Buku III-48

248-00

Halaman: 1 2 3

Iklan
Telah Terbit on 24 Mei 2009 at 17:20  Comments (76)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iii-48/trackback/

RSS feed for comments on this post.

76 KomentarTinggalkan komentar

  1. “Aku mohon petunjuk guru.“ berkata Swandaru.
    “Yang terang bekalmu sudah meningkat. Kau sudah merambah ke inti kekuatan ilmu cambukmu. Bukan saja mengandalkan kekuatan wadagmu. Bukankah kau merasakan, bahwa dengan mampu mengungkapkan inti kekuatan, kau tidak terlalu banyak menghambur-hamburkan tenaga seperti jika kau sekedar mempercayakan pada kekuatan wadagmu.“ berkata Kiai Gringsing.
    “Ya Guru.“ jawab Swandaru.
    “Nah, dengan landasan kekuatan yang sangat besar dari kekuatan wadagmu, maka ungkapan ilmumupun menjadi lebih dahsyat lagi.“ berkata gurunya. Lalu Kiai Gringsing itupun berkata pula, “Dengan demikian kau akan dapat memperhitungkan kemungkinan jika kau sudah berangkat. Apakah kau sempat mengisi kekosongan waktumu selama kau menunggu diluar sasaran atau tidak. Jika kau mempunyai kesempatan, ada juga baiknya kau pergunakan tanpa mengganggu orang lain dan mengganggu tugasmu. Tetapi jika tidak, maka bekalmu sudah cukup dengan tataran kemampuanmu sekarang ini asal kau pergunakan dengan hati-hati.“
    “Terimakasih guru. Waktu yang diberikan oleh Panglima Pasukan Mataram adalah sepuluh hari sejak dikeluarkan perintah kemarin.“ berkata Swandaru.
    “Bukankah kau mempunyai cukup waktu?“ bertanya Kiai Gringsing.
    “Ya guru. Masih cukup waktu untuk mempersiapkan para pengawal. Kami akan bergabung dengan para prajurit yang berada di Jati Anom. Kami akan berada dibawah pimpinan kakang Untara.“ berkata Swandaru.
    Kiai. Gringsing mengangguk-angguk. Ia tidak tahu, apakah pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh akan bergabung dengan pasukan Khusus yang ada di Tanah Perdikan. Namun biasanya pasukan khusus itu tidak berada bersama dengan para prajurit dari pasukan yang lain, karena pasukan khusus akan mendapat tugas yang khusus pula, serta biasanya berada di garis terdepan, mendahului gerak seluruh pasukan.
    Demikianlah, maka Kiai Gringsing masih memberikan beberapa petunjuk secara khusus bagi Swandaru. Sebagai seorang tua maka Kiai Gringsing memperingatkan bahwa isteri Swandaru, Pandan Wangi sedang mengandung hampir tua. Karena itu, maka Swandaru harus berhati-hati. Swandaru harus selalu ingat bahwa hidupnya, hidup isteri dan bakal anaknya itu ada ditangan Yang Maha Agung. Namun Swandaru tidak dibenarkan mensia-siakan hidupnya.
    Swandaru tidak merasa perlu untuk bermalam di padepokan itu. Ketika keperluannya telah selesai, serta gurunya telah memberikan banyak petunjuk, maka Swandarupun telah mohon diri.
    “Mungkin aku tidak sempat menghadap Guru lagi menjelang keberangkatanku bersama pasukan Mataram di Jati Anom.“ berkata Swandaru.
    “Semoga kau selalu mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung.“ berkata Gurunya dengan nada rendah.
    “Semoga Guru.“ sahut Swandaru. Lalu katanya pula, “Kitab Guru akan disimpan dengan baik oleh Pandan Wangi. Aku telah berpesan kepadanya, jika ia sangat ingin melihat isinya, ia harus membatasi diri sekedar ingin tahu, karena dasar ilmu yang ada didalam kitab itu berbeda dengan dasar ilmu yang dimiliki olah Pandan Wangi. Apalagi ia sedang mengandung sehingga ia tidak boleh tergelitik untuk melakukan sesuatu.“
    “Kau benar Swandaru.“ berkata Kiai Gringsing, “sebaiknya Pandan Wangi menahan diri untuk tidak usah membuka kitab itu, justru karena ia memiliki kemampuan olah kanuragan dari aliran perguruan yang berbeda. Jika ia tidak sedang mengandung, serta jika ia berada dibawah pengawasan, maka hal itu tidak sangat berbahaya baginya. Tetapi justru ia sedang mengandung dan tidak seorangpun yang sempat mengawasinya.“
    “Ya Guru. Aku akan berpesan dengan sungguh-sungguh. Jika keadaan Guru masih seperti setahun yang lalu, aku berani mohon Guru untuk sekali-sekali datang ke Sangkal Putung. Namun sekarang nampaknya Guru harus banyak beristirahat.“ berkata Swandaru.
    Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Aku memang sudah menjadi semakin lemah. Namun jika satu saat keadaan mengijinkan, aku akan mengajak Ki Widura untuk pergi ke Sangkal Putung. Tetapi sudah tentu tidak dapat diharap benar bahwa aku akan dapat melakukannya.“
    “Ya Guru.“ sahut Swandaru yang mengerti sepenuhnya keadaan gurunya.
    Dengan demikian, maka sejenak kemudian, maka Swandarupun telah meninggalkan padepokan kecil itu.
    Sepeninggal Swandaru maka ternyata bahwa Kiai Gringsing telah mengharap pula kehadiran Agung Sedayu. Ia yakin bahwa Agung Sedayu dan Glagah Putih tentu akan datang sebelum sampai saatnya yang sepuluh hari itu. Seperti Swandaru, maka Kiai Gringsingpun ingin melihat perkembangan ilmu muridnya yang tua itu meskipun pada dasarnya ia lebih yakin akan keberhasilannya.
    “Besok atau lusa, mereka tentu akan dating.“ berkata Ki Widura yang sebenarnya juga mengharapkan kedatangan anaknya, karena menurut pendapatnya, anaknya tentu akan ikut pula bersama para pengawal Tanah Perdikan.
    “Waktunya telah menjadi semakin sempit.“ berkata Kiai Gringsing.
    “Agaknya Agung Sedayu menempuh cara yang berbeda dari Swandaru. Swandaru datang lebih dahulu menemui Kiai Gringsing, sedangkan Agung Sedayu agaknya lebih dahulu telah menyusun barisannya, baru akan datang menemui Kiai Gringsing.“ berkata Ki Widura.
    Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan ia tidak melupakan padepokan ini sebelum berangkat.“
    “Sudah barang tentu tidak, Kiai.“ jawab Widura. Sebenarnyalah, menjelang senja di hari berikutnya, dua orang berkuda telah memasuki regol halaman padepokan kecil itu. Mereka adalah Agung Sedayu dan Glagah Putih.
    Seorang cantrik yang menyambut berkata, “Kiai sudah sangat mengharap kedatanganmu. Kakang Swandaru sudah datang beberapa hari yang lalu.“
    “O“ Agung Sedayu mengangguk-angguk, “Jadi adi Swandaru telah menemui Guru.“
    “Ya“ jawab cantrik itu.
    “Apakah ayah ada disini sekarang?“ bertanya Glagah Putih.
    “Ya. Ki Widura sedang berada disini. Bahkan Ki Widura lebih banyak berada disini daripada pulang ke Banyu Asri.“ jawab cantrik itu.
    Glagah Putih mengangguk-angguk, sementara cantrik itu mempersilahkannya naik ke pendapa.
    “Aku akan menyampaikan kedatangan kalian kepada Kiai.“ berkata cantrik itu.
    Kiai Gringsing dan Ki Widura menyambut keduanya dengan gembira. Setelah kedua orang tua itu mempertanyakan keselamatan mereka dan yang mereka tinggalkan di Tanah Perdikan maka Kiai Gringsing berkata, “Kami menunggu kedatangan kalian. Swandaru telah datang di hari-hari pertama ia menerima perintah untuk mengumpulkan pasukannya dan bergabung dengan pasukan angger Untara.“
    Agung Sedayu rnengangguk kecil. Dengan nada rendah ia berkata, “Maaf Guru. Aku harus menyusun pasukan pengawal Tanah Perdikan lebih dahulu. Aku harus membaginya, yang mana yang dapat dikirim ke Mataram dan yang mana yang harus tetap tinggal di Tanah Perdikan Menoreh untuk menjaga ketenteraman Tanah Perdikan itu.“
    “Aku sudah mengira.“ sahut Ki Widura, “nampaknya Swandaru telah datang menghadap gurunya lebih dahulu, baru menyusun pasukannya.“
    Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Nampaknya kau berbuat sebaliknya.“
    “Ya Guru.“ jawab Agung Sedayu, “baru setelah selesai, aku datang untuk mohon restu sekaligus mohon diri. Juga kepada paman Widura. Agaknya demikian pula Glagah Putih.“
    “Ya Kiai.“ sambung Glagah Putih, “aku mohon doa restu kepada Kiai dan kepada ayah. Ternyata aku juga akan ikut dalam pasukan yang akan berkumpul di Mataram.“
    “Jadi pasukan pengawal Tanah Perdikan tidak disatukan dengan pasukan khusus yang ada di Tanah Perdikan itu?“ bertanya Kiai Gringsing.
    “Tidak Guru.“ jawab Agung Sedayu, “agaknya tataran kemampuan kedua pasukan itu dianggap berbeda. Pasukan khusus itu akan berada di paling depan, mendahului barisan.“
    “Lalu bagaimana dengan pasukan pengawal Tanah Perdikan?“ bertanya Ki Widura.
    “Kami harus berkumpul di Mataram dan akan berada dibawah pimpinan Ki Tumenggung Danajaya dan akan berada dibawah Panglima Besar Pangeran Singasari.“ jawab Agung Sedayu.
    Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “kau sudah mengenal sikap dan watak Pangeran Singasari?“
    “Ya.“ jawab Agung Sedayu, “Seorang Panglima yang tegas.“
    “Tegas dan garang.“ desis Kiai Gringsing sambil tersenyum. Namun kemudian tanyanya, “Tetapi agaknya memang diperlukan Panglima seperti Pangeran Singasari.“
    “Seorang Panglima yang lain akan bersama dengan Pangeran Singasari.“ berkata Agung Sedyu.
    “Siapa?“ bertanya Ki Widura.
    “Pangeran Mangkuabumi.“ jawab Agung Sedayu.
    Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Seorang yang mumpuni dalam berbagai ilmu. Namun agaknya Pangeran Mangkubumi lebih tenang daripada Pangeran Singasari. Namun kedua-duanya adalah Panglima pilihan.“
    “Kemudian panglima yang lain yang akan bersama Panembahan Senapati adalah Adipati Pati dan Pajang. Nampaknya keduanya akan menjadi Panglima pasukan pengapit. Sementara Pangeran Singasari dan Pangeran Mangkubumi akan berada di sayap.“
    Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Wajahnya yang keriput oleh garis-garis umurnya itu nampak semakin berkerut. Dengan nada rendah ia berkata, “Satu pasukan segelar sepapan yang sangat kuat. Tetapi Madiunpun akan memasang Senapati-senapati yang berilmu dan berkemampuan sangat tinggi. Para Adipati dari daerah Timur adalah orang-orang yang pilih tanding.“
    “Ya Guru.“ jawab Agung Sedayu, “nampaknya Mataram juga menyadari akan hal itu. Karena itu Mataram telah mengerahkan segenap kemampuan yang ada.“
    “Tetapi Mataram tidak akan dapat mengumpulkan pasukan sebesar para Adipati di daerah Timur. Nampaknya hal itu sudah disadari. Angger Untara juga sudah memperhitungkannya sebagaimana para pemimpin yang lain berdasarkan laporan para petugas sandi. Namun kedua kekuatan itu benar-benar sangat mendebarkan jantung. Benturan kekuatan antara Mataram dan Madiun akan berakibat sangat buruk bagi kedua belah pihak.“ desis Kiai Gringsing.
    Agung Sedayu tidak menjawab. Ia hanya dapat meunundukkan kepalanya saja. Demikian pula Glagah Putih. Namun pernyataan gurunya itu telah memberikan gambaran kepada keduanya, bahwa pertempuran akan merupakan pertempuran yang sangat garang dan sangat keras.
    Namun dalam pada itu, Kiai Gringsingpun kemudian berkata, “Sudahlah. Aku tidak bermaksud membuat kalian menjadi cemas menghadapi tugas-tugas kalian di medan pertempuran nanti. Tetapi setidak-tidaknya dengan demikian kalian akan menjadi semakin berhati-hati.”
    Agung Sedayu dan Glagah Putih mengangguk-angguk. Sementara itu Kiai Gringsingpun berkata, “Baiklah. Kalian tentu masih letih. Malam ini kalian dapat beristirahat.“
    “Kami tidak terlalu letih guru. Kami tidak tergesa-gesa beristirahat.“ jawab Agung Sedayu.
    “Nah, jika kalian akan pergi ke pakiwan, pergilah. Agaknya para cantrik sedang menyiapkan minuman buat kalian, kalian dapat beristirahat nanti di bilik yang biasa kalian pergunakan.“ berkata Kiai Gringsing.
    Agung Sedayu dan Glagah Putihpun kemudian telah membenahi diri setelah keduanya mandi. Perjalanan mereka memang tidak terlalu melelahkan. Tetapi tubuh mereka memang basah oleh keringat. Baru setelah mandi, keduanya telah berada kembali di pendapa menikmati minuman hangat dan beberapa potong makanan. Sementara para cantrik telah menyiapkan makan malam bagi mereka.
    Kiai Gringsing memang tidak tergesa-gesa ingin melihat tataran ilmu Agung Sedayu meskipun ingin. Dihari berikutnya ia masih mempunyai kesempatan. Malam itu Kiai Gringsing membiarkan kedua orang yang baru datang dari Tanah Perdikan itu untuk beristirahat.
    Setelah makan malam, maka yang mereka bicarakan bukannya tentang padepokan kecil serta kemungkinan-kemungkinan di hari depan, tetapi mereka telah berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dalam perselisihan antara Mataram dan Madiun. Dua ujung dari antara mereka yang merasa mempunyai hak untuk memegang kendali kekuasaan sepeninggal Sultan Pajang, apalagi sepeninggal Pangeran Benawa.
    “Sebenarnya aku tidak sampai hati menyaksikan permusuhan antara Madiun dan Mataram.“ berkata Kiai Gringsing, “tetapi aku tidak berdaya untuk mencegahnya. Aku sudah terlalu lama kehilangan pengaruhku karena salahku sendiri. Baik Madiun maupun Mataram sekarang telah menganggapku tidak lebih dari seorang pengembara yang mencoba menetap dengan membangun sebuah padepokan kecil seperti ini.“
    “Jika Guru ingin melakukan sesuatu, maka perintah Guru tentu akan aku lakukan. Apapun yang terjadi.“ berkata Agung Sedayu.
    Kiai Gringsing menggeleng. Katanya. “Tidak perlu. Jika aku melangkah sekarang ini, maka akibatnya akan sangat buruk. Karena itu, maka biarlah terjadi apa yang akan terjadi.“
    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sudah terlanjur berpihak. Demikian pula murid Kiai Gringsing yang seorang lagi, sehingga dengan demikian maka bagaimanapun juga perguruan Orang Bercambuk itu telah berpihak.

  2. Sugeng dalu pren… :))

  3. sugeng dalu ugi kisanak…
    saya mau ikut meramaikan blog ini walo gandok ini sudah gung liwang liwung padha ditinggal penghuninya ke padang karautan…
    Dari dulu saya suka ikut menikmati celotehan para cantrik yg suer bikin saya salut… yah karena msh mentrik junior dan nggak terlalu sering online jadi terseok-seok baru sampai bilik ini.
    Cuman akhir2 ini kok jadi agak nggak sambung sama cerita sebelumnya ya… , a.l :
    1. AS kok cambuknya jd punya karah2 baja sih (kl ga salah di buku 230 an)
    2. Padepokan KG di pinggir jatianom itu kan punya AS (buku 101-dceritakan AS buka padepokan pake tanah peninggalan ortunya krn selama ini selalu ikut SW di sangkalputung), trs kenapa jadi punya KG dan bingung mo dwariskan kpd siapa… harusnya terserah AS dong mau dikasih ke siapa.. (hbs senewen sih sama SG)
    3. kenapa skrg sll disebut dg perguruan orang bercambuk?? padahal perguruan windujati itu kan termasuk yg tenar dan disegani pada jamannya (keturunan brawijaya lgs gitu lho yg nyantrik di situ…KG-red), saudara tua dr kraton demak (ex. panembahan mas atau Ki Ajar Kumudo minimal) mestinya tau dong nama itu, kenapa ikut2 latah nyebut perguruan orang bercambuk (nggak elit dong.. kaya aku ini si gembala sapi…)
    Yah itu beberapa kejanggalan yg akhir2 ini saya telan mentah2
    karena bagaimanapun untuk membuat cerita sepanjang itu memang tidak mudah, apalagi disambi2 (apa coba bhs indonesia nya) dgn cerita yg lain. Lha wong bisanya cuman baca kok protessss… 🙂
    peace man!!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: