Buku IV-36

336-00

Laman: 1 2

Telah Terbit on 14 Agustus 2009 at 17:24  Comments (71)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iv-36/trackback/

RSS feed for comments on this post.

71 KomentarTinggalkan komentar

  1. Tumben masih sepi…

    • lagi pada pergi liburan kali ki..

      • haaadiiiiiiirrrrr, makin jauh tertinggal…😀

        • Kemana aja Ki, lama nggak nongol, kayak Ki Kimin aja yang juga sangat lama nggak pernah absen di padepokan.

          Gini ini biasanya Ki Widura dan Ki Arema udah absen duluan, kok belum nongol juga??

          • Duelel malih, Ki….
            Nenbe mancing ning Kali Arut…

            • Oleh apa ki?

              • koyo’e oleh putri duyung,Ki

                • . hiks

                  • s
                    a
                    n
                    e
                    s,

                    K
                    i
                    .

                    P
                    u
                    t
                    r
                    i

                    d
                    a
                    y
                    a
                    k

    • Adem……Esuk-esuk melok uyel-uyelan

      • ki ismoyo ..esuk2 mohon pencerahanya

  2. Hadir juga sekalian antri

  3. ndherek antri …
    gek ndang mulih, mengko mbuka maneh neng omah.
    Selamat Hari Pramuka kisanak sedaya

  4. Lhoh kok sepi..

  5. ikut antri

  6. Aaaadddaaaaa…..

  7. Ndusel…ngantri…

  8. selalu sabar menanti………….

  9. Hadir ngisi absen ….
    Payahh…
    gara-gara dapet spoileran, 2 minggu tidak akan bisa merasakan “kenikmatan” menunggu wedaran kitab😦

    • yup!! yg seru malah perburuan kitab di padepokan sebelah…ciaaaatttt!!!

      • Sakawww berat

      • Wah ada perburuan kitab juga ya di padepokan sebelah. Dengan demikian padepokan ini mempunyai rekan sekerja untuk visinya menyebar virus ADBM. Itu bagus karena virus akan semakin cepat tersebar.
        Namun demikian, untuk sementara ini saya akan tetap setia ngunduh kitab dipadepokan ini saja, karena dipadepokan ini selain kitab saya juga menemukan kehangatan keluarga. Lengkap dengan keluh kesahnya, candanya, tegur-sapanya, sharingnya, nasehat2nya, oleh olehnya dsb dsb Pokoke komplitlah bagi satu keluarga besar.

    • teetttaaaaap seruuuuuu… ikut ngantriiii…

  10. nuwun sewu, baru belajar bahasa inggeris🙂

    A bear, a lion and a pig meet.

    Bear says: “if I roar in the forest, the entire forest is shivering with fear.”

    Lion says: “if I roar in the jungle, the entire jungle is afraid of me.”

    Pig says: “big deal…. I only have to cough, and the entire planet lives in fear.

    • babi edan wkwkwkwkkwkwk
      mung goro2 H1N1. wkwkwkwkwk

  11. oh belum,tho. yo wis tak pulang kampung sik arep 17-an ning omah,melu panjat pinang

  12. antli

  13. Dirgahayu Indonesia.
    Ini ada lomba apa di padepokan? Kalau di ADBM diadakan lomba balap karung siapa yang kira-kira menang? Apa ya AS lagi ya.

    • Kalo lomba nangkep belut mesti Sukra yang menang🙂
      Bagaimana kalo ada trivia quiz tentang ADBM secara online lewat box comment?

  14. masih belum wedar…..menunggu dgn sabar…..

  15. lagi liburan panjang…. cantriknya pulang kampung semua

  16. Absen hadir Nyi. Salam Dirgahayu Indonesia. Semoga ADBM tetap jaya.

  17. Absen Nyi, mau upacara di mana?

  18. Absen…Dirgahayu RI nggih…

  19. knp…protokoler kok bisa lupa indonesia raya….????

    • Kalau uang sidang bakal kelupaan ngga ya Ki…….

  20. SALAM MERDEKA…..>

    • Salam Merdeka Juga Ki….
      Ikutan lomba apa Ki?
      Kalau di padukuhan saya yg sepuh2 ikutan lomba masukin benang ke lobang jarum sama lomba makan kerupuk. Sdh ompong gak tau gigit kerupuknya pake apa…

      • he…he
        brarti lomba ngemut krupuk to ki…

        kulo namung dherek adu ayam jago mawon kok ki…hadiah’e langsung je..

        • Tumut lomba mancing ,nyekel walesane nggregeli dados iwake malah podo mlayu keweden…
          MERDEKA KI… MANGAYUBAGYO KEMERDEKAAN RI…

  21. MERDEKA, semoga bangsaku ini semakin dewasa menghadapi segala macam rintangan hidup dan mengatasinya dengan sebaik-baiknya tanpa menyebabkan efek yang bisa merugikan rakyatnya dan semakin sukses menjadi bangsa besar yang selalu mendapat perlindungan dan rahmat dari ALLAH. AMIN

  22. Lho, isi durung diwedar…
    Para pepunden lagi pada sibuk dadi panitia lomba balapan karung apa ya….

  23. 17 agustus kira2 ada ledakan kitab ga ya????

  24. MERDEKA…INDONESIA RAYA…

  25. Jam berapa ya kitab akan di wedar ?………..

  26. yo sabar to Ki wong lagi podo tasyakuran menjelang Hari Kemerdekaan. H e.. he ikut antri juga ach.

  27. Pokoknya….MERDEKA…..tapi…ojo lali ,,,,kita menyanyikan Indonesia Raya Ki….la wong wakil kita di parlemen lali….hehehe

  28. Pokoknya….MERDEKA…..tapi…ojo lali ,,,,kita menyanyikan Indonesia Raya Ki….la wong wakil kita di parlemen lali…piye iki ..?..hehehe

  29. Pokoknya…. DIWEDAR… Eh, MERDEKA JUGA……
    Wakil rakyat sing lali mesti terus isin dhewe, tekan ngomah langsung takon anak e, nyanyi bareng Indonesia Raya….
    Sekali lagi DIWED, eh, MERDEKA….

  30. Terima kasih Nyi Seno.
    Tauran apa sih yang dimaksud.

  31. maap juga hanya bisa absen, antli, unduh, selta telima kasih😀😀😀😀😀😀😀

  32. Merdeka!!!

  33. matur tenkyu!

  34. Di mana ya down loadnya???

  35. terakhir datang langsung dapat

    • maaf saya kok belum bisa menemukan, bias dibantu?
      tks.

  36. maaf, untuk mendapatkan kitab 336 sd. 396 harus didownload dimana ya??
    Tks.

  37. Ki Sanak,

    Untuk mengunduh kitab 336 sampai dengan 340 harus di donwload di mana ya?
    Terimakasi sebelumnya

    Salam dr Nigeria,
    Sapto

  38. [i/kula nuwun]/

    • mangga ki…Ssst Nyi lagi Istirahat
      ki Gembleh ra pareng rame-rame…!!

      we-lah kok bawa bungkusan ki,
      terang bulan anget nopo Martabak
      anget….!!

      hikss, matur nuwun oleh2-nya ki

      • we-lah……dicekal Nyi SENO
        pangling rupane jo pangling
        suara-ne Nyi.

        hikss, alamat turu ning GARDU
        iki….ki Akismet bener teliti

        • di luar hujan Nyi mbok cantrik
          diperkenan-kan mlebu GANDOK..!!

          arep ngancani ki Gembleh ngobrol

    • monggo monggo

  39. Api Dibukit Menoreh
    Jilid IV -36🙂

    KITA telah kehilangan – berkata ayah gadis yang pertama kali dibebaskan oleh Glagah Putih dan Rara Wulan – gadis yang menyebut dirinya WARA SASI ITU telah mengumpankan dirinya sendiri. Sebagai seorang gadis yang cantik, ia berharap bahwa Ki Demang yang telah dicurigai itu menculiknya. Dengan tingkat kemampuannya yang tinggi, ia justru berhasil menawan Ki Demang serta membebaskan anak gadisku. –
    – Gadis itu telah kecewa – desis ibu gadis yang pertama kali diketemukan.
    – Salahku. Dalam keadaan bingung sekali, aku justru memben¬taknya. Tapi aku sudah mohon maaf, dan gadis itu bersedia datangkembali ke rumah ini.-
    – Kita tidak akan dapat menemukan mereka – berkata Ki Jagabaya dengan penuh penyesalan.
    Orang-orang kademangan itu memang menyesali kepergian Glagah Putih dan Rara Wulan. Apalagi orang tua dari gadis-gadis yang hilang yang telah diketemukan kembali. Mereka menjadi semakin menyesal, ketika mereka mendengar dari orang yang pernah dititipi pedang oleh Rara Wulan, bahwa perempuan yang menyebut dirinya Wara Sasi itu telah mengumpankan dirinya untuk membongkar kejahatan yang dilakukan oleh Ki Demang. Jika usaha perempuan itu gagal, maka ia sendiri akan menjadi korban sebagaimana gadis-gadis yang lain.
    – Aku menduga bahwa ia akan kembali ke rumahku – berkata orang yang pernah dititipi pedang Rara Wulan itu.
    – Kapan ? – bertanya Ki Jagabaya
    – Itulah yang tidak dapat aku katakan.-
    Ki Jagabaya menarik nafas panjang. Katanya – Apaboleh buat. Tetapi hati kami telah mengucapkan terima kasih kepada mereka. Meskipun mereka tidak mendengar, tetapi kami bukan orang-orang yang tidak mau berterima kasih. Orang tua gadis-gadis yang hilang itu tentu sudah berputus-asa. Mereka cenderung untuk mempercayai dongeng yang mengerikan tentang Ki Demang.-

    – Ya Kami juga mengira bahwa anak gadis kami sudah mati dan tidak mungkin akan dapat pulang dalam keadaan apapun.-
    – Kita ucapkan terima kasih kami dengan hati yang tulus. Biarlah angin membawanya ketelinga hati kedua orang kakak beradik itu – berka¬ta salah seorang ibu dari seorang gadis yang telah diketemukan pula

    Dalam pada itu, Glagah Putih dan Rara Wulanpun sudah se¬makin jauh meninggalkan padukuhan itu. Mereka sadari, bahwa ada kemungkinan buruk terjadi atas diri mereka. Orang yang mengaku murid dari perguruan Kedung Jati itu akan dapat menyentuh saudara-saudaranya seperti sentuhan pada sarang semut ngangrang. Semut-semut itu akan dapat keluar dari sarangnya dan menebar berserakan dengan marah.
    Semalam suntuk keduanya tidak beristirahat. Ketika matahari naik, serta sinarnya mulai menggatalkan kulit, keduanya sampai kesebuah pasar yang terhitung ramai dikunjungi orang.
    – Agaknya hari ini hari pasaran – desis Rara Wulan.
    – Kita dapat berhenti sebentar disini.-Rara Wulan mengangguk-angguk. Katanya – Kita cari minuman. Aku haus.-
    – Dan lapar.-
    Rara Wulan tersenyum. Katanya – Ya. Kita memang lapar. Lihat, nasi megana itu nampaknya masih hangat,-
    Apakah tidak sebaiknya kita masuk ke kedai itu? Kita dapat duduk lebih tenang.-
    Kenapa harus masuk kedai ?-
    Bukankah kita juga ingin membeli minuman hangat ?-
    Rara Wulan mengangguk-angguk. Namun iapun masih berdesis – Apakah kita sudah berada cukup jauh dari kademangan yang dipimpin oleh manusia serigala itu ?-Agaknya sudah, Rara. Bukankah kita sudah berjalan cukup
    jauh ?-
    Rara Wulan mengangguk-angguk. Katanya kemudian – Baiklah, kita masuk ke dalam kedai saja. Kita dapat minum minuman hangat serta makan nasi yang masih mengepul dengan lebih tenang. –
    Demikianlah maka keduanya telah memilih kedai yang paling ujung dari deret kedai yang ada di sebelah pasar yang ramai itu.
    Demikian mereka duduk dan memesan makan dan minum, Rara Wulanpun berdesis – Kita berada tidak jauh dari sebuah sungai.-
    Pelayan kedai yang mendengar kata-kata Rara Wulan itupun menyahut- Tidak jauh dibelakang kedai ini ada sebatang sungai.-O – Rara Wulan mengangguk-angguk – sungai apa ?-
    – Sungai Pepe.-
    – O – tetapi Rara Wulan masih bertanya – Pasar ini ?-
    – Pasar Banyuanyar.-
    Rara Wulan mengangguk-angguk. Sementara pelayanan itulah yang justru bertanya – Ki Sanak berdua datang dari jauh ?-
    – Ya- Glagah Putihlah yang menjawab.
    – Darimana ?-
    -Kami adalah pengembara. Kami tidak lagi mengingat asal kami dan tidak pula memperhatikan arah perjalanan kami.-
    Orang itu mengganguk-angguk. Sementara Rara Wulanpun berdesis -Tolong, pesanan kami Ki Sanak. –
    – O, maaf. Aku terpancing untuk berbincang.-
    Pelayan itupun segera pergi untuk menyiapkan pesanan Glagah Putih dan Rara Wulan. Sementara pemilik kedai itu bertanya perlahan-lahan kepada pelayannya – Apa yang dikatakan ?-
    -Mereka pengembara. Mereka bertanya, dimana mereka sekarang berada.-
    -Layani mereka secepatnya. Biarlah mereka segera meninggalkan kedai ini.-
    Kenapa ?-
    – Kenapa ? Kau masih bertanya ?-
    Pelayan kedai itu termangu-mangu sejenak. Sementara pemilik kedai itupun berkata – Kau memang dungu. Tiga hari berturut-turut telah terjadi pencurian di kademangan Banyuanyar.-
    -O – pelayan itu mengangguk-angguk – tetapi bukankah ia seorang perempuan ? –

    Pemilik kedai itu menjawab — Bukankah yang seorang laki-laki. —
    -Ya. Tetapi jika ia melakukan kejahatan, mengapa mengajak seorang perempuan ? –
    – Bukankah kau juga melihat bahwa perempuan itu bukan perem¬puan kebanyakan. Perempuan itu berpakaian aneh serta membawa pedang dilambungnya. –
    Pelayan itu mengangguk-angguk. Katanya – Memang mungkin saja. Tetapi bukankah kita tidak dapat dianggap bersalah jika keduanya membeli minum dan makan di kedai ini ? Bukankah kita tidak tahu apa-apa.-
    – Tentu. Tetapi siapa tahu bahwa mereka akan melakukan keja¬hatan disini. Selagi banyak orang, biarlah keduanya segera selesai dan pergi. Nanti, jika kebetulan kedai ini kosong, keduanya dapat saja tiba-tiba menjulurkan pedangnya di leher kita. Merampok uang kita. –
    Pelayan itupun mengangguk. Iapun segera menghidangkan minum dan makan yang dipesan oleh Glagah Putih dan Rara Wulan yang telah disiapkan oleh pemilik kedai itu. –
    – Silahkan Ki Sanak – berkata pelayan kedai itu.
    – Terima kasih. – desis Rara Wulan.
    Rara Wulan yang harus segera meraih mangkuk minumannya. Tetapi ternyata minumannya itu masih terlalu panas, sehingga Rara Wulan masih harus menunggu.
    Bagi pemilik kedai itu, rasa-rasanya Glagah Putih dan Rara Wu¬lan itu sangat lama duduk di kedainya. Dua tiga orang sudah mening¬galkan kedai itu dan berganti dengan orang-orang baru. Namun Glagah Putih dan Rara Wulan masih belum selesai.
    Tetapi pemilik kedai itu tidak dapat mengusirnya. Meskipun pemilik kedai itu mencurigai mereka, tetapi kecurigaan itu bukannya satu kepastian bahwa keduanya telah melakukan kejahatan di kademangan itu.
    Ketika kemudian Glagah Putih dan Rara Wulan itu selesai dan memanggil pelayan kedai itu untuk membayar, pemilik kedai itu menjadi berlega hati. Rara-rasanya kedainya telah menjadi lapang kembali.
    Sejenak kemudian, Glagah Putih dan Rara Wulan telah berada di halaman kedai itu. Didepan mereka nampak kesibukan pasar masih saja terasa. Bahkan rasa-rasanya orang-orang menjadi semakin banyak berjejal di pasar pada hari pasaran itu.
    Glagah Putih dan Rara Wulan masih berdiri di halaman. Mereka tertegun ketika mereka melihat beberapa orang prajurit lewat
    Namun para prajurit itu tidak berhenti. Mereka menyibak orang-orang yang berada dijalan di depan pasar dan berjalan terus melintasi pasar memasuki padukuhan.
    Meskipun para prajurit itu tidak berhenti dan tidak berbuat apa-apa, namun kehadiran mereka telah menimbulkan ketegangan. Orang-orang yang berada dijalan, di depan pasar itu masih saja memandang kearah para prajurit yang semakin dalam memasuki padukuhan.
    Glagah Putih dan Rara Wulan berdiri termangu-mangu di halaman kedai itu. Sementara itu, pemilik kedai nampaknya merasa tidak begitu senang, bahwa keduanya tidak segera meninggalkan halaman kedainya
    — Jika para prajurit itu melihat mereka berdua, maka keduanya tentu akan ditangkap – berkata pemilik kedai itu.
    — Apa alasannya ? – bertanya pelayannya
    — Keduanya sangat mencurigakan. Lihat para prajurit yang
    lewat-
    — Para prajurit itu sudah jauh. Mereka masih saja berdiri disitu. Aku menjadi semakin curiga kepada mereka Sikap serta pakaian perem¬puan itu tidak sebagaimana perempuan kebanyakan.-
    — Tetapi bukankah mereka tidak berbuat apa-apa – sahut pelayannya.
    — Dungu kau – geram pemilik kedai itu – suruh mereka pergi.-—He?-
    — Suruh mereka pergi.-

    — Bagaimana aku menyuruh mereka pergi? Bukankah mereka tidak mengganggu kita ?-
    — Tentu saja mengganggu.. Orang-orang yang akan masuk ke kedai ini akan menjadi ragu-ragu. Bahkan ada yang mengurungkan niatnya-
    —Ah, kau aneh-aneh saja kang. Lihat, dua orang itu tanpa ragu-ragu masuk ke kedai kita-
    — Ya dua orang itu. Tetapi ampat orang yang lain hanya berhen¬ti termangu-mangu. Akhirnya mereka meneruskan perjalanan mereka. Mereka tentu akan singgah di kedai yang lain.-
    Pelayan itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara pemilik kedai itu membentaknya – cepat Suruh mereka pergi.-
    Pelayan kedai itu termangu-mangu sejenak. Tetapi ketika ia menatap mata pemilik kedai itu, hatinya menjadi kecut. Sehingga karena itu, maka pelayan itupun segera turun ke halaman dan melangkah betapapun ia ragu, mendekati Glagah Putih dan Rara Wulan yang masih saja berdiri di halaman kedai itu.
    — Maaf, Ki Sanak – berkata pelayan kedai itu kepada Glagah Putih.

    Glagah Putih dan Rara Wulan berpaling. Mereka merasa heran melihat sikap pelayan kedai itu. Dengan ragu-ragu Glagah Putih bertanya- Ki Sanak berbicara dengan aku? —
    PELAYAN ITU mengangguk sambil menjawab – Ya anak muda-
    0 maaf. Aku tidak segera menyadarinya.-
    Ki sanak. – berkata pelayan itu kemudian – bukan maksudku sendiri. Aku hanya menjalankan perintah majikanku –

    Ada apa Ki Sanak ?-
    Karena itu, jangan marah kepadaku. Sebenarnya aku keberatan melakukannya. Tetapi jika aku menolak, maka aku akan dapat dimarahinya. Bahkan mungkin dipecat,-

    Ada apa sebenarnya Ki Sanak – bertanya Glagah Putih. Majikanku, pemilik kedai itu, minta agar Ki Sanak berdua segera meninggalkan halaman kedai ini,–O. Kenapa?-
    Majikanku khawatir, bahwa orang-orang yang akan masuk ke kedai ini mengurungkan niatnya melihat anak muda berdua berdiri disini.

    -kenapa ? – bertanya Rara Wulan.
    Mereka menjadi ketakutan. Anak muda berdua bukan orang yang dikenal disini. Sementara itu, adikmu, seorang perempuan menyandang pedang di lambungnya Pakaiannyapun tidak sebagaimana pakaian perempuan kebanyakan.-
    Rara Wulan akan menjawab. Tetapi Glagah Putih telah mendahuluinya – O, maaf Ki Sanak. Kami tidak menyadarinya. Baiklah. Kami akan segera pergi.-

    – Tetapi, tetapi bukan maksudku. Aku sendiri tidak menaruh keberatan apa apa. Aku hanya menjalankan perintah majikanku.-
    – Baik, baik. Aku tahu – sahut Glagah Putih.
    Tetapi wajah Rara Wulan menjadi merah. Meskipun demikian ia tidak sempat menjawab, karena Glagah Putihpun segera berkata kepadanya – Marilah. Agaknya kita mengganggu orang yang akan masuki kedai ini.-
    Namun baru saja mereka akan melangkah pergi, terdengar pemilik kedai berteriak – Tidak, bukan kami.-
    Namun suaranya terputus dikerongkongan Pelayan kedai, Glagah Putih dan Rara Wulan itupun segera berpaling. Mereka melihat keributan terjadi di dalam kedai itu.
    – Ada apa Ki Sanak ? – bertanya Glagah Putih.
    – Entahlah – sahut pelayan kedai itu. Dengan serta merta pelayan itupun berlari ke pintu kedainya sambil berkata – Maaf Ki Sanak. Aku akan melihatnya,-
    Namun demikian pelayannya itu berlari ke pintu, tiba-tiba saja ia pun telah terlempar keluar. Tubuhnya jatuh terguling beberapa kali.
    Ketika ia mencoba bangkit berdiri, maka punggungnya terasa sangat sakit.
    Demikian pelayan itu terlempar keluar, maka seorang yang bertubuh tinggi kekar meloncat menyusulnya. Kemudian menyeretnya kembali masuk ke dalam kedai.
    – Ada apa ? – desis Rara Wulan.
    – Marilah kita lihat. Tetapi berhati-hatilah.-
    Keduanyapun kemudian melangkah mendekati pintu. Belum lagi mereka tahu apa yang terjadi di dalam kedai itu, terdengar seorang berkata lantang – Masuklah. Masuklah atau aku akan membunuh kalian berdua.-
    Glagah Putih dan Rara Wulan saling berpandang sejenak. Namun kemudian terdengar orang yang berdiri dibelakang pintu menggeram – Masuklah cepat-

    Glagah Putih dan Rara Wulanpun melangkah kepintu. Namun demikian kakinya melangkahi tlundak, tangan mereka telah ditarik de¬ngan kuat. Glagah Putih dan Rara Wulan itupun terlempar kedalam kedai itu menimpa lincak bambu panjang.
    Rara Wulan menyeringai menahan sakit di pinggangnya Tetapi sebelum Rara Wulan berbuat sesuatu, Glagah Putih telah menggamitnya sambil berdesis.
    Rara Wulan yang marah itu mengurungkan niatnya untuk berbuat sesuatu. Sementara itu, mereka mendengar seseorang membentak pemilik kedai itu – Tentu kau yang telah melaporkan kehadiran kami disi-ni.-
    Tidak Ki Sanak. Sungguh,-
    Tadi aku singgah di kedaimu. Kemudian beberapa orang prajurit meronda kemari. Tanpa laporanmu, para prajurit itu tidak pernah sampai dipasar ini.-

    Sungguh, Aku bersumpah.-
    Apa artinya sumpahmu bagi kami ? Sebaiknya kau mengaku sebelum aku penggal lehermu.-
    Sungguh, Ki Sanak. Sungguh. Kami tidak melaporkan.- Kau yang paling awal memerhatikan kehadiranku disini ketika aku dan kawan-kawanku itu makan di kedai ini.-
    Sungguh mati. Jika kalian tidak percaya, bertanyalah kepada prajurit itu.-
    Edan kau. Ternyata kau cerdik juga. Kau mencoba untuk menjebak kami. Tetapi kami bukan orang orang dungu sebagaimana kau
    duga.

    Jangan membuang buang waktu – berkata seorang yang lain -Sebelum para prajurit yang meronda itu kembali, kita lemparkan mayat orang itu ke Kali Pepe.- Ampun. Aku minta ampun.
    Seorang yang lain tertawa. Katanya — Sekarang kau minta ampun Pada saat kau melaporkan kehadiran kami, kau tentu Mentertawakan kami dalam hatimu. —
    Tidak. Aku justru tidak memperhatikan ketika kalian berada di kedai ini. Aku tidak tahu siapakah kalian dan apa yang telah kalian lakukan. _- Tidak ada gunanya kau membela diri. Sudah sepantasnya kau dibunuh dan mayatmu akan kami lemparkan ke Kali Pepe
    Sumpah bahwa aku tidak melaporkannya. Biarlah aku disambar petir jika aku melaporkan kehadiranmu disini. Tetapi entahlah jika hal itu dilakukan oleh pelayanku,-
    -Pelayanmu ? Mana pelayanmu itu ?-
    Pemilik kedai itupun segera menunjuk kepada pelayannya yang
    gemetar.
    – Jadi kau yang melaporkan keberadaan kami disini, he ?-
    Pelayan kedai itu menjadi bingung. Wajahnya nampak pucat Keringat dingin mengalir seperti diperas dari tubuhnya.
    – Aku tidak tahu apa-apa.
    – Tentu kau yang sudah melaporkan kehadiran kami kepada petugas dipasar itu, yang kemudian melaporkannya kepada para prajurit sehingga mereka mengirimkan beberapa orangnya untuk mencari kami. Sebenarnya kami tidak takut kepada para prajurit itu. Apalagi hanya be-berapa. Nanti, jika perlu kami akan membinasakan mereka semuanya. Tetapi yang sangat menjengkelkan adalah bahwa ada orang yang ikut campur persoalan orang lain dan melaporkan kehadiran kami disini.-
    – Bukan aku. Bukan aku.-
    – Kalau bukan kau siapa lagi – pemilik kedai itu berteriak – aku sendiri tentu tidak akan dapat meninggalkan kedai ini Aku harus menyiapkan pesanan makan dan minum para tamu. Tentu kau yang telah lari sebentar menemui petugas pasar itu. Itulah agaknya, kenapa aku harus berteriak memanggilmu tadi untuk menyampaikan pesan kepada seorang tamu.-
    – Kang, apa yang sebenarnya terjadi, kang. Kenapa tiba-tiba saja kau memfitnah aku ? Bukankah aku sudah bekerja disini bertahun-tahun. Sekarang, tiba-tiba saja kau surukkan kepalaku kedalam api.-
    – Kaulah yang hampir mencelakakan aku. Karena pokalmu, aku telah dituduh melaporkan kehadiran mereka disini. Jika hal itu tidak kau lakukan, maka hidupku tidak akan terancam.-
    – Tetapi sungguh, kang. Matilah aku jika aku melaporkan orang yang datang itu.
    – Tetapi aku tidak melakukannya –
    Seorang yang bertubuh tinggi dan kekar itupun berkata – Kita bawa saja ke sungai. Kita akan mengikat kaki dan tangannya, memasukkan kedalam karung dan melemparkan ke dalam sungai. Betapapun dangkalnya sungai itu, ia akhirnya tentu akan mati.-
    – Jangan, jangan – pelayan kedai itu berteriak-teriak.
    – Berteriaklah. Meskipun orang-orang di kedai sebelah mendengarnya mereka tidak akan berani berbuat apa-apa-

    – Marilah. Banyak orang berkerumun di halaman. Jika para praju¬rit lewat, tentu menarik perhatian mereka. Kita seret orang itu ke kali Pepe.
    Dua orang diantara orang-orang yang garang itu telah menangkap pergelangan tangan pelayan kedai itu dan menyeretnya lewat pintu belakang.
    Lewat pintu belakang saja – berkata salah seorang yang menyenyeret pelayan itu. – Didepan banyak orang- banyak orang yang akan menonton.-
    Demikian mereka keluar dari pintu kedai sebelah belakang, maka MEREKA AKAN LANGSUNG TURUN ke jalan kecil yang menuju ke sungai. -Jangan, jangan- teriak pelayan itu.
    Orang orang yang menyeretnya tidak menghiraukannya. Pelayan itupun mereka seret dengan kasar menuju ke sungai.
    Namun tiba-tiba saja ada suara lain- Jangan. Jangan.
    Orang-orang itupun tertegun. Ketika mereka berpaling, dilihatnya dua orang laki laki dan perempuan berdiri beberapa langkah dibelakang mereka.

    Jangan lakukan itu – berkata Glagah Putih, kau siapa ? –
    Apakah kau perlu mengetahui siapa aku ?-Supaya kau tidak mati tanpa nama-
    Glagah Putih tersenyum. Katanya – Baiklah, Namaku Warigalit Dan ini adikku,Wara Sasi.Puas?-
    Kalian sombong sekali anak-anak muda-Sekarang, aku bertanya Siapakah kalian ? Apakah kalian juga akan mengaku murid perguruan Kedung Jati ?-
    Orang-orang itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian seorang diantara mereka bertanya – Kenapa kau sebut perguruan Kedung

    Aku mendendam orang-orang perguruan Kedung Jati – Jawab Glagah Putih.
    -PERsetan dengan perguruan Kedung Jati Aku memang pernah mendengar. Tetapi aku tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan per-
    guruan itu. – Jadi, siapakah kalian ?– Kami adalah kami yang berdiri diatas kekuatan dan kemampuan kami sendiri.-
    Glagah Putih mengangguk-angguk. Sementara itu Rara Wulanpun bertanya — Kenapa tiba-tiba saja kau marah kepada pemilik kedai yang licik itu, yang berusaha untuk menyelamatkan diri dengan mengorbankan orang lain. Dan kenapa kalian begitu bodoh untuk langsung mempercayainya? —
    Orang yang bertubuh tinggi kekar itu menggeram. Katanya de¬ngan suara yang bergetar – Kau benar-benar ingin mencampuri persoalan kami, anak muda.-
    – Ya. Justru karena kau begitu bodoh untuk menuduh pelayan kedai itu bersalah.-
    – Orang ini telah melaporkan kehadiranku disini.-
    – Bukankah itu sekedar dugaanmu ?-
    – Tidak ada kemungkinan lain.-
    – Kenapa kau menjadi ketakutan melihat beberapa orang prajurit lewat Mungkin prajurit-prajurit itu sekedar meronda sebagaimana sering mereka lakukan di hari-hari pasaran. Mungkin mereka mempunyai keperluan lain. Jika kau tidak merasa bersalah, kau tidak usah gelisah meskipun ada prajurit segelar-sepapan lewat jalan itu.-
    – Cukup-potong orang itu – kau tidak usah turut campur. Pergilah. Atau kau berdua juga akan aku lemparkan ke Kali Pepe seperti orang ini.-
    Glagah Putih justru melangkah mendekat sambil berkata – Lep¬askan orang itu. Ia tidak bersalah.
    – Diam kau – bentak orang bertubuh tinggi kekar itu.
    – Lepaskan orang itu, kau dengar – tiba-tiba saja Glagah Putih membentak lebih keras – jika kalian tidak mau melepaskan orang itu, ma¬ka kami aKan mempergunakan kekerasan.-
    – Apakah kau sudah gila anak-anak muda? Kau kira kau ini siapa he? Agaknya kalian belum pernah mengenal aku.-

    – Kami memang belum pernah mengenal kalian. Perguruan kalian dan guru kalian.-
    – Pengetahuanmu memang picik. Karena itu, pergilah sebelum kami sampai pada batas kesabaran kami.-
    – Aku hampir tidak telaten menunggu kalian sampai sebatas kesabaran. Katakan caranya, agar kalian lebih cepat sampai sebatas itu.-
    – Anak iblis, kau.-
    – Lepaskan orang itu, kalian dengar ? Atau kalian memang tuli?-
    Orang bertubuh tinggi dan kekar itu benar-benar tidak dapat mengekang diri lagi. Tiba-tiba saja ia telah melompat menyerang Glagah Putih. Namun dengan satu loncatan kesamping sambil memiringkan tubuhnya, Glagah Putih berhasil menghindar dari serangan orang itu. Ta¬ngan orang itu terjulur setapak didepan dada Glagah Putih. Namun sama sekali tidak menyentuhnya.
    Pada saat yang bersamaan, Glagah Putih telah mengayunkan tan¬gannya menebas mengenai pinggang orang yang bertubuh tinggi kekar itu.
    Orang itu mengaduh tertahan. Dengan cepat ia meloncat bebera¬pa langkah surut untuk mengambil jarak. Namun kemudian mulutnyalah yang mengumpat-umpat
    Glagah Putih sengaja tidak memburunya. Namun iapun segera mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan.
    Rara Wulanpun segera bersiap pula. Dengan lantang Rara Wulan itupun berkata – Nah, sebelum terlambat, lepaskan orang itu dan kalian harus pergi dari tempat ini. Atau kami akan menangkap kalian dan meny¬erahkan kepada para prajurit yang sedang meronda itu.
    Seorang yang bertubuh agak gemuk melangkah maju sambil berteriak marah – Kalian berdua memang orang-orang gila. Tetapi kalian akan menyesal. Kalian akan mati terbenam di Kali Pepe itu, seperti pelayan kedai yang telah melaporkan kehadiran kami itu.-
    Namun Rara Wulan tidak menghiraukannya sama sekali. Bah¬kan iapun berkata – Nampaknya kalian benar-benar ingin mati,-
    Orang bertubuh gemuk itupun kemudian berkata – Jangan hi¬raukan tikus-tikus kecil ini. Bawa orang itu ke sungai. Aku akan menye¬lesaikan kedua orang ini dan membawanya ke sungai pula.-
    Kedua orang yang menyeret pelayan kedai itupun tidak menghi¬raukan lagi kedua orang laki-laki dan perempuan itu. Mereka telah meny¬eret pelayan itu lagi kearah Kali Pepe.
    – Marilah – berkata orang bertubuh gemuk itu kepada Glagah Putih – aku akan menyelesaikan kalian berdua.-
    Ketika orang yang bertubuh tinggi kekar itu melangkah mendekat maka orang bertubuh gemuk itupun berkata – Pergi sajalah ke sungai bersama yang lain-lain.-
    – Aku ingin menyeret perempuan itu ke sungai. Mungkin aku tidak tergesa-gesa menenggelamkannya.-
    – Setan kau.-
    – Aku ingin melihat mereka menyesali kesombongan mereka.-Orang bertubuh gemuk itu tidak menjawab. Tetapi ia tidak
    mencegah orang yang bertubuh tinggi kekar itu mendekati Rara Wulan.
    Tetapi yang terjadi benar-benar diluar dugaan. Sebelum orang bertubuh kekar itu berbuat sesuatu, maka Rara Wulan justru telah meloncat menyerangnya. Dengan satu loncatan panjang, kakinya terjulur lurus menyamping langsung kearah dada.
    Orang bertubuh tinggi kekar itu terkejut Namun kaki itu sudah terlalu dekat didepan dadanya.
    Dengan demikian, maka orang itu tidak lagi dapat mengelak atau menangkis serangan Rara Wulan. Serangan yang datang dengan deras nya itupun langsung mengenai dadanya yang bidang.
    Terdengar orang itu mengaduh. Tubuhnya terdorong beberapa langkah surut Dengan derasnya orang itu terbanting jatuh.
    Sekali orang itu menggeliat Namun kemudian iapun telah menjadi pingsan.
    Orang yang bertubuh gemuk itu termangu-mangu sejenak. Sementara itu, Glagah Putih telah berdiri di hadapannya.
    — Bagaimana dengan kita? — bertanya Glagah Putih kepada orang bertubuh gemuk itu.
    Orang itu mundur selangkah. Iapun kemudian menyadari sepenuh¬nya bahwa lawannya adalah orang yang berilmu tinggi. Perempuan itu dapat langsung membuat kawannya yang bertubuh tinggi kekar itu pingsan. Tentu laki-laki muda itu dapat berbuat lebih banyak lagi
    Karena itu, maka orang bertubuh gemuk itupun tiba-tiba telah berteriak nyaring — Tunggu. Kita berhadapan dengan sepasang iblis. Kita akan menyelesaikan mereka sebelum kita melemparkan orang itu ke sun¬gai. Kita akan membunuh sepasang iblis ini. —
    Orang-orang yang sudah mulai bergerak untuk pergi ke Kali Pepe itu tertegun. Demikian pula kedua orang yang menyeret pelayan kedai yang malang, yang berteriak-teriak ketakutan.
    — Diam kau pengecut — bentak seorang yang menyeretnya.
    Tetapi orang itu masih saja berteriak — Ampun. Aku tidak bersalah. Jangan lemparkan aku ke sungai. —
    Orang yang menyeretnya menjadi jengkel. Satu pukulan yang keras mengenai tengkuknya, sehingga orang itu terdiam. Demikian ked¬ua orang itu melepaskannya, maka orang itupun rebah tidak sadarkan diri.
    Sebentar kemudian, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun telah berhadapan dengan lima orang laki-laki yang garang. Seorang lagi berusaha menolong kawannya yang sedang pingsan.
    — Kita akan membinasakan iblis ini — geram orang yang bertubuh gemuk.
    Dalam pada itu, maka Gagah Putih dan Rara Wulan telah berdiri saling membelakangi. Perlahan-lahan Glagah Putihpun berbisik — Hati-hati Rara. —
    Rara Wulan tidak menyahut Tetapi iapun sudah bersiap sepenuh¬nya menghadapi segala kemungkinan.
    Dalam pada itu, lima orang yang mengepung mereka itupun telah menarik senjata mereka. Nampaknya mereka orang-orang seperguruan yang mempergunakan senjata dari jenis yang sama pula.
    Sesaat kemudian, kelima orang itu telah menggenggam golok di tangan mereka.
    Glagah Putih dan Rara Wulan tidak ingin mengalami akibat terbu¬ruk. Karena itu, maka keduanyapun telah menarik pedang mereka pula.
    Ketika kelima orang itu mulai bergerak, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun mulai bergeser pula.
    Demikianlah sejenak kemudian kelima orang itupun segera berlon¬catan sambil berputar. Mereka dengan cepat menyerang Glagah Putih dan Rara Wulan berganti-ganti. Namun kadang-kadang mereka hampir berbarengan meloncat sambil mengulurkan golok mereka yang besar itu.
    Namun dengan tangkasnya Glagah Putih dan Rara Wulan menangkis setiap serangan. Bahkan mereka tidak sekedar menebas sen¬jata lawan menyamping, namun mereka bahkan sering menangkis den¬gan membenturkan pedang mereka.
    Kelima orang itu memang terkejut. Pada setiap benturan yang ter¬jadi, terasa telapak tangan mereka menjadi pedih.
    Ternyata kekuatan kedua orang yang berada di dalam kepungan mereka itu terlalu besar.
    Namun orang-orang itupun merasa bahwa mereka adalah orang-orang yang ditakuti. Karena itu, maka mereka tidak segera mau men¬gakui kenyataan yang mereka hadapi. Bahkan dengan kemarahan yang membakar isi dada mereka kelima orang itupun telah meningkatkan ke¬mampuan mereka sampai kepuncak. Bahkan seorang yang berusaha menolong kawannya yang pingsan itupun telah siap untuk turun ke arena setelah kawannya itu menjadi sadar.
    Glagah Putih dan Rara Wulan melihat kemungkinan yang lebih bu¬ruk, jika kedua orang itu ikut pula bertempur bersama saudara-saudara seperguruan mereka. Pekerjaan mereka akan menjadi lebih berat untuk menghadapi tujuh orang bersama-sama meskipun seorang di antara mere¬ka baru sadar dari pingsannya
    Karena itu, sebelum keduanya langsung terjun ke arena, maka Glagah Putih telah memberi isyarat Rara Wulan untuk menghentakkan il¬mu mereka
    Kelima orang lawannya terkejut. Tetapi mereka terlambat menyadari hentakkan serangan kedua orang yang mereka kepung itu. Ketiga orang itu berloncatan surut ketika dua orang di antara mereka ter¬pelanting dari arena.
    Untuk sesaat pertempuran itu terhenti. Glagah Putih maupun Rara Wulan tidak memburu lawan-lawan mereka yang mengambil jarak. Na¬mun dengan lantang Glagah Putihpun berkata — Menyerahlah. Atau ka¬mi terpaksa membunuh. —
    Tetapi orang yang bertubuh gemuk itupun berkata — Kalian telah kehilangan semua kesempatan. Kalian akan mati, dan mayat kalian akan terapung di Kali Pepe.
    Bukan saja orang-orang itu sajalah yang telah kehabisan kesabaran, tetapi Rara Wulanpun rasa-rasanya tidak lagi dapat menahan diri. Karena itu, maka iapun berkata — Bagus. Apakah dengan demikian berarti kalian benar-benar akan membunuh ka¬mi?—
    – Ya. Tidak ada alasan apapun juga untuk membatalkannya. Meskipun kalian berdua menangis dan menitikkan air mata darah serta mencium telapak kakiku, kami tetap akan membunuhmu.-
    – Jika demikian, kamipun akan mengambil keputusan yang sama. Tidak ada alasan untuk mengurungkan niat kami membunuh kalian.-
    Orang-orang itu tidak berbicara lebih panjang. Dua orang yang lain telah siap untuk turun ke arena. Seorang yang bertubuh tinggi kekar yang telah sadar dari pingsannya. Yang seorang lagi yang telah meno¬longnya dan membantunya mengatasi kesulitan pernafasannya.
    Sementara itu dua orang yang baru saja terlempar dari arena itupun telah pingsan pula. Ternyata mereka tidak terluka oleh senjata. Tetapi serangan kaki Glagah Putih dan Rara Wulanlah yang telah melemparkan mereka dan membuat mereka pingsan.
    Tetapi ketika kemarahan Rara Wulan telah sampai ke puncak, maka agaknya ia tidak akan mengekang diri lagi. Pedangnya benar-benar akan berbicara.
    Sejenak kemudian, lawan Glagah Putih dan Rara Wulan itu telah menjadi lima kembali. Dengan garangnya kelima orang itu mulai bergeser. Seperti yang dikatakan oleh orang yang bertubuh gemuk itu, bahwa kelima orang itu benar-benar akan membunuh. Tidak ada alasan apapun untuk mengurungkan pembunuhan itu.
    Ketika seorang di antara mereka mulai menjulurkan goloknya, maka pertempuran telah berkobar kembali. Kelima orang itu menyerang Glagah Putih dan Rara Wulan dari segala arah. Golok mereka yang besar terayun-ayun mengerikan. Sementara itu yang lain terjulur lurus mengga-pai ke arah dada.
    Ketika pertempuran itu sedang berlangsung dengan sengitnya, maka kedua orang yang pingsan itupun mulai menjadi sadar kembali. Keduanya membuka mata dan menggeliat perlahan-lahan.
    Sementara itu, pertempuran masih berlangsung dengan sengit¬nya. Lima orang bersenjata golok yang besar itu berloncatan mengelilingi dua orang yang berdiri beradu punggung.
    Kedua orang yang baru saja pingsan itu segera menyadari apa yang terjadi. Merekapun segera berusaha untuk bangkit meskipun tulang-tulang mereka terasa nyeri.
    Namun Glagah Putih dan Rara Wulan tidak ingin bertempur melawan tujuh orang sekaligus. Karena itu, ketika kedua orang yang pingsan itu bangkit serta memungut golok mereka, sekali lagi Glagah Putih dan Rara Wulan menghentakkan kemampuan mereka.
    Pada saat kedua orang itu memasuki arena, maka mereka justru bergeser surut Demikian pula ketiga orang kawan mereka. Sedangkan dua orang yang lain, terhuyung-huyung beberapa langkah. Namun kedu¬anya tidak mampu mempertahankan keseimbangan mereka.
    Kedua orang itupun telah jatuh berguling di tanah. Mereka tidak saja dikenai serangan kaki atau tangan Glagah Putih dan Rara Wulan. Tetapi kedua-keduanya benar-benar telah terluka. Seorang diantara mereka terluka menyilang didada. Pedang Glagah Putih telah menyentuh dan meninggalkan luka yang panjang didadanya.
    Sementara itu, lambung yang seorang lagi telah terkoyak oleh pedang Rara Wulan.
    Sejenak kelima orang yang lain termangu-mangu. Mereka me¬mandang kedua orang kawannya yang terluka. Kemudian dengan sorot mata yang bagaikan menyala, mereka memandang Glagah Putih dan Rara Wulan yang berdiri dengan pedang yang bergetar di tangan mereka.
    — Kalian memang sepasang iblis – berkata orang yang bertubuh tinggi dan kekar, yang telah sadar dari pingsannya serta memasuki arena pertempuran itu lagi.
    —Kami akan membunuh kalian semuanya. Tidak ada alasan un¬tuk membatalkannya – geram Rara Wulan.
    Orang bertubuh gemuk itulah yang kemudian maju selangkah. Dikembangkannya tangan kirinya sambil berkata lantang – Sekarang. Ki¬ta bunuh mereka sekarang.-
    Kelima orang itu meloncat hampir bersamaan. Namun Glagah Putih dan Rara Wulan segera berloncatan. Serangan-serangan dari keli¬ma orang itu sama sekali tidak menyentuhnya.
    Kembali terdengar dentang senjata beradu. Kelima buah golok di tangan kelima orang lawan Glagah Putih dan Rara Wulan itu berputaran, terayun-ayun dan menebas mendatar. Kelima orang laki-laki yang garang itu berusaha untuk menembus pertahanan Glagah Putih dan Rara Wulan.
    Namun ternyata pertahanan Glagah Putih dan Rara Wulan terlalu rapat sehingga kelima orang itu masih belum berhasil. Sementara itu Glagah Putih dan Rara Wulan berloncatan seperti burung sikatan menyambar bilalang.
    Semakin lama benturan yang terjadipun menjadi semakin keras. Namun yang mengeluh karena telapak tangannya terasa pedih bukan Glagah Putih dan Rara Wulan. Bahkan Glagah Putih dan Rara Wulan itu masih dapat meningkatkan ilmu pedang mereka, sehingga justru perta¬hanan kelima orang itulah yang menjadi goyah.
    Orang yang bertubuh tinggi kekar itu berteriak nyaring ketika justru ujung pedang Rara Wulan yang telah menyentuh bahunya.
    Kemarahan — dari orang-orang yang nampak garang itupun menjadi semakin menyala. Merekapun telah menghentakkan kemampuan mereka. Golok-golok merekapun terayun-ayun semakin cepat
    Kemarahan – dari orang-orang yang nampak garang itupun menjadi semakin menyala. Merekapun telah menghentakkan kemam¬puan mereka. Golok-golok merekapun terayun-ayun semakin cepat
    Tetapi mereka tetap tidak mampu menguasai kedua orang lawan mereka. Bahkan seorang lagi diantara mereka yang telah tersentuh pedang Glagah Putih di lengannya. Seorang lagi justru dipahanya. Se¬dangkan orang yang gemuk itu telah tergores di pundaknya
    Betapapun kemarahan membakar jantung orang-orang yang garang itu, namun mereka tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa ke¬dua orang itu tidak akan dapat ditundukkannya Bahkan beberapa saat ke¬mudian, kelima orang yang sedang bertempur itupun telah terluka se¬muanya Darah telah mengalir dari tubuh mereka Sementara itu, tenaga merekapun seakan-akan telah terkuras habis. Bukan saja karena darah yang bagaikan terperas, tetapi juga karena mereka telah menghentak-hentakkan tenaga dan kemampuan mereka.
    Dalam pada itu, terdengar suara Rara Wulan – Kami akan mem¬bunuh kalian semuanya. Tidak ada alasan untuk mengurungkannya. –
    Jantung kelima orang lawan Glagah Putih dan Rara Wulan itupun menjadi semakin cepat berdetak. Mereka benar-benar tidak mem¬punyai harapan lagi kecuali melarikan diri. Namun untuk melarikan diripun mereka harus membuat perhitungan yang sebaik-baiknya karena kedua orang itu tentu akan melepaskan mereka
    Tetapi bagi mereka, melarikan diri adalah satu-satunya harapan bagi sebuah kemungkinan untuk hidup.
    Karena itu, orang-orang itu mempunyai pertimbangan yang ham¬pir bersamaan meskipun mereka tidak sempat membicarakannya Meninggalkan arena pertempuran dengan meninggalkan kedua orang kawannya yang terluka cukup parah.
    Namun semuanya sudah terlambat Untuk melarikan diripun su¬dah terlambat pula.
    Sebelum mereka berbuat apa-apa, tiba-tiba saja tempat itu sudah dikepung oleh beberapa orang prajurit dengan ujung tombak yang merunduk.
    – Hentikan – perintah Lurah prajurit yang mengepung tempat itu. Glagah Putih dan Rara Wulanpun segera berloncatan mengambil
    jarak dari lawan-lawannya Mereka masih berdiri beradu punggung.
    – Apa yang telah terjadi ? – bertanya Lurah prajurit itu. Pelayan kedai yang semula sudah kehilangan harapan untuk tetap
    hidup itulah yang tertatih-tatih mendekati Lurah prajurit itu sambil berka¬ta – Orang-orang itu akan membunuhku tanpa alasan. Sedangkan kedua orang laki-laki dan perempuan itu berusaha menolongku.-
    Lurah prajurit itu termangu-mangu sejenak. Iapun kemudian me¬mandang berkeliling. Orang-orang yang sudah terluka itu, dan bahkan orang-orang yang berada di kejauhan.
    – Orang itu berbohong Ki Lurah – berkata orang yang bertubuh gemuk, yang bajunya sudah bernoda darah.
    – Ya – sahut orang yang bertubuh tinggi dan kekar, yang terluka bukan saja di pundaknya, tetapi juga di pinggang dan tangannya.
    – Jika orang itu berbohong, apakah yang sebenarnya telah terjadi ? – beranya Lurah prajurit itu.
    – Aku tidak berbohong – sahut pelayan kedai itu – orang-orang itu menuduhku melaporkan kehadiran mereka, sehingga pagi ini para praju¬rit meronda sampai ke pasar ini. –
    – Tidak – teriak salah seorang dari kelima orang yang terluka itu.
    – Jika tidak, lalu apa ? – bertanya Lurah prajurit itu pula. Orang-orang itu terdiam. Mereka belum merencanakan, apa yang
    akan mereka katakan.
    Karena orang-orang itu tidak segera menjawab, maka Lurah pra¬jurit itupun bertanya kepada pelayan kedai itu – Kau siapa ?-
    – Aku pelayan kedai itu, Ki Sanak. Ki Sanak dapat bertanya kepa¬da pemilik kedai itu atau kepada pemilik kedai yang lain. Mereka tahu, bahwa aku adalah pelayan kedai itu.-
    Lurah prajurit itu mengangguk-angguk.
    Namun sebenarnyalah para prajurit itu lebih mempercayai pelayan kedai itu daripada orang-orang yang telah terluka. Menilik ujud¬nya, maka para prajurit itu dapat segera mengenali, bahwa orang-orang yang terluka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipercaya.
    Namun kemudian Lurah prajurit itupun bertanya kepada Glagah Putih dan Rara Wulan – Siapakah kalian berdua Ki Sanak ? –
    – Kami adalah pengembara, Ki Sanak. Namaku Warigalit. Perempuan ini adalah adikku. –
    – Menurut kalian berdua, kenapa kalian bertempur melawan orang-orang ini ? –
    – Seperti kata pelayan kedai itu, Ki Sanak. Kami sedang singgah untuk makan dan minum di kedai itu ketika orang-orang itu berusaha menangkap dan melemparkan pelayan kedai itu ke kali Pepe. –
    Lurah prajurit itu mengangguk-angguk. Katanya – baiklah. Kami akan menangkap orang-orang itu. Tetapi jika diperlukan, pelayan kedai itu akan kami panggil setiap saat untuk memberikan kesaksiannya.-
    – Aku bersedia. Ki Sanak – sahut pelayan kedai itu.
    Lurah prajurit itupun termangu-mangu sejenak. Namun kemu¬dian katanya — Kalian berdua juga tidak boleh meninggalkan tem¬pat ini sebelum persoalan ini selesai. —
    Glagah Putih dan Rara Wulan saling berpandangan sejenak. Na¬mun kemudian Glagah Putihpun berkata – Kami adalah pengembara. Jika kami tidak boleh meninggalkan tempat ini, kami harus tinggal dimana ?-
    Pelayan kedai itulah yang dengan serta-merta menyahut – Kalian dapat tinggal dirumahku, Ki Sanak. Meskipun rumahku kecil, tetapi ada tempat bagi kalian berdua untuk dua tiga hari.-
    – Apakah dalam dua atau tiga hari persoalannya sudah selesai ? -Meskipun persoalannya mungkin masih akan berlanjut sampai tuntas, namun dalam dua tiga hari kalian dapat meninggalkan tempat ini.-
    – Bahkan seandainya mereka harus pergi, aku bersedia mempertanggungjawabkan persoalannya – berkata pelayan kedai itu – bahkan kecuali aku, maka tentu akan banyak saksi yang bersedia memberikan keterangan dengan jujur.-
    – Aku minta kalian berdua tetap tinggal disini.-
    – Baik – Jawab Glagah Putih – kami akan tinggal disini untuk dua atau tiga hari.-
    Demikianlah, maka sejenak kemudian, para prajurit itupun telah membawa orang-orang yang garang itu. Sementara Glagah Putih dan Rara Wulan akan tinggal barang dua tiga hari di padukuhan itu.
    – Perjalanan kami. akan terhambat – desis Rara Wulan.
    – Aku berharap kalian bersedia tinggal di rumahku dalam dua tiga hari ini. Tetapi jika kalian mempunyai kepentingan lain yang harus segera kalian lakukan, tinggalkan saja tempat ini. Biarlah aku yang men¬jawab pertanyaan-pertanyaan para prajurit itu. Para saksipun akan dapat memberikan penjelasan kalau kalian tidak bersalah.-
    – Aku telah melukai mereka. Dua orang diantara mereka nam¬paknya agak parah.-
    – Itu salah mereka,-
    – Untunglah para prajurit itu segera datang, sehingga aku tidak terpaksa membunuh mereka.-
    – Jangan salahkan diri sendiri. –
    Glagah Putih dan Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam. Agaknya mereka telah terlibat persoalan yang akan menahan perjalanan mereka. Tetapi mereka tidak akan dapat menghindar. Mereka tidak akan dapat membiarkan kesewenang-wenangan terjadi.
    Karena itu, jika keterlibatan mereka itu harus menahan per¬jalanan mereka, apa boleh buat
    Dalam pada itu, setelah para prajurit yang membawa orang-orang yang garang itu, termasuk dua orang yang lukanya agak parah, menjadi semakin jauh, maka pemilik kedai itupun telah berlari-lari mene¬mui Glagah Putih dan Rara Wulan. Sambil mengangguk hormat orang itu berkata – Terima kasih atas pertolongan Ki Sanak berdua. Jika tidak, maka kawanku itu sudah dilemparkan ke Kali Pepe. Mungkin ia tidak akan dapat lagi membantu aku untuk selanjutnya-
    Glagah Putih memandang orang itu dengan kerut di dahi. De¬ngan nada berat Glagah Putihpun bertanya – Kenapa kau jadikan kawan¬mu itu kambing hitam, sehingga hampir saja menelan nyawanya ?-
    – Maksud Ki Sanak.-
    – Kenapa kau lemparkan tuduhan orang-orang itu kepadanya ?
    – Aku menjadi bingung sekali. Ki Sanak.-
    – Tetapi kenapa, kau harus menunjuk orang yang sudah bertahun-tahun bekerja padamu.-
    – Aku takut sekali.-
    – Kau ingin selamat ? –
    – Ya. Begitulah, Ki Sanak.-
    – Dengan mengorbankan orang lain.-
    – Bukan maksudku. –
    – Seharusnya kaulah yang bertanggung jawab atas keselamatan¬nya. Orang itu bekerja padamu. Kau harus melindunginya. Bukan seba¬liknya. Justru orang yang berada dibawah tanggung jawabmu itu telah kau jadikan kambing hitam. Kau korbankan orang itu demi keselamatan¬mu. Padahal orang itu sama sekali tidak bersalah dan bahkan tidak tahu menahu persoalannya.-
    – Aku menyesal, Ki Sanak.-
    – Jika banyak orang mempunyai watak seperti kau, maka banyak orang yang akan tersuruk kedalam bencana tanpa melakukan kesalahan apapun juga, karena ia hanya sekedar menanggung beban yang seharus¬nya dipikul orang lain.-
    – Aku menyesal, Ki Sanak. Tetapi sebenarnyalah aku bingung sekali. Aku mempunyai enam orang anak yang harus aku hidupi.-
    Glagah Putihpun kemudian berpaling kepada pelayan kedai itu sambil bertanya – Berapa orang anakmu Ki Sanak ? –
    – Delapan-
    – Delapan ? – Rara Wulan menjadi heran – masih muda itu kau su¬dah mempunyai delapan orang anak ? –
    – Itu begitu saja terjadi, Ki Sanak. Aku sama sekali tidak merencanakannya.-

    Rara Wulan menahan tertawanya. Sementara Glagah Putihpun berkata kepada pemilik kedai itu — nah, kau dengar. Ia mempunyai anak lebih banyak dari anakmu.—
    — Waktu itu aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku sendiri merasa tidak bersalah. Aku tidak melakukan apa yang dituduhkan¬nya kepadaku.—
    — Lalu kau lemparkan nasib burukmu itu kepada orang lain yang juga tidak bersalah.—
    — Aku akan minta maaf kepadanya— Glagah Putihpun terdiam.
    Seperti yang dikatakannya maka pemilik kedai itupun minta maaf kepada pelayannya Nampaknya pemilik kedai itu benar-benar menyesal, bahwa pelayannya itu hampir saja mati dilemparkan kedalam sungai oleh orang-orang yang garang itu.
    — Agaknya membunuh merupakan permainan yang menye¬nangkan bagi mereka—berkata Glagah Putih di dalam hatinya
    Seperti yang dikatakan oleh para prajurit, maka Glagah Putih dan Rara Wulan itu tidak boleh meninggalkan lingkungan itu. Setiap saat mereka dapat dipanggil untuk memberikan keterangan tentang peristiwa yang telah terjadi dibelakang kedai itu.
    Hari itu, kedai itupun segera ditutup meskipun belum waktunya. Pelayanan kedai itupun segera pulang bersama Glagah Putih dan Rara Wulan.

  40. Api Dibukit Menoreh
    Jilid IV -36🙂🙂

    Seperti yang dikatakannya, rumahnya memang tidak begitu besar. Sementara itu, ia mempunyai delapan orang anak. Namun seperti yang dikatakannya pula, dirumahnya masih ada tempat bagi Glagah Putih dan Rara Wulan yang akan bermalam.
    Ketika Glagah Putih dan Rara Wulan berada di rumah pelayan kedai itu, maka anak-anaknya yang kecil-kecil itu merubunginya Seperti ayahnya, anak-anak itu segera akrab dengan orang yang semula belum dikenalnya. Agak berbeda dengan ibunya yang sedikit pemalu, meskipun setelah berkenalan, iapun segera menjadi akrab.
    — Keduanya telah menyelamatkan jiwaku — berkata pelayan kedai itu kedua istrinya.
    — Terima kasih, Ki Sanak. Terima kasih. Jika kalian tidak menolong suamiku, entahlah apa jadinya keluarga ini. Anakku begitu banyak, sementara aku tidak dapat bekerja apa-apa kecuali pergi kesawah.—
    —Namaku Warigalit, mbokayu. Adikku namanya Wara Sasi.—
    — Nama yang bagus —desis perempuan itu. Sementara pelayan kedai itu berkata—Orang memanggilku Setraderrna—
    — Rumahku tidak mempunyai gandok yang dapat kami peruntukan bagi tamu-tamu kami adi Warigalit, tetapi sentong sebelah dapat aku siapkan bagi kalian berdua.—
    — Kami dapat tidur dimana saja, kakang Setraderma. Kami dapat tidur disini, di amben besar ini bersama anak-anak.—
    — Anak-anak terlalu ribut jika mereka mulai berbaring di amben besar ini.—
    —Akhirnya mereka akan tertidur juga— —Tetapi biarlah kalian tidur di sentong itu.— Glagah Putih tertawa. Sementara Rara Wulanpun berkata—Tidak apa-apa, kakang. Biarlah kami tidur disini—
    Pelayan kedai itu akhirnya tidak memaksa. Jika kedua orang itu in¬gin tidur bersama anak-anak, maka biarlah mereka tidur di amben yang besar itu.
    Setelah Glagah Putih dan Rara Wulan mandi, maka merekapun dipersilahkan makan bersama anak-anak. Sebenarnyalah betapa repotnya Nyi Setraderma melayani anak-anak. Dari delapan orang anak itu, baru tiga orang sudah dapat melayani dirinya sendiri. Sementara yang lain masih harus dilayani oleh ibunya Dua yang terkecil dari kedelapan anak itu masih harus disuapi. Sedangkan anak yang kelima dan keenam sudah mencoba untuk makan sendiri. Tetapi nasinya masih terhambur disekitar mangkuknya.
    Rara Wulanlah yang menjadi berdebar-debar. Berbeda dengan Nyi Setraderma yang sudah terbiasa melayani anak-anaknya Bahkan Nyi Se¬traderma seakan-akan tidak menghiraukan anaknya yang kelima dan keenam menghamburkan nasi dari mangkuknya
    Kakaknya yang bungsulah yang kemudian membantu adiknya itu.
    — Alangkah repotnya – berkata Rara Wulan didalam hati.
    — Marilah, adik berdua — Ki Setraderma mempersilahkan biar¬lah anak-anak makan bersama ibunya Kita juga akan makan.
    Glagah Putih dan Rara Wulan tidak menolak. Tetapi mereka sem¬pat memikirkan kehidupan Ki Setraderma Ki Setraderma bekerja sebagai seorang pelayan kedai yang penghasilannya tentu itu mencukupi . Mungkin ia mempunyai sawah serba sedikit Tetapi untuk makan sekian banyak orang, tentu tidak mencukupi pula.
    — Bahkan aku kira Setraderrna itu masih belum berkeluarga — berkata Rara Wulan didalam hatinya – atau setidak-tidaknya belum begitu lama menikah. Namun ternyata anaknya sudah delapan, yang jaraknya yang satu dengan yang lain tidak lebih dari setahun.
    — Orang ini tentu kawin muda — berkata Rara Wulan di dalam hatinya pula.
    Namun ketika Rara Wulan mencoba untuk membantu anak yang keenam, anak itu justru menyingkir. Diangkatnya mangkuknya yang masih berisi nasi. Namun karena mangkuk itu miring, maka sebagian sayurnya telah tumpah.
    Tetapi ternyata ibunya tidak menjadi bingung. Dibiarkannya anak itu bergeser dan duduk di belakangnya.
    Namun kemudian Glagah Putih dan Rara Wulan harus bergeser. Ki Setraderma mempersilahkan mereka untuk makan pula. – Seadanya di makan – berkata Ki Setraderrna
    – Sebagai pengembara kami terbiasa makan apa adanya kakang. Yang kami hadapi sekarang adalah lebih dari cukup.-
    – Tetapi menilik pesananmu di kedai itu, kalian terbiasa makan jauh lebih baik dari yang dapat kami hidangkan.-
    – Tidak, kakang. Kami tidak selalu makan sebagaimana kami pesan. Bahkan kadang-kadang kami harus makan rebung bambu yang kami rebus karena tidak ada makanan lain. Kadang-kadang buah-buahan apa saja yang kami dapatkan. Namun kadang-kadang juga binatang buru¬an yang kami asapi,-
    Ki Setraderma mengangguk-angguk. Sementara itu, untuk me¬nunjukkan keakrabannya, serta kebiasaannya sebagai pengembara, maka Glagah Putih dan Rara Wulan makan dengan lahapnya
    Malam itu, Glagah Putih dan Rara Wulan tidur di amben yang besar diruang dalam rumah yang tidak besar itu. Seperti yang dikatakan oleh Nyi Setraderma sebelum tidur, anak-anak itu selalu saja ribut Ada yang bergurau dan tertawa berkepanjangan. Tetapi ada pula yang bertengkar bahkan berkelahi
    Dengan sabar Nyi Setraderma melerai anak-anaknya yang bertengkar, namun juga mencegah anaknya yang tertawa berkepanjan¬gan.
    – Nanti kalian masuk angin – berkata Nyi Setraderma. Lalu katanya pula – Sekarang, tidurlah. Aku mempunyai sebuah dongeng yang bagus bagi kalian.-
    – Dongeng apa ? – bertanya anaknya yang keempat -Cindelaras –
    – Ibu kemarin sudah menceriterakan dongeng Cinde Laras. Bah¬kan ibu sudah menceriterakan berulang kali.-
    – Lainnya – berkata anaknya yang kelima -Lainnya apa lagi?-
    – Golek kencana – minta anaknya yang kelima
    – Aku sudah jemu – berkata anaknya yang ketiga
    – Kau tidak usah ikut mendengarkan. Kau tidur saja – sahut anak yang keempat
    – Lainnya saja – berkata anaknya yang ketiga.
    – Timun emas.-
    – Emoh. Kasihan Timun Emas dikejar Buta Ijo.-
    – Lalu apa ? –
    – Othak-othak ugel – berkata Ki Setraderma.
    – Ya. Othak-othak ugel. Aku mau – sahut tiga anak Ki Setraderma berbareng.
    Nyi Setraderma itupun kemudian ikut berbaring bersama anak-anaknya sambil menceriterakan sebuah dongeng yang melingkar-lingkar tanpa ujung pangkal karena Nyi Setraderma sendiri sudah mengantuk.
    Namun ketika anak-anaknya sudah tertidur, maka Nyi Setrader¬ma itu bangkit dan mengangkat anaknya yang bungsu ke dalam biliknya, sementara itu Ki Setraderma mengangkat anaknya yang ketujuh. Juga dibawa masuk ke dalam biliknya Yang lain dibiarkannya tidur di amben yang besar itu.
    – Apakah adi berdua dapat tidur bersama mereka ? –
    – Dapat saja mbokayu – jawab Rara Wulan – aku senang tidur bersama mereka
    Malam itu, sebelum Glagah Putih dan Rara Wulan membar¬ingkan dirinya, untuk beberapa saat lamanya, mereka masih berbincang dengan Ki Setraderma. Menurut Ki Setraderma, pemilik kedai itu me¬mang seorang yang sangat mementingkan diri sendiri.
    – Jika saja sawahku tidak hanya secabik, maka aku tidak akan kerasan bekerja padanya Tetapi untuk menutup kebutuhan karena hasil sawahku tidak mencukupi, maka aku harus bekerja padanya. Di kedai itu, aku mendapat makan dua kali. Dengan demikian aku tidak lagi meng¬ganggu persediaan makan anak-anak serta ibunya. Selain itu, kadang-kadang jika hati pemilik kedai itu sedang cerah, aku mendapat beberapa potong lauk yang tersisa di kedai itu. –
    Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk. Namun mereka dapat membayangkan kesulitan-kesulitan yang disandang oleh suami isteri yang masih terlalu muda untuk merawat dan membesarkan delapan orang anak. Bahkan mungkin masih dapat bertambah lagi. Satu bahkan dua karena umur mereka
    Menjelang tengah malam, maka Ki Setradermapun telah mem¬persilahkan Glagah Putih dan Rara Wulan tidur. Sementara itu, pelayan Kedai itu sendiri telah masuk kedalam biliknya pula
    Glagah Putih dan Rara Wulan sempat memperhatikan wajah anak-anak yang sedang tidur nyenyak itu. Wajah-wajah yang bening. Wajah-wajah itu membayangkan jiwa mereka yang seakan-akan tidak bercacat
    – Merekalah sahabat-sahabat yang paling baik – berkata Glagah Putih didalam hatinya
    Sejenak kemudian, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun telah berbaring pula di amben yang besar itu.
    Dalam pada itu, malampun menjadi semakin malam. Dikesun-yian terdengar derik cengkerik dan bilalang di halaman. Suara angkup yang terdengar seperti sedang merintih berkepanjangan.
    Ketika mata Glagah Putih hampir terpejam, tiba-tiba saja jan¬tungnya terasa berdesir. Telinganya yang tajam, mendengar langkah kaki seseorang dibelakang dinding bambu rumah itu,
    Glagah Putih menahan nafasnya. Disebelahnya Rara Wulan telah lebih dahulu tertidur. Agaknya perempuan itu merasa letih.
    Suara langkah kaki itu semakin jelas di telinga Glagah Putih, meskipun agaknya orang yang berada di balik dinding itu berusaha untuk beringsut perlahan-lahan.
    Namun suara itupun kemudian telah menghilang. Glagah Putih tidak lagi mendengar langkah kaki itu lagi.
    Beberapa saat lamanya, Glagah Putih berusaha mempertajam pendengarannya Ternyata iapun berhasil menangkap desah nafas orang yang berada di bilik dinding itu.
    Lampu di ruang dalam itu telah menjadi redup sejak Ki Setrader¬ma masuk ke dalam biliknya Anak-anak yang tidur disebelah Glagah Putih itu nampaknya menjadi semakin nyenyak. Agaknya di sudut ruang itu, Nyi Setraderma menyulut ontel keluwih. Asapnya dapat mengusir nyamuk, meskipun baunya terasa menusuk hidung.
    Namun ontel keluwih itu tinggal pangkalnya lagi. Sebentar lagi ontel itu akan habis menjadi abu.
    Perlahan-lahan dan dengan hati-hati Glagah Putih membangunkan Rara Wulan. Demikian Rana Wulan membuka matanya, Glagah Putih langsung memberi isyarat kepadanya agar berdiam diri.
    Rara Wulanpun tanggap akan isyarat itu. Karena itu, maka Rara Wulan tidak berbuat sesuatu. Rara Wulan justru berusaha menyadari sepenuhnya apa yang ada disekitamya.
    Dalam pada itu, terdengar lagi suara desir langkah di luar din¬ding. Rara Wulan yang telah terbangun itupun dapat mendengar pula sentuhan tubuh seseorang di luar dengan dinding rumah itu.
    Bahkan sejenak kemudian, Glagah Putih dan Rara Wulan mendengar seseorang yang memutuskan tali-tali ijuk pengikat dinding itu dengan tiang kayu disudut ruang.
    Glagah Putih dan Rara Wulan harus mempersiapkan dirinya se¬baik-baiknya. Tentu ada seseorang yang ingin berbuat jahat Mungkin se¬orang pencuri, tetapi mungkin pula seorang yang mempunyai niat lebih jahat dari pencuri.
    Karena itu, maka perlahan-lahan sekali Glagah Putih telah men¬cabut pedangnya dan bersiap mempergunakannya, meskipun Glagah Putih masih tetap berbaring. Jika ia mencoba untuk bangkit dan apalagi turun dari amben yang besar itu, maka suara deritnya tentu akan terden¬gar dari luar.
    Dalam kere mangan cahaya lampu di ruang dalam itu, Glagah Putih dan Rara Wulan sempat melihat dinding bambu di sudut ruang dalam itu merenggang setelah tali-tali ijuknya terputus.
    Jantung Glagah Putih berdesir. Ia melihat sesosok tubuh di luar dinding itu. Ia melihat kepalanya yang menjenguk ke dalam. Kemudian memperhatikan Glagah Putih dan Rara Wulan yang berbaring di ujung amben yang besar itu.
    Glagah Putih dan Rara Wulan sama sekali tidak bergerak. Un¬tunglah bahwa keduanya membelakangi lampu minyak yang redup, se¬hingga orang yang menjenguk itu tidak dapat melihat dengan jelas, apakah mata Glagah Putih dan Rara Wulan itu terbuka atau tidak.
    Namun tanpa mengatakan sesuatu, tiba-tiba saja orang yang menjengukkan kepalanya itu mendorong dinding sehingga terbuka se¬makin lebar. Tiba-tiba saja pula Glagah Putih melihat tangan orang itu terayun dengan cepatnya.
    Dari tangan orang itu, Glagah Putih sempat melihat benda yang berkilat-kilat meluncur dengan derasnya. Untunglah bahwa Glagah Putih telah mempersiapkan pedangnya, sehingga dengan tangkasnya Glagah Putih sempat menangkis benda yang berkilat-kilat yang meluncur ke arah dadanya.
    Benda itupun telah terpental mengenai atap rumah dan kemudian jatuh di lantai.
    Ternyata benda itu adalah sebilah pisau belati.
    Glagah Putih tidak menunggu lagi. Iapun segera meloncat ke arah orang itu. Dengan tangkasnya Glagah Putih memburu ke arah din¬ding yang terbuka itu sambil berkata – Rara. Lindungi anak-anak itu.-
    Rara Wulanpun telah bangkit pula. Iapun telah menarik pedan¬gnya pula.
    Peristiwa itu telah mengejutkan anak-anak yang sedang tidur. Beberapa orang di antara mereka langsung menangis menjerit-jerit se¬hingga membangunkan ayah dan ibunya di biliknya.
    – Ada apa ? – Ki Setraderma meloncat keluar dari dalam biliknya. Rara Wulan yang berdiri di antara anak-anak yang sedang
    menangis itu berkata – Tenangkan anak-anak ini, kakang. Ada orang yang mencoba untuk mengganggu ketenangan malam inl-
    – Siapa?-
    – Kami belum tahu, kakang. Kakang Warigalit sedang membu¬runya Orang itu telah memotong tali-tali ijuk pengikat dinding pada tiang kayu itu. Dengan demikian maka dinding itu terbuka Orang itu telah melemparkan pisau belati ke arah kakang Warigalit Untunglah bahwa kakang Warigalit telah mempersiapkan dirinya-
    Nyi Setraderma segera keluar pula dari biliknya. Untunglah anak-anaknya yang tidur di dalam bilik itu tidak terbangun. Sementara itu, ayah dan ibu itupun berusaha untuk menenangkan anak-anak mereka
    – Jangan takut Di sini ada paman Warigalit – berkata Ki Setrader¬ma
    Di luar rumah, Glagah Putih yang meloncat lewat dinding yang terbuka itu harus berloncatan dan berputar beberapa kali dengan mena¬pakkan tangannya di tanah. Orang yang diburunya itu telah melemparkan tiga pisau belati lagi ke arah Glagah Putih. Satu diantaranya di tangkisnya dengan pedangnya Sedangkan dua yang lain dihindarinya.
    Orang yang melemparkan pisau belatinya itu mengumpat De¬ngan tangkasnya orang itu melenting dan kemudian berdiri tegak di hala¬man.
    Sesaat kemudian, Glagah Putihpun telah berdiri di halaman itu
    pula.
    – Siapakah kau anak iblis ? – bertanya orang itu dengan geram.
    – Seharusnya akulah yang bertanya. Siapakah kau dan kenapa ti¬ba-tiba saja kau menyerang aku.-
    – Kau telah mencelakakan orang-orangku siang tadi.-
    – Orang-orang yang datang di kedai itu ?-
    – Ya Kenapa kau ikut mencampuri urusan mereka ?-

    – Jadi kau anggap orang-orangmu dapat melakukan perbuatan sewenang-wenang itu ?-
    – Tetapi bukankah perbuatan mereka tidak menyentuh tubuhmu tidak pula menyinggung namamu,-
    – Orang itu telah menyinggung rasa kemanusiaanku. Dengan se¬mena-mena orang-orang itu menangkap pelayan kedai itu dan akan melemparkannya ke sungai-

    – Tetapi orang itu bersalah.-
    – Apa salahnya ?-
    – Orang itu telah melaporkan kehadiran orang-orangku. Pagi itu orang-orangku telah membeli minuman dan makanan di kedai itu. Ke¬mudian beberapa orang prajurit telah datang meronda sampai ke pasar. Bukankah jelas, bahwa pelayan kedai itu telah melaporkan kehadiran orang-orangku ?-
    – Bagaimana jika yang melaporkan kehadiran orang-orangmu itu orang lain ? Juga orang yang sedang membeli minuman dan makanan di kedai itu ?-
    Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya -Aku tidak peduli. Tetapi kemungkinan terbesar adalah pemilik kedai itu atau pelayannya. Sementara itu pemilik kedai itu tidak merasa melakukannya, bahkan ia sudah menunjuk pelayannya-
    – Kau tahu benar apa yang sudah terjadi. Apakah waktu itu kau juga ada di kedai itu ?-
    – Aku berada di sekitar tempat itu.-
    – Kenapa kau tidak berusaha menolong orang-orangmu tadi siang?-
    – Aku bukan orang yang dungu dan tidak berperhitungan. Aku tidak mau ikut terkepung oleh para prajurit-
    – Sekarang apa maumu ?-
    – Aku tidak dapat membiarkan kau menjerumuskan orang-orangku ke dalam kesulitan. Kau harus dihukum karenanya.-
    – Seharusnya kau menghukum orang-orangmu sendiri. Kenapa mereka berbuat semena-mena. Pelayan kedai itu sama sekali tidak bersalah. Ia tidak melaporkan kehadiran orang-orangmu kepada para pra-jurit-
    – Pemilik kedai itulah yang bertanggung jawab. Bagi kami, keterangan pemilik kedai itu sudah cukup, sehingga apa yang kami lakukan adalah sah,-

    – Itukah paugeran yang berlaku menurut pendapatmu ?-
    – Paugeran bagi kami adalah apa yang kami kehendaki.-
    – Bagus, trapkan paugeran itu. Aku juga akan mengetrapkan paugeran yang sama. Apa yang aku inginkan, sah untuk aku lakukan atasmu.-
    Orang itu tidak menjawab. Dua buah pisau belati berbareng meluncur dari kedua belah tangannya Namun Glagah Putih yang telah siap itu, dengan tangkasnya menggeliat, sehingga kedua-duanya pisau belati itu tidak menyentuh tubuhnya
    Ketika sebuah lagi pisau belati meluncur, maka ditangkisnya pisau belati itu dengan pedangnya, sehingga pisau itu terlempar jauh menyamping.
    Orang itu tidak berbicara lagi. Dicabutnya pedangnya yang pan¬jang. Kemudian dengan garangnya ia menyerang Glagah Putih yang telah lebih dahulu memegang pedangnya
    Sejenak kemudian, keduanya telah terlibat dalam pertempuran

    yang sengit. Ilmu pedang orang itu cukup tinggi, sehingga Glagah Putih harus meningkatkan kemampuannya untuk mengimbanginya.
    Serangan-serangan orang itu semakin lama menjadi semakin cepat. Pedangnya bergetar menggapai-gapai.
    Namun Glagah Putihpun cukup tangkas. Serangan-serangan yang cepat dari lawannya tidak mampu menguak pertahanannya. Setiap kali pedang orang itu selalu membentur pedang Glagah Putih yang berputar dengan cepat.
    Namun Glagah Putihpun cukup berhati-hati. Ia menyadari bahwa setiap saat orang itu dapat melemparkan pisau-pisaunya di samping ayu¬nan pedangnya.
    Untuk beberapa saat mereka mengadu kemampuan mereka dalam ilmu pedang. Beberapa kali lawan Glagah Putih itu harus meloncat surut mengambil jarak karena serangan Glagah Putih yang datang mem-badai.
    Namun seperti yang diperhitungkan oleh Glagah Putih, maka di samping ujung pedangnya, maka pisau belati orang itu masih juga meluncur mengarah ke dada Glagah Putih.
    Glagah Putih masih mampu menghindar dengan memir¬ingkan tubuhnya. Namun ia terkejut bahwa satu lagi pisau belati melun¬cur dari tangan orang itu.
    Demikian cepatnya, sehingga Glagah Putih sedikit terlambat menggeliat. Meskipun Glagah Putih sudah berusaha, namun pisau itu masih juga melukai lengannya.
    Glagah Putih meloncat surut Di lengannya, darah mulai menitik dari lukanya.
    Kemarahan Glagah Putih membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Darahnya terasa memanasi seluruh tubuhnya.
    Ketika orang itu melemparkan lagi pisau belatinya, Glagah Putih telah menepis dengan pedangnya, sehingga pisau belati itu terlempar jauh ke samping.
    Namun dalam pada itu, Glagah Putih tidak membiarkan dirinya menjadi sasaran bidikan pisau lawannya. Karena itu, maka Glagah Putih harus bergerak lebih cepat dari ayunan tangan orang itu, sehingga orang itu tidak sempat menarik pisaunya yang berjajar di ikat pinggangnya dan melemparkannya kearah Glagah Putih.
    Dengan perhitungan itulah, maka Glagah Putihpun telah meny¬erang orang itu dengan cepat Ia menjaga jarak jangkauan pedangnya. Ji¬ka lawannya sempat mengambil jarak, maka pisau-pisaunya tentu akan meluncur kearah dadanya.
    Dengan demikian maka serangan Glagah Putihpun kemudian datang seperti arus angin ribut Serangannya datang beruntun, bahkan seakan-akan dari segala arah.
    Lawannya memang tidak mempunyai kesempatan untuk melon¬tarkan pisaunya. Sedangkan ilmu pedangnya ternyata berada dibawah kemampuan lawannya yang masih muda itu.
    Dalam keadaan yang memaksa, maka orang itupun telah melon¬cat surut Ia berusaha untuk mengambil jarak. Dengan cepat pula ia telah menarik pisaunya dari ikat pinggangnya.
    Namun Glagah Putih ternyata mampu bergerak lebih cepat Se¬belum orang itu sempat melemparkan pisaunya, maka ujung pedang Glagah Putih telah menggapai dada orang itu, langsung menghunjam menyentuh jantung.
    Orang itu sempat mengaduh tertahan. Namun kemudian orang itu terhuyung-huyung beberapa langkah surut
    Ketika orang itu jatuh terguling ditanah, terdengar pelayan kedai itu memukul kentongan dengan irama titir.
    Beberapa orang yang mendengar suara kentongan itu ternyata tidak segera berlari keluar. Mereka memang merasa ragu-ragu. Jika yang datang ke padukuhan itu segerombolan perampok yang garang, maka apakah orang-orang padukuhan itu akan dapat melawannya.
    Bahkan ada diantara mereka yang berpendapat bahwa yang datang itu tentu kawan-kawan dari orang-orang yang akan membunuh Setraderma. Mereka mendendam karena niat mereka membunuh Setraderma gagal.

    Namun ketika suara titir itu sempat menjalar, maka orang-orang padukuhan itu mulai berani keluar dari rumahnya. Semakin lama se¬makin banyak. Semula merekapun ragu-ragu untuk datang ke rumah Setraderma. Namun akhirnya merekapun telah memasuki regol halaman rumah itu.
    Namun ketika mereka datang, orang yang bertempur melawan Glagah Putih itu sudah terkapar mati.
    – Kau telah membunuhnya – berkata Ki Bekel yang kemudian ju¬ga datang.
    – Ya – jawab Glagah Putih – aku tidak mempunyai pilihan lain. Ji¬ka aku tidak membunuhnya, maka akulah yang akan mati. –
    Ki Bekel mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun berkata – Peristiwa ini tentu ada hubungannya dengan peristiwa di pasar itu. –
    – Mungkin sekali, Ki Bekel. –
    – Besok kau harus melaporkan peristiwa ini. –
    – Biarlah aku yang melaporkannya, Ki Bekel – berkata Setraderma.
    – Siapapun yang melaporkan, tetapi peristiwa ini akan diusut berkaitan dengan peristiwa di kedai itu. –
    – Baik, Ki Bekel. Aku siap memberikan kesaksian – berkata Se-traderma
    Ki Bekel mengangguk-angguk. Kalanya – Bawalah mayat ini ke serambi. Besok kita akan menguburnya –
    Dalam pada itu, maka Glagah Putihpun telah memberikan penje¬lasan, bahwa orang itu memang dalang untuk membalas dendam, karena beberapa orang kawannya telah ditangkap.
    Namun dalam pada itu, didalam kegelapan seseorang memper¬hatikan peristiwa itu dengan saksama. Orang itu melihat apa yang telah terjadi. Sejak peristiwa di kedai itu, maka ia sudah memperhitungkan bahwa kedua orang anak muda itu tentu akan disusul oleh seseorang atau sekelompok orang yang mendendam. Karena itu, maka orang itu telah hadir di tempat keduanya menginap.
    – Luar biasa – desis orang itu – seumurnya tentu sulit untuk dicari tandingnya Ketika ia bertempur di belakang kedai itu, aku belum melihat tataran ilmunya yang sebenarnya Pada kawannya perempuan muda itu, sekilas nampak ciri-ciri perguruan Kedung Jati Namun pada tataran tert¬inggi ilmu anak muda ini, ciri-ciri perguruan Kedung Jati itu sama sekali tidak nampak lagi. Atau mungkin keduanya bukan saudara seperguruan. Seorang dari perguruan Kedung Jati, yang seorang bukan. –
    Namun orang itu tidak berbuat apa-apa. Ia hanya memper¬hatikan saja dari kejauhan. Bahkan kemudian orang itupun telah meninggalkan tempat itu.
    Dikeesokan harinya, peristiwa itupun telah menjadi pembicaraan yang ramai. Lebih-lebih lagi mereka yang mengetahui atau sudah mendengar peristiwa yang terjadi di belakang kedai disebelah pasar itu.
    Sementara itu, sebelum matahari terbit, Setraderma sudah pergi menghadap Ki Demang untuk melaporkan peristiwa itu.
    Pada hari itu juga peristiwa yang terjadi itu telah dilaporkan kepa¬da para prajurit Pajang yang bertugas. Peristiwa itu justru mempercepat pemeriksaan terhadap Glagah Putih dan Rara Wulan. Ternyata pada hari itu juga mereka telah dipanggil untuk memberikan keterangan, apa yang telah terjadi. Baik di belakang kedai didekat pasar itu, maupun di rumah Setraderma.
    Ternyata setelah pemeriksaan selesai, maka tidak ada ikatan lagi bagi Glagah Putih dan Rara Wulan. Dengan kesaksian Setraderma serta pemilik kedai itu yang merasa telah bersalah, maka Glagah Putih dan Rara Wulan justru diperkenankan untuk meninggalkan padukuhan itu.
    Tetapi hari itu Glagah Putih dan Rara Wulan masih belum meninggalkan rumah Ki Setraderma. Ia masih menunggu tetangga-tetangga Ki Setraderma menguburkan orang yang telah terbunuh, itu, dis¬aksikan oleh Ki Bekel dan Ki Demang.
    Bahkan Ki Demang sempat berdesis – Anak muda itu tentu anak muda yang berilmu tinggi. Menurut ujud kewadagannya, orang yang telah terbunuh itu adalah seorang yang memang hidup di lingkungan dunia olah kanuragan yang keras. Diikat pinggangnya terselip pisau-pisau belati kecil yang melingkar di pinggangnya. Sebagian dari pisau-pisau belati itu sudah tidak ada lagi. Agaknya orang itu sudah beberapa kali melemparkan pisau-pisaunya, namun tidak berhasil mengenai anak muda itu, kecuali menggores lengannya.-
    – Nampaknya memang begitu, Ki Demang. Beberapa orang me¬mang menemukan pisau-pisau yang berserakan.-
    Hari itu, tubuh orang yang terbunuh itupun telah dikuburkan de¬ngan cara yang wajar. Namun Glagah Putih dan Rara Wulan justru merasa wajib untuk tetap berada di rumah itu, setidak-tidaknya malam itu. Glagah Putih dan Rara Wulan masih mencemaskan jika terjadi sesu¬atu yang justru akan menimpa Ki Setraderma.
    Namun agaknya Ki Setraderma justru sudah tidak lagi merasa takut. Ia merasa bahwa umurnya adalah sekedar perpanjangan. Se¬andainya anak muda yang mengaku bersama adik perempuannya itu tidak menolongnya, maka ia sudah mati terbenam di Kali Pepe.
    Peristiwa di rumah Ki Setraderma itu agaknya telah mem¬peringatkan Ki Demang dan Ki Bekel untuk meningkatkan pengamanan bukan saja di padukuhan itu, tetapi juga di seluruh kademangan.
    Hari itu juga Ki Demang telah memanggil semua bebahu. Semua Bekel dan para Jagabaya di padukuhan-padukuhan.
    Kepada mereka, Ki Demang itupun berkata – Kita sudah menda¬pat sentuhan oleh peristiwa yang baru saja terjadi. Pencurian dan kekeras¬an yang terjadi beberapa kali, tidak menggugah kesiagaan kita. Tetapi peristiwa yang terjadi dibelakang kedai di dekat pasar, serta kekerasan yang terjadi di rumah Ki Setraderma, rasa-rasanya benar-benar telah membangunkan kita dari kelengahan kita selama ini.-
    Para Bekel dan bebahu yang hadir mendengarkannya dengan saksama. Seperti Ki Demang, merekapun bertanya kepada diri mereka masing-masing, apa yang selama ini telah mereka lakukan untuk menja¬ga ketenteraman kademangan mereka.
    – Kita tidak dapat menggantungkan pengamanan lingkungan ini SEMATA-MATA kepada para prajurit Kita sendiri harus berbuat sesuatu. Jika tidak ada kedua orang pengembara itu, maka kita telah kehilangan salah seorang keluarga kita.-
    Para Bekel dan para bebahu itupun mengangguk-angguk. Mere¬ka sependapat dengan Ki Demang yang kemudian berkata – Apakah kita, laki-laki se padukuhan tidak dapat melawan empat atau lima orang, meskipun mereka berilmu tinggi ? Ki Bekel, Jagabaya di padukuhan dan para bebahu, juga bukan orang kebanyakan. Mungkin ada pula di antara laki laki se padukuhan yang memiliki kemampuan dalam olah kanura¬gan. Jika tidak, maka beramai-ramai mereka melawan orang-orang yang berniat jahat itu.-
    Dalam pertemuan itu pula Ki Demang telah memerintahkan para Bekel untuk setiap kali langsung melihat gardu-gardu perondan. Pada saat menjelang wayah sepi bocah, gardu-gardu harus sudah terisi. Kentongan-kentongan harus siap untuk melontarkan isyarat Tidak hanya di gardu saja, tetapi disetiap rumah harus mempunyai kentongan, meskipun hanya sebuah kentongan bambu yang kecil. Tetapi suaranya akan dapat menjangkau tetangga-tetangganya serta gardu yang terdekat
    Sejak malam itu, maka padukuhan-padukuhan di seluruh kademangan itupun menjadi terasa hidup. Gardu-gardu terisi sejak wayah sepi bocah.
    Glagah Putih dan Rara Wulan malam itu masih belum mening¬galkan padukuhan itu. Bahkan Ki Bekel telah mengundangnya untuk be¬rada di banjar, berbicara dengan Ki Bekel dan para bebahu.
    – Anak muda – berkata Ki Bekel – jika saja kau bersedia tinggal di padukuhan ini untuk waktu yang sedikit panjang. Kau dapat membantu kami para bebahu untuk memberikan latihan-latihan olah kanuragan. Meskipun sekedar dasarnya saja, tetapi itu akan sangat berarti bagi kami.-
    Glagah Putih dan Rara Wulan saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Glagah Putihpun berkata — Sayang sekali, Ki Bekel. Kami tidak dapat tinggal lebih lebih lama lagi. Besok kami harus meneruskan perjalanan kami. —
    – Sebenarnya kalian akan pergi kemana, ngger ? – bertanya Ki
    Bekel.
    – Kami adalah pengembara, Ki Bekel. Kami berjalan mengikuti langkah kaki kami. Kami tidak mempunyai tujuan tertentu.
    – Seharusnya kau tidak melakukannya. Mungkin dalam sebulan dua bulan karena keinginan kalian untuk melihat sebelah cakrawala. Tetapi kau tidak dapat melakukannya terlalu lama. Kau harus berhenti, menetap dan menyiapkan masa depan kalian. Dengan mengembara, apa yang kalian harapkan bagi masa depan kalian ? Kalian akan hidup seperti sepasang burung. Terbang dari sebatang pohon ke sebatang pohon yang lain. Mungkin dari satu sisi hutan ke sisi yang lain atau ke hutan yang lain. Lalu apa yang kalian dapatkan ? Seandainya dalam pengembaraan kalian, kalian mendapatkan banyak pengalaman, apakah arti pengala¬manmu itu dalam pengembaraan berikutnya ?-
    Glagah Putih dan Rara Wulan tidak menjawab. Tetapi sudah ten¬tu bahwa mereka tidak ingin mengembara di sepanjang hidupnya
    Namun keduanya tidak dapat berkata berterus terang, bahwa mereka telah mengemban tugas untuk mendapatkan tongkat baja putih yang berada di tangan Ki Saba Lintang.
    – Aku minta kalian mempertimbangkannya – berkata Ki Bekel kemudian.
    Dengan nada dalam Glagah Putihpun menjawab – Ki Bekel. Aku mengucapkan terima kasih atas kepedulian Ki Bekel dengan masa depan kami. Kamipun menyadari, bahwa pada suatu saat kami harus berhenti mengembara jika kami ingin hidup wajar. Kami harus memilih lingkung¬an sebagai tempat tinggal. Tetapi selagi kami masih sempat, kami masih ingin menambah pengalaman kami. Baru kemudian, jika kami sudah merasa puas, kami akan berhenti mengembara dan tinggal di satu tempat-
    – Jika saat itu tiba ngger. Kalian dapat memilih tempat ini sebagai tempat tinggal. Kami akan menyediakan tanah milik padukuhan dan para bebahu tentu setuju, bahwa tanah itu akan kami serahkan kepada kalian berdua Jika kalian kakak beradik, maka pada saatnya kalian akan mem-bangun keluarga kalian masing-masing disini. Tanah persediaan kami cukup luas. Hutan kami masih sangat panjang. –
    – Terima kasih Ki Bekel. Kami akan mempertimbangkannya. Kelak jika kami sudah merasa puas dengan pengembaraan kami, kami akan mengingat pesan Ki Bekel itu,-
    – Yang kami katakan ini bukan sekedar basa-basi, ngger.-
    – Kami tahu, Ki Bekel. Kamipun berkata sebenarnya Kesediaan Ki Bekel menerima kami menjadi keluarga di padukuhan ini sangat kami hargai-
    Beberapa orang yang lain, terutama Ki Sutraderma yang ada di banjar itu pula bersama para bebahu, telah memperkuat pernyataan Ki-Itekclitu.
    Namun Glagah Putih dan Rara Wulan tidak dapat memenuhinya. Dengan mengucapkan terima kasih, maka kedua orang yang mengaku bernama Warigalit dan Wara Sasi itupun justru minta diri. Esok pagi-pa¬gi benar mereka akan meneruskan perjalanan mereka.
    Ki Bekel dan para bebahu padukuhan itu tidak dapat menahan mereka. Mereka hanya dapat mengucapkan selamat jalan kepada kedua orang yang mengaku kakak beradik itu.
    Menjelang tengah malam, maka Ki Bekelpun telah mem¬bubarkan pertemuan itu. Kedua orang pengembara itu masih perlu beris¬tirahat meskipun hanya sebentar. Esok pagi mereka akan menempuh se¬buah perjalanan lagi.
    Malam itu, Glagah Putih dan Rara Wulan tidur di amben yang besar bersama anak-anak Ki Setraderma seperti malam-malam sebelum¬nya. Sebelum Rara Wulan tertidur, Glagah Putih sempat berbincang -Apakah di dalam keluarga kita kelak juga akan terdapat sekian banyak anak?-
    Tidak mau – Rara Wulan bersungut Glagah Putih tertawa. Namun kemudian tertawanya itu larut keti¬ka Rara Wulan berdesis – Kasihan mbokayu Sekar Mirah.-
    – Kenapa ?-
    – Nampaknya mbokayu Sekar Mirah tidak akan mempunyai anak. Selama ini ia sangat merindukan tangis seorang bayi di dalam rumahnya.-
    – Jangan mendahului kehendak Yang Maha Agung.-
    – Tetapi umur mereka merambat terus. Apakah pada usianya yang sekarang ini, mbokayu Sekar Mirah masih akan dapat mengandung ?
    Glagah Putih menarik nafas panjang. Tetapi ia tidak menjawab.
    -Maaf, kakang – desis Rara Wulan – aku tidak ingin membuatmu risau. Tetapi sebenarnyalah akupun menjadi risau. Kapan kita berhenti mengembara ? Kemudian kita hidup sewajarnya sebagaimana sebuah keluarga kecil. Kemudian terdengar tangis seorang bayi. Bayi yang aku lahirkan sendiri dari kandunganku.-
    Glagah Putih tidak menjawab. Sementara Rara Wulan berkata selanjutnya hampir berbisik di telinga Glagah Putih – Maaf, kakang. Aku minta maaf lagi. Bukan maksudku mengeluh tentang pengembaraan kita sekarang ini betapapun beratnya. Kita akan melanjutkan tugas ini sampai tuntas.-
    Glagah Putih yang bebaring menelentang itu menatap ragu-man bambu pada atap rumah Ki Setraderma. Raguman bambu yang nampaknya rajin sekali. Tali-tali ijuk yang kuat mengikat bambu yang dibelah.
    Rara Wulanpun terdiam. Hanya desah nafasnya sajalah yang ter¬dengar semakin lama semakin teratur.
    Ketika kemudian Rara Wulan tertidur, mata Glagah Putih masih tetap terbuka. Dilihatnya dua ekor cicak berkejaran didinding didekat lampu dlupak yang terletak di ajuk-ajuk disudut ruang.
    Hidung Glagah Putih masih mencium bau ontel keluwih yang membara diujungnya, untuk mengusir nyamuk.
    Namun beberapa saat kemudian, Glagah Putihpun telah tertidur
    pula.
    Namun keduanya tidak tidur terlalu lama. Seperti biasanya, men¬jelang fajar keduanya telah terbangun untuk berbenah diri
    Namun ketika Rara Wulan pergi ke pakiwan, ternyata Nyi Setra¬derma juga sudah terbangun dan sudah berada di dapur. Dua perapian su¬dah dinyalakannya. Satu untuk menjerang air, sedang yang lain untuk menanak nasi.
    Ketika langit menjadi terang, maka Glagah Putih dan Rara Wu¬lanpun sudah bersiap untuk berangkat melanjutkan pengembaraannya. Sementara itu, Nyi Setradermapun sudah selesai pula mempersiapkan makan pagi bagi keduanya.
    – Silahkan makan dahulu, adi berdua – Nyi Setraderma mempersilahkan.
    – Anak-anak belum makan – desis Rara Wulan.
    – Mereka belum bangun – sahut Nyi Setraderma – bukankah kalian yang akan menempuh perjalanan jauh ? Bahkan jauh sekali tanpa batas.-
    Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam.
    Ketika mereka kemudian makan nasi hangat dengan sayur kacang panjang yang dipetik di kebun belakang, di amben besar, disebelah anak-anak yang tidur itu, seorang diantara merekapun terbangun. Anak ke Setraderma yang ke tiga
    Sambil mengusap matanya anak itu duduk diantara saudara-saudaranya yang masih tidur.
    – Paman dan bibi akan pergi ? – bertanya anak itu.
    – Darimana kau tahu ? – bertanya ayahnya.
    Glagah Putih dan Rara Wulan tersenyum. Dengan nada lembut Rara Wulan berkata – Ya, ngger. Paman dan bibi akan pergi. –
    – Kemana ? –
    Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian -Ke kademangan sebelah, ngger. –
    – Nanti paman dan bibi kembali ? –
    Rara Wulan memandang Nyi Setraderma yang duduk disebelah Ki Setraderma. Sambil tersenyum Nyi Setraderma itupun berkata – Jika persoalannya sudah selesai, bibi akan kembali. Tetapi jika belum, bibi akan menyelesaikan dahulu. –
    Anak itu mengerutkan dahinya Hampir diluar sadarnya anak itupun bertanya – Jika orang jahat itu kembali lagi ? –
    – Tidak – sahut Glagah Putih – orang itu tidak akan kembali lagi. Seandainya ia kembali, maka Ki Bekel dan tetangga-tetangga akan datang mengusirnya –
    Anak itu tidak bertanya lagi Tetapi nampaknya ia sangat kece¬wa bahwa paman dan bibi yang baik itu akan pergi meninggalkan rumah mereka
    Namun Glagah Putih dan Rara Wulan memang tidak dapat lagi menunda keberangkatan mereka Setelah makan dan beristirahat seben¬tar, maka Glagah Putih dan Rara Wulan itupun minta diri.
    Rara Wulan mencium kening anak ketiga yang masih duduk ditempatnya Kemudian mengusap yang lain yang masih tertidur.
    – Anak ini ngompol, mbokayu – desis Rara Wulan ketika ia menyentuh anak Ki Setraderma yang keenam.
    – Sudah tiga malam ia tidak ngompol. Kemarin ia tentu terlalu banyak berlari-larian.
    Rara Wulan tersenyum. Tetapi anak yang ngompol itu sama sekali tidak tergerak untuk bangun.
    Demikianlah sejenak kemudian, maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun telah keluar dari regol halaman rumah Ki Setraderma Kedua orang suami isteri itu mengantar mereka sampai di regol Bahkan anaknya yang ketiga, ternyata sudah turun pula dari amben dan berlari-lari ke regol halaman pula
    – Nanti kembali ya bibi – anak itu berteriak.
    Rara Wulan dan Glagah Putih berpaling. Diangkatnya tangannya sambil tersenyum.
    Anak itu berdiri termangu-mangu. Bersama ayah dan ibunya ia menatap punggung Glagah Putih dan Rara Wulan yang semakin lama menjadi semakin jauh.
    Embun pagi masih menetes dari dedaunan yang basah. Jalan-jalan masih sepi. Di satu dua halaman terdengar suara sapu lidi serta in¬duk ayam yang memanggil anak-anaknya turun dari kandangnya Sekali-sekali terdengar ayam jantan berkokok disela-sela kotek ayam betina yang saling bekejaran.
    Langitpun semakin menjadi cerah. Burung-burung liar berkicau bersahutan menyambut datangnya hari yang baru kelanjutan hari ke¬marin.
    Ki Setraderma, isterinya dan anaknya yang ketigapun kemudian masuk kembali ke regol halaman rumahnya menyeberangi halaman de¬pan dan masuk ke ruang dalam.
    Sambil naik ke amben besar di ruang dalam itu, anak ketiga Ki Setraderma bertanya — Ayah. Apakah paman dan bibi itu saudara ayah atau ibu? —
    Ki Setraderma menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian -Kita dan semua orang seharusnya merasa bersaudara –
    – Tetapi dengan orang-orang jahat itu ? –
    – Biarlah mereka yang merasa dirinya tidak bersaudara dengan kita Bukan kita. –
    Anak itu mengerutkan dahinya Ia tidak mengerti maksud ayah¬nya Tetapi ia tidak bertanya. Bahkan kemudian iapun telah kembali membaringkan dirinya diantara saudara-saudaranya.
    – He, kenapa kau tidur lagi ? – bertanya ibunya. Anak itu tidak menyahut
    – Matahari sudah hampir terbit Bangun. Cuci mangkuk yang ko¬tor itu. Biarlah kakakmu mengisi jambangan pakiwan dan menyapu hala¬man.-
    Anak itu tidak menjawab. Tetapi ia masih saja berbaring. Tetapi matanya tetap terbuka.
    Ketika saudaranya yang kedua terbangun, anak itupun berkata -Paman dan bibi sudah pergi. –
    -He?-
    – Paman dan bibi sudah pergi. Baru saja. –
    Anak yang kedua itu segera bangkit. Ia memang tidak melihat Glagah Putih dan Rara Wulan.
    – Kau melihat paman dan bibi itu pergi ? –Ya-
    – Bohong. –
    – Aku mengantarnya sampai ke regol bersama ayah dan ibu. –
    – Kenapa tidak kau bangunkan aku ? –
    – Aku lupa –
    Anak itu termenung sejenak. Namun kemudian terdengar suara ibunya – Bangun. Kerjakan tugas kalian masing-masing. –
    Ketika anaknya yang pertama bangun, maka yang pertama-tama ditanyakan adalah – Apakah ayah hari ini juga akan pergi ke kedai ? –
    Ibunya termangu-mangu sejenak. Namun ibunya itupun kemudi¬an bertanya kepada ayahnya – Kau akan pergi ke kedai, kang ? –
    Ki Setraderma menggeleng. Katanya – Hari ini tidak. Aku akan berada di rumah. Entahlah, apakah aku masih akan pergi ke kedai atau tidak. –
    – Aku setuju, kang. Pemilik kedai itu ternyata orang yang licik. Ia sudah melemparkan nasib buruknya kepadamu. Kau telah dijadikan kambing hitam untuk mencari selamat –
    Ki Setraderma mengangguk.
    – Semua orang memang berhak mencari selamat Tetapi tidak de¬ngan mengorbankan orang lain. Karena itu, kang. Biarlah kau untuk se¬mentara di rumah saja. Ketela pohon kita di kebun belakang juga sudah waktunya dicabut Jagung di pategalan juga sudah cukup tua. Sementara menunggu panen, padi di lumbung, ketela pohon di kebun belakang dan jagung di pategalan, agaknya akan mencukupi, meskipun kita harus berhemat. Mungkin kakang lebih baik membantu kerja tetangga disawah dan ladang daripada menjadi pelayan kedai. Memang mungkin kerja di kedai lebih ringan. Tidak kepanasan. Makan sedikitnya dua kali sehari. Tetapi jika kakang hanya akan menjadi kambing hitam, lebih baik kakang tidak pergi saja –
    Ki Setraderma mengangguk sambil menjawab – Ya. Aku me¬mang tidak akan pergi. –
    – Kemarin uwa Parta mencari seseorang yang bersedia memo¬tong pohon nangka di halaman belakang rumahnya kang. Pohon nangka tua itu ditebang untuk dijadikan kerangka rumah. Uwa Parta akan menambah rumahnya satu wuwung lagi. Kecuali kayunya bisa dipakai untuk membuat beberapa tiang, perluasan rumahnya itu akan sampai ke pohon nangka itu pula –
    – Baiklah, Nyi. Nanti aku pergi ke rumah uwa Parta. Tetapi untuk menebang pohon nangka sebesar itu, aku memerlukan sedikitnya dua orang kawan lagi. Tetapi kerja sebagai seorang belandong pernah aku lakukan pula sehingga aku sudah cukup berpengalaman. –
    Ketika matahari memanjat semakin tinggi, maka Ki Setraderma-pun telah bersiap-siap untuk pergi ke rumah uwa Parta. Namun sebelum ki turun ke halaman, dua orang telah mendatanginya
    Ternyata pemilik kedai itulah yang datang, sambil membawa se¬buah bakul. Bahkan tidak sendiri. Ia datang bersama isterinya
    Keduanyapun kemudian dipersilahkan duduk ditemui oleh Ki Setraderma bersama isterinya.
    – Aku minta maaf, Setra – berkata pemilik kedai itu – aku sung¬guh-sungguh menyesal telah menjerumuskan kau kedalam kesulitan. Ji¬ka tidak ada kedua orang pengembara itu, mungkin kita sudah tidak akan pernah bertemu lagi, sehingga aku akan menyesali kesalahanku itu seu¬mur hidupku. –
    – Sudahlah kang. Kita lupakan saja apa yang telah terjadi. –
    Bagaimana aku dapat melupakan. Aku telah melakukan kesala¬han yang sangat besar, sehingga mengancam jiwamu. –
    – Tetapi bukankah aku tidak apa-apa ? Kang. Bukankah mati dan hidup seseorang itu sudah ada yang menentukan ? Kita tinggal men¬jalaninya. Lahir, kemudian mati. Adakah kita dapat merencanakannya. –
    – Kau benar Setra – pemilik kedai itu mengangguk-angguk. Se¬mentara itu isterinyapun berkata – Inilah Nyi. Aku membawa sedikit be¬ras dan kebutuhan dapur. –
    Nyi Setraderma beringsut sambil berdesis — Kenapa repot-repot, Nyi.—
    — Sekedar untuk anak-anak. —
    — Terima kasih, Nyi. Terima kasih sekali. —
    — Hanya inilah yang dapat aku bawa, Nyi. —
    — Itu sudah lebih dari cukup. Kami sekeluarga senang sekali menerima pemberian yang tentu sangat berarti bagi kami sekeluarga. —
    Istcri pemilik kedai itu tersenyum sambil berkata—Lain kali, mu¬dah-mudahan kami dapat membawa apa-apa lagi bagi anak-anak. Nyi, aku juga mempunyai banyak anak. Sehingga aku tahu, apa yang dibu¬tuhkan oleh anak-anak itu. —
    — Terima kasih. Tetapi ini sudah cukup. Lain kali kami tidak usah merepotkan lagi. —
    — Tidak apa-apa. Kami sama sekali tidak merasa repot. —
    Nyi Setraderma menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat berkata apa-apa lagi, sehingga karena itu, maka iapun terdiam.
    Yang kemudian berbicara adalah pemilik kedai itu — Setraderma. Kedatanganku selain untuk menengok keadaanmu sekeluarga serta minta maaf atas sikapku itu, aku juga ingin menyampaikan harapan agar kau masih bersedia bekerja sama dengan kami sekeluarga di kedai itu. Aku berjanji untuk tidak berbuat kesalahan lagi, apalagi yang dapat mence-lakakanmu dan mengancam jiwamu. —
    Ki Setraderma menarik nafas dalam-dalam. Katanya — Maaf, kang. Sampai saat ini aku masih belum sempat memikirkan, kapan aku dapat mulai bekerja lagi. Untuk sementara aku ingin beristirahat. Aku ingin benar-benar melupakannya. —

  41. Api Dibukit Menoreh
    Jilid IV -36🙂🙂🙂

    — Bukankah kau mengatakan, bahwa kita sebaiknya melupakan saja peristiwa itu. —
    — Ya. Tetapi yang aku maksudkan, kakang tidak usah merasa
    bersalah karenanya. —
    — Mungkin kita memang perlu beristirahat. Akupun akan beristi¬rahat untuk beberapa hari. Tetapi aku tetap minta kesediaanmu untuk bersedia bekerja bersama lagi. —
    — Aku akan memikirkannya, kang. —
    — Baiklah. Tetapi aku sangat berharap. —
    Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, suami isteri itupun minta diri. Pemilik kedai itu masih saja berpesan, agar Setraderma segera datang ke rumahnya, apabila ia sudah merasa cukup beristirahat.
    — Baik, kang. Tetapi aku tidak dapat berjanji, kapan aku akan datang kerumah kakang. —
    Sepeninggal pemilik kedai itu, Ki Setraderma bertanya kepada is-terinya—Kenapa kau terima pemberiannya? —
    — Aku juga merasa ragu-ragu, kang. Tetapi bagaimana aku dapat menolak pemberian yang ikhlas itu.
    — Kau kira mereka memberikannya dengan ikhlas? —
    — Maksudmu? —

    — Mereka ingin menghapus kesalahannya. Merekapun ingin aku bekerja lagi kepada mereka Agaknya mereka akan kesulitan untuk men¬cari tenaga baru. Jarang orang yang mau menjadi pelayan sebuah kedai. Jika ada yang bersedia, mereka tidak bekerja dengan rajin dan sepenuh hati. Seorang pelayan kedai juga harus tahu unggah-ungguh dan bersikap baik kepada para tamu. —
    — Mungkin kakang benar. Tetapi mereka berikan bawaan mereka itu dengan ikhlas. Seandainya ada pamrih seperti yang kakang katakan, itupun masih wajar. Mereka tidak mau selalu dibayangi oleh kesalahan yang pernah mereka lakukan. Dengan pemberiannya, mereka akan merasa setidak-tidaknya kesalahan itu telah disusut. Bukankah kita telah berbuat satu kebaikan dengan memperingan beban perasaan seseorang? Sedangkan harapan mereka agar kakang kembali bekerja kepada mereka itupun wajar pula. Kakang orang yang tidak banyak menuntut, rajin te¬kerja dan sudah berpengalaman, sehingga tidak perlu mengajarinya lagi.
    Ki Setraderma menarik nafas dalam-dalam. Kemudian iapun men¬gangguk-angguk sambil berdesis—Kau benar, Nyi. —
    — Tetapi kakang memang harus mempertimbangkan masak-masak, apakah kakang akan menerima tawaran itu atau tidak. —
    — Aku masih mempunyai waktu, Nyi. Aku tidak tergesa-gesa memberi jawaban. —
    —Nah, sekarang apakah kakang masih ingin pergi ke rumah uwa Parta —
    —Ya Nyi. Aku akan pergi ke rumah uwa Parta Aku ingin menco¬ba, apakah aku masih seorang belandong yang baik setelah untuk bebera¬pa lama aku hanya bersentuhan dengan mangkuk nasi dan minuman ser¬ta makanan. Apakah tangan-tanganku masih tetap terampil men¬gayunkan kapak. —
    Sejenak kemudian, maka Ki Setraderma itupun telah turun ke jalan di depan rumahnya. Kemudian melangkah menelusuri jalan padukuhan menuju ke rumah uwa Parta
    Dalam pada itu, jauh di luar padukuhan, bahkan sudah diantara oleh beberapa bulak dan padukuhan, Glagah Putih berjalan bersama Rara Wulan di atas jalan berdebu. Panas matahari semakin lama terasa se¬makin terik, menyengat tubuh mereka
    Dilangit nampak sekelompok gelatik terbang dengan cepat ke Tenggara.
    — Padi sudah tua di sana—desis Rara Wulan.
    — Ya. Burung gelatik itu seperti diundang berbondong-bondong menuju ke sana —
    Rara Wulan memandang sekelompok burung glatik itu sampai hilang ditelan birunya langit.
    Keduanyapun kemudian meneruskan perjalanan mereka. Dipanasnya sinar matahari, maka debupun terhambur dihembus angin.
    Seorang penunggang kuda melarikan kudanya melintas di jalan yang lengang itu. Penunggangnya memperlambat derap kaki kudanya ketika orang berkuda itu berpapasan dengan Glagah Putih dan Rara Wulan.

    Bahkan kuda itupun kemudian berhenti. Tanpa turun dari ku¬danya, penunggangnyapun bertanya – Ki Sanak. Dimanakah letak pasar Banyuanyar ?-
    Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Baru sesaat kemudian iapun menjawab – Jalan ini akan sampai ke pasar Banyuanyar, Ki Sanak. Kami juga dari Banyuanyar.-
    —Apakah pasar Banyuanyar itu cukup ramai ?-
    —Ki Sanak belum pernah pergi ke pasar Banyuanyar ?-
    —Jika aku pernah pergi ke sana, aku tentu tidak akan bertanya kepadamu.-
    —O – Glagah Putih mengangguk-angguk – pertanyaan yang
    bodoh. –
    Penunggang kuda itu tidak menyahut Sementara Glagah Putih-pun berkata pula – Pasar Banyuanyar cukup ramai di hari pasaran, Ki Sanak. Tetapi dihari-hari lainpun pasar itu banyak dikunjungi orang.-
    Orang itu mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja ia bertanya – Untuk apa kalian membawa pedang dilambung ?-
    Pertanyaan itu memang mengejutkan. Sejenak Glagah Putih ter¬mangu-mangu. Namun kemudian Rara Wulanlah yang menyahut – Kami akan menempuh perjalanan jauh, Ki Sanak. Mungkin disepanjang per¬jalanan, kami memerlukan pedang. –
    — Maksudmu, untuk melindungi diri ?-
    — Ya-
    Orang berkuda itu tertawa. Katanya – Kau salah. Pedang kadang-kadang justru mengundang malapetaka.-
    —Tetapi Ki Sanak juga membawa senjata meskipun bukan pedang. Tetapi keris yang besar itu sama saja artinya dengan sebilah pedang.-
    Penunggang kuda itu masih tertawa Katanya – tetapi aku yakin, , bahwa kerisku ini mampu melindungi diriku,-
    Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun dengan ragu-ragu iapun berkata – Maksud kami, daripada tidak bersenjata apa-apa Se¬andainya kami bertemu dengan orang jahat maka dengan pedang, kami akan melawannya-
    —Penjahat itu akan terpancing untuk mempergunakan sen¬jatanya pula. Nah, bukankah pedangmu itu akan dapat memperpendek umurmu. Sebenarnya penjahat itu tidak ingin menyakitimu. Tetapi kare¬na kau berpedang dan bahkan telah berusaha melukainya maka penjahat mi sengaja atau tidak sengaja dapat membunuhmu.-
    Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya – Kau benar, Ki Sanak. Tetapi kami merasa lebih tenang berjalan dengan membawa pedang di lambung,-
    Orang itu mengangguk-angguk. Katanya – Baiklah. Tetapi berhati-hatilah dengan pedang kalian. Jangan terlalu mudah mencabut pedang kalian itu.-
    —Terima kasih atas peringatanmu, Ki Sanak. Kami dapat mengerti sepenuhnya-
    Penunggang kuda itupun kemudian menggerakkan kendali ku¬danya sambil berkata – Terima kasih, Ki sanak. Aku akan pergi ke pasar Banyuanyar.-
    Sejenak kemudian kuda itupun telah berlari dengan kencangnya menuju ke pasar Banyuanyar.
    —Apakah yang akan dilakukannya ? – desis Rara Wulan.
    —Mudah-mudahan orang itu tidak melakukan kekerasan apapun alasannya – sahut Glagah Putih.
    Keduanyapun kemudian telah melanjutkan perjalanan mereka di bawah teriknya sinar matahari.
    Ketika mereka sampai di simpang ampat, mereka melihat seorang perempuan yang sedang memanjat pohon turi untuk mengambil bunganya. Bahkan merambat sampai ke cabang-cabang yang terhitung kecil.
    Di luar sadarnya, ketika sebuah cabang yang diinjak oleh kaki perempuan itu berayun, Rara Wulan berkata – Yu. Hati-hatilah. –
    Perempuan yang memanjat itu berpaling. Ketika ia melihat Glagah Putih dan Rara Wulan, maka iapun berkata – Kayu turi adalah kayu yang liat Jangan takut kalau aku akan jatuh. Kerja ini adalah kerjaku sehari-hari –
    — Siang-siang begini, mbokayu memetik bunga turi. –
    — Anakku senang sekali bunga turi yang direbus. Kemudian di¬makan dengan sambal gula kelapa. Jika ia tidak berselera untuk makan, maka ia selalu minta aku merebus bunga turi.-
    — Anak mbokayu itu laki-laki atau perempuan ?
    — laki-laki. –
    — Kenapa ia tidak memanjat sendiri ?-
    — Memanjat sendiri ? Anakku belum genap berumur lima
    tahun.-
    —O. Masih terlalu kecil Tetapi ia sudah menggemari bunga turi dengan sambal.-
    —Anakku selalu makan dengan sambal. Sambal apa saja. Sam¬bal gula kelapa, sambal terasi, sambal jenggot, sambal lombok goreng, pokoknya sambal apa saja asal pedas.
    —Apakah perutnya tidak terganggu ?-
    Perempuan yang masih berada di dahan pohon turi itu tertawa. Katanya—Sudah sejak masih merangkak anakku sudah sering makan sambal tanpa terganggu perutnya. Anakku tidak pernah sakit perut karena sambal.—
    Glagah Putih dan Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam. Mereka masih berdiri dilemparnya sambil memandangi perempuan yang dengan terampil memetik bunga turi di ujung-ujung dahan.
    —Kau dapat melakukannya?—bertanya Glagah Putih.
    — Aku belum pernah mencoba.—
    — Kau pernah berlatih diatas sebuah amben yang sudah hampir
    roboh. Ternyata kau mampu melakukannya tanpa mematahkan kakinya yang sudah rapuh itu. —
    Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam. Namun sebenarnyalah bahwa timbul niatnya untuk melakukannya pada kesempatan yang lain.
    —Nanti, jika disebelah padukuhan itu ada pohon turi. —
    — Pemiliknya akan marah. Dikiranya kau akan mengambil bun¬ganya tanpa seijinnya —
    — Apakah pohon turi yang tumbuh diatas tanggul parit itu ada yang punya —
    — Tentu saja, Rara Yang punya adalah pemilik sawah disebelah-nya —
    Rara Wulan mengangguk-angguk.
    —Kecuali jika kita mencoba pada dahan pepohonan di pinggir
    hutan —
    — Kita tidak tahu, apakah dahannya lentur dan liat seperti dahan pohon turi.—
    Glagah Putih mengangguk-angguk pula Sementara itu, Keduanyapun telah melanjutkan perjalanan mereka
    Terik matahari terasa menyengat tubuh ketika matahari itu justru sudah melintasi puncaknya. Glagah Putih dan Rara Wulan masih saja berjalan menyusuri bulak. Jika mereka melintas dibayangan pepohonan yang rimbun yang tumbuh di pinggir jalan, terasa sejuknya seakan-akan menyusup kulit Namun kemudian, jika mereka kembali memasuki terik matahari, rasa-rasanya mereka dipanggang diatas bara
    Sekali-sekali mereka memasuki padukuhan-padukuhan yang lengang. Yang terdengar adalah suara orang menumbuk padi dalam ira¬ma yang ajeg. Sekali-sekali terdengar lenguh lembu dan kokok ayam jan¬tan di halaman.
    Rupa-rupanya anak-anak malas keluar rumah untuk bermain di udara yang panas itu.
    Di halaman sebuah rumah yang tidak terlalu luas, Glagah Putih dan Rara Wulan melihat seorang perempuan yang duduk di atas tangga di de¬pan pintu sambil menyuapi mulut anak bayinya dengan paksa Perem¬puan itu tidak menghiraukan bayinya yang menjerit-jerit
    —Anak itu—desis Glagah Putih. —
    —Kebiasaan yang juga sering aku lihat di Tanah Perdikan Menoreh — sahut Rara Wulan — anak itu disuapi dengan nasi yang dilumatkan dicampur dengan gula kelapa—
    —Kenapa ibunya tidak menunggu anak itu diam? —
    —Anak itu tidak akan mau makan jika tidak dipaksa — Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi.
    Bahkan langkah kakinya menjadi semakin cepat agar tangis bayi itu , tidak lagi terdengar keras sekali
    Dekat diujung jalan didalam padukuhan itu, terdapat sebuah rumah yang lebih besar dari rumah yang lain. Di depan regol terdapat sebuah gentong berisi air bersih. Sebuah siwur tempurung kelapa terletak diatas gentong yang tertutup mangkuk yang terbuat dari tanah liat
    Seorang perempuan tua yang kehausan, telah minum air dari gentong itu.
    Ketika mereka keluar dari gerbang padukuhan, maka kembali mereka memasuki teriknya sinar matahari. Demikian panasnya sehingga udara dialas jalan yang membujur panjang itu bagaikan menguap.
    —Mudah-mudahan kita menemukan sebuah kedai, meskipun kedai itu kecil saja—desis Rara Wulan.
    — Atau sebaliknya. Meskipun kedai itu kedai yang besar. Bukankah terbiasa bagi kita untuk masuk kedalam kedai yang kecil? — sahut Glagah Putih.
    —Sama saja, kan?—bertanya Rara Wulan. —Ada bedanya. —
    Rara Wulan mengerutkan dahinya. Tetapi ia tidak sempat memikirkan perbedaannya.
    Ketika mereka melintasi sebuah bulak yang tidak begitu luas, maka mereka telah memasuki sebuah padukuhan yang lain. Beberapa puluh langkah dari gerbang padukuhan, mereka menjumpai sebuah kedai yang tidak begitu besar. Di kedai itu dijual pula kebutuhan sehari-hari selain makanan dan minuman.
    Disebelah kedai itu terdapat sebuah halaman yang luas. Dua buah pedati nampak berhenti di halaman yang luas itu. Bahkan lembunya telah dilepas dan diikat pada sebatang pohon kelapa yang banyak terdapat di halaman itu.
    —Nampaknya halaman itu memang tempat pemberhentian pedati — desis Rara Wulan—lihat saja bekas rodanya yang membuat lekuk-lekuk di tanah. Jika hujan turun, maka halaman itu akan menjadi halaman yang sangat becek.—
    —Ya. Nampaknya halaman itu memang tempat pemberhentian
    pedati—sahut Glagah Putih.
    Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian keduanyapun menapak memasuki pintu kedai itu.
    Didalam kedai itu ternyata sudah ada beberapa orang yang duduk sambil berbincang. Ketika Glagah Putih dan Rara Wulan masuk, mereka berpaling sejenak. Namun kemudian mereka tidak menghiraukan lagi.
    Justru karena itu, maka Glagah Putih dan Rara Wulan merasa tenang duduk di sudut kedai itu. Mereka duduk disebuah lincak yang panjang disebelah geledeg bambu.
    – Agak kurang bersih – bisik Rara Wulan.
    Glagah Putih memang melihat bahwa pemilik kedai itu agaknya kurang memperhatikan kebersihan kedainya. Di lantai terserak beberapa lembar daun pisang bekas bungkus makanan. Disudut nampak sarang laba-laba yang agaknya sudah cukup lama tidak dibersihkan. Asap yang kehitam-hitaman disekitar perapian dan beberapa kesan lainnya yang menjadikan kedai itu nampak kurang terawat
    Demikian keduanya duduk, maka seorang perempuan yang su¬dah separo baya mendatangi mereka sambil bertanya – Minum ? Makan ?
    Rara Wulan mengerutkan dahinya. Ketika ia beringsut setapak, Glagah Putih menggamitnya. Bahkan Glagah Putih menjawab – Ya, bibi.
    Perempuan itu tidak bertanya apa-apa lagi. Ia langsung pergi menyampaikan pesan itu kepada pemiliknya.
    Dituangkannya minuman dan disenduknya nasi dengan sayur dan lauknya. Kemudian perempuan separo baya itulah yang menghidangkannya kepada Glagah Putih dan Rara Wulan.
    Rara Wulan mengamati minuman yang masih hangat itu dengan kerut diriahi. Demikian pula nasi yang nampaknya sudah dingin.
    – Kenapa ? – bertanya Glagah Putih hampir berbisik.
    – Aku jadi ragu-ragu – desis Rara Wulan – nampaknya juga tidak bersih seperti ruang kedainya ini. –
    – Kau membayangkan yang bukan-bukan. Makanlah. Ini masih lebih baik daripada kita menangkap buruan di hutan perdu atau menangkap ikan di sungai, mengasapinya dan kemudian makan sambil duduk di bawah sebatang pohon gayam. –
    Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudi¬an tersenyum sambil berkata- Baiklah. Kita akan makan. –
    Keduanyapun kemudian menghirup minuman mereka yang masih hangat Wedang jahe.
    – Segar juga wedang jahenya – desis Glagah Putih.
    – Manis sekali – sahut Rara Wulan.
    Glagah Putih mengerutkan dahinya. Dipandanginya seisi ruang di kedai itu.
    – Kau lihat keranjang-keranjang itu ? –Ya-
    – Isinya tentu gula kelapa Agaknya padukuhan ini menghasilkan banyak sekali gula kelapa –
    Rara Wulan mengangguk-angguk. Katanya – Ya Disini banyak sekali pohon kelapa Di halaman sebelah saja ada berapa puluh batang pohon kelapa Disetiap kebun dan barangkali di padukuhan ini terdapat kebun kelapa pula-
    – Sebagian dari pohon kelapa itu agaknya disadap legennya untuk membuat gula kelapa –
    – Dan pedati-pedati itu adalah pedati dari para pedagang gula ke¬lapa Mereka membeli gula kelapa disini dan dibawa ke pasar didaerah yang kekurangan gula kelapa –
    – Tidak hanya gula –
    – Apalagi ? –
    – Kelapa –
    Keduanya terdiam. Mereka melihat tiga orang mendorong se¬buah keseran yang bermuatan kelapa kering.
    – Mungkin pedati-pedati itu akan membawa gula, tetapi mungkin juga kelapa untuk dibuat minyak kelapa –
    Keduanya mengangguk-angguk. Untuk sesaat mereka terdiam karena mereka sedang menyuapi mulut mereka.
    – Masakannya juga terlalu manis – desis Rara Wulan pula
    – Terlalu manis dan terlalu pedas – desis Glagah Putih yang kepedasan.
    Namun keduanyapun terdiam ketika mereka melihat seorang yang gemuk memasuki kedai itu bersama dua orang laki-laki yang bertubuh tinggi tegap.
    Orang yang bertubuh gemuk itu terkejut ketika ia melihat orang-orang yang sudah berada didalam kedai itu.
    – Kau, Wirog – desis orang yang bertubuh gemuk itu. Seorang diantara beberapa orang yang sudah duduk dikedai
    itupun bangkit berdiri pula Nampaknya orang itu juga terkejut. Bahkan beberapa orang yang lain.
    – Den Bera – desis orang yang dipanggil Wirog itu.
    – Jangan panggil aku Bera Panggil namaku. –
    – Bukankah namamu Bera –
    – Tidak. Namaku Sumunar. –He?-
    – Kenapa?-
    -Sejak kapan namamu berubah ?-
    – Ayah dan ibuku memberi nama kepadaku Sumunar, kau dengar. Karena itu, jangan panggil aku Bera –
    – Kau juga memanggilku sesuka hatimu. –
    – Namamu sejak kecil juga Wirog. –
    – Tidak. Itu sekedar paraban. Namaku Basmi –
    – Persetan dengan namamu. Aku sudah terbiasa memanggilmu Wirog.-
    Orang yang dipanggil Wirog itu termangu-mangu. Namun kemudian iapun bergumam — Kau memang aneh. Kau minta dipanggil menurut kehendakmu. Tetapi kau memanggil orang lain sesukamu. Jika kau tetap memanggil parabanku, aku juga akan tetap memanggilmu Den Bera. Raden Bera.—
    – Persetan kau Wirog. Sekarang katakan, untuk apa kau datang kemari.-
    – Aku membeli kelapa kering. Aku membuat minyak kelapa dirumah,-
    – Kau telah melanggar hakku.-
    – Melanggar hakmu ? Hak apa ?-
    – Sejak beberapa tahun, akulah pembeli tunggal disini. Akulah yang membeli kelapa kering serta gula kelapa dari penghuni padukuhan ini. Tiba-tiba sekarang kau juga muncul disini.-
    – Darimana kau mendapatkan hak itu, Den Bera Siapakah yang telah memberikan hak kepadamu untuk menjadi pembeli tunggal di padukuhan ini ?-
    – Wirog. Kau sudah menyaingi aku di pasar Pandean. Sekarang kau datang kemari untuk menyaingi aku pula.-
    – Den. Ketahuilah, bahwa aku sama sekali tidak sengaja menyaingimu. Di pasar Pandean aku bertemu dengan seseorang yang tinggal di padukuhan ini Orang itu menawarkan kelapa dan gula kelapa. Nampaknya harganyapun sesuai Karena itu, aku datang kemari-
    – Apakah orang itu tidak mengatakan, bahwa aku adalah pembeli tunggal disini ?-
    – Tidak. Bahkan nampaknya orang itu telah menawarkan kepada orang lain pula Bukankah dengan demikian berarti bahwa ia tidak ingin kau menjadi pembeli tunggal disini ? Dengan demikian, maka ada orang lain untuk memperbandingkan harga-
    – Siapa orang itu he ?-
    Orang yang dipanggil Wirog itupun termangu-mangu sejenak. Kemudian iapun berkata – Aku tidak dapat mengatakannya. Nampaknya kau tidak senang ada orang lain yang datang untuk membeli kelapa dan gula kelapa Jika aku menyebut namanya agaknya orang itu akan dapat mengalami kesulitan.-
    – Wirog. Jika kau tidak mau menyebut namanya untuk menghin¬dari kesulitan, maka kaulah yang akan mengalami kesulitan.-
    – Kenapa ?-
    – Aku akan mengusirmu. Jangan kembali lagi kemari. Nam¬paknya kau berani membeli kelapa dan gula kelapa dengan harga yang lebih tinggi dari harga yang aku tentukan,-
    – Kenapa kau mengambil kesimpulan seperti itu ?-
    – Dua orang telah menipuku.-
    – Menipu ?-
    – Mereka mengatakan bahwa kelapa mereka belum tua. Bahkan ada yang tidak berbuah karena dimakan hama Merekapun tidak mem¬punyai gula pula Pohon kelapa mereka yang dimakan hama itu, manggarya telah rusak dan tidak dapat disadap.-
    – Mungkin mereka tidak berbohong. Apalagi berniat menipumu. Sedangkan kemungkinan yang lain, kau terlalu rendah memasang harga-
    – Persetan semuanya itu. Tentu kaulah yang membuat harga-har¬ga naik disini. Seorang yang lain telah minta aku menaikkan harga. Tetapi aku tidak mau. Aku akan membeli dengan harga yang sudah aku tetapkan.-
    – Agaknya kau terlalu banyak mengambil keuntungan. Dengan harga yang aku pasang, yang barangkali memang lebih tinggi dari harga¬mu, aku masih mendapat keuntungan yang cukup. Pedati yang aku sewa aku bayar dengan harga sewa yang pantas. Orang-orang yang memban¬tuku aku upah dengan upah yang pantas pula-
    – Wirog. Ingat ini. Aku tidak mau disaingi. Jika kali ini kau sudah terlanjur membayar kelapa dan gula kelapa yang kau beli, bawalah pergi. Tetapi lain kali jangan kembali lagi-
    – Den Bera – berkata orang yang dipanggil Wirog itu – kita dapat berunding. Kita dapat menentukan harga bersama-sama Tentu saja harga yang pantas, agar kita tidak bersaing. Tetapi jika harga kita terlalu rendah, maka akan ada orang lain lagi yang datang dan berani membeli dengan harga yang lebih tinggi dari harga kita-
    – Aku tidak mau. Sekali lagi aku ingatkan, jangan kembali. Orang lainpun tidak akan aku perbolehkan datang kemari untuk membeli kelapa dan gula kelapa-
    – Den. Kenapa kau melarangku datang kamari ?-
    – Sudah aku katakan. Aku tidak mau disaingi.-
    – Caramu tidak dapat dibenarkan, Den Bera. Jika kau menjadi pembeli tunggal, maka kau dapat menentukan harga semaumu. Semen¬tara kau mendapat untung yang berlebihan, orang-orang padukuhan ini mengeluh karena harga yang kau tentukan tanpa ada perbandingan, ter¬lalu rendah. Sebaiknya marilah kita berdagang bersama-sama. Kau dan aku sama-sama mencari keuntungan tanpa mencekik penghuni padukuhan ini-
    – Wirog. Kau telah meracuni ketenangan hidup orang-orang padukuhan ini. Kedatanganmu akan dapat menimbulkan gejolak yang mengguncang ketenteraman dan kedamaian di padukuhan ini. Karena itu, pergilah dan sekali lagi aku peringatkan, jangan kembali lagi. Jika kau kembali, maka selanjutnya kau tidak akan pernah dapat keluar lagi dari padukuhan ini.-
    – Kau mengancam aku. Den Bera ?-
    Orang gemuk yang diikuti oleh kedua orang pengawalnya yang tinggi dan besar itu mengerutkan dahinya. Kemudian dipandangnya orang yang dipanggilnya Wirog itu dengan tajamnya Katanya dengan suara bergetar – Ya. Aku mengancammu. Karena itu, pergilah. Se¬lambat-lambatnya nanti saat senja turun. Jika malam nanti aku masih melihat kau disini maka aku akan membunuhmu. Aku tidak mau jalan perdaganganku kau rusak disini sebagaimana di pasar Pandean,-
    – Den Bera. Kau jangan mengancam aku seperti itu. Itu tidak ada gunanya Sebaiknya kita bicarakan saja apa yang baik kami lakukan. Ki¬ta dapat merundingkan harga yang pantas. Kita dapat membagi dagangan yang dapat diambil dari padukuhan ini.-
    – Tidak, kau dengar. Sekali lagi aku peringatkan. Aku tidak mau melihatmu lagi lewat senja. Kau harus pergi. Aku tahu, bahwa nanti pe¬datimu akan datang untuk mengambil dagangan yang sudah berhasil kau kumpulkan. Bawa semuanya yang sudah terlanjur kau beli itu. Tetapi ja¬ngan kembali.-
    – Kau benar. Nanti disore hari dua pedatiku akan datang kemari. Tetapi aku tidak akan pergi meskipun senja turun. Malam ini aku akan bermalam disini. Baru esok, didini hari kedua pedatiku itu akan mening¬galkan padukuhan ini langsung ke pasar Sambilegi yang besok jatuh pada hari pasaran.-
    – Setan kau Wirog. Renungkan kata-kataku. Jika kau tidak mau mendengarkan kata-kataku, maka kau akan menyesal seumur hidupmu. Kau tidak akan pernah pulang kepada keluargamu.-
    Wirog tidak menghiraukan lagi. Iapun telah duduk kembali diantara beberapa orang kawannya Sementara itu orang yang dipanggilnya Den Bera namun mengaku bernama Sumunar itu menghentakkan tan¬gannya sambil menggeram – Kau telah meremehkan aku, Wirog. Kau akan menyesal.-
    Orang yang dipanggilnya Wirog itu menyahut – Kita mempunyai hak yang sama disini, Den Bera Bahkan kalau ada orang lain lagi dalang, iapun mempunyai hak yang sama pula-
    Orang yang dipanggil Den Bera itu menggeram. Namun kemudi¬an iapun memberi isyarat kepada kedua orang pengawalnya untuk meninggalkan kedai itu.
    Glagah Putih dan Rara Wulan yang duduk disudut kedai itu mengikuti pembicaraan kedua orang itu dengan tegang. Namun, ketika orang gemuk itu pergi, rasa-rasanya dada merekapun menjadi lapang.
    – Tetapi persoalannya masih belum selesai – berkata Rara Wulan hampir berbisik.
    – Ya – Glagah Putih mengangguk-angguk – benturan kekerasan masih saja dapat terjadi. Hanya tertunda untuk sementara.-
    Sambil meneguk minumannya Rara Wulan memandangi orang yang disebut Wirog dan kawan-kawannya. Iapun menggamit Glagah Putih yang sedang sibuk menghabiskan nasinya. Beberapa saat ia berhen¬ti makan ketika terjadi pembicaraan yang tegang itu.
    Glagah Putihpun mengangkat wajahnya. Iapun melihat orang-orang itu bangkit berdiri.
    Glagah Putih dan Rara Wulan menjadi berdebar-debar ketika ia melihat Wirog itu mendekati mereka. Selangkah dari Glagah Putih orang itu berhenti Sambil tersenyum iapun berkata – Jangan cemas, anak muda. Kau melihat perselisihan yang terjadi ? Tetapi itu semata-mata masalahku dengan Raden Sumunar yang lebih sering disebut Den Bera, yang memanggil aku seenak perutnya sendiri. –
    Glagah Putihpun menyahut – Ya, paman. Tetapi aku ikut menjadi tegang.-
    Orang yang dipanggil Wirog itupun tersenyum. Katanya kemu¬dian – Namaku Basuri Aku lebih senang kau memanggilku paman Basuri daripada paman Wirog. Kau tentu tahu, bahwa Wirog adalah sejenis tikus yang besarnya sama dengan tupai. Bahkan ada yang lebih besar. Tentu saja Sumunar itu bermaksud merendahkan aku dengan panggilan¬nya itu.-
    – Ya, paman.-
    – Nah, jika kau sudah selesai, sebaiknya kau tinggalkan padukuhan ini, agar kau tidak ikut tersentuh persoalan yang seharusnya terbatas sekali Antara aku dan Raden Sumunar yang ingin menjadi pem¬beli tunggal di padukuhan ini-
    Dalam pada itu terdengar suara seorang perempuan, namun cukup tegas – Jangan berselisih di kedaiku. Apalagi berkelahi disini. Be¬berapa hari yang lalu ada orang yang berkelahi di kedai ini. Sebuah lincakku rusak. Beberapa buah mangkuk pecah. Tidak ada yang merasa wa¬jib mengganti kerusakan itu.-
    – Tidak, yu – jawab Basuri – aku akan pergi. Jika aku harus berke¬lalu, aku akan berkelahi di halaman sebelah yang cukup luas. –
    Basuri dan beberapa orang kawannyapun kemudian mening¬galkan kedai itu. Sementara Glagah Putih dan Rara Wulan masih belum selesai, karena beberapa kali mereka harus berhenti makan.-
    Pemilik kedai itu, seorang perempuan yang juga sudah separo baya sebagaimana pelayannya itupun kemudian berkata kepada Glagah Putih dan Rara Wulan – Kalian cari apa disini anak-anak muda. Cari penyakit ?-
    – Kami hanya sekedar lewat, bibi.-
    Orang itu mencibirkan bibirnya. Katanya – Banyak orang gila disini. Orang gemuk yang mengaku bernama Sumunar itupun orang gila pula.-
    Glagah Putih dan Rara Wulan saling berpandangan sejenak. Dengan ragu-ragu Glagah Putih bertanya— Kenapa, bi?—
    – Ia memang pembeli tunggal selama ini. Ia menentukan harga sekehendaknya sendiri. Keuntungannya lebih besar dari pendapatan orang-orang padukuhan ini, yang mempunyai tanah, menanam dan memelihara pohon kelapa itu. –
    – Sedangkan orang yang dipanggil Wirog itu ? –
    – Ia orang baru bagi kami. Aku belum tahu, apakah ia juga gila atau tidak. Tetapi menilik kata-katanya, ia agaknya lebih waras daripada Sumunar itu. Tetapi entahlah kelak jika ia berhasil menyingkirkan Sumu¬nar. Apakah ia juga akan menjadi gila seperti Sumunar. –
    – Kenapa orang-orang padukuhan ini membiarkan hasil kebun¬nya dibeli oleh Sumunar dengan harga yang murah, bibi ? – bertanya Rara Wulan.
    – Orang-orang padukuhan ini tidak mempunyai pilihan. Tidak ada orang lain yang mau membelinya. Kedatangan orang yang disebut Wirog itu mungkin dapat membawa angin baru. Tetapi nampaknya umur Wirog itupun hanya akan sampai malam nanti. –
    – Kenapa ? –
    – Sebelum Wirog juga pernah ada orang yang datang untuk mem-U*li kelapa dan gula. Sumunar juga menemuinya dan memperingatkan¬nya sebagaimana kepada Wirog itu tadi. Tetapi orang itu tidak mau mendengarnya. Ternyata menjelang pagi, orang menemukan mayatnya dan tiga orang pengawalnya di mulut lorong. –
    – Sumunar yang membunuhnya ? –
    – Ya. Kau lihat ia membawa orang-orang upahan yang ganas. Yang dibawanya kemari hanya dua orang. Tetapi ia dapat mendatangkan orang berapa saja yang ia kehendaki. –
    – Jika demikian, orang itu benar-benar gila. –
    – Karena itu, pergilah. Kau jangan berada di padukuhan ini terlalu lama Kau akan dapat tersentuh oleh keributan yang dapat saja terjadi se¬waktu- waktu. Mungkin malam nanti. Tetapi dapat saja terjadi tanpa me¬nunggu malam. –
    – Tetapi waktu yang diberikan oleh Sumunar kepada Basuri itu sampai batas senja. –

    – Bunyi mulut orang itu dapat berubah-ubah setiap saat -Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk.
    – Kalau kau sudah selesai, pergilah – berkata orang itu pula
    – Baik, baik, bibi. –
    Glagah Putihpun kemudian membayar harga makanan dan minuman yang dipesannya Kemudian mereka berduapun minta diri.
    Tetapi sebelum mereka meninggalkan kedai itu, mereka melihat tiga orang dengan tergesa-gesa memasuki hotel itu sambil bertanya lan¬tang – Dimana monyet itu, he ? –
    Perempuan, pemilik kedai itu menyahut – Aku tidak memelihara monyet disini. –
    – He, dimana orang-orang itu ? Kau sembunyikan ? –
    – Siapa ? Kau cari siapa Ki Bekel ? –
    – Orang itu, yang bernama Wirog. –
    – Aku tidak tahu. Aku bukan pemomongnya. –
    – Jika kau menyembunyikannya, aku robohkan kedaimu. –
    – Buat apa aku menyembunyikannya. Aku bukan selir gelapnya
    – Jika kau melihat orang itu, katakan bahwa Ki Bekel mencar¬inya Kehadirannya di padukuhan ini tidak disukai. Orang itu adalah orang jahat yang hanya akan mendatangkan malapetaka saja. –
    – Apakah orang itu orang jahat ? –
    – Kau meragukannya ? –
    – Aku hanya bertanya –
    Orang yang ternyata Ki Bekel dan bebahu padukuhan itupun segera meninggalkan kedai itu pula
    – Nah, kau lihat ? Para bebahu padukuhan inipun orang-orang gi¬la pula. Mereka telah makan suap. Sumunar itu telah menyuap mereka sehingga mereka berbuat apa saja bagi kepentingan Sumunar. Bahkan menindas rakyatnya sendiri. –
    Glagah Putih dan Rara Wulan mengangguk-angguk.
    – Pergilah. He, kenapa kalian berdua membawa pedang ? Perem¬puan itupun membawa pedang pula ? –
    – Kami adalah pengembara. Kami menempuh perjalanan yang panjang. Banyak kemungkinan terjadi disepanjang jalan. –
    Seperti yang pernah didengarnya perempuan itu berkata – Pedan¬gmu dapat mengundang mala petaka. –
    Glagah Putih dan Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka tidak dapat menanggalkan pedang mereka Terutama Rara Wulan. Dalam keadaan yang gawat, pedang itu akan sangat berarti baginya
    Keduanyapun kemudian telah keluar dari kedai itu. Beberapa langkah mereka berjalan melewati halaman yang luas. Dua buah pedati masih berada di halaman yang luas itu.
    Ketika ia berpaling, dilihatnya pemilik kedai itu berdiri termangu-mangu memandangi mereka berdua.
    Beberapa saat kemudian, mereka berjalan menyusuri jalan padukuhan yang lengang. Dua orang anak laki-laki bermain benthik di pinggir jalan. Mereka sama sekali tidak menghiraukan Glagah Putih dan Rara Wulan yang lewat Mereka berhenti sebentar, kemudian mereka telah mulai lagi.
    – Apakah kita akan meninggalkan padukuhan ini ? – bertanya Glagah Putih.
    Rara Wulan termangu-mangu. Ia mengerti maksud Glagah Putih dibalik pertanyaan itu. Agaknya Glagah Putih tertarik untuk mengetahui apa yang bakal terjadi di padukuhan itu.
    – Terserah saja kepadamu, kakang – jawab Rara Wulan. Glagah Putih menarik nafas panjang. Dipandanginya Rara Wulan dengan kerut didahinya Katanya – Aku ingin mendengar pendapatmu, Rara-
    – Bukankah kau ingin tinggal sampai malam nanti ?-
    – Ya – Glagah Putih mengangguk.
    – Aku tidak berkeberatan-
    – Sayangnya, perasaanku telah berpihak, Rara-
    – Maksudmu ?-
    – Mendengar pembicaraan orang yang menyebut dirinya berna¬ma Sumunar dan orang yang dipanggilnya Wirog, serta pendapat pemilik kedai dan kehadiran Ki Bekel, aku justru ingin berpihak kepada paman Basuri meskipun ada juga sedikit keragu-raguan, karena aku belum tahu benar sifat dan watak paman Basuri itu.-
    Rara Wulan mengangguk-angguk. Katanya – Nampaknya Sumu¬nar memang seorang yang tamak. Siapapun paman Basuri, namun dalam persoalan ini, agaknya ia berada di pihak yang benar. Meskipun mungkin saja dibalik sikapnya itu, tersembunyi pamrih yang barangkali justru lebih jahat dari Sumunar,-
    – Jadi kau sependapat jika kita berpihak kepadanya ?-
    – Ya. Jika kelak ternyata ia juga menyimpan pamrih yang buruk, kita dapat mengambil sikap yang lain.-
    Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Katanya – Tetapi kita tidak tahu, bagaimana caranya kita menempatkan diri kita-
    – Kita ikuti saja perkembangan keadaan di padukuhan ini. Jika benturan antara Sumunar dan pengikutnya melawan Basuri dan orang-orangnya, kita akan terjun.-
    – Nampaknya Sumunar memang lebih kuat dibanding dengan Basuri. Mungkin orang-orang Sumunarpun lebih kuat pula dan bahkan lebih banyak.-
    Glagah Putih tidak menjawab. Mereka berjalan saja menyusuri jalan itu. Ditikungan ia bertemu dengan dua orang yang memikul keran¬jang berisi gula kelapa.
    – Dibawa kemana, kakang ? – bertanya Glagah Putih.
    Kedua orang itu berhenti. Sementara Glagah Putih bertanya lagi -Gula ini untuk Sumunar atau untuk Basuri ?-
    Keduanya saling berpandangan. Sementara Rara Wulanpun berkata – Kami bukan pengikut keduanya, Ki Sanak. Bahkan kami datang untuk melihat kemungkinan bahwa kamipun dapat membeli gula dan kelapa di padukuhan ini.

    Baru seorang di antara keduanya menjawab – Gula ini milik kakang Basuri, Ki Sanak.-
    Glagah Putih mengangguk-angguk, sementara Rara Wulan bertanya – Apakah Ki Basuri memberikan harga yang lebih baik dari Ki Sumunar ?-
    – Ya, Ki Sanak. Raden Sumunar selalu memaksakan harga menu¬rut keinginannya. Sementara Ki Basuri mau membayar lebih tinggi. Tetapi hal ini akan dapat menimbulkan persoalan.-
    – Jika timbul persoalan, kepada siapa kalian berpihak ?-
    – Kami tidak dapat berpihak kepada siapapun juga. Mereka-mempunyai orang-orang upahan yang dapat mencekik leher kami Kami ter¬paksa berpihak kepada yang menang.-
    – Tetapi sekarang kau jual gulamu kepada Ki Basuri.-
    – Selagi belum ada yang menang dan yang kalah.-
    – Baik. Baik. Tetapi gula itu akan kalian bawa ke mana ? Kehalaman yang luas dekat kedai disebelah pintu gerbang padukuhan itu?-
    – Tidak, Ki Sanak. Aku akan membawa ke sebelah kebun kosong di dekat simpang tiga itu. Di sana nanti pedati Ki Basuri akan datang mengambilnya –
    – Disana juga ada tempat pemberhentian pedati?-
    – Bukan tempat pemberhentian pedati. Tetapi halaman yang isaknya disewa oleh Ki Basuri.-
    – Apakah Ki Basuri ada disana ?-
    – Ya Ia menunggu kami-
    – Kami akan menemui Ki Basuri. Mungkin kami dapat membicarakan harga yang sebaik-baiknya-

    – Ki Basuri dapat mendengarkan pendapat orang lain. Tetapi Ki Sumunar tidak.-
    Glagah Putih dan Rara Wulanpun mengangguk-angguk. Namun kemudian Glagah Putihpun berkata – Kami ikut bersama kalian. Kami ingin berbicara dengan Ki Basuri.-
    Kedua orang yang memikul gula kelapa itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian seorang diantara mereka berkata – Terserah saja kepada Ki Sanak. Tetapi aku tidak mengajak Ki Sanak bersama kami. Nampaknya kedua orang itupun cukup berhati-hati. Jika terjadi sesuatu, mereka tidak mau dianggap bersalah.
    Demikianlah sejenak kemudian, maka kedua orang itupun segera melanjutkan perjalanan. Glagah Putih dan Rara Wulan mengikuti mereka beberapa langkah di belakang.
    Namun tiba-tiba dua orang yang bertubuh kekar dan berwajah garang telah menghentikan kedua orang yang memikul gula kelapa itu. Dengan kasar seorang di antara mereka membentak – He, kau bawa kemana gula kelapa ini, he ?-
    – Kami melayani Ki Basuri, Ki Sanak.-
    Kedua orang itu membelalakkan matanya, dengan geram seo¬rang diantara mereka membentak — Kalian budak-budak Tikus Wirog itu, he?—
    – Tentu bukan budaknya Tetapi kami menjual gula kami kepada kakang Basuri. Kakang Basuri membeli gula kami dengan harga yang lebih mahal dari Ki Sumunar.-
    – Diam – orang itu membentak – kau tidak boleh menjual gula kepada orang lain selain kepada Ki Sumunar.-
    – Kenapa ? Jika ada orang yang mau membeli gula kami dengan harga yang lebih baik, bukankah aku berhak menjualnya kepada mereka-
    – Kau jangan mencari persoalan, Ki Sanak – geram orang itu – Ki Sumunar adalah pembeli tunggal di daerah ini.-
    Kedua orang yang membawa gula itu termangu-mangu sejenak. Kedua orang itu akan dapat berbuat kasar. Sementara itu, tidak ada seorangpun dari kawan-kawan Ki Basuri yang nampak. Padahal ketika Ba¬suri minta keduanya mengantar gulanya ke tempat pengumpulan gula itu, Ki Basuri berjanji untuk melindunginya Tetapi pada saat memerlukan, tidak seorang dari para pengikut Ki Basuri yang nampak.
    Ketika kedua orang yang membawa gula itu sedang termangu-mangu, maka seorang diantara kedua orang berwajah garang itu berkata -Bawa gula kelapa itu ke halaman di dekat kedai itu. –
    Kedua orang itu saling berpandangan sejenak.
    Dalam pada itu, Glagah Putih dan Rara Wulan hanya berdiri saja termangu-mangu memperhatikan pembicaraan itu.
    Adalah diluar dugaan ketika kedua orang yang membawa gula itu justru bertanya kepada Glagah Putih – Ki Sanak. Bagaimana menurut pendapatmu ? –
    Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun justru bertanya – Apa maksudmu ? –
    – Apakah aku harus membawa gula ini kepada Ki Sumunar atau kepada KiBasuri?-
    Ternyata jawab Glagah Putih mengejutkan kedua orang yang membawa gula itu, tetapi juga mengejutkan kedua orang yang bertubuh kekar itu.
    – Jangan bawa kepada keduanya – berkata Glagah Putih – bawa kepadaku. Aku akan membeli gulamu seharga yang dijanjikan oleh Ki Basuri.-
    – Kau ? – bertanya salah seorang dari kedua orang yang mem¬bawa gula itu.
    – Ya – Jawab Glagah Putih. Aku membeli gulamu dengan harga yang lebih baik dari harga yang ditentukan Ki Sumunar dan kelebihanku dari Basuri, kami akan melindungi kalian berdua dari keganasan orang-orang Ki Sumunar ini.-
    – Kau siapa anak iblis ? – geram salah seorang dari para pengikut Ki Sumunar itu.
    – Aku juga seorang pedagang gula dan kelapa Namaku Warigalit dan ini adikku, namanya Wara Sasi-
    – Apakah kau tidak mendengar, bahwa di padukuhan ini, bahkan dibeberapa padukuhan yang lain, Ki Sumunar adalah pembeli tunggal ?-
    – Kau bekerja pada Ki Sumunar ?–Ya-
    – Sudahlah, jangan ikut campur. Katakan saja kepada Ki Sumu¬nar bahwa ada orang lain yang ingin membeli gula dan kelapa, selain Ki Basuri.-
    – Apakah kau sudah gila Aku adalah kepercayaan Ki Sumunar.-.
    – Berapa kau di upah oleh Ki Sumunar ? Apakah upah bagimu itu sudah seimbang dengan taruhan yang kau berikan ?-
    – Aku akan mengoyak mulutmu.-

    – Dengar dahulu, Ki Sanak. Aku bermaksud baik – berkata Glagah Putih kemudian – jika upahmu pantas, maka kau memang harus melakukan semua tugasmu, bahkan dengan mempertaruhkan nyawamu. Tetapi jika upahmu tidak cukup kau belikan pakaian dan mainan bagi anakmu, apa pula artinya kau pertaruhkan nyawamu ? Jika kau mati, apakah Den Bera itu mau mencukupi semua kebutuhan anak-anakmu itu ? Pikirkan Ki Sanak, sebelum kau menyesal.-
    Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian se¬orang diantara mereka menggeram – Jika kau berbicara lagi, aku benar-benar akan mengoyak mulutmu.-
    Tetapi Glagah Putih justru tertawa. Katanya – Jika kau marah kepada dirimu sendiri, jangan ditimpakan kepada orang lain. Berapa kau jual nyawamu he ? Barangkali aku dapat membelinya. Aku bayar kau lebih tinggi dari upah yang diberikan oleh Sumunar, kemudian aku peng¬gal kepalamu disini ? Bukankah itu lebih baik daripada kau aku bunuh sekarang ini, sementara kau belum menerima upahmu dari Sumunar.-
    Orang bertubuh kekar itu tidak tahan lagi mendengar kata-kata Glagah Putih. Tiba-tiba saja seorang diantara mereka telah meloncat menyerang.
    Tetapi Glagah Putih sudah menunggu serangan itu. Karena itu, ketika tangan orang itu terayun kearah keningnya, dengan cepat Glagah Putih menangkapnya. Dengan satu putaran, maka tubuh orang itu ter¬pelanting diatas pundak Glagah Putih dan jatuh terbanting di tanah. Demikian kerasnya, sehingga orang itu tidak dapat bangkit berdiri.
    Kawannya sudah siap untuk meloncat menyerang Glagah Putih. Tetapi ketika ia melihat Glagah Putih dengan mudah membanting kawannya sehingga tidak dapat segera bangkit, maka orang itupun segera memindahkan sasaran serangannya. Ia tidak menyerang Glagah Putih, tetapi orang itupun dengan garangnya menyerang Rara Wulan.
    Sambil menggeram orang itu meloncat menerkam kearah leher Rara Wulan. Namun ternyata Rara Wulan tidak membiarkan jari-jari ta¬ngan orang itu mencekik lehernya Dengan cepat ia meloncat kesamping. Kemudian dengan satu putaran kakinya terayun mendatar menyambar punggung orang itu.
    Orang itupun terdorong beberapa langkah. Kemudian jatuh ter¬jerembab. Kepalanya telah membentur dinding halaman, sehingga terasa sekelilingnya menjadi berputar.
    Sejenak Glagah Putih dan Rara Wulan termangu-mangu. Na¬mun kemudian Glagah Putihpun berkata kepada kedua orang yang mem¬bawa gula itu – Marilah. Kita berjalan terus.-
    – Kemana ? – bertanya salah seorang dari kedua orang yang membawa gula itu.
    – Menemui Basuri.
    – Kau akan menantang mereka ?–Tidak.-
    Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Seorang diantara merekapun kemudian berkata – Kau tadi mengatakan, bahwa kau akan membeli gulaku.-
    – Kita menemui Basuri sekarang – sahut Glagah Putih.
    Kedua orang itu tidak menjawab. Merekapun segera mengang¬kat keranjangnya kembali dan berjalan dengan cepat ke tempat Basuri mengumpulkan gula-
    Ketika mereka sampai di sebuah halaman yang juga termasuk luas, mereka melihat dua buah pedati telah menunggu.
    Basuri dan dua orang kawannya melibat kedatangan kedua orang yang membawa gula bersama dengan Glagah Putih dan Rara Wu¬lan. Dengan serta merta merekapun segera bangkit berdiri. Kedua orang itu adalah kedua orang yang ditemuinya di kedai.
    – Ada apa anak muda?- bertanya Basuri.
    Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Lalu katanya kepada kedua orang yang membawa gula itu – Katakan, apa yang telah terjadi. Jangan ditambah dan jangan dikurangi.-
    Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Seorang diantara merekapun kemudian menceritakan apa yang telah dilakukan oleh Glagah Putih dan Rara Wulan.
    Basuri mengerutkan dahinya Kemudian dengan nada berat iapun berkata – Jadi kau juga ingin membeli gula? Kami sama sekali tidak berkeberatan, Ki Sanak. Kami hanya ingin mengusulkan, agar kita dapat membicarakan harga yang pantas. Penghasil gula tidak merasa dirugikan, kitapun akan mendapat untung sepantasnya-

    – Kami tidak akan membeli gula atau kelapa, paman Basuri. jawab Glagah putih.
    -Jadi?-
    – Kami tidak mempunyai uang. Kami hanya ingin membantu paman Basuri Kami memang berpura-pura akan membeli gula, agar kedua orang itu marah. Dengan demikian, maka ada alasan bagiku untuk membuat mereka jera.-
    – Bagaimana dengan mereka ? Aku tidak mengerti, bagaimana kalian dapat mengalahkan mereka. –

    – Kami membuat mereka marah, sehingga mereka kehilangan kendali.-
    – Dimana mereka sekarang ? –
    – Kami tinggalkan mereka. Tetapi dalam waktu yang tidak lama, mereka akan segera dapat bangkit. Mereka tentu akan melaporkan peristiwa itu kepada Sumunar. –

    🙂🙂🙂

    • ..Maju tak gentar !!

      • Gentar tak maju !!!

  42. Merdeka!!

  43. Luar biasaa…..Bravo Ki Tommy….
    Matur nembah nuwun….

  44. tidak kusangka ternyata k4ng tommy berhati mulia heheh


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: