Buku III-99

299-00

Iklan

Laman: 1 2

Telah Terbit on 13 Juli 2009 at 00:24  Comments (1.572)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iii-99/trackback/

RSS feed for comments on this post.

1.572 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kitab 299

    Bagian I

    – BAIK – geram orang yang di dadanya ditumbuhi bulu-bulu yang lebat itu — kami akan memaksa kalian untuk menyerahkan leher kalian. Tetapi kami ingin melihat lebih dahulu, bagaimana kalian menyesali kesombongan kalian. —
    Agung Sedayu tidak menyahut lagi. Tetapi iapun segera mempersiapkan diri.
    Orang yang bertubuh tegap dan berdada bidang itupun kemudian menggeram ~ marilah. Kita bertempur dihalaman. Kita akan dapat menunjukkan kemampuan kita masing-masing. –
    Tetapi Agung Sedayu menggeleng. Katanya – Kita bertempur disini. –
    – Tidak—geram orang itu – kita akan bertempur dihalaman yang cukup luas itu. –
    — Aku lebih senang bertempur ditempat yang sempit — jawab Agung Sedayu.
    Orang-orang itu saling berpandangan sejenak. Seorang diantara mereka membentak marah – Keluar. Kita akan bertempur diluar. –
    Tetapi Agung Sedayu justru menjawab, – Tidak. Apakah kau takut bahwa isi kedai ini akan berhamburan ? Barang-barangmu akan hancur berserakan ? Demikian pula barang daganganmu. Nasi, sayur lodeh, makanan dan minuman. Juga mungkin racun kalian akan tersebar dan membunuh orang dan binatang.
    – Akulah yang mempunyai kedai ini. Kalian harus tunduk kepadaku – berkata pemilik kedai yang bertubuh tegap itu.
    Tetapi Agung Sedayu menjawab lantang – Tidak. Keluar atau tidak keluar kalian sudah mengancam untuk membunuhku. Jika benar kalian berhasil, maka biarlah kami terbunuh didalam rumah.
    Wajah orang bertubuh tegap dan berdada bidang dengan jambang dan kumisnya yang tebal itu menjadi semakin tegang. Namun seorang diantara kawan-kawannya itu berkata — Kita akhiri kesombongan orang itu dengan cara yang paling baik. Kita ikat mereka dibelakang kedai ini. Aku akan membakar matanya dengan besi yang membara.
    Keempat orang itupun segera mempersiapkan diri ternyata Agung Sedayu dan Glagah Putih benar-benar tidak mau keluar. Mereka akan bertempur diruang yang tidak begitu luas yang menjadi semakin sempit karena beberapa amben dan geledek bambu yang terdapat didalamnya.
    Orang-orang yang ada didalam kedai itu mulai bergeser mencari kesempatan serta tempat yang mapan.
    Agung Sedayu dan Glagah Putih telah mengambil jarak beberapa langkah. Mereka berdiri menghadap kearah yang berlawanan. Sementara itu, keempat orang itupun mulai mengepung dari arah yang berbeda-beda.
    Orang yang bertubuh tegap dan berbulu didadanya inilah yang pertama-tama mulai menyerang. Dengan tangannya ia mencoba menggapai kening Agung Sedayu.
    Tetapi Agung Sedayu memiringkan kepalanya, sehingga serangannya itu tidak mengenai sasaran.
    Namun serangan itu seakan-akan merupakan aba-aba bagi ketiga kawannya yang lain. Merekapun serentak telah menyerang.
    Tetapi Agung Sedayu dan Glagah Putih telah bersiap sepenuhnya. Dengan tangkasnya mereka menghindar, hanya dengan langkah-langkah kecil, sehingga amben bambu, geledeg dan peralatan lain yang ada didalam kedai itu seakan-akan tidak mengganggunya.
    Ternyata pemimpin dari keempat orang itu bukan orang yang bertubuh tinggi tegap berdada bidang dan berbulu lebat didadanya.
    Ketika pertempuran berlangsung semakin lama, maka yang kemudian memberikan aba-aba adalah orang yang wajahnya nampak garang dengan mata yang bagaikan membara. Beberapa kali ia memberikan perintah yang membuat jantung Glagah Putih berdegup semakin keras.
    Orang itu telah meneriakkan perintah beberapa kali untuk mengikuti perlawanan Agung Sedayu dan Glagah Putih dengan cara apapun juga.
    Kedua orang itu menurut perintahnya, harus mati.
    Perintah-perintah itu benar-benar telah menusuk perasaan Glagah Putih. Orang itu benar-benar akan membunuh dan bahkan menurut pendapatnya, sudah banyak orang yang mati di kedai itu dengan cara yang sama yang dilakukannya atas dirinya dan Agung Sedayu.
    Untunglah bahwa Agung Sedayu mengenal dan tawar atas segala jenis bisa, sehingga mereka tidak menjadi korban sebagaimana orang-orang sebelumnya.
    Karena itu, maka kemarahan Glagah Putih terhadap orang itu sulit dikekangnya.
    Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin cepat. Keempat orang itu berloncatan menyerang, semakin lama semakin cepat. Mereka berloncatan dari amben bambu yang satu keamben yang lain.
    Suaranya berderak-derak dengan kerasnya. Bahkan sebuah amben bambu telah menjadi roboh karenanya.
    Namun serangan-serangan mereka selalu gagal. Bahkan mereka-lah yang semakin lama menjadi semakin terdesak. Bahkan Glagah Putih yang membayangkan apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang itu menjadi sulit untuk mengekang diri.
    Dengan demikian, maka benturan-benturan kekuatanpun telah terjadi, sehingga dengan demikian, maka Agung Sedayu dan Glagah Putihpun dapat mengetahui tataran kekuatan dan bahkan kemudian kemampuan lawan-lawan mereka.
    Keempat orang lawan Agung Sedayu dan Glagah Putih itu mulai menjadi gelisah, ketika ternyata kedua orang itu tidak segera dapat mereka tundukkan. Keempat orang itu sama sekali tidak menahan diri lagi. Mereka memang benar-benar ingin membunuh Agung Sedayu dan Glagah Putih.
    Karena itu, maka beberapa saat kemudian, keempat orang itu telah menggenggam senjata di tangan mereka.
    Seorang yang bertubuh tinggi dan berbulu lebat didadanya, tiba-tiba saja telah mengambil sebuah kampak dari dalam geledeg bambu tempat ia menyimpan makanan. Seorang bersenjata tongkat besi yang diambilnya dari sudut kedai yang agaknya memang sudah disediakan-nya. Seorang bersenjata pedang yang memang tergantung dilambung-nya, sedang seorang lagi telah memungut tombak pendek dari sebelah tempat duduknya.
    Agung Sedayu dan Glagah Putih termangu mangu sejenak. Namun karena tempatnya yang sempit, maka memang berbahaya bagi Agung Sedayu dan Glagah Putih jika mereka tidak membawa senjata apapun.
    Namun menghadapi lawan-lawannya yang sudah sempat diketahuinya tataran kemampuan serta kekuatannya, maka Agung Sedayu tidak segera mengurai cambuknya, agar kehadirannya didaerah itu tidak tersebar dan banyak diketahui orang, jika saja ada yang sudah mengenalinya lewat ciri senjatanya.
    Karena itu, maka Agung Scdayupun segera memungut selarak pintu dan dipergunakannya sebagai senjatanya. Sementara Glagah Putihpun telah mematahkan sebuah geledeg bambu dan memungut sepotong kayu tiang kerangka geledeg itu Lawannya memang terkejut. Geledeg bambu itu bagi lawannya yang masih sangat muda itu, kelihatannya demikian lunaknya. Anak
    muda itu dengan sisi telapak tangannya telah mematahkan kerangka geledeg. Kemudian ia harus melawan orang yang bersenjata sepotong besi, atau yang bersenjata kapak atau tombak pendek atau yang bersenjata pedang, Glagah Putih sama sekali tidak menjadi gentar karena jenis senjatanya. Seperti Agung Sedayu, Glagah Putih tidak mengurai ikat pinggangnya dan mempergunakannya sebagai senjata.
    Demikian, maka pertempuran itupun semakin lama menjadi se makin sengit. Dengan senjatanya yang sederhana, maka lawan Agung Sedayu dan Glagah Putih itupun menjadi semakin terdesak.
    ~ Apakah kedua orang ini anak iblis? – bertanya pemimpin dari sekelompok kecil orang itu bertanya kepada diri sendiri.
    Dalam pada itu, sepotong kayu di tangan Glagah Putih itupun berputaran dengan cepatnya. Bahkan kemudian Glagah Putih itu telah berloncatan pula diantara amben dan lincak bambu. Berbeda dengan lawan-lawannya, maka kaki Glagah Putih sama sekali tidak menggun-cang amben dan lincak, apalagi merobohkannya.
    Demikianlah, maka keempat orang itupun menjadi semakin terdesak. Sementara Glagah Putih yang marah menyerang semakin sengit meskipun hanya dengan sepotong kayu.
    Keempat orang lawannya benar-benar tidak menduga, bahwa di-kedai mereka telah datang dua orang yang berilmu sangat tinggi, se-hingga mereka berempat sama sekali tidak mampu mengimbangi apa-lagi mengalahkan dan membunuh mereka.
    Dalam pada itu, Glagah Putih yang marah itu telah mendesak dua orang lawannya. Seorang yang bersenjata tongkat besi merasa seakan-akan tongkatnya tidak banyak berarti lagi. Beberapa kali ia mengayun-kan tongkatnya kcarah kepala lawannya yang masih muda itu. Tetapi dengan sentuhan sepotong kayu ditangan lawannya, tongkatnya telah kehilangan arah.
    Sementara itu, kawannya yang bersenjata pedang seakan-akan tidak mendapat kesempatan untuk mengayunkan senjatanya. Sepotong kayu di tangan Glagah Putih itu rasa-rasanya selalu memburunya, se-hingga orang itu setiap kali harus meloncat mundur.
    Namun Glagah Putih tidak memberinya banyak kesempatan. Ketika orang itu mengayunkan pedangnya menebas kearah leher, maka Glagah Putih telah merendah, namun bersamaan dengan itu, maka dengan sekuat tenaga ia telah menjulurkan sepotong kayunya tepat mengenai dada lawannya.
    Terdengar lawannya mengaduh kesakitan. Bahkan kemudian Orang itu terlempar menimpa geledeg bambu. Demikian derasnya, se-hingga geledeg bambu tempat makanan itu roboh.
    Kawannya yang memegang tongkat besi, yang berusaha untuk membantunya telah mengayunkan tongkatnya dengan sekuat tenaganya mengarah ketengkuk Glagah Putih Namun sekali lagi Glagah Putih mampu menghindar dengan geser selangkah kesamping. Tetapi kemudian dengan cepat ia meloncat selagi tongkat besi itu masih terayun. Dengan hentakan yang deras, sepotong kayu ditangan Glagah Putih itu telah memukul bahu lawannya. Hentakan yang didorong dengan kekuatan yang sangat besar terasa seakan-akan sebatang pohon yang roboh telah menimpanya, sehingga orang itu telah terpelanting jatuh diatas geledeg bambu yang roboh bersama seorang kawannya itu.
    Namun orang itu masih berusaha untuk bangkit meskipun bahunya rasa-rasanya telah menjadi patah.
    Tetapi dengan demikian ia telah melakukan kesalahan yang besar. Justru karena ia berusaha untuk bangkit, maka sekali lagi Glagah Putih mengayunkan sepotong kayunya mengenai tengkuknya Sekali lagi orang itu terbanting jatuh menimpa kawannya diatas geledeg bambu yang roboh.
    Seperti kawannya yang tulang-tulang iganya retak karena dorongan tongkat Glagah Putih, maka orang itupun telah menjadi pingsan.
    Namun yang tidak mereka sadari, bahwa geledeg bambu yang roboh itu ternyata telah menimpa kayu-kayu bakar yang masih menyala diperapian untuk memanasi wedang sere agar tetap hangat. Api yang menjilat geledeg bambu itu kemudian telah merambat dan membakar geledeg bambu yang cukup besar itu.
    Api yang semula tidak nampak itu tiba-tiba saja telah melonjak membakar geledeg bambu itu.
    Glagah Putih terkejut. Dua orang yang pingsan ada diatas geledeg yang terbakar itu.
    Tetapi ternyata didalam geledeg itu terdapat juga minyak, sehingga dengan cepat api telah membubung.
    Dinding kedai itupun terbuat dari bambu pula. Karena itu, maka lidah api itu dengan cepat merambat ke dinding.
    Glagah Putih yang terkejut itu dengan serta merta berusaha untuk menarik kaki orang yang pingsan diatas geledeg yang terbakar. Tetapi api menjadi semakin membesar.
    Hampir diluar sadarnya Glagah Putih berteriak — Bantu menarik orang-orang ini. —
    Agung Sedayu yang masih bertempur melawan dua orang lawan-nya, telah menghentikan serangan-serangannya. Ketika ia melihat api yang membesar, makaiapun berkata – Tolong kawan-kawanmu itu. –
    Kedua orang lawannya itu memang menjadi bingung sejenak.
    Tetapi ketika menyadari keadaan, merekapun berlarian mendekat.
    Tetapi mereka telah terlambat. Api sudah menjadi semakin besar, sehingga mereka tidak dapat lagi menolong kedua orang yang pingsan diatas geledeg yang terbakar itu. Bahkan kemudian bukan hanya geledeg bambu itu, tetapi juga kedai itu sendiri telah mulai menyala.
    Agung Sedayupun kemudian telah mengajak Glagah Putih dan kedua orang lawannya itu keluar. Namun Agung Sedayu dan Glagah Putih tidak melepas kedua orang itu begitu saja.
    Api yang membakar kedai itu semakin lama menjadi semakin besar. Sehingga akhirnya menjadi seonggok lidah api yang menjilat-jilat keudara.
    Agung Sedayu dan Glagah Putih berdiri termangu-mangu memandang api yang menjilat tinggi itu. Sementara itu dua orang yang sudah tidak berdaya itupun berdiri dengan wajah yang tegang dan hati yang kalut.
    Namun diantara keduanya itu tidak terdapat pemimpin dari sekelompok orang yang membuka kedai sebagai kedok untuk merampok dan membunuh itu.
    Dalam pada itu, meskipun api menjilat tinggi, serta asap membubung sampai ke langit, namun tidak ada seorangpun yang datang untuk melihat apa yang terjadi. Agaknya orang-orang yang tinggal di padukuhan terdekat telah mengetahui, siapakah yang telah membuka kedai itu serta apakah sebenarnya tujuan mereka dengan kedai mereka.
    Tetapi agaknya tidak seorangpun yang berani mencegah dan mengusir keempat orang yang membuat kedai itu.
    Ketika kemudian api mulai surut, maka Agung Sedayupun berkata — Nah, hukuman itu datang tanpa diduga-duga. Kedua orang kawanmu telah terbunuh oleh api yang membakar kedai kalian. Kedai yang selama ini kalian pergunakan untuk melakukan kejahatan yang tidak dapat dimaafkan. Sebenarnya sepantasnya kalian berdua juga dilemparkan kedalam api itu pula sehingga kalian tidak akan dapat melakukan kejahatan lagi. —
    Orang yang bertubuh tegap, tinggi dan berbulu lebat didadanya itu tiba-tiba saja telah merengek — Kami mohon ampun. Bukan kami yang mempunyai gagasan buruk dengan membuka kedai itu. Tetapi salah seorang dari kedua orang kawan kami yang terbakar itu. —
    – Kenapa kalian tidak menolak gagasan itu? ~ bertanya Glagah Putih
    – Kami tidak berani melakukannya Saudara tua kami itu adalah seorang yang garang, kasar dan berilmu tinggi. Jika kami berani menolak, maka kamilah yang akan dibunuhnya. —
    – Kalian dapat menyingkir – desak Glagah Putih.
    – Kemanapun kami melarikan diri, saudara tua kami itu akan memburunya. – – Aku tidak peduli — geram Glagah Putih – kalian berdua harus kami tangkap dan kami bawa ke padukuhan terdekat Kedua orang itu saling berpandangan. Namun orang yang dadanya ditumbuhi bulu yang lebat itu berkata – Aku tidak dapat menolak.
    Tetapi aku mempunyai permohonan. –
    – Apa? – bertanya Glagah Putih
    — Aku mohon diberitahukan bahwa saudara tua kami itu sudah terbunuh didalam api yang membakar kedai itu –
    – Kenapa? — bertanya Glagah Putih pula.
    Kedua orang itu tcrmangu-mangu sejenak. Namun kemudian orang yang bertubuh tinggi itu berkata – Orang-orang padukuhan itu tahu, bahwa sumber dari kejahatan yang terjadi disini adalah dari saudara tuaku itu. Karena sebenarnyalah bahwa kami juga berasal dari padukuhan itu. Dengan demikian, maka mereka tidak justru menjadi ketakutan. –
    Agung Sedayu dan Glagah Putih mengangguk-angguk. Sambil memandangi api yang menjadi surut itu Agung Sedayupun berkata —
    Marilah. Kita pergi ke padukuhan. ~
    Ketika mereka mendekati padukuhan, dari kejauhan mereka melihat orang-orang padukuhan berdiri diluar dinding menyaksikan api yang menyala menelan kedai beberapa puluh langkah diluar padu-kuhan itu. Namun ketika mereka melihat ampat orang berjalan ke pa-dukuhan, maka orang-orang itupun dengan tergesa-gesa masuk regol padukuhan mereka dan hilang dibelakang dinding.
    Agung Sedayu dan Glagah Putih mendapat kesan, bahwa orang-orang padukuhan itu menjadi ketakutan. Mereka menyangka, bahwa ampat orang yang melangkah ke padukuhan itu adalah ampat orang yang membuka kedai sebagai kedok untuk melakukan kejahatan, se- mentara keadaan setelah perang masih belum mantap benar.
    Ketika mereka memasuki padukuhan, maka jalan di padukuhan itu menjadi sepi. Orang-orang yang semula berdiri diluar regol, seakan-akan telah lenyap ditelan dinding halaman rumah mereka masing-masing.
    – Kita pergi ke rumah Ki Bekel – berkata Agung Sedayu.
    Kedua orang itu tidak membantah. Bahkan keduanyalah yang menunjukkan dimana Ki Bekel itu tinggal.
    Ketika mereka memasuki regol halaman rumah Ki Bekel, maka mereka melihat beberapa orang berkumpul di halaman rumah itu. Namun demikian ke-empat orang itu masuk, maka orang-orang itupun terkejut. Jantung mereka rasa-rasanya berdetak semakin keras.
    Namun akhirnya mereka melihat, bahwa dua diantara ampat orang itu adalah orang lain. Orang yang belum pernah mereka kenal sebelumnya.
    Agung Sedayu dan Glagah Putih membawa kedua orang yang telah menyerah itu mendekati tangga pendapa. Dipaksanya kedua orang itu untuk duduk ditanah di dekat pendapa.
    – Aku akan berbicara dengan Ki Bekel – berkata Agung Sedayu.
    Orang-orang yang ada di halaman itu menjadi tegang. Mereka belum tahu dengan siapa mereka berhadapan.
    Namun sekali lagi Agung Sedayu berkata ~ Aku akan berbicara dengan Ki Bekel. –
    Akhirnya Ki Bekelpun harus menyatakan dirinya. Iapun melangkah ke tangga pendapa rumahnya sambil berkata ~ Akulah Bekel di padukuhan ini. —
    Agung Sedayu dan Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Mereka melihat kecemasan di wajah Ki Bekel. Sekali-kali Ki Bekel memandang kedua orang yang oleh Agung Sedayu dipaksa duduk di tanah itu.
    – Aku telah menangkap keduanya — berkata Agung Sedayu.
    Pertanyaan Ki Bekel justru mengherankan — Kenapa keduanya ditangkap? —
    Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia justru bertanya – Apakah Ki Bekel melihat kedai diluar padukuhan ini terbakar? –
    – Ya – jawab Ki Bekel ragu-ragu.
    – Bersamaan dengan terbakarnya kedai itu, maka keduanya telah kami tangkap. Kami berniat menyerahkan keduanya kepada Ki Bekel.
    – Ya. Tetapi kenapa keduanya kau tangkap? Apakah kau pula yang telah membakar kedai itu? —
    – Kedai itu terbakar sendiri ~ sahut Glagah Putih.
    – Tentu kalian yang membakarnya ~ berkata Ki Bekel – kenapa kalian lakukan hal itu? Kedai itu merupakan tempat untuk mencari nafkah beberapa orang penghuni padukuhan ini. Jika kedai itu kau bakar, berarti kau telah merampas nafkah orang yang memiliki kedai itu.
    Agung Sedayu mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun berkata ~ Sudahlah Ki Bekel. Kita tidak perlu berpura-pura lagi. Bukankah kalian juga merasa bersukur bahwa kedai itu terbakar dan bahwa kedua orang itu dapat ditundukkan? –
    – Mereka adalah penghuni padukuhan ini. Aku harus melindungi mereka. –
    – Sudahlah – potong Agung Sedayu — aku sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kalian takut mengambil tindakan terhadap keempat orang yang membuka kedai sebagai kedok untuk melakukan kejahatan itu. Ketika kedai itu terbakar, tidak seorangpun berusaha untuk datang menolong. —
    Wajah Ki Bekel menjadi tegang. Sementara Agung Sedayu berkata selanjutnya — Kalian sekarang tidak perlu takut lagi kepada mereka. Kedua orang ini sudah berjanji untuk tidak meneruskan tindak kejahatan yang selama ini dilakukan. —
    Ki Bekel tidak segera menjawab. Dipandanginya kedua orang yang duduk di tanah itu. Sementara Agung Sedayu berkata kepada keduanya – Berjanjilah, bahwa kalian tidak akan melakukan kejahatan lagi. Kalian akan tunduk kepada Ki Bekel dan hidup wajar seperti tetangga-tetanggamu yang lain. –
    Kedua orang itu memang menjadi ragu. Tetapi Glagah Putih menepuk bahu orang yang didadanya tumbuh bulu yang lebat itu sambil berkata – Berjanjilah dihadapan Ki Bekel, bahwa kau akan menjalani kehidupan yang wajar seperti tetangga-tetanggamu. Bahwa kau tidak akan melakukan kejahatan lagi, bukan saja sebagaimana pernah kau lakukan, tetapi kau tidak akan melakukan kejahatan-kejahatan yang lain. Apalagi terhadap tetangga-tetanggamu sendiri. –
    Kedua orang itu tidak segera mengatakan sesuatu. Mereka masih merasa ragu. Apalagi sebelumnya keduanya adalah termasuk orang yang ditakuti oleh seisi padukuhan itu.
    – Katakan – bentak Glagah Putih sambil menekan punggung ke-dua orang itu dengan jari-jarinya. Tetapi tekanan jari jari Glagah Putih terasa sakit dipunggungnya.
    – Baik, baik. Aku berjanji – berkata orang yang berbulu lebat di dadanya itu.
    – Katakan janji itu – bentak Glagah Putih – jika kau masih saja mempermainkan aku, maka kau akan aku lemparkan kedalam api Aku dapat membakar rumahmu dan mengikatmu pada saka guru rumahmu itu. –
    – Baik, baik. – orang itu menjadi gagap.
    Namun kemudian orang itu benar-benar menyatakan janjinya, bahwa mereka berdua akan merubah cara hidup mereka.
    – Nah, kau dengar Ki Bekel? – bertanya Agung Sedayu.
    Ki Bekel tidak segera menjawab. Namun di wajahnya nampak keragu-raguan yang mencengkam.
    – Kau ingin tahu, dimana kedua orang yang lain? — bertanya Agung Sedayu.
    Diluar sadarnya Ki Bekel itu mengangguk.
    – Kedua-duanya telah ditelan api. Ketika kami berkelahi melawan ke-empat orang itu, maka dua diantaranya menjadi pingsan. Tetapi kedai itu dengan cepat terbakar, sehingga keduanya tidak tertolong lagi. Aku tidak tahu apakah kematian mereka itu memang harus terjadi karena kejahatan yang bertimbun telah mereka lakukan.
    Aku menduga bahwa sudah banyak orang yang terbunuh di kedai itu sebagaimana akan mereka lakukan terhadap kami berdua. —
    Adalah diluar sadarnya bahwa Ki Bekel itu mengangguk. Namun tiba-tiba saja Glagah Putih lelah bertanya kepada orang tawanannya itu — Berapa orang telah kalian bunuh dengan racun itu, he? Berapa orang? —
    – Bukan gagasan kami ~ desis seorang diantara mereka.
    – Aku tidak menanyakan, gagasan siapa itu. Tetapi aku bertanya berapa orang yang telah terbunuh. —
    Kedua orang itu terdiam. Namun sekali lagi tiga jari tangan Glagah Putih yang merapat menekan punggung mereka.
    Orang itu menyeringai menahan sakit. Sementara Glagah Putih berkata — Aku dapat menekan simpul-simpul syarafmu sehingga kau tidak mampu bergerak sama sekali. Atau bahkan membuatmu lumpuh untuk selamanya. —
    – Baik. Baik. – orang itu menyahut dengan serta-merta – menurut ingatanku, telah ada dua orang yang terbunuh. –
    – Bohong – geram Glagah Putih – jadi kau benar-benar ingin lumpuh? —

    – Tidak. Jangan — kedua orang itu bersamaan telah bergeser. Tetapi Glagah Putih memijit pundak kedua orang itu dengan kedua tangannya, sehingga keduanya mengeluh menahan sakit.
    – Jika kau membuat kesabaranku habis, maka yang terjadi akan membuat kalian berdua menyesal untuk selama-lamanya. —
    Seorang yang lain, yang merasa sangat cemas akan nasibnya berkata – Aku berkata sebenarnya. Sudah ada tujuh orang yang kami bunuh di kedai itu. Tubuhnya kami kuburkan di belakang kedai itu. —
    – Jadi kalian telah membunuh tujuh orang — wajah Glagah Putih menjadi merah.
    Namun orang itu berkata – Bukan gagasan kami. Saudara tua kami itu pula yang telah mengusahakan racun yang ditebarkan diatas nasi yang dipesan oleh orang-orang yang singgah dikedai kami. —
    Glagah Putih hampir tidak dapat menguasai diri. Tetapi Agung Sedayupun berdesis — Baiklah. Kita akan selalu mengingatnya. Ka-rena itu, maka pada saat yang lain kami akan singgah lagi di padu-kuhan ini. —

    Ki Bekel menjadi termangu-mangu. Bahkan agak kebingungan.
    Karena itu, maka Agung Sedayupun berkata – Ki Bekel. Kami kembalikan orang-orangmu. Terus-terang, dua orang yang lain terbunuh. Mungkin memang karena salah kami, karena diluar kendali dan tentu diluar kemauan kami, kedai itu terbakar, sedangkan kedua orang itu sedang pingsan. ~
    Dengan ragu Ki Bekel berkata – Baiklah Ki Sanak. Kami, seisi padukuhan ini menerima keduanya dengan syarat sebagaimana Ki Sanak katakan. ~
    – Bukankah Ki Bekel juga mendengar janji yang mereka ucap kan tadi? – bertanya Agung Sedayu.
    – Ya, Ki Sanak — jawab Ki Bekel.
    — Jangan takut, Ki Bekel. Jika keduanya masih berbuat jahat, aku akan datang untuk membunuh mereka seperti kedua orang kawannva yang lain. ~
    Ki Bekel mengangguk-angguk. Sementara itu Agung Sedayupun berkata — Baiklah. Kami akan melanjutkan perjalanan kami. —
    Ki Bekel menjadi seperti orang yang baru sadar dari sebuah mimpi. Dengan gegap iapun berkata ~ Tetapi, tetapi Ki Sanak. Aku persilahkan Ki Sanak singgah barang sebentar. –
    – Terima kasih – sahut Agung Sedayu – kami akan melanjutkan perjalanan kami. —
    – Ki Sanak akan pergi ke mana? – bertanya Ki Bekel itu seakan-akan diluar sadarnya.

    – Kami akan mengikuti saja langkah kaki kami ~ jawab Agung Sedayu – kami tidak mempunyai tujuan. —
    — Tetapi apakah Ki Sanak akan pergi ke Utara atau ke Salatan.
    Atau tujuan-tujuan lain? —
    – Kami akan pergi ke Utara. –
    – Berhati-hatilah Ki Sanak – pesan Ki Bekel — semakin ke Utara keadaannya menjadi semakin gawat. Kadang-kadang suasana menjadi tidak terkendali. Orang-orang yang semula mengungsi, masih tetap berada dipengungsian. Sedangkan semakin ke Utara, justru orang-orang baru mulai mengungsi. Semula orang-orang itu tidak meng-ungsi. Ketika pasukan Pati pergi ke Selatan. Tetapi ketika pasukan Pati kembali dari Selatan, keadaan tidak terkendali sama sekali.
    Kelompok-kelompok prajurit yang baru datang kemudian, sama sekali telah meninggalkan sikap keprajuritan mereka. Apalagi mereka yang sejak semula bukan prajurit. Mereka telah merampas harta benda orang-orang padukuhan. Seorang pernah mengalami dua tiga kali di- rampok oleh kelompok-kelompok prajurit yang kembali dari Selatan.
    Justru kelompok-kelompok kecil. –
    Agung Sedayu dan Glagah Putih mengangguk-angguk. Sementara Ki Bekel berkata selanjurnya — Karena itu, sebagian dari mereka pergi mengungsi, keluar dari jalur jalan yang biasa ditempuh oleh kelompok-kelompok kecil yang nampaknya semula terpisah dari induk pasukan mereka. —
    Agung Sedayu dan Glagah Putih masih saja mengangguk-angguk. Namun kemudian Agung Sedayupun berkata – Terima kasih atas peringatan Ki-Bekel. Mudah-mudahan kami tidak mengalami hambatan apapun, setelah baru saja kami hampir binasa karena racun orang-orangmu. —
    – Aku tidak mempunyai sangkut-paut dengan mereka – sahut Ki Bekel.
    – Maksudku, orang-oorang padukuhanmu seperti yang kau kata-kan sendiri — jawab Agung Sedayu.
    Ki Bekel mengangguk kecil. Katanya — Ya. Tetapi yang terjadi adalah diluar kemampuan kami untuk mencegahnya —
    — Mudah-mudahan ditempat lain tidak terjadi lagi. Diluar kemampuan para bebahu untuk mencegahnya, atau bahkan para bebahu itu yang melakukannya. –
    Ki Bekel tidak menjawab. Sementara itu Agung Sedayu dan Glagah Putih telah melangkah meninggalkan rumah Ki Bekel itu untuk melanjutkan perjalanannya.
    Semakin jauh berjalan, maka semakin nampak bahwa keadaan sesudah perang masih tetap kusut. Daerah yang tidak terjangkau oleh pengawasan prajurit Mataram rasa-rasanya tidak lagi dapat tenang.
    Para prajurit Pati atau kelompok-kelompok orang yang semula ikut bertempur di Prambanan, telah kehilangan kendali sama sekali. Sementara itu, kelompok-kelompok lain, justru memanfaatkan keadaan sehingga menjadi semakin kacau.
    Agung Sedayu dan Glagah Putih sempat berbicara dengan seorang yang sudah berumur pertengahan abad yang sempat menyiangi tanamannya. Ternyata orang itu dapat membedakan, apakah ia berhadapan dengan orang baik atau orang yang jahat. Ternyata kepada Agung Sedayu dan Glagah Putih yang ikut duduk bersamanya, orang itu sama sekali tidak menyembunyikan kenyataan yang terjadi di padukuhannya meskipun ia baru saja mengenal Agung Sedayu dan Glagah Putih.
    Padukuhan kami terhitung padukuhan yang paling aman dilingkungan ini – berkata orang itu – di padukuhan-padukuhan lain, suasananya masih lebih buruk lagi. Karena itu, maka beberapa orang justru mengungsi di padukuhan kami. ~
    Agung Sedayu dan Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi dengan ragu Glagah Putih bertanya – Kenapa padukuhan Ki Sanak lebih aman dari padukuhan-padukuhan lain? –
    Orang itu juga menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia-pun berkata – Kami sepakat untuk melawan jika ada sekelompok orang yang berniat buruk di padukuhan kami. —
    – Kalian nampaknya berhasil ~ desis Glagah Putih.
    – Ada tiga orang yang memiliki ilmu yang tinggi yang tinggal di padukuhan kami. –
    – O ~ Glagah Putih mengangguk-angguk.
    – Seorang bekas seorang lurah prajurit Pajang. Meskipun umur-nya sudah sedikit lebih tua dari aku, tetapi kemampuannya masih dapat diandalkan. — orang itu berhenti sejenak. Namun kemudian ia melanjutkan – yang seorang lagi seorang Putut. Ia meninggalkan padepokannya setelah terjadi perpecahan di perguruannya, la memilih untuk menjauhi pertengkaran itu dan kemudian terdampar dipadukuhan kami. —
    – Dan yang seorang lagi? – desak Glagah Putih.
    Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya —
    Ah, tidak. Memang hanya dua orang itu saja. —
    Tetapi Glagah Putih segera menebak – Yang seorang lagi tentu Ki Sanak sendiri. —
    Orang itu tidak segera menjawab. Dipandanginya Agung Sedayu dan Glagah Putih untuk meyakinkan dirinya bahwa keduanya bukan orang jahat. Baru kemudian ia berkata – Aku memang memiliki kelebihan serba sedikit, meskipun tidak seperti kedua orang yang aku sebutkan. –
    – Ki Sanak juga bekas prajurit? — bertanya Agung Sedayu.
    ~ Tidak – jawab orang itu – ayahku seorang Demang yang disegani. Sejak kanak-kanak aku lelah mendapat tuntunan olah kanuragan oleh ayahku sendiri. —
    – Ki Sanak Demang disini? ~ bertanya Agung Sedayu kemudian.
    – Dalam keadaan yang lebih baik, aku memang seorang Demang.
    Tetapi dalam keadaan yang kacau seperti sekarang ini, Demang atau bukan, kami mempunyai kewajiban dan wewenang yang sama. –
    Beruntunglah Kademangan ini mempunyai seorang pemimpin seperti Ki Sanak. Di Kademangan lain, tidak ada lagi orang yang sempat memimpin para penghuninya untuk bersama sama menghadapi kekerasan yang setiap saat dapat datang mcngacau serta merampas harta benda para penghuninya. —
    – Kami sudah sepakat untuk mengamankan Kademangan kami.
    Justru setelah perang ini nampaknya para prajurit masih sibuk berbenah diri. –
    Agung Sedayu dan Glagah Putih mengangguk-angguk pula.
    Namun sejenak kemudian, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih itu telah minta diri pula untuk melanjutkan perjalanan.
    Tetapi seperti orang-orang yang terdahulu, Demang itu juga memperingatkannya — Semakin ke Utara, keadaan menjadi semakin gawat. –
    – Terima kasih, Ki Sanak — sahut Agung Sedayu – kami hanya sekedar lewat karena keperluan yang sangat mendesak. Jika kami tidak mengganggu orang lain, maka agaknya kita juga tidak akan diganggu. –
    – Ungkapan itu tidak berlaku didaerah ini, apalagi lebih ke Utara – berkata orang itu — orang yang bisu tulipun dapat diganggu pula.
    Bahkan orang buta sekalipun. —
    Agung Sedayu dan Glagah Putih saling berpandangan sejenak.
    Namun kemudian Agung Sedayu itupun berkata – Kami akan berhati-hati. –
    Demikianlah, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih telah melanjutkan perjalanan pula. Ketika kemudian malam turun, keduanya sempat masuk kedalam sebuah banjar yang sepi. Agaknya padukuhan itu masih juga belum tenang benar. Masih banyak rumah yang belum berpenghuni karena penghuninya masih berada di pengungsian. Tetapi ternyata bahwa penunggu banjar itu dengan keluarganya telah berada di rumahnya, dibelakang banjar itu.
    Penunggu banjar itu memang bukan orang yang berlebihan. Menilik rumah dan perabotnya, penunggu kedai itu termasuk orang yang sederhana.
    Ketika Agung sedayu dan Glagah Putih menyatakan permintaan mereka untuk bermalam di banjar, maka penunggu banjar itu nampak-nya bukan menjadi curiga, tetapi menjadi keheranan.
    ~ Siapakah kalian berdua ? —
    – Kami memang pengembara, paman – jawab Agung Sedayu.
    – Tetapi jangan dilakukan sekarang — berkata penunggu banjar itu. Lalu iapun justru bertanya — Apakah kalian berdua tidak tahu, bahwa daerah ini baru saja dikacaukan oleh perang ? Meskipun arena pertempuran itu terjadi di Prambanan, tetapi daerah ini merupakan jalur jalan bagi pasukan Pati. Baik ketika berangkat ke Selatan, maupun ketika kembali ke Utara. —
    – Bukankah mereka hanya lewat ? ~ bertanya Agung Sedayu pula.
    — Kami memang tidak mempunyai keberatan apa-apa jika mereka hanya lewat. Tetapi baik ketika mereka berangkat, terutama ketika pasukan Pati yang besar itu kembali ke Utara dalam keadaan yang mencoba mengail di air keruh telah menambah keadaan menjadi semakin rumit. – berkata orang itu – Nah, kalian datang kemari, justru padukuhan ini berada dalam keadaan yang demikian. —
    – Tetapi apakah setiap hari terjadi kerusuhan di padukuhan ini ?
    – bertanya Glagah Putih.
    ~ Tidak. Dalam beberapa hari ini memang tidak terjadi apa-apa.
    Beberapa orang yang kembali dari pengungsian telah mengungsi lagi
    ketempat yang dianggapnya lebih aman. —
    – Mudah mudahan malam ini juga tidak terjadi apa-apa desis Agung Sedayu.
    – Mudah mudahan. — berkata penunggu banjar itu — agaknya prajurit Pati yang lewat jalur ini sudah habis.
    – Apakah tidak ada tindakan apapun dari para Senapati prajurit Pati terhadap prajurit prajuritnya yang melanggar paugeran itu ? —
    – Tentu – jawab penunggu banjar itu ~ Beberapa orang prajurit pernah dihukum cambuk ketika mereka ditemui langsung oleh Senapatinya sedang merampas barang barang yang sebenarnya tidak terlalu berharga. –
    – Tetapi hukuman itu tidak membuat prajurit prajuritnya jera. – desis Glagah Putih.
    – Yang melakukan kemudian adalah kelompok yang lain lagi, Ki Sanak. —
    Agung Sedayu dan Glagah Putih mengangguk-angguk. Mereka dapat membayangkan apa yang telah terjadi.

    Beberapa kali mereka mendapat keterangan dan pesan yang hampir sama. Penunggu banjar itu juga mengatakan seperti yang pernah dikatakan oleh yang lain, bahwa semakin ke Utara keadaan menjadi semakin gawat.
    Namun malam itu ternyata di padukuhan itu tidak terjadi apa-apa.
    Tidak ada sekelompok prajurit yang kelelahan dan dalam keadaan parah lewat Tidak ada pula sekelompok orang yang ingin mendapat keuntungan dalam keadaan yang kacau itu.
    Pagi pagi sekali Agung Sedayu dan Glagah Putih telah mandi.
    Namun ternyata penunggu kedai itu telah lebih dahulu bangun. Demikian Agung Sedayu dan Glagah Putih selesai, maka telah tersedia mi-
    numan panas dan ketela rebus yang masih berasap.

    – Maaf Ki Sanak ~ berkata penunggu banjar itu — aku tidak dapat
    menjamu lebih baik lagi. Keadaan padukuhan kami memang sedang
    kacau. Persediaan padi yang sedikit sudah habis diambil sekelompok
    prajurit yang lapar. —
    – Terima kasih, Ki Sanak – sahut Agung Sedayu – terima kasih
    kami buat Ki Sanak sekeluarga. —
    Demikianlah, ketika matahari terbit, Agung Sedayu dan Glagah
    Putih telah melanjutkan perjalanan. Semakin ke Utara mereka menjadi
    semakin berhati hati. Padukuhan-padukuhan menjadi semakin sepi,
    karena kebanyakan para penghuninya masih belum kembali.
    Namun Agung Sedayu dan Glagah Putih ternyata memang me-
    milih lewat jalur jalan itu, meskipun mereka tahu, untuk sampai ke
    Pati ada beberapa jalan lain yang mungkin tidak mengalami gangguan
    sebagaimana jalur jalan yang mereka pilih itu.
    Namun melalui jalan itu, Agung Sedayu dan Glagah Putih mendapat sedikit gambaran tentang sikap para prajurit Pati, terutama mereka yang tidak sejak semula memang seorang prajurit
    Ketika Agung Sedayu dan Glagah Putih menjadi semakin ke Utara, maka keadaan memang terasa menjadi semakin sepi. Bahkan beberapa kali mereka lewat padukuhan-padukuhan yang kosong.
    – Sampai batas manakah kekisruhan itu terjadi ? – desis Agung Sedayu.
    Glagah Putih menarik nafas dalam dalam. Katanya — Bukankah seharusnya daerah ini tidak mengalami goncangan sebagaimana daerah yang dekat dengan medan ? ~
    Daerah ini mengalami gangguan sejak pasukan Pati membuat landasan landasan perbekalan. Kelompok-kelompok yang kurang terikat dengan paugeran, telah melakukan perampasan terhadap orang-orang disekitar jalur yang dipersiapkan itu. Kemudian, hal yang serupa terjadi lagi ketika pasukan Pati terpecah menjadi kelompok kelompok kecil yang kembali ke Utara.
    Glagah Putih mengangguk-angguk. Diamatinya padukuhan-padukuhan yang dilaluinya. Sepi.
    Namun keduanya berjalan terus. Mereka sempat melihat rumah rumah kosong yang pintunya terbuka. Tetapi ketika mereka masuk kedalam, perabot rumah itu berserakkan di lantai. Geledeg-geledeg telah terbuka. Isinya yang tersisa berceceran dimana-mana.
    – Nampaknya orang-orang yang tidak bertanggung jawab telah memasuki rumah ini — desis Glagah Putih.

    – Ya. Tentu demikian juga rumah yang lain ~ sahut Agung Sedayu.
    Glagah Putih mengangguk angguk. Namun kemudian keduanya melangkah keluar dari halaman rumah itu.
    Ternyata Glagah Putih merasa jemu untuk berjalan menelusuri jalan jalan sepi dan padukuhan padukuhan yang kosong. Karena itu, maka iapun kemudian berkata – Apakah kita dapat mencari jalan lain ?
    Mungkin ada sesuatu yang menarik untuk diketahui. ~
    Agung Sedayu mengerti perasaan adik sepupunya itu. Karena itu, maka katanya — Baiklah. Kita akan melihat padukuhan padukuhan yang agak jauh dari garis lintasan prajurit Pati ini. —
    Glagah Putih tersenyum. Katanya — Mungkin kita akan menemukan sesuatu yang berarti atau tidak menemukan apa-apa. –
    Agung Sedayu justru tertawa. Katanya – Jalan manakah yang akan kita lalui tidak penting-bagi tugas kita. Yang penting, apa yang kita ketahui tentang Pati dan isinya. ~
    Demikianlah, keduanya kemudian telah berusaha untuk mencari jalan lain. Mereka mulai meninggalkan jalur jalan pasukan Pati.
    Ternyata semakin jauh mereka meninggalkan garis lintas pasukan Pati, mereka memasuki padukuhan-padukuhan yang semakin ramai. Padukuhan padukuhan yang sudah mulai dihuni lagi. Bahkan padukuhan-padukuhan yang menjadi tempat pengungsian.
    – Nah, dengan begini kita merasa ada diantara sesama kita ~ berkata Glagah Putih.
    Tetapi perhatikan Glagah Putih, semua mata memandang kepada kita.
    – Asal kita tidak berbuat sesuatu yang dapat menyinggung perasaan mereka ~ sahut Glagah Putih.
    Agung Sedayu tak menjawab. Sementara itu, mereka berjalan semakin jauh memasuki lingkungan yang lebih baik. Bahkan mereka sampai kesebuah padukuhan yang lebih ramai dari keadaannya sehari hari. Justru karena di padukuhan itu tinggal pula para pengungsi yang
    belum kembali ke padukuhan asal mereka.

    Di padukuhan itu pula Agung Sedayu dan Glagah Putih sempat beristirahat di sebuah kedai yang masih membuka pintunya meskipun matahari telah menjadi terlalu rendah.
    Meskipun suasana di padukuhan itu berbeda dari suasana padukuhan yang pernah dilewatinya sebelumnya, namun Agung Sedayu tetap berhati hati. Ketika makan dan minum yang dipesannya dihidangkan, maka Agung Sedayu telah mengamatinya, apakah makan dan minum itu beracun.
    — Minum dan makanlah — berkata Agung Sedayu kepada Glagah Putih.
    Glagah Putih tidak menunggu lagi. Dihirupnya wedang jahe yang masih hangat. Kemudian iapun mulai menyuapi mulutnya dengan nasi yang masih hangat pula.
    Namun yang kemudian terjadi adalah diluar perhitungan mereka.
    Agung Sedayu dan Glagah Putih terlambat menyadari, bahwa kedai itu telah dikepung oleh beberapa orang bersenjata.
    – Kenapa dengan mereka itu kakang ? — bertanya Glagah Putih.
    Tetapi Agung Sedayu masih tetap tenang. Di telannya butir-butir nasinya yang terakhir. Bahkan ia masih sempat minum karena sayur nasinya yang agak kepedasan bagi lidah Agung Sedayu.
    – Jangan berbuat sesuatu. Kita harus mendapat penjelasan lebih dulu, apa yang sebenarnya terjadi. —
    Glagah Putih mengangguk kecil. Seperti Agung Sedayu, iapun kemudian meneguk kembali minumannya.
    Beberapa saat kemudian, maka tiga orang telah memasuki kedai itu. Dengan lantang seorang diantaranya berkata kepada pemilik kedai itu. — Aku perlu berbicara dengan kedua orang tamumu. —
    – Silahkan Ki Demang — jawab pemilik kedai itu.
    Agung Sedayu dan Glagah Putihpun segera mengetahui, bahwa orang itu adalah Demang yang memimpin Kademangan itu.
    Ketika ketiga orang itu mendekatinya, maka Agung Sedayu dan Glagah Putihpun segera bangkit berdiri sambil mengangguk hormat.
    Ki Demang dan dua orang yang datang bersamanya memandangi Agung Sedayu dan Glagah Putih dengan seksama. Sementara itu pemilik kedai itu telah menyalakan lampu minyak diruang dalam kedainya yang sudah menjadi semakin suram karena matahari telah menjadi sangat rendah disisi Barat langit.
    – Selamat sore Ki Sanak – sapa Ki Demang yang kemudian duduk dihadapan Agung Sedayu dan Glagah Putih. Dua orang pengiring-nyapun duduk pula bersama mereka disebuah lincak bambu yang lain, disebelah tempat duduk Ki Demang.

    – Ternyata mereka cukup berhati-hati — berkata Agung Sedayu didalam hatinya.
    – Ki Sanak – berkata Ki Demang kemudian – kami minta maaf, bahwa kami telah mengganggu Ki Sanak berdua. —
    — Tidak apa apa Ki Demang. — jawab Agung Sedayu.
    Ki Demang mengangguk-angguk kecil. Dengan nada berat Ki Demang itu bertanya — Siapakah Ki Sanak berdua ini ? Menurut penglihatan kami, Ki Sanak bukan orang dari Kademangan kami. –
    – Memang bukan Ki Demang. Kami adalah dua orang pengembara. Namaku Samekta dan ini adikku, Sembada. —
    Ki Demang masih saja mengangguk-angguk sambil memandang Agung Sedayu dan Glagah Putih berganti-ganti. Dari sorot matanya, nampak bahwa ada semacam kecurigaan Ki Demang terhadap kedua orang yang berada di kedai dan mengaku bernama Samekta dan Sembada itu.

    – Di manakah tempat tinggal kalian berdua ? — bertanya Ki Demang itu pula.
    – Tempat tinggal kami jauh, Ki Demang, kami tinggal di Tanah Perdikan Menoreh.
    – Tanah Perdikan Menoreh ? – ulang Ki Demang.
    – Ya. Tanah Perdikan Menoreh arahnya disebelah Barat Mataram. Jaraknya dari Mataram masih agak jauh, melintas kali Praga.
    membujur ke Utara menusur ngarai disebelah Timur perbukitan. ~

    Tetapi jawaban Ki Demang memang agak mengejutkan – Aku sudah pernah ke Tanah Perdikan Menoreh. —
    – O – Agung Sedayu yang mengaku bernama Samekta itu mengangguk-angguk — sokurlah. —
    — Tetapi, apakah keperluan Ki Sanak sampai ditempat ini. Tempat yang terhitung jauh dari tempat tinggal kalian ? —
    — Kami memang pengembara Ki Demang. Kami jelajahi padukuhan demi padukuhan. Kademangan demi Kademangan. –
    – Untuk apa ? – desak Ki Demang.
    – Kami tidak mempunyai tujuan, Ki Demang. Kami juga tidak mempunyai maksud tertentu kecuali ingin melihat lingkungan yang lebih luas serta ke aneka ragaman kehidupan. —
    Ki Demang itu termangu-mangu sejenak. Tetapi kemudian ia pun berkata – Ki Sanak. Aku agak ragu akan keterangan Ki Sanak. Adalah mustahil bahwa Ki Sanak tidak mengetahui. Mataram sedang berperang dengan Pati, sehingga suasana perang itu meliputi daerah yang sangat luas.
    – Ketika kami berdua berangkat, perang itu belum terjadi, Ki Demang.
    – Ketika perang terjadi, kalian berada dimana ? — bertanya Ki Demang.
    – Ketika perang terjadi di Prambanan, kami berada di Bayat.
    Meskipun tidak terlalu jauh dari Prambanan, tetapi kami tidak dapat menyaksikan perang itu. ~
    – Perang memang bukan tontonan. – berkata Ki Demang kemudian.

    • bagian II

      Agung Sedayu termangu-mangu sejenak, sementara Ki Demang berkata – Apapun yang Ki Sanak katakan, kami terpaksa membawa Ki Sanak ke banjar. Kami telah menangkap dua orang lain yang kami curigai. Keduanya mengaku pengembara pula. namun ternyata bahwa keduanya adalah orang-orang yang dengan sengaja mengamati padukuhan-padukuhan di Kademangan ini. Mereka ditugaskan oleh sekelompok orang yang berniat buruk atas Kademangan ini. —
      – Maksud Ki Demang dengan berniat buruk itu ? — bertanya Agung Sedayu.

      – Mereka menjajai kemungkinan, apakah kelompok mereka dapat memasuki Kademangan ini untuk merampok. ~
      – Jadi kalian juga menyangka demikian terhadap kami berdua ?
      ~ bertanya Glagah Putih dengan nada tinggi.
      Agung Sedayupun telah menggamitnya, sehinga Glagah Putih tidak melanjutkan pertanyaannya.
      – Aku tidak akan menjawab sekarang. Ki Sanak. Mari, ikut kami ke banjar. –

      Agung Sedayu mengangguk sambil menjawab ~ Baik Ki Demang. Kami akan ikut pergi ke banjar.
      Ki Demang justru termangu-mangu sejenak. Tetapi iapun kemudian telah bangkit dan berkata kepada orang kawannya – Kita bawa mereka ke banjar. –
      Agung Sedayu dan Glagah Putih memang tidak melawan. Mereka menurut saja perintah Ki Demang yang membawa mereka ke banjar Kademangan. –
      Ketika mereka sampai di banjar, maka malam sudah menjadi semakin gelap. Beberapa buah oncor terpancang di halaman.
      Agung Sedayu dan Glagah Putih memang menjadi berdebar-debar. Di halaman banjar itu terdapat banyak orang. Sementara itu, dua orang terikat ditiang pendapa.
      – Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya – Ya. Nampaknyua keduanya sudah mengalami perlakuan buruk. –
      – Apakah kita juga membiarkan diri kita mengalami perlakuan seperti itu ? ~
      Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya – Kita tidak akan membiarkan diri kita terikat. —
      – Jadi kakang tidak berkeberatan ? — bertanya Glagah Putih.
      Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kalanya – Tetapi kita tidak berniat buruk. Mungkin orang-orang padukuhan ini sekedar ingin berhati-hati. —
      Tetapi pembicaraan mereka tcrputus. Seseorang telah mendorong Agung Sedayu dan Glagah Putih sambil berkata kasar – lihat kedua orang kawanmu itu. —

      Glagah Putih menjadi tegang. Ia sudah mendapat isyarat untuk ti dak membiarkan dirinya diikat dari Agung Sedayu. Meskipun demikian, Agung Sedayu sempat berdesis ~ Tunggu. Kita lihat
      perkembangannya.–
      Glagah Putih mengurungkan niatnya untuk melawan. Karena itu, maka bersama Agung Sedayu niatnya untuk melawan. Karena itu, maka bersama Agung Sedayu keduanya didorong maju mendekati tangga pendapa. Orang-orang yang ada di banjar itu telah mengerumuni mereka.
      — Kita telah menangkap dua orang lainnya. — berkata salah seorang yang datang bersama Ki Demang ke kedai itu. Namun Ki Demang segera menyahut — Kita akan berbicara dengan keduanya. —
      ~ Apalagi yang dibicarakan ? – bertanya seseorang diantara banyak orang itu.
      — Kita dapat mengajukan beberapa pertanyaan kepada mereka.
      Baru kemudian kita mengambil kesimpulan. — sahut Ki Demang.
      Namun tiba-tiba seorang yang bertubuh tegap tinggi meloncat naik kependapa. Dengan serta-merta ia telah memegang rambut salah seorang dari kedua orang yang terikat itu — He, apakah kedua orang itu kawanmu ? –
      Orang yang sudah tidak memakai ikat kepala itu menyerangi. Namun Kemudian iapun menjawab – Ya. Keduanya adalah kawan-kawan kami. —
      Nah, bukankah kita mendengar langsung dari mulutnya, bahwa kedua orang itu adalah kawan-kawan mereka. ? –
      Terdengar orang-orang yang ada dihalaman banjar itu bergeremang. Suaranya semakin lama menjadi semakin keras dan semakin keras. Akhirnya seseorang telah berteriak -Gantung mereka berempat.
      Tetapi yang lain menyahut — Serahkan kepada kami. Kami akan membantai mereka di halaman ini. –
      – Kita bakar saja mereka diatas api yang kecil saja. —
      Ki Demang akhirnya berdiri diatas tangga pendapa sambil merentangkan tangannya dan berteriak – Diam. Semuanya diam. Kita akan mulai dengan beberapa pertanyan kepada kedua orang ini. —
      Orang-orang itupun terdiam. Sementara Ki Demang berkata —
      Bawa mereka naik ke pendapa. —
      Beberapa orang telah mendorong Agung Sedayu dan Glagah Putih naik kependapa. Mereka mendorong dengan kasar. Bahkan ada di-antara mereka yang mulai memukul.
      Tetapi Agung Sedayu dan Glagah Putih masih tetap menahan diri, meskipun sebenarnya darahnya sudah mulai mendidih.
      – Nah, Ki Sanak – berkata Ki Demang – apakah Ki Sanak berdua mengenal kedua orang yang terikat itu ? —
      Agung Sedayu dan Glagah Putih memandang kedua orang itu dengan saksama. Namun kemudian mereka menggelengkan kepalanya.
      Dengan nada renyah Agung Sedayu menjawab – Tidak, Ki Demang Kami tidak mengenal mereka. —
      – Bohong, bohong – orang-orang dihalaman itupun berteriak.
      Sementara itu Ki Demang berkata — Tetapi mereka menyatakan, bahwa mereka mengenal Ki Sanak. –
      – Jika benar, Ki Demang. Mereka tentu akan dapat mengatakan, siapakah nama kami dan kami berasal darimana sebagaimana telah kami katakan kepada Ki Demang. –

      Ki Demang menganguk-angguk. Iapun kemudian bertanya kepada kedua orang yang terikat itu — Jika kalian memang mengenal mereka, siapakah nama mereka dan darimana asal mereka ? –/
      Kedua orang itu terdiam Mereka memang tidak dapat menyebut nama dan asal Agung Sedayu dan Glagah Putih yang memang tidak mereka kenal itu.

      – He, kenapa kalian terdiam ? — bentak Ki Demang. Lalu katanya – Jika demikian, kalian memang tidak mengenal mereka berdua. —
      Tetapi orang-orang di halaman itu berteriak — Mereka hanya berpura pura tidak tahu. Tetapi mereka tadi sudah menyatakan bahwa mereka mengenal kedua orang itu. —
      – Memang mencoba melindungi kawan-kawan mereka — teriak seseorang.
      Namun tiba-tiba seorang yang bertubuh sedang, berwajah tampak dengan kumis tipis diatas bibirnya, melangkah maju sambil berkata — Ki Demang. Keduanya tentu akan berusaha melindungi kawan-kawan mereka, meskipun mereka terlanjur mengatakan bahwa mereka telah mengenal kedua orang yang baru saja kita tangkap itu. —
      — Aku yang membawa mereka kemari — berkata Ki Demang.
      – Ya. Memang Ki Demang yang membawa mereka kemari. Tetapi bukankah ada orang yang telah memberikan keterangan tentang kedua orang itu lebih dahulu ? Baru Ki Demang dapat bertindak. –
      Berkata orang berkumis tipis itu. Lalu katanya pula – Apakah Ki Demang juga akan melindungi mereka. —
      – Aku tidak akan melindungi siapa-siapa. Aku hanya ingin bahwa langkah yang kita ambil itu benar. ~

      — Nah, jika demikian, jangan halangi kami. Kami sudah merasa bahwa langkah yang kami ambil adalah benar. –
      – Belum. Langkah yang kalian ambil belum tentu benar. –
      — Kami yakin — berkata orang itu.
      – Sebaiknya, kita ajukan beberapa pertanyaan lagi untuk meyakinkan kebenaran sikap kita. —
      – Itu tidak perlu — berkata orang berwajah tampan itu – kita sudah yakin. Karena itu, kita akan bertindak atas dasar keyakinan itu. —

      Ki Demang menjadi tegang. Dengan lantang ia berbicara – Aku lah Demang disini. Jika ada orang yang tidak setuju, katakan. Aku akan menyerahkan jabatanku kepadanya. –
      Orang-orang dihalaman itu terdiam. Agaknya Ki Demang sudah tidak dapat menahan kesabarannya lagi. Namun dengan demikian,
      maka orang-orang dihalaman itu terdiam, meskipun tampak di wajah-wajah mereka, bahwa mereka tidak puas dengan sikap Ki Demang itu.
      Ki Demang itupun kemudian bertanya dengan nada kecil – Ki Sanak. Dalam suasana seperti sekarang ini, apakah Ki Sanak tidak merasa ragu untuk meneruskan pengembaraan Kisanak. Apakah Ki Sanak membayangkan bahwa Ki Sanak akan menghadapi kesulitan seperti sekarang ini ? –
      – Ki Demang. Justru karena kami tidak mempunyai maksud apa-apa, maka semula kami tidak merasa cemas bahwa kami akan mengalami perlakuan seperti ini. —

      – Menilik sikap, kata-kata dan pilihan jawaban yang Ki Sanak berikan, Ki Sanak berdua bukan orang yang tidak berpengetahuan, Dengan demikian, bahwa kalian tidak memperhitungkan kemungkinan seperti ini terjadi, adalah sangat mengherankan. –
      — Kami mencoba mengatakan apa yang terbersit didalam hati kami. — jawab Agung Sedayu.
      Ki Demang memang menjadi ragu-ragu. Menilik sikap dan ujud-nya, maka kedua orang itu agaknya bukan orang yang bermaksud buruk. Tetapi dalam suasana yangpanas, sulit bagi Ki Demang untuk menahan gejolak hati orang-orangnya.

      Ternyata orang yang berwajah tampan itu berkata – Sudahlah Ki Demang. Jangan membuang buang waktu. Kita akan mengikat keduanya pada tiang pendapa seperti kedua orang itu. Kami belum akan menggantungnya malam ini. Karena itu, jika Ki Demang masih belum puas, maka Ki Demang masih mendapat kesempatan untuk bertanya jawab semalam suntuk. Tetapi kami tidak boleh kehilangan kedua orang itu. Mereka sangat berbahaya. –
      — Ya ~ sahut seseorang — jangan kasihani orang-orang jahat itu.
      Merekapun tidak pernah mempunyai belas kasihan kepada siapapun juga. Jika kita memberi kesempatan mereka meninggalkan Kademangan ini, maka esok mereka akan kembali untuk mencekik leher kita.

      Ki Demang memang menjadi bimbang. Tetapi orang-orang yang ada di halaman sudah mempunyai sikap sendiri.
      – Ikat kedua orang itu — teriak seseorang. Yang lainpun menyambut – Ikat saja. Cambuk punggungnya.
      Besok kita akan membantainya. —

      Orang di halaman itupun berteriak-teriak pula, sehingga Ki Demang tidak mampu lagi mengatasinya. Ketika orang-orang dihalaman itu mulai bergerak, maka Ki Demangpun berkata — Terserahlah kepada kalian. Aku tidak bertanggung jawab atas kelakuan kalian. –
      – Serahkan kepada kami – orang-orang itu berteriak – biarlah kami yang bertanggung jawab.
      Orang-orang di halaman itu mulai bergerak. Orang yang berwajah tampan itu agaknya mempunyai pengaruh yang besar tcrhadap kawan-kawannya. Sementara orang yang bertubuh tinggi tegap, yang telah menghentak rambut orang yang diikat itu, telah melangkah mendekati Agung Sedayu pula.
      Agung Sedayu bergeser surut. Ia sempat berbisik kepada Glagah Putih – Apaboleh buat. Kita tidak mempunyai pilihan lain. –
      Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam.

      Sementara itu, Ki Demang justru bergeser menjauh. Ia benar-benar tidak mau bertanggung jawab, karena menurut pendapatnya, kedua orang itu bukan orang-orang jahat, meskipun Ki Demang juga tidak percaya bahwa keduanya sekedar melakukan pengembaraan tanpa maksud.
      Agung Sedayu memandang orang-orang padukuhan itu dengan jantung yang berdebaran. la memang mereka bimbang untuk melawan dengan kekerasan, karena akibatnya dapat terjadi diluar dugaannya.
      Teiapi sebagai orang kebanyakan, Agung Sedayupun mempunyai naluri melindungi dirinya sendiri.
      Dalam pada itu, Glagah Putih telah benar-benar bersiap. Ketika beberapa orang mendekatinya, maka Glagah Putih telah berdiri diatas kedua kakinya yang renggang dan sedikit merendah pada lututnya.
      Orang berwajah tampan itu tersenyum. Katanya — Kau akan melawan anak manis.
      Glagah Putih tiba-tiba saja menjadi sangat benci kepada orang itu sikapnya, kata-katanya dan kesombongannya.
      Karena itu, maka ia tidak menunggu lagi. Ketika orang berwajah tampan itu melangkah mendekati, Glagah Putih langsung menyerangnya. Kakinya terayun mendatar tepat mengenai arah ulu hati orang itu.
      Serangan yang sama sekali tidak terduga. Orang berwajah tampan itu sama sekali tidak menduga bahwa anak itu akan langsung menyerangnya, sehingga karena itu, ia tidak sempat menangkis dan mengelak.
      Ternyata bahwa Glagah Putih tidak perlu mengulanginya. Orang berwajah tampan itu jatuh terkulai. Pingsan.
      Orang-orang yang bergerak mendekatinya justru tertahan.

      Orang yang berwajah tampan itu termasuk orang yang disegani di Kademangan itu. Namun, demikian cepat ia dilumpuhkan oleh orang muda itu.
      Tetapi seorang yang lain, bertubuh pendek, dengan otot-otot yang menjorok diwajah kulitnya, meloncat maju sambil berteriak – Licik. Ia memanfaatkan kelengahan lawannya. Tetapi kita tidak akan lengah lagi. Kita tidak akan menunggu sampai besok. Kita akan membantainya sekarang.

      Beberapa orang kemudian telah mengangkat tubuh orang berwajah tampan yang pingsan itu menjauh. Sementara itu, orang-orang yang berada di halaman itupun menjadi semakin marah.
      Dalam pada itu, orang bertubuh raksasa yang mendekati Agung Sedayu itupun mulai menyerang pula. Tangannya terayun dengan derasnya mengarah ke kening.
      Orang-orang yang menyaksikan serangan itu merasa yakin, bahwa orang yang menjadi sasaran pukulan itu akan segera menjadi pingsan, karena orang bertubuh raksasa itu memiliki tenaga yang sangat besar.

      Tetapi dugaan mereka ternyata keliru. Agung Sedayu bergesar setapak. Dengan cepat ia menangkap pergelangan tangan orang itu sambil memutar tubuhnya Demikian ia sedikit merendah, menarik tangan itu lewat diatas pundaknya dengan hentakkan kekuatannya.
      Orang itu telah terlempar dengan derasnya. Kakinya terangkat dan berputar diudara. Kemudian tubuhnya terbanting jatuh ditangga pendapa.
      Terdengar orang itu berteriak kesakitan. Ia bergulir diatas tangga dan jatuh ditanah. Namun orang itu sudah tidak mampu lagi untuk bangkit. Tulang punggungnya rasa-rasanya menjadi retak.
      Yang terdengar adalah keluhan tertahan.
      Sekali lagi jantung orang-orang yang ada di halaman itu terguncang. Orang berwajah tampan dan orang bertubuh raksasa itu adalah orang-orang yang miliki kelebihan. Namun ternyata keduanya seakan akan begitu mudahnya dibuat tidak berdaya.
      Tetapi orang-orang yang marah itu masih menganggap bahwa yang terjadi itu kebetulan semata-mata, justru karena mereka menjadi lengah.
      Demikianlah, maka sejenak kemudian orang-orang yang berke-rumun dihalaman itu telah bergerak. Masih saja ada diantara mereka yang berteriak teriak membakar hati kawan kawannya.

      Tetapi ternyata mereka segera mengalami kesulitan. Agung Sedayu dan Glagah Putih yang tidak membiarkan diri mereka diikat ditiang pendapa, telah memberikan perlawanan. Sambil berloncatan
      Glagah Putih menghindar dan menangkis serangan-serangan. Namun setiap terjadi benturan, maka ada saja orang yang merasa lengannya atau kakinya kesakitan.
      Namun Glagah Putih menjadi agak gelisah ketika orang-orang Kademangan itu mulai mengacu-acukan senjata. Senjata senjata itu justru berbahaya bagi mereka sediri, karena Glagah Putih tentu tidak akan membiarkan dirinya dilukai oleh senjata-senjata itu.
      Glagah Putihpun kemudian telah berusaha untuk mendapatkan senjata, la masih belum merasa perlu mempergunakan ikat pinggangnya, karena ia akan dapat menghadapi lawannya dengan senjata yang lain.
      Karena itu, maka Glagah Putih itupun kemudian dengan tangkas- nya telah menyerang seseorang yang memegang sebuah tombak pendek. Senjata itu menarik perhatian Glagah Putih, karena jenis senjata itu hanyalah satu satunya yang dipergunakan oleh orang-orang yang berkumpul di halaman, orang-orang lain mempergunakan pedang, parang, golok, tongkat besi dan bahkan tongkat kayu yang agaknya dipergunakan untuk selarak pintu dirumah, dan keris.
      Orang yang membawa tombak itu terkejut. Ia tidak mengira bahwa tiba-tiba saja tangan yang kuat telah mencengkam lengannya, sehingga rasa rasanya lengannya itu akan menjadi patah. Selagi ia berusaha melepaskan lengannya, maka tiba-tiba saja tombak di tangannya telah berada ditangan anak muda itu.
      Ketika Glagah Putih kemudian meloncat menjauh, maka pemilik tombak itu memburunya sambil berteriak – Kembalikan tombakku.
      Tombak itu peninggalan kakekku yang pernah menjadi seorang prajurit di Demak.

      Tetapi Glagah Putih bertanya – Apakah kakekmu mengajarimu mempergunakan tombak ini ? —
      Orang itu tidak menjawab. Namun ketika ia meloncat maju, maka ia harus dengan cepat bergeser surut. Ujung Tombak itu ternyata telah menyentuh pundaknya.
      Dengan tombak ditangan, maka Glagah Putih menjadi semakin garang. Satu dua orang benar-benar telah digoresnya dengan ujung tombak itu. Meskipun Glagah Putih sama sekali tidak ingin membunuh, namun ia tidak dapat menghindari kemungkinan goresan-goresan itu melukai kulit orang-orang Kademangan itu.

      Sementara itu Agung Sedayupun telah bertempur dengan cepat pula. Ia memang tidak memerlukan senjata. Dengan ilmu kebalnya.
      sebenarnya ia sudah dapat terhindar dari serangan-serangan senjata lawannya. Tetapi Agung Sedayu tidak mau memamerkannya.
      Ia tidak ingin membuat orang-orang Kademangan itu terheran heran dan kemudian meyebarkan ceritera itu kemana mana. Ceritera tentang kekebalan akan cepat menjalar dan menarik perhatian.
      Karena itu, maka Agung Sedayu nampaknya telah bertempur dengan wajar, meskipun orang-orang Kademangan itu masih tetap menganggapnya berilmu sangat tinggi. Bergerak sangat cepat dan mempunyai kekuatan yang besar. Tetapi ceritera tentang orang ber-ilmu tinggi tidak langsung memberikan ciri ciri tertentu pada seseorang. Dan karena itu pula, Agung Sedayu tidak mempergunakan cambuknya.
      Demikianlah, pertempuran itu berlangsung beberapa lama. Satu satu orang yang mengeroyok Glagah Putih terlempar keluar arena, terbanting jatuh dan tidak segera dapat bangkit, sementara yang lain tidak berani lagi mendekatinya. Tombak pendek di tangan Glagah Putih menjadi sangat berbahaya, meskipun Glagah Putih Mempergunakan nya dengan berhati-hati.
      Dengan demikian, maka orang-orang yang bertempur melawan Agung Sedayu dan Glagah Putih itupun semakin menyusut. Bukan Saja karena satu demi satu mereka kehilangan kemampuan untuk ber tempur, tetapi beberapa orang benar-benar menjadi ketakutan.

      Karena itu, maka beberapa orang bukan saja tidak berani mendekati Agung Sedayu dan Glagah Putih, Tetapi ketika Glagah Putih kemudian turun ke halaman dan bertempur sambil berloncatan,
      orang-orang itu satu demi satu melarikan diri keluar dari halaman banjar.
      Orang-orang yang masih mempunyai keberanian untuk bertempur itupun akhirnya terpengaruh juga. Karena kawan-kawannya menjadi semakin meyusut dan bahkan hampir habis, maka merekapun segera berlari pula meninggalkan halaman itu.
      Hanya orang-orang yang terluka dan tidak dapat meningalkan halaman banjar masih berada didalam sambil menggerang kesakitan.
      Bahkan mereka tidak lagi berpengharapan, karena mereka menganggap bahwa kedua orang yang akan dibantu itu benar-benar menjadi sangat marah.
      Tetapi ternyata dugaan mereka keliru. Ketika orang-orang berlari keluar dari halaman banjar, maka kedua orang itupun telah menghentikan perkelahian pula. Satu dua orang yang tidak sempat melarikan diri, sama sekali tidak dilukainya apalagi dibunuhnya.

      Yang tertua diantara kedua orang itu hanya memerintahkan mereka untuk duduk ditangga banjar.
      Ki Demang yang berdiri dengan tegang mengamati pertempuran itu menarik nafas dalam-dalam. Dua orang yang berhasil memepertahankan dirinya dari kekerasan orang-orang Kademangan itu, masih berdiri dihalaman. Glagah Putih masih memegangi tombak pendek ditangannya.
      Selangkah-selangkah Ki Demang mendekati kedua orang itu.
      Bagaimanapun juga, ia merasa ragu-ragu bahwa kedua orang itu tidak marah kepadanya. Atau bahkan mungkin menimpakan segala macam tanggung jawab kepadanya.
      Tetapi nampaknya kedua orang itu dapat melihat persoalan yang mereka hadapi dengan hati yang bening. Karena itu, keduanya nampaknya tidak mendendam kepada Ki Demang, meskipun Ki Demang-lah yang telah membawa mereka ke banjar itu.
      — Ki Sanak – berkata Ki Demang kemudian dengan suara ragu aku mohon maaf bagi orang-orang Kademangan ini. –
      – Ki Demang. — jawab Agung Sedayu – aku akan melupakan peristiwa ini. Tetapi aku mempunyai satu sarat. —
      – Apakah sarat itu ? — bertanya Ki Demang.
      – Aku akan berbicara dengan kedua orang yang kau ikat itu. Jika perlu akan minta mereka dilepaskan. –
      – Tetapi, dengan demikian, maka orang-orang Kademangan ini akan marah – jawab Ki Demang.
      – Baiklah. Jika demikian, sebelum orang-orang Kademangan ini marah, kamilah yang akan marah lebih dahulu. –
      – Maksud Ki Sanak ? –
      – Kami akan minta-kedua orang itu. Jika tidak boleh, kami akan memaksa. — berkata Agung Sedayu.
      Ki Demang memang tidak dapat berbuat sesuatu. Apalagi ia seorang diri, sedangkan orang-orang banyak yang ada di halaman itupun tidak akan mampu mencegahnya.
      Karena itulah, maka Ki Demangpun hanya dapat memandanginya ketika Agung Sedayu dan Glagah Putih melepaskan kedua orang yang terikat itu.
      Dalam pada itu, orang yang berwajah tampan itupun mulai sadar.
      Ketika ia kemudian bangkit, dilihatnya halaman banjar itu sudah sepi.
      Ia melihat satu dua orang terbaring diam. Agaknya mereka masih juga pingsan. Sementara itu, satu dua orang mengerang kesakitan. Orang yang bertubuh raksasa itu telah duduk pula bersandar tangga pendapa banjar. Tetapi orang itu masih belum dapat bangkit berdiri.
      Orang yang berwajah tampan itupun kemudian bangkit. Ketika ia melihat Ki Demang termangu-mangu, maka iapun bertanya – Ki Demang. Apa yang telah terjadi. ? —
      — Sebagaimana kau lihat. — jawab Ki Demang.
      Orang itu mencoba mengingat ingat, apa yang telah terjadi dengan dirinya. Namun orang itu kemudian menggeram — Kau licik. Kau serang aku bersiap. He, sekarang apa yang akan kalian lakukan terhadap kedua orang itu. ? ~
      Glagah Putih menarik nafas dalam dalam untuk mengendapkan gejolak perasaannya yang terungkit kembali. Namun ia masih menjawab dengan tenang — Ki Sanak. Kau lihat, bahwa kawan kawanmu telah melarikan diri. Yang tersisa adalah mereka yang pingsan, kesakitan, luka dan mereka yang tidak mampu lagi untuk bangkit.
      Orang itu termangu-mangu sejenak. Ketika ia melihat Ki Demang berdiri membeku, maka orang itupun bertanya – Apa yang terjadi Ki Demang.
      — Kau dengar sendiri, apa yang dikatakan oleh anak muda itu. — jawab Ki Demang.

      Orang berwajah tampan itu memandang berkeliling. Ia memang tidak melihat lagi orang-orang Kademangan yang semula berkumpul di halaman banjar itu.
      Namun ketika orang itu melihat Agung Sedayu melepas orang yang terikat itu, maka iapun berteriak – He, jangan kau lepaskan orang itu. –
      – Aku ingin melepaskannya – jawab Agung Sedayu. Sementara Glagah Putihpun telah melepaskan tali ikatan yang seorang lagi.
      Orang yang berwajah tampan itu menggeram. Tiba-tiba saja ia meloncat menyerang Glagah Putih.
      Namun Glagah Putih cukup tangkas. Ia bergeser setapak. Ketika orang itu menggeliat dan berusaha untuk mengayunkan tangannya kesamping, maka kaki Glagah Putih telah mendahuluinya menghantam lambung.
      Dengan kerasnya orang itu terlempar dan terbanting jatuh di pendapa. Kepalanya telah membentur ompak batu penyangga tiang.
      Orang itu mengaduh tertahan. Namun kemudian pendapa itu bagaikan berputar. Orang berwajah tampan itu telah menjadi pingsan lagi.
      Dalam pada itu, Agung Sedayu dan Glagah Putih telah berhasil melepaskan kedua orang itu. Diajaknya kedua orang itu duduk di Pringgitan.
      – Maaf, Ki Demang — berkata Agung Sedayu kemudian – kami akan berbicara dengan kedua orang ini. –
      – Silahkan, Ki Sanak – sahut Ki Demang. Ia memang tidak dapat berbuat lain. Ia tidak dapat mencegah jika hal itu dikehendaki oleh kedua orang itu. Tetapi juga tidak dapat memaksa jika keduanya tidak ingin melakukannya.
      Demikianlah, maka Agung Sedayu dan Glagah Putihpun kemudian duduk dipringgitan bersama kedua orang yang telah terikat di tiang pendapa itu.

      Yang pertama kali di tanyakan oleh Agung Sedayu adalah ~ Ki Sanak. Kenapa Ki Sanak tadi mengaku pernah mengenal kami ? Apa-kah Ki Sanak memang mengenal kami ? –
      Orang itu menggeleng. Kalanya ~ Tidak Ki Sanak. –
      – Jadi kenapa kau katakan orang-orang padukuhan ini. Bahwa kau mengenal kami ? —
      – Selama aku ditahan di banjar ini, maka setiap pertanyaan harus aku jawab sesuai dengan keinginan mereka. Aku tidak dapat mengatakan apa yang sebenarnya, karena jika yang sebenarnya itu tidak sesuai dengan jawaban yang mereka inginkan, maka aku akan dipaksa dengan kekerasan.

      Agung Sedayu mengangguk anguk. Namun kemudian iapun bertanya ~ Tetapi siapakah sebenarnya Ki Sanak berdua ? ~
      Orang itu menjadi bimbang. Dipandanginya Agung Sedayu dan Glagah Putih berganti-ganti.

      Tetapi tiba-tiba saja orang itu justru bertanya – Siapakah Ki Sanak berdua yang mampu mengalahkan sekian banyak orang. –
      – Kami adalah dua orang pengembara yang mengunjungi satu Kademangan ke Kademangan yang lain. –
      – Aku tidak percaya, Ki Sanak – jawab orang itu.
      – Baiklah. Katakan Ki Sanak berdua tidak percaya. Tetapi Ki Sanak belum menjawab pertanyaanku. Siapakah sebenarnya Ki Sanak berdua. Aku tidak ingin Ki Sanak menjawab menurut kehendakku, karena aku justru menginginkan kebenaran. –
      Orang itu termangu-mangu sejenak. Orang yang tertua diantara keduanya itu berkata ~ Kami berdua bukannya penjahat seperti yang dituduhkan kepada kami. Tetapi kami memang tidak dapat membuktikan, bahwa kami bukan penjahat. –
      Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya – Aku percaya, bahwa Ki Sanak bukan penjahat Aku memang tidak melihat kejahatan itu disorot mata kalian. Tetapi dengan demikian, lalu siapakah kalian berdua ? —
      Kedua orang itu masih saja ragu. Tetapi dihadapan kedua orang yang telah melepaskannya dari ikatan itu, mereka tidak dapat lagi berbohong.

      – Kami adalah petugas sandi dari Pati. —
      Agung Sedayu dan Glagah Putih terkejut. Namun keduanya berusaha untuk tidak menunjukkan perasaannya itu kepada mereka.
      Namun Agung Sedayupun berkata – Apakah kalian dalam keadaan yang memaksa tidak dapat mengatakan atau menunjukkan ciri keprajuritan kalian, sehingga kalian tidak diperlakukan seperti itu oleh orang-orang Kademangan ini ? –
      – Aku sedang dalam tugas sandi – jawab orang itu. Namun kemudian katanya – meskipun demikian, jika perlu pada saat terakhir aku baru akan menunjukkan pertanda sandi itu. Tetapi pertanda itu akan dapat membebaskan kami atau memeprcepat kematian kami, karena kami tidak tahu pasti, kepada siapa orang-orang Kademangan ini berpihak. —

      Agung Sedayu menarik nafas panjang. Sebagai seorang prajurit Mataram, maka kedua orang itu adalah musuh yang berbahaya. Jika saja orang itu tahu bahwa Agung Sedayu itu adalah prajurit Mataram, mungkin mereka akan bersikap lain.
      Tetapi kedua orang itu belum tahu, bahwa Agung Sedayu adalah prajurit Mataram, sedangkan Glagah Putih adalah seorang Pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang juga terlibat dalam perang melawan Pati.
      Tetapi, Agung Sedayu ternyata mempunyai tanggapan lain. Ia tidak segera menempatkan dirinya sebagai musuh dari kedua orang prajurit Pati itu. Bagi Agung Sedayu, kedua orang itu adalah orang-orang yang wajib ditolongnya dari tindak kekerasan.
      Karena itu, maka Agung Sedayupun kemudian berkata – Jika demikian Ki Sanak, marilah, kita bersama-sama meninggalkan Kademangan ini. Kami akan meneruskan pengembaraan kami, sementara itu, terserahlah, apakah Ki Sanak berdua akan kembali ke Pati atau pergi kemana lagi. –
      Kedua orang itu saling berpandangan. Seorang diantara mereka-pun kemudian bertanya – Apakah orang-orang Kademangan ini akan membiarkan kami berdua pergi ? —
      – Kita tidak usah menghiraukan mereka. Bahkan, selagi Ki Sanak masih bersama kami berdua, kami minta Ki Sanak menunjukkan pertanda keprajuritan Ki Sanak kepada orang-orang padukuhan ini.
      Kisanak akan mengetahui, kepada siapa orang-orang padukuhan ini berpihak. Tetapi mana sajakah yang Ki Sanak maksudkan ? –

      – Pati dan Mataram. Bukankah Ki Sanak tadi juga mengatakan, bahwa telah terjadi perang antara Pati dan Mataram. –
      – Dalam tata pemerintahan, Kademangan ini termasuk lingkungan yang mana ? Mataram atau Pati ? –
      – Sebenarnya lingkungan ini termasuk wilayah Mataram. Tetapi pada saat terakhir, daerah disebelah Utara Gunung Kendeng telah direlakan kepada Pati. Bahkan kemudian Pati menguasai pula beberapa Kademangan lain dan merambat ke Selatan. Sejalan dengan gerak pasukan Pati ke Prambanan, maka beberapa Kademangan lain dinyatakan berada dibawah pemerintahan Pati. ~
      – Tetapi apakah hal itu dapat dianggap sah ? —

      Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya ~ Apakah sebenarnya pernyataan sah atau tidaknya sesuai lingkungan dikuasai oleh salah satu pusat pemerintahan yang ada di Tanah ini ? Seandainya Mataram menyatakan tidak sah, tetapi Pati mempunyai kekuatan untuk tetap mempertahankan keberadaannya, sah atau tidak sah itu tidak ada artinya sama sekali. —
      – Jadi maksud Ki Sanak, tegaknya kekuasaan disatu lingkungan ditentukan oleh kekuatan senjata ? —
      – Ya –
      – Dengan demikian, satu lingkungan yang kecil dan lemah tidak mempunyai hak hidup sama sekali ? – bertanya Agung Sedayu pula.
      – Tidak – jawab orang itu.
      Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja Glagah Putihpun bertanya – Bagaimana dengan sebuah Tanah Perdikan, yang mempunyai wewenang untuk mengatur diri sendiri. ? —
      – Menurut pendapatku, keberadaan sebuah Tanah Perdikan harus tetap mendukung tegaknya pemerintahan yang mengesahkan keberadaan Tanah Perdikan itu. —
      – Dengan demikian wewenang apakah yang dilimpahkan kepada Tanah Perdikan itu ? – beratnya Glagah Putih pula.
      – Menurut pendapatku. Tanah Perdikan sebaiknya dihapuskan saja. Para pemimpin Tanah Perdikan biasanya hanya menggangu saja arus pemerintahan dari atas ke bawah. —

      Agung Sedayu dan Glagah Putih mengerutkan dahinya. Diluar sadarnya Agung Sedayupun berkata – Apakah yang kau katakan itu trap-trapan pemerintahan di Pati. ? –
      Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menjawab – Tidak Ki Sanak. Aku hanya sekedar berangan-angan. —
      Agung Sedayu dan Glagah Putih tidak bertanya lagi. Dengan nada dalam Agung Sedayu berkata – Nah, marilah. Katakan kepada Ki Demang, siapakah sebenarnya kalian ? –

      Kedua orang itu masih nampak ragu-ragu. Namun Agung Sedayu berkata pula – Pergunakan kesempatan ini dengan sebaik baiknya. –
      Orang itu mengangguk.
      Berempat merekapun kemudian bangkit berdiri. Ki Demang duduk diujung pendapa, setelah berusaha untuk menolong beberapa orang terluka dan menolong mereka naik kependapa. Sementara satu dua orang yang pingsan telah sadar pula. Ki Demang telah membawa mereka untuk naik kependapa pula.
      – Ki Demang – berkata Agung Sedayu – kami akan pergi. –
      Ki Demang yang bangkit berdiri itu termangu-mangu sejenak.
      Dengan nada ragu ia berkata — Bagaimana dengan kedua orang itu ? –
      – Mereka juga akan pergi bersama kami – jawab Agung Sedayu.
      — Tetapi kedua orang itu adalah tawanan kami – berkata Ki Demang.
      — Aku memerlukan mereka. Apakah ada yang ingin mempertahankan ? — bertanya Agung Sedayu.
      Ki Demang terdiam. Ketika ia memandang orang-orang yang terluka serta mereka yang baru sadar dari pingsannya, orang-orang itu sama sekali tidak memberikan tanggapan apa-apa. Pandangan mata nampak kosong dan redup.
      Agaknya tidak seorangpun yang akan dapat menghalangi.

  2. Bagian III

    Meskipun demikian, Ki Demang itupun berkata kepada Agung Sedayu – Ki Sanak. Apapun yang kau kehendaki, akan dapat terjadi disini, karena kalian berdua mempunyai kekuatan dan kemampuan yang lebih tinggi dari kekuatan dan kemampuan yang ada di Kademangan ini. Karena itu, kalian akan dapat memaksakan segala kehendak kalian. Kami, orang se Kademangan ini tidak akan dapat membatalkannya. Tetapi aku ingin memperingatkan kepada kalian, bahwa kedua orang itu adalah tawanan kami. Jika kalian berdua masih menghormati hak-hak kami, maka kami minta kedua orang itu kalian tinggalkan disini.

    Namun Agung Sedayupun menjawab – Maaf, Ki Demang.
    Orang-orang di Kademangan ini juga tidak menghormati hak-hak kami sama sekali. Maksudku, kami berdua dan kedua orang ini. Apa-kah karena itu kami justru harus menghormati hak-hak orang-orang Kademangan ini ? Seandainya kami berdua tidak dapat melindungi diri kami, apakah jadinya dengan kami berdua ? Itulah yang kalian maksud menghormati hak-hak orang lain sebagaimana Ki Demang menuntut aku menghormati hak-hak orang-orang Kademangan ini ?
    Ki Demang menarik nafas panjang. Ia memang tidak dapat menjawab, karena yang dikatakan oleh Agung Sedayu itu memang sudah terbukti.

    Namun demikian, Agung Sedayupun kemudian berkata -Tetapi Ki Demang. Seandainya kami berdua tidak datang kemari, kedua orang ini memang harus kalian lepaskan. —
    – Kenapa ? – bertanya Ki Demang.
    Agung Sedayupun kemudian berpaling kepada kedua orang itu –
    Kenapa tidak kau tunjukkan kepada Ki Demang pertanda yang menyatakan siapakah kalian berdua itu ? –
    Wajah Ki Demang menjadi tegang. Sementara itu, kedua orang itupun melangkah mendekati Ki Demang sambil berkata ~ Ki Demang Panggilah dua orang saksi. Orang yang telah sadar dari pingsannya itu, atau siapapun. Jika mungkin lebih dari dua orang itu lebih baik. –
    Ki Demang menjadi semakin gelisah melihat orang yang pernah diikat pada tiang pendapa itu.
    Namun Ki Demangpun telah memanggil orang-orang yang telah sadar dari pingsannya itu untuk mendekat. – Jangan takut — berkata Agung Sedayu – kami bukan pendendam.
    Tiga orang berjalan tertatih-tatih mendekati Ki Demang. Sementara Ki Demang sendiri menjadi gelisah.
    Demikian tiga orang itu mendekat, maka kedua orang itu menyingkapkan baju mereka untuk memperlihatkan timang yang melekat pada ikat pinggang mereka.
    – Kau pernah melihat benda seperti itu, Ki Demang ? – bertanya Agung Sedayu.
    Wajah Ki Demang menjadi pucat. Sementara itu, orang-orang yang telah sadar dari pingsannya itu tidak tahu, benda apakah yang telah ditunjukkan oleh kedua orang itu.
    Dengan suara yang bergetar Ki Demang berkata – Pertanda ke-prajuritan dari Pati. –
    – Ya – sahut orang itu – kami berdua adalah prajurit Pati. –
    – Tetapi, kenapa Ki Sanak tidak mengatakannya sejak semula ? bertanya K i Demang.
    – Aku sengaja ingin tahu, apakah yang akan kalian lakukan terhadap orang-orang yang belum kalian kenal. —
    Ki Demang menjadi sangat gelisah. Ia tidak dapat berkata lain kecuali – Kami, kami tidak tahu bahwa Ki Sanak berdua adalah prajurit dari Pati. –
    – Kami sedang melakukan tugas sandi – berkata orang itu — dengan cara ini, kami tahu, bahwa kalian telah memusuhi Pati. –
    – Tidak. Tidak. Kami sama sekali tidak memusuhi Pati. Justru kami memperlakukan Ki Sanak seperti itu, karena kami tidak tahu bahwa Ki Sanak berdua itu prajurit Pati. – Ki Demang itupun kemudian berpaling kepada Agung Sedayu dan Glagah Putih – apakah Ki Sanak juga prajurit dari Pati ? –
    – Tidak. Sudah aku katakan, bahwa kami berdua bukan prajurit Tetapi kami berdua adalah pengembara yang menjelajahi tanah ini.
    Kami ingin mendapat pengalaman yang lebih banyak. Baik mengenai kewadagan, maupun kejiwaan.
    Ki Demang itu benar-benar menjadi ketakutan. Bahkan ia mengira bahwa Agung Sedayu dan Glagah Putih itu juga prajurit sandi dari Pati yang bertugas untuk membebaskan kedua orang yang telah ditangkap itu. Atau barangkali secara kebetulan mereka lewat atau karena apapun.

    Tetapi Agung Sedayupun kemudian berkata — Sudahlah. Beritahu saja orang-orangmu, Ki Demang. Bahwa orang-orang Kademangan ini telah menangkap, menyakiti, mengancam dan menghinakan prajurit Pati. —
    – Tetapi Ki Sanak. Kami mohon juga dimengerti. Suasana di Kademangan ini menuntut agar kami menjadi sangat berhati-hati. Perampokan, perampasan, pencurian dan tindak kekerasan yang lain telah terjadi di Kademangan kami. Karena itu, maka kami benar-benar menjadi sangat berhati-hati. Adalah sama sekali bukan maksud kami untuk memperlukan prajurit Pati sebagaimana yang telah kami lakukan ini.

    – Sulit bagi kami untuk mempercayainya. Aku rasa, orang-orang
    padukuhan ini telah menyatakan tekadnya untuk tetap berdiri di bela-
    kang Mataram. –
    – Tidak Ki Sanak – Sahut Ki Demang — memang ada satu dua orang yang menyatakan agar kita semuanya berpihak kepada Mataram. Tetapi sebagian terbesar menolak. –
    Telinga Glagah Putih menjadi panas. Tetapi tatapan mata Agung Sedayu memberikan isyarat kepadanya, agar ia tidak berbuat sesuatu.
    Bahkan Agung Sedayu itupun kemudian berkata – Jika demikian, beruntunglah kalian, bahwa kalian belum terlanjur berbuat lebih buruk lagi terhadap kedua orang prajurit dari Pati itu. Jika hal itu terjadi, maka nasib kalianpun akan menjadi sangat buruk. Padahal kedua orang prajurit Pati itu sengaja tidak mau menunjukkan pertanda keprajuritan mereka, karena mereka ingin tahu, sampai sejauh manakah sikap yang kalian maksudkan dengan berhati-hati itu. –
    – Kami mohon ampun – berkata Ki Demang kemudian.
    – Baiklah ~ berkata Apung Sedayu – aku yakin, bahwa para prajurit Pati itu akan mengampuni kalian —
    Sambil berpaling kepada kedua orang prajuritPati itu Agung Sedayu berkata – Bukankah begitu. ? –
    Kedua orang prajurit Pati itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian hampir berbareng keduanya mengangguk.
    – Ya – berkata yang tertua – kami akan mengampuni kalian. –
    Demikianlah, maka Agung Sedayu, Glagah Putih dan kedua orang prajurit Pati itupun kemudian telah meninggalkan rumah Ki Demang yang sudah menjadi sepi itu. Yang tinggal hanyalah orang-orang yang sedang mengerang kesakitan, mengeluh karena tubuhnya menjadi tidak berdaya serta orang-orang yang kebingungan karena kepalanya menjadi sangat pening oleh benturan yang terjadi.
    Namun dalam pada itu, ada juga beberapa orang yang berani mengamati banjar itu dari jarak yang agak jauh. Ada diantara mereka yang bersembunyi di belakang dinding halaman diseberang. Ada yang mengintip disela-sela pintu rcgol yang hanya terbuka selebar jari.
    Orang yang mengintip dibelakang regol diseberang jalan terkejut ketika Agung Sedayu yang lewat didepan regol itu berkata ~ Selamat malam Ki Sanak yang mengintip dibelakang pintu regol. —
    Dengan serta merta orang itu merapatkan daun pintu regol. Namun ternyata bahwa Agung Sedayu sama sekali tidak berhenti. Ia melangkah terus disepanjang jalan. Beberapa langkah kemudian ia sempat menyapa pula — Kenapa kau mengintip dari balik dinding. Keluar sajalah. Aku tidak akan menerkammu. —
    Agung Sedayu memang tidak menghiraukan mereka lagi. Ber-empat mereka berjalan menembus kegelapan dan hilang dikelok jalan.
    Orang-orang yang bersembunyi dibalik pintu regol dan dibalik dinding itu perlahan lahan bergeser. Ketika mereka yakin bahwa keempat orang itu sudah menjadi semakin jauh, maka beberapa orang diantara mereka telah melangkah dengan sangat berhati-hati menuju keregol halaman rumah Ki Demang.
    Baru setelah mereka yakin, bahwa dua orang yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi itu sudah tidak ada lagi di halaman, maka satu-satu orang-orang itu baru berani masuk kedalam.
    Ki Demangpun kemudian memanggil orang orang itu agar mereka duduk dipendapa.
    – Nasib kita memang buruk – berkata Ki Demang.
    ~ Kedua orang itu tentu memiliki ilmu iblis — berkata orang yang bersembunyi dan mengintip dari balik regol seberang jalan — orang itu
    dapat melihat aku yang berdiri dibalik regol. Sementara itu malam gelap dan tidak ada oncor diregol itu.
    – Ada oncor diregol halaman rumah Ki Demang. –

    – Tetapi sinarnya tidak akan dapat menerangi tempat aku berdiri.
    – Orang itu juga melihat aku bersembunyi dibalik dinding – ber-kata yang lain.
    – Ia mempunyai mata setajam mata burung hantu — desis yang seorang lagi.
    – Bukan itu – potong Ki Demang – ternyata mereka adalah prajurit dari Pati. —
    – Prajurit dari Pati ? – beberapa orang mengulanginya.
    Kegelisahan kemudian telah mencekam. Seorang yang berjambang lebat berkata – Kenapa mereka membiarkan kita mengikat dan memukuli, bahkan menghinakan mereka ? —
    – Menurut orang yang terikat itu, mereka sengaja membiarkan diri mereka diperlukan seperti itu. Mereka ingin melihat, sampai ke batas manakah kita, orang-orang Kademangan ini menekan mereka dengan kekerasan. Baru dalam keadaan puncak, mereka akan menyatakan diri mereka, bahwa mereka adalah prajurit Pati. ~
    – Darimana Ki Demang tahu, bahwa mereka prajurit Pati ? —
    – Mereka telah menunjukkan pertanda keprajuritan mereka. Timang khusus bagi para prajurit Sementara kedua orang yang datang kemudian itu tentu kawan-kawan mereka pula, meskipun keduanya sama sekali tidak mengakuinya. Keduanya tidak menunjukkan pertanda keprajuritan di ikat pinggang mereka. —
    – Mereka sengaja menjebak kita. Mereka mencari alasan untuk menghukum kita. – berkata seseorang.
    – Orang yang datang kemudian, yang kalian anggap mempunyai ilmu iblis itu berkata kepada kita, bahwa para-prajurit Pati tidak akan mendendam kita. Aku sudah mengatakan kepada mereka, bahwa semuanya ini kami lakukan justru karena kami harus sangat berhati hati pada suasana seperti sekarang ini. ~
    – Bagaimana tanggapan mereka ? ~
    – Nampaknya mereka dapat mengerti. – jawab Ki Demang. Lalu katanya pula – tetapi aku harus mengatakan kepada mereka, bahwa kita sepadukuhan berpihak kepada Pati dan menentang Mataram.
    Orang-orang yang mendengar penjelasan Ki Demang itu termangu-mangu. Namun mereka memang tidak tahu, apakah mereka harus berdiri dipihak Pati atau dipihak Mataram dalam suasana yang kalut itu.
    Dalam pada itu, seorang diantara mereka bertanya – Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang Ki Demang ? Jika yang Ki Demang katakan itu terdengar oleh orang Mataram, maka besok yang datang justru orang-orang Mataram. —
    Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Katanya — Besok, kita akan berbicara. Aku akan mengumpulkan semua bebahu, para Bekel dari padukuhan-padukuhan dan orang-orang tua diKademangan ini. —
    – Kita memang harus menentukan sikap — berkata seseorang.
    Namun Ki Demangpun berkata — Tetapi kita juga harus melihat wajah sendiri. Jika Kita berhati-hati dan tidak bertindak sewenang-
    wenang, maka kita tidak akan terlempar dalam satu keadaan yang rumit seperti sekarang ini ? Kita harus bertanya kepada diri sendiri, kenapa kita harus mengikat kedua orang prajurit Pati itu dan kemudian memperlakukan kedua orang yang datang kemudian dengan kasar dan bahkan kita sudah mempergunakan kekerasan senjata dan benar-benar akan membunuh mereka. —
    – Orang-orang Kademangan itu termangu-mangu sejenak. Pertanyaan Ki Demang itu telah menyentuh hati mereka.
    – Kenapa ? —
    Tetapi segala sesuatunya sudah terjadi.
    Meskipun demikian, orang-orang Kademangan itu mau tidak mau harus menilai kembali sikap mereka terhadap orang-orang yang mereka anggap asing. Jika mereka dengan semena mena menjatuhkan hukuman terhadap orang-orang yang mereka anggap asing, ternyata pada suatu saat akan datang menimbulkan persoalan yang mencemaskan bagi seisi Kademangan.
    Dalam pada itu, Agung Sedayu, Glagah Putih dan kedua orang prajurit Pati itu telah berjalan semakin jauh dari Kademangan itu. Ke-dua orang prajurit Pati yang merasa berhutang budi itu, diluar sadar, telah banyak menceritakan keadaan dan persiapan yang dilakukan oleh Pati setelah mereka dikalahkan oleh Mataram dalam perang yang terjadi di Prambanan.
    Agung Sedayu dan Glagah Putih berhasil memancing beberapa keterangan yang mereka perlukan bagi tugas mereka di Pati tanpa menimbulkan kecurigaan.
    Namun dalam pada itu, Agung Sedayupun kemudian mengajak mereka untuk beristirahat untuk menghabiskan malam yang tersisa.
    – Tidurlah – desis Agung Sedayu kepada Glagah Putih ketika mereka berhenti di sebuah pategalan yang nampaknya sudah agak lama tidak digarap. Mungkin ada hubungannya pula dengan perang yang baru saja terjadi atau oleh sebab lain.
    Tetapi Glagah Putih sempat bertanya — Kakang sendiri bagai-mana ? ~
    Agung Sedayu tersenyum. Katanya – Besok aku akan mencari kesempatan untuk tidur jika terasa mataku mengantuk. ~
    Glagah Putih tidak menjawab. Ketika ia berpaling kepada kedua orang prajurit Pati itu, merekapun telah berbaring pula diatas rerumputan kering. Tetapi Glagah Putih tidak tahu, apakah mereka berdua tidur bersama-sama, atau salah seorang dari mereka berjaga jaga bergantian.
    Tetapi malam yang tersisa tinggal beberapa saat saja, sehingga jika mereka harus bergantian, maka akhir kedua-keduanya tidak akan pernah sempat tidur.
    Glagah Putih yang percaya kepada kakak sepupunya itu, telah memejamkan matanya. Sebentar kemudian, maka Glagah Putihpun telah tertidur, justru karena ia merasa tenang ditunggui oleh kakak sepupunya.
    Ketika fajar menyingsing, maka mereka berempat telah bersiap dan berbenah diri. Mereka sempat mandi disebuah sungai kecil. Tetapi airnya yang jernih mengalir cukup deras.
    Bersama kedua orang prajurit itu Agung Sedayu dan Glagah Putih menempuh perjalanan ke Pati. Kepada kedua orang prajurit itu Agung Sedayu berkata – Aku belum pernah datang ke Pati. –
    – Kota Pati tidak begitu rumit. Begitu kau berada didalamnya, maka kau akan segera mengetahui segala sudut-sudutnya. — berkata prajurit itu. Namun kemudian katanya – Tetapi Pati masih jauh. —
    Agung Sedayupun menjawab – kami tidak tergesa-gesa. Kami adalah pengembara yang berjalan kemana saja dan kapan saja. ~

    – Apakah kalian ingin sampai ke Pati bersama kami ? ~ tiba-tiba yang tertua dari kedua orang prajurit itu bertanya.
    Agung Sedayu termangu-mangu. Bahkan kemudian iapun ganti bertanya — Kenapa ? —
    – Ki Sanak. Bukan maksudku untuk menghindar dari Ki Sanak Berdua. Aku sudah berhutang budi kepada Ki Sanak, Karena Ki Sanak telah melepaskan kami dari tangan orang-orang Kademangan itu. —
    – Tanpa akupun kalian berdua akan bebas. ~ sahut Agung Sedayu ~ bukankah pertanda keprajuritan kalian memberikan kesan tersendiri kepada para penghuni Kademangan itu ? —
    – Tanpa kalian berdua, belum tentu kami dilepaskan — berkata prajurit yang tertua ~ bahkan mungkin demikian takutnya mereka menghadapi pembalasan, maka kami berdua justru dimusnahkan untuk menghilangkan jejak, karena kami tidak mempunyai kemampuan untuk melawan orang se Kademangan itu. —

    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi Agung Sedayu masih mencoba bertanya – Seandainya kalian melakukannya, apakah kalian tidak dapat melawan mereka ? –
    – Tidak Ki Sanak. Kami berdua tidak berani mencoba sebagaimana kalian lakukan. Kalian nampaknya yakin akan dapat menang melawan orang-orang yang berada dihalaman banjar itu. Kami yang hanya dapat menyaksikan sambil terikat, menjadi ngeri melihat orang-orang di banjar itu mengacu-acukan senjata mereka. Tetapi dengan senjata seadanya, Ki Sanak mampu mengalahkan mereka tanpa melakukan pembunuhan dengan semena mena. —
    Agung Sedayu tidak menjawab, sementara orang itu berkata selanjutnya – Apa yang Ki Sanak lakukan, mencerminkan kepribadian Ki Sanak. Namun aku yakin bahwa Ki Sanak tidak akan mengatakan siapakah Ki Sanak sebenarnya. Karena itu, kami tidak bertanya lebih jauh tentang diri Ki Sanak berdua. ~
    – Sudahlah – jawab Agung Sedayu — sekarang apa yang kalian katakan ? Apakah kalian berniat untuk memisahkan diri dan melakukan tugas kalian yang tersisa ? –
    Orang itu mengangguk. Katanya — Maaf Ki Sanak. Sebenarnya kami ingin mengantar Ki Sanak berdua sampai ke Pati. Tetapi sebagian tugas kami masih belum kami selesaikan. Karena itu, kami terpaksa memisahkan diri kami berdua untuk tugas-tugas itu. –
    – Baiklah Ki Sanak. Kami hanya minta petunjuk saja, seandainya kami pergi ke Pati, jalan manakah yang sebaiknya kami tempuh, meskipun belum tentu aku akan sampai ke Pati. –
    – Kenapa ? – bertanya prajurit Pati itu.
    – Kadang-kadang niat kami berubah dengan tiba-tiba. Jika ada hal yang menarik perhatian kami, maka dapat saja rencana kami ber-ubah pada saat itu juga. —
    Prajurit prajurit Pati itu mengangguk angguk. Namun sambil berjalan, mereka telah memberikan petunjuk, jalan manakah yang sebaiknya dilalui untuk dapat sampai ke Pati.
    – Ada beberapa jalur jalan yang dapat kalian lalui ~ berkata prajurit yang tertua — tetapi jalan itulah yang menurut pendapatku paling baik kalian tempuh. Meskipun sedikit agak jauh, tetapi tidak banyak hambatan yang kau hadapi, meskipun aku yakin bahwa kalian akan dapat mengatasi hambatan apapun juga diperjalanan. –
    Agung Sedayu dan Glagah Putih mengangguk angguk. Dengan nada berat Agung Sedayu berdesis – Terima kasih Ki Sanak. Mudah mudahan kami mendapat kesempatan melihat lihat kota Pati yang tumbuh dengan cepat itu. –
    Kedua orang prajurit itu termangu-mangu sejenak. Yang tertua diantara mereka berkata- Baiklah Ki Sanak. Kami mengucapkan selamat menempuh perjalanan panjang dalam pengembaraan Ki Sanak.
    Pergi atau tidak pergi ke Pati, semoga kalian menemukan apa yang kalian cari sepanjang pengembaraan, karena mustahil bahwa kalian tidak ingin menemukan sesuatu. Mungkin pengembaraan kalian merupakan laku untuk melengkapi dan mengembangkan ilmu kalian. Tetapi juga mungkin kalian mengemban kewajiban yang harus kalian lakukan atas perintah orang lain atau justru karena beban kewajiban yang kalian letakkan sendiri diatas pundak kalian. –
    Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya – Terima kasih Ki Sanak. Kamipun berharap mudah-mudahan Ki Sanak berdua dapat menyelesaikan tugas yang kalian emban. Mudah-mudahan kita dapat bertemu lagi dalam suasana yang lebih baik. –
    Demikianlah, maka merekapun berpisah. Kedua orang prajurit Pati itu telah menempuh jalan mereka sendiri. Sementara Agung Sedayu dan Glagah Putihpun telah menelusuri jalan yang lain.
    Demikian mereka berpisah, maka prajurit Pati yang tertua itupun berdesis — Keduanya tentu bukan orang kebanyakan. –
    – Ya ~ sahut kawannya — Tetapi apakah mungkin keduanya justru orang Mataram atau setidak-tidaknya berpihak kepada Mataram ?
    Karena dalam suasana seperti sekarang ini, kebanyakan orang hanya dapat berdiri di dua alas yang berseberangan. Pati atau Mataram. Sementara itu, keduanya tidak mungkin lepas dari pilihan itu. –
    – Yang terang, mereka tidak berdiri dipihak Pati. – jawab yang tertua – mereka tidak menunjukkan sikap sebagai prajurit Pati ketika mereka mengetahui bahwa kita berdua adalah prajurit Pati. Tetapi jika mereka prajurit Mataram, kenapa mereka bersikap begitu baik terhadap kita. —
    Prajurit Pati yang muda itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya – Entahlah. Tetapi kita memang harus memisahkan diri dari mereka.
    Tugas kita masih jauh. –
    – Kita benar-benar harus berterima kasih kepada keduanya, karena itu sampai saat ini masih tetap hidup. Siapapun mereka. Bahkan seandainya mereka orang Mataram dalam tugas sandi di Pati. —
    Keduanya mengangugk-angguk kecil.
    Sementara itu, Agung Sedayu dan Glagah Putihpun berjalan semakin jauh pula. Mereka mencoba mempercayai kedua orang prajurit Pati dengan menempuh jalan sebagaimana mereka tunjukkan.
    – Agaknya mereka tidak ingin menjerumuskan kita – berkata Agung Sedayu.
    – Aku juga mempercayai mereka kakang – sahut Glagah Putih —
    mereka agaknya benar-benar merasa berhutang budi meskipun mereka tetap mencurigai kita. –
    – Ya. Mereka sudah berterus terang bahwa mereka tidak percaya bahwa kita benar-benar pengembara. –
    Glagah Putih mengangguk-angguk. Dengan ragu iapun kemudian berdesis – Apakah keduanya sudah menduga bahwa kita datang dari Mataram ? –
    – Mungkin mereka tidak mengira sejauh itu. Mungkin mereka mengira bahwa kita adalah cantrik dari sebuah padepokan yang sedang menjalankan laku. – jawab Agung Sedayu.
    – Tetapi mereka tentu juga memperhitungkan, bahwa padepokan yang adapun hanya dapat mempunyai dua pilihan. Berpihak kepada Mataram atau Pati. — berkata Glagah Putih.
    – Tetapi mereka telah memberikan beberapa keterangan tentang gerakan yang sekarang sedang dilakukan oleh Pati serta tentang tugas mereka sendiri. ~
    – Mungkin mereka ingin sekedar membalas budi. —
    Agung Sedayu tertawa. Katanya – Memang mungkin sekali. Tetapi jika mereka mengetahui atau setidak-tidaknya menduga bahwa kita orang-orang Mataram atau yang terlibat dalam pertempuran antara Mataram dan Pati, apakah mereka bersedia juga mengatakan beberapa keterangan yang menurut kita penting ? —
    Glagah Putih mengangguk angguk kecil.
    Demikianlah, mereka berjalan menyusuri jalan bulak yang semakin lama menjadi semakin lengang. Panas matahari terasa membakar kulit.
    Namun nampak bahwa kegiatan sehari-hari dilingkungan itu sudah mulai hidup kembali. Sawah sudah nampak terpilihara. Air parit-pun sudah mengalir dengan derasnya. Jika mereka melewati padukuhan, maka kehidupan dipadukuhan-padukuhan itu sudah nampak pulih kembali. Anak-anak nampak bermain-main dihalaman.
    Bahkan sekelompok anak bermain bentik di jalan padukuhan.
    – Agaknya perang sudah dilupakan didaerah yang memang tidak tersentuh langsung oleh peperangan itu.
    Semakin jauh mereka berjalan, maka merekapun semakin yakin, bahwa para prajurit Pati itu tidak membohongi mereka, apalagi menjerumuskan mereka kedalam kesulitan.
    Ketika mereka sampai disebuah padukuhan yang besar, maka merekapun singgah disebuah kedai nasi. Meskipun kehidupan nampaknya wajar-wajar saja, tetapi Agung Sedayu dan Glagah Putih tetap berhati-hati.
    Sambil minum dan makan Agung Sedayu dan Glagah putih sempat mendengarkan orang-orang didalam kedai itu berbincang. Ternyata mereka membicarakan tenggang perintah dari Ki Demang untuk mengumpulkan kembali anak-anak muda serta laki-laki yang umur-nya tidak lebih dari ampatpuluh lima tahun.
    – Yang kemarin pergi sampai sekarang masih belum kembali.
    Sekarang mereka telah minta lagi anak-anak dan laki-laki terkuat di Kademangan ini. — desis salah seorang dari mereka.
    — Perang ternyata masih belum selesai ~ berkata yang lain.
    – Pati yang terpaksa menarik pasukannya masih belum mengaku kalah — berkata orang yang pertama.
    – Kenapa daerah ini oleh Mataram diserahkan kepada Pati sebelum perang terjadi. ~ berkata seorang laki-laki setengah baya.
    – Seandainya kita masih tetap berada dilingkungan kuasa Mataram, keadaannya akan sama saja. Kitapun harus mengirimkan laki-laki terbaik kita ke Mataram untuk berperang melawan Pati. Setelah daerah disebelah Gunung Kendeng itu menjadi daerah Pati, maka laki-laki terbaik kita harus pergi ke Pati. Kita memang seharusnya berdiri dibelakang Kangjeng Adipati Pragola, karena daerah kita ini sudah menjadi daerah Pati. —
    – Kemudian kita harus memerangi Mataram yang telah menyerahkan daerah ini kepada Pati. —
    – Bukankah itu salah Mataram sendiri ~ berkata seseorang yang berbadan kurus- seandainya Mataram sendiri- berkata seseorang yang berbadan kurus – seandainya Mataram tidak menyerahkan wilayah di sebelah utara Gunung Kendeng ini kepada Pati, maka kita tidak akan ikut memerangi Mataram. ~
    Tetapi seorang yang berjanggut putih berkata – Seharusnya Pati menghentikan perlawanannya terhadap Mataram setelah kekalahannya di Prambanan. Seandainya Pati akan mengulangi serangannya, maka yang terjadi hanyalah kesia siaan saja. Korban yang berjatuhan dan beaya yang terhambur tanpa arti. Katakan, Pati menyusun rencana dan perhitungan baru. Mereka melihat jalan yang lain untuk sampai ke Mataram. Namun Mataram yang memiliki ketajaman penglihatan akan dapat membacanya jauh sebelum pasukan itu sampai. Seperti di Prambanan pasukan Pati akan dihancurkan lagi. Bahkan akan menjadi jauh lebih parah lagi. —
    Orang-orang itupun terdiam Untuk beberapa saat mereka tidak saling berbicara lagi.
    Agung Sedayu dan Glagah Putih saling berpandangan sejenak.
    Tetapi keduanya tidak berbicara apapun tentang persoalan yang sedang dibicarakan oleh orang-orang itu. Tetapi namapknya keduanya mendengarkan pembicaraan itu dengan baik.
    Tetapi orang-orang itu tidak lagi banyak berbicara. Orang yang berjanggut putih itupun kemudian meninggalkan kedai itu setelah membayar minuman dan makanan yang dipesannya.
    Sepeninggal orang tua itu, maka seseorang berkata – Ia adalah bekas prajurit Mataram. —
    – Tetapi aku setuju dengan pendapatnya. Seharusnya kita tidak memusuhi Mataram. –
    — Kita tidak dapat berbuat lagi. Sanak kadang kita sudah berada di Pati jika mereka tidak mati di Prambanan. Nah, apa kita dapat ingkar dari kewajiban itu ? —
    Yang lain terdiam. Rasa-rasanya memang tidak ada pilihan lain.
    Mereka harus memberikan lagi orang-orang terbaik yang tersisa di padukuhan itu.
    Agung Sedayu dan Glagah Putih yang telah selesai makan danminum, telah minta diri kepada pemilik kedai itu setelah mereka membayar harga. Sekali mereka berpaling. Dilihatnya beberapa orang yang sedang berbincang itu nampaknya mereka bersungguh-sungguh karena yang mereka bicarakan menyangkut sanak-kadang mereka dan bahkan mereka sendiri.
    Agung Sedayu dan Glagah Putih yang meninggalkan kedai itu justru telah mendapat beberapa kesimpulan. Meskipun perjalanan mereka masih belum sampai ke Pati, namun mereka sudah meyakini bahwa Pati sama sekali tidak mengakui kekalahan yang dialaminya di Prambanan. Hasil pembicaraan Agung ‘Sedayu dan Glagah Putih orang-orang yang berada dikedai itu mengisyaratkan agar keduanya menjadi semakin berhati-hati.
    Dalam pada itu kedua orang itu tidak mengalami hambatan ketika mereka melintasi jalan-jalan bulak dan padukuhan-padukuhan berikutnya. Kehidupan padukuhan-padukuhan tampak wajar dan tidak ada gejolak yang nampak dipermukaan.
    Namun ternyata bahwa kegelisahan telah menyusup di dasar jantung, karena Pati masih memanggil anak-anak muda dan laki-laki yang masih pantas turun ke medan perang.
    Kegelisahan itu memang tidak segera dapat dilihat. Tetapi setiap pembicaraan akan segera menyangkut persoalan yang menggelisahkan itu.
    Ketika malam turun. Agung Sedayu dan Glagah Putih mendapat kesempatan untuk bermalam di sebuah banjar padukuhan. Seperti ketika mereka berada di kedai itu, maka merekapun telah mendengar keluhan-keluhan beberapa orang tentang panggilan itu.
    Tetapi di banjar itu seorang laki-laki yang masih nampak muda dengan berapi-api telah menjelaskan, beberapa pentingnya mereka ikut dengan berapi api telah menjelaskan, betapa pentingnya mereka ikut serta turun ke medan perang untuk melawan Mataram.
    Agung Sedayu dan Glagah Putih yang ditempatkan disebuah ruangan yang disekat dengan dinding bambu setinggi tubuhnya diserambi belakang, dapat mendengar pembicaraan itu.
    – Dengan perjuangan yang gigih, Kangjeng Adipati Pati telah membebaskan kita dari kungkungan kuasa Mataram. Kini kita harus menunjukkan, bahwa kita dengan segenap hati mendukung perjuangan Kangjeng Adipati itu untuk selanjutnya. Pati memang harus menegakkan panji panjinya. –
    – Tetapi bukankah kekalahan Pali di Prambanan itu sudah menunjukkan bahwa Mataram memang terlalu kuat untuk dilawan? —
    Tetapi orang yang tengah membakar hati kawan-kawannya itu menjawab ~ Harus diakui bahwa saat itu Pati kurang mempersiapkan dirinya menghadapi perang besar. Karena itu, maka Pati sekarang membuat persiapan sebaik-baiknya. —
    Sejenak suasana menjadi hening. Namun kemudian seseorang berdesis – Rasa-rasanya kami sudah sangat letih. Sejak Pati mempersiapkan perang di Prambanan itu, rasa rasanya jantung kita selalu tertekan. Sampai sekarang sanak-kadang kita yang pada waktu itu pergi ke Prambanan bersama seluruh pasukan Pati, masih belum kembali. —
    – Mereka tidak akan kembali — jawab laki-laki — mereka masih sangat dibutuhkan. Baru kemudian, setelah Mataram pecah, mereka akan kembali dengan membawa kemenangan. –
    Seorang anak muda tiba-tiba berkata – Baiklah. Bukankah masih ada waktu kira-kira sepekan sebelum kita pergi ke Pati. Nah, aku akan mengusulkan kepada Ki Bekel, bahwa kita akan membentuk pasukan kecil. Kita akan pergi ke Pati sudah dalam satu kelompok. —

    – Satu gagasan yang bagus — berkata laki-laki yang dengan berapi api menganjurkan agar orang-orang padukuhan itu bersedia mendukung perjuangan Kangjeng Adipati untuk melawan Mataram.
    – Jika demikian ~ berkata anak muda itu – kita harus menunjuk seorang pemimpin. —
    — Setuju — berkata seorang yang lain.
    – Siapakah diantara kita yang pantas untuk memimpin ? – bertanya anak muda yang mempunyai gagasan menyusun pasukan itu.
    Orang-orang yang sedang berbincang itu termangu-mangu sejenak. Seorang diantara orang-orang yang berkumpul itu tiba-tiba memecahkan keheningan dengan menunjuk anak muda yang mempunyai gagasan itu — Kau. Kau sajalah. —
    Tetapi dengan serta merta anak muda itu menyahut — Bukan aku.
    Tetapi ada orang yang lebih pantas dari aku. Lebih tua dan lebih berpengalaman. Ia mempunyai kesadaran yang tinggi untuk bergabung dengan pasukan Pati. –
    Kembali suasana menjadi hening. Baru anak muda itu berkata —
    Kita akan menunjuk, kakang Wirasembada untuk memimpin kita. —
    — Setuju — teriak seorang yang disahut oleh orang-orang lain.—
    bagus, aku setuju.
    Banjar itu menjadi riuh. Namun laki-laki yang disebut itu yang telah sesorah dengan berapi api, tiba-tiba menjadi pucat. Dengan gagap ia berkata — Jangan aku. Aku sudah terlalu tua untuk ikut berperang.
    Aku, aku akan menunjuk seorang yang lebih pantas untuk memimpin
    kalian. —
    – Tidak ~ orang-orang itu berteriak – kakang Wirasembada saja.
    Kakang Wirasembada. —
    Orang itu menjadi sangat gelisah. Keringatnya mengalir membasahi punggungnya. Teriakan teriakan orang-orang di banjar itu semakin keras sehingga rasa-rasanya akan memecahkan selaput telinganya.
    – Kita akan menghadap Ki Bekel. Kita bentuk pasukan kecil yang akan dipimpin oleh kakang Wirasembada. – berkata seorang anak muda sambil mengacukan tinjunya.
    — Setuju, setuju. — teriak yang lain semakin keras.
    Wirasembada menjadi gemetar. Katanya dengan gagap — Jangan. Jangan aku. Aku tidak dapat meninggalkan isteri dan lima orang anak-anakku yang masih kecil kecil. Kedua orang tuaku sakit sakitan sedangkan mertuaku sudah pikun. —
    – Tetapi kakang yang paling berapi-api menganjurkan kami untuk berjuang. Kami memang akan pergi. Kami mengerti apa yang kakang maksudkan dengan perjuangan itu. Nah, karena itu, marilah kita pergi bersama-sama. —
    – Sudah aku katakan, jangan ajak aku. —
    – Kakang sendiri yang menganjurkan agar kami maju ke medan perang. Kakang harus memberikan contohnya. Kakang harus ikut berperang bersama kami. ~
    – Orang itu menjadi semakin kebingungan. Teriakan-teriakan orang-orang yang ada di banjar itu semakin nyaring terdengar ditelinganya, sehingga ketika ia berteriak karena kehilangan akal, maka suaranya hilang ditelan oleh teriakan-teriakan orang-orang yang berada di banjar itu. Mereka beramai-ramai mengelilingi Wirasembada sambil berteriak-teriak. Beberapa orang justru mengangkat Wirasembada diatas pundak mereka sambil berteriak nyaring — Hidup kakang Wirasembada. Hidup pemimpin kita. —
    Seorang yang lain berteriak — pula — Senapati kita yang sakti mandra guna. Yang kebal terhadap segala jenis senjata dan ilmu. –
    Wirasembada itu masih saja berteriak — Tidak. Jangan. Jangan bawa aku kemedan perang. Aku takut. —
    Tetapi teriakannya itu tidak terdengar oleh siapapun. orang-orang yang mengangkatnya membawa berputar putar halaman bandar sambil meneriakkan namanya.
    Suara Wirasembada melengking semakin tinggi. Suara-suara gaduh itu semakin berputar putar dikepalanya. Bayangan perang tiba-tiba saja mencengkam jantungnya. Ujung senjata yang bergetar mencuat diatas pasukan yang rampak bergerak seperti ujung daun ilalang dipadang bergetar dihembus angin lembut. Teriakan teriakan dan jerit kesakitan. Dentang senjata, Darah. Tangis.
    Tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Suaranya yang memekik tinggipun tiba-tiba terdiam.
    Orang-orang yang mengusungnya terkejut ketika tiba-tiba saja Wirasembada terdiam dan tidak meronta lagi.
    — Apa yang terjadi ? — seseorang berbisik.
    – Apa yang terjadi ? — yang lain bertanya.
    Akhirnya seseorang berkata ~ Kita turunkan kakang Wirasembada di pendapa. ~
    Ketika Wirasembada kemudian diletakkan di lantai pendapa, maka ternyata Wirasembada sudah pingsan.
    – Ia mati – seorang anak muda menjadi ketakutan.

  3. Bagian IV

    Tetapi seorang yang lebih tua berkata ~ Tidak. Ia tidak mati. Ia pingsan, la kelelahan menjerit-jerit dan meronta-ronta. —
    Namun orang lain berkata ~ Tidak. Bukan karena lelah. Tetapi ia menjadi ketakutan. Ia tidak berani ikut pergi ke Pati menjadi seorang prajurit dan turun kemedan perang melawan Mataram. ~
    – Tetapi ia menganjurkan kita untuk berjuang melawan Mataram sebagai prajurit Pati. —
    – Ia menganjurkan orang lain melakukannya. Tetapi bukan ia sendiri. – berkata seorang yang lain.
    – Jadi bagaimana ? – bertanya seorang anak yang masih terlalu muda.
    – Bagaimana apanya – sahut yang lain – jelas. Ia menyuruhkan orang lain. Tetapi bukan dirinya sendiri. —
    Sejenak halaman banjar itu menjadi hening. Namun seorang anak muda yang bertubuh tegap berkata ~ Sekarang, kita rawat kakang Wirasembada. Kasihan. Ia memang pingsan karena gelisah, lelah, tetapi juga ketakutan dan malu. —
    Seorang anak muda kemudian telah mengambil air. Setitik demi setitik air itu diteteskan ke bibir Wirasembada yang pingsan. Seorang yang lain telah memijit-mijit kakinya, yang dingin.
    Baru beberapa saat kemudian, Wirasebada itu mulai sadar. Dibukanya matanya perlahan-lahan.
    Beberapa saat ia mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi dengan dirinya dan apa pula yang telah dilakukannya.
    Perlahan lahan segala sesuatunya mulai membayang kembali di ingatannya. Bagaimana ia dengan berapi api telah sesorah agar anak-anak muda bersedia untuk pergi ke Pati, ikut berjuang melawan Mataram. Bagaimana ia mendorong agar setiap laki-laki merasa ikut bertanggung jawab atas kekalahan Pati melawan Mataram di Prambanan.
    Namun kemudian teringat pula, bagaimana anak-anak muda itu menunjuknya untuk menjadi pemimpin pasukan kecil dari padukuhan
    mereka untuk pergi ke Pati. Bagaimana anak-anak muda itu mengangkatnya, berteriak teriak menyebut namanya.
    Tiba-tiba Wirasembada itu bangkit. Tanpa mengatakan sesuatu iapun segera berdiri dan melangkah tergesa-gesa meninggalkan banjar, meskipun mula-mula langkahnya tertatih tatih.
    Orang-orang yang berdiri di halaman itu termangu mangu. Tetapi tidak ada diantara mereka yang mencoba menahannya. Mereka membiarkan Wirasembada itu menyusup keluar pintu regol halaman dan turun ke jalan. Dengan tergesa-gesa pula ia menghilang didalam kegelapan.
    Beberapa orang yang ada dihalaman banjar itu saling berpandangan. Namun tiba-tiba saja seorang anak muda tertawa meledak.
    Suaranya menghentak-hentak, sehingga perutnya terguncang guncang.
    Ternyata bahwa bukan anak muda itu seorang diri yang menahan tawanya. Demikian anak muda itu tertawa, maka beberapa orang pun telah tertawa pula berkepanjangan.
    – Sudah menjadi kebiasaannya — berkata seorang anak muda yang berjambang lebat.
    Seorang yang sudah lebih tua, yang berjanggut lebat berkata – Ia ingin menjadi seorang pahlawan. Tetapi ia seorang penakut. Karena itu, maka ia sering berbuat aneh aneh, seolah-olah ia menjadi seorang pemimpin yang disegani dan mempunyai wibawa Yang tinggi. –
    – Sekali-sekali ia seperti itu memang harus mendapat peringatan serba sedikit, — berkata seorang bertubuh gemuk.
    Namun orang yang berjanggut lebat itu berkata – Tetapi jangan dihancurkan harga dirinya seperti itu. Ia akan dapat kehilangan segala galanya. Biarlah ia berbangga dengan angan-angannya tentang pahlawan itu. –
    Orang-orang yang berada di banjar itu terdiam. Beberapa orang mengangguk-angguk. Mereka memang merasa iba kepada Wirasembada yang telah dipermalukan oleh anak-anak muda itu.
    Namun, akhirnya orang-orang yang dibanjar itu kembali mempersoalkan perintah untuk mengirimkan anak-anak muda serta laki-laki yang masih mampu dan pantas turun ke medan perang.

    – Siapa yang akan pergi ? – bertanya orang berjanggut lebat itu.
    – Kita usulkan kepada Ki Bekel, biarlah mereka yang bersedia pergi dengan suka rela sajalah yang akan berangkat ke Pati. ~
    Agung Sedayu dan Glagah Putih tidak dapat menahan diri untuk menyaksikan apa yang terjadi. Karena itu, maka keduanya telah keluar dari ruang yang disediakan baginya dan turun ke halaman samping.
    Glagah Putih harus bertahan agar tidak ikut tertawa ketika ia menyaksikan Wirasembada yang dengan tergesa-gesa meninggalkan halaman banjar itu.
    Tetapi ketika orang-orang di banjar itu duduk kembali di pendapa, maka mereka telah dikejutkan oleh kehadiran beberapa orang memasuki regol halaman.
    Agung Sedayu dan Glagah Putih yang berdiri dikegelapan di halaman samping, yang sudah mulai beranjak dari tempatnya untuk kembali ke ruang yang disekat diserambi itu, tertegun. Mereka mengurungkan niatnya dan bahkan mereka duduk dibawah sebatang pohon kemiri yang besar.
    Namun keduanya menjadi berdebar-debar ketika orang tua penunggu banjar itu datang mendekatinya.
    Tetapi ternyata penunggu banjar itu justru duduk disebelahnya sambil berkata — Yang berbaju lurik coklat bergaris-garis hitam itu adalah Ki Bekel. Yang berbaju hitam ketan ireng itu adalah Ki Jagabaya padukuhan. Dua orang bebahu dan yang dua orang itu aku belum pernah mengenalnya. –
    Agung Sedayu dan Glagah Putih mengangguk-angguk. Dengar, nada berat Agung Sedayu berdesis — Apakah ada yang penting ?
    – Entahlah — jawab penunggu banjar itu.
    Agung Sedayu dan Glagah Putih tidak bertanya lagi. Mereka menunggu, apa yang akan dikatakan oleh Ki Bekel kepada orang-orang yang berada di banjar itu.
    Tetapi nampaknya Ki Bekel tidak segera memberikan sesorah.
    Tetapi Ki Bekel justru memerintahkan untuk memukul kentongan.
    Sejenak kemudian kentongan di banjar itu sudah bergema menggelarkan udara dialas padukuhan itu.
    ~ Isyarat apakah itu ? — bertanya Agung Sedayu.
    — Irama dara muluk ganda adalah isyarat agar orang-orang padukuhan ini berkumpul di banjar. –
    – Malam-malam begini ? — bertanya Glagah Putih.
    – Tentu ada yang penting — jawab penunggu banjar itu.
    Sebenarnyalah, beberapa saat kemudian, beberapa orang laki-laki telah berdatangan dan berkumpul di halaman banjar, anak-anak remaja, yang sudah menjadi dewasa, yang sudah berkeluarga namun masih terhitung muda, orang-orang separo baya dan bahkan mereka yang sudah terhitung tua. —
    Diluar sadarnya Agung Sedayupun bertanya kepada penunggu banjar itu — Apakah daerah ini sudah termasuk daerah Pati ? —
    – Ya – jawab penunggu banjar itu — daerah ini sudah diserahkan kepada Pati oleh Panembahan Senapati di Mataram. —
    – Bagaimana menurut pendapat Ki Sanak ? Lebih baik menjadi daerah yang berkiblat ke Mataram atau Pati ? — bertanya Agung Sedayu.
    – Sama saja – jawab orang itu – kehidupan kami tidak berubah.
    Pengaruhnya tidak terasa sama sekali. Apalagi sejak semula sentuhan kuasa Mataram tidak begitu terasa disini. Mungkin karena jarak yang panjang. Demikian pula kuasa Pati kemudian. Juga tidak terasa.
    Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya — Bagaimana setelah perang antara Mataram dan Pati terjadi ? ~
    — Juga sama saja. Jika kita tidak mengirimkan anak-anak muda dan bahkan laki-laki yang masih mampu bertempur ke Pati juga harus mengirimkannya Ke Mataram. —
    – Bukankah ada bedanya ? Seandainya daerah ini berada didalam lingkungan kekuatan yang akhirnya menang ? – bertanya Agung Sedayu pula.
    Tetapi penunggu banjar itu menggeleng. Katanya — Tidak ada bedanya. Jika anak, suami, kakak atau adik kita mati dimedan perang, maka kematian itu akan tetap membuat kita berdua. Kemenangan tidak akan membangkitkan mereka dari kubur. —
    – Lalu, apakah artinya satu perjuangan bagi tanah kelahiran serta kampung halaman. ? —
    Orang itu menarik nafas dalam dalam. Katanya ~ Haruskah kami memikul beban pengorbanan bagi satu pertengkaran keluarga ? Kenapa diantara kita harus terjadi perang ? Masing masing mengaku berperang bagi masa depan yang lebih baik. Kenapa tidak bekerja bersama sama saja. ? –
    Agung Sedayu dan Glagah Putih mengangguk angguk kecil.
    Mereka dapat mengerti bahwa Kademangan yang terguncang guncang ini menjadi sangat letih.
    Sementara itu, di pendapa banjar, Ki Bekel berdiri menghadap kepada orang-orang yang berkumpul dihalaman. Ki Bekel memberita-hukan bahwa yang datang bersamanya itu adalah prajurit Pati yang bertugas untuk membawa laki-laki dan anak-anak muda ke Pati.
    – Kalian dapat mendengar sendiri, apa yang akan dikatakannya.
    – berkata Ki Bekel.
    Apa yang dikatakan oleh prajurit Pati itu sudah dapat diduga sebelumnya. Dengan sedikit tekanan, maka padukuhan itu seperti juga padukuhan-padukuhan yang lain, harus melaksanakan perintah Kangjeng Adipati. Dalam waktu sepekan, maka laki-laki di padukuhan itu yang masih mampu bertempur akan berkumpul di Kademangan. Bersama sama, mereka kemudian akan berangkat ke Pati.
    – Kita harus merebut kembali kemenangan atas Mataram yang lepas di Prambanan. –
    Dengan kerut kening, orang-orang yang ada di halaman banjar itu mendengarkan sesorah kedua orang prajurit itu. Yang mereka katakan sama seperti yang dikatakan oleh Wirasembada.
    Agung Sedayu dan Glagah Putih ikut mendengarkan sesorah itu.
    Dengan demikian, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih yang belum sampai menginjakkan kakinya di Pati itu sudah dapat menyusun laporan seandainya mereka langsung kembali ke Mataram.
    Tetapi Agung Sedayu dan Glagah Putih bertekad untuk melanjutkan perjalanan mereka.
    Malam itu, setelah Ki Bekel, para bebahu dan prajurit dari Pati itu meninggalkan banjar, maka banjar itu menjadi sepi. Tinggal beberapa
    orang anak muda yang bertugas meronda sajalah yang tinggal. Dari mulut mereka, Agung Sedayu dan Glagah Putih mendengar, bahwa padukuhan itu telah mengirimkan anak-anak mereka yang terbaik sebelumnya yang masih belum kembali.
    – Padukuhan ini akan menjadi kosong. Hanya laki-laki tua, remaja dan perempuan sajalah yang ada. Mereka tentu tidak akan mampu menggarap sawah padukuhan ini seluruhnya. –
    – Perang selalu menggelisahkan — sahut yang lain — seandainya kita tidak takut mati, namun tatanan kehidupan yang kita tinggalkan akan mengalami kesulitan. –
    Agung Sedayu dan Glagah Putih yang sudah ada di dalam biliknya itu telah berbaring. Mereka berjanji untuk tidur bergantian.
    – Kakang tidur sajalah dahulu — berkata Glagah Putih.
    Pagi-pagi sekali keduanya telah terbangun. Mereka harus segera mempersiapkan diri agar mereka dapat berangkat sebelum matahari terbit.
    Agung Sedayu dan Glagah Putih berharap, bahwa pada hari itu, mereka akan dapat sampai ke Pati.
    Perjalanan panjang itu akhirnya berakhir. Kedua orang itu telah berada di Pati sebelum senja.
    Mesikpun Agung Sedayu dan Glagah Putih melihat kesiagaan yang tinggi, tetapi kehidupan di Pati nampaknya masih berjalan sewajarnya. Jalan jalan masih nampak ramai meskipun senja mulai turun.
    – Dimana kita bermalam ? – bertanya Glagah Putih – agaknya kita tidak dapat bermalam di banjar banjar yang terdapat didalam kita.
    Kita akan dicurigai. Seribu pertanyaan harus kita jawab. –
    Agung Sedayu mengangguk-angguk. Iapun sadar, bahwa dalam keadaan siaga seperti Pati saat itu, akan mudah timbul kecurigaan, yang dapat membahayakan keselamatan mereka. Jika terjadi benturan kekerasan, keduanya tidak akan dapat meyakinkan bahwa mereka akan dapat melindungi diri sebagaimana terjadi di padukuhan, mereka di Pati tentu banyak terdapat orang berilmu tinggi yang akan dapat ikut campur. Bukan saja prajurit Pati, tetapi yang bukan prajuritpun tentu ada yang berilmu tinggi.
    Karena itu, mereka memutuskan untuk tidur di tempat yang terlindung. Dengan nada rendah Agung Sedayu berkata – Tentu ada tem-
    pat bagi kita berdua di kota yang terhitung luas ini. –
    Sebenarnyalah Agung Sedayu dan Glagah Putih dapat
    menemukan tempat yang mereka cari. Di tepian sungai yang nampak-
    nya memang jarang di sentuh kaki.
    Ternyata Agung Sedayu dan Glagah Putih menganggap bahwa tempat itu akan dapat mereka pergunakan selama mereka berada di Pati dalam tugas itu.
    Tidak banyak yang harus dilakukan oleh Agung Sedayu dan Glagah Putih. Mereka telah mendapat bahan yang cukup selama mereka berada di perjalanan. Namun di Pati keduanya mendapat keterangan lebih jauh tentang persiapan Pati menghadapi Mataram.
    Pati telah menghimpun kekuatan sebagaimana pernah dilakukan sebelumnya. Para prajurit yang kembali dari Prambanan dalam pasukan yang terluka parah, telah melatih anak anak muda dan laki-laki yang masih mampu turun ke medan perang untuk dipersiapkan sekali lagi menyerang Mataram.
    Agung Sedayu dan Glagah Putih yang menyusuri jalan jalan di Pati Harus sangat berhati hati karena kesiagaan Pati yang tinggi. Meskipun kehidupan sehari hari berjalan wajar, seakan akan tidak terjadi apapun juga, namun Agung Sedayu dan Glagah Putih merasa betapa di jalan jalan petugas sandi Pati berkeliaran untuk mengamati keadaan.
    Dua hari Agung Sedayu dan Glagah Putih berada di Pati, maka keduanya sudah dapat memperhitungkan apa yang akan dilakukan oleh Kangjeng Adipati Pragola dari Pati.
    Meskipun Agung Sedayu dan Glagah Putih tidak mempunyai jembatan untuk berhubungan langsung dengan orang-orang dan apa lagi prajurit Pati, tetapi apa yang didengarnya, kegelisahan dan kesiapan yang ada di Pati, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih tidak akan ragu ragu lagi, bahwa Pati telah bangkit dari kekalahannya di Prambanan dan siap untuk bertempur lagi dengan Mataram dalam perang gelar yang besar.
    Setiap hari Agung Sedayu dan Glagah Putih melihat prajurit berkuda yang pergi dan datang di pintu gerbang kota. Mereka prajurit prajurit yang bertugas sebagai penghubung dengan daerah daerah yang jauh dalam masa persiapan itu.
    – Kita tidak boleh terlambat ~ berkata Agung Sedayu ~ kita harus segera kembali dan memberikan laporan tentang persiapan ini. Jika kita terlambat, maka Mataram akan dapat ditembus sebelum bersiap untuk mengadakan perlawanan. —
    – Tetapi untuk pergi Ke Mataram diperlukan persiapan yang matang — berkata Glagah Puti — mereka harus mempunyai persediaan pangan yang cukup, perlengkapan dan senjata yang memadai. –
    – Bukankah kita sudah melihat lumbung yang penuh dengan bahan pangan di banyak tempat dalam kota ini ? — berkata Agung Sedayu.

    – Tetapi bahan pangan itu harus disediakan di sepanjang perjalanan yang akan dilalui pasukan Pati yang pemah dilakukan sebelum terjadi perang besar di Prambanan. ~
    – Tetapi Pati dapat melakukan cara lain, Glagah Putih. Persediaan makanan dan perlengkapan itu dapat bergerak bersama gerak pasukannya. —
    – Tetapi tentu diperlukan alat pengangkutan yang sangat besar. —
    – Ya. Dan agaknya Pati mampu mempersiapkannya. —
    Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi kemudian iapun berkata – Baiklah. Kita akan segera kembali ke Mataram. –
    – Apa yang kita lihat, keterangan dua orang prajurit yang kita selamatkan itu, serta peristiwa peristiwa yang terjadi disepanjang jalan, telah memberikan bahan yang cukup bagi kita. – berkata Agung Sedayu kemudian.
    Dengan demikian, maka keduanyapun telah memutuskan untuk segera kembali ke Mataram.
    Pagi-pagi sebelum matahari naik, keduanya sempat singgah di sebuah kedai dekat pasar untuk makan. Nasi yang hangat dan minuman yang masih mengepul membuat tubuh mereka menjadi segar. Dengan demikian, maka mereka akan dapat menempuh perjalanan dengan lebih cepat.
    Namun diluar dugaan Agung Sedayu dan Glagah Putih. Ternyata ada dua orang petugas sandi Pati yang mengamatinya atas petunjuk seorang perwira prajurit Pati.
    – Rasa-rasanya aku pernah melihat seorang diantara mereka –
    berkata perwira itu.
    – Dimana Ki Rangga pernah melihatnya ? – bertanya prajurit sandi itu.
    Di Prambanan. Ketika perang gelar itu terjadi. Orang itu adalah salah seorang pemimpin kesatuan didalam pasukan Mataram. Rasa rasanya memang lupa lupa ingat. Tetapi amati mereka. Jika perlu ajak mereka berbicara. ~
    Kedua orang prajurit sandi itu mengangguk angguk. Namun mereka tidak dapat bekerja dengan tergesa-gesa. Mereka tidak dengan serta merta menemui dan berbicara dengan keduanya.
    Karena itu, maka kedua orang prajurit sandi itu telah mengikuti Agung Sedayu dan Glagah Putih sejak dari kedai itu.
    Namun ternyata Agung Sedayu dan Glagah Putih yang mempunyai ketajaman penggraita, dapat mengetahui, bahwa dua orang selalu mengikuti mereka. Bahkan ketika mereka mendekati pintu gerbang kota.
    – Kedua orang itu tentu mencurigai kita – berkata Agung Sedayu.
    – Apa yang akan kita lakukan, kakang ? – bertanya Glagah Putih.
    Agung Sedayu termangu mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata – Kita berjalan terus. Mudah mudahan setelah kita keluar dari pintu gerbang, mereka tidak mengikuti kita lagi. ~
    Agung Sedayu dan Glagah Putih berjalan terus. Mereka tidak hanya berdua melintasi pintu gerbang. Beberapa orang lain juga berjalan melewati pintu gerbang itu. Ada yang masuk dan ada yang keluar.
    Bahkan ada orang berkuda yang lewat tanpa hambatan.
    Para prajurit yang bertugas hanya mengamati saja orang-orang yang lewat tanpa menghentikan dan menegur mereka.
    Agung Sedayu dan Glagah Putih juga tidak dihentikan. Mereka lewat seperti orang-orang lain yang sedang lewat.
    Namun demikian Agung Sedayu keluar dari regol. Dua orang yang mengikutinya menemui pemimpin prajurit yang bertugas. Dengan ragu-ragu ia bertanya – Kau lihat dua orang yang baru saja lewat
    – Yang seorang masih sangat muda ? – bertanya pemimpin prajurit yang bertugas.
    – Ya – jawab prajurit sandi itu.
    – Aku mendapat tugas untuk mengamati mereka. –
    – Kenapa ? –
    – Ki Rangga pernah melihat salah seorang dari mereka di Prambanan. Orang itu adalah salah seorang perwira prajurit Mataram yang ikut bertempur di Prambanan. –
    Pemimpin prajurit yang bertugas itu mengangguk angguk. Kata-
    nya – Aku juga berada di Prambanan saat itu. Tetapi begitu banyak prajurit yang terlibat, sehingga mungkin sekali aku tidak melihatnya.
    ~ Beri aku beberapa orang prajuritmu. Aku akan menghentikan mereka dan bertanya tentang keduanya. ~
    Pemimpin prajurit itu segera memerintahkan ampat orang prajuritnya. Tetapi hanya seorang dari kedua orang prajurit sandi itu yang menyusul Agung Sedayu dan Glagah Putih. Sedangkan yang seorang lagi akan memberikan laporan kepada Ki Rangga yang merasa telah mengenal salah seorang dari keduanya orang itu.
    Demikianlah, maka lima orang prajurit berkuda telah menyusul Agung Sedayu dan Glagah Putih yang masih belum terlalu jauh dari pintu gerbang.
    Agung Sedayu dan Glagah Putih memang menjadi berdebar debar. Mereka segera mengetahui, bahwa prajurit berkuda itu tentu menyusul mereka berdua.
    Tetapi keduanya tidak mempunyai kesempatan untuk menghindar.
    Beberapa orang yang juga sedang berjalan lewat jalan itu, ikut menjadi gelisah. Tetapi mereka segera pula mengetahui, bahwa para prajurit berkuda itu telah menyusul kedua orang yang baru saja meninggalkan gerbang kota.
    Keempat orang prajurit dan seorang prajurit sandi itu memang berhenti demikian mereka melampaui Agung Sedayu dan Glagah Putih.
    Berlima mereka meloncat turun.
    Agung Sedayu dan Glagah Putih terpaksa berhenti pula.
    – Maaf Ki Sanak. — prajurit sandi itulah yang melangkah mendekat — barangkali kami terpaksa mengganggu perjalanan Ki Sanak berdua. —
    – Apakah ada kepentingan Ki Sanak dengan kami berdua ? — bertanya Agung Sedayu.
    .– Ki Sanak. Kami minta Ki Sanak dapat mengerti. Kami tidak bermaksud apa apa. Kami hanya ingin bertanya, siapakah Ki Sanak berdua ini ? —
    Agung Sedayu menarik nafas dalam dalam. Namun kemudian iapun menjawab — Namaku Samekta dan ini adikku Sembada. —
    – Apakah Ki Sanak berdua juga orang Pati ? — bertanya prajurit sandi itu.
    – Bukan Ki Sanak. Kami orang Kuwu, sebuah padukuhan ditepi Kali Gandu. ~
    Glagah Putih harus mendengarkan jawaban kakak sepupunya dengan baik, agar ia tidak salah menanggapinya jika orang-orang itu bertanya pula kepadanya.
    – Dimanakah letak Kali Gandu ? – bertanya prajurit sandi itu.
    Namun seorang diantara para prajurit itu berdesis – Disebelah Utara Gunung Kendeng. —
    Prajurit sandi itu berpaling. Dipandanginya prajurit itu dengan sorot mata yang tajam. Tetapi prajurit itu justru berkata ~ Ya, benar.
    Sebelah Utara Gunung Kendeng. Kali Gandu adalah sebuah sungai yang tidak begitu besar yang bermuara pada Kali Lusi kepanjangan Kali Serang. –
    Karena prajurit itu tidak segera diam, maka seorang prajurit yang lain, yang umurnya lebih tua daripadanya berdesis — Ia tidak bertanya kepadamu. ~
    – O — prajurit itu mengangguk angguk. Katanya – Maaf. Aku berasal dari padukuhan Panjang, sebelah padukuhan yang bernama Kuwu dipinggir Kali Gandu itu. —
    – Benar Ki Sanak – sahut Agung Sedayu — kami berdua meninggalkan Kuwu karena kami sedang mencari paman kami yang pergi meninggalkan Kuwu tanpa kami ketahui arahnya. Tetapi beberapa hari sebelumnya, paman kami itu telah mengatakan kepada tetangga tetangga kami, bahwa paman ingin pergi ke Pati. —
    – Siapakah nama paman Ki Sanak ? — bertanya prajurit itu.
    Agung Sedayu dan Glagah Putih menjadi semakin berdebar debar.
    Namun Agung Sedayu itupun kemudian menjawab ~ Namanya Wiranata. Ki Lurah Wiranata. —
    – Wiranata ~ Prajurit yang sejak semula berbicara itu telah menyahut lagi ~ Ki Lurah Wiranata. AKu pernah mendengar namanya.
    Aku tidak yakin apakah aku sudah pernah melihatnya atau belum. Tetapi aku tahu, ia seorang pemimpin sebuah padepokan. –
    Prajurit yang lebih tua itu berkata pula — Apakah kau tidak dapat diam.—
    – O, maaf Tetapi aku mengetahui tentang Ki Lurah Wiranata. —
    – Cukup — bentak orang yang lebih tua.
    — O, maaf. — desis prajurit itu.
    Dalam pada itu, prajurit sandi itupun telah bertanya pula —
    Apakah Ki Sanak yang bernama Ki Lurah Wiranata itu ? –
    – Tidak – jawab Agung Sedayu – aku sudah mengelilingi seluruh kota Pati. Aku sudah menyusuri jalan jalan dan bahkan aku sudah menyelinap diantara orang-orang yang berdesakkan dipasar. Tetapi aku tidak menjumpai paman Wiranata. —
    Prajurit Sandi itu menarik nafas dalam-dalam. Jawaban Agung Sedayu yang lancar itu nampaknya dapat dipercaya. Meskipun demikian prajurit sandi itu tidak segera melepaskan Agung Sedayu dan Glagah Putih. Ia sengaja memperpanjang waktu sambil menunggu seorang perwira prajurit yang merasa pernah bertemu dengan salah seorang dari kedua orang itu.
    Karena itu, maka orang itu masih bertanya lagi — Apakah menurut dugaan kalian, pamanmu ikut bergabung dengan prajurit Pati bertempur dengan prajurit Mataram di Prambanan ? —
    Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya – Memang mungkin sekali. Tetapi paman tentu sudah terlalu tua untuk menjadi seorang prajurit. —
    – Secara umum memang demikian. Tetapi ada seorang yang semakin tua justru menjadi semakin berbahaya. Kemampuan dan ilmu-nya menjadi semakin masak. –
    – Tetapi tentu sampai pada satu batas tertentu, wadag seseorang betapapun tinggi ilmunya, tidak akan mampu mendukungnya lagi. —
    – Ya, tentu — jawab prajurit sandi itu.
    – Baiklah Ki Sanak. Berkata Agung Sedayu kemudian – jika sudah tidak ada pertanyaan lain, kami mohon diri. Kami ingin meneruskan perjalanan kami. —
    – Kalian akan kemana ? ~ bertanya prajurit sandi itu.
    – Kembali ke Kuwu Biarlah pada saatnya paman akan kembali.
    Tetapi prajurit sandi itu masih ingin menahan Agung Sedayu lebih lama lagi. Katanya — Apakah Ki Sanak ingin mencari paman Ki Sanak itu diantara para prajurit Pati ? Jika Ki Sanak berniat demikian, kami akan berusaha membantu. Mungkin dalam satu dua hari, kita akan dapat menemukannya. —
    Agung Sedayu menggeleng sambil menjawab — Tidak Ki Sanak.
    Terima kasih. Perkenankanlah kami mohon diri. —
    Tetapi Agung Sedayu dan Glagah Putih memang terlambat, perwira yang mengaku pernah melihat salah seorang diantara kedua orang itu di medan perang di Prambanan, Agung Sedayu dan Glagah Putih saling berpandangan sejenak.
    Mereka sadar, bahwa ternyata mereka telah terjebak. Mereka baru sadar, bahwa pertanyaan-pertanyaan yang berkepanjangan itu sadar untuk mengikat agar mereka tidak segera meninggalkan tempat itu.
    Tetapi segala sesuatunya telah terjadi.
    Karena itu, maka Agung Sedayupun kemudian berdesis ~ Apa boleh buat. —
    Glagah Putih ternyata tanggap terhadap pernyataan kakak sepupunya itu. Karena itu, maka iapun segera mempersiapkan diri.
    Demikianlah, sejenak kemudian, maka prajurit yang pernah melihat Agung Sedayu di medan perang itupun telah meloncat turun.
    Demikianlah pula kedua orang yang menyertainya.
    Sambil tersenyum perwira itu melangkah mendekati Agung Sedayu dan Glagah Putih.
    ~ Agaknya kita pernah bertemu, Ki Sanak – berkata perwira itu, setidak tidaknya kita pernah saling melihat meskipun hanya sekilas.
    Tetapi aku tidak akan pernah melupakan Ki Sanak. —

    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia masih berusaha mengelak. Kalanya — Apakah Ki Sanak tidak salah lihat ? Selama ini aku tinggal di Kuwu. Aku tidak pernah pergi ke mana-mana.
    Tetapi perwira itu tertawa. Katanya ~ Tidak Ki Sanak. Kau adalah seorang prajurit Mataram. Jika kau berada di sini sekarang, maka kau tentu sedang dalam tugas sandi. Karena itu, Ki Sanak tidak usah ingkar. Kalian berdua sekarang harus diadili. –
    Prajurit sandi yang datang lebih dahulu itupun berkata – Menyerahlah Ki Sanak. Kami harus menangkap kalian. –
    – Nanti dulu – berkata Agung Sedayu – apakah kalian tidak keliru ? —
    – Cukup. Kau membuat aku menjadi muak. Kalau kalian memang bukan prajurit Mataram, kalian tidak akan berada di medan perang di Prambanan. —

    Tetapi aku tidak berada di medan – jawab Agung Sedayu.
    ~ Baik. Jika kalian memang bukan petugas sandi Mataram, aku beri kesempatan kalian melarikan diri. Cepat. —
    – Ki Rangga, jangan — potong prajurit sandi itu.

    Tetapi Ki Rangga itu membentak – Jangan ikut campur. Aku adalah orang yang berjiwa besar. Aku memaafkannya. Karena itu, biarlah keduanya melarikan diri. –
    Wajah petugas sandi itu menjadi tegang. Dengan lantang ia ber- kata — Ki Rangga tidak dapat berbuat demikian. Biarlah mereka menyerah dengan cara yang baik. Bukan dengan cara yang Ki Rangga tawarkan. Kitapun memerlukan mereka berdua. —
    – Cepat lari. Atau kami akan membunuh kalian berdua. –
    Agung Sedayu dan Glagah Putih termangu mangu sejenak. Dipandanginya prajurit sandi itu dengan tajamnya.
    Dengan suara yang bergetar prajurit sandi itu berkata ~ Kalian lebih baik menyerah daripada berusaha untuk melarikan diri. –
    – Diam kau. Jangan ikut campur. Biarlah aku yang mempertanggung jawabkannya — bentak Ki Rangga.
    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah bahwa Agung Sedayu dan Glagah Putih mengetahui cara licik dari Ki Rangga itu, karena hal seperti itu juga sering dilakukan oleh prajurit Mataram yang kehilangan pegangan. Mungkin karena bahaya maut selalu membayanginya. Mungkin karena kawan baiknya, saudaranya atau bahkan keluarganya ada yang terbunuh didalam perang, sehingga dendamnya membakar ubun-ubunnya. Orang-orang yang kadang- kadang bahkan dipaksa untuk melarikan diri, akan dibunuh kadang-kadang bahkan dipaksa untuk melarikan diri, akan dibunuh dengan lemparan senjata kearah punggung dengan alasan, bahwa orang itu lari dari tangkapan.
    Karena itu, maka Agung Sedayu itupun kemudian berkata —
    Kami tidak akan lari Ki Sanak. Kami sama sekali tidak berniat untuk melarikan diri.
    Ternyata perwira itu benar benar ingin membunuh. Dengan garang ia berkata — Aku akan menghitung sampai lima. Jika kalian masih belum beranjak dari tempat kalian, maka kami akan membunuh kalian seperti membunuh musang. —
    Agung Sedayu dan Glagah Putih memang menjadi berdebar debar. Sebenarnya dengan ilmu meringankan tubuh, Agung Sedayu yakin akan dapat lolos dari tangan para prajurit Pati itu. Tetapi Glagah Putih tidak akan mampu mengimbangi kecepatannya melarikan diri.
    Karena itu, maka Agung Sedayu menjawab sekali lagi — Kami tidak akan melarikan diri, Ki Sanak. ~
    Wajah perwira itu menjadi tegang. Kemarahan dan dendam telah menghentak hentak dadanya. Karena itu, maka iapun berkata kepada
    para prajurit prajurit ~ Beri mereka senjata. Biar mereka berusaha un-
    tuk melindungi diri mereka. –
    Karena prajurit prajuritnya menjadi ragu ragu, maka Ki Rangga itu membentak — Cepat. Berikan senjata kepada mereka. –
    Akhirnya Agung Sedayulah yang menjadi tidak telaten melihat sikap itu. Karena itu, maka iapun berkata – Ki Sanak. Apa yang sebenarnya Ki Sanak kehendaki ? Ki Sanak ingin menangkap kami, maka kami akan menyerah. —
    Tetapi perwira itu menggeram. — Kami akan membunuhmu, lari atau tidak lari. Melawan atau tidak melawan. —
    Prajurit sandi yang datang lebih dahulu itu masih mencoba mencegahnya. Katanya – Ki Rangga. Apakah tidak ada kemungkinan yang lebih baik. —
    – Aku yang bertanggung jawab. Jika kau melihat bagaimana buasnya orang orang Mataram membunuh saudara-saudara kita, maka kaupun akan bersikap sebagaimana aku. ~
    Tetapi prajurit yang rumahnya dekat padukuhan Kuwu itu berkata ~ Aku juga berada di Prambanan waktu itu. He, orang ini juga dan prajurit berewokan itu juga. Kita semuanya berada di Prambanan waktu itu. —
    — Cukup. Kau tidak membuka mata dan telinga waktu itu.
    Aku melihat darah mengalir dari luka arang keranjang. Telingaku mendengar jerit dan teriakan kesakitan dari mulut saudara-saudara kita. Karena itu, maka prajurit Mataram ini harus mati. –

    Agung sedayu dan Glagah Putih memang tidak mempunyai pilihan lain. Disekitar mereka ada delapan orang prajurit Pati. Jika terjadi pertempuran, maka tidak mau, petugas sandi yang berusaha mencegah tindakan Ki Rangga itu tentu juga akan bergabung dengan Ki Rangga itu sendiri. —
    Karena itu, maka Agung Sedayupun kemudian berkata — Ki Sanak. Aku tidak mau diperlakukan seburuk itu. Prajurit atau bukan, tetapi aku mempunyai hak untuk membela diri. —
    – Bagus. Itulah yang aku tunggu, agar aku tidak dituduh membunuh orang dengan sewenang-wenang. Nah, tengadahkan wajahmu, berikan perlawanan sejauh dapat kalian lakukan, agar aku dapat membunuh kalian dengan tidak usah menyesal. –
    Agung Sedayu dan Glagah Putih bergeser mundur. Sudah sejak tadi Glagah Putih kehilangan kesabaran. Ia kadang kadang tidak sabar menunggu kakak sepupunya itu mengulur-ulur waktu. Apalagi akhirnya mereka juga harus bertempur.
    —. Kenapa tidak sejak tadi kakang Agung Sedayu memutuskan untuk bertempur. — geram Glagah Putih didalam hatinya.
    Seperti yang diperhitungkan oleh Agung Sedayu, ketika pertempuran itu kemudian benar-benar terjadi, maka para prajurit dan prajurit sandi itu lelah berdiri disatu pihak. Prajurit sandi itu telah berkata – Ki Sanak. Sebaiknya kalian tidak melakukan perlawanan, karena dengan demikian, kami mendapat peluang untuk membunuh kalian ditempat kejadian. Tetapi jika kalian menyerah, maka kalian akan mendapat kesempatan untuk hidup jika kalian memang tidak bersalah. –

    ***

    lanjut ke 300

  4. Terus…..

  5. Kitab 300 (Seri III – 100) API DI BUKIT MENOREH SERI III JILID 300 TETAPI Glagah Putih yang sudah jemu dengan pembicaraan yang berkepanjangan itulah yang menyahut – Peluang kita menjadi sama. Kalian membunuh kami, atau kami membunuh kalian. – – Anak iblis – geram Ki Rangga – Kau sadari apa yang kau katakan? – – Sadar atau tidak sadar, kami tidak mempunyai pilihan lain. Kami harus mempertahankan diri dari kesewenang-wenangan. Jangan kalian mengira bahwa kami tidak mengetahui cara licik kalian. Terutama orang yang disebut Ki Rangga itu. Jika ia memberi kesempatan kami melarikan diri, itu berarti bahwa ia mempunyai alasan untuk membunuh kami. Karena itu, daripada punggung kami dipatuk oleh senjata Ki Rangga yang licik itu, biarlah kami angkat dada kami. – – Cukup ~ teriak Ki Rangga. Lalu katanya kepada para prajurit — aku akan membunuh mereka. Aku perintahkan kalian mengepung keduanya agar keduanya tidak dapat benar-benar melarikan diri. – Ki Rangga itupun segera mulai bergeser. Yang menjadi sasaran utamanya justru Glagah Putih. Karena itu, maka sejenak kemudian Ki Rangga itupun mulai menyerang. Sementara itu, para prajurit yang lain segera mengepung Agung Sedayu dan Glagah Putih. Serangan Ki Rangga sama sekali tidak menemui sasaran. Glagah Putih dengan cepat mengelak dengan loncatan panjang. Namun tidak diduga sama sekali, bahwa Ki Rangga itu sekaligus telah menyerang Agung Sedayu pula. Nampaknya Ki Rangga itu berniat untuk bertempur sekaligus melawan Agung Sedayu dan Glagah Putih. Sebenarnyalah Ki Rangga yang berilmu tinggi itu merasa terlalu yakin akan dirinya. Ia merasa bahwa ia akan dapat membunuh kedua orang prajurit Mataram itu. Meskipun dalam pertempuran di Prambanan ia sempat melihat bagaimana Agung Sedayu itu bertempur dian-tara prajurit-prajurit Mataram dari Pasukan Khusus. Agung Sedayupun dengan cepat menghindar pula, sehingga serangan Ki Rangga tidak menyentuhnya. Berbeda dengan Agung Sedayu, maka Glagah Putih merasa sangat tersinggung bahwa Ki Rangga itu ingin melawan Glagah Putih dan Agung Sedayu bersama-sama. Karena itu, maka Glagah Putih itupun telah meningkatkan ilmunya dengan cepat. Ia ingin memperingatkan Ki Rangga, bahwa jika ia tidak merubah niatnya, maka justru akan segera mati. Dalam pada itu, ketujuh orang prajurit dan prajurit sandi itu telah mengepung tempat itu, sehingga memang sulit bagi Agung Sedayu dan Glagah Putih untuk melarikan diri. Tetapi yang terjadi benar benar mengejutkan mereka. Justru ketika Glagah Putih menyerang seperti banjir bandang, sehingga Ki Rangga terdesak, maka tiba- tiba saja Agung Sedayu telah berada di luar kepungan. Seorang prajurit terpelanting dan jatuh terlentang tanpa menyadari, apa yang telah dilakukan oleh Agung Sedayu. Para prajurit dan kedua orang prajurit sandi itu terkejut. Sementara itu, Ki Rangga juga terkejut. Serangan Glagah Putih yang tiba tiba dengan kecepatan yang sangat tinggi itu ternyata telah menembus pertahanannya. Serangan Glagah Putih dengan ke-empat jari jari tangan kanannya yang merapat telah mengenai pundak Ki Rangga yang sangat merendahkan lawannya itu. Ki Rangga menyeringai menahan sakit. Dari mulutnya terdengar umpatan kasar. Namun kemudian iapun terkejut pula melihat bahwa Agung Sedayu telah berada diluar kepungan. Tetapi ia sama sekali tidak berusaha untuk melarikan diri. Barulah kemudian Ki Rangga itu menyadari, dengan siapa ia berhadapan. Sambil meyakinkan diri, bahwa kedua orang itu adalah prajurit Mataram, Ki Ranggapun harus mengakui kenyataan, bahwa kedua orang itu bukannya orang yang tidak berilmu. Tetapi Ki Rangga tidak mempunyai banyak kesempatan untuk merenung. Glagah Putih yang merasa terhina itu telah meloncat menyerangnya. Serangan Glagah Putih yang dilandasi oleh kekuatannya yang besar, kemampuannya yang tinggi, serta kemarahan yang membakar jantung, dalang bagaikan gemuruhnya angin prahara. Ki Rangga yang tidak sempat meloncat menghindar berusaha membentur serangan itu. Dengan kedua tangannya yang bersilang ia telah melindungi dadanya. Benturan yang keras telah terjadi. Kekuatan dan kemampuan Glagah Putih telah membentur pertahanan Ki Rangga. Yang terjadi telah menggetarkan jantung para prajurit yang sempat melihat apa yang terjadi. Glagah Putih telah tergetar dan terdorong selangkah surut. Sejenak Glagah Putih harus berlutut dengan sebelah kakinya. Dadanya terasa sesak sesaat. Namun kemudian, anak muda itu telah bangkit kembali dan berdiri tegak, siap menghadapi segala kemungkinan. Sementara itu, Ki Rangga justru telah terlempar beberapa langkah surut tanpa dapat mempertahankan keseimbangan tubuhnya. Ia terbanting jatuh dan berguling beberapa kali. Meskipun dengan sigapnya Ki Rangga berdiri, tetapi nampaknya diwajahnya betapa ia menahan sakit. Dadanya terasa bagaikan terhimpit oleh segumpal batu hitam, sehingga nafasnya menjadi sesak. Tulang-tulangnya terasa nyeri. Glagah Putih yang berdiri tegak itu justru mulai bergetar selangkah mendekati lawannya. Wajah Ki Rangga menjadi sangat tegang. Ternyata kedua orang itu benar-benar berilmu tinggi. Dengan demikian, maka Ki Rangga tidak lagi merendahkan lawannya. Dengan lantang ia berteriak ~ Bunuh kedua orang itu. Jangan menunda-nunda waktu lagi. — Para prajurit itupun menyadari apa yang mereka hadapi. Karena itu, maka serentak mereka bergerak. Jika mereka tidak bergerak bersama-sama, maka satu demi satu mereka tidak akan banyak berarti bagi kedua orang yang berilmu tinggi itu. Delapan orang prajurit, termasuk dua orang prajurit sandi itu telah bersiap untuk bertempur. Empat orang akan menghadapi Glagah Putih dan ampat orang yang lain akan menghadapi Agung Sedayu. Ki Rangga sendiri, yang mendendam Glagah Putih, bersama tiga orang prajurit telah mengelilingi Glagah Putih yang masih sangat muda itu. Namun yang ternyata telah memiliki ilmu tinggi. Dalam pada itu, maka orang-orang yang lewat di jalan itupun berlari-larian menjauh. Beberapa orang perempuan dan anak-anak justru menjerit-jerit ketika mereka melihat para prajurit telah menggenggam senjata ditangan. – Memang tidak akan ada pengampunan ~ geram Ki Rangga -dalam keadaan seperti ini, maka tidak ada penyelesaian lain kecuali membunuh kalian berdua. — Agung Sedayu dan Glagah Putih benar-benar telah siap menghadapi segala kemungkinan. Karena keempat orang lawan mereka bersenjata, maka Agung Scdayupun telah mengurai senjatanya pula. Keempat orang prajurit yang mengepung Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Lawan mereka itu ternyata hanya bersenjata cambuk yang juntainya agak panjang. Dalam pada itu, Agung Sedayu yang menyadari bahwa jarak arena bersama Glagah Putih, ia harus dengan cepat menyelesaikan pertempuran dan secepatnya pula pergi. Karena itu, maka Agung Sedayu tidak ingin mengulur ulur waktu agar tidak mengalami kesulitan yang lebih besar lagi. Karena itulah, maka sejenak kemudian, cambuk Agung Sedayu itu telah meledak. Suaranya yang menggelegar telah mengejutkan keempat orang lawannya. Selaput telinga mereka rasa-rasanya akan menjadi koyak oleh suara cambuk itu. Cambuk Agung Sedayu itu tidak hanya sekali dua kali menghentak dan menggetarkan udara. Tetapi beberapa kali, sehingga keempat orang lawannya menjadi semakin berdebar-debar. Sementara itu. Glagah Putih telah mengurai ikat pinggang kulitnya pula. Senjata yang tersembunyi itu ternyata menjadi sangat berbahaya ditangan Glagah Putih yang telah mempelajari dengan sebaik-baiknya sifat dan watak senjatanya itu, sehingga ia dapat menguasai dan mempergunakannya sebaik-baiknya pula. Ki Rangga menjadi heran melihat senjata Glagah Putih, sehingga justru ia telah meloncat mundur. – Kau jangan terlalu sombong dan menjadi besar kepala dengan keberhasilanmu pada benturan pertama dari pertempuran ini – berkata Ki Rangga – dengan licik kau menyerang sebelum lawanmu siap untuk bertempur. — Glagah Putih memandang orang itu dengan tajamnya. Sambil memutar ikat pinggangnya Glagah Putih bertanya — Apakah kau sekarang sudah siap? – Gigi Ki Rangga gemeretak. Anak itu memang terlalu sombong,sehingga kemarahan Ki Rangga memuncak sampai ke ubun-ubun. Karena itu, maka sejenak kemudian, Ki Rangga itu telah meloncat menyerang. Sebilah keris yang besar tergenggam ditangannya. Keris yang besar dan panjangnya dua kali lipat dari keris kebanyakan. Tetapi Glagah Putih cukup tangkas. Ia justru mulai dari ketiga orang prajurit yang lain. Ketiga-tiganya bersenjata pedang keprajuritan. Dengan tangkasnya Glagah Putih meloncat-loncat. Kecepatan geraknya justru jauh dialas dugaan ketiga orang prajurit yang bersama-sama dengan Ki Rangga bertempur melawannya. Namun bagaimanapun juga, Ki Rangga itu harus mendapat perhatian khusus. Nampaknya Ki Rangga tidak membiarkan Glagah Putih melumpuhkan lebih dahulu ketiga orang prajuritnya. Tetapi Glagah Putih memiliki kemampuan yang tinggi. Meskipun ia masih terhitung muda, namun ilmunya sudah cukup masak dengan pengalamannya yang luas. Tetapi lawan Glagah Putih adalah prajurit-prajurit yang berpengalaman pula. Ki Rangga bukan pula prajurit kebanyakan. Ia mempunyai kelebihan yang harus diperhitungkan oleh Glagah Putih. Dengan demikian, maka pertempuran itupun menjadi semakin sengit. Meskipun Glagah Putih berniat menghentikan perlawanan keempat orang prajurit itu dimulai dari ketiga orang prajurit yang membantu Ki Rangga itu, tetapi Glagah Putih justru harus menumpahkan perhatiannya terbanyak kepada Ki Rangga. Berbeda dengan Glagah Putih, maka Agung Sedayu justru bertempur menghadapi empat orang prajurit yang memiliki ilmu yang pada dasarnya tidak bertaut. Karena itu, Agung Sedayu tidak harus memperhatikan seseorang lebih banyak dari yang lain. Mengingat kemungkinan yang lebih buruk yang dapat terjadi, seandainya beberapa orang prajurit di pintu gerbang itu mengetahui bahwa telah terjadi pertempuran, dan mereka akan berdatangan membantu kawan-kawannya untuk menangkapnya, maka Agung Sedayu-pun bertempur cukup keras. Cambuknya berputaran dan meledak-ledak disela-sela ayunan pedang para prajurit Pati. Dengan cepatnya, Agung Sedayu berloncatan, sementara ujung cambuknya menebas dengan derasnya. Sekali-sekali ujung cambuk itu mematuk seperti seekor ular. Bahkan memburu sasarannya seolah-olah mempunyai sepasang mala yang sangat tajam. Keempat orang lawan Agung Sedayu memang segera mengalami kesulitan. Mereka sama sekali tidak berhasil menyentuh tubuhnya dengan ujung pedang. Ampat orang yang menyerang dari jurusan yang berbeda itu, mengalami kesulitan untuk mendekati lawannya yang bersenjata cambuk itu. Bahkan sejenak kemudian, seorang diantara mereka telah meloncat mundur mengambil jarak ketika ujung cambuk Agung Sedayu menyentuh lengannya. Semula orang itu hanya merasakan sengatan dilengannya itu. Namun kemudian, ketika ia meraba lengannya itu ia terkejut. Tangannya menjadi merah oleh darah. Baru kemudian disadarinya, bahwa sentuhan ujung cambuk Agung Sedayu itu telah mengoyakkan lengannya. Jika semula hanya terasa sebagai sengatan kecil, kemudian terasa betapa lengannya itu menjadi pedih dan nyeri. Tetapi prajurit ilu tidak menyingkir dari arena pertempuran. Justru kemarahan yang membakar jantungnya telah mendorongnya untuk bertempur semakin garang. Sementara itu, ketiga orang kawannyapun menjadi semakin garang pula. Mereka tidak mau dihancurkan oleh hanya seorang. Sementara mereka bertempur bersama-sama sebanyak ampat orang. Tetapi mereka harus menghadapi kenyataan. Lawannya yang hanya seorang itu memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Disisi lain Glagah Putih harus bekerja keras untuk melindungi dirinya. Ki Rangga yang marah itu bertempur seperti seekor harimau yang terluka. Sementara ketiga orang prajuritnya berusaha untuk menyesuaikan diri. Mereka selalu mengisi setiap kesempatan, sehingga perhatian Glagah Putih memang sering terpecah. Namun Glagah Putih yang tangkas itu memang tidak begitu mudah untuk dikuasai, meskipun oleh ampat orang sekalipun. Dalam pada itu, beberapa orang yang berlari-lari menjauhi pertempuran itu, memang ada yang tiba-tiba saja berkata kepada seorang yang lain — Kita laporkan saja kepada para prajurit yang bertugas di pintu gerbang. – ~ Ya — sahut yang lain — kita laporkan kepada para prajurit di pintu gerbang. ~ Dengan sekuat-kuatnya kedua orang itu telah berlari ke pintu gerbang yang memang belum terlalu jauh dari tempat kejadian. Agung Sedayu yang menyadari akan bahaya yang mungkin bakal datang dari sekelompok prajurit di pintu gerbang, telah semakin meningkatkan tekanannya. Cambuknya semakin sering meledak dengan suara yang memekakkan telinga, sehingga keempat lawannya menjadi semakin bingung menghadapinya. Dalam pada itu, orang yang telah terluka dilengannya itu menjadi semakin gelisah. Darahnya masih saja mengalir dari lukanya, sehingga tubuhnya terasa menjadi semakin lemah. Namun ujung cambuk Agung Sedayu masih saja memburu lawan-lawannya. Seorang lawannya yang kehilangan kesempatan, berteriak kesakitan ketika ujung cambuk Agung Sedayu mematuk pundaknya. Orang itu terdorong beberapa langkah surut. Dengan susah payah ia berusaha mempertahankan keseimbangannya. Namun jantungnya menjadi berdebaran ketika ia menyadari, darah mengalir dari luka di-pundaknya itu. Dengan demikian, maka kekuatan lawan Agung Sedayu menjadi semakin surut. Meskipun demikian, mereka yang terluka itu masih berusaha membantu kawan-kawannya bertempur terus. Sementara itu, Agung Sedayu masih sempat memperingatkan — Jika kalian yang terluka bergerak terlalu banyak, maka darah akan mengalir semakin banyak pula. Itu sangat berbahaya bagi kalian, karena jika kalian kehabisan darah, maka kalian akan mati. ~ – Persetan — geram prajurii yang masih belum terluka ~ kami akan membunuhmu. — Baru saja mulutnya terkatup, cambuk Agung Sedayu telah meledak. Ujungnya menyambar betis orang itu, sehingga dagingnya telah terbuka. Demikian parahnya, sehingga tulangnya yang keputih-putihan nampak disela-sela lukanya. Orang itupun berteriak pula. Hentakan cambuk Agung Sedayu telah mendorongnya surut. Bahkan kemudian orang itu tidak mampu lagi berdiri. Kakinya terasa sakit sekali, sehingga hampir tidak tertahankan. Dalam pada itu, di lingkaran pertempuran yang lain, ikat pinggang Glagah Putih telah bergerak menyambar-nyambar pula. Seorang diantara ketiga orang prajurit yang bertempur bersama Ki Rangga, terlempar beberapa langkah surut dan jatuh berguling ditanah. Sisi ikat pinggang Glagah Putih menyambar lambung orang itu, sehingga goresan lukanya telah mengoyak lambungnya setajam mata pedang. Kedua orang prajurit yang lain serta Ki Rangga menjadi semakin berhati-hati. Mereka telah melihat kenyataan dihadapan mata mereka, bahwa kedua orang itu tidak mudah mereka kalahkan, apalagi mereka bunuh. Ketika lawannya telah berkurang, maka Glagah Putih semakin mendapat lebih banyak kesempatan. Karena itu, maka ketiga orang lawannya yang tersisa harus memeras tenaga mereka. Ki Rangga mulai menjadi gelisah. Karena itu, maka iapun meningkatkan ilmunya semakin tinggi. Kedua orang prajurit yang bertempur bersamanya tidak lagi dapat diharapkan. Karena itu, maka Ki Rangga tidak lagi memperhitungkan mereka. Apalagi seorang diantara mereka mengaduh tertahan ketika pun- daknya tergores ikat pinggang Glagah Putih yang seakan-akan menjadi setajam pedang. – Anak iblis — geram Ki Rangga ~ ternyata bahwa kau memang harus segera dibunuh dengan caraku. Apapun yang terjadi atas dirimu, itu adalah karena salahmu sendiri. — Glagah Putih tertegun sejenak. Ia sadar, bahwa Ki Rangga akan sampai pada pencak kemampuannya. Karena itu, maka Glagah Putih-pun menjadi. Sementara itu, Agung Sedayu telah menghentikan perlawanan prajurit yang terakhir. Ketika ujung cambuknya menjilat punggung lawannya, justru saat lawannya akan melarikan diri. Prajurit itu berniat untuk memberikan laporan kepada para prajurit yang bertugas dipintu gerbang. Tetapi Agung Sedayu tidak melepaskannya. Ujung cambuknya yang memburunya, telah menghentikannya. Prajurit itu jatuh tertelungkup. Tetapi kemudian ia menggeliat menahan sakit. Karena itu, maka Agung Sedayupun kemudian telah mendekati Glagah Putih yang masih bertempur. Justru pada saat Glagah Putih mengayunkan ikat pinggangnya. Prajurit yang terakhir yang bertempur bersama Ki Rangga itupun menggeliat. Glagah Putih tidak menggoreskan sisi ikat pinggangnya untuk mengoyak dada lawannya, tetapi ikat pinggangnya itu menapak melintang. Dengan demikian, maka warna merah kehitaman telah membekas di dadanya selebar ikat pinggang Glagah Putih. Bekasnya itu tidak ubahnya seperti luka oleh ji latan bara api. Orang itu terlempar jatuh. Beberapa kali ia berguling dan menggeliat. Dadanya terasa pedih dan panas membakar. Yang kemudian berhadapan adalah Glagah Putih dan Ki Rangga. Namun agaknya Ki Rangga benar-benar telah siap. Karena itu, ketika Glagah Putih bergerak selangkah maju, maka Ki Rangga itupun segera bergeser menyamping. Demikian ikat pinggang Glagah Putih berputar, maka Ki Rangga itupun segera meloncat sambil mengayunkan kerisnya yang terhitung besar melampaui ukuran keris kebanyakan. Dengan tangkasnya Glagah Putih mengelak, namun dengan cepat pula ikat pinggang kulitnya berputar. Ki Rangga itu dengan cepat menghindar surut. Tetapi Glagah Putih tidak melepaskannya. Dengan cepat pula ia memburunya dengan loncatan panjang. Glagah Putih terkejut ketika orang itu tiba-tiba saja mengayunkan tangan kirinya. Ia melihat seleret bayangan terbang dari tangan Ki Rangga yang terayun itu. Dengan cepat Glagah Putih meloncat menghindar. Tetapi terlambat. Sebuah pisau belati kecil yang meluncur kearah dadanya itu masih juga tersangkut dilubuhnya, menggores lengannya. Glagah Putih berdesis menahan pedih. Dengan cepat ia meloncat mengambil jarak untuk mempersiapkan dirinya menghadapi segala kemungkinan. Terdengar Ki Rangga itu tertawa. Katanya ~ Nah, anak manis. Jangan menyesal, bahwa kau sudah memasukkan kepalamu kedalam mulut buaya. — Tetapi Glagah Putih menjawab – Aku tidak pernah takut melawan buaya kerdil. — – Setan kau — geram orang itu. Sekali lagi pisau kecilnya meluncur kearah dada Glagah Putih. Namun Glagah Putih yang sudah bersiaga menghadapi jenis senjata lawannya, mampu mengelak. Dengan cepat iapun bergeser ke-samping. Dalam pada itu, Agung Sedayu yang sudah tidak lagi menghadapi lawan berkata – Ki Rangga. Kau tinggal seorang diri. Bersama dengan tujuh orang prajurit, kau tidak dapat mengalahkan kami berdua. Apalagi kau seorang diri. – – Persetan. Kaupun akan mati. — Dengan geram orang itu telah menyerang Agung Sedayu pula. Sambil meloncat menyamping ia melemparkan sebuah pisau kecil ke-dada Agung Sedayu. Pisau itu meluncur demikian cepatnya. Tepat engenai dada Agung Sedayu diarah jantung. – Mati kau iblis — geram orang itu — kawan-kawanku yang terluka masih sempat melihat tubuh terbaring diam. – Agung Sedayu tidak menjawab. Namun Ki Rangga itu terbelalak ketika ia melihat Agung Sedayu melangkah mendekat sambil berkata — Jangan kau buang-buang senjatamu dengan sia-sia. ~ Namun tiba-tiba Glagah Putih berkata – Lepaskan orang itu kakang. Biarlah aku mengakhiri perlawanannya. — Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya Glagah Putih yang muda itu benar-benar marah kepada Ki Rangga yang telah menghinanya dan bahkan melukainya. Karena itu. Agung Sedayu tidak berbuat lebih jauh. Namun ia sempat memperingatkan – Waktu kita sempit Glagah Putih. Prajurit di pintu gerbang itu akan dapat datang kemari. — – Aku akan menyelesaikannya dengan cepat kakang. – jawab Glagah Putih. Jawaban Glagah Putih itu membuat telinga Ki Rangga menjadi merah. Ia sadar, bahwa keadaannya akan menjadi sangat sulit jika orang yang pernah dilihatnya di Prambanan itu ikut mencampuri pertempuran itu. Agaknya orang ilu memiliki ilmu kebal. Mungkin Lembu Sekilan, mungkin Tameng Waja atau jenis yang lain. Namun pisau belatinya tidak mampu menembus pertahanan ilmu kebalnya itu. Tetapi agaknya Agung Sedayu memang tidak ingin mencampuri pertempuran itu atas permintaan Glagah Putih, la justru bergeser menepi ketika Glagah Putih kemudian telah bersiap. Namun orang yang disebut Ki Rangga itu tidak memberinya kesempatan. Demikian Glagah Putih siap untuk bertempur, maka KiRangga itu mulai menyerangnya. Kerisnya sudah tidak ada ditangan nya lagi. Tetapi demikian ia menyimpan kerisnya di wrangkanya, maka kedua belah tangannya dengan tangkasnya mempermainkan pisau-pisau kecilnya. Tetapi Glagah Putih dengan tangkasnya berloncatan menghindar. Dengan ikat pinggangnya ia menangkis pisau-pisau yang berterbangan itu. Tetapi pisau-pisau itu seakan akan tidak ada habis-habisnya. Pisau yang disimpan berderet diikat pinggangnya itu seakan-akan jumlah tidak terbatas. Karena itu, maka Glagah Putih memang mengalami kesulitan. Bahkan ketika ia terlambat menangkis serangan pisau itu dengan ikat pinggangnya, maka pisau itu telah mengogres pundaknya. Kemarahan Glagah Putih tidak terbendung lagi. Apalagi mengingat kemungkinan hadirnya para prajurit dari pintu gerbang. Karena itu, maka Glagah Putih yang sangat marah itu tidak menahan diri lagi. Lukanya yang tersentuh keringatnya yang mengalir menjadi semakin pedih. Ketika Glagah Putih itu semakin terdesak oleh lontaran-lontaran pisaunya yang tidak terhitung jumlahnya itu, maka iapun segera mempersiapkan dirinya Demikian ia meloncat menghindari lontaran pisau dengan loncatan panjang, maka Glagah Putih telah mengayunkan tangannya, setelah ia mengalungkan ikat pinggangnya dilehernya. Kedua telapak tangannya menghadap kearah tubuh lawannya dengan satu hentakkan dilambari ilmunya yang sangat mengejutkan lawannya. Seleret sinar seakan-akan telah meluncur dari kedua telapak tangan Glagah Putih. Demikian cepatnya menyambar kearah lawannya yang sedang melontarkan pisau belati kecilnya. Ki Rangga tidak sempat mengelak. Sinar itu begitu cepat menukik mematuk dadanya. Terdengar teriakan kesakitan. Benturan yang keras telah terjadi. Ki Rangga itu terlempar beberapa langkah surut dan kemudian jatuh terlentang. Agung Sedayulah yang kemudian berlari memburu, la berharap bahwa daya tahan Ki Rangga itu cukup tinggi, sehingga ilmu Glagah Putih itu tidak membunuhnya. Tetapi Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Ki Rangga tidak mempunyai daya tahan yang mampu menyelamatkan hidupnya. Glagah Putih Masih berdiri termangu-mangu. Ia menundukkan kepalanya ketika Agung Sedayu memandanginya dengan tajamnya. – Kau telah membunuhnya — berkata Agung Sedayu. -Glagah Putih sama sekali tidak menjawab. Ia harus mengaku bahwa ia telah kehilangan kendali. Namun dalam pada itu, ketujuh orang prajurit, termasuk dua orang prajurit sandi itu masih tetap hidup meskipun mereka terluka parah. Agung Sedayupun kemudian berkata kepada Glagah Putih — Kita serahkan Ki Rangga ini kepada kawan-kawannya. Kita tidak boleh menunggu kedatangan para prajurit dari pintu gerbang kota. – Glagah Putih tidak menyahut. Iapun kemudian mengikuti Agung Sedayu yang meninggalkan tubuh Ki Rangga sambil berkata kepada salah seorang prajurit yang terluka — Kawan-kawanmu akan segera datang. Jika tidak, kau dapat minta seseorang memberitahukan kepada para prajurit yang bertugas di pintu gerbang. ~ Dengan cepat Agung Sedayu melangkah meninggalkan tempat itu diikuti oleh Glagah Putih yang berlari-lari kecil dibelakangnya. Sambil menjauhi tempat itu Agung Sedayu berkata – Jika kita sempat bertempur dengan prajurit, maka kita akan membunuh lebih banyak lagi. – Glagah Putih tidak menjawab. Tetapi ia mengikuti saja kemana Agung Sedayu pergi. Dalam pada itu, setelah Agung Sedayu dan Glagah Putih menjauh, maka beberapa orangpun telah memberanikan diri untuk mendekat. Merekapuun kemudian berusaha menolong para prajurit yang terluka. Namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa terhadap Ki Rangga yang sudah terbunuh. Beberapa saat kemudian, sekelompok prajurit berlari-larian datang dipimpin langsung oleh pemimpin kelompok yang bertugas di pintu gerbang. Namun yang mereka jumpai adalah orang-orang yang terluka. Bahkan Ki Rangga telah terbunuh. – Kemana kedua orang itu melarikan diri ? – bertanya pemimpin sekelompok prajurit itu. Seorang yang diantara mereka yang datang mendekati para prajurit yang terluka itu menjawab sambil menunjuk – Kesana. Mereka menuju ke bulak itu. — Pemimpin prajurit itu termangu-mangu sejenak. Dalam keadaan yang gawat itu, ia sempat membuat penilaian atas kemampuan kedua orang itu. Ki Rangga dan tujuh orang prajurit, termasuk dua orang pra- jurit dalam tugas sandi yang terlatih dengan baik, tidak dapat menangkap mereka. Namun pemimpin prajurit itu merasa membawa beban tanggung jawab dalam tugasnya. Karena itu maka iapun telah memerintahkan kepada prajurit-prajuritnya untuk mempergunakan kuda-kuda yang ada. — Kita kejar mereka — berkata pemimpin kelompok itu — kita akan pergi semuanya. ~ — Jumlah kita lebih banyak dari jumlah kuda yang ada. – Berkata salah seorang prajuritnya. — Biarlah kuda-kuda yang lebih besar membawa dua orang penumpang dipunggungnya. Prajurit-prajurit itupun saling berpandangan. Pemimpinnya yang mengetahui gejolak perasaan para prajuritnya itupun berkata — Kita tidak akan berpacu dan bertaruh siap yang paling cepat. Kedua orang itu hanya berlari dengan mempergunakan kakinya. Kuda-kuda kita akan dapat berlari lebih cepat. Setidak-tidaknya kuda-kuda yang tidak membawa beban rangkap. Baru kemudian yang lain menyusul. Ingat, kedua orang itu memiliki ilmu iblis. Tujuh orang prajurit di tambah dengan Ki Rangga tidak dapat menangkap mereka. — Para prajurit itu tidak bertanya lagi. Mereka tidak ingin kehilangan waktu lebih banyak lagi. Karena itu, maka mereka segera berloncatan ke atas punggung kuda yang ada. Hampir semua kuda bermuantan rangkap. Hanya ada dua ekor kuda yang membawa masing-masing seorang penumpang. Demikian kuda-kuda itupun berlari. Dua ekor kuda yang hanya membawa masing-masing seorang penumpang itu telah berlari lebih dahulu. Sedangkan yang lain berderap menyusulnya. Tetapi beberapa saat kedua orang berkuda dipaling depan itu melarikan kuda mereka, namun mereka sama sekali tidak menemukan kedua orang yang mereka buru. Merekapun tidak melihat kedua orang itu berlari diatas pematang atau menyusuri parit — Kedua sosok iblis itu menghilang — geram pemimpin prajurit yang berusaha mengejar itu. — Mereka tentu belum terlalu jauh — sahut prajurit yang menyertainya. Pemimpin prajurit itu termangu-mangu diperlambatnya derap kaki kudanya sambil mengamati lingkungan disekitarnya. Tetapi yang nampak hanyalah sawah yang terbentang luas, batang padi yang hijau sampai ke cakrawala. — Mereka dapat bersembunyi di belakang padi seluas bulak ini ~ desis pemimpin sekelompok prajurit berusaha mengejar Agung Sedayu dan Glagah Putih. Sebenarnyalah bahwa Agung Sedayu dan Glagah Putih sedang merangkak di pematang sawah. Semakin lama semakin jauh dari jalan yang membujur dari pintu gerbang kota. Batang padi yang tumbuh subur telah melindungi mereka dari penglihatan para prajurit yang mengejar mereka. Pemimpin sekelompok prajurit itu memang menjadi bimbang. Ia merasa sangat sulit untuk menemukan dua orang dibulak seluar itu. Iapun sama sekali tidak dapat melihat jejak kedua orang ilu, apakah ia berlari kesebelah kiri atau kesebelah kanan jalan. Pemimpin sekelompok prajurit itu telah bertanya kepada beberapa orang yang dijumpainya, apakah mereka melihat dua orang yang sedang mereka buru. Tetapi semua orang menggelengkan kepalanya kepada beberapa orang yang dijumpainya, apakah mereka melihat dua orang yang sedang mereka buru. Tetapi semua orang menggelengkan kepalanya sambil menjawab – Aku tidak melihatnya. — Kalian akan mendapatkan hadiah yang besar jika kalian dapat menunjukkan – berkata pemimpin sekelompok prajurit itu — bahkan kalian juga sudah menyelamatkan banyak orang, karena kedua orang itu sangat berbahaya. Mereka akan dapat membunuh siapapun. Termasuk sanak kadang kalian. Seorang prajurit telah dibunuhnya pula, sedang beberapa orang yang lain telah dilukai. ~ Tetapi orang-orang itu memang tidak melihat, bagaimana Agung Sedayu dan Glagah Putih menyelinap dan menghilang di bulak yang luas itu. Ketika pemimpin sekelompok prajurit itu melihat batang padi yang bergoyang, maka perhatiannya segera memusat. Tetapi ternyata bahwa angin semilir telah menggoyang batang padi di bulak yang luas. Seperti gelombang lembut batang padi itu bergerak-gerak mengalir dengan irama yang manis. — Apakah mereka anak iblis yang dapat menghilang ? – bertanya pemimpin prajurit yang geram itu. Memang timbul niatnya untuk menyebar para prajuritnya di bulak yang luas itu. Namun pemimpin sekelompok prajurit itu tidak dapat mengabaikan keselamatan para prajuritnya. Jika kerja itu akan sia-sia, maka pemimpin prajurit itu memutuskan untuk tidak melakukannya. — Ki Rangga dan tujuh prajurit gagal menangkap mereka. Jika prajurit-prajurit menyebar di bulak yang luas ini, maka seorang demi seorang mereka akan dapat dibunuh oleh kedua orang yang sangat berbahaya ini. — berkata pemimpin sekelompok prajurit itu. Akhirnya pemimpin sekelompok prajurit itu memutuskan untuk tidak melanjutkan perburuan mereka. Yang mereka lakukan kemudian adalah kembali untuk menolong kawan-kawan mereka yang terluka. Ternyata orang-orang yang berkerumun disekitar para prajurit yang terluka itu telah berusaha menolong mereka. Orang-orang itu telah menghentikan beberapa buah pedati. Dengan pedati itu, maka para prajurit yang terluka akan dibawa ke kota. — Terima kasih – berkata pemimpin sekelompok prajurit itu kepada orang-orang yang telah berusaha menolong para prajurit yang terluka. Namun dalam itu, Ki Rangga sudah tidak akan dapat ditolong lagi dengan cara apapun juga. Sementara itu, Agung Sedayu dan Glagah Putih telah berjalan semakin jauh. Mereka tidak lagi melangkah disepanjang pematang, disela-sela batang padi yang subur. Ketika mereka mengetahui bahwa para prajurit telah menghentikan pengejaran mereka, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih menganggap bahwa mereka tidak perlu bersembunyi-sembunyi lagi. Apalagi mereka sudah menjadi semakin jauh. Ketika mereka kemudian naik kesebuah jalan kecil, maka ternyata bahwa jalan itu adalah jalan yang sepi. Karena itu, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih merasa senang berjalan di jalan itu Pengalaman mereka sebagai pengembara telah membuat mereka yakin, bahwa mereka tidak akan tersesat. Mereka akan dapat menemukan jalan yang akan sampai ke Mataram. Dalam pada itu, ketika matahari melampaui puncak langit, maka udara rasa-rasanya telah menjadi semakin panas. Dikejauhan nampak ndcg amun-amun yang bergetar seperti uap air yang mendidih. Matahari dilangit memancarkan panasnya tanpa belas kasihan. Agung Sedayu dan Glagah Putihpun berjalan terus. Terik matahari membuat leher mereka terasa kering. – Nampaknya kita sudah bebas – desis Glagah Putih. – Ya. Agaknya memang demikian – jawab Agung Sedayu. – Jika demikian, kita akan dapat mencari tempat untuk melawan haus. – – Kita akan sampai kesebuah belik. — – Kenapa harus menunggu sampai kita menemukan seebuah belik ? Apakah kita tidak dapat singgah disebuah kedai ? – Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun Glagah Putihpun berkata selanjutnya – Kita sudah cukup jauh berjalan. — Agung Sedayu tersenyum. Katanya — Kadang-kadang kau ingin memanjakan diri juga Glagah Putih. – Glagah Putihpun tertawa, katanya — Tidak setiap kali kakang. – Tetapi bajumu kotor, koyak dan berbekas darah. Meskipun lukamu sudah pampat. — Glagah Putih mengerutkan dahinya. Katanya — Bajuku memang sudah sangat kotor kakang. Bekas darah itu tidak akan terlalu menarik perhatian. Terakhir kita mencuci pakaian di sungai kecil itu adalah dua hari yang lalu. Kemudian kita tidak sempat melakukannya lagi, kecuali mandi dengan tergesa-gesa. Agung Sedayu menarik nafas panjang. Namun kemudian katanya – Baiklah. Kita usahakan agar tidak menarik perhatian. – Keduanya kemudian memang singgah disebuah kedai. Keduanya sengaja duduk disudut yang tidak mendapat perhatian banyak orang. Meskipun bercak-bercak darah di baju Glagah Putih sudah mengering dan tidak nampak terlalu menyolok pada bajunya yang memang berwarna gelap, namun mereka masih juga harus berhati-hati. Bersukurlah Agung Sedayu dan Glagah Putih, bahwa tidak ada orang yang memperhatikan mereka. Demikian mereka selesai, maka Agung Sedayupun segera membayarnya dan meninggalkan kedai itu. Diluar kedai keduanya menarik nafas dalam-dalam. Sambil berdesah panjang Glagah Putih berkata — Ternyata tidak ada orang yang memperhatikan bajuku yang koyak. — – Memang tidak terlalu nampak menyolok ~ desis Agung Sedayu. Demikanlah keduanyapuyn kemudian berjalan menjauhi kedai itu. Setelah agak jauh berjalan, maka keduanyapun berhenti dibawah sepasang pohon raksasa yang tumbuh beberapa puluh langkah dari jalan yang mereka lalui. Dibawah sepasang pohon raksasa yang ternyata pohon beringin tua itu, terdapat sebuah mata air yang cukup besar, sehingga airnya dapat mengaliri sawah disekitarnya. — Aku lihat lukamu — berkata Augng Sedayu. Glagah Putih kemudian telah membuka bajunya sambil berkata ~ Aku telah mengusap luka-luka itu dengan serbuk obat yang kakang berikan itu. — Luka itu memang tidak seberapa. Nampaknya sambil menghindar dari kejaran para prajurit, Glagah Putih masih sempat mengusapkan serbuk yang dibawanya dalam bumbung kecil. Untuk beberapa saat keduanya beristiriahat ditempat yang teduh itu. Belik yang terdapat dibawah batang pohon beringin raksasa itu membuat udara menjadi semakin sejuk. – Jika terlalu lama disini, aku justru akan dapat tertidur — desis Glagah Putih. Agung Sedayu tersenyum. Katanya – Marilah. Agar kau tidak tertidur disini. Meskipun kita sudah berjalan cukup jauh, tetapi masih terlalu dekat dengan pintu gerbang kota. – Agung Sedayu dan Glagah Putih yang sudah bersiap-siap untuk pergi itu justru termangu-mangu. Mereka melihat dua orang berjalan mendekati mereka. – Nah. benar kata orang itu desis seorang diantara mereka tanpa ragu-ragu tentu kedua orang inilah yang dicurigai oleh para prajurit itu. Agung Sedayu dan Glagah Putih tertegun melihat keduanya. Dua orang yang menilik ujud lahiriahnya serupa. – Agaknya keduanya saudara kembar — desis Glagah Putih. – Ya – Agung Sedayu mengangguk-angguk. Kedua orang itu menjadi semakin dekat. Seorang diantaranya berkata — Kami mencari kalian berdua. — – Siapakah kalian dan untuk apa kalian mencari kami ? ~ bertanya Agung Sedayu. – Sebagaimana kalian lihat, kami adalah saudara kembar. Kami memang menyusul kalian. Para prajurit Itu mengatakan, siapa yang dapat menunjukkan dimana kalian bersembunyi, akan mendapat upah cukup banyak. Apalagi jika dapat menangkap kalian. — – Jadi kalian berdua akan menangkap kami ? — – Ya. Kebetulan kami sedang membutuhkan uang itu. Karena itu,jika kalian mau berbaik hati, membantu kesulitan kami, menyerah sajalah. — – Berapa keping uang yang akan kalian dapatkan, sehingga kalian dengan susah payah menyusul kami. ~ – Para prajurit itu tidak menyebut, beberapa banyak mereka akan memberikan uang. Tetapi aku yakin, bahwa uang itu tentu cukup banyak. Kami juga pemah menangkap seorang yang dibutuhkan oleh para prajurit Pati. Seorang penjahat yang sudah beberapa tahun luput dari kejaran para prajurit. Ternyata kami juga mendapat upah cukup banyak. Apalagi jika kami dapat menangkap petugas sandi dari Mataram. Maka upahnya tentu akan lebih banyak. — Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun Glagah Putihlah yang berkata — Kau tahu, bahwa delapan orang prajurit tidak berhasil menangkap kami ? — Kedua orang kembar itu tertawa. Seorang diantara mereka berkata – Jangan kau pamerkan kemenangan kecilmu itu. Aku sudah lama berhubungan dengan para prajurit Pati. Aku memang sering melakukan tugas seperti ini Menangkap seseorang atau sekelompok orang untuk mendapatkan upah sebagai mana aku menangkap penjahat yang mempunyai ilmu yang tinggi dan Aji Welut Putih itu. — – O – Glagah Putih mengangguk-angguk – kalau begitu, maka kalian berdua tentu orang yang berilmu sangat tinggi. – – Ya. Karena itu menyerah sajalah. Nasib kalian memang buruk. Kebetulan aku lewat di tempat kalian memamerkan ilmu kalian. Pemimpin sekelompok prajurit yang bertugas di pintu gerbang itu adalah sahabat kami. Ia telah mengenal kami dengan baik, juga mengenal tugas-tugas yang sering kami lakukan untuk membantu para prajurit. – Kemudian pemimpin sekelompok prajurit itu menawarkan kepada kalian berdua, apakah kalian bersedia menangkap dua orang buruan mereka dengan janji untuk mendapat upah yang inggi. — sahut Glagah Putih. Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Tetapi seorang diantara mereka berkata — Anak ini memang sombong dan keras kepala. Dengar, kami mendapat wewenang untuk menangkap kalian hidup atau mati. Kami ingin memperingatkan kalian sekali lagi. Menyerahlah, agar kami tidak terpaksa membunuh kalian, karena upah yang akan kami terima akan sama saja. Hidup atau mati. – – Bagaimana jika kalian yang mati ? — bertanya Glagah Putih ~ apakah kalian juga mendapat upah ? Maksudku, beaya penyelenggaraan penguburan kalian akan ditanggung oleh para prajurit, Kemudian hidup anak istri kalian juga akan mendapat jaminan ? Agung Sedayu justru menggamit Glagah Putih sambil berkata. -Sudahlah. Kami minta saja mereka membatalkan niat mereka. ~ – Ki Sanak – berkata seorang diantara kedua orang kembar itu ~ sebaiknya kalian tidak usah berusaha untuk melawan. Tidak ada artinya sama sekali meskipun kalian dapat mengalahkan delapan orang prajurit. Perlawanan itu hanya akan membuat kalian semakin menyesal. – – Kalian tentu tahu, bahwa kami tidak akan menyerah-. – berkata Glagah Putih — karena itu, lakukan yang ingin kalian lakukan. Kami sudah siap. — Kedua orang kembar itu tersenyum. Sejenak mereka saling ber-. pandangan. Seorang diantara mereka berkata — Apa boleh buat Kita sudah berusaha untuk mencegah kematian. Tetapi agaknya mereka tidak mau mengerti. — – Mereka terlalu sombong — sahut yang lain – sebaiknya kita selesaikan saja mereka. Kita bawa kepala mereka sebagai bukti. — – Kalian membuat kami bingung — berkata Agung Sedayu — kami semula menganggap bahwa kalian adalah sahabat-sahabat prajurit untuk memerangi kejahatan. Tetapi ketika kalian mengatakan bahwa kalian akan membunuh dan membawa kepala kami, maka penilaian kami terhadap niat baik kalian membantu para prajurit jadi berbalik. – Jangan menganggap kami orang baik-baik. Kami berbuat apa saja jika ada orang yang mengupah kami. Itu saja. – – Juga membunuh tanpa segan-segan ? – bertanya Glagah Putih. – Ya. Bukankah kalian juga sudah membunuh ? Ki Rangga telah kalian bunuh pula dengan tanpa berkedip. Nah, apakah tidak sepantasnya kalian juga dibunuh ? — Agung Sedayu dan Glagah Putih tidak menjawab. Namun mereka menjadi yakin, siapakah yang mereka hadapi. Dua orang pembunuh upahan yang tidak mempunyai pertimbangan lain kecuali sekedar untuk mendapatkan upah. Mungkin pada suatu saat ia menangkap dan membunuh seorang penjahat. Tetapi disaat yang lain membunuh seorang yang tidak bersalah karena dengki orang lain yang kemudian mengupah mereka berdua. Ketika kedua orang kembar itu melangkah semakin dekat, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih telah bersiap pula menghadapi keduanya. Kedua orang kembar yang nampaknya telah terlalu biasa melakukan tindak kekerasan itu, sama sekali tidak menunjukkan ketegangan di wajahnya. Keduanya masih saja tersenyum. Seorang diantara mereka bertanya — Tempat ini dikeramatkan oleh orang-orang disekitarnya. Belik yang terdapat di bawah sepasang pohon beringin itu disebut belik kendil, yang ditunggui oleh sepasang peri yang dapat menjadi cantik sekali, tetapi dapat pula menjadi sangat menakutkan. Nah, jika kalian berdua mati disini, maka kalian akan menjadi budak-budak sepasang peri itu. Mungkin kalian dapat mempunyai kedudukan yang baik, tetapi mungkin kalian akan menjadi budak yang paling hina. — Yang seorang lagi tertawa berkepanjangan. Katanya – Janagn menyesal. Kalian telah memilih jalan kematian kalian. ~ Namun Glagah Putih masih juga menjawab — Bagaimana jika kalian yang mati ? Kedua peri itu tentu akan sangat berterima kasih karena mereka akan mendapat hamba dua orang yang kembar. Dengan demikian mereka tidak akan berebut yang paling tampan diantara kalian. – — Setan kau — geram seorang diantara keduanya sambil melangkah maju. Namun Glagah Putih sudah bersiap. Demikianlah, maka sejenak kemudian, kedua orang kembar itu telah bersiap untuk bertempur, sementara Agung Sedayu dan Glagah Putih bergeser mengambil jarak. Sejenak kemudian, seorang dari kedua orang kembar itu telah mulai menyerang Agung Sedayu. Dengan cepat Agung Sedayupun bergeser menghindar. Namun dalam pada itu, yang seorang lagi telah meloncat menyerang Glagah Putih pula. Demikianlah maka kedua orang kembar itu telah terlibat dalam pertempuran yang semakin lama menjadi semakin sengit. Agung Sedayu dan Glagah Putih bertempur dengan berhati-hati. Mereka sadar, bahwa lawan mereka adalah orang-orang yang terlalu yakin akan dirinya. Nampaknya keduanya memang mempunyai pengalaman yang sangat luas. Ketika Agung Sedayu melihat bagaimana mereka menyerang, maka ia memberi isyarat kepada Glagah Putih, bahwa lawannya memang orang yang berilmu tinggi. Sejenak kemudian, maka pertempuranpun menjadi semakin cepat. Keempat orang yang terlibat dalam pertempuran itu saling berloncatan menyerang dan menghindar. Kedua orang kembar yang meyakini kemampuan mereka sendiri itu ternyata juga berhati-hati menghadapi Agung Sedayu dan Glagah Putih. Keduanya mengerti, bahwa Agung Sedayu dan Glagah Putih telah mengalahkan delapan orang prajurit termasuk Ki Rangga yang memiliki ilmu yang tinggi, yang justru telah terbunuh. Namun seorang diantara keduanya yang bertempur melawan Glagah Putih yang nampak masih terlalu muda, merasa memiliki kesempatan lebih banyak. Orang itu mengira bahwa Glagah Putih tentu tidak memiliki ilmu setinggi Agung Sedayu. Karena itu, maka orang itu dengan garangnya telah melihat Glagah Putih dalam pertempuran yang cepat dan rapat. Namun orang itu terkejut ketika terjadi benturan kekuatan diantara keduanya. Untuk menjajagi kekuatan lawannya, maka Glagah Putih memang dengan sengaja telah membentur serangan lawannya, meskipun ia harus sangat berhati-hati. Lawan Glagah Putih itu meloncat surut selangkah. Dipandanginya anak yang dianggap masih terlalu muda itu dengan tajamnya. Ternyata anak itu memiliki tenaga yang cukup besar. Glagah Putih sendiri juga merasakan, bahwa lawannya juga mempunyai kekuatan yang besar. Glagah Putih sadar, bahwa lawannya masih belum mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuannya. – Kau mempunyai bekal yang baik, anak muda — berkata lawan Glagah Putih – Sayang, bahwa kau tidak mempunyai kesempatan untuk mengembangkan dasar kemampuan itu. Sebenarnya kau harus menyalahkan Mataram bahwa kau yang masih sangat muda itu telah mendapat tugas yang sangat berat dan harus mempertaruhkan nyawamu. Langsung atau tidak langsung, maka Mataram telah memotong tunas yang subur yang dapat menjadi harapan masa depan. ~ – Kenapa kau menyalahkan Mataram ? – bertanya Glagah Putih. – Seharusnya Mataram tidak menunjuk kau untuk melakukan tugas sandi ke Pati. Kekalahan Pati di Prambanan telah mengaburkan penglihatan Mataram, bahwa seakan-akan Pati tidak mempunyai orang yang berilmu tinggi. ~ – Aku tidak mempunyai hubungan dengan Mataram. Sudah kami katakan kepada para prajurit. – jawab Glagah Putih. Tetapi lawannya tertawa. Katanya — Hanya orang-orang Mataram yang memiliki petugas sandi seperti kalian, selain Pati. ~ – Jangan mengecilkan arti Demak, Pajang dan Kadipaten kadipaten yang lain. — Orang itu tertawa semakin keras. Katanya — Kau semakin meyakinkan aku bahwa kau adalah petugas sandi dari Mataram. Jangan ingkar, agar hasil kerjaku kali ini dianggap kerja yang cukup berarti sehingga aku akan mendapat upah lebih banyak dari yang pernah aku terima. — – Supaya upahmu lebih banyak, bagaimana jika kau menyebut. diriku Pangeran Singasari dari Mataram ? — Orang itu mengerutkan dahinya. Suara tertawanya berhenti dengan tiba-tiba. Katanya — Kau memang iblis kecil. Baiklah. Kau memang harus segera menyesali sikapmu itu. — Glagah Putihlah yang kemudian tertawa. Kalanya – Jangan marah jika kau marah, kau akan kehilangan perhitungan. Apalagi kau sedang bertempur dengan seorang Pangeran. – Lawan Glagah Putih itu menjadi semakin marah, la belum pernah dipermainkan orang seperti itu. Setiap kali ia menggertak lawannya, maka lawannya tentu menjadi ketakutan. Setidak-tidaknya menjadi tegang dan cemas. Tetapi anak ini justru sempat membakar hidungnya. Dengan geram orang itu melangkah mendekat. Tetapi ia sadar, bahwa tenaga dan kemampuan anak itu memang tinggi. Glagah Putihpun segera mempersiapkan diri. Iapun menjadi semakin berhati-hati. Lawannya benar-benar menjadi marah. Sejenak kemudian, maka salah seorang dari dua orang bersaudara kembar itu telah meloncat menyerangnya. Tangannya terayun dengan deras. Namun dengan tangkasnya Glagah Putih meloncat menghindar. Tetapi Glagah Putih meloncat lagi mengambil jarak. Ia merasakan sesuatu yang agak lain. Ketika lawannya mengayunkan tangannya menyerangnya, ia memang berhasil menghindar. Tetapi ia merasakan getaran udara yang menyentuhnya. – Orang itu mulai dengan mengetrapkan ilmunya – berkata Glagah Putih didalam hatinya. Karena itu, maka Glagah Putihpun menjadi semakin berhati-hati. Ia sadar, bahwa ilmu lawannya itu semakin lama akan menjadi semakin meningkat. Karena kemampuan ilmunya yang tinggi itulah agaknya orang itu memilih pekerjaan yang gawat, karena setiap kali ia harus memperta- ruhkan nyawanya. Namun selama ini ia telah berhasil memanfaatkan ilmunya untuk mendapatkan uang yang cukup banyak. Demikianlah, maka keduanyapun semakin lama semakin terbenam dalam pertempuran yang sengit. Sekali-sekali Glagah Putih merasakan ilmu lawannya itu menjadi semakin kuat. Sambaran angin pada ayunan tangan dan kakinya terasa seakan-akan menusuk sampai ke jantung. Namun kadang-kadang ia merasa bahwa ilmu lawannya itu telah mengendor. Gelar udara itu tidak terlalu tajam menyentuh kulitnya. Glagah Putih memang harus menjadi sangat berhati-hati. Ditingkatkannya daya tahan tubuhnya agar ia tidak kehilangan kemampuan untuk melawan orang kembar itu. Jika sambaran angin dari setiap serangan itu meningkat tinggi, maka rasa-rasanya Glagah Putih memang sulit untuk dapat mendekatinya. Ia hanya dapat mengelakkan serangan-serangan lawannya. Namun ketika terjadi benturan, Glagah Putih terkejut. Tenaga dan kekuatan lawannya seakan-akan menjadi berlipat, sehingga Glagah Putih itu terdorong beberapa langkah surut. Tetapi ketika lawannya memburunya dan mempergunakan kesempatan untuk menyerangnya, terasa bahwa tenaganya justru menyusut. Glagah Putih yang tidak sempat menghindar terpaksa menangkis serangan itu. Ketika benturan, maka tenaga lawannya tidak lagi mampu menggetarkannya. – Orang ini mencoba membalas sakit hatinya karena itu menganggap aku sudah mempermainkannya — berkata Glagah Putih dida-lam hatinya. Dengan demikian, maka Glagah Putih harus selalu berhati-hati. Kekuatan lawannya yang terasa berubah-ubah itu memang agak mengganggu perlawanannya. Namun Glagah Putih menduga, bahwa lawannya memang sedang bermain-main. Tetapi bagaimanapun juga, Glagah Putih harus mengakui bahwa kemampuan lawannya memang tinggi. Sekali-sekali serangan lawannya memang dapat mengenai tubuhnya. Sedangkan serangan yang gagal, masih juga terasa anginnya menampar kulitnya. Jika getaran itu terasa sangat kuat, maka terasa kulit Glagah Putih menjadi pedih. Namun Glagah Putihpun memiliki ilmu yang tinggi. Bukan saja serangan lawannya yang berhasil mengenai tubuhnya. Tetapi serangan-serangan Glagah Putihpun telah mampu menyusup pertahanan lawannya itu pula. Sekali-sekali orang kembar itu memang terdorong surut. Namun kemudian serangan balasannyapun datang memba-dai dengan derasnya. Tetapi bahwa Glagah Putih itu tidak segera dapat ditundukkan, telah membuat orang itu menjadi gelisah. Apalagi ketika serangan-serangan Glagah Putih juga mampu menembus pertahanannya. Serangan-serangan yang terasa semakin menyakiti tubuhnya. Dalam pada itu, Agung Sedayu yang bertempur dengan seorang yang lain, merasakan hal yang sama dengan Glagah Putih. Agung Sedayu kadang-kadang harus berloncatan mundur untuk mengambil jarak jika serangan lawannya datang membadai dengan kecepatan yang sangat tinggi dan dengan kekuatan yang sangat besar. Namun tiba-tiba kemampuan lawannya itu seakan-akan menyusut. Mula-mula Agung Sedayu menduga bahwa tenaga lawannya yang dikerahkannya itu memang mulai menyusut setelah bertempur beberapa lama. Tetapi dugaan itu ternyata kliru. Tenaga dan kemampuan lawannya itu datang dengan kekuatan dan kemampuan yang serasa hampir berlipat. — Jenis ilmu apalagi ini — berkata Agung Sedayu didalam hatinya. Sebagai seorang yang memiliki berbagai macam ilmu didalam dirinya, maka Agung Sedayu merasa belum pernah menjumpai dan apalagi mengenal jenis ilmu yang seakan-akan menjadi pasang dan surut, yang kadang-kadang memang membuatnya ragu. Pertempuran semakin lama menjadi semakin sengit. Agung Sedayu telah meningkatkan ilmunya pula. Sekali-sekali Agung Sedayu mendesak lawannya yang berloncatan surut. Namun kemudian kekuatan dan kemampuan lawannyapun menjadi semakin tinggi, sehingga ketika terjadi benturan, maka Agung Sedayu harus bergeser surut. Tetapi kedua orang kembar itu memang mulai menjadi gelisah. Baik anak yang masih terlalu muda itu, apalagi yang lebih tua, terlalu sulit untuk ditundukkannya. Beberapa kali ia terlibat dalam tindakan kekerasan dalam tugas-tugas yang pernah dilakukannya. Bahkan melawan penjahat-penjahat yang paling disegani sekalipun. Namun mereka dapat dengan cepat menguasai dan bahkan membunuh mereka. Apalagi jika diupah untuk membunuh orang-orang yang tidak berilmu tinggi. Maka pekerjaan itu seakan-akan dilakukannya dengan mata tertutup. Telapi kedua orang yang diduga prajurit Mataram itu ternyata sulit untuk diatasinya. Dalam pada itu, Glagah Putih masih saja merasa heran akan ilmunya. Tetapi justru karena ilu, maka ia ingin mengetahui, apakah sebenarnya yang dilakukan oleh lawannya itu sekedar bermain-main atau karena sesuatu hal yang memang mendasari ilmunya itu. Karena itu, maka Glagah Putihpun telah mengerahkan kemampuannya untuk mengatasi perlawanan orang kembar itu. Jika Glagah Putih berhasil mendesaknya, maka tiba-tiba saja kekuatan dan ilmu orang itu meningkat dengan tiba-tiba. Tetapi jika Glagah Putih melangkah surut oleh tekanan lawannya itu, maka ilmu lawannya itu rasa-rasanya telah menyusut.- Namun ketika Agung Sedayu dan Glagah Putih bersama-sama berusaha untuk menekan kedua orang itu, sehingga kedua orang itu seakan-akan dipaksa untuk bertempur dengan punggung melekat, maka kekuatan dan kemampuan kedua orang itu justru meningkat semakin tinggi. Mereka sama sekali tidak merasa terkurung oleh serangan-serangan Agung Sedayu dan Glagah Putih yang sengaja berdiri berseberangan. Bahkan serangan-serangan kedua orang itu mulai berhasil menembus pertahanan Glagah Putih dan Agung Sedayu, Glagah Putih yang mencoba untuk mengetahui, apa yang sebenarnya terjadi pada lawannya itu, terpelanting ketika tangan orang ilu sempat menghantam dagunya. Glagah Putih memang kehilangan keseimbangan. Kekuatan orang itu bukan main besar. Untunglah bahwa gigi Glagah Putih tidak rontok karenanya. Sekali Glagah Putih berguling. Namun kemudian iapun telah melenting berdiri dengan tangkasnya. Tetapi lawannya dengan cepat memburunya. Serangan berikutnya datang tanpa dapat dihindari lagi. Kaki orang itu terayun dengan derasnya kearah dada Glagah Putih. Dengan tergesa-gesa Glagah Putih menyilangkan tangannya untuk melindungi dadanya, sehingga serangan kaki orang itu tidak langsung menghantam dada Glagah Putih. Glagah Putih yang tergesa-gesa itu menyadari, jika lawannya mampu melepaskan segenap kekuatannya sebagaimana sebelumnya, maka Glagah Putih tentu akan terlempar lagi. Karena itu, Glagah Putih memang tidak ingin membentur kekuatan orang itu dengan kekuatan. Glagah Putih ingin meredam kekuatan itu justru dengan membiarkan dirinya terlempar dan jatuh berguling beberapa kali sebelum ia akan melenting berdiri. Ketika kaki lawannya itu mengenai tangannya yang menyilang melindungi dadanya, maka Glagah Putih telah terdorong surut justru karena Glagah Putih sama sekali tidak melawan kekuatan ilu. Glagah Putih itupun telah menjatuhkan diri dari berguling beberapa kali untuk mengambil jarak. Dengan cepat, Glagah Putihpun kemudian melenting berdiri. Tetapi ternyata lawannya tidak memburunya. Ia membiarkan saja Glagah Putih bangkit berdiri dan bersiap menghadapi segala kemungkinan. Tetapi orang itu tetap berdiri ditempatnya. Glagah Putih memang menjadi heran. Namun selangkah demi selangkah ia bergerak maju mendekati orang itu dengan jantung yang berdebar-debar. Lawannya itu justru melangkah surut seperti orang yang merasa sangat cemas menghadapi lawan yang sangat tangguh. Sikap itu membuat Glagah Putih semakin bertanya-tanya didalam hati. Justru saat ia mendapatkan kesempatan, maka kesempatan itu sama sekali tidak dipergunakannya. Yang tidak kalah herannya adalah Agung Sedayu. Namun dengan demikian Agung Sedayu berusaha dengan sungguh-sungguh mengenali ilmu lawannya yang aneh itu. Sekali-sekali dengan mengerahkan ilmunya Agung Sedayu mendesak orang itu. Namun kemudian ia berusaha untuk bergeser mundur. Sambil mengetrapkan ilmunya ia mendesak maju. Namun pada Suatu saat terasa serangan orang itu mampu menggoyahkan ilmu kebalnya Bahkan serangan orang itu yang tepat mengenai keningnya, mampu menembus ilmu kebalnya, sehingga kepala Agung Sedayu merasa pening. Tetapi sesaat kemudian, maka serangan orang itu sama sekali tidak berarti apa-apa. Jangankan menembus ilmu kebalnya, meng-goyahkanpun tidak. Namun semakin lama Agung Sedayu mulai dapat melihat beberapa kemungkinan. Dengan menyerang lawannya dari arah yang berbeda-beda. Ia berusaha mendesak lawannya ke beberapa arah. Telapi lawannya yang memiliki pengalaman yang luas itupun berusaha pula untuk mengaburkan setiap usaha pengamatan Agung Sedayu atas lawannya itu. Namun akhirnya, Agung Sedayu itu tiba-tiba berteriak kepada Glagah Putih ~ Glagah Putih. Kita bertempur berpasangan. – Glagah Putih tidak mengetahui maksud kakang sepupunya itu. Tetapi iapun segera berusaha untuk dapat mendekatinya dan bertempur berpasangan. Ternyata lawannya sama sekali tidak berusaha menghalanginya. Ketika Agung Sedayu dan Glagah Putih menjadi semakin dekat, kedua orang kembar itu pun bertempur berpasangan pula. Dalam pada itu, Agung Sedayu dan Glagah Putih yang bertempur berpasangan itu merasakan, bahwa ilmu kedua orang kembar itu seakan-akan menjadi semakin meningkat. Kekuatan dan kemampuan mereka seakan-akan telah menjadi berlipat. Untuk mengatasi keduanya, Agung Sedayu dan Glagah Putihpun harus meningkatkan ilmu mereka pula, agar mereka tidak benar-benar dihancurkan oleh kedua orang kembar yang justru menjadi semakin tegas. Dalam pada itu, ketika pertempuran menjadi semakin sengit. Agung Sedayu sempat berbisik ditelinga Glagah Putih ~ Kita usahakan untuk memisahkan mereka. — Glagah Putih termangu-mangu. Namun ia tidak sempat bertanya. Lawannya telah meluncur dengan serangan kakinya yang terjulur menyamping kearah dadanya. Glagah Putih dengan tangkasnya mengelak. Tetapi demikian ia bergeser, maka lawannya itupun telah berputar. Satu kakinya terayun dengan derasnya mengarah ke kening. Tetapi Glagah putih cukup tangkas. Dengan .kedua belah tangannya Glagah Putih membentur serangan itu. Satu benturan keras telah terjadi. Lawan Glagah Putih ternyata telah tergetar selangkah surut. Namun Glagah Putih terdorong beberapa langkah surut. Dengan susah payah Glagah Putih berusaha mempertahankan keseimbangannya. Pada saat itu, lawannya telah memburunya. Satu loncatan panjang dengan tangan yang terayun mendengar menyambar dada anak muda itu. Dalam keadaan yang sulit, Glagah Putih berusaha untuk menangkis serangan itu, sementara Glagah Putih sudah siap untuk menjatuhkan dirinya dan berguling mengambil jarak. Tetapi ternyata tenaga lawannya tidak lagi sebesar serangan sebelumnya. Meskipun Glagah Putih terdorong beberapa langkah surut, tetapi ia tidak merasakan hentakan kekuatan yang memadai. Dalam pada itu, Glagah Putih segera teringat bisikan Agung Sedayu untuk memisahkan kedua orang lawannya itu. Tiba-tiba saja Glagah Putih mengerti apa yang harus dikerjakannya. Berdasarkan atas pengamatannya selama ia bertempur, peringatan kakak sepupunya serta perhitungannya yang mapan, maka iapun segera berdiri tegak dengan kesiagaan tertinggi. Sementara itu, ternyata Agung Sedayu juga telah mengerahkan kemampuanya meskipun ia masih belum melepaskan puncak-puncak ilmunya. Dengan berlindung dibelakang ilmu kebalnya. Serta ilmu meringankan tubuhnya maka Agung Sedayu berhasil mendesak lawannya menjauhi saudara kembarnya. Kedua orang kembar itu ternyata telah terdesak untuk saling menjauhi. Bahkan seorang diantara mereka berusaha memburu Glagah Putih untuk segera mengakhiri pertempuran. Namun hal itu ternyata merupakan kesalahan yang besar. Pada saat itulah Agung Sedayu dan Glagah putih mendapat kesimpulan, bahwa kedua orang saudara kembar itu memiliki ilmu yang jarang ditemui. Tenaga, kekuatan dan kemampuan mereka akan meningkat semakin tinggi, jika keduanya menjadi semakin dekat. Karena itu, ketika Agung Sedayu dan Glagah Putih berhasil memaksa mereka bergeser semakin jauh, maka tenaga serta kemampuan merekapun seakan-akan telah menyusut. Karena, itu, maka perlawanan kedua orang kembar itu menjadi semakin lemah. Agung Sedayu dan Glagah Putih tidak lagi memberi kesempatan kepada keduanya untuk dapat saling mendekat. Dengan demikian, maka serangan-serangan Agung Sedayu dan Glagah Putih menjadi semakin sering menembus pertahanan mereka. Beberapa kali kedua orang kembar itu terdorong surut dan bahkan terlempar jatuh. Dengan demikian, maka jarak mereka berdua menjadi semakin jauh pula. Akhirnya keduanya merasa, bahwa mereka tidak akan mampu lagi bertahan menghadapi kedua orang yang diduga prajurit sandi dari Mataram itu. Jika semula mereka meragukan berita bahwa orang-orang Mataram, terutama para prajurit sandinya memiliki ilmu yang tinggi, ternyata mereka telah mendapat kesempatan untuk membuktikannya. Karena itu, maka salah seorang dari kedua orang kembar itu telah memberikan isyarat dengan suitan nyaring. Tetapi baik Agung Sedayu maupun Glagah Putih segera tanggap pula akan isyarat itu. mereka memang sudah memperhitungkan bahwa kedua orang itu akan berusaha untuk melarikan diri, atau setidak-tidaknya mencari kesempatan untuk dapat memperpendek jarak antara keduanya. Karena itu, maka Agung Sedayu dan Glagah Putihpun segera bersiap pula untuk mencegahnya. Sebenarnyalah, bahwa kedua orang kembar itu tidak mempunyaikesempatan untuk melarikan diri. Ketika mereka mulai meloncat meninggalkan lawan-lawan mereka, maka baik Agung Sedayu maupun Glagah Putih telah dengan cepat menghalangi mereka. Bahkan Glagah Putih telah menyerang lawannya dengan derasnya, sehingga lawannya itu terpelanting jatuh. Demikian kerasnya serangan Glagah Putih yang mengenai lambungnya, serta punggungnya yang menimpa batu-batu padas, maka orang itupun mengeluh menahan sakit. Kedua orang kembar itu tidak dapat berbuat sesuatu. Karena itu, maka lawan Agung Sedayu itupun kemudian berkala — Kami menyerah. Kami mohon ampun. — Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Sementara itu lawan Glagah Putih yang kesakitan itu berusaha untuk bangkit. Namun iapun berkata pula — Aku juga menyerah. Ternyata kalian memang memiliki ilmu yang tinggi. ~ – Apa yang kalian lakukan jika lawan-lawan kalian menyerah ?~ bertanya Agung Sedayu. Kedua orang itu termangu-mangu. Namun lawan Agung Sedayu itupun prajurit yang mengupah kami untuk menangkapnya. Kami tidak tahu apa yang kemudian dilakukan oleh para prajurit itu. — – Jika seseorang mengupahmu untuk membunuh, apa yang kalian lakukan jika orang yang akan kau bunuh tidak mengadakan perlawanan ? Melepaskan mereka atau membunuh mereka ? – Kedua orang itu menjadi bingung. Dengan suara yang bergetar maka salah seorang dari orang itu menjawab — Kami mohon ampun. Kami tidak akan melakukan lagi. – – Apakah kalian berkata sebenarnya ? – – Kami berjanji demi langit dan bumi. – – Jika kalian langgar janji itu ? – bertanya Agung Sedayu pula. – Nyawa kami akan dihabisi. ~ Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya – Duduk sajalah disitu. Aku akan berbicara dengan adikku. — Agung Sedayupun kemudian mendekati Glagah Putih sambil berbisik — Kita akan mencoba kejujuran mereka. Biarlah mereka saling mendekat. Tetapi berhati-hatilah. Mereka akan dapat melakukan serangan dengan tiba-tiba jika mereka tidak jujur. ~ Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab. Agung Sedayulah yang kemudian berkata kepada kedua orang yang berdiri agak berjauhan itu ~ Baiklah. Kami akan mengampuni kalian. Adikku setuju, tetapi kalian harus jujur terhadap janji kalian itu. ~ – Jadi ? — bertanya lawan Agung Sedayu. — Pergilah. – jawab Agung Sedayu. — Terima kasih. Kami akan selalu mengingat kebaikan hati kalian berdua. — Agung Sedayu tidak menjawab. Sementara itu kedua orang itupun segera beringsut. – Berhati-hatilah – sekali lagi Agung Sedayu memperingatkan Glagah Putih — mudah-mudahan mereka bersikap jujur. – Kedua orang itupun kemudian bersama-sama melangkah pergi meninggalkan Agung Sedayu dan Glagah Putih. Namun ketika Agung Sedayu melihat kedua orang itu saling berpegangan erat-erat, maka Agung Sedayu berdesis sekali lagi – Bersiap dengan kemampuan puncakmu. — Glagah Putih tidak menyahut. Tetapi ia segera memusatkan nalar budinya, siap menghadapi segala kemungkinan. Sebenarnyalah yang diperhitungkan oleh Agung Sedayu itu terjadi. Kedua orang yang saling berpegangan dengan erat itu dengan cepat berputar menghadap ke arah Agung Sedayu dan Glagah Putih. Dengan cepat pula keduanya mengangkat sebelah tangannya. Yang seorang tangan kanannya yang seorang tangan kirinya. Segumpal cahaya yang kemerah-merahan meluncur dari telapak tangan mereka. Seorang menyerang Agung Sedayu dan yang seorang menyerang Glagah Putih. Tetapi Agung Sedayu dan Glagah Putih telah siap menghadapi kemungkinan itu. Karena itu, demikian mereka melihat lawannya menyerang, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih telah menyerang pula dengan kemampuan puncak mereka. Seleret sinar telah memancar dari mata Agung Sedayu, sementara itu, Glagah Putihpun telah meluncurkan serangannya pula. Dengan cepat ia mengangkat tangannya dengan telapak tangannya yang terbuka menghadap kearah lawannya itu. Benturan yang dahsyat telah terjadi. Sorot mata Agung Sedayu ternyata memiliki kekuatan yang sulit diimbangi. Ketika benturan ilmu itu terjadi, maka lawannya itu bagaikan di guncang oleh petir yang menyambar dari langit. Lawannya itu telah terlempar beberapa langkah dan jatuh terbanting ditanah. Sedangkan Agung Sedayu sendiri tergetar selangkah surut. Namun ilmu kebal dan daya tahan Agung Sedayu melindunginya sehingga getar dari benturan ilmu itu tidak mempengaruhi bagian dalam tubuhnya. Sementara itu, benturan yang lain telah terjadi pula. Glagah Putih telah berhasil melawan serangan orang kembar itu. Dengan kemampuan ilmunya yang tinggi, maka Glagah Putih mampu membentur ilmu lawannya yang justru getar baliknya telah menghantam isi dada orang kembar itu sendiri. Terdengar orang itu mengaduh kesakitan, sementara tubuhnya terpelanting jatuh. Orang itu masih sempat menggeliat dan mengumpat kasar. Namun kemudian terdiam untuk selamanya. Namun dalam pada itu, Glagah Putih telah terdorong beberapa langkah surut. Tubuhnya menjadi gemetar, sedang keringatnya menjadi bagaikan terperas dari tubuhnya. Pakaiannya menjadi basah kuyup bagaikan tercelup kedalam air. Untuk beberapa saat Glagah Putih masih berdiri. Namun kemudian iapun jatuh berlutut. – Glagah Putih – dengan cepat Agung Sedayu meloncat mendekatinya. Sambil berjongkok disisinya Agung Sedayu membantu Glagah Putih untuk duduk di tanah. Glagah Putih kemudian menakupkan kedua telapak tangannya dipangkuannya. Perlahan-lahan ia menarik nafas dalam-dalam berulang-ulang. Agung Sedayupun membiarkan adik Sepupunya itu mengatur pernafasannya untuk mengatasi kesulitan didalam tubuhnya. Benturan ilmu yang telah terjadi, ternyata mampu mengguncang isi dadanya. Dengan mengatur pernafasannya serta pemusatan nalar budinya, maka perlahan-lahan Glagah Putih memperbaiki keadaannya. Tangannya yang menakup itupun kemudian terangkat didepan dadanya. Dengan wajah menunduk dan mata terpejam, Glagah Putih berusaha mengatasi getar yang rasa-rasanya menghimpit jantung. Agung Sedayu tidak mengganggunya. Dibiarkannya adik sepupunya mengatasi sendiri kesulitan didalam dirinya akibat dari benturan ilmu yang mendebarkan itu. Tetapi Agung Sedayu tetap mengamatinya. Sebagai murid Kiai Gringsing, Agung Sedayu mempunyai pengetahuan tentang pengobatan yang luas dengan berbagai macam cara. Bukan sekedar reramuan akar-akaran, dedaunan, dan bagian-bagian dari tumbuh-tumbuhan dan berjenis-jenis binatang, tetapi juga mempergunakan getar tenaga yang tersimpan didalam diri. Dengan demikian, Agung Sedayu dapat mengamati perkembangan keadaan Glagah Putih. Apakah ia menjadi lebih baik atau justru sebaliknya. Namun beberapa saat kemudian. Agun
  6. Kitab 300 (bagian II)

    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu bahwa saat-saat yang paling sulit telah dilampaui oleh Glagah Putih. Karena itu, maka Agung Sedayu itupun justru tersenyum sambil berkata kepada diri sendiri — Anak ini memang luar biasa. Ia memiliki bekal kewadagan dan kejiwaan yang sangat baik. –
    Dengan demikian, Agung Sedayupun merasa bersukur, bahwa adik sepupunya itu kelak akan dapat meneruskan pengabdiannya kepada banyak orang jika datang saatnya, Agung Sedayu sendiri harus sudah beristirahat.
    Beberapa saat kemudian, maka Glagah Putih itu mengangkat wajahnya perlahan-lahan. Ketika matanya terbuka, maka dilihatnya sosok tubuh berdiri beberapa langkah dihadapannya. Mula-mula nampak kabur. Namun kemudian menjadi semakin jelas.
    – Kakang ~ desis Glagah Putih.
    – Bagaimana keadaanmu ? ~ bertanya Agung Sedayu.
    – Baik kakang. Rasa-rasanya sekarang sudah baik. -Agung Sedayu memandang Glagah Putih yang sudah tidak nampak terlalu pucat. Bahkan kemudian Glagah Putih itu telah berusaha untuk bangkit berdiri.
    Agaknya daya tahannya telah mampu mengatasi rasa sakit didalam dirinya.
    Agung Sedayu mendekatinya. Dipegangnya kedua lengan Glagah Putih sambil mengguncangnya perlahan-lahan.
    – Kau sudah merasa benar-benar baik ? –
    – Sudah kakang — jawab Glagah Putih.
    – Sokurlah. Kita masih berada di tempat yang jauh, sehingga kita
    masih harus menempuh perjalanan yang panjang. — Lalu katanya kemudian — Aku akan melihat kedua orang kembar itu. –
    Glagah Putih mengangguk-angguk. Ketika Agung Sedayu melangkah mendekati lawan Glagah Putih ilu, maka nampaknya tubuhnya terbujur diam. Ditubuhnya nampak saluran darahnya seakan-akan telah membengkak dan berwarna kebiru-biruan.
    Glagah Putihpun telah melangkah mendekati lawannya itu pula. Namun meskipun sudah teratasi, tetapi dadanya kadang-kadang masih terasa sakit juga. Jika kakinya melangkah selangkah maju, maka perasaan sakit itu ikut menghentak didalam dadanya.
    Tetapi Glagah Putih tidak lagi mengeluh, la berusaha untuk melupakan perasaan sakit itu.
    Beberapa saal kemudian, maka berdua mereka melihat apa yang terjadi pada lawan Agung Sedayu. Tubuh itu terbaring diam membeku. Dibcberapa bagian tubuhnya nampak luka seolah-olah tersentuh bara api.
    Agung Sedayu menarik nafas panjang. Lawannya itu tentu orang yang memiliki daya tahan yang tinggi.
    Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Dua orang saudara kembar itu telah terbunuh dibawah sepasang pohon beringin yang sangat besar.
    – Kita tidak dapat meninggalkan mereka begitu saja. — berkata Glagah Putih.
    Agung Sedayu mengangguk. Katanya ~ Kita akan menimbun tubuh itu dengan bebatuan. Kita tidak mempunyai alat untuk menggali lubang. —
    Glagah Putih memandang berkeliling. Disekitarnya memang terdapat banyak bebatuan. Sementara mereka memang tidak mempunyai alat apapun untuk menggali lubang bagi kedua orang itu.
    Tetapi sebelum mereka melakukannya, maka mereka telah melihat dua orang lagi yang berdiri termangu-mangu di tanggul parit. Ketika kemudian kedua orang itu melompati parit dan berjalan kearah mereka. Agung Sedayu dan Glagah Putihpun telah mempersiapkan diri. Namun Agung Sedayu yang berdiri disebelah Glagah Putih itu
    sempat bertanya kepada adik sepupunya itu – Bagaimana keadaanmu ? —
    – Aku siap menghadapi segala kemungkinan, kakang ? – jawab Glagah Putih.
    – Apakah dadamu kadang-kadang masih terasa sakit ? —
    – Sedikit kakang. Tetapi aku dapat mengatasinya. -Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu kedua
    orang itu menjadi semakin dekat.
    Tetapi Agung Sedayu dan Glagah Putih kemudian melihat dengan jelas, bahwa kedua orang itu adalah prajurit sandi dari Pati yang pernah mereka tolong, mereka lepaskan dari tangan orang-orang padukuhan yang marah dan mengikat mereka di pendapa.
    Meskipun demikian, Agung Sedayu dan Glagah Putihpun telah mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang tidak mereka duga sebelumnya.
    Namun Agung Sedayu dan Glagah putih tidak melihat tanda-tanda bahwa kedua orang itu akan berniat buruk terhadap mereka.
    Dalam pada itu, kedua orang itu melangkah semakin dekat. Yang tertua diantara mereka, yang kemudian berjalan didepan mengangkat tangan kanannya sambil berkata — Apakah kalian lupa kepada kami, Ki Sanak ? –
    – Tidak – jawab Agung Sedayu – tetapi darimana kalian tahu kami disini ? Atau secara kebetulan kalian lewat ? ~
    – Tidak. Bukan kebetulan. Ketika aku berada dipintu gerbang kota, aku mendengar bahwa kedua Iblis Kembar itu telah mendapat perintah untuk menyusul kalian, dengan janji mendapat upah yang tinggi. Sulit bagi seseorang dapat melawan kedua Iblis Kembar itu, karena kedua keduanya memang memiliki kemampuan Iblis. —
    — Kalian lalu menyusul mereka ? – bertanya Agung Sedayu. Kedua orang prajurit sandi itu berdiri beberapa langkah dari
    Agung Sedayu. Keduanya tidak tergesa-gesa mendekat, karena mereka melihat Agung Sedayu telah bersiap untuk bertempur. Demikian pula anak muda yang diakunya sebagai adiknya itu.
    — Ya. Aku menyusul mereka karena aku yakin bahwa dua orang
    yang dimaksudkan sedang diburu oleh kedua Iblis Kembar itu adalah kalian berdua. Dari prajurit yang terluka, aku mendapat keterangan tentang ciri-ciri orang yang harus diburu dan ditangkap hidup atau mati oleh kedua Iblis Kembar itu. –
    – Ternyata kalian benar ~ jawab Agung Sedayu.
    – Ya. Karena itu aku menyusuri langkah kalian. Beberapa orang sempat memberikan keterangan tentang kalian dan tentang Iblis Kembar yang sudah banyak dikenal orang di lingkungan ini. –
    – Sekarang kalian telah berhasil menyusul kami dan orang yang kau sebut Iblis Kembar itu. — berkata Agung Sedayu.
    — Apakah Iblis Kembar itu telah berhasil menyusul kalian ? — bertanya kedua orang itu.
    – Apakah sebenarnya maksudmu menyusul kedua orang yang kau sebut Iblis Kembar itu ? Membantu mereka atau apa ? –
    – Tidak Ki Sanak. Kami memang berniat untuk menyusul mereka. Kami ingin mencegah mereka, justru karena kami merasa berhutang budi terhadap kalian. Mungkin kedatangan kami akan berarti seandainya harus terjadi benturan kekerasan. Kami tahu rahasia kelemahan kedua Iblis itu. —
    – Mereka memang ada disini sekarang – berkata Agung Sedayu.
    Keduanya termangu-mangu. Keduanya telah memandang berkeliling pula Tetapi mereka tidak melihat dua orang yang mereka sebut Iblis Kembar itu. —
    – Mendekatlah – berkata Agung Sedayu – mereka ada disini. ~ Dengan ragu-ragu keduanya melangkah mendekat. Baru kemudian mereka melihat orang yang mereka sebut Iblis Kembar itu terbaring ditanah. Mati.
    Dengan tergesa-gesa keduanya mendekati Iblis Kembar itu. Keduanya menjadi berdebar-debar melihat kedua tubuh yang membeku itu. Mereka melihat luka-luka bukan karena senjata, sehingga kedua-nyapun menduga, bahwa kedua Iblis Kembar itu telah terbunuh oleh kekuatan ilmu yang sangat tinggi.
    – Luar biasa — berkata yang tertua dari kedua orang prajurit itu — apakah yang kalian lakukan terhadap mereka. ?-
    – Kami mempertahankan diri kami — jawab Agung Sedayu — mereka dengan curang telah menyerang kami, saat kami melepaskan mereka. —
    – Apakah yang telah mereka lakukan ? – bertanya prajurit sandi itu.
    Dengan singkat Agung Sedayu menceriterakan apa yang telah terjadi atas kedua orang kembar itu.
    – Jika saja mereka jujur dan tidak menyerang kami dengan licik, kami telah melepaskan mereka dengan janji — berkata Agung Sedayu.
    – Mereka memang Iblis yang licik — sahut prajurit yang muda — keduanya tidak mengenal harga diri dan kehormatan. Mereka berbuat apa saja untuk mendapatkan upah. Menangkap dan membunuh. Kadang-kadang mereka nampak berarti jika mereka menangkap penjahat yang diburu. Tetapi pada kesempatan lain mereka membunuh orang yang tidak bersalah sama sekali sekedar untuk mendapatkan upah. —
    – Mereka juga mengaku sebagaimana kau katakan. —
    Kedua orang prajurit itu mengangguk-angguk. Namun yang tertua diantara mereka berkata — Tetapi aku masih sulit membayangkan, bagaimana kalian dapat membunuh kedua Iblis Kembar itu. —
    – Kau tidak perlu membayangkannya — jawab Glagah Putih — yang penting, bagaimana mengukur mereka berdua. Kita harus menyembunyikannya, agar tempat yang dianggap keramat ini tidak menjadi semakin dikeramatkan orang. Jika banyak orang mengetahui bahwa disini terbunuh orang yang disebut Iblis Kembar ini, maka tempat ini akan semakin menakutkan. —
    Kedua prajurit itu mengangguk-angguk. Yang muda diantara keduanya berkata — Ya. Tempat ini memang dianggap tempat yang keramat. Kedua Iblis Kembar itu memang harus disingkirkan. –
    – Nah – berkata Agung Sedayu – bukankah kalian datang untuk membantu kami ? —
    Kedua orang itu termangu-mangu. Namun kemudian yang tertua menjawab – Ya. Kami memang berniat untuk membantu Kalian. Kami ingin memberitahukan kelemahan kedua Iblis itu. Tetapi tanpa itupun kalian sudah dapat membinasakannya. —

    – Kami sudah mengetahui kelemahan mereka. Mereka harus dipisahkan. Semakin jauh jarak yang satu dengan yang lain, mereka menjadi semakin lemah. —
    — Ya. Darimana kalian mengetahuinya ~ bertanya prajurit itu.
    – Kami telah bertempur beberapa lama, sehingga akhirnya kami mengetahui kelemahan mereka. Tetapi ketika kami membunuh mereka justru mereka sedang saling berpegangan erat-erat. –
    – Ternyata kalian memang memiliki ilmu yang sangat tinggi. –
    – Kalian tidak usah memuji. – sahut Glagah Putih – yang penting bagi kami, apakah kalian bersedia mengubur mereka atau tidak. –
    – Baiklah – jawab yang tertua kami akan melakukannya. Tetapi kami tidak membawa alat apapun untuk menggali lubang kubur. Karena itu, maka kami akan menimbuninya dengan bebatuan saja. –
    Agung Sedayu dan Glagah Putih saling berpandangan sejenak.
    Ternyata gagasan mereka bersamaan.
    Tetapi ternyata Agung Sedayu dan Glagah Putih tidak ingin membebankannya kepada kedua orang prajurit itu saja. Karena itu, maka katanya — Baiklah. Marilah, kita lakukan bersama-sama. —
    Kedua prajurit sandi itu termangu-mangu sejenak. Namun Agung Sedayu dan Glagah Putih justru telah mendekati salah satu dari kedua sosok itu sambil berkata — Kita kuburkan ditempat yang agak jauh dari sendang ini. —
    Sejenak kemudian, maka agak jauh dari sendang itu telah terbujur dua gundukan bebatuan menandai tubuh dua orang yang disebut Iblis Kembar ilu.
    – Terima kasih atas bantuan kalian ~ berkata Agung Sedayu ke pada kedua orang prajurit Pati itu.
    – Apa artinya bantuan yang aku berikan kepada kalian ? Sekedar melemparkan bebatuan keatas tubuh yang sudah membeku ? –
    – Aku semula menduga, bahwa sebagai prajurit Pati kalian akan ikut menangkap kami. —
    Yang tertua diantara kedua orang prajurit itu tertawa pendek. Katanya – Aku masih mempunyai nalar dan budi. Mungkin aku bukan seorang prajurit yang baik. Demikian pula kawanku ini. Tetapi memang sulit bagiku untuk memisahkan kedudukan sebagai seorang prajurit dengan aku sebagai diriku. Jika kalian pernah menolong jiwaku, apakah aku sebagai seorang prajurit akan menangkap kalian dengan alasan apapun juga ? —
    Agung Sedayu mengangguk-anguk. Katanya – Baiklah. Jika demikian kami minta diri. Kami akan melanjutkan perjalanan kami. –
    Silahkan Ki Sanak. Tetapi satu pertanyaanku yang sebelumnya tidak terjawab, tetapi justru baru sekarang terjawab.-
    – Apa ? – bertanya Agung Sedayu.
    — Bukankah kalian petugas sandi dari Mataram ? -Agung Sedayu menggeleng. Katanya – Bukan Ki Sanak. Kami bukan siapa-siapa. Kami adalah pengembara yang ingin melihat dinding cakrawala. —
    Prajurit itu tertawa. Katanya ~ Apapun yang kau katakan, tetapi kami sudah pasti, bahwa jawaban itu benar. –
    ~ Terserah kepada kalian – berkata Agung Sedayu. Namun kemudian iapun bertanya – Tetapi kenapa orang-orang berilmu tinggi seperti Iblis Kembar itu tidak diikut sertakan dalam pasukan Pati ketika mereka pergi ke Prambanan ? ~
    – Di Prambanan ada kalian. Jika mereka pergi, maka mereka sudah mati beberapa waktu yang lalu. —
    Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun tertawa Katanya ~ Sudahlah. Siapapun kami, sebenarnya tidak penting bagi kalian. –
    – Ada bedanya. Ki Sanak. Jika kalian bukan prajurit sandi Mataram, maka kebaikan hati kalian yang telah menolong kami tidak akan pernah kami lupakan. Bagi kami kalian adalah orang yang baik hati, berbudi luhur dan mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap sesama. Sedangkan jika kalian adalah prajurit sandi Mataram yang selama ini bermusuhan dengan Pati. Maka apa yang kalian lakukan tidak dapat dinilai lagi dengan takaran sekedar kebaikan hati. —
    – Sudahlah. Terserah apa yang akan kalian harus bersedia menjawab banyak pertanyaan karena kalian tidak dapat menangkap kami. —
    Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Namun yang tertua diantara merekapun menjawab – Tidak ada beban bagi kami, karena
    kami sekedar menyusul kalian. Kami dapat mengatakan bahwa ketika kami sampai disini, kami menemukan Iblis Kembar ilu sudah menjadi mayat. Bukankah jika perlu aku dapat membuktikannya ? Sementara itu kalian berdua sudah hilang tanpa diketahui, kemana kalian pergi. Kecuali alasan itu, sebenarnya tugas ini bukan tugasku. Aku menyusul kalian atas kemauanku sendiri. —
    Agung Sedayu mengangguk sambil berkata — Baiklah. Sekarang kami minta diri sebelum sekelompok prajurit menyusul kami, karena agaknya mudah bagi mereka untuk melacak arah perjalanan Iblis Kembar. Jika hampir setiap orang mengenalnya, maka orang-orang yang dijumpainya diperjalanan akan dapat menunjukkan kemana ia pergi. –
    ~ Baiklah ~ berkata prajurit ilu. Bahkan kemudian prajurit itu sempat memberikan petunjuk, jalan manakah yang sebaiknya mereka lalui untuk sampai ke jalan yang lebih ramai untuk menuju ke Selatan.
    Demikianlah maka Agung Sedayu dan Glagah Putihpun telah meninggalkan tempat itu. Mereka memilih jalan dengan berpegangan pada petunjuk kedua orang prajurit Pati itu. Agung Sedayu dan Glagah Putih percaya, Bahwa keduanya tentu tidak berniat menjerumuskan mereka. Tentu juga dengan sengaja memberikan arah perjalanan agar keduanya tidak dapat dengan mudah disusul oleh sekelompok orang berilmu tinggi.
    Sambil berjalan, Agung Sedayu selalu memperhatikan keadaan Glagah Putih. Dengan obat yang ada pada Agung Sedayu, maka diharapkan bahwa Glagah Putih akan menjadi lebih baik sepanjang sisa perjalanan yang mereka tempuh.
    Ketika mereka merasa sudah tidak akan diburu lagi oleh para prajurit Pati, maka keduanya telah singgah disebuah sungai untuk mandi dan mencuci pakaian mereka. Dengan demikian, maka Agung Sedayu berharap keadaan Glagah Putih akan menjadi semakin baik.
    Sambil menunggu bajunya kering, Glagah Putih beristirahat dibawah sebatang pohon gayam tua yang tumbuh di pinggir sungai. Bajunya dibentangnya dialas sebuah batu yang besar dibawah panasnya sinar Matahari.
    Ketika baju mereka sudah menjadi kering, maka keadaan Glagah Putih memang menjadi semakin baik. Dadanya sudah tidak lagi terasa sakit Luka-lukanya bahkan sudah tidak mengganggunya sama sekali.
    Beberapa saat kemudian, maka kedua orang itu sudah siap untuk melanjutkan perjalanan.
    Sementara itu, mataharipun telah menjadi semakin rendah Agung Sedayu dan Glagah Putih yang merasa harus dan lapar itupun telah singgah disebuah kedai yang ada disudut sebuah padukuhan yang terhitung besar.
    Nampaknya padukuhan-padukuhan dijalur jalan yang dilaluinya itu tidak banyak terpengaruh oleh keadaan perang sebagaimana padukuhan-padukuhan yang ada dijalur jalan yang mereka lalui ketika mereka berangkat ke Pati.
    — Padukuhan-padukuhan ini rasa-rasanya tidak banyak disentuh oleh suasana perang — berkata Glagah Putih.
    – Ya. Suasananya nampak tenang. – sahut Agung Sedayu — meskipun demikian, kita harus berhati-hati menghadapi kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat terjadi. –
    Glagah Putih mengangguk-angguk. Iapun menyadari, bahwa kadang-kadang permukaan yang nampak itu berbeda dengan gejolak yang terdapat ditempat yang lebih dalam.
    Demikianlah, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih itupun telah duduk disudut sebuah warung yang agak luas. Merekapun segera memesan minuman dan makan.
    Di kedai itu ada beberapa orang yang telah duduk lebih dahulu pada saat Agung Sedayu dan Glagah Putih masuk. Tetapi nampaknya orang-orang itu sama sekali tidak menghiraukannya. Demikian pula saat mereka minum minuman hangat dan makan. Orang-orang yang sudah ada didalam kedai itu seakan-akan tidak melihat mereka.
    Orang-orang disini sama sekali tidak mengacuhkan orang lain — berkata Glagah Putih hampir berbisik.
    Agung Sedayu mengangguk kecil sambil berdesis — Mereka sedang menikmati pesanan mereka masing-masing. — Glagah Putihpun mengangguk pula.
    Namun Agung Sedayu dan Glagah Putihpun kemudian tidak menghiraukan orang-orang itu pula.
    Beberapa saat kemudian, maka keduanyapun telah selesai. Setelah membayar harga makanan dan minuman, maka keduanyapun segera minta diri.
    Orang-orang yang lainpun sama sekali tidak menghiraukan mereka pula. Bukan karena Agung Sedayu dan Glagah Putih nampak berpakaian lusuh. Tetapi mereka yang satu dengan yang lain nampaknya memang tidak saling memperhatikan.
    — Mungkin orang-orang itu untuk waktu yang lama hidup dalam suasana yang lain. Mungkinmereka sudah lama saling mencurigai Saling tidak percaya atau sejenis pengaruh perang yang lain. Bukan pengaruh dalam ujud kewadagan, kerusakan misalnya, tetapi pengaruh jiwani yang tidak kalah parahnya dengan pengaruh kewadagan itu sendiri.
    Glagah Putih mengangguk-angguk. Apakah sikap orang-orang di kedai itu menggambarkan sikap ketidak pedulian dari para penghuni padukuhan disekitamya ? Jika demikian, maka tatanan kehidupan akan berubah.
    Dalam pada itu, maka Agung Sedayu dan Glagah Putihpun berjalan semakin jauh ke Selatan.
    Ketika malam turun. Agung Sedayu dan Glagah Putih tidak segera berhenti mencari tempat untuk bermalam. Tetapi mereka masih saja berjalan menyusuri jalan-jalan bulak panjang.
    Baru kemudian ketika malam menjadi semakin dalam, Agung Sedayulah yang bertanya kepada Glagah Putih Apakah kita akan berjalan terus atau berhenti ? —
    Bagaimana menurut pendapat kakang ? ~ Glagah Putih justru bertanya.
    Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya – Baiklah kita beristirahat barang sejenak. Kita tidak usah pergi ke padukuhan untuk minta diijinkan bermalam di banjar. –
    Ternyata Glagah Putih sependapat Ia tidak ingin menemui persoalan-persoalan yang membuatnya semakin telah seandainya mereka bermalam di banjar Padukuhan.
    Karena itu, maka ke dua orang itupun segera mencari tempat yang mereka anggap baik untuk sekedar beristirahat.
    Agung Sedayu dan Glagah Putih itupun kemudian telah meniti pematang dan menuruni tanggul sungai yang tidak terlalu jauh dari
    jalan yang mereka lalui. Keduanyapun kemudian berhenti dan duduk bersandar bebatuan yang berserakan ditepian.
    – Tidurlah – berkata Agung Sedayu kepada Glagah Putih – Jika kau sempat tidur meskipun hanya sekejap, maka keadaanmu akan menjadi semakin baik. Meskipun dadamu sudah tidak terasa sakit lagi, namun istirahat akan masih kau perlukan. –
    – Kakang sendiri bagaimana ? ~ bertanya Glagah Putih.
    – Jika kau sudah sempat tertidur, biarlah aku membangunkanmu
    menjelang ajar. Barangkali aku masing mempunyai waktu sedikit untuk tidur. —
    Glagah Putih tidak bertanya lagi. la memang perlu beristirahat sebaik-baiknya.
    Ternyata beberapa saat kemudian, Glagah Putih yang letih itu sudah terlelap. ia tidur sampai duduk diatas pasir tepian bersandar sebuah batu yang cukup besar. Dindingnya embun agaknya tidak terasa lagi.
    Meskipun Agung Sedayu sendiri tidak tidur, tetapi ia sudah merasa cukup beristirahat dengan duduk bersandar batu sambil menyilangkan tangannya didadanya.
    Namun dalam pada itu, di dinihari Agung Sedayu mendengar, langkah beberapa orang menuruni tanggul sungai itu. Mereka menyusuri tepian beberapa puluh langkah. Namun kemudian merekapun telah berhenti.
    Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Orang-orang itu masih belum melihat Agung Sedayu dan Glagah Putih yang duduk bersandar batu.
    – Siapa pula mereka ? ~ bertanya Agung Sedayu didalam hatinya.
    Ternyata beberapa orang yang turun di tepian itu telah duduk tidak terlalu jauh dari Agung Sedayu dan Glagah Putih.
    Dari pembicaraan beberapa orang itu Agung Sedayu telah mengetahui, bahwa mereka adalah sekelompok perampok yang baru kembali dari perampok yang baru saja mereka lakukan.
    Semakin lama Agung Sedayu menjadi semakin terlarik pada pembicaraan pembicaraan itu. Seorang diantara mereka agaknya se-
    dang membagi hasil yang mereka peroleh dalam perampokan yang baru saja mereka lakukan ilu.
    Jantung Agung Sedayu terasa berdetak semakin cepat ketika ia mendengar salah seorang diantara mereka dengan memelas berkata –Kakang, aku minta uangnya saja, kakang. Aku jangan kau beri barang-barang yang masih harus dijual lagi. Kakang, anakku sudah tidak makan dua hari ini. Yang agak besar maski dapat menahan diri dengan makan apa saja yang ada dihalaman. Daun ketela pohon, melinjo dan tuntut pisang. Tetapi yang kecil selalu merengek kelaparan. —
    – Diam kau — bentak orang yang sedang membagi hasil rampokan itu ~ Kau kira anakku tidak kelaparan ? Kita sama-sama orang lapar. Padi kita yang hanya segenggam itu harus kiia serahkan untuk mendukung perang. —
    — Kau jangan minta berlebihan terdengar suara yang lain — uangnya, meskipun hanya beberapa keping, harus kita bagi rata. Barang-barangnya juga harus kita bagi rata. Istriku sedang sakit, Ia ingin membeli obat sebagaimana dikatakan oleh dukun yang mengobatinya. ~
    Orang yang minta diberi uang saja itu terdiam.
    Tetapi persoalannya masih belum selesai. Ketika mereka membagi uang, nampaknya memang tidak ada kesulitan, karena jumlahnya pasti, dibagi oleh sejumlah orang yang past, meskipun setiap orang hanya mendapat beberapa keping saja. Namun kemudian ketika mereka membagi barang-barang yang mereka dapat, telah timbul lagi perselisihan.
    Tetapi agaknya ada seorang yang paling disegani diantara mereka. Karena itu ketika orang itu mulai membentak, maka yang lainpun telah terdiam.
    – Kalian mau mendengar aku atau tidak ? – berkata orang itu dengan garangnya.
    Kawan-kawannya tidak ada -yang berani membantah. Mereka tinggal menerima saja sesuai dengan pemberian dari orang yang paling berpengaruh itu. Namun agaknya orang itu juga tidak ingin merampas hak kawan-kawannya. Ia mencoba untuk berbuat adil, meskipun ia menemui kesulitan untuk menilai barang-barang rampasan mereka dengan cepat.
    Namun akhirnya mereka menerima pembagian itu meskipun ada diantara mereka yang tidak terlalu puas.
    – Aku tidak dapat membagi lebih adil dari ini — berkata orang itu — kita memang sulit untuk menentukan harga setiap barang yang berhasil kita dapat malam ini. —
    Tiba-tiba seorang diantara mereka berdesis dengan suara bergetar — Ampuni Yang Maha Agung, jika saja anakku tidak kelaparan, aku tidak akan melakukan hal ini. —
    Kawannya yang bertubuh kurus membentaknya ~ Jangan cengeng. Kita sudah sepakat untuk melakukannya. Bukankah kau juga tahu bahwa aku tidak pernah melakukannya sebelumnya. —
    – Cukup — bentak orang yang paling berpengaruh ~ Aku tahu bahwa kalian tidak terbiasa melakukannya. Tetapi kalian berhasil kali ini. Jangan sesali apa yang sudah kalian lakukan. Aku sudah pernah melakukannya berpuluh kali. — Namun kemudian suaranya merendah — sudah lebih dari setahun adikku menghentikan pekerjaan ini. Tetapi akhir-akhir ini, kehidupan keluargaku menjadi sulit, karena hasil sawah kami tidak dapat kami nikmati sepenuhnya lagi. Tetapi aku tidak menyesal. Aku tidak menangis karenanya. –
    Suasana menjadi hening. Beberapa orang yang duduk melingkar itu menundukkan kepalanya, seakan-akan mereka sedang menilai, apa yang sebenarnya baru saja terjadi atas diri mereka itu.
    Tiba-tiba saja mereka terkejut ketika terdengar suara dari dalam kegelapan – Kalian menjadi kelaparan akibat perang yang terjadi. —
    Semua orang berpaling kearah suara itu. Dalam keremangan malam mereka melihat dua orang yang duduk diatas batu yang cukup besar dipinggir sungai itu.
    – Siapakah kalian ? – bertanya orang yang paling berpengaruh di antara mereka.
    – Aku menjadi terharu mendengar alasan kalian masing-masing, kenapa kalian merampok. Perang itu terjadi diluar kehendak lain masing-masing. Tetapi yang terjadi itu sudah terjadi. –
    – Siapa kau, mengakulah – bentak orang yang paling berpengaruh itu.
    – Itu tidak penting, — jawab Agung Sedayu yang telah mendekati orang-orang yang sedang membagi hasil rampokan itu. –
    – Jadi apa maksudmu ? – bertanya orang itu pula
    – Aku ikut prihatin terhadap kesulitan-kesulitan yang kalian alami. –
    ~ Terima kasih Ki Sanak. Tetapi setelah itu ? Aku yakin bahwa kalian tidak hanya sekedar ingin menyatakan keprihatinan kalian berdua saja. Tetapi kalian tentu ingin berbuat lebih jauh lagi. Nah, jika hal itu ingin kalian lakukan, lakukanlah. Kami, setidak-tidaknya aku, sudah siap untuk menghadapi segala kemungkinan. –
    – Tidak Ki Sanak – jawab Agung Sedayu – aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku benar-benar hanya ingin menyatakan keprihatinanku terhadap keadaan yang telah mencekik kalian dan membuat keluarga kalian kelaparan. Perang memang terkutuk. Tetapi aku juga ingin menyatakan keprihatinanku terhadap orang yang telah kalian rampok habis-habisan. Bahkan mungkin telah kau sakiti. –
    – Tidak – tiba-tiba salah seorang dari mereka menjawab hampir berteriak – Kami tidak menyakiti keluarga yang telah kami rampok. Kami hanya mengambil barang-barang mereka yang paling berharga dan uang. Itu saja. –
    – Ya. Itu saja — sahut Agung Sedayu ~ aku membayangkan betapa mereka akan dicekik oleh kesulitan. Keluarga itu akan menjadi kelaparan disaat kalian mendapat makanan. –
    – Itu baru adil — jawab orang yang paling berpengaruh — selama ini, ketika kami kelaparan, maka masih sempat menikmati kekayaan mereka. Sekarang, biarlah mereka menjadi lapar untuk satu dua hari. Keluarga itu mempunyai simpanan kekayaan yang sangat banyak. Rumahnya berjajar di beberapa padukuhan. Sawahnya terbentang dari cakrawala sampai ke cakrawala. Ternaknya bertumpuk didalam kandang. Jika mereka kelaparan, maka mereka dapat menukarkan seekor lembunya dengan padi atau beras, atau mereka akan menyembelih dua ekor lembu disatu atau dua hari ini untuk pengganti beras seandainya padi dan beras mereka sudah diambil oleh para prajurit, sedangkan masih belum ada orang yang mau menukar lembunya dengan beras. — Aku mengerti – jawab Agung Sedayu – tetapi aku juga menjadi prihatin bahwa kalian tidak lagi menghargai hak orang lain atas barang-barangnya sehingga kalian telah mengambil dengan kekerasan. –
    – Jangan bicara tentang hak dalam keadaan seperti ini. -—Jika demikian, maka kau tentu akan dapat membayangkan, apa
    yang terjadi. –
    Orang-orang itu termangu-mangu sejenak. Namun seorang di antara mereka berkata — Ki Sanak. Jika aku tidak melakukan ini, maka anakku yang kecil akan mati kelaparan. Esok atau lusa. Tetapi jika hal ini kami lakukan, orang yang kehilangan barang-barangnya ini tidak akan kelaparan. —
    Agung Sedayu menarik nafas panjang. Dengan nada berat ia berkata – Ki Sanak. Aku mengerti kesulitanmu. Anakmu memang tidak boleh mati kelaparan. Tetapi kau juga tidak boleh merampas hak orang lain seperti itu. Kau harus mencari jalan, agar anakmu tidak mati kelaparan tanpa merampas milik orang lain. –
    – Kalau aku dapat melakukannya, tentu sudah aku lakukan. Pada dasarnya aku bukan perampok. Tetapi akupun tidak dapat melihat anakku mati kelaparan. —
    – Ki Sanak — berkata orang yang lain — kami memang terlalu miskin, bahkan untuk makan sehari sekalipun. Apalagi untuk membeli obat ibuku yang sakit. Aku memang memilih merampas milik orang lain daripada membiarkan ibuku mati tanpa berbuat apa-apa. —
    – Tidak Ki Sanak. Kita harus saling menghormati hak seseorang apapun alasannya. Karena itu, aku mohon kalian kembalikan barang-barang itu. Aku lihat ada dua bilah keris. Jika keris itu peninggalan orang yang dihormati oleh keluarga itu. Maka mereka akan meratapi kehilangan itu sepanjang hidup mereka. –
    – Meratapi kehilangan itu tidak akan membunuh mereka. – jawab orang yang paling berpengaruh diantara mereka.
    – Sekali lagi aku mohon, kembalikan barang-barang itu. Mereka akan sangat berterima kasih. –
    – Kau gila. Jika kami kembali kerumah itu, maka kami akan menjadi mayat. Rumah itu sekarang tentu penuh dengan tetangga-tetangga mereka yang kemudian mengetahui bahwa telah terjadi perampokan itu. Ketika kami melarikan diri menjauh, kami masih mendengar kentongan dengan irama lima pukulan ganda berturut-turut. Orang sepa-dukuhan tentu segera berkumpul. —
    – Jika demikian, besok pagi kalian harus membawa dan mengembalikan barang-barang itu. Biarlah aku menyertai kalian. Aku akan menyampaikan kepada pemilik barang-barang itu permohonan kalian.
    Agar uang yang telah terlanjur ada ditangan kalian tidak dipertanyakan lagi. –
    Orang-orang yang baru saja merampok itu termangu-mangu. Namun orang yang paling berpengaruh itu berkata lantang — Tidak mungkin Ki Sanak. Yang sudah kami miliki akan menjadi hak kami. —
    Agung Sedayu menggeleng. Katanya – Tidak Ki Sanak. Aku mohon semua harus kalian kembalikan, kecuali uangnya. Itupun kalian harus memberitahukan dan minta kerelaan mereka yang memiliki uang itu.
    – Kau memang aneh Ki Sanak. – berkata orang yang paling berpengaruh diantara mereka – sudahlah. Pergi sajalah. Kau tidak usah mencampuri urusanku. —
    – Jika kali ini kalian berhasil, maka kalian tentu akan melakukannya lagi dan lagi. Itu akan sangat berbahaya bagi jiwa kalian. Keberhasilan kali ini akan menjadi racun bagi jalan kehidupan kalian berikutnya. –
    – Sudahlah Ki Sanak – berkata orang yang paling berpengaruh itu – jangan terlalu banyak sesorah. Pergilah. Biarlah kami menentukan jalan hidup kami. —
    – Sekali lagi aku beritahukan, serahkan kembali barang-barang itu, atau aku akan merampasnya dan mengembalikannya. –
    Orang yang paling berpengaruh itu berkata – Ki Sanak. Sudah setahun lebih aku tidak lagi melakukan pekerjaan seperti ini. Sudah setahun lebih pula aku tidak bertengkar dan tidak berkelahi. Tetapi jika kalian memaksa, aku masih mampu untuk menghadapi kalian berdua. —
    – Tidak, Ki Sanak, kau tidak akan mampu menghadapi kami berdua. – jawab Agung Sedayu.
    – Jika kalian ingin mencoba, bersiaplah kalian berdua — berkata orang itu.
    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berkata – Baiklah. Kita berdua akan berkelahi. Jika aku menang, maka besok pagi kalian semuanya akan mengembalikan barang-barang itu. Sudah tentu tidak semata-mata, agar tidak menimbulkan persoalan di sepanjang jalan. Tetapi jika kau menang, maka aku akan membiarkan kalian berbuat sesuka hati kalian. —
    Orang itu merenung sejenak. Namun kemudian katanya — kau
    sendiri atau berdua ? —
    – Aku sendiri — jawab Agung Sedayu. —
    – Aku ingin kalian berdua bersama-sama. —
    – Biarlah kita bersikap adil. ~
    – Baiklah, jika itu yang kau kehendaki. ~
    Agung Sedayupun segera bersiap. Sementara itu orang yang paling berpengaruh diantara mereka yang telah merampok itupun telah bersiap pula.
    Sebenarnyalah bahwa Agung Sedayu tidak ingin menyakiti orang itu. Tidak pula ingin terjadi benturan kekerasan yang lebih luas lagi dengan orang-orang yang terlibat dalam perampokkan itu, karena sebenarnyalah mereka melakukan hal itu karena tekanan yang sulit mereka hindarkan.
    Namun justru karena itu, maka Agung Sedayupun segera meng-etrapkan ilmu kebalnya.
    Karena itulah, maka ketika mereka mulai berkelahi, Agung Sedayu hampir tidak berbuat apa-apa sama sekali. Ia membiarkan lawannya menyerangnya dan memukulnya dengan sekuat tenaga.
    Orang yang paling berpengaruh diantara kawan-kawannya itu menjadi sangat heran. Beberapa kali ia menyerang. Tetapi lawannya itu sama sekali tidak beringsut. Tidak pula membalas.
    Orang yang paling berpengaruh itu mulai merasa tersinggung. Ia memiliki pengalaman yang luas meskipun kemudian segalanya telah dihentikannya. Tetapi pada saat ia mulai lagi, dihadapan orang-orang yang dianggap baru, ia sudah dihinakan orang. Tanpa membalas, orang itu ingin mengalahkannya.
    Karena itu, maka orang itupun kemudian menarik goloknya sambil berkata — Aku akan mempergunakan senjata. Pergunakan senjatamu agar kau tidak mati sia-sia. —
    – Aku tidak membawa senjata, Ki Sanak—jawab Agung Seayu. Tiba-tiba saja orang itu berteriak kepada kawan-kawannya –
    Beri orang itu senjata. Jika orang itu mati, maka aku tidak akan dikatakan licik. –
    Tetapi dengan cepat Agung Sedayu menyahut – Aku tidak memerlukan senjata. Meskipun kau bersama-sama bertempur melawanku dengan senjata kalian, kalian tidak akan dapat mengalahkan aku.
    Orang-orang itu menjadi tegang. Kepada orang yang paling berpengaruh itu iapun berkata – Lakukan, apa yang ingin kau lakukan atasku. —
    Wajah orang itu menjadi tegang. Sejak semula ia sudah menjadi berdebar-debar dan gelisah, bahwa serangannya sama sekali tidak menggetarkannya. Bahkan menggelitikpun tidak.
    Sekali lagi Agung Sedayu Berkata – Lakukan apa yang akan kau lakukan. —
    – Kenapa kau tidak membalas ? — bertanya orang itu.
    – Jika aku membalas, maka akan dapat terjadi kematian di tepian ini. Sedangkan aku sama sekali tidak menghendakinya. —
    Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian diletakkannya goloknya sambil berkata – Ampun Ki Sanak. Siapakah sebenarnya Ki Sanak ini ? —
    – Aku bukan siapa-siapa. Secara kebetulan kita bertemu disini. Kalian datang pada saat kami beristirahat. —
    – Kami menyerahkan nasib kami kepada Ki Sanak — berkata orang itu.
    – Kemasi kembali barang-barang itu ~ Besok kita kembalikan kepada pemiliknya. —
    – Tetapi sebelum kami sampai kerumahnya, maka kami sudah ditangkap beramai-ramai. Mungkin kami akan mati dibunuh oleh banyak orang itu. —
    – Salah seorang akan datang lebih dahulu menemui pemilik barang-barang itu bersamaku. Biarlah adikku tinggal disini. Kita akan menyampaikan niat kita. Kita minta agar orang itu tidak berbuat sesuatu atas kita. Maksudku, seorang dari kalian dan aku. —
    Orang itu mengangguk.
    – Biarlah aku yang akan pergi bersamamu Ki sanak – berkata orang yang paling berpengaruh itu. –

  7. Kitab 300 (Bagian III)

    ~ Biarlah ~ berkata Agung Sedayu kemudian – kita masih mempunyai sedikit waktu untuk beristirahat. –
    Demikianlah, ketika fajar menyingsing, Agung Sedayu dan orang yang paling berpengaruh diantara para perampok itu segera bersiap-siap. Mereka mencuci muka, mebersihkan tubuh mereka dan membenahi pakaian mereka.
    Dengan jantung yang berdebar-debar orang yang paling berpengaruh diantara para perampok itu bersama Agung Sedayu telah pergi kerumah yang telah dirampok semalam.
    Ternyata perjalanan mereka cukup jauh. Ketika matahari sepeng-galah,barulah mereka mendekati rumah itu.
    – Jangan takut – berkata Agung Sedayu ~ tidak ada yang tahu, bahwa kau semalam telah merampok rumah itu. –
    Orang itu mengangguk-angguk. Namun demikian, tubuhnya telah menjadi gemetar.
    Ketika mereka sampai ke halaman rumah yang telah dirampoknya itu, kelihatan bahwa rumah itu telah menjadi sepi.
    – Rumah ini yang semalam telah kami rampok — berkata orang
    itu.
    – Baiklah. Marilah kita masuk – desis Agung Sedayu. Meskipun dengan ragu-ragu, tetapi orang itu telah mengikuti
    Agung Sedayu memasuki halaman rumah yang besar itu.
    – Orang ini memang kaya – Agung Sedayu berdesis.
    – Seorang saudagar ternak. Tetapi juga saudagar emas dan permata. Sawahnya terbentang luas di bulak sebelah menyebelah padukuhan ini. Isterinya menguasai perdagangan gula kelapa di pasar sebelah. Para pedagang gula menyerahkan dagangannya kepada perempuan itu. Perempuan itulah satu-satunya orang yang kemudian berjualan gula di pasar itu.
    Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya – Kau banyak mengetahui tentang saudagar kaya itu. ~
    – Kebetulan saudaraku ada yang bekerja kepadanya. Tetapi beberapa bulan yang lalu, saudaraku itu telah dipecat. –
    – Kenapa ? – bertanya Agung Sedayu.
    – Aku tidak tahu. Tetapi justru pada saat isterinya sedang sakit keras. —
    – Saudaramu itu telah menjadi sakit hati dan minta agar kau melakukan perampokan itu. —
    – Tidak. Ia tidak tahu menahu apa yang aku lakukan. Dalam kekecewaannya, saudaraku itu telah menceriterakan banyak hal tentang rumah itu. Akulah yang memancing dengan pertanyaan-pertanyaan. Tetapi ia tidak tahu, untuk apa aku banyak bertanya tentang orang kaya itu. –
    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.
    Demikianlah, kedua orang itupun telah memasuki halaman rumah yang luas itu menuju ke seketheng.
    Perlahan-lahan mereka mengetuk pintu seketheng. Namun tidak seorangpun yang datang untuk membuka pintu.
    – Darimana kau tadi malam masuk ? — bertanya Agung Sedayu.
    – Aku mengetuk pintu pringgitan — jawab orang itu. Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak ingin mengetuk pintu pringgitan.
    Karena itu, maka Agung Sedayu telah mengetuk pintu itu semakin keras.
    Agaknya salah seorang pembantu rumah itulah yang kemudian mendengar ketukan pintu itu. Tetapi nampaknya orang itu masih dibayangi ketakutan setelah semalam rumah itu telah dirampok orang.
    Karena itu, maka orang itu tidak sendiri pergi ke pintu seketeng. Demikian pintu itu terbuka, maka Agung Sedayu yang berdiri di paling depan telah mengangguk hormat.
    – Siapa yang kau cari Ki Sanak ? –
    – Aku ingin menemui pemilik rumah ini Ki Sanak. – jawab Agung Sedayu.
    – Kau siapa ? — bertanya pembantu itu.
    – Namaku Truna, Ki Sanak – Kami datang dari Pati, Ki Sanak. Kami adalah pengembara. Di tepian sebuah sungai, kami menemukan seonggok barang-barang yang ditinggalkan orang. Kami mengumpulkan barang-barang itu. Ternyata kami mendengar bahwa rumah ini semalam telah dirampok orang. Mungkin barang-barang itu adalah barang-barang pemilik rumah ini yang dibawa oleh para perampok dan ditinggalkan begitu saja dipinggir kali. —
    – Rumah ini semalam memang telah dirampok orang. — jawab pembantu rumah itu.
    – Jika demikian, aku mohon bertemu dengan pemilik rumah ini. Aku ingin berbicara tentang barang-barang yang kami temukan itu. —
    Pembantu rumah itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian katanya — Kau tunggu saja disini. —
    – Baiklah – jawab Agung Sedayu – kami akan menunggu disini.
    Ternyata pembantu itu menjadi sangat berhati-hati. Ketika mereka meninggalkan pintu seketheng, maka pintu ilu telah ditutup lagi dan bahkan telah diselarak.
    Agung Sedayu dan orang yang datang bersamanya ilu ternyata dapat mengerti, kenapa pembantu rumah itu menjadi sangat berhati-hati. Mereka tidak mau mengalami perampokan sekali lagi sebagaimana terjadi semalam.
    Beberapa saat kemudian, selarak pintu seketheng itu telah terbuka lagi. Seorang yang bertubuh tinggi, tegap, berkumis tebal berdiri di pintu seketheng. Dibelakangnya berdiri tiga orang yang berwajah garang. Nampaknya pagi itu, pemilik rumah itu telah memanggil beberapa orang berilmu tinggi untuk melindunginya.
    – Apakah benar kau menemukan barang-barangku yang semalam dirampok orang ? – bertanya orang yang bertubuh tinggi tegap itu.
    – Kami tidak tahu pasti. Kami hanya menemukan beberapa macam barang antara lain dua buah keris bersama wrangkanya. Sementara itu. kami mendengar bahwa rumah ini baru saja mengalami perampokan. Karena itu, kami datang untuk memberitahukannya.
    Seandainya barang-barang itu milik Ki Sanak. —
    – Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata – Aku ingin melihat barang-barang itu. —
    – Marilah. Adikku sekarang menunggui barang-barang itu. — Pemilik rumah itupun kemudian berkata – Tunggu. Aku berpakaian dulu. –
    Ternyata Agung Sedayu dan orang yang semalam merampok rumah itu tidak dipersilahkan duduk. Sementara pemilik rumah itu membenahi pakaiannya, Agung Sedayu berkata kepada orang itu -Pergilah dahulu. Beri tahu kawan-kawanmu agar menyingkir. Biar adikku saja yang tinggal menunggui barang-barang itu.
    Orang itu mengangguk. Dengan cepat ia berjalan mendahului pemilik rumah itu pergi ke tepian.
    – Kemana kawanmu itu ? — bertanya salah seorang pengawal pemilik rumah itu.
    – Aku minta ia mendahului kita. Barang-barang itu tidak boleh ditinggalkan terlalu lama sementara hanya adikku sajalah yang menungguinya. —
    Orang itu mengangguk-angguk. Nampaknya memang ada sesuatu yang membuatnya ragu.
    Meskipun demikian ia tidak mengatakan sesuatu.
    Diantar Agung Sedayu, maka pemilik rumah itu bersama dengan para pengiringnya berjalan tergesa-gesa menuju ke tepian.
    Pemilik rumah itu mulai menjadi ragu ketika iring-iringan kecil itu sudah menempuh jalan yang panjang. Dengan nada tinggi ia bertanya — Kemana kami akan kau bawa ? —
    – Ke tepian – jawab Agung Sedayu – memang agak jauh. –
    – Apakah kau tidak berbohong ? ~ bertanya orang yang telah di-rampok itu.
    – Tidak. Nanti Ki Sanak akan mengetahuinya.
    Tetapi orang yang semalam rampok itu tidak menjadi cemas seandainya orang-orang yang mengajaknya itu berbohong kepadanya. Tiga orang berilmu tinggi telah diupahnya untuk menjadi pengawalnya. Jika ajakan itu satu jebakan, maka berempat dengan para pengawalnya itu, ia akan dapat menghancurkannya.
    – Semalam aku sendiri berhadapan dengan perampok yang jumlahnya terlalu banyak untuk dilawan — katanya didalam hati ~ tetapi sekarang aku tidak sendiri Seandainya sekelompok perampok yang semalam hendak menjebakku, maka aku bersama orang-orang yang aku upah itu justru akan dapat menangkap mereka. –
    Demikianlah iring-iringan itupun kemudian telah mendekati te-pian tempat barang-barang hasil rampokan itu dikumpulkan.
    – Kita akan meniti pematang menuju ke tepian ~ berkata Agung Sedayu.
    Orang yang semalam dirampok dan tiga orang pengawalnya mengikuti Agung Sedayu dibelakangnya.
    Melihat sikap Agung Sedayu yang sama sekali tidak ragu-ragu membuat orang yang semalam dirampok itu tidak mencurigainya. Meskipun demikian, orang itu tetap berhati-hati.
    Sejenak kemudian mereka telah berada dialas tanggul. Dengan hati-hati mereka turun ketepian.
    Merekapun segera melihat dua orang yang menunggu kedatangan mereka di tepian itu.
    – Anak muda itu adalah adikku — berkata Agung Sedayu. Pemilik barang-barang yang telah dirampok itu termangu-mangu
    sejenak. Namun ia tidak melihat orang lain lagi kecuali dua orang itu.
    Ketika orang itu melangkah mendekati Glagah Putih dan orang yang paling berpengaruh diantara kawan-kawannya yang telah merampok itu,maka pemilik barang-barang yang telah dirampok itu telah melihat seonggok barang didekat sebuah batu yang besar.
    Agung Sedayu yang mebawanya ketempat itu segera bertanya — Apakah barang-barang itu milikmu ? —
    – Aku akan melihatnya — jawab orang itu.
    Orang yang semalam dirampok itupun kemudian memperhatikan barang-barang yang diletakkan dialas pasir tepian itu.
    – Ya. – Barang-barang ini milikku — jawab orang itu.
    – Jika demikian ambillah – berkata Agung Sedayu Sedayu. Orang itu memang menjadi heran, sementara Agung Sedayu
    menjelaskan – Mereka menyesal, kenapa mereka harus merampok. Sebenarnya mereka termasuk orang baik-baik. Tetapi karena keadaan, maka mereka tidak mempunyai pilihan. Seorang anaknya telah kelaparan. Seorang lainnya ibunya memerlukan untuk berobat.
    Sambil mengamati barang-barangnya orang itu berkata — Seseorang dapat membuat alasan apapun juga untuk membenarkan perbuat-
    annya yang jelas salah dan melanggar paugeran. ~ – Ya. Apapun alasannya, seseorang tidak boleh melanggar paugeran. – berkata orang yang sedang melihat barang-barang itu.
    – Nah, apa benar barang-barang itu milikmu ? – berkata Agung Sedayu.
    – Ya. Semuanya memang milikku – jawab orang itu. Agung Sedayupun kemudian berkata — jika demikian ambillah.
    Bawalah barang-barang itu, karena Ki Sanak memang berhak atas barang-barang itu. ~
    – Masih ada yang belum aku ketemukan disini. — berkata orang itu.
    Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dengan ragu ia bertanya ~ Apa ? ~
    – Uang — jawab orang itu ~ para perampok itu telah membawa uangku pula. —
    – Relakan uang itu — berkata Agung Sedayu – tetapi barang-barangmu yang lain telah kembali. —
    Orang itu termangu-mangu sejenak. Dua buah keris lengkap dengan wrangkanya telah kembali padanya. Keris itu memang keris yang dianggapnya bertuah. Kemudian beberapa perhiasan emas dan permata. Pakaian, sebagian masih baru dan beberapa jenis barang yang lain.
    Ketiga orang upahannya itu menjadi heran, bahwa ada orang yang dengan jujur mengambilkan barang-barang itu. Seandainya mereka menemukan barang-barang seperti itu ditepian, maka ia tidak akan mengatakannya kepada siapapun juga. Barang-barang itu akan dimilikinya sendiri.
    Namun pemilik barang-barang itu justru berkata ~ Aku harus mendapatkan uangku kembali. —
    Agung Sedayu, orang yang berpengaruh diantara para perampok itu serta Glagah Putih, termangu-mangu sejenak. Dengan nada ragu Agung Sedayu berkata – Apakah uang yang hilang itu nilainya lebih besar dari barang-barang yang telah kau temukan kembali ini ? —
    – Memang tidak. Tetapi itu tetap hakku. —
    – Kau benar Ki Sanak. Tetapi yang kami ketemukan disini hanyalah barang-barang itu. —
    – Aku menuntut uangku itu kembali. —
    – Kepada siapakah kau akan menuntut ? —
    – Karena kau yang telah menemukan barang-barangku ini, maka kau juga bertanggung jawab atas uangku yang telah dirampok itu. ~ Berkata orang itu pula. Bahkan katanya kemudian— Aku curiga, bahwa kalian adalah tiga orang diantara para perampok itu. —
    – Bukankah kau dapat mengenali wajahku, jika aku telah merampok rumah Ki Sanak – berkata Agung Sedayu.
    Orang itu termangu-mangu. Sementara itu, orang yang semalam benar-benar merampok rumah orang kaya itu termangu-mangu sejenak. Tetapi ia yakin bahwa orang itu tidak dapat mengenalinya karena orang itu menutupi wajahnya dengan ikat kepalanya.
    Sebenarnyalah orang yang telah dirampok semalam itu menjawab – Kalian tentu tidak terlalu bodoh untuk membiarkan wajah kalian dikenali. Kalian telah menutup wajah kalian dengan ikat kepala kalian. —
    – Jika demikian, amati ikat kepala kami – sahut Agung Sedayu.
    – Kalian tentu tidak hanya mempunyai satu ikat kepala — jawab orang itu.
    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Jika orang itu tetap berkeras menuduhnya, maka ia akan mengalami kesulitan.
    Sementara itu, orang yang semalam telah dirampok itupun berkata — Aku memang mencurigaimu. Kau mengatakan bahwa kau temukan barang-barang ini ditepian. Tetapi kau dapat mengatakan bawah para perampok ini menyesali perbuatannya. Mereka terdorong melakukan perampokan karena anaknya kelaparan, orang tuanya sakit atau alasan apapun juga. —
    Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Agaknya lidahnya, telah salah ucap. Namun kemudian ia menjawab—Ki Sanak. Tentu tidak tepat sebagaimana aku katakan. Aku menduga bahwa para perampok itu telah menyesal. Jika tidak, kenapa barang-barang ini di tinggalkan begitu saja ? Jika uang yang ikut dirampok itu tidak ada diantara
    barang-barangmu mungkin karena mereka sangat membutuhkan, karena itu relakan saja. –
    – Aku menuntut semua yang diambil dari rumahku dapat kembali kepadaku. – berkata orang itu.
    _ – Kau tentu dapat membayangkan, seandainya kami yang telah merampok Ki Sanak. Buat apa kami datang kepada Ki Sanak untuk mengembalikan hasil rampokan ? Jika penyesalan itu datang, maka yang dilakukan adalah pergi dan meninggalkan hasil rampokan ini. –
    – Tidak. Kalian sama sekali tidak menyesal. Tetapi kalian merasa bahwa kalian akan menemui kesulitan untuk menjual atau memiliki barang-barang itu. —
    Agung Sedayu benar-benar menjadi kebingungan. Orang yang semalam telah merampok barang-barang itu memandang Agung Sedayu dengan tajamnya. Ketika Agung Sedayu sempat berpaling kepadanya, maka mata orang itu seakan-akan telah menyalahkannya.
    Tetapi yang tidak terduga adalah, salah seorang dari ketiga orang pengawal orang kaya itu berkata – Sudahlah Ki Manca, bukankah Ki Manca seharusnya berterima kasih kepada orang-orang yang sudah dengan suka rela mengembalikan barang-barang Ki Manca itu. Apakah ia yang telah merampok Ki Manca atau bukan, tetapi bukankah dengan demikian sebagian besar harta kekayaan Ki Manca yang dirampok sudah kembali. —
    Wajah Ki Manca menjadi tegang. Dipandanginya orang itu dengan tajamnya. Kemudian katanya — Soalnya bukan sekedar harta benda itu saja. Tetapi mereka telah menghina aku dan merendahkan derajadku. Mereka telah membuat istri dan anak-anakku ketakutan sehingga mereka selalu dibayangi oleh kengerian. —
    – Tetapi apa yang mereka lakukan itu merupakan undakan yang langka kita jumpai. Betapapun sulitnya mereka menjual barang-barang itu, ataupun tidak akan tenang untuk memilikinya, namun mereka akan dapat menyembunyikannya dan menjualnya pada satu kesempatan seandainya tidak, sehingga barang-barang itu tetap dalam prsembunyian, maka kau juga tetapi kehilangan. Tetapi sekarang barang-barang yang berharga itu sudah kembali ketanganmu. Kau telah mendapatkan kekayaanmu kembali. Apalagi ? —
    – Cukup — bentak orang kaya itu ~ aku sudah mengupahmu. Nah, kau harus menepati perjanjian kita. Atau kau takut terhadap ketiga orang diantara sekelompok perang yang semalam datang kerumahku itu ? —
    – Ki Manca, Kau selalu menilai apapun dengan uang. Kau selalu menganggap bahwa dengan uang kau dapat berbuat apa saja. —
    – Lalu apa maumu ? Menaikkan upahmu ? ~
    – Tidak — jawab orang itu — karena aku sudah kau upah, maka aku akan menurut perintahmu. Menangkap atau membunuh ketiga orang itu atau apa ? Tetapi dengar, Ki Manca. Setelah barang-barang itu nanti kembali kepadamu, aku akan merampokmu dan membawa barang-barang itu. Aku tidak berkeluarga. Tidak mempunyai anak dan tidak pula istri dan saudara. Aku dapat melarikan diri kemana saja. —
    Wajah orang itu menjadi merah. Kemudian sambil berpaling kepada kedua orang upahnya yang lain, ia berkata lantang — Aku berharap kau dapat menyelesaikan persoalan ini. Aku akan membayar upahmu lebih tinggi. ~
    Tetapi salah seorang dari keduanya menjawab – Saudara tertua kami akan menentukan, apa yang harus kami lakukan, Jika ia ingin merampok harta benda itu, maka kami akan melakukannya. Senang sekali memiliki harta benda sebanyak itu. —
    Orang itu benar-benar menjadi bingung. Ternyata bahwa orang-orang yang telah diupahnya itu tidak mau melakukan perintahnya bahkan seandainya upahnya dinaikkan sekalipun. –
    Sementara itu, orang yang diupahnya, yang pertama kali menolak perintahnya itu berkata – Renungkan, Ki Manca. Jika orang-orang miskin itu masih menghargai kejujuran lebih tinggi dari harta bendamu, bagaimana dengan kau Ki Manca ? –
    Ki Manca itupun termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Agung Sedayu, orang yang benar-benar telah merampok rumahnya dan Glagah Putih yang masih muda itu. Kemudian dipandanginya ketiga orang pengawalnya itu sambil berkata — Beruntunglah kalian, karena orang-orang yang telah aku upah tidak mau melakukan perintahku untuk memaksa kalian menunjukkan dimana uangku itu kalian sembunyikan. Ini satu penyelesaian yang sangat tidak baik bagi semua pihak. Apapun alasannya setiap kejahatan harus dihukum Persoalannya bukan terletak pada kemiskinan dan kekayaan. Tetapi seseorang yang telah bersalah, harus dihukum. –
    — Aku setuju Ki Sanak — berkata Agung Sedayu — jika Ki Sanak menemukan orang yang telah mengambil barang-barang itu dengan paksa dirumahmu, orang itu memang harus dihukum. Tetapi kau tidak dapat menuduh orang yang tidak pernah melakukan kesalahan itu. –
    — Persetan dengan kau. Pada suatu saat kau akan menyesal. -Agung Sedayu tidak menjawab lagi. Agaknya memang tidak ada gunanya ia berselisih dengan orang yang memiliki harta benda yang nilainya sangat tinggi itu.
    Kepada salah seorang diantara ketiga orang upahannya ia berkata — Pulanglah. Ambil pedati. Jangan ribut agar tidak setiap orang keluar dari rumahnya untuk menonton barang-barangku yang akan aku bawa pulang itu. —
    Orang itu tidak menjawab. Iapun kemudian melangkah meninggalkan tepian, untuk mengambil pedati di rumah orang yang semalam telah dirampok itu.
    Dalam pada itu, Agung Sedayupun berkata – Ki Sanak. Kami telah mengembalikan barang-barang Ki Sanak, kecuali uang. Karena itu, maka kami mohon diri, —
    — Persetan dengan kalian ~ geram orang itu – tetapi jika kalian ingin mencoba sekali lagi merampok rumahku, maka kepala kalian akan kami penggal. ~
    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya — Kau benar-benar telah membuat jantungku berdebaran. Sudah berkali-kali aku katakan, aku tidak merampok rumahmu. —
    — Siapa yang akan percaya kepada mulutmu ? — bentak orang itu.
    Sementara itu, salah seorang dari orang upahan Ki Manca itu berkata — Aku percaya Ki Sanak, Kau bukan orang yang telah merampok rumah Ki Manca. ~
    — Diam kau – bentak Ki Manca ~ aku mengupahmu tidak untuk turut memfitnah aku. —
    — Aku berkata sesuai dengan nuraniku. —
    — Cukup. Mulai besok, kalian bertiga tidak lagi aku perlukan. Aku akan mengupah orang yang lebih mengerti tentang kewajibannya daripada menerima upahnya.
    — Terima kasih. Ki Manca, bahwa sejak besok aku tidak lagi harus melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan nuraniku. — jawab orang itu. Meskipun demikian orang itupun berkata—Tetapi aku akan menyelesaikan tugasku hari ini. —
    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata tidak semua orang yang mendapat upah karena jasa kemampuannya tidak selalu orang-orang yang berlatar belakang kehidupan yang jahat. Ternyata orang-orang upahan Ki Manca itu memiliki nilai kemapanan jiwani yang tinggi. Mereka tidak asal saja melakukan pekerjaan apapun juga asal mendapatkan upah yang cukup.
    Namun dalam pada itu, Ki Manca itu masih saja berkata kasar -Nah, kalian para perampok. Berbahagialah kalian, maka masih ada orang yang melindungi kalian. Tetapi pada kesempatan lain, jika aku menemukan kalian, maka kalian akan menyesali tingkah laku kalian.
    Ternyata Glagah Putihlah yang tidak tahan lagi. Karena itu, setelah ia menahan diri beberapa lama, meledaklah isi dadanya – Ki Manca. Aku peringatkan, jangan terus-menerus menuduh bahwa kami telah merampokmu semalam. Tuduhan itu sangat menyakitkan hati. Kami dapat menahan diri untuk beberapa lama. Tetapi pada suatu saat kesabaran kami akan sampai ke batas. —
    Telinga Ki Manca menjadi merah mendengar kata-kata Glagah Putih itu. Dengan lantang iapun berkata – He, kau mau apa anak jahanam. Kalau kesabaranmu habis, lalu kau mau apa ? Kau yang masih begitu muda sudah pula berani merampok. Apalagi besok jika umurmu sudah setua perampok dan penipu ulung ini. ~
    Dada Glagah Putih ternyata tidak dapat dikekang lagi. Sebelum jantungnya sendiri meledak, maka tiba-tiba saja Glagah Putih itu berdiri tegak menghadap kearah barang-barang berharga yang teronggok ditepian itu.
    – Glagah Putih, jangan ~ cegah Agung Sedayu Tetapi Agung Sedayu terlambat. Glagah Putih telah menghentakkan tangannya menghadap kearah barang-barang berharga itu.
    Seleret sinar memancar dari telapak tangannya meluncur deras dengan kecepatan yang sangat tinggi, Sinar itupun dengan cepatnya menyambar pasir tepian sejengkal dari setumpuk barang-barang berharga itu.
    Sebuah ledakan telah terjadi. Semua orang yang berdiri disekitar benda-benda berharga itu terkejut Bahkan Ki Manca yang berdiri di paling dekat telah terlempar beberapa langkah dan jatuh berguling di tepian berpasir.
    Sementara itu, harta benda yang harganya seakan-akan tidak terhitung itu telah berhamburan berserakan ditepian.
    Semua orang yang berada di tepian itu terkejut. Orang yang semalam telah merampok rumah Ki Manca itu menjadi gemetar. Sementara itu Ki Maca sendiri dengan susah payah berusaha untuk bangkit berdiri.
    Tetapi seperti orang yang merampok rumahnya itu, iapun menjadi gemetar.
    Glagah Putih yang marah itu kemudian berkata – Ki Manca. Jika kau masih menuduh kami merampok rumahmu maka berikutnya aku akan mengarahkan ilmuku ke kepalamu. Aku ingin melihat kepalamu yang penuh dengan kedengkian dan ketamakan itu meledak. –
    – Tidak. Tidak Ki Sanak – Ki Manca benar-benar menjadi ketakutan – aku tidak akan menuduhmu lagi. –
    – Sekali lagi aku ingin menjelaskan kepadamu, bahwa aku tidak berkepentingan dengan barang-barangmu. Jika aku ingin merampok, aku dapat merampok bangsal perbendaharaan Kadipaten Pati atau Pajang atau bahkan istana Panembahan Senapati di Mataram. Buat apa aku merampok sejemput harta bendamu yang tidak berharga itu. –
    – Aku mohon maaf Ki Sanak. Aku minta ampun. —
    – Sekarang, kumpulkan barang-barangmu yang berserakkan itu, atau aku akan menghamburkannya sekali lagi. —
    Ki Manca itu benar-benar menjadi ketakutan. Iapun kemudian telah memungut barang-barangnya yang berserakkan. Kepada kedua orang yang diupahnya itu ia berkata – Tolong, kumpulkan barang-barangku. —
    Kedua orang itu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata mereka tidak menolak, membantu Ki Manca mengumpulkan barang-barangnya yang berhamburan.
    — Ternyata kalian benar – berkata Ki Manca kepada kedua pengawalnya.
    Sambil merangkak ditepian untuk mengumpulkan barang-barang yang berserakkan itu, salah seorang pengawalnya berkata ~ Satu pengalaman yang menarik bagi Ki Manca. —
    — Ya, ya — sahut Ki Manca dengan suara bergetar.
    Yang kemudian menjadi perhatian Ki Manca peretama-tama adalah dua kerisnya. Hatinya menjadi sedikit tenaga, bahwa kedua keris yang diangapnya bertuah itu telah diketemukan.
    Agung Sedayu berdiri termangu-mangu sambil mengusap dadanya. Tetapi ia tidak dapat menyalahkan Glagah Putih yang muda itu. Nampaknya darahnya cepat menggeletak setelah beberapa hari anak muda itu menempuh perjalanan yang menegangkan. Perasaan letih dan gelisah membuat Glagah Putih menjadi cepat marah.
    Beberapa saat Agung Sedayu Glagah Putih dan orang yang benar-benar merampok rumah Ki Manca itu menunggui Ki Manca dan kedua orang upahnya mengumpulkan harta bendanya. Ki Manca Tidak mempersoalkan lagi, apakah harta bendanya itu dapat dikumpulkannya seluruhnya. Namun menurut penglihatan Agung Sedayu dan Glagah Putih, setidak-tidaknya sebagian besar dari harta benda itu dapat dikumpulkannya kembali.
    — Sekarang, kami akan pergi – berkata Glagah Putih – mudah-mudahan rumahmu tidak akan dirampok lagi. —
    Ki Manca termangu-mangu sejenak. Dengan suaranya yang masih gemetar ia berkata – Aku mengucapkan terima kasih, Ki Sanak. Aku mohon maaf atas keterlanjuranku. –
    Glagah Putih tidak menghiraukannya. Tetapi iapun kemudian berkata kepada Agung Sedayu — Marilah kakang. Kita tinggalkan tempat ini sebelum aku benar-benar kehilangan kendali. Aku muak melihat wajah orang itu. –
    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun mengangguk sambil menjawab – Baiklah. Kita akan meneruskan perjalanan kita. –
    Agung Sedayupun kemudian memberi isyarat kepada orang yang semalam merampok dirumah Ki Manca agar iapun mengikuti pula pergi meninggalkan tempat itu.
    Ketika Agung Sedayu dan Glagah Putih melangkah pergi, maka berlari-lari kecil orang yang telah merampok rumah Ki Manca itu mengikuti mereka. Orang itu menjadi semakin kagum terhadap kedua orang yang tidak dikenalnya itu. Ketika ia berselisih dengan orang-orang itu, maka ia sudah mengaguminya. Serangan-serangannya sama sekali tidak menyakiti orang itu. Tanpa membalas sama sekali orang itu sudah mengalahkannya. Kemudian baru saja ia melihat seorang yang lain, yang masih muda itu, telah menghamburkan benda-benda berharga milik Ki Manca itu tanpa menyentuhnya.
    – Untunglah, bukan kepala Ki Manca yang telah diserang dengan ilmunya yang mengerikan itu. —
    Ketika mereka sudah berada diatas tanggul, maka mereka melihat sebuah pedati yang merangkak dikejauhan melalui jalan bulak yang panjang.
    – Pulanglah – berkata Agung Sedayu – sebenarnya aku ingin kalian memiliki uang itu atas dasar keikhlasan pemiliknya. Tetapi yang terjadi justru berbeda. Tetapi biarlah. Aku kira kalian dapat mempergunakan uang itu. Tetapi ingat, yang kau lakukan ini adalah yang terakhir. Apapun alasannya, merampas milik orang lain dengan kekerasan itu tetap merupakan kesalahan. —
    Orang itu mengangguk sambil menjawab – Ya, Ki Sanak. Kami telah menjadi sanggat bingung karena tekanan kesulitan yang rasa-rasanya sudah tidak teratasi. —
    Tetapi ingat. Cara yang kau tempuh semalam merupakan kesalahan yang besar. — berkata Agung Sedayu kemudian.
    Orang itu mengangguk-angguk. Katanya – Aku berjanji Ki Sanak. Aku tidak akan melakukannya lagi. Sebenarnya telah agak lama aku hentikan kegiatan itu. Tetapi ketika kami, beberapa orang yang tertekan oleh beban kehidupan berkumpul dan saling mengeluh, maka niat buruk itu tiba-tiba telah muncul kembali. –
    Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya – Lakukan kerja yang lain, yang pantas kalian lakukan. Kalian masih kuat untuk bekerja keras.
    Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya – Baiklah, Ki Sanak. Aku akan mengingat pesanmu. —
    – Sekarang pulanglah. Dimana kau tinggal ? —
    – Jika Ki Sanak tidak berkeberatan, aku mohon singgah barang sebentar di rumahku. Aku akan mempunyai kebanggaan tersendiri, jika Ki Sanak berdua sudi menginjakkan kaki di halaman rumahku. Meskipun rumahku jelek dan dirumah aku sudah tidak mempunyai apa-apa lagi, tetapi aku akan dapat menyuguhkan beberapa buah kelapa muda bagi Ki Sanak. –
    Agung Sedayu dan Glagah Putih tidak menolak. Mereka mengikuti orang itu menuju ke pedukuhannya yang memang agak jauh.
    Ketika Agung Sedayu dan Glagah Putih berada di rumah orang itu, mereka melihat, betapa sulitnya kehidupan orang itu. Sekotak sawah yang digarapnya, tidak mampu menjadi tumpuan hidup mereka sekeluarga, karena sebagian dari hasilnya harus diserahkan sebagai persembahan.
    Agung Sedayu dan Glagah Putih yang duduk diserambi rumah orang itu sempat minum air kelapa muda. Sementara itu, Agung Sedayu berdesis — Akibat perang memang sangat luas. —
    Glagah Putih mengangguk-angguk katanya — Tetapi perang itu tidak pernah berhenti. Seakan-akan perang memang menjadi hiasan bagi pergaulan hidup manusia.
    – Ya – sahut Agung Sedayu — orang yang paling benci berpe-rangpun pada suatu saat telah terdorong untuk terjun ke medan. —
    Keduanyapun terdiam ketika orang yang mempersilahkan keduanya singgah itu datang menemuinya.
    Beberapa saat Agung Sedayu dan Glagah Putih duduk diserambi rumah itu. Agung Sedayu yang melihat halaman rumah orang itu cukup luas berkata – Kau dapat mengambil hasil halaman rumah serta kebunmu untuk membantu memenuhi kebutuhanmu sehari-hari. —
    Ya, Ki Sanak, Aku menanam ketela di kebun belakang. Disepanjang pagar itu aku tanami ubi panjang dan gembili. –
    Ketika Agung Sedayu dan Glagah Putih minta diri, orang itu menahannya. Katanya — Aku sedang merebus ketela pohon yang aku cabut di kebun belakang.–
    Agung Sedayu dan Glagah Putih tidak menolak. Mereka cukup sabar menunggu ketela pohon itu masak.
    Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, setelah Agung Sedayu dan Glagah Putih mendapat hidangan ketela yang direbus dengan santan dan garam, keduanyapun minta diri.
    Sejenak kemudian, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih telah melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Mataram. Betapapun mereka menyadari, bahwa akibat perang itu ternyata sangat luas mencekam kehidupan orang banyak. Namun mereka akan kembali ke Mataram untuk memberikan laporan, bahwa perang akan berlanjut.
    Agung Sedayu dan Glagah Putih memang tidak melihat jalan lain yang dapat dipilih oleh Mataram kecuali datang ke Pati, menghentikan kegiatan Pati yang akan menjadi semakin berbahaya. Semakin baik persiapan Pati untuk mengulangi serangannya ke Mataram, maka per-angpun akan menjadi semakin menakutkan.
    Karena itu, maka satupsatunya jalan adalah menghentikan ke-siagaan Pati untuk menciptakan perang baru yang lebih dahsyat. Untuk mencegah perang yang lebih besar, aka harus ditempuh dengan jalan perang pula.
    Perjalanan selanjutnya tidak banyak lagi ditemui habatan. Tetapi sepanjang jalan, Agung Sedayu dan Glagah Putih melihat, betapa kehidupan menjadi semakin sulit. Bahkan ketika Agung Sedayu memasuki daerah yang mengakui kuasa mataram, aka keadaannya tidak jauh berbeda.
    Sementara itu, orang-orang yang tinggal di perbatasan yang samar dari daerah yang mengakui kuasa Pati dan kuasa Mataram, tidak merasakan kerusuhan itu secara langsung. Seorang anak yang tinggal di padukuhan yang berada di daerah yang mengakui kuasa Mataram, masih selalu mengunjungi orang tuanya yang tinggal didaerah yang mengakui kuasa Pati.
    Dalam suasana perang, masih juga ada seorang jejaka yang menikah dengan perawan dari daerah kuasa yang berbeda tanpa merasa terganggu oleh batas wilayah itu.
    Tetapi Mataram dan Pati telah mempersiapkan diri untuk berperang.
    Demikianlah, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih semakin lama menjadi semakin dekat dengan Mataram. Meskipun demikian, mereka masih harus bermalam semalam lagi diperjalanan.
    Tetapi jarak mereka dengan Mataram sudah tidak terlalu jauh lagi. Besok jarak itu akan dapat ditempuh lidak sampai matahari bertengger di puncak lagi.
    Namun demikian, Agung dan Glagah Putih ingin beristirahat diperjalanan.
    Keduanya yang kemudian bermalam disebuah banjar padukuhan, ternyata masih juga mendengar keluhan-keluhan sebagai akibat terjadinya perang. Beberapa orang anak muda yang terpanggil untuk ikut memperkuat pasukan Mataram, masih juga belum pulang.
    Ternyata daerah yang berkiblat kepada Mataram dan daerah yang berkiblat kepada Pati, mempunyai keluhan yang sama. Laki-laki terbaik di padukuhan mereka asih belum kembali, sementara mereka harus menyerahkan persembahan untuk mendukung kegiatan perang.
    Tetapi perang masih akan tetap membayangi kehidupan manusia yang saling berperang karena perbedaan kepentingan. Tetapi dapat juga terjadi karena persamaan kepentingan.
    Ketika hari baru kemudian terbit, maka Agung Sedayu dan Glagah Putihpun bersiap melanjutkan perjalanannya. Setelah mengucapkan terima kasih kepada orang yang bertugas menjaga banjar Kade-mangan itu, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih minta diri.
    – Hati-hati di perjalanan Ki Sanak—berkata penjaga banjar itu — kesulitan hidup membuat orang-orang yang terhimpit oleh keadaan melakukan perbuatan yang kadang-kadang diluar kehendaknya sendiri.
    – Terima kasih — jawab Agung Sedayu — semoga perjalanan kami tidak menemui kesulitan. —
    Demikianlah, maka dalam perjalanan yang sudah hampir sampai di ujungnya itu, Agung Sedayu dan Glagah Putih melihat suasana di pedesaan yang lesu. Ketika mereka melawat sebuah pasar, maka pasar itu nampaknya tidak seramai pada hari-hari yang lepas dari bayangan perang, meskipun perang itu sendiri tidak menjamah daerah itu.
    Perjalanan Agung Sedayu dan Glagah Putih memang sudah tidak terlalu panjang lagi. Tetapi untuk memasuki Kotaraja, maka keduanya merasa perlu untuk sedikit berbenah diri.
    Karena itu, maka keduanya telah menyempatkan diri untuk mencuci baju mereka disebuah sungai kecil, menjemurnya diterik matahari dan kemudian memakainya kembali. Ternyata mereka memasuki pintu gerbang kita setelah lewat tengah hari. Agung Sedayu dan Glagah Putih melihat kehidupan di Kotaraja itu tidak banyak berbeda dari kehidupan sehari-hari sebelum perang terjadi. Namun mereka melihat kesiagaan yang cukup tinggi. Mereka melihat para prajurit yang bertugas di tempat-tempat yang penting.
    -Kita pergi kemana, kakang ? Apakah kita akan langsung menghadap diistana atau kita akan menemui orang lain ? — bertanya Glagah Putih.
    – Kita pergi ke Kepatihan — jawab Agung Sedayu — kita akan menghadap Ki Patih Mandaraka. –
    Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya — Bagaimana dengan Ki Tumenggung Wirayuda ? —
    – Bukankah kita berangkat dari kepatihan ? —
    Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi tiba-tiba saja ia bertanya — Bagaimana dengan kuda-kuda kita ? —
    Agung Sedayu tersenyum. Katanya – Kuda-kuda itu tidak akan hilang. Sesudah kita melaporkan hasil perjalanan kita, maka kita akan pergi mengambil kuda-kuda itu. Meskipun kita masih harus menempuh perjalanan yang cukup panjang, tetapi tentu tidak sepanjang perjalanan kita ke Pati. Sentara itu, perjalanan kita kemudian adalah perjalanan tamasya, tidak mengalami ketegangan diperjalanan. Kita justru akan dapat menyegarkan kembali jika kita yang letih. Glagah Putih hanya mengangguk-angguk saja, meskipun sebenarnya bukan saja ji-
    wanya yang letih, tetapi juga wadagnya. Apalagi setelah lama ia meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh, rasa-rasanya ia sudah sangat ingin segera kembali pulang.
    – Kalau saja kita langsung kembali Ke Mataram lewat Jati Anom sebagaimana saat kita berangkat – berkata Glagah Putih didalam hatinya.
    Tetapi sejak mereka keluar dari Pati, mereka sudah menempuh jalan yang lain. Bukan jalan yang mereka lalui disaat mereka berangkat. Sehingga karena itu, akan mereka tidak lagi melewati Jati Anom. Seandainya mereka akan singgah, maka mereka juga harus menempuh jalan panjang, sementara itu Agung Sedayu ingin segera memberikan laporan ke Mataram.
    Seperti yang mereka rencanakan maka mereka berduapun langsung pergi ke Kepatihan untuk menghadap Ki Patih Mandaraka.
    — Jika Ki Patih menghadap Panembahan Senapati hari ini, mudah-mudahan Ki Patih sudah pulang — desis Glagah Putih.
    – Seandainya belum, kita dapat menunggu. Bahkan kita akan mendapat kesempatan untuk beristirahat lebih dahulu. —
    Glagah Putih mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja Glagah Putih itu bertanya — Kakang, mumpung kita masih belum masuk ke halaman Kepatihan. Apakah kita dapat singgah sebentar ? —
    – Singgah dimana ? – bertanya Agung Sedayu.
    — Jika kita harus menunggu Ki Patih, perut kita sudah tenang. Kitapun tidak merasa haus lagi. –
    Agung Sedayu tersenyum. Katanya — Baiklah. Kita Singgah sebentar. –

    ***

    Seri III Selesai, lanjut ke Seri IV

  8. hore….saya sudah sampek lontar ke 299 dan tambah pinter ngunduhnya. terima kasih lagi ki GD..

  9. aduh gagal ngunduh lontar 300? gimana ini?

    • Ngendikanipun para cantrik langitan, senggek menapa ingkang saget damel ngunduh ADBM, badhe badhar menawi para cantrik telaten maca komentar. Kula inggih dereng saget ngunduh. Senggekipun dereng gadhah.

  10. Ngendikanipun Para Cantrik Langitan, senggek menapa ingkah saget dipun ginaaken ngunduh adbm badhe badhar menawi Para Cantrik telaten maca komentar. Kawula inggih dereng semerep senggekipun

  11. Horeee…..ternyata retype juga ada rapelan…hehehe….. :))

    Maturnuwun sanget Ki….

  12. Wah menika sae saestu

  13. waduuuh, ada dimana kata – kata kawogan
    😀
    🙂
    😦
    :O
    😛

  14. :0


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: