Buku III-65

265-00

Iklan

Laman: 1 2

Telah Terbit on 11 Juni 2009 at 00:10  Comments (164)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iii-65/trackback/

RSS feed for comments on this post.

164 KomentarTinggalkan komentar

  1. Matur sembah nuwun Nyi Seno kitab ipun, salam Eyang Widuro; Eyang Pandan; Eyang-eyang yang lain sembah kawulo saking Tole Slamet.

  2. Matur nuwun Ki Gede, matur nuwun Ki Arema, 265nipun sampun kawulo tampi asto kalih mugio ndadosaken lereming manah, lantipin panggraito poro kadhang cantrik wonten padepokan puniki.
    Berkah lan pangestunipun Gusti Alloh Ingkang Murbeng Dumados mugio tansah pinanggih tumrap panjenengan sami poro sepuh, poro dermawan, poro pangreh padepokan, poro kiai, poro nyai, semanten ugi poro woro kawuri, poro kadang sentono, poro mudo prakoso, poro kenyo sulistio lan tumrap panjenengan sedoyo ingkang boten saged kulo sebat mboko setunggal.
    Nuwun,
    Ki Truno Podang

    • Sugeng Enjang Ki Truno…..(07.00 wib)

  3. Waduh, baru online dah langsung disuguhin kitab,

    Vielen dank fuer alle,

  4. Terima kasih Ki/Nyi begitu buka langsung entok kitab
    sedot sik uenaaaak tenan
    jauh2 dari tlatah Balikpapan menuju Mataram
    langsung nyedot Kitabe
    Suwon Nggih………..

  5. Wis tak sedot tuntas….kam sia…nyai….

  6. terima kasih

  7. Gandok e SEPI,
    Pendopo e SEPI,

    Pen-do-po = Pendek-dowo-podho….(rasane)

  8. mau absen ehhh malah langsung nyedot….
    matur tenkyu ki GD /nyi seno

  9. matur nuwun…

  10. masih adakah mungsuh buat AS…..
    nek dudu AS sing gelut…
    le moco kurang marem

  11. untuk seseorang yang sedang dirundung putus asa…

    tugas kita bukanlah untuk berhasil.
    tugas kita adalah untuk mencoba,
    karena di dalam mencoba itulah kita menemukan
    dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil.

    kita tidak akan berhasil menjadi pribadi baru
    bila kita berkeras untuk mempertahankan
    cara-cara lama kita…
    kita akan disebut baru, hanya bila cara-cara kita baru.

    kekuatan terbesar yang mampu mengalahkan stress
    adalah kemampuan memilih pikiran yang tepat
    kita akan menjadi lebih damai
    bila yang kita pikirkan adalah jalan keluar masalah.

    waktu mengubah semua hal, kecuali kita
    kita mungkin menua dengan berjalanannya waktu
    tetapi belum tentu membijak
    kitalah yang harus mengubah diri kita sendiri…

    ada saatnya kita menilai orang lain
    tapi ada pula saatnya kita harus dapat menilai
    apa yang orang lain katakan tentang kita
    penilaian berlaku dua arah, keluar dan kedalam diri kita…

    bila nilai-nilai yang kita tetapkan adalah nilai yang baik menurut ukuran kita, tapi ternyata tidak pernah ada kesesuaian dengan apa yang kita cari, mengapa kita tidak berani untuk mengubah kriteria atas nilai tersebut…

    sebab apa yang kita inginkan
    tidak selalu sesuai dengan apa yang kita butuhkan
    kebutuhan adalah sesuatu yang mendasar
    tetapi keinginan hanyalah keduniawian…

    seekor elang yang perkasapun rela untuk menahan sakit
    seberapapun besarnya sakit itu
    bila setelah itu ia akan kembali seperti baru
    dan kembali merajai udara

    akhirnya, ingatlah selalu
    kita tidak dapat memilih cinta
    tetapi cintalah yang memilih kita…

    (untuk direnungkan, apapun yang tersirat dari apa yang tersurat…)

    tetaaaap semangaaaaaaaaaaaaaaaat….

    • koq ra mudheng arahe….

      setiap saat selalu dihadapkan pada situasi utk selalu membuat pilihan & keputusan…

      setiap keputusan diambil, maka pilihan baru menunggu utk diputuskan…

      jalan bijak satu2nya adalah memutuskan dan mulai membuat pilihan2 utk diputuskan…

      Putus…….

      • he..he..he….. tinggal nggolek sing liyane tha ki…

        yen ora mlebu-mlebu nang kriterianipun njenengan, nggih kriterianipun sing diganti…

    • maaf ki…saya copas sebagian ya…buat di pesbuk…lg butuh sebungkus semangat jg soale,,,suwun…

      • mangga ki…, sebungkus semangat plus wedang jahe…

        gak jadi mampir subang tha…. biar plus plus… 🙂

  12. Lho Kademangan Sumpyuh khan dekat dengan Kadipaten Banyumas?. Kalau anda bepergian dari Purwokerto mau ke Cilacap atau Magelang, ……….. maka selepas Banyumas anda akan melewati Kota Sumpyuh.
    Setelah melewati Sumpyuh ke kanan ke Cilacap, kalo ke kiri ke Kebumen terus Magelang dan Yogyakarta.

    • Mohon pencerahan, apa Sumpyuh yang akan jadi markas Gajah Luwing itu Sumpyuh yang di Banyumas, atau deket Jogya memang ada Sumpyuh?
      Ki Ismoyo,Ki Pandan, Ki Arema atau Ki Yudha, atau yang lainnya barangkali tau?
      Kalo iya Sumpyuh yang dimaksud yang di Banyumas, ya lumayan jauh dari Mataram lho!?

      • Telik Sandi Brang Tengah,
        Telik Sandi Brang Kulon,
        Wilayah Njenengan……..

        • Brang Kulon Ki Tumenggung.

  13. Matur nuwun

  14. Hadir absen…

  15. matur nuwun kitabne

  16. Sampun kulo sedot ngantos kempot Ki. Suwun.

  17. Sangu ngenteni adbm 266:

    KEMBANG KECUBUNG
    Karya : SH. Mintardja)

    Bab I

    Matahari sudah memanjat semakin tinggi. Sinarnya yang memulai menggatalkan kulit menerpa tanah yang lembab di bawah pohon-pohon kembang yang tumbuh di taman yang asri.
    Angin yang lembut serasa berbisik lamat-lamat tentang perawan yang sedang berduka, yang sedang duduk diatas sebuah lincak panjang disebelah sebatang kembang soka yang berwarna ungu muda.
    Biasanya gadis, putera Kangjeng Adipati Wirakusuma, Adipati di Sendang Arum sedang merenungi luka di hatinya.
    Biasanya ia duduk dan bercengkerama bersama ibundanya, dan kadang-kadang bahkan bersama ayahandanya pula di taman. Kadang-kadang ibundanya sendiri merawa pohon-pohon bunga di taman itu. Bunga Soka, bunga ceplok piring, bunga arum dalu dan yang mendapat perawatan khusus adalah segerumbul kembang melati di sudut taman, yang diberi pagar kayu serta terawat rapi.
    Tetapi hari itu Ririswari duduk sendiri, meskipun jaraknya tidak lebih darilima langkah, tetapi gadis itu seakan-akan, tidak menyadari kehadiran seorang emban yang duduk mangamatinya.
    “Puteri! emban itu bergeser mendekat.
    Perawan yang sedang berduka itu tidak bepaling kepadanya.
    “Raden Ajeng Ririswari! Ririswari masih saja berdiam diri.
    “Puteri masih nampak selalu berduka!
    Ririswari menarik nafas panjang, perlahan-lahan ia berpaling, namun kemudian tatapan matanya kembali menerawang, memandang ke kejauhan.
    “Sudahlah Puteri, jangan memperpanjang duka, biarlah Puteri berusaha menyembuhkan luka itu, hamba tahu puteri, bahwa luka itu tentu terasa sangat pedih, tetapi puteri tidak seharusnya membiarkan dirimu tersiksa oleh duka!
    “Aku tidak dapat segera melupakannya, emban! sahut Ririswari tanpa berpaling “ibunda pergi terlalu cepat!
    “Tidak seorangpun dapat mengelak, puteri. Jika Yang Maha Pencipta memanggilnya menghadap, maka kita, tidak dapat mengelak ataupun menunda barang sesaat, kapanpun saat itu dating, siang, malam, pagi dan senja hari pada saat candikala dipajang di langit!
    “Aku mengerti, emban. Nalarku dapat berkata seperti yang kau katakana itu, Tetapi perasaanku sulit aku kendalikan. Kenapa tiba-tiba saja ibunda pergi untuk selamanya!
    “Ampun puteri, jika hamba mengatakan bahwa ibunda memang dikehendaki olah Yang Maha Pencipta kembali kepadanya. Karena itu, kia menyerahkannya dengan ikhlas!
    “Apakah kau dapat berkata seperti itu jika biyungmu yang dipanggil menghadap, emban?, Aku masih ingat ketika dua tahun yang lalu, nenekmu meninggal. Ketika seorang keluargamu daang memberitahukannya kepergian nenekmu itu, maka kau langsung menangis, berguling-guling di tanah tanpa dapat ditenangkan, sehingga akhirnya kau jatuh pingsan. Bukankah saat itu, bahkan ibunda sendiri berusaha menenangkan hatimu. Ibunda juga mengatakan sebagaimana kau katakan kepadaku!
    “Hamba puteri. Tetapi waktu itu, berita meninggalnya nenek hamba itu datang dengan tiba-tiba. Hamba tidak pernah mendengar kabar bahwa nenek sakit. Sepanjang pengetahuan hamba, nenek hamba selalu sehat. Bahkan sebulan sebelumnya, ketika hamba mendapat kesempatan pulang selama tiga hari, nenek masih pergi ke sungai untuk mencuci pakaian. Kemudian, seperti biasanya setiap nenek ke sungai, maka di saat nenek pulang, tentu membawa sebuah batu. Bahkan nenek menganjurkan setiap anggota keluarganya yang pergi sungai, supaya juga membawa sebuah batu sebesar buah kelapa!
    “Batu?!
    “Ya, puteri!
    “Untuk apa?!
    “Dalam setahun, nenek dapat membua bebatur rumah dari bau yang telah kami kumpulkan. Sehari, tiga orang diantara keluarga kami ke sungai, maka kami akan mengumpulkan tiga buah batu sebesar buah kelapa. Bahkan anak-anakpun telah dibiasakan melakukannya pula, yang tentu saja membawa bebatuan yang lebih kecil!
    “Ternyata nenekmu seorang yang cerdik, emban!
    “Ya, puteri, karena itu berita kematiannya sangat mengejutkan!
    “setelah itu, lebih dari setengah tahun kau masih nampak murung!
    Emban itu terdiam.
    “Emban, Ibunda baru seratus hari yang lalu meninggal!
    “Hamba Puteri!
    “Cintaku kepada ibunda idak akan berakhir disaat ibunda pergi, apabila ibunda terlalu cepat!
    “Puteri, tetapi benar kata orang, bahwa kita jangan terlalu dalam terbenam ke dalam duka, selain bagi ketenangan puteri sendiri, jika kelihatan lebih ceria, akan sangat berpengaruh bagi ayahanda Puteri, bagi Kangjeng Adipati Wirakusuma!

    Ririswari menundukkan wajahnya.
    Kangjeng Adipati akan dapat kembali memusatkan perhatiannya kepada tugas-tugas yang diembannya. Tentu kadang-kadang terbersit pula kenangannya terhadap Ibunda Puteri. Tetapi kecerahan wajah Puteri akan menjadi penghiburan yang sangat berarti bagi Kangjeng Adipati. Demikian pula sebaliknya, sehingga akan timbul pengaruh yang baik timbal balik!
    “Emban…?!
    “Hamba Puteri”
    “Kau Pintar emban!
    “Ampun Puteri. Ketika nenekku meninggal, biyung hamba menjadi sangat bersedih sebagaimana hamba. Kami berdua selalu murung. Bahkan setelah hamba kembali ke taman ini. Jika biyung datang menengok hamba, maka kami masih saja menangis bersama-sama mengenang kematian nenek. Ayah hambalah yang menasehati hamba dan biyung hamba agar kami tidak tenggelam ke dalam duka. Jika wajahku cerah, biyung akan terhibur. Sebaliknya jika wajah biyung cerah, aku akan terhibur.!
    “Apakah wajahmu tiba-tiba menjadi cerah?! Emban itu terdiam. Bahkan ia menundukkan wajahnya dalam-dalam.
    “Biyung emban, Aku sadari sepenuhnya bahwa apa yang kau katakana itu benar. Tetapi seperti yang aku katakana, bahwa nalar dan persaanku masih belum sejalan. Aku mengerti semua yang dikatakan oleh seseorang yang mencoba menenangkan hatiku. Menghiburkan agar hatiku menjadi tenang. Tetapi perasaanku ternyata bersikap lain!
    “Raden Ajeng. Itulah yang harus Raden Ajeng usahakan. Keseimbangan antara nalar dan perasaan!
    “Siapa yang mengatakan itu emban?!
    “Orang-orang tua yang mencoba menenangkan hati hamba pada waktu itu, Puteri.!
    “Emban, Bukan maksudku bahwa aku tidak mau mencobanya. Aku sudah mencoba, emban, tetapi ternyata hatiku tidak cukup tegar untuk mengimbangi nalarku!
    “Jika saja Puteri berusaha dengan tidak berkeputusan. Kembalikan persoalannya kepada Yang Maha Kuasa!
    Raden Ajeng Ririsari tidak sempat menjawab, tiba-tiba saja perhatiannya tertarik kepada suara seruling yang seakan-akan menjerit tinggi. Mengalun bagaikan mengapung diatas angin yang semilir di taman yang asri itu.
    “Kau dengar suara seruling itu, emban?
    “Saatnya anak-anak menggembalakan kambingnya!
    “Dimana mereka menggembala?, Suara itu terlalu dekat, Agaknya suara itu bersumber dari bilik dinding keputren ini!
    “Apakah Raden Ajeng tertarik kepada suara seruling itu?!
    “Suaranya menyenuh hati, emban. Aku ingin tahu, siapakah yang telah meniup seruling itu!
    “Tentu seorang anak yang sedang menggembala, Puteri!
    “Tentu tidak sedekat itu, suara itu terdengar dekat seakan-akan aku dapat menjangkaunya dengan jari-jariku.
    “Suara itu terbawa oleh angin!
    “Emban..!
    “Hamba Raden Ajeng.!
    “Bukalah pintu butulan!
    “Pintu butulan..?!
    “Ya..!
    “Apakah itu diperkenankan…?!
    “Atas perintahku!
    “Akan tetapi hanya dalam keadaan yang sangat penting saja pintu itu dibuka.!
    “Bagiku, suara seruling itu sangat menarik hatiku. Aku merasa perlu untuk melihat. Seandainya yang meniup seruling itu seorang anak gembala, maka alangkah senangnya ayah dan ibunya mempunyai anak yang mampu meniup seruling seperti itu. Dengar emban. Suara seruling itu bagaikan terbang tinggi, melintasi mega yang sedang berarak, menggapai sap-sap langit yang lebih tinggi, sehingga menyentuh bulan yang sedang tersenyum manis.!
    “Angan-angan Raden Ajeng, sebagai seorang perawan yang sedang tumbuh dewasa seperti kembang yang sedang mekar, melambung tinggi menggapai rembulan. Tetapi sekarang siang hari Puteri.!
    “Apakah angan-anganmu tidak pernah melayang-layang bersama awan yang bergerak di langit itu emban..?!
    “Ah.Indahnya mimpi-mimpi perawan yang sedang menginjak dewasa, Karena itu Puteri, lupakan duka yang sedang Puteri sandang,!
    “Karena itu, bukalah pintu butulan itu, emban!
    Emban itu nampak menjadi ragu-ragu.
    “Aku yang bertanggung jawab, emban. Apalagi hanya sesaat, aku hanya ingin melihat, siapakah yang membunyikan seruling dibalik dinding keputren ini.!
    Emban itu tidak dapat mengelak lagi, karena itu, maka emban itupun pergi ke pintu butulan, diangkatnya selarak pintu itu, sehingga sejenak kemudian, maka pintu itupun telah terbuka.
    Ketika Raden Ajeng Ririswari menjenguk keluar dinding Keputren, maka Ririswari itupun terkejut.
    “Kakang Jalawaja..?!
    Suara seruling itupun terhenti, seorang anak muda yang sedang duduk disebelah pintu butulan itupun bangkit berdiri. Hampir diluar sadarnya, maka Ririswaripun melangkah keluar.
    “Puteri., puteri akan pergi kamana..?!
    “Aku tidak pergi kemana-mana, emban., aku hanya akan berdiri di pintu.!
    Emban itupun bergeser pula mendekati Ririswari yang sedang berdiri di pintu. Namun emban itu terhenti ketika melihat seorang anak muda yang berdiri termangu-mangu diluar pintu.
    “Kakang Jalawaja., Kenapa kakang berada disini..?!
    “Sudah lama aku duduk disini, Riris, aku tidak berani masuk lewat pintu gerbang.!
    “Kenapa kakang, jika kakang mohon ijin kepada ayahanda untuk menemui aku, ayahanda tentu mengijinkannya!
    “Aku sangsi, Riris. Seandainya aku mohon kepada Kanjeng Adipati, maka aku tentu akan diusirnya!
    “Kau berprasangka buruk terhadap ayahanda!
    “Kau tahu, apa yang akan terjadi dengan ayahku..?!
    “Kenapa dengan paman Reksayuda?
    “Oleh ayahandamu, ayahku telah disingkirkan jauh keluar kadipaten ini!
    “Persoalannya bukan persoalan pribadi, kakang. Aku yakin, bahwa ayahanda akan bersikap baik kepadamu!
    “Aku mengerti Riris..!
    “Tetapi kakang sekarang sudah berada diambang pintu taman. Apakah keperluan kakang?!
    “Jangan tambuh puteri, jangan berpura-pura tidak tahu.! Ririswari menundukkan wajahnya.
    “Riris, aku perlukan datang menemuimu, aku ingin mendengar jawabanmu atas pernyataan yang pernah aku katakana kepadamu!
    “Kakang Jalawaja.! Suara Ririswari menjadi dalam sekali. “Kau tahu, bahwa aku baru saja kehilangan ibundaku!
    “Aku tahu Riris, tetapi bukankah sudah ada jarak waktu sampai hari ini!
    “Tetapi aku masih belum dapat melupakan saat-saat kepergian ibundaku!
    “Kau harus menghadapi kenyataan Riris, sepeninggal bibi, matahari masih beredar di jalurnya. Matahari itu tidak dapat berhenti karena seorang gadis sedang berduka. Aku sudah menyatakan, bahwa aku ikut kehilangan sepeninggal bibi. Bibi sangat baik kepadaku, meskipun bibi tahu, bahwa ayahku adalah seorang yang tidak pantas tinggal di kadipaten ini, tetapi hari-hari akan berlanjut, hidupku dan hidupmu!
    “Aku mengerti, kakang. Duka keluargaku memang tidak dapat menghentikan matahari yang berputar sesuai dengan iramanya sendiri, tetapi aku dapat berlindung dibawah rimbunnya dedaunan untuk menghindari terik sinarnya, hanya untuk sementara di saat hatiku belum siap menerimanya!
    “Sudah berapa kali aku mendengar jawabanmu seperti itu, Riris!
    “Maafkan aku, kakang Jalawaja. Aku tidak berniat melukai hatimu, tetapi aku minta waku!
    Wajah Jalawaja menjadi tegang, tetapi iapun melangkah sambil berdesis.
    “Aku adalah anak orang buangan, Riris. Aku tidak dapat berkata apa-apa lagi, aku minta diri!
    “Kakang!
    “Bukankah aku harus menunggu..? Aku akan menunggu Riris. Sampai pada suatu saat hatimu tidak lagi disaput awan kelabu. Meskipun aku tidak tahu, sampai kapan aku harus menunggu!
    Jalawaja tidak menunggu jawaban Ririswari, iapun kemudian melangkah meninggalkan pintu buntalan taman keputren yang jarang sekali dibuka itu.
    Ririswari berdiri termangu-mangu, wajahnya nampak muram. Sedangkan matanya berkaca-kaca. Dipandangnya Jalawaja menjauh sehingga hilang dikelokan.
    “Puteri.! Ririswari bagaikan terbangun dari mimpinya yang gelisah
    “Hamba mohon puteri segera masuk kembali ke taman keputren, biarlah hamba yang menutup pintunya. Jika para perajurit yang nganglang melihat pinti ini terbuka, maka mereka tentu akan melaporkannya kepada ayahanda puteri!
    Ririswari menarik nafas panjang, sambil mengusap peupuknya yang basah. Ririswaripun melangkahi tlundak pintu buntalan. Tetapi langkahnya terhenti, dipandanginya sebatang pohon bunga yang tidak terdapat dalam taman. Berapa kuntum bunga yang bergelantungan didahannya yang kecil. Seakan-akan menunduk bersedih.
    Ketika Ririswari mendekati pohon bunga itu, embannya menahannya sambil berkata.
    “Jangan Puteri! Ririswari berpaling kepadanya, sementara emban itupun berkata.
    “Itu kembang Kecubung Puteri, kembang yang menyimpan racun yang memabukkan!
    Ririswari melangkah mundur, namun kemudian iapun segera berbalik, masuk ke dalam taman keputren.
    Emban itupun segera menutup pintu butulan itu dan menyelaraknya dari dalam, selarak yang terasa berat di tangan emban itu.
    Sepeninggal Jalawaja, wajah Ririswari menjadi semakin murung. Dengan lembut emban itupun berkata “Sudahlah Puteri, marilah., aku persilahkan Puteri pergi ke geladri, mungkin ada sesuatu yang dapat kerjakan disana!
    Ririswari tidak menjawab, tetapi gadis itupun kemudian berjalan dengan langkah-langkah kecil menuju geladri.
    “Raden Jalawaja tentu akan datang kembali Puteri, Esok atau lusa! berkata emban yang berjalan disamping Ririswari.

    Tetapi Raden Ajeng Ririswari itu menggeleng, katanya! Tidak segera emban!
    “Aku berani bertaruh, besok suara suling itu tentu akan terdengar lagi!
    “Kakang Jalawaja sekarang tidak tinggal di rumahnya!
    “Ooo.!
    “Kakang Jalawaja sudah beberapa lama tinggal bersama kakeknya di kaki bukit!
    “Jadi.!
    “Jika ia datang kemari, emban, ia telah menempuh perjalanan yang panjang!
    “Puteri, mumpung belum terlalu jauh, apakah hamba diperkenankan menyusulnya.?!
    “Jika kau berhasil menyusul Kakang Jalawaja, apa yang akan kau katakana kepadanya?!
    Emban itu terdiam, namun kemudian emban itu berdesis
    “Apa saja yang puteri perintahkan.!
    “Sudahlan emban, akupun yakin, bahwa kakang Jalawaja akan kembali, tetapi kapan?!
    “Kenapa Puteri mengusirnya.?!
    “Aku tidak mengusirnya, emban. Aku hanya mengatakan, bahwa aku belum dapat menjawab pernyataannya beberapa waktu yang lalu.!
    “Pernyataan tentang apa Puteri?!
    “Kenapa Kau masih menanyakannya?!
    “Apakah hamba pernah bertanya sebelumnya.?!
    “Ah..!
    Langkah Ririswari yang kecil-kecil itu menjadi semakin cepat, berlari-lari kecil emban itu yang mengikutinya
    Ketika keduanya sampai ke geladri, geladri itu nampak sepi. Ketika seorang abdi lewat, Ririswaripun bertanya “Dimana Ayahanda?!
    “Di ruang depan, Puteri. Dihadap oleh Raden Ayu Rekasayuda, Ki Tumenggung Jayataruna dan Ki Tumenggung Reksabaya!
    “Bibi Reksayuda ada disini?!
    “Ya, Puteri!
    “Ada apa?!
    “Hamba tidak tahu, Puteri!
    Ketika abdi itu pergi, Ririswaripun berdesis “Aku tidak senang kepada perempuan itu!
    “Kenapa Puteri?! bertanya embannya
    “Tidak apa-apa!
    “Tetapi kenapa Puteri tidak senang kepada Raden Ayu?!
    Ririswari termangu-mangu sejenak, namun kemudian iapun berkata “Aku tidak senang melihat sikapnya, bibi tidak menunjukkan sikap sebagai seorang yang dituakan meskipun ia masih muda. Aku menjadi semakin benci melihat tingkahnya ketika menghadap Ayahanda beberapa waktu yang lalu, justru pada saat ayahanda masih diliputi perasaan duka atas kepergian ibunda!
    “Hamba tidak melihatnya, Puteri!
    “Ia merasa dirinya perempuan yang paling cantik di dunia ini. Jika kau dengar, bagaimana ia manangis dihadapan ayahanda. Tingkahnya yang berlebihan membuatnya menjadi semakin tidak pantas!
    “Kenapa ia menangis?
    “Perempuan itu bicara tentang paman yang masih menjalankan hukuman!
    “Ooo.!
    “Tetapi aku tidak yakin bahwa ia bersikap jujur!
    Emban itu mengangguk-angguk, namun kemudian iapun berkata! Puteri, sudah lama Puteri tidak menyentuh canting, gawangan dan kain yang sedang dibatik itu. Jika Puteri sempat menyelesaikannya, kain itu sangat berarti bagi Puteri, bukankah beberapa coretan pertama dilakukan oleh ibunda?!
    Ririswari termangu-mangu sejenak, namum kemudian iapun berkata “Ya, emban. Biarlah aku melanjutkannya, kain itu akan dapa menjadi kenangan bagiku, bekas tangan ibunda itu akan aku beri tanda agar aku dapat selalu mengingatnya. Kain itu akan menjadi persembahan kepada ayahanda. Ayahanda menggemari kain batik parang, bahkan ayahanda, yang pada waktu itu ,masih didampingi oleh ibunda, mempunyai kumpulan kain batik dari berbagai jenis parang. Sebagian adalah kain yang dibatik oleh ibunda sendiri!
    “Marilah Puteri, biarlah aku mempersiapkannya!
    Keduanyapun kemudian pergi ke serambi samping disebelah kiri, emban itu masuk masuk kedalam sebuah sentong yang sempat. Di dalam sentong itu disimpan berbagai peralatan batik serta lembar kain yang masih harus digarap. Ketika gawangan dengan kain yang belum selesai dibatik bargayut di gawangan iu dibawa keluar dari bilik itu, maka Ririswaripun mengusap air matanya yang mengembun. Di luar sadarnya, Ririswari membayangkan ibundanya yang duduk didepan gawangan itu. Sekali-sekali ditiupnya canting yang berisi malam yang cair dan panas, kemudian digoreskannya paruh canting itu pada kain yang tersangkut digawangan. Embannya masih saja sibuk menyediakan anglo kecil, wajan yang sering dipakai oleh Ririswari serta ibundanya mambatik. Kemudian menyalakan api, meletakkan wajan kecil diatasnya serta menaruh malam kedalamnya. Malam yang berwarna cokelat diberi secuil malam yang berwarna putih.
    Sejenak kemudian, Ririswaripun duduk disebuah bangku dingklik kayu yang rendah disamping wajannya yang berisi malam yang sudah mulai mencair diatas bara api arang kayu metir di anglo kecil.
    Dicobanya untuk memusatkan pada kain yang sedang dibatiknya. Dalam pada itu, di ruang depan, ayahandanya, Kangjeng Adipati Wirakusuma duduk dihadap oleh Raden Ayu Reskayuda, Ki Tumenggung Jayataruna serta Ki Tumenggung Reksabawa.
    Terasa ruang depan dalem kadipaten itu diliputi oleh suasana yang tegang.
    Raden Ayu Reksayuda telah menghadap Kangjeng Adipati Wirakusuma untuk kesekian kalinya. Dengan menahan tangis, Raden Ayu Prawirayuda itu mohon agar diberikan pengampunan bagi suaminya, Raden Tumenggung Wreda Reksayuda yang mendapat hukuman, disingkirkan dan tidak boleh menginjak tlatah Kadipaten Sendang Arum untuk waktulima tahun.
    “Ampun dimas Adipati. Hamba mohon keringanan bagi kangmas Tumenggung Reksayuda!
    Kangjeng Adipati menarik nafas panjang.
    “Hamba sudah menghadap beberapa kali, dimas Adipati masih belum memberikan kepastian, meskipun dimas sudah berjanji akan mengusahakan keringanan itu!
    Kangjeng Adipati masih belum memberikan jawaban.
    “Hamba mohon belas kasihan dimas Adipati, dimas tentu tahu, bahwa ketika kangmas Tumenggung Wreda Reksayuda diusir dari Kadipaten Sendang Arum, kami belim lama hidup bersama sebagai suami isteri, Kami baru saja menikah pada wakti itu!
    “Kangmbok.! jawab Kangjeng Adipati “Jika keputusan bahwa kangmas Tumenggung Wreda itu harus disingkirkan dari Sendang Arum dijatuhkan, adalah akibat dari sikap dan tindakan kangmas Tumenggung Reksayuda itu sendiri!
    “Hamba tahu, dimas. Kangmas Reksayuda memang bersalah, tetapi bukankah kangmas Reksayuda telah menjalani hukumannya?!
    “Kangmas Reksayuda dihukum tidak boleh memasuki tlatah Kadipaten Sendang Arum selamalima tahun!
    “Hukuman itu sangat berat kangmas Reksayuda yang sudah lebih dari separoh baya itu, dimas!
    “Semuanya itu bukan kehendakku pribadi, kangmbok. Tetapi paugeran dan tatanan di Sendang Arumlah yang menentukan, jika kangmas Tumenggung yang sudah semakin tua itu tidak melakukan kesalahan, maka kangmas Tumenggung tentu tidak akan menanggung akibat yang mungkin dirasakan sangat berat itu!
    “Dimas, apalagi sekarang menurut berita yang hamba dengar, kangmas Tumenggung Wreda sering saki-sakitan, apakah mungkin terjadi, bahwa kangmas Tumenggung tidak lagi sempat melihat terbitnya matahari di Kadipaten Sendang Arum ini?!
    Kangjeng Adipati Wirakusuma menarik nafas panjang.
    “Dimas, apapun yang harus hamba lakukan, akan hamba lakukan bagi pengampunan kangmas Tumenggung Reksayuda!
    “Baiklah, aku akan membicarakannya kangmbok!
    “Beberapa pekan yang lalu, dimas juga mengatakan akan membicarakannya!
    “Aku sudah membicarakannya, tetapi masih ada beberapa silang pendapat diantara beberapa orang penanggung jawa negeri ini, agar keputusan ang akan kami ambil tidak menimbulkan persoalan di masa depan, maka kami akan membicarakannya lebih dalam lagi!
    Raden Ayu Prawirayuda mengusap matanya yang basah. Dengan saura yang bergetar iapun berkata “Ampun dimas, Jika demikian, hamba akan menunggu. Namun hamba mohon dengan sungguh-sungguh belas kasihan dimas kepadaku dan kepada kangmas Reksayuda, Hamba mohon dimas Adipati memberi kesempatan kepada kami untuk memberikan arti bagi pernikahan kami.!
    “Kami masih memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan oleh kangmas Reksayuda seandainya ia benar-benar aku kesempatan untuk pulang!
    “Apa yang dapat dilakukan oleh kangmas Reksayuda yang sudah menjadi semakin tua?, Seandainya dimas mengijinkannya pulang, maka yang dapat dilakukannya tidak lebih dari satu kehangatan keluarga diusianya yang semakin tua!
    “Baiklah kangmbok, beri kesempatan kepada kami untuk membicarakannya dengan beberapa orang pejabat di Kadipaten ini!
    “Hamba dimas, segala harapan bergayut kepada kebijaksanaan dimas!
    “Aku bersandar kepada kesepakatan para pemimpin di Sendang Arum!
    “Tetapi dimas adalah penguasa tertinggi di Kadipaten ini!
    Kangjeng Adipati menarik nafas panjang, namun kemudian iapun berkata “Baiklah kangmbok, apa yang kangmbok inginkan sudah kamu ketahui, karena itu, biarlah kami membicarakannya. Pada saatnya kami akan memberitahukan kepada kangmbok keputusan yang kami ambil!
    Raden Ayu Prawirayuda menundukkan wajahnya, sekali-sekali tangannya masih mengusap matanya yang basah. Namun kemudian Raden Ayu Prawirayuda itupun mohon diri.
    “Aku akan memberitahukan kepada kangmbok secepatnya!
    “Terima kasih, dimas, hamba menunggu, siang dan malam hamba berdoa, semoga kangmas Tumenggung Reksayuda segera diperkenankan pulang!
    Raden Ayu Reksayuda itupun kemudian meninggalkan pertemuan itu. Wajahnya nampak muram, matanya lembab oleh tangisnya yang tertahan-tahan. Namun yang kadang-kadang bendungan itu pecah juga, sehingga air matanya menghanbur keluar. Diruang depan Kadipaten iu Kangjeng Adipati masih dihadap oleh Ki Tumenggung Reksabawa dan Ki Tumenggung Jayataruna.
    “Kakang Tumenggung berdua, bagaimana menurut pertimbangan kalian tentang permohonan kangmbok Reksayuda?. Kalian sudah mendengar sendiri, bukan hanya permohonannya, tetapi juga tangisnya. Apakah kia dapat memaafkan kesalahan-kesalahan kangmas Tumenggung Wreda Reksayuda yang telah berniat membrontak pada waktu itu. Meskipun pembrontakan itu belum nyata dan belum dilakukan, tetapi pembrontakan itu rasa-rasanya sudah disiapkannya.!
    “Ampun Kangjeng Adipati, Jika diperkenankan, hamba akan mengutarakan pendapat hamba! berkata Ki Tumenggung Jayataruna.
    “Katakan Kakang!
    “Jika berkenan di hati Kangjeng Adipati, apakah sebaiknya Kangjeng Adipati menghubungi Kangjeng Adipati Jayanegara di Pucang Kembar. Bukankah Raden Tumenggung Wreda Reksayuda berada di Pucang Kembar. Mungkin Kangjeng Adipati di Pucang Kembar dapat memberikan beberapa pertimbangan. Jika menurut pengamatan Kangjeng Adipati di Pucang Kembar, Raden Tumenggung Wreda Reksayuda bersikap baik dan tidak ada tanda-tandanya untuk melanjutkan niatnya menggeser kedudukan Kangjeng Adipati, maka permohonan Raden Ayu Reksayuda dapat di pertimbangkan!
    “Bagaimana pendapatmu kakang Reksabawa?!
    “Kangjeng Adipai, menurut pendapat hamba, paugeran harus ditegakkan di Sendang Arum. Raden Tumenggung Wreda Reksayuda telah melakukan kesalahan yang sangat berat. Raden Tumenggung telah merencanakan satu pemberontakan untuk menyingkirkan Kangjeng Adipati Wirakusuma. Bahkan tanpa alasan apa-apa selain perasaan iri, bahwa bukan Raden Tumenggung Reksayuda yang menduduki jabatan Adipati Sendang Arum. Raden Tumenggung Reksayuda akan dapat menjadi Adipati menurut darah keturunan jika eyangnya tidak meninggal dalam usia yang masih muda, sebelum sempat menggantikan kedudukan ayahnya, Adipati Sendang Arum sehingga akhirnya Kangjeng Adipati Wirakusumalah yang sekarang memegang jabatan itu. Jika saja Raden Tumenggung Reksayuda itu mempunyai alasan yang mapan, mungkin banyak orang yang dapat mengerti, kenapa ia melakukannya meskipun ia tetap dianggap bersalah. Tetapi yang dilakukan oleh Raden Tumenggung semata-mata berpusar pada kepentingannya sendiri.!
    “Jadi maksud kakang?!
    “Ampun Kangjeng, menurut pendapat hamba, perasaan iri di hati Raden Tumenggung Reksayuda itu tidak akan muda hilang, jika Raden Tumenggung Wreda itu mempunyai alasan tertentu, misalnya tentang ke tataprajaan atau tentang tatanan laku dagang atau persoalan mendasar lainnya, masih dapat diharapkan, bahwa perubahan-perubahan yang terjadi di Kadipaten ini akan dapat memberikan kesadaran baru bagu Kangjeng Raden Tumenggung Wreda. Tetapi jika persolanannya adalah karena iri hati, maka akan sulit dicari kalan pemecahannya.!
    “Bagaiman kesimpulan Kakang?!
    “Ampun Kangjeng, menurut pendapat hamba Raden Tumenggung Wreda Reksayuda harus menjalani hukumannya sesuai dengan keputusan yang sudah dijatuhkan,lima tahun. Sedangkan hukuman itu sampai sekarang baru dijalani selama dua hampir tiga tahun!
    “Jadi menurut kakang, kesalahan yang pernah dlakukan oleh kakangmas Raden Tumenggung itu tidak dapat di maafkan?!
    “Setelah waktu hukumannya diselesaikan!
    “Itu namanya bukan pengampunan, bukan pemaafan atas satu kesalahan. Setelah menjalani hukumanlima tahun, hutang kangmas Reksayuda terhadap Kadipaten ini sudah sah. Sudah lunas, tidak ada lagi pengampunan yang diperlukan.!
    “Kangjeng Raden Tumenggung Reksayuda adalah masih berada dalam ;ingkaran keluarga Kangjeng Adipati sendiri. Apa kata orang, jika pengampunan itu Kangjeng Adipati berikan kepada keluarga Kangjeng Adipati sendiri yang terang-terangan telah melakukan kesalahan. Lalu bagaimana pula dengan beberapa orang yang mendukungnya, sehingga harus menjalani hukuman pula. Apakah mereka semua juga harus mendapatkan pengampunan?. Jika tidak, aka apakah hanya kerabat Kangjeng Adipati sendiri yang dapat diampuni kesalahannya?, Karena itu, Kangjeng, menurut pendapat hamba, keputusan yang sudah ditetapkan harus ditegakkan!
    “Kakang! tiba-tiba saja Ki Tumenggung Jayataruna menyela “Keputusan berdasarkan paugeran itu bukan kata-kata mati. Bukankah Kangjeng Adipati mempunyai kebijaksanaan yang dapat diterapkan untuk menentukan keputusan baru?!
    “Apakah yang adi maksudkan dengan kebijaksanaan?, Kebijaksanaan seharusnya bukan berarti satu cara untuk menghindari paugeran yang seharusnya berlaku. Kebijaksanaan bukan cara untuk menembus celah-celah tatanan yang sudah ditetapkan. Memang banyak yang mengartikan bahwa kebijaksanaan itu adalah keputusan-keputusan yang diambil untuk melawan paugeran dan tatanan yang berlaku atau bahkan mempergunakan celah-celah paugeran untuk memutihkan tindakan-tindakan yang sebenarnya keliru.!
    “Itu sudah terlalu jauh kakang. Tetapi agaknya kakang tidak percaya kepada kebijaksanaan yang dapat diambil oleh Kangjeng Adipati!
    “Tidak!, sama sekali tidak. Tetapi aku tidak sependapat dengan jalan pikiranmu adi!
    “Cukup!, Aku memang belum mengambil keputusan apakah aku akan memaafkan kakangmas Raden Tumenggung Wreda Reksayuda atau tidak. Tetapi aku setuju untuk mengumpulkan keterangan-keterangan yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan sebelum aku mengambil keputusan. Karena itu, aku perintahkan kakang Tumenggung berdua, Tumenggung Reksabaya dan Tumenggung kakangmas Adipati jayanegara. Kakangmas berdua akan akun perintahkan untuk minta pertimbangan kakang Adipati tentang sikap dan tingkah laku kakangmas Reksayuda selama berada di Kadipaten Pucang Kembar.!
    “Ampung Kangjeng! sahut Ki Tumenggung Reksabawa “Apakah Kangjeng Adipati Jayanegara akan bersikap jujur? Mungkin Kangjeng Adipati hanya ingin segera menyingkirkan Raden Tumenggung Reksayuda dari Kadipaten Pucang Kembar!
    “Kenapa kau tidak percaya kepada semua orang kakang?.! justru Ki Tumenggung Jayatarunalah yang bertanya
    “Bukan begitu adi Tumenggung. Tetapi aku hanya memberikan pertimbangan-pertimbangan!
    “Sudah cukup! potong Kangjeng Adipati “Aku perintahkan kakang berdua besok pagi pergi ke Kadipaten Pucang Kembar. Mungkin kakang berdua harus bermalam di Pucang Kembar, Karena selain perjalanan yang panjang, belum tentu kakangmas Adipati dapat langsung menerima kalian!
    “Hamba Kangjeng! jawab keduanya hampir berbareng
    “Sekarang aku perkenankan kalian meninggalkan tempat ini!
    Kedua Tumenggung itupun kemudian mohon diri, mereka harus bersiap-siap, karena besok pagi mereka akan menempuh perjalanan jauh.

    Ketika keduanya keluar dari gerang dalem Kadipaten, keduanya tidak banyak berbicara. Baru ketika keduanya akan berpisah. Ki Tumenggung Jayataruna bertanya “Besok pagi-pagi kita bertemu dimana kakang?
    “Menjelang keberangkatan kita ke Pucang Kembar?
    “Ya..,!
    “Bagaimana jika Adi Jayataruna singgah di rumahku.?
    Ki Tumenggung Jayataruna termangu-mangu sejenak, namun kemudian iapun menjawab “Baik kakang, besok pagi-pagi, sebelum matahari terbit, aku sudah akan berada di rumah kakang!
    “Aku akan siap sebelum matahari terbit!
    Keduanya kemudian berpisah, Ki Tumenggung Jayataruna berbelok ke kiri, sementara Ki Tumenggung Reksabawa mengambil jalan yang lurus. Demikian keduanya berpisah, maka keduanya menjadi semakin dalam tenggelam kedalam angan-angan mereka masing-masing. Bagi Ki Tumenggung Reksawaba, maka Raden Tumenggung Wreda Reksayuda tidak sepantasnya diampuni. Hanya berdasarkan atas perasaan iri hati, maka Raden Tumenggung Reksayuda telah mempersiapkan pemberontakan untuk menyingkirkan Kangjeng Adipati Wirakusuma. Mungkin, dalam pembuangan, terbersit penyesalan dan bahkan berjanji kepada diri sendiri untuk melupakan perasaan iri hati itu. Tetapi jika Raden Tumenggung Wreda itu sudah berada di rumahnya, maka perasaan itu akan dapat terungkit lagi.
    “Raden Tumenggung Reksayuda adalah seorang yang keras hati, ia seorang prajurit yang baik, yang mumpuni dan disegani oleh banyak orang. Meskipun Raden Tumenggung itu sudah menjadi semakin tua, namum ia masih akan dapat bangkit lagi untuk memimpin sebuah pemberontakan. Raden Tumenggung itu dapat mencari kelemahan-kelemahan yang terdapat di dalam diri kangjeng Adipati Wirakusuma. Sebagai manusia biasa, memang cukup banyak kekurangan dan kelemahan Kangjeng Adipati! berkata Ki Tumenggung Reksabaya di dalam hatinya
    Ki Tumenggung Reksabaya menarik nafas panjang, Sementara itu Ki Tumenggung Jayataruna yang mengambil jalan lain, telah berangan-angan pula di sepanjang jalan pulang. Yang nampak jelas di angan-angannya justru bukan Raden Tumenggung Reksayuda yang sedang dipersoalkannya dengan Ki Tumenggung Reksabawa. Tetapi yang nampak jelas di angan-angannya adalah justru wajah Raden Ayu Reksayuda yang dimatanya nampak sangat cantik, apalagi jika Raden Ayu itu tersenyum kepadanya.
    “Gila.!! desisnya “kenapa perempuan secantik itu harus menikah dengan Raden Tumenggung Reksayuda yang sudah tua?! Ki Tumenggung Jayataruna menarik nafas panjang. Namun kadang-kadang Ki Tumenggung Jayataruna itu tersenyum sendiri.
    Dalam pada itu, sepeninggal Ki Tumenggung Reksabawa dan Ki Tumenggung Jayataruna, Kangjeng Adipati Wirakusuma telah masuk ke ruang dalam, ketika tercium olehnya bau malam yang dipanasi, maka Kangjeng Adipati itu telah pergi ke serambi. Dipintu Kangjeng Adipati itu berdiri termangu-mangu, Ia melihat puterinya membatik.
    Embannya yang juga membatik sehelai selendang untuk sekedar menemani Raden Ayu Risirwari, melihat kehadiran Kangjeng Adipati, maka diletakkannya cantingnya, kemudian emban itupun menyembah dengan hormatnya.
    Ririswsari yang melihat embannya menyembah, segera berpaling, ketika dilihatnya ayahnya berdiri di pintu. Maka Ririswari itupun menyembah pula. “Ayahanda, aku akan menyelesaikan batik parang itu. Kelak aku ingin mempersembahkannya kepada ayahanda, meskipun barangkali batikanku tidak terlalu halus, namun aku mohon sekali waktu ayahanda mengenakannya. Tentu saja tidak dalam pertemuan besar dan resmi, tetapi mungkin pada saat-saat bibi Reksayuda menghadap!
    “Bibimu…?!
    “Ya., bukankah sekarang bibi sering menghadap? Dengan tingkahnya yang dibuat-buat serta senyumnya yang berhamburan?!
    “Ah.., Kau Riris, Bibimu datang untuk mohon keringanan hukuman bagi uwakmu, kakangmas Tumenggung Wreda Reksayuda!
    “Apakah ia berbuat dengan jujur ayahanda..?!
    “Jangan berprasangka, Riris, Sekarang lanjutkan saja kerjamu. Aku akan menungumu disini, aku senang melihat kau mulai membatik lagi!
    “Ibunda yang mulai dengan beberapa coretan pada kain itu, ibunda memang minta aku menyelesaikainnya!
    “Kau akan menyelesaikainnya, Riris..?!
    “Ayah benar akan menunggui aku disini?!
    “Ya., aku akan duduk di sebelahmu!
    “Baik, Aku mohon ayahanda duduk di situ selama aku masih duduk membatik!
    Kangjeng Adipati tertawa. Namun Kangjeng Adipati duduk pula menunggu Ririswari untuk beberapa lama. Dalam pada waktun itu, di keesokan harinya, sebelum matahari terbit, Ki Tumenggung Jayataruna seperti yang direncanakan sudah berada di rmah Ki Tumenggung Reksabawa. Ki Tumenggung Reksabawapun telah siap pula untuk berangkat. Namun Ki Tumenggung Reksabawa masihn sempat mempersilahkan Ki Tumenggung Jayataruna untuk duduk sejenak di Pringgitan.
    “Mium minuman yang hangat dahulu, adi Tumenggung jayataruna.!
    “Terima kasih kakang, baru saja aku minum dan bahkan makan pagi, sebelum berangkat!
    “Kalau begitu, kita dapat berangkat sekarang!
    “Mari kakang, mumpung masih pagi!
    Ki Tumenggung Reksabawakemudian minta diri kepada Nyi Tumenggung yang mengantarnya sampai di tangga pendapa
    “Tidak duduk dahulu, adi Tumenggung.?! bertanya Nyi Tumenggung kepada Ki Tumenggung Jayataruna
    “Terima kasih, Nyi, kami akan menempuh jarak yang pajang, mumpung masih pagi!
    Keduanya kemudian meninggalkan regol halaman rumah Ki Tumenggung Reksabawa. Kuda merekapun segera berlari kencang selagi jalan masih belum terlalu ramai, meskipun demikian, satu dua orang telah berada di jalan menuju ke pasar. Namun mereka telah memadamkan obor blarak yang mereka bawa, karena langit sudah terang meskipun matahari belum terbit.
    Kedua Tumenggung itupun memacu kuda mereka melintasi bulak-bulak panjang di pagi hari yang dingin, embun masih menitik dari ujung dedaunan yang temelung keatas jalan yang mereka lalui. Dikejauhan terdengar kicau burung liar yang bangkit dari tidurnya ketika langit menjadi kemerah-merahan.
    Tidak banyak yang dipercakapkan kedua orang Tumenggungitu di sepanjang jalan. Mereka menyadari, bahwa ada perbedaan pendapat diantara mereka tentang kemungkinan pengampunan terhadap Raden Tumenggung Wreda Reksayuda.
    Karena itu, maka jika keduanya berbicara diantara mereka, maka yang mereka bicarakan adalah persoalan-persoalan yang lain, yang tidak menyangkut kemungkinan pengampunan Raden Wreda Reksayuda.
    Ketika kemudian matahari terbit, mereka sudah berada agak jauh dari Kadipaten, mereka tidak saja melintasi bulak-bulak pajang, tetapi mereka juga menerobos padukuhan-padukuhan besar dan kecil. Melewati padang-padang rumput danpadang perdu di pinggir utan yang lebat.
    Matahari yangn semakin tinggi sinarnya mulai menggigit kulit. Semakin lama sinarnya manjadi semakin terik, sehingga keringat merekapun mulai membasahi pakaian mereka.
    “Kuda-kuda kita mulai letih kakang! berkata Ki Tumenggung Jayataruna.
    “Ya.adi, aku merasakannya!
    “Bkan hanya kuda-kuda kita!
    Ki Tumenggung Reksabawa tertawa, katanya “Kita juga mulai haus!
    Keduanya sepakat untuk berhenti di sebuah kedai yang terhitung besar dan ramai di kunjungi orang, dekat sebuah pasar yang nampaknya sedang pasaran, sehingga orang-orang yang berjualan agaknya tidak termuat lagi di dalam pasar. Jalan di depan pasarpun menjadi sempit, karena orang-orang yang berjualan di sebelah menyebelah jalan. Sejenak kemudian, keduanya telah berada di dalam kedai itu. Kepada seorang yang bertugas, kedua orang Tumenggung itu menyerahkan kuda mereka untuk diberi minum dan makan secukupnya.
    “Pasar itu masih ramai saja di tengah hari! desis Ki Tumenggung Reksabawa!
    “Hari ini hari Soma Mancawarna, Ki sanak! berkata pelayan yang siap melayani mereka berdua.
    “Hari pasaran.?!
    “Ya.pasar ini adalah pasar yang teramai diantara bebarapa pasar yang ada di sekitar tempat ini!
    “Pasar ini pasar apa namanya, Ki sanak?!
    “Pasar Patalan, karena pasar ini berada di kademangan Patalan!
    “Ooo..! Ki Tumenggung Reksabawa mengangguk-angguk
    “Bukankah kita tidak untuk pertama kalinya melewati pasar ini, kakang?!
    “Ya.tetapi akubari tahu sekarang namanya. Pasar patalan karena pasar ini berada di Kademangan Patalan!
    Keduanya kemudian memesan makanan dan minuman sambil memberi kesempatan kuda-kuda mereka beristirahat.
    Diluar pengetahuan mereka, empat orang yang juga di dalam kedai itu telah memperhatikan keduanya. Menilik makanan yang dipesan, sikap serta pakaian mereka, juga kuda-kuda mereka serta kelengkapannya, keduanya adalah orang yang berada. Di hari-hari pasaran, kadang-kadang memang ada orang yang sengaja memperhatikan orang-orang yang hilir mudik di pasar itu. Mereka memperhatikan orang-orang yang dianggapnya memiliki uang atau barang-barang berharga. Saudagar-saudagar orang-orang yang membawa banyak uang setelah menjual barang-barang berharga merka.
    Tetapi kadang-kadang saudagar-saudagar kaya tidak hanya sendiri atau dua orang tiga orang pergi ke pasar. Tetapi kadang-kadang mereka membawa beberapa orang upahan untuk melindungi mereka jika mereka harus berhadapan dengan penjahat. Meskipun demikian, kadang-kadang ada juga orang yang sombong atau lengah, sehingga akan dapat menjadi mangsa orang-orang yang berlaku jahat. Agaknya kedua orang berkuda itu tidak mengetahuiya. Mereka hanya datang berdua saja.
    Ketika pelayan kdai itu menyerahkan pesanan mereka, pelayan itu bertanya perlahan-lahan “Ki sanak berdua, belum pernah ke pasar ini?!
    “Kami pernah lewat jalan ini! jawab Ki Tumenggung Jayataruna.
    Apakah Ki sanak tadi juga pergi ke pasar Patalan?!
    “Tidak, kami hanya lewat. Kebetulan saja pasar ini ramai sekali karena hari ini adalah hari pasaran. Bukankah biasanya setelah tengah hari pasar menjadi semakin sepi..?
    “Ya.Ki sanak, orang-orang dan saudagar-saudagar dari jauh hari ini berdatangan. Mereka menjual bermacam-macam barang, tetapi ada juga mereka yang membeli berbagai macam barang untuk dijual kembali!
    “Tengkulak.?!
    Ya..!
    Ki Tumenggung Jayataruna mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba pelayan itu berbisik “Hati-hati dengan empat orang yang duduk di sebelah tiang itu, Ki sanak.!
    Kedua Tumenggung itu berdesis hampir berbareng “Kenapa..?!
    “Mereka sering melakukan kejahatan, tetapi jangan berpaling sekarang!
    “Terima kasih atas keteranganmu Ki sanak!
    Pelayan itupun kemudian berkata lebih keras !Sebaiknya Ki sanak berdua singgah di pasar itu untuk melihat-lihat!
    “Kami agak tergesa-gesa! jawab Ki Tumenggung Jayataruna.
    Ketika pelayan itu perpgi, Ki Tumenggung Jayatarunapun berdesis “Mudah-mudahan mereka tidak menggangu perjalan kita!
    “Agaknya kita akan luput dari perhatian mereka. Yang mereka perhatikan adalah para saudagar ataun orang-orang yang baru saja menjual barang-barang berharga di pasar yang sedang pasaran itu!
    “Darimana mereka tahu, sedangkan mereka duduk-duduk saja disitu?
    “Tentu ada orang lain yang mengamati para pedagang dan orang yang aganya dapat mereka jadikan korban mereka di pasar itu!
    Ki Tumenggung Jayataruna tertawa, Ia sedang mentertawakan pertanyaannya sendiri.
    Namun kedua orang Tumenggung itu sama sekali tidak menjadi gelisah, mereka makn dan minum dengan tenang sambil beristirahat serta memberi kesempatan kuda-kuda mereka beristirahat pula.

    Bersambung …. Bab 3

    • Mas Goldy, aku kayaknya kok pernah baca ngambil di sini juga tapi kok belum selesai ya. Apa ada yang sudah Tamat di link mana mas?
      Matur nuwun sa’derengipun.
      Ki Truno Podang

      • Ki Truno,
        mungkin Ki Goldy punya kitabnya sendiri, jadi bisa tamat, tapi kalau download sepertinya belum ada yang tamat.

    • Bagaimana tanggapan kadang cantrik dengan menuliskan secara utuh hasil karya SH Mintardja (Kembang Kecubung) pada blog ini.
      Sementara karya tersebut sudah banyak di upload di blog-blog lain seperti : kang zuzi, hanaoki, facebooknya kang zaky, cersil indonesia, dll, etc….

      • Opo Ora Mbingungi Ki….
        Nanti akan Muncul 2 Cantrik Padepokan :
        1.Cantrik ADBM (ganteng,gagah)
        2.Cantrik KK (Kembang Kecubung)
        Opo Ora Ruwet………..
        opo Ora Ribet………..
        Opo Ora …………….

      • Enyong ya setuju. Ora apa-apa lah, ora bakal mbingungi. Lha wong sing siji ning posting utama sing sijine ning nggon komentar.
        Maju terus pakde goldy, tak dukung sekang kene.

        • Sayang Swandaru Geni wis karo Nyi Pandan Wangi, angger ndurung wis jan klop mbanget karo mbokayune Ken Padmi.

    • Saya si-7 sekali Mas Is! Hayooo Mas Goldy sampaian bertanggung jawab untuk nerusin upload sampai tamat di media ini, horo to yo?

      • Hak azasi seseorang untuk memberikan komentar disini, tapi alangkah lebih baiknya jika retype cerita apalagi notabene hasil karya Ki SH Mintardja ditulis pada blog, facebook atau website sendiri, dan yakin cantrik akan rajin mengunjungi untuk mendonlotnya. Misalnya seperti Istana yang suram saya donlot di Indozone yang di uploade sama Mas Dino.

        • Ki..Istana yang suram apa sudah komplet? Sya juga dulu dapat dari indozone tapi cuma sampai bab-4. Penasaran sama lanjutan kisah dan nasib Pangeran Kuda Narpada.

          • Ki Ubaid,
            Istana Yang Suram di Indozone yang di uploade Mas Dino, sudah sampai bab ke 39, Sangkan dan Pinten sudah bertempur dan Kuda Rupaka sudah lari dari Istana suram.

            • Wah kalo gitu aku dah ketinggalan jauh. Mo coba DL ah sambil nunggu kitab 266. Suwun Ki…

  18. akhir akhir ini kok kayanya perkelahiannya kurang seru, yang seru malah antara GP sama RW..

  19. Yang seru adalah Ki Widura sama Ki Kimin, rebutan mbuka’ gandhok…

    ………mlayu…

    • ki Arema wis sumeleh…ngalah..malah babar blas ra ngetok dino iki

      • Persaingan berkurang, nggih, Ki PLS?

        • Rebutan jatah makan pagi ….. honor dan tunjangan masa tua .. hee hee hee

          • ha ha ha persiapan menyambut “MPP” –masa persiapan pensiun–

  20. Terimakasih….

  21. bar ngunduh, langsung warek

  22. Jan enak tenan moco kitab langsung rapel. eh omong ki Zacky kapan ya ngetok-e kitab duplikat-te SM karo Saba Lintang, penasaran banget. Terus terang bacanya lompat2, maklum mengulang masa lalu. Nah ini kelebihan ki SHM, biarpun pernah baca namun masih maknyuss untuk diulangi. Apalagi itu cerita Nogososro, wuih mantap tenan. Sekali lagi kami haturkan banyak2 terima kasih atas jerih payah bebahu padepokan shg bisa menyebarluaskan karya yang bagus ini.

    Salam
    dari Samarinda

  23. Matur nuwun kitab empun di unduh 😀

  24. Sumuhun …. kitabe sampun diunduh …

  25. Matur Nuwun kitab sampun diunduh, lumayan bawa laptop ke Rumah Sakit, maklum Sekar Mirah(istri tercinta) lagi sakit di rawat dirumah sakit…

    • semoga istrinya cpt sehat ki,,,,
      absen,,,
      unduh kitab…

      • Semoga cepat sehat.. Amin

    • semoga cepat sembuh ki… mulane, aja kasar-kasar… (jare ki goenas…)

    • Nderek prihatos Mas Pras, mugi Kang Garwo enggal dipun paringi kesarasan. Gerah punopo?

  26. Angger enyong saba padepokan esuk-esuk, kitab diwedar sore-sore. Bareng enyong saba sore, kitab diwedar esuk-esuk. Yah, nasiiib, nasiiib. Ya, pancen kaya kiye nasibe wong ayu. Akeh sing pada sirik. Ya wis, ditrimak-trimakena bae.
    Tapi kepribena bae, kesuwun ya, Nyi! Aja mrengut kaya kuwe oh, enyong mung guyon. Temenan. Yakin. Sung.

    • Yu Padmi,
      rika modele meh pada karo adi swandaru
      anggere swandaru rumangsa ilmu lewih digdaya timbangane wong liyane, lah basan rika rumangsa wong wadon sing ayu dewek, ning ya ra pa-pa tak sawang sekang kene kayane sih pancen ayu temenan.
      Iya apa ora ?

  27. Iya, Ki…

    • Eh..maksude iya ayune, bukan iya ‘swandarune’..

  28. Absen no.1 di gandok 266…

  29. Ngrapel lagi matursuwunnya. Awak kesel ning pengin leyeh2 neng ngarep gandok sebelah

    • wis yah mene kok juru kuncine durung ketok, sing ancang2 rebutan mlebu ono 25, ayo siap2…

  30. terima kasih rontal sudah diunduh

  31. API DI BUKIT MENOREH SERI III

    JILID 265

    – UTUSAN itu berpesan, agar Ki Lurah segera datang ke rumah putera Ki Lurah itu.- berkata pembantunya itu.
    – Bukan aku yang harus datang kepadanya. Tetapi ia harus datang kepadaku.- berkata Ki Lurah.
    – Tetapi nada-nadanya, mereka tahu bahwa Ki Lurah tidak ada di rumah.- berkata pembantunya itu.
    – Agaknya malah sudah ada utusan ke Tanah Perdikan sebelumnya dan memberitahukan bahwa aku sudah kembali ke Mataram,- desis Ki Lurah. Namun iapun segera berkata pula – Itu hanya satu kemungkinan.-
    Pembantu rumah itu mengangguk-angguk. Namun Ki Lurah-pun berkata – Baiklah. Aku akan menyelesaikannya nanti. Aku harus kembali ke Tanah Perdikan karena tugas-tugasku.-
    – Tetapi dimana Rara Wulan sekarang ?- bertanya pembantunya itu.
    – Kau ikut menjadi gelisah ?- bertanya Ki Lurah. Pembantunya itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu lagi.
    Sebenarnyalah Ki Lurah Branjangan tidak terlalu lama berada di rumahnya. Setelah minum minuman hangat dan makan beberapa potong makanan, maka keduanyapun telah meninggalkan rumah itu pula. Tetapi Ki Jayaraga sempat bergumam – Orang-orang yang berada di pinggir hutan itu tentu akan berburu pula.-
    Ki Lurah tersenyum. Katanya – Aku akan membawa beras.-
    – Tetapi bagaimana Ki Lurah akan membawa ? Apakah kita akan membawa sebakul beras atau sekeranjang ?-
    Ki Lurah tersenyum. Agaknya memang sulit untuk membawa beras tanpa menarik perhatian orang. Karena itu, maka katanya -Biarlah orang-orang itu berburu lagi. Ternyata mereka adalah pemburu-pemburu yang baik.-
    Ki Jayaraga hanya tersenyum saja, Sementara keduanya berjalan menuju ke rumah seorang yang masih mempunyai hubungan keluarga dengan Ki Lurah Branjangan.
    Namun ternyata Ki Jayaraga tidak dapat menahan dorongan perasaannya sehingga dengan nada dalam ia bertanya – Bagaimana penilaian Ki Lurah terhadap Glagah Putih ?-
    Ki Lurah termangu-mangu sejenak. Dengan ragu-ragu ia bertanya – Apakah maksud Ki Jayaraga ? Penilaian dalam hal apa ? Jika aku harus menilai tentang kemampuannya, maka ia adalah anak muda yang luar biasa. Ia memiliki berbagai macam ilmu yang jarang dimiliki oleh anak-anak muda sebayanya. Bahkan orang-orang yang lebih tua dan berpengalaman sulit untuk dapat mengimbangi kemampuannya. –
    Ki Jayaraga menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih bertanya lagi – Maksudku, bagaimana penilaian Ki Lurah terhadap Glagah Putih sebagai seorang anak muda seutuhnya ? Unggah-ungguhnya, sifat-sifatnya, pandangan hidupnya dan masa depan-nya.-
    Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia menjawab – Glagah Putih dalam keseluruhan adalah anak muda yang baik. Beberapa sifat Agung Sedayu mempengaruhi sikap dan wataknya. Tetapi pada saatnya, agaknya Glagah Putih mempunyai pandangan hidup yang agak berbeda. Ada pengaruh Raden Rangga, tetapi juga pengaruh sikap ayahnya sebagai seorang prajurit. Glagah Putih menurut keterangan yang pernah aku dengar, lahir, tumbuh dan berkembang dengan cara yang berbeda dengan Agung Sedayu.-
    – Ya. Aku pernah mendengar – jawab Ki Jayaraga – tetapi apakah menurut Ki Lurah, Glagah Putih cukup berharga sebagai seorang anak muda yang menjelang masa depannya ?-
    – Aku juga pernah mendengar pertanyaan yang hampir sama dari Agung Sedayu – desis Ki Lurah Branjangan – tetapi aku dapat mengerti, karena Glagah Putih adalah murid sekaligus adik sepupu Agung Sedayu, namun juga murid Ki Lurah Jayaraga.-
    Ki Jayaraga menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya Ki Lurah mulai dapat menebak arah bicaranya. Namun karena itu, maka Ki Jayaragapun tidak mendesaknya. Ia mencoba memancing agar Ki Lurah itu memberikan tanggapannya sesuai dengan sikapnya terhadap anak muda itu.
    Beberapa saat keduanya saling berdiam diri. Ki Lurah Branjangan berjalan sambil menundukkan kepalanya. Hampir di-luar sadarnya ia bergumam – Glagah Putih adalah anak muda yang baik. Jika ia mendapat lahan yang memadai, maka ia akan dapat tumbuh subur mengimbangi kakak sepupunya. –
    Ki Jayaraga mengangguk kecil. Tetapi ia tidak segera menjawab. Sementara Ki Lurah masih saja bergumam – Tetapi aku tidak dapat berbuat banyak atas Rara Wulan, karena segala sesuatunya memang tergantung kepada ayah dan ibunya. –
    Ki Jayaraga yang sudah ubanan itu tidak menyahut. Ia mengerti sepenuhnya perasaan Ki Lurah Branjangan. Karena itu, maka Ki Jayaragapun tahu benar penilaian Ki Lurah atas Glagah Putih. Sementara itu nampaknya Ki Lurahpun melihat hubungan antara Rara Wulan dan Glagah Putih yang lebih dari hubungan sebagaimana kawan-kawannya yang lain.
    Tetapi Ki Lurah Branjangan adalah kakek Rara Wulan yang wewenangnya tidak lebih besar dari wewenang orang tua Rara Wulan.
    Keduanyapun kemudian telah saling berdiam diri pula untuk beberapa saat sampai akhirnya Ki Lurah Branjangan berkata – Kita memasuki lorong itu. Saudaraku tinggal dibelakang rumah joglo yang besar itu. –
    Kedatangan Ki Lurah Branjangan dan Ki Jayaraga disambut dengan gembira oleh keluarga Ki Makerti. Sudah agak lama Ki Lurah Branjangan yang masih mempunyai sangkut paut keluarga meskipun tidak begitu dekat, tidak bertemu dengan Ki Makerti itu.
    Ketika keduanya kemudian duduk dipendapa ditemui oleh Ki Makerti, maka Ki Lurahpun telah memperkenalkan Ki Jayaraga sebagai sahabatnya yang tinggal di Tanah Perdikan Menoreh.
    – Sudah lama Ki Lurah tidak mengunjungi kami – berkata Ki Makerti kemudian setelah ia menanyakan keadaannya keluarga Ki Lurah.
    – Sebenarnya aku harus merasa malu bahwa justru setelah lama aku tidak berkunjung, aku datang pada saat-saat aku membu-
    tuhkan bantuan Ki Makerti. – berkata Ki Lurah sambil tertawa pendek.
    Ki Makertipun tertawa. Katanya – Ki Lurah tentu bergurau. –
    – Kali ini aku mencoba untuk bersungguh-sungguh – berkata Ki Lurah – aku memang memerlukan bantuan Ki Makerti. –
    – Jika aku dapat melakukannya, aku akan mencobanya – jawab Ki Makerti.
    Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya – Baiklah. Aku akan bercerita serba sedikit. Aku tahu Ki Makerti tentu dapat mengerti dan kemudian bersedia membantuku meskipun mengandung kemungkinan yang dapat mendatangkan kesulitan. –
    – Kau membuat aku gelisah – berkata Ki Makerti.
    Tetapi Ki Lurah justru tertawa. Katanya – Sebenarnya aku tidak percaya bahwa orang seperti Ki Makerti dapat juga menjadi gelisah. Aku kenal Ki Makerti sebagai seorang pengembara yang berpengalaman luas. –
    – Itu dahulu Ki Lurah. Pada saat Ki Lurah masih menjadi seorang prajurit. Aku sudah menjadi seorang pemalas yang jinak diru-mah. Aku tidak pernah pergi kemana-mana. Bahkan kepasarpun segan. Seandainya isteriku bukan seorang yang berjualan dipasar, aku tentu tidak akan pernah masuk ke tempat yang berjejal dan pengab itu. Tetapi aku harus ikut membawa barang-barang jualannya ke pasar dan kadang-kadang harus menjemput lewat tengah hari. – berkata Ki Makerti.
    Ki Lurah masih saja tertawa. Katanya kemudian – Aku sebenarnya memang menjadi heran bahwa Ki Makerti dapat tekun bekerja di pasar. Tetapi perubahan sikap seseorang memang memungkinkan. –
    – Tentu Ki Lurah. Setelah aku menjadi seorang ayah dari dua orang anak, maka aku tidak dapat lagi menuruti keinginan perasaanku. Mengembara menjelajahi jurang dan lereng-lereng gunung, menyeberangi bulak-bulak panjang dan melintasi padukuhan-padukuhan. Aku harus mempertanggungjawabkan kelangsungan hidup keluargaku, sehingga aku benar-benar telah menjadi seorang petani. Disamping itu, isteriku ikut pula membantu memperingan
    beban hidup kami sekeluarga. – sahut Ki Makerti sambil tersenyum-senyum kecil.
    – Baiklah Ki Makerti – berkata Ki Lurah kemudian – aku mohon maaf sebelumnya jika apa yang aku katakan nanti tidak berkenan dihati Ki Makerti. –
    – Ah. Jangan begitu Ki Lurah – jawab Ki Makerti – Ki Lurah tahu siapa aku dan akupun tahu siapa Ki Lurah itu. Meskipun kaitan darah keturunan kita sudah agak jauh, tetapi ada segi lain yang mentautkan kita lebih rapat. Lebih-lebih disaat muda kita. Kita sama-sama memiliki kesenangan bertualang. Sedikit menyentuh bahaya dan satu saat bermalas-malasan. Tidur sepanjang hari. –
    – Tetapi berkeliaran dari gardu ke gardu meskipun tidak sedang mendapat giliran ronda hampir setiap malam, sehingga hidup rasa-rasanya seperti seekor kelelawar. Tetapi aku sekarang baru menyesali sikap itu. Hidupku menjadi kurang berarti. Baik bagi keluargaku, aku sendiri apalagi bagi orang banyak – berkata Ki Makerti.
    – Aku juga merasakannya, Ki Makerti. Selama aku menjadi prajurit, yang dapat aku lakukan jauh terlampau kecil dibandingkan dengan mereka yang hidupnya memang dipersiapkan untuk menghadapi masa depan yang panjang dan besar – Ki Lurahpun mengangguk-angguk pula.
    Ki Makerti merenung sejenak. Namun iapun kemudian bertanya – Nah, apa yang sebenarnya ingin Ki Lurah katakan? –
    Ki Lurah Branjangan bergeser sejenak. Lalu katanya – Ki Makerti. Sebelumnya aku ingin bertanya, bukankah Ki Makerti masih mempunyai sebuah rumah yang tidak dipergunakan di luar kota? –
    Ki Makerti mengerutkan dahinya. Namun ia mengangguk sambil berdesis – Ya, Ki Lurah. Tetapi tidak lebih dari sebuah gu-bug yang buruk. Letaknya di Kademangan Sumpyuh. –
    Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya – Kalau tidak salah, aku kira aku pernah singgah dirumah Ki Makerti di Sumpyuh itu. Saat itu kita berdua pergi mengunjungi seorang sanak kita yang dang menyelenggarakan peralatan karena seorang anaknya perempuan sedang menikah. –
    – Ya. Aku juga masih ingat itu Ki Lurah. Memang rumah itu masih ada. Tetapi rumah itu tidak pantas lagi didiami. Tua dan buruk. Rumah itu adalah peninggalan paman yang kebetulan tidak mempunyai anak. Namun karena aku sendiri belum memerlukannya, maka rumah itu masih kosong sampai sekarang – jawab Ki Makerti.
    Ki Lurahpun kemudian telah berterus terang. Rara Wulan, cucunya yang telah dikenal pula oleh Ki Makerti dan beberapa orang kawannya memerlukan rumah tempat tinggal sementara. Beberapa orang telah bergabung dalam satu kelompok yang menyebut kelompok mereka itu Gajah Liwung. Sekelompok anak-anak muda yang sedang bergejolak.
    Wajah Ki Makerti berkerut. Dipandanginya Ki Lurah Branjangan dengan tajamnya. Namun kemudian Ki Makerti itupun bertanya – Jadi Rara Wulan berada didalam gerombolan itu? –
    – Ya – jawab Ki Lurah.
    – Ada berapa orang perempuan yang bergabung dalam gerombolan itu? – bertanya Ki Makerti.
    – Hanya cucuku sendiri – jawab Ki Lurah.
    – Bagaimana hal itu dapat terjadi? Apakah Ki Lurah tidak berusaha sesuatu untuk mengeluarkan cucu Ki Lurah itu dari antara orang-orang yang selalu membuat onar di Mataram itu? – bertanya Ki Makerti.
    Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian bercerita pula bahwa ada dua kelompok yang menyebut kelompoknya dengan nama Gajah Liwung.
    Ki Makerti termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian berkata – Ya, ya. Kesan tentang nama kelompok Gajah Liwung memang pernah dianggap satu kelompok yang lain dengan kelompok-kelompok yang membuat keresahan di Mataram. Tetapi kemudian justru kelompok Gajah Liwung itulah yang dianggap paling berbahaya bagi Mataram. Tingkah laku dari anggauta-anggauta kelompok Gajah Liwung sudah keterlaluan. Dan Ki Lurah membiarkan cucu Ki Lurah itu ada didalamnya. Seorang anak perempuan lagi. –
    – Dua kelompok itu yang satu dengan yang lain tidak mempunyai hubungan apa-apa Ki Makerti. Bahkan keduanya saling bermusuhan sehingga dalam benturan kekerasan yang pernah terjadi, keduanya tidak lagi dapat menahan diri. Kelompok Gajah Liwung yang kemudian membuat Mataram menjadi gelisah itu adalah kelompok yang tampil kemudian – jawab Ki Lurah.
    – Seandainya demikian Ki Lurah – berkata Ki Makerti – sebaiknya Ki Lurah tidak membiarkan cucu perempuan Ki Lurah itu ada di dalam salah satu dari kedua kelompok yang bermusuhan itu. Apalagi cucu Ki Lurah itu adalah satu-satunya perempuan di antara mereka. –
    Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Namun Ki Lurahpun telah berceritera lebih banyak tentang kedua kelompok itu. Tentang kelahirannya serta perkembangannya. Kemudian tentang kedatangan kelompok baru yang menyebut kelompok itu bernama kelompok Gajah Liwung.
    Ki Makerti mendengarkan ceritera Ki Lurah itu dengan saksama. Ki Lurahpun berceritera pula tentang benturan besar yang pernah dua kali terjadi antara kedua kelompok yang sama-sama bernama Gajah Liwung itu.
    Ki Makerti mengangguk-angguk. Ia menjadi jelas mengenali kedua kelompok yang sebenarnya justru bermusuhan itu meskipun mempergunakan nama yang sama.
    Namun sambil termangu-mangu Ki Makerti berkata – Aku mengerti Ki Lurah. Aku dapat membayangkan watak dan sifat kedua kelompok yang menyebut kelompok mereka bernama Gajah Liwung. Tetapi bagaimanapun juga aku tidak dapat mengerti, kenapa Ki Lurah membiarkan gadis cucu Ki Lurah itu ada didalam-nya. –
    Ki Lurahpun kemudian tidak dapat ingkar lagi tentang isi dari kelompok Gajah Liwung yang pertama. Katanya – Mereka adalah orang-orang yang dapat dipertanggung jawabkan. Bahwa mereka membentuk satu kelompok anak-anak muda itu justru karena mereka membawa beban tugas dipundak mereka. –
    Ki Makerti itu mengangguk-angguk pula. Ia berusaha untuk dapat mengerti kenapa Rara Wulan ada didalamnya. Betapapun tinggi niat yang terkandung didalamnya serta betapapun telitinya anggauta-anggauta Gajah Liwung itu dipilih, namun kehadiran seorang gadis memang agak mendebarkan.
    Namun Ki Makerti mencoba untuk memisahkan tanggapannya terhadap kehadiran Rara Wulan didalam kelompok itu dengan kepentingan Ki Lurah tentang papan bagi kelompok itu.
    Karena itu, maka Ki Makertipun kemudian berkata – Ki Lurah. Aku dapat mengerti apa yang Ki Lurah katakan. Akupun ingin dapat membantu Ki Lurah mendapatkan tempat tinggal bagi anak-anak muda yang berkelompok dalam kelompok Gajah Liwung itu. Tentang cucu Ki Lurah itu, seharusnya aku memang tidak terlalu banyak mencampurinya. Tetapi karena aku juga mempunyai cucu seorang gadis, maka rasa-rasanya yang terlibat itu ada lah cucuku sendiri.
    Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Katanya – Aku dapat mengerti Ki Makerti. Sebenarnya ada juga perasaan seperti yang Ki Makerti rasakan. Tetapi cucuku memang seorang gadis yang sulit untuk dikekang kemauannya. Apalagi gadis itu merasa dikecewakan oleh kedua orang tuanya di saat-saat ia menjelang dewasa, sehingga anak itu menjadi semakin mengeraskan hatinya mengikuti perasaannya. –
    Ki Makerti menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya – Baik– lah Ki Lurah. Aku ingin dapat membantu Ki Lurah. Karena yang aku punya hanya rumah yang sebenarnya sudah tidak pantas didiami itu, sedangkan yang diperlukan oleh Ki Lurah justru rumah itu, maka aku sama sekali tidak berkeberatan untuk menyerahkan rumah itu kepada anak-anak muda kelompok Gajah Liwung itu. –
    Ki Lurah Branjangan termangu-mangu sejenak. Dengan nada tinggi Ki Lurah Branjangan bertanya – Jadi Ki Makerti tidak berkeberatan? –
    – Tidak Ki Lurah. Tetapi sudah aku katakan berulang kali. Rumah itu sudah tidak pantas dihuni – jawab Ki Makerti.
    – Terima kasih Ki Makerti. Biarlah kami membersihkannya
    dan kemudian mempergunakannya. Kami akan menjaga rumah itu agar tidak menjadi rusak. Namun seperti yang sudah aku katakan, bahwa ada kemungkinan buruk dapat terjadi, karena kelompok ini mempunyai musuh yang sangat garang dan bahkan buas – berkata Ki Lurah.
    – Kelompok yang juga menamakan dirinya Gajah Liwung itu? – bertanya Ki Makerti.
    – Ya. Jika mereka mengetahui bahwa rumah itu adalah rumah Ki Makerti, maka Ki Makerti akan dapat tersentuh getahnya – jawab Ki Lurah.
    Ki Makerti tersenyum. Katanya – Beberapa puluh langkah dari rumahku itu adalah barak prajurit Mataram. Bukankah hal itu dapat menjadi pijakan keselamatanku? –
    – Tentu bukan hanya itu. Justru karena aku mengenal Ki Makerti – berkata Ki Lurah. Lalu katanya – Sedangkan sandaran orang-orang yang juga mengaku dari kelompok Gajah Liwung itu adalah seorang yang berilmu tinggi. Namanya Podang Abang – berkata Ki Lurah sambil berpaling kepada Ki Jayaraga – Bukankah begitu? –
    Ki Jayaraga mengangguk sambil menjawab – Benar Ki Lurah. Podang Abang adalah seorang yang memimpin sebuah perguruan di sebuah padepokan. Dahulu aku pernah berhubungan dengan orang itu. Tetapi sudah lama aku tidak pernah bertemu sehingga pada suatu saat tiba-tiba kami telah berhadapan dalam kelompok-kelompok yang saling bermusuhan. –
    Ki Makerti mengangguk-angguk. Dulunya Ki Makerti itu sedang mengingat-ingat sesuatu yang sudah dilupakannya. –
    Namun tiba-tiba saja ia berkata – Ya. Aku pernah mendengar nama Podang Abang. Memang orang yang berilmu tinggi. Tetapi ia sudah lama menghilang dari dunia kanuragan. –
    – Ki Makerti juga mengenalnya? – bertanya Ki Jayaraga.
    – Bukan aku – jawab Ki Makerti – aku hanya pernah mendengar namanya. Beberapa orang kawanku pernah menyebut-nyebut nama itu. Tetapi jika aku tidak salah ingat, Podang Abang bukan seorang yang beraliran bersih. –
    Ki Jayaraga mengangguk mengiakan. Katanya – Ki Makerti benar. Ki Podang Abang memang bukan seorang dari aliran bersih. Dan itu dapat kita lihat pada murid-muridnya yang turun ke kota ini dengan nama Gajah Liwung. Persamaan nama itu tentu bukan hanya sebuah kebetulan. Tetapi Podang Abang tentu telah memperhitungkannya, karena Gajah Liwung adalah nama dari satu kelompok yang semula nampak banyak memberikan harapan bagi penghuni kota itu, bahwa kelompok itu akan dapat membantu membersihkan kelompok-kelompok anak-anak nakal yang kehilangan pegangan justru didalam masa pergolakan seperti ini. Pada saat yang demikian, telah hadir sekelompok yang lain yang kuat dan jumlah anggautanya berlipat ganda dengan mempergunakan nama yang sama. –
    Ki Makerti mengangguk-angguk. Katanya – Aku mengerti –
    – Bahkan kelompok Gajah Liwung yang timbul kemudian itu ternyata terdiri dari dua perguruan yang bergabung menjadi satu -sahut Ki Jayaraga.
    – Dua perguruan? – bertanya Ki Makerti.
    – Ya. Tetapi kami belum tahu separo dari mereka dari perguruan apa dan dimana – jawab Ki Jayaraga – tetapi kami dapat melihat dari sikap dan tata gerak mereka bahwa seluruh kekuatan kelompok itu terbagi atas dua perguruan. –
    Ki Makerti mengangguk-angguk pula. Katanya – Mungkin tidak seluruh perguruan hadir dalam kelompok itu. Tetapi dengan demikian kelompok itu memang menarik perhatian. –
    – Para prajurit Mataram juga sudah mulai bertindak tegas terhadap mereka – berkata Ki Lurah Branjangan.
    – Aku juga sudah mendengar – jawab Ki Makerti.
    – Tetapi bagi para prajurit, semua langkah harus didasari atas landasan yang kuat dan dapat dipertanggung jawabkan. Semuanya dalam lingkungan paugeran yang berlaku sehingga para prajurit tidak akan dapat bertindak hanya berdasarkan atas kenyataan yang mereka ketemukan di medan – berkata Ki Makerti – berbeda dengan anak-anak Gajah Liwung. Mereka dapat bertindak menghadapi anak-anak nakal sebagaimana anak-anak nakal. Tetapi ternyata tidak demikian dengan kelompok yang juga menyebut dirinya ke-
    lompok Gajah Liwung itu. Mereka ternyata bukan sekedar anak nakal. –
    – Dan terhadap mereka para prajurit justru dapat bertindak tegas. – jawab Ki Makerti.
    – Ya. Tetapi kedua kelompok yang bernama Gajah Liwung itu sudah terlanjur bermusuhan – jawab Ki Lurah.
    Ki Makerti mengangguk-angguk. Ia sudah mendapat gambaran yang lengkap tentang kelompok-kelompok anak muda yang ada di Mataram. Iapun mengerti apa sebenarnya yang telah dilakukan oleh kelompok yang besar yang juga menyebut kelompoknya bernama Gajah Liwung itu.
    Namun dengan demikian, Ki Makertipun menyadari, bahwa jika ia memberikan tempat tinggal bagi kelompok Gajah Liwung yang kecil, maka ia akan dapat dimusuhi oleh kelompok Gajah Liwung yang lain, yang jumlah anggautanya jauh lebih banyak.
    Tetapi Ki Makerti yang dimasa mudanya juga seorang petualang itu tidak menjadi ketakutan.
    Bahkan kemudian Ki Makerti itu bertanya – Kapan kalian akan pergi ke rumah itu? Aku akan datang pula. Seorang tua menunggu rumah itu. Ia membersihkan halaman dan isi rumah itu setiap hari. Aku akan memberitahukan kepadanya, bahwa rumah itu akan dipergunakan oleh Ki Lurah Branjangan. Tetapi biarlah orang tua itu tetap tinggal di rumah itu. Ia tidak mempunyai sanak kadang lagi. Ia hidup seorang diri. Anaknya hanya seorang. Tetapi anak itu seakan-akan telah hilang beberapa tahun yang lalu. Isterinya sudah meninggal dan ia tidak mempunyai sanak kadang dimanapun, apalagi saudara kandung. –
    – Terima kasih Ki Makerti – jawab Ki Lurah – malam nanti aku akan membawa anak-anak muda itu ke rumah Ki Makerti. Di malam hari, perjalanan kami tidak akan banyak menarik perhatian. Apabila perlu, kmi akan lebih mudah bersembunyi daripada di-siang hari. –
    Ki Makerti tertawa. Katanya – Apakah satu-satunya rencana Ki Lurah justru bersembunyi? –
    Ki Lurahpun tertawa pula. Sambil tersenyum Ki Jayaraga menyahut – Kemungkinan yang paling mudah dilakukan. –
    Sementara itu Ki Makertipun berkata – Baiklah Ki Lurah. Lewat senja aku akan berada di rumah itu. –
    Ki Lurah Branjanganpun mengangguk-angguk sambil berdesis – Terima kasih Ki Makerti. Aku, atas nama anak-anak Gajah Liwung mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Rumah itu akan menjadi landasan bagi perjuangan anak-anak kami berikutnya. –
    Ki Makerti tersenyum. Katanya – Rumah itu sendiri tentu tidak akan berarti apa-apa Ki Lurah. –
    Ki Lurah masih mengangguk-angguk. Tetapi iapun tersenyum pula sambil berkata – Segala sesuatunya akan bersumber dari rumah itu. –
    Demikianlah, maka setelah mengucapkan terima kasih sekali lagi, Ki Lurah Branjangan dan Ki Jayaraga telah minta diri. Mereka melanjutkan perj alanan mereka mumpung Ki Lurah berada di kota.
    Tetapi Ki Lurah itupun justru berkata – Aku tidak akan singgah di rumah orang tua Wulan. –
    Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia bertanya – Bukankah Ki Lurah datang ke kota untuk menemui kedua orang tua Rara Wulan yang mencari anaknya ke Tanah Perdikan? –
    Ki Lurah tersenyum. Jawabnya – Sebenarnya memang demikian. Tetapi ternyata aku belum siap menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Ternyata Rara Wulan tidak mau lagi berbicara dengan ayah dan ibunya. Sebenarnya aku ingin membawa Rara Wulan menemui kedua orang tuanya agar persoalannya apapun keputusan terakhir yang akan diambil. Tetapi tanpa Rara Wulan aku tidak siap menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kedua orang tuanya. Bahkan mungkin dari orang lain yang akan dipertemukan dengan aku. –
    Ki Jayaraga tersenyum. Katanya – Ternyata Ki Lurah mengalami kesulitan dengan cucu Ki Lurah itu. –
    – Ya. Kedua orang tuanya telah menyalahkan aku. Tetapi akupun dapat mengerti, kenapa mereka membebankan tanggung jawab tentang anaknya itu diatas pundakku, – jawab Ki Lurah Branjangan.
    – Jadi apa yang akan Ki Lurah lakukan sekarang? – bertanya Ki Jayaraga.
    – Aku akan bertemu Ki Wirayuda dirumahnya. Mudah-mudahan ia tidak berada di barak pasukannya – berkata Ki Lurah.
    – Apa yang akan dibicarakan? – bertanya Ki Jayaraga.
    – Aku akan memberitahukan bahwa anak-anak Gajah Liwung mempunyai tempat tinggal yang baru – jawab Ki Lurah Branjangan.
    – Sekedar untuk mengisi waktu, Ki Lurah nampaknya menjadi gelisah karena Ki Lurah merasa tidak siap untuk bertemu dengan kedua orang tua Rara Wulan. –
    Ki Lurah tidak menjawab. Tetapi diluar sadarnya ia mengangguk-angguk kecil.
    Demikianlah, maka Ki Lurah Branjangan dan Ki Jayaraga telah menemui Ki Wirayuda. Tetapi mereka tidak mendapatkan Ki Wirayuda dirumahnya. Mereka harus pergi ke barak sekelompok pasukan Mataram. Di barak itu tinggal pula beberapa orang prajurit sandi dibawah pimpinan Ki Wirayuda.
    Kepada Ki Lurah dan Ki Jayaraga, Ki Wirayuda memberitahukan bahwa peti-peti itu sudah berada ditempat yang aman. Ki Wirayuda hanya menunggu kesempatan menyerahkan peti-peti itu disaat yang tepat.
    Hari itu Ki Lurah dan Ki Jayaraga telah berada diantara anak-anak Gajah Liwung yang bersiap-siap menempati tempatnya yang baru. Ki Wirayuda yang telah dihubungi oleh Ki Lurah tidak sempat datang hari itu. Tetapi pada saat lain, ia akan memerlukan mengunjungi rumah yang disebut-sebut oleh Ki Lurah Branjangan itu.
    Ketika malam turun, maka anak-anak anggauta Gajah Liwung itu telah bergerak. Mereka meninggalkan hutan yang kelam itu menuju ke sebuah padukuhan yang agak jauh. Tetapi dengan demikian mereka akan mendapatkan satu tempat yang baru sebagai sa-
    rang mereka setelah sarang mereka yang terdahulu dibakar oleh orang-orang yang juga mengaku berasal dari kelompok yang bernama Gajah Liwung. Namun orang-orang yang mengaku dari kelompok itu harus membayar mahal. Bukan saja sebagian besar dari barak-barak mereka terbakar, tetapi mereka telah kehilangan harta benda yang telah mereka kumpulkan selama mereka berada di Mataram. Bahkan mereka telah kehilangan beberapa orang yang terbunuh dalam benturan kekerasan antara kedua kelompok yang memiliki nama yang sama itu. Satu hal yang sulit dimengerti oleh orang-orang yang juga menyebut kelompoknya itu bernama Gajah Liwung yang mempunyai anggauta jauh lebih banyak.
    Tetapi sebenarnyalah hal itu telah terjadi.
    Dalam kegelapan malam, maka orang-orang Gajah Liwung yang dipimpin oleh Sabungsari itu telah bergerak diantara batang-batang ilalang. Kemudian mereka melintas bulak-bulak panjang, menuju ke Kademangan Sumpyuh.-
    Meskipun mereka berjalan dimalam hari dan berlindung oleh kegelapan, namun mereka harus tetap berhati-hati. Delapan orang anggauta Gajah Liwung serta tiga orang tamu mereka itu berjalan terpisah-pisah. Ki Lurah Branjangan, Ki Jayaraga dan Agung Sedayu berjalan dipaling depan. Kemudian Sabungsari, Glagah Putih dan Rara Wulan. Baru kemudian yang lain dibelakang mereka, sehingga antara ujung dan pangkal dari iring-iringan yang hanya terdiri dari sebelas orang itu, berjarak agak panjang.
    Sebelum tengah malam mereka baru memasuki regol halaman, rumah yang telah disebut-sebut Ki Lurah Branjangan. Rumah yang meskipun sudah tua, namun masih nampak kokoh. Halamannya cukup luas. Bukan saja halaman depan, tetapi juga halaman samping dan kebun dibelakang rumah.
    Demikian mereka semuanya memasuki halaman, maka seorang telah keluar dari seketeng dan menyapa dengan ramah – Marilah. Silahkan naik ke pendapa. –
    Ki Lurah Branjangan segera dapat mengenalinya. Orang itu adalah Ki Makerti yang sudah lebih dahulu tiba dirumah tuanya itu. Anak-anak muda anggauta Gajah Liwung beserta tamu-tamu
    mereka itupun segera naik ke pendapa setelah pintu gerbang halaman rumah itu ditutup rapat.
    Ki Lurah Branjanganpun segera memperkenalkan orang-orang yang menyertainya itu seorang demi seorang. Ketika Ki Lurah menunjuk Rara Wulan, maka Ki Lurah itu justru bertanya -Apakah Ki Makerti sudah mengenal anggauta Gajah Liwung yang seorang ini? –
    Ki Makerti mengerutkan keningnya. Ia tidak segera mengenal Rara Wulan. Tetapi karena nama Rara Wulan belum disebut dian-tara ketujuh orang anggauta kelompok itu yang lain, maka iapun segera mengetahui bahwa yang seorang itu tentu Rara Wulan.
    Karena itu, maka Ki Makertipun kemudian menjawab – Tentu aku mengenalnya. Rara Wulan. –
    Ki Lurah tertawa. Katanya – Ingatan Ki Makerti begitu tajamnya. Sudah berapa tahun Ki Makerti tidak melihat cucuku itu? –
    – Bukankah semuanya adalah delapan orang selain para tamu. Jika yang tujuh sudah Ki Lurah sebutkan, maka aku tinggal menebak yang seorang lagi. –
    – Ki Makerti benar – sahut Ki Lurah.
    Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya Ki Makerti berkata – Aku sebelumnya tidak mengira bahwa Rara Wulan sudah sebesar itu. Tetapi melihat ujud lahiriahnya, semula aku kira ia seorang laki-laki. Ia terlalu gagah bagi ujud seorang perempuan. –
    – Tetapi dengan pakaian wajarnya, ia tetap seorang gadis yang menarik – sahut Ki Jayaraga.
    Ki Makerti tertawa. Katanya – Aku tidak mengira bahwa anak ini akan berkembang seperti ini. Ketika ia masih kanak-kanak ia nampak lembut, sedikit pemalu dan memang nampak berkemauan keras. –
    – Nah, sekarang Ki Makerti melihat disaat ia dewasa – berkata Ki Lurah.
    Rara Wulan sendiri hanya menundukkan kepalanya saja. Tetapi ia menjadi kurang senang, bahwa ia telah menjadi bahan pembicaraan oleh orang-orang tua itu. Rara Wulan memang pernah
    mengenal Ki Makerti. Tetapi sebelum ia menjadi dewasa sepenuhnya seperti sekarang ini.
    Sementara itu Ki Makerti masih juga berkata – Sekarang anak ini nampak keras dan memang mirip seorang laki-laki. Tetapi jika kita sempat memperhatikan wajahnya, maka wajah itu memang wajah gadis yang lembut sebagaimana aku kenal dimasa remajanya. –
    – Ia memang menjadi seorang laki-laki – berkata Ki Lurah.
    – Tetapi bagaimanapun juga ia adalah seorang gadis – berkata Ki Makerti.
    Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Rara Wulan nampak semakin gelisah.
    Untunglah bahwa seorang yang sudah berambut putih datang untuk menghidangkan minuman hangat. Wedang sere dengan gula kelapa.
    – Inilah orang yang aku katakan itu – berkata Ki Makerti – ia akan berada di rumah ini. Ia dapat membantu membersihkan kebun belakang dan mengambil air sebagaimana dilakukan setiap hari. –
    – Baiklah Ki Makerti. Kami akan menerimanya sebagai seorang tetua kami disini – berkata Ki Lurah Branjangan.
    – Aku tiupkan orang tua itu kepada kalian – berkata Ki Makerti.
    – Tidak – jawab Ki Lurah – aku titipkan anak-anak itu kepadanya. –
    Ki Makerti tertawa. Sementara itu, orang tua yang menghidangkan minuman itu berkata dengan suara terbata-bata – Aku hanya seorang abdi disini. –
    – Tidak – berkata Ki Lurah – perlakukan anak-anakku sebagai anakmu sendiri. –
    Ki Makertilah yang menjawab – Jangan membuat orang tua itu bingung. Ia memang tidak banyak mengerti tentang hubungan kita. Tetapi serba sedikit aku sudah memberitahukan kepadanya tentang kalian yang akan tinggal dirumah ini. –
    Ki Lurah tersenyum. Sambil menepuk bahu orang tua yang meletakkan mangkuk-mangkuk minuman itu iapun berkata – Kita
    akan tinggal bersama-sama disini Ki Sanak. Tetapi aku sendiri tidak. Anak-anakkulah yang akan berada di sini. –
    – Dengan seorang cucu – desis orang itu.
    Ki Lurah tertawa. Katanya – Ya. Dengan seorang cucu. -Tetapi sejenak kemudian orang tua itupun telah bergeser pergi ke belakang.
    – Biarlah ia beristirahat – berkata Ki Lurah – malam-malam begini ia masih harus menyediakan minuman buat- kami. –
    Ki Makerti tertawa lagi sambil berkata – Bukankah itu sudah kewajibannya sebagaimana kita malam-malam masih juga duduk disini karena kita melakukan kewajiban kita masing-masing. –
    – Tetapi ia sudah terlalu tua untuk bekerja keras – berkata Ki Lurah.
    Ki Makerti mengangguk-angguk. Sementara Rara Wulanpun berkata – Biarlah aku membantunya. –
    – Tidak. Tidak ada lagi yang akan dilakukannya – cegah Ki Makerti.
    – Bukankah ia seorang gadis – sahut Ki Lurah Branjangan – sudah sepantasnya ia berada di dapur. –
    Rara Wulan tidak menunggu lagi. Ia memang lebih suka meninggalkan pembicaraan itu, karena ia sadar, bahwa kakeknya dan Ki Makerti tentu masih akan menyinggung-nyinggung dalam pembicaraan berikutnya.
    Ketika Rara Wulan sampai ke dapur, ternyata bahwa orang tua itu masih sibuk. Bahkan orang tua itu telah menanak nasi dan menyediakan lauk pauk. Ketika Ki Makerti datang, maka Ki Makerti telah memberitahukan bahwa akan ada tamu sebanyak lebih dari sepuluh orang, sehingga orang tua itu menjadi sibuk.
    – Marilah aku bantu kek – berkata Rara Wulan sambil menyingsingkan lengan bajunya.
    Orang tua itu tersenyum. Katanya – Duduk sajalah ngger. Biarlah aku selesaikan pekerjaan yang memang menjadi tugasku ini. –
    – Biarlah aku membantu kek. Kakek tentu sudah menjadi letih
    menyiapkan semuanya ini – berkata Rara Wulan.
    – Bukan aku sendiri – Jawab orang tua itu – aku dan Ki Makerti telah bekerja didapur untuk menyiapkan semua hidangan. Ki Makerti ternyata juga pandai memasak. –
    Rara Wulan tersenyum. Katanya – Sekarang, biarlah aku yang menghidangkan. –
    Orang tua itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian tersenyum sambil berkata – Baiklah. Silahkan. –
    Yang kemudian ikut menjadi sibuk adalah Rara Wulan. Ia telah membantu menyiapkan mangkuk-mangkuk untuk makan, lauk pauk dan nasi yang hangat. Sehingga sejenak kemudian, maka Rara Wulan itu telah menghidangkannya.
    Ki Makerti menarik nafas dalam-dalam melihat Rara Wulan yang ternyata juga cekatan menyiapkan hidangan.
    – Cucu Ki Lurah memang luar biasa – desis Ki Makerti. Tetapi Ki Lurah tidak menjawab selain tersenyum saja.
    Sejenak kemudian,maka hidanganpun telah lengkap. Agung Sedayu yang lebih banyak mendengarkan pembicaraan Ki makerti dengan Ki Lurah Branjangan berkata – Kami telah membuat Ki Makerti menjadi sibuk. –
    – Ah tidak – jawab Ki Makerti – Aku senang, bahwa rumah yang sudah lama seakan-akan kosong ini akan berpenghuni lagi. Dengan demikian maka rumah ini bukan saja terpelihara, tetapi rumah ini akan menjadi hidup kembali. Di saat-saat tertentu aku mengunjungi rumah ini, maka aku tidak menjumpai rumah ini kosong, sepi dan kadang-kadang terasa sedikit menggelitik bulu roma. –
    – Kami yang mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga Ki Makerti – desis Sabungsari mewkili kawan-kawannya – kami akan memelihara rumah ini seperti rumah kami sendiri. Tetapi rumah ini, kami benar-benar kebingungan dan tidak tahu harus tinggal dimana. –
    – Bukan berarti kalian masing-masing tidak mempunyai rumah – sahut Ki Makerti.
    Sabungsari tersenyum sambil mengangguk – Ya, Ki Makerti.
    – Nah, sekarang hidangan makan telah tersedia. Apa adanya. Silahkan makan. – berkata Ki Makerti.
    – Kami telah merepotkan Ki Makerti – berkata Sabungsari.
    – Tidak apa-apa. Aku tahu, bahwa dalam dua hari kalian makan binatang buruan. Mungkin kijang, rusa atau apa saja. Sekarang kalian makan nasi, hangat – berkata Ki Makerti.
    – Daging ayam – desis Mandira.
    – Ayam sendiri. Kami disini mempunyai beberapa ekor ayam yang berkembang biak menjadi banyak. – berkata Ki Makerti kemudian.
    – Bukan berarti bahwa kalian disini kelak dapat menangkap ayam sekehendak hati – desis Agung Sedayu.
    Anak-anak dari kelompok Gajah Liwung itu tertawa. Ki Makerti yang juga tertawa berkata – Kecuali jika kalian juga memelihara ayam. Halaman dibelakang rumah ini cukup luas. –
    Anak-anak anggauta kelompok Gajah Liwung itu mengangguk-angguk. Namun yang terbayang oleh mereka bukan hanya kemungkinan memelihara ayam. Tetapi halaman belakang itu akan dapat dipergunakan untuk berlatih dengan baik.
    Demikianlah, sejak malam itu, kelompok Gajah Liwung berada dirumah Ki Makerti di Kademangan Sumpyuh. Ki Makerti menganjurkan satu dua orang diantara mereka memperkenalkan diri kepada Ki Bekel di padukuhan itu, serta Ki Demang di Sumpyuh. Mereka harus berusaha berhubungan baik dengan para tetangga. Tetapi mereka memang harus sejauh mungkin menyamarkan diri, sehingga orang-orang disekitar mereka tidak tahu bahwa mereka adalah anak-anak muda dari kelompok-kelompok Gajah Liwung.
    – Rara Wulan lebih baik tidak dikenal oleh orang luar disini -berkata Ki Makerti – selain menarik perhatian, juga akan sangat mudah diketahui, seorang gadis diantara tujuh orang anak-anak muda. Tentu kelompok Gajah Liwung. –
    Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Katanya – Aku
    sependapat. Rara Wulan harus selalu berada di belakang dinding halaman rumah ini. –
    – Seperti gadis pingitan? – bertanya Rara Wulan tiba-tiba.
    – Untuk sementara. Kita akan melihat perkembangan keadaan – jawab Ki Lurah – jika kau ingin keluar juga, maka sebaiknya kau bersikap seperti seorang laki-laki sebagaimana biasa kau lakukan. –
    Rara wulan mengangguk-angguk. Agaknya ia mengerti pesan kakeknya itu. Bahkan untuk kepentingan kelompoknya.
    Dalam pada itu, ketika mereka sudah selesai makan dan minum, maka Ki Makerti telah mempersilahkan anak-anak muda itu beristirahat. Demikian pula Ki Lurah, Ki Jayaraga dan Agung Sedayu.
    – Terima kasih Ki Makerti – besok aku harus kembali ke Tanah Perdikan Menoreh – berkata Ki Lurah. Lalu katanya pula – bersama angger Agung Sedayu. –
    – Kita akan mengambil kuda-kuda yang kita titipkan itu lebih dahulu. – berkata Suratama.
    – Besok saja. Langsung ke Tanah Perdikan – jawab Ki Lurah.
    Seperti yang direncanakan, maka dihari berikutnya, Ki Makerti kembali ke kota, sementara Ki Lurah Branjangan dan Agung Sedayu kembali ke Tanah Perdikan Menoreh.
    Sementara itu, anak-anak muda dari kelompok Gajah Liwung itu telah membenahi rumah mereka yang baru, yang mereka pinjam dari Ki Makerti. Mereka memperlakukan rumah itu seperti rumah mereka sendiri. Sedang orang tua yang sebelumnya menunggu rumah itu, tinggal bersama mereka.
    Ternyata orang tua itu merasa seakan-akan dunianya menjadi ramai kembali. Anak-anak muda itu bersikap baik terhadapnya. Bahkan mereka menganggap orang tua itu seperti keluarga sendiri. Bukan sekedar seorang yang bekerja untuk kepentingan mereka.
    Sementara anak-anak Gajah Liwung membenahi diri, maka Ki Lurah Branjangan dan Agung Sedayu telah menempuh perjalanan kembali ke Tanah Perdikan. Mereka tidak menemui hambatan apapun. Ki Lurah Branjangan yang datang ke Mataram untuk membicarakan persoalan cucunya yang meningkat dewasa itu, justru telah menghindar, karena sikap Rara Wulan yang keras.
    – Tetapi sebaiknya Ki Lurah menemui kedua orang tua Rara Wulan – berkata Agung Sedayu.
    – Untuk apa? Aku tidak dapat mengatakan apa-apa karena sikap Rara Wulan – jawab Ki Lurah.
    – Apapun yang Ki Lurah katakan, namun dengan sikap Ki Lurah sekarang ini kedua orang tua Rara Wulan menjadi semakin gelisah – berkata Agung Sedayu kemudian.
    – Aku mengerti – jawab Ki Lurah Branjangan – namun sebenarnya ada sesuatu yang sedang aku pikirkan. –
    – Tentang apa Ki Lurah? – bertanya Agung Sedayu.
    – Aku tahu bahwa Rara Wulan dipanggil pulang karena kedua orang tuanya berniat menjodohkan Rara Wulan dengan seorang anak muda yang sama sekali tidak menarik bagi Rara Wulan – berkata kakeknya – ternyata Rara Wulanpun mengetahuinya pula. –
    – Tetapi bukankah hal seperti ini harus dibicarakan sehingga dapat diketemukan satu penyelesaian? Jika Ki Lurah selalu menghindar, maka persoalannya tentu akan mengambang terus. Ki Lurah justru akan dikejar-kejar oleh persoalan itu siang dan malam -berkata Agung Sedayu.
    – Aku mengerti – Ki Lurah mengangguk-angguk – Tetapi sebenarnyalah bahwa aku memerlukan bahan lebih banyak untuk berbicara dengan kedua orang tua Rara Wulan. –
    – Bahan apa lagi Ki Lurah? – bertanya Agung Sedayu.
    – Anakmas Agung Sedayu – desis Ki Lurah Branjangan – baiklah aku berterus terang. Aku melihat hubungan yang akrab antara Rara Wulan dan Glagah Putih. Sebagai orang tua, maka aku dapat menduga bahwa sebenarnyalah diantara keduanya telah tumbuh perasaan lain daripada sekedar bersama-sama menjadi anggauta kelompok Gajah Liwung yang memiliki keinginan yang sama, penilaian terhadap keadaan yang sama dan cara memecahkan yang sama. Tetapi keduanya nampaknya mempunyai hubungan khusus sebagai seorang anak muda dengan seorang gadis yang sama-sama meningkat dewasa. –
    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah iapun berkata – Nampaknya memang demikian Ki Lurah. Aku-pun dapat merasakan betapa keduanya memiliki ikatan yang berbeda dengan anggauta-anggauta yang lain. Tetapi keduanya agaknya tidak mempunyai keberanian atau mungkin tidak mempunyai kesempatan atau bahkan karena perasaan rendah diri sehingga keduanya tidak menunjukkannya dengan jelas. Glagah Putih sebagai seorang laki-laki memang merasa rendah diri menghadapi Rara Wulan, karena Rara Wulan adalah seorang gadis dari keturunan orang berpangkat. Bukankah ayah Rara Wulan seorang pejabat di istana Mataram, sedangkan kakeknya dari jalur ayahnya seorang Tumenggung? –
    – Apa kelebihannya seorang cucu Tumenggung. Bahkan setelah ayah Rara Wulan di wisuda menjadi Tumenggung pula? – bertanya Ki Lurah Branjangan. Lalu katanya pula – Bukankah saudara sepupu Glagah Putih juga seorang Tumenggung? –
    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya – Glagah Putih memang tidak dapat berdiri beralaskan derajad saudara sepupunya. Sebagai seorang laki-laki maka ia harus berdiri pada kakinya sendiri. –
    Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Katanya – Glagah Putih memang seorang laki-laki yang sadar sepenuhnya akan tanggung jawabnya sebagai seorang laki-laki. Namun justru karena itu, maka ia merasa rendah hati menghadapi seorang gadis dari tingkatan yang dianggapnya lebih tinggi. Ia merasa bahwa tidak akan dapat memikul tanggung jawab sepenuhnya sebagai seorang laki-laki untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan gaya seorang dari tataran yang dianggapnya terlalu tinggi – Ki Lurah berhenti sejenak. Namun katanya kemudian – Seharusnya Glagah Putih tidak perlu merasa demikian. Ia harus mengerti sikap gadis itu sendiri. Meskipun ia anak seorang yang berkedudukan tinggi, tetapi gadis itu sendiri mempunyai gaya hidup yang lain dari kedua orang tuanya. –
    Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya – Aku juga melihat hal itu pada Rara Wulan. Ia bukan seorang yang menempatkan diri pada tataran yang tinggi itu. Meskipun pada mulanya memang ada gejala seperti itu. Tetapi Rara Wulan telah mengalami getaran perasaan yang membuatnya berubah. Justru ketika ia meningkat dewasa. Sebagai seorang gadis maka Rara Wulan memang tidak dapat menunjukkan sikap hatinya itu lebih dahulu. –
    Ki Lurah Branjangan termangu-mangu sejenak. Lalu katanya – Jika keduanya dibatasi oleh sikap masing-masing, maka tidak pernah ada isyarat dari antara mereka. Masing-masing justru menahan perasaan yang bergejolak didalam diri mereka. Perasaan yang bergejolak tetapi tertahan itu akan menjadi beban yang semakin lama menjadi semakin berat, sehingga pada suatu saat mereka akan merasa tidak lagi mampu memikulnya. Akibatnya akan dapat bermacam-macam. Bahkan akibat yang tidak diharapkanpun dapat terjadi. –
    – Jadi apa yang sebaiknya dilakukan Ki Lurah? – bertanya Agung Sedayu.
    – Kau adalah kakak sepupunya disamping Untara yang telah diwisuda menjadi seorang Tumenggung. Kau dapat mendorongnya untuk berbuat lebih banyak sebagai seorang laki-laki. Ia tidak boleh merasa rendah diri sehingga tidak mempunyai keberanian untuk berbuat sesuatu. – berkata Ki Lurah.
    – Tetapi bagaimanakah akibatnya jika Glagah Putih sudah berani mulai menyatakan perasaannya, sementara itu Rara Wulan justru harus memenuhi perintah orang tuanya? – bertanya Agung Sedayu.

    lanjut ……..

  32. dilanjutkan ……..

    Wajah Ki Lurah menjadi tegang. Namun kemudian orang tua itu menarik nafas dalam-dalam sambil berkata – Ya. Aku melupakan unsur yang justru menentukan. –
    – Bukankah itu berarti bahwa Ki Lurah harus berbicara dengan kedua orang tuanya? – bertanya Agung Sedayu.
    Ki Lurah mengangguk-angguk. Namun kemudian ia berkata -Memang sulit untuk memilih darimana kita harus mulai. Sebaiknya aku memang mengajak Rara Wulan menghadap orang tuanya untuk mengatakan sendiri sikapnya. Akibatnya mungkin memang buruk bagi Rara Wulan jika ia menolak keputusan kedua orang tua-
    nya. Tetapi nampaknya hal itu memang tidak dapat dihindari jika kedua orang tua Rara Wulan juga mau mengeraskan hatinya sebagaimana rara Wulan. Aku menyadari bahwa aku tentu akan menjadi sasaran kemarahan kedua orang tuanya dan kakek Rara Wulan yang Tumenggung itu, sebagaimana ayah Rara Wulan juga sudah Tumenggung pula. –
    – Ayah Rara Wulan sudah Tumenggung? – bertanya Agung Sedayu.
    – Masih belum diwisuda. Tetapi pada akhir bulan ini ia akan diwisuda menjadi seorang Tumenggung yang melayani rumah tangga istana Panembahan Senapati langsung dibawah perintah Ki Patih Mandaraka – jawab Ki Lurah – selanjutnya, kedua orang tua Rara Wulan itu ingin menyambung keberuntungannya itu dengan menerima lamaran dari seorang yang juga berpangkat tinggi. Juga seorang Tumenggung. Kedua belah pihak telah mulai merintis pembicaraan tanpa berbicara lebih dalam kepada Rara Wulan. –
    – Bagaimana dengan anak muda yang akan dijodohkan dengan Rara Wulan? – bertanya Agung Sedayu.
    – Anak muda itulah yang sangat tertarik kepada Rara Wulan -jawab Ki Lurah Branjangan.
    – Anggauta Macan Putih? – bertanya Agung Sedayu pula.
    – Bukan. Tetapi seorang pejabat di istana juga yang sudah merintis kedudukannya. Ia seorang anak muda yang nampaknya cekatan dan sigap dalam tugasnya. Oleh ayahnya, anak muda itu dititipkan kepada ayah Rara Wulan untuk menjadi pembantunya. Namun ternyata bukan saja menjadi pembantunya dalam tugasnya, ternyata ayah Rara Wulan berniat untuk menerimanya sebagai menantunya. Apalagi ayahnya juga seorang Tumenggung dan lebih dari itu seorang yang kaya saya. Tidak seorangpun tahu dari mana ia dapat menjadi kaya raya seperti itu – jawab Ki Lurah Branjangan.
    – Apakah anak muda itu juga memang prajurit? – desak Agung Sedayu.
    – Dalam kedudukan sebagai seorang lurah dari para pelayan dalam – jawab Ki Lurah Branjangan.
    – Seorang Lurah yang masih muda. Atau seorang Narpacun-daka? bertanya Agung Sedayu lebih lanjut.
    Ki Lurah merenung. Tetapi iapun menggeleng – Bukan. Bukan seorang Narpacundaka. Ia tidak bertugas melayani khusus salah seorang pemimpin tinggi di Mataram. Tetapi ia bertugas secara umum diistana. –
    – Mungkin aku pernah melihatnya jika aku menghadap Panembahan Senapati – berkata Agung Sedayu.
    Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya – Mungkin sekali. Anak muda itu memang sering berada di istana karena tugas-tugasnya. –
    Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Bahkan selanjurnya yang mereka bicarakan selama dalam perjalanan adalah bukan lagi persoalan Rara Wulan.
    Ternyata keduanya tidak menemui hambatan diperjalanan. Sejak mereka menyeberangi Kali Praga, maka kuda-kuda mereka telah berpacu di jalan-jalan bulak Tanah Perdikan.
    – Aku akan langsung pergi ke barak – berkata Agung Sedayu -aku sudah terlambat dua hari dari waktu yang tersedia. Mungkin orang-orang di barak itu sudah menjadi gelisah. –
    Ternyata Ki Lurah Branjangan sependapat. Iapun telah meninggalkan barak itu lebih lama dari rencananya.
    Dengan demikian maka keduanya telah berpacu langsung menuju ke barak pasukan khusus di Tanah Perdikan.
    Ketika keduanya memasuki pintu gerbang, maka para prajurit telah menyambut keduanya dengan gembira, seperti anak-anak yang melihat ayahnya datang dari pasar.
    Setelah Ki Lurah Branjangan dan Agung Sedayu menyerahkan kuda-kuda mereka kepada seorang prajurit, maka seorang diantara para pemimpin kelompok di pasukan khusus itu menemui Agung Sedayu dan Ki Lurah Branjangan.
    – Ada dua orang tamu yang sudah menunggu – berkata kepala kelompok itu.
    – Siapa? – bertanya Ki Lurah.
    – Silahkan – desis prajurit itu.
    Dengan jantung yang berdebaran, Ki Lurah Branjangan dan
    Agung Sedayu telah memasuki ruang yang khusus untuk menerima tamu.
    Demikian mereka memasuki pintu, maka Ki Lurah Branja-nganpun terkejut. Dua orang telah menunggu mereka.
    Agung Sedayu tertegun. Sementara Ki Lurah berdesis – Menantuku. Ayah Rara Wulan. –
    Agung Sedayu ikut menjadi berdebar-debar. Tetapi ia berusaha untuk menyingkirkan kesan debar jantungnya itu dari wajahnya.
    Sejenak kemudian, sambil tersenyum Ki Lurah Branjangan-pun duduk disebelah menantunya sambil bertanya – Kapan kau datang? –
    – Tadi pagi ayah. Aku memang memperhitungkan bahwa ayah telah kembali ke Tanah Perdikan. Aku kira malah semalam. Tetapi ternyata aku datang lebih dahulu. – jawab menantu Ki Lurah itu.
    Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam, sementara menantunya berkata lagi – Aku sengaja menunggu ketika aku mendapat keterangan bahwa ayah tidak ada di barak. Aku sudah bertekad untuk menunggu sehari penuh. –
    Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya – Kemarin aku memang pulang sebentar. –
    – Aku sudah menyuruh seseorang untuk melihat apakah ayah sudah pulang atau belum. Tidak hanya sekali. Tetapi empat kali. Yang terakhir aku mendapat keterangan bahwa ayah pulang hanya sebentar, sendiri, kemudian kembali lagi ke Tanah Perdikan – sahut menantunya. Lalu katanya pula – Menurut keterangan yang aku dapat, ayah tidak membawa Rara Wulan serta. Aku menjadi sangat gelisah, sehingga aku harus menemui ayah hari ini. –
    Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu menantunya bertanya – Dimana Wulan sekarang ayah? –
    Ki Lurah termangu-mangu sejenak. Katanya – Rara Wulan adaditempat pamannya. Ia ingin melihat-lihat Kademangan Sumpyuh. –
    – Pamannya, siapakah yang ayah maksud? – bertanya menantunya.
    – Hubungan kami memang sudah agak jauh. Tetapi pamannya yang tua itu adalah orang yang aku hormati – jawab Ki Lurah dengan agak ragu.
    Menantunya menarik nafas dalam-dalam. Katanya – Aku harus segera berbicara dengan Rara Wulan. –
    Ki Lurah termangu-mangu sejenak. Ketika ia berpaling kepada Agung Sedayu, iapun berkata – Aku lupa memperkenalkan kau dengan angger Agung Sedayu. –
    Menantunya mengangguk hormat. Tetapi ia menjawab – Aku memang belum mengenalnya secara pribadi. Tetapi aku tahu bahwa Ki Lurah Agung Sedayu adalah pemimpin pasukan Khusus Mataram di Tanah Perdikan ini. –
    – O – Ki Lurah mengangguk-angguk, sementara menantunya berkata – Maaf Ki Lurah, aku berbicara tentang keluargaku. Agaknya aku akan sulit untuk menemukan waktu seperti ini. – Lalu iapun memperkenalkan kawannya – Ini adalah pembantuku yang paling baik. –
    Ki Lurah Branjangan dan Agung Sedayupun mengangguk hormat sebagaimana orang itu.
    Namun kemudian menantu Ki Lurah itupun berkata – Ayah. Apakah ayah dapat membawa kami ke Kademangan Sumpyuh yang ayah katakan itu? –
    – Nanti dulu anakmas – jawab Ki Lurah – aku minta maaf, bahwa aku telah membuatmu gelisah. Tetapi aku ingin mengatakan terus terang kenapa Rara Wulan sulit untuk aku bawa pulang. –
    – Aku sudah mengetahui ayah – jawab menantunya – tentu Wulan pernah mendengar pembicaraan tentang lamaran seorang anak muda atas dirinya. –
    – Jadi kau sudah tahu? – bertanya Ki Lurah Branjangan.
    – Aku sudah tahu? Rara Wulan menganggap bahwa aku telah mengambil keputusan sebelum berbicara dengan gadis itu – desis ayahnya.
    Ki Lurah Branjangan termangu-mangu sejenak. Dahinya yang sudah digurati garis-garis umurnya, telah terkejut. Dengan
    nada tinggi ia bertanya – Darimana anakmas tahu? –
    – Aku dapat menangkap sikap Rara Wulan sebelum ia meninggalkan rumah pergi ke rumah ayah – jawab menantu Ki Lurah.
    – Bukankah waktu itu pembicaraan itu belum jelas? – bertanya Ki Lurah.
    – Tapi Rara Wulan sudah menduganya. Bahkan tidak hanya seorang anak muda yang datang kepadanya. Juga bukan hanya sepasang dua pasang orang tua yang datang kepadanya. – jawab menantunya.
    – Lalu kau biarkan Rara Wulan berteka-teki? – bertanya Ki Lurah.
    – Itulah yang sebenarnya ingin aku bicarakan dengan Rara Wulan. Aku ingin mendengar pendapatnya. Tetapi sebelum itu aku lakukan, ia telah mengambil kesimpulan. Apalagi seolah-olah perhatianku hanya tertuju kepada Teja Prabawa saja. Padahal menurut perasaan kami berdua, perhatian kami terhadap anak-anak kami tidak berbeda – Jawab menantunya. Lalu katanya – Karena itu ayah, berilah aku kesempatan untuk berbicara dengan Rara Wulan. Mungkin aku dapat menjelaskan sikapku. –
    – Tetapi apakah kau belum pernah menerima lamaran seseorang? Maksudku, lamaran yang telah kau iakan tanpa berbicara dengan Rara Wulan – bertanya Ki Lurah.
    – Sudah aku katakan ayah. Aku masih ingin berbicara dengan Rara Wulan – jawab menantunya.
    Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Katanya -Mungkin ada salah paham. Rara Wulan menganggap bahwa sudah disediakan seorang suami baginya. –
    – Tentu tidak – jawab ayah Rara Wulan itu – karena itu, aku harus berbicara dengan anak itu. –
    – Bagaimana dengan Lurah Pelayan Dalam itu? – bertanya Ki Lurah Branjangan.
    – Lurah Pelayan Dalam? Maksud ayah Rosa Wimbaga putera Ki Tumenggung Supanagara? – bertanya menantunya.
    – Ya. Bukankah lamaran Ki Tumenggung Supanagara telah kau terima? – bertanya Ki Lurah.
    – Tidak ayah. Belum. Kedua orang tua Rosa Wimbaga memang pernah datang ke rumah kami untuk melamar Rara Wulan atas permintaan anaknya. Tetapi sudah aku katakan berkali-kali, aku harus berbicara dengan Rara Wulan. – jawab menantunya.
    Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata – Aku mendengar bahwa lamaran itu sudah pasti kau terima. Bahkan kalian telah berbicara tentang hari-hari yang baik serta perhitungan-perhitungan yang lain. –
    – Tidak ayah. Itu tidak benar. – jawab menantunya.
    Ki Lurah Branjangan mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk-angguk kecil ia berkala – Jika demikian, biarlah aku bertemu lagi dengan Rara Wulan. –
    – Jadi aku tidak dapat bertemu di Tanah Perdikan ini ayah? -bertanya menantunya.
    Ki Lurah menggeleng. Katanya – Sudah aku katakan, Rara Wulan berada di Sumpyuh. –
    – Baiklah, kita akan pergi ke Sumpyuh. – berkata menantunya.
    – Baiklah aku sendiri besok pergi ke Sumpyuh. Jika kau datang, aku tidak yakin jika Rara Wulan mau berbicara – jawab Ki Lurah Branjangan.
    Ternyata menantunya masih mempunyai kepercayaan yang besar terhadap Ki Lurah. Meskipun dengan nada membebankan tanggung jawab kepada mertuanya. Katanya – Baiklah ayah. Tetapi pulang atau tidak pulang, Rara Wulan aku serahkan kepada ayah. –
    Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya – Aku akan mempertanggung jawabkannya. –
    – Ibunya sering menangisinya. Sebenarnya hal itu tidak perlu aku beritahukan kepada ayah – berkata menantunya.
    Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya – Aku mengerti. Dan yang tidak ingin kau katakan itu ternyata telah kau katakannya. –
    – Aku hanya ingin mengurangi beban di dadaku ini ayah. – jawab menantunya.
    Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam, katanya – Dalam waktu dua atau tiga hari ini, aku akan membawa Rara Wulan kepada kalian. Tetapi dengan janji, bahwa kalian tidak akan menyudutkan anak itu ke peralatan pernikahan tanpa disepakatinya. –
    – Aku berjanji – jawab menantunya.
    Demikianlah, setelah meneguk kembali minumannya, maka menantu Ki Lurah itu dengan seorang kawannya telah minta diri. Kepada Agung Sedayupun ia telah berkata – Maaf Ki Lurah. Aku telah mengganggu Ki Lurah dengan pembicaraan yang sebenarnya merupakan persoalan keluarga. –
    – Tidak apa-apa Ki Tumenggung. Ki Lurah bagiku juga terhitung keluarga sendiri di barak Pasukan Khusus ini – jawab Agung Sedayu.
    Ketika Ki Lurah minta menantunya pulang setelah matahari tidak menyengat tengkuk, menantunya itu berkata – Ibu Rara Wulan tentu sudah menunggu-nunggu kedatanganku. –
    Ki Lurah tidak berkata apapun lagi. Diantarkannya menantunya sampai keregol pasukan khusus itu bersama Agung Sedayu. Kemudian melepasnya bersama kawannya menempuh perjalanan yang sebaliknya dari yang ditempuh oleh Ki Lurah Branjangan dengan Agung Sedayu.
    Ketika menantunya sudah tidak nampak lagi terhalang oleh tikungan, maka Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata – Aku telah mendapat keterangan yang kurang tepat. Atau orang tua Rara Wulan telah berubah sikap? Agaknya sikap keras Rara Wulan mempengaruhi sikap kedua orang tuanya. Sepengetahuanku, kedua orang tua Rara Wulan termasuk orang yang keras dan kurang memperhatikan pendapat anaknya. Terutama Rara Wulan. Mereka menganggap bahwa seorang gadis tidak pantas untuk menyatakan pendapatnya. Teja Prabawa masih beruntung dapat berbicara pada kesempatan-kesempatan tertentu, sehingga Rara Wulan menganggap bahwa ayah dan ibunya telah banyak memperhatikan kakaknya, yang seorang laki-laki itu, daripada dirinya. Kedua orang tuanya tentu menganggap bahwa seorang anak laki-laki akan dapat menjunjung tinggi nama orang tuanya dan mengubur dalam-dalam disaat orang tuanya meninggal. Sehingga dengan demikian maka anak-anak
    yang dilahirkan laki-laki tentu lebih berharga dari anak-anak yang dilahirkan perempuan. –
    Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya – Baru setelah Rara Wulan seakan-akan menghilang dari rumahnya, kedua orang tuanya menyadari, bahwa mereka sebenarnya sangat mencintai anaknya. Mereka tidak mau kehilangan anak gadisnya dan memperlunak sikap mereka. –
    Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Katanya -Aku harus pergi ke Sumpyuh besok. –
    – Tetapi memang lebih baik mempertemukan Rara Wulan dengan kedua orang tuanya. Bahkan jika perlu Ki Lurah dapat sedikit memaksa. Semuanya untuk kepentingan Rara Wulan sendiri. Apapun keputusan yang diambil, namun segala sesuatunya akan menjadi lebih jelas. Bahkan lebih baik jika menjadi pasti. – sahut Agung Sedayu.
    Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Sementara Agung Sedayupun berkata – Sudahlah. Marilah kita masuk. –
    Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk sambil menjawab – Aku sempat beristirahat hari ini. Tetapi besok aku minta ijin untuk meninggalkan barak ini lagi. Untunglah pemimpin Pasukan Khusus Mataram di Tanah Perdikan ini cukup baik hati. –
    Agung Sedayu mengerutkan dahinya. Namun iapun tersenyum. Katanya – Terima kasih Ki Lurah. Jika Ki Lurah memuji aku lebih sering, maka aku akan memberikan ijin lebih sering pula. –
    Dalam ketegangan perasaan itu, Ki Lurah masih juga dapat tertawa.
    Sementara itu, Rara Wulan yang berada dirumah Ki Makerti di Sumpyuh telah membersihkan dapur dan ruang-ruang yang sebelumnya tidak banyak dipergunakan. Yang lainpun telah membersihkan bilik-bilik tengah dan bilik-bilik yang terdapat di gan-dok.
    Rumah Ki Makerti memang tidak terlalu besar. Tetapi dilengkapi dengan bagian-bagian yang lengkap. Disebelah menye-belah rumah itu terdapat gandok kiri dan kanan. Pendapa, pring-
    gitan dan ruang dalam dengan tiga sentong di tengah. Kemudian lewat longkangan samping terdapat butulan ke belakang. Sementara lewat sisi sentong tengah terdapat pintu di kiri kanan ke longkangan tertutup dibelakang langsung menuju ke dapur.
    Namun nampaknya rumah itu telah mengalami perbaikan dan perubahan. Pada pringgitan, terdapat bilik diujung kiri dan ujung kanan dengan pintu menghadap ke ruang dalam.
    Hari itu juga maka anak-anak dari kelompok Gajah Liwung itu telah membagi ruang. Rara Wulan akan berada disalah satu dari ketiga sentong diruang dalam. Tetapi bukan yang lengah. Sedang kedua sentong yang lain akan dibiarkan kosong. Bilik yang memotong ujung pringgitan yang satu akan dipergunakan oleh Ki Jayaraga sedangkan yang lain akan dipergunakan oleh Glagah Putih. Sedangkan enam orang yang lain, tiga orang akan berada di gandok sebelah kiri, dan tiga orang yang lain di gandok sebelah kanan.
    Hari itu, kegiatan utama orang-orang dari kelompok Gajah Liwung itu terbatas pada membenahi rumah tua itu. Sementara orang tua yang menunggu rumah itu sebelumnya, telah memilih tempat dibilik kecil disudut dapur rumah itu.
    – Aku selalu memerlukan penghangat terutama dimusim bedi-ding – berkata orang itu – didapur aku akan dapat berada dekat dengan perapian sepanjang malam. –
    Anak-anak muda dari kelompok Gajah Liwung itu tidak dapat memaksanya untuk memilih bilik yang lain, karena sejak sebelumnya ia memang berada di bilik itu.
    – Pekerjaanku akan menjadi lebih ringan sekarang – berkata orang tua itu – ada kawan menimba air. Ada kawan menyapu halaman dan ada kawan memanjat kelapa. –
    Sabungsari tertawa. Katanya – Kami dapat mengerjakan semuanya, kek. –
    – Tetapi ingat – berkata orang tua itu – satu atau dua orang diantara kalian harus menghadap Ki Bekel agar kalian tidak dianggap orang-orang liar disini.
    – Tentu kek – jawab Sabungsari – tetapi bukankah kakek sudah tahu dari Ki Makerti, siapakah kami? –
    Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya – Ya, ya ngger. Aku mengerti. Namun bukankah Ki Makerti juga berpesan agar ada diantara kalian yang menghadap Ki Bekel? –
    Sabungsari mengangguk-angguk pula. Katanya – Aku sendiri akan menghadap Ki Bekel. –
    Orang tua itu termangu-mangu sejenak. Katanya kemudian -Tetapi kalian harus menyamarkan diri sebaik-baiknya. –
    – Aku sudah memperhitungkan kek. Jika Ki Bekel pada suatu saat bertemu dengan kakek, atau orang lain siapapun juga yang bertanya, maka sebaiknya kakek mengatakan bahwa kami adalah ke-manakan Ki Makerti. Kami berada di rumah ini sebanyak lima orang. Tiga orang kemanakan Ki Makerti dan dua orang lainnya cucu kemanakannya. Nah, bukankah begitu? – bertanya Sabungsari.
    Orang tua itu tersenyum sambil mengangguk-angguk. Katanya – Aku mengerti. Tetapi aku tidak akan dapat menunjukkan, yang manakah kemanakan Ki Makerti dan yang manakah cucu kemanakan itu. –
    – Katakan, kakek telah pikun – jawab Sabungsari.
    – Tetapi kalian harus mengatur sebaik-baiknya. Mungkin tanpa kita ketahui, Ki Bekel itu datang kemari. Sedangkan disini ada lebih dari lima orang – berkata kakek tua itu.
    – Kami akan mengatur diri, kek. Tiga diantara kami akan selalu berada dibelakang. Sedangkan seandainya Ki Bekel bertemu dengan Ki Jayaraga, maka kami akan mengatakan bahwa pada hari itu kami mendapatkan seorang tamu. Salah seorang paman kami. -jawab Sabungsari.
    Orang tua itu tertawa. Katanya – Kau memang cerdik anak muda. –
    – Tetapi bantu penyamaran kami kek – berkata Sabungsari kemudian.
    Orang tua itu masih tertawa. Katanya – Tentu. Bukankah aku tidak ingin rumah ini menjadi ajang keributan? –
    Sabungsaripun tertawa pula. Katanya – Sore nanti aku akan menemui Ki Bekel. –
    Demikianlah, seperti yang direncanakan, maka Sabungsari, Glagah Putih dan Mandirapun telah pergi menghadap Ki Bekel di-sore harinya. Mereka dapat menempatkan diri tanpa menimbulkan kecurigaan apa-apa, sehingga Ki Bekel tidak menelusuri lebih lanjut tentang orang-orang yang mengaku kemanakan Ki Makerti dan cucu kemanakannya itu.
    Karena itu, maka Sabungsari tidak merasa canggung lagi tinggal di rumah Ki Makerti. Dihari-hari berikutnya mereka telah memperkenalkan diri pula kepada para tetangga. Mereka mengaku sebagai kemanakan dan cucu kemanakan Ki Makerti sebagaimana mereka katakan kepada Ki Bekel, tetapi mereka tidak pernah datang berlima, karena selebihnya dari ketiga orang itu, mereka ternyata berganti-ganti orang. Kecuali rara Wulan yang memang berusaha untuk tidak menarik perhatian orang lain.
    Dalam pada itu, setelah mereka merasa mapan berada di rum ah itu, maka merekapun mulai meningkatkan perhatian mereka kepada keadaan yang berkembang di Mataram.
    Tanpa menunjukkan ciri-ciri kelompok Gajah Liwung, maka Sabungsari dan Glagah Putih telah berusaha untuk menemui Ki Wirayuda. Namun nampaknya Ki Wirayuda masih belum mendapatkan kesempatan untuk menyerahkan peti-peti itu. Beberapa kali para prajurit masih merasa terganggu oleh orang-orang yang mengaku dari kelompok Gajah Liwung.
    – Tetapi untuk sementara kelompok-kelompok yang lain telah menyembunyikan diri – berkata Ki Wirayuda – untuk beberapa saat kita tidak bertemu dengan kegiatan kelompok Macan Putih, kelompok Sidat Macan, kelompok Kelabang Ireng dan apalagi kelompok-kelompok yang lebih kecil. –
    Sabungsari mengangguk-angguk sambil berkata – Satu kesempatan buat para prajurit. –
    – Ya – jawab Ki Wirayuda – sekelompok prajurit berhasil menyergap lima orang dari kelompok yang mengaku bernama Gajah Liwung itu. Mereka sedang menunggu korbannya dibulak panjang. Ketika dua orang prajurit sandi lewat dalam pengamatan kelompoknya, maka kedua orang itu telah dirampok di bulak panjang. Namun pada saatnya kelompok prajurit sandi itu telah mengepung dan menangkap kelima orang itu. –
    – Apakah sarang mereka yang baru dapat diketemukan? – bertanya Sabungsari.
    Ki Wirayuda menggeleng – Mereka belum mau mengatakannya. –
    – Apakah para prajurit tidak bersedia untuk memancing keterangan dari mereka? – bertanya Sabungsari.
    – Sulit sekali – jawab Ki Wirayuda – dua orang diantara mereka nampaknya dengan sengaja telah membunuh diri. –
    Sabungsari dan Glagah Putih terkejut. Jika demikian, maka kelompok itu bukannya sekedar sebuah perguruan seperti kebanyakan perguruan. Tentu ada ikatan yang sangat kuat didalam kelompok yang memang lahir dari dua buah perguruan dan dipimpin oleh Podang Abang itu.
    Karena itu, maka Sabungsari dan Glagah Pulih merasa bahwa mereka harus menjadi lebih berhati-hati menghadapi orang-orang itu. Mereka ternyata tidak lagi menghargai nyawa mereka sendiri. Mereka lebih menghargai ikatan dan paugeran dalam perguruan mereka daripada hidup mereka.
    Beberapa saat lamanya Sabungsari dan Glagah Putih berbincang-bincang dengan Ki Wirayuda tentang berbagai hal. Namun akhirnya keduanyapun telah minta diri.
    Tetapi yang tidak mereka perhitungkan sebelumnya telah terjadi. Ketika keduanya keluar dari dinding kota dan berjalan dibulak panjang, maka mereka melihat seseorang berdiri bersandar pada sebatang pohon randu yang tumbuh dipinggir jalan.
    Sabungsari telah menggamit Glagah Putih sambil berdesis -Kau tahu siapa orang itu? –
    Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Sebelum ia menjawab maka ia telah mendengar suara didalam nada yang kacau berputaran diudara. Namun suara itu jelas bertanya – Dari mana anak-anak muda? –
    Orang yang bersandar pada sebatang pohon randu itu sama sekali tidak memberikan kesan berbicara. Namun Sabungsari dan Glagah Putih yang mempunyai lambaran ilmu yang tinggi itu segera mengetahui bahwa orang itulah yang telah bertanya.
    Namun baik Sabungsari maupun Glagah Putih sengaja tidak menjawab sama sekali, tetapi mereka berjalan terus mendekati orang yang bersandar pada sebatang randu alas itu.
    Sejenak kemudian keduanya mendengar suara itu lagi. Namun Sabungsari dan Glagah Putih sudah menjadi semakin dekat. Dengan lantang Glagah Putih berkata – Podang Abang. Tidak biasa seekor burung podang berkicau didahan pohon randu. –
    Orang itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun tertawa – Sungguh luar biasa. Kau masih juga berani menyapa dengan cara yang tidak sopan itu. –
    – Maaf. Tetapi bukankah menurut tembang anak-anak yang sedang menggembala, bahwa burung podang hinggap di pelepah pisang? – sahut Glagah Putih.
    – O, kau senang juga mendengarkan dongeng Limaran dan Sa-rak itu? – desis Podang Abang.
    – Tetapi sudah tentu bahwa burung podang yang mendengarkan tangis. Limaran dipelepah pisang bukan burung podang yang berbulu merah. Tetapi berbulu kuning – jawab Glagah Putih.
    – Sudahlah – orang itupun kemudian melangkah maju – kalian seharusnya menyesal bahwa kalian telah lewat jalan ini sebagaimana aku perhitungkan. Nampaknya kalian baru saja menemui Ki Wirayuda. Sudah agak lama aku berusaha untuk mengetahui, dengan siapa kalian berhubungan. Ternyata kalian telah berhubungan dengan para petugas sandi Mataram. Karena itulah agaknya maka kalian dapat melakukan tugas-tugas kalian dengan baik. Berapa kalian diupah oleh para petugas sandi untuk mengganggu kelompok anak-anakku? –
    – Pertanyaanmu aneh Ki Sanak – desis Sabungsari – kau tentu sudah tahu, bahwa kami hadir lebih dahulu dari kalian dengan nama yang kemudian kalian kacaukan. –
    Podang Abang tertawa. Katanya – Jangan membohongi diri
    sendiri seperti itu. Kami datang untuk membersihkan nama kami dari tingkah laku sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab.
    – Sudahlah – berkata Sabungsari – kita lebih baik tidak berbicara. Kita tentu menyadari, bahwa tidak ada artinya untuk berbicara karena kita masing-masing sama sekali tidak berniat untuk berbicara dengan baik. –
    – Bagus – desis Podang Abang dengan nada yang berbeda – aku memang tidak terlalu senang berbicara. Aku memang lebih senang membunuh. Aku tahu, bahwa jumlah kalian tidak banyak. Jika dua orang diantara kalian terbunuh sekarang, maka jumlah orang-orang yang mengacaukan kelompok anak-anakku itu tidak akan banyak berarti lagi. –
    – Omong kosong – geram Sabungsari – kau kira kami tidak mampu melindungi diri sendiri? –
    – Baiklah – berkata Podang Abang – aku sudah mengira bahwa kalian akan berbuat demikian sombongnya sehingga berani melawan aku. Tetapi itu tidak apa-apa. Barangkali itu lebih baik daripada aku membunuh orang yang sedang berlutut sambil menunduk. –
    – Jika demikian, marilah – berkata Sabungsari – Apa yang akan kau lakukan? –
    Podang Abang tertawa. Katanya – Jayaraga yang pikun itu tentu akan menyesali kelengahannya sehingga ia tidak melihat bagaimana kedua orang asuhannya terbunuh. Mungkin kalian memang bukan murid langsung Ki Jayaraga, tetapi selama ini Jayaraga berada di antara kalian. –
    Tiba-tiba saja timbul keinginan Glagah Putih untuk bertanya -Jika Ki Jayaraga, apakah kau akan mengurungkan niatmu? –
    Orang itu tertawa. Katanya – Aku akan membunuhnya sama sekali. –
    Namun dalam pada itu, ternyata Ki Jayaraga memiliki kemenangan selapis dari Podang Abang. Ternyata Ki Jayaraga tidake lengah sebagaimana dikatakan oleh Podang Abang. Sebagaimana yang pernah dilakukan, maka iapun telah berusaha mengamati ke-
    dua orang anggauta kelompok Sabungsari itu menghadap Ki Wi-rayuda serta keperluan-keperluan lain di kota. Namun Ki Jayaraga memang terlambat melihat Podang Abang telah berhasil mengetahui bahwa Sabungsari dan Glagah Putih telah menghadap Ki Wi-rayuda.
    – Apakah Podang Abang sudah mengetahui bahwa anak-anak Gajah Liwung berada di Sumpyuh? – pertanyaan itu memang telah mengganggu jantung Ki Jayaraga.
    Tetapi ia telah menjawabnya sendiri – Agaknya secara kebetulan Podang Abang melihat Sabungsari dan Glagah Putih melewati jalan yang pernah dilewatinya sebelumnya ketika mereka pergi ke kota untuk melaporkan tentang peti-peti itu kepada Ki Wi-rayuda namun gagal mengikutinya sampai sasaran. –
    Namun sementara itu, Ki Jayaraga tidak segera tampil. Ia masih berusaha untuk mengamati Podang Abang dari kejauhan. Ia masih membiarkan Sabungsari dan Glagah Putih mencoba mengatasi persoalannya dengan Podang Abang.
    Sementara itu, Podang Abang itupun berkata – Anak-anak muda. Nampaknya kalian adalah anak-anak muda yang berani. Karena itu maka aku ingin membuktikannya. Jika kalian memang benar-benar berani menantang aku, maka marilah. Kita mencari tempat yang paling baik untuk menunjukkan, siapakah yang tidak sekedar mampu membuka mulutnya saja. –
    – Maksudmu? – bertanya Sabungsari.
    – Kita pergi ke tengah-tengah pategalan yang sepi. Jangan ada orang lain yang mencampuri persoalan kita. Dengan demikian kita akan dapat melihat keberanian yang sejati. Siapakah yang mempunyai kelebihan diantara kita. Bukan sekedar siapakah yang lebih pandai menyombongkan diri – berkata Podang Abang.
    Sabungsari dan Glagah Putih saling berpandangan sejenak. Namun kemudian dengan mantap Sabungsari berkata – Baik. Kita pergi ke pategalan itu. Kita akan bermain-main tanpa ada orang lain yang mengganggu. –
    Podang Abang tertawa. Katanya – Kesombongan kalian memang luar biasa. Tetapi baiklah. Aku akan menghentikannya.Kalian berdua akan segera terdiam untuk selama-lamanya. Besok atau lusa, aku akan membunuh dua orang lagi. Dua orang lagi dan akhirnya anggauta kelompok kalian akan terbabat habis. –
    Sabungsari dan Glagah Putih tidak menjawab. Dipandanginya Podang Abang itu dengan tajamnya. Sementara Podang Abang berkata – Marilah. Kita pergi ke pategalan itu sebelum ada orang lain yang ikut campur. –
    Podang Abang tidak menunggu jawaban Sabungsari dan Glagah Putih. Iapun segera melangkah, meniti pematang, menuju ke pategalan dibelakang sawah yang terbentang luas.
    Sabungsari dan Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun merekapun kemudian telah mengikutinya pula.
    Ki Jayaraga yang melihat dari kejauhan ketiga orang itu meniti pematang, segera mengetahui apa yang akan mereka lakukan. Karena itu, maka iapun telah tergeser pula dan mengamati ketiga orang itu dari balik pohon jarak yang tumbuh dipinggir jalan, tidak terlalu jauh dari pematang itu, sehingga Ki Jayaraga melihat ketiga orang itu memasuki sebuah pategalan yang agaknya tidak ditunggui oleh para pemiliknya.
    Ki Jayaragapun segera berusaha untuk mendekat. Baginya, lebih mudah mengamati ketiga orang itu di pategalan, karena pepohonan yang tumbuh melindungi tanaman palawija yang belum lama ditanam. Nampaknya pategalan itu memang telah dipersiapkan bagi daerah yang akan dihuni, sehingga telah banyak pohon buah-buahan yang ditanam.
    Sejenak kemudian, maka ketiga orang yang diamati oleh Ki Jayaraga itu telah berada di bagian dalam pategalan itu, sehingga mereka yakin tidak akan ada orang yang akan mengganggu.
    – Aku kagum akan ketabahan hati kalian – berkata Podang Abang. Lalu katanya – Aku tahu bahwa sebenarnya kalian merasa sangat ketakutan. Tetapi kalian dibebani oleh perasaan harga diri yang berlebihan. –
    – Apa yang akan kau lakukan jika kami benar-benar ketakutan? – bertanya Sabungsari.
    Podang Abang mengerutkan keningnya. Sebagai seorang
    yang berpengalaman luas, ia justru mengetahui bahwa anak-anak muda itu sama sekali tidak menjadi ketakutan. Pertanyaannya itu bahkan merupakan tantangan yang harus dijawabnya.
    Karena itu, maka katanya dengan nada berat – bagus. Pertanyaanmu telah membakar jantungku. Marilah, bersiaplah untuk mati anak-anak muda. Jika semula aku masih mempunyai pertimbangan lain. Ternyata bahwa sekarang aku memutuskan untuk membunuh kalian berdua. –
    – Kau telah mendorong kami membuat keputusan yang sama Podang Abang – berkata Sabungsari.
    – Bagus. Marilah anak-anak muda. Aku tidak ingin membunuh kalian satu persatu. Aku ingin kalian berdua sama-sama mati. Aku akan menghitung sampai lima belas. Aku berani bertaruh bahwa kalian berdua tentu sudah terbaring di tempat ini. Tetapi ka lian berdua belum mati. Kalian harus tahu bahwa kalian kalah bertaruh. Baru kemudian, setelah kalian menyadari kekalahan kalian, menyadari kesombongan kalian dan menyadari kekerdilan diri, maka kalian akan aku bunuh dengan caraku. –
    Jantung kedua orang anak muda itu memang tergetar. Tetapi mereka segera menjadi tenang. Bahkan Glagah Putih yang sempat tersenyum berkata – Kau nampaknya mempunyai kepandaian untuk menakut-nakuti anak-anak. Tetapi masa kanak-kanak kami telah lewat. –
    – Bersiaplah. Kalian tidak dapat mencoba mengulur waktu. Agaknya kalian menunggu kehadiran Jayaraga. Tetapi ia tentu tidak akan mengira bahwa kalian berada disini. Akupun tidak tahu apakah Jayaraga akan menemukan mayat kalian atau tidak – sahut orang itu.
    Sabungsari dan Glagah Putih memang tidak mendapat kesempatan lagi. Podang Abang itu tiba-tiba saja telah bersiap.
    Kedua orang anak muda itu menjadi berdebar-debar. Podang abang itu hanya menggerakkan tangannya, tangan kanannya mengepal disisi tubuhnya, sedang tangan kirinya bersilang dimuka dadanya dengan telapak tangan terbuka dan kelima jari-jarinya merapat
    Namun rasa-rasanya unsur gerak itu telah menggetarkan udara menghentak dada mereka.
    Sabungsari dan Glagah Putih menyadari sepenuhnya, bahwa lawannya adalah seorang yang berilmu tinggi.
    Ki Jayaraga yang melihat dari kejauhan menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat unsur gerak Podang Abang yang sangat mapan. Sejak ia bertemu dan berselisih dengan orang itu ia sudah menduga bahwa jika ia bertemu lagi, maka ilmu Podang Abang tentu sudah meningkat.
    Sebenarnyalah bahwa ia memang melihat ilmu orang itu meningkat.
    Namun justru karena itu, Jayaraga menjadi bimbang. Apakah ia akan membiarkan Sabungsari dan Glagah Putih melawan Podang Abang untuk mengukur ilmunya atau ia sendiri akan menghadapinya.
    Tetapi untuk beberapa saat Ki Jayaraga masih bersembunyi. Kemampuannya yang tinggi membuatnya mampu melepaskan diri dari pengalaman Podang Abang atas keadaan disekelilingnya.
    Namun akhirnya Ki Jayaraga ingin membiarkan Glagah Putih bertempur melawan orang yang berilmu tinggi. Bersama Sabungsari, maka Ki Jayaraga memperhitungkan bahwa keduanya tidak akan terlalu cepat dapat dikalahkan oleh Podang Abang. Jika keadaan memaksa, maka Ki Jayaraga akan dapat bertindak cepat. Jika perhatian Podang Abang telah tertuju sepenuhnya kepada Sabungsari dan Glagah Putih, maka ia akan dapat lebih mendekat lagi sehingga ia akan dapat lebih cepat bertindak.
    Dalam pada itu, Sabungsari dan Glagah Putihpun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Keduanya telah mengambil jarak dua langkah.
    Podang Abang yang melihat kesiagaan kedua orang itu tiba-tiba berdesis – kalian bukan saudara seperguruan. –
    – Bukan – jawab Sabungsari.
    – Siapa gurumu? – bertanya Podang Abang.
    – Tidak ada artinya aku menyebut namanya – jawab Sabungsari yang memang dengan penuh kesadaran telah melepaskan diri
    dari ikatan perguruannya, meskipun ia masih mengembangkan ilmunya atas landasan ilmu dari perguruannya. Tetapi Sabungsari telah menyadap pula ilmu dari sumber yang lain. Sebagai seorang prajurit maka Sabungsari mendapat latihan perang gelar dan perang dalam ikatan kebersamaan. Dengan kecerdasan otaknya, maka Sabungsari berhasil memadukan dasar dari ilmunya dan latihan-latihan keprajuritan itu sehingga ia mampu meramunya menjadi batu loncatan untuk meningkatkan ilmunya. Sementara itu, latihan-latihan yang dilakukan bersama beberapa orang perwira dalam kesatuannya, bahkan bersama dengan Untara yang melandasi ilmunya dari jalur perguruan Ki Sadewa, maka Sabungsari tidak sekedar berpijak pada ilmu dari perguruannya saja.
    – Kau tentu bukan murid Jayaraga – geram Podang Abang.
    – Memang bukan – jawab Sabungsari.
    Podang Abang masih belum beranjak dari tempatnya. Sementara itu, ia sempat memperhatikan Glagah Putih yang bersiap pula menghadapinya. Namun Glagah Putihpun telah berusaha untuk tidak mempergunakan unsur dari ilmu Ki Jayaraga. Bahkan Glagah Putih telah bersiaga dengan landasan ilmu dari jalur Ki Sadewa sepenuhnya.
    Podang Abang termangu-mangu sejenak. Diamatinya sikap Glagah Putih itu dengan seksama. Namun tiba-tiba saja ia berdesis – Selain kau. Darimana kau menyadap ilmu dari jalur perguruan Ki Sadewa? –
    – Darimana kau tahu? – justru Glagah Putih yang kemudian bertanya.
    – Ki Sadewa memang lebih dahulu dari aku. Tetapi aku masih dapat mengenalinya sikap itu. Atau secara kebetulan kau menyadap ilmu dari seorang yang karena tidak mampu mengembangkan pribadinya dalam olah kanuragan atau sadar bahwa ilmu yang tu-murun dari gurunya tidak bernilai lalu meniru sikap dari orang-orang yang ilmunya diakui sebagai satu jalur perguruan yang utuh. Misalnya jalur perguruan Ki Sadewa. – orang itu berhenti sejenak. Tetapi kemudian iapun bertanya – Nah, apakah kau memang memiliki jalur dari perguruan Ki Sadewa itu atau juga kau murid seorang guru yang meniru-niru sikap dan barangkali juga unsur gerak dari perguruan Ki Sadewa? –
    Entahlah – jawab Glagah Putih – tetapi guruku adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Seandainya ia bertemu dengan Ki Sadewa, maka akan dapat dinilai, siapakah yang sebenarnya meniru. Mereka saling pengaruh mempengaruhi, saling menyadap atau saling meniru. –
    – Omong kosong. Ki Sadewa sudah tidak ada sekarang – geram Podang Abang.
    – Aku sudah tahu – jawab Glagah Putih – Ki Sadewa sudah lama meninggal. –
    Iblis kau – geram orang itu.
    – Bukan kami yang mengulur waktu. Tetapi kau. Apakah ada yang kau harapkan dapat menyelamatkan hidupmu? – bertanya Glagah Putih yang pernah bergaul rapat dengan Raden Rangga itu.
    Namun akhirnya hampir saja merupakan bencana. Sebelum mulut Glagah Putih terkatup rapat, maka Podang Abang itu telah menyambarnya. Tangannya, yang terayun mendatar menebas kea-rah leher Glagah Putih dengan kuku-kukunya yang mengembang.
    Ki Jayaraga juga terkejut. Jika jari-jari yang mengembang itu berhasil menyentuh lehernya, maka Glagah Putih tentu akan langsung mati sebelum sempat mengaduh. Lehernya tentu akan koyak dan langsung membelah kerongkongan.
    Untunglah bahwa Glagah Putih sempat melihat ayunan tangan itu. Karena itu, maka iapun telah meloncat surut
    Ternyata Sabungsari memiliki ketajaman penglihatan sebagai seorang yang berilmu tinggi pula. Podang Abang yang justru terkejut serangannya tidak menyentuh lawannya yang masih muda itu, telah bersiap untuk memburu mangsanya. Namun Sabungsari telah bergeser selangkah, sehingga perhatian Podang Abang telah berpindah kepadanya.
    Sementara itu, Glagah Putih telah sempat memperbaiki keadaannya meskipun jantungnya masih terasa berdebar-debar.
    – Ternyata kau memiliki ilmu iblis sehingga kau mampu melepaskan diri dari jangkauan seranganku – geram Podang Abang.
    – Maaf – sahut Sabungsari – kami masih belum ingin mati. Hitunglah sampai lima belas. Apakah kau dapat memenuhi janjimu? –
    Sabungsari harus mengalami perlakuan yang serupa. Begitu mulutnya terkatup, maka kaki Podang Abanglah yang berputar menyambar lambung.
    Namun Sabungsari telah memperhitungkan hal itu setelah ia melihat apa yang terjadi atas Glagah Putih. Karena itu, maka demikian kaki Podang Abang itu menyambar, maka Sabungsaripun telah meloncat pula menghindar. Namun dalam pada itu, Glagah Putih tidak sekedar bergerak untuk menarik perhatian, tetapi ia sudah meloncat menyerang Podang Abang meskipun dengan sangat berhati-hati.
    Tetapi serangan Glagah Putih itupun tidak menyentuh sasarannya Meskipun demikian, Glagah Putih telah mengurungkan niat Podang Abang untuk memburu Sabungsari. Tetapi Podang Abang tidak lagi termangu-mangu. Namun ia telah menyerang Glagah Putih setelah bergeser menghindar.
    Glagah Putihlah yang harus menghindar. Tetapi Sabungsaripun tidak tinggal diam, sehingga sejenak kemudian, maka Podang Abang itu telah bertempur melawan Sabungsari dan Glagah Putih dengan sengitnya.
    Podang Abang benar-benar menjadi marah. Ia tidak mengira bahwa anak-anak muda itu akan mampu melakukan perlawanan demikian gigihnya.
    Apalagi ketika tiba-tiba saja Sabungsari bertanya sambil bertempur – Apakah hitunganmu belum sampai limabelas? Atau barangkali jarak hitunganmu sejalan dengan setiap terbitnya matahari? –
    – Aku koyakkan mulutmu – teriak Podang Abang.
    Sabungsari tidak sempat menjawab. Podang Abang telah menyerangnya seperti banjir bandang, sehingga Sabungsari terdesak beberapa langkah surut. Namun Glagah Putih tanggap akan keadaan, sehingga iapun telah menyerang Podang Abang dengan cepat pula.
    Dengan demikian maka pertempuran antara Sabungsari dan Glagah Putih itupun menjadi semakin seru. Kedua belah pihak telah berloncatan semakin cepat. Tenaga merekapun menjadi semakin kuat, sementara itu merekapun telah mulai merambah kedalam kemampuan ilmu mereka.
    Sabungsaripun telah berusaha untuk selalu mengambil jarak dari Glagah Putih, agar mereka berdua dapat bertempur dari arah yang berbeda dan dapat saling mengisi apabila Podang Abang memusatkan perhatiannya kepada salah satu pihak. Sedang Glagah Putihpun selalu mengimbangi gerak Sabungsari, sehingga setiap kali Podang Abang harus memperhatikan keduanya yang seakan-akan berdiri berseberangan.
    Dengan demikian maka perhatiannya benar-benar telah dirampas oleh Sabungsari dan Glagah Putih sehingga Podang Abang tidak melihat Ki Jayaraga yang juga berilmu tinggi itu mendekati arena.
    Karena itulah, maka Ki Jayaraga mampu memperhatikan pertempuran itu dengan saksama.
    Jika sebelumnya Glagah Putih masih sempat memperhitungkan unsur-unsur geraknya untuk menghindari unsur-unsur gerak yang diwarisinya dari Ki Jayaraga seutuhnya, maka setelah pertempuran itu menjadi semakin sengit, ia tidak lagi mampu memilihnya lagi. Karena itu, maka beberapa unsur gerak yang disadap-nya dari Ki Jayaraga telah nampak pula pada tata geraknya.
    Karena itu, ketika pertempuran menjadi semakin kusut, Podang Abang sempat bertindak – He, jadi kaukah murid Ki Jayaraga itu sehingga Ki Jayaraga merasa perlu untuk menungguimu? –
    – Biasanya tidak – jawab Glagah Putih – tetapi karena kau menjadi sandaran anak-anak muridmu dan sekelompok dari perguruan lain yang diserahkan tanggung jawabnya kepadamu, maka guru berada disini. –
    – Setan kau – geram Podang Abang – ternyata kau yang masih sangat muda itu telah mampu menyadap ilmu Jayaraga hampir tuntas. Karena itu, maka kau memang harus dibunuh. Kau akan dapat menjadi orang yang sangat berbahaya. Apalagi menilik unsur-unsur gerak yang kau pergunakan, kau telah menyadap ilmu tidak hanya dari seorang guru. Itulah agaknya kau mampu menunjukkan kelebihannya dari anak-anak muda sebayamu. –
    Glagah Putih tidak menjawab. Namun beberapa unsur yang
    diwarisinya dari KiSadewa telah nampak pula, sehingga Podang Abang berteriak lagi – Unsur-unsur gerak dari keturunan ilmu jalur perguruan Ki Sadewa tentu kau warisi bukan dari Jayaraga. –
    Glagah Putih tidak menjawab. Tetapi ia menyerang semakin cepat. Sehingga unsur-unsur gerak yang turun lewat Agung Sedayu sengaja atau tidak sengaja dari perguruan Orang Bercambukpun ikut mewarnai tata gerak Glagah Putih. Sehingga dengan demikian maka kemampuan Glagah Putih menjadi semakin nampak lengkap didukung oleh tenaga cadangannya yang sangat besar.
    Namun Podang Abang adalah orang berilmu tinggi dan memiliki pengalaman yang sangat kuat. Karena itu, maka menghadapi dua orang anak muda yang juga berilmu tinggi itu, Podang Abang tidak segera terdesak, meskipun ia tidak dapat memenuhi janjinya, bahwa pada hitungan yang ke lima belas, kedua lawannya yang masih sangat muda itu akan dapat dikuasainya.
    Tetapi setelah hitungan yang sangat panjang, kedua anak muda itu sama sekali belum dapat dikuasainya. Bahkan sekali-sekali anak-anak muda itu masih juga mampu membuatnya kebingungan karena serangan mereka yang datang dari arah yang berlawanan.
    Ki Jayaraga yang menyaksikan pertempuran itu dari jarak yang sudah tidak terlalu jauh mampu menilai perkembangan ilmu Glagahi Putih. Sebenarnyalah ilmu Glagah Putih memang sudah lengkap. Bahkan dengan landasan kekuatan yang mendorongnya dari kekuatan yang terangkat dari tenaga cadangannya yang paling dalam, maka kekuatan Glagah Putih menjadi bagaikan berlipat ganda.
    – Mudah-mudahan ilmu anak itu berkembang terus – berkata Ki Jayaraga didalam hatinya.
    Sebenarnyalah seperti yang diperhitungkan oleh Ki Jayaraga, maka Podang Abang telah mengalami kesulitan menghadapi kedua orang anak muda itu benar-benar di luar dugaannya.
    Karena itu, maka kemarahan yang membakar jantungnya, terasa menjadi semakin panas. Dengan demikian, maka Podang Abangpun lelah meningkatkan ilmunya menggapai ketataran yang paling tinggi.
    Tetapi kedua anak muda itupun telah meningkatkan ilmu mereka pula. Dengan tangkas keduanya mengimbangi kecepatan gerak dan kekuatan tenaga Podang Abang.
    Bagaimanapun juga Podang Abang harus mengakui bahwa kedua anak muda itu tidak dapat direndahkannya. Sehingga dengan demikian maka Podang Abang itu mengenali kelompok Gajah Li-wung itu sebagai sebuah kelompok yang sangat kuat meskipun orangnya hanya sedikit. Orang yang pernah memanggangnya di-atas sebatang dahan pohon itupun memiliki ilmu yang sangat tinggi pula. Meskipun ia belum sempat membuat perbandingan ilmu karena kehadiran Ki Jayaraga, namun Podang Abang telah dapat menjajagi tingkat ilmunya yang sangat tinggi.
    Kini Podang Abang berhadapan dengan dua orang anak muda yang lain, yang ternyata juga memiliki ilmu yang sangat tinggi.
    Beberapa saat kemudian, Podang Abangpun menjadi yakin akan kelebihan kedua orang anak muda itu. Semakin lama Podang Abang tidak dapat sekedar mempertahankan harga dirinya tanpa berusaha untuk menyelamatkan diri. Karena itu, maka sejenak kemudian maka Podang Abang itupun telah mengurai senjatanya yang dililitkan dibawah bajunya.

    lanjut …….

  33. akhirnya …. dilanjutkan ………

    Mula-mula Glagah Putih menjadi berdebar-debar. Ia mengira bahwa orang itu akan mengurai senjatanya sebagaimana Agung Sedayu. Sebuah cambuk yang berjuntai panjang.
    Tetapi ternyata dugaan itu salah. Podang Abang bersenjata seutas rantai yang dikedua ujungnya terdapat besi baja yang bulat hampir sebesar kepalan tangan.
    Sabungsari dan Glagah Putihpun bergeser mundur. Ketika bu-latan besi baja yang tidak begitu besar itu mulai berputar, maka terasa udaranya,bagaikan ikut berputar pula.
    Sabungsari menyadari, dengan senjatanya itu, maka Podang Abang akan menjadi orang yang sangat berbahaya. Karena itu, maka Sabungsaripun telah bersiap-siap untuk mempergunakan senjatanya pula. Sedangkan Glagah Putihpun tidak mau menanggung akibatnya jika ia menjadi lengah justru setelah lawannya yang berilmu tinggi itu bersenjata.
    Karena itu, sebelum peristiwa yang buruk terjadi, maka baik Sabungsari maupun Glagah Pulih telah bersenjata pula. sabungsari telah menarik pedangnya, sementara Glagah Putih mengurai ikat pinggang kulitnya.
    Podang Abang yang berilmu tinggi itu sempat termangu-mangu sejenak melihat senjata Glagah Pulih. Namun iapun kemudian mengerti, betapa tinggi ilmu anak muda itu. Anak muda itu tentu mampu memanfaatkan ikat pinggang kulitnya itu dengan baik yang apabila dilandasi dan dialiri dengan ilmunya yang mapan akan dapat menjadi bagaikan sekeping besi baja.
    Sejenak kemudian, maka kedua bulatan besi baja yang berputar-putar itu telah mengeluarkan desing yang mendebarkan. Ketika bulatan besi itu terjulur mengarah ke dada Glagah Putih, maka anak muda itupun telah meloncat surut.
    Terasa sambaran angin menyentuh tubuh Glagah Putih. Sentuhan yang mendebarkan.
    Namun Podang Abang tidak sempat memburunya. Sabungsari telah meloncat maju dengan pedang yang terjulur lurus. Tetapi orang itu sempat bergeser. Satu hentakan telah menarik bulat-bulat besi baja itu, namun besi baja itu seakan-akan telah menggeliat dan menyambar ke arah Sabungsari.
    Sabungsari masih belum berani menangkis serangan itu. Karena, maka iapun telah bergeser menghindarinya. Sejenak kemudian pertempuran bersenjata itupun semakin lama menjadi semakin cepat. Sekali-sekali pedang Sabungsari memang tersentuh senjata Podang abang. Namun dengan demikian maka Sabungsari-pun sempat menjajagi kekuatan yang terlepas dari putaran senjatanya itu, meskipun Sabungsari menyadari, bahwa yang dijajagi itu tentu belum ilmu puncak Podang Abang.
    Demikian pula dengan Glagah Putih. Iapun sempat menangkis serangan Podang Abang.
    Glagah Putih memang harus mengakui bahwa Podang Abang memiliki kekuatan yang cukup besar. Namun lebih dari itu, Podang Abang adalah seorang yang memiliki pengalaman yang sangat luas.
    Untunglah bahwa meskipun Sabungsari dan Glagah Putih masih terhitung muda, namun mereka memiliki kemampuan dan juga pengalaman yang memadai untuk melawan Podang Abang.
    Beberapa saat kemudian, maka keringatpun telah membasahi seluruh tubuh ketiga orang yang bertempur itu. Podang Abang benar-benar tidak menyangka bahwa ia harus mengerahkan kemampuannya dalam olah senjata. Putaran senjatanya yang kemudian bergaung mendebarkan itu, sama sekali masih belum berhasil mengenai tubuh anak-anak muda itu. Namun sementara itu, anak-anak muda itupun masih belum sempat menyentuh kulit Podang Abang pula.
    Sementara itu, Ki Jayaraga yang bersembunyi dibalik gerumbul-gerumbul perdu serta sekali-sekali bergeser kebalik tanaman-tanaman yang rimbun di pategalan itu, menyaksikan pertempuran itu dengan hati yang berdebar-debar. Tetapi ada semacam keyakinan didalam dirinya, bahwa Sabungsari dan Glagah Putih akan dapat mengimbangi sepenuhnya kemampuan Podang Abang asal keduanya atau salah seorang diantara mereka tidak melakukan kesalahan.
    Dengan tegang Ki Jayaraga menyaksikan perkembangan pertempuran itu. Nampaknya Podang Abang menjadi tidak sabar lagi terhadap kedua orang lawannya yang masih muda itu. Karena itu maka iapun menggeram – Menyerahlah supaya kalian tidak mengalami nasib yang paling buruk. –
    – Jangan menakut-nakuti kami lagi – berkata Sabungsari – bukankah kau sudah gagal menghitung angka sampai lima belas. Nampaknya kau baru dapat menghitung sampai sepuluh. –
    – Tutup mulutmu – teriak Podang Abang.
    Tetapi lontaran kemarahannya pada bulatan-bulatan besi bajanya tidak berhasil sama sekali mengenai Sabungsari.
    Ki Jayaraga justru tersenyum. Ia mengira, bahwa baik Sabungsari maupun Glagah Putih telah berusaha membuat Podang Abang itu menjadi semakin marah.
    Namun Sabungsari dan Glagah Putihpun menyadari, bahwa jika Podang Abang menjadi benar-benar marah dan menggapai
    puncak ilmunya, maka pekerjaan mereka akan menjadi semakin berat, karena Podang Abang tentu akan melepaskan ilmu simpanannya yang jarang sekali dipergunakannya.
    Sabungsari dan Glagah Putih memang yakin, bahwa Podang Abang tentu memiliki ilmu simpanan itu.
    Namun untuk beberapa saat kemudian, Podang Abang hanya meningkatkan kemampuannya mempermainkan senjata itu saja. Meskipun demikian Sabungsari dan Glagah Putih merasakan betapa merekapun harus memeras kemampuan mereka.
    Dengan demikian maka sepasang bulatan besi baja yang tidak terlalu besar itu, berputaran semakin cepat. Menyambar-nyambar dan berdesing menggapai-gapai. Putaran bulatan besi itu bagaikan telah menggulung udara dan menimbulkan pusaran yang semakin lama menjadi semakin cepat.
    Namun putaran pedang Sabungsari cukup mengimbangi kecepatan gerak senjata Podang Abang. Sementara kekuatan Glagah Putih yang masih muda itu kadang-kadang telah mengejutkan Podang Abang. Kadang-kadang sentuhan senjata Podang Abang atas ikat pinggang Glagah Putih bukannya merupakan benturan yang keras karena ikat pinggang itu merupakan senjata lentur. Tetapi Po dang Abang tiba-tiba terkejut ketika senjatanya membentur senjata Glagah Putih yang seakan-akan telah berubah menjadi keping baja yang berat.
    Karena itulah, maka meskipun Podang Abang telah meningkatkan kemampuannya mempermainkan senjatanya sampai keta-taran tertinggi, namun ternyata Podang Abang masih belum dapat menguasai kedua lawannya yang masih sangat muda itu. Baik Sabungsari maupun Glagah Putih telah mengerahkan kemampuan mereka dalam ilmu pedang dan penguasaan senjatanya yang aneh itu. Dengan mengerahkan tenaga cadangan didalam dirinya yang tersalur pada ikat pinggangnya, Glagah Putih merupakan seorang anak muda yang sangat mendebarkan jantung.
    Beberapa saat kemudian, maka pertempuran itu bagaikan telah mencapai puncaknya. Senjata Podang Abang terayun-ayun sangat mengerikan. Menyambar, menggapai, tetapi kadang-kadang juga bagaikan hendak menjerat leher lawannya.
    Tetapi kedua lawannya benar-benar tangkas. Bahkan sekali-sekali ujung pedang Sabungsari hampir saja sempat menyentuh tubuh Podang Abang sebagaimana sisi ikat pinggang Glagah Putih. Namun seperti Podang Abang yang belum berhasil menyentuh kulit lawan-lawannya, maka kedua lawannya yang muda itupun belum dapat melukainya.
    Ternyata Podang Abang benar-benar telah kehilangan kesabarannya. Meskipun ia sudah sampai pada puncak kemampuan ilmunya bermain dengan senjatanya, namun ia masih belum mampu menundukkan kedua lawannya yang diperkirakan akan dapat dilumpuhkannya sebelum hitungan ke lima belas. Tetapi sampai hitungan yang panjang sekali, Podang Abang ternyata masih belum mampu mengalahkan kedua orang anak muda itu.
    Karena itu, maka tidak ada jalan lain bagi Podang Abang yang berilmu tinggi dan berpengalaman sangat luas itu, selain melepaskan ilmu simpanannya. Ilmu yang jarang sekali dipergunakannya. Sementara itu, melawan dua orang anak muda yang dianggapnya tidak lebih dari anak-anak itu, ia terpaksa melepaskannya.
    – Apaboleh buat – berkata Podang Abang itu didalam hatinya -tidak akan ada orang yang tahu, apa yang sudah terjadi. –
    Namun kemudian iapun berdesah didalam hatinya – Jayaraga akan dapat mengetahui akibat ilmunya itu. Tetapi aku tidak peduli. Bahkan iapun akan mengalami nasib yang sama dengan anak-anak asuhannya itu. Bahkan seorang diantaranya adalah muridnya. –
    Demikianlah, maka Podang Abang benar-benar telah melakukannya. Ia telah menembus ke ilmu andalannya yang tidak dipergunakannya jika tidak menghadapi lawan yang khusus. Ternyata kedua orang anak muda itu, bagi Podang abang termasuk orang yang khusus itu, yang tidak dapat dikalahkannya tanpa ilmu sim -panannya.
    Dengan demikian, maka sejenak kemudian, Podang Abang telah memutar kedua bulatan besi baja yang ada dikedua ujung rantainya. Semakin lama menjadi semakin cepat. Kedua bulatan besi baja itu rasa-rasanya telah berubah menjadi berpuluh-puluh bulatan yang berputar mengelilingi tubuh Podang Abang. Bahkan
    akhirnya yang nampak oleh Sabungsari dan Glagah Putih adalah separo bulatan yang berwarna kehitam-hitaman seperti tempurung yang menelungkup.
    Sabungsari dan Glagah Putih menjadi sangat berhati-hati menghadapi lawannya itu. Ketika tiba-tiba saja tempurung itu bergerak dengan cepat kearah Sabungsari, maka Sabungsari telah berusaha untuk berlindung dibalik sebatang pohon jambu air.
    Tetapi baik Sabungsari maupun Glagah Putih terkejut. Yang terdengar kemudian adalah suara gemeretak. Putaran bola besi yang berbentuk tempurung itu sama sekali tidak berusaha untuk memutar disebelah sebatang pohon jambu air itu, tetapi justru menembus batang pohon jambu air yang memang tidak begitu besar itu.
    Batang pohon jambu air yang kemudian tumbang itu bagaikan terlempar dan seakan-akan diputar badai yang deras. Namun kemudian jatuh roboh ditanah sebelah menghantam beberapa pohon yang lain. Sebatang pohon srikaya telah ikut patah pula, sementara beberapa pepohonan yang lain kehilangan dahan dan ranting-rantingnya.
    Dengan demikian maka Sabungsari dan Glagah Putih menjadi semakin berhati-hati. Ketika Sabungsari mencoba menyentuh bayangan putaran senjata Podang Abang yang menyerupai tempurung yang menelungkup itu, maka hampir saja ia kehilangan senjatanya.
    Sabungsari yang terkejut sekali itu dengan serta merta telah meloncat mengambil jarak. Tangannya terasa pedih. Pedangnya hampair saja terloncat karena benturan yang luar biasa kerasnya,
    – Ilmu apakah yang telah membuatnya demikian kuat sehingga segenap tenaga cadangan didalam diriku sama sekali tidak berarti – berkata Sabungsari didalam hatinya.
    Glagah Putih yang menjajagi kekuatan Podang Abangpun mengalami keadaan yang sama. Ikat pinggang yang diterimanya dari Ki Patih Mandaraka itupun hampir saja terlepas dari genggamannya.
    Dengan demikian, maka kedua orang anak muda itu harus mengambil jarak dari lawannya. Sementara itu terdengar suara Podang Abang dari dalam bayangan tempurung bulatan besi bajanya -Jangan mencoba melarikan diri. Betapapun cepat kalian berlari, tetapi aku akan dapat menggapaimu. Bahkan seandainya kalian berdua berlari kearah yang berbeda sekalipun, maka aku akan dapat menangkap kalian. –
    Sabungsari termangu-mangu sejenak. Sementara Glagah Putih masih saja bergeser menempatkan diri.
    Sementara itu Podang Abang semakin garang. Dengan cepatnya bulatan-bulatan besi yang melingkari dirinya itu telah bergeser bagaikan terbang menyambar Glagah Putih. Putaran senjatanya itu bagaikan menjadi sayap yang membentang. Namun kemudian terkatup menangkap sasarannya.
    Glagah Putih terdesak tanpa dapat menghambat gerakan lawan. Karena itu, maka dengan mengerahkan tenaga cadangannya, Glagah Putih tidak berniat membentur kekuatan lawan yang sangat besar. Tetapi Glagah Putih mempergunakan tenaga cadangannya untuk meloncat tinggi-tinggi, berputar diudara dan melenting jatuh beberapa langkah menjauh.
    Tetapi ayunan bulatan besi baja itu memburunya. Tidak kalah cepatnya dari loncatan Glagah Putih. Hampir saja Glagah Putih ter sentuh oleh putaran senjata lawannya. Tetapi dengan sangat berhati-hati, Glagah Putih telah menangkis serangan itu. Glagah Putih dengan mempergunakan segenap kekuatan dan tenaga cadangan, Glagah Putih hanya berani menggeser arah putaran senjata yang dahsyat itu.
    Namun demikian Glagah Putih telah berhasil menyelamatkan dirinya.
    Tetapi Podang Abang tidak ingin melepaskannya. Ia ingin menebus kegagalannya.
    Tetapi ketika Podang Abang itu siap menggulung Glagah Putih itu, maka Sabungsari telah meloncat, berusaha untuk menembus lubang-lubang gulungan senjata Podang Abang.
    Tetapi Sabungsari memang gagal. Meskipun demikian ia sempat menghentikan Podang Abang yang kemudian berpaling kepadanya.
    Bahwa Sabungsari masih tetap menggenggam pedangnya itu, telah membuat Podang Abang menjadi heran. Tetapi ia tidak boleh membiarkan anak-anak muda itu untuk bertahan terus dan merasa bahwa mereka telah menang.
    Dalam keadaan yang gawat itu, tiba-tiba saja Glagah Putih telah berteriak – Apakah hitunganmu masih juga belum sampai lima belas? –
    – Anak setan kau – geram Podang Abang yang perhatiannya beralih kembali kepada Glagah Putih.
    Sementara itu, Ki Jayaraga memang menjadi semakin berdebar-debar. Apa yang dilihatnya adalah peningkatan ilmu Podang Abang. Ia yakin jika ilmu itu mencapai tataran tertinggi, maka yang ikut berputar adalah udara disekitarnya pula menggulung apa saja yang masih dapat dijangkau oleh jarak ilmunya itu.
    Ketika kemudian Podang Abang meluncur seperti seekor burung raksasa yang terbang dengan sayap-sayap baja, maka Ki Jayaraga menahan nafasnya. Apalagi ketika Ki Jayaraga melihat sikap Glagah Putih. Anak itu nampaknya dengan sengaja ingin membentur kekuatan Podang Abang meskipun tidak langsung.
    Tetapi bagi Jayaraga itu adalah hal yang sangat berbahaya.
    Namun demikian, Glagah Putih benar-benar telah siap. Ia telah berada di puncak ilmu yang diwarisinya dari jalur perguruan Ki Sadewa lewat Glagah Putih. Sementara itu ia sudah berdiri pula bertandasan peningkatan segala macam ilmu dan kekuatannya karena getaran-getaran kekuatan yang aneh yang disusupkan keda-lam dirinya disaat-saat terakhir persahabatannya dengan Raden Rangga. Bahkan landas an kemampuannya mengungkap tenaga cadangannya menurut tuntunan Ki Jayaraga dan penyaluran kekuatan sebagaimanadipelajarinya menurut perguruan Orang Bercambuk.
    Ilmu itu sudah ada didalam dirinya. Dituntun oleh Ki Jayaraga dan Agung Sedayu, maka kekuatan dan kemampuan itu dapat luluh menjadi satu, sehingga merupakan kekuatan yang tidak dapat diabaikan.
    Karena itu, ketika ayunan bulatan besi baja yang berputar itu seakan-akan menggulungnya, maka Glagah Putih dengan sengaja telah membenturkan kekuatannya.
    Satu benturan yang dahsyat telah terjadi. Dua kekuatan raksasa telah beradu. Putaran bulatan besi baja Podang Abang telah membentur ikat pinggang kulit Glagah Putih. Namun ikat pinggang kulit itu adalah pemberian Ki Patih Mandaraka.
    Ternyata dalam benturan itu, putaran senjata Podang Abang telah terkoyak. Bulatan besi baja itu bagaikan terpental dan kehilangan keseimbangan, sehingga untuk menguasainya kembali dibutuhkan beberapa saat.
    Tetapi dalam pada itu, kekuatan ayunan besi baja yang dilambati dengan kekuatan ilmu itu benar-benar telah mengguncangkan pertahanan Glagah Putih. Karena itulah maka Glagah Putih justru telah terpental dan seakan-akan terlempar beberapa langkah surut. Ketika tubuhnya membentur sebatang pohon turi, maka rasa-rasanya punggungnya bagaikan retak.
    Dalam pada itu, Sabungsari tanggap akan keadaan. Ia sangat mempergunakan kesempatan yang hanya sesaat. Sebelum Podang Abang sempat memperbaiki putaran senjatanya, maka Sabungsari harus bertindak. Ia sadar, bahwa Glagah Putih memerlukan waktu sesaat untuk memperbaiki keadaannya.
    Karena itu, selagi Podang Abang berusaha mengatur kembali putaran bulatan besi bajanya, Sabungsari telah meloncat dengan senjata terjulur.
    Satu pemanfaatan kesempatan yang bagus sekali. Kesulitan yang hanya sekejap itu mampu dipergunakan oleh Sabungsari sebaik-baiknya. Karena itulah maka ujung pedang Sabungsari yang terjulur lurus, sempat mengusik kulit Podang Abang di pundaknya. Podang Abang mengumpat sejadi-jadinya. Ia telah meloncat surut beberapa langkah.
    – Kau ternyata benar-benar telah gila – Podang Abang itu hampir berteriak – kau telah berani melukai kulitku. –
    Sabungsari tidak menjawab. Namun ia sempat melihat Glagah Putih telah bangkit dan memperbaiki keadaannya. Meskipun punggungnya masih terasa sakit, tetapi ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan.
    Sebenarnyalah Podang Abang menjadi sangat heran mengalami benturan itu. Bermimpipun tidak, bahwa ada anak muda mampu membentur senjatanya yang sedang berputar didalam puncak ilmunya, masih tetap dapat hidup. Sebelumnya ia menduga, bahwa anak yang mengaku memiliki ilmu dari perguruan Ki Sadewa dan sekaligus dari Ki Jayaraga itu akan terlempar jauh, membentur pepohonan yang ada di pategalan itu, kemudian terkapar tanpa dapat bergerak lagi karena tulang-tulang ditubuhnya telah hancur.
    Namun ternyata anak muda itu telah bangkit dan siap untuk bertempur terus.
    Podang Abang yang marah itu telah memusatkan perhatiannya kepada Sabungsari yang telah melukainya. Sementara itu Sabungsaripun telah mengucapkan sokur bahwa Glagah Putih tidak menjadi lumat. Namun sekaligus Sabungsaripun telah mengagumi kemampuan anak yang jauh lebih muda dari dirinya sendiri itu.
    – Pantaslah, bahwa ia adalah sepupu Agung Sedayu yang ketika masih muda itu juga telah pernah membuat pangeram-eram -berkata Sabungsari didalam hatinya.
    Namun kini Sabungsari menyadari, bahwa ia akan menjadi sasaran kemarahan Podang Abang justru karena ia telah melukainya. Sehingga karena itu, maka Sabungsari telah bersiap sepenuhnya. Ia tidak mau dihancurkan oleh Podang Abang dengan bandul besi bajanya yang bulat itu.
    Karena itulah, maka Sabungsari telah menyiapkan ilmu puncaknya. Ia harus melawan Podang Abang dengan tingkat kemampuannya yang tertinggi.
    Sejenak kemudian Sabungsaripun telah memusatkan segenap nalar budinya. Ia sudah siap menghadapi Podang Abang dengan ilmunya yang mengerikan itu. Namun Sabungsari tidak ingin membentur putaran bandul besi baja yang bulat yang diayunkan berputar disekeliling tubuh Podang Abang.
    Namun Podang Abang yang sangat marah karena kulitnya telah dilukai itu, telah meloncat sambil memutar bulatan besi baja nya menyerang Sabungsari.
    Tetapi Sabungsari telah benar-benar siap. Demikian bayangan senjata Podang Abang yang mengitari tubuhnya itu bagaikan terbang menyambarnya, maka Sabungsari telah menyilang-
    kan tangannya didada. Dalam sekejap, maka Sabungsari telah melontarkan ilmunya yang dahsyat itu lewat sorot matanya.
    Podang Abang terkejut. Benturan yang keras telah terjadi. Serangan Sabungsari itu telah menghantam putaran senjata Podang Abang yang juga dilambari dengan kekuatan ilmu puncaknya.
    Seperti saat membentur ikat pinggang Glagah Putih, maka putaran senjata Podang Abang itu menjadi pecah. Tetapi serangan ilmu Sabungsari mempunyai akibat yang lebih luas dari benturan dengan ikat pinggang Glagah Putih. Bandul besi baja yang bagaikan terpental menghantam serangan sorot mata Sabungsari telah melemparkan Podang Abang sehingga jatuh berguling.
    Namun dengan cepat Podang Abang itu bangkit. Dengan cepat pula ia berhasil menguasai dirinya kembali.
    Tetapi Podang Abang tidak sempat mengangkat kembali permainannya dengan bandul besinya. Demikian ia tegak, maka serangan Sabungsari berikutnya telah menyusul.
    Podang Abang harus berloncatan menghindari serangan Sabungsari. Namun ternyata bahwa Podang Abang memang berilmu tinggi.
    Kemarahannya membuatnya seakan-akan menjadi semakin cepat bergerak. Sambil berloncatan menghindari serangan-serangan berikutnya, Podang Abang masih mampu mendekati Sabungsari.
    Beberapa langkah dari Sabungsari, Podang Abang masih mampu menghindari serangan sorot matanya. Seperti terbang Podang Abang justru mengitari Sabungsari yang berusaha mengambil jarak.
    Tetapi Podang Abang memang berilmu sangat tinggi. Podang Abang agaknya memang tidak memiliki kemampuan menyerang dari jarak jauh. Tetapi jarak itu dapat dikuasainya dengan gerakan-gerakan yang cepat.
    Glagah Putihpun menjadi termangu-mangu. Namun ia tidak dapat membiarkan Sabungsari mengalami kesulitan dengan jangkauan jarak yang dapat dilakukan oleh Podang Abang. Apalagi kemudian Podang Abang itu mulai lagi dengan permainan bandul besinya, sehingga keadaan Sabungsari menjadi semakin berbahaya.
    Karena itu, Glagah Putih memang tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus membantu Sabungsari dengan ilmunya yang beberapa saat sebelumnya masih disimpannya. Tetapi agaknya Glagah Putihpun menyadari, bahwa meskipun ia bertempur bersama Sabungsari, tetapi tanpa puncak-puncak kemampuan mereka, keduanya tidak akan mampu mengalahkannya.
    Sabungsari yang justru terdesak sempat mengambil jarak. Dengan mengerahkan segenap kemampuannya dalam pemusatan nalar budi, Sabungsari sempat menyerang Podang Abang dengan ilmunya yang terpancar dari matanya.
    Namun sekali lagi Sabungsari gagal. Podang Abang sempat meloncat tinggi-tinggi, berputar diudara dan diluar perhitungan Sa bungsari, Podang Abang itu telah berdiri beberapa langkah saja di-hadapannya.
    Sabungsari menyadari bahaya yang mengancamnya. Jika ia lengah, maka bandul besi baja itu akan dapat meremukkan kepalanya. Karena itu, maka iapun telah bersiap untuk menghindari serangan Podang Abang, sementara Podang Abangpun siap melontarkan serangan dengan bulatan besi bajanya dilandasi dengan segenap kemampuan ilmunya.
    Namun Glagah Putih tidak membiarkan benturan ilmu itu terjadi pada jarak yang demikian dekatnya. Glagah Putih menyadari bahwa kematangan ilmu Podang Abang melampaui kematangan ilmu Sabungsari. Karena itu, jika keduanya langsung beradu ilmu dalam bentuknya masing-masing, maka Glagah Putih juga mencemaskan keselamatan Sabungsari. Sementara Glagah Putih sudah tidak sempat lagi meloncat mendekat.
    Karena itu, maka Glagah Putihpun telah memusatkan nalar budinya pula. Ia tidak mau terlambat sehingga akibatnya akan menyulitkan Sabungsari.
    Karena itu, maka Sabungsari sempat membenturkan ilmunya dari jarak yang sangat dekat. Glagah Putih telah siap untuk menyerang.
    Berbeda dari Sabungsari yang mempergunakan matanya untuk melontarkan serangannya sebagaimana Agung Sedayu. Glagah
    Putih telah mempergunakan cara yang lain.
    Glagah Putih itu telah menghentakkan kedua tangannya setelah menyangkutkan ikat pinggangnya ke lehernya.
    Sambil berdiri tegak dengan kaki renggang, Glagah Putih mengangkat kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka menghadap kearah Podang Abang. Dilandasi dengan segenap ilmu dan kekuatan yang dimilikinya, maka Glagah Putih telah menghentakkan serangan langsung kearah Podang Abang.
    Podang Abang yang siap menyerang Sabungsari itu, ternyata sempat melihat unsur gerak Glagah Putih disaat ia bersiap untuk melontarkan serangannya. Sebagai seorang yang berilmu sangat tinggi, maka Podang Abangpun melihat ancang-ancang lontaran serangan itu demikian menggetarkan jantungnya. Menurut penilaiannya, serangan lawannya yang lebih muda itu justru lebih berbahaya dari serangan sorot mata Sabungsari. Ketika Glagah Putih mempersiapkan serangan itu, nampak betapa ancang-ancang itu lebih matang dan mantap.
    Karena itu, maka perhatian Podang Abangpun segera beralih. Namun Glagah Putih sudah siap sepenuhnya dan seakan-akan dari kedua telapak tangannya yang terbuka menghadap kearah Podang Abang itu memancar sinar.
    Podang Abang benar-benar terkejut melihat serangan itu. Karena itulah ia telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk bergerak secepatnya melenting dan menjatuhkan diri beberapa langkah dari Sabungsari.
    Podang Abang memang sempat menghindar. Tetapi ia tidak luput sepenuhnya dari sambaran ilmu Glagah Putih. Sambaran angin yang digetarkan oleh serangan ilmu yang dahsyat itu, telah menyambar Podang Abang sehingga terasa kulitnya menjadi pedih.
    Namun dalam waktu singkat itu Podang Abang dengan cepat harus mengambil sikap. Ia sadar, bahwa ia tidak akan dapat melawan kedua orang anak muda yang memiliki ilmu yang ternyata jauh lebih tinggi dari perhitungannya. Serangan sorot mata Sabungsari dan lontaran kekuatan ilmu dari telapak tangan Glagah Putih, tidak
    akan dapat diimbanginya. Betapapun ia mampu bergerak cepat dengan ilmu meringankan tubuh, namun ia tidak akan mungkin menghindari serangan-serangan anak-anak muda itu.
    Karena itu, maka Podang Abang telah mengambil keputusan dengan cepat untuk menghindar dari arena. Namun Ki Jayaraga yang mengikuti pertempuran itu, agaknya dengan cepat tanggap, sehingga dengan cepat pula Ki Jayaraga siap untuk berbuat sesuatu.
    Pada saat yang paling gawat bagi Podang Abang, maka Podang Abangpun telah meloncat meninggalkan kedua orang anak muda itu. Ia berloncatan, melenting, berputar diudara dan segala macam tata gerak yang lain untuk menghindari serangan kedua orang anak muda itu.
    Sabungsari dan Glagah Putih tidak mau melepaskannya. Orang itu adalah orang yang sangat berbahaya baginya. Karena itu, maka keduanyapun telah menghentakkan ilmu cadangan didalam dirinya untuk memburu Podang Abang yang sedang meninggalkan arena itu.
    Tetapi Podang Abang memang mampu bergerak lebih cepat. Pepohonan di pategalan itu telah menolongnya sehingga ia berhasil menjauhi kedua orang anak muda yang siap untuk menyerangnya.
    Namun ketika ia melenting tinggi dan jatuh diatas kedua kakinya yang tegak, maka Podang Abang itupun terkejut. Adalah diluar dugaan sama sekali ketika tiba-tiba saja Ki Jayaraga telah berdiri dihadapannya dalam jarak beberapa langkah.
    Podang Abang itu bagaikan membeku beberapa saat. Sementara Ki Jayaraga melangkah perlahan-lahan kepadanya.
    – Iblis licik kau – geram Podang Abang.
    – Kenapa licik? Bukankah aku baru datang? – bertanya Ki Jayaraga.
    – Kau tentu sudah lama berada disini – berkata Podang Abang itu kemudian.
    Ki Jayaraga menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya -Aku memang sudah berada disini beberapa lama. Aku melihat kau bertempur melawan kedua orang anak itu. Tetapi apakah itu berarti
    licik? –
    – Kau datang dengan bersembunyi-sembunyi – geram Podang Abang.
    Ki Jayaraga tersenyum. Katanya – Aku memang tidak ingin mengganggu kalian bertempur. Apakah itu licik? Perhatianmu terlalu terikat oleh kedua lawanmu sehingga kau tidak melihat aku hadir. Tetapi itu bukan satu kelicikan. –
    Wajah Podang Abang menjadi tegang. Sementara itu Sabungsari dan Glagah Putih telah melihatnya pula berdiri dihadapan Ki Jayaraga. Namun justru karena itu, maka keduanya tidak lagi menyerang Podang Abang itu. –
    – Nah – berkata Ki Jayaraga – aku tidak akan mengganggumu lagi. Apakah kau kehilangan kedua orang lawanmu? –
    – Gila – geram Podang Abang – aku ingin bertempur melawanmu. –
    Tetapi Ki Jayaraga menggeleng. Katanya – Aku bersedia bertempur melawanmu kapan saja. Tetapi kau tidak dalam keadaan seperti itu? Kau sedang terluka meskipun hanya segores tipis. Karena apapun yang dapat kau jadikan alasan, tentu akan kau pergunakan sebaik-baiknya untuk mengingkari kekalahanmu, karena kau tentu tidak akan dapat menang melawanku. –
    – Setan kau – geram Podang Abang.
    Ki Jayaraga tertawa. Katanya – Kau sudah bertempur melawan muridku. Bukankah kau tahu bahwa yang seorang dari kedua lawanmu itu adalah muridku? Nah, kau tentu akan dapat menjajagi kemampuanku. –
    Podang Abang termangu-mangu. Hampir diluar sadarnya ia berpaling kearah Sabungsari dan Glagah Putih.
    – Podang Abang – berkata Ki Jayaraga kemudian – sebaiknya kau tinggalkan tempat ini. Aku tidak mau membunuhmu dalam keadaan seperti itu. Jika kau setuju, lain kali kita akan bertemu. –
    Podang Abang tidak segera menjawab. Tetapi wajahnya bagaikan tersentuh bara. Hampir saja ia kehilangan kendali dan menyerang Jayaraga tanpa memberikan peringatan. Tetapi untunglah bahwa ia masih sempat menahan diri. Harga dirinya masih mencegahnya agar ia tidak berlaku curang.
    Sabungsari dan Glagah Putih masih saja termangu-mangu. Sebenarnya mereka ingin menyelesaikan pertempuran itu sampai tuntas. Mereka menyadari, bahwa Podang Abang itu tentu akan dapat mengganggu mereka selanjutnya. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa jika Ki Jayaraga mempunyai sikap yang lain.
    Sebenarnyalah Ki Jayaraga telah berkata – Sekali lagi aku minta, tinggalkan tempat ini. Jangan hiraukan kedua orang anak muda itu. Mereka tidak akan mengganggumu. Jika aku sengaja membiarkan kau bertempur melawan keduanya, maka biarlah kau menyadari, bahwa tanpa aku, anak-anak Gajah Liwung itu masih mampu mempertahankan dirinya. Jika mereka mampu mengalah-kanmu, maka apa artinya orang-orang yang mengaku anggauta kelompok Gajah Liwung itu? Orang-orang yang kau sebut berasal dari dua perguruan namun yang berada dibawah tanggung jawabmu. –
    Podang Abang menggeram. Katanya – Kenapa kau tidak bergabung dengan kedua orang anak muda itu dan membunuhku sekarang ini? Jika kau tidak membunuh sekarang beramai-ramai, maka pada kesempatan lain, akulah yang akan membunuhmu. –
    Ki Jayaraga tertawa kecil. Katanya – Apapun yang terjadi, itu adalah persoalan nanti. Jika kau pada satu saat mampu membunuhku, maka itu adalah pertanda bahwa kau memang memiliki kelebihan dari aku. Aku tidak perlu menyesali nasibku yang buruk itu, karena setelah itu, kau akan menjadi buruan muridku yang akan membunuhmu pula. –
    – Iblis kau – geram Podang Abang.
    – Podang Abang. Kau harus mengakui, bahwa muridku memiliki kemampuan dan ilmu yang cukup tinggi untuk menandingimu. Ia hanya kalah pengalaman darimu. Jika nanti aku sempat memberinya petunjuk, maka baik muridku, maupun kawannya itu, masing-masing akan dapat menghadapimu sendiri. Tidak usah berpasangan. Mereka memiliki kelebihan darimu. Kau tidak mampu menyerang mereka dari jarak lebih jauh dari jangkauan rantai dan bandul besimu. Sementara kedua orang lawanmu itu masing-masing dapat melakukannya. Yang dilakukan baru permukaan saja dari ilmunya, karena muridku dapat mengurai inti kekuatan air, api,
    angin dan tanah dan membangunkan kekuatan daripadanya. Sementara itu kawannya akan dapat menyerangmu tanpa henti-hentinya dengan kekuatan lewat sorot matanya sebagaimana ia mempergunakan matanya untuk melihat. Sehingga yang sebenarnya kau alami baru merupakan bagian-bagian dari kemampuan mereka berdua. –
    – Cukup – bentak Podang Abang – jika kau benar-benar ingin menghinaku sekarang ini, maka pada suatu saat kau akan menyesal. Seandainya kau tidak mati terburuk, maka kaupun akan dihinakan untuk selama-lamanya. –
    – Sudahlah Podang Abang. Tidak pantas orang seperti kau ini merajuk. Sekarang sekali lagi aku minta kau segera pergi – berkata Ki Jayaraga.
    Podang Abang memandang Ki Jayaraga dengan tajamnya. Namun iapun kemudian melangkah meninggalkan tempat itu.
    Sepeninggal Podang Abang, maka Sabungsari dan Glagah Putihpun telah mendekati Ki Jayaraga. Dengan nada tinggi Sabungsari bertanya – Kenapa kita biarkan orang itu pergi Ki Jayaraga? –
    – Kita tidak dapat membunuhnya dalam keadaan seperti itu. Podang Abang tentu masih mempunyai keinginan bertempur melawanku. Jika Podang Abang bersedia bertempur melawan kalian, agaknya ia mengira bahwa dengan mudah ia dapat mengalahkan kalian. Namun ternyata ia harus melihat kenyataan – berkata Ki Jayaraga.
    Sabungsari dan Glagah Putih mengangguk-angguk kecil. Dengan ragu-ragu Glagah Putih bertanya – tetapi bagaimana dengan kawan-kawan kami yang lain? Apakah mereka tidak akan selalu dibayangi oleh kemampuan dan niat jahat Podang Abang? –
    – Adalah tugas kita untuk menyelamatkan kawan-kawan kita dari gangguannya. Kalian sudah tahu tingkat kemampuannya. Seperti aku katakan, maka kita akan dapat berbicara serba sedikit khusus mengenai kelemahan Podang Abang, sehingga kalian akan dapat mengatasinya sendiri-sendiri jika terpaksa kalian harus berhadapan – berkata Ki Jayaraga.
    Sabungsari dan Glagah Putih mengangguk-angguk. Sementara Ki Jayaraga berkata – Kalian tidak boleh gugup menghadapinya. –
    – Ya guru – jawab Glagah Putih.
    Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian berkata – Kita akan kembali. –
    – Tetapi Podang Abang itu telah mengetahui dengan siapa kita berhubungan – berkata Sabungsari kemudian – apakah itu tidak akan mengancam kedudukan Ki Wirayuda? –
    – Apakah para prajurit Mataram akan begitu mudah percaya kepada pengalaman anggauta kelompok yang mengaku bernama kelompok Gajah Liwung itu? – justru Ki Jayaraga bertanya pula.
    Sabungsari mengangguk-angguk – Memang tidak setiap orang akan dapat dipercaya jika mereka memberikan laporan tentang para prajurit dan tingkah lakunya. Apalagi kedudukan Ki Wirayuda cukup kuat. Atasannya tidak akan mudah mempercayai satu kelompok yang justru menjadi buruan para prajurit itu sendiri. –
    Demikianlah, maka ketiga orang itupun telah meninggalkan pategalan itu dalam keadaan yang porak poranda. Tetapi mereka justru tidak dapat berbuat apa-apa atas pategalan itu, karena mereka tidak ingin diketahui banyak orang tentang diri mereka.
    Karena itu, maka merekapun terpaksa meninggalkan pategalan itu seperti baru saja dilanda angin pusaran.
    Sepanjang jalan, Ki Jayaraga sempat memberikan beberapa petunjuk untuk menghadapi Podang Abang. Dengan nada tinggi Ki Jayaraga berkata – Kalian ternyata terlalu tegang menghadapi orang itu. Mungkin kalian menganggap Podang Abang sebagai hantu yang tidak terkalahkan. Tetapi sebenarnyalah kalian harus melawannya dengan hati yang mapan. Kalian mempunyai keuntungan dengan ilmu kalian. Soalnya, bagaimana kalian dapat mengetrapkan ilmu kalian itu dengan tepat. –
    Sabungsari dan Glagah Putih mengangguk-angguk. Mereka mendengarkan keterangan Ki Jayaraga itu dengan sungguh-sungguh.
    Setelah menempuh perjalanan yang agak panjang, maka ketiga orang itupun telah sampai ke Sumpyuh, ketempat tinggal mereka yang baru.
    Namun mereka terkejut ketika mereka melihat Ki Lurah Branjangan justru telah berada di rumah itu duduk di ruang dalam.
    – Ki Lurah – Ki Jayaraga memandanginya dengan heran.
    Ki Lurah tersenyum. Katanya – Ada sedikit masalah. Tetapi tidak dengan kalian. Masalah yang sangat pribadi dengan Rara Wulan. –
    Ketiganya mengangguk-angguk kecil. Namun mereka tidak melihat Rara Wulan diruang itu.
    Glagah Putih yang menjadi berdebar-debar telah bergeser keluar dari ruang dalam. Ketika ia bertemu dengan Suratama iapun bertanya – Dimana Rara Wulan? –
    – Ia berada didapur – jawab Suratama – setelah ia sedikit berbantah dengan kakeknya. –
    – Apa yang dibicarakan? – bertanya Glagah Putih. Suratama menggeleng. Katanya – Aku tidak tahu. Ki Lurah
    Branjangan berbicara berdua saja dengan cucunya. Tetapi nampaknya ada beberapa hal yang tidak sesuai diantara keduanya, sehingga Rara Wulan kemudian meninggalkan kakeknya sambil menangis. Rasa-rasanya tidak pantas melihat gadis itu menangis. Selama ini kita melihatnya sebagai seseorang yang keras dan tidak kurang tegasnya. Tiba-tiba saja kita sadar, bahwa ia adalah seorang gadis yang lengkap dengan segala macam perasaannya. –
    Glagah Putih mengangguk-angguk kecil. Sementara Suratama itupun berkata – Cobalah, mungkin kau dapat membuka hatinya untuk sedikit membagi beban. –
    Glagah Putih memang ragu-ragu. Tetapi iapun kemudian memberanikan diri untuk masuk ke dapur. Glagah Putih sendiri tidak tahu, dorongan apakah yang telah membuatnya demikian serta merta untuk mencampuri persoalan yang sebenarnya sangat pribadi bagi Rara Wulan.
    Ketika Glagah Putih berdiri dipintu dapur, maka jantungnya memang terasa berdegup semakin keras. Namun dipaksanya juga
    kakinya melangkah memasuki dapur yang kebetulan sepi itu. Orang tua penunggu rumah itu yang biasanya ada didapur, ternyata sedang berada di kebun.
    Rara Wulan memang sedang mengusap matanya ketika Glagah Putih muncul. Gadis itu memang berusaha untuk menghilangkan kesan bahwa ia sedang menangis. Namun ketika Glagah Putih melangkah mendekatinya, maka dadanya serasa menjadi semakin sesak.
    – Apa yang terjadi Rara Wulan? – bertanya Glagah Putih. Pertanayaan itu wajar sekali. Tetapi pertanyaan itu ternyata telah menghentakkan perasaan Rara Wulan. Jika semula ia telah berhasil menahan gejolak perasaannya, pertanyaan Glagah Putih justru bagaikan kekuatan yang mengguncang jantungnya, sehingga seperti bendungan yang pecah. Rara Wulan tidak lagi dapat menahan air matanya yang tumpah lewat kedua matanya.
    Glagah Putih justru menjadi bingung. Hilir mudik ia melangkah di depan Rara Wulan yang duduk di bibir amben besar di dapur.
    – Jangan menangis Rara – hanya itulah yang dapat dikatakannya beberapa kali – Jangan menangis. –
    Rara Wulan memang berjuang untuk mengatasi gejolak dida-danya. Ia memang merasa malu bahwa hatinya seakan-akan menjadi rapuh, sehingga ia harus menangis seperti kanak-kanak.
    Namun ia memerlukan waktu untuk meredakan tangisnya. Tetapi Rara Wulan tidak segera mampu mengatasi isaknya yang seakan-akan telah menyesakkan dadanya.
    Sesaat kemudian, maka Rara Wulan menjadi sibuk mengusap matanya yang masih tetap basah.
    Glagah Putih juga menjadi gelisah. Ia sudah terlanjur masuk kedapur disaat Rara Wulan menangis. Karena itu, ia tidak dapat begitu saja meninggalkannya.
    Dengan ragu-ragu dan keringat yang membasah di punggungnya, Glagah Putih mencoba untuk bertanya — Kenapa kau menangis Rara Wulan? —
    Rara Wulan mengangkat wajahnya. Dipandanginya anak muda itu, anak muda yang pertama-tama dikenalnya
    sebagai seorang yang kakinya penuh dengan lumpur sawah. Anak muda yang hanya pantas untuk mengantarkannya kemana ia ingin pergi. Namun yang kemudian ternyata seorang anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi dan pengetahuan yang cukup luas. Tanggap akan keadaan dan tidak mementingkan diri sendiri.
    Karena Rara Wulan tidak segera menjawab, maka Glagah Putih telah bertanya sekali lagi — Kenapa kau menangis Rara? —
    Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sekali-sekali isaknya masih terdengar.
    — Bertanyalah kepada kakek — jawab Rara Wulan. Glagah Putih mengangguk kecil. Ia sudah menduga, bahwa persoalannya dengan kakeknya nampaknya agak bersungguh-sungguh sehingga Rara Wulan yang sehari-harinya dikenalnya sebagai seorang gadis yang berhati tegar itu telah menangis terisak-isak.
    — Persoalan yang berhubungan dengan kedua orang tuamu? — bertanya Glagah Putih kemudian.
    Rara Wulan mengangguk.
    Glagah Putih masih berjalan hilir mudik. Jawaban Rara Wulan meskipun hanya dengan anggukan kepala itu telah membuat Glagah Putih kehilangan kesempatan untuk bertanya lebih jauh. Karena itu, maka iapun kemudian berkata — Aku akan berbicara dengan Ki Lurah. —
    Rara Wulan tidak menjawab. Dipandanginya saja Glagah Putih yang kemudian melangkah keluar pintu dapur dan dengan gelisah pergi keruang tengah.
    Diruang tengah, Ki Jayaraga duduk menemui Ki Lurah. Sabungsari dan Prastawa duduk pula bersama mereka, meskipun agak menyudut.
    Ketika Glagah Putih memasuki ruang dalam, maka Ki Jayaragapun telah bergeser untuk memberi tempat kepadanya.
    — Duduklah — berkata orang tua itu.
    Glagah Putihpun kemudian duduk dengan kepala tunduk.
    — Kau tentu masih letih — berkata Ki Lurah Bran-jangan — Ki Jayaraga sudah menceriterakan, bagaimana kau harus berhadapan bersama-sama dengan Sabungsari melawan Podang Abang. —
    Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia sampai keregol halaman rumah yang dipergunakannya itu, maka ia memang ingin segera membersihkan kaki dan tangannya, kemudian minum minuman hangat diserambi sambil menghirup angin yang sejuk untuk menyegarkan tubuhnya kembali.
    Namun ketika ia memasuki ruang dalam, yang dijumpainya adalah satu masalah yang tidak kalah peliknya.
    Tetapi tiba-tiba saja timbul pertanyaan didalam hatinya — Apakah persoalan itu juga persoalannya? —
    — Ya — ia mencoba menjawab sendiri — Rara Wulan adalah anggauta kelompok Gajah Liwung. Persoalannya adalah persoalan seluruh anggauta kelompok ini. —
    Namun pertanyaan yang lain telah timbul pula — Kenapa bukan Sabungsari, bukan Prastawa atau Naratama yang dengan serta merta melibatkan diri? —
    Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Ki Lurah yang tersenyum berkata — Aku minta maaf kepada kalian semuanya, bahwa aku telah tiba kembali ke rumah ini dengan membawa persoalan yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kelompok Gajah Liwung ini. —
    Glagah Putih menundukkan kepalanya. Sementara Ki Jayaraga berkata — Dalam satu keluarga, maka setiap persoalan sebaiknya dipecahkan bersama-sama. —
    — Terima kasih Ki Jayaraga — berkata Ki Lurah Bran-jangan — agaknya karena hiulah maka aku memberanikan diri untuk datang kembali. Aku yakin bahwa keluarga ini tidak akan membiarkan aku mengalami kesulitan sendiri. —
    — Apakah persoalan Ki Lurah dapat kami ketahui? — bertanya Ki Jayaraga — mungkin kami dapat membantu memecahkannya. —
    Ki Lurah mengangguk-angguk kecil. Tetapi iapun kemudian telah bertanya kepada Glagah Putih — Apakah kau sudah bertemu dengan Rara Wulan? —
    Glagah Putih memang menjadi gagap. Tetapi iapun kemudian telah menjawab — Sudah Ki Lurah. —
    — Nah, agaknya kau sudah mengerti, kenapa Rara Wulan menangis —
    — Rara Wulan tidak mengatakan apa-apa Ki Lurah. Bahkan Rara minta aku mempertanyakan persoalannya kepada Ki Lurah — jawab Glagah Putih.
    Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya — Jadi Rara Wulan minta aku mengatakannya kepadamu? —
    — Ya Ki Lurah — jawab Glagah Putih.
    Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Sabungsari berkata — Kami minta diri untuk pergi keluar sebentar Ki Lurah. —
    — Tidak. Tidak perlu. Seperti dikatakan oleh Ki Jayaraga, bahwa didalam satu keluarga, maka kita akan memecahkan setiap persoalan bersama-sama — cegah Ki Lurah. Namun katanya kemudian — meskipun persoalannya sangat pribadi. —
    Namun sambil tersenyum Sabungsari berkata — Nanti aku segera kembali. —
    Ki Lurah tidak mencegah lagi. Sementara itu Sabungsari dan Pranawapun meninggalkan pertemuan yang telah bersifat pribadi itu.
    Ketika Sabungsari dan Pranawa meninggalkan pertemuan itu, Glagah Putih menjadi gelisah pula. Jika yang lain tidk ikut membicarakannya, kenapa ia justru terlibat semakin jauh dengan persoalan Rara Wulan dengan keluarganya.
    Glagah Putih menunduk ketika Ki Lurah berkata —
    Glagah Putih. Jika Rara Wulan memang minta aku mengatakan kepadamu kenapa ia menangis, maka aku memang tidak berkeberatan. Aku tidak tahu apakah kau berkepentingan atau tidak. Tetapi tidak ada salahnya kau mengerti apa yang telah membuatnya menangis — Ki Lurah berhenti sejenak. Sementara Glagah Putih masih tetap menunduk–kan kepalanya.
    Dengan nada dalam Ki Lurah pun kemudian melanjutkan — Glagah Putih. Ketika aku kembali ke Tanah Per-dikan Menoreh beberapa hari yang lalu, ternyata ayah Rara Wulan telah berada di Tanah Perdikan. Ada beberapa hal yang dikatakannya kepadaku, tentang anak gadisnya. Ternyata sebelumnya memang telah terjadi salah paham, sehingga ayah Rara Wulan memerlukan waktu untuk memberikan penjelasan. —
    — Tentang hubungannya dengan keluarga yang ingin mengambil Rara Wulan sebagai menantunya? — bertanya Glagah Putih.
    — Hal itu masih perlu mendapat penjelasan. Karena itu, maka aku minta Rara Wulan bertemu langsung dengan kedua orang tuanya — Jawab Ki Lurah yang kemudian dengan singkat menceritakan pertemuannya dengan ayah Rara Wulan.
    Glagah Putih mengangguk-angguk. Namun ia tidak lebih hanya dapat mendengarkan saja. Akhirnya Glagah Putih itu memang harus menyadari, bahwa ia tidak mempunyai hak untuk menyatakan pendapatnya tentang hubungan Rara Wulan dengan kedua orang tuanya.
    Ki Lurahpun mengerti kebingungan yang mencekam jantung Glagah Putih. Ada dorongan untuk mencampuri urusan Rara Wulan, namun kemudian ia terbentur kepada kesadarannya, bahwa ia adalah orang lain bagi Rara Wulan, sehingga ia tidak dapat berbuat apa-apa.
    — Persoalannya memang sangat pribadi sebagaimana dikatakan oleh Ki Lurah Branjangan — berkata Glagah Putih didalam hatinya.
    Tetapi ia sudah terlanjur memasuki persoalan pribadi Rara Wulan semakin dalam. Satu langkah yang kurang diperhitungkan sebelumnya, karena tiba-tiba saja ia dihadapkan pada satu keadaan yang telah mengguncang perasaannya demikian ia datang dari lingkaran pertentangan justru kekerasan.
    Tetapi nampaknya Ki Lurah Branjangan, kakek Rara Wulan, tidak berkeberatan. Orang tua itu malahan memberinya kesempatan untuk melibatkan dirinya.
    Namun sejenak kemudian, Ki Lurah Branjangan itupun berkata kepada Glagah Putih — Glagah Putih. Aku sebenarnya ingin minta bantuanmu. Apakah kau bersedia membantuku? Katakan kepada Rara Wulan, bahwa sebaiknya ia memang harus menemui kedua orang tuanya. Apapun kepu-tusan yang akan diambil dalam pembicaraan diantara mereka. Aku bersedia mengantarkannya dan melibatkan diri langsung dalam pembicaraan seperti itu, karena akan menyangkut masa depan Rara Wulan. —
    Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Permintaan Ki Lurah itu justru bertentangan dengan keinginan yang terbersit dihatinya. Glagah Putih ingin agar Rara Wulan tidak menemui orang tuanya yang setiap pembicaraannya akan mengarah kepada kemungkinan untuk mempertemukan Rara Wulan dengan seseorang yang akan dijadikan jodohnya.

    ***
    Suource : Koleksi Arema – adbmcadangan

    lanjut kitab 266

  34. Ronda…ronda….

  35. jum at hari ini


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: