Buku III-83

283-00

Laman: 1 2

Telah Terbit on 28 Juni 2009 at 00:05  Comments (90)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iii-83/trackback/

RSS feed for comments on this post.

90 KomentarTinggalkan komentar

  1. Buku 283 bagian akhir

    Orang itu sebenarnya memang telah terluka. Serangan-serangan berikutnya telah membuat lukanya menjadi semakin parah; Meski-pun dengan putus asa ia mencoba melawan, namun sama sekali tidak ada artinya.

    Para pengawal yang seakan-akan telah kehilangan kesadarannya itu baru berhenti ketika orang itu telah terjatuh di tanah liat di lereng pegunungan. Orang itu tidak sempat lagi mengaduh.

    Keempat orang itu termangu-mangu sejenak. Seorang diantara mereka berkala, “Apa yang akan kita lakukan atas tubuh itu ?”

    “Seorang dari mereka telah melarikan diri. Orang itu tentu akan kembali mengambil kawannya. Kita tidak dapat berbuat banyak karena mungkin orang itu akan dalang membawa kawan yang tidakakan dapat kami lawan,“ jawab yang lain.

    Keempat orang itu sepakat untuk meninggalkan tempat itu. Dua diantara mereka ternyata sudah terluka meskipuh tidak terlalu parah.

    Ketika keduanya turun dari bukit, mereka menemukan gadis yang telah diseret oleh kedua orang itu masih terbaring ditempatnya. Agaknya gadis itu menjadi pingsan dan baru saja ia menjadi sadar.

    Ketika ia melihat keempat orang datang menghampirinya, gadis itu lelah menjerit ketakutan. Namun seorang diantara pengawal ilu dengan cepat berkata, “He, bukankah kau kenal kami ?”

    Kata-kata itu seakan-akan tidak didengar oleh gadis yang ketakutan itu. Bahkan gadis yang baru saja sadar dari pingsannya itu berusaha untuk bangkit dan berlari.

    Tetapi pengawal itu berkata sekali lagi lebih keras, “He kau kenal kami. Kami telah menyelamatkanmu.”

    Teriakan itu begitu kerasnya sehinga mampu mengatasi gejolak perasaan gadis itu. Seakan-akan di luar sadarnya ia memandang keempat orang yang mendekatinya itu. Diantara yakin dan ragu ia memang telah melihat ampat orang anak muda yang sudah dikenalnya meski-pun tidak terlalu akrab.

    “Pandangilah kami,” berkata peronda yang lain, “kami telah menolongmu. Aku telah terluka pundakku tetapi tidak apa-apa. Aku tidak akan mati kerena luka kecil ini.”

    Gadis itu mulai meyakini penglihatannya. Namun tiba-tiba saja ia telah terjatuh pada lututnya. Kedua tangannya menutupi wajahnya sambil menangis.

    “Sudah,” berkata yang tertua diantara ampat orang pengawal itu, ”jangan menangis. Orang akan dapat menjadi salah paham. Mereka akan dapat menuduh justru kamilah yang membuatmu menangis di tempat seperti ini.”

    Gadis itu memang berusaha untuk mengatasi tangisnya. Meski-pun tangisnya mereda, namun gadis itu terisak-isak sehingga tubuhnya terguncang-guncang. Baru bebarapa saat kemudian gadis itu terdiam.

    “Marilah aku antar kau pulang,” berkata salah seorang pengawal yang sedang meronda itu.

    Demikianlah, meski-pun keempat pengawal itu mula-mula berusaha menyembunyikan persoalan yang dihadapi oleh gadis itu sebelum mereka menyerahkannya kepada orang tuannya, ternyata tidak dapat mereka lakukan. Ketika keempat anak muda itu berjalan bersama seorang gadis yang kusut, matanya merah bahkan tubuhnya kotor oleh debu dan tanah, maka persoalan telah timbul. Beberapa pasang mata yang curiga memandangi mereka dengan tajamnya. Bahkan seseorang telah menghentikan mereka dan bertanya, “Apa yang telah terjadi ?”

    “Biarlah aku serahkan ia kepada orang tuanya, nanti kalian akan mendengar,” jawab salah seorang pengawal itu.

    Tetapi beberapa orang menjadi tidak sabar. Mereka mendesak untuk mendengar jawaban para peronda itu, apa yang telah terjadi atas gadis itu.

    “Kasihanilah sedikit pada gadis itu. Ia akan menjadi semakin ketakutan, malu dan barangkali perasaan-perasaan lainnya yang dapat menyiksanya. Biarlah ia bertemu dengan orang tuanya lebih dahulu.”

    Orang-orang itu masih saja mendesaknya. Seorang yang sudah separo baya bertanya dengan keras, “He, apa yang telah kalian lakukan terhadap gadis itu?”

    Keempat orang pengawal itu justru tersinggung mendengar pertanyaan itu. Seorang diantara mereka menjawab, “Apa yang kau bayangkan ? Katakan, apa yang sudah kami lakukan ? Lihat, aku telah terluka. Seharusnya kalian berpikir dua kali untuk melemparkan pertanyaan-pertanyaan tentang gadis itu.”

    Orang-orang itu memang terdiam. Mereka melihat para pengawal yang bertugas di padukuhan itu segera mendorong beberapa orang mundur dan berkata, “Biarlah gadis itu dibawa kepada orang tuanya.”

    Meski-pun orang-orang tidak berebut mengerubungi gadis itu lagi, tetapi mereka mengikuti gadis itu yang di antar oleh para pengawal pulang ke rumahnya.

    Betapa terkejutnya orang tua gadis itu melihat keadaan anaknya. Belum lagi gadis itu mengatakan sesuatu, ibunya telah berteriak menangis sambil memeluk anak gadisnya.

    “Apa yang terjadi ngger, apa yang terjadi?” tangis ibunya.

    Wajah ayah gadis itu menjadi merah. Namun ia masih sempat menahan diri. Ia melihat beberapa pengawal yang mengantar anaknya itu. Karena itu, maka ia-pun kemudian bertanya, “Ada apa dengan anakku? “

    Pengawal yang terluka telah merasa bahawa ia tidak dapat menunda jawabannya. Orang-orang itu akan kehilangan kesabaran dan dapat berbual hal-hal yang tidak sewajarnya.

    Karena itu, maka dengan singkat pengawal yang terluka itu menceriterakan apa yang telah diketahuinya sejak ia dan kawan-kawannya yang meronda melihat gadis yang diseret oleh dua orang yang tidak dikenal yang ternyata dua orang yang datang dari perkemahan.

    Peristiwa itu ternyata telah membakar padukuhan itu. Semua orang yang laki-laki di padukuhan itu telah bergejolak. Mereka bersiap untuk menyerang untuk menyerang perkemahan di seberang pebukitan.

    Laporan tentang peristiwa itu sampai pula kepada Ki Gede Menoreh dan Prastawa. Karena itu dengan cepat mereka pergi ke padukuhan itu. Dua orang pengawal telah memerintahkan untuk pergi ke rumah Agung Sedayu, untuk memberikan laporan tentang keributan yang terjadi di padukuhan itu.

    Kedatangan Ki Gede disambut dengan acungan berbagai macam senjata. Peristiwa itu merupakan peristiwa yang besar bagi seisi padukuhan itu. Orang-orang tua yang mempunyai anak-anak gadis, anak-anak muda yang mempunyai adik atau kakak perempuan, laki-laki yang mempunyai istri terhitung muda dan semua orang di padukuhan itu menjadi marah.

    Demikian Ki Gede dan Prastawa memasuki halaman banjar, maka orang-orang yang mencabut senjatanya itu telah berteriak-teriak, “Kita hancurkan perkemahan itu. Sekarang juga.”

    “Apa yang kalian lakukan ?” bertanya Ki Gede.

    “Kita menyerang ke perkemahan. Kita tidak menunggu lebih lama lagi. Kita tidak mau membiarkan gadis-gadis kami dan perempuan-perempuan kami ternoda.” teriak seorang.

    Namun yang lain-pun menyambut pula dengan teriakan-teriakan serupa.

    Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Meski-pun ia menjadi gelisah, tetapi ia masih merasa bersukur, bahwa orang-orang Tanah Perdikan Menoreh tetap menghargai nilai-nilai kehidupan yang tinggi. Mereka menganggap bahwa tingkah laku sebagaimana dilakukan oleh kedua orang itu adalah tingkah laku yang tidak pantas tidak sewajarnya dilakukan oleh mahluk yang mempunyai nalar dan budi.

    “Untunglah bahwa belum terjadi peristiwa yang lebih buruk. Tetapi jika kila biarkan saja mereka berada di seberang bukit, maka hal seperti itu akan terjadi kelak.” teriak seseorang diantara mereka yang membawa senjata telanjang di halaman banjar.

    Sebenarnyalah bahwa jantung Prastawa juga terbakar. Tetapi ia lidak berkata sesuatu karena di tempat itu ada Ki Gede Menoreh sendiri.

    Ki Gede Menoreh menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia-pun berkata, “Tenanglah saudara-saudara. Aku ikut merasa prihatin akan peristiwa yang telah dilaporkan kepadaku.”

    “Sekarang kita hancurkan sarang iblis itu.” teriak seorang anak muda. Ternyata anak muda itu adalah anak muda yang telah mempunyai ikatan batin dengan gadis yang hampir saja hilang ditelan iblis di perkemahan.

    Namun Ki Gede itu-pun kemudian berkata, “Tetapi kita harus ingat bahwa kita tidak berhadapan dengan raksasa yang sedang berbaring diam di seberang bukit.”

    “Jadi apa yang harus kita lakukan?” bertanya beberapa orang berbareng.

    “Kita sedang bersiap diri,“ jawab Ki Gede.

    “Lalu berapa lama kita mempersiapkan diri itu ?” bertanya yang lain.

    “Tidak akan terlalu lama. Kita mulai mengetahui kelemahan-kelemahan orang-orang perkemahan itu. Kita mulai melihat lubang-lubang yang dapat kita susupi. Tetapi kita tidak dapat dengan serta merta seperti ini menyerang perkemahan itu. Itu akan sama artinya dengan membunuh diri.”

    Tetapi kemarahan orang-orang padukuhan itu sudah sampai keubun-ubun. Karena itu, maka seorang diantara mereka berteriak, “Kami sudah terlalu lama menunggu. Apakah kita harus menunggu sampai gadis-gadis kita diterkam satu demi satu oleh orang-orang perkemahan itu? Atau barangkali rumah kita dirampok satu demi satu pula? Atau pedagang-pedagang kami dicegat di bulak-bulak panjang dan dirampas harta-bendanya atau nyawanya? Atau apa sebenarnya keberatan kita untuk segera mengusir mereka atau bahkan menghancurkan mereka sama sekali ?”

    “Memang tujuan kita adalah menghancurkan mereka. Tetapi jangan kita sendiri yang hancur,” jawab Ki Gede.

    Prastawa tidak berani menyatakan pendapatnya karena sebenarnya ia sendiri sudah kehabisan kesabaran. Tetapi ia masih sadar, jika ia mengatakan hal itu di hadapan banyak orang yang hatinya sedang goncang, maka sama saja dengan membakar hati mereka yang goncang itu sehingga akan dapat menyala tanpa kendali lagi.

    Karena itu, maka Prastawa sama sekali tidak berkata sesuatu.

    Sementara orang-orang itu masih saja mengacu-acukan senjata mereka. Seorang yang lain berteriak, “Jika demikian, biarlah kami, orang padukuhan ini saja yang datang ke perkemahan. Kami akan membunuh orang-orang yang tinggal di perkemahan itu dan membakar gubug-gubug yang ada disana.”

    “Cukup,” bentak Ki Gede, “aku adalah Kepala Tanah Perdikan ini. Selama ini aku kerja keras untuk kepentingan kalian. Aku tidak mementingkan diriku sendiri. Memanjakan keluargaku atau orang-orang yang dekat dengan aku. Jika aku tidak segera melakukan sebagaimana kalian inginkan, itu semata-mata juga aku memikirkan keselamatanmu.”

    Orang-orang itu memang terdiam untuk sesaat. Namun kemudiam ketika di halaman banjar itu datang Glagah Putih dan Sabungsari, maka orang-orang itu berteriak-teriak lagi.

    “Mana Agung Sedayu. Mana Agung Sedayu,“ teriakan itu seakan-akan hendak meledakkan banjar padukuhan itu.

    Glagah Putih dan Sabungsari yang melihat suasana itu segera menyadari bahwa mereka harus berhati-hati menghadapi orang-orang yang agaknya sedang marah karena peristiwa yang mereka rasakan sangat menusuk perasaan.

    Dengan nada rendah Glagah Putih menjawab, “Kakang Agung Sedayu tidak ada di rumah. Ketika seorang pengawal datang memberitahukan hal itu kepada kami, kakang Agung Sedayu masih ada di baraknya. Ia belum pulang. Karena itu, maka kami datang untuk melihat suasana padukuhan ini.”

    “Jadi kalian datang hanya untuk melihat?” seseorang tiba-tiba berteriak pula, “kau anggap yang terjadi itu sebagai tontonan saja?”

    Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tetap sadar, bahwa ia harus mengendalikan diri dan berbuat sebaik-baiknya menghadapi orang-orang yang sedang marah.

    “Sebaiknya kita tinggalkan saja mereka yang menghalangi penyerangan ini. Kami mohon Ki Gede memimpin kami menyerang perkemahan itu. Seandainya kita masih harus menunggu sebagaimana dikatakan oleh Agung Sedayu, biarlah Agung Sedayu sendiri yang menunggu.”

    Ki Gede terkejut. Glagah Putih dan Sabungsari-pun terkejut pula. Orang-orang itu seakan-akan telah melemparkan kesalahan kepada Agung Sedayu yang dianggapnya menghambat penyerangan mereka atas perkemahan itu.

    Prastawalah yang kemudian menundukkan kepalanya. Sebenarnya ia tidak bermaksud memburukkan nama Agung Sedayu. Tetapi jika hatinya merasa sangat kesal, maka kadang-kadang dengan tidak sengaja meluncur pula keluhannya bahwa Agung Sedayu masih berniat menunda setiap usaha untuk menyerang perkemahan itu.

    Namun dalam pada itu Ki Gede-pun berkata, “Saudara-saudaraku. Jika Agung Sedayu berniat menunda, itu semata-mata karena perhitungannya yang matang. Selain ia seorang yang memiliki pengalaman yang luas, ia juga seorang Lurah prajurit yang memiliki pandangan yang tajam terhadap kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dalam pertempuran yang bakal terjadi.”

    “Tetapi kita tidak sabar lagi,” teriak seorang yang lain. Bahkan yang lain lagi berteriak, “Apa artinya seorang saja diantara seisi Tanah Perdikan? Jika ia tidak mau bersama kami karena takut akan dihancurkan oleh orang-orang perkemahan, maka biarlah ia tidak ikut. Atau katakanlah, biarlah seisi rumahnya tidak ikut serta bersama kami. Kami tidak berkeberatan.”

    Suara itu ternyata disahut oleh banyak orang, “Kita tinggalkan saja satu dua orang yang memang tidak berani ikut bersama kita. Jumlah kita masih terlalu banyak.”

    “Cukup.Cukup,” Ki Gede menjadi marah, “kau ingin tahu artinya seseorang? Jika seseorang itu aku, atau kau, atau kau, atau kau, maka itu tidak berarti apa-apa. Tetapi jika yang seorang itu Agung Sedayu, maka artinya akan besar sekali. Aku yakin kalian tentu mengenal Agung Sedayu, Glagah Putih adik sepupunya dan angger Sabungsari serta orang lain yang ada di rumahnya, Ki Jayaraga, Sekar Mirah dan Rara Wulan. Kalian tentu tahu apa yang mereka dapat lakukan. Dengan ilmu mereka, mereka akan dapat berbuat jauh lebih baik daripada kalian sepadukuhan ini. Jika tidak percaya, biarlah Glagah Putih, yang sekarang ada, melontarkan ilmunya kearah kalian. Maka kalian yang berkumpul ini tidak akan sempat menghitung berapa sosok mayat yang akan terbaring disini.”

    Orang-orang itu termangu-mangu sejenak. Mereka terpengaruh oleh kata-kata Ki Gede itu. Namun tiba-tiba diluar dugaan seseorang berkata, “Jika demikian. Marilah bersama Agung Sedayu, Glagah Putih dan yang lain-lain itu kita pergi keseberang bukit. Mereka akan dapat membunuh orang-orang yang tinggal di lereng bukit itu. Kenapa dengan demikian kita masih harus menunggu lagi? Dengan sapuan ilmu mereka, maka dalam sekejap pekerjaan itu akan selesai.”

    Kemarahan Ki Gede manjadi semakin membakar jantungnya. Tetapi sebagai seorang pemimpin, maka ia harus mengekang diri. Meski-pun demikian maka dengan lantang Ki Gede itu menjawab, “Nah, sekarang dengar penjelasanku. Kita memang mempunyai beberapa orang yang berilmu sangat tinggi. Yang kalian tidak mampu membayangkannya. Tetapi dengar, bahwa di perkemahan itu juga ada orang-orang yang berilmu sangat tinggi sebagaimana Agung Sedayu, Glagah Putih dan yang lainnnya lagi. Karena itulah maka Agung Sedayu menjadi sangat berhati-hati. Jika kita bertempur melawan orang-orang di seberang bukit, mungkin Agung Sedayu sendiri, Glagah Putih dan orang-orang yang berilmu tinggi itu akan dapat luput dari ilmu orang-orang yang berilmu tinggi di seberang bukit. Tetapi bagaimana dengan kalian? Bagaimana dengan para pengawal yang masih muda? Bagaimana dengan orang-orang lain yang dengan marah sambil mengacu-acukan senjatanya menyerang perkemahan itu? Agung Sedayu sudah membayangkan jika demikian yang terjadi, maka korban akan bertebaran sebagaimana menyabit batang ilalang. Nah, dengarkan baik-baik. Jika agung Sedayu mengusulkan beberapa kali agar kita berhati-hati menghadap orang itu, maka landasan berpikirnya adalah menyelamatkan kalian. Bukan Agung Sedayu mencemaskan dirinya sendiri.”

    Orang-orang yang mendengar suara Ki Gede yang keras itu benar-benar terdiam. Mereka mulai sempat memikirkan apa sebabnya Ki Gede masih merasa belum waktunya menyerang perkemahan itu.

    Ketika orang-orang yang berada di halaman banjar itu mulai merenung, maka Ki Gede-pun berkata, “Sekarang sebaiknya kalian kembali ke rumah masing-masing. Biarlah para pengawal melakukah tugas mereka sebaik-baiknya. Namun pada saatnya, jika diperlukan maka kalian harus hadir di halaman banjar dengan senjata di tangan sebagaimana kalian lakukan hari ini. Karena hal itu tentu akan terjadi. Kita hanya menunggu waktu yang menurut penilaian kami waktu yang terbaik.”

    Orang-orang yang berada di halaman itu termangu-mangu. Sementara Ki Gede berkata lagi, “Apa yang kalian tunggu? Pulanglah dan bersiap-siaplah. Aku merasa bangga atas sikap kalian yang serta merta. Ternyata kalian adalah orang-orang yang menjunjung tinggi derajad kemanusiaan kalian. Sikap orang-orang perkemahan itu atau siapa-pun juga yang melakukannya adalah bukan sikap orang beradab. Karena itu wajar jika kalian berniat menghukum mereka, karena orang-orang yang melakukan perbuatan yang demikian memang harus dihukum berat.”

    Orang-orang itu tidak menjawab. Sementara itu, satu demi satu orang-orang itu-pun meningggalkan halaman banjar pulang ke rumah masing-masing.

    Namun setelah mereka sempat merenungi sikap mereka, maka mereka memang menjadi berdebar-debar. Mereka baru menyadari, bahwa jantung mereka telah terbakar oleh peristiwa yang sangat menyakitkan itu.

    Bahkan beberapa orang sempat bergumam di dalam hati, “Untunglah Ki Gede sempat mencegah kami.”

    Ketika banjar itu sudah menjadi lengang, sehingga hanya ada beberapa pengawal saja, maka Ki Gede telah berbicara dengan Glagah Putih, Sabungsari dan Prastawa. Dengan nada dalam Ki Gede berkata, ”Persoalannnya memang sudah sangat mendesak.”

    Glagah Putih dan Sabungsari mengangguk-angguk. Meski-pun agak ragu namun Glagah Putih mencoba untuk memberikan penjelasan, “Ki Gede. Saat ini orang yang bernama Resi Belahan telah berada di perkemahan itu. Kita tidak tahu seberapa tinggi tataran ilmu Resi Belahan itu. Selain Resi Belahan masih ada Ki Tempuyung Putih dan sudah tentu beberapa orang lain yang berilmu tinggi. Karena itu, maka kakang Agung Sedayu agaknya menjadi sangat berhati-hati.”

    “Kami mengerti ngger. Tetapi jika api sudah menyala di dada orang-orang padukuhan seperti ini, maka pada suatu saat kita tentu akan benar-benar tidak mampu mengendalikan lagi. Jika mereka dengan liar menyerang perkemahan itu, maka dapat dibayangkan, bahwa mereka akan disapu habis oleh orang-orang perkemahan yang garang itu.”

    Glagah Putih dan Sabungsari mengangguk-angguk. Sementara itu Prastawa-pun berkata, “Para pengawal-pun rasa-rasanya sudah tidak sabar lagi. Mereka menganggap perkemahan itu seperti duri dalam daging. Setiap ada gerak, maka terasa betapa pedihnya.”

    “Baiklah,” berkata Glagah Putih, “aku akan meyampaikannya kepada kakang Agung Sedayu.”

    “Ya ngger,” berkata Ki Gede kemudian, “kita akan segera membicarakan lagi persoalan ini. Secepatnya, sebelum Tanah Perdikan ini meledak.”

    Demikianlah, maka Ki Gede-pun kemudian telah kembali ke padukuhan induk bersama dengan Prastawa, Glagah Putih dan Sabungsari. Sementara itu, Ki Gede minta agar para pengawal semakin waspada. Mungkin ada orang yang ingin membalas dendam atas kematian kawam mereka.

    Tetapi orang yang melarikan diri dan sudah terluka ketika bertempur melawan para pengawal setelah ia gagal menyeret seorang gadis dari padukuhan, ternyata sama sekali tidak melaporkan kepada pemimpinnya di perkemahan. Ketika ia dikalahkan oleh para pengawal dan melarikan diri, ia langsung bersembunyi di baraknya. Seorang kawannya memang bertanya kepadanya, apa yang terjadi, namun orang itu menggeleng sambil berkata, “Tidak ada apa-apa.”

    “Tetapi aku melihat darah di tubuhmu,” berkata kawannya.

    “O,” orang itu mengusap tubuhnya yang bukan saja berdarah, tetapi juga kotor, “aku terjatuh dari sebatang pohon manggis. Bukan terjatuh, tergelincir.”

    Kawannya tidak bertanya lagi. Sementara orang itu kemudian merasa perlu untuk mandi dan membersihkan diri, menghilangkan jejak dari tubuhnya.”

    Namun ternyata, dua orang petugas perkemahan di Tanah Perdikan Menoreh sempat melihat tentang keributan yang terjadi itu. Ketika mereka melaporkan hal itu kepada Ki Tempuyung Putih maka Ki Tempuyung Putih telah memerintahkan orang itu menghubungi dua orang petugas yang lain, yang lebih bersungguh-sungguh dan bahkan telah menyebarkan uang di Tanah Perdikan.

    “Aku akan melaporkannya kepada Ki Tempuyung Putih,” berkata salah seorang dari kedua orang itu.

    Malam itu juga keduanya minta diri kepada Ki Makerti untuk pergi ke perkemahan.

    “Besok aku sudah kembali,” berkata orang itu yang pada saat-saat terakhir berada di rumah Ki Makerti untuk dapat melihat perkembangan Tanah Perdikan dari dekat.

    Kedua orang itulah yang telah memberikan laporan terperinci dari apa yang didengarnya telah terjadi di pedukuhan di dekat lereng pebukitan itu.

    Kemarahan Ki Tempuyung Putih telah menjalar sampai keubun-ubunnya. Bukan karena ia menjunjung tinggi nilai-nilai tata kehidupan. Tetapi tindakan kedua orang itu akan membakar kemarahan orang-orang Tanah Perdikan.

    Karena itu, maka Ki Tempuyung Putih itu segera memerintahkan mencari orang yang telah melakukan hal itu.

    Memang tidak terlalu sulit untuk menemukan orang itu. Kawan-kawannya yang pernah melihat orang itu terluka telah memberikan laporan tentang keadaannya.

    Ternyata Ki Tempuyung Putih tidak tanggung-tanggung memberikan hukuman kepada orang itu. Ketika orang itu dipanggil dan diminta keterangan apa yang telah dilakukannya, maka ia tidak dapat mengelak lagi. Dua orang petugas di Tanah Perdikan serta dua orang lainnya yang memang berada di Tanah Perdikan telah memberikan kesaksian tentang perbuatannya itu.

    “Padukuhan itu menjadi gempar. Hampir saja mereka beramai-ramai menyerang perkemahan ini. Tetapi Ki Gede sempat mencegahnya.” berkata salah seorang yang bertugas untuk mengamati Tanah Perdikan itu. Bahkan ia-pun berkata, “Aku sudah berusaha memanasi orang-orang yang sempat berbicara dengan aku di halaman banjar. Tetapi Ki Gede mempunyai wibawa yang sangat tinggi. Jika saja mereka, sekelompok orang dari pedukuhan itu tidak terkendali dan menyerang, maka mereka akan dapat kita binasakan. Tetapi justru karena wibawa Ki Gede, maka pada saatnya akan datang serangan yang besar sambil memanfaatkan kemarahan orang-orang Tanah Perdikan karena tingkah laku satu dua orang kita.”

    Sementara itu salah seorang yang untuk sementara tinggal di rumah Ki Makerti berkata, “Tingkah laku itu sangat merugikan kita, justru pada saat aku sedang berusaha mencari bahan untuk melengkapi laporan yang sudah hampir siap. Aku sudah mempunyai hubungan dengan beberapa orang penting di Tanah Perdikan. Aku-pun dalam waktu dekat tentu dapat berbicara tentang kekuatan Tanah Perdikan dan bahkan tentang Bajang Bertangan Baja.”

    Tempuyung Putih tidak berpikir terlalu panjang. Dengan lantang ia berteriak, “Orang itu harus dihukum mati.”

    Orang itu terkejut. Namun apa yang dilakukan kemudian tidak berarti apa-apa bagi Ki Tempuyung Putih. Orang itu-pun kemudian diseret keluar dan hukuman mati-pun dilakukan saat itu juga.

    Ternyata Resi Belahan sama sekali tidak menghiraukan apa yang terjadi. Ketika ia mengetahui persoalan itu, maka ia tidak memberikan tanggapan apapun. Yang kemudian menjadi perhatiannya adalah dua orang yang ditugaskan untuk mencari hubungan di Tanah Perdikan dan yang untuk sementara di rumah Ki Makerti.

    “Waktu kita sudah hampir habis. Dalam waktu sepekan jika kau belum memberikan laporan terperinci tentang kekuatan Tanah Perdikan dan Bajang Bertangan Baja, maka tugasku akan ditinjau lagi,“ berkata Resi Belahan.

    Kedua orang itu mengerti, apa artinya peninjauan kembali atas tugas mereka. Resi Belahan-pun tidak pernah ragu-ragu menjatuhkan hukuman mati. Bahkan mungkin Ki Tempuyung Putihlah yang bertindak lebih dahulu.

    Karena itu, maka mereka berusaha untuk dengan segenap kemampuan mereka mencari beberapa keterangan tentang kekuatan yang ada di Tanah Perdikan.

    Orang-orang itu sudah mengetahui nama-nama Agung Sedayu, Glagah Putih, Sabungsari, Ki Jayaraga dan Ki Gede Menoreh sendiri. Mereka-pun tahu bahwa mereka adalah orang-orang berilmu tinggi sehingga Ki Manuhara dan beberapa orang berilmu tinggi yang lain, justru telah dihancurkan ketika mereka menyerang rumah Agung Sedayu.

    Mereka merasa seakan-akan mereka mendapat satu anugerah ketika ternyata Ki Marbudi telah minta Ki Makerti datang kepadanya untuk membicarakan kemungkinan untuk meminjam uang lebih banyak lagi.

    Dengan serta-merta maka Ki Makerti dan kedua orang yang diaku sebagai saudaranya itu-pun segera datang. Mereka telah mempersiapkan uang berapa-pun yang diinginkan oleh Ki Marbudi dalam batas kewajaran.

    “Kita tidak dapat memberikan uang sepedati,” berkata salah seorang dari kedua orang petugas dari perkemahan itu. “Jika kita melakukan hal itu, maka Ki Marbudi justru akan menjadi curiga, sehingga ia akan membatalkan niatnya,” berkata orang yang disebut Ki Suramuka itu lebih lanjut.

    Ki Makerti termangu-mangu sejenak. Namun katanya, “Tetapi bukankah ia memperlakukan uang. Semakin banyak kita menyediakan uang, maka tentu semakin mudah pula ia membuka rahasia.“

    “Kita akan mencoba untuk menjajaginya,” berkata Ki Prasanta.

    Kedatangan mereka memang disambut oleh Ki Marbudi dengan gembira. Demikian pula isterinya. Ketika mereka sudah duduk di pendapa, maka Ki Marbudi itu berkata, “Ki Sanak bertiga, ternyata anakku sudah sembuh. Aku ingin mengadakan semacam pernyataan sukur dengan mengundang beberapa orang sanak kadang terdekat.”

    “Sokurlah,” berkata Ki Makerti, “kami ikut bergembira. Nah, jika Ki Marbudi menyelenggarakan sokuran, jangan lupa, aku dan kedua saudaraku ini diberitahu. Kami dengan senang hati akan datang untuk ikut meramaikan sokuran itu.”

    “Tentu. Tentu,“ jawab Ki Marbudi dengan serta merta. “namun untuk itu aku masih belum mempunyai beaya.”

    Ki Makerti dan kedua orang yang datang bersama itu serentak tertawa berkepanjangan. Katanya, “Ah, mana mungkin Ki Marbudi tidak mempunyai beaya untuk menyelenggarakan sokuran. Ki Marbudi termasuk seorang bebahu yang berpengaruh. Pelungguhnya tentu cukup luas. Sementara itu Nyi Marbudi yang berdagang di pasar, semakin lama semakin berkembang.”

    “Tetapi aku berkata sebenarnya Ki Makerti,” berkata Ki Marbudi kemudian, “itulah sebabnya, aku berharap Ki Makerti datang kemari.”

    “Ah, hanya untuk itu? Baiklah Ki Marbudi, jika hanya untuk itu, Ki Marbudi tidak usah meminjam uang kami. Kami akan menyumbang seberapa besar yang dibutuhkan Ki Marbudi. Selama ini Nyi Marbudi telah memberikan banyak bunga kepada kami. Tentu tidak akan berkurang nilainya jika sebagian dari bunga yang telah kami terima itu kami kembalikan untuk mensukuri anak Ki Marbudi yang sudah sembuh itu.”

    “Ah, tentu aku tidak mengharapkan demikian,” berkata Ki Marbudi, “aku tidak ingin mengganggu orang lain. Aku benar-benar ingin mendapat pinjaman.”

    “Jangan segan Ki Marbudi. Kami berkata sebenarnya. Kedua saudaraku ini tentu juga sependapat,” berkata Ki Makerti.

    “Terima kasih Ki Makerti. Tetapi kebutuhanku tidak hanya sekedar untuk mensukuri anakku yang sembuh. Tetapi juga seperti yang Ki Makerti tawarkan, memperbaiki rumahku yang hampir menjadi condong ini,” berkata Ki Marbudi.

    “Ah,“ desali Ki Makerti, “rumah ini adalah rumah yang paling kokoh di Tanah Perdikan. Tetapi kami memang sanggup menyediakan uang untuk memugar rumah ini. Mungkin Ki Marbudi ingin tiang pendapa rumah ini diganti dengan tiang ukir-ukiran dan disungging sekali.”

    “Ah, tentu tidak. Aku tidak berani membuat rumah lebih baik dari rumah Ki Gede,“ jawab Ki Marbudi.

    Ki Makerti tertawa. Namun kemudian mereka-pun telah membicarakan rencana Ki Marbudi untuk meminjam uang. Untuk sokuran, memperbaiki rumah dan memperluas usaha dagang Nyi Marbudi.

    “Nanti malam aku datang mengantarkan uang yang Ki Marbudi butuhkan,” berkata Ki Makerti, “Meski-pun kadang-kadang terjadi kekisruhan di Tanah Perdikan ini, tetapi nampaknya para pengawal berjaga-jaga dengan ketat, sehingga aku tidak perlu cemas bahwa akan ada bahaya di perjalanan.”

    “Tetapi bagaimana-pun juga Ki Makerti harus berhati-hati,“ pesan Ki Marbudi.

    “Untuk apa pengawal yang sekian banyaknya?“ bertanya Ki Makerti.

    “Nampaknya saja terlalu banyak. Tetapi sebenarnya pengawal Tanah Perdikan Menoreh tidak terlalu banyak,“ jawab Ki Marbudi, “Soalnya angger Prastawa yang dibantu oleh beberapa orang muda berilmu tinggi itu memiliki kemampuan untuk mengatur, sehingga nampaknya seakan-akan pengawal di Tanah Perdikan ini cukup kuat. Tetapi sebenarnya banyak lubang-lubang kelemahan yang terdapat dalam pertahanan para pengawal Tanah Perdikan.”

    “Ah, tidak Ki Marbudi. Pengalaman mengatakan kepadaku, juga kepada rakyat Tanah Perdikan, bahwa Tanah Perdikan ini cukup kuat untuk menghadapi kekuatan dari luar. Ternyata orang-orang yang berkemah di sebelah bukit juga tidak berani berbuat apa-apa atas Tanah Perdikan ini.”

    “Beberapa kari mereka telah melakukan penyerangan dan pengacauan,“ jawab ki Marbudi.

    “Tetapi usaha mereka tidak pernah berhasil,“ jawab Ki Makerti bersungguh-sungguh.

    “Itu karena mereka tidak tahu letak kelemahan Tanah Perdikan ini. Dan itu merupakan satu keberuntungan bagi kita.”

    Kedua orang perkemahan itu termangu-mangu sejenak. Mereka saling berpandangan. Nampaknya mereka mendapat kesempatan untuk memenuhi perintah Resi Belahan. Meski-pun mereka sadar bahwa mereka tidak boleh tergesa-gesa dan serta merta.

    Namun Ki Makerti masih berkata, “Aku masih percaya kepada Ki Gede Menoreh. Ia seorang yang berilmu tinggi dan berwibawa.”

    Ki Makerti termangu-mangu sejenak. Dengan nada heran ia bertanya, “Ki Marbudi. Nampaknya Ki Marbudi tidak begitu yakin. Bukankah selama ini kita melihat dan mengalami, bahwa Tanah Perdikan ini menjadi besar dibawah kepemimpinan Ki Gede.”

    “Aku percaya. Aku tidak pemah menolak pendapat itu. Aku adalah salah seorang pembantunya. Tetapi justru karena itu aku tahu bahwa tanpa orang-orang seperti Agung Sedayu maka Tanah Perdikan ini tidak berarti apa-apa,“ jawab Ki Marbudi.

    Kedua orang yang mengaku saudara Ki Makerti itu mengangguk-angguk diluar sadar mereka. Sementara itu Ki Marbudi-pun berkata, “Sudahlah. Aku adalah salah seorang bebahu. Jika aku terlepas kata, maka persoalannya akan menjadi lain. Apalagi jika didengar oleh orang-orang perkemahan. He, dengan mudah kalian dapat mengukur kekuatan sebenarnya dari Tanah Perdikan ini. Seandainya kekuatan Tanah Perdikan ini cukup tangguh, kenapa Ki Gede tidak berani menyerang perkemahan itu?”

    Ki Makerti mengangguk-angguk. Katanya, “Tentu tidak akan didengar orang-orang perkemahan. Bagaimana mungkin keterangan Ki Marbudi dapat merambat sampai kesana. Seandainya sampai juga, maka Ki Marbudi tentu pernah berbicara dengan orang lain pula.“

    “Tidak,“ jawab Ki Marbudi, “Aku tidak pernah mengatakannya kepada siapa-pun juga. Kecuali ada bebahu lain yang mempunyai wawasan sama seperti aku.”

    Ki Makerti mengangguk-angguk. Namun kemudian ia berkata, “Sudahlah Ki Marbudi. Aku mohon diri. Nanti malam aku akan datang lagi dengan membawa uang yang Ki Marbudi butuhkan. Juga bagi Nyi Marbudi untuk memperluas perdagangan.”

    “Terima kasih,“ jawab Ki Marbudi, “sebenarnya aku tidak terlalu tergesa-gesa. Apalagi keadaan nampaknya masih belum menentu sekarang ini.”

    “Tidak apa-apa Ki Marbudi, nanti malam aku benar-benar kembali. Bukan saja untuk menyerahkan uang. Tetapi ceritera Ki Marbudi tentang Tanah Perdikan ini sangat menarik. Sebagai orang Tanah Perdikan ini, aku juga ingin mengetahui apa yang sebenarnya digelar diatas Tanah Perdikan ini? Main-main, kepura-puraan atau aku yang tertinggal tanpa dapat mengetahui keadaan yang sebenarnya,” berkata Ki Makerti.

    “Sudahlah,” berkata Ki Marbudi, “aku tidak dapat berbicara panjang tentang para pengawal di Tanah Perdikan ini serta celah-celah kekuatan yang hanya terpampang di permukaan.”

    Ki Makerti tertawa. Katanya, “Baiklah. Kami minta diri.” Demikian Ki Makerti dan kedua orang kawahnya meninggalkan rumah Ki Marbudi, maka Nyi Marbudi dengan wajah tegang bertanya, “Kakang, kenapa kau menyinggung tentang kelemahan di Tanah Prdikan ini? Untunglah kakang belum terlanjur membuka rahasia. Siapa tahu, apa yang kakang katakan diceriterakan oleh Ki Makerti kepada orang lain sehingga menjalar sampai ke telinga orang-orang yang berada di seberang bukit.“

    “Aku tidak peduli,“ jawab Ki Marbudi, “aku memang sudah jemu dengan keadaan yang berlarut-larut seperti ini. Meski-pun nampaknya Ki Gede yang memegang kendali kepemimpinan di Tanah Perdikan ini, namun sebenarnyalah bahwa Ki Gede tidak, berkuasa apa-apa. Segala sesuatunya berada di tangan Agung Sedayu. Seolah-olah ia adalah penguasa tertinggi di Tanah Perdikan ini. Sebenarnya seandainya Ki Gede tidak melaksanakan tugasnya, bukankah ada angger Swandaru, menantu Ki Gede itu yang dapat berkuasa dan memerintah Tanah Perdikan ini. Coba, kau lihat, apa kuasaku di Tanah Perdikan ini meski-pun aku seorang bebahu yang dekat dengan Ki Gede. Duduk, mendengarkan Agunag Sedayu sesorah dan bahkan mengambil keputusan.”

    “Tetapi kakang tidak perlu mengatakan kepada orang yang tidak begitu kakang kenal,” berkata Nyai Marbudi.

    “Tetapi ia orang baik. Nanti malam ia akan datang membawa uang. Nah, apalagi yang aku inginkan sekarang selain uang setelah aku yakin bahwa aku tidak mempunyai kekuasaan sama sekali di Tanah Perdikan ini?“ desis Ki Marbudi. Lalu katanya, “Aku tidak peduli apa yang akan terjadi dengan Tanah Perdikan ini. Aku akan membangun rumah yang baik. Kau akan menjadi seorang pedagang yang besar. Aku tidak peduli apakah aku punya kuasa atau tidak. Namun aku mempunyai pelungguh sawah yang luas.”

    “Kakang, bukankah uang pinjaman itu pada suatu saat harus dikembalikan,” bertanya isterinya.

    “Tentu. Tetapi bukankah Ki Makerti tidak mensyaratkan kapan aku harus mengembalikan? Ia orang baik. Aku dapat mengangsur beberapa-pun yang dapat aku sisihkan setiap pekan. Ia tidak akan banyak menuntut. Dan aku tidak ingin menggelapkan uang itu. Nah, hubungan kita dengan mereka akan dapat berlangsung dengan baik. Agaknya kita dan mereka memang saling membutuhkan,” berkata Ki Marbudi.

    Nyi Marbudi hanya termangu-mangu saja. Tetapi ia tidak berkata apa-pun lagi.

    Demikianlah, maka sejenak kemudian setelah Ki Marbudi membenahi pakaiannya, ia-pun berkata kepada isterinya, “Aku akan pergi ke rumah Ki Gede. Meski-pun aku tidak tahu untuk apa aku ke sana, tetapi meski-pun hanya sebentar aku akan menampakkan diri. Orang-orang Tanah Perdikan ini tentu akan terkejut kelak, jika rumahku menjadi bertambah megah meski-pun tidak melampaui rumah Ki Gede.”

    “Tetapi apakah hal itu tidak akan menimbulkan persoalan, kakang,” bertanya Nyi Marbudi.

    “Bukankah orang-orang Tanah Perdikan tahu bahwa usahamu berhasil? Daganganmu menjadi semakin banyak dan kau tentu mendapat uang lebih banyak pula. Pelungguh sawahku-pun luas. Sedangkan sawah dan pategalan peninggalan orang tuaku-pun luas pula. Nah, apalagi. Lebih dari itu, aku tidak peduli apa kata orang tentang keluarga kita.“

    Nyi Marbudi hanya dapat berdiri termangu-mangu. Sementara itu Ki Marbudi-pun kemudian meninggalkan rumahnya untuk pergi ke rumah Ki Gede.

    Di rumah Ki Gede, Ki Marbudi mendengar bahwa persiapan untuk mengambil langkah-langkah tertentu telah ditingkatkan. Namun Ki Marbudi-pun mendengar dari antara para pemimpin pengawal bahwa apa yang mereka lakukan itu sama sekali tidak berarti. Perintah ameningkatkan persiapan telah dilakukan sejak beberapa pekan sebelumnya. Namun yang mereka lakukan tidak lebih dari persiapan dan persiapan saja.

    Ki Marbudi memang tidak ikut mencampuri kegiatan para pengawal. Tetapi ia sempat mendengar betapa para pengawal hampir kehabisan kesabaran. Apalagi setelah peristiwa yang terjadi di padukuhan dekat pebukitan. Hampir saja seorang gadis telah diperlakukan dekat pebukitan. Hampir saja seorang gadis telah diperlakukan dengan biadab oleh orang-orang dari perkemahan itu.

    Ketika Ki Marbudi kemudian pulang, serta isterinya menanyakan apakah ada persoalan penting di rumah Ki Gede, maka dengan acuh Ki Marbudi berkata, “Masih seperti biasa. Bersiap-siap. Meningkatkan persiapan. Kewaspadaan tertinggi dan kata-kata yang sejenis dengan itu.“

    Nyi Marbudi menarik nafas panjang. Ia mendapat kesan betapa kecewanya suaminya terhadap sikap Ki Gede yang menurut suaminya dikendalikan oleh Agung Sedayu.

    Hari itu Ki Marbudi tidak berbuat apa-apa selain mengamati rumahnya. Pendapa, pringgitan, ruang dalam dan bagian-bagian rumahnya lain. Nampaknya ia sedang merencanakan bagian yang manakah yang akan dirubah, diganti atau dipugar. Sekali-sekali tangannya mengusap tiang-tiang yang berdiri tegak dengan kokohnya di ruang dalam. Ditepuknya saka guru di sudut tenggara sambil berdesis, “Kau tidak akan diganti.“

    Ketika malam mulai turun, maka Ki Marbudi itu-pun berkata kepada isterinya, “Nyi. Sebentar lagi Ki Makerti dan saudara-saudaranya akan datang kemari. Kita akan segera mempunyai banyak uang. Kau akan menjadi pedagang besar dan rumah kita akan menjadi rumah yang dikagumi oleh banyak orang di Tanah Perdikan ini.”

    “Ya, kakang,“ jawab Nyi Marbudi. Namun kemudian katanya, ”Tetapi aku minta kau berhati-hati berbicara dengan Ki Makerti dan kedua orang saudaranya itu. Kita sudah mengenal Ki Makerti dengan baik. Tetapi kita belum mengenal kedua orang saudaranya itu.”

    Ki Marbudi mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku akan berhati-hati.”

    Seperti yang mereka harapkan, maka malam itu Ki Makerti telah benar-benar datang bersama kedua orang saudaranya. Seperti yang mereka janjikan, maka Ki Makerti memang membawa uang cukup banyak untuk mengadakan sukuran, memperbaiki rumah dan memperbesar perdagangan Nyi Marbudi. Apalagi bagi Ki Makerti dan kedua orang yang diaku saudaranya itu, Nyi Marbudi memang telah memberikan bunga yang terhitung cukup banyak dari pinjaman yang telah diterimanya.

    Namun ternyata kedatangan Ki Makerti dan kedua orang itu tidak sekedar menyerahkan uang. Tetapi mereka telah memancing agar Ki Marbudi berceritera serba sedikit tentang keadaan Tanah Perdikan Menoreh.

    “Ternyata seperti yang aku katakan siang tadi, aku merasa aman berjalan di Tanah Perdikan meski-pun malam hari. Jalan-jalan padukuhan nampak ramai. Gardu-gardu terisi para pengawal yang siap menghadapi segala kemungkinan,” berkata Ki Makerti.

    Ki Marbudi yang akan menerima uang cukup banyak itu tertawa. Katanya, “Bukankah sudah aku katakan, bahwa kekuatan Tanah Perdikan ini tidak lebih dari seorang gadis yang memulas wajahnya dengan bedak yang tebal.”

    “Maksud Ki Marbudi,” desak Prasanta.

    “Kekuatan yang sebenarnya dari Tanah Perdikan ini hanya sekedar yang nampak itu saja. Lebih dari itu tidak. Jika ada kekuatan cadangan, maka mereka telah tersebar di padukuhan-padukuhan terutama yang berhadapan dengan perbukitan itu. Untunglah bahwa padukuhan induk ini terletak agak jauh dari perbukitan.”

    “Tetapi itu sangat berbahaya bagi padukuhan induk ini,” berkata Ki Makerti, “bukankah orang-orang di perkemahan itu jika mau akan dapat langsung menyerang ke padukuhan induk?”

    “Mereka juga tidak akan melakukan itu,” berkata Ki Marbudi, “jika mereka kuat, mereka tentu sudah melakukannya.”

    “Mungkin mereka juga berhati-hati seperti Agung Sedayu,” berkata Ki Makerti.

    “Mungkin,“ jawab Ki Marbudi, “mungkin mereka tidak memiliki orang-orang seperti Agung Sedayu, Glagah Putih dan yang lain selain mereka mengira bahwa kekuatan Tanah Perdikan ini padat.”

    Ki Makerti mengangguk-angguk. Sementara itu Saramuka-pun menyahut, “Mungkin mereka memang mengira bahwa kekuatan yang tersimpan di setiap padukuhan di Tanah Perdikan Menoreh ini terlalu besar sebagaimana yang mereka lihat di gardu-gardu peronda di sepanjang jalan.”

    “Seperti aku katakan, para pemimpin pengawal Tanah Perdikan ini memiliki kepandaian mengatur, sehingga seakan-akan Tanah Perdikan ini penuh dengan pengawal. Tetapi coba lihat dengan baik. Orangnya tentu hanya itu-itu saja. Orang-orang laki-laki yang bukan pengawal lebih senang berada di balik pintu rumahnya setelah pulang dari sawah. Bahkan anak-anak muda yang tidak terhitung sebagai pengawal, lebih senang berkumpul di tempat-tempat tertentu bermain dadu. Nah, lihat, tidak semua kelompok-kelompok anak muda bersiaga. Mungkin mereka sedang bermain dadu atau permainan lain. Bukan sekedar permainan, tetapi mereka berjudi. Bahkan kelompok-kelompok pengawal di gardu-gardu sering juga melakukan perjudian dengan alasan untuk mencegah kantuk.”

    Ki Makerti dan kedua orang yang datang bersamanya mengangguk-angguk. Sementara Ki Marbudi berkata, “Untunglah di perkemahan itu juga tidak ada orang berilmu tinggi. Menurut pendengaranku yang ada disana tidak lebih dari Resi Belahan saja.”

    “Tidiak Ki Marbudi,” berkata Prasanta, “selain resi Belahan, menurut para pengawal di perkemahan itu ada Ki Tempuyung Putih, Ki Sembada, Putut Permati dan Ki Carang Ampel.”

    “Tetapi mereka tidak memiliki kemampuan sebagaimana Resi Belahan.“

    “Tentu,“ jawab Prasanta, “Ki Tempuyung Putih adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Demikian pula yang lain-lain. Bahkan tataran ilmu mereka hampir bersamaan. Putut Permati meski-pun masih muda, tetapi ia disebut juga Pembunuh Raksasa. Ia dapat berbuat apa saja yang tidak dapat dilakukan orang lain. Hanya karena umurnya yang masih muda, maka ia tidak memiliki kedudukan yang menentukan sebagaimana Ki Tempuyung Putih.”

    Ki Marbudi tidak begitu menghiraukan keterangan itu. Tetapi ia berkata, “Mungkin Resi Belahan masih belum yakin, bahwa orang-orangnya itu akan mampu menghdapi Agung Sedayu dan kawan-kawannya yang memang berilmu sangat tinggi.”

    Prasanta masih akan menjawab. Tetapi niatnya diurungkan. Yang dikatakan kemudian adalah, “Tetapi agaknya orang-orang perkemahan itu memang mengira bahwa kekuatan Tanah Perdikan ini sangat padat.”

    “Itu omong-kosong. Kau dapat melihat sendiri di padukuhan induk. Selain di gardu-gardu, apakah ada kekuatan lain yang siap untuk berbuat sesuatu justru saat para pemimpinnya berteriak-teriak untuk meningkatkan kesiagaan, untuk kewaspadaan tertinggi dan untuk apa saja. Nah, jika pertahanan di padukuhan induk itu saja lapuk, apalagi di padukuhan-padukuhan yang lain kecuali di beberapa padukuhan di dekat lereng pebukitan yang di seberangnya terdapat perkemahan orang-orang biadab itu.”

    “Orang-orang biadab?“ Saramuka itu bertanya dengan nada tinggi.

    “Ya. Coba gambarkan apa yang telah mereka lakukan. Menculik gadis, merampok dan apa lagi?“

    Saramuka mengangguk-anggauk. Namun ia-pun bergumam, “Sayang. Tanah Perdikan sebesar ini, namun pertahanannya rapuh.”

    “Tetapi masih ada yang diandalkan. Beberapa orang berilmu sangat tinggi,” berkata Ki Marbudi, “mereka adalah inti kekuatan Tanah Perdikan ini.”

    Ki Makerti menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya kedua orang yang diakuinya sebagai saudaranya. Namun keduanya tidak berkata apa-pun juga.

    “Baiklah,” berkata Ki Makerti kemudian, “ternyata kita terlalu banyak berbincang tentang hal-hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan kita. Sebaiknya kita berbicara saja tentang keperluan kita sendiri.”

    “Bagus,” berkata Ki Marbudi, “aku sependapat.“ Pembicaraan mereka selanjutnya berkisar pada kepentingan Ki Marbudi. Kebutuhannya akan uang untuk memperbaiki rumah, sokuran dan memperluas perdagangan Nyi Marbudi.

    Nyi Marbudi menarik nafas dalam-dalam. Sejak pembicaraan berkisar dari persoalan pertahanan Tanah Perdikan, dadanya terasa sedikit lapang. Tetapi keringat dingin telah terlanjur membasahi seluruh tubuhnya. Ia benar-benar cemas mendengar keterangan suaminya tentang kerapuhan pertahanan padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Jika hal itu didengar oleh orang-orang perkemahan, maka persoalannya akan menjadi berkepanjangan.

    Tetapi kemudian yang dibicarakan oleh Ki Marbudi tidak lagi bergeser dari rencananya membangun rumahnya. Wajah Ki Marbudi menjadi cerah ketika ia benar-benar menerima uang dari Ki Makerti sebagaimana diminta.

    “Terima kasih, terima kasih,” berkata Ki Marbudi berulang kali, “Aku akan segera mulai membangun rumahku. Besok aku akan mencari tukang yang paling baik di Tanah Perdikan ini.”

    Namun tiba-tiba Prasanta berkata, “Jangan tergesa-gesa Ki Marbudi. Jika Ki Marbudi percaya kepadaku, maka aku akan membuat hitungan tentang saat yang paling baik untuk membangun rumah.”

    “Ki Prasanta dapat melakukannya?” berkata Ki Marbudi.

    “Tentu. Ayahku adalah seorang yang memiliki kemampuan tembus pandang atas waktu, ruang dan bahkan batin seseorang. Meski-pun aku tidak mewarisinya, tetapi ada sebagian kecil yang dapat aku lakukan.“

    Ki Marbudi mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Ki Prasanta. Aku menunggu keterangan Ki Prasanta. Hitungan hari itu tentu akan berakibat baik bagi kerja yang akan aku lakukan.”

    “Terima kasih atas kepercayaan Ki Marbudi. Besok lusa aku akan datang memberitahukan hari yang terbaik bagi Ki Marbudi. Tetapi maaf, apakah Ki Marbudi tidak berkeberatan jika aku mengetahui hari lahir Ki Marbudi?”

    Ki Marbudi mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menjawab, “Tentu. Apa salahnya? Aku lahir pada hari Selasa dan hari pasaran Pon. Selasa Pon.“

    Ki Prasanta mengangguk-angguk. Katanya, “Lusa aku datang lagi dengan membawa hari terbaik bagi kerja besar Ki Marbudi.”

    “Terima kasih. Kalian terlalu baik kepada keluarga kami. Aku tidak tahu bagaimana aku dapat membalas budi,” berkata Ki Marbudi kemudian.

    “Ah, bukan apa-apa,“ jawab Ki Prasanta.

    Demikianlah, maka Ki Makerti dan kedua orang yang diakunya sebagai saudaranya itu minta diri. Dalam perjalanan Ki Makerti sempat bertanya, “Apakah kau bersungguh-sungguh dengan hari yang baik itu?”

    “Jadi untuk apa kau minta kerja Ki Marbudi itu harus ditunda sampai kau menetapkan hari terbaik?” bertanya Ki Makerti.

    Ki Prasanta tertawa. Katanya, “Baiklah. Kau sudah menjadi bagian dari kerja kami. Aku malam ini juga akan menemui para pemimpin di perkemahan. Aku akan memberikan laporan sesuai dengan keterangan Ki Marbudi. Aku akan berusaha untuk mengetahui kapan Resi Belahan akan menghancurkan Tanah Perdikan ini.. Aku harap bahwa uang itu masih utuh sampai Tanah Perdikan ini jatuh ketangan kami. Aku akan datang ke rumah itu untuk mengambil uang itu kembali.”

    “Tetapi bukankah uang yang sudah terlepas dari tanganmu tidak akan diharapkan kembali?” bertanya Ki Makerti.

    “Resi Belahan dan Ki Tempuyung Putih tidak akan mempertanyakan lagi jika laporanku memberikan kepuasan kepada mereka. Namun jika uang itu akan kami ambil kembali, maka uang itu akan menjadi milik kami pribadi. Berdua. Atau bertiga dengan Ki Makerti. Demikian pula uang yang lain yang aku pinjamkan. Sebagian akan menjadi milik kita dan sebagian yang lain akan aku kembalikan agar aku mendapat pujian dan penghargaan.”

    Ki Makerti mengangguk-angguk. Sambil tersenyum ia bergumam, “Kau memang cerdik. Seperti ular berkepala dua. Kau menggigit dua sasaran.”

    “Kau akan ikut beruntung karenanya,“ desis Ki Prasanta. Sementara itu Suramuka-pun berkata, “Otakmu memang otak iblis. Aku tidak akan pernah berpikir sampai sejauh itu.“

    “Bukankah dengan demikian, kelak, setelah perang selesai, kita akan menjadi orang yang kaya raya? Jika kita kemudian tinggal di Tanah ini, maka kita akan menjadi orang yang sangat berpengaruh,” berkata Prasanta.

    “Kau benar. Sementara itu aku hanya berpikir, apakah tidak sebaiknya jika Resi Belahan menyerang padukuhan induk Tanah Perdikan,” berkata Saramuka.

    “Itu dapat saja terjadi. Tetapi semuanya tergantung Resi Belahan dan Ki Tempuyung Putih. Tugas kita nampaknya berhasil. Memadai dengan uang yang kita keluarkan. Dari mulut Ki Marbudi, seorang bebahu yang berpengaruh di Tanah Perdikan Menoreh, kita mendengar betapa rapuhnya pertahanan di padukuhan induk. Sementara itu para pemimpin yang berilmu tinggi berkumpul dalam satu rumah. Nah, bukankah mudah sekali? Para pemimpin kita dan kelompok-kelompok terpilih akan mengepung dan menghancurkan rumah Agung Sedayu seisinya. Nah, bukankah yang lain sama lunaknya dengan memijit buah rami masak?“ desis Ki Prasanta.

    Saramuka dan Ki Makerti mengangguk-angguk. Prasanta memang berotak setajam duri kemarung.

    Dalam pada itu di rumah Ki Marbudi, isterinya berkali-kali berkata, “Kau kadang-kadang berkata tanpa kendali kakang.”

    “Kau dengar jawabku, aku tidak peduli. Berapa kali sudah jawaban seperti itu aku ucapkan. Bahkan aku-pun berdoa agar padukuhan induk Tanah Perdikan ini dihancurkan Ki Makerti dan kedua orang saudaranya itu mati terbunuh. Mereka tidak akan dapat menagih hutang mereka lagi.”

    “Jangan begitu kakang. Bukankah kita berniat mengembalikan uang yang kita pinjam?“

    “Jika orang-orang yang meminjamkan uang itu mati dalam perang, bukankah itu bukan salahku,“ jawab Ki Marbudi.

    Isterinya tidak menyahut lagi. Ia tahu suaminya agaknya memang sedang dicengkam oleh kekecewaan yang sangat. Tetapi sebenarnya ia tidak perlu mengatakan beberapa hal yang sifatnya rahasia.

    Sebenarnyalah, malam itu juga, orang yang mengaku bernama Saramuka dan Prasanta itu telah memanjat lereng pebukitan dengan sangat berhati-hati. Waktu sepekan yang diberikan oleh Resi Belahan masih tersisa.

    Malam itu juga keduanya berhasil menghadap Ki Tempuyung Putih. Bahkan Ki Tempuyung Putih-pun telah membawa kedua orang itu langsung menghadap Resi Belahan yang sudah bersiap-siap untuk beristirahat.

    Dengan kening yang berkerut Resi Belahan yang memang sudah mengantuk itu menerima orang yang mengaku bernama Prasanta dan Saramuka itu.

    “Cepat katakan, sebelum aku tertidur disini,” berkata Resi Belahan.

    Prasanta-pun kemudian telah melaporkan hasil pengamatannya atas Tanah Perdikan Menoreh yang antara lain berdasarkan keterangan salah seorang yapg termasuk berpengaruh di Tanah Perdikan Menoreh.

    “Kau percaya begitu saja seandainya ia sedang mengigau?” bertanya Resi Belahan.

    “Orang itu tidak mengenal kami berdua. Kami berhubungan dengan orang itu dengan perantara Ki Makerti seorang penghuni Tanah Perdikan itu yang pekerjaannya semula meminjamkan uang dengan bunga.”

    “Kau pernah mengatakannya. Yang aku tanyakan, apakah kau yakin bahwa yang kau dengar itu benar?“ bertanya Ki Tempuyung Putih.

    “Aku juga melakukan pengamatan sendiri meski-pun juga berdasarkan atas keterangan Ki Marbudi, bebahu itu. Aku yakin bahwa keterangannya benar. Tanah Perdikan Menoreh memang rapuh di dalam meski-pun ujud luarnya nampak garang. Sebagian kekuatannya justru berada di padukuhan-padukuhan terdekat,” berkata Prasanta.

    “Dan kau yakin bahwa orang-orang berilmu tinggi di Tanah Perdikan itu tinggal dalam satu rumah?” bertanya Resi Belahan.

    “Aku yakin. Semua orang Tanah Perdikan mengetahui hal itu. Agung Sedayu, adik sepupunya yang bernama Glagah Putih, Ki Jayaraga dan seorang tamu yang sebenarnya bukan keluarga mereka. Namanya Sabungsari. Sedangkan Sekar Mirah, isteri Agung Sedayu dan seorang gadis yang bernama Rara Wulan memiliki kemampuan pula. Tetapi mereka bukan termasuk orang-orang yang berilmu tinggi,” berkata Prasanta pula.

    “Bagaimana-pun dengan Ki Gede Menoreh sendiri dan kemenakannya yang bernama Prastawa?” bertanya Ki Tempuyung Putih.

    Prasanta mengerutkan dahinya. Ternyata Ki Tempuyung Putih telah mendapat laporan pula dari orang lain. Karena itu, maka Prasanta menjadi semakin berhati-hati. Katanya, “Ki Gede memang berilmu tinggi. Tetapi tida setinggi Agung Sedayu, Glagah Putih dan Ki Jayaraga. Mereka bertiga adalah orang-orang yang berilmu sangat tinggi. Menurut keterangan, Sabungsari juga berilmu sangat tinggi dan harus diperhitungkan.”

    Resi Belahan mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan membuat perhitungan. Aku akan mencocokkan laporanmu dengan laporan lain. Jika sesuai, maka aku terima laporanmu.”

    “Sampai kapan kami harus menunggu?” bertanya Prasanta, “menurut pengamatan kami sekaranglah saatnya untuk menghancurkan Tanah Perdikan Menoreh. Sekelompok orang berilmu tinggi akan menyerang rumah Agung Sedayu, sedangkan kekuatan yang dikerahkan dari perkemahan ini akan menyerang padukuhan induk, menduduki dan menghancurkannya sejalan dengan hancurnya orang-orang berilmu tinggi di Tanah Perdikan Menoreh.”

    “Apakah orang-orang berilmu tinggi itu tidak pernah keluar dari rumahnya dan berada, diantara para pengawal?” bertanya Resi Belahan.

    bersambung buku 284

  2. Matur Nuwun……..
    Absen Hadir Sekalian Ngunduh Kitab

  3. Absen malih Ki… :))


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: