Buku III-96

296-00

Laman: 1 2

Telah Terbit on 10 Juli 2009 at 00:20  Comments (302)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iii-96/trackback/

RSS feed for comments on this post.

302 KomentarTinggalkan komentar

  1. Terima kasih…ternyata masih tersembunyi dalam gelap sehingga…………….

    • belum bisa diunduh

  2. gelap banget, agak samar-samar ;))

  3. ono ngendi to yo mbok aku diduduhi

    • Kitab semu dalam gelap…masih ngga keto’ Ki…nanti malam mungkin baru bisa dilihat…memerlukan upacara khusus….

  4. saking gelapnya..gak terlihat…..

  5. menunggu kitab, sambil berdoa semoga dengan menangnya nomer loro sing sama sekali ndak kapabel iku, negara ini 5 tahun lagi masih ada di peta dunia, ndak keburu habis dijual

    • he he …

      masih penasaran Ki…

      Tapi, mohon jangan dibawa ke sini, biar tidak ada yang panas kupingnya.

      Padepokan ini dihuni oleh berbagai macam kepentingan Ki, yang sudah menyatu menjadi cantrik di padepokan ini. Tidak semuanya sependapat dengan Ki jaka pekik.

      Di sini, kita berceloteh yang ringan-ringan saja sambil menunggu diwedarnya lontar.

      • setuju sama Ki Arema
        apalagi kalau ada “Yang ringan dan lucu”

        • Yang penting disini….nunggu kitab wedar…..terima kasih….sampun…

          • baik lah ki nuwun sewu, memang sulit menyimpan kegelisahan karena mengetahui hal yang sangat penting dan menyangkut kepentingan masa depan masyarakat dan negara namun tidak bisa dibagi kepada khalayak, kitab kok belum wedhar ?

        • bukan bermacam kepentingan Ki,
          tapi hanya satu macam kepentingan
          “tidak membicarakan yang bukan porsinya di sini.”
          ini orang ngeyel banget,benci kok sama presiden nya sendiri, mungkin bukan warga negara indonesia kali.
          Tapi gak apa yang nelangsa cuma seorang jaka pekik, sementara yang cinta sama nomor dua lebih dari 60 persen, gitu aja kok repot.

          • weleh Ki Djoko kok malah nambahi panas

            seperti yang disampaikan Ki Arema, tempatnya diskusi bukan disini

          • @ ki djoko, pernah baca sebuah novel yang pernah dimuat di harian kompas sebagai cerbung berjudul “sang macan tutul” ?

          • mbok kalau komentar gak perlu pakai “gitu aja kok repot”, itu komentar yang sebenarnya sangat arogan, tidak menghargai pendapat orang lain, itu komentar yang keminter, sok pandai

      • betul-betul, yg penting “sersan” serius tapai santai. wah kok jadi keinget Warkop.

      • Leres ature Ki Arema Ki jaka pekik…ingkang sareh, keinginan niku mboten harus dikabulkan kalihan ingkang Kuasa. Sedoyo sampun wonten garise kiyambak2. Ingkang lilo legowo lan ndedungo supados negoro lan bongso tansah pikantuk Rahmat Barokah Allooh SWT.
        Kangge arem2 cobi jenengan pirsani wonten kompas.com, wonten meniko kaserat program kerja para capres. Kok no-2 niku wonten program mboten badhe nyade BUMN, lak niku kuwalikipun warta panjenengan.

        • nek kabeh keingin dikabulke, mengko presiden-e luwih saka 1 malah nggarahi bingung ūüôā

        • Sampun Ki….ngenteni kitab pancen oye…..

        • kalau aku setuju rebutan kitab, kalau pepesan kosong ogah ahhhh

          • yang betul lebutan, nanti dimalahi oleh ki Alema ūüėÄ ūüėÄ ūüėÄ

            • Ha ha ha ….

    • Kepala boleh panas, …………. lemari es tetap dingin.

      • kepala panas, dilebetke Kulkas mawon ki, ben adhem, heheheheh

      • :d tapi kalau lemari es nya rusak.. nggak dingin kan ki truno..

    • kenapa nggak Ki Jaka Pekik Sendiri yang jadi Presiden, mungkin bisa lebih kapabel dari calon yang bisajadi akan terpilih itu.

    • Satu orang boleh bilang nomor 2 tidak kapabel.
      Banyak sekali orang bilang nomor 2 kapabel.

      Mana yang mau dipercaya?

  6. Santai-santai hati boleh panas tapi kelapa harus tetap dingin.
    Monggo es degan-ne ben tetep adeem ūüôā

    • Wach pundi Ki Sarip wenak tenan niki s degan panas2 gini je keokeokeo…

    • Samarinda puanas banget Ki…..kemeringet….

      • sama Ki ni jg 36’C-an sebentar lagi mungkin 38’C keokeokeo…menikmati panasnya mentari Ki

  7. kitab oh kitab . . . yang menunggu kitab berdebar2nya hampir sama dengan capres yang menunggu hasil akhir ūüėÄ

  8. Ee , yo talah temen koq yo durung diwedar. Mugo-mugo wae ora ono sambekolo opo2. Yo wis iki urun rembug sitik kanggo bahan perenungan. (Sumber kesupen).

    NEGARA MAJU VS NEGARA MISKIN.
    Apakah perbedaan antara Negara Maju dengan Negara Miskin ?.
    1. Apakah karena usia Negara tersebut?
    2. Apakah karena kekayaan sumber daya alam yang dimiliki.
    3. apakah karena ‚Äúras‚ÄĚ dari masing-masing Negara ?
    Ternyata jawabannya tidak, sekali lagi tidak. Mari kita buktikan:
    ‚ÄĘ Mesir adalah salah satu Negara tertua di dunia yang memiliki kebudayaan yang tinggi sejak 2000 tahun SM. Tetapi toh sampai sekarang belum bisa dikatakan sebagai Negara Maju. Begitu pula India yang terkenal memiliki sejarah kuno, baru belakangan ini India tumbuh bersama-sama dengan China.
    ‚ÄĘ Sebaliknya mari kita lihat Negara-negara barat pda umumnya, atau mungkin Jepang di Asia. Negara-negara tersebut relative lebih muda dari sisi usianya. Tetapi sudah demikian majunya.
    ‚ÄĘ Kekayaan sumber daya alam (SDA), ternyata juga bukan ukuran bahwa Negara tersebut otomatis menjadi Negara maju. Salah satu contohnya adalah Negara kita sendiri SDA melimpah, tetapi lebih banyak mengalir ke luar negeri. Sementara rakyat tetap miskin (maaf bukan kampanye Pilpres lho).
    ‚ÄĘ Bandingkan dengan Jepang dan Korea Selatan yang miskin SDA.
    ‚ÄĘ Kalau karena Ras, mestinya Barack Obama tidak bisa memimpin Negara maju sekaligus sebagai Negara Adidaya.
    Marilah kita renungkan.

    • Mungkin orang kita lebih suka berdagang daripada berproduksi…khususnya birokrasi…lumayan ada “KOMISI”nya……karena ngejar komisi jadi lupa sama “pemberdayaan”….mungkin lho…

    • Emang memprihatinkan ya Ki. Minggu2 terakhir ini saya mentraining orang2 dr India utk melakukan remote test buat perusahaan dimana saya bekerja. Sengaja memang dilakukan out sourcing ke low cost country utk menghemat biaya. Berulang kali saya berpikir dan ngobrol dgn teman2, kok India bisa ya, padahal saya th persis kalau tasks ini bisa dikerjakan oleh IT dr indonesia. lalu di mana letaknya masalah? Apa krn masalah bahasa? Au ah gelap..

      • Ki Manahan, kalau urusan beginian
        mau nggak mau, pemerintah harus turun tangan
        pemerintah jangan berpikir jangka pendek, tapi haruss berpikir jangka panjang.
        Jangan ngitung duit melulu, investtasi SDM harus dimasukkan sebagai modal.
        Dan mau ngak mau, pemerintah harus punya visi ke depan yang jauh.

        Sebenarnya kita sudah pernah punya putra terbaik, yang mempunyai visi jauh ke depan.
        Sayang beliau selalu dirusuhi ekonom, yang hanya berpikir jangka pendek.

        Sekarang setalah sekian tahun terbukti, kita punya banyak tenaga ahli, tapi nggak bisa kerja (kurang dihargai) didalam negeri,
        akibatnya modal sekian banyak untuk nyekolahin putra/putri yang nanti sebagai ujung tombak kemajuan negeri RI, diambil oleh perusahaan asing.

        Tentang India, ini juga terjadi ditempat kerja kami (Airbus Jerman), pekerjaan dikit demi sedikit dibawa Ke India, padahal tahun 80-an, ide ini sudah ada dalam benak beliau.
        Tahun 90-an beliau sudah merintis, tapi karena nggak ada yang mendukung, akhirnya seperti saat ini.
        Urusa teknologi negara RI yang besar kalah sama tetangga.

        Semoga pemerintah sadar akan hal ini.

        • Ki Parto…kok setahu saya pemerintah yg dulu itu udah dukung banget dg bapak teknologi kita, sampe buanyak sekali SDM yg diupgrade ke mancanegara dan subsisdi besar2an. Tapi mau gimana lagi wong barang yg dibuat agak susah dijualnya sampai pernah dituker hasil pertanian.
          Tapi ada juga yg berhasil seperti pabrik kapal laut itu, mereka masih rame kerjaan karena memang barangnya masih laku dalam negeri sendiri, marketnya banyak.
          Kalo ngomongin teknologi dan market, ada cerita lucu. Ada temen budidaya lele, hasilnya bagus melimpah besar2, tapi ternyata gak laku dijual karena penjual pecel lele suka yg ikan lelenya kecil, biar perkilonya dapat banyak. Yg baru2 ini ada lagi, petani beras organik bagus, tapi gak tahu mau dijual kemana? Itu kan berarti harus kompak juga antara teknolog ama ekonom kan Ki.
          Sebenarnya yg memprihatinkan itu produksi mobil, setelah 60 thn kok cumak bisa merakit padahal pasarnya rame.

      • Betul ki Parto, buat saya jadi ironi, ini yg kasih training orang indonesia buat orang india utk bawa kerjaan ke india.
        Saya kenal banyak orang yg bisa berkembang setelah mereka ada di LN, di indonesia sendiri tdk bisa berkembang, begitu di LN wah jadi ahli2 yg ngetop dan langka di kalangan disiplin ilmu mereka. Jadi lingkungan memang sangat besar pengaruhnya. Saya sendiri secara pribadi mau kasih training, kalau perlu gratis, utk ahli2 di indonesia dalam bidang saya tentu saja, tapi terus utk apa? Apa ada yg mau, apa ada manfaatnya? Follow up nya gimana? Atau cuman buang2 tenaga percuma saja?

  9. Wah dereng diwedar kok malah ditawani es degan..malah ..

    Yang ringan saja..
    Kebetulan, kota yg kami tinggali sekarang merupakan kota yang 160 orangnya terkena flu babi. Oleh karena itu, di musim adem ini, kewaspadaan thd flu ditingkatkan. Dimana, terutama di kampus2, pertokoan, di halte2 dipampang poster, “jika flu di rumah saja, jangan berangkat kerja/sekolah. Bantulah mencegah penularan flu”.

    Nah, keluarga teman kami kebetulan istri & kedua anaknya sakit flu. Sewaktu dia menelpon dokter untuk membuat perjanjian, si perawatnya meng-interview dulu (per telepon), untuk mengetahui gejala2 flunya. Akhirnya teman saya boleh datang ke tempat dokter praktek dengan syarat, menunggu saja di mobil, bukan di tempat tunggu pasien.

    Setelah 1 jam menunggu di mobil, akhirnya, akhirnya mereka masuk untuk mendapatkan pemeriksaan. Setelah diperiksa oleh dokter, pulanglah mereka sambil senyum2 kecut karena cuma dibawain PANADOL saja…

    • Ciri2 flu baby…kalau bersin metu “babi”ne….

      • he..he..persis………….(..)

    • ha ha ha … ternyata lebih enak di negeri sendiri, bisa baca adbm sambil nyruput es degan.
      Moga-moga flu babinya nggak mampir kesini.

  10. Lah wong udan deres tur isis ngene koq jare panas tho…

    cantrik2 neng ndukur kae mungkin bar pesta lombok ijo……..

    bes gebes gebes…..ilang sakawne

    • Udan ning endi tho Ki…?…

      • Seng udan alas jambu ijo tho Ki PA keokeokeo…

    • neng ngalas ki…..

      wit-wit jambune do horeg …..

  11. wis bengi kitabe ya ora metu metu …. izo2 ngenteni pelantikan presiden….

  12. Sugeng dalu kadang cantrik,
    Pamuji rahayu, mugiya padhepokan tansah ayem-tentrem, sedaya sanak kadang cantrik pinaringana bungah ing manah, datan wonten halangan saktunggal punapa, antuk nugrahaning Gusti Ingkag Murbeng Dumadi.

    Marilah sedikit merenung, ada satu sifat yang selalu melekat di dalam diri kita. Sifat menghindari konflik. Secara sadar, kita mengetahui bahwa konflik sebenarnya dibutuhkan untuk proses pendewasaan diri. Melatih diri untuk menghadapi masalah. Sikap menghindari konflik ini, kiranya cukup efektif menemani perjalanan hidup yang penuh onak dan duri. Sikap terbaik adalah menghindari konflik terlebih dahulu, jika tidak tertolong barulah kita hadapi konflik itu . Tak jarang dalam sikap menghindari konflik itu dibutuhkan satu jalan, senjata ampuh yang membuat menghindari itu terasa indah dan ringan, yaitu legowo.

    Ada satu pepatah jawa, ‚Äúikhlas lilo legowo.‚ÄĚ Artinya adalah ikhlas yang tanpa embel-embel. Tidak hanya ketika harus menghindar, tak kalah pentingnya legowo tadi kita bawa jika menghadapi sesuatu terjadi di luar harapan. Banyak hal di dalam hidup ini yang dapat terjadi di luar harapan kita.

    Fenomena yang terjadi belakangan ini, sebut saja misalnya kekalahan dalam pilkada, pemilu atau pilpres. ‚ÄúIkhlas lilo legowo‚ÄĚ menjadi sesuatu yang langka yang membuat suasana malah berakhir ricuh, panas, dan anarkis. Tidak ikhlas mengakui kekalahan. Tidak mau berbesar hati, menerima bahwa ada yang lebih baik dari kita, apapun itu alasannya. Malah yang terjadi adalah mencari alasan, mencari pembenaran yang sebenarnya makin menguatkan sikap tidak terima atas hasil yang sudah ada. Jika digeneralisasi, sikap legowo harus dimiliki siapapun itu yang mengalami kekalahan, dalam hal apapun. Pemilu salah satunya. Contoh lain pertandingan misalnya, dalam suatu kompetisi bisa menang bisa juga kalah dan itu wajar.

    Ikhlas dan legowo bukanlah sesuatu yang memalukan untuk dimililiki. Malah akan menjadikan kita dihormati dan dihargai baik lawan maupun kawan. Terimalah bahwa ada orang yang lebih baik dari kita, terimalah ada orang yang bisa lebih dari kita. Apapun alasannya, sikap tidak terima yang dibarengi dengan pembenaran dengan berbagai macam alasan hanya makin menunjukkan kekalahan yang sudah kita terima. Sungguh kurang indah rasanya. Cara terbaik untuk membuat orang mengakui bahwa kita adalah pemenang sebenarnya, adalah dengan benar-benar menjadi pemenang. Unggul segalanya bukan hanya unggul dibibir saja.

    Jangan bagaikan katak dalam tempurung, yang tidak mau melihat luasnya dunia di luar lingkungan sendiri. Karena sesungguhnya masih ada langit di atas langit. Jangan pula menyebutkan statemen bahwa kita sudah bersikap ikhlas, biarkan orang yang menilai. Karena sesaat setelah kita merasa telah bersikap ikhlas lalu menyebutkannya, saat itu pula kita mengakui bahwa kita tidak bersikap ikhlas. Legowo! Jangan menepuk air di dulang malah terpercik kemuka sendiri.

    Marilah, segala sesuatunya kita kembalikan kepada Dzat Yang Maha Kuasa, Dialah Dzat Yang Maha Bijaksana.
    Sebenarnyalah baik pada sudut pandang kita, belum tentu baik bagi pandangan orang lain, terkadang berbuat baik, belum tentu diterima dengan baik.

    Marilah, bersama-sama kita berbuat agar padhepokan adbm tetap ceria sebagaimana biasanya, tanpa membawa persoalan pribadi, kelompok, golongan, juga tanpa menyinggung pribadi lain.

    Kiranya, juga menjadi harapan semua putut, janggan, cantrik. (tingkatan lainnya saya nggak tau…hehehe)

    • Apik Ki….tapi kitabnya mana ya…

  13. @ Jaka Pekik

    Marilah kita mencoba melihat orang lain apa adanya dan jangan dari satu sisi saja. Capres no 2 adalah lulusan AKABRI terbaik angkatan 73 dan kalau ga salah juga lulusan S3 IPB 2004 dan juga sudah pernah jadi Menteri Pertambangan dan Energi dan Menko Polkam. Yang ga kapabel dimana Ki. Dan Presiden RI 2004 – 2009. Mungkin juga 2009 – 2014.
    Yang menjual negara siapa Ki? Di jaman pemerintahan bu Mega salah satu menteri( Menteri BUMN ) telah berhasil menjual aset negara yang vital (Indosat). Nah silahkan ngomong Ki tapi pake fakta. Rakyat Indonesia sekarang sudah pinter Ki ga bisa dibodohin pake janji-janji doang.
    Maaf saya sendiri bukan kader Partai Demokrat atau pemuja sby. Namun mencoba melihat calon-calon pemimpin kita apa adanya. Peace.

    Salam ADBM

    • sareh Ki,

      sareh…sareh…sareh,
      mbok ya sudah, nanti malah jadi polemik berkepanjangan.
      Ki djoko sudah menanggapi dengan menggebu-gebu, nanti malah tambah runyam.

      Marilah berbuat agar padhepokan menjadi ayem, tentrem penuh warna gegojegan yang sehat.

      • Matur nuwun Ki atas pencerahannya, waktu Ki Ismoyo ngetik saya juga lagi ngetik.Njenengan submit, saya masih ngetik. Bar submit baru terbaca tulisan Ki Is. Makasih Ki. Maaf Ki Jaka Pekik.

      • Mana kitabnya…?…..ini yang paling penting untuk malam ini…

    • Bosan…….. ngomongin POLITIK……..
      JANGAN OMONG POLITIK…….!!!
      Yang harus di omongkan adalah kapan kitab di wedhar, kalau bisa 5 kitab sekaligus setelah itu istirahat seminggi……..

      • Nun sewu Ni / Nyi,
        ni bukan omong2 soal politik, tapi sekedar belajar meng ajeni / meng hargai Prestasi / Martabat / Harga diri orang lain,
        bagaimana kita dapat/bisa di Ajeni / di Hargai / di Hormati oleh orang lain, jika diri kita ngga bisa meng Hormati Prestasi lain orang ???
        Harus kita akui, sejak Presiden RI yang pertama, bahwa mereka masing masing mempunyai PRESTASI.
        dah ahh, kapan nih kitab nya ??? Salam.

    • @Ki Jaka Pekik,
      Nun sewu Ki,harus Legowo n Nrimo, jangan memaksaken kehendak.
      Prestasi bisa kita wujudken melalui bangku sekolah, bangku kuliah, bangku nikah, dan masih banyak bangku bangku yang lainnya.
      Tentunya jika prestasi bagus, ya prilakunya juga bagus.
      Yang sempurna hanya yang Maha Dzat “Allah”
      Amien,

  14. @ Ki Djodjosm

    Presiden manakah yang perintahnya paling tidak diikuti ? sudah seakan akan simpati dengan korban lapindo beberapa hari nngantor disana, tetap saja perintah pembayarannya tidak digubris si pengusaha, dan diam serta anteng anteng saja..

    Presiden manakah yang paling tidak dihormati oleh negara lain ?, selain malingsia itu (Yang juga tidak berani diambil tindakan apapun juga), the country with too many zero..(kalau kita ke bank di china atau hongkong), karena nilai tukar yang jeblok terus..

    Presiden manakah sepanjang sejarah yang paling banyak menghasilkan “bencana alam” ?

    Presiden manakah yang Indonesia sampai masuk guiness of book record sebagai negara dengan percepatan kehancuran hutan yang paling luar biasa? silahkan melintas diatas kalimantan dan Sumatera deh Ki

    Presiden manakah yang sistim komandonya paling tidak berjalan, silahkan buat kesepakatan dengan seorang menteri dan si menteri melimpahkan ke dirjen untuk ditindak lanjuti, turun ke direktur sampai ka biro, semua berjalan sendiri sendiri tanpa menggubris kesepakatan menterinya itu, …

    Belum kebijakan dalam masalah hutang negara dan lain sebagainya

    Masih panjang Ki daftarnya….

    Masih mau disebut capable Ki..?

    Aku bukan warga golkar, aku bukan warga banteng..aku hanya prihatin dengan fakta yang ada dan tidak berdaya …

    Kitab belum wedhar tho Ki..?

    • BOSAN……BOSAN…….BOSAN………..
      STOP……STOP…….STOP……STOP……..STOP……..STOP

    • Wah jangan gitu dong Ki, anda tuh apa dah jadi manusia yang mumpuni or sempurnakah ?
      “Be thinking positive” lah
      anda sudah sangat sangat berburuk sangka.
      Maafkan saya ikut koment.
      Salam.

      • Diantara para CANTRIK ADBM ….. siapa ya yang KAPABEL jadi Presiden Indonesia yang mampu memperbaiki kondisi ekonomi dan sektor lain yang dianggap hancur?

        Hayooooo daftar …… tak contreng saiki …

  15. Wis… nek ngene aku turu ae.

  16. kitab….kitab…kitab……kitab……

  17. Wah… Kitab harus keluar nih… biar adeemmm…..

  18. Pancen nek durung “keluar” ki dengan semangat dan rajin keluar-masuk-keluar-masuk padepokan.

    Tapi nek sudah keluar, ah..lega dan marem tenan.

  19. Maaf sajiannya masih belum sedap….. dan sedang disesuaikan dengan selera.

    Juru masak sedang bingung …. apakah kurang MANIS atau kurang ASIN.

    Mohon sabar …..

    • Ki Widura…ada yang suka manis…ada yang suka asin….jadi jangan bingung….langsung wedar saja kitabnya…..terima kasih…

      • Nek makaten ….
        Kangge tiang jawa, kula tambahi gulane ….

        Untuk orang yang tidak biasa dengan selera orang jawa .. tak tambahi garamnya.

        Orang jawa yang ada kecing gula … dan orang yang ada darah tinggi … harap hati-2…..
        Hidup itu indah …. monggo dinikmati ….

        Disekeca-ake ….. sederak sedaya …..

  20. @ Ki Jaka Pekik

    Kitab dereng diwedar Ki.
    Soal bencana alam khususnya gempa bumi, itu karena Indonesia memang terletak di jalur gempa. Betul kan Ki?
    Penggundulan hutan? Sejak pemerintahan Pak Harto, hutan kita sudah di kotak-kotak melalui HPH-HPH yang kita sama-sama maklum siapa pelakunya.
    Kalau mau adil, harusnya diadakan penelitian seberapa besar penggundulan pada era presiden tertentu, ya Ki. Saya kira dengan menggunakan citra satelit ( landsat dll) serta kemampuan Sistim Informasi Geografis hal tsb bisa dilakukan.Mungkin kan Ki?.
    Betul Ki, saya pernah bekerja di Kalteng ( 74-77). Dan setiap melintas diatas Kalimantan dan pulau-pulau lainnya, maka terhampar daerah-daerah “gundul” hasil pemegang HPH. Menurut Kyai Gringsing….bencana kan menimpa anak cucu kita. Sampun join di posko bencana alam Ki?.

    Salam Ki

  21. Buat Ki Joko Pekik mbok tolong lebih sabar.
    Mohon kiranya kalau tidak seneng dg kebijakan pemimpin, jangan di keluarkan disembarang forum dan dengan kata2 yg kasar.
    Kalau dalam islam, saya percaya Al-Quran itu memang benar dari Allooh, didalamnya ada perintah Allooh kepada Nabi Musa untuk menasehati Fir’aun yg mengaku dirinya Tuhan, dg cara yg lemah lembut. QS At-Tahaa 43-44.
    Sekarang ini, dalam pikiran saya, apakah SBY lebih durhaka dibandingkan Fira’un dan Ki Jaka Pekik lebih bagus dari Nabi Musa sehingga umpatan2 itu berhak ada diforum ini dan diforum lainnya.
    Sebenarnya saya yakin Ki Jaka Pekik ini memepunyai keprihatinan yg kuat agar Indonesia itu maju dan makmur, cobalah untuk berbicara ke SBY melalui websitenya Beliau, ato sms ato forum yg sesuai agar didengar Beliau demi kemajuan bangsa ini, karena bagaimanapun Beliau sudah dipilih dan disetujui jutaan rakyat, berarti kan emang seharusnya kita mendukungnya demi untuk semua dan bukan untuk segolongan saja. Apalagi sudah ada kesediaan untuk menampung program dari pesaingnya, kan udah ada jalan buat Ki Jaka Pekik menyampaikan suara.

  22. Selamat malam semuanya…bade pamit…..mugi2 diskusinya dapat disudahi…boleh beda pendapat tapi tujuan toh tetap sama, yamg penting mari bersama2 sumbangkan tenaga dan pikiran buat kemajuan bangsa dan negara tercinta ini…hidup Indonesia…..
    Amit mundur…kitabenipun bade diunduh benjing mawon…..matur nuwun…

  23. Ki Gede yen Ki Joko Pekik ijik gawe ribut komentare ojo ditokke wae. Aku walaupun golput nanging yen kon ngelek-elek presidene dewe ora tego. Wong kenyataane wae sing milih luwih 60%. Yen masalah pemilu ora jurdil daerahku poro aparate malah terang-terangan ngakon nyoblos mega. Jaman pemilu Legislatip biyen sing ora nyoblos banteng di pindah menyang pelosok Ning yo wis ben. Mulakno saiki aku ora melu-melu milih amargo ora ono sing sreg. Nanging yen masyarakat wis menghendaki yo jenenge demokrasi aku tetep ndukung. Minimal aku berusaha ora dadi wong sing nyrimpet-nyrimpeti pemerintah. Sokur-sokur biso mbantu nggolekke solusi kanggo kemajuan bangsa lan negara.

    • Setuju 100% Ki.
      Sebesar apapun kekurangan SBY, beliau dipilih oleh lebih dari 60% suara. Mau tidak mau kita harus mengakui bahwa Indonesia telah melihat bahwa beliau memiliki kelebihan dibandingkan jutaan orang lainnya di negeri ini.
      Puas atau tidak puas dengan kinerja beliau, toh beliau adalah representasi bangsa kita. Menjelek-jelekkan pemimpin sendiri (apalagi dalam forum seperti ini) selain merupakan sikap yang deksura, juga tidak ada gunanya bahkan lebih banyak mudharatnya.
      Saya pikir kita semua kesal dengan sikap Swandaru yang tinggi hati, merasa diri paling hebat dan dengan sangat deksura menantang raden mas senapati untuk saling menjajagi kemampuan. Apalagi kemudian nyata bahwa dia tidak ada apa-apanya dibandingkan pemimpinnya itu.
      Apakah akan kita biarkan kesombongan Swandaru mengisi relung-relung hati kita?
      Marilah kita terima pilihan rakyat dengan lapang dada. Kalau ada kekurangan, mbok ya ikut cari solusi, bukan cuman kritik.
      Tapi sekarang… saatnya mengunduh…

  24. Ki Gede tolong kitabnya diwedar nggih. Soalnya biar suanasa panas dimalam ini segera berakhir. Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih

  25. Ayo bakar ladang….. biar tambah panas dan kabut asap…….

  26. wah makin panas makin asyikkk
    sesuai dengan peperangan Mataram lawan Pati

    monggo dilanjut

  27. matur nuwun ki gede !!! ndak nyangka aku

  28. Thanks

  29. Thanks Ki Gd

  30. bosen…….. pamit dulu

  31. Sugeng ndalu Ki Gede.

    Matur sembuh nuwun kitab 96 sampun kula tanpi.

    Salam

  32. nggih maturnuwun ki GD

  33. Terima kasih saya sudah mengunduh kitab

  34. clue-ne nggarahi ngelu…

    kudu mateg aji sapto pandalu…

    ojo kesasar neng pelataran mburi…hiks

    • bab President….

      wis … pokoke sopo sing menang pilpres yo dadi presiden….apapun jalannya…apapun caranya…apapun dech………..

      gitu aja koq repot……soale siapapun presidene, tetep wae nanem jagung lan jambu alas….

      • Presiden Widura …….
        mengucapkan selamat …… atas keluarnya kitab296.
        Dan ingsung sudah m engunduh.

        • mbok gandoke dibukak sekalian tho ki…

          Perang…Perang…disini perang disana perang…..

          • udah dari tadi dibukak, kok Ki PLS nggak tahu…

  35. Terimakasih udah di ajari cara Mengunduh yang baik dan benar ūüėÄ

  36. matur nuwun,,,

  37. wah . . ngono tho carane M engunduh kitab . . . ho ho ho ūüôā

  38. Alahamdulillah.
    Matur nuwun kagem Ki Gede/Nyi Seno atas kiriman paketnya.
    Tolong Saudara-saudaraku marilah kita bersabar dan bersikap dewasa dalam menghadapi hasil Pilpres kemarin.
    Tidak perlu ikatan kita sesama cantrik menjadi congkrah. akibat Pilpres.
    Saya ssetuju tidak ada yang sempurna dalam Pemerintahan manapun. kritik boleh tapi jangan dalam forum ini.

  39. Matur Nuwun Nyi Seno.

    Habis senam lantai…. terus ngopi sambil baca kitab.
    Mak nyuusss….

  40. Untuk mengetahui M ciri2nya :
    1. Meneng wae
    2. Mere-mere
    3. Merem-melek
    4. Mendelik

  41. sampun diunduh…maturnuwun…

  42. Matur nuwun Nyi seharian pergi nganter bekas pacar pulang, terus ngunduh kitab 296. Pindah gandok ke kitab 297. Monggo

  43. buat cantrik 2 yg masih bingung , dari halaman atas kata2 mngunduh bisa di download
    thx

  44. terima kasih ki gd, nyi sena, ki truna, ki sukra, ki tumenggung, ki mbodo, ki…., nyi….

  45. ki, pancen angel ngundul neng kene. soalne ora ono papan tulisan diunduh neng kene. tp, yen digoleki yo iso ketemu. sampun gih, kulo mudhun riyin. salam kenal kagem sing durung kenal,

  46. Matur Nuwun……..
    Absen Hadir Sekalian Ngunduh Kitab

  47. ngunduhnya bagaimana mas?? keluarnya kok covernya terus???

  48. API DI BUKIT MENOREH SERI III JILID 296 DENGAN teliti Untara telah memberikan perintah dan pesan kepada seluruh pemimpin kelompok dalam pasukannya. Kapan me¬¨reka mulai menyerang, sasaran dan sejauh mana mereka bergerak. Isyarat kepada seluruh pasukan saat mereka harus menarik diri. Ke-mana mereka harus mundur dan kemudian menentukan tempat untuk berkumpul seluruh pasukan pada kemungkinan pertama, kedua dan terakhir. Beberapa saat kemudian, maka seluruh kekuatan yang ada telah diperintahkan untuk mulai bergerak. Mereka akan menyerang dari be¬¨berapa sudut. Seperti saat mereka menyerang landasan pengamanan pasukan Pati, maka mereka dibagi dalam beberapa kesatuan yang masing-masing akan menyerang dari arah yang berbeda. Sementara itu, seluruh pasukan Patipun telah mempersiapkan diri. Seperti yang telah mereka rencanakan, maka mereka akan berang¬¨kat sebelum fajar. Perjalanan yang sebenarnya sudah tidak terlalu jauh lagi itu, akan ditempuh dalam waktu yang cukup lama oleh sebuah pa¬¨sukan yang besar. Karena itu, maka didini hari, setiap prajurit telah mulai bersiap-siap. Mereka harus membenahi diri. Senjata-senjata nereka serta mempersiapkan pertanda-pertanda kebesaran. Beberapa saat kemudian, maka telah terdengar suara bende yang dipukul sekali. Pertanda bahwa para prajurit harus sudah selesai berbe¬¨nah diri. Kemudian terdengar suara bende yang kedua. Perintah bagi seluruh pasukan untuk berkumpul. Pada saat itulah, maka prajurit Mataram telah bersiap untuk me¬¨nyerang. Para pengamat dan petugas sandi telah memberikan gam¬¨baran jajaran pasukan Pati yang sudah tersusun dalam barisan yang su¬¨dah siap untuk berangkat menuju ke Prambanan. Sementara itu, langit masih nampak kehitam hitaman. Meskipun demikian pertanda fajar sudah mulai menapak Para prajurit Mataram dan para pengawal beberapa Kademangan mulai gelisah. Mereka mendapat pesanan, agar serangan mereka dila¬¨kukan sebelum fajar. Jika pasukan itu tidak segera berangkat, maka pa¬¨sukan Untara itu akan kehabisan waktu, sehingga mereka harus ber¬¨tempur sampai matahari terbit dan bahkan mungkin saat matahari mu¬¨lai memanjat langit. Namun ternyata pasukan Pati itu memang tidak menunggu fajar. Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi bende untuk yang ketiga ka¬¨linya. Pertanda bahwa pasukan Pati yang besar itu akan berangkat ke Prambanan. Tetapi suara bende itupun merupakan perintah bagi pasukan Ma¬¨taram untuk menyerang. Karena itu, demikian sekelompok pasukan yang membawa pertanda kebesaran, umbul-umbul rontek. maka para prajurit Mataram serta para pengawal yang sudah berada di sekitar tempat itupun mulai bergerak. Dengan diam-diam mereka menyusup diantara pepohonan dan dinding-dinding halaman mendekati pemu¬¨satan pasukan Pati di bulak di depan padukuhan Jati Anom Pasukan Untara tidak saja menyerang dari arah Jati Anom Tetapi juga dari pa-dukuhan yang lain meskipun mereka harus melintasi daerah terbuka, tetapi tidak terlalu luas. Yang mula-mula dilihat oleh para prajurit Pati adalah serangan prajurit Mataram yang harus melintasi tempat terbuka. Serangan itu memang cukup mengejutkan. Pasukan yang bergerak di keremangan sisa malam itu maju terlalu cepat. Para Senapati dari Patipun harus segera mengambil sikap. Me¬¨reka tidak menunggu perintah dari Kangjeng Adipati. Namun pasukan yang langsung mendapat serangan telah menyongsong serangan itu. Ternyata serangan itu tidak hanya datang dari satu arah. Demi¬¨kian pertempuran terjadi, maka pasukan yang berada dipadukuhan Jati Anompun telah menyerang pula dengan garangnya. Serangan itu sama sekali tidak terduga-duga. Karena itu, maka untuk beberapa saat, para prajurit masih dikuasai oleh keterkejutan mereka. Namun kemudian para perwiranya segera mengambil sikap untuk mengatasi keadaan. Prajurit Mataram serta para pengawal memang tidak sebesar pa¬¨sukan Pati. Namun kejutan itu membuat mereka yang berada didalam pasukan Pati, yang bukan sejak semula adalah prajurit, menjadi geli¬¨sah. Demikianlah maka sejenak kemudian, pertempuranpun segera berkobar dengan sengitnya. Pasukan Mataram yang terpencar itu nam¬¨paknya memang banyak sekali. Mereka menyerang dari beberapa arah dengan gelar emprit neba didalam keremangan sisa-sisa malam. Ketika serangan itu kemudian didengar oleh Kangjeng Adipati, maka kemarahan Kangjeng Adipati rasa-rasanya sampai membakar ubun-ubunnya. Tetapi ketika Kangjeng Adipati itu berniat memimpin sendiri menumpas prajurit Mataram yang berani menyerang pasukan-nyaa yang besar itu, maka para Panglima telah mencegahnya. – Satu penghinaan bagi Adipati Pati – geram Kangjeng Adipati. – Biarlah anak-anak menyelesaikannya, Kangjeng – berkata sa¬¨lah seorang panglimanya. Tetapi pasukan Pati yang baru mulai bergerak itu memang harus berhenti. Dari tempatnya Kangjeng Adipati melihat pertempuran yang telah menyala diekor iring-iringan pasukannyaa. Meskipun prajurit Mataram dan para pengawal itu terhitung banyak, tetapi memang tidak sebanding dengan pasukan Pati yang mulai bergerak itu. – Orang-orang Mataram memang seperti demit ‚ÄĒ geram Kang¬¨jeng Adipati ‚ÄĒ mereka memang berani. Tetapi licik. – Para Panglimanya tidak menyahut selain menganguk-angguk. – Aku menunggu laporan kalian- berkata Kangjeng Adipati itu. Dalam pada itu, pertempuran semakin lama menjadi semakin sengit. Para prajurit Mataram dan para pengawal bertempur dengan berani. Meskipun yang dihadapan mereka adalah pasukan yang besar, namun pasukan yang dipimpin Untara itu sama sekali tidak gentar. Kelompok-kelompok prajurit Pati yang terlibat dalam pertem¬¨puran itu semakin lama menjadi semakin banyak. Dua orang Senapati Pati sudah terlibat dalam pertempuran itu. Namun prajurit Mataram dan para pengawal itu masih mendesak terus. Kemarahan telah mencengkam jantung para Senapati Pati itu. Dua orang lagi bersama pasukannya telah terjun kemedan pertem¬¨puran. Sehingga dengan demikian, pertempuran telah membakar seba-gaian besar dari pasukan Pati yang harus berhenti bergerak itu. Kangjeng Adipati memang menjadi semakin marah. Ketika warna fajar sudah membayang dilangit, namun pertempuran itu masih belum berakhir, maka Kangjeng Adipati itupun kemudian menjatuh¬¨kan perintah ‚ÄĒ Seluruh pasukan bergerak. Kepung prajurit Mataram itu. – Para Panglima menyadari kemarahan Kangjeng Adipati itu se¬¨hingga tidak seorangpun yang berani menyatakan pendapatnya. Karena itu, maka perintah itupun segera menjalar dari kelompok yang satu ke kelompok yang lain. Namun Untarapun segera tanggap. Apalagi langit sudah menjadi merah. Karena itu, maka iapun segera memberikan isyarat. Beberapa orang penghubung telah mendapat perintah untuk meluncurkan panah sendaren kesegala arah. Anak panah sendaren itu merupakan perintah bagi para prajurit Mataram dan para pengawal serta para cantrik dari padepokan Orang Bercambuk untuk meningalkan arena, selagi hari masih gelap. Ternyata pasukan Untara itu bergerak lebih cepat dari pasukan Pati yang besar yang berusaha untuk mengepung lawan. Tetapi karena pasukan Mataram itu menyerang dari beberapa jurusan, maka gerak pasukan Patipun terasa menjadi lamban. Dengan demikian, maka pasukan Mataram telah luput dari ke¬¨pungan prajurit Pati yang besar itu. Demikian pasukan Pati itu mulai Mataram itu telah menghilang kesegala arah, masuk kepadukuhan-padukuhan yang masih disaput oleh sisa-sisa kegelapan. Kegagalan itu membuat Kangjeng Adipati semakin marah. Te¬¨tapi pasukan Mataram yang dipimpin Untara itu seakan-akan telah le¬¨nyap ditelan bumi. Para Senapati Pati tidak memerintahkan prajurit-prajuritnya un¬¨tuk mengejar para prajurit Mataram, karena mereka harus segera ber¬¨angkat ke Prambanan. Jantung Kangjeng Adipati Pati rasa-rasanya hampir meledak. Bagaimanapun juga keberangkatan pasukan Pati itu memang ha¬¨rus tertunda. Ternyata bahwa dalam sergapan yang tiba-tiba serta da¬¨lam pertempuran yang tidak terlalu lama itu, telah jatuh beberapa orang korban yang terbunuh. Sedangkan banyak diantara prajurit Pati yang terluka. Dengan demikian, maka para prajurit Pati itu harus lebih dahulu menguburkan para korban. Sementara itu, para prajurit yang terluka, apalagi yang parah pada kesempatan dua malam berturut-turut itu akan menjadi beban pasukan Pati. Meskipun demikian pasukan Pati itu tetap merupakan pasukan yang besar. Namun Kangjeng Adipati Pati itupun telah mendapat laporan dari para petugas sandi, bahwa Mataram telah menempatkan pasukan yang besar pula di sebelah Barat Kali Dengkeng. Dalam pada itu. disaat-saat Untara menarik pasukannya dibawah bayangan fajar, maka Ki Tumenggung Wirayuda telah menyiapkan pasukannya dalam gelar yang sebagaimana dipergunakan dihari hari sebelumnya. Tetapi dua orang petugas sandi yang mengamati perke-mahan prajurit Pati melaporkan, bahwa pasukan Pati telah ditarik dari perkemahan. – Perkemahan prajurit Pati itu sudah kosong. Pasukan yang ada menjelang dini justru telah meninggalkan perkemahan. ‚ÄĒ – Kemana ? ‚ÄĒ bertanya Ki Tumenggung Wirayuda. – Ke arah Utara – jawab petugas sandi itu ~ ketika mereka bersiap-siap, maka kami mengira bahwa mereka sedang mempersiap¬¨kan diri untuk mengulangi perang gelar. Tetapi ternyata bahwa pasu kan itu justru bergerak meninggalkan perkemahan. — Kau sudah melihat perkemahan yang mereka tinggalkan ? -bertanya Ki Tumenggung Wirayuda. — Ya. Kami sudah melihatnya. Perkemahan itu memang sudah kosong. Tetapi masih ada beberapa macam peralatan dan sisa-sisa bahan pangan dan perbekalan yang tertinggal. Tetapi nampaknya su¬¨dah tidak mencukupi untuk dua tiga hari lagi. – Ki Tumenggung Wirayuda termangu-mangu sejenak. Kemudian dipanggilnya beberapa orang Senapatinya untuk membicarakan la¬¨poran yang baru saja diterimanya itu. Mungkin Senapati besar pasukan Pati itu tidak lagi melihat ke¬¨mungkinan untuk dapat memenangkan pertempuran, sehingga ia mengambil kebijaksanaan untuk lebih baik menarik pasukannya. – Jika ia memaksakan pertempuran – maka pasukannya akan pe¬¨cah hari ini –berkata Agung Sedayu – Jika hal itu terjadi, maka korb¬¨annya tentu akan banyak sekali. — Ki Tumenggung Wirayuda sambil menganguk angguk berkata -Ya. Pati memang tidak mempunyai pilihan lain. Tetapi itu bukan ber¬¨arti bahwa tidak akan ada serangan berikutnya pada garis pertempuran ini. — Agung Sedayu memang sependapat Bahkan Lurah Prajurit dari Pasukan Kusus itu berkata ‚ÄĒ Kita harus yakin, bahwa para prajurit Pati itu tidak mencari jalan lain untuk langsung menyerang pintu gerbang kota. ‚ÄĒ – Ya. Kita harus melacak gerak mundur pasukan Pati itu – ber¬¨kata Ki Tumenggung Wirayuda. – Harus ada orang yang ditugaskan untuk mengamati keadaan sa¬¨hut Agung Sedayu. Ki Tumenggung Wirayuda mengangguk-angguk. Namun sebe¬¨lum ia menunjuk seseorang, Agung Sedayu itupun berkata ~ Biarlah aku dan Glagah Putih melacak gerak mundur pasukan Pati itu. Tetapi mungkin tidak hanya kami berdua. Mungkin diperlukan ampat orang lagi yang terbagi dalam dua kelompok untuk mengamati keadaan. Na¬¨mun ketiga kelompok kecil itu akan menempuh jalan yang berbeda. ‚ÄĒ – Baiklah – berkata Ki Tumenggung – akan ada tiga kelompok yang akan mencoba mencari keterangan tentang pasukan Pati itu. ‚ÄĒ Ki Tumenggung tidak menunda waktu lagi. Ketiga kelompok yang satu diantaranya terdiri dari Agung Sedayu dan Glagah Putih itu¬¨pun diperintahkan untuk segera berangkat. Ki Lurah Uwangwung, yang juga mendapat tugas untuk meng¬¨amati keadaan bersama seorang prajuritnya yang terpilih akan mene¬¨lusuri Kali Code. Jika ia menemukan jejak penyeberangan Pasukan Pati, maka ia harus segera memberikan laporan. Sedangkan dua orang yang terdiri dari seorang prajurit penghubung dan seorang prajurit sandi telah diperintahkan untuk mengamati disisi lain. Mereka harus pergi ke padukuhan-padukuhan yang tidak terlalu jauh dari medan un¬¨tuk mencari keterangan jika orang-orang yang tidak mengungsi dari padukuhannya itu melihat sepasukan prajurit yang sedang bergerak. Sementara ketiga kelompok kecil itu sedang berusaha menelusuri gerak pasukan Pati, maka para prajurit dan pengawal yang berada di-perkemahan tetap bersiaga sepenuhnya untuk menghadapi segala ke¬¨mungkinan. Beberapa orang bertugas untuk berjaga-jaga pada jarak beberapa patok dari induk pasukannya, agar pasukan itu tidak dikejut¬¨kan oleh gerakan yang tiba-tiba dari pasukan lawan. Dalam pada itu, Agung Sedayu dan Glagah Putih dengan hati-hati telah mendekati perkemahan pasukan Pati. Seperti dilaporkan oleh para petugas sandi, perkemahan itu memang telah kosong. Masih ada sisa bahan pangan, tetapi tidak cukup memadai. – Agaknya mereka hampir kehabisan pangan ‚ÄĒ berkata Glagah Putih. ‚ÄĒ Itu hanya salah satu sebab ‚ÄĒ sahut Agung Sedayu ‚ÄĒ sebab lain¬¨nya adalah, kekuatan pasukan Pati itu sudah banyak susut. ‚ÄĒ Glagah Putih mengangguk-angguk. Sementara itu, keduanya ti¬¨dak menemukan sesuatu yang penting diperkemahan itu. Karena itu, maka Agung Sedayu telah mengajak Glagah Putih untuk mengikuti jejak gerak mundur pasukan Pati. Ternyada Agung Sedayu Glagah Putih tidak banyak menemui kesulitan. Disepanjang perjalanan pasukan Pati itu ternyata telah me¬¨ninggalkan jejak yang jelas. Batang-batang perdu disebelah menyebe-lah jalan yang mereka lalui berpatahan. Bekas-bekas jejak kaki dan je¬¨jak kuda, setidak-tidaknya kuda beban. Agung Sedayu dan Glagah Putih mengikuti jejak itu untuk beberapa lama. Tetapi mereka yakin, bahwa jarak mereka dengan pa¬¨sukan yang menarik diri itu tidak terlalu jauh. Pasukan yang mening¬¨galkan perkemahan itu didini hari tentu tidak dapat berjalan secepat Agung Sedayu dan Glagah Putih. Ketika matahari memanjat semakin tinggi, maka firasat Agung Sedayu serta jejak yang ditelusurinya itu mengatakan bahwa jarak me¬¨reka menjadi semakin dekat. Karena itu, maka Agung Sedayupun te-lah mengajak Glagah Putih untuk beristirahat. – Kita tidak dapat mengikuti mereka pada jarak yang terlalu de¬¨kat. Sebenarnya sampai disini kita sudah yakin, bahwa pasukan Pati benar-benar ditarik mundur. Mungkin mereka mempunyai landasan perlawanan yang memang sudah dipersiapkan jika pasukannya ter¬¨paksa harus ditarik mundur. Mungkin garis pertahanan kedua atau bahkan sampai ketiga — berkata Agung Sedayu. Glagah Putih mendengarkan keterangan kakak sepupunya itu sambil mengangguk-angguk. Tetapi ia sependapat dengan kakaknya, bahwa jarak pengamatan mereka sudah cukup jauh. sehingga mereka akan dapat mengambil kesimpulan bahwa pasukan Pati itu benar-benar telah ditarik. Tetapi jika memang benar telah dipersiapkan garis pertahanan kedua dan ketiga, maka pasukan Pati itu tentu akan segera menyusun pertahanannya. Mereka mungkin memperhitungkan bahwa pasukan Mataram akan menyusulnya. Untuk beberapa saat Agung Sedayu dan Glagah Putih itupun ber¬¨istirahat. Keduanya duduk dibawah sebarang pohon yang rindang. Namun ketiga Glagah Putih mulai mengantuk, maka Agung Se¬¨dayu berkata- Kau jangan tertidur disitu. – Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Sambil tersenyum ia berkata – jika hari ini aku harus berada di medan pertempuran, aku tentu tidak akan mengantuk. Tetapi duduk dibawah sebarang pohon yang rindang sementara angin semilir lembut, mataku rasa-rasanya menjadi sangat berat. – Sebenarnya kita memang sudah letih. Kita bertempur sepan¬¨jang hari. Sampai jauh malam kau masih sibuk mencari korban per¬¨tempuran. Pagi-pagi kita harus sudah siap untuk maju ke medan lagi. Karena itu, adalah wajar jika kau mulai mengantuk. Akupun mengantuk pula. ‚ÄĒ – Kita akan melanjutkan perjalanan. Tetapi perlahan-lahan agar jarak diantara kita dan pasukan itu tidak terlalu dekat. Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun ketika ia siap untuk bangkit, maka digamitnya Glagah Putih sambil berdesis – Kau rasa¬¨kan getar seseorang ? ‚ÄĒ – Ya – sahut Glagah Putih – tetapi tentu lebih dari seseorang. – – Dua orang – jawab Agung Sedayu. Keduanya membatalkan niatnya untuk bangkit. Keduanya kembali duduk dibawah bayangan dedaunan yang rindang. Sebenarnyalah, dua orang kemudian melangkah mendekati. Dua orang yang muncul dari balik rumput perdu yang lebat. Agung Sedayu memandang kedua orang itu dengan dahi yang berkerut. Namun kemudian iapun berdesis – Hati-hatilah, Glagah Pu¬¨tih. – ~ Siapakah mereka ? – bertanya Glagah Putih. – Entahlah – jawab Agung Sedayu – aku tidak tahu, apakah me¬¨reka mempunyai hubungan dengan pasukan Pati atau tidak. – Kedua orang itu melangkah semakin dekat. Namun kemudian merekapun berhenti beberapa langkah dihadapan Agung Sedayu dan Glagah Putih yang masih duduk ditempatnya. – Ki Sanak – salah seorang diantara kedua orang itu berdesis ‚ÄĒ siapakah kalian berdua ? Menurut pengamatan kami, jalur ini adalah jalur gerak mundur pasukan dari Pati. Apakah kalian termasuk prajurit Pati yang mengamati pasukan Mataram, jika pasukan Mataram itu me¬¨nyusul ? ‚ÄĒ Agung Sedayu menarik nafas panjang. Ia tidak akan dapat meng¬¨ingkari siapakah sebenarnya dirinya, karena ia mengenakan pakaian seorang prajurit. Pagi itu ia siap untuk turun ke medan pertempuran, sehingga ia mengenakan pakaian kebesaran seorang Lurah Prajurit Mataram. Meskipun orang itu bertanya, apakah ia prajurit Pati, tetapi Agung Sedayu yakin bahwa orang itu dapat mengenalinya sebagai prajurit Mataram. Karena itu, maka Agung Sedayupun menjawab – Ki Sanak. Kau tentu mengenali pakaianku. Karena itu, aku tidak usah menjawab per¬¨tanyaanmu itu. – Orang itu tertawa. Katanya ‚ÄĒ Baiklah. Kau benar. Aku memang mengenali pakaianmu. Kau tentu seorang prajurit Mataram. Tetapi pa¬¨kaian kawanmu itu bukan pakaian prajurit Mataram. ‚ÄĒ – Ia bukan prajurit Mataram. Tetapi ia berdiri dan berjuang bersama-sama dengan para prajurit Mataram, karena itu merasa seba¬¨gai rakyat Mataram. ~ – Bagus – orang itu mengangguk-angguk, sementara Agung Se¬¨dayu bertanya – Siapakah kalian Ki Sanak ? Dan kenapa kalian berada di daerah yang dibayangi oleh perang ? Sementara itu, kalian tidak me¬¨nunjukkan tanda-tanda bahwa kalian adalah prajurit. Atau berangkali kalian prajurit sandi dari Pati yang justru bertugas sebagaimana kau tu¬¨duhkan atas kami berdua tadi ? – Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian orang itu tertawa lagi sambil berkata ‚ÄĒ Ternyata kau menebak tepat. Kami me¬¨mang petugas sandi dari Pati. Nah, bukankah dengan demikian kita akan langsung berhadapan sebagai lawan ? ~ Agung Sedayulah yang kemudian tertawa. Katanya ‚ÄĒ Begitukah kebiasaan seorang petugas sandi. Mengaku dengan menepuk dada ke¬¨pada orang yang ditemui dipinggir jalan, dan yang bahkan jelas mema¬¨kai pakaian seragam prajurit lawannya ? – Orang itu termangu-mangu sejenak. Tetapi kemudian ia berkata dengan nada yang lebih keras – Tidak apa. Kalian tidak akan dapat memberitahukannya kepada siapapun juga. – – Kenapa ? – bertanya Agung Sedayu. – Ki Sanak ~ berkata orang itu – baiklah aku berterus terang. Aku bukan petugas sandi dan bukan apa-apa. Tetapi aku benci kepada orang-orang Mataram. Jika aku berada di bayangan garis perang, aku memang mencari orang-orang Mataram yang berkeliaran sebagai mana kalian berdua. ‚ÄĒ – Kenapa kalian membenci orang-orang Mataram ? – bertanya Agung Sedayu. – Persoalannya sangat pribadi. Tetapi ayahku pernah dihukum di Mataram. Ayahku memang bersalah, karena ayahku merampok. Te¬¨tapi hukuman yang dialami ayahku telah mengungkungnya sampai akhir hayatnya. Ayahku tidak pernah sempat keluar dari penjara, ka¬¨rena ayahku meninggal saat ia menjalani hukuman. Aku yakin bahwa ayah telah dibunuh oleh orang Mataram. ‚ÄĒ – Kau hanya berprasangka buruk ‚ÄĒ berkata Agung Sedayu. – Tidak Ki Sanak. Ayahku baru menjalani hukuman selama 1 bulan. Ketika ayahku masuk penjara, ayahku nampak sehat dan tegar, karena hal itu disadarinya sejak ia menjatuhkan pilihan atas pekerjaan yang dipilihnya. Namun tiba-tiba keluarga kami diberi tahu, bahwa ayah meninggal. Kami tidak dapat mengambil tubuhnya, karena me¬¨nurut para prajurit Mataram, tubuh ayahku telah dikubur. – – Menurut keterangan petugas, kenapa ayahmu meninggal ? -bertanya Agung Sedayu. – Ayah meninggal karena sakit demam. Dan itu sama sekali tidak masuk akal. ‚ÄĒ – Jika demikian, kenapa kau tidak mendendam kepada petugas yang menangani ayahmu selama di penjara ? – – Aku tidak tahu, siapakah orangnya. Karena itu untuk memberi kepuasan kepada diriku sendiri, aku membunuh prajurit-prajurit Mata¬¨ram. Aku pernah membunuh dua orang prajurit. Tetapi aku belum puas. Ayahku bagiku bernilai sama dengan sepuluh orang. Karena itu, maka akupun datang kemari untuk mencari petugas-petugas yang me¬¨lakukan tugasnya secara terpisah seperti kalian berdua. ~ Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian menggamit Glagah Putih sambil berkata – Bangkitlah. Ter¬¨nyata kita bertemu dengan seseorang yang hidup dibawah bayangan dendam yang tidak berkeputusan. – Namun orang itupun berkata – Sebaiknya kalian berdua mem¬¨perhatikan alam disekeliling kalian untuk yang terakhir kalinya. Lihat matahari yang menjilat laagit itu. Pepohonan yang hijau dan jejak pa¬¨sukan Pati yang nampaknya sedang kalian ikuti. Sebentar lagi kalian akan mati. Tetapi tidak dalam pertempuran dengan prajurit Pati. – – Ki Sanak – berkata Agung Sedayu – kau tentu menyadari bahwa seorang prajurit adalah seorang yang telah ditempa untuk terjun kedalarn kancah pertempuran. Jika kami hari ini ada di jalur pertem- puran itu, bukannya kami tidak mempunyai bekal. Tetapi kami sudah mendapat latihan untuk bertempur dan berkelahi. – Tetapi orang itu tertawa. Katanya ‚ÄĒ Dua orang yang pernah aku bunuh itu juga berkata demikian. Namun ternyata keduanya sama se¬¨kali tidak berarti apa-apa bagiku. – Kapan kau bunuh dua orang prajurit itu ? Semalam dalam mimpi ? ‚ÄĒ – Setan kau. Aku benar-benar telah membunuh prajurit-prajurit itu dengan tanganku. Aku tidak mempergunakan sepotong senjatapun. Sekarang, kami berdua juga akan membunuh kalian berdua dengan ta¬¨ngan kami. Tidak dengan sepotong senjatapun. He, kenapa kalian ber¬¨dua tidak membawa senjata ? ‚ÄĒ Agung Sedayu mengerutkan dahinya. Kemudian katanya – Ki Sanak. Kenapa kau tidak bergabung saja dengan Pati ? Kau akan men¬¨dapat kesempatan untuk membunuh prajurit-prajurit Mataram berapa-pun kau kehendaki dalam pertempuran. – – Buat apa aku bergabung dengan prajurit Pati. Kau lihat, bahwa piajurit Pati itu justru telah meninggalkan pertempuran. ‚ÄĒ – Jika kau akan diantara mereka, maka Pati tidak akan menarik diri. ‚ÄĒ – Persetan ‚ÄĒ geram orang itu ‚ÄĒ sekarang bersiaplah. Jika kalian berdua akan mencoba melawan, cobalah. Tetapi kawanmu yang masih sangat mudah itu terpaksa tidak akan dapat melihat alam ini lebih lama lagi- ~ – la bukan prajurit Mataram – desis Agung Sedayu. – Begiku sama saja. Ia adalah seorang anak muda yang ikut ber¬¨tempur untuk Mataram. ‚ÄĒ Agung Sedayu tidak ingin berbicara lebih lama lagi. Kedua orapg itu sudah mulai mempersiapkan diri. Seperti yang mereka katakan, keduanya memang tidak bersen-jata. Tetapi keduanya tidak melihat cambuk yang melilit dibawah baju Agung Sedayu. Demikian pula mereka tidak menganggap ikat ping¬¨gang Glagah Putih sebagai senjata. Karena itu, maka keduanya menganggap bahwa Agung Sedayu dan Glagah Putih juga tidak bersenjata. Tetapi dengan demikian, maka keduanya memang menduga bahwa Agung Sedayu dan Glagah Putih adalah dua orang prajurit yang memiliki kelebihan dari kebanyakan prajurit. Dalam pada itu, Agung Sedayu memang teringat kepada prajurit-prajurit yang lain yang mendapat tugas sebagaimana dilakukannya bersama Glagah Putih. Tetapi menurut pengertian Agung Sedayu, ke¬¨dua orang itu tentu bukan hari itu membunuh dua dua orang prajurit Mataram. Ketika kedua orang itu telah siap untuk bertempur, maka Agung Sedayu dan Glagah Putihpun telah bersiap pula Kepada Glagah Putih, Agung Sedayu itu berbisik ‚ÄĒ Berhati-hatilah. Agaknya keduanya ada¬¨lah orang-orang berilmu tinggi. Jika perlu pergunakan ikat ping¬¨gangmu meskipun lawanmu tidak bersenjata.– Glagah Putih menarik nafas panjang. Sekilas Glagah Putih itu ter¬¨ingat kepada Raden Rangga. Seorang yang memiliki ilmu tanpa dapat dijajagi seberapa kedalamannya. Raden Rangga pulalah yang telah memberikan alas pada ilmunya, sehingga ilmunya telah berada dalam tataran yang lebih tinggi. Kemampuannya menggapai sasaran tanpa menyentuhnya dan bahkan kemudian puncak ilmu yang telah diwari¬¨sinya dari Ki Jayaraga, Aji Sigar Bumi, membuat anak muda itu men¬¨jadi seorang yang berilmu sangat tinggi. Apalagi Glagah Putih diakui sebagai salah seorang diantara murid utama dalam perguruan Orang Bercambuk. Karena itulah, maka dengan mantap Glagah Putih telah mengha¬¨dapi lawannya yang sudah menginjak umur separo baya. – Kau sangat mengagumkan anak muda – berkata orang yang su¬¨dah separo baya itu ‚ÄĒ kau sama sekali tidak nampak gelisah menghadapi pertempuran yang lain dengan perang gelar. – – Apapun yang harus aku hadapi, akan aku hadapi. Meskipun aku bukan seorang prajurit, tetapi aku telah ditempa sebagai seorang praju¬¨rit pula. ‚ÄĒ – Sebenarnya sayang sekali bahwa aku harus membunuhmu. Kau masih terlalu muda. ‚ÄĒ – Justru karena itu, maka aku akan mempertahankan diri. Aku masih merasa terlalu muda untuk mati. Tetapi bukan kita yang menen¬¨tukan kematian salah seorang diantara kita. – Orang itu mengerutkan dahinya. Wajahnya nampak menjadi bersungguh-sungguh sesaat. Namun kemudian ia mengangguk sambil berkata ~ Kau benar anak muda. Karena itulah agaknya kau sama se¬¨kali tidak merasa gentar menghadapi pertempuran yang bagi seorang prajurit, tentu pertempuran yang sangat khusus. ~ ‚ÄĒ Ya ‚ÄĒ jawab Glagah Putih singkat. Orang itupun kemudian mempersiapkan diri untuk bertempur melawan anak yang masih sangat muda itu, namun yang menurut pengamatannya, memiliki bekal yang cukup mapan. Memang mung¬¨kin anak muda itu belum mengetahui tataran kemampuannya, atau jus¬¨tru belum berpengalaman bertualang di dunia olah kanuragan selain lingkungan keprajuritan serta pengalaman perang gelar, sehingga ia ti¬¨dak menyadari bahaya yang sebenarnya dihadapinya. Sementara itu, seorang yang lain, yang mendendam terhadap pra¬¨jurit Mataram karena kehilangan ayahnya yang menurut pendapatnya mati dibunuh oleh prajurit Mataram disaat ia sedang menjalani hu¬¨kuman, telah berhadapan dengan Agung Sedayu. Orang itu sudah mu¬¨lai bergeser sambil mengayunkan tangannya untuk memancing Agung Sedayu untuk segera mulai dengan pertempuran. ‚ÄĒ Marilah. Bukankah kau prajurit Mataram ? Sebelum mati tun¬¨jukkan kepadaku, kebesaran Mataram lewat kemampuan para prajurit¬¨nya ‚ÄĒ berkata orang itu. Agung Sedayu mengerutkan dahinya. Ia merasa, betapa orang itu sangat merendahkan kemampuan para prajurit Mataram. Mungkin yang pernah dilakukannya adalah membunuh dua orang prajurit Mata7 ram dengan mudahnya. Tetapi sudah tentu hal itu tidak boleh terulang kembali. Tetapi orang itu kemudian berkata – Ternyata kau berbeda de¬¨ngan kedua orang prajurit yang telah aku bunuh itu. Kau masih lebih muda. Tetapi kau nampak lebih mantap. ‚ÄĒ ‚ÄĒ Setip prajurit Mataram mempunyai landasan sikap yang sama. ‚ÄĒ jawab Agung Sedayu. Orang itu tidak berbicara berkepanjangan. Dengan kakinya ia menyerang. Namun serangan itu belum merupakan serangan yang bersungguh-sungguh. Karena itu, maka dengan melangkah kesamping serangan itu dapat dielakkan. Tetapi serangan-serangan berikutnya mulai menjadi semakin bersungguh-sungguh. Orang itu bergerak semakin cepat. Kaki dan tangannya menyerang berganti-ganti. Agung Sedayu memang berloncatan surut. Tetapi ia sama sekali tidak mengalami kesulitan menghindari serangan serangan yang mes¬¨kipun menjadi semakin cepat itu. Namun Agung Sedayupun kemudian telah mulai membalas de¬¨ngan serangan-serangan pula. Pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin bersungguh-sungguh. Serangan-serangan lawannya menjadi semakin berbahaya. Sasarannya mulai mengarah ke tempat tempat yang berba¬¨haya ditubuh Agung Sedayu. Tetapi Agung Sedayupun segera menyesuaikan dirinya. Iapun bergerak lebih cepat. Ia sadar, bahwa lawannya memang seorang yang berilmu tinggi, yang benar-benar mempersiapkan dirinya untuk bertu¬¨lang melakukan balas dendam. Bukannya tidak mungkin bahwa orang itu telah bertahan-tahan menempa diri, menekuni ilmu untuk menda¬¨pat kepuasan dengan melepaskan dendamnya atas kematian ayahnya itu. Dengan demikian maka Agung Sedayupun telah bertempur de¬¨ngan sangat berhati-hati. Sementara itu, semakin lama, lawannya itu memang menjadi se¬¨makin garang. Serangan-serangannya menjadi semakin cepat dan bertenaga. Ayunan tangannya lelah menimbulkan desir angin yang se¬¨makin lama terasa semakin kuat. Namun dalam pada itu, lawan Agung Sedayu itupun semakin meyakini bahwa lawannya yang masih terhitung muda itu memang memiliki bekal yang tinggi. Ketika ia membunuh dua orang prajurit sebelumnya., rasa-rasanya ia tidak perlu mengerahkan terlalu banyak tenaga dan kemampuannya. Namun menghadapi prajurit yang masih terhitung muda ini, ia harus meningkatkan kemampuannya lebih tinggi lagi. Bahkan ketika terjadi benturan-benturan kekuatan, maka orang itu merasakan bahwa lawannya itu memiliki kekuatan yang sangat besar – Kemampuannya jauh berada diatas rata-rata prajurit Mataram – berkata orang itu didalam hatinya. Dengan demikian, maka orang itupun semakin meningkatkan ke¬¨mampuannya pula. Namun ia masih sempat bertanya – Ki Sanak. Aku kagum akan kemampuanmu yang melampaui para prajurit yang lain. Aku justru merasa senang bertempur melawanmu, karena aku seakan-akan mendapat kawan bermain yang baik. Tetapi sebelum kau mati aku ingin memperingatkan, semakin banyak keringatku mengalir, maka nasibmu akan menjadi semakin buruk. ‚ÄĒ – Adakah yang lebih buruk dari kematian ? – bertanya Agung Sedayu. – Aku tahu. Kematian bagi seorang prajurit bukanlah sesuatu yang menakutkan. Tetapi bahwa kematian yang terlalu lambat datang¬¨nya sementara prajurit itu sendiri tidak berkemampuan untuk meno¬¨laknya adalah keadaan yang sangat dibencinya. ‚ÄĒ – Tetapi bagiku, yang paling aku benci adalah orang yang ber usaha memperlakukan orang lain seperti yang kau katakan itu. ‚ÄĒ sahut Agung Sedayu. Orang itu menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak berbicara lagi. Dengan loncatan panjang ia telah menyerang Agung Sedayu. Agung Sedayu melenting kesamping, sehingga serangan itu tidak menyentuhnya. Namun demikian kakinya menyentuh tanah, maka tu¬¨buh Agung Sedayu itupun berputar dengan derasnya. Kakinya terayun mengarah ke kening lawannya. Orang itu terkejut. Ia tidak menyangka, bahwa secepat itu Agung Sedayu membalas serangannya. Meskipun demikian, orang itu masih sempat menghindar dengan menjatuhkan dirinya. Dua kali berguling. Kemudian melenting berdiri. Tetapi Agung tidak membiarkannya. Demikian orang itu berdiri. Agung Sedayu telah meloncat dengan cepat sambil menjulurkan kaki nya menyamping. Serangan itu datang demikian cepatnya, sehingga orang itu tidak sempat menghindar. Meskipun demikian, orang itu berusaha untuk menangkis serangan Agung Sedayu itu dengan tangannya. Ditebasnya kaki yang terulur itu menyamping. Tetapi serangan itu datang demikian kuatnya, sehingga benturan yang keraspun telah terjadi. Meskipun serangan Agung Sedayu tidak mengenai sasarannya. Namun demikian, benturan itu telah mengguncang keseimbangan la¬¨wannya. Sekali lagi orang itu harus berguling beberapa kali. Baru kemu¬¨dian ia meloncat bangkit berdiri dengan hati-hati Tetapi demikian ia tegak, maka iapun siap untuk melawan setiap serangan. Orang itu memang berhasil mengambil jarak sehingga Agung Se¬¨dayu tidak menyerangnya pada saat ia tegak. Meskipun demikian, maka lawannya itu menyadari, bahwa prajurit Mataram yang masih terhitung muda itu. bukan prajurit yang pernah dibunuhnya. Prajurit yang dihadapinya itu adalah prajurit yang memiliki ilmu yang tinggi. Orang itu menggeram. Ia sudah menempa dirinya beberapa tahun untuk mematangkan rencananya membalas dendam, la baru puas jika ia sudah berhasil membunuh sedikimya sepuluh orang prajurit. Tetapi ketika ia menghadapi prajurit yang ketiga, ia telah men¬¨jumpai prajurit yang berilmu tinggi. Orang itu sekali-sekali sempat melihat apa yang terjadi dengan kawannya. Ia menyangka bahwa kawannya itu akan dengan cepat da¬¨pat menyelesaikan anak yang masih terlalu muda, yang telah melibat¬¨kan diri dalam perang antara Mataram dan Pati itu. Tetapi orang itu merasa heran kawannya itu justru mulai terde¬¨sak. – Apakah yang sebenarnya telah terjadi ? – orang itu bertanya kepada diri sendiri. Sebenarnyalah bahwa Glagah Putih mulai mendesak lawannya yang sudah separo baya itu. Dengan kecepatan yang tinggi, Glagah Pu¬¨tih telah mampu memotong serangan-serangan lawannya yang keras dan garang. Lawannya yang memiliki pengalaman yang luas itu menjadi ma¬¨rah. Setiap kali ia menyerang, maka lawannya yang muda itu sempat mendahuluinya. – Aku kagumi kemampuanmu yang tinggi anak muda, tetapi ka¬¨rena itu pula, maka aku ingin membunuhmu lebih cepat. – geram orang itu. Tetapi Glagah Putih menyahut – sebenarnya aku ingin mengam¬¨punimu. Tetapi karena kau masih mengigau untuk membunuh, maka aku akan dapat berubah pikiran. ‚ÄĒ – Persetan – geram lawan Glagah Putih – ternyata kau anak yang tidak mempunyai unggah-ungguh. Kau kira aku kawan bermainmu ? Anak-anak sebayamu, sehingga kau berani mengancamku seperti itu ? Tetapi Glagah Putih justru tertawa. Katanya – Jangan merajuk Ki Sanak. Meskipun kita tidak sebaya, tetapi kita sudah terlibat dalam permainan bersama. Karena itu, maka kita telah berdiri pada tataran yang sama. – Orang itu tidak menjawab. Tetapi serangan-serangannyapun te¬¨lah datang membadai. Bahkan Glagah Putih merasakan, betapa kema¬¨rahan telah membakar jantung lawannya itu, sehingga ilmunya telah meningkat menjadi semakin tinggi. Dengan tenaga dalamnya, maka orang itu telah mengangkat ke¬¨kuatan tenaganya semakin besar. Ia mampu bergerak semakin cepat, sehingga serangan-serangannyapun menjadi semakin berbahaya. Tangannya bergerak dengan cepat menyerang dengan serangan berun¬¨tun. Sepasang tangannya itu seakan-akan telah tumbuh dan berkem¬¨bang menjadi beberapa pasang. Meskipun demikian Glagah Putih tidak menjadi gentar. Anak muda itupun telah meningkatkan kemampuannya pula. Glagah Putih mulai meningkatkan tenaga dalamnya, sehingga benturan-benturan yang terjadi menjadi semakin keras. Benturan yang membuat kedua¬¨nya tergetar surut. Glagah Putih terkejut ketika ia merasa sambaran angin yang tim¬¨bul dari ayunan gerak tangan lawannya terasa pedih di kulitnya, se¬¨hingga beberapa kali Glagah Putih harus mengambil jarak. Namun dengan demikian, Glagah Putih semakin menyadari, bahwa lawannya telah merambah memasuki tataran ilmu puncaknya. Karena itu, maka Glagah Putihpun menjadi semakin berhati-hati. Agaknya orang itu memang menyimpan ilmu yang dapat diandalkan sehingga karena itu, maka ia tidak membawa senjata apapun selama berpetualangan bersama kawannya yang mendendam itu. Dengan demikian, maka Glagah Putihpun telah semakin mening¬¨katkan ilmunya pula dari tataran ke tataran. Sehingga karena itu, maka kecepatan geraknyapun menjadi semakin bertambah-tambah. Untuk mengimbangi sambaran angin yang terasa pedih itu, Glagah Putih mampu meloncat dan melenting dengan kecepatan yang sangat tinggi. Lawan Glagah Putih itu mulai menjadi gelisah. Rasa-rasanya ia sedang bertempur melawan anak iblis yang memiliki ilmu yang sulit dijajakinya. Ketika orang itu meningkatkan ilmunya semakin tinggi, maka Glagah Putihpun telah melakukannya pula. Serangannya menjadi se¬¨makin cepat dan semakin rumit. Dengan demikian, maka kedua orang itu telah mulai bertempur dengan landasan ilmu pada tataran yang tinggi. Agung Sedayupun sudah terlibat dalam pertempuran yang sengit pula. Lawannya yang tidak bersenjata itu memang mengandalkan il¬¨munya yang sangat tinggi. Orang itu memang menjadi sangat marah ketika Agung Sedayu masih saja mampu mengimbangi ilmunya yang sudah menjadi sema¬¨kin meningkat. Karena itu, maka orang itupun tidak ingin bertempur berlama-lama. Iapun harus segara membunuh prajurit itu sebagai prajurit ke¬¨tiga. Jika anak yang masih terjadi muda itu kemudian juga mati, ia adalah korbannya yang keempat meskipun dilakukan dengan memin¬¨jam tangan kawannya yang sudah menyatakan diri untuk membantu¬¨nya sepenuhnya. Namun ternyata tidak mudah bagi orang itu untuk membunuh Agung Sedayu. Meskipun ia sudah meningkatkan ilmunya semakin tinggi namun lawannya yang masih terhitung muda itu, masih juga mampu mengimbanginya. Karena itu, maka orang itu tidak mau lagi menyia-nyiakan waktu. Meskipun ia sudah meningkatkan ilmunya semakin tinggi namun la¬¨wannya yang masih terhitung muda itu, masih juga mampu mengim¬¨banginya. Karena itu, maka orang itu tidak mau lagi menyia-nyiakan waktu. Justru karena lawannya yang masih saja mengimbangi ilmunya, maka orang itupun segera merambah ketataran ilmunya yang tertingi. Dengan nada berat orang itu menggeram – Kau ternyata mampu memancing ilmu pamungkasku. Ketika aku membunuh dua orang pra¬¨jurit Mataram, maka aku sama sekali tidak menitikkan keringat sete-tespun. Namun kini aku ternyata sempat bertahan untuk beberapa lama sehingga kau telah membuat darahku menjadi mendidih. ‚ÄĒ – Ki Sanak. Kau masih mempunyai kesempatan untuk berpikir. Dendam bukan satu penyelesaian yang baik. Jika kau merasa bahwa yang pernah terjadi atas ayahmu itu tidak adil, maka kau dapat minta keadilan. ‚ÄĒ – Omong kosong – jawab orang itu ‚ÄĒ seandainya aku menyam¬¨paikan sebab kematian ayahku yang tidak sewajarnya itu kepada para Senapati atau kepada siapapun juga, maka justru nasibkulah yang akan menjadi semakin buruk. ~ – Jika kau sudah kehilangan kepercayaan kepada Senapati, maka kau masih mempunyai satu kesempatan. ‚ÄĒ – Apa ? ‚ÄĒ bertanya orang itu. – Pepe di depan paseban. – jawab Agung Sedayu. Tetapi orang itu tertawa berkepanjangan. Kalanya – Hanya cucurut-cucurut yang penakut dan tidak mempunyai harga diri sajalah yang ingin menyelesaikan persoalan dengan pepe di alun-alun. Kau kira akan ada hasilnya ? Jika aku pepe di alun-alun, maka aku hanya akan menjadi tontonan orang, sementara keadilan yang aku harapkan tidak akan pernah aku dapatkan. ‚ÄĒ – Kau belum pernah mencobanya. Yang kau katakan itu adalah kebenaran-kebenaran yang terjadi didalam angan-anganmu saja. Se¬¨mentara angan-anganmu sudah dilandasi dengan prasangka-prasangka buruk. Dan prasangka buruk itu tubuh dari endapan jiwamu yang kotor. ‚ÄĒ ‚ÄĒ Setan kau. Aku ingin mengoyakkan mulutmu. ‚ÄĒ geram orang itu dengan marahnya. — Jika hal itu ingin kau lakukan, kau tidak usah mengatakannya lebih dahulu, karena kita memang sudah terlibat dalam pertempuran. ‚ÄĒ sahut Agung Sedayu. Orang itu menggeretakkan giginya. Kemarahannya sudah tidak terbendung lagi. Karena itu, maka sejenak kemudian, orang itupun le¬¨lah menghentakkan tangannya mendatar. Agung Sedayu terkejut. Hanya karena daya tahannya yang sangat tinggi, meskipun ia belum mengetrapkan ilmu kebalnya, maka Agung Sedayu tidak menjadi pingsan karenanya. Namun serangan yang tidak menyentuhnya secara wadag itu telah melemparkan Agung Sedayu beberapa langkah surut, sehingga Agung Sedayu telah kehilangan ke¬¨seimbangannya. Agung Sedayu memang terhuyung-huyung dan kemudian terja¬¨tuh. Agung Sedayu justru berguling beberapa kali. Baru kemudian ia melenting untuk tegak berdiri. Tetapi Agung Sedayu lelah memper¬¨siapkan dirinya sebaik-baiknya. Dalam waktu sekejap Agung Sedayu telah mengetrapkan ilmu kebalnya, la menyadari sepenuhnya, bahwa lawannya adalah seorang yang memang berilmu sangat tinggi. Orang itu mengerutkan dahinya. Ia tidak menyangka bahwa Agung Sedayu masih sempat bangkit. Ternyata prajurit Mataram yang terhitung muda itu, mampu mengatasi serangan ilmunya yang dibangga-banggakan. ‚ÄĒ Tulang-tulang iganya tidak berpatahan – garam orang itu. Sementara itu, Agung Sedayu sudah berdiri tegak. Serangan yang menghantam dadanya sebelum ia mengetrapkan ilmu kebalnya itu me¬¨mang terasa sakit. Tetapi daya tahannya yang tinggi telah menyela¬¨matkannya. Setelah Agung Sedayu mengetrapkan ilmu kebalnya, maka ia berharap bahwa ilmunya itu akan semakin rapat melindunginya, se¬¨hingga ilmu lawannya itu tidak akan menghancurkannya. Meskipun demikian, Agung Sedayu harus tetap berhati-hati. Ia masih harus memperhitungkan kemungkinan ilmu lawannya sangat tinggi sehingga mampu mengguncang bahkan mengoyak ilmu kebal¬¨nya, sehingga akibatnya sangat buruk bagi dirinya. Ketika orang itu melihat Agung Sedayu yang bangkit dan siap un¬¨tuk melanjutkan pertempuran, maka ia sadar sepenuhnya, bahwa ia benar-benar berhadapan dengan seorang prajurit yang berilmu tinggi, melampaui ilmu kebanyakan prajurit. Dengan demikian, maka orang itupun kemudian telah menghentakkan segenap kemampuannya. Ia tidak mau kehilangan ke¬¨sempatan terakhir untuk menyelesaikan lawannya itu. Dengan ilmu puncaknya, maka orang itupun telah menyerang Agung Sedayu. Serangan-serangan yang sangat berbahaya. Jangkauan ilmu orang itu ternyata melampaui jangkauan kewadagannya. Meski¬¨pun tangan atau kakinya atau anggota badannya yang lain belum me¬¨nyentuh tubuh lawannya, namun ilmu orang itu telah mengenai dan menghantam sasarannya. Tetapi Agung Sedayupun dengan cepat mengenali rahasia ilmu lawannya, sehingga karena itu, maka iapun dengan cepat telah me¬¨nempatkan dirinya diluar garis serangan lawannya itu. Jika sekali-sekali ia terlambat, maka ilmu kebalnya telah melindunginya, se¬¨hingga serangan-serangan itu tidak menyakitinya. Perlawanan Agung Sedayu itu telah membuat lawannya mulai menjadi gelisah. Serangan-serangan ilmu yang dibanggakannya itu seakan-akan tidak banyak berarti bagi prajurit yang terhitung masih muda itu. Meskipun orang itu meningkatkan ilmunya sampai kepuncak ke mampuannya, namun Agung Sedayu masih saja dengan tegar meng¬¨hadapinya. Di lingkaran pertempuran yang lain, lawan Glagah Putihpun semakin meninggalkan ilmunya pula. Sambaran angin dari ayunan se¬¨rangannya, memang menjadi semakin tajam. Bahkan kemudian terasa seperti ujung-ujung duri yang menusuk-nusuk kulitnya. Dengan demikian, maka Glagah Putihpun harus lebih cepat ber¬¨gerak menghindari serangan-serangan lawannya. Ia tidak saja harus menghindari serangan itu sendiri, tetapi juga harus menghindari sam¬¨baran angin yang menyertai setiap ayunan serangannya. Namun orang itu semakin lama justru bergerak lebih cepat pula, sehingga Glagah Putih kadang-kadang terlambat menghindar, se¬¨hingga kulitnya terasa sangat nyeri dan pedih. Glagah Putihpun kemudian harus menentukan sikap pula meng¬¨hadapi lawannya itu. Dengan meningkatkan kemampuan maka sekali-sekali Glagah Putih dengan sengaja telah memasuki batas sentuhan sambaran angin yang menyakitinya itu. Dengan meningkatkan daya tahannya, Glagah Putih sengaja tidak menghindar, tetapi justru mem¬¨bentur serangan lawannya. Setiap kali terjadi benturan, lawannya selalu terkejut. Tenaga anak yang masih terlalu muda itu ternyata melampaui batas kekuatan tenaganya, sehingga beberapa kali orang itu harus terdesak surut. Mes¬¨kipun Glagah Putih selalu berhasil mendorong lawannya beberapa langkah surut. Akhirnya lawan Glagah Putih itu tidak sabar lagi. Ia telah meng¬¨hentakkan segala kemampuan dan ilmu yang ada padanya. Bukan se¬¨kedar sambaran udara yang menimbulkan perasaan pedih serta bagai¬¨kan ditusuk-tusuk dengan ujung duri, tetapi getar udara yang umbul oleh ayunan serangan lawannya itu telah memancarkan getaran panas. Glagah Putih memang terdesak surut Tetapi sentuhan udara pa¬¨nas itu telah membuat jantungnya menjadi panas pula. Dengan demikian, maka Glagah Putih yang terdesak itu semakin meningkatkan kemampuan ilmunya pula. Meskipun Glagah Putih ma¬¨sih belum mengetrapkan ilmu puncaknya, Aji Sigar Bumi, namun Gla¬¨gah Putih telah mengetrapkan kemampuannya berdasarkan landasan ilmu yang mengalir dari Ki Sadewa lewat Agung Sedayu yang telah berkembang didalam dirinya. Maka pertempuran itu menjadi semakin sengit. Sekali-sekali Glagah Putih memang harus menahan sakit jika sentuhan getar udara panas yang timbul dari hentakkan ilmu lawannya menyentuh tubuh¬¨nya melampaui batas daya tahannya. Namun serangan Glagah Putih yang cepat dan dorongan kekuatan ilmunya itu, setiap kali telah mem¬¨bentur tubuh lawannya. Serangan-serangan Glagah Putih yang me¬¨nembus pertahanannya dan mengenai tubuhnya itu mulai menyakiti¬¨nya pula. Glagah Putih yang melihat keadaan lawannya memang tidak meningkatkan ilmunya lebih tinggi lagi. Ia tidak pula mengetrapkan kemampuan puncaknya sebagai murid utama orang Barcambuk. Na¬¨mun perlahan-lahan ia merasa akan berhasil menguasai lawannya yang sudah separo baya itu. Lawan Glagah Putih memang menjadi semakin gelisah. Lawan¬¨nya yang masih sangat muda itu ternyata memiliki ilmu yang tinggi. Bahkan orang itu yakin, bahwa ilmu anak muda itu masih dapat diting¬¨katkan. Dalam pada itu, maka lawan Agung Sedayu itupun semakin mengalami kesulitan. Tetapi ia masih bertekat untuk mengalahkan prajurit yang masih terhitung muda itu. Ketika kemudian ia meningkatkan ilmunya, maka tidak saja serangan-serangannya yang menjadi semakin garang dan melampaui kecepatan gerak wadagnya, namun jarak jangkau serangan-serangannya itupun menjadi semakin jauh. Serangan-serangan itu memang mulai membuat Agung Sedayu menjadi sibuk. Bahkan kemudian hentakkan hentakan ilmu lawannya itu mulai mengguncang ilmu kebalnya, meskipun masih belum mampu menembusnya. Ketika kemudian Agung Sedayu menekannya lebih kuat, maka orang itupun menjadi semakin terdesak. Tanpa menghiraukan serangan-serangannya. Agung Sedayu itu justru menjadi semakin ga¬¨rang. Agung Sedayu yang semakin mendesak lawannya itupun kemudian masih berusaha memperingatkannya. Katanya ‚ÄĒ Ki Sanak. Masih ada kesempatan. Meskipun kau mengaku sudah membunuh dua orang prajurit Mataram, namun aku masih belum memutuskan untuk membunuhmu sekarang. Jika kau menyerah, maka aku akan memba¬¨wamu menghadap Senapati Mataram yang bertugas menghadapi pra¬¨jurit Pati yang menarik diri. ‚ÄĒ – Persetan dengan igauanmu – geram orang itu ‚ÄĒ aku akan mem¬¨bunuhmu. ‚ÄĒ – Kedudukanmu akan menjadi semakin sulit. Selagi aku belum berubah pendirian, menyerahlah. – berkata Agung Sedayu kemudian. Tetapi orang itu sama sekali tidak menghiraukannya. Ia justru menyerang Agung Sedayu semakin sengit. Agung Sedayu yang telah memberinya kesempatan untuk meng¬¨hentikan perlawanan namun tidak dihiraukannya itu, tidak dapat ber¬¨buat lain keculai memaksa lawannya sehingga lawannya itu sama se¬¨kali tidak mampu melawannya lagi. Karena itulah, maka Agung Sedayupun telah meningkatkan ke¬¨mampuannya lebih tinggi lagi. Perlawanan orang itu menjadi semakin sia-sia. Kemampuan il¬¨munya yang dianggapnya tidak terlawan oleh para prajurit Mataram itu ternyata tidak berdaya dihadapan prajurit Mataram yang satu itu. Bahkan semakin lama serangan-serangan lawannya yang masih terhi¬¨tung muda itu semakin banyak mengenai tubuhnya. Agung Sedayu yang mengetrapkan ilmu kebalnya itu dapat me¬¨nyusup menembus pertahanan lawannya semakin sering, sedangkan serangan lawannya yang mampu menghentak mendahului sentuhan wadagnya itu, tidak mampu mengoyak pertahanannya, meskipun sekali-sekali terasa dapat mengguncangnya. Namun akhirnya orang itupun harus mengakui kenyataan yang dihadapinya. Beberapa kali orang itu terdorong surut. Bahkan keseim¬¨bangannya, namun semakin lama semakin menyakitinya. Bahkan meskipun orang itu berhasil menangkis serangan Agung Sedayu, na¬¨mun benturan yang terjadi kadang-kadang telah melemparkannya se¬¨mentara tulang-tulangnya menjadi nyeri. Orang itu tidak mempunyai harapan lagi untuk mampu mengim¬¨bangi lawannya itu. Ketika kaki Agung Sedayu mengenai lehernya tepat dibawah telinganya, maka orang itu telah terlempar beberapa langkah dan jatuh terguling. Namun orang itu dengan cepat melenting terdiri. Dengan tang¬¨kasnya ia meloncat menjulurkan tangannya menyerang kearah dada Agung Sedayu yang justru sedang bergerak memburunya. Meskipun tangan orang itu tidak sampai menjangkau tubuh Agung Sedayu, namun serangannya itu telah mendahului ujud wadag¬¨nya dan menghantam dada Agung Sedayu. Agung Sedayu terkejut. Ia memang tertahan, dan bahkan terdorong setapak surut. Namun ilmu kebalnya dan semakin ditingkatkan, telah melindunginya, sehingga Agung Sedayu tidak merasa sakit sama sekali. Bahkan dengan cepat Agung Sedayu meloncat dengan tangan terjulur lurus mematuk dada. Orang itu berusaha untuk mengelak, namun Agung Sedayu me¬¨nahan serangannya. Tangannya berputar menebas mendatar. Punggung telapak tangan Agung Sedayu ternyata telah menyam¬¨bar keningnya lawannya. Demikian kerasnya, sehingga lawannya itu terdorong kesamping dan bahkan kehilangan keseimbangannya. Demikian orang itu terjatuh, maka iapun segera berguling meng¬¨ambil jarak. Baru beberapa putaran kemudian, orang itu meloncat dan bangkit berdiri. Meskipun ia berhasil tegak pada kedua kakinya, namun terasa ke¬¨palanya menjadi sangat pening. Ketika Agung Sedayu melangkah maju setapak demi setapak, maka orang itupun menjadi sangat gelisah. Bagi lawan Agung Sedayu itu memang tidak ada lagi harapan un¬¨tuk dapat tetap bertahan. Karena itu, maka satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri adalah menghindar dari pertempuran. Orang itu akan mencari kesempatan lain. Tidak semua prajurit Mataram memiliki kemampuan sebagaimana lawannya yang masih terhitung muda itu. – Aku akan membunuh tidak hanya sepuluh orang – katanya di¬¨dalam hati – kekalahan hari ini harus ditebus dengan paling sedikit lima orang, sehingga aku harus membunuh seluruhnya limabelas orang. – Dengan keputusannya itu, maka lawan Agung Sedayu itupun se¬¨gera mencari kesempatan. Ia sama sekali tidak menghiraukan kawan¬¨nya lagi. Ketika ia sempat menahan serangan Agung Sedayu dengan serangannya yang kadang-kadang masih mengejutkan itu, maka iapun segera meloncat dan berlari seperti anak panah yang lepas dari busur¬¨nya. Agung Sedayu terkejut melihat kecepatan lari lawannya. Ia me¬¨mang sudah mengira bahwa lawannya akan melarikan diri. Namun ia tidak mengira bahwa lawannya itu seakan-akan mampu terbang sece¬¨pat burung alap-alap. Agung Sedayu memang mencoba mengejarnya denga mengerah¬¨kan tenaga dalamnya. Tetapi ia tidak mau kehilangan buruannya yang berlari sangat cepat itu. Sementara itu Agung Sedayu menyadari, bahwa lawannya yang membawa dendam itu adalah orang yang sangat berbahaya bagi praju¬¨rit Mataram, apalagi prajurit Mataram yang tidak memiliki bekal ilmu yang khusus. Agung Sedayu tidak mempunyai banyak kesempatan untuk membuat pertimbangan-pertimbangan, karena orang itu berlari me¬¨nuju ke semak-semak dan belukar. Yang terbayang di angan-angannya adalah pembunuhan-pembunuhan yang dapat dilakukan lagi oleh orang itu dikemudian, hari. Beberapa orang prajurit Mataram terancam untuk dijadikan korban dendamnya yang membara dijantungnya. Karena itu, maka yang tersirat dihati Agung Sedayu hanyalah usaha untuk menghentikan pembunuhan-pembunuhan atas orang-orang yang tidak bersalah. Dengan demikian, maka sejenak kemudian Agung Sedayu yang merasa sulit untuk dapat menangkap orang yang dikejarnya itu, karena yang dapat dilakukan hanya sekedar menjaga jarak, telah memasuki tingkat ilmu pamungkasnya. Agar tidak kehilangan lawannya yang sa¬¨ngat berbahaya itu, maka Agung Sedayu justru menghentikan lang¬¨kah. Namun demikian itu berdiri tegak, maka tiba-tiba dari matanya te¬¨lah memancar getaran ilmunya meluncur menyusul lawannya yang berlari sangat cepat itu. Yang terdengar kemudian adalah lengking yang tinggi. Orang itu bagaikan terdorong dan terlempar beberapa langkah maju. Namun ke¬¨mudian orang itu terjerembab dari sekali menggeliat, namun kemudian tubuh itu terdiam. Masih terdengar orang dan teriakan nafas. Namun kemudian nafas itupun terputus. Agung Sedayupun kemudian berlari menyusul. Dengan jantung yang berdebaran Agung Sedayu kemudian berjongkok disisi tubuh yang sudah tidak bernafas lagi itu. Agung Sedayu meraba tubuh itu. Masih terasa kehangatan meng¬¨alir diurat-urat darahnya. Namun kemudian telah terhenti sebagai¬¨mana jantungnya berhenti pula berdenyut. Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam, la sama sekali tidak bernafsu untuk membunuh. Yang terpikir olehnya adalah menghenti¬¨kan pembunuhan-pembunuhan yang masih akan dilakukan orang itu. Dalam pada itu, Glagah Putih masih bertempur dengan sengit¬¨nya. Namun semakin lama lawannya semakin kehilangan kesempatan. Sementara itu Glagah Putih masih belum sampai pada puncak kemam¬¨puannya. Ketika lawan Glagah Putih itu melihat kawannya yang justru mengajaknya melakukan petualangan itu berlari meninggalkan per¬¨tempuran tanpa menghiraukan dirinya, maka ia menjadi sangat ke¬¨cewa. Karena itu, maka ia merasa tidak ada artinya bertempur lebih lama lagi. Apalagi ia tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa la¬¨wannya yang masih sangat muda itu memiliki ilmu yang tidak dapat diimbanginya. Dengan demikian, ketika ia menjadi semakin terdesak, maka orang itupun segera berloncatan mengambil jarak sambil berkata ham¬¨pir berteriak ‚ÄĒ Tunggu, tunggu. – Glagah Putih masih meloncat memburunya. Tetapi orang itupun kemudian menjulurkan tangannya kedepan menghadap Glagah Putih ‚ÄĒ Tunggu anak muda. ‚ÄĒ Glagah Putih memang mengekang dirinya. Ia mengamati sikap lawannya dengan hati hati, karena sikap demikian itu dapat saja me¬¨nyesalkannya. Tiba-tiba dari telapak tangannya yang terbuka dan menghadapnya itu akan dapat meluncur serangan yang berbahaya. Namun Glagah Putih tidak melihat tanda-tanda bahwa lawannya akar, menyerang. Bahkan kemudian kedua tangannya itupun seakan-akan terkulai disisi tubuhnya. – Kenapa ? – bertanya Glagah Putih. – Aku menyerah – berkata orang itu. – Karena kawanmu sudah melarikan diri dari medan ? – bertanya Glagah Putih pula. ‚ÄĒ Tidak – jawab orang itu ‚ÄĒ aku memang akan menyerah. – ‚ÄĒ Bohong ‚ÄĒ gerang. Glagah Putih ‚ÄĒ kau sama sekali tidak berniat menyerah. Tetapi karena kau sudah tidak mempunyai kesempatan lagi, maka kau baru menyatakan diri menyerah. ‚ÄĒ ‚ÄĒ Aku memang akan menyerah ‚ÄĒ orang itu mulai menjadi geli¬¨sah. ‚ÄĒ Sudah terlambat ‚ÄĒ jawab Glagah Putih. Wajah orang itu menjadi sangat tegang dan bahkan pucat Dengan ragu-ragu iapun bertanya ‚ÄĒ Kenapa terlambat ? – Glagah Putih melihat wajah yang pucat itu. Keringatnya yang memang sudah membasahi pakaiannya menjadi seakan-akan diperas dari tubuhnya. Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian ~ Baiklah. Jika kau menyerah, maka kau akan menjadi tawananku. Kau akan kami bawa ke induk pasukan kami. ‚ÄĒ Orang itu memang menjadi ragu-ragu. tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain. Jika ia meneruskan perlawanan, maka ia tidak akan dapat berbuat banyak. Demikianlah, maka Glagah Putih telah membawa orang itu men¬¨dekati Agung Sedayu yang kemudian telah bangkit berdiri disebelah tubuh yang terbujur diam itu. Kepada orang yang menyerah itu, Agung Sedayu berkata ‚ÄĒ Aku tidak mempunyai pilihan lain. Ia berlari terlalu cepat, sehingga sulit bagiku untuk dapat menangkapnya. Karena itu aku terpaksa menghentikannya. ‚ÄĒ Orang yang dikalahkan orang Glagah Putih itupun kemudian ber¬¨jongkok disisi tubuh kawannya. Sambil mengusap dahinya, ia berkata – Nasibmu memang buruk. Tetapi kau telah mengambil jalan yang se¬¨sat. ‚ÄĒ ‚ÄĒ Kenapa kau juga melakukannya ? – tiba-tiba Glagah Putih ber¬¨tanya. ‚ÄĒ Aku memang sahabatnya, apalagi ia pernah menolongku, sehingga aku merasa berhutang budi kepadanya. Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya – Jadi seseorang yang telah berhutang budi itu harus melaku¬¨kan apa saja untuk membalas budi ? ‚ÄĒ – Bukankah seekor binatang saja tahu membalas budi ? ‚ÄĒ orang itu justru bertanya. – Jika kau benar ingin membalas budi, bukan seperti yang kau la¬¨kukan sekarang ini. Seharusnya kau justru mencegahnya, agar orang itu tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak sebaiknya dilaku¬¨kan. Dengan demikian, kau akan mencegah orang itu terjerumus keda-lam satu perbuatan yang menjeratnya kedalam kesulitan, dan bahkan kematian. ‚ÄĒ berkata Agung Sedayu. – Penalaranku tidak dapat menjangkau pengertian sejauh itu. Aku hanya tahu, bahwa aku harus membalas budi. Itu saja – – Balas budi itu kau lakukan dengan membabi buta. – berkata Agung Sedayu. Orang itu menundukkan kepalanya. Namun kemudian katanya -Ya. Aku memang terlalu bodoh. – – Sekarang, sebelum aku membawamu ke induk pasukanku, maka kita harus mengubur tubuh kawanmu itu. ~ Orang itu mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian bertanya ‚ÄĒ Tetapi dengan apa kita akan menggali lubang kuburnya. ? ‚ÄĒ Agung Sedayu dan Glagah Putih memang menjadi bingung. Me¬¨reka tidak mempunyai alat apapun yang dapat mereka pergunakan un¬¨tuk menggali tanah yang bercampur padas. Selagi mereka masih termangu-mangu, maka orang yang dikalahkan Glagah Putih itupun berkata – Jika kita tidak dapat meng¬¨gali lubang, maka sebaiknya kita tutup saja tubuh itu dengan bebatuan agar tidak dikoyak-koyak oleh binatang buas atau binatang malam yang lain. ‚ÄĒ Mereka memang tidak dapat berbuat lain. Karena itu, maka me¬¨reka bertigapun kemudian telah mengumpulkan bebatuan disekitar tempat itu yang untungnya terdapat banyak berserakan dimana-mana. Ternyata kemudian Agung Sedayu dan Glagah Putih masih ber¬¨jalan beberapa ratus patok maju. Namun kemudian mereka tidak men¬¨dapatkan tanda-tanda yang mencurigakan, sehingga iapun berkesim¬¨pulan bahwa pasukan Pati memang benar-benar telah ditarik. Sebenarnyalah bahwa Pasukan Pati memang sudah ditarik. Bah¬¨kan tidak hanya sekedar ditarik mundur. Tetapi pasukan itu ternyata telah ditarik untuk memperkuat pasukan Pati yang akan berkemah di-sebelah Timur Kali Dengkeng, sementara pasukan Mataram memba¬¨ngun perkemahan di Prambanan, sebelah Barat Kali Dengkeng. Ketika Agung Sedayu dan Glagah Putih sampai keperkemahan, ampat orang prajurit yang lain, yang juga bertugas untuk mengamati keadaan telah kembali pula. Merekapun melaporkan, bahwa mereka tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Menurut pendapat mereka, maka pasukan Pati itu tentu sudah ditarik dari medan. Namun beberapa orang petugas sandi mempunyai tugas yang le¬¨bih jauh dari tugas yang dibebankan kepada Agung Sedayu dan bebe¬¨rapa orang prajurit yang lain. Mereka ditugaskan untuk mengamati dan menelusuri pasukan Pati itu. Mereka harus memberikan laporan, kemana dan dimana pasukan Pati itu kemudian. Ki Tumenggung Wirayuda masih belum dengan tergesa-gesa menarik mundur pasukannya. Pasukan Mataram itu masih tetap ber¬¨ada di perkemahannya. Mungkin masih akan terjadi sesuatu, sampai mereka menerima laporan yang meyakinkan dari para petugas sandi. Dalam pada itu, diseberang-menyeberang Kali Dengkek dengan jarak beberapa ratus patok, kedua pasukan yang besar telah berkemah. Pasukan Pati disebelah Timur dan pasukan Mataram disebelah Berat Pada hari-hari pertama, kedua pasukan itu masih belum bergerak sama sekali. Namun Kangjeng Adipati Pati telah menjadi sangat ma¬¨rah ketika yang berkemah di Prambanan, pasukan Mataram dipimpin oleh Kangjeng Pangeran Adipati Anom. Tidak dipimpin langsung oleh Panembahan Senapati. – Orang-orang Mataram sangat merendahkan aku ‚ÄĒ berkata Kangjeng Adipati Pati. Namun Kangjeng Adipati Pati masih dapat menahan diri untuk ti¬¨dak bergerak langsung menyeberangi Kali Dengkeng. Tetapi Kang¬¨jeng Adipati Pati masih sempat mengatur prajurit-prajuritnya. Dalam pada itu, Untara yang telah berhasil menghambat dan mengurangi kekuatan Pati telah bergerak pula mendekati perkemahan prajurit Pati disebelah Timur Kali Dengkeng. Namun dalam pada itu, Untara telah mengirimkan beberapa orang penghubung memberikan laporan dan menerima perintah-perintah dari induk pasukan di Pramb¬¨anan. Penghubung itu dikirim pada waktu-waktu tertentu secara ter¬¨atur. Namun yang tidak diduga, dua orang prajurit sandi yang dikirim oleh Untara untuk melihat perkembangan keadaan secara umum di kaki Gunung Merapi sisi Selatan, telah memberikan laporan, bahwa mereka melihat gerakan pasukan yang cukup besar, justru datang dari arah Barat. – Mereka berhenti disebuah padukuhan. Nampaknya pasukan itu kelelahan tanpa persediaan pangan yang cukup. ‚ÄĒ – Kalian melihat ciri-cirinya ? – bertanya Untara. – Mereka menggulung semua rontek, umbul-umbul dan kelebet. Tetapi masih nampak tunggul-tunggul yang dapat kami kenali. – – Menurut pendapatmu, pasukan dari mana ? – bertanya Untara pula. Pasukan dari Pati – jawab petugas sandi itu. Untara termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia memerintahkan untuk memastikan, pasukan yang berhenti disebuah padukuhan itu. Apakah benar pasukan itu memang pasukan dari Pati. Sementara prajurit sandinya masih melakukan penyelidikan maka Untara lewat penghubungnya telah mendapat keterangan dari pasukan induk Mataram di Prambanan, bahwa pasukan Pati yang ber¬¨ada di arah Utara Mataram, telah menarik diri, meninggalkan perke-mahannya. Dengan demikian, Untara mengambil kesimpulan, bahwa pasu¬¨kan yang dilaporkan kepadanya itu adalah pasukan Pati yang ditarik dari medan disebelah Utara Mataram itu. Sebaliknya Untarapun telah memberikan laporan pula bahwa prajurit sandinya telah melihat sepasukan prajurit yang nampak letih berhenti disebuah padukuhan. Para perwira Mataram yang menerima laporan Untara itu segera mengambil kesimpula , bahwa pasukan Pati yang telah ditarik dari se¬¨belah Utara Mataram itu diperintahkan bergabung dengan pasukan Pati yang ada disebelah Timur Kali Dengkeng. Dengan kesimpulan itu, maka sebagian pasukan Ki Tumenggung Wirayudapun kemudian akan ditarik dan ditempatkan di Prambanan. Sedangkan sebagian lagi akan tetap berada di depan pintu gerbang Ko-taraja disisi Utara untuk menjaga segala kemungkinan. Adapun pasu¬¨kan yang tinggal itu adalah para prajurit dari Pasukan Khusus di Mata¬¨ram serta para pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Dalam pada itu, maka dua kekuatan yang sangat besar telah berhadapan di sebelah menyebelah Kali Dengkeng. Namun agaknya kedua kekuatan itu masih belum bergerak. Keduanya masih me-nunggu kesempatan terbaik bagi mereka masing-masing. Namun demikian, kedua kekuatan itu setiap hari telah mening¬¨katkan kesiagaan mereka. Pasukan Pati yang ditarik dari arah Utara Mataram itupun telah berbagung dengan induk pasukan mereka di se¬¨belah Timur Kali Dengkeng. Untara menjadi berdebar-debar ketika ia mendapat perintah un¬¨tuk bergabung dengan induk pasukan Mataram Agaknya Mataram su¬¨dah berniat untuk mulai menyerang perkemahan pasukan Pati yang dipimpin langsung oleh Kangjeng Adipati Pati. Untara memang berangkat dengan membawa pasukannya ke Prambanan. Namun ia telah melaporkan pula, bahwa beberapa kelom¬¨pok prajuritnya ditinggal dibawah pimpinan Sabungsari untuk memo¬¨tong setiap usaha pengiriman bahan pangan ke perkemahan orang-orang Pati. Diantara pasukan yang ditinggalkan itu adalah pasukan pengawal Kademangan Sangkal Putung. Ternyata bahwa Swandaru adalah seorang pemimpin yang tang¬¨kas Seperti seekor burung pasukan pengawal Sangkal Putung itu ter¬¨bang sambil menyambar-nyambar. Beberapa iring-iringan bahan pa¬¨ngan yang berhasil dikumpulkan setelah lumbung Utama di Ngaru-aru dimusnahkan, telah dihancurkan oleh pasukan pengawal Tanah Perdi¬¨kan, sehingga pasukan Pati itu mulai terancam persediaan bahan pang¬¨annya. Namun dengan demikian, maka Pati telah meningkatkan persiap¬¨annya untuk mempercepat pertempuran. Dalam pada itu, Panglima pasukan Matarampun ternyata berniat untuk segera menyerang pasukan Pati. Meskipun demikian, sebagai¬¨mana pesan Panembahan Senapati, maka Kangjeng Pangeran Adipati Anom masih diperintahkan untuk kembali lagi menemui pamannya: Kangjeng Adipati Pati. Kangjeng Pangeran Adipati Anom masih ha¬¨rus mencoba untuk melunakkan hati pamannya, agar perang dapat di¬¨hindarkan. Karena itu, maka Pangeran Adipati Anompun telah mengirimkan utusan untuk menyampaikan niat Pangeran Adipati Anom untuk ber¬¨temu dengan pamannya. Meskipun dengan berat hati, namun Kangjeng Adipati Pati itu mempersilahkan Pangeran Adipati Anom untuk datang ke perkemah-annya dikeesokan harinya. Kedatangan Pangeran Adipati Anom disambut sendiri oleh pam¬¨annya, Kangjeng Adipati Pati. Dipersilahkannya Pangeran Adipati Anom kemudian duduk di bangunan induk perkemahan para prajurit Pati, disebuah padukuhan kecil disebelah Timur Kali Dengkeng. Ternyata Kangjeng Adipati Pati masih bersikap ramah kepada kemanakannya. Kangjeng Adipati Pati itu juga bertanya tentang kese¬¨lamatan Pangeran Adipati Anom. Bahkan keselamatan Panembahan Senapati serta kakak perempuannya, ibu Pangeran Adipati Anom itu. ‚ÄĒ Ayahanda dan ibunda dalam keadaan baik, paman – jawab Pa¬¨ngeran Adipati Anom. – Bagaimana dengan paman sekeluarga di Pati serta yang menyertai paman sampai disini ? ‚ÄĒ ‚ÄĒ Sebagaimana kau lihat, aku sehat-sehat saja ngger. ‚ÄĒ jawab Kangjeng Adipati Pati. Namun sejenak kemudian Kangjeng Adipati itupun bertanya – Kenapa ayahandamu tidak datang menyambut aku di Prambanan ? – ‚ÄĒ Tidak, paman. Ayah telah memerintahkan aku datang untuk menyambut paman. Namun ayahanda telah memberikan pesan untuk aku sampaikan kepada paman. ‚ÄĒ jawab pangeran Adipati Anom. ‚ÄĒ O – Kangjeng Adipati Pati mengangguk-angguk. – apa pesan ayahmu itu ? ‚ÄĒ ‚ÄĒ Paman Pragola ‚ÄĒ berkata Pangeran Adipati Anom ‚ÄĒ sebenar¬¨nyalah bahwa ayahanda merasa sangat bersedih hati, bahwa dua ke¬¨kuatan kini berhadap-hadapan diseberang-menyeberang Kali Deng¬¨keng. – Kangjeng Adipati Pragola dari Pati itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah iapun berkata – Aku juga merasa sedih ngger. Bahkan kehadiran dua pasukan yang besar itu akan dapat menimbulkan perang yang besar pula. ‚ÄĒ ‚ÄĒ Ya, paman. Karena itu, a
  49. API DI BUKIT MENOREH SERI III JILID 296 DENGAN teliti Untara telah memberikan perintah dan pesan kepada seluruh pemimpin kelompok dalam pasukannya. Kapan me¬¨reka mulai menyerang, sasaran dan sejauh mana mereka bergerak. Isyarat kepada seluruh pasukan saat mereka harus menarik diri. Ke-mana mereka harus mundur dan kemudian menentukan tempat untuk berkumpul seluruh pasukan pada kemungkinan pertama, kedua dan terakhir. Beberapa saat kemudian, maka seluruh kekuatan yang ada telah diperintahkan untuk mulai bergerak. Mereka akan menyerang dari be¬¨berapa sudut. Seperti saat mereka menyerang landasan pengamanan pasukan Pati, maka mereka dibagi dalam beberapa kesatuan yang masing-masing akan menyerang dari arah yang berbeda. Sementara itu, seluruh pasukan Patipun telah mempersiapkan diri. Seperti yang telah mereka rencanakan, maka mereka akan berang¬¨kat sebelum fajar. Perjalanan yang sebenarnya sudah tidak terlalu jauh lagi itu, akan ditempuh dalam waktu yang cukup lama oleh sebuah pa¬¨sukan yang besar. Karena itu, maka didini hari, setiap prajurit telah mulai bersiap-siap. Mereka harus membenahi diri. Senjata-senjata nereka serta mempersiapkan pertanda-pertanda kebesaran. Beberapa saat kemudian, maka telah terdengar suara bende yang dipukul sekali. Pertanda bahwa para prajurit harus sudah selesai berbe¬¨nah diri. Kemudian terdengar suara bende yang kedua. Perintah bagi seluruh pasukan untuk berkumpul. Pada saat itulah, maka prajurit Mataram telah bersiap untuk me¬¨nyerang. Para pengamat dan petugas sandi telah memberikan gam¬¨baran jajaran pasukan Pati yang sudah tersusun dalam barisan yang su¬¨dah siap untuk berangkat menuju ke Prambanan. Sementara itu, langit masih nampak kehitam hitaman. Meskipun demikian pertanda fajar sudah mulai menapak Para prajurit Mataram dan para pengawal beberapa Kademangan mulai gelisah. Mereka mendapat pesanan, agar serangan mereka dila¬¨kukan sebelum fajar. Jika pasukan itu tidak segera berangkat, maka pa¬¨sukan Untara itu akan kehabisan waktu, sehingga mereka harus ber¬¨tempur sampai matahari terbit dan bahkan mungkin saat matahari mu¬¨lai memanjat langit. Namun ternyata pasukan Pati itu memang tidak menunggu fajar. Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi bende untuk yang ketiga ka¬¨linya. Pertanda bahwa pasukan Pati yang besar itu akan berangkat ke Prambanan. Tetapi suara bende itupun merupakan perintah bagi pasukan Ma¬¨taram untuk menyerang. Karena itu, demikian sekelompok pasukan yang membawa pertanda kebesaran, umbul-umbul rontek. maka para prajurit Mataram serta para pengawal yang sudah berada di sekitar tempat itupun mulai bergerak. Dengan diam-diam mereka menyusup diantara pepohonan dan dinding-dinding halaman mendekati pemu¬¨satan pasukan Pati di bulak di depan padukuhan Jati Anom Pasukan Untara tidak saja menyerang dari arah Jati Anom Tetapi juga dari pa-dukuhan yang lain meskipun mereka harus melintasi daerah terbuka, tetapi tidak terlalu luas. Yang mula-mula dilihat oleh para prajurit Pati adalah serangan prajurit Mataram yang harus melintasi tempat terbuka. Serangan itu memang cukup mengejutkan. Pasukan yang bergerak di keremangan sisa malam itu maju terlalu cepat. Para Senapati dari Patipun harus segera mengambil sikap. Me¬¨reka tidak menunggu perintah dari Kangjeng Adipati. Namun pasukan yang langsung mendapat serangan telah menyongsong serangan itu. Ternyata serangan itu tidak hanya datang dari satu arah. Demi¬¨kian pertempuran terjadi, maka pasukan yang berada dipadukuhan Jati Anompun telah menyerang pula dengan garangnya. Serangan itu sama sekali tidak terduga-duga. Karena itu, maka untuk beberapa saat, para prajurit masih dikuasai oleh keterkejutan mereka. Namun kemudian para perwiranya segera mengambil sikap untuk mengatasi keadaan. Prajurit Mataram serta para pengawal memang tidak sebesar pa¬¨sukan Pati. Namun kejutan itu membuat mereka yang berada didalam pasukan Pati, yang bukan sejak semula adalah prajurit, menjadi geli¬¨sah. Demikianlah maka sejenak kemudian, pertempuranpun segera berkobar dengan sengitnya. Pasukan Mataram yang terpencar itu nam¬¨paknya memang banyak sekali. Mereka menyerang dari beberapa arah dengan gelar emprit neba didalam keremangan sisa-sisa malam. Ketika serangan itu kemudian didengar oleh Kangjeng Adipati, maka kemarahan Kangjeng Adipati rasa-rasanya sampai membakar ubun-ubunnya. Tetapi ketika Kangjeng Adipati itu berniat memimpin sendiri menumpas prajurit Mataram yang berani menyerang pasukan-nyaa yang besar itu, maka para Panglima telah mencegahnya. – Satu penghinaan bagi Adipati Pati – geram Kangjeng Adipati. – Biarlah anak-anak menyelesaikannya, Kangjeng – berkata sa¬¨lah seorang panglimanya. Tetapi pasukan Pati yang baru mulai bergerak itu memang harus berhenti. Dari tempatnya Kangjeng Adipati melihat pertempuran yang telah menyala diekor iring-iringan pasukannyaa. Meskipun prajurit Mataram dan para pengawal itu terhitung banyak, tetapi memang tidak sebanding dengan pasukan Pati yang mulai bergerak itu. – Orang-orang Mataram memang seperti demit ‚ÄĒ geram Kang¬¨jeng Adipati ‚ÄĒ mereka memang berani. Tetapi licik. – Para Panglimanya tidak menyahut selain menganguk-angguk. – Aku menunggu laporan kalian- berkata Kangjeng Adipati itu. Dalam pada itu, pertempuran semakin lama menjadi semakin sengit. Para prajurit Mataram dan para pengawal bertempur dengan berani. Meskipun yang dihadapan mereka adalah pasukan yang besar, namun pasukan yang dipimpin Untara itu sama sekali tidak gentar. Kelompok-kelompok prajurit Pati yang terlibat dalam pertem¬¨puran itu semakin lama menjadi semakin banyak. Dua orang Senapati Pati sudah terlibat dalam pertempuran itu. Namun prajurit Mataram dan para pengawal itu masih mendesak terus. Kemarahan telah mencengkam jantung para Senapati Pati itu. Dua orang lagi bersama pasukannya telah terjun kemedan pertem¬¨puran. Sehingga dengan demikian, pertempuran telah membakar seba-gaian besar dari pasukan Pati yang harus berhenti bergerak itu. Kangjeng Adipati memang menjadi semakin marah. Ketika warna fajar sudah membayang dilangit, namun pertempuran itu masih belum berakhir, maka Kangjeng Adipati itupun kemudian menjatuh¬¨kan perintah ‚ÄĒ Seluruh pasukan bergerak. Kepung prajurit Mataram itu. – Para Panglima menyadari kemarahan Kangjeng Adipati itu se¬¨hingga tidak seorangpun yang berani menyatakan pendapatnya. Karena itu, maka perintah itupun segera menjalar dari kelompok yang satu ke kelompok yang lain. Namun Untarapun segera tanggap. Apalagi langit sudah menjadi merah. Karena itu, maka iapun segera memberikan isyarat. Beberapa orang penghubung telah mendapat perintah untuk meluncurkan panah sendaren kesegala arah. Anak panah sendaren itu merupakan perintah bagi para prajurit Mataram dan para pengawal serta para cantrik dari padepokan Orang Bercambuk untuk meningalkan arena, selagi hari masih gelap. Ternyata pasukan Untara itu bergerak lebih cepat dari pasukan Pati yang besar yang berusaha untuk mengepung lawan. Tetapi karena pasukan Mataram itu menyerang dari beberapa jurusan, maka gerak pasukan Patipun terasa menjadi lamban. Dengan demikian, maka pasukan Mataram telah luput dari ke¬¨pungan prajurit Pati yang besar itu. Demikian pasukan Pati itu mulai Mataram itu telah menghilang kesegala arah, masuk kepadukuhan-padukuhan yang masih disaput oleh sisa-sisa kegelapan. Kegagalan itu membuat Kangjeng Adipati semakin marah. Te¬¨tapi pasukan Mataram yang dipimpin Untara itu seakan-akan telah le¬¨nyap ditelan bumi. Para Senapati Pati tidak memerintahkan prajurit-prajuritnya un¬¨tuk mengejar para prajurit Mataram, karena mereka harus segera ber¬¨angkat ke Prambanan. Jantung Kangjeng Adipati Pati rasa-rasanya hampir meledak. Bagaimanapun juga keberangkatan pasukan Pati itu memang ha¬¨rus tertunda. Ternyata bahwa dalam sergapan yang tiba-tiba serta da¬¨lam pertempuran yang tidak terlalu lama itu, telah jatuh beberapa orang korban yang terbunuh. Sedangkan banyak diantara prajurit Pati yang terluka. Dengan demikian, maka para prajurit Pati itu harus lebih dahulu menguburkan para korban. Sementara itu, para prajurit yang terluka, apalagi yang parah pada kesempatan dua malam berturut-turut itu akan menjadi beban pasukan Pati. Meskipun demikian pasukan Pati itu tetap merupakan pasukan yang besar. Namun Kangjeng Adipati Pati itupun telah mendapat laporan dari para petugas sandi, bahwa Mataram telah menempatkan pasukan yang besar pula di sebelah Barat Kali Dengkeng. Dalam pada itu. disaat-saat Untara menarik pasukannya dibawah bayangan fajar, maka Ki Tumenggung Wirayuda telah menyiapkan pasukannya dalam gelar yang sebagaimana dipergunakan dihari hari sebelumnya. Tetapi dua orang petugas sandi yang mengamati perke-mahan prajurit Pati melaporkan, bahwa pasukan Pati telah ditarik dari perkemahan. – Perkemahan prajurit Pati itu sudah kosong. Pasukan yang ada menjelang dini justru telah meninggalkan perkemahan. ‚ÄĒ – Kemana ? ‚ÄĒ bertanya Ki Tumenggung Wirayuda. – Ke arah Utara – jawab petugas sandi itu ~ ketika mereka bersiap-siap, maka kami mengira bahwa mereka sedang mempersiap¬¨kan diri untuk mengulangi perang gelar. Tetapi ternyata bahwa pasu kan itu justru bergerak meninggalkan perkemahan. — Kau sudah melihat perkemahan yang mereka tinggalkan ? -bertanya Ki Tumenggung Wirayuda. — Ya. Kami sudah melihatnya. Perkemahan itu memang sudah kosong. Tetapi masih ada beberapa macam peralatan dan sisa-sisa bahan pangan dan perbekalan yang tertinggal. Tetapi nampaknya su¬¨dah tidak mencukupi untuk dua tiga hari lagi. – Ki Tumenggung Wirayuda termangu-mangu sejenak. Kemudian dipanggilnya beberapa orang Senapatinya untuk membicarakan la¬¨poran yang baru saja diterimanya itu. Mungkin Senapati besar pasukan Pati itu tidak lagi melihat ke¬¨mungkinan untuk dapat memenangkan pertempuran, sehingga ia mengambil kebijaksanaan untuk lebih baik menarik pasukannya. – Jika ia memaksakan pertempuran – maka pasukannya akan pe¬¨cah hari ini –berkata Agung Sedayu – Jika hal itu terjadi, maka korb¬¨annya tentu akan banyak sekali. — Ki Tumenggung Wirayuda sambil menganguk angguk berkata -Ya. Pati memang tidak mempunyai pilihan lain. Tetapi itu bukan ber¬¨arti bahwa tidak akan ada serangan berikutnya pada garis pertempuran ini. — Agung Sedayu memang sependapat Bahkan Lurah Prajurit dari Pasukan Kusus itu berkata ‚ÄĒ Kita harus yakin, bahwa para prajurit Pati itu tidak mencari jalan lain untuk langsung menyerang pintu gerbang kota. ‚ÄĒ – Ya. Kita harus melacak gerak mundur pasukan Pati itu – ber¬¨kata Ki Tumenggung Wirayuda. – Harus ada orang yang ditugaskan untuk mengamati keadaan sa¬¨hut Agung Sedayu. Ki Tumenggung Wirayuda mengangguk-angguk. Namun sebe¬¨lum ia menunjuk seseorang, Agung Sedayu itupun berkata ~ Biarlah aku dan Glagah Putih melacak gerak mundur pasukan Pati itu. Tetapi mungkin tidak hanya kami berdua. Mungkin diperlukan ampat orang lagi yang terbagi dalam dua kelompok untuk mengamati keadaan. Na¬¨mun ketiga kelompok kecil itu akan menempuh jalan yang berbeda. ‚ÄĒ – Baiklah – berkata Ki Tumenggung – akan ada tiga kelompok yang akan mencoba mencari keterangan tentang pasukan Pati itu. ‚ÄĒ Ki Tumenggung tidak menunda waktu lagi. Ketiga kelompok yang satu diantaranya terdiri dari Agung Sedayu dan Glagah Putih itu¬¨pun diperintahkan untuk segera berangkat. Ki Lurah Uwangwung, yang juga mendapat tugas untuk meng¬¨amati keadaan bersama seorang prajuritnya yang terpilih akan mene¬¨lusuri Kali Code. Jika ia menemukan jejak penyeberangan Pasukan Pati, maka ia harus segera memberikan laporan. Sedangkan dua orang yang terdiri dari seorang prajurit penghubung dan seorang prajurit sandi telah diperintahkan untuk mengamati disisi lain. Mereka harus pergi ke padukuhan-padukuhan yang tidak terlalu jauh dari medan un¬¨tuk mencari keterangan jika orang-orang yang tidak mengungsi dari padukuhannya itu melihat sepasukan prajurit yang sedang bergerak. Sementara ketiga kelompok kecil itu sedang berusaha menelusuri gerak pasukan Pati, maka para prajurit dan pengawal yang berada di-perkemahan tetap bersiaga sepenuhnya untuk menghadapi segala ke¬¨mungkinan. Beberapa orang bertugas untuk berjaga-jaga pada jarak beberapa patok dari induk pasukannya, agar pasukan itu tidak dikejut¬¨kan oleh gerakan yang tiba-tiba dari pasukan lawan. Dalam pada itu, Agung Sedayu dan Glagah Putih dengan hati-hati telah mendekati perkemahan pasukan Pati. Seperti dilaporkan oleh para petugas sandi, perkemahan itu memang telah kosong. Masih ada sisa bahan pangan, tetapi tidak cukup memadai. – Agaknya mereka hampir kehabisan pangan ‚ÄĒ berkata Glagah Putih. ‚ÄĒ Itu hanya salah satu sebab ‚ÄĒ sahut Agung Sedayu ‚ÄĒ sebab lain¬¨nya adalah, kekuatan pasukan Pati itu sudah banyak susut. ‚ÄĒ Glagah Putih mengangguk-angguk. Sementara itu, keduanya ti¬¨dak menemukan sesuatu yang penting diperkemahan itu. Karena itu, maka Agung Sedayu telah mengajak Glagah Putih untuk mengikuti jejak gerak mundur pasukan Pati. Ternyada Agung Sedayu Glagah Putih tidak banyak menemui kesulitan. Disepanjang perjalanan pasukan Pati itu ternyata telah me¬¨ninggalkan jejak yang jelas. Batang-batang perdu disebelah menyebe-lah jalan yang mereka lalui berpatahan. Bekas-bekas jejak kaki dan je¬¨jak kuda, setidak-tidaknya kuda beban. Agung Sedayu dan Glagah Putih mengikuti jejak itu untuk beberapa lama. Tetapi mereka yakin, bahwa jarak mereka dengan pa¬¨sukan yang menarik diri itu tidak terlalu jauh. Pasukan yang mening¬¨galkan perkemahan itu didini hari tentu tidak dapat berjalan secepat Agung Sedayu dan Glagah Putih. Ketika matahari memanjat semakin tinggi, maka firasat Agung Sedayu serta jejak yang ditelusurinya itu mengatakan bahwa jarak me¬¨reka menjadi semakin dekat. Karena itu, maka Agung Sedayupun te-lah mengajak Glagah Putih untuk beristirahat. – Kita tidak dapat mengikuti mereka pada jarak yang terlalu de¬¨kat. Sebenarnya sampai disini kita sudah yakin, bahwa pasukan Pati benar-benar ditarik mundur. Mungkin mereka mempunyai landasan perlawanan yang memang sudah dipersiapkan jika pasukannya ter¬¨paksa harus ditarik mundur. Mungkin garis pertahanan kedua atau bahkan sampai ketiga — berkata Agung Sedayu. Glagah Putih mendengarkan keterangan kakak sepupunya itu sambil mengangguk-angguk. Tetapi ia sependapat dengan kakaknya, bahwa jarak pengamatan mereka sudah cukup jauh. sehingga mereka akan dapat mengambil kesimpulan bahwa pasukan Pati itu benar-benar telah ditarik. Tetapi jika memang benar telah dipersiapkan garis pertahanan kedua dan ketiga, maka pasukan Pati itu tentu akan segera menyusun pertahanannya. Mereka mungkin memperhitungkan bahwa pasukan Mataram akan menyusulnya. Untuk beberapa saat Agung Sedayu dan Glagah Putih itupun ber¬¨istirahat. Keduanya duduk dibawah sebarang pohon yang rindang. Namun ketiga Glagah Putih mulai mengantuk, maka Agung Se¬¨dayu berkata- Kau jangan tertidur disitu. – Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Sambil tersenyum ia berkata – jika hari ini aku harus berada di medan pertempuran, aku tentu tidak akan mengantuk. Tetapi duduk dibawah sebarang pohon yang rindang sementara angin semilir lembut, mataku rasa-rasanya menjadi sangat berat. – Sebenarnya kita memang sudah letih. Kita bertempur sepan¬¨jang hari. Sampai jauh malam kau masih sibuk mencari korban per¬¨tempuran. Pagi-pagi kita harus sudah siap untuk maju ke medan lagi. Karena itu, adalah wajar jika kau mulai mengantuk. Akupun mengantuk pula. ‚ÄĒ – Kita akan melanjutkan perjalanan. Tetapi perlahan-lahan agar jarak diantara kita dan pasukan itu tidak terlalu dekat. Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun ketika ia siap untuk bangkit, maka digamitnya Glagah Putih sambil berdesis – Kau rasa¬¨kan getar seseorang ? ‚ÄĒ – Ya – sahut Glagah Putih – tetapi tentu lebih dari seseorang. – – Dua orang – jawab Agung Sedayu. Keduanya membatalkan niatnya untuk bangkit. Keduanya kembali duduk dibawah bayangan dedaunan yang rindang. Sebenarnyalah, dua orang kemudian melangkah mendekati. Dua orang yang muncul dari balik rumput perdu yang lebat. Agung Sedayu memandang kedua orang itu dengan dahi yang berkerut. Namun kemudian iapun berdesis – Hati-hatilah, Glagah Pu¬¨tih. – ~ Siapakah mereka ? – bertanya Glagah Putih. – Entahlah – jawab Agung Sedayu – aku tidak tahu, apakah me¬¨reka mempunyai hubungan dengan pasukan Pati atau tidak. – Kedua orang itu melangkah semakin dekat. Namun kemudian merekapun berhenti beberapa langkah dihadapan Agung Sedayu dan Glagah Putih yang masih duduk ditempatnya. – Ki Sanak – salah seorang diantara kedua orang itu berdesis ‚ÄĒ siapakah kalian berdua ? Menurut pengamatan kami, jalur ini adalah jalur gerak mundur pasukan dari Pati. Apakah kalian termasuk prajurit Pati yang mengamati pasukan Mataram, jika pasukan Mataram itu me¬¨nyusul ? ‚ÄĒ Agung Sedayu menarik nafas panjang. Ia tidak akan dapat meng¬¨ingkari siapakah sebenarnya dirinya, karena ia mengenakan pakaian seorang prajurit. Pagi itu ia siap untuk turun ke medan pertempuran, sehingga ia mengenakan pakaian kebesaran seorang Lurah Prajurit Mataram. Meskipun orang itu bertanya, apakah ia prajurit Pati, tetapi Agung Sedayu yakin bahwa orang itu dapat mengenalinya sebagai prajurit Mataram. Karena itu, maka Agung Sedayupun menjawab – Ki Sanak. Kau tentu mengenali pakaianku. Karena itu, aku tidak usah menjawab per¬¨tanyaanmu itu. – Orang itu tertawa. Katanya ‚ÄĒ Baiklah. Kau benar. Aku memang mengenali pakaianmu. Kau tentu seorang prajurit Mataram. Tetapi pa¬¨kaian kawanmu itu bukan pakaian prajurit Mataram. ‚ÄĒ – Ia bukan prajurit Mataram. Tetapi ia berdiri dan berjuang bersama-sama dengan para prajurit Mataram, karena itu merasa seba¬¨gai rakyat Mataram. ~ – Bagus – orang itu mengangguk-angguk, sementara Agung Se¬¨dayu bertanya – Siapakah kalian Ki Sanak ? Dan kenapa kalian berada di daerah yang dibayangi oleh perang ? Sementara itu, kalian tidak me¬¨nunjukkan tanda-tanda bahwa kalian adalah prajurit. Atau berangkali kalian prajurit sandi dari Pati yang justru bertugas sebagaimana kau tu¬¨duhkan atas kami berdua tadi ? – Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian orang itu tertawa lagi sambil berkata ‚ÄĒ Ternyata kau menebak tepat. Kami me¬¨mang petugas sandi dari Pati. Nah, bukankah dengan demikian kita akan langsung berhadapan sebagai lawan ? ~ Agung Sedayulah yang kemudian tertawa. Katanya ‚ÄĒ Begitukah kebiasaan seorang petugas sandi. Mengaku dengan menepuk dada ke¬¨pada orang yang ditemui dipinggir jalan, dan yang bahkan jelas mema¬¨kai pakaian seragam prajurit lawannya ? – Orang itu termangu-mangu sejenak. Tetapi kemudian ia berkata dengan nada yang lebih keras – Tidak apa. Kalian tidak akan dapat memberitahukannya kepada siapapun juga. – – Kenapa ? – bertanya Agung Sedayu. – Ki Sanak ~ berkata orang itu – baiklah aku berterus terang. Aku bukan petugas sandi dan bukan apa-apa. Tetapi aku benci kepada orang-orang Mataram. Jika aku berada di bayangan garis perang, aku memang mencari orang-orang Mataram yang berkeliaran sebagai mana kalian berdua. ‚ÄĒ – Kenapa kalian membenci orang-orang Mataram ? – bertanya Agung Sedayu. – Persoalannya sangat pribadi. Tetapi ayahku pernah dihukum di Mataram. Ayahku memang bersalah, karena ayahku merampok. Te¬¨tapi hukuman yang dialami ayahku telah mengungkungnya sampai akhir hayatnya. Ayahku tidak pernah sempat keluar dari penjara, ka¬¨rena ayahku meninggal saat ia menjalani hukuman. Aku yakin bahwa ayah telah dibunuh oleh orang Mataram. ‚ÄĒ – Kau hanya berprasangka buruk ‚ÄĒ berkata Agung Sedayu. – Tidak Ki Sanak. Ayahku baru menjalani hukuman selama 1 bulan. Ketika ayahku masuk penjara, ayahku nampak sehat dan tegar, karena hal itu disadarinya sejak ia menjatuhkan pilihan atas pekerjaan yang dipilihnya. Namun tiba-tiba keluarga kami diberi tahu, bahwa ayah meninggal. Kami tidak dapat mengambil tubuhnya, karena me¬¨nurut para prajurit Mataram, tubuh ayahku telah dikubur. – – Menurut keterangan petugas, kenapa ayahmu meninggal ? -bertanya Agung Sedayu. – Ayah meninggal karena sakit demam. Dan itu sama sekali tidak masuk akal. ‚ÄĒ – Jika demikian, kenapa kau tidak mendendam kepada petugas yang menangani ayahmu selama di penjara ? – – Aku tidak tahu, siapakah orangnya. Karena itu untuk memberi kepuasan kepada diriku sendiri, aku membunuh prajurit-prajurit Mata¬¨ram. Aku pernah membunuh dua orang prajurit. Tetapi aku belum puas. Ayahku bagiku bernilai sama dengan sepuluh orang. Karena itu, maka akupun datang kemari untuk mencari petugas-petugas yang me¬¨lakukan tugasnya secara terpisah seperti kalian berdua. ~ Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian menggamit Glagah Putih sambil berkata – Bangkitlah. Ter¬¨nyata kita bertemu dengan seseorang yang hidup dibawah bayangan dendam yang tidak berkeputusan. – Namun orang itupun berkata – Sebaiknya kalian berdua mem¬¨perhatikan alam disekeliling kalian untuk yang terakhir kalinya. Lihat matahari yang menjilat laagit itu. Pepohonan yang hijau dan jejak pa¬¨sukan Pati yang nampaknya sedang kalian ikuti. Sebentar lagi kalian akan mati. Tetapi tidak dalam pertempuran dengan prajurit Pati. – – Ki Sanak – berkata Agung Sedayu – kau tentu menyadari bahwa seorang prajurit adalah seorang yang telah ditempa untuk terjun kedalarn kancah pertempuran. Jika kami hari ini ada di jalur pertem- puran itu, bukannya kami tidak mempunyai bekal. Tetapi kami sudah mendapat latihan untuk bertempur dan berkelahi. – Tetapi orang itu tertawa. Katanya ‚ÄĒ Dua orang yang pernah aku bunuh itu juga berkata demikian. Namun ternyata keduanya sama se¬¨kali tidak berarti apa-apa bagiku. – Kapan kau bunuh dua orang prajurit itu ? Semalam dalam mimpi ? ‚ÄĒ – Setan kau. Aku benar-benar telah membunuh prajurit-prajurit itu dengan tanganku. Aku tidak mempergunakan sepotong senjatapun. Sekarang, kami berdua juga akan membunuh kalian berdua dengan ta¬¨ngan kami. Tidak dengan sepotong senjatapun. He, kenapa kalian ber¬¨dua tidak membawa senjata ? ‚ÄĒ Agung Sedayu mengerutkan dahinya. Kemudian katanya – Ki Sanak. Kenapa kau tidak bergabung saja dengan Pati ? Kau akan men¬¨dapat kesempatan untuk membunuh prajurit-prajurit Mataram berapa-pun kau kehendaki dalam pertempuran. – – Buat apa aku bergabung dengan prajurit Pati. Kau lihat, bahwa piajurit Pati itu justru telah meninggalkan pertempuran. ‚ÄĒ – Jika kau akan diantara mereka, maka Pati tidak akan menarik diri. ‚ÄĒ – Persetan ‚ÄĒ geram orang itu ‚ÄĒ sekarang bersiaplah. Jika kalian berdua akan mencoba melawan, cobalah. Tetapi kawanmu yang masih sangat mudah itu terpaksa tidak akan dapat melihat alam ini lebih lama lagi- ~ – la bukan prajurit Mataram – desis Agung Sedayu. – Begiku sama saja. Ia adalah seorang anak muda yang ikut ber¬¨tempur untuk Mataram. ‚ÄĒ Agung Sedayu tidak ingin berbicara lebih lama lagi. Kedua orapg itu sudah mulai mempersiapkan diri. Seperti yang mereka katakan, keduanya memang tidak bersen-jata. Tetapi keduanya tidak melihat cambuk yang melilit dibawah baju Agung Sedayu. Demikian pula mereka tidak menganggap ikat ping¬¨gang Glagah Putih sebagai senjata. Karena itu, maka keduanya menganggap bahwa Agung Sedayu dan Glagah Putih juga tidak bersenjata. Tetapi dengan demikian, maka keduanya memang menduga bahwa Agung Sedayu dan Glagah Putih adalah dua orang prajurit yang memiliki kelebihan dari kebanyakan prajurit. Dalam pada itu, Agung Sedayu memang teringat kepada prajurit-prajurit yang lain yang mendapat tugas sebagaimana dilakukannya bersama Glagah Putih. Tetapi menurut pengertian Agung Sedayu, ke¬¨dua orang itu tentu bukan hari itu membunuh dua dua orang prajurit Mataram. Ketika kedua orang itu telah siap untuk bertempur, maka Agung Sedayu dan Glagah Putihpun telah bersiap pula Kepada Glagah Putih, Agung Sedayu itu berbisik ‚ÄĒ Berhati-hatilah. Agaknya keduanya ada¬¨lah orang-orang berilmu tinggi. Jika perlu pergunakan ikat ping¬¨gangmu meskipun lawanmu tidak bersenjata.– Glagah Putih menarik nafas panjang. Sekilas Glagah Putih itu ter¬¨ingat kepada Raden Rangga. Seorang yang memiliki ilmu tanpa dapat dijajagi seberapa kedalamannya. Raden Rangga pulalah yang telah memberikan alas pada ilmunya, sehingga ilmunya telah berada dalam tataran yang lebih tinggi. Kemampuannya menggapai sasaran tanpa menyentuhnya dan bahkan kemudian puncak ilmu yang telah diwari¬¨sinya dari Ki Jayaraga, Aji Sigar Bumi, membuat anak muda itu men¬¨jadi seorang yang berilmu sangat tinggi. Apalagi Glagah Putih diakui sebagai salah seorang diantara murid utama dalam perguruan Orang Bercambuk. Karena itulah, maka dengan mantap Glagah Putih telah mengha¬¨dapi lawannya yang sudah menginjak umur separo baya. – Kau sangat mengagumkan anak muda – berkata orang yang su¬¨dah separo baya itu ‚ÄĒ kau sama sekali tidak nampak gelisah menghadapi pertempuran yang lain dengan perang gelar. – – Apapun yang harus aku hadapi, akan aku hadapi. Meskipun aku bukan seorang prajurit, tetapi aku telah ditempa sebagai seorang praju¬¨rit pula. ‚ÄĒ – Sebenarnya sayang sekali bahwa aku harus membunuhmu. Kau masih terlalu muda. ‚ÄĒ – Justru karena itu, maka aku akan mempertahankan diri. Aku masih merasa terlalu muda untuk mati. Tetapi bukan kita yang menen¬¨tukan kematian salah seorang diantara kita. – Orang itu mengerutkan dahinya. Wajahnya nampak menjadi bersungguh-sungguh sesaat. Namun kemudian ia mengangguk sambil berkata ~ Kau benar anak muda. Karena itulah agaknya kau sama se¬¨kali tidak merasa gentar menghadapi pertempuran yang bagi seorang prajurit, tentu pertempuran yang sangat khusus. ~ ‚ÄĒ Ya ‚ÄĒ jawab Glagah Putih singkat. Orang itupun kemudian mempersiapkan diri untuk bertempur melawan anak yang masih sangat muda itu, namun yang menurut pengamatannya, memiliki bekal yang cukup mapan. Memang mung¬¨kin anak muda itu belum mengetahui tataran kemampuannya, atau jus¬¨tru belum berpengalaman bertualang di dunia olah kanuragan selain lingkungan keprajuritan serta pengalaman perang gelar, sehingga ia ti¬¨dak menyadari bahaya yang sebenarnya dihadapinya. Sementara itu, seorang yang lain, yang mendendam terhadap pra¬¨jurit Mataram karena kehilangan ayahnya yang menurut pendapatnya mati dibunuh oleh prajurit Mataram disaat ia sedang menjalani hu¬¨kuman, telah berhadapan dengan Agung Sedayu. Orang itu sudah mu¬¨lai bergeser sambil mengayunkan tangannya untuk memancing Agung Sedayu untuk segera mulai dengan pertempuran. ‚ÄĒ Marilah. Bukankah kau prajurit Mataram ? Sebelum mati tun¬¨jukkan kepadaku, kebesaran Mataram lewat kemampuan para prajurit¬¨nya ‚ÄĒ berkata orang itu. Agung Sedayu mengerutkan dahinya. Ia merasa, betapa orang itu sangat merendahkan kemampuan para prajurit Mataram. Mungkin yang pernah dilakukannya adalah membunuh dua orang prajurit Mata7 ram dengan mudahnya. Tetapi sudah tentu hal itu tidak boleh terulang kembali. Tetapi orang itu kemudian berkata – Ternyata kau berbeda de¬¨ngan kedua orang prajurit yang telah aku bunuh itu. Kau masih lebih muda. Tetapi kau nampak lebih mantap. ‚ÄĒ ‚ÄĒ Setip prajurit Mataram mempunyai landasan sikap yang sama. ‚ÄĒ jawab Agung Sedayu. Orang itu tidak berbicara berkepanjangan. Dengan kakinya ia menyerang. Namun serangan itu belum merupakan serangan yang bersungguh-sungguh. Karena itu, maka dengan melangkah kesamping serangan itu dapat dielakkan. Tetapi serangan-serangan berikutnya mulai menjadi semakin bersungguh-sungguh. Orang itu bergerak semakin cepat. Kaki dan tangannya menyerang berganti-ganti. Agung Sedayu memang berloncatan surut. Tetapi ia sama sekali tidak mengalami kesulitan menghindari serangan serangan yang mes¬¨kipun menjadi semakin cepat itu. Namun Agung Sedayupun kemudian telah mulai membalas de¬¨ngan serangan-serangan pula. Pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin bersungguh-sungguh. Serangan-serangan lawannya menjadi semakin berbahaya. Sasarannya mulai mengarah ke tempat tempat yang berba¬¨haya ditubuh Agung Sedayu. Tetapi Agung Sedayupun segera menyesuaikan dirinya. Iapun bergerak lebih cepat. Ia sadar, bahwa lawannya memang seorang yang berilmu tinggi, yang benar-benar mempersiapkan dirinya untuk bertu¬¨lang melakukan balas dendam. Bukannya tidak mungkin bahwa orang itu telah bertahan-tahan menempa diri, menekuni ilmu untuk menda¬¨pat kepuasan dengan melepaskan dendamnya atas kematian ayahnya itu. Dengan demikian maka Agung Sedayupun telah bertempur de¬¨ngan sangat berhati-hati. Sementara itu, semakin lama, lawannya itu memang menjadi se¬¨makin garang. Serangan-serangannya menjadi semakin cepat dan bertenaga. Ayunan tangannya lelah menimbulkan desir angin yang se¬¨makin lama terasa semakin kuat. Namun dalam pada itu, lawan Agung Sedayu itupun semakin meyakini bahwa lawannya yang masih terhitung muda itu memang memiliki bekal yang tinggi. Ketika ia membunuh dua orang prajurit sebelumnya., rasa-rasanya ia tidak perlu mengerahkan terlalu banyak tenaga dan kemampuannya. Namun menghadapi prajurit yang masih terhitung muda ini, ia harus meningkatkan kemampuannya lebih tinggi lagi. Bahkan ketika terjadi benturan-benturan kekuatan, maka orang itu merasakan bahwa lawannya itu memiliki kekuatan yang sangat besar – Kemampuannya jauh berada diatas rata-rata prajurit Mataram – berkata orang itu didalam hatinya. Dengan demikian, maka orang itupun semakin meningkatkan ke¬¨mampuannya pula. Namun ia masih sempat bertanya – Ki Sanak. Aku kagum akan kemampuanmu yang melampaui para prajurit yang lain. Aku justru merasa senang bertempur melawanmu, karena aku seakan-akan mendapat kawan bermain yang baik. Tetapi sebelum kau mati aku ingin memperingatkan, semakin banyak keringatku mengalir, maka nasibmu akan menjadi semakin buruk. ‚ÄĒ – Adakah yang lebih buruk dari kematian ? – bertanya Agung Sedayu. – Aku tahu. Kematian bagi seorang prajurit bukanlah sesuatu yang menakutkan. Tetapi bahwa kematian yang terlalu lambat datang¬¨nya sementara prajurit itu sendiri tidak berkemampuan untuk meno¬¨laknya adalah keadaan yang sangat dibencinya. ‚ÄĒ – Tetapi bagiku, yang paling aku benci adalah orang yang ber usaha memperlakukan orang lain seperti yang kau katakan itu. ‚ÄĒ sahut Agung Sedayu. Orang itu menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak berbicara lagi. Dengan loncatan panjang ia telah menyerang Agung Sedayu. Agung Sedayu melenting kesamping, sehingga serangan itu tidak menyentuhnya. Namun demikian kakinya menyentuh tanah, maka tu¬¨buh Agung Sedayu itupun berputar dengan derasnya. Kakinya terayun mengarah ke kening lawannya. Orang itu terkejut. Ia tidak menyangka, bahwa secepat itu Agung Sedayu membalas serangannya. Meskipun demikian, orang itu masih sempat menghindar dengan menjatuhkan dirinya. Dua kali berguling. Kemudian melenting berdiri. Tetapi Agung tidak membiarkannya. Demikian orang itu berdiri. Agung Sedayu telah meloncat dengan cepat sambil menjulurkan kaki nya menyamping. Serangan itu datang demikian cepatnya, sehingga orang itu tidak sempat menghindar. Meskipun demikian, orang itu berusaha untuk menangkis serangan Agung Sedayu itu dengan tangannya. Ditebasnya kaki yang terulur itu menyamping. Tetapi serangan itu datang demikian kuatnya, sehingga benturan yang keraspun telah terjadi. Meskipun serangan Agung Sedayu tidak mengenai sasarannya. Namun demikian, benturan itu telah mengguncang keseimbangan la¬¨wannya. Sekali lagi orang itu harus berguling beberapa kali. Baru kemu¬¨dian ia meloncat bangkit berdiri dengan hati-hati Tetapi demikian ia tegak, maka iapun siap untuk melawan setiap serangan. Orang itu memang berhasil mengambil jarak sehingga Agung Se¬¨dayu tidak menyerangnya pada saat ia tegak. Meskipun demikian, maka lawannya itu menyadari, bahwa prajurit Mataram yang masih terhitung muda itu. bukan prajurit yang pernah dibunuhnya. Prajurit yang dihadapinya itu adalah prajurit yang memiliki ilmu yang tinggi. Orang itu menggeram. Ia sudah menempa dirinya beberapa tahun untuk mematangkan rencananya membalas dendam, la baru puas jika ia sudah berhasil membunuh sedikimya sepuluh orang prajurit. Tetapi ketika ia menghadapi prajurit yang ketiga, ia telah men¬¨jumpai prajurit yang berilmu tinggi. Orang itu sekali-sekali sempat melihat apa yang terjadi dengan kawannya. Ia menyangka bahwa kawannya itu akan dengan cepat da¬¨pat menyelesaikan anak yang masih terlalu muda, yang telah melibat¬¨kan diri dalam perang antara Mataram dan Pati itu. Tetapi orang itu merasa heran kawannya itu justru mulai terde¬¨sak. – Apakah yang sebenarnya telah terjadi ? – orang itu bertanya kepada diri sendiri. Sebenarnyalah bahwa Glagah Putih mulai mendesak lawannya yang sudah separo baya itu. Dengan kecepatan yang tinggi, Glagah Pu¬¨tih telah mampu memotong serangan-serangan lawannya yang keras dan garang. Lawannya yang memiliki pengalaman yang luas itu menjadi ma¬¨rah. Setiap kali ia menyerang, maka lawannya yang muda itu sempat mendahuluinya. – Aku kagumi kemampuanmu yang tinggi anak muda, tetapi ka¬¨rena itu pula, maka aku ingin membunuhmu lebih cepat. – geram orang itu. Tetapi Glagah Putih menyahut – sebenarnya aku ingin mengam¬¨punimu. Tetapi karena kau masih mengigau untuk membunuh, maka aku akan dapat berubah pikiran. ‚ÄĒ – Persetan – geram lawan Glagah Putih – ternyata kau anak yang tidak mempunyai unggah-ungguh. Kau kira aku kawan bermainmu ? Anak-anak sebayamu, sehingga kau berani mengancamku seperti itu ? Tetapi Glagah Putih justru tertawa. Katanya – Jangan merajuk Ki Sanak. Meskipun kita tidak sebaya, tetapi kita sudah terlibat dalam permainan bersama. Karena itu, maka kita telah berdiri pada tataran yang sama. – Orang itu tidak menjawab. Tetapi serangan-serangannyapun te¬¨lah datang membadai. Bahkan Glagah Putih merasakan, betapa kema¬¨rahan telah membakar jantung lawannya itu, sehingga ilmunya telah meningkat menjadi semakin tinggi. Dengan tenaga dalamnya, maka orang itu telah mengangkat ke¬¨kuatan tenaganya semakin besar. Ia mampu bergerak semakin cepat, sehingga serangan-serangannyapun menjadi semakin berbahaya. Tangannya bergerak dengan cepat menyerang dengan serangan berun¬¨tun. Sepasang tangannya itu seakan-akan telah tumbuh dan berkem¬¨bang menjadi beberapa pasang. Meskipun demikian Glagah Putih tidak menjadi gentar. Anak muda itupun telah meningkatkan kemampuannya pula. Glagah Putih mulai meningkatkan tenaga dalamnya, sehingga benturan-benturan yang terjadi menjadi semakin keras. Benturan yang membuat kedua¬¨nya tergetar surut. Glagah Putih terkejut ketika ia merasa sambaran angin yang tim¬¨bul dari ayunan gerak tangan lawannya terasa pedih di kulitnya, se¬¨hingga beberapa kali Glagah Putih harus mengambil jarak. Namun dengan demikian, Glagah Putih semakin menyadari, bahwa lawannya telah merambah memasuki tataran ilmu puncaknya. Karena itu, maka Glagah Putihpun menjadi semakin berhati-hati. Agaknya orang itu memang menyimpan ilmu yang dapat diandalkan sehingga karena itu, maka ia tidak membawa senjata apapun selama berpetualangan bersama kawannya yang mendendam itu. Dengan demikian, maka Glagah Putihpun telah semakin mening¬¨katkan ilmunya pula dari tataran ke tataran. Sehingga karena itu, maka kecepatan geraknyapun menjadi semakin bertambah-tambah. Untuk mengimbangi sambaran angin yang terasa pedih itu, Glagah Putih mampu meloncat dan melenting dengan kecepatan yang sangat tinggi. Lawan Glagah Putih itu mulai menjadi gelisah. Rasa-rasanya ia sedang bertempur melawan anak iblis yang memiliki ilmu yang sulit dijajakinya. Ketika orang itu meningkatkan ilmunya semakin tinggi, maka Glagah Putihpun telah melakukannya pula. Serangannya menjadi se¬¨makin cepat dan semakin rumit. Dengan demikian, maka kedua orang itu telah mulai bertempur dengan landasan ilmu pada tataran yang tinggi. Agung Sedayupun sudah terlibat dalam pertempuran yang sengit pula. Lawannya yang tidak bersenjata itu memang mengandalkan il¬¨munya yang sangat tinggi. Orang itu memang menjadi sangat marah ketika Agung Sedayu masih saja mampu mengimbangi ilmunya yang sudah menjadi sema¬¨kin meningkat. Karena itu, maka orang itupun tidak ingin bertempur berlama-lama. Iapun harus segara membunuh prajurit itu sebagai prajurit ke¬¨tiga. Jika anak yang masih terjadi muda itu kemudian juga mati, ia adalah korbannya yang keempat meskipun dilakukan dengan memin¬¨jam tangan kawannya yang sudah menyatakan diri untuk membantu¬¨nya sepenuhnya. Namun ternyata tidak mudah bagi orang itu untuk membunuh Agung Sedayu. Meskipun ia sudah meningkatkan ilmunya semakin tinggi namun lawannya yang masih terhitung muda itu, masih juga mampu mengimbanginya. Karena itu, maka orang itu tidak mau lagi menyia-nyiakan waktu. Meskipun ia sudah meningkatkan ilmunya semakin tinggi namun la¬¨wannya yang masih terhitung muda itu, masih juga mampu mengim¬¨banginya. Karena itu, maka orang itu tidak mau lagi menyia-nyiakan waktu. Justru karena lawannya yang masih saja mengimbangi ilmunya, maka orang itupun segera merambah ketataran ilmunya yang tertingi. Dengan nada berat orang itu menggeram – Kau ternyata mampu memancing ilmu pamungkasku. Ketika aku membunuh dua orang pra¬¨jurit Mataram, maka aku sama sekali tidak menitikkan keringat sete-tespun. Namun kini aku ternyata sempat bertahan untuk beberapa lama sehingga kau telah membuat darahku menjadi mendidih. ‚ÄĒ – Ki Sanak. Kau masih mempunyai kesempatan untuk berpikir. Dendam bukan satu penyelesaian yang baik. Jika kau merasa bahwa yang pernah terjadi atas ayahmu itu tidak adil, maka kau dapat minta keadilan. ‚ÄĒ – Omong kosong – jawab orang itu ‚ÄĒ seandainya aku menyam¬¨paikan sebab kematian ayahku yang tidak sewajarnya itu kepada para Senapati atau kepada siapapun juga, maka justru nasibkulah yang akan menjadi semakin buruk. ~ – Jika kau sudah kehilangan kepercayaan kepada Senapati, maka kau masih mempunyai satu kesempatan. ‚ÄĒ – Apa ? ‚ÄĒ bertanya orang itu. – Pepe di depan paseban. – jawab Agung Sedayu. Tetapi orang itu tertawa berkepanjangan. Kalanya – Hanya cucurut-cucurut yang penakut dan tidak mempunyai harga diri sajalah yang ingin menyelesaikan persoalan dengan pepe di alun-alun. Kau kira akan ada hasilnya ? Jika aku pepe di alun-alun, maka aku hanya akan menjadi tontonan orang, sementara keadilan yang aku harapkan tidak akan pernah aku dapatkan. ‚ÄĒ – Kau belum pernah mencobanya. Yang kau katakan itu adalah kebenaran-kebenaran yang terjadi didalam angan-anganmu saja. Se¬¨mentara angan-anganmu sudah dilandasi dengan prasangka-prasangka buruk. Dan prasangka buruk itu tubuh dari endapan jiwamu yang kotor. ‚ÄĒ ‚ÄĒ Setan kau. Aku ingin mengoyakkan mulutmu. ‚ÄĒ geram orang itu dengan marahnya. — Jika hal itu ingin kau lakukan, kau tidak usah mengatakannya lebih dahulu, karena kita memang sudah terlibat dalam pertempuran. ‚ÄĒ sahut Agung Sedayu. Orang itu menggeretakkan giginya. Kemarahannya sudah tidak terbendung lagi. Karena itu, maka sejenak kemudian, orang itupun le¬¨lah menghentakkan tangannya mendatar. Agung Sedayu terkejut. Hanya karena daya tahannya yang sangat tinggi, meskipun ia belum mengetrapkan ilmu kebalnya, maka Agung Sedayu tidak menjadi pingsan karenanya. Namun serangan yang tidak menyentuhnya secara wadag itu telah melemparkan Agung Sedayu beberapa langkah surut, sehingga Agung Sedayu telah kehilangan ke¬¨seimbangannya. Agung Sedayu memang terhuyung-huyung dan kemudian terja¬¨tuh. Agung Sedayu justru berguling beberapa kali. Baru kemudian ia melenting untuk tegak berdiri. Tetapi Agung Sedayu lelah memper¬¨siapkan dirinya sebaik-baiknya. Dalam waktu sekejap Agung Sedayu telah mengetrapkan ilmu kebalnya, la menyadari sepenuhnya, bahwa lawannya adalah seorang yang memang berilmu sangat tinggi. Orang itu mengerutkan dahinya. Ia tidak menyangka bahwa Agung Sedayu masih sempat bangkit. Ternyata prajurit Mataram yang terhitung muda itu, mampu mengatasi serangan ilmunya yang dibangga-banggakan. ‚ÄĒ Tulang-tulang iganya tidak berpatahan – garam orang itu. Sementara itu, Agung Sedayu sudah berdiri tegak. Serangan yang menghantam dadanya sebelum ia mengetrapkan ilmu kebalnya itu me¬¨mang terasa sakit. Tetapi daya tahannya yang tinggi telah menyela¬¨matkannya. Setelah Agung Sedayu mengetrapkan ilmu kebalnya, maka ia berharap bahwa ilmunya itu akan semakin rapat melindunginya, se¬¨hingga ilmu lawannya itu tidak akan menghancurkannya. Meskipun demikian, Agung Sedayu harus tetap berhati-hati. Ia masih harus memperhitungkan kemungkinan ilmu lawannya sangat tinggi sehingga mampu mengguncang bahkan mengoyak ilmu kebal¬¨nya, sehingga akibatnya sangat buruk bagi dirinya. Ketika orang itu melihat Agung Sedayu yang bangkit dan siap un¬¨tuk melanjutkan pertempuran, maka ia sadar sepenuhnya, bahwa ia benar-benar berhadapan dengan seorang prajurit yang berilmu tinggi, melampaui ilmu kebanyakan prajurit. Dengan demikian, maka orang itupun kemudian telah menghentakkan segenap kemampuannya. Ia tidak mau kehilangan ke¬¨sempatan terakhir untuk menyelesaikan lawannya itu. Dengan ilmu puncaknya, maka orang itupun telah menyerang Agung Sedayu. Serangan-serangan yang sangat berbahaya. Jangkauan ilmu orang itu ternyata melampaui jangkauan kewadagannya. Meski¬¨pun tangan atau kakinya atau anggota badannya yang lain belum me¬¨nyentuh tubuh lawannya, namun ilmu orang itu telah mengenai dan menghantam sasarannya. Tetapi Agung Sedayupun dengan cepat mengenali rahasia ilmu lawannya, sehingga karena itu, maka iapun dengan cepat telah me¬¨nempatkan dirinya diluar garis serangan lawannya itu. Jika sekali-sekali ia terlambat, maka ilmu kebalnya telah melindunginya, se¬¨hingga serangan-serangan itu tidak menyakitinya. Perlawanan Agung Sedayu itu telah membuat lawannya mulai menjadi gelisah. Serangan-serangan ilmu yang dibanggakannya itu seakan-akan tidak banyak berarti bagi prajurit yang terhitung masih muda itu. Meskipun orang itu meningkatkan ilmunya sampai kepuncak ke mampuannya, namun Agung Sedayu masih saja dengan tegar meng¬¨hadapinya. Di lingkaran pertempuran yang lain, lawan Glagah Putihpun semakin meninggalkan ilmunya pula. Sambaran angin dari ayunan se¬¨rangannya, memang menjadi semakin tajam. Bahkan kemudian terasa seperti ujung-ujung duri yang menusuk-nusuk kulitnya. Dengan demikian, maka Glagah Putihpun harus lebih cepat ber¬¨gerak menghindari serangan-serangan lawannya. Ia tidak saja harus menghindari serangan itu sendiri, tetapi juga harus menghindari sam¬¨baran angin yang menyertai setiap ayunan serangannya. Namun orang itu semakin lama justru bergerak lebih cepat pula, sehingga Glagah Putih kadang-kadang terlambat menghindar, se¬¨hingga kulitnya terasa sangat nyeri dan pedih. Glagah Putihpun kemudian harus menentukan sikap pula meng¬¨hadapi lawannya itu. Dengan meningkatkan kemampuan maka sekali-sekali Glagah Putih dengan sengaja telah memasuki batas sentuhan sambaran angin yang menyakitinya itu. Dengan meningkatkan daya tahannya, Glagah Putih sengaja tidak menghindar, tetapi justru mem¬¨bentur serangan lawannya. Setiap kali terjadi benturan, lawannya selalu terkejut. Tenaga anak yang masih terlalu muda itu ternyata melampaui batas kekuatan tenaganya, sehingga beberapa kali orang itu harus terdesak surut. Mes¬¨kipun Glagah Putih selalu berhasil mendorong lawannya beberapa langkah surut. Akhirnya lawan Glagah Putih itu tidak sabar lagi. Ia telah meng¬¨hentakkan segala kemampuan dan ilmu yang ada padanya. Bukan se¬¨kedar sambaran udara yang menimbulkan perasaan pedih serta bagai¬¨kan ditusuk-tusuk dengan ujung duri, tetapi getar udara yang umbul oleh ayunan serangan lawannya itu telah memancarkan getaran panas. Glagah Putih memang terdesak surut Tetapi sentuhan udara pa¬¨nas itu telah membuat jantungnya menjadi panas pula. Dengan demikian, maka Glagah Putih yang terdesak itu semakin meningkatkan kemampuan ilmunya pula. Meskipun Glagah Putih ma¬¨sih belum mengetrapkan ilmu puncaknya, Aji Sigar Bumi, namun Gla¬¨gah Putih telah mengetrapkan kemampuannya berdasarkan landasan ilmu yang mengalir dari Ki Sadewa lewat Agung Sedayu yang telah berkembang didalam dirinya. Maka pertempuran itu menjadi semakin sengit. Sekali-sekali Glagah Putih memang harus menahan sakit jika sentuhan getar udara panas yang timbul dari hentakkan ilmu lawannya menyentuh tubuh¬¨nya melampaui batas daya tahannya. Namun serangan Glagah Putih yang cepat dan dorongan kekuatan ilmunya itu, setiap kali telah mem¬¨bentur tubuh lawannya. Serangan-serangan Glagah Putih yang me¬¨nembus pertahanannya dan mengenai tubuhnya itu mulai menyakiti¬¨nya pula. Glagah Putih yang melihat keadaan lawannya memang tidak meningkatkan ilmunya lebih tinggi lagi. Ia tidak pula mengetrapkan kemampuan puncaknya sebagai murid utama orang Barcambuk. Na¬¨mun perlahan-lahan ia merasa akan berhasil menguasai lawannya yang sudah separo baya itu. Lawan Glagah Putih memang menjadi semakin gelisah. Lawan¬¨nya yang masih sangat muda itu ternyata memiliki ilmu yang tinggi. Bahkan orang itu yakin, bahwa ilmu anak muda itu masih dapat diting¬¨katkan. Dalam pada itu, maka lawan Agung Sedayu itupun semakin mengalami kesulitan. Tetapi ia masih bertekat untuk mengalahkan prajurit yang masih terhitung muda itu. Ketika kemudian ia meningkatkan ilmunya, maka tidak saja serangan-serangannya yang menjadi semakin garang dan melampaui kecepatan gerak wadagnya, namun jarak jangkau serangan-serangannya itupun menjadi semakin jauh. Serangan-serangan itu memang mulai membuat Agung Sedayu menjadi sibuk. Bahkan kemudian hentakkan hentakan ilmu lawannya itu mulai mengguncang ilmu kebalnya, meskipun masih belum mampu menembusnya. Ketika kemudian Agung Sedayu menekannya lebih kuat, maka orang itupun menjadi semakin terdesak. Tanpa menghiraukan serangan-serangannya. Agung Sedayu itu justru menjadi semakin ga¬¨rang. Agung Sedayu yang semakin mendesak lawannya itupun kemudian masih berusaha memperingatkannya. Katanya ‚ÄĒ Ki Sanak. Masih ada kesempatan. Meskipun kau mengaku sudah membunuh dua orang prajurit Mataram, namun aku masih belum memutuskan untuk membunuhmu sekarang. Jika kau menyerah, maka aku akan memba¬¨wamu menghadap Senapati Mataram yang bertugas menghadapi pra¬¨jurit Pati yang menarik diri. ‚ÄĒ – Persetan dengan igauanmu – geram orang itu ‚ÄĒ aku akan mem¬¨bunuhmu. ‚ÄĒ – Kedudukanmu akan menjadi semakin sulit. Selagi aku belum berubah pendirian, menyerahlah. – berkata Agung Sedayu kemudian. Tetapi orang itu sama sekali tidak menghiraukannya. Ia justru menyerang Agung Sedayu semakin sengit. Agung Sedayu yang telah memberinya kesempatan untuk meng¬¨hentikan perlawanan namun tidak dihiraukannya itu, tidak dapat ber¬¨buat lain keculai memaksa lawannya sehingga lawannya itu sama se¬¨kali tidak mampu melawannya lagi. Karena itulah, maka Agung Sedayupun telah meningkatkan ke¬¨mampuannya lebih tinggi lagi. Perlawanan orang itu menjadi semakin sia-sia. Kemampuan il¬¨munya yang dianggapnya tidak terlawan oleh para prajurit Mataram itu ternyata tidak berdaya dihadapan prajurit Mataram yang satu itu. Bahkan semakin lama serangan-serangan lawannya yang masih terhi¬¨tung muda itu semakin banyak mengenai tubuhnya. Agung Sedayu yang mengetrapkan ilmu kebalnya itu dapat me¬¨nyusup menembus pertahanan lawannya semakin sering, sedangkan serangan lawannya yang mampu menghentak mendahului sentuhan wadagnya itu, tidak mampu mengoyak pertahanannya, meskipun sekali-sekali terasa dapat mengguncangnya. Namun akhirnya orang itupun harus mengakui kenyataan yang dihadapinya. Beberapa kali orang itu terdorong surut. Bahkan keseim¬¨bangannya, namun semakin lama semakin menyakitinya. Bahkan meskipun orang itu berhasil menangkis serangan Agung Sedayu, na¬¨mun benturan yang terjadi kadang-kadang telah melemparkannya se¬¨mentara tulang-tulangnya menjadi nyeri. Orang itu tidak mempunyai harapan lagi untuk mampu mengim¬¨bangi lawannya itu. Ketika kaki Agung Sedayu mengenai lehernya tepat dibawah telinganya, maka orang itu telah terlempar beberapa langkah dan jatuh terguling. Namun orang itu dengan cepat melenting terdiri. Dengan tang¬¨kasnya ia meloncat menjulurkan tangannya menyerang kearah dada Agung Sedayu yang justru sedang bergerak memburunya. Meskipun tangan orang itu tidak sampai menjangkau tubuh Agung Sedayu, namun serangannya itu telah mendahului ujud wadag¬¨nya dan menghantam dada Agung Sedayu. Agung Sedayu terkejut. Ia memang tertahan, dan bahkan terdorong setapak surut. Namun ilmu kebalnya dan semakin ditingkatkan, telah melindunginya, sehingga Agung Sedayu tidak merasa sakit sama sekali. Bahkan dengan cepat Agung Sedayu meloncat dengan tangan terjulur lurus mematuk dada. Orang itu berusaha untuk mengelak, namun Agung Sedayu me¬¨nahan serangannya. Tangannya berputar menebas mendatar. Punggung telapak tangan Agung Sedayu ternyata telah menyam¬¨bar keningnya lawannya. Demikian kerasnya, sehingga lawannya itu terdorong kesamping dan bahkan kehilangan keseimbangannya. Demikian orang itu terjatuh, maka iapun segera berguling meng¬¨ambil jarak. Baru beberapa putaran kemudian, orang itu meloncat dan bangkit berdiri. Meskipun ia berhasil tegak pada kedua kakinya, namun terasa ke¬¨palanya menjadi sangat pening. Ketika Agung Sedayu melangkah maju setapak demi setapak, maka orang itupun menjadi sangat gelisah. Bagi lawan Agung Sedayu itu memang tidak ada lagi harapan un¬¨tuk dapat tetap bertahan. Karena itu, maka satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri adalah menghindar dari pertempuran. Orang itu akan mencari kesempatan lain. Tidak semua prajurit Mataram memiliki kemampuan sebagaimana lawannya yang masih terhitung muda itu. – Aku akan membunuh tidak hanya sepuluh orang – katanya di¬¨dalam hati – kekalahan hari ini harus ditebus dengan paling sedikit lima orang, sehingga aku harus membunuh seluruhnya limabelas orang. – Dengan keputusannya itu, maka lawan Agung Sedayu itupun se¬¨gera mencari kesempatan. Ia sama sekali tidak menghiraukan kawan¬¨nya lagi. Ketika ia sempat menahan serangan Agung Sedayu dengan serangannya yang kadang-kadang masih mengejutkan itu, maka iapun segera meloncat dan berlari seperti anak panah yang lepas dari busur¬¨nya. Agung Sedayu terkejut melihat kecepatan lari lawannya. Ia me¬¨mang sudah mengira bahwa lawannya akan melarikan diri. Namun ia tidak mengira bahwa lawannya itu seakan-akan mampu terbang sece¬¨pat burung alap-alap. Agung Sedayu memang mencoba mengejarnya denga mengerah¬¨kan tenaga dalamnya. Tetapi ia tidak mau kehilangan buruannya yang berlari sangat cepat itu. Sementara itu Agung Sedayu menyadari, bahwa lawannya yang membawa dendam itu adalah orang yang sangat berbahaya bagi praju¬¨rit Mataram, apalagi prajurit Mataram yang tidak memiliki bekal ilmu yang khusus. Agung Sedayu tidak mempunyai banyak kesempatan untuk membuat pertimbangan-pertimbangan, karena orang itu berlari me¬¨nuju ke semak-semak dan belukar. Yang terbayang di angan-angannya adalah pembunuhan-pembunuhan yang dapat dilakukan lagi oleh orang itu dikemudian, hari. Beberapa orang prajurit Mataram terancam untuk dijadikan korban dendamnya yang membara dijantungnya. Karena itu, maka yang tersirat dihati Agung Sedayu hanyalah usaha untuk menghentikan pembunuhan-pembunuhan atas orang-orang yang tidak bersalah. Dengan demikian, maka sejenak kemudian Agung Sedayu yang merasa sulit untuk dapat menangkap orang yang dikejarnya itu, karena yang dapat dilakukan hanya sekedar menjaga jarak, telah memasuki tingkat ilmu pamungkasnya. Agar tidak kehilangan lawannya yang sa¬¨ngat berbahaya itu, maka Agung Sedayu justru menghentikan lang¬¨kah. Namun demikian itu berdiri tegak, maka tiba-tiba dari matanya te¬¨lah memancar getaran ilmunya meluncur menyusul lawannya yang berlari sangat cepat itu. Yang terdengar kemudian adalah lengking yang tinggi. Orang itu bagaikan terdorong dan terlempar beberapa langkah maju. Namun ke¬¨mudian orang itu terjerembab dari sekali menggeliat, namun kemudian tubuh itu terdiam. Masih terdengar orang dan teriakan nafas. Namun kemudian nafas itupun terputus. Agung Sedayupun kemudian berlari menyusul. Dengan jantung yang berdebaran Agung Sedayu kemudian berjongkok disisi tubuh yang sudah tidak bernafas lagi itu. Agung Sedayu meraba tubuh itu. Masih terasa kehangatan meng¬¨alir diurat-urat darahnya. Namun kemudian telah terhenti sebagai¬¨mana jantungnya berhenti pula berdenyut. Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam, la sama sekali tidak bernafsu untuk membunuh. Yang terpikir olehnya adalah menghenti¬¨kan pembunuhan-pembunuhan yang masih akan dilakukan orang itu. Dalam pada itu, Glagah Putih masih bertempur dengan sengit¬¨nya. Namun semakin lama lawannya semakin kehilangan kesempatan. Sementara itu Glagah Putih masih belum sampai pada puncak kemam¬¨puannya. Ketika lawan Glagah Putih itu melihat kawannya yang justru mengajaknya melakukan petualangan itu berlari meninggalkan per¬¨tempuran tanpa menghiraukan dirinya, maka ia menjadi sangat ke¬¨cewa. Karena itu, maka ia merasa tidak ada artinya bertempur lebih lama lagi. Apalagi ia tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa la¬¨wannya yang masih sangat muda itu memiliki ilmu yang tidak dapat diimbanginya. Dengan demikian, ketika ia menjadi semakin terdesak, maka orang itupun segera berloncatan mengambil jarak sambil berkata ham¬¨pir berteriak ‚ÄĒ Tunggu, tunggu. – Glagah Putih masih meloncat memburunya. Tetapi orang itupun kemudian menjulurkan tangannya kedepan menghadap Glagah Putih ‚ÄĒ Tunggu anak muda. ‚ÄĒ Glagah Putih memang mengekang dirinya. Ia mengamati sikap lawannya dengan hati hati, karena sikap demikian itu dapat saja me¬¨nyesalkannya. Tiba-tiba dari telapak tangannya yang terbuka dan menghadapnya itu akan dapat meluncur serangan yang berbahaya. Namun Glagah Putih tidak melihat tanda-tanda bahwa lawannya akar, menyerang. Bahkan kemudian kedua tangannya itupun seakan-akan terkulai disisi tubuhnya. – Kenapa ? – bertanya Glagah Putih. – Aku menyerah – berkata orang itu. – Karena kawanmu sudah melarikan diri dari medan ? – bertanya Glagah Putih pula. ‚ÄĒ Tidak – jawab orang itu ‚ÄĒ aku memang akan menyerah. – ‚ÄĒ Bohong ‚ÄĒ gerang. Glagah Putih ‚ÄĒ kau sama sekali tidak berniat menyerah. Tetapi karena kau sudah tidak mempunyai kesempatan lagi, maka kau baru menyatakan diri menyerah. ‚ÄĒ ‚ÄĒ Aku memang akan menyerah ‚ÄĒ orang itu mulai menjadi geli¬¨sah. ‚ÄĒ Sudah terlambat ‚ÄĒ jawab Glagah Putih. Wajah orang itu menjadi sangat tegang dan bahkan pucat Dengan ragu-ragu iapun bertanya ‚ÄĒ Kenapa terlambat ? – Glagah Putih melihat wajah yang pucat itu. Keringatnya yang memang sudah membasahi pakaiannya menjadi seakan-akan diperas dari tubuhnya. Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian ~ Baiklah. Jika kau menyerah, maka kau akan menjadi tawananku. Kau akan kami bawa ke induk pasukan kami. ‚ÄĒ Orang itu memang menjadi ragu-ragu. tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain. Jika ia meneruskan perlawanan, maka ia tidak akan dapat berbuat banyak. Demikianlah, maka Glagah Putih telah membawa orang itu men¬¨dekati Agung Sedayu yang kemudian telah bangkit berdiri disebelah tubuh yang terbujur diam itu. Kepada orang yang menyerah itu, Agung Sedayu berkata ‚ÄĒ Aku tidak mempunyai pilihan lain. Ia berlari terlalu cepat, sehingga sulit bagiku untuk dapat menangkapnya. Karena itu aku terpaksa menghentikannya. ‚ÄĒ Orang yang dikalahkan orang Glagah Putih itupun kemudian ber¬¨jongkok disisi tubuh kawannya. Sambil mengusap dahinya, ia berkata – Nasibmu memang buruk. Tetapi kau telah mengambil jalan yang se¬¨sat. ‚ÄĒ ‚ÄĒ Kenapa kau juga melakukannya ? – tiba-tiba Glagah Putih ber¬¨tanya. ‚ÄĒ Aku memang sahabatnya, apalagi ia pernah menolongku, sehingga aku merasa berhutang budi kepadanya. Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya – Jadi seseorang yang telah berhutang budi itu harus melaku¬¨kan apa saja untuk membalas budi ? ‚ÄĒ – Bukankah seekor binatang saja tahu membalas budi ? ‚ÄĒ orang itu justru bertanya. – Jika kau benar ingin membalas budi, bukan seperti yang kau la¬¨kukan sekarang ini. Seharusnya kau justru mencegahnya, agar orang itu tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak sebaiknya dilaku¬¨kan. Dengan demikian, kau akan mencegah orang itu terjerumus keda-lam satu perbuatan yang menjeratnya kedalam kesulitan, dan bahkan kematian. ‚ÄĒ berkata Agung Sedayu. – Penalaranku tidak dapat menjangkau pengertian sejauh itu. Aku hanya tahu, bahwa aku harus membalas budi. Itu saja – – Balas budi itu kau lakukan dengan membabi buta. – berkata Agung Sedayu. Orang itu menundukkan kepalanya. Namun kemudian katanya -Ya. Aku memang terlalu bodoh. – – Sekarang, sebelum aku membawamu ke induk pasukanku, maka kita harus mengubur tubuh kawanmu itu. ~ Orang itu mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian bertanya ‚ÄĒ Tetapi dengan apa kita akan menggali lubang kuburnya. ? ‚ÄĒ Agung Sedayu dan Glagah Putih memang menjadi bingung. Me¬¨reka tidak mempunyai alat apapun yang dapat mereka pergunakan un¬¨tuk menggali tanah yang bercampur padas. Selagi mereka masih termangu-mangu, maka orang yang dikalahkan Glagah Putih itupun berkata – Jika kita tidak dapat meng¬¨gali lubang, maka sebaiknya kita tutup saja tubuh itu dengan bebatuan agar tidak dikoyak-koyak oleh binatang buas atau binatang malam yang lain. ‚ÄĒ Mereka memang tidak dapat berbuat lain. Karena itu, maka me¬¨reka bertigapun kemudian telah mengumpulkan bebatuan disekitar tempat itu yang untungnya terdapat banyak berserakan dimana-mana. Ternyata kemudian Agung Sedayu dan Glagah Putih masih ber¬¨jalan beberapa ratus patok maju. Namun kemudian mereka tidak men¬¨dapatkan tanda-tanda yang mencurigakan, sehingga iapun berkesim¬¨pulan bahwa pasukan Pati memang benar-benar telah ditarik. Sebenarnyalah bahwa Pasukan Pati memang sudah ditarik. Bah¬¨kan tidak hanya sekedar ditarik mundur. Tetapi pasukan itu ternyata telah ditarik untuk memperkuat pasukan Pati yang akan berkemah di-sebelah Timur Kali Dengkeng, sementara pasukan Mataram memba¬¨ngun perkemahan di Prambanan, sebelah Barat Kali Dengkeng. Ketika Agung Sedayu dan Glagah Putih sampai keperkemahan, ampat orang prajurit yang lain, yang juga bertugas untuk mengamati keadaan telah kembali pula. Merekapun melaporkan, bahwa mereka tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Menurut pendapat mereka, maka pasukan Pati itu tentu sudah ditarik dari medan. Namun beberapa orang petugas sandi mempunyai tugas yang le¬¨bih jauh dari tugas yang dibebankan kepada Agung Sedayu dan bebe¬¨rapa orang prajurit yang lain. Mereka ditugaskan untuk mengamati dan menelusuri pasukan Pati itu. Mereka harus memberikan laporan, kemana dan dimana pasukan Pati itu kemudian. Ki Tumenggung Wirayuda masih belum dengan tergesa-gesa menarik mundur pasukannya. Pasukan Mataram itu masih tetap ber¬¨ada di perkemahannya. Mungkin masih akan terjadi sesuatu, sampai mereka menerima laporan yang meyakinkan dari para petugas sandi. Dalam pada itu, diseberang-menyeberang Kali Dengkek dengan jarak beberapa ratus patok, kedua pasukan yang besar telah berkemah. Pasukan Pati disebelah Timur dan pasukan Mataram disebelah Berat Pada hari-hari pertama, kedua pasukan itu masih belum bergerak sama sekali. Namun Kangjeng Adipati Pati telah menjadi sangat ma¬¨rah ketika yang berkemah di Prambanan, pasukan Mataram dipimpin oleh Kangjeng Pangeran Adipati Anom. Tidak dipimpin langsung oleh Panembahan Senapati. – Orang-orang Mataram sangat merendahkan aku ‚ÄĒ berkata Kangjeng Adipati Pati. Namun Kangjeng Adipati Pati masih dapat menahan diri untuk ti¬¨dak bergerak langsung menyeberangi Kali Dengkeng. Tetapi Kang¬¨jeng Adipati Pati masih sempat mengatur prajurit-prajuritnya. Dalam pada itu, Untara yang telah berhasil menghambat dan mengurangi kekuatan Pati telah bergerak pula mendekati perkemahan prajurit Pati disebelah Timur Kali Dengkeng. Namun dalam pada itu, Untara telah mengirimkan beberapa orang penghubung memberikan laporan dan menerima perintah-perintah dari induk pasukan di Pramb¬¨anan. Penghubung itu dikirim pada waktu-waktu tertentu secara ter¬¨atur. Namun yang tidak diduga, dua orang prajurit sandi yang dikirim oleh Untara untuk melihat perkembangan keadaan secara umum di kaki Gunung Merapi sisi Selatan, telah memberikan laporan, bahwa mereka melihat gerakan pasukan yang cukup besar, justru datang dari arah Barat. – Mereka berhenti disebuah padukuhan. Nampaknya pasukan itu kelelahan tanpa persediaan pangan yang cukup. ‚ÄĒ – Kalian melihat ciri-cirinya ? – bertanya Untara. – Mereka menggulung semua rontek, umbul-umbul dan kelebet. Tetapi masih nampak tunggul-tunggul yang dapat kami kenali. – – Menurut pendapatmu, pasukan dari mana ? – bertanya Untara pula. Pasukan dari Pati – jawab petugas sandi itu. Untara termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia memerintahkan untuk memastikan, pasukan yang berhenti disebuah padukuhan itu. Apakah benar pasukan itu memang pasukan dari Pati. Sementara prajurit sandinya masih melakukan penyelidikan maka Untara lewat penghubungnya telah mendapat keterangan dari pasukan induk Mataram di Prambanan, bahwa pasukan Pati yang ber¬¨ada di arah Utara Mataram, telah menarik diri, meninggalkan perke-mahannya. Dengan demikian, Untara mengambil kesimpulan, bahwa pasu¬¨kan yang dilaporkan kepadanya itu adalah pasukan Pati yang ditarik dari medan disebelah Utara Mataram itu. Sebaliknya Untarapun telah memberikan laporan pula bahwa prajurit sandinya telah melihat sepasukan prajurit yang nampak letih berhenti disebuah padukuhan. Para perwira Mataram yang menerima laporan Untara itu segera mengambil kesimpula , bahwa pasukan Pati yang telah ditarik dari se¬¨belah Utara Mataram itu diperintahkan bergabung dengan pasukan Pati yang ada disebelah Timur Kali Dengkeng. Dengan kesimpulan itu, maka sebagian pasukan Ki Tumenggung Wirayudapun kemudian akan ditarik dan ditempatkan di Prambanan. Sedangkan sebagian lagi akan tetap berada di depan pintu gerbang Ko-taraja disisi Utara untuk menjaga segala kemungkinan. Adapun pasu¬¨kan yang tinggal itu adalah para prajurit dari Pasukan Khusus di Mata¬¨ram serta para pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Dalam pada itu, maka dua kekuatan yang sangat besar telah berhadapan di sebelah menyebelah Kali Dengkeng. Namun agaknya kedua kekuatan itu masih belum bergerak. Keduanya masih me-nunggu kesempatan terbaik bagi mereka masing-masing. Namun demikian, kedua kekuatan itu setiap hari telah mening¬¨katkan kesiagaan mereka. Pasukan Pati yang ditarik dari arah Utara Mataram itupun telah berbagung dengan induk pasukan mereka di se¬¨belah Timur Kali Dengkeng. Untara menjadi berdebar-debar ketika ia mendapat perintah un¬¨tuk bergabung dengan induk pasukan Mataram Agaknya Mataram su¬¨dah berniat untuk mulai menyerang perkemahan pasukan Pati yang dipimpin langsung oleh Kangjeng Adipati Pati. Untara memang berangkat dengan membawa pasukannya ke Prambanan. Namun ia telah melaporkan pula, bahwa beberapa kelom¬¨pok prajuritnya ditinggal dibawah pimpinan Sabungsari untuk memo¬¨tong setiap usaha pengiriman bahan pangan ke perkemahan orang-orang Pati. Diantara pasukan yang ditinggalkan itu adalah pasukan pengawal Kademangan Sangkal Putung. Ternyata bahwa Swandaru adalah seorang pemimpin yang tang¬¨kas Seperti seekor burung pasukan pengawal Sangkal Putung itu ter¬¨bang sambil menyambar-nyambar. Beberapa iring-iringan bahan pa¬¨ngan yang berhasil dikumpulkan setelah lumbung Utama di Ngaru-aru dimusnahkan, telah dihancurkan oleh pasukan pengawal Tanah Perdi¬¨kan, sehingga pasukan Pati itu mulai terancam persediaan bahan pang¬¨annya. Namun dengan demikian, maka Pati telah meningkatkan persiap¬¨annya untuk mempercepat pertempuran. Dalam pada itu, Panglima pasukan Matarampun ternyata berniat untuk segera menyerang pasukan Pati. Meskipun demikian, sebagai¬¨mana pesan Panembahan Senapati, maka Kangjeng Pangeran Adipati Anom masih diperintahkan untuk kembali lagi menemui pamannya: Kangjeng Adipati Pati. Kangjeng Pangeran Adipati Anom masih ha¬¨rus mencoba untuk melunakkan hati pamannya, agar perang dapat di¬¨hindarkan. Karena itu, maka Pangeran Adipati Anompun telah mengirimkan utusan untuk menyampaikan niat Pangeran Adipati Anom untuk ber¬¨temu dengan pamannya. Meskipun dengan berat hati, namun Kangjeng Adipati Pati itu mempersilahkan Pangeran Adipati Anom untuk datang ke perkemah-annya dikeesokan harinya. Kedatangan Pangeran Adipati Anom disambut sendiri oleh pam¬¨annya, Kangjeng Adipati Pati. Dipersilahkannya Pangeran Adipati Anom kemudian duduk di bangunan induk perkemahan para prajurit Pati, disebuah padukuhan kecil disebelah Timur Kali Dengkeng. Ternyata Kangjeng Adipati Pati masih bersikap ramah kepada kemanakannya. Kangjeng Adipati Pati itu juga bertanya tentang kese¬¨lamatan Pangeran Adipati Anom. Bahkan keselamatan Panembahan Senapati serta kakak perempuannya, ibu Pangeran Adipati Anom itu. ‚ÄĒ Ayahanda dan ibunda dalam keadaan baik, paman – jawab Pa¬¨ngeran Adipati Anom. – Bagaimana dengan paman sekeluarga di Pati serta yang menyertai paman sampai disini ? ‚ÄĒ ‚ÄĒ Sebagaimana kau lihat, aku sehat-sehat saja ngger. ‚ÄĒ jawab Kangjeng Adipati Pati. Namun sejenak kemudian Kangjeng Adipati itupun bertanya – Kenapa ayahandamu tidak datang menyambut aku di Prambanan ? – ‚ÄĒ Tidak, paman. Ayah telah memerintahkan aku datang untuk menyambut paman. Namun ayahanda telah memberikan pesan untuk aku sampaikan kepada paman. ‚ÄĒ jawab pangeran Adipati Anom. ‚ÄĒ O – Kangjeng Adipati Pati mengangguk-angguk. – apa pesan ayahmu itu ? ‚ÄĒ ‚ÄĒ Paman Pragola ‚ÄĒ berkata Pangeran Adipati Anom ‚ÄĒ sebenar¬¨nyalah bahwa ayahanda merasa sangat bersedih hati, bahwa dua ke¬¨kuatan kini berhadap-hadapan diseberang-menyeberang Kali Deng¬¨keng. – Kangjeng Adipati Pragola dari Pati itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah iapun berkata – Aku juga merasa sedih ngger. Bahkan kehadiran dua pasukan yang besar itu akan dapat menimbulkan perang yang besar pula. ‚ÄĒ ‚ÄĒ Ya, paman. Karena itu, a
  50. Kitab 296 Bagian I DENGAN teliti Untara telah memberikan perintah dan pesan kepada seluruh pemimpin kelompok dalam pasukannya. Kapan me¬¨reka mulai menyerang, sasaran dan sejauh mana mereka bergerak. Isyarat kepada seluruh pasukan saat mereka harus menarik diri. Ke-mana mereka harus mundur dan kemudian menentukan tempat untuk berkumpul seluruh pasukan pada kemungkinan pertama, kedua dan terakhir. Beberapa saat kemudian, maka seluruh kekuatan yang ada telah diperintahkan untuk mulai bergerak. Mereka akan menyerang dari be¬¨berapa sudut. Seperti saat mereka menyerang landasan pengamanan pasukan Pati, maka mereka dibagi dalam beberapa kesatuan yang masing-masing akan menyerang dari arah yang berbeda. Sementara itu, seluruh pasukan Patipun telah mempersiapkan diri. Seperti yang telah mereka rencanakan, maka mereka akan berang¬¨kat sebelum fajar. Perjalanan yang sebenarnya sudah tidak terlalu jauh lagi itu, akan ditempuh dalam waktu yang cukup lama oleh sebuah pa¬¨sukan yang besar. Karena itu, maka didini hari, setiap prajurit telah mulai bersiap-siap. Mereka harus membenahi diri. Senjata-senjata nereka serta mempersiapkan pertanda-pertanda kebesaran. Beberapa saat kemudian, maka telah terdengar suara bende yang dipukul sekali. Pertanda bahwa para prajurit harus sudah selesai berbe¬¨nah diri. Kemudian terdengar suara bende yang kedua. Perintah bagi seluruh pasukan untuk berkumpul. Pada saat itulah, maka prajurit Mataram telah bersiap untuk me¬¨nyerang. Para pengamat dan petugas sandi telah memberikan gam¬¨baran jajaran pasukan Pati yang sudah tersusun dalam barisan yang su¬¨dah siap untuk berangkat menuju ke Prambanan. Sementara itu, langit masih nampak kehitam hitaman. Meskipun demikian pertanda fajar sudah mulai menapak Para prajurit Mataram dan para pengawal beberapa Kademangan mulai gelisah. Mereka mendapat pesanan, agar serangan mereka dila¬¨kukan sebelum fajar. Jika pasukan itu tidak segera berangkat, maka pa¬¨sukan Untara itu akan kehabisan waktu, sehingga mereka harus ber¬¨tempur sampai matahari terbit dan bahkan mungkin saat matahari mu¬¨lai memanjat langit. Namun ternyata pasukan Pati itu memang tidak menunggu fajar. Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi bende untuk yang ketiga ka¬¨linya. Pertanda bahwa pasukan Pati yang besar itu akan berangkat ke Prambanan. Tetapi suara bende itupun merupakan perintah bagi pasukan Ma¬¨taram untuk menyerang. Karena itu, demikian sekelompok pasukan yang membawa pertanda kebesaran, umbul-umbul rontek. maka para prajurit Mataram serta para pengawal yang sudah berada di sekitar tempat itupun mulai bergerak. Dengan diam-diam mereka menyusup diantara pepohonan dan dinding-dinding halaman mendekati pemu¬¨satan pasukan Pati di bulak di depan padukuhan Jati Anom Pasukan Untara tidak saja menyerang dari arah Jati Anom Tetapi juga dari pa-dukuhan yang lain meskipun mereka harus melintasi daerah terbuka, tetapi tidak terlalu luas. Yang mula-mula dilihat oleh para prajurit Pati adalah serangan prajurit Mataram yang harus melintasi tempat terbuka. Serangan itu memang cukup mengejutkan. Pasukan yang bergerak di keremangan sisa malam itu maju terlalu cepat. Para Senapati dari Patipun harus segera mengambil sikap. Me¬¨reka tidak menunggu perintah dari Kangjeng Adipati. Namun pasukan yang langsung mendapat serangan telah menyongsong serangan itu. Ternyata serangan itu tidak hanya datang dari satu arah. Demi¬¨kian pertempuran terjadi, maka pasukan yang berada dipadukuhan Jati Anompun telah menyerang pula dengan garangnya. Serangan itu sama sekali tidak terduga-duga. Karena itu, maka untuk beberapa saat, para prajurit masih dikuasai oleh keterkejutan mereka. Namun kemudian para perwiranya segera mengambil sikap untuk mengatasi keadaan. Prajurit Mataram serta para pengawal memang tidak sebesar pa¬¨sukan Pati. Namun kejutan itu membuat mereka yang berada didalam pasukan Pati, yang bukan sejak semula adalah prajurit, menjadi geli¬¨sah. Demikianlah maka sejenak kemudian, pertempuranpun segera berkobar dengan sengitnya. Pasukan Mataram yang terpencar itu nam¬¨paknya memang banyak sekali. Mereka menyerang dari beberapa arah dengan gelar emprit neba didalam keremangan sisa-sisa malam. Ketika serangan itu kemudian didengar oleh Kangjeng Adipati, maka kemarahan Kangjeng Adipati rasa-rasanya sampai membakar ubun-ubunnya. Tetapi ketika Kangjeng Adipati itu berniat memimpin sendiri menumpas prajurit Mataram yang berani menyerang pasukan-nyaa yang besar itu, maka para Panglima telah mencegahnya. – Satu penghinaan bagi Adipati Pati – geram Kangjeng Adipati. – Biarlah anak-anak menyelesaikannya, Kangjeng – berkata sa¬¨lah seorang panglimanya. Tetapi pasukan Pati yang baru mulai bergerak itu memang harus berhenti. Dari tempatnya Kangjeng Adipati melihat pertempuran yang telah menyala diekor iring-iringan pasukannyaa. Meskipun prajurit Mataram dan para pengawal itu terhitung banyak, tetapi memang tidak sebanding dengan pasukan Pati yang mulai bergerak itu. – Orang-orang Mataram memang seperti demit ‚ÄĒ geram Kang¬¨jeng Adipati ‚ÄĒ mereka memang berani. Tetapi licik. – Para Panglimanya tidak menyahut selain menganguk-angguk. – Aku menunggu laporan kalian- berkata Kangjeng Adipati itu. Dalam pada itu, pertempuran semakin lama menjadi semakin sengit. Para prajurit Mataram dan para pengawal bertempur dengan berani. Meskipun yang dihadapan mereka adalah pasukan yang besar, namun pasukan yang dipimpin Untara itu sama sekali tidak gentar. Kelompok-kelompok prajurit Pati yang terlibat dalam pertem¬¨puran itu semakin lama menjadi semakin banyak. Dua orang Senapati Pati sudah terlibat dalam pertempuran itu. Namun prajurit Mataram dan para pengawal itu masih mendesak terus. Kemarahan telah mencengkam jantung para Senapati Pati itu. Dua orang lagi bersama pasukannya telah terjun kemedan pertem¬¨puran. Sehingga dengan demikian, pertempuran telah membakar seba-gaian besar dari pasukan Pati yang harus berhenti bergerak itu. Kangjeng Adipati memang menjadi semakin marah. Ketika warna fajar sudah membayang dilangit, namun pertempuran itu masih belum berakhir, maka Kangjeng Adipati itupun kemudian menjatuh¬¨kan perintah ‚ÄĒ Seluruh pasukan bergerak. Kepung prajurit Mataram itu. – Para Panglima menyadari kemarahan Kangjeng Adipati itu se¬¨hingga tidak seorangpun yang berani menyatakan pendapatnya. Karena itu, maka perintah itupun segera menjalar dari kelompok yang satu ke kelompok yang lain. Namun Untarapun segera tanggap. Apalagi langit sudah menjadi merah. Karena itu, maka iapun segera memberikan isyarat. Beberapa orang penghubung telah mendapat perintah untuk meluncurkan panah sendaren kesegala arah. Anak panah sendaren itu merupakan perintah bagi para prajurit Mataram dan para pengawal serta para cantrik dari padepokan Orang Bercambuk untuk meningalkan arena, selagi hari masih gelap. Ternyata pasukan Untara itu bergerak lebih cepat dari pasukan Pati yang besar yang berusaha untuk mengepung lawan. Tetapi karena pasukan Mataram itu menyerang dari beberapa jurusan, maka gerak pasukan Patipun terasa menjadi lamban. Dengan demikian, maka pasukan Mataram telah luput dari ke¬¨pungan prajurit Pati yang besar itu. Demikian pasukan Pati itu mulai Mataram itu telah menghilang kesegala arah, masuk kepadukuhan-padukuhan yang masih disaput oleh sisa-sisa kegelapan. Kegagalan itu membuat Kangjeng Adipati semakin marah. Te¬¨tapi pasukan Mataram yang dipimpin Untara itu seakan-akan telah le¬¨nyap ditelan bumi. Para Senapati Pati tidak memerintahkan prajurit-prajuritnya un¬¨tuk mengejar para prajurit Mataram, karena mereka harus segera ber¬¨angkat ke Prambanan. Jantung Kangjeng Adipati Pati rasa-rasanya hampir meledak. Bagaimanapun juga keberangkatan pasukan Pati itu memang ha¬¨rus tertunda. Ternyata bahwa dalam sergapan yang tiba-tiba serta da¬¨lam pertempuran yang tidak terlalu lama itu, telah jatuh beberapa orang korban yang terbunuh. Sedangkan banyak diantara prajurit Pati yang terluka. Dengan demikian, maka para prajurit Pati itu harus lebih dahulu menguburkan para korban. Sementara itu, para prajurit yang terluka, apalagi yang parah pada kesempatan dua malam berturut-turut itu akan menjadi beban pasukan Pati. Meskipun demikian pasukan Pati itu tetap merupakan pasukan yang besar. Namun Kangjeng Adipati Pati itupun telah mendapat laporan dari para petugas sandi, bahwa Mataram telah menempatkan pasukan yang besar pula di sebelah Barat Kali Dengkeng. Dalam pada itu. disaat-saat Untara menarik pasukannya dibawah bayangan fajar, maka Ki Tumenggung Wirayuda telah menyiapkan pasukannya dalam gelar yang sebagaimana dipergunakan dihari hari sebelumnya. Tetapi dua orang petugas sandi yang mengamati perke-mahan prajurit Pati melaporkan, bahwa pasukan Pati telah ditarik dari perkemahan. – Perkemahan prajurit Pati itu sudah kosong. Pasukan yang ada menjelang dini justru telah meninggalkan perkemahan. ‚ÄĒ – Kemana ? ‚ÄĒ bertanya Ki Tumenggung Wirayuda. – Ke arah Utara – jawab petugas sandi itu ~ ketika mereka bersiap-siap, maka kami mengira bahwa mereka sedang mempersiap¬¨kan diri untuk mengulangi perang gelar. Tetapi ternyata bahwa pasu kan itu justru bergerak meninggalkan perkemahan. — Kau sudah melihat perkemahan yang mereka tinggalkan ? -bertanya Ki Tumenggung Wirayuda. — Ya. Kami sudah melihatnya. Perkemahan itu memang sudah kosong. Tetapi masih ada beberapa macam peralatan dan sisa-sisa bahan pangan dan perbekalan yang tertinggal. Tetapi nampaknya su¬¨dah tidak mencukupi untuk dua tiga hari lagi. – Ki Tumenggung Wirayuda termangu-mangu sejenak. Kemudian dipanggilnya beberapa orang Senapatinya untuk membicarakan la¬¨poran yang baru saja diterimanya itu. Mungkin Senapati besar pasukan Pati itu tidak lagi melihat ke¬¨mungkinan untuk dapat memenangkan pertempuran, sehingga ia mengambil kebijaksanaan untuk lebih baik menarik pasukannya. – Jika ia memaksakan pertempuran – maka pasukannya akan pe¬¨cah hari ini –berkata Agung Sedayu – Jika hal itu terjadi, maka korb¬¨annya tentu akan banyak sekali. — Ki Tumenggung Wirayuda sambil menganguk angguk berkata -Ya. Pati memang tidak mempunyai pilihan lain. Tetapi itu bukan ber¬¨arti bahwa tidak akan ada serangan berikutnya pada garis pertempuran ini. — Agung Sedayu memang sependapat Bahkan Lurah Prajurit dari Pasukan Kusus itu berkata ‚ÄĒ Kita harus yakin, bahwa para prajurit Pati itu tidak mencari jalan lain untuk langsung menyerang pintu gerbang kota. ‚ÄĒ – Ya. Kita harus melacak gerak mundur pasukan Pati itu – ber¬¨kata Ki Tumenggung Wirayuda. – Harus ada orang yang ditugaskan untuk mengamati keadaan sa¬¨hut Agung Sedayu. Ki Tumenggung Wirayuda mengangguk-angguk. Namun sebe¬¨lum ia menunjuk seseorang, Agung Sedayu itupun berkata ~ Biarlah aku dan Glagah Putih melacak gerak mundur pasukan Pati itu. Tetapi mungkin tidak hanya kami berdua. Mungkin diperlukan ampat orang lagi yang terbagi dalam dua kelompok untuk mengamati keadaan. Na¬¨mun ketiga kelompok kecil itu akan menempuh jalan yang berbeda. ‚ÄĒ – Baiklah – berkata Ki Tumenggung – akan ada tiga kelompok yang akan mencoba mencari keterangan tentang pasukan Pati itu. ‚ÄĒ Ki Tumenggung tidak menunda waktu lagi. Ketiga kelompok yang satu diantaranya terdiri dari Agung Sedayu dan Glagah Putih itu¬¨pun diperintahkan untuk segera berangkat. Ki Lurah Uwangwung, yang juga mendapat tugas untuk meng¬¨amati keadaan bersama seorang prajuritnya yang terpilih akan mene¬¨lusuri Kali Code. Jika ia menemukan jejak penyeberangan Pasukan Pati, maka ia harus segera memberikan laporan. Sedangkan dua orang yang terdiri dari seorang prajurit penghubung dan seorang prajurit sandi telah diperintahkan untuk mengamati disisi lain. Mereka harus pergi ke padukuhan-padukuhan yang tidak terlalu jauh dari medan un¬¨tuk mencari keterangan jika orang-orang yang tidak mengungsi dari padukuhannya itu melihat sepasukan prajurit yang sedang bergerak. Sementara ketiga kelompok kecil itu sedang berusaha menelusuri gerak pasukan Pati, maka para prajurit dan pengawal yang berada di-perkemahan tetap bersiaga sepenuhnya untuk menghadapi segala ke¬¨mungkinan. Beberapa orang bertugas untuk berjaga-jaga pada jarak beberapa patok dari induk pasukannya, agar pasukan itu tidak dikejut¬¨kan oleh gerakan yang tiba-tiba dari pasukan lawan. Dalam pada itu, Agung Sedayu dan Glagah Putih dengan hati-hati telah mendekati perkemahan pasukan Pati. Seperti dilaporkan oleh para petugas sandi, perkemahan itu memang telah kosong. Masih ada sisa bahan pangan, tetapi tidak cukup memadai. – Agaknya mereka hampir kehabisan pangan ‚ÄĒ berkata Glagah Putih. ‚ÄĒ Itu hanya salah satu sebab ‚ÄĒ sahut Agung Sedayu ‚ÄĒ sebab lain¬¨nya adalah, kekuatan pasukan Pati itu sudah banyak susut. ‚ÄĒ Glagah Putih mengangguk-angguk. Sementara itu, keduanya ti¬¨dak menemukan sesuatu yang penting diperkemahan itu. Karena itu, maka Agung Sedayu telah mengajak Glagah Putih untuk mengikuti jejak gerak mundur pasukan Pati. Ternyada Agung Sedayu Glagah Putih tidak banyak menemui kesulitan. Disepanjang perjalanan pasukan Pati itu ternyata telah me¬¨ninggalkan jejak yang jelas. Batang-batang perdu disebelah menyebe-lah jalan yang mereka lalui berpatahan. Bekas-bekas jejak kaki dan je¬¨jak kuda, setidak-tidaknya kuda beban. Agung Sedayu dan Glagah Putih mengikuti jejak itu untuk beberapa lama. Tetapi mereka yakin, bahwa jarak mereka dengan pa¬¨sukan yang menarik diri itu tidak terlalu jauh. Pasukan yang mening¬¨galkan perkemahan itu didini hari tentu tidak dapat berjalan secepat Agung Sedayu dan Glagah Putih. Ketika matahari memanjat semakin tinggi, maka firasat Agung Sedayu serta jejak yang ditelusurinya itu mengatakan bahwa jarak me¬¨reka menjadi semakin dekat. Karena itu, maka Agung Sedayupun te-lah mengajak Glagah Putih untuk beristirahat. – Kita tidak dapat mengikuti mereka pada jarak yang terlalu de¬¨kat. Sebenarnya sampai disini kita sudah yakin, bahwa pasukan Pati benar-benar ditarik mundur. Mungkin mereka mempunyai landasan perlawanan yang memang sudah dipersiapkan jika pasukannya ter¬¨paksa harus ditarik mundur. Mungkin garis pertahanan kedua atau bahkan sampai ketiga — berkata Agung Sedayu. Glagah Putih mendengarkan keterangan kakak sepupunya itu sambil mengangguk-angguk. Tetapi ia sependapat dengan kakaknya, bahwa jarak pengamatan mereka sudah cukup jauh. sehingga mereka akan dapat mengambil kesimpulan bahwa pasukan Pati itu benar-benar telah ditarik. Tetapi jika memang benar telah dipersiapkan garis pertahanan kedua dan ketiga, maka pasukan Pati itu tentu akan segera menyusun pertahanannya. Mereka mungkin memperhitungkan bahwa pasukan Mataram akan menyusulnya. Untuk beberapa saat Agung Sedayu dan Glagah Putih itupun ber¬¨istirahat. Keduanya duduk dibawah sebarang pohon yang rindang. Namun ketiga Glagah Putih mulai mengantuk, maka Agung Se¬¨dayu berkata- Kau jangan tertidur disitu. – Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Sambil tersenyum ia berkata – jika hari ini aku harus berada di medan pertempuran, aku tentu tidak akan mengantuk. Tetapi duduk dibawah sebarang pohon yang rindang sementara angin semilir lembut, mataku rasa-rasanya menjadi sangat berat. – Sebenarnya kita memang sudah letih. Kita bertempur sepan¬¨jang hari. Sampai jauh malam kau masih sibuk mencari korban per¬¨tempuran. Pagi-pagi kita harus sudah siap untuk maju ke medan lagi. Karena itu, adalah wajar jika kau mulai mengantuk. Akupun mengantuk pula. ‚ÄĒ – Kita akan melanjutkan perjalanan. Tetapi perlahan-lahan agar jarak diantara kita dan pasukan itu tidak terlalu dekat. Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun ketika ia siap untuk bangkit, maka digamitnya Glagah Putih sambil berdesis – Kau rasa¬¨kan getar seseorang ? ‚ÄĒ – Ya – sahut Glagah Putih – tetapi tentu lebih dari seseorang. – – Dua orang – jawab Agung Sedayu. Keduanya membatalkan niatnya untuk bangkit. Keduanya kembali duduk dibawah bayangan dedaunan yang rindang. Sebenarnyalah, dua orang kemudian melangkah mendekati. Dua orang yang muncul dari balik rumput perdu yang lebat. Agung Sedayu memandang kedua orang itu dengan dahi yang berkerut. Namun kemudian iapun berdesis – Hati-hatilah, Glagah Pu¬¨tih. – ~ Siapakah mereka ? – bertanya Glagah Putih. – Entahlah – jawab Agung Sedayu – aku tidak tahu, apakah me¬¨reka mempunyai hubungan dengan pasukan Pati atau tidak. – Kedua orang itu melangkah semakin dekat. Namun kemudian merekapun berhenti beberapa langkah dihadapan Agung Sedayu dan Glagah Putih yang masih duduk ditempatnya. – Ki Sanak – salah seorang diantara kedua orang itu berdesis ‚ÄĒ siapakah kalian berdua ? Menurut pengamatan kami, jalur ini adalah jalur gerak mundur pasukan dari Pati. Apakah kalian termasuk prajurit Pati yang mengamati pasukan Mataram, jika pasukan Mataram itu me¬¨nyusul ? ‚ÄĒ Agung Sedayu menarik nafas panjang. Ia tidak akan dapat meng¬¨ingkari siapakah sebenarnya dirinya, karena ia mengenakan pakaian seorang prajurit. Pagi itu ia siap untuk turun ke medan pertempuran, sehingga ia mengenakan pakaian kebesaran seorang Lurah Prajurit Mataram. Meskipun orang itu bertanya, apakah ia prajurit Pati, tetapi Agung Sedayu yakin bahwa orang itu dapat mengenalinya sebagai prajurit Mataram. Karena itu, maka Agung Sedayupun menjawab – Ki Sanak. Kau tentu mengenali pakaianku. Karena itu, aku tidak usah menjawab per¬¨tanyaanmu itu. – Orang itu tertawa. Katanya ‚ÄĒ Baiklah. Kau benar. Aku memang mengenali pakaianmu. Kau tentu seorang prajurit Mataram. Tetapi pa¬¨kaian kawanmu itu bukan pakaian prajurit Mataram. ‚ÄĒ – Ia bukan prajurit Mataram. Tetapi ia berdiri dan berjuang bersama-sama dengan para prajurit Mataram, karena itu merasa seba¬¨gai rakyat Mataram. ~ – Bagus – orang itu mengangguk-angguk, sementara Agung Se¬¨dayu bertanya – Siapakah kalian Ki Sanak ? Dan kenapa kalian berada di daerah yang dibayangi oleh perang ? Sementara itu, kalian tidak me¬¨nunjukkan tanda-tanda bahwa kalian adalah prajurit. Atau berangkali kalian prajurit sandi dari Pati yang justru bertugas sebagaimana kau tu¬¨duhkan atas kami berdua tadi ? – Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian orang itu tertawa lagi sambil berkata ‚ÄĒ Ternyata kau menebak tepat. Kami me¬¨mang petugas sandi dari Pati. Nah, bukankah dengan demikian kita akan langsung berhadapan sebagai lawan ? ~ Agung Sedayulah yang kemudian tertawa. Katanya ‚ÄĒ Begitukah kebiasaan seorang petugas sandi. Mengaku dengan menepuk dada ke¬¨pada orang yang ditemui dipinggir jalan, dan yang bahkan jelas mema¬¨kai pakaian seragam prajurit lawannya ? – Orang itu termangu-mangu sejenak. Tetapi kemudian ia berkata dengan nada yang lebih keras – Tidak apa. Kalian tidak akan dapat memberitahukannya kepada siapapun juga. – – Kenapa ? – bertanya Agung Sedayu. – Ki Sanak ~ berkata orang itu – baiklah aku berterus terang. Aku bukan petugas sandi dan bukan apa-apa. Tetapi aku benci kepada orang-orang Mataram. Jika aku berada di bayangan garis perang, aku memang mencari orang-orang Mataram yang berkeliaran sebagai mana kalian berdua. ‚ÄĒ – Kenapa kalian membenci orang-orang Mataram ? – bertanya Agung Sedayu. – Persoalannya sangat pribadi. Tetapi ayahku pernah dihukum di Mataram. Ayahku memang bersalah, karena ayahku merampok. Te¬¨tapi hukuman yang dialami ayahku telah mengungkungnya sampai akhir hayatnya. Ayahku tidak pernah sempat keluar dari penjara, ka¬¨rena ayahku meninggal saat ia menjalani hukuman. Aku yakin bahwa ayah telah dibunuh oleh orang Mataram. ‚ÄĒ – Kau hanya berprasangka buruk ‚ÄĒ berkata Agung Sedayu. – Tidak Ki Sanak. Ayahku baru menjalani hukuman selama 1 bulan. Ketika ayahku masuk penjara, ayahku nampak sehat dan tegar, karena hal itu disadarinya sejak ia menjatuhkan pilihan atas pekerjaan yang dipilihnya. Namun tiba-tiba keluarga kami diberi tahu, bahwa ayah meninggal. Kami tidak dapat mengambil tubuhnya, karena me¬¨nurut para prajurit Mataram, tubuh ayahku telah dikubur. – – Menurut keterangan petugas, kenapa ayahmu meninggal ? -bertanya Agung Sedayu. – Ayah meninggal karena sakit demam. Dan itu sama sekali tidak masuk akal. ‚ÄĒ – Jika demikian, kenapa kau tidak mendendam kepada petugas yang menangani ayahmu selama di penjara ? – – Aku tidak tahu, siapakah orangnya. Karena itu untuk memberi kepuasan kepada diriku sendiri, aku membunuh prajurit-prajurit Mata¬¨ram. Aku pernah membunuh dua orang prajurit. Tetapi aku belum puas. Ayahku bagiku bernilai sama dengan sepuluh orang. Karena itu, maka akupun datang kemari untuk mencari petugas-petugas yang me¬¨lakukan tugasnya secara terpisah seperti kalian berdua. ~ Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian menggamit Glagah Putih sambil berkata – Bangkitlah. Ter¬¨nyata kita bertemu dengan seseorang yang hidup dibawah bayangan dendam yang tidak berkeputusan. – Namun orang itupun berkata – Sebaiknya kalian berdua mem¬¨perhatikan alam disekeliling kalian untuk yang terakhir kalinya. Lihat matahari yang menjilat laagit itu. Pepohonan yang hijau dan jejak pa¬¨sukan Pati yang nampaknya sedang kalian ikuti. Sebentar lagi kalian akan mati. Tetapi tidak dalam pertempuran dengan prajurit Pati. – – Ki Sanak – berkata Agung Sedayu – kau tentu menyadari bahwa seorang prajurit adalah seorang yang telah ditempa untuk terjun kedalarn kancah pertempuran. Jika kami hari ini ada di jalur pertem- puran itu, bukannya kami tidak mempunyai bekal. Tetapi kami sudah mendapat latihan untuk bertempur dan berkelahi. – Tetapi orang itu tertawa. Katanya ‚ÄĒ Dua orang yang pernah aku bunuh itu juga berkata demikian. Namun ternyata keduanya sama se¬¨kali tidak berarti apa-apa bagiku. – Kapan kau bunuh dua orang prajurit itu ? Semalam dalam mimpi ? ‚ÄĒ – Setan kau. Aku benar-benar telah membunuh prajurit-prajurit itu dengan tanganku. Aku tidak mempergunakan sepotong senjatapun. Sekarang, kami berdua juga akan membunuh kalian berdua dengan ta¬¨ngan kami. Tidak dengan sepotong senjatapun. He, kenapa kalian ber¬¨dua tidak membawa senjata ? ‚ÄĒ Agung Sedayu mengerutkan dahinya. Kemudian katanya – Ki Sanak. Kenapa kau tidak bergabung saja dengan Pati ? Kau akan men¬¨dapat kesempatan untuk membunuh prajurit-prajurit Mataram berapa-pun kau kehendaki dalam pertempuran. – – Buat apa aku bergabung dengan prajurit Pati. Kau lihat, bahwa piajurit Pati itu justru telah meninggalkan pertempuran. ‚ÄĒ – Jika kau akan diantara mereka, maka Pati tidak akan menarik diri. ‚ÄĒ – Persetan ‚ÄĒ geram orang itu ‚ÄĒ sekarang bersiaplah. Jika kalian berdua akan mencoba melawan, cobalah. Tetapi kawanmu yang masih sangat mudah itu terpaksa tidak akan dapat melihat alam ini lebih lama lagi- ~ – la bukan prajurit Mataram – desis Agung Sedayu. – Begiku sama saja. Ia adalah seorang anak muda yang ikut ber¬¨tempur untuk Mataram. ‚ÄĒ Agung Sedayu tidak ingin berbicara lebih lama lagi. Kedua orapg itu sudah mulai mempersiapkan diri. Seperti yang mereka katakan, keduanya memang tidak bersen-jata. Tetapi keduanya tidak melihat cambuk yang melilit dibawah baju Agung Sedayu. Demikian pula mereka tidak menganggap ikat ping¬¨gang Glagah Putih sebagai senjata. Karena itu, maka keduanya menganggap bahwa Agung Sedayu dan Glagah Putih juga tidak bersenjata. Tetapi dengan demikian, maka keduanya memang menduga bahwa Agung Sedayu dan Glagah Putih adalah dua orang prajurit yang memiliki kelebihan dari kebanyakan prajurit. Dalam pada itu, Agung Sedayu memang teringat kepada prajurit-prajurit yang lain yang mendapat tugas sebagaimana dilakukannya bersama Glagah Putih. Tetapi menurut pengertian Agung Sedayu, ke¬¨dua orang itu tentu bukan hari itu membunuh dua dua orang prajurit Mataram. Ketika kedua orang itu telah siap untuk bertempur, maka Agung Sedayu dan Glagah Putihpun telah bersiap pula Kepada Glagah Putih, Agung Sedayu itu berbisik ‚ÄĒ Berhati-hatilah. Agaknya keduanya ada¬¨lah orang-orang berilmu tinggi. Jika perlu pergunakan ikat ping¬¨gangmu meskipun lawanmu tidak bersenjata.– Glagah Putih menarik nafas panjang. Sekilas Glagah Putih itu ter¬¨ingat kepada Raden Rangga. Seorang yang memiliki ilmu tanpa dapat dijajagi seberapa kedalamannya. Raden Rangga pulalah yang telah memberikan alas pada ilmunya, sehingga ilmunya telah berada dalam tataran yang lebih tinggi. Kemampuannya menggapai sasaran tanpa menyentuhnya dan bahkan kemudian puncak ilmu yang telah diwari¬¨sinya dari Ki Jayaraga, Aji Sigar Bumi, membuat anak muda itu men¬¨jadi seorang yang berilmu sangat tinggi. Apalagi Glagah Putih diakui sebagai salah seorang diantara murid utama dalam perguruan Orang Bercambuk. Karena itulah, maka dengan mantap Glagah Putih telah mengha¬¨dapi lawannya yang sudah menginjak umur separo baya. – Kau sangat mengagumkan anak muda – berkata orang yang su¬¨dah separo baya itu ‚ÄĒ kau sama sekali tidak nampak gelisah menghadapi pertempuran yang lain dengan perang gelar. – – Apapun yang harus aku hadapi, akan aku hadapi. Meskipun aku bukan seorang prajurit, tetapi aku telah ditempa sebagai seorang praju¬¨rit pula. ‚ÄĒ – Sebenarnya sayang sekali bahwa aku harus membunuhmu. Kau masih terlalu muda. ‚ÄĒ – Justru karena itu, maka aku akan mempertahankan diri. Aku masih merasa terlalu muda untuk mati. Tetapi bukan kita yang menen¬¨tukan kematian salah seorang diantara kita. – Orang itu mengerutkan dahinya. Wajahnya nampak menjadi bersungguh-sungguh sesaat. Namun kemudian ia mengangguk sambil berkata ~ Kau benar anak muda. Karena itulah agaknya kau sama se¬¨kali tidak merasa gentar menghadapi pertempuran yang bagi seorang prajurit, tentu pertempuran yang sangat khusus. ~ ‚ÄĒ Ya ‚ÄĒ jawab Glagah Putih singkat. Orang itupun kemudian mempersiapkan diri untuk bertempur melawan anak yang masih sangat muda itu, namun yang menurut pengamatannya, memiliki bekal yang cukup mapan. Memang mung¬¨kin anak muda itu belum mengetahui tataran kemampuannya, atau jus¬¨tru belum berpengalaman bertualang di dunia olah kanuragan selain lingkungan keprajuritan serta pengalaman perang gelar, sehingga ia ti¬¨dak menyadari bahaya yang sebenarnya dihadapinya. Sementara itu, seorang yang lain, yang mendendam terhadap pra¬¨jurit Mataram karena kehilangan ayahnya yang menurut pendapatnya mati dibunuh oleh prajurit Mataram disaat ia sedang menjalani hu¬¨kuman, telah berhadapan dengan Agung Sedayu. Orang itu sudah mu¬¨lai bergeser sambil mengayunkan tangannya untuk memancing Agung Sedayu untuk segera mulai dengan pertempuran. ‚ÄĒ Marilah. Bukankah kau prajurit Mataram ? Sebelum mati tun¬¨jukkan kepadaku, kebesaran Mataram lewat kemampuan para prajurit¬¨nya ‚ÄĒ berkata orang itu. Agung Sedayu mengerutkan dahinya. Ia merasa, betapa orang itu sangat merendahkan kemampuan para prajurit Mataram. Mungkin yang pernah dilakukannya adalah membunuh dua orang prajurit Mata7 ram dengan mudahnya. Tetapi sudah tentu hal itu tidak boleh terulang kembali. Tetapi orang itu kemudian berkata – Ternyata kau berbeda de¬¨ngan kedua orang prajurit yang telah aku bunuh itu. Kau masih lebih muda. Tetapi kau nampak lebih mantap. ‚ÄĒ ‚ÄĒ Setip prajurit Mataram mempunyai landasan sikap yang sama. ‚ÄĒ jawab Agung Sedayu. Orang itu tidak berbicara berkepanjangan. Dengan kakinya ia menyerang. Namun serangan itu belum merupakan serangan yang bersungguh-sungguh. Karena itu, maka dengan melangkah kesamping serangan itu dapat dielakkan. Tetapi serangan-serangan berikutnya mulai menjadi semakin bersungguh-sungguh. Orang itu bergerak semakin cepat. Kaki dan tangannya menyerang berganti-ganti. Agung Sedayu memang berloncatan surut. Tetapi ia sama sekali tidak mengalami kesulitan menghindari serangan serangan yang mes¬¨kipun menjadi semakin cepat itu. Namun Agung Sedayupun kemudian telah mulai membalas de¬¨ngan serangan-serangan pula. Pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin bersungguh-sungguh. Serangan-serangan lawannya menjadi semakin berbahaya. Sasarannya mulai mengarah ke tempat tempat yang berba¬¨haya ditubuh Agung Sedayu. Tetapi Agung Sedayupun segera menyesuaikan dirinya. Iapun bergerak lebih cepat. Ia sadar, bahwa lawannya memang seorang yang berilmu tinggi, yang benar-benar mempersiapkan dirinya untuk bertu¬¨lang melakukan balas dendam. Bukannya tidak mungkin bahwa orang itu telah bertahan-tahan menempa diri, menekuni ilmu untuk menda¬¨pat kepuasan dengan melepaskan dendamnya atas kematian ayahnya itu. Dengan demikian maka Agung Sedayupun telah bertempur de¬¨ngan sangat berhati-hati. Sementara itu, semakin lama, lawannya itu memang menjadi se¬¨makin garang. Serangan-serangannya menjadi semakin cepat dan bertenaga. Ayunan tangannya lelah menimbulkan desir angin yang se¬¨makin lama terasa semakin kuat. Namun dalam pada itu, lawan Agung Sedayu itupun semakin meyakini bahwa lawannya yang masih terhitung muda itu memang memiliki bekal yang tinggi. Ketika ia membunuh dua orang prajurit sebelumnya., rasa-rasanya ia tidak perlu mengerahkan terlalu banyak tenaga dan kemampuannya. Namun menghadapi prajurit yang masih terhitung muda ini, ia harus meningkatkan kemampuannya lebih tinggi lagi. Bahkan ketika terjadi benturan-benturan kekuatan, maka orang itu merasakan bahwa lawannya itu memiliki kekuatan yang sangat besar – Kemampuannya jauh berada diatas rata-rata prajurit Mataram – berkata orang itu didalam hatinya. Dengan demikian, maka orang itupun semakin meningkatkan ke¬¨mampuannya pula. Namun ia masih sempat bertanya – Ki Sanak. Aku kagum akan kemampuanmu yang melampaui para prajurit yang lain. Aku justru merasa senang bertempur melawanmu, karena aku seakan-akan mendapat kawan bermain yang baik. Tetapi sebelum kau mati aku ingin memperingatkan, semakin banyak keringatku mengalir, maka nasibmu akan menjadi semakin buruk. ‚ÄĒ – Adakah yang lebih buruk dari kematian ? – bertanya Agung Sedayu. – Aku tahu. Kematian bagi seorang prajurit bukanlah sesuatu yang menakutkan. Tetapi bahwa kematian yang terlalu lambat datang¬¨nya sementara prajurit itu sendiri tidak berkemampuan untuk meno¬¨laknya adalah keadaan yang sangat dibencinya. ‚ÄĒ – Tetapi bagiku, yang paling aku benci adalah orang yang ber usaha memperlakukan orang lain seperti yang kau katakan itu. ‚ÄĒ sahut Agung Sedayu. Orang itu menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak berbicara lagi. Dengan loncatan panjang ia telah menyerang Agung Sedayu. Agung Sedayu melenting kesamping, sehingga serangan itu tidak menyentuhnya. Namun demikian kakinya menyentuh tanah, maka tu¬¨buh Agung Sedayu itupun berputar dengan derasnya. Kakinya terayun mengarah ke kening lawannya. Orang itu terkejut. Ia tidak menyangka, bahwa secepat itu Agung Sedayu membalas serangannya. Meskipun demikian, orang itu masih sempat menghindar dengan menjatuhkan dirinya. Dua kali berguling. Kemudian melenting berdiri. Tetapi Agung tidak membiarkannya. Demikian orang itu berdiri. Agung Sedayu telah meloncat dengan cepat sambil menjulurkan kaki nya menyamping. Serangan itu datang demikian cepatnya, sehingga orang itu tidak sempat menghindar. Meskipun demikian, orang itu berusaha untuk menangkis serangan Agung Sedayu itu dengan tangannya. Ditebasnya kaki yang terulur itu menyamping. Tetapi serangan itu datang demikian kuatnya, sehingga benturan yang keraspun telah terjadi. Meskipun serangan Agung Sedayu tidak mengenai sasarannya. Namun demikian, benturan itu telah mengguncang keseimbangan la¬¨wannya. Sekali lagi orang itu harus berguling beberapa kali. Baru kemu¬¨dian ia meloncat bangkit berdiri dengan hati-hati Tetapi demikian ia tegak, maka iapun siap untuk melawan setiap serangan. Orang itu memang berhasil mengambil jarak sehingga Agung Se¬¨dayu tidak menyerangnya pada saat ia tegak. Meskipun demikian, maka lawannya itu menyadari, bahwa prajurit Mataram yang masih terhitung muda itu. bukan prajurit yang pernah dibunuhnya. Prajurit yang dihadapinya itu adalah prajurit yang memiliki ilmu yang tinggi. Orang itu menggeram. Ia sudah menempa dirinya beberapa tahun untuk mematangkan rencananya membalas dendam, la baru puas jika ia sudah berhasil membunuh sedikimya sepuluh orang prajurit. Tetapi ketika ia menghadapi prajurit yang ketiga, ia telah men¬¨jumpai prajurit yang berilmu tinggi. Orang itu sekali-sekali sempat melihat apa yang terjadi dengan kawannya. Ia menyangka bahwa kawannya itu akan dengan cepat da¬¨pat menyelesaikan anak yang masih terlalu muda, yang telah melibat¬¨kan diri dalam perang antara Mataram dan Pati itu. Tetapi orang itu merasa heran kawannya itu justru mulai terde¬¨sak. – Apakah yang sebenarnya telah terjadi ? – orang itu bertanya kepada diri sendiri. Sebenarnyalah bahwa Glagah Putih mulai mendesak lawannya yang sudah separo baya itu. Dengan kecepatan yang tinggi, Glagah Pu¬¨tih telah mampu memotong serangan-serangan lawannya yang keras dan garang. Lawannya yang memiliki pengalaman yang luas itu menjadi ma¬¨rah. Setiap kali ia menyerang, maka lawannya yang muda itu sempat mendahuluinya. – Aku kagumi kemampuanmu yang tinggi anak muda, tetapi ka¬¨rena itu pula, maka aku ingin membunuhmu lebih cepat. – geram orang itu. Tetapi Glagah Putih menyahut – sebenarnya aku ingin mengam¬¨punimu. Tetapi karena kau masih mengigau untuk membunuh, maka aku akan dapat berubah pikiran. ‚ÄĒ – Persetan – geram lawan Glagah Putih – ternyata kau anak yang tidak mempunyai unggah-ungguh. Kau kira aku kawan bermainmu ? Anak-anak sebayamu, sehingga kau berani mengancamku seperti itu ? Tetapi Glagah Putih justru tertawa. Katanya – Jangan merajuk Ki Sanak. Meskipun kita tidak sebaya, tetapi kita sudah terlibat dalam permainan bersama. Karena itu, maka kita telah berdiri pada tataran yang sama. – Orang itu tidak menjawab. Tetapi serangan-serangannyapun te¬¨lah datang membadai. Bahkan Glagah Putih merasakan, betapa kema¬¨rahan telah membakar jantung lawannya itu, sehingga ilmunya telah meningkat menjadi semakin tinggi. Dengan tenaga dalamnya, maka orang itu telah mengangkat ke¬¨kuatan tenaganya semakin besar. Ia mampu bergerak semakin cepat, sehingga serangan-serangannyapun menjadi semakin berbahaya. Tangannya bergerak dengan cepat menyerang dengan serangan berun¬¨tun. Sepasang tangannya itu seakan-akan telah tumbuh dan berkem¬¨bang menjadi beberapa pasang. Meskipun demikian Glagah Putih tidak menjadi gentar. Anak muda itupun telah meningkatkan kemampuannya pula. Glagah Putih mulai meningkatkan tenaga dalamnya, sehingga benturan-benturan yang terjadi menjadi semakin keras. Benturan yang membuat kedua¬¨nya tergetar surut. Glagah Putih terkejut ketika ia merasa sambaran angin yang tim¬¨bul dari ayunan gerak tangan lawannya terasa pedih di kulitnya, se¬¨hingga beberapa kali Glagah Putih harus mengambil jarak. Namun dengan demikian, Glagah Putih semakin menyadari, bahwa lawannya telah merambah memasuki tataran ilmu puncaknya. Karena itu, maka Glagah Putihpun menjadi semakin berhati-hati. Agaknya orang itu memang menyimpan ilmu yang dapat diandalkan sehingga karena itu, maka ia tidak membawa senjata apapun selama berpetualangan bersama kawannya yang mendendam itu. Dengan demikian, maka Glagah Putihpun telah semakin mening¬¨katkan ilmunya pula dari tataran ke tataran. Sehingga karena itu, maka kecepatan geraknyapun menjadi semakin bertambah-tambah. Untuk mengimbangi sambaran angin yang terasa pedih itu, Glagah Putih mampu meloncat dan melenting dengan kecepatan yang sangat tinggi. Lawan Glagah Putih itu mulai menjadi gelisah. Rasa-rasanya ia sedang bertempur melawan anak iblis yang memiliki ilmu yang sulit dijajakinya. Ketika orang itu meningkatkan ilmunya semakin tinggi, maka Glagah Putihpun telah melakukannya pula. Serangannya menjadi se¬¨makin cepat dan semakin rumit. Dengan demikian, maka kedua orang itu telah mulai bertempur dengan landasan ilmu pada tataran yang tinggi. Agung Sedayupun sudah terlibat dalam pertempuran yang sengit pula. Lawannya yang tidak bersenjata itu memang mengandalkan il¬¨munya yang sangat tinggi. Orang itu memang menjadi sangat marah ketika Agung Sedayu masih saja mampu mengimbangi ilmunya yang sudah menjadi sema¬¨kin meningkat. Karena itu, maka orang itupun tidak ingin bertempur berlama-lama. Iapun harus segara membunuh prajurit itu sebagai prajurit ke¬¨tiga. Jika anak yang masih terjadi muda itu kemudian juga mati, ia adalah korbannya yang keempat meskipun dilakukan dengan memin¬¨jam tangan kawannya yang sudah menyatakan diri untuk membantu¬¨nya sepenuhnya. Namun ternyata tidak mudah bagi orang itu untuk membunuh Agung Sedayu. Meskipun ia sudah meningkatkan ilmunya semakin tinggi namun lawannya yang masih terhitung muda itu, masih juga mampu mengimbanginya. Karena itu, maka orang itu tidak mau lagi menyia-nyiakan waktu. Meskipun ia sudah meningkatkan ilmunya semakin tinggi namun la¬¨wannya yang masih terhitung muda itu, masih juga mampu mengim¬¨banginya. Karena itu, maka orang itu tidak mau lagi menyia-nyiakan waktu. Justru karena lawannya yang masih saja mengimbangi ilmunya, maka orang itupun segera merambah ketataran ilmunya yang tertingi. Dengan nada berat orang itu menggeram – Kau ternyata mampu memancing ilmu pamungkasku. Ketika aku membunuh dua orang pra¬¨jurit Mataram, maka aku sama sekali tidak menitikkan keringat sete-tespun. Namun kini aku ternyata sempat bertahan untuk beberapa lama sehingga kau telah membuat darahku menjadi mendidih. ‚ÄĒ – Ki Sanak. Kau masih mempunyai kesempatan untuk berpikir. Dendam bukan satu penyelesaian yang baik. Jika kau merasa bahwa yang pernah terjadi atas ayahmu itu tidak adil, maka kau dapat minta keadilan. ‚ÄĒ – Omong kosong – jawab orang itu ‚ÄĒ seandainya aku menyam¬¨paikan sebab kematian ayahku yang tidak sewajarnya itu kepada para Senapati atau kepada siapapun juga, maka justru nasibkulah yang akan menjadi semakin buruk. ~ – Jika kau sudah kehilangan kepercayaan kepada Senapati, maka kau masih mempunyai satu kesempatan. ‚ÄĒ – Apa ? ‚ÄĒ bertanya orang itu. – Pepe di depan paseban. – jawab Agung Sedayu. Tetapi orang itu tertawa berkepanjangan. Kalanya – Hanya cucurut-cucurut yang penakut dan tidak mempunyai harga diri sajalah yang ingin menyelesaikan persoalan dengan pepe di alun-alun. Kau kira akan ada hasilnya ? Jika aku pepe di alun-alun, maka aku hanya akan menjadi tontonan orang, sementara keadilan yang aku harapkan tidak akan pernah aku dapatkan. ‚ÄĒ – Kau belum pernah mencobanya. Yang kau katakan itu adalah kebenaran-kebenaran yang terjadi didalam angan-anganmu saja. Se¬¨mentara angan-anganmu sudah dilandasi dengan prasangka-prasangka buruk. Dan prasangka buruk itu tubuh dari endapan jiwamu yang kotor. ‚ÄĒ ‚ÄĒ Setan kau. Aku ingin mengoyakkan mulutmu. ‚ÄĒ geram orang itu dengan marahnya. — Jika hal itu ingin kau lakukan, kau tidak usah mengatakannya lebih dahulu, karena kita memang sudah terlibat dalam pertempuran. ‚ÄĒ sahut Agung Sedayu. Orang itu menggeretakkan giginya. Kemarahannya sudah tidak terbendung lagi. Karena itu, maka sejenak kemudian, orang itupun le¬¨lah menghentakkan tangannya mendatar. Agung Sedayu terkejut. Hanya karena daya tahannya yang sangat tinggi, meskipun ia belum mengetrapkan ilmu kebalnya, maka Agung Sedayu tidak menjadi pingsan karenanya. Namun serangan yang tidak menyentuhnya secara wadag itu telah melemparkan Agung Sedayu beberapa langkah surut, sehingga Agung Sedayu telah kehilangan ke¬¨seimbangannya. Agung Sedayu memang terhuyung-huyung dan kemudian terja¬¨tuh. Agung Sedayu justru berguling beberapa kali. Baru kemudian ia melenting untuk tegak berdiri. Tetapi Agung Sedayu lelah memper¬¨siapkan dirinya sebaik-baiknya. Dalam waktu sekejap Agung Sedayu telah mengetrapkan ilmu kebalnya, la menyadari sepenuhnya, bahwa lawannya adalah seorang yang memang berilmu sangat tinggi. Orang itu mengerutkan dahinya. Ia tidak menyangka bahwa Agung Sedayu masih sempat bangkit. Ternyata prajurit Mataram yang terhitung muda itu, mampu mengatasi serangan ilmunya yang dibangga-banggakan. ‚ÄĒ Tulang-tulang iganya tidak berpatahan – garam orang itu. Sementara itu, Agung Sedayu sudah berdiri tegak. Serangan yang menghantam dadanya sebelum ia mengetrapkan ilmu kebalnya itu me¬¨mang terasa sakit. Tetapi daya tahannya yang tinggi telah menyela¬¨matkannya. Setelah Agung Sedayu mengetrapkan ilmu kebalnya, maka ia berharap bahwa ilmunya itu akan semakin rapat melindunginya, se¬¨hingga ilmu lawannya itu tidak akan menghancurkannya. Meskipun demikian, Agung Sedayu harus tetap berhati-hati. Ia masih harus memperhitungkan kemungkinan ilmu lawannya sangat tinggi sehingga mampu mengguncang bahkan mengoyak ilmu kebal¬¨nya, sehingga akibatnya sangat buruk bagi dirinya. Ketika orang itu melihat Agung Sedayu yang bangkit dan siap un¬¨tuk melanjutkan pertempuran, maka ia sadar sepenuhnya, bahwa ia benar-benar berhadapan dengan seorang prajurit yang berilmu tinggi, melampaui ilmu kebanyakan prajurit. Dengan demikian, maka orang itupun kemudian telah menghentakkan segenap kemampuannya. Ia tidak mau kehilangan ke¬¨sempatan terakhir untuk menyelesaikan lawannya itu. Dengan ilmu puncaknya, maka orang itupun telah menyerang Agung Sedayu. Serangan-serangan yang sangat berbahaya. Jangkauan ilmu orang itu ternyata melampaui jangkauan kewadagannya. Meski¬¨pun tangan atau kakinya atau anggota badannya yang lain belum me¬¨nyentuh tubuh lawannya, namun ilmu orang itu telah mengenai dan menghantam sasarannya. Tetapi Agung Sedayupun dengan cepat mengenali rahasia ilmu lawannya, sehingga karena itu, maka iapun dengan cepat telah me¬¨nempatkan dirinya diluar garis serangan lawannya itu. Jika sekali-sekali ia terlambat, maka ilmu kebalnya telah melindunginya, se¬¨hingga serangan-serangan itu tidak menyakitinya. Perlawanan Agung Sedayu itu telah membuat lawannya mulai menjadi gelisah. Serangan-serangan ilmu yang dibanggakannya itu seakan-akan tidak banyak berarti bagi prajurit yang terhitung masih muda itu. Meskipun orang itu meningkatkan ilmunya sampai kepuncak ke mampuannya, namun Agung Sedayu masih saja dengan tegar meng¬¨hadapinya. Di lingkaran pertempuran yang lain, lawan Glagah Putihpun semakin meninggalkan ilmunya pula. Sambaran angin dari ayunan se¬¨rangannya, memang menjadi semakin tajam. Bahkan kemudian terasa seperti ujung-ujung duri yang menusuk-nusuk kulitnya. Dengan demikian, maka Glagah Putihpun harus lebih cepat ber¬¨gerak menghindari serangan-serangan lawannya. Ia tidak saja harus menghindari serangan itu sendiri, tetapi juga harus menghindari sam¬¨baran angin yang menyertai setiap ayunan serangannya. Namun orang itu semakin lama justru bergerak lebih cepat pula, sehingga Glagah Putih kadang-kadang terlambat menghindar, se¬¨hingga kulitnya terasa sangat nyeri dan pedih. Glagah Putihpun kemudian harus menentukan sikap pula meng¬¨hadapi lawannya itu. Dengan meningkatkan kemampuan maka sekali-sekali Glagah Putih dengan sengaja telah memasuki batas sentuhan sambaran angin yang menyakitinya itu. Dengan meningkatkan daya tahannya, Glagah Putih sengaja tidak menghindar, tetapi justru mem¬¨bentur serangan lawannya. Setiap kali terjadi benturan, lawannya selalu terkejut. Tenaga anak yang masih terlalu muda itu ternyata melampaui batas kekuatan tenaganya, sehingga beberapa kali orang itu harus terdesak surut. Mes¬¨kipun Glagah Putih selalu berhasil mendorong lawannya beberapa langkah surut. Akhirnya lawan Glagah Putih itu tidak sabar lagi. Ia telah meng¬¨hentakkan segala kemampuan dan ilmu yang ada padanya. Bukan se¬¨kedar sambaran udara yang menimbulkan perasaan pedih serta bagai¬¨kan ditusuk-tusuk dengan ujung duri, tetapi getar udara yang umbul oleh ayunan serangan lawannya itu telah memancarkan getaran panas. Glagah Putih memang terdesak surut Tetapi sentuhan udara pa¬¨nas itu telah membuat jantungnya menjadi panas pula. Dengan demikian, maka Glagah Putih yang terdesak itu semakin meningkatkan kemampuan ilmunya pula. Meskipun Glagah Putih ma¬¨sih belum mengetrapkan ilmu puncaknya, Aji Sigar Bumi, namun Gla¬¨gah Putih telah mengetrapkan kemampuannya berdasarkan landasan ilmu yang mengalir dari Ki Sadewa lewat Agung Sedayu yang telah berkembang didalam dirinya. Maka pertempuran itu menjadi semakin sengit. Sekali-sekali Glagah Putih memang harus menahan sakit jika sentuhan getar udara panas yang timbul dari hentakkan ilmu lawannya menyentuh tubuh¬¨nya melampaui batas daya tahannya. Namun serangan Glagah Putih yang cepat dan dorongan kekuatan ilmunya itu, setiap kali telah mem¬¨bentur tubuh lawannya. Serangan-serangan Glagah Putih yang me¬¨nembus pertahanannya dan mengenai tubuhnya itu mulai menyakiti¬¨nya pula. Glagah Putih yang melihat keadaan lawannya memang tidak meningkatkan ilmunya lebih tinggi lagi. Ia tidak pula mengetrapkan kemampuan puncaknya sebagai murid utama orang Barcambuk. Na¬¨mun perlahan-lahan ia merasa akan berhasil menguasai lawannya yang sudah separo baya itu. Lawan Glagah Putih memang menjadi semakin gelisah. Lawan¬¨nya yang masih sangat muda itu ternyata memiliki ilmu yang tinggi. Bahkan orang itu yakin, bahwa ilmu anak muda itu masih dapat diting¬¨katkan. Dalam pada itu, maka lawan Agung Sedayu itupun semakin mengalami kesulitan. Tetapi ia masih bertekat untuk mengalahkan prajurit yang masih terhitung muda itu. Ketika kemudian ia meningkatkan ilmunya, maka tidak saja serangan-serangannya yang menjadi semakin garang dan melampaui kecepatan gerak wadagnya, namun jarak jangkau serangan-serangannya itupun menjadi semakin jauh. Serangan-serangan itu memang mulai membuat Agung Sedayu menjadi sibuk. Bahkan kemudian hentakkan hentakan ilmu lawannya itu mulai mengguncang ilmu kebalnya, meskipun masih belum mampu menembusnya. Ketika kemudian Agung Sedayu menekannya lebih kuat, maka orang itupun menjadi semakin terdesak. Tanpa menghiraukan serangan-serangannya. Agung Sedayu itu justru menjadi semakin ga¬¨rang. Agung Sedayu yang semakin mendesak lawannya itupun kemudian masih berusaha memperingatkannya. Katanya ‚ÄĒ Ki Sanak. Masih ada kesempatan. Meskipun kau mengaku sudah membunuh dua orang prajurit Mataram, namun aku masih belum memutuskan untuk membunuhmu sekarang. Jika kau menyerah, maka aku akan memba¬¨wamu menghadap Senapati Mataram yang bertugas menghadapi pra¬¨jurit Pati yang menarik diri. ‚ÄĒ – Persetan dengan igauanmu – geram orang itu ‚ÄĒ aku akan mem¬¨bunuhmu. ‚ÄĒ – Kedudukanmu akan menjadi semakin sulit. Selagi aku belum berubah pendirian, menyerahlah. – berkata Agung Sedayu kemudian. Tetapi orang itu sama sekali tidak menghiraukannya. Ia justru menyerang Agung Sedayu semakin sengit. Agung Sedayu yang telah memberinya kesempatan untuk meng¬¨hentikan perlawanan namun tidak dihiraukannya itu, tidak dapat ber¬¨buat lain keculai memaksa lawannya sehingga lawannya itu sama se¬¨kali tidak mampu melawannya lagi. Karena itulah, maka Agung Sedayupun telah meningkatkan ke¬¨mampuannya lebih tinggi lagi. Perlawanan orang itu menjadi semakin sia-sia. Kemampuan il¬¨munya yang dianggapnya tidak terlawan oleh para prajurit Mataram itu ternyata tidak berdaya dihadapan prajurit Mataram yang satu itu. Bahkan semakin lama serangan-serangan lawannya yang masih terhi¬¨tung muda itu semakin banyak mengenai tubuhnya. Agung Sedayu yang mengetrapkan ilmu kebalnya itu dapat me¬¨nyusup menembus pertahanan lawannya semakin sering, sedangkan serangan lawannya yang mampu menghentak mendahului sentuhan wadagnya itu, tidak mampu mengoyak pertahanannya, meskipun sekali-sekali terasa dapat mengguncangnya. Namun akhirnya orang itupun harus mengakui kenyataan yang dihadapinya. Beberapa kali orang itu terdorong surut. Bahkan keseim¬¨bangannya, namun semakin lama semakin menyakitinya. Bahkan meskipun orang itu berhasil menangkis serangan Agung Sedayu, na¬¨mun benturan yang terjadi kadang-kadang telah melemparkannya se¬¨mentara tulang-tulangnya menjadi nyeri. Orang itu tidak mempunyai harapan lagi untuk mampu mengim¬¨bangi lawannya itu. Ketika kaki Agung Sedayu mengenai lehernya tepat dibawah telinganya, maka orang itu telah terlempar beberapa langkah dan jatuh terguling. Namun orang itu dengan cepat melenting terdiri. Dengan tang¬¨kasnya ia meloncat menjulurkan tangannya menyerang kearah dada Agung Sedayu yang justru sedang bergerak memburunya. Meskipun tangan orang itu tidak sampai menjangkau tubuh Agung Sedayu, namun serangannya itu telah mendahului ujud wadag¬¨nya dan menghantam dada Agung Sedayu. Agung Sedayu terkejut. Ia memang tertahan, dan bahkan terdorong setapak surut. Namun ilmu kebalnya dan semakin ditingkatkan, telah melindunginya, sehingga Agung Sedayu tidak merasa sakit sama sekali. Bahkan dengan cepat Agung Sedayu meloncat dengan tangan terjulur lurus mematuk dada. Orang itu berusaha untuk mengelak, namun Agung Sedayu me¬¨nahan serangannya. Tangannya berputar menebas mendatar. Punggung telapak tangan Agung Sedayu ternyata telah menyam¬¨bar keningnya lawannya. Demikian kerasnya, sehingga lawannya itu terdorong kesamping dan bahkan kehilangan keseimbangannya. Demikian orang itu terjatuh, maka iapun segera berguling meng¬¨ambil jarak. Baru beberapa putaran kemudian, orang itu meloncat dan bangkit berdiri. Meskipun ia berhasil tegak pada kedua kakinya, namun terasa ke¬¨palanya menjadi sangat pening. Ketika Agung Sedayu melangkah maju setapak demi setapak, maka orang itupun menjadi sangat gelisah. Bagi lawan Agung Sedayu itu memang tidak ada lagi harapan un¬¨tuk dapat tetap bertahan. Karena itu, maka satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri adalah menghindar dari pertempuran. Orang itu akan mencari kesempatan lain. Tidak semua prajurit Mataram memiliki kemampuan sebagaimana lawannya yang masih terhitung muda itu. – Aku akan membunuh tidak hanya sepuluh orang – katanya di¬¨dalam hati – kekalahan hari ini harus ditebus dengan paling sedikit lima orang, sehingga aku harus membunuh seluruhnya limabelas orang. – Dengan keputusannya itu, maka lawan Agung Sedayu itupun se¬¨gera mencari kesempatan. Ia sama sekali tidak menghiraukan kawan¬¨nya lagi. Ketika ia sempat menahan serangan Agung Sedayu dengan serangannya yang kadang-kadang masih mengejutkan itu, maka iapun segera meloncat dan berlari seperti anak panah yang lepas dari busur¬¨nya. Agung Sedayu terkejut melihat kecepatan lari lawannya. Ia me¬¨mang sudah mengira bahwa lawannya akan melarikan diri. Namun ia tidak mengira bahwa lawannya itu seakan-akan mampu terbang sece¬¨pat burung alap-alap. Agung Sedayu memang mencoba mengejarnya denga mengerah¬¨kan tenaga dalamnya. Tetapi ia tidak mau kehilangan buruannya yang berlari sangat cepat itu. Sementara itu Agung Sedayu menyadari, bahwa lawannya yang membawa dendam itu adalah orang yang sangat berbahaya bagi praju¬¨rit Mataram, apalagi prajurit Mataram yang tidak memiliki bekal ilmu yang khusus. Agung Sedayu tidak mempunyai banyak kesempatan untuk membuat pertimbangan-pertimbangan, karena orang itu berlari me¬¨nuju ke semak-semak dan belukar. Yang terbayang di angan-angannya adalah pembunuhan-pembunuhan yang dapat dilakukan lagi oleh orang itu dikemudian, hari. Beberapa orang prajurit Mataram terancam untuk dijadikan korban dendamnya yang membara dijantungnya. Karena itu, maka yang tersirat dihati Agung Sedayu hanyalah usaha untuk menghentikan pembunuhan-pembunuhan atas orang-orang yang tidak bersalah. Dengan demikian, maka sejenak kemudian Agung Sedayu yang merasa sulit untuk dapat menangkap orang yang dikejarnya itu, karena yang dapat dilakukan hanya sekedar menjaga jarak, telah memasuki tingkat ilmu pamungkasnya. Agar tidak kehilangan lawannya yang sa¬¨ngat berbahaya itu, maka Agung Sedayu justru menghentikan lang¬¨kah. Namun demikian itu berdiri tegak, maka tiba-tiba dari matanya te¬¨lah memancar getaran ilmunya meluncur menyusul lawannya yang berlari sangat cepat itu. Yang terdengar kemudian adalah lengking yang tinggi. Orang itu bagaikan terdorong dan terlempar beberapa langkah maju. Namun ke¬¨mudian orang itu terjerembab dari sekali menggeliat, namun kemudian tubuh itu terdiam. Masih terdengar orang dan teriakan nafas. Namun kemudian nafas itupun terputus. Agung Sedayupun kemudian berlari menyusul. Dengan jantung yang berdebaran Agung Sedayu kemudian berjongkok disisi tubuh yang sudah tidak bernafas lagi itu. Agung Sedayu meraba tubuh itu. Masih terasa kehangatan meng¬¨alir diurat-urat darahnya. Namun kemudian telah terhenti sebagai¬¨mana jantungnya berhenti pula berdenyut. Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam, la sama sekali tidak bernafsu untuk membunuh. Yang terpikir olehnya adalah menghenti¬¨kan pembunuhan-pembunuhan yang masih akan dilakukan orang itu. Dalam pada itu, Glagah Putih masih bertempur dengan sengit¬¨nya. Namun semakin lama lawannya semakin kehilangan kesempatan. Sementara itu Glagah Putih masih belum sampai pada puncak kemam¬¨puannya. Ketika lawan Glagah Putih itu melihat kawannya yang justru mengajaknya melakukan petualangan itu berlari meninggalkan per¬¨tempuran tanpa menghiraukan dirinya, maka ia menjadi sangat ke¬¨cewa. Karena itu, maka ia merasa tidak ada artinya bertempur lebih lama lagi. Apalagi ia tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa la¬¨wannya yang masih sangat muda itu memiliki ilmu yang tidak dapat diimbanginya. Dengan demikian, ketika ia menjadi semakin terdesak, maka orang itupun segera berloncatan mengambil jarak sambil berkata ham¬¨pir berteriak ‚ÄĒ Tunggu, tunggu. – Glagah Putih masih meloncat memburunya. Tetapi orang itupun kemudian menjulurkan tangannya kedepan menghadap Glagah Putih ‚ÄĒ Tunggu anak muda. ‚ÄĒ Glagah Putih memang mengekang dirinya. Ia mengamati sikap lawannya dengan hati hati, karena sikap demikian itu dapat saja me¬¨nyesalkannya. Tiba-tiba dari telapak tangannya yang terbuka dan menghadapnya itu akan dapat meluncur serangan yang berbahaya. Namun Glagah Putih tidak melihat tanda-tanda bahwa lawannya akar, menyerang. Bahkan kemudian kedua tangannya itupun seakan-akan terkulai disisi tubuhnya. – Kenapa ? – bertanya Glagah Putih. – Aku menyerah – berkata orang itu. – Karena kawanmu sudah melarikan diri dari medan ? – bertanya Glagah Putih pula. ‚ÄĒ Tidak – jawab orang itu ‚ÄĒ aku memang akan menyerah. – ‚ÄĒ Bohong ‚ÄĒ gerang. Glagah Putih ‚ÄĒ kau sama sekali tidak berniat menyerah. Tetapi karena kau sudah tidak mempunyai kesempatan lagi, maka kau baru menyatakan diri menyerah. ‚ÄĒ ‚ÄĒ Aku memang akan menyerah ‚ÄĒ orang itu mulai menjadi geli¬¨sah. ‚ÄĒ Sudah terlambat ‚ÄĒ jawab Glagah Putih. Wajah orang itu menjadi sangat tegang dan bahkan pucat Dengan ragu-ragu iapun bertanya ‚ÄĒ Kenapa terlambat ? – Glagah Putih melihat wajah yang pucat itu. Keringatnya yang memang sudah membasahi pakaiannya menjadi seakan-akan diperas dari tubuhnya. Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian ~ Baiklah. Jika kau menyerah, maka kau akan menjadi tawananku. Kau akan kami bawa ke induk pasukan kami. ‚ÄĒ Orang itu memang menjadi ragu-ragu. tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain. Jika ia meneruskan perlawanan, maka ia tidak akan dapat berbuat banyak. Demikianlah, maka Glagah Putih telah membawa orang itu men¬¨dekati Agung Sedayu yang kemudian telah bangkit berdiri disebelah tubuh yang terbujur diam itu. Kepada orang yang menyerah itu, Agung Sedayu berkata ‚ÄĒ Aku tidak mempunyai pilihan lain. Ia berlari terlalu cepat, sehingga sulit bagiku untuk dapat menangkapnya. Karena itu aku terpaksa menghentikannya. ‚ÄĒ Orang yang dikalahkan orang Glagah Putih itupun kemudian ber¬¨jongkok disisi tubuh kawannya. Sambil mengusap dahinya, ia berkata – Nasibmu memang buruk. Tetapi kau telah mengambil jalan yang se¬¨sat. ‚ÄĒ ‚ÄĒ Kenapa kau juga melakukannya ? – tiba-tiba Glagah Putih ber¬¨tanya. ‚ÄĒ Aku memang sahabatnya, apalagi ia pernah menolongku, sehingga aku merasa berhutang budi kepadanya. Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya – Jadi seseorang yang telah berhutang budi itu harus melaku¬¨kan apa saja untuk membalas budi ? ‚ÄĒ – Bukankah seekor binatang saja tahu membalas budi ? ‚ÄĒ orang itu justru bertanya. – Jika kau benar ingin membalas budi, bukan seperti yang kau la¬¨kukan sekarang ini. Seharusnya kau justru mencegahnya, agar orang itu tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak sebaiknya dilaku¬¨kan. Dengan demikian, kau akan mencegah orang itu terjerumus keda-lam satu perbuatan yang menjeratnya kedalam kesulitan, dan bahkan kematian. ‚ÄĒ berkata Agung Sedayu. – Penalaranku tidak dapat menjangkau pengertian sejauh itu. Aku hanya tahu, bahwa aku harus membalas budi. Itu saja – – Balas budi itu kau lakukan dengan membabi buta. – berkata Agung Sedayu. Orang itu menundukkan kepalanya. Namun kemudian katanya -Ya. Aku memang terlalu bodoh. – – Sekarang, sebelum aku membawamu ke induk pasukanku, maka kita harus mengubur tubuh kawanmu itu. ~ Orang itu mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian bertanya ‚ÄĒ Tetapi dengan apa kita akan menggali lubang kuburnya. ? ‚ÄĒ Agung Sedayu dan Glagah Putih memang menjadi bingung. Me¬¨reka tidak mempunyai alat apapun yang dapat mereka pergunakan un¬¨tuk menggali tanah yang bercampur padas. Selagi mereka masih termangu-mangu, maka orang yang dikalahkan Glagah Putih itupun berkata – Jika kita tidak dapat meng¬¨gali lubang, maka sebaiknya kita tutup saja tubuh itu dengan bebatuan agar tidak dikoyak-koyak oleh binatang buas atau binatang malam yang lain. ‚ÄĒ Mereka memang tidak dapat berbuat lain. Karena itu, maka me¬¨reka bertigapun kemudian telah mengumpulkan bebatuan disekitar tempat itu yang untungnya terdapat banyak berserakan dimana-mana. Ternyata kemudian Agung Sedayu dan Glagah Putih masih ber¬¨jalan beberapa ratus patok maju. Namun kemudian mereka tidak men¬¨dapatkan tanda-tanda yang mencurigakan, sehingga iapun berkesim¬¨pulan bahwa pasukan Pati memang benar-benar telah ditarik. Sebenarnyalah bahwa Pasukan Pati memang sudah ditarik. Bah¬¨kan tidak hanya sekedar ditarik mundur. Tetapi pasukan itu ternyata telah ditarik untuk memperkuat pasukan Pati yang akan berkemah di-sebelah Timur Kali Dengkeng, sementara pasukan Mataram memba¬¨ngun perkemahan di Prambanan, sebelah Barat Kali Dengkeng. Ketika Agung Sedayu dan Glagah Putih sampai keperkemahan, ampat orang prajurit yang lain, yang juga bertugas untuk mengamati keadaan telah kembali pula. Merekapun melaporkan, bahwa mereka tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Menurut pendapat mereka, maka pasukan Pati itu tentu sudah ditarik dari medan. Namun beberapa orang petugas sandi mempunyai tugas yang le¬¨bih jauh dari tugas yang dibebankan kepada Agung Sedayu dan bebe¬¨rapa orang prajurit yang lain. Mereka ditugaskan untuk mengamati dan menelusuri pasukan Pati itu. Mereka harus memberikan laporan, kemana dan dimana pasukan Pati itu kemudian. Ki Tumenggung Wirayuda masih belum dengan tergesa-gesa menarik mundur pasukannya. Pasukan Mataram itu masih tetap ber¬¨ada di perkemahannya. Mungkin masih akan terjadi sesuatu, sampai mereka menerima laporan yang meyakinkan dari para petugas sandi. Dalam pada itu, diseberang-menyeberang Kali Dengkek dengan jarak beberapa ratus patok, kedua pasukan yang besar telah berkemah. Pasukan Pati disebelah Timur dan pasukan Mataram disebelah Berat Pada hari-hari pertama, kedua pasukan itu masih belum bergerak sama sekali. Namun Kangjeng Adipati Pati telah menjadi sangat ma¬¨rah ketika yang berkemah di Prambanan, pasukan Mataram dipimpin oleh Kangjeng Pangeran Adipati Anom. Tidak dipimpin langsung oleh Panembahan Senapati. – Orang-orang Mataram sangat merendahkan aku ‚ÄĒ berkata Kangjeng Adipati Pati. Namun Kangjeng Adipati Pati masih dapat menahan diri untuk ti¬¨dak bergerak langsung menyeberangi Kali Dengkeng. Tetapi Kang¬¨jeng Adipati Pati masih sempat mengatur prajurit-prajuritnya. Dalam pada itu, Untara yang telah berhasil menghambat dan mengurangi kekuatan Pati telah bergerak pula mendekati perkemahan prajurit Pati disebelah Timur Kali Dengkeng. Namun dalam pada itu, Untara telah mengirimkan beberapa orang penghubung memberikan laporan dan menerima perintah-perintah dari induk pasukan di Pramb¬¨anan. Penghubung itu dikirim pada waktu-waktu tertentu secara ter¬¨atur. Namun yang tidak diduga, dua orang prajurit sandi yang dikirim oleh Untara untuk melihat perkembangan keadaan secara umum di kaki Gunung Merapi sisi Selatan, telah memberikan laporan, bahwa mereka melihat gerakan pasukan yang cukup besar, justru datang dari arah Barat. – Mereka berhenti disebuah padukuhan. Nampaknya pasukan itu kelelahan tanpa persediaan pangan yang cukup. ‚ÄĒ – Kalian melihat ciri-cirinya ? – bertanya Untara. – Mereka menggulung semua rontek, umbul-umbul dan kelebet. Tetapi masih nampak tunggul-tunggul yang dapat kami kenali. – – Menurut pendapatmu, pasukan dari mana ? – bertanya Untara pula. Pasukan dari Pati – jawab petugas sandi itu. Untara termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia memerintahkan untuk memastikan, pasukan yang berhenti disebuah padukuhan itu. Apakah benar pasukan itu memang pasukan dari Pati. Sementara prajurit sandinya masih melakukan penyelidikan maka Untara lewat penghubungnya telah mendapat keterangan dari pasukan induk Mataram di Prambanan, bahwa pasukan Pati yang ber¬¨ada di arah Utara Mataram, telah menarik diri, meninggalkan perke-mahannya. Dengan demikian, Untara mengambil kesimpulan, bahwa pasu¬¨kan yang dilaporkan kepadanya itu adalah pasukan Pati yang ditarik dari medan disebelah Utara Mataram itu. Sebaliknya Untarapun telah memberikan laporan pula bahwa prajurit sandinya telah melihat sepasukan prajurit yang nampak letih berhenti disebuah padukuhan. Para perwira Mataram yang menerima laporan Untara itu segera mengambil kesimpula , bahwa pasukan Pati yang telah ditarik dari se¬¨belah Utara Mataram itu diperintahkan bergabung dengan pasukan Pati yang ada disebelah Timur Kali Dengkeng. Dengan kesimpulan itu, maka sebagian pasukan Ki Tumenggung Wirayudapun kemudian akan ditarik dan ditempatkan di Prambanan. Sedangkan sebagian lagi akan tetap berada di depan pintu gerbang Ko-taraja disisi Utara untuk menjaga segala kemungkinan. Adapun pasu¬¨kan yang tinggal itu adalah para prajurit dari Pasukan Khusus di Mata¬¨ram serta para pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Dalam pada itu, maka dua kekuatan yang sangat besar telah berhadapan di sebelah menyebelah Kali Dengkeng. Namun agaknya kedua kekuatan itu masih belum bergerak. Keduanya masih me-nunggu kesempatan terbaik bagi mereka masing-masing. Namun demikian, kedua kekuatan itu setiap hari telah mening¬¨katkan kesiagaan mereka. Pasukan Pati yang ditarik dari arah Utara Mataram itupun telah berbagung dengan induk pasukan mereka di se¬¨belah Timur Kali Dengkeng. Untara menjadi berdebar-debar ketika ia mendapat perintah un¬¨tuk bergabung dengan induk pasukan Mataram Agaknya Mataram su¬¨dah berniat untuk mulai menyerang perkemahan pasukan Pati yang dipimpin langsung oleh Kangjeng Adipati Pati. Untara memang berangkat dengan membawa pasukannya ke Prambanan. Namun ia telah melaporkan pula, bahwa beberapa kelom¬¨pok prajuritnya ditinggal dibawah pimpinan Sabungsari untuk memo¬¨tong setiap usaha pengiriman bahan pangan ke perkemahan orang-orang Pati. Diantara pasukan yang ditinggalkan itu adalah pasukan pengawal Kademangan Sangkal Putung. Ternyata bahwa Swandaru adalah seorang pemimpin yang tang¬¨kas Seperti seekor burung pasukan pengawal Sangkal Putung itu ter¬¨bang sambil menyambar-nyambar. Beberapa iring-iringan bahan pa¬¨ngan yang berhasil dikumpulkan setelah lumbung Utama di Ngaru-aru dimusnahkan, telah dihancurkan oleh pasukan pengawal Tanah Perdi¬¨kan, sehingga pasukan Pati itu mulai terancam persediaan bahan pang¬¨annya. Namun dengan demikian, maka Pati telah meningkatkan persiap¬¨annya untuk mempercepat pertempuran.
    • Bagian II Dalam pada itu, Panglima pasukan Matarampun ternyata berniat untuk segera menyerang pasukan Pati. Meskipun demikian, sebagaimana pesan Panembahan Senapati, maka Kangjeng Pangeran Adipati Anom masih diperintahkan untuk kembali lagi menemui pamannya: Kangjeng Adipati Pati. Kangjeng Pangeran Adipati Anom masih haus mencoba untuk melunakkan hati pamannya, agar perang dapat dihindarkan. Karena itu, maka Pangeran Adipati Anompun telah mengirimkan utusan untuk menyampaikan niat Pangeran Adipati Anom untuk bertemu dengan pamannya. Meskipun dengan berat hati, namun Kangjeng Adipati Pati itu mempersilahkan Pangeran Adipati Anom untuk datang ke perkemahannya dikeesokan harinya. Kedatangan Pangeran Adipati Anom disambut sendiri oleh pamannya, Kangjeng Adipati Pati. Dipersilahkannya Pangeran Adipati Anom kemudian duduk di bangunan induk perkemahan para prajurit Pati, disebuah padukuhan kecil disebelah Timur Kali Dengkeng. Ternyata Kangjeng Adipati Pati masih bersikap ramah kepada kemanakannya. Kangjeng Adipati Pati itu juga bertanya tentang keselamatan Pangeran Adipati Anom. Bahkan keselamatan Panembahan Senapati serta kakak perempuannya, ibu Pangeran Adipati Anom itu. ‚ÄĒ Ayahanda dan ibunda dalam keadaan baik, paman – jawab Pa¬¨ngeran Adipati Anom. – Bagaimana dengan paman sekeluarga di Pati serta yang menyertai paman sampai disini ? ‚ÄĒ ‚ÄĒ Sebagaimana kau lihat, aku sehat-sehat saja ngger. ‚ÄĒ jawab Kangjeng Adipati Pati. Namun sejenak kemudian Kangjeng Adipati itupun bertanya – Kenapa ayahandamu tidak datang menyambut aku di Prambanan ? – ‚ÄĒ Tidak, paman. Ayah telah memerintahkan aku datang untuk menyambut paman. Namun ayahanda telah memberikan pesan untuk aku sampaikan kepada paman. ‚ÄĒ jawab pangeran Adipati Anom. ‚ÄĒ O – Kangjeng Adipati Pati mengangguk-angguk. – apa pesan ayahmu itu ? ‚ÄĒ ‚ÄĒ Paman Pragola ‚ÄĒ berkata Pangeran Adipati Anom ‚ÄĒ sebenar¬¨nyalah bahwa ayahanda merasa sangat bersedih hati, bahwa dua kekuatan kini berhadap-hadapan diseberang-menyeberang Kali Deng¬¨keng. – Kangjeng Adipati Pragola dari Pati itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah iapun berkata – Aku juga merasa sedih ngger. Bahkan kehadiran dua pasukan yang besar itu akan dapat menimbulkan perang yang besar pula. ‚ÄĒ ‚ÄĒ Ya, paman. Karena itu, ayahanda ingin agar perang ini dapat di¬¨urungkan. ‚ÄĒ berkata Pangeran Adipati Anom kemudian. ‚ÄĒ Bagaimana mungkin perang diurungkan, ngger. Perang sudah terjadi. Aku telah kehilangan banyak prajurit. Orang-orang Mataram telah menyerang kedudukan-kedudukanku dan merusakkan milikku. Apakah dengan demikian aku masih dapat mengatakan bahwa sebaik¬¨nya perang diurungkan. ~ Pangeran Adipati Anom mengerutkan dahinya. Katanya ‚ÄĒ Siapa yang telah menyerang kedudukan-kedudukan paman ? Tidak ada seo-rangpun dari prajurit Mataram yang melakukannya. Tidak ada perintah dari seorang Panglima Mataram untuk melakukan hal itu. ‚ÄĒ – Kau jangan berpura-pura seperti itu. Mungkin kau tidak tahu, karena kau tidak pernah terlibat dalam kegiatan keprajuritan. Karena kau Pangeran Pati yang akan menggantikan kedudukan ayahandamu, maka kau telah dimanjakan. ‚ÄĒ – Tidak paman. Aku adalah Panglima prajurit Mataram. Hanya ada satu orang yang kedudukannya lebih tinggi dari kedudukanku dalam tatanan keprajuritan Mataram. Ia adalah ayahanda Panembahan Senapati. – ~ Jika demikian seharusnya kau tahu, bahwa kelompok-kelompok prajuritmu telah menyerang kedudukanku. Jika kau tidak mengetahuinya tentu hanya ada dua kemungkinan. Kau tidak peduli akan tugasmu, atau kau tidak mempunyai wibawa lagi sehingga Panglima-panglima yang kedudukannya lebih rendah dari kedudu¬¨kanmu telah mengabaikan kuasamu. – Pangeran Adipati Anom mengerutkan dahinya. Perkataan pam¬¨annya itu mulai menyentuh perasaannya. Dengan nada berat ia berta¬¨nya ‚ÄĒ Paman, barangkali paman dapat menolongku. Jika benar Panglima-panglima Mataram telah memerintahkan penyerangan terhadap kedudukan paman, maka sudah sepantasnya aku mengambil tindakan atas mereka, karena yang mereka lakukan itu telah menyalahi wewenang mereka. Mungkin paman dapat menyebutkan, kedudukan paman yang mana dan kapan terjadinya. – – Kau tidak usah berpura-pura begitu ngger. Bahkan orang le-watpun tahu, bahwa prajurit-prajuritmu telah menyerang kedudukanku di Jati Anom. Sebelumnya Ngaru-aru juga diserangnya. – Pangeran Adipati Anom mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya – Paman, apakah paman tidak keliru ? Bu¬¨kankah Jati Anom dan Ngaru-aru itu bukan bagian dari kedudukan paman. ? – Wajah Kangjeng Adipati Pati menjadi tegang, sementara Pangeran Adipati Anom berkata selanjutnya ‚ÄĒ Sepengetahuanku, kedu¬¨dukan paman adalah Pati dan sekitarnya. Kemudian permohonan paman untuk menguasai daerah sebelah Utara Gunung Kendeng telah diperkenankan oleh ayahanda. Sementara itu, menurut pengetahu¬¨anku, tidak ada perintah sama sekali bagi Prajurit Mataram untuk berkeliaran disebelah Utara Gunung Kendeng. Apalagi menyerang kedudukan paman Adipati. — Telinga Adipati Pragola dari Pati itu terasa panas. Namun ia masih mengekang diri dan berusaha untuk tidak hanyut dalam arus perasaannya. Karena itu, maka iapun kemudian berkata – Angger Pangeran Adipati Anom. Sebaiknya kau pulang saja ke Mataram. Biarlah aku berbicara dengan ayahmu. Mungkin pembicaraan kami menghasilkan suatu. ‚ÄĒ ~ Paman. Menurut ayahanda, jika paman menarik pasukan paman sampai kebatasn kuasa paman, maka tidak akan pernah terjadi pertempuran. Tetapi karena paman telah melintasi daerah wewenang paman, maka kita berada diambang peperangan. Selanjutnya, persoalan yang timbul akan dapat dibicarakan kemudian. ‚ÄĒ – Pangeran Adipati Anom – jawab Kangjeng Adipati Pati ~ sebaiknya kita tidak usah berbicara dengan ayahmu. Aku mengenal ayahmu dengan baik. Aku tahu, bahwa apa yang dikatakan tidak selalu dilakukan. Janjinya seperti mendung dilangit. Kadang-kadang hujan jatuh. Kadang-kadang mendung itu lewat tanpa setitik airpun yang menetes. ‚ÄĒ — Sayang paman – berkata Pangeran Adipati Anom – ayahanda memang tidak berniat untuk datang menemui paman, kecuali jika paman lebih dahulu mundur sampai ke garis batas. ‚ÄĒ Wajah Adipati Pragola menjadi merah. Dengan menahan diri Kangjeng Adipati Pragola itu berkata ‚ÄĒ Sudahlah ngger. Aku tidak ingin berbicara dengan kanak-kanak untuk hal-hal yang penting. Pulanglah, bektiku buat ibumu. Mudah-mudahan ibumu sehat-sehat saja. ‚ÄĒ Ampun paman. Aku tidak mempunyai rencana untuk kembali ke Mataram, selama paman masih berada disini. Jika sampai besok lusa paman masih berada disini, paman jangan menyalahkan prajurit Mataram jika mereka menyeberang Kali Dengkeng. Menurut penda¬¨pat kami, daerah ini sama sekali bukan merupakan tempat yang benar bagi paman. Sehingga paman tidak dapat menuduh kami menyerang kedudukan paman. ‚ÄĒ Adipati Pragola harus menahan diri betapa dadanya merasa sakit. Namun katanya kemudian ‚ÄĒ Kau memang keras kepala seperti ayahmu. Tetapi ibumu juga seorang yang keras kepala. Barangkali aku juga. Tetapi aku peringatkan sekali lagi. Pulanglah. Aku ingin bicara dengan ayahandamu. ‚ÄĒ ~ Ampun paman. Aku tidak dapat memenuhi anjuran paman. Se¬¨karang perkenankanlah aku mohon diri. Tetapi besok lusa aku akan kembali. Mungkin aku tidak sendiri atau sekedar dengan dua tiga pengawal, paman. – Wajah Kangjeng Adipati Pragola dari Pati menjadi tenang. Dengan dahi yang berkerut ia bertanya ~ Kau bermaksud mengancam ngger ? – ‚ÄĒ Tidak paman. Aku hanya ingin memperingatkan, sebaiknya se¬¨belum besok lusa, paman meninggalkan tempat ini. ‚ÄĒ Telinga Kangjeng Adipati Pragola memang menjadi panas. Tetapi ia masih berusaha untuk mengekang perasaannya. Bahkan untuk mencegah hal-hal yang tidak dikehendaki jika ia kehilangan kesa¬¨baran, maka katanya ~ Baiklah. Aku sudah mendengar semuanya. Aku mengerti maksudmu. Tetapi sayang, bahwa tidak mempunyai pendapat yang sama. Meskipun demikian aku ingin memperingatkanmu Pangeran. Aku adalah pamanmu. Karena itu sebaiknya kau tidak usah mencampuri persoalan orang tua. ‚ÄĒ ‚ÄĒ Paman ‚ÄĒ berkata Pangeran Adiapti Anom – aku mohon diri. Aku mohon maaf jika ada perkataanku dan sikapku yang tidak paman kehendaki. Sekarang atau waktu-waktu yang akan datang. ‚ÄĒ – Tidak apa-apa ngger. Aku mengerti kedudukanmu. Tetapi kau-pun mengerti kedudukanku. ‚ÄĒ Demikianlah, maka Kangjeng Pangeran Adipati Anom itu minta diri dan meninggalkan perkemahan Kangjeng Adipati Pragola dari Pati. Demikian Pangeran Adipati Anom itu sampai keperkemahannya, maka iapun segera memerintahkan semua prajurit Mataram untuk mempersiapkan diri. – Jika besok lusa, paman Pragola tidak meninggalkan perkemah-annya dan menariknya kebelakang garis batas kuasanya, maka kita akan mengusirnya. ‚ÄĒ Para Panglima yang ikut bersamanya berkemah di Prambanan itu menyadari, bahwa perang memang akan terjadi. Kangjeng Adipati Pati itu bukan saja dapat disebut melampaui batas kuasanya, tetapi su¬¨dah sangat jauh melintasi daerah sebelah Utara Gunung Kendeng dan berada didepan hidung Panembahan Senapati di Mataram. Dengan tegang Pangeran Adipati Anom menunggu, apakah ada gerak pasukan Pati. Namun menurut pengamatan para petugas, pasukan Pati justru mempersiapkan diri untuk berperang. Dengan demikian, maka Pangeran Adipati Anompun telah me¬¨merintahkan para Panglima untuk bersiaga sepenuhnya. Dikeesokan harinya, pasukan Mataram itu akan menyerang kedudukan prajurit Pati. Prajurit Pati harus menyingkir dari tempat itu, sesuai dengan pesan Panembahan Senapti. Persiapan prajurit Mataram itu tidak lepas dari pengamatan pada petugas sandi dari Pati. Ketika hal itu disampaikan kepada Kangjeng Adipati Pati, maka Kangjeng Adipati itu menjadi marah. – Anak tidak tahu diri – geram Kangjeng Adipati ‚ÄĒ tetapi bukan semata-mata salah anak itu. Ayahnya benar-benar telah merendahkan martabatku. Karena itu, jika terjadi sesuatu atas anak itu, bukan sa¬¨lahku. – Dengan demikian, maka malam itu kedua belah pihak benar-benar telah mempersiapkan pasukan. Nampaknya perang sudah tidak dapat dihindarkan lagi. Menjelang tengah malam, Kangjeng Adipati Pragola dari Pati sempat melihat kesiagaan prajuritnya yang berada dalam perkemahan. Nampaknya sudah tidak mengecewakan lagi. Para Senapatinya telah mengatur, bahwa didalam kesatuan-kesatuan kecil, terdapat dengan kelompok-kelompok yang disusunnya dengan tergesa-gesa. Dengan demikian, maka kekuatan prajurit Pati itu akan merata. Namun disam-ping kesatuan-kesatuan itu, maka Pati mempunyai kesatuan-kesatuan khusus yang menjadi andalan Kangjeng Adipati Pati. Pasukan yang di¬¨yakini akan dapat menjadi tajamnya ujung tombak gelar pasukan Pati. Sebelum beristirahat Kangjeng Adipati telah berusaha untuk me¬¨nyalakan api disetiap dada para prajuritnya. Besok mereka akan meng¬¨hadapi pasukan Mataram, karena Pangeran Adipati Anom agaknya tidak mau mendengarkan nasehatnya agar kembali saja ke Mataram dan minta Panembahan Senapati datang sendiri ke medan. Sebenarnyalah bahwa menjelang fajar, pasukan kedua belah pi¬¨hak sudah bersiap. Pasukan Mataram dengan segala macam tanda ke¬¨besaran sudah berbaris dalam gelar yang besar disebelah Timur Prambanan. Demikian pula para prajurit Patipun telah bersiaga pula. Dibawah pimpinan langsung Kangjeng Adipati Pragola, para prajurit Pati akan turun ke medan. Ketika langit menjadi merah, maka petugas sandi Pati yang mengamati pasukan Mataram telah memberikan laporan, bahwa pra¬¨jurit mataram dalam kesatuan yang besar telah benar-benar bergerak. t ‚ÄĒ Anak itu benar-benar tidak tahu diri ~ berkata Adipati Pati itu sebaiknya ia tidak bermain-main dengan kesatuan yang demikian be¬¨sarnya. Pangeran Adipati Anom itu tidak menyadari, bahwa benturan pasukan yang besar ini tentu akan makan korban yang tidak sedikit, se¬¨mentara Pangeran Adipati Anom sendiri sekedar didorong oleh darah¬¨nya yang masih panas oleh kemudaannya. Apalagi anak itu telah men¬¨dapat wewenang penuh dari ayahnya yang sengaja atau tidak, telah merendahkan aku. ‚ÄĒ Tetapi Kangjeng Adipati tidak dapat berbuat lain kecuali menyongsong pasukan Mataram itu dengan pasukannya pula. Pasukan Pati yang bergerak menjelang fajar itu merayap seperti seekor udang raksasa yang garang. Gelar Supit Urang, atau yang juga disebut Mangkara Juha itu bergerak perlahan-lahan menyongsong ge¬¨rak pasukan Mataram. Dalam gelar Supit Urang itu, maka tubuh dan ekor udang terisi oleh pasukan cadangan yang siap untuk tergeser menggantikan kedudukan para prajurit yang gugur. Dengan gelar Supit Urang, maka pasukan Pati berniat untuk menjepit pasukan lawan dari kedua sisi. Sebagaimana seekor udang dengan sapitnya menjepit mangsanya. Dalam pada itu, Pangeran Adipati Anom telah memanggil para Panglimanya. Diperintahkannya kepada para Panglimanya untuk mempersiapkan gelar Cakra Byuha untuk melawan para prajurit Pati. – Pangeran ‚ÄĒ Tumenggung Sindutama memberanikan diri untuk menyampaikan pendapatnya ‚ÄĒ hamba mohon Pangeran mempertim¬¨bangkan gelar perang yang akan kita pergunakan. Prajurit kita cukup banyak untuk menyusun gelar yang melebar. Menurut laporan, praju¬¨rit Pati telah membuat gelar yang melebar. Menurut laporan, prajurit Pati telah membuat gelar Supit Urang. Bukankah gelar yang kita per-gunakan sekarang sudah tepat Pangeran. Gelar Garuda Nglayang ini akan mampu mengimbangi gelar lawan, karena jumlah prajurit kita ti¬¨dak kalah atau setidak-tidaknya berselisih sedikit saja dengan prajurit Pati. Apalagi kita tahu bahwa sebagian dari prajurit Pati adalah anak-anak muda dan laki-laki yang dengan tergesa-gesa dipungut dari padukuhan-padukuhan disebelah Utara Gunung Kendeng, sehingga mereka bukannya prajurit-prajurit yang terlatih baik. ‚ÄĒ ‚ÄĒ Paman. Aku akan dengan cepat menghancurkan pasukan Pati yang ternyata tidak bersedia meninggalkan tempat ini dan kembali ke-sebelah Utara Pegunungan Kendeng. Karena itu, aku memerlukan ge¬¨lar yang lebih baik dari gelar yang menebar. – – Tetapi Gelar Garuda Nglayang mempunyai kekuatan-kekuatan tertentu Pangeran. Apalagi untuk melawan Gelar Supit Urang. Dengan gelar Cakra Byuha kita akan dapat terjepit ditengah-tengah gelar la¬¨wan. — Sementara itu, Tumenggung Yudapamungkas menyambung ‚ÄĒ Pangeran. Jika hamba boleh berterus-terang. Gelar Cakra Byuha me¬¨merlukan satu kemampuan tersendiri untuk melakukannya. Apakah pasukan kita yang benar ini mampu melakukannya. ‚ÄĒ – Kenapa tidak ? ‚ÄĒ Pangeran Adipati Anom yang muda itu justru bertanya ‚ÄĒ aku memerlukan gelar yang bulat menyatu sehingga ke¬¨kuatan kami terpusat untuk menghancurkan induk pasukan lawan. ‚ÄĒ – Pangeran ‚ÄĒ berkata Tumenggung Yudapamungkas ~ hamba mohon ampun. Jika Pangeran benar-benar menginginkan gelar yang bulat menyatu, hamba usulkan untuk menyusun gelar Gedong Minep, karena hamba tahu, bahwa Kangjeng Adipati Pati adalah orang yang jarang ada bandingnya di bumi Mataram. ‚ÄĒ – Kau menyinggung perasaanku, paman – jawab Pangeran Adi¬¨pati Pati Anom – aku bukan penakut yang harus mempergunakan ge¬¨lar Gedong Minep dan bersembunyi di belakang punggung para Sena¬¨pati. Aku akan memimpin langsung pasukan ini. ‚ÄĒ – Para Senapati memang menjadi gelisah. Jika terjadi sesuatu de¬¨ngan Pangeran Adipati Anom, maka mereka tentu akan dibebani tang¬¨gung jawab oleh Panembahan Senapati, karena Pangeran Adipati Pad Anom telah dipersiapkan untuk menggantikan kedudukan Panem¬¨bahan Senapati itu. Tetapi darah muda yang mengalir di tubuh Pangeran Adipati Anom itu ternyata telah membakar jantungnya. Sehingga Pangeran Adipati Anom benar-benar menginginkan gelar yang akan langsung memusatkan serangannya pada induk pasukan. Namun akhirnya Tumenggung Sindutama berkata ‚ÄĒ Jika demi¬¨kian, maka hamba ingin mengusulkan gelar yang barangkali dapat me¬¨menuhi keinginan Pangeran, namun sekaligus memungkinkan untuk meredam kegarangan sapit pada gelar lawan. Bagaimana jika Pa¬¨ngeran mempergunakan kendaraan lebih besar dari seekor kuda, tetapi gelar ini akan dapat bergerak lebih leluasa dari Gelar Cakra Byuha yang rumit meskipun jika dapat ditrapkan dengan baik akan berbahaya bagi lawan. Pangeran Adipati Anom, berpikir sejenak. Akhirnya Pangeran Adipati Anom itu berkata – Baik. Gerak se¬¨lanjutnya dari pasukan Mataram akan berubah dari gelar Garuda Nglayang ke gelar Wukir Jaladri. – Tumenggung Yudapamimgkas dan Tumenggung Sindutama de¬¨ngan segera menangani perintah itu. Para Senapatipun segera diperin¬¨tahkan untuk menyesuaikan diri. Tumenggung Sindutama telah memi¬¨lih beberapa orang Senapati terpercaya untuk berada di induk gelar Wukir Jaladri. Sedangkan para Senapati yang lain akan menggelar pa¬¨sukannya sebagaimana dahsyatnya ombak yang bergulung-gulung membadai menghantam batu-batu karang ditebing. Tumenggung Sindutama juga memerintahkan para Senapati un¬¨tuk mengambil sikap menghadapi gerak gelar lawan yang hidup, sementara para Senapati yang berada dilambung gelar harus barhati-hati menghadapi serangan dari sepit urang yang tajam, yang tentu akan menjadi pusat kekuatan Gelar Supit Urang. Demikianlah ketika pasukan Mataram itu bergerak semakin jauh, maka perlahan-lahan gelar Garuda Nglayang telah berubah. Gelar Wukir Jaladri memang menjadi lebih menyatu. Ketika perubahan gelar itu disampaikan kepada Kangjeng Adi¬¨pati Pati oleh petugas sandi, maka Kangjeng Adipati itupun mengge¬¨ram – Pangeran Adipati Anom memang sulit dikendalikan. Apakah Mataram tidak ada orang-orang tua yang dapat memberi nasehat kepa¬¨danya, atau malahan mereka membakar hati anak muda yang masih kurang perhitungan itu ? ‚ÄĒ Tetapi Kangjeng Adipati Pragola dari Pati itu mengerti, gejolak perasaan Pangeran Adipati Anom sehingga ia ingin dengan cepat menghancurkan pasukan Pati. Tetapi pengalaman dan pengetahuan perang Pangeran Adipati Anom masih jauh dibawah kemampuan Kangjeng Adipati Pragola. Dalam pada itu, para Senapati Mataram sendiri memang menjadi berdebar-debar. Tetapi menurut pendapat Tumenggung Sindutama dan Tumenggung Yudapamungkas, maka gelar Wukir Jaladri mem¬¨beri lebih banyak kesempatan kepada para Senapati untuk mengambil sikap daripada gelar Cakra Byuha. Dalam keadaan yang gawat, maka para Senapati dapat mengambil kebijaksanaan sesuai dengan kemung¬¨kinan yang dihadapinya. Terutama mereka yang berada di lambung. Dengan demikian maka pengalaman para Senapati akan dapat memberikan lebih banyak arti daripada gelar cakra Byuha yang lebih terikat pada satu kesatuan gerak yang mapan. Sehingga jika terjadi se¬¨dikit saja kesalahan, maka akibatnya akan menjadi sangat luas. Se¬¨mentara itu Pangeran Adipati Anom yang akan memimpin langsung pasukan yang besar itu masih belum memiliki pengalaman yang cukup luas. Ketika matahari mulai melemparkan sinar paginya, maka kedua pasukan itupun telah berhadapan. Pangeran Adipati Pragola tidak mau mengalami kesulitan saat pasukan menyeberang Kali Dengkeng. Ka¬¨rena itu, sebelum pasukan Pati sudah berada disisi sebelah Barat. Ternyata Pangeran Adipati Anom sama sekali tidak mengekang pasukannya yang besar. Iapun langsung memberikan isyarat, agar pa¬¨sukan Mataram itu menyerang pasukan Pati yang sudah siap me¬¨nyongsong pasukannya. Demikianlah, maka sejenak kemudian kedua pasukan yang besar itu telah bertempur. Pati dalam gelar Supit Urang itu segera berusaha mengurung pasukan Mataram yang mempergunakan gelar yang lebih menyatu. Namun selain pusat gelarnya, maka para Senapatinya segera menyesuaikan diri dengan medan. Pasukan Mataram yang berada di lambung dengan cepat menempatkan diri menghadapi jepitan sapit ge¬¨lar Supit Urang yang garang itu. Ternyata bahwa Senapati Mataram yang berpengalaman tidak mendapat latihan khusus berusaha untuk menembus setiap celah-celah gelar pasukan Pati Yang besar itu. Gelombang demi gelombang menghantan garis pertahanan. Para prajurit Patipun tidak kalah garangnya. Mereka berusaha menjepit gelar pasukan Mataram itu. Beberapa orang Senapati Pati memang menganggap bahwa Mataram telah salah memilih gelar un¬¨tuk melawan pasukan Pati. Namun sebagian lagi menyadari betapa Pa¬¨ngeran Adipati Anom yang muda itu ingin dengan cepat melumatkan induk pasukan Pati tanpa menghiraukan bagian-bagian gelar yang lain. Dengan demikian, maka pertempuranpun semakin lama berkobar semakin sengit. Kedua belah pihak telah meningkatkan kemampuan mereka sehingga benturan-benturan menjadi semakin keras. Ketika matahari naik semakin tinggi, maka para prajurit dari ke¬¨dua belah pihakpun menjadi semakin garang. Namun di kedua belah pihak semakin nampak perbedaan antara para prajurit yang begitu saja diangkat dari padukuhan-padukuhan dengan latihan sekedarnya saja. Prajurit-prajurit yang baru itu tidak mampu bertahan dalam ta¬¨taran kemampuannya terlalu lama. Ketika keringat mulai terperas dari tubuhnya, maka tenaga merekapun segera mulai menyusut. Apalagi ketika matahari terasa semakin terik membakar kulit. Namun para prajurit Pati mempunyai sedikit keuntungan, bahwa mereka tidak menghadap kearah matahari yang sedang naik, sehingga cahaya yang silau tidak mengganggu penglihatan mereka. Ternyata dengan gelarnya, pasukan Mataram mampu mengimba¬¨ngi tekanan gelar Supit Urang yang berusaha semakin menekan dari berbagai arah. Para Senapati Mataram yang berpengalaman mampu memanfaatkan ikatan yang longgar dalam gelar Wukir Jaladri untuk mengimbangi kegarangan gelar Supit Urang pasukan Pati. Namun dalam pada itu, kemudian Pangeran Adipati Anom me¬¨mang berpengaruh atas tatanan gerak gelar pasukan Mataram. Pa¬¨ngeran Adipati Anom yang berada diinduk gelar tidak mau terkekang oleh gerak gelarnya. Sebagai seorang Senapati ia justru lebih banyak terbakar oleh kemarahannya sehingga secara pribadi Pangeran Adipati Anom telah langsung berusaha menembus induk pasukan lawan da¬¨lam gelar Supit Urang. Senapati yang berada diujung gelar lawannya terkejut ketika tiba-tiba saja Pangeran Adipati Anom sendiri dengan pedang ditangan ber¬¨tempur dengan garangnya. Dua orang Senapati pengapit Pangeran Adipati Anom tidik sempat menahannya agar Pangeran Adipati Anom tetap berada didalam kesatuan induk pasukan. Sehingga karena itu, maka dua orang Senapti pengapitnya justru harus berada bersama Pangeran Adipati Anom itu sendiri di garis benturan kedua pasukan. Beberapa orang prajurit pengawal terpilih mengalami kesulitan ketika mereka berusaha untuk melindungi Pangeran Adipati Anom itu dari kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan, karena Pa¬¨ngeran Adipati Anom itu sendiri telah hanyut dalam arus kemudaan¬¨nya daripada kebijaksanaan seorang Panglima. Yang mengejutkan para Senapati pengapitnya, ketika tiba-tiba saja Pangeran Adipati Anom itu sudah berhadapan dengan Kangjeng Adipati Pragola dari Pati yang memimpin langsung pasukan dari Pati itu, Sehingga kedua Panglima perang itu telah berhadapan di garis benturan gelar. Pangeran Adipati Anom sudah tidak duduk dipunggung kudanya lagi. Benturan kedua gelar perang itu memang tidak banyak memberi¬¨kan peluang bagi Pangeran Adipati Anom untuk bertempur loncat tu¬¨run dan bertempur bersama para Senapati dan prajurit yang sejak se¬¨mula tidak berkuda. Dalam pada itu, Kangjeng Adipati Pati tidak bertempur diatas punggung kuda pula. Seperti Kangjeng Pangeran Adipati Anom, Kangjeng Adipati Pragola dari Pati telah turun dari kudanya pula. Pertempuran antara kedua Panglima Perang itu tidak terhindar lagi. – Kau memang keras Kepala Pangeran – geram Kangjeng Adi¬¨pati Pragola. ‚ÄĒ Ayahanda memerintahkan paman mundur sampai kesebelah Utara Pegunungan Kendeng. ~ Jika terjadi sesuatu atasmu, itu adalah tanggung jawabmu sen¬¨diri – geram Kangjeng Adipati Pati. Pangeran Adipati Anom tidak menjawab. Dengan tangkasnya ia menyerang. Tetapi Kangjeng Adipati Pragola sangat tangkas. Ujung senjata Pangeran Adipati Anom tidak menyentuhnya. Bahkan Kang¬¨jeng Adipati masih sempat membalas serangan kemanakannya itu. Senjatanya terayun mendatar dengan cepatnya. Tetapi dengan cepat pula Pangeran Adipati Anom meloncat su¬¨rut, sehingga serangan itu tidak menyentuhnya. Pertempuran itupun menjadi semakin sengit. Kedua belah pihak bergerak semakin cepat. Namun serangan-serangan Pangeran Adipati Anom nampak semakin lama semakin jauh dari sasaran . Sedangkan serangan-serangan Kangjeng Adipati Pragola menjadi semakin cepat. Para Senapati pengapit, dan para pengawal khusus mengalami kesu¬¨litan untuk melindungi setiap prajurit Mataram yang akan melibatkan diri ke dalam pertempuran antar kedua Panglima Perang itu. Mereka berusaha menghadapi setiap prajurit dengan prajurit pula. Sementara itu, pertempuran dilambung gelar pasukan Mataram itupun menjadi semakin sengit. Ternyata prajurit Mataram memang memiliki kelebihan. Prajurit Pati yang terhitung baru, mulai terasa le¬¨tih. Keringat mereka bagaikan diperas, sementara telapak tangan me¬¨reka yang menggenggam senjata erat-erat itu, mulai merasa pedih. Apalagi dengan benturan-benturan yang keras sehingga mereka harus menggenggam senjata mereka erat-erat agar tidak terlepas dari tangan mereka. Perlahan-lahan prajurit Mataram yang ada dilambung justru mampu mendesak tekanan Supit Urang yang ingin menjepit gelar pa¬¨sukan Mataram yang manyatu itu. Para Senapati Mataram yang berpengalaman telah memanfaat¬¨kan gelar Wukir Jaladri itu untuk menunjukkan kelebihan mereka masing-masing. Sementara itu, para prajurit terpilih berusaha untuk mendesak dan bahkan menyusup keseberang garis benturan kedua gelar itu. Namun para Senapati Prajurit Mataram itu terkejut. Ketika mata¬¨hari sampai kepuncak langit, justru saat pasukan Mataram semakin mendesak pasukan lawan, terutama di lambung, maka terdengar isya¬¨rat agar pasukan Mataram itu mundur dari medan pertempuran. ‚ÄĒ Tidak masuk akal ‚ÄĒ geram seorang Senapati – sebelum mata¬¨hari turun, pasukan Pati tentu sudah akan pecah atau ditarik dari medan. — Tetapi isyarat itu terdengar lagi. Sementara induk pasukan mulai bergeser perlahan-lahan mundur. Demikianlah, maka pasukan Mataram memang ditarik mundur. Untunglah bahwa kekuatan Mataram seakan-akan masih utuh, sehingga pasukan Pati tidak mengoyak gelar Pasukan Mataram di saat mereka bergerak mundur. Bahkan kemudian terdengar perintah agar pasukan Pati tidak mendesak terus pasukan Mataram, karena pasukan Mataram yang ber¬¨gerak mundur itu masih tetap berbahaya. Pada saat-saat tertentu, maka pasukan Mataram itu dapat menggeliat dan menyerang pasukan Pati jika pasukan Pati itu masih mendesaknya. Dengan demikian, maka pasukan Pati itupun kemudian telah menghentikan gerak majunya, sehingga dengan demikian, maka kedua gelar itupun segera telah terpisah. Pasukan Pati telah berhenti, sementara pasukan Mataram telah mendesaknya, maka pasukan Mataram itu bergerak lebih cepat. Baru kemudian, para Senapati yang bergerak di induk pasukan–mengetahui, bahwa Pangeran Adipati Anom yang bertempur melawan Kangjeng Adipati Pati telah pingsan. Pangeran Adipati Anom sempat menangkis serangan ujung senjata Kangjeng Adipati Pati. Tetapi sen¬¨jata itu dengan cepat berputar, sehingga landeannyalah yang kemudian mengenai tengkuk Pangeran Adipati Anom. Pangeran Adipati Anom terlempar beberapa langkah kesamping. Senapati pengapitnya dengan tangkasnya menangkap tubuhnya, se¬¨mentara Senapati pengapit yang seorang lagi dengan cepat mengambil alih pertempuran melawan Kangjeng Adipati Pati, sementara para pengawal khusus Pangeran Adipati Anom dengan cepat berusaha me¬¨lindunginya. Dalam keadaan yang demikian, Pangeran Adipati Anom dengan cepat dibawa ke belakang garis benturan pasukan dalam gelarnya masing-masing. Para Senapati Mataram tidak mau menanggung aki¬¨bat yang lebih buruk lagi. Justru karena Pangeran Adipati Anom men¬¨jadi pingsan. Karena itu, maka Senapati yang berada diinduk pasukan segera memberikan isyarat, agar pasukan Mataram menarik diri dari medan selagi mereka masih dalam keadaan yang mapan. Ketika pasukan Mataram kemudian sampai di perkemahannya, maka para Senapatipun segera berkumpul. Pangeran Adipati Anom terbaring dipembaringan dengan wajah yang pucat. Namun perlahan-lahan Pangeran Adipati Anom itupun menjadi sadar kembali. Ketika Pangeran Adpati Anom akan bangkit, maka Tumenggung Yudapamungkas telah mencegahnya. – Jangan duduk dahulu Pangeran. Sebaiknya Pangeran beristira¬¨hat dengan tenang. ‚ÄĒ Pangeran Adipati Anom baru menyadari, bahwa tengkuknya se¬¨rasa menjadi retak. ~ Apa yang terjadi ? ‚ÄĒ bertanya Pangeran Adipati Anom sambil meraba tengkuknya. – Pangeran menjadi pingsan di medan – jawab Tumenggung Yu¬¨dapamungkas. – Lalu, apa yang terjadi dengan seluruh pasukan ? – bertanya Pa¬¨ngeran Adipati Anom pula. – Kami telah menarik mundur pasukan kembali ke perkemahan Sekarang kita berada di perkemahan Pangeran. ‚ÄĒ “- Kenapa pasukan Mataram harus ditarik dari medan ? Kita harus mengusir paman Adipati Pragola. – Tetapi keadaan Pangeran tidak memungkinkan. Kami tidak da¬¨pat dengan cepat mengambil sikap, justru karena Pangeran menjadi pingsan. Yang dapat kami lakukan, justru saat pasukan kami masih ter¬¨hitung utuh, maka kami menarik diri dari medan pertempuran. Keadaan Pangeran akan sangat berpengaruh bagi ketahanan jiwani para prajurit Mataram. Kami tidak ingin keadaan menjadi semakin bu¬¨ruk. Karena itu, maka kami memutuskan untuk menarik pasukan Ma¬¨taram dari medan. ‚ÄĒ – Siapkan pasukan. Besok belum fajar, aku akan memimpin pa¬¨sukan ini menggempur pasukan Pati, Paman Pragola harus menarik pasukannya sampai kesebelan Utara Pegunungan kandeng. – – Jangan Pangeran — berkati Tumenggung Sindutama — kita mohon Pangeran Juga turun Pati. Keadaan Pangeran tentu masih be¬¨lum baik. Perasaan nyeri tentu masih akan mengganggu Pangeran, se¬¨mentara itu lawan yang akan Pangeran hadapi adalah Kangjeng Adi¬¨pati Pragola, seorang yang pilih tanding. Dalam keadaan ini. Pangeran lebih baik beristirahat. Iapun harus Pangeran lakukan diistana Tidak disini. — — Tidak ‚ÄĒ jawab Pangeran Adipati Anom — aku harus dapat me¬¨nyelesaikan tugas yang dibebankan oleh ayahanda kepadaku. ‚ÄĒ – Tugas apakah yang dibebankan oleh Panembahan Senapati ke¬¨pada Pangeran ? Apakah Panembahan Senapati memerintahkan Pangeran untuk memaksa Kanjeng Adipati Pragola untuk mundur sampai kesebelah Utara Pegunungan kendeng ? ‚ÄĒ Ya ‚ÄĒ jawab Pangeran Adipati Anom. – Pangeran, menurut pengetahuan kami, para Senapati, Pangeran memang mendapat perintah untuk menyampaikan pesan kepada Kangjeng Adipati Pragola, agar Kanjeng Adipati menarik pasukannya ke sebelah Utara Pegunungan Kendeng. ‚ÄĒ – Jika hanya pesan itu yang harus aku sampaikan, buat apa aku membawa pasukan segelar sepapan ? – – Pasukan ini dapat memperkuat tekanan pesan Panembahan Se¬¨napati. Kecuali itu para prajurit ini akan mempertahankan kehadiran Pangeran jika Pati menyerang. ‚ÄĒ – Tetapi kita sudah berperang. ‚ÄĒ – Pangeran ‚ÄĒ kata Ki Tumenggung Sindutama ‚ÄĒ Sebenarnyalah keadaan Pangeran cukup gawat. Jika Pangeran memaksa diri untuk melakukan sesuatu, apalagi memimpin pertempuran yang besar seba¬¨gaimana yang terjadi, maka keadaan Pangeran akan menjadi semakin buruk. ‚ÄĒ Pangeran Adipati Anom itu terdiam. Kepalanya memang terasa pening. Bahkan perutnya serasa mual. Rasa-rasanya isi perutnya telah mendesak didadanya sehingga akan tumpah keluar. – Pangeran ‚ÄĒ berkata Tumenggung Yudapamungkas ‚ÄĒ Pangeran harus berbaring sehari ini. Besok Pangeran kami antar kembali ke Ma¬¨taram. Panembahan Senapati harus segera mengetahui keadaan ini. Sementara itu, para prajurit akan tetap bersiaga penuh untuk menjaga, agar pasukan Pati tidak dapat bergerak maju. Kami, para Senapati juga sudah memanggil Untara dan pasukannya untuk memperkuat pasukan Mataram yang ada disini. – Aku akan menunggu perkembangan keadaanku. Jika besok keadaanku, baik. maka besok aku akan memimpin pasukan Mataram maju ke medan pertempuran. ‚ÄĒ – Kami, para Senapati mohon, agar pangeran sedikit mengekang diri. Akhir dari perang antara Mataram dan Pati tidak semata-mata di¬¨tentukan hari ini atau besok. – Pangeran Adipati Anom termangu-mangu sejenak. Namun ia ti¬¨dak menjawab lagi. Bahkan Pangeran itu telah berdesah menahan nyeri di kepalanya. ~ Sekarang sebaiknya Pangeran beristirahat. Pasukan Mataram selalu siap menghadapi setiap gerakan pasukan Pati. ~ Pangeran Adipati Anom tidak menjawab. Kepalanya memang terasa bukan saja pening. Tetapi sakit. Sementara mual diperutnya ma¬¨sih saja mengganggunya. Disisa hari itu Pangeran Adipati Anom mengikuti nasehat para Tumenggung yang kecuali mempunyai pengalaman yang luas di-medan perang, merekapun tentu juga sudah jauh lebih banyak yang su¬¨dah setengah abad itu. Malam itu para Senapati Mataram memutuskan bahwa mereka ti¬¨dak akan bertempur dikeesokan harinya. Namun mereka telah memerintahkan para prajurit untuk mempersiapkan diri bertahan di perkemahan jika pasukan Pati menyerang mereka. Keputusan itu memang tidak begitu menyenangkan bagi para prajurit Mataram. Mereka lebih senang maju ke medan dalam gelar. Tetapi mereka tidak dapat mengingkari satu kenyataan, bahwa Pa¬¨ngeran Adipati Anom dalam keadaan yang kurang menguntungkan untuk maju ke medan. Malam itu juga para prajurit Mataram harus mempersiapkan per¬¨tahanan yang kuat. Beberapa puluh langkah dari barak, para prajurit Mataram menempatkan kelompok-kelompok prajurit yang di persen-jatai dengan senjata lontar jarak jauh. Terutama anak panah dan busur. Yang lain mempersiapkan lembing dan orang-orang yang khusus telah menyiapkan bandil-bandil yang jarang dipergunakan. Sementara itu Untara dan pasukannya dipersiapkan untuk meng¬¨ganggu pasukan Pati dari arah lain jika pasukan itu benar-benar me¬¨nyerang perkemahan. Yang dilakukan oleh pasukan Mataram itu diikuti dengan saksama oleh para petugas sandi dari Pati. Dengan persiapan-persiapan yang mapan, maka pertahanan Mataram merupakan pertah¬¨anan yang sangat kuat, yang tentu sulit untuk ditembus. Laporan tentang persiapan prajurit Mataram itupun kemudian te¬¨lah dilaporkan pula kepada Kangjeng Adipati Pati. Ketika Kangjeng Adipati Pati kemudian memanggil para Senapati dan membicarakan perkembangan perang yang terjadi, maka Kangjeng Adipati dan para Senapati itu mengambil keputusan bahwa mereka tidak akan menye-lang perkemahan prajurit Mataram. — Tentu akan banyak sekali korban yang jatuh ‚ÄĒ berkata Kang¬¨jeng Adipati. – Namun seorang Senapati mencoba untuk mengingatkan – Tetapi Kangjeng. Kita harus mengingat, bahwa persediaan bahan makan kita sangat terbatas sejak Ngaru-aru dihancurkan oleh orang-orang Mata¬¨ram. – – Kita akan mendapatkannya dari padukuhan-padukuhan diseki-tar tempat ini. ‚ÄĒ jawab Kangjeng Adipati. Beberapa orang Senapati memang kurang sependapat. Meskipun hal itu dapat dilakukan, tetapi apakah jumlahnya akan dapat mencu¬¨kupi. Tetapi mereka tidak mengatakannya. Seperti para Senapati dari Mataram, maka para Senapati dari Pa-tipun sebenarnya ingin dengan cepat menyelesaikan pertempuran itu, apapun hasilnya. Tetapi mereka harus tunduk kepada perintah Kang¬¨jeng Adipati Pati. Dihari berikutnya, para prajurit Pati memang tidak mensiagakan prajuritnya untuk menyerang. Bahkan Kangjeng Adipati Pati meren¬¨canakan untuk berkemah dalam waktu yang lama. Karena Kangjeng Adipati menjadikan perkemahan itu landasan utama bagi pasukan Pati untuk merebut dan menaklukkan Mataram. Para petugas sandi dari Matarampun melihat, bahwa Pati tidak akan menyerang perkemahan Mataram pada hari itu. Bahkan para pe¬¨tugas sandi mataram melihat kesibukan yang lain dari para prajurit Pati. Mereka telah menebangi pohon kelapa dan kemudian memagari perkemahan mereka dengan batang pohon kelapa itu. Demikian banyak prajurit yang melakukannya, maka pekerjaan itu ternyata dapat dilaksanakan dengan cepat. Para prajurit Pati itu le¬¨lah membangun lingkungan tersendiri diluar sebuah padukuhan se¬¨hingga seakan-akan sebuah alun-alun yang cukup luas diatas tanah persawahan yang kering. Dalam pada itu, dihari berikutnya, ternyata keadaan Pangeran Adipati Anom masih belum baik. Kepalanya masih pening dan perut¬¨nya masih merasa mual. Tubuhnya terasa lemah dan keringatnya ba¬¨gaikan mengembun dari kulitnya tanpa berkeputusan. – Pangeran harus pulang ke Mataram ‚ÄĒ berkata Ki Tumenggung Sindutama. Tetapi Pangeran Adipati Anom masih belum bersedia, la masih akan menunggu. Jika keadaannya membaik, maka ia akan memimpin kembali prajurit Mataram untuk mengusir prajurit Pati. Tetapi ketika dihari berikutnya lagi, keadaannya masih tetap saja meskipun seorang tabib terbaik yang mengikuti pasukan Mataram itu sudah berusaha mengobatinya, maka Pangeran Adipati Anom mulai mempertimbangkan pendapat para Senapatinya. Karena itu, maka pada hari berikutnya, maka Pangeran Adipati Anom itu memanggil Tumenggung Sindutama dan Tumenggung Yu¬¨dapamungkas untuk mendengar pendapat mereka, apa yang sebaiknya dilakukannya. – Menurut pendapat kami, para Senapati, Pangeran sebaiknya kembali ke Mataram dan memberikan laporan selengkapnya kepada Panembahyan Senapati. Sementara Pangeran akan mendapat peng¬¨obatan yang lebih baik. – Akhirnya Pangeran Adipati Anom menerima saran para Senapatinya itu, setelah beberapa hari keadaan Pangeran Adipati Anom masih belum menjadi baik. Namun para Senapati memutuskan untuk membawa Pangeran Adipati Anom dengan diam-diam. Karena itulah, maka ketika Pangeran Adipati Anom bersama se¬¨kelompok pengawal pilihan meninggalkan perkemahan perkemahan, maka para Senapati berusaha untuk menjaga agar rahasia itu tidak me¬¨rembes keluar. Bahkan para prajurit Mataram sendiri, kecuali bebe¬¨rapa orang Senapati dan prajurit Mataram sendiri, kecuali beberapa orang Senapati dan prajurit pilihan yang ditugaskan mengawal, tidak mengetahui rencana keberangkatan Pangeran Adipati Anom ke Mata¬¨ram. Perjalanan berkuda Pangeran Adipati Anom memang merupakan perjalanan yang lamban. Beberapa kali Pangeran Adipati Anom harus beristirahat. Jika kepalanya menjadi sakit dan pening, sementara per¬¨utnya menjadi mual, maka perjalanan itu terhenti beberapa saat. Pa¬¨ngeran Adipati Anom berbaring dimana saja mereka berhenti. Namun sebelum Pangeran Adipati Anom sampai kepintu ger¬¨bang kota, maka para penghubung telah mendahuluinya untuk memberikan laporan, bahwa Pangeran Ailipati Anom kembali ke is¬¨tana. Panembahan Senapati memang sudah mendapat laporan sebe¬¨lumnya tentang keadaan pangeran Adipati Anom, meskipun Pangeran Adipati Anom sediri tidak menghendaki, karena ia masih ingin me¬¨mimpin pasukan Mataram bertempur mengusir pasukan Pati sampai kesebelah Utara Pegunungan Kendeng. Namun keadaannya ternyata tidak memungkinkannya. Ketika Pangeran Adipati Anom kemudian sampai diistana, maka Panembahan Senapati sendiri telah menunggunya di pintu gerbang utama. Dengan kasih sayang seorang ayah. Panembahan Senapati membimbing puteranya langsung masuk kedalam sebuah bilik yang telah dipersiapkan. Sedangkan ibu Pangeran Adipati Anom itu kemu¬¨dian hanya dapat menundukkan kepalanya. Butiran titik-titik air me¬¨netes dari pelupuknya. sebagai seorang ibu, ia menjadi sangat sedih melihat keadaan pu-teraya. Apalagi puteraya itu telah ditetapkan untuk menggantikan kedudukan Panembahan Senapati, memimpin Mataram yang di harap¬¨kan akan menjadi semakin besar. Namun yang lebih menyedihkan lagi, Pangeran Adipati Anom te¬¨lah dilukai oleh pamannya sendiri, Kangjeng Adipati Pragola dari Pati. Panembahan Senapati nampaknya memang tidak mempunyai pilihan lain kecuali turun kemedan pertempuran sendiri. Meskipun Pa¬¨nembahan Senapati menyadari, siapa yang akan dihadapinya, tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Sebagai pemimpin tertinggi Mataram, ia ha¬¨rus memegang tongkat kepemimpinannya jika ia tidak ingin kehi¬¨langan wibawanya, dan tidak menginginkan Mataram kehilangan ge¬¨manya sehingga akhirnya setiap Adipati akan memalingkan wajahnya. Itulah sebabnya, maka Panembaan Senapati memutuskan untuk berangkat ke medan perang. – Terserah kepada kakanda – berkata ibu Pangeran Adiapti Anom sambil mengusap matanya yang basah — adikku itu benar-benar sudah tidak lagi mengingat siapakah yang dihadapinya. – Demikianlah, dikeesokan harinya, Panembahan Senapati sendiri telah mempersiapkan diri untuk pergi ke Prambanan. Segala macam pertanda kebesaran serta isyarat perang telah disiapkan. Panembahan Senapati sendiri akan pergi ke Prambanan dengan prajurit terbaik dari pasukan berkuda. – Aku bawa pasukan pengawal dan pasukan Khusus yang dipim¬¨pin oleh Ki Lurah Agung Sedayu. Siapkan Kuda, hanya bagi mereka yang terbaik akan pergi bersamaku. Tidak semuanya. Pasukan Mata¬¨ram yang ada di Prambanan sudah cukup kuat menghadapi pasukan Pati. – Demikian, maka perintahpun segera disampaikan kepada Ki Lu¬¨rah Agung Sedayu. Ia akan membawa dua kelompok prajurit terbaik¬¨nya bersama dengan pasukan pengawal dan pasukan berkuda. Sementara itu Ki Tumenggung Wirayuda masih mendapat tugas untuk menjaga agar tidak ada prajurit Pati yang menyusup memasuki kota. Ketika segala keperluan telah dipersiapkan, maka Panembahan Senapati telah menentukan, berangkat dikeesokan harinya ke perke¬¨mahan di Prambanan. Malam sebelumnya, dua orang penghubung telah mendahului untuk menyampaikan pemberitahuan akan kedatangan Panembahan Senapati sendiri, sehingga di perkemahanpun telah dilakukan per¬¨siapan penyambutan serta pengamanan seperlunya tanpa menarik per¬¨hatian para petugas sandi dari Pati. Disaat yang telah direncanakan, menjelang fajar, maka Panem¬¨bahan Senapati serta para pengawalnya, sepasukan prajurit berkuda telah meninggalkan kotaraja menuju ke Prambanan. Derap kaki kudapun menggetarkan udara disepanjang perjalanan mereka. Debu yang terhambur dari kaki-kaki kuda yang berlari ken¬¨cang. Disepanjang perjalanan, seakan-akan tidak sepatah katapun ter¬¨ucapkan. Baik oleh Panembahan Senapati sendiri maupun oleh prajurit-prajuritnya. Bahkan seorang kepercayaan Panembahan Sena¬¨pati yang kuat bersamanya, Ki Patih Mandaraka. Meskipun usia Ki Patih yang sudah menjadi semakin tua, namun ternyata Ki Patih Mandaraka masih tangkas duduk dipunggung kuda¬¨nya yang berlari kencang. Kedatangan Panembahan Senapati di Prambanan membuat jantung para prjurit bagaikan menyala. Ketika Pangeran Adipati Anom dibawa kembali ke Mataram karena keadaannya, maka jantung para prajurit itu seraya menjadi kedinginan. Rasa-rasanya mereka dile¬¨pas di padang perburuan yang garang tanpa bimbingan tangan yang kuat dan bertenaga. Demikian Panembahan Senapati itu hadir diperkemahan, maka para Senapatipun segera memerintahkan memasang segala pertanda kebesaran. Dengan terbuka para Senapati menyatakan bahwa Panem¬¨bahan Senapati dari Mataram telah berada di perkemahan itu. Bersamaan dengan itu, maka pengamananpun menjadi semakin rapat Pasukan Untara, khususnya yang berada dibawah pimpinan Sa-bungsari masih bergerak seperti seekor burung alap-alap, sehingga prajurit Pati memang mengalami kesulitan dengan persediaan bahan pangan mereka. Namun kesulitan bahan pangan itu telah memaksa Kangjeng Adipati Pragola dari Pati untuk mempercepat gerak pasukannya. Kangjeng Adipati Pragola yang merasa yakin akan dapat mengalah¬¨kan pasukan Mataram dan kemudian memasuki pintu gerbang kota, bukan saja tidak akan kekurangan bahan pangan lagi, tetapi Kangjeng Adipati Pati akan memegang kekuasaan tertinggi Di Mataram dan se¬¨gala wilayah yang mengakui kuasanya. Kehadiran Panembahan Senapati di Prambanan memang diha¬¨rapkannya. Dengan demikian ia akan memaksa pasukan Mataram me¬¨nyerah sebelum pasukan Pati memasuki pintu gerbang kota. Karena itu, maka demikian Kangjeng Adipati Pragola mengeta¬¨hui bahwa Panembahan Senapati sudah berada di Prambanan, maka iapun segera memerintahkan para Senapatinya untuk mengatur pasu¬¨kannya sebaik-baiknya. ‚ÄĒ Yang kita hadapi sekarang adalah Panembahan Senapati itu sendiri. Seorang yang licik dan banyak akal. Bukan lagi anaknya yang baru belajar berjalan itu lagi. ‚ÄĒ berkata Kangjeng Adipati Pragola dari Pati – karena itu, Kita tidak boleh tertipu. Apapun yang akan ditawar¬¨kannya, aku tidak akan menerimanya kecuali prajurit Mataram harus meletakkan senjatanya dan menjadi tawanan perang. Kami akan mengikat tangan mereka dan menggiring mereka ke sebuah barak di-bwah ancaman ujung tombak. – Demikainlah, maka para Senapati Pati telah memberikan perintah-perintah langsung kepada para pemimpin kelompoknya. Para prajurit Pati harus meyakinkan bahwa mereka akan memenangkan perang. Menguasai Mataram dan kemudian mengendalikan pemerin¬¨tahan. Di hari berikutnya, kedua belah pihak masih belum bersiap untuk turun ke medan. Panembahan Senapati masih ingin melihat kekuatan pasukannya serta mendengarkan laporan selengkapnya tentang ke¬¨kuatan pasukan Pati. Sementara itu Kangjeng Adipati Pati yang meng¬¨etahui bahwa Mataram masih belum akan bergerak, juga masih belum mempersiapkan serangan. Namun Kangjeng Adipati Pati itu berkata kepada para Senapati¬¨nya ~ Jika besok Mataram masih belum bergerak, kita akan datang menyerang mereka. Kita hancurkan perkemahannya dan kita akan me¬¨nangkap Panembahan Senapati hidup atau mati. ‚ÄĒ Dengan perintah itu, maka para Senapati Pati telah benar-benar mempersiapkan diri. Berdasarkan atas pengalaman mereka bertempur melawan prajurit Mataram, maka para Senapati Pati telah menata kembali susunan prajurit mereka. Mereka membagi tataran prajurit Pati menjadi tiga. Tataran tertinggi adalah prajurit yang memang pra¬¨jurit yang telah mendapat latihan-latihan yang berat dan teratur. Ta¬¨taran kedua adalah prajurit yang dipersiapkan dalam keadaan yang khusus. Sedangkan tataran ketiga adalah mereka yang dipanggil dan dikumpulkan untuk menghadapi keadaan yang paling gawat. Meskipun pada dasarnya para prajurit Mataram juga terdiri dari tataran-tataran yang sama, namun ada beberapa golongan dari tataran ketiga yang memiliki kemampuan prajurit, sebagaimana para peng¬¨awal dari Kademangan Sangkal Putung dan sekitarnya. Dengan tatanan dan susunan baru, maka kangjeng Adipati Pati semakin yakin, bahwa pasukannya akan dapat dengan cepat meng¬¨alahkan prajurit Mataram sebelum mereka memasuki dinding kota. Namun pada hari itu juga, Panembahan Senapati telah menemui para Senapati Mataram dan bahkan para pemimpin kesatuan dan ke¬¨lompok. Panembahan Senapati menyempatkan diri berbicara dengan para prajurit di tempat mereka bertugas. Sikap Panembahan Senapati Membuat hati para prajurit Mataram itu mekar. Mereka semakin teguh pada sikap mereka untuk mendo¬¨rong Kangjeng Adipati Pati kesebelah Utara pagunungan Kendeng. Pada hari itu pula Panembahan Senapati memerintahkan pasukan Mataram mempersiapkan diri. – Besok kita akan turun ke medan. Me¬¨nilik isyarat yang dilihat oleh para petugas sandi, maka pasukan Pati-pun telah mempersiapkan diri. Sebaiknya kita tidak sekedar bertahan diperkemahan. Kita juga akan menggerakkan pasukan dengan gelar yang palig baik utuk menghadapi prajurit Pati. ‚ÄĒ Demikianlah pada hari itu, segala sesuatu telah dipersiapka. Bahkan Utara telah mendapat perintah untuk menarik bagian dari pa¬¨sukannya yang dipimpin oleh Sabungsari untuk menarik bagian dari pasukannya yang dipimpin oleh Sabungsari untuk berada di dalam ge¬¨lar, sehingga semua kekuatan yang sebelumnya berada di Jati Anom akan berada didalam gelar pasukan Mataram. Swandaru dan pasukan pengawalnya yang dinilai memiliki ke¬¨mampuan sebagaimana seorang prajurit, akan berada di gelar itu pula. Malam itu, menjelang saat-saat kedua pasukan besar dari Pati dan Mataram bertemu di medan, Swandaru sempat menemui Agung Se-dayu yang berada diantara Prajurit-prajurit dari Pasukan Khusus yang berada di Tanah Perdikan Menoreh. Kepada Agung Sedayu, Swan¬¨daru sempat memberikan beberapa pesan jika dikeesokan harinya Agung Sedayu akan berada di medan pula. – Prajurit Pati adalah prajurit yang berkemampuan tinggi ‚ÄĒ ber¬¨kata Swandaru yang sempat menceriterakan peranan pasukan peng¬¨awal Kademangan Sangkal Putung sejak menjelang pertempuran yang terjadi di sebelah Barat Kali Dengkeng. Agung Sedayu mendengarkannya sambil mengangguk-angguk. Sementara Swandaru masih menceriterakan keberhasilannya dibebe-rapa medan pertempuran. – Karena itu, kakang harus berhati-hati menghadapi lawan esok pagi. Kangjeng Adipati Pragola yang mengetahui bahwa Panembahan Senapati sendiri turun kemedan dengan mengerahkan seluruh ke¬¨kuatan yang ada, maka Patipun tentu akan mengerahkan segenap ke¬¨mampuannya pula. Orang-orang yang berilmu tinggi akan ditebarkan di medan. ‚ÄĒ – Mudah-mudahan pasukanku dapat menyesuaikan dengan medan yang nampaknya garang sekali. ‚ÄĒ berkata Agung Sedayu . – Ya. Pertempuran yang akan terjadi tentu akan menjadi seperti neraka. – berkata Swandaru. – Tetapi aku yakin, bahwa di pihak Matarampun tentu banyak terdapat orang-orang berilmu tinggi. Ki Patih Mandaraka ada diantara Kita. Beberapa orang Pangeran dan Senapati yang namanya banyak dikenal di Mataram. ‚ÄĒ – Ya. Aku juga yakin. Tetapi yang perlu kita persiapkan bagi diri kita sendiri, apa yang dapat kita lakukan jika tiba-tiba saja orang-orang berilmu tinggi dari Pati itu ada dihadapan kita ~ sahut Swandaru. – Aku mempunyai kelompok-kelompok kecil yang meyakinkan – jawab Agung Sedayu – dua atau tiga orang prajurit dari Pasukan Khususku akan berkelompok untuk menghadapi orang-orang berilmu tinggi dari Pati itu. – – Kau akan menyesal kakang ‚ÄĒ berkata Swandaru – dua orang prajurit tidak akan mampu mengalahkan seorang yang berilmu sangat tinggi. Bayangkan. Apakah dua atau tiga orang prajuritmu, meskipun mereka dari pasukan khusus dapat melawan aku meskipun aku seo¬¨rang diri ? Dalam waktu yang pendek, cambukku akan memenggal le¬¨her ketiga orang prajuritmu itu. ‚ÄĒ Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Sambil menarik nafas panjang ia berkata kepada dirinya sendiri ‚ÄĒ Untung tidak ada Glagah Putih. Kemudaannya membuatnya mudah tersinggung mendengar ce-ritera Swandaru yang kadang-kadang memang agak kurang terkendali sehingga dapat menggelitik telinga. ~ Tetapi Agung Sedayu sendiri mampu menjaga perasaannya. Ia ti¬¨dak menunjukkan sikap apapun mendengarkan kata-kata Swandaru itu. Bahkan Agung Sedayu itu mengangguk-angguk kecil. ‚ÄĒ Jadi bagaimana sebaiknya menurut pendapatmu ? ~ bertanya Agung Sedayu. ‚ÄĒ Kau harus mulai dari diri kakang sendiri‚ÄĒjawab Swandaru. ‚ÄĒ Maksudmu, aku harus meningkatkan ilmuku ? – bertanya Agung Sedayu. ‚ÄĒ Ya. Tentu saja tidak untuk waktu yang pendek sekarang ini. Apapun yang kakang usahakan tentu sudah terlambat. Tetapi jika ka¬¨kang dapat keluar dari pertempuran ini dengan selamat, maka kakang harus dengan bersungguh-sunggung mempelajari isi kitab guru. Ka¬¨kang meskipun bertugas di barak Pasukan Khusus, harus menyisihkan waktu untuk kepentingan kakang sendiri. Jika ilmu kakang menjadi semakin tinggi, maka kedudukan kakang dilingkungan Pasukan Khu¬¨sus itu juga akan menjadi semakin kuat. Mungkin pada suatu saat, ka¬¨kang tidak hanya sekedar menjadi seorang Lurah Prajurit yang me¬¨mimpin satu kesatuan Pasukan Khusus. Tetapi kakang akan menjabat kedudukan yang lebih tinggi dalam jajaran Pasukan Khusus itu. – Agung Sedayu mengangguk-angguk pula. Namun katanya ke¬¨mudian. – Tetapi apa yang sebaiknya aku lakukan sekarang ini meng¬¨hadapi pasukan Pati ? ‚ÄĒ ‚ÄĒ Malam ini kakang harus menyiapkan kelompok-kelompok yang lebih besar. Jangan hanya terdiri dari dua atau tiga orang prajurit meskipun dari Pasukan Khusus. Tetapi sedikit-sedikitnya lima orang. Itupun mereka akan mengalami kesulitan jika mereka benar-benar bertemu dengan seorang yang berilmu tinggi diantara prajurit Pati. ~ ‚ÄĒ Tetapi dalam pertempuran gelar, kadang-kadang kita tidak-ba¬¨nyak mendapat kesempatan untuk mengerahkan ilmu andalan kita. Kita terlalu sibuk menghadapi lawan disekitar kita, sehingga waktu untuk melepaskan ilmu kita menjadi sangat sempit. ~ ‚ÄĒ Itu pertanda bahwa kakang masih belum sampai pada tataran yang tinggi dari ilmu perguruan Orang Bercambuk. Jika kakang sudah sampai pada tataran yang tinggi, maka waktu yang diperlukan untuk melepaskan ilmu tidak lebih dari hadirnya niat itu sendiri. ‚ÄĒ jawab Swandaru. ‚ÄĒ Jika para pemimpin dari Pati itu mencapai tataran yang tinggi bahkan tataran tertinggi dari ilmunya, maka kakang akan terke¬¨jut, bahwa tiba-tiba saja ilmu pundak mereka sudah mereka trapkan. ~ Agung Sedayu hanya mengangguk-angguk saja. Ia mengerti sepenuhnya, apa yang dikatakan oleh Swandaru. Bahkan bagi Agung Sedayu, hal itu sama sekali sudah tidak asing lagi, karena ia sudah ter¬¨biasa melakukannya. Karena Agung Sedayu tidak menjawab, maka Swandarupun ber¬¨kata – Nah, kakang. Kita masih mempunyai waktu untuk beristirahat. Kita akan saling mendoakan, mudah-mudahan kita dapat keluar dari pertempuran dengan selamat. Aku minta kakang berhati-hati. Jika ka¬¨kang tidak sempat menyusun kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari lima orang, maka setidak-tidaknya kelompok khusus yang akan dapat melindungi kakang sendiri. Akupun telah melakukan hal yang sama. Aku telah menunjuk orang-orang tertentu untuk menghadapi orang-orang berilmu tinggi sebelum aku sendiri sempat menangani¬¨nya. – – Aku masih mempunyai kesempatan untuk itu ‚ÄĒ jawab Agung Sedayu ‚ÄĒ setidak-tidaknya dua atau liga kelompok. — – Baiklah kakang ‚ÄĒ berkata Swandaru kemudian ‚ÄĒ aku akan kembali ke pasukanku. Aku juga ingin segera beristirahat. Besok di dini hari kita harus sudah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Jika kita sudah turun ke medan, maka kita tidak akan mendapat kesempatan untuk berbuat apapun juga kecuali bertempur. – – Yang Maha Agung akan melindungi kita ‚ÄĒ desis Agung Se¬¨dayu. Demikianlah, Swandarupun kemudian telah meninggalkan Agung Sedayu yang termangu-mangu. Bahkan kemudian sambil me¬¨narik nafas panjang, Agung Sedayu itu berdesah. Tetapi ia sudah tahu benar sifat dan tabiat adik seperguruannya yang kebetulan juga men¬¨jadi kakak iparnya itu. Sepeninggal Swandaru, Agung Sedayu masih sempat menemui para pemimpin kelompoknya. Iapun kemudian minta agar mereka ber¬¨istirahat sebaik-baiknya karena tenaga mereka akan diperas besok di pertempuran. ‚ÄĒ Malam itu juga Panembahan Senapati telah memerintahkan para Senapati untuk siap dalam gelar Garuda Nglayang. Panembahan Sana-patipun telah menunjuk pasukan yang akan berada dikepala dan paruh gelarnya. Yang berada di pangkal lehernya dan pasukan yang akan berada di sayap, badan dan ekor gelar. Panembahan Senapatipun telah menentukan pasukan-pasukan cadangan yang berada ditubuh dan ekor gelar untuk mengambil alih pertempuran jika keadaan menjadi gawat karena susurnya jumlah prajurit atau karena tarik matahari membuat para prajurit kelelahan, haus dan lapar, sehingga mereka sempat untuk beristirahat beberapa saat, berlindung dibalik sayap gelar yang diisi oleh para prajurit dari pasukan cadangan. Ketika malam menjadi semakin dalam, maka perkemahan praju¬¨rit Mataram itupun menjadi sepi. Para Senapati dan para prajurit telah lelap dalam istirahat mereka. Sedikit lewat tengah malam mereka ha¬¨rus sudah bangun dan bersiap-siap untuk memasuki gelar dan turun ke medan. Hanya para prajurit yang bertugas saja yang masih berjaga-jaga di tempat-tempat tertentu untuk mengawasi keadaan jika ada gerakan yang mencurigakan. Selain itu secara khusus Panembahan Senapati¬¨pun mendapat pengawalan dari para prajurit pilihan. Disebelah Timur Kali Dengkeng, Kangjeng Adipati Pragolapun telah mempersiapkan pasukannya pula. Kangjeng Adipati tidak ber¬¨niat untuk merubah gelar perangnya. Yang berubah hanyalah susunan prajurit sesuai dengan tatarannya. Kepada para Senapatinya Adipati Pragola mengatakan bahwa Mataram tentu tidak akan mempergunakan gelar sebagaimana dipilih oleh Pangeran Adipati Anom. – Aku kira Mataram akan mempergunakan gelar Garuda Nglayang – berkata Kangjeng Adipati Pragola. Para Senapati sependapat, bahwa Mataram memang tidak akan mempergunakan lagi gelar Wukir Jaladri yang lebih bersifat untung-untungan itu. Jika pada pertempuran yang pernah terjadi, pasukan Pati yang mempergunakan gelar Supit Urang justru terguncang oleh gelar Wukir Jaladri pasukan Mataram, karena pasukan Pati sama sekali tidak mengira bahwa gelar itu akan dipergunakan oleh Mataram. Seandai¬¨nya sejak semula Pati bersiap menghadapinya, maka gelar Wukir Jala¬¨dri itu akan dapat dihimpit dan bahkan mungkin dapat dipecahkannya. Seperti Panembahan Senapati, maka Kangjeng Adipati Pati itupun telah menentukan letak pasukan dengan perhitungan dan tatanan setelah para Senapati memperhatikan tataran kemampuan para praju¬¨rit. Para Senapatipun telah menempatkan para prajurit Pati yang telah ditarik dari sisi Utara Mataram didalam gelarnya. Demikianlah, sebelum tengah malam kedua perkemahan itu menjadi hening. Para petugas dengan sungguh-sungguh memperhati¬¨kan keadaan disekitar perkemahan. Sementara para petugas sandi dari kedua disekitar perkemahan. Sementara para petugas sandi dari kedua belah pihak, saling mengamati kedudukan lawan. Namun para petugas sandi itu tidak melihat sesuatu yang menarik perhatian dikedua belah pihak. Namun mereka mengambil kesim¬¨pulan, bahwa justru karena itu, esok pagi kedua pasukan yang besar akan bertemu dengan bertempur di medan. Pertempuran yang tentu merupakan pertempuran yang sangat seru, karena kedua belah pihak akan mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuan yang ada. Hening malam di kedua perkemahan itu mulai terusik ketika tengah malam tiba. Mereka yang bertugas menyiapkan makan dan mi¬¨num bagi para prajurit mulai sibuk di dapur. Api diperapian mulai me¬¨nyala, sementara asap membubung tinggi dilangit yang hitam. Sebelum turun ke medan, maka para prajurit harus sudah makan dan minum secukupnya. Bahkan beberapa orang prajurit yang bertu¬¨gas khusus akan menyediakan bekal selama perang terjadi. Dalam keadaan yang mendesak, maka para prajurit ada yang memerlukan mi¬¨numan dan bahkan makanan di medan. Didini hari, maka para prajuritnya mulai bangkit dari pembari¬¨ngan. Mereka mulai mempersiapkan diri mereka. Meneliti senjata me¬¨reka serta kelengkapan yang akan mereka bawa ke medan perang. Menjelang fajar, maka semuanya telah bersiap. Setiap kesatuan , sudah berada di tempatnya masing-masing siap untuk memasuki gelar. Dalam kesiagaan itu, Swandaru masih sempat menemui Agung Sedayu dan bertanya ‚ÄĒ Kau berada di mana ? ‚ÄĒ – Aku mendapat perintah untuk berada di pangkal leher gelar. -jawab Agung Sedayu. – Tidak. aku berada dibawah perintah Ki Tumenggung Yudapa¬¨mungkas yang akan selalu berhubungan dengan Senapati pendam¬¨ping. Tetapi masih ada seorang lagi yang akan selalu berada disisi Pa¬¨nembahan Senapati. – – Siapa ? – – Ki Patih Mandaraka. Swandaru mengangguk-angguk. Katanya kemudian – Aku ber¬¨ada disayap kiri bersama-sama dengan pasukan kakang Untara. ‚ÄĒ – Tugasmu berat – desis Agung Sedayu. – Sebenarnya aku lebih Senang berada ditempatmu. Sayang, aku tidak mendapat perintah untuk berada diinduk pasukan. Para Senapati terpenting dari Pati tentu akan berada di induk pasukan dalam gelar mereka. – Agung Sedayu mengangguk-anguk. Namun katanya – Tetapi sayap gelar akan dapat menentukan, apakah gelar dalam keseluruhan harus maju atau mundur. – – Bukan hanya sayap-sayapnya. Seluruh bagian gelar akan dapat menentukan ‚ÄĒ jawab Swandaru. – Ya ‚ÄĒ desis Agung Sedayu kemudian – keutuhan gelar merupa¬¨kan satu kesatuan. – – Nah, sudahlah – berkata Swandaru – aku harus siap ditengah-tengah pasukanku. Nampaknya sebentar lagi, kita akan bergerak memasuki gelar. Disaat matahari terbit, kita akan terlibat dalam per¬¨tempuran benar melawan Pati. ~ – Ya ~ jawab Agung Sedayu – kita akan bertempur disilaunya cahaya matahari. Karena kita akan menghadap ke arah matahari terbit. – Satu keuntungan bagi Pati – sahut Swandaru. Namun pembicaraan merekapun segera terhenti. Kesibukan di perkemahan itupun meningkat. Panembahan Senapati telah berada di luar kemah khususnya pula. Sejenak kemudian, semua prajurit telah berada ditempatnya. Meskipun siap memasuki gelar Garuda Nglayang. Gelar yang akan di¬¨pergunakan oleh pasukan Mataram untuk melawan gelar Supit Urang yang akan dipergunakan oleh pasukan dari Pati. Pada saat terakhir Panembahan Senapan telah memerintahkan agar para Senapati berusaha disaat pasukan berbenturan, untuk mena¬¨rik sayap kiri surut beberapa langkah kebelakang, sehingga garis ben¬¨turan akan menjadi sedikit condong. Dengan demikian, maka para pra¬¨jurit Mataram tidak akan tepat menghadapi kearah matahari terbit. Kecermatan Panembahan Senapati membuat para Senapati menjadi lebih berbangga terhadap kepemimpinannya. Mereka sema¬¨kin percaya, bahwa dibawah pimpinan Panembahan Senapati sendiri, maka Matahari tentu akan dengan cepat berhasil mendesak pasukan Pati dan kemudian memaksanya mundur kesebelah Utara Pegunungan Kendeng. Demikianlah, maka ketika saatnya tiba, maka Panembahan Sena-patipun telah memanggil semua Senapati. kemudiJn memberikan per¬¨intah dan pesan-pesan terakhirnya sebelum pasukannya mulai berge¬¨rak. Pada saat itu, datang laporan dari petugas sandi, bahwa prajurit Pati sudah mulai bergerak. Mereka berusaha untuk berada disebelah Barat Kali Dengkeng jika benturan terjadi. Prajurit Pati tidak mau mengulangi kesalahan prajurit Jipang dibawah pimpinan Adipati Arya Penangsang yang pasukannya dihancurkan saat mereka menyeberangi Bengawan Solo karena Adipati Jipang yang darahnya panas itu sulit mengekang perasaannya. Nampaknya Panembahan Senapati memaklumi maksud Kang¬¨jeng Adipati Pragola. Namun Panembahan Senapati tidak terpengaruh oleh gerakan pasukan Pati itu. Panembahan Senapati memang tidak merencanakan untuk menjebak pasukan Pati saat mereka menyebe¬¨rang Kali Dengkeng. Karena jika kedua pasukan itu bertemu disebelah-menyebelah Kali Dengkeng, maka mungkin kedua meng¬¨erti akibat buruk yang dapat terjadi. Sebagaimana Pati yang mengakui kebesaran pasukan Mataram, maka Matarampun mengakui kebesaran lawan. Ketika langit menjadi semakin cerah, maka pasukan Matarampun mulai bergerak. Sebuah gelar perang telah tersusun rapi. Gelar Garuda Nglayang. Para prajurit Mataram tidak lagi sempat menghiraukan, kaki-kaki mereka yang menginjak-injak tanaman yang jauh disawah. Mereka ti¬¨dak lagi sempat mengingat, apakah kakinya menginjak lumpur atau pematang atau mengoyak batang kacang panjang yang berambat pada lanjarnya yang memagari kotak-kotak sawah di pematangnya atau tanggul-tanggul parit dengan gemercik airnya yang jernih. Gelar Garuda Nglayang yang melebar itu bergerak serempak me-nyongsong gerak gelar Supit Urang dari pasukan Pati yang tidak kalah besarnya. Ketika kedua pasukan itu menjadi semakin dekat, maka para pra¬¨jurit Pati yang berada di supit gelarpun mulai membuat gerakan-gerakan ancang-ancang. Namun sayap pasukan Matarampun telah malai bergetar pula. Epak sayap garuda raksasa itu akan menimbulkan gelar udara menghentak gelar pasukan lawan. Kangjeng Adipati Pragola dari Pati yang memimpin pasukan Se¬¨napati berada di kepala gelarnya pula. Demikianlah, sejenak kemudian, maka kedua Panglima tertinggi dari kedua pasukan itu telah menjatuhkan perinlah kepada pasukannya intuk dengan cepat membentur lawan mereka. Hampir bersamaan pasukan Mataram dan pasukan Pati itu berso¬¨rak gemuruh seakan-akan meruntuhkan langit. Getar teriakan kedua belah pihak itu bagaikan mengguncang mega-mega sehingga langit-pun menguak disebelah Timur. Dan mataharipun kemudian mulai me¬¨lemparkan sinarnya ke lembar-lembar awan yang tipis di udara dan de¬¨daunan pada pepohonan yang menancap di bumi. Pada saat yang demikian, maka kedua belah pasukan yang besar itu mulai berbenturan. Namun para prajurit Matarampun segera teringat akan perin¬¨tah Panembahan Senapati, bahwa benturan kedua gelar itu harus di¬¨buai condong sehingga para prajurit Mataram tidak menjadi silau ka¬¨renanya. Mula-mula Supit Gelar pasukan Pati disisi kanan menduga bahwa benturan kedua pasukan itu telah menggetarkan ketahanan ge¬¨lar pasukan Mataram. Namun gerak mundur sayap kiri gelar pasukan Mataram itu demikian masnisnya dalam tataran keutuhan seluruh ge¬¨larnya, sehingga akhirnya garis benturan kedua gelar itu menjadi con¬¨dong dilihat dari arah matahari terbit. Beberapa orang Senapati Patipun kemudian menyadari kecerdi¬¨kan para prajurit Mataram. Untuk menghindari silaunya cahaya matahari, dengan sengaja telah membuat garis benturan kedua pasu¬¨kan itu berubah dengan menarik sayap kiri gelarnya. Namun gelar Supit Urang dari Pati itu tidak mempunyai kesem¬¨patan untuk menggeser kembali garis benturan itu, karena para prajurit Mataram dari ujung sayap kiri sampai keujung sayap kanan menyadari sepenuhnya, bahwa mereka harus mempertahankan garis benturan itu jika mereka tidak ingin diganggu oleh silaunya sinar matahari pagi. Demikianlah, sejak benturan terjadi, maka pertempuranpun telah menyala dengan sengitnya. Seharusnya kedua belah pihak menyadari sepenuhnya bahwa mereka harus menyesuaikan dengan kemungkinan bahwa perang akan terjadi dalam waktu yang panjang, sehingga me¬¨reka harus menghemat tenaga. Tetapi mereka tidak dapat melakukan¬¨nya karena suasana pertempuran yang panas itu telah membakar jan¬¨tung setiap prajurit yang sedang bertempur. Supit gelar pasukan Pad mulai menunjukkan kemampuan mereka yang sebenarnya sebagai prajurit yang benar-benar menguasai perang gelar. Supit gelar yangbesar itu mulai bergerak, menganga dan siap menjepit sayap gelar pasukan Mataram. Tetapi para prajurit Matarampun terdiri dari prajurit terlatih pula. Sayap garuda raksasa itupun kemudian telah mengepak dan memukul supit gelar lawannya ang menganga itu. Perangpun benar-benar telah membakar dataran persawahan di-sebelah barat Kali Dengkeng itu. Untuk sementara Panembahan Senapati masih belum terjun lang¬¨sung dipertempuran. Sebagai Panglima tertinggi ia berusaha untuk mengendalikan pert
      • Tampaknya kepotong akhir halaman 75.

        • Lanjutan yang terpotong ……

          Untuk sementara Panembahan Senapati masih belum terjun lang¬sung dipertempuran. Sebagai Panglima tertinggi ia berusaha untuk mengendalikan pertempuran dari ujung sayap sampai keujung sayap yang lain. Setiap kali ia menerima laporan dari penghubung yang membawa laporan dari para Senapati. Tetapi juga memerintahkan para penghubung untuk menyampaikan perintah-perintah dan petunjuk-petunjuk kepada para Senapati.
          Demikianlah ketika matahari naik semakin tinggi, maka pertem-puranpun menjadi semakin garang. Kedua belah pihak seakan-akan menjadi semakin panas dibakar oleh kemarahan diset lap dada. Senjata merekapun terayun-ayun mendebarkan jantung. Benturan-benturan yang keras telah terjadi. Teriakan-teriakan kemarahan, umpatan-umpatan, tetapi juga jerit kesakitan berbaur dengan dentang senjata yang beradu, membuat medan itu menjadi, semakin kalut.
          Pertempuran di induk pasukanpun terjadi tidak kalah garangnya dengan pertempuran di ujung-ujung sayap pasukan. Bukan saja keri¬ngat yang mulai menitik, tetapi juga darah yang mengalir dari luka.
          Prajurit dan pengawal dari kedua belah pihak telah mulai ada yang tergores ujung-ujung senjata. Semakin tinggi matahari, maka ujung-ujung tombak, pedang dan jenis-jenis senjata yang lain seakan-akan semakin haus pula.
          Disayap kiri yang semula sedikit harus bergeser mundur untuk menghindari sinar matahari yang silau, ternyata menjadi sangat sulit untuk diguncang oleh supit gelar lawannya. Para prajurit Mataram yang berada di sayap sebelah kiri, serta ara pengawal Kademangan Sangkal Putung dan sekitarnya, memiliki kemampuan yang tinggi un¬tuk tetap bertahan.
          Sekelompok prajurit Pati yang berada di supit gelar lawannya melihat kesatuan yang berada di sayap kiri tidak mengenakan pakaian keprajuritan yang berada disayap kiri tidak mengenakan pakaian ke¬prajuritan Mataram, mereka melihat satu noda kelemahan pada sayap kiri gelar Garuda Nglayang itu. Karena itu, maka Senapati yang me¬mimpin supit kanan pasukan Pati itu telah memerintahkan seorang Se¬napati bawahannya, untuk memanfaatkan noda yang dianggap sebagai kelemahan itu.
          Senapati yang mendapat perintah itupun dengan cepat tanggap. Karena itu, maka ia berusaha untuk menghunjamkan tajamnya supit gelar menusuk ke noda yang dianggapnya sebagai kelemahan itu.
          Senapati itu bersama beberapa prajurit pilihan berusaha untuk memecahkan noda kelemahan itu dan kemudian memanfaatkan lu¬bangnya untuk menusuk masuk dan menghancurkan sayap kiri itu dari dalam gelar Garuda Nglayang itu sendiri.
          Namun Senapati itu memang terkejut. Kesatuan yang tidak mengenakan pakaian keprajuritan Mataram itu ternyata adalah pasu¬kan pengawal Sangkal Pulung dan sekitarnya. Meskipun memang ada diantara mereka yang kemampuannya berada dibawah rata-rata praju¬rit Pati, tetapi sebagian terbesar para pengawal Kademangan Sangkal Putung memiliki kemampuan prajurit pula.
          Bahkan ketika Senapati yang memimpin kelompok prajurit itu berusaha untuk menjadi ujung tombak yang akan menusuk di tempat berusaha untuk menjadi ujung tombak yang akan menusuk di tempat yang dianggapnya lemah ilu, ia terkejut. Seorang pengawal yang sedi¬kit gemuk dengan senjata cambuk ditangan telah menyongsongnya. Cambuknya dihentakkannya sehingga ledakan cambuk itu seakan-akan lelah mengoyakkan selaput telinga.
          Senapati ilu melangkah mundur. Diperhatikannya orang yang se¬dikit kegemuk-gemukan itu. Nampaknya ia adalah pemimpin pasukan pengawal yang dihadapinya.
          Sekali lagi suara cambuk Swandaru meledak. Suaranya benar-benar memekakkan telinga.
          Namun Senapati yang nampaknya memiliki kemampuan yang memadai itu tertawa. Katanya – He, disini bukan tempat orang meng¬¨gembala kerbau. Pergilah ke pinggir Kali Dengkeng sambil memandi¬¨kan kerbaumu. —
          Swandaru tidak segera menjawab. Tetapi sekali lagi cambuknya meledak.
          Tetapi Senapati ilu tertawa pula.
          Dengan demikian Swandaru mengetahui bahwa lawannya tentu juga berilmu tinggi, sehingga orang itu dapat mengetahui bahwa leda¬kan cambuknya sama sekali tidak bertenaga selain sebuah hentakkan yang dapat menimbulkan gelegar yang memekakkan telinga.
          Namun ketika kemudian hentakkan cambuk Swandaru itu tidak lagi meledak, maka orang itu justru terkejut sekali lagi.
          – Setan ~ geramnya ~ orang-orang ini datang dari mana ? -Swandaru mendengar geremang itu. Karena itu, iapun kemudian
          menjawab – Aku pemimpin pengawal dari Kademangan Sangkal Pu¬¨tung. Kebetulan aku adalah anak Ki Demang Sangkal Putung. ‚ÄĒ
          – Darimana kau hisap ilmu iblismu itu ? –
          – Kenapa ilmu iblis ? ‚ÄĒ bertanya Swandaru.
          – Kau memiliki kemampuan ilmu cambuk yang tinggi. ‚ÄĒ
          – Kau siapa ? – tiba-tiba Swandaru bertanya – tidak banyak pra¬¨jurit yang mengenali tataran kemampuanku hanya dengan mengenali bunyi cambukku. ‚ÄĒ
          – Bersiaplah untuk mati – geram Senapati itu.
          Tetapi Swandaru masih berkata ‚ÄĒ Aku tidak yakin bahwa ke¬¨mampuanmu mengenali tataran ilmuku itu kau dapatkan selama kau menjadi seorang prajurit. Seorang prajurit, yang tentu juga berlaku di Pati, hanya mampu bertempur dalam perang gelar seperti ini. Perang dalam satu kelompok raksasa. Lawan bertabur dimana-mana tanpa mengandalkan kemampuan pribadi masing-masing.–
          РPenglihatan mata ilmumu memang tajam. Pengetahuanmupun meyakinkan bahwa kau mempunyai landasan ilmu yang tinggi. Ber¬siaplah. Kita akan bertempur dengan cara kita Рtantang Senapati itu.
          Darah Swandaru yang cepat menjadi panas itupun segera meng¬¨gelegak, sambil bertolak pinggang ia menjawab ‚ÄĒ Bagus. Itu barulah seorang prajurit laki-laki.
          Senapati itu tidak menjawab. Tetapi senjatanya sebilah luwuk yang berwarna kehitam-hitaman dengan pamor yang seperti berkedip dibawah cahaya matahari, mulai berputar.
          Swandaru menjadi sangat berhati-hati. Ia percayakan lingkung¬annya kepada para pengawal Tanah Perdikan yang tahu apa yang harus mereka lakukan jika Swandaru ingin bertempur seorang melawan seo¬rang.
          Dengan demikian, maka Swandarupun segera terlibat dalam se¬buah pertempuran yang sengit.
          Seperti yang diduga oleh Swandaru, maka lawannya memang memiliki kemampuan melampaui kemampuan kebanyakan prajurit Senapati itu mampu bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi.
          Serangan-serangannya datang beruntun seperti badai mengguncang dedaunan. Namun Swandaru yang memiliki ilmu yang tinggi itu mampu mengimbangi kemampuan lawannya. Dalam hentakkan ke¬mampuan Senapati itu, maka Swandaru tetap tegak diatas sepasang kakinya yang kokoh, bagaikan menghunjam sampai ke pusat bumi.
          Sementara itu cambuk Swandaru berputar seperti baling-baling. Sekali-sekali menghentak dengan deras, namun kemudian menggeliat menebas dengan cepatnya.
          Pertempuran yang menjadi semakin sengit itu seakan-akan telah menyibak para prajurit Pati dan para pengawal Kademangan Sangkal Putung. Mereka telah memberikan tempat yang cukup untuk melaku¬kan perang tanding diantara riuhnya pertempuran gelar antara kedua pasukan yang besar itu.
          Sementara itu, para prajurit Mataram yang berada di Jati Anom, yang dipimpin langsung oleh Untara benar-benar telah menggetarkan garis pertempuran. Untara dengan kemampuan, perang gelarnya telah bertempur dengan kekuatan yang mengehentak hentak. Lapisan-lapisan prajuritnya menyerang susul-menyusul, seperti ombak dibibir Samodra menghentak tebing.
          Sayap yang lain dari Gelar Garuda Nglayang itupun telah bebe¬rapa kali mengguncang supit gelar lawannya. Namun pasukan Pati yang kuat itu masih juga mampu bertahan. Prajurit-prajurit yang ber¬pengalaman yang berada dilapis pertama dengan pengalaman mereka yang luas, setiap kali mampu menutup lubang-lubang yang timbul ka¬rena luka-luka selama pertempuran terjadi. Para prajurit Pati dengan sigapnya hadir dihadapan setiap prajurit Mataram yang mencoba un¬tuk menyusup memasuki garis benturan kedua gelar perang itu.
          Diinduk pasukan, pertempuranpun berlangsung dengan sengit¬nya pula. Panembahan Senapati sendiri masih belum turun di garis pertempuran. Ia masih mengendalikan pertempuran dari kepala gelar Garuda Nglayang.
          Demikian pula Kangjeng Adipati Pati. Kangjeng Adipati juga masih berada di kepala gelar Supit Urangnya. Nampaknya kedua-duanya masih belum menganggap sangat penting untuk turun ke medan, sementara para Senapatinya masih mampu mengendalikan dan mengatasi persoalan-persoalan yang timbul di medan.
          Semakin tinggi matahari, maka pertempuran menjadi semakin sengit. Ketika matahari melamapui puncak langit, maka kedua belah pihakpun mulai menunjukkan kemampuan serta pengalaman mereka. Para Prajurit yang mulai lelah, berusaha untuk tetap tegar di teriknya panas matahari. Keringat dan darah telah menitik di bumi yang sema¬kin membara.
          Dalam keadaan yang demikian, maka gelombang-belombang mulai bergejolak di kedua gelar itu. Prajurit dan pengawal yang se¬mula berada di tubuh gelar telah mulai mengambil alih medan.
          Prajurit-prajurit yang berada di tubuh gelar, bergerak maju, me¬rembes disela sela para prajurit yang sedang bertempur, langsung menjulurkan senjata mereka. Sementara para prajurit yang letih men¬dapat kesempatan untuk beristirahat meskipun masih tetap harus ber¬siaga sepenuhnya untuk seuap saat terjun ke gelanggang. Lapis per¬tama benturan gelar dapat saja menjadi lentur oleh hentakan-hentakan dari pertempuran itu sendiri.
          Dengan demikian, maka nyala api pertempuran tidak menjadi su¬rut meskipun matahari mulai condong. Para prajurit yang bertugas me¬rawat mereka yang terluka dan membawa kebelakang garis pertempu-ranpun telah bekerja tanpa sempat beristirahat. Sedangkan kelompok-kelompok yang lain telah mempersiapkan minuman dan makanan ketegaran para prajurit dan pengawal.

          ***

          lanjut ke kitab 297

          • OK

          • Nyuwun sewu kisanak, dalem bade numpang maos.
            Matur suwun


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: