Buku IV-35

335-00

Halaman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 14 Agustus 2009 at 00:01  Comments (74)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iv-35/trackback/

RSS feed for comments on this post.

74 KomentarTinggalkan komentar

  1. nomer siji

    • wow….

      • WoW JUga, nomer telu …….

        • aku tak ndusel nig kene wae, Ki Widura

          • Ki Widura,
            Kalau jadi ke batu saya dikabari via Ki Arema, ya..
            moga-moga nanti saya sdh ada di malang, krn skrg lagi berendam di sungai barito, cari wangsit, (dan seikat duit)
            he..he..he..

            • Hee … Ki Arema, engko ethok-ethok Lara, wedi karo aku … lagi pula nomer NIP-nya dari Mataram nggak tahu? Pagi ini terbang ke P.Bun, KalTeng … sampai nanti, Ki

              • We la…
                telat maneh aku
                kedisikan Ki Widura dan Ki Jogotirto.

                • nduwesel

      • Penunggu kali Niel wis tilik …..
        Monggo Ki alGhors, wedange wis adem …

        • Melu Ndesel WOW

          • Wow juga….

            (wow = absen ?….)

            • Jebul wis iso diunduh.. pengunduh no 1..?

              Maturnuwun…

  2. ndesel di urutan 5 1/2.
    terima kasih.

    • Saged di unduh, Ki….

  3. Maturnuhun Terima Kasih Kitabnya Nyi

  4. Uuuueeeeddiiiiaaaannn ……
    sejak kaki menginjak tanah air ……
    Aku dijejeli ….. rontal terus karo Nyi Seno …..

    Matur Suwun, Nyi, Ki Gede, Ki sopo maeh aku ora weruh ..
    Pokoke Matur Suwun …..

    Moco … terus …. nganti … ngentut wae ora sempat.

  5. Matur nuwun Nyiii…. wah gerak cepat

  6. Matur kesuwun ki

  7. Matur nuwun….

  8. Matur nuwun Nyi… ngebut ya sebelum merdeka

  9. Iki gambare kok pas gelut wae, mbok yo pas RW lan GP lagi mesra-mesraan (kapan yo ?).

    Sampun ditampi, matur nuwun lan Merdeka !

  10. MERDEKA ……..

  11. terimakasih kitabnya…
    sekedar menyampaikan..kaya’nya wedaran kitab mesti di rem dulu,
    semakin cepat kitab di wedar semakin sedikit canklik yang isi komen..jadi kurang seru, dan berkurang ilmu yang di dapat dari komentar-komentar..
    tapi ya semua kembali ke nyi/ki GD dan bebahu sekalian..
    pokoke tetep terimakasih.

    • setuju…

      • Wus dadi jamak lumrahe, yen durung wedar ditunggu dikomentari maneko warno, ananging yen wis wedar, ngunduh langsung mlayu ngilang. Padepokan sepi, komentar nyenyet…. he he he…termasuk saya.

  12. Matur nuwun, Nyi Senopati…

  13. Absen Hadir Ki
    Absen Hadir Nyi
    whelah nomor siji Ngunduh Kitab…Matur Nuwun

  14. Terima kasih untuk kitabnya, sambil donlot juga ikut nambah komentar & jaga regol padepokan.

  15. 2 rontal untuk hari ini….terima kasih kirimannya….eunak tenannn…..

  16. waaah sudah ada lagi … matur suwun.

  17. terimakasih..

  18. matoer noewoen lagi…

  19. selamat pagi semua

  20. sELAMAT HARI pRAMUKA

    • Selamat hari jum’at

  21. MERDEKA, makasih Ki GD, Nyai SENO, dan MERDEKA!!!!!!!!!!

  22. Wah dina iki wareg tenan…
    Entuk ransum sak tandukanne…

    Matur nuwun….

  23. Satu kata tentang Indonesia…..

    Di sebuah padhepokan bernama ADBM, seorang kyai sedang memberikan ilmu kepada seorang santrinya. Sebuah ilmu tentang berbangsa dan bernegara. Berikut penggalan dialog penuh makna antara kyai dan santri itu :

    Kyai : “Coba engkau pejamkan matamu dan bayangkan Indonesia ini ada dalam jiwamu. Lihatlah tanah air yang indah dari Sabang hingga Merauke ini. Ribuan pulau dengan segala macam sumberdaya alamnya. Minyak, gas, batu bara, emas, permata. Ribuan suku bangsa, beragam bahasa… Ungkapkanlah dengan satu kata saja wahai santriku! Ungkapkan dengan jujur!”

    Santri : …. “Alhamdulillah!”

    Kyai : “Jawablah dengan jujur, anakku!”

    Santri : “Alhamdulillah” (sambil meneteskan air mata bahagia)

    Kyai : “Kemudian bayangkanlah jutaan rakyat miskin yang antri BLT. Ribuan buruh pabrik dengan upah yang ala kadarnya. Ungkapkanlah dengan satu kata, nak!”

    Santri : … … “Subhanallah”

    Kyai : “Jujur nak, sekali lagi jujur!”

    Santri : “Subhanallah!”

    Kyai : “Lalu bayangkanlah wajah para pejabat yang korup, wajah pejabat yang meringis merasakan nikmat jepitan selangkangan wanita-wanita sintal. Bayangkanlah wajah anggota dewan yang menerima cindera mata berupa koteka emas. Bayangkanlah wajah calo senjata yang bergerilya di gedung dewan. Bayangkanlah wajah jaksa, hakim yang suka suap. Ungkapkan dalam satu kata, santriku!”

    Santri : “… As… As… Astaghfirullahal’adzim…. Astaghfirullah…”

    Kyai : “Jujur, sekali lagi jawablah dengan jujur!”

    Santri : “…As… Ass… Assssuuuuuuu…… ASUUUUUUUUUUU!!!”

    Sang Kyai pun memeluk tubuh santrinya dengan tersenyum dan menangis bahagia.Sang Kyai bahagia mempunyai generasi penerus yang masih bisa berkata jujur tentang negeri Indonesia.

    penggalan sketsa Presiden Balgadaba oleh Emha Einun Nadjib

    Matur nuwun kitabipun.

  24. Sepindah malih matur nuwun Nyi Seno. paket katampi.

  25. Copas dari seorang tenaga kerja wanita di luar negeri, komentar dan penilaian gumantung sidang pembaca

    Babu Ngeblog

    Pahlawan Mimpi

    Pada acara “A Taste of Culture” yang di adakan di Small World Kindergarten(sekolah TK Katelyn), semua anak memakai baju yang mewakili negara asalnya. Nicole dengan pakaian putri di jaman dinasti Tang (China), Edwina dengan kostum koala(Australia), Tong En dengan kostum Gaoshan(Taiwan), sedang Katelyn dan beberapa teman yang lainnya memakai pakaian China kebanyakan.

    Ratusan jepret foto beserta rekaman video mereka telah aku ambil dan aku jengah. Di sana akulah satu-satunya pembantu atau babu di tengah-tengah para guru, anak-anak dan orang tua mereka, bosku berhalangan hadir.

    Maaf, bukan aku hendak memberitakan tentang jalannya sebuah acara kanak-kanak dengan iringan lagu Twinkle Twinkle Little Star dan Haleluyyah yang membosankan, melainkan suatu hal lain yang menyinggung kepedulianku pada Indonesia(kalau tak boleh di bilang nasionalis).

    Adalah Edward dan Emma yang kemudian menarik perhatianku, kostum yang mereka kenakan membuat pikiranku berloncatan dan percakapan singkatku dengan merekapun menjadikan renunganku di hari itu.

    “Hi Edward, Emma! Nice costume,” kataku pada mereka.
    “Thank you. I’m Superman, you see,” kata Edward.
    “Yeah, and I am Wonder Women,” kata Emma.
    “I see. But why are you wearing these costumes?
    “Cos they are hero, American Hero!” jawab mereka hampir serentak.

    Seketika aku merasa telah salah kostum, melihat saat itu aku memakai celana jeans dan kaos warna biru, keduanya tidak mencerminkan Indonesia ataupun hero/pahlawan dari Indonesia. Detik itu juga aku membayangkan memakai kebaya ala Kartini atau kain merah putih yang melilit minim seperti peragawati, detik selanjutnya aku menyalahkan bayangan pertamaku tadi kemudian menggantikannya dengan sebuah sosok lain yang lebih pantas di sebut sebagai pahlawan untuk saat ini dan aku tersedak. Pilihannya banyak, namun aku belum yakin kalau mereka pantas aku pilih.

    Bukan lantaran mereka tak mempunyai kekuatan super seperti halnya Superman ataupun Wonder Women, terbang tanpa sayap dengan keyakinan mantap, bukan.

    Tapi karena mereka(pahlawan Indonesia) terlalu fasih menyanyikan lagu “Hero” daripada lagu “Kulihat Ibu Pertiwi” :
    I can be your hero, baby.
    I can kiss away the pain.
    I will stand by you forever.
    You can take my breath away.(enrique iglesias)

    mendadak menjadi proffesional singer setara Enrique Iglesias, menyanyikan politik umuk dan menjanjikan multiple orgasme. bah!

    Telah banyak fakta yang melenceng jauh dari janji para (katanya) pahlawan praja. Entah karena mereka telah dengan suksesnya mengubah kita menjadi gedibal yang bodoh ataupun mereka yang membodohkan diri sendiri. Keduanya adalah sangat mungkin.

    Tingkat kemiskinan yang di kabarkan menurun(seperti dalam pidato SBY dalam sidang paripurna di gedung DPR/MPR) sangat ironis dengan fakta perebutan BLT dan atau perebutan zakat di pasuruan atau bahkan lebih ironis lagi bila di bandingkan dengan jumlah kekayaan yang menculek mata dari para penggede yang berebutan simpati dan kursi di atas punggung-punggung tak berdaging rakyatnya. Pengupayaan perbaikan ekonomi rakyat dengan memperbanyak pengiriman TKI ke luar negeri yang tidak di ikuti dengan pengakuan hak dan perlindungan yang layak adalah hal lumrah yang merupakan warisan dari generasi ke generasi kepemimpinan. Atau ingin bukti ketimpangan dan pelencengan yang lain?

    Oh…mungkin Bonnie Tyler dengan “I need a hero” akan menjadi cocok untuk menggantikan lagu “Indonesia Raya”

    I need a hero.
    I’m holding out for a hero ’til the morning light.
    He’s gotta be sure
    and it’s gotta be soon
    And he’s gotta be larger than life!(Bonnie Tyler)

    Sembari mengurut dada yang berkotang 32 D (cuilik men, hiks..), aku mempunyai sebuah pertanyaan yang di akhiri dengan sebuah tanda tanya yang amat sangat besar sekali:

    Bila para penggede dan (katanya)pahlawan bangsa menggunakan kuasa dan kekuasaannya melenceng jauh dari janji dan tujuan semula, apakah kita siap dengan kemungkinan yang terparah ?

  26. Apa arti Merdeka?

    Sekilas melihat di teve, ada seorang reporter media elektronik bertanya kepada seorang anggota masyarakat “apa arti kemerdekaan baginya.” Orang tersebut tampak kaget, gagap, dan tidak siap.
    Memang mungkin pertanyaan itu tidak pernah mampir dikepala, pertanyaannya saja gak mampir, apalagi jawabannya….iya kan?

    Tertegun!, kita juga bakal gagap menjawab pertanyaan serupa secara tiba-tiba dan mendadak begitu.

    Ini tentu berbeda dengan sudut pandang orang-orang tua kita misalnya, yg masih mengalami rumah digeledah jepang, mengungsi ke desa jaman perang kemerdekaan, sekolah berbahasa belanda, etc…etc. Itulah kelebihan beliau-beliau yang mengalami, mereka merasakan ‘nilai tambah’ dari kemerdekaan :
    mereka terlahir, berjuang sebelum merdeka, dan kemudian merasakan kemerdekaan. Hasil-nya terasa.

    Bukan seperti umumnya kita-kita ini. Lahir sudah merdeka, punya bangsa terhormat, yang (katanya) punya tanah air indah dan gemah ripah loh jinawi. We just get it. Kita tidak mengerti arti kemerdekaan, kita tidak punya data dan pengalaman nyata, yang dialami sendiri, bedanya merdeka dan tidak. Kita hanya sedikit mengerti dari cerita orang-orang tua, membaca buku-buku sejarah, itupun kalau tidak diputar balikkan fakta sejarahnya, semenatara buku sejarah yang sudah ada, banyak yang beberapa kali mengalami revisi.

    Apakah kemerdekan itu identik dengan, upacara tujuh belas agustusan, memasang bendera di depan rumah, memasang umbul-umbul, lomba bakiak, makan kerupuk, balapan karung, pria berbusana wanita bermain bola, dan lain sebagainya dan lain sebagainya……apakah itu kemerdekaan ?

    Jadi apa arti kemerdekaan ?

    • imho :
      kalo saat ini sih menurutku merdeka dari ketergantungan utang luar negeri sama ketergantungan harga minyak mentah dunia…

    • imho2:

      kemerdekaan itu cuma suatu event, supaya setelah itu bisa mencapai tujuan sendiri tanpa didikte bangsa lain.

      – “kedepan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.” –> merdeka sudah, bersatu (belum apa sudah?), berdaulat sepertinya belum, adil sudah bagi sebagian orang, makmur relatif sudah bagi sebagian kecil warga negara.

      – “untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia” –> sudah tercapai

      – “yang melindungi segenap bangsa Indonesia” –> kayaknya TKI di negeri maling belum terlindungi

      -“seluruh tumpah darah Indonesia” –> relatif sudah. apa kalau negeri maling mau mencuri minyak di ambalat kita berani lawan?

      – “dan untuk memajukan kesejahteraan umum” –> belum kali

      – “mencerdaskan kehidupan bangsa” –> cantrik adbm kayaknya pinter-pinter. yang diluar itu..? nggak usah bilang di Papua. Ambil saja pelosok-pelosok Wonosari atau Kediri…

      – “dan ikut melaksanakan ketertiban dunia” –> masih ngimpi. ketertiban dunia ditentukan oleh Uni Eropa, Amerika, Rusia, China, dan Al Qaeda. Siapa yang dengar suara Indonesia?

    • Merdeka itu memeng slogan, mungkin lebih baik kit a tanya kepada diri kita sendiri apa sih yang sudah kita terima dari negeri kita tercinta ? apa sih yang sudah kita lakukan untuk negeri kita? apa yang akan kita lakukan untuk negeri kita?
      Merdeka itu sebetulnya kita terbebas dari segala penjajahan, bebas dari segala paksaan, bebas melakukan ibadah sesuai dengan agama yang dianutnya, bebas untuk bersekolah selama masih bisa membiayai, dan lain-lain, dan mungkin itu belum pernah kita alami sekarang, tapi mungkin yang perlu kita perjuangkan semangatnya bilakah kita berbuat sesuatu untuk bangsa kit biarpun itu sedikit.
      Insya allah jika kita berbuat dengan tulus dan ihlas, kita akan merasakan apa itu merdeka, apa itu maknanya. Tinggal kita bertanya kepada diri kita sendiri apa yang bisa kita sumbangkan untuk negeri kita agar yang negeri kita menjadi negeri yang beradab makmur dan sejahtera..

  27. isi daftal hadil + unduh 335, telima kasih

  28. Absen…. maturnuwun..
    Aku ikut2 artikel di atas, ah.. multiple download..

  29. terima kasih. seperti pulang kampung. meskipun tidak dekat, lokasi pengembaraan glagah putih ini aku kenal sebagian. wirasari, misalnya. Kedung jati yang jadi nama perguruan itu pun sama dengan nama kecamatan di grobogan.

  30. Kalo saya perhatikan kenapa yah di Novel ini tidak disebutkan makanan yang namanya TEMPE,TAHU (tempe goreng, tempe kemul lain sebagainya) apakah jaman mataram belum ada TEMPE karo TAHU

  31. Mensyukuri kemerdekaan? Memang kita sudah merdeka? Omongan kaya kuwe sering keprungu, terutama sekang (biasane) tokoh-tokoh LSM, (NGO- jare tangga-tanggane Ki Widura, Non Governmental Organization), sing saking khusyuke anggone ndhapuk deweke sebagai non-pemerintah, rumangsane bisa memproklamirkan kepinteran kanthi nggoblog-nggoblogena pemerintah. Logika sederhana: NGO -> bukan pemerintah. Pemerintah ->goblog. NGO-> bukan goblog.
    Kemerdekaan, jelas kudu disyukuri, senajan sepiraa bae akehe sing durung bisa kita nikmati. Janjine Gusti Allah: Lamun sira kabeh bersyukur, bakal Ingsun tambahi nikmat Ingsun kanggo sira, lamun sira kabeh mukir, satemene adzab Ingsun bener-bener kenceng (kuat). Angger kita bersyukur kanggo kemerdekaan sing esih setitik kiye, Allah bakal nambah kemerdekaan sing luwih gede ning mangsa-mangsa sing bakal teka. Dene angger kita mukir (mengingkari), wis diparingi nikmat merdeka munine durung, Allah bakal paring konsekuensi sing ora bakal luput. Ya kuwe sebabe nganti saiki esih akeh wong sing durung rumangsa merdeka: kemerdekaan mereka pancen dicabut dening Allah karena pengingkaran mereka terhadap kemerdekaan sing sebenere wis diparingaken Allah.
    Mereka bisa bae berdalih: penjajahan ekonomi, kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, bla.. bla..bla.., ya..ya..ya.. Kuwe kabeh pancen bener, nanging akar permasalahane sebenere ya kembali maring awake dewek. Kita wis merdeka, tapi kita memanfaatkan kemerdekaan itu nggo membiarkan orang lain menjajah kita. Apa ana sing nodongaken pistol maksa kita tuku ayam nig KFC, belanja ning Carefour, nabung dollar ning bank-bank asing? Apa ana sing mecuti kita ben kita utang maring luar negeri, menyerahkan pengelolaan sumber daya alam maring perusahaan-perusahaan asing, ngedoli aset-aset negara maring tengkulak-tengkulak calo perusahaan-perusahaan Zionis? Angger kita esih berdalih kuwe kebodohane pemerintah, pitakon sebanjure: apa ana sing nodongaken pedang maksa kita ben kita milih pemerintah sing kaya kuwe?
    Sadarlah! Keterjajahan kita saat ini, ora liya merga kebodohane kita dewek, klalen mensyukuri kemerdekaan kanthi hakikat syukur sing sebener-benere: memanfaatkan dan mengembangkan yang dikaruniakan Allah itu kanggo kemaslahatan.
    Kita ora bakal luwar sekang keterjajahan kita hanya dengan mengingkari kemerdekaan. Kita ora bakal luwih pinter, luwih sugih, luwih maju, mung merga kita mengingkari jasa para pahlawan. Wong sing mengingkari kemerdekaan kuwe dudu wong pinter, nanging wong sing ora ngerti terimakasih. Angger kita nduwe kelebihan, kita bisa menunjukkannya. Angger ora? Tunjukkan kekurangan orang! Ndeyan, kanthi mengingkari hasil perjuangan orang lain, mereka sing ora melu berjuang bisa menikmati sekedar ketenangan: langka sing luwih apik timbang enyong, toh sing berjuang mengorbankan jiwa-raga bae sia-sia: kita durung merdeka.
    Mungkin saiki kiye momentum sing tepat kanggo kita kabeh mulai membedakan antara mengidentifikasi masalah karo mengutuki keadaan, antara berjuang menggapai yang lebih baik karo mengingkari nikmat sing wis kita dapatkan.

    • Ni Ken Padmi,saya setuju dengan usul njenengan,
      Mungkin kita labih baik tidak perlu mengutuk, kutukan itu kalo diurut-urut juga menimpa ke kita juga , karena ketidak mampuan kita , kebodohan kita , lebih baik kalo kita selalu bersyukur , oh betapa senangnya, betapa indahnya, jika bangsa yang senang bersyukur.
      Bersyukur itu punya tanggung jawab bahwa kita harus berbuat sesuatu untuk menggali semua potensi bangsa untuk mencapai kemajuan.
      Memakmurkan masyarakat itu bukan hanya tugas pemerintah , pemerintah sudah membuat aturan dan sistem yang bagus kalo rakyatnya nggak mau, semau sendiri juga tidak bakalan ketemu dan terlaksana tujuan itu.
      Mari kita bersama-sama bertanggung jawab untuk membentuk lingkungan sekitar kita menjadi lebih indah lebih makmur lebih teratur.
      memang itu seperti hanya klise, tapi kalo kita tidak lakukan mau jadi apa negeri kita tercinta ini, mau kemana arah kita nanti, apa menjadi bangsa orang yang senang mengutuk , atas nama kebebasan, saya pikir itu bukan jiwa yang merdeka, tapi itu sikap orang yang malas.
      Semoga kita senantiasa diberi hidayah oleh Allah swt , dan menjadikan bangsa yang selalu bersyukur atas segala nikmat dan karunia Nya.

      • Iki tulisane Ni Ken Padmi sing tak kutip sebagian.
        “Mungkin saiki kiye momentum sing tepat kanggo kita kabeh mulai membedakan antara mengidentifikasi masalah karo mengutuki keadaan, antara berjuang menggapai yang lebih baik karo mengingkari nikmat sing wis kita dapatkan.”

        Komentarku cuman sedikit. Aku setuju banget. titik.

  32. Kutipan dari Padepokan sebelah :

    VETERAN Pejuang Kemerdekaan :
    Mendengar sebutannya mungkin kita baru ingat
    karena jarang mendengarnya,kecuali menjelang
    masa 17 agustusan.
    Tapi semua akan lewat begitu saja kemudian tenggelam,terlupakan ditelan hiruk pikuk kebahagiaan bangsa merayakan pesta kemerdekaan.

    Hingga setahun kemudian sebutannya muncul kembali
    tanpa menyapa,tanpa silahturahmi dan tanpa ciuman
    tangan kepada mereka.
    Kita hanya bisa mendengar dan kemudian melupakannya
    semua akan berulang-ulang,hingga mereka lelah dalam
    penantian.
    Tahkan pernah mereka mendengar ucapan terima kasih dari kita…..kita…..dan kita.

    Kita takkan pernah menyaksikan sendiri perjuangan
    mereka yang tanpa pamrih,sehingga kita tidak pernah tahu sesungguhnya dan merasakannya betapa mereka berjuang penuh dengan pengorbanan nyawa,darah,dan
    tangisan……..!!!!
    Kehilangan sanak saudara dan sahabat yang disayangi
    berjibaku dalam luka dan derita untuk memerangi
    penjajah,demi mempersembahkan tanah air dan masa depan kita……………………….anak cucunya.

    Sekedar Ngisi Gandok mumpung……….lagi SEPI

  33. haaadiiiiiirrrrr….. trims nyi sena, ki gd, ki sukra, ki mbodo, ki tumenggung sepuh dan para bebahu padepokan…

    ngunduhnya nanti dulu… kitabnya jangan dihilangkan ya…..

  34. Merdekaa!!!

  35. sugeng ndalu, tepangaken kulo cantrik enggal teng padepokan APDM meniko, matur nuwun dumateng Ki Gede kalian Nyi Seno anggenipun sampun ngangsalaken kulo madepok teng mriki, nyinaoni rontal2 pusaka APDM..mugi2 para guru, putut, jejanggan lan cantrik senior purun ngeparengaken aweh pimulang dumateng kulo anggenipun medar rontal2 meniko.. matur nuwun

    S sami-sami Ki Jaka

  36. nyuwun sewu, kulo bade ngunduh no 332 dumugi 350 pripun carane ???

  37. nuwun sewu, sinten kemawon ingkang saged ngunduh no 333 dumugi 396 kulo nyuwun dikintuni Nggih meniko alamat email kulo puri_hariyadi@yahoo.co.id soale kulo ngunduh kok mboten saged… matur nuwun saderengipun

  38. Kalau dikirim perlu berhari-hari ki karena yang diminta banyak.

    files pada gandok ini disimpan di https://adbmcadangan.files.wordpress.com/2009/08/adbm-335.docx

    Cantolan gandok 332-334 dapat dilihat pada komen terakhir pada setiap gandok tersebut.

    Memang agak sulit bagi ki sanak yang baru menemukan situs ini.
    Tetapi kalau mau belajar, tidak terlalu sulit untuk mencari cantolan dokumen ADBM.
    Nyi Seno memberlakukan cara yang tidak sama, tidak konsiten, sedikit berteka-teki, sehingga para cantrik (sebutan adbmers) setiap hari dapat berburu
    kitab.
    Caranya sudah banyak dituliskan oleh pendahulu, pada berbagai gandok, atau di halaman unduh.
    Contoh:
    pada gandok 332 pada halaman 2 ada petunjuk lokasi cantolan files, yaitu ; tulisan monggo kisanak yang diberi warna agak coklat.
    Pada gandok 333 agak sulit, karena dicantolkanpada titik terakhir pada tulisan selamat siang Ki Sanak..
    Pada gandok 334 juga agak sulit, diletakkan pada titk di sebelah kiri atas cover
    Pada gandok 335 juga sulit karena diletakkan spasi antara huru 5 dan 6.
    Jika kursor diletakkan pada lokasi tersebut, pada kiri bawah monitor akan tertera lokasi cantolannya.

    Petunjuk lain adalah membaca komen para cantrik. Cantrik yang pertama biasanya menuliskan komen, dimana lokasi cantolan files tersebut.

    File-file tersebut harus diubah ekstensinya menjadi *.djvu supaya bisa dibaca. Softwarenya WinDjView atai AtduViewer yang ada di halaman unduh. atau bisa didownload dari internet.

    Kalau mumet:
    Klik “View” lalu klik “Page Source”. Muncul script yang cukup panjang.
    Klik “edit” terus “find” dan dan ketikkan “files” pada kotak yang ada di kiri bawah monitor lalu tekan “enter”
    Cari cantolan http://…… dengan files yang berekstensi: doc, docx, ppt atau pptx.
    misalnya pada gandok ini adalah https://adbmcadangan.files.wordpress.com/2009/08/adbm-335.docx
    Copy file tersebut dan paste pada kotak untuk mencari situs di bagian atas monitor ini dan enter.

    Selamat mencoba Ki.

  39. Tadi sudah memberikan petunjuk, terkena moderasi, mungkin karena adanya alamat situs, saya coba lagi:

    Kalau dikirim perlu berhari-hari ki karena yang diminta banyak.

    file ADBM pada gandok ini disimpan di [http]://adbmcadangan.files.wordpress.com/2009/08/adbm-335.docx
    Cantolan gandok 332-334 dapat dilihat pada komen terakhir pada setiap gandok tersebut.
    Memang agak sulit bagi ki sanak yang baru menemukan situs ini.
    Tetapi kalau mau belajar, tidak terlalu sulit untuk mencari cantolan dokumen ADBM.
    Nyi Seno memberlakukan cara yang tidak sama, tidak konsiten, sedikit berteka-teki, sehingga para cantrik (sebutan adbmers) setiap hari dapat berburu
    kitab.
    Caranya sudah banyak dituliskan oleh pendahulu, pada berbagai gandok, atau di halaman unduh.
    Contoh:
    pada gandok 332 pada halaman 2 ada petunjuk lokasi cantolan files, yaitu ; tulisan monggo kisanak yang diberi warna agak coklat.
    Pada gandok 333 agak sulit, karena dicantolkanpada titik terakhir pada tulisan selamat siang Ki Sanak..
    Pada gandok 334 juga agak sulit, diletakkan pada titk di sebelah kiri atas cover
    Pada gandok 335 juga sulit karena diletakkan spasi antara huru 5 dan 6.
    Jika kursor diletakkan pada lokasi tersebut, pada kiri bawah monitor akan tertera lokasi cantolannya.
    Petunjuk lain adalah membaca komen para cantrik. Cantrik yang pertama biasanya menuliskan komen, dimana lokasi cantolan files tersebut.
    File-file tersebut harus diubah ekstensinya menjadi *.djvu supaya bisa dibaca. Softwarenya WinDjView atai AtduViewer yang ada di halaman unduh. atau bisa didownload dari internet.
    Kalau mumet:
    Klik “View” lalu klik “Page Source”. Muncul script yang cukup panjang.
    Klik “edit” terus “find” dan dan ketikkan “files” pada kotak yang ada di kiri bawah monitor lalu tekan “enter”
    Cari cantolan http://…… dengan files yang berekstensi: doc, docx, ppt atau pptx.
    misalnya pada gandok ini adalah [http]://adbmcadangan.files.wordpress.com/2009/08/adbm-335.docx
    Copy file tersebut dan paste pada kotak untuk mencari situs di bagian atas monitor ini dan enter.
    Selamat mencoba Ki.

    Catatan: http nya saya beri kurung supaya tidak kena moderasi lagi

  40. ngangsu dulu buat menuhin air pakiwan.
    sambil nunggu retype diwedar🙂

  41. Sahuuurrrr….sahuuuurrr…..

    • ..retype !…retype !….

  42. Menunggu kitab 335 versi retype mau dipakai buat tajil buka puasa….

  43. Ayo k4ng t0mmy lanjutkan.

  44. Puasa sambil baca adbm mantab. Ayo kang dilanjutkan

  45. mau buka kitab 335 kok susuah ya ?

  46. Api Dibukit Menoreh
    Jilid IV -35
    Bagian 1 dari 3

    RUMAH itu memang bukan rumah yang besar. Tetapi nampaknya terawat. Halamannyapun nampak bersih. Sinar bulan yang terang membuat bayang-bayang dedaunan dari pepohonan yang tum¬buh di halaman depan rumah itu.
    Sejenak kemudian pintupun terbuka. Seorang laki-laki yang sudah separo baya melangkah keluar.
    Namun sebelum orang itu duduk, perempuan yang ditemui di jalan itupun keluar pula sambil berkata – Kang. Silahkan saja mereka duduk di dalam.-
    Laki-laki itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun berkata – Marilah, ngger. Silahkan masuk ke ruang dalam.-
    – Biarlah kami duduk disini saja, paman. Agaknya udara terasa sejuk. Cahaya bulan di halaman itu sangat menarik perhatian kami paman. Sayang, tidak ada anak-anak yang bermain.-
    Laki-laki itu tersenyum. Katanya – Tetapi sebaiknya angger berdua masuk ke ruang dalam.-
    Glagah Putih dan Rara Wulan tidak dapat membantah lagi. Karena itu, maka keduanyapun bangkit berdiri dan mengikuti laki-laki separo baya itu masuk ke ruang dalam.

    Agaknya pemilik rumah itu memang rajin. Perabot rumah yang tidak terlalu banyak itu nampak bersih. Lampu minyak yang terletak di ajuk-ajuknya disudut ruang, bersinar dengan terang, menerangi ruangan yang agak luas itu. Sebuah amben bambu yang agak besar terletak di sisi kanan, disisi lain terdapat geledeg bambu.
    – Marilah, ngger. Silahkan duduk.
    Glagah Putih dan Rara Wulan pun kemudian duduk di atas amben bambu itu ditemui oleh laki-laki separo baya yang mempersilahkan mereka masuk.
    Namun sejenak kemudian, perempuan yang mengajak mereka singgah itupun telah ikut duduk pula bersama mereka.
    – Aku temui mereka di jalan, kang. Mereka akan pergi ke banjar untuk menginap. Agaknya mereka tidak tahu, apa yang sedang terjadi di sini.-
    Laki-laki itu mengangguk-angguk.
    Sementara itu, perempuan itupun berkata – Sebaiknya kalian tidak pergi ke banjar. Jika kalian ingin bermalam di padukuhan ini, bermalam sajalah disini.-
    – Apa yang sebenarnya sedang terjadi, bibi ?-
    – Demang kami adalah seorang Demang yang baru. Menurut kata orang, Ki Demang yang baru itu adalah seorang pemakan daging manusia Terutama gadis-gadis remaja.-
    – He ? – wajah Glagah Putih dan Rara Wulan menegang.
    – Apakah itu benar ? – bertanya Rara Wulan.
    – Aku percaya, ngger – jawab perempuan itu – karena itu, ketika matahari terbenam dan anak gadisku belum pulang, aku telah mencarinya sampai ketemu. Anak itu memang nakal. Ia merasa lebih senang tinggal di rumah neneknya daripada di rumah sendiri. Neneknya memanjakannya. Sedangkan disini, ia mempunyai tiga orang saudara, sehingga ia tidak dapat bermanja-manja seperti di rumah neneknya.-
    – Apakah itu bukan sekedar berita yang dibuat-buat dari orang yang tidak senang kepadanya ? Mungkin saingannya atau orang-orang yang tidak sependapat bahwa orang itu menjabat sebagai Demang.-
    – Ia memang anak Ki Demang yang belum lama meninggal. Ayahnya terhitung orang yang baik. Setidak-tidaknya sikap dan tingkah lakunya wajar-wajar saja sebagai seorang Demang. Tetapi ketika anak Laki-Lakinya itu menggantikannya, suasananya menjadi lain.-
    Rara Wulan menjadi tegang. Ia masih akan bertanya, tetapi perempuan itupun berkata lebih lanjut – Karena itu, angger berdua jangan pergi ke banjar. Lebih-lebih angger ini. Siapakah nama angger berdua ?-
    Yang menjawab adalah Glagah Putih – Namaku Warigalit, bibi. Ini adikku, Wara Sasi.-
    – Nama yang baik. Angger Wara Sasi sebaiknya jangan menampakkan diri di padukuhan ini. Apalagi di malam hari. Karena itu bermalamlah disini. Besok pagi, aku harap angger Wara Sasi telah meninggalkan padukuhan dan kademangan ini.-
    – Tetapi apakah sudah pernah terjadi, seorang gadis dimakan oleh Ki Demang ?-
    – Ada beberapa orang gadis yang telah hilang, ngger. Setidak-tidaknya tiga orang. Seorang dari padukuhan ini.-
    Glagah Putih dan Rara Wulan menjadi tegang. Sementara itu, perempuan itupun berkata – Karena itulah, maka padukuhan ini menjadi sepi. Terutama di malam hari. Setelah matahari terbenam maka setiap keluarga akan menghitung jumlah anggautanya. Jika ada satu saja yang belum nampak apalagi seorang gadis remaja, maka orang tuanya akan mencarinya. –
    – Bukankah yang dicari hanyalah gadis-gadis remaja ? Kenapa anak-anak juga tidak berani keluar di terang bulan ? –
    – Siapa tahu, jika Ki Demang itu tidak menemukan gadis-gadis remaja, maka anak-anakpun akan disantapnya. –
    Glagah Putih dan Rara Wulan hanya dapat saling berpandangan. Sementara perempuan itupun berkata selanjurnya – Bahkan perempuan-perempuan yang sudah bersuami, tetapi masih nampak mudapun takut keluar rumahnya jika matahari sudah menjadi semakin rendah. Bahkan disiang hari, mereka tidak berani pergi kesawah seorang diri. –
    Glagah Putih dan Rara Wulan hanya dapat mengangguk-angguk meskipun masih ada seribu pertanyaan di kepala mereka.
    Namun sejenak kemudian, perempuan itupun berkata – Silahkan duduk dahulu angger berdua. Aku akan membuat minuman. –
    Demikian perempuan itu pergi, laki-laki separo baya, yang agaknya suami perempuan itupun berkata – Masih harus dibuktikan bahwa Ki Demang makan orang. –
    – Jadi, hal itu baru semacam desas-desus saja paman. –
    – Tetapi gadis-gadis yang hilang itu benar-benar telah terjadi. Menurut dugaanku, gadis-gadis itu tidak dimakan dalam arti yang sebenarnya oleh Ki Demang. Tetapi sejak sebelum menjadi Demang, Ki Demang adalah alap-alap perempuan. Gadis-gadis telah dinodai. Bahkan perempuan yang sudah bersuamipun di runduknya pula di malam hari. Ia mengandalkan kuasa ayahnya pada waktu itu. Setelah ia sendiri berkuasa, maka agaknya kebiasaannya itu semakin menjadi-jadi, sehingga orang-orang menyebutnya sebagai pemakan daging manusia, terutama gadis-gadis remaja –
    Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya – Agaknya itu lebih masuk akal. Mungkin gadis-gadis itu telah diculik dan disimpan oleh Ki Demang ditempat yang tidak mudah diketemukan, sehingga orang mengira, bahwa gadis-gadis itu telah dibunuhnya dan dimakannya –
    – Ya ngger. Agaknya memang begitu. Karena itu, maka aku setuju dengan pendapat bibimu. Sebaiknya kalian bermalam saja disini. –
    Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Katanya – Terima kasih atas kesempatan ini, paman. –
    Namun tiba-tiba saja Rara Wulanpun berdesis – Bagaimana jika kita bermalam di banjar saja kakang. –
    Glagah Putih mengerutkan dahinya Namun ia segera mengetahui maksud Rara Wulan. Ia ingin mengumpankan dirinya, untuk mengetahui, apakah yang sebenarnya telah dilakukan oleh Ki Demang.
    Namun laki-laki separo baya itu terkejut Katanya – Kenapa ngger. Bukankah akan sangat berbahaya bagi angger berdua. Terutama angger Wara Sasi. Jika Ki Demang atau kaki tangannya melihat angger Wara Sasi, maka kemungkinan buruk dapat terjadi. Sebenarnyalah bahwa gadis-gadis yang hilang adalah gadis-gadis yang cantik. –
    – Aku justru ingin mengetahuinya paman – berkata Rara Wulan tanpa segan-segan.
    Tetapi itu sangat berbahaya ngger. Ki Demang mempunyai beberapa orang upahan yang siap menjalankan perintahnya Bahkan perintah membunuh sekalipun. Disamping itu masih ada juga orang-orang yang berusaha menjilat untuk mendapatkan kedudukan atau barangkali uang, tanpa menghiraukan korban yang disurukannya kebawah kaki Ki Demang itu. –
    – Tetapi bukankah tingkah Ki Demang itu harus dihentikan ? –
    – Aku tahu ngger. Tetapi jangan kalian berdua yang harus menanggung kemungkinan buruk. Pada suatu saat tingkah laku Ki Demang itu tentu akan terbongkar. Memang jangan mengorbankan perempuan-perempuan yang sudah berada di tangannya, yang aku kira masih tetap hidup. Tetapi seperti tadi angger katakan, mereka berada di tempat yang tersembunyi. –
    -Jangan cemaskan kami, paman. Tingkah laku Ki Demang itu tidak dapat dibiarkan lebih lama lagi. Mudah-mudahan kami berhasil. Setidak-tidaknya paman tahu, bahwa kami sudah mencobanya Jika kami hilang besok, maka pamanpun tahu apa yang telah terjadi. Terserah kepada paman, apa yang akan paman lakukan. Melaporkannya kepada siapa yang berwenang. –
    – Memang sebaiknya persoalan ini dilaporkan saja ngger. Tetapi sudah tentu, bahwa akan dapat dibuktikan, bahwa Ki Demang telah menculik gadis-gadis. Apakah gadis-gadis itu dibunuh atau untuk kepentingan yang lain. –
    Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Sementara laki-laki itu berkata – Jika akhirnya yang melaporkan itu tidak dapat menunjukkan bukti-bukti atau saksi yang kuat dan diyakini, maka yang memberikan laporan itu justru dapat dituduh memfitnah. –
    – Kami akan mencarikan bukti dan saksi itu, paman – jawab Rara
    Wulan.
    – Jangan mengorbankan dirimu, ngger. Kalian berdua masih terlalu muda untuk hilang dari pergaulan. –
    – Bukankah gadis-gadis remaja itu lebih muda lagi dari kami, paman. Mereka masih senang bermain di terangnya bulan. Mereka- masih belum puas menikmati belaian tangan ibunya. –
    Laki-laki yang sudah separo baya itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat iapun berkata – Aku mengerti, ngger. Bahwa kalian tidak dapat membiarkan kesewenang-wenangan itu terjadi. Tetapi biarlah kami, isi kademangan inilah yang menanggungkannya. Bukan kalian berdua. Justru orang lain. Jika terjadi sesuatu atas diri kami, maka kami adalah bagian dari kademangan ini. Sedangkan kalian, yang belum pernah menikmati hasil pala kependem, pala gemantung dan pala kesampar dari kademangan ini justru akan mengorbankan diri. –
    – Mudah-mudahan kami tidak sekedar menjadi korban. Tetapi kami justru akan dapat membongkar tingkah laku yang jahat ini, paman –
    – Jangan ngger, jangan. Jika isteriku tahu, maka ia akan menyesali kejadian ini sepanjang umurnya, karena isteriku itulah yang membawa kalian kemari. –
    -Tetapi paman – bertanya Glagah Putih – kenapa paman tidak memberitahukan kepada bibi, bahwa gadis-gadis itu tentu tidak dibunuh dan dimakan dagingnya Tetapi harus dicari makna yang sebenarnya dari dongeng itu. Gadis-gadis itu telah menjadi korban nafsu Ki Demang itu.-
    – Aku sudah mengatakannya ngger. Tetapi isteriku itu lebih percaya ceritera yang tersebar di kademangan ini. –
    – Jika dongeng itu dapat diungkapkan maknanya mungkin kegelisahan dan ketakutan akan dapat dibatasi. Anak-anak laki-laki tidak perlu ikut menyembunyikan diri di malam terang bulan seperti ini, sehingga padukuhan ini menjadi sangat sepi. –
    – Ketakutan itu sudah mencengkam semua orang, ngger. Sulit untuk dapat meredamnya meskipun seandainya orang-orang kademangan ini mempunyai dugaan sebagaimana aku katakan. Namun yang perlu kita ingat, ngger. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jika yang sebenarnya terjadi itu seperti dongeng yang tersebar di kademangan ini, maka keadaan akan bertambah buruk. –
    Rara Wulanlah yang menyahut – Karena itu, biarlah kami melihat, apa yang sebenarnya terjadi, paman.-
    – Jangan korbankan dirimu untuk sesuatu yang tidak berarti apa-apa bagimu.-
    – Tetapi akan berarti bagi banyak orang. Namun seperti yang aku katakan, mudah-mudahan yang terjadi bukannya korban yang sia-sia. Tetapi justru sebaliknya, aku akan dapat membongkar, apa yang sebenarnya telah terjadi di kademangan ini,-
    Laki-laki itu belum sempat menyahut ketika isterinya datang sambil membawa hidangan.
    – Marilah, ngger. Minumlah. Makanlah apa adanya-
    – Terima kasih, bibi – jawab Rara Wulan.
    Setelah meletakkan hidangannya, maka perempuan itupun telah ikut duduk pula bersama suaminya menemui Glagah Putih dan Rara Wulan.
    Setelah minum beberapa teguk, maka Rara Wulanpun berkata -Maaf, bibi. Kami sangat berterima kasih atas kebaikan hati paman dan bibi. Tetapi setelah kami mendengar ceritera dari paman dan bibi tentang tingkah laku Ki Demang, kami justru berkeinginan untuk pergi ke banjar dan minta ijin bermalam di banjar.-
    Perempuan itu terkejut. Dengan suara yang bergetar iapun bertanya – apa artinya itu ngger.
    – Bukan maksud kami memperkecil kebaikan hati ibu dan paman. Tetapi justru sebaliknya. Aku ingin mencari bukti kejahatan yang sudah dilakukan oleh Ki Demang.-
    – Jadi maksud angger justru dengan sengaja agar diambil oleh Ki Demang atau orang-orangnya?-
    – Ya, bibi. Tetapi bukan maksud kami untuk mengorbankan diri. Kami justru ingin mencari bukti-bukti tingkah laku Ki Demang yang tidak sewajarnya itu.-
    – Jangan ngger. Jangan lakukan itu. –
    – Doakan, bibi. Agar kami berhasil. Kami minta paman dan bibi memantau apa yang akan terjadi. Mudah-mudahan kami berhasil, sehingga orang-orang kademangan ini dapat lagi menikmati kehidupan yang tenteram dan terasa damai, anak-anak dapat bermain pada saat bulan terang dilangit Perempuan-perempuan muda tidak lagi takut pergi ke sawah atau pergi ke pasar.-
    – Tetapi akibatnya akan dapat menjadi buruk sekali bagi kalian berdua-
    – Mudah-mudahan tidak, bibi.-
    Perempuan itu menjadi sangat cemas mendengar rencana Rara Wulan itu. Karena itu, maka iapun berkata kepada suaminya – Kakang. Kau harus mencegahnya-
    – Aku sudah mencobanya. Tetapi agaknya angger berdua ini
    telah bertekad bulat.
    – Ngger. Kalian masih muda. Jangan korbankan hidup kalian
    yang seharusnya masih panjang itu. –
    – Sudah aku katakan, bibi. Kami tidak sekedar mengorbankan diri. Tetapi kami ingin membuktikan kesalahan Ki Demang, sehingga kehidupan akan kembali berlangsung dengan wajar,-
    Suami istri itu benar-benar tidak dapat mencegah Glagah Putih dan Rara Wulan. Bahkan perempuan itu sempat mengusap air matanya -Kau terlalu cantik untuk mati muda, ngger. Jangan lakukan itu.-
    – Doakan bibi. Mudah-mudahan kami berhasil. Tolong, ikuti perkembangannya sampai esok pagi
    Perempuan itu menjadi tegang. Dengan suara yang bergetar iapun bertanya – Apa yang harus aku lakukan ? –
    – Tidak apa-apa, bibi. Asal paman dan bibi tahu saja. Besok kami berdua akan singgah di rumah paman dan bibi ini. Jika kami besok tidak kembali, maka kami telah terjebak di dalam perangkap Ki Demang. Tolong, jika ada orang mencari kami berdua, seorang laki-laki dan adik perempuannya, beritahukan apa yang telah terjadi –
    – Kami masih mencoba untuk mencegah niat angger berdua itu. –
    – Kami tidak dapat berpangku tangan membiarkan kekejian itu berlangsung. Apakah gadis-gadis itu dibunuh atau dikurung oleh Ki De¬mang, bagi kami merupakan kekejian yang tidak dapat dibiarkan saja. –
    – Tetapi angger berdua dapat mencari cara yang lain, yang tidak terlalu berbahaya bagi angger berdua. –
    Glagah Putih dengan nada dalam menyahut – Bibi. Kami akan
    berhati-hati. –
    Suami isteri itu tidak berhasil mengurungkan niat Rara Wulan untuk mengumpankan dirinya. Bahkan Rara Wulanpun kemudian telah minta ijin untuk membenahi pakaian yang dipakainya. Dikenakannya kain panjangnya sebagaimana seharusnya, sehingga pakaian khususnya-pun tidak lagi nampak. Bahkan dititipkannya pedangnya pada suami isteri yang mencoba mencegahnya itu.
    – Bahkan kau tidak lagi bersenjata, ngger ? – bertanya laki-laki pemilik rumah itu.
    – Aku mempunyai senjata yang lain, paman – berkata Rara Wulan.
    Sebenarnyalah Rara Wulan memang tidak bersenjata. Tetapi ia yakin, bahwa Glagah Pulih akan selalu mengawasinya. Dalam keadaan yang gawat, Glagah Putih akan dapat memberikan pedangnya kepada Rara Wulan, sementara Glagah Putih sendiri masih mempunyai sebuah ikat pinggang yang justru akan dapat menjadi senjata yang sangat berbahaya.
    Sejenak kemudian, setelah Rara Wulan siap membenahi pakaiannya, maka iapun telah minta diri kepada suami istri pemilik rumah yang baik hati itu.
    Ketika Glagah Putih dan Rara Wulan meninggalkan rumah itu, perempuan yang mengajaknya singgah di rumahnya itu mengusap matanya yang basah sambil berkata – Aku mengerti, betapa luhur niatmu itu, ngger. Tetapi juga betapa berbahayanya –
    – Kebaikan hati bibi dan paman, telah mendorong aku untuk berbuat sesuatu menurut kemampuanku. Yang Maha Agung akan memberikan jalan kepadaku untuk membongkar tingkah laku Ki Demang itu, apapun yang dilakukannya. –
    Sejenak kemudian, Glagah Putih dan Rara Wulanpun telah meninggalkan regol halaman rumah kedua orang yang memberikan tempat menginap kepada mereka Keduanya langsung menuju ke banjar dari padukuhan yang sunyi diterangnya bulan itu.
    Di sepanjang jalan padukuhan, Glagah Putih telah memberikan petunjuk, bagaimana Rara Wulan harus menjawab pertanyaan-per¬tanyaan yang mungkin diberikan oleh orang-orang padukuhan itu. Dan bahkan barangkali oleh Ki Demang atau pengikutnya.
    – Kita sudah menjadi semakin dekat, Rara Padukuhan itu, bukan padukuhan yang miskin, meskipun tidak berlebihan. Karena itu, maka banjarnyapun terhitung cukup besar dengan halaman yang cukup luas. –
    – Menurut paman tadi, jika kita sampai disimpang tiga maka kita harus berbelok ke kanan. –
    – Ya. Beberapa puluh patok lagi, kau akan sampai di banjar. -Rara Wulan mengangguk-angguk.
    – Aku akan menyertaimu sampai disimpang tiga. Kemudian aku akan berusaha mengamatimu dari jarak yang tidak terlalu dekat. Jika keadaan memaksa, kau dapat memberikan isyarat. Jika perlu kau panggil namaku, Warigalit –
    Rara Wulan mengangguk-angguk pula.
    Ketika mereka sampai di simpang tiga, maka Glagah Putihpun berkata – Hati-hati Rara. Aku tidak akan terlalu jauh. Tetapi kita masih belum tahu, seberapa tinggi kemampuan Ki Demang dan para pengikutnya Karena itu, kita tidak boleh lengah sekejap pun. Ingat, jangan minum dan makan begitu saja Mungkin didalamnya terdapat racun yang dapat membius sehingga kau menjadi tidak sadar, atau bahkan meninggal. –
    – Baik kakang – sahut Rara Wulan.
    Sejenak kemudian, maka Glagah Putihpun berhenti. Dibiarkannya Rara Wulan berjalan sendiri di keremangan malam yang diterangi
    oleh cahaya bulan.
    Jalan yang langsung menuju ke banjar padukuhan itupun tetap sepi. Rumah-rumah sudah menutup pintunya. Satu dua oncor masih nampak menyala di satu dua regol.
    Di sebuah regol halaman yang terbuka, Rara Wulan terkejut Ia mendengar beberapa orang yang sedang berbincang.
    Ketika ia berpaling dilihatnya tiga orang laki-laki sedang duduk-duduk sambil berbincang di tangga dibelakang regol halaman itu.
    Bukan saja Rara Wulan yang terkejut Tetapi ketiga orang laki-laki itupun terkejut melihat Rara Wulan yang terhenti didepan regol.
    – He, kau siapa nduk ? – bertanya seorang diantara mereka dengan serta merta
    Rara Wulan berhenti. Ketiga orang laki-laki itupun bangkit berdiri pula. Mereka memang nampak ragu-ragu. Namun kemudian merekapun melangkah mendekat
    – Kau siapa nduk. Malam-malam kau berjalan sendiri. Dari mana
    dan mau kemana ?-
    – Aku akan pergi ke seberang Kali Pepe paman. Tetapi aku kemalaman dijalan.-
    – Keseberang Kali Pepe ? Kau pergi sendiri ?-
    – Ya, paman. Ayah sedang sakit Ibu minta aku menemui Uwakku yang tinggal di Wiyara, diseberang Kali Pepe.-
    – Kenapa malam-malam begini ?-
    – Aku berangkat menjelang matahari sepenggalan. Tetapi aku berhenti untuk beristirahat beberapa kali. Ternyata aku kemalaman di jalan.-
    – Apakah ayahmu sakit parah ?-
    – Ya, paman.-
    – Kau akan berjalan terus malam-malam begini ?-
    – Tidak, paman. Aku takut berjalan sendirian di malam hari. Jika diijinkan aku ingin mohon ijin untuk bermalam di banjar padukuhan ini.-
    Ketiga orang laki-laki itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian seorang di antara mereka berkata – Nduk. Jangan pergi ke banjar. Biarlah kau bermalam di rumahku saja. Rumah ini rumahku. Aku mempunyai anak seorang gadis, yang meskipun lebih kecil dari kau, tetapi ia dapat menemanimu bersama ibunya-
    Rara Wulan berdiri termangu-mangu. Sementara itu laki-laki yang lainpun berkata – Dengar kata-katanya, ngger. Singgahlah. Di rumah ini ada beberapa orang penghuni. Di antaranya adalah seorang gadis remaja dua orang adiknya dan ibunya. Kau dapat bermalam disini. Sedangkan aku tinggal di rumah sebelah, dan ini, pamanmu yang satu ini, tinggal dibelakang rumah ini.-
    – Terima kasih paman. Tetapi biarlah aku pergi ke banjar saja, agar aku tidak merepotkan keluarga paman. Bukankah di banjar aku tidak akan mengganggu siapa-siapa-
    – Dengar nduk- berkata laki-laki itu – padukuhan ini, dan bahkan seluruh kademangan, sedang dalam suasana yang aneh. Besok kau akan tahu. Tetapi dengarlah kata-kataku, jangan pergi ke banjar.-
    Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam. Ternyata orang-orang padukuhan itu adalah orang-orang yang baik. Namun agaknya bencana telah melanda mereka karena solah tingkah Ki Demang yang memegang kekuasaan tertinggi di kademangan itu.
    Namun tekad Rara Wulan sudah bulat. Karena itu, maka katanya sambil mengangguk hormat – Terima kasih, paman. Aku mengucapkan beribu terima kasih. Aku sama sekali tidak bermaksud menolak kebaikan hati paman. Tetapi biarlah aku pergi ke banjar.-
    – O, anak malang. Kau tidak tahu apa yang dapat terjadi atas dirimu. Kau adalah seorang gadis yang cantik. Justru kecantikanmu itulah yang dapat menjadi pangkal bencana bagimu.-
    – Ah, paman terlalu memuji. Terima kasih, paman. Aku akan pergi ke banjar.-
    – Ngger, jangan salah paham. Kami bermaksud baik. Jika kau mencurigai kami, biarlah isteriku dan anak gadisku yang remaja itu menjemputmu ke regol. Tetapi sebaiknya kau masuk ke halaman lebih dahulu.-
    Rara Wulan masih berdiri termangu-mangu. Sementara salah seorang di antara ketiga orang laki-laki itu berkata – Cepatlah, ngger. Masuklah ke regol.-
    Rara Wulan memang menjadi bingung. Ia tidak dapat menolak kebaikan hati yang tulus dari ketiga orang itu. Tetapi ia sudah bertekad untuk membongkar tingkah laku Ki Demang yang membuat seluruh kademangannya menjadi resah.
    Karena itulah, maka Rara Wulanpun berniat untuk berkata terus- terang kepada ketiga orang laki-laki itu agar tidak terjadi salah paham. Mereka tentu mengira bahwa Rara Wulan justru menjadi ketakutan melihat sikap mereka.
    Tetapi sebelum Rara Wulan mengatakan sesuatu, Rara Wulan terkejut ketika dari sebuah lorong kecil muncul dua orang laki-laki. Seorang bertubuh tinggi besar, sedangkan seorang lagi bertubuh sedang, berkumis lebat
    – Jangan bergeser dari tempatmu, nduk – berkata orang yang bertubuh sedang dan berkumis lebat
    Rara Wulan bagaikan membeku di tempatnya.
    – Jangan takut Kami akan melindungimu dari kerakusan ketiga orang laki-laki itu. Sudah menjadi kebiasaan mereka, duduk di pinggir jalan di waktu terang bulan. Mereka menunggu gadis-gadis remaja lewat.
    Seorang dari gadis padukuhan ini telah hilang. Beberapa orang yang lain berhasil menyelamatkan diri. Banyak saksi dapat bertutur tentang tingkah laku mereka bertiga. Tetapi kau tidak usah takut. Aku adalah bebahu kademangan yang akan melindungimu.-
    Jantung Rara Wulanpun terasa berdetak semakin cepat. Agaknya orang-orang seperti itulah yang ditunggunya. Justru sebelum ia sampai ke banjar, ia sudah berhasil menemuinya
    Sementara itu, ketiga orang laki-laki itu berdiri tegak ditempatnya. Seorang diantaranya sempat bergumam perlahan- Nasibmu kurang baik, nduk. Sayang sekali, kami tidak dapat menolongmu.-
    Rara Wulan memandang ketiga orang laki-laki itu dengan kerut di keningnya. Untuk memberikan sedikit ketenangan kepada ketiga orang itu, maka Rara Wulanpun berdesis – Jangan cemas, paman. Aku tidak akan membiarkan diriku menjadi korban. –
    Kata-kata Rara Wulan itu tidak segera dapat dimengerti maksudnya oleh ketiga orang laki-laki itu. Sementara itu, Rara Wulanpun berkata pula perlahan – Aku tidak akan membiarkan diriku dimakan Ki Demang dalam arti yang bagaimanapun juga. –
    Ketiga orang itu seolah-olah tersentak mendengar kata-kata Rara Wulan yang terakhir. Dengan demikian mereka mengetahui, bahwa perempuan muda itu menyadari sepenuhnya, apa yang dilakukannya
    Karena itu, maka ketiga orang laki-laki itupun tidak berkata apa-apa lagi.
    Dalam pada itu, kedua orang yang muncul dari lorong sempit itu telah menjadi semakin dekat Seorang diantara merekapun berkata – Ja¬ngan hiraukan ketiga orang laki-laki yang buas itu. Beruntunglah kau bahwa aku datang tepat pada waktunya, pada saat ketiga orang laki-laki itu sedang membujukmu. Jika kau tidak dapat dibujuknya maka ia akan melakukannya dengan kekerasan. –
    Rara Wulanpun bergeser selangkah menghadap kepada kedua orang laki-laki yang datang itu. Dengan nada tinggi Rara Wulanpun bertanya – Apa yang akan mereka lakukan, Ki Sanak ? –
    – Kau tentu tahu, apa yang akan mereka lakukan atasmu. Kau adalah seorang gadis yang cantik. Marilah. Ikut aku. Kau akan mendapat perlindungan. –
    Rara Wulan masih saja berdiri termangu-mangu. Namun orang yang bertubuh tinggi besar itupun berkata – Marilah kita pergi ke banjar, anak manis. Di banjar kau akan merasa aman. Kau akan dapat perlindungan siapapun kau. Darimanapun kau datang dan kemanapun kau pergi. Menurut pengamatan kami, kau bukan penghuni padukuhan ini. –
    – Aku memang bukan penghuni kademangan ini, Ki Sanak -jawab Rara Wulan.
    Kedua orang itupun kemudian berhenti dan berdiri dihadapan Rara Wulan. Orang yang tinggi besar itu memandang ketiga orang yang berdiri dibawah regol halaman dengan jantung yang berdebar-debar. Tidak seorangpun diantara mereka yang berbicara.
    – Jika demikian, marilah kita pergi ke banjar. –
    Rara Wulan menganguk-angguk. Dengan nada dalam Rara Wulanpun berkata – Terima kasih, Ki Sanak. –
    Demikianlah, maka orang yang bertubuh raksasa dan orang yang berkumis lebat itu telah membawa Rara Wulan menuju ke banjar. Orang yang bertubuh tinggi besar itupun berpaling kepada ketiga orang yang berdiri di bawah regol itu – Jika kalian tidak mau menghentikan tingkah laku kalian, maka pada saatnya kami akan mengambil tindakan atas nama Ki Demang. –
    Ketiga orang itu masih tetap berdiam diri.
    Demikianlah, maka kedua orang itu telah membawa Rara Wulan menuju ke banjar yang tinggal beberapa puluh langkah lagi.
    Tetapi ternyata kedua orang itu tidak membawa Rara Wulan ke banjar. Ketika mereka sampai di regol halaman banjar, mereka memang berhenti. Orang yang berkumis lebat itu telah masuk ke halaman banjar, sementara orang yang bertubuh raksasa dan Rara Wulan masih saja berdiri diluar.
    Beberapa saat kemudian, orang yang berkumis tebal itu telah keluar lagi dari halaman banjar sambil berkata – Banjar ini kosong –
    – Jadi bagaimana dengan gadis ini ? –
    – Biarlah ia bermalam di rumah Ki Demang saja –
    Yang berkumis tebal itu mengangguk-angguk. Katanya – Baiklah. Kita ajak gadis ini ke rumah Ki Demang. Di sana gadis ini tentu akan lebih terlindung. –
    – Dimana rumah Ki Demang itu, Ki Sanak ? – bertanya Rara Wulan.
    – Tidak jauh lagi, nduk. Beberapa rumah saja dari banjar. –
    – Tetapi bukankah rumah Ki Demang di padukuhan induk ? –
    – Rumah Ki Demang tidak hanya satu. Hampir disetiap padukuhan ada rumah Ki Demang. –
    – Untuk apa rumah sebanyak itu ? –
    Keduanya tidak segera menjawab. Namun kemudian keduanya tertawa. Yang bertubuh raksasa itupun berkata – Sudahlah nduk. Kau akan mendapat tempat menginap yang lebih baik daripada di banjar yang sepi itu. –
    – Ki Sanak. Sebenarnya aku ingin bermalam di banjar saja, agar tidak merepotkan siapa-siapa. –
    – Di rumah Ki Demangpun kau juga tidak akan merepotkan siapa-siapa. –
    Rara Wulan tidak menjawab lagi. Ia berjalan diantara kedua orang laki-laki yang mengaku bebahu kademangan itu.
    Untuk beberapa saat mereka saling berdiam diri. Rara Wulan berangan-angan, apakah yang kira-kira terjadi setelah ia berada di rumah yang dikatakan rumah Ki Demang itu.
    Rara Wulan terkejut ketika tiba-tiba saja orang berkumis lebat itu memegang lengannya dan berkata – Kita berbelok memasuki regol itu nduk.-
    – O. Inikah rumah Ki Demang ? –Ya.-
    – Benar rumah ini rumah Ki Demang ?-
    Orang itu memandang wajah Rara Wulan dibawah cahaya bulan yang putih kekuning-kuningan. Wajah Rara Wulan itu seakan-akan menjadi bertambah cantik dan bahkan bercahaya.
    Orang yang berkumis lebat itu termangu-mangu sejenak. Bahkan didalam hatinya telah tersembul sebuah pertanyaan – Seandainya aku tidak membawanya kepada Ki Demang, bukankah Ki Demang juga tidak tahu?-
    Tetapi ia tidak sendiri. Orang bertubuh tinggi besar itu tentu akan mengatakan kepada Ki Demang, bahwa mereka telah menemukan seorang gadis yang sangat cantik, yang datang sendiri ke padukuhan itu
    Orang berkumis lebat itu menarik nafas dalam-dalam.
    – Marilah – berkata orang yang bertubuh tinggi besar itu tanpa menjawab pertanyaan Rara Wulan.
    Kawannya yang berkumis lebat itupun tersentak. Sambil melangkah memasuki regol halaman iapun berdesis – Apa Ki Demang ada disini? –
    – Ya. Bukankah tadi siang Ki Demang mengatakan bahwa ia akan berada disini malam ini ? –
    Sebelum kawannya menjawab, seseorang telah menyongsongnya. Orang itu turun dari tangga pendapa dan masuk kedalam siraman cahaya bulan.
    – Siapakah perempuan itu ? – bertanya orang yang baru turun dari pendapa itu.
    – Kami akan menemui Ki Demang. –
    – Aku bertanya, siapakah perempuan itu –
    Namun orang yang bertubuh tinggi besar itu menjawab – Kami akan menemui Ki Demang. –
    – Apakah kau tidak mendengar pertanyaanku ? – suara orang itu menjadi semakin geram.
    Tetapi orang bertubuh tinggi besar itu menjawab dengan geram pula – Apakah kau tidak mendengar, bahwa kami akan menghadap Ki Demang ? Bukankah Ki Demang ada disini ? –
    – Ki Demang sedang berada di sentong tengah. Kalian tidak dapat menemuinya sekarang. –
    -Tentu dapat –
    – Tidak. Kau harus berbicara dengan aku lebih dahulu. –
    – Baik. Jika Ki Demang tidak dapat menerima kami sekarang, kami akan pergi. –
    – Biarlah perempuan itu disini. Kalian berdua dapat pergi. –
    – Tidak. Aku akan membawanya. –
    – Tinggalkan perempuan itu, kau dengar ? –
    – Aku akan membawanya pergi. Jika kau mencoba menahannya, maka akupun akan membawa sebelah telingamu pula – geram orang berkumis lebat.
    Orang yang baru turun dari pendapa itu tersentak. Dengan suara bergetar oleh kemarahannya yang bergejolak didadanya, iapun berkata – -Kau berani menentang aku, he ? Jika Ki Demang mengetahuinya, maka kau akan di cekiknya sampai mati. –
    – Tidak. Dengan membawa perempuan ini kepadanya, Ki Demang tidak akan marah kepadaku, apapun yang aku lakukan. –
    Kemarahan orang itu agaknya telah sampai ke ubun-ubun. Namun sebelum ia berbuat sesuatu, perhatian merekapun serentak tertuju ke pintu pringgitan yang terbuka.
    – Ada apa ? –
    – Maaf, Ki Demang – orang yang baru turun dari pendapa itulah yang menjawab – Kedua orang ini ingin menghadap Ki Demang. Ketika aku katakan kepada mereka, bahwa Ki Demang sedang berada di sentong tengah, mereka tidak percaya –
    – Siapa yang mereka bawa ? – bertanya orang yang baru keluar dari ruang dalam, yang ternyata adalah Ki Demang.
    – Seorang gadis yang manis, Ki Demang. Kami merasa kasihan kepadanya karena gadis ini kemalaman di jalan. Gadis ini akan pergi ke seberang Kali Pepe. –
    – O – Ki Demangpun kemudian telah turun dari tangga pendapa Ketika cahaya bulan meraba wajahnya, maka Rara Wulanpun
    bergeser setapak surut Wajah Ki Demang itu nampak keras seperti batu padas. Kumisnya nampak jarang melintang dibawah hidungnya.
    Ki Demang itu tersenyum. Sementara orang yang berkumis lebat, yang membawa Rara Wulan ke rumah Ki Demang itu berkata -Kami telah membawanya ke banjar untuk bermalam. Tetapi banjar itu ternyata kosong, Ki Demang. Karena itu, aku bawa gadis itu kemari. Barangkali Ki Demang mengijinkan gadis ini bermalam disini. –
    – Tentu, tentu aku tidak berkeberatan – jawab Ki Demang -Bukankah sudah menjadi kewajibanku untuk memberikan tempat bermalam bagi mereka yang kemalaman dijalan. Memberikan makan bagi mereka yang lapar dan memberikan minum bagi mereka yang kehausan. –
    – Karena itu, terserah kepada Ki Demang. –
    – Baik. Baik. Bawa anak itu masuk ke ruang dalam. –
    – Marilah, nduk – ajak orang bertubuh tinggi besar itu.
    Rara Wulan tidak membantah. Bersama kedua orang laki-laki yang membawanya, Rara Wulanpun masuk ke ruang dalam.
    Demikian ia berada di ruang dalam, maka kedua orang itupun segera meninggalkannya Namun yang kemudian berdiri di pintu adalah Ki Demang.
    – Duduklah – berkata Ki Demang sambil tersenyum. Namun Rara Wulanpun segera melihat, bahwa senyum itu adalah senyuman iblis yang paling jahat.
    Meskipun demikian, Rara Wulanpun duduk diatas tikar pan¬dan yang putih bersih, yang dibentangkan di ruang dalam rumah itu.
    Ki Demang yang masih saja tersenyum itu melangkah mendekati Rara Wulan setelah menutup dan menyelarak pintu.
    – Siapa namamu anak manis ? – bertanya Ki Demang yang duduk disebelah Rara Wulan.
    Rara Wulan bergeser setapak. Terasa bulu-bulunya meremang. Meskipun ia sudah bertekad untuk membongkar kejahatan yang telah dilakukan oleh Ki Demang, namun terasa jantungnya bergejolak.
    – Namaku Wara Sasi, Ki Demang – jawab Rara Wulan.
    – Wara Sasi. Nama yang bagus sekali. Nama yang pantas bagi se¬orang gadis yang cantik seperti kau ini. –
    – Ah – desah Rara Wulan – pujian Ki Demang berlebihan. –
    – Tidak. Aku tidak sekedar memuji. Kau benar-benar anak yang manis, cantik dan luruh. Itu nampak pada caramu memandang. –
    Rara Wulan bergeser lagi setapak.
    – Jangan takut – berkata Ki Demang – aku Demang di kademangan ini. Aku akan melindungimu dari segala mara bahaya. Kau akan merasa aman di rumah ini. Malam ini kau akan dapat tidur nyenyak sekali.-
    – Terima kasih, Ki Demang – desis Rara Wulan
    – Kau tentu haus dan lapar. Biarlah seorang pelayan melayanimu. Mungkin kau akan pergi ke pakiwan. Biarlah seseorang mengantarkanku. –
    Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun mengangguk sambil berdesis – Aku akan pergi ke pakiwan Ki Demang. Tetapi tidak usah diantar. Aku dapat pergi sendiri asal ditunjukkan, dimana tempatnya –
    Ki Demangpun tertawa
    Namun tiba-tiba saja Ki Demang itu bertepuk tangan. Seorang perempuan yang bertubuh tinggi berbadan besar menurut ukuran seorang perempuan, keluar dari pintu samping.
    – Ada apa Ki Demang. –
    – Bawa perempuan itu pergi dari sentong tengah. Sentong itu akan mendapat penghuni baru. –
    – Baik, Ki Demang. –
    Perempuan yang bertubuh tinggi dan besar itupun kemudian masuk ke sentong tengah. Terdengar keluhan tertahan. Namun kemudian diam.
    Sejenak kemudian, maka Rara Wulanpun melihat seorang perempuan yang masih muda dan berpakaian tidak lengkap ditarik dengan kasar oleh perempuan yang bertubuh tinggi dan besar itu.
    – Waktumu sudah habis. Kenapa kau berani tidur di sentong tengah ?-
    – Bukan maksudku. Bukankah kau yang membawa aku ke sentong tengah itu. –
    – Diam kau – bentak perempuan itu.
    – Bukan hanya malam ini. Tetapi hampir setiap malam aku kau perlakukan seperti itu. –
    – Diam. Kau mau diam atau tidak ?-
    Perempuan muda itu memang terdiam. Sekilas ia berpaling memandang Ki Demang. Namun kemudian dipandanginya pula Rara Wulan.
    Ki Demang bangkit berdiri dan melangkah mendekati perempuan itu sambil berkata – beristirahatlah, anak manis. Nampaknya kau letih. Matamu menjadi lebam dan selalu basah. –
    Perempuan muda itu tidak menjawab. Sementara Ki Demangpun berkata kepada perempuan tinggi dan besar itu. – Jangan perlakukan anak itu dengan kasar. –
    Perempuan yang bertubuh tinggi besar dan tegap itu mengerutkan dahinya.
    Ki Demangpun menepuk pipi perempuan yang tinggi dan besar itu sambil berkata – Aku sangat memerlukanmu. -Perempuan itu tidak menjawab.
    – Nah, biarlah anak ini beristirahat dengan baik. -Perempuan itu masih tidak menjawab. Ditariknya perempuan
    muda itu meninggalkan ruang dalam yang kemudian menjadi sangat lengang.
    Ki Demang yang masih berdiri itu termangu-mangu sejenak. Demikian kedua perempuan itu hilang dibalik pintu butulan, maka Ki Demangpun segera berpaling kepada Rara Wulan.
    Terasa jantung Rara Wulan berdesir. Wajah Ki Demang itu nampak menjadi semakin keras dan garang. Namun menurut penglihatan Rara Wulan, Demang itu memang masih terhitung muda.
    – Jangan hiraukan anak itu – berkata Ki Demang – sudah sejak beberapa hari ia berada disini. Ia selalu berada di sentong tengah. Jika tidak ada orang yang melihatnya, maka iapun segera menyelinap masuk dan tidur didalam. Aku tidak tahu, apa maksudnya Meskipun aku menjadi jengkel melihat sikapnya tetapi tidak sepatutnya ia diperlakukan dengan kasar.-
    – Siapakah perempuan itu ? – bertanya Rara Wulan.
    – Ia anak padukuhan ini. Ia datang kemari dan membuat ulah menurut kemauannya sendiri.-
    Rara Wulan mengangguk-angguk.
    Sejenak kemudian, maka Ki Demangpun bertepuk tangan lagi. Perempuan yang bertubuh tinggi besar itu pulalah yang datang.
    – Antar anak ini ke pakiwan. Ia ingin membersihkan dirinya setelah menempuh perjalanan jauh. Ia akan menjadi segar seperti bunga yang sedang mekar. –
    – Ah – desah Rara Wulan.
    Ki Demang mengerutkan dahinya. Desah itu terdengar sangat merdu di telinganya.
    Agaknya . Ki Demang menjadi tergesa-gesa. Karena itu, maka kalanya kepada perempuan yang bertubuh tinggi dan besar itu – Cepat, bawa anak ini ke pakiwan. –
    Perempuan itu mengerutkan dahinya. Namun iapun kemudian mendekati Rara Wulan, memegang lengannya dan menariknya.
    – Aduh – Rara Wulan menjerit – sakit bibi. –
    – Bibi ? Kau panggil aku bibi ? Kapan aku menjadi isteri pamanmu, he ? –
    – Jadi, bagaimana aku harus memanggilmu. Mbokayu ? -Orang itu termangu-mangu sejenak. Kemudian iapun berdesis –
    Agaknya itu lebih pantas. –
    Namun tiba-tiba saja iapun menarik lengan Rara Wulan lagi -Cepat. Kau harus mandi. Ki Demang tidak ingin kau berbau keringat dan bahkan seperti diolesi bahan perekat. –
    -Ah.-
    Ki Demanglah yang kemudian berkata sareh – Jangan terlalu kasar. Agaknya ia tidak terbiasa dikasari. –
    – Ia akan menjadi sangat manja. –
    – Apa salahnya – sahut Ki Demang sambil tertawa. Perempuan itu terdiam. Namun sebenarnyalah Rara Wulan menjadi muak melihat sikap Ki Demang itu.
    Sebelum perempuan itu menarik Rara Wulan, Ki Demangpun bertanya – Apakah kau membawa pakaian ? –
    Rara Wulan menggeleng. Katanya – Tidak, Ki Demang. –
    – Ambilkan kain panjang dan baju untuk anak ini. -Perempuan yang bertubuh tinggi besar itu bersungut-sungut. Na¬mun iapun melangkah ke sentong kiri. Kemudian ia keluar sambil mem¬bawa kain panjang dan sebuah baju.
    – Pakai ini. Cukup atau tidak cukup atau bahkan kebesaran. -Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak segera menerima kain panjang dan baju itu.
    – Ini ganti pakaianmu. Bawa sendiri. Apakah kau bermaksud agar aku yang membawa ini untukmu ? –
    Tiba-tiba saja Rara Wulan menjawab – Ya. Tolong, bawa kain dan baju itu supaya tidak menjadi basah. –
    – Gila – geram perempuan itu. Lalu katanya kepada Ki Demang -Ia sudah mulai manja. Aku ingin memotong hidungnya. –
    Ki Demang justru tertawa. Katanya – Jangan terlalu garang. Kau akan menakut-nakuti gadis-gadisku. –
    Namun Rara Wulanpun tiba-tiba pula bertanya – Apakah anak Ki Demang sudah gadis ? –
    – Bukan anakku – sahut Ki Demang.
    – Jadi siapa yang Ki Demang maksud dengan gadis-gadis itu ? -Wajah Ki Demang menegang sejenak. Namun kemudian iapun
    tertawa pula. Katanya – Banyak yang ingin kau ketahui anak manis. Sekarang mandi sajalah lebih dahulu. Kau akan menjadi semakin cantik.
    – Apakah disini ada landha merang ? Jika ada aku ingin sekali keramas. Rambutku kotor karena perjalanan berdebu. –
    – Setan kau. Keramas saja dengan air. Jangan banyak ribut, –
    Ki Demang tertawa semakin keras. Katanya – Ujudmu sudah menunjukkan bahwa kau sudah dewasa penuh. Tetapi sikapmu masih seperti gadis remaja yang manja. –
    -O-
    Rara Wulan tidak sempat lagi berkata apa-apa. Perempuan yang tinggi dan besar itu menariknya ke pintu butulan.
    – Jangan sakiti aku – Rara Wulan mengeluh.
    – Tidak, anak manis. Kau tidak akan disakiti. Kau akan diantar ke pakiwan. –
    Rara Wulan tidak menjawab lagi. Iapun ditarik saja oleh perempuan yang tinggi besar itu lewat pintu butulan menyusur serambi ke pintu belakang.
    Demikian mereka keluar dari pintu belakang, maka perempuan itupun menggeram – Itu, kau lihat ? –
    -Apa?-
    – Apa ? Kau masih bertanya ? Bukankah kau akan pergi ke pakiwan?-
    -O-
    Perempuan itu telah mendorong Rara Wulan sehingga Rara Wulan hampir saja terjerembab.
    Sambil membawa kain dan baju, Rara Wulanpun pergi ke pakiwan yang berada di dekat sumur.
    Malam menjadi semakin gelap. Sumur dan pintu pakiwan itu hanya diterangi oleh lampu yang berada disudut luar serambi samping.
    Dengan hati-hati Rara Wulan masuk kedalam pakiwan yang gelap. Tetapi Rara Wulan sama sekali tidak berniat untuk mandi. Iapun tidak ingin berganti pakaian, karena ia mengenakan pakaian khususnya dibawah kain panjangnya
    Namun tiba-tiba saja Rara Wulan itu mendengar desir lembut dibelakang pakiwan. Kemudian dari kegelapan itu Rara Wulan mendengar namanya disebut – Rara –
    – Kakang Glagah Putih. – bisik Rara Wulan. -Ya-
    – Sokurlah, kakang ada disitu ? –
    – Bukankah aku mengikutimu ? –
    – Bagaimana kakang tahu, aku akan pergi ke pakiwan ? –
    – Aku mendengarkan pembicaraanmu. Aku berdiri melekat din¬ding dilongkangan sebelah kiri. –
    Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya perlahan sekali – Aku tidak akan mandi.-
    – Sebaiknya kau basahi-tubuhmu.-
    – Aku mengenakan pakaian khusus di bawah pakaianku ini-
    – Maksudku, kau basahi wajahmu, tanganmu dan kakimu saja-
    – Aku tidak akan berganti pakaian.-
    – Lalu, pakaian ganti yang kau bawa itu ?-
    – Akan aku ceburkan ke dalam air. Aku akan mengatakan bahwa pakaian itu basah karena tanpa sengaja lepas dari tanganku dan masuk ke dalam air.-

  47. Api Dibukit Menoreh
    Jilid IV -35
    Bagian 2 dari 3

    – Lakukan. Tetapi berhati-hati. Perempuan yang bertubuh seperti raksasa itu tentu berbahaya-
    – Ya Tenaganya kuat sekali. Tetapi aku kira, yang diandalkan tentu hanya kekuatannya saja-
    – Aku kira memang begitu.-
    Keduanyapun terdiam. Terdengar gelebur air seperti orang sedang mandi. Namun Rara Wulan hanya menumpahkan air itu ke lantai pakiwan, yang dilapisi dengan batu-batu kerikil.
    Baru beberapa saat kemudian, Rara Wulan mencelup pakaian yang diberikan oleh perempuan yang bertubuh tinggi besar itu.
    Terdengar Rara Wulan terpekik kecil.
    – Ada apa ? – bertanya perempuan itu sambil berlari mendekat.
    – Tunggu -berkata Rara Wulan ketika perempuan itu berdiri di luar pintu.
    Baru sejenak kemudian, Rara Wulan keluar dari pintu pakiwan sambil membawa pakaian yang basah.
    – Kau tidak berganti pakaian ?-
    – Pakaian ini tidak sengaja lepas dan masuk ke dalam air.-
    – Perempuan gila – geram perempuan yang bertubuh tinggi itu -kau sepatutnya di hukum.-
    Namun ketika perempuan yang bertubuh tinggi besar itu akan menampar wajahnya Rara Wulan berteriak agak keras – jangan.-
    Ki Demang yang menunggu di dalam mendengar teriakan itu. Ia berlari-lari keluar lewat pintu belakang.
    – Ada apa?-
    – Perempuan ini bukan saja manja tetapi dungu.-
    – Kenapa ?-
    – Ganti pakaian yang aku berikan, diceburkan ke dalam jambangan sehingga basah kuyup.-
    – Aku tidak sengaja. Pakaian itu terlepas dari tanganku. Bukankah sejak semula aku sudah minta agar pakaian itu dibawakan untukku,-
    – Gila. Gila. Aku cekik kau sampai mati – perempuan itupun hampir berteriak.
    Namun Ki Demang itu justru tertawa. Katanya – Bawa anak itu masuk. Biarlah ia berganti pakaian didalam. Bukankah kau masih mempunyai pakaian yang lain.-
    – Aku tidak akan memberikan lagi kepadanya-
    Ki Demang masih saja tertawa Katanya – Bawa saja anak itu masuk
    Perempuan itu tidak membantah lagi. Ditariknya Rara Wulan masuk kedalam.
    – Biarlah ia berganti pakaian di sentong tengah – berkata Ki Demang ketika ia sudah berada di ruang dalam.
    Tetapi Rara Wulan itu berteriak – Tidak. Aku tidak mau berganti pakaian. Biarlah aku mengenakan pakaianku sendiri.-
    – Baik. Baik. Jika kau tidak mau berganti pakaian. Sudahlah. Duduk sajalah. Biarlah dihidangkan makan dan minuman hangat bagimu.-
    – Aku tidak lapar dan tidak haus, Ki Demang.-
    – Kau tentu lapar dan haus,-
    – Aku memang haus. Tetapi aku sudah minum di pakiwan tadi.-
    – He ? Kau minum air pakiwan ? Bukankah air di pakiwan itu untuk mandi. Tidak untuk minum ?-
    – Tetapi airnya segar juga-
    – Tetapi kau dapat menjadi sakit perut karenanya.-
    – Ternyata perutku tidak sakit.-
    – Kau memang anak yang keras kepala. Tetapi sifatmu itu justru sangat menarik. Baiklah jika kau tidak lapar dan tidak haus. Beristirahat sajalah di sentong tengah.-
    – Kenapa harus di sentong tengah, sementara gadis yang tadi disuruh pergi.-
    – Perempuan itu harus pergi, karena tempatnya akan aku berikan kepadamu.-
    – Apakah gadis itu tidak mendendam kepadaku ?-
    – Ia tidak akan dapat berbuat apa-apa. la berada di bilik sebelah. Bilik yang tertutup rapat Ia tidak akan dapat keluar jika bukan karena aku ingin ia keluar.-
    – Apa artinya itu, Ki Demang ?-
    – Tidak apa-apa Jangan hiraukan. Sekarang, beristirahat sajalah di sentong tengah itu.-
    Rara Wulan memang menjadi ragu-ragu. Ia tahu, bahwa apa yang dilakukan itu adalah bagian dari usahanya untuk membongkar kekejian yang dilakukan oleh Ki Demang yang wajahnya sekeras batu padas itu.
    – Tidurlah – berkata Ki Demang, sementara perempuan yang bertubuh tinggi besar itu sudah meninggalkan ruang tengah.
    Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Namun Ki Demangpun mendesaknya – Tidurlah. Bukankah kau letih.
    Rara Wulan mengangguk kecil. Katanya-Terima kasih, Ki
    Demang.-
    Rara Wulanpun segera masuk ke sentong tengah. Sebuah bilik yang tidak terlalu besar. Sebuah pembaringan yang bersih dialasi dengan tikar pandan yang putih bergaris-garis biru. Dindingnya dirangkapi dengan anyaman bambu wulung yang halus.
    Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam. Sebuah lampu minyak kelapa berada diatas ajug-ajug. Nyalanya yang terang memancar keseluruh ruangan.
    Rara Wulanpun kemudian duduk diatas bibir pembaringan. Terasa jantungnya semakin berdebaran. Meskipun tekadnya sudah bulat, namun Rara Wulan itu menjadi gelisah pula
    Untuk beberapa saat Rara Wulan duduk termenung. Dipandanginya anyaman dinding yang lembut disekelilingnya. Geledeg bambu terletak disisi yang lain. Rara Wulan tidak tahu, apa saja isinya
    Rara Wulan terkejut ketika tiba-tiba saja Ki Demang telah masuk kedalam bilik yang pintunya tidak berdaun itu. Yang hanya sekedar tertutup oleh sebuah selintru kayu.
    – Ki Demang – Rara Wulan segera bangkit berdiri.
    – Kau belum tidur anak manis?
    – Aku baru akan tidur, KiDemang.-
    – Tidurlah. Apalagi yang ditunggu ?-
    – Tidak ada Ki Demang.-
    – Sudahlah. Tidurlah. Hari sudah malam.-
    – Aku tidak dapat tidur ditempat seperti ini, Ki Demang.-Kenapa ?-
    – Tempat ini terlalu baik bagiku.-
    – Mungkin kau tidak terbiasa tidur dibawah cahaya lampu yang terlalu terang ? Baiklah. Biarlah aku padamkan saja lampu itu –
    – Tidak. Aku takut gelap.-
    – Jadi, kenapa ?-
    – Aku akan tidur di luar saja, Ki Demang, Di ruang tengah,-
    – Kau aneh, anak manis. Disini ada sentong yang kosong. Kenapa kau tidur di ruang tengah?-
    – Lalu Ki Demang tidur dimana?-
    – Bukankah pembaringan itu cukup luas?-
    – Maksud Ki Demang?-
    Ki Demang itu tertawa. Katanya – Kau tentu tahu maksudku. Karena itu, maka gadis yang memuakkan itu aku lemparkan keluar. Kau akan menggantikannya anak manis.-
    – Tidak. Pergi, pergi kau Ki Demang.-
    – Kau tidak berhak mengusir aku pergi. Rumah ini rumahku. Aku berhak untuk berada dimana saja yang aku kehendaki-
    – Jika demikian, biar aku saja yang keluar.-
    – Kau tamu disini. Kau harus tunduk kepada pemilik rumah, dimana kau akan ditempatkan.-
    Ketika Ki Demang tertawa maka seluruh bulu dan rambut Rara Wulan terasa meremang. Karena itu, maka iapun segera meloncat kesudut ruang. Digapainya dlupak minyak kelapa yang besar. Dengan suara yang bergetar Rara Wulanpun berkata – Jika Ki Demang melangkah selangkah lagi, maka aku lemparkan lampu dlupak yang menyala ini kedinding. Aku akan menyiram dengan minyak, sehingga dinding rumah ini akan terbakar. Jika api sudah menyala membakar dinding bambu yang kering ini, maka Ki Demang tidak akan dapat memadamkannya-
    – Jangan. Jangan bermain-main dengan api, anak manis.-
    – Pergi. Keluar dari bilik ini-
    – Rumah ini rumahku-
    – Aku tidak peduli. Aku akan membakar rumah ini. Biar saja aku terbakar didalamnya daripada Ki Demang menyentuh tubuhku. Nanti, orang-orang kademangan yang membantu memadamkan api, akan menemukan mayatku. Mayat seorang perempuan yang terkurung di rumah Ki Demang. Apalagi jika gadis yang tadi berada di sentong ini juga diketemukan mayatnya.-
    – Kau jangan berbuat seperti itu.-
    – Pergi. Keluar.-
    – Baik. Baik Aku akan keluar dari bilik ini.-
    Tetapi ketika Ki Demang sudah berada di ruang dalam, Rara Wulanpun keluar pula dari sentong tengah sambil membawa lampu minyak kelapa itu. Katanya – Ki Demang harus keluar dari ruang ini. Aku tidak mau Ki Demang ada didalam.-
    – Aku tidak akan masuk ke sentong tengah.-
    – Persetan. Jika Ki Demang tidak keluar, aku nyalakan dinding rumah ini.-
    Ki Demang memang tidak dapat memilih. Iapun dengan terpaksa keluar dari ruang tengah.
    Dengan cepat Rara Wulan menutup pintu dan diselarak dari dalam.
    Namun ketika Rara Wulan meletakkan lampu dlupak itu dan bergeser selangkah, tiba-tiba saja perempuan yang tinggi besar itu meloncat dan mendorongnya menjauhi lampu minyak kelapa itu.
    – Aku akan menguasainya Ki Demang – berkata perempuan itu keras-keras.-
    – Baik Jaga agar anak itu tidak membakar dinding,-
    – Aku sudah memisahkannya dari lampu minyak itu.-
    – Bagus. Tangkap anak itu dan buka pintunya-
    Perempuan itu memandang Rara Wulan dengan tajamnya. Matanya bagaikan menyala sedangkan mulutnya bergetar oleh kemarahan.
    Namun perempuan itupun berdesis perlahan – Kau akan aku bunuh sebelum Ki Demang masuk. Kau dan semua perempuan yang disimpannya harus aku bunuh seorang demi seorang. –
    – Kenapa ? – bertanya Rara Wulan.
    – Harus hanya ada satu perempuan disisi Ki Demang.–Kau?-
    -Ya-
    – Sudah berapa orang perempuan yang kau bunuh ?-
    – Kau adalah perempuan yang pertama akan mati. Aku ingin perempuan-perempuan yang lain membuat keonaran seperti kau, sehingga aku mempunyai alasan untuk membunuhnya-
    – Jika mereka tidak membuat keonaran ?-
    – Pada saatnya aku akan mencari alasan. –
    – Ada berapa orang perempuan yang disimpan oleh Ki Demang sekarang ini ?-
    – Enam. –
    – Semuanya disini ? –Tidak.-
    Rara Wulanpun menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun berkata – Kenapa kau harus membunuh mereka ? Kenapa mereka tidak kau carikan jalan untuk lari ?-
    Perempuan itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia¬pun berkata – Jika seorang diantara mereka yang lari dapat ditangkap kembali oleh kaki tangan Ki Demang, serta mereka berkata terus terang, bahwa aku yang melepaskan mereka, maka akulah yang akan mendapat hukuman. –
    – Tetapi bukankah perempuan-perempuan itu tidak bersalah ? –
    – Ya. Nasib merekalah yang buruk. Seperti nasibmu.-Pembicaraan merekapun terhenti. Mereka mendengar pintu diketuk dari luar.
    – Buka pintunya. – teriak Ki Demang.
    – Perempuan itu melawan, Ki Demang – perempuan yang bertubuh tinggi besar itu berteriak pula
    – Kau tentu dapat menangkapnya-
    – Tubuhnya licin seperti belut. –
    – Jangan sampai lepas. –
    – Jika perempuan ini tidak menyerah, aku terpaksa membunuhnya
    — Jangan bunuh perempuan itu. Ia terlalu cantik untuk mati.-
    — Tetapi ia sangat berbahaya bagi Ki Demang. –Buka pintunya -teriak Ki Demang. .
    Tetapi perempuan itu tidak segera membuka pintu itu. Ia benar-benar ingin membunuh Rara Wulan.
    Karena itu, ketika Ki Demang sekali lagi berteriak agar perempuan itu membuka pintu, perempuan itupun menjawab – Aku masih belum sempat Ki Demang. Ternyata perempuan itu membawa pisau belati dibawah bajunya. Beri aku waktu. Demikian aku mendapat kesempatan aku akan membuka pintunya.-
    — Perempuan itu membawa pisau belati? –
    — Ya Agaknya ia bukan perempuan baik-baik Ki Demang.-
    — Apakah ia sudah menipu kita?-
    — Ya-
    Rara Wulan sama sekali tidak menyahut. Ia membiarkan saja perempuan itu berbicara panjang dengan Ki Demang, karena Rara Wulan sendiri memang menginginkan agar pintu itu tidak dibuka.
    Diluar pintu Ki Demang itupun justru berkata keras-keras – Hati-hatilah. Perempuan itu jangan sampai terlepas dari tanganmu.-
    — Ya, Ki Demang,-
    Perempuan itupun kemudian melangkah mendekati Rara Wulan sambil tertawa Katanya perlahan-lahan – Kau akan mati anak manis. Ki Demang percaya kepadaku bahwa kau adalah seorang perempuan yang tidak pantas mendapat tempat disini. Kau bukan perempuan baik-baik.-
    Tetapi perempuan itu terkejut ketika Rara Wulanpun tertawa pu¬la Gadis itu sama sekali tidak menunjukkan kecemasannya apalagi keta¬kutan.
    — Aku menunggu kesempatan seperti ini – berkata Rara Wulan, – aku muak melihat tingkah lakumu dan tingkah laku Ki Demang. Kalian dengan semua kaki tangan kalian sudah membuat kademanganmu sendiri gelisah. Ki Demang yang seharusnya menjadi pengayom bagi rakyatnya justru telah merusaknya sendiri,-
    — Diam kau perempuan jalang – geram perempuan bertubuh tinggi besar itu – Kau akan mati.-
    Tetapi Rara Wulan masih saja tertawa Katanya – Sebut aku perempuan jalang. Tetapi aku akan membongkar kejalangan Ki Demang dan kaki tangannya.-
    – Kau ? Kau mau apa? Kau akan mati malam ini.-
    Rara Wulan tidak menjawab. Ketika perempuan itu bergeser mendekat, maka Rara Wulanpun telah menyingsingkan kain panjangnya Ternyata dibawah kain panjangnya Rara Wulan itu mengenakan pakaian khususnya.
    Perempuan bertubuh tinggi besar itulah yang menjadi berdebar-debar. Namun ia sudah berniat untuk membunuh Rara Wulan.
    Sejenak kemudian, maka perempuan yang bertubuh tinggi besar itu telah menerkam Rara Wulan. Kedua tangannya dengan jari-jari mengembang terjulur mengarah ke leher. Agaknya perempuan itu ingin mencekik Rara Wulan sampai mati.
    Tetapi Rara Wulan tidak membiarkan lehernya tercekik. Karena itu, maka iapun segera bergeser mengelak.
    Perempuan itu terkejut melihat cara Rara Wulan mengelak. Karena itu, maka iapun kemudian menggeram – Ternyata kau memiliki kemampuan olah kanuragan. Itulah sebabnya, maka kau nampaknya sama sekali tidak menjadi cemas akan keadaanmu.-
    – Seharusnya kau mengetahuinya sejak semula – berkata Rara Wulan – nah, sekarang kau mau apa ? –
    – Kau kira hanya kau yang memiliki kemampuan olah kanuragan,
    he?-
    – Tidak. Aku tahu bahwa banyak orang yang memiliki kemam¬puan olah kanuragan. Termasuk kau. –
    Perempuan itu menggeram. Namun kemudian iapun segera bersikap menghadapi Rara Wulan.
    Rara Wulan bergeser ketengah-tengah ruangan, untuk mendapat kesempatan bergerak.
    Sejenak kemudian maka perempuan yang bertubuh tinggi besar itu meloncat menyerangnya Bukan sekedar menjulurkan tangannya un¬tuk menggapai leher. Tetapi serangannya mulai diperhitungkan.
    Tetapi nampaknya perempuan itu masih berada pada tataran pertama. Setelah itu mungkin ia tidak lagi mendalami kelanjutan dari pengenalannya atas ilmu kanuragan. Karena itu, maka ia sama sekali bukan lawan Rara Wulan.
    Rara Wulan yang mempunyai rencananya sendiri, tidak ingin berlama-lama. Ketika perempuan itu menyerangnya sekali lagi, maka Rara Wulanpun segera menghindarinya. Namun dengan cepat kakinya menyambar perut perempuan itu, sehingga perempuan itu terbungkuk.
    Dengan cepat Rara Wulan memukul tengkuk perempuan itu sehingga perempuan itupun jatuh terjerembab. Namun perempuan itu tidak segera bangkit, karena perempuan itupun menjadi pingsan.
    Rara Wulanpun segera menyelinap pintu butulan. Ia mencari bilik yang dipergunakannya untuk menyimpan gadis yang dikeluarkan dari sentong tengah pada saat Rara Wulan masuk keruang dalam.
    Ketika Rara Wulan melihat sebuah pintu yang diselarak dari luar, maka Rara Wulanpun menduga, bahwa pintu itu adalah pintu bilik tempat gadis di kurung.
    Dengan cepat Rara Wulan mengangkat selarak pintu itu. Kemudian didorongnya pintu itu sehingga terbuka lebar.
    Rara Wulan tertegun. Ia melihat seorang gadis yang duduk di pembaringan sambil menangis terisak-isak.
    Gadis yang menangis itupun terkejut pula ketika tiba-tiba saja pintu terbuka. Seorang perempuan dengan pakaian yang khusus berdiri termangu-mangu memandanginya
    Rara Wulanpun segera melangkah memasuki bilik itu. Namun demikian Rara Wulan maju selangkah, gadis itupun bangkit berdiri. Wajahnya membayangkan ketakutan yang sangat Tubuhnya gemetar. Wajahnyapun menjadi pucat, sedangkan seluruh tubuhnya menjadi basah oleh keringat.
    – Jangan takut – desis Rara Wulan – aku datang untuk mengeluarkanmu dari bilik yang pengab ini. –
    – Kau siapa ? –
    – Namaku Wara Sasi. Tetapi itu tidak penting. Yang penting, kau keluar dan pulang. Dimana rumahmu ? –
    – Aku anak padukuhan ini. Rumahku di tikungan, tidak terlalu jauh dari banjar.-
    – Marilah – kita mencari jalan keluar.
    – Tetapi perempuan itu ? –
    – Yang tinggi dan besar ? –Ya-
    – Ia sedang pingsan. Aku memukul tengkuknya –
    Gadis itu masih ragu-ragu. Namun Rara Wulanpun segera menarik tangannya sambil berkata – Kita akan keluar lewat pintu belakang.
    Keduanyapun segera berlari ke pintu belakang. Dengan sigapnya Rara Wulan mengangkat selarak pintu dan mendorong pintu sehingga terbuka.
    Namun demikian pintu terbuka, gadis itu memekik kecil. Dibawah cahaya oncor disudut luar serambi samping, kedua perempuan itu melihat Ki Demang berdiri sambil bertolak pinggang.
    Terdengar suara tertawa Ki Demang yang memuakkan.
    – Kalian mau lari kemana ? – bertanya Ki Demang.
    – Minggir, atau aku paksa kau minggir dengan kekerasan.-
    Ki Demang tertawa semakin keras. Katanya kau mau apa anak manis. Marilah, masuklah kembali kedalam. Aku tidak akan marah kepada kalian.-
    Ketika Ki Demang akan memegangi tangan Rara Wulan, maka Rara Wulanpun bergeser kesamping sambil menarik gadis itu.
    – Jangan sentuh kami berdua. –
    Ki Demang masih tertawa. Katanya – Jangan terlalu garang. Kau adalah seorang perempuan yang cantik. Jika kau terlalu garang, maka kecantikanmu akan berkurang.-
    – Ki Demang. Aku akan mengajak gadis ini pulang kerumahnya. Ia akan menjadi saksi, apa saja yang pernah kau lakukan, agar rakyat kademanganmu tidak selalu dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan. Mereka yang mempunyai gadis, bahkan gadis-gadis kecil dan remaja, selalu dibayangi ketakutan, bahwa gadis mereka akan ditangkap Ki Demang. Gadis-gadis itu akan dibunuh dan kemudian dimakan oleh Ki Demang.-
    Wajah Ki Demang yang sekeras batu padas itu menegang. Dengan lantang lapun berkata – Itu fitnah. Aku bukan binatang buas yang makan daging manusia.-
    – Aku tahu, Ki Demang. Aku memang sudah menduga, bahwa kau tidak benar-benar membunuh dan makan daging gadis-gadis yang hilang itu. Apalagi mengingat tingkah lakumu sebelum kau menjadi Demang disini.-
    – Jadi, apa masalahnya ?-
    – Meskipun kau bukan binatang buas pemakan daging, tetapi kau justru lebih buas dari itu. Seekor binatang buas memang sudah nalurinya, sudah takdirnya makan daging binatang buruannya. Tetapi kau tidak Ki Demang. Kau adalah jenis binatang yang bernalar budi. Seharusnya kau dapat mengenal baik dan buruk, benar dan salah. Tetapi bertanyalah kepada dirimu sendiri. Apa yang kau lakukan terhadap gadis-gadis kademanganmu yang seharusnya kau jaga dan kau ayomi.-
    – Cukup – bentak Ki Demang – siapa kau sebenarnya perempuan jalang ?-
    – Perempuanmu yang tinggi dan besar itu juga menyebutku perempuan jalang. Tetapi itu tidak apa-apa. Sekarang, menyerahlah. Kau akan aku hadapkan kepada orang tua gadis ini. Aku akan minta mereka memanggil tetangga-tetangga mereka. Para bebahu padukuhan dan para bebahu kademangan.-
    – Gila. Sudah sepantasnya kau dibunuh.-
    – Acungkan kedua tanganmu. Aku akan mengikatnya Ki Demang.-
    Ki Demang yang menjadi sangat marah itu tidak menjawab lagi. Tiba-tiba saja ia telah meloncat dengan cepat sambil menjulurkan tangannya menyerang ke arah ulu hati.
    Tetapi Rara Wulan sempat mengelak sambil berkata kepada gadis yang ingin dilarikannya itu – Mundurlah. Berdirilah sedikit di belakang pintu.-
    Gadis itu menurut iapun melangkah surut dan berdiri selangkah dibelakang pintu-
    Ki Demang yang marah itu dengan garangnya telah menyerang Rara Wulan sejadi-jadinya. Tangan dan kakinya berganti-ganti terayun, terjulur lurus dan menebas dengan cepatnya. Namun serangan-serangan itu sama sekali tidak menyentuh Rara Wulan. Bahkan sekali-sekali jika Rara Wulan sengaja membentur serangan-serangan itu, Ki Demang harus berdesis menahan nyeri.
    Dengan kemarahan yang meluap-luap Ki Demang telah menyerang Rara Wulan seperti banjir bandang. Namun serangan-serangannya itu sama sekali tidak mampu menggoyahkan pertahanan Rara Wulan. Bahkan sekali-sekali Rara Wulan yang membalas menyerang, justru mampu mengenai sasarannya.
    Beberapa saat kemudian, Ki Demangpun telah mulai terdesak. Beberapa kali ia berloncatan surut untuk mengambil jarak. Namun Rara Wulan berusaha untuk memburunya dan menyerangnya tanpa memberi kesempatan kepada Ki Demang untuk memperbaiki kedudukannya.
    Dalam kesulitan itu, maka Ki Demangpun telah bersuit nyaring untuk memberi pertanda kepada para pengikutnya, agar mereka datang membantu.
    Ampat orang telah datang berlari-lari. Merekapun segera melihat, betapa Ki Demang itu hampir tidak berdaya menghadapi perempuan yang baru saja dibawa ke rumah itu.
    Ketika Ki Demang melihat orang yang bertubuh tinggi besar ser¬ta orang yang bertubuh sedang dan berkumis lebat, maka iapun segera berteriak – Inilah macam betina yang kau bawa masuk ke dalam rumahku.-
    Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Sementara Ki Demang itu berteriak – Tangkap perempuan itu hidup-hidup. Ia harus menyesali perbuatannya. Aku harus menghukumnya, la akan mengalami perlakuan yang paling buruk dari semua gadis-gadis yang pernah tinggal bersamaku.-
    Keempat orang itupun segera bergerak. Namun tiba-tiba saja mereka mendengar suara tertawa seseorang.
    Orang-orang yang berada di halaman belakang ili berusaha untuk melihat sesosok tubuh dalam kegelapan didekat sebatang pohon yang besar. Agaknya orang itu telah cukup lama bersembunyi di belakang po¬hon itu.
    – Iblis kau. Apa maksudmu ?-
    – Sudah sejak tadi aku menonton bagaimana Ki Demang berusaha melindungi dirinya dari amukan seorang perempuan yang akan dijadikan korbannya
    – Persetan kau – geram Ki Demang yang masih bertempur melawan Rara Wulan sambil meloncat mundur untuk mengambil jarak. Namun Rara Wulan masih tetap memburunya
    Sementara itu orang yang baru muncul itupun berkata pula – Kemudian sekelompok laki-laki datang untuk mengeroyok seorang perempuan.-
    – Diam kau – bentak Ki Demang. Lalu katanya kepada kaki tangannya itu – dua orang di antara kalian, tangkap orang itu hidup atau mati. Kemudian dua orang yang lain bersamaku untuk menangkap perempuan ini hidup-hidup untuk menikmati hukumannya
    Demikianlah, maka mereka berempatpun segera membagi diri. Dua orang diantara mereka segera mendekati Glagah Putih, sedangkan kedua orang yang lain telah mendekati Ki Demang yang semakin terdesak. Kedua orang itu adalah kedua orang yang telah membawa Rara Wulan ke rumah Ki Demang itu.
    Rara Wulanpun bergeser surut untuk mengambil jarak. Diamatinya kedua orang yang menangkapnya dan membawanya ke rumah Ki Demang untuk diumpankan.
    – Selamat malam, Ki Sanak berdua – berkata Rara Wulan sambil mengangguk.
    – Setan betina, kau – geram Ki Demang. Perempuan itu sama sekali tidak menjadi cemas, meskipun ia harus berhadapan dengan tiga orang laki-laki termasuk Ki Demang.
    – Inikah yang terjadi di kademangan ini ? Ki Demang ternyata bukan seorang panutan yang baik. Semula aku tidak percaya bahwa Ki Demang adalah pemakan daging. Terutama gadis-gadis cantik. –
    – Fitnah. Itu fitnah – teriak Ki Demang – aku bukan pemakan
    orang.-
    – Bukan fitnah, Ki Demang. Yang terjadi memang demikian meskipun tidak pada arti yang sebenarnya. Nah, sekarang kau harus ditangkap. Kau akan dihadapkan kepada rakyatmu yang selama ini ketakutan dan kecemasan.-
    Ki Demang menggeram, la tidak ingin membuang waktu lagi.
    Karena itu, maka iapun segera berkata lantang – Tangkap gadis itu hidup-hidup.-
    Ketika kedua orang itu mulai bergerak, mereka terkejut melihat laki-laki yang tadi bersembunyi itu melangkah mendekati perempuan yang garang itu.
    Ki Demang dan kedua orangnyapun segera berpaling untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh kedua orangnya yang diperintahkannya menangkap laki-laki itu.
    Namun Ki Demang dan kedua orang kaki tangannya itu terkejut melihat kedua orang itu terbaring diam di tanah.
    – Apa yang kau lakukan terhadap mereka ? – bertanya Ki Demang.
    – Mereka tidak mati. Mereka hanya pingsan – jawab Glagah
    Putih.
    Jantung Ki Demang terasa semakin cepat berdegup.
    Dengan suara yang bergetar iapun bertanya – Bagaimana mungkin mereka begitu saja dapat pingsan ? Apakah kau mempunyai ilmu siluman ? –
    – Ya, Ki Demang. Ilmuku memang ilmu siluman. Karena itu, menyerah sajalah sebelum darahmu dihisap.-
    Wajah Ki Demang menjadi sangat tegang. Namun tiba-tiba ia menggeram – Aku akan membunuh kalian semua.-
    Glagah Putihpun segera mempersiapkan diri. Demikian pula Rara Wulan. Sementara itu, Ki Demangpun berkata dengan lantang -Bunuh orang itu. Kemudian kita tangkap perempuan ini bersama-sama.-
    Kedua orang kaki tangan Ki Demang itu nampak ragu-ragu. Sekali mereka berpaling memandang tubuh kawan-kawan mereka yang terbaring diam.
    Namun Ki Demang itu membentak – Cepat Selesaikan orang
    itu,-
    Meskipun keduanya ragu, tetapi keduanya tidak dapat mengelak lagi. Jika mereka tidak melakukannya, maka Ki Demang akan menjadi sangat marah kepada mereka.
    Karena itu, meskipun jantung mereka berdebaran, namun Keduanyapun melangkah mendekati Glagah Putih.
    – Cepat Bunuh orang itu.-
    Kedua orang itupun telah menggapai senjata mereka masing-masing. Namun sebelum mereka sempat menariknya, tiba-tiba saja Glagah Putih telah meloncat Demikian cepat, sehingga hampir tidak dapat diikuti dengan mata kewadagan, tangannya menyambar kening dan arah ulu hati kedua orang itu.
    Glagah Putih tidak perlu mengulang serangannya. Kedua orang itupun terlempar jatuh di tanah. Keduanya tidak menggeliat lagi. Seperti kedua kawannya, maka keduanyapun telah pingsan.
    Ki Demang menjadi sangat cemas. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Orang-orangnya yang ditakuti oleh orang sekademangan itu sudah tidak berdaya.
    – Nah, apa katamu sekarang Ki Demang ? – Rara Wulanlah yang bertanya.
    Ki Demang tidak segera dapat menjawab. Degup jantungnya terasa menjadi semakin cepat sehingga terasa dadanya menjadi sakit
    – Ulurkan tanganmu – berkata Rara Wulan.
    Ki Demang tidak segera menjawab.
    Rara Wulanpun kemudian melangkah mendekatinya. Perlahan-lahan ia berjalan mengelilingi Ki Demang itu sambil berkata seolah-olah kepada diri sendiri – Tubuhnya memang tegap. Lengannya nampak kokoh. Jari-jarinyapun kuat seperti jari-jari kaki burung rajawali. Tetapi ternyata didalam tubuh yang tegap itu terdapat tulang-tulang yang rapuh. Tetapi lebih dari itu, jiwanyalah yang lebih rapuh lagi. –
    Ki Demang berdiri bagaikan membeku. Ketika Rara Wulan berdiri dibelakangnya, maka rasa-rasanya nyawanya telah berada di ubun-ubun. Perempuan itu dapat dengan mudah membunuhnya dengan melubangi punggungnya. Namun Rara Wulan tidak menyentuhnya. Bahkan Rara Wulanpun telah membungkuk meraih ikat kepala seorang kaki tangan Ki Demang yang pingsan.
    Ki Demang terkejut ketika ia mendengar perempuan itu membentak di belakang punggungnya – Letakkan kedua tanganmu dibelakang.-
    Dengan serta-merta Ki Demang memutar tubuhnya. Namun dua telapak tangan yang kuat mencengkam pundaknya dan memutarnya kembali — Letakkan kedua tanganmu di belakang. —
    Ki Demang menyeringai menahan sengatan rasa nyeri di pundaknya Ternyata jari-jari perempuan itu sangat kuat bagaikan jari-jari itu terbuat dari baja.
    — Cepat—bentak Rara Wulan.
    Ki Demang tidak dapat berbuat lain. Ketika kedua tangannya itu diletakkan dibelakang, maka Rara Wulanpun segera mengikatnya dengan ikat kepala.
    — Kakang — berkata Rara Wulan — tunggu orang ini. Biarlah aku berbicara dengan gadis itu. —
    Glagah Putih tidak menjawab. Tetapi ia melangkah maju mendekati Ki Demang yang tangannya sudah terikat.
    Rara Wulanpun kemudian dengan cepat mendapatkan gadis yang gemetar dibelakang pintu.
    — Sekarang kau justru sempat membenahi pakaianmu — berkata Rara Wulan — benahilah sebentar. Kami akan mengantarmu pulang. —
    Gadis itupun membenahi pakaiannya di belakang pintu belakang. Kemudian Rara Wulanpun telah mengajaknya keluar.
    Ki Demang tidak dapat berbuat apa-apa ketika Glagah Putih menggiringnya mengelilingi rumah itu pergi ke halaman depan. Kemudian mereka melangkah keluar regol halaman.
    Rara Wulan dan gadis yang telah dikurung beberapa hari di rumah Ki Demang itupun berjalan didepan. Kemudian Ki Demang dan dibelakangnya adalah Glagah Putih.
    Ketika mereka sampai di simpang empat, Ki Demang itupun berkata—Kita akan pergi ke mana? —
    — Ke rumah gadis ini—Jawab Rara Wulan
    — Untuk apa? —
    — Tidak untuk apa-apa. Biarlah anak ini pulang. —
    — Apakah kita tidak dapat mencari jalan lain — berkata Ki Demang.
    — Jalan lain apakah yang kau maksud? —
    — Aku mempunyai beberapa buah rumah. Aku mempunyai uang, perhiasan, beberapa buah pedati dan sawah. Dapatkah kita mengkaitkan persoalan kita dengan kekayaanku itu? —
    — Maksudmu? —
    — Mungkin kau memerlukannya. —
    — Seandainya kami memerlukannya, apa yang harus kami lakukan sekarang? —
    — Lepaskan aku. Biarlah aku pulang. Besok aku akan menyelesaikan persoalan ini dengan orang tua gadis itu. —
    — Lalu gadis itu? —
    — Jika kau ingin membawanya kepada orang tuanya, bawalah. —
    — Lalu apa yang harus aku katakan kepada orang tuanya?
    — Terserah kepadamu, apa yang akan kau katakan. Yang penting, lepaskan aku’. Kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan. —
    — Bagaimana aku yakin, bahwa aku akan mendapatkannya? —
    — Besok kau dapat datang kerumahku. Aku berjanji untuk memberikan apa saja yang kau minta. —
    Rara Wulan terdiam. Sementara itu gadis yang akan di antar pulang itu menjadi berdebar-debar. Jika Ki Demang itu benar-benar akan dilepaskan, maka segala-galanya akan dapat berbeda.
    Namun tiba-tiba saja Rara Wulan itupun berkata — Marilah. Kita berjalan terus. —
    — Berjalan kemana? — bertanya Ki Demang.’ —Ke rumah gadis ini. —
    — Kau dengar tawaranku? —
    — Aku dengar. —
    — Lalu? —
    — Aku tidak tertarik. Meskipun aku tidak memiliki apapun dalam pengembaraanku, tetapi kau tidak dapat membeli harga diriku dengan apapun juga. —
    — Jangan terlalu bodoh. Kau akan dapat menjadi kaya Kau tidak usah bekerja berat, segala kebutuhanmu sudah tercukupi. — Rara Wulanpun tertawa. Katanya — Maaf, Ki Demang. Menurut pendapatku sebaiknya sekarang juga kau pergi ke rumah gadis ini. Lihat, bulan terang. Sementara itu kademanganmu nampak sepi. Tidak ada anak bermain jamuran. Tidak terdengar tembang gadis-gadis remaja. Tidak terdengar derap anak-anak bermain kejar-kejaran.
    Wajah Ki Demang menjadi sangat tegang. Dengan geram iapun berkata — Kau tahu, bahwa aku Demang disini? —
    — Ya. Aku tahu. —
    — Aku dapat menggantung kau berdua. —
    — Justru karena kau seorang Demang, maka kesalahan yang telah kau lakukan itu menjadi berlipat. Hukumanmupun akan berlipat. —
    Ki Demang itu mengumpat kasar. Namun tiba-tiba saja terasa punggungnya disentuh oleh laki-laki yang berjalan di belakangnya.
    — Ki Demang. Jangan menjadi gila. Sebaiknya kau akui semua kesalahanmu. —
    Ki Demang itu menggeretakkan giginya. Namun ikatan tangannya itu tidak dapat dilepaskannya.
    — Sudah waktunya perbuatanmu itu dihentikan—berkata Glagah Putih kemudian.
    Ki Demang memang tidak dapat berbuat apa-apa. Tetapi apa jadinya jika ia akan dihadapkan orang tua gadis itu. Tetangga-tetangganya tentu akan turut campur pula.
    Dengan jantung yang berdebaran, Ki Demang melangkah terus menuju ke rumah gadis yang pernah diculiknya dan disekapnya dirumahnya itu.
    Ketika mereka berjalan di depan sebuah regol halaman, di mana ketiga orang laki-laki pernah menyapa dan mencoba mencegah agar Rara Wulan jangan pergi ke banjar, Rara Wulan tertegun sejenak. Mereka masih melihat ketiga orang laki-laki itu duduk di belakang regol.
    Ketiganya terkejut melihat Rara Wulan berjalan bersama seorang gadis padukuhan itu yang pernah dinyatakan hilang. Semua orang menyangka, bahwa gadis itu termasuk salah seorang korban Ki Demang. Dibunuh dan dimakannya.
    Mereka semakin terkejut ketika mereka melihat Ki Demang terikat tangannya digiring oleh seorang laki-laki muda.
    – Apa yang sudah terjadi ? – bertanya salah seorang dari mereka.
    – Aku telah menangkap Ki Demang – jawab Rara Wulan
    – Menangkap Ki Demang ? – bertanya salah seorang dari mereka.
    – Ya Aku menemukan gadis ini di rumah Ki Demang.-
    – Di rumah Ki Demang ?-
    – Ya Aku akan mengantar gadis ini pulang. Ketiga orang itu termangu-mangu sejenak. Namun Rara Wulanpun berkata – Marilah. Ikut kami mengantar gadis ini pulang.-
    Ketiga orang itu termangu-mangu sejenak. Namun dalam pada itu, Ki Demangpun berkata – Kau mengenal aku bukan?
    – Ya Ki Demang – jawab seorang dari ketiga orang itu.
    – Nah, tangkap orang-orang ini. Mereka telah memfitnah aku.-. Ketiga orang itu termangu-mangu sejenak, sementara Rara Wulanpun berkata – Ki Demang. Semua orang tahu apa yang telah kau lakukan terhadap gadis-gadis yang hilang. Gadis ini akan menjadi saksi, apa yang pernah kau lakukan terhadapnya. Dan tentu juga terhadap gadis-gadis lain yang telah hilang dari rumahnya-
    Tetapi Ki Demang itupun berteriak – Tangkap orang orang ini. Mereka telah memfitnah aku.-
    – Diamlah Ki Demang. Tidak ada gunanya kau berteriak-teriak. Tidak akan ada orang yang akan menolongmu. Kaki tanganmu masih pingsan di belakang rumahmu. Demikian pula perempuan kepercayaanmu. Seandainya mereka sudah sadar, mereka tidak akan berani menolongmu, karena mereka tentu akan dibantai oleh rakyatmu.-
    – Gila. Kau sudah gila – teriak Ki Demang. Lalu Ki Demang itupun berteriak – Tolong, tolong aku. Bukankah kalian kenal, siapa aku ? Aku akan memberi hadiah kepada kalian yang menolong aku. Tetapi aku akan menghukum mereka yang terlibat dalam usaha yang licik dan keji. Memfitnah aku.-
    – Apapun yang kau katakan, tidak akan dapat menolongmu, Ki Demang – berkata Glagah Putih – jika orang-orangmu mempercayaimu, maka aku akan menusuk punggungmu sampai mati. Kami berdua akan dengan mudah melarikan diri dari orang-orangmu.-
    Jantung Ki Demang tergetar pula mendengar ancaman Glagah Putih. Sementara itu Rara Wulanpun berkata – Biarlah gadis ini nanti mengatakan kepada orang tuanya, apa yang pernah dialaminya di rumah Ki Demang. Penguasa tertinggi di kademangan ini. Seorang yang seharusnya menjadi pengayom dan pelindung rakyatnya di kademangan ini.-
    — Jangan percaya kepada mereka. Tolong aku. Nanti kalian akan mendapat hadiah yang sangat berarti bagi seumur hidupmu.-
    Namun Glagah Putih yang berada dibelakang Ki Demang itupun mendorongnya sambil berkata – Ayo, berjalanlah. Kita akan pergi ke rumah gadis itu.-
    —Tolong aku – teriak Ki Demang.
    — Bagus – berkata Glagah Pulih – berteriaklah agar lebih banyak orang yang mendengarnya Mereka akan berdatangan dan ikut mendengarkan kesaksian gadis itu.-
    — Setan kau.-
    Namun Ki Demang itu terkejut. Tiba-tiba saja tangan Glagah Putih telah menyambar mulut Ki Demang itu sehingga Ki Demang itu mengaduh kesakitan.
    — Jika kau mengumpat lagi, maka aku akan merontokkan gigimu semuanya-
    Ki Demang itu terdiam. Sementara Glagah Putihpun berkata kepada Rara Wulan – Marilah. Kita pergi ke rumah gadis itu.-
    Rara Wulanpun kemudian berkata kepada gadis yang diselamatkannya itu – Marilah kita berjalan.-
    Keduanyapun meneruskan langkah mereka. Glagah Putihpun telah mendorong Ki Demang yang tangannya masih terikat
    Ternyata ketiga orang laki-laki itupun mengikutinya dibelakang. Seorang lainnya yang mendengar Ki Demang berteriak dan menjenguk di regol halamanpun telah mengikuti pula Seorang lagi dan seorang lagi, sehingga akhirnya menjadi sebuah iring-iringan dari beberapa orang laki-laki.
    Sejenak kemudian gadis yang telah ditolong Rara Wulan itupun berhenti didepan regol halaman yang tidak terlalu luas. Dengan nada berat gadis itu berdesis – Ini rumahku.-
    — Ini rumahmu ? – ulang Rara Wulan.
    — Ya-
    — Baiklah. Marilah aku serahkan kau kepada orang tuamu.-Gadis itu menjadi berdebar-debar: Namun iapun kemudian melangkah mendorong pintu regol yang tertutup, tetapi diselarak dari dalam.
    Demikian pintu itu terbuka, maka gadis itupun segera melangkah memasuki halaman diikuti oleh Rara Wulan.
    Tetapi Ki Demang tidak segera melangkah masuk. Terasa kakinya bagaikan menjadi timah yang sangat berat.
    – Masuklah – berkata Glagah Putih.
    Ki Demang menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia tidak dapat menolak lagi, ketika Glagah Putih kemudian mendorongnya
    Gadis yang diselamatkan Rara Wulan itu seakan-akan tidak dapat menunggu lagi. Iapun kemudian berlari naik ke pendapa, langsung menuju ke pintu pringgitan. Dipukulinya pintu pringgitan itu dengan kerasnya
    Ayah dan ibunya terkejut mendengar pintu rumahnya dipukuli dengan kerasnya. Dengan nada tinggi ayah gadis itu bertanya – Siapa diluar. he ? –
    Yang terdengar adalah jerit gadis itu – Ibu, ibu. –
    Ibunya yang mendengar dan langsung mengenali suara anak gadisnya tidak menunggu lebih lama lagi. Iapun segera berlari, mengangkat selarak pintu pringgitan.
    Demikian pintu terbuka, maka dilihatnya anak gadisnya berdiri di belakang pintu.
    Kedua orang ibu dan anak itupun segera saling berpelukan. Gadis yang telah diculik kaki tangan Ki Demang itupun menangis sejadi-jadinya.
    Ibunya juga menangis. Tetapi ia masih dapat bertanya – Apa yang telah terjadi, ngger ? Kemana saja kau selama ini ? –
    – Ki Demang, ibu. –
    – Bagaimana dengan Ki Demang ? –
    Anak perempuannya tidak dapat langsung menjawab. Tangisnya tumpah bagaikan air yang meluap dari bendungan yang pecah.
    Ayahnyalah yang kemudian melangkah keluar. Dilihatnya Rara Wulan berdiri termangu-mangu di pringgitan. Sementara itu, beberapa orang berdiri di halaman.
    – Siapa kau ? – suara ayah gadis itu bergetar.
    – Aku datang untuk mengembalikan anak gadismu Ki Sanak –
    – Kau mengembalikan anak gadisku ? –
    – Ya Aku telah mengambilnya dari rumah Ki Demang. -Wajah ayah gadis itu menjadi semakin tegang. Dilihatnya Rara
    Wulan berdiri termangu-mangu.
    – Katakan yang sebenarnya – geram ayah gadis itu – jika kau berbohong, aku bunuh kau. –
    Rara Wulan bergeser mundur. Ia dapat mengerti, bahwa laki-laki itu tentu sedang dalam kebingungan. Ayah gadis itu tentu masih belum tahu, apa yang sebenarnya terjadi.
    – Bertanyalah kepada anakmu – jawab Rara Wulan.
    Laki-laki itupun kemudian berpaling kepada anaknya. Sementara di halaman, Glagah Putihpun berkata – Kami telah menangkap Ki Demang yang telah menculik anakmu. –
    Laki-laki itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian anak gadisnya yang sudah puas menangis di dada ibunya itupun berkata disela-sela isaknya – Perempuan itu telah menolong aku, ayah. –
    – Bagaimana hal itu dapat dilakukannya ? –
    – Entahlah. Tetapi ia sudah masuk ke rumah Ki Demang. Berkelahi dan mengalahkan Ki Demang beserta kaki tangannya. Kemudian mengikat tangan Ki Demang dan membawanya kemari. –
    Laki-laki itupun kemudian bertanya kepada Rara Wulan – Apa yang telah kau lakukan ? –
    Rara Wulan mengerutkan dahinya. Sikap ayah gadis itu dapat dimengertinya. Tetapi Rara Wulan tidak menyukai sikap itu. Karena itu, Rara Wulan tidak segera menjawab.
    Karena Rara Wulan tidak segera menjawab, maka ayah gadis itupun membentaknya – Kenapa kau diam saja, he ? Apakah kau tidak dapat berbicara ? –
    – Ayah – anak gadisnya berlari memeluk ayahnya dari belakang dengan eratnya Katanya – Ayah perempuan itu telah menyelamatkan aku dari tangan Ki Demang. –
    Tiba-tiba saja Ki Demang yang terikat tangannya dibelakang itupun berteriak – Aku telah difitnah. Perempuan itu telah menipuku. –
    Tetapi tiba-tiba Ki Demang itu terdiam ketika tangan Glagah Putih mencengkam tengkuknya sambil berkata – Ki Demang. Sudah aku katakan, aku dapat membunuhmu. Aku dapat berbuat apa saja tanpa dapat dihalangi. –
    – Kau akan ditangkap oleh rakyatku yang setia serta berpegang pada kebenaran sejati. –
    Tiba-tiba saja tubuh Ki Demang itu berputar. Tangan Glagah Putih telah menyambar mulurnya dengan kerasnya
    – Cobalah berbicara lagi. –
    Perlakuan anak muda itu terhadap Ki Demang telah menggetarkan jantung orang-orang yang menyaksikannya.
    Ayah gadis yang diselamatkan oleh Rara Wulan itupun kemudian berdiri termangu-mangu. Jantungnya terasa berdegup semakin keras, la benar-benar menjadi bingung melihat keadaan yang tiba-tiba saja dihadapkan dimuka hidungnya.
    Rara Wulan yang tidak menyukai sikap ayah gadis yang diselamatkannya itupun tiba-tiba saja telah melangkah turun dari pendapa. Kepada Glagah Putih iapun berkata – Marilah. Tugas kita sudah selesai. Terserah kepada orang-orang padukuhan ini, apa yang akan mereka lakukan. –
    – Kita perlu memberikan penjelasan – berkata Glagah Putih.
    – Aku tidak suka diperlakukan seperti ini. –
    Rara Wulan tidak menunggu lebih lama lagi. Iapun segera melangkah menuju ke pintu regol halaman.
    Glagah Putih tidak dapat melepaskannya pergi. Karena itu, maka Glagah Putihpun berkata kepada orang-orang yang ada di halaman rumah itu — Terserah kepada kalian. Tetapi dengarlah ceritera gadis yang telah menjadi korban itu. Kami sudah mencoba untuk membongkar kejahatan ini. Langkah selanjutnya terserah kepada kalian. —
    Glagah Putihpun kemudian segera melangkah menyusul Rara Wulan ke regol halaman.
    Namun Ki Demangpun telah berteriak – Jangan biarkan kedua orang itu pergi. Tangkap mereka. Aku harus mengadilinya.-
    Orang-orang itu memang menjadi bingung. Mereka tidak tahu apa yang akan dikerjakannya
    Namun tiba-tiba saja gadis yang baru saja dibebaskan oleh Rara Wulan itupun berteriak – Jangan. Jangan tangkap kedua orang itu. Tetapi sebaiknya kita minta mereka dengan rendah hati untuk kembali ke halaman rumah ini. Ayahku menyambut mereka dengan sikap yang terlalu kasar, sehingga perempuan itu telah tersinggung karenanya-
    – Apa yang sebenarnya telah terjadi, ngger ?- seorang yang sudah separo baya melangkah mendekati gadis yang kemudian berdiri di tangga pendapa itu.
    Namun Ki Demang masih juga berteriak – Tangkap dahulu kedua orang itu, hidup atau mati.-
    – Tidak – gadis itupun berteriak pula – Mereka telah menolong aku. Beberapa hari yang lalu, aku telah diculik oleh beberapa orang yang ternyata adalah kaki tangan Ki Demang. Aku disekap di dalam rumahnya untuk dijadikan budaknya. Budak nafsu rendahnya yang tidak terkendali.-
    – Itu fitnah – teriak Ki Demang – ia sudah terpengaruh oleh kedua orang itu. Kedua orang itulah yang telah menculik gadis itu dan mengotori otaknya dengan bayangan-bayangan yang menakutkan. Aku kenal keduanya Kakak beradik itu adalah orang-orang upahan dari saudara sepupuku, yang menginginkan jabatanku.-
    – Ki Demanglah yang telah memfitnah – gadis itupun kemudian berpaling kepada ayahnya – seharusnya ayah berterima kasih kepada kedua orang itu. Tetapi ayah justru menyakiti hatinya-
    – Aku menjadi bingung. Bingung sekali.-
    – Panggil keduanya kakang. Panggil dan minta maaf kepada mereka- berkata ibu gadis itu.
    – Itu tidak perlu – teriak Ki Demang – justru keduanya harus ditangkap hidup atau mati.-

  48. Api Dibukit Menoreh
    Jilid IV -35
    Bagian 3 dari 3

    Orang yang sudah separo baya itupun kemudian berkata – Aku mempercayai gadis ini. Selama ini kita memang sudah mencurigai Ki Demang. Bahkan telah timbul dugaan, bahwa Ki Demang telah menculik gadis-gadis untuk dibunuh dan dimakannya. Ternyata dugaan itu benar. Gadis-gadis yang hilang itu memang telah diculik oleh Ki Demang.-
    – Gila. Itu adalah pendapat orang gila-
    – Ada dua kemungkinan Ki Demang – berkata orang yang sudah separo baya itu – dugaan itu adalah dugaan yang gila, atau karena Ki Demang menjadi gila, lalu timbullah dugaan-dugaan seperti itu.-
    – Kau juga memfitnah aku ? Aku tidak menduga, bahwa selama ini kau bersikap baik kepadaku. Ternyata kau telah menusuk di arah punggung.-
    – Bukan begitu Ki Demang. Kita sekarang sedang mencari kebenaran, apa yang sebenarnya telah terjadi di kademangan kita ini.-
    Wajah Ki Demang menjadi tegang. Sementara itu, gadis yang baru saja dibebaskan itupun berkata lantang – Aku dapat memberikan kesaksian tentang perbuatan jahat Ki Demang. Biarlah aku menjadi sangat malu karena keadaanku. Tetapi aku akan memberikan kesaksian tanpa menyembunyikan sesuatu.-
    – Itukah yang telah terjadi ? – suara ayah gadis itu bergetar.
    – Ya, ayah. Dan ayah sudah menyakiti hati perempuan yang menolongku.-
    Tiba-tiba laki-laki itu berlari masuk ke dalam rumahnya. Ketika ia berlari keluar, ditangannya telah tergenggam sebilah keris telanjang.
    Beberapa orang meloncat menahannya. Mereka berusaha mencegah niat ayah gadis yang telah disekap oleh Ki Demang itu untuk langsung membunuhnya.
    – Aku bunuh binatang itu – geram ayah gadis itu.
    – Jangan. Kita masih memerlukannya – berkata orang yang sudah separo baya – meskipun anakmu telah dibebaskan, tetapi masih ada beberapa orang gadis yang lain yang masih belum diketemukan. Beberapa orang gadis dari padukuhan yang lain.
    Meskipun kemarahan yang sangat telah membakar jantungnya, namun ayah gadis yang disekap oleh Ki Demang itu masih dapat menahan diri. Beberapa orang gadis yang hilang itupun harus diketemukan dan diselamatkan.
    Dalam pada itu, halaman rumah itupun menjadi semakin banyak didatangi orang. Bukan hanya laki-laki. Tetapi juga beberapa orang perempuan.
    Sementara itu, laki-laki separo baya itupun berkata – Selama ini kami hanya dapat mencurigai Ki Demang tanpa dapat menunjukkan bukti atau saksi. Sekarang, kita mempunyai saksi yang kuat yang bersedia untuk memberikan kesaksian yang diperlukan itu.-
    Jantung Ki Demang menjadi semakin berdebar-debar. Orang-orang yang ada di halaman itu semakin mendesak maju. Sementara itu orang yang sudah separo baya itu berkata selanjutnya — Panggil Ki Jagabaya dan bebahu yang lain. —
    Namun seorang laki-laki yang masih lebih muda berkata lantang – Jika para bebahu itu berpihak kepada Ki Demang ?-
    – Kalau begitu kita sajalah yang menentukan hukuman baginya. Terserah kepada kita, apakah Ki Demang itu akan kita pancung atau kita gantung.-
    – Tunggu – berkata orang yang sudah separo baya – kita harus membebaskan yang lain. Karena itu, kita tidak akan membunuhnya Kecuali jika Ki Demang tidak mau menunjukkan, di mana ia menyembunyikan gadis-gadis yang lain.-
    Dalam pada itu, Ki Demang tidak dapat menahan gejolak perasaannya lagi. Ia tahu, bahwa di tangan rakyatnya yang marah itu, ia akan menjadi pengewon-ewon. Karena itu, selagi mereka sedang berbincang dengan sepenuh perhatian, Ki Demang itu tiba-tiba saja telah mencoba melarikan diri. Meskipun tangannya terikat dibelakang, tetapi ia sempat juga berlari menerobos beberapa orang yang sedang mengeru¬muninya.
    Namun seorang dari mereka sempat menyilangkan kakinya se¬hingga kaki Ki Demang itupun telah terantuk kaki itu dan jatuh terjerem¬bab.
    Ternyata sikap Ki Demang itu telah menyulut kemarahan orang-orang yang mengerumuninya Seorang tiba-tiba saja menerkamnya, menarik berdiri dan dengan serta-merta memukulnya.
    Beberapa orang lain dengan serta-merta telah ikut memukulinya pula. Semakin lama semakin banyak yang terlibat.
    Orang yang sudah separo baya itu dengan susah payah mencoba mencegah mereka. Sambil berteriak-teriak ia mendorong orang-orang yang kehilangan kendali itu.
    – Jangan lakukan itu. Jangan. Kita akan menyerahkan Ki Demang kepada orang yang berwenang mengadili dan menjatuhkan hukuman.-
    Akhirnya kemarahan orang-orang padukuhan itu dapat diredakan. Namun orang-orang itu tidak sekedar mengikat tangan Ki Demang ke belakang. Tetapi mereka mengikat Ki Demang pada sebatang pohon.
    Ki Demang sudah tidak dapat berbicara apa-apa lagi, kecuali mengerang kesakitan.
    Orang yang sudah separo baya itupun kemudian berkata – Jagalah Ki Demang baik-baik. Aku dan ayah gadis itu, akan mencari kedua orang yang telah menolong dan membebaskan gadis itu. Jika kami dapat menemukannya, maka kami akan membawa mereka kembali. Kami harus minta maaf kepada mereka berdua.-
    Seorang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan menyahut – Baik lah, kang. Kami akan menungguinya.-
    – Jangan disakiti lagi. Apa yang telah terjadi itu sudah cukup. Aku akan kembali sebelum fajar, ketemu atau tidak ketemu dengan kedua orang itu.-
    Dalam pada itu, Rara Wulan yang meninggalkan rumah gadis itu langsung menuju ke tempat suami isteri yang telah menawarkan penginapan kepadanya dan berusaha mencegahnya agar tidak pergi ke banjar.
    – Kau akan kemana Rara ? – bertanya Glagah Putih.
    – Aku akan mengambil pedangku. Kita akan meninggalkan padukuhan ini.-
    – Kita masih diperlukan disini, sehingga gadis-gadis yang lain dapat diketemukan.-
    – Orang-orang padukuhan inipun akan dapat menemukannya-Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti, kenapa Rara Wulan telah tersinggung.
    Namun ternyata berita tentang terbongkarnya kejahatan Ki Demang itu telah merata. Nampaknya beberapa orang sengaja membangunkan tetangga-tetangga mereka dan mengajaknya ke rumah gadis itu.
    Rara Wulan telah mengajak Glagah Putih untuk tidak berjalan di sepanjang jalan. Tetapi mereka berjalan melewati halaman dan kebun agar tidak bertemu dengan orang-orang yang pergi ke rumah gadis itu. Jika sekali lagi timbul salah paham, mungkin Rara Wulan tidak lagi dapat mengekang dirinya.
    Ketika ia sampai di rumah yang ditujunya, maka Rara Wulanpun segera mengetuk pintunya.
    – Siapa ? – terdengar suara seorang perempuan.
    – Aku bibi. Wara Sasi. Aku yang menitipkan pedang di rumah
    ini.-
    Perempuan itu tidak melupakan suara Rara Wulan. Karena itu, maka iapun segera membuka pintu pringgitan dan mempersilahkan Rara Wulan dan Glagah Putih masuk
    – Kalian darimana saja ngger ?-
    – Kami telah berusaha membebaskan gadis yang hilang itu, bibi. Kami telah berhasil dan menyerahkannya kepada orang tuanya. Sementara itu, Ki Demangpun telah diikat tangannya di halaman rumah gadis itu. Jika gadis itu berani memberikan kesaksian, maka Ki Demang benar-benar akan dapat dihukum.-
    – Jadi angger berdua berhasil ?-
    – Begitulah, bibi. Tetapi dimana paman ?-
    – Seseorang telah memberitahukan, bahwa salah seorang gadis yang hilang itu sudah diketemukan. Pamanmu pergi ke rumah gadis itu. Apakah kalian tidak bertemu dijalan ?-
    – Tidak bibi- desis Rara Wulan.
    Perempuan itu termangu-mangu sejenak. Katanya kemudian — Seharusnya kalian bertemu dijalan. Bukankah kau juga dari rumah gadis itu? —
    – Ya, bibi. Tetapi aku sengaja menghindar agar tidak banyak berpapasan dengan orang-orang yang pergi ke rumah gadis itu.-
    – Kenapa ngger. Kenapa kau begitu cepat meninggalkan gadis itu ?-Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian kepada
    Glagah Putih iapun berdesis – Begitu cepat berita itu tersebar.-
    – Kita yang memerlukan waktu berlipat karena kita tidak berjalan lewat jalan padukuhan.-
    Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan nada rendah – Ya. Kitalah yang memerlukan waktu yang panjang.-
    Sementara itu, laki-laki yang sudah separo baya serta ayah gadis yang baru diketemukan itu telah turun ke jalan. Mereka memang tidak tahu, kemana mereka mencari kedua orang yang telah membebaskan gadis itu. Seorang yang melihat kedua orang itu keluar dari regol halaman hanya dapat menunjukkan arahnya saja.
    Namun di jalan padukuhan, kedua orang itu telah bertemu dengan laki-laki yang dititipi pedang oleh Rara Wulan.
    – Kau lihat seorang laki-laki dan perempuan lewat di jalan ini ?-bertanya orang yang sudah separo baya
    – Siapakah yang kau maksud ? –
    – Dua orang yang telah membebaskan gadis yang hilang itu.-
    – Kenapa harus dicari ?-
    – Mereka pergi begitu saja setelah menyerahkan gadis itu kepada ayahnya-
    – Salahku – berkata ayah gadis itu – aku terlalu bingung sehingga sikapku telah menyinggung perasaan perempuan yang telah membebaskan anakku.-
    – Aku tidak bertemu dengan mereka. Tetapi perempuan itu telah menitipkan pedangnya dirumahku. Karena itu, entah sekarang, entah besok, perempuan itu tentu mengambil pedangnya-
    – Mungkin sekarang – berkata ayah gadis itu – jika demikian, marilah, kita pergi ke rumahmu, kang.-
    Kedua orang yang mencari Glagah Putih dan Rara Wulan itupun kemudian bersama-sama dengan laki-laki yang dititipi pedang Rara Wulan itu dengan tergesa-gesa berusaha menyusul Glagah Putih dan Rara Wulan.
    Sebenarnyalah, ketika mereka sampai di rumah laki-laki itu, Glagah Putih dan Rara Wulan masih berada di rumah itu. Tetapi Rara Wulan yang telah menggantungkan pedangnya di lambung kirinya telah siap untuk pergi meninggalkan rumah itu.
    Demikian ayah gadis itu melihat Rara Wulan, maka dengan serta merta orang itu telah berlutut sambil berkata – Aku mohon maaf, ngger. Aku mohon maaf atas kekerasanku. Waktu itu aku benar-benar menjadi bingung, sehingga aku tidak tahu, apa yang harus aku lakukan.-
    Rara Wulan tercenung melihat sikap orang itu. Justru karena itu, perempuan itupun seakan-akan telah membeku.
    – Aku mohon angger sudi datang kembali. Anak gadisku itu menanyakanmu. Ia meyakinkan aku, bahwa sikapku telah menyinggung perasaanmu.-
    Rara Wulan masih belum menjawab. Sementara itu Glagah Putihlah yang mendekati laki-laki itu dan menariknya berdiri.
    – Berdirilah, paman.-
    Orang itu masih belum mau berdiri.
    – Berdirilah – minta Glagah Putih.
    – Aku ingin mendengar jawabannya Jika angger bersedia kembali ke rumahku, maka aku akan berdiri.-
    Akhimya jantung Rara Wulan tergetar pula Dengan suara yang hampir tidak terdengar Rara Wulanpun menjawab – Baiklah, paman. Aku akan kembali menemui gadis itu,-
    – Terima kasih ngger, terima kasih.-
    Rara Wulan bergeser surut ketika orang itu akan mencium kakinya, sementara Glagah Putih menariknya untuk berdiri.
    Orang itupun akhirnya berdiri juga Namun ia masih mengulangi permintaannya – Marilah, ngger. Kembalilah. Anakku mencarimu.-
    Rara Wulan memandang Glagah Putih sejenak. Ketika Glagah Putih menganggukkan kepalanya maka Rara Wulanpun berkata – Marilah. Masih ada beberapa orang yang harus dibebaskan,-
    Demikianlah. maka Glagah Putih dan Rara Wulanpun kembali ke rumah gadis yang telah diketemukan kembali itu, diiringi oleh bebera¬pa orang.
    Dalam pada itu, orang-orang yang menunggui Ki Demang menjadi gelisah. Tiba-tiba saja seorang kaki tangan Ki Demang telah naik ke pendapa sambil berteriak – Serahkan Ki Demang kepadaku atau kalian semua akan menjadi debu.-
    Tidak seorangpun yang menjawab. Kaki Tangan Ki Demang yang datang itu adalah seorang yang bertubuh agak pendek, namun tubuhnya nampak begitu kokoh. Tangan dan kakinya nampak seperu terbuat dari tembaga.
    Ternyata orang itu tidak sendiri. Dua orang yang lain berdiri disebelah menyebelah pendapa, sedangkan orang-orang yang pingsan di rumah Ki Demang telah sadar pula serta ikut datang ke halaman rumah itu.
    Dalam pada itu, orang yang bertubuh agak pendek dan berdiri di pendapa itu berteriak lagi — Minggir. Biarkan aku mengambil Ki Demang yang telah kalian sakiti. Agaknya kalian telah termakan oleh fitnah yang keji, sehingga berani bertindak sedemikian kasarnya terhadap Demangnya sendiri. —
    Tidak seorangpun yang menjawab.
    – Minggir – Teriak orang itu sehingga atap rumah itu seakan-akan telah bergetar.
    Orang-orang yang berdiri di halaman itupun menjadi cemas melihat sikap orang itu. Orang itu bukan saja nampak kokoh dan kuat, tetapi pada wajahnya juga terbayang sifatnya yang kasar dan bahkan kejam. Segores bekas luka di pelipisnya telah melengkapi ujudnya yang mendebarkan.
    – Aku akan menghitung sampai lima – berkata orang itu – jika kalian tidak mau minggir, dan membiarkan aku mengambil Ki Demang, maka aku akan mempergunakan kekerasan. Siapa yang menghalangi, aku akan bunuh tanpa belas kasihan. –
    Beberapa orang menjadi ketakutan. Tetapi ada yang berani menjawab – Kami akan mengadili Ki Demang karena tingkah lakunya. Kami tidak akan melepaskan Ki Demang. –
    – Setan kau – geram orang itu – jadi kau akan mengorbankan nyawamu ? –
    Ketika orang yang berdiri di pendapa itu menarik goloknya yang besar, maka orang yang menjawab itu mulai menjadi ragu-ragu. Apalagi kedua orang yang berdiri disebelah-menyebelah pendapa itupun telah menggenggam senjata mereka pula. Seorang diantaranya bersenjata canggah dan seorang yang lain bersenjata kapak yang besar. Sedangkan mereka yang telah pingsan di kebun di belakang rumah Ki Demang itupun telah ikut bersama mereka.
    – Minggir – orang itu berteriak lagi sambil memutar goloknya -aku akan mulai menghitung – orang itu berhenti sejenak, lalu – satu, dua, tiga…..-
    Tiba-tiba saja terdengar jawaban – Menghitunglah sampai seratus Ki Sanak Kami tidak akan melepaskan Ki Demang. Kami akan menyerahkannya kepada yang berwenang mengadilinya –
    Orang yang bertubuh agak pendek itu menjadi semakin tegang. Di halaman, seorang justru melangkah maju ke tangga pendapa -Silahkan menghitung terus sampai esok. –
    – Siapa kau, he?-
    – Bertanyalah kepada kawan-kawanmu yang tadi berada di rumah Ki Demang. Sayang, kau tidak ada disana waktu itu. –
    Tiba-tiba saja Ki Demang itupun berteriak – Bunuh orang itu. Masih ada seorang lagi yang harus kau bunuh. Seorang perempuan. –
    Yang terdengar kemudian adalah suara tertawa seorang perempuan. Disela-sela tertawanya iapun berkata – Aku disini Ki Demang. –
    – Mampuslah kau ? –
    Rara Wulan itupun melangkah mendekatinya. Katanya – Jika kau mengumpati aku sekali lagi, gigimu akan rontok. –
    Ki Demang itupun terdiam. Perempuan itu tentu tidak hanya sekedar mengancam. Tetapi ia akan benar-benar memukul mulutnya jika ia berteriak lagi.
    Dalam pada itu, kehadiran Glagah Putih dan Rara Wulan telah membesarkan hati orang-orang yang berada di halaman. Mereka yang semula sengat cemas alas kehadiran kaki tangan Ki Demang itu, telah da¬pat menarik nafas lega.
    – Ki Sanak – berkata Glagah Putih kemudian kepada orang yang berdiri di pendapa – sebaiknya kau tinggalkan tempat ini. Kesetiaanmu kepada Ki Demang akan sia-sia, karena Ki Demang sudah tidak akan berkuasa lagi di kademangan ini. –
    – Omong kosong. Kau siapa anak muda ? Kau tentu bukan rakyat kademangan ini –
    – Apakah kau juga penghuni kademangan ini ? Kau dan kawan-kawanmu itu tidak lebih dari orang-orang upahan. Hidupmu tergantung kepada keadaan Ki Demang. Jika Ki Demang besok sudah tidak menjadi Demang lagi, bahkan jika Ki Demang harus menjalani hukuman, apakah kalian masih akan menunjukkan kesetiaan kalian ? Renungkan ini, Ki Sanak. –
    Orang itu memang merenung. Namun tiba-tiba iapun berkata lantang – Aku akan membebaskan Ki Demang. Jika ia sekarang bebas, maka aku masih dapat mengharapkan pemberiannya meskipun untuk yang terakhir kali. Tetapi jika sekarang Ki Demang tidak dapat aku bebaskan, maka upahku tidak akan terbayar. –
    – Satu perhitungan yang cermat Tetapi yang lebih buruk dapat terjadi. Kau tidak berhasil melepaskan Ki Demang, justru kau dan kawan-kawanmu itulah yang akan kami tangkap dan kami ikat pada pe¬pohonan di halaman ini sampai saatnya yang berwenang menahan dan mengadili itu datang. –
    Orang yang berdiri di pendapa itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian menggeram – Apapun yang akan terjadi, minggir. Aku akan melepaskan Ki Demang. –
    – Tidak ada gunanya, Ki Sanak. Sekali lagi aku peringatkan, pergilah. –
    Glagah Putih tidak ingin berbantah terlalu panjang, selangkah lagi ia maju sambil berkata – Marilah. Jika kau ingin menyelesaikannya de¬ngan kekerasan. –
    Orang itu termangu-mangu sejenak Dari kawan-kawannya yang pingsan ia sudah mendengar serba sedikit tentang seorang laki-laki dan seorang perempuan yang berilmu tinggi.
    Namun tiba tiba saja orang itu berteriak kepada kawan-kawannya — Bebaskan Ki Demang. Aku akan membunuh anak muda ini. Siapa yang menghalangi, singkirkan. Yang keras kepala, bunuh saja. Jangan ragu-ragu. Ini adalah kesempatan kita yang terakhir untuk menerima upah dari Ki Demang. —
    Orang-orang yang ada disebelah menyebelah pendapa itu mulai beringsut. Keberanian orang-orang yang pingsan itupun telah tumbuh kembali karena kehadiran orang-orang yang mereka banggakan kemampuannya.
    —Jangan ragu-ragu meskipun kalian masing-masing harus membunuh sepuluh orang. Biarlah dua orang kakak beradik itulah yang bertanggungjawab. —
    Namun demikian mereka bergerak, maka Rara Wulan telah menarik pedangnya sambil berkata lantang — Kalian tidak akan mendapatkan apa-apa Jika ada diantara kalian yang membunuh satu orang saja maka aku akan membunuh Ki Demang. Dengan demikian maka yang kalian lakukan adalah sia-sia, karena setelah Ki Demang mati, ia tidak akan sempat memberikan uang meskipun hanya sekeping. —
    Orang-orang yang mulai bergerak itu tertegun. Sementara Glagah Putihpun berkata kepada orang yang berdiri di pendapa—Dengar. Kau tidak akan dapat berbuat apa-apa —
    —Pengecut.—
    — Kami bukan pengecut. Jika kau juga bukan pengecut, marilah, kita selesaikan persoalan ini dengan kita masing-masing sebagai taruhan. Kau dan aku. Jika kau menang, bawa Ki Demang. Tetapi jika kau kalah, kau harus tunduk kepada keputusan kami. —
    Orang yang berdiri diatas pendapa itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata — Baik. Aku terima tantanganmu. Kita akan bertempur seorang melawan seorang. Tetapi kau harus berjanji, bahwa kau tidak akan ingkar.
    —Aku tidak akan ingkar. —
    — Baik. Orang-orang yang ada di halaman ini menjadi saksi, bahwa kami berdua akan berperang tanding. Menurut pengertianku, bukan kita masing-masing yang menjadi taruhan, tetapi justru Ki Demang yang akan menjadi taruhan. —
    — Apapun namanya, tetapi kita masing-masing mengetahui maksudnya Turunlah, kita akan segera mulai —
    Orang yang berdiri di pendapa itupun kemudian menuruni tangga pendapa. Nampaknya ia memang ragu-ragu. Tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain. Jika ia bertempur, maka ada kemungkinan ia dapat mengambil Ki Demang. Jika tidak, maka ia tidak berpengharapan sama sekali, meskipun dapat saja terjadi, bahwa ia akan terbunuh dipeperangan. Namun sebaliknya, iapun akan dapat membunuh lawannya itu.
    Sejenak kemudian orang yang bertubuh agak pendek, sedang kulitnya seakan-akan terbuat dari tembaga itupun telah bersiap sepenuhnya untuk bertempur melawan Glagah Putih.
    Anak muda itupun telah bergeser mendekat pula. Beberapa orangpun segera membuat lingkaran di halaman itu. Namun karena Glagah Putih sengaja bergeser lebih mendekati Ki Demang yang terikat, maka Ki Demang itu seakan-akan justru berada di arena itu pula.
    Rara Wulan berdiri di sisi Ki Demang itu. Ia benar-benar bersiap untuk menghujamkan pedangnya di tubuh Ki Demang, jika para pengikutnya berusaha membebaskannya dengan kekerasan.
    Sejenak kemudian, maka orang yang bertubuh pendek tetapi nampak sangat kokoh itu mulai menyerangnya. Ayunan tangannya telah menggetarkan udara disekitarnya, sehingga bagaikan menimbulkan arus angin yang menerpa tubuh lawannya.
    Tetapi Glagah Putih yang mempunyai banyak sekali pengalaman itu sama sekali tidak terkejut. Agaknya untuk menggertak lawannya, orang itu langsung menghentakkan ilmunya pada tataran yang tinggi
    Karena itu, maka Glagah Putihpun harus mengimbanginya. Ia tidak boleh terhembas oleh ilmu lawannya pada tataran yang tinggi, sementara ia masih baru mulai.
    Karena itu, maka Glagah Putihpun langsung meningkatkan ilmunya pula. Namun agaknya Glagah Putih yang tidak sempat menjajagi ilmu lawannya itu, agak sulit untuk mengambil ancang-ancang.
    Karena itu, maka untuk sementara Glagah Putih masih belum berniat menyerang. Ia masih saja berusaha untuk menghindari serangan-serangan lawannya. Namun sekali-sekali Glagah Putih sengaja menangkis serangan-serangan orang bertubuh agak pendek itu. Tetapi Glagah Putih tidak langsung membentur kekuatan lawan.
    Dengan hati-hati Glagah Putih setiap kali menepis serangan-serangan lawannya menyamping, sehingga dengan demikian, Glagah Putih dapat menjajagi kekuatan dan kemampuan lawannya.
    Orang yang bertubuh pendek itu memang sudah mengetahui, bahwa lawannya berilmu tinggi. Itulah sebabnya, ia tidak mau ragu-ragu dan tenggelam dibawah arus ilmu lawannya. Karena itulah, maka serangan-serangan orang bertubuh pendek itupun segera datang membadai.
    Meskipun demikian, Glagah Putih sama sekali tidak merasa terdesak. Semakin banyak ia mengenali kekuatan serta kemampuan lawannya, maka perlawanannyapun menjadi semakin mapan.
    Dengan demikian, maka orang bertubuh pendek dan berkulit seperti tembaga itu semakin menyadari, bahwa ia berhadapan dengan seorang yang berilmu tinggi.
    Karena itu, maka orang itu tidak ingin berlama-lama bertempur melawan anak muda itu. Apapun yang terjadi, biarlah segera terjadi.
    Sambil berteriak nyaring orang itu menghentakkan kemampuannya, menyerang Glagah Putih dengan satu loncatan panjang. Tubuhnya yang meluncur seperti sebuah lembing yang dilontarkan dengan derasnya. Kedua kakinya terjulur lurus menyamping mengarah ke dada Glagah Putih.
    Glagah Putih yang melihat serangan itu, serta meyakini kemampuannya sendiri, sama sekali tidak berusaha menghindar. Glagah Putih itupun berdiri tegak menghadap kearah lawannya. Satu kakinya melangkah sedikit kedepan, agak merendah pada lututnya, serta menyilangkan kedua tangannya didadanya.
    Sejenak kemudian telah terjadi benturan yang keras. Glagah Putih tergetar setapak surut. Namun ia masih tetap pada sikapnya. Sementara itu, lawannyalah yang justru terpental dengan kerasnya. Orang bertubuh pendek itu menjatuhkan dirinya, dan berguling dua kali. Kemu¬dian melenting bangkit berdiri.
    Tetapi orang itupun terhuyung-huyung sejenak. Ia berusaha un¬tuk dapat berdiri tegak. Namun orang bertubuh pendek itupun kemudian jatuh pada lututnya dan bahkan kemudian terduduk sambil menyeringai menahan sakit. Kakinya yang membentur tangan Glagah Putih terasa sakit sekali. Tulang-tulangnya bagaikan telah berpatahan. Kakinya itu rasa-rasanya telah membentur selapis baja yang tidak goyah sama sekali. Glagah Putih telah berdiri tegak. Selangkah ia maju mendekati
    lawannya yang kesakitan.
    – Berdirilah – berkata Glagah Putih – atau pertempuran ini akan
    berhenti sampai disini ? –
    – Setan kau anak muda ?-
    – Jika kau menyerah, kita akan berhenti sampai sekian. Kau kalah dan aku tidak akan dapat membawa Ki Demang. Tetapi jika kau belum merasa kalah, cepat berdirilah sebelum aku mempergunakan kesempatan
    ini sebaik-baiknya. –
    Orang itu seakan-akan tidak ingin mengakui betapa sakitnya kakinya yang membentur pertahanan Glagah Putih. Karena itu, maka ia masih mencoba untuk bangkit berdiri. Tetapi usahanya itu sia-sia. Bahkan orang itupun berteriak keras-keras untuk melepaskan kemarahan yang menyumbat didadanya, sementara itu wadagnya tidak lagi mampu mendukungnya.
    – Kau akan menyesal anak muda. –
    – Kenapa aku harus menyesal ? Bukankah dengan demikian, Ki Demang tidak akan terlepas dari tangan rakyatnya ? –
    – Dengar anak muda. Aku tidak berdiri sendiri. Mungkin kali ini kau berhasil mengalahkan aku. Tetapi seseorang akan datang untuk menuntut balas.-
    – Siapa ?-
    – Aku adalah salah seorang anggauta dari sebuah keluarga besar yang akan dapat menggulungmu menjadi debu.-
    – Keluarga besar siapa ? –
    – Kau akan pingsan jika kau mendengarnya.-
    – Sebut, Ki Sanak. Aku siap menghadapinya.-
    – Setan kecil yang sombong. Kau akan mati membeku mendengar nama perguruanku,-
    – Perguruan apa ? sebut
    – Aku adalah murid dari perguruan Kedung Jati.-
    – Bohong – teriak Glagah Putih – Kau pakai nama perguruan Kedung Jati untuk menakut-nakuti orang lain. Aku mengenal unsur-unsur yang terdapat dalam ilmu perguruan Kedung Jati. Dan unsur-unsur gerakmu sama sekali tidak mencerminkan ilmu dari perguruan itu.-
    – Gila. Kau tidak percaya ? –
    – Aku tidak percaya karena kami adalah murid dari perguruan Kedung Jati. Kau nodai nama perguruan Kedung Jati dengan petualangan kotormu itu. Aku akan melaporkan kau orang pendek, bahwa kau telah menempatkan diri menjadi orang upahan dari tindak kejahatan yang dilakukan oleh Ki Demang sehingga menimbulkan dongeng seolah-olah Ki Demang adalah serigala jadi-jadian yang memakan gadis-gadis remaja dan perempuan-perempuan muda.-
    Orang bertubuh pendek serta yang kulitnya seperti tembaga itu menjadi pucat Dengan suara yang tersendat iapun bertanya – Kau murid dari perguruan Kedung Jati? –
    -Ya-
    – Kau akan melapor ? Kepada siapa ? –
    – Apakah kau mengenal nama-nama seperti Kidang Rame, Wanda Segara, Nyi Yatni, Ki Saba Lintang… –
    – Cukup, cukup. Jangan sebut-sebut nama itu lagi. –
    – Kenapa ? –
    – Ambil Demang itu. Aku tidak akan berurusan lagi dengan orang
    itu.-
    – Akui, bahwa kau bukan orang dari perguruan Kedung Jati. Atau kita akan membuka masalah baru ? Persoalan yang akan timbul kemudian bukan lagi persoalan Ki Demang serigala jadi-jadian itu. Tetapi persoalan antara murid dari perguruan Kedung Jati.-
    – Aku memang murid dari perguruan Kedung Jati. Tetapi aku belum terlalu lama berada dilingkungan keluarga perguruan Kedung Jati.
    Glagah Putih memandang orang itu dengan tajamnya Dengan nada tinggi iapun bertanya — Sejak kapan kau menjadi keluarga perguruan Kedung Jati?—
    — Menjelang pertempuran yang terjadi di Sangkal Putung.—
    Memang belum lama. Tetapi kau sudah menodai nama perguru¬an Kedung Jati? Siapakah yang telah membawamu memasuki keluarga
    perguruan Kedung Jati? Atau katakan siapakah orang yang langsung
    menanganimu?—
    — Aku berada dalam lingkungan keluarga perguruan Kedung Jati
    bersama guruku.-
    —Siapa nama gurumu?— —Ki Ajar Sungsang.—
    — Ki Ajar Sungsang? Jadi kau murid Ki Ajar Sungsang?—
    — Ya, Kenapa?—
    —Kau pantas untuk mati. Apalagi kau sudah mengotori nama perguruan Kedung Jati.—
    — Aku, aku sudah mempunyai kebiasaan ini sebelum aku memasuki lingkungan keluarga perguruan Kedung Jati. Aku mohon ampun.
    Jangan bunuh aku.—
    — Baik-baik. Aku tidak akan membunuhmu. Tetapi persoalanmu
    akan sampai kepada Ki Saba Lintang.—
    — Ampun. Aku mohon belas kasihanmu.—
    — Setan kau orang pendek. Siapa namamu? Kau harus mengatakan yang sebenarnya. Jika kau berbohong, maka kau akan mati ditan-
    ganku.—
    —Namaku Jalu Sampar.—
    — Baik, Jalu Sampar. Kali ini aku ijinkan kau pergi. Tetapi ingat aku ada disini. Aku akan selalu datang ke kademangan ini.—
    — Jadi?—
    — Pergilah. Bawa semua orang jahat itu pergi. Jika masih tertinggal seorang saja disini, maka aku akan mencari orang yang bernama Jalu Sampar. Aku akan menelusurinya lewat jalur keluarga perguruan Kedung Jati. Aku akan mencari Ki Ajar Sungsang. Ki Saba Lintang tentu akan memberikan petunjuk, apa yang harus aku lakukan terhadap mereka yang telah menodai nama baik keluarga perguruan Kedung Jati.—
    — Aku mohon ampun.—
    —Pergilah. Cepat, sebelum aku merubah keputusanku.— Tertatih-tatih orang itu bangkit berdiri. Kedua orang kawannya dengan cepat mendapatkannya dan membantunya untuk bangkit berdiri. —Bawa Jalu Sampar itu pergi. Bawa semua orang jahat yang telah diupah Ki Demang pergi dari kademangan ini. Atau harus mengalami nasib yang sangat buruk ditanganku.—
    Kedua orang kawan Jalu Sampar itupun telah memapah Jalu Sampar meninggalkan tempat itu. Iapun memberi isyarat kepada orang-orang upahan Ki Demang yang lain untuk pergi.
    Ki Demang yang terikat pada sebatang pohon menjadi lemas. Ia tidak mempunyai harapan lagi untuk melepaskan diri dari tangan rakyatnya yang marah. Sementara itu, masih belum ada bebahu yang datang ke tempat itu. Jika mereka datang, Ki Demang juga tidak dapat membayangkan apakah mereka akan berpihak kepadanya, atau justru akan semakin menyulitkannya.
    Rakyat padukuhan itu dengan tegang menyaksikan orang-orang upahan Ki Demang itu melangkah meninggalkan halaman rumah itu. Satu-satu mereka keluar dari regol halaman dan hilang di kegelapan.
    Ketika perhatian orang-orang itu tertuju kepada mereka yang meninggalkan halaman rumah itu, Rara Wulan mendekati Glagah Putih sambil bertanya — Siapakah Wanda Segara itu?—
    —Wanda Segara?— ulang Glagah Putih.
    — Ya, Wanda Segara?—
    — Siapa? Darimana kau dengar nama itu?—
    — Tadi kau sebut nama itu disamping nama Kedung Rame, Nyi Yatni, Ki Saba Lintang.—
    — O — Glagah Putih mengangguk-angguk — ya. Aku sebut nama Wanda Segara Aku hanya asal saja menyebutnya.—
    —Jadi kau tidak mengenal orang bernama Wanda Segara?—
    —Tidak.—
    — Begitu yakin kau sebut namanya?—
    — Asal saja aku menyebut sederet nama.—
    Rara Wulan tersenyum. Katanya—Kau ucapkan nama itu dengan mantap, sehingga kesannya kau bersungguh-sungguh.—
    —Tetapi bukankah yang lain orangnya benar-benar ada.—
    — Ya,—
    Keduanya tidak berbicara lagi ketika orang-orang itu hilang dibalik pintu.
    Sepeninggal orang-orang itu, Glagah Putih sadar, bahwa ia harus memberikan arah kepada orang-orang yang berada di halaman itu agar mereka tidak berbuat sesuka hati mereka sendiri.
    Karena itu, maka Glagah Putihpun kemudian naik ke tangga pendapa sambil berkata — Sekarang, kita harus melakukan sesuatu. Aku usulkan untuk memanggil para bebahu, terutama Ki Jagabaya.—
    Orang yang sudah separo baya itupun melangkah kedepan sambil berkata — Aku sependapat anak muda. Biarlah anak-anak muda memanggil para bebahu, terutama Ki Jagabaya.—
    — Apakah paman dapat minta bantuan anak-anak muda itu?— Orang yang sudah separo baya itupun mengangguk sambil berkata — Tentu. Aku akan dapat minta bantuan anak-anak muda itu untuk memanggil para bebahu kademangan dan padukuhan ini. —
    Sejenak kemudian, maka beberapa orang anak muda telah berlari-lari memanggil para bebahu, terutama Ki Jagabaya.
    Sementara itu, beberapa orang menjadi tidak sabar lagi. Mereka berteriak-teriak agar Ki Demang itu diserahkan kepada mereka.
    Tetapi Glagah Putih tidak memberikannya. Orang yang sudah separo baya itupun berusaha untuk menenangkan mereka.
    – Kita bukan orang-orang yang tidak mempunyai tatanan – berka¬ta orang yang sudah separo baya itu – kita harus dapat menahan diri.-
    Sementara itu, Rara Wulan yang berdiri disebelah Ki Demang yang terikat itu terkejut ketika ia mendengar Ki Demang itu terisak.
    – Kau menangis, Ki Demang ? – bertanya Rara Wulan.
    – Aku minta ampun – suara Ki Demang menjadi serak.
    – Biarlah para bebahu nanti menentukan, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Ki Demang.-
    – Aku tidak akan mengulanginya –
    – Sudah aku katakan, nanti para bebahu yang akan menentukan. Bukan aku.-
    – Kau dapat menolongku. Kasihanilah aku.-
    – Apakah kau pernah menaruh belas kasihan kepada gadis-gadis yang kau jadikan korbanmu itu ?-
    – Aku khilaf. Saat itu hatiku sedang dikuasai oleh iblis laknat.
    – Saat itu ? Yang terjadi bukannya hanya sesaat, Ki Demang. Tetapi untuk waktu yang panjang, sejak kau ditetapkan menjadi Demang. Sebelum itu, kaupun telah melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk bersandar pada kekuasaan ayahmu waktu itu.-
    – Aku sudah menjadi jera sekarang.-
    – Mungkin sekarang. Tetapi besok, penyakitmu itu akan kambuh lagi Ki Demang.-
    – Tidak. Aku bersumpah.-
    – Apa artinya sumpah bagi orang yang sedang dikuasai iblis ? Sumpah adalah sebuah tipuan yang paling keji bagi orang yang berhati iblis.-
    – O. Ampun. Aku mohon ampun.-
    Rara Wulan tidak sempat menjawab. Seorang laki-laki yang masih terhitung muda telah menjawabnya – Itu adalah keluhan iblis dari dasar neraka. Tetapi jika benar ia diampunkan, maka kejahatan yang akan ditimbulkan tentu akan berlipat.
    -Tidak. Tidak.-
    – Jangan didengar. Suruh orang itu diam. Atau kita memaksanya diam – teriak seorang yang lain.
    – Diamlah – berkata Rara Wulan – atau aku akan menyumbat mulutmu. –
    Ki Demang memang tidak berbicara lagi. Tetapi ia tidak dapat menahan isaknya.
    Baru sejenak kemudian, Ki Jagabaya dan beberapa orang bebahu telah datang.
    – Apa yang terjadi disini ? –
    – Ki Demang – berkata orang yang sudah separo baya
    – Kenapa dengan Ki Demang ? –
    Orang itupun menunjuk Ki Demang yang terikat pada sebatang
    pohon.
    – Kenapa dengan Ki Demang ? Siapa yang telah mengikatnya ? –
    – Aku – jawab Glagah Putih dan Rara Wulan hampir berbareng.
    – Kenapa ? –
    – Ki Demang tidak ubahnya seperti seekor serigala jadi-jadian yang terbiasa menerkam seekor kambing muda. –Apa yang kau katakan itu?-
    – Bukankah Ki Jagabaya pernah mendengar dongeng tentang Ki Demang yang sering menculik membunuh dan makan daging perawan ?
    Ki Jagabaya tidak segera menjawab.
    -Ki Jagabaya pernah mendengarnya ? Semua orang di kademangan ini pernah mendengar dongeng seperti itu. –
    – Aku tidak percaya – berkata Ki Jagabaya
    – Tentu. Semua orang juga tidak percaya. Yang terjadi memang tidak seperti itu. –
    -Jadi kenapa ?-
    – Tetapi Ki Demang memang sering menculik gadis-gadis remaja kademangan ini. –
    – Jangan asal menuduh saja Kau harus dapat membuktikan atau menunjuk saksi yang bersedia memberikan kesaksian. –
    – Tentu – jawab Rara Wulan – aku adalah salah seorang perem¬puan yang diculik oleh kaki tangan Ki Demang. –
    – Kau siapa ? –
    – Aku Wara Sasi. Tetapi saksi yang lebih baik adalah anak gadis pemilik rumah ini. –
    Ki Jagabaya mengerutkan dahinya Ketika ia berpaling ke pendapa, dilihatnya seorang gadis dalam pelukan ibunya
    – Gadis itukah ? –Ya-
    – Kau bersedia memberikan kesaksian yang sebenarnya ? -Gadis itu mengangguk.
    Ki Jagabaya termangu-mangu sejenak. Ayah gadis itupun melangkah mendekatinya sambil berkata — Ki Jagabaya. Anak itu adalah anakku. Kau tentu dapat mengenalnya —
    Ki Jagabaya mengangguk. Katanya – Ya. Aku memang dapat mengenalnya –
    – Ia bersedia menjadi saksi, meskipun ia harus menyandang
    malu.-
    Ki Jagabaya itupun mengangguk-angguk Katanya – Baik Baik
    Sekarang biarlah Ki Jagabaya bersamaku ke padukuhan induk. –
    – Ia harus dihukum – teriak seseorang.
    – Ya. Tetapi kita tidak wenang menjatuhkan hukuman itu-
    – Jika demikian, biarlah Ki Demang berada disini.-
    – Kalian juga tidak dapat mengikat Ki Demang seperti itu. Bukankah Ki Demang belum dinyatakan bersalah.-
    – Aku berhak melakukannya – berkata Rara Wulan – bahkan seandainya aku ingin membunuhnya, karena aku mempertahankan diriku dari kebuasannya. Bahkan dari usahanya untuk membunuhku agar jejak kejahatannya hilang.-
    – Meskipun demikian, kau tidak berhak membunuhnya-
    – Sekarang. Justru setelah Ki Demang terikat di pohon itu. Tetapi tadi, pada saat kami bertempur, aku dapat membunuhnya tanpa dapat dianggap bersalah.-
    – Kau jangan keras kepala –
    – Aku pertahankan Ki Demang untuk tetap berada di padukuhan ini – berkata Rara Wulan.
    – Aku perintahkan untuk melepaskan ikatan Ki Demang itu.-Ayah gadis itulah yang menjawab – Ki Jagabaya. Aku minta Ki
    Jagabaya melihat persoalan ini dalam keseluruhan. Setelah anakku dapat dilepaskan dari tangan Ki Demang, apakah Ki Jagabaya tidak berusaha untuk mencari beberapa orang gadis yang pernah hilang di kademangan ini ? Anakku adalah gadis yang hilang dari padukuhan ini. Tetapi di padukuhan-padukuhan lain, ada juga gadis-gadis yang hilang. Nah, Ki Demang ada disini sekarang. Ki Jagabaya dapat bertanya kepadanya-
    Ki Jagabaya menjadi ragu-ragu sejenak. Namun seorang laki-laki yang bertubuh gemuk berkata – Bukankah salah seorang gadis yang hilang itu kemanakan Ki Jagabaya sendiri ?-
    – He ? – tiba-tiba wajah Ki Jagabaya menjadi tegang.
    – Salah seorang gadis yang hilang itu adalah kemanakan Ki Jagabaya.-
    Tiba-tiba saja jantung Ki Jagabaya itu bergejolak. Sebenarnyalah bahwa salah seorang gadis yang hilang justru dari padukuhan induk adalah kemanakan Ki Jagabaya sendiri.
    – Tolong kemanakanmu itu sebelum terlambat, Ki Jagabaya – berkata orang bertubuh gemuk itu.
    Betapapun terasa dada Ki Jagabaya berguncang, namun ia masih juga berusaha menahan diri. Dengan suara yang ditahan-tahan Ki Jagabaya itupun bertanya – Ki Demang. Apakah benar bahwa kemenakanku itu juga kau ambil ? –
    Tangis Ki Demang mengeras. Disela-sela isaknya Ki Demang itu menjawab – Ya, Ki Jagabaya Akulah yang telah memerintahkan untuk mengambil kemanakanmu.-
    Darah Ki Jagabaya serasa mendidih. Kakak perempuannya yang kehilangan anaknya itu bagaikan menjadi gila Ia menangis setiap saat ia teringat kepada anak gadisnya. Kadang-kadang berteriak-teriak. Namun kadang-kadang ia diam saja sepanjang hari. Bahkan suaminyapun bagaikan kehilangan akal. Seekor dari kedua ekor lembunya sudah dijual untuk mencari seorang dukun yang dianggap pandai yang dapat mem¬berikan petunjuk dimana anak gadisnya itu berada Namun usaha itu sia-sia
    Sekarang ia mendengar pengakuan Ki Demang dengan serta-merta bahwa kemanakannya itu telah diambil oleh Ki Demang.
    Kecurigaan itu memang sudah ada, sebagaimana beredarnya dongeng tentang Ki Demang yang bagaikan serigala itu. Namun Ki Jagabaya masih belum yakin.
    Sekarang, ia mendengar langsung pengakuan itu. Untunglah bahwa ia justru seorang Jagabaya, yang tidak boleh bertindak sekehendak hatinya sendiri. Sehingga karena itu, maka Ki Jagabaya itupun bertanya – Dimana anak itu kau sembunyikan Ki De-mang.-
    Sebelum Ki Demang menjawab, Glagah Putihpun berkata – Nah, Ki Jagabaya. Jika untuk kepentingan pencaharian gadis-gadis yang hi¬lang, silahkan membawa Ki Demang. Tetapi biarlah rakyat kademangan ini, setidak-tidaknya para bebahu menjadi saksi.
    Ki Jagabaya mengangguk. Katanya – Baik. Aku akan membawa Ki Demang untuk menemukan kemanakanku itu,-
    – Bukan hanya kemanakan Ki Jagabaya Tetapi masih ada gadis-gadis yang lain yang disembunyikannya-
    – Aku akan membawanya untuk menemukan semua gadis yang pernah hilang dari kademangan ini atau bahkan gadis dari kademangan yang lain.-
    – Silahkan Ki Jagabaya. Silahkan melepas talinya dari sebatang pohon itu. Tetapi jangan lepas ikatan tangannya agar ia tidak dapat melarikan diri dari tangan Ki Jagabaya-
    – Baik, anak muda. Kami akan menggiring Ki Demang. Mudah-mudahan gadis-gadis yang hilang itu dapat diketemukan.-
    Rara Wulanpun melangkah surut Ki Jagabaya dan dua orang bebahu melangkah mendekati Ki Demang. Dengan kasar mereka membuka tali yang mengikat Ki Demang pada sebatang pohon itu.
    Sikap Ki Jagabayapun telah berubah. Sejak seorang mengin¬gatkannya, bahwa kemanakannya juga telah hilang, maka rasa-rasanya iapun ingin langsung menghukum Ki Demang. Namun untunglah, bah¬wa ia masih selalu ingat akan kedudukannya, sehingga ia tidak langsung menghakimi Ki Demang.
    Beberapa saat kemudian, maka Ki Jagabaya dan beberapa orang bebahu telah menggiring Ki Demang pergi ke padukuhan induk. Ia harus menunjukkan gadis-gadis yang lain, yang telah diculiknya dan disem¬bunyikannya
    Beberapa orang laki-laki ikut mengiringkannya. Mereka mem¬bawa senjata apa adanya untuk berjaga-jaga jika orang-orang upahan Ki Demang ingin merebut dan menyelamatkan Ki Demang.
    Semakin lama laki-laki yang mengiringinya itupun menjadi se¬makin banyak, sehingga terjadi sebuah iring-iringan yang panjang.
    Namun dalam pada itu, Glagah Putih dan Rara Wulan sudah tidak ada di dalam iring-iringan itu. Mereka justru memisahkan diri untuk selanjutnya meninggalkan kademangan yang sedang sibuk membuka ra¬hasia kejahatan Demang mereka sendiri.
    – Apakah kita tidak perlu mengamati mereka ? – bertanya Rara
    Wulan.
    – Dari kejauhan saja, Rara. Aku yakin, bahwa Ki Demang akan menunjukkan semua gadis yang telah diculik dan disembunyikannya Se¬lanjurnya kita tidak usah turut campur. –
    – Jika orang-orang upahannya itu datang lagi ? –
    – Kau lihat berapa banyak orang yang ikut mengiringinya Mere¬ka tentu tidak akan merasa takut lagi kepada orang-orang upahan Ki De¬mang. Laki-laki yang mengiringinya itu pada umumnya membawa sen¬jata apa saja yang ada Bahkan ada yang membawa selumbat sepotong kayu yang ujungnya ditajamkan, yang biasanya untuk mengupas serabut kelapa. Ada yang sekedar membawa kayu selarak pintu. Namun ada juga yang membawa tombak, pedang dan keris.-
    – Tadi seharusnya kakang tidak melepaskan orang-orang upahan itu. Seharusnya kakang menangkapnya dan mengikat mereka, sehingga mereka tidak akan mengganggu lagi.-
    – Semula aku juga berpikir seperti itu, Rara. Tetapi aku berpikir lebih jauh lagi. Jika mereka disakiti oleh orang-orang kademangan ini, maka dendamnya akan berbahaya bagi kademangan ini. Aku percaya bahwa salah seorang di antara mereka mempunyai hubungan dengan se¬buah perguruan. Dengan melepaskan mereka maka rasa-rasanya mereka tidak akan mendendam dan kembali lagi ke padukuhan untuk melakukan pembalasan.-
    – Mereka hanya akan mendendam kepada kita ?-
    – Itu mungkin sekali. Tapi bukankah kita sudah menyadari ke¬mungkinan seperti itu akan dapat terjadi atas diri kita ?-
    Rara Wulan mengangguk-angguk
    Demikianlah, maka keduanya tidak melibatkan diri lagi dalam persoalan Ki Demang yang sudah berada di tangan rakyatnya. Biarlah Ki Jagabaya untuk sementara memimpin kademangan itu. Khususnya untuk menyelesaikan persoalan Ki Demang dengan gadis-gadis yang pernah diculiknya serta orang tua mereka
    Agaknya semalam suntuk Ki Jagabaya dan sekelompok laki-laki di kademangan itu mencari gadis-gadis yang pernah hilang. Ketika ke¬mudian matahari terbit semua gadis telah dapat dibebaskan dan diser¬ahkan kepada orang tua masing-masing.
    Hampir saja para bebahu tidak mampu menahan kemarahan orang-orang yang pernah kehilangan anak gadisnya Seseorang dengan serta merta telah mengayunkan pedangnya. Untunglah, bahwa Ki Jagabaya sempat mendorong Ki Demang kesamping. Ki Demang itu jatuh terguling di tanah. Namun ujung pedang itu masih juga menyentuh kulitnya, sehingga bajunya di arah lengannya koyak, serta kulitnya ter¬gores sehingga darah mulai menitik.
    Yang justru mengalami benturan perasaan terberat adalah Ki Jagabaya. Sebagai seorang paman yang pernah kehilangan kemenakannya, maka rasa-rasanya iapun ingin mengungkapkan kemarahannya. Tetapi justru karena kedudukannya, maka ia harus menahan agar orang-orang yang marah itu tidak langsung menghakimi Ki Demang yang pu¬cat, gemetar dan menangis itu.
    Akhirnya Ki Jagabaya telah membawa Ki Demang dan mena¬hannya di banjar dengan kaki dan tangan terikat
    Dalam pada itu, maka Glagah Putih dan Rara Wulan telah meninggalkan kademangan itu. Ki Jagabaya dan terutama orangtua gadis yang pernah hilang itu, tidak berhasil menemukannya. Orang yang semalam dititipi pedang itupun tidak tahu, kemana kedua orang yang mengaku sebagai kakak beradik itu pergi.

    :)) :)) :))

    • Tarik teruss !!..mangga mang…

      • tarik tambang kaanggggg…
        (pitulasan jeee…)
        😀

        • Weleh…weleeehh….kleru…kleru…
          Iki kolorku, dudu tambang sing kanggo pitulasan….

          • ..nderek balapan sarung kemawon Ki…..

  49. bravo kang Tommy,panjenengan pancen wooke


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: