mana. Seakan-akan mereka menyerang dari segala arah. Sulit bagi para pedagang dan saudagar itu menghindar dari garis serangan mereka.

    Beberapa saat kemudian, maka pertempuran menjadi semakin sengit, para pedagang dan saudagar itu telah mengerahkan segenap kemampuan mereka.
    Namun kedua orang suami isteri itu ternyata memiliki kemampuan yang jauh lebih tinggi dari mereka.

    Seorang demi seorang para pedagang itu mengalami kesulitan. Mereka menjadi kesakitan serta tenaga merekapun menjadi semakin lemah. Beberapa orang diantara mereka yang terpelanting jatuh, tidak segera dapat bangkit dan kembali memasuki arena.

    Namun tiba-tiba seorang diantara para pedagang itu mencabut senjatanya. Sebuah pedang yang lurus, panjang dan yang tajamnya ganda.
    — Kalian berdua harus pergi dari padukuhan ini atau aku akan menyingkirkan kalian. Bahkan untuk selamanya. —

    Ternyata kawan-kawannyapun telah ikut-ikutan pula mencabut senjata mereka.
    Glagah Putih memberikan isyarat kepada Rara Wulan untuk meloncat surut mengambil jarak.

    — Tunggu, Ki Sanak — berkata Glagah Putih kemudian —jangan bermain-main dengan senjata kalian. —
    —Jika kau menjadi ketakutan, pergi. Masih ada kesempatan. — Glagah Putih menarik nafas panjang. Katanya — Kalian tahu, bahwa senjata adalah benda yang berbahaya. —

    — Aku akan membunuhmu jika kau masih saja keras kepala. — –
    — Kalian harus menyadari, bahwa untuk melawan senjata kalian, maka kamipun akan bersenjata pula. Yang terjadi mungkin sekali diluar kendali. Dua orang kawanmu sudah terluka parah. Kalian sudah kebingungan untuk menitipkan mereka, bahkan dengan mengancam orang-orang kecil yang tidak tahu menahu persoalannya. Jika kalian sekarang bertempur dengan senjata, maka kawan-kawan kalian yang terluka akan segera bertambah. —

    — Aku ingin menyuapi mulutmu dengan pedang — geram seorang yang bertubuh gemuk itu — dengan demikian maka mulutmu akan bertambah besar. Pantas bagi orang yang sangat sombong seperti kau. —

    — Akulah yang sekedar memperingatkan kalian. Hentikan perlawanan kalian. Bawa pergi kawanmu yang terluka.— Tetapi para pedagang itu tidak menghiraukannya. Mereka justru telah bergeser mengambil jarak.

    Glagah Putih dan Rara Wulanpun menyadari, bahwa ujung-ujung sen jata itu akan dapat mengoyakkan pakaian mereka. Sehingga karena itu, maka Glagah Putihpun segera mengurai ikat pinggangnya, sedang Rara Wulan memegang selendangnya pada kedua ujungnya dengan kedua tangannya.

    — Kami terpaksa mempergunakan senjata pula — berkata Glagah Putih. Sekali lagi para pedagang itu terkejut melihat apa yang disebut senjata oleh kedua orang itu. Sehelai ikat pinggang dan sehelai selendang.

    Tetapi senjata-senjata yang mereka anggap aneh itu membuat jantung mereka berdebaran.
    — Ki Sanak — berkata Glagah Putih kemudian — sekali lagi aku peringatkan. Hentikan perlawanan kalian dan bawa kedua orang kawanmu itu pergi.—

    Tetapi para pedagang itu tidak dapat menerima ancaman itu. Kemarahan dan harga diri yang berbaur membuat mereka sulit menghadapi kenyataan tentang kedua orang laki-laki dan perempuan itu. Karena itu, maka orang yang bertubuh gemuk itupun berteriak — Berhati-hatilah. Jika kalian berdua mati, sama sekali bukan tanggung jawab kami. —

    Glagah Putih dan Rara Wulan tidak menjawab lagi. Merekapun kemudian berloncatan mengambil jarak untuk mendapat kesempatan memutar senjata mereka.

    Sejenak kemudian pertempuran telah berkobar lagi di halaman banjar. Bukan saja serangan tangan dan kaki yang terayun menyambar-nyambar. Tetapi berbagai macam senjata telah berputaran, terayun mendatar menebas dan menikam dengan garangnya.

    Namun tidak seorangpun diantara para pedagang itu yang berhasil menggoreskan senjatanya. Dalam pada itu, Glagah Putih dan Rara Wulanpun berloncatan diantara kilatan senjata lawan-lawan mereka.

    Ki Jagabaya, Ki Kamituwa dan orang-orang yang semakin banyak berkerumun di banjar padukuhan itu menjadi semakin berdebar-debar, bahkan sekali-sekali jantung mereka rasanya telah berhenti berdetak. Mereka sangat mencemaskan kedua orang laki-laki dan perempuan yang dengan tangkasnya berloncatan diantara ayunan senjata itu.

    Tetapi yang terjadi justru tidak segera dapat dimengerti bukan saja oleh orang-orang yang berdiri di luar arena, tetapi juga oleh mereka yang sedang bertempur itu.

    Ikat pinggang yang berada di tangan orang yang menyebut dirinya Wiguna itu, telah membentur senjata-senjata para pedagang itu sebagaimana sepotong besi baja. Bahkan beberapa orang diantara mereka, telapak tangannya menjadi pedih, sehingga dengan susah payah mereka harus mempertahankan senjata mereka agar tidak terlepas dari tangan.

    Meskipun demikian, apa yang mereka cemaskan itu terjadi. Tiba-tiba saja sebuah pedang terlempar dari genggaman. Kemudian disusul sebuah luwuk yang berwarna hitam kehijau-hijauan.

    Belum lagi kedua orang yang kehilangan senjata itu sempat memungutnya, terdengar seseorang berteriak marah sekali.

    Seorang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan, dengan susah payah berusaha untuk bangkit berdiri. Adalah diluar kemampuannya untuk menghindar ketika selendang Rara Wulan membelit kakinya. Ketika selendang itu dihentakkan oleh Rara Wulan, maka orang itupun terpelanting, jatuh dan terseret beberapa langkah.

    Kemarahan bagaikan meledakkan jantungnya. Sambil berteriak orang itu bangkit berdiri. Tanpa berpikir panjang orang itu segera meloncat menyerang Rara Wulan dengan pedang terayun menebas ke arah leher.

    Rara Wulan sempat merendah sehingga pedang itu terayun diatas kepalanya. Namun sekejap kemudian, selendang Rara Wulan telah memijit tangan orang itu. Ketika Rara Wulan menariknya sendai pancing, maka pedang itu bagaikan meloncat dari tangannya, melenting di udara.

    Hampir saja pedang itu jatuh menimpa seorang kawannya. Untunglah orang itu sempat mengelak. Tetapi pemilik pedang itu tidak mempunyai banyak kesempatan. Sebelum ia dapat berbuat sesuatu, Rara Wulan telah menjulurkan selendangnya.

    Hentakan yang keras sekali telah mengenai dada orang bertubuh tinggi itu. Dengan kerasnya ia terdorong beberapa langkah surut Tanpa dapat mempertahankan keseimbangannya lagi, orang itupun terjatuh terlentang.

    Ketika orang itu berusaha untuk bangkit maka dadanya terasa menjadi sangat sakit dan nafasnya menjadi sesak. Karena itu, demikian ia mencoba untuk berdiri, maka iapun telah terduduk kembali. Orang itu tidak dapat berbuat lain kecuali duduk dan berusaha untuk mengatur pernafasannya serta berusaha mengatasi rasa sakit didadanya.

    Sementara itu, pertempuran masih berlangsung. Selendang Rara Wulan berputaran menyambar-nyambar. Setiap kali satu dua orang lawannya terlempar dari arena. Beberapa pucuk senjatapun terlepas dari tangan pemiliknya.

    Dalam pada itu, lawan Glagah Putihpun menjadi semakin berkurang. Seorang bagaikan menjadi lumpuh ketika ikat pinggan Glagah Putih mengenai pahanya. Glagah Putih sengaja tidak mempergunakan ikat pinggangnya untuk mengoyak tubuh lawannya. Tetapi dipergunakannya sekedar untuk menyakiti mereka.

    Beberapa saat kemudian, lawan-lawan Glagah Putih dan Rara Wulanpun semakin menyusut Bahkan kemudian beberapa orang yang tersisa, telah berloncatan menjauhinya.

    — Katakan, bahwa kalian menyerah — teriak Glagah Putih —jika tidak, maka kami akan memperlakukan kalian lebih buruk lagi. —

    Tidak seorangpun yang menjawab. Beberapa orang diantara mereka telah kehilangan sejata mereka. Yang lain merasa bahwa tulang-tulang merekapun bagaikan menjadi retak. Yang lain, wajahnya menjadi lebam kebiru-biruan. Sedangkan yang lain lagi menjadi timpang karena sentuhan ikat pinggang Glagah Putih pada pahanya. Sementara itu, ada yang merasa seolah-olah sendi di pergelangan tangan kakinya terlepas sehingga pergelangannya menjadi sakit sekali. Bahkan agak membengkak.

    —Jawab—teriak Glagah Putih pula.
    Namun agaknya harga diri para pedagang dan saudagar itu mencegah mereka untuk menyatakan diri menyerah.

    Karena itu, maka Glagah Putihpun kemudian berkata lantang kepada Rara Wulan yang berdiri beberapa langkah dari padanya — Miyat Ternyata mereka tidak mau menyerah. Karena itu, maka sekarang kita berhak untuk membunuh mereka. Bukan kita yang pertama-tama mempergunakan senjata Tetapi mereka. —

    — Baik, kakang —jawab Rara Wulan tidak kalah lantangnya — ke-matian diantara mereka bukan salah kita. Kita sudah memberi kesempatan kepada mereka untuk menyerah. Tetapi mereka telah menolak. —

    Ketika kemudian Rara Wulan memutar selendangnya maka terdengar suara selendangnya bagaikan angin yang menderu.
    —Tunggu, tunggu—teriak seorang diantara para pedagang itu—aku menyerah. —
    Suasanapun menjadi sangat tegang. Pedagang yang bersenjata pedang itu telah melemparkan senjatanya di tanah.

    Seorang yang lain, yang sudah tidak bersenjatapun kemudian berkata pula—Aku juga menyerah. Aku sudah tidak bersenjata. — Ternyata kawan-kawannyapun telah mengikutinya pula. Yang masih bersenjata telah melemparkan senjatanya.

    Glagah Putih menarik nafas panjang. Iapun kemudian berkata—Ambil senjata – senjata kalian. Segera bersiap meninggalkan tempat ini. Bawa kawanmu yang dilukai oleh para perampok itu. —
    — Baik, baik, Wiguna. Kami akan segera pergi dengan membawa kawan-kawanku yang terluka. —

    —Dengar Ki Sanak. Bukannya kami tidak mau menolong sesama Jika kami minta kalian pergi dengan membawa kawan-kawanmu yang terluka, justru kami mempunyai pertimbangan atas dasar kemanusiaan. Jika kawan kalian tetap disini, maka para perampok itu tentu akan menemukannya. Sebaliknya jika orang-orang pedesaan ini harus melindunginya maka korbanya akan menjadi jauh lebih banyak. Dan itu sama kali tidak adil, bahwa orang-orang kecil dan miskin harus mengorbankan diri untuk kepentingan orang-orang kaya seperti kalian. Karena itu, bawa kawan-kawan kalian. Selamatkan mereka dari tangan para perampok itu.

    Tetapi seorang diantara para pedagang itu berkata – Bukankah kau memiliki kelebihan yang tidak tertandingi? Jika para perampok itu datang kemari, kau akan dapat menghalaukannya.—

    — Aku seorang pengembara – jawab Glagah Putih – sebentar lagi aku akan meneruskan pengembaraan kami. Kami tidak dapat terikat di satu tempat karena kami memang sedang menjalani laku. Jika para perampok itu datang sepeninggalku, maka kawanmu yang terluka itu tidak akan tertolong lagi.

    Para pedagang itupun mengangguk-angguk. Seorang diantara merekapun berkata – Baiklah. Kami akan segera mempersiapkan diri untuk meneruskan perjalanan. Tetapi beberapa orang kawan kami justru mengalami kesakitan.
    — Aku sudah memperingatkannya. Untunglah bahwa tidak ada kawan kalian yang terbunuh.—

    Para pedagang itupun terdiam. Merekapun segera berbenah diri untuk meneruskan perjalanan. Mereka harus menuruti pendapat orang yang menyebut dirinya bernama Wiguna itu. Namun sebagian dari mereka benar-benar dapat mengerti maksud Glagah Putih. Merekapun membenarkan, bahwa tidak adil untuk mengorbankan orang-orang miskin bagi kepentingan mereka. Mereka memang tidak berhak mementingkan kepentingan mereka sendiri sehingga mereka tidak mempedulikan rakyat miskin yang akan dapat menjadi korban. Mati dalam kesia-siaan bagi kepentingan orang-orang kaya.

    Beberapa saat kemudian, maka para pedagang itupun sudah siap untuk meneruskan perjalanan. Namun keadaan mereka menjadi semakin sulit. Beberapa orang masih merasakan kesakitan. Tetapi mereka harus meninggalkan padukuhan itu dengan membawa kawan-kawan mereka yang terluka.

    Beberapa saat kemudian, maka para pedagang itu sudah siap untuk meninggalkan banjar. Kawan-kawan mereka yang terluka telah mereka dudukkan diatas punggung kuda.

    — Maaf, Ki Sanak – berkata Glagah Putih kepada mereka yang terluka parah itu – aku mencemaskan nasib kalian jika kalian tetap berada di Padukuhan ini. Padukuhan ini masih terlalu dekat dengan daerah perburuan para perampok itu. Jika kalian dibawa ketempat yang lebih jauh, maka agaknya para perampok itu tidak akan mencarinya sampai ke sana Sementara itu kalian masih harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum kalian menyeberang Kali Praga. Mungkin esok. Mungkin esok lusa. Mungkin kalian akan bertemu lagi dengan gerombolan penyamun yang lain.—

    Seorang yang rambutnya sudah ubanan mewakili kawan-kawan mereka, minta diri untuk melanjutkan perjalanan. Orang yang rambutnya ubanan itu sempat pula minta maaf atas sikap mereka yang kasar.

    — Kami mengira bahwa kami dapat memerintahkan apa saja kepada orang-orang miskin, termasuk mengorbankan diri mereka. Pengalaman kami ini akan dapat membangunkan kami dari mimpi-mimpi kami itu —

    — Baiklah. Mudah-mudahan kalian tidak tertidur dan bermimpi lagi. Karena keadaan yang berubah akan dapat merubah sikap kalian. Jika kalian pulang ke rumah kalian, maka kehidupan kalian sehari-hari yang serba berlebihan akan dapat membangunkan mimpi-mimpi kalian lagi. Kalian akan merasa bahwa uang adalah segala-galanya. Bahkan dengan uang kalian akan dapat membeli harga diri seseorang dan lebih dari itu, nyawa seseorang.—

    — Kami akan selalu mengingatnya.—
    — Ingat Ki Sanak. Kami berdua adalah pengembara. Jika kalian kembali kepada cara hidup kalian, maka kami berharap bahwa pengembaraan kami akan sampai juga ke rumah-rumah kalian. Meskipun rumah kalian dijaga oleh orang-orang upahan yang berilmu tinggi, namun kami akan menembus dinding halaman rumah kalian.

    Orang itu mengerutkan dahinya. Tetapi ada juga diantara para pedagang itu yang tidak senang mendengar ancaman itu. Namun mereka menganggap bahwa orang yang menamakan diri Wiguna itu bersungguh-sungguh.

    Demikianlah, maka sejenak kemudian, iring-iringan itupun meninggalkan banjar padukuhan. Mereka melarikan kuda mereka menyusuri jalan bulak menuju ke padukuhan yang lebih jauh untuk menitipkan kawan-kawan mereka yang terluka.

    Tetapi sikap merekapun memang telah berubah. Mereka tidak lagi memperlakukan orang-orang kecil di padesaan sebagai budak-budak yang harus patuh tanpa syarat.

    Di padukuhan yang mereka tinggalkan, Ki Jagabaya dan para bebahu yang kemudian berada di banjar, mengucapkan terima kasih kepada Glagah Putih dan Rara Wulan. Sambil mengembalikan peti kecil yang dititipkan kepadanya, Ki Jagabaya berkata – Aku tidak membuka peti itu.-

    —Tentu – jawab Rara Wulan – Jika Ki Jagabaya membukanya, maka nyawa kami sudah terbang. Bayi kami yang kami simpan didalam nyapun sudah terbang pula.—
    — Tetapi apakah sebenarnya isi peti itu? – bertanya Ki Jagabaya. Rara Wulan tersenyum. Katanya – Bukankah sudah aku beritahukan kepada Ki Jagabaya.—
    — Dalam keadaan yang gawat itupun Nyai masih sempat bercanda. Sementara itu, kecemasanku sudah membakar ubun-ubun.

    Glagah Putih tertawa pula. Katanya – Isinya sangat berharga bagi kami berdua, sehingga isteriku menyebutnya bahwa isinya adalah nyawa-nyawa kami.

    Ki Jagabaya itupun mengangguk-angguk. Katanya kemudian -Alangkah bodohnya aku ini. Aku mengira bahwa isterimu sekedar bercanda atau kalau tidak, justru di dalam peti itu benar-benar terda pat nyawa kalian.—

    Dalam pada itu, maka Glagah Putihpun kemudian berkata -Nah, Ki Sanak. Sekarang kamipun akan minta diri. Mudah-mudah han sepeninggal kami tidak akan terjadi apa-apa di padukuhan ini Jika para perampok itu datang, katakan, bahwa kalian telah men gusir para pedagang itu.—

    — Kenapa kalian berdua begitu tergesa-gesa? Kalian dapat tinggal disini barang sepekan.—
    — Terima kasih, Ki Jagabaya. Kami masih harus menempuh perjalanan panjang.—
    — Justru karena itu, bukankah kalian tidak terikat oleh waktu. Bukankah kalian tidak dibatasi, kapan kalian harus sampai di tempat tertentu?—
    — Benar, Ki Jagabaya. Tetapi waktu menjadi sangat berharga bagiku.—
    — Di mana malam nanti kalian akan bermalam? – bertanya Ki Jagabaya.

    Glagah Putih menarik nafas panjang. Namun sebelum ia menjawab, Ki Jagabayapun berkata – Bermalamlah disini setidaknya untuk malam ini saja. Jika para perampok itu datang, kami tidak menghadapinya sendiri.—
    — Mereka tidak akan berbuat apa-apa. Bukankah para pedagang yang terluka itu tidak ada disini?—

    — Meskipun demikian, rasa-rasanya hati kami akan lebih tenteram jika kalian berada disini. Sokur jika para perampok itu tidak datang kemari.—
    — Jika mereka datang, tentu tidak malam ini. Mereka tentu masih sibuk merawat kawan-kawan mereka yang terluka dan yang telah terbunuh. Selain itu, tentu merekapun akan sulit mengumpulkan kawan-kawan mereka yang lain, yang sama tatarannya dengan kawan-kawan mereka yang telah dikalahkan oleh para pedagang itu.

    Tetapi Ki Jagabaya itu masih juga berkata – Aku mengerti. Tetapi keberadaan kalian malam ini disini, akan sangat berpengaruh terhadap ketenteraman hati kami penghuni padukuhan ini.—

    Glagah Putih menarik nafas panjang. Iapun kemudian berpaling kepada Rara Wulan sambil berkata – Apakah kita akan bermalam disini?—
    — Tidak apa-apa kakang. Perjalanan kita hanya akan tertunda tidak sampai sehari.—
    — Baiklah – berkata Glagah Putih. Lalu katanya kepada Ki Jagabaya – Kami akan menerima kesempatan yang Ki Jagabaya berikan untuk bermalam dipadukuhan ini nanti malam.—

    — Terima kasih, Ki Sanak. Malam nanti kalian berdua akan kami persilahkan bermalam di rumahku saja.—
    — Terima kasih, Ki Jagabaya. Tetapi biarlah aku bermalam di banjar ini saja.—
    — Disini tidak ada yang akan melayani jika kalian haus dan apalagi lapar.—
    — Tidak apa-apa Ki Jagabaya. Bahwa kami mendapat tempat untuk bermalam, kami sudah merasa sangat berterima kasih.—

    Ki Jagabaya termangu-mangu sejenak. Namun Ki Kamituwapun berkata – Biarlah aku yang nanti menyediakan minum dan makan bagi mereka berdua.—
    — Jangan merepotkan Ki Kamituwa. Kami hanya berdua. Kami tidak memerlukan pelayanan. Kami dapat merebus air sendiri di banjar ini. Mungkin disini ada serba sedikit alat-alat dapur.—

    — Itu tidak perlu Ki Wiguna. Kamilah yang minta kalian berdua bermalam.—
    Glagah Putih tidak menjawab lagi. Sementara itu, Ki Jagabayapun telah memerintahkan penunggu banjar untuk membersihkan sebuah bilik di serambi belakang banjar itu.

    Beberapa saat kemudian, maka setelah bilik bagi Glagah Putih dan Rara Wulan disiapkan maka para bebahu serta beberapa orang yang masih berada di banjarpun meninggalkan banjar itu pulang ke rumah mereka masing-masing. Namun orang sepadukuhan itu masih saja membicarakan kelebihan dua orang suami isteri yang bermalam di banjar itu. Mereka berdua saja dapat mengalahkan sekelompok pedagang yang telah mengalahkan gerombolan penyamun yang akan merampok mereka di bulak panjang.

    — Luar biasa. Yang terjadi di banjar itu tidak dapat masuk diakalku – berkata seorang diantara mereka yang sempat menyaksikan pertempuran di banjar.
    — Apalagi kita. Ki Jagabaya dan Ki Kamituwapun nampaknya terheran-heran pula.—

    — Jika gerombolan perampok itu malam ini datang ke padukuhan kita, maka mereka akan dihancurkan oleh kedua orang suami isteri itu.—
    – Tetapi menurut mereka, rasa-rasanya perampok itu tidak mungkin datang hari ini atau malam nanti. Mereka terlalu sibuk. Sedangkan untuk mengumpulkan orang-orang baru, mereka tentu memerlukan waktu.—
    Kawannyapun mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menyahut lagi.

    Malam itu, Glagah Putih dan Rara Wulan mendapat penghormatan khusus. Ki Jagabaya dan Ki Kamituwa bersama beberapa orang bebahu yang lain telah datang ke banjar untuk sekedar berbincang. Sementara itu hidanganpun justru datang dari Ki Jagabaya dan Ki Kamituwa.

    Namun Ki Jagabaya tetap berhati-hati. Diperintahkannya beberapa orang anak muda untuk mengamati keadaan, jika saja ada segerombolan perampok yang datang.

    Tetapi sampai jauh malam, tidak seorangpun datang ke padukuhan itu. Yang kemudian justru datang adalah Ki Demang dengan beberapa orang pengiringnya.
    — Siapa yang bermalam di banjar ini ? – bertanya Ki Demang.
    — Dua orang suami isteri yang telah membantu kita, Ki Demang. – Membantu apa?—
    — Bukankah aku sudah memberikan laporan kepada Ki Demang lewat Ki Kebayan?—

    — Laporan apa?
    —Ki Kebayan – bertanya Ki Jagabaya kepada Ki Kebayan yang kebetulan juga ada di banjar itu – bukankah Ki Kebayan sudah lapor kepada Ki Demang?—
    — Sudah. Aku sudah datang kepada Ki Demang sesaat menjelang senja. Ki Demang berkenan menerima aku sebentar. Laporanku memang belum tuntas. Tetapi Ki Demang waktu itu akan mempunyai keperluan lain sehingga aku dimintanya meninggalkan rumah Ki Demang. Tetapi pokok-pokok persoalannya sudah aku laporkan.—

    — Kau tidak mengatakan bahwa ada orang bermalam di banjar malam ini – sahut Ki Demang.
    — Memang belum sempat. Ki Demang cepat-cepat minta aku pergi pada waktu itu.—
    — Persetan kau Ki Kebayan – geram Ki Demang. Lalu bertanya – Nah, sekarang aku ingin berbicara dengan orang yang bermalam di banjar ini.—
    — Kami berdua yang malam ini bermalam di banjar ini, Ki Demang, sahut Glagah Putih.

    — Kaukah yang telah mengusir para pedagang itu?—
    — Bukannya mengusir, Ki Demang. Tetapi aku sependapat dengan Ki Jagabaya. Jika mereka bermalam disini, maka akibatnya akan buruk sekali bagi kademangan khususnya padukuhan ini. Selain itu ada diantara para pedagang itu yang terluka. Jika yang terluka itu disembunyikannya di padukuhan ini, maka kemungkinan terbesar, orang-orang yang terluka itu dapat diketemukan. Ki Demang tentu tahu akibatnya jika orang yang terluka itu dikete-mukan oleh segerombolan perampok yang tadi siang telah dikalahkan dan bahkan hampir saja dihancurkan oleh para pedagang itu —

    — Itu urusan kami. Bukan urusanmu.—
    — Memang Ki Demang. Itu urusan kita. Karena Ki Demang menyerahkan persoalannya kepadaku, maka akulah yang menanganinya. Kedua orang suami isteri ini ternyata bersedia membantu aku – sahut Ki Jagabaya.

    — Tetapi keduanya telah mengacaukan hubungan kita dengan para pedagang itu.—
    — Hubungan kita dengan mereka memang sudah tidak baik, Ki Demang. Mereka tidak pernah menghiraukan kita selama ini. Mereka hanya lewat saja meninggalkan debu yang dihamburkan dibelakang kaki kuda mereka. Tetapi mereka tidak pernah menjadi sumber penghasilan bagi rakyat kita. Tetapi kita tidak pernah mengganggunya. Kita berbuat baik terhadap mereka. Tetapi jika kemudian mereka menitipkan orang-orang yang terluka masih dengan ancaman, bahwa kita harus melindungi orang-orang yang terluka Mm. maka kita harus berpikir dua tiga kali.

    — Kenapa? Apakah tidak pantas bagi kita untuk menolong sesama?
    — Bukannya kita tidak mau menolong sesama. Tetapi bukankah dengan demikian, para pedagang itu sudah menyurukkan kepala kami ke mulut serigala yang lapar? Sedangkan jika kami setelah mengorbankan beberapa orang masih juga tidak berhasil melindungi kawan-kawan saudagar itu yang terluka, maka kami akan menjadi tumpahan kesalahan. Mungkin mereka akan menghukum kami, sehingga kami harus mengorbankan lagi bebera pa orang kami. Orang-orang miskin yang tidak tahu menahu persoalannya?

    — Kenapa hanya kalian? Bukankah aku Demang disini.
    — Tetapi Ki Demang tidak memahami persoalannya. Kamilah yang tahu benar, apa yang akan terjadi.
    — Kau sisihkan aku dari antara bebahu kademangan ini, justru aku adalah Demangnya?
    — Bukan tentang bebahu. Tetapi tentang siapa yang mengerti akan persoalan yang sedang dihadapi,
    — Aku tidak peduli dengan apa yang terjadi. Tetapi aku tidak mau banjar ini menjadi seakan-akan penginapan. Apalagi bagi orang-orang yang mempunyai persoalan di kademangan ini,

    — Akulah yang minta mereka menginap – sahut Ki Jagabaya, -sebenarnya mereka sudah akan berangkat untuk melanjutkan perjalanan. Tetapi aku menahan agar mereka bersedia bermalam semalam saja. Jika malam ini para perampok itu datang, maka kami tidak hanya akan menghadapinya sendiri.

    Ki Demang memandang Ki Jagabaya dengan tajamnya Sementara Ki Kamituwapun berkata – Aku juga minta mereka bermalam malam ini di banjar.
    — Kalian telah berbuat menurut kehendak kalian sendiri tanpa minta persetujuanku.

    — Ketika aku datang melapor ke rumah Ki Demang – sahut Ki Kebayan – sebenarnya aku juga ingin melaporkan tentang kedua orang suami isteri yang akan menginap di banjar. Tetapi Ki Demang tidak memberi waktu kepadaku.
    — Kalian hanya dapat menyalahkan aku. Ingat bahwa aku Demang disini.

    Tetapi Ki Kebayan itu masih juga menjawab – Kami tidak ingin menyalahkan Ki Demang. Tetapi kami sekedar mengatakan apa yang telah terjadi dan apa yang telah Ki Demang lakukan.—

    Ki Demang itu tidak menjawab lagi. Tetapi iapun kemudian berkata kepada kedua pengawalnya – Marilah kita pergi.—
    Tanpa mengatakan sesuatu lagi kepada para bebahu yang ada di banjar, maka Ki Demangpun kemudian meninggalkan tempat itu.

    Para bebahu hanya dapat saling berpandangan. Namun, demikian Ki Demang itu hilang di balik pintu regol halaman banjar, maka Ki Jagabayapun berdesis – Aku semakin tidak mengerti kemauan Ki Demang.—
    — Ya – sahut Ki Kamituwa – sikapnya semakin aneh.—
    — Agaknya ada sesuatu yang tersembunyi di balik sikapnya itu berkata Ki Kebayan.

    Tetapi para bebahu itu tidak dapat menebak, apa sebenarnya yang tersembunyi di balik sikap Ki Demang. Kepada Glagah Putih dan Rara Wulan, Ki Jagabayapun berkata – Kami mohon maaf atas sikap Ki Demang. Kami memang sulit untuk mengerti sikapnya. Agaknya ia ingin menyembunyikan kelemahannya.

    — Ya. Ki Demang adalah seorang yang lemah dan malas, Karena itu, agaknya Ki Demang ingin menunjukkan, bahwa ia tetap berkuasa di kademangan ini – sahut Ki Kebayan.

    — Mungkin. Memang satu kemungkinan – desis Ki Jagabaya – tetapi sudahlah. Jangan pikirkan lagi. Keberadaan Ki Wiguna berdua di banjar ini adalah atas tanggunganku. Jika Ki Demang masih ingin mempersoalkan lagi, biarlah aku yang mempertanggungjawabkan.-

    — Terima kasih, Ki Jagabaya – mudah-mudahan keberadaanku disini tidak mempengaruhi apalagi memperburuk hubungan Ki Demang dengan para bebahu. Bukankah Ki Demang dan para bebahu masih akan selalu terikat dalam kerja sama yang panjang ?— Para bebahu itu mengangguk-angguk.

    Malam itu ternyata para bebahu berada di banjar sampai lewat tengah malam. Ketika mereka meninggalkan banjar, beberapa orang anak muda masih tetap berada di banjar.
    — Silahkan beristirahat Ki Wiguna – berkata seorang anak muda kepada Glagah Putih.
    — Terima kasih – jawab Glagah Putih.—

    Glagah Putih dan Rara Wulanpun kemudian masuk ke dalam bilik yang sudah disiapkan bagi mereka. Namun dalam keadaan yang masih terasa belum mapan itu, keduanya tidak tidur berbareng. Mereka telah membagi sisa malam itu untuk bergantian berjaga jaga-

    — Aku tidur dahulu – berkata Rara Wulan.
    — Baiklah – jawab Glagah Putih.
    — Nanti, setelah ayam jantan berkokok untuk kedua kalinya, gantian Kakang yang berjaga-jaga.

    — Baiklah – tetapi dengan cepat Glagah Putih itu bertanya Bagaimana?—
    — Sekarang aku tidur, nanti kakang yang berjaga-jaga.
    — Marilah kita meneruskan perjalanan sekarang saja – berkata Glagah Putih kemudian. Rara Wulan tertawa tertahan sambil membaringkan tubuhnya di pembaringan bambu yang ada di bilik itu.

    Glagah Putihpun tertawa pula sambil berdesis – Setelah menjalani laku yang berat, ternyata kau juga bertambah pandai.— Rara Wulan masih tertawa. Tetapi ia tidak menjawab.

    Di dini hari, keduanyapun telah pergi ke pakiwan. Ketika Rara Wulan mandi, maka Glagah Putih menimba air untuk mengisi jam bangan. Baru kemudian Glagah Putihpun mandi pula. Air yang din gin terasa menyegarkan tubuh mereka.
    Sebelum matahari terbit, keduanyapun telah bersiap untuk meninggalkan padukuhan itu.

    Ternyata para perampok benar-benar tidak datang bermalam. Seperti yang dikatakan oleh Glagah Putih, mereka tentu tidak dapat mengumpulkan kawan-kawan baru dalam waktu yang dekat setelah mereka dikalahkan oleh sekelompok pedagang yang lewat, yang ternyata mempunyai kekuatan lebih besar dari kekuatan segerombolan perampok itu.

    Ketika Glagah Putih dan Rara Wulan minta diri kepada penunggu banjar itu, ternyata Ki Jagabaya dan Ki Kamituwa telah datang pula ke banjar.
    — Sepagi ini Ki Jagabaya dan Ki Kamituwa harus sudah bangun – berkata Glagah Putih.
    — Aku sudah terbiasa bangun pagi – jawab Ki Jagabaya -Kami memang sudah menduga, bahwa kalian berdua akan berangkat pagi-pagi sekali, sehingga kamipun harus berada dibanjar sebelum matahari terbit,—

    — Kami minta diri – berkata Glagah Putih kemudian.
    — Sebenarnyalah kami ingin mencoba minta agar kalian tidak pergi hari ini,—
    — Maaf, Ki Jagabaya – jawab Glagah Putih – kami harus mempergunakan waktu kami sebaik-baiknya meskipun kami tidak dibatasi oleh waktu. Jika kami harus menunda-nunda perjalanan kami, maka laku yang harus kami jalani tidak akan dapat kami selesaikan seluruhnya.—

    — Bukankah tidak ada batasan hari, bulan dan tahun, kapan laku yang harus kalian jalani itu selesai,—
    — Kami tidak tahu, seberapa panjang waktu itu dikaruniakan kepada kami. Jika kami menyia-nyiakan waktu dan tiba-tiba waktu yang dikaruniakan kepada kami itu diambilNya kembali, maka kami hanya akan dapat menyesalinya.

    Ki Jagabaya mengangguk-angguk sambil menjawab – Baiklah. Jika Ki Wiguna berdua harus meninggalkan kademangan kami, maka sekali lagi kami mengucapkan terima kasih. Kami berharap bahwa pada kesempatan lain, kalian berdua dapat singgah lagi di kademangan ini,—
    — Kami akan berusaha, Ki Jagabaya. Jika kami kembali dari pengembaraan kami, maka kami akan berusaha untuk singgah.—

    Demikianlah, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun meninggalkan banjar. Ki Jagabaya dan Ki Kamituwa melepas Glagah Putih dan Rara Wulan sampai ke gerbang padukuhan.

    Sejenak kemudian maka keduanyapun telah memasuki bulak panjang yang seakan-akan membentang sampai ke cakrawala. Pagi itu langit nampak bersih. Embun masih nampak bergayut di ujung dedaunan. Kicau burung-burung liar terdengar di pepoho nan yang tumbuh di pinggir jalan.

    Lamat-lamat di kejauhan nampak padukuhan yang seakan akan mencuat dari hijaunya tanaman di sawah. Beberapa orang sudah nampak mulai menuruni sawah mereka untuk membersihkan rerumputan liar di sela-sela tanaman yang hijau.

    Diperjalanan yang semakin jauh meninggalkan padukuhan itu Rara Wulanpun bertanya – Kakang. Kenapa sikap Ki Demang itu terasa aneh?—
    — Satu diantara beberapa kemungkinan, sebagaimana dikatakan oleh Ki Jagabaya dan Ki Kamituwa, bahwa Ki Demang yang lemah itu ingin menunjukkan kuasanya.—

    — Tetapi bukankah akibatnya justru sebaliknya?—
    — Ya. Tetapi ada kemungkinan lain.—
    — Ki Demang itu berhubungan secara rahasia dengan para pedagang. Mungkin para pedagang itu telah menyuapnya.—
    — Tetapi ia tidak berbuat apa-apa bagi para pedagang itu.—

    — Setidak-tidaknya ia tidak mengusir para pedagang itu Bukankah Ki Demang itu mengatakan, bahwa dengan demikian hubungan mereka dengan para pedagang akan menjadi buruk?—

    — Aku justru berpendapat lain – berkata Glagah Putih – Ki Demang telah membuat hubungan rahasia dengan para perampok. Ki Demang tidak berusaha membangun lingkungannya untuk mempertahankan haknya. Jika ia berniat untuk membiarkan para peda gang itu menitipkan kawan-kawan pedagang yang terluka, justru bagi kepentingan para perampok yang akan datang untuk membalas dendam.—

    Kenapa kakang tidak mengatakan kemungkinan ini kepada Ki Jagabaya?—
    Bukankah kita tidak meyakini kebenarannya? Kita hanya menduga-duga. Mungkin benar, tetapi mungkin tidak.—

    Rara Wulan mengangguk-angguk, sementara Glagah Putih berkata selanjutnya – Jika kita menyatakan dugaan kita kepada Ki Jagabaya, namun ternyata bahwa dugaan kita salah, maka kita hanya akan menambah ketegangan yang terjadi di kademangan itu. Rara Wulan masih saja mengangguk-angguk.

    Tetapi langkah merekapun terhenti ketika dari balik segerumbul perdu di simpang tiga, beberapa orang muncul langsung berdiri di tengah jalan Seorang diantara mereka adalah Ki Demang.

    Glagah Putih dan Rara Wulan terkejut sehingga terasa jantung mereka berdebaran.
    — Apalagi yang dimaui oleh Ki Demang – desis Glagah Putih. Rara Wulan yang membawa peti kecilnya, mengikatnya dengan selendangnya erat-erat.

    — Ki Sanak – berkata Ki Demang yang melangkah mendekatinya – aku tahu ilmumu sangat tinggi. Karena itu, aku tidak akan mengganggumu sekarang. Tetapi aku ingin memperingatkanmu, jangan mencampuri urusan orang lain. Jalan yang kau tempuh adalah jalan yang sangat rawan. Para perampok dan penyamun dapat muncul setiap saat dari sarangnya. Tiba-tiba saja mereka menyergap. Kalian berdua memang tidak akan merasa ketakutan karena ilmu kalian sangat tinggi. Tetapi sebaiknya kalian tidak melibatkan diri dalam setiap benturan kekerasan yang terjadi. Karena jika kalian melibatkan diri, maka pada suatu ketika kalian akan bermusuhan dengan seluruh kekuatan para perampok dan penyamun di daerah ini sampai di seberang Kali Praga.

    Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun bertanya – Ki Demang. Kenapa Ki Demang memperingatkan aku agar aku tidak melibatkan diri. Bukankah itu kewajiban setiap mang untuk memberantas kejahatan menurut kemampuannya. Jika aku tidak mampu melakukannya, maka akupun tidak akan melakukannya. Tetapi jika aku mampu, kenapa harus dicegah?—

    — Seberapapun tinggi ilmu kalian berdua, tetapi kalian tidak akan dapat menghadapi seluruh kekuatan para perampok dan penya mun yang tersebar di daerah ini.—

    — Mereka tidak akan menghimpun kekuatan bersama Ki Demang. Ki Demang tentu mengetahui pula, bahwa sebenarnyalah merekapun selalu bersaing. Mereka akan berebut ladang yang paling subur. Karena itu, maka mereka selalu terpecah-pecah seperti yang Ki Demang lihat sekarang ini. Bahkan tidak mungkin terjadi pertarungan diantara mereka.—

    — Memang hal itu dapat saja terjadi. Tetapi untuk meng hadapi kekuatan dari luar, maka mereka akan dapat bersatu.—
    — Jika mereka dapat bersatu, tentu sudah mereka lakukan Tetapi ternyata tidak. Mereka telah terbelah menjadi bagian-bagian kecil yang lemah.—
    — Jangan meremehkan mereka, Ki Sanak.

    Glagah Putih memandang Ki Demang dengan tajamnya. Dengan nada berat Glagah Putih bertanya – Apa hubungan Ki Demang dengan – para perampok itu?—

    Pertanyaan itu mengejutkan Ki Demang. Namun kemudian iapun menjawab – Pertanyaan yang bodoh. Kau tentu sudah tahu jawabnya. Tentu aku tidak berhubungan sama sekali dengan para perampok itu.—

    — Jadi bahwa Ki Demang memperingatkan agar aku jangan meli batkan diri melawan para perampok itu hanya karena kepedulian Ki Demang terhadap keselamatan kami berdua ?—

    — Ya. Kalian masih terlalu muda untuk dicincang oleh para perampok itu.—
    —Terima kasih atas kepedulian Ki Demang terhadap keselamatan kami. Tetapi kami mempunyai pertimbangan tersendiri. Kapan kami tidak ikut campur dan kapan kami harus terjun langsung melawan para perampok itu.—

    — Ki Sanak. Kau harus tahu, bahwa gerombolan perampok dan Penyamun bukannya hanya kelompok yang sudah dikalahkan oleh para pedagang yang tadi lewat. Tetapi masih ada gerombolan-gerombolan yang lain.—
    — Aku tahu. Mereka itulah yang aku maksudkan saling bersaing. Yang satu menghancurkan yang lain.—

    — Persetan kau Ki Sanak. Terserah kepada kalian berdua. Jika nasib kalian menjadi sangat buruk, itu salah kalian sendiri.—
    — Baik. Ki Demang. Kami akan menanggung akibat dari perbuatan kami berdua.—
    — Jika demikian terserah kepada kalian. Aku bermaksud baik. Tetapi jika kalian tidak mau mendengarkannya, maka dihari yang lain aku akan mendengar sepasang suami istri telah dibantai di tepian Kali Praga.—

    Glagah Putih tidak menjawab. Sementara itu Ki Demangpun memberikan isyarat kepada pengawal-pengawalnya untuk pergi.

    — Tunggu Ki Demang – berkata Glagah Putih kemudian – akulah yang sekarang justru memperingatkan Ki Demang. Ki Demang seharusnya yang berdiri di tempat kami sekarang ini. Seharusnya Ki Demanglah yang harus berbuat sesuatu di seluruh kademangan untuk melawan para perampok itu.—

    — Aku belum menjadi gila, Ki Sanak. Jika aku melakukannya, maka rakyatku akan dibantainya sampai orang terakhir.—
    — Berapa jumlah laki-laki di kademanganmu? Kau dan tentu Ki Jagabaya memiliki kemampuan untuk melatih anak-anak muda dan bahkan semua laki-laki di padukuhanmu.—

    — Sudah aku katakan, bahwa jumlah gerombolan itu cukup banyak. Mereka akan dapat datang bersama-sama ke kademanganku.—
    — Bukankah jumlah kademangan juga banyak? Kademangan — kademangan itu tentu akan bersedia saling membantu.—
    — Memang mudah dikatakan. Tetapi sulit dan bahkan tidak mungkin dilaksanakan.—

    — Ki Demang harus berani mencoba.—
    — Aku datang dengan maksud baik. Aku memperingatkan kalian demi keselamatan kalian. Sekarang justru kau yang menggurui aku.—
    —Bukan maksudku. Akupun bermaksud baik.— Ki Demang tidak menjawab lagi. Tetapi Ki demang itupun justru memberi isyarat kepada pengawal-pengawalnya untuk meninggalkan Glagah Putih dan Rara Wulan.

    Glagah Putihpun tidak berbicara apa-apa lagi. Dibiarkannya Ki Demang itu pergi. Tetapi dugaannya bahwa Ki demang itu justru mempunyai hubungan rahasia dengan para perampok dan penyamun itupun menjadi semakin tebal.

    — Agaknya dugaan kakang benar – desis Rara Wulan.
    — Akibatnya akan buruk sekali bagi rakyat di kademangannya. Lambat laun, jalan perdagangan itupun benar-benar akan tersumbat.
    jika para perampok dan penyamun mempunyai hubungan rahasia dengan para penguasa di kademangan-kademangan.— —Apakah ada yang dapat kita lakukan?—

    Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata – Kita akan melihat lingkungan yang lain. Apakah suasananya sama dengan kademangan yang baru saja kita lewati.—

    Rara Wulan mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun berkata – Tetapi ada yang ingin aku bicarakan lagi, kakang.—
    — Apa?—
    —Peti ini.—
    — Kita tinggalkan saja petinya. Kita bawa kitabnya. Tentu akan lebih mudah.—
    —Kita beli selendang di pasar yang dapat kita temui. Kita bungkus kitabnya, disembunyikan dibawah bajumu. Petinya dapat kita sembunyikan dimana saja.—
    — Kenapa harus disembunyikan? Tinggal saja dimana-mana.—

    — Sudah aku katakan. Aku senang peti itu. Ukirannya lembut sekali. Pada kesempatan lain, aku akan mencarinya,—
    — Baiklah. Nanti kita cari tempat untuk menyembunyikan peti itu.—
    Glagah Putih dan Rara Wulanpun kemudian melanjutkan perjalanan mereka. Mereka yakin, bahwa mereka akan melewati sebuah pasar, besar atau kecil.

    Sebenarnyalah sebelum tengah hari, keduanya memang sampai ke-sebuah pasar. Pasar itu memang tidak terlalu besar. Tetapi ada orang yang menggelar dagangan kain dan selendang lurik di dalam pasar itu.

    Glagah Putih dan Rara Wulanpun singgah di pasar itu. Mereka langsung menuju ke tempat penjualan kain lurik itu. Rara Wulanpun membeli selendang lurik berwarna gelap.
    — Bagaimana kita harus membawanya?—
    — Kita ikat kitab itu. Kemudian selendang itu kaulingkarkan di pe-rutmu diatas ikat pinggangmu. Bukankah tidak akan banyak mengganggu.—
    — Tetapi tentu akan nampak menonjol pada bajuku.—
    — Tidak seberapa. Kitab itu kau tempat di perutmu.—
    — Aku akan nampak sebagai seorang berperut besar. Bagaimana kalau kau saja yang membawanya?—
    — Aku akan kelihatan seperti orang yang sedang mengandung.— Glagah Putih tersenyum.

    Ketika kemudian mereka meninggalkan pasar itu, maka Glagah Putihpun berkata – Kita harus mencari jalan simpang. Kita akan pergi ke gumuk kecil itu.
    — Gumuk kecil itu tentu agak jauh dari tempat ini.—
    — Ya. Kita memerlukan tempat terpencil untuk menyimpan petimu dan mencoba-coba cara untuk membawa kitab itu.— Rara Wulanpun mengangguk.

    Sebenarnyalah merekapun kemudian turun ke jalan simpang. Semakin lama semakin jauh menuju ke sebuah gumuk kecil yang nampak ke hijau-hijauan. Agaknya pada gumuk kecil itu terdapat hutan meskipun tidak begitu lebat.

    Tetapi semakin dekat, Glagah Putihpun kemudian berkata – Bukan hutan. Aku melihat banyak pohon nyiur yang nampaknya sengaja di tanam di kaki gumuk itu berkeliling,—
    — Ya, kakang. Tetapi gumuk itu terletak di seberang padang perdu
    yang jarang dilewati orang.—
    — Ada jalan setapak menuju ke gumuk itu.—
    — Ya—

    — Kita akan melihat apakah gumuk itu ada penghuninya.— Keduanyapun kemudian sampai dibatas tanah persawahan dengan padang perdu. Tetapi keduanya masih dapat mengikuti jalan setapak menuju ke gumuk itu. Sedang di belakang itu terdapat sebuah hutan yang memanjang.

    Semakin dekat mereka dengan gumuk itu, merekapun menjadi semakin berhati-hati. Mereka melihat tanda-tanda bahwa gumuk itu berpenghuni.

    Sebenarnyalah, ketika mereka sampai di kaki gumuk itu, mereka bertemu dengan seseorang yang berjalan dengan memikul beberapa buah bumbung legen. Agaknya orang itu baru saja nderes beberapa batang pohon kelapa
    — Ki sanak – bertanya Glagah Putih – apakah Ki Sanak tinggal di sekitar tempat ini?—

    Orang yang memikul beberapa bumbung legen itupun berhenti. Dipandanginya Glagah Putih dan Rara Wulan berganti-ganti. Kemudian nampak dengan sedikit ragu iapun menjawab – Ya. Aku tinggal di gumuk itu.—
    Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya – Apakah ada orang lain yang tinggal disana ?—

    – Ya Ada beberapa keluarga yang tinggal di gumuk itu.~
    Rara Wulan menggamit Glagah Putih sambil berdesis – Jika demikian, biarlah kita melewati gumuk itu. Bukankah kita mencari tempat yang tidak pernah di jamah oleh tangan manusia?—

  43. Matur Nuwun ki

  44. saya seneng sekali baca komentar dri para senior. tapi ada yang juga ngak enak kalo baca koment orang yang ngomongnya miring2…tapi tetep ikut baca. kata urang sunda mah “dipoyok tapi dilebok” (diejek tapi dimakan juga). dasar……………

  45. untuk mendapatkan cerita api dibukit menoreh yg lengkap dari seri 1 sd terakhir di mana ya? yg puny info tolong beri tahu, makasih

  46. Ingin buku 4 jilid 341 sampai tamat. Téngkyu.

  47. Isinya mana kok cuma cover book

    • Naskahnya disembunyikan diantara belantara huruf-huruf di halaman ini, sulit pagi pembaca yang baru masuk website ini untuk menemukan.
      Tetapi, naskah sudah dikumpulkan di halaman muka website ini, silahkan unduh naskah digitalnya. Hanya saja format penyimpanannya menggunakan dejavu (djvu) yang bagus mengkompres file. Naskah asli berkestensi djvu, tetapi pada naskah yang diunggah menggunakan ekstensi doc/ppt/txt dll hanya untuk :ngakali” agar bisa dikenal oleh WordPress. cara membaca dengan menginstall djvu reader (saya gunakan WinDjView)
      Jika tidak mau repot, ada relawan yang mengubahnya menjadi teks yang bisa dibaca pada box comment di masing-masing halaman.
      Atau, naskah tersebut sudah dikumpulkan di https://adbm2011.wordpress.com/ , silahkan baca di website tersebut.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: