Buku IV-45

345-00

Telah Terbit on 22 Agustus 2009 at 19:58  Comments (48)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iv-45/trackback/

RSS feed for comments on this post.

48 KomentarTinggalkan komentar

  1. Nomer siji bar tareweh …. lsg buka gandok

    • ndusel mburine Ki Galih Kangkung.

      • aku pisan, Ki..

        • tanda tangan daftar hadir dulu… urek urek urek…🙂

          • absen nyambi sahur…
            dan sahur nyambi absen..

            • lali durung absen

              • monggo

                masio wis ngunduh jagung, yo sik kudu absen.

  2. Sepiiiiiiiii ……………………….

    Hadir deeeeh ………

  3. Sorry bar tarawih… langsung buka gandok

    • Ya wis antri nomer telu wae…

      • Malah isa langsung nyedhot…

        Matur nuwun…

  4. wahhhh….wahhh…wahhhhh

    rangsum’e mbrubulll metu bareng2

    suwun2

  5. Terima kasih

  6. Bar buko, tarawih, nyedot kitab 344, komen njuk salam uluk gandok 345 we lha kok iso ngunduh pisan, matur suwun

  7. telah unduh 345 , telima kasih

  8. Ngaturaken gunging panuwun dumateng Nyi Seno, rontal 344 kalawan 345 sampun kawula unduh.

  9. Hadir langsung ngunduh. Terima kasih Nyi S dan semuanya.

  10. ngunduh nyi….

  11. absen langsung ngunduh…buat sahur hehe

  12. Sampun sahur sampun ngunduh. Matur nuwun

  13. Wis oleh unduhan, arep moco tapi mripat sajak-e mulai mblereng. Panas tenan srengenge nganti sirah nut – nut.
    Wis diwoco bakda buko wae-lah……

    Suwun rontal-e

  14. sasi poso, ayo podho ningkatke ibadah,ojo donyo wae sing dipikirke

  15. NGINGUK….😀

    • Nginguk siapa Ki Tommy? Para cantrik masih pada liburan Idul Fitri… Jadi belum ada kitab yang diwedar… dimohon sabar menunggu… Nggak sampe lebaran haji kok, hehe….
      (kayanya Ki Adung Segayu jadi panas nih….)

      • Nginguk gandok Ki. Siapa tahu Ki Adung sudah medar kitab 345. Tibaknen masih liburan….😉

    • nderek nginguk k4ng..
      masih nge-rytpe kah?

      • Baru mulai lagi Nyai. Setelah libur lebaran….
        Mohon maaf lahir batin ya Nyai…

        • lha mpun Nyai toh ki…he3

          mBlayuuu….😀

          • memang URUT-urutane ki,

            Ni doeloe baru Nyai…!!

            • Hikss..koyo wayang..Ki Menggung dalange..

  16. Seharusnya di 345 kita kembali ke Menoreh ya Kang? Ketemu dg Ki Agung Sedayu? Pliiis Kang… Pliiis.

    • Belum Ki…. Kita akan kembali ke Menoreh kalo sudah dapat kitab 345 untuk diajarkan kepada para pengawal Tanah Perdikan…

    • Sabar…sabar…
      Semuga besok malam kita bisa ketemu Agung Sedayu di Menoreh.

  17. Andaikan saja Ki Agung pw punya kitabnya, bisa kan nambah-nambah yg selanjutnya? Demi kemajuan para cantrik lho.. Ki.

    • Sayangnya saya masih jadi cantrik tataran terendah Ki, jadi belum dipercaya dan belum mampu untuk menyusun rontal jadi kitab… Kita tunggu saja para cantrik senior atau guru padepokan supaya kitab selanjutnya bisa diwedar…. Nyuwun pangapunten Ki Ahmad..

  18. Nyi Nunik baru tampil lagi? Sukses selalu ya… Nyi!

    • he3….nyi Nunik arep PENTAS kayak-e !!

      lakon-e apa Ni,😀

      • Terserah dalang-e tho….

  19. Dalang-e sopo Ki?

  20. Api Dibukit Menoreh
    Jilid IV – 45
    Bagian🙂 dari 3

    DUA orang terlempar dari arena. Sementara itu orang yang didorong oleh kawannya yang berkumis lebat serta orang yang dilanggarnya, telah bersiap pula untuk menyerang.
    Sejenak kemudian, pertempuranpun segera menjadi sengit. Glagah Putih sendiri harus bertempur melawan lebih dari lima orang.
    Namun setiap kali orang-orang yang mengeroyoknya itu terpelant¬ing dari arena, jatuh terlempar dengan kerasnya. Tetapi merekapun segera bangkit lagi dan kembali menyerang Glagah Putih.
    Sebenarnyalah bahwa Glagah Putih tidak mengalami kesulitan. Tetapi Rara Wulan itupun berkata kepada Nyi Citra Jati — Ibu, apakah aku boleh bergabung dengan kakang Glagah Putih ?—
    — Suamimu tidak memerlukan orang lain, ngger.—
    — Aku mengerti ibu. Tetapi nampaknya kakang Glagah Putih menjadi sibuk pula.—
    Nyi Citra Jati tersenyum. Ia mengerti, bahwa Rara Wulan tidak sampai hati membiarkan Glagah Putih sibuk sendiri meskipun tidak berbahaya baginya.
    Namun sebelum Nyi Citra Jati menjawab, seseorang telah terlem¬par dari arena membentur sebatang pohon, sehingga orang itu mengerang kesakitan.
    Sebelum orang itu dapat bangkit berdiri, seorang lagi telah ter¬dorong beberapa langkah surut. Ia masih sempat mempertahankan kese¬imbangannya. Namun kemudian orang itu justru terjatuh pada lututnya. Kedua tangannya memegangi perutnya yang disengat oleh perasaan nyeri karena jari-jari Glagah Putih yang merapat sempat mengenai perutnya itu.
    —Jika anak itu keras kepala, bunuh saja — teriak orang berkumis lebat.
    Tiba-tiba saja beberapa orang yang berada disekitar Glagah Putih itupun telah mencabut senjata mereka. Ada yang bersenjata pedang, ada yang bersenjata golok dan ada yang membawa parang yang besar.
    Glagah Putih yang melihat senjata teracu kepadanya itupun menjadi berdebar-debar. Untuk melawan orang-orang bersenjata itu, ia harus meningkatkan ilmunya. Dengan demikian, maka mungkin sekali ia akan membunuh beberapa diantara lawan-lawannya.
    —Ibu—desis Rara Wulan.
    Nyi Citra Jatipun mengerti, Glagah Putih tentu akan menjadi sangat sibuk. Ia akan mengalami kesulitan karena senjata-senjata lawannya itu. Untuk mengatasinya, Glagah Putih mungkin harus benar-benar mem¬bunuh.
    Namun sebelum Rara Wulan itu melangkah mendekati arena, maka tiba-tiba saja mereka telah mendengar suara rinding. Bukan Ki Citra Jati yang membunyikannya, tetapi Glagah Putih yang juga selalu membawa rinding kemana-kemana di kantong bajunya.
    Ternyata pengaruh suara rinding itu demikian kuatnya. Beberapa orang yang bertempur melawan Glagah Putih itu tiba-tiba saja telah berloncatan menjauh. Mereka segera menyarungkan senjata mereka. Kemudian kedua tangannya telah menutup telinga mereka yang merasa bagaikan ditusuk duri.
    Ternyata beberapa orang yang melihat pertempuran itu dari ke¬jauhan terpengaruh juga oleh rinding itu. Tetapi karena mereka berdiri agak jauh, maka pengaruhnya tidak begitu tajam sebagaimana mereka yang berdiri hanya tiga ampat langkah dari Glagah Putih. Bahkan orang yang berkumis tebal itupun berteriak — Gila kau anak iblis. Hentikan suara itu. Hentikan.—
    Tetapi Glagah Putih tidak menghentikannya. Ia masih bermain beberapa saat lamanya sehingga orang-orang yang bertempur melawannya itu menjadi lemas karena telinga mereka bagaikan ditusuk-tusuk duri kemarung. Glagah Putihpun kemudian menghentikan permainannya.
    — Marilah, kita tinggalkan mereka—berkata Glagah Putih.
    Nyi Citra Jatipun kemudian mendatangi pemilik kedai itu untuk membayar makanan dan minuman yang dipesannya bersama keluarganya.
    — Kami akan pergi — berkata Nyi Citra Jati —jika rinding itu Berbunyi lagi, lindungi telingamu dengan baik.—
    Orang itu tidak menjawab. Namun demikian Nyi Citra Jati melangkah pergi, orang itu berdesis — Terima kasih.—
    Nyi Citra Jati berpaling. Namun iapun kemudian melangkah terus. Dalam pada itu, orang-orang yang kesakitan itu masih menutup telinga mereka meskipun mereka tahu, bahwa Glagah Putih telah melepas rinding itu dari bibirnya.
    — Ingat peristiwa ini — berkata Glagah Putih—kau tidak akan da¬pat memaksakan kehendakmu terhadap semua orang. Mungkin kau berhasil memaksa satu dua orang menuruti kemauanmu. Tetapi pada Suatu ketika, kau akan menjumpai orang-orang yang tidak dapat kau paksa. Bahkan seandainya aku membunuhmu, tidak ada orang yang menyalahkan aku. Tetapi aku masih ingin memberimu kesempatan. Jika lain kali kau masih melakukannya, maka kau benar-benar akan mati. Jika bukan aku, maka tentu ada orang lain yang ilmunya bahkan lebih tinggi dari ilmuku datang untuk mencekikmu sampai mati.—
    Orang berkumis tebal itu sudah tidak menutup telinganya lagi.
    — Kau dengar kata-kataku ?— bertanya Glagah Putih. Orang itu diam saja.
    — Kau dengar atau tidak ?— bentak Glagah Putih. Orang itu masih tetap berdiam diri.
    — Baik. Aku harus melubangi telingamu.—
    Demikian Glagah Putih melekatkan rindingnya di bibirnya, maka orang itu berteriak—Jangan, jangan.—
    Glagah Putih mengurungkan niatnya untuk membunyikan rind¬ingnya lagi. Namun ia bertanya — Kau dengar kata-kataku ?—
    — Ya. Aku dengar, Ki Sanak.—
    — Apa kataku?—
    Orang itu termangu-mangu. Namun demikian Glagah Putih men¬gangkat rindingnya orang itu berkata — Jangan Ki Sanak. Aku menden¬gar kata-katamu.—
    —Apa kataku ?—
    — Agar aku tidak mengulangi lagi perbuatan ini.—
    — Kau berjanji ?—
    Orang itu tidak segera menjawab.
    — Kau berjanji ? Jika kau tidak mau berjanji, aku akan membunuh¬mu dengan suara rinding ini.—
    — Jangan. Jangan. Aku berjanji.—
    —Baiklah. Kau harus belajar menghargai orang lain. Biarlah orang lain melakukan sesuai dengan kehendak mereka asal tidak mengganggu siapa-siapa. Tidak pula mengganggumu.
    Orang itu mengangguk-angguk sambil berkata — Baik, baik. Ki Sanak. Aku mengerti.. —
    — Kaupun tidak boleh mengganggu orang lain pula dengan cara apapun juga.—:
    Orangku merenung sejenak. Namun iapun kemudian mengangguk pula sambil menjawab—Ya. Aku mengerti. —
    Glagah Putihpun kemudian melangkah pula meninggalkan orang berkumis lebat itu bersama-sama dengan Ki Citra Jati, Nyi Citra Jati dan Rara Wulan.
    — Ada baiknya orang itu mengganggu perjalanan kita — berkata Ki Citra Jati.
    — Kenapa ? — bertanya Nyi Citra Jati.
    — Ada alasan untuk berbicara dengan mereka. Kita mereka tidak mengganggu kita, maka mana mungkin tiba-tiba saja kita berdiri dihadapannya dengan memberikan pesan-pesan yang tajam sebagaimana dikatakan oleh Glagah Putih.—
    Nyi Citra Jatipun tersenyum. Tetapi iapun berkata — Tetapi jika kita yang menderita kekalahan ? —
    — Tentu tidak. Nah, bukankah kita tidak mengalami apa-apa ? Se¬baliknya kita dapat memberikan peringatan kepada mereka, terutama yang berkumis lebat itu.
    — Tetapi bagaimana sepeninggal kita ? — bertanya Rara Wulan
    — Untuk waktu yang dekat, mereka masih akan mengingat pesan ini. Tetapi lambat laun mereka memang akan melupakannya. Mudah-mu¬dahan ada orang lain yang lewat dan memberikan peringatan pula kepada mereka. Atau kami yang kelak akan lewat lagi dijalan ini.—
    Nyi Citra Jatipun menyahut — Kapan-kapan.—
    — Ya, kapan-kapan — gumam Ki Citra Jati.
    Demikianlah mereka berempat melanjutkan perjalanan mereka. Ketika malam turun, maka merekapun sempal menginap di sebuah ban¬jar padukuhan. Ternyata penunggu banjar itu seorang yang baik, yang memperhatikan mereka berempat yang menginap di banjar yang ditung¬gunya. Bahkan penunggu banjar itupun telah menyediakan makan bagi keempat orang itu di tengah malam.
    Menjelang Fajar, Ki Citra Jati, Nyi Citra Jati, Glagah Putih dan Rara Wulanpun telah melanjutkan perjalanan mereka menuju ke pade¬pokan yang dipimpin oleh Mlaya Werdi untuk minta diri kepada anak-anak angkat Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati.
    Kedatangan mereka dipadepokan yang dipimpin oleh Mlaya Wer¬di itupun disambut dengan gembira. Bukan saja oleh anak-anak angkat Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati, telah juga oleh para penghuni padepokan itu.
    — Kami merasa gelisah, bahwa ayah, ibu serta kakang berdua tidak segera pulang — berkata Padmini.
    — Bukankah aku hanya pergi beberapa hari termasuk perjalanan yang harus aku tempuh bersama ibu dan kakangmu berdua ? — sahut Ki Citra Jati.
    Tetapi kegembiraan anak-anak angkat Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati itu tidak lama. Demikian pula Mlaya Werdi serta para penghuni padepokan itu. Meskipun dengan berat hati, Ki Citra’Jati dan Nyi Citra Jati menyatakan niatnya untuk pergi ke Mataram. —
    — Mataram ? — bertanya Padmini.
    — Bahkan sebelah Barat Mataram — Jawab Ki Citra Jati — tetapi aku dan ibumu tidak akan lama. —
    — Bagaimana dengan kakang Glagah Putih dan mbokayu Rara Wulan.—
    — Mereka akan melihat suasana. Mungkin mereka akan berada disana lebih lama dari ayah dan ibu. Agaknya ayah dan ibu akan pulang lebih dahulu.—
    — Apakah kami kali ini juga tidak boleh ikut ? — bertanya Baruni.
    — Jangan kali ini, Baruni. Aku berjanji bahwa lain kali kita akan menempuh perjalanan panjang. Tetapi kalian harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Karena itu, kalian aku titipkan disini. Kakangmu Mlaya Werdi akan membantu kalian mempersiapkan diri.—
    — Tetapi bukankah ayah dan ibu tidak akan segera berangkat ? — bertanya Satiti.
    Ki Citra Jati merasa ragu. Tetapi ketika ia memandang Glagah Putih dan Rara Wulan, maka merekapun menyadari, bahwa mereka harus segera sampai di Tanah Perdikan Menoreh.
    Dalam kebimbangan itu, Ki Citra Jatipun bertanya kepada Glagah Putih — Bagaimana menurut pendapatmu jika kita berangkat esok lusa ?
    — Esok lusa ? — bertanya Satiti — kenapa begitu cepat ? —
    Ki Citra Jati tersenyum. Katanya—Satiti. Jika aku bertanya kepada kakangmu, apakah kami dapat berangkat esok lusa itu artinya tidak esok lagi. Sehingga esok lusa itupun sudah bergeser mundur satu hari. —
    — Apakah ada batasan waktu bagi ayah, ibu dan kakak berdua un¬tuk sampai ke Mataram ? Bertanya Pamekas.
    — Memang tidak Pamekas. Tetapi ada sesuatu yang sangat mendesak, sehingga semakin cepat kami tiba di Mataram, akan menjadi semakin baik —
    — Tetapi setelah perjalanan paman berlangsung sekian lama, apakah satu dua hari itu akan berarti ? — bertanya Ki Mlaya Werdi.
    — Ya, Yang sehari itu akan berarti.
    Mlaya Werdipun segera menyadari, bahwa tentu ada yang benar-benar penting di Mataram, sehingga waktu yang sehari dua hari itu diang¬gapnya penting, justru setelah mereka beberapa lama bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain.
    — Agaknya di Wirasari mereka telah mendapat berita tentang sesuatu hal yang mereka anggap penting itu — berkata Mlaya Werdi di dalam hatinya, sehingga karena itu, maka Mlaya Werdi tidak akan mena¬hannya lagi.
    Namun Glagah Putih dan Rara Wulanpun harus mengalah. Mereka menunda keberangkatan mereka sehari, sehingga mereka bermalam di padepokan itu dua malam.
    —Anak-anak ingin melepaskan rindu mereka—berkata Nyi Citra Jati kepada Rara Wulan.
    Rara Wulanpun mengerti. Katanya — Ya, ibu. Setelah ibu dan ayah tinggalkan beberapa lama. —
    Namun keberangkatan mereka tidak dapat ditunda-tunda lagi. Setelah bermalam dua malam, maka Ki Citra Jati, Nyi Citra Jati, Glagah Putih dan Rara Wulanpun telah meninggalkan padepokan yang dipimpin oleh Mlaya Werdi itu.
    — Selamat jalan ayah, ibu serta kakak berdua — anak-anak angkat Ki Citra Jati itupun melepaskan mereka yang pergi di gerbang pade¬pokan. Bukan hanya mereka saja yang berdiri di pintu gerbang. Tetapi ju¬ga Mlaya Werdi dan beberapa orang penghuni padepokan yang lain.
    — Kami akan segera kembali — berkata Nyi Citra Jati. —
    Satiti masih saja melambaikan tangannya ketika Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati berpaling.
    — Rindunya masih bergejolak di dadanya — desis benar-benar in¬gin ikut bersama kita.—
    — Sayang. Perjalanan kita kali ini adalah perjalanan yang berat. —
    Ki Citra Jati mengangguk-angguk. Ketika sekali lagi ia berpaling, dari kejauhan ia masih melihat anak-anak angkatnya berdiri di pintu ger¬bang.
    Namun akhirnya Ki Citra Jati berempat itupun telah berbelok dipintu gerbang.-

    Namun akhirnya Ki Citra Jati berempat itupun telah berbelok di se¬buah tikungan
    — Apakah kita akan langsung menuju ke Tanah Perdikan Menoreh atau masih ada tempat persinggahan ? — bertanya Ki Citra Jati.
    — Kita akan langsung menuju ke Tanah Perdikan, ayah —
    — Perjalanan yang panjang — desis Nyi Citra Jati.
    — Sedikitnya kita akan bermalam dua malam diperjalanan — sahut Glagah Putih.
    — Kalau tidak ada hambatan di perjalanan — sambung Rara Wu-
    lan.
    — Kita harus menghindari segala macam hambatan — berkata Ki Citra Jati — kita akan berjalan tanpa menghiraukan apapun yang terjadi disepanjang jalan. —
    — Kecuali jika ada orang yang tiba-tiba saja menyilang di depan perjalanan kita — sahut Nyi Citra Jati.
    — Ya. Sebagaimana orang berkumis lebat itu.—
    Ki Citra Jati tersenyum. Katanya — Dalam keadaan seperti sekarang ini, kita tidak akan main-main lagi. Apalagi jika kita sudah mu¬lai letih, maka kitapun akan menjadi lebih garang lagi. —
    Tetapi Nyi Citra Jati menggeleng. Katanya—Tidak. Jika letih, aku justru menjadi lebih jinak. —
    Ki Citra Jati tertawa. Katanya — Apakah kau pernah menjadi ji¬nak.—
    — Kenapa ? — bertanya Nyi Citra Jati.
    — Ibumu terkenal sejak masih berada di perguruan Hanya ada tiga atau ampat murid perempuan diantara sekelompok murid utama. Nah, ibumulah yang paling sulit disentuh.—
    — Beruntunglah ayah, karena ayah tidak hanya dapat menyentuh¬nya — sahut Glagah Putih.
    — Tetapi aku harus menempuh perjuangan yang sangat berat. Un¬tuk mendapatkan ibumu aku harus menjalani beberapa laku. —
    — Jangan dengarkan. Ayahmu hanya membual saja. —
    Glagah Putih dan Rara Wulan tertawa.
    Demikianlah, ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka merekapun telah memasuki jalan yang sepi. Mereka tidak mengikuti jalan yang paling banyak dilewati orang. Sebagai pengembara, mereka tahu, jalan-jalan manakah yang harus mereka tempuh untuk mendap¬atkan jarak yang terdekat, meskipun kadang-kadang mereka harus melalui medan yang sulit. Bahkan kadang-kadang mereka harus melalui jalan-jalan setapak di pinggir hutan.
    Tetapi justru karena mereka memilih jalan yang tidak banyak di¬lalui orang, maka merekapun tidak menemui persoalan-persoalan yang dapat menghambat perjalanan mereka.
    Namun ketika lewat tengah hari, saat perut mereka mulai lapar,mereka tidak segera menemukan sebuah kedai untuk singgah.
    Tetapi mereka sudah terbiasa menjalani laku, sehingga merekapun tidak terlalu sulit untuk menahan lapar. Sedangkan jika mereka menjadi sangat haus, maka merekapun tidak terlalu sulit untuk mendapatkan air. Bahkan didekat regol-regol halaman rumah yang sederhanapun banyak disediakan gentong atau gendi berisi air yang jernih, yang memang dise¬diakan untuk minum mereka yang kehausan di perjalanan.
    Ketika matahari menjadi semakin rendah, maka mereka berempat pun mulai membicarakan dimana mereka akan menginap. Apakah di tempat terbuka atau di banjar padukuhan di padukuhan yang akan mereka lewati.
    — Kita menginap dibanjar padukuhan saja, kakang — berkata Nyi Citra Jati — kami, khususnya aku dan Rara Wulan tidak akan kesulitan mencari tempat untuk mandi. —
    — Bagaimana menurut pendapatmu, Glagah Putih. —
    — Aku sependapat saja, ayah. —
    — Tetapi di banjar padukuhan ada kemungkinan kita bersentuhan dengan masalah. —
    — Masalah apa, ayah ? — bertanya Rara Wulan.
    — Diluar dugaan, dapat saja terjadi masalah. Seperti yang pernah kita alami, anak muda yang meronda adalah anak-anak muda yang sering mabuk tuak. Tetapi mungkin juga masalah-masalah lain yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan kita. —
    — Kita akan berusaha untuk tidak bersinggungan dengan masalah-masalah seperti itu. —
    — Jika saja kita dapat menghindari. —
    Namun akhirnya mereka sepakat untuk bermalam di padukuhan yang akan mereka lalui.
    — Kita akan minta ijin untuk bermalam di banjar padukuhan yang kecil saja, yang akan kita lewati setelah senja.
    — Ya, ayah — jawab Glagah Putih.
    Namun sampai menjelang senja, mereka benar-benar tidak mene¬mukan sebuah kedaipun yang akan dapat menjadi tempat persinggahan untuk melepas lapar mereka.
    Tetapi ketika mereka melewati sebuah gardu di ujung jalan sebuah padukuhan, mereka menemukan seorang tua penjual serabi disebelah gar¬du itu.
    — Kita beli saja serabi — berkata Glagah Putih.
    Namun beberapa puluh langkah dari gardu itu mereka melihat didekat sebuah regol seorang yang juga berjualan makanan di pinggir jalan.
    — Apakah setiap hari nenek berjualan serabi disini ? — bertanya Rara Wulan.
    Perempuan itu memandang Rara Wulan sejenak. Namun kemudian iapun menggeleng — Tidak, ngger aku hanya berjualan di hari-hari yang ramai seperti malam ini. —
    — Malam ini ada apa, nek ? — bertanya Rara Wulan pula
    — Orang yang tinggal di rumah dekat simpang tiga yang kelihatan dari sini itu, malam nanti akan mengadakan perhelatan, dirumah itu. malam nanti akan ada pertunjukkan tari topeng dari rombongan yang su¬dah sangat terkenal. Rombongan tari topeng dari Ngandong. —
    — Dari Ngandong ? — ulang Ki Citra Jati.
    Ya, dari Ngandong. —
    — Aku sudah pernah mendengar, rombongan tari topeng dari Ngandong memang terkenal — desis Ki Citra Jati — tetapi kenapa kau berjualan disini Nek. Tidak didekat tempat pertunjukkan itu ? —
    — Nanti. Jika pertunjukkan sudah mulai, aku akan pindah mendekat. Sekarang, tempat itu masih sepi. Justru disini ada satu orang yang membeli. —
    Ki Citra Jati mengangguk-angguk.
    Setelah mereka menerima sebungkus serabi serta telah membayar harganya, maka mereka pun melanjutkan perjalanan mereka.
    – Kita tidak akan berhenti disini. Malam nanti akan ada pertun¬jukkan. Dapat saja sesuatu terjadi disini. Karena itu, maka kita akan meneruskan perjalanan. Kita akan menginap di padukuhan berikutnya. —
    — Baik, ayah, — sahut Glagah Putih — aku sependapat. Kita tidak akan berhenti disini. —
    Ketika mereka lewat didepan rumah yang disebut akan menyeleng¬garakan pertunjukkan wayang topeng itu, maka mereka sempat berhenti sejenak. Dihalaman nampak beberapa orang masih sibuk menyelesaikan pemasangan tarub.
    — Nampaknya mereka belum siap benar—gumam. Nyi Citra Jati.
    — Ya. Seharusnya segala-galanya sudah siap. Tidak ada lagi kesi¬bukan memasang tarub — sahut Ki Citra Jati. —
    — Tetapi bukanlah tinggal bagian-bagian terakhir saja — berkata Glagah Putih.
    — Ya. Sebentar lagi semuanya sudah akan siap. —
    — Agaknya upacara temu pengantin itu belum diselenggarakan malam ini. Agaknya malam ini baru malam midadareni. —
    — Ya. Tari topeng ini diselenggarakan justru malam midadareni. Entah apa yang akan diselenggarakan besok, saat upacara temu. —
    Keempat orang itupun kemudian telah melanjutkan perjalanan. Tetapi seperti yang mereka sepakati, mereka tidak akan berhenti di-padukuhan itu, meskipun ada juga keinginan untuk nonton tari topeng dari Ngandong yang terkenal, namun mereka tidak ingin perjalanan mere¬ka terganggu oleh sebab sebab yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan mereka.
    Ketika mereka melangkah menjauh, mereka melihat beberapa orang yang berjualan bertebaran di sepanjang jalan. Seperti perempuan tua didekat gardu. Mereka baru akan mendekati tempat pertunjukkan jika persiapan pertunjukkan telah selesai.
    Sementara itu mereka melihat anak-anak yang mulai ramai bermain dijalan. Agaknya mereka akan pergi melihat tari topeng yang merupakan tontonan yang jarang diselenggarakan.
    Tetapi sebelum mereka sampai di tempat pertunjukkan, anak-anak
    itu telah menghabiskan uang jajannya untuk membeli makanan yang dija-
    jakan disepanjang jalan menuju ke tempat pertunjukan. \
    — Begitu tari topeng itu dimulai, anak-anak itu sudah mengantuk. Mereka akan pulang dan tidur nyenyak. Uang mereka telah habis pula se¬belum pertunjukan dimulai. — desis Nyi Citra Jati.
    — Ya — sahut Glagah Putih — tetapi bukankah anak-anak di mana-mana sama saja ? —
    Nyi Citra Jati tertawa.
    Sementara itu, lampu-lampupun telah menyala. Sinarnya mencuat keluar dari celah-celah pintu yang belum tertutup rapat. Di satu dua regol halaman, oncor telah dinyalakan pula. Demikian pula diregol halaman rumah yang akan menyelenggarakan pertunjukkan itu. Bukan hanya di regol, tetapi dipendapa, oncorpun telah menyala, sehingga halaman itu menjadi terang benderang.
    Sementara itu, Ki Citra Jati, Nyi Citra Jati, Glagah Putih dan Rara Wulan telah keluar dari gerbang padukuhan itu. Di hadapan mereka ter¬bentang bulak yang tidak terlalu luas. Di ujung bulak itu terdapat sebuah padukuhan pula.
    — Kita bermalam di padukuhan itu. Nampaknya padukuhan itu tidak terlalu sibuk, — berkata Ki Citra Jati.
    — Tetapi tentu banyak penghuninya yang datang ke padukuhan ini untuk nonton tari topeng. — sahut Nyi Citra Jati.
    — Apa salahnya ? Mereka menonton tari topeng, kami tidur nyenyak di banjar. —
    — Ya, Justru padukuhan itu menjadi lebih sepi dari biasanya. — Mereka berempatpun melanjutkan perjalanan mereka. Malam menjadi semakin gelap. Kunang-kunangpun mulai nampak berkerdipan di ujung daun padi yang subur yang terbentang dari tepi ke tepi seberang bulak itu. Sebagai pengembara mereka tidak mengalami kesulitan berjalan di kegelapan ujung malam. Apalagi di bulak yang terbuka, sehingga cahaya bintang-bintang dilangit membuat malam itu tidak menjadi hitam pekat.
    Bahkan kemudian merekapun mulai berpapasan dengan kelompok-kelompok remaja yang akan pergi ke padukuhan sebelah untuk menonton tari topeng.
    Kelompok-kelompok remaja itu nampaknya tertarik melihat mereka berempat berjalan justru berlawanan arah. Tetapi tidak ada diantara mereka yang bertanya.
    — Semakin malam, kita akan berpapasan dengan semakin banyak orang — berkata Ki Citra Jati. —
    — Kita mempunyai kepentingan yang berbeda —sahut Nyi Citra Jati.
    Sebenarnyalah, bahwa semakin malam, semakin banyak anak-anak dan remaja yang berpapasan dijalan. Bahkan kemudian, anak-anak muda dan bahkan orang-orang tua. Nampaknya tari topeng itu benar-benar telah menarik perhatian banyak orang dari padukuhan-padukuhan disekitarnya.
    Ketika keempat orang itu sampai di gerbang padukuhan diseberang bulak, maka rasa-rasanya padukuhan itu menjadi sepi. Meskipun pada malam hari padukuhan-padukuhan juga terkesan sepi karena penghuninya sudah berada di dalam rumah masing-masing, namun kare¬na mereka berempat mengetahui bahwa penghuni padukuhan itu bagaikan mengalir ke padukuhan sebelah, maka rumah-rumah yang ter¬dapat disebelah-menyebelah itu rasa-rasanya telah kosong, meskipun lampu di rumah itu menyala.
    — Dimanakah letak banjar padukuhannya — desis Ki Citra Jati.
    — Biasanya letaknya dipinggir jalan induk ayah. Agaknya jalan yang kita lalui ini adalah jalan induk, sehingga banjar itu letaknya agaknya di pinggir jalan mi. —
    Ki Citra Jatipun mengangguk-angguk. Katanya — Ya. Biasanya memang demikian. —
    Mereka tertegun ketika mereka melihat satu halaman yang luas. Se¬buah bangunan joglo yang besar diantarai oleh satu wuwung berbentuk li-masan, lalu bangunan joglo lagi dan limasan lagi dua wuwung. Disebelah kanan dan kiri terdapat gandok yang bagaikan sayap seekor burung yang sedang mengepak. Pintu seketeng yang diterangi oleh oncor disebelah menyebelah, memisahkan halaman depan rumah itu dengan longkangan disayap kiri dan kanan.
    — Inikah banjar itu ? — desis Nyi Citra Jati.
    — Bukan. Ini rumah seseorang. —
    — Begitu besarnya. Di padukuhan ini terdapat juga seorang yang kaya dengan rumahnya yang besar serta halamannya yang luas.
    — Ya. Tetapi yang tadi menyelenggarakan pertunjukkan tari topeng juga berhalaman luas. Rumahnya juga besar, tidak terpaut banyak dengan rumah ini. —
    — Tetapi agaknya rumah ini juga kosong. Isinya pergi kepadukuhan sebelah. —
    — Tentu tidak. Mungkin remaja dan anak-anak muda. Tetapi pemi¬lik rumah ini suami isteri tentu tidak akan mau pergi nonton tari topeng di padukuhan sebelah. Kecuali jika mereka diundang untuk menghadiri malam midadareni. —
    — Mungkin penghuni rumah ini diundang ke padukuhan sebe¬lah.—
    Pembicaraan merekapun terhenti. Mereka melanjutkan langkah mereka menyusuri jalan utama padukuhan itu. Beberapa puluh tonggak kemudian, barulah mereka menemukan bangunan yang menurut pengamatan mereka adalah banjar padukuhan itu. Justru tidak sebesar rumah yang baru saja menarik perhatian mereka.
    — Kita temui penunggu banjar itu. Biasanya mereka tinggal di be¬lakang banjar. — berkata Ki Citra Jati.
    — Biarlah kakang pergi menemuinya bersama Glagah Putih. Aku dan Wulan menunggu disini — berkata Nyi Citra Jati.
    — Baiklah.—
    Bersama Glagah Putih, maka Ki Citra Jatipun pergi ke rumah yang sederhana di belakang banjar itu.
    Ternyata yang mereka temui hanyalah isteri penunggu banjar itu serta anaknya perempuan yang masih kanak-kanak. Agaknya isteri pe¬nunggu banjar itu sedang berusaha menidurkan anak perempuannya itu. Ketika Ki Citra Jati mengetuk pintu rumah sederhana itu, maka perempuan itulah yang membukanya, sementara perempuannya yang sudah berbaring di pembaringan memanggil-manggilnya.
    — Ibu, ibu. —
    — Sebentar ngger. ada tamu. —
    — Maaf Nyi, kalau kami telah mengejutkan anak itu. —
    — Anak itu merengek terus. Kakaknya diantar ayahnya pergi ke padukuhan sebelah untuk nonton tari topeng. —
    Ki Citra Jati mengangguk-angguk.
    — Tetapi siapakah Ki Sanak ini? Apakah Ki Sanak mempunyai keperluan dengan ayahnya anak-anak? —
    — Tidak, Nyi. Kami sedang menempuh perjalanan panjang. Kami kemalaman di jalan. Nyi, jika diperkenankan, kami ingin minta ijin untuk bermalam di banjar ini. Besok pagi-pagi kami akan melanjutkan per¬jalanan. —
    Perempuan itu termangu-mangu sejenak. Dengan ragu iapun bertanya — Kalian berdua? —
    — Tidak Nyi. Kami berempat. Isteriku dan isteri anakku ini me¬nunggu di regol. —
    —Jadi Ki Sanak menempuh perjalanan bersama isteri dan menantu perempuan Ki Sanak? —
    — Ya, Nyi.—
    Perempuan itu mengangguk-angguk. Sementara anak perempuan¬nya masih memanggilnya.
    — Anak itu juga ingin nonton. Tetapi ia baru agak kurang sehat. Badannya agak panas dan sehari-harian tidak mau makan. —
    — Sudah diobati, Nyi. — —Sudah. —
    — Sokurlah. Mudah-mudahan anak itu segera sembuh —
    — Ki Sanak — berkata perempuan itu kemudian —biasanya ayah anak-anak ini juga tidak berkeberatan jika ada seseorang yang kemala¬man dalam perjalanan, minta ijin untuk bermalam disini. Karena itu, aku kira ayahnya anak-anak itu juga tidak akan berkeberatan, jika Ki Sanak bermalam. Apalagi Ki Sanak berjalan bersama dua orang perempuan. —
    — Terima kasih, Nyi. Jika Nyai tidak berkeberatan, maka biarlah aku memanggil isteri dan menantuku itu. —
    — Silahkan, Ki Sanak. Tetapi maaf, aku tidak dapat meninggalkan anakku. Jika ia sudah tidur, nanti aku pergi ke pendapa. Aku akan mem¬bersihkan bilik di serambi samping banjar itu. —
    — Sudahlah Nyi. Kami tidak usah merepotkan Nyai. Kami dapat tidur di manapun. —
    Ketika anak perempuan isteri penunggu banjar itu memanggil-manggil lagi, maka Ki Citra Jatipun berkata — Sudahlah, Nyi. Silakan. Biarkan kami duduk-duduk di pendapa banjar. —
    — Maaf Ki Sanak. Silahkan. Anak itu nakalnya bukan main. — Sejenak kemudian, Ki Citra Jati, Nyi Citra Jati, Glagah Putih dan
    Rara Wulan sudah berada di pendapa banjar. Mereka duduk disudut pringgitan sambil menanti penunggu banjar itu pulang.
    — Penunggu banjar itu membawa anaknya yang masih menjelang remaja. Ia tentu tidak akan sampai tengah malam. Anak itu tentu sudah mengantuk. Jika sudah membeli jajan, ia akan segera mengajak pulang.
    — Jika justru ayahnya yang senang melihat tari topeng? —
    — Keadaannya tentu akan berbeda — Glagah Putih menyahut sambil tersenyum.
    Namun yang kemudian muncul adalah isteri penunggu banjar itu. Dibersihkannya bilik di serambi. Kemudian mempersilahkan keempat orang itu bermalam di bilik itu.
    — Hanya sebuah banjar, Ki Sanak. Apa adanya. —
    — Terima kasih, Nyi. Terima kasih. Ini sudah jauh dari cukup bagi kami berempat. —
    Setelah mencuci kaki di pakiwan, maka yang berbaring lebih dahu¬lu adalah Nyi Citra Jati dan Rara Wulan. Nyi Citra Jati masih juga mem¬bantu Rara Wulan mengobati lukanya yang sudah menjadi semakin baik, sebelum mereka berbaring di amben yang besar yang terdapat didalam bilik itu.
    — Tidurlah — berkata Ki Citra Jati kepada Glagah Putih — nanti, menjelang dini, aku akan membangunkanmu. Aku akan gantian tidur. —
    — Baiklah, ayah — berkata Glagah Putih yang kemudian juga berbaring diamben yang besar itu. —
    Namun sebelum Glagah Putih sempat tidur, mereka mendengar langkah kaki disebelah serambi banjar itu. Kemudian merekapun mendengar suara orang yang sedang bercakap-cakap. Seorang diantaranya adalah anak-anak.
    —Penunggu banjar itu sudah pulang — desis Glagah Putih.
    — Ya — Ki Citra Jati mengangguk-angguk — anaknya tentu su¬dah mengantuk. —
    Sejenak kemudian, merekapun mendengar pintu rumah dibelakang banjar itu diketuk orang. Setelah mereka mendengar derit pintu dibuka, merekapun menden-gar suara isteri penunggu banjar itu bertanya—Sudah pulang? —
    — Tole sudah mengantuk. Setelah jajan beberapa macam makanan ia mengajak pulang. —
    —Tari topeng itu sudah dimulai? —
    — Belum lama—
    — Marilah —
    — Biarlah tole mencuci kaki. —
    Glagah Putihpun kemudian bangkit. Kepada Ki Citra Jati iapun bertanya—Apakah kita akan menemuinya? —
    — Ada juga baiknya, Glagah Putih. Marilah, kita temui penunggu banjar itu. —
    Keduanyapun kemudian keluar dari bilik diserambi banjar itu.—
    Keduanyapun kemudian keluar dari bilik diserambi banjar itu. Setelah menutup pintunya, merekapun turun ke halaman samping. Penunggu banjar yang baru saja mengantar anaknya ke pakiwan terkejut melihat mereka berdua. Namun Ki Citra Jatipun segera menje¬laskannya — Kami berempat Ki Sanak. Kami mohon ijin untuk mengi¬nap di banjar ini.
    — O — penunggu banjar itu mengangguk-angguk.
    Sementara itu isterinya telah muncul di pintu rumahnya sambil berkata — Mereka berempat kakang. Dua pasang suami isteri. Ayah dan ibu serta anak dan menantu. —
    — O — penunggu banjar itu mengangguk-angguk.
    — Kami ingin mengucapkan terima kasih. —
    — Banjar itu terbuka bagi siapa saja yang memerlukan, Ki Sanak. Silahkan. Tetapi tentu saja hanya apa adanya. Kamipun tidak dapat berbuat banyak bagi Ki Sanak semuanya. —
    — Terima kasih. Bahwa kami diijinkan bermalam di banjar ini, su¬dah merupakan satu keberuntungan bagi kami. —
    Namun pembicaraan merekapun terputus. Mereka mendengar langkah orang berlari-lari. Tidak hanya seorang. Tetapi saling mengejar. Merekapun kemudian telah memasuki halaman banjar.
    — Kang, kang Kimin — terdengar seseorang berteriak.
    — Ada apa? — bertanya penunggu banjar itu.
    Orang yang berlari itu langsung menuju pintu rumahnya.
    Namun iapun tertegun ketika ia melihat Kimin dan dua orang yang tidak dikenalnya berdiri di depan pintu. Demikian pula ia melihat isteri penunggu banjar itu berdiri di pintu.
    — Ada apa? — bertanya penunggu banjar itu.
    Orang itu tidak sempat menjawab. Dua orang yang berlari menyusulnya telah berdiri beberapa langkah di belakangnya.
    Orang itupun segera melompat dan berdiri disebelah penunggu banjar itu.
    — Ada apa? — penunggu banjar itu masih bertanya.
    — Orang itu, orang itu — suaranya terputus, sementara kedua
    orang yang mengejarnya itu bergerak mendekat.
    — Tutup mulutmu — geram orang itu.
    — Siapakah kalian? — bertanya penunggu banjar itu.
    — Kau siapa? — bertanya orang itu.
    — Aku penunggu banjar ini. —
    Sambil menunjuk kepada Ki Citra Jati dan Glagah Putih orang itupun bertanya — Orang ini? —
    —Mereka orang yang kemalaman dalam perjalanan dan menginap di banjar ini. —
    — Aku minta kalian tidak ikut campur. Orang yang aku kejar ini tentu akan memukul kentongan. Tetapi jika kentongan di banjar ini berbunyi maka kalian akan mati. —
    — Kenapa? — bertanya penunggu banjar itu.
    —Kau tidak usah bertanya. Tetapi ingat, jangan bunyikan kentongan. —
    — Kenapa? Aku bertanya, kenapa dan ada apa? —
    — Mereka perampok kakang — berkata orang yang dikejar itu dengan suara gemetar.
    — Gila kau — geram orang bertubuh tinggi — aku bunuh kau. —
    Penunggu banjar itupun menjadi sangat gelisah. Iapun berpaling
    kepada isterinya dan berkata—Ajak anakmu masuk. Tutup pintunya.
    — Tidak ada gunanya — geram perampok yang bertubuh lebih pendek — jika kalian melanggar pesanku, aku bakar rumahmu bersama isteri dan anakmu. —
    Penunggu banjar itu masih tetap berdiam diri. Tetapi iapun merasa bahwa ia tidak dapat berbuat apa-apa. Isteri dan anaknya yang ada di dalam rumah itu akan dapat menjadi korban.
    — Semuanya masuk ke dalam rumah itu. Aku akan menyelaraknya dari luar. Aku akan menunggui kalian sehingga pekerjaan kawan-kawanku sudah selesai. Jika selama itu kalian berbuat macam-macam maka sekali lagi aku peringatkan, aku akan membakar rumah¬mu.—
    Penunggu banjar itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata — Jadi kalian memanfaatkan saat-saat padukuhan ini sepi untuk merampok? Saat penghuni padukuhan ini sebagian sedang pergi menonton tontonan di padukuhan sebelah. —
    — Ya—jawab perampok itu — sekarang masuklah. Cepat. Atau aku memaksa kalian dengan kekerasan? —
    Penunggu banjar itu berpaling kepada Ki Citra Jati dan Glagah Putih sambil berkata—Maaf Ki Sanak. Yang terjadi ini adalah diluar kemampuanku untuk mengelak. —
    — Aku tahu Ki Sanak. —
    — Cepat — bentak perampok yang bertubuh tinggi — masuk ke rumah itu. —
    Penunggu banjar itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian berkata kepada Ki Citra Jati dan Glagah Putih — masuklah Ki Sanak. Kita tidak mempunyai pilihan lain. —
    — Tetapi isteri dan menantuku berada di serambi. —
    — Siapa? — bertanya perampok yang bertubuh pendek.
    — Isteri dan menantuku. —
    — Bawa mereka kemari, cepat. Merekapun harus masuk kedalam rumah ini. —
    Tetapi Ki Citra Jati dan Glagah Putih tidak segera bergerak.
    — Cepat. Atau aku seret mereka kemari?—
    — Nanti dulu, Ki Sanak — berkata Ki Citra Jati — sebaiknya biarkan mereka disana. Mereka tidak akan berbuat apa-apa. Mereka hanya dua orang perempuan. Sedangkan yang seorang sudah tua. Mereka tidak akan berani bangkit dari pembaringan. Apalagi memukul kentongan.—
    — Persetan. Bawa mereka kemari. Cepat. —
    Namun Ki Citra Jati itu menggeleng sambil menjawab — Tidak usah Ki Sanak. —
    — Kau menolak perintahku ini. —
    — Maksudku, biarlah mereka berada disana. —
    — Tidak. Bawa mereka kemari. —
    Namun yang menjawab kemudian adalah Glagah Putih setelah ia tanggap akan maksud Ki Citra Jati — Tidak mau. —
    — Tidak mau? —
    — Ya. Tidak mau. —
    Tiba-tiba saja tangan perampok yang bertubuh pendek itu terayun dengan derasnya mengarah ke wajah Glagah Putih.
    Tetapi yang terjadi adalah diluar dugaan. Glagah Putih dengan cepat menangkap pergelangan tangan orang itu, kemudian memilinnya sehingga tubuh orang itu berputar dan membelakangi Glagah Putih sam¬bil terbungkuk-bungkuk. Sebelum orang itu sempat berusaha membe¬baskan dirinya, sisi telapak tangan Glagah Putih telah menghantam tengkuknya sehingga orang itu jatuh terjerembab. Terdengar orang itu mengerang kesakitan. Namun ia tidak dapat segera bangkit berdiri.
    Kawannya yang bertubuh tinggi, yang melihat bagaimana kawan¬nya tidak berdaya sama sekali, dengan serta-merta meloncat untuk melarikan diri.
    Tetapi kaki Ki Citra Jati tiba-tiba saja telah menyambar perutnya.
    Orang itupun terlempar beberapa meter dan terbanting jatuh. Iapun tidak dapat segera bangkit. Perutnya terasa sakit sekali dan bahkan menjadi mual. Nafasnyapun terasa menjadi sesak.
    — Cari tali apapun – berkata Glagah Putih kepada penunggu banjar
    itu.
    — Untuk apa ? –
    — Kedua orang ini harus diikat. Kami ingin pergi ke rumah yang sedang dirampok itu. —
    — Bunyikan kentongan — berkata penunggu banjar itu kepada orang yang berlari dikejar oleh kedua orang perampok itu.
    — Tidak usah — cegah Glagah Putih — suara kentongan akan mengacaukan pertunjukan dipadukuhan sebelah. Jika orang dipadukuhan sebelah ada yang mendengar dan kemudian menyahut dengan irama yang sama, maka pertunjukkan itu akan menjadi kacau balau. —
    — Tetapi bagaimana dengan para perampok itu. —
    — Sudah aku katakan, kami akan pergi kesana. Tunjukkan rumah yang sedang dirampok itu. —
    Orang yang dikejar oleh kedua orang perampok itu termangu-mangu sejenak. Sementara Glagah Putih berkata — Cari tali lebih dahu¬lu.—
    Penunggu banjar itupun kemudian berlari masuk ke dalam rumah¬nya. Sejenak kemudian, iapun sudah berlari keluar lagi sambil membawa tali ijuk.
    Sementara Glagah Putih mengikat kedua orang perampok itu pada sebatang pohon sawo, maka Ki Citra Jati telah memanggil Nyi Citra Jati dan Rara Wulan yang sudah duduk di bibir pembaringan. Namun mereka memang menunggu untuk mengetahui, apa yang telah terjadi.
    Sejenak kemudian, maka Ki Citra Jati, Nyi Citra Jati, Glagah Putih dan Rara Wulan diantar oleh orang yang berlari-lari ke banjar, pergi ke rumah yang sedang dirampok itu. Sementara Ki Citra Jati minta agar pe¬nunggu banjar itu tetap berada di banjar menunggui keluarganya serta kedua orang yang diikat pada pohon sawo itu.
    — Dimana rumah itu? — bertanya Ki Citra Jati.
    Orang yang berlari-lari ke banjar itupun menjawab sambil menun¬juk — Disana Ki Sanak. Tetapi perampok itu jumlahnya banyak. Lebih dari sepuluh orang. —
    — Kami akan mencoba Antarkan kami. —
    Orang itu nampak ragu. Tetapi Ki Citra Jati mendesaknya—Mari¬lah. Kita jangan terlambat. —
    Keempat orang itupun kemudian meninggalkan banjar itu, turun ke jalan dan berjalan ke rumah yang sedang dirampok.
    Ternyata rumah itu adalah rumah yang besar yang mendapat perha¬tian Ki Citra Jati di saat mereka mencari banjar padukuhan itu.
    Dalam pada itu, penunggu banjar itupun menjadi ragu-ragu. Berba¬gai pertanyaan timbul di benaknya. Apakah keempat orang itu bukan jus¬tru kawan dari para perampok itu. Tetapi jika demikian, kenapa mereka telah mengikat dua orang diantara mereka di halaman banjar.
    Untuk beberapa saat penunggu banjar itu termangu-mangu. Ketika isterinya menjenguk keluar, maka iapun berkata—Masuklah Nyi. Tutup pintunya. —
    — Kau baik-baik saja kakang? —
    — Ya. Aku baik-baik saja. —
    — Apakah kau tidak masuk? —
    — Biarlah aku disini. —
    Demikian perempuan itu masuk dan menutup pintu, seorang di¬antara para perampok yang terikat itupun berkata—Lepaskan kami. Ka¬mi akan membalas kebaikanmu. —
    — Apa yang dapat kau lakukan? Jika aku melepasmu, maka kau akan mencekik aku. —
    — Aku akan menyelamatkanmu. Kawan-kawanku tentu akan membantai keempat orang yang sombong itu. Apalagi dua diantara mereka hanyalah perempuan. Apa yang dapat mereka lakukan? Setelah membantai keempat orang itu, maka kawan-kawanku akan segera men¬cari kami berdua. Nah, jika kau lepaskan kami, maka kami akan melin¬dungimu sekeluarga dari kemarahan kawan-kawan kami. —
    — Tidak. Aku tidak dapat melepas ikatanmu. Keempat orang itu¬lah yang berhak melepaskan ikatanmu. —
    — Jika kau tidak mau melepaskan ikatan kami, kau akan menyesal — berkata seorang lagi —jika kawan-kawanku datang, aku tidak akan melindungimu. Tanpa perlindungan kami, maka kalian akan dicincang menjadi sayatan-sayatan kecil. —
    Orang itu memang menjadi ragu-ragu. Sementara orang yang di¬ikat itupun berkata — tetapi jika kau lepaskan kami, maka kami berjanji untuk menjamin keselamatanmu, isterimu dan anakmu. —
    Jantung penunggu banjar itu terasa berdegupan didalam dadanya. Keragu-raguan yang sangat telah mencengkam perasaannya.
    — Marilah, Ki Sanak — berkata salah seorang dari kedua orang perampok itu —jangan korbankan nyawamu serta nyawa anak isterimu sekedar untuk sebuah kebanggaan. Apa artinya kebanggaan jika sebentar lagi nyawamu dan seluruh keluargamu akan kami tumpas. —
    Penunggu banjar itu tidak menjawab. Ia masih saja berdiri termangu-mangu penuh keragu-raguan.
    — Cepatlah — desak perampok yang terikat itu —jangan me¬nunggu kawan-kawanku datang kemari. —

  21. Api Dibukit Menoreh
    Jilid IV – 45
    Bagian🙂🙂 dari 3

    Namun akhirnya penunggu banjar itupun berkata — Diamlah. Aku tidak akan melepas ikatan itu. Aku akan membawa anak dan isteriku per¬gi —
    — Setan kau — geram perampok itu —jangan menyesal jika kawan-kawanku memenggal lehermu nanti. —
    Penunggu banjar itupun kemudian telah mengetuk pintu rumahnya serta memanggil nama isterinya. Demikian pintu itu dibuka, maka pe¬nunggu banjar itupun berkata — Nyi. Pergilah bersama anak-anakmu. Agaknya keadaan menjadi tidak menentu.—
    — Kakang sendiri? —
    — Biarlah aku disini. Aku dapat menjaga diriku sendiri. —
    Perempuan itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian iapun bertanya — Aku harus pergi kemana, kang?—
    — Pergi ke rumah Ki Jagabaya. Jika Ki Jagabaya sedang berada di pedukuhan sebelah karena diundang dalam malam midodareni itu, pergi¬lah ke rumah Ki Kebayan. Tetapi untuk sementara, jangan memukul kentongan: Jika Ki Jagabaya akan mempersiapkan orang-orang padukuhan, biarlah Ki Jagabaya mendatangi mereka dan mengetuk pintu rumah ke rumah. —
    — Baik, kang. —
    Sejenak kemudian, maka isteri penunggu banjar itu telah keluar dari rumahnya yang kecil dan sederhana itu sambil mendukung anaknya yang kecil dan sederhana itu sambil mendukung anaknya yang kecil, yang agaknya sudah tertidur sambil menggandeng anaknya yang lebih besar.
    — Gila kau — geram perampok yang terikat itu — aku akan mengejarnya sampai kemanapun. —
    — Kau akan dipenjara untuk waktu yang lama. Jika kau keluar dari penjara, aku sudah bukan penunggu banjar lagi. Anakku sudah besar dan mampu berbuat sesuatu. —
    — Setan kau. Jangan menyesali sikapmu ini.
    Penunggu banjar itu tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian pergi ke sudut banjar dan duduk di tangga bersandar dinding.
    — Kau orang yang dungu. Harga nyawamu tidak seimbang dari penghasilanmu sebagai penunggu banjar ini. —
    Tetapi penunggu banjar itu sudah memantapkan tekadnya untuk tidak melepaskan kedua orang perampok itu, apapun yang terjadi.
    Dalam pada itu, Ki Citra Jati, Nyi Citra Jati, Glagah Putih dan Rara Wulan telah berada di rumah yang besar dengan halaman yang luas bersama orang yang telah berlari ke banjar dan berniat memukul kentongan. Tetapi niat itu diurungkan karena Ki Citra Jati mencegahnya.
    Ketika kelima orang itu masuk regol halaman rumah yang besar itu, suasananya justru sepi. Agaknya para perampok yang itu sedang be¬rada di ruang dalam rumah yang besar itu.
    —Tinggallah disini – berkata Ki Citra Jati kepada orang yang men¬gantarnya ke rumah itu. Kami akan masuk kedalamannya.
    — Hati-hatilah Ki Sanak. Mereka terdiri dari banyak orang.—
    — Ya. Kami akan berhati-hati.—
    Orang yang mengantar Ki Citra Jati itupun kemudian berhenti dan berdiri di balik bayang-bayang sebatang pohon sawo yang besar, semen¬tara Ki Citra Jati dan ketiga orang keluarganya itu melangkah menuju ke pendapa.
    Ketika mereka berempat naik, maka tiba-tiba saja dua orang melangkah dengan sempat mendekati mereka Seorang diantara mereka pun bertanya dengan garang. Siapa kalian he?—
    — Kami orang lewat yang kemalaman, Ki Sanak. Kami ingin minta ijin untuk bermalam disini. Apakah Ki Sanak pemilik rumah ini?—
    — Rumah ini bukan penginapan mengerti. Pergi. Cari tempat lain untuk menginap.
    — Aku sudah pergi ke banjar, Ki Sanak. Tetapi penunggu banjar itu menunjukkan kepada kami untuk bermalam disini.—
    — Disini bukan penginapan. Pergi atau aku halau kalian seperti menghalau seekor anjing?—
    — Menurut penunggu banjar itu, orang yang bermalam di tempat ini akan mendapat perlakuan yang sangat baik. Kami akan mendapat makan malam dan bilik yang hangat di gandok.—
    — Omong kosong. Pergi.—
    — Tolong Ki Sanak. Jika orang lain mendapat kesempatan untuk bermalam disini dengan mendapat makan malam dan bilik yang hangat, kenapa kami tidak?—
    Persetan dengan dongeng itu. Pergi atau aku dera kalian sampai
    pingsan.—
    — Aku mohon Ki Sanak.—
    — Pergi.—
    — Aku mohon.—
    Tiba-tiba saja pintu pringgitan rumah itu terbuka. Seorang yang berwajah garang menjenguk sambil bertanya. Ada apa?—
    — Ada orang-orang gila yang ingin menginap disini.—
    — Menginap.—
    — Ya.—
    — Lalu.
    — Aku suruh mereka pergi.—
    — Jangan — berkata orang berwajah garang itu. Suruh mereka masuk ke ruang dalam. Ia baru boleh pergi setelah kami pergi,—
    Dua orang yang mula-mula menyapa itu mengangguk-angguk. Dengan garam seorang diantara merekapun berkata.— Masuk. Kau justru tidak boleh pergi.—
    — Kenapa?—
    —Jangan banyak bertanya. Sekarang kalian harus masuk.—
    Ki Citra Jati, Nyi Citra Jati, Glagah Putih dan Rara Wulan pun melangkah perlahan-lahan menuju ke pintu yang terbuka itu. Demikian mereka melangkah masuk, maka merekapun segera melihat beberapa orang laki-laki yang kasar dan bahkan liar sudah berada di ruang dalam.
    Seorang laki-laki, seorang perempuan dan tiga orang remaja duduk di tikar yang terbentang di tengah-tengah ruangan. Seorang gadis kecil di pangkuan perempuan itu terisak menahan tangisnya
    Wajah-wajah yang ketakutan itu memandang keempat orang yang masuk ke ruang dalam itu dengan kerut di kening.
    — Duduk — bentak seorang yang bertubuh tinggi, agak kurus dan berkepala botak.
    Ki Citra Jati tidak segera duduk. Dipandanginya orang-orang yang ketakutan itu dengan saksama. Agaknya mereka adalah pemilik rumah itu bersama keluarganya.
    — Duduk— bentak orang bertubuh tinggi itu lebih keras lagi.
    Ki Sanak — berkata Ki Citra Jati — Kami ingin minta ijin bermalam di sini.—
    — Apakah kau tuli. Duduk.—
    Ki Citra Jati beserta keluarganya itupun kemudian duduk pula di tikar yang terbentang di ruang dalam itu.
    — Kalian tidak boleh beranjak dari tempatmu — geram orang bertubuh tinggi itu.
    Ki Citra Jati tidak menjawab. Sementara itu, orang bertubuh tinggi itupun kemudian berkata kepada pemilik rumah — Bawa perhiasanmu yang lain kemari. Aku tidak percaya, bahwa kalian hanya mempunyai beberapa potong perhiasan ini. Kalian harus membawa keris, timang dan perhiasan-perhiasan yang lain kemari dan menyerahkannya kepada kami. Jika kalian tidak melakukannya, maka anak-anak kalian akan menjadi korban.—
    — Kami tidak mempunyai yang lain, Ki Sanak.—
    Namun tiba-tiba saja tangan orang itu menyambar rambut anaknya yang sulung, sehingga anak itu menjerit. Laki-laki itupun dengan gerak naluriah, bergeser mendekati anaknya. Namun ujung golok yang besar segera melekat didadanya.
    — Ambil perhiasanmu serta benda-benda berharga yang lain. Bawa kemari. —
    — Sungguh Ki Sanak. Aku tidak menyesal yang lain. — Diguncangnya rambut anaknya yang sulung sambil berkata —
    Aku akan mematahkan leher anakmu. —
    — Jangan. Ia tidak bersalah. —
    — Ternyata kau lebih sayang kepada harta bendamu daripada kepada anakmu. —
    — Tidak.—
    — Jika tidak, ambil sekarang. Aku akan menghitung sampai sepuluh. Jika sampai hitungan kesepuluh kau belum mengambil perhiasan dan harta bendamu yang kau sembunyikan, maka anakmu ini akan mati. Bahkan tidak hanya seorang. Tetapi aku akan mem¬bunuh semua anak-anakmu. Biar kau sempat menikmati kepedihan hatimu karena anak-anakmu mati. —
    — Jangan, jangan. —
    Ujung golok laki-laki itu sudah melekat di leher anaknya yang sangat ketakutan. Tetapi anak itu sudah tidak dapat lagi menangis.
    — Satu —
    — Ki Sanak. Jangan lakukan itu. —
    — Dua ….—
    Tiba-tiba saja ibunya menjerit —jangan sakiti anakku. — Orang itu seakan-akan tidak mendengarnya. Ia masih saja tetap menghitung — Tiga….—
    Perempuan itu menangis. Namun tangisnya tidak dapat menumbuhkan belas kasihan di hati perampok yang nampaknya sudah membeku itu.
    — Ampat….—
    Tangis perempuan itu semakin menjadi-jadi, sementara perampok itu masih menghitung terus — Lima —
    — Jangan menunggu sampai batas — geram seorang yang bermata tajam seperti burung hantu dengan segores luka dipipinya.
    — Enam ….—
    Orang yang bertubuh tinggi itu menjadi semakin geram. Ia mulai mengguncang lagi rambut anak yang sangat ketakutan itu.
    — Tujuh nada suaranya semakin meninggi.
    — Kakang, kakang. Tolong anakmu kakang — teriak perem¬puan itu
    Laki-laki itupun kemudian berkata — Baik, baik, Ki Sanak. Aku akan mengambil apa yang masih tersisa.—
    Ketika laki-laki itu bangkit, orang yang bertubuh tinggi itu berkata kepada seorang pengikutnya — Bantu orang itu membawa perhiasannya kemari.—
    Laki-laki itu tertegun. Tetapi perampok yang mendapat perin¬tah itu membentaknya — Cepat. Aku tidak sesabar Ki Lurah.—
    Laki-laki pemilik rumah itu tidak mempunyai pilihan. Iapun
    segera beranjak dari tempatnya, masuk ke senthong tengah diikuti
    oleh seorang perampok yang berwajah garang sambil membawa
    bindi yang diacu-acukannya.
    Pemilik rumah itu harus mengambil benda-benda berharga yang disimpannya dibagian bawah geledeg yang berada di senthongnya, didalam sebuah peti yang ditindih dengan berbagai macam benda yang tidak berarti. Pakaian-pakaian kumuh, setagen dan kamus yang sudah tua. Timang yang terbuat dari tembaga serta barang-barang lain yang tidak berharga.
    Didalam peti itu diserahkan kepada orang yang bertubuh ting¬gi, serta setelah dibuka dan dilihat isinya, maka orang bertubuh tinggi itu mengusap pipi anak sulung yang ketakutan itu sambil berkata — Ternyata ayah dan ibumu cukup bijaksana ngger. Baiklah. Jangan takut lagi. Aku tidak apa-apa. Aku tidak bersung-guh-sungguh. Aku hanya mengancam karena ayah dan ibumu ter¬lalu kikir. —
    Pemimpin perampok itupun kemudian memberikan isyarat kepada kawan-kawannya. — Marilah kita pergi.
    Beberapa orang laki-laki yang garang itupun kemudian beran¬jak dari tempat mereka. Namun pemimpin perampok itu masih berpesan — Jangan berbuat aneh-aneh. Jika kalian membunyikan isyarat, maka kami akan kembali. Kami akan benar-benar mem¬bunuh siapapun yang akan aku bunuh. —
    Sejenak kemudian, maka para perampok itu sudah berada di pendapa. Setelah memperhatikan anak buahnya, maka perampok itu sempat bertanya — Dimana Bandot dan Berok? —
    — Mereka mengejar anak muda yang melarikan diri dari hala¬man rumah ini, Ki Lurah. —
    — Kemana? —
    — Kami tidak tahu. —
    — Kenapa begitu lama? —
    — Mungkin orang itu sempat bersembunyi. —
    — Kita cari sambil keluar dari halaman rumah ini. —
    — Baik, Ki Lurah. —
    Namun sebelum mereka pergi, para perampok itupun terkejut. Ampat orang yang mencari penginapan itu telah berdiri di pendapa itu pula.
    Pemimpin perampok itu termangu-mangu sejenak. Kehadiran ampat orang itu di pendapa sempat membuat jantungnya berdebar-debar.
    Ketika keempat orang itu melangkah semakin maju, pemimpin perampok itupun bertanya — Kau mau apa ? —
    — Ki Sanak — berkata Ki Citra Jati — aku biarkan kau merampok perhiasan itu dari pemiliknya. Sekarang perhiasan-perhiasan dan benda-benda berharga itu sudah menjadi milikmu. Nah, sekarang aku akan mer¬ampok benda-benda berharga itu dari tanganmu. —
    — He ? — pemimpin perampok itu tidak yakin akan pendengaran¬nya — apa yang kau katakan ?
    — Sudah sampai pada gilirannya aku merampokmu. Berikan ben¬da-benda berharga itu kepadaku, atau aku akan membunuh semua anak buahmu. Aku tidak akan membunuh dan bahkan tidak akan menyakitimu agar kau dapat menikmati kepedihan hatimu karena semua anak buahmu terbunuh. —
    — Apakah kau sudah menjadi gila ? —
    — Tidak. Aku tidak gila. Aku masih waras. Karena itu, aku dapat menahan diri. Aku biarkan kau menyelesaikan tugasmu dengan baik. Sekarang giliranku untuk menyelesaikan tugasku dengan baik. —
    — Jangan main-main, Ki Sanak. Waktuku sempit. Aku tidak sem¬pat melayani kegilaanmu itu. —
    — Sudah aku katakan, aku tidak gila isteriku, anak dan menantuku juga tidak gila. Kami sudah bertahun-tahun melakukan kegiatan keluarga kami. Merampok. Barangkali itulah kelebihan kami dari kalian, bahwa kelompok kami terdiri dari orang-orang sekeluarga. Ayah, ibu, anak dan menantu. —
    Wajah pemimpin perampok itu menjadi merah. Dengan geram ia pun berkata -— Betapa sombongnya kalian, kalian hanya berempat. Tetapi kalian berani’menantang kami, yang jumlahnya lipat tiga. Apakah itu berarti bahwa setiap orang diantara kalian berani melawan tiga orang dari antara kami ? —
    — Tentu. Bukankah kami masih dapat menghitung dengan baik?—
    — Setan alas. Kalian benar-benar orang yang tidak tahu diri. Beta¬papun tinggi tingkat ilmu kalian, tetapi kalian belum tahu tataran kemam¬puan kami. —
    — Kami sudah menjajaginya. Kami telah membunuh dua orang kawanmu yang kau cari itu. Dengan demikian kami dapat menjajagi kekuatan kalian. —
    — Jadi kedua orang kawanku itu sudah kau bunuh ? —
    — Ya —
    — Sekarang gilirannya, kalian berempat akan mati disini. — Pemimpin perampok itu tidak menunggu jawaban Ki Citra Jati. Ia-
    pun segera mengangkat goloknya sambil berteriak — Bunuh keempat orang gila ini. —
    Ki Citra Jati Tertawa. Ia pun berkata lantang pula — Ayo anak-anak. Sudah waktunya kita bekerja keras. Kita merampok perampok. —
    Nyi Citra Jatipun telah mengambil jarak pula. Demikian pula Glagah Putih dan Rara Wulan. Namun keduanya masih saja berniat un¬tuk bertempur berpasangan, karena luka Rara Wulan masih belum sem¬buh sepenuhnya, meskipun sudah semakin baik.
    Pemimpin segerombolan perampok itu menjadi sangat marah. Ia benar-benar merasa terhina oleh sikap Ki Citra Jati. Setelah bertahun-tahun ia berpetualang, tiba-tiba saja ampat orang yang dua diantaranya perempuan, berusaha untuk merampok gerombolannya Satu peristiwa yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
    Sejenak kemudian, maka para perampok itupun mulai menyerang. Perampok perampok itu dengan garangnya telah langsung menyerang Ki Citra JAti. Goloknya yang besar itupun berputaran sehingga menim¬bulkan desir angin serta gaung yang keras.
    Namun baru saja pertempuran itu dimulai. Ki Citra Jati sudah berhasil merampas sebuah tongkat besi dari salah seorang lawannya, se¬hingga orang yang kehilangan tongkat besinya itupun mengumpat kasar.
    Tetapi orang itu masih membawa sepasang pisau belati panjang, sehingga tanpa tongkat besinya, iapun telah menggenggam sepasang pisau belatinya.
    — Cari senjata apa adanya — berkata Ki Citra Jati hampir berteri¬ak.
    Sebelum para perampok itu menyadari apa yang terjadi. Nyi Citra Jati, Glagah Putih dan Rara Wulan telah berhasil merebut senjata apa saja dari tangan lawan-lawannya.
    Nyi Citra Jati telah berhasil merampas sebilah pedang Rara Wulan telah menggenggam sebatang tombak pendek. Sedang Glagah Putih berhasil mendapatkan sebuah canggah bertangkai pendek.
    Keberhasilan mereka merebut senjata telah memberikan isyarat kepada lawan-lawan mereka, bahwa keempat orang itu benar-benar orang-orang yang sangat berbahaya. Mereka memiliki kemampuan yang tinggi, sehingga seakan-akan mereka dapat berbuat sekehendak mereka atas lawan-lawan mereka.
    Demikianlah, maka sejenak kemudian, pertempuranpun menjadi semakin sengit. Sementara itu, sebagaimana dibisikkan oleh Ki Citra Jati pada saat ia keluar pintu pringgitan kepada pemilik rumah itu, maka pintu pringgitan itupun telah ditutup dan diselarak dari dalam
    Namun sejenak kemudian, pemimpin perampok serta anak buah¬nya segera menyadari, bahwa keempat orang itu benar-benar orang yang berilmu tinggi.
    Dengan senjata rampasan, Glagah Putih bertempur dengan garangnya, Keduanya bergerak dengan cepat diantara lawan-lawan mereka yang jumlahnya berlipat.
    Para perampok itu sama sekali tidak menduga, bahwa perempuan mu¬da yang disebut menantu dari sepasang suami isteri itu, juga memiliki il¬mu yang tinggi sebagaimana ibunya.
    Dengan demikian, maka pasangan suami isteri yang bertempur berpasangan itu, membuat lawan-lawan mereka berdebaran.
    Tetapi mereka adalah perampok-perampok yang sudah berpengala¬man. Apalagi jumlah mereka jauh lebih banyak dari keempat orang yang akan merebut hasil rampokan mereka. Karena itu, maka para perampok itu masih tetap berkeyakinan bahwa mereka akan segera dapat men¬galahkan mereka.
    Pemimpin perampok yang terlibat dalam pertempuran melawan Ki Citra Jati itu telah menyerahkan peti kecilnya kepada seorang keper¬cayaannya. Orang yang bertubuh tinggi itu, bersama dengan dua orang pengikutnya, mencoba untuk dengan cepat menyelesaikan pertempuran itu.
    Tetapi ternyata mereka mengalami kesulitan, Ki Citra Jati dengan tongkat besinya, berloncatan dengan tangkasnya. Orang tua yang sedang bertempur itu, seolah-olah bukan lagi orang tua yang datang, minta ijin untuk menginap di rumah itu. Demikian pula perempuan-perempuan yang telah menyingsingkan kain panjangnya itu. Mereka tiba-tiba saja telah berubah menjadi orang-orang yang sangat garang.
    Tongkat besi di tangan Ki Citra Jati telah bergerak berputaran dengan cepat. Benturan-benturan yang keras telah terjadi antara tongkat besi itu dengan senjata-senjata para perampok itu. Bunga apipun berloncatan memercik di sekitar arena. Di sisi lain, Nyi Citra Jati harus bertempur melawan tiga orang pula.
    Pedangnya yang berkilat-kilat memantulkan cahaya lampu minyak di pendapa rumah itu, terayun-ayun mengerikan. Orang yang semula memiliki pedang itu, rasa-rasanya tidak lagi mengenali, bahwa pedang itu adalah pedangnya. Pedangnya yang terayun itu rasa-rasanya menjadi jauh lebih berbahaya daripada saat-saat pedang itu berada di tangannya.
    Orang yang kehilangan pedang itu mengalami kesulitan untuk mendekat. Putaran pedang itu bagaikan kabut yang melingkari tubuh Nyi Citra Jati. Sementara itu senjata yang kemudian dipegangnya adalah lebih pen¬dek dari pedangnya.
    Dalam pada itu, pasangan yang disebutnya anak dan menantu itupun tidak kalah garangnya pula. Ternyata beberapa saat kemudian, seorang diantara lawan mereka telah terlempar dari pendapa dan jatuh berguling di halaman samping.
    Dengan serta merta orang itupun bangkit. Tetapi tulang punggungnya terasa bagaikan telah retak, sehingga orang itu harus berdesah menahan sakit.
    Sebelum orang itu sempat naik kembali ke pendapa, kaki Rara Wulan telah menghantam dada seorang yang bertubuh pendek dan berperut buncit. Terdengar orang itu mengaduh sementara tubuhnya terdorong dengan derasnya menghantam tiang. Demikian kerasnya sehingga pen¬dapa itu rasa-rasanya bagaikan diguncang gempa.
    Orang itu hanya sempat menggeliat. Namun kemudian iapun menjadi pingsan.
    Sementara itu, Glagah Putih justru menjadi ragu-ragu. Canggah bertangkai pendek di tangannya itu ternyata sangat berbahaya bagi lawan-lawannya. Ketika ia sempat mengayunkannya, maka tiga orang sekaligus berteriak kesakitan. Canggah bertangkai pendek itu telah menggores ketiga orang itu sekaligus. Meskipun lukanya tidak memba¬hayakan hidupnya, namun darah sudah mulai menitik dari lukanya.
    Namun dengan demikian, orang-orang yang terluka itu menjadi sangat marah. Merekapun segera menghentakkan kemampuan mereka.
    Tetapi mereka tertegun ketika seorang lagi diantara mereka yang terpelanting jatuh dari pendapa. Orang itu mengaduh kesakitan. Sementara itu orang yang pertama kali terlempar jatuh itu telah naik kembali ke pendapa. Tetapi ia masih saja merasa terganggu oleh perasaan sakit di punggungnya.
    Sementara itu. orang-orang yang bertempur melawan seorang perem puan yang mereka anggap sudah tua. merasa yakin bahwa mereka akan segera menyelesaikan tugas mereka. Setelah itu mereka akan datang bergabung dan membantu kawan-kawan mereka.
    Tetapi ternyata mereka dengan cepat telah terdesak. Perempuan tua itu mampu bergerak dan berloncatan dengan cepat, seperti seekor burung. srigunting.
    – Perempuan iblis – geram seorang yang kulitnya bagaikan terbakar. Agaknya orang yang terlalu sering terpanggang oleh panasnya sinar matahari.
    Dengan bersenjatakan sebuah kapak iapun berusaha untuk segera mengakhiri pertempuran. Dengan lantang iapun berkata – Jangan ragu-ragu. Kita bunuh perempuan yang kepanjingan iblis ini.—
    Namun Nyi Citra Jati tertawa. Katanya – Jangan mudah terseret oleh arus perasaanmu ngger. Apalagi dalam sebuah pertempuran Kegelisahan dan kecemasan yang tidak terkendali akan menjerumuskan kalian kedalam kesulitan.-
    – Persetan nenek tua – bentak seorang yang bertubuh kurus.-
    – Seharusnya kau makan lebih banyak, agar tubuhmu menjadi agak gemuk sedikit.—
    – Aku bunuh kau nek – sahut orang yang kurus itu.
    Nyi Citra Jati tertawa. Suara tertawanya yang patah-patah itupun terdengar mengguncang. Bahkan Rara Wulan justru meloncat surut mengambil jarak dari lawan-lawannya. Terasa tengkuknya meremang.
    Glagah Putihpun menyusulnya sambil bertanya – Ada apa, Rara Wulan? –
    – Tidak apa-apa – jawab Rara Wulan. Namun iapun kemudian berdesis – Suara tertawa ibu itu. —
    Glagah Putih tersenyum. Namun iapun segera meloncat menghin¬dari serangan seorang lawannya. Sebuah golok yang besar terayun dengan derasnya mengarah ke leher. Sambil merendah Glagah Putih meng¬gerakkan canggahnya. Sepasang mata canggahnya telah menjepit golok lawannya. Ketika Glagah Putih kemudian memutar canggahnya, maka golok di tangan orang itupun bagaikan direnggut dengan kerasnya.
    Orang itu tidak berhasil mempertahankan beberapa langkah dari padanya. Justru hampir mengenai seorang yang bertubuh gemuk dan berwajah bulat.
    Tetapi Glagah Putih tidak dapat mencegahnya ketika orang yang kehilangan goloknya itu dengan serta-merta meloncat menerkam goloknya itu yang terjatuh itu, karena Glagah Putih harus bergeser kesamping menghindari serangan seorang lawannya lain.
    Tetapi demikian orang yang sudah berhasil memungut goloknya itu harus mengaduh kesakitan. Ujung tombak pendek di tangan Rara Wu¬lan memang telah mematuk lambungnya. Namun Wulan memang tidak berniat membunuhnya, sehingga luka dilambung orang itu tidak terlalu dalam.
    Meskipun demikian, dari luka itu telah mengalir darahnya yang hangat.
    – Jika kau memaksa untuk bertempur terus, maka dari lukamu itu darah akan mengalir semakin banyak, karena setiap gerakan bagaikan memeras urat nadimu. Akhirnya darahmu akan habis dan kau akan mati lemas karena tubuhmu menjadi kering. –
    Orang itu tidak menjawab. Tetapi ia mencoba menekan lukanya dengan telapak tangannya. Bahkan orang itupun kemudian merangkak menepi dan duduk bersandar tiang.
    Dengan demikian, lawanpun menjadi semakin menyusut. Lawan Ki Citra Jatipun tinggal dua orang lagi. Dalam pada itu para perampok yang menyadarinya, agaknya berusaha untuk mengambil jalan lain.
    Beberapa saat ia masih mencoba melawan. Namun kemudian ia¬pun meloncat surut. Kepada kepercayaannya iapun berkata — Berikan peti itu. Bunuh orang yang berusaha merebut peti-peti ini. –
    Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian diserahkan¬nya peti kecil yang berisi benda-benda berharga itu sementara ia sendiri meloncat melibatkan diri dalam pertempuran melawan Ki Citra Jati. Pada saat itulah pemimpin perampok itu mencoba melarikan diri. Tanpa memberikan peringatan apa-apa kepada kawan-kawannya, ia mel¬oncat turun ke halaman dan berlari kearah pintu regol.
    Namun langkahnya terhenti, Glagah Putih telah berdiri beberapa langkah dihadapannya. Ditinggalkannya Rara Wulan karena lawan yang harus dihadapinya tinggal dua orang, sementara Glagah Putih yakin bah¬wa Rara Wulan akan mengatasinya.
    – Minggir – terlihat pemimpin perampok itu.
    – Jangan lari. Serahkan peti itu kepadaku. Jika kau tidak melakukannya, seperti yang dikatakan oleh ayahku, semua anak buahmu akan kami bunuh. —
    – Bunuhlah – teriak orang itu – aku tidak akan memerlukan mere¬ka lagi. Sekarang minggir atau aku akan membunuhmu. —
    ~ Serahkan peti itu. ~
    Pemimpin perampok itu tidak menyahut. Iapun segera meloncat sambil mengayunkan pedangnya yang digenggamnya ditangan kanan¬nya, sedangkan tangan kirinya mengepit peti kecil yang berisi benda-ben¬da berharga itu.
    Tetapi ayunan pedangnya tidak menyentuh sasarannya. Dengan cepat Glagah Putih telah menyerangnya pula.
    Pertempuran berlangsung tidak begitu lama. Sejenak kemudian Ki Citra Jatipun telah hadir pula sambil berkata – Kau akan lari dan mening¬galkan kawan-kawanmu yang terluka begitu saja.
    – Persetan – geram orang itu.
    Serangan-serangannyapun menjadi semakin garang. Tetapi karena sebelah tangannya memegangi peti yang berisi benda-benda berharga, maka ia tidak dapat bertempur dengan leluasa.
    Apalagi ketika Ki Citra Jatipun telah melibatkan diri pula. Ketika tongkat besi di tangan Ki Citra Jati itu terayun dan menghantam pahanya, maka pemimpin perampok itupun telah terjatuh dan tidak dapat bangkit berdiri lagi. Ternyata tulang pahanya telah menjadi retak.
    Sementara itu, peti kecil itupun telah terlepas dari tangannya dan jatuh beberapa langkah dari kakinya.
    Pemimpin perampok itu berteriak kesakitan. Tetapi ia masih,men¬coba merangkak menggapai peti itu. Tetapi Glagah Putih bergerak lebih cepat memungut peti kecil yang terlempar itu.
    – Kembalikan, kembalikan kepadaku – teriak pemimpin peram¬pok itu.
    – Apa yang dikembalikan? – bertanya Glagah Putih.
    Pemimpin perampok itupun menjawab sambil menyeringai kesak¬itan – Peti itu, peti itu. ~
    Tetapi Glagah Putihpun berkata – Peti ini akan menjadi milik ka¬mi. Sebagaimana kalian merampok pemilik rumah ini sehingga ini men¬jadi milikmu, maka sekarang peti ini menjadi milik kami. –
    – Tidak, tidak – teriaknya.
    Namun Ki Citra Jati segera meletakkan tongkat besinya di pun¬daknya sambil berkata ~ Tongkat ini tidak hanya dapat mematahkan tu¬lang kakimu. Tetapi tongkat ini akan dapat mematahkan lehermu,-
    Ketika Ki Citra Jati menggerakkan tongkat menyentuh leher orang itu, maka iapun berteriak — Jangan, jangan. –
    – Baiklah ~ berkata Ki Citra Jati – aku tidak hanya dapat mematahkan lehermu, tetapi kau jangan berbuat aneh-aneh.
    Orang itu memandang Ki Citra Jati dengan sorot mata yang mem¬bayangkan kesakitan. Dalam pada itu, Ki Citra Jatipun kemudian berkata kepada Glagah Putih ~ Suruh orang yang berdiri di belakang pohon itu untuk memanggil Ki Demang. Aku akan menemui pemilik rumah ini. —
    – Baik, ayah — sahut Glagah Putih.
    Glagah Putihpun kemudian berlari menemui orang yang telah me¬nunjukkan rumah yang sedang dirampok itu.
    ~ Pergilah ke rumah Ki Demang. Panggil Ki Demang kemari. —
    – Baik, Ki Sanak. —
    – Katakan bahwa para perampok sudah tidak berdaya. Ki Demang tidak perlu membunyikan kentongan. ~
    Demikian orang itu berlari keluar regol halaman, maka Glagah Putihpun segera kembali kepada Ki Citra Jati.
    – Awasi orang ini — berkata Ki Citra Jati – aku akan menemui pemilik rumah ini. —
    — Baik ayah.—
    – Ki Citra Jatipun kemudian menuju ke pintu pringgitan. Dike¬tuknya pintu itu sambil berkata— Bu pintunya, Ki Sanak. –
    Hening sejenak.
    – Siapa? – bertanya pemilik rumah itu kemudian.
    – Aku. Aku yang minta Ki Sanak menutup pintu pringgitan ini. -Pemilik rumah itu terkejut. Ia melihat para perampok itu terbaring
    berserakkan di pendapa dan di halaman rumahnya. Yang terdengar adalah keluhan dan erang kesakitan.
    – Ini peti perhiasan mu Ki Sanak. Aku telah merampasnya kem¬bali. –
    Pemilik rumah itu merasa ragu-ragu menerimanya. Tetapi Ki Citra Jati berkata pula – Terimalah. Lihat isinya, apakah masih utuh? –
    Orang itupun kemudian menerima peti itu. Dengan tangan gemetar ia membuka peti itu.
    – Ya, Ki Sanak. Nampaknya isinya masih tetap utuh –
    – Simpanlah. Kami telah merampasnya kembali dari pada peram¬pok itu. –
    – Lalu bagaimana dengan mereka? –
    – Mereka sudah tidak berdaya. Aku sudah minta seseorang me¬manggil Ki Demang. Ia akan segera datang. Tetapi menurut pendapatku, kalian tidak perlu membunyikan kentongan, agar tidak membuat banyak orang menjadi kebingungan dan ketakutan. ~
    – Simpanlah. Tetapi kau harus segera menemui Ki Demang. —
    – Baik, Ki Sanak. –
    Pemilik rumah itupun segera menyimpan perhiasannya. Namun se¬jenak kemudian ia sudah berada di pendapa rumahnya-
    Sesaat kemudian, beberapa orang telah memasuki regol halaman rumahnya. Ki Demang dan beberapa orang yang telah dibangunkan pula oleh Ki Demang. Sementara itu, masih saja tetangga-tetangganya berdatangan. Agaknya orang-orang telah singgah, membangunkan dan mengajak tetangga-tetangganya untuk datang ke rumah yang sedang dirampok itu.
    Ki Demangpun segera menemui pemilik rumah itu. Mereka terli¬bat dalam pembicaraan yang bersungguh-sungguh, Sementara itu, para perampok masih saja mengerang kesakitan. Bahkan ada diantara mereka yang terluka parah dan pingsan.
    ~ Bagaimana mungkin kau melakukannya? — bertanya Ki De¬mang sambil menebarkan pandangan matanya.
    – Itulah pemimpin perampok itu- berkata pemilik rumah itu sam¬bil menunjuk seorang yang terbaring ditanah sambil mengaduh kesakitan. Kakinya yang retak terasa semakin sakit. Sementara goresan-goresan lu¬ka dikulitnya telah menitikkan darah.
    – Tetapi apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana mungkin kau dapat mengalahkan mereka semuanya. —
    ~ Bukan aku – jawab pemilik rumah itu. –
    – Siapa yang telah mengalahkan mereka? —
    – Ampat orang yang semula datang untuk minta ijin menginap. Merekalah yang telah merampas kembali peti perhiasan kami yang telah dirampas oleh para perampok itu. —
    – Dimana mereka sekarang? —
    Pemilik rumah itu termangu-mangu sejenak. Dilihatnya semakin lama semakin banyak orang yang berdatangan. Tetapi ia tidak melihat la¬gi ampat orang yang telah menolongnya. Pemilik rumah itu termangu-mangu sejenak. Dengan ragu-ragu iapun berkata — Tadi ia masih berada di sini. Ketika Ki Demang datang, mereka masih berdiri di pendapa ini. ~
    – Apakan kau bermimpi? – bertanya Ki Demang.
    – Tetapi para perampok yang tidak berdaya lagi itu bukan sekedar mimpi. —
    – Apakah kau sudah diselamatkan oleh ampat sosok gendruwo?~
    – Ki Demang — berkata orang yang telah menyusulnya — Keempat orang itu semula bermalam di banjar. —
    – Kenapa ia datang kemari? —
    Orang itupun kemudian menceriterakan bagaimana ia dikejar oleh dua orang perampok pada saat ia menyelinap dari rumah ini untuk berusaha membunyikan kentongan di banjar.
    – Jadi ada dua orang perampok yang terikat dibanjar? –
    – Ya. –
    Ki Demang mengangguk-angguk kecil. Katanya kemudian -Sulit dimengerti. Tetapi untunglah bahwa aku sudah pulang dari padukuhan sebelah. Aku mendapat undangan midadareni. –
    – Aku juga mendapat undangan ki Demang. Tetapi aku tidak dapat datang karena kepalaku terasa pening dan badanku sedikit panas. ~
    – Tetapi orang itu bukan jin, Ki Demang – berkata orang yang berlari kebanjar itu. Katanya selanjutnya – Kaki mereka beranjak di tanah. Sikap mereka, kata-kata mereka sama sekali tidak memberikan kesan bahwa mereka bukan makhluk seperti kita. ~
    – Jin dapat menjelma menjadi orang yang utuh seperti kita. -Namun seorang yang berbadan agak gemuk berkata – Maksud
    Ki Demang, ampat orang yang tadi berada di halaman rumah ini? –
    – ya. –
    – Aku melihat ampat orang yang keluar dari halaman rumah
    ini. –
    – Kau tidak menegurnya? ~
    – Tidak Ki Demang. ~
    – Seharusnya kau menegurnya dan bertanya kepadanya, sia¬pakah mereka itu. Seandainya mereka termasuk anak buah peram¬pok ini, maka mereka akan mendapat kesempatan untuk melarikan diri. —
    – Tetapi mereka berjalan dengan tenang. Jika mereka anak buah perampok yang merampok rumah ini, mereka tentu nampak gelisah atau tergesa-gesa.—
    – Tetapi seharusnya mereka tidak pergi begitu saja. Setidaknya aku sempat mengucapkan terima kasih kepada mereka. –
    Dalam pada itu, semakin lama semakin banyak orang yang datang ke rumah yang dirampok itu. Orang – orang yang pergi nonton tari topeng sebagian sudah kembali. Mereka yang mendengar bahwa telah terjadi perampokan segera pergi ke rumah itu.
    Sementara itu, diluar padukuhan, Ki Citra Jati, Nyi Citra Jati, Glagah Putih dan Rara Wulan, berjalan dengan cepat menjauh. Mereka sengaja meninggalkan rumah orang yang dirampok itu dengan diam-diam setelah mereka yakin, bahwa Ki Demang dan para bebahu sudah datang bersama beberapa orang. Apalagi para perampok itu sudah tidak berdaya.
    – Kita tidak mau tertahan terlalu lama dipadukuhan ini — berkata Ki Citra Jati — jika kita harus menemui Ki Demang, maka belum tentu esok pagi kita dapat melanjutkan perjalanan. Kita harus memberikan keterangan tentang para perampok itu. —
    – Ya, ayah — sahut Glagah Putih – semakin cepat kita sampai ke tujuan, tentu semakin baik. —
    – Kita sudah berjanji untuk tidak melibatkan diri serta men¬campuri persoalan yang terjadi pada orang lain di sepanjang per¬jalanan – berkata Nyi Citra Jati — tetapi kita tentu tidak akan dapat tinggal diam jika terjadi peristiwa seperti ini.—
    – Ya — Glagah Putih mengangguk-angguk — yang kita lakukan termasuk kewajiban kita bagi sesama. –
    – Itulah sebabnya kita terpaksa terlibat – sahut Ki Citra Jati -tetapi jangan menyita waktu terlalu banyak. Karena itu, kita memil¬ih untuk segera pergi. —
    – Pemilik rumah itu tentu mencari kita – desis Rara Wulan.
    – Ya. Bahkan Ki Demangpun tentu mencari kita pula. –
    – Apa boleh buat — gumam Ki Citra Jati seolah-olah ditun¬jukkan kepada diri sendiri. Keempat orang itupun berjalan semakin lama semakin jauh. Sementara itu malampun telah memasuki dini hari.
    – Apakah kita masih akan berhenti? – bertanya Nyi Citra Jati.
    – Nampaknya di depan kita itu terbentang sebuah padang perdu. Kita dapat beristirahat sampai fajar.-
    Keempat orang itupun berjalan terus. Seperti yang mereka duga, maka beberapa saat kemudian merekapun memasuki sebuah padang perdu yang menyekat bulak persawahan dengan hutan yang membujur panjang.
    – Kita beristirahat sebentar. Kita dapat duduk dibawah pohon itu. Mungkin kita akan dibasahi oleh titik-titik embun.
    – Seekor binatang buas dapat saja mendatangi kita menjelang fajar. —
    -Binatang yang malang. Tetapi rasa-rasanya kita berada di jarak yang cukup jauh, sehingga binatang buas itu tidak akan men¬cium bau kehadiran kita-
    – Angin bertiup kearah hutan itu. —
    – Binatang buas itu tentu sudah kenyang. –
    Yang mendengar jawaban Ki Citra Jatipun tertawa.
    Sejenak kemudian, mereka berempatpun berhenti dibawah sebatang pohon yang besar. Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jatipun kemudian duduk diatas akar pohon yang besar itu bersandar pada batangnya. Sedangkan Glagah Putih dan Rara Wulanpun telah duduk pada akarnya pula. Akar pohon yang menjalar panjang diatas tanah.
    – Agaknya lebih hangat bermalam di banjar itu – desis Nyi Citra Jati.
    Ki Citra Jati, Glagah Putih dan Rara Wulan tertawa.
    – Dibanjar itu aku dapat berbaring di pembaringan — sam¬bung Rara Wulan.
    – Disini akar batang yang besar inipun basah oleh embun — sahut Nyi Citra Jati.
    – Bukankah kita memilih duduk disini, dibawah titik-titik embun dari pada duduk di pringgitan rumah orang yang dirampok itu. Disana kita akan mendapat minuman hangat. Sementara itu didapur para pembantu orang kaya itu sibuk menyiapkan makan pagi bagi kita. Menangkap seekor ayam atau beberapa butir telur atau kedua-duanya. —
    – Tidurlah. Mungkin mimpi kita akan sama. Nasi hangat, ingkung seekor ayam jantan yang tidak terlalu besar, telur dadar, pepes gurameh —
    Keempat orang itu tertawa menyentak.
    – Sst. jangan mengejutkan seekor harimau yang sedang tidur.
    Ternyata mereka tidak begitu lama duduk dibawah pohon itu. Ketika bayangan fajar mewarnai ujung langit, maka merekapun segera bangkit dan melanjutkan perjalanan.
    — Kita tentu akan melintasi sungai — desis Ki Citra Jati.
    Sementara itu, puncak Gunung Merapi dan Merbabu pun men¬jadi merah. Sinar Matahari yang bangkit dari kaki langit, memancar menyiram puncak sepasang gunung yang berdiri berjajar itu. Gunung yang menjadi ancar-ancar perjalanan mereka.
    Sebenarnyalah beberapa saat kemudian, mereka sampai ke sebuah tebing yang rendah. Dibawah tebing itu mengalir sebatang sungai yang tidak begitu besar.
    – Airnya jernih sekali desis Rara Wulan — butir-butir pasir yang lembut didasar sungai itu dapat dilihat dengan jelas. Bahkan kelompok-kelompok wader pari yang berenang menyongsong aliran sungai itu. —
    ~ Tetapi kita tidak akan dapat menangkap ikan-ikan kecil itu — desis Glagah Putih.
    – Jika kita mempunyai irig, kita akan dapat menangkapnya. — — Tetapi hanya satu dua. —
    – Ya. –
    Demikianlah keempat orang itu sempat mencuci muka di sun¬gai kecil itu. Membenahi pakaian, dan sejenak kemudian, mereka¬pun siap untuk melanjutkan perjalanan yang panjang.
    Meskipun mereka semalam tidak tidur, tetapi mereka sudah terbiasa melakukan latihan-latihan yang berat. Bahkan menjalani laku tidak hanya sehari dua hari. Sehingga karena itu, maka mereka dapat melanjutkan perjalanan mereka tanpa merasa terganggu
    Bahkan merekapun sudah bertekad untuk tidak melibatkan diri kedalam persoalan orang lain yang mereka temui di perjalanan. Kecuali yang sangat mendesak serta menyangkut keselamatan nyawa sesama.
    Sehari itu, mereka benar-benar dapat menyingkirkan dari hambatan-hambatan. Ketika mereka berhenti di sebuah kedai, maka mereka benar-benar tidak menghiraukan orang-orang yang ada disekitar mereka. Demikian mereka selesai makan dan minum, maka mereka telah sampai ke jalan yang sudah mereka kenal dengan baik, terutama Glagah Putih, meskipun ia jarang melewatinya. Jalan itu adalah jalan yang menuju ke Sangkal Putung.
    Tetapi mereka bertekad untuk tidak singgah di Sangkal Putung. Tetapi mereka akan singgah di padepokan kecil dari pergu¬ruan orang bercambuk esok pagi.
    Ketika malam turun, mereka masih belum mencapai pade¬pokan kecil itu. Malam itu mereka bermalam di sebuah banjar padukuhan kecil. Banjarnya juga tidak terlalu besar. Penunggu ban¬jar itu juga seorang yang hidupnya sehari untuk sehari.
    Tetapi penunggu banjar itu ternyata seorang yang baik hati. Malam itu, penunggu banjar itu telah mencabut sebatang ketela pohon di kebun belakang banjar padukuhan itu untuk direbus dan dihidangkan kepada keempat orang yang bermalam di banjar itu.
    — Terima kasih Ki Sanak — berkata Ki Citra Jati. Apa yang diberikan oleh penunggu banjar itu yang terhitung miskin sangat berarti bagi keempat orang yang sedang dalam perjalanan. Apa yang diberikan itu bagi penunggu banjar itu terhitung sangat berhar¬ga. Lebih berharga dari semangkuk nasi dengan telur dan daging dari seorang yang berkecukupan, karena harga nasi, telur, dan dag¬ing itu bagi orang yang berkecukupan tidak berarti apa-apa.
    Dikeesokan harinya, ketika Ki Citra Jati sekeluarga minta diri, maka Nyi Citra Jati telah memberikan beberapa keping uang kepada anak penunggu banjar itu. Anak yang masih kecil yang belum tahu arti uang beberapa keping itu.
    Tetapi ibunyalah yang terkejut. Uang beberapa keping itu baginya banyak untuk sebuah pemberian.
    Karena itu, maka perempuan itupun bertanya dengan suara berge¬tar — Apakah Nyai tidak keliru ? Nyai memberikan beberapa keping uang itu kepada anakku. —
    — Tidak. Aku tidak keliru. Kau sangat baik kepada kami. Kau berikan kami makan pada saat kami merasa sangat lapar. —
    — Tetapi yang kami suguhkan tidak lebih dari beberapa potong ketela pohon yang kami cabut di kebun belakang. —
    — Beberapa potong ketela pohon itu artinya bagi seseorang yang lapar jauh lebih besar dari beberapa keping uang yang aku berikan kepa¬da anakmu. Tetapi bukan maksud kami menghargai pemberianmu itu dengan uang. Seandainya aku mempunyai uang berlebih, belum tentu aku mendapatkan makan ketela yang beberapa potong itu malam tadi. Yang aku berikan kepada anakmu itu sekedar pernyataan terima kasih kami kepada keluargamu. —
    Perempuan itu mencium tangan Nyi Citra Jati. Dengan nada dalam iapun berkata — Kami sangat berterima kasih atas kemurahan hati Nyai serta keluarga Nyai. —
    Demikianlah, maka sejenak kemudian keempat orang itupun telah meninggalkan banjar padukuhan yang tidak cukup besar itu. Tetapi yang agaknya cukup memadai bagi sebuah padukuhan yang sederhana.
    Ketika matahari naik, keempat orang itu telah berada di sebuah bu¬lak yang panjang.
    — Kita menuju ke Jati Anom, ayah — berkata Glagah Putih kepa¬da Ki Citra Jati.
    — Jati Anom.
    — Ya. Ayah tinggal di sebuah padepokan kecil yang ditinggalkan oleh Kiai Gringsing yang disebut Orang Bercambuk, sehingga pade¬pokan kecil itu juga kami sebut padepokan Orang Bercambuk. —
    — Jadi, semua orang di padepokan itu membawa cambuk ? — Yang mendengar pertanyaan itu tertawa.
    Namun Ki Citra Jati itupun kemudian berkata — aku sudah mendengar tentang orang Bercambuk itu. Meskipun kami tidak menye¬butnya demikian, tetapi perguruan kami mengenal seseorang yang bersenjata sehelai cambuk.
    — Orang itu telah meninggalkan sebuah padepokan kecil yang sekarang ditunggui oleh ayahku. Ayahku dahulu seorang prajurit. Namun kemudian ia memilih untuk hidup di padepokan kecil itu. —
    — Kami akan senang sekali dapat berkenalan dengan ayahmu yang sebenarnya.—
    — Terima kasih, ayah — sahut Glagah Putih.
    Dalam pada itu, matahari pun memanjat langit semakin tinggi. Panasnya mulai terasa mengusik tubuh mereka. Keringatpun mulai mengembun dan membasahi pakaian mereka.
    — Kalau kita mengambil jalan kekiri disimpang ampat tadi, bukankah kita akan sampai ke Sangkal Putung ? —
    — Ya. Jalan itu akan sampai ke Sangkal Putung —jawab Glagah Putih.
    Tetapi mereka mengambil jalan yang lurus, yang akan langsung sampai ke padepokan kecil yang terletak di sebelah Timur Jati Anom itu. Semilir angin yang bertiup dari Selatan membuat tubuh-tubuh yang kepanasan itu menjadi agak segar. Namun bukan hanya mereka berempat sajalah yang berjemur di teriknya matahari. Beberapa orang yang bekerja di sawah pun telah berjemur pula, sementara kaki mereka berendam di dalam lumpur.
    Beberapa orang perempuan yang sedang matun mengenakan cap¬ing bambu yang lebar untuk melindungi kepala mereka dari panasnya ca¬haya matahari. Baru lewat tengah hari, mereka memasuki jalan yang langsung menuju ke padepokan kecil dari perguruan yang kemudian disebut Per¬guruan Orang Bercambuk.
    Ki Citra Jatipun kemudian bergumam seakan-akan ditujukan kepa¬da diri sendiri — Alangkah asrinya padepokan itu. —
    — Ayah dan para cantrik tidak sempat memelihara padepokan itu sebaik-baiknya, ayah. Tidak seperti padepokan yang dipimpin oleh kakang Mlaya Werdi yang rajin dan tertata rapi. — Bahkan kebun dibelakangnyapun nampak seperti sebuah taman dengan beberapa buah kolam yang dihiasi dengan ikan-ikan yang berwarna-warni. —
    Ki Citra Jati tertawa. Katanya — Kau terlalu memuji, Glagah Putih. Padepokan itu sejak semula tatanannya memang kurang terpeli¬hara. Orang-orang di padepokan itu perhatiannya hanya tertuju kepada olah kanuragan tanpa sempat memperhatikan lingkungannya, yang ternyata memegang peran yang penting bagi kehidupan sekelompok orang. —
    — Para cantrik yang tinggal di padepokan kecil itu juga terlalu sibuk, ayah. Selain harus berlatih dalam olah kanuragan, mereka harus bekerja bagi persediaan bahan pangan mereka serta kelengkapan yang lain. Di malam hari mereka harus mendengarkan petunjuk-petunjuk ten¬tang kehidupan yang harus mereka jalani, serta mempelajari pengetahuan yang akan diperlukan di hari-hari mendatang. Terutama tentang tatanan hidup dalam lingkungan sesama serta pengetahuan tentang pertanian, memelihara ternak, kolam ikan dan membaca serta menulis meskipun tidak sedalam yang didapat oleh para cantrik di padepokan kakang Mlaya Werdi. —
    Nyi Citra Jatilah yang menyahut — Kami tentu akan kerasan ting¬gal dipadepokan itu, Glagah Putih. Jangan-jangan kami segan melan¬jutkan perjalanan ke Tanah Perdikan Menoreh. —
    Glagah Putih dan Rara Wulan tertawa, sementara Ki Citra Jatipun berkata — Di padepokan itu tidak diperlukan juru dang, karena para cantrik sudah pandai menanak nasi sendiri. —
    Nyi Citra Jatipun tertawa berkepanjangan.

  22. Api Dibukit Menoreh
    Jilid IV – 45
    Bagian🙂🙂🙂 dari 3

    Sejenak kemudian, maka merekapun telah sampai di pintu gerbang padepokan kecil dari perguruan yang disebut perguruan Orang Bercam¬buk. Seperti yang dikatakan oleh Ki Citra Jati yang melihat dari luar pin¬tu gerbang, bahwa padepokan itu memang nampak terpelihara rapi. Keti¬ka ia memasuki pintu gerbang, maka Ki Citra Jati menjadi semakin yakin, bahwa isi padepokan itu mempunyai perhatian yang sangat tinggi terhadap lingkungannya.
    Kedatangan Glagah Putih dan Rara Wulan di padepokan itu me¬mang agak mengejutkan para cantrik. Mereka tahu bahwa Glagah Putih dan Rara Wulan sedang menjalankan tugas yang dibebankan kepada mereka untuk mencari dan mendapatkan tongkat baju putih, pertanda kepemimpinan dari sebuah perguruan besar yang disebut perguruan Kedung Jati. Perguruan yang semula mempunyai pengikut terbesar di Jipang. Bahkan ada diantara para pemimpin perguruan itu yang menjadi pemimpin pula di Jipang.
    Tetapi yang kemudian, perkembangannya menjadi lain. Ketika para pemimpin Jipang tidak lagi memegang pimpinan di perguruan itu, maka perguruan itu seakan-akan telah berubah haluan. Para pemimpin perguruan itu tidak lagi berpegang pada paugeran dan perguruan yang in¬gin mereka angkat kembali ke permukaan.
    Mereka justru hanya ingin menumpang pada kebesaran nama per¬guruan itu untuk kepentingan yang tidak jelas dari beberapa orang yang berkesempatan untuk menyatakan diri sebagai pemimpin perguruan itu.
    Dalam pada itu, dua orang cantrik telah menyongsong kedatangan Glagah Putih dan Rara Wulan. Sedangkan seorang cantrik telah member¬itahukan kehadiran mereka kepada Ki Widura yang sedang berada di be¬lakang bangunan utama padepokannya bersama beberapa orang cantrik yang sedang memperbaiki dinding serambi yang lapuk.
    Dengan tergesa-gesa Ki Widura pun meninggalkan cantrik — cantriknya sambil berpesan — Selesaikan kerja ini. Anakku datang ke¬mari. —
    Ketika Ki Widura keluar dari pintu pringgitan bangunan utama padepokan kecil itu, maka ia melihat Glagah Putih dan Rara Wulan naik ke pendapa bersama seorang laki-laki dan seorang perempuan.
    — Marilah Glagah Putih, Rara Wulan. Silahkan Ki Sanak berdua naik. —
    Sejenak kemudian mereka telah duduk di pringgitan. Ki Widura pun kemudian mengucapkan selamat datang kepada anak dan menantunya serta kedua orang tamu yang datang bersama mereka.
    — Kami semuanya selamat di perjalanan ayah — sahut Glagah Putih — bagaimana dengan ayah dan seluruh isi padepokan ini ? —
    — Semuanya baik-baik saja, Glagah Putih. —
    — Ayah — berkata Glagah Putih kemudian. Iapun segera mem¬perkenalkan Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati bukan saja sebagai ayah dan ibu angkat mereka, tetapi juga sebagai guru mereka.
    — Saya mengucapkan terima kasih, Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati yang telah mengangkat anak dan menantuku menjadi anak angkat. Bahkan lebih dahulu itu, keduanya telah mendapat bimbingan untuk da¬pat menguasai ilmu yang akan sangat berarti bagi masa depan mereka. —
    — Kami bukan orang-orang berilmu tinggi — berkata Ki Citra Jati — kami hanya ingin menitipkan ilmu yang dengan susah payah kami pelajari agar tidak menjadi punah. Anak kandung kami yang hanya seorang, ternyata telah memilih mewarisi ilmu yang dialiri oleh cabang per¬guruan yang lain, sehingga justru karena itu, ia tidak lagi dapat mewarisi ilmu kami. Sementara itu, aku melihat kelebihan pada Glagah Putih dan Rara Wulan, sehingga menurut pendapat kami, akan dapat menjadi sarang kemampuan kami yang tidak seberapa berarti itu. Dengan demikian sepeninggal kami berdua, ilmu kami masih akan tetap hidup di dalam diri Glagah Putih dan Rara Wulan bersama-sama dengan cabang ilmu berbagai perguruan yang sudah ada lebih dahulu di dalam diri mere¬ka.—
    — Ilmu yang Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati berikan, akan me¬lengkapi perbendaharaan ilmu mereka. Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih. —
    — Selanjutnya, perkenankanlah kami berdua tetap ikut mengaku keduanya akan dan menantu kami. —
    — Silahkan Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati. Anak-anak itu tentu merasa semakin hangat jika mereka mempunyai orang tua rangkap, di samping mertua mereka. —
    Perkenalan Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati dengan Ki Widura pun cepat menjadi akrab. Mereka merasa bahwa Glagah Putih dan Rara Wu-lan merupakan perekat dari hubungan mereka. Hari itu, Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati beristirahat di padepokan kecil di Jati Anom itu. Sementara itu, Glagah Putihpun telah menceri-takan perjalanannya sejak ia berangkat sampai ia kembali dan singgah di padepokan kecil itu.
    — Menurut keterangan yang aku dengar itu, Ki Saba Lintang sedang bersiap-siap untuk mendatangi rumah kakang Agung Sedayu. —
    — Bukankah mereka pernah mencobanya dan ternyata mereka tidak berhasil ? —
    — Ya, ayah. —
    Ki Widura mengangguk-angguk. Namun nampak di wajah Ki Widura bahwa ada sesuatu yang ingin diungkapkannya meskipun agak ragu-ragu.
    — Glagah Putih — berkata Ki Widura — sekarang sebaiknya kalian beristirahat saja lebih dahulu. Mungkin kau ingin menunjukkan kepada ayah dan ibu angkatmu, lingkungan yang terdapat di padepokan ini. Halaman depan, halaman samping, beberapa barak, kebun dengan kolam-kolam ikan, serta sebidang tanah untuk peternakan selain sawah ladang kami yang terbentang sampai ke pinggir hutan. Tetapi kalian tentu tidak akan pergi keluar dinding padepokan sehingga yang kalian lihat pun tentu hanya terbatas saja. —
    Glagah Putih mengerutkan dahinya. Meskipun kepalanya me¬ngangguk, tetapi ia masih belum menjawab.
    — Nanti malam aku ingin berbicara tentang usaha orang-orang dari perguruan Kedung Jati itu. —
    — Kenapa menunggu nanti malam, ayah ? — bertanya Glagah Putih.
    Ki Widura tersenyum. Katanya — di malam hari kita akan berada di dalam suasana yang lebih tenang. Udara tidak terlalu panas dan rasa-rasanya tugas-tugas kita yang lain untuk hari ini sudah kita selesaikan. —
    Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya — Baik ayah.—
    — Nah, ajak ayah dan ibu angkatmu beristirahat sambil melihat-lihat kolam ikan kami. Para cantrik agaknya berhasil memelihara ikan dan menternakkannya. —
    Seperti yang dikatakan ayahnya, maka Glagah Putihpun telah mempersilahkan Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati untuk melihat-lihat lingkungan di padepokan itu disertai oleh Rara Wulan. Ternyata mereka sangat tertarik kepada beberapa kolam ikan yang terdapat di bagian be¬lakang dari padepokan itu.
    — Sangat menyenangkan — berkata Nyi Citra Jati — kolam-ko¬lam ini terpelihara sangat baik. Perputaran airnya sangat teratur, semen¬tara penangkarannya pun dapat berlangsung dengan baik. Dengan memisahkan anak-anak ikan dengan ikan-ikan yang lebih besar, dapat memberikan kemungkinan hidup lebih banyak bagi bibit-bibit ikan itu. —
    — Ya ibu — sahut Glagah Putih — ada beberapa orang cantrik yang mengkhususkan diri memelihara kolam-kolam ini serta isinya, se¬hingga hasilnya menjadi cukup biak. —
    —Tidak hanya cukup baik. Tetapi sangat baik. —
    — Rasa-rasanya aku ingin menangkap satu dua ekor. —
    —Jika ayah menginginkannya ? — berkata Glagah Putih
    — Tadi seorang cantrik sudah menangkap dua ekor gurameh yang besar — berkata Rara Wulan
    Ki Citra Jati mengangguk-angguk sambil berdesis — Nah, kesam¬paian juga keinginanku itu. —
    — Tetapi apakah gurameh itu akan diperuntukkan bagi kita ? — sahut Nyi Citra Jati.
    — He? —
    Nyi Citra Jati tertawa. Glagah Putih dan Rara Wulanpun tertawa pula Demikian pula Ki Citra Jati.
    Beberapa saat lamanya mereka berada di kebun padepokan kecil itu. Namun kemudian merekapun telah kembali ke barak kecil yang dipe¬runtukkan bagi Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati. Sedangkan Glagah Putih dan Rara Wulan juga akan berada di serambi samping barak kecil itu.
    Ketika matahari terbenam, serta lampu-lampu minyak sudah menyala dimana-mana, maka Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati dipersilahkan ke bangunan utama padepokan itu untuk makan malam bersama dengan Ki Widura, Glagah Putih dan Rara Wulan. Nyi Citra Jati sempat menggamit Ki citra Jati ketika mereka melihat dua ekor gurameh yang besar telah ikut dihidangkan pula diantara beberapa macam lauk yang lain.
    — Ayah — desis Rara Wulan sambil memandang wajah Ki Citra Jati. Ki Citra Jati yang tanggap itupun tertawa pula.
    Sejenak kemudian, merekapun makan malam bersama-sama. Sam¬bil makan Ki Citra Jati, Nyi Citra Jati dan Ki Widura banyak berbicara tentang lingkungan padepokan itu. Tentang kerja para cantrik disamping latihan-latihan olah kanuragan yang berat. Demikianlah setelah mereka selesai makan malam serta beristira¬hat sejenak, maka Ki Widura pun mempersilahkan mereka untuk duduk di pringgitan bangunan utama itu.
    — Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan — berkata Ki Widura terutama ditujukan kepada Glagah Putih dan Rara Wulan.
    — Jika kami tidak dapat ikut dalam pembicaraan itu biarlah kami berada di barak yang telah disediakan untuk kami — berkata Ki Citra Jati.
    — Tidak. Ki Citra Jati dan Nyi Citra dapat saja ikut dalam Pem¬bicaraan itu. Bukan satu hal yang perlu dirahasiakan diantara kita. —
    — Terima kasih, Ki Widura — desis Ki Citra Jati.
    Sejenak kemudian, mereka berlima pun telah berada di pringgitan. Seorang cantrik telah menghidangkan minuman hangat pula bagi mereka yang duduk di pringgitan itu.
    Baru sejenak kemudian Ki Widura pun berkata — Glagah Putih. Aku ingin menanggapi ceriteramu tentang orang-orang dari perguruan Kedung jati yang dipimpin Ki Saba Lintang itu. —
    Glagah Putihpun beringsut setapak. Sambil mengangguk iapun menyahut — Ya, ayah. Kami memang sangat mengharapkannya. —
    — Mungkin kau akan terkejut mendengar kabar yang bagaikan ter¬tiup angin. Sebentar saja telah menebar di sekitar Mataram. Aku mende¬ngar dari seorang cantrik yang kebetulan pulang menengok orang tuanya yang tinggal di Cupu Watu. —
    — Berita apa yang didengarnya ayah ? —
    — Kalau hal ini aku katakan kepadamu, Glagah Putih, bukan be¬rarti bahwa aku mempercayainya. —
    — Ya, ayah. —
    Terasa jantung Glagah Putih bagaikan berdetak semakin cepat. Ia mengerti, betapa ayahnya sangat berhati-hati untuk mengucapkan ceritera yang didengarnya. Namun dengan demikian Glagah Putihpun men¬duga, bahwa ceritera itu tentu sangat penting artinya bagi dirinya dan barangkali juga bagi tugas yang diembannya dalam hubungannya dengan tongkat baja putih, pertanda kepemimpinan perguruan Kedung Jati.
    — Glagah Putih — berkata Ki Widura selanjutnya — menurut kabar yang tersebar disekitar Mataram, kedua tongkat baja putih dari per¬guruan Kedung Jati itu justru sudah menyatu. Pada saat kau mengembara untuk menemukan tongkat baja putih yang dibawa oleh Ki Saba Lintang, maka ceritera yang kemudian tersebar itu mengatakan, bahwa banyak orang yang telah melihat, dua orang laki-laki dan perempuan dengan berkuda putih berkeliaran di kaki Gunung Merapi. Kedua-duanya mem bawa tongkat baja putih, pertanda kepemimpinan perguruan Kedung Jati. Parahnya, Glagah Putih, orang-orang itu telah menyebut perempuan yang membawa tongkat baja putih itu adalah Nyi Lurah Agung Sedayu yang namanya sendiri adalah Sekar Mirah. Sedang laki-laki itu adalah Ki Saba Lintang. Sekar Mirah ternyata telah terpikat oleh ujud kewadagan Ki Saba Lintang, yang wajahnya cemerlang bagaikan bintang. Sebe¬narnyalah di dalam diri Ki Saba Lintang telah menitis bintang yang dise¬but Lintang Rinonce, yang digambarkan sebagai sosok manusia yang ke¬tampanannya tidak ada taranya. Sepadan dengan Arjuna dalam dunia pe¬wayangan. Atau Kamajaya dari alam Kadewatan atau bagaikan Panji Asmarabangun dalam ceritera Panji. —
    Wajah Glagah Putih terasa menjadi panas mendengar ceritera itu. Sementara itu, Rara Wulan yang tidak dapat menahan perasaannya lagi tiba-tiba saja memotong -— Aku tidak percaya, ayah. —
    — Ya. Akupun tidak percaya. Tetapi ceritera itu semakin lama se¬makin meluas. Sebentar lagi, angger Swandaru pun tentu akan segera mendengarnya. Aku tidak tahu, apa yang akan dilakukan oleh angger Swandaru jika ia mendengar ceritera itu. —
    — Ini fitnah, ayah — geram Glagah Putih.
    — Ya. Tentu saja itu fitnah. —
    — Apakah mbokayu Sekar Mirah sendiri sudah mendengar¬nya ? —
    — Aku belum tahu, Glagah Putih. Aku belum sempat pergi ke Tanah Perdikan. Dongeng itu baru aku dengar tiga atau ampat hari yang lalu, setelah cantrik itu kembali ke padepokan ini. —
    — Jika demikian, kami harus segera sampai di Tanah Perdikan Menoreh, ayah. Kami harus segera memberi tahukan kepada kakang Agung Sedayu dan mbokayu Sekar Mirah agar mereka dapat mengam¬bil langkah-langkah yang diperlukan. —
    — Ya. Bukankah esok pagi kalian akan pergi ke Tanah Perdikan Menoreh ? Kau dapat berbicara dengan kakangmu serta mbokayumu. —
    — Kami akan berangkat malam ini, ayah. —
    — Kau tidak perlu berangkat malam ini, Glagah Putih. Bukankah bedanya tidak akan terlalu lama ? —
    — Tidak ayah. Jika ayah menceriterakan fitnah ini sore tadi, kami akan dapat berangkat lebih awal. —
    — Bermalamlah disini malam ini. Berangkatlah esok pagi-pagi sekali. —
    — Tidak, ayah. Aku akan berangkat malam ini. —
    — Itulah yang aku cemaskan, Glagah Putih. Jika aku mengatakan¬nya sore tadi, kaupun tentu akan segera berangkat pula. Karena aku ingin kau berada disini agak lebih lama, maka baru sekarang aku menceriterakannya dengan harapan, bahwa kau dapat menunda keberangkatanmu sampai esok pagi. —
    — Ayah, bukankah tidak ada masalah di padepokan ini sehingga kehadiranku disini tidak terlalu penting. Tetapi kedatanganku di Tanah Perdikan Menoreh, mungkin akan dapat membawa perubahan terhadap keadaan yang akan sangat mengganggu ketenangan keluarga kakang Agung Sedayu itu. —
    Ki Widura menarik nafas panjang. Katanya — jika demikian, terserahlah kepadamu. Tetapi aku akan minta Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati untuk tetap berada di padepokan ini setidak-tidaknya untuk malam ini. —
    — Terima kasih Ki Widura. Tentu masih ada waktu bagi kami berdua untuk datang pada kesempatan lain jika Yang Maha Pencipta memberi kami umur panjang. —
    — Apaboleh buat — berkata Ki Widura—aku tidak berani mena¬han Glagah Putih dan Rara Wulan. Jika terjadi sesuatu, aku akan dapat dianggap bersalah. —
    — Bukan begitu ayah — sahut Glagah Putih — aku hanya ingin berbuat sesuatu sejauh dapat aku lakukan, sehingga aku tidak akan
    menyelesainya. —
    — Baiklah. Pergilah. Kalian tidak perlu berjalan kaki sampai Tanah Perdikan Menoreh. Kalian dapat berkuda dari padepokan ini. Ka¬mi juga akan menyediakan kuda bagi Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati. —
    Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Dengan agak ragu iapun bertanya. Jika kami membawa ampat ekor kuda dari padepokan ini, apakah kami tidak mengganggu kegiatan yang berlangsung di sini?
    — Tidak, Glagah Putih, kami tidak mempunyai banyak kegiatan.
    Sedangkan di padepokan ini masih ada beberapa ekor kuda.
    — Terima kasih, ayah — desis Glagah Putih.
    Demikianlah, maka sejenak kemudian Glagah Putih dan Rara Wulanpun segera berbenah diri. Mereka benar-benar akan berangkat ke Tanah Perdikan Menoreh malam itu juga bersama Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati.
    Menjelang tengah malam, maka Glagah Putih, Rara Wulan, Ki Ci¬tra Jati dan Nyi Citra Jati sudah siap untuk berangkat. Ki Widura dan be¬berapa orang cantrik melepas mereka di pintu gerbang.
    — Hati-hatilah, Glagah Putih — pesan Ki Widura.
    — Ya, ayah.—
    — Jika kudamu letih, jangan paksa berlari terus. Sekali-sekali kau harus beristirahat. Seandainya bukan kau yang letih, kudamulah yang memerlukan beristirahat barang sejenak. Mungkin minum atau sedikit makan rumput yang tumbuh di tanggul-tanggul parit—
    — Ya, ayah.—
    Demikianlah, maka sejenak kemudian Glagah Putih, Rara Wulan, Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jatipun sudah berada di punggung kuda mere¬ka. Sebelum kuda mereka berlari meninggalkan regol padepokan, Glagah Putih masih berpesan.
    — Baktiku berdua buat kakang Untara di Jati Anom, ayah. Jika ayah bertemu dengan kakang Untara, tolong katakan bahwa aku tidak sempat singgah. Mungkin ayahpun perlu menyampaikan fitnah itu kepa¬da kakang Untara. Juga jika ayah bertemu dengan kakang Swandaru. Aku tidak sempat singgah di Jati Anom, maupun di Sangkal Putung.—
    — Baik. Glagah Putih. Mereka akan mengerti, kenapa kau tidak singgah.—
    — Terima kasih, ayah.—
    Sejenak kemudian, maka empat ekor kuda telah berlari di jalan-jalan bulak yang panjang. Gelap malam tidak menjadi hambatan per¬jalanan mereka. Mereka sudah terbiasa melintasi kegelapan. Meskipun demikian, mereka tidak memacu kuda mereka terlalu kencang.
    Meskipun mereka tidak akan singgah di Mataram, tetapi mereka mengambil jalan yang terbaik bagi perjalanan mereka, sehingga kudaku¬da mereka tidak mengalami kesulitan di perjalanan.
    — Bukankah jalan ini jalan yang menuju ke Mataram?— bertanya Ki Citra Jati.
    — Ya, ayah. Kita akan mengambil jalan pintas setelah kita mendekati kotaraja. Tetapi kita akan segera memasuki jalan utama, menuju ke Tanah Perdikan Menoreh.—
    Ki Citra Jati mengangguk-angguk. Sebagai seorang pengembara, maka iapun pernah menjelajahi daerah yang dilaluinya itu. Iapun pernah, bahkan tidak hanya sekali pergi untuk melihat-lihat kotaraja. Iapun per¬nah menelusuri jalan menyeberangi Kali Praga memasuki daerah Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati belum pernah tersangkut dengan persoalan-persoalan yang terjadi di Mataram dan di Tanah Perdikan Menoreh. Sehingga karena itu, maka keduanyapun hanya sekedar lewat dan tidak mengenali daerah itu lebih kekedalamannya.
    Ketika keempat orang itu sampai di Kali Opak, maka mereka berempatpun bersepakat untuk beristirahat. Agaknya kuda-kuda mereka telah merasa letih.
    Merekapun membiarkan kuda mereka minum air sungai yang se¬juk dan bening. Apalagi di malam hari. Sementara kuda mereka beristirahat, maka keempat orang itupun duduk pula diatas batu-batu besar yang berserakan di Kali Opak. Meskipun batu-batu itu basah oleh embun, namun keempat orang itu tidak menghiraukannya.
    —Malam ini terasa dingin — desis Ki Citra Jati.
    Angin basah bertiup dari Selatan — sahut Nyi Citra Jati. —embunpun sudah menitik membasahi bebatuan dan dedaunan. Jika kita tidak duduk di punggung kuda yang berlari, mungkin kitapun akan merasa malam ini lebih dingin lagi.
    Ki Citra Jati tidak menyahut. Ketika ia menengadahkan wajahnya, maka dilihatnya bintang-bintang sudah bergerak dari tempatnya.
    Beberapa saat kemudian, maka Glagah Putih yang gelisah pun berkata — Apakah kita dapat segera melanjutkan perjalanan ?
    — Marilah — Nyi Citra Jatipun segera bangkit —jika kita berhen¬ti terlalu lama, mataku justru mulai mengantuk.—
    Yang lainpun segera bangkit pula. Sementara Ki Citra Jatipun berkata — kuda-kuda itu sudah cukup beristirahat. Tetapi kita masih harus beristirahat lagi sebelum kita menyeberang Kali Praga.—
    Perjalanan ke Tanah Perdikan Menoreh itu, mereka tempuh tanpa hambatan yang berarti. Mereka berhenti hanya sekedar untuk memberi kesempatan kuda-kuda mereka beristirahat. Ketika mereka sampai di tepian Kali Praga, maka mereka melihat matahari mulai naik. Tetapi sinarnya masih sangat lemah, sehingga masih belum terasa menjamah kulit mereka.
    Dikejauhan terdengar suara burung liar yang berkicau dengan riang menyambut hari baru yang cerah. Sementara itu di tepian sudah ada beberapa orang yang siap untuk menyeberang pula. Ketika sebuah rakit dari seberang menepi, keempat orang itu masih belum mendapat tempat, apalagi mereka membawa empat ekor kuda.
    Seorang yang memikul dua bakul besar dengan ramah berkata — Maaf Ki Sanak. Aku mendahului.—
    — Silahkan. Itu dari seberang telah meluncur sebuah rakit yang be¬sar Kami akan menumpang rakit itu.—
    Orang yang memikul dua bakul yang besar itupun segera naik. Tetapi matanya masih saja menatap Glagah Putih dan Rara Wulan. kemudian berganti menatap Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati.
    — Tatapan mata orang itu terasa aneh — desis Glagah Putih.
    — Ya. Aku juga memperhatikannya — sahut Rara Wulan. Glagah Putih menarik nafas panjang. Namun rakit yang membawa orang itupun mulai bergerak mengikuti arus Kali Praga. Namun kemudi¬an rakit itupun menjadi semakin ketengah, melintas ke sisi Barat.
    Baru beberapa saat kemudian, sebuah rakit yang terhitung besar menepi. Penumpangnyapun segera turun ke tepian. Sementara itu, Glagah Putih, Rara Wulan, Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jatipun naik ke atas rakit yang besar itu. Yang naik bersama mereka hanyalah dua orang perempuan yang membawa seikat setagen lurik dan seikat kain lurik. Rakit itu tidak terlalu lama berhenti disisi sebelah Timur. Ketika rakit yang lain mulai bergerak ke Timur, maka rakit yang terhitung besar dengan ampat orang tukang satang itupun mulai bergerak pula.
    Ketika mereka berempat turun di tepian sebelah Barat Kali Praga, Glagah Putih dan Rara Wulan masih melihat orang yang memikul sepa¬sang bakul itu berdiri di tepian. Bahkan orang itupun kemudian berjalan mendekatinya.
    — Apakah aku boleh bertanya Ki Sanak — desis orang itu hampir berbisik kepada Glagah Putih.
    — Apa yang akan kau tanyakan ?—
    — Siapakah diantara kalian yang disebut Ki Saba Lintang dan Nyi Lurah Agung Sedayu yang kemudian telah bergabung dengan perguruan Kedung Jati?—
    Terasa jantung Glagah Putih bagaikan tersentuh bara. Namun de¬ngan sekuat tenaga Glagah Putih berusaha untuk menahan diri. Bahkan ketika Rara Wulan dengan serta merta melangkah maju, Glagah Putih sempat menahannya.
    Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati tidak berdiri terlalu dekat dengan mereka, sehingga keduanya tidak segera mengetahui apa yang dibicarakan oleh Glagah Putih dan Rara Wulan dengan orang yang mem¬bawa dua bakul serta pikulan itu.
    Betapapun panasnya dada Glagah Putih, namun ia sempat tersenyum. Glagah Putih itupun justru bertanya — Nah, siapakah menu¬rut pendapatmu? Aku dan perempuan itu atau orang tua itu dengan perempuan yang bersamanya. Siapakah yang lebih pantas dari kami memiliki tongkat baja putih sebagai lambang kepemimpinan perguruan Kedung Jati.—
    Orang itu merasa ragu. Diluar sadarnya iapun berkata—Aku tidak dapat menebak. Tetapi menurut gambaranku, kedua orang tua itu tentu terlalu tua untuk disebut Ki Saba Lintang, titisan dari Lintang Rinonce yang bercahaya di waktu fajar.—
    —- Itu Lintang Panjer Raina—potong Rara Wulan.— — Tetapi menurut pendengaranku, Ki Saba Lintang itu bukan titisan Lintang Panjer Raina—
    — Jadi?—
    — Apakah kau yang disebut Ki Saba Lintang dan perempuan ini Nyi Lurah Agung Sedayu?—
    — Jadi menurut pendapat Ki Sanak, aku pantas menjadi titisan Lintang Rinonce?—
    — Menurut pendapatku, Ki Sanak ini masih terlalu muda
    — Apakah aku masih nampak sangat muda?—
    Orang itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian iapun memandang Rara Wulan sambil berkata — Aku meragukan Nyi Lurah Agung Se¬dayu itu.—
    Glagah Putih tertawa Dengan nada tinggi iapun bertanya.
    — Kenapa kau meragukannya?—
    — Apakah Nyi Lurah masih semuda itu?
    — Ketika ia menikah dengan Ki Lurah, umurnya baru tiga belas tahun. Tetapi kemampuannya sudah berada diatas kemampuan Ki Lurah Agung Sedayu. Pada umur tiga belas tahun, dibawah bimbingan gurunya yang disebut Ki Sumangkar, ia adalah seorang perempuan yang berilmu tinggi, yang pantas mewarisi tongkat baja putih itu. Namun akhirnya, Nyi Lurah itu telah kembali ke kandangnya. Nyi Lurah telah bergabung bersamaku. Kedua orang tua itu adalah penasehatku. Bukan saja tentang olah kanuragan, karena keduanya juga guruku, tetapi juga tentang cara-cara yang harus aku tempuh untuk membangkitkan kembali perguruan Kedung Jati yang sudah cukup lama terbengkelai.;—
    Orang itu mengangguk-angguk. Namun orang itu agak terkejut ketika Glagah Putih bertanya. — Darimana kau dengar, bahwa Nyi Lu¬rah Agung Sedayu sudah bergabung dengan aku? Kenapa pula kau bertanya kepadaku, apakah aku yang disebut Ki Saba Lintang?—
    — Aku adalah penjual berbagai jenis akar, batang dan daun untuk obat-obatan. Untuk daya tahan tubuh, kekebalan dan sebagainya. Aku ju¬ga berjualan bebatuan yang mengandung kasiat. Aku berkeliling dari pasar ke pasar, dari rumah ke rumah dan dari satu tempat ke tempat yang lain.—
    Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya — Jadi karena hubunganmu sangat luas, maka kau telah mendengar dari salah seorang dari mereka bahwa Nyi Lurah Sekar Mirah telah bergabung dengan Ki Saba Lintang.—
    — Ya.—
    — Tetapi darimana kau tahu, bahwa akulah Ki Saba Lintang itu dan perempuan ini adalah Nyi Lurah Agung Sedayu?—
    Orang itu tertawa pendek. Katanya — Menurut ujud lahiriah, aku hanya seorang yang menjajakan daganganku dalam sepasang bakul yang aku pikul kesana-kemari. tetapi ternyata aku mempunyai tanggapan jiwani yang sangat peka. Demikian aku melihat kalian berdua, maka ji¬waku telah tergetar. Seakan-akan ada suara gaib yang berbisik di telin¬gaku, bahwa aku telah bertemu dengan Ki Saba Lintang dan Nyi Lurah Agung Sedayu. Sepasang titah linuwih yang masing-masing memiliki tongkat baja putih pertanda kepemimpinan perguruan Kedung Jati.—
    — Ternyata bahwa kau mempunyai kelebihan dari kebanyakan orang. Ternyata penggraitamu sangat tajam. Kau mempunyai rabaan in¬dera keenam yang tidak dimiliki oleh orang lain.—
    — Ya. Justru karena pekerjaanku, maka aku sering menjalani laku prihatin. Aku sering berziarah ke tempat-tempat wingit. Ternyata laku yang aku jalani tidak sia-sia. Aku mempunyai rabaan indera keenam.
    Meskipun aku belum pernah melihat kalian, tetapi aku langsung dapat melihat, bahwa kalian berdua adalah dua orang linuwih itu.—
    — Terima kasih. Sekarang aku minta diri.—
    — Kalian akan pergi kemana?—
    — Ke Tanah Perdikan Menoreh.—
    — Untuk apa? Apakah Nyi Lurah Agung Sedayu akan pulang dan meninggalkan Ki Saba Lintang?—
    — Bagaimana menurut penglihatan indera keenammu— Glagah Putih justru bertanya
    — Tidak. Ki Saba Lintang akan menemui Ki Lurah Agung Se¬dayu. Menantangnya berperang tanding dan akhirnya membunuhnya.—
    — Kau benar-benar mempunyai indera keenam. Penglihatanmu terang. Kau dapat melihat apa yang belum terjadi. Jadi, apakah aku akan berhasil?—
    — Ya. Kau akan berhasil.—
    — Bagus — sahut Glagah Putih — aku minta, pergilah ke Tanah Perdikan Menoreh. Kau akan melihat bagaimana aku berperang tanding dengan Ki Lurah Agung Sedayu.—
    Orang itu berpikir sejenak. Lalu katanya — Aku ingin Ki Sanak. Tetapi sayang, aku harus pergi ke Sumpiuh. Ada orang sakit yang harus aku obati. Tetapi jika aku selesai dengan pengobatan itu, aku akan pergi ke Tanah Perdikan Menoreh.—
    — Baik. Aku tunggu kau di Tanah Perdikan Menoreh.—
    — Meskipun aku tidak berada di Tanah Perdikan Menoreh, Ki Sa¬ba Lintang. Tetapi aku tetap melihat apa yang akan terjadi di Tanah Perdikan Menoreh itu.—
    — Ya. Indera keenammu akan melihat apa yang akan terjadi di Tanah Perdikan Menoreh.
    Demikianlah, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun segera memberi isyarat kepada Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati untuk melan¬jutkan perjalanan mereka ke Tanah Perdikan Menoreh.
    Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati yang kemudian mendengarkan pem¬bicaraan Glagah Putih dan orang yang memikul sepasang bakul itu mengetahui maksud pembicaraan mereka. Karena itu, ketika mereka su¬dah berkuda meninggalkan orang yang memikul sepasang bakul itupun berkata—Kasihan orang itu.—
    — Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya kepada orang itu, kakang? — Rara Wulan justru bertanya.
    — Aku tidak sampai hati merusak kebanggaannya. Ia merasa bah¬wa ia memiliki penglihatan batin yang sangat tajam.—
    — Tetapi pengakuanmu bahwa kau adalah Ki Saba Lintang telah
    menyesatkannya.
    — Ya. Aku memang tidak seharusnya berbuat seperti itu. Tetapi ji¬ka ia tahu, bahwa ia telah keliru, maka ia akan menjadi sangat kecewa.—
    — Tetapi itu lebih baik. Ia segera mengetahui kesalahannya.—
    — Ya. Sebaiknya aku memang berkata apa adanya, tetapi rasa-rasanya aku tidak sampai hati.—
    — Kau harus melakukannya sejak awal — berkata Ki Citra Jati — ketika mula-mula ia menebak bahwa kau adalah Ki Saba Lintang, kau sengaja mengiakannya karena kau ingin memancing pendapatnya lebih lanjut. Tetapi setelah ia berkata lebih jauh, kau tidak sampai hati meng¬ingkarinya dan mengatakan apa yang sebenarnya.—
    — Ya, ayah.—
    — Meskipun kadar peristiwanya tidak sama, tetapi apa yang terja¬di pada kakang Swandaru juga karena kakang Agung Sedayu tidak sam¬pai hati untuk mengatakan yang sebenarnya, sehingga penilaian yang salah terhadap kakang Agung Sedayu itu berkembang semakin jauh-—-
    Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya.— Jika ia berniat per¬gi ke Tanah Perdikan Menoreh, ia akan aku beritahu yang sebenarnya, betapapun pahit baginya. Tetapi itu adalah kebenaran yang harus diteri¬manya.—
    Ki Citra Jati mengangguk-angguk. Katanya — Ya. Aku kira ia akan benar-benar pergi ke Tanah Perdikan Menoreh.—
    Glagah Putih tidak menjawab. Ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
    Demikianlah, maka mereka berempatpun kemudian telah melarikan kuda mereka memasuki lingkungan tlatah Tanah Perdikan Menoreh. Bahkan rasa-rasanya Glagah Putih menjadi tidak sabar lagi. Ia ingin segera sampai di rumah Ki Lurah Agung Sedayu.
    Namun sebenarnyalah disudut jantung Glagah Putih terselip pula kecemasan. Jika benar Sekar Mirah hilang dari Tanah Perdikan Menoreh, maka hancurlah keluarga kakak sepupunya itu.
    Karena itu, maka diluar sadarnya kuda Glagah Putihpun berlari semakin lama semakin cepat. Namun setiap kali Rara Wulan memperingatkannya, maka Glagah Putihpun berusaha mengurangi kecepatannya.
    — Di jalan-jalan menjadi semakin banyak orang, kakang — desis Rara Wulan setiap kali — orang-orang yang pergi dan pulang dari pasar. Orang-orang yang pergi ke sawah dan mungkin juga satu dua orang yang bepergian serta menempuh perjalanan jauh seperti kita berempat.—
    Glagah Putihpun mengangguk-angguk. Katanya — Ya
    Rara.—
    Bahkan ketika mereka mulai memasuki padukuhan, satu dua anak muda yang berpapasan, langsung dapat mengenali Glagah Putih dan Rara Wulan. Dengan demikian, maka mereka pun selalu bertanya, sudah agak lama keduanya tidak kelihatan di Tanah Perdikan.
    Glagah Putih selalu mencoba tersenyum dan menjawab meski¬pun hanya dengan kalimat-kalimat pendek. — Aku berada di Jati Anom.—
    Anak-anak muda itu tidak sempat bertanya lebih banyak lagi. Glagah Putih memang nampak tergesa-gesa.
    Sebenarnyalah ketika mereka memasuki pintu gerbang padukuhan induk Tanah Perdikan, rasa-rasanya Glagah Putih ingin meloncat langsung ke halaman rumahnya. Tetapi ia tidak dapat melarikan kudanya lebih cepat lagi agar tidak terlalu banyak menarik perhatian. Karena semakin banyak orang yang melihat kehadiran mereka, maka akan semakin banyak pula orang yang bertanya-tanya tentang kepergian mereka.
    Namun akhirnya mereka sampai pula ke regol halaman rumah Ki Lurah Agung Sedayu, Glagah Putih dengan serta merta meloncat turun dari kudanya dan dengan tergesa-gesa menuntun kudanya memasuki regol halaman itu.
    Di halaman Glagah Putih melepaskan saja kudanya sehingga Rara Wulan harus menangkap kendalinya dan menuntunnya ke samping pendapa. Mengikat pada patok-patok yang sudah disedi¬akan. Demikian pula Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati.
    Sementara itu, Glagah Putih telah berlari memasuki pintu seketeng.
    Di longkangan Glagah Putih tertegun. Rumah itu nampak sepi. Ia tidak melihat seorangpun Ki Lurah atau Nyi Lurah atau Ki Jayaraga atau siapapun.
    Namun tiba-tiba dari arah belakang dapur muncul Sukra yang juga terkejut melihat Glagah Putih.
    — Kakang Glagah Putih. —
    Glagah Putih tidak sabar lagi untuk segera mengetahui apakah Sekar Mirah ada di rumah. Karena itu, maka dengan serta merta iapun bertanya. — Dimana mbokayu Sekar Mirah?—
    Sikap Sukra membuat Glagah Putih berdebar-debar. Sambil menggelengkan kepalanya Sukrapun menjawab. Nyi Lurah tidak ada di rumah.—
    — Tidak ada di rumah?—
    — Sejak dua hari yang lalu.—
    Jantung Glagah Putih terasa berdenyut semakin keras.
    — Kemana?—
    — Ke Mataram.
    — Kakang Agung Sedayu?—
    — Ki Lurah juga pergi ke Mataram mengantar Nyi Lurah. Nyi Lurahlah yang terutama di panggil ke Mataram dua hari yang lalu. Ki Lurah hanya mengantarnya saja.—
    — Ada apa mbokayu Sekar Mirah dipanggil ke Mataram?—
    Sukra menggelengkan kepalanya. Katanya — Aku tidak tahu.—
    Dada Glagah Putih masih berdebar-debar. Namun kemudian iapun bertanya — Dimana Ki Jayaraga?—
    — Ke sawah. Sejak pagi tadi.—
    Glagah Putih menarik nafas panjang. Katanya — Bukalah pintu pringgitan. Aku membawa dua orang tamu selain Rara Wulan.
    Glagah Putihpun kembali ke halaman lewat pintu seketeng sementara Sukrapun masuk ke dalam rumah lewat pintu butulan untuk membuka pintu pringgitan.
    Agaknya Rara Wulanpun ingin segera mengetahui tentang Sekar Mirah, sehingga karena itu, maka iapun segera bertanya.— Bagaimana dengan mbokayu Sekar Mirah?—
    — Mbokayu Sekar Mirah pergi ke Mataram bersama kakang Agung Sedayu.—
    — Siapakah yang mengatakannya?—
    — Sukra.—
    — Untuk apa?—
    — Sukra tidak tahu.—
    Rara Wulan mengangguk kecil. Sementara itu Glagah Putihpun mempersilahkan Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati naik ke pendapa.
    Demikianlah mereka duduk, maka pintu pringgitanpun telah terbuka.
    Tetapi Rara Wulan tidak ikut duduk bersama mereka. Ia pun langsung masuk ke ruang dalam untuk mempersiapkan minuman bagi kedua orang tua angkatnya serta Glagah Putih.
    — Bantu aku — berkata Rara Wulan kepada Sukra.
    Sukra tidak menjawab. Tetapi ia ikut pergi ke dapur. Iapun mengisi air kedalam belanga tembaga, sementara Rara Wulan menyalakan api.
    — Sukra – berkata Rara Wulan setelah apinya menyala ceritakan, apa yang kau ketahui tentang mbokayu Sekar Mirah?
    — Tidak banyak – jawab Sukra – aku hanya tahu bahwa Nyi Lurah dipanggil ke Mataram. Kemudian Ki Lurah mengantarkannya. Aku tidak tahu ada persoalan apa sehingga Nyi Lurah harus pergi ke Mataram.—
    — Bagaimana dengan Ki Jayaraga? Apakah Ki Jayaraga menge¬tahuinya?—
    — Mungkin.—
    — Baiklah. Pergilah menyusul Ki Jayaraga. Katakan bahwa aku dan kakang Glagah Putih telah pulang.—
    Sukra tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian meninggalkan da¬pur lewat pintu belakang.
    Rara Wulanlah yang kemudian sibuk sendiri di dapur. Disiapkan¬nya beberapa buah mangkuk yang tersimpan rapi didalam geledeg bam¬bu. Agaknya Rara Wulan masih belum lupa letak perkakas dapur di rumah Ki Lurah Agung Sedayu itu.
    Sejenak kemudian, minumanpun telah siap. Rara Wulan sendiri yang membawa minuman itu ke pringgitan.
    — Dimana Sukra? – bertanya Glagah Putih.
    — Menyusul Ki Jayaraga. Mungkin Ki Jayaraga mengetahui, kenapa mbokayu Sekar Mirah dipanggil ke Mataram.—
    Glagah Putih mengangguk-angguk. Sementara Ki Citra Jatipun bertanya – Siapakah Ki Jayaraga itu?—
    — Seseorang yang sudah kami anggap keluarga sendiri. Ki Jayara¬ga adalah salah seorang guruku.—
    — Menarik sekali. Dimana Ki Jayaraga sekarang?—
    — Di sawah.—
    — Di sawah?—
    — Ya Untuk mengisi waktunya, Ki Jayaraga rajin sekali pergi ke
    sawah. Beberapa kotak sawah digarapnya sendiri. Sejak membajak sam-
    pai membajak lagi.—
    — Seorang yang sangat rajin. Berapakah usia Ki Jayaraga?—
    — Seusia ayah.—
    Ki Citra Jati mengangguk-angguk. Sementara itu, seorang tua me¬manggul cangkul di pundaknya memasuki regol halaman rumah Ki Lu¬rah Agung Sedayu diikuti oleh Sukra.
    — Itulah Ki Jayaraga, ayah – berkata Glagah Putih sambil bangkit berdiri.
    Rara Wulan, Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jatipun bangkit berdiri pu-
    la. Demikian Ki Jayaraga naik ke pendapa Glagah Putih mengangguk
    hormat, sementara Ki Jayaragapun berkata – Kau sudah pulang, Glagah
    Putih.—
    — Ya. Ki Jayaraga, aku pulang bersama Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati. Keduanya telah mengangkat kami berdua sebagai anak mereka. Se¬lebihnya, keduanya telah menurunkan ilmu terpenting kepada kami ber-dua.—
    — Ah. Ilmu yang tidak ada artinya apa-apa – desis Ki Citra Jati.
    — Mari, mari, silahkan duduk – berkata Ki Jayaraga kemudian. Sejenak kemudian, mereka telah duduk dipringgitan.
    Sementara Sukrapun telah pergi ke dapur. Meskipun Sukra seorang laki-laki, tetapi ia cukup terampil karena ia sudah lama tinggal bersama Agung Sedayu dan Sekar Mirah.
    Karena itu, maka dengan cekatan Sukrapun telah mencuci beras dan menanak nasi. Bahkan Sukrapun kemudian telah memungut bebera¬pa butir telur. Memetik sebuah ketela gantung muda dan beberapa lembar daun so dikebun.
    Dalam pada itu, ternyata Rara Wulan tidak ingat lagi untuk menyi¬apkan makan bagi mereka, la dengan sungguh-sungguh mendengarkan ceritera Ki Jayaraga tentang Nyi Lurah Sekar Mirah.
    — Jadi para petugas di Mataram telah mendengar desas-desus ten¬tang mbokayu Sekar Mirah yang berpihak kepada Ki Saba Lintang itu? -bertanya Glagah Putih.
    — Ya. Karena itu para pejabat di Mataram ingin membuktikannya. Mereka telah memanggil Nyi Lurah Agung Sedayu untuk pergi ke Mataram, menghadap langsung Ki Tumenggung Wiradilaga atas perin¬tah langsung dari Ki Patih Mandaraka dan Kangjeng Pangeran Purbaya.—
    — Aku akan menyusul kakang Agung Sedayu – berkata Glagah Putih.
    — Jangan Glagah Putih – sahut Ki Jayaraga – kau jangan membuat persoalannya menjadi keruh.—
    — Tidak. Aku justru ingin menjernihkan persoalannya. Bahwa mbokayu Sekar Mirah telah berpihak pada Ki Saba Lintang adalah fitnah semata-mata. Maksudnya sudah jelas untuk mencemarkan nama baik mbokayu Sekar Mirah, justru karena mbokayu Sekar Mirah tidak mau bergabung dengan Ki Saba Lintang dengan janji apapun juga.—
    — Kakakmu Agung Sedayu tentu akan dapat membersihkan nama mbokayumu. Sampai sekarang kakakmu Agung Sedayu masih mendapat kepercayaan dari para pejabat di Mataram.—
    — Tetapi kami berdua setidak-tidaknya dapat menjadi saksi, bah¬wa berita tentang bergabungnya mbokayu Sekar Mirah pada perguruan Kedung Jati itu benar-benar fitnah. Aku dan Rara Wulan mengalami langsung akibat dari fitnah itu.
    — Apa maksudmu, Glagah Putih?—
    Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menceriterakan pertemuannya dengan seorang yang memikul sepasang bakul berisi bahan obat-obatan serta bebatuan yang dianggapnya berkhasiat.
    Ki Jayaraga mendengarkan ceritera Glagah Putih itu dengan bersungguh-sungguh.
    — Memang menarik sekali Glagah Putih – berkata Ki Jayaraga kemudian – tetapi jika hari ini kau pergi ke Mataram, mungkin sekali kau akan berselisih jalan, karena kakakmu sudah dua hari berada di Mataram. Ia tentu tidak akan dapat berlama-lama meninggalkan tugasnya.
    Glagah Putih mengangguk-angguk.
    — Sebaiknya kau menunggu. Jika sampai malam nanti kakakmu belum pulang, berarti ada masalah yang sangat penting yang harus dipe¬cahkannya. Aku tidak berkeberatan jika esok kau pergi ke Mataram.
    — Baiklah – sahut Glagah Putih kemudian – aku akan menunggu sampai esok pagi.—
    Hari itu rasa-rasanya menjadi sangat panjang. Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati mengisi waktunya dengan berbincang-bincang bersama Ki Ja¬yaraga. Sementara itu Glagah Putih telah melakukan apa saja yang dapat dikerjakan. Rara Wulan sibuk di dapur. Namun ketika ia melihat bahwa Sukra telah menanak nasi dan menyiapkan lauknya menurut kemam¬puannya, Rara Wulan itupun berkata – Ternyata kau terampil juga Sukra. Terima kasih. Perhatianku sepenuhnya tertuju kepada mbokayu Sekar Mirah sehingga aku lupa bahwa harus dipersiapkan makan bagi tamu-tamu kita.—
    Sukra tidak menjawab. Ia hanya tersenyum-senyum saja mendengarkan pujian Rara Wulan.
    Menjelang senja, ternyata yang dikatakan oleh Ki Jayaraga benar. Agung Sedayu telah pulang dari Mataram.
    Agung Sedayu memang terkejut melihat orang yang belum pernah dikenalnya duduk di pringgitan rumahnya bersama Ki Jayaraga. Namun Glagah Putih yang menyongsongnya segera memperkenalkannya de¬ngan kedua orang tua angkatnya. Bahkan sekaligus yang telah menurun¬kan warisan ilmu kepada Glagah Putih dan Rara Wulan.
    — Terima kasih atas kebaikan hati Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati terhadap adikku berdua – berkata Agung Sedayu kemudian.
    — Yang kami lakukan tentu tidak berarti apa-apa. Kami hanya in¬gin menitipkan sedikit yang kami miliki agar tidak punah bersama kepergian kami kelak.—
    —Tentu sangat berarti bagi adikku berdua – sahut Agung Sedayu.
    Namun dalam pada itu, Glagah Putihpun berkata – Kakang. Aku menunggu kedatangan kakang dengan tegang. Aku segera ingin tahu, bagaimana dengan mbokayu Sekar Mirah sekarang. Kenapa kakang tidak pulang bersama mbokayu Sekar Mirah.—
    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya – Ada yang telah memfitnah mbokayumu, Glagah Putih.—
    — Aku juga telah mendengarnya kakang. Justru dari ayah Widura di padepokan.—
    — Apa yang kau dengar? – bertanya Agung Sedayu.
    Glagah Putihpun segera menceritakan, apa yang telah didengarnya tentang Sekar Mirah.
    — Apa yang dikatakan paman Widura itu benar Glagah Putih. Kabar itu telah tersebar di sekitar Mataram, sehingga telah didengar oleh para pejabat di Mataram.—
    — Apakah para pejabat itu mempercayainya?—
    — Sebagian besar, mereka yang telah lama berhubungan dengan aku dan mbokayumu, tidak mempercayainya. Tetapi mereka harus meyakinkan orang-orang yang baru muncul kemudian di gelanggang pe¬merintah Mataram bahwa ceritera itu sama sekali tidak benar.—
    — Jika demikian, kenapa mbokayu Sekar Mirah tidak pulang bersama kakang?—
    — Salah satu cara untuk meyakinkan mereka yang bimbang. Jika
    selama mbokayumu berada di Mataram, ceritera tentang perempuan yang selalu bersama-sama dengan Ki Saba Lintang itu masih berlanjut, maka ceritera itu adalah cerita bohong.—
    — Apakah kesaksianku tidak cukup untuk menjelaskan fitnah itu, kakang.—
    — Ceriteramu akan dapat membantu memberikan penjelasan. Tetapi mbokayumu sendiri setuju, bahwa untuk sementara ia berada di Mataram.—
    Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun berkata – Kakang. Jika kakang tidak berkeberatan biarlah kami, maksud¬ku aku dan Rara Wulan berusaha memburu perempuan yang mengaku Sekar Mirah itu.—
    Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata – Glagah Putih. Aku harus berbicara lebih dahulu dengan para pemimpin di Mataram. Selama ini Mataram telah menaburkan beberapa orang petugas sandi untuk menangkap kabar berikutnya tentang perem¬puan yang mengaku bernama Sekar Mirah serta memiliki salah satu dari sepasang tongkat baja Putih itu.—
    — Tetapi dimana tongkat itu sekarang, kakang?—
    — Ada di tangan mbokayumu di Mataram. Bukankah mungkin sa¬ja orang membuat tiruan tongkat baja putih itu?—
    Glagah Putih mengangguk-angguk. Namun ia masih bertanya -Dengan menunjukkan tongkat baja putih di tangan mbokayu Sekar Mi¬rah, apakah orang-orang Mataram yang bimbang itu masih juga belum dapat diyakinkan?—
    — Mereka memang memerlukan waktu untuk dapat meyakininya, Glagah Putih. Sebenarnyalah bahwa ada satu dua orang pemimpin di Mataram yang benar-benar mencurigai mbokayumu—
    — Ia mengira bahwa mbokayu Sekar Mirah yang benar-benar telah bergabung dengan Ki Saba Lintang? Jika demikian, siapakah perempuan yang datang bersama kakang Agung Sedayu itu menurut mereka?—
    — Ada diantara mereka yang menganggap bahwa perempuan yang datang bersamaku itu pulalah perempuan yang kadang-kadang melakukan perjalanan di Mataram dan sekitarnya. Keduanya dengan sengaja memperlihatkan diri kepada rakyat Mataram untuk menarik per¬hatian mereka.—
    — Gila. Itu pikiran gila. Jika benar terjadi demikian, apakah kakang Agung Sedayu akan tetap berdiam diri? Bahkan bersedia meng¬antar perempuan itu ke Mataram?—
    — Ada seribu penalaran di seribu kepala, Glagah Putih. Karena itu, untuk membersihkan namanya, mbokayumu bersedia berada di Mataram.—
    — Tetapi perempuan yang bersama-sama dengan Ki Saba Lintang itu tentu bukan perempuan yang bodoh. Setidak-tidaknya atas gagasan Ki Saba Lintang. Demikian mereka mendengar mbokayu Sekar Mirah ber¬ada di Mataram, maka mereka akan menghentikan kegiatan mereka—
    — Kemungkinan seperti itu sudah aku sampaikan. Tetapi orang-orang Mataram menganggap bahwa keberadaan mbokayumu di Mataram itu merupakan satu rahasia.—
    Glagah Putih mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun berkata.
    — Kita harus berjaga-jaga kakang. Keberadaan mbokayu Sekar Mirah di Mataram memang dirahasiakan. Tetapi siapa tahu, bahwa ada orang-orang ki Saba Lintang yang berada di Mataram. Atau setidak-tidaknya orang yang berpihak kepadanya.—
    — kemungkinan itu juga sudah aku katakan. Tetapi orang-orang Mataram yakin, bahwa tidak ada diantara mereka yang mempunyai hubungan dengan Ki Saba Lintang.

    • Matur nuwun buat Ki Tommy yang sudah mengetrapkan ilmu pancar wutahnya….
      Mudah-mudahan para cantrik yunior tambah meningkat tataran ilmunya…

  23. Wah…., dengan ilmunya yang baru, k4ng t0mmy sekarang sudah menjadi “putut” yang sudah mulai membimbing cantrik baru.

    Saya masih ingat, waktu k4ng t0mmy menunggu dengan tertib di setiap gandok menunggu kiriman komen yang berisi hasil retype (konversi). Jika lama tidak muncul, mulai agak usil dengan sentilan-sentilannya.

    Kalau tidak salah waktu itu Ki Ajar Gurawa, Ki Kuncung, dan siapa lagi saya lupa yang selalu ditunggu oleh k4ng t0mmy.

    Sekarang dengan murid barunya, dengan tekun k4ng t0mmy menyiapkan bahan ajar bersama-sama dengan ki Adung Sedayu.

    Huebat…., terus lanjutkan Ki, biar cantrik-cantrik yang bermunculan dapat mengikuti ceita ini dengan baik.

    Bagi sanak kadang yang baru menjumpai blog ini dan sekarang dengan sabar menunggu karya k4ng t0mmy dan Ki Adung Sedayu supaya menimba pengalaman dari k4ng t0mmy yang semula hanya menunggu hasil retype, kemudian berupaya bisa membaca versi djvu, kemudian instalasi abby fine reader supaya bisa konversi djvu – doc yang hasilnya dapat dibaca pada beberapa jilid terakir.

    Saran untuk k4ng t0mmy, masih ada sentuhan editing sedikit yang perlu dilakukan, agar hasilnya lebih bagus.

    Pada hasil retype di atas (ADBM-345), ada beberapa kata yang terpenggal (contohnya: ber¬ada, menurun¬kan). Penggalan ini cukup banyak, dan untuk edit manual memerlukan waktu yang lama, tidak bisa dilakukan “replace” otomatis. Penggalan ini biasanya pada kata yang terpenggal pada baris akhir yang bersambung ke baris berikutnya.

    Untuk menghilangkan sebenarnya sangat mudah, caranya simpan file tersebut ke format txt (misal adbm-345.doc menjadi adbm-345.txt), kemudian file txt tersebut dibuka lagi dengan office-word dan disimpan lagi ke dalam file doc (adbm-345.doc).

    Monggo dicoba Ki.

    Saya acungkan dua jempol saya untuk sumbangan k4ng t0mmy ini. Lanjut…. ki.

    • GUBRRAAKKK….jadi malu neh..hehehe…

      Caranya mengubah ke TXT gimana Ki ? Save as-ke apa ? Disana banyak pilihan dan semua pake bahasa Inggris, jadi saya nggak mudheng Ki (Waktu pelajaran Bhs Inggris saya sedang pati geni di kantin padepokan)🙂

      Terima kasih pencerahannya…

  24. Kang Tommy, merinding aku sebab kehadiranmu bersama dg kitab yg kunantikan ini. Lanjut Kang…

  25. Setelah Ki Lurah AS kembali dari mataram tanpa Nyi Lurah… Jumpa lagi di 346 iya Kang?

  26. heemmmmm…………..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: