Buku IV-05

305-00

Laman: 1 2

Telah Terbit on 24 Juli 2009 at 18:51  Comments (109)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iv-05/trackback/

RSS feed for comments on this post.

109 KomentarTinggalkan komentar

  1. kene yo tambah sepi

    • Dapat antrian di sini juga

      • teng wingkinge ki Arema…

        tak kinten langsung diunduh…2x (pake nada tak gendong)

        • Hadir numero quatro …

  2. Hadir ………..

  3. Hadir Nyi ……..

  4. tak kancani ki

  5. antri ki kisruh

  6. weladalah rontal gropyokan.. ndherek bingah. dherek absen maleh..

    Ki Trupod?
    Ki Arema?
    Ki Djojos?
    Ki Ismoyo?
    Ki Manahan?
    Ki PLS?
    lst…

    • Koyo’e isih kendurenan Ki

      • ndherek

    • antri nyadong rontal

      • Hadir juga di gandok 305 Ki. Rupanya sore ini dua gandok langsung dibuka sekaligus

        • apakah nanti juga langsung dua dibaginya?

          maklum baru2 ini saja ikutan ngantri.

        • Tiga Ki Djojosm

          gandhok 304, 305 dan 306

          • Nopo enggih Ki? Kulo bade nawis teng gandok 306. monggo matur nuwun.

  7. Sabar….. nrimo ..ing …pandum….!!!!!!

  8. Siap-siap glegeken kitab. Absen dan ngantri

  9. he…heee….dongane wong sakaw pancen manjur….matur nuwun nyi….

  10. hadir Ki ….

  11. Buah kesabaran katanya amatlah manis. Tetapi sebagaimana manusia biasa, sering kali khilaf. Terkadang kesabaran mulai menipis saat sedang kelelahan dalam menunggu.

    Namun apapun alasannya, adalah tidak pada tempatnya berlaku emosi atas suatu keterlambatan yang apa boleh memang harus terjadi.

    Kesabaran ekstra, ketelatenan ekstra, tenaga ekstra, dan waktu ekstra adalah modal yang diperlukan dalam suatu penantian…..hiks hiks hiks.

    Pemenangnya sudah pasti yang masih mau menunggu dan akhirnya ngunduh.

    Buah kesabaran memang manis tetapi memelihara dan merawat pohonnya agar tetap tumbuh kadang sulit. Tetapi bukan suatu yang tidak mungkin…

    cover sudah di layar,
    harapannya kitab wedar.

    • maksudya “apa boleh buat”

      • seneng dan pasrah hehe

  12. @Para Kadang Sutresna,
    Sugeng ndalu, ………… mugi2 sinambi nengga wedaripun Rontal 305, wonten lelipur dongengan saking Pa’de Ismoyo utawi para Ajar sanesipun.
    Tumrap ingkang dereng memahat Rontal 304 ing sanubari, inggih mangga ngedapi pasugatan punika kanti runtut. Mugi boten kesupen, menika CD uyon2 saking Ki Djojos M dipun puter saengga nambah sumringah kawontenan ndalu punika.
    Nuwun,
    Ki Truno Podang

    • pundi CDne ki…?

      • nJenengan lak pun gadhah to KI

        • engkang pundi tho…
          kadosipun ki djojosm dereng medar maleh je…

          • Hiks……

        • san soyo bengi….. san soyo sakow

  13. Wah langsung dibukak lawang 305.
    Absen ach sinambi nunggu piwulange Ki Ismoyo.
    Monggo Ki diwiwiti jejeran sepisan.

    • Betul Ki, jika sebelum kitab diwedar, Ki Ismoyo paring piwulang dan pitutur, para kadang padepokan pasti sempat baca semuanya

      • Wach tak kiro arep langsung diwedhar 305..keokeokeo…

  14. Ass. wr. wb.
    Rajin baca, rajin donlod, jarang nimbrung.
    Trims.

  15. hadirrr

  16. Absen Nyi. Kok tidak ada yang jaga gudang panganan di perkemahan 305? Apa para prajurit Mataram sedang memperbaiki tangga bambunya? Coba aku tengok ke perkemahan 306.

  17. Ketoke podo sinau kabeh .

  18. Hehehe..sinau sesuk ulangan ya Ki.

    • Iya Ki.
      Prtanyaan kurang lebih gini
      1. Siapa ayah Bagus Handaka
      2. Terus siapa kakek Bagus Handaka
      3. Siapa buyutnya. Embuh
      4. Siapa kakek buyutnya. Engga tahu

      Ki Gajah Sora tahu engga jawabnya. Kulo mboten ngertos. Sing ngertos SHM

      • 1. gajah Sora
        2. Sora dipayana
        3. ibn soradipayana
        4. ibn ibn soardipayana

  19. hhhhmmmm ,,,,,,nrimo wae hik hik hik

  20. Ualangan Bab Babat ala mentaok ki…?

  21. Iseng-iseng tak klik covere..jebule durung tayang. Isin dewe. Ngguyu dewe. Ups! Salah!

  22. Adakah Ilmu Ikhlas?

    Sebenarnya adakah ilmu ikhlas itu? Mungkin kita sama-sama pernah menonton satu sinetron, yang menceritakan tentang seseorang yang dengan gigihnya mengejar seorang gadis anak seorang kyai. Berbekal nekat ia berusaha mendekati gadis itu, berbagai halangan tak kurang pula dari orangtua si gadis. Namun ia tetap bandel walaupun sang kyai bapak gadis tadi mengajukan syarat-syarat yang mungkin dirasa berat bagi orang yang tidak biasa melakukan. Tetapi demi mendapatkan seseorang yang dicintai, maka seberat apapun syarat tersebut ia sanggupi juga.

    Maka rangkaian kejadian yang lucu, mengharukan, terkadang menjurus konyol terjadi dalam sinetron tadi. Bagaimana si pemuda tadi belajar dengan seorang anak yang usianya jauh lebih muda, untuk belajar menjalankan syarat yang diajukan ayah si gadis.

    Sampai akhirnya tibalah penentuan tersebut. Ternyata si gadis telah dijodohkan oleh pemuda lain yang menurut pandangan dari sang kyai lebih memenuhi syarat sebagai menantunya. Yang menurut pak kyai intelektualitasnya tak perlu diragukan, karena konon calon pilihannya alumnus Al-Azhar di Mesir.

    Tetapi biar dikata adil, pak kyai masih memberi kesempatan kepada kedua pemuda dengan mengajukan satu syarat lagi yaitu siapa yang menguasai apa yang dinamakan ilmu ikhlas maka ialah jodoh anak gadisnya.

    Demi cintanya pada si gadis, ia dengan tidak mengenal lelah, tenaga, waktu, materi untuk mencari buku-buku yang menurutnya merupakan petunjuk ilmu ikhlas diborongnya. Tetapi apa yang disebut dengan ilmu ikhlas bukan perkara mudah untuk mencari dan mempelajarinya. Nyaris, si pemuda putus asa dengan meluahkan jeritan hatinya kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.

    Tetapi, dengan tabah pada waktu yang ditentukan si pemuda datang menghadap sang kyai. Berkata si pemuda, “Bahwa, jika memang si gadis berbahagia berjodoh dengan selain dirinya, ia rela tidak bersama si gadis, mungkin memang bukan jodohnya. Ia ingin si gadis bahagia, ia tidak ingin si gadis menderita, cinta tidak berarti memiliki. Jika memang sudah kehendak Yang Maha Kuasa bukan jodohnya, lillahi ta’ala ia ikhlas dan merelakannya menikah dengan pilihanya.”Tetapi ternyata pak kyai malah terkesan dan terkesima dengan apa yang dilakukan oleh pemuda tadi. Dan menurut pak kyai ialah yang telah dapat menguasai apa yang di namakan ilmu ikhlas. Akhirnya bisa ditebak ending dari sinetron tadi.

    Berdasarkan paparan diatas, apa yang dinamakan ilmu ikhlas itu adalah sesuatu yang harus kita ikhlaskan apabila memang belum menjadi hak kita.

    Tetapi, kita manusia yang ketempatan sifat ego, belum tentu bisa menerima dan bahkan cenderung untuk menyalahkan orang lain apabila tujuan atau harapan tidak terwujud. Dan hal ini sering terjadi pada kita sebagai insan yang tidak sempurna.

    Satu sifat kelemahan kita sebagai manusia biasa, yaitu congkak, pongah dan sombong, merasa selalu benar, lupa bahwa masih ada yang mengatur kita. Seharusnyalah kita mawas diri, bahwa dibalik suatu peristiwa akan ada hikmah yang bisa dipetik, sekarang atau mungkin kelak di kemudian hari.

    Allah mengabulkan do’a mahluk-Nya dengan 3 cara : 1. Mengabulkan pada saat itu juga; 2. Diganti dengan dipalingkan dari kesusahan atau dihapuskan dosanya; 3. Atas doanya disimpan sebagai pahala. Dan kita harus percaya itu.

    Simpul, Ilmu Ikhlas adalah : belajar ikhlas terhadap apa yang kita berikan kepada seseorang. Ikhlas, dalam arti tanpa mengharap pamrih apapun, semata-mata karena Alloh SWT. Ikhlas menyayangi seseorang setulus hati, karena Alloh SWT tanpa harus mengharap imbalan kasih sayang tersebut. Contohnya : kasih sayang ibu terhadap anaknya … kasih ibu sepanjang masa.. hanya memberi tak mengharap kembali, mungkin itu intinya.

    tapi…..mbuh ding,…abot, bisa ngomong durung tamtu bisa nglakoni – jarkoni.

    • Mungkin ilmu ikhlas di padepokan akan terjawab nanti Ki setelah kita membaca Pelangi di Singosari.
      Dimana Kuda Sempana dan Mahesa Agni sama-sama mencintai Ken Dedes dari sejak muda sampai tua. Tanpa mengharapkan balasan cintanya. Mereka berdua terus melindungi Ken Dedes dan anak cucunya.
      Bahkan Kuda Sempana rela menjadi pekatik keluaraga tsb sampai ahir hayatnya.
      Engga spoiler kan Ki.

      • kulo njih ikhlas mentrik2 podho sliweran ki…hikssss

        • Ikhlas opo kepekso?…

        • kepekso ikhlas ki…hiks

      • betul ki, setuju saya. Saya dulu waktu SD, pelajaran sejarah selalu dapat 10, gara2 rajin baca Pelangi di Langit Singasari, Bara di atas Singgasana, dst., heheheh, guru2 SD saya suka pinjem buku2 ini & NSSI dr saya.

        • Soal-soalnya diambil dari Kitab SHM, nggih?

      • subhanallah

  23. Wah lagi seru nih. AS perang tanding dengan seorang saudara seperguruan adipati Pati.
    Rasamya ga sabar nunggu kitab diwedar..

    • Makin seru dan makin bikin penasaran

  24. Guwarso Guwarsi

    Disebuah lereng gunung yang sangat terpencil jauh dari permukiman manusia, terdapatlah sebuah Padepokan Grasino. Padepokan itu milik dan tempat tinggal Resi Gutomo yang termashyur sakti dan waskito, mampu melihat yang sedang dan sudah winarah (terjadi). Tetapi beliau belum mampu melihat yang belum winarah. Saking genturnya bertapa, tanpa disadarinya Sang Wiku menjadi kelewat sakti, apa yang diucapkan akan winarah.

    Dewi Windardi adalah istri yang setia tetapi ditelantarkan oleh suaminya yang terlalu gentur tapanya. Kalau sedang memuja semedi, Resi Gutomo bisa ber-hari2 bahkan ber-minggu2 di sanggar pamujan, lupa makan lupa minum. Lupa bahwa ia adalah ayah dan suami sebuah kel;uarga. Untuk mengusir sepi, Dewi Windardi suka meninggalkan padepokan dan bepergian jauh sampai ber-hari2 bahkan ber-minggu2.

    Dalam pakem pedalangan dikabarkan ia berselingkuh dengan dewa. Dalam kisah ini, tidak tertutup kemungkinan ia kelonan bukan dengan Dewa tetapi dengan pria lain. Dewi Windardi masih muda, belum menop(ause) tetapi ditinggal suaminya ber-zikir sepanjang bulan.

    Anak yang paling sulung adalah Retno Anjani, kemudian Guwarsi dan sibungsu Guwarso. Guwarso & Guwarsi secara fisik nyaris kembar, bahkan nada bicaranyapun sama. Tetapi sifat mereka berbeda jauh. Guwarsi penyendiri dan pendiam. Ia seorang spesialis, tahu banyak tentang sedikit hal.

    Sebaliknya, Guwarso berpembawan hangat, ramah, dan suka bersosialisasi. Ia generalis, tahu sedikit2 tentang banyak hal. Sejak usia dini, Guwarsi menunjukkan ketertarikannya akan kependetaan. Ia suka menyimak ayahandanya dalam memuja semedi sampai ber-hari2. Sebaliknya, Guwarso menunjukkan bakatnya sebagai pemimpin kelompok.

    Resi Gutomo adalah guru joyo kawijayan yang tersohor. Kedua putra2nya digembleng oleh bapaknya dan kelak mereka akan menjadi satria pinilih. Retno Anjani adalah gadis dusun yang lugu. Ia dekat dengan ibunya tetapi sayangnya ibunya plesiran terus.

    Anjani mencintai dan gemati terhadap kedua adik2 lelakinya dan sering bertindak sebagai pengganti ibu bagi kedua adik2nya. Sayang, iapun belum cukup dewasa untuk menjalankan peran itu. Ketiga anak2 ini tidak dekat dengan ayahnya. Padepokan Grasino adalah permukiman sebuah keluarga yang terlantar.

    Sebagaimana layaknya kakak beradik, Guwarso & Guwarsi hidup rukun, sebagaimana lumrahnya kakak beradik. Namun, selain hubungan kerukunan itu, ada juga hubungan persaingan yang kerap disebut sibling rivalry. Pada kasus Guwarso Guwarsi, rivalitas saudara sekandung ini demikian parahnya sampai akut.

    Banyak contoh sejarah menunjukkan bagaimana saudara sekandung saling berbunuhan. Bahkan Nabi Sulaimanpun mengalami oposisi keras dari abang kandungmya, Atila membunuh Breda, abangnya. Juga kaisar2 Romawi.
    Apapun bisa menjadi rebutan, mulai dari pensil, mainan, sepeda, sampai hal2 yang penting sifatnya.

    Jika mereka satu tim, misalnya badminton dobel, mereka menjadi tim yang sangat sulit dikalahkan. Jika mereka berburu bersama, sulit bagi mangsanya untuk lolos dari team yang sangat kompak ini. Tetapi, jika sampai pada pembagian hasil buruan, pasti berujung dengan rebutan. Jika mereka bertarung main badminton Guwarso vs Guwarsi, maka pertarungan bisa dipastikan berakhir dengan raket2 yang dipakai untuk menggebug kepala.

    Selain keluarga Resi Gutomo, disitu tinggal cantrik Jembawan sebagai pengasuh Guwarso dan cantrik Mendo yang mengasuh Guwarsi. Ada juga cantrik anak kawan Resi Gutomo yang berguru disitu, namanya Anilo. Juga banyak cantrik2 lain seperi Srobo, dll.

    Setelah kehabisan bahan untuk bersengketa, akirnya Anjani menjadi objek rebutan Guwarso & Guwarsi. Jika Guwarso membelikan lotek mbakyunya, maka Guwarsi pasti akan membelikan pecel. Kalau yang satu bepergian ngedisko, satunya pasti ngajak karaokean, dan seterusnya. Disatu sisi Retno Anjani mumet melihat tingkah laku adik2nya tersayang yang tak kunjung rukun. Disisi lain Anjani berbahagia dijadikan rebutan. Gadis dusun yang haus perhatian dari kedua orangtuanya mendapatkanperhatian dari kedua adik2 kinasih. Retno Anjani makin gemati terhadap adik2nya dan tumbuh rasa kasih yang makin mendalam. Begitupun Guwarso/i, mereka mendapatkan kasih yang tidak diperolehnya dari ibunya. Anjani memberikan yang mereka cari.

    Anehnya, seolah ada semacam kode etik diantara Guwarso/i. Jika Anjani sedang dengan Guwarso, maka Guwarsi akan menyendiri. Kadang naik pohon tinggi sambil menghafal mantra2 mengusir hatinya yang galau.

    • Supoto Mondroguno.

      Begitu juga ketika Guwarsi sedang dengan mbakyunya, Guwarso akan menyingkir, mencari keramaian. Gaple, main skatebopard, dll. Juga menghilangkan galau dihati.

      Begitulah keanehan keluarga Gutomo. Ketiga putra putri itu nyaris tanpa pengawasan kedua orang tuanya. Mereka bermain, bercanda, dan saling berukar perasaan satu sama lain.

      Pada suatu masa, tampak Dewi Windardi sedang gundah gulana. Seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat. Ber-kali2 beliau melirik sanggar pamujan, berharap Sang Wiku berhenti dari semadinya agar ia bisa menumpahkan persoalan yang membebani pikirannya. Hari demi hari ditunggunya sang Pertapa dengan resahnya namun sayang, Sang Begawan tak kunjung selesai. Dewi Windardi makin gelisah. Raut mukanya pucat pasi dan tampak sangat ketakutan, tidak bisa tidur dan tidak berselera untuk makan dan minum. Anjanipun tidak seperti biasanya, lebih pendiam. Se-hari2 ia hanya main dakon sendirian. Pada suatu hari, seperti biasanya Guwarso dan Guwarsi bertengkar memperebutkan sesuatu, entah apa. Sang Ibu sampai capai ber-teriak2 menegur kedua putranya. Suasana padepokan jadi gaduh.

      Tiba2, … blak ! Pintu sanggar pamujan terbuka dan Resi Gutomo keluar dari dalam dengan muka merah padam menahan marah. Dengan nyalang dipandangnya sisihannya. Suasana tiba2 menjadi sunyi senyap. Anjani menghentikan main dakon dan Guwarso/I berhenti bertengkar. Resi waskito ini mengendus bau wanita anggarbini (buntiing) ! Dengan suara mengguntur Resi Gutomo bersabda kepada Dewi Windardi :

      “ Ada apa ini … ? “

      Semua yang ada dipadepokan menundukkan mukanya dan tidak ada yang berani berkata sepatah katapun. Mereka tahu, bahwa Sang Pertapa sakti mengendus apa yang sedang winarah. Raut muka Sang Wiku makin merah membara. Dengan di-sabar2kannya ia mengulangi pertanyaannya kepada istrinya :

      “ Ada apa ini … hah ? “

      Semua yang ada disitu, terutama Dewi Windardi tidak berani berkutik. Sang Brahmana bertambah marah, darah sudah sampai di – ubun2nya. Beliau sudah hampir memastikan bahwa bininya kelonan dengan bangsat lain. Dengan sepenuh kemarahan sang Wiku mengutuk

      “ Kok diam saja, …. seperti tugu ! “

      Ucapannya mengandung Supoto Mondroguno. Seketika itu juga Dewi Windardi berubah ujud menjadi tugu. Dengan penuh kemarahan diangkatnya tugu itu dan dilemparkannya dengan sekuat tenaga sehingga tugu tersebut jatuh ke tlatah Alengko. [ Dikemudian hari tugu inilah yang menyelamatkan Anilo dari gempuran oom Prahasto. ]. Bukan alang kepalang marahnya Sang Wiku ditinggal bininya kelonan dengan bangsat lain. Dalam kemarahannya, Sang Wiku ber-tanya2 dalam hati, siapa bangsat ini ? Sambil menahan marah, Sang Wiku bersiap matak aji untuk melihat apa yang sudah winarah. Jika ia bisa mengetahui siapa laki2 laknat itu, ia akan disupoto jadi bekicot. Brahmana itu sudah tidak perduli lagi, apakah laki2 itu tukang pulung, satria, raja, bahkan dewapun akan disupotonya jadi bekicot. Jadi bekicot ! Dengan bergegas Resi Gutomo mau ke sanggar pamujan untuk matak aji.

      Namun, tiba2 langkahnya terhenti. Bau wanita anggarbini itu masih terasa. Bukankah tadi Dewi Windardi sudah dibuangnya jauh2 ? Lho, siapa yang anggarbini ? Ketika sang Wiku sedang kebingungan me-nebak2 apa yang sedang winarah, tiba2 Anjani mencolot dan merangkul kaki sang Wiku dengan menangis sesenggrukan. Anjani ? Sang Wiku kaget bukan alang kepalang. Dengan ter-bata2 ditanyainya si pembayun kinasih.

      “ Kowe nggarbini, ndhuk … ? “ Sang Resi kaget, tidak mempercayai apa yang sedang winarah.

      “ Inggih, bopo wiku …. “ dengan menangis ter-sedu2 Anjani memeluk kaki ayahandanya kuat2.

      Sang wiku serasa makin meledak amarahnya dan dengan suara menggelegar ditanyainya anak sulungnya “ Siapa duratmokonya (biang kerok)?!“

      Bukannya menjawab, Anjani bahkan makin mempererat pelukannya kekaki ayahandanya. Ia takut, takut mendapat supoto mondroguno seperti ibunya sehingga mulutnya seolah terkunci. Tubuhnya gemetaran dan peluh mengalir deras diseluruh tubuhnya. Mukanya pucat pasi. Namun, se-galak2nya macan tidak akan ia memangsa anaknya sendiri.

      • nguantuke pool,

        pamit turu sik…ah.

        • Dalem nunut ki…

        • Monggo Ki.

      • Yang jelas bukan saya lho Ki, duratmokonya…
        Wong kemarin saya cuma nglirik thok…

  25. kenapa harus mengorbankan prajurit begitu banyak?
    bukankah sdh terbukti sorot mata AS dan Sabungsari bisa menjebol pintu Pajang?
    Ada Glagah Putih pulak yang bisa menghancurkan diding tembok tebal.
    …………..

    aya2 wae nya….

    • Kalau dengan cara itu, ceritanya cepet habis Ki. Perang yang seharusnya 1 buku, hanya menjadi 1 lembar saja.

      Ki Dewo aya aya wae.

  26. Ki Is, apakah cerita Guwarso masih bersambung?

    • masih Ki,
      nanti candake ana kaca 306…he he he.

  27. nunggu ki ismoyo kitab 305 ……….hik hik hik

  28. Sing keri mung aku thok iki. Tak kunci ndisik gandoke. Arep neng Pati sik. Kuncine tak selipno neng ngisor wit jambu ngarepan gandok ya.

  29. Ki sanak sugeng dalu, tumut ronda.

    Suwun

    • Monggo Ki.
      Kulo nganglang rumiyin.

  30. Muga muga sesuk esuk wis diwedar….

  31. Walah tak cek eneh malah trus metu…
    Matur nuwun Kang mBokayu….

    • Iya ya….
      Terima kasih Nyi.

      • pdhal ngrondo sampe jam 01.00….ra sadar wis diwedar…

        suwun Nyi

  32. mangkanya sabar kisanak….
    pas nengok, langsung diwedar
    trims nyai………..

  33. sudah diunduh rontal IV-05 dan IV-06

    Terima kasih Nyi Seno

  34. telima kasih 305

    • mana nih isinya ki…penasaran nih…tkyu

  35. terima kasih kitabnya Ki ……

  36. Iya ya….
    Terima kasih Nyi.

  37. Matur Nuwun 305-nya Nyi Seno…

  38. Assalamualaikum para sederek natriks
    Kelihatannya kitab sudah diwedar yaa
    Hadir Ki Gede/Nyai Seno

  39. dua kitab… trims lagi nyi sena, ki gd, ki sukra, ki mbodo, ki tumenggung sepuh, dan para bebahu…

  40. Weleh-weleh… sampun diwedar tho? Syukron jiddan Nyi…

  41. Matur nuwun

  42. Trims Nyi Seno …

  43. hatur nuhun

  44. Terima kasih ki GD dan Nyi Seno. Kitab sudah diunduh.

  45. Matur nuwun lha koq kitabnya bertubi-tubi. Wah ora sido metu soko ngomah no iki.

  46. Matur nuwun kitabnya Nyi Seno/Ki Gede. Nembe DL

  47. Terimakasih kitabnya Ki …………….

  48. Terima kasih kitapnya ki, nyi

  49. wah, semakin mantap saja sedotannya

  50. akhirnya lancar maneh


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: