Buku IV-13

313-00
Halaman: 1 2

Telah Terbit on 30 Juli 2009 at 08:51  Comments (192)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iv-13/trackback/

RSS feed for comments on this post.

192 KomentarTinggalkan komentar

  1. sokurlah .. akhirnya .. terima kasih .. langsung cabuut ..

  2. Ikut antri juga ach. mudah-mudahan malam ini diwedar.

  3. Assalamu’alaikum wr wb,
    Salam sejahtera buat kita semua,
    Hanya numpang unjuk diri saja.
    Hayoooooo, ………. semangat pagi!!!!!!

    • Waalaykum salam, ww.. monggo Ki Trupod menawi badhe unjuk diri..

      jam 18.33 kok semangat pagi? Selamat lagi, maksudnya Ki Truno?

    • teng nggone kulo mpun maghrib je ki….

    • Nuwun sewu kala wau namung unjuk diri lajeng ambles bumi, madosi keridhlaan Gusti Allah.
      Nggih sinaosa sampun ndalu, panjenengan sedaya kula aturi tansah kagungan ‘semangat pagi’. Kanthi punika panjenengan saged ngestokaken sedaya jejibahan ing ngarca pada, nggayuh karahayon ing swargaloka.
      Nuwun,

  4. Ikutan antri ah…

  5. kemana ya?untuk menunggu kitab 313 keluar

  6. Saat jago kluruk terakhir kali, saya jenguk gandhoknya belum buka. Ternyata wayah temawon bukanya.

    Eh, ini sudah mau wayah sepi uwong, kitab masih belum diwedhar juga.

    Nggak ada yang bisa dilakukan kecuali ikut antri nunggu kitab. Mudah-mudahan tengah wengi sudah dikeluarkan kitabnya.

  7. Antri ndisik …

  8. pamit rumiyin…..sesuk uthuk2 kudu matun tanduran jagung….

    • ha..ha..ha.. sing liyane malah wis mulai nandur sa’iki…

      • sih sore ki….

        • sayang ming duwe kebon siji…
          isone ming nandur nang kono…

          • khan iso tandur neng kebone wong liyo….asal ra ono sing ngonangi…………hiks

            • he..he..he.. gak sidha pamit, merga bingung arep nandur, kebone lagi dipaculi sing nduwe ya ki…

  9. nyunguk sakdeluk…..durung muncul rek!!

    • sabar cak

      • sabar bin subur

    • klik noda pada huruf S

  10. sabar menanti nyai seno nggowo dinner…

    • kalo sudah tengah malam nanti ya termasuk supper 😀

  11. Ki Widura

    Bangun-bangun, opo di negoro rambut pirang ono sepur uap ya ki, awas lho servernya nanti ketanrak lagi.

    Ki Ismoyo,

    Kangen lho dengan cerita dan wejangannya, kemana ya kok kayaknya lagi nyepi. Nambah ilmu ya Ki Ismoyo.

    Nyi Seno absen sekalian antri

  12. absen ,antli en nunggu.

  13. Sudah wayah sepi uwong nih. Masih sabar menanti.

  14. Hadir Nyi Seno…

  15. Hadir lagi Nyi Seno, mumpung belum datang ngantuk…

  16. Bangun pageee, ………….
    Itu adalah inti pelajaran yang disampaikan oleh SHM dalam serial ADBM ini. Betapa Agung Sedayu, Glagah Putih, Sekar Mirah, Rara Wulan, Jayaraga, Swandaru, Pandan Wangi, ………… semuanya sibuk bangun pagi. Hal ini bertolak belakang dengan kecenderungan masyarakat kita dewasa ini, yang membiasakan diri bangun siang. Lebih2 jika hari Saptu, Minggu, ataupun hari2 libur lainnya. Padahal, seandainya mereka tau, yaitu orang2 terutama anak2 muda yang biasa bangun siang, bahwa bangun pagi itu menuai keindahan, kesejukan, kejernihan, dan kebahagiaan. Biasanya dalam keadaan demikian muncullah rasa syukur dan bahagia menikmati rahmat dan karunia Allah SWT. Bertolak belakang dengan yang bangun siang, ……. matahari sudah menyengat, …….. situasi sudah temawon, ……. dan biasanya disertai kepala pening karena ketidak mapanan tidur.
    MAKA MARILAH : BANGUN PAGEEE!!!!

    • kalau sabtu dan minggu saya tetap bangun pagi ki… kalau malam jum’at justru baru tidur pagi-pagi… ^_^

      • eh salah.. kalau hari jum’at maksudnya…

  17. Hebatnya huruf T

    Tatkala Temperatur Terik Terbakar Terus,

    Tukang Tempe Tetap Tabah, “Tempe-tempe” , Teriaknya.

    Ternyata Teriakan Tukang Tempe Tadi Terdengar Tukang Tahu, Terpaksa Teriakannya Tambah Tinggi, “Tahu…Tahu. ..Tahu… !” “Tempenya Terbaik, Tempenya Terenak, Tempenya Terkenal!!”, Timpal Tukang Tempe .

    Tukang Tahu Tidak Terima,”Tempenya Tengik, Tempenya Tawar, Tempenya Terjelek…. !” Tukang Tempe Tertegun, Terhenyak, “Teplakkk… !” Tamparannya Tepat Terkena Tukang Tahu.

    Tapi Tukang Tahu Tidak Terkalahkan, Tendangannya Tepat Terkena Tulang Tungkai Tukang Tempe . Tukang Tempe Terjengkang Tumbang! Tapi Terus Tegak, Tatapannya Terhunus Tajam Terhadap Tukang Tahu.

    Tetapi, Tukang Tahu Tidak Terpengaruh Tatapan Tajam Tukang Tempe Tersebut, “Tidak Takut!!” Tantang Tukang Tahu.

    Tidak Ternyana Tangan Tukang Tempe Terkepal, Tinjunya Terarah, Terus Tonjokkannya Tepat Terkena Tukang Tahu, Tak Terelakkan! Tujuh Tempat Terkena Tinjunya, Tonjokan Terakhir Tepat Terkena Telak. Tukang Tahu Terjerembab.

    “Tolong.. Tolong.. Tolong..!”, Teriaknya Terdengar Tinggi. Tetapi Tanpa Tunda Tempo, Tukang Tempe Teruskan Teriakannya, ” Tempe .. Tempe .. Tempe ..!!” Tukang Tahu Tambah Teriak Tararahu.. Tararahu, Tandingin Tararempe.. Tararempe..

    Tape Teh…

  18. bu guru : INI BUDI …

    pemain MU : INI BUDI ..

    bu guru : good, let’s try again

    bu guru : BUDI BERMAIN BOLA..

    pemain MU : BUDI BATAL BERMAIN BOLA

    bu guru : Loh kok BATAL sich?

    pemain MU : BUDI MATI KENA BOM Bu…

    bu guru : …….

  19. FYI, tulisan berikut dikutip benar-benar persis dari Harian Suara Merdeka, hari Jumat, tanggal 18 Agustus 1995, halaman VII, dalam rangka memperingati 50 tahun kemerdekaan Indonesia.

    PS: Sebuah refleksi sejarah sekaligus hiburan segar, di tengah-2 himpitan krisis dan isu teror tanah air.

    Mungkinkah Revolusi Kemerdekaan Indonesia disebut sebagai revolusi dari kamar tidur? Coba simak ceritanya. Pada 17 Agustus 1945 pukul 08.00, ternyata Bung Karno masih tidur nyenyak di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini. Dia terkena gejala malaria tertiana. Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda.
    “Pating greges”, keluh Bung Karno setelah dibangunkan dokter kesayangannya. Kemudian darahnya dialiri chinineurethan intramusculair dan menenggak pil brom chinine. Lalu ia tidur lagi.
    Pukul 09.00, Bung Karno terbangun. Berpakaian rapi putih-putih dan menemui sahabatnya, Bung Hatta. Tepat pukul 10.00, keduanya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari serambi rumah.
    “Demikianlah Saudara-saudara! Kita sekalian telah merdeka!”, ujar Bung Karno di hadapan segelintir patriot-patriot sejati. Mereka lalu menyanyikan lagu kebangsaan sambil mengibarkan bendera pusaka Merah Putih. Setelah upacara yang singkat itu, Bungk Karno kembali ke kamar tidurnya. Masih meriang. Tapi sebuah revolusi telah dimulai…
    **********************
    Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ternyata berlangsung tanpa protokol, tak ada korps musik, tak ada konduktor dan tak ada pancaragam. Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara. Tetapi itulah, kenyataan yang yang terjadi pada sebuah upacara sekaral yang dinanti-nanti selama lebih dari tiga ratus tahun!
    ***********************
    Setelah merdeka 43 tahun, Indonesia baru memiliki seorang menteri pertama yang benar-benar “orang Indonesia asli”. Karena semua menteri sebelumnya lahir sebelum 17 Agustus 1945. Itu berarti, mereka pernah menjadi warga Hindia Belanda dan atau pendudukan Jepang, sebab negara hukum Republik Indonesia memang belum ada saat itu.
    “Orang Indonesia asli” pertama yang menjadi menteri adalah Ir Akbar Tanjung (lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 30 Agustus 1945), sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga pada Kabinet Pembangunan V (1988-1993).
    ***********************
    Menurut Proklamasi 17 Agustus 1945, Kalimantan adalah bagian integral wilayah hukum Indonesia. Kenyataannya, pulau tersebut paling unik di dunia. Di pulau tersebut, ada 3 kepala negara yang memerintah! Presiden Soeharto (memerintah 4 wilayah provinsi), PM Mahathir Mohamad (Sabah dan Serawak) serta Sultan Hassanal Bolkiah (Brunei).
    ************************
    Hubungan antara revolusi Indonesia dan Hollywood, memang dekat. Setiap 1 Juni, selalu diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila semasa Presiden Soekarno.
    Pada 1956, peristiwa tersebut “hampir secara kebetulan” dirayakan di sebuah hotel Hollywood.
    Bung Karno saat itu mengundang aktris legendaris, Marylin Monroe, untuk sebuah makan malam di Hotel Beverly Hills, Hollywood. Hadir di antaranya Gregory Peck, George Murphy dan Ronald Reagan (25 tahun kemudian menjadi Presiden AS). Yang unik dari pesta menjelang Hari Lahir Pancasila itu, adalah kebodohan Marilyn dalam hal protokol. Pada pesta itu, Maryln menyapa Bung Karno bukan dengan “Mr President” atau “Your Excellency”, tetapi dengan “Prince Soekarno!”
    *************************
    Ada lagi hubungan erat antara 17 Agustus dan Hollywood. Judul pidato 17 Agustus 1964, “Tahun Vivere Perilocoso” (Tahun yang Penuh Bahaya), telah dijadikan judul sebuah film The Year of Living Dangerously. Film tersebut menceritakan pegalaman seorang wartawan asing di Indonesia pada 1960-an. Pada 1984, film yang dibintangi Mel Gibson itu mendapat Oscar untuk kategori film asing!
    *************************
    Naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis tangan oleh Bung Karno dan didikte oleh Bung Hatta, ternyata tidak pernah dimiliki dan disimpan oleh Pemerintah! Anehnya, naskah historis tersebut justru disimpan dengan baik oleh wartawan BM Diah. Diah menemukan draft proklamasi itu di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan diketik oleh Sajuti Melik.
    Pada 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft tersebut kepada Presiden Soeharto, setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.
    ************************
    Ketika tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa 9 Juli 1942 siang bolong, Bung Karno mengeluarkan komentar pertama yang janggal didengar. Setelah menjalani pengasingan dan pembuangan oleh Belanda di luar Jawa, Bung Karno justru tidak membicarakan strategis perjuangan menentang penjajahan. Masalah yang dibicarakannya, hanya tentang sepotong jas!
    “Potongan jasmu bagus sekali!” komentar Bung Karno pertama kali tentang jas double breast yang dipakai oleh bekas iparnya, Anwar Tjikoroaminoto, yang menjemputnya bersama Bung Hatta dan segelintir tokoh nasionalis.
    *************************
    Rasa-rasanya di dunia ini, hanya the founding fathers Indonesia yang pernah mandi air seni. Saat pulang dari Dalat (Cipanasnya Saigon), Vietnam, 13 Agustus 1945, Soekarno bersama Bung Hatta, dr Radjiman Wedyodiningrat dan dr Soeharto (dokter pribadi Bung Karno) menumpang pesawat fighter bomber bermotor ganda. Dalam perjalanan, Soekarno ingin sekali buang air kecil, tetapi tak ada tempat. Setelah dipikir, dicari jalan keluarnya untuk hasrat yang tak tertahan itu. Melihat lubang-lubang kecil di dinding pesawat, di situlah Bung Karno melepaskan hajat kecilnya. Karena angin begitu kencang sekali, bersemburlah air seni itu dan membasahi semua penumpang. Byuuur…
    ***************************
    Berkat kebohongan, peristiwa sakral Proklamasi 17 Agustus 1945 dapat didokumentasikan dan disaksikan oleh kita hingga kini. Saat tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang mengabadikan peristiwa penting tersebut, Frans Mendoer, fotografer yang merekam detik-detik proklamasi, berbohong kepada mereka. Dia bilang tak punya negatif itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan perjuangan. Mendengar jawaban itu, Jepang pun marah besar.
    Padahal negatif film itu ditanam di bawah sebuah pohon di halaman Kantor harian Asia Raja. Setelah Jepang pergi, negatif itu diafdruk dan dipublikasi secara luas hingga bisa dinikmati sampai sekarang. Bagaimana kalau Mendoer bersikap jujur pada Jepang?
    ****************************
    Kali ini, Bung Hatta yang berbohong demi proklamasi. Waktu masa revolusi, Bung Karno memerintahkan Bung Hatta untuk meminta bantuan senjata kepada Jawaharlal Nehru. Cara untuk pergi ke India pun dilakukan secara rahasia. Bung Hatta memakai paspor dengan nama “Abdullah, co-pilot”.
    Lalu beliau berangkat dengan pesawat yang dikemudikan Biju Patnaik, seorang industrialis yang kemudian menjadi menteri pada kabinet PM Morarji Desai. Bung Hatta diperlakukan sangat hormat oleh Nehru dan diajak bertemu Mahatma Gandhi. Nehru adalah kawan lama Hatta sejak 1920-an dan Gandhi mengetahui perjuangan Hatta.
    Setelah pertemuan, Gandhi diberi tahu oleh Nehru bahwa “Abdullah” itu adalah Mohammad hatta. Apa reaksi Gandhi? Dia marah besar kepada Nehru, karena tidak diberi tahu yang sebenarnya. “You are a liar !” ujar tokoh kharismatik itu kepada Nehru
    ****************************
    Bila 17 Agustus menjadi tanggal kelahiran Indonesia, justru tanggal tersebut menjadi tanggal kematian bagi pencetus pilar Indonesia. Pada tanggal itu, pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, WR Soepratman (wafat 1937) dan pencetus ilmu bahasa Indonesia, Herman Neubronner van der Tuuk (wafat 1894) meninggal dunia.
    ***************************
    Bendera Merah Putih dan perayaan tujuh belasan bukanlah monopoli Indonesia. Corak benderanya sama dengan corak bendera Kerajaan Monaco dan hari kemerdekaannya sama dengan hari proklamasi Republik Gabon (sebuah negara di Afrika Barat) yang merdeka 17 Agustus 1960.
    ****************************
    Jakarta, tempat diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia dan kota tempat Bung Karno dan Bung Hatta berjuang, tidak memberi imbalan yang cukup untuk mengenang co-proklamator Indonesia. Sampai detik ini, tidak ada “Jalan Soekarno-Hatta” di ibu kota Jakarta. Bahkan, nama mereka tidak pernah diabadikan untuk sebuah objek bangunan fasilitas umum apa pun sampai 1985, ketika sebuah bandara diresmikan dengan memakai nama mereka.
    ****************************
    Gelar Proklamator untuk Bung Karno dan Bung Hatta, hanyalah gelar lisan yang diberikan rakyat Indonesia kepadanya selama 41 tahun! Sebab, baru 1986 Permerintah memberikan gelar proklamator secara resmi kepada mereka.
    ****************************
    Kalau saja usul Bung Hatta diterima, tentu Indonesia punya “lebih dari dua” proklamator. Saat setelah konsep naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia rampung disusun di rumah Laksamana Maeda, Jl Imam Bonjol no 1, Jakarta, Bung Hatta mengusulkan semua yang hadir saat rapat din hari itu ikut menandatangani teks proklamasi yang akan dibacakan pagi harinya. Tetapi usul ditolak oleh Soekarni, seorang pemuda yang hadir. Rapat itu dihadiri Soekarno, Hatta dan calon proklamator yang gagal : Achmad Soebardjo, Soekarni dan Sajuti Melik.
    “Huh, diberi kesempatan membuat sejarah tidak mau”, gerutu Bung Hatta karena usulnya ditolak.
    ****************************
    Perjuangan frontal melawan Belanda, ternyata tidak hanya menelan korban rakyat biasa, tetapi juga seorang menteri kabinet RI. Soepeno, Menteri Pembangunan dan Pemuda dalam Kabinet Hatta, merupakan satu-satunya menteri yang tewas ditembak Belanda.
    Sebuah ujung revolver, dimasukkan ke dalam mulutnya dan diledakkan secara keji oleh seorang tentara Belanda. Pelipis kirinya tembus kena peluru. Kejadian tersebut terjadi pada 24 Februari 1949 pagi di sebuah tempat di Kabupaten Nganjuk , Jawa Timur. Saat itu, Soepeno dan ajudannya sedang mandi sebuah pancuran air terjun.
    ****************************
    Belum ada negara di dunia yang memiliki ibu kota sampai tiga dalam kurun waktu relatif singkat. Antara 1945 dan 1948, Indonesia mempunyai 3 ibu kota, yakni Jakarta (1945-1946), Yogyakarta (1946-1948) dan Bukittinggi (1948-1949).
    ****************************
    Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia Jenderal Soedirman, pada kenyatannya tidak prnah menduduki jabatan resmi di kabinet RI.
    Beliau tidak pernah menjadi KSAD, Pangab, bahkan menteri pertahanan sekalipun!
    ****************************
    Wayang ternyata memiliki simbol pembawa sial bagi rezim yang memerintah Indonesia. Betapa tidak, pada 1938-1939, Pemerintah Hindia Belanda melalui De Javasche Bank menerbitkan uang kertas seri wayang orang dan pada 1942, Hindia Belanda runtuh dikalahkan Jepang.
    Pada 1943, Pemerintah Pendudukan Jepang menerbitkan uang kertas seri wayang Arjuna dan Gatotkoco dan 1945, Jepang terusir dari Indonesia oleh pihak Sekutu.
    Paa 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan uang kertas baru seri wayang dengan pecahan Rp 1 dan Rp 2,5 dan 1965 menjadi awal keruntuhan pemerintahannya menyusul peristiwa G30S/PKI.
    *****************************
    Perintah pertama Presiden Soekarno saat dipilih sebagai presiden pertama RI, bukanlah membentuk sebuah kabinet atau menandatangani sebuah dekret, melainkan memanggil tukang sate !!!
    Itu dilakukannya dalam perjalanan pulang, setelah terpilih secara aklamasi sebagai presiden. Kebetulan di jalan bertemu seorang tukang sate bertelanjang dada dan nyeker (tidak memakai alas kaki).
    “Sate ayam lima puluh tusuk!”, perintah Presiden Soekarno.
    Disantapnya sate dengan lahap dekat sebuah selokan yang kotor. Dan itulah, perintah pertama pada rakyatnya sekaligus pesta pertama atas pengangkatannya sebagai pemimpin dari 70 juta jiwa lebih rakyat dari sebuah negara besar yang baru berusia satu hari.
    *****************************
    Kita sudah mengetahui, hubungan antara Bung Karno dan Belanda tidaklah mesra. Tetapi Belanda pernah memberikan kenangan yang tak akan pernah dilupakan oleh Bun Karno.
    Enam hari menjelang Natal 1948, Belanda memberikan hadiah Natal di Minggu pagi, saat orang ingin pergi ke gereja, berupa bom yang menghancurkan atap dapurnya. Hari itu, 19 Desember 1948, ibu kota Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda.
    ******************************
    Sutan Sjahrir, mantan Perdana Menteri RI pertama, menjadi orang Indonesia yang memiliki prestasi “luar biasa” dan tidak akan pernah ada yang menandinginya. Waktu beliau wafat 1966 di Zurich, Swiss, statusnya sebagai tahanan politik. Tetapi waktu dimakamkan di Jakarta beberapa hari kemudian, statusnya berubah sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

  20. Lho kok balum diwedar seh… Dah ngantuk neh….

  21. dan menjelang hari ulang tahun republik indonesia, ada sebuah tulisan dari seorang sahabat…

    Bentang Waktu

    Ini hanya sebuah bahasa bathin, yang saya tuliskan dalam rangkaian kata demi kata yang mewakili perjalanan telisik saya akan makna tanggal 14 Februari. Tanpa bermaksud mengesampingkan narasumber lain dan data manapun serta catatan sejarah perjuangan bangsa , tulisan ini hanya sebuah ungkapan pribadi saya dalam upaya merekam jejak SUPRIYADI dan BENDERA MERAH PUTIH 14 FEBRUARI 1945.

    JEPANG, TENTARA PETA, BLITAR & SUPRIYADI
    Pemberontakan Tentara Pembela Tanah Air (PETA) pada 14 Februari 1945, hingga kini masih menyisakan berbagai pertanyaan, khususnya mengenai Shodanco Supriyadi, sang inisiator yang sekaligus pemimpin perlawanan terhadap tuannya itu. Disebut tuannya, karena Tentara PETA yang beranggotakan para pemuda pribumi Indonesia itu adalah didikan tentara Pendudukan Jepang, yang akhirnya malah memakan tuannya. Murid melawan Guru.

    Dan kala itu Tentara PETA Daidan Blitar-lah, yang kali pertama melawan tuannya, Jepang yang sedang bercahaya di Asia. Beberapa pemberontakan, sebenarnya telah terjadi sebelumnya yang dibidani oleh para ulama dan tokoh masyarakat di berbagai tempat di Indonesia. Setelah Peristiwa Daidan Blitar, Tentara PETA di tempat lain juga melakukan hal yang sama, seperti yang dilakukan oleh Shodanco Supriyadi dan kawan – kawannya. Satu benang merah yang bisa disimpulkan dari masing masing perlawanan dan pemberontakan itu adalah Indonesia sudah tidak mau dijajah lagi, Indonesia harus Merdeka.

    Penderitaan rakyat di berbagai tempat di bumi Nusantara kala itu sudah sangat parah. Harga diri bangsa yang diinjak injak, kemiskinan, kelaparan dan berbagai kesengsaraan menjangkiti sendi kehidupan. Ibaratnya, sore sakit malam mati, malam sakit pagi mati, pagi sakit siang mati, siang sakit malam mati, begitu seterusnya tiada henti. Demikianlah kira – kira yang dapat dilukiskan, dari satu sudut pandang mengenai keberadaan rakyat Indonesia yang dimobilisasi sebagai Romusha. Setiap hari, ratusan nyawa menjadi tumbal bagi kemerdekaan bangsa ini.

    Pemandangan menyesakkan dada dan membuat perih mata bathin itu pula yang akhirnya membakar nasionalisme Shodanco Supriyadi dan kawan – kawannya di markas tentara PETA Blitar, dan benar benar menyala sebagai kobaran api patriotisme pada hari Selasa Legi Malam Rabu Pahing 14 Februari 1945. Meski dalam hitungan jam, nyala api pemberontakan itu dapat dipadamkan, tak urung membuat pihak Tentara Pendudukan Jepang di Blitar serasa kebakaran jenggot. Serta merta, berbagai upaya di lakukan pihak Jepang untuk mengeliminir agar peristiwa itu tidak menyebar informasinya bahkan menjangkiti Daidan PETA di tempat lain untuk turut berontak.

    Pemberontakan PETA ini, walaupun dari sisi kejadiannya terlihat kurang efektif karena hanya berlangsung dalam beberapa jam dan mengakibatkan tertangkapnya hampir seluruh anggota pasukan PETA yang memberontak, kecuali Supriyadi namun dari sisi dampak yang ditimbulkan, peristiwa ini telah mampu membuka mata dunia. Sekali lagi pemberontakan PETA telah menggoreskan tinta emas dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, karena peristiwa tersebut merupakan satu satunya pemberontakan yang dilakukan oleh tentara didikan Jepang. Bahkan, pemberontakan ini boleh dikata sebagai satu-satunya fenomena anak didik Jepang yang berani melawan tuannya diseluruh kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur yang dijajah Kolonial Jepang.

    MENCARI SUPRIYADI
    Lebih dari 20 orang nara sumber (pelaku pemberontakan banyak yang sudah meninggal dunia) baik yang bersinggungan langsung atau tidak dengan peristiwa pemberontakan PETA Blitar pernah memberikan keterangan kepada saya. Mereka dengan lancar mengisahkan keterlibatan dirinya dalam peristiwa pemberontakan PETA Blitar, 64 tahun yang silam. Mereka diantaranya adalah mantan anggota tentara PETA Blitar berpangkat Gyuhei, Budhanco, bahkan eks Shodanco, meski bukan dari Daidan Blitar. Di hari tuanya, mereka tersebar di berbagai pelosok dan sudut Blitar, hanya tinggal beberapa orang saja.

    Beberapa ahli waris pelaku pemberontakan PETA, mulai dari keluarga Supriyadi di Blitar pun tak luput dari incaran untuk dapat kembali mengisahkan suasana kala itu. Saya melengkapinya dengan menelisik ulang dengan mendatangi nara sumber lainnya. Disebutkan dari berbagai buku mengenai sejarah pemberontakan PETA, terakhir kali terlihat Shodanco Supriyadi berada di kediaman Hardjomiarso, Kepala Desa Sumberagung Kecamatan Gandusari (bahkan desa Sumberagung juga sempat dijadikan markas terakhir pemberontakan). Tak dapat saya temukan narasumber yang bisa memberikan keterangan mengenai sosok Hardjomiarso. Namun demikian, makam sosok Lurah yang banyak membantu Tentara PETA itu dapat saya temukan di desa Sumberagung Gandusari Kabupaten Blitar. Makam keluarga itu terawat dengan baik. Sebuah saksi yang tidak mampu bertutur.

    Air terjun Sedudo, di Nganjuk adalah sebuah tempat lainnya di Jawa Timur yang konon menjadi tempat yang pernah disinggahi oleh Supriyadi, pasca pemberontakan. Sebuah nama tertulis juga dalam buku sejarah pemberontakan PETA, bahwa yang bersangkutan ikut membantu “menyembunyikan” Supriyadi dalam sebuah gua di puncak bukit dekat Sedudo. Dalam cuaca berkabut dan hujan deras, bersama seorang ahli waris “si penyembunyi” akhirnya say berusaha untuk mendatanginya. Tak terjawabkan pula, dimana Supriyadi berada.

    Krisik, adalah sebuah desa di wilayah Kabupaten Blitar yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Malang. Sebuah gua pertahanan jaman Jepang terdapat di sana. Seharian penuh, akhirnya saya dapat mencapai lokasi dimaksud. Dari data yang saya peroleh, disebutkan tentara PETA dan para romusha yang membuat gua – gua pertahanan dimaksud. Tak saya dapatkan keterangan tambahan mengenai keberadaan Supriyadi.

    Pantai Tambak, Pantai Jolosutro, Pantai Serang di Blitar Selatan. Dilokasi ini, dulu tentara PETA Blitar membuat pertahanan, berlatih dan dengan mata telanjang, mereka melihat ratusan romusha bekerja paksa hingga menemui ajalnya. Supriyadi pernah berada dilokasi dimaksud. Namun kembali tak ada narsumber yang mampu bertutur mengenai adanya.
    Panceran desa Ngancar Kecamatan Ngancar di Kabupaten Kediri, dilereng Gunung Kelud juga emplasemen Perkebunan Sumberlumbu, Perkebunan Sumberpetung telah pula saya datangi. Lereng Kelud adalah salah satu tempat yang dijadikan basis gerilya pasca pembontakan. Tak ada keterangan yang bisa menyebut akan keberadaan Supriyadi.

    Saksi keberadaan Supriyadi yang masih ada hingga saat ini adalah Bangunan bekas Markas Tentara PETA di jalan Shodanco Supriyadi Blitar. Di kawasan yang kini dijadikan komplek pendidikan ini, terdapat bekas kamar tidur Supriyadi, dapur tentara PETA, bahkan kini telah berdiri megah monumen PETA Blitar. Tujuh patung terwujud disana menggambarkan wajah mereka pada saat pemberontakan terjadi 14 Februari 1945.

    MENCARI SANG MERAH PUTIH
    14 FEBRUARI 1945
    Bicara mengenai pemberontakan PETA Blitar, sebenarnya tidak hanya bicara mengenai sosok Supriyadi yang misterius. Seketika setelah pemberontakan berlangsung sebuah bendera (yang akhirnya kini menjadi bendera Republik Indonesia) warna merah putih, berkibar di Blitar.

    Adalah Parthohardjono (Tentara PETA Blitar), seorang yang dengan gagah berani megibarkan merah putih di lapangan depan markas Tentara PETA Blitar. Tempat itu, kini masuk dalam kawasan taman makam pahlawan Raden Wijaya, kota Blitar, persis di seberang monumen PETA Blitar. Sebuah catatan menyebut, pasca proklamasi kemerdekaan, tahun 1946 Panglima Besar Jenderal Sudirman mengunjungi tempat ini, sekaligus menyematkan karangan bunga.

    Parthohardjono, yang kala itu tidak tinggal didalam asrama Tentara PETA Blitar (karena telah menikah), memilih tinggal indekos disebuah rumah tak jauh dari asrama. Bersama istrinya, berbulan – bulan memang telah menyiapkan kain merah (bekas kain penutup peti/ kotak peluru/ amunisi) dan kain putih, bekas sarung bantal untuk akhirnya dijadikan bendera. Disimpan sangat hati – hati, agar tidak ketahuan tentara Jepang, akhirnya berhasil pula menyelundupkan bendera tersebut dan dibawa persis waktu malam pemberontakan.

    Ketika pemberontakan berlangsung, ketika mortir diledakkan, ketika aba aba komando tanda mulainya pemberontakan di serukan oleh Supriyadi, malam itu Kota Blitar benar benar mencekam suasananya. Hiruk pikuk tentara PETA yang mulai melakukan pemberontakan terhadap tuannya itu, makin membuat keberanian Parthohardjono memuncak. Ia menuju tiang bendera di sisi utara lapangan markas PETA Blitar. Dengan kidmad, sang saka merah putih dinaikkan. Dalam posisi siap tegak berdiri, Parthohardjono melakukan hormat bendera. Sesaat setelahnya, dia bersujud di tanah lapang itu, mencium tanah tiga kali dengan mata berkaca – kaca haru, yakin bahwa malam itu Indonesia Merdeka.

    Keterangan ini tidak saja termuat dalam buku sejarah pemberontakan PETA. Ini adalah sebuah keterangan yang disampaikan oleh menantu Parthohardjono, di Blitar. Di hari tuanya, Parthohardjono memilih untuk tetap menjadi rakyat biasa. Parthohardjono, lebih dikenal dengan nama sebutan Partho Wedhus. Wedhus adalah kambing dalam bahasa Jawa. Memang, dihari tuanya Parthohardjono, sering membantu para petani dan tetangga desanya dengan menyumbangkan kambing untuk diternak dengan sitem bagi hasil.

    Sayang, hanya sebuah makam yang dapat saya temui. Yang tidak bisa bercerita langsung akan peristiwa heroik itu. Permintaan Partohardjono kepada putrinya kala itu, “ Jika waktunya tiba, aku jangan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan”. Makam Parthohardjono, sang pengibar bendera merah putih 14 Februari 1945 itu (6 bulan sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945) berada disebuah makam desa, nun jauh dari Kota Blitar. Sebuah makam sederhana tanpa embel embel PAHLAWAN.
    Kemana merah putih yang telah berkibar pada 14 Februari 1945 itu, hingga kini tidak ada seorangpun yang mampu menunjukkannya.

    REFLEKSI 14 FEBRUARI 1945
    Kobaran Api Patriotisme dan Nasionalisme Pemberontakan PETA Blitar itu, hingga kini masih menyala, dan menjelma sebagai sebuah spirit khususnya bagi pemerintah kota Blitar dan warganya. Pun juga Kabupaten Blitar.

    Sudah seharusnya spirit itu mampu menjadi cambuk kepada Pemkot dan Pemkab Blitar dalam memperjuangkan kepentingan memakmurkan rakyatnya. Betapa Supriyadi telah nyata memberikan bukti untuk melawan kesewang wenangan, melawan penindasan, melawan penjajah. Bukankah Parthohardjono telah memberikan tauladan keberanian dan semangat perjuangan yang begitu besarnya, karena kecintaanya kepada Tanah Air. Bukankah, tentara PETA rela meregang nyawa untuk menunjukkan bahwa Indonesia mampu sejajar dengan bangsa dan terbebas dari belenggu penjajahan.

    Sungguh ironis kiranya, jika pemberontakan PETA BLITAR hanya membekas sebagai sebuah catatan sejarah belaka. Sungguh ironis jika peristiwa heroik itu hanya diagendakan untuk diperingati tiap tahunnya dalam sebuah seremonial tanpa makna.
    Dan sungguh ironis jika pemerintahan negeri ini, malah membuat rakyatnya miskin dan terjajah, dan tak mampu membuat sejahtera rakyatnya.

    ….ironisnya lagi… kita sebagai bangsa indonesia hanya mengenal 14 Februari adalah hari Valentine… bukan Supriyadi…tokoh penting kemerdakeaan Indonesia… Poor Our Nation…Merdeeekaaa!!!!

  22. hadirrrr

  23. Hadir, Nyi. Sejenak mampir untuk melihat keadaan pedepokan dan membaca cerita ki Banu tentang Mbah Parto Wedhus.

    Parenk….

  24. Mampir…..

  25. sepi

  26. masih sepi juga

  27. kok masih sepi juga

  28. kulonuwuuuun…kok ga ono uwong blas..

    • lho, ono tamu to..
      monggo ki,
      ngapunten, nembih saking wingking, mboten kepireng rawuhipun.

      • Walah kulo ngadek ngarep regol wis suwe Ki..
        Inggih…nyuwun sewu. kulo bade dlosoran teng lebet. Sikil kulo mpun keju raosipun.

    • Podo melaut …. mencari ikan ..
      Maklum .. wis tengah wengi …..
      Ki Kimin … ngleker …
      Ki Arema … ngilang bersama Rara Wulan …
      Ki Manahan … sedang … ganti ban … dokar ..
      Ki Parto … nembe ngganti baling-baling pesawat ..
      Ki alGhore … nunggoni … putune Firaun … kintir …
      Ki Jogo Tirto … ke Pliridan
      Ki Utun … kerjo ….
      Ki Telik Sandi … tertangkap di Pati … durung mulih …
      Ki Ismoyo pergi ke Khayangan …
      Ki Pandanalas … lagi golek watu yang kualitas-e apik ..
      Ki SAS … lagi ngrungokno jago sing kluruk-e banter.
      Ki Truno Podang repot ngurusi Toko Bukune …

      Sing liyane …. dolanan karepe dewe ..

      • Lho Ki Widura hobby mancing ya?
        Ikutan aktif di milis apa Ki?

        • Yen mancing … kedah melaut … pados yellow tail, hiu, lan teri ..

          Kulo namung aktif ning padepokan Menoreh kewamon …

      • Mulane aku turu ora jenak. Lha wong ono sing ngrasani.

        ssstttt…., karena kerja sama yang rapi dengan orang dalam, RW tampaknya akan berhasil dikeluarkan dari tahanan Perguruan KJ.

        Tunggu liputannya besok.

        • Lha kok sesuk … saiki wae … Ki,

          Monggo Nyi Seno digugah kemawon …..
          Tok tok tok tok …
          Nyi Seno, wayahe … wedar … kitab Nyi!

          Matur Suwun

  29. lho….????

  30. waduh nyuwun pamit…pun nguantuk pol kulo

  31. Sayang nggih Ki Widura, rembulane mung katon separo. Jaman cilikan kalo rembulan kelihatan utuh terus pada dolanan jamuran……….

    • Dalem njih dereng kesupen …. blusukan neng tegalan kados Sukro …. kalian konco-2ne …

      Sayang bulannya sudah dimakan butho ijo … separuhnya .. he he hee

  32. Lha butho ijo kok yo nggragas tho! nguntal rembulan nopo boten kloloten nggih Ki…

    • Butho-ne sampun ketularan kalian Paktho …

  33. Sepertinya akan ada serangan fajar nih…siap2 dulu ah…

    • Mungkin akan dititipkan pada cantrik yang memberikan komentar pada tanggal 31 Juli pukul 03.00,,,,

  34. Ternyata sudah dini hari kitabnya masih belum diedarkan. Untung saja saya tadi sempat tidur dari menjelang tengah malam.

    Rasanya bakalan tidak bisa tidur lagi. Saya sudah sempat menemui AS, SM, GP, Sabungsari, Ki Wijil, istri Ki Wijil dan Sayoga di luar dinding pedukuhan Klajor. Empu Wisanata dan Nyi Dwani belum kembali. Nampaknya ada kebimbangan hati Nyi Dwani setelah ketemu dengan Ki Saba Lintang. Ki Saba Lintang mencoba meyakinkan Nyi Dwani bahwa Rara Wulan tidak diculik untuk kepentingan dirinya. Itulah yang membuat Nyi Dwani bimbang. Ia harus percaya Agung Sedayu dan Sekar Mirah atau percaya pada Ki Saba Lintang.

    Dalam pada itu di luar dinding pedukuhan Klajor suasana begitu meresahkan. Glagah Putih merasa sudah bosan bermain macanan dengan Sabungsari dan Sayoga. Kini mereka bingung mau mengerjakan apa lagi. Sementara AS dan SM masih juga bersikukuh bahwa kitab belum dapat diedarkan di dini hari ini. Mereka berdua baru akan mengedarkan kitab apabila Nyi Seno atau Ki Gedhe sudah bangkit dari pertapaan mlumah di atas amben bambu mereka.

    AS dan SM minta agar Ki Sanak semua sabar sampai Nyi Seno dan Ki Gedhe dapat dimintai ijin mengedarkan kitab 313. Karena nomor kitabnya cantik, peredarannya tidak boleh semena-mena. Ada upacara khusus yang harus dilaksanakan. Sesajen berupa ingkung sepasang ayam dan tumpeng tiga warna (putih, kuning dan merah) harus diletakkan di depan gapura utama pedukuhan Klajor.

  35. telima kasih

  36. Terimakasih Nyi Seno. sepertinya saya mengunduh no 2 setelah Ki Leak,,,

  37. Matur Nuwun, Nyi Seno ……. sampun ngunduh …..

  38. matur suwun nyi, kulo nggih sampun ngunduh 😀

    habis lunch buka gandok, habis supper dapet desert 😀

  39. Matursuwun Nyi Seno. Segera diundhuh kitabnya.

  40. Matur nuhun kitabnya Nyi.

  41. Ass.
    Sugeng enjing, lan matur nuwun kitabipun.
    Sampun kaunduh, sekalian ngantri 314.
    Nuwun.

  42. Matur nuwun Nyi….

  43. Sugeng enjing Ki Sanak sedaya. Nuwun sewu ndherek langkung badhe mondhong rontal 313 kangge kanca nruput kopi. Matur nuwun Ki Gede lan Nyi Seno,

  44. Matur nuwun

  45. Nyuwun sewu badhe nderek nengga gandhok 314 dipun bikak. Mugi-mugi Ki Gedhe kersa mbikak gandhok lan medhar kitabipun saderengipun wanci sepi uwong mangkeh dalu. Mboten namung setunggal nanging tigang kitab kagem rencang akhir pekenan.

  46. Trims Nyi Seno … untuk ‘nyamikan’ di pagi cerah ini ..

  47. matur nuwun ki raosipun sekeco sanget, enjang2 langsung angsal bubur kacang ijo panas2 …. manteb….

  48. selamat pagi,,,
    maturnuwun….

  49. matur nuwuun kitabnya…

    @ki banuaji
    minta ijin copas ki…buat ditempel ditempat lain, moga2 bermanfaat buat yg baca

    • mangga ki…

  50. Maturnuwun Nyi rontal 313 nya…

    Kagem Ki Honggopati dalah mbokmanawi kadang sanes, pemakaian uluk salam Assalaamu’alaikum kok saenipun sampun dipun singkat dados Ass., amargi menawi ningali ing kamus inggris artosipun Ass piyambak dados benten. Nanging nuwun sewu puniko naming pemanggih saking tanggi sebelah. Mbokmanawi mawi singkatan sanesipun langkung sae. Maturnuwun.

    • leres ki
      terdengarnya jadi saru kalo bahasa inggris ya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: